INPUT DAN PROSES. Pendahuluan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS RESIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA INSTALASI LAUNDRY

SISTEM MANAJEMEN K3 KULIAH 2: STATISTIK KECELAKAAN

Risk Analysis : Severity & Likelihood

Identifikasi Potensi Bahaya Akibat Pencahayaan Dengan Pendekatan HIRA (Hazard Identification And Risk Assessment)

#10 MANAJEMEN RISIKO K3

BAB 1 PENDAHULUAN. dari masa ke masa. Dengan demikian, setiap tenaga kerja harus dilindungi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

ANALISIS RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN HIRARC (STUDI KASUS PT. COCA COLA BOTTLING INDONESIA UNIT SEMARANG)

BAB II LANDASAN TEORI. Menurut Undang-undang No. 1 Tahun 1970 pasal 1 ayat (1) yang

BAB III METODOLOGI. 3.1 Pendahuluan Penelitian Tugas Akhir ini dilakukan dengan alur metodologi sebagai berikut pada Gambar 3.1: Identifikasi Bahaya

Identifikasi Bahaya Pada Pekerjaan Maintenance Kapal Menggunakan Metode HIRARC dan FTA Dengan Pendekatan Fuzzy

Analisis Risiko Pekerjaan Pemindahan Barang Dengan Forklift Menggunakan Metode HIRARC Dan Penentuan Risk Ranking Menggunakan Fuzzy Logic Control

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

KERANGKA ACUAN MANAJEMEN RISIKO RS ROYAL PROGRESS

BAB I PENDAHULUAN. Setiap tempat kerja selalu mempunyai risiko terjadinya kecelakaan. Besarnya

USULAN PERBAIKAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA BERDASARKAN METODE SWIFT PADA PT KRAKATAU STEEL DIVISI WIRE ROD MILL

MANAJEMEN RISIKO DALAM PELAYANAN KEFARMASIAN DAN PENGGUNAAN OBAT (PKPO) Dra. Siti Farida, SpFRS, Apt.

BAB I PENDAHULUAN. contohnya mesin. Bantuan mesin dapat meningkatkan produktivitas,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang bertalian dengan mesin, pesawat,

OVERVIEW KONSEP HAZARD, RISK AND CONTROL PERTEMUAN 1 FIERDANIA YUSVITA PRODI KESEHATAN MASYARAKAT, FIKES UEU

BAB I PENDAHULUAN. menciptakan tempat kerja yang aman, sehat dan bebas dari pencemaran

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Bagan Pemeriksaan & Tindakan Perbaikan. Persyaratan Pengukuran & Pemantauan. #12 - Perbaikan SMK3 dan Analisis Biaya. Perencanaan. Dari.

Manajemen Resiko Proyek Sistem Informasi Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS)

Tujuan Sistem Komputer

h t t p : / / t a u f i q u r r a c h m a n. w e b l o g. e s a u n g g u l. a c. i d T a u f i q u r R a c h m a n TKT302 K3I Materi #12

Oleh : Achmad Sebastian Ristianto

Pembahasan Materi #12

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB 1 : PENDAHULUAN. faktor yaitu, unsafe action dan unsafe condition. OHSAS menyebutkan risiko

Pengertian (Definisi) Bahaya

ANALISIS TINGKAT KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA PT. BISMA KONINDO DENGAN MENGGUNAKAN METODE JOB SAFETY ANALYSIS

TEKNIK IDENTIFIKASI BAHAYA DAN PENGENDALIAN RESIKO PADA PANGGUNG GAS OKSIGEN PT ANEKA GAS INDUSTRI V

MANAJEMEN RISIKO K3 (Identifikasi Bahaya, Penilaian Risiko dan Pengendalian Risiko)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Risiko dalam proyek konstruksi merupakan probabilitas kejadian yang muncul

BAB I PENDAHULUAN. produktivitasnya. Standar operasional perusahaan pun otomatis mengalami

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

SISTEM PENGELOLAAN KESELAMATAN KERJA KONTRAKTOR

Analisis Prioritas Kecelakaan Kerja dengan Metode Failure Mode and Effect Analysis di PT. PAL Indonesia (Persero)

BAB I PENDAHULUAN. kecelakaan kerja juga tinggi (Ramli, 2013). terjadi kecelakaan kasus kecelakaan kerja, 9 pekerja meninggal

h t t p : / / t a u f i q u r r a c h m a n. w e b l o g. e s a u n g g u l. a c. i d T a u f i q u r R a c h m a n TKT302 K3I Materi #13

ANALISIS HAZARD AND OPERABILITY (HAZOP) UNTUK DETEKSI BAHAYA DAN MANAJEMEN RISIKO PADA UNIT BOILER (B-6203) DI PABRIK III PT.

Implementasi Pengendalian Risiko Kecelakaan Kerja Pada Proses Grinding Dan Welding Di PT.X

Naskah Publikasi Ilmiah PERBAIKAN KONDISI KERJA BERDASARKAN PENDEKATAN HAZARD IDENTIFICATION AND RISK ASSESMENT (HIRA) UNTUK MENGURANGI

EVALUASI TERHADAP PROFIL RESIKO. Tujuan: Untuk memastikan bahwa resiko yang tidak dapat ditolerir dapat dikendalikan dengan sebaik-baiknya

adalah 70-80% angkatan kerja bergerak disektor informal. Sektor informal memiliki

Pembahasan Materi #14


Tabel 5.1 Nilai pada Tiap-tiap sub Kategori pada Tiap Kategori 79 Tabel 5.2 Perbandingan Dampak Kecelakaan dari Kategori Ringan dan Kategori Berat 87

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

(STUDIKASUS:PT.PJBUNITPEMBANGKITANGRESIK) Presented by: NOVI MARHAENDRA PUTRANTO ( )

Upaya Pencapaian Zero Accident di PT. Sari Mas Permai

SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 8. Penggunaan Alat Dan Bahan Laboratorium Latihan Soal 8.4

IDENTIFIKASI BAHAYA, PENILAIAN RESIKO DAN TINDAKAN PENGENDALIAN

PENGERTIAN (DEFINISI) RESIKO DAN PENILAIAN (MATRIKS) RESIKO

ANALISIS STATISTIK KECELAKAAN KERJA

Usulan Perbaikan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) Menggunakan Metode Hazard Identification and Risk Assesment (HIRA) *

RISK MANAGEMENT PROCESS. Proses Manajemen Risiko

Aspek Kemanusiaan Aspek Pencegahan Kerugian: Aspek Komersial:

PENENTUAN BIAYA KECELAKAAN DALAM PENGELOLAAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI PT. X DENGAN METODE ROBINSON

Implementasi Pengendalian Risiko Kecelakaan Kerja Pada Proses Grinding Dan Welding

STANDARD OPERATING PROCEDURE INVESTIGASI INSIDEN, KETIDAKSESUAIAN, TINDAKAN PERBAIKAN & PENCEGAHAN

Analisis Keandalan Pada Boiler PLTU dengan Menggunakan Metode Failure Mode Effect Analysis (FMEA)

OCCUPATIONAL HEALTH MANAGEMENT PROGRAM. Yusmardiansah

FMEA SEBAGAI ALAT ANALISA RISIKO MODA KEGAGALAN PADA MAGNETIC FORCE WELDING MACHINE ME-27.1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Analisis Budaya Kerja UKM Industri Bambu di Cebongan Sleman Yogyakarta

No Undang Nomor 17 tahun 2008 tentang Pelayaran, Pasal 369 Undang- Undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan, dan Undang- Undang Nomor 22


Created by: Esa Rahmanda H Click to edit Master title style

HIRA DAN JSA HAZARD IDENTIFICATION, RISK ASSESSMENT AND DITERMINATION CONTROL (HIRAC) DAN JOB SAFETY ANALYSIS (JSA)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Izin Kerja diperlukan khusus untuk pekerjaan non-rutin yang mengandung bahaya/resiko tinggi.

ANALISIS KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA TERHADAP TINGKAT KECELAKAAN KERJA DAN PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN PT ABC. Benny Winandri, M.

PENGAMBILAN RESIKO. Kode Mata Kuliah : OLEH Endah Sulistiawati, S.T., M.T. Irma Atika Sari, S.T., M.Eng.

PENGELOLAAN OPERASI K3 PERTEMUAN #6 TKT TAUFIQUR RACHMAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA INDUSTRI

ANALISIS DAN EVALUASI RISIKO K3 PERTEMUAN KE 5 FIERDANIA YUSVITA KESMAS, FIKES UEU

BAB I PENDAHULUAN. York pada tanggal 30 Mei Pada tanggal 17 Agustus tahun yang sama,

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

INTEGRASI METODE FMEA DAN TOPSIS UNTUK MENGANALISIS RISIKO KECELAKAAN PADA PROSES FRAME AND FORK WELDING

KEBIJAKAN ALKOHOL DAN OBAT TERLARANG PT BENING TUNGGAL MANDIRI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. RISIKO DALAM PROYEK KONSTRUKSI MERUPAKAN PROBABILITAS KEJADIAN YANG MUNCUL

BAB I PENDAHULUAN. pada anak kurang begitu diperhatikan oleh berbagai pihak baik oleh orang tua,

PT. ADIWARNA ANUGERAH ABADI

Pada penelitian ini dilakukan analisis risiko terhadap penggunaan tower crane dilakukan pada studi kasus proyek pembangunan gedung baru Unikom dan

ARINA ALFI FAUZIA

PENILAIAN RISIKO KESELAMATAN PADA PEKERJAAN BLANK MATERIAL PADA PROSES PEMBUATAN BRACKET 54P DI PT SAKURA JAVA INDONESIA TAHUN 2013

Bab I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

#7 PENGELOLAAN OPERASI K3

Seminar Nasional IENACO ISSN: PENILAIAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DENGAN METODE HIRARC DI PT. X PASURUAN JAWA TIMUR

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. ketenagakerjaan, antara lain masalah keselamatan dan kesehatan kerja. Tenaga Kerja

BAB I PENDAHULUAN. akan ditimbulkan akibat aktivitas-aktivitas yang ditimbulkan seperti kecelakaan

BAB I PENDAHULUAN. ketenagakerjaan, merupakan kewajiban pengusaha untuk melindungi tenaga

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Perumusan Masalah : Tujuan Batasan dan Asumsi LANDASAN TEORI Pengertian Risiko Pengendalian Risiko

PROSEDUR STANDAR OPERASIONAL (SOP) IDENTIFIKASI, PENILAIAN DAN PENGENDALIAN BAHAYA RESIKO. No. Dokumen: CTH-HSE.02-SOP-01

Transkripsi:

INPUT DAN PROSES Pendahuluan SMK3 adalah suatu sistem, maka harus terdiri atas input, proses, output, serta umpan baliknya, sehingga semua perbaikan dapat dimonitor apakah ada kemajuanatautidak. Untuk itu perlu dipertanyakan : Apakah output yang dikehendaki manajer pada berbagai level. Data input apa yang diperlukan untuk pelaporan tadi. Mengingat proses atau model yang digunakan, bagaimanakah data base manajemen sistemnya, agar dapat diproses dengan cepat dan dibuat output yang cepat pula. 1

Model Prosesor Investigasi Kecelakaan dan Bahaya Laporan Pesan Model Umpan balik Keputusan Tindakan Input Prosesor Output Subsistem beserta Hubungan Diantaranya Subsistem adalah bagian tersendiri dari suatu sistem tetapi bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama. Subsistem utama dalam SMK3 adalah subsistem input, prosesor, dan subsistem output Mengingat bahwa angka kecelakaan itu banyak dan banyak pula repetisi perhitungan yang diperlukan komputerisasi data sangat membantu Untuk mendapatkan efisiensi pencegahan, maka perlu diketahui kecelakaan jenis apa yang perlu diperbaiki terdahulu menghitung skor resiko Skor resiko terbesar untuk tugas tertentu itulah yang ditangani terdahulu. 2

Subsistem Output Output diarahkan : Untuk tujuan motivasi : Total biaya kecelakaan, manajemen melakukan Control Cost: kecelakaan tertentu mengakibatkan pengeluaran sejumlah biaya dan pencegahannya akan saving sejumlah biaya : keuntungan Untuk keterlibatanmanajerdalam mengeliminasi penyebab tidak langsung : Laporan penyebab kecelakaan Laporan Risk Score Subsistem Input Ke dalam subsistem ini perlu dimasukkan data: dicatat tanggal, dimana terjadi kecelakaan, mengenai bagian badan apa, dan jenis jejas seperti apa, biaya total, hari kerja yang hilang, keadaan dan tindakan tidak aman, dan penyebab dasar dari kecelakaan tersebut. Bila kecelakaan belum terjadi perlu dilengkapi dt data: tanggal, alat yang perlu diganti, tempat bahaya, perubahan yang dilakukan. 3

Skema: Subsistem input Investigasi i Pencatatan t dan Arsip/data basis kecelakaan pelaporan dan bahaya Management Subsistem Prosesor Subsistem komponen ini menerima data dari input, membuat perhitungan dan melaporkan sesuai dengan yang dikehendaki output. Laporan dilaporkan pada manajer yang berwenang memperbaiki saja Laporan digunakan untuk pertimbangan mengambil keputusan. Keputusan dan tindak lanjutnya akhirnya masuk sebagai input kembali 4

Skema: Subsistem Prosesor Prosesor Laporan Manajer Input Mgt Keputusan Perubahan Tindakan Rencana mendasar tindak lanjut Subsistem prosesor menghitung berbagai hal yang dilakukan secara rutin : Menghitung dan melaporkan biaya total kecelakaan. Menghitung skor resiko, dan rankingnya. Menyajikan berbagai alternatif untuk tindak lanjut (J, CF, DC). sub 1 sub 2 sub 3 sub - 4 sub 1 INPUT sub 2 sub 5 sub 6 OUTPUT sub 7 5

BASIS DATA KECELAKAAN SEBAGAI INPUT SISTEM Basis data sangat dibutuhkan untuk menjadi dasar bagi tindakanpencegahan di masa datang. kecelakaan dan mengapa terjadi dapat direncanakan tindakan preventif untuk situasi yang sama. Setelah terjadi, diadakan investigasi data dikompilasi dalam sebuah laporan proses analisis (Konsep pendekatan reaktif) Basis data juga dibutuhkan untuk : Memenuhi peraturan perundang undangan, misalnya peraturan yang dikeluarkan oleh Departemen Tebaga Kerja, dan sebagainya, Melindungi hak hukum pekerja. Jika tidak ada catatan/arsip tentang luka atau sakit akibat kecelakaan kerja, pekerja tidak dapat mengajukan permohonan kompensasi, Mengukur performansi. Banyak perusahaan yang mengukur performansi K3 nya berdasarkan jumlah jam kerja tanpa kecelakaan, dan biasanya untuk itu disediakan penghargaan tanpa arsip yang benar, cara ini tentu tidak dapat diterapkan. Data statistik dapat dipakai manajer untuk mengembangkan indikator kuantitatif dari performansi K3 dan pengambilan keputusan. Mengenali bahaya. Dengan mengumpulkan data kecelakaan dan mempelajarinya, data tersebut tindakan korektif yang spesifik dapat ditentukan. Menentukan tarif dasar asuransi. Catatan kecelakaan biasa digunakan untuk menetapkan nilai kerugian dari luka (injury) atau kerusakan, yang dibayar oleh asuransi. 6

Basis Data Kecelakaan Hal hal yang termasuk didalamnya, yaitu : Occupational Injury and Illness Tidak semua injury dan illness dimasukkan ke dalam basis data, melainkan hanya yang dapat dicatat, yaitu : semua peristiwa kematian karena kecelakaan semua illness dan injury dalam lingkungan kerja termasuk kehilangan kesadaran keterbatasan kerja atau gerak pemindahan bagian kerja pengobatan medis (selain pertolongan pertama untuk lecet, terbakar, tersayat, dan lain lain sekalipun hal tersebut dikerjakan oleh tenaga medis professional). Hari hilang (lost workday) Laju insiden (incident rate) Tingkat keparahan (severity measure) Basis data lain: Basis data pelatihan, Kejadian paparan, Masalah peralatan K3, dan sebagainya. Data yang dimaksud ke dalam basis data adalah yang berasal dari: inspeksi bahaya dan investigasi kecelakaan, antara lain data sebab kecelakaan, biaya kecelakaan, dan alternatif tindakan perbaikan. Bahaya yang terdapat di perusahaan hasil dari inspeksi rutin yang dilakukan, laporannya dimasukkan ke dalam basis data. Data data yang baik akan sangat menunjang pelaksanaan SMK3 perusahaan, karena mempunyai banyak keuntungan 7

Data yang diperlukan sebagai input adalah data yang diperlukan oleh prosesor, dan juga disimpan dalam basis data sesuai dengan model prosesor yang dipakai. Data input ini berisikan prosedur pengumpulan data, penyimpanan, cara retrieving/pengeluaran, dan cara handling data. Di dalam input ini ada data yang diperlukan untuk prosesor, ada yang diperlukan untuk presentasi output, dan ada data yang menerima input baru, misalnya perubahan akibat tindakan perbaikan. Data yang diperlukan oleh model keputusan untuk perbaikan bisa dibagi ke dalam dua bagian, yakni: Data retrospektif, apabila kecelakaan telah terjadi, dan Dataprospektif prospektif, data bahaya (hazards), jadi, kecelakaan belum terjadi. Data retrospeksi adalah data sebab kecelakaan, biaya total kecelakaan, dan alternatif untuk perbaikan. Data prospektif adalah data tentang bahaya yang terdapat di industri berasal dari inspeksi rutin yang dilakukan PERHITUNGAN DAN ANALISIS DATA KECELAKAAN Model Penentuan Resiko K 3 untuk dapat menentukan jenis atau bentuk kecelakaan yang harus diatasi. Ada dua buah, yakni model dari Smith (1982) dan Fine (1980). 8

Model Smith Smith mengembangkan model atas dasar model yang digunakan dalam program ruang angkasa. Model memerlukan tiga variable dalam penentuan prioritasnya, yakni : Keparahan suatu jejas j Kemungkinan bahwa kecelakaan bakal terjadi, dan Cost effectiveness dari tindakan koreksi Untuk mendapatkan nilai bagi ketiga variabel tadi dilakukan rating secara subjektif dan kualitatif: H (high = tinggi), M (medium), dan L (low =rendah). Dibuat ranking untuk menilai prioritas bahaya yang harus dikoreksi. Bahaya yang mendapat ranking tertinggi adalah yang mempunyai nilai H untuk ketiga variable Bagaimana ranking itu dilakukan tidak jelas. Kelemahan Model Smith Hubungan antara variable yang satu dengan yang lain, tidak dijelaskan aplikasi model ini menjadi sulit: probabilitas dengan keparahan sangat tergantung satu pada yang lain. Semakin parah suatu jejas, semakin jarang terjadi variable biaya mungkin dapat berdiri sendiri. Model ini mementingkankeparahandibanding frekuensi iterjadinya kecelakan: k Misalnya bahaya dengan ranking, H, M, dan L lebih tinggi rankingnya dibanding M, H dan L 9

Model Fine Model Fine berbeda dari model Smith sejak konsep dasarnya. Prioritas koreksi dalam model ditentukan oleh resiko relatif yang disebabkan adanya bahaya. Semakin besar resiko, semakin tinggi prioritas, tetapi biaya untuk koreksi tidak diperhitungkan. Biaya akan menjadi penting pada saat ditentukan tindakan alternatif koreksi yang akan diambil. Model Fine terdiri atas dua tahapan, yakni : Penentuan skor resiko beserta rankingnya, dan Penentuan tindakan alternatif terbaik untuk koreksi. Penentuan skor resiko RS = C x E x P Keterangan : RS = skor resiko C = Konsekuensi yang mungkin terjadi akibat bahaya, atau keparahan ~ injury severity rate E = frekuensi paparan terhadap penyebab ~ injury frequency rate P = Kemungkinan bahwa urutan lengkap kecelakaan akan terjadi, = dapat dihitung dengan jumlah kecelakaan yang menimbulkan jejas dan mengenai anggota badan yang sama dibagi dengan jumlah seluruh kecelakaan yang terjadi dalam periode yang sama Justifikasi tindakan alternatif terbaik J = RS / CF x DC Keterangan : J = justifikasi untuk koreksi RS = skor resiko CF =factor biaya DC = degree of correction atau sejauh mana koreksi itu dapat mengatasi bahaya 10

Model ini berbeda dari model Smith dalam menilai frekuensi dan keparahan jenis kecelakaan Model Fine mengenggapnya sama penting, Ada pula usaha mencari alternatif terbaik bagi tindakan koreksi, dan bersifat kuantitatif. Perhitungan skor resiko di industri i juga dilakukan k tetapi untuk setiap unit, dan bukan untuk setiap jenis kecelakaan Nilai rating untuk C (derajat keparahan, consequences) a. Bencana alam: banyak kecelakaan fatal (cacat tetap 100 atau meninggal), kerusakan yang luas (lebih dari $1.000.000) b. Beberapa kecelakaan fatal, kerusakan $500.000-50 $1.000.000 c. Kecelakaan fatal, kerusakaan $100.000-$500.000 25 d. Injury sangat serius (amputasi, cacat permanen) kerusakan $1000-$100.000 e. Luka yang menyebabkan cacat, kerusakan sampai 5 $1000 f. Luka minor, memar, benjolan, kerusakan minor 1 15 11

Nilai rating untuk E (exposure) a. Terus menerus (sering dalam sehari) 10 b. Sering (sekitar sekali sehari) 6 c. Sekali-sekali (1x seminggu 1x sebulan) 3 d. Biasa (1x sebulan 1x setahun) 2 e. Jarang (pernah terjadi) 1 f. Sangat jarang (belum pernah terjadi, tapi ada 0,5 kemungkinan terjadi Nilai rating untuk P (probability) a. Paling memungkinkan terjadi bila ada peristiwa 10 bahaya b. Agak memungkinkan (50-50) 50) 6 c. Tidak biasa/kebetulan 3 d. Kejadian kebetulan yang kecil peluangnya (pernah terjadi) 1 e. Sangat kecil kemungkinannya, tapi mungkin 0,5 terjadi (tidak pernah terjadi setelah sekian tahun paparan) f. Secara praktek tidak mungkin terjadi (tidak pernah terjadi meskipun berahn-tahun paparan) 0,1 12

Nilai rating untuk CF (cost factor) a. > $50.000 10 b. $ 25.000-$50.000 6 c. $10.000-$25.000 4 d. $1.000 - $10.000 3 e. $100 - $1.000 2 f. $25 - $100 1 g. < $25 0,5 Nilai rating untuk DC (degree of correction) a. Bahaya dihilangkan 100% 6 6 b. Bahaya dikurangi sekitar 75% 4 c. Bahaya dikurangi 50%-75% 3 d. Bahaya dikurang 25%-50% 2 e. Hanya berpengaruh kecil pada bahaya (< 25%) 1 13

Contoh: (Kecelakaan telah terjadi) No. Jenis Kecelakaan Penyebab Kecelakaan Jumlah Hari Hilang 1 Terkena teropong Loncatan teropong 2 2 Terkena teropong Loncatan teropong 2 3 Terkena gram besi Percikan gram bubutan 3 4 Terjepit rool Loncatan teropong 4 5 Terkena teropong Loncatan teropong 3 6 Terkena teropong Loncatan teropong 2 7 Terkena teropong Loncatan teropong 2 8 Terkena teropong Loncatan teropong 3 9 Terkena teropong Loncatan teropong 4 10 Terkena teropong Loncatan teropong 3 11 T k i K b h k j 4 12 Terjepit beam Kecerobohan kerja 3 13 Terkena teropong Loncatan teropong 3 14 Terjepit bean Kecerobohan kerja 7 15 Terkena teropong Loncatan teropong 3 16 Terkena cutter Kecerobohan kerja 1 17 Terkena teropong Loncatan teropong 2 18 Terjepit lade Sedang service 4 19 Terkena teropong Loncatan teropong 4 20 Terkena teropong Loncatan teropong 3 21 Terbentur roda Terpeleset saat mendorong 2 22 Terjepit mesin sungle Kecerobohan kerja 4 23 Terkena teropong Loncatan teropong 3 24 Terjepit beam Kerebohan kerja 4 25 Terkena teropong Loncatan teropong 3 26 Terkena teropong Loncatan teropong 4 27 Terkena teropong Loncatan teropong 3 28 Terpercik abu Kecerobohan kerja 2 29 Terpecik api Hubungan arus pendek 2 30 Terkena mesin Kecerobohan kerja 3 31 Terkena teropong Loncatan teropong 2 32 Terkena sattle Sattle terbanting 2 33 Terkena teropong Loncatan teropong 2 34 Terjepit mesin jaguar Keceroboahn kerja 3 35 Terkena teropong Loncatan teropong 3 36 Terbentur pintu Terpeleset saat mendorong 2 37 Terkena teropong Loncatan teropong 2 Diketahui : Jumlah total pekerja 1400 orang 11 Terkena griper Kecerobohan kerja 4 Jam kerja 56 jam/minggu Dari data data di atas dapat diketahui : Injury Frequensy Rate Injury Severity Rate Probability Risk Score Injury Frequency Rate Injury Frequency Rate, E Number of disabling injury X 1.000.000 Total number of man hour worked = (37 X 1.000.000) / (1400 X 365 X 8) = 9 Injury Severity Rate Injury Severity Rate, C Number of days lost X 1.000 Total number of man hour worked = (108 X 1.000) / (1400 X 365 X 8) = 0.03 Probability Probability, P Number of disabling injury Days = 37/365 = 0.1 Risk Score Risk Score, RS = C x E x P = 9 x 0,03 x 0,1 = 2,7% 14

CONTOH 2: (Kecelakaan belum terjadi) PADA SEBUAH LABORATORIUM PROSES EKSPLOSIF, TERDAPAT BEBERAPA OVEN YANG DIGUNAKAN UNTUK TESTING MATERIA EKSPLOSIF. OVEN OVEN INI MENIMBULKAN PANAS YANG DAPAT SAJA BERLEBIH BILA ALAT KONTROL NYA RUSAK, YANG KEMUDIAN DAPAT MENYEBABKAN MATERI EKSPLOSIF MELEDAK. BANYAK ORANG YANG LEWAT DI LUAR LABORATORIUM TERSEBUT. POTENSI BAHAYA YANG ADA PADA KEADAAN INI ADALAH: BAHAYA EKSPLOSIF TERHADAP ORANG YANG LEWAT DI DEPAN/LUAR LABORATORIUM Situasi dipelajari untuk menentukan RS: terdapat beberapa oven yang dipakai, yang mengandung materi eksplosif manusia lewat di luar laboratorium thermostat rusak suhu naik kondisi bahaya kontrol pemutus aliran emergency tidak berfungsi oven memanas materi eksplosif meledak manusia yang lewat terluka akibat pecahan & bangunan Risk Score = Consequences X Exposure X Probability = 25 X 1 X 1 = 25 fatality ; most likely exposure: pernah terjadi probability: semua oven sudah dilengkapi pengaman,pemutus aliran emergency juga ada ketidakberfungsian salah satu peralatan diatas quite unlikely kedua fungsi pengaman gagal pada salah satu oven very remote possibility 15

CONTOH 3: (Kecelakaan belum terjadi) BEBERAPA SILINDER OXYGEN BERTEKANAN BERDIRI TANPA PENYANGGA DI DEPAN SEBUAH TOKO PADA JALAN YANG CUKUP RAMAI. CAPS (PENUTUP TABUNG/SILINDER) DIPASANG DENGAN BAIK. ADA 2 KEMUNGKINAN YANG DAPAT TERJADI: 1. TABUNG BISA TERGULING DAN MENYEBABKAN CEDERA KAKI 2. TABUNG BISA TERGULING, RUSAK, DAN GAS DAPAT KELUAR DAN MEYEBABKAN KERUSAKAN LEBIH SERIUS Bila ada seseorang yang lewat dan menabrak sebuah tabung, treguling tabungnya dan mengenai kaki orang tersebut Risk Score = C X E X P = 5 X 10 X 4 = 200 consequences: akibatnya disabling injury exposure: orang menabrak tabung ketika berjalan terjadi sering kali dalam sehari probability: kemungkinan terjadi: tabung terguling, jatuh mengenai kaki orang, menyebabkan patah tulang Quite possible Kemungkinan lain: kejadiannya dimulai dengan tabung jatuh tetapi tabung rusak dan katup membuka, mengeluarkan gas tekanan tinggi, karena banyak orang lewat cedera serius Risk Score = C X E X P = 15 X 10 X 1 = 150 consequences exposure probability: menilai semua tahap terjadi remote possibility 16

Hasil perhitungan di atas dapat digunakan oleh perusahaan untuk : Mengetahui apakah pencegahan kecelakaan masih harus disempurnakan Menentukan (sebagai ukuran) pengalaman kecelakaan dari suatu perusahaan Menentukan apakah pengalaman tadi lebih baik/menjadi buruk tiap bulan/tahunnya Membedakan pengalaman dari suatu unit operasi dengan yang lain Menjadi dasar untuk mengadakan perbandingan antara satu dengan unit lain dalam hal pencegahan kecelakaan. Setelah mendapat nilai Risk Score, maka dapat dipilih pula alternatif metode perbaikan sehingga risiko terjadinya kecelakan bertambah kecil, denganmenggunakan persamaanfine kedua untuk Justifikasi untuk Koreksi. Nilai JC yang diterima untuk dilaksankan sangat tergantung dari nilai risko yang dapat diterima oleh suatu industri. Nilai rating untuk komponen DC (degree of correction) dan CF (cost factor), 17