LAPORAN PRAKTIKUM EMBRIOLOGI

dokumen-dokumen yang mirip
ACARA PENGAJARAN (SAP) X A.

LAPORAN PRAKTIKUM EMBRIOLOGI

drh. Herlina Pratiwi PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2014

TINJAUAN PUSTAKA. (Gallus gallus gallus) dan Ayam Hutan Merah Jawa ( Gallus gallus javanicus).

Struktur Telur. Suhardi, S.Pt.,MP Universitas Mulawarman

Sumber pemenuhan kebutuhan protein asal hewani yang cukup dikenal. masyarakat Indonesia selain ayam ialah itik. Usaha beternak itik dinilai

Folikulogenesis dan ovum ternak

BAB I PENDAHULUAN. (dengan cara pembelahan sel secara besar-besaran) menjadi embrio.

HASIL DAN PEMBAHASAN. morfologi. Penilaian dilakukan pada DOD yang baru menetas untuk melihat

D. Uraian Pembahasan. Sistem Regulasi Hormonal 1. Tempat produksinya hormone

PENGANTAR. Latar Belakang. Itik lokal di Indonesia merupakan plasma nutfah yang perlu dilestarikan dan

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 2. Sistem Reproduksi ManusiaLatihan Soal 2.1

PEMBAHASAN Siklus Hidup C. trifenestrata Studi Perkembangan Embrio C. trifenestrata

Jenis jaringan hewan ada empat macam, yaitu jaringan epitel, jaringan ikat, jaringan otot, dan jaringan saraf.

TUGAS IPA PERKEMBANGBIAKAN HEWAN SECARA GENERATIF

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. a b c

II KAJIAN KEPUSTAKAAN. membentuk beberapa variasi dalam besar tubuh, konformasi, dan warna bulu.

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Itik merupakan ternak jenis unggas air yang termasuk dalam kelas Aves, ordo

II. TINJAUAN PUSTAKA. Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Puyuh

TINJAUAN PUSTAKA. Itik adalah salah satu jenis ungags air ( water fawls) yang termasuk dalam

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk

SISTEM EKSKRESI PADA MANUSIA

3 METODOLOGI PENELITIAN

Jaringan Hewan. Compiled by Hari Prasetyo

Ilmu Pengetahuan Alam

JARINGAN PADA HEWAN & MANUSIA

1. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

MATERI DAN METODE. Materi

Penyiapan Mesin Tetas

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB VII SISTEM UROGENITALIA

SISTEM REPRODUKSI UNGGAS BETINA Oleh : Setyo Utomo Pada umumnya sistem reproduksi ternak betina terdiri atas ovarium dan sistem duktus (saluran),

KAJIAN KEPUSTAKAAN. susu untuk peternak di Eropa bagian Tenggara dan Asia Barat (Ensminger, 2002). : Artiodactyla

Pembuatan Preparat Utuh (whole mounts) Embrio Ayam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kedu merupakan salah satu ayam lokal langka Indonesia. Ayam. bandingkan dengan unggas lainnya (Suryani et al., 2012).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Aves, ordo Anseriformes, famili Anatidae, sub famili Anatinae, tribus Anatinae

merangsang skutelum menghasilkan GA. GA dikirim ke sel-sel protein untuk membentuk enzim baru sebagai pelarut cadangan makanan.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 6. Kualitas Eksterior Telur Tetas Ayam Arab

Sistem Ekskresi Manusia

ACARA III PEMBUATAN PRODUK DAN UJI KUALITAS PRODUK TELUR A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Telur merupakan salah satu dari beberapa produk yang di

TINJAUAN PUSTAKA. banyak telur dan merupakan produk akhir ayam ras. Sifat-sifat yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ciri khas burung puyuh ( Coturnix-Coturnix Japonica ) adalah bentuk badannya relatif

HASIL DAN PEMBAHASAN. Inseminasi Buatan pada Ayam Arab

I. PENDAHULUAN. Ketersediaan telur yang tidak mengenal musim, keunggulan gizi dari telur dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Anatomi/organ reproduksi wanita

BAB II LANDASAN TEORI

CREATIVE THINKING. MANUSIA DAN ILMU PENGETAHUAN Panca Indra

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. menyusun jaringan tumbuhan dan hewan. Lipid merupakan golongan senyawa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) : Petumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan dan Hewan

I. PENDAHULUAN ,8 ton (49,97%) dari total produksi daging (Direktorat Jenderal Peternakan,

Gambar 3. Kondisi Kandang yang Digunakan pada Pemeliharaan Puyuh

genus Barbodes, sedangkan ikan lalawak sungai dan kolam termasuk ke dalam species Barbodes ballaroides. Susunan kromosom ikan lalawak jengkol berbeda

PENDAHULUAN. salah satunya pemenuhan gizi yang berasal dari protein hewani. Terlepas dari

HUBUNGAN HIGH DENSITY LIPOPROTEIN DENGAN PENURUNAN FUNGSI KOGNITIF PADA WANITA POST MENOPAUSE

SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 10. SISTEM ORGANISASI KEHIDUPANLatihan Soal 10.5

TINJAUAN PUSTAKA. Itik adalah salah satu jenis unggas air ( water fowls) yang termasuk dalam

SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) VII

EMBRIOLOGI MAS BAYU SYAMSUNARNO MK. FISIOLOGI HEWAN AIR

MATERI DAN METODE. Materi

TINJAUAN PUSTAKA Karakteristik Puyuh

4/18/2015 MORFOGENESIS BY : I GEDE SUDIRGAYASA GAMBARAN UMUM MEKANISME MORFOGENE SIS TOPIK GASTRULASI ORGANOGEN ESIS

I. PENDAHULUAN. Permintaan masyarakat terhadap sumber protein hewani seperti daging, susu, dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Rokok merupakan gulungan tembakau yang dirajang dan diberi cengkeh

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kedu merupakan jenis ayam kampung yang banyak dikembangkan di

Antiremed Kelas 9 Biologi

PENDAHULUAN. penyediaan daging itik secara kontinu. Kendala yang dihadapi adalah kurang

ANATOMI DAN FISIOLOGI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. subfilum vertebrata atau hewan bertulang belakang. Merak hijau adalah burung

TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Puyuh (Coturnix-coturnix japonica)

TATALAKSANA PENETASAN TELUR ITIK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler termasuk ke dalam ordo Galliformes,familyPhasianidae dan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

SISTEM REPRODUKSI MANUSIA 2 : MENSTRUASI PARTUS

HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODE PENELITIAN

JARINGAN DASAR HEWAN. Tujuan : Mengenal tipe-tipe jaringan dasar yang ditemukan pada hewan. PENDAHULUAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Jaringan tulang keras di bagi menjadi... a.1 b.2 = c.3 d.4 e.5

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Keanekaragaman Organisme Kehidupan

Embriogenesis. Titta Novianti

PENDAHULUAN. sebagian hidupnya dilakukan ditempat berair. Hal ini ditunjukkan dari struktur fisik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler tidak dibedakan jenis kelamin jantan atau betina, umumnya dipanen

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

I. PENDAHULUAN. Kolesterol adalah salah satu komponen lemak yang dibutuhkan oleh tubuh dan

5 KINERJA REPRODUKSI

TINJAUAN PUSTAKA. A. Klasifikasi Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) Berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Ternak Peralatan Prosedur

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh

LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN MAS : IMADUDIN ATHIF N.I.M :

Karakteristik Organisme Hidup. UNSYIAH Universitas Syiah Kuala 9/28/2016. Tema-tema dalam Mempelajari Kehidupan. Organisasi Biologi

Transkripsi:

LAPORAN PRAKTIKUM EMBRIOLOGI Oleh: Connie AstyPakpahan Ines GustiPebri MardhiahAbdian Ahmad Ihsan WantiDessi Dana Yunda Zahra AinunNaim AlfitraAbdiGuna Kabetty T Hutasoit Siti Prawitasari Br Maikel Tio R Assisten: M.Ridhan Akbar FAKULTAS KEDOTERAN HEWAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA BANDA ACEH 2014 1

KATA PENGANTAR Puji Syukur penulis ucapkan terhadap kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-nya, sehingga berkat karunia-nya penulis dapat menyelesaikan laporan paratikum "PERKEMBANGAN EMBRIO AYAM" tanpa ada halangan yang berarti dan selesai tepat pada waktunya. Dalam Penyusunan makalah ini, penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada : 1. Drh. Dian masyitah,m.p sebagai kepala laboratorium embriologi 2. Awaluddin sebagai coordinator asisten laboratorium embriologi 3. Muhammad Ridhan sebagai asisten laboratorium embriologi 4. Teman-teman yng telah berpatisiasi dalam prtaikum embriologi Penulis sadar laporan ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu penulis berharap kritik dan saran semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan seluruh pembaca pada umumnya. Banda Aceh, 12 Mei 2014 Penulis 2

DAFTAR ISI Kata Pengantar... 2 Bab I... 4 Pendahuluan... 4 1.1 Latar Belakang... 4 1.2 Tujuan... 4 1.3 Manfaat... 4 Bab II... 5 Tinjauan pustaka... 5 Bab III... 8 Metode praktikum... 8 3.1 Alat dan Bahan... 8 3.2 Cara Kerja... 8 Bab IV... 9 4.1 Hasil... 9 4.2 Pembahasan... 19 Bab V... 23 Penutup... 23 Daftar Pustaka...24 3

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Embrio adalah tahapan awal dari pertumbuhan vertebrata (hewan bertulang punggung). Pada embrio pratikum III kami mengamati proses perkembangan embrio ayam. Ayam termasuk merupakan hewan yang termasuk jenis unggas, yang perkembangbiakannya dilakukan dengan bertelur. Perkembangan embrio ayam terjadi diluar tubuh induknya. Selama berkembang, embrio memperoleh makanan dan perlindungan dari telur berupa kuning telur, albumen dan kerabang telur. Itulah penyebab telur unggas relatif besar. Perkembangan embrio ayam tidak dapat seluruhnya dilihat dalam perkembangannya, embrio dibantu kantung oleh kuning telur, amnion dan alantois. Pola dasar perkembangan embrio ayam yaitu melalui tahapan pembelahan, morula, blastula, gastrula. 1.2 Tujuan 1. Mempelajari lapisan embrional ayam yang membentuk bakal organ. 2. Mempelajari tahap pembentukan organ pada berbagai umur embrio. 1.3 Manfaat 1. Agar kita dapat mengetahui lapisan embrional yang membentuk bakal organ. 2. Agar kita dapat mengetahui tahap-tahap perkembangan atau pembentukan organ pada berbagai umur embrio ayam. 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Ovarium adalah tempat sintesis hormon steroid seksual, gametogenesis, dan perkembangan serta pemasakan kuning telur (folikel). Oviduk adalah tempat menerima kuning telur masak, sekresi putih telur, dan pembentukan kerabang telur. Pada unggas umumnya dan pada ayam khususnya, hanya ovarium kiri yang berkembang dan berfungsi, sedangkan yang bagian kanan mengalami rudimenter (Anonymous, 2010). Ovarium pada ayam dinamakan juga folikel. Bentuk ovarium seperti buah anggur dan terletak pada rongga perut berdekatan dengan ginjal kiri dan bergantung pada ligamentum meso-ovarium. Besar ovarium pada saat ayam menetas 0,3 g kemudian mencapai panjang 1,5 cm pada ayam betina umur 12 minggu dan mempunyai berat 60 g pada tiga minggu sebelum dewasa kelamin. Ovarium terbagi dalam dua bagian, yaitu cortex pada bagian luar dan medulla pada bagian dalam. Cortex mengandung folikel dan pada folikel terdapat sel-sel telur. Jumlah sel telur dapat mencapai lebih dari 12.000 buah. Namun, sel telur yang mampu masak hanya beberapa buah saja (pada ayam dara dapat mencapai jutaan buah). Folikel akan masak pada 9-10 hari sebelum ovulasi. Karena pengaruh karotenoid pakan ataupun karotenoid yang tersimpan di tubuh ayam yang tidak homogen maka penimbunan materi penyusun folikel menjadikan lapisan konsentris tidak seragam. Proses pembentukan ovum dinamakan vitelogeni (vitelogenesis), yang merupakan sintesis asam lemak di hati yang dikontrol oleh hormon estrogen, kemudian oleh darah diakumulasikan di ovarium sebagai volikel atau ovum yang dinamakan yolk (kuning telur) (Anonymous, 2010). Dikenal tiga fase perkembangan yolk, yaitu fase cepat antara 4-7 hari sebelum ovulasi dan fase lambat pada 10-8 hari sebelum ovulasi, serta pada 1-2 hari sebelum ovulasi. Akibat perkembangan cepat tersebut maka akan terbentuk gambaran konsentris pada kuning telur. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kadar xantofil dan karotenoid pada pakan yang dibelah oleh latebra yang menghubungkan antara inti yolk dan diskus germinalis. Folikel dikelilingi oleh pembuluh darah, kecuali pada bagian stigma. Apabila ovum masak, stigma akan robek sehingga terjadi ovulasi. Robeknya stigma ini dikontrol oleh hormon LH. Melalui pembuluh darah ini, ovarium mendapat suplai makanan dari aorta dorsalis. Material kimiawi yang diangkut melalui sistem vaskularisasi ke dalam ovarium harus melalui beberapa lapisan, 5

antara lain theca layer yang merupakan lapisan terluar yang bersifat permeabel sehingga memungkinkan cairan plasma dalam menembus ke jaringan di sekelilingnya. Lapisan kedua berupa lamina basalis yang berfungsi sebagai filter untuk menyaring komponen cairan plasma yang lebih besar. Lapisan ketiga sebelum sampai pada oocyte adalah lapisan perivitellin yang berupa material protein bersifat fibrous (berongga) (Anonymous, 2010). Dalam membran plasma, oocyte (calon folikel) berikatan dengan sejumlah reseptor yang akan membentuk endocitic sehingga terbentuklah material penyusun kuning telur. Sehingga besar penyusutan kuning telur adalah material granuler berupa high density lipoprotein (HDL) dan lipovitelin. Senyawa ini dengan ion kuat dan ph tinggi akan membentuk kompleks fosfoprotein, fosvitin, ion kalsium, dan ion besi. Senyawa-senyawa ini membentuk vitelogenin, yaitu prekursor protein yang disintesis di dalam hati sebagai respon terhadap estradiol. Komponen vitelogenin lebih mudah larut dalam darah dalam bentuk kompleks lipida kalsium dan besi. Oleh adanya reseptor pada oocyte, akan terbentuk material kuning telur. proses pembentukan vitelogenin ini dinamakan vitelogenesis (Anonymous 2010). Dalam perkembangannya, embrio dibantu kantung oleh kuning telur, amnion, dan alantois. Kantung kuning yang telur dindingnya dapat menghasilkan enzim. Enzim ini mengubah isi kuning telur sehingga mudah diserap embrio. Amnion berfungsi sebagai bantal, sedangkan alantois berfungsi pembawa sebagai ke oksigen embrio, menyerap zat asam dari embrio, mengambil yang sisa-sisa pencernaan yang terdapat dalam ginjal dan menyimpannya dalam alantois, serta membantu alantois, serta membantu mencerna albumen (Aspan, 2009). Telah diteliti bahwa dengan menambahkan zat lain Endoxan-Asta pada pertumbuhan ayam umur 4 dan 5 hari inkubasi dengan menginjeksikannya kedalam kantong yolk maka malformasi yang dapat dapat ditimbulkan adalah : gelombang meliputi mata, kelopak mata yang tidak tumbuh sempurna, mata yang tidak tumbuh sama sekali, paruh dengan sisi lateral yang bercelah, paruh atas atau bawah yang pendek, paruh menyilang, micromelia, syndactyl, ectodactyl, ectopia viscerum, exenchephali dan clut palate. (Sri Sudarwati, 1975) Penyusun utama kuning telur adalah air, lipoprotein, protein, mineral, dan pigmen. Protein kuning telur diklasifikasikan menjadi dua kategori: 6

1. Livetin, yakni protein plasmatik yang terakumulasi pada kuning telur dan disintesiskan di hati hampir 60% dari total kuning telur. 2. Phosvitin dan lipoprotein yang terdiri dari high density lipoprotein (HDL) dan low density lipoprotein (LDL) yang disebut pula dengan granuler dan keduanya disintesis dalam hati. Pada ayam dewasa bertelur setiap hari disintesis 2,5 g protein/hari melalui hati. Sintesis ini dikontrol oleh hormon estrogen. Hasil sintesis bersama-sama dengan ion kalsium, besi dan zinc membentuk molekul kompleks yang mudah larut kemudian masuk ke dalam kuning telur. 7

BAB III METODE PERCOBAAN 3.1 Alat dan Bahan 1. Incubator 2. Scalpel 3. Bak kaca / plastic 4. Pinset 5. Cawan Petri 6. Telur ayam yang sedang dieramkan dengan incubator 3.2 Cara Kerja 1. Sediakan telur ayam yang akan ditetaskan secukupnya, guna melihat perbedaan diantaranya. Dimasukkan kedalam incubator dengan suhu 101ºF 2.Pada waktu pengamatan, telur dipecahkan 2 sampai 3 butir untuk melihat perbedaan embrio telur tersebut. 3.Telur yang akan diamati, dipecahkan dengan scalpel dan dituangkan isinya kedalam cawan Petri. Diamati perubahan yang terjadi setiap hari yang ditentukan. Pada hari selanjutnya perhatikan perubahan atau pembentukan telur tersebut mulai hari pertama sampai menetas. 8

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL Pengamatan yang kami lakukan pada embrio ayam 1,2,3,4,5,6,7,8,101,13,14,17 dan 20. Hari pertama Hari kedua Hari ketiga Hari keempat 9

Hari kelima Hari keenam Hari ketujuh 10

Hari kedelapan Hari kesepuluh Hari kesebelas 11

Hari keempat belas Hari ketujuh belas Hari kedua puluh 12

Keterangan Hari pertama Hari kedua Hari ketiga 13

Hari keempat Hari kelima Hari keenam Hariketujuh 14

Hari kedelapan Kesembilan Kesepuluh Kesebelas 15

Keduabelas Ketigabelas Keempatbelas 16

Kelimabelas keenambelas Ketujuhbelas Kedelapanbelas 17

Kesembilanbelas Keduapuluh Keduapuluhsatu 18

4.2 PEMBAHASAN Perkembangan embrio ayam terjadi di luar tubuh induknya. Selama berkembang, embrio memperoleh makanan dan perlindungan yang dari telur berupa kuning telur, albumen, dankerabang telur. Itulah sebabnya telur unggas selalu relatif besar. Dalam perkembangannya, embrio dibantu kantung oleh kuning telur, amnion, dan alantois. Kantung kuning yang telur dindingnya dapat menghasilkan enzim. Enzim ini mengubah isi kuning telur sehingga mudah diserap embrio.amnion berfungsi sebagai bantal, sedangkan alantois berfungsi pembawa sebagai ke oksigen embrio,menyerap zat asam dari embrio, mengambil yang sisa-sisa pencernaan yang terdapat dalam ginjal dan menyimpannya dalam alantois, serta membantu alantois, serta membantu mencerna albumen. Umur 1 hari Bentuk awal embrio pada hari pertama belum jelas terlihat,sel benih berkembang menjadi bentuk seperti cincin dengan bagian tepinya gelap, sedangkan bagian tengahnya agak terang. Bagian tengah ini merupakan sel benih betina yang sudah dibuahi yang dinamakan zygot blastoder. setelah lebih kurang 15 menit setelah pembuahan, mulailah terjadi pembiakan sel-sel bagian awal perkembangan embrio. Jadi didalam tubuh induk sudah terjadi perkembangan embrio. Umur 2 hari Bentuk awal embrio hari kedua mulai terlihat jelas. Pada umur ini sudah terlihat primitive streake suatu bentuk memanjang dari pusat blastoderm yang kelak akan berkembang 19

menjadi embrio. Pada blastoderm terdapat garis-garis warna merah yang merupakan petunjuk mulainya sistem sirkulasi darah. Umur 3 hari Pada jantung hari ke 3 ini sudah ulai terbentuk dan berdenyut serta bentuk embrio sudah mulai tampak. dengan menggunakan alat khusus seperti mikroskop gelembung dapat dilihat gelembung bening, kantung amnion, dan awal perkembangan alantois.gelembunggelembung bening tersebut nantinya akan menjadi otak.sementara kantong amnion yang berisi cairan warna putih berfungsi melindungi embrio dari goncangan dan membuat embrio bergerak bebas. Umur 4 hari Dihari ini, mata sudah mulai kelihatan,. Mata tersebut tampak sebagai bintik gelap yang terletak disebelah kanan jantung. selain itu jantung sudah membesar. Dengan menggunakan mikroskop, dapat dilihat otaknya. Otak ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu otak depan, otak tengah dan otak belakang. Umur 5 hari Pada hari kelima ini, embrionya sudah mulai tampak lebih jelas. Kuncup-kuncup anggota badan sudah mulai terbentuk. Ekor dan kepala embrio sudah berdekatan sehingga tampak seperti huruf C. Dengan menggunakan mikroskop, dapat dilihat bahwa telah terjadi perkembangan alat reproduksi dan sudah terbentuk jenis kelaminnya. Sementara amnion dan alantois sudah kelihatan. Umur 6 hari Pada hari keenam ini kuncup-kuncup anggota badan sudah mulai terbentuk. Mata sudah tampak menonjol. Dengan mikroskop dapat dilihat bahwa rongga dada sudah mulai berkembang dan jantung sudah membesar. Selain itu, dapat dilihat otak, amnion dan alantois, kantong kuning telur, seta paruhnya. Umur 7 hari Pada umur tujuh hari, paruhnya sudah tampak seperti bintik gelap pada dasar mata. Dengan menggunakan mikroskop dapat dilihat bahagian tubuh lainnya sudah mulai terbentuk, yaitu otak dan leher. Umur 8 hari pada hari kedelapan ini, mata embrio sudah jelas terlihat. Umur 9 hari 20

Umur sembilan hari ini lipatan dan pembuluh darahnya sudah bertambah seta jari kakinya mulai terbentuk. Umur 10 hari Umur sepuluh hari ini biasanya paruhnya sudah mulai keras. Dengan menggunakan mikroskop dapat dilihat folikel bulu embrio yang mulai terbentuk. Umur 11 hari Embrio pada hari kesebelas sudah tampak seperti ayam. embrio ini menjadi semakin besar sehingga yolk akan menyusut dan paruhnya sudah mulai terlihat jelas. Umur 12 hari Embrio umur dua belas hari sudah semakin besar dan mulai masuk ke yolk sehingga yolk semakin kecil. Mata sebelah kanan mulai membuka sedikit, sedangkan telinganya sudah terbentuk dan sudah tampak permulaan pertumbuhan bulu bagian bawah. Umur 13 hari Pada hari ke 13, sisik dan cakar sudah mulai tampak jelas. Umur 14 hari Perkembahan embrio pada hari keempat belas ini, punggung telah tampak meringkuk atau melengkung. Sementara bulu hampir menutupi seluruh tubuhnya Umur 15 hari Pada umur 15 hari, biasanya kepala embrio sudah mengarah kebagian tumpul bagian telur. Umur 16 hari Embrio pada umur enam belas hari sudah mengambil posisi yang baik didalam kerabang. Sisik, cakar dan paruh sudah mulai mengeras dan bertanduk. Umur 17 hari Pada umur tujuh belas hari ini, paruh embrio sudah mengarah kekantung udara. Umur 18 hari Pada umur delapan belas hari ini, embrio yang sudah tampak jelas seperti ayam akan mempersiapkan diri akan menetas. Jari kaki, sayap, dan bulunya berkembang dengan baik. Umur 19 hari Pada umur 19 hari, biasanya paruh ayam sudah siap mematuk dan menusuk selaput kerabang dalam. 21

Umur 20 hari Pada umur 20 hari, kantong kuning telur sudah masuk seluruhnya kedalam rongga perut. embrio ayam ini hampir menempati seluruh rongga di dalam telur, kecuali kantung udara. Pada hari kedua puluh ini terjadi serangkaian proses penetasan yang dimulai dengan kerabang mulai terbuka. Untuk membuka kerabang ini, ayam menggunakan paruhnya dengan cara mematuk. Semakin lama, kerabang akan semakin besar membuka, sehingga ayam dapat bernafas. Pada saat ini kelembaban sangat penting agar pengeringan selaput kerabang dan penempelan perut pada kerabang dapat dicegah. Selanjutnya ayam memutar tubuhnya dengan bantuan dorongan kakinya. Dengan bantuan sayapnya, keadaan pecahnya kerabang semakin besar. Umur 21 hari Dihari ke dua puluh satu ini, ayam sudah membuka kerabangnya walaupun belum seluruhnya. Dari keadaan ini biasanya tubuh ayam memerlukan waktu 12 18 jam untuk keluar dari kerabang. Setelah keluar dari kerabang, tubuh masih basah. Agar kering, diperlukan waktu sekitar 6 12 jam, bila sudahkering, ayam tersebut dapat dikeluarkan dari dalam ruang mesin penetas. 22

BAB V PENUTUP Kesimpulan 1. Masa normal waktu perkembangan embrio ayam sejak keluar dari tubuh induknya sampai menetas yaitu 21 hari. 2. Embrio itu akan mengalami rangsangan gerak ketika mendengar suara ayam dewasa berkotek-kotek yang itu merupakan induknya. 3. Peta takdir, merupakan bagian yang akan terbentuk menjadi jantung embrio. 4. Pada hari ke-20 paru-paru sudah berkerja bagaimana semestinya. Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangan lanjut embrio telur ayam yaitu: 1. Suhu lingkungan 2. Intensitas cahaya 3. Medium 4. Jarak lampu terhadap embrio 23

DAFTAR PUSTAKA Admin, Ludi, dkk. 2010. Pengetesan Fertilisasi Telur. Jakarta: Gramedia Sri Sudarwati, dan tien Wiati S. 1975. Pengaruh Endoxin-Asta (Cyclophosphamtide) pada pertumbuhan embryo ayam. Departemen Biologi, Institut Teknologi Bandung. Bandung Sudarwati. 1990. Dasar-dasar struktur dan perkembangan hewan. Bandung: ITB Surjono. 2001. Proses perkembangan embrio. Jakarta: UniversitasTerbuka Wijayanti, Gratiana E., dan Sorta Basar Ida Simanjuntak. 2005. Viabilitas dan Perkembangan Embrio serta Larva Ikan Nilem (Osteochilus hasselti C.V.) Pasca Chorion Puncture. Wikipedia. 2012. Embrio. (http://id.wikipedia.org/wiki/embrio., di akses 22 Mei 2013) 24