BAB I : PENDAHULUAN...

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I : PENDAHULUAN..."

Transkripsi

1

2 Daftar Isi Daftar Isi... ii Daftar Tabel... iv Daftar Gambar... viii Sambutan... ix BAB I : PENDAHULUAN Latar Belakang Dasar Hukum Penyusunan Hubungan Antar Dokumen Sistematika Dokumen RKPD Maksud dan Tujuan BAB II : Evaluasi Hasil Pelaksanaan RKPD Tahun Lalu dan Capaian Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Gambaran Umum Kondisi Daerah Luas Wilayah dan Batas Wilayah Topografi Geologi Klimatologi Penggunaan Lahan Potensi Pengembangan Wilayah Kawasan Rawan Bencana Demografi Aspek Kesejahteraan Masyarakat Aspek Pelayanan Umum Aspek Daya Saing Daerah Capaian Kinerja Berdasarkan Indikator Kinerja Utama RPJMD Preview Capaian Kinerja Berdasarkan Indikator Kinerja Utama Analisis Capaian Kinerja Berdasarkan Indikator Kinerja Utama A. Pertumbuhan Ekonomi B. Indeks Disparitas (Indeks Gini) C. Kemiskinan D. Pegangguran Terbuka E. Indeks Pembangunan Manusia F. Indeks Pembangunan Gender G. Indeks Lingkungan Hidup H. Indeks Kepusan Masyarakat Permasalahan Pembangunan Daerah Permasalahan daerah yang berhubungan dengan prioritas dan sasaran pembangunan daerah BAB III: Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah Dan Kebijakan Keuangan Daerah ii

3 3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2017 dan Perkiraan Tahun Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2017 dan Tahun Arah Kebijakan Keuangan Daerah Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan Arah Kebijakan Keuangan Daerah BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH Arah Kebijakan/Prioritas Pembangunan Nasional Tahun Arah Kebijakan/Prioritas Pembangunan Provinsi Jawa Timur Tahun Tujuan dan Sasaran Pembangunan Prioritas dan pembangunan BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH iii

4 Daftar Tabel Tabel 2.1: Jumlah Kecamatan, Desa dan Kelurahan Tabel 2.2: Struktur Geologi di Kabupaten Banyuwangi Tabel 2.3: Jenis Tanah Kabupaten Banyuwangi Tabel 2.4: Luas Panen, Produktivitas Dan Produksi Tanaman Pangan Tahun 2016 Kabupaten Banyuwangi Tabel 2.5: Komiditas Tanaman Kabupaten Banyuwangi Tabel 2.6: Luas Panen, Produktivitas Dan Produksi Tanaman Perkebunan Tahun 2016 Di Kabupaten Banyuwangi Tabel 2.7: Populasi Ternak Menurut Jenis Ternak Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.8: Produksi Dan Nilai Produksi Ikan Laut Menurut Jenisnya Di Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.9: Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur Tabel 2.10: Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Tabel 2.11: Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun Tabel 2.12: PDRB ADHB Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.13: Indikator Kemiskinan Kabupaten Banyuwangi Tabel 2.14: Realisasi Indikator Urusan Pendidikan Tahun Tabel 2.15: Jumlah Fasilitas Kesehatan Tabel 2.16: Realisasi Indikator Pekerjaan Umum Tahun Tabel 2.17: Realisasi Indikator Urusan Penataan Ruang Tahun Tabel 2.18: Realisasi Indikator Urusan Perencanaan PembangunanTahun Tabel 2.19: Realisasi Indikator Urusan PerhubunganTahun Tabel 2.20: Realisasi Indikator Urusan Pertanahan Tahun Tabel 2.21: Realisasi Indikator Urusan Kependudukan dan Pencatatan Sipil Tahun Tabel 2.22: Realisasi Indikator Urusan Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Tahun Tabel 2.23: Realisasi Indikator Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Tahun Tabel 2.24: Realisasi Indikator Urusan Sosial Tahun Tabel 2.25: Realisasi Indikator Urusan Ketenagakerjaan Tahun Tabel 2.26: Realisasi Indikator Urusan Koperasi Usaha Kecil Dan Menengah Tahun Tabel 2.27: RealisasiIndikator Urusan Penanaman Modal Tahun Tabel 2.28: Realisasi Indikator Urusan Kebudayaan Tahun Tabel 2.29: Realisasi Indikator Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Tahun Tabel 2.30: Realisasi Indikator Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian, Dan Persandian Kesatuan Bangsa dan Politik Tahun iv

5 Tabel 2.31: Realisasi Indikator Urusan Ketahanan Pangan Tahun Tabel 2.32: Realisasi Indikator Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa Tahun Tabel 2.33: Realisasi Indikator Urusan Statistik Tahun Tabel 2.34: Realisasi Indikator Urusan Kearsipan Tahun Tabel 2.35: Realisasi Indikator Urusan Komunikasi Dan InformatikaTahun Tabel 2.36: Realisasi Indikator Urusan Perpustakaan Tahun Tabel 2.37: RealisasiIndikator Urusan Pertanian Tahun Tabel 2.38: Realisasi Indikator Urusan Kehutanan Tahun Tabel 2.39: Realisasi Indikator Urusan Energi dan Sumberdaya Mineral Tahun Tabel 2.40: Realisasi Indikator Urusan Pariwisata Tahun Tabel 2.41: Realisasi Indikator Urusan Kelautan dan Perikanan Tahun Tabel 2.42: Realisasi Indikator Urusan Perdagangan Tahun Tabel 2.43: Realisasi Indikator Urusan Perindustrian Tahun Tabel 2.44: Realisasi Indikator Urusan Ketransmigrasian Tahun Tabel 2.45: PDRB ADHK Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.46: Proses Perijinan Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.47: Pajak dan Retribusi Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.48: Tabel data realisasi Investasi dan Tenaga Kerja di Kabupaten Banyuwangi Tabel 2.49: Rasio Penduduk Berijazah Universitas Per Penduduk Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2. 50: Rasio Ketergantungan Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.51: Jumlah Arus Penumpang Terangkut Angkutan Umum (dalam 1 Tahun) Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.52: Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bus Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.53: Rasio Ketaatan Terhadap RTRW Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.54: Persentase Luas Wilayah Produktif Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.55: Persentase Luas Wilayah Industri Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.56: Persentase Luas Wilayah Perkotaan Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.57: Jumlah Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.58: Jumlah Rumah Tangga yang Berlistrik Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.59: Jenis, Kelas, dan Jumlah Restoran Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.60: Jumlah Hotel dan Penginapan Tahun Kabupaten Banyuwangi Tabel 2.61: Tabel Target IKU Tahun Tabel 2.62: Data Pertumbuhan Ekonomi dan Variabel Pembentuk Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.63: Nilai Koefisien Parameter Jalur dan R2- Pada Pertumbuhan Ekonomi Tabel 2.64: Series Indeks Gini v

6 Tabel 2.65: Nilai Koefisien Parameter Jalur dan R2 Pada Indeks GINI Tabel 2.66: Series Kemiskinan tahun Tabel 2.67: Nilai Koefisien Parameter Jalur dan R2 Pada Angka Kemiskinan Tabel 2.68: Data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan Variabel Pembentuk TPT Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2.69: Model Struktural Tabel 2.70 Koefisien Parameter Jalur Tabel 2.71: Series IPM Tahun Tabel 2.72: Nilai Koefisien Parameter Jalur dan R2 Pada IPM Tabel 2.73: Koefisien Parameter Jalur IPM Tabel 2.74: Matriks keterkaitan Indikator, Parameter Indikator, Penyebab, Pemicu, dan Kebutuhan data Tabel 2.75: Permasalahan daerah yang berhubungan dengan prioritas dan sasaran pembangunan daerah Tabel 3.1: Perkembangan Indikator Makro Ekonomi Kabupaten Banyuwangi Tabel 3.2: Evaluasi/Catatan Atas Perhitungan Kapasitas Keuda RKPD Tahun Tabel 3.3: Rata-Rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 3.4: Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Belanja Tidak Langsung Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 3.5: Rata-rata Pertumbuhan Neraca Daerah Tabel 3.6: Prosentase Sumber Pendapatan Daerah Kabupaten Banyuwangi Tabel 3.7: Kinerja Realisasi Pendapatan Daerah Tabel 3.8: Proyeksi Pendapatan Daerah Kabupaten Banyuwangi Tabel 3.9: Proyeksi Penerimaan Pembiayaan Daerah Tabel 3.10: Proyeksi/Target Penerimaan Daerah Kabupaten Banyuwangi Tabel 3.11: Penghitungan Kebutuhan Belanja & Pengeluaran Pembiayaan Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 3.12: Penghitungan Kebutuhan Belanja Langsung: Wajib/Mengikat dan Prioritas Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 3.13: Perhitungan Proyeksi Anggaran Tahun Tabel 4.1: Arah Kebijakan Pembangunan Provinsi Jawa Timur Tabel 4.2: Linieritas antara Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, dan Indikator Sasaran Tabel 4.3: Tema dan Prioritas Pembangunan Tabel 4.4: linieritas antara Prioritas pembangunan, Program Pembangunan dan Kinerja Tabel 4.5: Sinkronisasi mandat pembangunan tahun 2018 Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 32 Tahun 2017 dengan program pembangunan Kabupaten banyuwangi tahun Tabel 5.1: Rencana Program dan Kegiatan Prioritas Daerah vi

7 Daftar Gambar Gambar 1.1: Hubungan Dokumen RKPD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Gambar 2.1: Peta Kabupaten Banyuwangi Gambar 2.2: Luas Kabupaten Banyuwangi Menurut Penggunaannya Gambar 2.3: Laju Pertumbuhan Indeks Implisit sektor Kehutanan Terhadap PDRB Di Kabupaten Banyuwangi Tahun Gambar 2.4: Peta Bencana Gunung Api Gambar 2.5: Pertumbuhan Ekonomi Gambar 2.6: Inflasi tahun (YoY) Kabupaten Banyuwangi Gambar 2.7: Perkembangan Angka IPM Kabupaten Banyuwangi dan Provinsi Jawa Timur Tahun Gambar 2.8: Pendapatan perkapita Kabupaten Banyuwangi Tahun (juta/tahun) Gambar 2.9: Time Series Indeks Gini ratio Gambar 2.10: Angka Kematian Bayi per 1000 Kelahiran Hidup Gambar 2.11: Angka Kematian Ibu Melahirkan per Kelahiran Hidup Gambar 2.12: Cakupan Komplikasi Kebidanan yang ditangani Gambar 2.13: Jumlah Rumah Tangga Pengguna Air Bersih, Listrik dan Rumah Tangga Bersanitasi Gambar 2.14: Data Rumah Layak Huni Gambar 2.15: Data Jumlah Lingkungan Pemukiman Kumuh Gambar 2.16: Persentase Penanganan Sampah dan TPS Per Satuan Penduduk Gambar 2.17: Persentase Pemukiman yang Merata, Cakupan Pengawasan terhadap AMDAL dan Sumber Mata Air dalam Debit Stabil Gambar 2.18: Diagram Jalur Persamaan Struktural PLS pada Pertumbuhan Ekonomi Gambar 2.19: Diagram jalur persamaan struktural PLS pada Indeks GINI Gambar 2.20: Diagram jalur persamaan struktural PLS pada angka kemiskinan Gambar 2.21: Diagram Jalur Persamaan Struktural PLS pada TPT Gambar 2.22: Peta variabel IPM Gambar 2.23: Diagram Jalur Persamaan Struktural PLS pada IPM Gambar 2.24: Peta Variabel IKLH Gambar 2.25: Peta Variabel IKM Gambar 4.1: Linieritas Tema pembangunan terhadap nawa cita pembangunan nasional Gambar 4.2: Pondasi dan pilar Misi dalam pencapaian visi Gambar 4.3: Arah Kebijakan Pembangunan RPJMD Kabupaten Banyuwangi Periode Gambar 4.4: Perumusan Tema Pembangunan RKPD Tahun Gambar 4.5: Linieritas Prioritas Pembangunan Nasional, Provinsi Jawa Timur, dan Kabupaten Banyuwangi vii

8 Gambar 4.6: Peta Prioritas Pembanguna Mempercepat kemudahan investasi pembangunan yang berorientasi pada pertanian dan pariwisata Gambar 4.7: Peta prioritas pembangunan melalui pemberdayaan kelompok usaha dan pelaku ekonomi kreatif Gambar 4.8 : Peta prioritas Pembangunan melalui penguatan kerjasama pemerintah dan swasta dan Pengembangan dan penguatan pasar untuk produk pertanian yang integratif dengan pariwisata Gambar 4.9: Peta prioritas pembangunan melalui menjalankan sistem inovasi daerah untuk produk unggulan hingga wilayah perdesaan viii

9 Sambutan ix

10 BAB I: PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem perencanaan pembangunan nasional di Indonesia sebagaimana diatur dalam UU No. 25 Tahun 2004 membagi ruang lingkup perencanaan secara sistematis dan terintegrasi. Makna terintegrasi dapat diartikan sebagai keselarasan perencanaan pembangunan antar ruang (waktu) maupun antar level pemerintahan. Perencanaan pembangunan berdasar pada ruang lingkup waktu dapat dibedakan menjadi Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) untuk kurun waktu 20 tahun; Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) untuk kurun waktu 5 tahun; dan Rencana Kerja Pembangunan (RKP) untuk jangka pendek kurun waktu 1 tahunan. Kinerja pemerintah daerah secara akumulatif harus dapat berdampak pada kinerja Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat. Seluruh dokumen perencanaan harus saling terintegrasi dan saling mendukung pencapaian satu sama lain. Setiap tahunnya pemerintah daerah menyusun dokumen RKPD sebagai bentuk dokumen perencaan jangka pendek. RKPD disusun sebagai penjabaran arah kebijakan tahunan selama 5 tahun yang ada di dalam RPJMD, sesuai dengan program tahunan yang ada didalam RPJMD. RKPD berisi rencana kerja dari seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pada tahun yang bersangkutan, yang didasarkan pada arahan dan program prioritas yang telah dirumuskan pada Rancangan Awal RKPD. Sehingga masingmasing OPD memiliki arahan/ tema pembangunan yang jelas setiap tahunnya. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008, mengamanatkan bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan, Pemerintah Daerah berkewajiban menyusun perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan sistem perencanaan pembangunan nasional. Sehubungan dengan amanat undang-undang tersebut maka Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah menyusun RPJPD Tahun yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 15 Tahun 2011 tentang Rencana Jangka Panjang Daerah Kabupaten Banyuwangi tahun Penyusunan RKPD Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018 ini berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 dan memperhatikan RPJMD Propinsi Jawa Timur maupun Rancangan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun Hal -hal yang menjadi 10

11 perhatian dalam menyusun RKPD ini juga mempertimbangkan hasil kinerja pembangunan yang dicapai pada tahun sebelumnya, isu-isu strategis yang akan dihadapi pada tahun pelaksanaan RKPD serta sinergitas antar sektor dan antar wilayah serta penjaringan aspirasi yang mengemuka sebagai hasil Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang secara partisipatif dilakukan mulai dari desa/kelurahan hingga kabupaten. Substansi penting dalam RKPD ini merupakan gambaran investasi pemerintah yang dalam penjabarannya diinteraksikan dengan komponen sumber daya yang lain seperti PAD, Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, Tugas Pembantuan, serta dana-dana bagi hasil lainnya. Dokumen RKPD ini merupakan dokumen publik dimana sesuai amanat undangundang nomor 14 tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik yang berlaku efektif pada tanggal 01 Mei 2010 maka diharapkan Dokumen ini harus dapat diakses oleh semua pemangku kepentingan baik dalam kapasitas untuk melaksanakan, pengawasan, pengendalian dan evaluasi. 1.2 Dasar Hukum Penyusunan Kegiatan penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah ini berlandaskan pada beberapa dasar hukum seperti dibawah ini: 1. Undang-undang Nonom 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) 2. Undang-undang Nomor 25 tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 112); 3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 33, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4700); 4. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah 5. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah; 6. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614). 8. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2007 tentang Perubahan ketiga atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah ; 9. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/; 11

12 10. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah; 11. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 Tentang Organisasi Pemerintah Daerah; 12. Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah; 13. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan; 14. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang Serta kedudukan Keuangan Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah Di Wilayah Provinsi ; 15. Peraturan Presiden Nomor 2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun ; 16. Peraturan Presiden Nomor 60 Tahun 2015 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2006 ; 17. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Perencanaan Pembangunan Daerah; 18. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah yang terakhir kali dirubah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentang Perubahan Kedua Permendagri Nomor 13 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 19. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 6 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal; 20. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 16 Tahun 2007 tentang Tata Cara Evaluasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah; 21. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Tugas dan Wewenang Gubernur Sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi ; 22. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2015 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2017 ; 23. Peraturan Gubernur Provinsi Jawa Timur Nomor 3 Tahun 2014 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur Tahun ; 24. Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 8 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Banyuwangi; 25. Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 15 Tahun 2011 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun ; 26. Peraturan Daerah Kabupaten Banyuwangi Nomor 7 Tahun 2016 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun

13 1.3 Hubungan Antar Dokumen Dalam kaitan dengan sistem perencanaan pembangunan sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004, maka keberadaan RPJM Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun merupakan landasan yang digunakan untuk menyusun RKPD Kabupaten Banyuwangi tahun 2018 untuk menjalankan agenda pembangunan tahunan dan dalam rangka mencapai sasaran-sasaran dalam RPJP Daerah Kabupaten Banyuwangi. Keberadaan RKPD Tahun 2018 juga sebagai pedoman bagi Organisasi P_erangkat Daerah (OPD) untuk penyusunan Rencana Kerja (Renja) OPD tahun RPJMD dan Renstra OPD adalah dokumen perencanaan jangka menengah daerah untuk periode 5 tahunan, yang dijabarkan lebih lanjut menjadi rencana tahunan. Rencana kerja tahunan pada tingkat nasional dinamakan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) dan pada tingkat daerah disebut Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD). Hubungan Renstra K/L dengan RKP dan Renstra OPD dengan RKPD adalah bersifat mengikat yaitu penyusunan rencana tahunan harus berpedoman pada rencana lima tahunan. Sedangkan hubungan antara Renstra K/L dan Renstra OPD adalah bersifat konsultatif yaitu penyusunan Renstra OPD harus memperhatikan Renstra K/L. Mengingat adanya keselarasan sistem perencanaan dan sistem penganggaran, maka RKPD harus dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD). Oleh karena itu penyusunan RKPD tersebut, perlu dilakukan secara lebih rinci dengan tekanan utama pada penetapan program dan kegiatan.penetapan program dan kegiatan tersebut harus pula mencakup indikator dan target kinerja serta perkiraan kebutuhan dana untuk mendukung pelaksanaan masing-masing program dan kegiatan. Hubungan RKPD dengan dokumen perencanaan lainnya dapat dilihat pada Gambar 1.1. RPJM Nasional RKP Diperhatikan Diacu Dijabarkan RPJP Daerah Pedoman RPJM Daerah RKP Daerah Pedoman RAPBD APBD Pedoman Bahan Diacu Bahan Renstra OPD Pedoman Renja OPD RKA OPD DPA OPD Gambar 1. 1: Hubungan Dokumen RKPD dengan Dokumen Perencanaan Lainnya 13

14 1.4 Sistematika Dokumen RKPD BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menjelaskan pengertian ringkas mengenai RKPD, proses penyusunan dan kedudukan RKPD tahun rencana dalam periode penyusunan RPJMD, keterikatan dengan dokumen RPJMD, Renstra OPD, Renja OPD dan tindak lanjutnya dengan proses penyusunan RAPBD Dasar Hukum Penyusunan Menyebutkan peraturan perundang - undangan yang mengatur tentang perencanaan dan penganggaran serta tatacara penyusunan dokumen perencanaan dan pelaksanaan Musrenbang Hubungan Antar Dokumen Bagian ini menjelaskan secara ringkas hubungan dokumen RKPD dengan RPJMD Kabupaten Banyuwangi tahun Sistematika Dokumen RKPD Sub bab ini mengemukakan organisasi penyusunan dokumen RKPD terkait dengan pengarutan bab serta garis besar isi setiap bab didalamnya Maksud dan Tujuan Memberikan uraian ringkas tentang maksud dan tujuan penyusunan dokumen RKPD. BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGARAAN PEMERINTAHAN Bab ini menguraikan tentang evaluasi pelaksanaan RKPD tahun yang lalu selain itu juga memperhatikan dokumen RPJMD dan dokumen RKPD tahun berjalan sebagai acuan. 2.1 Gambaran Umum Kondisi Daerah Bagian ini menjelaskan dan menyajikan secara umum mengenai kondisi daerah yang meliputi aspek geografi dan demografi, serta indikator kinerja penyelenggaraan pemerintah daerah. 2.2 Evaluasi Pelaksanaan Program dan Kegiatan RKPD Sampai Tahun Berjalan dan Realisasi RPJMD Bagian ini merupakan telaahan terhadap hasil evaluasi capaian kinerja pembangunan daerah. Evaluasi meliputi seluruh urusan baik wajib maupun pilihan pemerintah daerah khususnya menyangkut realisasi capaian kinerja program tahun lalu. 2.3 Permasalahan Pembangunan Daerah Bagian ini mengemukakan beberapa permasalahan yang berhasil diidentifikasi baik yang berhubungan dengan pelaksanaan prioritas pembangunan daerah maupun program-program lain yang mendapatkan perhatian dalam rangka identifikasi permasalahan. 14

15 BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH Bab ini menjelaskan tentang kondisi ekonomi tahun lalu dan perkiraan tahun berjalan antara lain mencakup indikator pertumbuhan ekonomi daerah, sumber-sumber pendanaan dan kebijakan pemerintah daerah yang diperlukan dalam pembangunan perkonomian daerah meliputi pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah. 3.1 Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Bagian ini mengemukakan implementasi program perekomonian untuk mewujudkan visi dan misi kepala daerah, isu strategis daerah sebagai dasar untuk menyusun prioritas program dan kegiatan pembangunan yang akan dilaksanakan tahun Arah Kebijakan Keuangan Daerah Menguraikan kebijakan yang akan ditempuh pemerintah daerah berkaitan dengan pendapatan daerah, pembiayaan daerah dan belanja daerah. BAB IV PRIORITAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH Dalam bab ini diuraikan tentang perumusan prioritas dan sasaran pembangunan daerah berdasarkan hasil analisis terhadap hasil evaluasi pelaksanaan RKPD tahun 2016, serta identifikasi isu strategis dan masalah mendesak ditingkat Provinsi Jawa Timur dan nasional, sehingga dapat disinkronkan dengan permasalahan pembangunan daerah dan isu strategis yang mendesak dengan mempertimbangkan kerangka ekonomi daerah dan kemampuan pendanaan dalam Tahun Bab ini terbagi dalam empat sub bab sebagai berikut: 4.1 Arah Kebijakan/Prioritas Pembangunan Nasional Tahun Arah Kebijakan/Prioritas Pembangunan Provinsi Jawa Timur Tahun Tujuan dan Sasaran Pembangunan Bagian ini menjelaskan tentang hubungan visi/misi dan tujuan/sasaran pembangunan 5 (lima) tahunan yang diambil dari dokumen RPJMD. 4.4 Prioritas dan pembangunan Bagian ini menjelaskan hubungan antara prioritas pembangunan daerah tahun 2018 yang pada dasarnya adalah gambaran prioritas pembangunan tahun rencana yang diambil dan dikaitkan dengan program pembangunan daerah (RPJMD). BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH Bab ini mengemukakan secara eksplisit rencana program dan kegiatan prioritas daerah yang disusun berdasarkan evaluasi pembangunan tahunan, kedudukan tahun rencana (RKPD) dan capaian kinerja yang direncanakan dalam RPJMD. Rencana program dan kegiatan prioritas harus mewakili aspirasi dan kepentingan masyarakat. Diuraikan dari program dan kegiatan yang paling bermanfaat atau memiliki nilai kegunaan tinggi bagi masyarakat. BAB VI PENUTUP 15

16 1.5 Maksud dan Tujuan Maksud disusunnya Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018 adalah untuk menjamin sinkronisasi dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan dan pengawasan sebagaimana ditegaskan dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan, Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah. RKPD Tahun 2018 tersebut merupakan pedoman dalam penyusunan RAPBD dan merupakan acuan dalam perumusan Kebijakan Umum Anggaran (KUA) maupuan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) APBD Kabupaten Banyuwangi Tahun Selanjutnya RKPD tersebut juga dijadikan dasar untuk menyusun Rencana Kerja Anggaran (RKA) OPD. Tujuan disusunnya Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) adalah untuk untuk memberikan arah dan pedoman bagi semua pelaku pembangunan di Kabupaten Banyuwangi, dalam rangka mewujudkan pencapaian indikator dan target kinerja prioritas/agenda/program pembangunan daerah yang ditetapkan dalam RPJMD yang akhirnya ditujukan untuk mewujudkan visi dan misi Kepala Daerah. 16

17 BAB II: Evaluasi Hasil Pelaksanaan Rkpd Tahun Lalu Dan Capaian Kinerja Penyelengaraan Pemerintahan Penyusunan rancangan awal RKPD tahun 2018 ini pada hakekatnya didasarkan pada evaluasi hasil pelaksanaan RKPD tahun 2016 disinergikan dengan RPJMD Kabupaten Banyuwangi dan Laporan Pertanggungjawaban Kepala Daerah Tahun Evaluasi tersebut merupakan penelaahan atas pelaksanaan kinerja dari program dan kegiatan SKPD. Evaluasi juga diselaraskan dengan hasil-hasil laporan kinerja yang menjadi dasar penyusunan LAKIP SKPD. 2.1 Gambaran Umum Kondisi Daerah Pada bagian ini akan menyajikan beberapa data dalam menggambarkan kondisi daerah Kabupaten Banyuwangi berkaitan dengan aspek geografis dan demografis, kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum dan daya saing daerah Luas Wilayah dan Batas Wilayah Kabupaten Banyuwangi adalah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten ini terletak di ujung paling timur Pulau Jawa, berbatasan dengan Kabupaten Situbondo dibagian utara, Selat Bali dibagian timur, Samudra Hindia dibagian selatan serta Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso dibagian barat. Gambaran lebih jelas mengenai batas-batas administratif Kabupaten Banyuwangi bisa dilihat melalui gambar berikut ini. Secara geografis Kabupaten Banyuwangi terletak di ujung timur Pulau Jawa dengan titik koordinat diantara 7o43-8o46 Lintang Selatan dan 113o53-114o38 Bujur Timur. 17

18 Gambar 2.1 : Peta Kabupaten Banyuwangi Sumber: Banyuwangi Dalam Angka, 2016 Kabupaten Banyuwangi terbagi atas dataran tinggi yang berupa daerah pegunungan yang merupakan daerah penghasil berbagai produksi perkebunan, daratan yang merupakan daerah penghasil tanaman pertanian, serta daerah sekitar garis pantai yang membujur dari arah utara ke selatan sepanjang 175,8 km yang merupakan daerah penghasil berbagai biota laut. Kondisi geografis tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Banyuwangi memiliki potensi 18

19 yang besar sebagai produsen bahan makanan yang berasal dari hasil pertanian, perkebunan, dan perikanan. Wilayah Kabupaten Banyuwangi mempunyai ketinggian antara meter di atas permukaan air laut. Secara administratif Kabupaten Banyuwangi mempunyai batas daerah sebagai berikut: a. Sebelah Utara : Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Bondowoso. b. SebelahTimur : Selat Bali. c. Sebelah Selatan : Samudera Indonesia. d. Sebelah Barat : Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso. Wilayah Administrasi Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi terbagi atas 25 Kecamatan, 189 Desa dan 28 Kelurahan, dengan rincian sebagai berikut: Tabel 2.1 : Jumlah Kecamatan, Desa dan Kelurahan No Jumlah Kecamatan Pesanggaran Siliragung Bangorejo Purwoharjo Tegaldlimo Muncar Cluring Gambiran Tegalsari Glenmore Kalibaru Genteng Srono Rogojampi Kabat Singojuruh Sempu Songgon Glagah Licin Banyuwangi Giri Kalipuro Wongsorejo Blimbingsari Jumlah Desa Kelurahan Sumber: Bappeda,

20 2.1.2 Topografi Wilayah Kabupaten Banyuwangi bagian Barat, Utara, dan Selatan pada umumnya merupakan daerah pegunungan dengan tingkat kemiringan rata-rata 40 dan rata-rata curah hujan lebih tinggi bila dibanding dengan daerah lainnya. Di sisi lain, daerah daratan yang datar di Kabupaten Banyuwangi sebagian besar mempunyai tingkat kemiringan kurang dari 15o dengan rata-rata curah hujan cukup memadai dan bisa meningkatkan kesuburan tanah. Secara umum, Kabupaten Banyuwangi terletak pada ketinggian 0 sampai dengan > meter di atas permukaan laut. Tingkat kemiringan rata - rata pada wilayah bagian barat dan utara 400, dengan rata - rata curah hujan lebih tinggi bila dibanding dengan bagian wilayah lainnya. Daratan yang datar sebagaian besar mempunyai tingkat kemiringan kurang dari 150, dengan rata-rata curah hujan cukup memadai untuk ketersediaan budidaya pertanian. Ketinggian tanah di Kabupaten Banyuwangi mencapai meter dari permukaan laut dan berdasarkan klasifikasi Wilayah Tanah Usaha (WTU) ketinggian tersebut dibedakan atas : a. Ketinggian 0 25 meter di atas permukaanlaut meliputi luas wilayah Ha. (12,04%)dari luas tanah. Ketinggian ini didapatkan padakecamatan Banyuwangi, Bangorejo, Giri, Kalipuro, Kabat, Muncar, Pesanggaran, Purwoharjo,Rogojampi, Srono, Tegaldlimo dan Wongsorejo. b. Ketinggian meter di atas permukaanlaut meliputi luas wilayah Ha.(45,65%) dari luas daerah. Ketinggian inididapat pada hampir semua kecamatan kecualikecamatan Banyuwangi, Muncar, Purwoharjoyang tingginya di bawah 100 meter di atas permukaanlaut. 20

21 c. Ketinggian meter di atas permukaanlaut meliputi luas wilayah Ha.(10,49%) dari luas daerah. Ketinggian ini meliputikecamatan Genteng, Sempu, Giri, Kalipuro,Glagah, Glenmore, Kabat, Songgon danwongsorejo. d. Ketinggian lebih dari meter di atas permukaanlaut meliputi Kecamatan Giri, Kalipuro,Glagah, Glenmore, Kabat, Songgon dan Wongsorejo. e. Daerah Kecamatan pantai meliputi KecamatanWongsorejo, Giri, Kalipuro, Banyuwangi, Kabat,Rogojampi, Muncar, Tegaldlimo, Purwoharjo danpesanggaran Geologi Kabupaten Banyuwangi memiliki kondisi geologi yang bervariasi di setiap wilayah, hal ini juga memiliki peran yang sangat besar bagi terbentuknya suatu bentukan lahan di wilayah tersebut. Jenis Tanah di Kabupaten Banyuwangi berdasarkan struktur geologi terdapat berbagai susunan/struktur geologi seperti pada tabel berikut ini. Tabel 2.2 : Struktur Geologi di Kabupaten Banyuwangi Struktur Geologi Luas (Ha) Aluvium Hasil G Api kwarter muda Hasil G. Api kwarter Andesit Miosen falses semen Miosen falsen batu gamping Sumber : LKPJ Akhir Masa Jabatan Kab. Banyuwangi , , , , , ,50 Adapun keadaan jenis tanah di Kabupaten Banyuwangi dapat terlihat pada tabel berikut ini. Tabel 2.3 : Jenis Tanah Kabupaten Banyuwangi Jenis tanah Ha % Regosol ,87 23,96 Lithosol Lathosol , ,30 6,75 2,44 Padsolik ,75 Gambut ,70 Sumber : LKPJ Akhir Masa Jabatan Kab. Banyuwangi ,3 6,55 21

22 2.1.4 Klimatologi Kabupaten Banyuwangi terletak di selatan equator yang dikelilingi oleh Laut Jawa, Selat Bali dan Samudera Indonesia dengan iklim tropis yang terbagi menjadi 2 musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. a. Rata-rata curah hujan selama tahun 2016 mencapai mm. Curah hujan terendah terjadi pada Bulan September 2015 sebesar 0.8 mm, sedangkan curah hujan tertinggi terjadi pada Bulan Maret sebesar b. Presentase rata-rata penyinaran matahari terendah pada Bulan Januari sebesar 55% dan tertinggi pada Bulan Oktober sebesar 98% c. Rata-rata kelembaban udara pada tahun 2013 diperkirakan mendekati 81.5%. Kelembaban terendah terjadi pada Bulan Oktober dengan rata- rata kelembaban udara sebesar 75%. Sebaliknya kelembaban tertinggi terjadi pada Bulan Januari dan bulan Juni dengan besaran 86%. d. Rata-rata suhu udara terendah terjadi pada Bulan Juli sebesar 21.2oC. Sedang tertinggi pada Bulan Januari sebesar 34,8oC Penggunaan Lahan Dengan luasan wilayah 5.782,50 km2, Kabupaten Banyuwangi menjadi kabupaten terluas di Jawa Timur. Wilayah Kabupaten Banyuwangi sebagian besar masih merupakan daerah kawasan hutan, karena besaran wilayah yang termasuk kawasan hutan lebih banyak kalau dibandingkan kawasan-kawasan lainnya. Area kawasan hutan mencapai ,34 ha atau sekitar 31,72 persen; daerah persawahan sekitar ha atau 11,44 persen dan perkebunan dengan luas sekitar ,63 ha atau 14,21 persen; sedangkan yang dimanfaatkan sebagai daerah permukiman mencapai luas sekitar ,22 ha atau 22,04 persen. Sisanya telah dipergunakan oleh penduduk Kabupaten Banyuwangi dengan berbagai manfaat yang ada, seperti jalan, ladang dan lain-lainnya. 22

23 0.31%, 0% 17.59%, 18% 14.21%, 14% 11.43%, 11% 2.80%, 3% 22.04%, 22% 31.72%, 32% Hutan 36.27%, 36% Lain-lain Perkebunan Tambak Sawah Ladang Permukiman Gambar 2.2 : Luas Kabupaten Banyuwangi Menurut Penggunaannya Sumber: LKJIP Kabupaten Banyuwangi Potensi Pengembangan Wilayah a. Pertanian Secara umum struktur ekonomi di Kabupaten Banyuwangi terbentuk dan didominasi oleh sektor pertanian. Pada tahun 2012 peranan sektor pertanian terhadap seluruh kegiatan ekonomi di Kabupaten Banyuwangi angkanya mencapai 46,24 persen, atau hampir separuh dari kegiatan ekonomi di Kabupaten Banyuwangi bergerak di sektor pertanian. Sektor pertanian memiliki konstribusi yang cukup besar berkecimpung dalam bidang pertanian yang meliputi pertanian tanaman pangan, holtikultura, pertanian tanaman perkebunan, peternakan dan hasil- hasilnya, kehutanan serta kelautan dan perikanan. Saat ini pertanian di Kabupaten Banyuwangi mempunyai dua peran sekaligus tantangan yaitu: mendukung pemenuhan pangan bagi penduduk Banyuwangi juga memberikan lapangan kerjabagi rumah tangga tani di Kabupaten Banyuwangi. Sebagai sektor yang menjadi tumpuan bagi ketahanan pangan dan mata pencaharian sebagian rakyat, maka pembangunan pertanian merupakan generator bagi pembangunan di Kabupaten Banyuwangi. Karenanya, Kabupaten Banyuwangi mempunyai sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk peningkatan peran sektor pertanian dalam pembangunan daerah, karena didukungoleh budaya dan adat istiadat yang kondusif terhadap perubahan ini akan cukup optimis menuju kebangkitan dan kejayaan sektor pertanian yangakhirnya akan membawa peningkatan taraf hidup pelaku utamanya yaitu petani. 23

24 Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang mempunyai luas daerah terbesar, dengan keragaman janis lahan dan iklim, mempunyai potensi sumber daya lahan yang cukup besar sehingga dengan adanya ketersediaan luas daerah yang begitu besar tersebut, kesempatan untuk dijadikan sebagai lahan pertanian akan mempunyai peluang besar. Berdasarkan data statistik, potensi lahan pertanian di Kabupaten Banyuwangi berada dalam peringkat ketiga setelah Kabupaten Malang dan Kabupaten Jember. Tidaklah mengherankan kalau Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu lumbung pangan di Provinsi Jawa Timur. Adapun luas wilayah Kabupaten Banyuwangi sekitar 5.782,50 km2 dimana luas area persawahan adalah sebesar Ha atau 11,44 %. Potensi pertanian secara umum dapat ditinjau dari potensi sumber daya produksi dan potensi pasar. Potensi produksi pangan terutama dapat di lihat dari cukup besarnya jumlah lahan sawah produktif yang subur. Berikut secara rinci hasil produksi pertanian sub sektor tanaman bahan makanan di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016: Tabel 2.4 : Luas Panen, Produktivitas Dan Produksi Tanaman Pangan Tahun 2016 Kabupaten Banyuwangi Luas panen No Jenis Tanaman Produktivitas (Kw/ha) Produksi (Ton) (Ha) 1. Padi Sawah 2. Padi Ladang 3. Jagung 4. Kedelai 5. Kacang Tanah 6. kacang Hijau 7. Ubi jalar 8. Ubi kayu Sumber: LKPJ Kab. Banyuwangi ,91 57,67 66,44 17,16 14,05 12,91 205,49 193, Berdasarkan pemanfaatan lahan yang digunakan oleh para petani, mulai dari kawasan selatan ke arah utara yang melebar ke arah barat merupakan daerah potensi tanaman bahan makanan. Utamanya tanaman padi banyak di tanam di kawasan ini, bahkan sebagian besar dari kawasan tersebut pola tanam padi dalam satu tahunnya bisa dilakukan hingga tiga kali. Lahan pertanian setiap tahun mengalami pengembangan dan pengempisan pada beberapa jenis tanaman seperti pada sawah, jagung, kacang tanah, dan ubi kayu mengalami peningkatan luas lahan yang berimbas pada prokutivitas yang meningkat. Data tersebut dikomparasikan dengan luas panen, produktivitas dan produksi tanaman pangan pada tahun 2014 lalu. Sementara tanaman lain seperti kedelah, kacang hijau dan ubi jalar mengalami penyusutan luas lahan yang berakibat pada menurunya panen tanaman tersebut. 24

25 Berkurangnya potensi pertanian di Kabupaten Banyuwangi juga disebabkan karena belum optimalnya infrastruktur pertanian dan infrastruktur di pedesaan, dimana masih terdapat kerusakan jaringan irigasi (jitut/jides). Berdasarkan hasil panen tahun lalu beberapa tanaman produksi bahan pangan seperti Selain itu penurunan potensi pertanian karena adanya dampak perubahan iklim sehingga menyebabkan gagal panen akibat banjir dan kekeringan dan munculnya hama dan penyakit tanaman. Sementara untuk tanaman holtikultura Kabupaten Banyuwangi memili banyak varietas tanaman sayuran dan buah yang menjadi komoditas. Kabupaten Banyuwangi sendiri memiliki tanaman sayur yang cukup unggul diwilayah selatan yaitu tanaman buah naga dan jeruk yang berkembang. Buah naga merupakan buah eksotis yang sekarang menjadi tren dalam pertanian karena harga kisaranya yang cukup mahal dan harganya dapat berkali-lipat pada event-event tertentu. Langkah itu kemudian membuat Kabupaten Banyuwangi untuk membudidayakan Tanaman Buah naga Sebagaimana dapat dilihat di tabel berikut Tabel 2.5 : Komiditas Tanaman Kabupaten Banyuwangi 2015 Jenis Buah Luas Hasil Pannen Pepaya Petai Melon Durian Rambutan Mangga Buah Naga Manggis Semangka Pisang Jeruk Siam 552,18 224,91 282,15 750, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,50 b. Perkebunan Kabupaten Banyuwangi memiliki luas sebesar sekitar 5.782,50 km2 yang sebagian wilayah dari Kabupaten Banyuwangi adalah wilayah perkebunan, luas kawasan perkebunan mencapai sekitar ,63 Ha atau 14,21 %. Selain tanaman bahan makanan yang berpotensi tinggi di Kabupaten Banyuwangi, tanaman perkebunan juga mempunyai potensi yang tidak kalah pentingnya bila dibandingkan dengan tanaman bahan makanan. Dua jenis tanaman perkebunan yang mempunyai konstribusi terhadap kehidupan penduduk di Kabupaten Banyuwangi cukup besar yaitu tanaman kelapa dan kopi. 25

26 Tabel 2.6 : Luas Panen, Produktivitas Dan Produksi Tanaman Perkebunan Tahun 2016 Di Kabupaten Banyuwangi No. Jenis Tanaman Luas Panen (Ha) Produktivitas (ton) 1. Tebu Kopi Kakao Cengkeh Kelapa Kopra Kelapa (Deres) Kapuk Randu Abbaca Karet Tembakau Rajang Sumber: LKPJ Akhir Tahun Kab. Banyuwangi , c. Peternakan dan Perikanan Kekayaan Banyuwangi lainnya yang berkelanjutan dan tidak kalah potensialnya adalah peternakan. Data dari Dinas Peternakan Banyuwangi menunjukkan begitu besarnya potensi Kabupaten Banyuwangi yang hampir tiap tahun menjadi tuan rumah penyelenggara kontes ternak regional ini. Sapi potong yang dimiliki oleh Kabupaten Banyuwangi adalah sebanyak dan kemudian untuk kambing sejumlah Hewan ternak lainya yang tak kalah menjadi komoditas Kabupaten Banyuwangi yaitu sapi perah sejumlah 729 ekor dan kerbau sebanyak ekor. Demikian sapi Perah juga menjadi komoditas meskipun nilai produksi susu sapi hasil produksi menurun dari tahun lalu dari 807 menjadi 729 saja dan jumlah susu yang dihasilkan sebanyak Liter. Namun demikian kebutuhan akan susu sapi perah telah mencukupi kebutuhan konsumsi susu seluruh Kabupaten Banyuwangi yang selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 2.7 : Populasi Ternak Menurut Jenis Ternak Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016 No Jenis Ternak Jumlah Satuan Hasil Ternak Sapi Perah 936 Liter Susu Sapi Potong Kg Kerbau Kuda Kambing Kg Domba Kg Babi 549 Kg Ayam buras Kg daging

27 No Jenis Ternak Jumlah Satuan Hasil Ternak Ayam ras Petelur Kg daging Ayam ras pedaging Kg Itik Kg Entok Kg Sumber: Banyuwangi Dalam Angka, 2016 Kabupaten Banyuwangi memiliki garis pantai terpanjang di Privinsi Jawa Timur, sehingga memiliki potensi perikanan yang cukup besar. Potensi perikanan yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi adalah perikanan tangkap ikan air laut yang ada tahun 2016 mencapai ton. Jenis ikan air laut tangkap terbesar adalah jenis ikan lemuru dan ikan kerapu. Hasil tangkap ikan lemuru pada tahun 2017 sebanyak 6.266,3 ton sedangkan untuk ikan kerapu hasil 3.35 ton. Secara jumlah produksi ikan lemuru memang menghasilkan hasil tangkapan terbanyak namun secara nilai produksi ikan kerapu memiliki nilai produksi terbesar yaitu senilai 68 Milyar rupiah yang artinya secara nilai jual ikan kerapu lebih tinggi dibaningkan dengan ikan lemuru. Namun demikian berdasarkan referensi yang disaratkan Zonasi WPP Nasional (wilayah pengelolaan perikanan) bahwa teknik produksi perikanan kini lebih baik dan cenderung mengarah ke teknik perikanan tambak atau pembenihan ketibang perikanan tambak, hal ini dikarenakan metode penangkapan ikan konvensional dinilai kurang kontinyuti atau berkesinambungan. Stok ikan yang ditangkap memiliki kecenderungan kuantitas begitu pula teknik pembenihan memerlukan konversi untuk menjaga stok ikan baik secara kualitas dan kuantitas. Potensi perikanan laut di Kabupaten Banyuwangi masih memiliki peluang yang teramat besar untuk dioptimalkan. Untuk potensi produksi ikan laut lebih jelasnya dapat dilihat dalam tabel di bawah ini. 27

28 Tabel 2.8 : Produksi Dan Nilai Produksi Ikan Laut Menurut Jenisnya Di Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Banyuwangi Banyuwangi dalam LKPJ Akhir Tahun Kabupaten Banyuwangi 2016 d. Kehutanan Banyuwangi memiliki kawasan hutan yang sangat luas. Hutan merupakan sumber kehidupan yang perlu dilestarikan. Upaya-upaya agar hutan tetap optimal fungsinya, dapat dilakukan dengan merehabilitasi hutan dan lahan kritis dengan berbagai kegiatan seperti bantuan bibit tanaman penghijauan khususnya ditanam pada lahan kritis yang terdapat di seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi. Berikut Laju Pertumbuhan Indeks Implisit sektor Kehutanan Terhadap PDRB Di Kabupaten Banyuwangi 28

29 12.78% 9.65% 8.85% 9.16% 8.84% 6.82% * 2015** Gambar 2.3 Laju Pertumbuhan Indeks Implisit sektor Kehutanan Terhadap PDRB Di Kabupaten Banyuwangi Tahun Sumber: Banyuwangi dalam Angka 2016 *Angka Sementara **Angka Sangat Sementara Dalam perkembangannya, laju Pertumbuhan Indeks Implisit sektor Kehutanan Terhadap PDRB Di Kabupaten Banyuwangi terus mengalami fluktuasi tiap tahunnya, dimana angka tertinggi terdapat pada tahun e. Kawasan Strategis Cepat Tumbuh Banyuwangi merupakan salah satu wilayah di Jawa Timur, dimana wilayah ini memiliki potensi yang sangat bagus dalam bidang kepariwisataan. Pariwisata menjadi salah satu faktor penunjang pembangunan ekonomi di Kabupaten Banyuwangi, oleh sebab itu pemerintah Kabupaten Banyuwangi banyak membuat program pengembangan kawasan strategis cepat tumbuh di sektor kepariwisataan. Salah satu program pengembangan kawasan strategis cepat tumbuh di wilayah Kabupaten Banyuwangi adalah adanya pemetaan wilayah pengembangan pariwisata (WPP) I danwilayah pengembangan pariwisata (WPP) II. Adanya pembentukan WPP bertujuan untuk membantu pemerintah untuk menentukan kawasan strategis, sehingga pembangunan di wilayah WPP dapat lebih di prioritaskan.wilayah Pengembangan Pariwisata (WPP) I biasa disebut dengan Diamond Triangle, dimana wilayah ini merupakan wilayah dengan jenis wisata dominan kawasan hutan dan pemandangan alam, sehingga sesuai untuk kegiatan wisata adventure dan menikmati pemandangan alam. Kawasan Diamond Triangle terdiri dari Kawasan Kawah Ijen, Kawasan Plengkung dan Kawasan Sukamade. Kawasan WPP 1 yakni Kawah Ijen berada di Kecamatan Licin 45 Km dari Kabupaten Banyuwangi, Kawah Ijen merupakan kawah danau terbesar di Pulau Jawa. Di dalam kawasan Kawah Ijen, terdapat kawah belerang yang terdapat di dalam sulfutara di kedalaman kira-kira 200 m dan mengandung kira-kira 36 29

30 juta kubik air asam beruap. Ijen dan kawasan ekowisata hinterland terdiri dari Desa Wisata Kemiren, Perkebunan Kaliklatak, Perkebunan Selogiri dan Perkebunan Kalibendo. Bagian WPP 2 merupakan Kawasan Plengkung. Plengkung merupakan wilayah dengan objek wisata yang sebagian besar terdapat disekitar perairan pantai dan mempunyai aksesbilitas rendah. Pantai Plengkung terletak di pantai selatan Banyuwangi dan berada di wilayah Kecamatan Tegaldimo. Jarak dari Banyuwangi hingga ke Pantai Plengkung sekitar 86 Km. Plengkung terkenal dengan pantai terbaiknya untuk surfing dan biasa dikenal dengan GLand, terutama pada bulan Mei hingga Oktober adalah bulan terbaik untuk surfing. Plengkung ecowisata hinterland terdiri dari G-Land, Alas Purwo atau Goa Istana, Padang Savana Sadengan serta Pantai Mangrove Bedhul. Wilayah pengembangan pariwisata (WPP) III, merupakan wilayah dengan objek wisata yang sebagian besar memiliki keunikan sumber daya alam. Wilayah pantai sukamade merupakan wilayah WPP III, dimana pantai ini berada di wilayah Kecamatan Pesanggaran berjarak sekitar 97 Km ke arah barat daya Banyuwangi. Sukamade merupakan hutan lindung alami Jawa Timur. Penyu betina biasanya bertelur hingga ratusan butir yang kemudian diletakan dipinggir pasir pantai. Penyu betina biasanya mulai mendarat di pantai pada pukul WIB dan kembali kelaut pada pukul WIB, ketika bulan November hingga Maret adalah musim penyu bertelur. Sukamade ecowisata hinterland terdiri dari Pantai Rejegwesi, Teluk Hijau, Pantai Pancer, Pulau Merah dan Taman Nasional Meru Betiri. Kabupaten Banyuwangi juga memiliki rencana kawasan strategis yang tersebar di beberapa daerah di Banyuwangi. Perencanaan kawasan strategis tersebut meliputi pengembangan kawasan agropolitan terintegrasi dengan pengembangan agrowisata ijen, pengembangan kawasan cagar alam hutan lindung taman nasional, Pengembangan kawasan wilayah pengembangan mineral logam (emas) Gunung Tumpangpitu-Pesanggaran. Pengembangan kawasan agropolitan di Kecamatan Bangorejo dan Wilayah Kecamatan sekitarnya, pengembangan kawasan wisata The Triangle Diamond (segi tiga berlian) Kawah Ijen, Plengkung dan Merubetiri, Pengembangan Kawasan Minapolitan-Muncar (industri pengolahan perikanan), Pengembangan Kawasan bandara Blimbingsari- Rogojampi, Pengembangan Kawasan Pelabuhan Peti Kemas Tanjungwangi- Ketapang, Pengembangan Kawasan Industrial Estate di Kec. Wongsorejo Kawasan Rawan Bencana Kabupaten Banyuwangi menjadi salah satu daerah dengan potensi bencana yang cukup tinggi. Kawasan rawan bencana merupakan kawasan yang sering atau berpotensi tinggi mengalami bencana alam. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Banyuwangi dipaparkan bahwa potensi bencana gunung berapi menjadi yang paling diwaspadai. Berikut ini adalah penggambaran mengenai peta mitigasi bencana di Kabupaten Banyuwangi. 30

31 dipaparkan bahwa potensi bencana gunung berapi menjadi yang paling diwaspadai. Berikut ini adalah penggambaran mengenai peta mitigasi bencana di Kabupaten Banyuwangi. Gambar 2.5 Peta Bencana Gunung Api Gambar 2.4 : Peta Bencana Gunung Api Sumber: Bappeda Kabupaten Banyuwangi Gunung api merupakan salah satu bencana terbesar yang rawan terjadi di Kabupaten Banyuwangi. Gunung api yang terdapat di Kabupaten Banyuwangi adalah Gunung Ijen dan Gunung Raung. Gunung ini masih aktif dan memiliki sebaran lahar yang cukup luas. Maka perlu Gunung api merupakan salah satu bencana terbesar yang rawan upaya untuk melakukan mitigasi bencana khususnya Gunung Berapi terjadi di Kabupaten Banyuwangi. Gunung api yang terdapat di Kabupaten Demografi Banyuwangi adalah gunung ijen. Gunung ini masih aktif dan memiliki Jumlah penduduk Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2016 mencapai jiwa, sebaran laharjumlah yangpenduduk cukup luas. Menurut darijumlah Badan Penanggulangan dengan rincian laki laki data jiwa dan penduduk perempuan jiwa.daerah Rincian mengenai jumlah penduduk di Kabupaten Banyuwangi bisatahun dilihat melalui Bencana (BPBD) Kabupaten Banyuwangi pada 2013, tabel jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur berikut ini. RKPD Kabupaten Banyuwangi

32 Tabel 2.9 : Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur No Kelompok Umur (Tahun) > 75 JUMLAH , , , , , , , , , , , , ,145 76,482 60,960 41,869 1,684,985 Sumber: LKPJ Bupati Banyuwangi Periode Tahun 2016 Penduduk Kabupaten Banyuwangi sebagian besar bermata pencaharian sebagai wirausaha yang mendominasi keseluruhan jumlah penduduk yaitu mencapai jiwa atau % menurun 9% dari tahun Dan bekerja di bidang pertanian/ peternakan/ perikanan sebesar 18,81%. Secara terperinci jumlah penduduk yang dikelompokkan berdasarkan mata pencaharian, diuraikan dalam tabel berikut. Tabel 2.10 : Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016 No Mata Pencaharian Belum/Tidak Bekerja Pelajar/Mahasiswa Pertanian/peternakan/perikanan Perdagangan Industri Jasa Kemasyarakatan Konstruksi Pemerintahan Swasta Jumlah % 473, , ,960 38,376 2,472 3,749 2,265 39, , % 14.79% 18.81% 2.28% 0.15% 0.22% 0.13% 2.35% 10.24% 32

33 No. 10 Mata Pencaharian Jumlah Wiraswasta Lainnya 384, Jumlah 1,684,985 Sumber: LKPJ Akhir Tahun Kabupaten Banyuwangi 2016 % 22.83% 0.06% % Menurut kelompok tingkat pendidikan masih didominasi oleh kelompok pendidikan tingkat SD/Sederajat yaitu sebesar atau 33,79 % dari jumlah penduduk. Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2016 jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Kabupaten Banyuwangi tahun 2016, secara rinci dapat diuraikan dalam tabel dibawah ini. Tabel 2.11 : Jumlah Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2016 No Pendidikan Jumlah 1 Belum/Tidak Sekolah 475,779 2 SD 569,359 3 SMP 287,869 4 SMA 293,058 5 Diploma 14,912 6 Strata I 41,882 7 Strata II 1,945 8 Strata III 154 Total 1,684,985 Sumber: LKPJ Akhir Tahun Kabupaten Banyuwangi 2016 % 28.24% 33.79% 17.08% 17.39% 0.88% 2.49% 0.12% 0.01% % Aspek Kesejahteraan Masyarakat Aspek kesejahteraan masyarakat terdiri dari kesejahteraan dan pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial, serta seni budaya dan olah raga Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Pertumbuhan ekonomi Banyuwangi mengalami fluktuasi yang signifikan dan cukup tinggi dari tahun 2010 hingga tahun 2015 sebagaimana tahun 2012 merupakan tahun dengan tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam lima tahun dan kemudian mengalami penurunan di tahun 2013 dengan angka 6.71 dan menjadi 5.70 ditahun 2014 sebagai pertumbuhan ekonomi paling rendah dalam lima tahun terakhir dan kembali naik menjadi 6.01 di tahun 2015 dan kemudian di akhir tahun 2016 perekonomian banyuwangi naik menjadi Dengan tumbuhnya perekonomian yang semakin bergairah dan berkesinambungan akan menjadi daya tarik bagi investor untuk menanamkan sahamnya, khususnya di sektor Pertanian, Perdagangan, Hotel dan Restoran, demikian juga pada sektor Industri Pengolahan, Bank dan 33

34 Lembaga Keuangan, Jasa jasa, Pengangkutan dan Komunikasi, Pertambangan dan Penggalian, Bangunan dan Listrik, Gas dan Air Minum juga mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tingkat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 sebagaimana gambar berikut ini PERTUMBUHAN EKONOMI banyuwangi nasional Gambar 2.5 : Pertumbuhan Ekonomi Sumber: diolah dari sumber IKU Kab. Banyuwangi, 2016 Perkembangan perekonomian di Kabupaten Banyuwangi juga dapat ditunjukkan olehperkembangan Produk Domestik Regional Bruto Angka Dasar Harga Berlaku (PDRB ADHB).Secara rinci dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2.12 : PDRB ADHB Kabupaten Banyuwangi Tahun Tahun Sumber: LKPJ Kab. Banyuwangi jawa timur ADHB (Triliyun) Berdasarkan PDRB di atas, maka diperkirakan stabilitas ekonomi di Kabupaten Banyuwangi dalam tahun 2015 tetap dijaga dan mulai menunjukkan kondisi peningkatan. Tahun 2016 sepertinya merupakan tahun-tahun melesunya perekonomian di Banyuwangi 34

35 terlihat dari angka PDRB yang turun cukup fantastis untuk PDRB Atas dasar harga konsumen dan diharapkan menumbuhkan sektor modern seperti jasa dan manufaktur namun tetap harus dipastikan pertumbuhan juga terjadi di sektor sektor menengah ke bawah, sehingga ekonomi kerakyatan dapat terwujud. Peningkatan PDRB di Kabupaten Banyuwangi disebabkan peningkatan konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, investasi, dan perdagangan antar daerah Inflasi Kondisi perekonomian yang baik, idealnya adalah apabila angka pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibanding dengan perkembangan harga atau besaran PDRB ADHK berada di atas PDRB ADHB. Sehingga dapat disimpulkan bahwa secara makro potensi ekonomi di Kabupaten Banyuwangi masih dalam tahap berkembang sebagaimana yang terjadi pada hampir seluruh daerah di Provinsi Jawa Timur, bahkan di tingkat nasional. Sementara itu, tingkat pendapatan masyarakat dapat ditunjukan oleh PDRB yang dapat menggambarkan tingkat kemajuan perekonomian pada suatu daerah. Tingkat pendapatan perkapita dibandingkan dengan laju inflasi akan menunjukkan seberapa besar kekuatan daya beli masyarakat di Kabupaten Banyuwangi. Hal ini bisa dikatakan jika pertumbuhan pendapatan diasumsikan sama dengan kesejahteraan masyarakat maka gap antara pertumbuhan pendapatan dengan tingkat inflasi menunjukkan tingkat kesejahteraan masyarakat secara umum. Berikut ini adalah gambaran inflasi di Kabupaten Banyuwangi. 35

36 Banyuwangi Jawa Timur Nasional Banyuwangi Jawa Timur Nasional Gambar 2. 6: Inflasi tahun (YoY) Kabupaten Banyuwangi Sumber: BPS Banyuwangi Tahun 2016 Berdasarkan angka inflasi yang dikomparasikan dengan angka inflasi provinsi dan nasional maka angka inflasi Kab. Banyuwangi relatif lebih baik dari Provinsi ataupun Nasional. Sementara berdasarkan paparan Bappeda Kab. Banyuwangi tahun 2017 menyatakan bahwa angka inflasi Kab. Banyuwangi tahun relatif stabil. Pernyataan tersebut diperkuat dengan adanya angka inflasi bulanan (MoM) sebagaimana pada bulan Januari-Februari 2017 inflasi di Banyuwangi membaik sebesar 0.66% pada bulan januari dan sebesar 0.35% di bulan Februari. Namun Demikian kondisi Januari-Februari 2017, Inflasi di Banyuwangi diatas tahun sebelumnya yaitu sebesar 1.01%, sedangkan pada bulan Januari-Februari 2016 inflasi sebesar 0.79% (YoY). Secara nasional, bulan januari-februari 2017 Sebesar 0,42% sedangkan pada bulan Januari-Februari 2016 inflasi sebesar 1.2%. Secara umum hingga akhir bulan Februari tahun 2017 inflasi Kab. Banyuwangi adalah sebesar 0.35 lebih kecil dari provinsi namun lebih besar 0.12 dari Nasional Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah variabel yang mencerminkan tingkat pencapaian kesejahteraan penduduk sebagai akibat dari perluasan akses layanan dasar di bidang pendidikan dan kesehatan. Hal ini menunjukkan tingkat keberhasilan Pemerintah Kabupaten dalam meningkatkan kesejahteraan penduduknya. IPM tersusun dari 3 (tiga) jenis indeks utama yaitu Angka Harapan Hidup, indeks pendidikan dan indeks daya beli. Dari berbagai indikator makro ekonomi dan sosial yang kerap digunakan sebagai alat ukur dalam menentukan 36

37 keberhasilan pembangunan di suatu daerah, implementasinya terkadang bisa menimbulkan penafsiran yang beragam. Hal ini bisa terjadi karena secara komprehensif keberhasilan pembangunan itu tidaklah cukup untuk bisa diukur dengan menggunakan berbagai indikator makro ekonomi dan sosial saja. Dengan demikian untuk menentukan keberhasilan pembangunan di suatu daerah haruslah menggunakan indikator yang secara resmi sudah digunakan oleh badan dunia, yaitu The United Nations Development Programme (UNDP). Program pembangunan yang meliputi bidang pendidikan, kesehatan dan peningkatan daya beli masyarakat merupakan program utama yang masuk ke dalam misi pembangunan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Disebutkan bahwa kesejahteraan masyarakat yang ditandai meningkatnya kualitas sumberdaya manusia, terciptanya lapangan kerja dan kesempatan berusaha, terpenuhinya kebutuhan pokok minimal dan kebutuhan dasar lainnya secara layak, serta meningkatnya pendapatan dan daya beli masyarakat harus bisa diwujudkan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dihitung secara komposit berdasarkan tiga indeks yang terdiri dari indeks pendidikan, kesehatan dan daya beli. Trend dari angka IPM Kabupaten Banyuwangi pada tahun seperti pada gambar berikut. Jawa Timur Banyuwangi Gambar 2.7: Perkembangan Angka IPM Kabupaten Banyuwangi dan Provinsi Jawa Timur Tahun Sumber : LKPJ Akhir Tahun Kab. Jawa Timur, 2016 Trend angka IPM Kabupaten Banyuwangi dari tahun 2010 hingga 2015 menunjukkan peningkatan. Dalam pengertian ini bahwa pembangunan manusia yang di lakukan pemerintah 37

38 Kabupaten Banyuwangi secara berkelanjutan membuahkan hasil, demikian pula trend angka IPM Provinsi Jawa Timur. Apabila dibandingkan, maka pembangunan manusia di Kabupaten Banyuwangi relatif tertinggal dengan indek pembangunan manusia di Provinsi Jawa Timur. Walaupun pembangunan manusia di Kabupaten Banyuwangi pada Tahun 2012 masih relatif tertinggal apabila di komparasi dengan pembangunan kota/kabupaten di Provinsi Jawa Timur, tetapi Nilai indikator shortfall Reduction IPM dari Tahun 2010 hingga 2012 menunjukkan angka sebesar 1,80. Secara umum upaya pembangunan manusia yang digalakkan oleh pemerintah Kabupaten Banyuwangi berhasil dengan meningkatnya angka Indeks Pembangunan Manusia dari tahun ketahun. Perlahan tapi pasti IPM Kab. Banyuwangi terus meningkat namun angka tersebut masih dibawah Jawa Timur Pendapatan Perkapita Pendapatan perkapita Kabupaten Banyuwangi mengalami peningkatan disetiap tahunnya. Dari gambar dibawah dijelaskan secara runtut bahwa di tahun 2011 pendapatan perkapita Kabupaten Banyuwangi sebesar 17,12 juta. Trend ini membaik pada saat di tahun 2012 pendapatan perkapita Kabupaten Banyuwangi mengalami peningkatan hingga ke angka 19,87 juta. Ditahun 2013 pendapatan perkapita Kabupaten Banyuwangi meningkat di angka 22,52 juta/tahun. Pendapatan perkapita di Tahun 2014 menunjukkan hasil signifikan yaitu sebesar 25,50 Juta/tahun. Hingga diproyeksikan pada 2015 pendapatan perkapita akan meningkat yaitu sebesar 28.3 Juta/tahun. Dan diakhir tahun 2016 Pendapatan perkapita menjadi juta/penduduk. Pendapatan Perkapita (dalam Rp Juta) Pendapatan perkapita Gambar 2.8: Pendapatan perkapita Kabupaten Banyuwangi Tahun (juta/tahun) Sumber: Paparan Bappeda Kab. Banyuwangi,

39 Peningkatan pendapatan perkapita ini menjadi trend positif dari perkembangan perekonomian kabupaten. Hal ini juga menjadi faktor pendorong kemajuan yang pesat dari Kabupaten Banyuwangi kedepannya. Selain Angka pendapatan perkapita angka Indeks Gini Ratio juga menjadi tolok ukur menilai kesenjangan perekonomian dimasyarakat. Indes Gini merupakan salah satu ukuran pemerataan ekonomi atau ketimpangan agregat (secara keseluruhan) yang nilai indeksnya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga angka satu (ketimpangan sempurna). Data series indeks gini dari tahun 2010 hingga tahun 2015 menunjukkan kecenderungan menurun, kemudian mengalami fluktuasi pada tahun 2015 dan kembali meningkat. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Indeks Gini Indeks Gini Gambar 2. 91: Time Series Indeks Gini ratio Sumber : Paparan Bappeda dalam Konsultasi Publik RKPD Kab. Banyuwangi 2018, 2016 Berdasarkan data tersebut angka ketimpangan di Kabupaten Banyuwangi mengalami pergerakan dari tahun ke tahun. Dibandingkan dengan angka Jawa Timur Indeks Gini Kabupaten Banyuwangi relatif lebih kecil setiap tahunnya. Indeks Gini Ratio yang tinggi dan mendekati angka absolut 1 juga mengindikasikan bahwa pemerataan ekonomi tidak berjalan baik malah sebaliknya terjadi ketimpangan perekonomian antara penduduk golongan atas dan golongan bawah. Namun, dilihat dari Indeks Gini Kabupaten Banyuwangi nilai terbesar ditunjukkan pada tahun 2015 sebesar

40 Kemiskinan Kemiskinan untuk beberapa daerah dan lingkup pemerintah menjadi sebuah momok yang memiliki pandangan negatif dalam pencapaian pembangunan daerah. Kemiskinan menjadi beban sekaligus tanggung jawab yang harus diemban oleh segenap pemerintah daerah di Indonesia beserta semua aspek yang mempengaruhinya. Kabupaten Banyuwangi memiliki trend penurunan tingkat kemiskinan yang baik disetiap tahunnya. Penjabarannya lebih lengkap akan tersaji melalui tabel berikut ini. Tabel 2.13 : Indikator Kemiskinan Kabupaten Banyuwangi Kemiskinan Garis Kemiskinan 220, , , ,648 (GK), (Rupiah/kapita) Jumlah Penduduk dibawah GK ( jiwa ) Persentase Penduduk Miskin Sumber: LKPJ Akhir Kab. Banyuwangi Tahun , , Dari data diatas hingga akhir tahun 2015 jumlah penduduk miskin di Kabupaten Banyuwangi adalah sebanyak 10.91% dari total penduduk di tahun 2015 dimana angka ini merupakan angka paling prestatif dilihat dari tahun 2010 dimana tahun dengan angka kemiskinan tertinggi yaitu jiwa dan hingga tahun 2015 menurun secara relatif. Hal ini merupakan hal yang positif mengingat aspek penentu angka kemiskinan sangatlah kompleks diantaranya adalah persentase penduduk diatas garis kemiskinan, persentase rumah tangga yang menggunakan listrik, persentase rumah tangga (RT) yang menggunakan air bersih dan pengeluaran konsumsi rumah tangga per kapita Aspek Pelayanan Umum Aspek pelayanan umum merupakan pelayanan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam rangka melayani masyarakat umum. Pelayanan tersebut terbagi menjadi urusan wajib dan urusan pilihan. Aspek pelayanan umum juga menjadi tanggung jawab pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Dalam aspek pelayanan umum, secara lebih detail akan dijabarkan dalam fokus layanan urusan wajib dan layanan urusan pilihan. Namun, pada dasarnya pelayanan umum merupakan bentuk tanggung jawab pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Penjabarannya mengenai hal tersebut adalah sebagai berikut. 40

41 Fokus Layanan Urusan Wajib Pendidikan Penyelenggaraan urusan pendidikan merupakan salah satu urusan wajib yang diprioritaskan dalam pembangunan daerah. Peningkatan urusan pendidikan sebagai upaya untuk mencapai salah satu misi Kabupaten Banyuwangi yang tertuang dalam RPJMD Tahun yakni Mewujudkan aksesibilitas dan kualitas pelayanan bidang pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya. Salah satu sasaran dalam bidang pendidikan adalah menurunnya buta aksara dimana indikator kinerja utama yang digunakan untuk mengukur keberhasilan pencapaian sasaran tersebut diantaranya Angka Melek Huruf, Rata-rata lama sekolah dan Angka Partisipasi Murni, Angka partisipasi kasar dan angka putus sekolah. Pada tahun 2014, terjadi trend kinerja yang positif dilihat dari realisasi capaian kinerja setiap tahun yang membaik. Terbukti dengan data realisasi angka partisipasi murni, angka partisipasi kasar dan angka putus sekolah di tahun 2014 untuk tingkat SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA yang mengalami peningkatan. Tabel : Realisasi Indikator Urusan Pendidikan Tahun N o Uraian 1 APM(%) - SD/MI - SMP/MTs - SMA/SMK/MA APK (%) - SD/MI - SMP/MTs - SMA/SMK/MA Angka Putus Sekolah (%) Tahun n/a n/a n/a n/a n/a n/a - SD/MI SMP/MTs SMA/SMK/MA Angka Melek Huruf (%) Sumber : LAKIP Kabupaten Banyuwangi 2016 *)Angka Proyeksi Sementara n/a n/a n/a Angka Partisipasi Kasar di Tahun 2014 menunjukkan peningkatan realisasi disetiap tahunnya. 109,02% adalah angka yang dicapai ditahun 2014 yang sebelumnya 104,9% ditahun 2013 untuk angka partisipasi kasar. Dan di prediksi pada tahun 2015 angka partisipasi kasar SD/MI terus meningkat sejumlah %. Angka partisipasi kasar paling tinggi terdapat di APK level SD/MI. Semakin meningkat level pendidikan ke SMA/MA/SMK nilai realisasi APK semakin 41

42 mengecil. Angka Putus sekolah dilevel SD sampai dengan SMA/MA/SMK mengalami kenaikan yang berarti angka realisasi turun dari setiap tahunnya. Angka melek huruf juga mengalami peningkatan yang signifikan yaitu tercapai 100% ditahun 2014 kemudian berdasarkan hasil proyeksi pada kurun waktu tahun 2015 angka melek huruf akan merurun pada angka 98.32%. Dari indikator sasaran bidang pendidikan tersebut, dominan indikator sasaran sesuai harapan dilihat dari pencapaianya Kesehatan Penyelenggaraan urusan kesehatan merupakan salah satu dari 5 misi pembangunan daerah tahun yaitu mewujudkan aksesibilitas dan kualitas pelyaanan bidang pendidikan, kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya dimana salah satu urusannya yaitu kesehatan yang dapat diukur melalui angka kematian bayi. Dari tahun 2012 angka kematian bayi per 1000 kelahiran hidup yaitu sebesar 31,5 dan terus menerus tahun 2013, 2014, 2015 dan hingga tahun 2016 menurun sebesar angka tersebut merupakan angka terbaik dari 5 tahun antara tahun Angka kematian bayi di Kabupaten Banyuwangi menduduki peringkat ke-23 se-jawa Timur dimana angka kematian bayi paling kecil masih dipegang oleh Kota Blitar dengan angka per 1000 kelahiran hidup. Demikian angka kematian bayi di kab. Banyuwangi ternyata lebih tinggi dari angka Jawa Timur dengan angka Perlu upaya lebih baik dari SKPD maupun pemerintah untuk menekan angka kematian bayi baik memperbaiki akses terhadap fasilitas medis, memperbaiki pola kesehatan, kurang optimalnya sistem rujukan, dan sosialisasi medis Gambar 2. 20: Angka Kematian Bayi per 1000 Kelahiran Hidup Sumber: Paparan Konsultasi Publik RKPD 2018,

43 Disamping angka kematian bayi, indikator lain yang digunakan untuk mengukur kinerja sektor kesehatan adalah angka kematian ibu per 100,000 kelahiran hidup. Setelah mengalami penurunan di tahun 2012, angka kematian ibu melahirkan per 1000 kelahiran hidup mengalami trend yang semakin meningkat tajam di tahun Capaian bisa diakibatkan karena masih minimnya insan-insan tenaga kesehatan (bidan) yang memberikan pelayanan kepada masyarakat saat proses melahirkan, disamping kesadaran masyarakat untuk menggunakan tenaga-tenaga kesehatan yang sudah ada sangatlah kurang. Tetapi di tahun 2014 angka kematian ibu melahirkan per kelahiran hidup bisa ditekan diangka 93,08% dan pada tahun 2015 angka kematian ibu adalah sebesar dan pada akhir tahun 2016 angka kematian ibu per kelahiran hidup adalah sebesar Gambar : Angka Kematian Ibu Melahirkan per Kelahiran Hidup Sumber : LKPJ Akhir Tahun Kab. Banyuwangi 2016 *)Angka Proyeksi Sementara Kemudian, indikator lain yang digunakan dalam mengukur kinerja urusan kesehatan adalah Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani. Capaian indikator ini tergolong lebih baik jika dibandingkan dengan tahun Jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan pada tahun 2012, capaian ini terbilang lebih baik karena ditahun 2013 realisasi melebihi target yang telah ditentukan yaitu 81% terealisasi sebesar 82,1% atau lebih dari 100% pencapaian target. Seperti halnya dengan pencapaian ditahun 2014 dengan realisasi yang melebihi target sebesar 43

44 86,1% dengan target 80%, pada 2015 diproyeksikan realisasi akan meningkat sejumlah 95% dari target sebesar 80% Target 2012 Realisasi Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani *2015 Gambar 2. 14: Cakupan Komplikasi Kebidanan yang ditangani Sumber : LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *)Angka Proyeksi Sementara Ditinjau dari sisi jangkauan kesehatan, secara umum indikatornya mengalami peningkatan. Hal ini dapat dilihat dari cakupan puskesmas, dimana pada tahun 2012, realisasi cakupan puskesmas sebesar 187,5 persen, dan pada tahun 2013 realisasi cakupan puskesmas bertahan di angka yang sama. Ditahun 2014 realisasi cakupan puskesmas telah melampaui target yaitu 187,5%. Sayangnya Rasio puskesmas, poliklinik, pustu per penduduk mengalami penurunan, dimana pada tahun 2012 mengalami peningkatan hampir 2 kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya,kemudian di tahun 2013 realisasinya juga bertahan di angka yang sama seperti tahun 2012 tetapi ditahun 2014 realisasinya adalah 135,75 dengan target 142,18%. Untuk cakupan puskesmas capaian dan realisasinya pada tahun 2013 sama dengan tahun Sedangkan untuk rasio rumah sakit per penduduk pada tahun 2014 capaiannya sebesar 97persen, dengan rasio 1:12,6 %. Penjabaran dari pencapaian indikator diatas tersaji dalam tabel berikut ini. 44

45 Tabel 2.15 : Jumlah Fasilitas Kesehatan Jenis Rumah Sakit Rumah Bersalin Puskesmas Posyandu Klinik Polindes Sumber : Banyuwangi Dalam Angka, Pekerjaan Umum Penyelenggaraan urusan pekerjaan umum merupakan salah satu kegiatan wajib Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang memiliki kontribusi sangat menentukan dalam pencapaian visi dan misi daerah, khususnya dalam upaya meningkatkan kuantitas sarana dan prasarana publik dengan memperhatikan kelestarian lingkungan. Penyelenggaraan urusan Pekerjaan Umum mengemban beberapa sasaran yaitu: (1) meningkatnya kualitas dan kuantitas jalan dan sarana serta prasarana yang menghubungkan daerah-daerah tujuan wisata ; (2) Meningkatnya sarana dan prasarana penunjang pertanian; (3) Meningkatnya kuantitas dan kualitas jalan dan sarana serta prasarana yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi. Pencapaian beberapa indikator bidang urusan pekerjaan umum tersajikan melalui tabel berikut ini. Tabel 2.16 : Realisasi Indikator Pekerjaan Umum Tahun Indikator Proporsi panjang jaringan jalan dalam kondisi baik (%) Rasio Jaringan Irigasi dan luas daerah irigasi (%) Rasio tempat ibadah per satuan penduduk (%) Persentase rumah tinggal bersanitasi (%) Sumber : LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *)Angka Proyeksi Sementara * n/a n/a n/a n/a Jalan dalam kondisi baik mempunyai realisasi yang baik karena mencapai 95% meski mengalami penurunan yang tidak terlalu signifikan ditahun 2014 sejumlah 94% namu padatahun 2015 diproyeksi kana kembali meningkat yaitu sebesar 95.33%. Rasio jaringan irigasi 45

46 dan luas daerah irigasi menurun realisasinya dari tahun 2012 sebesar 85% menjadi 75% ditahun 2013 dan meningkat kembali ditahun 2014 sebesar 85% dan pada tahun 2015 diproyeksikan bahwa rasio akan tetap sejumlah 85% Perumahan Keberhasilan dalam urusan perumahan, dapat diukur dengan beberapa indikator antara lain Rumah tangga pengguna air bersih, Rumah tangga pengguna listrik, Rumah tangga bersanitasi, Lingkungan pemukiman kumuh, dan Rumah layak huni. Secara umum, capaian indikator tersebut lebih baik dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, kecuali untuk indikator Rumah tangga ber-sanitasi dan Rumah layak huni. Rumah tangga pengguna air bersih pada tahun 2014 mencapai rumah tangga, kemudian diproyeksikan pada tahun 2015 jumlah rumah tangga pengguna air bersih akan meningkat sejumlah rumah tangga. Begitu pula dengan Rumah tangga pengguna listrik yang juga diproyeksikan meningkat pada tahun 2015 sejumlah , yang sebelumnya pada tahun 2014 penggunanya mencapai meningkatkanya capaian indikator ini mengindikasikan bahwa akses masyarakat terhadap sarana dan prasarana air bersih, khususnya dalam urusan perumahan. 500, , , , ,679 92, , ,525 77, , ,818 36,169 50, , , , ,000 31, , , ,000 38, , , , Rumah Tangga Pengguna Air Bersih 2013 Rumah Tangga Pengguna Listrik 2014 *2015 Rumah Tangga Bersanitasi Gambar : Jumlah Rumah Tangga Pengguna Air Bersih, Listrik dan Rumah Tangga Bersanitasi Sumber : LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *)Angka Proyeksi Sementara Penurunan capaian indikator Rumah tangga bersanitasi pada tahun 2014 yang terealisasi sebesar rumah tangga dengan target rumah tangga yang disebabkan karena masih adanya masyarakat yang kurang perduli terhadap kesehatan dan 46

47 kebersihan lingkungan, yang diindikasikan dengan masih banyaknya masyarakat yang melakukan mandi, cuci dan kakus di sungai, tren penurunan yang sama juga di proyeksikan terjadi pada tahun 2015 yaitu sejumlah rumah tangga. Oleh karena itu, perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kepedulian pentingnya kebersihan dan kesehatan lingkungan serta membangun fasilitas MCK. 1,800,000 1,600,000 1,432,522 1,555,929 1,400,000 1,200,000 1,062,301 1,000, , , , , , , *2015 Gambar 2. 14: Data Rumah Layak Huni Sumber : LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *)Angka Proyeksi Sementara Begitu pula dengan rumah layak huni, mengalami penurunan pada tahun 2012 yang terealisasi sebesar rumah. Capaian kinerja indikator sasaran sebesar 30,67 persen dari target yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan oleh masih banyaknya rumah penduduk khususnya di daerah pedesaan yang belum layak huni karena rendahnya tingkat pendapatan masyarakat. Sehingga solusi yang dilakukan dengan menggalakkan program pembangunan sarana dan prasarana permukiman serta memberikan bantuan lainnya yang dapat mengentaskan kemiskinan. Kemudian di tahun 2013 indikator rumah layak huni mengalami perbaikan dengan peningkatan hingga rumah, membaik setelah terjadi penurunan yang signifikan di tahun 2012 lalu. Kondisi peningkatan yang sangat signifikan terjadi ditahun 2014 yang menembus di angka rumah dan pada tahun 2015 diproyeksikan akan 47

48 terjadi peningkatan sejumlah rumah. Hal ini membuktikan pendapatan masyarakat mulai dalam tahap perbaikan yang relatif meningkat. 39,000 38,250 38,000 37,150 37,000 36,000 35,950 35,000 34,000 35,018 33,941 33,000 32, *2015 Gambar : Data Jumlah Lingkungan Pemukiman Kumuh Sumber : LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *)Angka Proyeksi Sementara Sedangkan untuk lingkungan pemukiman kumuh pada setiap tahun jumlahnya semakin menurun. Dibuktikan dengan data jumlah lingkungan kumuh di tahun 2012 yaitu rumah, turun ke angka rumah di tahun Tahun 2014 juga mengalami penurunan di angka kemudian tren penurunan diproyeksikan akan berlanjut hingga tahun 2015 dengan jumlah penurunan pemukiman. Penurunan ini mengindikasikan bahwa adanya peningkatan pembangunan sarana dan prasarana permukiman pada lingkungan kumuh sehingga kualitas permukiman menjadi lebih baik sehingga jumlah lingkungan permukiman kumuh semakin berkurang Penataan Ruang Indikator yang digunakan dalam rangka mengukur tingkat keberhasilan pencapaian sasaran atau kinerja urusan penataan ruang adalah Rasio Ruang Terbuka Hijau Per satuan Luas Wilayah mempunyai Hak Pengelolaan Lingkungan (HPL) / Hak Guna Bangunan (HGB). Tabel 2.17 : Realisasi Indikator Urusan Penataan Ruang Tahun Indikator Rasio Ruang Terbuka Hijau per Satuan Luas Wilayah ber HPL/HGB * % 32% 45.5% 60% 67.3% Sumber : LAKIP Kabupaten Banyuwangi, *)Angka Proyeksi Sementara 48

49 Secara umum, Rasio ruang terbuka hijau per satuan luas wilayah berhpl/hgb mengalami penurunan tiap tahunnya. Pada tahun 2012 target yang ditetapkan sebesar 40% tidak tercapai, hanya terealisasi sebesar 32%. Hal ini disebabkan antara lain karena meningkatnya alih fungsi lahan pertanianmenjadi lahan non pertanian, kurangnya kepedulian terhadap pemanfaatan ruang sesuai dengan Rencana Tata Ruang. Solusinya, diperlukan penambahan kawasan ruang terbuka hijau, reboisasi, pengendalian ijin pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang dan penindakan tegas bagi pelanggaran ijin tata bangunan dan lingkungan. Tetapi pada tahun 2013 rasio ruang terbuka hijau persatuan luas wilayah ber HPL/HGB meningkat realisasinya menjadi 45,5% dengan rasio capaian hingga 101%. Kemudian meningkat kembali sebesar 60% ditahun 2014 dan 67.3% berdasarkan hasil proyeksi tahun Hal ini membuktikan bahwa RTH di Kabupaten Banyuwangi semakin kearah yang lebih baik Perencanaan Pembangunan Salah satu sasaran strategis dalam indikator kinerja utama Pemerintah Kabupaten Banyuwangi adalah Terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih. Dalam urusan perencanaan pembangunan, beberapa indikator yang digunakan antara lain adalah Tersedianya Dokumen Perencanaan: RPJPD yang telah ditetapkan dengan PERDA, Tersedianya Dokumen Perencanaan: RPJMD yg telah ditetapkan dengan PERDA/PERKADA, Tersedianya Dokumen Perencanaan: RKPD yg telah ditetapkan dengan PERKADA, dan Penjabaran Program RPJMD kedalam RKPD. Tabel 2.18 : Realisasi Indikator Urusan Perencanaan PembangunanTahun Indikator Tersedianya Dokumen Perencanaan : RPJPD yg Tersedia Tersedia Ada telah ditetapkan dengan PERDA Tersedianya Dokumen Perencanaan : RPJMD yg Tersedia Tersedia Tersedia telah ditetapkan dengan PERDA/PERKADA Tersedianya Dokumen Perencanaan : RKPD yg Tersedia Tersedia Tersedia telah ditetapkan dengan PERKADA Penjabaran Program Tersedia Tersedia Tersedia RPJMD kedalam RKPD Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia Tersedia 49

50 Dari tabel diatas, dapat diketahui bahwa dokumen perencanaan daerah mulai dari perencanaan jangka panjang, perencanaan daerah mulai dari perencanaan jangka menengah, dan perencanaan daerah mulai dari perencanaan tahunan telah tersedia di Kabupaten Banyuwangi. Hal ini berarti, capaian indikator dokumen perencanaan daerah pada tahun sebesar 100 persen. Selain itu, perencanaan dokumen menengah (RPJMD) daerah juga telah dijabarkan dalam dokumen tahunan (RKPD) pada setiap tahun. Hal ini dilakukan untuk sinkronisasi antara kebijakan perencanaan tahunan daerah dengan kebijakan perencanaan daerah jangka menengah. Salah satu sasaran strategis dalam indikator kinerja utama Perhubungan Perhubungan Dalam penyelenggaraan urusan perhubungan, beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pencapaian sasaran meningkatnya sarana informasi dan alat transportasi antara lain meliputi Jumlah arus penumpang angkutan umum Rasio ijin trayek, Jumlah uji kir angkutan umum, Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bis, dan Angkutan darat. Tabel 2.19 : Realisasi Indikator Urusan Perhubungan Tahun Indikator *2015 Jumlah arus penumpang 1,255,914 1,568,720 1,568,444 11,824,369 15,347, angkutan umum (orang) Rasio ijin trayek (%) Jumlah uji kir angkutan umum 1, ,032 10,617 13, (angkutan) Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal 2/1/08 2/1/08 2/1/08 2/1/08 2/1/08 Bis (pelabuhan) Angkutan darat (%) Sumber : LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *)Angka Proyeksi Sementara 2016 n/a n/a n/a n/a n/a Dari tabel tersebut,secara umum tiap indikator mengalami perubahan yang fluktuatif dari tahun Jumlah arus penumpang angkutan umum menurun dari menjadi orang di tahun Tetapi secara drastis mengalami peningkatan ditahun 2014 sebesar dan sejumlah ,33 pada hasil proyeksi tahun Rasio ijin trayek mengalami peningkatan 0,00002% dari realisasi tahun sebelumnya tetapi Kemudian rasio ijin trayek terlihat menurun kembali ditahun 2014 dengan penurunan sebesar 0,00005%. 50

51 Jumlah uji kir angkutan umum meningkat hingga angkutan di 2013 dan kembali meningkat menjadi 10,617 ditahun 2014 dan tren peningkatan diproyeksikan berlanjut pada tahun 2015 yang diproyeksikan meningkat sejumlah Jumlah pelabuhan laut, udara, terminal bis pelabuhan masih bertahan dengan pencapaian yang sama. Kemudian persentase angkutan darat yang ada masih konsisten di angka yang sama yaitu 0,001 sampai dengan 2013 kemudian meningkat menjadi 0,243 ditahun 2014 dan diproyeksi pada tahun n/a Perssentase Penanganan Sampah * n/a Lingkungan Hidup Salah satu sasaran strategis Kabupaten Banyuwangi dalam urusan lingkungan hidup adalah pengendalian lingkungan, rehabilitasi lahan dan hutan. Beberapa indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilannya antara lain meliputi Persentase penanganan sampah, Persentase Luas pemukiman yang tertata, Cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan amdal, Tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk, Sumber air/mata air dalam kondisi baik/kondisi debit stabil. Secara umum, capaian indikator urusan lingkungan hidup mengalami peningkatan mulai dari tahun Penanganan sampah pada tahun 2012, mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan capaiannya sebesar 66,5 persen kemudian meningkat lagi ditahun 2013 mencapai 74,18% dan meningkat kembali di tahun 2014 sebesar 78,97% peningkatan di proyeksikan terus terjadi hingga tahun 2015 sejumlah 92.79%. Hal ini mengindikasikan bahwa sampah yang ada di Kabupaten Banyuwangi telah ditangani dengan baik dan mengindikasikan kondisi lingkungan yang semakin bersih. Peningkatan persentase penanganan sampah juga didukung dengan adanya Tempat Pembuangan Sampah per satuan penduduk yang semakin baik TPS Per Satuan Penduduk Gambar 2. 16: Persentase Penanganan Sampah dan TPS Per Satuan Penduduk Sumber : LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *)Angka Proyeksi Sementara 51

52 Tempat pembuangan sampah (TPS) per satuan penduduk pada tahun 2012, terealisasi sebesar 38,00% dan meningkat di tahun 2013 menjadi 51%, dan kembali bertambah ditahun 2014 sebesar 78,98% dan pada tahun 2015 diproyeksikan bertambah sejumlah 95.31%. Persentase luas permukiman yang tertata pada tahun 2012, terealisasi sebesar 33,75 % kemudian meningkat menjadi 57,59 di tahun 2013 dan ditahun 2014 meningkat sebesar 58% dan hingga tahun 2015 di proyeksi tetap terdapat peningkatan sejumlah 70.67%, namun proyeksi pencapaian tersebut masih mengalami kendala yaitu masih adanya masyarakat yang kurang perduli terhadap penataan dan keindahan lingkungan permukiman. Persentase Luas Permukiman yang Tertata Cakupan Pengawasan Terhadap Pelaksanaan Amdal (%) Sumber Air/Mata Air dalam Kondisi Baik Debit Stabil (%) *2015 Gambar : Persentase Pemukiman yang Merata, Cakupan Pengawasan terhadap AMDAL dan Sumber Mata Air dalam Debit Stabil Sumber : LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *)Angka Proyeksi Sementara Indikator berikutnya adalah cakupan pengawasan terhadap pelaksanaan AMDAL dan sumber air/mata air dalam kondisi baik/kondisi debit stabil pada tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 masing-masing mencapai 100 persen hal yang sama diproyeksi pada tahun 2015 tetap akan tercapai 100%, tetapi khusus indikator sumber air/mata air dalam kondisi baik debit stabil mengalami penurunan menjadi 83% di tahun 2013 dan kembali meningkat di tahun 2014 sebesar 84% hingga proyeksi tahun 2015 juga tetap terjadi peningkatan yaitu sebesar 88.42%. 52

53 Pertanahan Pertanahan Beberapa indikator yang digunakan dalam mengukur capaian sasaran urusan pertanahan antara lain adalah lahan bersertifikat, penyelesaian kasus tanah negara, dan penyelesaian izin lokasi Tabel 2.20 : Realisasi Indikator Urusan Pertanahan Tahun Indikator Lahan bersertifikat Penyelesaian kasus tanah Negara Penyelesaian izin lokasi Sumber : LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *)Angka Proyeksi Sementara n/a n/a n/a Dari ketiga indikator tersebut diketahui bahwa secara umum capaian kinerja urusan pertanahan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2013 capaian kinerja dari indikator lahan bersertifikat dan penyelesaian kasus tanah negara telah mencapai dan melebihi target yang telah ditentukan, kemudian terus meningkat ditahun 2014 hingga proyeksi tahun 2015 masing-masing sebesar 45% dan 56%. Kemudian, capaian dari penyelesaian izin lokasi tiap tahun mengalami fluktuasi dan capaiannya mengalami peningkatan, yaitu sebesar 81,18% pada tahun 2012 dan meningkat menjadi 98,87% di tahun 2013 dan 101% ditahun 2014, peningkatan juga di proyeksi terjadi hingga tahun 2015 yaitu pada angka % Kependudukan dan Pencatatan Sipil Sasaran strategis pertama Kabupaten Banyuwangi adalah Terwujudnya Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik dan Bersih. Sasaran ini merupakan penjabaran dari misi pertama dalam RPJMD Tahun yakni Mewujudkan Tata Pemerintahan Yang Baik dan Bersih (Good and Clean Governance). Beberapa indikator yang digunakan dalam mengukur capaian sasaran tersebut utamanya dalam urusan Kependudukan dan Pencatatan Sipil antara lain adalah Kepemilikan KTP, Kepemilikan akta kelahiran per 1000 penduduk, Ketersediaan database kependudukan skala provinsi, dan Penerapan KTP Nasional berbasis NIK. Capaian indikator urusan Kependudukan dan Pencatatan Sipil secara umum mengalami peningkatan di tahun Hal ini dapat dilihat dari persentase kepemilikan KTP yang mencapai 90,46 persen pada tahun 2013, meningkat menjadi 94% ditahun 2014 dan diproyeksi terus meningkat hingga mencapai 99.52% pada tahun Hal ini mengindikasikan bahwa hampir seluruh masyarakat di Kabupaten Banyuwangi telah banyak yang memilki identitas penduduk dan telah terdata oleh Dinas Kependudukan wilayah setempat. 53

54 Tabel 2.21 : Realisasi Indikator Urusan Kependudukan dan Pencatatan Sipil Tahun Indikator Kepemilikan n/a KTP (%) Kepemilikan akta kelahiran n/a per 1000 penduduk (%) Ketersediaan database Ada Siak 2010 Ada Siak 2010 Ada Ada Ada n/a kependudukan skala provinsi Penerapan KTP Nasional Sudah Sudah Sudah Sudah Sudah n/a berbasis NIK Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *)Proyeksi Sementara Disamping indikator yang telah dijelaskan, ketersediaan data kependudukan skala provinsi dan Penerapan KTP Nasional berbasis NIK juga telah tersedia di Kabupaten Banyuwangi mulai dari tahun Hal ini mengindikasikan bahwa ketersediaan dalam penyusunan database dalam bidang kependudukan Kabupaten Banyuwangi dapat dipertahankan dengan baik Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Salah satu sasaran strategis Kabupaten Banyuwangi adalah Meningkatnya programprogram pembangunan yang berbasis pada pengarusutamaan gender. Beberapa indikator kinerja yang digunakan dalam mencapai sasaran tersebut diantaranya persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah, partisipasi perempuan di lembaga swasta, rasio KDRT dan persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur. Tabel 2.22 : Realisasi Indikator Urusan Pemberdayaan Perempuan Dan Perlindungan Anak Tahun Indikator Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah n/a Partisipasi perempuan di lembaga swasta n/a 54

55 Indikator Rasio KDRT n/a Persentase jumlah tenaga kerja dibawah umur n/a Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *) Angka Proyeksi Sementara Secara umum, sasaran indikator Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di Kabupaten Banyuwangi masih dapat dipertahankan meskipun tiap tahun capaiannya berbeda dan cenderung fluktuatif. Persentase partisipasi perempuan di lembaga pemerintah tahun 2013 menurun ke angka 1,55% dari 39,89% di tahun Namun pada tahun 2014 mengalami peningkatan kembali hingga mencapai 1,6% dan diproyeksi kembali menurun sejumlah 0.8% di tahun 2015, meskipun realisasi capaian pada tahun 2014 tersebut tidak terlalu signifikan apabila dibandingkan penurunan yang terjadi pada tahun Sedangkan partisipasi perempuan di lembaga swasta sejak tahun 2009 hingga tahun 2011 selalu mengalami penurunan yang drastis, yakni 86% di tahun 2009 menurun menjadi 47,5% di tahun Namun kondisi partisipasi perempuan di lembaga swasta mengalami perbaikan kembali di tahun 2012, meskipun memang peningkatan partisipasinya tidak terlalu signifikan, yakni sebesar 47,63% di tahun Kondisi ini juga semakin membaik di tahun 2013 yang mengalami peningkatan yang sangat drastis yakni hingga mencapai 98,44%. Namun sangat di sayangkan, bahwa partisipasi perempuan di lembaga swasta kembali mengalami penurunan di tahun 2014, meskipun persentase penurunan tidak terlalu signifikan, yakni sebasar 98,39% di tahun 2014, namun pada tahun 2015 diproyeksikan partisipasi perempuan di lembaga swasta akan meningkat hingga angka 100%. Hal ini menunjukkan bahwa partisipasi perempuan di Kabupaten Banyuwangi lebih banyak di lembaga swasta dibandingkan di lembaga pemerintah. Meskipun demikian, partisipasi perempuan di dunia kerja harus tetap ditingkatkan, terutama di lembaga pemerintah. Apabila melihat indikator rasio KDRT yang terjadi di Kabupaten Banyuwangi kembali mengalami perbaikan kondisi sejak tahun 2012 hingga Hal ini dapat ditunjukkan dari tahun 2011 rasio KDRT yang mencapai angka 0,11 menurun menjadi 0,0022 di tahun 2014 dan proyeksi pada tahun 2015 terus menurun. Kondisi ini juga berbanding lurus dengan kondisi tenaga kerja di bawah umur yang juga selalu menunjukkan perbaikan pada tiap tahunnya. Meskipun pada tahun selalu mengalami peningkatan persentase jumlah tenaga kerja di bawah umur, namun komitmen dan kerja keras Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk memberantas tuntas tenaga kerja di bawah umur berhasil di tahun , yakni sudah tidak terdapat lagi tenaga kerja di bawah umur. 55

56 Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Sasaran yang ingin dicapai dalam urusan keluarga berencana dan keluarga sejahtera adalah meningkatnya peserta KB aktif dan meningkatnya keluarga sejahtera. Guna mengetahui tingkat keberhasilan sasaran meningkatnya peserta KB aktif dapat dilihat dari 3 (tiga) indikator, yakni rata-rata jumlah anak per keluarga, Rasio akseptor KB, Cakupan peserta KB aktif. Sedangkan sasaran meningkatnya keluarga sejahtera dapat diukur dengan indikator keluarga pra-sejahtera dan keluarga sejahtera I. Tabel 2.23 : Realisasi Indikator Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera Tahun Indikator *2015 Rata-rata jumlah anak per keluarga (orang) Rasio akseptor KB (%) Cakupan peserta KB Aktif (%) Keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *) Angka Proyeksi Sementara Secara umum, indikator sasaran atas sasaran Meningkatnya peserta KB aktif bermakna Baik Sekali dibandingkan dengan target yang telah ditentukan ataupun capaian pada tahun sebelumnya. Hal ini ditunjukkan dengan rata-rata capaian kinerja capaian rasio akseptor KB dan cakupan peserta KB aktif yang masing-masing mencapai 0,76 persen dan 75,5 persen di tahun 2014 dan di proyeksikan meningkat menjadi 76.23% pada tahun Sehingga hal ini juga memberikan dampak positif atas keberhasilan kebijakan pemerintah yang mencanangkan slegon 2 anak cukup. Sebab hingga tahun , rata-rata jumlah anak per keluarga di Kabupaten Banyuwangi hanya memiliki 2 anak. Capaian sasaran dalam indikator Meningkatnya peserta KB aktif dipengaruhi oleh kesadaran masyarakat yang semakin meningkat terutama Pasangan Usia Subur (PUS) dalam rangka mengatur dan mengendalikan jumlah anak dan jarak kelahiran, adanya pembinaan yang teratur dari segenap komponen seperti PLKB, PPKBD, Sub. PPKBD, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Perangkat Desa dan lintas sektor terkait dalam membina dan memotivasi masyarakat untuk mengikuti KB guna meningkatkan kualitas hidup keluarga dan kesejahteraan masyarakat pada umumnya, adanya dukungan dan kerjasama segenap jajaran Pemkab. Banyuwangi beserta segenap komponen (swasta, perbankan, koperasi, LSM, lembaga/organisasi keagamaan dan lintas sektor lainnya. Keberhasilan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam meningkatkan jumlah peserta KB ternyata juga memberi dampak positif 56

57 terhadap meningkatnya keluarga sejahtera di Kabupaten Banyuwangi. Hal ini ditunjukkan dari tahun , persentase keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I selalu mengalami penurunan, dimana pada tahun 2014 hanya mencapai 33,5% dan tren ini diproyeksikan akan terus berlanjut hingga tahun 2015b yaitu sejumlah 31.13%. Artinya bahwa selama tahun kondisi keluarga sejahtera di Kabupaten Banyuwangi selalu menunjukkan kondisi yang baik, dengan semakin berkurangnya persentase keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I Sosial Penyelenggaraan urusan sosial di Kabupaten Banyuwangi mengemban sasaran meningkatnya jaminan dan perlindungan sosial masyarakat. Indikator yang digunakan dalam mencapai sasaran yang diemban tersebut, antara lain (1) sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan panti rehabilitasi, (2) PMKS yang memperoleh bantuan sosial; serta (3) penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial. Tabel 2.24 : Realisasi Indikator Urusan Sosial Tahun Indikator Sarana sosial seperti panti asuhan panti jompo dan panti rehabilitasi PMKS yg memperoleh bantuan sosial (%) Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial (%) Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *) Angka Proyeksi Sementara * Secara umum diketahui bahwa semua indikator urusan sosial masih dapat dipertahankan sebagai indikator pencapaian urusan sosial. Realisasi ditahun 2014 terlihat mengalami peningkatan dan kemajuan dari tahun sebelumnya. Di tahun 2013 sarana sosial seperti panti asuhan, panti jompo dan panti rehabilitasi berjumlah 50 meningkat menjadi 51 sarana sosial di tahun 2014 namun diproyeksikan pada tahun 2015 mengalami penurunan sejumlah 46.33%. Kemudian PMKS yang memperoleh bantuan ditahun 2013 sebesar 0,37% meningkat menjadi 0,69% ditahun 2014 dan kembali diproyeksi meningkat pada tahun 2015 sebesar 0.92%. Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial juga mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 0,37% di tahun 2013 meningkat menjadi 1,16 di tahun 2014 dan 1.54% berdasarkan angka proyeksi tahun 2015 yang dilakukan. Keberhasilan capaian pada setiap indikator urusan sosial tersebut menunjukkan bahwa komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam melaksanakan kebijakannya sudah 57

58 menunjukkan pro poor serta memberikan perhatian lebih pada masyarakat yang memiliki kapasitas rendah Ketenagakerjaan Sasaran dalam penyelengaaraan urusan ketenagakerjaan adalah Menurunnya tingkat pengangguran. Sasaran tersebut dapat diukur dengan 3 (tiga) indikator, diantaranya (1)angka partisipasi angkatan kerja; (2)tingkat partisipasi angkatan kerja, dan (3) tingkat pengangguran terbuka. Ketiga indikator tersebut telah memenuhi target pada tahun 2014, sehingga jika realisasi yang diperoleh dibandingkan dengan target yang telah diperkirakan maka capaiannya lebih dari 100 persen. Tabel 2.25 : Realisasi Indikator Urusan Ketenagakerjaan Tahun Indikator Angka Partisipasi Angkatan Kerja (%) Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%) Tingkat Pengangguran Terbuka (%) Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, Selain pemenuhan capaian dari target yang telah ditetapkan, perkembangan indikator angka partisipasi angkatan kerja dan tingkat partisipasi angkatan kerja tahun mengalami kondisi yang fluktuatif, namun cenderung mengalami penurunan. Hal tersebut dapat dilihat dari capaian angka partisipasi angkatan kerja dan tingkat partisipasi angkatan kerja di tahun 2014 hanya mencapai 72,02% dan tren menunjukkan kembali terjadi penurunan yaitu 70.53% pada hasil proyeksi tahun Capaian di tahun 2014 tersebut belum mampu mengembalikan kondisi seperti di tahun 2012, yang mampu mencapai hingga 76,08%. Hal ini disebabkan karena lonjakan yang sangat signifikan pada tingkat pengangguran terbuka yang terjadi pada tahun 2013, yakni mencapai 9,22%. Namun atas upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menurunkan tingkat pengangguran terbuka di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2014 hingga mencapai 4,59% dan diproyeksi terjadi peningkatan pada tahun 2015 sejumlah 4.80%. Hal ini tentunya juga mempengaruhi capaian angka partisipasi angkatan kerja dan tingkat partisipasi angkatan kerja di Kabupaten Banyuwangi yang juga mengalami peningkatan hingga mencapai 72,02% dan diproyeksi meningkat sebesar 73.25% pada tahun 2015, meskipun peningkatan capaian di tahun 2014 ini tidak terlalu signifikan dari tahun Pada tahun 2016 angka partisipasi angkatan kerja meningkat dari tahun lalu yaitu sebanyak 71.1% penduduk masuk dalam usia kerja dan sebanyak 71.1% dan dari angka tersebut 80.2% diantaranya atau sebanyak penduduk bekerja. 58

59 Koperasi Usaha Kecil Dan Menengah Sasaran dalam penyelenggaraan urusan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah adalah Meningkatnya profesionalisme pengelolaan koperasi dan UMKM. Dalam mengukur capaian kinerja urusan Koperasi Usaha Kecil Dan Menengah dibutuhkan beberapa indikator diantaranya Persentase koperasi aktif (melaksanakan RAT), Jumlah UKM non BPR/LKM UKM, Jumlah BPR/LKM, serta Usaha Mikro dan Kecil. Tabel : Realisasi Indikator Urusan Koperasi Usaha Kecil Dan Menengah Tahun Indikator Persentase koperasi aktif (melaksanakan RAT) (%) Jumlah UKM non BPR/LKM UKM 20,946 24,200 23,000 25,000 26,351 Jumlah BPR/LKM 1,844 1,938 2,250 2,250 2,385 Usaha Mikro dan Kecil Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016*) Angka Proyeksi Sementara Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa keempat indikator kinerja untuk sasaran Meningkatnya profesionalisme pengelolaan koperasi dan UMKM dapat tercapai melebihi target yang ditentukan yaitu masingmasing diatas 100%, meskipun terdapat satuindikator sasaran yang capaian kinerjanya mengalami penurunan pada tahun 59

60 2013dan meningkat tidak signifikan di tahun 2014 yaitu persentase koperasi aktif. Realisasi capaian indikator persentasse koperasi aktif pada tahun 2014 yakni 81,2% dan diproyeksi pada tahun 2015 kembali meningkat sebesar 82% dimana capaian ini diharapkan akan mampu mengembalikan kondisi seperti pada tahun 2012 yakni 82,60%. Sedangakan realisasi capaian indikator jumlah UKM non BPR/LKM UKM dan Jumlah BPR/LKM pada setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan hingga mencapai di tahun 2014 dan diprediksi sedikit meningkat sejumlah pada tahun Begitu juga dengan realisasi capaian indikator usaha mikro dan kecil di Kabupaten Banyuwangi pada setiap tahunnya juga mengalami peningkatan, yakni mencapai 52 unit di tahun 2014 dann diproyeksi sejumlah 60 unit pada tahun Berdasarkan capaian keempat indikator tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten Banyuwangi mulai aktif untuk menggerakkan dan mengembangkan usahanya di tingkan kecil dan menengah Penanaman Modal Sasaran yang ingin dicapai dalam urusan penanaman modal adalah Meningkatnya investasi di daerah baik PMA maupun PMDN. Keberhasilan indikator ini dapat dilihat dari Jumlah investor berskala nasional (PMDN/PMA), Jumlah nilai investasi berskala nasional (PMDN/PMA), Rasio daya serap tenaga kerja, Peningkatan/penurunan Nilai Realisasi PMDN (miliar rupiah). Tabel 2.27 : Realisasi Indikator Urusan Penanaman Modal Tahun Indikator Jumlah investor berskala 1 1 nasional PMDN/PMA (investor) Jumlah nilai investasi berskala nasional PMDN/PMA (Miliar Rp) nasional PMDN/PMA (Miliar Rp) Peningkatan / penurunan Nilai 1 1 Realisasi PMDN (Miliar rupiah) Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *) Angka Proyeksi Sementara * , , , Jumlah investor berskala nasional yang ada di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2014mengalami penurunan bila dibandingkan dengan capaian pada tahun 2013, yakni berjumlah 4 investor pada tahun 2014, dari tahun sebelumnya terdapat 5 investor yang di prediksi angka yang sama pada tahun Meskipun penurunan jumlah investor berskala nasional PMDN/PMA tersebut tidak terlalu signifikan namun sangat berdampak besar pada penurunan nilai investasi berskala nasional PMDN/PMA yakni di tahun 2013 yang mencapai Rp. 65,5 Miliar mengalami penurunan yang sangat drastis hingga mencapai Rp. 2,345 Miliar di tahun 2014 dan diproyeksi meningkat pada tahun 2015 sejumlah Miliar. Sedangkan 60

61 capaian indikator rasio daya serap tenaga kerja dan nilai realisasi PMDN sejak tahun mengalami peningkatan, yakni mencapai 248 orang dan Rp 51 miliar di tahun 2014 dan diproyeksi terus meningkat pada tahun 2015 sejumlah 251 orang dan Rp.67 Milliar Kebudayaan Penyelenggaraan urusan kebudayaan di Kabupaten Banyuwangi mengemban sasaran meningkatnya upaya pelestarian dan pengembangan budaya lokal. Adapun indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan urusan kebudayaan diantaranya: (1) penyelenggaraan festival seni dan budaya; (2) sarana penyelenggaraan seni dan budaya; dan (3) Benda, Situs, dan Kawasan Cagar Budaya yang dilestarikan. Tabel 2.28 : Realisasi Indikator Urusan Kebudayaan Tahun Indikator 2011 Penyelenggaraan festival seni 4 dan budaya (kali) Sarana penyelenggaraan seni 9 dan budaya Benda, Situs, dan Kawasan 23 Cagar Budaya yang dilestarikan Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *) Angka Proyeksi Sementara * Secara garis besar penyelenggaraan urusan kebudayaan mempunyai capaian indikator yang meningkat dari tahun Pada tahun 2014, semua indikator dapat mencapai target yang telah ditetapkan. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pelestarian dan pengembangan budaya lokal di Kabupaten Banyuwangi betul-betul baik. Pada capaian indikator penyelenggaraan festival seni dan budaya terealisasi 8 kali di tahun Hal ini dikarenakan even-even festival seni dan budaya di Banyuwangi dilaksanakan tidak hanya sebagai bentuk apresiasi terhadap seni budaya yang terus berkembangan di Banyuwangi, namun juga dilaksanakan dalam rangka memperingati hari-hari bersejarah seperti HUT Kemerdekaan dan Hari Jadi Banyuwangi yang secara rutin dilaksanakan setiap tahun. Capaian indikator sarana penyelenggaraan seni dan budaya dari target yang ditentukan sebesar 9 unit sarana dapat terealisasi 9 unit sarana di tahun 2014 sehingga capaian kinerjanya sebesar 100% untuk tahun Capaian ini sama dengan capaian tahun yang juga sebesar 100%. Sedangkan capaian indikator benda, situs dan kawasan cagar budaya yang dilestarikan dilihat dari realisasi capaian setiap tahunnya juga cenderung mengalami peningkatan, meskipun pada tahun 2013 mengalami penurunan. Namun pada tahun 2014 capaian benda, situs dan kawasan cagar budaya yang dilestirakan dapat ditingkatkan kembali hingga menjadi 25 unit. Kemudian di proyeksikan ketiga indikator tersebut akan tetap menunjukkan jumlah yang sama hingg tahun

62 Kesatuan Bangsa dan Politik Penyelenggaraan urusan Kesatuan Bangsa dan Politik di Kabupaten Banyuwangi memilki sasaran meningkatnya kesadaran dan penegakan hukum. Capaian kinerja penyelenggaraan urusan yang dilaksanakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik ini dapat dilihat dari dua indikator, yakni (1) kegiatan pembinaan terhadap LSM, Ormas, dan OKP; serta (2) kegiatan pembinaan politik daerah. Tabel 2.29 : Realisasi Indikator Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Tahun Indikator 2011 Kegiatan pembinaan terhadap LSM, 40 Ormas, dan OKP (%) Kegiatan pembinaan olitik daerah 40 (%) Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *) Angka Proyeksi Sementara * Capaian indikator pada urusan kesatuan bangsa dan politik pada tahun cenderung mengalami peningkatan, meskipun sempat mengalami penurunan di tahun 2013, namun mengalami peningkatan kembali di tahun Hal ini dapat dilihat dari capaian indikator kegiatan pembinaan terhadap LSM, Ormas, dan OKP yang semula hanya mampumencapai 20%di tahun 2010 namun di tahun 2014 telah mampu melakukan 100% pembinaan terhadap LSM dan pada tahun 2015 juga di proyeksikan tercapai lebih dari 100%, ormas dan OKP, meskipun pada tahun 2013 (85%) mengalami penurunan dibandingkan capaian pada tahun 2012(90%). Begitu pula dengan capaian indikator kegiatan pembinaan politik daerah yang telah dilakukan hingga di tahun 2014 telah berhasil mencapai 100% dari yang semula hanya 20% kegiatan pembinaan politik daerah yang dilakukan di tahun 2010 dan tahun 2015 yang diproyeksikan juga mencapai 120%. Meskipun pada tahun 2013 (85%) mengalami penurunan dibandingkan capaian pada tahun 2012 (95%) Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian, Dan Persandian Guna mewujudkan sasaran urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian, Dan Persandian yaitu Terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih, dibutuhkan 7 (tujuh) indikator yang harus dicapai, diantaranya: (1) Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per penduduk; (2) Jumlah Linmas per Jumlah Penduduk; (3) Rasio Pos Siskamling per jumlah desa/kelurahan; (4) Pertumbuhan ekonomi; (5) Kemiskinan;(6) Sistem Informasi Pelayanan Perijinan dan Administrasi Pemerintah; dan (7) Indeks Kepuasan Layanan Masyarakat. 62

63 Tabel 2.30 : Realisasi Indikator Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian, Dan Persandian Kesatuan Bangsa dan Politik Tahun Indikator *2016 Rasio jumlah Polisi Pamong Praja per 1:0,088 1:1,09 01:0,3 01:0,3 1: n/a penduduk Jumlah Linmas per Jumlah n/a Penduduk Rasio Pos Siskamling per jumlah n/a desa/kelurahan Pertumbuhan n/a Ekonomi Sistem Informasi Pelayanan Perijinan Ada Ada Ada Ada ada n/a dan Administrasi Pemerintah Indeks Kepuasan Layanan Masyarakat (%) Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *) Angka Proyeksi Sementara Dari tabel di atas, diperoleh gambaran bahwa dari indikator sasaran yang ditetapkan, secara umum capaian kinerja sasarannya mengalami perubahan yang lebih baik dari tahuntahun sebelumnya. Apabila dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2013, maka capaian kinerja tahun 2014 mengalami peningkatan. Adapun capaian indikator rasio jumlah polisi pamong praja per penduduk di tahun 2014 mengalami capaian yang sama pada tahun 2013 yakni 01:0,3, namun mengalami penurunan bila dibandingkan dengan capaian di tahun 2012 yakni 1:1,09 dan diproyeksikan terus menurun pada tahun Sedangkan capaian indikator jumlah linmas per jumlah penduduk mengalami peningkatan di tahun 2014 yakni mencapai 67,05% dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 66,86%, namu tren tersebut diprediksi akan meningkat pada tahun 2015 yaitu sejumlah 75.11%. Sedangkan capaian indikator rasio pos siskamling per jumlah desa/kelurahan di tahun mengalami kondisi yang stabil yakni mencapai 86, capaian rasio tersebut lebih besar bila dibandingkan dengan capaian rasio pada tahun , yakni 85. Selain itu, Kabupaten Banyuwangi juga masih tetap konsisten dalam meningkatkan kinerjanya dalam sistem informasi pelayanan perijinan dan administrasi Pemerintah sejak tahun 2009 hingga tahun Sehingga hal ini 63

64 berpengaruh pula pada capaian indeks kepuasan layanan masyarakat yang selalu mengalami peningkatan pula dari tahun , hingga mencapai 79,85% dan angka yang diproyeksikan pada tahun 2015 sejumlah 81.13% Ketahanan Pangan Penyelenggaraan urusan ketahanan pangan di Kabupaten Banyuwangi dapat diukur dari tiga indikator, antara lain: (1)produksi beras; (2) produksi gabah; dan (3) ketersediaan pangan utama. Ketiga indikator tersebut bertujuan untuk mencapai sasaran meningkatnya daya saing daerah dan kemandirian ekonomi berbasis pertanian. Tabel 2.31 : Realisasi Indikator Urusan Ketahanan Pangan Tahun Indikator Produksi Beras 442, , ,206 (Ton) Produksi 702,205 79, ,827 Gabah (Ton) Ketersediaan Pangan Utama Sumber: LKPJ Akhir tahun Kab. Banyuwangi , , , , Produksi pangan beras, gabah, dan ketersediaan pangan utama di Kabupaten Banyuwangi sejak tahun cenderung menunjukkan kondisi yang baik. Meskipun pada tahun 2014, capaian produksi beras mengalami penurunan dibandingkan tahun 2013, yakni dari ton menjadi ,11 Ton yang diprediksi kembali meningkat menjadi ,81 ton pada tahun Begitu pula produksi gabah yang sempat mengalami penurunan pada tahun 2013 dibandingkan capaian di tahun 2012, yakni dari ton menjadi ton, namun capai tersebut kembali menurun meningkat di tahun 2014, yakni ton dan angka proyeksi tahun 2015 sejumlah ,33 Ton.Begitu juga capaian yang terjadi pada indikator ketersediaan pangan utama di tahun 2013 mengalami penurunan dibandingkan dengan capaian 2012, yakni dari 317,51 ton menjadi 305,63 ton, namun di tahun 2014 mengalami peningkatan capaian yakni 333,59 ton dan proyeksi capaian tahun 2015 yang meningkat mencapai ton. Pada tahun 2016 jumlah produksi gabah meningkat dari ,81 menjadi ,5 dari total luas pann dengan produki gabah Kondisi yang demikian didasarkan pada persoalan berikut ini. 1. Terjadinya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian yang cenderung meningkat, sehingga menyebabkan penurunan produksi pertanian secara sistematis dan bersifat permanen; 2. Terjadi alih fungsi komoditi tanaman pangan ke hortikultura, sehingga menyebabkan menurunnya produksi tanaman pangan. 3. Terjadinya serangan organisme pengganggu tanamanyang semakin meningkat dan bersifat sporadis, sehinggamempengaruhi produksi dan kualitas tanaman; 4. Semakin menurunnya tingkat kesuburan tanah dan produktivitas lahan karena pengggunaan pupuk an- 64

65 organik yang berlebihan dalam jangka waktu lama, sehingga produktivitas tanaman sulit ditingkatkan secara signifikan, 5. Menurunnya kualitas intensifikasi pertanian terutama dalam pemakaian pupuk berimbang dan penggunaan benih unggul bersertifikat Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa Penyelenggaraan urusan pemberdayaan masyarakat dan desa memiliki sasaran meningkatnya peranan kelompok-kelompok dalam masyarakat di dalam berbagai kegiatan pembangunan. Indikator yang digunakan untuk mengukur capaian sasaran ini diantaranya; (1)rata-rata jumlah kelompok binaan PKK; (2)jumlah LSM; (3) LPM Berprestasi; (4) PKK aktif; (5)posyandu aktif; dan (6)swadaya masyarakat terhadap Program Pemberdayaan Masyarakat. Tabel 2.32 : Realisasi Indikator Pemberdayaan Masyarakat Dan Desa Tahun Indikator * Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK Jumlah LSM LPM Berprestasi PKK aktif Posyandu aktif Swadaya Masyarakat terhadap Program pemberdayaan masyarakat Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *) Angka Proyeksi Sementara n/a n/a n/a n/a n/a n/a Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa indikator sasaran dalam penyelenggaraan urusan pemberdayaan masyarakat dan desa mengalami peningkatan kuantitas pada tahun 2014, kecuali jumlah LSM dan LPM berprestasi. Hal ini tidak berarti capaian kinerja yang dihasilkan juga mengalami peningkatan. Rata-rata jumlah kelompok binaan PKK mengalami peningkatan yaitu capaian rata-rata jumlah kelompok binaan PKK di tahun 2014 sebesar 90 kelompok dan di proyeksikan akan mengalami penurunan pada tahun 2015 menjadi kelompok. Jumlah LSM mengalami penurunan yang sangat drastis di tahun 2014 dibandingkan di tahun 2013 yakni sebanyak dari 155 LSM menjadi 22 LSM dan diprediksi pada tahun 2015 akan tetap stagnan bahkan memungkinkan akan mengalami penurunan. Begitu pula dengan LPM berprestasi juga mengalami penurunan di tahun 2014 dan hasil proyeksi tahun 2015 bila dibandingkan dengan capaian di tahun 2013, yakni dari 37 LPM berprestasi menjadi 19 LPM berprestasi sedangkan angka 2015 menunjukkan penurunan hingga sejumlah Sedangkan capaian indikator PKK aktif mengalami stagnasi dari tahun , yakni sebanyak 100 PKK. 65

66 Begitu juga dengan Posyandu aktif berjumlah 100 posyandu dari tahun Sedangkan capaian indikator swadaya masyarakat terhadap program pemberdayaan masyarakat mengalami peningkatan di tahun 2014 yakni 94,12 di bandingkan tahun 2013 yang mencapai 75, dan diproyeksikan menurun menjadi 91.49% pada tahun Statistik Penyelenggaraan urusan statistik di Kabupaten Banyuwangi dapat diukur dengan indikator ketersediaan Buku "Banyuwangi Dalam Angka" dan Buku "PDRB Kabupaten". Indikator ini memilki sasaran Terwujudnya Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik dan Bersih. Indikator Kabupaten Banyuwangi Dalam Angka telah tersedia pada setiap tahun, sampai dengan tahun Begitu pula dengan buku PDRB Kabupaten, dimana pada tahun 2015 juga di prediksi akan tersedia. Tabel 2.33 : Realisasi Indikator Urusan Statistik Tahun Indikator Buku Kabupaten Dalam Angka Ada Ada Ada Ada Ada n/a Buku PDRB kabupaten Ada Ada Ada Ada Ada n/a Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2014 *) Proyeksi Sementara Kearsipan Indikator capaian kinerja yang digunakan untuk mengukur penyelenggaraan urusan kearsipan yaitu (1) pengelolaan arsip secara baku; (2) Peningkatan SDM pengelola kearsipan; dan (3) tersimpannya arsip inaktif dan statis. Tabel 2.34 : Realisasi Indikator Urusan Kearsipan Tahun Indikator 2011 Pengelolaan arsip secara baku 13,6 (%) Peningkatan SDM pengelola 50 kearsipan (%) Tersimpannya arsip inaktif dan 30 statis (%) Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *) Angka Proyeksi Sementara * n/a n/a n/a 66

67 Indikator urusan kearsipan secara umum tiap tahun angkanya mengalami peningkatan, begitu pula realisasi yang dilaksanakan sudah sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Pengelolaan arsip secara baku atau SKPD yang mengetrapkan pengelolaan arsip secara baik dan benar pada tahun 2012 mencapai 40% dengan capaian kinerja sebesar 100%. Peningkatan SDM pengelola arsip pada tahun 2014 terealisasi sebesar 100% sesuai dengan target yang telah ditetapkan, sehingga kinerjanya mencapai 100% dan di prediksi pada tahun 2015 realisasi akan terus meningkat hingga lebih dari 100%. Sementara indikator tersimpannya arsip inaktif dan statis tahun 2014 mengalami peningkatan hingga 10% dari tahun 2013, sehingga capaian di tahun 2014 menjadi 60%, namun di prediksi akan mengalami penurunan pada tahun 2015 yaitu pada angka 58% Komunikasi Dan Informatika Penyelengaraan urusan komunikasi dan informatika bertujuan untuk mencapai sasaran meningkatnya sarana informasi Kabupaten Banyuwangi. Keberhasilan pencapaian urusan ini dapat dilihat dari 5 (lima) indikator, diantaranya: (1) jumlah jaringan komunikasi; (2) jumlah surat kabar nasional/lokal; (3) jumlah penyiaran radio/tv lokal; (4)jumlah penyiaran TV lokal; dan (5) web site milik pemerintah daerah. Secara umum, kelima indikator tersebut mengalami peningkatan pada tahun 2014, kecuali untuk indikator jumlah jaringan komunikasi, jumlah surat kabar nasional/lokal dan web site milik pemerintah daerah yang secara kuantitas atau jumlah masih tetap dengan tahun sebelumnya. Tabel 2.35 : Realisasi Indikator Urusan Komunikasi Dan InformatikaTahun Indikator Jumlah jaringan komunikasi (jaringan) Jumlah surat kabar nasional/lokal (jenis) /2 54/2 57/2 n/a Jumlah penyiaran radio/tv lokal 44/1 49/2 (penyiaran/ tayang) Jumlah penyiaran TV 1 1 lokal (tayang) Web site milik pemerintah daerah 1 1 (website) Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *) Angka Proyeksi Sementara 67

68 Jumlah jaringan komunikasi mulai mengalami peningkatan pada setiap tahunnya sejak tahun masing-masing 1 unit, namun pada tahun tidak ada penambahan jumlah jaringan komunikasi, sehingga pada tahun 2014 Kabupaten Banyuwangi tetap memiliki 13 jaringan komunikasi dan pad atahun 2015 di proyeksikan akan bertambah menjadi 14 jaringan komunikasi. Sedangkan jumlah surat kabar nasional/lokal mengalami penambahan pada tahun 2012 sebanyak 3 jenis dari tahun sebelumnya, sehingga pada tahun 2012 Kabupaten Banyuwangi memiliki 18 jenis surat kabar nasional/lokal, jumlah tersebut tetap sama hingga di tahun 2014 namun pada proyeksi tahun 2015 di prediksi akan terjadi penambahan menjadi 19 surat kabar. Sedangkan jumlah penyiaran radio/tv lokal di Kabupaten Banyuwangi selalu mengalami peningkatan sejak tahun 2009 hingga tahun 2014, yakni 37 penyiaran radio dan 1 tayangan TV lokal di tahun 2009, meningkat menjadi 54 penyiaran radio dan 2 tayangan TV lokal, namu pada tahun 2015 di proyeksikan akan terjadi penambahan yaitu sejumlah 57 penyiaran radio. Sehingga capaian indikator jumlah penyiaran TV lokal di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2014 sebanyak 2 tayangan dan tetap pada ajumlah yang sama berdasarkan proyeksi tahun Selain itu, dalam meningkatkan akses komunikasi dan informasi, Kabupaten Banyuwangi juga telah membuat web site milik pemerintah daerah, dimana sejak tahun 2011 hingga tahun 2015 Pemerintah Kabupaten Banyuwangi tetap mengelola dengan baik web site tersebut yang hanya berjumlah 1 web site Perpustakaan Perpustakaan Penyelenggaraan urusan perpustakaan dilaksanakan oleh Kantor Perpustakaan dan Arsip. Sasaran yang ingin dicapai pada urusan perpustakaan yaitu Meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Adapun indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur tercapainya sasaran ini diantaranya: (1) jumlah perpustakaan; (2)jumlah pengunjung perpustakaan pertahun; dan (3) koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah. Tabel 2.36 : Realisasi Indikator Urusan Perpustakaan Tahun Indikator Jumlah perpustakaan * n/a 61,970 82,375 98, n/a 38,870 55,084 54,587 n/a Jumlah pengunjung 32, ,000 perpustakaan pertahun Koleksi buku yang tersedia di perpustakaan 56,575 56,112 daerah Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 *) Angka Proyeksi Sementara Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa dalam penyelenggaraan urusan perpustakaan menunjukkan kinerja yang kurang baik. Hal ini dapat dilihat pada capaian indikator jumlah 68

69 perpustakaan, meskipun secara kuantitas di tahun 2013 mengalami peningkatan, dimana Kabupaten Banyuwangi pada tahun memiliki dua unit perpustakaan. Namun peningkatan jumlah perpustakaan tersebut tidak mempengaruhi jumlah pengunjung perpustakaan pertahun dan jumlah koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah. Apabila ditinjau dari jumlah pengunjung perpustakaan pertahun meskipun pada tahun 2014 telah mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yakni mencapai pengunjung bahakan diprediksi pada tahun 2015 jumlah pengunjung akan meningkat hingga orang pengunjung, namun jumlah tersebut tidak sebanding dengan capain pada tahun 2012 yang mencapai pengunjung dengan hanya memiliki 1 perpustakaan. Seharusnya dengan memiliki 2 perpustakaan, seharusnya capaian jumlah pengunjung perpustakaan per tahun harus melebihi atau mencapai dua kali lipat dari capaian Hal ini menunjukkan bahwa strategi promosi yang dilakukan oleh perpustakaan daerah masih sangat minim, sehingga Pemerintah Kabupaten Banyuwangi perlu meningkatkan kinerjanya dalam memberikan pelayanan yang baik di perpustakaan dan lebih aktif lagi melakukan promosi terhadap keberadaan perpustakaan. Sedangkan ditinjau dari koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah meskipun pada tahun 2014 telah mengalami peningkatan daripada tahun sebelumnya, yakni sebanyak koleksi buku yang tersedia di perpustakaan daerah tetapi pada tahun 2015 diproyeksikan jumlah koleksi buku akan berkurang menjadi buku. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pengelolaan perpustakaan dalam hal pengadaan dan perawatan koleksi buku perlu ditingkatkan kembali. Sehingga koleksi buku yang ada dapat tetap terawat dan ter-update. Apabila buku-buku koleksi tersebut dapat terawat dengan baik dan ter-update hal ini juga dapat meningkatkan pula jumlah pengunjung perpustakaan per tahun Fokus Layanan Urusan Pilihan Fokus layanan pada urusan pilihan Kabupaten Banyuwangi, terdiri dari delapan urusan antara lain urusan pertanian, kehutanan, energi dan sumber daya mineral, pariwisata, kelautan dan perikanan, perdagangan, perindustrian, dan ketransmigrasian Pertanian Urusan Pertanian menjadi urusan pertama yang akan dipaparkan, dimana urusan ini mengemban sasaran meningkatnya daya saing daerah dan kemandirian ekonomi berbasis pertanian.indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja dalam urusan pertanian diantaranya:(1) produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar; (2) Kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB; (3) Kontribusi sektor perkebunan (tanaman keras) terhadap PDRB; (4) Kontribusi Produksi kelompok petani terhadap PDRB; dan (5) Cakupan bina kelompok petani. 69

70 Tabel 2. 37: RealisasiIndikator Urusan Pertanian Tahun Sektor Produktivitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar (%) Kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB (%) Kontribusi sektor perkebunan (tanaman keras) terhadap PDRB (%) Kontribusi Produksi kelompok petani terhadap PDRB (%) Cakupan bina kelompok petani (%) n/a n/a n/a n/a Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 Secara umum, indikator sasaran dalam urusan pertanian telah mengalami peningkatan pada setiap tahunnya.pada indikator produktifitas padi atau bahan pangan utama lokal lainnya per hektar mengalami penurunan di tahun 2014 yakni 65,06% bila dibandingkan tahun 2013 yakni 65,87%. Meskipun penurunan tersebut tidak terlalu signifikan, dan tahun-tahun sebelumnya juga selalu mengalami peningkatan. Sedangkan capaian indikator kontribusi sektor pertanian/perkebunan terhadap PDRB mengalami peningkatan kembali di tahun 2014, setelah mengalami penurunan di tahun 2013, dimana pada tahun 2014 mencapai 49,37% dari 45,52% di tahun Begitu juga dengan capaian indikator kontribusi sektor perkebunan (tanaman keras) terhadap PDRB kembali mengalami peningkatan di tahun 2014, setelah mengalami penurunan di tahun 2012, dan peningkatan yang kurang signifikan di tahun 2013, dimana pada tahun 2014 mencapai 9,15% dari 7,73% di tahun 2012 dan 7,85% di tahun Disisi lain peningkatan tren pada setiap tahunnya terjadi pada capaian indikator kontribusi produk kelompok petani terhadap PDRB dan indikator cakupan bina kelompok petani. Pada capaian indikator kontribusi produksi kelompok petani terhadap PDRB di tahun 2014 mencapai 4,2% dari 4,18% di tahun Sedangkan capaian indikator cakupan bina kelompok petani di tahun 2014 mencapai 27,15% dari 26,99% di tahun Kehutanan Kehutanan Hutan merupakan sumber kehidupan, yang perlu dilestarikan. Untuk itu, guna mengetahui optimalisasi kinerja Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam urusan kehutanan, dapat diketahui melalui pencapaian indikator berikut, yakni: (1) rehabilitasi hutan dan lahan kritis; (2) kerusakan kawasan hutan; dan (3) kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB. 70

71 Tabel 2. 38: Realisasi Indikator Urusan Kehutanan Tahun Indikator * Rehabilitasi hutan dan lahan kritis (%) Kerusakan Kawasan Hutan (%) Kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB (%) Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 Dalam perkembangannya, rehabilitasi hutan dan lahan kritis di Kabupaten Banyuwangi mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini sebagai bentuk upaya agar hutan tetap optimal fungsinya, yang dilakukan dengan berbagai kegiatan seperti bantuan bibit tanaman penghijauan, khususnya ditanam pada lahan kritis yang terdapat di seluruh wilayah Kabupaten Banyuwangi. Atas segala upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam meningkatkan upaya rehabilitasi hutan dan lahan kritas, sehingga pada setiap tahunnya mengalami peningkatan, hingga di tahun 2014 menjadi 1,6%. Peningkatan upaya rehabilitasi hutan dan lahan kritis yang dilakukan Pemerintah Banyuwangi pada setiap tahunnya tersebut juga disebabkan kerusakan kawasan hutan di Kabupaten Banyuwangi mengalami peningkatan di tahun 2013 yakni 0,05%, namun berhasil diturunkan pada tahun 2014 yakni 0,04%, meskipun capaian pada tahun 2014 tersebut masih dalam kondisi yang sama pada tahun Sedangkan capaian indikator kontribusi sektor kehutanan terhadap PDRB mengalami kondisi yang fluktuatif, dimana pada tahuan selalu mengalami peningkatan dari 1,06% (tahun 2009) menjadi 1,635 (ditahun 2012), kemudian mengalami penurunan menjadi 1,52% (tahun 2012), dan mengalami peningkatan kembali di tahun 2013 menjadi 1,59% dan mengalami penurunan kembali di tahun 2014 menjadi 1,53% Energi dan Sumber Daya Mineral Penyelenggaraan urusan energi dan sumber daya mineral bersinergi dengan pelaksanaan kebijakan daerah dibidang penanaman modal/investasi sebagaimana tertuang dalam RPJMD Kabupaten Banyuwangi tahun Untuk mencapai sasaran ini salah satunya digunakan indikator kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB. Tabel 2. 39: Realisasi Indikator Urusan Energi dan Sumberdaya Mineral Tahun Indikator Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB Sumber : LAKIP Kabupaten Banyuwangi,

72 Indikator kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB setiap tahun mengalami fluktuasi. Namun secara garis besar dari tahun kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB di Kabupaten Banyuwangi menunjukkan kinerja yang stabil atau stagnan. Sebab capaian indikator kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB pada tahun 2014 sama dengan capaian pada tahun 2010, yakni 4,04%. Hal ini menandakan bahwa terjadi kemunduran kinerja Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam Penyelenggaraan urusan energi dan sumber daya mineral. Meskipun pada tahun menjadi sebuah prestasi bagi Pemerintah Banyuwangi dalam penyelenggaraan urusan energi dan sumber daya mineral yang telah melebihi target yang telah ditentukan pada tahun 2013, sehingga sektor pertambangan di Kabupaten Banyuwangi masih dapat diperhitungkan kontribusinya terhadap PDRB Kabupaten Banyuwangi Pariwisata Penyelenggaran urusan pariwisata memiliki sasaran meningkatnya pemanfaatan potensi pariwisata seperti Kawah Ijen, Pantai Plengkung, Sukamade dan lainnya. Keberhasilan penyelenggaraan urusan ini diukur dari beberapa indikator, diantaranya:(1) kunjungan wisata Domestik; (2)kunjungan wisata Mancanegara; dan (3) kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB. Tabel 2. 40: RealisasiIndikator Urusan Pariwisata Tahun Indikator *2016 Kunjungan wisata 649, ,968 1,312,092 1,554,500 1,955,308 2, , Domestik (orang) Kunjungan wisata Mancanegara 16,890 42,938 50,783 60,706 78,483 91, (orang) Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB (%) Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 Secara umum capaian indikator dalam penyelenggaraan urusan pariwisatapada tahun menunjukkan tren yang positif. Peningkatan kunjungan wisata domestik yang sangat pesat mulai terjadi pada tahun 2012, dimana capaiannya lebih dari 3 kali lipat dibandingkan dengan tahun 2011, yakni mencapai orang di tahun Jumlah tersebut kemudian semakin meningkat hingga di tahun 2014 mencapai orang kunjungan wisata domestik. Sama halnya dengan kunjungan wisata domestik, kunjungan wisata mancanegara juga mengalami peningkatan pada setiap tahun, dengan peningkatan tertinggi pada tahun 2011, yakni mencapai orang, dan terus meningkat sampai tahun 2014 hingga mencapai orang kunjungan wisata mancanegara. Sedangkan capaian indikator kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB, sempat mengalami penurunan pada tahun

73 2011, yakni dari 4,39% di tahun 2009 menjadi 0,11% di tahun Namun berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi guna meningkatkan kembali kontribusi sector pariwisata terhadap PDRB. Upaya tersebut berbuah hasil yang baik, dimana pada tahun 2012 berhasil ditingkatkan sebesar 4,16% dibandingkan dengan tahun 2011, yakni 4,27% di tahun Namun sangat disayangkan capaian tersebut kembali menurun di tahun 2013, sehingga capaian indikator kontribusi sektor pariwisata terhadap PDRB hanya mencapai 4,07% begitu juga dengan capaian 2014 masih tetap sama dengan tahun Kelautan dan Perikanan Penyelenggaraan urusan Kelautan dan Perikanan memiliki sasaran Meningkatnya daya saing daerah dan kemandirianekonomi berbasis pertanian. Untuk mengukur capaian dari urusan kelautan dan perikanan tersebut digunakan beberapa indikator diantaranya: (1) produksi perikanan; (2) konsumsi ikan; (3) cakupan bina kelompok nelayan; (4) jumlah nelayan yang dapat bantuan pemda; dan (5) produksi perikanan kelompok nelayan. Tabel 2. 41: Realisasi Indikator Urusan Kelautan dan Perikanan Tahun Indikator Produksi perikanan 57,877 41,773 66,340 (ton) Konsumsi ikan (%) Cakupan bina kelompok nelayan (kel) Jumlah nelayan yang dapat bantuan Pemda (nelayan) Produksi perikanan kelompok nelayan (ton) Sumber: LKPJ Akhir Tahun kab. Banyuwangi ,418 84, n/a n/a n/a Capaian atau realisasi indikator kelautan dan perikanan secara umum mengalami peningkatan. Begitu pula dengan capaian kinerja dari masingmasing indikatornya yang telah mencapai bahkan melebihi target yang telah ditentukan. Pada tahun 2013 produksi perikanan Kabupaten Banyuwangi mencapai ton meningkat di tahun 2014 sampai ton. Capaian indikator konsumsi ikan mengalami peningkatan dari 29,97% ditahun 2013 menjadi 30,1% ditahun Capaian indikator cakupan bina kelompok di tahun 2014 juga meningkat menjadi 85 kelompok. Begitu juga dengan capaian indikator jumlah nelayan yang dapat bantuan Pemda meningkat menjadi 18 nelayan di tahun Selain itu, capaian 73

74 indikator produksi perikanan kelompok nelayan juga mengalami peningkatan menjadi 338,23 ton di tahun 2014 dari 337,9 ton di tahun Perdagangan Capaian penyelenggaran urusan perdagangan dapat diukur dengan beberapa indikator diantaranya: (1)kontribusi sektor Perdagangan terhadap PDRB; (2) Ekspor Bersih Perdagangan; dan (3) Cakupan bina kelompok pedagang/usaha informal. Indikator tersebut tidak lain merupakan ukuran untuk mengetahui capaian sasaran dalam Meningkatkan industri olahan dan kreatif berbasis pertanian. Tabel 2. 42: Realisasi Indikator Urusan Perdagangan Tahun Indikator *2015 Kontribusi sektor Perdagangan terhadap PDRB Ekspor Bersih 13,840,650 15,501,529 18,197,011 70,134,127 36,302,775 41,263,755 Perdagangan Cakupan bina kelompok pedagang/usaha informal Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 Kontribusi sektor perdagangan di Kabupaten Banyuwangi pada setiap tahun mengalami penurunan bila dibandingkakan dengan capai tahun 2012, yakni 27,43% di tahun 2012, menurun menjadi 27,41% di tahun 2013, dan kembali menurun menjadi 23,83% di tahun Begitu pula dengan capaian indikator ekspor bersih perdagangan yang juga mengalami penurunan di tahun 2014 yakni bila dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai Sedangkan capaian indikator cakupan bina kelompok pedagang/usaha informal selalu mengalami peningkatan dari tahun , dimana pada tahun 2014 telah mencapai 33 kelompok Perindustrian Penyelenggaraan, pembangunan dan peningkatan sektor industri di Kabupaten Banyuwangi selama tahun cenderung menunjukkan kinerja yang fluktuatif. Hal ini disebabkan situasi perekonomian yang kurang mendukung dan minim terwujudnya iklim usaha yang kondusif. Perkembangan kinerja sektor industri dapat dilihat dari indikator berikut: (1) kontribusi sektor industri terhadap PDRB; (2) kontribusi industri rumah tangga terhadap PDRB; (3) pertumbuhan industri; dan (4) cakupan bina kelompok pengrajin n/a n/a n/a

75 Tabel 2. 43: Realisasi Indikator Urusan Perindustrian Tahun Indikator Kontribusi sektor Industri terhadap PDRB Kontribusi industry rumah tangga terhadap PDRB sektor Industri Pertumbuhan Industri Cakupan bina kelompok pengrajin Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi, 2016 Capaian indikator kontribusi sektor industri terhadap PDRB di tahun 2014 mengalami penurunan dibandingkan pada capaiannya di tahun 2013 dan 2012, yakni dari 6,16% di tahun 2012, menurun menjdai 6,01% di tahun 2013 dan kembali menurun mencapai 5,7% di tahun 2014.Sedangkan capaian indikator kontribusi industri rumah tangga terhadap PDRB sektor Industri di tahun 2014 mengalami peningkatan bila dibandingkan tahun 2013, yakni sebesar 10,75% (tahun 2014) dari 8,36% (tahun 2013). Capaian fluktuatif juga ditunjukkan pada indikator pertumbuhan industri di Kabupaten Banyuwangi, dimana pada tahun 2012 mengalami peningkatan 6,52% dari 4,87% di tahun 2011, yang kemudian mengalami penurunan di tahun 2013 mencapai 4,83% dan kembali mengalami penurunan di tahun 2014 hingga mencapai 4,03%. Sedangkan cakupan bina kelompok pengrajin pada tahun selalu mengalami peningkatan, yakni mencapai 35 cakupan bina kelompok pengrajin di tahun Ketransmigrasian Penyelenggaraan urusan ketransmigrasian di Kabupaten Banyuwangi bertujuan untuk mengurangi jumlah pengangguran melalui program transmigrasi. Program transmigrasi yang dijalankan berupa transmigran swakarsa (trans. umum, TSM,& TU). Tabel 2. 44: Realisasi Indikator Urusan Ketransmigrasian Tahun Indikator *2015 Transmigran swakarsa (trans.umum, TSM, &TU) Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi,

76 Capaian indikator transmigrasi swakarsa (transmigrasi umum, TSM dan TU) di tahun 2014 sebesar 63,01%. Capaian pada tahun 2014 ini mengalami penurunan karena di tahun 2013 yang telah mencapai 64,17%. Meskipundemikian Capaian ini termasuk katagori baik karena dalam mencapai tujuan penyelenggaraan urusan ketransmigrasian untuk mengurangi jumlah pengangguran di Kabupaten Banyuwangi Aspek Daya Saing Daerah Daya saing daerah adalah kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan dengan daerah lainnya, baik yang berdekatan, domestik ataupun internasional. Daya saing daerah merupakan salah satu aspek tujuan penyelenggaraan otonomi daerah sesuai dengan potensi, kekhasan, dan keunggulan daerah. Aspek daya saing daerah terdiri dari kemampuan ekonomi daerah, iklim berinvestasi, sumber daya manusia, dan fasilitas wilayah atau infrastruktur. Suatu daya saing (competitiveness) merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan pembangunan ekonomi yang berhubungan dengan tujuan pembangunan daerah dalam mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan. Indikator yang digunakan untuk mengetahui aspek daya saing daerah terdiri dari: Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Fokus Kemampuan Ekonomi Daerah Fokus kemampuan ekonomi daerah dapat dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Banyuwangi. Pada tahun

77 Kabupaten Banyuwangi pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan yang sangat signifikan, yakni sebesar 7,31 persen (%). Pertumbuhan perekonomian yang signifikan akan meningkatkan daya tarik bagi investor untuk menanamkan saham, khususnya pada sektor Pertanian, Perdagangan, Hotel dan Restoran, demikian juga terhadap sektor lain mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pertumbuhan perekonomian di Kabupaten Banyuwangi dapat ditunjukkan oleh peningkatan Produk Domestik Regional Bruto Angka Dasar Harga Konstan (PDRB ADHK). Secara rinci dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 2. 45: PDRB ADHK Kabupaten Banyuwangi Tahun Jenis Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Pengadaan Listrik dan Gas Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil Transportasi dan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Informasi dan Komunikasi Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estate Jasa Perusahaan Adm. Pemerintah, Pertahanan&Jaminan Sosial Wajib Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa lainnya 2015* 2016** 12, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , Sumber: BPS Kabupaten Banyuwangi,

78 Berdasarkan tabel diatas dapat dijelaskan bahwa sumbangan dari berbagai sektor pada PDRB menunjukkan stabilitas ekonomi di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2013 mengalami peningkatan. Peningkatan PDRB ini disebabkan oleh peningkatan konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, investasi, dan perdagangan antar daerah. Sektor penopang dominan dari pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi di tahun 2015 adalah sektor pertanian sebesar 33,59% dan sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil sebesar 14,38%, sektor industry pengolahan 11,53%, sector konstruksi 11,20%. Sedangkan sector lain seperti pertambangan dan penggalian 8,29%, informasi dan komunikasi 5,1%, jasa pendidikan 3,22% dan sector lainnya sebesar 12,7%. Pada sektor pertanian terjadi peningkatan dari tahun 2014 menuju ke tahun 2015 sebesar 4,7%. Sektor pertanian menyumbang pada PDRB sebesar ,3 milyar pada tahun Kemudian, sektor pertambangan dan penggalian mengalami peningkatan dari tahun 2014 menuju ke tahun 2015 sebesar 4,99 %. Sektor pertambangan dan penggalian menyumbang pada PDRB sebesar 3.885,6 milyar. Pada sektor industri pengolahan mengalami peningkatan dari tahun 2013 ke tahun 2014 sebesar 6,91 %. Sektor industri pengolahan menyumbang pada PDRB sebesar 5.133,7 milyar pada tahun Kemudian, sektor listrik, gas, dan air minum mengalami peningkatan dari tahun 2014 ke tahun 2015 sebesar 6,68 %. Sektor listrik, gas, dan air minum menyumbang pada PDRB sebesar 25,10 milyar. Selain itu, sektor kontruksi mengalami penurunan dari tahun 2014 ke tahun 2015 dari 7,3% menjadi 6,2% kemudian naik di tahun 2016 sebesar 7,51%. Sektor industri pengolahan menyumbang pada PDRB sebesar 5.425,6 milyar. Pertumbuhan sektor akomodasi dan makan minum mengalami peningkatan dari tahun 2014 ke tahun 2015 menjadi sebesar 11,07% dan turun pada tahun 2016 menjadi 9,5%. Kemudian, sektor transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan dari tahun 2014 ke tahun 2015 menjadi sebesar 7,61%. Sektor informasi dan komunikasi menyumbang pada PDRB sebesar 2.269,4 milyar tahun Sektor jasa keuangan dan asuransi menyumbang pada PDRB sebesar 793,3 milyar. Kemudian, sektor jasa-jasa mengalami pertumbuhan dari tahun 2015 ke tahun 2016 menjadi 9,02%. Sektor industri pengolahan menyumbang pada PDRB sebesar 5.425,6 milyar. Peningkatan terjadi pada pertumbuhan perekonomian di Kabupaten Banyuwangi dari tahun ke tahun seperti dijelaskan pada gambar di bawah ini: Tahun 2014 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi mengalami penurunan dari tahun sebelumnya menjadi 5,7%. Kemudian pada tahun 2015 mengalami peningkatan sebesar 6,01 %. Pada tahun 2016 juga mengalami peningkatan menjadi 6,45 % Iklim Investasi Iklim investasi di dukung oleh berbagai macam pajak dan retribusi daerah. a. Kemudahan Perijinan Pembentukan daya saing investasi, berlangsung secara terusmenerus dari waktu ke waktu dan dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah kemudahan perijinan. Kemudahan perijinan adalah proses pengurusan perijinan yang terkait dengan persoalan investasi relatif sangat mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama. 78

79 Tabel 2. 46: Proses Perijinan Kabupaten Banyuwangi Tahun Uraian Lama proses perijinan (%) Penyelesaian ijin lokasi (%) Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi 2016 Pada dasarnya proses perijinan di Kabupaten Banyuwangi secara umum mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam memberikan perhatian terhadap proses perijinan sudah semakin menunjukkan kinerja yang baik. Apabila ditinjau dari capaian indikator lama proses perijinan pada tahun , telah menunjukkan peningkatan capain, meskipun pada tahun 2013 sempat mengalami penurunana dibandingkan tahun 2012, namun di tahun 2014 sudah kembali menunjukkan peningkatan kinerjanya dalam memberikan pelayanan perijinan, yakni mencapai 93,5% di tahun 2014 meningkat dari 90% ditahun 2013, yang sempat mengalami penurunan dibandingkan tahun 2012 yang mencapai 91,67%. Begitu juga dengan capaian indikator penyelesaian ijin lokasi yang secara umum juga menunjukan kinerja yang baik, meskipun pada tahun 2014 sempat mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 98,15% dari 98,87 di tahun sebelumnya. Meskipun demikian, capaian di tahun 2014 tersebut telah mampu mencapai target RPJMD yakni 97,40%. Pengenaan Pajak Daerah (Jumlah dan Macam Pajak dan Retribusi Daerah) Jumlah dan macam pajak daerah dan retribusi daerah diukur dengan jumlah dan macam insentif pajak dan retribusi daerah yang mendukung iklim investasi. Pajak daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh pribadi atau badan (dalam hal ini perusahaan) kepada Daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang berdasarkan perundang-undangan yang berlaku, digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah (sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku). Retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dandiberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan (dalam hal ini perusahaan). Tabel 2. 47: Pajak dan Retribusi Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun Indikator Jenis Pajak Daerah Jenis Retribusi Daerah Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi 2016 Jenis pajak daerah pada tahun tidak mengalami peningkatan. Artinya, pengenaan pajak daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi masih 79

80 belum mengalami perkembangan hingga di tahun 2014, yakni sebanyak 11 jenis pajak daerah. Sedangkan jenis retribusi daerah yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menunjukkan kondisi yang fluktuatif selama tahun ini. Dimana pada tahun jenis retribusi daerah berjumlah 36 jenis, dan mengalami penurunan di tahun 2013 menjadi 26 jenis dan kembali meningkat di tahun 2014 menjadi 30 jenis. Perkembangan daerah tidak lepas dari peranan investasi yang masuk ke daerah. Keberadaan investasi juga mampu untuk menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sehingga membantu dalam upaya penanggulangan penganggurangan daerah. Investasi yang masuk di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2016 terbesar berasal dari investasi PMDN dengan total nilai investasi yang masuk sebesar Rp 2,2 Trilyun dan mampu menyerap tenaga kerja sebanyak orang. Untuk penanaman modal asing nilai investasi yang masuk sebesar Rp 27 Milyar dengan realisasi tenaga sebanyak 558 orang berikut merupakan sajian data realisasi investasi dan tenaga kerja di Kabupaten Banyuwangi Tahun Tabel 2. 48: Tabel data realisasi Investasi dan Tenaga Kerja di Kabupaten Banyuwangi Jumlah Realisasi Serapan tenaga No. Jenis Investasi Realisasi invesasi (Rp) izin kerja (orang) 1. PMA , PMDN , Investasi Non , Fasilias Jumlah Investasi , Keterangan: Rasio 1 Tenaga Kerja = 50 Juta Sumber: Data Investasi BPPT Kab. Banyuwangi dalam LKPJ Akhir Tahun Kab. Banyuwangi, Sumber Daya Manusia Sumber daya manusia adalah modal dan kekayaan yang penting dari setiap kegiatan manusia agar kemampuan yang dimiliki dapat dikembangkan dan dimanfaatkan dengan baik. Sumber daya manusia menyangkut dimensi jumlah karakteristik (kualitas) dan persebaran penduduk. Maka, pengembangan sumber daya manusia perlu dilakukan sebagai upaya untuk pengembangan aktivitas dalam bidang pendidikan dan latihan, kesehatan, gizi, penurunan fertilitas, peningkatan kemampuan penelitian dan pengembangan teknologi. Peningkatan untuk kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi kunci keberhasilan pembangunan nasional dan daerah. Pengembangan kualitas sumberdaya manusia dapat meningkatkan daya saing daerah dan perkembangan investasi di daerah. Indokator dari kualitas sumber daya manusia dalam rangka peningkatana daya saing daerah dapat dianalisis dengan melihat kualitas tenaga kerja dan tingkat ketergantungan penduduk untuk melihat beban ketergantungan penduduk Kualitas Tenaga Kerja (Rasio Lulusan S1/S2/S3) Pembangunan daerah adalah menyangkut kualitas sumber daya manusia (SDM). Kualitas sumber daya manusian (SDM) berhubungan dengan kualitas tenaga kerja yang tersedia 80

81 untuk mengisi kesempatan kerja di dalam negeri maupun luar negeri. Kualitas sumber daya manusia di suatu wilayah sangat ditentukan oleh tingkat pendidikan. Artinya semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditamatkan penduduk suatu wilayah maka semakin baik kualitas tenaga kerjanya. Kualitas tenaga kerja pada suatu daerah dapat dilihat dari tingkat pendidikan penduduk yang telah menyelesaikan S1, S2, dan S3. Tabel 2. 49: Rasio Penduduk Berijazah Universitas Per Penduduk Kabupaten Banyuwangi Tahun Uraian Jumlah penduduk lulusan S1/S2/S3 Satuan 2012 Jiwa 25,229 (ribu) Jiwa Jumlah Penduduk 1,577,823 (ribu) Sumber: LKPJ Banyuwangi ,835 1,627, , , ,981 1,654,175 1,692,351 1,684,985 Apabila di amatai dari jumlah penduduk lulusan S1/S2/S3 di Kabupaten Banyuwangi pada tahun selalu mengalami peningkatan, yakni jiwa di tahun 2012, meningkat menjadi di tahun 2013, dan kembali meningkat menjadi di tahun Peneingkatan jumlah penduduk lulusan S1/S2/S3 di Kabupaten Banyuwangi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Kabupaten Banyuwangi mulai memiliki minat untuk meneruskan penidikan ke jenjang perguruan tinggi. Meskipun apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk pada tahun 2014, namun pada tahun 2016 semangat untuk mendapatkan jenjang pendidikan Sarjana, Magister maupun Doktor mulai mengalami penyusutan. Hal ini terlihat di tahun 2016 jumlah S1/S2/S3 hanya mencapai orang atau setidaknya hanya mewakili 2,6% saja dari total seluruh penduduk Kab. Banyuwangi sebanyak penduduk Tingkat Ketergantungan Tingkat ketergantungan (rasio ketergantungan) digunakan untuk mengukur besarnya beban yang harus ditanggung oleh setiap penduduk berusia produktif terhadap penduduk yang tidak produktif. Penduduk muda berusia dibawah 15 tahun umumnya dianggap sebagai penduduk yang belum produktif karena secara ekonomis masih tergantung pada orang tua atau orang lain yang menanggungnya. Selain itu, penduduk berusia diatas 65 tahun juga dianggap tidak produktif lagi sesudah melewati masa pensiun. Penduduk usia tahun, adalah penduduk usia kerja yang dianggap sudah produktif. Dengan konsep ini maka dapat digambarkan jumlah penduduk yang memiliki ketergantungan pada penduduk usia produktif. Konsep ini juga memberikan gambaran ekonomis penduduk dari sisi demografi. Rasio ketergantungan (dependency ratio) digunakan sebagai indikator yang secara kasar dapat menunjukkan keadaan ekonomi suatu negara apakah tergolong negara maju atau negara yang sedang berkembang. Rasio ketergantungan menjelaskan bahwa semakin tingginya persentase 81

82 dependency ratio menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Tabel 2. 50: Rasio Ketergantungan Kabupaten Banyuwangi Tahun Uraian Satuan Jumlah penduduk < 15 Jiwa thn dan >64 tahun (ribu) Jumlah Penduduk Usia Jiwa tahun (ribu) Rasio ketergantungan % Sumber: LPKJ Akhir Tahun Kab. Banyuwangi Tahun * Pada tabel di atas menunjukkan bahwa Rasio ketergantungan di Kabupaten Banyuwangi pada tahun telah menunjukkan perkembangan yang baik, dimana pada setiap tahunnya telah mengalami penurunan, yakni dari 0,434 di tahun 2012 menurun menjadi 0,411 di tahun 2013 dan kembali mengalami penurunan di tahun 2014 pada capaian 0,406. Hal ini menunjukkan, bahwa beban yang di tangguang oleh penduduk produktif atas penduduk yang tidak produktif semakin berkurang. Meskipun memang pada setiap tahunnya penduduk dengan usia tidak produktif (<15 tahun dan >64 tahun) selalu mengalami peningkatan, namun peningkatan tersebut tidak sebanding dengan peningkatan jumlah penduduk yang memiliki usia produktif. Pada tahun 2014, capaian jumlah penduduk tidak produktif hanya jiwa, sedangkan capaian jumlah penduduk produktif sebesar jiwa, sehingga rasio ketergantungan pada tahun 2014 hanya sebesar 0,406. Degan demikian, dapat disimpulkan bahwa semakin rendahnya persentase rasio ketergantungan pada tahun 2014 menunjukkan semakin rendahnya beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Pada tahun 2016 angka ketergantungan meningkat dari tahun 2015 yaitu sebesar 0.406, lebih besar dari tahun 2015 lalu meskipun angka tersebut lebih besar dari tahun sebelumnya namun angka ketergantunan di Kabupaten Banyuwangi diproyeksikan akan terus menurun seiring dengan banyaknya lapangan kerja dan pembukaan investasi baik dalam negeri maupun luar negeri Infrastruktur Analisis kinerja infrastruktur dilakukan terhadap beberapa indikator meliputi rasio panjang jalan per jumlah kendaraan, jumlah orang/barang yang terangkut angkutan umum, jumlah orang/barang melalui dermaga/bandara/terminal pertahun, ketaatan terhadap RTRW, luas wilayah produktif, luas wilayah industri, luas wilayah kebanjiran, luas wilayah kekeringan, luas wilayah perkotaan, jenis dan jumlah bank dan cabang, jenis dan jumlah perusahaan 82

83 asuransi dan cabang, jenis, kelas, dan jumlah restoran, jenis, kelas, dan jumlah penginapan/hotel, persentase rumah tangga (RT) yang menggunakan air bersih, rasio ketersediaan daya listrik, persentase rumah tangga yang menggunakan listrik, dan persentase penduduk yang menggunakan HP/telepon. Infrastruktur yang tersedia dapat menunjang daya saing daerah untuk mendukung aktivitas ekonomi pada berbagai sektor di daerah dan antarwilayah Aksesibilitas Daerah Untuk mengetahui tingkat aksesibilitas daerah dapat dihitung dengan beberapa indikator sebagai berikut: a. Jumlah Orang/Barang yang Terangkut Angkutan Umum Jumlah arus penumpang angkutan umum pada tahun selalu mengalami peningkatan, yakni penumpang di tahun 2011, meningkat menjadi penumpang di tahun 2012, kembali mengalami peningkatan di tahun 2013 menjadi penumpang. Namun pada tahun 2014 mengalami penurunan menjadi penumpang. Penurunan jumlah arus penumpang angkuta umum di tahun 2014 ini dikarenakan animo masyarakat untuk menggunakan angkutan umum dalam aktivitasnya semakin berkurang, masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Sehingga di butuhkan upaya perbaikan kendaraan dan promosi terhadap angkutan umum agar masyarakat kembali menggunakan angkutan umum semaga moda transportasi utama. Tabel 2. 51: Jumlah Arus Penumpang Terangkut Angkutan Umum (dalam 1 Tahun) Kabupaten Banyuwangi Tahun Uraian *2015 Jumlah arus penumpang 10,880,597 13,810,777 14,646,430 11,824,369 12,138,960 Angkutan Umum Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi n/a Jumlah pelabuhan laut/udara/terminal bus Per Tahun Jumlah pelabuhan laut/udara/terminal bus pada tahun masih tetap sama, yakni 2 Pelabuhan Laut, 1 bandara dan 8 terminal bus. Hal ini menunjukkan bahwa masih belum ada penambahan kuantitaspelabuhan laut/udara dan terminal bus. Fohus Pemerintah Kabupaten Banyuwangi saat ini adalah lebih pada perawatan sarana dan prasarana pelabuhan laut/udara/terminal bus dengan mengoptimalkan pemanfaatannya untuk memfasilitasi masyarakat uang menggunakan moda transportasi umum. 83

84 Tabel 2. 52: Jumlah Pelabuhan Laut/Udara/Terminal Bus Kabupaten Banyuwangi Tahun Uraian Jumlah Pelabuhan Laut * Jumlah Pelabuhan Udara 1 Jumlah Terminal Bus 8 Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi Penataan Wilayah Ketaatan Terhadap Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Ketaatan terhadap RTRW merupakan kesesuaian implementasi tataruang hasil perencanaan tata ruang berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional dengan peruntukan yang direncanakan sesuai dengan RTRW. Selama dua tahun terakhir, persentase ketaatan terhadap RTRW di Kabuapeten Banyuwangi dalam kondisi baik. Ketaatan ini salah satunya ditunjukkan dengan rasio bangunan ber-imb pada tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Selain itu, kondisi tersebut menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Sehingga kondisi ketaatan terhadap RTRW dapat diaktegorikan dalam kondisi yang baik dari tahun Tabel 2. 53: Rasio Ketaatan Terhadap RTRW Kabupaten Banyuwangi Tahun Uraian Satuan Ketaatan terhadap Kondisi Baik Baik RTRW Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi * Baik Baik Baik n/a Luas Wilayah Produktif Luas wilayah produktif adalah persentase realisasi luas wilayah produktif terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW. Luas wilayah produktif di Kabupaten Banyuwangi tahun 2014 mengalami penurunan dibandingkan pencapaian pada tahun 2013, yakni 50,70% di tahun 2014 mengalami penurunan dari 52,45 di tahun Tabel 2. 54: Persentase Luas Wilayah Produktif Kabupaten Banyuwangi Tahun Uraian Satuan Luas wilayah produktif % Sumber: LKPJ Akhir Tahun Kab. Banyuwangi tahun

85 Apabila ditinjau dari tabel diatas, menunjukkan bahwa penurunan luas wilayah produktif yang sangat signifikan terjadi pada tahun 2013, yakni dari 83,85% di tahun 2012 menjadi 52,45% di tahun Hal ini mengindikasikan bahwa pada setiap tahunnya luas wilayah produktif di Kabupaten Banyuwangi semakin mengalami penyempitan dan terjadi alih fungsi lahan. c. Luas Wilayah Industri Luas wilayah industri adalah persentase realisasi luas kawasan Industri terhadap luas rencana kawasan budidaya sesuai dengan RTRW. Luas wilayah industri selalu menunukkan perluasan wilayah dari tahun , yakni dari 2,2% di tahun 2011 meningkat menjadi 2,50% di tahun Hal ini mengindikasikan bahwa keberadaaan industri di Kabupaten Banyuwangi semakin berkembang hingga tahun 2014 ini.meskipun pada tahun 2013 sempat mengalami penurunan luas wilayah industri menjadi 2,35%. Namun penurunan tersebut kembali mengalami peningkatan yang sangat drastis di tahun Namun intensifikasi lahan kembali digalakkan dengan semakin meningkatnya luasan lahan produktif pada tahun 2016 dimana angka lahan produktif mencapai 60.47% dari keseluruhan luas wilayah Kabupaten Banyuwangi. Tabel 2. 55: Persentase Luas Wilayah Industri Kabupaten Banyuwangi Tahun Uraian Satuan Luas wilayah industri % Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi 2016 Luas Wilayah Perkotaan Luas wilayah perkotaan adalah persentase realisasi luas wilayah perkotaan terhadap luas rencana wilayah budidaya sesuai dengan RTRW. Luas wilayah perkotaan, pada tiap tahunnya sejak tahun selalu mengalami peningkatan, yakni dari 9,6 di tahun 2011 meningkat menjadi 9,9% di tahun Peningkatan yang terjadi selama jangka waktu 4 tahun tersebut sebesar 0,3%. Dan menjadi 2.70 di tahun 2016 Tabel Persentase Luas Wilayah Perkotaan Kabupaten Banyuwangi Tahun Uraian Satuan *2016 Luas wilayah perkotaan % Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi Ketersediaan Air Bersih Air Bersih (clean Water) adalahair yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum setelah dimasak. Air Minum (drinking water) merupakan air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum (Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907 Tahun 2002). 85

86 Tabel 2. 57: Jumlah Rumah Tangga (RT) yang menggunakan air bersih Kabupaten Banyuwangi Tahun Uraian *2015 Luas wilayah perkotaan Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi 2016 Berdasarkan tabel diatas menunjukkan bahwa dari tahun 2011 sampai tahun 2014 jumlah rumah tangga pengguna air bersih selalu meningkat, meskipun sempat mengalami penurunan di tahun Hal ini dapat dilihat pada perkembangannya di tahun 2011, peningkatan rumah tangga pengguna air bersih mengalami peningkatan sebesar 3,25% dibandingkan dengan tahun 2010, yakni mencapai RT. Pada tahun 2012, peningkatannya lebih besar dibandingkan dengan tahun 2011, yaitu 22,57% sehingga capaiannya sebesar rumah tangga. Namun pada tahun 2013 terjadi penurun rumah tangga pengguna air bersih sebesar 6,6%, sehingga di tahun 2013 hanya terdapat RT yang menggunakan air bersih. Meskipun demikian, peningkatan jumlah rumah tangga pengguna air bersih sangat signifikan terjadi di tahun 2014, yakni mencapai RT. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk hidup sehat semakin meningkat dengan menggunakan air bersih dalam kehidupan sehari-harinya Fasilitas Listrik dan Telepon Persentase Rumah Tangga Yang Menggunakan Listrik Penyediaan tenaga listrik bertujuan untuk meningkatkan perekonomian serta memajukan kesejahteraan masyarakat. Indikator yang digunakan untuk melihat pencapaian sasaran pemerintah daerah tersebut adalah persentase rumah tangga yang menggunakan listrik. Jumlah rumah tangga yang menggunakan listrik di Kabupaten Banyuwangi adalah sebagai berikut: Tabel 2. 58: Jumlah Rumah Tangga yang Berlistrik Kabupaten Banyuwangi Tahun Uraian Presentase Rumah Tangga Berlistrik * n/a Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi 2016 Apabila mengacu pada capaian persentase rumah tangga berlistrik seperti pada tabel di atas menunjukkan peningkatan pada setiap tahunnya selama tahun Pada tahun 2012 persentase rumah tangga yang berlistrik mengalami peningkatan yang sangat drastis dibandingkan tahun-tahun berikutnya, yakni mencapai 71% di tahun 2012 dari yang sebelumnya hanya 49,85% di tahun Selain itu pada tahun 2013 juga mengalami peningkatan terhadap jumlah rumah tangga berlistrik sebesar 85,55% dan di tahun 2014 mencapai 86,19%. Peningkatan pencapaian persentase rumah tangga berlistrik di Kabupaten 86

87 Banyuwangi pada tahun menunjukkan bahwa kesejahteraan masyarakat Banyuwangi semakin meningkat. Namun Pemerintah Kabupaten Banyuwangi masih memiliki tugas wajib yaitu meningkatkan ketersediaan listrik di seluruh masyarakat Kabupaten Banyuwangi. Pencapaian sebesar 86,19% harus tetap dijadikan motivasi untuk mencapai 100% seluruh masyarakat mendapatkan listrik. Hal inilah yang nantinya menjadi sebuah modal para masyarakat untuk lebih dapat meningkatkan kesejahteraannya Ketersediaan Restoran Persentase jumlah restoran menurut jenis dan kelas) Ketersediaan restoran pada suatu daerah menunjukkan tingkat daya tarik investasi suatu daerah.banyaknya restoran dan rumah makan menunjukan perkembangan kegiatan ekonomi suatu daerah dan peluangpeluang yang ditimbulkannya.restoran adalah tempat menyantap makanan dan minuman yang disediakan dengan dipungut bayaran, tidak termasuk usaha jenis tataboga atau catering. Pada tahun 2012, jenis, kelas, dan jumlah restoran mengalami penurunan, akan tetapi capaian ini sesuai dengan target yang ditetapkan pada tahun Tabel 2. 59: Jenis, Kelas, dan Jumlah Restoran Kabupaten Banyuwangi Tahun Uraian Jenis, kelas dan jumlah restoran n/a Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi 2016 Walaupun pada tahun 2012 mengalami penurunan sebesar 7,8 % kemudian tahun 2013 mengalami peningkatan menjadi 90 jenis, kelas dan jumlah restoran. Peningkatan tersebut menunjukan tingkat daya tarik investasi pada Kabupaten Banyuwangi. Banyaknya restoran dan rumah makan menunjukan perkembangan kegiatan ekonomi suatu daerah dan peluangpeluang yang ditimbulkannya Ketersediaan Penginapan Ketersediaan penginapan/hotel merupakan salah satu aspek yang penting dalam meningkatkan daya saing daerah, terutama dalam menerima dan melayani jumlah kunjungan dari luar daerah.semakin berkembangnya investasi ekonomi daerah akan meningkatkan daya tarik kunjungan ke daerah tersebut. Dengan semakin banyaknya jumlah kunjungan orang dan wisatawan ke suatu daerah perlu didukung oleh ketersediaan penginapan/hotel. Namun pada tahun 2012, jumlah penginapan dan hotel di Kabupaten Banyuwangi mengalami penurunan, namun capaian ini masih sesuai dengan target yang ditetapkan pada tahun Tabel 2. 60: Jumlah Hotel dan Penginapan Tahun Kabupaten Banyuwangi Uraian Jumlah Hotel dan Penginapan Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi

88 Peningkatan pada ketersediaan penginapan/hotel dapat meningkatkan daya saing daerah, terutama dalam menerima dan melayani jumlah kunjungan dari luar daerah.semakin berkembangnya investasi ekonomi daerah akan meningkatkan daya tarik kunjungan ke daerah tersebut. 2.2 Capaian Kinerja Berdasarkan Indikator Kinerja Utama RPJMD Preview Capaian Kinerja Berdasarkan Indikator Kinerja Utama Penyusunan Rancangan Awal RKPD tahun 2018 Kabupaten Banyuwangi berupaya memperbaiki kinerja pembangunan dari tahun-tahun sebelumnya khusunya ditahun 2016 yang dievaluasi dan memberikan wacana pembangunan di tahun Titik tekan pembangunan tahunan selalu mendukung rencana dan program lima tahunan yang telah disusun dalam RPJMD guna membawa visi Banyuwangi sesuai dengan kepala daerah. Penyusunan IKU atau Indikator Kinerja Utama dibuat sebagai target-target dari indikator yang disepakati pemerintah kabupaten dengan pemangku kepentingan (stakeholder) untuk mencapai pembangunan. Target pencapaian ini adalah sebuah kunci kinerja yang akhirnya menjadi ukuran efektivitas dan efisiensi sebuah tata kelola pemerintahan sekaligus menggambarkan kinerja pemerintah daerah. Berikut merupakan Capaian kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi berdasarkan Indikator Kinerja Utama RPJMD : Tabel 2. 61: Tabel Target IKU Tahun Kondisi Realisasi Awal Jawa No. Uraian Skala Kerja Timur (2015) (2015) Target RPJM 1 IPM Skala Tahun Provinsi Realisasi 2 3 Tingkat Kemiskinan Pertumbuhan Ekonomi % 9.17 Target RPJM Provinsi Realisasi Target RPJM % Provinsi Realisasi Target RPJM Indeks Gini Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Skala Provinsi Realisasi Target RPJM % Skala Provinsi Realisasi Target RPJM Provinsi 88

89 No. Uraian Kondisi Realisasi Awal Jawa Skala Kerja Timur (2015) (2015) Indeks Pembangunan Gender 7 Indeks Lingkungan Hidup 8 Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Tahun Realisasi Target RPJM Skala Provinsi Realisasi Target RPJM % Provinsi Realisasi Sumber: RPJMD Kab Banyuwangi dan LKPJ Akhir tahun 2016 Berdasarkan rangkaian data diatas, merupakan 8 pokok Indikator Kinerja Utama dalam mendukung upaya pembangunan RPJMD Kab. Banyuwangi. Meskipun data pada kondisi kerja tahun 2016 belum merepresentasikan kinerja Pemerintahan Kabupaten Banyuwangi, proyeksi pembangunan dinilai positif dan selalu berupaya melakukan pembangunan. Beberapa Indikator Kinerja Utama belum mampu menyentuh angka batas Jawa Timur, ini merupakan koreksi besar bagi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sebagai langkah membenahi diri. Hal pokok yang selalu mengalami pergerakan dibawah angka Jawa Timur adalah Indeks Pembangunan manusia. Komponen dalam IPM itu sendiri mencakup 3 komponen yaitu, Angka Harapan Hidup, Indeks Pendidikan dan Indeks Paritas daya beli Masyarakat. Mengingat hal tersebut dilihat dari angka 5 tahun terakhir bahwa angka IPM Kabupaten Banyuwangi belum mampu mengungguli Provinsi Jawa Timur. Perlahan tapi pasti Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mulai memperbaiki sarana-sarana medis maupun hal administratif, pendidikan yang memadai, akses pendidikan maupun kesehatan yang sesuai dengan misi RPJMD yang pertama bahwa Mewujudan aksesibilitas dan kualitas pelayanan pendidikan, kesehatan dan kebutuhan dasar lainnya yang merujuk pada komponen-komponen IPM. Sebagaimana komponen Indeks Lingkungan hidup juga mempengaruhi kualitas hidup dan berimpact terhadap Angka Harapan Hidup. di tahun 2015 angka Indeks Lingkungan hidup Kabupaten Banyuwangi mencapai angka dan diakhir tahun 2021 angka tersebut diproyeksikan mencapai anga 69. Faktor Indeks lingkungan hidup sendiri termasuk, sanitasi yang memadai, konsumsi air bersih setiap warga, indeks pencemaran udara yang berimbas pada kesehatan serta daya dukung fasilitas kesehatan seperti banyaknya jumlah tempat sampah juga dapat mempengaruhi kualitas lingkungan Hidup. Dari hasl administratif Kabupaten Banyuwangi tentu saja memiliki SOP perijinan pembangunan kawasan industri, strategi KLHS serta analisi AMDAL yang berupaya menekan pencemaran lingkungan tak lain adalah meningkatkan daya dukung kesehatan dan Angka Harapan Hidup Bilamana IKU Indeks Pembangunan Manusia Kabupaten Banyuwangi selalu dibawah 89

90 Jawa Timur, berbanding terbalik dengan pertumbuhan ekonomi yang kini kian melesat di Kabupaten Banyuwangi. Komparasi terhadap angka Jawa Timur ternyata menunjukkan angka positf yang sangat signifikan pada Indikator pertumbuhan ekonomi, meskipun perekonomian nasional dan global bergerak secara fluktuatif namun perekonomian di Kabupaten Banyuwangi bergerak meningkat meskipun pada beberapa fase melesat naik maupun bergerak menurun. Pada Kondisi Awal Kinerja RPJMD baseling 2015 saja angka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi berselisih 0,75 positif dari Kabupaten Jawa Timur yang hanya 5,25. Tahun 2015 perekonomian nasional mengalami gejolak yang fluktuatif dan cenderung mengalami penurunan moral ekonomi yang diakibatkan kebijakan MEA yang secara nasional sedikit banyak merubah pergerakan ekonomi. Namun tahun 2015 perekonomian Kabupaten Banyuwangi relatif bertolak naik meskipun sempat mengalami penuruan tren di tahun sebelumnya yaitu tahun 2014 yang anjlok di angka 5,70. Zonasi WPP (Wilayah pengembangan Pariwisata) dan strategi Kawasan Cepat tumbuh merupakan kebijakan Strategis yang diambil Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk menghadapi persaingan MEA dan gerbang imigrasi global. Pembagian zonasi wilayah pengembangan pariwisata menjadi 3 bagian memfokuskan diri Kabupaten Banyuwangi pada konteks hospitality ataupun wisata. Dengan memanfaatkan sumber daya alam seperti kawah Ijen, budaya lokal seperti Tari Gandrung dan wisata adventure Alas Purwo menjadikan Banyuwangi sebagai salah satu destinasi wajib kunjung wisatawan Domestik maupun mancanegara yang secara nasional memberikan image branding wisata dan secara langsung memberikan cadangan visa bagi negara. Demikian pola perputaran keuangan lokal juga meningkat dimana masyarkat lokal disekitar obyek bisata mendapatkan penghasilan dari banyaknya pengunjung wisata. Indikator kemiskinan dan pengangguran terbuka merupakan indikator absolut dan saling berhubungan satu sama lain,menjadikan faktor kemiskinan dan pengangguran khususnya pengangguran terbuka menjadi isu nasional dan selalu ada dalam upaya pembangunan. Upaya pengentasan kemiskinan adalah salah satu upaya yang wajib hadir dalam upaya pembangunan daerah. Strategi transmigrasi dan investasi pembukaan lapangan usaha baru adalah strategi umum dan masif untuk menekan angka pengangguran terbuka dan angka kemiskinan. Kabupaten Banyuwangi memproyeksikan bahwa angka kemiskinan mampu ditekan dengan adanya penyerapan tenaga kerja karena sebagian keluarga miskin adalah mereka yang tidak ataupun belum mendapatkan kerja. Zonasi WPP dan kawasan strategis cepat tumbuh serta branding Image Banyuwangi kota wisata ternyata berdampak terhadap kemiskinan dan angka pengangguran. Dari data yang diperoleh tentang angka investasi daerah Kabupaten Banyuwangi setidaknya di tahun 2016 ada masukkan investasi sebesar 3 trilyun yang jika dikonversikan dengan jumlah tenaga kerja dengan angka pendapatan sebesar 50 juta/jiwa maka setidaknya mampu menyerap sebanyak jiwa. Demikian angka kemiskinan di Kabupaten Banyuwangi sendiri pada tahun 2016 mencapai 9.17 atau sebanyak dari 1,684,985 penduduk. Angka pengangguran terbuka Kabupaten Jawa Timur 2.55 dan angka tersebut lebih rendah dari Jawa Timur sebesar diproyeksikan di akhir pembangunan 90

91 RPJMD hingga akhir tahun 2021 Kabupaten Banyuwangi setidaknya mampu ditekan hingga mencapai angka 1.17 Selain angka pertumbuhan ekonomi, IPM dan pengangguran terbuka, indeks Gini Rasio juga merupakan komponen IKU RPJMD Banyuwangi. Indeks gini rasio adalah indeks yang menunjukkan ketimpangan ekonomi masyarakat yang memiliki nilai absolut 0 yang dinilai terjadi pemerataan perekonomian dan angka absolut 1 yang menunjukkan disparitas perekonomian. Secara umum Indeks Gini Ratio lebih mengacu bagaimana pemerataan ekonomi dan pendapatan antara masyarakat dibawah garis kemiskinan. Demikian angka Indeks Gini Ratio di tahun 2015 memiliki nilai 0.34 dan Jawa Timur sendiri memiliki nilai 0.4. Proyeksi hingga akhir tahun 2021 berupaya menekan angka disparitas ini hingga angka Dipahami bahwa angka ketimpangan akan terus ada seiring dengan adanya masyarakat yang hidup dibawah garis kemiskinan dan pemerataan ekonomi yang tidak optimal. Berdasarkan angka pendapatan perkapita, pendapatan perkapita per penduduk Kabupaten Banyuwangi secara umu diasumsikan mendapatkan pendapatan sebesar 28,3 juta/tahun. Namun angka ini belum mampu merepresentasikan tingkat kekayaan dan pemerataan penduduk di Kabupaten Banyuwangi mengingat Indeks Gini Ratio adalah Dibukannya kesempatan investasi dan peluang dibukanya lahan kerja mengakibatkan semakin banyaknya penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan Analisis Capaian Kinerja Berdasarkan Indikator Kinerja Utama A. Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi saat ini menjadi salah satu Indikator Kinerja Utama (IKU) yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Pertumbuhan ekonomi didefinisikan sebagai peningkatan kemampuan dari suatu perekonomian dalam memproduksi barangbarang dan jasa-jasa. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu. Karena pada dasarnya aktivitas perekonomian adalah suatu proses penggunaan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan output, sehingga berdasarkan definisi tersebut Pertumbuhan Ekonomi dibentuk dan ditinjau dari perkembangan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan pendekatan produksi dengan perhitungan rumus yang ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Pertumbuhan Ekonomi yang dirumuskan sebagai berikut: PDRB( ) PDRB( PDRB( ) ) x 100% Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan pendekatan produksi terdiri atas 17 sektor usaha, dimana beberapa sektor usaha memiliki sub sektor yang sebagai penunjang pertumbuhan pada sektor tersebut. Keberadaan pertumbuhan ekonomi memiliki keterkaitan dengan variabel lain di luar PDRB. Apabila mengacu pada teori, variabel lain diluar PDRB yang 91

92 membentuk Pertumbuhan Ekonomi diantaranya: variabel Inflasi, Investasi dan Jumlah Tenaga Kerja. Variabel Inflasi yang menjadi variabel eksternal menurut Keynes menjelaskan bahwa inflasi terjadi disebabkan masyarakat hidup di luar batas kemampuan ekonominya. Inflasi terjadi karena pengeluaran agregat terlalu besar. Dasar pemikiran model inflasi dari Keynes ini, bahwa inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuan ekonomisnya, sehingga menyebabkan permintaan efektif masyarakat terhadap barang-barang (permintaan agregat) melebihi jumlah barang-barang yang tersedia (penawaran agregat), akibatnya akan terjadi inflationary gap. Keterbatan jumlah persediaan barang (penawaran agregat) ini terjadi karena dalam jangka pendek kapasitas produksi tidak dapat dikembangkan untuk mengimbangi kenaikan permintaan agregat. Karenanya teori ini dipakai untuk menerangkan fenomena inflasi dalam jangka pendek. Variabel Investasi dan Jumlah Tenaga Kerja yang menjadi variabel eksternal pembentuk Pertumbuhan Ekonomi didasarkan pada teori Neo-Klasik, dimana teori pertumbuhan neo-klasik yang dikembangkan oleh Robert M. Solow (1970) dan T.W. Swan (1956) menggunakan model fungsi produksi yang memungkinkan adanya substitusi antara kapital (K) dan tenaga kerja (L). Teori Solow-Swan melihat bahwa dalam banyak hal mekanisme pasar dapat menciptakan keseimbangan, sehingga pemerintah tidak perlu terlalu banyak mencampuri atau mempengaruhi pasar. Campur tangan pemerintah hanya sebatas kebijakan fiskal dan kebijakan moneter. Hubungan/ pengaruh masing-masing variabel dengan variabel dibawahnya/ indikator pembentuk variabel tersebut adalah sebagai berikut: a. Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan pendekatan produksi terdiri atas 17 sektor usaha, dimana beberapa sektor usaha memiliki sub sektor yang sebagai penunjang pertumbuhan pada sektor tersebut. Pembahasan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dilakukan dengan menggunakan pendekatan produksi berdasarkan sektor-sektor ekonomi yang dijalankan oleh masyarakat Kabupaten Banyuwangi. b. Tingkat inflasi adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus. Bila melihat pada rumus perhitungan inflasi yang telah ditetapkan dan dikelompokkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), besar kecilnya inflasi disebabkan oleh adanya perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 7 kelompok pengeluaran yaitu: bahan makanan; makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar; sandang; kesehatan; pendidikan, rekreasi dan olah raga; serta transpor, komunikasi dan jasa keuangan. Penghitungan IHK ditujukan untuk mengetahui perubahan harga dari sekelompok tetap barang/ jasa yang pada umumnya dikonsumsi masyarakat. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menggambarkan tingkat kenaikan (inflasi) atau tingkat penurunan (deflasi) dari barang/ jasa kebutuhan rumah tangga sehari-hari c. Investasi yang telah ditetapkan dan dikelompokkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dibagi menjadi PMDN dan PMA. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) adalah kegiatan 92

93 d. menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri dengan menggunakan modal dalam negeri. Ketentuan mengenai penanaman modal diatur didalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2005 tentang Penanaman Modal. Penanam modal dalam negeri dapat dilakukan oleh perseorangan WNI, badan usaha Negeri, dan/atau pemerintah Negeri yang melakukan penanaman modal di wilayah negara Republik Indonesia. Sedangkan Penanaman Modal Asing (PMA) merupakan bentuk investasi dengan jalan membangun, membeli total atau mengakuisisi perusahaan. Penanaman Modal di Indonesia diatur dengan Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal. Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan Penanaman Modal Asing adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di wilayah Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal asing, baik menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri (Pasal 1 Undang-Undang Nomor 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal). Penanaman Modal Asing (PMA) lebih banyak mempunyai kelebihan diantaranya sifatnya jangka panjang, banyak memberikan andil dalam alih teknologi, alih keterampilan manajemen, membuka lapangan kerja baru. Lapangan kerja ini, sangat penting bagi negara sedang berkembang mengingat terbatasnya kemampuan pemerintah untuk penyediaan lapangan kerja. Jumlah tenaga kerja, dimana pengertian menurut Sonny Sumarsono (2003) yaitu permintaan tenaga kerja berkaitan dengan jumlah tenaga yang dibutuhkan oleh perusahaan atau instansi, dimana faktor yang mempengaruhi penyerapan akan tenaga kerja adalah: tingkat upah, nilai produksi dan nilai investasi. 93

94 Berdasarkan variabel/ indikator pembentuk variabel tersebut selanjutnya dapat di munculkan berbagai indikator kinerja program yang dijalankan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan memiliki keterkaitan/ mendukung variabel/ indikator yang telah dirumuskan, sehingga dengan demikian dapat diketahui apakah program yang telah dijalankan oleh pemerintah mampu mempengaruhi atau memiliki hubungan terhadap variabel/ indikator terkait yang telah dirumuskan dengan capaian akhir adalah Pertumbuhan Ekonomi. ANALISIS Pertumbuhan ekonomi didefinisikan sebagai peningkatan kemampuan dari suatu perekonomian dalam memproduksi barang-barang dan jasa-jasa. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas perekonomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada suatu periode tertentu. Sebelum masuk pada analisis, maka terlebih dahulu perlu dikemukakan keberadaan data dengan memperhatikan pada loop faktor Indikator Kinerja Utama. Adapun data beberapa tahun terakhir yang digunakan sebagai bahan analisis adalah sebagai berikut. Tabel 2. 62: Data Pertumbuhan Ekonomi dan Variabel Pembentuk Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Banyuwangi Tahun Variabel Pertumbuhan Ekonomi (%) PDRB (Juta Rp) Tingkat Inflasi (%) Jumlah Tenaga Kerja (Orang) Investasi (Milyar Rp) ,89 6,06 6,12 6,95 7,24 6,71 5,70 6, ,02 6,95 6,18 4,90 6,24 7,10 6,59 2, ,0 130,4 748,3 80,9 62,3 65, ,0 306,6 Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan metode Partial Least Square (PLS) terhadap variabel-variabel pembentuk Pertumbuhan Ekonomi, maka dapat diperoleh hasil sebagai berikut. 94

95 Gambar 2. 88: Diagram Jalur Persamaan Struktural PLS pada Pertumbuhan Ekonomi Model struktural dapat dievaluasi dengan melihat nilai R2 pada variabel endogen dan koefisien parameter jalur (path coeficient parameter). Hasil dari model struktural dapat ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel 2. 63: Nilai Koefisien Parameter Jalur dan R2- Pada Pertumbuhan Ekonomi Koefisien T Hubungan Kausalitas Parameter R2 Statistics Jalur PDRB Pertumbuhan Ekonomi Tingkat Inflasi Pertumbuhan Ekonomi Jumlah Tenaga Kerja Pertumbuhan Ekonomi Investasi Pertumbuhan Ekonomi P Value 0,352 0,002 0,999 0,185 0,003 0,998 0,146 0,006 0,995 0,181 0,001 0,999 0,139 Keterangan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Apabila melihat pengaruh variabel PDRB, Tingkat Inflasi, Jumlah Tenaga Kerja dan Investasi terhadap Pertumbuhan Ekonomi dapat diperoleh nilai R2 sebesar 0,139, nilai tersebut 95

96 mengindikasikan bahwa variabel Pertumbuhan Ekonomi dapat dijelaskan oleh variabel konstruk (PDRB, Tingkat Inflasi, Jumlah Tenaga Kerja dan Investasi) sebesar 13,9% sedangkan sisanya, yaitu sebesar 86,1% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model penelitian. Melihat nilai koefisien parameter jalur pada masing-masing variabel secara lebih jelas dapat diuraikan sebagai berikut. a. Koefisien parameter jalur yang diperoleh dari hubungan antara variabel PDRB dengan jumlah pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 0,352 dengan nilai T-statistik 0,002 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara PDRB dengan pertumbuhan ekonomi. Nilai positif pada koefisien parameter artinya adalah semakin tinggi PDRB di Kabupaten Banyuwangi, maka pertumbuhan ekonomi akan semakin meningkat. b. Koefisien parameter jalur yang diperoleh dari hubungan antara variabel tingkat inflasi dengan jumlah pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 0,185 dengan nilai T-statistik 0,003 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara tingkat inflasi dengan pertumbuhan ekonomi. Nilai positif pada koefisien parameter artinya adalah semakin tinggi tingkat inflasi di Kabupaten Banyuwangi, maka pertumbuhan ekonomi akan semakin meningkat. c. Koefisien parameter jalur yang diperoleh dari hubungan antara variabel jumlah tenaga kerja dengan jumlah pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 0,146 dengan nilai T-statistik 0,006 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara jumlah tenaga kerja dengan pertumbuhan ekonomi. Nilai positif pada koefisien parameter artinya adalah semakin tinggi jumlah tenaga kerja di Kabupaten Banyuwangi, maka pertumbuhan ekonomi akan semakin meningkat. d. Koefisien parameter jalur yang diperoleh dari hubungan antara variabel investasi dengan jumlah pertumbuhan ekonomi adalah sebesar 0,181 dengan nilai T-statistik 0,001 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara investasi dengan pertumbuhan ekonomi. Nilai positif pada koefisien parameter artinya adalah semakin tinggi investasi di Kabupaten Banyuwangi, maka pertumbuhan ekonomi akan semakin meningkat. B. Indeks Disparitas (Indeks Gini) Untuk dapat dilakukan analisis dengan menggunakan metode Partial Least Square, dibutuhkan data yang menjadi dasar proses analisis. Data yang digunakan untuk menganalisis Indeks Gini adalah sebagai berikut 96

97 Tabel 2. 64: Series Indeks Gini Tahun Variab el Indeks GINI Pengel uaran Pemer intah jumlah angkat an kerja UMR jumlah penga nggura n Indeks Keseh atan Indeks pendid ikan Invest asi Tingka t Penga nggura n Pengel uaran per kapita Total Penda patan IPM Pertu mbuh an ekono mi ,23 0,24 0,25 0,28 0,26 0,24 0,32 0,29 0,3 0,29 0,34 0, ,50 50,14 50,84 51,54 52,67 51,93 52,93 53,52 54,44 55,71 56,82 57,96 70,15 70,77 71,46 71,97 72,58 76,32 76,46 76,60 76,74 76,82 76,97 77, ,69 4,64 4,60 5,62 4,05 3,92 3,71 3,40 4,69 7,17 2,55 4,18 32,28 32,28 32,29 32,29 32,29 32,29 34,16 35,64 36,51 36,66 37,88 39,76 2,93 8,89 10,05 11,61 13,07 20,86 23,61 26,84 30,08 33,63 37,78 40,36 47,89 48,57 48,95 49,29 49,79 50,39 51,71 52,67 53,43 53,93 54,92 56,21 5 4,74 5,64 5,89 6,06 6,12 6,95 7,24 6,71 5,70 6,01 7,00 97

98 Berdasarkan data tersebut yang kemudian di olah melalui metode LPS, dapat diperoleh pola hubungan antar variabel yang dapat dilihat pada diagram dibawah ini Gambar 2. 19: Diagram jalur persamaan struktural PLS pada Indeks GINI Model struktural dapat dievaluasi dengan melihat nilai R2 pada variabel endogen dan koefisien parameter jalur (path coefesien parameter). Hasil dari model struktural dapat ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel 2. 65: Nilai Koefisien Parameter Jalur dan R2 Pada Indeks GINI Hubungan Kausalitas Koefisien Parameter Jalur R2 T Statistic P Value IPM > indeks GINI -2,442 0,241 0,284 0,779 IPM > tingkat pengangguran 0,048 0,442 0,215 0,831 Indeks kesehatan > IPM 0,185 0,972 1,091 0,284 Indeks pendidikan > IPM 0,009 0,972 0,080 0,937 Investasi > pertumbuhan ekonomi 0,342 0,117 2,994 0,005 Keterangan Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan Tidak signifikan Signifikan 98

99 Hubungan Kausalitas Jumlah angkatan kerja > total pendapatan Jumlah pengangguran > tingkat pengangguran Pengeluaran pemerintah > Indeks Gini Pengeluaran perkapita > IPM Pertumbuhan ekonomi > Indeks Gini Tingkat pengangguran > Indeks Gini Total pendapatan > Indeks Gini UMR > Total pendapatan Koefisien Parameter Jalur R2 T Statistic P Value Keterangan 0,212 0,973 0,955 0,347 Tidak signifikan 0,664 0,442 2,203 0,052 Signifikan 2,060 0,241 0,397 0,694 Tidak signifikan 0,894 0,972 4,523 0,000 Signifikan -0,480 0,241 0,534 0,597 Tidak signifikan -0,473 0,241 0,710 0,483 Tidak signifikan 0,538 0,241 0,093 0,926 Tidak signifikan 0,783 0,973 3,513 0,001 Signifikan Berdasarkan tabel tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut: A. Hubungan antar variabel berdasarkan nilai R2 1. Pengaruh variabel pembentuk Indeks Gini Nilai R2 dari pengaruh variabel pembentuk indeks Gini terhadap indeks Gini diketahui sebesar 0,241 atau indeks Gini dipengaruhi oleh variabel pembentuknya sebesar 24,1% (total pendapatan, IPM, tingkat pengangguran, pertumbuhan ekonomi, dan pengeluaran pemerintah) sedangkan sisanya sebesar 75,9% dipengaruhi oleh variabel lainnya. 2. Pengaruh variabel lain yang menjadi turunan variabel pembentuk indeks Gini a. Total pendapatan Variabel total pendapatan dipengaruhi oleh variabel Upah Minimum Regional dan jumlah angkatan kerja, dimana kedua variabel tersebut berkontribusi sebesar 97,3% terhadap peningkatan variabel total pendapatan b. Indeks pembangunan manusia Variabel IPM dipengaruhi oleh tiga variabel lainnya yaitu indeks pendidikan, indeks kesehatan, dan indeks pengeluaran perkapita. Berdasarkan hasil analisis di atas, bahwa ke tiga variabel pembentuk variabel IPM berkontribusi sebesar 97,2 terhadap variabel IPM. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa ketiga variabel pembentuk variabel IPM mempunyai kontribusi yang kuat terhadap variabel IPM c. Tingkat pengangguran 99

100 Variabel tingkat pengangguran hanya dipengaruhi oleh satu variabel saja yaitu variabel jumlah pengangguran. Variabel jumlah pengangguran berkontribusi terhadap variabel tingkat pengangguran sebesar 44,2%, oleh karena itu dapat dikatakan bahwa variabel jumlah pengangguran berpengaruh sedang terhadap tingkat pengangguran. d. Pertumbuhan ekonomi Variabel pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh hanya satu variabel saja, yaitu variabel investasi. Dimana variabel tersebut berkontribusi lemah terhadap variabel pertumbuhan ekonomi yaitu sebesar 11,7% saja. Pengaruh antar variabel berdasarkan nilai T statistic dan P Value. Nilai T statistic dan nilai P Value menunjukkan tingkat signifikansi dari pola hubungan yang terdapat dalam diagram tersebut. Pola hubungan yang signifikan menandakan bahwa jika salah satu variabel dilakukan tindakan intervensi maka akan berdampak langsung terhadap variabel yang mempengaruhinya. Sebaliknya, jika pola hubungan antar variabel tidak signifikan maka jika dilakukan tindakan intervensi pada salah satu variabelnya, maka tidak akan menimbulkan dampak/tidak mempengaruhi secara langsung / kuat variabel yang mempengaruhinya. C. Kemiskinan Indeks kemiskinan merupakan sebuah indeks yang menggambarkan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin. Skema diatas menggambarkan kaitan antara variabel internal penyusun indeks kemiskinan dengan variabel eksternal yang berpengaruh terhadap indeks kemiskinan. Variabel internal dan eksternal tersebut dapat diturunkan menjadi beberapa sub variabel pada level dibawahnya, sub variabel yang menjadi turunan dari variabel internal maupun eksternal dapat mempengaruhi kedua variabel tersebut, baik secara langsung maupun secara berbanding terbalik. ANALISIS Indeks kemiskinan merupakan sebuah indeks komposit yang mengukur derivasi (keterbelakangan manusia) dalam tiga dimensi: lamanya hidup, pengetahuan dan standar hidup layak. Indeks ini mengartikan tingkatan status kemiskinan manusia di suatu wilayah. Untuk dapat meningkatkan kinerja Pemerintah Daerah Kabupaten Banyuwangi dalam upaya pengentasan kemiskinan, yang ditandai dengan rendahnya indeks kemiskinan maka harus dilakukan proses analisis yang dilakukan dengan metode Partial Least Square. Data yang diperlukan untuk dapat dilakukan analisis adalah dengan melihat nilai dari masing-masing variabel dan sub variabel dari level 1 sampai dengan level 2. Data yang digunakan dalam analisis ini dapat dilihat pada tabel dibawah ini. 100

101 Tabel 2. 56: Series Kemiskinan tahun Variabel Banyakn ya fasilitas kesehata n Jumlah pendudu k miskin Banyakn ya fasilitas pendidik an jumlah pendudu k Inflasi Jumlah pengang guran Pertumb uhan ekonomi IPM Keluarga berenca na Indeks pendidik an Indeks Kesehata n Pengelua ran perkapit a Angka buta huruf angka harapan hidup Garis Kemiskin an Indeks Kemiskin an Tahun ,43 8,32 10,02 6,95 6,18 4,90 6,24 7,10 6,59 2, ,74 5,64 5,89 6,06 6,12 6,95 7,24 6,71 5,70 6, ,89 48,57 48,95 49,29 49,79 50,39 51,71 52,67 53,43 53,93 54,92 56, ,15 70,77 71,46 71,97 72,58 76,32 76,46 76,60 76,74 76,82 76,97 77,09 48,50 50,14 50,84 51,54 52,67 51,93 52,93 53,52 54,44 55,71 56,82 57,96 32,28 32,28 32,29 32,29 32,29 32,29 34,16 35,64 36,51 36,66 37,88 39,76 14,60 14,07 13,54 13,54 13,52 13,34 12,64 11,92 11,36 11,39 11,03 10,67 65,73 66,00 66,45 66,78 67,18 69,61 69,7 69,79 69,88 69,93 70,03 71, ,44 1,54 1,31 1,3 1,64 1,54 1,31 1,3 1,64 1,54 1,31 1,44 101

102 Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan metode Partial Least Square diperoleh hasil sebagai berikut: Gambar 2. 20: Diagram jalur persamaan struktural PLS pada angka kemiskinan Model struktural dapat dievaluasi dengan melihat nilai R2 pada variabel endogen dan koefisien parameter jalur (path coefesien parameter). Hasil dari model struktural dapat ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel 2. 67: Nilai Koefisien Parameter Jalur dan R2 Pada Angka Kemiskinan Koefisien P Hubungan Kausalitas R2 T Statistic Parameter Jalur Value Angka buta huruf > Indeks pendidikan Angka harapan hidup > Indeks kesehatan Garis kemiskinan > Indeks kemiskinan IPM > Jumlah penduduk miskin Indeks kesehatan > IPM Indeks pendidikan > IPM Keterangan -0,878 0,771 9,646 0,000 Signifikan 0,113 0,013 0,286 0,777 Tidak signifikan -1,610 0,261 0,643 0,525 Tidak signifikan -0,911 0,812 10,648 0,000 Signifikan 0,322 0,236 1,000 1,000 12,247 6,984 0,000 0,000 Signifikan Signifikan 102

103 Hubungan Kausalitas Indeks pendidikan > jumlah pengangguran Inflasi > pertumbuhan ekonomi Jumlah fasilitas kesehatan > angka harapan hidup Jumlah fasilitas pendidikan > angka buta huruf Jumlah penduduk > indeks kemiskinan Jumlah penduduk miskin > Indeks kemiskinan Jumlah pengangguran > garis kemiskinan Keluarga berencana > jumlah penduduk Pengeluaran perkapita > IPM Pertumbuhan ekonomi > IPM Pertumbuhan ekonomi > jumlah penduduk miskin Pertumbuhan ekonomi > jumlah pengangguran Koefisien Parameter Jalur R2 T Statistic P Value Keterangan 0,461 0,225 0,126 0,901 Tidak signifikan 0,461 0,212 1,485 0,148 Tidak signifikan 0,111 0,012 0,380 0,707 Tidak signifikan 0,705 0,469 4,127 0,000 Signifikan 0,311 0,261 0,361 0,720 Tidak signifikan -1,738 0,261 0,649 0,522 Tidak signifikan -0,016 0,000 0,053 0,958 Tidak signifikan -0,141 0,020 0,813 0,422 Tidak signifikan 0,493 0,003 1,000 1,000 10,667 0,762 0,000 0,452 Signifikan Tidak signifikan -0,132 0,812 1,057 0,299 Tidak signifikan -0,466 0,225 1,133 0,266 Tidak signifikan Berdasarkan tabel tersebut dapat dijabarkan penjelasan sebagai berikut: A. Pengaruh antar variabel berdasarkan besaran R2 1. Pengaruh variabel pembentuk Indeks Kemiskinan Nilai R2 dari pengaruh variabel pembentuk indeks kemiskinan terhadap indeks kemiskinan diketahui sebesar 0,261, nilai tersebut mengindikasikan bahwa variabel indeks kemiskinan dapat dijelaskan oleh variabel pembentuknya sebesar 26,1%, sedangkan sisanya yaitu sebesar 73,9% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model penelitian. Variabel pembentuk (garis kemiskinan, jumlah penduduk miskin, dan jumlah penduduk) hanya mampu berkontribusi sebesar 26,1%. 2. Pengaruh variabel lain yang menjadi turunan variabel pembentuk indeks kemiskinan a. Jumlah pengangguran Variabel jumlah pengangguran dipengaruhi oleh variabel pertumbuhan ekonomi dan variabel indeks pendidikan, berdasarkan hal tersebut nilai R2 variabel jumlah pengangguran diperoleh nilai sebesar 0,225 atau sebesar 22,5% variabel jumlah pengangguran dipengaruhi oleh variabel pertumbuhan ekonomi dan variabel indeks pendidikan sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lainnya. b. Pertumbuhan ekonomi 103

104 c. d. e. f. g. B. Variabel pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh satu variabel yaitu variabel inflasi, dimana variabel tersebut mempunyai kontribusi pengaruh terhadap variabel pertumbuhan ekonomi sebesar 21,2% (nilai R2 sebesar 0,212) sedangkan sebesar 78,8% dipengarui oleh variabel lainnya. Indeks pembangunan manusia Variabel IPM dipengaruhi oleh tiga variabel sebagai variabel pembentuk, dengan nilai R2 sebesar 1,000 atau 100% variabel IPM dipengaruhi oleh ketiga variabel pembentuknya (indeks kesehatan, indeks pendidikan, dan indeks pengeluaran perkapita). Hal tersebut menunjukkan hubungan korelasi hubungan yang sangat kuat, sehingga jika terjadi perubahan pada besaran ketiga variabel pembentuk variabel IPM, maka variabel IPM akan terpengaruh cukup besar. Indeks pendidikan Indeks pendidikan dipengaruhi oleh satu variabel yaitu variabel angka buta huruf, dimana variabel angka buta huruf berkontribusi terhadap indeks pendidikan sebesar 77,1% sehingga dapat dikatakan variabel angka buta huruf memiliki kontribusi yang besar terhadap variabel indeks pendidikan. Indeks kesehatan Berdasarkan diagram diatas, indeks kesehatan dipengaruhi oleh satu variabel, yaitu variabel angka harapan hidup. Variabel angka harapan hidup tersebut mempunyai kontribusi pengaruh terhadap variabel indeks kesehatan sebesar 0,13% atau dapat dikatakan kontribusi angka harapan hidup mempunyai kontribusi yang sangat kecil terhadap variabel indeks kesehatan. Angka buta huruf Variabel angka buta huruf dipengaruhi oleh variabel jumlah fasilitas pendidikan sebesar 49,6% berdasarkan nilai R2 sebesar 0,469. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel jumlah fasilitas mempunyai pengaruh yang sedang terhadap variabel angka buta huruf Variabel angka harapan hidup Variabel angka harapan hidup dipengaruhi oleh satu variabel yaitu variabel jumlah fasilitas kesehatan, dimana nilai R2 variabel angka harapan hidup sebesar 0,012 atau jumlah fasilitas kesehatan berkontribusi hanya sebesar 0,12% terhadap variabel angka harapan hidup. Hal tersebut menunjukkan variabel jumlah fasilitas kesehatan mempunyai kontribusi yang sangat kecil terhadap variabel angka harapan hidup. Pengaruh antar variabel berdasarkan nilai T statistic dan P value Jika melihat nilai koefisien parameter jalur pada tabel diatas, maka terdapat nilai koefisien parameter jalur yang negatif. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan yang terbalik antar variabel, dimana salah satu variabel mengalami penurunan, maka variabel yang dipengaruhi akan mengalami kenaikan, begitu pula sebaliknya. Hubungan kausalitas antar variabel yang mempunyai hubungan negatif adalah 1) angka buta huruf > indeks pendidikan 2) garis kemiskinan > indeks kemiskinan 3) IPM > jumlah penduduk miskin 4) jumlah penduduk miskin > indeks kemiskinan 5) jumlah pengangguran > garis 104

105 kemiskinan 6) keluarga berencana > jumlah penduduk 7) pertumbuhan ekonomi > jumlah penduduk miskin, dan 8) pertumbuhan ekonomi > jumlah pengangguran. Sesuai dengan nilai P value atau nilai signifikansi, dapat dilihat terdapat beberapa pola hubungan yang memiliki tingkat signifikansi tinggi yaitu pola hubungan 1) angka buta huruf > indeks pendidikan 2) IPM > jumlah penduduk miskin 3) indeks kesehatan > IPM 4) Indeks pendidikan > IPM 5) jumlah fasilitas pendidikan > angka buta huruf 6) pengeluaran perkapita > IPM. Pola hubungan tersebut menandakan bahwa jika salah satu variabel dilakukan tindakan intervensi, maka akan berdampak langsung pada variabel yang mempengaruhinya. D. Pegangguran Terbuka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) saat ini menjadi salah satu Indikator Kinerja Utama (IKU) yang ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah persentase jumlah pengangguran terhadap jumlah angkatan kerja, sehingga berdasarkan definisi tersebut dan rumus yang ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), maka besar kecilnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dapat ditentukan oleh 2 variabel, yaitu: Jumlah Angkatan Kerja dan Jumlah Pengangguran. Jumlah Angkatan Kerja bila dilihat dari karakteristiknya memiliki perkembangan yang cenderung alamiah, dimana dalam setiap tahun jumlah angkatan kerja selalu mengalami pertumbuhan, mengingat selain disebabkan oleh bertambahnya usia, setiap manusia dengan usia yang cukup (> 15 tahun) setelah lulus sekolah pada umumnya mereka telah bekerja dan mencari pekerjaan untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Terkait dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), jumlah pengangguran merupakan salah satu variabel yang menarik untuk dibahas secara lebih mendalam, mengingat pengangguran menjadi suatu persoalan dalam pembangunan yang harus diselesaikan oleh pemerintah. Keberadaan pengangguran menggambarkan banyaknya orang yang tidak bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu, atau seseorang yang sedang berusaha mendapatkan pekerjaan yang layak. Terjadinya pengagguran bila melihat pada teori disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya: Pertumbuhan Ekonomi, Pertumbuhan Penduduk; Tingkat Pendidikan; Tingkat Upah; dan Tingkat Inflasi. Menurut Arthur Okun (Hukum Okun) bahwa untuk setiap 2 persen penurunan Gross National Product (GNP) secara relatif terhadap GNP potensial, tingkat pengangguran akan naik satu persen. Sehingga dengan demikian dapat diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi memiliki hubungan/ pengaruh terhadap jumlah pengagguran. Menurut Oberai (dalam Ghofari, 2010) pertumbuhan penduduk yang cepat tanpa disertai dengan proporsi investasi yang lebih besar, mengakibatkan kurangnya lapangan pekerjaan, meningkatnya pengangguran dan menghalangi transformasi struktural dalam angkatan kerja. Hubungan antara tingkat pendidikan dan pengangguran juga bisa dijelaskan dalam teori signaling and screening. Secara sederhada, teori ini menjelaskan bahwa tingkat pendidikan bisa diasumsikan sebagai kartu garansi atau sebagai jaminan oleh seseorang ketika orang tersebut akan melamar pekerjaan. Lebih lanjut, teori ini memberikan asumsi dasar mengapa tingkat pendidikan mampu 105

106 mempengaruhi tingkat pengangguran. Hubungan besaran upah yang berhubungan dengan tingkat pengangguran dijelaskan oleh Kaufman dan Hotckiss (1999) yang meninjau hubungan besaran upah dengan pengagguran dari dua sisi, yaitu: tenaga kerja dan pengusaha. Studi tentang hubungan antara inflasi dan pengangguran pertama kali diakukan oleh A.W. Phillips (1958) melalui teorinya yang dikenal dengan Kurva Phillips. Kurva ini menjelaskan hubungan antara tingkat inflasi dan pengangguran dimana kurva Phillips dan kurva penawaran agregat cukup konsisten satu sama lain. Hubungan/ pengaruh masing-masing variabel dengan variabel dibawahnya/ indikator pembentuk variabel tersebut adalah sebagai berikut: a. Pertumbuhan ekonomi dapat diukur dengan peningkatan atau penurunan PDRB yang dihasilkan suatu daerah, karena indikator yang berhubungan dengan jumlah pengangguran adalah PDRB (Alghofari, 2010). PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) adalah jumlah nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dari seluruh kegiatan pekonomian diseluruh daerah dalam tahun tertentu atau perode tertentu dan biasanya satu tahun (nilai produksi). Pembahasan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) dilakukan dengan menggunakan pendekatan produksi berdasarkan sektor-sektor ekonomi yang dijalankan oleh masyarakat Kabupaten Banyuwangi. b. Pertumbuhan penduduk di suatu wilayah menurut Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi UI Dasar-Dasar Demografi di pengaruhi oleh 4 faktor yaitu: Kelahiran (fertilasi), Kematian (mortalitas), In Migrasion (migrasi masuk), Out Migrasion (migrasi keluar). Faktor paling dominan yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk adalah kelahiran dan kematian sedangkan migrasi masuk dan migrasi keluar sangatlah rendah. c. Penelitian yang dilakukan oleh Mukhlis tahun 2011 menjadikan 6 variabel sebagai faktorfaktor yang mempengaruhi tingkat pendidikan, yaitu: Motivasi Individu; Kondisi Sosial; Kondisi Ekonomi Keluarga; Motivasi Orang Tua; Budaya; dan Aksesibilitas. Diantara keenam variabel tersebut kondisi ekonomi keluarga merupakan salah satu variabel yang ketersediaan datanya sangat mendukung, dimana variabel tersebut dianalisis dengan menggunakan indikator pendapatan keluarga dan jumlah anggota keluarga. d. Variabel tingkat upah dalam kegiatan ini menggunakan pendekatan UMK (Upah Minimum Kabupaten/ Kota), dimana perumusan UMK didasarkan pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 13 Tahun 2012 tentang Komponen dan Pelaksanaan Tahapan Pencapaian Kebutuhan Hidup Layak. Dalam penetapan upah minimum, pemerintah harus mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut: a) Nilai KHL yang diperoleh dan ditetapkan dari hasil survei; b) Produktivitas makro yang merupakan hasil perbandingan antara jumlah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dengan jumlah tenaga kerja pada periode yang sama; c) Pertumbuhan ekonomi merupakan pertumbuhan nilai PDRB; d) Kondisi pasar kerja merupakan perbandingan jumlah kesempatan kerja dengan jumlah pencari kerja di daerah tertentu pada periode yang sama; 106

107 e) Kondisi usaha yang paling tidak mampu (marginal) yang ditunjukkan oleh perkembangan keberadaan jumlah usaha marginal di daerah tertentu pada periode tertentu. Ketersediaan data mengenai perkembangan keberadaan jumlah usaha marginal di Kabupaten Banyuwangi pada periode tertentu sulit untuk diperoleh, sehingga dalam analisis tersebut kondisi usaha yang paling tidak mampu (marginal) tidak dimasukkan menjadi variabel yang berhubungan/ menentukan tingkat upah. e. Tingkat inflasi adalah kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya yang berlangsung secara terus menerus. Bila melihat pada rumus perhitungan inflasi yang telah ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), besar kecilnya inflasi disebabkan oleh adanya perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 7 kelompok pengeluaran yaitu: bahan makanan; makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau; perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar; sandang; kesehatan; pendidikan, rekreasi dan olah raga; serta transpor, komunikasi dan jasa keuangan. Penghitungan IHK ditujukan untuk mengetahui perubahan harga dari sekelompok tetap barang/ jasa yang pada umumnya dikonsumsi masyarakat. Perubahan IHK dari waktu ke waktu menggambarkan tingkat kenaikan (inflasi) atau tingkat penurunan (deflasi) dari barang/ jasa kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Berdasarkan variabel/ indikator pembentuk variabel tersebut selanjutnya dapat di munculkan berbagai indikator kinerja program yang dijalankan oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan memiliki keterkaitan/ mendukung variabel/ indikator yang telah dirumuskan, sehingga dengan demikian dapat diketahui apakah program yang telah dijalankan oleh pemerintah mampu mempengaruhi atau memiliki hubungan terhadap variabel/ indikator terkait yang telah dirumuskan dengan capaian akhir adalah Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). ANALISIS Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dalam kaitanya dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) diharapkan mampu menunjang tercapainya misi ke-2, yaitu Mewujudkan daya saing ekonomi daerah melalui pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan berbasis potensi sumberdaya alam dan kearifan lokal dengan tujuan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan inklusif dan memiliki sasaran menurunnya tingkat pengangguran. Untuk menunjang tercapainya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang pada akhirnya menunjang tercapainya misi ke-2, maka perlu dilakukan analisis mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dalam berbagai level dengan mendasarkan pada ketersediaan data. Sebelum masuk pada analisis, maka terlebih dahulu perlu dikemukakan keberadaan data dengan memperhatikan pada loop faktor Indikator Kinerja Utama. Data yang tersedia selanjutnya dapat diolah dengan metode statistik sebagai dasar dalam melakukan analisis. Adapun data beberapa tahun terakhir yang digunakan sebagai bahan analisis adalah sebagai berikut. 107

108 Tabel 2. 68: Data Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dan Variabel Pembentuk TPT Kabupaten Banyuwangi Tahun Variabel TPT ,62 4,05 3,92 3,71 3,40 4,69 7,17 2,55 Jml. Angkatan Kerja (Orang) Jml. Pengangguran (Orang) Pertumbuhan Ekonomi (%) 5,89 6,06 6,12 6,95 7,24 6,71 5,70 6,01 Pertumbuhan Penduduk (%) 0,22 0,22 (1,97) 0,56 0,26 0,37 0,84 0,38 89,95 69,81 Tingkat Pendidikan (%) 70,12 Tingkat Upah (Rp) Tingkat Inflasi (%) 10,02 6,95 6,18 4,90 96, ,24 7,10 58, , ,15 Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan metode Partial Least Square (PLS) terhadap variabel-variabel pembentuk Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), maka dapat diperoleh hasil sebagai berikut. Gambar 2. 21: Diagram Jalur Persamaan Struktural PLS pada TPT 108

109 Model struktural dapat dievaluasi dengan melihat nilai R2 pada variabel endogen dan koefisien parameter jalur (path coeficient parameter). Hasil dari model struktural dapat ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel 2. 69: Model Struktural Hubungan Kausalitas Jumlah Angkatan Kerja TPT Koefisien Parameter Jalur R2-0,177 T Statistics P Value Keterangan 0,522 0,606 Tidak Signifikan 0,806 3,183 0,003 Signifikan Pertumbuhan Ekonomi Jumlah Pengangguran -0, 528 0,362 0,720 Tidak Signifikan Pertumbuhan Penduduk Jumlah Pengangguran 0,458 0,272 0,787 Tidak Signifikan Tingkat Pendidikan Jumlah Pengangguran 0,345 0,122 0,904 Tidak Signifikan 0,747 Jumlah Pengangguran TPT 0,784 Tingkat Upah Jumlah Pengangguran -0,086 0,047 0,962 Tidak Signifikan Tingkat Inflasi Jumlah Pengangguran 0,465 0,179 0,859 Tidak Signifikan Berdasarkan data yang telah disajikan pada tabel di atas dapat dijelaskan beberapa hasil sebagai berikut: 1. Pengaruh Variabel Pembentuk Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Bila melihat pengaruh variabel jumlah angkatan kerja dan jumlah pengangguran terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dapat diperoleh nilai R2 sebesar 0,747, nilai tersebut mengindikasikan bahwa variabel Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dapat dijelaskan oleh variabel konstruk (jumlah angkatan kerja dan jumlah pengangguran) sebesar 74,7% sedangkan sisanya, yaitu sebesar 25,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model penelitian. Variabel konstruk jumlah angkatan kerja dan jumlah pengangguran hanya mampu menjelaskan 74,7% sebagai faktor terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Koefisien parameter jalur yang diperoleh dari hubungan antara variabel jumlah angkatan kerja dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah sebesar -0,177 dengan nilai T-statistik 0,522 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara jumlah angkatan kerja dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Nilai negatif pada koefisien parameter artinya adalah semakin banyak jumlah angkatan kerja di Kabupaten Banyuwangi, maka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) akan semakin kecil. Koefisien parameter jalur yang diperoleh dari hubungan antara variabel jumlah pengangguran dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah sebesar 0,806 dengan nilai T-statistik 3,183 > 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara jumlah pengangguran dengan Tingkat Pengangguran Terbuka 109

110 (TPT). Nilai positif pada koefisien parameter artinya adalah semakin banyak jumlah pengangguran di Kabupaten Banyuwangi, maka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) akan semakin besar. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa variabel jumlah pengangguran mempunyai nilai koefisien parameter jalur yang lebih besar dari pada variabel jumlah angkatan kerja dan berpengaruh signifikan dengan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel jumlah pengangguran memiliki pengaruh yang paling dominan terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Banyuwangi. 2. Pengaruh Variabel Pembentuk Jumlah Pengangguran Bila melihat pengaruh variabel eksogen (pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk, tingkat pendidikan, tingkat upah, tingkat inflasi) terhadap jumlah pengangguran dapat diperoleh nilai R2 sebesar 0,784, nilai tersebut mengindikasikan bahwa variabel jumlah pengangguran dapat dijelaskan oleh variabel konstruk (pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk, tingkat pendidikan, tingkat upah, tingkat inflasi) sebesar 78,4% sedangkan sisanya yaitu sebesar 21,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak terdapat dalam model penelitian. Variabel konstruk (pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penduduk, tingkat pendidikan, tingkat upah, tingkat inflasi) mampu menjelaskan 78,4% sebagai faktor terhadap jumlah pengangguran. Melihat nilai koefisien parameter jalur pada masing-masing variabel secara lebih jelas dapat diuraikan sebagai berikut: a. Koefisien parameter jalur yang diperoleh dari hubungan antara variabel pertumbuhan ekonomi dengan jumlah pengangguran adalah sebesar -0,528 dengan nilai T-statistik 0,362 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara pertumbuhan ekonomi dengan jumlah pengangguran. Nilai negatif pada koefisien parameter artinya adalah semakin tinggi pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Banyuwangi, maka jumlah pengangguran akan semakin kecil. b. Koefisien parameter jalur yang diperoleh dari hubungan antara variabel pertumbuhan penduduk dengan jumlah pengangguran adalah sebesar 0,458 dengan nilai T-statistik 0,272 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara pertumbuhan penduduk dengan jumlah pengangguran. Nilai positif pada koefisien parameter artinya adalah semakin tinggi pertumbuhan penduduk di Kabupaten Banyuwangi, maka jumlah pengangguran akan semakin banyak. c. Koefisien parameter jalur yang diperoleh dari hubungan antara variabel tingkat pendidikan dengan jumlah pengangguran adalah sebesar 0,345 dengan nilai T-statistik 0,122 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara tingkat pendidikan dengan jumlah pengangguran. Nilai positif pada koefisien parameter artinya adalah semakin tinggi tingkat pendidikan di Kabupaten Banyuwangi, maka jumlah pengangguran akan semakin banyak. d. Koefisien parameter jalur yang diperoleh dari hubungan antara variabel tingkat upah dengan jumlah pengangguran adalah sebesar -0,086 dengan nilai T-statistik 0,047 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak 110

111 signifikan antara tingkat upah dengan jumlah pengangguran. Nilai negatif pada koefisien parameter artinya adalah semakin tinggi tingkat upah di Kabupaten Banyuwangi, maka jumlah pengangguran akan semakin kecil. e. Koefisien parameter jalur yang diperoleh dari hubungan antara variabel tingkat inflasi dengan jumlah pengangguran adalah sebesar 0,465 dengan nilai T-statistik 0,179 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara tingkat inflasi dengan jumlah pengangguran. Nilai positif pada koefisien parameter artinya adalah semakin tinggi nilai inflasi di Kabupaten Banyuwangi, maka jumlah pengangguran akan semakin banyak. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa variabel pertumbuhan ekonomi mempunyai nilai koefisien parameter jalur yang lebih besar dibandingkan dengan variabel lainnya, yaitu sebesar -0,528, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap jumlah pengangguran di Kabupaten Banyuwangi. Tingkat kepentingan variabel-variabel yang menjadi faktor pengaruh terhadap jumlah pengangguran di Kabupaten Banyuwangi bila diurutkan adalah sebagai berikut. Tabel 2.70: Koefisien Parameter Jalur Koefisien Parameter Jalur Rangking Pertumbuhan Ekonomi -0, Tingkat Inflasi 0,465 2 Pertumbuhan Penduduk 0,458 3 Tingkat Pendidikan 0,345 4 Tingkat Upah -0,086 5 Variabel 111

112 E. Indeks Pembangunan Manusia Gambar 2. 22: Peta variabel IPM 112

113 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indeks dimana bertujuan untuk dapat memberikan gambaran terkait pembangunan manusia disuatu wilayah. Indonesia sendiri pertama kali menghitung IPM pada tahun Sejak saat itu hingga sekarang IPM terus dihitung. Indikator IPM pun juga mengalami perubahan dan menyesuaikan dengan kebutuhan, untuk saat ini IPM terdiri dari 3 bariabel pembentuk yang meliputi Indeks Pendidikan, Indeks Kesehatan, dan Indeks PPP. Masing-masing indeks tersebut dibentuk melalui indikator yang meliputi Angka Harapan Hidup, Harapan Lama Sekolah, Rata-Rata Lama Sekolah, dan Pengeluaran Perekapita. Logical Framework Indeks Pembangunan Manusia diatas, coba disusun berdasarkan teori, konsep, maupun penelitian-penelitian terdahulu sebagai upaya mengidentifikasi faktorfaktor lain yang secara langsung maupun tidak langsung memiliki pengaruh terhadap IPM. Setidaknya 2 rujukan teori yang digunakan dalam kajian kali ini. Pertama adalah jurnal yang berjudul Analisis Faktor-Faktor yang Berpengaruh terhadap IPM. Berikut merupakan asumsi dari jurnal tersebut mengenai Indeks Pembangunan Manusia: a. Pertumbuhan ekonomi berimplikasi langsung terhadap menurunnya angka kemiskinan, yang secara langsung memengaruhi capaian IPM. b. Pengeluaran perkapita dipengaruhi oleh pendapatan perkapita, sedangkan pendapatan perkapita berpengaruh terhadap peningkatan kesempatan kerja. Kedua merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Institut Pertanian Bogor dengan judul Faktor-Faktor yang Memengaruhi Indeks Pembangunan Manusia di Seluruh Provinsi Indonesia. Bedasarkan jurnal ini berikut disampaikan beberapa asumsi terkait IPM: 113

114 a. Indeks Pendidikan kuat kaitannya dengan infrastruktur pendidikan, disaat infrastruktur pendidikan baik hal tersebut akan berimplikasi terhadap Indeks Pendidikan. b. Indeks Kesehatan kuat kaitannya dengan infrastruktur kesehatan, disaat infrastruktur kesehatan semakin baik maka akan berimplikasi terhadap meningkatnya Indeks Kesehatan. c. Pengeluaran perkapita juga brehubungan dengan pertumbuhan PDRB di daerah. Pertumbuhan PDRB juga turut dipengaruhi oleh Indeks Gini, dan Indeks Gini dipengaruhi pula oleh meningkatnya APBD sebuah daerah. Selain asumsi-asumsi yang bersumber dari rujukan teori-teori yang terkait, untuk tahap selanjutnya adalah mengaitkan antara program atau indikator program Kabupaten Banyuwangi terhadap IPM secara langsung maupun tidak langsung. Mengaitkan hal tersebut adalah dengan menggunakan expert judgement. Sehingga hasil akhir dari logical framework IPM Kabupaten Banyuwangi adalah keterkaitan, antara variabel dan indikator pembentuk IPM, konsep toritis, dan program-program pemerintah Kabupaten Banyuwangi. ANALISIS Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dalam kaitannya dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) diharapkan mampu menunjang terecapainya misi ke-1, yaitu Mewujudkan Aksesibilitas dan Kulaitas Pelayanan Bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Kebutuhan Dasar Lainnya. Untuk menunjang meningkatnya IPM yang pada akhirnya akan menunjang tercapainya misi ke-1, maka perlu dilakukan analisis mengenai faktor-faktor yang memengaruhi IPM dalam berbagai level dengan berdasarkan pada ketersediaan data. Sebelum masuk analisis maka disajikan dulu ketersediaan data yang memperhatikan loop factor IKU. Data yang tersedia kemudian diolah dengan metode statistik. Adapun ketersediaan data yang menjadi bahan analisis adalah sebagai berikut 114

115 Tabel 2. 71: Series IPM Tahun Indikator Satuan Indeks Pembangunan Manusia Indeks 60,82 61,57 62,31 63,05 63,80 64,54 65,48 66,12 66,74 67,31 68,08 69 Indeks Kesehatan Angka Harapan Hidup Indeks Pendidikan Indeks Umur Indeks 70,15 65,60 48,50 70,77 66,00 50,14 71,46 66,45 50,84 71,97 66,78 51,54 72,58 67,18 52,67 76,32 69,61 51,93 76,46 69,70 52,93 76,60 69,79 53,52 76,74 69,88 54,44 76,82 69,93 55,71 76,97 70,03 56,82 77,09 70,11 57,96 Angka Harapan Lama Sekolah Tahun 9,78 10,03 10,29 10,54 10,79 11,04 11,22 11,25 11,39 11,81 12,20 12,55 Tahun 6,40 6,68 6,68 6,68 6,81 6,38 6,53 6,68 6,84 6,87 6,88 6,93 Indeks 32,28 32,28 32,29 32,29 32,29 32,29 34,16 35,64 36,51 36,66 37,88 39,76 Angka Rata-Rata Lama Sekolah\ Indeks PPP (Purchasing Power Parity) Pengeluaran Perkapita Infrastruktur Pendidikan (Banyaknya Sekolah SD/SMP/SMA sederajat) Infrastruktur Kesehatan (Rumah Sakit, Rumah Bersalin, Puskesmas, Posyandu, Klinik, Polindes) Pertumbuhan Ekonomi PDRB ADHB Rata-rata Jumlah Pendapatan Keluarga (PDRB per kapita) Jumlah Kesempatan Kerja Kemiskinan Rp , , , , , , , , , , , ,00 Satuan Satuan Persentase Rp Milyar 4,60 8,87 4,74 14,01 5,64 15,89 5,89 18,39 6,06 20,75 6,12 32,46 6,95 36,95 7,24 42,11 6,71 47,36 5,70 53,41 6,01 60,22 6,15 65,35 Juta Rp 5,68 8,89 10,05 11,61 13,07 20,86 23,61 26,84 30,08 33,63 37,78 40,99 Satuan Persentase 26,94 25,56 24, , , , ,66 17,30 17,30 17,30 13,14 11,76 115

116 Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dengan menggunakan metode Partial Least Square (PLS) terhadap variabel-variabel pembentuk IPM, maka dapat diperoleh hasil sebagai berikut. Gambar 2. 23: Diagram Jalur Persamaan Struktural PLS pada IPM Model struktural dapat dievaluasi dengan melihat nilai R2 pada variabel endogen dan koefisien parameter jalur (path coeficient parameter). Hasil dari model struktural dapat ditunjukkan pada tabel berikut: Tabel 2. 72: Nilai Koefisien Parameter Jalur dan R2 Pada IPM NO Hubungan Kausalitas Koefisien Parameter Jalur T Statistic 1 Indeks Pendidikan IPM 0,171 0,677 2 Indeks Kesehatan IPM 0,007 0,069 3 Indeks PPP IPM 0,882 5,54 R2 Keterangan 0,973 Tidak Signifikan Tidak Signifikan Signifikan 116

117 NO Hubungan Kausalitas Koefisien Parameter Jalur T Statistic R2 Keterangan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Signifikan Tidak Signifikan 4 Kemiskinan IPM -0,097 0,099 5 Harapan Lama Sekolah Indeks Pendidikan -0,02 0,073 6 Rata-Rata Lama Sekolah Indeks Pendidikan 0,993 3,75 7 Infrastruktur Pendidikan Harapan Lama Sekolah -0,34 0,992 0,115 8 Infrastruktur Pendidikan Rata-Rata Lama Sekolah 0,267 1,008 0,071 9 Angka Harapan Hidup Indeks Kesehatan 0,014 0,315-0, Infrastruktur Kesehatan Angka Harapan Hidup 0,104 2,502 0, Pengeluaran Perkapita Indeks PPP -0,341 1,161 0, PDRB ADHB Pengeluaran Perkapita Pendapatan Perkapita Pengeluaran Perkapita 37, ,403 4,545 0, Indeks Gini PDRB ADHB 0,199 0,52 0, Peningkatan Kesempatan Kerja Pendapatan Perkapita -0,76 11,532 0,578 Signifikan 16 Pertumbuhan Ekonomi Kemiskinan 0,284 0,578 0,081 Tidak Signifikan 0,985 Berdasarkan data yang telah disajikan pada tabel di atas dapat dijelaskan beberapa hasil sebagai berikut: 1. Pengaruh Variabel Pembentuk IPM Bila melihat pengaruh variabel Indeks Pendidikan, Indeks Kesehatan, Indeks PPP, dan Kemiskinan terhadap IPM dapat diperoleh R2 sebesar 0,973 yang mengindikasikan bahwa IPM dapat dijelaskan melalui variabel konstruk (Indeks Kesehatan, Indeks Pendidikan, Indeks PPP, dan Kemiskinan) sebesar 97,3% sedangkan 2,7% persen sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Koefisien parameter jalur yang diperoleh dari hubungan antara variabel Indeks Pendidikan dengan IPM adalah sebesar 0,171, Indeks Kesehatan 0,007, dan Indeks PPP 0,882. Nilai Positif mengindikasikan hubungan searah antara variabel pembentuk dengan IPM. Sedangkan untuk kemiskinan memiliki nilai koefisien parametere jalur -0,097. Nilai negatif mengindikasikan bahwa ada hubungan yang berlawanan antara kemiskinan dan IPM. Asumsinya adalah disaat angka kemiskinan meningkat, hal tersebut akan berimplikasi terhadap menurunnya IPM, dan begitupula sebaliknya. Melihat tabel diatas maka dapat disimpulkan Indeks PPP memiliki nilai terebesar dari variabel pembentuk lainnya. 117

118 Tabel 2. 73: Koefisien Parameter Jalur IPM Koefisien Parameter Jalur Rangking Indeks Pendidikan 0,171 2 Indeks Kesehatan 0,007 4 Indeks PPP 0,882 1 Kemiskinan -0,097 3 Variabel Nilai T-statistik variabel Indeks Pendidikan terhadap IPM 0,677 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara Indeks Pendidikan dengan IPM. Nilai T-statistik variabel Indeks Kesehatan terhadap IPM 0,059 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara Indeks Kesehatan dengan IPM. Nilai T-statistik variabel Indeks PPP terhadap IPM 5,524 > 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Indeks PPP dengan IPM. Sedangkan Nilai T-statistik variabel Kemiskinan terhadap IPM 0,099 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara Kesehatan dengan IPM. 2. Pengaruh Variabel Pembentuk Indeks Pendidikan Bila melihat variabel Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) terhadap Indeks Pendidikan dapat diperoleh R2 sebesar 0,985 yang mengindikasikan bahwa Indeks Pendidikan dapat dijelaskan melalui variabel konstruk (HLS dan RLS) sebesar 98,5% sedangkan 1,5% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Sedangkan bila melihat variabel Infrastruktur Pendidikan terhadap HLS dan RLS dapat diperoleh R2 0,115 atau 11,5% untuk HLS dengan asumsi 88,5% sisanya dipengaruhi variabel lain. Sedangkan R 2 untuk RLS adalah 0,071 atau 0,71%, dengan asumsi 99,29% dipengaruhi oleh variabel lain. Koefisien parameter jalur yang diperoleh dari hubungan antara variabel HLS dengan Indeks Pendidikan adalah sebesar 0,020 dengan nilai T-statistik 0,073 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara HLS dengan Indeks Pendidikan. Nilai negatif menggambarkan hubungan bertolak belakang dengan Indeks Pendidikan. Sedangkan RLS memiliki nilai koofisien parameter jalur sebesar 0,993 dengan nilai T-statistik 3,751 > 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara RLS dengan Indeks Pendidikan. Dari dua variabel diatas tampak bahwa Rata-Rata Lama Sekolah (RLS) sangat kuat pengaruhnya terhadap Indeks Pendidikan. Sedangkan koefisien parameter jalur yang diperoleh antara Infrastruktur Pendidikan terhadap HLS sebesar -0,340, dengan nilai T-statistik 0,982 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara Infrastruktur Pendidikan dengan HLS. Dengan hubungan negatif yang merepresentasikan pola hubungan 118

119 yang berlawanan. Sedangkan koevisien parameter jalur yang diperolehantara Infrastruktur Pendidikan terhadap RLS sebesar 0,267 dengan nilai T-statistik 1,008 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara Infrastruktur Pendidikan dengan RLS. Melihat data diatas dapat disimpulkan bahwa Infrastruktur Pendidikan memiliki pengaruh lebih besar terhadap HLS dari pada RLS. 3. Pengaruh Variabel Pembentuk Indeks Kesehatan Bila melihat variabel Angka Harapan Hidup (AHH) terhadap Indeks Kesehatan dapat diperoleh R2 sebesar 0,014 yang mengindikasikan bahwa Indeks Kesehatan dapat dijelaskan melalui variabel konstruk (AHH) sebesar 0,14% sedangkan 99,86% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Sedangkan nilai R2 variabel Infrastruktur Kesehatan terhadap AHH sebesar 0,104 yang mengindikasikan bahwa AHH dapat dijelaskan melalui variabel konstruk (Infrastruktur Kesehatan) sebesar 10,4% dengan asumsi 89,96% dipengaruhi oleh variabel lain. Koefisien parameter jalur yang diperoleh antara AHH dan Indeks Kesehatan sebesar 0,118 dengan nilai T-statistik 0,315 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara AHH dengan Indeks Kesehatan. Hubungan negatif mengindikasikan adanya hubungan yang bertolak belakang antara AHH dan Indeks Kesehatan. Sedangkan untuk koefisien parameter jalur uang diperoleh oleh Infrastruktur Kesehatan terhadap AHH sebesar 0,322 dengan nilai T-statistik 2,502 > 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Infrastruktur Kesehatan dengan AHH. 4. Pengaruh Varibel Pembantuk Kemiskinan Bila melihat variabel Pertumbuhan Ekonomi (PE) terhadap Kemiskinan dapat diperoleh 2 R sebesar 0,081 yang mengindikasikan bahwa Kemiskinan dapat dijelaskan melalui variabel konstruk (PE) sebesar 0,81% sedangkan 99,19% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Koefisien parameter jalur yang diperoleh antara PE dan Kemiskinan sebesar 0,284 dengan nilai T-statistik 0,578 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara Pertumbuhan Ekonomi dengan Kemiskinan. Hubungan positif menunjukkan pola hubungan yang searah antara Pertumbuhan Ekonomi dengan Kemiskinan. 5. Pengaruh Variabel Pembentuk Indeks PPP Bila melihat variabel Pengeluaran Perkapita (PPP) terhadap Indeks PPP dapat diperoleh R2 sebesar 0,117 yang mengindikasikan bahwa Indeks PPP dapat dijelaskan melalui variabel konstruk (PPP) sebesar 11,7% sedangkan 89,3% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Sedangkan nilai R2 variabel PDRB ADHB dan Pendapatan Perkapita terhadap Pengeluaran Perkapita sebesar 0,538 yang mengindikasikan bahwa PPP dapat dijelaskan melalui variabel konstruk (PDRB dan Pendapatan Perkapita) sebesar 53,8% dengan asumsi 46,2% SISANYA dipengaruhi oleh variabel lain. 119

120 Sedangkan nilai R2 dari variabel Indeks Gini terhadap PDRB ADHB sebesar 0,039 atau sebesar 0,39% dan 99,61% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Variabel peningkatan kesempatan kerja terhadap pendapatan perkapitan memiliki R2 sebesar 0,578 atau 57,8% dengan asumsi 42,2% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain. Koefisien parameter jalur yang diperoleh antara PPP dan Indeks PPP sebesar -0,341 dengan nilai T-statistik 1,161< 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara Pengeluaran Perkapita dengan Indeks PPP. Hubungan negatif menunjukkan pola hubungan yang bertolak belakang antara PPP dengan Indeks PPP. Koefisien parameter jalur yang diperoleh antara PDRB dan Pengeluaran Perkapita sebesar 37,159. dengan nilai T-statistik 4,403 > 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara PDRB dengan Pengeluaran Perkapita. Hubungan positif menunjukkan pola hubungan yang searah antara PDRB ADHB dengan PPP. Sedangkan koefisien parameter jalur yang diperoleh antara Pendapatan Perkapita dan PPP sebesar -37,620 dengan nilai T-statistik 4,545 > 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Pendapatan Perkapita dengan PPP. Hubungan negatif menunjukkan pola hubungan yang searah antara Pendapatan Perkapita dengan PPP. Variabel dibawahnya yakni Indeks Gini terhadap PDRB memiliki nilai koefisien parameter jalur sebesar 0,198 dengan nilai T-statistik 0,52 < 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang tidak signifikan antara Indeks Gini dengan PDRB ADHB. Sedangkan nilai koefisien peningkatan kesempatan kerja terhadap pendapatan perkapita adalah sebesar -0,76 dengan nilai T-statistik 11,532 > 1,96 pada taraf signifikansi 0,05 (5%) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara Peningkatan Kesempatan Kerja dengan Pendapatan Perkapita. Hubungan negatif menunjukkan 120

121 adanya hubungan yang berlawanan antara peningkatan kesempatan kerja dengan pendapatan perkapita. F. Indeks Pembangunan Gender Indeks Pembangunan Gender (IPG) pada dasarnya, memiliki indikator yang sama dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terdiri dari Indeks Pendidikan, Indeks Kesehatan, dan Indeks Purchasing Power Parity (PPP). Selain variabel yang sama indikator pembentuk varibelnyapun juga sama yakni Angka Harapan Hidup, Angka Harapan Lama Sekolah, Rata-Rata Lama Sekolah, dan Pengeluaran Perkapita. Perebedaan yang mendasar antara IPG dan IPM adalah tereletak pada tujuan data dan penghitungannya. Berbeda dengan IPM yang melihat pembangunan manusia secara keseluruhan yang dilihat dari aspek kesehatan, pendidikan, dan ekonomi disuatu daerah, IPG bertujuan untuk melihat tingkat pembangunan gender (perempuan) dari tiga aspek yang sama dengan IPM. Sedangkan penghitungan IPM dan IPG sejatinya masih menggunakan metode yang sama, namun IPG memisahkan antara penghitungan antara IPM laki-laki dan IPM perempuan, dan kemudian dicari rasio diantara keduanya. Nilai IPG yang mendekati 100 menunjukkan pembangunan gender antara laki-laki dan perempuan seimbang, dan begitu pula sebaliknya jika menjauhi 100, maka pembangunan gender makin timpang antar jenis kelamin. Logical Framework Indeks Pembangunan Gender diatas, coba disusun berdasarkan teori, konsep, maupun penelitian-penelitian terdahulu sebagai upaya mengidentifikasi faktorfaktor lain yang secara langsung maupun tidak langsung memiliki pengaruh terhadap IPG. Setidaknya ada 2 rujukan teori yang digunakan, yang pertama adalah Jurnal Sains dan Seni yang diterbitkan oleh ITS dengan judul Pemodelan Indeks Pembangunan Gender dengan Pendekatan Reegresi Nonparametrik Spline di Indonesia. Jurnal tersebut menunjukkan beberapa asumsi yang meliputi: a. Ada hubungan antara Angka Partisipasi Sekolah (APS) peremupaun di semua jenjang terhadap Indeks Pendidikan dan indikator didalamnya. b. Rasio penduduk berdasarkan jenis kelamin yang lahir dan rasio jenis kelamin saat lahir berimplikasi langsung terhadap IPG. c. Persentase penduduk perempuan memiliki masalah kesehatan berpengaruh langsung terhadap Indeks Kesehatan beserta indikator pembentuknya. d. Peningkatan kesempatan kerja yang merata akan memengaruhi tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan yang berhubungan langsung dengan Indeks PPP dan indikatornya. Rujukan teori kedua adalah dokumen Pembangunan Manusia Berbasis Gender yang diterbitkan oleh kerjasama antara Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dengan Badan Pusat Statistik. Berikut merupakan asumsi-asumsi yang dapat dijadikan rujukan: a. Ada kaitannya antara angka putus skolah pada semua jenjang yang diklasifikasikan berdasarkan gender terhadap Indeks Pendidikan beserta indikatornya. 121

122 b. Ada kaitannya rasio upah yang diterima oleh permpuan terhadap laki-laki terhadap pengeluaran perkapita. Selain asumsi-asumsi yang bersumber dari rujukan teori-teori yang terkait, untuk tahap selanjutnya adalah mengaitkan antara program atau indikator program Kabupaten Banyuwangi terhadap IPG secara langsung maupun tidak langsung. Mengaitkan hal tersebut adalah dengan menggunakan expert judgement. Sehingga hasil akhir dari logical framework IPG Kabupaten Banyuwangi adalah keterkaitan, antara variabel dan indikator pembentuk IPG, konsep toritis, dan program-program pemerintah Kabupaten Banyuwangi. G. Indeks Lingkungan Hidup Perkembangan Indeks kualitas lingkungan hidup di Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu Indikator yang ditetapkan sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU), oleh karena hal tersebut perlu dilakukan pengujian apakah IKLH memberikan kontribusi yang signifikan pada IKU Kabupaten Banyuwangi. Sehingga analisis factor determinan yang mempengaruhi Indeks kualitas lingkungan hidup belum dapat dilakukan secara maksimal. Analisis terhadap Indikator Kinerja Utama (IKU) tersebut belum dapat dilakukan karena dari 11 parameter pembentuk indeks hanya terdapat dua parameter yang memiliki data seris selama lima tahun yaitu Luas Hutan dan Luas Wilayah. Sedangkan 5 Parameter lainnya hanya terdapat data series selama 2 tahun dan empat parameter lainnya tidak terdapat data sama sekali. Oleh karena itu, maka pendekatan dalam analisis ini dilakukan pendekatan studi literatur terhadap parameter pembentuk Indeks Kualitas Lingkungan Hidup. Sebagai berikut. a. Total Suspended Solid (TSS) Total Suspended Solids (TSS) merupakan padatan dalam air yang terjebak oleh filter, padatan tersebut dapat berupa lumpur, tanaman yang membusuk dan jasad hewan, 122

123 maupun limbah industri. Konsentrasi padatan yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pada ekosistem air bahkan menurunkan kualitas air secara derastis. Hal tersebut dikarenakan tingkat padatan yang tinggi dapat menghalangi masuknya Cahaya matahari kedalam air. Contoh uji yang telah homogen disaring dengan kertas saring yang telah ditimbang. Residu yang tertahan pada saringan dikeringkan sampai mencapai berat konstan pada suhu 103ºC sampai dengan 105ºC. Kenaikan berat saringan mewakili padatan tersuspensi total (TSS). Jika padatan tersuspensi menghambat saringan dan memperlama penyaringan, diameter pori-pori saringan perlu diperbesar atau mengurangi volume contoh uji. Untuk memperoleh estimasi TSS, dihitung perbedaan antara padatan terlarut total dan padatan total. Dengan pengertian A = berat kertas saring + residu kering (mg) B = berat kertas saring (mg) V = volume contoh (ml) b. Dissolver Oxygen (DO) Dissolver Oxygen atau Oxigen terlarut merupakan kadar oxygen yang terlarut di dalam air. Tingkat Oksigen yang terlarut di dalam air sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan kehidupan ekosistem di dalam air. Mungculnya kandungan oksigen dalam air secara alami dapat terjadi melalui 2 cara yaitu dari hasil fotosintesis tanaman air maupun difusi antara air dengan udara disekitarnya. Tingkat oksigen terlarut yang baik adalah tidak terlalu ekstrim karena jika kadar oksigen terlarut terlalu rendah dapat menyebabkan kematian pada organisme air, begitu juga jika kadar terlalu tinggi dapat menyebabkan Streess pada organisme air. Terdapat beberapa hal yang dapat mempengaruhi kadar oksigen yang terlarut di dalam air, diantaranya adalah: 1) Jumlah sampah Organik maupun non organik di dalam air, jumlah sampah organik yang cukup banyak di dalam air dapat meningkatkan aktifitas bakteri pengurai sampah organik yang memerlukan oksigen untuk melakukan penguraian. 2) Sisa buangan atau limpasan dari pupuk pertanian yang tidak terkontrol juga dapat mempengaruhi kadar oksigen terlarut di dalam air karena limpasan limbah pupuk pertanian akan memicu pertumbuhan ganggang serta pembusukan tanaman ganggang dan pada akhirnya memicu pertumbuhan dan aktifitas bakteri pengurai yang ikut mengonsumsi oksigen. 3) Suhu air juga sangat mempengaruhi tingkat oksigen terlarut dalam air. Suhu yangyang lebih panas berarti kadungan oksigen di dalam air tersebut juga semakin sedikit. 123

124 4) Tingkat pergerakan Air juga mempengaruhi jumlah air yang terlarut, air yang bergerak semakin meningkatkan kandungan Oksigen yang terlarut di dalam air. Klasifikasi pengukuran tingkat keterlarutan Oksigen adalah sebagai berikut: Untuk mg / L: 0-2 mg / L: tidak cukup oksigen untuk mendukung sebagian besar hewan 2-4 mg / L: hanya beberapa jenis ikan dan serangga dapat bertahan hidup 4-7 mg / L: baik untuk sebagian besar jenis binatang kolam 7-11 mg / L: sangat baik untuk sebagian besar ikan sungai Untuk saturasi persen: Di bawah 60%: kualitas buruk, bakteri mungkin menggunakan DO 60-79%: dapat diterima bagi sebagian besar hewan streaming %: sangat baik untuk sebagian hewan streaming 125% atau lebih: terlalu tinggi c. Biochemical Oxygen Demand (BOD) Biochemical Oxygen Demand (BOD) atau kebutuhan oksigen biokimia, merupakan ukuran terhadap jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh mikroorganisme ketika mereka menguraikan bahan organik dalam air sungai. BOD juga digunakan sebagai ukuran dalam melihat berapa banyak oksigen habis oleh reaksi kimia di dalam air. Tes digunakan untuk mengukur jumlah oksigen yang dikonsumsi oleh ini organisme selama jangka waktu tertentu (biasanya 5 hari pada suhu 20 0C di dalam incubator Laboratorium). Tingkat konsumsi oksigen dalam aliran dipengaruhi oleh banyak variabel yang sama seperti yang dijelaskan pada sub penjelasan terkait Oksigen terlarut (DO) diantaranya suhu, ph, kehadiran jenis mikroorganisme tertentu, dan jenis bahan organik dan anorganik di dalam air. Semakin tinggi BOD menunjukkan bahwa kecenderungan terjadinya kekurangan oksigen di dalam air akan semakin besar, khususnya jika tingkat keterlarutan Oksigen di dalam air (DO) rendah atau sangat rendah. d. Chemical Oxygen Demand (COD) Chemical Oxygen Demand atau kebutuhan oksigen kimiawi adalah jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia baik yang dapat didegradasi secara biologis maupun yang sukar didegradasi. Bahan buangan organic tersebut akan dioksidasi oleh kalium bichromat yang digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent) menjadi gas CO2 dan gas H2O serta sejumlah ion chrom. Reaksinya sebagai berikut : HaHbOc + Cr2O H + CO2 + H2O + Cr 3+ Jika pada perairan terdapat bahan organic yang resisten terhadap degradasi biologis, misalnya tannin, fenol, polisacharida dansebagainya, maka lebih cocok dilakukan pengukuran COD daripada BOD. Kenyataannya hampir semua zat organik 124

125 dapat dioksidasi oleh oksidator kuat seperti kalium permanganat dalam suasana asam, diperkirakan 95% - 100% bahan organic dapat dioksidasi. Seperti pada BOD, perairan dengan nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan pertanian. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 20 mg/l, sedangkan pada perairan tercemar dapat lebih dari 200 mg/l dan pada limbah industri dapat mencapai mg/l (UNESCO,WHO/UNEP, 1992). e. Fosfat Fosfat merupakan sumber utama unsur kalium dan nitrogen yang tidak larut dalam air. Fosfat adalah unsur dalam suatu batuan beku (apatit) atau sedimen dengan kandungan fosfor ekonomis. sebagi contoh sumber Fospat yang besar adalah deterjen Fosfat yang berlebihan dalam air dapat menyebabkan ledakan populasi alga dan enceng gondok pada air serta membuat air berbau tidak sedap akibat dari pembusukan yang terjadi alga-alga yang sudah mati. Kondisi tersebut dapat menurunkan jumlah oksigen yang terdapat dalam air sehingga dapat menyebabkan kerusakan ekosistem karena ketidak seimbangan ekosistem biota dalam air. Air dengan kandungan fosfat yang tinggi cenderung dapat ditemukan pada sungai-sungai pada kawasan padat penduduk yang memiliki sanitasi buruk maupun system daur ulang air limbah yang buruk. Hal tersebut dikarenakan fosfat merupakan komponen yang sering digunakan sebagai salah satu bahan baku untuk produk-produk pembersih seperti sabun, detergen, dan berbagai produk pembersih lainnya. f. Coli Escherichia coli atau sering disebut sebagai E. Coli merupakan bakteri yang berasal dari kotoran hewan atau manusia. Oleh karena itu, dikenal juga dengan istilah koli tinja, sedangkan Enterobacter aerogenes biasanya ditemukan pada hewan atau tanam-tanaman yang telah mati. Bakteri Escherechia coli merupakan mikroorganisme normal yang terdapat dalam kotoran manusia, baik sehat maupun sakit. Dalam satu gram kotoran manusia terdapat sekitar seratus juta bakteri E. coli. Bakteri berasal dari kata Bakterion (Yunani = batang kecil). Berdasarkan Klasifikasi, bakteri digolongkan dalam Divisio Schizomycetes. Escherichia coli (E. coli ) adalah salah satu jenis spesies utama bakteri gram negatif, ditemukan oleh Theodor Escherich (tahun 1885). Hidup pada tinja dan menyebabkan masalah kesehatan pada manusia, seperti diare, muntaber serta masalah pencernaan lainnya. Bakteri ini banyak digunakan dalam teknologi rekayasa genetika sebagai vektor untuk menyisipkan gen-gen tertentu yang diinginkan untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan karena pertumbuhannya sangat cepat dan mudah dalam penanganannya. Secara garis besar klasifikasi bakteri E.coli, berasal dari Filum Proteobacteria, Kelas Gamma Proteobacteria, Ordo Enterobacteriales, Familia Enterobacteriaceae, 125

126 Genus Escherichia, Spesies Escherichia coli. Secara morfologi E.coli merupakan kuman berbentuk batang pendek, gemuk, berukuran 2,4 µ x 0,4 sampai 0,7 µ, Gram-negatif, tak bersimpai, Bergerak aktif dan tidak berspora. Bakteri E.coli merupakan organisme penghuni utama di usus besar, hidupnya komensal dalam kolon manusia dan diduga berperan dalam pembentukan vitamin K yang berperan penting untuk pembekuan darah. Berdasarkan asal usul bakteri tersebut lah maka E. Coli dijadikan sebagai salah satu indikator pencemaran air khususnya pencemaran yang diakibatkan karena masuknya tinja manusia maupun hewan kedalam badan air. Adanya keterkaitan antara bakteri E.Coli dengan manusia semakin meningkatkan potensi pencemaran lingkungan khususnya air sungai seiring dengan bertambahnya kawasan padat penduduk. Seperti halnya di Kabupaten Banyuwangi yang mengalami peningkatan jumlah penduduk seiring meningkatnya perekonomian sebagai dampak dari pembangunan. Lonjakan populasi bakteri E. Coli dapat ditekan melalui perbaikan terhadap perbaikan sanitasi penduduk khususnya yang berada di dekat bantaran sungai maupun di dekat sumber-sumber air baku. Oleh karenanya perlu dilihat kinerja implementasi program-program pembangunan yang berkaitan dengan sanitasi masyarakat pada periode lima tahun terakhir apakah sudah memberikan dampak yang signifikan pada parameter indikator E. Coli. g. Coliform Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup didalam saluran pencernaan manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih tepatnya, bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh bakteri coliform adalah, Escherichia coli dan Enterobacter aerogenes. Jadi coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin baik. Oleh karena bakteri-bakteri lain yang masuk pada golongan coliform cukup banyak, tetapi asal usul mereka relative sama dengan bakteri E. Coli, oleh karenanya perlu dilihat kinerja implementasi program-program pembangunan yang berkaitan dengan sanitasi masyarakat pada periode lima tahun terakhir apakah sudah memberikan dampak yang signifikan pada parameter indikator Coliform. h. Sulfur Dioksida (SO2) Sulfur dioksida adalah salah satu spesies dari gas-gas oksida sulfur (SOx). Gas ini sangat mudah terlarut dalam air, memiliki bau, dan tidak berwarna. Sebagaimana O3, pencemar sekunder yang terbentuk dari SO2, seperti partikel sulfat, dapat berpindah dan terdeposisi jauh dari sumbernya. SO2 dan gas-gas oksida sulfur 126

127 lainnya terbentuk saat terjadi pembakaran bahan bakar fosil yang mengandung sulfur. Sulfur sendiri terdapat dalam hampir semua material mentah yang belum diolah seperti minyak mentah, batu bara, dan bijih-bijih yang mengandung metal seperti alumunium, tembaga, seng, timbal, dan besi. Di daerah perkotaan, yang menjadi sumber sulfur utama adalah kegiatan pemangkit tenaga listrik, terutama yang menggunakan batu bara ataupun minyak diesel sebagai bahan bakarnya, juga gas buang dari kendaraan yang menggunakan diesel dan industri-industri yang menggunakan bahan bakar batu bara dan minyak mentah. Mengacu pada penjelasan tersebut maka Kabupaten Banyuwangi sudah melakukan control yang ketat terhadap perkembangan industry dan efektifitas penerapan rute pada jalan raya yang memiliki potensi kemacetan. Selain itu, karena Kabupaten Banyuwangi memiliki Pelabuhan dan bandara, kedua infrastruktur tersebut haruslah dikontrol dengan lebih ketat, mengingat keduanya merupakan infrastruktur yang sangat berpotensi menghasilkan emisi SO2 yang cukup dan terkonsentrasi pada satu kawasan. i. NO2 Oksida Nitrogen (NOx) adalah kelompok gas nitrogen yang terdapat di atmosfir yang terdiri dari nitrogen monoksida (NO) dan nitrogen dioksida (NO2). Nitrogen monoksida merupakan gas yang tidak berwarna dan tidak berbau sebaliknya nitrogen dioksida berwarna coklat kemerahan dan berbau tajam. NO2 bersifat racun terutama terhadap paru. Kadar NO2 yang lebih tinggi dari 100 ppm dapat mematikan sebagian besarbinatang percobaan dan 90% dari kematian tersebut disebabkan oleh gejala pembengkakan paru (edema pulmonari). Kadar NO2 sebesar 800 ppm akan mengakibatkan 100% kematian pada binatang-binatang yang diuji dalam waktu 29 menit atau kurang. Pemajanan NO2 dengan kadar 5 ppm selama 10 menit terhadap manusia mengakibatkan kesulitan dalam bernafas. Kadar NOx diudara perkotaan biasanya kali lebih tinggi dari pada di udara pedesaan. Kadar NOx diudara daerah perkotaan dapat mencapai 0,5 ppm (500 ppb). Seperti halnya CO, emisi NOx dipengaruhi oleh kepadatan penduduk karena sumber utama NOx yang diproduksi manusia adalah dari pembakaran dan kebanyakan pembakaran disebabkan oleh kendaraan bermotor, produksi energi dan pembuangan sampah. Sebagian besar emisi NOx buatan man usia berasal dari pembakaran arang, minyak, gas, dan bensin. Pertumbuhan jumlah penduduk, baik penduduk asli maupun pendatang di Kabupaten Banyuwangi sudah selayaknya diwaspadai. Bertambahnya penduduk dan meningkatnya mobilitas manusia yang menetap, berkunjung, atau hanya melewati Kabupaten Banyuwangi menggunakan kendaraan bermotor seiring berkembangnya industri pariwisata di Banyuwangi, Bali, dan beberapa daerah sekitarnya, akan sagat berpengaruh terhadap peningkatan jumlah NO2 di Kabupaten Banyuwangi. 127

128 j. Luas Hutan Eksistensi hutan sebagai paru-paru kehidupan sudah selayaknya dijaga dengan baik. Luas hutan pada suatu wilayah akan mempengaruhi kualitas lingkungan hidup di kawasan tersebut dikarenakan adanya aktifitas fotosintesis pepohonan di hutan untuk menyerap karbon dioksida yang dihasilkan oleh aktifitas manusia dan mahluk hidup lainnya. Selain itu dalam sekali proses fotosintesis, pepohonan dapat mengeluarkan Oksigen yang dapat digunakan oleh manusia dan mahluk hidup lainnya. Karena jumlah pepohonan yang banyak maka hutan dapat memberikan pasokan oksigen yang cukup banyak. Meskipun Kabupaten Banyuwangi memiliki kawasan hutan yang cukup luas, upaya untuk menjaganya dan melestarikan eksistensi hutan sangat diperlukan, supaya kawasan hutan tidak berkurang karena aktifitas manusia seperti penebangan liar, dan pembukaan lahan. k. Luas Wilayah Luas wilayah merupakan wilayah otonomi yang dimiliki oleh Kabupaten Banyuwangi. Luas wilayah tersebut harus terus dijaga untuk memaksimalkan daya dukung aktifitas penduduk Kabupaten Banyuwangi. Wilayah yang paling perlu diwaspadai dan terus diawasi adalah wilayah yang berbatasan dengan perairan supaya dapat terhindar dari abrasi pantai mengingat Kabupaten Banyuwangi memiliki garis pantai yang cukup panjang. Pencegahan abrasi dapat dilakukan melalui penanaman pohon mangrove di bibir pantai maupun membangun pemecah ombak di lepas pantai untuk mengurangi intensitas terjangan ombak ke bibir pantai. Tabel 2. 74: Matriks keterkaitan Indikator, Parameter Indikator, Penyebab, Pemicu, dan Kebutuhan data N o 1 Indikator Kualitas Udara Parameter Penyebab Pemicu SO2 1. Pembakaran Fosil (yg mengandung Sulfur) 2. Batu Bara 3. Solar 4. Peleburan Logam (alumunium Tembaga, Seng, Timbal&besi) 1. Pabrik 2. Kendaraan ber motor 3. Jumlah Penduduk 4. Pertambangan / Peleburan logam 5. Pariwisata BWI & Bali (aktifitas pelabuhan/bo ngkar muat) Kebutuhan Data Hasil Uji kandungan SO2 dalam udara Hasil Uji kandungan NO2 dalam udara Hasil Uji kandungan TSS dalam air Hasil Uji kandungan DO dalam air Hasil Uji kandungan BOD dalam air Hasil Uji kandungan COD dalam air 128

129 N o 2 Indikator Kualitas Air Sungai Parameter Penyebab NO2 1. Pembakaran Fosil, 2. Timbunan Sampah 3. Jumlah Penduduk, 4. Minyak 5. Gas Kepadatan Air 1. Air Keruh 2. Timbunan sampah 3. Limbah Cair/Padat 4. Jasad Renik 5. Dampak banyaknya fosfat TSS DO BOD COD Total Fosfat 1. Jumlah sampah Organik/non organic 2. Penggunaan pupuk pertanian, 3. Suhu air 1. Jumlah sampah Organik/non organic 2. Penggunaan pupuk pertanian, 3. Suhu air 4. TSS 5. DO 1. Tenin 2. Fenol 3. Polisacharida 1. Detergen 2. Sabun Pemicu Kebutuhan Data Jumlah Penduduk 2. Jumlah hotel 3. Luas Pertanian 4. Jumlah Penggunaan pupuk 5. Produksi sampah 6. Industri Textil dll 7. Peleburan logam 8. Loundry 9. Pariwisata Hasil Uji kandungan Total Fosfat dalam air 8. Hasil Uji kandungan Fecal-Coli dalam air 9. Hasil Uji kandungan Total-Coliform dalam air 10. Luas Hutan 11. Luas Wilayah 12. Capaian Kinerja Setiap Program Series minimal 5 tahun 129

130 N o 3 Indikator Indeks Tutupan Hutan Parameter Penyebab Fecal-Coli 1. Kotoran hewan 2. Kotoran 3. Manusia TotalColiform 1. Kotoran hewan 2. Kotoran Manusia Luas Hutan Luas Wilayah 1. Luas Hutan Luas Wilayah Pemicu Kebutuhan Data 1. Jumlah Penduduk 2. Sanitasi layak pakai, 3. Pertanian, 4. peternakan, 5. kemiskinan, 6. pendidikan 3. Penghijauan, 4. Illegal Logging 5. Pembukaan Lahan Baru 6. Perluasan Pemukiman 7. Kebakaran Hutan 1. Abrasi 2. Erosi Sedangkan hubungan antar indikator parameter indikator, factor yang mempengaruhi parameter indikator, serta indikator program yang harus diuji dapat dilihat pada gambar berikut ini. 130

131 Gambar 2. 24: Peta Variabel IKLH 131

132 H. Indeks Kepusan Masyarakat Adapun konsep hubungan Indeks Kepuasan Masyarakat yang dapat kami insiasi adalah sebagaimana ditampilkan pada gambar berikut: IKU IKM (INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT) VARIABEL PEMBENTUK IKU: LEVEL 1 KUALITAS LAYANAN LEVEL 2 KEMUTAKHIRAN TEKNOLOGI KESOPANAN KEMAMPUAN PETUGAS KEADILAN TANGGUNG JAWAB INTERVENSI PEMERINTAH DAERAH (Melalui Indikator Kinerja Program) REPUTASI ORGANISASI KECEPATAN PROSEDUR KEDISIPLINAN KEPASTIAN JADWAL KENYAMANAN PERSYARATAN KEAMANAN KEPASTIAN BIAYA KEJELASAN KEWAJARAN BIAYA Nilai/Predikat AKIP % Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Opini WTP BPK terhadap LKPD Indeks Reformasi Birokrasi % Cakupan Jangkauan TIK % Persentase Perangkat Daerah dan Unit Kerja yang Menginplementasikan IT Baik Gambar 2. 25: Peta Variabel IKM Berkaca pada fakta empiris ditemukan bahwa pada dasarnya kepuasan pengguna layanan lebih banyak ditentukan oleh kualitas layanan (Caruana, 2002). Keterangan ini juga diperkuat oleh Fullerton dan Taylor (2002) yang menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara kualitas layanan dengan kepuasan pelanggan. Dengan demikian maka, semakin baik kualitas layanan maka akan semakin tinggi tingkat kepuasan pengguna layanan. Hal ini yang mendeterminasi adanya variabel kualitas pelayanan pada level 1. Pada level 2, merujuk pada sekian penelitian terkait Indeks Kepuasan Masyarakat pada dasarnya bermuara pada empat belas indikator yang di sebutkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/25/M.PAN/2004. Meskipun istilah yang digunakan terkadang berbeda, namun pada dasarnya inti dari variabel tersebut adalah sama. Hal ini dapat ditemukan dalam beberapa jurnal ilmiah. 132

133 Berdasarkan pada pendalaman literatur pada jurnal ilmiah diantaranya jurnal ilmiah berjudul Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan Publik Di Puskesmas Bahu Kecamatan Malalayang Kota Madya Manado, Measuring Customer Satisfaction with Service Quality Using American Customer Satisfaction Model (ACSI Model), Service Quality and Student Satisfaction: A Case Study at Private Higher Education Institutions, dan The Effect of Service Quality on Customer Satisfaction in the Utility Industry A Case of Vodafone (Ghana), tidak akan berbicara jauh pada 5 dimensi yang dikemukakan oleh Valarie A. Zeithaml, A. Parasuraman, dan Leonard L. Berry (1990) dalam publikasinya yang berjudul Delivering Service Quality: Balancing Customer Perceptions and Expectations yaitu Reliability (Kehandalan), Assurance (Kepercayaan), Tangibles (Tampilan), Empathy (Empati), dan Responsiveness (Ketanggapan). Diantara sekian jurnal, tulisan berjudul Pengaruh Kualitas Layanan Terhadap Kepuasan Pelanggan dalam Membentuk Loyalitas Pelanggan menawarkan variabel tambahan yang melengkapi ke empat belas unsur eksisting milik Menpan. Unsur tambahan tersebut yaitu kemutakhiran teknologi dan reputasi organisasi. Pada tulisan tersebut disebutkan bahwa, kemutakhiran teknologi meliputi modernisasi perangkat atau sarana yang digunakan dalam memberikan layanan. Seperti misalnya, pendaftaran secara online pada sektor layanan tertentu tanpa harus mengambil nomor antrian langsung kelokasi dan lain-lain. Selanjutnya, variabel reputasi organisasi, merupakan sebuah capaian organisasi di mata sosial yang secara tidak 133

134 langsung akan mempengaruhi kepuasan organsiasi yang dilihat lebih dari aspek metafisis seperti sugesti psikologis dan semacamnya. Memahami konsep hubungan yang dijelaskan gambar tersebut, dapat dibaca bahwa empat belas unsur Menpan ditambah dengan reputasi organisasi dan kemutakhiran teknologi sarana prasarana layanan mempengaruhi kualitas layanan yang pada akhirnya akan memberikan kepuasan kepada msayarakat. Jika ditelisik dari kacamata indeks kepuasan masyarakat, maka jangkauan analisis IKU ini memang hanya terbatas pada dua level tersebut saja, karena memang pada dasarnya pembahasan ilmiah kepuasan masyakarat cenderung jenuh dan statis. Adapun pengembangan pembahasan yang dapat dilakukan adalah dengan menilik lebih jauh pada masing-masing empat belas unsur terkait sejauh mana dan apa saja intervensi yang perlu dilakukan untuk meningkatkan masing-masing unsur tersebut. Pada kajian ini, tentu saja langkah tersebut kurang reliable karena pembahasan yang akan dicakup akan sangat luas, sehingga dikhawatirkan terlalu melebar dari garis utama pembahasan pada kajian ini. 2.3 Permasalahan Pembangunan Daerah Permasalahan daerah yang berhubungan dengan prioritas dan sasaran pembangunan daerah Berikut ini akan dipaparkan mengenai tabel prioritas tingkat nasional dan provinsi pada tahun Dalam tabel tersebut akan dipaparkan mengenai keterkaitan antara prioritas sasaran yang dilakukan pemerintah ditingkat nasional dan provinsi yang menjadi acuan dari pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam menentukan prioritas pembangunan ditahun 2018 Tabel 2. 65: Permasalahan daerah yang berhubungan dengan prioritas dan sasaran pembangunan daerah Tingkat Nasional 1. Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama o Pengendalian Jumlah Penduduk o Reformasi Pembangunan Kesehatan o Reformasi Pembangunan Pendidikan o Sinergi Percepatan Penanggulangan Kemiskinan Tingkat Provinsi Kabupaten Banyuwangi 1. Kemandirian Ekonomi 1. Pendidikan o Pengurangan ketergantungan terhadap impor bahan baku dan bahan penolong serta barang jadi o Penguatan daya saing daerah baik sumber daya manusia maupun produk daerah. o Peningkatan perdagangan luar negeri (export) dan surplus neraca perdagangan dalam negeri. o Peningkatan akses dan kualitas pendidikan yang bermoral dan berakhlak 2. Kesehatan o Peningkatan akses dan kualitas kesehatan 3. Pertanian 134

135 Tingkat Nasional 2. Ekonomi o Transformasi sektor industry dalam arti luas o Peningkatan daya saing tenaga kerja o Peningkatan daya saing UMKM dan Koperasi o Peningkatan efisiensi sistem logistik dan distribusi o Reformasi keuangan negara 3. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi - Peningkatan Kapasitas Iptek 4. Sarana dan Prasarana o Peningkatan Ketahanan air o Peningkatan konektifitas nasional o Peningkatan ketersediaan infrastruktur pelayanan dasar 5. Politik - Konsolidasi demokrasi 6. Pertahanan dan Keamanan o Percepatan pembangunan MEF dengan pemberdayaan industri pertahanan o Peningkatan ketertiban dan keamanan dalam negeri 7. Hukum dan Aparatur o Reformasi birokrasi dan peningkatan kapasitas kelembagaan publik o Pencegahan dan pemberantasan korupsi Tingkat Provinsi Kabupaten Banyuwangi 2. Pembangunan industry Hulu-Hilir o Revitalisasi sektor pertanian o Pengembangan industry olahan dan kreatif berbasis pertanian o Pengembangan industry dasar 4. Pariwisata dengan upaya penguatan struktur industry o Pengembangan pariwisata o Pengembangan hilirisasi berbasis kearifan local industry o Pelestarian dan o Peningkatan produk bahan pengembangan budaya baku/penolong domestic lokal sebagai pengganti/substitusi 5. UMKM impor 3. Pembangunan agrobisnis dan agroindustri serta UMKM o Peningkatan produktivitas pertanian guna meningkatkan NTP o Pengembangan agroindustri di arahkan pada sentra-sentra produksi dimana berfungsi untuk pengembangan UMKM berbasis hasil pertanian o Meningkatkan daya saing koperasi, usaha mikro kecil dan menengah berbasis kelompok dan kluster o Penguatan regulasi ekonomi kerakyatan 4. Pembangunan Infrastruktur o Regulasi pendukung penguatan kemandirian ekonomi agar dapat berpihak pada kekuatan ekonomi domestic o Pengembangan sarana dan prasarana infrastruktur untuk mendorong pertumuhan ekonomi (kelancaran arus barang dan jasa) dan peningkatan pemenuhan kebutuhan pelayanan dasar 135

136 Tingkat Nasional Tingkat Provinsi 8. Wilayah dan Tata Ruang o Pembangunan daerah tertinggal dan perbatasan o Pengelolaan resiko bencana o Sinergi pembangunan pedesaan 9. Sumberdaya Alam dan Lingkungan o Perkuatan ketahanan Pangan o Peningkatan ketahanan energy o Percepatan pembangunan Kelautan o Peningkatan keekonomian keanekaragaman hayati dan kualitas lingkungan hidup masyarakat serta pengurangan disparitas antar wilayah o Meningkatkan porsi kredit kepada UMKM melalui Bank Umum, Bank UMKM (penambahan penyertaan modal dan BPRKabupaten/Kota. Kabupaten Banyuwangi 136

137 BAB III: Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah Dan Kebijakan Keuangan Daerah Penyusunan kerangka ekonomi dan kebijakan keuangan daerah perlu melihat perkembangan ekonomi global yang cukup berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Perkembangan ekonomi global sejak tahun 2014 tumbuh sebesar 3,4%, dengan didorong perekonomian Amerika Serikat, pada tahun 2015 membaik sebesar 4,7%, terus meningkat pada tahun 2016 sebesar 4,9% dan diperkirakan meningkat pada tahun 2017 tumbuh sebesar 5,4%. Sejalan dengan pergerakan perekonomian global, pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2014 sebesar 5,02% yang melemah di tahun 2015 sebesar 4,71%, meningkat pada tahun 2016 sebesar 5,18% dan diperkirakan melemah di tahun 2017 sebesar 5,3%. Dari sisi eksternal perlambatan tersebut disebabkan oleh turunnya permintaan dunia, turunnya harga komoditas internasional, dan kebijakan pemerintah terkait dengan pembatasan ekspor mineral mentah. Dari sisi permintaan domestik, perlambatan tersebut disebabkan oleh investasi yang masih tumbuh rendah yang diantaranya disebabkan oleh turunnya harga komoditas global, dan juga adanya penghematan anggaran pengeluaran pemerintah. Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah dan Kebijakan Keuangan Daerah merupakan bagian penting dalam menyusun Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) untuk melihat kondisi perekomian dan kemampuan keuangan pemerintah dalam merencanakan program dan kegiatan. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi berada pada tren yang positif, di atas rata rata jawa timur dan nasional. Kondisi perekonomian Kabupaten Banyuwangi dalam waktu lima tahun terakhir yaitu Tahun berturut-turut sebesar 7,24%; 6,48%; 5,91%; 6,13% dan 6,45 dengan laju inflasi berada pada kisaran angka 1,71%. Salah satu indikator pertumbuhan ekonomi daerah harus memacu peningkatan PDRB agar bisa membuka lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat. Indikator lain yang tidak kalah penting yaitu mengurangi tingkat pengangguran, kemiskinan, meningkatkan investasi daerah, dan menekan laju inflasi. Perkembangan ekonomi 137

138 Kabupaten Banyuwangi dari Tahun cenderung meningkat sesuai dengan kontribusi setiap sektor pada PDRB. Berikut ini merupakan perkembangan indikator makro ekonomi Kabupaten Banyuwangi yang disajikan pada tabel 3.1. Tabel 3. 1: Perkembangan Indikator Makro Ekonomi Kabupaten Banyuwangi No Indikator Makro Satuan Realisasi Proyeksi PDRB (Harga Berlaku) 2. PDRB (Harga Konstan) 3. Tingkat Pertumbuhan Ekonomi dalam triliun dalam triliun 53,37 60,12 67,34 71,16 41,99 44,56 47,13 49,32 % 5,70 6,01 5,58 5,42 4. Tingkat Inflasi % 6,59 2,15 1,46 0,66 5. Struktur PDRB Pendekatan Produksi atau Sektoral % 5,91 6,13 6,35 6,57 6. Tingkat Kemiskinan % 9,29 9,12 8,95 8,78 7. Tingkat Pengangguran Terbuka % 7,17 2,55 1,95 1,36 Sumber: BPS Kabupaten Banyuwangi 2017, data diolah Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa PDRB ADHB dan PDRB ADHK mengalami peningkatan pada tahun 2014 ke 2015 dan mengalami peningkatan pada proyeksi tahun Tingkat pertumbuhan ekonomi dari tahun 2014 ke tahun 2015 juga mengalami kenaikan sedangkan tingkat inflasi dari tahun 2014 ke tahun 2015 dan proyeksi tahun 2016 sampai dengan 2017 mengalami penurunan rata-rata (1,58%). Stuktur PDRB pendekatan produksi atau sektoral mengalami kenaikan dari tahun 2014 dan diperkirakan naik hingga tahun Seimbang dengan tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran terbuka yang menurun dari tahun 2014 dan diperkirakan terus berkurang pada tahun Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Arah kebijakan ekonomi nasional Tahun 2017 akan dilakukan melalui akselerasi pertumbuhan ekonomi, stabilitas ketahanan ekonomi, perbaikan kesejahteraan, penanganan masalah pangan, dan ketahanan fiskal. Kebijakan tersebut mengutamakan peningkatan pertumbuhan ekonomi, mendorong investasi dan menekan inflasi. Beberapa tantangan yang dihadapi Indonesia pada Tahun 2017 antara lain ketidakpastian ekonomi global, ketatnya 138

139 likuiditas global, rendahnya harga komoditas dan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Disisi lain adalah kendala daya saing, infrastruktur, masih rendahnya inovasi, kesenjangan ekonomi, kedaulatan pangan, dan masih tingginya cost of fund. Dalam menyusun APBN Tahun 2017, pemerintah berkomitmen melakukan reformasi penganggaran dengan menyusun APBN yang kredibel dan berkualitas. Kebijakan APBN Tahun 2017 bersifat ambisius dan hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang tidak pasti namun tetap memberikan stimulus bagi perekonomian domestik tanpa mengorbankan prinsip kredibilitas dan keberlanjutan. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional, pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur cukup stabil yang dipengaruhi oleh faktor konsumsi, investasi, kebijakan pemerintah serta ekspor dan impor dengan dominasi konsumsi sebesar 60%. Tantangan yang harus dihadaapi Provinsi Jawa Timur Tahun 2017 adalah pada sektor pertanian, sektor industri dan sektor perdagangan. Di sektor pertanian, mutasi lahan sekitar hektar per tahun, untuk sektor industri impor bahan baku masih tinggi yaitu 79,83% dan di sektor perdangangan adalah biaya logistik yang masih tinggi. Berdasarkan misi kedua Gubernur Jawa Timur adalah mewujudkan peningkatan pembangunan ekonomi bagi semua (inklusif), sekaligus meningkatkan kemandirian dan kemampuan daya saing, terutama berbasis agrobisnis/agroindustri dan industrialisasi, melalui peningkatan aktivitas ekonomi dan kelembagaan UMKM dan koperasi, peningkatan produktivitas sektor pertanian dan ketahanan pangan, peningkatan net ekspor perdagangan dalam dan luar negeri, serta percepatan kinerja sektor industri agro maupun non-agro, peningkatan kontribusi sektor pariwisata, melalui pengembangan industri pariwisata yang berdaya saing, dan pemeliharaan serta pelestarian seni budaya lokal, dan peningkatan kinerja penanaman modal dalam negeri, luar negeri, dan investasi daerah, serta meningkatkan ketersediaan dan kualitas infrastruktur untuk mengembangkan daya saing ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Dilihat dari pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Timur pada tahun 2012 hingga tahun 2017 berturut-turut adalah sebesar 7,3%; 6,55%; 5,86%; 5,44%; 5,57%; dan 6,2%. Sedangkan laju inflasi Provinsi Jawa Timur selama tahun 2012 hingga tahun 2017 cenderung menurun, berturut-turur sebesar 7,59%; 7,77%; 8,36%; 3,08%; 2,76% dan 1,52%. Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi dari tahun 2012 sebesar 7,24%, pada tahun 2013 sebesar 6,48%, pada tahun 2014 sebesar 5,91%, tahun 2015 sebesar 6,13% dan pada tahun 2016 sebesar 6,45%. Sedangkan tingkat inflasi di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2012 sebesar 6,24% meningkat pada tahun 2013 sebesar 7,1% dan menurun pada tahun 2014 sebesar 6,59%, pada tahun 2015 menurun kembali sebesar 2,15 dan pada tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar 6,08. Arah kebijakan ekonomi daerah Kabupaten Banyuwangi diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama pada sektor primer yang didasari dan dipengaruhi oleh kondisi perekonomian secara global, nasional, maupun regional. Dimana kondisi tersebut harus bersinergi, linier, dan berintergrasi. Adapun arah kebijkaan ekonomi daerah Kabupaten Banyuwangi menurut dokumen RPJPD adalah tahapan pembangunannya difokuskan pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sistem produksi, prasarana pengukuran, standarisasi, pengujian dan 139

140 pengendalian kualitas produk (SNI, ISO) dan meningkatkan iklim investasi untuk mendorong penanaman modal asing bagi peningkatan daya saing perekonomian daerah sehingga menumbuhkembangkan agrobisnis maupun industri agro dan non agro serta berkembangnya sektor perdagangan dan jasa. Sehingga pembangunan ekonomi berbasis agrobisnis harus dapat mensinergikan berbagai sektor baik primer, sekunder, dan sekunder, serta mensinkronisasi peran berbagai sektor lainnya secara terpadu antara pertanian, industri pengolahan dan sektor perdagangan dan jasa. Pada pengembangan UMKM diarahkan pada revitalisasi dan peningkatan perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi. Selain itu perlu juga peningkatan UMKM dalam hal SDM, permodalan, teknologi, pemasaran dan dukungan kebijakan pemerintah Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2016 dan Perkiraan Tahun 2017 Gambaran pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun rata-rata sebesar 5,37% mengalami penurunan pada tahun 2014 dan 2015 namun mengalami peningkatan di tahun 2016 dan Dari sisi produksi, sektor pertanian tumbuh sebesar 3,5% dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada subsektor perikanan. Sektor industri pengolahan tumbuh sebesar 5,6%, dengan pertumbuhan tertinggi terjadi pada subsektor alat angkut, mesin, dan peralatannya. Sektor tersier tumbuh sebesar 7,4%, dengan pertumbuhan tertinggi pada subsektor pengangkutan dan telekomunikasi yang tumbuh sebesar 10,2%. Sasaran pembangunan dalam RPJMN dalam pertumbuhan ekonomi pada tahun 2017 sebesar 7,1%. 140

141 Kondisi perekonomian Jawa Timur menunjukkan perkembangan dan berjalan sangat bagus. Situasi perekonomian global yang masih belum menentu sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang tercermin dari pertumbuhan sektoralnya. Pada Triwulan IV Tahun 2016, pertumbuhan ekonomi tumbuh antara 5,5%-5,9%, dan pertumbuhan ekonomi Jatim sepanjang tahun 2016 sebesar 5,7%. Pertumbuhan pada tahun 2016 dipengaruhi beberapa faktor seperti konsumsi, investasi, ekspor impor dan kebijakan pemerintah, ditambah indeks tendensi konsumen. Kondisi ekonomi daerah Kabupaten Banyuwangi dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2017 mengalami pertumbuhan di sektor bangunan; sektor perdagangan, hotel dan restoran; dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Sektor pertanian sebagai penggerak ekonomi Kabupaten Banyuwangi walaupun mengalami penurunan dari tahun sebelumnya hal ini dikarenakan faktor cuaca maupun terus berkurangnya luas lahan budidaya. Penurunan pertumbuhan sektor pertanian (primer) tidak berarti produksi sektor tersebut turun, namun pertumbuhannya kalah cepat dengan sektor yang lain. Secara umum pertumbuhan ekonomi daerah sangat dipengaruhi kondisi perekonomian regional dan ekonomi domestik nasional. PRDB ADHB Kabupaten Banyuwangi dari tahun mengalami fluktuasi nilai dengan rata-rata meningkat pada setiap sektornya. Pendapatan produk sektor pertanian setiap tahunnya menduduki posisi pertama sektor yang banyak berkontribusi di dalam PDRB. Sedangkan sektor kedua yang berkontribusi pada PDRB adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor ketiga adalah industri pengolahan Sebagai indikator keberhasilan pembangunan, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Banyuwangi menunjukkan adanya peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan yang dilaksanakan berhasil membawa perubahan yang diinginkan. Pembangunan ekonomi daerah merupakan salah satu kunci keberhasilan sekaligus strategi bagi pembangunan sektor-sektor lainnya. Hal ini mengingat bahwa pembangunan di bidang ekonomi merupakan urat nadi keberhasilan pembangunan bidang-bidang lainnya. Sesuai dengan misi kedua dalam RPJMD Kabupaten Banyuwangi adalah Mewujudkan daya saing ekonomi daerah melalui pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan berbasis potensi sumberdaya alam dan kearifan lokal. Kabupaten Banyuwangi mengembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif melalui pertumbuhan dan resisten terhadap krisis dan meningkatkan daya tarik serta jaringan. Peningkatan perekonomian Kabupaten Banyuwangi telah diterapkan dan sedang berjalan melalui berbagai program daerah meliputi program pengembangan pariwisata, penguatan daya saing UMKM, pengembangan sektor pertanian, pengembangan kelautan dan perikanan dan peternakan. 141

142 3.1.2 Tantangan dan Prospek Perekonomian Daerah Tahun 2018 dan Tahun 2019 Tantangan dan prospek perekonomian daerah Kabupaten Banyuwangi tahun 2018 dan tahun 2019 adalah sebagai berikut: a. Optimisme perbaikan ekonomi Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2018 dengan target 6,57% dan PDRB ADHB sebesar 64,1 triliyun; b. Pertumbuhan ekonomi yang diiringi dengan pemerataan ekonomi (dual track strategy); c. Pada Bulan Januari sampai dengan Bulan Febuari Tahun 2017, inflasi di Kabupaten Banyuwangi membaik yaitu sebesar 0,66% pada Bulan Januari, dan sebesar 0,35% pada Bulan Febuari. Kondisi inflasi tersebut masih di atas tahun sebelumnya yaitu sebesar 1,01%, sedangkan pada Bulan Januari sampai dengan Febuari Tahun 2016 inflasi sebesar 0,79%. Dibandingkan dengan inflasi daerah sekitar, inflasi Kabupaten Banyuwangi masih di atas Kabupaten Jember (0,22%) dan Kabupaten Probolinggo (0,13%); d. Mendorong pergerakan ekonomi dengan memanfaatkan program Banyuwangi Festival di tahun 2018 dan tahun 2019; e. Menyelaraskan tema RKP Nasional Tahun 2018 yaitu Memacu Investasi dan Memantapkan Pembangunan Infrastruktur untuk Percepatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkualitas serta tema RKPD Provinsi Jawa Timur Tahun 2018 yaitu Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat Jawa Timur melalui Pembangunan Infrastruktur untuk mewujudkan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan ; f. Mengoptimalkan produktivitas sektor pertanian serta promosi pariwisata sebagai sektor unggulan daerah guna mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah. 3.2 Arah Kebijakan Keuangan Daerah Berdasarkan amanat dalam RPJM Nasional Tahun , dalam hal Peningkatan Kemampuan Fiskal dan Kinerja Keuangan Daerah, strategi untuk melaksanakan arah kebijakan tersebut adalah: a. Meningkatkan Kemampuan Fiskal Daerah; b. Meningkatkan Kualitas Belanja dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Pemerintah Daerah; dan c. Meningkatkan keterkaitan alokasi dana transfer dan pelayanan publik. Kabupaten Banyuwangi sebagai daerah otonom, berhak, berwenang, dan berkewajiban mengatur dengan memanfaatkan sumber-sumber keuangan yang dimilikinya untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelayanan publik dan pembangunan sesuai dengan Peraturan Perundang-Undangan yang berlaku dan selaras dengan kebijakan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten sehingga tidak terjadi tumpang tindih untuk membangun kebersamaan dalam meningkatkan kesejahteraan. Indikator yang digunakan untuk menentukan proyeksi keuangan adalah pertumbuhan ekonomi daerah, sumber-sumber pendapatan, dan kebijakan pemerintah daerah mengenai pengelolaan keuangan daerah seperti pendapatan daerah, belanja daerah, dan pembiayaan 142

143 daerah. Penentuan kemampuan keuangan daerah sangat terkait dengan kemampuan daerah untuk memperkirakan jumlah penerimaan yang akan diterima sehingga kemampuan pendanaan pembangunan daerah pada tahun 2018 dapat diketahui. Adapun perhitungan kapasitas keuangan daerah beserta kerangka pendanaan dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Evaluasi atas Hasil Perhitungan Kapasitas Keuangan Daerah RKPD Tahun 2018 Amanat undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, Undang- Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, Undang-undang nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah, serta Peraturan Pemerintah nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan keuangan daerah yang antara lain menyebutkan bahwa keuangan daerah harus dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan keadilan, kepatutan dan manfaat untuk masyarakat, maka semua penerimaan dan pengeluaran daerah dalam tahun anggaran yang bersangkutan harus dimasukkan dalam APBD, dan selanjutnya APBD tersebut akan dipakai sebagai dasar bagi pemerintah daerah dalam pengelolaan penerimaan dan pengeluaran daerah yang disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan serta kemampuan keuangan daerah, oleh karena itu prinsip pengelolaan ini akan tercermin pada proses penyusunan anggaran daerah, struktur pendapatan dan struktur belanja daerah. Sejak tahun 2012 sampai dengan tahun 2016, pendapatan negara khususnya dari pajak mengalami fluktuasi angka namun didominasi dengan kenaikan angka. Pada tahun 2012, penerimaan pajak sebesar 73,3% meningkat pada tahun 2013 mencapai 74,9%. Pada tahun 2014 mengalami penurunan yang tidak terlalu signifikan yaitu 74,0% meningkat pada tahun 143

144 2015 menjadi 82,3%. Pada tahun 2016, pendapatan pajak mengalami peningkatan kembali menjadi 86,2% dan pada tahun 2017 mengalami penurunan menjadi 85,6%. Kebijakan fiskal dalam APBN tahun 2017 dibuat secara kredibel, efisien dan efektif serta berkesinambungan. Upaya mereformasi fiskal sudah digulirkan pemerintah sejak 2015 dalam kebijakan APBN. Dalam APBN 2017, pemerintah memastikan komitmennya untuk menjaga keberlanjutan reformasi struktural atas kebijakan APBN melalui tiga pilar utama yaitu 1) Optimalisasi pendapatan negara, 2) Pengelolaan belanja negara secara produktif dan berkualitas, dan 3) Pengelolaan pembiayaan dengan prinsip kehati-hatian (prudent). Anggaran pendapatan Provinsi Jawa Timur Tahun 2016 sebesar Rp 24,37 Triliun, meningkat 9,54% dibandingkan tahun Sementara anggaran belanja dan transfer sebesar Rp 24,75 Triliun atau meningkat 1,62%. Anggaran belanja APBN di Provinsi Jawa Timur Tahun 2016 mengalami perubahan dari Rp 39,08 Triliun di awal tahun 2016 menjadi Rp 39,77 Triliun. Jika dibandingkan dengan Tahun 2015, terdapat penurunan anggaran 6,4%. Penurunan anggaran terjadi pada belanja modal ( -25,3%), sedangkan belanja lainnya meningkat yaitu belanja bantuan sosial meningkat 47,2% disusul belanja barang yaitu 8,4% dan belanja pegawai yaitu 1,4%. Pengelolaan pendapatan daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun meliputi Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Sumber PAD berasal dari Pajak Daerah, retribusi daerah, bagiian laba usaha perusahaan milik daerah, dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Dana perimbangan berasal dari bagi hasil pajak, bagi hasil bukan pajak, subsidi daerah otonom, Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), bantuan pembangunan daerah, dan penerimaan lain-lain. Bagian lainlain penerimaan berasal dari lain-lain penerimaan yang sah dan lain-lain penerimaan dari propinsi. Hasil evaluasi/catatan atas perhitungan keuangan daerah RKPD tahun 2018 Kabupaten Banyuwangi dapat diketahui pada tabel 3.2. Tabel 3. 2: Evaluasi/Catatan Atas Perhitungan Kapasitas Keuda RKPD Tahun 2018 No Uraian Proyeksi RPJMD Tahun 2018 (Rp) PENDAPATAN 1.1 Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah , Retribusi Daerah Hasil pengelolaan keuangan Daerah Yang Dipisahkan , Lain-Lain PAD yang sah ,88 Jumlah Pendapatan Asli Daerah , Dana Perimbangan 144

145 No Uraian Proyeksi RPJMD Tahun 2018 (Rp) Dana Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil Bukan Pajak , Dana Alokasi Umum , Dana Alokasi Khusus , Transfer Pemerintah Pusat Lainnya , Dana Penyesuaian , Transfer Pemerintah Provinsi ,90 Jumlah Dana Perimbangan , Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah Pendapatan Hibah , Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya , Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus , Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya ,90 Jumlah Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah ,55 JUMLAH PENDAPATAN DAERAH ,23 2 BELANJA DAERAH 2.1 Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai , Belanja Hibah , Belanja Bantuan Sosial , Belanja bagi hasil kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa , Belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/ kota dan pemerintahan , Belanja tidak terduga - Jumlah Belanja Tidak Langsung , Belanja Langsung Belanja Pegawai , Belanja barang dan jasa , Belanja modal ,94 Jumlah Belanja Langsung ,30 JUMLAH BELANJA DAERAH SURPLUS/(DEFISIT) ( ,14) 3 PEMBIAYAAN 145

146 No Uraian Proyeksi RPJMD Tahun 2018 (Rp) Penerimaan Pembiayaan Daerah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya , Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Penerimaan Piutang Daerah - Jumlah Penerimaan Pembiayaan Daerah , Pengeluaran Pembiayaan Daerah Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Utang , Pengeluaran Pihak Ketiga - Jumlah Pengeluaran Pembiayaan Daerah ,00 PEMBIAYAAN NETTO ,51 SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN TAHUN BERKENAAN (SILPA) Sumber: Proyeksi berdasarkan Dokumen RPJMD Tahun ,37 1. Perhitungan Kapasitas Keuangan Daerah Analisis pengelolaan keuangan daerah pada dasarnya ditujukan untuk menghasilkan gambaran tentang kapasitas atau kemampuan keuangan daerah dalam mendanai penyelengggaraan pembangunan daerah. Adapun perhitungan kapasitas keuangan daerah dapat di analisis melalui beberapa tahapan sebagai berikut: A. Tahap I: Analisis dan Perhitungan Penerimaan Daerah 1) Menghitung rata-rata pertumbuhan pendapatan, belanja tidak langsung, pembiayaan, dan neraca daerah a) Menghitung rata-rata pertumbuhan realisasi pendapatan daerah Dilihat dari tren pendapatan dari tahun 2015 ke 2017 mengalami kenaikan. Gambaran perkembangan pertumbuhan realisasi pendapatan daerah tahun dapat dilihat pada tabel berikut ini: 146

147 No. Tabel 3. 3: Rata-Rata Pertumbuhan Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun Uraian Anggaran Tahun 2015 (Rp) Anggaran Tahun 2016 (Rp) Anggaran Tahun 2017* (Rp) Rata-rata Pertumbuhan (%) PENDAPATAN 1.1. Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah , , (0,6) Retribusi Daerah , ,4 Hasil pengelolaan keuangan Daerah Yang Dipisahkan , (0,4) Lain-Lain PAD yang sah , , ,6 Jumlah Pendapatan Asli Daerah , , (0,9) 1.2. Dana Perimbangan Dana Bagi Hasil Pajak , ,3 Dana bagi hasil bukan pajak / Sumber Daya Alam ,00 - (0,9) Dana Alokasi Umum , ,3 Dana Alokasi Khusus , ,3 Dana Penyesuaian ,00 - (10,0) Dana Bagi Hasil Pajak Dari Provinsi ,00 - (3,5) Transfer Pemerintah Provinsi ,00 - (3,6) Jumlah Dana Perimbangan , (10,0) 1.3. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah Pendapatan Hibah , (42,3) Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya ,7 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus ,2 Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya ,5 Dana Bagi Hasil dari Pemerintahan Pusat Jumlah Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah , ,9 JUMLAH PENDAPATAN DAERAH , , Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi , data diolah 147

148 b) Menghitung rata-rata pertumbuhan realisasi belanja tidak langsung daerah Untuk mengetahui rata-rata pertumbuhan realisasi belanja tidak langsung daerah, dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3. 4: Rata-rata Pertumbuhan Realisasi Belanja Tidak Langsung Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun No. Uraian Anggaran Tahun 2015 (Rp) Anggaran Tahun 2016 (Rp) Anggaran Tahun 2017 (Rp) Rata-rata Pertumbuhan (%) Belanja Tidak Langsung 1. Belanja Pegawai , , ,51 0, Belanja Hibah , ,00 (0,003) 3. Belanja Bantuan Sosial , ,00 0, Belanja Modal , Belanja bagi hasil kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa 6. Belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/ kota dan pemerintahan ,00 0, , ,00 0, Bagi Hasil Retribusi , Belanja tidak terduga , ,00 0, Belanja bantuan keuangan , lainnya 10. Belanja Barang dan Jasa , Sumber: LAKIP Kabupaten Banyuwangi

149 c) Menghitung rata-rata pertumbuhan harta dan kewajiban daerah Untuk mengetahui rata-rata pertumbuhan harta dan kewajiban daerah, dapat dilihat pada tabel berikut. No. Tabel 3. 5: Rata-rata Pertumbuhan Neraca Daerah Uraian (2016*) (2017*) Rata-rata Pertumbuhan (Rp) (Rp) (Rp) (%) ASET 1.1 ASET LANCAR Kas di Kas Daerah 320,331,660, ,613,630, ,895,600, Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Kas di Badan Layanan Umum Daerah 251,519, ,135, ,751, (0.15) ,445,448, ,002,974, ,560,500, Kas lainnya 14,931,397, ,567,414, ,203,431, Investasi Jangka Pendek Piutang 70,151,901, ,941,509, ,731,117, Piutang Pajak 29,812,562, ,928,212, ,043,862, Piutang Retribusi 1,036,481, ,102,347, ,168,213, Piutang Dana Bagi Hasil 31,585,748, ,581,130, ,576,512, Piutang Lainnya 18,632,607, ,970,010, ,307,413, (15.48) Penyisihan Piutang (10,915,498,445.40) (21,640,191,412.00) (32,364,884,378.60) Persediaan 32,854,855, ,257,855, ,660,855, Belanja Dibayar Dimuka 1,517,575, ,034,120, ,550,664, JUMLAH ASET LANCAR 476,484,358, ,650,928, ,817,498, Investasi Jangka Panjang Investasi Nonpermanen Investasi Nonpermanen- Dana Bergulir Dana Bergulir Diragukan Tertagih Jumlah Investasi Nonpermanen 2,262,343, ,246,998, ,231,653, (0.68) (1,818,573,500.00) (1,901,503,950.00) (1,984,434,400.00) Investasi Permanen 443,769, Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Investasi Permanen Lainnya Jumlah Investasi Permanen 125,805,383, ,274,944, ,744,505, ,805,383, ,274,944, ,744,505,

150 No. Uraian (2016*) (2017*) Rata-rata Pertumbuhan (Rp) (Rp) (Rp) (%) JUMLAH INVESTASI JANGKA PANJANG 1.2. ASET TETAP 125,805,383, ,176,668, ,547,954, Tanah 748,539,272, ,112,961, ,686,651, Peralatan dan Mesin 532,707,771, ,361,042, ,014,312, Gedung dan Bangunan 1,503,086,902, ,539,847,714, ,576,608,525, Jalan. Irigasi dan Jaringan 2,364,462,060, ,654,339,456, ,944,216,853, Aset Tetap Lainnya 35,682,135, ,955,694, ,229,253, Konstruksi Dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan Aset Tetap 6,961,878, ,354,615, ,747,352, ,693,129,733, ,900,364,117, ,107,598,501, JUMLAH ASET TETAP 2,498,310,287, ,722,607,367, ,946,904,448, DANA CADANGAN Dana Cadangan JUMLAH DANA CADANGAN ASET LAINNYA Tagihan Penjualan Angsuran Tuntutan Perbendaharaan Tuntutan Ganti Rugi Kemitraan dengan Pihak Ketiga 20,466,023, ,306,115, ,146,206, Aset Tak Berwujud 4,506,860, ,312,895, ,118,930, Aset Lain-Lain 157,839,379, ,500,626, ,161,873, (37.39) Akumulasi Amortasi Aset Tak Berwujud -1,937,505, JUMLAH ASET LAINNYA 180,874,758, JUMLAH ASET -2,397,365,090, KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Pihak Ketiga ,078, ,242, ,406, Utang Bunga Utang Pajak 243,946, Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Lainnya Pendapatan Diterima Dimuka ,197,925, ,224,015, ,250,104, Utang Belanja 15,001,681, ,238,324, ,474,966,

151 No. Uraian (2016*) (2017*) Rata-rata Pertumbuhan (Rp) (Rp) (Rp) (%) Utang Jangka Pendek Lainnya JUMLAH KEWAJIBAN JANGKA PENDEK KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri Pemerintah Pusat Utang Dalam Negeri Obligasi Utang Jangka Panjang Lainnya JUMLAH KEWAJIBAN JANGKA PANJANG ,498,632, ,546,374, ,594,117, JUMLAH KEWAJIBAN 20,498,632, EKUITAS DANA 3,261,419,925, Ekuitas Dana Lancar Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) Pendapatan yang ditangguhkan Cadangan Piutang Cadangan Persediaan Dana yang Harus Disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek Ekuitas Dana Lancar Lainnya Jumlah Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Investasi Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Dana yang Harus Disediakan Untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang Jumlah Ekuitas Dana Investasi Ekuitas Dana Cadangan

152 No. Uraian (2016*) (2017*) Rata-rata Pertumbuhan (Rp) (Rp) (Rp) (%) Diinvestasikan dalam Dana Cadangan Jumlah Ekuitas Dana Cadangan JUMLAH EKUITAS DANA 3,261,419,925, ,544,362,393, ,827,304,862, JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA 3,281,918,557, ,568,908,768, ,855,898,979, Sumber: Neraca Lajur Pemerintah Kabupaten Banyuwangi Tahun Analisis Sumber Pendapatan Daerah Tahun 2017 a) Analisis Sumber Pendapatan Daerah Analisis sumber pendapatan daerah dilakukan untuk memperoleh gambaran proporsi dari setiap sumber pendapatan daerah yang paling dominan kontribusinya. Tabel 3. 6: Prosentase Sumber Pendapatan Daerah Kabupaten Banyuwangi No Uraian (2015) (%) Tahun (2016) (%) (2017*) (%) PENDAPATAN 1.1. Pendapatan Asli Daerah 10% 13,1% 16,20% Pajak Daerah 31% 32,8% 34,60% Retribusi Daerah 10% 9,4% 8,80% Hasil pengelolaan keuangan Daerah Yang Dipisahkan 6% 4,1% 2,20% Lain-Lain PAD yang sah 53% 53,7% 54,40% 1.2. Dana Perimbangan 61% 65,8% 70,60% Dana Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil Bukan Pajak 9% 4,8% 0,60% Dana Alokasi Umum 88% 75,8% 63,60% Dana Alokasi Khusus 4% 19,3% 34,60% 1.3. Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah 28% 21,0% 14,00% Pendapatan Hibah 19% 27,2% 35,40% Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintahan Daerah Lainnya 18% 28,7% 39,40% Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 62% 29,5% Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya 0% 14,6% 29,20% Dana Bagi Hasil dari Pemerintahan Pusat 0,05% - - Sumber: APBD Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015, 2016 dan

153 b) Analisis Kinerja Realisasi Pendapatan Daerah Untuk mengetahui perkembangan realisasi setiap objek pendapatan daerah yaitu dengan membandingkan antara yang dianggarkan dalam perubahan APBD dengan realisasi pendapatan daerah pada tahun anggaran berkenaan. Tabel 3. 7: Kinerja Realisasi Pendapatan Daerah No Uraian (2015) (%) Kinerja (2016) (%) (2017*) (%) PENDAPATAN 1.1. Pendapatan Asli Daerah 114,43 104,16 93, Pajak Daerah 120,03 96,43 72, Retribusi Daerah 116,05 106,78 97, Hasil pengelolaan keuangan Daerah Yang Dipisahkan 98,78 93,2 87, Lain-Lain PAD yang sah 112,37 110,07 107, Dana Perimbangan 97,72 85,55 73, Dana Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil Bukan Pajak 80,24 93,63 107, Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus 89,17 53,88 18, Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah 105,03 108,83 112, Hibah 125,24 122,6 119, Dana Darurat Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah Lainnya 110,28 112,4 114, Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 99,77 99,82 99, Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya 98,85 99,92 100,99 Sumber: Laporan Realisasi Anggaran Tahun

154 c) Analisis Proyeksi Pendapatan Daerah Proyeksi pendapatan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut. Tabel 3. 8: Proyeksi Pendapatan Daerah Kabupaten Banyuwangi No Uraian Proyeksi Tahun 2018 (Rp) PENDAPATAN 1.1. Pendapatan Asli Daerah , Pajak Daerah , Retribusi Daerah , Hasil pengelolaan keuangan Daerah Yang Dipisahkan , Lain-Lain PAD yang sah , Dana Perimbangan , Dana Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil Bukan Pajak , Dana Alokasi Umum , Dana Alokasi Khusus Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah , Pendapatan Hibah , Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintahan Daerah Lainnya , Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus , Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya , Dana Bagi Hasil dari Pemerintahan Pusat - JUMLAH PENDAPATAN DAERAH ,80 Sumber: Data diolah berdasarkan time series APBD tahun anggaran Analisis penerimaan pembiayaan daerah Untuk mengetahui jumlah penerimaan pembiayaan daerah tahun rencana. Metode perhitungan yang digunakan pada dasanya menggunakan data time series. Komponen penerimaan pembiayaan daerah mencakup: Tabel 3.9 Proyeksi Penerimaan Pembiayaan Daerah No Uraian Proyeksi Tahun 2018 (Rp) Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya ,60 2 Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman 0 3 Penerimaan Piutang Daerah 0 Jumlah Penerimaan Pembiayaan Daerah ,60 Sumber: Data diolah berdasarkan time series APBD tahun anggaran

155 Hasil analisis proyeksi pendapatan RKPD tahun rencana secara keseluruhan kemudian dibandingkan dengan proyeksi pendapatan tahun rencana di RPJMD. Dari perbandingan tersebut akan diketahui selisihnya, apakah terjadi penambahan/pengurangan. Hasilnya dituangkan dalam tabel berikut. No Tabel 3. 9: Proyeksi/Target Penerimaan Daerah Kabupaten Banyuwangi Uraian Proyeksi RPJMD Tahun 2018 (Rp) Proyeksi RKPD Tahun 2018* (Rp) Selisih* (Rp) PENDAPATAN 1.1. Pendapatan Asli Daerah , , Pajak Daerah , , Retribusi Daerah , Hasil pengelolaan keuangan Daerah Yang Dipisahkan Lain-Lain PAD yang sah , , , , , Dana Perimbangan , , Dana Bagi Hasil Pajak / Bagi Hasil Bukan Pajak , , Dana Alokasi Umum , , Dana Alokasi Khusus , Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah , , , Pendapatan Hibah , Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintahan Daerah Lainnya Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus , , , , ,28 155

156 No Uraian Proyeksi RPJMD Tahun 2018 (Rp) Proyeksi RKPD Tahun 2018* (Rp) Selisih* (Rp) Bantuan Keuangan dari Provinsi atau ,69 Pemerintah Daerah ,69 Lainnya Dana Bagi Hasil dari 0 Pemerintahan Pusat 0 0 JUMLAH PENDAPATAN DAERAH , ,62 Sumber: Dokumen RPJMD Kabupaten Banyuwangi Tahun dan Data Diolah dari Time Series APBD Tahun Anggaran B. Tahap II: Perhitungan Pengeluaran Daerah Hasil analisis terhadap belanja dan pengeluaran pembiayaan daerah tahun 2018 disajikan dalam tabel berikut. No Tabel 3. 10: Penghitungan Kebutuhan Belanja & Pengeluaran Pembiayaan Daerah Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018 Uraian Proyeksi RPJMD tahun 2018 (Rp) Proyeksi RKPD tahun 2018* (Rp) Selisih (Rp) BELANJA DAERAH 1.1 Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai , , Belanja Hibah , , Belanja Bantuan Sosial , , Belanja bagi hasil kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa , , Belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/ kota dan pemerintahan , ,28 156

157 No Uraian Proyeksi RPJMD tahun 2018 (Rp) Proyeksi RKPD tahun 2018* (Rp) Selisih (Rp) Belanja tidak terduga Jumlah Belanja Tidak Langsung 1.2 Belanja Langsung Belanja Pegawai Belanja barang dan jasa Belanja modal Jumlah Belanja Langsung JUMLAH BELANJA DAERAH SURPLUS/(DEFISIT) 2 PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Daerah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Penerimaan Piutang Daerah Jumlah Penerimaan Pembiayaan Daerah Pengeluaran Pembiayaan Daerah Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Utang , , , , , , ,38 ( ,77) , , , ( ,00) , , , , ( ) , , , ( ,36 ) ( ,36) ,00 157

158 No Uraian Proyeksi RPJMD tahun 2018 (Rp) Proyeksi RKPD tahun 2018* (Rp) Selisih (Rp) Pengeluaran Pihak Ketiga Jumlah Pengeluaran Pembiayaan Daerah PEMBIAYAAN NETTO , , ,00 ( ,36) SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN TAHUN BERKENAAN (SILPA) 0,00 0,00 0,00 Sumber: Dokumen RPJMD Kabupaten Banyuwangi Tahun dan Data Diolah dari Time Series APBD Tahun Anggaran Nilai dana yang akan digunakan dalam penghitungan pagu indikatif, kapasitas keuangan riil yang telah dihitung, dikurangkan terlebih dahulu dengan kebutuhan dana bagi program/kegiatan wajib/mengikat yang harus diselenggarakan karena beberapa alasan: (a) Menyangkut pelayanan dasar wajib yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan; (b) Menyangkut kebutuhan operasional rutin perkantoran yang harus diselenggarakan. Berikut ini tabel penghitungan kebutuhan belanja langsung: wajib/mengikat dan prioritas. Tabel 3. 11: Penghitungan Kebutuhan Belanja Langsung: Wajib/Mengikat dan Prioritas Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018 No Uraian Proyeksi RPJMD Tahun 2018 (Rp) Proyeksi Tahun 2018* (Rp) Selisih (Rp) Belanja Pegawai , ,50 2. Belanja barang dan Jasa , ,75 3. Belanja Modal TOTAL BELANJA LANGSUNG WAJIB DAN MENGIKAT , , , ,23 Sumber: Dokumen RPJMD Kabupaten Banyuwangi Tahun dan Data Diolah dari Time Series APBD Tahun Anggaran

159 Berdasarkan data time series APBD Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2017, proyeksi tahun 2018 berdasarkan perhitungan data time series dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2017 dapat dilihat pada tabel berikut ini: 159

160 Tabel 3. 12: Perhitungan Proyeksi Anggaran Tahun 2018 RATA- RATA-RATA APBD NO RATA % PROYEKSI 2018 KENAIKAN PENDAPATAN DAERAH 1.1 Pendapatan Asli Daerah Hasil Pajak Daerah 64,176,653,951 77,072,313, ,316,523, ,036,080, ,286,475, ,256,441, Hasil Retribusi Daerah 65,163,101,136 23,971,815,335 28,431,473,368 34,936,992, ,075,369,428 35,286,362, Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 16,353,104,000 15,463,701,000 16,111,079,858 15,216,914, ,729,816 15,369,083, Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 63,210,826, ,529,165, ,903,486, ,429,345, ,406,173, ,423,639,202 Jumlah Pendapatan Asli Daerah 208,903,685, ,036,994, ,762,563, ,619,333, ,238,549, ,335,527, Dana Perimbangan Dana Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 63,694,302, ,134,985, ,134,985,000 90,309,551, ,871,749,814 91,212,647, Dana Alokasi Umum 1,254,496,229,000 1,288,940,680,000 1,341,343,454,888 1,414,388,345, ,297,372,000 1,428,532,228, Dana Alokasi Khusus 64,053,640,000 51,561,100, ,910,870,169-98,952,410, ,519,978,871 Jumlah Dana Perimbangan - 1,382,244,171,286 1,469,636,765,000 1,470,478,439, ,748,057, Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah Pendapatan Hibah - 131,226,010, ,226,010, ,496,943,720-54,165,647, ,121,913, Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintahan Daerah Lainnya 92,490,251, ,164,051, ,154,815, ,884,724, ,131,490, ,593,571,715 Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus 302,689,746, ,989,239, ,459,887, ,133,752, ,185,331, ,895,090,167 Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah Lainnya 85,623,697, ,893,053, ,118,922 87,761,984,303 Dana Bagi Hasil dari Pemerintahan Pusat - 350,000, ,000,

161 RATA- RATA-RATA APBD NO RATA % KENAIKAN PROYEKSI Jumlah Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah 480,803,694, ,729,301, ,010,713, ,408,474, ,534,926, ,372,559,342 JUMLAH PENDAPATAN DAERAH 2,071,951,551,125 2,394,403,061,489 2,504,251,716,603 2,833,636,575, ,895,008,035 2,861,972,940,983 2 BELANJA DAERAH 2.1 Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai 1,116,834,104,709 1,303,107,840,412 1,365,433,105,227 1,400,013,014, ,392,969,836 1,414,013,144, Belanja Hibah 86,069,345, ,774,943,151 59,248,950, ,987,797, ,972,817, ,057,675, Belanja Bantuan Sosial 11,224,020,000 12,693,822,000 10,093,822,000 30,149,333, ,308,437,787 30,450,826, Belanja bagi hasil kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa 3,168,000,000 3,168,000,000 3,168,000,000 2,527,047, ,650,763 2,552,318,188 Belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/ kota dan pemerintahan 67,901,000,000 96,318,966, ,157,355, ,549,028, ,882,676, ,944,518, Belanja tidak terduga 5,000,000,000 5,000,000,000 5,000,000,000 5,050,000, ,666,667 5,100,500,000 Jumlah Belanja Tidak Langsung 1,290,196,469,909 1,569,063,571,955 1,594,101,233,278 1,684,276,220, ,359,916,953 1,701,118,982, Belanja Langsung Belanja Pegawai 47,769,913,000 88,686,961, ,370,590, ,399,374, ,876,487, ,443,368, Belanja barang dan jasa 330,300,367, ,987,143, ,778,678, ,541,967, ,080,533, ,207,387, Belanja modal 553,678,702, ,549,546, ,742,394, ,136,158, ,152,485, ,977,520,217 Jumlah Belanja Langsung 931,748,983,878 1,003,223,650,562 1,162,891,663,431 1,655,077,501, ,109,505,753 1,671,628,276,149 JUMLAH BELANJA DAERAH 2,221,945,453,787 2,572,287,222,517 2,756,992,896,709 3,339,353,721, ,469,422,706 3,372,747,259,123 SURPLUS/(DEFISIT) -149,993,902, ,884,161, ,741,180, ,506,471, ,170,856, ,774,318,140 3 PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Daerah Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya 149,993,902, ,884,161, ,741,160, ,506,471, ,170,856, ,511,536,

162 RATA- RATA-RATA APBD NO RATA % PROYEKSI 2018 KENAIKAN Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Penerimaan Piutang Daerah Jumlah Penerimaan Pembiayaan Daerah 149,993,902, ,884,161, ,741,160, ,506,471, ,170,856, ,511,536, Pengeluaran Pembiayaan Daerah Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Utang Pengeluaran Pihak Ketiga Jumlah Pengeluaran Pembiayaan Daerah PEMBIAYAAN NETTO 149,993,902, ,884,161, ,741,160, ,506,471, ,170,856, ,511,536,424 SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN TAHUN BERKENAAN (SILPA) Sumber: APBD Tahun Anggaran 2014 sampai dengan 2017, data diolah 162

163 3.2.1 Proyeksi Keuangan Daerah dan Kerangka Pendanaan Proyeksi APBD Kabupaten Banyuwangi dari tahun , persentase terbesar pendapatan daerah tahun 2018 dari dana perimbangan yaitu sebesar 74,26% dari total pendapatan daerah. Lain-lain pedapatan daerah yang sah sebesar 30% dan pendapatan asli daerah sebesar 12%. Anatomi pendapatan daerah Kabupaten Banyuwangi tersebut sama dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu pendapatan terbesar adalah dari dana perimbangan sedangkan pendapatan asli daerah relatif kecil. Jumlah pendapatan asli daerah tahun 2018 diproyeksikan sebesar Rp ,65 meningkat sebesar 0,12% dari tahun 2017 yang sebesar Rp ,32. Jumlah dana perimbangan daerah tahun 2018 diproyeksikan sebesar Rp ,59 meningkat sebanyak 1,46% dari tahun 2017 yang sebesar Rp ,26. Sedangkan lain-lain pendapatan daerah yang sah diproyeksikan Rp ,55 di tahun 2018 meningkat sebesar 0,32% dari tahun 2017 sebesar Rp ,73. Belanja daerah Kabupaten Banyuwangi tahun 2018 diproyeksikan sebesar Rp meningkat sebanyak 0,52% dari tahun 2017 yang sebesar Rp Persentase terbesar belanja daerah tahun 2018 adalah belanja tidak langsung sebesar 53% atau sebesar Rp dan belanja langsung sebesar 47% atau sebesar Rp dari total belanja daerah. Proyeksi belanja tidak langsung daerah kabupaten Banyuwangi pada tahun 2018 adalah sebesar Rp meningkat sebesar 0,52% dari tahun 2017 yang sebesar Rp Sedangkan proyeksi belanja langsung tahun 2018 meningkat sebesar Rp atau sebesar 0,48% dari tahun 2017 yaitu sebesar Pembiayaan daerah berdasarkan tren data APBD Kabupaten Banyuwangi, penerimaan pembiayaan daerah berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran (SILPA) yang diproyeksikan meningkat sebesar 1% dari tahun Proyeksi penerimaan dari SILPA tahun 2018 sebesar Rp dari tahun 2017 yang sebesar Rp Berdasarkan uraian dan proyeksi anggaran daerah, kerangka pendanaan Kabupaten Banyuwangi di tahun 2018 untuk pendapatan daerah banyak berasal dari dana perimbangan. Sedangkan belanja daerah banyak diserap untuk belanja tidak langsung Arah Kebijakan Keuangan Daerah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2018 proyeksi Pendapatan Asli Daerah (PAD) terus mengalami kenaikan seperti pada tahun-tahun 163

164 sebelumnya walaupun pendapatan terbesar masih mengandalkan dana perimbangan dan lainlain pendapatan daerah yang sah. Pendapatan Asli Daerah diupayakan dan didorong menjadi sumber utama, untuk itu kebijakan Pendapatan Daerah lebih difokuskan pada upaya untuk meningkatkan setiap komponen PAD terutama pada sektor pertanian dan pariwisata. Sumbersumber PAD dapat didorong melalui produksi hasil pertanian bahan makanan, produksi perikanan, pajak hiburan, pajak hotel, pajak restoran, peningkatan kinerja retribusi jasa umum, retribusi jasa usaha dan lain-lain. Kebijakan keuangan daerah diarahkan untuk meningkatkan pengelolaan aset-aset daerah, adapaun kebijakannya adalah sebagai berikut: a. Anggaran belanja APBD Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018 dialokasikan untuk mendukung kebijakan dan program prioritas daerah dan sektor unggulan; b. Anggaran pendapatan diarahkan untuk diperoleh dari berbagai sumber pendapatan yang berkelanjutan berbasis potensi dan destinasi daerah Kabupaten Banyuwangi Arah Kebijakan Pendapatan Daerah Pengelolaan pendapatan daerah diarahkan pada peningkatan penerimaan daerah melalui: (1) Optimalisasi pendapatan daerah sesuai peraturan yang berlaku dan kondisi daerah; (2) Peningkatan kemampuan dan keterampilan SDM Pengelola Pendapatan Daerah; (3) Peningkatan intensitas hubungan perimbangan keuangan pusat dan daerah secara adil dan proporsional berdasarkan potensi dan pemerataan; dan (4) Peningkatan kesadaran masyarakat untuk memenuhi kewajibannya. Realisasi sumber-sumber PAD Tahun 2016 Kabupaten Banyuwangi terbesar berasal dari lain-lain pendapatan asli daerah yang sah yaitu sebesar Rp ,60 atau sebesar 53,7% dari seluruh jumlah PAD. Sumber terbesar kedua berasal dari hasil pajak daerah sebesar Rp ,50 atau sebesar 32,8% dari total seluruh pendapatan daerah. Sumber lainnya berasal dari hasil retribusi daerah sebesar 9,4% dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan sebesar 4,1% dari seluruh pendapatan daerah. Pendapatan daerah dari dana perimbangan tahun 2016 terealisasi sebesar Rp ,00 yang banyak berasal dari dana alokasi umum sebesar 75,8% atau Rp ,00; sedangkan pendapatan dari Dana Alokasi Khusus sebesar 19,3% atau Rp ,00 dan dari dana bagi hasil pajak/bagi hasil bukan pajak sebesar 4,8% atau Rp ,00. Sumber pendapatan daerah yang berasal dari lain-lain pendapatan daerah yang sah dengan pendapatan terbanyak berasal dari dana penyesuaian dan otonomi khusus sebesar 29,5% atau Rp ,00; pendapatan dari dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemerintah daerah lainnya sebesar 28,7% atau Rp ,00; dari pendapatan hibah sebesar 27,2% atau Rp ,00; dan berasal dari bantuan keuangan dari propinsi atau pemda lainnya sebesar 14,6% atau Rp ,00. Berdasarkan realisasi pendapatan tahun 2016 dan pertimbangan-pertimbangan kebutuhan pendanaan lainnya maka kebijakan yang ditetapkan dalam rangka peningkatan pendapatan daerah tahun 2018 adalah sebagai berikut: 1. Mendorong peningkatan produksi pertanian khusunya di sub sektor bahan makanan, sub sektor perkebunan dan sub sektor perikanan dengan menjalin kerjasama swasta; 164

165 2. Optimalisasi peningkatan pendapatan daerah melalui kebijakan fiskal dengan memperluas basis pajak daerah dan sektor pariwisata; 3. Menguatkan kearifan lokal Kabupaten Banyuwangi dengan adanya program Banyuwangi Festival 2017 untuk menarik wisatawan domestik dan internasional guna meningkatkan perputaran ekonomi dan long of stay; 4. Mengoptimalkan program prioritas pemerintahan yang bersifat urusan pilihan daerah Kabupaten Banyuwangi secara efektif Arah Kebijakan Belanja Daerah Secara umum anatomi belanja daerah Kabupaten Banyuwangi tahun 2016 terdiri atas belanja tidak langsung dan belanja langsung. Pada tahun 2016, realisasi belanja langsung Kabupaten Banyuwangi lebih bersar daripada belanja tidak langsung. Belanja langsung terealisasi sebesar 51% atau Rp ,40 sedangkan belanja tidak langsung sebesar 49% atau Rp ,10. Realisasi komponen belanja langsung adalah belanja modal sebesar 57,8% atau Rp ,43; belanja barang dan jasa sebesar 35,6% atau Rp ,19; dan belanja pegawai sebesar 6,6% atau Rp ,80. Sedangkan realisasi komponen belanja tidak langsung adalah belanja pegawai sebesar 79,7% atau Rp ,10; belanja bantuan keuangan kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan sebesar 15,6% atau Rp ,00; belanja hibah sebesar 4% atau Rp ,00; belanja bantuan sosial sebesar 0,5% atau Rp ,00; belanja bagi hasil kepada provinsi/kabupaten/kota dan pemerintahan desa sebesar 0,2% atau Rp ,00 dan belanja tidak terduga sebesar 0,1% atau Rp ,00. Dari analisis realisasi anggaran serta pertimbangan arah kebijakan tahun 2018, arah kebijakan belanja daerah adalah sebagai berikut: 1. Efisiensi dan efektifitas belanja daerah untuk mencukupi belanja pegawai/gaji PNS; 2. Alokasi belanja agar mencukupi belanja modal, belanja barang dan jasa rutin kantor; 3. Optimalisasi belanja pelayanan dasar dan pemerataan infrastruktur Kabupaten Banyuwangi untuk memberdayakan dan mengentasan kemiskinan; 4. Alokasi belanja difokuskan mendukung pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan intensifikasi sektor pertanian dan pembangunan sekitar destinasi wisata berbasis kearifan lokal; 5. Memanfaatkan dukungan program pembangunan dari pemerintahan pusat dan pemerintah Provinsi Jawa Timur; 6. Alokasi belanja antisipasi kegiatan mendesak melalui belanja tidak terduga Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah Arah kebijakan pembiayaan daerah dapat dilihat dari aspek penerimaan yang diarahkan untuk meningkatkan akurasi pembiayaan yang bersumber dari sisa lebih perhitungan anggaran sebelumnya (SILPA) dan penerimaan pinjaman daerah, penerimaan kembali pemberian pinjaman dan penerimaan piutang daerah. SILPA tahun diproyeksikan menurun rata-rata per tahun sebesar 1,27%. Mengingat pembiayaan adalah setiap penerimaan yang 165

166 perlu dibayar kembali dan atau pengeluaran yang akan diterima kembali baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya, maka dengan kemampuan keuangan daerah yang sangat terbatas kebijakan pembiayaan masih akan diorientasikan pada hal-hal yang bersifat realistis sesuai dengan cash flow pendapatan dan flow pengeluaran belanja serta kegiatan lain yang memiliki tingkat resiko sangat rendah. Realisasi penerimaan pembiayaan daerah tahun 2016 adalah Rp ,31 yang berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya. Sedangkan realisasi pengeluaran pembiayaan daerah tidak ada pada tahun Berdasarkan realisasi anggaran pembiayaan tahun 2016 dan arah kebijakan pembangunan tahun 2018, kebijakan pendapatan pembiayaan adalah struktur pembiayaan daerah untuk sumberr penerimaan pembiayaan tahun anggaran 2018 adalah bersumber dari SILPA tahun Sedangkan kebijakan pengeluaran pembiayaan meliputi: 1. Penyertaan modal dan penyediaan pinjaman apabila terjadi surplus anggaran untuk pengembangan usaha kecil menengah masyarakat; 2. Penyertaan modal BUMD disesuaikan dengan kajian pendayagunaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan dalam rangka efisiensi dan efektifitas pengeluaran pembiayaan. 166

167 BAB IV PRIORI TAS DAN SASARAN PEMBANGUNAN DAERAH 4.1 Arah Kebijakan/Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2018 Untuk mewujudkan pembangunan yang merata dan menyeluruh di Indonesia ditegaskan bahwa Kementerian tidak lagi memiliki visi misi guna melakukan tugas pokok dan fungsi melainkan visi dan misi hanya dibentuk oleh presiden untuk membentuk linearitas kerja dan program yang saling mendukung. Munculnya program Nawa Cita atau sembilan cita yang digagas oleh presiden merupakan wujud pokok pembangunan yang sudah terakomodir seluruhnya. Maka dari itu dimensi-dimensi pembangunan dan strategi pembangunan dibutuhkan guna melakukan klasifikasi yang lebih mudah dipahami dan menjadi acuan untuk pembangunan yang terbagi atas dimensi pembangunan manusia (sumberdaya), Dimensi Pembangunan sektor unggulan dan dimensi pemerataan kewilayahan. Hasil evaluasi terhadap implementasi RPJMN periode kedua atau RKP tahun 2016 menunjukkan bahwa pemerintah pusat masih memiliki beberapa agenda yang harus segera diselesaikan. Dari 8 Indikator Kinerja Ekonomi makro hanya 1 indikator yang berhasil di capai pada tahun 2016 yaitu Laju Inflasi, Indeks Harga Konsumen. Pertumbuhan PDB, Tingkat Pengangguran, Tingkat Kemiskinan, Rasio Gini masih dibawah dan terpaut cukup jauh target yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sedangkan Indikator Penerimaan Pajak/PDB, Pertumbuhan Ekspor Nonmigas dan Pertumbuhan Impor Nonmigas masih jauh berada dibawah target pemerintah pada tahun Berdasarkan evaluasi pada capaian tersebut, pemerintah pusat menetapkan 10 prioritas pembangunan nasional untuk periode keempat RPJMN atau RKP tahun 2018 meliputi: 1. Pendidikan; 2. Kesehatan 3. Perumahan dan pemukiman; 4. Pengembangan dunia usaha dan pariwisata; 5. Ketahanan energy 167

168 6. Ketahanan pangan 7. Penanggulangan kemiskinan 8. Infrastruktur, konektivitas dan kemaritiman 9. Pembangunan wilayah; dan 10. Politik, hukum, dan pertahanan keamanan. Gambar 4. 1: Linieritas Tema pembangunan terhadap nawa cita pembangunan nasional 168

169 Penetapan prioritas pembangunan tersebut secara eksplisit kemudian dibunyikan menjadi tema pembangunan nasional tahun 2018 yaitu, Memacu Investasi dan Memantapkan Pembangunan Infrastruktur Untuk Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas. Secara sistematis, linieritas dari Tema Pembangunan tahun 2018 terhadap Nawa Cita Pembangunan nasional dapat dilihat pada gambar 4.1 diatas. 4.2 Arah Kebijakan/Prioritas Pembangunan Provinsi Jawa Timur Tahun 2018 Provinsi Jawa Timur telah menetapkan tema pembangunan untuk tahun 2018 yang tertuang dalam rancangan RKPD 2018 Provinsi Jawa timur. Tema Pembangunan yang telah ditetapkan adalah, Memacu Pembangunan infrastruktur dalam rangka meningkatkan industry, perdagangan, efektifitas dan efisiensi pembiayaan pembangunan di Jawa Timur. Tema pembangunan tersebut didukung dengan beberapa arah kebijakan seperti pada tabel berikut: Tabel 4. 1: Arah Kebijakan Pembangunan Provinsi Jawa Timur Arah Kebijakan Pernyataan Peningkatan akses pencari kerja (angkatan kerja) terhadap lapangan kerja di sector formal melalui pengembangan jejaring informasi pasar kerja, Job Fair, magang agar dapat meningkatkan penempatan penempatantenaga kerja melalui antar kerja local (AKL) Antar kerja Daerah (AKD) dan Antar Kerja Negara (AKN) 1. Pengembangan usaha produktif melaluui kewirausahaan untuk menciptakan tenaga kerja mandirii dan produktif 2. Optimalisasi pengembangan kapasitas dan pendayagunaan UPT Pelatihan kerja (Balai Latihan Kerja) berstandar internasional, 169

170 Arah Kebijakan serta perluasan skala pelatihan ketrampilan tenaga kerja yang bekualitas Peningkatan dan pengembangan kerja sama program transmigrasi dengan provinsi/kabupaten di luar jawa Peningkatan pelatihan ketrampilan kerja para santri pondok pesantren, termasuk bantuan sarana, untuk melakukan usaha produktif Peningkatan kapasitas dan kualitas tenaga kerja yang akan dan sedang bekerja di luar negeri melalui pembinaan, perlindungan dan pengawasan terpadu 1. Peningkatan investasi melalui perbaikn iklim investasi untuk menciptakan kesempatan kerja baru 2. Peningkatan perlindungan dan pengawasan tenaga kerja, termasuk norma kerja, serta norma keselamatan dan kesehatan kerja (K3), untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja, dan menciptakan hubungan industrial yang kondusif 1. Peningkatan dan pengembangan secara bertahap wajib belajar pendidikan menengah menengah 12 tahun sebagai kelanjutan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun 2. Penurunan/penghilangan hambatan administratif pemberian bantuan bagi 170

171 Arah Kebijakan sekolah umum, sekolah agama, sekolah kejuruan, dan sekolah khusus Provinsi Jawa Timur membagi kawasannya menjadi beberapa cluster untuk memudahkan dalam melaksanakan pembangunan. Salah satu cluster pembangunan di Provinsi Jawa Timur adalah Cluster Agropolitan Ijen yang mencakup Kabupaten Jember, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Bondowoso, dan Kabupaten Banyuwangi. Arahan pengembangan kewilayahan Kawasan Ijen ditetapkan sebagai Kawasan Strategis dari Sudut Kepentingan Ekonomi, yaitu Kawasan Agropolitan Ijen, dan Kawasan Tertinggal (terdiri dari Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Bondowoso), Perwujudan sistem jaringan prasarana utama pada sistem jaringan transportasi laut melalui Pengembangan pelabuhan laut Tanjung Tembaga di Probolinggo, Tanjung Wangi di Banyuwangi, Boom di Banyuwangi, Brondong di Lamongan. udara melalui: Perwujudan sistem jaringan prasarana utama pada sistem jaringan transportasi 1. Pengembangan dan peningkatan kapasitas Bandar udara Juanda di Sidoarjo dan Abd Saleh di Malang. 2. Pembangunan Bandar Udara Banyuwangi dalam rangka peningkatan operasional Bandar Udara. 4.3 Tujuan dan Sasaran Pembangunan Prioritas pembangunan daerah merupakan penjabaran Visi dan Misi, yang kemudian dituangkan kedalam 9 butir prioritas pembangunan daerah berikut: Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui 2 prioritas wajib: 1. Peningkatan akses dan kualitas pendidikan yang berakhlak mulia; 2. Peningkatan akses dan kualitas kesehatan; Peningkatan perekonomian melalui 3 prioritas unggulan 171

172 3. Revitalisasi pertanian dengan berbagai subsektornya terutama perikanan dan kelautan, tanaman pangan, serta perkebunan; 4. Pengembangan pariwisata berbasis kearifan lokal; 5. Penguatan UMKM dan koperasi; 4 prioritas penunjang peningkatan kualitas SDM dan perekonomian 6. Pembangunan infrastruktur; 7. Pembangunan sumber daya alam dan lingkungan hidup; 8. Peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial; 9. Peningkatan kualitas birokrasi dan pelayanan publik. Selanjutnya, 9 Prioritas pembangunan daerah tersebut kemudian di intepretasikan kedalam arsitektur Visi pembangunan Kabupaten Banyuwangi sebagai dasar pijakan berdirinya pondasi dan pilar Misi dalam pencapaian Visi, yang dapat dijelaskan melalui arsitektur berikut: Gambar 4. 2: Pondasi dan pilar Misi dalam pencapaian visi Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwasannya 9 prioritas pembangunan bupati telah terakomodir dan memiliki linieritas terhadap Visi Bupati melalui 5 misi bupati. Sedangkan linieritas antara Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, dan Indikator Sasaran dapat dilihat pada matriks linieritas dibawah ini: 172

173 No Tabel 4. 2: Linieritas antara Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, dan Indikator Sasaran VISI: Terwujudnya Masyarakat Banyuwangi Yang Semakin Sejahtera, Mandiri, Dan Berakhlak Mulia Melalui Peningkatan Perekonomian Dan Kualitas Sumber Daya Manusia MISI TUJUAN SASARAN INDIKATOR SASARAN 1 Mewujudkan Aksesibilitas Dan Kualitas Pelayanan Bidang Pendidikan, Kesehatan Dan Kebutuhan Dasar Lainnya T.1. T.2. T.3. Peningkatan Layanan Bidang Pendidikan Yang Berkualitas, Merata Dan Terjangkau Bagi Seluruh Masyarakat Peningkatan Layanan Bidang Kesehatan Yang Berkualitas, Merata Dan Terjangkau Bagi Seluruh Masyarakat Meningkatkan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Lainnya S.1 Meningkatnya Akses Pelayanan Bidang Pendidikan S.2 Meningkatnya Kualitas Layanan Pendidikan S.3 Meningkatnya Akses Pelayanan Bidang Kesehatan S.4 Meningkatnya Kualitas Kesehatan S.5 Tercukupinya Ketersediaan Pangan S.6 Meningkatnya ketenteraman, ketertiban umum dan perlindungan masyarakat S.7 Meningkatnya Perlindungan Sosial dan Masyarakat 1 Indeks Pendidikan 2 Presentase PAUD Formal Berakreditasi A 3 Presentase Pendidikan Dasar Berakreditasi A 4 Cakupan KB Aktif 5 Cakupan Pelayanan Kesehatan Masyarakat 6 Indeks Kesehatan Keluarga Banyuwangi 7 Angka Kematian Ibu per Kelahiran Hidup 8 Persentase Fasilitas Kesehatan Terakreditasi 9 Tingkat Kesehatan Rumah Sakit 10 Persentase Ketersediaan Pangan 11 Indeks Rasa Aman 12 Persentase Resiko Besok Bencana pada KRB 13 Persentase Angka PMKS Upaya untuk mewujudkan Visi bupati serta merealisasikan 9 tujuan dan 22 sasaran pembangunan tersebut dilakukan melalui 7 strategi pembangunan sebagaimana tertuang dalam RPJMD Kabupaten Banyuwangi Tahun Tahun 2018 merupakan tahun 173

174 S.8 Meningkatnya Kesadaran Dan Pemahaman Masyarakat Akan Keragaman Budaya 14 Indeks Gotong Royong 2 Mewujudkan Daya Saing Ekonomi Daerah Melalui Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas Dan Berkelanjutan Berbasis Potensi Sumberdaya Alam Dan Kearifan Lokal; 3 Meningkatkan Kuantitas Dan Kualitas Infrastruktur Fisik, Ekonomi, Dan Sosial T.4. T.5. Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Yang Berkualitas Dan Inklusif Meningkatkan Infrastruktur Ekonomi Yang Berkualitas S.9 Menurunnya Kesenjangan Antar Wilayah S.10 Menurunnya Tingkat Pengangguran S.11 Meningkatnya Laju Pertumbuhan Ekonomi Sektor Unggulan S.12 Meningkatnya Investasi PMA Dan PMDN S.13 Meningkatnya Pemanfaatan Potensi Pariwisata dan Kebudayaan Bagi Masyarakat S.14 S.14.T.5 Meningkatnya Infrastruktur Ekonomi Yang Berkualitas 15 Indeks Gini 16 Tingkat Pengangguran Terbuka 17 Persentase Pertumbuhan Sektor Industri Olahan Dalam PDRB 18 Persentase Usaha Kecil Menengah Terhadap UMKM 19 Persentase Pertumbuhan Sektor Pertanian Dalam PDRB 20 Persentase Pertumbuhan Sektor Perdagangan Dalam PDRB 21 Persentase Koperasi Berkualitas 22 Realisasi Investasi PMA Dan PMDN 23 Spending Of Money 24 Persentase panjang jalan kondisi baik dengan kecepatan > 20 KM 25 Indeks angka kecelakaan lalu lintas 26 Persentase ketersediaan air pada musim hujan dan musim kemarau (degradasi DAS) 27 Proporsi jaringan irigasi dalam kondisi baik dan teknis 28 Peningkatan Jumlah bangunan pelayanan publik berfungsi baik terakhir penerapan strategi 1 & 2, melanjutkan implementasi strategi 3&4, melanjutkan strategi 5, memulai implementasi strategi 6&7. Keterkaitan antara Sasaran Pembangunan 174

175 4 Optimalisasi Sumberdaya Daerah Berbasis Pemberdayaan Masyarakat, Pembangunan Berkelanjutan Dan Berwawasan Lingkungan 5 Mewujudkan Tata Pemerintahan Yang Baik Dan Bersih (Good And Clean Governance) Serta Layanan Publik Yang Berkualitas Berbasis Teknologi Informasi T.6. T.7. T.8. T.9. Meningkatkan Infrastruktur Sosial Sosial yang Berkualitas Meningkatkan Kualitas Lingkungan Hidup Dalam Menjamin Pembangunan Berkelanjutan Meningkatkan Sumber Daya Daerah Berbasis Pemberdayaan Masyarakat Dan Pengarustamaan Gender Serta Perlindungan Anak Meningkatkan Tata Kelola Pemerintahan Yang Baik Dan Bersih Serta Layanan Publik Yang Berkualitas Berbasis Teknologi Informasi S.15 Meningkatnya Infrastruktur Sosial Yang Berkualitas S.16 Meningkatnya Kualitas Lingkungan S.17 Meningkatnya Kapasitas Pemberdayaan Kelompok Masyarakat S.18 Terwujudnya Pemberdayaan Responsif Gender S.19 Meningkatnya Perlindungan Terhadap perempuan dan Anak) S.20 Meningkatnya Akuntabilitas Instansi Pemerintah Dan Kualitas Layanan Publik S.21 Meningkatnya Kinerja Laporan Keuangan Dan Kinerja Birokrasi S.22 Meningkatnya Penggunaan Sistem Informasi Daerah 29 Persentase masyarakat miskin yang terlayani sanitasi dasar 30 Persentase Kecukupan Luasan RTH Publik 31 Indeks Kualitas Lingkungan Hidup 32 Indeks Desa Membangun (IDM) 33 Jumlah Atlit berprestasi tingkat Provinsi dan Nasional 34 Jumlah pemuda terampil 35 Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) 36 Persentase penanganan kasus kekerasan perempuan dan anak serta traficking 37 Nilai Akntabilitas Kinerja 38 Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 39 Persentase terpenuhinya aspek kualitas dalam dokumen perencanaan 40 Persentase Kebijakan Berdasarkan Policy Brief 41 Opini WTP BPK terhadap LKPD 42 Indeks Reformasi Birokrasi 43 Persentase Cakupan Jangkauan TIK 44 Persentase Perangkat Daerah dan Unit Kerja yang Mengimplementasikan IT Baik dengan Strategi yang digunakan serta tahun implementasinya secara lebih detail dapat dilihat pada berikut ini: 175

176 Gambar 4. 3: Arah Kebijakan Pembangunan RPJMD Kabupaten Banyuwangi Periode Mengacu pada arah kebijakan tahun 2018 yang telah ditetapkan dalam RPJMD, maka Tema pembangunan untuk tahun 2018 menurut RPJMD adalah Inklusivitas pertumbuhan ekonomi sektor unggulan pertanian dan pariwisata melalui pemberdayaan kelompok usaha dan ekonomi kreatif. Gambar 4. 4: Perumusan Tema Pembangunan RKPD Tahun

177 Selain memperhatikan telaah pada RPJMD Kabupaten Banyuwangi Periode , perumusan tema pembangunan pada RKPD juga harus sinkron dengan agenda pembangunan nasional dalam RKP Tahun 2018, provinsi dalam RPJMD Provinsi Jawa Timur Periode Oleh karena hal tersebut maka tema pembangunan Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018 adalah Memantapkan Pertumbuhan Ekonomi Yang Inklusif Melalui Peningkatan Sektor Unggulan Pertanian & Pariwisata Yang Berkelanjutan. 4.4 Prioritas dan pembangunan Suatu prioritas pembangunan daerah tahun 2018 pada dasarnya adalah gambaran prioritas pembangunan tahun rencana yang diambil dan dikaitkan dengan program pembangunan daerah (RPJMD) tahun berjalan. Tema pembangunan tahun 2018 yang telah ditetapkan dibagi menjadi dua jenis Prioritas yaitu, Prioritas karena wajib dengan sendirinya, serta Priorotas Pendukung Implementasi Strategi Pembangunan. Prioritas karena wajib dengan sendirinya meliputi 4 urusan yaitu: 1. Pendidikan 2. Kesehatan 3. Pelayanan Umum 4. Urusan Pemerintahan Sedangkan Prioritas pendukung strategi pembangunan dibagi menjadi lima fokus yaitu: 1. Mempercepat kemudahan investasi pembangunan yang berorientasi pada pertanian dan pariwisata 2. Menjalankan sistem inovasi daerah untuk produk unggulan hingga wilayah perdesaan 3. Penguatan kerjasama pemerintah dan swasta 4. Pemberdayaan kelompok usaha dan pelaku ekonomi kreatif 177

178 5. Pengembangan dan penguatan pasar untuk produk pertanian yang integratif dengan pariwisata Tabel 4. 3: Tema dan Prioritas Pembangunan TEMA DAN PRIORITAS PEMBANGUNAN Tahun 2018 Inklusivitas pertumbuhan ekonomi sektor unggulan pertanian dan pariwisata melalui pemberdayaan kelompok usaha dan ekonomi kreatif Prioritas Karena Wajib dengan Sendirinya 1. Pendidikan 2. Kesehatan 3. Pelayanan Umum 4. Urusan Pemerintahan PRIORITAS PEMBANGUNAN Prioritas Pendukung Strategi Pembangunan Mempercepat kemudahan investasi pembangunan yang berorientasi pada pertanian dan pariwisata Menjalankan sistem inovasi daerah untuk produk unggulan hingga wilayah perdesaan Penguatan kerjasama pemerintah dan swasta Pemberdayaan kelompok usaha dan pelaku ekonomi kreatif Pengembangan dan penguatan pasar untuk produk pertanian yang integratif dengan pariwisata Gambar 4. 5: Linieritas Prioritas Pembangunan Nasional, Provinsi Jawa Timur, dan Kabupaten Banyuwangi 178

179 Berdasarkan pada 5 prioritas pembangunan tersebut, maka dapat diidentifikasi program-program yang masuk dalam program prioritas pembangunan tahun Mempercepat kemudahan investasi pembangunan yang berorientasi pada pertanian dan pariwisata didukung oleh 13 program, Menjalankan sistem inovasi daerah untuk produk unggulan hingga wilayah perdesaan didukung oleh 5 program, Penguatan kerjasama pemerintah dan swasta didukung oleh 6 program, Pemberdayaan kelompok usaha dan pelaku ekonomi kreatif didukung oleh 17 program, serta Pengembangan dan penguatan pasar untuk produk pertanian yang integratif dengan pariwisata didukung oleh 1 program. Hubungan antara prioritas pembangunan tahun 2018 dengan organisasi perangkat daerah (OPD) beserta anggaran pembangunannya dapat dilihat pada gambar-gambar berikut ini: Gambar 4. 6: Peta Prioritas Pembanguna Mempercepat kemudahan investasi pembangunan yang berorientasi pada pertanian dan pariwisata 179

180 Gambar 4. 7: Peta prioritas pembangunan melalui pemberdayaan kelompok usaha dan pelaku ekonomi kreatif 180

181 Gambar 4. 8 : Peta prioritas Pembangunan melalui penguatan kerjasama pemerintah dan swasta dan Pengembangan dan penguatan pasar untuk produk pertanian yang integratif dengan pariwisata 181

182 Gambar 4. 9: Peta prioritas pembangunan melalui menjalankan sistem inovasi daerah untuk produk unggulan hingga wilayah perdesaan Secara lebih detail, linieritas antara Prioritas pembangunan, Program Pembangunan dan Kinerja (Indikator, Target, dan Perangkat Daerah) dapat dilihat pada tabel berikut ini: 182

183 Tabel 4.4: linieritas antara Prioritas pembangunan, Program Pembangunan dan Kinerja Prioritas Pembangunan Mempercepat kemudahan investasi pembangunan yang berorientasi pada pertanian dan pariwisata Program Prioritas Pembangunan Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Program Pembangunan Fasilitas Publik Program Rehabilitasi/Pemeliharaan Fasilitas Publik Program Rehabilitasi/Pemeliharaan Saluran Drainase/Goronggorong Program Pembangunan Jalan Program Pembangunan Jembatan Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan Lainnya Program Pengembangan, Pengelolaan, dan Konservasi Sungai, Danau dan Sumber Daya Air Lainnya Program Pengelolaan Kekayaan dan Keragaman Budaya Program Pengembangan Destinasi dan Jaringan Kemitraan Pariwisata Program Pengembangan Pemasaran Pariwasata Program Peningkatan Produksi dan Kualitas Produk Tanaman Pangan IndikatorKinerja Program (outcome) Panjang jalan perdesaan yang dibangun dalam kondisi baik Jumlah fasilitas publik dan aparatur yang terbangun berfungsi baik Jumlah fasilitas publik yang direhabilitasi Panjang saluran drainase / goronggorong yang direhabilitasi dalam kondisi baik Persentase panjang jalan yang dibangun dalam kondisi baik Jumlah jembatan yang dibangun dalam kondisi baik Persentase ketersedian Air Baku Persentase sumber air / mata Air yang dalam kondisi baik/kondisi debit air stabil Persentase budaya lokal yang dikembangkan Satuan Target Rp SKPD Km Unit Unit DPU Cipta Karya TR DPU Cipta Karya TR DPU Cipta Karya TR M DPU Pengairan % Unit DPU Cipta Karya TR DPU Cipta Karya TR % DPU Pengairan % 61, DPU Pengairan Event Lenght of stay Hari Jumlah kunjungan wisatawan Produktifitas padi atau bahan pangan utama lainnya per Hektar Persentase sarana dan prasarana tanaman pangan yang dimanfaatkan Jumlah sertifikasi produk tanaman pangan % Kwintal/ Hektar 65,87 % 100 Dokumen Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Pertanian Dinas Pertanian Dinas Pertanian 183

184 Prioritas Pembangunan Menjalankan sistem inovasi daerah untuk produk unggulan hingga wilayah perdesaan Penguatan kerjasama pemerintah dan swasta Program Prioritas Pembangunan Program Peningkatan Kualitas Bahan Baku Industri Hasil Tembakau Program Pengembangan Komunikasi, Informasi, dan Media Massa Program Pengembangan dan Penyebaran Informasi Pemerintah Daerah Program Pengembangan dan Pengelolaan Teknologi Informatika Program Tatakelola Pengembangan e- Government Program Pengamanan Informasi Daerah Program Pengembangan Transportasi Udara dan Perkeretaapian Program Peningkatan Pelayanan Angkutan Program Pengelolaan LPJU Program Pengembangan Data. Informasi dan Pengendalian Penanaman Modal IndikatorKinerja Program (outcome) Persentase peningkatan produksi tembakau Jumlah sertifikasi tembakau Persentase infrastruktur IT yang berfungsi baik Jumlah informasi pemerintah daerah yang tersebarluaskan Persentase aplikasi IT yang mendukung city branding dan layanan publik yang berfungsi baik Persentase aplikasi e-government yang berfungsi baik Persentase pengamanan informasi daerah yang terselenggara baik Persentase peningkatan aksesibilitas transportasi udara dan perkeretaapian Persentase pengguna jasa angkutan penumpang umum di bidang transportasi darat Persentase panjang jalan terlayani LPJU Persentase pemenuhan kebutuhan data dan informasi penanaman modal Persentase peningkatan LKPM Satuan Target Rp SKPD % 3,41 Dokumen % Informasi % % % % 37, % % % 86 % Dinas Pertanian Dinas Pertanian Dinas Komunikasi dan Informatika Dinas Komunikasi dan Informatika Dinas Komunikasi dan Informatika Dinas Komunikasi dan Informatika Dinas Komunikasi dan Informatika Dinas Perhubungan Dinas Perhubungan Dinas Perhubungan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu 184

185 Prioritas Pembangunan Pemberdayaan kelompok usaha dan pelaku ekonomi kreatif Program Prioritas Pembangunan Program Penguatan Kebijakan dan Peningkatan Promosi Penanaman Modal Program Pelayanan Penanaman Modal Program Peningkatan Peran Serta dan Kesetaraan Gender dalam Pemberdayaan Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Pedesaan Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi Program Pengembangan Usaha Koperasi Program Penumbuhan Wirausaha Baru Program Pembinaan Lingkungan Sosial Lingkup Usaha Mikro Program Peningkatan dan Pengembangan Usaha Mikro Program Peningkatan Upaya Penumbuhan Kewirausahaan dan Kecakapan Hidup Pemuda Program Pengembangan Perikanan Budidaya IndikatorKinerja Program (outcome) Jumlah minat Penanaman Modal Persentase kesesuaian penyelesaian perizinan sesuai dengan SOP Persentase kelompok usaha perempuan mandiri Indeks Ketahanan Ekonomi Persentase koperasi aktif Persentase pertumbuhan jumlah anggota koperasi Persentase koperasi sehat Persentase peningkatan volume usaha koperasi Persentase wirausaha mikro baru yang tumbuh Rasio pemerataan unit usaha mikro kecil dan menengah Persentase usaha mikro yang mengalami perkembangan usaha Persentase pemuda terlatih yang menjadi wirausaha mandiri Volume produksi perikanan budidaya Jumlah luas pemanfaatan lahan budidaya Satuan Target Rp SKPD Rp.Trilyun % % BPPKB Skala 0, % 82 % 0,5 % 15,86 % 15, % 0, Rasio % % Ton Ha Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Dinas Pemuda dan Olahraga Dinas Perikanan dan Pangan Dinas Perikanan dan Pangan 185

186 Prioritas Pembangunan Program Prioritas Pembangunan Program Pengembangan Perikanan Tangkap Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan Program Peningkatan Produksi Ternak Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah Program Pengembangan Sentra dan Klaster Industri IndikatorKinerja Program (outcome) Jumlah produksi benih ikan air tawar di kabupaten Persentase jumlah pokdakan yang meningkat kelasnya Volume produksi perikanan tangkap Nilai produksi perikanan tangkap Persentase peningkatan PNBP sektor perikanan tangkap Persentase jumlah KUB yang meningkat kelasnya Persentase kelompok yang memanfaatkan teknologi peternakan tepat guna Satuan Target Rp SKPD Juta ekor 31 % 7 Ton Rp.Trilyun 1,65 % 10 % 8 % 11 Produksi daging Ton Produksi telur Ton Produksi susu Ton 829 Jumlah kelompok dan usaha peternakan yang tumbuh Angka kejadian penyakit Angka kematian ternak Usaha produk hewan yang bersertifikasi PRA/NKV Persentase peningkatan nilai penjualan (omset) IKM Persentase cakupan pengembangan sentra industri Kelompok % 4,25 % 0,3 Unit % 6, % Dinas Perikanan dan Pangan Dinas Perikanan dan Pangan Dinas Perikanan dan Pangan Dinas Perikanan dan Pangan Dinas Perikanan dan Pangan Dinas Perikanan dan Pangan Dinas Pertanian Dinas Pertanian Dinas Pertanian Dinas Pertanian Dinas Pertanian Dinas Pertanian Dinas Pertanian Dinas Pertanian Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan 186

187 Prioritas Pembangunan Pengembangan dan penguatan pasar untuk produk pertanian yang integratif dengan pariwisata Program Prioritas Pembangunan Program Pembinaan Lingkungan Sosial Lingkup Industri Kecil Program Perlindungan HKI dan Standardisasi Industri Program Peningkatan Produksi dan Kualitas Produk Perkebunan dan Hortikultura IndikatorKinerja Program (outcome) Persentase peningkatan jumlah IKM yang bermitra dalam klaster Rasio ketimpangan pendapatan IKM wilayah kecamatan (ketimpangan versi bank dunia) Persentase peningkatan sertifikasi standardisasi dan HKI Persentase peningkatan produksi tanaman hortikultura unggulan daerah Persentase peningkatan produksi tanaman perkebunan unggulan daerah Jumlah sertifikasi produk perkebunan dan hortikultura Satuan Target Rp SKPD % 7,5 % 16, % % 3,41 % 3,41 Dokumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dinas Pertanian Dinas Pertanian Dinas Pertanian 187

188 188

189 Sehubungan dengan ditetapkannya Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 tahun 2017 tentang Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2018, maka perlu diakomodasi beberapa mandate yang terdapat pada peraturan tersebut. Linieritas program prioritas pembangunan kabupaten banyuwangi dengan mandat prioritas pembangunan nasional tahun 2018 yang tertuang dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 32 Tahun 2017 dapat dilihat pada matriks berikut ini: Tabel 4. 5: Sinkronisasi mandat pembangunan tahun 2018 Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 32 Tahun 2017 dengan program pembangunan Kabupaten banyuwangi tahun 2018 SPM Pendidikan Prioritas Nasional Untuk RKPD Program BWI 2018 a. Pendidikan Dasar; setiap Warga Negara Indonesia usia 7 s.d. 15 tahun berhak mendapatkan pendidikan dasar sesuai dengan standar nasional pendidikan. Program Peningkatan Akses Pendidikan SD 1 2 b. Pendidikan Kesetaraan; setiap Warga Negara Indonesia usia 7 s.d. 18 tahun berhak mendapatkan pendidikan kesetaraan sesuai dengan standar nasional pendidikan. Kesehatan a. pelayanan kesehatan bagi penduduk terdampak krisis kesehatan akibat bencana dan/atau berpotensi bencana provinsi; dan b. pelayanan kesehatan bagi penduduk pada kondisi kejadian luar biasa provinsi. Program Peningkatan Mutu Pendidikan SD Program Peningkatan Akses Pendidikan SMP Program Peningkatan Mutu Pendidikan SMP Program Peningkatan Akses Pendidikan Masyarakat Program Peningkatan Mutu PAUD Program Peningkatan Mutu Pendidikan Masyarakat Program Upaya Peningkatan Kesehatan Perorangan Program Pengawasan dan Pengendalian Kesehatan Makanan Program Upaya Peningkatan Kesehatan Berbasis Masyarakat Program Perbaikan Gizi Masyarakat 189

190 SPM Prioritas Nasional Untuk RKPD Program BWI 2018 Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Program Peningkatan Keselamatan Ibu Hamil, Melahirkan dan Nifas Program Pembiayaan Kesehatan Program Promosi Kesehatan Program Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Program Pengembangan Lingkungan Sehat Program Sumberdaya Kesehatan Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan Program Pengadaan, Peningkatan dan Perbaikan Sarana dan Prasarana Puskesmas/Puskemas Pembantu dan Jaringannya a. Pemenuhan kebutuhan pokok air minum seharihari; dan Program Rehabilitasi/Pemeliharaan Saluran Drainase/Gorong-gorong 3 b. Penyediaan pelayanan pengolahan air limbah domestik. Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan Lainnya Program Pengembangan, Pengelolaan, dan Konservasi Sungai, Danau dan Sumber Daya Air Lainnya Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman 4 5 a. Penyediaan dan rehabilitasi rumah yang layak huni bagi korban bencana kabupaten/kota; dan b. Fasilitasi penyediaan rumah yang layak huni bagi masyarakat yang terkena relokasi program Pemerintah Daerah kabupaten/kota Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perlidungan Masyarakat Program Lingkungan Perumahan dan Pemukiman Sehat a. pelayanan ketenteraman dan ketertiban umum; Program Peningkatan Kesiagaan dan b. pelayanan informasi rawan bencana; Pencegahan Bahaya Kebakaran 190

191 SPM Prioritas Nasional Untuk RKPD Program BWI 2018 c. pelayanan pencegahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana; d. pelayanan penyelamatan dan evakuasi korban bencana; dan e. pelayanan penyelamatan dan evakuasi korban kebakaran. Bidang Sosial 6 a. Rehabilitasi sosial dasar penyandang disabilitas telantar di luar panti; b. Rehabilitasi sosial dasar anak telantar di luar panti; c. Rehabilitasi sosial dasar lanjut usia telantar di luar panti; d. Rehabilitasi sosial dasar tuna sosial khususnya gelandangan dan pengemis di luar panti; dan e. Perlindungan dan jaminan sosial pada saat dan setelah tanggap darurat bencana bagi korban bencana kabupaten/kota. Program Pelayanan dan Rehabilitasi Kesejahteraan Sosial Kebijakan Pendukung Nasional Banyuwangi Tenaga Kerja Tenaga Kerja a Program Peningkatan Kesempatan Kerja Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja b c d e Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Pangan Pertanahan Lingkungan hidup Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Program Perlindungan Perempuan dan Anak Program Penguatan Kelembagaan Pengarustamaan Gender dan Anak Program Peningkatan Peran Serta dan Kesetaraan Gender dalam Pemberdayaan Pangan Program Peningkatan Ketahanan Pangan Lingkungan hidup Program Pengelolaan Persampahan 191

192 SPM Prioritas Nasional Untuk RKPD Program BWI 2018 f g h i j k Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Perhubungan Komunikasi dan Informatika Koperasi, Usaha Kecil dan Menegah Program Pengendalian Pencemaran Lingkungan Program Perlindungan dan Konservasi Lingkungan Program Rehabilitasi Hutan/Lahan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil Program Penataan Administrasi Kependudukan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Pedesaan Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan Program Pemanfaatan Sumberdaya Alam dan Teknologi Tepat Guna Program Peningkatan Kualitas Penyelenggaran Pemerintahan Desa Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Program Keluarga Berencana Program Pengembangan Transportasi Udara dan Perkeretaapian Program Peningkatan Pelayanan Angkutan Program Pengelolaan LPJU Program Pengembangan Komunikasi, Informasi, dan Media Massa Program Pengembangan dan Penyebaran Informasi Pemerintah Daerah Program Pengembangan dan Pengelolaan Teknologi Informatika Program Tatakelola Pengembangan e- Government 192

193 SPM Prioritas Nasional Untuk RKPD Program BWI 2018 Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi Program Pengembangan Usaha Koperasi Program Penumbuhan Wirausaha Baru Program Pembinaan Lingkungan Sosial Lingkup Usaha Mikro l m n o p q r Penanaman Modal Kepemudaan dan Olahraga Statistik Persandian Kebudayaan Perpustkaan Kearsipan Program Peningkatan dan Pengembangan Usaha Mikro Program Pengembangan Data. Informasi dan Pengendalian Penanaman Modal Program Penguatan Kebijakan dan Peningkatan Promosi Penanaman Modal Program Pelayanan Penanaman Modal Program Peningkatan Upaya Penumbuhan Kewirausahaan dan Kecakapan Hidup Pemuda Program Pembinaan Lingkungan Sosial Lingkup Kepemudaan Program Pembinaan dan Penyelenggaraan Kompetisi Olahraga Program Pembinaan dan Pemasyarakatan Olah Raga Program Pengembangan Olahraga Rekreasi Program Pengembangan Data/Informasi/Statistik Daerah Program Pengamanan Informasi Daerah Program Pengelolaan Kekayaan dan Keragaman Budaya Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan 193

194 SPM Prioritas Nasional Untuk RKPD Program BWI 2018 s t u v w x y Kelautan dan Perikanan Pariwisata Pertanian Kehutanan Energi dan Sumber Daya Mineral Perdagangan Perindustrian Program Pengelolaan Arsip Statis dan Dinamis Program Pengembangan Perikanan Budidaya Program Pengembangan Perikanan Tangkap Program Pengembangan Destinasi dan Jaringan Kemitraan Pariwisata Program Pengembangan Pemasaran Pariwasata Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan Program Peningkatan Produksi Ternak Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak Program Peningkatan Produksi dan Kualitas Produk Tanaman Pangan Program Peningkatan Produksi dan Kualitas Produk Perkebunan dan Hortikultura Program Peningkatan Kualitas Bahan Baku Industri Hasil Tembakau Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah Program Pengembangan Sentra dan Klaster Industri Program Pembinaan Lingkungan Sosial Lingkup Industri Kecil Program Perlindungan HKI dan Standardisasi Industri 194

195 SPM Prioritas Nasional Untuk RKPD Program BWI 2018 z aa bb cc dd ee ff gg hh ii jj kk Transmigrasi Pengawasan penyelenggara pemda, pencegaha dan pemberantasan korupsi Penunjang (Perencanaan) Penunjang (Keuangan) Penunjang (Kepegawaian serta Pendidikan dan Pelatihan) Penunjang (Penelitian dan Pengembangan) engelolaan Kawasan Perkotaan Perbatasan antar negara Batas daerah dan Toponimi Penanganan Bencana Pemerintahan Umum Otonomi Daerah dan Desentralisasi Program Pengembangan Wilayah dan Penempatan Transmigrasi Program Perencanaan Pembangunan Daerah Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi Program Perencanaan Pembangunan Kesra dan Pemerintahan Program Perencanaan Pembangunan Sarpras Wilayah dan Lingkungan Hidup Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur Program Penelitian dan Pengembangan Pemerintahan Umum Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan 195

196 BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH Tabel 5. 1: Rencana Program dan Kegiatan Prioritas Daerah Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan 2018 Target Rp SKPD Pendidikan APK PAUD formal (usia 5-6 tahun) % 81,93 Dinas Pendidikan APM PAUD formal (usia 5-6 tahun) % 70,6 Dinas Pendidikan Program Peningkatan Rasio ketersediaan lembaga terhadap anak usia Akses PAUD Paud 5-6 tahun Rasio 1, Dinas Pendidikan Persentase ketersediaan ruang kelas terhadap kelas rombel % 99,3 Dinas Pendidikan Persentase Lembaga PAUD formal terakreditasi % 84,01 Dinas Pendidikan Program Peningkatan Mutu PAUD Persentase nilai rata-rata pengetahuan dan keterampilan PENDIDIK dan Tenaga Kependidikan TK % 62,6 Dinas Pendidikan Program Peningkatan Akses Pendidikan SD APK SD/MI/Paket A % 103 APM SD/MI/Paket A % 99, Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan 196

197 2018 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan SKPD Target Rp Program Peningkatan Mutu Pendidikan SD Program Peningkatan Akses Pendidikan SMP Program Peningkatan Mutu Pendidikan SMP Angka Melanjutkan (AM) SD/MI ke SMP/MTs % 101,91 Dinas Pendidikan Gender Angka Melanjutkan (AM) SD/MI ke SMP/MTs % 1,01 Dinas Pendidikan Jumlah SD terakreditasi A Sekolah 263 Dinas Pendidikan Persentase nilai rata-rata pengetahuan dan keterampilan Pendidik dan Tenaga Kependidikan SD % 62, Dinas Pendidikan Angka Putus Sekolah SD % 0,03 Dinas Pendidikan APK SMP/Mts/Paket B % 101,25 Dinas Pendidikan APM SMP/MTs/Paket B % 88,88 Dinas Pendidikan Angka Melanjutkan (AM) SMP/MTs/Paket ke SMA/SMK/MA/Paket C Perbedaan gender angka Melanjutkan (AM) Gender SMP/MTs/Paket B ke SMA/SMK/MA/Paket C % 99,15 Dinas Pendidikan % 1 Dinas Pendidikan Jumlah SMP terakreditasi A Sekolah 69 Dinas Pendidikan Angka Putus Sekolah SMP % 0,27 Dinas Pendidikan Persentase nilai rata-rata pengetahuan dan keterampilan Pendidik dan Tenaga Kependidikan SMP % 61,01 Dinas Pendidikan Jumlah Lembaga kursus dan pelatihan berizin Sekolah Dinas Pendidikan 197

198 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan 2018 Target Rp SKPD Angka melek aksara penduduk usia 15 tahun keatas (Persentase) % 97,9 Dinas Pendidikan Program Peningkatan Akses Pendidikan Masyarakat Program Peningkatan Mutu Pendidikan Masyarakat Kesehatan Program Upaya Peningkatan Kesehatan Perorangan Program Pengawasan dan Pengendalian Kesehatan Makanan Program Upaya Peningkatan Kesehatan Berbasis Masyarakat Program Pembiayaan Kesehatan Persentase penduduk usia 7-21 tahun yang putus/tidak sekolah yang tertangani PNF Persentase Lembaga Kursus dan Pelatihan berakreditasi Contact Rate (Angka Kunjungan Baru) Kali 1,23 % 45 Dinas Pendidikan % 18, Dinas Pendidikan Dinas Kesehatan Cakupan pelayanan rujukan % 4, Dinas Kesehatan Cakupan parameter pemeriksaan Laboratorium sesuai standar % 77,5 Dinas Kesehatan Persentase sekolah tidak ditemukan jajanan mengandung bahan berbahaya Persentase Industri Rumah Tangga Pangan (IRT-P) bersertifikat % 60 Persentase Desa Siaga Aktif Purnama Mandiri % 30 Persentase Posyandu PURI yang menjadi Taman Posyandu Persentase pengembangan UKBM PURI (Purnama Mandiri) Dinas Kesehatan % 80 Dinas Kesehatan Dinas Kesehatan % Dinas Kesehatan % 22 Dinas Kesehatan Cakupan pembiayaan kesehatan % 7, Dinas Kesehatan 198

199 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan 2018 Target Rp SKPD Program Promosi Kesehatan Persentase Rumah Tangga Sehat (Ber PHBS) % Dinas Kesehatan Program Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Program Perbaikan Gizi Masyarakat Angka kejadian kasus penyakit menular (Angka Kesakitan per 1,000 Penduduk) Per 1,000 Penduduk Persentase penyakit tidak menular % 6 Dinas Kesehatan Persentase Desa UCI % Dinas Kesehatan Penanggulangan KLB < 24 jam % 100 Dinas Kesehatan Cakupan deteksi dini kesehatan jiwa oleh Puskesmas % 30 Dinas Kesehatan Prevelensi gizi buruk % 1,9 Dinas Kesehatan Persentase bayi usia 6 bulan mendapat ASI % 47 Eksklusif Dinas Kesehatan Persentase ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah minimal 90 tablet selama kehamilan % 91,5 Dinas Kesehatan 97,5 Dinas Kesehatan Program Pengembangan Lingkungan Sehat Jumlah Desa STBM (Sanitasi Total berbasis Desa 10 Dinas Kesehatan Masyarakat) Persentase desa ODF % 70 Dinas Kesehatan Persentase TTU memenuhi syarat % 80,5 Dinas Kesehatan Program Peningkatan Keselamatan Ibu Hamil, Melahirkan dan Nifas Cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan % Dinas Kesehatan 199

200 2018 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan SKPD Target Rp Program Sumberdaya Kesehatan Program Standarisasi Pelayanan Kesehatan Program Pengadaan, Peningkatan dan Perbaikan Sarana dan Prasarana Puskesmas/Puskemas Pembantu dan Jaringannya Cakupan ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal (cakupan kunjungan kehamilan ke empat (K4) % 82 Dinas Kesehatan Cakupan Peserta KB Aktif % 69 Dinas Kesehatan Cakupan ketersediaan obat sesuai kebutuhan, baik obat esensial maupun generik % 88 Dinas Kesehatan Cakupan alkes faskes dasar Sesuai standart % Dinas Kesehatan Persentase SDM kesehatan dengan kompetensi sesuai standar Persentase Puskesmas bernilai minimal cukup dalam penilaian kinerja Puskesmas % 45 Dinas Kesehatan % 83 Dinas Kesehatan Persentase fasilitas kesehatan primer terakreditasi % Dinas Kesehatan Persentase fasilitas kesehatan rujukan terakreditasi % 92 Dinas Kesehatan Persentase bangunan Puskesmas sesuai standar % 50 Persentase bangunan Puskesmas pembantu dalam kondisi baik Dinas Kesehatan % 60 Dinas Kesehatan 200

201 2018 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan SKPD Target Rp Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan Program Pembangunan Fasilitas Publik Program Rehabilitasi/Pemeliharaan Fasilitas Publik Program Rehabilitasi/Pemeliharaan Saluran Drainase/Goronggorong Program Pembangunan Jalan Program Pembangunan Jembatan Program Perencanaan Tata Ruang Program Pengendalian Pemanfaatan Ruang Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan Lainnya Panjang jalan perdesaan yang dibangun dalam kondisi baik Jumlah fasilitas publik dan aparatur yang terbangun berfungsi baik Km DPU Cipta Karya TR Unit DPU Cipta Karya TR Jumlah fasilitas publik yang direhabilitasi Unit DPU Cipta Karya TR Panjang saluran drainase / gorong-gorong yang direhabilitasi dalam kondisi baik Persentase panjang jalan yang dibangun dalam kondisi baik M DPU Pengairan % DPU Cipta Karya TR Jumlah jembatan yang dibangun dalam kondisi baik Unit DPU Cipta Karya TR Persentase wilayah yang telah menyusun perencanaan tata ruang Persentase bangunan yang dapat diberikan rekomendasi IMB (%) % DPU Cipta Karya TR % DPU Cipta Karya TR Persentase ketersedian Air Baku % DPU Pengairan 201

202 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan Target Rp Program Pengembangan, Pengelolaan, dan Konservasi Sungai, Danau dan Sumber Daya Air Lainnya Persentase sumber air / mata Air yang dalam kondisi baik/kondisi debit air stabil 2018 SKPD % 61, DPU Pengairan Program Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Persentase RTH publik kawasan perkotaan berfungsi baik % 1, DPU Cipta Karya TR Perumahan rakyat dan Kawasan Permukiman Program Lingkungan Perumahan dan Pemukiman Sehat Jumlah Rumah Layak Huni Unit Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Ketentraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat Program Peningkatan Kesiagaan dan Pencegahan Bahaya Kebakaran Tingkat waktu tanggap (response rate time) penanggulangan bahaya kebakaran % Satpol PP 202

203 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan 2018 Target Rp SKPD Program Peningkatan Penegakan Peraturan Persentase pelanggaran Perda yang tertangani % Satpol PP Daerah Sosial Program Pelayanan dan Rehabilitasi Persentase pelayanan bagi PMKS % 0, Dinas Sosial Kesejahteraan Sosial Tenaga Kerja Program Peningkatan Dinas Tenaga Kerja Persentase pencari kerja yang ditempatkan % 77, Kesempatan Kerja dan Transmigrasi Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja Persentase pencari kerja yang bersertifikat % Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak Program Perlindungan Perempuan dan Anak Program Penguatan Kelembagaan Pengarustamaan Gender dan Anak Persentase penyelesaian pengaduan dari tindak kekerasan dan traficking Persentase perangkat daerah memiliki focal point aktif % BPPKB % BPPKB 203

204 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan 2018 Target Rp SKPD Program Peningkatan Peran Serta dan Kesetaraan Gender dalam Pemberdayaan Persentase kelompok usaha perempuan mandiri % BPPKB Pangan Program Peningkatan Ketahanan Pangan Lingkungan hidup Program Pengelolaan Persampahan Program Pengendalian Pencemaran Lingkungan Program Perlindungan dan Konservasi Lingkungan Program Rehabilitasi Hutan/Lahan Administrasi Kependudukan dan Pencatatan Sipil Skor PPH Ketersediaan Nilai/Angka Persentase sampah yang dikelola % Indeks pencemaran lingkungan Skala 142, Persentase peran serta masyarakat dalam perlindungan dan konservasi lingkungan % Indeks tutupan hutan/lahan Skala 60, Dinas Perikanan dan Pangan Dinas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup Program Penataan Administrasi Kependudukan Persentase pelayanan KTP-el kurang dari 2 jam % Dispendukcapil Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 204

205 2018 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan SKPD Target Rp Program Pengembangan Lembaga Ekonomi Pedesaan Program Peningkatan Keberdayaan Masyarakat Perdesaan Program Pemanfaatan Sumberdaya Alam dan Teknologi Tepat Guna Program Peningkatan Kualitas Penyelenggaran Pemerintahan Desa Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Indeks Ketahanan Ekonomi Skala 0, Indeks Ketahanan Sosial Skala 0, Indeks Ketahanan Lingkungan / Ekologi Skala 0, Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) terhadap layanan pemerintahan desa % 78, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Program Keluarga Berencana Perhubungan Program Pengembangan Transportasi Udara dan Perkeretaapian Persentase KB Aktif % BPPKB Persentase peningkatan aksesibilitas transportasi udara dan perkeretaapian % 37, Dinas Perhubungan 205

206 2018 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan SKPD Target Rp Program Peningkatan Pelayanan Angkutan Program Pengelolaan LPJU Komunikasi dan Informatika Program Pengembangan Komunikasi, Informasi, dan Media Massa Program Pengembangan dan Penyebaran Informasi Pemerintah Daerah Program Pengembangan dan Pengelolaan Teknologi Informatika Program Tatakelola Pengembangan e- Government Koperasi, Usaha Kecil dan Menegah Program Peningkatan Kualitas Kelembagaan Koperasi Persentase pengguna jasa angkutan penumpang umum di bidang transportasi darat % Dinas Perhubungan Persentase panjang jalan terlayani LPJU % Dinas Perhubungan Persentase infrastruktur IT yang berfungsi baik % Jumlah informasi pemerintah daerah yang tersebarluaskan Persentase aplikasi IT yang mendukung city branding dan layanan publik yang berfungsi baik Persentase aplikasi e-government yang berfungsi baik Persentase koperasi aktif % 82 Persentase pertumbuhan jumlah anggota koperasi % 0,5 Informasi % % Dinas Komunikasi dan Informatika Dinas Komunikasi dan Informatika Dinas Komunikasi dan Informatika Dinas Komunikasi dan Informatika Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Usaha Mikro 206

207 2018 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan SKPD Target Rp Program Pengembangan Dinas Koperasi dan Persentase koperasi sehat % 15,86 Usaha Koperasi Usaha Mikro Dinas Koperasi dan Persentase peningkatan volume usaha koperasi % 15,5 Usaha Mikro Program Penumbuhan Dinas Koperasi dan Persentase wirausaha mikro baru yang tumbuh % 0, Wirausaha Baru Usaha Mikro Program Pembinaan Rasio pemerataan unit usaha mikro kecil dan Dinas Koperasi dan Lingkungan Sosial Lingkup Rasio menengah Usaha Mikro Usaha Mikro Program Peningkatan dan Pengembangan Usaha Mikro Penanaman Modal Program Pengembangan Data. Informasi dan Pengendalian Penanaman Modal Program Penguatan Kebijakan dan Peningkatan Promosi Penanaman Modal Persentase usaha mikro yang mengalami perkembangan usaha Persentase pemenuhan kebutuhan data dan informasi penanaman modal % % 86 Persentase peningkatan LKPM % Jumlah minat Penanaman Modal Rp.Trilyun Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu 207

208 2018 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan SKPD Target Rp Program Pelayanan Penanaman Modal Persentase kesesuaian penyelesaian perizinan sesuai dengan SOP % Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kepemudaan dan Olahraga Program Peningkatan Upaya Penumbuhan Kewirausahaan dan Kecakapan Hidup Pemuda Program Pembinaan Lingkungan Sosial Lingkup Kepemudaan Program Pembinaan dan Penyelenggaraan Kompetisi Olahraga Program Pembinaan dan Pemasyarakatan Olah Raga Program Pengembangan Olahraga Rekreasi Statistik Persentase pemuda terlatih yang menjadi wirausaha mandiri % Persentase pemuda terlatih % Jumlah atlit yang berprestasi Orang Jumlah insan olahraga yang berprestasi Orang Jumlah event Kegiatan Dinas Pemuda dan Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga 208

209 2018 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan SKPD Target Rp Program Pengembangan Data/Informasi/Statistik Daerah Persandian Program Pengamanan Informasi Daerah Kebudayaan Program Pengelolaan Kekayaan dan Keragaman Budaya Perpustkaan Program Pengembangan Budaya Baca dan Pembinaan Perpustakaan Kearsipan Program Pengelolaan Arsip Statis dan Dinamis Kelautan dan Perikanan Program Pengembangan Perikanan Budidaya Persentase data informasi dan statistik daerah yang tersusun dengan baik Persentase pengamanan informasi daerah yang terselenggara baik % % Persentase budaya lokal yang dikembangkan Event Persentase jumlah pengunjung perpustakaan % Persentase arsip statis dan dinamis yang dikelola % Volume produksi perikanan budidaya Ton Jumlah luas pemanfaatan lahan budidaya Ha 1497 Jumlah produksi benih ikan air tawar di kabupaten Juta ekor Dinas Komunikasi dan Informatika Dinas Komunikasi dan Informatika Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Dinas Perikanan dan Pangan Dinas Perikanan dan Pangan Dinas Perikanan dan Pangan 209

210 2018 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan SKPD Target Rp Persentase jumlah pokdakan yang meningkat Dinas Perikanan dan % 7 kelasnya Pangan Dinas Perikanan dan Volume produksi perikanan tangkap Ton Pangan Dinas Perikanan dan Nilai produksi perikanan tangkap Rp.Trilyun 1,65 Program Pengembangan Pangan Perikanan Tangkap Persentase peningkatan PNBP sektor perikanan Dinas Perikanan dan % 10 tangkap Pangan Dinas Perikanan dan Persentase jumlah KUB yang meningkat kelasnya % 8 Pangan Pariwisata Program Pengembangan Destinasi dan Jaringan Kemitraan Pariwisata Program Pengembangan Pemasaran Pariwasata Pertanian Program Peningkatan Produksi Hasil Peternakan Program Peningkatan Produksi Ternak Lenght of stay Hari Jumlah kunjungan wisatawan % Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Persentase kelompok yang memanfaatkan teknologi peternakan tepat guna % 11 Dinas Pertanian Produksi daging Ton Dinas Pertanian Produksi telur Ton Dinas Pertanian Produksi susu Ton 829 Dinas Pertanian Jumlah kelompok dan usaha peternakan yang tumbuh Kelompok Dinas Pertanian Angka kejadian penyakit % 4, Dinas Pertanian 210

211 2018 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan SKPD Target Rp Angka kematian ternak % 0,3 Dinas Pertanian Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Ternak Program Peningkatan Produksi dan Kualitas Produk Tanaman Pangan Usaha produk hewan yang bersertifikasi PRA/NKV Unit 5 Dinas Pertanian Produktifitas padi atau bahan pangan utama lainnya per Hektar Persentase sarana dan prasarana tanaman pangan yang dimanfaatkan Kwintal/ Hektar 65,87 Dinas Pertanian % Dinas Pertanian Jumlah sertifikasi produk tanaman pangan Dokumen 3 Dinas Pertanian Program Peningkatan Produksi dan Kualitas Produk Perkebunan dan Hortikultura Program Peningkatan Kualitas Bahan Baku Industri Hasil Tembakau Perindustrian Program Pengembangan Industri Kecil dan Menengah Persentase peningkatan produksi tanaman hortikultura unggulan daerah Persentase peningkatan produksi tanaman perkebunan unggulan daerah Jumlah sertifikasi produk perkebunan dan hortikultura % 3,41 Persentase peningkatan produksi tembakau % 3,41 Dinas Pertanian % 3, Dinas Pertanian Dokumen 4 Dinas Pertanian Dinas Pertanian Jumlah sertifikasi tembakau Dokumen 2 Dinas Pertanian Persentase peningkatan nilai penjualan (omset) IKM % 6, Persentase cakupan pengembangan sentra industri % Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan 211

212 2018 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan SKPD Target Rp Program Pengembangan Sentra dan Klaster Industri Program Pembinaan Lingkungan Sosial Lingkup Industri Kecil Program Perlindungan HKI dan Standardisasi Industri Transmigrasi Program Pengembangan Wilayah dan Penempatan Transmigrasi Pemerintahan Umum Program Pengembangan Wawasan Kebangsaan Penunjang (Perencanaan) Persentase peningkatan jumlah IKM yang bermitra dalam klaster Rasio ketimpangan pendapatan IKM wilayah kecamatan (ketimpangan versi bank dunia) Persentase peningkatan sertifikasi standardisasi dan HKI % 7,5 % 16, % Persentase penempatan transmigran % 0, Persentase angka konflik suku, agama, ras dan antar golongan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi % Bangkesbangpol Program Perencanaan Pembangunan Daerah Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi Persentase terpenuhinya aspek kualitas dalam dokumen perencanaan Persentase data dan informasi perencanaan pembangunan ekonomi yang dimanfaatkan sebagai policy brief % Bappeda % Bappeda 212

213 2018 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan SKPD Target Rp Program Perencanaan Pembangunan Kesra dan Pemerintahan Program Perencanaan Pembangunan Sarpras Wilayah dan Lingkungan Hidup Penunjang (Keuangan) Persentase data dan informasi perencanaan pembangunan kesra dan pemerintahanyang dimanfaatkan sebagai policy brief Persentase data dan informasi perencanaan pembangunan sarana dan prasarana wilayah dan lingkungan hidup yang dimanfaatkan sebagai policy brief % Bappeda % Bappeda Program Peningkatan dan Pengembangan Pengelolaan Keuangan Daerah Persentase Pelayanan Kepada masyarakat dalam pencairan SP2D % BPKAD Penunjang (Kepegawaian serta Pendidikan dan Pelatihan) Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur Persentase bantuan tugas belajar dan ikatan dinas Persentase peningkatan SDM aparatur melalui pelaksanaan Diklat % BKPP BKPP Penunjang (Penelitian dan Pengembangan) 213

214 2018 Program IndikatorKinerja Program (outcome) Satuan SKPD Target Rp Persentase data dan informasi hasil penelitian dan Program Penelitian dan pengembangan yang dimanfaatkan sebagai policy % Bappeda Pengembangan brief Penunjang (Fungsi lain sesuai peraturan perundangiundangan) Program Perumusan Kebijakan Penyelenggaraan Pemerintahan Program penataan, penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah Program penyelesaian konflik-konflik pertanahan Program Fasilitasi Pengadaan Barang dan Jasa Program Peningkatan Akuntabilitas Kinerja Aparatur dan Instansi Pemerintah Program Perumusan Kebijakan Pelayanan Publik Peringkat LPPD Peringkat Setda Persentase peningkatan aset tanah pemkab bersertikat % Setda Persentase konflik pertanahan yang terfasilitasi % Setda Persentase pengadaan barang dan jasa yang akuntabel, efektif dan efesien Persentase SKPD yang nilai AKIPnya Baik/B hasil evaluasi Inspektorat (TIM) dari SKPD yang dievaluasi Nilai rata-rata indeks kepuasan masyarakat terhadap layanan SKPD % Setda % 78, Setda % Setda 214

215 215

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 15 Tahun 2014 Tanggal : 30 Mei 2014 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dokumen perencanaan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH 5.1 Rencana Program dan Kegiatan Prioritas Daerah...214

DAFTAR ISI. BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH 5.1 Rencana Program dan Kegiatan Prioritas Daerah...214 DAFTAR ISI BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... 2 1.3 Hubungan antar Dokumen... 4 1.4 Sistematika Dokumen RKPD... 6 1.5 Maksud dan Tujuan... 8 BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Kota Tasikmalaya dibentuk berdasarkan pada Peraturan Daerah Kota Tasikmalaya nomor 8 tahun 2008 tentang Pembentukan Organisasi

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 17 Tahun 2015 Tanggal : 29 Mei 2015 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2016 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah

Lebih terperinci

MUSRENBANG RKPD DI KECAMATAN GENTENG TAHUN 2013

MUSRENBANG RKPD DI KECAMATAN GENTENG TAHUN 2013 MUSRENBANG RKPD DI KECAMATAN GENTENG TAHUN 2013 Menguatkan Responsivitas Rencana Pembangunan Daerah Untuk Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Drs. H. Agus Siswanto, MM Kepala Disampaikan pada Rakor Persiapan

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2018

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2018 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2018 PEMERINTAH KOTA PAGAR ALAM TAHUN 2017 KATA PENGANTAR Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Pagar Alam Tahun 2018 disusun dengan mengacu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN...I.

BAB I PENDAHULUAN...I. DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GRAFIK... x DAFTAR GAMBAR... xi BAB I PENDAHULUAN... I. 1 1.1 Latar Belakang... I. 1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I. 9 1.3 Hubungan RKPD dan

Lebih terperinci

D A F T A R I S I Halaman

D A F T A R I S I Halaman D A F T A R I S I Halaman B A B I PENDAHULUAN I-1 1.1 Latar Belakang I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan I-2 1.3 Hubungan RPJM dengan Dokumen Perencanaan Lainnya I-3 1.4 Sistematika Penulisan I-7 1.5 Maksud

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR LAMPIRAN NOMOR : 40 TAHUN 2012 LAMPIRAN TANGGAL : 30 MEI 2012

LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR LAMPIRAN NOMOR : 40 TAHUN 2012 LAMPIRAN TANGGAL : 30 MEI 2012 1 LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR LAMPIRAN NOMOR : 40 TAHUN 2012 LAMPIRAN TANGGAL : 30 MEI 2012 RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2013 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun

DAFTAR ISI. Halaman. X-ii. RPJMD Kabupaten Ciamis Tahun DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR GRAFIK... xiii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-5

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014 BAB I PENDAHULUAN

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014 BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR : 39 TANGGAL : 14 Mei 2013 RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pemerintah Daerah Provinsi

Lebih terperinci

MUSRENBANG RKPD DI KECAMATAN (MUSRENBANGCAM) TAHUN 2013

MUSRENBANG RKPD DI KECAMATAN (MUSRENBANGCAM) TAHUN 2013 MUSRENBANG RKPD DI KECAMATAN (MUSRENBANGCAM) TAHUN 2013 Menguatkan Responsivitas Rencana Pembangunan Daerah Untuk Peningkatan Kesejahteraan Rakyat Oleh : Drs. H. Agus Siswanto, MM Kepala Disampaikan pada

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN NGAWI TAHUN 2012 BAB I PENDAHULUAN

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN NGAWI TAHUN 2012 BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN : PERATURAN BUPATI NGAWI NOMOR : 31 TAHUN 2011 TANGGAL : 24 MEI 2011 1.1. Latar Belakang RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN NGAWI TAHUN 2012 BAB I PENDAHULUAN Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR : 32 Tahun 2014 TANGGAL : 23 Mei 2014 RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pemerintah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional telah mengamanatkan bahwa agar perencanaan pembangunan daerah konsisten, sejalan

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) TAHUN 2014

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) TAHUN 2014 PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) TAHUN 2014 BUKU I PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO TAHUN 2013 KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I - 1 A. VISI DAN MISI II - 3 B. STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN DAERAH II - 5 C. PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH II - 13

BAB I PENDAHULUAN I - 1 A. VISI DAN MISI II - 3 B. STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN DAERAH II - 5 C. PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH II - 13 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR HAL i iv vi vii BAB I PENDAHULUAN I - 1 1.1 DASAR HUKUM I - 4 1.2 GAMBARAN UMUM DAERAH I - 3 1. Kondisi Geografis Daerah I - 5 2. Batas Administrasi

Lebih terperinci

85 DESA TERHUBUNG FIBER OPTIK SISTEM INFORMASI PERENCANAAN & KEUANGAN Rancangan Mei RKP MUSRENBANGNAS RPJMD Apr Prioritas pemb, Pagu indiakatif berdasar fungsi SKPD, sumber dana & Wilayah kerja Rancangan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Geografi Lampung Selatan adalah salah satu dari 14 kabupaten/kota yang terdapat di Provinsi Lampung. Kabupaten Lampung Selatan terletak di ujung selatan Pulau Sumatera

Lebih terperinci

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan TAHUN 2014 BAB I PENDAHULUAN. tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang

Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan TAHUN 2014 BAB I PENDAHULUAN. tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) adalah dokumen perencanaan pembangunan tahunan yang disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan,

Lebih terperinci

1.1. Latar Belakang I - 1 EXECUTIVE SUMMARY

1.1. Latar Belakang I - 1 EXECUTIVE SUMMARY 1.1. Latar Belakang Pembangunan nasional harus dilaksanakan secara merata di seluruh Indonesia, dan dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh tingkat pemerintahan dari pusat sampai dengan pemerintah daerah

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2011-2015 Diperbanyak oleh: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Lebih terperinci

Rencana Kerja P emerintah Daerah Kabupaten Barru Tahun 2015 DAFTAR ISI

Rencana Kerja P emerintah Daerah Kabupaten Barru Tahun 2015 DAFTAR ISI Rencana Kerja P emerintah Daerah Kabupaten Barru Tahun 2015 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... 3 1.3 Hubungan Antar Dokumen Perencanaan... 5 1.4 Sistematika

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN 2010 2015 PEMERINTAH KOTA SEMARANG TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. DIY. Secara geografis, Kabupaten Bantul terletak antara 07 44' 04" ' 27"

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. DIY. Secara geografis, Kabupaten Bantul terletak antara 07 44' 04 ' 27 IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Kondisi Geografis Kabupaten Bantul merupakan salah satu dari lima kabupaten di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kabupaten Bantul terletak di sebelah selatan

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA PAGAR ALAM NOMOR 34 TAHUN 2016

PERATURAN WALIKOTA PAGAR ALAM NOMOR 34 TAHUN 2016 PERATURAN WALIKOTA PAGAR ALAM NOMOR 34 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA PAGAR ALAM NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG PENETAPAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KOTA PAGAR ALAM TAHUN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional.

BAB I PENDAHULUAN. langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan regional memiliki peran utama dalam menangani secara langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional. Peranan perencanaan

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2016

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2016 RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) PROVINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2016 PEMERINTAH PROVINSI SUMATERA UTARA I-0 2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR RANCANGAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH TAHUN 2018 KATA PENGANTAR

KATA PENGANTAR RANCANGAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH TAHUN 2018 KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) merupakan dokumen perencanaan daerah yang menjadi acuann untuk pembangunan selama periode satu tahun dan Pemerintah daerah memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional telah mengamanatkan bahwa agar perencanaan pembangunan daerah konsisten, selaras,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan merupakan sebuah proses yang direncanakan dalam rangka mencapai kondisi yang lebih baik dibandingkan keadaan sebelumnya. Aspek pembangunan meliputi sosial,

Lebih terperinci

PENETAPAN KINERJA TINGKAT PEMERINTAH

PENETAPAN KINERJA TINGKAT PEMERINTAH PENETAPAN KINERJA TINGKAT PEMERINTAH KABUPATEN TAHUN : 2012 : PENAJAM PASER UTARA SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET Dituntaskannya program wajib belajar dua belas tahun pada seluruh siswa Persentase

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) mengamanatkan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP); Rencana

Lebih terperinci

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN... 1

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN... 1 1 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Dasar Hukum...... 2 1.3. Hubungan Antar Dokumen... 5 1.4. Sistematika Dokumen RKPD... 5 1.5. Maksud dan Tujuan... Hal BAB II EVALUASI HASIL

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah

Lebih terperinci

BAB I P E N D A H U L U A N

BAB I P E N D A H U L U A N BAB I P E N D A H U L U A N 1.1 Latar Belakang Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang SIstem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah mengamanatkan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4

Lebih terperinci

Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI

Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI Lampiran Peraturan Bupati Tanah Datar Nomor : 18 Tahun 2015 Tanggal : 18 Mei 2015 Tentang : Rencana Kerja Pembangunan Daerah Tahun 2016 DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR GRAFIK DAFTAR ISI i

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... D A F T A R I S I Halaman DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... (i) (ii) (viii) PERATURAN BUPATI SEMARANG NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN GRESIK TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN GRESIK TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN BUPATI GRESIK NOMOR : TAHUN 2014 TANGGAL : MEI 2014 RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN GRESIK TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rencana Kerja Pembangunan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar...

DAFTAR ISI. Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... DAFTAR ISI Daftar Isi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... i iii vii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum... I-2 1.3 Maksud dan Tujuan... I-4 1.4 Hubungan Antar Dokumen...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Hal Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Gambar... v Daftar Lampiran... vi

DAFTAR ISI Hal Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Gambar... v Daftar Lampiran... vi DAFTAR ISI Daftar Isi... i Daftar Tabel... ii Daftar Gambar... v Daftar Lampiran... vi BAB I Pendahuluan... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Hubungan dokumen RKPD dengan dokumen perencanaan lainnya...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pemerintah Daerah Provinsi berkewajiban menyusun perencanaan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Pemerintah Daerah Provinsi berkewajiban menyusun perencanaan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pemerintah Daerah Provinsi berkewajiban menyusun perencanaan pembangunan daerah sebagai satu kesatuan sistem perencanaan pembangunan nasional. Proses perumusan perencanaan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TASIKMALAYA BAB I PENDAHULUAN

PEMERINTAH KABUPATEN TASIKMALAYA BAB I PENDAHULUAN PEMERINTAH KABUPATEN TASIKMALAYA BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perwujudan dari perencanaan pembangunan tahunan diwajibkan daerah untuk menyusun dokumen Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD).

Lebih terperinci

Perencanaan pembangunan sering tidak tepat sasaran IMPLIKASI HASIL

Perencanaan pembangunan sering tidak tepat sasaran IMPLIKASI HASIL 1. Data-data pembangunan daerah tidak lengkap dan tersebar di masing-masing OPD serta jarang diperbaharui. 2. Bappeda menghadapi kendala serius dalam mengumpulkan data dari OPD karena: (a) Lemahnya koordinasi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB - I PENDAHULUAN I Latar Belakang

BAB - I PENDAHULUAN I Latar Belakang BAB - I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, telah mengamanatkan bahwa agar perencanaan pembangunan daerah konsisten, sejalan

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN. Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang

IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN. Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang IV. KEADAAN UMUM KABUPATEN SLEMAN A. Letak Geografis Kabupaten Sleman Berdasarkan kondisi geografisnya wilayah Kabupaten Sleman terbentang mulai 110⁰ 13' 00" sampai dengan 110⁰ 33' 00" Bujur Timur, dan

Lebih terperinci

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT.

STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT. STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 Statistik Daerah Kecamatan Air Dikit 214 Halaman ii STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 STATISTIK DAERAH KECAMATAN AIR DIKIT 214 Nomor ISSN : - Nomor Publikasi

Lebih terperinci

RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN

RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN 2016-2021 PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU 2016 Bab I Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii Daftar Gambar... ix PENDAHULUAN I-1

Lebih terperinci

BUPATI ROKAN HULU PROVINSI RIAU

BUPATI ROKAN HULU PROVINSI RIAU BUPATI ROKAN HULU PROVINSI RIAU PERATURAN BUPATI ROKAN HULU NOMOR 23 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN ROKAN HULU TAHUN 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI ROKAN HULU,

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR

4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4 GAMBARAN UMUM KABUPATEN BLITAR 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Beberapa gambaran umum dari kondisi fisik Kabupaten Blitar yang merupakan wilayah studi adalah kondisi geografis, kondisi topografi, dan iklim.

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS BAPPEDA KOTA BEKASI TAHUN (PERUBAHAN II)

RENCANA STRATEGIS BAPPEDA KOTA BEKASI TAHUN (PERUBAHAN II) RENCANA STRATEGIS BAPPEDA KOTA BEKASI TAHUN 2013-2018 (PERUBAHAN II) B a d a n P e r e n c a n a a n P e m b a n g u n a n D a e r a h y a n g P r o f e s i o n a l, A n d a l d a n K r e d i b e l Untu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan tahunan yang disusun untuk menjamin keterkaitan dan

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan tahunan yang disusun untuk menjamin keterkaitan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rencana Kerja Pemerintah Daerah adalah dokumen perencanaan pembangunan tahunan yang disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI BENGKULU UTARA NOMOR : 18 TAHUN 2015

PERATURAN BUPATI BENGKULU UTARA NOMOR : 18 TAHUN 2015 PERATURAN BUPATI BENGKULU UTARA NOMOR : 18 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN BENGKULU UTARA TAHUN 2016 BUPATI BENGKULU UTARA PROVINSI BENGKULU PERATURAN BUPATI BENGKULU UTARA

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU

IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU IV. KONDISI UMUM PROVINSI RIAU 4.1 Kondisi Geografis Secara geografis Provinsi Riau membentang dari lereng Bukit Barisan sampai ke Laut China Selatan, berada antara 1 0 15 LS dan 4 0 45 LU atau antara

Lebih terperinci

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi peluang

Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi peluang BAB PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah memberi peluang kepada daerah berupa kewenangan yang lebih besar untuk mengelola pembangunan secara mandiri

Lebih terperinci

KABUPATEN BANYUWANGI RINGKASAN PERUBAHAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DAN ORGANISASI TAHUN ANGGARAN 2016

KABUPATEN BANYUWANGI RINGKASAN PERUBAHAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DAN ORGANISASI TAHUN ANGGARAN 2016 LAMPIRAN II : PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI NOMOR : 9 Tahun 206 TANGGAL : 9 SEPTEMBER 206 KABUPATEN BANYUWANGI RINGKASAN PERUBAHAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DAN ORGANISASI TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

RENCANA KINERJA TAHUNAN

RENCANA KINERJA TAHUNAN KABUPATEN : PENAJAM PASER UTARA TAHUN : 2010 RENCANA KINERJA TAHUNAN SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET Persentase Angka Partisipasi Sekolah (APM) SD/ MI 92 Persen Dituntaskannya program wajib

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perencanaan pembangunan merupakan tahapan awal dalam proses pembangunan sebelum diimplementasikan. Pentingnya perencanaan karena untuk menyesuaikan tujuan yang ingin

Lebih terperinci

RKPD Kabupaten OKU Selatan Tahun 2016 Halaman I. 1

RKPD Kabupaten OKU Selatan Tahun 2016 Halaman I. 1 Lampiran : Peraturan Bupati OKU Selatan Nomor : Tahun 2015 Tentang : Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Tahun Anggaran 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Untaian

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i vii xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4 1.3.1 Hubungan RPJMD

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN KABUPATEN (RKPK) ACEH SELATAN TAHUN 2014 BAB I PENDAHULUAN

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN KABUPATEN (RKPK) ACEH SELATAN TAHUN 2014 BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan adalah sebuah proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional

Lebih terperinci

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN

RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH (RPJM) KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN BUPATI KABUPATEN ACEH SELATAN NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH KABUPATEN ACEH SELATAN TAHUN 2013-2018 1.1. Latar Belakang Lahirnya Undang-undang

Lebih terperinci

BUPATI BANYUWANGI PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI BANYUWANGI PROVINSI JAWA TIMUR BUPATI BANYUWANGI PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI NOMOR 8 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN PERANGKAT DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Bab V POTENSI, MASALAH, DAN PROSPEK PENGEMBANGAN WILAYAH. 5.1 Potensi dan Kendala Wilayah Perencanaan

Bab V POTENSI, MASALAH, DAN PROSPEK PENGEMBANGAN WILAYAH. 5.1 Potensi dan Kendala Wilayah Perencanaan Bab V POTENSI, MASALAH, DAN PROSPEK PENGEMBANGAN WILAYAH 5.1 Potensi dan Kendala Wilayah Perencanaan Dalam memahami karakter sebuah wilayah, pemahaman akan potensi dan masalah yang ada merupakan hal yang

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Atas dukungan dari semua pihak, khususnya Bappeda Kabupaten Serdang Bedagai kami sampaikan terima kasih. Sei Rampah, Desember 2006

KATA PENGANTAR. Atas dukungan dari semua pihak, khususnya Bappeda Kabupaten Serdang Bedagai kami sampaikan terima kasih. Sei Rampah, Desember 2006 KATA PENGANTAR Untuk mencapai pembangunan yang lebih terarah dan terpadu guna meningkatkan pembangunan melalui pemanfaatan sumberdaya secara maksimal, efektif dan efisien perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan

Lebih terperinci

PENGUKURAN KINERJA (3) 64,65 Persen. 53,87 Persen

PENGUKURAN KINERJA (3) 64,65 Persen. 53,87 Persen PENGUKURAN KINERJA KABUPATEN : PENAJAM PASER UTARA TAHUN : 2010 SASARAN STRATEGIS INDIKATOR KINERJA TARGET REALISASI % Dituntaskannya program wajib belajar dua belas tahun pada seluruh siswa Persentase

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daerah sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara

BAB I PENDAHULUAN. daerah sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan kewenangan masing-masing pemerintah daerah sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI RINGKASAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DAN ORGANISASI TAHUN ANGGARAN 2014

PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI RINGKASAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DAN ORGANISASI TAHUN ANGGARAN 2014 LAMPIRAN I. : PERATURAN DAERAH BANYUWANGI NOMOR : 04 Tahun 205 TANGGAL : 22 JULI 205 PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI RINGKASAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DAN ORGANISASI

Lebih terperinci

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH B A B I X 1 BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi Kepala dan Wakil Kepala

Lebih terperinci

RKPD KABUPATEN LAMANDAU TAHUN 2015

RKPD KABUPATEN LAMANDAU TAHUN 2015 i BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) berpedoman pada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mengamanatkan bahwa setiap daerah harus menyusun rencana pembangunan daerah secara

Lebih terperinci

4. KEADAAN UMUM 4.1 Kedaan Umum Kabupaten Banyuwangi Kedaan geografis, topografi daerah dan penduduk 1) Letak dan luas

4. KEADAAN UMUM 4.1 Kedaan Umum Kabupaten Banyuwangi Kedaan geografis, topografi daerah dan penduduk 1) Letak dan luas 26 4. KEADAAN UMUM 4.1 Kedaan Umum Kabupaten Banyuwangi 4.1.1 Kedaan geografis, topografi daerah dan penduduk 1) Letak dan luas Menurut DKP Kabupaten Banyuwangi (2010) luas wilayah Kabupaten Banyuwangi

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) KABUPATEN BELITUNG TAHUN ANGGARAN 2013

PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) KABUPATEN BELITUNG TAHUN ANGGARAN 2013 PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (LAKIP) KABUPATEN BELITUNG TAHUN ANGGARAN 2013 TANJUNGPANDAN, MARET 2014 KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan Puji Syukur Kehadirat

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Hal. Daftar Isi... i Daftar Tabel... v Daftar Gambar... x Daftar Grafik... xi

DAFTAR ISI. Hal. Daftar Isi... i Daftar Tabel... v Daftar Gambar... x Daftar Grafik... xi DAFTAR ISI Hal. Daftar Isi... i Daftar Tabel... v Daftar Gambar... x Daftar Grafik... xi BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan RPJMD dengan

Lebih terperinci

BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 36 BAB IV. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN A. Keadaan Geografi Letak dan Batas Wilayah Kabupaten Ngawi secara geografis terletak pada koordinat 7º 21 7º 31 LS dan 110º 10 111º 40 BT. Batas wilayah Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah pada pasal 260 menyebutkan bahwa Daerah sesuai dengan kewenangannya menyusun rencana pembangunan Daerah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUMEDANG TAHUN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUMEDANG TAHUN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN SUMEDANG TAHUN 2014-2018 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, Menimbang

Lebih terperinci

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG

PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... D A F T A R I S I Halaman DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... (i) (ii) (viii) PERATURAN BUPATI SEMARANG NOMOR 34 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG TAHUN

Lebih terperinci

Pemerintah Kota Cirebon

Pemerintah Kota Cirebon BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai pelaksanaan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN BUPATI NAGAN RAYA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA KERJA PEMBANGUNAN KABUPATEN NAGAN RAYA TAHUN 2015

BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN BUPATI NAGAN RAYA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA KERJA PEMBANGUNAN KABUPATEN NAGAN RAYA TAHUN 2015 LAMPIRAN PERATURAN BUPATI NAGAN RAYA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA KERJA PEMBANGUNAN KABUPATEN NAGAN RAYA TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rencana Kerja Pembangunan Kabupaten (RKPK)

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... Halaman PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 9 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2016-2021... 1 BAB I PENDAHULUAN...

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. Pendahuluan

Bab I Pendahuluan. Pendahuluan Bab I Pendahuluan LAMPIRAN : PERATURAN DAERAH KOTA SUNGAI PENUH NOMOR TAHUN 2012 TANGGAL JUNI 2012 Rencana Jangka Menengah Daerah (RPJMD) adalah dokumen perencanaan pembangunan daerah untuk periode 5 (lima)

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 5.1. Letak dan Luas Wilayah Kabupaten Seluma Kabupaten Seluma merupakan salah satu daerah pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Selatan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 3

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I-1

BAB I PENDAHULUAN I-1 LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT NOMOR : TAHUN 2016 TANGGAL : 2016 TENTANG : PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH KABUPATEN SUMBA BARAT TAHUN 2016 2021 BAB I PENDAHULUAN

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2014

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2014 Lampiran I : Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 21 Tahun 2013 Tanggal : 31 Mei 2013 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2014 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi 69 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak dan Luas Daerah Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi Lampung yang letak daerahnya hampir dekat dengan daerah sumatra selatan.

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN 1-1

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR BAB I PENDAHULUAN 1-1 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii DAFTAR TABEL iv DAFTAR GAMBAR xi I PENDAHULUAN 1-1 1.1 LATAR BELAKANG 1-2 1.2 DASAR HUKUM PENYUSUNAN 1-3 1.3 HUBUNGAN ANTAR DOKUMEN 1-5 1.4 SISTEMATIKA PENULISAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR

DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR Halaman i ii v BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Proses Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Tahun 2016 2 1.3 Dasar Hukum Penyusunan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUANN. Sukabumi Tahun menjadi pedoman penyusunan rencana pembangunan sampai dengan tahun RKPD tahun

BAB I PENDAHULUANN. Sukabumi Tahun menjadi pedoman penyusunan rencana pembangunan sampai dengan tahun RKPD tahun BAB I PENDAHULUANN. 1.1. Latar Belakang Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 25 tahun tahun 2004 tentang Sistem Perencanaann Pembangunan Nasional, Peraturan Pemerintah No 8 Tahun 2008 Tentang Tahapan, Tata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. RPJMD Kabupaten Bintan Tahun I-1

BAB I PENDAHULUAN. RPJMD Kabupaten Bintan Tahun I-1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan bahwa

Lebih terperinci