AMANKAH PANGAN ANDA???

dokumen-dokumen yang mirip
CARA PRODUKSI PANGAN Jejaring Promosi Keamanan Pangan dalam Sistem Keamanan Pangan Terpadu Nasional SIAP SAJI YANG BAIK

CARA PRODUKSI PANGAN Jejaring Promosi Keamanan Pangan dalam Sistem Keamanan Pangan Terpadu Nasional SIAP SAJI YANG BAIK

HIGIENE DAN SANITASI SARANA PP - IRT

SAFETY FOOD (Keamanan Pangan) A. Prinsip Safety Food

PENGEMBANGAN PROSEDUR DAN LEMBAR KERJA

Pangan dengan potensi bahaya. Bahan Pangan Apa yang Mudah Terkontaminasi? BERBAGAI JENIS BAHAYA SERTA CARA PENGENDALIANNYA

BERBAGAI JENIS BAHAYA SERTA CARA PENGENDALIANNYA

CARA PRODUKSI PANGAN Jejaring Promosi Keamanan Pangan dalam Sistem Keamanan Pangan Terpadu Nasional SIAP SAJI YANG BAIK

KEAMANAN PANGAN UNTUK INDONESIA SEHAT. keterkaitannya dengan penyakit akibat pangan di mana masalah keamanan pangan di suatu

PRINSIP PENERAPAN HACCP DI INDUSTRI PANGAN SIAP SAJI

Keberadaan mikroorganisme patogen pada makanan umumnya tidak menyebabkan perubahan fisik

PELABELAN DAN IKLAN PANGAN

KEBIJAKAN NASIONAL PENGATURAN IRTP DAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG KEAMANAN PANGAN

CARA PRODUKSI PANGAN YANG BAIK UNTUK INDUSTRI RUMAH TANGGA (IRT)

CARA PRODUKSI PANGAN Jejaring Promosi Keamanan Pangan dalam Sistem Keamanan Pangan Terpadu Nasional SIAP SAJI YANG BAIK

Prinsip-prinsip Penanganan dan Pengolahan Bahan Agroindustri

Teknologi pangan adalah teknologi yang mendukung pengembangan industri pangan dan mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya mengimplementasikan

ASPEK MIKROBIOLOGIS PENGEMASAN MAKANAN

MATERI III : ANALISIS BAHAYA

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2017 TENTANG BATAS MAKSIMUM CEMARAN LOGAM BERAT DALAM PANGAN OLAHAN

MATERI KULIAH MINGGU IV PRINCIP HACCP 2 : PENENTUAN CCP

KLB KERACUNAN PANGAN

BAB I PENDAHULUAN. 2012). Sapi berasal dari famili Bovida, seperti halnya bison, banteng, kerbau

MAKANAN SEHAT DAN MAKANAN TIDAK SEHAT BAHAN AJAR MATA KULIAH KESEHATAN DAN GIZI I

XIII. JAMUR DAN MIKOTOKSIN DALAM PANGAN

Peranan teknologi pangan

BAHAN PENCEMAR MAKANAN LAINNYA. Modul 4

KERACUNAN PANGAN AKIBAT BAKTERI PATOGEN

PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN PRODUK INDUSTRI RUMAH TANGGA PANGAN (IRTP)

BAB I PENDAHULUAN. mutu dan keamanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan merupakan harga mutlak bagi setiap orang. Menurut Undangundang

BAB I PENDAHULUAN. dan merata. Maksudnya bahwa dalam pembangunan kesehatan setiap orang

d. bahwa masyarakat perlu dilindungi dari peredaran pangan yang tidak memenuhi ketentuan standar dan atau karakteristik dasar pangan;

TOKSIN MIKROORGANISME. Dyah Ayu Widyastuti

Milik MPKT B dan hanya untuk dipergunakan di lingkungan akademik Universitas Indonesia

Faktor yang mempengaruhi keracunan makanan. Kontaminasi Pertumbuhan Daya hidup

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Letusan penyakit akibat pangan (food borne diseases) dan kejadiankejadian

BAB I PENDAHULUAN. dapat melangsungkan kehidupan selain sandang dan perumahan. Makanan, selain mengandung nilai gizi, juga merupakan media untuk dapat

CERDAS PILiH MAKANAN

BAB I PENDAHULUAN. harus aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan-bahan kimia

TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PENANGANAN HASIL PERTANIAN TPPHP

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. permen soba alga laut Kappaphycus alvarezii disajikan pada Tabel 6.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. populer di kalangan masyarakat. Berdasarkan (SNI ), saus sambal

PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA

TUGAS INDIVIDU PENGANTAR MIKROBIOLOGI. Penerapan HACCP pada Proses Produksi Yoghurt

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan di seluruh dunia dan konsekuensi yang buruk pada ekonomi yang harus

MEWASPADAI CEMARAN AFLATOKSIN PADA PANGAN

I. PENDAHULUAN. Semakin berkembangnya bioteknologi, terdapat kecenderungan bahwa

DIREKTORAT INSPEKSI DAN SERTIFIKASI OBAT TRADISIONAL, KOSMETIK DAN PRODUK KOMPLEMEN BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

PLASTIK SEBAGAI BAHAN KEMASAN INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN (oleh: Bambang S. Ariadi)

NUTRIENT, GIZI DAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI RUSAKNYA NILAI GIZI BAHAN PANGAN

I. PENDAHULUAN. cukup sempurna karena mengandung zat zat gizi yang lengkap dan mudah

Pengetahuan Dasar Gizi Cica Yulia, S.Pd, M.Si

2016, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Ne

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG KATEGORI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

TINJAUAN PUSTAKA Anak Sekolah Dasar Sikap

IV. MACAM DAN SUMBER PANGAN ASAL TERNAK

KERUSAKAN BAHAN PANGAN TITIS SARI

Sanitasi Peralatan. Nikie Astorina YD, SKM, M. Kes Bagian Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP

BAB I PENDAHULUAN. persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam upaya terselenggaranya suatu sistem

STUDI KASUS KADAR FORMALIN PADA TAHU DAN KADAR PROTEIN TERLARUT TAHU DI SENTRA INDUSTRI TAHU DUKUH PURWOGONDO KECAMATAN KARTASURA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Makanan merupakan komponen penting bagi kehidupan manusia, karena

I. PENDAHULUAN. ekonomi, perubahan pola hidup, peningkatan kesadaran gizi, dan perbaikan

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN

BAB I PENDAHULUAN. yang menjadi alternatif makanan dan minuman sehari-hari dan banyak dikonsumsi

BAB I KLARIFIKASI HASIL PERTANIAN

PENDAHULUAN. kandungan gizi tinggi, akan tetapi mudah mengalami kerusakan (perishable food).

BAB I PENDAHULUAN. menentukan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, kesehatan perlu dijaga dari hal-hal

B T M = ZAT BERACUN? Oleh : Estien Yazid, M.Si Dosen Biokimia Akademi Analis Kesehatan Delima Husada Gresik

UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN [LN 1996/99, TLN 3656]

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Menurut WHO, makanan adalah : Food include all substances, whether in a

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Saus cabai atau yang biasa juga disebut saus sambal adalah saus yang

KEAMANAN PANGAN PRODUK PETERNAKAN DITINJAU DARI ASPEK PASCA PANEN: PERMASALAHAN DAN SOLUSI (ULASAN)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Ancaman penyakit yang berkaitan dengan higiene dan sanitasi khususnya

BAB I PENDAHULUAN. terdapat sampai pada dasar laut yang paling dalam. Di dalam air, seperti air

BAB I PENDAHULUAN. klien kekurangan cairan / dehidrasi. Keadaan kekurangan cairan apabila tidak

PRINSIP ANALISIS RISIKO

BAB I PENDAHULUAN. digunakan dalam makanan. Kurangnya perhatian terhadap hal ini telah sering

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA. Kopi (Coffea spp) adalah spesies tanaman yang termasuk dalam famili Rubiaceae

Pencemaran Makanan Secara Kimia dan Biologis. Dra. Nurmaini, MKM Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Bakso merupakan makanan jajanan yang paling populer di Indonesia.

01.3 Susu kental dan analognya (plain) CPPB Krim yang digumpalkan (plain) CPPB Krim analog CPPB

Analisis Risiko Pengolahan Hasil Pertanian

9/6/2016. Hasil Pertanian. Kapang; Aspergillus sp di Jagung. Bakteri; Bentuk khas, Dapat membentuk spora

BAB I PENDAHULUAN. Makanan adalah salah satu kebutuhan dasar manusia dan merupakan hak

BAHAN MAKANAN SETENGAH JADI

BAB 1 PENDAHULUAN. bila dikonsumsi akan menyebabkan penyakit bawaan makanan atau foodborne

Prinsip pengawetan. Mencegah/memperlambat kerusakan mikrobial. Mencegah/memperlambat laju proses dekomposisi (autolisis) bahan pangan

Pengawetan Bahan Nabati dan Hewani. 1. Pengertian Pengawetan Bahan Nabati dan Hewani

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK

KEMENTERIAN KESEHATAN RI

I. PENDAHULUAN. juga mengandung beberapa jenis vitamin dan mineral. Soeparno (2009)

Keamanan Pangan Jajanan Anak Sekolah

Transkripsi:

AMANKAH PANGAN ANDA??? BAHAYA BIOLOGIS BAHAYA KIMIA AMANKAN PANGAN dan BEBASKAN PRODUK dari BAHAN BERBAHAYA BAHAYA FISIK BEBAS BAHAYA Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

KEAMANAN PANGAN Pangan yang tidak tercemar bahaya Tidak menyebabkan keracunan atau penyakit apabila dikonsumsi sumber kontaminasi pada setiap tahapan rantai produksi harus dikendalikan Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

KERACUNAN PANGAN Jejaring Promosi Intoksikasi : Keracunan karena tertelannya toksin yang berada pada pangan Toksin mikroba Toksin hewan dan tanaman Pestisida Infeksi : Keracunan karena tertelannya bakteri hidup yang berada pada pangan Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

Jenis kontaminan/bahaya dalam bahan pangan Fisik Bahan kimia Biologi/Mikrobiologi Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

Bahaya Fisik Cemaran benda-benda asing yang dapat menyebabkan bahaya jika tertelan Bahaya fisik meliputi: kayu kaca metal insek perhiasan Rambut kawat Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

Menjamin pangan aman dari bahaya fisik Melakukan sortasi Melakukan pengamatan visual Tidak menggunakan alat berlogam (stepler, klips) untuk menutup bungkus pangan Tidak menggaruk-garuk kepala ketika bekerja Tidak memakai perhiasan ketika bekerja Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

Kontaminan Bahan Kimia Kontaminan bahan kimia meliputi: Senyawa pembersih dan sanitaiser Pestisida Logam berbahaya Cat Oli, gemuk, minyak tanah Racun alami dan racun mikroba dll Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

Sumber Kontaminan Bahaya Kimia 1. Alami terdapat pada pangan dikandung bahan pangan sejak awal (sianida, asam jengkolat) 2. Tidak sengaja terdapat pada pangan residu pestisida, pupuk, antibiotik, hormon, logam berbahaya dan bahan tambahan kimiawi yang dilarang atau melebihi dosis Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

Menjamin pangan aman dari bahaya kimia Bahan berbahaya (pestisida) tidak disimpan bersama-sama dengan bahan pangan Tidak menggunakan bahan tambahan (pewarna, pengawet, pemanis dll) yang dilarang digunakan untuk pangan Tidak menggunakan peralatan atau pengemas yang dapat lepas/larut ke dalam pangan Tidak menggunakan pengemas bekas, kertas koran untuk membungkus pangan Pengemas harus bersih dan tidak beracun. Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

Sumber mikroba: Bahaya mikrobiologis Pekerja: rambut, kulit, mulut, hidung, saluran pencernaan dll Hewan Bahan pangan Air Tanah Peralatan Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

Mikroba jenisnya sangat banyak: Sebagian berguna: tempe, yoghurt, kecap dll Beberapa dapat menyebabkan penyakit/patogen Mahluk yang sangat kecil dan dapat menyebar di seluruh ruang pengolahan, dapur, peralatan memasak, peralatan makan dan pangan Bahaya Mikrobiologis Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

Risiko bahaya mikrobiologis Jejaring Promosi Pangan Berisiko tinggi: produk daging, produk susu, produk unggas (daging, telur), produk ikan, dan produk sayuran Pangan berisiko sedang dan rendah: pangan asam (ph di bawah 4,5) : saus tomat, saus sambal, jam/jeli; pangan kering : kue-kue kering, biskuit, pangan yang berkadar pati, gula dan garam yang tinggi seperti kecap, sirup, madu, ikan asin dan dendeng. Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

Mikotoksin Bahaya pada pangan kering Dihasilkan oleh kapang, misalnya Aspergillus flavus (aflatoksin) Sumber: Kacang-kacangan dan serealia (kacang tanah, jagung dll) yang ditumbuhi oleh kapang tertentu, misalnya SImptom: Dapat menyebabkan penyakit hati dan ginjal. Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

Untuk menjamin pangan aman dari bakteri patogen Penanganan pangan dalam kondisi bersih dan saniter Pemasakan yang benar Hindari kontaminasi silang Penyimpanan yang aman Penerapan higiene pekerja Pedoman Cara Produksi Pangan Siap Saji Yang Baik Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

INFORMASI LEBIH LANJUT? Silakan hubungi kami: Direktorat Surveilan dan Penyuluhan Badan Pengawas Obat dan Makanan R.I Jalan Percetakan Negara 23, Jakarta 10560 Tel: 021 42878701, 42803516, 42875738, 4259624 Fax: 021 42878701 e mail: surveilanpangan@pom.go.id Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia Direktorat Surveilan dan Penyuluhan