KAIDAH FIQHIYAH. Pendahuluan

dokumen-dokumen yang mirip
BAB XIII SALAT JAMAK DAN QASAR

Al Wajibu La Yutraku Illa Liwajibin

SUJUD SAHWI Syaikh Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin


Jika Beragama Mengikuti Kebanyakan Orang

: The Prostration of Forgetfulness : Syaikh Muhammad bin Shalih al-utsaimin

Sujud Sahwi. Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin. 16 Mei Didownload dari:

Pendidikan Agama Islam

BAB IX MACAM - MACAM SUJUD

Beribadah Kepada Allah Dengan Mentauhidkannya

Kewajiban berdakwah. Dalil Kewajiban Dakwah

A. Pengertian Fiqih. A.1. Pengertian Fiqih Menurut Bahasa:


Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orangorang yang ruku (Al Baqarah : 43)

MATERI I PENGANTAR USHUL FIQH TIM KADERISASI

Mazhab menurut bahasa: isim makan (kata benda keterangan tempat) dari akar kata dzahab (pergi) (Al-Bakri, I ânah ath- Thalibin, I/12).

DAFTAR TERJEMAH No. BAB Hal Terjemah

Islam Adalah Agama Wahyu

BAB I PENDAHULUAN. 2011), hlm. 9. (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2007), hlm Rois Mahfud, Al-Islam Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: Erlangga,

Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada (Al-Hajj: 46).

BAB IV ANALISIS HEDGING TERHADAP KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK-BBM DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

studipemikiranislam.wordpress.com RUANG LINGKUP AJARAN ISLAM

SUMBER HUKUM ISLAM 1

Ceramah Ramadhan 1433 H/2012 M Bagaimana Kita Merespon Perintah Puasa

TAWASSUL. Penulis: Al-Ustadz Muhammad As-Sewed

Menyikapi Fenomena Gerhana. Oleh: Muhsin Hariyanto

Renungan Pergantian Tahun

Jangan Taati Ulama Dalam Hal Dosa dan Maksiat

KONSEP & KAEDAH DASAR FIQIH MUAMMALAH MAALIYAH SESI II : ACHMAD ZAKY

Dusta, Dosa Besar Yang Dianggap Biasa

BAB I PENDAHULUAN. hidup atau sudah meninggal, sedang hakim menetapkan kematiannya. Kajian

KELOMPOK 1 : AHMAD AHMAD FUAD HASAN DEDDY SHOLIHIN

Al-Ilmu, ILMU MENDAHULUI AMAL Pentingnya menggali ilmu sebagai awal pelaksanaan amalan Ibadah Dirangkum oleh : Yulia Dwi Indriani

Di antaranya pemahaman tersebut adalah:

Create PDF with GO2PDF for free, if you wish to remove this line, click here to buy Virtual PDF Printer

FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL Nomor: 55/DSN-MUI/V/2007 Tentang PEMBIAYAAN REKENING KORAN SYARIAH MUSYARAKAH

PENERIMAAN DAN PENOLAKAN PERMOHONAN DISPENSASI USIA PERKAWINAN KARYA ILMIAH. Disusun Oleh: REEZKY TIMBUL MARPAUNG NIM.

MATAN. Karya Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab

SERIAL BUKU ISLAM #

Bukti Cinta Kepada Nabi

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

TENTANG MA MUM MASBUQ

Ikutilah Sunnah dan Jauhilah Bid'ah

Membaca Sebagian Al-Quran Dalam Khutbah Jum'at

Berpegang kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan tidak bertaqlid kepada seseorang

Rukun wakalah ada tiga: pertama, dua pihak yang berakad yaitu pihak yang mewakilkan (al-mu wakkil ) dan pihak yang mewakili ( alwakîl

BAB III PROSES IJMA MENURUT ABDUL WAHAB KHALLAF DAN PROSES PENETAPAN HUKUM DALAM KOMISI FATWA MUI

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Berhati-Hati Dalam Menjawab Permasalahan Agama

Keutamaan 10 Hari Pertama Dzulhijjah

Landasan Sosial Normatif dan Filosofis Akhlak Manusia

Hal-Hal Yang Diwajibkan dalam Shalat

TINJAUAN UMUM Tentang HUKUM ISLAM SYARIAH, FIKIH, DAN USHUL FIKIH. Dr. Marzuki, M.Ag. PKnH-FIS-UNY 2015

Mendidik Anak dengan Tauhid

Berani Berdusta Atas Nama Nabi? Anda Memesan Sendiri Tempat di Neraka

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

DAFTAR TERJEMAH. No Hal Kutipan Bab Terjemah

FIQHUL IKHTILAF (MEMAHAMI DAN MENYIKAPI PERBEDAAN DAN PERSELISIHAN) Oleh : Ahmad Mudzoffar Jufri

E٤٨٤ J٤٧٧ W F : :

Tafsir Surat Al-Ashr: Meraih Sukses Dunia dan Akhirat

Barangsiapa yang dikaruniai seorang anak, lalu ia menyukai hendak membaktikannya (mengaqiqahinya), maka hendaklah ia melakukannya.

Kekeliruan Sebagian Umat Islam di Bulan Rajab

MACAM-MACAM SUJUD A. MATERI POKOK

BAB IV ANALISIS MENGENAI PANDANGAN IMAM SYAFI I TENTANG STATUS WARIS ANAK KHUNTSA MUSYKIL

Nasehat Bagi Orang Yang Melalaikan Shalat

Ceramah Ramadhan 1433 H/2012 M Orang-orang yang Berhalangan Puasa

Adab Membaca Al-Quran, Membaca Sayyidina dalam Shalat, Menjelaskan Hadis dengan Al-Quran

BAB IV KELAHIRAN TANGGAL KHUSUS SEBAGAI ALASAN SECTIO CAESAREA PADA PASIEN TANPA INDIKASI KEDARURATAN MEDIS

HUKUM DAN HAM DALAM ISLAM

BAB II GAMBARAN UMUM GADAI EMAS (AR-RAHN) DALAM FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL-MAJLIS UALAMA INDONESI (DSN-MUI) TENTANG RAHN DAN RAHN EMAS

Jadilah Pembuka Pintu Kebaikan

Bahaya Zina dan Sebab Pengantarnya

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

BAB II PEMBAHASAN TENTANG MASLAHAH

Penulis: Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja

4. Firman Allah SWT QS. al-baqarah [2]: 275: &$!%#*#$ 234 +#,-.,(/01 '() )5'(2%6.789:;<= & #AB7CDE3" Orang yang makan (mengambil) riba ti

Kemuliaan Seorang Hamba Terletak Pada Ibadahnya

IJTIHAD SEBAGAI JALAN PEMECAHAN KASUS HUKUM

!!" #$ % &' &()*+&, -./ +0 &'!1 2 &3/" 4./" 56 * % &' &()*+&, " "# $ %! #78*5 9: ;<*% =7" >1?@*5 0 ;A " 4! : B C*5 0 D % *=75E& 2 >1?@* "/ 4!

BAB I PENDAHULUAN. Ibadah haji merupakan syari at yang ditetapkan oleh Allah kepada. Nabi Ibrahim. Dan hal ini juga diwajibkan kepada umat Islam untuk

MERASAKAN NIKMATNYA SHOLAT

I TIKAF. Pengertian I'tikaf. Hukum I tikaf. Keutamaan Dan Tujuan I tikaf. Macam macam I tikaf

Lahirnya ini disebabkan munculnya perbedaan pendapat

BAB III ANALISIS PASAL 209 KHI TENTANG WASIAT WAJIBAH DALAM KAJIAN NORMATIF YURIDIS

UAS Ushul Fiqh dan Qawa id Fiqhiyyah 2015/2016

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 4 Tahun 2003 Tentang PENGGUNAAN DANA ZAKAT UNTUK ISTITSMAR (INVESTASI)

Menggapai Ridha Allah dengan Birrul Wâlidain. Oleh: Muhsin Hariyanto

Fatwa Seputar Badal Haji dan Umrah. Serta Hukum Melaksanakan Umrah Berkali-Kali Bagi Jama'ah Haji Saat Berada di Makkah

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP KASUS TAUKIL WALI NIKAH VIA TELEPON

Biografi Singkat Empat Iman Besar dalam Dunia Islam

SILABUS PROGRAM STUDI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI UNISNU JEPARA TAHUN 2015

SUNNAH NABI. Dan dikuatkan dengan Hadist dari Imam Bukhari disalah satu bab yaitu: sunnahnya berwudhu sebelum mandi

KUMPULAN FATWA. Hukum Membagi Agama Kepada Isi dan Kulit. Penyusun : Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Terjemah : Muh. Iqbal Ahmad Gazali

Pada dasarnya setiap persoalan yang berkaitan dengan mu amalah hukumnya halal, sehingga ada dalil yang mengharamkannya. (Lihat: Muhammad bin

Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

PENGENALAN KANDUNGAN HASIL PEMBELAJARAN CTU263 9/11/2013 CTU 263 ISLAM DAN PENGURUSAN. Maruwiah Ahmat 1

BAB I PENDAHULUAN. tidak mau seorang manusia haruslah berinteraksi dengan yang lain. Agar kebutuhan

Ust. H. Ahmad Yani, Lc. MA. Urgensi Menjaga Lisan

Surat Untuk Kaum Muslimin

Definisi Khutbah Jumat

Transkripsi:

KAIDAH FIQHIYAH Pendahuluan Jika dikaitkan dengan kaidah-kaidah ushulliyah yang merupakan pedoman dalam mengali hukum islam yang berasal dari sumbernya, Al-Qur an dan Hadits, kaidah FIQHIYAH merupakan kelanjutannya, yaitu sebagai petunjuk operasional dalam peng-istimbath-an hukum islam. Kaidah Fiqhiyah disebut juga sebaagai Kaidah Syar iyah Adapun tujuannya adalah untuk memudahkan Mujtahid dalam meng-istimbath-kan hukum yang sesuai dengan tujuan syara dan kemaslahatan manusia. Sementara Imam Abu Muhammad Izzuddin Ibnu Abbas Salam menyimpulkan bahwa kaidah fiqhiyah adalah sebagai suatu jalan untuk mendapat kemashalatan dan menolak kerusakan serta bagaimana cara mensikapi kedua hal tersebut. Adapun pengertian Kaidah Fiqhiyah, dapat diurai dari kaidah dan Fiqih. Kaidah menurut Dr. Ahmad Muhammad Asy- Syafi i dalam buku Ushul Fiqh Islami adalah: Hukum yang bersifat universal (kulli) yang diikuti oleh satuan-satuan hukum juz i yang banyak. Sementara arti fiqih dari beberapa definisi yang dikemukankan fuqaha berkisar pada rumusan berikut: 2 ) 1. Fiqh merupakan bagian dari Syari ah 2. Hukum yang dibahas mencakup hukum amali 3. Obyek hukum pada orang-orang mukallaf 4. Sumber hukum berdasarkan Al-Qur an dan as-sunnah atau dalil lain yang bersumber pada kedua sumber utama tersebut 5. Dilakukan dengan jalan istimbath atau ijtihad sehingga kebenarannya kondisional dan temporer. 1

Dengan demikian pengertian Kaidah Fiqhiyah dapat diartikan diantaranya sebagai, Hukum hukum yang berkaitan dengan asas hukum yang dibangun oleh Syari serta tujuan-tujuan yang dimaksud dalam pensyariatannya (Ahmad Muhammad Asy-Syafi i 1983:5), atau Sebagai suatu jalan untuk mendapatkan kemaslahatan dan menolak kerusakan (Imam Abu Muhammad Izzuddin ibnu Abbas Salam). Urgensi Kaidah Fiqhiyah Hal yang berhubungan dengan Fiqh sangat luas, mencakup berbagai hukum furu. Karena luasnya, maka itu perlu ada kristalisasi berupa kaidah-kaidah umum (kulli) yang berfungsi sebagai klasifikasi masalah-masalah furu menjadi beberapa kelompok. Dan tiap-tiap kelompok itu merupakan kumpulan dari masalah-masalah yang serupa. Hal ini akan memudahkan para mujtahid dalam mengistinbathkan hukum bagi suatu masalah, yakni dengan menggolongkan masalah yang serupa dibawah lingkup satu kaidah. Dalam pembahasannya Kaidah Fiqhiyah sering menggunakan sistematika atas dasar keabsahan kaidah, atas dasar abjad, atau berdasarkan sistematika fiqh. Berdasarkan keabsahan kaidah, dibagi atas kaidah-kaidah asasiah dan kaidah-kaidah qhairu asasiah. Kaidah asasiah oleh Imam Muhammad Izzudin bin Abdis Salam diringkas menjadi kaidah Menolak kerusakan dan menarik kemashlahatan. Kaidah ini merupakan kaidah yang oleh para Imam Mazhab telah disepakati tanpa ada pihak yang memperselisihkan kekuatannya. Adapun Kaidah asasiah ini terdiri atas 5 macam (panca kaidah) yaitu : 2 a. Segala masalah tergantung pada tujuannya. b. Kemudharatan itu harus dihilangkan c. Kebiasaan itu dapat dijadikan hukum. d. Yakin itu tidak dapat dihilangkan dengan keraguan. e. Kesulitan itu dapat menarik kemudahan.

Sedangkan kaidah-kaidah qhairu asasiah merupakan pelengkap dari kaidah asasiah, dan keabsahannya masih tetap diakui, yang oleh beberapa ulama dibagi atas beberapa macam, di antaranya: a. Hasbi ash Shididiqi terdapat 19 macam kaidah b. Abdul Mudjib terdapat 40 kaidah yang tidak dipertentangkan dan 20 kaidah yang diperselisihkan. Panca Kaidah Asasiah Panca kaidah itu digali dari sumber-sumber hukum, baik melalui Al Quran dan as sunnah maupun dalil-dalil istimbath. Karena itu, setiap kaidah didasarkan atas nash-nash pokok yang dapat dinilai sebagai standar hukum fiqh, sehingga sampai dari nash itu dapat diwakili dari sekian populasi nash-nash ahkam. Adapun bentuk-bentuk panca kaidah itu adalah: A. Kaidah Yang Berkaitan dengan Fungsi Tujuan 1. Teks Kaidahnya Setiap perkara tergantung pada tujuannya 2. Dasar-dasar Nash Kaidah Firman Allah SWT: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-nya dalam (menjalankan) agama yang lurus[1595], dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. [1595] Lurus berarti jauh dari syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan. 3

Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan kepada-nya dalam agama yang lurus (QS:Al Bayyinah:5) Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Barang siapa yang menghendaki pahala dunia niscaya Kami berikan kepadanya pahala di dunia itu, dan barang siapa yang menghendaki pahala akhirat niscaya kami berikan pula pahala akhirat itu (QS: Ali Imran:145) Sabda Nabi SAW Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat, dan sesungguhnya bagi seorang itu hanyalah apa yang ia niati (HR Perawi Enam dari Umar bin Khattab) Tiada (pahala) bagi perbuatan yang tidak niat (HR Anas) Sesungguhnya manusia itu dibangkitkan menurut niatnya (HR Ibnu Majah dari Abu Harairah) Niat seorang mukmin itu lebih baik daripada perbuatan (HR Thabrani dari Shalan Ibnu Said) 3. Kaidah-kaidah yang berkenaan dengan Niat Kaidah Pertama 4

Sesungguhnya (amalan) yang tidak disyaratkan untuk dijelaskan, baik secara global maupun tafshili, apabila kemudian dipastikan dan ternyata salah maka kesalahannya tidak membahayakan (tidak membatalkan). Kaidah Kedua Suatu (amalan) yang disyaratkat untuk dijelaskan, maka kesalahannya akan membatalkan perbuatannya. Kaidah Ketiga Suatu (amalan) yang harus dijelaskan secara garis besarnya dan tidak disyaratkan untuk terperinci, kemudian disebutkan secara terperinci dan ternyata salah maka membahayakan. Kaidah Keempat Niat dalam sumpah mengkhususkan lafal umum, dan tidak pula menjadikan umum pada lafal yang khusus. Kaidah Kelima Maksud dari lafal menurut niat orang yang mengucapkannya, kecuali dalam satu tempat yaitu dalam sumpah dihadapan qodli, dalam keadaan demikian maksud lafal menurut niat qodli. Kaidah tersebut sesuai dengan kaidah Nabi SAW: Sumpah itu (maksudnya) menurut niat orang yang menyumpah. 5

Kaidah Keenam Yang dimaksud dalam akad adalah maksud atau makna bukan lafal atau bentuk perkataan. Dalam suatu akad, bila terjadi perbedaan antara maksud (niat) si pembuat dengan lafal yang diucapkan, maka yang dianggap akad adalah niat/maksudnya, selama yang demikian itu masih diketahui. Kaidah Ketujuh Seseorang yang tidak dapat melaksanakan ibadah karena suatu halangan, padahal ia berniat untuk melakukannya jika tiada halangan, maka ia mendapatkan pahala. Kaidah tersebut berkaitan dengan sabda Nabi SAW Apabila seorang sakit atau berpergian maka ia dianggap beramal sebagaimana ia dalam keadaan sehat atau tetap di rumah. 4. Contoh Aplikasi a. Dalam shalat tidak disyaratkan niat menyebutkan jumlah rakaat, maka bila seoarang muslim berniat melaksanakan shalat magrib 4 rakaat, tetapi ia tetap dalam melaksanakan tiga rakaat, maka shalatnya tetap saja sah. b. Seseorang yang akan melaksanakan shalat Zhuhur, tapi niatnya menunaikan shalat Ashar, maka shalatnya tidak sah. c. Seseorang yang bersumpah tidak akan berbicara dengan seseoarang, dan maksudnya dengan Ahmad, maka sumpahnya hanya berlaku pada Ahmad saja. 6

B. Kaidah Yang Berkenaan Dengan Keyakinan 1. Teks Kaidahnya Keyakinan itu tidak dapat dihilangkan dengan keraguan Yang dimaksud yakin adalah: sesuatu yang tetap, baik dengan penganalisaan maupun dengan dalil. Sedang yang dimaksud syak adalah: sesuatu yang tidak menentu antara ada dan tiadanya, dan dalam ketidaktentuan itu sama antara batas kebenaran dan kesalahan, tanpa dapat dimenangkan salah satunya. 2. Dasar-dasar Nash Kaidahnya Firman Allah SWT Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. (QS Yunus:36). Sabda Nabi SAW Apabila seseorang di antara kamu mendapatkan sesuatu di dalam perutnya kemudian ia sangsi, apakah telah keluar sesuatu dari perutnya atau belum, maka janganlah keluar masjid sehingga mendapatkan baunya. (HR Muslim) 7

Nabi mendapat pengaduan bahwa seseorang merasa bingung oleh sesuatu dalam shalatnya, Nabi bersabda, Janganlah ia pergi sehingga benar-benar mendengar suara atau mendapatkan baunya. (HR Bukhari dan Muslim) Apabila seseorang ragu-ragu di dalam shalatnya, tidak tahu sudah berapa rakaatkah shalatnya, tiga ataukah empat, maka buanglah keraguan tersebut dan berpeganglah kepada yang meyakinkan. (HR Tarmidzi). Menurut Logika Keyakinan adalah lebih kuat daripada keraguan, sebab dalam keyakinan terdapat keputusan (hakim) yang pasti yang tidak hilang oleh keraguan. 3.Kaidah kaidah yang berkaitan dengan Yakin Kaidah Pertama Asal itu tetap sebagaimana semula, bagaimanapun keberadaanya Kaidah Kedua Asal itu bebas dari tanggungan Kaidah Ketiga Asal itu tidak ada Kaidah Keempat Asal dalam setiap kejadian, dilihat dari waktunya yang terdekat 8

Kaidah Kelima Asal dari sesuatu adalah kebolehan. Kaidah Keenam Asal dari dalam kemubahan adalah keharaman Kaidah Ketujuh Asal dari ucapan adalah hakikat ucapan tersebut. 4. Contoh Aplikasinya a. Apabila seorang sedang melakukan shalat Ashar, kemudian dia ragu apakah sudah empat rakaat atau baru tiga rakaat maka ambillah yang lebih yakin, yaitu tiga rakaat. Namun, sebelum salam disunnahkan sujud sahwi dua kali. b. Seorang musafir yang membaca takbiratul Ihram (bermakmum) dibelakang orang yang tidak diketahui apakah dia seorang musafir atau bukan, maka qasharnya tidak memenuhi syarat. c. Seorang yang dalam perjalanan, kemudian ragu apakah sudah sampai di negerinya atau belum, maka tidak boleh mengambil rukhshah. DAFTAR PUSTAKA : 1. Muchlis Usman. Kaidah Kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah Pedoman Dasar Dalam Istinbath Hukum Islam, Jakarta. Raja Grafindo Persada. 1993. 2. Prof. DR Rachmat Syafe I, MA. Ilmu Ushul Fiqih, Bandung Pustaka Setia 1998 9

10 3. Paper Dwi Iswahyuni, Kaidah-kaidah Fiqhiyah, Program Studi Timur Tengah dan Islam, Program Pascasarjana, UI, 2007