Oleh: Sumardiono Layout: Mira Julia

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Oleh: Sumardiono Layout: Mira Julia"

Transkripsi

1

2 Apa Itu Homeschooling Oleh: Sumardiono Layout: Mira Julia Dibuat dan dipublikasikan oleh: Rumah Inspirasi & Bentang Ilmu

3 1 Homeschooling Satu kata beragam makna dan interpretasi Sebagai praktisi homeschooling yang mengelola blog Rumah Inspirasi dan sering menulis tentang homeschooling, saya sering mendapatkan dan menerima pertanyaan tentang homeschooling. Di mana saya bisa mendaftar homeschooling? Berapa biaya homeschooling? Apakah homeschooling ada di kota saya? Bagaimana caranya mendirikan homeschooling? Apakah saya bisa ikut homeschooling Anda? Atau, seorang teman berkomentar, O... jadi Anda sekarang bisnis homeschooling? Memang bisnis

4 homeschooling lagi naik daun ya? Sewaktu saya 2 memberikan jawaban dengan gelengan kepala dan menjawab bahwa homeschooling bukanlah bisnis tapi keluarga yang mendidik anaknya sendiri, dia tampak kebingungan. Saya menangkap wajah yang seolah menunjukkan ketidakpercayaan, tapi tak terucapkan. Itulah sebagian dari pertanyaan-pertanyaan dan komentar yang saya terima. Saya sendiri bingung bagaimana menjawab pertanyaan itu. Tampaknya ada kesenjangan yang sangat lebar antara pertanyaan-pertanyaan itu dan homeschooling sebagaimana yang saya ketahui dan jalani. Inilah yang saya ketahui dan jalani mengenai homeschooling.

5 Seputar pengertian homeschooling 3 Tak ada definisi yang mudah tentang apa itu homeschoolig atau home education atau yang di Indonesia diterjemahkan menjadi sekolahrumah. Menurut Marsha Ransom, penulis buku The Complete Idiot s Guide to Homeschooling, homeschooling adalah istilah generik yang sering digunakan untuk menggambarkan keluarga-keluarga yang memilih untuk mendidik anaknya di rumah. Tetapi, istilah homeschooling itu sendiri sering dianggap kurang tepat karena istilah itu seolah-olah menggambarkan model pendidikan yang menggunakan metode seperti lembaga sekolah (ruang kelas, buku pelajaran, guru, murid, tes, rapor, kelas, dan sebagainya. Padahal, banyak sekali model dan metode yang dijalani oleh keluarga-keluarga homeschooling. Oleh karena itu, sebagian keluarga lebih menyukai sebutan home education atau home-based learning karena mereka menggunakan rumah sebagai titik berangkat

6 pendidikan dan belajar, tetapi model belajar yang 4 digunakanya tak seperti sekolah. Mereka menggunakan keseharian dan lingkungan sekitar sebagai bagian integral yang digunakan dalam proses belajar dan pendidikan anak-anak. Para orangtua lebih menempatkan diri sebagai fasilitator dan mentor daripada sebagai guru dalam pengertian tradisional. Keluarga-keluarga ini mungkin juga menggunakan buku pelajaran dan metode konvensional lainya, tetapi mereka berusaha mengaitkan antara materi yang dipelajari anak-anak dengan dunia nyata sehari-hari yang dijalani. Kendatipun ada beberapa perbedaan dalam pemaknaan homeschooling, secara substansi ada beberapa hal yang terkandung dalam pengertian homeschooling dan menjadi kesepakatan: homeschooling adalah model pendidikan alternatif

7 homeschooling adalah pendidikan berbasis 5 keluarga Homeschooling sebagai pendidikan alternatif Sebagai model pendidikan berarti homeschooling memiliki kesamaan dengan sekolah yaitu untuk mengantarkan anak-anak pada potensi terbaik mereka. Tapi sebagai model pendidikan alternatif, homeschooling memiliki perbedaan-perbedaan dibandingkan model pendidikan mainstream (sekolah). Namanya juga alternatif, berarti berbeda dengan arus utama dan perbedaan itu menjadi bagian yang wajar dan melekat dalam homeschooling. Perbedaan-perbedaan itu harus disadari dan disikapi dengan kedewasaan, tidak merasa rendah diri karena berbeda dengan mainstream, tidak juga merasa sombong dan merendahkan yang lain.

8 Sepanjang tidak melanggar hukum, perbedaan 6 pandangan itu sah dan dijamin oleh Undang-undang. Oleh karena itu, para orangtua homeschooling tidak perlu merasa takut untuk memiliki pandangan yang berbeda dalam mendidik anak. Jadi, jangan merasa bersalah kalau Anda memiliki sudut pandang dan praktek homeschooling yang berbeda dengan sekolah. Karena ciri khas homeschooling adalah keragaman dan tak ada model yang standar, perbedaan-perbedaan antara homeschooling dan sekolah pun sangat bervariasi, tergantung pandangan dan praktik yang dijalani setiap keluarga homeschooling. Ada pandangan-pandangan yang bersifat filosofis-substansial, ada yang merupakan improvisasi dan inovasi pengembangan dari model yang ada. Sebagai contoh, ada keluarga homeschooling yang meyakini bahwa hal yang paling substansi dalam proses pendidikan itu adalah mengeluarkan potensi anak, bukan

9 memasukkan informasi/pengetahuan sebagaimana yang 7 menjadi praktik umum dalam model pendidikan di sekolah. Perbedaan pandangan itu muncul karena perbedaan filosofi dalam memandang anak dan pendidikan. Asal kata pendidikan (education) dari bahasa latin educare artinya adalah mengeluarkan. Jadi, menurut pandangan alternatif ini, tugas utama dalam pendidikan adalah mengeluarkan potensi anak. Dengan memiliki sudut pandang ini, keluarga homeschooling memiliki bangunan model pendidikan yang sangat berbeda dengan sekolah. Kegiatan utama dalam pendidikan adalah belajar (pengalaman anak), bukan mengajar (inisiatif guru). Fungsi orangtua adalah sebagai fasilitator, bukan guru. Ada juga keluarga homeschooling yang memiliki pandangan yang berbeda dengan sekolah tentang bagaimana pendidikan dijalankan. Mereka tak

10 menggunakan belajar dalam sistem paket sebagaimana 8 sekolah, tetapi menggunakan sistem modular. Dalam sistem modular, bisa dimungkinkan anak belajar sesuai kecepatannya tanpa harus mengulang keseluruhan paket jika ada yang belum dikuasainya. Dalam sistem paket, anak yang tidak lulus matematika maka harus tinggal kelas dan mengulang seluruh paket materi pelajaran (walaupun materi pelajaran itu dikuasainya). Dalam sistem modular, anak belajar terus sesuai dengan kecepatannya pada setiap pelajaran. Pada satu masa, bisa jadi yang menyukai matematika berada pada kelas 6 untuk pelajaran matematika, kelas 5 untuk sains, dan kelas 4 untuk bahasa. Atau sebaliknya, anak yang menyukai bahasa dan sastra menguasai bahasa kelas 7, tetapi matematika dan sains-nya masih kelas 5. Jadi, anak-anak tidak mendapat pinalti akibat kelemahan pada satu bidang, tetapi terus bertumbuh sesuai kemampuannya.

11 Atau, perbedaan antara homeschooling dengan 9 sekolah itu bisa terjadi pada level manajemen proses belajar. Kalau sekolah terjadwal dengan ketat mengenai jam belajar dan materi pelajaran setiap hari, keluarga homeschooling bisa menggunakan pendekatan yang lebih fleksibel. Mereka bisa mengatur jadwal belajar sesuai dengan pola keluarga atau menggunakan materi-materi belajar dari kegiatan keseharian, bukan menggunakan buku pelajaran. Di dalam keragaman derajad perbedaan antara keluarga homeschooling dibandingkan sekolah, ada satu hal yang sama di dalam keluarga homeschooling. Kesamaan itu adalah bahwa anak-anak homeschooling itu tidak bersekolah. Homeschooling bukan sebutan untuk kegiatan orangtua usai sekolah atau pendampingan orangtua untuk menemani anak-anaknya belajar. Kalau anaknya tetap bersekolah, maka sebutannya tetap anak sekolah bukan anak homeschooling. Yang disebut anak

12 homeschooling adalah anak-anak yang tidak bersekolah, 10 tetapi menjalani pendidikan berbasis rumah. Perbedaan istilah antara homeschooling dan sekolah itu bukanlah untuk menunjukkan bahwa homeschooling adalah hal yang eksklusif. Sama sekali bukan. Perbedaan (distinction) itu perlu dipertegas untuk memberikan kejelasan tentang gagasan homeschooling. Sebab, ada sebagian orang yang mulai suka-suka menggunakan istilah homeschooling, terutama untuk kepentingan bisnis. Penempatan istilah homeschooling yang tidak tepat akan mengaburkan makna homeschooling dan pada gilirannya akan merugikan masyarakat. Jadi, dalam konteks homeschooling sebagai pendidikan alternatif, pokok terpenting bagi praktisi homeschooling adalah jangan takut untuk memiliki pandangan berbeda. Kuncinya adalah Anda yakin bahwa itu memang hal terbaik untuk anak Anda. Indikator praktisnya adalah anak Anda berbahagia menjalani proses

13 belajarnya dan kapasitas pembelajarannya terus meningkat. 11 Homeschooling sebagai pendidikan berbasis keluarga Substansi kedua mengenai pengertian homeschool adalah bahwa homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga. Homeschooling adalah pendidikan noninstitusional, bukan sebuah lembaga. Sebutan homeschooling melekat pada keluarga yang menjalaninya, bukan pada sebuah lembaga. Di dalam homeschooling, yang menjadi sentral dan fokus perhatian adalah anak dan keluarga. Anak adalah subyek pendidikan. Sebagai subyek pendidikan, anak menjadi alat ukur/uji apakah sebuah kurikulum, metode, materi ajar, dan sebagainya efektif atau tidak. Anak tidak dipaksa mengikuti sebuah kurikulum atau metode tertentu, tetapi kurikulum dan

14 metode itu harus menjadi alat untuk mengembangkan potensi anak. 12 Pandangan tentang anak sebagai subyek pendidikan ini perlu ditegaskan karena di dalam homeschooling orangtua memiliki banyak sekali pilihan model dan metode untuk mendidik anak. Dengan menegaskan bahwa yang menjadi subyek adalah anak, pengalaman dan respon anak menjadi indikator penting yang sangat diperhitungkan dalam proses pembelajaran. Ukuran kualitas metode tidak ditentukan oleh kecanggihan teorinya, kepopuleran namanya, tetapi dilihat dari kecocokan anak dengan metode itu. Juga, kualitas materi belajar tidak ditentukan oleh harganya yang mahal atau keterkenalannya, tetapi sejauh mana anak kualitas pengalaman kegiatan anak. Di dalam homeschooling, keluarga menjadi penanggung jawab seluruh proses pendidikan. Asumsinya, keluarga adalah yang paling mengetahui tentang anakanaknya. Mereka hidup bersama anak-anak oleh karena

15 itu secara alami lebih mengetahui perkembangan dan sifatsifat anak dibandingkan orang lain. Setiap keluarga 13 memiliki nilai-nilai, pengalaman, dan cita-cita yang unique. Oleh karena itu, merekalah yang paling berhak untuk menentukan ke arah mana pendidikan anak-anaknya; bukan orang lain atau sebuah lembaga yang bersifat eksternal. Walaupun keluarga menjadi penanggung jawab pendidikan, bukan berarti keluarga homeschooling harus menjalankannya semuanya sendiri. Gagasannya adalah menjadi tuan, menjadi pengambil keputusan yang menentukan arah pendidikan. Adapun alat dan sarana di dalam proses homeschooling dapat memanfaatkan infrastruktur apapun yang ada di masyarakat. Secara praktik, keluarga homeschooling memiliki banyak pilihan apakah mengerjakan sendiri, menggunakan bantuan orang lain atau lembaga-lembaga yang ada. Misalnya dalam hal mengajar, orangtua homeschooling

16 dapat mendidik anaknya untuk menjadi ototidak (belajar mandiri), orangtua mengajar sendiri, meminta bantuan 14 saudara/teman/tetangga, mengundang tutor, atau memasukkan anak ke lembaga bimbingan belajar. Apakah konsekuensi homeschooling sebagai pendidikan berbasis keluarga? Konsekuensinya, homeschooling adalah model pendidikan yang beragam, sesuai dengan keragaman keluarga. Tidak ada satu model standar homeschooling yang dianggap benar. Praktek homeschooling setiap keluarga bersifat unik karena setiap keluarga memiliki tujuan dan penekanan nilai-nilai yang berbeda di dalam penyelenggaraan homeschooling. Setiap keluarga memiliki hak sepenuhnya untuk merancang model homeschooling yang terbaik untuk anak-anak dan keluarganya.

17 Homeschooling & Flexischooling Jadi, yang disebut homeschooling adalah pendidikan 15 yang diselenggarakan oleh keluarga. Homeschooling adalah jalur pendidikan informal. Sebutan homeschooling melekat pada keluarga, bukan pada lembaga. Kalau lembaga, sebutannya adalah sekolah, akademi, kursus, bimbel, PKBM, atau sebutansebutan lainnya yang sesuai. Bagamana dengan sekolah yang memiliki jadwal fleksibel? Kalau itu berwujud lembaga, maka sebutan yang lebih tepat adalah sekolah atau sesuai dengan badan hukum lembaga tersebut. Sekolah yang jadwal masuknya fleksibel, misalnya 3 kali seminggu, disebut flexi school. Kalau badan hukumnya adalah PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Mandiri), maka sebutan yang lebih tepat adalah PKBM Abc atau PKBM Xyz, bukan Homeschooling Abc atau Homeschooling Xyz. Atau kalau badan hukumnya adalah kursus, maka sebutan yang lebih tepat adalah LPK

18 A atau LPK B. Demikian pun lembaga Bimbingan Belajar, maka sebutan yang lebih tepat adalah Bimbel A atau 16 Bimbel B. Karena homeschooling adalah sebutan untuk keluarga, maka Anda tidak perlu mendaftar ke lembagalembaga tertentu kalau ingin melakukan homeschooling. Yang perlu dilakukan oleh keluarga yang akan menjalani homeschooling adalah mempelajari apa itu homeschooling, merancang homeschooling untuk anakanak Anda, dan kemudian menjalaninya. Kalau Anda membutuhkan bantuan lembaga eksternal, Anda bisa mengundang tutor, mengikutkan anak pada bimbingan belajar atau mengikutkan anak pada berbagai kursus sesuai kebutuhan. Dan karena Anda tidak mendaftar ke mana-mana, Anda tak perlu membayar apapun dan kepada siapapun untuk menjalankan homeschooling Anda. Anda baru membayar kalau Anda menggunakan jasa orang atau

19 lembaga tertentu untuk membantu Anda. Kalau anak Anda mengikuti bimbel, maka Anda membayar biaya bimbel; 17 kalau Anda mengundang tutor, Anda membayar jasa tutor; kalau Anda mengikuti pelatihan, Anda membayar biaya pelatihan; kalau Anda mengikuti konsultasi berbayar, Anda membayar biaya konsultasi; kalau Anda ikut klub/kursus, Anda membayar biaya keanggotaan klub/kursus. Dan seterusnya. Jadi, Anda membayar sesuai yang Anda butuhkan dan terima, bukan untuk mendaftar homeschooling.

20 Analogi Homeschooling dan Sekolah Bentuk homeschooling itu memang tidak mudah 18 dibayangkan bagi orang yang belum pernah bersentuhan dengannya. Oleh karena itu, cara paling mudah untuk memahami homeschooling adalah dengan membandingkannya dengan sekolah. Dalam beberapa hal, homeschooling adalah sama sekaligus berbeda dibandingkan sekolah. Homeschooling dan sekolah adalah sama-sama alat (tools) untuk mencapai tujuan pendidikan. Yang mengikatkan antara homeschooling dan sekolah adalah kesamaan tujuan untuk meraih kebaikan untuk masa depan anak. Homeschooling dan sekolah sama-sama ada untuk kepentingan anak. Homeschooling dan sekolah tidak mengejar eksistensi dirinya, tetapi merupakan pelayan untuk kepentingan anak.

21 Homeschooling dan sekolah sama-sama legal, samasama dilindungi keberadaannya oleh Undang-undang dan 19 aturan hukum di Indonesia. Homeschooling termasuk jalur pendidikan informal dan sekolah masuk dalam kategori pendidikan formal. Kualitas hasil pendidikan informal (homeschooling) dapat diakui melalui proses ujian kesetaraan atau biasa dikenal secara populer dengan sebutan Ujian Paket. Selain memiliki kesamaan, tentu saja ada perbedaanperbedaan antara homeschooling dibandingkan sekolah. Antara homeschooling dan sekolah dapat dianalogikan seperti pakaian. Ada pakaian yang dibuat oleh pabrik, ada pakaian yang dibuat oleh penjahit. Pakaian yang dibuat oleh pabrik ada bermacam-macam, tetapi bersifat standar. Untuk satu bentuk/model, dibuat seragam dalam jumlah banyak oleh pabrik. Kalau kita ingin membeli, kita tinggal memilih model yang sesuai dan

22 membayarnya. Pakaian buatan pabrik adalah analogi untuk proses belajar di sekolah. 20 Sebaliknya, ada juga pakaian yang dibuat oleh penjahit. Kalau ingin membuat pakaian di penjahit, kita harus memilih sendiri bahannya, memilih modelnya, dan kemudian baru mendatangi penjahit. Badan kita kemudian diukur, pakaian kita dijahit sesuai ukuran dan model yang kita inginkan. Itulah analogi untuk proses belajar yang terjadi dalam homeschooling. Atau, kita bisa menggunakan cara lain untuk menggambarkan homeschooling dan sekolah dengan menggunakan analogi makanan. Sekolah adalah menu makanan sistem paket, sementara homeschooling adalah menu makanan model prasmanan. Dalam sistem paket, kita membeli satu kesatuan makanan yang sudah ditentukan isinya dan tak bisa diganti-ganti. Sementara dalam sistem prasamanan, kita

23 bisa memilih-milih makanan apa yang kita sukai dan seberapa banyak kita mengambilnya. 21 Tentu saja analogi-analogi di atas tidak menggambarkan sepenuhnya perbedaan antara homeschooling dan sekolah. Tapi setidaknya, analogianalogi itu bisa membantu kita memahaminya dengan cara yang lebih sederhana dan kita kenal. Selain itu, perbedaan besar antara homeschooling dan sekolah adalah pada peran orangtua. Pada sistem sekolah, tugas utama orangtua adalah mencari dana dan memilih sekolah yang dinilai paling sesuai untuk anak. Ketika anak sudah diserahkan pada sekolah, maka seluruh proses pendidikan anak didelegasikan kepada para guru dan pengelola sekolah. Pada homeschooling, orangtua memiliki peran yang sentral. Investasi orangtua untuk anak bukan pada jumlah dana yang disediakan, tetapi pada waktu dan usaha yang

24 dicurahkan. Peran serta dan keterlibatan orangtua homeschooling terjadi pada seluruh proses pendidikan, 22 baik pada saat perencanaan, proses belajar, maupun saat evaluasi. Kelebihan dan Kekurangan Homeschooling Kelebihan dan kekurangan homeschooling ini dituliskan berdasarkan kondisi alami (nature) homeschooling, bukan berdasarkan pengamatan praktik homeschooling yang sangat beragam. Secara umum, keunggulan homeschooling adalah: Fleksibilitas Pendidikan Homeschooling adalah ibarat memulai penulisan rencana dan program pendidikan anak atas selembar kertas baru. Tak ada batasan atau constraint untuk membuat rencana itu selain batasan legal dan etis. Orangtua dapat merancang model pendidikan yang

25 sesuai dengan idealisme mereka untuk anak-anak dan kemudian bekerja keras untuk mewujudkannya. 23 Fleksibilitas homeschooling bukan hanya dalam penentuan tujuan, tetapi juga dalam penentuan bagaimana cara anak belajar, materi yang digunakan, serta aspek-aspek teknis lain di dalam proses belajar anak. Fleksibilitas Pendanaan Ketika biaya pendidikan semakin mahal dan terjadi kenaikan biaya terus-menerus yang tak berhubungan dengan kualitas pendidikan, pendidikan yang baik semakin sulit terjangkau. Homeschooling memberikan kesempatan orangtua untuk memaksimalkan pemanfaatan dana pendidikan anak karena pengeluaran anak betul-betul berada dalam kendali orangtua. Orangtua hanya membayar apa-apa yang dibutuhkan, pay as you go.

26 Kustomisasi Pendidikan Karena homeschooling memiliki fleksibilitas yang 24 tinggi, setiap keluarga dapat merancang dan mengkustomisasi pendidikan untuk setiap anak. Orangtua dapat berfokus untuk memaksimalkan kekuatan anak, bukan hanya sibuk memperbaiki kelemahan anak. Dalam homeschooling, orangtua bukan hanya bisa merancang pendidikan yang terkustomisasi untuk keluarganya, tetapi bahkan bisa melakukan kustomisasi untuk setiap anak yang berbeda. Akses pada Dunia Nyata Melalui proses pembelajaran berbasis keseharian, kunjungan lapangan, dan proses magang, anak-anak homeschooling sangat banyak terekspos dengan realitas di dunia nyata. Proses semacam ini membuat anak-anak homeschooling lebih dapat dan

27 lebih cepat beradaptasi di masyarakat ketika mereka 25 melewati usia sekolahnya. Kedekatan Anggota Keluarga Homeschooling membuat orangtua dan anak saling terhubung terus sepanjang tahun dan sepanjang pertumbuhannya. Kehangatan dan kekuatan hubungan antar-para anggota keluarga ini akan membuat anak lebih bahagia dan lebih matang secara psikologis, sehingga lebih mampu menghadapi tantangan eksternal pada saat remaja dan dewasanya. Homeschooling bukan hanya berisi kelebihan saja, tetapi juga memiliki kekurangan dan resiko yang inheren di dalamnya, antara lain: Kompleksitas Pengelolaan Karena sebagian besar proses pendidikan dikelola orangtua, kompleksitas dan tanggung jawab orangtua pada anak homeschooling lebih tinggi

28 daripada ketika anak bersekolah. Butuh kesediaan orangtua untuk terus belajar dan bekerja keras 26 sepanjang waktu untuk membuat homeschooling bisa berjalan baik. Minimnya Infrastruktur Infrastruktur pendidikan yang ada di Indonesia sebagian besar ditujukan untuk anak-anak sekolah. Program, kegiatan, dan sarana-sarana pendidikan sebagian besar dibangun untuk anak-anak sekolah. Dengan kelangkaan infrastruktur pendukung, praktisi homeschooling harus pandai-pandai mencari akal untuk menyiasati kondisi dan terkadang harus berinisiatif untuk membangun sendiri infrastruktur sesuai kebutuhannya. Ketergantungan pada Keluarga Ada resiko kelanjutan homeschooling anak dalam jangka panjang, terutama jika ada kondisi-

29 kondisi yang luar biasa (extra ordinary events), misalnya: perceraian, kematian, dan lain-lain. 27 Tekanan Eksternal Karena homeschooling masih sedikit, ada tekanan eksternal dari keluarga dan lingkungan yang memiliki prasangka negatif terhadap homeschooling. Kondisi ini memberikan tambahan pressure bagi anak dan keluarga, sehingga harus disiapkan dan diantisipasi. Homeschooling dan Para Tokoh Secara gagasan, homeschooling atau pendidikan berbasis rumah bukanlah hal yang baru. Sebelum ada sekolah umum yang diselenggarakan oleh negara, pendidikan sebagian besar berawal di rumah dan berjalan dalam kepemimpinan keluarga. Proses belajarnya dilakukan oleh orangtua, mengundang guru, melibatkan aktivitas magang di dunia nyata, dan sejenisnya.

30 Dalam bahasa yang lebih dikenal umum, homeschooling sering dikenal sebagai proses belajar 28 otodidak atau belajar mandiri. Anak aktif belajar dan mengeksplorasi apa-apa yang ingin dipelajarinya, anak dan belajar melalui sumber apapun yang bisa memberikan ilmu dan ketrampilan kepadanya. Sebagaimana sifat dasar homeschooling yang berbasis keluarga, homeschooling tak memiliki bentuk tunggal. Latar belakang orangtua beragam, keyakinan dan nilainilainya beragam, alasan memilih homeschooling beragam, demikian pun anak-anak homeschooling beragam. Ada yang konservatif, ada yang liberal. Ada yang fundamentalis, ada yang hippies. Ada yang scholar, ada yang seniman. Ada yang saintis, ada yang artis. Keragaman dalam homeschooling memberikan kesempatan untuk tumbuhnya setiap potensi secara maksimal. Sebab, yang dipelajari dan dilakukan anak tak diseragamkan; tetapi sesuai model homeschooling yang

31 dipilih, menyesuaikan dengan potensi yang dimiliki anak dan kondisi keluarga. 29 Oleh karena itu, tokoh-tokoh yang menjalani homeschooling sangat beragam dan membentang sepanjang masa; baik di masa lalu maupun masa kini. Beberapa sosok terkenal yang dibesarkan dalam pendidikan homeschooling, antara lain: George Washington (presiden AS) Abraham Lincoln (presiden AS) Albert Einstein (saintis) Leonardo da Vinci (seniman) Claude Monet (pelukis) Thomas A. Edison (penemu) Alexander Graham Bell (penemu) Wolfgang Amadeus Mozart (komposer) Hans Christian Anderson (penulis) Agatha Christie (penulis) Laura Ingalls Wilder (penulis) Fred Terman (presiden the Stanford University) Timothy Dwight (presiden the Yale University) Louis Armstrong (pemusik jazz)

32 Charlie Chaplin (aktor) Soichiro Honda (pendiri Honda) Colonel Harland Sanders (pendiri Kentucky Fried Chicken) 30 Di Indonesia, tokoh yang sering diacu sebagai produk homeschooling adalah para otodidak yang melakukan proses belajar mandiri seperti Ki Hajar Dewantoro, KH Agus Salin, Buya Hamka. Di dunia bisnis, lebih banyak lagi tokoh Indonesia yang tidak belajar melalui sekolah, tetapi melalui praktek bisnis yang dijalani keluarganya. Adapun sosok terkenal masa kini dan masih hidup yang dibesarkan melalui pendidikan homeschooling, antara lain: Julian Assange pendiri Wikileaks Julian Assange adalah tokoh yang beberapa waktu yang lalu mendapat sorotan di dunia karena telah membocorkan dokumen-dokumen rahasia

33 pemerintah dan militer Amerika Serikat melalui situs Wikileaks yang didirikannya. Dia adalah sosok seorang 31 yang memberontak terhadap sistem politik korup yang sedang menguasai dunia saat ini. Akibatnya, dia dikejar oleh pemerintah Amerika Serikat yang ingin menangkapnya. Julian Assange menjalani homeschooling selama beberapa tahun sambil melakukan perjalanan bersama orangtuanya yang memiliki perusahaan teater keliling. Saat dewasa, dia terus menjalani hidup berpindahpindah; dan itu sesuai dengan kondisinya saat ini yang menjadi target pembunuhan dan pemburuan karena apa yang dilakukannya. Condoleezza Rice - mantan menteri luar negeri AS Condoleezza Rice adalah wanita berkulit hitam pertama yang menjadi menteri luar negeri Amerika Serikat. Dia menjadi menteri luar negeri pada saat pemerintahan George W. Bush. Majalah Forbes pernah

34 menobatkannya sebagai The Most Powerful Woman in the World. Saat ini dia menjadi pengajar di Stanford 32 Graduate School of Business. Angelina Rice, ibu dari Condoleezza Rice, berhenti dari pekerjaannya sebagai guru musik di SMA untuk mendidik homeschooling buat anak perempuannya itu. Erik Demaine, profesor matematika Erik Demaine adalah professor termuda yang pernah dimiliki The Massachusett Institute of Technology (MIT). Dia menjadi dosen pada usia 20 tahun. Dia adalah ahli matematika origami, yang menggunakan model origami untuk memahami konsep matematika dan menerapkannya dalam berbagai disipling seperti arsitektur, robotik, dan biologi molekular.

35 Demaine menjalani homeschooling sambil melakukan perjalanan keliling Amerika Serikat 33 bersama ayahnya, seorang pandai emas (goldsmith) dan glassblower. Demaine mulai kuliah saat usia 12 tahun, menyelesaikan sarjana pada usia 14 tahun. Selain seorang jenius di bidang matematika dan komputasi, Demaine adalah seorang seniman yang karyanya dipajang di the Museum of Modern Art dan dijadikan sebagai koleksi permanen di museum itu.

36 Gagasan kunci: Homeschooling adalah pendidikan berbasis 34 keluarga. Anak-anak homeschooling tidak bersekolah, tetapi dididik sendiri oleh orangtuanya. Lembaga atau bimbingan belajar yang memberikan kesempatan pada siswanya untuk belajar seperti sekolah, tetapi masuk hanya beberapa kali dalam seminggu disebut flexi-school (sekolah fleksibel), bukan homeschool. Seandainya orangtua menggunakan sebuah l e m b a g a y a n g m e n d u k u n g p r o s e s homeschoolingnya, sebutan homeschooling tetap melekat pada keluarga. Sebutan homeschooling tidak menempel pada lembaga yang diikuti karena homeschooling bukan lembaga. Karena homeschooling adalah sebutan untuk keluarga, bukan lembaga; maka homeschooling

37 tidak bisa di-franchise-kan dan tak ada istilah peluang bisnis homeschooling. Kita tak ikut 35 merancukan istilah homeschooling sehingga bisa membantu proses edukasi masyarakat dari eksploitasi yang menggunakan istilah homeschooling secara tidak tepat. Sebagaimana sistem apapun, homeschooling memiliki kekuatan/potensi sekaligus kekurangan/ resiko. Tugas orangtua yang memilih homeschooling adalah memaksimalkan kekuatan dan potensi homeschooling, sekaligus mengurangi dampak buruk dan mengantisipasi resiko-resiko yang terkait.

38 Tips untuk Anda: Dengan memilih homeschooling berarti kita tidak 36 menitipkan anak pada sebuah lembaga tertentu sebagaimana yang biasakan kita lakukan pada saat anak bersekolah. Oleh karena itu, kita harus berinisiatif dan berperan aktif dalam proses pendidikan anak. Dengan memilih homeschooling berarti kita menjadi kepala sekolah. Kita harus menentukan tujuan yang hendak kita raih, strategi untuk mencapai tujuan itu, dan proses yang akan kita jalani untuk homeschooling anak-anak kita. Di dalam berbagai aspek pelaksanaan homeschooling, kita bisa memilih apakah melakukannya secara mandiri atau menggunakan bantuan eksternal pihak lain.

39 Penulis 37 Sumardiono, biasa dipanggil Aar, adalah seorang ayah dari 3 (tiga) anak, yaitu Yudhistira (2001), Tata (2004), dan Duta (2008). Bersama isterinya, Mira Julia (Lala), mereka memilih homeschooling untuk pendidikan anak-anaknya. Aar dan Lala menjalani homeschooling sejak anak-anak mereka lahir hingga saat ini. Aar memiliki latar belakang pendidikan di bidang teknologi dan manajemen keuangan. Aar menyelesaikan pendidikan di Teknik Informatika ITB dan Magister Manajemen bidang Keuangan di Lembaga PPM, Jakarta. Sempat berkarir di dunia keuangan, Aar saat ini memilih untuk menjadi bapak rumah tangga dan menjadi Working At Home Dad (WAHD). Dalam dunia homeschooling, Aar aktif menulis dan mengelola blog Rumah Inspirasi ( Aar juga telah menulis buku tentang homeschooling berjudul Homeschooling Lompatan Cara Belajar dan Warna-warni Homeschooling yang diterbitkan oleh penerbit Elex Media Komputindo, serta "Apa itu Homeschooling" yang diterbitkan penerbit Panda Media. Blog: Facebook: [email protected]

BASIC & LEGALITAS HOMESCHOOLING

BASIC & LEGALITAS HOMESCHOOLING BASIC & LEGALITAS HOMESCHOOLING Jangan lupa mengunduh materi webinar di: http://webinar.rumahinspirasi.com MATERI PEMBAHASAN Basic Homeschooling Substansi homeschooling Homeschooling vs sekolah Keuntungan

Lebih terperinci

Oleh: Sumardiono Layout: Mira Julia

Oleh: Sumardiono Layout: Mira Julia FAQ Homeschooling Oleh: Sumardiono Layout: Mira Julia Dibuat dan dipublikasikan oleh: Rumah Inspirasi & Bentang Ilmu www.rumahinspirasi.com www.bentangilmu.com 1 Pengantar Wacana tentang homeschooling/home

Lebih terperinci

Pola Kegiatan Keseharian - 1

Pola Kegiatan Keseharian - 1 Pola Kegiatan Keseharian - 1 "When you teach less, the children will learn more" John Holt Pendahuluan Pola kegiatan anak usia dini (0-6) tahun berbeda dibandingkan dengan anak usia sekolah. Perbedaan

Lebih terperinci

Oleh: Sumardiono Layout: Mira Julia

Oleh: Sumardiono Layout: Mira Julia Model & Metode Homeschooling Oleh: Sumardiono Layout: Mira Julia Dibuat dan dipublikasikan oleh: Rumah Inspirasi & Bentang Ilmu www.rumahinspirasi.com www.bentangilmu.com 1 Model dan Metode Homeschooling

Lebih terperinci

LISENSI PEMAKAIAN. Materi buku ini merupakan salah satu bonus untuk produk Printable Flashcard yang ada di situs Bentang Ilmu.

LISENSI PEMAKAIAN. Materi buku ini merupakan salah satu bonus untuk produk Printable Flashcard yang ada di situs Bentang Ilmu. LISENSI PEMAKAIAN Materi buku ini merupakan salah satu bonus untuk produk Printable Flashcard yang ada di situs Bentang Ilmu. Dapatkan ribuan printable flashcard dalam berbagai tema dan berbagai materi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Imay Ifdlal fahmy, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Imay Ifdlal fahmy, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Pendidikan di era modern seperti sekarang merupakan sebuah kebutuhan seperti halnya sandang dan pangan. Pendidikan adalah hak setiap warga negara

Lebih terperinci

Oleh: Sumardiono Layout: Mira Julia

Oleh: Sumardiono Layout: Mira Julia Belajar Mandiri Self-Directed Learning Oleh: Sumardiono Layout: Mira Julia Dibuat dan dipublikasikan oleh: Rumah Inspirasi & Bentang Ilmu www.rumahinspirasi.com www.bentangilmu.com 1 "The illiterate of

Lebih terperinci

EKSISTENSI SEKOLAHRUMAH (HOMESCHOOLING) DALAM KHASANAH PENDIDIKAN. Oleh: Wahyudi 1

EKSISTENSI SEKOLAHRUMAH (HOMESCHOOLING) DALAM KHASANAH PENDIDIKAN. Oleh: Wahyudi 1 Jurnal Visi Ilmu Pendidikan halaman 32 EKSISTENSI SEKOLAHRUMAH (HOMESCHOOLING) DALAM KHASANAH PENDIDIKAN Oleh: Wahyudi 1 Abstrak: Keberadaan pendidikan formal dan nonformal yang ada sekarang ini dirasa

Lebih terperinci

Strategi Pengembangan Keragaman Model Pendidikan dan Pendidikan Karakter

Strategi Pengembangan Keragaman Model Pendidikan dan Pendidikan Karakter Strategi Pengembangan Keragaman Model Pendidikan dan Pendidikan Karakter Untuk menjabarkan visi misi Nawacita (9 Agenda Prioritas) pemerintah Jokowi-JK dalam bidang pendidikan, izinkanlah kami memberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan kualitas

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan kualitas BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan sarana penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam menjamin kelangsungan pembangunan suatu bangsa. Ilmu pengetahuan dan

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. A. Latar Belakang Penelitian. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi ini

Bab I Pendahuluan. A. Latar Belakang Penelitian. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi ini Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang Penelitian Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi ini telah mempercepat berubahnya nilai-nilai sosial yang membawa dampak positif dan negatif terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini, di Indonesia pilihan jalur untuk menempuh pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini, di Indonesia pilihan jalur untuk menempuh pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pada saat ini, di Indonesia pilihan jalur untuk menempuh pendidikan semakin beragam, mulai dari jalur pendidikan formal, pendidikan nonformal, dan pendidikan informal.

Lebih terperinci

MENJADI ORANG TUA YANG TERUS BELAJAR

MENJADI ORANG TUA YANG TERUS BELAJAR Blitar, 7 Maret 2015 PSIKOLOGI PARENTING MENJADI ORANG TUA YANG TERUS BELAJAR Talk show dan pelatihan memaksimalkan usia emas dan keberagaman anak usia dini, di PGIT TKIT Al-Hikmah Bence, Garum, Blitar

Lebih terperinci

Ketika Anda memutuskan untuk mendaftar di sebuah perguruan tinggi, berarti Anda sudah tahu konsekwensi yang mesti Anda hadapi. Anda telah memilih

Ketika Anda memutuskan untuk mendaftar di sebuah perguruan tinggi, berarti Anda sudah tahu konsekwensi yang mesti Anda hadapi. Anda telah memilih Menjadi Mahasiswa adalah Sebuah Pilihan Ketika Anda memutuskan untuk mendaftar di sebuah perguruan tinggi, berarti Anda sudah tahu konsekwensi yang mesti Anda hadapi. Anda telah memilih untuk bertualang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Kematangan Sosial Emosional Anak. (1) Perkembangan, proses pencapai kemasakan/usia masak, (2) proses

BAB II KAJIAN PUSTAKA. 1. Pengertian Kematangan Sosial Emosional Anak. (1) Perkembangan, proses pencapai kemasakan/usia masak, (2) proses BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kematangan Sosial Emosional Anak 1. Pengertian Kematangan Sosial Emosional Anak Chaplin (2011), mengartikan kematangan (maturation) sebagai: (1) Perkembangan, proses pencapai kemasakan/usia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. teknologi yang terus berkembang pesat, sehingga dibutuhkan individu-individu

BAB I PENDAHULUAN. teknologi yang terus berkembang pesat, sehingga dibutuhkan individu-individu BAB I PENDAHULUAN I.A. Latar Belakang Era globalisasi ditandai dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang pesat, sehingga dibutuhkan individu-individu yang mampu menyesuaikan

Lebih terperinci

Yuk, berkenalan dengan SABUMI! Komunitas Muslim Homeschooling BANDUNG

Yuk, berkenalan dengan SABUMI! Komunitas Muslim Homeschooling BANDUNG Yuk, berkenalan dengan SABUMI! Komunitas Muslim Homeschooling BANDUNG Apa itu HOMESCHOOLING? Bagaimana SABUMI mendukung para pelaku HOMESCHOOLING? Homeschooling bukanlah lembaga pendidikan. Kalau ada lembaga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan pembangunan bangsa. Melihat kondisi masyarakat Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan pembangunan bangsa. Melihat kondisi masyarakat Indonesia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan sektor penting yang berperan aktif dalam meningkatkan pembangunan bangsa. Melihat kondisi masyarakat Indonesia sekarang ini masih banyak

Lebih terperinci

ANALISA KOMUNITAS. Kelompok sasaran: Alat dan bahan: Rencana fasilitasi. Modul I1: MemMerencanakan Kegiatan Waktu: 90 menit.

ANALISA KOMUNITAS. Kelompok sasaran: Alat dan bahan: Rencana fasilitasi. Modul I1: MemMerencanakan Kegiatan Waktu: 90 menit. Modul I1: MemMerencanakan Kegiatan Waktu: 90 menit Pengantar: ANALISA KOMUNITAS Aktivitas belajar ini tepat diberikan kepada kelompok yang mau menyusun rencana kegiatan atau yang mau memfasilitasi perencanaan

Lebih terperinci

HOMESCHOOLING DI INDONESIA DAN PROBLEMATIKANYA. Rachman Hardiansyah

HOMESCHOOLING DI INDONESIA DAN PROBLEMATIKANYA. Rachman Hardiansyah HOMESCHOOLING DI INDONESIA DAN PROBLEMATIKANYA Rachman Hardiansyah Homeschooling atau Sekolah-Rumah saat ini mulai dilirik para pengamat pendidikan nusantara. Sebagai salah satu alternatif pendidikan,

Lebih terperinci

BAB V FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN PAKET C DI PKBM NEGERI 17

BAB V FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN PAKET C DI PKBM NEGERI 17 54 BAB V FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN PAKET C DI PKBM NEGERI 17 5.1 Faktor Individu Sesuai dengan pemaparan pada metodologi, yang menjadi responden pada penelitian ini adalah warga belajar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan tonggak pembangunan sebuah bangsa. Kemajuan. dan kemunduran suatu bangsa dapat diukur melalui pendidikan yang

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan tonggak pembangunan sebuah bangsa. Kemajuan. dan kemunduran suatu bangsa dapat diukur melalui pendidikan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan tonggak pembangunan sebuah bangsa. Kemajuan dan kemunduran suatu bangsa dapat diukur melalui pendidikan yang diselenggarakan di dalamnya.

Lebih terperinci

Beri putra putri Anda awal yang tepat untuk masuk universitas

Beri putra putri Anda awal yang tepat untuk masuk universitas Monash University Foundation Year Beri putra putri Anda awal yang tepat untuk masuk universitas www.monashcollege.edu.au Mengapa memilih Foundation Year kami yang berbasis di Melbourne? Persiapan terbaik

Lebih terperinci

1 Universitas Indonesia

1 Universitas Indonesia 1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi masing-masing individu, dan sudah menjadi hak setiap manusia untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Pada Undang-Undang Sistem

Lebih terperinci

Peran Homeschooling Terhadap Motivasi Belajar Pada Remaja. Wita Hardiyanti. Dona Eka Putri, Psi, MPsi. Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma

Peran Homeschooling Terhadap Motivasi Belajar Pada Remaja. Wita Hardiyanti. Dona Eka Putri, Psi, MPsi. Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Peran Homeschooling Terhadap Motivasi Belajar Pada Remaja Wita Hardiyanti Dona Eka Putri, Psi, MPsi Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam aktifitas promosi di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh praktek dan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam aktifitas promosi di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh praktek dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam aktifitas promosi di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh praktek dan jenis-jenis promosi yang ada di negara lain, khususnya negara-negara yang telah maju perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh negara lain mulai dari. ekonomi, globalisasi dapat diketahui dari satu pihak yang akan

BAB I PENDAHULUAN. mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh negara lain mulai dari. ekonomi, globalisasi dapat diketahui dari satu pihak yang akan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Globalisasi merupakan fenomena dimana masyarakat saat ini mengalami perubahan yang dipengaruhi oleh negara lain mulai dari bidang politik, sosial, budaya, dan juga ekonomi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. macam tantangan dalam berbagai bidang. Untuk menghadapi tantangan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. macam tantangan dalam berbagai bidang. Untuk menghadapi tantangan tersebut BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Di era globalisasi sekarang ini, setiap orang dihadapkan pada berbagai macam tantangan dalam berbagai bidang. Untuk menghadapi tantangan tersebut maka setiap

Lebih terperinci

HOMESCHOOLING PRIMAGAMA SEKOLAH BERBASIS BAKAT DAN MINAT

HOMESCHOOLING PRIMAGAMA SEKOLAH BERBASIS BAKAT DAN MINAT Prospektus Kerjasama Usaha Berjangka Homeschooling Primagama Tentang Homeschooling Primagama Homeschooling adalah sebuah sistem pendidikan alternatif yang saat ini menjadi pilihan orang tua untuk memberikan

Lebih terperinci

KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 7 Oktober 2015

KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 7 Oktober 2015 KOPI DARAT Kongkow Pendidikan: Diskusi Ahli dan Tukar Pendapat 7 Oktober 2015 Topik #10 Wajib Belajar 12 Tahun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Menjawab Daya Saing Nasional Latar Belakang Program Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini seringkali ditemukan seorang ibu yang menjadi orang tua

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini seringkali ditemukan seorang ibu yang menjadi orang tua 2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dewasa ini seringkali ditemukan seorang ibu yang menjadi orang tua tunggal dengan berbagai macam penyebab yang berbeda. Tidak ada ibu rumah tangga yang menginginkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karena pada dasarnya belajar merupakan bagian dari pendidikan. Selain itu

BAB I PENDAHULUAN. karena pada dasarnya belajar merupakan bagian dari pendidikan. Selain itu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan aktivitas yang berlangsung sepanjang hidup manusia. Pendidikan itu sendiri tidak dapat dipisahkan dari istilah belajar karena pada dasarnya

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 3. METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan Penelitian Fenomena perempuan bercadar merupakan sebuah realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat kita. Fenomena yang terjadi secara alamiah dalam setting dunia

Lebih terperinci

PELATIHAN BASIC HYPNOPARENTING BAGI AWAM

PELATIHAN BASIC HYPNOPARENTING BAGI AWAM PROGRAM PENGABDIAN PADA MASYARAKAT BAGIAN PSIKOLOGI KLINIS FAKULTAS PSIKOLOGI UNDIP BEKERJASAMA DENGAN RS. HERMINA BANYUMANIK SEMARANG PELATIHAN BASIC HYPNOPARENTING BAGI AWAM SEMARANG, 23 AGUSTUS 2014

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti mengenai Dinamika Personal Growth periode anak anak dewasa muda pada individu yang mengalami masa perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat saat ini,

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat saat ini, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat saat ini, membawa banyak perubahan dalam setiap aspek kehidupan individu. Kemajuan ini secara tidak langsung

Lebih terperinci

BABI. Kehidupan modem saat ini belum memungkinkan orangtua. sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada anak. Kebutuhan ekonomi

BABI. Kehidupan modem saat ini belum memungkinkan orangtua. sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada anak. Kebutuhan ekonomi BABI PENDAHULUAN BABI PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehidupan modem saat ini belum memungkinkan orangtua sepenuhnya mencurahkan perhatian kepada anak. Kebutuhan ekonomi memaksa orangtua lebih

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. mengenai program Kampung Ramah Anak, lahir melalui proses yang simultan dan

BAB V PENUTUP. mengenai program Kampung Ramah Anak, lahir melalui proses yang simultan dan BAB V PENUTUP V.1 Kesimpulan Konstruksi sosial yang dibangun oleh warga RW 11 Kampung Badran mengenai program Kampung Ramah Anak, lahir melalui proses yang simultan dan berlangsung secara dialektis yakni

Lebih terperinci

Universitas Liberal Arts: Belajar Seni Apa? Wah, kamu kuliah di universitas liberal arts? Kamu belajar seni ya?

Universitas Liberal Arts: Belajar Seni Apa? Wah, kamu kuliah di universitas liberal arts? Kamu belajar seni ya? Universitas Liberal Arts: Belajar Seni Apa? Wah, kamu kuliah di universitas liberal arts? Kamu belajar seni ya? Itu adalah pertanyaan yang umum saya dapatkan dari mereka yang berada di kampung halaman

Lebih terperinci

HOMESCHOOLING SEBAGAI SEKOLAH ALTERNATIF RAMAH ANAK

HOMESCHOOLING SEBAGAI SEKOLAH ALTERNATIF RAMAH ANAK HOMESCHOOLING SEBAGAI SEKOLAH ALTERNATIF RAMAH ANAK Rosalina Dewi Heryani Dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi Universitas Indraprasta PGRI Email : [email protected] Abstrak Homeschooling merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. santri yang dengan awalan pe didepan dan akhiran an berarti tempat tinggal para

BAB I PENDAHULUAN. santri yang dengan awalan pe didepan dan akhiran an berarti tempat tinggal para BAB I PENDAHULUAN Sebelum tahun 1960-an, pusat-pusat pendidikan pesantren di Indonesia lebih dikenal dengan nama pondok pesantren. Istilah pondok berasal dari bahasa Arab, funduq, yang artinya hotel atau

Lebih terperinci

Dunia bersatu, belajar bersama

Dunia bersatu, belajar bersama Dunia bersatu, belajar bersama Dalam situasi ekonomi yang selalu berubah, tak akan ada orang yang memiliki pekerjaan seumur hidup. Tetapi community colleges merupakan sarana untuk bisa bekerja seumur hidup.

Lebih terperinci

BAB 6 PEMBAHASAN. Hipotesis pertama adalah adanya dugaan bahwa variabel peran. pendampingan tutor secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh yang

BAB 6 PEMBAHASAN. Hipotesis pertama adalah adanya dugaan bahwa variabel peran. pendampingan tutor secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh yang 89 BAB 6 PEMBAHASAN Hipotesis pertama adalah adanya dugaan bahwa variabel peran pendampingan tutor secara bersama-sama tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan motivasi belajar warga

Lebih terperinci

MEMASUKI DUNIA KERJA DAN SUKSES BERKARIR Di Sampaikan oleh Tejonurseto, M.Pd Pada pelatihan Soft skill LPPMP UNY 5 Juni 2012

MEMASUKI DUNIA KERJA DAN SUKSES BERKARIR Di Sampaikan oleh Tejonurseto, M.Pd Pada pelatihan Soft skill LPPMP UNY 5 Juni 2012 MEMASUKI DUNIA KERJA DAN SUKSES BERKARIR Di Sampaikan oleh Tejonurseto, M.Pd Pada pelatihan Soft skill LPPMP UNY 5 Juni 2012 [email protected] Pendahuluan Mencari pekerjaan merupakan hal susah-susah gampang.

Lebih terperinci

VARIASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH RUMAH BAGI PARA HOMESCHOOLER

VARIASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH RUMAH BAGI PARA HOMESCHOOLER VARIASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH RUMAH BAGI PARA HOMESCHOOLER Zaenal Abidin Jurusan Matematika FMIPA, Unnes E-mail: zaenal [email protected] Abstract Homeschooling is a relatively new term

Lebih terperinci

note THE POWER OF LESS AQUARIUS note D18 Learn More in Less Time AQUARIUS

note THE POWER OF LESS AQUARIUS note D18 Learn More in Less Time AQUARIUS Learn More in Less Time THE OWER OF LESS The Fine Art of Limiting Yourself to The Essential...In Business And In Life OLEH : LEO BABAUTA HYERION BOOKS 170 AGES ISBN-13 : 978-1401309701 Dengan begitu banyak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Program Kejar Paket B setara SLTP mulai dirintis sejak tahun 1989,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Program Kejar Paket B setara SLTP mulai dirintis sejak tahun 1989, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Program Kejar Paket B setara SLTP mulai dirintis sejak tahun 1989, dan dilaksanakan secara nasional sejak tahun 1994, dari periode ini dapat dilihat proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kompetensi yang harus dimiliki individu dan tujuan yang akan dicapai dalam

BAB I PENDAHULUAN. kompetensi yang harus dimiliki individu dan tujuan yang akan dicapai dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemampuan koneksi dan pemecahan masalah matematik merupakan suatu kompetensi yang harus dimiliki individu dan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran matematika

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. pandang mereka masing-masing. Berikut ini kutipan pendapat beberapa ahli

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN. pandang mereka masing-masing. Berikut ini kutipan pendapat beberapa ahli 1 BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN 2.1 Pengertian Belajar Banyak ahli pendidikan yang mengungkapkan pengertian belajar menurut sudut pandang mereka masing-masing. Berikut ini kutipan pendapat

Lebih terperinci

Profil Tokoh Wirausahawan Sukses. Purdi E. Chandra

Profil Tokoh Wirausahawan Sukses. Purdi E. Chandra Nama: Nabilla Ridtiningsih NIM : 5511312029 Tugas Kewirausahaan Profil Tokoh Wirausahawan Sukses Purdi E. Chandra Wirausaha merupakan orang-orang yang memiliki kemampuan melihat dan menangkap peluang bisnis,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya pendidikan nasional berfungsi mengembangkan. kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya pendidikan nasional berfungsi mengembangkan. kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat. Pendidikan sebagai sarana strategis

Lebih terperinci

Pengembangan Pemimpin Pribumi

Pengembangan Pemimpin Pribumi MODEL BRIEF Pengembangan Pemimpin Pribumi Di dekade terakhir, ada peningkatan nyata di gereja-gereja di seluruh dunia terutama di daerah-daerah yang pertumbuhan gerejanya sangat pesat akan kebutuhan membangun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembinaan Tutor Oleh Gugus PAUD Dalam Rangka Meningkatkan Kinerja Tutor PAUD Di Desa Cangkuang Rancaekek

BAB I PENDAHULUAN. Pembinaan Tutor Oleh Gugus PAUD Dalam Rangka Meningkatkan Kinerja Tutor PAUD Di Desa Cangkuang Rancaekek BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan Anak Usia Dini non formal dipandang memiliki peran penting dalam pembentukan sumber daya manusia ke depan. Namun kesiapan tenaga pendidik di lembaga PAUD

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia dan masyarakat Indonesia yang maju, modern, dan sejajar dengan

BAB I PENDAHULUAN. manusia dan masyarakat Indonesia yang maju, modern, dan sejajar dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tujuan pembangunan nasional Indonesia menyatakan perlunya masyarakat melaksanakan program pembangunan nasional dalam upaya terciptanya kualitas manusia dan

Lebih terperinci

METODOLOGI. Hutan untuk Masa Depan Pengelolaan Hutan Adat di Tengah Arus Perubahan Dunia

METODOLOGI. Hutan untuk Masa Depan Pengelolaan Hutan Adat di Tengah Arus Perubahan Dunia Hutan untuk Masa Depan 2 METODOLOGI Struktur Buku ini adalah sebuah upaya untuk menampilkan perspektif masyarakat adat terhadap pengelolaan hutan berkelanjutan. Buku ini bukanlah suatu studi ekstensif

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil penelitian dan analisis yang telah dipaparkan, maka penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut: 1. Perencanaan pendidikan Life Skill di Sekolah Dasar Lebah Putih

Lebih terperinci

Sekolah Inklusif: Dasar Pemikiran dan Gagasan Baru untuk Menginklusikan Pendidikan Anak Penyandang Kebutuhan Khusus Di Sekolah Reguler

Sekolah Inklusif: Dasar Pemikiran dan Gagasan Baru untuk Menginklusikan Pendidikan Anak Penyandang Kebutuhan Khusus Di Sekolah Reguler Sekolah Inklusif: Dasar Pemikiran dan Gagasan Baru untuk Menginklusikan Pendidikan Anak Penyandang Kebutuhan Khusus Di Sekolah Reguler Drs. Didi Tarsidi I. Pendahuluan 1.1. Hak setiap anak atas pendidikan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Remaja merupakan generasi penerus bangsa. Remaja memiliki tugas untuk melaksanakan pembangunan dalam upaya meningkatkan kualitas dari suatu bangsa. Kualitas bangsa dapat diukur

Lebih terperinci

PERANAN ORANGTUA DALAM MENANAMKAN DISIPLIN ANAK USIA DINI. DAMAIWATY RAY Dosen PG PAUD FIP Unimed

PERANAN ORANGTUA DALAM MENANAMKAN DISIPLIN ANAK USIA DINI. DAMAIWATY RAY Dosen PG PAUD FIP Unimed PERANAN ORANGTUA DALAM MENANAMKAN DISIPLIN ANAK USIA DINI DAMAIWATY RAY Dosen PG PAUD FIP Unimed Email : [email protected] ABSTRAK Salah satu aspek yang penting yang harus di bentuk dan dikembangkan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PERANAN POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PENYESUAIAN SOSIAL ANAK DI DESA WONOSARI KECAMATAN KARANGANYAR

BAB IV ANALISIS PERANAN POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PENYESUAIAN SOSIAL ANAK DI DESA WONOSARI KECAMATAN KARANGANYAR BAB IV ANALISIS PERANAN POLA ASUH ORANG TUA TERHADAP PENYESUAIAN SOSIAL ANAK DI DESA WONOSARI KECAMATAN KARANGANYAR Atas dasar hasil penelitian yang telah dipaparkan pada bab tiga, maka akan dilakukan

Lebih terperinci

Ngatmini, M.Pd., Ekie W,S.Pd., Suhartatik, Nailis S, Mada AI

Ngatmini, M.Pd., Ekie W,S.Pd., Suhartatik, Nailis S, Mada AI Kemampuan Mengajar Guru Paud Nonformal Mekar Sari dalam Menerapkan BCCT (BEYOND CENTERS and CIRCLES TIME) oleh : Ngatmini 1), Ekie W 2), Suhartatik 3), Nailis S 4), Mada AI 5) Abstraks Anak usia dini memiliki

Lebih terperinci

Mengembangkan Bakat Anak

Mengembangkan Bakat Anak A. Artikel Mengembangkan Bakat Anak Oleh: Andi Sri Suriati Amal Setiap anak dipercaya memiliki bakat sendiri-sendiri. Namun bakat anak ini tidak bisa langsung terlihat begitu saja. Karenanya orang tua

Lebih terperinci

diri yang memahami perannya dalam masyarakat. Mengenal lingkungan lingkungan budaya dengan nilai-nilai dan norma, maupun lingkungan fisik

diri yang memahami perannya dalam masyarakat. Mengenal lingkungan lingkungan budaya dengan nilai-nilai dan norma, maupun lingkungan fisik 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Setiap manusia adalah unik, dan peserta didik yang memasuki masa remaja harus dapat menyadari hal tersebut. Melalui layanan bimbingan konseling disekolah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam masyarakat, seorang remaja merupakan calon penerus bangsa, yang memiliki potensi besar dengan tingkat produktivitas yang tinggi dalam bidang yang mereka geluti

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. bekerja yang ditandai secara khas dengan adanya kepercayaan diri, motivasi diri

BAB II LANDASAN TEORI. bekerja yang ditandai secara khas dengan adanya kepercayaan diri, motivasi diri BAB II LANDASAN TEORI A. Semangat Kerja 1. Pengertian Semangat Kerja Chaplin (1999) menyatakan bahwa semangat kerja merupakan sikap dalam bekerja yang ditandai secara khas dengan adanya kepercayaan diri,

Lebih terperinci

Ide Kegiatan Indoor - 1

Ide Kegiatan Indoor - 1 Ide Kegiatan Indoor - 1 Ide Kegiatan Indoor finding what really works! Dear ayah bunda, Pada saat Anda memikirkan tentang homeschooling atau akan memutuskan menerapkan homeschooling sebagai jalan pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. itu kebutuhan fisik maupun psikologis. Untuk kebutuhan fisik seperti makan,

BAB I PENDAHULUAN. itu kebutuhan fisik maupun psikologis. Untuk kebutuhan fisik seperti makan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap manusia memiliki serangkaian kebutuhan yang harus dipenuhi baik itu kebutuhan fisik maupun psikologis. Untuk kebutuhan fisik seperti makan, minum, pakaian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dan berjalan sepanjang perjalanan umat manusia. Hal ini mengambarkan bahwa

I. PENDAHULUAN. dan berjalan sepanjang perjalanan umat manusia. Hal ini mengambarkan bahwa 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah sebuah proses yang melekat pada setiap kehidupan bersama dan berjalan sepanjang perjalanan umat manusia. Hal ini mengambarkan bahwa pendidikan tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang ingin berhasil dalam hidupnya dan semua orang mempunyai

BAB I PENDAHULUAN. Setiap orang ingin berhasil dalam hidupnya dan semua orang mempunyai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap orang ingin berhasil dalam hidupnya dan semua orang mempunyai harapan serta cita-cita sendiri yang ingin dicapai. Mencapai suatu cita-cita idealnya memerlukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan

BAB I PENDAHULUAN. sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Lembaga Kursus dan Pelatihan merupakan dua satuan pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. Lembaga Kursus dan Pelatihan merupakan dua satuan pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lembaga Kursus dan Pelatihan merupakan dua satuan pendidikan nonformal seperti yang tertera dalam pasal 26 ayat (5) Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang

Lebih terperinci

USAID DBE3 Life Skills for Youth 29

USAID DBE3 Life Skills for Youth 29 Sesi 1 Apakah Kita Mengenal Peserta Pelatihan Sebagai Pelajar Dewasa? Pendahuluan Seorang fasilitator pelatihan yang efektif harus tahu peserta pelatihan yang ia hadapi. Peserta pelatihan bukan hanya sekedar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sehingga investasi dalam pendidikan bukan hanya memberikan dampak bagi

BAB I PENDAHULUAN. sehingga investasi dalam pendidikan bukan hanya memberikan dampak bagi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan jaminan pencapaian hak dalam masyarakat, sehingga investasi dalam pendidikan bukan hanya memberikan dampak bagi peningkatan kualitas kehidupan dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertama dituliskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. UKDW

BAB I PENDAHULUAN. pertama dituliskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. UKDW BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sesuai dengan isi Undang-Undang dasar tahun 1945 pasal 31 ayat yang pertama dituliskan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. UUD tersebut

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN DI TK AL AZHAR SOLO BARU DITINJAU DARI SUDUT PANDANG MULTIPLE INTELLIGENCES SKRIPSI

PEMBELAJARAN DI TK AL AZHAR SOLO BARU DITINJAU DARI SUDUT PANDANG MULTIPLE INTELLIGENCES SKRIPSI i PEMBELAJARAN DI TK AL AZHAR SOLO BARU DITINJAU DARI SUDUT PANDANG MULTIPLE INTELLIGENCES SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Persyaratan Guna

Lebih terperinci

KEBAHAGIAAN (HAPPINESS) PADA REMAJA DI DAERAH ABRASI

KEBAHAGIAAN (HAPPINESS) PADA REMAJA DI DAERAH ABRASI KEBAHAGIAAN (HAPPINESS) PADA REMAJA DI DAERAH ABRASI SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai Derajat Sarjana (S-1) Psikologi Disusun oleh : DENI HERBYANTI F 100 050 123 FAKULTAS PSIKOLOGI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara efektif dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan kemampuan siswa. Dengan pendidikan diharapkan individu (siswa) dapat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dan kemampuan siswa. Dengan pendidikan diharapkan individu (siswa) dapat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting bagi perkembangan dan kemampuan siswa. Dengan pendidikan diharapkan individu (siswa) dapat mengembangkan potensi-potensinya

Lebih terperinci

PELUANG BISNIS MAHASISWA DAN PELAJAR

PELUANG BISNIS MAHASISWA DAN PELAJAR PELUANG BISNIS MAHASISWA DAN PELAJAR O L E H ARIF NOVIAN HADI 10.12.5022 S1-SI-2I Masuki Dunia Bisnis Selagi Anda Masih Muda Kalau mahasiswa dan pelajar ditanya apa yang akan dilakukan setelah lulus kuliah

Lebih terperinci

Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017

Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017 Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017 Kode etik bisnis Kode etik bisnis ini berlaku pada semua bisnis dan karyawan Smiths Group di seluruh dunia. Kepatuhan kepada Kode ini membantu menjaga dan meningkatkan

Lebih terperinci

Kurikulum, Materi Belajar & Pola Kegiatan Homeschooling

Kurikulum, Materi Belajar & Pola Kegiatan Homeschooling Kurikulum, Materi Belajar & Pola Kegiatan Homeschooling Materi Pembahasan Apa kurikulum untuk homeschooling? Apa pilihan yang tersedia? Materi belajar yang digunakan apa? Di mana bisa memperoleh materi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga

BAB I PENDAHULUAN. atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran,

Lebih terperinci

Bab 5. Ringkasan. suatu hal baru dan orang orang tertentu akan turut mengikuti hal tersebut, terutama

Bab 5. Ringkasan. suatu hal baru dan orang orang tertentu akan turut mengikuti hal tersebut, terutama Bab 5 Ringkasan Pada dasarnya, Jepang adalah negara yang mudah bagi seseorang untuk menciptakan suatu hal baru dan orang orang tertentu akan turut mengikuti hal tersebut, terutama remaja putri Jepang yang

Lebih terperinci

Disusun oleh Ari Pratiwi, M.Psi., Psikolog & Unita Werdi Rahajeng, M.Psi., Psikolog

Disusun oleh Ari Pratiwi, M.Psi., Psikolog & Unita Werdi Rahajeng, M.Psi., Psikolog PELATIHAN PSIKOLOGI DAN KONSELING BAGI DOSEN PEMBIMBING AKADEMIK UNIVERSITAS BRAWIJAYA Disusun oleh Ari Pratiwi, M.Psi., Psikolog & Unita Werdi Rahajeng, M.Psi., Psikolog MAHASISWA Remaja Akhir 11 20 tahun,

Lebih terperinci