Moratorium Hutan Berbasis Capaian

dokumen-dokumen yang mirip
Perbaikan Tata Kelola Kehutanan yang Melampaui Karbon

BAB IV. LANDASAN SPESIFIK SRAP REDD+ PROVINSI PAPUA

KEADILAN IKLIM: PERBAIKAN TATA

1 TAHUN PELAKSANAAN INPRES 10/2011: Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola pada Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut

Monitoring Implementasi Renaksi GN-SDA oleh CSO. Korsup Monev GN-SDA Jabar Jateng DIY Jatim Semarang, 20 Mei 2015

Dampak moratorium LoI pada hutan alam dan gambut Sumatra

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012

Masyarakat Adat di Indonesia dan Perjuangan untuk Pengakuan Legal

BAB I PENDAHULUAN. sektor sosial budaya dan lingkungan. Salah satu sektor lingkungan yang terkait

PAPER KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN

PIPIB untuk Mendukung Upaya Penurunan Emisi Karbon

-1- DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

BAB V PENUTUP. Indonesia sebagai salah satu negara yang tergabung dalam rezim internasional

dan Mekanisme Pendanaan REDD+ Komunikasi Publik dengan Tokoh Agama 15 Juni 2011

PR MENTERI LKH: TUTUP CELAH KORUPSI MELALUI REVISI REGULASI SEKTOR KEHUTANAN

Kajian Sistem Pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Sektor Kehutanan 2015

KAWASAN PESISIR KAWASAN DARATAN. KAB. ROKAN HILIR 30 Pulau, 16 KEC, 183 KEL, Pddk, ,93 Ha

MISKINYA RAKYAT KAYANYA HUTAN

Royal Golden Eagle (RGE) Kerangka Kerja Keberlanjutan Industri Kehutanan, Serat Kayu, Pulp & Kertas

Kondisi Hutan (Deforestasi) di Indonesia dan Peran KPH dalam penurunan emisi dari perubahan lahan hutan

POTRET KETIMPANGAN v. Konsentrasi Penguasaan Lahan ada di sektor pertambangan, perkebunan dan badan usaha lain

KERTAS POSISI Kelompok Masyarakat Sipil Region Sulawesi Sistem Sertifikasi Bukan Sekedar Label Sawit Berkelanjutan

PERHUTANAN SOSIAL DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT YANG EFEKTIF

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu lingkungan tentang perubahan iklim global akibat naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer menjadi

2014, No menetapkan Peraturan Menteri Kehutanan tentang Tata Cara Penetapan Peta Indikatif Arahan Pemanfaatan Kawasan Hutan Produksi Yang Tidak

BAB I PENDAHULUAN. peradaban umat manusia di berbagai belahan dunia (Maryudi, 2015). Luas hutan

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG

PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA KEHUTANAN TINGKAT KABUPATEN/KOTA

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENUNDAAN PEMBERIAN IZIN BARU DAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P.36/MENHUT-II/2013 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA KEHUTANAN TINGKAT KABUPATEN/KOTA

SERBA SERBI HUTAN DESA (HD)

PENATAAN KORIDOR RIMBA

REGULASI KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PEMBERIAN HAK ATAS TANAH UNTUK PERKEBUNAN

Harmonisasi Kebijakan dan Peraturan Perundangan

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 2017 TENTANG PENYELESAIAN PENGUASAAN TANAH DALAM KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Oleh : Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: P. 36/Menhut-II/2010 TENTANG

PELAKSANAAN PARTICIPATORY MAPPING (PM) ATAU PEMETAAN PARTISIPATIF

BRIEFING PAPER Koalisi Masyarakat Sipil Untuk Penyelamatan Hutan Indonesia & Iklim Global

Title : Analisis Polaruang Kalimantan dengan Tutupan Hutan Kalimantan 2009

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 32/Menhut-II/2013 TENTANG

Focus Group Discussion Pertama: Penyusunan Kajian Kritis Penguatan Instrumen ISPO

INDUSTRI PENGGUNA HARUS MEMBERSIHKAN RANTAI PASOKAN MEREKA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

2017, No kelestarian keanekaragaman hayati, pengaturan air, sebagai penyimpan cadangan karbon, penghasil oksigen tetap terjaga; c. bahwa revisi

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.6/Menhut-II/2010 TENTANG

Menguji Rencana Pemenuhan Target Penurunan Emisi Indonesia 2020 dari Sektor Kehutanan dan Pemanfaatan Lahan Gambut

Perkuat Agenda Perubahan Iklim dan Komitmen Indonesia Melindungi Hutan

21 Maret Para Pemangku Kepentingan yang Terhormat,

Kajian Nilai Konservasi Tinggi Provinsi Kalimantan Tengah

Laporan Investigatif Eyes on the Forest Desember 2015

Forest Tenure. Jaminan Hukum Umum Prinsip Kriteria Indikator Elemen Kualitas PJaminan Hukum Umum yang mengakomodasi Tata Kelola Pemerintah yang Baik.

Analisis Kebijakan Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut

I. PENDAHULUAN. ekonomi dan sosial budaya. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

West Kalimantan Community Carbon Pools

Permasalahan hutan dan upaya penanganan oleh pemerintah

2016, No informasi geospasial dengan melibatkan seluruh unit yang mengelola informasi geospasial; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. kesempatan untuk tumbuhan mangrove beradaptasi (Noor dkk, 2006). Hutan

Laporan Penelitian Implementasi Undang-Undang No. 18 Tahun 2013 dalam Penanggulangan Pembalakan Liar

Oleh : Giorgio Budi Indrarto 1

REPETA DEPARTEMEN KEHUTANAN TAHUN 2004

REVITALISASI KEHUTANAN

Jalan Perubahan Ketiga: Pemberantasan Kejahatan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup PEMBANGUNAN SEBAGAI HAK RAKYAT

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Rasionalisasi. Anggaran Prioritas Untuk Perbaikan Tata Kelola Hutan dan Lahan di Provinsi Riau Tahun Anggaran 2016

I. PENDAHULUAN A. Urgensi Rencana Makro Pemantapan Kawasan Hutan.

PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN. Oleh : Direktur Jenderal Planologi Kehutanan

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG BADAN RESTORASI GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

VISI ACEH YANG BERMARTABAT, SEJAHTERA, BERKEADILAN, DAN MANDIRI BERLANDASKAN UNDANG-UNDANG PEMERINTAHAN ACEH SEBAGAI WUJUD MoU HELSINKI MISI

BAB II. PERENCANAAN KINERJA

PERENCANAAN PERLINDUNGAN

Idham Arsyad Sekretaris Jendral Konsorsium Pembaruan Agraria

Disampaikan dalam Semiloka Refeleksi setahun nota kesepakatan bersama (NKB) Selasa, 11 November 2014 Hotel Mercure Ancol, Ancol Jakarta Baycity

ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN BIDANG PERTANAHAN TAHUN

REDD+: Selayang Pandang

BAB I PENDAHULUAN. telah berlangsung sebelum legalitas hukum formal ditetapkan oleh pemerintah.

Forest Stewardship Council

KONDISI KAWASAN HUTAN PROVINSI SUMATERA UTARA

Percepatan Penetapan Kawasan Hutan Secara Definitif dengan Skema Klaim-Verifikasi

Laksanakan Penataan Kehutanan Menyeluruh, dan Batalkan Rencana Pengesahan RUU tentang Pemberantasan Perusakan Hutan

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEHUTANAN. Penyelenggaraan. Sistem Informasi.

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA PEMBUKAAN RAPAT KOORDINASI TEKNIS PEMBANGUNAN KEHUTANAN BIDANG BINA PRODUKSI KEHUTANAN (Jakarta, 14 Juli 2010)

SISTEMATIKA PENYAJIAN :

RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) DIREKTORAT PERLUASAN DAN PENGELOLAAN LAHAN TA. 2014

sebagai Kawasan Ekosistem Esensial)

MEMBUAT HUTAN MASYARAKAT DI INDONESIA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG

PENTINGNYA REFORMASI PENGUASAAN HUTAN DAN LAHAN DALAM MENGIMPLEMENTASIKAN AGENDA PEMBANGUNAN YANG PEKA TERHADAP PERUBAHAN IKLIM

SRAP- REDD+ Papua Barat sebagai pendukung utama mi:gasi pengurangan emisi karbon Nasional Sampai Tahun 2020

PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.83/MENLHK/SETJEN/KUM.1/10/2016 TENTANG PERHUTANAN SOSIAL

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN TENTANG BADAN RESTORASI GAMBUT

Eksistensi Hutan Adat Dalam Pembangunan Kehutanan di Indonesia. Paska Putusan MK No. 35/PUU-X/2012

Strategi rehabilitasi hutan terdegradasi

HELP A B C. PRINSIP CRITERIA INDIKATOR Prinsip 1. Kepatuhan hukum dan konsistensi dengan program kehutanan nasional

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 1/MENHUT-II/2012 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA KEHUTANAN TINGKAT PROVINSI

Transkripsi:

Re#leksi Satu Tahun Inpres Moratorium dan Peluncuran Usulan Masyarakat Sipil untuk Perbaikan Kebijakan Moratorium Hutan Indonesia Moratorium Hutan Berbasis Capaian Jakarta, 21 Mei 2012 Koalisi Masyarakat Sipil untuk Penyelamatan Hutan Indonesia dan Iklim Global 1 h a l

Naskah ini merupakan ringkasan dari posisi masyarakat sipil atas moratorium di Indonesia. Ada dua hal yang menjadi misi utama naskah ini. Pertama, merupakan upaya untuk memberi komentar atas Inpres Moratorium (Inpres No 10/2011), mendorong perubahan Inpres dengan kebijakan baru yang lebih Bnggi. Kedua, mendorong posisi ini sebagai poin- poin pikiran untuk perubahan atas keseluruhan sistem hukum kehutanan di Indonesia, terutama untuk aspek moratorium yang belum digarap oleh kelompok advokasi lain. APA ITU MORATORIUM Moratorium merupakan sebuah upaya jeda eksploitasi yang dilakukan dalam suatu periode tertentu untuk menghen6kan atau menunda kegiatan tertentu dan mengisi periode tersebut dengan langkah- langkah untuk mencapai perubahan yang signifikan. Dalam isu hutan dan lahan gambut, moratorium adalah penghen6an untuk jangka waktu tertentu dari ak6vitas penebangan dan konversi hutan untuk mengambil jarak dari masalah agar didapat jalan keluar yang bersifat jangka panjang dan permanen. Dalam hal ini, moratorium mengandung makna korek6f, 6dak hanya sebuah upaya jeda tetapi terutama upaya memperbaiki keadaan. Karena itu, moratorium berkaitan dengan target perubahan yang ingin dicapai. Target tersebut terumuskan dalam ukuran yang jelas sehingga pada saatnya bisa jadi ukuran yang menentukan apakah selama periode moratorium ukuran- ukuran yang telah direncanakan telah tercapai atau belum. Moratorium yang diberlakukan pemerintah saat ini melalui Inpres No 10/2011 patut diapresiasi. Namun masyarakat sipil menilai Inpres tersebut belum cukup untuk menjawab persoalan kerusakan hutan yang makin parah. MENGAPA MORATORIUM Di tengah ancaman kerusakan hutan dalam masa transisi, moratorium merupakan langkah terakhir untuk menyelamatkan hutan yang benar- benar riil. Secara sta6s6k Indonesia memiliki 136,88 juta hektar kawasan hutan (Renstra Kemenhut, 2010-2014) dan 22 juta hektar lahan gambut. Namun, hingga 2010, pemerintah masih mencatat laju deforestasi di Indonesia masih di atas 1 juta hektar per tahun. Angka yang diambil Kementerian Kehutanan adalah 1.125 juta Ha per tahun (data BPK 2010). Dengan laju deforestasi saat ini, diperkirakan semua areal hutan akan lenyap dalam 50 tahun mendatang (CIFOR, 2010). Saat ini, ekspansi industri ekstrak6f terus berjalan. Tercatat, hutan produksi yang dapat dikonversi seluas 8.9 jt Ha. Hingga 2010, 4.7 jt Ha diantaranya sudah dilepaskan, dan 2.4 jt Ha sudah diberikan HGU (Hadi Daryanto, 2010). Salah satu industri yang paling cepat adalah ekspansi perkebunan kelapa sawit. Data Dirjenbun Deptan, tahun 2009 menunjukan sudah ada 7,5 juta Ha perkebunan kelapa sawit dan terus mengalami perluasan sebesar 372.000 Ha/tahun (Dirjenbun Deptan, 2009). 2 h a l

Perusakan hutan belum termasuk pembukaan kawasan hutan untuk kepen6ngan pertambangan dan pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, penguasaan hutan yang disediakan oleh kerangka hukum formal sangat 6mpang antara kelompok pengusaha dengan masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar kawasan hutan. Masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar hutan jumlahnya lebih banyak tetapi menikma6 hak atas sumber daya hutan yang sangat terbatas bahkan seringkali dianggap illegal dibandingkan dengan perusahaan- perusahaan skala besar yang umumnya hidup dan mengontrol bisnisnya dari kota. Secara hukum TAP IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam memerintahkan sejumlah langkah- langkah konkrit untuk mewujudkan pembaruan agraria dan pengelolan sumber daya alam mendukung kualitas lingkungan, menghapus ke6mpangan struktur penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatannya serta mencegah konflik. Ketetapan ini harus dijalankan oleh Pemerintah karena menurut UU No 12 Tahun 2011, ketetapan harus dijalankan oleh berbagai regim hukum sumber daya alam, termasuk bidang kehutanan. Posisi CSOs : A. Moratorium bukanlah tujuan akhir melainkan sebuah proses yang harus dilalui untuk mencapai pengurangan laju deforestasi. B. Moratorium 6dak dibatasi waktu melainkan ditentukan oleh pemenuhan prasyarat dasar yang diukur melalui kriteria dan indikator pengelolaan hutan berkelanjutan termasuk didalamnya pemenuhan safeguards lingkungan dan sosial. C. Moratorium diberlakukan 6dak terbatas hanya pada ijin baru, tetapi juga melipu6 peninjauan ulang atas ijin- ijin yang sudah dikeluarkan dan penghen6an penebangan dengan menggunakan izin lama. 3 h a l

D. Menjadi jaminan perlindungan total terhadap hutan tersisa (primer dan kesatuan bentang alam hutan) serta ekosistem rawa gambut. E. Moratorium menyediakan ruang bagi pengakuan hak masyarakat. Penjelasan atas posisi di atas antara lain sebagai berikut: Moratorium bukan sebuah tujuan Moratorium 6dak dapat dipandang sebagai sebuah tujuan, tapi sebuah proses yang harus dilalui untuk mencapai pengurangan laju deforestasi dan persoalan kehutanan lainnya. Dalam masa transisi, hanya dengan moratorium, berbagai fungsi hutan yang telah di salahgunakan dapat dengan segera diperbaiki. Selama periode ini, dibentuk kebijakan- kebijakan untuk mengubah paradigma pembangunan kehutanan yang eksploita6f dan sarat konflik dan menjadi basis bagi perubahan paradigma pengelolaan hutan dalam jangka panjang. Moratorium diberlakukan bukan atas dasar waktu Moratorium 6dak bisa dibatasi waktu yang kejar tayang dan harus dicabut lagi dalam jangka waktu tertentu (misalnya, hanya 2 tahun). Melainkan ditentukan oleh pemenuhan prasyarat dasar yang diukur melalui kriteria dan indikator pengelolaan hutan berkelanjutan termasuk didalamnya pemenuhan kerangka pengaman (safeguards) lingkungan dan sosial yang tertuang dalam perubahan kebijakan maupun revisi atas kebijakan yang ada. Sehingga capaian perubahan kebijakan selama moratorium dapat terlihat dengan jelas dan capaian tersebut dapat menjadi awal baru dalam pengelolaan hutan Indonesia. 4 h a l

Moratorium bukan hanya pada izin baru tetapi juga review izin lama Moratorium harus menyentuh semua akar permasalahan pengelolaan hutan di Indonesia, dan hal tersebut 6dak hanya terbatas pada keberadaan izin- izin konsesi yang baru. Tetapi juga melipu6 peninjauan ulang atas ijin- ijin yang sudah dikeluarkan. Semua upaya ini menyasar ke perubahan regim kebijakan sumber daya alam yang menghargai prinsip- prinsip hak asasi manusia dan pengelolaan lingkungan hidup yang lestari. Moratorium menjadi jaminan perlindungan bagi ekosistem hutan Moratorium harus dilaksanakan dengan tujuan awal untuk memberikan perlindungan penuh terhadap ekosistem hutan yang tersisa (primer dan kesatuan bentang alam hutan) serta ekosistem rawa gambut. Situasi hutan yang sangat terancam sebagai akibat eksploitasi luar biasa selama periode otonomi daerah hanya bisa diatasi dengan moratorium. Bukan berar6 selamanya hutan 6dak dapat dimanfaatkan, namun pemanfaatan hutan harus tepat sasaran dan 6dak menganggung keberlanjutan ekosistem secara keseluruhan (termasuk manusia). Perubahan ini terefleksikan dalam kebijakan yang nyata. Kriteria dan 1. Periode moratorium merupakan kesempatan menata ulang kebijakan penguasaan hutan dan membentuk kebijakan penyelesaian konflik kehutanan dan ke6mpangan penguasaan hutan. Rujukan perubahan antara lain mengacu pada TAP IX/MPR/2001 dan prinsip- prinsip pengelolaan lingkungan hidup yang tercantum dalam UU No 32/2009. 2. Tidak ada konversi di kawasan hutan alam, kesatuan bentang alam hutan dan rawa/lahan gambut yang tersisa untuk kepen6ngan industri. 3. Tidak ada tumpang 6ndih kawasan dalam tata ruang wilayah. 4. Adanya jaminan hak atas akses dan kontrol masyarakat adat/tempatan di kawasan hutan. 5 h a l

5. Kaji ulang atas seluruh izin di kawasan hutan dan 6dak ada lagi pemberian izin diatas kawasan ekologi pen6ng (mangrove, gambut, krangas, kars, cloud mountain forest, riparian sungai sesuai dengan perarutaran perundang- undangan yang berlaku), kawasan dengan nilai konservasi dan nilai karbon 6nggi. 6. Dipulihkannya kawasan- kawasan yang berfungsi lindung. 7. Pemberian izin restorasi dan rencana konservasi harus dilakukaan berdasarkan prinsip Free Prior Informed Consent (FPIC) oleh masyarakat. LANGKAH- LANGKAH IMPLEMENTASI MORATORIUM Moratorium berbasis capaian hanya bisa dilakukan dengan strategi yang telah diperhitungkan dan dilaksanakan dengan tahapan yang tersistema6s. Dimana keberhasilan dari pelaksanaan moratorium akan terlihat dari capaian yang telah berhasil dilakukan selama masa moratorium. Tahapan tersebut dapat dilihat dalam skema di bawah ini. PENYELAMATAN HUTAN INDONESIA UNTUK MASA DEPAN 6 h a l

Tahapan I Penghentian Penerbitan izin- izin baru dan review izin- izin lama Langkah 1: MemasBkan implementasi Moratorium Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut 1. Presiden merevisi kebijakan moratorium dengan membuat landasan hukum yang lebih kuat dengan mengacu pada prinsip reforma agraria dan pengelolaan sumber daya alam dalam TAP IX/MPR/2001 dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis, AMDAL dan Audit Perizinan dalam UU No 32/2009. 2. Presiden mempunyai kebijakan melakukan monitoring secara ruzn terkait dengan kinerja dari berbagai instansi yang telah diberikan instruksi. Monitoring dapat dilakukan melalui laporan yang diberikan secara berkala oleh UKP4 kepada Presiden. 3. Presiden memberikan arahan yang jelas (dapat melalui UKP4) untuk menyelesaikan berbagai hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan moratorium. 4. Laporan kepada publik mengenai langkah- langkah yang telah dilakukan dalam proses pelaksanaan moratorium melalui media massa secara berkala. Langkah 2: memasbkan kontribusi yang nyata dan terukur dari semua sektor berbasis lahan 1. Pemerintah memiliki kebijakan yang komprehensif mengenai paradigma pembangunan yang berbasis lingkungan dan menghargai hak masyarakat adat dan komunitas lokal. Kebijakan ini harus dalam bentuk Undang- undang agar menjangkau berbagai sektor terkait. 2. Presiden memberikan arahan dan instruksi secara jelas kepada Kementrian terkait (Pertanian dan ESDM) terkait dengan kezdaksesuaian kawasan. Konsesi pertambangan dan perkebunan Zdak bisa menganggu tujuan Indonesia untuk melakukan restrukturisasi pengelolaan kehutanan untuk mencapai target penurunan emisi. 3. Terdapat seperangkat kriteria dan indikator terkait dengan skema tukar lahan dan revisi atas Peraturan Pemerintah No.10 tahun 2010 yang telah menjadi rekomendasi dari KPK. 4. Me- nihil- kan kawasan non- hutan yang berhutan, termasuk dengan membuka kemungkinan untuk tukar menukar kawasan. Langkah 3: review keseluruhan perizinan di bidang sumber daya alam 1. Terdapat panduan review perizinan yang komprehensif yang menjangkau lintas sektoral dan berbasis sosial dan lingkungan. 2. Terdapat sebuah rekomendasi konkrit kepada Presiden dari Zm independen kaji ulang izin yang telah dibentuk, terkait dengan kaji ulang perizinan di sektor kehutanan / lahan di Indonesia. 3. Presiden menginstruksikan (melalui Inpres) semua instansi terkait/berwenang untuk melakukan Zndak lanjut atas rekomendasi yang telah dilakukan oleh Zm independen. 7 h a l

Langkah 4: transparansi dalam penegakan hukum atas kejahatan kehutanan 1. Revisi terhadap UU No 41/1999 untuk merumuskan kejahatan kehutanan secara jelas, mempertegas garis koordinasi penegakan hukum dan memberi batasan yang tegas agar ruang hidup masyarakat adat dan komunitas lokal Zdak didefinisikan sebagai kejahatan kehutanan. 2. Presiden (melalui UKP4) memberikan instruksi kepada Kementrian Kehutanan untuk melakukan kaji ulang atas mekanisme lelang dan pemanfaatan hasil lelang, serta menentukan mekanisme penentuan harga dasar lelang yang didasarkan pada nilai ekologis dari hasil hutan. 3. Kementrian Kehutanan melakukan perbaikan dan pengkajian ulang atas mekanisme pelelangan dan hasilnya dituangkan dalam sebuah peraturan Menteri Kehutanan. Langkah 5: strategi jangka panjang kebutuhan kayu dalam negeri 1. Kementerian kehutanan merevisi RKTN 2011-2030 agar ukuran- ukuran capaian fisik seperz kebutuhan kayu dan ekspansi industri Zdak berdiri sendiri tetapi dikaitkan dengan capaian sosial yang berkaitan dengan peningkatan taraf hidup masyarakat, pencegahan konflik dan pengakuan hak. 2. Kementrian Kehutanan melakukan penyusunan lanjutan sebagai Zndak lanjut dari RKTN untuk dapat memberikan landasan keterukuran capaian perencanaan RKTN. Tahap II Penyelesaian Masalah- masalah Sosial Langkah 1: hak masyarakat diperkuat dan diberdayakan oleh moratorium 1. Adanya kebijakan operasional mengenai pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam, termasuk mekanisme dan kelembagaan penyelesaian konflik sebagai Zndak lanjut dari TAP IX/MPR/2001. 2. Terdapat kebijakan operasional hak asasi manusia di bidang sumber daya alam termasuk sebuah mekanisme perlindungan dan penyelesaian konflik beserta mekanisme pengaduan yang dibangun secara lintas sektoral. Dimana mekanisme tersebut diterapkan dalam semua konteks pengelolaan sumber daya alam berbasis lahan. 3. Peta jalan roadmap tenure Menuju KepasZan dan Keadilan Tenurial diadopsi oleh pemerintah Zdak hanya oleh Kementerian Kehutanan tetapi menjadi kebijakan lintas sektoral. Langkah 2: parbsipasi penuh dan efekbf masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan 1. Kebijakan operasional TAP IX/MPR/2001 terintegrasi di berbagai sektor terutama keadilan dalam distribusi penguasaan sumber daya, perluasan akses masyarakat atas hutan dan pengakuan terhadap klaim historis masyarakat atas tanah dan sumber daya alam. 8 h a l

2. Terdapat sebuah kebijakan yang menjadi rujukan dalam melakukan review atas kebijakan agraria dan sumber daya alam berdasarkan arahan dan prinsip yang terdapat dalam TAP IX/MPR/2001. 3. Terdapat sebuah kebijakan teknis mengenai petunjuk pelaksanaan pelibatan publik dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perencanaan, pengelolaan dan evaluasi kehutanan. Tahapan III: Penyelamatan hutan- hutan yang paling terancam Langkah 1: Melakukan inventarisasi dan penilaian kawasan hutan berdasarkan nilai penbng ekologis (termasuk keragaman hayab, bukan hanya terbatas pada karbon) 1. Revisi terhadap UU No 5/1990 agar memasukan antara lain konservasi bernilai Znggi dengan mengacu pada ukuran KLHS yang terdapat dalam UU No 32/2009. 2. Menteri Kehutanan melakukan inisiasi pertemuan Zngkat Znggi (antar Menteri) untuk dapat mengkonsolidasikan rencana inventarisasi menyeluruh sumber daya alam berbasis lahan. Pelaksanaan inventarisasi harus dikawal oleh minimal Esselon I dari masing- masing kementrian agar apabila terdapat hambatan dapat langsung diambil keputusan. 3. Presiden menerima hasil inventarisasi menyeluruh sumber daya alam tersebut dan menuangkannya dalam sebuah Keputusan Presiden sebagai landasan pengelolaan lingkungan hidup. Langkah 2: membentuk pangkalan data kehutanan yang kuat dan terkelola dengan baik 1. Ada kebijakan pemerintah mengenai satu peta atas semua sektor di bidang sumber daya alam. Peta tersebut menjadi rujukan semua sektor termasuk kehutanan, tambang, pertanian, perairan. 2. Revisi Permenhut No 7/2011 tentang Pelayanan Informasi Publik di bidang Kehutanan dengan memasukan komponen pelayanan informasi secara akzf dan reguler, Zdak hanya melalui media website tetapi juga melalui sosialisasi akzf oleh struktur kementerian kehutanan hingga ke daerah. Langkah 3: pemetaan kawasan hutan dan fungsi- fungsi kawasan hutan 1. Peraturan Pelaksana UU No 26/2007 yang mengakui dan mendorong pemetaan parzsipazf sebagai salah satu basis dalam pembentukan RTRW. 2. Telah terjadi revisi aturan turunan UU No 41/1999 termasuk antara lain Permenhut P. 50/Menhut- II/2009 dan P.50/Menhut- II/2011 dengan mengacu pada Keputusan Mahkamah KonsZtusi mengenai uji material terhadap pasal satu angka 3 UU No 41/1999. 9 h a l

3. Wilayah hutan telah dibagi dalam unit manajemen terkecil dan disertai dengan kelembagaan yang terstruktur di seluruh Indonesia. Langkah 4: membangun strategi konservasi yang seimbang antara kepenbngan lingkungan dan sosial 1. Revisi terhadap UU No 5/1990 memasukan strategi konservasi yang antara lain konservasi berbasis masyarakat. 2. Konsultasi publik atas perubahan UU No 5/1990 dilaksanakan secara terencana dan sistemazs dilakukan pada semua region di Indonesia. Langkah 5: safeguards atas kegiatan kehutanan 1. Terdapat rujukan pada Zngkat operasional dari berbagai kementerian di bidang sumber daya alam untuk menjalankan TAP IX/MPR/2001. 2. Kebijakan free prior informed conset (FPIC) berlaku untuk semua sektor di bidang sumber daya alam dan terintegrasi dalam kebijakan pelaksanaan dan kebijakan teknis masing- masing sektor. 3. Proses perumusan kebijakan operasional termasuk FPIC disusun berdasar pada kerjasama strategis dengan forum mulz- pihak, antara lain DKN. Langkah 6: monitoring dan evaluasi atas kegiatan pengelolaan hutan Terdapat kebijakan nasional mengenai mekanisme monitoring dan evaluasi yang disusun secara sistemazs dan dapat mengukur berbagai pelaksanaan program / kegiatan terkait dengan pengelolaan hutan. 10 h a l