PENILAIAN ACUAN NORMA

dokumen-dokumen yang mirip
Unit 6 TEKNIK PEMBERIAN SKOR DAN NILAI HASIL TES. Ainur Rofieq. Pendahuluan

Inisiasi IV ASESMEN PEMBELJARAN SD

PENILAIAN ACUAN PATOKAN dan PENILAIAN ACUAN NORMATIF

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FPMIPA UPI

PENDEKATAN PENILAIAN Grading Nilai

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dalam melaksanakan suatu penelitian, seorang peneliti harus menentukan

DESKRIPSI PENGUASAAN KOMPETENSI DASAR OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT PADA SISWA KELAS IV SD SE-KECAMATAN PURWOREJO TAHUN PELAJARAN 2011/2012

Distribusi Frekuensi

BAB IV HASIL PENELITIAN. meliputi jenis kelamin, usia, pendidikan, lama bekerja. Tabel 4.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1. Berpikir kreatif siswa adalah kemampuan siswa untuk menghasilkan gagasan atau

5. STATISTIKA PENYELESAIAN. a b c d e Jawab : b

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sebelum Peneliti memberikan perlakuan / treatment bimbingan kelompok

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. berupa hasil perhitungan statistik yang datanya diperoleh dari responden. Hasil

BAB 4 HASIL PENELITIAN

CIRI-CIRI DISTRIBUSI NORMAL

MATERI KULIAH EVALUASI PEMBELAJARAN

MATA KULIAH STATISTIK PENDIDIKAN MENGUBAH SKOR MENJADI NILAI. Dosen Pengampu: Christina Kartika Sari Lina Dwi Khusnawati

BAB 6 KATEGORISASI BERDASARKAN INTERVAL NILAI

BAB III METODE PENELITIAN. didalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan penelitian. Berdasarkan

BAB III METODE PENELITIAN

Statistika Deskriptif & Distribusi Frekuensi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap:

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas (SMA)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang

S T A T I S T I K A. Pertemuan ke-2

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. menghasilkan suatu produk baru melalui proses pengembangan dan validasi.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen atau

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian merupakan cara yang digunakan oleh peneliti untuk. mengumpulkan data penelitiannya (Arikunto, 1997:136).

BAB IV HASIL PENELITIAN. Data yang diperoleh selama melakukan penelitian di MTsN Krian berupa data

BAB III METODE PENELITIAN. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasy

BAB III METODE PENELITIAN. eksperimen dapat diartikan sebagai metode penelitian yang digunakan untuk

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian terbatas dilakukan di SMK Negeri 6 Garut, yang beralamat di Jl.

UKURAN PENYEBARAN DATA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB III METODE PENELITIAN. eksperimen semu (quasi experiment). Menurut Suryabrata (2010 : 92) tujuan

BAB V UKURAN LETAK. Statistika-Handout 5 26

BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. verifikatif. Menurut Fathoni (2006:96-97) menyatakan bahwa :

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mendekati eksperimen. Desain yang digunakan adalah Nonequivalen Control

Asesmen Pembelajaran

BAB III METODE PENELITIAN. Objek atau variabel dalam penelitian ini adalah motivasi belajar siswa yang

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Surakhmad (Andrianto, 2011: 29) mengungkapkan ciri-ciri metode korelasional, yaitu:

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian pengembangan atau Research and

BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1. Metode Penugasan mini-riset dalam penelitian adalah metode mengajar

BAB III METODE PENELITIAN

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. pembelajaran dengan metode konvensional sebagai kelas control. Teknik

BAB III METODE PENELITIAN

Statistik Dasar. 1. Pendahuluan Persamaan Statistika Dalam Penelitian. 2. Penyusunan Data Dan Penyajian Data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. semu, karena itu diadakan Pre-test atau tes awal sebelum kegiatan eksperimen. Tabel 1

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 1. Metode pembelajaran aktif (active learning) yang dimaksud dalam penelitian

STATISTIKA KELAS : XI BAHASA SEMESTER : I (SATU) Disusun Oleh : Drs. Pundjul Prijono Nip

EVALUASI HASIL BELAJAR

TEKNIK PENGOLAHAN SKOR HASIL EVALUASI

Pengantar Statistik. Nanang Erma Gunawan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 4 HASIL PENELITIAN

No. Kode Nilai No. Kode Nilai 1 E K E K E K E K E K E K-06 36

PENGERTIAN STATISTIK. Tim Dosen Mata Kuliah Statistika Pendidikan 1. Rudi Susilana, M.Si. 2. Riche Cynthia Johan, S.Pd., M.Si. 3. Dian Andayani, S.Pd.

BAB IV PENYAJIAN DATA

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. eksperimen semu, maka dilakukan Pre-Tes atau bisa juga dikatakan tes

PENYAJIAN DATA. Cara Penyajian Data meliputi :

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Minat dan Pengetahuan Dasar Pemesinan serta satu variabel terikat

BAB III METODE PENELITIAN. eksperimen (experimental research).metode penelitian eksperimen ini digunakan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. sebagai dasar dalam pengujian hipotesis dan penarikan kesimpulan. Hasil

Transkripsi:

PENILAIAN ACUAN NORMA Dalam penilaian acuan norma, makna angka (skor) seorang peserta didik ditemukan dengan cara membandingkan hasil belajarnya dengan hasil belajar peserta didik lainnya dalam satu kelompok/kelas. Peserta didik dikelompokkan berdasarkan jenjang hasil belajar, sehingga dapat diketahui kedudukan relatif sedorang peserta didik dibandingkan dengan teman sekelasnya. Tujuan penilaian acuan norma adalah untuk membedakan peserta didik atas kelompok-kelompok tingkat kemampuan, mulai dari yang terendah sampai dengan tertinggi. Secara ideal, pendistribusian tingkat kemampuan dalam satu kelompok menggambarkan suatu kurva normal. Pada umumnya, penilaian acuan norma dipergunakan untuk seleksi. Soal tes dalam pendekatan ini dikembangkan dari bagian bahan yang dianggap. oleh guru urgen sebagai sampel dari bahan yang telah disampaikan. Anda berwenang untuk menentukan bagian mana yang lebih urgen. Untuk itu, Anda harus dapat membatasi jumlah soal yang diperlukan, karena tidak semua materi yang disampaikan kepada peserta didik dapat dimunculkan soal- soalnya secara lengkap. Soal-soal harus dibuat dengan tingkat kesukaran yang bervariasi, mulai dari yang mudah sampai dengan sukar, sehingga memberikan kemungkinan jawaban peserta didik bervariasi, soal dapat menyebar, dan dapat membandingkan peserta didik yang satu dengan lainnya. Peringkat dan klasifikasi anak yang didasarkan pada penilaian acuan norma lebih banyak mendorong kompetisi daripada membangun semangat kerjasama. Lagi pula tidak menolong sebagian besar peserta didik yang mengalami kegagalan. Dengan kata lain, keberhasilan peserta didik hanya ditentukan oleh kelompoknya. Dalam Kurikulum pendidikan, prestasi peserta didik ditentukan oleh perbandingan antara pencapaian sebelum dan sesudah pembelajaran, serta kriteria penguasaan kompetensi yang ditentukan. Penilaian acuan norma biasanya digunakan pada akhir unit pembelajaran untuk menentukan tingkat hasil belajar peserta didik. Pedoman konversi yang digunakan dalam pendekatan PAN sama dengan pendekatan PAP. Perbedaannya hanya terletak dalam menghitung rata-rata dan simpangan baku. Dalam pendekatan PAN, rata-rata dan simpangan baku dihitung dengan rumus statistik sesuai dengan skor mentah yang diperoleh peserta didik.

1. Konsep Pendekatan PAN Pada penjelasan sebelumnya disebutkan bahwa salah satu beda PAN dari PAP terletak pada tolok ukur skor yang digunakan sebagai pembanding. Pendekatan ini menggunakan cara membandingkan prestasi atau skor mentah peserta didik dengan sesama peserta didik dalam kelompok/kelasnya sendiri. Makna nilai dalam bentuk angka maupun kualifikasi memiliki sifat relatif, artinya bila Anda sudah berhasil menyusun pedoman konversi skor berdasarkan tes yang sudah dilakukan pada suatu kelas/kelompok maka pedoman itu hanya berguna bagi kelompok/kelas itu dan kemungkinan besar pedoman itu tidak berguna bagi kelompok/kelas lain karena distribusi skor peserta tes sudah lain. Kecuali, pada saat pengolahan skor kelompok/kelas yang lain tadi disatukan dengan kelompok/kelas pertama. Misalnya, Anda ingin membandingkan kepandaian siswa dalam matapelajaran matematika di semester sepuluh antara Rudi dengan kakak kelasnya yaitu Bobi pada semester yang sama setahun yang lalu. Rudi pada semester sepuluh sekarang angka rapor matapelajaran matematika = 89 sedangkan Bobi pada semester sepuluh di tahun akademik yang lalu adalah 97. Benarkah bila Anda memutuskan bahwa Rudi lebih rendah prestasinya dibidang matematika dibandingkan Bobi? Membandingkan angkanya, maka benar angka Rudi lebih rendah dari Bobi tetapi kalau kedua angka itu adalah nilai standar dari pendekatan PAN, maka Anda harus melihat terlebih dahulu rerata dan standar deviasi skor pada kelompok/kelas masing-masing. Apabila statistik kelompok/kelas Rudi dan Bobi sebagai berikut. Kelas Rudi rerata ( x ) = 70 dan standar deviasi (s) =,6 Kelas Bobi rerata ( x ) = 89 dan standar deviasi (s) = 2, Data statistik tersebut kita gunakan untuk menghitung nilai Z skor Rudi dan Bobi dengan menggunakan Z skor =. Melalui rumus itu dapat dihitung Z rudi = 3,4 dan Z bobi = 3,2 dengan demikian pernyataan bahwa Rudi tidak lebih unggul dalam bidang matematika daripada Bobi di kelas masing-masing adalah kurang berdasar. Demikian halnya dengan nilai suatu matapelajaran yang sama tetapi diperoleh dalam kurun waktu yang berbeda akan memiliki makna yang berbeda. Hal ini disebabkan oleh variasi nilai, kondisi kelompok, dll. Melalui analogi tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu nilai prestasi hasil pengolahan dengan pendekatan PAN memiliki sifat relatif, oleh sebab itu pendekatan PAN disebut juga pendekatan penilaian norma relatif atau norma empirik. Artinya secara statistika,

pendekatan PAN menggunakan dasar asumsi normalitas. Apabila Anda memiliki kumpulan skor/nilai pada kelas/kelompok yang heterogen maka distribusinya akan membentuk kurva normal sebagai berikut (perhatikan gambar kurva normal di bawah ini) Sedang Rendah Tinggi Berdasarkan kurva normal tersebut maka sifat distribusi nilai/skor prestasi peserta didik akan menyebar membentuk kurva normal standar. Misalnya variasi nilai standar adalah rendah, sedang, dan tinggi, maka peserta didik yang memiliki prestasi sedang jumlahnya lebih banyak daripada kelompok rendah dan tinggi, sedangkan didik kelompok rendah dan tinggi jumlahnya kurang lebih sama. peserta 2. Langkah pendekatan PAN Seperti pada PAP, pendekatan penilaian PAN dapat digunakan juga pada sistem penilaian skala-100 dan skala-. Bahkan pada PAN, Anda dapat mengembangkan menjadi skala-9 dan skala-11. Pada skala-100 berangkat dari persentase yang mengartikan skor prestasi sebagai proporsi penguasaan peserta didik pada suatu perangkat tes dengan batas minimal angka 0 sampai 100 persen (%). Pada skala- berarti skor prestasi diwujudkan dalam nilai A, B, C, D, dan E atau berturutan mewakili nilai 4, 3, 2, 1, dan 0. Adapun langkah-langkah pendekatan PAN sebagai berikut. 1) Menghitung rerata ( x ) skor prestasi Untuk data tidak berkelompok Rumus = xi = skor peserta tes ke-i n = jumlah peserta tes Untuk data berkelompok Rumus x =. xi = tanda kelas

fi = frekuensi yang sesuai dengan xi 2) Menghitung standar deviasi ( s ) skor prestasi Untuk data tidak berkelompok Rumus s =. ( ) ( ) xi = nilai ke-i Untuk data berkelompok Rumus s = i. xi = nilai ke-i fi = frekuensi ke-i i = panjang kelas xi ' = nilai sandi 3) Membuat pedoman konversi untuk mengubah skor menjadi nilai standar (berdasarkan skalanya, ada PAN dengan skala lima, skala sembilan, skala sebelas, dan dengan nilai Z skor atau T skor ) Pedoman konversi skala- Pedoman konversi skala- berarti membagi nilai standar menjadi lima skala, lima angka/huruf atau lima kualifikasi. Cara menyusun skala lima dengan membagi wilayah di bawah lengkung kurva normal menjadi lima daerah, perhatikan kurva normal berikut. C E D B A -1,s - 0,s +0,s +1,s Nb. s = standar deviasi Kurva normal tersebut terbagi menjadi lima daerah dan setiap daerah menunjukkan kualifikasi atau nilai dari kanan ke kiri A, B, C, D dan E. Berdasarkan pembagian itu, pedoman konversi skala- disusun sebagai berikut.

A Χ + 1, (s) X + 0, (s) Χ - 0, (s) Χ - 1, (s) B C D E 1 2 3 4 6 7 8 9 0,2 + 0,2 0,7 + 0,7 1,2 + 1,2 1,7 + 1,7 Pedoman konversi skala-9 Pedoman konversi skala-9 berarti membagi nilai standar menjadi sembilan skala, sembilan angka/huruf atau sembilan kualifikasi. Cara menyusun skala sembilan sama dengan skala lima yaitu dengan membagi wilayah di bawah lengkung kurva normal menjadi sembilan daerah, perhatikan kurva normal berikut. Kurva normal tersebut terbagi menjadi sembilan daerah dan setiap daerah menunjukkan kualifikasi atau nilai dari kanan ke kiri 1, 2, 3, 4,, 6, 7, 8 dan 9. Berdasarkan pembagian itu, pedoman korversi skala-9 disusun sebagai berikut. 9 x +1,7s 8 x + 1,2s 7 x + 0,7s 6 x + 0,2s x - 0,2s 4 x - 0,7s 3 x - 1,2s 2 x - 1,7s 1 Pedoman konversi skala-11 Pedoman konversi skala-11 berarti membagi nilai standar menjadi sebelas skala, sebelas angka/huruf atau sebelas kualifikasi. Cara menyusun skala sebelas sama

dengan skala lima dan sembilan yaitu dengan membagi wilayah di bawah lengkung kurva normal menjadi sebelas daerah, perhatikan kurva normal berikut. 0 1 2 3 4 6 7 8 9 10 0,2 + 0,2 0,7 + 0,7 1,2 + 1,2 1,7 + 1,7 1,7 + 1,7 Kurva normal tersebut terbagi menjadi sebelas daerah dan setiap daerah menunjukkan kualifikasi atau nilai dari kanan ke kiri 0, 1, 2, 3, 4,, 6, 7, 8, 9 dan 10. Berdasarkan pembagian itu, pedoman korversi skala-11 disusun sebagai berikut. x +2,2s x +1,7s x + 1,2s x + 0,7s x + 0,2s x - 0,2s x - 0,7s x - 1,2s x - 1,7s x - 2,2s 10 9 8 7 6 4 3 2 1 0

Pedoman konversi dengan Z skor atau T score Dengan tidak menyusun pedoman konversi Anda dapat langsung menentukan atau mengkonversi skor menjadi nilai standar dengan menggunakan dua nilai yaitu nilai Z skor dan T score. Nilai Z skor berarti mengubah skor kasar menjadi nilai standar Z. Biasanya Z skor digunakan sebagai cara untuk membandingkan beberapa nilai matapelajaran seorang peserta tes dari berbagai jenis pengukuran yang berbeda (lihat kembali pembahasan 6.2.3.1). Konsep T score hampir sama dengan Z skor. Adapun rumus untuk menghitung nilai Z skor dan T score adalah sebagai berikut. Z skor = Keterangan: x = skor S = standar deviasi x = rata-rata T score = 0 +10 Z score 3. Aplikasi pendekatan PAN Contoh-1 (untuk data tidak berkelompok): seorang guru Jawab: Matematika membina sepuluh orang peserta didik, ia berencana mengolah dengan PAN skor akhir matematika menjadi nilai standar. Skornya seperti pada tabel berikut. Pertanyaan: susunlah pedoman konversi skala- dan konversikan sepuluh skor tersebut menjadi nilai standar. 1) Menghitung dan s = No Nama Peserta xi xi2 1. Hadi 3 2809 2. Suyono 68 4624 3. 4. Jamil Fatma 61 7 3721 62. Joko 82 6724 6. Romlah 6 422 7. Imam 0 200 8. Yoyok 71 041 9. Nila 4 202 10. Tiyas 4 2916 Jumlah = 624 40210

= 624 10 = 62,4 (dibulatkan 62) s = s =. ( ) ( ). ( ) ( ) = 11,9 (dibulatkan 12) 2) Membuat dan mengkonversi nilai dengan PAN skala-. Menentukan batas nilai: A Χ + 1, (s) = 62 + 1, ( 12 ) = 80 X + 0, (s) = 62 + 0, (12 ) = 68 Χ - 0, (s) = 62-0, (12 ) = 6 Χ - 1, (s) = 62-1, (12 ) = 44 Membuat pedoman konversi skala-: Interval Skor Nilai 80 keatas A 68 79 B 6 67 C 44 D 43 ke bawah E B C D E Mengkonversi skor menjadi nilai skala-: No Nama Peserta Prestasi Skor Nilai 1. Hadi 3 D 2. Suyono 68 B 3. Jamil 61 C 4. Fatma 7 B. Joko 82 A 6. Romlah 6 C 7. Imam 0 D 8. Yoyok 71 B 9. Nila 4 D 10. Tiyas 4 D

3) Membuat dan mengkonversi nilai dengan PAN skala-9. Menentukan batas nilai: x +1,7s = 62 + 1,7. 12 = 83 x +1,2s = 62 + 1,2. 12 = 77 x + 0,7s = 62 + 0,7. 12 = 71 x + 0,2s = 62 + 0,2. 12 = 6 x - 0,2s = 62-0,2. 12 = 9 x - 0,7s = 62 0,7. 12 = 3 x - 1,2s = 62 1,2. 12 = 47 x - 1,7s = 62-1,7. 12 = 41 9 8 7 6 4 3 2 1 Membuat pedoman konversi skala-9: Interval Skor Nilai 83 ke atas 9 77 82 8 71 76 7 6 70 6 9 64 3 8 4 47 2 3 41 46 2 40 ke bawah 1 Mengkonversi skor menjadi nilai skala-9: No Nama Peserta Prestasi Skor Nilai 1. Hadi 3 4 2. Suyono 68 6 3. Jamil 61 4. Fatma 7 7. Joko 82 8 6. Romlah 6 7. Imam 0 3 8. Yoyok 71 7 9. Nila 4 2 10. Tiyas 4 4

4) Membuat dan mengkonversi nilai dengan PAN skala-11. Membuat batas nilai: x +1,7s = 62 + 2,2. 12 = 89 x +1,7s = 62 + 1,7. 12 = 83 x + 1,2s = 62 + 1,2. 12 =77 x + 0,7s = 62 + 0,7. 12 = 71 x + 0,2s = 62 + 0,2. 12 = 6 x - 0,2s = 62-0,2. 12 = 9 x - 0,7s = 62 0,7. 12 = 3 x - 1,2s = 62 1,2. 12 = 47 x - 1,7s = 62-1,7. 12 = 41 x - 2,2s = 62-2,2. 12 = 3 10 9 8 7 6 4 3 2 1 0 Memuat pedoman konversi skala-11 Interval Skor Nilai 89 ke atas 10 83 88 9 77 82 8 71 76 7 6 70 6 9 64 3 8 4 47 2 3 41 46 2 3 ke bawah 1 Mengkonversi skor menjadi nilai skala-11: No Nama Peserta Prestasi Skor Nilai 1. Hadi 3 4 2. Suyono 68 6 3. Jamil 61 4. Fatma 7 7. Joko 82 8 6. Romlah 6 6 7. Imam 0 3 8. Yoyok 71 7 9. Nila 4 2 10. Tiyas 4 4 Contoh-2 (untuk data berkelompok): seorang guru Matematika membina 80 orang peserta didik, ia berencana mengolah dengan PAN skor akhir matapelajaran Matematika menjadi nilai standar. Skornya seperti pada tabel berikut. Pertanyaan: susunlah pedoman konversi skala-, 9, dan 11 dan konversikan sepuluh skor siswa pada kolom pertama menjadi nilai standar.

79 49 48 74 81 98 87 80 80 84 90 70 91 93 82 78 70 71 92 38 6 81 74 73 68 72 6 1 6 93 83 86 90 3 83 73 74 43 86 88 92 93 76 71 90 72 67 7 80 91 61 72 97 91 88 81 70 74 99 9 80 9 71 77 63 60 83 82 60 67 89 63 76 63 88 70 66 88 79 7 Jawab: 1) Menghitung dan s a. Menentukan rentang Rentang (r) = data terbesar data terkecil = 99 3 = 64 b. Menentukan banyak kelas interval Banyak kelas (k) = 1 + 3,3. log n dimana n = banyak data = 1 + 3,3. log 80 = 1 + 3,3. 1,9031 = 7,2802 Catatan: nilai k dibulatkan sehingga banyak kelas interval = 7 (pembulatan k harus mengikuti kaidah matematik) c. Menentukan panjang kelas Panjang kelas = = = 9,14 Catatan: khusus untuk panjang kelas pembulatan dapat tidak mengikuti kaidah matematik, jadi kalau pembulatan ke atas (=10) atau ke bawah (=9). Alasan; supaya semua skor dapat masuk ke dalam setiap kelas interval. d. Membuat tabel distribusi frekuensi kelompok mula-mula menentukan ujung bawah kelas interval pertama. Ujung bawah kelas interval pertama = 3 (diambil skor terkecil). Dengan banyak kelas interval 7 serta panjang kelas 9 dan 10 dapat disusun dua buah rencana kelas interval sebagai berikut.

Panjang kelas = 9 Panjang kelas = 10 Kelas Interval Frekuensi 3 43 44 2 3 61 62 70 71 79 80 88 89 97 Kelas 3 4 6 7 8 9 Dengan panjang kelas = 9 memiliki kelas interval terakhir 89 97, dengan demikian data berat badan lebih dari 97 tidak dapat masuk ke dalam kelas interval terakhir. Dengan pajang kelas = 10 memiliki kelas interval terakhir 9 104, dengan demikian semua data berat badan lebih dari 97 dapat masuk ke dalam kelas interval terakhir. Jadi, sebaiknya menggunakan panjang kelas = 10. Selanjutnya disusun tabel distribusi frekuensi kelompok seperti pada tabel dibawah ini. Kelas Interval fi 3 44 3 4 4 3 64 8 6 74 22 7 84 20 8 94 20 9 Jumlah 104 80 4 e. Menentukan dan s Kelas Interval fi xi fixi xi ' fi xi ' fi xi ' 2 3 44 4 4 64 6 74 7 84 8 94 9 104 3 3 8 22 20 20 4 39, 49, 9, 69, 79, 89, 99, 118. 148. 476 129 190 1790 398 +3 +2 +1 0-1 -2-3 +9 +6 +8 0-20 -40-12 27 12 8 0 20 80 36 Jumlah 80-600 0-49 183 Berdasarkan tabel di atas ditentukan nilai x dan s maka =. = = 7,6 (dibulatkan 76),dan s = i.

s = 10 s = 10 2,29 0,38 s = 13,82 (dibulatkan 14) 2) Membuat dan mengkonversi nilai dengan PAN skala- Menentukan batas nilai: x +1,s 76 + 1,. 14 = 97 x + 0,s 76 + 0,. 14 = 83 x - 0,s 76 0,. 14 = 69 x - 1,s 76 1,. 14 = Membuat pedoman konversi skala-: Interval Skor Nilai 97 keatas A 83 96 B 69 82 C 68 D 4 ke bawah E Mengkonversi skor menjadi nilai skala-: Peserta kolom 1 Prestasi nomor urut... Skor Nilai 1 79 C 2 80 C 3 70 C 4 68 D 6 90 92 B B 7 80 C 8 70 C 9 63 D 10 76 C A B C D E

3) Membuat dan mengkonversi nilai PAN skala-9. Menentukan batas nilai: x +1,7s = 76 + 1,7. 14 = 101 x + 1,2s = 76 + 1,2. 14 = 94 x + 0,7s = 76 + 0,7. 14 = 87 x + 0,2s = 76 + 0,2. 14 = 80 x - 0,2s = 76-0,2. 14 = 73 x - 0,7s = 76 0,7. 14 = 66 x - 1,2s = 76 1,2. 14 = 9 x - 1,7s = 76-1,7. 14 = 2 9 8 7 6 4 3 2 1 dibulatkan Membuat pedoman konversi skala-9: Interval Skor Nilai 101 ke atas 9 94 100 8 87 93 7 80 86 6 73 79 66 72 4 9 6 3 2 8 2 1 ke bawah 1 Mengkonversi skor menjadi nilai skala-9: Peserta kolom 1 nomor urut... Prestasi Skor Nilai 1 79 2 80 6 3 70 4 4 68 4 90 7 6 92 7 7 80 6 8 70 4 9 63 3 10 76

4) Membuat dan mengkonversi nilai dengan PAN skala-11. Menentukan batas nilai: dibulatkan x +2,2s = 76 + 2,2. 14 = 108 x +1,7s = 76 + 1,7. 14 = 101 x + 1,2s = 76 + 1,2. 14 = 94 x + 0,7s = 76 + 0,7. 14 = 87 x + 0,2s = 76 + 0,2. 14 = 80 x - 0,2s = 76-0,2. 14 = 73 x - 0,7s = 76 0,7. 14 = 66 x - 1,2s = 76 1,2. 14 = 9 x - 1,7s = 76-1,7. 14 = 2 x - 2,2s = 76 + 2,2. 14 = 4 10 9 8 7 6 4 3 2 1 0 Membuat pedoman konversi skala-11: Interval Skor Nilai 108 ke atas 101 107 10 9 94 100 8 87 93 80 86 7 6 73 79 66 72 4 9 6 3 2 6 2 4 1 1 44 ke bawah 0 Mengkonversi skor menjadi nilai skala-11: Peserta kolom 1 Prestasi nomor urut... Skor Nilai 1 79 2 80 6 3 70 4 4 68 4 90 7 6 92 8 7 80 6 8 70 4 9 63 3 10 76

) Membuat dan mengkonversi nilai PAN skala (0-100) atau T skor dengan Z skor Berdasarkan pada contoh-2, bila Toni mendapat skor 82 berapakah nilai bila menggunakan Z skor? Z skor = Z skor = = 0, 4 Berarti nilai Toni adalah 0,4 dari rata-rata 76, jadi nilai Toni adalah 76,4