BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Umum Proyek L Avenue Gambaran Umum Kota Jakarta Selatan Jakarta Selatan terletak pada Bujur Timur (BT) s.d BT, dan Lintang Selatan (LS). Luas Wilayah sesuai dengan Keputusan Gubernur KDKI Nomor 1815 tahun 1989 adalah 145,37 km 2 atau 22,41% dari luas DKI Jakarta. Terbagi menjadi 10 kecamatan dan 65 kelurahan, berada di belahan selatan banjir kanal dengan batas-batas wilayah sebagai barikut: 1. Sebelah Utara : Banjir Kanal Jl. Jenderal Sudirman Kecamatan Tanah Abang, Jl. Kebayoran Lama dan Kebun Jeruk 2. Sebelah Timur : Kali Ciliwung 3. Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Kota Administrasi Depok 4. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Kecamatan Ciledug, Kota Administrasi Tangerang Topografi Wilayah Jakarta Selatan pada umumnya dapat dikategorikan sebagai daerah perbukitan rendah dengan tingkat kemiringan 0,25%. Ketinggian tanah rata-rata mencapai 5-50 meter di atas permukaan laut. Pada wilayah bagian selatan, banjir kanal relatif merupakan daerah perbukitan jika dibandingkan dengan wilayah bagian utara. Jakarta Selatan beriklim panas dengan suhu rata-rata pertahun 27 C dengan tingkat kelembapan berkisar antara 80-90%. Arah angin dipengaruhi angin Muson Barat terutama pada bulan Mei-Oktober Gambaran Umum Kecamatan Pancoran Kecamatan Pancoran merupakan pecahan dari kecamatan Mampang Prapatan pada tahun 1985, waktu itu bernama kecamatan perwakilan Pancoran. Kecamatan Pancoran terletak di Kotamadya Jakarta Selatan dengan luas mencapai 8,23 km 2 dan terdiri dari 6 Kelurahan antara lain: Pancoran, Duren Tiga, Kalibata, Cikoko, Pangadegan, dan Rawajati. Kecamatan Pancoran memiliki batas wilayah sebagai berikut: 18

2 1. Sebelah Utara : Tebet 2. Sebelah Timur : Kramat Jati Jakarta timur 3. Sebelah Selatan : Pasar Minggu 4. Sebelah Barat : Mampang Prapatan Gambar 4. Peta Kecamatan Pancoran (Sumber: Tatakota Jakartaku, 2012) Gambaran Umum L Avenue Salah satu proyek yang sedang dikerjakan konsultan lanskap Oemardi_zain selama mahasiswa melakukan kegiatan magang adalah proyek desain lanskap sebuah office dan apartment L Avenue. Proyek ini dirancang dengan tujuan dapat memberikan ketenangan untuk pengguna tapak dengan konsep komplek bangunan berkelanjutan yang ramah dalam lingkungan kerja. Pemilik atau pemberi kerja proyek ini adalah sebuah perusahaan pengembang yakni PT Bintang Rajawali Perkasa. Proyek perancangan L Avenue melibatkan beberapa konsultan yang diantaranya terdiri dari konsultan arsitektur, konsultan struktur, konsultan teknik sipil, konsultan pencahayaan, dan konsultan 19

3 lanskap. Proyek ini mulai dikerjakan oleh Oemardi_zain sejak Desember 2011 dengan batasan pekerjaan berupa desain lanskap perkantoran dan apartemen. Gambar 5. Lokasi Proyek L Avenue (Sumber: GoogleMaps) Proyek ini terletak di Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Raya Pasar Minggu KM. 16, Pancoran Jakarta Selatan. Proyek ini berada di pinggir jalan utama akses antara Kota Jakarta dan Kota Depok, sehingga termasuk dalam lokasi yang strategis dalam pengembangan tujuan proyek. Berikut ini adalah gambar lokasi proyek yang diambil melalui software GoogleEarth. Gambar 6. Lokasi Proyek L Avenue (Sumber: GoogleEarth) 20

4 5.2 Hasil Contractual Stage Contractual stage atau penerimaan proposal proyek baik dari arsitek lanskap maupun klien merupakan tahap awal proses dalam desin (Lampiran 1, Surat Perintah Kerja (SPK) Pasal II). Pada pertemuan pertama antara kedua pihak, klien menyampaikan keinginan dan persyaratan general/umum terhadap perancangan L Avenue dan arsitek lanskap menyampaikan proposal tertulis yang lebih detail tentang servis, produk, dan biaya servis. Pada proyek L Avenue, klien menyampaikan visi dan misi proyek serta keinginan desain lanskap L Avenue dengan mencakup lingkup pekerjaan: 1. Desain geometri dan komposisi material lanskap area perencanaan. 2. Desain dan penataan eksternal lighting, water feature, dan feature lainnya. 3. Desain dan penataan eksternal pavement, planters, walls, dan feature perkerasan lainnya. 4. Desain dan komposisi elemen hardscape penunjang seperti timber deck, pergola, shade, signage, seating, steps dan ramp, railing, dan elemen hardscape lainnya. 5. Pemilihan dan penataan jenis tanaman. 6. Desain sistem irigasi dan drainase lanskap kawasan. Klien juga menyampaikan tahap pekerjaan dalam area perencanaan L Avenue (Lampiran 1, SPK Pasal I). Area tersebut meliputi: 1. Main Entrance dan Drop Lobby Area Courtyard 2. Office Tower dan Apartment Main Courtyard 3. Apartment s Pool Courtyard 4. Apartment s Play dan Games Court 5. Office dan Retail Garden 6. Roof Garden 7. Area Batas Kawasan/ Green Tahap pekerjaan perencanaan lanskap meliputi kegiatan studio dan koordinasi dengan pihak yang bersangkutan. 21

5 5.2.2 Inventory and Data Collection Tahap ini berkaitan dengan inventarisasi dan pengambilan data. Inventarisasi dilakukan Oemardi_zain melalui wawancara, studi pustaka dan survei lapang. Pada proyek L Avenue, data awal tentang tapak yang didapatkan dari klien meliputi baseplan dan acuan desain. Gambar baseplan awal yang berasal dari klien berisi batas desain pada tapak lengkap dengan tata letak desain bangunan yang akan dibangun melalui rancangan konsultan arsitek yaitu Urbane Architecture Consultant. Kemudian, gambar baseplan yang telah dirancang arsitek diberikan kepada konsultan arsitek lanskap, Oemardi_zain. Gambar tersebut berguna bagi Oemardi_zain sebagai bahan pengamatan kondisi tapak dan bahan pengecekan secara langsung dengan lokasi tapak sebenarnya. Pada tahap ini, juga dilakukan pengambilan foto kondisi lokasi pada saat sebelum proyek (Gambar 7). Gambar 7. Foto Lokasi Proyek L Avenue (Diambil tanggal 30 November 2011) Lokasi proyek terletak di Jalan Raya Pasar, dimana jalan ini merupakan salah satu akses utama menuju Kota Jakarta melalui Pancoran. Oleh sebab itu daerah ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengguna L Avenue karena kebisingan dan polusi yang tinggi. Untuk menciptakan kondisi yang nyaman, maka desain taman didominasi oleh pepohonan yang disesuaikan dengan konsep. Penempatan tanaman untuk kenyamanan, tanaman untuk area terbuka hijau, tanaman sebagai penghalang juga dipertimbangkan sesuai lokasi tapak. Lahan yang digunakan untuk kawasan L Avenue awalnya adalah area kosong dan area terbuka yang sebagian besar adalah lahan kosong. 22

6 5.2.3 Analysis, Synthesis, and Concept Acuan desain yang diberikan oleh klien digunakan Oemardi_zain sebagai bahan analisis pembuatan konsep desain. Pembuatan konsep sebagai bentuk hasil riset, analisis, dan sintesis L Avenue dilakukan oleh konseptor sekaligus direktur utama perusahaan. Perancangan L Avenue ini secara keseluruhan mengusung satu visi yakni Sustainable Building Complex Comfortable Working Environment yang mempunyai arti Komplek Bangunan Berkelanjutan yang Ramah Dalam Lingkungan Kerja. Konsep ini dipilih dengan meneruskan keinginan klien yang ingin menciptakan suasana yang dapat memfasilitasi keinginan pengguna dalam melakukan aktivitas dalam satu area. Konsep umum perancangan L Avenue yang sudah ditentukan kemudian diterjemahkan oleh direktur Oemardi_zain yang bertindak sebagai konseptor utama dan dibantu oleh project manager beserta tim kerja. Aspek yang ditawarkan oleh L Avenue bervariasi dengan adanya tema mixed use didalam perancangan. Area tersebut dibagi menjadi beberapa bagian dengan bantuan zoning namun tetap memprioritaskan fungsi area tersebut. Bagian pertama adalah sebagai area office yang diarahkan pada bagian depan tapak. Bagian kedua dalam proyek adalah area apartment yang diarahkan pada bagian tengah tapak. Bagian terakhir adalah area retail yang mengelilingi seluruh tapak untuk mendukung aktivitas pengguna dalam tapak. Konsep ini kemudian ditingkatkan dengan penambahan ruang terbuka hijau diharapkan dapat meminimalisir polusi yang diakibatkan oleh kendaraan dalam kota melalui lanskap L Avenue Konsep Ruang Secara garis besar, pembagian ruang pada tapak ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu ruang kavling dan non kavling. Kavling merupakan ruang yang dimanfaatkan untuk bangunan sedangkan non kavling dimanfaatkan untuk sarana penunjang bangunan seperti jalan, saluran, taman, pathway dan fasilitas lainnya. Berdasarkan Surat Perintah Kerja (SPK) Pasal 1, perencanaan Lanskap L Avenue dibagi menjadi tujuh area (Lampiran 1). Mengacu pada SPK tersebut, 23

7 untuk mendukung konsep dasar proyek dihasilkan pembagian zona untuk desain lanskap L Avenue (Gambar 8). Tujuan dari pembagian zona ini adalah untuk menentukan prioritas ruang dalam hal kebutuhan dan fungsional. Setiap zona mempunyai perlakuan yang berbeda. Hal tersebut dimaksudkan agar tercipta ritme di setiap zona ruang yang ditentukan. Zona ruang tersebut terbagi menjadi 4 bagian dengan penjabaran sebagai berikut, 1. Drop off merupakan area masuk dan terdapat di tiga titik (office, apartment, retail). Zona ini berfungsi sebagai tempat penurunan penumpang atau barang sesuai dengan tujuannya. Pada ruang ini aktivitas utamanya adalah kendaraan. 2. Green amenities merupakan area di tengah tapak dan menjadi area aktivitas perkantoran dan apartemen ditunjang dengan retail. Area ini mengikuti konsep awal yang menerapkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk penggunaan pleasure (kesenangan) khususnya bagi pengguna. Oleh karena itu, area ini memungkinkan pengguna untuk beraktivitas, berkreasi dan menikmati keindahan taman. Zona ini mempunyai karakter dominan outdoor organik dengan sentuhan nuansa kayu (timber deck) di area retail juga penambahan fasilitas penunjang untuk aktivitas dalam tapak seperti water feature dan tempat duduk. 3. Green perimeter merupakan area yang terdapat di sepanjang utara, barat dan selatan tapak. Area ini mengelilingi tapak, berfungsi sebagai pembatas area dan penutup tapak sebagai perbatasan antara tapak dan luar tapak. Area ini juga berfungsi sebagai blocking badview di beberapa titik. Area ini didominasi dengan penanaman beberapa jenis pohon untuk memperkuat karakter desain lanskap L Avenue. 4. Amenities merupakan area penunjang apartemen untuk mendukung aktivitas tapak. Area ini bersifat privat yang hanya dapat dinikmati oleh pengguna apartemen saja. Pada area ini membentuk suatu kegiatan tertentu, seperti dalam tapak, antara lain adanya kolam renang, dan tenis. Area ini dihiasi dengan kolam resapan, leveling lanskap dan dipadu dengan pathway yang mengikuti alur desain. 24

8 Konsep Sirkulasi Proyek L Avenue terbagi menjadi tiga kelas dalam pengklarifikasian sirkulasi. Kelas ini dibagi berdasarkan lokasi, fungsi, dan tingkat keramaian. Hal ini bertujuan untuk membedakan secara jelas tiap sirkulasi berdasarkan kegunaan dan kegiatannya. Sirkulasi pertama adalah sirkulasi primer terletak di area depan tapak. Sirkulasi ini berupa jalan raya dan berbentuk aspal. Sirkulasi ini cukup besar, satu jalur memiliki lebar tujuh meter dan merupakan jalur penghubung antara Jakarta Depok, jadi banyak dilalui oleh kendaran roda dua maupun empat atau lebih. Sirkulasi ini juga merupakan sirkulasi utama untuk masuk kedalam tapak L Avenue. Sirkulasi kedua adalah sirkulasi sekunder yaitu sirkulasi yang terletak di dalam tapak dan dapat dilalui oleh kendaraan roda empat. Sirkulasi ini juga berupa aspal dan memiliki dua pintu utama, satu pintu menjadi pintu masuk ke dalam tapak dan pintu lainnya menjadi pintu keluar bagi pengguna tapak. Sirkulasi ini diakses oleh kendaraan bermotor dan pejalan serta mempunyai fungsi sebagai jalur kendaraan untuk area lobby office, lobby apartment, lobby retail dan parking lot. Sirkulasi terakhir adalah sirkulasi tersier berupa jalur pedestrian yang terletak di bagian belakang tapak dan memiliki lebar yang tidak beraturan tetapi kecil sehingga hanya dapat dilewati oleh pejalan kaki. Sirkulasi ini mengelilingi apartemen selatan dan berfungsi sebagai jogging track dan maintenance service. Sirkulasi ini bersifat privat dengan arti lain hanya user tapak yang dapat menggunakannya. Sesuai dengan fungsi dan kegunaannya, sirkulasi ini didesain dengan tema organik sehingga tidak terkesan kaku. Konsep sirkulasi pada proyek L Avenue ini dapat dilihat pada Gambar Konsep Vegetasi Konsep tata hijau yang direncanakan adalah penataan vegetasi sebagai sumberdaya lanskap yang disesuaikan dengan fungsi ruang pada tapak. Proyek L Avenue mempunyai area lahan hijau yang mengelilingi tapak. Area ini terbagi dalam beberapa bagian, salah satunya adalah area hijau dan vegetasi. Pada konsep vegetasi ini terbagi dalam empat kelas dalam pengklarifikasian jenis tanaman 25

9 berdasarkan fungsi, yaitu: tanaman peneduh utama, tanaman peneduh, aksen arsitektural, aksen berbunga (Gambar 10). Tanaman peneduh utama merupakan tanaman yang difungsikan sebagai penyeimbang bangunan terhadap lahan. Bangunan yang tinggi membutuhkan pohon yang dapat menghasilkan oksigen dan menyerap karbondiosida. Oleh dasar itu, dibutuhkan tanaman besar dan berfungsi sebagai peneduh dalam proyek perancangan L Avenue. Selain itu, tanaman ini juga difungsikan untuk menutup lahan, penetralisir panas matahari dan suhu daerah tapak. Tanaman ini terletak di area terbuka lahan, dan ditanam secara mengacak pada sudut-sudut tapak. Hanya terdapat dua pohon peneduh utama yang diterapkan pada L Avenue ini, yaitu Ficus religiosa (pohon bodhi), Delonix regia (flamboyan), dan Samanea saman (trembesi). Tanaman peneduh merupakan tanaman yang difungsikan sebagai penunjang aktivitas pengguna tapak ketika siang atau saat adanya cahaya matahari langsung. Tanaman ini tersebar merata di seluruh tapak dengan diterapkan dalam berbagai jenis tanaman. Pada wilayah utara tapak, tanaman peneduh ini didominasi oleh Manilkara kauki (sawo kecik), wilayah timur oleh Elaeocarpus angustifolius (anyang-anyang), dan wilayah selatan oleh Canarium commune (kenari). Aksen arsitektural merupakan tanaman dalam golongan unik dan indah yang difungsikan untuk menambah estetika area tapak melalui warna, pola pohon, bentuknya. Tanaman ini akan di padukan di beberapa area tertentu sesuai dengan kebutuhan tapak. Pada kelas ini, tanaman didominasi oleh Pinus merkusii (pinus). Aksen berbunga adalah tanaman pendukung dan tanaman pelengkap untuk tapak, tanaman ini disebar di beberapa titik utama tapak sebagai variasi dari bagian desain lanskap tapak tersebut. Tanaman ini dapat dinikmati melalui keindahan bunga yang diproduksi oleh pohon tersebut. Pada kelas ini, tanaman didominasi oleh Tabebuia chrysantha (tabebuia bunga kuning). Adapun data mengenai kriteria pohon berdasarkan fungsi dapat dilihat pada Tabel 4. 26

10 Gambar 8. Konsep Ruang (Digambar oleh: Situmorang) 27

11 Gambar 9. Konsep Sirkulasi (Digambar oleh: Situmorang) 28

12 Tabel 4. Kriteria Pohon Berdasarkan Fungsi No Kode Peneduh Aksen Aksen Peneduh Nama Latin Nama Lokal Utama Arsitektural Berbunga 1 Acacia mangium Akasia 2 Alstonia scholaris Pulai 3 Bouhinia blakeana Bunga Kupu-kupu 4 Bucida molinetii Ketapang Mini 5 Canarium commune Kenari 6 Cinnamomum iners Kayu Manis 7 Delonix regia Flamboyan 8 Elaeocarpus angustifolius Anyang-anyang 9 Erythrina crista-galli Dadap Merah 10 Ficus religiosa Pohon Bodhi 11 Lagerstromia floribunda Bungur 12 Livistonia rotundifolia Palem Sadeng 13 Manilkara kauki Sawo Kecik 14 Plumeria rubra Kamboja Putih Kuning 15 Pinus merkusii Pinus 16 Schizolobium parahybum Tower Tree 17 Samanea saman Trembesi 18 Tabebuia chrysantha Tabebuia Bunga Kuning 19 Terminalia cattapa Ketapang 20 Washingtonia robusta Palem Washington Sumber: Oemardi_zain,

13 Gambar 10. Konsep Vegetasi (Digambar oleh: Situmorang) 30

14 5.2.4 Preliminary Concept Oemardi_zain mempunyai tipe mendesain suatu proyek dengan cara penggunaan image reference dan akan dikembangkan dengan mengikuti bentukan, desain, pola, dan material yang terdapat dalam gambar. Image reference ini juga diambil dari library perusahaan Oemardi_zain ini sendiri. Tahap ini yang dinamakan tahap preliminary konsep. Preliminary konsep adalah tahap penjelasan konsep yang akan dikembangkan dalam perancangan sebuah proyek, termasuk L Avenue. Pada tahap ini konsultan memberikan ide dan gambaran sebuah desain dengan mencantumkan image reference pada area yang akan dikembangkan (Lampiran 2) Drop off Proyek ini memiliki tiga area drop off, yaitu public retail, public office, dan apartemen. Public retail terletak di depan tapak dan diarahkan langsung ke area retail melalui jalur selatan sehingga ketika user ingin ke retail tidak perlu melalui office atau apartemen Public office terletak di depan pintu utama office. Area ini terletak di bagian utara tapak dan berbentuk melingkar untuk memudahkan masuk atau keluarnya penumpang dari dalam kendaraan menuju lobby office. Drop off apartemen terletak di area belakang tapak. Lokasi tersebut terletak di bagian belakang tapak karena merupakan area pribadi (private area) sehingga tidak memungkinkan user office atau user retail untuk melewati area apartemen. Area drop off dapat dilihat pada Gambar Garden Strip Garden Strip adalah sebuah elemen estetika dalam suatu lanskap. Didesain dengan bentuk dan keinginan yang disesuaikan dengan konsep dan kebutuhan tapak suatu proyek. Desain garden strip juga dapat memperkaya kebutuhan area terbuka sebagai penambahan keindahan suatu area tertentu sehingga area tersebut dapat dinikmati ketika sedang dilewati user. Dengan garden strip ini, permainan pola dan material yang dipakai dalam penerapan desainnya sangat mempengaruhi keefektifan dan nilai estetika dalam area tersebut. 31

15 Pada proyek ini diketahui bahwa garis-garis yang membuat pola dalam garden strip adalah sebagai aksen estetik untuk area tersebut. Dengan adanya penambahan pohon palem dalam rangkaian desain garden strip tersebut menjadikan area ini sebagai grand view atau terkesan mewah karena ciri-ciri pohon palem yang mempunyai fisik tinggi, dengan batang yang rapi, bersih dan tertata dengan baik. Peletakan titik garden strip dapat dilihat pada Gambar Paving Pattern Paving Pattern dalam proyek ini mengikuti konsep awal yang berkecenderungan bersih, rapi, bertata dan modern. Dengan pemahaman tersebut muncul ide pola striping sebagai desain paving pattern pada green amenities area. Adapun material yang dipakai dalam proyek di area ini adalah batu alam. Batu alam dipakai karena selain bentuknya yang minimalis, bersih, pemeliharaannya mudah dan mempunyai kesan mewah. Batu alam juga mempunyai warna yang tidak beragam dan tidak banyak bentukan sehingga terlihat simpel namun tetap modern. Konsep area drop off, garden strip, dan paving pattern disajikan pada Gambar Water Feature Water Feature dalam proyek ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama terletak di area drop off office dan menjadi main decoration area office, bagian kedua terletak di area green amenities sebagai aksen penyelarasan tempat dengan adanya aksen air. Dengan desain lanskap yang telah dibuat, didapatkan gagasan bahwa agar dapat menyejukkan area dari bagian satu ke bagian lainnya, dibuatlah konsep water feature yang mengindikasikan bahwa seakan-akan mengalir dari satu tempat ke tempat lainnya. Konsep ini dimulai dari water feature office kemudian mengalir ke area green amenities dan berakhir pada kolam resapan yang terletak di belakang tapak. Konsep Water Feature dalam proyek ini dibuat dengan model dan pola bentuk seperti pada image reference yang telah ditentukan. Desainnya dengan permainan air mancur dan mengalir melalui badan water feature. Konsep water feature yang dirancang dengan pemahaman desain dituangkan pada Gambar

16 Gambar 11. Drop Off, Garden Strip, dan Paving Area (Digambar oleh: Situmorang) 33

17 Gambar 12. Konsep Water Feature L Avenue (Digambar oleh: Situmorang) 34

18 Planter Planter dalam proyek ini dibangun dibeberapa titik, tergantung keinginan dan kebutuhan area tapak tersebut. Planter mempunyai fungsi utama sebagai tempat untuk media tanam. Selain itu, planter juga mempunyai fungsi sebagai aksen area dan tempat duduk. Planter banyak ditemukan pada level podium, karena di level ini terdapat slept beton untuk kebutuhan area basement. Artinya level ini tidak mempunyai media tanam yang cukup untuk menanam tanaman sehingga dibuat planter dibeberapa titik untuk kebutuhan penghijauan area. Planter pada proyek ini mempunyai beberapa desain. Planter yang didesain hanya sebagai tempat media tanam dan planter yang didesain untuk media tanam beserta tempat duduk. Desain planter sebagai media tanam dan tempat duduk ini mengikuti pola image reference yang dapat dilihat pada Lampiran 2. Begitu pula dengan besar dan ukurannya berbeda-beda. Contohnya pada zona green amenities terdapat tiga planter yang difungsikan untuk tempat media tanam juga sebagai tempat duduk dengan desain yang berbeda-beda. Titik peletakan planter ini dapat dilihat pada Gambar Mounding Mounding mempunyai fungsi yang hampir sama dengan planter, yaitu untuk menaikkan tanah sebagai media tanam, tetapi strategi ini lebih terkesan alami dibandingkan dengan planter. Mounding juga berfungsi sebagai suatu variasi dalam kontur, menciptakan aksen, dan sebagai alat untuk menciptakan ruang (enclosement) sehingga area yang ditimbulkan menjadi dinamis menambahkan estetika. Desain mounding ini mengikuti pola image reference yang dapat dilihat pada Lampiran 2. Mengikuti pola desain tersebut, proyek ini memaksimalkan fungsi mounding untuk penambahan variasi kontur, estetika ruangan dan menutup area-area tertentu dalam sebuah aktivitas agar area tersebut menjadi lebih privat. Contohnya pada zona green amenities, mounding difungsikan sebagai enclosement area retail sehingga aktivitas retail tidak terganggu oleh kegiatan lainnya. Area mounding ini dapat dilihat pada Gambar

19 Swimming Pool Swimming pool dalam proyek ini terbagi dalam tiga area. Dua swimming pool terletak di dua tower apartemen yang berbeda, tower utara difungsikan untuk condotel dan disewakan, lebih bersifat publik. Dan di tower selatan difungsikan hanya untuk residential, bersifat privat sehingga hanya penghuni apartemen yang dapat memakai kolam renang tersebut. Area terakhir terletak di level ground, swimming pool ini difungsikan untuk umum dan dapat digunakan dengan memakai sistem member. Swimming pool ini mempunyai desain yang organik, tidak kaku karena terletak di bawah bangunan dan sebagai penyeimbang desain bangunan di area ini. Desain ini mengikuti pola image reference yang dapat dilihat pada Lampiran 2. Mengikuti pola tersebut, swimming pool ini juga didesain dengan adanya penambahan area tanam untuk penanaman pohon (Plumeria rubra kamboja putih kuning) di tengah kolam untuk menambah aksen estetik pada area tersebut. Swimming pool di level ground ini dapat dilihat pada Gambar Alfresco Alfresco adalah area outdoor yang dimanfaatkan untuk aktivitas santai. Area ini biasanya terletak di teras sebuah bangunan dan dibuat untuk bersantai atau sekedar duduk-duduk untuk pengguna. Pada proyek L Avenue, alfresco didesain untuk penunjang aktivitas retail. Desain alfresco pada proyek ini mengikuti pola image reference yang dapat dilihat pada Lampiran 2. Desain peletakan alfresco dapat dilihat pada Gambar Pedestrian Path Pedestrian path pada proyek ini terletak di belakang tapak, dan berfungsi sebagai sarana penghubung antara satu fasilitas ke fasilitas lainnya dalam tapak. Pedestrian path ini berfungsi sebagai jogging track bagi pengguna dan akses maintenance pekerja untuk pemeliharaan tapak L Avenue. Desain ini mengikuti pola image reference yang dapat dilihat pada Lampiran 2. Mengikuti pola tersebut, desain bersifat organik sehingga terkesan alami ketika melewati jalur ini. Area pedestrian path disajikan pada Gambar

20 Gambar 13. Mounding, Pedestrian Path, Swimming Pool, Planter, dan Alfresco Area (Digambar oleh: Situmorang) 37

21 5.2.5 Design Development Tahap design development (DD) atau pengembangan desain dilakukan setelah adanya konfirmasi bahwa proposal dalam tahap konsep desain disetujui, dan sudah diterima oleh pihak klien. Tahapan ini dapat ditambahkan dengan masukan-masukan dari klien yang bersangkutan untuk memperkuat desain, dan akan menjadi pertimbangan desain untuk direvisi. Produk gambar dalam tahapan ini sudah menggunakan format gambar secara resmi, dengan menggunakan syarat dan ketentuan yang berlaku dalam perusahaan. Format kertas gambar yang digunakan A3 dengan nomor judul gambar yang berbeda di masing-masing gambar, sesuai dengan kebutuhan dalam melaksanakan proyek. Masterplan konsep yang telah dibuat dalam tahap sebelumnya mulai diperbaiki dengan ukuran yang lebih detail dan diperinci. Dengan proses revisi yang dilakukan beberapa kali, dihasilkan penyesuaian terhadap material softscape maupun hardscape yang digunakan. Adapun material softscape berupa jenis-jenis vegetasi yang digunakan, ukuran, dan jumlah. Sedangkan material hardscape yang disajikan seperti jenis dan ukuran material, bentuk, dan letak fasilitas. Proses penggambaran pada tahap ini adalah tahap yang selalu berkomunikasi dengan pihak klien, maupun dengan konsultan lain mengenai grading, lighting, drainase, dan sebagainya. Melalui proses perbaikan dan adanya revisi serta masukan dari klien dapat menciptakan final product sesuai dengan keinginan. Berikut ini adalah bagan tahap design development sampai pada site plan. Disetujui klien Gambar kerja adalah hasil dari AutoCAD dengan format A3 Konsep DD SP Material Bentuk Grid Level Spesifikasi Penomoran untuk potongan Gambar 14. Tahap Design Development (Sumber: Oemardi_zain, 2012) 38

22 Tahapan ini sudah merupakan tahap teknis dalam proses desain. Sebagian besar hasilnya merupakan gambar CAD. Gambar yang dihasilkan pada proyek L Avenue ini terdiri dari gambar secara keseluruhan dan beberapa gambar parsial yang telah di perbesar. Gambar yang disajikan secara parsial terdiri dari area-area yang telah dibagi berdasarkan level Site Plan Tahap site plan (SP) adalah tahap rencana penggambaran denah seluruh area lanskap dalam perancangan yang akan dikerjakan. Sebuah dokumen yang menjelaskan bagaimana sebidang tanah yang akan diperbaiki. Ini mencakup dengan penguraian semua struktur dan perbaikan situs, seperti jalan masuk, tempat parkir, elemen taman, lanskap dan utilitas koneksi. Denah lanskap menggunakan format CAD yang berisi gambar tapak dengan desain keseluruhan area dan di perjelas dengan grid, leveling, serta penomoran angka untuk bagian yang sudah ditetapkan sehingga dapat memperjelas gambar kerja yang akan dikerjakan di tahap selanjutnya seperti potongan dan detail. Setelah format CAD dikerjakan, jika diperlukan (untuk kebutuhan presentasi dengan klien), dapat diperhalus dan dipertajam dengan penggunaan software Adobe Photoshop untuk menghasilkan gambar yang lebih baik. Gambar yang dihasilkan oleh software tersebut adalah gambar yang akan dipresentasikan untuk klien agar klien dapat memahami baik maksud dan tujuan desain. Dalam perancangan lanskap L Avenue, setelah konsep site plan awal di presentasikan, terjadi perubahan desain dengan adanya keinginan dan masukan dari klien. Beberapa perubahan tersebut direvisi dan dilakukan desain ulang terhadap area yang ditujukan. Dalam proyek ini terjadi dua kali revisi terhadap site plan. Revisi pertama terletak pada perubahan hardscape, dan revisi kedua terletak pada perubahan softscape. Revisi pertama adalah perubahan hardscape dan softscape dengan beberapa perubahan titik pohon. Pada area green amenities, ada penambahan unsur water feature, perubahan pola desain paving, dan penambahan lebih banyak area paving. Pada area ini juga terdapat penambahan alfresco untuk melengkapi 39

23 kebutuhan retail yang berada di sekitar office dan apartment. Perubahan juga terdapat pada desain mounding dengan penambahan di beberapa titik tapak. Perubahan juga terjadi dengan adanya pengurangan beberapa titik penanaman pohon. Pada area amenities, perubahan desain terjadi pada swimming pool yang letak dan desainnya berubah. Penambahan ruang aktivitas dengan adanya lapangan tenis dan pengurangan titik penanaman pohon di area swimming pool. Kolam resapan yang terletak di belakang tapak juga mengalami pembesaran desain. Penambahan desain alfresco juga terdapat di belakang apartemen. Perubahan desain dapat dilihat pada Gambar 15. Pelaksanaan revisi satu terhadap desain hardscape selesai, setelah itu dipresentasikan kepada klien. Klien menyetujui desain tersebut dan kemudian merevisi dengan memberikan beberapa masukan pada titik penanaman pohon. Adanya perubahan mengenai softscape dan kemudian masuk ke dalam revisi dua. Revisi ini berubah dengan adanya penambahan pohon peneduh utama di depan tapak dan beberapa perubahan titik tanam pada pohon peneduh yang mengelilingi tapak. Perubahan desain dapat dilihat pada Gambar 16. Pelaksanaan revisi dua terhadap softscape site plan selesai, kemudian dipresentasikan kepada klien. Klien menyetujui dan menerima site plan sehingga menghasilkan final site plan. Adapun final site plan disajikan pada Gambar 17. Setelah menghasilkan produk final site plan, diketahui bahwa dalam proses desain mencakup penetapan site plan dapat terjadi beberapa kali revisi. Hal ini disebabkan oleh sudut pandang yang berbeda antara klien dengan konsultan. Sudut pandang tersebut dapat berupa perbedaan keinginan klien dengan desain yang diajukan oleh konsultan terkait, dalam hal ini adalah Oemardi_zain. Untuk menghasilkan data yang lebih baik, produk gambar site plan disajikan dengan penambahan potongan gambar di beberapa titik. Potongan gambar tersebut dapat dilihat pada Gambar Potongan pada site plan terdapat 4 gambar. Potongan A dan B memotong area drop off office, untuk potongan gambar C memotong retail pada area green amenities, dan potongan gambar D memotong area drop off apartemen. Keseluruhan gambar potongan memberikan informasi mengenai elevasi dan level tapak yang diperlukan sebagai referensi untuk konstruksi. 40

24 Gambar 15. Site Plan Revisi 1 L Avenue (Sumber: Oemardi_zain, 2012) 41

25 Gambar 16. Site Plan Revisi 2 L Avenue (Sumber: Oemardi_zain, 2012) 42

26 Gambar 17. Final Site Plan L Avenue (Sumber: Oemardi_zain, 2012) 43

27 Gambar 18. Potongan A A (Digambar oleh: Situmorang) 44

28 Gambar 19. Potongan B B (Digambar oleh: Situmorang) 45

29 Gambar 20. Potongan C C (Digambar oleh: Situmorang) 46

30 Gambar 21. Potongan D D (Digambar oleh: Situmorang) 47

31 5.2.6 Working Drawing Tahap ini merupakan tahap terakhir dalam proses desain proyek L Avenue. Tahap ini menghasilkan gambar konstruksi (Construction Drawing) dan Dokumen Tender. Adapun hasil yang didapat dalam tahap ini adalah berupa gambar kerja yang detil dan data lengkap dalam bagian penunjang lainnya pada pelaksanaan pekerjaan di lapangan, baik yang berhubungan dengan softscape maupun hardscape yang telah disetujui dan siap untuk dilaksanakan. Produk dalam tahap ini adalah gambar teknis yang akan ditenderkan untuk kontraktor. Tahap ini memperkenalkan produk yang dihasilkan lebih rinci dan lebih detil untuk aspek yang akan diperlukan dalam detail konstruksi seperti spesifikasi detail, ukuran detail, dan potongan detail. Format gambar yang digunakan dalam tahap ini adalah sama dengan yang digunakan pada tahap pengembangan desain. Dalam proyek L Avenue ini gambar yang dihasilkan berupa gambar detail konstruksi yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan desain per level. Daftar gambar yang terdapat dalam tahap pengembangan desain dan gambar kerja dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Daftar Gambar Tahap Pengembangan Desain dan Gambar Kerja NO NO GAMBAR JUDUL GAMBAR SKALA UMUM 1. LA-000 DAFTAR GAMBAR NTS GROUND FLOOR DENAH 2. LA-GF-100 DENAH REFERENSI 1: LA-GF-101 DENAH LANSKAP 1: LA-GF-102 DENAH LEVEL, DIMENSI & MATERIAL 1; 200/NTS 5. LA-GF-103 DENAH DRAINASE & IRIGASI 1: LA-GF-104 DENAH PENANAMAN 1: 200/NTS POTONGAN 7 LA-GF-201 POTONGAN 1: 100 DETAIL 8 LA-GF-301 ROUNDABOUT 1: 20/50/100 9 LA-GF-302 FEATURE WALL 1: 25/40/50 10 LA-GF-303 LAPANGAN TENIS 1: 20/50/ LA-GF-304 KOLAM RENANG 1: 10/20/50/75/100 48

32 Tabel 5. Lanjutan NO NO GAMBAR JUDUL GAMBAR SKALA 12 LA-GF-305 PERGOLA 1: 10/20/30 13 LA-GF-306 POLA LANTAI POOL DECK & TANGGA 1: LA-GF-307 POLA JALAN & DROP OFF 1: 30/50/250/ LA-GF-308 TIPIKAL PLANTER 1: 10/20/60/100/ LA-GF-309 CURB 1: 10/20 17 LA-GF-310 RAMP 1: 40/50 18 LA-GF-311 RAILING KACA 1: 20/50 19 LA-GF-312 TIPIKAL PATHWAY 1: 20/40/125/ LA-GF-313 DINDING POOL DECK 1: LA-GF-314 BANGKU TAMAN 1: 10/ LA-GF-315 SHOWER AREA 1: 10/ LA-GF-316 PLAZA 1: 20/ LA-GF-317 REFLECTING POOL & STAGE 1: 20/150 PODIUM FLOOR DENAH 25 LA-PF-100 DENAH REFERENSI 1: LA-PF-101 DENAH LANSKAP 1: LA-PF-102 DENAH LEVEL, DIMENSI & MATERIAL 1: LA-PF-103 DENAH DRAINASE & IRIGASI 1: LA-PF-104 DENAH PENANAMAN 1: 200/NTS POTONGAN 30 LA-PF-201 POTONGAN 1: 50/75 DETAIL 31 LA-PF-301 WATER FEATURE OFFICE 1: 20/50 32 LA-PF-302 PLANTER TIPE 1 1: 20/ LA-PF-303 PLANTER TIPE 2 & 3 1: 10/ LA-PF-304 PLANTER TIPE 4 1: LA-PF-305 PLANTER TIPE 5 1: 20/40/ LA-PF-306 FEATURE WALL 1: 40/ LA-PF-307 WATER FEATURE PLAZA 1: 20/ LA-PF-308 SHELTER 1: 10/40 39 LA-PF-309 LOW WALL & STRIPE BANDING 1: 30/40/ LA-PF-310 MOUNDING 1: 20/40/60 41 LA-PF-311 PATHWAY 1: LA-PF-312 JEMBATAN 1: 15/30/40 43 LA-PF-313 TIMBER DECK 1: 30/60/ LA-PF-314 PLANTER TIPE 6 1: 20/ LA-PF-315 PLANTER TIPE 7 1: LA-PF-316 PLANTER TIPE 8 1: 20/50 47 LA-PF-317 POLA DROP OFF 1: 20/50/200 49

33 Tabel 5. Lanjutan NO NO GAMBAR JUDUL GAMBAR SKALA 48 LA-PF-318 PEDESTRIAN 1: 20/ LA-PF-319 OUTDOOR TERRACE-PLANTER TIPE 1 1: 25/80 50 LA-PF-320 OUTDOOR TERRACE-PLANTER TIPE 2 1: 25/80 51 LA-PF-321 OUTDOOR TERRACE-TIMBER DECK 1: 25/ LA-PF-322 OUTDOOR TERRACE-DINDING PAGAR 1: 25/30/80 53 LA-PF-323 DINDING PERIMETER PODIUM 1: 20/40/ LA-PF-324 TURF PAVE & BETON JEPIT 1: LA-PF-325 RAMP 1: 20/50 56 LA-PF-326 POLA LANTAI 1, 2 & 3 1: 20/40/50/100 LANTAI 7 DENAH 57 LA-L7-101 DENAH LANSKAP 1: LA-L7-102 DENAH LEVEL, DIMENSI, & MATERIAL 1: LA-L7-103 DENAH DRAINASE & IRIGASI 1: LA-L7-104 DENAH PENANAMAN 1: 100/NTS POTONGAN 61 LA-L7-201 POTONGAN 1: 50 DETAIL 62 LA-L7-301 CPG EQUIPMENT 1: 20/30 63 LA-L7-302 PERKERASAN & POLA LANTAI 1: 20/60 64 LA-L7-303 PLAYGROUND 1: 20/25/60 65 LA-L7-304 TIPIKAL PLANTER 1: 20/50 66 LA-L7-305 REFLECTIVE POOL 1: LA-L7-306 BANGKU TAMAN 1: LA-L7-307 TIPIKAL POT TANAMAN 1: 20/30 69 LA-L7-308 GRAVEL GARDEN 1: 25/50 LANTAI DENAH 70 LA-L DENAH LANSKAP 1: LA-L DENAH LEVEL, DIMENSI & MATERIAL 1: LA-L DENAH DRAINASE & IRIGASI 1: LA-L DENAH PENANAMAN 1: 100/NTS POTONGAN 74 LA-L POTONGAN 1: 50 DETAIL 75 LA-L REFLECTIVE POOL LT 17 1: 20/25/80 76 LA-L TIPIKAL PLANTER 1: 20/25/60 50

34 Tabel 5. Lanjutan NO NO GAMBAR JUDUL GAMBAR SKALA 77 LA-L SEATING 1: 25/NTS 78 LA-L POT TANAMAN 1: 10/15 79 LA-L SYNTHETIC TURP 1: 10/ LA-L REFLECTIVE POOL LT 18 1: 40/60 81 LA-L TIMBER DECK 1: 30/50 LANTAI 23 DENAH 82 LA-L DENAH LANSKAP 1: LA-L DENAH LEVEL, DIMENSI & MATERIAL 1: LA-L DENAH DRAINASE & IRIGASI 1: LA-L DENAH PENANAMAN 1: 100/NTS POTONGAN 86 LA-L POTONGAN 1: 50 DETAIL 87 LA-L TIMBER DECK 1: 25/80 88 LA-L TIPIKAL PLANTER 1: 20/25 89 LA-L KOLAM RENANG 1: 10/50/60 90 LA-L SEATING & LOUNGE 1: LA-L POT TANAMAN 1: LA-L SHADE SAIL 1: 20/80 LANTAI ATAP DENAH DENAH LANSKAP, LEVEL & 93 LA-ATAP-101 PENANAMAN 1: 100/NTS 94 LA-ATAP-102 DENAH DRAINASE & IRIGASI 1: 100 DETAIL 95 LA-ATAP-301 PLANTER 1: 20 Sumber: Oemardi_zain, Hardscape Pemilihan material untuk pengerjaan hardscape lanskap L Avenue, yaitu mengutamakan penggunaan material yang mempunyai kesan minimalis, modern, dan urban. Material dengan konsep tersebut yang biasanya dipakai oleh Oemardi_zain dalam perancangan sebuah proyek. Pada desain lanskap L Avenue, hardscape dibagi menjadi dua yaitu pavement dan facilities. Pavement yaitu 51

35 material yang digunakan untuk penutup lahan L Avenue dan facilities yaitu material yang digunakan untuk penunjang lanskap L Avenue. o Pavement 1. Ground Floor Pada level ground floor, material yang dipakai untuk jalan menggunakan kombinasi paving block 200x100x80 mm warna putih dan abu-abu, dengan paving block 200x100x80 mm warna hitam. Pada area drop off apartment material yang digunakan adalah batu andesit RTA 300x300x50 mm ex. mowilex/ propan (sicosol). Pada pedestrian track, material yang digunakan adalah koral sikat pancawarna diameter 3 5 mm, dan kombinasi batu sandstone acak putih dengan water repellent coating nat koral sikat pancawarna diameter 3 5 mm (Gambar 22 dan Lampiran 3). 2. Podium Floor Pada level podium floor, material yang dipakai untuk jalan masuk tapak adalah aspal. Area drop off retail menggunakan material kombinasi antara batu andesit 300x300x50 mm berwarna abu-abu dengan water repellent coating ex. mowilex/ propan (sicosol) dan batu andesit rata alam 200x200x50 mm berwarna abu-abu dengan water repellant coating ex. mowilex/ propan (sicosol). Pada area drop off office menggunakan granit coble stone 100x100x50 mm berwarna abu-abu dengan water repellent coating ex. mowilex/ propan. kombinasi paving block 200x100x80 mm warna putih dan abu-abu, dengan paving block 200x100x80 mm warna hitam. Pada area drop off apartment material yang digunakan adalah batu andesit RTA 300x300x50 mm ex. mowilex/ propan (sicosol). Pada timber deck menggunakan jenis kayu yang disesuaikan untuk area outdoor, yaitu kayu bangkirai. Jenis material pada pavement area dalam, dibagi menjadi lima tipe berdasarkan letaknya dan sebagian besar menggunakan material batu andesit. Untuk area retail belakang tapak menggunakan kombinasi homogenous tile 300x300x20 mm berwarna abu-abu ex. azul niro granite (Gambar 23 dan Lampiran 4). 52

36 Gambar 22. Pola Penyusunan Pavement Material Pada Ground Floor 53

37 Gambar 23. Pola Penyusunan Pavement Material Podium Floor (Digambar oleh: Situmorang) 54

38 o Facilites Material utama yang dipakai Oemardi_zain dalam perancangan L Avenue adalah batu alam andesit. Batu alam andesit adalah batu yang paling sering dipakai oleh perusahaan Oemardi_zain dalam mendesain tapak proyek. Batu alam andesit adalah jenis batu alam yang mempunyai tingkat kekerasan (density) cukup tinggi dan umumnya berwarna gelap/hitam (Anonim, 2012). Batu alam andesit dapat diaplikasikan pada dinding maupun lantai baik untuk interior maupun exterior. Batu andesit juga mempunyai ciri yang baik dalam peranannya dalam lanskap, antara lain adalah warnanya yang tidak mencolok, baik untuk pencahayaan, tidak cepat pudar dibandingkan dengan marmer karena batu andesit dapat menyerap sinar ultraviolet, bernilai estetika tinggi, dan alami. Material lainnya antara lain batu koral, paving block dsb. Material-material tersebut dikombinasikan dengan pola-pola yang disesuaikan bergantung dengan area dan luasannya. 1. Ground Floor Pada level ini terdapat beberapa facilites dalam tapak, yaitu roundabout, feature wall, lapangan tenis, kolam renang, pergola, pola lantai pool deck, tipikal planter, curb, ramp, dinding pool deck, shower area, plaza, stage & reflecting pool. Material plan pada level ground floor disajikan pada Lampiran Podium Floor Podium floor terbagi menjadi beberapa bagian dalam tapak, antara lain: water feature, planter, feature wall, shelter, low wall & stripe banding, monding, jembatan, timber deck, outdoor terrace, dinding perimeter, turf pave & beton jepit, dan ramp. Material plan pada level podium floor disajikan pada Lampiran 4. 55

39 Softscape Berdasarkan pemilihan tanaman pada lanskap L Avenue, terbagi dalam empat kriteria berdasarkan fungsi. Kriteria pertama dan kedua adalah sebagai pohon peneduh, kriteria ketiga sebagai aksen arsitektural, dan terakhir aksen berbunga. Pohon sebagai peneduh adalah pohon besar, dan pada proyek ini pohon besar terbagi dalam beberapa jenis tanaman (Gambar 24 & 25). Pohon sebagai aksen arsitektural merupakan pohon yang berfungsi sebagai estetik area. Suatu tanaman dapat dikatakan mempunyai aksen arsitektural apabila ditinjau dari bentuk fisik tanaman (batang, percabangan, tajuk), warna (daun, buah, batang, bunga), tekstur tanaman, skala tanaman, aroma yang ditimbulkan, dan komposisi tanaman yang berada di sekitarnya (Gambar 26). Pohon sebagai aksen berbunga adalah pohon yang menghasilkan bunga dalam produksinya (Gambar 27). Berikut ini adalah jenis pohon yang digunakan pada lanskap L Avenue. Tabel 6. Jenis Pohon yang Digunakan Pada L Avenue No Kd Nama Latin Nama Lokal Tinggi (m) Diameter Batang (cm) 1 AM Acacia mangium Akasia AS Alstonia scholaris Pulai BB Bauhinia blakeana Bunga kupu-kupu BM Bucida molineti Ketapang Mini Ketapang Mini Daun 5 BMT Bucida molineti tricolor Belang CC Canarium commune Kenari CI Cinnamomum iners Kayu Manis DR Delonix regia Flamboyan EA Elaeocarpus angustifolius Anyang-anyang EC Erythrina crista-galli Dadap Merah FR Ficus religiosa Pohon Bodhi LR Livistonia rotundifolia Palem Sadeng MK Manilkara kauki Sawo Kecik PR1 Plumeria rubra Kamboja Putih Kuning PR2 Plumeria rubra Kamboja Putih Kuning PM Pinus merkusii Pinus SP Schizolobium parahybum Tower Tree SS Samanea saman Trembesi TC Tabebuia chrysantha Tabebuia Bunga Kuning TCT Terminalia cattapa Ketapang WR Washingtonia robusta Palem Washington Sumber: Oemardi_zain,

40 Gambar 24. Titik Penanaman Pohon Peneduh Utama (Digambar oleh: Situmorang) 57

41 Gambar 25. Titik Penanaman Pohon Peneduh (Digambar oleh: Situmorang) 58

42 Gambar 26. Titik Penanaman Pohon Aksen Arsitektural (Digambar oleh: Situmorang) 59

43 Gambar 27. Titik Penanaman Pohon Aksen Berbunga (Digambar oleh: Situmorang) 60

44 Acacia mangium Alstonia scholaris Bauhinia blakeana Bucida molineti Canarium commune Cinnamomum iners Delonix regia Erythrina crista-galli Elaeocarpus angustifolius Ficus religiosa Livistonia rotundifolia Manilkara kauki Pinus merkusii Plumeria rubra Samanea saman Schizolobium parahybum Tabebuia chrysantha Terminalia cattapa Terminalia mantaly tricolor Washingtonia robusta Gambar 28. Daftar Gambar Pohon (Sumber: Oemardi_zain, 2012) 61

45 5.3 Manajemen Kerja Oemardi_zain untuk menjalankan perusahaannya tidak lepas dari pengawasan dalam manajemen kerja agar perusahaan berjalan dengan baik. Robbins dan Coulter (2003) menjelaskan bahwa manajemen merupakan proses koordinasi kegiatan pekerjaan sehingga pekerjaan tersebut terselesaikan secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain. Manajemen kerja pada perusahaan Oemardi_zain dibagi menjadi lima klasifikasi yaitu: struktur organisasi, sistem kerja, proses desain, manajemen studio, dan manajemen proyek Struktur Organisasi Struktur organisasi merupakan bagian utama dalam sebuah organisasi. Adanya struktur organisasi dapat membantu pekerjaan sebuah tim kerja. Struktur organisasi berfungsi untuk membagi, mengelompokkan, mengkoordinasikan tugas pekerjaan dan lingkup didalam sebuah tim kerja. Struktur organisasi dalam perusahaan Oemardi_zain tergolong sederhana dan tidak memiliki banyak hirarki, hanya direktur, manajer administrasi, penanggung jawab kantor, designer & drafter. Kekuasaan tertinggi dipegang oleh pendiri yang menjabat sebagai direktur utama perusahaan, dan dibantu oleh koleganya dalam menjalankan sebuah perusahaan ini. Direktur berhubungan langsung dengan manajer administrasi sehingga direktur tetap mengetahui alur keluar dan masuk keuangan dalam perusahaan. Direktur juga berhubungan langsung dengan penanggung jawab kantor sehingga direktur mengetahui kegiatan dalam perusahaan baik itu kegiatan pembagian kerja proyek maupun alur komunikasi dalam perusahaan. Designer & drafter dalam perusahaan mempunya tiga bagian yaitu, arsitek, arsitek lanskap, dan drafter. Meskipun bergerak dalam struktur kerja yang kecil, perusahaan dapat menjalankan kegiatan pekerjaannya dengan tetap menjaga konsistensi kinerja staf dalam keberlangsungan perusahaan khususnya perusahaan yang sedang berkembang. 62

46 Principal & Direktur Manajer Administrasi Penanggung Jawab Architect & Landscape Architect Drafter Gambar 29. Alur Komunikasi Oemardi_zain (Sumber: Oemardi_zain 2012) Gambar 29 menunjukkan alur komunikasi dalam perusahaan lanskap Oemardi_zain. Direktur berhubungan langsung dengan Manajer Administrasi untuk mengetahui alur keluar dan masuk keuangan perusahaan. Direktur juga berhubungan langsung dengan Penanggung Jawab untuk mengetahui kegiatan dan perkembangan tiap proyek yang dilaksanakan. Manajer Administrasi berhubungan langsung dengan Penanggung Jawab sehingga kedua bagian inti perusahaan mengetahui perkembangan dalam perusahaan mengenai keuangan dan proyek yang dilaksanakan. Penanggung Jawab berhubungan langsung dengan Arsitek & Arsitek Lanskap, dan Arsitek & Arsitek Lanskap berhubungan langsung dengan Drafter sehingga setiap bagian mengetahui perkembangan dalam proyek yang dilaksanakan. Struktur Organisasi yang sederhana menghasilkan suasana kerja dalam perusahaan lebih santai. Gambar 30 menunjukkan lay out studio Oemardi_zain yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan ruang berdasarkan tingkatan jabatan dalam perusahaan dan setiap staf mendapatkan fasilitas yang sama.studio Oemardi_zain terbagi menjadi dua ruang. Ruang pertama terdapat 12 meja kerja dan ruang lainnya terdapat 8 meja kerja. Adapun fasilitas penunjang studio antara lain, ruang rapat, gazebo, perpustakaan, dan ruang barang contoh material. 63

47 Keterangan : 1. BN = Budi Nugroho 2. DS = Didin Syihabudin 3. HN = Hardian Noviyanto 4. AN = Aditya Nugraha 5. BS = Beny Susanto 6. DS = Dwi Setyanti 7. LD = Listya D. Nastitie 8. BR = Bulan Ramafriani 9. AK = Acep Kiki Maenaki 10. MA = M. Arif Nurdin 11. PP = Pujianto Pratama 12. RD = Rifandi Darmawan JP = Julina Purwaningsih 15. NI = Novie Indie 16. LH = Lisa Hardini 17. CI = Citra Indaharti 18. CN = Chandra Nurnovita 19. IM = Irfan Muhammad 20. NS = Nanang Sudrajat Gambar 30. Lay Out Studio Oemardi_zain (Sumber: Oemardi_zain, 2012) 64

48 5.3.2 Sistem Kerja Sistem kerja perusahaan Oemardi_zain dilatarbelakangi oleh disiplin ilmu arsitektur lanskap, sehingga tidak sedikit staf yang mempunyai dasar arsitektur lanskap yang dapat ditemui dalam perusahaan. Perusahaan juga didukung oleh disiplin ilmu arsitektur dan konstruksi bangunan sehingga terdapat staf yang bergerak di bidang arsitektur. Dengan penggabungan disiplin ilmu ini, perusahaan dapat bekerja dengan baik karena kolaborasi ide dan ilmu dalam aspek-aspek yang diperlukan untuk membuat sebuah desain dalam sebuah proyek. Sehingga seluruh designer dalam perusahaan memiliki kemampuan yang baik dalam hal desain dan juga membuat gambar detil dengan menguasai software yang telah ditentukan perusahaan. Sistem kerja dalam penanganan proyek L Avenue berada dibawah arahan direktur. Direktur mengepalai semua proyek yang ada dalam perusahaan dan terlibat aktif dalam setiap pengambilan keputusan mengenai desain yang dibuat. Direktur juga yang akan menentukan siapa project manager dalam proyek-proyek yang akan dijalani dalam perusahaan. Setelah menentukan project manager, direktur menentukan tim kerja dengan memilih anggota untuk proyek tersebut sesuai dengan kebutuhan dan kompetensi yang dimiliki masing-masing anggota. Setiap staf memiliki ahli khusus dalam menjalankan suatu pekerjaan, sehingga penentuan tim kerja dapat mempercepat proses penyelesaian pekerjaan proyek. Direktur Membuat konsep dan menerjemahkan keinginan klien dalam bentuk desain Project Manager Mendesain tapak sesuai konsep Arsitek Lanskap Arsitek Mendesain detail elemen lanskap softscape dan hardscape Drafter Mahasiswa Membantu pengerjaan detail elemen lanskap softscape dan hardscape Gambar 31. Sistem Kerja Perusahaan Oemardi_Zain (Sumber: Oemardi_zain, 2012) 65

49 Setiap staf selain drafter dapat menjadi project manager sebuah proyek, staf tersebut juga tidak menutup kemungkinan menjadi tim kerja dalam proyek lainnya. Artinya setiap staf tidak hanya terlibat dalam satu proyek saja. Jumlah anggota dalam sebuah tim kerja untuk menjalankan sebuah proyek tergantung dengan kebutuhan proyek tersebut dan diatur berdasarkan skala proyek. Tim kerja proyek tidak mewajibkan hanya mempekerjakan proyek tersebut, dengan adanya deadline yang ditentukan oleh klien untuk sebuah proyek. Tim kerja dengan deadline yang lebih panjang akan melakukan kerja sama dan saling membantu dengan tim kerja yang mempunyai deadline lebih pendek Proses Desain Simonds (1983) menguraikan proses perencanaan dan perancangan dalam arsitektur lanskap terdiri dari commission, research/inventory, analysis, synthesis, construction, dan operation. Sementara Booth (1983) menyatakan bahwa proses desain umumnya memiliki tahapan antara lain commission, research/analysis, design, construction drawing, implementation, post construction-evaluation, maintenance. Proses desain yang dilakukan di Oemardi_zain dilakukan sesuai kesepakatan kontrak kerja pada setiap proyek. Namun dalam menjalankan setiap proyek yang ada akan selalu terdapat perbedaan dalam kontrak kerja sehingga perusahaan akan menyesuaikan proses pekerjaan yang akan dilakukan. Pada Oemardi_zain, alur proses desain secara garis besar sama dengan alur proses desain menurut Simonds dan Booth. Beberapa hal yang membedakan lebih ke istilah penamaan serta adanya tahapan-tahaan yang dipisah. Pada proses desain menurut Simonds dan Oemardi_zain terdapat beberapa perbedaan. Pada Oemardi_zain, tahap analysis, synthesis dan concept tergabung menjadi satu bagian, sedangkan menurut Simonds, analysis berbeda dengan synthesis. Pada Gambar 32 akan disajikan perbandingan proses desain menurut Simonds dan Oemardi_zain. Perbandingan proses desain menurut Booth dan Oemardi_zain dapat dilihat pada Gambar 33. Terdapat beberapa perbedaan antara proses desain Booth dan Oemardi_zain. Pada Booth, tahap analysis termasuk dalam proses desain nomor 2, sedangkan Oemardi_zain analysis berada di nomor 3. 66

50 Commission 1 Contractual Stage Research/ Inventory 2 Inventory/ Data Collection Analysis 3 Analysis, Synthesis, & Design Concept Synthesis Preliminary Concept Construction 4 Design Development Working Drawing 5 End of Project Optional Operation 6 Implementation & Build Simonds Oemardi_zain Gambar 32. Perbandingan Proses Desain Menurut Simonds dan Oemardi_zain (Digambar oleh: Situmorang) 67

51 Project Acceptance 1 Contractual Stage Research/ Analysis 2 Inventory/ Data Collection 3 Analysis, Synthesis, & Design Concept Preliminary Concept Design Construction Drawing 4 Design Development Working Drawing 5 End of Project Implementation Optional Post-Construction Evaluation 6 Implementation & Build Maintenance Booth Oemardi_zain Gambar 33. Perbandingan Proses Desain Menurut Booth dan Oemardi_zain (Digambar oleh: Situmorang) 68

52 Perbandingan diatas menjelaskan bahwa proses desain menurut Oemardi_zain memiliki kemiripan dengan proses desain menurut Simonds. Pada Oemardi_zain dan Simonds memiliki tahap proses desain nomor 3 sedangkan Booth tidak. Perbedaan antara proses desain Oemardi_zain dengan kedua proses desain lainnya terletak pada preliminary concept. Oemardi_zain memiliki tahap ini, sedangkan proses lainnya tidak. Perbedaan proses desain juga terdapat pada nomor 6. Pada Oemardi_zain, implementation & build masuk ke dalam tahap optional, artinya tahap ini dilakukan berdasarkan Surat Perjanjian Kerja (SPK) tiap proyek yang dikerjakan. Jika pada SPK terdapat kegiatan sampai pembangunan, maka proses desain Oemardi_zain akan dilakukan sampai implementation & build, dan begitu juga sebaliknya. Proses desain L Avenue oleh Oemardi_zain dapat dilihat pada Gambar Contractual Stage Tahap contractual stage memiliki kandungan makna sama dengan yang dikemukakan Simonds (commission) dan Booth (project acceptance). Pada Oemardi_zain, tahap ini adalah tahap paling awal yang berisi mengenai proses kesepakatan kerja proyek yang didapatkan dari klien (Lampiran 1). Melalui SPK yang dibuat oleh klien, secara resmi Oemardi_zain dapat memulai pelaksanaan proses desain lanskap L Avenue (Gambar 34). Selain itu, Oemardi_zain juga berhak melakukan konsultasi rutin kepada klien untuk mengetahui keinginan klien. Oemardi_zain juga mendapatkan data ataupun informasi yang dibutuhkan selama proses desain berlangsung. Tahap ini ditandai dengan pembayaran tahap satu sebesar 10% sebagai uang muka setelah penandatanganan kontrak Inventory dan Data Collection Inventory dan data collection merupakan tahap pengambilan data. Data tersebut berupa data sekunder proyek yang akan dikerjakan yang diberikan klien dan informasi tambahan yang belum didapat dari klien yang berguna pada pelaksanaan proses desain. Kemudian data desain bangunan dari arsitek, dan data primer yang artinya pihak konsultan Oemardi_zain langsung turun lapang untuk mengecek situasi dan konsidi tapak. Oemardi_zain dalam kegiatan turun lapang mengambil beberapa foto kondisi tapak pada beberapa titik lokasi. Menurut Booth 69

53 (1983), kamera merupakan alat yang berguna untuk prosedur ini karena foto dapat memeriksa hasil informasi saat di kantor dan dapat mengingat kembali kondisi tapak dari waktu ke waktu. Data yang diperoleh dari hasil inventarisasi ini akan digunakan untuk melakukan proses desain Analysis, Synthesis, dan Concept Design Reigh (1993) memaparkan bahwa pendekatan tradisional untuk desain arsitektur lanskap biasanya dimulai dengan riset yang menyelidiki tujuan akhir dari klien, parameter dari tapak, dan kebutuhan dari penggunaan potensial. Proses analisis yang dilakukan Oemardi_zain dilakukan dengan melihat hasil inventarisasi yang diperoleh, data dari klien, dan data dari arsitek. Tahapan analisis ini yaitu berusaha melihat potensi yang ada pada tapak berdasarkan karakteristiknya serta mengatasi dampak negatif atau kendala yang ada. Pada tahap ini, konsultan Oemardi_zain menyatukan tiga aspek (analysis, synthesis, dan concept design) dalam satu bagian dengan mengikuti filosofi perusahaan yaitu quick analysis. Quick analysis dalam filosofi perusahaan ini mempunyai arti bahwa perusahaan mencari data untuk menganalisis proyek yang dilaksanakan, kemudian menyintesis data tersebut lalu menemukan konsep desain dengan cepat. Direktur perusahaan menganalisis dengan skala besar berdasarkan kebutuhan proyek dan meneruskan konsep yang telah dituangkan oleh arsitek mengenai desain bangunan yang telah ditetapkan. Analysis dan synthesis utama yang diterapkan mengacu pada data faktor view tapak, drainase, kebisingan, dan sirkulasi. Tapak proyek L Avenue dikelilingi oleh sebagian besar bangunan lain dan area penduduk sehingga dilakukan penanganan berupa tanaman yang dapat menjadi screen di area bad view. Drainase yang diterapkan pada proyek ini adalah pembanngunan resapan air yang di proyeksikan di belakang tapak. Hal ini diperoleh berdasarkan tapak yang membutuhkan area pembuangan untuk menanggulangi adanya kelebihan air di tapak. Faktor kebisingan terletak pada area depan tapak yang merupakan jalur utama kendaraan sehingga desain bangunan juga terletak agak menjauh dari kendala dan adanya peletakan tanaman untuk mengurangi tingkat kebisingan yang didapat dari kendaraan. Faktor 70

54 sirkulasi menjadi bagian penting lainnya dalam tahap ini untuk bahan acu dalam pelaksanaan desain tahap selanjutnya. Dengan aspek tersebut didapat sebuah konsep untuk perancangan lanskap L Avenue. Dalam pelaksanaannya mengenai konsep proyek, desain pertama dan utama yang dibuat adalah konsep ruang dan konsep sirkulasi. Semua konsep yang diterapkan dalam perancangan lanskap L Avenue adalah hasil dari pertimbangan konsep ruang dan sirkulasi. Tahap ini didasari oleh Booth (1983) bahwa tema merupakan kerangka kerja dari desain. Setelah mendapatkan konsep dalam proyek L Avenue, masuklah dalam meeting 2 dimana klien mempertemukan dengan semua kolega yang terdapat dalam proyek seperti, Owner/klien, Quantity Surveyor, Architecture Consultant, Structure Consultant, Mechanical and Electrical Consultant, Architectural Lighting Consultant, dan Landscape Consultant. Tugas Oemardi_zain adalah mempresentasikan hasil konsep dengan penambahan gambar-gambar referensi yang didesain dalam proyek. Adapun content dalam presentasi berupa Landscape Concept, Siteplan Zoning, Illustrative Landscape Plan, Illustrative Landscape Section, Landscape Perspective, Material Strategy, Landscape Ambience, Planting Pallete Preliminary Concept Setelah menyelesaikan tahap konsep, proses desain masuk dalam tahap 4 yaitu preliminary concept. Tahap ini menjelaskan desain yang akan dilakukan dengan merujuk pada image reference. Image reference didapat dari library Oemardi_zain dan referensi pada desain-desain proyek yang sudah dilakukan oleh Oemardi_zain. Image reference dalam tahap ini berfungsi sebagai gambaran umum desain mengikuti bentuk, pola, material, tekstur, dan warna. Tahap ini dilakukan pada area-area tertentu tapak seperti garden strip, paving pattern, timber deck, water feature, planter, mounding & seating, drop off area, swimming pool, alfresco, dan pedestrian track. Setelah mendapatkan gambar yang sesuai dengan tema proyek dan akan dikembangkan pada pelaksanaan desain, tahap ini dipresentasikan melalui meeting 3 dan klien memberi masukan terhadap desain yang akan dikerjakan. 71

55 Design Development Sebelum melakukan tahap design development, Oemardi_zain harus memastikan bahwa design concept dan preliminary concept yang diajukan sudah disetujui oleh klien. Tahap ini ditandai dengan adanya pembayaran tahap dua sebesar 20% oleh klien setelah menyetujui tahap tersebut. Untuk itu, Oemardi_zain segera melakukan proses design development. Booth (1983) mengatakan bahwa proses pemahaman terhadap perbedaan tipe dan karakteristik masing-masing material serta pengaturan dengan elemen desain lainnya sangat penting dilakukan agar desain dapat berguna secara fungsional dan estetik. Oleh sebab itu, Oemardi_zain berusaha mempelajari kecocokan antara material softscape maupun material hardscape yang akan digunakan pada proyek L Avenue. Booth (1983) juga memaparkan bahwa material softscape adalah elemen fisik yang sangat penting dalam perencanaan dan manajemen lingkungan di luar ruangan. Bentukan site plan mulai diperinci berdasarkan tanaman yang cocok. Sedangkan pada hardscape, bentukan site plan didesain berdasarkan kebutuhan tapak dan memperlihatkan titik lokasi yang cocok untuk diletakkan pada tapak tersebut. Pada tahap ini Oemardi_zain memberikan gambar kerja tidak detail, antara lain: material, spesifikasi, ukuran, dan bentuk. Tahap ini dilakukan dengan berhubungan langsung dengan klien melalui masukan ataupun persetujuan dari klien melalui meeting 4. Hasil produk pada tahapan ini dibuat dengan menggunakan software AutoCAD sedangkan produk gambar yang akan masuk ke dalam meeting akan dibuat secara grafis agar terlihat lebih menarik dan lebih mudah proses penjelasan. Hal ini berguna untuk mendapatkan pemahaman dari klien akan bentukan desain yang akan dipakai Working Drawing Booth (1983) memaparkan bahwa setelah melengkapi fase perancangan, desainer mempersiapkan gambar konstruksi. Tahapan kerja ini pada Oemardi_zain dinamakan working drawing. Tahap ini dimulai sejak tahapan design development disetujui oleh klien dengan adanya pembayaran ketiga oleh klien sebesar 30% dari total proyek. 72

56 Tahap ini hampir sama dengan tahapan design development, tetapi pada tahap ini gambar yang dihasilkan detail, baik itu softscape ataupun hardscape. Tahap ini dilakukan untuk melihat material yang lebih lengkap mulai dari ukuran jelas, material yang dipakai, tampak, detail-detail, potongan, juga denah dalam proyek, serta Rencana Anggaran Biaya (RAB) pelaksanaan proyek tersebut. Setelah melewati revisi terakhir melalui meeting 5 yang telah disetujui oleh klien, penyelesaian tahap akhir dalam sebuah proyek dilaksanakan dengan perbaikan gambar kerja dan kemudian dipresentasikan dalam hasil akhir proyek. Tahap ini selesai setelah produk working drawing disetujui klien dan adanya pembayaran keempat sebesar 35%, kemudian pembayaran 5% terakhir akan dilakukan pada saat pekerjaan konstruksi lanskap selesai. Pada setiap proyek yang dilakukan oleh Oemardi_zain, tahap pembuatan 3D tergantung dengan kontrak perjanjian dalam proyek dengan klien. Tahap pembuatan 3D sering kali ditemukan pada proyek Oemardi_zain mengenai perumahan, office, park dsb. Tahap ini dilakukan agar menjadi pertimbangan klien untuk marketing proyek. Dalam Oemardi_zain juga tidak mengharuskan adanya build & implementation didalam prosesnya, tergantung dengan keinginan klien dalam menyelesaikan proyeknya. Jika klien meminta dalam proyek untuk mengikutsertakan tahap implementation & build, maka pihak perusahaan Oemardi_zain mengirimkan salah satu karyawan untuk mengikuti dan memantau proses pelaksanaan proyek itu. Setiap satu minggu, klien meminta perkembangan proses desain yang dilaksanakan Oemardi_zain baik melalui meeting atapun . Kegiatan ini menghasilkan revisi dari klien mengenai perkembangan desain proyek. Pada proses desain L Avenue, terdapat beberapa meeting dalam pelaksanaannya. Meeting point setiap tahap menghasilkan revisi akhir yang akan dilanjutkan ke tahap berikutnya. Pada proyek ini, alur komunikasi setiap konsultan yang ikut serta dalam proyek selaras dengan klien. Setiap diadakan meeting, semua konsultan turut berperan dalam setiap tahap proyek. Pada Oemardi_zain, direktur dan project manager berkomunikasi langsung dengan klien selama pelaksanaan proyek. Bagan alur komunikasi pada proyek L Avenue dapat dilihat pada Gambar

57 Contractual Stage Inventory/ Data Collection Analysis, Sinthesis, & Design Concept Meeting 1 Meeting 2 Penerimaan SPK yang melingkupi area perencanaan dan lingkup pekerjaan lanskap L Avenue Presentasi konsep desain dan revisi dari klien Preliminary Concept Design Development Working Drawing Meeting 3 Meeting 4 Presentasi preliminary concept dan revisi dari klien berupa masukan mengenai perubahan bentuk, pola, dan material dalam desain Presentasi pengembangan desain dan revisi dari klien berupa perubahan gambar kerja mengenai bentuk, pola dan material desain Final Design Meeting 5 Presentasi detail gambar kerja (denah, detail hardscape & softscape, potongan, ukuran, material dsb) dan revisi dari klien berupa perubahan ukuran, dan jenis material yang akan dilaksanakan Gambar 34. Proses Desain L Avenue (Sumber: Oemardi_zain, 2012) 74

58 Klien Quantity Surveyor Arcshitecture Consultant Proyek Direktur Project Manager Interior Consultant Structure Consultant ME Consultant Architecture Lighting Tim Proyek Gambar 35. Alur Komunikasi Proyek L Avenue (Sumber: Oemardi_zain, 2012) Proses desain Oemardi_zain jika dibandingkan dengan Simonds dan Booth tidak jauh berbeda, semua kegiatan dilakukan secara bertahap sesuai dengan aspek yang dibandingkan. Perbedaan antara ketiga proses desain hanya terdapat pada pengklasifikasian tahapan kerja dan penamaan dalam setiap tahapan. Oleh sebab itu proses desain Oemardi_zain dapat dikatakan baik dan berjalan dengan benar sesuai dengan ketentuan menurut Simonds dan Booth Manajemen Studio Manajemen Studio di perusahaan Oemardi_zain meliputi pengolahan dan pengelolaan data setiap proyek berupa pengaturan pengarsipan, dan pengaturan format gambar kerja. Format gambar tersebut adalah layout gambar hasil komputerisasi terutama pada aplikasi program AutoCAD (Gambar 36). Pada format tersebut terdapat data yang digunakan untuk penjelasan gambar kerja, data tersebut dikelompokkan kedalam beberapa bagian, antara lain: 1. Client Data ini menginformasikan pemilik atau badan perusahaan pemberi tugas dari proyek yang dikerjakan. 75

59 2. Landscape Architects Data ini menginformasikan penanggung jawab konsultan lanskap yang mengerjakan tugas, berupa contact person konsultan. 3. Date, Drawn, Designed, dan Checked Data ini menginformasikan tanggal penyelesaian gambar, nama pembuat gambar, desainer dan pemeriksa hasil gambar. Informasi tersebut berupa inisial nama dengan dua huruf alfabet. 4. Drawing Title dan Project Name Data ini menginformasikan judul proyek yang dikerjakan dan judul gambar yang dikerjakan dalam gambar tersebut. 5. Plot Scale, Discipline, Drawing Number, Page Number dan Revision Data ini menginformasikan pengerjaan gambar dalam skala, disiplin ilmu yang diterapkan dalam pengerjaan proyek, nomor dalam gambar, halaman gambar dan jumlah revisi yang telah dikerjakan dalam gambar. 76

60 Gambar 36. Contoh Lay Out Gambar Kerja Pada Proyek L Avenue (Sumber: Oemardi_zain 2012) 77

61 Adapun pengaturan pengarsipan berupa sistem penyimpanan data hasil kerja berupa gambar dalam bentuk softcopy dan hardcopy. Data softcopy dapat diakses oleh semua staf perusahaan melalui jaringan server internet internal dalam perusahaan. Data perusahaan dikelompokkan sesuai tanggal pengerjaan. Sistem kelengkapan gambar kerja secara umum dalam perusahaan memuat informasi mengenai klien, konsultan, judul dan tanggal pembuatan gambar, desainer, skala, dan nomor gambar. Dengan adanya pengelompokan dalam sebuah file dalam gambar kerja, hasil dan dokumen kerja perusahaan dapat terkoordinir dengan baik. Data softcopy dalam proyek terbagi dalam beberapa bagian antara lain: 1. 3D, merupakan data kerja yang dihasilkan melalui software AutoCAD (.dwg) dan Sketch Up (.skp), Yang kemudian diperhalus dengan sentuhan software Adobe Photoshop. biasanya bagian ini dilakukan untuk presentasi dan penggunaan untuk marketing proyek sehingga tidak semua proyek menggunakan 3D, hal ini disesuaikan dengan permintaan owner. 2. Data, merupakan data yang diperoleh dari owner. Sebagian besar isi folder ini berupa - dari pihak owner, termasuk di dalamnya kiriman file-file gambar yang diperlukan bagi pihak Oemardi_zain. 3. Dokumentasi, berisi surat-surat yang berkaitan dengan proyek tersebut, misalnya RAB, BOQ, cost plan, proposal, surat kontrak, dan tahap pembayaran. 4. Drawing, merupakan folder yang berisi gambar-gambar dengan format dwg (AutoCAD). Pada folder ini terdapat beberapa folder yang diberi nama sesuai dengan tanggal pembuatan gambar, sehingga perkembangan dari revisi ke revisi dapat termonitoring. 5. Image, folder ini berisi gambar-gambar hasil pewarnaan dengan hasil dari penggunaan software Adobe Photoshop. Gambar-gambar yang ada terdiri dari siteplan, potongan, perspektif, dll. 6. Image Precedent, pada folder ini terdapat foto-foto elemen lanskap yang dijadikan referensi dalam pembuatan site plan. Foto-foto yang terdapat pada folder ini meliputi elemen softscape dan hardscape. 78

62 7. Reference, merupakan folder berisi gambar-gambar referensi berformat dwg meliputi desain hardscape dalam sebuah proyek. 8. Report, adalah folder yang berisi powerpoint yang akan dipresentasikan pada owner Manajemen Proyek Manajemen proyek terdiri atas tahap-tahap dalam pekerjaan suatu proyek dimulai dari tahap inventarisasi dan analisis, pembuatan konsep sampai dengan pembuatan gambar kerja dan tahap pelaksanaan desain. Setiap proyek dalam perusahaan Oemardi_zain berjalan dengan baik apabila tahap tersebut tertuang dalam manajemen proyek perusahaan tersebut. Sesuai dengan proyek yang dilakukan Oemardi_zain pada perancangan lanskap L Avenue yang memiliki pokok inti sebagai area mixed use kawasan Pancoran, artinya pengembangan satu kawasan dengan berbagai fungsi yang dikombinasikan melalui zoning office, residential, dan retail. Proyek ini adalah salah satu penanggulangan tingkat kesesakan penduduk Jakarta yang semakin padat sehingga dibuat satu kawasan yang dapat memfasilitasi keinginan pengguna untuk menghindari pemakaian ruang-ruang yang banyak dan pada akhirnya kawasan tersebut lebih terkontrol. Quality Delivery Cost Gambar 37. Bagan Parameter Manajemen Proyek Oemardi_zain (Digambar oleh: Situmorang) 79

63 Oemardi_zain mempunyai parameter manajemen dalam menjalankan sebuah proyek. Parameter tersebut dibagi menjadi tiga kriteria berdasarkan kebutuhan perusahaan (Gambar 37). Tanda panah pada gambar menunjukkan bahwa setiap parameter manajemen proyek Oemardi_zain saling berkesinambungan. Parameter tersebut antara lain: 1. Mutu (quality). Didalam proyek L Avenue, produk gambar merupakan hasil akhir dalam penyelesaian desain suatu proyek. Untuk menjaga kualitas produk, gambar yang dihasilkan pada proses desain L Avenue mengacu pada sistem kelengkapan gambar kerja Oemardi_zain (layout). Layout gambar kerja ini mempermudah penyampaian informasi gambar kepada pembaca, dalam hal ini adalah klien. 2. Anggaran biaya (cost). Proyek yang dikerjakan harus diselesaikan dengan biaya yang tidak melebihi batas anggaran yang ditentukan. Biaya dalam setiap proyek berbeda tergantung kontrak kerja dan perihal yang dilaksanakan (Tabel 7). Pada manajemen proyek Oemardi_zain, sistem pembayaran dan jadwal waktu pembayaran dilakukan sesuai kontrak yang tertulis didalam sebuah proyek, dan biasanya sistem pembayaran setiap proyek yang ada dilakukan dengan beberapa tahap. Proyek L Avenue sesuai dengan SPK Pasal V mempunyai nilai kontrak sebesar Rp ,-. Adapun cara pembayaran disepakati melalui SPK Tahap VI dengan lima tahap. Masing-masing tahap dibayar berdasarkan proses desain sesuai bobot pelaksanaan melalui presentase dari biaya total. Tahap awal dilakukan proses pembayaran sebesar 10% sebagai uang muka dibayarkan setelah penandatanganan kontrak. Kemudian proses pembayaran kedua sebesar 20% dibayarkan setelah tahap conceptual design telah selesai, disetujui dan diserahkan kepada klien. Pembayaran ketiga dilakukan sebesar 30% setelah tahap design development selesai, disetujui dan diserahkan kepada klien. Proses pembayaran keempat sebesar 35% dibayarkan setelah tahap gambar kerja dan dokumen tender selesai, disetujui dan diserahkan kepada klien. Sisa pembayaran terakhir sebesar 5% dibayarkan setelah tahap pengawasan pekerjaan konstruksi lanskap selesai dan dikuatkan dengan 80

64 Berita Acara Serah Terima dari kontraktor. Biaya jasa desain dipengaruhi oleh luas tapak yang dikerjakan, keinginan klien, lingkup & produk kerja yang dihasilkan, dan waktu pengerjaan. Umumnya, perbandingan setiap perihal yang mempengaruhi level proyek berbanding lurus dengan biaya yang dikeluarkan untuk proyek tersebut. Tabel 7. Perbandingan Biaya Jasa Perihal Level Biaya Luas Tapak Keinginan Klien Produk Kerja Waktu 3. Jadwal (delivery). Setiap proyek pekerjaan yang terdapat dalam perusahaan Oemardi_zain berpatokan dengan waktu pengerjaan proyek. Setiap penyelesaian pekerjaan didukung dengan upaya pengerjaan secara teamwork. Proyek L Avenue dikerjakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan adalah selama enam belas minggu kalender terhitung dari tanggal 12 Desember 2011 atau sekitar empat bulan pelaksanaan (Lampiran 1, SPK Pasal IV). Menurut Soeharto (1999), kegiatan proyek dapat diartikan sebagai salah satu kegiatan sementara yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumber daya tertentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk dan deliverable yang kriteria mutunya telah digariskan dengan jelas. Melalui kegiatan proyek ini, produk dan deliverable yang dihasilkan berupa tahapan-tahapan dalam melaksanakan sebuah proyek seperti yang dilakukan oleh Oemardi_zain. Menurut Cleland dan Ireland (2002), manajemen proyek merupakan hal terpenting dalam sebuah pelaksanaan pembangunan. Manajemen proyek yang terstruktur baik menentukan hasil dari setiap program kerja proyek itu sendiri. Manajemen proyek memiliki dua komponen utama, yaitu strategi dan implementasi. Strategi adalah rencana yg cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus, sedangkan implementasi merupakan penerapan yang 81

65 berarti pelaksanaan sebuah kegiatan. Manajemen ini didukung oleh perencanaan proyek yang mendeterminasikan secara rasional dan berkelanjutan. Cleland dan Ireland (2002) juga menambahkan bahwa perencanaan proyek merupakan penentuan rasional untuk memulai, mempertahankan dan menghentikan proyek. Konsep dasar perencanaan dan rencana pemantauan pengembangan proyek dianalisis sesuai dengan kebutuhan dan penggunaan utilitas yang tersedia. Pada Oemardi_zain, strategi komponen utama ini dituangkan pada pembentukan tiga parameter tersebut kemudian diimplementasikan pada pelaksanaan proyek melalui setiap tahapan sehingga proyek yang masuk dalam perusahaan tertata dengan baik. Tiga parameter ini mewakili setiap proyek yang dijalankan. Pada parameter mutu ditekankan pada format gambar yang ditampilkan kepada klien. Semakin detail gambar dan keterangan gambar yang dihasilkan akan semakin mudah dalam pembacaan sebuah gambar kerja oleh klien (Gambar 36). Parameter anggaran biaya pada perusahaan Oemardi_zain ditekankan pada pembayaran kontrak kerja proyek. Pada proyek L Avenue terdapat beberapa kali pembayaran dalam pelaksanaannya, hal ini meminimalisir kerugian terhadap perusahaan Oemardi_zain apabila kontrak kerja sewaktu-waktu diputus sepihak oleh klien. Kerugian itu dapat terjadi jika pembayaran kontrak kerja tidak dilakukan dengan sesi tahap pembayaran, kemudian perusahaan telah melaksanakan desain dan klien memutus kontrak secara sepihak maka perusahaan tersebut mengalami kerugian karena belum adanya pembayaran dalam proyek. Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa biaya jasa yang dilakukan oleh perusahaan Oemardi_zain bergantung dengan empat hal yaitu luas tapak, keinginan klien, produk kerja, dan waktu. Semakin besar luas tapak yang masuk ke dalam proyek maka semakin tinggi kontrak kerja yang dihasilkan. Kebutuhan klien yang semakin rumit dalam mendesain sebuah proyek maka semakin tinggi pula kontrak kerja yang dihasilkan. Semakin banyak produk kerja yang dihasilkan misalnya dalam satu tapak terdapat banyak desain, maka semakin tinggi juga kontrak kerja yang dihasilkan. Semakin lama waktu pengerjaan yang dilakukan dalam pengerjaan sebuah proyek maka semakin tinggi juga kontrak kerja yang dihasilkan. 82

66 Parameter terakhir adalah jadwal. Jadwal berpengaruh terhadap kinerja perusahaan. Semakin panjang jadwal pelaksanaan sebuah proyek maka semakin tinggi biaya yang dibutuhkan dalam pelaksanaannya. Oemardi_zain dalam melaksanakan sebuah proyek tertata dengan jelas sesuai dengan kesepakatan kontrak kerja. Jika ada perubahan dalam waktu pelaksanaan maka akan ada perubahan biaya dalam proyek tersebut. Manajemen proyek ini telah diterapkan oleh Oemardi_zain dengan terstruktur, terbukti selama mahasiswa mengikuti magang (4 bulan) dalam perusahaan ini terdapat 38 proyek yang ditangani oleh perusahaan. Setiap proyek mempunyai waktu dan pelaksanaan yang berbeda. Dengan waktu dan pelaksanaan yang berbeda tersebut diikuti oleh tingkat keinginan dan kebutuhan klien yang tinggi mampu diatasi Oemardi_zain dengan menyelesaikan proyek yang telah ditentukan. 5.4 Faktor Pendukung dan Penghambat Banyak yang terjadi dalam pekerjaan proyek dalam sebuah perusahaan konsultan. Memaksimalkan pekerjaan dan penyelesaian tepat waktu merupakan target yang diinginkan setiap perusahaan konsultan. Begitupun selama kegiatan magang di perusahaan konsultan lanskap Oemardi_zain, berbagai aspek telah didapat antara lain dimulai dengan pengetahuan dalam berkarya di dalam sebuah kehidupan nyata, dan pembelajaran ilmu lanjutan yang akan dipakai dalam pekerjaan. Berikut ini ada berbagai faktor yang mendukung dan menghambat sebuah pekerjaan dalam perusahaan konsultan Oemardi_zain Faktor Pendukung Ada beberapa faktor pendukung dalam kegiatan magang di Oemardi_zain dalam menjalankan proyek melalui tahap-tahap proses desainnya, antara lain: 1. Struktur kerja, pembagian kerja yang baik antara setiap staf dan karyawan yang ada dalam perusahaan. Dalam lingkup umumnya, Oemardi_zain membagi dalam beberapa tingkat dalam pengerjaan, yaitu project manager, arsitek senior, arsitek junior, dan drafter. Setiap tingkat mempunyai bobot pekerjaan yang berbeda, dengan bobot yang paling tinggi adalah project manager sampai diakhiri dengan drafter. 83

67 2. Tahapan kerja yang tertata dengan baik dalam setiap pekerjaan proyek dimulai dengan tahap penerimaan proyek, riset dan analisis, konsep desain, pengembangan desain, dan terakhir oleh tahap pembuatan gambar kerja. Tahap ini sudah dimengerti dengan baik oleh setiap staf dan karyawan, sehingga tidak membingungkan dalam proses pekerjaannya. 3. Fasilitas kerja dalam perusahaan konsultan Oemardi_zain sangat membantu dalam pekerjaan proyek-proyek kantor. Software maupun hardware yang dimiliki oleh perusahaan difungsikan dengan tepat sasaran dan sesuai dengan kegunaannya. Peninjauan fasilitas kerja yang tidak layak pakai dilakukan secara berkala dalam upaya peningkatan kualitas kerja yang lebih produktif Faktor Penghambat Hambatan umum yang terjadi dalam kegiatan di perusahaan konsultan lanskap Oemardi_zain adalah masa waktu pekerjaan suatu proyek. Tidak jarang dijumpai bahwa waktu yang dibutuhkan dalam pengerjaan proyek sesuai dengan kontrak kerja sewaktu-waktu diundur dengan keinginan klien. Oleh sebab itu, dengan adanya keputusan tersebut akan mengganggu pengerjaan proyek lainnya yang ada di perusahaan Oemardi_zain. 84

Lampiran 1. Surat Perintah Kerja

Lampiran 1. Surat Perintah Kerja LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Perintah Kerja 88 Lampiran 1. Surat Perintah Kerja (lanjutan) 89 Lampiran 1. Surat Perintah Kerja (lanjutan) 90 Lampiran 1. Surat Perintah Kerja (lanjutan) 91 Lampiran 1. Surat

Lebih terperinci

BAB 4 PROSES MAGANG DI KONSULTAN LANSKAP OEMARDI_ZAIN

BAB 4 PROSES MAGANG DI KONSULTAN LANSKAP OEMARDI_ZAIN 20 BAB 4 PROSES MAGANG DI KONSULTAN LANSKAP OEMARDI_ZAIN 4.1 Kondisi Umum Konsultan Lanskap Oemardi_zain Konsultan Lanskap Oemardi_zain didirikan tahun 2004 oleh Ir. Umar Zain beserta istrinya Ir. Dini

Lebih terperinci

PROSES DESAIN LANSKAP L AVENUE DI KAWASAN PANCORAN, JAKARTA SELATAN (Kegiatan Magang di Konsultan Lanskap Oemardi_Zain) ARIEL DIESTO SITUMORANG

PROSES DESAIN LANSKAP L AVENUE DI KAWASAN PANCORAN, JAKARTA SELATAN (Kegiatan Magang di Konsultan Lanskap Oemardi_Zain) ARIEL DIESTO SITUMORANG PROSES DESAIN LANSKAP L AVENUE DI KAWASAN PANCORAN, JAKARTA SELATAN (Kegiatan Magang di Konsultan Lanskap Oemardi_Zain) ARIEL DIESTO SITUMORANG DEPARTEMEN ARSITEKTUR LANSKAP FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT

Lebih terperinci

III. METODOLOGI. 3.1 Lokasi dan Waktu Magang

III. METODOLOGI. 3.1 Lokasi dan Waktu Magang 3.1 Lokasi dan Waktu Magang III. METODOLOGI Kegiatan magang dilakukan di perusahaan AECOM Singapore Pte. Ltd, divisi Planning, Design, Development (PDD), tim Landscape Architecture (LA team). Perusahaan

Lebih terperinci

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB III: DATA DAN ANALISA BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik 3.1.1. Data Fisik Dalam perencanaan dan perancangan RSUD Jakarta Selatan harus memperhatikan beberapa macam kondisi fisik wilayah secara spesifik

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI JL.TERAPI PERUM. BUMI MENTENG ASRI. Gambar 2. Lokasi Konsultan Lanskap Oemardi_zain (googlemaps.com, serigama.

BAB 3 METODOLOGI JL.TERAPI PERUM. BUMI MENTENG ASRI. Gambar 2. Lokasi Konsultan Lanskap Oemardi_zain (googlemaps.com, serigama. 14 BAB 3 METODOLOGI 3.1 Lokasi Magang Kegiatan magang dilakukan di kantor Konsultan Lanskap Oemardi_zain yang terletak di Perumahan Bumi Menteng Asri, Blok BE No. 2, Bogor Jawa Barat. Kantor ini merupakan

Lebih terperinci

III. METODOLOGI. 2). Waktu penelitian sejak pelaksanaan hingga pembuatan laporan hasil studi berlangsung selama 9 bulan (Februari 2011-Oktober 2011).

III. METODOLOGI. 2). Waktu penelitian sejak pelaksanaan hingga pembuatan laporan hasil studi berlangsung selama 9 bulan (Februari 2011-Oktober 2011). 16 III. METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di Bandara Internasional SoekarnoHatta, Tangerang, Banten dengan lokasi yang berada pada Terminal 3 (Gambar 2). Waktu penelitian

Lebih terperinci

Gambar 65. Tipikal Karakter Penanaman Tropis pada Area Masuk Perumahan

Gambar 65. Tipikal Karakter Penanaman Tropis pada Area Masuk Perumahan 97 BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Produk Perancangan Lanskap Pada setiap perancangan lanskap yang dihasilkan oleh BCI terdapat karakter dan keunikan tersendiri pada masing-masing proyek. Pada perancangan lanskap

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN ANALISA

BAB III DATA DAN ANALISA BAB III DATA DAN ANALISA 3.1 Data Fisik dan Non Fisik Gambar 3. Peta Lokasi Lahan LKPP Data Tapak Lokasi : Lot/Kavling 11B, CBD Rasuna Epicentrum, Jakarta Selatan Luas lahan : 4709 m² Koefisien Dasar Bangunan

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM PT. ENVIROSPACE CONSULTANT INDONESIA

IV. KONDISI UMUM PT. ENVIROSPACE CONSULTANT INDONESIA 25 IV. KONDISI UMUM PT. ENVIROSPACE CONSULTANT INDONESIA 4.1 Sejarah Perusahaan PT. Envirospace Consultant Indonesia (ESCI) berdiri pada tahun 2005. Perusahaan ini merupakan cabang dari perusahaan Envirospace

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA PERENCANAAN

BAB IV ANALISA PERENCANAAN BAB IV ANALISA PERENCANAAN 4.1. Analisa Non Fisik Adalah kegiatan yang mewadahi pelaku pengguna dengan tujuan dan kegiatannya sehingga menghasilkan besaran ruang yang dibutuhkan untuk mewadahi kegiatannya.

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN. wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik,

BAB VI HASIL RANCANGAN. wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik, BAB VI HASIL RANCANGAN Perancangan Museum Anak-Anak di Kota Malang ini merupakan suatu wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik, serta film untuk anak-anak. Selain sebagai

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN BAHASAN

BAB 4 HASIL DAN BAHASAN BAB 4 HASIL DAN BAHASAN 4.1 Analisa Lahan Perencanaan Dalam Konteks Perkotaan 4.1.1 Urban Texture Untuk Urban Texture, akan dianalisa fungsi bangunan yang ada di sekitar tapak yang terkait dengan tata

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya

II. TINJAUAN PUSTAKA. desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya 9 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ruang Lingkup Arsitektur Lansekap Lansekap sebagai gabungan antara seni dan ilmu yang berhubungan dengan desain taman dengan menggunakan tanaman hias sebagai komponennya merupakan

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1 KONSEP TAPAK DAN RUANG LUAR IV.1.1 Pengolahan Tapak dan Ruang Luar Mempertahankan daerah tapak sebagai daerah resapan air. Mempertahankan pohon-pohon besar yang ada disekitar

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang BAB 5 KONSEP PERANCANGAN Konsep perancangan pada redesain kawasan wisata Gua Lowo di Kabupaten Trenggalek menggunakan tema Organik yang merupakan salah satu pendekatan dalam perancangan arsitektur yang

Lebih terperinci

Proses Desain (1) 10/18/2016. Proses perencanaan (Simonds & Starke, 2006) (ARL 200) PRAKTIKUM MINGGU 10

Proses Desain (1) 10/18/2016. Proses perencanaan (Simonds & Starke, 2006) (ARL 200) PRAKTIKUM MINGGU 10 MK. DASAR DASAR ARSITEKTUR LANSKAP (ARL 200) Perencanaan Perencanaan merupakan suatu alat sistematik yang digunakan untuk menentukan kondisi yang diharapkan dari suatu tapak serta cara untuk mencapai kondisi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI. Gambar 1 Peta Lokasi Magang (Sumber:

BAB III METODOLOGI. Gambar 1 Peta Lokasi Magang (Sumber: BAB III METODOLOGI 3.1 Waktu dan Lokasi Magang Kegiatan magang studi perancangan lanskap Green Permata Residence (GPR) ini dilaksanakan selama 3,5 bulan yang terhitung sejak tanggal 7 Februari 2012 hingga

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN PRINSIP TEMA Keindahan Keselarasan Hablumminal alam QS. Al-Hijr [15]: 19-20 ISLAM BLEND WITH NATURE RESORT HOTEL BAB V KONSEP PERANCANGAN KONSEP DASAR KONSEP TAPAK KONSEP RUANG KONSEP BENTUK KONSEP STRUKTUR

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 konsep Dasar 5.1.1 Tata Letak Bangunan Gate entrance menuju Fasilitas Wisata Agro terletak di jalan akses masuk wisata Kawah Putih, dengan pertimbangan aksesibilitas jalan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Daftar Pekerjaan yang Dikerjakan oleh Mahasiswa Magang pada Proyek Discovery Hotel

Lampiran 1. Daftar Pekerjaan yang Dikerjakan oleh Mahasiswa Magang pada Proyek Discovery Hotel LAMPIRAN 126 127 Lampiran 1. Daftar Pekerjaan yang Dikerjakan oleh Mahasiswa Magang pada Proyek Discovery Hotel No Judul Gambar Keterangan 1 Guard House Gambar 41 2 Desain pada Gazebo Gambar 54 3 Desain

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut: BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Building form Bentuk dasar yang akan digunakan dalam Kostel ini adalah bentuk persegi yang akan dikembangkan lebih lanjut.

Lebih terperinci

Perencanaan DESAIN/PERANCANGAN 16/09/2015. Proses perencanaan (Simonds & Starke, 2006)

Perencanaan DESAIN/PERANCANGAN 16/09/2015. Proses perencanaan (Simonds & Starke, 2006) Perencanaan MK. DASAR-DASAR ARSITEKTUR LANSKAP (ARL 200) Perencanaan merupakan suatu alat sistematik yang digunakan untuk menentukan kondisi yang diharapkan dari suatu tapak serta cara untuk mencapai kondisi

Lebih terperinci

Architecture. Home Diary #007 / 2014

Architecture. Home Diary #007 / 2014 Architecture 58 The Art of Tropical Living Teks : Wdya Prawira Foto : Bambang Purwanto Desain rumah tropis yang menampilkan keindahan detil pada setiap sudutnya ini mampu menghadirkan sebuah rasa romantis

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1 KONSEP DASAR Konsep dasar dalam perancangan hotel ini adalah menghadirkan suasana alam ke dalam bangunan sehingga tercipta suasana alami dan nyaman, selain itu juga menciptakan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PERANCANGAN

BAB 3 METODOLOGI PERANCANGAN BAB 3 METODOLOGI PERANCANGAN Kerangka kajian yang digunakan dalam proses perancangan Hotel Resort Batu ini secara umum, diuraikan dalam beberapa tahap antara lain: 3.1 Pencarian Ide/Gagasan Tahapan kajian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Arsitektur Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam artian yang lebih luas, arsitektur mencakup perancangan dan pembangunan keseluruhan lingkungan binaan,

Lebih terperinci

BAB IV : KONSEP. 4.1 Konsep Dasar. Permasalahan & Kebutuhan. Laporan Perancangan Arsitektur Akhir

BAB IV : KONSEP. 4.1 Konsep Dasar.  Permasalahan & Kebutuhan. Laporan Perancangan Arsitektur Akhir BAB IV : KONSEP 4.1 Konsep Dasar Table 5. Konsep Dasar Perancangan Permasalahan & Kebutuhan Konsep Selama ini banyak bangunan atau gedung kantor pemerintah dibangun dengan hanya mempertimbangkan fungsi

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perancangan Gedung pusat kebugaran ini direncanakan untuk menjadi suatu sarana yang mewadahi kegiatan olahraga, kebugaran, dan relaksasi. Dimana kebutuhan masyarakat

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN digilib.uns.ac.id BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN DESAIN 4.1. Deskripsi Lokasi Perumahan Taman Nirwana terletak di pinggir kota Klaten. Untuk mencapai lokasi dapat dilalui dengan kendaraan bermotor sedang,

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1. KONSEP DASAR PERANCANGAN Dalam konsep dasar pada perancangan Fashion Design & Modeling Center di Jakarta ini, yang digunakan sebagai konsep dasar adalah EKSPRESI BENTUK dengan

Lebih terperinci

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB III: DATA DAN ANALISA BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik 1.1.1. Data Non Fisik Sebagai stasiun yang berdekatan dengan terminal bus dalam dan luar kota, jalur Busway, pusat ekonomi dan pemukiman penduduk,

Lebih terperinci

Subdivisi Arsitektur Lanskap. Redinuka Ashil Karamah. Sempervivum tectorum

Subdivisi Arsitektur Lanskap. Redinuka Ashil Karamah. Sempervivum tectorum Subdivisi Arsitektur Lanskap Redinuka Ashil Karamah Sempervivum tectorum Review: Love Your Garden Season 6 Episode 2 TUJUAN Mempelajari perancangan taman Mempelajari konsep taman dengan salah satu gaya/tema

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PERANCANGAN. Dalam kajian perancangan ini berisi tentang penjelasan dari proses atau

BAB 3 METODOLOGI PERANCANGAN. Dalam kajian perancangan ini berisi tentang penjelasan dari proses atau BAB 3 METODOLOGI PERANCANGAN 3.1. Metode Umum Dalam kajian perancangan ini berisi tentang penjelasan dari proses atau tahapan-tahapan dalam merancang, yang disertai dengan teori-teori dan data-data yang

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI 3.1. Lokasi dan Waktu Magang

BAB III METODOLOGI 3.1. Lokasi dan Waktu Magang 22 BAB III METODOLOGI 3.1. Lokasi dan Waktu Magang Kegiatan magang dilakukan di Oemardi_zain Landscape Consultant, yaitu sebuah studio konsultan lanskap yang berlokasi di Bumi Menteng Asri Blok BE No.

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM PERUSAHAAN

BAB IV KONDISI UMUM PERUSAHAAN 16 BAB IV KONDISI UMUM PERUSAHAAN 4.1 Sejarah Oemardi_Zain Landscape Consultant (OZ) adalah sebuah perusahaan konsultan lanskap yang berdiri pada tahun 2004 di Bogor. Pendiri Oemardi_Zain atau sering disingkat

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN. tema Sustainable Architecture yang menerapkan tiga prinsip yaitu Environmental,

BAB VI HASIL RANCANGAN. tema Sustainable Architecture yang menerapkan tiga prinsip yaitu Environmental, BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1 Dasar perancangan Hasil perancangan sentra industri batu marmer adalah penerapan dari tema Sustainable Architecture yang menerapkan tiga prinsip yaitu Environmental, Social dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Proyek Taman Menteng Square, Jakarta Pusat

HASIL DAN PEMBAHASAN. Proyek Taman Menteng Square, Jakarta Pusat 61 HASIL DAN PEMBAHASAN Proyek Taman Menteng Square, Jakarta Pusat Pengembang Proyek Menteng Square ini dikembangkan oleh PT. Bahama Development yang merupakan holding company dengan memfokuskan diri pada

Lebih terperinci

BAB V KONSEP. marmer adalah Prinsip Sustainable Architecture menurut SABD yang terangkum

BAB V KONSEP. marmer adalah Prinsip Sustainable Architecture menurut SABD yang terangkum BAB V KONSEP 5.1 Konsep Dasar Konsep dasar yang digunakan dalam perancangan sentra industri batu marmer adalah Prinsip Sustainable Architecture menurut SABD yang terangkum dalam Three Dimension Sustainability:

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN.

BAB VI HASIL RANCANGAN. BAB VI HASIL RANCANGAN. Konsep yang digunakan dalam perancangan museum olah raga ini adalah Metafora dari Gerakan Shalat, dimana konsep ini merupakan hasil penggabungan antara: Nilai gerakan shalat, yaitu:

Lebih terperinci

BAB V : KONSEP. 5.1 Konsep Dasar Perancangan

BAB V : KONSEP. 5.1 Konsep Dasar Perancangan BAB V : KONSEP 5.1 Konsep Dasar Perancangan Dalam konsep dasar perancangan Bangunan Hotel dan Konvensi ini dipengaruhi oleh temanya, yaitu Arsitektur Hijau. Arsitektur Hijau adalah arsitektur yang berwawasan

Lebih terperinci

APARTEMEN HEMAT ENERGI DAN MENCIPTAKAN INTERAKSI SOSIAL DI YOGYAKARTA DAFTAR ISI.

APARTEMEN HEMAT ENERGI DAN MENCIPTAKAN INTERAKSI SOSIAL DI YOGYAKARTA DAFTAR ISI. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.. LEMBAR PENGESAHAN... CATATAN DOSEN PEMBIMBING... HALAMAN PERNYATAAN PRAKATA. DAFTAR ISI. DAFTAR GAMBAR. DAFTAR TABEL.. ABSTRAK. i ii iii iv v vii x xiii xv BAB I PENDAHULUAN..

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN. 3. Pembangunan sebagai proses 2. Memanfaatkan pengalaman

BAB VI HASIL PERANCANGAN. 3. Pembangunan sebagai proses 2. Memanfaatkan pengalaman BAB VI HASIL PERANCANGAN 1.1 Dasar Perancangan Hasil perancangan Eduwisata Kakao di Glenmore Banyuwangi mempunyai dasar tema Arsitektur Ekologis dengan mengacu pada ayat Al-quran. Tema Arsitektur Ekologis

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Bentukan Dasar Bangunan Bentuk massa bangunan terdiri terdiri dari susunan kubus yang diletakan secara acak, bentukan ruang yang kotak menghemat dalam segi

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN. terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya

BAB VI HASIL RANCANGAN. terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya 165 BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1. Dasar Rancangan Hasil perancangan diambil dari dasar penggambaran konsep dan analisa yang terdapat pada Bab IV dan Bab V yaitu, manusia sebagai pelaku, Stadion Raya sebagai

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Konsep Makro 5.1.1 Site terpilih Gambar 5.1 Site terpilih Sumber : analisis penulis Site terpilih sangat strategis dengan lingkungan kampus/ perguruan tinggi

Lebih terperinci

ANYER BEACH RESORT BAB V KONSEP PERANCANGAN

ANYER BEACH RESORT BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 KONSEP DASAR PERANCANGAN Dalam perancangaan Resort ini penulis menggunakan kosep dasar TROPIS MODERN yang dimana bangunan ini tetap mengacu pada ciri bangunan tropis lainnya,

Lebih terperinci

Minggu 5 ANALISA TAPAK CAKUPAN ISI

Minggu 5 ANALISA TAPAK CAKUPAN ISI 1 Minggu 5 ANALISA TAPAK CAKUPAN ISI Membuat analisa pada tapak, mencakup orientasi matahari, lingkungan, sirkulasi dan entrance, kontur. Analisa Zoning, mencakup zona public, semi public dan private serta

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR DIAGRAM...

DAFTAR ISI... HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR DIAGRAM... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR TABEL... DAFTAR DIAGRAM... i ii iv v viii xiv xix xx BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang...

Lebih terperinci

APARTEMEN HIJAU DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

APARTEMEN HIJAU DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN APARTEMEN HIJAU DI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TUGAS AKHIR SARJANA STRATA 1 UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN YUDISIUM UNTUK MENCAPAI DERAJAT SARJANA TEKNIK

Lebih terperinci

BAB 4 KONSEP PERANCANGAN

BAB 4 KONSEP PERANCANGAN BAB 4 KONSEP PERANCANGAN 4.1 Ide Awal Ide awal rancangan bangunan perpustakaan ini adalah bangunan sebagai fitur taman. Masyarakat yang menggunakan ruang terbuka kota/taman Maluku ini dapat sekaligus menggunakan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE 21 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini akan dilakukan pada tanggal 1 Juli 2010 hingga tanggal 20 Agustus 2010. Lokasi penelitian terletak di Padang Golf Sukarame. JL. H. Endro Suratmin

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru. BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Beberapa hal yang menjadi dasar perencanaan dan perancangan Asrama Mahasiwa Bina Nusantara: a. Mahasiswa yang berasal dari

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pemikiran yang melandasi perancangan dari proyek Mixed-use Building

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pemikiran yang melandasi perancangan dari proyek Mixed-use Building BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Dasar Perencanaan dan Perancangan Pemikiran yang melandasi perancangan dari proyek Mixed-use Building Rumah Susun dan Pasar ini adalah adanya kebutuhan hunian

Lebih terperinci

PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT

PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT PERANCANGAN TAPAK II DESTI RAHMIATI, ST, MT DESKRIPSI OBJEK RUANG PUBLIK TERPADU RAMAH ANAK (RPTRA) Definisi : Konsep ruang publik berupa ruang terbuka hijau atau taman yang dilengkapi dengan berbagai

Lebih terperinci

Woodland Park Residence Apartemen Baru di Kalibata

Woodland Park Residence Apartemen Baru di Kalibata Woodland Park Residence Apartemen Baru di Kalibata Apartemen Woodland Park Residence di Kalibata Woodland Park Residence merupakan apartemen baru di Kalibata yang akan dibangun oleh Pardika Wisthi Sarana

Lebih terperinci

5. HASIL RANCANGAN. Gambar 47 Perspektif Mata Burung

5. HASIL RANCANGAN. Gambar 47 Perspektif Mata Burung 5. HASIL RANCANGAN 5.1 Hasil Rancangan pada Tapak Perletakan massa bangunan pada tapak dipengaruhi oleh massa eksisting yang sudah ada pada lahan tersebut. Di lahan tersebut telah terdapat 3 (tiga) gedung

Lebih terperinci

BAB III: DATA DAN ANALISA

BAB III: DATA DAN ANALISA BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik 2.1.1. Data Fisik Lokasi Luas Lahan Kategori Proyek Pemilik RTH Sifat Proyek KLB KDB RTH Ketinggian Maks Fasilitas : Jl. Stasiun Lama No. 1 Kelurahan

Lebih terperinci

Pusat Penjualan Mobil Hybrid Toyota di Surabaya

Pusat Penjualan Mobil Hybrid Toyota di Surabaya JURNAL edimensi ARSITEKTUR, No. 1 (2012) 1-6 1 Pusat Penjualan Mobil Hybrid Toyota di Surabaya Gladwin Sogo Fanrensen, Esti Asih Nurdiah Program Studi Teknik Arsitektur, Universitas Kristen Petra Jl. Siwalankerto

Lebih terperinci

BAB 6 HASIL RANCANGAN. pemikiran mengenai sirkulasi angin kawasan serta pemaksimalan lahan sebagai

BAB 6 HASIL RANCANGAN. pemikiran mengenai sirkulasi angin kawasan serta pemaksimalan lahan sebagai BAB 6 HASIL RANCANGAN 6.1. Rancangan Tapak Hasil akhir dari rancangan mengacu pada konsep yang telah ada. Dengan demikian rancangan yang dihasilkan tidak jauh berbeda dari konsep yang telah dibuat. Konsep

Lebih terperinci

METODOLOGI Lokasi dan Waktu Magang Metode Magang

METODOLOGI Lokasi dan Waktu Magang Metode Magang 36 METODOLOGI Lokasi dan Waktu Magang Kegiatan magang dilakukan di perusahaan PT. Envirospace Consultants Indonesia (ESCI) yang bertempat di Jl Bambu Apus Raya No.6 Sektor 7 Taman Yasmin, Bogor, Jawa Barat,

Lebih terperinci

The Via And The Vué Apartment Surabaya. Dyah Tri S

The Via And The Vué Apartment Surabaya. Dyah Tri S The Via And The Vué Apartment Surabaya Dyah Tri S 3107 100 509 Apartemen sebagai pemenuhan kebutuhan manusia akan hunian sebagai tempat untuk berteduh, untuk tinggal dan melakukan kegiatan harus memiliki

Lebih terperinci

UTARINA KUSMARWATI BAB I PENDAHULUAN

UTARINA KUSMARWATI BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG sebagai salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia termasuk dalam universitas yang bersaing di tingkat nasional maupun internasional. Persaingan yang ketat di

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN ARSITEKTUR BINUS UNIVERSITY

BAB V KESIMPULAN ARSITEKTUR BINUS UNIVERSITY 81 BAB V KESIMPULAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan V.1.1 Keterkaitan Konsep dengan Tema dan Topik Konsep dasar pada perancangan ini yaitu penggunaan isu tentang Sustainable architecture atau Environmental

Lebih terperinci

b e r n u a n s a h i jau

b e r n u a n s a h i jau 01 TOW N H O U S E b e r n u a n s a h i jau Penulis Imelda Anwar Fotografer M. Ifran Nurdin Kawasan Kebagusan di Jakarta Selatan terkenal sebagai daerah resapan air bagi kawasan ibukota sekaligus permukiman

Lebih terperinci

BAB IV. KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) 1. LATAR BELAKANG

BAB IV. KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) 1. LATAR BELAKANG BAB IV. KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) 1. LATAR BELAKANG a. Dasar Hukum Landasan yuridis kegiatan ini adalah : 1) Undang-Undang Nomor : 28 Tahun 2002, tentang Bangunan Gedung; 2) Undang-undang Nomor 25 Tahun

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN DESAIN PREMIS Seiring berkembangnya kawasan wisata Baturaden mengharuskan kawasan tersebut harus juga meningkatkan kualitas dalam sektor penginapan. Masih minimnya penginapan berbintang seperti hotel resort

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN

BAB VI HASIL PERANCANGAN BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar perancangan Pusat Studi dan Budidaya Tanaman Hidroponik ini adalah Arsitektur Ekologis. Adapun beberapa nilai-nilai Arsitektur Ekologis

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN Hasil Perancangan Tata Masa dalam tapak. mengambil objek Candi Jawa Timur (cagar budaya)sebagai rujukannya, untuk

BAB VI HASIL PERANCANGAN Hasil Perancangan Tata Masa dalam tapak. mengambil objek Candi Jawa Timur (cagar budaya)sebagai rujukannya, untuk BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1. HasilPerancanganTapak 6.1.1 Hasil Perancangan Tata Masa dalam tapak Pada PerancanganPusat Industri Jajanan di Sanan Kota Malang ini mengambil objek Candi Jawa Timur (cagar

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN. Redesain terminal Arjosari Malang ini memiliki batasan-batasan

BAB VI HASIL RANCANGAN. Redesain terminal Arjosari Malang ini memiliki batasan-batasan BAB VI HASIL RANCANGAN Redesain terminal Arjosari Malang ini memiliki batasan-batasan perancangan. Batasan-batasan perancangan tersebut seperti: sirkulasi kedaraan dan manusia, Ruang Terbuka Hijau (RTH),

Lebih terperinci

PEMBAHASAN UMUM KEGIATAN MAGANG. Kelembagaan Perusahaan

PEMBAHASAN UMUM KEGIATAN MAGANG. Kelembagaan Perusahaan 116 PEMBAHASAN UMUM KEGIATAN MAGANG Kelembagaan Perusahaan PT. Envirospace Consultans Indonesia (ECI) merupakan sebuah konsultan yang bergerak dalam bidang arsitektur lanskap. Dalam melakukan proses manajemen,

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS SINTESIS

BAB V ANALISIS SINTESIS BAB V ANALISIS SINTESIS 5.1 Aspek Fisik dan Biofisik 5.1.1 Letak, Luas, dan Batas Tapak Tapak terletak di bagian Timur kompleks sekolah dan berdekatan dengan pintu keluar sekolah, bangunan kolam renang,

Lebih terperinci

Lampiran 7: Pertanyaan Kuesioner dan Wawancara

Lampiran 7: Pertanyaan Kuesioner dan Wawancara Lampiran 7: Pertanyaan Kuesioner dan Wawancara Kuisioner Responden yang terhormat, Agrowisata Salatiga merupakan salah satu agrowisata yang banyak diminati oleh pengunjung. Welcome area yang ada di agrowisata

Lebih terperinci

GEOMETRIS, KANTILEVER LEBAR.

GEOMETRIS, KANTILEVER LEBAR. ARC HIT EC T U RE Lokasi rumah yang berada di tepi telaga, relatif jarang ditemukan untuk rumah tinggal di Jakarta dan sekitarnya, khususnya di Tangerang. Inilah yang menjadi keunggulan rumah karya Arsitek

Lebih terperinci

REDESAIN RUMAH SAKIT SLAMET RIYADI DI SURAKARTA

REDESAIN RUMAH SAKIT SLAMET RIYADI DI SURAKARTA REDESAIN RUMAH SAKIT SLAMET RIYADI DI SURAKARTA ZONIFIKASI Dasar pertimbngan Potensi site Kemungkinan pengelohan Tuntutan kegiatan UTILITAS Konsep utilitas pada kawasan perencanaan meliputi : 1. Terjadinya

Lebih terperinci

International Fash on Institute di Jakarta

International Fash on Institute di Jakarta BAB V KONSEP PERENCANAAN 5.1. Konsep Dasar Perancangan Pemikiran Konsep: - Fungsi bangunan - Analisis Tapak - Bentuk bangunan sebagai lambang wujud fashion. PEMIKIRAN KONSEP KONSEP FASHION Fashion: - Busana

Lebih terperinci

BAB 6 HASIL PERANCANGAN. konsep Hibridisasi arsitektur candi zaman Isana sampai Rajasa, adalah candi jawa

BAB 6 HASIL PERANCANGAN. konsep Hibridisasi arsitektur candi zaman Isana sampai Rajasa, adalah candi jawa BAB 6 HASIL PERANCANGAN 6.1. Hasil Perancangan Hasil perancangan Pusat Seni dan Kerajinan Arek di Kota Batu adalah penerapan konsep Hibridisasi arsitektur candi zaman Isana sampai Rajasa, adalah candi

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Rumusan konsep ini merupakan dasar yang digunakan sebagai acuan pada desain studio akhir. Konsep ini disusun dari hasil analisis penulis dari tinjauan pustaka

Lebih terperinci

BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Konsep Dasar Perancangan Sekolah Islam Terpadu memiliki image tersendiri didalam perkembangan pendidikan di Indonesia, yang bertujuan memberikan sebuah pembelajaran

Lebih terperinci

Pengembangan RS Harum

Pengembangan RS Harum BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. KONSEP DASAR PENINGKATAN DENGAN GREEN ARCHITECTURE Dari penjabaran prinsi prinsip green architecture beserta langkahlangkah mendesain green building menurut: Brenda dan Robert

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Surakarta, Desember Penulis

KATA PENGANTAR. Surakarta, Desember Penulis KATA PENGANTAR Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, serta atas izinnya penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini yang berjudul Redesain Gelanggang

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan DKI Jakarta yang terkenal dengan kota yang tidak pernah berhenti beraktifitas menyebabkan meningkatnya tingkat stress penduduknya. Oleh karena itu, dibutuhkan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep dasar perancangan beranjak dari hasil analisis bab sebelumnya yang

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep dasar perancangan beranjak dari hasil analisis bab sebelumnya yang BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Konsep dasar perancangan beranjak dari hasil analisis bab sebelumnya yang kemudian disintesis. Sintesis diperoleh berdasarkan kesesuaian tema rancangan yaitu metafora

Lebih terperinci

BAB V DESKRIPSI HASIL RANCANGAN

BAB V DESKRIPSI HASIL RANCANGAN BAB V DESKRIPSI HASIL RANCANGAN Pada bab ini akan menjelaskan mengenai hasil dari pembahasan penyelesaian persoalan yang akan mendukung dalam terbentuknya draft rancangan. Beberapa konsep berupa penyelesaian

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. alami maupun buatan manusia, yang merupakan total dari bagian hidup manusia

II. TINJAUAN PUSTAKA. alami maupun buatan manusia, yang merupakan total dari bagian hidup manusia II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lanskap dan Lanskap Kota Lanskap merupakan suatu bagian dari muka bumi dengan berbagai karakter lahan/tapak dan dengan segala sesuatu yang ada di atasnya baik bersifat alami maupun

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERANCANGAN RUMAH SAKIT PENDIDIKAN JATISAMPURNA, KOTA BEKASI

TUGAS AKHIR PERANCANGAN RUMAH SAKIT PENDIDIKAN JATISAMPURNA, KOTA BEKASI TUGAS AKHIR PERANCANGAN RUMAH SAKIT PENDIDIKAN JATISAMPURNA, KOTA BEKASI Diajukan sebagai syarat untuk meraih gelar Sarjana Teknik Arsitektur Strata 1 (S-1) Disusun oleh: Nama : NIM : PROGRAM STUDI ARSITEKTUR

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN BANGUNAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BANGUNAN BAB V KONSEP PERANCANGAN BANGUNAN Konsep perancangan bangunan didapatkan dari hasil studi literatur dan lapangan berdasarkan topik terkait. Penjelasan pemikiran penulis pada pendekatan konsep yang telah

Lebih terperinci

5 BAB V KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

5 BAB V KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5 BAB V KONSEP DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Konsep perancangan mengacu pada karakteristik arsitektur organik, yaitu 1. Bukan meniru bentuk dari alam tapi mengembangkan prinsip yang ada di alam Mengembangkan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman Judul Halaman Pengesahan Kata Pengantar Halaman Persembahan Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Bagan Daftar Tabel Abstraksi

DAFTAR ISI. Halaman Judul Halaman Pengesahan Kata Pengantar Halaman Persembahan Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Bagan Daftar Tabel Abstraksi DAFTAR ISI Halaman Judul Halaman Pengesahan Kata Pengantar Halaman Persembahan Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Bagan Daftar Tabel Abstraksi i ii iii iv v x xiii xiv xv BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4.1. Letak Geografis Site Site yang akan dibangun berlokasi di sebelah timur Jalan Taman Siswa dengan koordinat 07 o 48 41.8 LS 110 o 22 36.8 LB. Bentuk site adalah persegi panjang

Lebih terperinci

BAB V KONSEP. mengasah keterampilan yaitu mengambil dari prinsip-prinsip Eko Arsitektur,

BAB V KONSEP. mengasah keterampilan yaitu mengambil dari prinsip-prinsip Eko Arsitektur, BAB V KONSEP 5.1 Konsep Dasar Konsep dasar yang digunakan dalam perancangan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Bagi Anak Putus Sekolah sebagai tempat menerima pendidikan dan mengasah keterampilan yaitu mengambil

Lebih terperinci

Gambar 26. Material Bangunan dan Pelengkap Jalan.

Gambar 26. Material Bangunan dan Pelengkap Jalan. KONSEP Konsep Dasar Street furniture berfungsi sebagai pemberi informasi tentang fasilitas kampus, rambu-rambu jalan, dan pelayanan kepada pengguna kampus. Bentuk street furniture ditampilkan memberikan

Lebih terperinci

KONSEP: KONTRADIKSI SPONTAN

KONSEP: KONTRADIKSI SPONTAN LOKASI: Jl. Mayjend. Sungkono KONSEP: MELINGKAR Pattern merupakan salah satu unsur estetika yang sering hadir pada arsitektur Timur Tengah. Lingkaran merupakan salah satu dari beberapa jenis bentuk pattern

Lebih terperinci

BAB VI DESAIN PERANCANGAN

BAB VI DESAIN PERANCANGAN BAB VI DESAIN PERANCANGAN 6.1 Perancangan Terkait dengan tema perancangan Prambanan Heritage Hotel dan Konvensi sebagai bangunan sebagai lanskap candi Prambanan dan tidak menonjolkan karakter bangunan

Lebih terperinci

SMK PERTANIAN DI TAWANGMANGU DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGIS

SMK PERTANIAN DI TAWANGMANGU DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGIS KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN SMK PERTANIAN DI TAWANGMANGU DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR EKOLOGIS TUGAS AKHIR Diajukan sebagai Syarat untuk Mencapai Gelar Sarjana Teknik Arsitektur Universitas Sebelas

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1. Konsep Dasar Konsep dasar yang melatarbelakangi perancangan stasiun tv TPI didasarkan pada empat isu utama, yaitu : Pembagian sirkulasi yang sederhana, jelas, dan efisien

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1 KONSEP DASAR PERANCANGAN Konsep dasar perancangan penulis sebelumnya melihat peruntukan lahannya, sebelum merancang sebuah bangunan rancangan apa yang pantas pada tapak dengan

Lebih terperinci

H O T E L M A L L A PA R T M E N T S E M A R A N G

H O T E L M A L L A PA R T M E N T S E M A R A N G Sebagai developer dan operator Hotel Tentrem-Yogyakarta, kami persembahkan produk premium terbaru kami, Apartment Tentrem, yang terletak di lokasi paling strategis di kota Semarang dan dibangun diatas

Lebih terperinci

BAB VII RENCANA. 7.1 Mekanisme Pembangunan Rusunawa Tahapan Pembangunan Rusunawa

BAB VII RENCANA. 7.1 Mekanisme Pembangunan Rusunawa Tahapan Pembangunan Rusunawa BAB VII RENCANA 7.1 Mekanisme Pembangunan Rusunawa 7.1.1 Tahapan Pembangunan Rusunawa Agar perencanaan rumah susun berjalan dengan baik, maka harus disusun tahapan pembangunan yang baik pula, dimulai dari

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Pusat Rekreasi Peragaan IPTEK ini terletak di Batu,karena

BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Pusat Rekreasi Peragaan IPTEK ini terletak di Batu,karena BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1 Desain Kawasan 6.1.1 Rancangan Obyek Dalam Tapak Perancangan Pusat Rekreasi Peragaan IPTEK ini terletak di Batu,karena kesesuian dengan fungsi dan kriteria obyek perancangan

Lebih terperinci