ANALISIS EFEKTIVITAS MANAJEMEN PIUTANG (STUDI KASUS PT.UNITEX TBK BOGOR) OLEH RIA AGUSTINA H

dokumen-dokumen yang mirip
ANALISIS EFEKTIVITAS MANAJEMEN PIUTANG (STUDI KASUS PT.UNITEX TBK BOGOR) OLEH RIA AGUSTINA H

II. TINJAUAN PUSTAKA Manajemen Piutang

BAB III LANDASAN TEORI. mereka sendiri, dan disebut sistem lingkaran tertutup (closed-loop system). Sistem

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PENGAJUAN HIPOTESIS. Sebagian besar perusahaan menjual secara kredit agar dapat menjual lebih banyak

III. METODOLOGI PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tunggal Tbk bertujuan untuk mengetahui pengaruh perputaran piutang

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS PORTOFOLIO KREDIT (KONSUMTIF DAN PRODUKTIF) DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA (STUDI KASUS PT BANK X Tbk) Oleh DIAH RISMAYANTI H

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kinerja Keuangan 2.2. Laporan Keuangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lain. Terdapat beberapa pengertian atau definisi dari piutang berdasarkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Dalam suatu aktivitas perekonomian, baik dalam lingkup yang sempit

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS DAN PERUMUSAN HIPOTESIS. Menurut Martono dan Harjito (2014:51) analisis laporan keuangan

ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BANK DENGAN BANTUAN PROGRAM KOMPUTER (Studi Kasus : PT BPR Agro Cipta Adiguna Pare, Kediri) Oleh NOVI NURMIA SARI H

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, perusahaan-perusahaan dihadapkan pada fenomena di mana

BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi menjanjikan peluang dan harapan bagi kesejahteraan warga

III. METODOLOGI PENELITIAN

Bab 7 Manajemen Piutang

BAB II KERANGKA TEORITIS

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN. serta kondisi keuangan perusahaan. Melalui laporan keuangan perusahaan dapat

BAB I PENDAHULUAN. Terjadinya krisis ekonomi di Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 telah

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II KAJIAN PUSTAKA. saat tertentu atau jangka waktu tertentu. Menurut Hery (2012:3) laporan keuangan

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. dikemukakan adanya beberapa konsep, yaitu :

BAB IV PEMBAHAS AN. IV.1. Analisis Kebijakan Kredit PT Tirta Varia Intipratama. yaitu, penjualan secara tunai atau secara kredit.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu.

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

MANAJEMEN PIUTANG ANDRI HELMI M, SE., MM MANAJEMEN KEUANGAN I

ANALISIS PENGARUH MANAJEMEN PIUTANG TERHADAP STABILITAS ARUS KAS DAN LIKUIDITAS PERUSAHAAN ( Studi Kasus di PT. X )

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II. LANDASAN TEORI. dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Menurut Brigham dan Houston,

ANALISIS PENGARUH DANA PIHAK KETIGA DAN KREDIT BERMASALAH TERHADAP LABA (STUDI KASUS PT BANK X Tbk) Oleh HENI ROHAENI H

TINJAUAN PUSTAKA. Likuiditas merupakan suatu indikator yang mengukur kemampuan perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah pasar modal. Pasar modal efektif

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terus berupaya untuk memulihkan kondisi perekonomian di Indonesia.

PENGARUH PERPUTARAN PIUTANG TERHADAP PROFITABILITAS

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

DAFTAR ISI. SURAT PERNYATAAN RIWAYAT HIDUP. KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR.. DAFTAR ISTILAH.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dengan jumlah yang lain, dan dengan menggunakan alat analisis berupa rasio akan

BAB 7 MANAJEMEN PIUTANG

BAB VI AKTIVA LANCAR-PIUTANG

Oleh BUDI HARTONO H DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BAB II LANDASAN TEORI

ANALISIS KEUANGAN PT. PLN (Persero)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian Modal Kerja. dan biaya-biaya lainnya, setiap perusahaan perlu menyediakan modal

BAB I PENDAHULUAN. ekonomi global yang melanda dunia. Krisis ekonomi global telah membuat

Proudly present. Manajemen Piutang. Budi W. Mahardhika Dosen Pengampu MK.

: AYU ASTREA NINGSIH B.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan dunia usaha saat ini semakin pesat, menimbulkan

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 1 PENDAHULUAN. krisis moneter yang telah melumpuhkan perekonomian di Indonesia sehingga

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. manufaktur, pada tahun 2012 yang lalu berdasarkan riset yang dilaoprkan oleh.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Eddy Cahyono (2012), Era globalisasi telah membawa

BAB I PENDAHULUAN. dapat dikatakan sehat apabila perusahaan dapat bertahan dalam kondisi ekonomi

BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Piutang Pengertian Piutang Herry (2009:266)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian dan Klassifikasi Piutang. mempertahankan langganan-langganan yang sudah ada dan untuk menarik

BAB IV ANALISA HASIL DAN PEMBAHASAN. dan dapat dipercaya untuk menilai kinerja perusahaan dan hasil dari suatu

ANALISIS EFEKTIVITAS MANAJEMEN PIUTANG PADA PERUSAHAAN X. Oleh NENNY PEBRIANI H

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian Laporan Keuangan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Untuk membelanjai operasi perusahaan dari hari ke hari, misalnya untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk membiayai aktivitas perusahaan sehari-hari misalnya untuk membeli bahan

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II URAIAN TEORITIS. Penelitian yang telah dilakukan Sitepu (2006) yang berjudul Analisis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kaitannya dengan operasional perusahaan sehari-hari. Modal kerja yang

BAB V SIMPULAN DAN SARAN. Tbk dari tahun 2002 hingga tahun 2004 dengan menggunakan metode analisis horizontal

BAB I PENDAHULUAN. persaingan antar perusahaan dalam melakukan kegiatan ekonomi menjadi sangat

BAB II KERANGKA TEORI. 2.1 Piutang (Accounts Receivable) kredit atas barang-barang yang dihasilkan oleh perusahaan.

BAB 1 PENDAHULUAN. Persaingan antar perusahaan yang semakin kompetitif dan kompleks mendorong

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB IV ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN. Laporan keuangan peruahaan merupakan sumber informasi bagi pihakpihak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB II LANDASAN TEORI. satunya Prof. Dr. Ridwan S. Sundjaja, Drs., M.S.B.A., & Dra. Inge Berlian, Ak,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk memenuhi kebutuhan tersebut ikut menentukan sampai seberapakah

BAB 1 PENDAHULUAN. Persaingan antar perusahaan yang semakin kompetitif. menyebabkan semua perusahaan yang bergerak di bidang produk dan jasa harus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk menghasilkan laba selama periode tertentu. Sedangkan Sartono. Setiap perusahaan selalu berusaha untuk meningkatkan

BAB I PENDAHULUAN. Situasi perekonomian global dan perdagangan bebas saat ini membuat

BAB II LANDASAN TEORI. Manajemen keuangan adalah aktivitas pemilik dan manajemen perusahaan untuk

BAB I PENDAHULUAN. Industry) dan produk yang dihasilkan pun bermacam-macam dengan semakin

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No.

BAB I PENDAHULUAN. berada dalam kondisi sehat akan mampu menghadapi tingkat persaingan dengan

BAB I PENDAHULUAN. Untuk dapat menjalankan usaha setiap perusahaan membutuhkan dana yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. dilakukan, penelitian-penelitian yang pembahasannya menguraikan satu topik dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN. ini tengah dirasakan oleh masyarakat. Perkembangan kondisi perekonomian. suplai, tingginya harga kebutuhan pokok dan harga energi.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Manajemen dan Kebijakan Modal Kerja 1 BAB 5 MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN MODAL KERJA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perusahaan adalah lapoaran keuangan. Laporan keuangan berisikan data-data

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

Transkripsi:

ANALISIS EFEKTIVITAS MANAJEMEN PIUTANG (STUDI KASUS PT.UNITEX TBK BOGOR) OLEH RIA AGUSTINA H24052360 DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

ABSTRAK Ria Agustina. H24052360. Analisis Efektivitas Manajemen Piutang (Studi Kasus PT. Unitex Tbk, Bogor). Dibawah bimbingan Farida Ratna Dewi. Perkembangan tekstil di Indonesia mengalami penurunan, diawali dengan guncangan moneter pada tahun 1997 yang berlanjut dengan stagflasi atau resesi yang diikuti oleh tingkat inflasi yang tinggi. Kondisi perekonomian Indonesia yang cenderung turun tersebut dialami oleh PT. Unitex Tbk Bogor yang terkena imbas. Dalam tiga tahun terakhir piutang perusahaan cenderung meningkat sehingga dapat mempengaruhi cash flow perusahaan. Menurut metode cash conversion cycle, piutang yang tidak diikuti dengan kegiatan penagihan yang baik akan menghambat cash flow perusahaaan untuk membeli persediaan dan mempertahankan kegiatan operasional yang berakibat pada likuiditas. Tujuan dari penelitian ini yaitu (1) mengetahui gambaran mengenai praktek manajemen piutang khususnya pada PT. Unitex, (2) menganalisis kinerja manajemen piutang PT. Unitex, (3) mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya piutang PT. Unitex dan (4) mengetahui keefektifan pengelolaan manajemen piutang PT. Unitex. Penelitian ini dilakukan dengan studi kasus di PT. Unitex Tbk Bogor. Pengumpulan data untuk keperluan penelitian pada bulan Februari April 2009, mencakup data tahun 2005-2007. Data sekunder diperoleh dari laporan keuangan perusahaan, laporan data klien perusahaan, dan data penunjang. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan pihak manajemen PT. Unitex Tbk Bogor. Pengolahan data bersumber dari laporan keuangan perusahaan yang kemudian digunakan untuk : (1) Analisis 5C, Analisis Rasio Keuangan, Analisis Horisontal dan Analisis Vertikal, Analisis Investasi Piutang yaitu untuk menganalisis kinerja piutang PT. Unitex Tbk Bogor, (2) Analisis Deskripsi Faktor-Faktor yang mempengaruhi besarnya piutang, (3) Analisis Umur Piutang setiap klien untuk keefektifan pengelolaan manajemen piutang. Hasil penelitian menyatakan pengelolaan piutang pada PT. Unitex kurang baik. Hal ini tergambarkan pada hasil analisis rasio keuangan: rasio likuiditas yang dihasilkan tidak likuid karena perusahaan belum mampu memenuhi kewajiban lancar. Sedangkan untuk rasio penagihan piutang selama 50-75 hari sudah baik jika diasumsi waktu pembayaran pelanggan selama 30-90 hari yang telah ditetapkan oleh perusahaan, analisis horizontal dan vertikal yang mengalami penurunan. Jika dilihat dari kondisi setiap pelanggan yang ada di PT. Unitex, sebagian besar pelanggan melakukan pembayaran secara tepat waktu sesuai dengan jatuh tempo yang disepakati, keterlambatan pembayaran yang terjadi hanya pada beberapa pelanggan saja dan keterlambatan ini terkadang disebabkan adanya kerusakan yang terjadi pada produk sehingga pelanggan akan mengeluarkan surat klaim kepada PT. Unitex. Sedangkan untuk faktor-faktor yang mempengaruhi, faktor yang paling berpengaruh adalah penjualan kredit, karena semakin tinggi penjualan kredit maka akan semakin banyak jumlah piutang. Dari hasil penelitian maka dirumuskan beberapa saran yaitu membentuk kelompok khusus dari staf officer, sebaiknya perusahaan meminta kepada pelanggan segera mengirimkan surat klaim pada PT. Unitex dan perusahaan sebaiknya menerapkan analisis 5C.

ANALISIS EFEKTIVITAS MANAJEMEN PIUTANG (STUDI KASUS PT. UNITEX, TBK BOGOR) SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI Pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor Oleh RIA AGUSTINA H24052360 DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

INSTITUT PERTANIAN BOGOR FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN ANALISIS EFEKTIVITAS MANAJEMEN PIUTANG (STUDI KASUS PT. UNITEX, TBK BOGOR) SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA EKONOMI Pada Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor Oleh RIA AGUSTINA H24052360 Menyetujui, Mei 2009 Farida Ratna Dewi, SE. MM Dosen Pembimbing Mengetahui, Dr. Ir. Jono M. Munandar, M. Sc. Ketua Departemen Manajemen Tanggal Lulus :

iv RIWAYAT HIDUP Penulis bernama Ria Agustina lahir di Bogor pada tanggal 29 Agustus 1987 dari pasangan Bapak Suparlan dan Ibu Supriyati Ningsih. Penulis adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Penulis menyelesaikan jenjang sekolah dasar pada tahun 1992 di TK Negeri Mexindo Bogor, lalu melanjutkan ke Sekolah Dasar Negeri Bangka IV Bogor. Pada Tahun 1999 Penulis melanjutkan pendidikan menengah pertama di SLTPN 3 Bogor dan melanjutkan pendidikan menengah umum di SMU PGRI 1 Bogor dan masuk program IPA pada Tahun 2002. Pada tahun 2005, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor melalui jalur Ujian Seleksi Masuk Institut Pertanian Bogor (USMI) di Tingkat Persiapan Bersama dan Pada tahun 2006 penulis diterima di Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Selama mengikuti perkuliahan, penulis pernah menjadi pengajar kumulasi akuntansi biaya yang diselenggarakan oleh Direktorat Finance Centre Of Management (Com@) tahun ajaran 2007/2008. Pada tahun 2007, penulis pernah mengikuti PKMI dalam bidang Humaniora dan lolos sebagai peserta yang didanai. Selain itu, penulis aktif dalam kegiatan kemahasiswaan sebagai staff Direktorat Produksi dan Operasi Centre Of Management (Com@) periode 2006-2008 serta aktif mengikuti kepanitiaan mahasiswa pada acara MPD, MPF, dan Seminar Kemahasiswaan. Kemudian penulis pernah ikut dalam kegiatan survei dalam program penanggulangan kemiskinan yang diselenggarakan oleh BAPPEDA kota Depok.

v KATA PENGANTAR Alhamdulillah penulis ucapkan atas segala rahmat yang telah dilimpahkan Allah SWT sehingga penulis akhirnya dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Skripsi ini diberi judul Analisis Efektivitas Manajemen Piutang (Studi Kasus PT. Unitex Tbk, Bogor). Judul ini dipilih penulis karena rasa ketertarikan terhadap proses piutang sebuah perusahaan. Disamping hal tersebut, skripsi ini juga merupakan salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. Penulis menyadari adanya keterbatasan dalam skripsi ini, namun penulis berharap semoga dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkannya. Serta segala kesalahan yang terjadi dalam penelitian ini, sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis terutama kepada : 1. Ibu Farida Ratna Dewi, SE, MM sebagai dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan baik secara teknis maupun teoritis dalam proses pembuatan skripsi ini sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik. 2. Ibu Ir. Anggraini Sukmawati, MM dan Ibu Wita Juwita Ermawati, STP, MM sebagai dosen penguji utama dalam sidang skripsi ini. Semua saran maupun kritik ibu merupakan hal yang sangat berharga dalam penyempurnaan skripsi ini. 3. Bapak Ir. Sukoco, Mba Dara, Ibu Dedeh dan seluruh staff officer PT. Unitex yang telah memberikan informasi dalam skripsi ini. 4. Seluruh staf pengajar dan karyawan/wati di Departemen Manajemen, FEM IPB. 5. Kedua orang tua penulis, yaitu ayah Suparlan (ALM) dan ibu Supriyati Ningsih, kakak (Suhartanto dan Sutriyono) dan adik (Sonny Supriyadi dan Ragil Prasetyo) tercinta penulis, serta keluarga besar Marimin dan keluarga

vi 6. besar Sanrusdi yang telah memberikan curahan kasih sayang, inspirasi, dukungan, doa dan motivasi selama ini. 7. Teman-teman satu tempat penelitian trio unitex yaitu Puti dan Mba Wulan yang sudah mau membantu ketika penelitian. 8. Temen-temen satu bimbingan yaitu Diah Rismayanti, Andri Yuhan Cahyana, dan Dedeh yang telah bersama-sama berkonsultasi dan saling memberikan semangat. 9. Sahabat ku Novi NS dan Fany yang selalu memberikan semangat dan masukan yang sangat berharga dalam penulisan skripsi ini. 10. Teman-teman ku Sandy, Tedi, Boy, Iswi, Tray, Maya, Phei, Heni, Irsam, Wibi, Iqbal, Momon, Galih, Eko, Uti, Oci, Ita yang telah memberikan semangat dan dukungan pada penulis. 11. Teman ku Yani Suryani Stastistik 42 yang telah membantu penulis dalam pengolahan data penelitian. 12. Rekan-rekan manajemen 42 yang selalu bersama-sama membuat kenangan indah selama kuliah. Tidak ada gading yang tak retak. Skripsi ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu, kritik dan saran diperlukan untuk hal yang lebih baik. Akhirnya, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat dan bernilai ibadah dalam pandangan ALLAH SWT. Amien. Bogor, Mei 2009 RIA AGUSTINA H24052360

DAFTAR ISI ABSTRAK Halaman RIWAYAT HIDUP... iv KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN I. PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Perumusan Masalah... 4 1.3. Tujuan Penelitian... 4 1.4. Manfaat Penelitian... 5 1.5. Ruang Lingkup Penelitian... 5 II. TINJAUAN PUSTAKA... 7 2.1. Efektivitas... 7 2.2. Piutang... 8 2.3. Manajemen Piutang... 9 2.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah Piutang... 9 2.5. Kebijakan Pemberian Piutang... 11 2.6. Penelitian Terdahulu...14 III. METODE PENELITIAN...15 IV. 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian...15 3.2. Lokasi Penelitian...17 3.3. Jenis dan Sumber Data...17 3.4. Pengumpulan dan Analisis Data...17 3.4.1 Analisis Penilaian Kinerja Piutang...18 HASIL DAN PEMBAHASAN...23 4.1. Gambaran Umum PT. UNITEX....23 4.1.1. Sejarah PT. UNITEX...23 4.1.2. Visi Dan Misi PT. UNITEX...24 4.1.3. Struktur Organisasi PT. UNITEX...25 4.1.4. Sumber Daya Manusia...26 4.1.5. Kegiatan PT. UNITEX...28 4.2. Identifikasi Praktek Manajemen Piutang...30 4.2.1. Proses Terjadinya Piutang PT. UNITEX...30 4.2.2. Pengelolaan Manajemen Piutang PT. UNITEX...30 v ix x xi

viii 4.2.3. Kebijakan Piutang PT. UNITEX...32 4.3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Piutang PT. UNITEX...33 4.4. Kondisi Piutang Usaha Setiap Pelanggan PT. UNITEX...34 4.5. Analisis Kinerja Piutang PT. UNITEX...45 4.5.1. Penilaian Kualitas Pelanggan Dengan Analisis 5C...45 4.5.2. Analisis Rasio...45 4.5.2.1. Rasio Likuiditas...45 4.5.2.2. Rasio Aktivitas...46 4.5.2.3. Rasio Solvabilitas...49 4.5.3. Analisis Struktural (Vertikal) Dan Analisis Perkembangan (Horizontal) PT. UNITEX...50 4.5.4. Analisis Investasi Piutang...52 4.6. Keefektifan Pengelolaan Piutang...53 4.7. Implikasi Manajerial...54 KESIMPULAN DAN SARAN...56 1. Kesimpulan...56 2. Saran...57 DAFTAR PUSTAKA...59 LAMPIRAN...60

ix DAFTAR TABEL No Halaman 1. Komposisi Karyawan... 27 2. Piutang PT. Dayani Garment Indonesia... 36 3. Piutang PT. Bengawan Solo Garment... 38 4. Piutang PT. Prima Jaya Pantes Garment... 40 5. Piutang PT. Sinar Budi Intraco... 42 6. Piutang PT.Dewshirst Menswear... 44 7. Rasio Likuiditas tahun 2005-2007... 46 8. Rasio Perputaran Piutang tahun 2005-2007... 47 9. Rasio Periode Penagihan Rata-rata Piutang tahun 2005-2007... 48 10.Rasio Solvabiltas Tahun 2005-2007... 49 12.Analisis Perkembangan (Horizontal) Laporan Laba/ rugi Tahun 2005-2007 PT. Unitex... 50 13.Analisis Perkembangan (Horizontal) Laporan Neraca Tahun 2005-2007 PT. Unitex... 50 14.Analisis Struktural (Vertikal) Laporan Laba/Rugi Tahun 2005-2007 PT. Unitex... 51 15.Analisis Struktural (Vertikal) Laporan Neraca Tahun 2005-2007 PT. Unitex... 52 16.Analisis Investasi Piutang... 53

x DAFTAR GAMBAR No Halaman 1. Rantai Perputaran Modal Kerja... 9 2. Kerangka Pemikiran Penelitian... 16 3. Logo PT. Unitex... 25 4. Struktur Organisasi... 26 5. Rasio Likuiditas Tahun 2005-2007... 46 6. Rasio Perputaran Piutang Tahun 2005-2007... 47 7. Rasio Periode Penagihan Rata-rata Piutang Tahun 2005-2007... 48 8. Rasio Solvabilitas Tahun 2005-2007... 49

xi DAFTAR LAMPIRAN No Halaman 1. Struktur Organisasi PT. Unitex... 61 2. Laporan Neraca PT. Unitex Periode Tahun 2005-2007... 62 3. Laporan Laba Rugi PT. Unitex Tahun 2005-2007... 63 4. Analisis Persentase Perkomponen (Vertikal) Laporan Neraca PT. Unitex... 64 5. Analisis Persentase Perkomponen (Vertikal) Laporan Laba/ Rugi PT. Unitex... 65 6. Analisis Trend (Horizontal) Laporan Laba/ Rugi PT. Unitex... 66 7. Analisis Trend (Horizontal) Laporan Neraca PT. Unitex... 67

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan industri tekstil di Indonesia mengalami penurunan, diawali dengan guncangan moneter pada tahun 1997 yang berlanjut dengan stagflasi atau resesi yang diikuti oleh tingkat inflasi yang tinggi. Indikator tersebut menunjukkan bahwa selama krisis ekonomi melanda Indonesia terjadi suatu perubahan yang tajam seperti tingkat inflasi sebesar 11,05% pada saat tahun 1997 kemudian menjadi 77,63% pada tahun 1998 yang merupakan puncak krisis ekonomi di Indonesia, hal ini disebabkan pada tahun 1998 harga-harga kebutuhan pokok yang sangat mahal maka kemampuan daya beli masyarakat untuk produk tekstil menjadi menurun dan perusahaan tekstil pun mengalami penurunan pendapatan yang cukup drastis. Industri tekstil merupakan dasar dari perkembangan industri-industri di Indonesia. Pada tahun 1953 industri tekstil menampakkan perkembangan yang berarti dengan diproduksinya kemeja untuk pasaran dalam negeri. Adapun industri pertekstilan yang relatif baru di Indonesia adalah industri serat sintesis, pemintalan dan pakaian jadi. Sektor ini mulai berkembang pesat sejak awal 1970 dan pada tahun 1980 Indonesia sudah melakukan kegiatan ekspor tekstil dan pakaian jadi dalam jumlah yang banyak. Sejak turunnya harga migas, industri tekstil telah berperan sebagai ujung tombak penghasil devisa (Malul, 2008). Pada tahun 2006 Indonesia memiliki perusahaan yang bergerak dalam bidang pertekstilan, jumlah industri tekstil Indonesia mencapai 2.699 perusahaan dengan total investasi Rp 135,7 triliun. Jumlah ini hanya mengalami sedikit kenaikan dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 2.656 perusahaan. Lokasi industri TPT (Tekstil dan Produk Tekstil) tersebar dibeberapa tempat seperti di Jawa Barat (57 persen), Jawa Tengah (14 persen), Jakarta (17 persen), dan sisanya di Jawa Timur, Bali, Sumatera dan Yogyakarta. Pada 2006 total kapasitas produksi mencapai 6,1 juta ton dengan utilitas 69,8 persen. Kapasitas produksi tersebut terdiri dari industri pemintalan 2,4 juta ton, industri pertenunan, perajutan, pencelupan dan finishing 1,8 juta ton, industri garmen 754 ribu ton dan tekstil lainnya 101 ribu ton. Kapasitas produksi ini mengalami kenaikan sebesar

2 1,7 juta ton dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar 5,86 juta ton (Miranti, 2007). Kondisi ini mengindikasikan industri tekstil sangat berpengaruh pada kondisi perekonomian suatu negara dan dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan negara. Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki perusahaan tekstil terbanyak, hal ini dapat dilihat pada 2006 industri ini memberikan kontribusi sebesar 11,7 persen terhadap total ekspor nasional, 20,2 persen terhadap surplus perdagangan nasional, dan 3,8 persen terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Sementara daya serap industri ini terhadap tenaga kerja mencapai 1,84 juta tenaga kerja. Namun industri tekstil ini memiliki permasalahan yaitu usia mesin-mesin yang sudah sangat tua, menurut catatan Departemen Perindustrian dari seluruh mesin TPT yang ada (8,38 juta unit mesin pada 2006) sekitar 80 persen diantaranya telah berusia diatas 20 tahun. Ini menyebabkan produktivitas menurun hingga 50 persen sedangkan untuk industri pemintalan jumlah mesin yang berusia diatas 20 tahun mencapai 64 persen (5.025.287 mata pintal dari 7.803.241 mata pintal). Di industri pertenunan jumlahnya mencapai 82,1 persen (204.393 ribu alat tenun mesin dibanding 248.957 unit), perajutan 84%, finishing 93% dan pakaian jadi atau garmen 78%. Dengan kondisi mesin-mesin yang sudah sangat tua tersebut, produktivitas industri TPT Indonesia diperkirakan menurun hingga 50 persen. Selain itu permasalahan lainnya adalah maraknya tekstil impor illegal yang masuk ke pasar domestik terutama dari cina dan biaya energi yang mahal merupakan permasalahan lain yang cukup mengganggu daya saing produk tekstil Indonesia. Pada 2005 biaya listrik yang dikeluarkan industri TPT Indonesia mencapai US$ 0.08 (8 cent/kwh tertinggi dibanding negara lain yang hanya sebesar 7,6 cent/kwh di China, 7 cent/kwh di Vietnam, 6,6 cent/kwh di Pakistan, dan 3 cent/kwh di Bangladesh dan Mesir) dan kebutuhan listrik belum mampu dipenuhi secara optimal oleh PLN. Melihat permasalahan yang dihadapi industri tekstil di Indonesia yang seperti itu, dapat mengakibatkan cash flow perusahaan mengalami perubahan dan kinerja perusahaan menurun. Kinerja perusahaan yang menurun tersebut akan mengakibatkan pada daya saing yang lemah, dengan persaingan semakin

3 meningkat maka perusahaan harus membuat suatu strategi agar perusahaan tidak mengalami penurunan yang cukup parah hingga kebangkrutan. Salah satu cara untuk mengatasi situasi tersebut, perusahaan dapat melakukan sistem penjualan secara kredit dengan menetapkan jangka waktu pembayaran utang pelanggan kepada perusahaan. Jangka waktu itu bertujuan agar para kreditur dapat membayar kewajibannya dengan tepat waktu, biasanya perusahaan secara umum memberikan batas waktu pembayaran antara 30 hari hingga 90 hari. Dengan melakukan penjualan secara kredit dapat menarik pelanggan untuk membeli produk tekstil, karena dengan diberikan kelonggaran dalam pembayaran pelanggan dapat mengatur keuangannya dan perusahaan pun dapat menarik pelanggan lebih banyak lagi. Penjualan secara kredit ini pun harus diikuti dengan usaha penagihan utang para kreditur agar perusahaan dapat tetap dapat mempertahankan kegiatan operasional. Namun penjualan kredit ini pun mendatangkan risiko yang cukup tinggi apabila para kreditur tersebut tidak dapat membayar pada waktunya sehingga perusahaan perlu mengelola piutang yang terjadi. Menurut metode cash conversion cycle, piutang yang tidak diikuti dengan kegiatan penagihan yang baik akan menghambat cash flow perusahaaan untuk membeli persediaan dan mempertahankan kegiatan operasional yang berakibat pada likuiditas. Jika peningkatan piutang tidak diikuti dengan usaha penagihan maka akan memperbesar jumlah piutang ragu-ragu pada perusahaan dan semakin besarnya piutang ragu-ragu maka likuiditas yang dimiliki perusahaan cenderung semakin kecil PT. Unitex merupakan salah satu perusahaan patungan Indonesia Jepang yang bergerak dalam bidang tekstil terpadu (Fully integrated textile manufacture) yang mengolah bahan baku tekstil terpadu yang diolah menjadi bahan jadi kain. PT. Unitex menetapkan sistem penjualan kredit secara keseluruhan sehingga akan memunculkan sebuah piutang usaha, dimana piutang usaha pada PT. Unitex merupakan komponen penting kedua dalam aktiva lancar sehingga PT. Unitex membutuhkan sebuah menajemen piutang.

4 1.2. Perumusan Masalah Kondisi yang dihadapi PT. Unitex membuktikan bahwa suatu perusahaan memerlukan sebuah strategi bisnis yang tepat untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat. Persaingan yang dihadapi PT. Unitex adalah adanya persaingan antara para perusahaan tekstil yang ada di Indonesia namun persaingan yang terjadi masih bersifat wajar dan sehat. Dalam mengatasi persaingan tersebut, PT. Unitex melakukan transaksi penjualan produk tekstil secara kredit, dimana PT Unitex memberikan jangka waktu pelunasan piutang selama 30 hari hingga 90 hari. Penjualan kredit ini diikuti dengan usaha penagihan kepada para kreditur agar kondisi keuangan perusahaan tetap terjaga dan penagihan piutang yang dilakukan masih terdapat keterlambatan pelanggan untuk membayar. Piutang setiap para pelanggan akan selalu tercatat dalam laporan keuangan perusahaan untuk setiap bulannya. Strategi bisnis yang dapat dilakukan berupa pengelolaan piutang secara efektif agar bisnis dapat berjalan dengan lancar dan dapat meningkatkan tingkat profitabilitas. Berdasarkan uraian diatas maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan diteliti antara lain: 1. Bagaimana gambaran mengenai praktek manajemen piutang pada PT. Unitex? 2. Bagaimana kinerja manajemen piutang PT. Unitex? 3. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi besarnya piutang PT. Unitex? 4. Bagaimana keefektifan pengelolaan manajemen piutang PT. Unitex? 1.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan dilakukannya penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui gambaran mengenai praktek manajemen piutang khususnya pada PT. Unitex. 2. Menganalisis kinerja manajemen piutang PT. Unitex. 3. Mengidentifikasi Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya piutang PT. Unitex.

5 4. Mengetahui keefektifan pengelolaan manajemen piutang PT. Unitex. 1.4. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan masukan bagi pihak yang memerlukannya diantaranya adalah: 1. Bagi perusahaan, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai masukan dalam penetapan kebijaksanaan, pertimbangan dalam penyusunan perencanaan, dan strategi dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan manajemen atau pengelolaan piutang. 2. Bagi pihak lain, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai referensi untuk penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan topik yang sama. 1.5. Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini diarahkan pada bagaimana perusahaan melakukan pengelolaan piutang perusahaan yang dapat mempengaruhi keefektifan kinerja perusahaan. Penelitian ini difokuskan pada pengelolaan atau manajemen piutang PT. Unitex, kinerja manajemen piutang PT. Unitex, faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian piutang kepada para kreditur sesuai dengan kebijakan piutang perusahaan dan keefektifan pengelolaan piutang perusahaan.

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Efektivitas Pengertian efektivitas menurut handoko dalam sari widhiyani merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat atas pencapaian tujuan yang telah ditetapkan, menyangkut bagaimana melakukan pekerjaan yang benar. Efektivitas merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh tujuan tercapai, baik secara kualitas maupun waktu orientasinya pada keluaran yang dihasilkan. Efektivitas dapat diartikan sebagai tingkat atau derajat pencapaian hasil yang diharapkan, semakin besar hasil yang dicapai maka akan berarti semakin efektif. Efektivitas adalah menggambarkan seluruh siklus input-proses-output. Adapun efektivitas kinerja organisasi dalam melakukan pekerjaan, pada hakekatnya para pekerja memerlukan rasa aman, yang mempunyai kaitan dengan 1). Jaminan masa depan, 2). Suasana organisasi yang memberikan kesempatan untuk berkembang, tanpa adanya ancaman-ancaman, 3). Hubungan antara atasan dan bawahan yang manusiawi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa efektivitas kinerja organisasi merupakan susunan dari beberapa orang secara rapi yang menggambarkan seluruh siklus input-proses-output untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Menurut Soekarno K dalam Sari Widhiyani efektif adalah pencapaian tujuan atau hasil dikehendaki tanpa menghiraukan faktor-faktor tenaga, waktu, biaya, pikiran alat dan lain-lain yang telah dikeluarkan atau digunakan. Hal ini berarti bahwa pengertian efektivitas yang dipentingkan adalah semata-mata hasil atau tujuan yang dikehendaki. Sedangkan yang dimaksud kinerja adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan cara tertentu untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Namun demikian, efektivitas kinerja organisasi lebih banyak dari jumlah efektivitas individu dan kelompok. Organisasi mampu mendapatkan hasil kinerja untuk lebih tinggi tingkatannya dari pada jumlah hasil kinerja setiap bagiannya. Jadi pengertian efektivitas kinerja organisasi adalah pencapaian tujuan atau hasil yang dilakukan dikerjakan oleh setiap individu secara bersama-sama.

7 2.2. Piutang Menurut Niswonger (1999) piutang merujuk pada claims (tagihan) dalam bentuk uang terhadap entitas lainnya, termasuk individu, perusahaan atau organisasi sehingga piutang merupakan bagian yang signifikan dari aktiva lancar perusahaan. Sedangkan pengertian piutang secara khusus adalah suatu perkiraan yang timbul akibat adanya tambahan kegiatan perusahaan dalam pemberian kredit. Menurut Munawir (1995) piutang dagang adalah tagihan kepada pihak lain (kepada kreditor atau langganan) sebagai akibat adanya penjualan barang dagangan secara kredit. Pada dasarnya piutang bisa timbul tidak hanya karena penjulan barang dagangan secara kredit, tetapi karena hal-hal lain misalnya piutang kepada pegawai, piutang karena penjualan aktiva tetap secara kredit, piutang karena adanya penjualan saham secara angsuran, atau adanya uang muka untuk pembelian atau kontrak kerja lainnya. Piutang-piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan harus disajikan dalam neraca secara informatif. Menurut Warren (2005) piutang (receivable) meliputi semua klaim dalam bentuk uang terhadap pihak lainnya, termasuk individu, perusahaan, atau organisasi lainnya. Piutang biasanya memiliki bagian yang signifikan dari total aktiva lancar perusahaan. Terdapat klasifikasi piutang sebagai berikut : 1. Piutang usaha merupakan transaksi paling umum yang menciptakan piutang, penjualan barang dagang atau jasa secara kredit. Piutang dicatat dengan mendebit piutang usaha. Piutang usaha semacam ini normalnya diperkirakan akan tertagih dalam periode waktu yang relatif pendek, seperti 30 atau 60 hari. 2. Wesel tagih (notes receivable) adalah jumlah yang terutang bagi pelanggan di saat perusahaan telah menerbitkan surat utang formal. Sepanjang wesel tagih diperkirakan akan tertagih dalam setahun, wesel biasanya digunakan untuk periode kredit lebih dari enam puluh hari dan digunakan untuk menyelesaikan piutang usaha pelanggan. 3. Piutang lain-lainnya biasanya disajikan secara terpisah dalam neraca, jika piutang ini diharapkan akan tertagih dalam satu tahun maka piutang tersebut diklasifikasikan sebagai aktiva lancar. Jika penagihannya lebih

8 dari satu tahun, maka piutang ini diklasifikasikan sebagai aktiva tidak lancar dan dilaporkan di bawah judul investasi. Contoh piutang lainnya meliputi piutang bunga, piutang pajak, dan piutang dari pejabat atau karyawan perusahaan. 2.3. Manajemen Piutang Pada umumnya perusahaan lebih menyukai transaksi tunai daripada kredit tetapi untuk menghadapi persaingan bisnis, tidak jarang perusahaan melakukan transaksi dalam bentuk kredit, sehingga muncul suatu piutang. Piutang timbul dari penjualan atau transaksi semacam ini biasanya diklasifikasikan sebagai piutang usaha atau wesel tagih. Istilah piutang (receivable) meliputi semua klaim dalam bentuk uang terhadap entitas lainnya termasuk individu, perusahaan, atau organisasi lainnya, sehingga piutang merupakan bagian yang signifikan dari total aktiva lancar perusahaan (Niswonger, et,al,1999). Menurut Brigham dan Houston (2001), manajemen piutang dimulai dengan keputusan apakah akan memberikan kredit atau tidak, dalam manajemen piutang juga ada cara-cara piutang perusahaan dibentuk dan beberapa cara alternatif untuk memantau piutang. Sistem pemantauan digunakan, karena jika tidak piutang akan menumpuk menjadi suatu yang berlebihan, arus kas menurun dan piutang tak tertagih menutupi laba dari penjualan. Manajemen piutang mempelajari bagaimana piutang bisa dikelola dengan efisien. Rata-rata saldo piutang ditentukan oleh dua faktor yaitu penjualan kredit per hari dan jumlah harihari rata periode pengumpulan piutang. Keduanya sangat tergantung pada kebijakan kredit yang dijalankan oleh perusahaan. Piutang mengandung risiko berupa kegagalan penagihan atau biasa disebut bad debts, kemungkinan risiko ini akan semakin kecil apabila perusahaan hanya melakukan penjualan kredit kepada pelanggannya yang terkuat saja. Resiko piutang adalah tidak tertagih dan akan menimbulkan credit cost (biaya kredit). Biaya kredit tersebut adalah : a. Kegagalan memenuhi default (kewajiban) atau kerugian piutang macet b. Biaya penelitian dan penagihan yang lebih tinggi

9 c. Bertambah besarnya modal dan biaya modal yang terikat dalam rekeningrekening piutang yang kurang layak (mereka yang membayar lambat), sehingga rata-rata jangka waktu penagihan menjadi bertambah panjang. Kebijaksanaan kredit suatu perusahaan merupakan suatu alat persaingan dengan perusahaan-perusahaan lain. Perluasan pemberian kredit ini hampir sama dengan kebijaksanaan pengurangan harga oleh perusahaan. Antara kebijaksanaan kredit suatu perusahaan dengan tingkat penjualannya terdapat hubungan yang erat. Manajemen keuangan dari perusahaan itulah yang menetapkan kebijaksanaan kredit. Menurut Susilo (2004) kebijaksanaan manajemen kredit suatu perusahaan ada tiga variabel utama yaitu: 1. Credit Standard Menentukan siapa yang pantas untuk diberikan kredit. 2. Credit Terms Menentukan kondisi dimana waktu kredit dapat diperpanjang, contoh: perpanjangan waktu sampai 60 hari credit terms 30 hari. 3. Collection Policies Menentukan seberapa agresif perusahaan tersebut akan mengejar orang yang tidak membayar hutang atau terlambat membayar hutangnya. 2.4. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah Piutang Dalam rangka memperbesar volume penjualan, perusahaan menjual produknya secara kredit. Penjualan kredit tidak langsung menambah kas, tetapi menimbulkan piutang dan baru kemudian pada waktu jatuh tempo baru terjadi aliran cash flow. Oleh karena itu piutang merupakan elemen modal kerja yang selalu berputar secara terus-menerus dalam perputaran modal kerja. Piutang Kas Inventory Gambar 1 : Rantai Perputaran Modal Kerja ( Riyanto, 1991)

10 Dalam keadaan normal dan penjualan dilakukan secara kredit, piutang mempunyai tingkat likuiditas yang jauh lebih tinggi daripada inventory, karena perputaran piutang ke kas membutuhkan satu langkah saja. Menurut Bambang Riyanto menetapkan faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya investasi dalam piutang adalah a. Volume Penjualan Kredit Makin besar proporsi penjualan kredit dari keseluruhan penjualan maka semakin besar jumlah investasi dalam piutang. Semakin besar volume penjualan kredit dari setiap tahun berarti perusahaan itu harus menyediakan investasi yang lebih besar lagi dalam piutang. Semakin besar jumlah piutang maka semakin besar resiko. b. Syarat Pembayaran Penjualan Kredit Syarat ini dapat bersifat ketat atau lunak. Jika perusahaan menetapkan pembayaran ketat berarti perusahaan lebih mementingkan keselamatan kredit daripada profitabilitas. c. Ketentuan Tentang Pembatasan Kredit Perusahaan dalam hal ini dapat menetapkan batas maksimal atau plafond bagi kredit yang diberikan pelanggan. Semakin besar plafond maka semakin besar dana yang diinvestasikan dalam piutang. d. Kebijakan dalam Mengumpulkan Piutang Perusahaan dapat menjalankan kebijakan dalam mengumpulkan piutang secara aktif maupun pasif. Perusahaan yang menjalankan kebijakan ini secara aktif mempunyai pengeluaran yang lebih besar untuk membiayai kegiatan pengumpulan piutang tersebut dibandingkan perusahaan yang menjalankan secara pasif. e. Kebiasaan Membayar dari Para Pelanggan Ada pelanggan yang suka membayar dengan menggunakan cash discount dan ada juga pelanggan yang tidak menggunakan kesempatan ini. Hal ini tergantung dari cara penilaian mereka mana yang lebih menguntungkan dari kedua alternatif tersebut.

11 2.5. Kebijakan Pemberian Piutang Kebijaksanaan pemberian piutang merupakan salah satu alat yang dapat ditempuh dalam usaha untuk mencairkan piutang yang telah jatuh tempo. Kebijaksanaan ini bertujuan untuk mempercepat pembayaran piutang yang menunggak dan membatasi kerugian-kerugian atas piutang tersebut. Dengan demikian kebijaksanaan penagihan piutang memerlukan sejumlah biaya untuk menagih dan berpengaruh terhadap keuntungan maupun hilangnya hubungan baik terhadap pelanggan. Untuk mencegah hal tersebut dalam pemberian piutang perlu mendapatkan perhatian khusus dari pimpinan perusahaan agar dapat bertambah langganan. Menurut Brigham dan Houston (2001), kebijakan investasi dalam piutang yang diterapkan dalam perusahaan ada tiga tipe yaitu: 1. Kebijakan investasi dalam piutang longgar yaitu suatu kebijakan dimana penjualan kredit digalakkan dengan kebijakan penjualan kredit yang longgar sehingga mengakibatkan tingkat piutang usaha yang tinggi. 2. Kebijakan investasi dalam piutang yang ketat yaitu suatu kebijakan di mana perusahaan berusaha untuk meminimumkan piutang usaha. Dengan meningkatkan syarat kredit, memperpendek periode kredit dan kebijakan penagihan yang ketat. 3. Kebijakan investasi dalam piutang yang moderat yaitu suatu kebijakan piutang di antara kebijakan longgar dan ketat. Menurut Sartono dalam Susilo (2004) untuk menentukan kebijakan kredit yang optimal, manajer keuangan harus mempertimbangkan beberapa variabel yang berkaitan dengan piutang yang meliputi: 1. Standar Kredit Standar kredit adalah salah satu kriteria yang dipakai perusahaan untuk menyeleksi para pelanggan yang akan diberi kredit dan berapa jumlah yang harus diberikan. Hal ini menyangkut kebiasaan langganan dalam membayar kembali, kemungkinan langganan tidak membayar kredit yang diberikan dan rata-rata jangka waktu pembayaran para langganan. Semakin lama jangka waktu pengumpulan piutang berarti semakin besar investasi pada piutang dan biaya yang timbul juga semakin besar.

12 2. Persyaratan Kredit Persyaratan kredit adalah kondisi yang disyaratkan untuk pembayaran kembali piutang dari para pelanggan. Kondisi tersebut meliputi lama waktu pemberian kredit dan potongan tunai serta persyaratan khusus lainnya. Persyaratan kredit ini dapat mempengaruhi tingkat penjualan, dengan demikian perusahaan perlu mempertimbangkan apakah sebaiknya memperpanjang periode pemberian kredit atau tidak. Untuk itu perlu pesaing juga diperhatikan perilaku para pesaingnya. Apakah pesaing juga memperpanjang periode pembayaran kembali, jika hal tersebut dilakukan maka besar kemungkinan setiap perusahaan hanya akan mencapai tingkat penjualan yang sama. 3. Kebijakan Kredit dan Pengumpulan Piutang Kebijakan kredit dan pengumpulan piutang mencakup beberapa keputusan yaitu: Kualitas account accepted Periode kredit Potongan tunai Persyaratan khusus Tingkat pengeluaran untuk pengumpulan piutang Menurut Barlian dan Sundjaja (2003) terdapat lima dimensi utama untuk menganalisis pemohon kredit yaitu: 1. Karakter Meneliti dan memperhatikan sifat pribadi, cara hidup, status sosial dan lain-lain. Hal ini penting karena berkaitan dengan kemauan untuk membayar. 2. Kemampuan Meneliti kemampuan pimpinan perusahaan beserta stafnya dalam meraih penjualan atau pendapatan yang dapat diukur dari penjualan yang dicapai pada masa lalu dan juga keahlian yang dimiliki dalam bidang usahanya.

13 3. Kapital Mengukur posisi keuangan secara umum dengan memperhatikan kapital atau modal yang dimiliki perusahaan dan juga perbandingan hutang dan kapital. 4. Kolateral Mengukur besarnya aktiva yang akan diikatkan sebagai kolateral atas kredit. 5. Kondisi Memperhatikan kondisi perekonomian pada umumnya serta kecenderungan perekonomian yang akan mempengaruhi terhadap jalannya usaha perusahaan. Kebijakan penagihan piutang adalah sekumpulan prosedur penagihan piutang dagang pada saat jatuh tempo. Pendekatan umum yang digunakan untuk mengevaluasi kredit dan kebijakan penagihan meliputi: Rasio rata-rata periode tagih Pengumuman piutang Adapun teknik-teknik penagihan yang biasa dilakukan adalah: Mengirim surat Menelpon Mendatangi Menggunakan agen atau orang lain Perusahaan dapat menggunakan orang atau Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN). Tindakan secara hukum perdata Asuransi kredit dibentuk dengan maksud untuk melindungi manufaktur, pengecer, perusahaan jasa dan perusahaan lain terhadap kerugian kredit yang tidak diharapkan. Dalam penagihan piutang manajer keuangan harus menetapkan waktu penagihan rata-rata yang diterima atau tingkat hari penjualan yang beredar juga rasio total piutang tak tertagih terhadap total pendapatan operasi yang dilakukan.

14 2.6. Penelitian Terdahulu Susilo (2004) dalam penelitiannya yang berjudul Kajian Manajemen Piutang PT Sucofindo (Persero) Jakarta, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pengelolaan piutang, faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya piutang dan pengelolaan piutang yang optimal. Pengolahan data bersumber dari laporan keuangan perusahaan kemudian digunakan untuk: 1) Analisis rasio dan analisis horisontal yang meliputi rasio perputaran piutang, rasio hari rata-rata pengumpulan piutang dan merasiokan piutang dengan berbagai perkiraan yang berkaitan dengan piutang, 2) Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya piutang dengan analisis regresi, 3) Analisis investasi piutang untuk menganalisis apakah dengan memberikan piutang dapat diperoleh manfaat yang lebih tinggi daripada biaya investasi yang dikeluarkan perusahaan, 4) Analisis biaya yang ditimbulkan oleh piutang sehingga dapat diperoleh jumlah proporsi piutang yang optimal. Hasil penelitian kinerja piutang PT. Sucofindo (persero) selama lima tahun periode menunjukkan pengelolaan yang tidak efektif, oleh sebab itu PT. Sucofindo (persero) dalam mengelola piutang harus melakukan kebijaksanaan pengelolaan piutang dengan ketat dan selektif terhadap calon pelanggannya. Maya (2005) dalam penelitiannya yang berjudul Efektivitas Piutang dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Besarnya Piutang PT. Biro Klasifikasi Indonesia (persero), penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran praktek manajemen piutang pada PT Biro Klasifikasi Indonesia, mengidentifikasi dan menganalisis keefektifan manajemen piutang terhadap profitabilitas. Pengolahan data yang dilakukan secara manual dan komputerisasi adalah analisis horizontal, analisis vertikal, analisis rasio dan analisis profitabilitas. Dari hasil penelitian menyatakan pengelolaan piutang PT Biro Klasifikasi Indonesia kurang baik, hasil yang diperoleh dari setiap analisis yang ada hasilnya dibawah standar umum yang ditetapkan dan adapun beberapa saran yaitu membentuk kelompok khusus dari staf-staf untuk mengikuti pelatihan agar dapat memantau piutang dan melakukan penagihan dan pemberian insentif karyawan yang berhasil menagih piutang.

III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penelitian Salah satu metode yang digunakan untuk mengetahui perkembangan pengelolaan piutang PT Unitex dengan menggunakan informasi melalui data tertulis dari perusahaan yaitu dengan data laporan keuangan perusahaan, serta daftar umur piutang perusahaan. Kondisi piutang perusahaan digunakan sebagai dasar untuk menentukan atau menilai pengelolaan piutang perusahaan apakah dalam keadaan membaik, bertahan, atau memburuk. Dalam penelitian ini untuk mengetahui bagaimana kondisi manajemen piutang perusahaan dilakukan dengan beberapa analisis dengan laporan keuangan sebagai sumber data, analisis yang dilakukan antara lain : 1. Analisis Kredit Standar adalah persyaratan minimum atas kemampuan keuangan dari perusahaan agar dapat membayar secara kredit. Analisis ini mencakup : Karakter (Character) Kemampuan (Capacity) Kapital (Capital) Kolateral (Collateral) Kondisi (Condition) 2. Analisis Rasio Keuangan yang terdiri dari Likuiditas Ratio, Activity Ratio dan Solvabilitas Ratio. 3. Analisis Horizontal dan Vertikal yang merupakan analisis yang digunakan untuk membandingkan antar tahun untuk melihat perubahan yang terjadinya dari tahun sebelumnya, dimana analisis ini menggunakan data laporan keuangan perusahaan. 4. Analisis Investasi piutang, yang digunakan untuk menganalisis apakah dengan memberikan piutang dapat diperoleh manfaat yang lebih tinggi daripada biaya investasi yang dikeluarkan perusahaan. 5. Analisis deskriptif yang digunakan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi jumlah piutang PT. Unitex.

16 Hasil dari kelima analisis tersebut menjadi dasar untuk mengetahui dan menganalisis alternatif - alternatif pengelolaan manajemen piutang yang efektif pada PT. Unitex. Manajemen piutang yang efektif dapat memiliki pengaruh yang penting dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan uang tunai PT. Unitex karena piutang merupakan komponen kedua setelah persediaan dalam aktiva lancar perusahaan. PT Unitex Tbk Manajemen Faktor-faktor yang mempengaruhi piutang Eksternal : Tingkat Inflasi dan Kurs Rupiah Internal: Tingkat Penjualan Kredit Neraca Laba Analisis Rasio Keuangan Analisis Vertikal (struktur)dan Horizontal Analisis Investasi Piutang Analisis 5C: Character, Capital, Collateral, Condition,Capacity Efektivitas Pengelolaan Piutang Gambar 2. Kerangka Pemikiran Penelitian

17 3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di PT Unitex Tbk Bogor yang bertempat di Jalan Raya Ciawi no 1. Pemilihan lokasi ini dilakukan dengan pertimbangan perusahaan tersebut merupakan salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia dan sudah menjadi perusahaan Go Public. Waktu penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan yaitu dari bulan Februari sampai April 2009. 3.3. Jenis dan Sumber Data Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder, baik berupa kualitatif maupun kuantitatif. Berikut ini sumber data tersebut yaitu Data Primer Data primer diperoleh dari pengamatan langsung pada PT Unitex dan wawancara langsung dengan pihak manajemen terutama yang memiliki tugas dalam pengelolaan piutang pada para pelanggan. Pemilihan narasumber dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa orang yang diwawancara ahli dalam bidangnya. Hal ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh mengenai keadaan usaha yang berkaitan dengan topik penelitian. Data Sekunder Data sekunder diperoleh dari laporan keuangan perusahaan, laporan manajemen perusahaan tahunan, dokumen mengenai sejarah dan profil perusahaan dan sebagai data penunjang diperoleh melalui studi pustaka, media massa, artikel, internet, dan buku-buku yang berhubungan dengan penelitian. 3.4. Metode Pengolahan dan Analisis Data Data yang diperoleh diolah baik secara manual maupun secara komputerisasi dengan menggunakan analisis rasio, analisis horizontal, analisis vertikal, analisis investasi piutang dan analisi deskripsi untuk mengetahui faktorfaktor yang mempengaruhi besarnya piutang pelanggan. Data yang diolah dalam bentuk tabel dan grafik agar mudah dibaca dan dimengerti. Pendekatan yang

18 dilakukan dalam pengolahan hasil dan analisis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah pendekatan akuntansi. 3.4.1. Analisis Penilaian Kinerja Piutang Analisis kinerja piutang dapat dilaksanakan dengan menggunakan analisis risiko kredit, analisis rasio, analisis horizontal, analisis vertikal, dan analisis investasi piutang. Analisis ini digunakan untuk mengetahui kondisi dan perkembangan kinerja piutang perusahaan, apakah dalam keadaan naik, tetap, atau turun. Berikut ini adalah analisis yang digunakan: A. Analisis Risiko Kredit Risiko kredit adalah risiko tidak terbayarnya kredit yang telah diberikan kepada para langganan kita. Sebelum memutuskan untuk menyetujui permintaan atau penambahan kredit oleh para pelanggan, sehingga perlu mengadakan evaluasi risiko kredit dari para pelanggan. Untuk menilai risiko kredit, credit manager harus mempertimbangkan berbagai faktor yang menentukan besar kecilnya tersebut. Pada umumnya perusahaan dalam mengadakan penilaian risiko kredit dengan memperhatikan lima C yaitu: Character, Capacity, Collateral, dan Condition dan analisis risiko kredit secara deskriptif ( Riyanto, 1991 ). B. Analisis Rasio Analisis rasio ini digunakan untuk melihat perkembangan kinerja keuangan perusahaan agar pelanggan bersedia untuk membeli produk secara kredit dan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jalannya perusahaan. Dalam menganalisis itu digunakan rasio sebagai berikut: 1. Rasio Likuiditas Rasio likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang jatuh tempo. Rasio ini dapat menginterpretasikan posisi keuangan jangka pendek, rasio likuiditas terdiri dari :

19 Rasio Cepat (Quick Ratio) Rasio cepat merupakan perbandingan antara aktiva lancar dikurangi persediaan dengan utang lancar. Persediaan dianggap aktiva lancar yang kurang likuid. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Rasio Cepat = Aktiva Lancar Persediaan. (1) Kewajiban Lancar Rasio Lancar (Current Ratio) Rasio ini dihitung dengan membagi aktiva lancar dengan kewajiban lancar. Rasio ini menunjukkan besarnya kewajiban lancar yang ditutup dengan aktiva yang diharapkan akan dikonversi menjadi kas dalam jangka pendek. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Rasio Lancar = Aktiva Lancar... (2) Kewajiban Lancar 2. Rasio Aktivitas Rasio aktivitas merupakan seperangkat rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan mengelola aktivanya. Rasio aktivitas terdiri atas: Rasio Perputaran Piutang (Account Receivable Turn-Over Ratio) Rasio ini menunjukkan berapa kali perusahaan menagih piutangnya dari penjualan dalam satu periode. Semakin tinggi rasio maka modal kerja yang ditawarkan dalam piutang rendah, sebaliknya jika rasio ini semakin rendah berarti over investment yang dapat mengakibatkan semakin besar piutang artinya perusahaan tidak efektif dalam melakukan penagihan. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Account Receivable Turn Over = Penjualan (3) Piutang

20 Periode Penagihan rata-rata (Average Collection Period) Rasio ini menunjukkan jangka waktu rata-rata yang harus ditunggu perusahaan setelah melakukan penjualan sebelum menerima kas. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: Average Collection Period = Piutang Penjualan Kredit (4) / 360 Dari perhitungan tersebut dapat diketahui apakah hari rata-rata penagihan piutang realisasi sesuai dengan standar atau tidak. Apabila hari rata-rata penagihan piutang selalu lebih besar daripada batas waktu pembayaran yang telah ditetapkan tersebut berarti bahwa cara penagihan piutang kurang efisien. 3. Rasio Solvabilitas Rasio solvabilitas mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar utang-utangnya, baik utang jangka pendek maupun utang jangka panjang. Solvabilitas diukur dengan perbandingan antar total aktiva dengan total utang. Rasio-rasio yang digunakan adalah: Debt to Equity Ratio (DER) Rasio ini menggambarkan perbandingan utang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan tersebut untuk memenuhi seluruh kewajibannya. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut: DER = Total Debt. (5) Total Equity Rasio Modal Sendiri dengan Total Aktiva Rasio ini menunjukkan pentingnya dari sumber modal pinjaman dan tingkat keamanan yang dimiliki kreditur. Semakin tinggi rasio ini berarti semakin kecil jumlah modal yang digunakan untuk membiayai perusahaan. Rasio Modal dengan Aktiva = Modal Sendiri.. (6) Total Aktiva

21 C. Analisis Horisontal (Trend) dan Analisis Vertikal Analisis Horisontal (Trend) Analisis trend adalah analisis yang membandingkan pos-pos laporan keuangan untuk beberapa periode akuntansi dengan menggunakan tahun dasar (Munawir,1995). Analisis ini merupakan pelengkap bagi analisis rasio, dimana hasil dari analisis ini akan digunakan sebagai dasar dalam melakukan interpretasi hasil analisis rasio dalam melakukan analisis ini dibutuhkan tahun dasar. Secara sistematis analisis trend ini dirumuskan sebagai berikut: Pxt Rxt x 100%... (7) Pxo Ket : Rxt = nilai % untuk tahun ke-t Pxt = pos x dalam laporan keuangan yang akan dianalisis Pxo = pos x dalam laporan keuangan sebagai tahun dasar Analisis Vertikal (Struktural) Analisis vertikal adalah analisis proporsi item-item laporan keuangan terhadap sesuatu nilai dalam laporan keuangan yang umumnya yaitu laporan laba rugi dan neraca keuangan. Rumus dari analisis ini sebagai berikut: Pyi Ryi x 100%... (8) Pyo Ket : Ryi = nilai persentase pos yang dibandingkan Pyi = pos x dalam laporan keuangan tahun ke-i Pyo = pos dasar sebagai pembanding D. Analisis Investasi Piutang Metode yang biasa dilakukan untuk analisis investasi piutang pada umumnya sama dengan analisis investasi pada barang modal, yaitu dengan metode Net Present Value (NPV). Dalam metode NPV ini, menurut Sartonis dalam Susilo (2004) yaitu menyusun model

22 keputusan kebijakan kredit yang memadukan semua manajemen aktiva lancar dengan tujuan memaksimumkan nilai perusahaan. Dalam analisis investasi piutang ditentukan juga dengan jumlah investasi yang tepat pada setiap periode yang diharapkan mendekati kenyataan dengan rata- rata investasi piutang yang terjadi. Analisis ini dilakukan dengan membandingkan investasi dalam piutang yang ditetapkan dengan investasi yang terjadi, analisis ini dirumuskan sebagai berikut: Investasi dalam Piutang = Penjualan Kredit Perputaran Piutang... (9)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum PT Unitex PT Unitex merupakan salah satu perusahaan patungan Indonesia Jepang yang bergerak dalam bidang tekstil terpadu (Fully integrated textile manufacture) yang mengolah bahan baku tekstil terpadu yang diolah menjadi bahan jadi kain. 4.1.1. Sejarah PT Unitex PT Unitex didirikan dalam rangka Undang-Undang penanaman modal asing No. 1/1967 berdasarkan akta notaris Eliza Pondaag SH, No. 25 Tanggal 14 Mei 1971. Akta pendirian ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan No. JA.5/128/14 Tanggal 30 Juli 1971. PT Unitex mulai berproduksi secara komersil satu tahun setelah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta notaris Sulaimansyah SH, No. 50 Tanggal 15 April 1997 mengenai perubahan anggaran dasar dan penambahan modal dasar, yang telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan No. C2-6203.HT.01.Th 1997 Tanggal 14 Juli 1997. PT Unitex menjadi perusahaan Go Public tanggal 12 Mei 1982 dan merupakan perusahaan ke-11 yang memasuki Bursa Efek Indonesia. Pada tanggal 26 Maret 1997 Perseroan telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Surabaya (BES) sebanyak 1.584.360 atau 43,20 % dari seluruh modal ditempatkan dan disetor penuh. PT Unitex berusaha sebagai perusahaan tekstil terpadu, memiliki kegiatan yang dimulai dari pemintalan (Spinning), pertenunan (Weaving), Pencelupan (Dyeing Finishing), dan Pencelupan Benang (Yarn Dyeing). PT Unitex berusaha meningkatkan ekspor secara intensif, ekspor langsung berjumlah 65 persen dari jumlah produksi dengan tujuan Australia, Amerika Serikat, Eropa dan lain-lain. Ekspor tidak langsung melalui industri pakaian jadi (garmen) berjumlah sekitar 15 persen ke Amerika dan Eropa, maka jumlah ekspor langsung dan tidak langsung menjadi 80 persen. Perusahaan berkedudukan di Jakarta dan Pabriknya

24 berlokasi di Raya Tajur No 1 Bogor dan luas dari PT Unitex di Bogor adalah seluas 152.155 m². Pemegang saham mayoritas dikuasai oleh Unitika Limited Jepang dan Marubeni Corporation Jepang, masing-masing sebesar 44,15 persen dan 25,23 persen pada tahun 2005. Sedangkan pada tahun yang sama saham dimiliki oleh public sebesar 12,61 persen. Pada tahun 2004 perusahaan telah dibantu pinjaman tanpa bunga dari Marubeni Corporation jepang sejumlah AS$ 12.465.700 dan sejumlah Yen 861.462.655 untuk melunasi hutang bank sehingga perusahaan tidak terbebani oleh bunga bank. 4.1.2. Visi dan Misi PT Unitex PT Unitex memiliki visi dan misi agar dapat melakukan kegiatannya dan mewujudkan cita-cita, keinginan, dambaan, harapan pada suatu organisasi. Visi dan Misi yang di miliki PT Unitex sebagai berikut : Visi : Menguasai pangsa pasar kain kemeja formal (menengah atas), khususnya untuk Yarn Dyed Fabric. Misi : 1. Mengutamakan Keselamatan Kerja (Safety) 2. Menciptakan produk yang bermutu tinggi dan konsisten (Quality) 3. Pengiriman (Delivery) yang tepat waktu 4. Biaya (Cost) yang rendah 5. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (Human Resource) Selain itu PT Unitex memiliki tiga pondasi utama dalam melakukan kegiatannya yaitu : 1. Disiplin, waktu mulai bekerja dan berakhir bekerja dalam satu hari selalu tepat waktu dan ditandai oleh bel berbunyi sebanyak 2 kali, karyawan yang datang terlambat akan dikenakan sanksi. 2. 5 R yaitu Rajin, Ramah, Ringkas, Rawat,dan Resik. 3. 5 S yaitu Seiri, Seiton, Seisho, Seiketsu, dan Shitsuke.

25 Perusahaan ini memiliki keunikan dalam hal logo atau lambang perusahaan, PT Unitex memiliki logo berupa kucing bertopi dan berdasi, logo ini memiliki makna yang sangat berarti bagi PT Unitex yaitu. Gambar 3. Logo PT Unitex Kucing artinya salah satu dari misi PT Unitex adalah menciptakan produk yang bermutu, sehingga untuk membuat hal tersebut kain yang digunakan halus dan lembut seperti bulu kucing. Bertopi dan Berdasi artinya hasil produksi kain yang dihasilkan akan menjadi konsumsi oleh kalangan menengah ke atas sehingga diharapkan harga jualnya menjadi tinggi. 4.1.3. Struktur Organisasi PT Unitex PT Unitex ini merupakan perusahaan berbadan hukum yang berbentuk perseroan terbatas. Kekuasaan tertinggi terletak pada rapat pemegang saham. Namun dalam struktur organisasi PT Unitex memiliki Dewan Komisaris untuk menentukan misi dan tujuan perusahaan. Dewan Komisaris diangkat oleh pemegang saham dan bertindak sebagai wakil pemegang saham untuk menjalankan roda perusahaan. Untuk menjalankan tugas dan wewenangnya, dewan komisaris mengangkat presiden direktur sebagai wakil perusahaan dan bertanggungjawab sepenuhnya akan perkembangan perusahaan. Presiden direktur ini akan membawahi beberapa departemen yang ada di Unitex, pimpinan setiap departemen diberi nama direktur. Direktur diberikan tanggungjawab untuk mengatur kegiatan untuk setiap departemen, para direktur akan bekerjasama agar kegiatan perusahaan dapat berjalan dengan lancar

26 sesuai dengan tujuan perusahaan. Berikut ini gambar struktur organisasi PT. Unitex. Marketing Director Marketing Dept S. Matsuie, S. President Director Central Coord Beureu Y. Taniuchi, Samino Factory Director N. Ozawa Spinning K. Okubo, Syahrul Weaving Y. Taniuchi, S. Sapta Yarn Dyeing&Finishing Technical Production Ahmad Saputra Guarantae of Quality N. Ozawa, Tri Administration Director Gambar 4. Struktur Organisasi Utility Sugi HP, Maman S GA & Personal Sugi HP Accounting Heru Yulianto 4.1.4. Sumber Daya Manusia PT Unitex sebagai perusahaan tekstil terbesar yang membutuhkan sumber daya manusia yang handal untuk dapat mewujudkan visi dan misi perusahaan. Persaingan di dalam industri tekstil membuat PT Unitex juga berusaha menciptakan sumber daya manusia yang handal dan berkualitas yaitu untuk mengirimkan secara regular karyawannya mengikuti pelatihan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri khususnya Jepang. Perusahaan berusaha untuk menciptakan suasana kerja yang kondusif untuk mendukung kinerja para karyawannya, bekerjasama dengan serikat pekerja dalam pemecahan permasalahan perburuhan, hak-

27 hak kesejahteraan karyawan yang telah diatur dalam perjanjian antara serikat pekerja dengan perusahaan berdasarkan ketentuan pemerintah serta disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan perusahaan. Berikut ini komposisi dari karyawan pada setiap departemen, dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 1. Komposisi Karyawan B P K Spining Wea ving Dyeing Yarn Dyeing Tech nical QC Uti lity GA ACC Marke ting Male 6 166 363 95 35 35 20 54 57 5 8 844 Female 2 25 110 6 0 4 23 2 15 2 8 197 Jika dilihat rata-rata karyawan pada PT Unitex adalah laki-laki dan sisanya perempuan. Jumlah karyawan hingga tahun 2008 mencapai 1041 orang yang terdiri dari 844 orang laki-laki dan 197 orang perempuan. Karyawan dalam bekerja menggunakan seragam yang sama, dimana untuk laki-laki seragam yang digunakan berwarna biru dan perempuan berwarna pink. Hal ini berlaku untuk semua karyawan, keseragaman pakaian ini mengindikasikan bahwa budaya perusahaan yang terdapat pada PT Unitex sangat erat. Selain itu untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan karyawan, pihak perusahaan selalu mengadakan pendidikan dan pelatihan secara intensif dan berkesinambungan, baik yang ada di dalam negeri maupun di luar negeri khususnya di Jepang. Selain itu PT. Unitex memiliki sebanyak 241 orang pegawai kontrak dan 800 orang pegawai tetap, sistem kerja yang ada pada PT. Unitex dengan menggunakan sistem shif dan non shift, untuk non shift mereka bekerja dari hari senin hingga jumat dimulai dari jam 08.00 sampai dengan 16.00 dan hari sabtu dari jam 08.00 sampai dengan 12.00 sedangkan untuk shift terbagi menjadi tiga jam kerja yaitu shift pagi dari jam 06.00 sampai dengan 14.00, shift siang jam 14.00 sampai dengan 22.00 dan shift malam jam 22.00 sampai dengan 06.00 bekerjanya hari senin hingga minggu. Dalam menjalankan kegiatannya, perusahaan tidak lupa terhadap kesejahteraan karyawannya. Fasilitas kesejahteraan yang diberikan kepada karyawan antara lain pakaian seragam, makan dikantin Total

28 perusahaan, kepesertaan JAMSOSTEK bagi seluruh karyawan, penyediaan klinik dan mobil ambulance serta penggantian pengobatan bagi karyawan dan keluarganya, koperasi karyawan yang menyediakan kebutuhan sehari-hari dan bidang usaha lainnya. 4.1.5. Kegiatan PT. Unitex Terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan PT. Unitex adalah sebagai berikut: 1. Bagian pemintalan (Spinning) adalah bagian produksi yang melakukan proses pembuatan benang dari bahan baku kapas dan polyester. 2. Bagian Pertenunan (Weaving) adalah bagian produksi yang melakukan proses pertenunan benang hinga menjadi kain, akan tetapi kain yang dihasilkan oleh bagian pertenunan benang hingga menjadi kain mentah (greige cloth). 3. Bagian Pencelupan (Dyeing Finishing) adalah bagian yang melakukan proses pencelupan dan penyempurnaan dari kain mentah menjadi kain jadi (Finish goods). 4. Bagian Pencelupan Benang (Yarn Dyeing) adalah bagian yang melakukan proses pencelupan benang (putih) hingga menjadi benang warna. PT. Unitex tidak melupakan tanggung jawabnya terhadap kelestarian lingkungan. Untuk itu pada tahun 1988, PT. Unitex membangun instalasi air limbah (IPAL) di atas tanah seluas 4000 m². Biaya yang dikeluarkan untuk pembuatan IPAL serta penyempurnaannya hingga tahun 1995 adalah sebesar 4 miliar. Dalam perkembangan selanjutnya IPAL terus mengalami perbaikan dan penambahan instalasi sejalan dengan peningkatan produksi. Kapasitas IPAL PT. Unitex saat ini mampu mengelola limbah cair sebesar 5000 m³ per hari (maksimum). IPAL PT. Unitex telah memberikan hasil yang memuaskan dalam mengelola limbah cair dari hasil produksinya. Dampak positif dari adanya keberhasilan pengolahan limbah ini, PT. Unitex banyak menerima kunjungan dari instansi pemerintah, lembaga

29 pendidikan, perusahaan swasta dan lembaga lainnya yang mempunyai maksud untuk mempelajari cara pengolahan limbah yang baik dan benar. Berdasarkan catatan, selama tahun 2003 IPAL PT. Unitex telah dikunjungi oleh sebanyak 750 orang. Selain itu ditunjukan dengan berhasilnya PT. Unitex mendapat penghargaan Program Kali Bersih (Prokasih) No. 1 di Indonesia pada tahun 1991 dimana pialanya diserahkan langsung oleh Bapak Presiden Soeharto di Istana Negara. Disamping itu PT Unitex juga telah mendapatkan penghargaan "Sahwali Award" untuk tingkat Asia Pasifik sebagai penghargaan terhadap pengusaha yang berwawasan lingkungan. Pada saat ini PT. Unitex telah mendapatkan Peringkat Hijau pada penilaian Proper Prokasih yang dilakukan oleh Bapedal. Dalam rangka meningkatkan kepercayaan pelanggan dan memperbaiki sistem produksi, perusahaan pada bulan Juni 2003 telah berhasil mendapatkan Sertifikat Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 sebagai tanda bahwa proses manajemen mutu yang ada telah sesuai dengan standar mutu Internasional. Partisipasi perusahaan terhadap masyarakat antara lain dengan memberikan sumbangan air bersih untuk perumahan dan mesjid-mesjid yang ada di sekitar PT. Unitex, mengadakan penyemprotan nyamuk setiap satu bulan sekali di sekitar perusahaan (khususnya yang tepat dibelakang Mess Direksi), mengadakan donor darah setiap tiga bulan sekali bekerja sama dengan PMI Bogor, sumbangan uang kepada anak yatim piatu dan kain kepada keluarga kurang mampu yang disalurkan melalui kepala desa dan RT serta sumbangan ini biasanya diberikan terutama Hari Raya Idul fitri. Disamping itu, pihak perusahaan setiap tahunnya selalu mengadakan kegiatan keagamaan (hari besar Islam), yang kegiatannya melibatkan masyarakat sekitar seperti khitanan misal dan memberikan jatah beli kain potong untuk kegiatan UKM bekerjasama dengan LPM Kelurahan Sindangrasa.

30 4.2. Identifikasi Praktek Manajemen Piutang 4.2.1. Proses Terjadinya Piutang PT. Unitex Terjadinya piutang merupakan akibat dari pembelian barang secara kredit, memberikan barang terlebih dahulu baru mendapatkan pembayaran dari pelanggan setelah beberapa bulan sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat oleh kedua belah pihak. Pada PT. Unitex terjadinya piutang bermula dari kesetiaan pelanggan untuk membeli produk PT Unitex, piutang yang terjadi di PT. Unitex biasanya berasal dari pelanggan yang sudah lama menjalin kerjasama dengan perusahaan. Sedangkan untuk pelanggan baru perusahaan bekerjasama dengan sebuah agen untuk memilih pelanggan baru yang akan melakukan pembelian barang secara kredit kemudian perusahaan membuat sebuah invoice. Sebelum pembayaran diterima perusahaan maka transaksi tersebut akan dicatat dalam jurnal umum (piutang dan pendapatan). Pembayaran piutang yang dilakukan oleh para pelanggan dengan mentransfer melalui bank dengan menggunakan cek, giro, LC (Letter Of Credit), biasanya pembayaran piutang ini disesuaikan dengan nilai kurs rupiah yang terjadi pada saat transaksi penjualan kredit berlangsung, pemberlakuan nilai kurs ini mengikuti nilai kurs Bank Indonesia dan perbedaan nilai kurs ini dicatat dalam laporan neraca sebagai selisih nilai kurs. Terkadang perbedaan nilai kurs ini dapat menguntungkan bagi perusahaan dan merugikan perusahaan sesuai dengan keadaan perekonomian pada saat transaksi, perbedaan nilai kurs ini dimasukkan ke dalam laporan laba/rugi sebagai laba atau rugi selisih nilai kurs bersih. 4.2.2. Pengelolaan Manajemen Piutang PT. Unitex Piutang usaha pelanggan PT. Unitex diakui setelah produk jadi dan telah diterbitkan invoice. Jika produk belum jadi maka perusahaan belum memiliki piutang pelanggan dan tidak mencatatkan piutang usaha pelanggan ke dalam lapoaran keuangan PT. Unitex. Piutang akan dicatat dalam jurnal piutang apabila jumlah produk yang telah jadi dan biayabiaya yang dikeluarkan. Piutang usaha merupakan tagihan perusahaan kepada para pelanggan yang timbul melalui transaksi penjualan kredit.

31 Piutang dalam perusahaan membutuhkan perhatian penting terlebih pada perusahaan manufaktur seperti PT Unitex karena piutang usaha mempunyai kontribusi sebesar 30% dari aktiva lancar perusahaan setelah persediaan. dan setiap perubahan yang besarnya piutang akan berakibat pada tingkat profitabilitas perusahaan dan perubahan cashflow perusahaan. Peningkatan piutang berarti peningkatan penjualan perusahaan secara kredit, tidak hanya akan meningkatkan penjualan tetapi juga membutuhkan tambahan sumber keuangan untuk mendukung peningkatan investasi dalam piutang tersebut. Biaya investasi kredit dan usaha penagihan piutang serta piutang tak tertagih akan meningkat. Penagihan piutang di PT. Unitex dilakukan melalui telepon dan email, namun para pelanggan yang mempunyai utang kepada PT. Unitex memahami akan kewajiban untuk membayar utang tersebut sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan. Jika dengan cara seperti diatas pelanggan tetap tidak membayar, kemudian pihak perusahaan akan menagih secara langsung pada perusahaan tersebut melalui manajer marketing yang berasal dari Jepang untuk merundingkan penyebab keterlambatan tersebut. Pelanggan yang tidak membayar utangnya, biasanya pelanggan yang memiliki masalah terhadap produk yang dihasilkan dan masalah keuangan yang terjadi pada pelanggan tersebut. Apabila terjadi kesalahan pada produk, biasanya pelanggan akan mengeluarkan claim statement yang isinya masalah yang terjadi pada produk yang dihasilkan dan produk yang bermasalah akan dikembalikan kepada PT. Unitex, hal ini akan dapat mempengaruhi pendapatan perusahaan. Penagihan piutang yang dilakukan apabila pelanggan tersebut telah memasuki jangka waktu pembayaran piutang yang sudah lewat, biasanya pembayaran piutang para pelanggan dengan jangka waktu 30 hari, 45 hari, 60 hari, dan 90 hari sesuai dengan perjanjian yang telah dibuat oleh kedua belah pihak. Apabila dengan cara tersebut perusahaan tidak mendapat hasil kemudian perkiraan piutang tersebut akan dimasukkan sebagai penyisihan piutang tak tertagih selama tahun berjalan. Penyisihan piutang tak tertagih dimasukkan apabila pelanggan

32 tidak membayar piutangnya selama 6 bulan, hal ini ditentukan berdasarkan penagihan piutang yang dilakukan oleh PT. Unitex dan penagihan tersebut tidak mendapatkan hasil sehingga perusahaan akan memasukkan piutang tersebut ke dalam penyisihan piutang tak tertagih. Selain itu perusahaan akan memasukkan piutang tak tertagih apabila pelanggan tersebut sudah mengalami kebangkrutan dan tidak akan membayar utangnya pada PT. Unitex. 4.2.3. Kebijakan Piutang PT. Unitex Dalam sebuah perusahaan manufaktur penjualan yang dilakukan secara kredit, oleh sebab itu perusahaan membuat sebuah kebijakan piutang yang ditetapkan agar para pelanggan tersebut dapat melakukan pembayarannya tepat pada waktunya sesuai dengan perjanjian. PT. Unitex memiliki beberapa kebijakan piutang yaitu kepercayaan kepada agen penjulan dan jalinan kerjasama dengan agen penjualan untuk menganalisis kemampuan sebuah pelanggan baru Unitex dari mulai kondisi perusahaan hingga kemampuan dari pelanggan tersebut untuk membayar utang. Dari hasil wawancara pelanggan baru yang melakukan piutang, pembayaran para pelanggan hingga saat ini berjalan lancar. Keterlambatan dalam pembayaran tidak terlalu lama dari waktu jatuh tempo dan hal ini pun disebabkan adanya suatu kerusakan pada barang yang dikirim PT. Unitex dan adanya masalah keuangan pelanggan sehingga pelanggan tersebut terlambat membayar dan mengembalikan barang pada pihak perusahaan jika terjadi kerusakan pada produk. Selain itu PT. Unitex menetapkan pembayaran untuk semua pelanggan selama 30 hari hingga 90 hari, ketentuan ini sesuai dengan kriteria yang sering ditetapkan oleh sebagian besar perusahaan manufaktur. Keterlambatan pembayaran diberikan waktu paling lama 2 bulan setelah jatuh tempo yang sudah ditetapkan dan penagihan yang dilakukan pada saat jatuh tempo. Selain itu apabila sudah melebihi dari 2 bulan pihak perusahaan akan menghentikan untuk sementara pengiriman sebagian barang kepada pelanggan yang menunggak hingga mereka melakukan pembayaran. Pemberhentian pengiriman ini bertujuan agar

33 piutang pelanggan kepada perusahaan tidak menumpuk dan hal ini pun dapat menyebabkan penurunan cashflow serta keterlambatan pihak unitex untuk membayar utang kepada pihak supplier. 4.3. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Piutang PT. Unitex Dalam menentukan besarnya piutang setiap pelanggan, perusahaan memiliki beberapa faktor untuk dapat menentukan hal tersebut baik dilihat dari segi internal maupun eksternal. Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya piutang sebagai berikut: a. Faktor Internal yaitu : Tingkat penjualan kredit dari setiap pelanggan, semakin besar penjualan kredit maka akan semakin besar tingkat piutang pelanggan. Dengan melakukan transaksi penjualan kredit yang cukup besar dalam satu tahun maka akan semakin besar piutang dari pelanggan, semakin besar pendapatan yang akan didapat PT. Unitex dan akan semakin besar pula resiko yang harus ditanggung oleh PT. Unitex apabila terjadi keterlambatan. Namun dengan besarnya piutang, perusahaan harus melakukan penagihan piutang kepada pelanggan secara rutin. Hal ini dilakukan agar jumlah piutang dari pelanggan tidak terlalu menumpuk dan tidak terjadi keterlambatan dalam pembayaran sehingga tidak terjadi piutang yang tidak tertagih. b. Faktor Eksternal yaitu : 1. Tingkat Inflasi, digunakan untuk menentukan situasi ekonomi. Inflasi yang tinggi dapat mempengaruhi daya beli pelanggan untuk melakukan transaksi kepada perusahaan sehingga akan mempengaruhi jumlah piutang yang diberikan. Selain itu dengan inflasi tinggi akan mengakibatkan harga kain PT. Unitex tidak dapat menutupi biaya produksi yang tinggi, akibatnya jumlah penjualan akan turun dan jumlah piutang pun akan menurun. Perusahaan akan melakukan sebuah pertimbangan terhadap jumlah piutang yang akan diberikan pada pelanggan sesuai kemampuan daya beli pelanggan terhadap produk kain.

34 2. Nilai tukar rupiah atau kurs, digunakan untuk menetapkan perbedaan besarnya pembayaran piutang kepada PT. Unitex. Perbedaan besarnya kurs pada saat jatuh tempo pembayaran pelanggan, dalam laporan keuangan PT. Unitex terdapat selisih nilai kurs. Perbedaan ini dapat menguntungkan bagi PT. Unitex maupun dapat merugikan PT. Unitex, dengan melihat keadaan seperti itu PT. Unitex melakukan prediksi keadaan nilai kurs rupiah dengan menanyakan perubahan nilai kurs pada bank-bank yang udah menjalin kerjasama dengan PT. Unitex. Dengan hal tersebut PT. Unitex dapat menentukan jumlah piutang untuk masa yang akan datang. Faktor-faktor ini yang dijadikan sebagai patokan perusahaan untuk menentukan besarnya piutang kepada para pelanggan dan mempertimbangkan hal- hal tersebut agar perusahaan tidak salah dalam menentukan besarnya piutang. Dari hasil wawancara faktor yang paling berpengaruh terhadap jumlah piutang adalah penjualan kredit, karena semakin sering pelanggan melakukan transaksi penjualan kredit maka akan semakin banyak jumlah piutang pelanggan untuk setiap tahun dan keseluruhan penjualan PT. Unitex dilakukan secara kredit maka akan mempengaruhi jumlah piutang PT. Unitex. 4.4. Kondisi Piutang Usaha Setiap Pelanggan PT. Unitex Dalam sebuah perusahaan manufaktur pasti memiliki pelanggan tetap dalam transaksi pembelian produk yang dihasilkan. Pelanggan ini tidak melakukan pembayaran secara tunai, karena sebagian perusahaan menerapkan sistem pembayaran secara kredit dengan menetapkan waktu pembayaran sesuai dengan perjanjian yang telah ditentukan oleh kedua belah pihak. Pada PT. Unitex melakukan hal yang sama dengan perusahaan manufaktur, perusahaan ini memiliki pelanggan tetap yang berasal dari domestik dan ekspor, pelanggan domestik berjumlah 78 pelanggan dan 43 pelanggan ekspor. Pelanggan yang terdapat pada perusahaan ini sebagian besar perusahaan yang berasal dari perusahaan garmen baik pelanggan domestik maupun pelanggan luar negeri atau disebut dengan pelanggan ekspor. Pelanggan ini sudah lama melakukan kerjasama dengan PT. Unitex dan setiap pelanggan baru harus dapat mematuhi peraturan pembayaran piutang kepada PT. Unitex sesuai dengan perjanjian.

35 Untuk dapat mengetahui bagaimana kondisi perusahaan maka akan dianalisis beberapa pelanggan yang sering melakukan transaksi dengan perusahaan. Pemilihan sampel ini berdasarkan pelanggan yang sering muncul dalam laporan keuangan untuk setiap tahunnya dan pelanggan ini sering memberikan pesanan kain pada PT. Unitex untuk setiap tahunnya. Berikut contoh dari pelanggan yang akan dianalisis ketepatan dalam melakukan pembayaran sesuai dengan jatuh tempo yang telah ditetapkan, analisis ini berdasarkan umur piutang : 1. PT. Dayani Garment Indonesia Perusahaan ini merupakan salah satu pelanggan domestik PT. Unitex, untuk setiap tahunnya perusahaan melakukan transaksi secara rutin dengan PT. Unitex. Dalam 1 kali transaksi penjualan terdapat beberapa invoice yang diterbitkan PT. Unitex sedangkan untuk pembayaran piutang perusahaan ini ditetapkan jangka waktu pembayaran selama 60 hari. Berikut ini kondisi pembayaran piutang PT. Dayani Garment Indonesia untuk setiap tahunnya selama tiga tahun mulai dari tahun 2005 hingga 2007. Dari analisis umur piutang per tanggal 31 atau per akhir bulan selama tiga tahun mulai dari tahun 2005-2007 (Tabel 2), pembayaran piutang yang dilakukan PT. Dayani Garment tepat waktu sesuai dengan waktu pembayaran yang telah ditetapkan selama 60 hari. Perusahaan membayar piutangnya kepada PT. Unitex sebelum jatuh tempo yang telah ditetapkan dan selama tiga tahun PT. Dayani Garment melakukan pembayaran piutang selama tiga tahun sebelum jatuh tempo yang ditetapkan, hal ini membuktikan bahwa PT. Dayani memiliki kesadaran untuk membayar utangnya kepada PT. Unitex. Keadaan pembayaran yang dilakukan PT. Dayani maka hubungan kerjasama dengan PT. Unitex semakin erat terutama hubungan penjualan tekstil sehingga PT. Unitex dapat meningkatkan pendapatannya dan menerima kas lebih cepat dari yang ditetapkan.

36 Tabel 2. Piutang PT. Dayani Garment Indonesia tahun 2005-2007 Waktu Transaksi Tanggal Bulan Tahun 12 Januari 2005 81,586,379.70 81,586,379.70 28 Februari 2005 316,757,856.00 316,757,856.00 31 Maret 2005 137,023,807.80 137,023,807.80 30 April 2005 139,506,156.06 139,506,156.06 30 Mei 2005 301,174,394.10 301,174,394.10 30 Juni 2005 151,363,366.00 151,363,366.00 30 Juli 2005 151,417,622.40 151,417,622.40 29 Agustus 2005 122,680,428.00 122,680,428.00 30 September 2005 326,889,382.00 326,889,382.00 28 Oktober 2005 7,843,966.00 7,843,966.00 30 November 2005 175,648,285.32 175,648,285.32 30 Desember 2005 251,060,391.60 251,060,391.60 30 Januari 2006 128,025,873.00 128,025,873.00 22 Februari 2006 40,742,016.00 40,742,016.00 31 Maret 2006 61,043,858.88 61,043,858.88 29 April 2006 53,761,311.36 53,761,311.36 31 Mei 2006 125,257,165.20 125,257,165.20 30 Juni 2006 121,509,520.02 121,509,520.02 31 Juli 2006 57,712,327.20 57,712,327.20 31 Agustus 2006 317,672,530.56 317,672,530.56 30 September 2006 41,678,146.32 41,678,146.32 31 Oktober 2006 327,143,577.60 327,143,577.60 30 November 2006 256,097,414.89 256,097,414.89 29 Desember 2006 132,730,029.64 132,730,029.64 31 Januari 2007 305,929,124.20 305,929,124.20 26 Februari 2007 423,171,906.98 423,171,906.98 30 Maret 2007 578,437,976.69 578,437,976.69 30 April 2007 112,335,182.42 112,335,182.42 31 Mei 2007 636,301,764.00 636,301,764.00 30 Juni 2007 101,520,387.00 101,520,387.00 30 Juli 2007 127,531,182.24 127,531,182.24 31 Agustus 2007 674,609,778.80 674,609,778.80 29 September 2007 781,034,036.57 781,034,036.57 31 Oktober 2007 280,132,918.20 280,132,918.20 22 November 2007 286,154,689.71 286,154,689.71 27 Desember 2007 3,152,245.12 3,152,245.12 Sumber : Laporan Piutang Pelanggan PT. Unitex PT. Dayani Garment Indonesia Setelah Jatuh Tempo Belum Jatuh Saldo Tempo 1-30 Hari 31-60 Hari 61-90 Hari

37 2. PT. Bengawan Solo Garment Indonesia Perusahaan ini merupakan salah satu pelanggan domestik PT. Unitex, perusahaan ini untuk setiap tahun melakukan transaksi secara rutin dengan PT. Unitex. Dalam 1 kali transaksi terdapat beberapa invoice yang diterbitkan PT. Unitex sedangkan pembayaran piutang perusahaan ini ditetapkan jangka waktu pembayaran selama 60 hari. Berikut ini kondisi pembayaran piutang PT. Bengawan Solo Garment Indonesia untuk setiap tahun selama tiga tahun mulai dari tahun 2005 hingga 2007. Dari analisis umur piutang per tanggal 31 atau per akhir bulan selama tiga tahun mulai dari tahun 2005-2007 (Tabel 3), pembayaran piutang yang dilakukan PT. Bengawan Solo Garment tepat waktu sesuai dengan waktu pembayaran yang telah ditetapkan selama 60 hari. Namun PT. Bengawan Solo Garment Indonesia terjadi keterlambatan pembayaran pada tanggal 31 Januari 2005, 30 Januari 2006 dan Maret 2006, keterlambatan pembayaran ini selama satu bulan dari jatuh tempo yang ditetapkan yaitu pembayaran dilakukan pada tanggal 31 April 2005, 30 April dan Juni 2006. Keterlambatan yang terjadi tidak melebihi dari 2 bulan setelah jatuh tempo sehingga PT. Unitex tidak melakukan pemberhentian pengiriman barang untuk sementara. Sedangkan untuk bulan yang lainnya pembayaran piutang dilakukan sebelum jatuh tempo yang ditetapkan, sehingga PT. Unitex tidak perlu melakukan penagihan yang dapat mengeluarkan biaya tambahan penagihan.

38 Tabel 3. Piutang PT. Bengawan Solo Garment Indonesia tahun 2005-2007 PT. Bengawan Solo Garment Indonesia Waktu Transaksi Setelah Jatuh Tempo Belum Jatuh Saldo Tanggal Bulan Tahun Tempo 31-60 61-90 1-30 Hari Hari Hari 31 Januari 2005 489,429,443.70 465,932,995.98 23,496,447.72 28 Februari 2005 477,337,722.80 477,337,722.80 23 Maret 2005 10,252,679.04 10,252,679.04 27 Juni 2005 236,277,160.00 236,277,160.00 14 Juli 2005 141,007,492.80 141,007,492.80 31 Agustus 2005 37,472,249.75 37,472,249.75 20 Oktober 2005 6,739,509.24 6,739,509.24 30 November 2005 149,314,530.30 149,314,530.30 30 Desember 2005 67,672,085.80 67,672,085.80 30 Januari 2006 72,288,561.00 70,705,799.00 1,582,762.00 31 Maret 2006 818,667,735.98 439,052,104.32 379,615,631.66 12 April 2006 136,466,513.92 136,466,513.92 30 Juni 2006 81,654,192.90 81,654,192.90 31 Juli 2006 8,148,282.45 8,148,282.45 20 September 2006 47,623,069.06 47,623,069.06 30 November 2006 119,985,955.46 119,985,955.46 28 Desember 2006 193,996,648.70 193,996,648.70 31 Januari 2007 159,191,093.39 159,191,093.39 5 Februari 2007 86,659,755.33 86,659,755.33 30 April 2007 400,346,509.40 400,346,509.40 31 Mei 2007 178,187,331.60 178,187,331.60 26 Juli 2007 97,036,214.88 97,036,214.88 28 Agustus 2007 249,262,635.70 249,262,635.70 31 Desember 2007 333,914,736.96 333,914,736.96 Sumber : Laporan Piutang Pelanggan PT. Unitex

39 3. PT. Prima Jaya Pantes Garment Perusahaan ini adalah salah satu pelanggan domestik PT. Unitex, dalam satu tahun perusahaan ini melakukan transaksi secara rutin dengan PT. Unitex. Dalam 1 kali transaksi terdapat beberapa invoice yang diterbitkan PT. Unitex sedangkan pembayaran piutang perusahaan ini dalam setiap transaksi ditetapkan jangka waktu pembayaran selama 30 hari. Dari analisis umur piutang per tanggal 31 atau per akhir bulan selama tiga tahun mulai dari tahun 2005-2007 (Tabel 4 ), pembayaran piutang yang dilakukan PT. Prima Jaya Pantes Garment sebagian tepat waktu sesuai dengan waktu pembayaran yang telah ditetapkan selama 30 hari dan sebagian terjadi keterlambatan pembayaran hingga 1 bulan dari jatuh tempo yang ditetapkan. Selama tiga tahun PT. Prima Jaya Pantes Garment melakukan transaksi penjualan dengan PT. Unitex secara rutin sehingga PT. Unitex dapat meningkatkan pendapatannya. Keterlambatan yang terjadi tidak melebihi dari 2 bulan setelah jatuh tempo sehingga PT. Unitex tidak melakukan pemberhentian pengiriman barang untuk sementara. Sedangkan untuk bulan yang lainnya pembayaran piutang dilakukan sebelum jatuh tempo yang ditetapkan, sehingga PT. Unitex tidak perlu melakukan penagihan yang dapat mengeluarkan biaya tambahan penagihan.

40 Tabel 4. Piutang PT. Prima Jaya Pantes Garment tahun 2005-2007 PT. Prima Jaya Pantes Garment Waktu Transaksi Setelah Jatuh Tempo Belum Jatuh Saldo Tanggal Bulan Tahun Tempo 31-60 61-90 1-30 Hari Hari Hari 31 Januari 2005 230,542,360.05 230,542,360.05 28 Februari 2005 60,264,900.00 60,264,900.00 31 Maret 2005 67,928,133.72 41,278,164.72 26,649,969.00 29 April 2005 15,152,874.90 15,152,874.90 31 Mei 2005 154,380,734.77 154,380,734.77 30 Juni 2005 486,764,549.00 335,401,183.00 151,363,366.00 29 Juli 2005 221,833,568.00 221,833,568.00 30 Agustus 2005 51,232,161.50 51,232,161.50 30 September 2005 39,186,204.05 39,186,204.05 26 Oktober 2005 92,526,813.50 92,526,813.50 28 November 2005 143,763,007.80 143,763,007.80 22 Desember 2005 51,698,702.90 51,698,702.90 31 Januari 2006 89,021,893.50 89,021,893.50 28 Februari 2006 119,015,392.00 119,015,392.00 31 Maret 2006 274,840,442.20 274,840,442.20 28 April 2006 34,285,702.68 34,285,702.68 31 Mei 2006 52,660,330.00 28,501,958.00 24,158,372.00 30 Juni 2006 49,478,704.80 49,478,704.80 31 Juli 2006 128,879,282.95 114,245,111.75 14,634,171.20 31 Agustus 2006 34,164,666.48 34,164,666.48 29 September 2006 25,324,010.98 25,324,010.98 31 Oktober 2006 93,103,790.40 93,103,790.40 30 November 2006 5,373,614.40 5,373,614.40 27 Desember 2006 144,357,593.90 144,357,593.90 31 Januari 2007 78,811,209.60 78,811,209.60 28 Februari 2007 71,796,442.50 71,796,442.50 30 Maret 2007 202,893,149.77 202,893,149.77 30 April 2007 78,249,255.90 78,249,255.90 31 Mei 2007 244,421,143.20 244,421,143.20 30 Juni 2007 69,195,761.50 69,195,761.50 31 Juli 2007 128,637,143.71 128,637,143.71 31 Agustus 2007 189,421,389.25 189,421,389.25 28 September 2007 218,210,102.17 218,210,102.17 31 Oktober 2007 92,820,977.32 92,820,977.32 30 November 2007 21,906,553.68 21,906,553.68 Sumber : Laporan Piutang Pelanggan PT. Unitex

41 4. PT. Sinar Budi Intraco Perusahaan ini merupakan salah satu pelanggan domestik PT. Unitex, perusahaan ini untuk setiap tahun melakukan transaksi secara rutin dengan PT. Unitex. Dalam 1 kali transaksi terdapat beberapa invoice yang diterbitkan PT. Unitex sedangkan untuk pembayaran perusahaan ini ditetapkan jangka waktu pembayaran selama 30 hari. Dari analisis umur piutang per tanggal 31 atau per akhir bulan selama tiga tahun mulai dari tahun 2005-2007 (Tabel 5 ), pembayaran piutang yang dilakukan PT. Sinar Budi Intraco sebagian tepat waktu sesuai dengan waktu pembayaran yang telah ditetapkan selama 30 hari dan sebagian terjadi keterlambatan pembayaran hingga 1 bulan dari jatuh tempo yang ditetapkan. Keterlambatan yang terjadi tidak melebihi dari 2 bulan setelah jatuh tempo sehingga PT. Unitex tidak melakukan pemberhentian pengiriman barang untuk sementara. Sedangkan untuk bulan yang lainnya pembayaran piutang dilakukan sebelum jatuh tempo yang ditetapkan, sehingga PT. Unitex tidak perlu melakukan penagihan yang dapat mengeluarkan biaya tambahan penagihan. Selain itu PT. Sinar Budi Intraco ini tidak melakukan transaksi secara rutin karena perusahaan ini untuk satu tahunnya terdapat beberapa bulan tidak melakukan transaksi.

42 Tabel 5. Piutang PT. Sinar Budi Intraco tahun 2005-2007 PT. Sinar Budi Intraco Waktu Transaksi Setelah Jatuh Tempo Belum Jatuh Saldo Tanggal Bulan Tahun Tempo 31-60 61-90 1-30 Hari Hari Hari 31 Januari 2005 637,477,388.97 637,477,388.97 28 Februari 2005 205,195,473.12 205,195,473.12 31 Maret 2005 228,700,359.30 228,700,359.30 30 April 2005 73,201,110.14 73,201,110.14 31 Mei 2005 290,015,825.96 290,015,825.96 30 Juni 2005 361,852,986.50 361,852,986.50 30 Juli 2005 32,850,247.10 32,850,247.10 22 September 2005 211,035,135.84 211,035,135.84 31 Oktober 2005 36,027,552.00 36,027,552.00 30 November 2005 117,895,048.16 117,895,048.16 29 Desember 2005 60,364,589.28 60,364,589.28 30 Januari 2006 234,891,008.50 234,891,008.50 28 Februari 2006 193,048,139.60 193,048,139.60 29 Maret 2006 113,962,115.23 113,962,115.23 29 April 2006 153,057,116.74 153,057,116.74 31 Mei 2006 89,374,326.40 89,374,326.40 30 Juni 2006 28,744,628.64 28,744,628.64 31 Juli 2006 89,662,020.36 89,662,020.36 31 Agustus 2006 140,280,418.32 140,280,418.32 30 September 2006 382,755,780.60 382,755,780.60 31 Oktober 2006 675,901,356.96 675,901,356.96 29 November 2006 191,028,519.18 191,028,519.18 15 Januari 2007 108,925,308.47 108,925,308.47 23 Februari 2007 215,967,008.08 215,967,008.08 20 Maret 2007 269,801,770.82 269,801,770.82 10 April 2007 276,751,789.89 276,751,789.89 25 Mei 2007 124,285,313.00 124,285,313.00 Sumber : Laporan Piutang Pelanggan PT. Unitex

43 5. PT. Dewshirst Menswear Perusahaan ini merupakan salah satu pelanggan domestik PT. Unitex, perusahaan ini untuk setiap tahuna melakukan transaksi secara rutin dengan PT. Unitex. Dalam 1 kali transaksi terdapat beberapa invoice yang diterbitkan PT. Unitex sedangkan untuk pembayaran perusahaan ini ditetapkan jangka waktu pembayaran selama 30 hari dan pelanggan ini merupakan salah satu pelanggan yang sering bermasalah dalam pembayaran. Perusahaan ini pada tahun 2005 tidak melakukan transaksi dengan PT. Unitex sehingga perusahaan ini tidak memiliki utang pada PT. Unitex, hal ini disebabkan perusahaan ini tidak memiliki orderan pekerjaan untuk PT. Unitex. Namun demikian hubungan kerjasama antara kedua perusahaan ini masih terjalin. Dari analisis umur piutang per tanggal 31 atau per akhir bulan selama tiga tahun mulai dari tahun 2005-2007 (Tabel 6), pembayaran piutang yang dilakukan PT. Dewhirst Menswear tidak tepat waktu dalam melakukan pembayaran. Perusahaan membayar piutangnya kepada PT. Unitex melebihi jatuh tempo yang telah ditetapkan dan Pada agustus 2006 PT. Dewhirst Menswear melakukan keterlambatan pembayaran hingga 3 bulan sehingga perusahaan ini membayar utangnya pada Januari 2007, hal ini dapat menyebabkan penurunan pendapatan PT. Unitex. Untuk mengatasi hal tersebut PT. Unitex melakukan penagihan secara rutin kepada PT. Dewshirst Menswear agar piutang perusahaan ini tidak menjadi piutang tak tertagih bagi PT. Unitex.

44 Tabel 6. Piutang PT. Dewshirst Menswear tahun 2005-2007 PT. Dewshirst Menswear Waktu Transaksi Setelah Jatuh Tempo Belum Jatuh Saldo Tanggal Bulan Tahun Tempo 31-60 1-30 Hari 61-90 Hari Hari 17 Januari 2006 117,618,070.64 117,618,070.64 28 Februari 2006 10,103,512.96 10,103,512.96 28 Maret 2006 45,382,642.42 45,382,642.42 29 April 2006 27,172,836.72 27,172,836.72 30 Mei 2006 48,664,939.20 48,664,939.20 30 Juni 2006 141,080,058.00 135,043,390.02 6,036,667.98 31 Juli 2006 159,441,520.26 159,441,520.26 31 Agustus 2006 330,619,054.75 318,095,009.76 12,524,044.99 Septembe 29 r 2006 210,860,387.01 210,860,387.01 31 Oktober 2006 95,504,156.16 95,504,156.16 30 November 2006 76,932,794.49 76,932,794.49 29 Desember 2006 325,317,282.12 325,317,282.12 31 Januari 2007 128,507,207.87 128,507,207.87 28 Februari 2007 16,229,761.63 16,229,761.63 28 Maret 2007 513,967,877.47 513,967,877.47 30 April 2007 677,311,075.04 677,311,075.04 31 Mei 2007 547,382,349.00 547,382,349.00 30 Juni 2007 90,667,080.00 90,667,080.00 31 Juli 2007 435,708,589.90 393,424,490.02 42,284,099.88 31 Agustus 2007 125,120,745.56 125,120,745.56 Septembe 29 r 2007 139,495,302.92 139,495,302.92 31 Oktober 2007 731,696,352.76 731,696,352.76 31 November 2007 539,572,931.49 539,572,931.49 Sumber : Laporan Piutang Pelanggan PT. Unitex Jika dilihat dari kondisi setiap pelanggan yang ada di Unitex, dapat disimpulkan sebagian besar pelanggan yang ada melakukan pembayaran secara tepat waktu sesuai dengan jatuh tempo yang disepakati, keterlambatan pembayaran yang terjadi hanya pada beberapa pelanggan saja dan keterlambatan ini terkadang disebabkan adanya kerusakan yang terjadi pada produk dan pelanggan tersebut akan mengeluarkan surat klaim kepada PT. Unitex sehingga barang tersebut akan dicek ulang oleh bagain pengecekan PT. unitex dan memberitahukan bahwa barang tersebut harap segera dicek dan diperbaiki. Selain itu keterlambatan pembayaran dapat disebabkan terdapatnya masalah keuangan pelanggan, akibat hal tersebut akan mempengaruhi penurunan cashflow dan keterlambatan pembayaran PT. Unitex kepada pihak supplier.

45 4.5. Analisis Kinerja Piutang PT. Unitex Analisis ini digunakan untuk menilai tingkat kinerja dari pengelolaan piutang PT. Unitex. Dari hasil analisa ini akan diperoleh gambaran mengenai kondisi pengelolaan piutang dan perkembangannya selama periode analisa, yaitu tahun 2005-2007. Dalam menginterpretasikan angka rasio, dipergunakan hasil yang diperoleh dari analisa rasio keuangan dari semua aspek, analisa horizontal (perkembangan), analisa vertikal (struktural), dan analisis investasi piutang. Untuk mengukur kinerja piutang digunakan rasio perputaran piutang dan penagihan ratarata periode piutang. 4.5.1. Penilaian Kualitas Pelanggan dengan Analisis 5C PT. Unitex tidak melakukan pengamatan dan penilaian secara khusus dengan menggunakan analisis 5C. Perusahaan dalam prakteknya tidak terlalu meneliti pelanggan dapat membayar atau tidak, perusahaan ini bekerjasama dengan sebuah agen untuk memilih pelanggan yang akan bekerjasama dengan PT. Unitex. Pemilihan pelanggan yang dilakukan agen penjualan pun tidak menggunakan analisis 5C, sistem pemilihan pelanggan ini berdasarkan jalinan kerjasama yang sudah terjalin cukup lama dengan pelanggan tersebut dan sistem kepercayaan bahwa pelanggan akan membayar tepat pada waktunya. Selain itu persaingan yang terjadi pada industri ini tidak terlalu menetapkan standar kredit yang longgar, PT. Unitex melakukan pemberhentian pengiriman barang sementara jika perusahaan tersebut belum melunasi kredit yang diberikan perusahaan hingga batasan pembayaran piutang selama 1 tahun. 4.5.2. Analisis Rasio Analisis rasio ini digunakan untuk melihat perkembangan kinerja keuangan terutama yang berkaitan dengan kinerja piutang perusahaan dan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap jalannya perusahaan. 4.5.2.1 Rasio Likuiditas Rasio likuiditas menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya yang jatuh tempo. Rasio ini

46 dapat menginterpretasikan posisi keuangan jangka pendek dan likuiditas perusahaan dengan menggunakan aktiva lancar, hutang lancar, dan persediaan untuk dijadikan uang cash. Tabel 7 : Rasio Likuiditas Tahun 2005-2007 (dalam persentase) Tahun Rasio Likuiitas 2005 2007 1. Rasio Lancar 11.46% 11.54% 9.31% 2. Rasio Cepat 24.98% 23.03% 29.58% Gambar 5 : Rasio Likuiditas Tahun 2005-2007 Hasil analisis likuiditas yang terdiri dari rasio lancar dan rasio cepat, perusahaan tidak cukup likuid karena untuk setiap tahunnya perusahaan tidak dapat menutupi kewajiban lancarnya dengan aktiva yang dimiliki perusahaan dan angka rasio untuk likuiditas ini berada di bawah 200 persen. Angka rasio cepat mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menutupi kewajibannya, namun dari hasil perhitungan dari tahun 2005-2007 perusahaan tidak mampu menutupi kewajiban karena kas yang tersedia pada perusahaan jumlah sangat terbatas. Hal ini mencerminkan selama tahun 2005-2007 penggunaan kas perusahaan cukup besar untuk keperluan perusahaan sehingga perusahaan tidak dapat menutupi kewajiban sepenuhnya. Untuk mengatasi hal tersebut perusahaan melakukan penundaan dalam pembayaran kepada supplier dengan cara kekeluargaan dan top manajemen PT. Unitex akan berbicara langsung pada supplier. 4.5.2.2 Rasio Aktivitas Rasio aktivitas merupakan seperangkat rasio yang mengukur seberapa efektif perusahaan mengelola aktivanya. Semua rasio

47 aktivitas ini melibatkan perbandingan antara tingkat penjualan dan investasi pada berbagai jenis aktiva. 1. Rasio Perputaran Piutang (Account Receiveable TurnOver Ratio) Rasio ini menunjukkan berapa kali perusahaan menagih piutangnya dari penjualan dalam satu periode. Semakin tinggi rasio maka modal kerja yang ditawarkan dalam piutang rendah, sebaliknya jika rasio ini semakin rendah berarti over investment yang dapat mengakibatkan piutang semakin tinggi artinya perusahaan tidak efektif dalam melakukan penagihan. Tabel 8: Rasio Perputaran Piutang tahun 2005-2007. (dalam kali) RASIO AKTIVITAS Rasio Perputaran Piutang Tahun 2005 2006 2007 6.67 4.82 9.10 Gambar 6 : Rasio Perputaran Piutang Tahun 2005-2007 Rasio perputaran piutang dari tahun 2005-2007 tidak stabil, pada tahun 2005 hingga 2006 rasio perputaran piutang cenderung mengalami penurunan sebesar 1,85 kali sedangkan dari tahun 2006 hingga 2007 perputaran piutang mengalami peningkatan sebesar 5 kali. Sedangkan rasio perputaran piutang yang ditetapkan perusahaan sebanyak 3 kali untuk setiap transaksi dari beberapa invoice, dimana penagihan piutang sebanyak ini sudah menunjukkan bahwa pelanggan tersebut tidak memberikan sebuah respon ketika perusahaan melakukan penagihan untuk yang pertama kali. Dengan melihat hasil tersebut ini menunjukkan bahwa pada tahun 2005 hingga 2007 penagihan piutang kepada

48 pelanggan sudah baik karena untuk setiap tahun jumlah piutang dari para pelanggan semakin rendah. Hal ini membuktikan bahwa para pelanggan dapat membayar utangnya sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. 2. Rasio Periode Penagihan Rata-rata Piutang (Average Collection Period) Rasio ini menunjukkan jangka waktu rata-rata yang harus ditunggu perusahaan setelah melakukan penjualan sebelum menerima kas. Rasio ini menunjukkan periode rata-rata yang diperlukan untuk mengumpulkan piutang. Tabel 9. Rasio Periode Penagihan Rata-Rata Piutang Tahun 2005-2007 (dalam hari) Rasio Aktivitas 1. Rasio Penagihan Rata-rata Tahun 2005 2006 2007 53.95 74.76 39.57 Gambar 7. Rasio Periode Penagihan Rata-Rata Piutang Tahun 2005 2007 Rata-rata penagihan piutang pada PT. unitex selama 30 hari hingga 90 hari dalam satu tahun untuk semua pelanggan. Dari hasil perhitungan diperoleh rata-rata penagihan piutang dari tahun 2005 hingga 2007 adalah 50 hari hingga 75 hari, hal ini jika dilihat dari batas bawah penentuan pembayaran yang ditetapkan perusahaan selama 30 hari membuktikan bahwa pembayaran utang pelanggan pada PT. Unitex lebih lambat dan jika dilihat dari batas atas penentuan pembayaran yang ditetapkan perusahaan selama 90 hari membuktikan pembayaran utang dari pelanggan lebih cepat dari yang ditetapkan perusahaan. Dengan keadaan seperti apabila perusahaan hanya menetapkan pembayaran piutang selama 30 hari akan banyak terjadi keterlambatan dalam pembayaran, namun perusahaan menetapkan jangka waktu pembayaran piutang selama

49 30-90 hari sehingga dapat memperkecil keterlambatan pembayaran piutang dan perusahaan pun akan cepat memperoleh kas. 4.5.2.3 Rasio Solvabilitas Rasio solvabilitas mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar utang-utangnya, baik utang jangka pendek maupun utang jangka panjang. Solvabilitas diukur dengan perbandingan antara total aktiva dengan total utang. Berikut ini penilaian rasio solvabilitas PT. Unitex adalah : Tabel 10. Rasio Solvabilitas Tahun 2005-2007. (dalam persentase) RASIO Tahun SOLVABILITAS 2005 2006 2007 1. DER -206.62% -194.12% -248.06% 2. Rasio modal dengan aktiva -93.79% -106.24% -67.54% Gambar 8. Rasio Solvabilitas Tahun 2005-2007 Debt to Equity Ratio menunjukkan kemampuan perusahaan untuk membayar utangnya dengan menggunakan modal sendiri. Dari hasil yang diperoleh, bahwa perusahaan tidak mampu membayar kewajibannya dengan tepat waktu karena kewajiban dari perusahaan tersebut telah melebihi aktiva atau modal yang dimiliki perusahaan. Akibat hal tersebut perusahaan untuk setiap tahunnya mengalami kerugian yang cukup tinggi. Untuk tetap bertahan perusahaan mendapatkan suntikan dana dari pemegang saham utama yaitu Unitika.. 4.5.3. Analisis Struktural ( Vertikal ) dan Analisis Perkembangan (Horizontal) PT. Unitex Tabel 11. Analisis Perkembangan (Horizontal) Laporan Laba/Rugi