BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Yuliani Muljana
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian tentang hubungan Indeks Massa Tubuh dengan maloklusi menggunakan Handicapping Malocclusion Assessment Index (HMAI) pada anak usia diatas 13 tahun di MTs Mu alimaat Yogyakarta dilakukan pada bulan Februari Pengambilan data penelitian dilakukan dengan mencetak rahang serta mengukur tinggi dan berat badan subjek yang berjumlah 37 orang. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTs Mu alimaat Yogyakarta yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian dilaksanakan dengan instrumen cetakan negatif rahang atas dan bawah subjek, dan lembar pertanyaan bagi subjek. Tabel 1. Distribusi Subjek berdasarkan usia Usia (Tahun) Frekuensi Persentase (%) 13-13, , , ,7 Berdasarkan tabel diatas usia subjek terbagi menjadi tiga kelompok yaitu usia 13 tahun sebanyak 20 orang, usia 14 tahun sebanyak 16 orang dan usia 15 tahun sebanyak 1 orang. 23
2 24 Tabel 2. Distribusi subjek berdasarkan Indeks Massa Tubuh Kategori Frekuensi Persentase Kurang (<18,5) 12 32,4 Normal (18,5-24,9) 21 56,7 Gemuk (25 29,9) 2 5,4 Obesitas (>30) 2 5,4 Berdasarkan tabel 2., terdapat 12 subjek yang memiliki IMT kurang, terdapat 21 subjek dengan IMT normal, terdapat 2 subjek dengan IMT gemuk dan terdapat 2 subjek dengan IMT obesitas. Tabel 3. Distribusi subjek berdasarkan keparahan maloklusi dihitung menggunakan Handicapping Malocclusion Assessment Index (HMAI) Kategori Frekuensi Persentase (%) Ringan (0-5) 8 21,6 Sedang (6-15) 18 48,6 Parah (16-30) 9 24,3 Sangat Parah (>30) 2 5,4 Berdasarkan tabel 3., terdapat 8 subjek yang memiliki maloklusi ringan, 18 subjek dengan maloklusi sedang, 9 subjek dengan maloklusi parah, dan 2 subjek memiliki maloklusi sangat parah. Perhitungan indeks massa tubuh dan penilaian maloklusi dengan Handicapping Malocclusion Assessment Index selanjutnya diolah menggunakan aplikasi SPSS 15.0 for Windows Evaluation Version. Data yang diperoleh merupakan data ordinal ordinal karena perhitungan IMT dan penilaian maloklusi telah
3 25 dikelompokkan masing masing menjadi 4 kategori. Pengolahan data menggunakan uji korelasi Kendall s tau_b untuk mengetahui hubungan antara IMT dan maloklusi. Tabel 4. Hasil Uji Korelasi Menggunakan Kendall s tau-b No. Variabel Nilai Signifikansi Jumlah populasi 1. IMT HMAI Dari tabel output SPSS uji korelasi menggunakan Kendall s tau-b, didapat hasil Sig. 0,405, angka tersebut >0.05 maka hipotesis 0 diterima dan hal ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara indeks massa tubuh dengan maloklusi yang diukur menggunakan Handicapping Malocclusion Assessment Index pada siswi usia tahun di MTs Mu alimaat Yogyakarta. Tabel 5. Distribusi jawaban subjek dari pertanyaan anamnesa tentang etiologi maloklusi No. 1. Etiologi Maloklusi Penyakit TBC, anemia, hipotiroid, dan gangguan hormone Ya Tidak N % n % 3 8, ,9 2. Rampan karies saat usia 0-6 tahun 22 59, ,5 3. Delayed eruption gigi permanen 9 24, ,7 4. Persistensi pada usia gigi bercampur 17 45, ,1 5. Selalu mencabutkan gigi ke dokter gigi 8 21, ,4
4 26 6. Riwayat gigi desidui rapat dan berjejal 25 67, ,5 7. Orangtua dengan kondisi yang sama 17 45, ,1 8. Kebiasaan buruk 24 64, ,2 9. Riwayat trauma pada rahang dan sekitarnya 3 8, ,9 10. Karies hingga menyebabkan kehilangan 12 32, ,5 Dari tabel 5. Diketahui bahwa dari 10 pertanyaan yang diajukan kepada 37 subjek, prosentase terbanyak jawaban ya adalah riwayat gigi desidui yang rapat dan berjejal sebanyak 67,5%, diikuti terbanyak kedua yaitu kebiasaan buruk sebesar 64,8%, dan terbanyak ketiga yaitu rampan karies pada usia 0-6 tahun sebesar 59,4%. Jawaban subjek dengan prosentase ya paling rendah yaitu penyakit TBC, anemia, hipotiroid, dan gangguan hormone serta riwayat trauma pada rahang dan sekitarnya dengan prosentase sama yaitu 8,1% B. Pembahasan Hasil dari penelitian yang berjudul Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Maloklusi Menggunakan Handicapping Malocclusion Assessment Index menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara indeks massa tubuh dengan maloklusi yang diukur menggunakan Handicapping Malocclusion Assessment Index pada siswa usia tahun di MTs Mu alimaat Yogyakarta. Seluruh subjek dari penelitian ini berjenis kelamin perempuan dengan usia 13-13,9
5 27 tahun sebanyak 54%, usia 14-14,9 tahun sebanyak 43,3%, dan usia 15 tahun sebanyak 2,75%. Kebutuhan nutrisi tubuh berhubungan dengan pertumbuhan, perkembangan serta pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut, dapat dibedakan berdasarkan usia. Pertumbuhan linear maksimum remaja laki-laki dicapai pada usia 15 tahun sedangkan perempuan di usia 13 tahun. Remaja perempuan usia membutuhkan kalori dalam sehari, namun pada saat menstruasi setiap bulannya kebutuhan asupan zat gizi akan meningkat (Sroda, 2010). Indeks HMA menilai maloklusi pada satu rahang maupun maloklusi yang terjadi antarrahang. Gigi yang hilang, rotasi gigi, dan gigi berjejal menjadi komponen yang dinilai pada indeks ini. Pada individu yang kehilangan satu atau lebih gigi posterior, tekanan dari gaya pengunyahan tidak seimbang antara kiri dan kanan maupun anterior dan posterior, hal ini dapat menyebabkan terjadinya rotasi gigi, mesial drifting pada gigi disekitar daerah gigi yang hilang, ekstrusi gigi antagonis, dan pergeseran midline, diet makan sehari-hari, kebiasaan buruk dan genetik juga merupakan faktor dari maloklusi tersebut (Sarig dkk., 2013). Penilaian maloklusi antar rahang juga dilakukan pada indeks HMA. Malrelasi yang terjadi antar rahang seperti gigitan silang atau crossbite, gigitan terbuka atau openbite, jarak gigit atau overjet dan tumpang gigit atau overbite adalah komponen komponen yang dinilai. Gigitan silang atau crossbite banyak terjadi pada salah satu sisi di regio posterior, salah satu penyebabnya yaitu aktivitas otot pegunyahan pada individu yang mengunyah hanya dengan satu sisi sehingga otot masseter pada sisi yang tidak digunakan untuk mengunyah menjadi pasif sehingga menyebabkan kondisi skeletal yang asimetris (Cutroneo dkk., 2016). Gigitan terbuka atau openbite yang
6 28 banyak terjadi adalah anterior openbite, kebiasaan buruk seperti menghisap jari atau kebiasaan meminum susu dengan botol menjadi faktor yang paling berotensi menyebabkan anterior crossbite. Koreksi gigitan terbuka pada regio anterior paling efektif dilakukan pada saat sebelum insisivus lateralis atas erupsi (Machado dkk., 2013). Berdasarkan hasil pengolahan data uji korelasi Kendall s tau-b menggunakan program SPSS, didapatkan kesimpulan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara indeks massa tubuh dengan maloklusi yang diukur menggunakan indeks Handicapping Malocclusion Assessment pada siswa usia diatas tahun di MTs Mu alimaat Yogyakarta. Hal tersebut sesuai dengan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, bahwa subjek dengan malnutrisi yang ditentukan dari indeks massa tubuh kurang memang mempengaruhi kesehatan gigi dan mulutnya, namun peneliti tidak mendapat hasil yang signifikan bahwa malnutrisi (IMT kurang) mempengaruhi maloklusi (Khan, dkk., 2014). Penelitian lain adalah penelitian yang melihat hubungan antara obesitas dan erupsi dini gigi permanen yang berpotensi menyebabkan maloklusi. Kesimpulan dari penelitian tersebut pun tidak memperlihatkan adanya hubungan yang signifikan antara obesitas dan erupsi dini gigi permanen, dalam jurnal tersebut disebutkan bahwa tidak semua anak dengan obesitas memiliki permasalahan karena erupsi dini gigi permanen, sebagian dari mereka tetap memiliki susunan gigi yang baik karena kesadaran tentang preventive-orthodonti (Must, dkk., 2013). Hubungan antara anak yang memiliki berat badan kurang dengan gigi desidui berjejal menunjukkan hasil yang signifikan hanya pada mereka yang tidak menggunakan dot atau botol susu. Menurut penelitian tersebut, penggunaan botol susu pada anak menyebabkan gigi anterior protrusif, sedangkan gigi anterior
7 29 yang protrusif menyebabkan adanya space (ruang antar gigi) yang berlebih sehingga gigi tidak akan berjejal, melainkan dapat menyebabkan gigi anterior mengalami openbite (Thomaz, dkk., 2010). Dari beberapa penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa individu underweight ataupun overweight tidak selalu mengalami maloklusi, karena etiologi dari maloklusi tidak hanya kurangnya nutrisi yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan rahang maupun kelebihan nutrisi yang menyebabkan pertumbuhan terlalu cepat. Berdasarkan hasil dari jawaban dari pertanyaan anamnesa kepada subjek yang digunakan untuk menggali etiologi-etiologi maloklusi, yang memiliki prosentase jawaban dari anamnesa terbanyak yaitu riwayat gigi desidui yang rapat dan berjejal. Adanya ruang pada gigi desidui sangat penting karena dapat memberi ruang lebih bagi gigi permanen yang akan tumbuh, oleh karena itu gigi desidui yang rapat dan tidak memiliki ruang antar gigi atau bahkan gigi desidui yang berjejal menyebabkan kelainan oklusi pada masa gigi permanen (Vinay, dkk., 2011). Prosentase jawaban terbanyak kedua adalah tentang kebiasaan buruk seperti bruxism. Bruxism atau kebiasaan mengerot gigi baik saat tidur maupun saat terjaga dapat menyebabkan kerusakan sendi temporomandibula, ngilu pada gigi geligi dan atrisi. Bruxism yang terjadi karena aktivitas otot berlebih akan menyebabkan gangguan pada sendi temporomandibula yang secara tidak langsung menyebabkan maloklusi. Gigi yang goyah juga bisa disebabkan karena bruxism, hal ini bisa menyebabkan maloklusi. Gigi atrisi dapat menyebabkan hilangnya kunci oklusi yang tercipta dari kontak tonjol-tonjol gigi dan terjadi maloklusi (Kataoka, dkk., 2015). Kebiasaan buruk lainnya adalah kebiasaan menghisap dan menggigit jari. Menghisap
8 30 ibu jari dengan intensitas, frekuensi, dan durasi yang tinggi menyebabkan anterior openbite (Lopez-Freire, dkk., 2015). Prosentase jawaban terbanyak ketiga yaitu rampan karies pada masa desidui. Rampan karies yang terjadi pada masa gigi desidui sangat mempengaruhi gigi permanen yang akan tumbuh, hilangnya gigi anterior karena karies dapat menyebabkan bergesernya midline. Gigi desidui yang hilang atau dicabut karena karies dapat juga menyebabkan gigi molar pertama permanen sebagai kunci oklusi mengalami erupsi tidak pada tempat yang seharusnya, hal ini menyebabkan gigi-gigi yang erupsi setelahnya bergeser dari tempat yang seharusnya dan terjadi maloklusi. Gigi permanen yang berjejal juga dapat dikarenakan gigi desidui yang rampan karies, karena pada saat proses gigi permanen erupsi, gigi tersebut tidak lagi memiliki guidance untuk erupsi karena gigi desidui yang berperan sebagai guidance sudah hilang (Luzzi, dkk., 2011). Riwayat trauma pada rahang dan sekitarnya serta penyakit seperti TBC, anemia, gangguan hormon, dan Hipotiroidisme menjadi pertanyaan anamnesa yang mendapatkan prosentase paling sedikit yaitu 8,1%. Trauma pada rahang dan gigi yang terjadi pada anak-anak sangat berpengaruh pada perkembangan dentoskeletal pada masing-masing individu. Selain menyebabkan gangguan estetika dan kurangnya kepercayadirian anak, trauma pada rahang dan gigi dapat menyebabkan perubahan pada rahang maupun gigi, seperti berubahnya wajah menjadi asimetris, bahkan dapat mengakibatkan kerusakan pada sendi temporomandibula. Trauma gigi yang sering terjadi adalah trauma gigi anterior atas, karena gigi anterior atas letaknya paling memungkinkan untuk terkena benturan. Gigi yang mengalami trauma dapat menjadi
9 31 ekstrusi, intrusi, rotasi, bahkan fraktur. Dari beberapa hal diatas, dental injury dapat menyebabkan maloklusi (Aldrigui, dkk., 2011). Penyakit anemia dialami oleh 3 dari 37 subjek atau sama seperti riwayat trauma yaitu 8,1%. Sebagian besar penelitian yang telah dilakukan meneliti hubungan thalassemia dengan maloklusi. Thalassemia adalah penyakit kelainan darah yang diakibatkan oleh faktor genetik dan menyababkan protein yang ada dalam sel darah merah (hemoglobin) tidak berfungsi dengan baik. Zat besi yang diperoleh dari asupan makanan selanjutnya digunakan oleh sum sum tulang belakang untuk menghasilkan hemoglobin. Sedangkan anemia adalah kurangnya kandungan hemoglobin dalam darah. Thalassemia mayor seperti anemia kronis, hiperparatiroidisme, dan defisiensi somatomedin dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan pematangan skeletal. Anterior openbite, gigi berjejal, protrusif gigi anterior, gigi renggang, dan kelainan pada ukuran gigi dan rahang adalah kasus- kasus maloklusi yang sering terjadi karna faktor tersebut (Gupta, dkk., 2016) Penyebab lain maloklusi adalah genetik atau keturunan, pada hasil penghitungan pertanyaan, diperoleh jawaban dari anamnesa sebesar 32,5% dari keseluruhan subjek 37 orang. Pada lembar pertanyaan dituliskan Apakah orang tua dan atau keluarga anda memiliki kondisi gigi geligi yang sama dengan anda?. Moreno Uribe dan Miller, (2015) menjelaskan bahwa kondisi maloklusi gigi geligi yang terjadi pada individu sama seperti anggota keluarga yang lain seperti orang tua, bukan hanya karena keturunan saja namun juga karena pola kebiasaan dan lingkungan yang sama. Maloklusi terjadi karena keturunan dapat berupa ukuran gigi dan rahang karena faktor fenotip dan genotip yang diturunkan dari perkawinan parental suatu filial. Pola kebiasaan, lingkungan, dan keadaan ekonomi sebuah keluarga juga dapat
10 32 menyebabkan maloklusi yang sama dalam keluarga tersebut. Cara menggosok gigi yang salah, konsumsi makanan yang kurang bergizi, kebiasaan menghisap ibu jari yang dibiarkan, lingkungan dengan kadar fluor tinggi, dan kurangnya edukasi tentang gi dan mulut juga dapat menyebabkan kondisi maloklusi yang seragam pada sebuah keluarga. Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam menggali penyebab maloklusi selain malnutrisi yang dibahas dalam penelitian ini. Peneliti telah memberikan sepuluh pertanyaan yang bertujuan untuk menggali riwayat gigi geligi subjek, kondisi gigi geligi keluarga subjek, penyakit yang mempengaruhi pertumbuhan, dan ada atau tidaknya trauma yang pernah dialami subjek. Dengan memberikan pertanyaan tersebut kepada subjek peneliti akan dapat menggali etiologi lain dari maloklusi, namun kenyataan saat dilapangan beberapa subjek lupa akan kondisi gigi geliginya ketika balita.
BAB I PENDAHULUAN. berbentuk maloklusi primer yang timbul pada gigi-geligi yang sedang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Maloklusi merupakan penyimpangan hubungan rahang atas dan rahang bawah dari bentuk standar normal. Keadaan tersebut terjadi akibat adanya malrelasi antara pertumbuhan,
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Pustaka 1. Maloklusi a. Definisi Oklusi merupakan hubungan gigi rahang atas dan rahang bawah saat berkontak fungsional selama aktivitas mandibula (Newman, 1998). Oklusi
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional, yaitu penelitian untuk mencari perbedaan antara variabel bebas (faktor
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
energi. 4,5 Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Status Gizi Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kebiasaan Buruk Kebiasaan adalah suatu tindakan berulang yang dilakukan secara otomatis atau spontan. Perilaku ini umumnya terjadi pada masa kanak-kanak dan sebagian besar selesai
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. empat tipe, yaitu atrisi, abrasi, erosi, dan abfraksi. Keempat tipe tersebut memiliki
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keausan gigi adalah suatu kondisi yang ditandai dengan hilangnya jaringan keras gigi karena proses fisik maupun kimiawi, bukan proses karies (Oltramari-Navarro
Perawatan ortodonti Optimal * Hasil terbaik * Waktu singkat * Biaya murah * Biologis, psikologis Penting waktu perawatan
PERAWATAN ORTODONTI Nurhayati Harahap,drg.,Sp.Ort Perawatan ortodonti Optimal * Hasil terbaik * Waktu singkat * Biaya murah * Biologis, psikologis Penting waktu perawatan Empat Fase Perawatan Preventif
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perkembangan Gigi-Geligi dan Oklusi Perkembangan oklusi mengalami perubahan signifikan sejak kelahiran sampai dewasa. Perubahan dari gigi-geligi desidui menjadi gigi-geligi
Gambar 1. Anatomi Palatum 12
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Palatum 2.1.1 Anatomi Palatum Palatum adalah sebuah dinding atau pembatas yang membatasi antara rongga mulut dengan rongga hidung sehingga membentuk atap bagi rongga mulut. Palatum
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Maloklusi dapat didefinisikan sebagai suatu ketidaksesuaian dari hubungan gigi atau rahang yang menyimpang dari normal. 1 Maloklusi merupakan sebuah penyimpangan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Oklusi Oklusi berasal dari kata occlusion, yang terdiri dari dua kata yakni oc yang berarti ke atas (up) dan clusion yang berarti menutup (closing). Jadi occlusion adalah closing
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gizi memiliki peranan penting selama pertumbuhan dan perkembangan tubuh secara umum dan khususnya rongga mulut. 1 Pada rongga mulut, asupan gizi yang adekuat sangat
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Gigi berjejal merupakan jenis maloklusi yang paling sering ditemukan. Gigi berjejal juga sering dikeluhkan oleh pasien dan merupakan alasan utama pasien datang untuk melakukan perawatan
PERANAN DOKTER GIGI UMUM DI BIDANG ORTODONTI
PERANAN DOKTER GIGI UMUM DI BIDANG ORTODONTI SEMINAR WISATA DENTISTRY YOGYAKARTA 6 FEBRUARI 2009 Oleh Endah Mardiati, drg., MS., Sp.Ort 1 PERANAN DOKTER GIGI UMUM DI BIDANG ORTODONTI SEMINAR DENTISTRY
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lengkung Gigi Lengkung gigi merupakan suatu garis imajiner yang menghubungkan sederetan gigi pada rahang atas dan rahang bawah yang dibentuk oleh mahkota gigigeligi dan merupakan
CROSSBITE ANTERIOR. gigi anterior rahang atas yang lebih ke lingual daripada gigi anterior rahang
CROSSBITE ANTERIOR 1. Crossbite anterior Crossbite anterior disebut juga gigitan silang, merupakan kelainan posisi gigi anterior rahang atas yang lebih ke lingual daripada gigi anterior rahang bawah. Istilah
CROSSBITE ANTERIOR DAN CROSSBITE POSTERIOR
CROSSBITE ANTERIOR DAN CROSSBITE POSTERIOR 1. Crossbite anterior Crossbite anterior disebut juga gigitan silang, merupakan kelainan posisi gigi anterior rahang atas yang lebih ke lingual daripada gigi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. oklusi sentrik, relasi sentrik dan selama berfungsi (Rahardjo, 2009).
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Oklusi Oklusi dalam pengertian yang sederhana adalah penutupan rahang beserta gigi atas dan bawah. Pada kenyataannya oklusi merupakan suatu proses kompleks karena meibatkan gigi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Lengkung gigi terdiri dari superior dan inferior dimana masing-masing
20 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Lengkung gigi terdiri dari superior dan inferior dimana masing-masing dikenal sebagai maksila dan mandibula. 6 Lengkung gigi adalah berbeda pada setiap individu, tidak ada seorang
BAB 1 PENDAHULUAN. studi. 7 Analisis model studi digunakan untuk mengukur derajat maloklusi,
studi. 7 Analisis model studi digunakan untuk mengukur derajat maloklusi, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ortodonti adalah cabang ilmu kedokteran gigi yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan,
BAB 1 PENDAHULUAN. anak itu sendiri. Fungsi gigi sangat diperlukan dalam masa kanak-kanak yaitu
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gigi bagi seorang anak penting dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak itu sendiri. Fungsi gigi sangat diperlukan dalam masa kanak-kanak yaitu sebagai alat pengunyah,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Salah satu jenis maloklusi yang sering dikeluhkan oleh pasien-pasien
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Salah satu jenis maloklusi yang sering dikeluhkan oleh pasien-pasien ortodonti adalah gigi berjejal. 3,7 Gigi berjejal ini merupakan suatu keluhan pasien terutama pada aspek estetik
BAB III METODE PENELITIAN. cekat dan cetakan saat pemakaian retainer. 2. Sampel dalam penelitian ini dihitung dengan Rumus Federer sesuai dengan.
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, jenis penelitian ini adalah penelitian observational analitik. B. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi dalam
BAB I PENDAHULUAN. kejadian yang penting dalam perkembangan anak (Poureslami, et al., 2015).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kronologi dan urutan erupsi gigi desidui dan gigi permanen merupakan kejadian yang penting dalam perkembangan anak (Poureslami, et al., 2015). Erupsi gigi adalah pergerakan
BAB 2 MALOKLUSI KLAS III. hubungan lengkung rahang dari model studi. Menurut Angle, oklusi Klas I terjadi
BAB 2 MALOKLUSI KLAS III 2.1 Pengertian Angle pertama kali mempublikasikan klasifikasi maloklusi berdasarkan hubungan lengkung rahang dari model studi. Menurut Angle, oklusi Klas I terjadi apabila tonjol
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
6 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Maloklusi Klas I Angle Pada tahun 1899, Angle mengklasifikasikan maloklusi berdasarkan relasi molar satu permanen rahang bawah terhadap rahang atas karena menurut Angle, yang
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gigi berperan penting dalam pada proses pengunyahan, berbicara dan estetis. Berbagai penyakit maupun kelainan gigi dan mulut dapat mempengaruhi berbagai fungsi rongga
PERAWATAN MALOKLUSI KELAS I ANGLE TIPE 2
PERAWATAN MALOKLUSI KELAS I ANGLE TIPE 2 MAKALAH Oleh : Yuliawati Zenab, drg.,sp.ort NIP.19580704 199403 2 001 FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS PADJADJARAN BANDUNG 2010 Bandung, Maret 2010 Disetujui
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Makanan yang pertama kali dikonsumsi bayi adalah Air Susu Ibu (ASI).
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Makanan yang pertama kali dikonsumsi bayi adalah Air Susu Ibu (ASI). Pemberian ASI ekslusif dianjurkan pada umur 0-6 bulan, yaitu bayi hanya diberikan ASI ekslusif tanpa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. sampai perawatan selesai (Rahardjo, 2009). Hasil perawatan ortodontik
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Telaah Pustaka. Perawatan ortodontik cekat Perawatan ortodontik cekat adalah alat yang dipasang secara cekat pada elemen gigi pasien sehingga alat tidak bisa dilepas oleh pasien
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Gigi merupakan salah satu bagian dari rongga mulut yang digunakan untuk pengunyahan. Jumlah gigi geligi sangat menentukan efektifitas pengunyahan dan penelanan yang merupakan langkah
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kesimetrisan Diagnosis dalam ilmu ortodonti, sama seperti disiplin ilmu kedokteran gigi dan kesehatan lainnya memerlukan pengumpulan informasi dan data yang adekuat mengenai
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengukuran Maloklusi Suatu kriteria untuk menetapkan tingkat kesulitan perawatan pada American Board of Orthodontic (ABO) adalah kompleksitas kasus. ABO mengembangkan teknik
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asimetri Asimetri merupakan komposisi yang sering dikaitkan dalam dunia seni dan kecantikan, tetapi lain halnya dalam keindahan estetika wajah. Estetika wajah dapat diperoleh
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Saluran pernafasan merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi Saluran Pernafasan Saluran pernafasan merupakan suatu sistem yang terdiri dari beberapa komponen yang saling berhubungan. Pada bagian anterior saluran pernafasan terdapat
BAB 2 PROTRUSI DAN OPEN BITE ANTERIOR. 2.1 Definisi Protrusi dan Open Bite Anterior
BAB 2 PROTRUSI DAN OPEN BITE ANTERIOR 2.1 Definisi Protrusi dan Open Bite Anterior Protrusi anterior maksila adalah posisi, dimana gigi-gigi anterior rahang atas lebih ke depan daripada gigi-gigi anterior
BAB I PENDAHULUAN. Oklusi secara sederhana didefinisikan sebagai hubungan gigi-geligi maksila
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Oklusi secara sederhana didefinisikan sebagai hubungan gigi-geligi maksila dan mandibula. Pada kenyataannya, oklusi gigi merupakan hubungan yang kompleks karena melibatkan
BAB I PENDAHULUAN. hubungan yang ideal yang dapat menyebabkan ketidakpuasan baik secara estetik
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Maloklusi secara umum dapat diartikan sebagai deviasi yang cukup besar dari hubungan yang ideal yang dapat menyebabkan ketidakpuasan baik secara estetik maupun secara
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tumbuh kembang Masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa pertumbuhan dan perkembangan mempunyai pengertian sama, tetapi sebenarnya berbeda. Pertumbuhan adalah bertambahnya
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. keadaan normal (Graber dan Swain, 1985). Edward Angle (sit. Bhalajhi 2004)
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Maloklusi atau kelainan oklusi adalah oklusi yang menyimpang dari keadaan normal (Graber dan Swain, 1985). Edward Angle (sit. Bhalajhi 2004) mengenalkan klasifikasi maloklusi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Maloklusi Menurut Angle, maloklusi merupakan oklusi yang menyimpang dari bidang oklusal gigi normal (cit. Martin RK dkk.,). 10 Menurut Cairns dkk.,, maloklusi terjadi saat
BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini masyarakat semakin menyadari akan kebutuhan pelayanan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini masyarakat semakin menyadari akan kebutuhan pelayanan kesehatan. Pengetahuan masyarakat tentang arti pentingnya tubuh yang sehat semakin meningkat, tidak
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Maloklusi adalah ketidakteraturan letak gigi geligi sehingga menyimpang dari
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Maloklusi merupakan salah satu masalah di bidang kedokteran gigi. Maloklusi adalah ketidakteraturan letak gigi geligi sehingga menyimpang dari hubungan antara gigi
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gigi berjejal, tidak teratur dan protrusif adalah kondisi yang paling sering terjadi dan memotivasi individu untuk melakukan perawatan ortodontik. Motivasi pasien
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karies gigi merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada anak di seluruh dunia terutama di negara berkembang, tidak terkecuali Indonesia. 1 Menurut data dari
GAMBARAN MALOKLUSI BERDASARKAN INDEKS HANDICAPPING MALOCCLUSION ASSESSMENT RECORD (HMAR) PADA SISWA SMA N 9 MANADO
GAMBARAN MALOKLUSI BERDASARKAN INDEKS HANDICAPPING MALOCCLUSION ASSESSMENT RECORD (HMAR) PADA SISWA SMA N 9 MANADO 1 Monalisa Loblobly 2 P. S. Anindita 2 Michael A. Leman 1 Kandidat Skripsi Program Studi
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Rahang Tumbuh-kembang adalah suatu proses keseimbangan dinamik antara bentuk dan fungsi. Prinsip dasar tumbuh-kembang antara lain berkesinambungan,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kehilangan gigi geligi disebabkan oleh faktor penyakit seperti karies dan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Faktor Penyebab Kehilangan Gigi Kehilangan gigi geligi disebabkan oleh faktor penyakit seperti karies dan penyakit periodontal. Faktor bukan penyakit seperti gaya hidup dan faktor
BAB 1 PENDAHULUAN. menunjukkan prevalensi nasional untuk masalah gigi dan mulut di Indonesia
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Susunan gigi yang tidak teratur dan keadaan oklusi yang tidak sesuai dengan keadaan normaltentunya merupakan suatu bentuk masalah kesehatan gigi dan mulut. 1,2,3 Data
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan dan perkembangan manusia dari lahir hingga dewasa ditandai oleh adanya perubahan bentuk tubuh, fungsi tubuh, dan psikologis yang dipengaruhi oleh faktor genetik
BAB I PENDAHULUAN. mandibula baik kanan maupun kiri, pada anak umur 6-16 bulan adalah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Erupsi gigi susu pada anak mulai berlangsung pada usia enam bulan. Umumnya, erupsi gigi susu diawali oleh gigi susu insisivus sentral mandibula. 1, 2 Pertumbuhan
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. wajah dan jaringan lunak yang menutupi. Keseimbangan dan keserasian wajah
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jaringan lunak wajah memegang peranan penting dalam pertimbangan perawatan ortodontik. Keseimbangan dan keserasian wajah ditentukan oleh tulang wajah dan jaringan lunak
KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONSI BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED PADA SISWA KELAS II DI SMP NEGERI 2 BITUNG
Jurnal e-gigi (eg), Volume 2, Nomor 2, Juli-Desember 2014 KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONSI BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED PADA SISWA KELAS II DI SMP NEGERI 2 BITUNG 1 Monica A. V. Rumampuk
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perawatan ortodontik bertujuan untuk mengoreksi maloklusi sehingga diperoleh oklusi yang normal. Penatalaksanaan perawatan ortodontik sering dihadapkan kepada permasalahan
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN
20 BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah survei deskriptif. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. 3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
LEMBAR PENJELASAN KEPADA ORANG TUA/ WALI OBJEK PENELITIAN. Kepada Yth, Ibu/ Sdri :... Orang tua/ Wali Ananda :... Alamat :...
Lampiran 1 LEMBAR PENJELASAN KEPADA ORANG TUA/ WALI OBJEK PENELITIAN Kepada Yth, Ibu/ Sdri :... Orang tua/ Wali Ananda :... Alamat :... Bersama ini saya yang bernama, Nama : Zilda Fahnia NIM : 110600132
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Hal yang harus dipertimbangkan dalam perawatan ortodonsi salah satunya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hal yang harus dipertimbangkan dalam perawatan ortodonsi salah satunya adalah lebar mesiodistal gigi. Lebar mesiodistal gigi berkaitan dengan garis lengkung rahang yang
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Lengkung Gigi Menurut DuBRUL (1980), bentuk lengkung gigi sangat bervariasi, akan tetapi secara umum lengkung gigi rahang atas berbentuk elips dan lengkung gigi rahang bawah
BAB 1 PENDAHULUAN. dan mengevaluasi keberhasilan perawatan yang telah dilakukan. 1,2,3 Kemudian dapat
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah Pemahaman mengenai pertumbuhan dan perkembangan gigi merupakan salah satu hal penting untuk seorang dokter gigi khususnya dalam melakukan perawatan pada anak,
I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. (Alexander,2001). Ortodonsia merupakan bagian dari ilmu Kedokteran Gigi yang
I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perawatan ortodontik semakin berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan dan penampilan fisik yang menarik (Alexander,2001). Ortodonsia merupakan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. disebabkan oleh penggunaan susu botol atau cairan lainnya yang termasuk karbohidrat seperti
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Early Childhood Caries (ECC) Early childhood caries merupakan suatu bentuk karies rampan pada gigi desidui yang disebabkan oleh penggunaan susu botol atau cairan lainnya yang
BAB I PENDAHULUAN. mulut pada masyarakat. Berdasarkan laporan United States Surgeon General pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karies gigi merupakan suatu penyakit yang tersebar luas pada sebagian besar penduduk di dunia, sehingga menjadi masalah utama dalam kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat.
BAB I PENDAHULUAN. beberapa komponen penting, yaitu sendi temporomandibula, otot
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sistem mastikasi merupakan suatu unit fungsional yang terdiri atas beberapa komponen penting, yaitu sendi temporomandibula, otot pengunyahan, dan gigi geligi
Analisa Ruang Metode Moyers
ANALISA RUANG I. Analisa Ruang Analisis ruang sangat diperlukan untuk membandingkan ruangan yang tersedia dengan ruangan yang dibutuhkan untuk normalnya keteraturan gigi. Adanya ketidakteraturan atau crowding
BAB II KLAS III MANDIBULA. Oklusi dari gigi-geligi dapat diartikan sebagai keadaan dimana gigi-gigi pada rahang atas
BAB II KLAS III MANDIBULA 2.1 Defenisi Oklusi dari gigi-geligi dapat diartikan sebagai keadaan dimana gigi-gigi pada rahang atas dan gigi-gigi pada rahang bawah bertemu, pada waktu rahang atas dan rahang
BAB I PENDAHULUAN. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan. perkembangan kecerdasan, menurunkan produktivitas kerja, dan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan, menurunkan
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perawatan ortodontik bertujuan memperbaiki fungsi oklusi dan estetika
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perawatan ortodontik bertujuan memperbaiki fungsi oklusi dan estetika wajah. Pengetahuan tentang pertumbuhan kraniofasial meliputi jaringan keras dan jaringan lunak yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu indikator keberhasilan pembangunan adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup penduduk. Meningkatnya usia harapan hidup penduduk, menyebabkan jumlah
BAB 1 PENDAHULUAN. Penampilan fisik mempunyai peranan yang besar dalam interaksi sosial.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penampilan fisik mempunyai peranan yang besar dalam interaksi sosial. Orang yang berpenampilan menarik mempunyai banyak keuntungan sosial karena penampilan fisiknya.
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Ortodonsia menurut American Association of Orthodontists adalah bagian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ortodonsia menurut American Association of Orthodontists adalah bagian Ilmu Kedokteran Gigi yang terkonsentrasi untuk mengawasi, membimbing, dan mengoreksi pertumbuhan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asimetri Definisi simetri adalah persamaan salah satu sisi dari suatu objek baik dalam segi bentuk, ukuran, dan sebagainya dengan sisi yang berada di belakang median plate.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Maturitas adalah proses pematangan yang dihasilkan oleh pertumbuhan dan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Maturitas adalah proses pematangan yang dihasilkan oleh pertumbuhan dan perkembangan. 11 Evaluasi status maturitas seseorang berperan penting dalam rencana perawatan ortodonti, khususnya
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
5 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sindrom Down John Langdon adalah seorang dokter dari Inggris yang pertama kali menggambarkan kumpulan gejala dari sindrom Down pada tahun 1866. Namun sebelumnya Esquirol pada
LAPORAN KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK SPACE MAINTAINER. Disusun oleh: Hasna Hadaina 10/KG/8770. Low Xin Yi 10/KG/ Pembimbing:
LAPORAN KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN GIGI ANAK SPACE MAINTAINER Disusun oleh: Hasna Hadaina 10/KG/8770 Low Xin Yi 10/KG/ Pembimbing: Prof. Dr. drg. Iwa Sutardjo RS, SU, Sp. KGA (K) FAKULTAS KEDOKTERAN
III. RENCANA PERAWATAN
III. RENCANA PERAWATAN a. PENDAHULUAN Diagnosis ortodonsi dianggap lengkap bila daftar problem pasien diketahui dan antara problem patologi dan perkembangan dipisahkan. Tujuan rencana perawatan adalah
BAB 1 PENDAHULUAN. kehidupannya, karena di dalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap mahluk hidup membutuhkan makanan untuk mempertahankan kehidupannya, karena di dalam makanan terdapat zat-zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan kegiatan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. dan TK Aisyiyah Bustanul Atfal Godegan.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan kepada 32 pasangan ibu dan anak usia 3 sampai 5 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan bersedia mengikuti penelitian
BAB I PENDAHULUAN. wajah yang menarik dan telah menjadi salah satu hal penting di dalam kehidupan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Estetika wajah adalah suatu konsep yang berhubungan dengan kecantikan atau wajah yang menarik dan telah menjadi salah satu hal penting di dalam kehidupan modern. Faktor-faktor
BAB 1 PENDAHULUAN. Ukuran lebar mesiodistal gigi bervariasi antara satu individu dengan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ukuran lebar mesiodistal gigi bervariasi antara satu individu dengan individu lainnya, antara satu populasi dengan populasi lainnya. 1 Adanya variasi ukuran lebar
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Rongga mulut memiliki peran yang penting bagi fungsi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rongga mulut memiliki peran yang penting bagi fungsi pengunyahan manusia. Gigi merupakan kunci dari proses pengunyahan, berbicara dan penampilan. Oklusi normal merupakan
BAB III METODE PENELITIAN. 1. Populasi dalam penelitian ini adalah cetakan gigi pasien yang telah. Rumus Federer = (t-1)(n-1) 15 keterangan = n 16
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, jenis penelitian ini adalah penelitian observational deskriptif. B. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi dalam
III. KELAINAN DENTOFASIAL
III. KELAINAN DENTOFASIAL PEN DAHULUAN Klasifikasi maloklusi dan oklusi Occlusion = Oklusi Pengertian Oklusi adalah hubungan gigi geligi rahang atas dan rahang bawah bila rahang bawah digerakkan sehingga
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asimetri Dentokraniofasial Simetris berasal dari bahasa Yunani, yaitu symmetria yang berarti ukuran. Simetris dapat didefinisikan sebagai suatu kesesuaian dalam ukuran, bentuk,
BAB II CELAH PALATUM KOMPLET BILATERAL. Kelainan kongenital berupa celah palatum telah diketahui sejak lama. Pada
BAB II CELAH PALATUM KOMPLET BILATERAL Kelainan kongenital berupa celah palatum telah diketahui sejak lama. Pada beberapa kasus, celah ini terjadi setiap delapan ratus kelahiran dan kira-kira seperempatnya
BAB I PENDAHULUAN. setiap proses kehidupan manusia agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah gizi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang belum pernah tuntas ditanggulangi di dunia. 1 Gizi merupakan kebutuhan utama dalam setiap proses
BAB I PENDAHULUAN. anak-anak, masa remaja, dewasa sampai usia lanjut usia (Depkes, 2003).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia. Kekurangan gizi akan menyebabkan kegagalan pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan, menurunkan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Ukuran lebar mesiodistal gigi setiap individu adalah berbeda, setiap
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Ukuran lebar mesiodistal gigi setiap individu adalah berbeda, setiap populasi juga berbeda dengan populasi lainnya. 1 Data lebar mesiodistal gigi penting sebagai informasi sebelum
BAB I PENDAHULUAN. sudah dimulai sejak 1000 tahun sebelum masehi yaitu dengan perawatan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gigi yang tidak beraturan, irregular, dan protrusi merupakan masalah bagi beberapa individu sejak zaman dahulu dan usaha untuk memperbaiki kelainan ini sudah dimulai
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Sampel yang di peroleh sebanyak 24 sampel dari cetakan pada saat lepas bracket. 0 Ideal 2 8,33 2 8,33
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian tentang prevalensi terjadinya relaps setelah perawatan dengan alat ortodontik cekat telah dilakukan di Fakultas Kedokteran Ilmu Kesehatan
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. ortodontik (Shaw, 1981). Tujuan perawatan ortodontik menurut Graber (2012)
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Area dentofasial sangat berpengaruh terhadap penampilan wajah seseorang. Kelainan di sekitar area tersebut akan berdampak pada hilangnya kepercayaan diri sehingga memotivasi
GAMBARAN MALOKLUSI DENGAN MENGGUNAKAN HMAR PADA PASIEN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO
GAMBARAN MALOKLUSI DENGAN MENGGUNAKAN HMAR PADA PASIEN DI RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO 1 Vigni Astria Laguhi 2 P.S Anindita 2 Paulina N. Gunawan 1 Mahasiswa Program Studi
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mempunyai masalah karies dan gingivitis dengan skor DMF-T sebesar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Permasalahan gigi dan mulut masih banyak dialami oleh penduduk Indonesia. Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013, 25,9% penduduk Indonesia mempunyai
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehilangan gigi merupakan masalah gigi dan mulut yang sering ditemukan. Kehilangan gigi dapat disebabkan oleh dua faktor secara umum yaitu, faktor penyakit seperti
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Lengkung gigi merupakan suatu garis lengkung imajiner yang menghubungkan sederetan gigi pada rahang atas dan bawah. 7,9 Bentuk lengkung gigi ini berhubungan dengan bentuk kepala
DENTIN JURNAL KEDOKTERAN GIGI Vol II. No 1. April 2018
91 DENTIN JURNAL KEDOKTERAN GIGI Vol II. No 1. April 2018 PERBANDINGAN NILAI INDIKATOR MALOKLUSI RINGAN DENGAN MALOKLUSI BERAT BERDASARKAN INDEKS HMAR (Handicapping Malocclusion Assessment Record) Fitriani
BAB 1 PENDAHULUAN. Crossbite posterior adalah relasi transversal yang abnormal dalam arah
17 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Crossbite posterior adalah relasi transversal yang abnormal dalam arah bukolingual atau bukopalatal antara gigi antagonis. Crossbite posterior dapat terjadi bilateral
BAB 2 TI JAUA PUSTAKA
6 BAB 2 TI JAUA PUSTAKA Ortodonti adalah salah satu cabang ilmu kedokteran gigi yang berhubungan dengan estetika gigi, wajah, dan kepala. Berdasarkan American Board of Orthodontics (ABO), Ortodonti adalah
