KINETIKA REAKSI ISOMERISASI EUGENOL

dokumen-dokumen yang mirip
TELAAH JEJAK REAKSI KOMPLEKS ISOMERISASI EUGENOL *)

MEKANISME REAKSI ISOMERISASI EUGENOL REACTION MECHANISM OF EUGENOL ISOMERIZATION

EFFECTS OF ETHYLENE GLYCOL AND KOH IN THE FORMATION OF 2-METHOXY-4-PROPYLPHENOL ON EUGENOL ISOMERIZATION REACTION

KAJIAN JEJAK REAKSI ISOMERISASI ESTRAGOL MENJADI CIS-ANETOL DAN TRANS-ANETOL

BAB III METODA PENELITIAN. yang umum digunakan di laboratorium kimia, set alat refluks (labu leher tiga,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

STUDIES ON LEWIS ACID REACTION OF ISOEUGENOL AND ISOEUGENYL ACETATE

Direndam dalam aquades selama sehari semalam Dicuci sampai air cucian cukup bersih

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2015 sampai bulan Oktober 2015

METODOLOGI A. BAHAN DAN ALAT 1. Bahan a. Bahan Baku b. Bahan kimia 2. Alat B. METODE PENELITIAN 1. Pembuatan Biodiesel

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei 2015 sampai bulan Oktober 2015

BAB III METODE PENELITIAN

LAMPIRAN. Lampiran 1. Sertifikat analisis kalium diklofenak

BAB III METODE PENELITIAN

Bab III Metodologi Penelitian

LAMPIRAN. Lampiran 1. Sertifikat analisis bahan baku (kalium diklofenak)

BAB III METODE PENELITIAN. Pada bab ini akan diuraikan mengenai metode penelitian yang telah

BAB III METODE PENELITIAN. Pelaksanaan penelitian dimulai sejak Februari sampai dengan Juli 2010.

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Lokasi Pengambilan Sampel, Waktu dan Tempat Penelitian. Lokasi pengambilan sampel bertempat di sepanjang jalan Lembang-

Indo. J. Chem. Sci. 3 (1) (2014) Indonesian Journal of Chemical Science

3. Metodologi Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Juli sampai bulan November 2009

1.Penentuan Kadar Air. Cara Pemanasan (Sudarmadji,1984). sebanyak 1-2 g dalam botol timbang yang telah diketahui beratnya.

5001 Nitrasi fenol menjadi 2-nitrofenol dan 4-nitrofenol

BAB III METODE PENELITIAN. menjadi 5-Hydroxymethylfurfural dilaksanakan di Laboratorium Riset Kimia

Molekul, Vol. 2. No. 1. Mei, 2007 : REAKSI TRANSESTERIFIKASI MINYAK KACANG TANAH (Arahis hypogea. L) DAN METANOL DENGAN KATALIS KOH

BAB III METODE PENELITIAN

KINETIKA REAKSI PEMBENTUKAN KALIUM SULFAT DARI EKSTRAK ABU JERAMI PADI DENGAN ASAM SULFAT

Gambar 7 Desain peralatan penelitian

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: ( Print) F-234

BAB III METODE PENELITIAN. Untuk mengetahui kinerja bentonit alami terhadap kualitas dan kuantitas

3 Metodologi Penelitian

4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol

SINTESIS TURUNAN KALKON DARI MIRISTISIN MINYAK PALA

BAB III METODE PENELITIAN. Preparasi selulosa bakterial dari limbah cair tahu dan sintesis kopolimer

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di Laboratorium Riset Kimia, Laboratorium Riset

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Alat dan Bahan Desain dan Sintesis Amina Sekunder

Standard of Operation Procedure (SOP) Kegiatan : Good Development Practice Sub Kegiatan : Metoda Pengujian Kualitas Minyak Nilam

OPTIMASI PERBANDINGAN MOL METANOL/MINYAK SAWIT DAN VOLUME PELARUT PADA PEMBUATAN BIODIESEL MENGGUNAKAN PETROLEUM BENZIN

KINETIKA REAKSI PEMBUATAN KALSIUM KARBONAT DARI LIMBAH PUPUK ZA DENGAN PROSES SODA. Suprihatin, Ambarita R.

BAB III METODE PENELITIAN

Indo. J. Chem. Sci. 4 (2) (2015) Indonesian Journal of Chemical Science

BAB III METODE PENELITIAN

Praktikum Kimia Fisika II Hidrolisis Etil Asetat dalam Suasana Asam Lemah & Asam Kuat

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi pengambilan sampel bertempat di daerah Cihideung Lembang Kab

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai Juli 2012 di Laboratorium Kimia Fisika

BAB III METODE PENELITIAN

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Perumusan Masalah

BAB III METODA PENELITIAN. Secara umum, proses penelitian ini terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penelitian Jurusan Pendidikan

3 METODOLOGI PENELITIAN

SYNTHESIS OF 3,4-DIMETHOXY ISOAMYL CINNAMIC AS THE SUNSCREEN COMPOUND FROM CLOVE OIL AND FUSEL OIL

BAB III METODE PENELITIAN

4023 Sintesis etil siklopentanon-2-karboksilat dari dietil adipat

4010 Sintesis p-metoksiasetofenon dari anisol

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA PERSAMAAN ARRHENIUS DAN ENERGI AKTIVASI

Jason Mandela's Lab Report

3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Bahan dan Alat 3.3 Metode Penelitian

MODUL PRAKTIKUM LABORATORIUM INSTRUKSIONAL TEKNIK PANGAN

BAB III METODE PENELITIAN

MATERI DAN METODE. Daging Domba Daging domba yang digunakan dalam penelitian ini adalah daging domba bagian otot Longissimus thoracis et lumborum.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Januari Februari 2014.

Kumpulan Laporan Praktikum Kimia Fisika PERCOBAAN VI

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

KINETIKA REAKSI HIDROLISIS ENCENG GONDOK MENJADI FURFURAL DENGAN KATALISATOR HCL

4006 Sintesis etil 2-(3-oksobutil)siklopentanon-2-karboksilat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Esterifikasi Asam Lemak Bebas Dari Minyak Goreng Bekas

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

1.3 Tujuan Percobaan Tujuan pada percobaan ini adalah mengetahui proses pembuatan amil asetat dari reaksi antara alkohol primer dan asam karboksilat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Agustus 2011 di laboratorium Riset Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Pendidikan

4028 Sintesis 1-bromododekana dari 1-dodekanol

MODUL I Pembuatan Larutan

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN. selulosa Nata de Cassava terhadap pereaksi asetat anhidrida yaitu 1:4 dan 1:8

KINETIKA REAKSI Kimia Fisik Pangan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian, Jurusan

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Tujuan Percobaan 1.3. Manfaat Percobaan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Kinetika Reaksi Oksidasi Asam Miristat, Stearat, dan Oleat dalam Medium Minyak Kelapa, Minyak Kelapa Sawit, serta Tanpa Medium

METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian dilakukan pada bulan September 2013 sampai bulan Maret 2014

SKRIPSI STUDI KINETIKA REAKSI EPOKSIDASI MINYAK SAWIT

BAB III BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan September

Indonesian Journal of Chemical Research Indo.J.Chem.Res. 51. ISOMERISASI SENYAWA 3-CARENE MENJADI 4- CARENEMENGGUNAKAN KATALIS NaOH- KLOROTOLUENA

PEMBUATAN ETIL ASETAT MELALUI REAKSI ESTERIFIKASI

BAB III METODE PENELITIAN. Gorontalo yaitu SMPN 1 Gorontalo, SMPN 2 Gorontalo, SMPN 3 Gorontalo,

Lampiran 1. Diagram alir proses maserasi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Secara umum, penelitian yang dilakukan adalah pengujian laju korosi dari

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2012 sampai Januari 2013 di

BAB III METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN. 3.1 Alat Alat Adapun alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah: Alat-alat Gelas.

BAB III METODE PENELITIAN

Deskripsi METODE SEMISINTESIS TURUNAN EURIKUMANON MONOSUBSTITUSI (EURIKUMANON MONOVALERAT)SEBAGAI ANTIPLASMODIUM

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai bulan Oktober 2011 di

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

HUBUNGAN ANTARA SIFAT KEASAMAN, LUAS PERMUKAAN SPESIFIK, VOLUME PORI DAN RERATA JEJARI PORI KATALIS TERHADAP AKTIVITASNYA PADA REAKSI HIDROGENASI CIS

Transkripsi:

KINETIKA REAKSI ISOMERISASI EUGENOL Oleh: Asep Kadarohman *) M. Muchalal **) Abstrak Kinetika reaksi isomerisasi eugenol telah diteliti. Jejak reaksi, harga tetapan laju reaksi, dan energi aktivasi telah ditentukan. Reaksi isomerisasi dilakukan dengan variasi reaktan, suhu, dan waktu. Produk dianalisis dengan GC dan GC-MS. Ditemukan bahwa jejak reaksi isomerisasi eugenol merupakan gabungan paralel dan konsekutif. arga tetapan laju reaksi k 2 >k 3 >k 1 >k 4. Ea 1 (eugenol menjadi cis-isoeugenol) = 38,3689 kkal/mol, Ea 2 (cis-menjadi trans-isoeugenol) = 14,0940 kkal/mol, Ea 3 (trans- menjadi cis-isoeugenol) = 10,9664 kkal/mol, dan Ea 4 (cis-isoeugenol menjadi 2-metoksi-4- propilfenol) = 38,3132 kkal/mol. Kata kunci: Kinetika, isomerisasi, eugenol *) Pendidikan Kimia FPMIPA UPI **) Kimia FMIPA UGM Yogyakarta 1

REACTION KINETICS OF EUGENOL ISOMERIZATION Abstract Reaction kinetics of eugenol isomerization has been investigated. The reaction pathway, the rate constant, and activation energy have been determined. Isomerization reactions were carried out by the variation of reactan, temperature, and time. Products were analyzed by GC and GC-MS. It was found that the reaction pathway of eugenol isomerization was a combination of parallel and consecutive. The rate constant of k 2 >k 3 >k 1 >k 4. Ea 1 (eugenol to cis-isoeugenol) = 38.3689 kkal/mol, Ea 2 (cis-to trans-isoeugenol) = 14.0940 kkal/mol, Ea 3 (trans- to cis-isoeugenol) = 10.9664 kkal/mol, dan Ea 4 (cis-isoeugenol to 2-methoxy-4-propylphenol) = 38.3132 kkal/mol. Key words: Kinetics, isomerization, eugenol 2

PENDAULUAN Reaksi isomerisasi eugenol menghasilkan cis- dan trans-isoeugenol dengan perbandingan cis/trans semakin kecil dengan bertambah lamanya waktu reaksi (Sastrohamidjojo, 1981). Kadarohman (2003) menemukan 2-metoksi-4-propilfenol sebagai hasil samping pada reaksi isomerisasi eugenol dalam suasana basa dengan pelarut etilena glikol. Oleh karena itu persamaan reaksi isomerisasi eugenol dapat ditulis 3 CO O O O 3 CO - O 3 CO + 3 CO + O(C 2 ) 2 O C 3 C C C C C 2 C C 2 C 3 Eugenol Cis-isoeugenol O C 2 C 2 C 3 2-metoksi- 4-propilfenol Data kinetika reaksi merupakan data penting yang diperlukan dalam proses industri. Dihasilkannya tiga produk pada reaksi isomerisasi eugenol, menarik untuk diteliti bagaimana kinetika reaksi kompleksnya. Peterson et al. (1993) dan Kadarohman (1994) mengemukakan reaksi isomerisasi eugenol termasuk reaksi pseudo tingkat satu. deugenol = k 2 [Basa][Eugenol] = k 1 [Eugenol], k 1 = k 2 [Basa] dt Frost dan Pearson (1961) mengatakan bahwa secara umum ada dua jenis reaksi kompleks untuk reaksi tingkat satu yaitu reaksi paralel dan reaksi konsekutif. Reaksi paralel: Reaksi konsekutif: A U A B A V B C Dihasilkannya tiga jenis produk pada reaksi isomerisasi eugenol, maka ada tiga kemungkinan jejak reaksi kompleks isomerisasi eugenol yaitu (1) reaksi paralel, (2) reaksi konsekutif atau (3) gabungan reaksi paralel dan kosekutif. 1. Eugenol Cis-isoeugenol 2. Eugenol Cis-isoeugenol 3. Eugenol Cis-isoeugenol 3

Untuk reaksi tingkat satu, grafik hubungan konsentrasi (%) terhadap waktu (t) untuk masing-masing jenis reaksi ditunjukkan pada gambar 1. Reaksi paralel Reaksi konsekutif % A U V % A C B t t Gambar 1. ubungan waktu dengan konsentrasi hasil reaksi Peterson el al. (1993) dan Kadarohman (1994) mengemukakan pembentukan cisisoeugenol dikontrol secara kinetik sedangkan pembentukan trans-isoeugenol dikontrol secara termodinamik. al ini berarti pada reaksi isomerisasi eugenol, cis-isoeugenol lebih cepat terbentuk dari pada trans-isoeugenol, tetapi karena strukturnya kurang stabil, cisisoeugenol selanjutnya akan berubah lebih lanjut menjadi trans-isoeugenol. Eugenol Cis-isoeugenol Tolak menolak O O O 3 C C Cis-isoeugenol Tidak stabil C C O 3 C C C C Stabil METODA Bahan. Eugenol, cis-isoeugenol kadar tinggi, dan trans-isoeugenol berasal dari PT Indesso Aroma. Etilena glikol, KO, Cl, dietileter, dan vaselin untuk vakum berasal dari Merck. Alat. Seperangkat alat distilasi sederhana dengan pengurang tekanan, alat refluks, hot plate & magnetic stirrer (Ciramec 2), rotary evaporator (Buchi), alat GC (ewlett Packard 5890 series II), GC-MS (Shimadzu QP-5000), corong pisah dan peralatan gelas lainnya. 4

Konsentrasi (%) Jalannya percobaan. Sepuluh gram KO dan 40 ml etilena glikol dimasukkan ke dalam labu leher tiga yang telah dilengkapi termometer dan seperangkat alat distilasi pengurangan tekanan. Campuran diaduk dan dipanaskan sampai semua basa larut. Setelah dingin, 9,4 gram eugenol ditambahkan ke dalam larutan. Campuran diaduk dan dipanaskan dengan menggunakan penangas minyak hingga suhu sistem 125 o C. Distilat yang keluar (air) ditampung. Sistem reaksi dilanjutkan dengan direfluks. Campuran dipanaskan dengan menggunakan penangas minyak hingga suhu 150 o C selama 6 jam. Campuran didinginkan dan diencerkan dengan 100 ml akuades, kemudian diasamkan hingga p 2-3 dengan Cl 25%. Campuran diekstrak dengan dietil eter, dinetralkan kemudian dikeringkan dengan MgSO 4 anhidrous. asil yang diperoleh disaring dan pelarut diuapkan dengan menggunakan evaporator Buchi. Residu yang diperoleh dianalisis dengan GC dan GC-MS. Mengulangi percobaan: Isomerisasi terhadap cis-isoeugenol kadar tinggi Isomerisasi terhadap trans-isoeugenol kadar tinggi Isomerisasi dengan variasi suhu dan waktu ASIL DAN PEMBAASAN Berdasarkan pendapat Frost dan Pearson (1961), sebagai tahap awal dalam menentukan jejak reaksi kompleks, dilakukan reaksi isomerisasi eugenol pada suhu 150 o C variasi waktu. Data hasil reaksi isomerisasi eugenol ditunjukkan pada gambar 2. 100 90 80 70 60 50 40 30 Eugenol Cis-isoeugenol 20 10 0 0 2 4 6 8 10 12 Waktu (Jam) Gambar 2. ubungan waktu dengan persen komponen utama hasil reaksi isomerisasi eugenol pada suhu 150 o C Gambar 2 menunjukkan pada reaksi isomerisasi eugenol suhu 150 o C, kuantitas eugenol berkurang, cis-isoeugenol mula-mula naik kemudian berkurang, dan kuantitas trans- 5

isoeugenol serta 2-metoksi-4-propilfenol terus bertambah. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa ada dua jenis reaksi kompleks yang mungkin terjadi, yaitu (1) reaksi konsekutif yang ditandai oleh kuantitas cis-isoeugenol yang dihasilkan mula-mula naik kemudian berkurang dan (2) reaksi paralel yang ditandai oleh adanya dua macam produk (trans-isoeugenol dan 2-metoksi-4-propilfenol) yang kuantitasnya terus bertambah. Berkurangnya kuantitas cis-isoeugenol pada waktu reaksi setelah 2 jam, menimbulkan pertanyaan apakah cis-isoeugenol berubah menjadi trans-isoeugenol atau menjadi 2-metoksi-4-propilfenol, atau secara paralel menjadi trans-isoeugenol dan 2- metoksi-4-propifenol. Untuk menentukan jejak reaksi ini, telah dilakukan reaksi isomerisasi terhadap cis-isoeugenol dengan kadar tinggi (74,85%) pada kondisi yang sama dengan reaksi isomerisasi eugenol. Kromatogram isoeugenol dengan kadar cisisoeugenol tinggi sebelum dan sesudah reaksi ditunjukkan pada gambar 3. a b Gambar 3. Kromatogram (a) isoeugenol dengan kadar cis-isoeugenol tinggi sebelum reaksi (b) hasil reaksi isomerisasi Gambar 3 menunjukkan perubahan yang paling berarti pada sebelum dan sesudah reaksi yaitu perubahan jumlah cis- dan trans-isoeugenol (data tabel 1). Jumlah cis-isoeugenol berkurang 63,80% sedangkan jumlah trans-isoeugenol bertambah 63,64%. Kalau dicermati, bertambahnya trans-isoeugenol 63,64% tidak mungkin semuanya berasal dari eugenol yang berkurang hanya 3,12%. Data ini menunjukkan bahwa senyawa asal pembentuk trans-isoeugenol adalah cis-isoeugenol. 6

Konsentrasi (%) Tabel 1. Perbandingan komponen penyusun isoeugenol sebelum dan sesudah reaksi pada kondisi yangsama dengan reaksi isomerisasi eugenol (suhu 150 o C waktu 6 jam) Komponen Kadar (%) *) Sebelum reaksi Sesudah reaksi Perubahan Eugenol 5,37 2,25-3,12 0,60 3,77 + 3,17 Cis-isoeugenol 74,85 11,05-63,80 18,73 82,37 +63,64 *) % relatif dari luas area Dengan demikian perubahan eugenol menjadi cis- dan trans-isoeugenol adalah reaksi konsekutif. Eugenol Cis-isoeugenol Pembentukan 2-metoksi-4-propifenol dikontrol secara termodinamik. Untuk menentukan senyawa asal pembentuk 2-metoksi-4-propilfenol dilakukan reaksi isomerisasi eugenol pada suhu yang lebih tinggi (160 o C). Data hasil reaksi isomerisasi eugenol pada suhu 160 o C ditunjukkan pada gambar 4. 100 90 80 70 60 50 40 30 20 Eugenol Cis-isoeugenol 10 0 0 2 4 6 8 10 12 Waktu (Jam) Gambar 4. ubungan waktu dengan persen komponen utama hasil reaksi isomerisasi eugenol pada suhu 160 o C Berbeda dengan gambar 3, gambar 4 menunjukkan bahwa pada reaksi isomerisasi eugenol suhu 160 o C, kuantitas eugenol berkurang, cis-isoeugenol mula-mula naik 7

kemudian berkurang, kuantitas trans-isoeugenol mula-mula naik, konstan kemudian berkurang dan kuantitas 2-metoksi-4-propilfenol terus bertambah dengan bertambahnya waktu reaksi. Data yang perlu dicermati pada gambar 3 adalah pada waktu reaksi setelah berlangsung 6 jam, ada penurunan kuantitas trans-isoeugenol yang diikuti kenaikan kuantitas 2-metoksi-4-propilfenol. Data ini menimbulkan pertanyaan apakah ada transformasi dari trans-isoeugenol menjadi cis-isoeugenol, atau menjadi 2-metoksi-4- propilfenol. Dari gambar 4 ada dua kemungkinan arah berlangsungnya reaksi, yaitu 1. Cis-isoeugenol 2. Cis-isoeugenol Walaupun gambar 4 belum memberi informasi yang jelas, tetapi ada dugaan bahwa 2- metoksi-4-propilfenol berasal dari isoeugenol. Untuk menentukan senyawa asal pembentuk 2-metoksi-4-propilfenol, telah dilakukan reaksi isomerisasi terhadap eugenol, cis-isoeugenol kadar tinggi dan trans-isoeugenol pada suhu 150 o C. Data percobaan disajukan pada tabel 2. Tabel 2. Perbandingan jumlah 2-metoksi-4-propilfenol hasil reaksi isomerisasi pada suhu 150 o C selama 6 jam No. Pereaksi (%) 1. Eugenol (99,89%) 1,53 2. Cis-isoeugenol (74,85%) 3,74 3 (92,92%) 3,69 Tabel 2 menunjukkan bahwa 2-metoksi-4-propilfenol yang dihasilkan dari cisisoeugenol kuantitasnya relatif lebih besar dibandingkan dengan yang dihasilkan dari trans-isoeugenol (kadar 92,92%), walaupun cis-isoeugenol yang direaksikan kadarnya lebih rendah (kadar 74,85%). Tetapi karena perbedaannya sangat kecil (0,05%), maka secara pasti belum dapat ditentukan jenis senyawa isoeugenol pembentuk 2-metoksi-4- propilfenol. Untuk menentukan jenis isoeugenol pembentuk 2-metoksi-4-propilfenol, dilakukan (1) peningkatan kadar cis-isoeugenol dengan cara distilasi fraksinasi isoeugenol (kadar cis-isoeugenol mula-mula 74,85% menjadi 80,28%), (2) reaksi isomerisasi masingmasing terhadap cis- dan trans-isoeugenol pada suhu yang lebih tinggi (165 o C). Data yang diperoleh disajikan pada tabel 3. 8

Konsentrasi (%) Tabel 3. Persentase 2-metoksi-4-propilfenol hasil reaksi isomerisasi pada suhu 165 o C selama 6 jam No. Senyawa awal (%) *) 1. Cis-isoeugenol (80,28%) 13,47 2. (92,92%) 10,69 *) % relatif dari luas area Tabel 3 menunjukkan bahwa 2-metoksi-4-propilfenol yang dihasilkan dari cis-isoeugenol 80,28% sebanyak 13,47%, sedangkan dari trans-isoeugenol 92,92% hanya 10,69%. Berdasarkan perbedaan kuantitas 2-metoksi-4-propilfenol yang dihasilkan dari cis- dan trans-isoeugenol menunjukkan bahwa senyawa asal pembentuk 2-metoksi-4-propilfenol adalah cis-isoeugenol. Dengan demikian reaksi pembentukan 2-metoksi-4-propilfenol merupakan reaksi konsekutif dari eugenol dan reaksi paralel dari cis-isoeugenol terhadap trans-isoeugenol. Reaksi isomerisasi eugenol suhu 160 o C setelah waktu reaksi 6 jam jumlah transisoeugenol berkurang (gambar 4), dan dari data percobaan (tabel 3) ditemukan bahwa pembentukan 2-metoksi-4-propilfenol berasal dari cis-isoeugenol. Berdasarkan gambar 4 dan tabel 3, diduga trans-isoeugenol dapat berubah menjadi cis-isoeugenol. Untuk menguji kebenaran dugaan ini, dilakukan reaksi isomerisasi terhadap transisoeugenol pada suhu 150 o C dengan waktu reaksi yang divariasi. Data hasil percobaan (gambar 5) menunjukkan bahwa kuantitas trans-isoeugenol berkurang, cis-isoeugenol bertambah dan kuantitas 2-metoksi-4-propilfenol terus bertambah dengan bertambahnya waktu reaksi. Data ini menunjukkan bahwa trans-isoeugenol dapat berubah menjadi cisisoeugenol. Dengan demikian reaksi perubahan cis-menjadi trans-isoeugenol adalah reaksi keseimbangan.. 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Cis-isoeugenol 0 2 4 6 8 10 12 Waktu (Jam) Gambar 5. ubungan waktu terhadap persen komponen utama hasil reaksi isomerisasi trans-isoeugenol pada suhu 150 o C 9

Berdasarkan tabel 3 dan gambar 5, maka arah berlangsungnya reaksi dari cis-isoeugenol menjadi trans-isoeugenol dan 2-metoksi-4-propilfenol adalah Cis-isoeugenol Dengan demikian jejak reaksi isomerisasi eugenol merupakan gabungan antara reaksi paralel dan reaksi konsekutif. Cis-isoeugenol berasal dari eugenol, transisoeugenol dan 2-metoksi-4-propilfenol berasal dari cis-isoeugenol. Reaksi eugenol menjadi cis-isoeugenol dan reaksi cis-isoeugenol menjadi 2-metoksi-4-propilfenol merupakan reaksi satu arah, sedangkan reaksi cis-isoeugenol menjadi trans-isoeugenol merupakan reaksi keseimbangan. Secara matematik, persamaan laju reaksi kompleks isomerisasi dapat dituliskan sbb.. d[eug] dt d[ Cis] dt d[ Trans] dt d[mpf] dt - k [Eug] 1 k [Eug] k [ Trans] - k [ Cis] - k [ Cis] 1 3 2 4 k [ Cis] - k [ Trans] 4 2 3 k [ Cis] (Pers, 1) (Pers, 2) (Pers, 3) (Pers, 4) Penentuan harga tetapan laju reaksi (k) dilakukan secara grafik dan perhitungan pada variasi suhu. arga tetapan laju reaksi disajikan pada tabel 4. Tabel 4. arga tetapan laju reaksi isomerisasi eugenol dengan KO pelarut etilena glikol pada berbagai suhu Tetapan Suhu laju 145 o C 150 o C 155 o C 160 o C k 1 (Jam -1 ) 0,3297 0,5230 1,0348 1,5518 k 2 (Jam -1 ) 3,0733 3,6087 4,6029 5,4433 k 3 (Jam -1 ) 0,8091 0,9214 1,0880 1,2723 k 4 (Jam -1 ) 0,0174 0,0302 0,0599 0,0815 10

Tabel 4 menunjukkan bahwa harga tetapan laju reaksi meningkat sejalan dengan naiknya suhu. arga tetapan laju reaksi selanjutnya digunakan untuk menentukan harga energi aktivasi (Ea) pada masing-masing tahap reaksi. Penentuan energi aktivasi dilakukan secara grafik. Ea RT k Ae Ea - RT ln k = ln e + ln A Ea ln k = - RT + ln A Ea1 = 38,3689 kkal/mol Ea2 = 14,0940 kkal/mol Eugenol Cis-isoeugenol Ea3 = 10,9664 kkal/mol Ea4 = 38,3132 kkal/mol KESIMPULAN Ditemukan bahwa jejak reaksi isomerisasi eugenol merupakan gabungan paralel dan konsekutif. arga tetapan kecepatan k 2 >k 3 >k 1 >k 4. Ea 1 (eugenol menjadi cis-isoeugenol) = 38,3689 kkal/mol, Ea 2 (cis-menjadi trans-isoeugenol) = 14,0940 kkal/mol, Ea 3 (trans- menjadi cis-isoeugenol) = 10,9664 kkal/mol, dan Ea 4 (cis-isoeugenol menjadi 2-metoksi-4- propilfenol) = 38,3132 kkal/mol. 11

UCAPAN TERIMA KASI PT INDESSO AROMA di Purwokerto yang telah memberi eugenol, cis- dan transisoeugenol dengan kadar tinggi sebagai bahan penelitian Saudara Idi Wahyudi, S.Si. yang telah membantu pelaksanaan penelitian. DAFTAR PUSTAKA Frost, A.A. and Pearson, R.G., 1961, Kinetics and Mechanism, A Study of omogeneous Chemical Reactions, 2nd Ed., John Wiley, New York Kadarohman, A., 1994, Mempelajari Mekanisme dan Kontrol Reaksi Isomerisasi Eugenol Menjadi Isoeugenol, Tesis, Program Pascasarjana UGM, Yogyakarta, 2003, Isomerisasi, idrogenasi Eugenol, dan Sintesis Turunan Kariofilena, Disertasi, UGM, Yogyakarta Peterson, T.., Bryan, J.., and Keevil, T.A., 1993, "A Kinetic Study of the Isomerization of Eugenol", J. Chem. Ed., 70, A96-A98. Sastrohamidjojo,., 1981, A Study of Some Indonesian Essential Oils, Disertasi, FMIPA UGM, Yogyakarta 12