DECISION THEORY DAN GAMES THEORY



dokumen-dokumen yang mirip
BAB IX PROSES KEPUTUSAN

Keputusan Dalam Ketidakpastian dan Resiko

Pengambilan Keputusan dalam Ketidakpastian

OUTLINE. BAGIAN II Probabilitas dan Teori Keputusan. Konsep-konsep Dasar Probabilitas. Distribusi Probabilitas Diskret.

PENGENALAN SISTEM OPTIMASI. Oleh : Zuriman Anthony, ST. MT

Pertemuan 6 TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

PERTEMUAN 6 TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

TIN102 - Pengantar Teknik Industri Materi #13 Ganjil 2016/2017 TIN102 PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI

Materi #13 TKT101 PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI T a u f i q u r R a c h m a n

PENGAMBILAN KEPUTUSAN MANAJEMEN

TIN102 - Pengantar Teknik Industri Materi #12 Ganjil 2014/2015 TIN102 PENGANTAR TEKNIK INDUSTRI

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KONDISI BERESIKO IRA PRASETYANINGRUM

Keputusan MODUL OLEH

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KONDISI BERESIKO

LATIHAN SOAL TERJAWAB-BAB 10. Untuk mahasiswa, jawaban diberikan untuk soal ganjil.

BAB 2 LANDASAN TEORI

Pengertian Pengambilan Keputusan

STATISTICAL THINKING DALAM MENGAMBIL KEPUTUSAN BISNIS. Rezzy Eko Caraka

MATERI TAMBAHAN TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN (Sumber Bambang Avip Priatna Martadiputra)

Teknik Industri Unirversitas PGRI Ronggolawe Tuban

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KONDISI TIDAK PASTI

BAB II LANDASAN TEORI

Makalah Ekonomi Manajerial Tentang Pengambilan Keputusan Dalam Kondisi Beresiko

TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN. Liduina Asih Primandari, S.Si.,M.Si.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KONDISI TIDAK PASTI. OLEH Ir. Indrawani Sinoem, MS.

BAB 2 LANDASAN TEORI

Kasus di atas dapat diselesaikan menggunakan analisis breakeven.

Teori Pengambilan Keputusan

BAB 3 METODE PENELITIAN. Desain penelitian dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu suatu

BAB III TEORI UTILITAS

TEORI PERMAINAN GAME THEORY MATA KULIAH RISET OPERASI

Sesi X ANALISIS KEPUTUSAN

Pertemuan 7 GAME THEORY / TEORI PERMAINAN

SI403 Riset Operasi Suryo Widiantoro, MMSI, M.Com(IS)

Pengambilan Keputusan dalam Keadaan Tidak Ada Kepastian IRA PRASETYANIGRUM

STRATEGI GAME. Achmad Basuki

BAB I DASAR SISTEM OPTIMASI

Analisa Keputusan Manajemen dengan Pemrograman Dinamis

Metode Kuantitatif Bisnis. Week 9 Decision Analysis Decision Table

BAB IV TEORI PERMAINAN

BAB II LANDASAN TEORI

OLEH: DR. HJ.A RATNA SARI DEWI, SE, MSI FAK. EKONOMI UNHAS

Definisi & Latar Belakang...(1/2)

Chapter Topics. The payoff table and decision trees. Criteria for decision making

Pemain B B 1 B 2 B 3 9 5

Definisi & Latar Belakang...(1)

MASALAH PENUGASAN PENDAHULUAN

Istilah games atau permainan berhubungan erat dengan kondisi pertentangan bisnis yang meliputi suatu periode tertentu.

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Oleh : Debrina Puspita Andriani Teknik Industri Universitas Brawijaya /

Teori Permainan. Lecture 8 : Pengambilan Keputusan dalam Kondisi Konflik (Game Theory) Hanna Lestari, ST, M.Eng

TEORI PERMAINAN GAME THEORY MATA KULIAH RISET OPERASI

TEORI PERMAINAN. JHON HENDRI RISET OPERASIONAL UNIVERSITAS GUNADARMA 2009 Page 1

BAB III METODE ANALISIS INCREMENTAL

Matematika Bisnis (Linear Programming-Metode Grafik Minimisasi) Dosen Febriyanto, SE, MM.

Sistem Pendukung Keputusan / Decision Support System

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 2 LANDASAN TEORI

Guru M1 M2 M3 M4 Pekerjaan P P P P

PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM KONDISI KONFLIK (GAME THEORY)

Pengambilan Keputusan dalam keadaan ada kepastian. IRA PRASETYANINGRUM, S.Si,M.T

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Bab 2 LANDASAN TEORI

III. KERANGKA PEMIKIRAN

Manajemen Operasional KEPUTUSAN PERENCANAAN STRATEGI

Decision Making Prentice Hall, Inc. A 1

MANAGEMENT SUMMARY CHAPTER 7 DECISION MAKING

PERBANDINGAN KRITERIA KEPUTUSAN MAXIMIN DENGAN KRITERIA KEPUTUSAN LAPLACE PADA PENCARIAN SOLUSI PROGRAM LINIER FUZZY SKRIPSI MELVA YETTI SIHOTANG

BAB II LANDASAN TEORI

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

LINEAR PROGRAMMING. Pembentukan model bukanlah suatu ilmu pengetahuan tetapi lebih bersifat seni dan akan menjadi dimengerti terutama karena praktek.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Dilarang memperbanyak MOJAKOE ini tanpa seijin SPA FEUI. Download MOJAKOE dan SPA Mentoring di : MOJAKOE MKDB SPA FEUI 2014

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

MKDB UAS Semester Genap 2014/2015

TEORI PERMAINAN. Tidak setiap keadaan persingan dapat disebut sebagai permainan (game). Kriteria atau ciri-ciri dari suatu permainan adalah :

Teori permainan mula-mula dikembangkan oleh ilmuan Prancis bernama Emile Borel, secara umum digunakan untuk menyelesaikan masalah yang

MENTORING MKDB. Dilarang Memperbanyak Mentoring ini tanpa seijin SPA FEUI. Mentoring dapat didownload di

TEORI PENGAMBILAN KEPUTUSAN

ANALISIS PEMBENTUKAN PORTOFOLIO OPTIMAL PROYEK MENGGUNAKAN TEORI PREFERENSI DAN CAPM EFFICIENT FRONTIER

Manajemen Operasional

Manajemen Kuantitatif Modul 10 dan 11 TEORI PERMAINAN ( GAME THEORY)

PENGUKURAN RISIKO MANFAAT PENGUKURAN RISIKO DIMENSI YANG DIUKUR

PENGUKURAN RISIKO MANFAAT PENGUKURAN RISIKO DIMENSI YANG DIUKUR

Sesi IX : RISET OPERASI. Perkembangan Riset Operasi

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

Riset Operasi GAME THEORY. Evangs Mailoa, S.Kom., M.Cs.

III KERANGKA PEMIKIRAN

1.1 Definisi Keputusan. Definisi:

BAB IV METODOLOGI PENGAMBILAN KEPUTUSAN. Low Cost Carrier Citilink Garuda Indonesia periode Bulan Januari sampai dengan

III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III PORTOFOLIO OPTIMAL. Capital assets pricing model dipelopori oleh Treynor, Sharpe, Lintner

MANAJEMEN (RISK MANAGEMENT)

BAB 1 PENDAHULUAN. bersifat inheren yang muncul sebelum risiko yang lainnya (Muslich, 2007).

BAB I PENDAHULUAN. yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yaitu investasi, portofolio, return dan expected return, risiko dalam berinvestasi,

BAB III GAME THEORY. Dalam kehidupan sehari-hari sering dijumpai kegiatan-kegiatan yang


Sistem Pendukung Keputusan / Decision Support System

Lecture 1: Concept of Game Theory A. Pendahuluan bidang perdagangan (bisnis), olahraga, peperangan (pertahanan), dan politik

Transkripsi:

DECISION THEORY DAN GAMES THEORY PENGANTAR Lingkungan di mana keputusan dibuat sering digolongkan kedalam empat keadaan: certainty, risk, uncertainty, dan conflict. Decision theory terutama berhubungan dengan pengambilan keputusan dalam keadaan risk dan uncertainty. Theory of games berhubungan dengan pengambilan keputusan dalam suasana conflict. Baik decision theory maupun games theory membantu pembuat keputusan dalam menganalisa masalah-masalah dengan bermacammacam pilihan tindakan-konsekuensi dan kemudian mengidendifikasi tindakan yang terbaik. Suatu keadaan certainty terjadi jika semua informasi yang diperlukan untuk membuat suatu keputusan diketahui dan tersedia (sering dinamakan perfect information). Dalam LP, model diformulasikan dan dipecahkan dalam keadaan yang diasumsikan certainty. Misalnya tentang jumlah yang pasti akan sumber daya yang diperlukan untuk menghasilkan suatu barang, sumber daya yang tersedia, dan keuntungan per unit semuanya diasumsikan diketahui dengan certainty. Kondisi certainty juga ditemui dalam masalah transportasi, non linear programming, dan deterministic dynamic programming. Asumsi certainty untuk suatu masalah di mana informasi tak diketahui dengan certainty sering memberikan suatu pendekatan solusi optimum yang beralasan. Keadaan risk terdapat jika informasi sempurna tak tersedia tetapi probabilitas bahwa hasil (outcomes) tertentu akan terjadi dapat diperkirakan. Sehingga, untuk masalah keputusan dalam suasana risk, teori probabilitas merupakan komponen penting. Keadaan uncertainty menunjukkan suatu keadaan di mana probabilitas kejadian dalam suatu situasi keputusan tak diketahui. Dalam suasana risk, outcomes dari suatu situasi keputusan didefinisikan melalu suatu distribusi probabilitas. Sementara dalam uncertainty fungsi probabilitas tidak dapat ditentukan. Sehingga suasana certainty dan uncertainty menunjukkan dua ekstrim yang mewakili tersedianya informasi sementara suasana resiko adalah titik antaranya. Kondisi conflict ada jika kepentingan dua atau lebih pengambil keputusan berada dalam persaingan. Pengambil keputusan tidak hanya tertarik pada tindakan mereka, tetapi juga pada tindakan pengambil keputusan yang lain. KEPUTUSAN DALAM SUASANA RESIKO Membahas pengambilan keputusan dalam suasana resiko, harus diawali dengan mengidentifikasikan bermacam-macam tindakan yang tersedia dan layak. Kemudian, peristiwa-peristiwa yang mungkin probabilitas terjadinya harus diduga. Ketiga, pay off untuk suatu peristiwa tertentu ditentukan. Bukan hal mudah untuk membuat monetary pay off kombinasi tindakan-peristiwa secara tepat. Namun, pengalaman yang banyak dan atau catatan masa lalu memberikan dugaan pay off

yang relatif tepat. Untuk mendemonstrasikan langkah-langkah ini dalam pengambilan keputusan pada suasana resiko, ikuti contoh berikut. Contoh : Masalah Investasi Sebuah perusahaan sedang mempertimbangkan dua alternatif, A dan B, yang memiliki dua kondisi finansial yang berbeda. Setiap kondisi memiliki probabilita kejadian yang sama (p I = 0,5 dan p 2 = 0,5). Pay off matriks masalah ini ditunjukkan pada tabel berikut. kondisi 1 p 1 =0,5 Peristiwa kondisi 2 p 2 =0,5 A -1.000.000 1.060.000 B 20.000 30.000 Kriteria yang paling sering digunakan dalam pengambilan keputusan adalah expected value. Expected value untuk suatu tindakan adalah rata-rata tertimbang pay off, yaitu jumlah dari pay off untuk setiap tindakan dikalikan probabilitas peristiwa yang bersangkutan. yang logis adalah yang memiliki expected value terbesar. Expected value (nilai harapan) kedua rencana adalah : E (A) = -1.000.000 (0,5) + 1.060.000 (0,5) = 30.000 E (B) = 20.000 (0,5) + 30.000 (0,5) = 25.000 Meskipun nilai harapan rencana A lebih besar dari pada rencana B, pengambil keputusan bisa saja lebih memilih B dari pada A. Dalam kasus ini, pengambil keputusan mungkin meletakkan prioritas yang lebih tinggi dalam mencegah kerugian potensial yang berkaitan dengan kombinasi kondisi 1 dan A dari pada pay off rata-rata jangka panjang. EXPECTED OPPORTUNITY LOSS Suatu kriteria alternatif untuk mengevaluasi keputusan dalam suasana risk dinamakan expected opportunity loss (EOL). Prinsip dasar EOL adalah meminimumkan kerugian yang disebabkan karena pemilihan alternatif keputusan tertentu. Konsep EOL didemonstrasikan pada contoh berikut. Misalkan sebuah perusahaan memiliki tiga alternatif A, B, dan C dan dua peristiwa yang mencerminkan kondisi pasar yang berlainan. Komponenkomponen situasi keputusan itu disajikan pada tabel berikut.

kondisi 1 p 1 =0,4 Peristiwa kondisi 2 p 2 =0,6 A 50.000-10.000 B 15.000 60.000 C 100.000 10.000 Opportunity loss dihitung untuk setiap peristiwa dengan pertama kali mengidentifikasikan tindakan terbaik untuk setiap peristiwa. Bagi kondisi pasar 1, C adalah keputusan terbaik. Opportunity loss karena pemilihan A atau B dihitung dengan mengurangkan pay off mereka dari pay off C. Sehingga opportunity loss untuk A adalah 50.000 (= 100.000-50.000) dan untuk B adalah 85.000 (= 100.000-15.000). Jika kondisi pasar 2 dikatakan diketahui dengan pasti, opportunity loss untuk setiap alternatif tindakan dapat dihitung dengan cara yang sama seperti kondisi pasar 1. Dalam hal ini B adalah alternatif terbaik. Opportunity loss untuk semua alternatif dengan kondisi pasar tertentu ditunjukkan pada tabel berikut. kondisi 1 p 1 =0,4 Peristiwa kondisi 2 p 2 =0,6 A 50.000 70.000 B 85.000 0 C 0 50.000 EOL, yang memasukkan probabilitas masing-masing kondisi pasar, dihitung dengan menentukan nilai harapan untuk setiap tindakan. Sehingga : EOL A = 0,4 (50.000) + 0,6 (70.000) = 62.000 EOL B = 0,4 (85.000) + 0,6 ( 0) = 34.000 EOL C = 0,4 ( 0) + 0,6 (50.000) = 30.000 Dapat dilihat bahwa alternatif terbaik adalah C, karena minimumkan EOL. Dengan kriteria expected value juga akan disarankan untuk memilih C. Kedua kriteria akan selalu memberikan kesimpulan yang sama. Konsekuensinya, cukup salah satu dari kedua kriteria diterapkan untuk mencapai suatu keputusan.

EXPECTED VALUE of PERFECT INFORMATION Suatu perluasan dari kriteria expected value (EV) dan EOA expected value of perfect information (EVPI). Dalam pembuatan keputusan pada suasana risk, informasi yang tersedia kurang banyak dibanding keputusan dalam suasana certainty. Dalam hubungannya dengan teori keputusan, hal ini ditafsirkan sebagai selisih antara hasil yang berhubungan dengan probabilitas (yaitu risk) dan pengetahuan pasti di mana hasil akan terjadi. Jika informasi yang diperoleh pengambil keputusan dapat mengubah kondisi risk menjadi pasti, informasi itu dikatakan menjadi informasi sempurna. Pikirkan kembali contoh yang lalu, expected value dalam suasana certainty adalah : EV = 0,4 (100.000) + 0,6 (60.000) = 76.000. Sementara expected value dengan informasi tak sempurna yang terbesar adalah C sebesar : EV c = 0,4 (100.000) + 0,6 (10.000) = 46.000. Membandingkan hasil yang diharapkan dengan informasi sempurna (76.000) dengan hasil yang diharapkan tanpa informasi sempurna (46.000) menghasilkan EVPI. Sehingga : EVPI = 76.000-46.000 = 30.000. EVPI, 30.000, adalah jumlah maksimum yang dapat dibayarkan oleh pengambil keputusan untuk mendapatkan informasi sempurna. Perhatikan bahwa EVPI juga sama dengan EOL minimum atau EOL untuk alternatif terbaik. Ini karena EOL mengukur selisih EV terbaik keputusan dalam suasana risk dan certainty. Pengambil keputusan tidak selalu memilih alternatif yang memaksimumkan expected monetary value dalam suatu keputusannya. Ini terjadi karena beberapa sebab. Pertama, orang tidak selalu bersedia menerima kerugian potensial pada saat ini untuk merealisasikan keuntungan potensial dalam jangka panjang. Orang-orang ini dapat digambarkan sebagai risk avoiders. Di lain pihak, ada risk takers yang bersedia berjudi untuk jumlah uang yang lebih besar dari pada harapan hasil sekarang yang dijamin. Kedua, berkaitan dengan prosedur pembayaran premi asuransi. Terdapat banyak orang yang membayar premi untuk menutup kerugian rumah, mobil dan asuransi jiwa. Namun, harapan hasilnya negatif karena perusahaan asuransi menetapkan premi yang menjamin adanya keuntungan bagi asuransi. Orang membayar premi untuk mencegah kemungkinan kerugian potensial yang besar. Tingkah laku itu dapat diterangkan dengan konsep utility yang didefinisikan sebagai suatu ukuran preferensi individu akan uang (yang dihadapkan terhadap pencegahan resiko). Von Neuman dan Morgenstern mengembangkan suatu kriteria keputusan di mana utility dapat diukur. Sesuai dengan utility mereka, dalam suatu keputusan, seseorang akan memilih alternatif yang memaksimumkan expected utility nya.

Konsep utility Von Neuman dan Morgenstern diukur pada suatu skala cardinal dalam satuan yang dinamakan utiles. Utility diukur dengan meneliti suatu pola keputusan pengambil keputusan dalam suasana resiko. Kesulitan penggunaan kriteria utility adalah menentukan nilai utility. Utility secara mekanik serupa dengan penetapan expected monetary. Kurva utility adalah garis yang menghubungkan titik kombinasi utility dan uang. Dasar untuk memperoleh kurva demikian biasanya dengan menempatkan pengambil keputusan dalam bermacam-macam suasana keputusan hipotetik dan memplot pola pilihan pengambil keputusan dalam hal resiko dan utility. Gambar 8.1 menunjukkan bermacam-macam kurva utility dan ferensi resiko yang berhubungan. KEPUTUSAN DALAM KETIDAKPASTIAN Pengambilan keputusan dalam ketidak pastian menunjukkan suasana keputusan di mana probabilitas hasil-hasil potensial tak diketahui (tak diperkirakan). Dalam suasana ketidakpastian pengambil keputusan sadar akan hasil-hasil alternatif dalam bermacam-macam peristiwa seperti pada situasi resiko. Namun, pengambil keputusan tak dapat menetapkan probabilitas peristiwa. Sebagai suatu contoh, misalkan pengambil keputusan memiliki Rp 100.000 untuk dikan pada salah satu dari tiga rencana saham, obligasi atau menabung. Diasumsikan bahwa pengambil keputusan bersedia mengkan semua dana pada salah satu rencana. Pay off dari ketiga didasarkan pada tiga kondisi ekonomi potensial : dipercepat, normal, tumbuh lambat. Matriks pay off situasi keputusan ini dibentuk dengan cara yang sama seperti pada situasi resiko, yaitu:

Kondisi ekonomi Dipercepat Normal Lambat Saham 10.000 6.500-4.000 Obligasi 8.000 6.000 1.000 Tabungan 5.000 5.000 5.000 Terdapat beberapa kriteria pengambilan keputusan dalam ketidakpastian. Beberapa kriteria yang menonjol akan ditunjukkan melalui contoh ini. KRITERIA LAPLACE Kriteria Laplace menyarankan bahwa karena probabilitas peristiwa tak diketahui, seharusnya diasumsikan bahwa semua peristiwa mempunyai kemungkinan yang sama untuk terjadi. Dengan kata lain, setiap peristiwa ditetapkan memiliki probabilitas sama, dalam kasus ini sebesar 1/3. Sebingga nilai harapan untuk ketiga alternatif adalah : EV saham = 1/3 (10.000) + 1/3 (1.500) + 1/3 (-4.000) = 4.167 EV obligasi = 1/3 ( 8.000) + 1/3 (6.000) + 1/3 ( 1.000) = 5.000 EV tabungan = 5.000 Berdasar kriteria pengambilan keputusan yang normal, pengambil keputusan akan memilih tabungan atau obligasi. KRITERIA MAXIMIN Kriteria maximin yang kadang-kadang dinamakan krietria Wald untuk menghormati penemunya Abraham Wald, didasarkan pada asumsi bahwa pengambil keputusan adalah pesimis atau konservatif atau risk avoider tentang masa depan. Menurut kriteria ini, hasil terkecil untuk setiap alternatif dibandingkan dan alternatif yang menghasilkan nilai maksimum dari hasil-hasil yang minimum dipilih. Dalam contoh, pay off terkecil untuk setiap alternatif adalah: Pay off terkecil Saham - 4.000 Obligasi 1.000 Tabungan 5.000

Berdasar kriteria maximin, dipilih tabungan kerena menghasilkan nilai maksimum dari hasil yang minimum sebesar 5000. KRITERIA MAXIMAX Pendekatan yang berlawanan terhadap kriteria maximin adalah maximax. Kriteria maximax didasarkan pada asumsi optimisme keputusan. Menurut kriteria ini pengambil keputusan memilih alternatif yang merupakan nilai maksimum dari pay off yang maksimum. Dalam contoh, pay off maksimum untuk setiap tiga rencana adalah : Pay off maksimum Saham 10.000 Obligasi 8.000 Tabungan 5.000 Berdasar kriteria ini dipilih saham karena memberikan nilai maksimum dari nilai hasil yang maksimum, yaitu 10.000. KRITERIA HURWICZ Kriteria yang diajukan oleh Leonid Hurwicz menunjukkan suatu komporomi antara kriteria maximin dan maximax. Pada kenyataannya, pengambil keputusan jarang pesimistik atau optimistik secara sempurna. Pengambil keputusan yang tepat biasanya memperlihatkan suatu campuran antara pesimisme dan optimisme. Sebagai akibatnya, Hurwicz menyarankan suatu coeficient optimism untuk mengukur tingkat optimisme pengambil keputusan. Skala koefisien ini, a, berkisar dari 0 sampai 1, di mana 0 menunjukkan pesimisme sempurna dan 1 menunjukkan optimisme sempurna. Jika a=0, keputusan dikatakan memiliki optimisme nol, sementara a=1 berarti pengambil keputusan adalah optimis secara total. Karena koefisien optimisme adalah a, maka koefisien pesimisme adalah 1-a. Pendekatan Hurwicz menghendaki bahwa untuk setiap alternatif pay-off yang maksimum dikalikan a dan pay off minimum dikalikan 1-a. Ini menghasilkan nilai tertimbang, yang tertinggi menunjukkan alternatif terbaik. Pada contoh, pay off maksimum dan minimum adalah :

Maksimum Pay off Minimum Saham 10.000-4.000 Obligasi 8.000 1.000 Tabungan 5.000 5.000 Jika koefisien optimisme a=0,6, nilai tertimbang untuk setiap alternatif adalah : Saham : 10.000 (0,6) + [- 4.000 (0,4)] = 4.400 Obligasi : 8.000 (0,6) + 1.000 (0,4) = 5.200 Tabungan : 5.000 )0,6) + 5.000 (0,4) = 5.000 Karena obligasi memiliki nilai tertimbang tertinggi, ia terpilih sebagai alternatif terbaik. Jika a=0, kriteria Hurwicz menjadi kriteria maximin dan jika a=1, ia merupakan kriteria maximax. Masalah pokok kriteria Hurwicz adalah penentuan a. Beberapa nilai a harus diperiksa sebelum pendugaan realistik tingkat optimisme pengambil keputusan ditetapkan. Masalah lain adalah bahwa ia mengabaikan beberapa informasi yang tersedia (dalam kasus ini, kondisi ekonomi tumbuh normal diabaikan). KRITERIA REGRET Kriteria regret atau minimax pertama kali dimajukan oleh L.J. Savage yang didasarkan pada konsep opportunity loss yang telah diperkenalkan pada subbab sebelumnya pada pembahasan pengambilan keputusan risk. Prinsip dasar pendekatan ini adalah bahwa pengambil keputusan mengalami kerugian jika suatu peristiwa terjadi, menyebabkan alternatif yang terpilih kurang dari pay off maksimum. Jumlah regret atau opportunity loss ditentukan dengan mengurangkan pay off alternatif itu untuk peristiwa tetentu dari pay off maksimum. Kriteria regret menghendaki bahwa dipilihnya nilai minimum dari regret maksimum (karena itu dinamakan kriteria minimax). Untuk contoh, matriks regretnya adalah : Kondisi ekonomi Dipercepat Normal Lambat Saham 0 0 9.000 Obligasi 2.000 500 4.000 Tabungan 5.000 1.500 0

Nilai regret maksimum untuk setiap alternatif adalah : Regret maksimum Saham 9.000 Obligasi 4.000 Tabungan 5.000 Karena kriteria regret menghendaki pemilihan alternatif yang minimum regret maksimum, maka obligasi (4.000) yang dipilih. RINGKASAN KRITERIA KEPUTUSAN Keputusan yang dibuat pada contoh di atas untuk masing-masing kriteria keputusan dapat diringkas seperti berikut. Kriteria Laplace Maximin Maximax Hurwicz (a=0,6) Regret (minimax) Keputusan Tabungan (obligasi) Tabungan Saham Obligasi Obligasi