PENGANTAR FLEXSIM. 1. Tujuan Umum

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENGANTAR FLEXSIM. 1. Tujuan Umum"

Transkripsi

1

2 DAFTAR ISI 1. Tujuan Umum Konsep dan Istilah Dalam Flexsim Flexsim Objek Fixed Resource Task Executor Koneksi Port Objek Model Flexsim Objek Dasar Pada Flexsim Objek Lainnya Dalam Model Flexsim Flowitem Trigger Langkah Pembuatan Model Flexsim Report

3 PENGANTAR FLEXSIM 1. Tujuan Umum 1. Praktikan mengerti konsep dasar tools dalam software flexsim. 2. Praktikan dapat membangun model menggunakan flexsim. 3. Praktikan dapat menganalisis model berdasarkan laporan. 2. Konsep dan Istilah Dalam Flexsim 2.1. Flexsim Flexsim adalah perangkat lunak yang tepat dan mudah dioperasikan untuk simulasi. Mesin simulasi lengkap dan inovatif yang tersembunyi dibelakang kontrol drag and drop, daftar drop-down dan banyak keistimewaan intuitif lainnya yang membuat Flexsim dapat diakses untuk siapa saja yang ingin bereksprimen dengan model. Semua model simulasi dibuat dengan skala dan ditampilkan menggunakan 3D visual, dengan begitu kita dapat melihat dan mengenali bottleneck di lini produksi atau defisiensi lain dalam sistem dengan lebih mudah. Flexsim juga memberikan para pembuat keputusan sebuah tools yang membantu menkonfirmasi pengamatan mereka, dengan laporan statistik yang mengesankan dan analisis yang ada didalam software. Flexsim dapat memecahkan masalah pada manufaktur, pelayanan kesehatan, material handling, pertambangan, logistik, packaging, aerospace, gudang, dll Objek Objek utama flexsim dapat diklasifikasikan ke dua tipe, fixed resource dan task executor. Fixed resource adalah obyek yang mengirim dan/atau menerima flowitem contohnya source, conveyor, processor, antrian, dan Exit. Task executor merupakan resource mobile yang melakukan tugas yang ditetapkan, seperti transporter dan operator. Objek lain dapat dilihat pada gambar dibawah. 2

4 Gambar 1. Asal Usul Flexsim Fixed Resource Objek fixed resource merupakan tulang punggung model simulasi dan digunakan untuk mendefinisikan aliran produk. Fixed resource dapat melakukan: Mendorong atau menarik aliran suatu produk Proses suatu produk Antrian produk (menimbun sampai isi maksimum) Memanggil operator untuk digunakan (untuk proses/ set up) Memanggil untuk mengangkut dan membawa produk ke proses selanjutnya Tidak ada waktu pengiriman (transfer time = nol) diantara objek fixed resource. Hampir setiap perilaku pemodelan didefinisikan pada fixed resource, yaitu: Berapa lama pemrosesan produk Lokasi pengiriman produk selanjutnya Memanggil operator untuk memproses produk Memanggil objek yang bertugas untuk mengangkut produk ke fixed resource selanjutnya, kemudian produk akan diproses. 3

5 Objek-objek fix resource adalah sebagai berikut: Gambar 2 Objek-Objek Fixed Resource Pada Flexsim Task Executor Task executor digunakan untuk menjalankan serangkaian tugas. Rangkaian tugas merupakan daftar tugas yang diselesaikan berdasarkan perintah yang ditetapkan. Sebagai contoh: TRAVEL ke antrian LOAD flowitem TRAVEL ke processor UNLOAD flowitem. Rangkaian tugas dibuat dan diberangkatkan secara otomatis bila USE transport atau USE operator box dicek pada fixed resource. Rangkaian tugas custom dapat dibuat dan dilaksanakan menggunakan perintah. Tugas merupakan kegiatan atau instruksi yang dilakukan oleh objek task executor seperti loading, unloading, bepergian, menunda atau sedang digunakan atau melakukan sesuatu. Ketika task executor menerima rangkaian tugas, maka akan dimulai pelaksanaan tugas satu demi satu sampai rangkaian tugas salah satu selesai atau mendahulukan lebih dahulu rangkaian tugas prioritas lebih tinggi dari pada yang lain. Objekobjek task executor adalah sebagai berikut : 4

6 Gambar 3 Objek-Objek Task Executor Pada Flexsim 2.3. Koneksi Port Objek Ada dua tipe koneksi port, yakni port output/input dan port pusat. Pada Port output/input terdapat koneksi port output-to-input yang mendefinisikan jalan flowitem yang mungkin ditempuh ke fixed resource atau dari fixed resource. Gambar 4. Output/Input Ports 5

7 Port pusat digunakan untuk mereferensi tujuan, khususnya digunakan menunjuk task executor untuk dipanggil untuk memproses atau transportasi flowitem. Gambar 5. Center Ports Objek dapat mempunyai jumlah port yang tak terbatas. Hubungan port diperlukan untuk setiap pilihan routing yang memungkinkan dalam model. Port sebenarnya yang flowitem lewati bergantung di pilihan aturan untuk objek yang sedang mendorong atau menarik. Gambar 6. Port Objek Pada Flexsim 6

8 2.4. Model Flexsim Objek Dasar Pada Flexsim Ada empat obyek dasar (fixed resource) untuk membangun model, yaitu source, queue, processor, dan sink. Gambar 7. Basic Object to Build A Model a. Source Source digunakan untuk memperkenalkan flowitem ke model. Tingkat kedatangan flowitem berdasarkan waktu inter-arrival, jadwal kedatangan atau sequence -nya. Hampir semua model akan mulai dengan source. Gambar 8. Window Properties Source 7

9 b. Sink Sink digunakan sebagai suatu poin keluar untuk flowitem. Flowitem hanya dapat keluar model melalui Sink. Lalu kesempatan terakhir untuk merekam catatan informasi tentang flowitem ada di Trigger OnEntry pada Sink. Gambar 9. Window Properties of Sink c. Queue Antrian digunakan untuk menampung flowitem untuk operasi downstream. Antrian digunakan di model dimanapun barang dalam pengolahan (WIP) ada diantara proses. Antrian mungkin berupa meja, keranjang, garis atau ruang tunggu. 8

10 Gambar 10. Window Properties Of Queue d. Processor Processor digunakan kapanpun saat operasi dilakukan di flowitem. Processor dapat berupa mesin atau stasiun; semua yang akan memerlukan banyak waktu untuk merekayasa flowitem. Flowitem harus tinggal di dalam processor untuk serangkaian waktu dan proses waktu ditambah beberapa waktu terhalang (blocked). Waktu idle dapat juga termasuk waktu menunggu operator, waktu menunggu transporter dan waktu menunggu processor untuk reparasi jika terjadi kerusakan. 9

11 Gambar 11. Window Properties Processor Objek Lainnya Dalam Model Flexsim a. Conveyor Conveyor merupakan alat untuk membawa aliran item dari satu lokasi di model ke lokasi lainnya. Waktu membawa bergantung pada panjang conveyor dibagi kecepatan. Dapat bersifat accumulating atau tidak. Jika tidak, semua bagian di conveyor berhenti bila bagian mencapai ujung conveyor dan dihadang (seperti belt conveyor). Conveyor dapat mengambil panjang sebenarnya dari aliran item dan bagian conveyor ke perhitungan bila menghitung.penimbunan dan kapasitas tersedia. Anda dapat mendefinisikan kombinasi dari bagian lurus dan bagian melengkung semua didalam satu objek conveyor. 10

12 Gambar 12. Window Properties Conveyor b. Operator Operator akan memodelkan tugas manusia seperti setup mesin atau perakitan manual. Operator dapat juga digunakan untuk mengangkut flowitem dari satu fixed resource ke fixed resource lainnya. Operator tidak mempunyai kemampuan tambahan lebih dari task executor. Operator dapat pindah ke arah x, y, dan z 11

13 Gambar 13. Window Properties Operator c. Transporter Transporter digunakan di model dimana forktruck, agv atau beberapa angkutan lain boleh digunakan. Transporter digunakan untuk mengangkut flowitem dari satu fixed resource ke fixed resource lainnya. Transporter dapat berjalan di arah x, y, dan z. Selama perjalanan offset forklift atau merendah di arah z jika dibutuhkan untuk mengangkat atau menaruh flowitem. Transporter dapat memuat banyak flowitem dari dari beberapa lokasi dan unload flowitem secara terpisah ke beberapa lokasi. 12

14 Gambar 14. Window Properties Transporter Flowitem Flowitem merupakan entitas yang dihantar dari satu fixed resource ke fixed resource lainnya dalam sebuah model. Flowitem sebenarnya merupakan obyek flexsim yang menahan informasi yang dapat dipasang dan diqueri dalam model. Informasi ini dapat melakukan apa saja dari menggambarkan proses waktu untuk membuat jalur/ routing dan keputusan didalamnya. Semua flowitem punya attribute yang disebut itemtype. Itemtype adalah suatu identifier numerik yang digunakan untuk membedakan type dari flowitem di proses dan keputusan routing di model. Sebagai contoh, getitemtype (flowitem), setitemtype (flowitem, nilai), getname (objek), setname (objek, name ), setcolor (objek, merah, hijau, biru), atau colorred (objek). a. Flowitem aliran Flowitem diantar dari satu objek ke objek selanjutnya tanpa waktu dengan mengabaikan dimana lokasi obyek di layout model. Untuk 13

15 membuat waktu tunda di flowitem aliran, ada penambahan conveyor atau task executor untuk mengangkut. waktu membawa bergantung pada panjang dan kecepatan conveyor'. waktu mengangkut diantara obyek bergantung pada jarak diantara obyek, dan kecepatan, akselerasi, penurunan kecepatan task executor' b. Flowitem bin Resource memuat salinan obyek di flowitem bin. Perubahan apapun pada obyek di dalam bin mempengaruhi flowitem yang dibuat oleh resource. Ini digunakan untuk membuat label, set ukuran, warna, bentuk, dan lainlain Trigger Trigger mendefinisikan dan menyesuaikan perilaku system pada peristiwa spesifik seperti: - Menulis/ membaca informasi ke/dari flowitem - Ubah properti visual flowitem atau obyek - Kirim pesan ke obyek lain - Ubah kelakuan obyek, dan lain-lain. Salah satu tampilan trigger pada sebuah objek dapat dilihat seperti gambar berikut: 14

16 Gambar 15. Triggers pada Processor Konsep trigger, antara lain: - Bila peristiwa tertentu terjadi pada objek, trigger berfungsi. - Pengguna dapat membuat berbagai hal untuk terjadi bila trigger berfungsi (logika trigger). - Ada trigger bila flowitem masuk atau keluar objek. Ada trigger bila waktu proses selesai atau waktu reparasi selesai. - Setiap tipe atau objek punya satuan trigger unik Langkah Pembuatan Model Felxsim adalah platform unitless. Unit waktu dan panjang user-definable konsisten merupakan kuncinya. Langkah dasar memodelkan di flexsim: 1. Buat layout menggunakan objek-objek yang terdapat pada flexsim 2. Buat koneksi port 3. Atur tampilan dan kelakuan objek 4. Susun dan jalankan simulasi 5. Lihat output 15

17 Flexsim Report a. Summary Report Tabel 1. Penjelasan Summary Report REPORT stats_content stats_contentmin stats_contentmax stats_contentavg stats_input stats_output PENJELASAN SINGKAT Banyaknya entitas yang tersisa dalam objek atau system saat simulasi selesai Banyaknya konten minimal yang bisa masuk kedalam objek atau system Banyaknya konten maksimal yang bisa masuk kedalam objek atau system Banyaknya konten rata-rata yang bisa masuk kedalam objek atau system Banyaknya entitas yang masuk kedalam objek atau sistem Banyaknya entitas yang keluar dari objek atau sistem stats_staytimemin Waktu tinggal minimal dalam suatu objek atau sistem stats_staytimemax Waktu tinggal maksimal dalam suatu objek atau sistem stats_staytimeavg Waktu tinggal rata-rata dalam suatu objek atau sistem state_current state_since Idle processing Kondisi yang terjadi pada objek di waktu waktu tertentu Waktu yang menandakan kondisi terakhir dari entitas Waktu objek tidak memproses flowitem/ menganggur Waktu objek untuk memproses seluruh flowitem 16

18 b. State Report REPORT Penjelasan State Report PENJELASAN SINGKAT Idle Processing Busy Blocked Generating Empty Collecting Releasing Waiting for operator Waiting for transporter Breakdown Scheduled down Conveying Travel empty Waktu/presentase waktu objek tidak memproses flowitem/ menganggur Waktu/ presentase waktu objek untuk memproses seluruh flowitem Waktu/persesntase waktu sibuk sistem Waktu /presentase waktu flowitem tertahan untuk ke proses setelahnya Waktu /presentase waktu source untuk membangkitkan flowitem Waktu/persentase waktu objek tidak menerima flowitem Waktu /presentase waktu untuk menggabungkan entitas Waktu /presentase waktu untuk melepaskan flowitem Waktu /presentase waktu objek untuk menunggu operator guna melakukan operasi Waktu /presentase waktu objek untuk menunggu transporter guna mengambil barang barang untuk didistribusikan Waktu /presentase waktu proses yang terhenti namun sudah terjadwal (downtime mesin) Waktu /presentase waktu proses yang terhenti namun sudah terjadwal (jam istirahat) Waktu /presentase waktu entitas dalam conveyor Waktu /presentase waktu perjalanan transporter tanpa membawa beban 17

19 REPORT Travel loaded Offset travel empty Offset travel loaded Loading Unloading Down Setup Utilize PENJELASAN SINGKAT Waktu /presentase waktu perjalanan transporter dengan membawa beban Waktu /presentase waktu operator untuk mengarahkan agar berpindah tanpa membawa beban Waktu /presentase waktu operator untuk mengarahkan agar berpindah dengan membawa beban Waktu /presentase waktu untuk memuat flowitem Waktu /presentase waktu untuk membongkar flowitem Waktu /presentase waktu proses terhenti namun tak terjadwal Waktu /presentase waktu untuk melakukan setup objek Waktu/ presentase waktu objek untuk memproses seluruh flowitem (dilakukan oleh operator) 18

20 STUDI KASUS 1 PT Delsim Star adalah perusahaan yang bergerak di bidang pembuatan gelas plastik. Perusahaan tersebut kini telah memproduksi 3 jenis gelas yaitu gelas A, B dan C. Perusahaan tersebut memproduksi gelas dengan menerapkan proses produksi make to stock. Pimpinan perusahaan tetap menginginkan adanya peningkatan performansi perusahaan sehingga akan dilakukan eksperimen dengan menggunakan metode simulasi. Simulasi dilakukan dengan menggunakan tool flexsim 6. Proses pembuatan gelas dimulai dari kedatangan plastik sebagai bahan baku pembuatan gelas tersebut. Kedatangan plastik berdistribusi exponential(0,0.5,0). Plastik yang datang akan dicetak di tiga mesin berbeda dan akan menghasilkan tiga bentuk gelas yang berbeda. Setiap mesin akan memiliki 1 orang operator yang melakukan proses pencetakan pada mesin tersebut. Setelah selesai dicetak maka plastik tersebut akan dibawa ke bagaian pengecatan dengan menggunakan conveyor dengan kecepatan 1 m/s, panjang conveyor 10 meter dimana 5 meter bagian lurus dan lainnya melengkung. Plastik yang sudah dicat akan dibawa ke tempat penampungan sementara. Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa tempat pencetakan plastik terbagi menjadi tiga mesin yang berbeda. Presentase kedatangan plastik yang masuk ke masingmasing mesin adalah tipe A sebanyak 25%, tipe B 15%, dan tipe C sebanyak 60%. Push Yourself Until the Limit DELSIM Lab (Genap)

21 No Lokasi Waktu proses Kapasitas lokasi (minute) (unit) 1 Pencetakan A Pencetakan B Pencetakan C Pengecatan uniform(4, 8, 0) 4 6 Penampungan Sebagai seorang analis, Anda diminta untuk memodelkan kasus diatas dengan menggunakan software Flexsim 6 dengan waktu simulasi selama 8 jam. General Information : Time Units : Minute Distance Units : Meter Tugas anda : 1. Analisalah model yang anda buat gunakan reports and statistics! (ceritakan tentang proses pembuatan model dan komponen komponen yang ada di dalamnya ) 2. Gunakan Triggers untuk membedakan warna pada ketiga gelas! Push Yourself Until the Limit DELSIM Lab (Genap)

22 STUDI KASUS 2 Permen adalah sejenis gula-gula (confectionary) adalah makanan berkalori tinggi yang pada umumnya berbahan dasar gula, air, dan sirup fruktosa. Produk ini sudah ada sejak peradaban di mesir. Permen menjadi makanan yang digemari oleh anak-anak karena rasa yang manis dan mempunyai manfaat tertentu. Sehingga tak heran kalau permen sering disebut fun food. Karena produk-produk permen menyenangkan untuk dikonsumsi, tidak jarang orang mengkonsumsi dalam jumlah yang banyak. Hal ini dapat mengakibatkan kegemukan, kerusakan gigi (dental caries) dan lain-lain, yang jika diperiksa secara medis sebenarnya disebabkan oleh konsumsi gula yang berlebihan. Kegemukan terjadi jika lebih banyak nutrisi atau zat gizi yang diserap dibandingkan dengan yang diperlukan tubuh. Nutrisi tersebut berasal dari bahan makanan pada umumnya, dan tidak hanya berasal dari permen. Parameter mutu yang penting dalam permen adalah tekstur yang merupakan jumlah beberapa sifat fisik termasuk densitas, kekerasan, plastisitas atau elestisitas dan konsistensi. Sifat-sifat tersebut bervariasi dalam jenis permen yang berbeda, antara lain lunak (soft), tekstur empuk pada marshmallow atau chocolate cream centers sampai keras seperti gelas pada permen keras (hard candy). Sifat atau sifat sifat tertentu yang diinginkan bervariasi tergantung dari tekstur yang diinginkan pada suatu jenis pemen. Pengukuran kuantitatif sifat-sifat fisik tidak banyak dilakukan dan sebagian besar masih menggunakan istilah-istilah pembuatan permen (candy maker), yaitu short, tender, firm, chewy dan lain-lain. Tetapi apapun sifat tekstur tersebut, keseragaman dan kehalusan pada umumnya diinginkan, sehingga permen yang grainy atau gritty pada umumnya kurang popular Push Until the Limit DELSIM Lab (Genap)

23 PT DelMint merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam pembuatan permen yang mempunyai kualitas baik. system produksi sudah disusun sedemikian rupa agar mampu memenuhi standard dan kualitas yang diinginkan oleh pasar. Namun akhir-akhir ini perusahaan mempunyai permasalahan yaitu permintaan yang banyak namun tidak mampu dipenuhi oleh pabrik. Salah satu penyebabkan diperkirakan adalah mekanisme kerja dalam shopfloor. Untuk memastikan hal itu perusahaan memintan bantuan anda untuk menganalisa dan memperbaiki system produksi yang ada menggunakan pendekatan simulasi. Software yang digunakan adalah Flexim 6.0. Proses produksi diawali dengan kedatangan gula sebagai bahan utama. Gula datang dengan distribusi exponential(0, 3, 0). Setelah gula datang, maka akan masuk ke proses pelarutan. Ini dilakukan untuk melarutkan gula dan pelarutan haruslah sempurna supaya tidak terbentuk Kristal premature. Untuk proses pelarutan dibutuhkan suhu yang sangat tinggi sekitar 112 sampai 116 C. tahap selanjutnya adalah blending, dimana ada penambahan mentega agar larutan tidak mudah lengket. Setelah beberapa saat, adonan yang telah jadi akan dilakukan proses blending Flavour. Proses ini merupakan proses penambahan rasa. Ada 3 rasa yaitu Strawberry, Grape dan Orange. Karena ada tiga rasa maka jumlah mesin juga ada tiga di proses blending Flavour. Perusahaan telah menetapkan bahwa persentase untuk permen rasa strawberry sebesar 30 %, untuk permen rasa grape sebesar 35 % dan permen rasa orange sebesar 35 %. Setiap proses mempunyai waktu yang berbeda-beda. Setelah proses penambahan rasa sudah selesai, proses selanjutnya adalah proses pemekatan. Pada proses ini untuk menguji apakah larutan gula sudah pekat untuk dibuat permen. Mekanisme pengujiannya dengan uji air dingin. Pada proses ini perlu pengawasan yang ketat karena kualitas dari permen ditentukan diproses ini. Tingkat keasaman perlu menjadi salah satu prioritas, maka dari itu setelah proses pemekatan, dilakukan proses PH Controlling. Untuk memindahkan adonan dari proses pemekatan ke PH Controlling membutuhkan conveyor dengan panjang 8 meter dan kecepatan standard. Hal ini dilakukan untuk mempercepat proses pengolahan dan menjaga kebersiha adonan. Setelah dari PH Controlling maka adonan akan di simpan di tempat penyimpanan sementara. Push Until the Limit DELSIM Lab (Genap)

24 Untuk membantu kelancaran proses produksi, perusahaan mempunyai transporter yang bertugas membawa adonan dari proses blending ke proses blending Flavour, setiap sekali angkut transporter mampu membawa 25 adonan. Berikut adalah data kapasitas dan waktu proses setiap mesin. No Lokasi Waktu proses (second) Kapasitas lokasi (unit) 1 Pelarutan Blending Blending Flavour Strawberry normal(600, 50, 1) 10 5 Blending Flavour Grape Blending Flavour Orange uniform(300, 500, 0) 25 7 Pemekatan PH Controlling Sebagai seorang analis, Anda diminta untuk memodelkan kasus diatas dengan menggunakan software Flexsim 6 dengan waktu simulasi selama 8 jam. General Information: Time Units : Second Distance Units : Meter Push Until the Limit DELSIM Lab (Genap)

INTRODUCE FLEXSIM. 2. Concept and Terminology in Flexsim Flexsim

INTRODUCE FLEXSIM. 2. Concept and Terminology in Flexsim Flexsim TABEL OF CONTENT 1. General Purpose... 2 2. Concept and Terminology in Flexsim... 2 2.1. Flexsim... 2 2.2. Object... 2 2.2.1. Fixed Resource... 3 2.2.2. Task Executor... 4 2.3. Object Port Connection...

Lebih terperinci

TUTORIAL SIMULASI KOMPUTER. Modul FLEXSIM /2018. Laboratorium Pemodelan dan Simulasi Industri Universitas Islam Indonesia

TUTORIAL SIMULASI KOMPUTER. Modul FLEXSIM /2018. Laboratorium Pemodelan dan Simulasi Industri Universitas Islam Indonesia TUTORIAL SIMULASI KOMPUTER 3 2017/2018 Modul FLEXSIM 2 Laboratorium Pemodelan dan Simulasi Industri Universitas Islam Indonesia DAFTAR ISI 1. Tujuan Umum...2 2. Global Table...2 2.1. Label...3 2.2. Flowitem

Lebih terperinci

ANALISA OUTPUT DAN DESAIN EKPERIMEN

ANALISA OUTPUT DAN DESAIN EKPERIMEN DAFTAR ISI 1. Tujuan Umum... 2 2. Analisa Output... 2 2.1. FlexSim Chart... 2 2.2. Langkah-Langkah Analisa Output Menggunakan FlexSim Chart... 3 3. Desain Eksperimen... 6 3.1. Experimenter... 6 3.2. Langkah-Langkah

Lebih terperinci

FLEXSIM ADVANCE Expertfit. Figure 1 ExpertFit Logo

FLEXSIM ADVANCE Expertfit. Figure 1 ExpertFit Logo TABEL OF CONTENT 1. General Purpose... 2 2. Expertfit... 2 3. Global Table... 5 3.1. Label... 6 3.2. Flowitem bin... 7 4. Downtime... 8 4.1. Time Table and Schedule... 8 1 FLEXSIM ADVANCE 1 1. General

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Metode Simulasi 2.1.1 Pengertian Metode Simulasi Simulasi ialah suatu metodologi untuk melaksanakan percobaan dengan menggunakan model dari suatu sistem nyata (Siagian, 1987).

Lebih terperinci

KOMPUTER INDUSTRI (PROMODEL)

KOMPUTER INDUSTRI (PROMODEL) KOMPUTER INDUSTRI (PROMODEL) Disusun Oleh: Nama / NPM : 1. A. Sofwan Yusuf / 30408016 2. Ganjar Artha Kusuma / 30408384 3. Heidy Olivia Thaeras / 30408421 4. M. Gilang B. Abdillah / 31408559 Kelas : 3ID02

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT. Pindad (Persero) merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak dalam bidang alat persenjataan dan produk komersial. Pada bagian penerimaan barang di setiap divisi

Lebih terperinci

VALIDASI DAN VERIFIKASI MODEL

VALIDASI DAN VERIFIKASI MODEL DAFTAR ISI 1. Tujuan Umum... 2 2. Validasi dan Verifikasi... 2 3. Tipe Validasi... 4 4. Teknik Validasi... 5 4.1. Uji Kesamaan Dua Rata-Rata... 8 4.2. Uji Kesamaan Dua Variansi... 12 4.3. Uji Kecocokan

Lebih terperinci

BAB III PEMODELAN DAN SIMULASI

BAB III PEMODELAN DAN SIMULASI BAB III PEMODELAN DAN SIMULASI 3.1 Sistem Antrian Incoming Call THE TEMPO GROUP Gambar 3.1 Telepon Operator Secara umum Sistem Antrian Incoming Call di THE TEMPO GROUP dapat digambarkan sebagai berikut

Lebih terperinci

UTILITAS PINTU TOL MASUK DAN PEKERJA PINTU TOL MENGGUNAKAN SOFTWARE PROMODEL (STUDI KASUS : PINTU TOL BUAH BATU BANDUNG)

UTILITAS PINTU TOL MASUK DAN PEKERJA PINTU TOL MENGGUNAKAN SOFTWARE PROMODEL (STUDI KASUS : PINTU TOL BUAH BATU BANDUNG) bidang TEKNIK UTILITAS PINTU TOL MASUK DAN PEKERJA PINTU TOL MENGGUNAKAN SOFTWARE PROMODEL (STUDI KASUS : PINTU TOL BUAH BATU BANDUNG) AGUS RIYANTO, IYAN ANDRIANA, GABRIEL SIANTURI Program Studi Teknik

Lebih terperinci

BAB I MENGENAL PLANNER

BAB I MENGENAL PLANNER Bab I Mengenal Planner BAB I MENGENAL PLANNER Planner adalah tool manajemen proyek yang general purpose dan menyediakan berbagai fitur, yang tersedia melalui 4 layar terpisah yang disebut layout views.

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KONDISI PERUSAHAAN a. Proses Produksi Proses produksi merupakan rangkaian operasi yang dilalui bahan baku baik secara fisik maupun kimia untuk meningkatkan nilai tambah dan nilai

Lebih terperinci

PEMODELAN DAN SIMULASI SISTEM INVENTORI UNTUK MENDAPATKAN ALTERNATIF DESAIN PERGUDANGAN (STUDI KASUS DI PT. PETROKIMIA GRESIK)

PEMODELAN DAN SIMULASI SISTEM INVENTORI UNTUK MENDAPATKAN ALTERNATIF DESAIN PERGUDANGAN (STUDI KASUS DI PT. PETROKIMIA GRESIK) TM. 091486 - Manufaktur TUGAS AKHIR PEMODELAN DAN SIMULASI SISTEM INVENTORI UNTUK MENDAPATKAN ALTERNATIF DESAIN PERGUDANGAN (STUDI KASUS DI PT. PETROKIMIA GRESIK) Cipto Adi Pringgodigdo 2104.100.026 Dosen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penanganan material adalah salah satu proses kunci dalam sebuah rantai

BAB I PENDAHULUAN. Penanganan material adalah salah satu proses kunci dalam sebuah rantai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri manufaktur merupakan suatu proses mengubah bahan baku menjadi barang jadi dengan menggunakan mesin, peralatan, serta tenaga kerja. Teknologi yang digunakan

Lebih terperinci

Simulasi Event-Diskrit (Discrete-Event Simulation)

Simulasi Event-Diskrit (Discrete-Event Simulation) Bab 4: Simulasi Event-Diskrit (Discrete-Event Simulation) Sumber: Harrell, C., B.K. Ghosh and R.O. Bowden, Jr., Simulation Using Promodel, 2 nd ed., McGraw-Hill, Singapore, 2003. Bab 4: Simulasi Event-Diskrit

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang PT. Dirgantara Indonesia (Indonesian Aerospace, IAe) merupakan perusahaan milik negara yang bergerak dalam bidang industri pesawat terbang. PT. Dirgantara Indonesia

Lebih terperinci

O v e r v i e w & l e a r n i n g to run simulation Software Simulation Arena 5.0

O v e r v i e w & l e a r n i n g to run simulation Software Simulation Arena 5.0 Praktikum Arena 5.0 O v e r v i e w & l e a r n i n g to run simulation Software Simulation Arena 5.0 Tujuan Praktikum Memperkenalkan Software Arena 5.0 sebagai alat bantu dalam pemecahan masalah simulasi.

Lebih terperinci

Mahasiswa dapat memahami konsep dasar deskripsi dan kontrol pada proses

Mahasiswa dapat memahami konsep dasar deskripsi dan kontrol pada proses Deskripsi dan Kontrol Proses (Pertemuan ke-3) Agustus 2014 Pokok Bahasan Pokok Bahasan: Deskripsi dan Kontrol Proses Sub Pokok Bahasan: Konsep proses Elemen-elemen proses Model proses 2 status, 5 status,

Lebih terperinci

2.1 Pengantar Model Simulasi Sistem Diskrit

2.1 Pengantar Model Simulasi Sistem Diskrit Pokok Bahasan Pendahuluan Sistem, Model dan Simulasi Keuntungan dan Kerugian Simulasi Jenis-jenis Simulasi Simulasi Komputer Bahasa Simulasi Tahapan Pemodelan Simulasi 19 20 PENGANTAR PEMODELAN & SIMULASI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I - 1

BAB I PENDAHULUAN I - 1 BAB I PENDAHULUAN Bab ini berisi tentang latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, batasan masalah, dan sistematika penulisan. 1.1 Latar Belakang Perkembangan industri makanan

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 4.1. Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Di dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi perusahaan, maka sebelumnya harus dilakukan pengamatan dan penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. antara perusahaan yang satu dengan yang lainnya. Perusahaan yang dapat. jumlah konsumennya. Salah satu usahanya adalah dengan

BAB I PENDAHULUAN. antara perusahaan yang satu dengan yang lainnya. Perusahaan yang dapat. jumlah konsumennya. Salah satu usahanya adalah dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan yang sangat cepat dalam bidang industri seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan munculnya persaingan antara perusahaan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1, Objek Penelitian Objek penelitian untuk tugas akhir ini adalah Process Cycle Efficiency pada proses produksi Blank Cilynder Head Type KPH di PT. X melalui pemetaan produk

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Dalam penyelesaian tugas akhir ini digunakan landasan teori yang berkaitan dengan permasalahan yang digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada pada perusahaan. 2.1 Sistem Menurut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Laporan Tugas Akhir Latar Belakang Masalah. Pada produksi yang mempunyai tipe produksi massal, yang melibatkan

BAB I PENDAHULUAN. Laporan Tugas Akhir Latar Belakang Masalah. Pada produksi yang mempunyai tipe produksi massal, yang melibatkan Laporan Tugas Akhir 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada produksi yang mempunyai tipe produksi massal, yang melibatkan sejumlah besar komponen yang harus dirakit, perencanaan produksi memegang

Lebih terperinci

BAB 2 STUDI LITERATUR. Tanggungjawab seorang pemimpin perusahaan adalah mengatur seluruh

BAB 2 STUDI LITERATUR. Tanggungjawab seorang pemimpin perusahaan adalah mengatur seluruh BAB 2 STUDI LITERATUR Tanggungjawab seorang pemimpin perusahaan adalah mengatur seluruh sumberdaya produksi secara efisien dan efektif sehingga diperoleh keuntungan yang maksimum (maximum profit). Tanpa

Lebih terperinci

ANALISIS PENINGKATAN WAKTU PELAYANAN PRODUKSI KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR

ANALISIS PENINGKATAN WAKTU PELAYANAN PRODUKSI KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR ANALISIS PENINGKATAN WAKTU PELAYANAN PRODUKSI KENDARAAN BERMOTOR RODA DUA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR Hernadewita (1), H e n d r a (2) (1) Staf Pengajar Sekolah Tinggi Manajemen Industri Departemen Perindustrian

Lebih terperinci

Line Balancing (Keseimbangan Lini Produksi)

Line Balancing (Keseimbangan Lini Produksi) 1 Line Balancing (Keseimbangan Lini Produksi) 2 Konsep Dasar Stasiun kerja (Work Stations) adalah area kerja yang terdiri dari satu atau lebih pekerja/mesin yang mempunyai tugas khusus Lini produksi (Production

Lebih terperinci

Wita Anggraita P, 2 Widia Juliani, 3 Pratya Poeri Suryadhini 1,2,3. Program Studi Teknik Industri, Fakultas Rekayasa Industri, Telkom University

Wita Anggraita P, 2 Widia Juliani, 3 Pratya Poeri Suryadhini 1,2,3. Program Studi Teknik Industri, Fakultas Rekayasa Industri, Telkom University Usulan Perbaikan Sistem Untuk Mengurangi Penumpukan Work In Process dan Lead Time Produksi Pada Lantai Produksi Bagian Medium Prismatic Machines Di PT. Dirgantara Indonesia 1 Wita Anggraita P, 2 Widia

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Inventory atau Persediaan Inventory adalah item atau material yang dipakai oleh suatu organisasi atau perusahaan untuk menjalankan bisnisnya[10]. Persediaan adalah

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN ALAT. elektrikal dan sipil dapat dikontrol melalui PLC sebagai kontrollernya.

BAB IV PENGUJIAN ALAT. elektrikal dan sipil dapat dikontrol melalui PLC sebagai kontrollernya. BAB IV PENGUJIAN ALAT Dalam Bab ini berisi tentang bagaimana alat ini dapat bekerja sesuai dengan rancang bangun serta simulasi yang di targetkan. Dimana sistem mekanikal, elektrikal dan sipil dapat dikontrol

Lebih terperinci

ISSN : e-proceeding of Engineering : Vol.2, No.1 April 2015 Page 878

ISSN : e-proceeding of Engineering : Vol.2, No.1 April 2015 Page 878 ISSN : 2355-9365 e-proceeding of Engineering : Vol.2, No.1 April 2015 Page 878 Usulan Perbaikan Sistem Untuk Mengurangi Penumpukan Work In Process dan Lead Time Produksi Pada Lantai Produksi Bagian Medium

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menurut Heizer, et al (2005), manufaktur berasal dari kata manufacture yang memiliki arti membuat dengan tangan (manual) atau dengan mesin sehingga dapat menghasilkan

Lebih terperinci

pekerjaan pada mesin dan penugasan tenaga kerja pada mesin. Sangat penting bagi perusahaan untuk melakukan perencanaan yang tepat pada saat menerima

pekerjaan pada mesin dan penugasan tenaga kerja pada mesin. Sangat penting bagi perusahaan untuk melakukan perencanaan yang tepat pada saat menerima BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam perkembangan dunia industri yang semakin pesat, perusahaan dituntut untuk dapat bersaing dengan para kompetitor dengan menciptakan kredibilitas yang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Komputer Istilah komputer berasal dari bahasa latin computer yang berarti menghitung. Dalam bahasa Inggris komputer berasal dari kata to compute yang artinya menghitung.

Lebih terperinci

B A B 5. Ir.Bb.INDRAYADI,M.T. JUR TEK INDUSTRI FT UB MALANG 1

B A B 5. Ir.Bb.INDRAYADI,M.T. JUR TEK INDUSTRI FT UB MALANG 1 B A B 5 1 VSM adalah suatu teknik / alat dari Lean berupa gambar yg digunakan untuk menganalisa aliran material dan informasi yg disiapkan untuk membawa barang dan jasa kepada konsumen. VSM ditemukan pada

Lebih terperinci

JOB SHOP PANDUAN BIG PROJECT

JOB SHOP PANDUAN BIG PROJECT PANDUAN BIG PROJECT SIMULASI KOMPUTER - 2014 DAFTAR ISI 1. Pengertian... 1 2. Tujuan Penjadwalan Workcenter... 2 3. Pengurutan Tugas (Sequencing)... 2 4. Definisi dalam Penjadwalan... 3 5. Karakteristik

Lebih terperinci

Manajemen Persediaan. Material Handling. Dinar Nur Affini, SE., MM. Modul ke: 14Fakultas Ekonomi & Bisnis. Program Studi Manajemen

Manajemen Persediaan. Material Handling. Dinar Nur Affini, SE., MM. Modul ke: 14Fakultas Ekonomi & Bisnis. Program Studi Manajemen Manajemen Persediaan Modul ke: 14Fakultas Ekonomi & Bisnis Material Handling Dinar Nur Affini, SE., MM. Program Studi Manajemen Pendahuluan Tujuan Material Handling Tujuan Material Handling Tujuan material

Lebih terperinci

Mulai. Studi Pendahuluan. Perumusan Masalah. Penetapan Tujuan. Pemilihan Variable. Pengumpulan Data. Menggambarkan Process Activity Mapping

Mulai. Studi Pendahuluan. Perumusan Masalah. Penetapan Tujuan. Pemilihan Variable. Pengumpulan Data. Menggambarkan Process Activity Mapping BAB III METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian adalah suatu rangkaian kerangka pemecahan masalah yang dibuat secara sistematis dalam pemecahan masalah yang dilakukan sesuai dengan tujuan penelitian.

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH. 4.1 Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Keseimbangan Lini

BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH. 4.1 Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Keseimbangan Lini BAB 4 METODOLOGI PEMECAHAN MASALAH 4.1 Model Rumusan Masalah dan Pengambilan Keputusan Keseimbangan Lini engolahan data Gambar 4.1 Skema Metodologi Penelitian 79 A Perancangan Keseimbangan Lini Metode

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. perdagangan bebas. Persaingan dunia usaha yang semakin ketat menimbulkan tantangan

BAB 1 PENDAHULUAN. perdagangan bebas. Persaingan dunia usaha yang semakin ketat menimbulkan tantangan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada masa sekarang ini, dunia industri di Indonesia terasa semakin meningkat dan bersaing menuju ke arah persaingan global, terutama persaingan dalam hal menghadapi

Lebih terperinci

Sistem Produksi. Produksi. Sistem Produksi. Sistem Produksi

Sistem Produksi. Produksi. Sistem Produksi. Sistem Produksi Sistem Produksi Sistem Produksi 84 Produksi Produksi disebut juga dengan istilah manufaktur merupakan salah satu fungsi dalam perusahaan (fungsi lainnya a.l pemasaran, personalia, dan finansial). Produksi

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1. Struktur Organisasi PT. Soho

LAMPIRAN 1. Struktur Organisasi PT. Soho 8 LAMPIRAN Struktur Organisasi PT. Soho 83 LAMPIRAN Perhitungan Jumlah Sampel Minimum Menurut Sritomo (995, p 84), untuk menetapkan jumlah observasi yang seharusnya dibuat (N ) maka disini harus diputuskan

Lebih terperinci

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. aplikasi sistem informasi geografis ini adalah : a. Spesifikasi perangkat keras minimum : memori 64 MB.

BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI. aplikasi sistem informasi geografis ini adalah : a. Spesifikasi perangkat keras minimum : memori 64 MB. 92 BAB 4 IMPLEMENTASI DAN EVALUASI 4.1 Implementasi 4.1.1 Perangkat keras (Hardware) Perangkat keras yang dibutuhkan untuk mengoperasikan program aplikasi sistem informasi geografis ini adalah : a. Spesifikasi

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM 3.1. Analisis Masalah Terdapat dua kriteria permasalahan umum pada busway, yaitu faktor kriteria kenyamanan penumpang dan keekonomisan bus. Kriteria kenyamanan penumpang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pemodelan Proses Bisnis bagian Produksi di PT Gramasurya

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pemodelan Proses Bisnis bagian Produksi di PT Gramasurya BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pemodelan Proses Bisnis bagian Produksi di PT Gramasurya Gambar 4. 1 Proses Bisnis bagian Produksi Proses produksi di PT Gramasurya dimulai dengan menginput data pemesanan

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN REALISASI PENGANTRIAN MEJA PADA RESTORAN MENGGUNAKAN FASILITAS SHORT MESSAGE SERVICE

PERANCANGAN DAN REALISASI PENGANTRIAN MEJA PADA RESTORAN MENGGUNAKAN FASILITAS SHORT MESSAGE SERVICE PERANCANGAN DAN REALISASI PENGANTRIAN MEJA PADA RESTORAN MENGGUNAKAN FASILITAS SHORT MESSAGE SERVICE Nurwijayanti Kusumaningrum 1 ABSTRACT Nowadays, the develope of restaurant are going fast with more

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Dalam pelayanan ada beberapa faktor penting pada sistem antrian yaitu pelanggan dan pelayan, dimana ada periode waktu sibuk maupun periode dimana pelayan menganggur. Dan waktu dimana

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. mengacu kepada SDLC model waterfall berdasarkan referensi Ian Sommerville,

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM. mengacu kepada SDLC model waterfall berdasarkan referensi Ian Sommerville, BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN SISTEM Pengembangan perangkat lunak dalam penelitian ini dilakukan dengan mengacu kepada SDLC model waterfall berdasarkan referensi Ian Sommerville, yang terbagi atas 4

Lebih terperinci

III. METODOLOGI A. KERANGKA PEMIKIRAN

III. METODOLOGI A. KERANGKA PEMIKIRAN III. METODOLOGI A. KERANGKA PEMIKIRAN Pabrik roti seperti PT Nippon Indosari Corpindo merupakan salah satu contoh industri pangan yang memproduksi produk berdasarkan nilai permintaan, dengan ciri produk

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Pengukuran Waktu Pengukuran waktu adalah pekerjaan mengamati dan mencatat waktuwaktu kerjanya baik setiap elemen ataupun siklus. Teknik pengukuran waktu terbagi atas dua bagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini persaingan bisnis yang terjadi di kalangan perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini persaingan bisnis yang terjadi di kalangan perusahaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini persaingan bisnis yang terjadi di kalangan perusahaan manufaktur semakin ketat. Hal ini mendorong perusahaan untuk mencari strategi yang tepat agar dapat

Lebih terperinci

Mata Kuliah Pemodelan & Simulasi. Riani Lubis. Universitas Komputer Indonesia

Mata Kuliah Pemodelan & Simulasi. Riani Lubis. Universitas Komputer Indonesia Mata Kuliah Pemodelan & Simulasi Riani Lubis Program Studi Teknik Informatika Universitas Komputer Indonesia Sistem Antrian Antrian ialah suatu garis tunggu pelanggan yang memerlukan layanan dari satu/lebih

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metodologi penelitian bertujuan untuk memberikan kerangka penelitian yang sistematis sehingga dapat memberikan kesesuaian antara tujuan penelitian dengan

Lebih terperinci

SISTEM PRODUKSI JUST IN TIME (SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU) YULIATI, SE, MM

SISTEM PRODUKSI JUST IN TIME (SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU) YULIATI, SE, MM SISTEM PRODUKSI JUST IN TIME (SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU) II YULIATI, SE, MM PRINSIP DASAR JUST IN TIME ( JIT ) 3. Mengurangi pemborosan (Eliminate Waste) Pemborosan (waste) harus dieliminasi dalam setiap

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. yang sama untuk mencapai suatu tujuan RAY[6]. dan lebih berarti bagi yang menerimanya RAY[6].

BAB II LANDASAN TEORI. yang sama untuk mencapai suatu tujuan RAY[6]. dan lebih berarti bagi yang menerimanya RAY[6]. 8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Dasar Sistem Informasi Sistem adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan RAY[6]. Informasi adalah data

Lebih terperinci

PERENCANAAN TEKNOLOGI OLEH: MEGA INAYATI RIF AH, ST., M.SC.

PERENCANAAN TEKNOLOGI OLEH: MEGA INAYATI RIF AH, ST., M.SC. I N S T I T U T S A I N S & T E K N O L O G I A K P R I N D Y O G Y A K A R T A Jl. Kalisahak No. 28, Komplek Balapan, Kota Yogyakarta PERENCANAAN TEKNOLOGI OLEH: MEGA INAYATI RIF AH, ST., M.SC. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

Dukungan Sistem Operasi :

Dukungan Sistem Operasi : Dukungan Sistem Operasi : Kontrol Program, Penjadwalan dan Manajemen Memory STMIK-AUB SURAKARTA 1 Apa itu Sistem Operasi? Sistem operasi merupakan program yang mengontrol eksekusi program aplikasi dan

Lebih terperinci

KOMUNIKASI DATA PACKET SWITCHING

KOMUNIKASI DATA PACKET SWITCHING KOMUNIKASI DATA PACKET SWITCHING PACKET SWITCHING Beberapa alasan mengapa Packet Switching dipilih dibandingkan Circuit Switching :. Pada waktu koneksi data, sebagian besar waktu user/host berada pada

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. luas dan berbeda untuk orang yang berbeda. Istilah komputer (computer) diambil dari

BAB 2 LANDASAN TEORI. luas dan berbeda untuk orang yang berbeda. Istilah komputer (computer) diambil dari BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Komputer Teknologi komputer sesungguhnya telah banyak merubah sistem tata kerja sebagian manusia yang bergerak di bidang informasi. Istilah komputer mempunyai arti yang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori-teori yang menjadi dasar penulisan adalah sebagai berikut :

BAB 2 LANDASAN TEORI. Teori-teori yang menjadi dasar penulisan adalah sebagai berikut : BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Teori-teori Dasar/Umum Teori-teori yang menjadi dasar penulisan adalah sebagai berikut : 2.1.1 Sistem Pengertian sistem menurut Williams dan Sawyer (2005, p457) adalah sekumpulan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem pergudangan sangat dibutuhkan oleh industri apapun, baik industri yang bergerak di bidang jasa, ataupun manufaktur. Gudang merupakan bagian dari sistem logistik

Lebih terperinci

Bab 1a Case Tools - Case Studio 2

Bab 1a Case Tools - Case Studio 2 Bab 1a Case Tools - Case Studio 2 1.1 Pendahuluan Alat bantu pemodelan pada pendekatan terstruktur adalah Data Flow Diagram (DFD). Beberapa hal yang sering dialami dalam penggambaran DFD adalah ketidakkonsistenan

Lebih terperinci

III. METODE KONVENS IONAL 11. REKAYASA SISTEM BERBASIS KOMPUTER

III. METODE KONVENS IONAL 11. REKAYASA SISTEM BERBASIS KOMPUTER III. METODE KONVENS IONAL 11. REKAYASA SISTEM BERBASIS KOMPUTER 11.1 Sistem Berbasis Komputer (Computer-based System) Sistem berbasis komputer bertujuan untuk mendukung berbagai fungsi bisnis atau untuk

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Produksi 2.1.1 Definisi Sistem Produksi Menurut para ahli ada beberapa definisi mengenai sistem produksi, antara lain : 1. Asruri (1993) mendefinisikan sistem produksi

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN (SIK) PUSKESMAS DI DINAS KESEHATAN KOTA METRO LAMPUNG ABSTRACT

PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN (SIK) PUSKESMAS DI DINAS KESEHATAN KOTA METRO LAMPUNG ABSTRACT PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN (SIK) PUSKESMAS DI DINAS KESEHATAN KOTA METRO LAMPUNG Nursiyanto Jurusan Sistem Informasi, Informatics and Business Institute Darmajaya Bandar Lampung e-mail : [email protected]

Lebih terperinci

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN. bidang packaging, seperti membuat bungkusan dari suatu produk seperti, chiki,

BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN. bidang packaging, seperti membuat bungkusan dari suatu produk seperti, chiki, BAB 3 ANALISIS SISTEM YANG BERJALAN 3.1 Riwayat Perusahaan PT. Karya Indah Bersama adalah sebuah perusahaan yang bergerak pada bidang packaging, seperti membuat bungkusan dari suatu produk seperti, chiki,

Lebih terperinci

4.2. Sistem Penerima Data Stasiun Cuaca HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Teknologi Ponsel Struktur Menu

4.2. Sistem Penerima Data Stasiun Cuaca HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Teknologi Ponsel Struktur Menu Sistem penerima data stasiun cuaca, tediri atas tiga pemikiran utama, yaitu monitoring, data terkini, dan identitas stasiun. Pada monitoring berisikan informasi stasiun (no, nama, dan letak geografis stasiun).

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan,

BAB III LANDASAN TEORI. adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Konsep Dasar Sistem Informasi Menurut Jerry, dkk dalam Hartono (1999:1) menyatakan bahwa sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul

Lebih terperinci

AMOS MARITO SIMANJUNTAK NIM : INDRI LESTARI NIM :

AMOS MARITO SIMANJUNTAK NIM : INDRI LESTARI NIM : RANCANG BANGUN APLIKASI SMS GATEWAY UNTUK PERMINTAAN LAGU PADA STASIUN RADIO SECARA OTOMATIS LAPORAN TUGAS AKHIR Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Program Pendidikan Diploma 3 Oleh

Lebih terperinci

TATA LETAK PABRIK KULIAH 2: PERENCANAAN LAYOUT

TATA LETAK PABRIK KULIAH 2: PERENCANAAN LAYOUT TATA LETAK PABRIK KULIAH 2: PERENCANAAN LAYOUT By: Rini Halila Nasution, ST, MT Alat, bahan dan pekerja harus diatur posisinya sedemikian rupa dalam suatu pabrik, sehingga hasilnya paling efektif dan ekonomis.

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI Pada bab ini akan dijelaskan mengenai penelitian terdahulu, penelitian sekarang dan dasar teori yang digunakan dalam penelitian. 2.1. Tinjauan Pustaka Banyak penelitian

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian dan tujuan rancang fasilitas Wignjosoebroto (2009; p. 67) menjelaskan, Tata letak pabrik adalah suatu landasan utama dalam dunia industri. Perancangan tata letak pabrik

Lebih terperinci

BAB IV Hasil Dan Pembahasan

BAB IV Hasil Dan Pembahasan BAB IV Hasil Dan Pembahasan 4.1 Proses yang sedang berjalan Proses pemenuhan order pelanggan dan distribusi diawali dengan datangnya order dari pelanggan. PT. TAC memiliki 3 jenis pelanggan, pertama adalah

Lebih terperinci

Struktur Fungsi CPU. Mata Kuliah Arsitektur Komputer Program Studi Sistem Informasi 2013/2014 STMIK Dumai -- Materi 03 --

Struktur Fungsi CPU. Mata Kuliah Arsitektur Komputer Program Studi Sistem Informasi 2013/2014 STMIK Dumai -- Materi 03 -- Struktur Fungsi CPU Mata Kuliah Arsitektur Komputer Program Studi Sistem Informasi 2013/2014 STMIK Dumai -- Materi 03 -- This presentation is revised by @hazlindaaziz, STMIK, 2014 Main Material: Acknowledgement

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1

BAB 1 PENDAHULUAN 1-1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dewasa ini, industri manufaktur di Indonesia mengalami persaingan yang semakin ketat terutama yang berhubungan dengan produk yang dihasilkan, harga produk,

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS METODE DAN PERANCANGAN KASUS UJI

BAB III ANALISIS METODE DAN PERANCANGAN KASUS UJI BAB III ANALISIS METODE DAN PERANCANGAN KASUS UJI 3.1 Analisis Sistem Analisis adalah penguraian dari suatu pembahasan, dalam hal ini pembahasan mengenai analisis perbandingan teknik antrian data First

Lebih terperinci

TERMINAL PENUMPANG/TERMINAL BUS

TERMINAL PENUMPANG/TERMINAL BUS TERMINAL PENUMPANG/TERMINAL BUS Terminal Bus adalah tempat sekumpulan bus mengakhiri dan mengawali lintasan operasionalnya. Dengan mengacu pada definisi tersebut, maka pada bangunan terminal penumpang

Lebih terperinci

PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI PADA PABRIK PAKAN TERNAK DENGAN MENGGUNAKAN PRINSIP SYNCHRONOUS MANUFACTURING

PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI PADA PABRIK PAKAN TERNAK DENGAN MENGGUNAKAN PRINSIP SYNCHRONOUS MANUFACTURING PENINGKATAN KAPASITAS PRODUKSI PADA PABRIK PAKAN TERNAK DENGAN MENGGUNAKAN PRINSIP SYNCHRONOUS MANUFACTURING Budi Christianto, Witantyo Program Studi Magister Manajemen Teknologi ITS Jl. Cokroaminoto 12A

Lebih terperinci

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA BAB 4 PENGUMPULAN, PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA 4.1 Pengumpulan Data Menurut sumbernya, data-data yang berhasil dirangkum selama penelitian ini dapat dikelompokkan menjadi data yang diperoleh dari hasil

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 5 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Sistem Dalam mendefenisikan sistem terdapat dua kelompok pendekatan sistem, yaitu sistem yang lebih menekankan pada prosedur dan elemennya. Namun secara umum sistem

Lebih terperinci

V. Hasil 3.1 Proses yang sedang Berjalan

V. Hasil 3.1 Proses yang sedang Berjalan V. Hasil 3.1 Proses yang sedang Berjalan Dalam industri komponen otomotif, PT. XYZ melakukan produksi berdasarkan permintaan pelanggannya. Oleh Marketing permintaan dari pelanggan diterima yang kemudian

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Antrian Sistem antrian adalah merupakan keseluruhan dari proses para pelanggan atau barang yang berdatangan dan memasuki barisan antrian yang seterusnya memerlukan pelayanan

Lebih terperinci

EVALUASI SISTEM PRODUKSI PADA PEMENUHAN PESANAN DENGAN SIMULASI KEJADIAN DISKRIT: STUDI KASUS PADA INDUSTRI KAROSERI

EVALUASI SISTEM PRODUKSI PADA PEMENUHAN PESANAN DENGAN SIMULASI KEJADIAN DISKRIT: STUDI KASUS PADA INDUSTRI KAROSERI 1 EVALUASI SISTEM PRODUKSI PADA PEMENUHAN PESANAN DENGAN SIMULASI KEJADIAN DISKRIT: STUDI KASUS PADA INDUSTRI KAROSERI Nadiya Firma Zulfana, Nurhadi Siswanto, dan Dewanti Anggrahini Jurusan Teknik Industri

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Istilah komputer (computer) berasal dari bahasa latin computere yang berarti

BAB 2 LANDASAN TEORI. Istilah komputer (computer) berasal dari bahasa latin computere yang berarti BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Komputer Istilah komputer (computer) berasal dari bahasa latin computere yang berarti menghitung. Dalam bahasa Inggris komputer berasal dari kata to compute yang artinya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di era globalisasi ini negara-negara berkembang berpacu dalam memajukan perekonomian negaranya. Peningkatan produksi merupakan cara paling efektif yang dipilih guna

Lebih terperinci

Gambar 4.1 Susunan hardware

Gambar 4.1 Susunan hardware BAB IV IMPLEMENTASI DAN EVALUASI PROGRAM APLIKASI BERBASIS SMS SEBAGAI INFORMASI PERFORMANSI CENTRAL PROCESSOR MOBILE SWITCHING CENTER ERICSSON 4.1 Implementasi Hardware Implementasi Hardware merupakan

Lebih terperinci

SIMULASI FLEXSIM UNTUK OPTIMASI SISTEM ANTRIAN POLI UMUM RAWAT JALAN RUMAH SAKIT X

SIMULASI FLEXSIM UNTUK OPTIMASI SISTEM ANTRIAN POLI UMUM RAWAT JALAN RUMAH SAKIT X SIMULASI FLEXSIM UNTUK OPTIMASI SISTEM ANTRIAN POLI UMUM RAWAT JALAN RUMAH SAKIT X Teknik Industri, Fakultas Sains dan Teknologi,Universitas Al Azhar Indonesia Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta

Lebih terperinci

BAB III ANALISA SISTEM DAN PERANCANGAN

BAB III ANALISA SISTEM DAN PERANCANGAN 25 BAB III ANALISA SISTEM DAN PERANCANGAN Analisa sistem merupakan suatu proses yang harus di laksanakan untuk menentukan permasalahan yang harus dihadapi. Tahap ini adalah sangat penting, karena proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia, Nata de Coco mulai dikonsumsi pada tahun 1973 dan sejak tahun 1975 mulai diperkenalkan. Namun Nata de Coco mulai dikenalkan di pasaran pada tahun 1981.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Komputer Menurut Jogiyanto dalam Salim Agus (2012) Komputer adalah seperangkat alat atau peralatan elektronik yang bekerja bersama-sama secara otomatis, menerima input

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN. Permasalahan pendistribusian barang oleh depot ke konsumen merupakan

BAB 1. PENDAHULUAN. Permasalahan pendistribusian barang oleh depot ke konsumen merupakan BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan pendistribusian barang oleh depot ke konsumen merupakan komponen penting dalam sistem pelayanan depot suatu perusahaan, proses tersebut dapat terjadi

Lebih terperinci

IV. PEMODELAN SISTEM B. KONFIGURASI MODEL

IV. PEMODELAN SISTEM B. KONFIGURASI MODEL IV. PEMODELAN SISTEM A. ASUMSI PERHITUNGAN MODEL Perencanaan penjadwalan produksi menggunakan beberapa asumsi. Asumsi-asumsi ini merupakan hal-hal yang berkaitan dengan perencanaan produksi secara keseluruhan.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Pendukung Keputusan 2.1.1. Definisi Definisi dari Sistem Pendukung Keputusan (SPK) dapat dirumuskan dengan melihat beberapa pengertian SPK menurut beberapa ahli, misalnya

Lebih terperinci

BAB IV REKAYASA SISTEM

BAB IV REKAYASA SISTEM 38 BAB IV REKAYASA SISTEM Bab ini akan memberikan gambaran umum mengenai kondisi analisa aplikasi dan proses pada pengiriman pesan dan simulator yang digunakan dalam proses pengiriman yang dititikberatkan

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN. Dalam proses produksi terdapat beberapa faktor yang akan mempengaruhi

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN. Dalam proses produksi terdapat beberapa faktor yang akan mempengaruhi BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN 3.1 Analisis Masalah Dalam proses produksi terdapat beberapa faktor yang akan mempengaruhi hasil keluaran produksi. Ada 4 faktor yang saling berhubungan satu dengan yang

Lebih terperinci

SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN PADA SUPPLY MINYAK

SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN PADA SUPPLY MINYAK ISSN : 2338-4018 SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN PADA SUPPLY MINYAK Muhamad yanun as at ([email protected]) Bebas Widada ([email protected]) Wawan laksito YS ([email protected]) ABSTRAK Kemajuan teknologi

Lebih terperinci

MANAJEMEN MEMORI SISTEM OPERASI

MANAJEMEN MEMORI SISTEM OPERASI MANAJEMEN MEMORI SISTEM OPERASI Manajemen Memori Memori adalah pusat dari operasi pada sistem komputer modern, berfungsi sebagai tempat penyimpanan informasi yang harus diatur dan dijaga sebaik baiknya.

Lebih terperinci

PERBAIKAN TATA LETAK GUDANG KALENG DI SURABAYA

PERBAIKAN TATA LETAK GUDANG KALENG DI SURABAYA PERBAIKAN TATA LETAK GUDANG KALENG DI SURABAYA Indri Hapsari, Benny Lianto, Yenny Indah P. Teknik Industri, Universitas Surabaya Jl. Raya Kalirungkut, Surabaya Email : [email protected] PT. JAYA merupakan

Lebih terperinci

SISTEM PRODUKSI JUST IN TIME (SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU) YULIATI, SE, MM

SISTEM PRODUKSI JUST IN TIME (SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU) YULIATI, SE, MM SISTEM PRODUKSI JUST IN TIME (SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU) YULIATI, SE, MM Konsep Just In Time (JIT) adalah sistem manajemen fabrikasi modern yang dikembangkan oleh perusahaanperusahaan terbaik yang ada

Lebih terperinci