BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH

dokumen-dokumen yang mirip
4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN SAMPANG

Gambaran Umum Wilayah

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH

2.1 Geografis, Administratif, dan Kondisi Fisik. A. Kondsi Geografis

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN SOPPENG

LAPORAN KINERJA KAB. TOBA SAMOSIR BAB I PENDAHULUAN

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

PROFIL SANITASI SAAT INI

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Administrasi

PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) KABUPATEN BELITUNG TAHUN ANGGARAN 2013

Lubuklinggau, Mei 2011 BUPATI MUSI RAWAS RIDWAN MUKTI

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

BAB VII PENUTUP KESIMPULAN

- 1- BUPATI SAMPANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMPANG NOMOR : 7 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN SAMPANG TAHUN

BAB I PENDAHULUAN...I.

I. PENDAHULUAN Industri Pengolahan

BAB VIII INDIKASI RENCANA PROGRAM PRIORITAS YANG DISERTAI KEBUTUHAN PENDANAAN

ARAHAN PENGEMBANGAN KAWASAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN DI KABUPATEN SAMPANG

IV. GAMBARAN UMUM KOTA DUMAI. Riau. Ditinjau dari letak geografis, Kota Dumai terletak antara 101 o 23'37 -

BAB 2. GAMBARAN UMUM WILAYAH

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH KABUPATEN MADIUN

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN MALINAU. Kabupaten Malinau terletak di bagian utara sebelah barat Provinsi

BAB I PENDAHULUAN A. DASAR HUKUM

BAB IV GAMBARAN UMUM

Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH PROVINSI KALBAR

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

D A F T A R I S I Halaman

BAB II GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

DAFTAR ISI... KATA PENGANTAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

APBD KOTA YOGYAKARTA TAHUN ANGGARAN 2018

Daftar Tabel. Halaman

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sampang Tahun KATA PENGANTAR

Analisis Isu-Isu Strategis

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

PEMERINTAH KABUPATEN REJANG LEBONG

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Provinsi Lampung yang dikukuhkan berdasarkan Undang-Undang Negara Republik

PENGEMBANGAN DAERAH TERTINGGAL (UNDERDEVELOPMENT REGION) DI KABUPATEN SAMPANG

BUPATI WAKIL BUPATI SEKRETARIS DAERAH ASISTEN PEREKONOMIAN DAN PEMBANGUNAN BAGIAN ADMINISTRASI SUMBER DAYA ALAM BAGIAN ADMINISTRASI PEMBANGUNAN

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan

IV. GAMBARAN UMUM KOTA CIMAHI. Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pemerintahan dan Otonomi

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1

BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH

IV. KONDISI UMUM WILAYAH

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

PEMERINTAH KABUPATEN LINGGA

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB I PENDAHULUAN. Halaman 1

DIN PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU PERATURAN DAERAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG

PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso

PEMERINTAH KABUPATEN LINGGA

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT

GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB II GAMBARAN UMUM RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KOTA SAMARINDA TAHUN 2011

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii

penduduk yang paling rendah adalah Kabupaten Gunung Kidul, yaitu sebanyak 454 jiwa per kilo meter persegi.

BAB II KERANGKA EKONOMI DAERAH

BUPATI KEPULAUAN ANAMBAS

BUPATI PAMEKASAN S A M B U T A N

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PESAWARAN NOMOR 05 TAHUN 2011

DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG TAHUN ANGGARAN 2014

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

BAB IX KEUANGAN. Kabupaten Tegal Dalam Angka

RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN LAMONGAN

Jumlah Anggaran 1 BELANJA , ,00 97, ,95

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Sejarah terbentuknya Kabupaten Lampung Selatan erat kaitannya dengan dasar

BUPATI PAMEKASAN S A M B U T A N

IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB II KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. tantangan pembangunan kota yang harus diatasi. Perkembangan kondisi Kota

KEBIJAKAN UMUM ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (KU-APBD) TAHUN ANGGARAN 2016

LAMPIRAN I PERATURAN BUPATI LOMBOK UTARA NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN DAN SUSUNAN ORGANISASI PERANGKAT DAERAH KABUPATEN LOMBOK UTARA

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN KARO

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN

Bab II Bab III Bab IV Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Penataan Ruang Kabupaten Sijunjung Perumusan Tujuan Dasar Perumusan Tujuan....

BAB III GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

BAB II DESKRIPSI ORGANISASI

V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI JAMBI. Undang-Undang No. 61 tahun Secara geografis Provinsi Jambi terletak

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS... II-1

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN (REVISI) GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

I. PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan serangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan dan

BAB IV GAMBARAN UMUM. Posisi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak antara

KATA PENGANTAR. Cibinong, Maret Bupati Bogor, Hj. NURHAYANTI LAPORAN KINERJA PEMERINTAH (LAKIP) KABUPATEN BOGOR


PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR : 03 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DINAS DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR

BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN. roses pembangunan pada dasarnya merupakan proses yang berkesinambungan,

I. PENDAHULUAN. Kemajuan dan perkembangan ekonomi Kota Bandar Lampung menunjukkan

Transkripsi:

BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH 2.1. Geografis, Administratif, dan Kondisi Fisik 2.1.1 Geografis Kabupaten Sampang terletak pada 113 0 08 113 0 39 Bujur Timur dan 06 0 05 07 0 13 Lintang Selatan, dengan luas wilayah 1.233,33 Km 2. Batas wilayah Kabupaten Sampang adalah sebagai berikut : Sebelah Utara : Laut Jawa; Sebelah Timur : Kabupaten Pamekasan; Sebelah Selatan : Selat Madura; Sebelah Barat : Kabupaten Bangkalan. Secara keseluruhan Kabupaten Sampang mempunyai luas wilayah sebanyak 1233,30 Km 2. Sebelum otonomi daerah, Kabupaten Sampang terdiri atas 12 Kecamatan. Namun sejak dikeluarkan Perda No. 2 tahun 2003 tentang Pembentukan Kecamatan Pangarengan dan Perda No. 3 tahun 2003 tentang Pembentukan Kecamatan Karangpenang, Kabupaten Sampang terdiri dari 14 Kecamatan dengan 6 kelurahan (di Kecamatan Sampang) dan 180 desa. Terdapat satu pulau berpenghuni (14.004 jiwa dalam 3.638 KK) cukup padat (8.487 jiwa/km 2 pada tahun 2002) di wilayah selatan, yakni Pulau Mandangin atau Pulau Kambing. Dari Pelabuhan Tanglok, jarak menuju pulau seluas 1,650 Km 2 adalah ± 1,5 jam menggunakan perahu. 2.1

Tabel 2.1: Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kabupaten Sampang Nama DAS Panjang (Km) Debit (M³/Detik) 1 2 3 4 5 DAS SODUNG DAS KAMUNING DAS KLAMPIS DAS SOMBER LANJANG DAS SAMPANG 22,00 895 20,00 5881 14,00 2571 12,00 623 10,00 3332 6 DAS KATI Sumber : Dinas Pengairan Kab. Sampang 9,00 895 2.1.2 Kondisi fisik Kondisi Air Tanah Jenis tanah merupakan unsur penting dalam menentukan tingkat kesesuaian tanah untuk pengembangan komoditi pertanian. Meskipun ada pendapat yang mengatakan bahwa kesuburan dapat dibeli dengan teknologi. Jenis tanah yang berbentuk sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: bahan induk, batuan induk, curah hujan, bentuk wilayah dan pengaruh kegiatan manusia. Sifat kimia dan sifat bahan induk sangat mempengaruhi unsur hara yang tersediadalam tanah, akan mempengaruhi kesuburan dan produksi tanaman. Dilihat dari jenis tanah yang ada di Kabupaten Sampang bagian yang terluas adalah tanah dari jenis Komplek Mediteran Grumosol, Regosol dan Litosol yakni seluas 54.335 Ha. Diikuti oleh jenis tanah alluvial hidromorf dengan luas sekitar 10.720 Ha. Sementara untuk proporsi jenis tanah terendah adalah jenis grumosol kelabu yang hanya terdapat di Kecamatan Sampang dan Kecamatan Camplong, dengan luasan 2.125 Ha. Kedalaman efektif tanah sangat penting bagi pertumbuhan tanaman. Kedalaman efektif adalah tebalnya lapisan tanah dari permukaan sampai kelapisan bahan induk atau tebalnya lapisan tanah yang dapat ditembus perakaran tanaman. Makin dalam lapisan tanah, maka kualitas tanah makin baik untuk usaha pertanian. Kedalaman efektif tanah di wilayah Kabupaten Sampang dapat diklasifikasikan dalam 5 (lima) kategori, yaitu : < 30 Cm, 30-60 Cm, 60-90 Cm, 90-120 Cm dan > 120 Cm. 2.2

Kedalaman efektif tanah di Kabupaten Sampang didominasi oleh tanah yang mempunyai kedalaman efektif tanah > 120 Cm, yakni seluas 74.796 Ha atau 60,65 %. Tanah dengan kedalaman efektif tanah terendah adalah sebanyak 986 Ha atau sekitar 0,79 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Sampang yang mencapai 123.330 Ha. Hidrologi Kabupaten Sampang memiliki 34 buah Sungai yang mana dibagi menjadi dua, yaitu: Kabupaten Sampang Selatan terdapat 25 Sungai, yaitu: Sungai Pangetokan, Sungai Legung, Sungai Kalah, Sungai Tambak Batoh, Sungai Taddan, Sungai Gunung Maddah, Sungai Sampang, Sungai Kamoning, Sungai Madungan, Sungai Gelurang, Sungai Gulbung, Sungai Lampenang, Sungai Cangkreman, Sungai Bakung, Sungai Pangandingan, Sungai Cangkremaan, Sungai Cangkokan, Sungai Pangarengan, Sungai Kepang, Sungai Klampis, Sungai Dampol, Sungai Sumber Koneng, Sungai Kati, Sungai Pelut, Sungai Jelgung. Kabupaten Sampang Utara terdapat 9 Sungai, yaitu : Sungai Pajagan, Sungai Dempo Abang, Sungai Sumber Bira, Sungai Sewaan, Sungai Sodung, Sungai Mading, Sungai Rabian, Sungai Brambang dan Sungai Sumber Lanjang. Sungai yang terdapat di Kabupaten Sampang sebagian besar merupakan Sungai musiman yang ada airnya pada musim penghujan. Sungai yang mengalir sepanjang tahun antara lain. Sungai Klampis dengan Waduk Klampis yang dapat dipergunakan untuk mengairi sawah di Kecamatan Torjun, Sampang dan Jrengik. Sungai Marparan dan Disanah bermuara di Kali Blega, sehingga dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan telah banyak dimanfaatkan untuk tambak dan penggaraman. Sungai Kemoning bersumber di Kecamatan Robatal dan melewati dan bermuara di Kota Sampang dipergunakan untuk sandaran perahu/pelabuhan. Pola aliran Sungai yang terdapat di Kabupaten Sampang yang merupakan sumber air permukaan mengikuti pola aliran Sungai sejajar teranyam (brainded), berkelok putus (Anastromik), cakar ayam bersifat tetap, sementara dan berkala. Untuk panjang Sungai yang ada tersebut berkisar antara 0,7-22 Km, dimana untuk Sungai terpanjang adalah Sungai Sodung dengan panjang 22 Km dan Sungai yang terpendek adalah Sungai Kalah dengan panjang 0,7 Km. 2.3

Klimatologi Sebagaimana daerah di Indonesia pada umumnya, Kabupaten Sampang mempunyai iklim tropis yang ditandai dengan adanya 2 (dua) musim, yaitu musim hujan dan kemarau. Musim hujan berlangsung mulai dari bulan Oktober s.d. dengan Maret, dan musim kemarau berlangsung mulai dari butan April s.d. dengan September. Hujan terjadi sepanjang tahun, dengan frekuensi tertinggi terjadi pada bulan Januari s.d. April. Pada bulan Mei s.d. September berkurang dan mulai bulan Oktober s.d. Desember mulai turun hujan dengan frekuensi berangsur-angsur bertambah. Beberapa waktu terakhir berlangsung gejala hujan yang tidak teratur, yang menjadi sebab utama merosotnya produksi tembakau. Curah hujan tertinggi terjadi di Kecamatan Robatal dengan rata-rata 146,70 mm dan terendah di Kecamatan Ketapang, yaitu rata-rata 61,00 mm. Berdasarkan curah hujan yang terjadi, dapat diketahui bahwa Kabupaten Sampang mempunyai iklim tipe E dan iklim tipe F, yang ditandai oleh perbandingan antara bulan basah dengan bulan kering pada kisaran 0,6-1,0 untuk iklim tipe E dan 1-1,670 untuk iklim tipe F. Keadaan udara di Kabupaten Sampang umumnya relatif bersih, segar dan sehat. Kondisi ini disebabkan belum banyak sumber-sumber polusi udara, baik yang berasal dari industri, kendaraan bermotor, maupun aktivitas pembakaran yang melampaui daya dukung alam. Suhu udara relatif panas, berkisar antara 28 C - 32 C. Topografi Topografi atau bentang alam merupakan kawasan perencanaan, yang dapat dijelaskan tanpa melalui pengukuran lapangan, hal ini menyangkut tinggi rendahnya atau datar tidaknya suatu kawasan. Keadaan topografi dapat digambarkan melalui kelerengan beberapa wilayah. Lereng adalah gambaran perbedaan ketinggian dari dua tempat yang berbeda dan dinyatakan dalam suatu persen. Faktor kemiringan tanah merupakan unsur yang penting dalam merencanakan peruntukan penggunaan tanah, khususnya di bidang pertanian. 2.4

Kelerengan wilayah Kabupaten Sampang bervariasi antara datar, bergelombang, curam dan sangat curam dimana klasifikasi kelerengan tanah tersebut adalah sebagai berikut ini : Kelerengan 0-2 % meliputi luas 37.785,64 Ha atau 31,40 % dari luas wilayah keseluruhan kecuali daerah genangan air, pada wilayah ini sangat baik untuk pertanian tanaman semusim.kelerengan 2-15 % meliputi luas 67.807,14 Ha atau 53,86 % dari luas wilayah keseluruhan, baik sekali untuk usaha pertanian dengan tetap mempertahankan usaha pengawetan tanah dan air. Selain itu pada kemiringan ini cocok juga untuk konstruksi/ permukiman Kelerengan 15-25 % dan 25-40 % meliputi luas 15.246,93 Ha atau 12,67 % dari luas wilayah keseluruhan. Daerah tersebut baik untuk pertanian tanaman keras/tahunan, karena daerah tersebut mudah terkena erosi dan kapasitas penahan air yang rendah. Karenanya lahan ini pun tidak cocok untuk konstruksi. Kelerengan > 40 % meliputi luas 2.490,03 Ha atau 2,07 % dari luas wilayah keseluruhan. Daerah ini termasuk kedalam kategori kemiringan yang sangat terjal (curam) dimana lahan pada kemiringan ini termasuk lahan konservasi karena sangat peka terhadap erosi, biasanya berbatu diatas permukaannya, memiliki run off yang tinggi serta kapasitas penahan air yang rendah. Karenanya lahan ini tidak cocok untuk konstruksi.daerah ini harus merupakan daerah yang dihutankan agar dapat berfungsi sebagai perlindungan hidrologis serta menjaga keseimbangan ekosistem dan lingkungan. Pada daerah tropis, ketinggian wilayah merupakan unsur penting yang menentukan persediaan fisik tanah. Dengan adanya perbedaan tinggi akan menentukan perbedaan suhu yang berperan dalam menentukan jenis tanaman yang cocok untuk diusahakan. Disamping itu ketinggian juga erat hubungannya dengan unsur kemampuan tanah yang lain, misalnya lereng dan drainase. Geologi Berdasarkan geologinya, Kabupaten Sampang terdiri atas 5 macam batuan yaitu, alluvium, pliosen fasies sedimen, plistosen fasies sedimen, pliosen fasies batu gamping, dan mioses fasies sedimen. Jenis geologi alluvium dan mioses fasies sedimen banyak digunakan oleh 2.5

masyarakat untuk tegalan dan sawah, serta sebagian kecil jenis batuan plistosen fasies sedimen yang seluruhnya untuk tegalan. 2.1.3 Administratif Tabel 2.2: Nama, Luas Wilayah Per Kecamatan, Dan Jumlah Kelurahan Tahun 2012 Nama Kecamatan Jumlah Kelurahan / Desa Kelurahan Desa Luas (Km 2 ) Administrasi Luas Wilayah (%) thd total (Km 2 ) Terbangun (%) thd total Sreseh - 12 71,95 5,83 143,9 5,83 Torjun - 12 44,20 3,58 88,4 3,58 Pangarengan - 6 42,69 3,46 85,4 3,46 Sampang 6 12 70,01 5,68 140 5,68 Camplong - 14 69,93 5,67 139,8 5,67 Omben - 20 116,31 9,43 323,6 9,43 Kedungdung - 18 123,08 9,98 246,2 9,98 Jrengik - 14 65,35 5,30 130,7 5,30 Tambelangan - 10 89,97 7,30 179,9 7,30 Banyuates - 20 141,23 11,45 282,5 11,45 Robatal - 9 80,54 6,53 161,1 6,53 Karang penang - 7 84,25 6,83 168,5 6,83 Ketapang - 14 125,28 10,16 250,6 10,16 Sokobanah - 12 108,51 8,80 217 8,80 Total 6 186 1233,30 100 2557,6 100 Sumber: Sampang dalam Angka 2012 2.6

Dari tabel diatas terlihat bahwa Kecamatan terluas adalah Banyuates seluas 141,23 (Km 2 ) kemudian disusul Kecamatan Ketapang, Kecamatan Kedundung, Kecamatan Omben, Kecamatan Sakobanah, Kecamatan Tambelangan, Kecamatan, Kecamatan Karangpenang, Kecamatan Robatal, Kecamatan Sreseh, Kecamatan Sampang, Kecamatan Camplong, Kecamatan Jrengik, Kecamatan Torjun, dan Kecamatan yang luas wilayahnya paling sedikit adalah Kecamatan Pangarengan. Total luas lahan terbangun pada Kabupaten Sampang diasumsikan dengan melihat luas wilayah permukiman Kabupaten Sampang yaitu2557,6 (Km2)atau 2 % dari luas total wilayah Kabupaten Sampang. Melalui asumsi tersebut digunakan untuk menentukan luasan lahan terbangun di masing-masing kecamatan. 2.7

Peta 2.1 : Peta Daerah Aliran Sungai di Wilayah Kabupaten Sampang 2.8

Peta 2.2: Peta Administrasi KabupatenSampang dan Cakupan Wilayah Kajian 2.9

2.2. Demografi Tabel 2.3 JumlahPenduduk Dan Kepadatannya 5 Tahun Terakhir Jumlah Penduduk Jumlah KK Tingkat Pertumbuhan Kepadatan Penduduk Kecamatan Tahun Tahun Tahun Tahun 2007 2008 2009 2010 2011 2007 2008 2009 2010 2011 2007 2008 2009 2010 2011 2007 2008 2009 2010 2011 Sreseh 31.707 32.702 35.286 36.580 36.699 9.402 10.536 10.557 10.984 7.406-0,10-0,13-0.20-0,23-0,23 412,38 454,51 490,42 508,4 510 Torjun 36.175 38.275 33.774 38.357 38.532 6.640 7.764 9.814 10.256 8.687 1,86 0,33 1,78 1,96 1,96 804,55 865,95 764,12 867,8 872 Pangarengan 19.238 20.258 20.259 20.101 20.309 7.805 8.667 8.244 5.492 5.519 0,30 0,32 0,53 0,86 0,86 411,43 474,53 474,56 470,9 476 Sampang 108.256 110.430 116.829 116.901 117.509 18.953 19.189 28.434 32.294 27.760 1,75 1,23 1,38 1,85 1,85 1.445,48 1.577,34 1.668,75 1.669,8 1.678 Camplong 78.637 81.977 72.543 72.464 73.306 9.265 25.481 26.896 26.153 20.892 2,02 1,34 1,13 2,05 2,05 1.091,66 1.172,27 1.037,37 1.036,2 1.046 Omben 75.532 77.077 76.850 76.901 77.296 8.082 20.949 19.964 20.711 17.912 1,30 1,14 1,27 1,31 1,31 640,07 662,68 66,07 661,2 665 Kedundung 79.213 85.224 75.239 79.524 80.236 8.479 17.351 17.526 19.889 19.378 2,11 2,16 2,23 2,24 2,24 696,16 692,42 611,30 646,1 652 Jrengik 35.461 36.569 31.762 33.804 34.036 10.633 10.094 10.668 10.348 7.714 0,54 0,34 0,39 0,88 0,88 510,96 559,58 486,03 517,3 521 Tambelangan 50.749 52.649 51.988 53.863 53.977 16.100 13.748 14.563 15.349 11.050 1,10 1,39 1,34 1,67 1,67 541,27 585,18 577,84 598,7 600 Banyuates 70.527 73.427 73.234 73.560 73.484 14.072 19.040 19.541 20.931 19.763 2,72 2,36 2,37 3,02 3,02 476,53 519,91 518,54 520,9 520 Robatal 50.667 52.777 57.358 53.550 53.609 11.481 11.651 14.862 13.127 13.137 2,35 2,24 1,16 2,33 2,33 619,51 655,28 712,17 664,9 666 Karang Penang 60.249 64.149 63.582 63.486 63.559 19.625 18.487 18.429 18.180 15.693 1,05 1,35 0,40 1,50 1,50 729,65 761,41 754,68 753,5 754 Ketapang 78.225 81.718 90.973 81.903 81.924 14.040 24.815 25.805 25.751 25.030 0,18 2,34 2,30 3,38 3,38 604,02 652,28 726,16 653,8 654 Sakobanah 61.196 63.133 64.336 67.159 67.058 13.236 15.076 16.260 17.479 16.796 0,10 0,34 0,38 0,50 0,50 498,19 581,81 592,90 618,9 618 Jumlah 810.952 870.365 864.013 868.153 871.534 210.691 222.848 241.563 246.944 216.737 1,10 1,67 1,64 1,58 1,58 657,55 705,72 700,57 703,9 707 Sumber :Sampang dalam Angka Tahun 2012 Dari Tabel 2.3 terlihat bahwa kecamatan yang memiliki pertumbuhan penduduk tertinggi adalah kecamatan Ketapang, urutan no 2 adalah Kecamatan Banyuates dan urutan no 3 adalah Kecamatan Kedundung,sedangkan Kecamatan yang mempunyai kepadatan tertinggi adalah Kecamatan Sampang, KecamatanCamplong dan KecamatanTorjun. 2.10

Tabel 2.4: Jumlah Penduduk Saat Ini Dan Proyeksinya Untuk 5 Tahun Jumlah Penduduk Jumlah KK Tingkat Pertumbuhan Kepadatan penduduk Kecamatan Tahun Tahun Tahun Tahun 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2014 2015 2016 Sreseh 38.714 40.839 43.081 45.446 47.941 10646 11817 13117 14560 16161-0,18-0,18-0,18-0,18-0,18 204.67 227.19 252.18 279.92 310.71 Torjun 40.647 42.879 45.233 47.716 50.336 9878 12644 16184 20715 26515 1,57 1,57 1,57 1,57 1,57 333.22 426.52 545.94 698.81 894.47 Pangarengan 21.424 22.600 23.841 25.150 26.530 13179 24908 47077 88975 168162 0,57 0,57 0,57 0,57 0,57 313.98 593.43 1121.58 2119.78 4006.39 Sampang 123.960 130.766 137.945 145.518 153.507 35460 69856 137617 271105 534077 1,61 1,61 1,61 1,61 1,61 2358.80 4646.84 9154.28 18033.93 35526.85 Camplong 77.330 81.576 66.054 90.779 95.763 16315 26430 42817 69364 112369 1,72 1,72 1,72 1,72 1,72 860.51 1394.02 2258.31 3658.46 5926.71 Omben 81.540 86.016 90.738 95.720 100.975 8828 9799 10877 12073 13401 1,27 1,27 1,27 1,27 1,27 569.86 632.54 702.12 779.35 865.08 Kedundung 84.641 89.288 94.190 99.361 104.816 12896 20634 33014 52822 84515 2,29 2,29 2,29 2,29 2,29 374.30 598.88 958.21 1533.13 2453.01 Jrengik 35.905 37.876 39.955 42.149 44.463 12877 16225 20444 25759 32457 0,61 0,61 0,61 0,61 0,61 473.28 596.33 751.38 946.73 1192.89 Tambelangan 56.940 60.066 63.364 66.843 70.512 34224 71187 148068 307982 640602 1,43 1,43 1,43 1,43 1,43 522.95 1087.74 2262.49 4705.98 9788.43 Banyuates 77.518 81.774 86.263 90.999 95.995 20843 30847 45654 67568 100001 2,69 2,69 2,69 2,69 2,69 1706.62 2525.79 3738.17 5532.50 8188.09 Robatal 56.552 59.657 62.932 66.387 70.032 18386 29602 47659 76731 123537 2,08 2,08 2,08 2,08 2,08 688.25 1108.09 1784.02 2872.27 4624.36 Karang Penang 67.048 70.729 74.612 78.709 83.030 40371 82760 169658 347798 712986 1,16 1,16 1,16 1,16 1,16 1949.24 3995.95 8191.70 16792.98 34425.61 Ketapang 86.442 91.166 96.171 101.451 107.021 20474 33988 56419 93656 155469 2,37 2,37 2,37 2,37 2,37 841.95 1397.64 2320.09 3851.34 6393.23 Sakobanah 70.739 74.623 78.720 83.042 87.601 19454 28014 40341 58091 83650 0,36 0,36 0,36 0,36 0,36 185.53 267.17 384.72 554.00 797.77 Jumlah 918.770 969.845 1.003.149 1.079.270 1.138.522 334162 531318 844796 1343225 2135728 18,55 18,55 18,55 18,55 18,55 400.79 637.25 1013.23 1611.04 2561.55 Sumber :Sampang dalam Angka Tahun 2012 dan diolah. 2.11

Dalam perencanaan tata ruang, data dan analisa kependudukan merupakan salah satu faktor yang sangat penting, mengingat penduduk merupakan subyek dan obyek pembangunan suatu wilayah, maka usaha-usaha untuk penyediaan fasilits dan kebutuhan pelayanan pada masa mendatang dapat diperkirakan sesuai dengan perhitungan yang telah ditetapkan. Beberapa hal pokok kependudukan yang akan dibahas meliputi jumlah dan laju pertumbuhan penduduk.salah satu masalah sosial yang perlu diperhatikan dalam proses pembangunan adalah masalah kependudukan yang mencakup antara lain jumlah, komposisi dan penyebaran penduduk, serta masalah kualitas penduduk sebagai pendukung pembangunan. Hasil perhitungan penduduk akhir tahun 2011 menunjukkan bahwa presentase penduduk terbesar ada di Kabupaten Sampang sebanyak 871.534, terdiri dari penduduk laki-laki 428.250 jiwa dan penduduk perempuan 443.284 jiwa. Kecamatan dengan jumlah penduduk terbanyak adalah Kecamatan Sampang dan Ketapang, sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk tertinggi adalah Kecamatan Sampang dan Camplong. Metode proyeksi penduduk yang digunakan dalam tabel tersebut diatas adalah Metode Geometrik ( bunga berganda), dengan formula sebagai berikut : Pn = Po ( 1 + r ) n Keterangan rumus: Pn = jumlah penduduk tahun tertentu / akhir Po = jumlah penduduk tahun awal r = rata-rata pertumbuhan penduduk n = selisih tahun Asumsi : laju pertumbuhan adalah sama untuk tiap tahun, yang artinya pertambahan absolut tiap tahun semakin besar. 2.12

2.3 Keuangan dan Perekonomian Daerah 2.3.1 Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD)Kabupaten Realisasi Pendapatan Asli daerah (PAD) dari hasil pengenaan/pemungutan dari empat jenis sumber PAD (Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan, dan Lain lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah). Sejak tahun 2008 realisasi PAD meningkat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya, kecuali pada tahun 2010 yang mengalami sedikit penurunan dibandingkan dengan tahun 2009. Dibandingkan dengan realisasi tahun 2007 sebesar Rp. 25.280.747.941,59 terjadi kenaikan realisasi PAD pada tahun 2011 menjadi sebesar Rp. 46.97.973.974.6.632,16 atau meningkat sebesar 87,74%. Untuk tahun 2012 penerimaan PAD ditargetkan sebesar Rp. 52.287.296.725,- atau meningkat sebesar 16,26% dibandungkan dengan tahun 2011 dan realisasi sampai dengan 31 Agustus 2012 sebesar Rp. 37.579.801.112,48 atau 71,87% dari target. Hal tersebut menunjukkan keberhasilan Pemerintah Kabupaten Sampang dalam melaksanakan upaya intensifikasi/ekstensifikasi, termasuk pembenahan dalam aspek sistem pengedalian intern pengelolaan PAD. 2.13

Tabel 2.5: Rekapitulasi Realisasi APBD Kabupaten Sampang Tahun 2009 2013 No Realisasi Anggaran Tahun Rata2 pertumbuhan n-4 n-3 n-2 n-1 N A Pendapatan (a.1 + a.2 + a.3) a.1 Pendapatan Asli Daerah (PAD) 28.476.318.729 37.026.235.941 36.396.342.481 46.973.974.632 52.287.296.725 17% a.1.1 Pajak daerah 3.079.469.026 3.637.540.618 5.055.708.343 6.628.833.413 6.533.324.026 22% a.1.2 Retribusi daerah 10.151.748.433 17.116.750.711 18.244.618.791 27.927.829.666 32.094.841.000 36% a.1.3 Hasil pengolahan kekayaan daerah yang dipisahkan 1.279.769.917 1.987.880.235 3.152.172.678 4.709.039.222 6.686.978.581 51% a.1.4 Lain-lain pendapatan daerah yang sah 13.965.331.353 14.284.064.378 9.943.842.668 7.708.272.331 7.544.040.000 13% a.2 Dana Perimbangan (Transfer) 525.155.067.770 574.914.791.817 592.023.897.869 646.247.193.920-20% a.2.1 Dana bagi hasil 49.997.335.770 56.557.716.817 74.790.552.869 78.280.412.920-12% a.2.2 Dana alokasi umum 422.388.032.000 442.747.075.000 454.853.945.000 499.433.081.000-21% a.2.3 Dana alokasi khusus 52.769.700.000 75.610.000.000 62.379.400.000 68.533.700.000-16% a.3 Lain-lain Pendapatan yang Sah 45.504.141.690 66.909.097.085 176.959.101.686 204.054.538.562 4.277.299.693 32% a.3.1 Hibah - - 26.162.898.800 107.397.098-9% a.3.2 Dana darurat - - - - - - a.3.3 Dana bagi hasil pajak dari provinsi kepada kab./kota 16.405.586.824 20.530.768.195 26.072.712.686 29.901.326.064-12% a.3.4 Dana penyesuaian dan dana otonomi khusus 4.030.054.866-37.582.347.600 101.108.515.400-8% a.3.5 Bantuan keuangan dari provinsi/pemerintah daerah lainnya - - - 51.759.405.000-0,47% B Belanja (b1 + b.2) 608.963.319.110 755.623.559.738 814.952.403.945 870.885.401.897 1.702.118.385.829 34% b.1 Belanja Tidak Langsung 258.814.699.997 356.792.152.752 445.999.956.493 483.393.177.319 3.050.424.684.691 45,01% 2.14

b.1.1 Belanja pegawai 241.371.688.946 307.165.482.952 392.808.062.772 431.546.051.245-92,93% b.1.2 Bunga - - - - - - b.1.3 Subsidi - - - - - - b.1.4 Hibah - - - - - - b.1.5 Bantuan sosial 17.443.011.051 49.626.669.800 53.191.893.721 51.847.126.074-91,12% b.1.6 Belanja bagi hasil - - - - - - b.1.7 Bantuan keuangan 39.881.818.007 26.310.616.693 29.420.867.711 31.101.442.685-90,65% b.1.8 Belanja tidak terduga - - - - - - b.2 Belanja Langsung 307.374.642.966 367.949.140.042 328.688.914.492 344.293.601.362-85% b.2.1 Belanja pegawai 241.371.688.946 307.165.482.952 392.808.062.772 431.546.051.245 1.348.306.298.862 - b.2.2 Belanja barang dan jasa - b.2.3 Belanja modal - - - - 345.024.546 66,52% C Pembiayaan 214.707.632.641 268.925.744.328 257.247.406.342 217.622.101.553-67% Surplus/Defisit Anggaran 194.685.453.613 190.378.771.291 106.938.482.977 68.865.421.068-45% - 146.744.385.052 190.378.771.291 106.938.482.978 68.865.421.068 37% Sumber : Diapendaloka Kabupaten Sampang tahun 2008-2012, (diolah) 2.15

2.3.2 Realisasi Belanja Modal Sanitasi SKPD Kabupaten Sampang Tabel 2.6: Rekapitulasi Realisasi Belanja Sanitasi SKPD Kabupaten Sampang Tahun 2009-2013 No SKPD Tahun Rata2 pertumbuhan n-4 n-3 n-2 n-1 N 1 PU-CK 1.a Investasi 1.b operasional/pemeliharaan (OM) 2 BLH 2.a Investasi 2.b operasional/pemeliharaan (OM) 3 Kimtaru - - - - - - 1.649.787.000 54.490.000 59.935.000 65.932.900 72.526.190 17% 152.092.000 234.969.510 346.927.011 512.596.512 563.155.963 40% 287.905.000 180.625.000 135.735.000 226.358.000 248.993.800 4% 3.a Investasi - - - - - 3.b operasional/pemeliharaan (OM) 4 Dinkes 4.a Investasi - - - - - 10.000.000 20.000.000-20.000.000 10.000.000 47.470.000 4.b operasional/pemeliharaan (OM) - - - - - 5 Bappeda 5.a Investasi 5.b operasional/pemeliharaan (OM) 6 Bapermas 6.a Investasi 6.b operasional/pemeliharaan (OM) - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 2.16

n n.a n.b SKPD lainnya (sebutkan) Investasi operasional/pemeliharaan (OM) - - - - - - - - - - 8 Belanja Sanitasi (1+2+3+ n) 114,609,737,375.00 108.528.070,31 - - - 9 Pendanaan investasi sanitasi Total (1a+2a+3a+ na) 4.010.430.000 4.111.150.000 3.450.541.000 2.796.066.0 00 5.053.566.000 12% 10 Pendanaan OM (1b+2b+3b+ nb) - - - - - 11 Belanja Langsung - - - - - 12 Proporsi Belanja Sanitasi Belanja Langsung(8/11) 0,50 0,63 0,22 0,28-13 Proporsi Investasi Sanitasi Total Belanja Sanitasi (9/8) 755,623,559,737.63 814.952.403,93 870.885.401,89 - - 14 Proporsi OM Sanitasi Total Belanja Sanitasi (10/8) 0,66% 0,75% 0,87% - - Sumber:Realisasi APBD tahun 2008-2012, diolah 2.17

Tabel 2.7 Belanja Sanitasi Perkapita Kabupaten Sampang Tahun 2009-2013 No D e s k r i p s i Tahun Rata-rata n-4 n-3 n-2 n-1 n 1 Total Belanja Sanitasi Kabupaten/Kota 608.963.319.110 755.623.559.738 814.952.403.945 870.885.401.897 1.702.118.385.829 118,89% 2 Jumlah Penduduk 870.365 864.013 868.153 871.534 889303,2 Belanja Sanitasi Perkapita (1 / 2) 106,87% 4.629 5.566 2.232 3.291-107,48% Sumber : APBD dan BPS, diolah 2.18

2.3.3. Ruang fiskal Kabupaten Sampang Tahun 2008-2012 Ruang fiskal Kabupaten Sampang yang merupakan gambaran kemampuan keuangan Kabupaten Sampang, tergolong rendah berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Peta Kapasitas Fiskal Daerah. Adapun Indeks Kemampuan Fiskal/ Ruang Fiskal Daerah (IRFD) Kabupaten Sampang pada Tahun 2008 adalah 0,1311, pada tahun 2009 adalah 0,1371, pada tahun 2010 adalah 0,1366, sedangkan tahun 2011 adalah 0,1898 dan pada tahun 2012 adalah 0,0723. Data mengenai ruang fiskal Kabupaten Sampang Tahun 2008 2012. 2.2.4.Perekonomian umum Kabupaten Sampang Tahun 2008-2012 PDRB Kabupaten Sampang PDRB merupakan salah satu indikator makro yang dapat digunakan sebagai parameter prestasi ekonomi suatu wilayah. Disamping itu PDRB juga dapat pula menggambarkan kemampuan suatu wilayah dalam mengelola sumber daya alam serta faktor produksinya. Kemampuan ini tercermin pada besaran nilai tambah bruto, pada tiap-tiap sektornya. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yang dihasilkan oleh Kabupaten Sampang atas dasar harga berlaku tahun 2011 terus mengalami kenaikan, yaitu sebesar 5.053.983,7 juta rupiah (2007) 5.631.966,7 juta rupiah (2008) 6.123.374,9 juta rupiah (2009), 6.562.555,4juta rupiah (2010), 7.313.423,3juta rupiah (2011)dan 7.623.397,6 juta rupiah (2012). Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan sejak tahun 2007 sampai tahun 2012 berturut-turut ditunjukan oleh nilai sebesar 3.027.886,8 juta rupiah, 3.117.814,7 juta rupiah, 3.212.591,5 juta rupiah, 3.335.096,6 juta rupiah, juta rupiah dan 3.501.921,1 juta rupiah. Untuk selanjutnya kenaikan PDRB atas dasar harga konstan ini, dikenal dengan istilah laju pertumbuhan ekonomi, karena menunjukan kenaikan rill PDRB (sudah hilang dari pengaruh perubahan harga). Terjadi perubahan yang sedikit menurun pada 4 sektor, yaitu sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor Listrik, Gas dan Air Bersih dan Bangunan Peranan sektor pertanian yang mula-mula 53,31 persen pada tahun 2007 bergeser menjadi 50,07 persen pada tahun 2012, namun secara global masih terjadi keseimbangan. Dari 5 (lima) sub-sektor pendukung sektor pertanian, sub sektor pertanian yang mempunyai peranan terbesar, yaitu 25,92 persen. 2.19

Ini berarti sub sektor pertanian mempunyai pengaruh besar dalam mengangkat/mendorong laju pertumbuhan serta inflasi sektor ini. Artinya dengan perubahan sedikit saja pada sub sektor ini, akan dapat terlihat perubahan dalam pada laju pertumbuhan ataupun besaran inflasi sektor pertanian.tembakau yang merupakan komoditi perkebunan andalan justru mempunyai sumbangan yang kecil terhadap sektor pertanian secara keseluruhan. Hal ini disebabkan oleh masa panen perkebunan pada umumnya hanya satu kali, berbeda dengan tanaman bahan makanan yang bisa lebih dari satu kali. Hal ini terjadi juga pada sub sektor kehutanan. Walaupun garam merupakan komoditas andalan di wilayah Kabupaten Sampang, namun sumbangannya tidak begitu besar terhadap sektor pertambangan dan penggalian. Ini terjadi karena pengusahaan garam hanya dapat dilakukan pada daerah pesisir laut. Tercatat hanya 5 kecamatan yang dapat mengusahakan, yaitu kecamatan Sreseh, Jrengik, Sampang Camplong dan Pangarengan. Sektor listrik, gas dan air bersih yang seharusnya terus diusahakan peningkatannya, justru terjadi angka yang stagnan, yaitu terpaku pada besaran sekitar 1,09 persen. Hanya listrik, gas dan air bersih yang tampak sumbangannya ke sektor keseluruhan.sektor listrik, gas dan air bersih yang ada di Kabupaten Sampang sangat berpeluang untuk terus menambah besaran peranan ekonominya. Kesempatan untuk selalu meningkatkan nilai tambahnya cukup besar, mengingat masih banyak desadesa yang harus ditambah jaringan listrik, apalagi sektor ini nampaknya nyaris tidak tersentuh oleh gelombang krisis, yang dampaknya masih terasa sampai saat ini. Perkembangan besaran PDRB atas dasar harga berlaku tidak bisa mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya. Dalam perkembangan harga berlaku, pengaruh inflasi sangat besar sehingga tidak memungkinkan melakukan perhitungan pertumbuhan ekonomi menggunakan data PDRB atas dasar harga berlaku. Untuk itu, PDRB atas dasar harga konstan lebih tepat digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan ekonomi. Gambaran makro tentang peta perekonomian daerah yang menyangkut PDRB, pendapatan perkapita dan pertumbuhan ekonomi selama 5 tahun terakhir terpapar dalam tabel 2.8 berikut: 2.20

Tabel 2.8 Tabel Peta Perekonomian Kabupaten SampangTahun 2009 2013 No D e s k r i p s i Tahun n-4 n-3 n-2 n-1 N 1 PDRB harga konstan (struktur perekonomian) (Rp.) 2.464.748,37 2.709.437,94 3.075.944,66 3.468.173,14 3.852.718,48 2 Pendapatan Perkapita Kabupaten/Kota (Rp.) 3 Pertumbuhan Ekonomi (%) 3.117.814,7 3.212.591,5 3.335.096,6 3.501.921 3.606.978,6 4,58 4,64 5,34 6,04 6,34 Sumber Sumber:- Data Tahun 2012: BPS Kabupaten Sampang 2.21

2.4. Tata Ruang Wilayah 2.4.1. Kebijakan Penataan Ruang Dari tujuanpenataanruangkabupatensampang yang sudah diuraikan diatas, makakebijakanumumpenataanruangnyaantara lain: 1. pengembangan agropolitan, industri, dan pariwisata; 2. pemantapan struktur pusat pelayanan perkotaan dan pedesaan serta pengendalian perkembangan kawasan perkotaan; 3. pengembangan kelengkapan sistem sarana dan prasarana wilayah; 4. pemantapan, pelestarian, dan perlindungan kawasan lindung secara berkelanjutan berbasis kearifan lokal; 5. pengembangan kawasan budidaya secara bersinergis dengan agropolitan, industri berbasis pertanian, dan pariwisata; 6. pengembangan wilayah pesisir dan pulau kecil di Kabupaten secara berkelanjutan; 7. peningkatan fungsi kawasan pertahanan dan keamanan negara. Kebijakan-kebijakan tersebut merupakan kebijakan yang disusun untuk meraih tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten Sampang yang merupakan kebijakan tentang struktur ruang, pola ruang dan kawasan strategis. Dari kebijakan-kebijakan tersebut maka akan dirumuskan strategi-strategi sebagai panduan dalam operasionalisasinya. Kebijakan dan strategi dari penataan ruang wilayah Kabupaten Sampang dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Kebijakan Pengembanagan Agropolitan, Industri, Dan Pariwisata Dengan Strategi Meliputi : a. mengembangkan kawasan perdesaan sesuai potensi kawasan; b. mengembangkan sistem agropolitan di kawasan perdesaan; c. mengembangkan sarana dan prasarana pada wilayah perkotaan; d. mengembangkan sarana dan prasarana pendukung agropolitan, industri, dan pariwisata; dan e. mengembangkan sumberdaya manusia pada kawasan agropolitan 2. Kebijakan Pemantapanstrukturpusatpelayananperkotaandanpedesaansertapengendalianp erkembangankawasanperkotaandenganstrategimeliputi: a. mengarahkan struktur perkotaan secara berhirarki dan mengendalikan perkembangan kawasan perkotaan; 2.22

b. mendistribusikan pemanfaatan ruang terbangun pada kawasan perkotaan secara merata; c. meningkatkan interaksi desa-kota dalam meningkatkan efisiensi pengembangan agropolitan; dan d. Mengembangkan kawasan perdesaan potensial secara ekonomi melalui desa pusat pertumbuhan. 3. Kebijakan Pengembangankelengkapansystemsaranadanprasaranawilayahdenganstrategi meliputi: a. mengembangkan sistem transportasi secara intermoda sampai ke pusat produksi pertanian, industri, dan pelayanan pariwisata; b. meningkatkan kualitas pelayanan jaringan energi dan listrik; c. mendayagunakan sumber daya air dan pemeliharaan jaringan air baku dan sarana dan prasarana pengairan kawasan pertanian; d. meningkatkan jumlah, mutu, dan jangkauan pelayanan komunikasi pada kawasan agropolitan, pariwisata, dan industri; dan e. mengoptimalkan tingkat penanganan dan pemanfaatan persampahan. 4. Kebijakan Pemantapan, pelestarian, dan perlindungan kawasan lindung secara berkelanjutan berbasis kearifan local dengan strategi meliputi: a. meningkatkan kualitas kawasan yang memberi perlindungan di bawahnya berupa kawasan resapan air; b. memantapkan dan meningkatkan konservasi alam, rehabilitasi ekosistem serta mengendalikan pencemaran, dan perusakan lingkungan hidup; c. memantapkan fungsi dan nilai manfaatnya pada kawasan cagar budaya; d. mengendalikan kawasan rawan bencana alam; e. memantapkan wilayah kawasan lindung geologi dan pemantapan pengelolaan kawasan secara partisipatif; dan f. memantapkan kawasan terumbu karang. 5. Kebijakan Pengembangan kawasan budidaya secara bersinergis dengan agropolitan, industry berbasis pertanian, dan pariwisata dengan strategi meliputi: a. mengembangkan kawasan hutan produksi; b. mengembangkan kawasan hutan rakyat; c. mengendalikan lahan pertanian berkelanjutan dan meningkatkan pangan nasional; 2.23

d. mengembangkan komoditas unggul perkebunan, tanaman pangan dan hortikultura; e. meningkatkan produk dan nilai tambah perikanan budidaya; f. mengembangkan kawasan pertambangan berbasis pada teknologi ramah lingkungan; g. mengembangkan industri ramah lingkungan; h. meningkatkan peran serta masyarakat pada pengembangan pariwisata dengan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan pelestarian kearifan lokal; i. meningkatkan kawasan permukiman perkotaan dengan permukiman perdesaan secara sinergis; dan j. menetapkan dan mengembangkan kawasan peternakan. 6. Kebijakan Pengembangan wilayah pesisir dan pulau kecil di Kabupaten secara berkelanjutan dengan strategi meliputi: a. merencanakan zonasi kawasan pesisir Kabupaten; b. memantapkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat setempat dalam mengembangkan dan memelihara ekosistem pesisir; c. meningkatkan nilai ekonomi kawasan lindung pada pemanfaatan bakau dan terumbu karang; dan d. mengendalikan kawasan hutan mangrove di wilayah pesisir selatan. 7. Peningkatan fungsi kawasan pertahanan dan keamanan Negara dengan strategi meliputi: a. mendukung penetapan kawasan dengan fungsi pertahanan dan keamanan; b. mengembangkan kegiatan budidaya secara selektif didalam dan disekitar kawasan untuk menjaga fungsi pertahanan dan keamanan; c. mengembangkan kawasan lindung dan/atau kawasan budidaya tidak terbangun disekitar kawasan pertahanan dan keamanan dengan kawasan budidaya terbangun; dan d. menjaga dan memelihara aset pertahanan dan keamanan. Penataan Ruang di Kabupaten Sampang diwujudkan dalam bentuk RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) yang kemudian dijabarkan dalam RDTRK (Rencana Detail Tata Ruang Kecamatan).Sampai dengan tahun 2008 telah dua kecamatan yang memiliki RDTRK. 2.4.2. Struktur Ruang Sesuai dengan konsep dan strategi penataan ruang, maka sistem perwilayahan di Kabupaten Sampang dibagi menjadi 1 (satu) Pusat Kegiatan Lokal (PKL) dan 2 (dua) Pusat 2.24

Kegiatan Lokal Promosi (PKLp). Masing-masing pusat kegiatan akan memiliki fungsi dan peran sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Wilayah Perkotaan Sampang (PKL) yang meliputi Kecamatan Sampang, Camplong, Sreseh, Torjun, Jrengik dan Pengarengan.Dengan Kota Sampang sebagai pusatnya. Fungsi Kegiatan : Perdagangan skala regional dan lokal Pertanian Pariwisata Perikanan Industri Jasa transportasi angkutan darat dan laut Jasa pemerintahan umum skala regional Arahan Pengembangan: Wilayah Pengembangan ini berperan sebagai pusat pertumbuhan skala regional dengan skala pelayanan Kabupaten Sampang terutama pada sektor Perdagangan, Jasa pemerintahan dan kegiatan transportasi darat. Pengembangan kawasan perkotaan dikonsentrasikan pada wilayah Ibukota Kabupaten Sampangdengan arah pengembangan kegiatan diarahkan ke sebelah utara, barat dan timur keluar dari wlayah pusat kota untuk pemerataan pembangunan. Pengembangan infrastruktur untuk mendukung fungsi Wilayah Pengembangan yang akan menjadi kutub pertumbuhan untuk mendukung wilayah tengah Kabupaten Sampang. Infrastruktur yang direncanakan diantaranya pelabuhan dan TPI yang direncanakan berada di Kecamatan Camplong, terminal tipe B di Kecamatan Torjun, dan pembangunan stadion olah raga di Kecamatan Sampang. Pengembangan koridor kawasan perbatasan Sampang Bangkalan yang tentunya membutuhkan pengelolaan kegiatan koordinatif dengan Pemerintah Kabupaten Bangkalan khususnya dalam pengentasan backward region (kawasan Tertinggal) yang terdapat di beberapa lokasi di wilayah Kecamatan Jrengik, Sreseh dan Torjun terutama dalam upaya pemenuhan kebutuhan air bersih dan sarana utilitas lainya Pengembangan koridor jalan arteri primer yang menjadi akses utama antar kabupaten di Pulau Madura dalam tujuan mengoptimalkan fungsinya sebagai sarana kegiatan ekonomi antara wilayah di pulau ini 2.25

Wilayah Perkotaan Ketapang (PKLp) yang meliputi Kecamatan Ketapang, Banyuates dan Sokobanah.Dengan perkotaan Ketapang sebagai pusat pertumbuhan. Fungsi Kegiatan : Industri dan pergudangan skala regional Perdagangan skala regional dan lokal Agroindustri Perkebunan dan holtikultura Perikanan pariwisata Jasa transportasi darat Arahan Pengembangan: Wilayah Pengembangan Utara memiliki peran strategis karena terletak pada pengembangan jaringan jalan lintas utara Madura dan terletak pada pengembangan pelabuhan peti kemas di wilayah Bangkalan yang memiliki skala hingga internasional. Pengembangan kawasan agropolitan dengan dengan mengembangkan keterhubungan antara lokasi produksi dan lokasi pemasaran pada kawasan perkotaan dan pedesaan di Kecamatan Ketapang, Banyuates dan Sokobanah. Prioritas pengembangan sektor pertanian di kawasan ini disesuaikan dengan perencanaan masterplan kawasan agropolitan termasuk pengembangan struktur wilayah dan prioritas pengembangan komoditi eksotis unggulan. Direncanakan untuk pembangunan terminal agribisnis berada di Kecamatan Ketapang. Pengembangan koridor jalan arteri primer yang menjadi akses utama antar kabupaten di Pulau Madura dalam tujuan mengoptimalkan fungsinya sebagai sarana kegiatan ekonomi antara wilayah di pulau ini. Optimalisasi sumber daya air berupa adanya waduk nipah di Kecamatan Banyuates yang menjadi sumber utama bagi kegiatan agraris di wilayah cluster ini dan mendukung produksi untuk agropolitan. Wilayah Perkotaan Kedungdung (PKLp) yang meliputi Kecamatan Kedungdung, Tambelangan, OmbenRobatal dan Karang Penang.Dengan IKK Kedungdung sebagai pusat pertumbuhan. Fungsi Kegiatan : Perdagangan skala lokal Industri kecil Peternakan Kehutanan dan konservasi 2.26

Pertanian Perkebunan dan holtikultura Pertambangan dan migas Arahan Pengembangan WP Tengah: Wilayah Pengembangan ini memiliki peran sebagai penghasil komoditi perkebunan dan holtikultura dengan komoditi yang akan dikembangkan diantaranya kedelai, tembakau dan sorgum. Selain itu juga direncanakan sebagai kawasan peternakan dan industri serta konservasi. Pengembangan linkage system kota dengan berbasis pada konsep interaksi kota yang menghubungkan antara wilayah ini dengan wilayah Kecamatan Sampang Untuk mendukung keterkaitan tersebut dibutuhkan pengembangan akses jaringan jalan yang menghubungkan antar kecamatan di cluster ini dan antara cluater ini dengan Kecamatan Sampang, Kecamatan Kedungdung dan dengan Kecamatan Robatal. Cluster Tengah Barat memiliki peranan sebagai wilayah pengembangan pada bagian tengah sebelah barat Kabupaten Sampang dengan pusat pada IKK Kedungdung. Pengembangan perkotaan Kedungdung sebagai sentra kegiatan utama di kawasan ini sebagai titik aglomerasi kegiatan agraris dari wilayah satelitnya Pengembangan koridor kawasan kolektor primer Sampang-Ketapang dalam tujuan untuk mengoptimalkan fungsinya sebagai saraa kegiatan ekonomi di wilayah tengah Kabupaten Sampang Optimalisasi sumber daya di wilayah Daerah Aliran Sungai ( DAS ) Kemuning dan Waduk Klampis yang menjadi sumber utama bagi kegiatan agraris di cluster ini Pengembangan linkage system kota dengan berbasis pada konsep interaksi kota yang menghubungkan interaksi kota primat di Kota Kedungdung dengan wilayah satelitnya Sistem pusat pedesaan membentuk pusat pelayanan desa secara berhirarki untuk mempercepat efek pertumbuhan. Sistem pusat permukiman pedesaan membentuk, sebagai berikut : pembentukan PPL (Pusat Pelayanan Lingkungan); kegiatan yang diarahkan Pusat pelayanan desa tersebut secara berjenjang memiliki hubungan dengan pusat kecamatan sebagai kawasan perkotaan terdekat atau berhubungan langsung dengan PKL/PKLp/PPK. Pusat pelayanan antar desa direncanakan berada di PPL. Sedangkan pusat 2.27

pelayanan setiap desa adalah pusat permukiman di masing masing di setiap desa atau disebut pusat desa. Karakter desa yang berpotensi menjadi PPL antara lain : Desa-desa yang dikembangkan mempunyai jaringan dengan perkotaan yang baik. Desa-desa di sepanjang jaringan jalan regional atau yang mempunyai akses/keterhubungan dengan jaringan jalan regional. Memiliki intensitas kegiatan ekonomi non-pertanian cukup beragam Sebagai pusat pelayanan kegiatan budidaya, baik dalam wilayahnya maupun wilayah sekitarnya, pusat permukiman perdesaan mempunyai fungsi: Ekonomi, yaitu sebagai pusat produksi dan pengolahan barang Jasa perekonomian, yaitu sebagai pusat pelayanan kegiatan keuangan/ bank, dan/atau sebagai pusat koleksi dan distribusi barang, dan/atau sebagai pusat simpul transportasi, pemerintahan, yakni sebagai pusat jasa pelayanan pemerintah Jasa sosial, yaitu sebagai pusat pemerintahan, pusat pelayanan pendidikan, kesehatan, kesenian, dan/atau budaya. Perkembangan kegiatan budidaya tersebut diatas memiliki skala kegiatan yang lebih kecil dan terbatas, dibandingkan kawasan perkotaan. Dari hasil analisa dan FGD di daerah, maka PPL di Kabupaten Sampang, meliputi: Desa Bundah Kecamatan Sreseh; Desa Kodak Kecamatan Torjun; Desa Gulbung Kecamatan Pengarengan; Desa Jrangoan Kecamatan Omben; Desa Ombul Kecamatan Kedungdung; Desa Bancelok Kecamatan Jrengik; Desa Batosarang Kecamatan Tambelangan; Desa Montor Kecamatan Banyuates; Desa Lepelle Kecamatan Robatal; Desa Tlambah Kecamatan Karangpenang; Desa Paopale Laok Kecamatan Ketapang; dan Desa Tobai Timur Kecamatan Sokobanah Penetapan kawasan perkotaan dan penetapan kawasan perdesaan di Kabupaten Sampang disini dilihat dari kondisi, kelengkapan fasilitas dan karakteristik kegiatan yang terdapat pada setiap kecamatan sehingga dapat ditetapkan kawasan perdesaan dan kawasan perdesaannya. Identifikasi kawasan perkotaan dan perdesaan tersebut dimaksudkan untuk 2.28

mengetahui dan menentukan jenis kegiatan yang akan ditentukan sehingga sesuai dengan peruntukkan tanah dan ruangnya. Kriteria penetapan batas kota di wilayah Kabupaten Sampang ditetapkan atas dasar status kawasan sebagai kawasan perkotaan ibu kota kecamatan; khusus untuk Perkotaaan Sampang wilayahnya meliputi seluruh administratif kecamatan dengan status sebagai ibukota Kabupaten Sampang. 2.29

Peta 2.4: Rencana pusat layanan Kabupaten Sampang

Peta 2.5: Rencana pola ruang Kabupaten Sampang

2.5. Sosial dan Budaya Aspek sosial dan budaya berasal dari nilai-nilai tradisi yang diwariskan oleh leluhur dan nilainilai keagamaan.nilai-nilai filosofi Madura tetap dimiliki dan diyakini oleh masyarakat Sampang dalam kehidupan keseharian yang berpadu dengan nilai keislaman yang merupakan aspek dan budaya yang menjadi perhatian penting bagi penyusunan RPJMD ini. Pendidikan adalah kegiatan belajar mengajar di segala tingkat baik formal maupun informal. Dalam publikasi Sampang Dalam Angka, kegiatan pendidikan yang dicakup adalah kegiatan pendidikan formal baik dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan di luar Departemen tersebut, yaitu dibawah Departemen Agama, Departemen Pertanian, Departemen Kesehatan, dan Departemen yang lainnya. Kegiatan pendidikan meliputi banyaknya sekolah, murid, dan guru dirinci menurut jenjang/tingkat yaitu SD, SMP, SMU, dan Sekolah Kejuruan Jumlah fasilitas pendidikan di setiap kecamatan di Kabupaten Sampang dapat dilihat pada lampiran tabel 2.8 Fasilitas pendidikan yang tersedia di Kabupaten Sampang Tahun 2009/2010 sebagai berikut. NO. Tabel 2.9. Fasilitas pendidikan yang tersedia di Kabupaten Sampang KECAMATAN FASILITAS PENDIDIKAN TK SD MI SMP MTs SMA/ SMK 1 Sreseh 9 26 17 2 8 1 3 2 Torjun 14 31 13 4 7 1 1 3 Pangarengan 11 18 1 3 4-1 4 Sampang 38 69 15 8 13 6 10 5 Camplong 22 46 12 6 14-10 6 Omben 4 48 44 4 18-11 7 Kedundung 7 46 61 5 16 1 5 8 Jrengik 5 40 12 2 1-1 9 Tambelangan 10 34 21 3 5 1 2 10 Banyuates 7 52 39 4 13-11 11 Robatal 7 25 47 2 12 1 5 12 Karang Penang 5 22 77 2 18-6 13 Ketapang 8 48 62 5 16 1 6 14 Sakobanah 7 49 47 4 10-5 JUMLAH 154 554 468 54 155 12 77 MA Sumber : Sampang Dalam Angka 2012 2.32

2.5.2 Rumah Tangga Miskin Dalam Pendataan Program Perlindungan Sosial 2011 (PPLS-08), untuk mengetahui intensitas kemiskinan dari Rumah Tangga Sasaran (RTS), rumah tangga miskin dibedakan dalam 3 kategori, yaitu Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM), Rumah Tangga Miskin (RTM), dan Rumah Tangga Hampir Miskin (RTHM).. Data kemiskinan di setiap kecamatan di Kabupaten Sampang dapat dilihat pada lampiran tabel 2.9 Jumlah Rumah Tangga Miskin per Kecamatan Tahun 2011. Tabel 2.10. Jumlah Penduduk Miskin per Kecamatan Tahun 2011 NO KECAMATAN SANGAT MISKIN RUMAH TANGGA MISKIN HAMPIR MISKIN JUMLAH 1 SRESEH 4,037 3,885 5,311 13.233 2 TORJUN 6,715 5,421 8,068 20.204 3 PANGARENGAN 2,670 2,617 3,784 9.071 4 SAMPANG 8,833 8,750 13,333 30.916 5 CAMPLONG 10,991 10,084 14,500 35.908 6 OMBEN 15,829 11,497 14,420 41.826 7 KEDUNDUNG 26,092 17,001 17,091 60.184 8 JRENGIK 5,303 5,962 8,366 19.631 9 TAMBELANGAN 10,857 7,444 8,379 26.680 10 BANYUATES 9,469 7,267 10,582 27.318 11 ROBATAL 12,731 8,974 9,710 31.415 12 KARANG PENANG 17,849 12,623 12,256 42.728 13 KETAPANG 5,676 6,668 11,479 23.823 14 SAKOBANAH 4,596 4,254 6,826 15.676 JUMLAH 141.648 112.447 144.105 398.200 Sumber : PPLS Kabupaten 2012,Kab Sampang 2.33

2.5.3. Jumlah Rumah Tangga Data Jumlah Rumah Tangga di setiap kecamatan di Kabupaten Sampang Tahun 2011 dapat dilihat pada lampiran tabel 2.10 Jumlah rumah/kk per Kecamatan Tahun 2011. Tabel 2.10. Jumlah rumah/kk per Kecamatan Tahun 2011 JUMLAH Penduduk NO KECAMATAN RUMAH Lakilaki TANGGA Perempuan Total 1 SRESEH 7.406 13.429 15.184 28.613 2 TORJUN 8.687 17.877 18.405 36.282 3 PANGARENGAN 5.519 10.364 10.756 21.120 4 SAMPANG 27.760 57.378 57.605 114.983 5 CAMPLONG 20.892 42.570 43.810 86.380 6 OMBEN 17.912 37.227 39.377 77.204 7 KEDUNDUNG 19.378 42.121 44.501 86.622 8 JRENGIK 7.714 15.472 16.185 31.657 9 TAMBELANGAN 11.050 23.914 24.481 48.395 10 BANYUATES 19.763 35.840 38.442 74.282 11 ROBATAL 13.137 26.349 26.702 53.051 12 KARANGPENANG 15.693 32.764 33.875 66.639 13 KETAPANG 25.030 42.732 45.520 88.252 14 SAKOBANAH 16.796 29.859 34.433 64.292 JUMLAH 216.737 427.896 449.876 877.772 Sumber : Sampang Dalam Angka 2012 2.34

Tabel 2.11: Jumlah Rumah per Kecamatan Tahun 2011 No Nama Kecamatan Jumlah Rumah 1 SRESEH 9033 2 TORJUN 6189 3 PANGARENGAN 3903 4 SAMPANG 21.745 5 CAMPLONG 14.725 6 OMBEN 13.555 7 KEDUNDUNG 14.816 8 JRENGIK 5937 9 TAMBELANGAN 8138 10 BANYUATES 17.716 11 ROBATAL 9031 12 KARANG PENANG 14.465 13 KETAPANG 19.746 14 SAKOBANAH 15.132 JUMLAH 174,131 Sumber :Sampang dalam Angka Tahun 2012 Dari Tabel 2.11 terlihat bahwa jumlah rumah terbanyak berada di Kecamatan Sampang yaitu sebanyak 21.745 rumah, Kecamatan Ketapang sebanyak 19.746 rumah, Kecamatan Banyuates sebanyak 17.716 rumah, Kecamatan Sakobanah sebanyak 15.132 rumah, Kecamatan Kedundung 14.816 rumah, Kecamatan Camplong sebanyak 14.725 rumah, Kecamatan Karang Penang sebanyak 14.465 rumah, Kecamatan Omben sebanyak 13.555 rumah, Kecamatan Sreseh sebanyak 9033 rumah, Kecamatan Robatal sebanyak 9031rumah, Kecamatan Torjun sebanyak 6189 rumah, Kecamatan Jrengik sebanyak 5937 rumah,kecamatan Pangarengan sebanyak 3903 rumah. 2.35

2.6. Kelembagaan dan Pemerintah daerah Secara administratif Kabupaten Sampang terdiri dari empat belas kecamatan dan 186 desa/kelurahan, dengan rincian 6 kelurahan dan 180 desa. Kabupaten Sampang dipimpin oleh Bupati dan Wakil Bupati, dengan organisasi pemerintahan terdiri dari seorang Sekretaris Daerah, 3 (tiga) orang Asisten, 8 (delapan) orang Kepala Bagian (Kabag), 14 (empat belas) Kepala Dinas, 7 (tujuh) Kepala Badan, 7 (tujuh) Kepala Kantor dan 14 (empat belas) camat. Untuk mengontrol jalannya pemerintahan, di Kabupaten Sampang telah terbentuk anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) hasil pemilu 2009 yang dimenangkan oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan disusul oleh Partai Pembangunan Nasional (PPP). Anggota DPRD yang terbentuk terdiri dari 14 (Empat Belas) partai pemenang pemiluyang terbagi atas 4 (empat) komisi dan 7 (Tujuh) fraksi. 2.36

SEKRETARIAT DAERAH Buku Putih Sanitasi 2.6. Kelembagaan Pemerintah Daerah LEMBAGA PERANGKAT DAERAH KABUPATEN SAMPANG SESUAI DENGAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 41 TAHUN 2007 DPRD BUPATI WAKIL BUPATI STAF AHLI : 1. Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik 2. Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan 3. Staf Ahli Bidang Pembangunan, Kemasyarakatan & SDM Asisten Pemerintahan dan Kesejahtraan Rakyat Asisten Perkonomian da Pembangunan 1. Bagian Pemerintahan 2. Bagian Hukum 3. Bagian Humas 1. Bagian Pembagunan 2. Bagian Perekonomian 4. Bagian Kesejahteraan Rakyat Badan Perencanaan Pembagunan Daerah *) I n s p e k t o r a t*) SEKRETARIAT DPRD 1. Bagian Umum 2. Bagian Persidangan dan Perundang-Undangan 3. Bagian Keuangan DINAS DAERAH : 1. Dinas Pendidikan 2. Dinas Kesehatan 3. Dinas Pertanian 4. Dinas Peternakan 5. Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika 6. Dinas Bina Marga dan Pengairan 7. Dinas Cipta Karya 8. Dinas Perindustrian dan Perdagangan 9. Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah 10. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi 11. Dinas Sosial 12. Dinas Kelautan dan Perikanan 13. Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda & Olah Raga Kecamatan LEMBAGA TEKNIS DAERAH : 1. Badan Kepegawaian Daerah 2. Badan Kesatuan Bangsa, Politik dan 3. Badan Pemberdayaan Masyarakat da 4. Badan Ketahanan Pangan dan Pelak 5. Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu 6. Kantor Perpustakaan Umum dan Ars 7. Badan Lingkungan Hidup 8. Kantor Keluarga Berencana ------------ Rumah Sakit Umum Daerah Kab.sam Satuan Polisi Pamong Praja *) Badan Penanggulangan Bencanan D

Gambar 2.1. SKPD Yang Menangani Sanitasi Kabupaten Sampang KELOMPOK KERJA SANITASI KABUPATEN SAMPANG BUPATI BADAN DINAS PEKERJAAN BAPPEDA PEMBERDAYAAN UMUM DINAS KESEHATAN DISPENDALOKA MASYARAKAT CIKARTARNG Bidang perencanaan Fisik dan Bidang Cipta Bidang P2PL Prasarana Karya dan Tata Bidang Pemerintahan, Ruang kependudukan, Tenaga Kerja dan Pemberdayaan Masyarakat DINAS BADAN LINGKUNGAN HIDUP PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI DAN PDAM INFORMATIKA Bidang Pelestarian Sumber Daya Alam Bidang Teknik PDAM