Oleh : Giorgio Budi Indrarto 1
|
|
|
- Shinta Tanuwidjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 TRANSPARANSI, PEMANTAUAN INDEPENDEN, DAN PENYELAMATAN HUTAN INDONESIA: SEBUAH RELASI KAUSALITAS Oleh : Giorgio Budi Indrarto 1 ABSTRAKSI Isu transparansi atas pengelolaan sumberdaya alam di Indonesia masih menunjukkan performa yang belum bisa dibanggakan. Setelah 17 tahun reformasi bergulir, pemerintahan terbuka yang bebas KKN rasanya belum terwujud. Undang undang No. 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) pun setelah 5 tahun berlaku efektif, kenyataannya masih jauh panggang dari api. Urgensi keterbukaan informasi atas pengelolaan sumber daya alam, khususnya ekosistem hutan semakin terasa. Seiring dengan terus memburuknya kondisi hutan di Indonesia, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada perubahan iklim, terganggunya cadangan air, dan hilangnya keanekaragaman hayati Nusantara. Publik butuh informasi yang valid, mutakhir dan lengkap terkait dengan kondisi pengelolaan hutan. Namun demikian, ternyata masih banyak pertanyaan yang muncul tentang relasi kausalitas (sebab-akibat) antara keterbukaan informasi dan upaya penyelamatan sumberdaya alam. Pertanyaan yang kemudian dilandaskan pada kecurigaan, kekhawatiran dan menjadikan informasi semakin tertutup. Tulisan ini akan mengulas mengenai relasi kausalitas tersebut. Mengapa transparansi akan berpengaruh terhadap upaya penyelamatan hutan? Apa yang menjadi modal Pemerintah dalam isu transparansi kehutanan? Serta apa solusi yang bisa dilakukan? Pendahuluan Isu transparansi dan keterbukaan informasi bukan suatu hal yang baru. Mewujudkan pemerintahan yang terbuka dan bebas dari KKN menjadi sebuah landasan utama dari reformasi. Termasuk dalam hal pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang sarat penyelewengan. Terkait ini, salah satu kebijakan fundamental yang dilahirkan setelah reformasi adalah Tap MPR No.9 Tahun 2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam. Wacana tentang keterbukaan terus bergulir, hingga akhirnya 5 tahun lalu Undang-undang No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP) efektif berlaku. Namun ternyata UU KIP masih belum mampu menciptakan sebuah tatanan pemerintahan yang terbuka dan akuntabel. Dalam hal transparansi informasi pengelolaan SDA misalnya, pada rentang tahun , dari 975 permohonan informasi yang diajukan oleh masyarakat hanya 127 yang diberikan. 2 Sebuah fakta yang sangat menyedihkan. Terlebih karena informasi yang dimintakan tersebut (AMDAL, dokumen perizinan, kebijakan dan anggaran) dijamin oleh UU KIP merupakan dokumen publik 3. Kondisi ini seakan-akan memberikan afirmasi bahwa perlindungan legal formal terhadap hak dasar warga negara hanya sebatas tulisan di atas kertas. Padahal tidak sedikit modalitas yang sudah dimiliki untuk dapat menerapkan UU KIP tersebut secara efektif. Misalnya, Kementerian Kehutanan (sekarang menjadi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK) merupakan salah satu institusi 1. Peneliti Forest Watch Indonesia 2. Permohonan informasi dilakukan pada wilayah Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Riau, Sumsel, Aceh dan NTB. Kertas Posisi Lima Tahun Pemberlakuan UU KIP: Buka Informasi, Selamatkan Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam. April Dokumen yang dimintakan merupakan informasi yang dikategorikan untuk wajib disediakan oleh badan publik secara berkala, setiap saat, dan serta merta. Pasal 9, 10 dan 11 UU KIP INTIP HUTAN - FOREST WATCH INDONESIA Februari - Mei
2 yang paling awal memiliki seperangkat peraturan untuk pelaksanaan UU KIP. Namun nampaknya para pejabat publik di lembaga ini masih terlihat kebingungan untuk menerapkan keterbukaan. 4 Lantas bagaimana sebenarnya relasi kausalitas antara keterbukaan dan keselamatan hutan? Apakah dengan memperoleh dokumen perizinan, AMDAL, anggaran, peta dan lain sebagainya bisa menurunkan tingkat deforestasi? Dimana logikanya? Pertanyaan yang mungkin terkesan naif bagi para pegiat keterbukaan informasi SDA. Tetapi itulah yang terjadi, pertanyaan mendasar tersebut belum (tidak) pernah dibahas dan dipahami secara sungguh-sungguh. Tidak sedikit birokrat yang masih mempertanyakan apa tujuan masyarakat ketika meminta informasi. Kecurigaan atas persengkongkolan jahat, pencurian hak atas kekayaan intelektual hingga isu keamanan negara kerap digunakan sebagai argumen untuk tidak membuka sebuah informasi. Salah satu tugas dan tanggung jawab publik dalam proses demokrasi adalah melakukan partisipasi seluas-luasnya dalam mengawasi jalannya pengelolaan negara. Agar bisa menjalankan tugas dan tanggung jawab tersebut, diperlukan akses informasi yang valid, mutakhir dan lengkap. 5 Jadi sejatinya partisipasi bukan sekadar hak, melainkan juga kewajiban publik. 6 Transparansi informasi pada dasarnya menjadi sebuah pintu masuk utama bagi proses check & balance, sebagai wujud konkrit partisipasi masyarakat dalam mengawasi kinerja pemerintahan. Alih-alih sekadar hak, transparansi adalah sarana yang harus disediakan bagi publik agar dapat melakukan tugasnya menjaga pilar demokrasi. Demikian juga dalam hal pengelolaan SDA khususnya ekosistem hutan. Masyarakat lingkar hutan memerlukan informasi mengenai pembangunan kehutanan di wilayah hidup mereka. Penerbitan sebuah izin pemanfaatan hutan, langsung maupun tidak, akan memengaruhi pola kehidupan masyarakat. Kesesuaian, rencana kerja, potensi dampak, potensi keuntungan, dan hal lain yang mungkin timbul akibat sebuah kegiatan pengelolaan hutan perlu diketahui. Hanya dengan informasi yang komprehensif, masyarakat dapat mengambil keputusan yang sadar dampak secara bebas dan tanpa tekanan. Kausalitas Transparansi dan Penyelamatan Hutan Sebelumnya sudah dijelaskan mengenai hubungan antara transparansi dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan kehutanan. Peran serta masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan setidaknya mulai mendapat perhatian besar semenjak terbitnya UU No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Terlebih pasca reformasi, ruh inklusivitas dalam penyelenggaraan negara menjadi sebuah keniscayaan dalam berbagai peraturan pengelolaan SDA. UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, UU 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta UU No.39 Tahun Kementerian Kehutanan pada tahun 2010 telah menerbitkan Peraturan Menteri No. P.02/Menhut-II/2010 tentang Sistem Informasi Kehutanan dan Peraturan Menteri No. P.07/Menhut-II/2010 tentang Pelayanan Informasi Publik di Lingkungan Kementerian Kehutanan. 5. Alasdair Roberts, Structural Pluralism and the Right to Information (2001) 6. Ibid 8 INTIP HUTAN - FOREST WATCH INDONESIA Februari - Mei 2015
3 tentang Perkebunan, adalah sebagian peraturan perundangan yang meletakkan keterbukaan sebagai salah satu asas dan tujuannya. Dapat diartikan bahwa keterbukaan sudah menjadi kesepakatan bersama sebagai sebuah tujuan dari kehidupan bernegara. Namun, keterbukaan seperti apa yang seharusnya terjadi? Atau jangan-jangan ada yang menganggap bahwa keterbukaan hanya sekadar jargon supaya berkesan sungguh-sungguh mengemban mandat reformasi? Penyelenggaraan kehutanan berasaskan keterbukaan dimaksudkan agar setiap kegiatan penyelenggaraan kehutanan mengikutsertakan masyarakat dan memperhatikan aspirasi masyarakat. (penjelasan Pasal 2, UU No.41 Tahun 1999) Yang dimaksud dengan keterbukaan adalah bahwa penataan ruang diselenggarakan dengan memberikan akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan penataan ruang. (penjelasan Pasal 2 Huruf e, UU No.26 Tahun 2007) Yang dimaksud dengan asas partisipatif adalah bahwa setiap anggota masyarakat didorong untuk berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup baik secara langsung maupun tidak langsung. (penjelasan Pasal 2 Huruf k, UU No.32 Tahun 2009) Yang dimaksud dengan asas keterbukaan adalah penyelenggaraan. Perkebunan dilakukan dengan memperhatikan aspirasi masyarakat dan didukung dengan pelayanan informasi yang dapat diakses oleh Pelaku Usaha Perkebunan dan masyarakat. (penjelasan Pasal 2 Huruf g, UU No.39 Tahun 2014) Melihat penjelasan pada undang-undang terkait SDA di atas, asas keterbukaan bukanlah sekadar jargon. Walaupun masih terlalu umum, namun ada mandat yang harus dilaksanakan oleh penyelenggara negara. Ketika Undang-undang dibuat, terdapat sebuah kesadaran bahwa untuk mencapai cita-cita reformasi, warga masyarakat dengan Pemerintah harus terus memperkecil berjarak. Peran masyarakat dalam pengambilan kebijakan dianggap penting, sehingga kolaborasi antara Pemerintah dengan masyarakat sangat diperlukan. Kolaborasi ini hanya bisa terjadi secara hakiki (genuine) apabila masyarakat dapat mengakses informasi publik yang dikuasai oleh Pemerintah sebagai penyelenggara negara. 7 Sehingga partisipasi bukan sekadar duduk dan hadir di dalam berbagai pertemuan, tetapi juga aktif karena berbekal pengetahuan yang cukup. Artinya, ketersediaan informasi yang valid, mutakhir dan lengkap menjadi prasyarat utama bagi terpenuhinya asas keterbukaan. Pada titik inilah ketersediaan data dan informasi kehutanan menjadi awal untuk dapat menjamin keberlanjutan hutan Indonesia. Hilangnya tutupan hutan diakibatkan oleh berbagai sebab, dan secara umum dibedakan menjadi deforestasi terencana dan tidak terencana dalam penyelenggaraan urusan kehutanan di Indonesia. 8 Artinya, sebagai sebuah konsekuensi dari pembangunan maka deforestasi terencana bisa dianggap wajar. Namun permasalahannya terletak pada proses pengambilan keputusan yang berdampak pada deforestasi tersebut. Apakah pemberian izin konsesi oleh Pemerintah di suatu 7. John M. Ackerman and Irma E. Sandoval-Ballesteros Administrative Law Review Vol. 58, No. 1 (Winter 2006), pp Erin Myers Madeira, et.al, Apakah yang dimaksud dengan proyek percontohan REDD+? Klasifikasi awal berdasarkan beberapa kegiatan awal di Indonesia (CIFOR, 2011) INTIP HUTAN - FOREST WATCH INDONESIA Februari - Mei
4 wilayah tertentu sudah dilandasi oleh pertimbangan yang komprehensif? Di sinilah peran publik dalam melakukan check & balance terhadap keputusan yang diambil, agar tepat sasaran bagi kepentingan publik. Pada kenyataannya yang terjadi sekarang ini adalah ketiadaan peran kontrol, sekitar 4,50 jt ha hutan alam Indonesia lenyap dalam periode , atau 1,13 jt ha/tahun. 9 Kalaupun ini diandaikan adalah bagian dari deforestasi yang direncanakan, Pemerintah tetap tidak dibenarkan mengambil langkah sendiri tanpa memberikan informasi yang cukup kepada masyarakat, sehingga dapat terlibat dalam pengambilan keputusannya. Khususnya di tengah kondisi lingkungan yang semakin memburuk dan ancaman perubahan iklim yang tidak lagi bisa terhindarkan. Logika ini seharusnya bisa menjawab pertanyaan relasi antara transparansi dan penyelamatan hutan Indonesia. Pemantauan Penyelenggaraan Pengelolaan Hutan Oleh Masyarakat Sipil Pemerintah yang menyadari bahwa deforestasi terencana berkembang tidak terkontrol, mulai menerbitkan kebijakan yang memberi ruang kepada masyarakat sipil untuk melakukan kontrol publik (pemantauan). Pada tahun 2009 Menteri Kehutanan menerbitkan Peraturan Menteri Kehutanan No.38 Tahun 2009 tentang Standar dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin atau pada Hutan Hak (SVLK). Sebuah kebijakan yang mendorong akuntabilitas atas status legal dari komoditas kayu. Kebijakan ini terus diperbaharui dan disempurnakan, dan peran masyarakat (melalui pemantau independen) juga diperkuat 10. Pada tahun 2011, Pemerintah menerbitkan Inpres No.10 Tahun 2011 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut. Kebijakan ini menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi hutan. Kebijakan ini juga memungkinkan masyarakat turut melakukan pemantauan terhadap proses penyelamatan hutan Indonesia yang masih tersisa. Pemerintah menerbitkan peta indikatif yang dievaluasi setiap 6 bulan sekali. Kebijakan ini awalnya berlaku selama 2 tahun, namun terus diperpanjang hingga Kedua kebijakan tersebut bisa memberikan sebuah konteks terhadap relasi kausalitas antara transparansi dan upaya penyelamatan hutan di Indonesia. Dalam penerapan SVLK, dikenal istilah Pemantau Independen (PI) dan keberadaannya dilandaskan pada Pasal 17 Permenhut 43/2014 jo. Permenhut 95/2014. Unsur dari PI ini adalah masyarakat madani baik perorangan atau lembaga yang berbadan hukum Indonesia dan menjalankan fungsi pemantauan terkait dengan pelayanan publik di bidang kehutanan. Ini berarti bahwa peran PI tidak terbatas pada isu SVLK semata, tetapi juga pelayanan publik di bidang kehutanan lainnya. PI pada akhirnya memainkan peran untuk melakukan kontrol publik terhadap penyelenggaraan kehutanan 12. Namun untuk memainkan peran ini, diperlukan informasi yang valid, mutakhir dan lengkap terkait dengan pengelolaan kehutanan. Informasi kehutanan yang bersifat ke-humas-an relatif lebih mudah untuk didapatkan, seperti laporan tahunan, rencana strategis, dan peraturan perundang-undangan. Tetapi untuk dapat menjalankan perannya secara maksimal, PI membutuhkan informasi yang lebih rinci dan khusus sifatnya. Rencana Kerja Tahunan (RKT), Rencana Kerja Usaha (RKU), dokumen Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK), dokumen Rencana Pemenuhan Bahan Baku Industri (RPBBI), peta dan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), mengandung informasi rinci dan khusus yang sangat diperlukan dalam proses kerja PI. Dokumen-dokumen tersebut dibutuhkan tidak lain untuk melakukan check & balance terhadap kegiatan lapangan. Dalam konteks kebijakan moratorium perizinan, salah satu mandat Inpres 10/2011 jo. Inpres 6/2013 jo. Inpres 8/2015 adalah penyusunan Peta Indikatif Penundaan Pemberian Izin Baru (PIPPIB) yang harus dievaluasi setiap 6 bulan. Evaluasi dilakukan untuk pemutakhiran data, yang diharapkan salah satunya adalah masukan dari PI. Untuk dapat melakukan ini, PI membutuhkan peta yang akurat sebagai dasar pemantauan lapangan. Selain itu, PI juga membutuhkan peta dalam format yang bisa digunakan untuk melakukan analisis geospasial. Salah satu format yang umum digunakan adalah shapefile. Pada periode moratorium I dan II, format shapefile untuk peta PIPPIB adalah informasi terbuka dan bisa diakses oleh PI. Namun sejak akhir 2014, peta PIPPIB dalam format shapefile tidak lagi bisa diakses. Mengapa format data ini menjadi penting? 9. Pokok-pokok Temuan Potret Keadaan Hutan Indonesia Perioded , (FWI, 2014) 10. Permenhut No. P.43/Menhut-II/2014 jo. Permenhut No. P.95/Menhut-II/2014 tentang Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu Pada Pemegang Izin atau Pada Hutan Hak, merupakan peraturan terbaru (perubahan) terkait dengan SVLK di Indonesia. 11. Inpres No. 8 tahun 2015 tentang Penundaan Pemberian Izin Baru dan Penyempurnaan Tata Kelola Hutan Alam Primer dan Lahan Gambut, melanjutkan periode moratorium hingga INTIP HUTAN - FOREST WATCH INDONESIA Februari - Mei 2015
5 Shapefile adalah salah satu format data peta digital yang relatif populer, bisa saling dipertukarkan dan bisa diolah lebih lanjut menggunakan perangkat lunak pengolah peta. Shapefile berupa kumpulan beberapa file/berkas digital yang saling melekat dan mengandung informasi keruangan/peta berupa koordinat-koordinat yang akan membentuk data titik, garis ataupun area dalam peta, beserta informasi lain berupa tabel keterangannya. Data dalam format shapefile saat ini sudah sangat umum dimanfaatkan oleh masyarakat dalam teknologi pemetaan. Bahkan di antara penggunanya, masyarakat adat sudah memanfaatkan shapefile ini untuk menyimpan dan mengolah hasil pemetaan wilayah adat. Proses dialog terkait verifikasi atas klaim suatu wilayah akan sangat dimudahkan dengan tersedianya format data ini. Selain itu, keakurasian informasi bisa terjaga, sehingga analisa dan keputusan yang diambil akan lebih baik, misalnya berkaitan dengan pencegahan maupun penyelesaian konflik tenurial. 13 Artinya, apabila sebuah informasi secara substansial tidak dilekati sifat rahasia atau tertutup, maka seharusnya persoalan format data (shapefile) tidak bisa dijadikan alasan dan menyebabkan timbulnya sifat rahasia tersebut. Dari kedua konteks SVLK dan PPIB di atas, data shapefile harus dipandang sebagai produk teknologi yang bermanfaat dalam proses pengambilan keputusan dan upaya penyelesaian masalah. Informasi yang akurat dan valid menjadi alat dialog yang efektif antar pihak untuk mendukung penyelenggaraan pengelolaan kehutanan yang baik, terutama bagi peran PI sebagai bagian dari masyarakat sipil Indonesia. Pada kenyataannya, KLHK menganggap data peta IUPHHK dalam format shapefile adalah dokumen yang rahasia dan tidak dapat diakses oleh publik. Permohonan resmi kepada KLHK terkait dokumendokumen tersebut, semuanya berujung pada penolakan dan akhirnya harus diselesaikan melalui jalur penyelesaian sengketa informasi. 14 Pada titik ini, relasi kausalitas antara transparansi informasi dengan upaya penyelamatan hutan seharusnya sudah menjadi sangat jelas. Semakin tertutup akses terhadap data dan informasi kehutanan, kemungkinan terjadinya penyelewengan akan semakin besar. Sebaliknya, pengawasan terhadap penyelenggaraan kehutanan oleh masyarakat sipil bisa berjalan efektif bila akses informasi semakin terbuka. Hal menarik yang teramati dari sebuah studi mendalam mengenai tata kelola hutan dan lahan oleh kalangan masyarakat sipil, adalah bahwa daerah-daerah yang cenderung tertutup memiliki tingkat deforestasi yang tinggi 15. Ilustrasi ini menggambarkan bahwa ada relasi yang sangat konkrit antara keterbukaan dan upaya penyelamatan hutan Indonesia. Kesimpulan Pemerintah, dalam hal ini KLHK, belum seutuhnya dapat memahami ruh dari pengelolaan hutan yang berasaskan keterbukaan, kebersamaan dan keterpaduan sebagaimana diamanatkan oleh UU No.41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Ini terlihat dari perlakuan Pemerintah yang cenderung menaruh curiga kepada berbagai elemen masyarakat sipil yang berupaya untuk melakukan tugas dan tanggung jawabnya untuk berperan serta. Seolah-olah elemen sipil dan Pemerintah berada pada dua dunia yang terpisah, dimana satu pihak tidak diperkenankan terlibat dengan pihak lainnya. Prinsip kenegaraan yang berlandaskan gotong royong, kolaborasi dan peran aktif masyarakat menjadi hilang. Landasan hukum yang seharusnya bisa memberikan kepastian hukum, malah dijadikan tameng untuk menutup informasi. Sedangkan kepentingan publik yang lebih besar, tetap saja dipertaruhkan. Sehingga memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat bahwa mungkin memang ada sesuatu yang disembunyikan. Anggapan yang tidak sepenuhnya keliru, karena pada akhirnya kebenaran akan terungkap. Temuan KPK sejak tahun 2010 tentang potensi penyelewengan di sektor kehutanan membuktikan kekhawatiran masyarakat tersebut. Mahkamah Konstitusi melalui Putusan No.45 Tahun 2011 juga menyatakan bahwa selama ini KLHK telah melakukan pengelolaan hutan dengan pendekatan diskresi tanpa melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan. Presiden Jokowi telah mencanangkan untuk memperkuat pelaksanaan UU KIP dalam visi misinya, dan perubahan menuntut tindakan nyata dari dalam KLHK. Ini harus menjadi awal bagi KLHK 12. Istilah Pemantau Indipenden kerapkali dipahami hanya sebatas dalam penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). Namun tulisan ini menggunakan istilah Pemantau Independen juga mencakup pada penyelenggaraan kehutanan lainnya. 13 Hasil diskusi dengan Kordinator Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA), Kasmita Widodo. 14 Bab VIII dari UU KIP mengatur mengenai prosedur keberatan dan penyelesaian sengketa informasi, namun prosedur ini seharusnya menjadi upaya terakhir. Karena salah satu asas dari UU KIP yang tercantum pada pasal 2 ayat (3) menyatakan bahwa Setiap Informasi Publik harus dapat diperoleh setiap Pemohon Informasi Publik dengan cepat dan tepat waktu, biaya ringan, dan cara sederhana 15 Indeks Kelola Hutan dan Lahan, (ICEL & FITRA, 2013 FWI, 2014) INTIP HUTAN - FOREST WATCH INDONESIA Februari - Mei
6 untuk berbenah dan meluruskan pemahaman atas penyelenggaraan kehutanan di Indonesia yang berasaskan keterpaduan, keterbukaan dan kebersamaan. Pemerintah dan elemen sipil lainnya harus bergerak bersama ke satu arah yang sama. Pada akhirnya, akses terhadap informasi publik sudah seharusnya dipandang sebagai alat untuk mencapai tujuan, dan menjadikan masyarakat sipil terlibat aktif dalam penyelenggaraan kehutanan Indonesia. Untuk mewujudkannya, paling tidak dalam waktu dekat KLHK perlu melibatkan elemen sipil lainnya untuk melakukan: 1. Penyusunan pedoman uji konsekuensi atas informasi yang dikecualikan dalam lingkungan KLHK. Seperti halnya yang sudah pernah dilakukan oleh Kementerian lain (misal Kementerian Pertanian). Pedoman ini akan sangat berguna untuk menjaga arah uji konsekuensi yang dilakukan. 2. Mengkaji ulang pelaksanaan keseluruhan sistem informasi di lingkungan KLHK dengan melibatkan elemen sipil. Dengan melakukan ini, jalan keluar terhadap berbagai permasalahan akan lebih memungkinkan untuk ditemukan. 3. Menyusun penafsiran hukum resmi yang objektif dengan melibatkan elemen sipil dan juga pakar hukum, terhadap pasal-pasal dari UU KIP. Hal ini akan menumbuhkan dan memperkaya pemahaman yang utuh bagi elemen sipil maupun kalangan pejabat publik. 4. Memperlakukan semua informasi yang dikuasai oleh KLHK dengan mengedepankan prinsip maximum access, limited exemptions. Dengan demikian, KLHK dapat menerapkan uji konsekuensi dengan lebih leluasa. Hal ini penting untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi. [end] 12 INTIP HUTAN - FOREST WATCH INDONESIA Februari - Mei 2015
Policy Brief Tata Kelola Kehutanan
Policy Brief Tata Kelola Kehutanan EDISI 1 DESEMBER 2014 Policy Brief ini disusun oleh Kelompok Kerja Tata Kelola Hutan yang dibentuk pada bulan Mei 2014 oleh instansi dan lembaga penggiat kehutanan yang
BAB V PENUTUP. Indonesia sebagai salah satu negara yang tergabung dalam rezim internasional
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Indonesia sebagai salah satu negara yang tergabung dalam rezim internasional UNFCCC dan juga telah menyepakati mekanisme REDD+ yang dihasilkan oleh rezim tersebut dituntut
Hidup dan Sumber Daya Alam
KERTAS POSISI Lima Tahun Pemberlakuan UU Keterbukaan Informasi Publik Buka Informasi, Selamatkan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam April 2015 Pengantar Masyarakat sipil Indonesia mengapresiasi langkah
BAB I PENDAHULUAN. peradaban umat manusia di berbagai belahan dunia (Maryudi, 2015). Luas hutan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki peran penting bagi keberlangsungan hidup umat manusia di muka bumi. Peran penting sumberdaya hutan
HUTAN KEMASYARAKATAN (HKm) Oleh Agus Budhi Prasetyo
HUTAN KEMASYARAKATAN (HKm) Oleh Agus Budhi Prasetyo Hutan Kemasyarakatan (HKm) menjadi salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh Kementerian Kehutanan untuk menekan laju deforestasi di Indonesia dengan
Oleh : Ketua Tim GNPSDA. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pontianak, 9 September 2015
Oleh : Ketua Tim GNPSDA Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pontianak, 9 September 2015 Data dan Informasi Kawasan Hutan 2 KAWASAN HUTAN KALIMANTAN BARAT, KALIMANTAN TENGAH, KALIMANTAN SELATAN,
Resiko Korupsi dalam REDD+ Oleh: Team Expert
Resiko Korupsi dalam REDD+ Oleh: Team Expert Kenapa Kita Bicara Korupsi dalam REDD? Good Governance Lestari Hutan Dikelola Korupsi Rusak REDD Insentif Lestari Korupsi Rusak Akar Masalah Deforestasi Dan
Tata Kelola Hutan Yang Baik Membutuhkan Informasi Kehutanan Yang Baik
Tata Kelola Hutan Yang Baik Membutuhkan Informasi Kehutanan Yang Baik Deforestasi di Indonesia masih terus berlangsung dan berpeluang tetap tinggi. Hal tersebut dikarenakan buruknya tata kelola hutan yang
PENUNJUK UNDANG-UNDANG PENANAMAN MODAL
PENUNJUK UNDANG-UNDANG PENANAMAN MODAL 1 tahun ~ pemberian izin masuk kembali bagi pemegang izin tinggal terbatas pemberian izin masuk kembali untuk beberapa kali perjalanan bagi pemegang izin tinggal
BAB IV. LANDASAN SPESIFIK SRAP REDD+ PROVINSI PAPUA
BAB IV. LANDASAN SPESIFIK SRAP REDD+ PROVINSI PAPUA 4.1. Landasan Berfikir Pengembangan SRAP REDD+ Provinsi Papua Landasan berpikir untuk pengembangan Strategi dan Rencana Aksi (SRAP) REDD+ di Provinsi
2016, No informasi geospasial dengan melibatkan seluruh unit yang mengelola informasi geospasial; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.429, 2016 KEMEN-LHK. Jaringan Informasi Geospasial. Pencabutan. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.28/Menlhk/Setjen/KUM.1/2/2016
Perbaikan Tata Kelola Kehutanan yang Melampaui Karbon
Perbaikan Tata Kelola Kehutanan yang Melampaui Karbon Platform Bersama Masyarakat Sipil Untuk Penyelamatan Hutan Indonesia dan Iklim Global Kami adalah Koalisi Masyarakat Sipil untuk Penyelamatan Hutan
24 Oktober 2015, desa Sei Ahass, Kapuas, Kalimantan Tengah: Anak sekolah dalam kabut asap. Rante/Greenpeace
24 Oktober 2015, desa Sei Ahass, Kapuas, Kalimantan Tengah: Anak sekolah dalam kabut asap. Rante/Greenpeace Publikasikan Peta, Hentikan Kebakaran, Selamatkan Hutan Transparansi sangat penting untuk mencegah
PIPIB untuk Mendukung Upaya Penurunan Emisi Karbon
PIPIB untuk Mendukung Upaya Penurunan Emisi Karbon Peraturan Presiden RI Nomor 61 tahun 2001 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca terbit sebagai salah satu bentuk kebijakan dalam
REDD+: Selayang Pandang
REDD+: Selayang Pandang Outline Paparan Tentang REDD+ Makna REDD+ bagi Masyarakat Adat Implikasi Operasional 1 1 REDD+ = Apa itu REDD+? Reduksi (=pengurangan) Emisi dari Deforestasi dan Degradasi hutan
PELAYANAN INFORMASI PUBLIK
KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM REPUBLIK INDONESIA UNIT PELAYANAN INFORMASI PUBLIK PPID RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) PELAYANAN INFORMASI PUBLIK BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Salah satu prasyarat penting
MENATA PUZZLE LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
MENATA PUZZLE LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN YAYASAN BUMI MITRA SETAPAK KALIMANTAN TIMUR AKAR MASALAH Transparansi Perizinan yang belum benar-benar terbuka Konflik tenurial yang belum ingin diselesaikan
2017, No kelestarian keanekaragaman hayati, pengaturan air, sebagai penyimpan cadangan karbon, penghasil oksigen tetap terjaga; c. bahwa revisi
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.900, 2017 KEMEN-LHK. Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut. Fasilitasi Pemerintah. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 7/Menhut-II/2011 TENTANG PELAYANAN INFORMASI PUBLIK DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEHUTANAN
MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 7/Menhut-II/2011 TENTANG PELAYANAN INFORMASI PUBLIK DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN
Payung Hukum. 1. kewajiban memperhatikan perlindungan fungsi lingkungan hidup. Menurut UU. Mengawal Hukum Lingkungan
Pewarta-Indonesia, MESKI istilah undang-undang pokok tidak dikenal lagi dalam sistem dan kedudukan peraturan perundang-undangan sekarang ini, namun keberadaan UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
HAK AKSES INFORMASI PUBLIK. Oleh: Mahyudin Yusdar
HAK AKSES INFORMASI PUBLIK Oleh: Mahyudin Yusdar PENGAKUAN HAK ATAS INFORMASI Pengakuan terhadap hak atas informasi di negara-negara demokrasi sekaligus merupakan sarana untuk: memantau dan mengawasi penyelenggaraan
Laporan Layanan Informasi Publik Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi
Komisi Informasi Pusat Tahun 2016 PPID Komisi Informasi Pusat Siap Memberikan Pelayanan Informasi Publik Secara Cepat, Tepat Waktu, Berbiaya Ringan dan Cara Sederhana Daftar Isi Kata Pengantar... i BAGIAN
STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI FITRA RIAU
STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI FITRA RIAU FORUM INDONESIA UNTUK TRANSPARANSI ANGGARAN (FITRA) RIAU 2014 Standar Operasional dan Prosedur (SOP) PENGELOLAAN INFORMASI
Pemerintah Republik Indonesia (Indonesia) dan Pemerintah Kerajaan Norwegia (Norwegia), (yang selanjutnya disebut sebagai "Para Peserta")
Terjemahan ke dalam Bahasa Indonesia ini dibuat oleh Center for Internasional Forestry Research (CIFOR) dan tidak bisa dianggap sebagai terjemahan resmi. CIFOR tidak bertanggung jawab jika ada kesalahan
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENUNDAAN PEMBERIAN IZIN BARU DAN
INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENUNDAAN PEMBERIAN IZIN BARU DAN PENYEMPURNAAN TATA KELOLA HUTAN ALAM PRIMER DAN LAHAN GAMBUT PRESIDEN, Dalam rangka menyeimbangkan dan menselaraskan pembangunan
PAPER KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN
PAPER KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN PEMDA RIAU HARUS MELIBATKAN PUBLIK DALAM GERAKAN NASIONAL PENYELAMATAN SUMBER DAYA ALAM (GNPSDA) KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI PENGANTAR Hasil kajian Jikalahari menunjukkan
MAKSUD DAN TUJUAN. Melakukan dialog mengenai kebijakan perubahan iklim secara internasional, khususnya terkait REDD+
MENTERI KEHUTANAN LETTER OF INTENT (LOI) ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DENGAN PEMERINTAH NORWEGIA TENTANG KERJASAMA PENGURANGAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI DAN DEGRADASI KEHUTANAN JAKARTA,
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG
INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENUNDAAN PEMBERIAN IZIN BARU DAN PENYEMPURNAAN TATA KELOLA HUTAN ALAM PRIMER DAN LAHAN GAMBUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka
PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI BADAN INVESTASI DAN PROMOSI ACEH
PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI BADAN INVESTASI DAN PROMOSI ACEH BADAN INVESTASI DAN PROMOSI ACEH 2015 1 DAFTAR ISI BAB 1 PENDAHULUAN... 3 1.1. LATAR BELAKANG... 3 1.2. MAKSUD DAN TUJUAN...
Kebijakan Bioenergi, Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Kebijakan Bioenergi, Lingkungan Hidup dan Kehutanan Oleh : Arief Yuwono Staf Ahli Menteri Bidang Energi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Latar Belakang (1) Pasal 33 UUD 45 menyatakan bahwa bumi,
Rencana Strategis Pemantauan Independen Kehutanan di Indonesia
Rencana Strategis Pemantauan Independen Kehutanan di Indonesia Rencana Strategis Pemantauan Independen Kehutanan di Indonesia¹ TUJUAN & RINGKASAN Kegiatan pemantauan secara independen terhadap sektor
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2019, 2014 BNPP. Informasi Dan Dokumentasi. Pengelolaan. PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI
PROYEKSI PERKEMBANGAN PERHUTANAN SOSIAL DI SUMATERA SELATAN
KERTAS KEBIJAKAN PROYEKSI PERKEMBANGAN PERHUTANAN SOSIAL DI SUMATERA SELATAN Perhutanan Sosial yang menjadi salah satu agenda RPJMN diharapkan dapat menjawab beberapa permasalahan nasional yang juga terjadi
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.5/Menhut-II/2012 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.5/Menhut-II/2012 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS KEHUMASAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN
GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG
GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG STRATEGI DAN RENCANA AKSI PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI DAN DEGRADASI HUTAN ACEH DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA GUBERNUR
KAWASAN PESISIR KAWASAN DARATAN. KAB. ROKAN HILIR 30 Pulau, 16 KEC, 183 KEL, Pddk, ,93 Ha
LUAS WILAYAH : 107.932,71 Km2 LUAS DARATAN 86.411,90 Km2 LAUTAN 21.478,81 Km2 GARIS PANTAI 2.078,15 Km2 KAWASAN DARATAN KAB. ROKAN HULU 16 KEC,153 KEL, 543.857 Pddk, 722.977,68 Ha KAB. KAMPAR 21 KEC,245
Evaluasi Tata Kelola Sektor Kehutanan melalui GNPSDA (Gerakan Nasional Penyelamatan Sumberdaya Alam) Tama S. Langkun
Evaluasi Tata Kelola Sektor Kehutanan melalui GNPSDA (Gerakan Nasional Penyelamatan Sumberdaya Alam) Tama S. Langkun Pembahasan Kondisi tata kelola hutan di Indonesia. Peran ICW dalam pengawasan Tata Kelola
-2- Pasal 68 ayat huruf c dan Pasal 69 ayat UndangUndang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.621, 2017 KEMEN-LHK. Pengelolaan Pengaduan Dugaan Pencemaran. Perusakan Lingkungan Hidup dan/atau Perusakan Hutan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.57/MENLHK/SETJEN/KUM.1/11/2017 TENTANG DUKUNGAN DATA, INFORMASI DAN AHLI DALAM PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN
RENCANA STRATEGIS (RENSTRA)
UNIT PELAYANAN INFORMASI PUBLIK PPID RENCANA STRATEGIS (RENSTRA) PELAYANAN INFORMASI PUBLIK Melayani Informasi, Memajukan Negeri 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Salah satu prasyarat penting dalam
BAB I PENDAHULUAN. baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, pengawasan maupun evaluasi.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di dalam negara demokrasi yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat, maka kebebasan untuk memperoleh informasi publik menjadi instrumen untuk menciptakan partisipasi
V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. kinerja yang dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pencapaian hasil serta caracara
V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Akuntabilitas Akuntabilitas juga merupakan instrumen untuk kegiatan kontrol terutama dalam pencapaian hasil pada pelayanan publik. Dalam hubungan ini, diperlukan evaluasi
PENGENDALIAN INFORMASI BPJS KETENAGAKERJAAN
PENGENDALIAN INFORMASI BPJS KETENAGAKERJAAN Informasi BPJS Ketenagakerjaan Informasi adalah keterangan, pernyataan, gagasan dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna dan pesan, baik data, fakta maupun
Oleh Deddy Permana / Yayasan Wahana Bumi Hijau Sumatera selatan
Oleh Deddy Permana / Yayasan Wahana Bumi Hijau Sumatera selatan www.wbh.or.id Penjaringan Aspirasi Masyarakat Sebagai Masukan Rancangan Teknokratik RPJMN 2015-2019 di Gedung Serbaguna Pasca Sarjana Universitas
Dampak moratorium LoI pada hutan alam dan gambut Sumatra
Dampak moratorium LoI pada hutan alam dan gambut Sumatra - Analisa titik deforestasi Riau, Sumatra- 16 Maret 2011 oleh Eyes on the Forest Diserahkan kepada : Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto, Kepala Unit
2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik I
No.165, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-LHK.Kawasan Hutan. Konflik Tenurial. Penanganan. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.84/MENLHK-SETJEN/2015 TENTANG
BUPATI DEMAK PERATURAN BUPATI DEMAK NOMOR 31 TAHUN 2011 TENTANG
BUPATI DEMAK PERATURAN BUPATI DEMAK NOMOR 31 TAHUN 2011 TENTANG TATA KERJA PEJABAT PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
BUPATI BERAU PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG
1 SALINAN BUPATI BERAU PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG TATA KERJA DAN PEJABAT PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BERAU BUPATI
SERBA SERBI HUTAN DESA (HD)
SERBA SERBI HUTAN DESA (HD) Oleh Agus Budhi Prasetyo, S.Si.,M.Si. Dalam Renstra 2010-2014, Kemenhut merencanakan hutan kemasyarakatan seluas 2 juta ha dan hutan desa seluas 500.000 ha. Dari areal yang
LAPORAN TAHUNAN LAYANAN INFORMASI PUBLIK. Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Tahun 2016
LAPORAN TAHUNAN LAYANAN INFORMASI PUBLIK Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) Tahun 2016 Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Tahun 2016 LAYANAN INFORMASI PUBLIK TAHUN
PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012
PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012 Apa saja prasyaarat agar REDD bisa berjalan Salah satu syarat utama adalah safeguards atau kerangka pengaman Apa itu Safeguards Safeguards
PEMERINTAH KABUPATEN BULUKUMBA
PEMERINTAH KABUPATEN BULUKUMBA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUKUMBA NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG HUTAN KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUKUMBA, Menimbang : a. bahwa hutan disamping
SAMBUTAN KUNCI MENTERI KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM DAN KEAMANAN PADA PERTEMUAN BAKOHUMAS TINGKAT NASIONAL DAN ANUGERAH MEDIA HUMAS TAHUN 2013
SAMBUTAN KUNCI MENTERI KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM DAN KEAMANAN PADA PERTEMUAN BAKOHUMAS TINGKAT NASIONAL DAN ANUGERAH MEDIA HUMAS TAHUN 2013 Solo, 20 November 2013 Yth. Menteri Komunikasi dan Informatika
Ringkasan Eksekutif. Inisiatif Tata Kelola Kehutanan Indonesia. Proses dan Hasil Penelitian Kondisi Tata Kelola Kehutanan Indonesia.
Pendahuluan Ringkasan Eksekutif Inisiatif Tata Kelola Kehutanan Indonesia Proses dan Hasil Penelitian Kondisi Tata Kelola Kehutanan Indonesia Disusun oleh: Jaringan Masyarakat Sipil untuk Tata Kelola Kehutanan
REGULASI KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PEMBERIAN HAK ATAS TANAH UNTUK PERKEBUNAN
REGULASI KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM PEMBERIAN HAK ATAS TANAH UNTUK PERKEBUNAN DISAMPAIKAN OLEH PROF. DR. BUDI MULYANTO, MSc DEPUTI BIDANG PENGADAAN TANAH UNTUK KEPENTINGAN UMUM KEMENTERIAN AGRARIA, TATA
BAB I PENDAHULUAN. itu merupakan suatu anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa. Menurut UU RI No.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hutan merupakan kumpulan pohon pohon atau tumbuhan berkayu yang menempati suatu wilayah yang luas dan mampu menciptakan iklim yang berbeda dengan luarnya sehingga
Pusat Pelayanan Informasi Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi
Buku Saku Pusat Pelayanan Informasi Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi Jawa Tengah Badan Diklat Provinsi Jawa Tengah i Daftar Isi Daftar isi... ii Kata
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 32/Menhut-II/2013 TENTANG
PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 32/Menhut-II/2013 TENTANG RENCANA MAKRO PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:
BAB I PENDAHULUAN. Sejak akhir tahun 1970-an, Indonesia mengandalkan hutan sebagai penopang
18 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejak akhir tahun 1970-an, Indonesia mengandalkan hutan sebagai penopang pembangunan ekonomi nasional. Hak Pengusahaan Hutan (HPH) menjadi sistem yang dominan dalam
PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN
PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya disekitar hutan dan juga penciptaan model pelestarian hutan yang efektif.
Oleh: Luluk Nurul Jannah Staf P3E Kalimantan P engelolaan hutan selama lima dekade di Indonesia telah mengakibatkan tingkat penggudulan hutan yang tinggi dan konflik sosial antara komunitas, pemerintah,
MEMBENDUNG meluasnya preseden buruk pengelolaan HPH di Indonesia
www.greenomics.org MEMBENDUNG meluasnya preseden buruk pengelolaan HPH di Indonesia 5 Desember 2011 HPH PT Mutiara Sabuk Khatulistiwa -- yang beroperasi di Provinsi Riau -- melakukan land-clearing hutan
BUPATI KLATEN PERATURAN BUPATI KLATEN NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG
BUPATI KLATEN PERATURAN BUPATI KLATEN NOMOR 23 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN PELAYANAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN KLATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka meningkatkan kualitas
UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.951, 2012 BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR. Pengelolaan Informasi Publik. Standar Layanan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG STANDAR
FCPF CARBON FUND DAN STATUS NEGOSIASI TERKINI
KONTRIBUSI NON-PARTY STAKEHOLDERS (NPS) DI KALIMANTAN TIMUR DALAM PEMENUHAN NDC FCPF CARBON FUND DAN STATUS NEGOSIASI TERKINI Niken Sakuntaladewi ([email protected]) Pusat Litbang Sosial,
UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan
CATATANKEBIJAKAN. Peta Jalan Menuju EITI Sektor Kehutanan. No. 02, Memperkuat Perubahan Kebijakan Progresif Berlandaskan Bukti.
No. 02, 2013 CATATANKEBIJAKAN Memperkuat Perubahan Kebijakan Progresif Berlandaskan Bukti Peta Jalan Menuju EITI Sektor Kehutanan (Program: Working Toward Including Forestry Revenues in the Indonesia EITI
BAB I PENDAHULUAN. Public Relations pemerintah berbeda dengan Public Relations perusahaan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Komunikasi yang dijalankan suatu institusi atau perusahaan diharapkan memberikan reaksi, atau tanggapan publik dan hal ini berkaitan dengan kegiatan seorang
Kepastian Pembiayaan dalam keberhasilan implementasi REDD+ di Indonesia
ISSN : 2085-787X Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SOSIAL, EKONOMI, KEBIJAKAN DAN PERUBAHAN IKLIM Jl. Gunung Batu No.
PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 35 TAHUN 2010 TENTANG
PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 35 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN PELAYANAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN DALAM NEGERI DAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
CATATAN KRITIS TERHADAP RUU PERTANAHAN
Chalid Muhammad & Hariadi Kartodihardjo CATATAN KRITIS TERHADAP RUU PERTANAHAN Pada saat ini DPR RI melalui Komisi II sedang menyiapkan RUU Pertanahan untuk dibahas bersama dengan Pemerintah RI. DPR RI
Menguji Rencana Pemenuhan Target Penurunan Emisi Indonesia 2020 dari Sektor Kehutanan dan Pemanfaatan Lahan Gambut
www.greenomics.org KERTAS KEBIJAKAN Menguji Rencana Pemenuhan Target Penurunan Emisi Indonesia 2020 dari Sektor Kehutanan dan Pemanfaatan Lahan Gambut 21 Desember 2009 DAFTAR ISI Pengantar... 1 Kasus 1:
2 Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4846); 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembara
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1522, 2014 KEMENKOPOLHUKAM. Informasi Publik. Layanan. Standar. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM DAN KEAMANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
A. PENGANTAR Sekolah merupakan salah satu instansi tempat perwujudan cita-cita bangsa dalam rangka mencerdaskan anak bangsa sesuai amanat UUD 1945.
1 A. PENGANTAR Sekolah merupakan salah satu instansi tempat perwujudan cita-cita bangsa dalam rangka mencerdaskan anak bangsa sesuai amanat UUD 1945. Oleh karena itu dengan cara apapun dan jalan bagaimanapun
oleh: NANI NURANI MUKSIN KOMISI INFORMASI DKI 2017
oleh: NANI NURANI MUKSIN KOMISI INFORMASI DKI 2017 Nani Aktivitas: - Dosen MIKOM FISIP UMJ. - Komisioner Komisi Informasi Prov DKI Jakarta (2016-2020) Pendidikan: - Sarjana Ilmu Komunikasi FIKOM UNPAD
2 Mengingat : kembali penilaian kinerja pengelolaan hutan produksi lestari dan verifikasi legalitas kayu pada pemegang izin atau pada hutan hak; c. ba
No. 883, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENHUT. Hutan Produksi Lestari. Legalitas Kayu. Pengelolaan. Penilaian Kinerja. Pemegang Izin. Hutan Hak. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA
KEBIJAKAN PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI UNTUK PEMBANGUNAN DILUAR KEGIATAN KEHUTANAN
KEBIJAKAN PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI UNTUK PEMBANGUNAN DILUAR KEGIATAN KEHUTANAN SOLUSI PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN UNTUK KEGIATAN NON KEHUTANAN Disampaikan oleh : Kementerian
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN INFORMASI PUBLIK PEJABAT PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI ( PPID ) KABUPATEN SAMPANG
STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN INFORMASI PUBLIK PEJABAT PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI ( PPID ) KABUPATEN SAMPANG 1. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Informasi merupakan kebutuhan pokok
FGD Analisa dan Evaluasi Hukum Dalam rangka Partisipasi Masyarakat Dalam Proses Pengambilan Kebijakan Publik. Oleh : Nevey Varida Ariani SH.,M.
FGD Analisa dan Evaluasi Hukum Dalam rangka Partisipasi Masyarakat Dalam Proses Pengambilan Kebijakan Publik Oleh : Nevey Varida Ariani SH.,M.Hum Peraturan Perundang-undangan terkait dengan Keterbukaan
BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan perkembangan gagasan yang terjadi di berbagai Negara,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sejalan dengan perkembangan gagasan yang terjadi di berbagai Negara, peranan Negara dan pemerintah bergeser dari peran sebagai pemerintah (Government) menjadi
