BAB II TINJAUAN PUSTAKA

dokumen-dokumen yang mirip
BAB V ANALISIS HASIL PERCOBAAN DAN DISKUSI

BAB IV RANCANGAN PENELITIAN SPRAY DRYING DAN SPRAY PYROLYSIS. Rancangan penelitian ini dibagi menjadi tiga tahapan utama :

BAB III RANCANG BANGUN REAKTOR SPRAY DRYING DAN SPRAY PYROLYSIS

BAB II TEORI ALIRAN PANAS 7 BAB II TEORI ALIRAN PANAS. benda. Panas akan mengalir dari benda yang bertemperatur tinggi ke benda yang

PENGARUH VARIASI FLOW DAN TEMPERATUR TERHADAP LAJU PENGUAPAN TETESAN PADA LARUTAN AGAR-AGAR SKRIPSI

PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN, KECEPATAN ALIRAN DAN TEMPERATUR ALIRAN TERHADAP LAJU PENGUAPAN TETESAN (DROPLET) LARUTAN AGAR AGAR SKRIPSI

Panas berpindah dari objek yang bersuhu lebih tinggi ke objek lain yang bersuhu lebih rendah Driving force perbedaan suhu Laju perpindahan = Driving

Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi

SATUAN OPERASI FOOD INDUSTRY

HASIL DAN PEMBAHASAN. Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Definisi fluida

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi yang semakin maju dalam beberapa dekade ini

/ Teknik Kimia TUGAS 1. MENJAWAB SOAL 19.6 DAN 19.8

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II DASAR TEORI. m (2.1) V. Keterangan : ρ = massa jenis, kg/m 3 m = massa, kg V = volume, m 3

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Definisi Fluida

PENGARUH SUHU FURNACE DAN RASIO KONSENTRASI PREKURSOR TERHADAP KARAKTERISTIK NANOKOMPOSIT ZnO-SILIKA

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISA DATA & PEMBAHASAN

METODOLOGI PENELITIAN. Waktu dan Tempat Penelitian. Alat dan Bahan Penelitian. Prosedur Penelitian

/ Teknik Kimia TUGAS 1. MENJAWAB SOAL 19.6 DAN 19.8

Rumus bilangan Reynolds umumnya diberikan sebagai berikut:

BAB II SIFAT-SIFAT ZAT CAIR

PEMISAHAN MEKANIS (mechanical separations)

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan utama dalam sektor industri, energi, transportasi, serta dibidang

2014 PEMBUATAN BILAYER ANODE - ELEKTROLIT CSZ DENGAN METODE ELECTROPHORETIC DEPOSITION

BAB II Dasar Teori BAB II DASAR TEORI

Perpindahan Panas Konveksi. Perpindahan panas konveksi bebas pada plat tegak, datar, dimiringkan,silinder dan bola

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Proses Perpindahan Panas Konveksi Alamiah dalam Peralatan Pengeringan

II. TINJAUAN PUSTAKA

BAB 4 DATA DAN ANALISIS

RANCANG BANGUN REAKTOR SPRAY DRYING DAN SPRAY PYROLYSIS MENGUNAKAN ULTRASONIC NEBULIZER DAN PEMANAS BERTINGKAT

BAB II DASAR TEORI 2.1 Pasteurisasi 2.2 Sistem Pasteurisasi HTST dan Pemanfaatan Panas Kondensor

HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis Partikel Magnetik Terlapis Polilaktat (PLA)

III.METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan terhitung pada bulan Februari Mei

BAB V HASIL PENELITIAN. peralatan sebagai berikut : XRF (X-Ray Fluorecense), SEM (Scanning Electron

2 Tinjauan Pustaka. 2.1 Polimer. 2.2 Membran

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. perlakuan panas atau annealing pada lapisan sehingga terbentuk butiran-butiran

HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan komputer.

BAB I PENDAHULUAN. Daun stevia merupakan daun yang berasal dari tanaman stevia (Stevia

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode eksperimen.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebagai bintang yang paling dekat dari planet biru Bumi, yaitu hanya berjarak sekitar

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN. Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Bahan Baku Ibuprofen

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi peradaban

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metoda eksperimen.

Aliran Fluida. Konsep Dasar

1. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

Sifat fisika kimia - Zat Aktif

Deskripsi METODE UNTUK PENUMBUHAN MATERIAL CARBON NANOTUBES (CNT)

4 Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah

BAB IV PRINSIP-PRINSIP KONVEKSI

1 BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 3 RANCANGAN PENELITIAN

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN

BAB IV ANALISA DAN PERHITUNGAN

Sintesis Komposit TiO 2 /Karbon Aktif Berbasis Bambu Betung (Dendrocalamus asper) dengan Menggunakan Metode Solid State Reaction

BAB III SISTEM PENGUJIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini dunia elektronika mengalami kemajuan yang sangat pesat, hal ini

Materi Fluida Statik Siklus 1.

Bab IV Hasil dan Pembahasan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Secara umum ketergantungan manusia akan kebutuhan bahan bakar

BAB II DASAR TEORI. h = koefisien konveksi [W/m 2. C] T s. = temperatur permukaan [ C] T = temperatur ambien [ C]

SIFAT SIFAT TERMIS. Pendahuluan 4/23/2013. Sifat Fisik Bahan Pangan. Unit Surface Conductance (h) Latent heat (panas laten) h =

I. PENDAHULUAN. Al yang terbentuk dari 2 (dua) komponen utama yakni silika ( SiO ) dan

I. PENDAHULUAN. Nanopartikel saat ini menjadi perhatian para peneliti untuk pengembangan dalam

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang yang berada dikawasan Asia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

SIMAK UI Fisika

BAB I PENDAHULUAN. jumlahnya melimpah dan dapat diolah sebagai bahan bakar padat atau

Bab III Metode Penelitian

MEKANISME PENGERINGAN By : Dewi Maya Maharani. Prinsip Dasar Pengeringan. Mekanisme Pengeringan : 12/17/2012. Pengeringan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Foto Mikro dan Morfologi Hasil Pengelasan Difusi

WATER TO WATER HEAT EXCHANGER BENCH BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Tujuan Pengujian

BAB IV HASIL YANG DICAPAI DAN MANFAAT BAGI MITRA

PENGUKURAN KONDUKTIVITAS TERMAL

HIDRODINAMIKA BAB I PENDAHULUAN

FENOMENA PERPINDAHAN. LUQMAN BUCHORI, ST, MT JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNDIP

BAB III EKSPERIMEN & KARAKTERISASI

KAJIAN JURNAL : PENGUKURAN KONDUKTIVITAS TERMAL BATA MERAH PEJAL

I. Pendahuluan. A. Latar Belakang. B. Rumusan Masalah. C. Tujuan

SINTESIS DAN KARAKTERISASI MAGNESIUM OKSIDA (MgO) DENGAN VARIASI MASSA PEG-6000

BAB III ANALISA KONDISI FLUIDA DAN PROSEDUR SIMULASI

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Bab III Metodologi Penelitian

PENGARUH DIAMETER NOZEL UDARA PADA SISTEM JET

Bab II Tinjauan Pustaka

Klasisifikasi Aliran:

Transkripsi:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Spray Drying dan Spray Pyrolysis adalah metoda yang sangat umum digunakan dibanyak industri. Metoda ini diinisiasi oleh atomizer/penyemprotan larutan dalam bentuk droplet kedalam pemanas, dan akan menghasilkan partikel padatan. Metoda ini sangat efisien dikarenakan oleh adanya area yang luas dalam pemanasanan droplet dan perpindahan massa sebagai akibat dari atomizing larutan menjadi droplet yang sangat kecil dengan ukuran 10-100 mikrometer. Karena simpel dan proses produksi yang cepat, Spray Drying dan Spray Pyrolysis sangat potensial dalam perancangan bentuk dan sifat partikel nanostruktur. Sehingga banyak partikel nanostruktur yang dapat dipabrikasi dengan mengunakan metoda Spray Drying dan Spray Pyrolysis seperti pada semikonduktor, nanokristalin, carbon nanotube, carbon nanorod, bahkan dapat pula untuk pabrikasi bahan organik dan obat-obatan dalam bentuk nanokapsul. Dalam metoda Spray Drying dan Spray Pyrolysis didisain agar fungsi dan arsitektur partikel yang didapatkan terbentuk berskala nanometer, tetapi dengan material dalam skala mikrometer. Sifat fisis ini sangat penting dikarenakan material dengan ukuran mikrometer mudah ditangani/diaplikasikan daripada partikel dengan ukuran nanometer. Dalam proses eksperimen, temperatur dari spray tidak akan lebih tinggi dibandingkan temperatur pemanas dan waktu penyemprotan sangat cepat sehingga tidak akan merubah sifat dari nanopartikel. Metoda spray atau lebih khusus lagi pada metoda Spray Drying dan Spray Pyrolysis memiliki beberapa keuntungan dalam pembuatan partikel nanostruktur, seperti : (a) ukuran partikel nanostrukur dapat dikontrol dengan mudah melalui pengotrolan konsentrasi larutan. Dan secara umum ukuran droplet tidak dipengaruhi oleh konsentrasi larutan yang digunakan selama konsentrasi tersebut tidak mengubah secara signifkan tegangan permukaan maupun viskositas larutan. 4

Makin kecil konsentrasi larutan maka semakin sedikit jumlah partikel terlarut dalam droplet yang menyebakan makin kecil ukuran partikel nanostruktur yang dihasilkan; (b) partikel yang dihasilkan berbentuk sangat bulat, karena bentuk ini memiliki energi yang paling kecil. Dengan asumsi pelarut menguap secara homogen disemua permukaan droplet; (c) dengan konsentrasi larutan yang sangat rendah maka ukuran partikel yang akan terbentuk akan berukuran nanometer pada partikel hasil akhir dari metoda Spray Pyrolysis. Untuk mendapatkan partikel nanostruktur dengan metoda Spray Drying dan Spray Pyrolysis faktor utama pembentuk partikel sangat dipengaruhi proses spray (pembentukan droplet) dan peroses pemanasan (drying). Proses spray sangat berpengaruh terhadap bentuk, ukuran dan morfologi partikel nanostruktur sedangkan proses pemanasan akan berpengaruh terhadap kecepatan produksi. Terdapat banyak metoda untuk mendapatkan droplet dengan ukuran mikrometer salah satu yang digunakan adalah Ultrasonic Nebulizer, alat ini memiliki kemampuan khusus dimana mampu membuat droplet dengan berbagai ukuran bergantung kepada frekuensi piezoelektrik sehingga cocok untuk dipakai dalam eksperimen Spray Drying dan Spray Pyrolysis. 2.1 Spray Pyrolysis dan Spray Drying Metoda pabrikasi partikel nanostruktur dengan mengunakan Spray Drying dan Spray Pyrolysis memiliki banyak kesamaan dimulai dari peralatan, parameter yang digunakan maupun hasil yang diinginkan. Perbedaan mendasar kedua metoda ini adalah terletak pada bahan larutan dasar yang digunakan pada Spray Pyrolysis mengunakan larutan murni. Sedangkan pada metoda Spray Drying mengunakan partikel nanostruktur yang telah terbentuk yang dilarutkan pada air atau pelarut lain. Pada proses selanjutnya kedua metoda ini memiliki kesamaan yaitu merubah larutan menjadi atomizer kemudian dipanaskan didalam reaktor sehingga menghasilkan partikel nanostrukur padat. Metoda Spray Drying dan Spray Pyrolysis adalah terknologi terbaik untuk menghasilkan partikel serbuk. Untuk mereduksi ukuran partikel menjadi ukuran partikel berskala nanometer, ada 2 dasar tahapan yang diperlukan : 5

a) Reduksi ukuran awal spray hal ini dapat dilakukan dengan menghasilkan ukuran droplet yang lebih kecil, dan ultrasonik nebulizer menghasilkan droplet dengan ukuran 4,5 µm (Lenggoro, 2000). b) Larutan konsentrasi rendah ketika droplet berisi bahan terlarut akan membentuk padatan setelah dipanaskan. Untuk mendapatkan partikel berukuran 100 nm dibutuhkan droplet dengan ukuran 5 µm dengan pelarut air dan konsentrasi harus dibawah 0.000008% (Iskandar, 2003). Konsep dasar metoda Spray Drying dan Spray Pyrolysis adalah memanaskan sebuah droplet sehingga pelarut akan menguap sehingga partikel nanostruktur dapat terbentuk. Metoda Spray Pyrolysis mampu mempabrikasi metal, metal oxides atau non-oxides dan partikel nanokomposit bubuk karena metoda ini mampu menghasilkan partikel dengan komposisi dan morfologi partikel yang terkontrol, kristalinitas yang bagus, dan ukuran yang seragam pengontrolan ukuran partikel sangat dipengaruhi oleh kemampuan ultrasonic dalam produksi ukuran droplet. Proses yang terjadi pada metoda Spray Drying adalah pertama larutan dirubah diatomisasi menjadi dalam bentuk droplet dengan diameter sebesar d d, sedangkan didalam droplet terdapat material berukuran nanometer (sol) dengan diameter d p. Sedangkan pada metoda Spray Pyrolysis didalam droplet tidak terdapat partikel nanostruktur tetapi terdapat zat-zat terlarut yang akan bereaksi dengan zat yang lain. Bentuk droplet dengan diameter antara 1 100 µm dihasilkan alat pengatomisasi seperti Ultrasonic Nebulizer. Kemudian droplet dialirkan kedalam tabung reaktor dengan bantuan gas pembawa untuk dikeringkan sehingga air terdispersi didalam droplet akan menguap didalam reaktor, ketika air dalam menguap akan tersisa material dengan struktur berukuran nanometer yang memiliki ukuran sub-mikrometer berbentuk bola bulat. 6

Gambar 1. Proses pembentukan droplet pada Spray Drying dan Spray Pyrolysis 2.2 Parameter Pabrikasi Dengan memperhatikan metoda diatas dapat disimpulkan parameter pembentukan partikel dengan bentuk dan morfologi berukuran nanometer dapat dijelaskan sebagai berikut : a) Sifat-sifat khusus larutan, seperti viskositas air, diameter dari nanopartikel solid yang terdispersi d p (sol) dan tegangan permukaan antara hubungan droplet-gas pembawa ( ). b) Kondisi dari kontrol pembentukan, seperti frekuensi dari Ultrasonic Nebulizer yang menghasilkan ukuran droplet, kecepatan aliran gas pembawa yang menghasilakan kecepatan V d cm/s dari droplet didalam tabung reaktor, dan pengaturan temperatur tabung reaktor parameter ini berpengaruh terhadap kecepatan penguapan droplet. c) Untuk metoda Spray Drying sangat memperhatikan fraksi massa partikel berukuran nanometer didalam droplet ( ). 2.2.1 Stabilitas Droplet Perubahan bentuk dan morfologi partikel nanostrukur dikarenakan adanya perubahan bentuk droplet, bentuk umum droplet adalah bola bulat tetapi dalam proses produksi oleh Ultrasonic Nebulizer dan proses hidrodinamika dapat berubah menjadi bentuk droplet menjadi bentuk seperti mushrum (mushrum-like) 7

atau bentuk double complex disc. Perubahan ini sangat mempengaruhi kestabilan struktur dalam proses pengeringan (drying). Gambar 2. Pengaruh getaran Ultrasonic Nebulizer terhadap kestabilan droplet Kestabilan struktur droplet dapat dijelaskan oleh Bond Number, adalah perbandingan gaya lembam dan efek tegangan permukaan, ditunjukan oleh persamaan : (1) (2) dan (3) dengan selisih antara densitas droplet dan gas yang mengelilinginya, percepatan (perubahan kecepatan gas), ukuran droplet, densitas droplet, densitas partikel, densitas droplet, dan adalah tegangan permukaan. Sedangkan percepatan dapat dijelaskan oleh persamaan : 8

(4) dengan adalah massa partikel (dua-fase artikel), partikel diameter, vektor kecepatan partikel, vektor kecepatan partikel, viskositas gas dan adalah gaya luar (medan gaya eletromagnetik).s Partikel dapat kehilangan kestabilannya karena perubahan aerodinamika oleh percepatan (perubahan kecepatan gas) dan ketika partikel utama didalam droplet adalah bahan konduktif, partikel ini akan kehilangan kestabilan akibat medan gaya elektromagnetik ( ). Dapat disimpulkan, ketidakstabilan partikel sangat dipengaruhi oleh (i) peningkatan ukuran droplet (ii) peningkatan densitas droplet, dan (iii) penurunan tegangan permukaan ( ) droplet. Dengan mengunakan ultarsonic nebulizer untuk memproduksi droplet ukuran (diameter) droplet dikontrol dengan mengatur frekuensi getaran generator. Hal ini dihasilkan dengan merubah frekuensi kristal piezoelektrik dan karakteristik dari sirkuit elektronik. Sebagai contoh, distribusi ukuran droplet ukuran oleh Ultrasonic Nebulizer dengan frekuensi 1.7 dan 0.8 MHz memiliki diameter ratarata sekitar 5 dan 8-10. Cara lain adalah meningkatkan energi yang diberikan kedalam nebulizer, hal ini akan meningkatkan produksi droplet dan terakhir, akan terjadi pengentalan (koagulasi) antara droplet-droplet yang berukuran besar. Gambar 3. Pengaruh frekuensi Ultrasonic Nebulizer terhadap ukuran partikel. 9

Peningkatan densitas dua-fase droplet dapat dilakukan dengan meningkatkan fraksi volume partikel padatan,, dengan meningkatkan densitas akan menyebabkan kekentalan droplet dan pada akhirnya meningkatkan energi permukaan internal didalam droplet. (5) dengan dan adalah jumlah dan diameter partikel didalam droplet sedangkan adalah adalah tegangan permukaan antara padatan-cairan (solid-liquid). Jika ditingkatkan pada nilai kritis ( ditingkatkan pada nilai kritis), droplet (duafase) menjadi lebih kental dan menyebabkan menjadi lebih stabil dalam bentuk bulatan. Karena kestabilan droplet diakibatkan oleh peningkatan energi internal. Pengurangan tegangan permukaan,, akibat adanya surfaktan yang dimasukan kedalam air/pelarut akan mengakibatkan ketidakstabilan droplet. Dengan kehadiran surfaktan, nilai sehingga memungkinkan bentuk doplet seperti mushrum atau double complex disc. 2.2.2 Efek Hidrodinamika Efek hidrodinamika (didalam dan diluar droplet) memainkan peranan dalam mengontrol morfologi nanostruktur. Kecepatan gas dan temperatur adalah parameter kuantitatif yang menyebabkan ini, akan mempengaruhi bentuk dan struktur hasil akhir. Peningkatan kecepatan aliran udara didalam reaktor menyebabkan bentuk droplet menjadi tidak stabil, dengan tingkat kecepatan yang besar maka droplet akan terdorong lebih kencang dan bentuk akan berubah akibat adanya gaya eksternal dari kecepatan aliran (pers. 4). 10

Gambar 4. Pengaruh kecepatan aliran terhadap bentuk droplet. Mempercepat waktu produksi material nanostruktur dengan meningkatkan kecepatan droplet didalam reaktor mengakibatkan temperatur reaktor harus ditingkatkan agar pengeringan menjadi sempurna, penguapan air membutuhkan Temperatur pemanasan/penguapan yang tinggi. Ketika sebagian kecil air menguap, aliran panas yang kuat mengalir dari permukaan droplet kearah aliran gas. Didalam permukaan droplet akan terbentuk gradien temperatur lokal. Akibatnya dari peristiwa ini ada 2 peristiwa thermophoretic yang terjadi, pertama akan terjadi aliran padatan/sol (nanopartikel) dari permukaan droplet ke arah aliran gas dan yang kedua adalah akan terjadi sirkulasimikro didalam droplet, didekat permukaan, akibat adanya gradien tegangan permukaan. Gradien tempertaur pada permukaan droplet mempengaruhi sifat tegangan permukaan droplet. Hal ini dapat dijelaskan dengan definisi tegangan permukaan sebagai (6) dan (7) 11

dengan energi bebas Helmholtz, luas area permukaan droplet, energi total sistem, temperatur/temperatur dan adalah entropi, Gambar 5. efek hidrodinamika didalam droplet, gradien tempertur pada permukaan menciptakan gaya thermophoretic dan gerakan partikel diantara penghubungnya. Persamaan diatas dengan sangat mudah menjelaskan tegangan permukaan akan meningkat seiring dengan penurunan temperatur (8) gradien tegangan permukaan mengakibatkan efek hidrodinamika didaerah dekat permukaan droplet. Efek ini akan memperbanyak keberadaan surfaktan aktif mendekat menjadi satu lapisan dibatas antara cairan-gas. Pembahasan diatas menujukan bahwa thermophoresis dan sirkulasi mikro yang terjadi didalam droplet proses pembentukan nanomaterial (partikel padat/sol). 2.2.3 Teori Evaporasi Droplet Analogi transfer panas dan massa ditawakan teori dasar untuk menjelaskan proses penguapan (evaporation) droplet. Model ini mengkombinasikan teori dinamika partikel untuk menjelaskan aliran droplet dan efek aliran udara.dalam kasus ini droplet nergerak mengikuti aliran udara, dan mengalami pemanasan direaktor. Untuk situasi ini Fröessling (1938) membangun persamaan empirikal untuk konstanta transfer massa, : 12

(9) dengan Reynold s no, Sc = v/k= Schmit no, D = diameter droplet, V= kecepatan realtif droplet terhadap udara, m/s, v kinematika viskositas udara, m 2 /s, dan K adalah tetapan difusivitas uap air, m 2 /s. Dengan mempertimbangkan analaogi proses transfer panas, Ranz dan Marshall (1952), konstanta transfer panas (Nulsselt Number) dapat dikorelasikan dengan data transfer panas menghsilkan pers : (10) Dengan Pr = Prandtl no. = Cpµ/k, H = koefisien transfer panas, Jm -2 K -1 s -1, Cp kapasistas panas udara pada tekanan tetap, Jkg -1 K -1, µ viskositas udara, kg s -1 m -1, dan k konduktivitas termal udara, Js -1 m -1 K -1. Persamaan diatas secara teoritis menghasilkan nilai Nu = Nu = 2 untuk Re = 0.0. Knudsen dan Kantz (1958) menjelaskan persamaan 1 dan 2 dan memberikan parameter. a) 1 < Re < 70.000 b) 0.6 < Pr < 400 c) 0.6 < Sc < 400 Marshal (1954) memberikan persamaan empirik transfer massa uap panas dari permukaan bola (droplet) dengan gaya konveksi. (11) dengan k g = koefisisen transfer massa, M m berat molekular rata-rata (M m = 29 untuk udara), P f = tekanan bagian udara, kpa, dan adalah densitas udara, kgm -3. Analisis ini didasarkan berdasarkan asumsi : (a) temperatur udara dan tekanan konstan, (b) penguapan (evaporasi) tidak memberikan pengaruh terhadap kelembaban, (c) didalam tabung rekator tidak terjadi turbulensi udara, dan (d) 13

droplet memiliki bentuk bola dan air murni (dikarenakan konsentrasi sangat rendah). Semua asumsi diatas, kecuali c dapat diterima. Dengan ukuran droplet (D<<1 mm), efek turbulensi tidak dapat diabaikan, dan dijelaskan oleh Goering (1972). Goering memodifikasi persamaan Marshall, dan mengunakan definisi geometri dan massa dan menghasilkan persamaan perubahan diameter untuk penguapan droplet : (12) Dengan M v = berat molekul uap air pada proses difusi (M v = 18), = perbedaan tekanan uap, kpa, densitas cairan didalam droplet, 1000 kg/m 3 untuk air. Semua kuantitas diatas tidak berdimensi, kecuali K/D, dengan dimensi adalah L/T. Difusivitas K, sebagai fungsi dari temperatur udara dan tekanan diperoleh oleh List (1963) sebagai : (13) dengan T k = temperatur air dalam Kelvin dan P a = tekanan atmosfer, kpa. Penelitian sebelumnya (Goering et al. 1972, Williamson dan Threadgill 1974, dan Edling, 1985) telah mengasumsikan fungsi diffusivitas hanya sebagai fungsi temperatur. Persamaan diatas memberikan model dan data yang lebih bagus, memberikan fungsi diffusivitas (dan kecepatan penguapan). Dan tekanan udara sebagai fungsi dari (14) dengan E = ketinggian tempat tes/eksperimen, m. Dikarenakan aliran udara hanya mengandung air dan uap air, maka tekanan total P a (atmosfer) mengandung tekanan udara dan uap air, dan 14

(15) Semua nilai-nilai pada persamaan diatas dapat dicari, sehingga nilai evaporasi (penguapan) droplet dapat dihitung pada setiap tahap dt (perubahan waktu), dengan mengetahui ukuran awal droplet, solusi persamaan () adalah (16) 2.3 Reaktor Secara sederhana metoda Spray Drying dan Spray Pyrolysis adalah proses pembentukan partikel padatan dengan mengalirkan diatomisasi/larutan dalam bentuk droplet kedalam pemanas, akibat adanya pemanasan didalam reaktor maka larutan akan menguap dan partikel terlarut (sol) akan membentuk padatan. Ada 4 sistem utama dalam metoda spray, a) pertama adalah sistem aliran fluida (carrier gas) sistem ini berfungsi sebagai pendorong droplet sehingga mampu mengalir droplet kedalam reaktor. b) Kedua adalah sistem spray, sistem ini berfungsi sebagai penghasil diatomisasi/ larutan dalam bentuk droplet. c) Ketiga adalah sistem pemanas, seperti yang telah diketahui ada dua fungsi utama dari pemanas dalam metoda spray draying ini pertama adalah menghilangkan pelarut (surfaktan berupa air atau pelarut lainnya) sehingga terbentuk partikel padatan yang kedua adalah jika carrier gas adalah udara biasa pemanas berfungsi mempercepat proses oksidasi. d) Sistem yang terakhir adalah sistem penyaring. Beberapa penelitian terakhir, metoda spray draying/pyroliysis mampu mempabrikasi material nanopartikel nikel dan nikel oksida dengan ukuran 10-30 nm, pabrikasi ini sukses disintesis pada kondisi tekanan sistem rendah. Seperti yang telah dijelaskan dibagian terdahulu setiap sistem diatas saling berhubungan 15

baik secara mekanik maupun secara fungsional. Salah satu parameter yang berhubungan adalah kecepatan aliran gas atau aliran droplet dengan temperatur pemanasan dikarenakan adanya waktu optimum pengeringan air secara sempurna dari droplet. Dengan mengunakan persamaan (16) diatas kita dapat memperkirakan waktu yang dibutuhkan satu buah droplet menguap dan akan membentuk partikel nanostrukur. Waktu pemanasan yang diperlukan akan berhubungan dengan kecepatan aliran yang dibutuhkan, hubungan antara keduanya akan berpengaruh terhadap proses produksi. Dengan asumsi sifat aliran yang terjadi didalam reaktor pemanasan adalah laminer dengan debit udara yang masuk sebesar Q (m 3 s -1 ), maka waktu yang dibutuhkan udara melalui reaktor sepanjang l (m) dan luas penampang melintang A (m) sebesar: (17) Sehingga dengan mengunakan persamaan (13), persamaan (16) dan persamaan (17) didapatkan hubungan matematis antara temperatur, ukuran droplet, dan debit udara. Hubungan ketiganya ditulis dalam fungsi (18) Dengan pendekatan jika hasil akhir droplet berukuran sama dengan ukuran partikel nanostrukur (~ 10-9 m) maka persamaan diatas dapat menjadi (19) atau (20) 16

2.4 Karakterisasi Material Scanning Electron Microscope (SEM) Scanning electron microscope adalah sebuah metoda yang sangat berguna untuk mendapatkan gambaran mengenai bentuk dan morfologi partikel nanostruktur. Selain itu scanning electron microscope dapat memperlihatkan karakteristik fisik dan kimia seperti kandungan unsur, orientasi kristalinitas dan ukuran partikel nanostruktur. Scanning Electron Microscopy (SEM) terdiri dari elektron gun yang menghasilkan aliran elektron dengan tegangan 2-30 kv. Sinar yang dihasilkan akan melewati serangkaian lensa elektromagnetik dan melewati bahan. Sinar yang lewat pada bahan akan terpendar dan ada juga yang terdeteksi pada electron detector dikirim ke layar untuk menghasilkan gambar dari permukaan nanopartikel. 17