BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
|
|
|
- Hendra Surya Tanuwidjaja
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Crush Injury didefinisikan sebagai kompresi ekstremitas atau bagian lain dari tubuh yang menyebabkan pembengkakan otot dan / atau gangguan neurologis di daerah tubuh yang terkena. Biasanya daerah yang terkena dampak dari tubuh termasuk ekstremitas bawah (74%), ekstremitas atas (10%), dan batang (9%). Crush Injury yang terlokalisir dapat menyebabkan manifestasi seistemik yang dikenal dengan Crush Syndrome. Efek sistemik disebabkan oleh traumatik rhabdomyolysis (pengahancuran sel otot) dan pelepasan komponen otot yang berbahaya untuk sel serta elektrolit ke dalam sistem peredaran darah. Crush Syndrome dapat menyebabkan cedera jaringan lokal, disfungsi organ, dan kelainan metabolisme, termasuk asidosis, hiperkalemia dan hypocalcemia. 1 Pengalaman sebelumnya dengan gempa bumi yang menyebabkan kerusakan struktural utama telah menunjukkan bahwa kejadian Crush Syndrome adalah 2-15% dengan sekitar 50% dari mereka dengan Crush Syndrome berkembang menjadi gagal ginjal akut dan lebih dari 50% membutuhkan fasciotomy. Dari mereka dengan gagal ginjal, 50% memerlukan dialisis. 1 Berdasarkan judul yang telah ditetapkan dan sesuai dengan wacana diatas maka penulis menyusun makalah yang berjudul Crush Injury guna memenuhi syarat menjadi anggota khusus Hippocrates Emergency Team Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. 1.2 Batasan Masalah Dari latar belakang diatas, maka batasan masalah dalam makalah ini adalah Bagaimana penatalaksanaan pasien dengan Crush Injury?
2 1.3 Tujuan Tujuan Umum Mengetahui penatalaksanaan crush injury Tujuan Khusus 1. Mengetahui dan memahami definisi crush injury 2. Mengetahui dan memahami epidemiologi crush injury 3. Mengetahui dan memahami etiologi crush injury 4. Mengetahui dan memahami patogenesis crush injury 5. Mengetahui dan memahami manifestasi klinis crush injury 6. Mengetahui dan memahami diagnosis crush injury 7. Mengetahui dan memahami penatalaksanaan crush injury 8. Mengetahui dan memahami komplikasi crush injury 9. Mengetahui dan memahami prognosis crush injury 1.4. Manfaat Penulisan 1. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis mengenai crush injury. 2. Memberikan kontribusi untuk HET dalam menambah ilmu pengetahuan anggota tentang crush injury.
3 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Crush Injury adalah cedera langsung akibat kompresi otot. Crush Syndrome adalah manifestasi sistemik dari kerusakan sel otot yang dihasilkan dari tekanan atau himpitan. [4] 2.2 Epidemiologi dan Sejarah Korban Crush Injury banyak dijumpai pada daerah dengan keadaan seperti berikut [5] : - Perang dan pemberontakan - Gempa bumi dan tanah longsor serta reruntuhan di pertambangan - Kecelakaan lalu lintas - Terorisme Konsekuensi medis dari Crush Syndrome mulai dikenal sejak perang dunia II. Laporan kejadian Crush Syndrome dipublikasikan setelah kejadian-kejadian berikut [2] : July 28, 1976 Tangshan, China Gempa 7,8 SR, orang meninggal; orang cedera Crush Injury. 2 5% korban berkembang menjadi Crush Syndrome November 11, 1982 Tyre, Lebanon Delapan bangunan runtuh. 100 orang terkubur dibawah reruntuhan; 20 korban berhasil diselamatkan, 8 orang korban dengan crush syndrome. December 7, 1988 Armenia, Former Soviet Union Gempa bumi 6,9 SR. Lebih dari 100,000 orang cedera ; 15,254 berhasil diselamatkan dari reruntuhan. January 17, 1995 Kobe, Japan Gempa bumi 7.2 SR; 41,000 orang cedera ; 5,000 korban meninggal
4 2.3 Etio-Patogenesa Kompresi langsung dari otot yang menyebabkan crush injury lokal adalah mekanisme yang paling umum dari rhabdomyolysis traumatis. Kompresi menyebabkan iskemia otot, sebagai tekanan jaringan meningkat ke tingkat yang melebihi tekanan perfusi kapiler. Ketika kompresi hilang, akan terjadi reperfusi jaringan otot. Iskemia otot diikuti oleh reperfusi (iskemia-reperfusi cedera) merupakan dasar pathophysiologic mekanisme rhabdomyolysis dan dibahas secara ekstensif. [2] Gempa bumi, tanah longsor, dan keruntuhan bangunan adalah bencana besar yang menghasilkan jumlah besar korban dengan crush injury dan rhabdomyolysis. [2] Vascular kompromi dari ekstremitas karena trombosis arteri, emboli, gangguan traumatis, atau kompresi eksternal merupakan penyebab umum cedera otot iskemik dan rhabdomyolysis. Cedera vena atau trombosis juga dapat menyebabkan hipertensi vena, yang selanjutnya menurunkan tekanan perfusi kapiler. Durasi iskemia menentukan tingkat cedera otot. Otot rangka dapat mentolerir iskemia hangat sampai 2 jam tanpa kerusakan histologis permanen. Dua sampai empat jam iskemia menyebabkan perubahan anatomi dan fungsional yang ireversibel, dan nekrosis otot biasanya terjadi pada 6 jam iskemia. Dalam 24 jam, perubahan histologis akibat cedera skemia-reperfusi menjadi maksimal. [2] Infeksi jaringan lunak juga dapat menyebabkan rhabdomyolysis. Spesies Legionella dan Streptococcus adalah agen bakteri yang paling umum, tetapi tularemia, spesies Staphylococcus, dan spesies Salmonella juga menjadi agen penyebab. Influenza adalah etiologi yang paling umum dari rhabdomyolisis oleh karena virus, tetapi HIV, virus Coxsackie, dan Epstein- Barr juga telah terlibat. Invasi langsung ke sel otot dan toxin yang dikeluarkan adalah dua mekanisme yang telah diajukan terhadap terjadinya rhabdomyolsis. Risiko kegagalan ginjal akut sekunder untuk rhabdomyolysis parah setelah infeksi berkisar dari 25% menjadi 100%. [2]
5 Cedera listrik dari sambaran petir atau saluran listrik tegangan tinggi memiliki potensi untuk menghasilkan rhabdomyolysis yang cukup untuk menyebabkan gagal ginjal myoglobinuric. Cedera otot disebabkan langsung oleh arus listrik (elektroporasi) dan oleh tinggi suhu yang dihasilkan. Pembuluh darah juga dapat mengental, mengakibatkan kerusakan iskemik tambahan untuk otot. Sampai dengan 10% pasien dengan luka listrik yang parah dapat mengarah ke gagal ginjal. [2] Steroid dan blokade neuromuskuler telah dikaitkan dengan rhabdomyolysis, meskipun mekanisme yang tepat belum diketahui. [2] 2.4 Patogenesis Patogenesis Kerusakan Sel Otot/ Rhabdomiolisis Terjadinya kontraksi otot memperlihatkan terdapat hubungan yang erat antara konsentrasi intraselular ion Sodium Na + dan kalsium Ca 2+. Enzim sarkolemik Na/K ATPase mengatur konsentrasi intraselular ion Na+ agar konsentrasinya tetap berada pada kisaran 10 meq/l. Adanya gradien konsentrasi Na+ antara intra dan ekstraselular menyebbabkan efflux dari ion Ca2+ sebagai pertukaran dengan ion Na+ namun melalui kanal ion yang terpisah. Ini memelihara agar ion Ca+ tetap pada konsentrasi yang lebih rendah dari ekstraselular.[2] Kompresi otot menyebabkan stres mekanik yang membuka kanal ion yang diaktivasi oleh regangan pada memban sel. Hal ini menyebabkan influx cairan dan elektrolit termasuk Na+ dan Ca2+. Sel membengkak dan konsentrasi Ca2+ intraselular meningkat sehingga menyebabkan proses patologi dimulai (Gambar 1).
6 Gambar 1: Patogenesis Rhabdomiolisis Peningkatan dalam aktivitas enzim cytoplasmic neutral proteases menyebabkan degradasi protein myofibrillar [38]; enzim phosphorylase-ca2+ dependent diaktifkan, dan terjadi degradasi membran sel. Selain itu, nucleases diaktifkan, dan produksi ATP di mitokondria berkurang karena adanya hambatan respirasi aerob selular. Iskemia otot yang disebabkan oleh kompresi berkepanjangan atau hasil cedera vaskular menyebabkan metabolisme anaerobik dan penurunan lebih lanjut produksi ATP. Hal ini mengurangi aktivitas Na / K ATPase, yang mengarah ke akumulasi cairan dan ion Ca2+ intraselular. Selain itu peningkatan konsentrasi kemotraktans dari neutrofil juga terjadi pada jaringan post-ischemic yang menyebabkan peningkatan netropil teraktivasi bila terjadi reperfusi. Netropil teraktivasi ini akan mengahncurkan jaringan dengan melepaskan enzim-enzim proteoliktik; menghasilkan radikal bebas; memproduksi asam hipoklorit serta meningkatkan resistensi vaskular. Radikal bebas yang dilepaskan netropil mendegradasi membran sel yang dikenal dengan lipid peroksidasi. Degradasi membran sel menyebabkan permeabilitas membran berkurang dan terjadinya influx cairan dan ion Na+ berlebihan dan berlanjut menjadi edema intra selualar dan lisis sel. Sel otot yang lisis
7 melepas berbagai konten intra selular ke sirkulasi. Efek tersebut terjadi pada iskemia otot lebih dari tiga jam. Pada kelompok otot tertentu, tekanan intracompartmental naik dengan cepat [50]. Ketika tekanan ini melebihi tekanan arteriol-perfusi, tamponade otot dan kerusakan myoneuronal terjadi, menghasilkan sindrom kompartemen. Tanda dan gejala sindrom kompartemen termasuk tegang, otot kompartemen bengkak, nyeri dengan peregangan pasif, parestesia atau anestesi, kelemahan atau kelumpuhan ekstremitas yang terkena, dan pada tahap akhir, denyut nadi perifer berkurang Crush Syndrome Setelah kompresi otot dihilangkan atau gangguan vaskular diperbaiki, isi seluler dari jaringan otot yang terkena dilepaskan ke sirkulasi. Cairan intravaskular juga dapat berpindah ke ekstremitas yang terkena karena permeabilitas kapiler meningkat. Manifestasi sistemik rhabdomyolysis, yang disebabkan oleh hipovolemia dan paparan toksin, adalah komponen dari crush syndrome. Hipovolemia adalah manifestasi pertama yang tersering dari crush syndrome. Pada tahun 1931, Blalock mampu menunjukkan bahwa cairan plasma dalam jumlah besar terakumulasi dalam ekstremitas, menurunkan volume intravaskular dan menyebabkan syok [3]. Substansi sel otot yang dilepaskan dari sel otot yang terkena setelah reperfusi dapat menyebabkan efek sistemik dan mempengaruhi organ-organ vital. Tabel 1. Konten intraselular yang dilepaskan saat rhabdomyolisis dan efeknya [2] Agen Potassium Fosfat Efek Hiperkalemia dan kardiotoksik, disebabkan karena hipovolemi dan hipokalsemia Hiperfosfatemia, memperburuk hipokalsemia dan menyebabkan kasifikasi metastatic
8 Asam Organik Mioglobin Creatin Kinase Tromboplastin Asidosis metabolik dan aciduria Mioglobinuria dan nefrotoksik Peningkatan kreatin kinase serum Disseminated intravacular coagulation Patofisiologi Kerusakan Ginjal Sebanyak 4%-33% pasien dengan rhabdomyolysis akan berujung pada ARF/ Acute Renal Failure dengan tingkat kematian terkait dari 3% sampai 50%. Ada tiga mekanisme utama rhabdomyolysis dapat menyebabkan gagal ginjal : menurunkan perfusi ginjal, pembentukan kristal dengan obstruksi tubular, dan efek langsung dari toksik mioglobin pada tubulus ginjal. Gambar 2: Patofisiologi Kerusakan Ginjal
9 2.5 Manifestasi Klinis Beberapa atau semua hal berikut mungkin menjadi tanda dan gejala crush injury [4] : Kulit cedera - mungkin halus. Pembengkakan - biasanya ditemukan terlambat. Kelumpuhan menjadi diagnosis banding untuk cedera spinal Parestesia, mati rasa - dapat menutupi tingkat kerusakan. Nyeri - sering menjadi parah setelah dibebaskan. Pulsasi pulsasi arteri distal mungkin atau tidak mungkin ada. Myoglobinuria - urin mungkin menjadi merah gelap atau coklat, menunjukkan adanya mioglobin. Hiperkalemia- ditandai dengan timbulnya disritmia jantung Sindrom kompartemen Tanda dan gejala yang berhubungan dengan ini meliputi: Parah nyeri pada ekstremitas yang terlibat. Nyeri pada pasif peregangan otot-otot yang terlibat. Penurunan sensasi di cabang-cabang saraf perifer terlibat. Peningkatan intracompartmental tekanan pada manometry langsung. Kebocoran membran sel dan kapiler menyebabkan cairan intravaskular ke terakumulasi dalam jaringan terluka. Hal ini menyebabkan hipovolemia signifikan dan akhirnya syok hipovolemik [4] Pelepasan mendadak dari ekstremitas yang terhimpit dapat menyebabkan sindrom reperfusi- hipovolemia akut dan kelainan metabolik. Kondisi ini dapat menyebabkan aritmia jantung yang mematikan. Selanjutnya, pelepasan tiba-tiba racun dari otot nekrotik ke dalam sistem peredaran darah menyebabkan myoglobinuria, yang menyebabkan gagal ginjal akut jika tidak diobati. [1]
10 2.6 Diagnosa [6] Tes Darah Pemeriksaan Mioglobin Pelepasan mioglobin ke dalam sirkulasi harus dipertimbangkan setiap kali ada cedera otot yang signifikan. Nilai serum yang normal bervariasi tergantung pada hasil laboratorium, tapi biasanya kurang dari 85 ng / ml. Dengan kerusakan otot yang signifikan, nilai serum dapat mencapai lebih dari ng / ml. Tingat miogloin serum lebih tinggi daripada mioglobin urin, namun, eksresi di ginjal menyebabkan mioglobin urin akan lebih tinggi dari serum. Pelacakan nilai mioglobin baik serum dan urin adalah cara terbaik untuk mengikuti perkembangan dan resolusi Crush Injury. Pemeriksaan dipstick Urin Sebuah tes sederhana namun cepat untuk rhabdomyolysis dapat dilakukan dengan dipstick urin standar. Bagian heme dari mioglobin menyebabkan pembacaan positif untuk darah pada tes strip, dan heme-positif pada urin bila tidak adanya sel darah merah pada pemeriksaan mikroskopis menunjukkan myoglobinuria. Namun, temuan dipstick positif hanya sekitar setengah dari pasien dengan rhabdomyolysis. Phosphokinase creatine (CPK) merupakan penanda kerusakan otot. CPK dilepaskan dengan adanya kerusakan otot. Dengan rhabdomyolysis, tingkat yang sangat tinggi, seringkali lebih dari unit / L dan berkorelasi dengan jumlah otot yang rusak. Kejadian gagal ginjal menjadi signifikan pada ambang batas hanya unit / L. Tingkat ini harus segera evaluasi dan intervensi agresif Pemeriksaan Lain [7] : EKG bisa menunjukkan perubahan sekunder untuk hiperkalemia. Penilaian biasa untuk trauma, termasuk X-ray, harus dilakukan. Penilaian tekanan kompartemen (lihat 'Komplikasi', di bawah ini)
11 2.7 Tatalaksana Manajemen Pra-rumah sakit [1] : Administer cairan intravena sebelum melepaskan bagian tubuh yang hancur. Langkah ini sangat penting dalam kasus crush injury yang berkepanjangan (> 4 jam), namun, Crush Syndrome dapat terjadi <1jam. Jika prosedur ini tidak mungkin, pertimbangkan penggunaan jangka pendek dari tourniquet pada anggota badan yang terkena sampai hidrassi intravena (IV) dapat dimulai Manajemen Rumah Sakit [4] : Umum Korban crush injury harus diperlakukan awalnya sebagaimana setiap korban trauma multipe lainnya, sesuai dengan pedoman bantuan hidup dasar. Jalan nafas harus dijamin dan terlindung dari debu. Ventilasi yang memadai harus dipastikan dan dipelihara bersama dengan oksigenasi yang memadai. Dalam situasi bencana dengan persediaan terbatas, mungkin bijaksana untuk menghemat oksigen dengan menggunakan laju aliran terendah yang diperlukan untuk mengoksidasi seperti yang ditunjukkan dengan pengukuran saturasi oksigen dan penilaian klinis. Sirkulasi harus didukung dan syok harus segera diatasi. Seperti disebutkan sebelumnya, sangat penting untuk berkoordinasi dengan tim penyelamatan sehingga pengobatan dapat dimulai sebelum pasien diselamatkan dari himpitan Cairan intravena Normal saline adalah pilihan awal yang baik. Setelah kompresi diangkat, sangat penting untuk mempertahankan output urine yang tinggi. Penempatan kateter Foley akan memungkinkan pengukuran output urin yang lebih akurat serta ph. Satu rumus yang dapat digunakan untuk mempertahankan output urin alkali dari 8 L / hari adalah infus dari 12 L / hari. Cairan yang digunakan adalah Normal Saline Solution (NSS) dengan 50 meq natrium bikarbonat per liter
12 cairan, ditambah 120 gram sehari manitol untuk mempertahankan output urin dan mencegah gagal ginjal akut. Rejimen lain adalah 12 hari / d (500 ml / jam) dari larutan yang mengandung natrium, 110 mmol / L, klorida, 70 mmol / L, bikarbonat, 40 mmol / L, dan manitol, 10 gm / L Sodium Bikarbonat Sodium Bikarbonat akan memperbaiki asidosis yang sudah ada sebelumnya yang sering hadir. Ini adalah salah satu langkah pertama dalam mengobat hiperkalemia. Hal ini juga akan meningkatkan ph urin, sehingga menurunkan jumlah mioglobin yang mengendap di ginjal. Disarankan bahwa 50 sampai 100 meq bikarbonat, tergantung pada tingkat keparahan cedera, akan diberikan kepada korban sebelum kompresi dihilangkan. Hal ini dapat diikuti dengan infus bikarbonat Pengobatan Hiperkalemia Selain natrium bikarbonat, perawatan lain mungkin diperlukan untuk membalikkan hiperkalemia, tergantung pada tingkat keparahan cedera: Insulin dan glukosa. Kalsium - intravena untuk memperbaiki disritmia. Beta-2 agonists - albuterol, metaproterenol sulfat (Alupent), dll Dialisis, terutama pada pasien dengan akut gagal ginnjal alkaline diuresis Pengobatan lain yang telah digunakan adalah dopamin dengan dosis 2 sampai 5 mg / kg / menit dan furosemide di 1 mg / kg. Acetazolamide, 250 sampai 500 mg, dapat digunakan jika pasien menjadi terlalu alkalotic intravena Manitol Manitol intravena memiliki tindakan menguntungkan terhadap korban crush injury. Manitol melindungi ginjal dari efek rhabdomyolysis, meningkatkan volume
13 cairan ekstraselular, dan meningkatkan kontraktilitas jantung. Selain itu, administrasi manitol intravena selama 40 menit berhasil mengobati sindrom komparteme. Manitol dapat diberikan dalam dosis 1 gram / kg atau ditambahkan ke cairan intravena pasien sebagai infus kontinyu. Dosis maksimum adalah 200 gm / d, dosis yang lebih tinggi dari ini dapat menyebabkan ginjal kegagalan. Manitol harus diberikan hanya setelah aliran urin yang baik telah dibentuk dengan cairan IV Perawatan Luka Luka harus dibersihkan, debridement, dan ditutup dengan dressing steril dalam biasa fashion. Belat dahan di tingkat jantung akan membantu untuk membatasi edema dan mempertahankan perfusi. Antibiotik intravena sering digunakan. Obatobatan untuk mengontrol rasa sakit dapat diberikan sebagai yang sesuai. Torniket yang kontroversial dan biasanya tidak diperlukan Hyperbaric Oksigen Ada laporan kasus oksigen hiperbarik meningkatkan hasil korban crush injury. Penggunaan modalitas ini akan terbatas dalam situasi bencana karena kurangnya akses ke ruang hiperbarik Amputasi Amputasi di lapangan harus digunakan hanya sebagai upaya terakhir. Ini. adalah strateggi penyelamatan untuk korban yang tidak dapat dilepaskan dari himpitan reruntuhan. Ini adalah prosedur sulit yang sangat meningkatkan risiko infeksi dan perdarahan Fasciotomy Fasciotomy di lapangan juga merupakan prosedur yang kontroversial, yang selanjutnya dapat mengekspos pasien dengan risiko infeksi dan perdarahan. Mengkonversi cedera tertutup ke yang terbuka, dapat menyebabkan infeksi dan sepsis. Beberapa studi menunjukkan hasil yang buruk pada pasien yang menerima fasciotomy dibandingkan dengan mereka tidak. Hal ini dilakukan bila adanya peningkatan tekanan intracompartemental. Fasciotomy dirasakan berguna dalam kasus mencegah kontraktur iskemik Volkman dari. Di Israel, fasciotomy disediakan sebagai pengobatan pilihan terakhir dalam kasus-kasus refrakter terhadap penggunaan manitol intravena.7
14 Algoritma tatalaksana Crush Syndrome dan pencegahan gagal ginjal[8]
15 2.8 Komplikasi Hiperkalemia dan infeksi adalah penyebab kematian paling umum. Hiperkalemia dapat menyebabkan aritmia dan cardiac arrest. Infeksi merupakan penyebab utama kematian di zona bencana. Cedera ginjal akut dapat terjadi. Sindrom kompartemen dapat terjadi karena penyerapan cairan ke dalam sel otot yang terkandung dalam kompartemen yang ketat. Fasciotomy berguna dalam mengurangi kerusakan otot dari sindrom kompartemen. Ini harus dilakukan sejak dini. Koagulasi intravaskular diseminata (DIC) dapat terjadi dengan kerusakan jaringan besar. 2.9 Prognosis [7] Prognosis korban crush injury dapat dipengaruhi beberapa faktor berikut: Dukungan cairan yang cukup dapat meningkatkan prognosis. Tingkat kematian untuk crush syndrome menyusul gempa di Turki utara pada tahun 1999 adalah 15,2%. Namun, tingkat kematian pada gempa berikutnya telah bervariasi dan diperkirakan bahwa banyak faktor dapat mempengaruhi kelangsungan hidup, seperti penyelamatan terhambat dan transportasi, menghancurkan fasilitas medis, ketersediaan terapi canggih dan metode konstruksi bangunan yang roboh. Waktu di bawah reruntuhan tidak memiliki efek buruk pada hasil tapi ini mungkin karena orang-orang yang bertahan hidup telah terluka parah. Telah direkomendasikan bahwa pemulihan korban harus terus setidaknya selama lima hari [12]. Siapapun yang telah terkubur di bawah reruntuhan untuk jangka waktu akan mengalami dehidrasi dan karenanya lebih rentan terhadap kerusakan ginjal. Mungkin pula ada luka lain, misalnya kompresi dada dan cedera tulang belakang.
16 PENUTUP 3.1. Kesimpulan Crush injury adalah cedera langsung akibat kompresi pada otot yang dapat bermanifestasi secara sistemik yang dikena sebagai crush syndrome. Penyebab terbanyak dari crush syndrome adalah trauma langsung seperti tertimpa reruntuhan bangunan saat terjadi gempa, kecelakaan lalu lintas, reruntuhan tambang dan lainya. Konsekuensi medis dari Crush Syndrome mulai dikenal sejak perang dunia II. Konsekuensi crush injury adalah Crush syndrome. Berpindahnya cairan intravaskular dalam jumlah besar ke jaringan yang cedera akan menyebabkan syok hipovolemik yang menjadi penyebab kematian utama pada onset awal crush injury. Kerusakan sel-sel otot akan melepaskan zat-zat intraseluler yang toksik terhadap sistemik seperti mioglobin, ion kalsium, ion pospat, dan zat-zat pendukung radang lainnya. Lepasnya zat-zat terssebut ke sirkulasi dapat menyebabkan gagal ginjal akut karena obstruksi oleh mioglobin di tubulus ginjal. Pemeriksaan yang dilakukan, disesuaikan dengan gejala-gejala yang timbul sistemik sesuai dengan perjalanan penyakitnya terutama ditujukan pada kadar encim Creatine Pospatase dan Mioglobin dalam urin. Diagnosis ditegakkan adalah berdasarkan manifestasi klinik dan pemeriksaan urin. Kejadian crush syndrome ini biasanya dibarengi dengan Sindro Kompartmen yang akan memperparah rhabdomyolisis. Pencegahan crush syndrome harus dilakukan sedini mungkin bahkan sebelum dilakukan evakuasi korban dari kompresinya. Manajemen pre hospital berperan sangat krusial agar crush syndrome dengan gagal ginjal akut tidak terjadi sehingga dialisis yang biayanya mahalpun tak perlu dilakukan. Komplikasi yang terjadi berkaitan dengan multiple trauma terbuka yakni infeksi, perdarahan, serta gangguan pembekuan darah Disseminata intravaskular koagulasi. 3.2 Saran Sebagai organisasi yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan, semua anggota Hippocrates Emergency Team harus mengetahui apa saja jenis-jenis kasus kegawatdaruratan medis serta aspek-aspek yang mencakupi sampai dengan penatalaksanaannya, salah satunya adalah crush Syndrome seperti yang dibahas diatas.
17 1. US DEPARTMENT OF HEALTH AND HUMAN SERVICES CENTERS FOR DISEASE CONTROL AND PREVENTION 2. Crush injury and rhabdomyolysis Darren J. alinoski, MDa,b,*, Matthew S. Slater, MDc, Richard J. Mullins, MDa,b,d 3. Blalock A. Experimental shock: the probable cause for the reduction in the blood pressure following mild trauma to as extremity. Arch Surg 1931;22: James r dickson 5. FF Carl Bittenbender, MS, NREMT-B Tracy So Trauma/ICU conference Crush Injury dan Rhabdomyolisis 9.
LAPORAN PENDAHULUAN CRUSH INJURY
LAPORAN INDIVIDU LAPORAN PENDAHULUAN CRUSH INJURY Disusun untuk Memenuhi Tugas Laporan Individu Profesi Ners Departemen Emergency di IGD RSUD Dr. Iskak Tulungagung OLEH: Reza Fitra Kusuma Negara NIM. 120070300011074
I. PENDAHULUAN. Air merupakan komponen terbesar dari tubuh sekitar 60% dari berat badan
1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Air merupakan komponen terbesar dari tubuh sekitar 60% dari berat badan rata-rata orang dewasa (70 kg). Total air tubuh dibagi menjadi dua kompartemen cairan
BAB I PENDAHULUAN. Penelitian yang berskala cukup besar di Indonesia dilakukan oleh
BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Penelitian yang berskala cukup besar di Indonesia dilakukan oleh survei ASNA (ASEAN Neurological Association) di 28 rumah sakit (RS) di seluruh Indonesia, pada penderita
SYOK/SHOCK SITI WASLIYAH
SYOK/SHOCK SITI WASLIYAH SYOK sebagai kondisi kompleks yang mengancam jiwa, yang ditandai dengan tidak adekuatnya aliran darah ke jaringan dan sel-sel tubuh (Rice 1991). Komponen-komponen aliran darah
PENDAHULUAN ETIOLOGI EPIDEMIOLOGI
PENDAHULUAN Hemotoraks adalah kondisi adanya darah di dalam rongga pleura. Asal darah tersebut dapat dari dinding dada, parenkim paru, jantung, atau pembuluh darah besar. Normalnya, rongga pleura hanya
BAB I PENDAHULUAN. sebagai trauma mayor karena tulang femur merupakan tulang yang sangat kuat, sehingga
BAB I PENDAHULUAN 1.1.1 Latar Belakang Fraktur femur merupakan salah satu trauma mayor di bidang Orthopaedi. Dikatakan sebagai trauma mayor karena tulang femur merupakan tulang yang sangat kuat, sehingga
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obat dikeluarkan dari tubuh melalui berbagai organ ekskresi dalam bentuk asalnya atau dalam bentuk metabolit hasil biotransformasi. Ekskresi di sini merupakan hasil
Gagal Ginjal Akut pada bayi dan anak
Gagal Ginjal Akut pada bayi dan anak Haryson Tondy Winoto, dr,msi.med. Sp.A Bag. IKA UWK ANATOMI & FISIOLOGI GINJAL pada bayi dan anak Nefrogenesis : s/d 35 mg fetal stop Nefron : unit fungsional terkecil
BAB 1 PENDAHULUAN. sistem kardiovaskular dalam keadaan optimal yaitu dapat menghasilkan aliran
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Tujuan dari terapi cairan perioperatif adalah menyediakan jumlah cairan yang cukup untuk mempertahankan volume intravaskular yang adekuat agar sistem kardiovaskular
BAB I LATAR BELAKANG. A. Latar Belakang Masalah. Analisis Gas Darah merupakan salah satu alat. diagnosis dan penatalaksanaan penting bagi pasien untuk
BAB I LATAR BELAKANG A. Latar Belakang Masalah Analisis Gas Darah merupakan salah satu alat diagnosis dan penatalaksanaan penting bagi pasien untuk mengetahui status oksigenasi dan keseimbangan asam basa.
Syok Syok Hipovolemik A. Definisi B. Etiologi
Syok Syok adalah suatu sindrom klinis yang terjadi akibat gangguan hemodinamik dan metabolik ditandai dengan kegagalan sistem sirkulasi untuk mempertahankan perfusi yang adekuat ke organ-organ vital tubuh.
MAKALAH KOMA HIPERGLIKEMI
MAKALAH KOMA HIPERGLIKEMI OLEH: Vita Wahyuningtias 07.70.0279 Daftar Isi Bab 1 Pendahuluan...1 Bab 2 Tujuan...2 Bab 3 Pembahasan...3 1. Pengertian...3 2. Etiologi...4 3. Patofisiologi...4 4. Gejala dan
a. Cedera akibat terbakar dan benturan b. Reaksi transfusi yang parah c. Agen nefrotoksik d. Antibiotik aminoglikosida
A. Pengertian Gagal Ginjal Akut (GGA) adalah penurunan fungsi ginjal mendadak dengan akibat hilangnya kemampuan ginjal untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Akibat penurunan fungsi ginjal terjadi peningkatan
PELATIHAN NEFROLOGI MEET THE PROFESSOR OF PEDIATRICS. TOPIK: Tata laksana Acute Kidney Injury (AKI)
PELATIHAN NEFROLOGI MEET THE PROFESSOR OF PEDIATRICS TOPIK: Tata laksana Acute Kidney Injury (AKI) Pembicara/ Fasilitator: DR. Dr. Dedi Rachmadi, SpA(K), M.Kes Tanggal 15-16 JUNI 2013 Continuing Professional
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN. Setiawan, S.Kp., MNS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN SHOCK HYPOVOLEMIK Setiawan, S.Kp., MNS KLASIFIKASI SHOCK HYPOVOLEMIC SHOCK CARDIOGENIC SHOCK SEPTIC SHOCK NEUROGENIC SHOCK ANAPHYLACTIC SHOCK TAHAPAN SHOCK TAHAP INISIAL
Kesetimbangan asam basa tubuh
Kesetimbangan asam basa tubuh dr. Syazili Mustofa, M.Biomed Departemen Biokimia, Biologi Molekuler dan Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung ph normal darah Dipertahankan oleh sistem pernafasan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gagal jantung adalah keadaan patofisiologi dimana jantung gagal mempertahankan sirkulasi adekuat untuk kebutuhan tubuh meskipun tekanan pengisian cukup. Gagal jantung
BAB 1 PENDAHULUAN. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang, retak atau patahnya tulang yang utuh, yang biasanya disebabkan oleh trauma /ruda paksa atau tenaga fisik yang ditentukan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Syok Hipovolemik 2.1.1 Definisi Syok hipovolemik didefinisikan sebagai penurunan perfusi dan oksigenasi jaringan disertai kolaps sirkulasi yang disebabkan oleh hilangnya volume
Dr. Ade Susanti, SpAn Bagian anestesiologi RSD Raden Mattaher JAMBI
Dr. Ade Susanti, SpAn Bagian anestesiologi RSD Raden Mattaher JAMBI Mempunyai kekhususan karena : Keadaan umum pasien sangat bervariasi (normal sehat menderita penyakit dasar berat) Kelainan bedah yang
TERAPI CAIRAN MAINTENANCE. RSUD ABDUL AZIS 21 April Partner in Health and Hope
TERAPI CAIRAN MAINTENANCE RSUD ABDUL AZIS 21 April 2015 TERAPI CAIRAN TERAPI CAIRAN RESUSITASI RUMATAN Kristaloid Koloid Elektrolit Nutrisi Mengganti Kehilangan Akut Koreksi 1. Kebutuhan normal 2. Dukungan
1. Asetat dimetabolisme di otot, dan masih dapat ditolelir pada pasien yang mengalami gangguan hai
ASERING JENIS-JENIS CAIRAN INFUS Dehidrasi (syok hipovolemik dan asidosis) pada kondisi: gastroenteriis akut, demam berdarah dengue (DHF), luka bakar, syok hemoragik, dehidrasi berat, trauma. Komposisi:
Derajat 2 : seperti derajat 1, disertai perdarah spontan di kulit dan atau perdarahan lain
Demam berdarah dengue 1. Klinis Gejala klinis harus ada yaitu : a. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlagsung terus menerus selama 2-7 hari b. Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Selama proses pencernaan, karbohidrat akan dipecah dan diserap di dinding
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Glukosa Karbohidrat merupakan salah satu senyawa yang penting dalam tubuh manusia. Senyawa ini memiliki peran struktural dan metabolik yang penting. 10 Selama proses pencernaan,
TINJAUAN PUSTAKA. Ginjal adalah system organ yang berpasangan yang terletak pada rongga
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Ginjal Ginjal adalah system organ yang berpasangan yang terletak pada rongga retroperitonium. Secara anatomi ginjal terletak dibelakang abdomen atas dan di kedua sisi kolumna
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kafein banyak terkandung dalam kopi, teh, minuman cola, minuman berenergi, coklat, dan bahkan digunakan juga untuk terapi, misalnya pada obatobat stimulan, pereda nyeri,
Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Emboli Cairan
Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Emboli Cairan Definisi Emboli Cairan Emboli cairan ketuban merupakan sindrom dimana setelah jumlah besar cairan ketuban memasuki sirkulasi darah maternal, tiba-tiba
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Stroke adalah salah satu penyakit yang sampai saat ini masih menjadi masalah serius di dunia kesehatan. Stroke merupakan penyakit pembunuh nomor dua di dunia,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelapa (Cocos nucifera L.) adalah salah satu dari tumbuhan yang paling banyak manfaatnya di dunia, khususnya di daerah tropis seperti di Indonesia. Selain mudah ditemukan,
1 Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gangguan pada hepar dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, antara lain virus, radikal bebas, maupun autoimun. Salah satu yang banyak dikenal masyarakat adalah
ASKEP GAWAT DARURAT ENDOKRIN
ASKEP GAWAT DARURAT ENDOKRIN Niken Andalasari PENGERTIAN Hipoglikemia merupakan keadaan dimana didapatkan penuruan glukosa darah yang lebih rendah dari 50 mg/dl disertai gejala autonomic dan gejala neurologic.
G R A C I A C I N T I A M A S S I E P E M B I M B I N G : D R. A G U S K O O S H A RT O R O, S P. P D
HIPOKALEMIA GRACIA CINTIA MASSIE PEMBIMBING : DR. AGUS KOOSHARTORO, SP.PD DEFINISI Hipokalemia adalah suatu keadaan dimana konsentrasi kalium dalam darah dibawah 3.5 meq/l yang disebabkan oleh berkurangnya
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cairan ekstrasel terdiri dari cairan interstisial (CIS) dan cairan intravaskular. Cairan interstisial mengisi ruangan yang berada di antara sebagian sel tubuh dan menyusun
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada setiap pembedahan, dilakukan suatu tindakan yang bertujuan untuk baik menghilangkan rasa nyeri yang kemudian disebut dengan anestesi. Dan keadaan hilangnya
BAB I PENDAHULUAN DEFINISI ETIOLOGI
BAB I PENDAHULUAN Banyaknya jenis status epileptikus sesuai dengan bentuk klinis epilepsi : status petitmal, status psikomotor dan lain-lain. Di sini khusus dibicarakan status epileptikus dengan kejang
LAPORAN PENDAHULUAN. PADA PASIEN DENGAN KASUS CKR (Cedera Kepala Ringan) DI RUANG ICU 3 RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG
LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN KASUS CKR (Cedera Kepala Ringan) DI RUANG ICU 3 RSUD Dr. ISKAK TULUNGAGUNG A. DEFINISI CKR (Cedera Kepala Ringan) merupakan cedera yang dapat mengakibatkan kerusakan
ASIDOSIS RESPIRATORIK
ASIDOSIS RESPIRATORIK A. PENGERTIAN. Asidosis Respiratorik (Kelebihan Asam Karbonat). 1. Asidosis Respiratorik adalah gangguan klinis dimana PH kurang dari 7,35 dan tekanan parsial karbondioksida arteri
SOP TINDAKAN ANALISA GAS DARAH (AGD)
SOP TINDAKAN ANALISA GAS DARAH (AGD) 1. Analisa Gas Darah Gas darah arteri memungkinkan utnuk pengukuran ph (dan juga keseimbangan asam basa), oksigenasi, kadar karbondioksida, kadar bikarbonat, saturasi
Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA)
Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Penyakit flu umumnya dapat sembuh dengan sendirinya jika kita cukup istirahat, makan teratur, dan banyak mengkonsumsi sayur serta buah-buahan. Namun demikian,
BAB I PENDAHULUAN. Gagal ginjal kronis atau End Stage Renal Desease (ESRD) merupakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gagal ginjal kronis atau End Stage Renal Desease (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan ireversibel dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan
Author : Liza Novita, S. Ked. Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau Doctor s Files: (http://www.doctors-filez.
Author : Liza Novita, S. Ked Faculty of Medicine University of Riau Pekanbaru, Riau 2009 0 Doctor s Files: (http://www.doctors-filez.tk GLOMERULONEFRITIS AKUT DEFINISI Glomerulonefritis Akut (Glomerulonefritis
disebabkan internal atau eksternal trauma, penyakit atau cedera. 1 tergantung bagian neurogenik yang terkena. Spincter urinarius mungkin terpengaruhi,
Fungsi normal kandung kemih adalah mengisi dan mengeluarkan urin secara terkoordinasi dan terkontrol. Aktifitas koordinasi ini diatur oleh sistem saraf pusat dan perifer. Neurogenic bladdre adalah keadaan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Patofisiologi Selama kehamilan normal, sitotrofoblas vili menginvasi hingga ke sepertiga bagian dalam miometrium, dan arteri spiralis kehilangan endotelium dan sebagian besar
Definisi fisiologi / ilmu faal Manusia sistem organ organ sel Sistem organ
Definisi fisiologi / ilmu faal Manusia sistem organ organ sel Sistem organ Membran sel Membran nukleus Retikulum endoplasma Aparatus golgi Mitokondria lisosom Kurnia Eka Wijayanti 60 % dari berat tubuh
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ginjal mempunyai peran yang sangat penting dalam mengaja kesehatan tubuh secara menyeluruh karena ginjal adalah salah satu organ vital dalam tubuh. Ginjal berfungsi
BAB I PENDAHULUAN. mengeksresikan zat terlarut dan air secara selektif. Fungsi vital ginjal
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ginjal menjalankan fungsi yang vital sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah dan lingkungan dalam tubuh dengan mengeksresikan zat terlarut dan air secara selektif.
UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan sindrom klinis yang bersifat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan sindrom klinis yang bersifat progresif dan dapat menyebabkan kematian pada sebagian besar kasus stadium terminal (Fored, 2003). Penyakit
DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK. Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN
DETEKSI DINI DAN PENCEGAHAN PENYAKIT GAGAL GINJAL KRONIK Oleh: Yuyun Rindiastuti Mahasiswa Fakultas Kedokteran UNS BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Di negara maju, penyakit kronik tidak menular (cronic
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gagal ginjal kronik atau penyakit ginjal tahap akhir adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gagal ginjal kronik atau penyakit ginjal tahap akhir adalah penyimpangan progresif, fungsi ginjal yang tidak dapat pulih dimana kemampuan tubuh untuk mempertahankan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Management of Severe Sepsis and Septic Shock: 2012, sepsis didefinisikan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sepsis 2.1.1 Definisi Menurut Surviving Sepsis Campaign: International Guidelines for Management of Severe Sepsis and Septic Shock: 2012, sepsis didefinisikan sebagai munculnya
BAB 1 PENDAHULUAN. arrhythmias, hypertension, stroke, hyperlipidemia, acute myocardial infarction.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian pada negara maju antara lain heart failure, ischemic heart disease, acute coronary syndromes, arrhythmias,
Hubungan Hipertensi dan Diabetes Melitus terhadap Gagal Ginjal Kronik
Hubungan Hipertensi dan Diabetes Melitus terhadap Gagal Ginjal Kronik Latar Belakang Masalah Gagal ginjal kronik merupakan keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif dan irreversibel yang berasal dari
INDONESIA HEALTHCARE FORUM Bidakara Hotel, Jakarta WEDNESDAY, 3 February 2016
AKSES VASKULAR INDONESIA HEALTHCARE FORUM Bidakara Hotel, Jakarta WEDNESDAY, 3 February 2016 TUJUAN : Peserta mengetahui tentang pentingnya akses vaskular. Peserta mengetahui tentang jenis akses vaskular.
BAB III PEMBAHASAN. Dari 2 artikel tentang syok traumatik diatas membahas tentang syok traumatik yaitu syok
BAB III PEMBAHASAN Dari 2 artikel tentang syok traumatik diatas membahas tentang syok traumatik yaitu syok karena trauma tidak dikatakan sebagai syok hipovolemik, selain itu juga dalam penatalaksanaan
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang disebabkan kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia, listrik, dan radiasi.
Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya
Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya Diabetes type 2: apa artinya? Diabetes tipe 2 menyerang orang dari segala usia, dan dengan gejala-gejala awal tidak diketahui. Bahkan, sekitar satu dari tiga orang dengan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. yang tinggi dan seringkali tidak terdiagnosis, padahal dengan menggunakan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kejadian AKI (Acute Kidney Injury) masih mempunyai angka kematian yang tinggi dan seringkali tidak terdiagnosis, padahal dengan menggunakan kriteria diagnosis
MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL
MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL Pendahuluan Parasetamol adalah golongan obat analgesik non opioid yang dijual secara bebas. Indikasi parasetamol adalah untuk sakit kepala, nyeri otot sementara, sakit menjelang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infeksi Dengue telah menjadi masalah kesehatan masyarakat tidak hanya di Indonesia namun juga di dunia internasional. Infeksi Dengue terutama Dengue Haemorrhagic
ETIOLOGI : 1. Ada 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab: Virus Hepatitis A (HAV) Virus Hepatitis B (VHB) Virus Hepatitis C (CV) / Non A Non B
HEPATITIS REJO PENGERTIAN: Hepatitis adalah inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan kimia ETIOLOGI : 1. Ada 5
BAB I PENDAHULUAN. pankreas tidak lagi memproduksi insulin atau ketika sel-sel tubuh resisten
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak lagi memproduksi insulin atau ketika sel-sel tubuh resisten terhadap kerja insulin
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah DBD merupakan penyakit menular yang disebabkan virus dengue. Penyakit DBD tidak ditularkan secara langsung dari orang ke orang, tetapi ditularkan kepada manusia
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. coba setelah pemberian polisakarida krestin (PSK) dari jamur Coriolus versicolor
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Data primer berupa gambaran histologi ginjal dan kadar kreatinin hewan coba setelah pemberian polisakarida krestin (PSK) dari jamur Coriolus versicolor
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gejala Klinis Benih Lele Sangkuriang yang terinfeksi Aeromonas hydrophila Pengamatan gejala klinis benih lele sangkuriang yang diinfeksikan Aeromonas hydrophila meliputi
Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan
Universitas Indonusa Esa Unggul FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT Jurusan Perekam Medis dan Informasi Kesehatan Conducted by: Jusuf R. Sofjan,dr,MARS 2/17/2016 1 Tubuh manusia : 60 % ( sebagian besar ) terdiri
4. Fase Luka Bakar 1) Fase Awal/Akut/shock, keadaan yang ditimbulkan berupa : a. Cedera Inhalasi Mekanisme trauma dibagi 3
LUKA BAKAR 1. Definisi Kerusakan / kehilangan jaringan akibat kontak dengan sumber panas : api, air panas, bahan kimia, listrik dan radiasi. Prognosis penderita diramalkan jelek bila : luas luka bakar
Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)
Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi) Data menunjukkan bahwa ratusan juta orang di seluruh dunia menderita penyakit hipertensi, sementara hampir 50% dari para manula dan 20-30% dari penduduk paruh baya di
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit ginjal adalah salah satu penyebab paling penting dari kematian dan cacat tubuh di banyak negara di seluruh dunia (Guyton & Hall, 1997). Sedangkan menurut
BAB I PENDAHULUAN. Peningkatan usia harapan hidup penduduk dunia membawa dampak
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peningkatan usia harapan hidup penduduk dunia membawa dampak terhadap pergeseran epidemiologi penyakit. Kecenderungan penyakit bergeser dari penyakit dominasi penyakit
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Glomerulonefritis akut masih menjadi penyebab. morbiditas ginjal pada anak terutama di negara-negara
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Glomerulonefritis akut masih menjadi penyebab morbiditas ginjal pada anak terutama di negara-negara berkembang meskipun frekuensinya lebih rendah di negara-negara maju
Pertukaran cairan tubuh sehari-hari (antar kompartemen) Keseimbangan cairan dan elektrolit:
Keseimbangan cairan dan elektrolit: Pengertian cairan tubuh total (total body water / TBW) Pembagian ruangan cairan tubuh dan volume dalam masing-masing ruangan Perbedaan komposisi elektrolit di intraseluler
HASIL DAN PEMBAHASAN
21 HASIL DAN PEMBAHASAN Pada setiap sediaan otot gastrocnemius dilakukan tiga kali perekaman mekanomiogram. Perekaman yang pertama adalah ketika otot direndam dalam ringer laktat, kemudian dilanjutkan
mekanisme penyebab hipoksemia dan hiperkapnia akan dibicarakan lebih lanjut.
B. HIPERKAPNIA Hiperkapnia adalah berlebihnya karbon dioksida dalam jaringan. Mekanisme penting yang mendasari terjadinya hiperkapnia adalah ventilasi alveolar yang inadekuat untuk jumlah CO 2 yang diproduksi
1 Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hepar merupakan organ terbesar dalam tubuh manusia, dengan berat 1.200-1.500 gram. Pada orang dewasa ± 1/50 dari berat badannya sedangkan pada bayi ± 1/18 dari berat
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN. SISTEM IMUNITAS Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Gangguan Sistem Immunitas Niken Andalasari Sistem Imunitas Sistem imun atau sistem kekebalan tubuh
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sakit kritis nondiabetes yang dirawat di PICU (Pediatric Intensive Care Unit)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hiperglikemia sering terjadi pada pasien kritis dari semua usia, baik pada dewasa maupun anak, baik pada pasien diabetes maupun bukan diabetes. Faustino dan Apkon (2005)
BAB I PENDAHULUAN. Hipertensi dalam kehamilan masih merupakan masalah besar. dalam bidang obstetri, dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hipertensi dalam kehamilan masih merupakan masalah besar dalam bidang obstetri, dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi baik pada ibu maupun bayi. Hipertensi
BAB I PENDAHULUAN. perekrutan dan aktivasi trombosit serta pembentukan trombin dan fibrin 1. Proses
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hemostasis adalah proses yang mempertahankan integritas sistem peredaran darah setelah terjadi kerusakan vaskular. Dalam keadaan normal, dinding pembuluh darah yang
Diabetes Mellitus Type II
Diabetes Mellitus Type II Etiologi Diabetes tipe 2 terjadi ketika tubuh menjadi resisten terhadap insulin atau ketika pankreas berhenti memproduksi insulin yang cukup. Persis mengapa hal ini terjadi tidak
EMBOLI CAIRAN KETUBAN
EMBOLI CAIRAN KETUBAN DEFINISI Sindroma akut, ditandai dyspnea dan hipotensi, diikuti renjatan, edema paru-paru dan henti jantung scr cepat pd wanita dlm proses persalinan atau segera stlh melahirkan sbg
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Sirosis hati merupakan penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya dimulai dengan adanya proses peradangan,
BAB I PENDAHULUAN. dapat menyebabkan perubahan hemodinamik yang signifikan.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Propofol telah digunakan secara luas untuk induksi dan pemeliharaan dalam anestesi umum. Obat ini mempunyai banyak keuntungan seperti mula aksi yang cepat dan pemulihan
2003). Hiperglikemia juga menyebabkan leukosit penderita diabetes mellitus tidak normal sehingga fungsi khemotaksis di lokasi radang terganggu.
BAB 1 PENDAHULUAN Diabetes mellitus adalah gangguan metabolisme yang ditandai dengan hiperglikemia yang berhubungan dengan abnormalitas metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang disebabkan oleh adanya
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Pemberian cairan diperlukan karena gangguan dalam keseimbangan cairan dan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Terapi cairan Pemberian cairan bertujuan untuk memulihkan volume sirkulasi darah. 6,13 Pemberian cairan diperlukan karena gangguan dalam keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan
SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 1. Sistem Ekskresi ManusiaLATIHAN SOAL BAB 1
1. Perhatikan gambar nefron di bawah ini! SMP kelas 9 - BIOLOGI BAB 1. Sistem Ekskresi ManusiaLATIHAN SOAL BAB 1 Urin sesungguhnya dihasilkan di bagian nomor... A. B. C. D. 1 2 3 4 E. Kunci Jawaban : D
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Ginjal menjalankan fungsi yang vital sebagai pengatur volume dan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Ginjal menjalankan fungsi yang vital sebagai pengatur volume dan komposisi kimia darah dan lingkungan dalam tubuh dengan mengeksresikan zat terlarut dan air secara selektif.
BAB I PENDAHULUAN. terjadinya komplikasi yang lebih berbahaya. diakibatkan oleh sepsis > jiwa pertahun. Hal ini tentu menjadi
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Sepsis merupakan suatu respon sistemik yang dilakukan oleh tubuh ketika menerima sebuah serangan infeksi yang kemudian bisa berlanjut menjadi sepsis berat
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Metabolisme Energi Otot Rangka Kreatin fosfat merupakan sumber energi pertama yang digunakan pada awal aktivitas kontraktil. Suatu karakteristik khusus dari energi yang dihantarkan
Reabsorbsi pada kapiler peritubuler
SISTEM UROPOETIKA Reabsorbsi pada kapiler peritubuler Substansi yang dieliminasikan dari tubuh melalui filtrasi dari kapiler peritubuler GANGGUAN GINJAL Menunjukkan gejala klinis jika 70% fungsinya terganggu
I. PENDAHULUAN. mempertahankan homeostasis tubuh. Ginjal menjalankan fungsi yang vital
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ginjal merupakan salah satu organ penting dalam tubuh yang berperan dalam mempertahankan homeostasis tubuh. Ginjal menjalankan fungsi yang vital sebagai pengatur volume
BAB I PENDAHULUAN. (penting untuk mengatur kalsium) serta eritropoitein menimbulkan keadaan yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ginjal adalah organ vital yang berperan sangat penting dalam memepertahankan kestabilan lingkungan dalam tubuh. Ginjal mengatur keseimbanagn cairan tubuh, dan nonelektrolit,
BAB I PENDAHULUAN. maupun mental. Akan tetapi, olahraga yang dilakukan tanpa mengindahkan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Olahraga, baik yang bersifat olahraga prestasi maupun rekreasi merupakan aktivitas yang dapat memberikan manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental. Akan tetapi,
BAB I PENDAHULUAN. sekitar 90 % dan biasanya menyerang anak di bawah 15 tahun. 2. Demam berdarah dengue merupakan masalah kesehatan masyarakat karena
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang ditransmisikan oleh nyamuk Ae. Aegypti. 1 Menyebabkan banyak kematian pada anakanak sekitar 90 % dan biasanya
GAGAL GINJAL Zakiah,S.Ked. Kepaniteraan Klinik Interna Program Studi Pendidikan Dokter FKK Universitas Muhammadiyah Jakarta
GAGAL GINJAL Zakiah,S.Ked Kepaniteraan Klinik Interna Program Studi Pendidikan Dokter FKK Universitas Muhammadiyah Jakarta 2010-2011 DEFINISI Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan
Mahasiswa mampu: 3. Melakukan asuhan keperawatan pada pasien dengan kateterisasi jantung
Wantiyah Mahasiswa mampu: 1. Menjelaskan tentang arteri koroner 2. Menguraikan konsep keteterisasi jantung: pengertian, tujuan, indikasi, kontraindikasi, prosedur, hal-hal yang harus diperhatikan 3. Melakukan
BAB I PENDAHULUAN. banyak pabrik-pabrik yang produk-produk kebutuhan manusia yang. semakin konsumtif. Banyak pabrik yang menggunakan bahan-bahan
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah mampu merubah gaya hidup manusia. Manusia sekarang cenderung menyukai segala sesuatu yang cepat, praktis dan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pakan. Biaya untuk memenuhi pakan mencapai 60-70% dari total biaya produksi
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Pakan Sapi Perah Faktor utama dalam keberhasilan usaha peternakan yaitu ketersediaan pakan. Biaya untuk memenuhi pakan mencapai 60-70% dari total biaya produksi (Firman,
BALANCE CAIRAN. IWL (insensible water loss(iwl) : jumlah cairan keluarnya tidak disadari dan sulit diitung, yaitu jumlah keringat, uap hawa nafa.
SARI CHAERUNISAH 04091401070 BALANCE CAIRAN Balance cairan atau keseimbangan cairan adalah keseimbangan antara pemasukan cairan (intake) dan pengeluaran cairan (output). Masukan cairan orang dewasa normalnya
UKDW BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Penyakit gagal ginjal adalah kelainan struktur atau fungsi ginjal yang ditandai
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit gagal ginjal adalah kelainan struktur atau fungsi ginjal yang ditandai penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) yang kurang dari 60 ml. Penyakit ginjal kronik
Pelayanan Kesehatan bagi Anak. Bab 5 Diare. Catatan untuk instruktur
Pelayanan Kesehatan bagi Anak Bab 5 Diare Catatan untuk instruktur Fabian adalah anak usia 2 tahun yang dibawa ke rumah sakit kabupaten dari desa terpencil dengan diare dan tanda dehidrasi berat. Selama
