BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Meningkatnya aktivitas perdagangan kayu internasional menjadi faktor besar yang mempengaruhi peningkatan permasalahan illegal logging di negara negara produsen kayu dan berdampak terhadap penggundulan hutan dunia. Hal tersebut karena permasalahan illegal logging di negara negara produsen kayu akan semakin bertambah dengan meningkatnya permintaan kayu dalam perdagangan kayu internasional. Menurut data dari International Timber Trade Organization (ITTO), pada tahun konsumsi kayu di dunia mencapai angka 210 juta m 3 per tahun, dengan angka impor sebanyak 37 juta m 3 per tahun. 1 Sedangkan pada data tahun 1999, impor kayu mencapai angka 320 juta m 3 dengan 98% pengimpor dari negara berkembang. 2 Di sisi lain data dari Forest Resources Assessment 2010 of the Food and Agriculture Organization (FAO) menunjukkan bahwa pada tahun hutan dunia diperkirakan mengalami penggundulan hutan sebesar 239 juta ha atau sekitar 13 juta ha per tahun. Dalam data tersebut dikatakan bahwa Amerika Selatan (33%), Afrika (31%), dan Asia Tenggara (19%), sebagai daerah daerah pemroduksi kayu, merupakan tiga daerah penyumbang utama penggundulan hutan dunia. 3 Hal ini menunjukkan bahwa adanya aktivitas peningkatan konsumsi kayu di dunia dalam perdagangan kayu internasional sejak tahun 1990 hingga 1999 memberikan dampak yang besar terhadap penggundulan hutan dunia, terutama aktivitas dari negara negara pemrodusen kayu. European Union (EU) sebagai salah satu negara konsumen kayu yang terdaftar sebagai negara Annex B atau sebagai negara konsumen kayu dalam International Tropical Timber 1 International Tropical Timber Organization (ITTO), Annual Review and Assessment of The World Tropical TImber Situation , 1995, diakses pada Sabtu, 18 Januari 2014, hal (pdf online) 2 Dr. Michael Adams dan Jeiro Castano, World Timber Supply and Demand Scenario, Government Interventions, Issues, and Problems, 2001, < diakses pada Senin, 24 Maret European Commission (EC) Technical Report , The impact of EU consumption on deforestation: Comprehensive analysis of the impact of EU consumption on deforestation, 2013, diakses pada Sabtu, 11 Januari 2014, hal.18 (pdf online) 1

2 Agreement (ITTA) pada tahun 1983, 1994, hingga , juga merupakan pelaku utama dari perdagangan kayu internasional. EU secara aktif mengimpor kayu dari beberapa negara Annex A atau negara produsen kayu di ITTA, yang diindikasikan memiliki kasus illegal logging dengan jumlah yang besar dalam produksi logging-nya, seperti Brazil, Indonesia, Malaysia, Kamerun, Vietnam, Ghana, Central African Republic, Liberia, Congo, dan Gabon. 5 Pada tahun EU mengimpor 37 m 3 atau sekitar 20% dari total impor kayu dunia, kemudian pada tahun 1999 dari 320 juta m 3 jumlah impor kayu dunia EU merupakan salah satu pengimpor kayu terbesar di dunia dengan jumlah impor sebesar 37% (115 juta m 3 ), dimana Britania Raya, Itali, France, dan Belgium sebagai negara negara pengimpor utama. 6 Data ini menunjukkan bahwa permintaan EU terhadap produk impor kayu dari dalam EU akan berpengaruh terhadap supply chain management dari negara negara produsen kayu, yang berbanding lurus dengan laju isu illegal logging dan penggundulan hutan dalam negara negara pengimpor kayu tersebut. Permasalahan tersebut kemudian mulai menarik perhatian beberapa Non-Governmental Organization (NGO) lingkungan EU untuk mendorong pemerintah memberikan kebijakan guna menanggulangi hal tersebut. Dalam pelaksanaan tujuannya, NGO mengalami kesulitan untuk mendorong pemerintah EU dengan keterbatasan power yang mereka miliki sebagai kelompok penekan. Tertulis dalam EU white paper -dimana NGO didefinisikan EU sebagai civil society- akan muncul struktur yang dapat menyalurkan suara dari masyarakat mengenai kebijakan kebijakan EU, namun struktur tersebut hanya memposisikan civil society sebagai katalis atau kelompok penekan. 7 Meskipun begitu munculnya action plan Forest Law Enforcement, Governance and Trade - Voluntary Partnership Agreements (FLEGT-VPA) dari EU pada tahun 2003 yang digunakan oleh EU untuk menanggulangi permasalahan illegal logging di negara negara produsen kayu, tidak dapat dilepaskan dari peran NGO sebagai kelompok penekan. NGO yang merupakan kelompok penekan dalam politik domestik EU memiliki keterlibatan yang besar dalam proses pembuatan kebijakan antara EU dengan negara negara produsen kayu. NGO NGO seperti World Wildlife Fund (WWF), Fern, Friends of the Earth (FoE), dan Greenpeace, 4 ITTO, Annual Review and Assessment of The World Tropical TImber Situation World Wildlife Fund (WWF), Illegal Logging & The EU : An Analysis of The EU Export & Import Market of Illegal Wood and Related Products, April 2008, diakses pada Minggu, 26 Januari 2014, hal.25 (pdf online) 6 Ibid 7 EC, European Governance : A White Paper, 2001, diakses pada Senin, 17 Januari 2014, hal (pdf online) 2

3 banyak terlibat dalam proses pembuatan kebijakan FLEGT-VPA dengan keterbatasan yang mereka miliki sebagai kelompok penekan. Kebijakan ini sendiri dimulai pada tahun 2003, dengan adanya action plan FLEGT-VPA dari EU untuk mengatur permasalahan perdagangan kayu di EU. Regulasi dari kebijakan tersebut kemudian baru muncul pada tahun 2005, dengan adanya penambahan detail pada tahun FLEGT merupakan salah satu kebijakan komisi EU untuk mengatur regulasi produk kayu di dalam pasar EU, dengan adanya pemberian sertifikasi terhadap produk kayu yang diproduksi dengan memperhatikan lingkungan, hukum yang berlaku, perilaku seluruh stakeholders yang terlibat, serta berada di dalam hutan yang memiliki sustainable forest management. Komisi EU juga melengkapi kebijakan FLEGT ini dengan adanya kerjasama berupa fasilitasi EU melalui Voluntary Partnership Agreements (VAP) terhadap negara serta organisasi di dalam dan di luar kawasan, untuk mengimplementasikan proses pemberian lisensi tersebut. 8 FLEGT-VPA juga digunakan oleh EU sebagai bentuk pemberantasan isu illegal logging yang menjadi salah satu faktor terbesar terjadinya penggundulan hutan, dengan adanya regulasi terhadap produk kayu dalam hubungan dagang EU RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, permasalahan yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah : Bagaimana peran NGO sebagai kelompok penekan di pemerintahan domestik EU dalam proses pembuatan kebijakan FLEGT-VPA? 1.3. LANDASAN KONSEPTUAL Dalam menjawab rumusan masalah tersebut, peran dari NGO sebagai kelompok penekan di pemerintaha domestik EU dalam kebijakan FLEGT-VPA akan dikaji menggunakan 8 European Council, Council Regulation (EC) No 2173/2005 of 20 December 2005 on the establishment of a FLEGT licensing scheme for imports of kayu into the European Community, 2005, diakses pada Jumat, 10 Januari (pdf online) 9 EC, Communication from the Commission to The Council and The European Parliament on FLEGT : Proposal for an EU Action Plan, 2003, diakses pada Jumat, 10 Januari (pdf online) 3

4 Transnational Advocacy Network dan Global Collective Action. Kedua konsep tersebut akan menggambarkan bahwa ide ataupun normative goal dari NGO dalam bidang lingkungan, terutama dalam isu perdagangan kayu internasional, akan menjadi alat NGO untuk mempengaruhi perilaku dari suatu negara, dalam kasus ini perilaku dari pemerintah EU. Selain Margaret E. Keck dan Kathryn Sikkink yang menggunakan konsep transnational advocacy network dan Todd Sandler yang menggunakan global collective action, penelitian mengenai aktivitas NGO dalam transnational network juga dilakukan oleh Southern Political Science Association melalui Robert Rochrschneider dan Russell J. Dalton dalam A Global Network? Transnational Cooperation among Environmental Groups. 10 Dalam penelitiannya, mereka mengatakan bahwa dibutuhkan adanya peningkatan aktivitas internasional di bidang lingkungan menggunakan transnational network yang dimiliki oleh kelompok kepentingan untuk dapat meningkatkan integrasi dari NGO ke dalam sistem perekonomian dan politik global. Hal ini juga didukung dengan adanya globalisasi yang akan mendukung pergerakan global dari kelompok kepentingan tersebut. 11 Dalam penelitian lainnya, Srilatha Batliwala dengan Grassroots Movements as Transnational Actors : Implications for Global Civil Society 12 menyatakan bahwa adanya pergerakan transnational memunculkan gerakan global dari individu, kelompok, organisasi, jaringan, dan federasi dari lokal ke global dalam bentuk beragam, mulai dari melakukan lobby, advokasi, penelitian, maupun dokumentasi, yang dapat menggerakkan masyarakat dengan isu yang dibawa. 13 Sedangkan Transnational Advocacy Network menurut Margaret E. Keck dan Kathryn Sikkink merupakan jaringan aktor aktor internasional yang bekerja dalam sebuah isu, dengan adanya keterikatan kepada shared values dan common discourse, serta memiliki intensitas yang 10 Robert Rochrschneider dan Russell J. Dalton, A Global Network? Transnational Cooperation among Environmental Groups, Southern Political Science Association, The Journal of Politics, Vol. 64, No. 2 (May, 2002), pp , diakses pada Sabtu, 8 Februari 2014 (pdf online) 11 Ibid, hal Srilatha Batliwala, Grassroots Movements as Transnational Actors: Implications for Global Civil Society, Voluntas: International Journal of Voluntary and Nonprofit Organizations, Vol. 13,No. 4, Global Civil Society (December 2002), pp , diakses pada Sabtu, 8 Februari 2014 (pdf online) 13 Ibid, hal

5 padat dalam pertukaran informasi serta jasa. 14 Transnational advocacy network akan muncul dengan adanya kondisi dimana 15 : 1. Struktur penghubung antara kelompok lokal dan pemerintah terhambat atau terputus, dimana beberapa struktur penghubung tersebut tidak efektif untuk menyelesaikan permasalahan, sehingga memunculkan situasi boomerang pattern yang mempengaruhi karakteristik dari jaringan tersebut. 2. Aktivis atau political entrepreneur percaya bahwa jaringan tersebut akan memajukan misi misi dan kampanye kampanye mereka, serta secara aktif mempromosikan mereka 3. Konferensi internasional dan berbagai bentuk interaksi internasional lainnya memberikan wadah untuk membentuk dan menguatkan jaringan. Boomerang Pattern merupakan suatu bentuk strategi yang dilakukan dalam transnational advocacy network, dimana keterbatasan kemampuan kelompok lokal dalam level nasional diatasi dengan membentuk transnational network untuk mendapatkan dukungan dari internasional. Dukungan internasional terhadap kelompok lokal tersebut kemudian digunakan untuk mewujudkan tujuan atau kepentingan mereka dengan cara mencoba menekan negaranya dari luar, terkait kebijakan ataupun perilaku dari negara tersebut dalam suatu isu tertentu. 16 Dalam pelaksanaannya, transnational advocacy network memiliki beberapa strategi yang digunakan untuk melakukan advokasi, yaitu 17 : 1. Information politics, kemampuan untuk mentransfer dengan cepat informasi politik yang berguna dan memiliki kredibilitas atau dapat dipercaya, ke tempat yang akan mendapatkan pengaruh yang paling kuat. 2. Symbolic politics, kemampuan dalam memberikan kesan yang kuat melalui simbol, aksi, ataupun cerita yang akan menggambarkan situasi ataupun tuntutan, meskipun sasaran individu tersebut berada di jarak yang jauh. 14 Margaret E. Keck dan Kathryn Sikkink, Transnational Advocacy Network in International and Regional Politics, UNESCO, Blackwell Publisher, Oxford, 1999, hal Ibid, hal Ibid, hal Ibid, hal

6 3. Leverage politics, kemampuan untuk menggambarkan situasi dimana aktor yang memiliki power dapat mengendalikan situasi dan berpengaruh, sedangkan aktor yang tidak memiliki power terlihat tidak memiliki pengaruh. 4. Accountability politics, usaha yang digunakan dengan membantu aktor aktor berpower untuk bertindak atau beraksi dalam kebijakan atau prinsip yang mereka sokong. Global Collective Action menurut Todd Sandler 18 merupakan suatu bentuk aksi kolektif yang dilakukan oleh aktor internasional dalam menanggapi suatu isu global berdasarkan pada kepentingan dari aktor yang terlibat serta kepada interpedensi antar pelaku, baik untuk beraksi (global action) ataupun sebaliknya (global inaction), yang mengarah kepada tercapainya kepentingan bersama. Global collective action membutuhkan adanya dukungan aksi dari dua atau lebih aktor internasional (individual, kelompok, perusahaan, institusi, atau negara) untuk mencapai tujuan dari aksi tersebut. Dalam global collective action adanya situasi atau keadaan tertentu yang mempengaruhi kepentingan aktor aktor internasional secara global, akan mendorong tercapai dan berjalannya global collective action. Sedangkan terjadinya global inaction dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adalah keterlibatan aktor internasional dalam aksi tersebut akan memperkecil keuntungan akhir yang seharusnya diperolehnya, tidak adanya pemberian informasi untuk mencegah ketidakpastian terutama ketika aksi tersebut membutuhkan adanya pengeluaran yang tidak diperlukan dari resolusi yang belum pasti, adanya aktor internasional yang menjadi pemimpin, diperlukannya jumlah yang besar dari aktor aktor yang berkontribusi untuk mencapai solusi efektif, dan hilangnya otonomi dari asosiasi yang ada. Dengan begitu global collective action akan terbentuk ketika kerjasama tersebut menyediakan alternatif global dengan agenda yang jelas dan pasti bagi para aktor, serta dengan keuntungan yang besar Todd Sandler, Global Collective Action, University of Southern California, Cambridge University Press, UK, Ibid, hal

7 1.4. ARGUMEN UTAMA Peran NGO sebagai kelompok penekan di dalam pemerintahan domestik EU dalam proses pembuatan kebijakan FLEGT-VPA dapat dilihat melalui aktivitas transnationalnya terkait dengan isu tersebut. Global networking yang dimiliki oleh NGO terdiri dari cabang cabang NGO tersebut di negara negara lain serta hubungan yang dimiliki oleh NGO tersebut dengan NGO yang berbeda maupun dengan aktor internasional lainnya. Menggunakan global networking yang dimiliki, NGO berhasil menekan pemerintahan domestik EU dengan adanya dukungan dari internasional melalui global collective action yang muncul dalam usaha advokasi tersebut. Global collective action yang terbentuk merupakan hasil dari usaha advokasi NGO dengan masyarakat internasional dalam menanggulangi permasalahan illegal logging yang mempengaruhi kelestarian hutan dunia. Sebagai sebuah civil society yang memiliki kemampuan lebih besar untuk dapat berhubungan langsung dengan masyarakat, NGO menggunakan jaringan transnational-nya untuk mempengaruhi masyarakat serta aktor internasional lainnya dalam permasalahan ini. NGO mendorong masyarakat untuk melakukan global collective action dengan menggunakan strategi strategi dari transnational advocacy network yang kemudian menimbulkan boomerang effect pada pemerintahan EU. Tekanan dari masyarakat internasional serta aktor aktor internasional lainnya kemudian mendorong EU untuk membuat dan melaksanakan kebijakan yaitu FLEGT-VPA dengan tujuan untuk memerangi permasalahan illegal logging dalam perdagangan kayu di EU demi kelestarian hutan dunia SISTEMATIKA PENULISAN Dalam struktur penulisannya, skripsi ini akan terbagi menjadi lima bab, yang antara lain adalah : BAB I. PENDAHULUAN Dalam bab ini, penulisan akan difokuskan terhadap penjelasan mengenai latar belakang permasalahan yaitu peran NGO sebagai kelompok penekan yang membatasi peran NGO dalam proses pembuatan kebijakan dalam pemerintahan EU terkait regulasi perdagangan timber EU. Padahal NGO - NGO tersebut meyakini bahwa perdagangan kayu internasional mempengaruhi laju isu illegal logging dalam negara negara produsen kayu di dunia. Terkait hal ini NGO 7

8 sebagai civil society yang berstatus sebagai kelompok penekan dalam EU, memiliki kepentingan untuk memerangi isu illegal logging dengan mengadvokasi EU untuk membuat kebijakan dalam regulasi perdagangan timber. Selain itu juga terdapat teori teori yang akan digunakan dalam pembahasan masalah, argumen utama dari permasalahan, metode penulisan, serta sistematika penulisan. BAB II. NGO DALAM PEMERINTAHAN EUROPEAN UNION Dalam bab ini, penulisan akan berisikan penjelasan mengenai hubungan antara NGO dengan pemerintah EU yang dikaitkan dengan posisi dan peran NGO secara nasional, regional, maupun internasional. Selain itu bab ini juga akan menjelaskan mengenai pengaruh NGO dalam pemerintahan EU yang juga dikaitkan dengan proses pembuatan kebijakan tersebut baik dalam pemerintahan EU maupun internasional di bidang sosial dan lingkungan. Dengan begitu juga akan dituliskan mengenai usaha dan peran NGO dalam berbagai kebijakan regional dan internasional dari EU, menggunakan kasus kasus dalam bidang sosial dan lingkungan. BAB III. PERAN NGO DALAM KEBIJAKAN FLEGT-VPA Dalam bab ini, penulisan akan berisikan mengenai definisi, sejarah, serta perkembangan dari FLEGT dalam EU, dengan mengaitkannya dengan situasi dan posisi masyarakat internasional mengenai kebijakan tersebut. Selain itu juga akan dituliskan mengenai posisi dari NGO dalam kebijakan FLEGT dan FLEGT-VPA dalam EU dalam lingkup regional maupun internasional, serta usaha usaha yang dilakukan oleh NGO dalam mendukung terciptanya kebijakan mengenai regulasi perdagangan kayu internasional tersebut. Bab ini juga berisikan mengenai analisa dari peran NGO dalam proses pembuatan kebijakan FLEGT-VPA antara EU dengan negara negara produsen kayu dengan data data yang telah tercantum pada bab bab sebelumnya. Analisa akan dilakukan menggunakan teori Transnational Advocacy Network dan Global Colletive Action sebagai strategi yang digunakan oleh NGO untuk mengadvokasi pemerintah EU mengeluarkan kebijakan FLEGT-VPA. BAB IV. KESIMPULAN Dalam bab ini, penulisan akan berisikan kesimpulan dari analisa terhadap rumusan masalah yang ada, berdasarkan hasil analisa dalam bab sebelumnya. 8

Beberapa perkembangan Internasional sehubungan dengan produk kayu ilegal yang harus dicermati:

Beberapa perkembangan Internasional sehubungan dengan produk kayu ilegal yang harus dicermati: SAMBUTAN MENTERI PERDAGANGAN PADA ACARA HIGH LEVEL MARKET DIALOGUE BETWEEN INDONESIA, EU, THE US AND JAPAN: MEETING MARKET DEMAND FOR LEGALLY TIMBER PRODUCT JAKARTA, 10 MARET 2011 Yth. Menteri Koordinator

Lebih terperinci

Penjelasan Singkat FLEGT

Penjelasan Singkat FLEGT 01 Penjelasan FLEGT FOREST LAW ENFORCEMENT, GOVERNANCE AND TRADE PENEGAKAN HUKUM DIBIDANG KEHUTANAN, TATA KELOLA DAN PERDAGANGAN Apakah FLEGT? 1. Mengapa kita memerlukan FLEGT? FLEGT adalah singkatan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Badan Pusat Statistik Provinsi Bali (Statistics of Bali Province)

BAB I PENDAHULUAN. 1 Badan Pusat Statistik Provinsi Bali (Statistics of Bali Province) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan teknologi dan informasi mendorong proses globalisasi pada setiap negara, globalisasi telah menyentuh hampir setiap aspek kehidupan masyarakat disebuah

Lebih terperinci

Indonesia dan Belanda Perkuat Kerja Sama di Bidang Perdagangan dan Pembangunan Infrastruktur Rabu, 23 November 2016

Indonesia dan Belanda Perkuat Kerja Sama di Bidang Perdagangan dan Pembangunan Infrastruktur Rabu, 23 November 2016 Indonesia dan Belanda Perkuat Kerja Sama di Bidang Perdagangan dan Pembangunan Infrastruktur Rabu, 23 November 2016 Pemerintah Indonesia dan pemerintah Belanda semakin memperkukuh kemitraan di antara keduanya.

Lebih terperinci

Mengekspor di Tengah Perubahan Lansekap Hukum

Mengekspor di Tengah Perubahan Lansekap Hukum Mengekspor di Tengah Perubahan Lansekap Hukum LOKAKARYA PELATIHAN LEGALITAS Indonesia 2,3 & 5 Agustus, 2010 LOKAKARYA PELATIHAN LEGALITAS Kebijakan dan Konvensi Internasional yang berdampak pada Perdagangan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lingkungan adalah Qisthiarini (2012) dengan judul penelitian NGO dan Sustainable

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. lingkungan adalah Qisthiarini (2012) dengan judul penelitian NGO dan Sustainable 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Pustaka Penelitian selanjutnya berkaitan dengan pengaruh NGO dalam pelestarian lingkungan adalah Qisthiarini (2012) dengan judul penelitian NGO dan Sustainable Development:

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Gambar 1. Kecenderungan Total Volume Ekspor Hasil hutan Kayu

I. PENDAHULUAN. Gambar 1. Kecenderungan Total Volume Ekspor Hasil hutan Kayu I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Sumberdaya hutan tropis yang dimiliki negara Indonesia, memiliki nilai dan peranan penting yang bermanfaat dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Manfaat yang didapatkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Tasmanian Wilderness oleh Perdana Menteri Australia Tony Abbott. Tasmanian

BAB 1 PENDAHULUAN. Tasmanian Wilderness oleh Perdana Menteri Australia Tony Abbott. Tasmanian BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Skripsi ini mendiskusikan tentang politisasi kawasan konservasi Tasmanian Wilderness oleh Perdana Menteri Australia Tony Abbott. Tasmanian Wilderness merupakan salah

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Skripsi ini menjelaskan mengenai strategi Migrant CARE dalam

BAB V PENUTUP. Skripsi ini menjelaskan mengenai strategi Migrant CARE dalam BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Skripsi ini menjelaskan mengenai strategi Migrant CARE dalam mempengaruhi pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi migran 1990. Lewat konsep Transnational Advocacy Networks,

Lebih terperinci

MEDIA ECONOMICS Media massa adalah institusi ekonomi yang berkaitan dengan produksi dan penyebab isi media yang ditargetkan pada khalayak atau konsume

MEDIA ECONOMICS Media massa adalah institusi ekonomi yang berkaitan dengan produksi dan penyebab isi media yang ditargetkan pada khalayak atau konsume EKONOMI MEDIA MATA KULIAH EKONOMI POLITIK INTERNASIONAL Universitas Muhammadiyah Jakarta Aminah, M.Si MEDIA ECONOMICS Media massa adalah institusi ekonomi yang berkaitan dengan produksi dan penyebab isi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. <http://www.japantimes.co.jp/news/2013/06/01/world/the-evolution-of-ticad-since-its-inception-in-1993/>, diakses 16 Juni 2016.

BAB I PENDAHULUAN. <http://www.japantimes.co.jp/news/2013/06/01/world/the-evolution-of-ticad-since-its-inception-in-1993/>, diakses 16 Juni 2016. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak kebijakan ODA Jepang mulai dijalankan pada tahun 1954 1, ODA pertama kali diberikan kepada benua Asia (khususnya Asia Tenggara) berupa pembayaran kerusakan akibat

Lebih terperinci

BAB III PASAR EROPA SEBAGAI TUJUAN INVESTASI PERDAGANGAN. ekonomi dunia, kekuatan-kekuatan ekonomi ini membuat community atau forum

BAB III PASAR EROPA SEBAGAI TUJUAN INVESTASI PERDAGANGAN. ekonomi dunia, kekuatan-kekuatan ekonomi ini membuat community atau forum BAB III PASAR EROPA SEBAGAI TUJUAN INVESTASI PERDAGANGAN LUAR NEGERI Perubahan zaman pada terakhir ini terjadi suatu pergeseran kekuatan ekonomi dunia, kekuatan-kekuatan ekonomi ini membuat community atau

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PROGRAM EKOLABEL DI INDONESIA IMPLEMENTATION OF ECOLABEL PROGRAM IN INDONESIA

PELAKSANAAN PROGRAM EKOLABEL DI INDONESIA IMPLEMENTATION OF ECOLABEL PROGRAM IN INDONESIA PELAKSANAAN PROGRAM EKOLABEL DI INDONESIA IMPLEMENTATION OF ECOLABEL PROGRAM IN INDONESIA SKRIPSI Oleh DESTYANE PRISTANTI PUTRI NIM 100910101016 JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL

Lebih terperinci

BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan

BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan Akuntansi merupakan satu-satunya bahasa bisnis utama di pasar modal. Tanpa standar akuntansi yang baik, pasar modal tidak akan pernah berjalan dengan baik pula karena laporan

Lebih terperinci

BAB I - PENDAHULUAN. 1 Perjanjian Westphalia pada tahun 1648 menciptakan konsep kedaulatan Westphalia

BAB I - PENDAHULUAN. 1 Perjanjian Westphalia pada tahun 1648 menciptakan konsep kedaulatan Westphalia BAB I - PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian ini ingin melihat kebijakan eksternal Uni Eropa (UE) di Indonesia yang dapat dikategorikan sebagai bentuk implementasi dari konsep kekuatan normatif. Konsep

Lebih terperinci

Mengekspor dalam Lasekap Hukum yang Bergeser LOKAKARYA PELATIHAN LEGALITAS. Kota, Negara Tanggal, 2013

Mengekspor dalam Lasekap Hukum yang Bergeser LOKAKARYA PELATIHAN LEGALITAS. Kota, Negara Tanggal, 2013 Mengekspor dalam Lasekap Hukum yang Bergeser LOKAKARYA PELATIHAN LEGALITAS Kota, Negara Tanggal, 2013 Pelatihan untuk Para Pelatih Pengantar Sumber Daya Pelatihan untuk Para Pelatih - Sumber Daya Pelatihan

Lebih terperinci

DAFTAR PUSTAKA. Lewis, D. (2009). Nongovernmental Organizations, Definition and History. London School of Economics and Political Science, London.

DAFTAR PUSTAKA. Lewis, D. (2009). Nongovernmental Organizations, Definition and History. London School of Economics and Political Science, London. DAFTAR PUSTAKA Buku Lewis, D. (2009). Nongovernmental Organizations, Definition and History. London School of Economics and Political Science, London. William E. DeMars, D. D. (2015). The NGO Challenge

Lebih terperinci

Bab 5 Bisnis Global 10/2/2017 1

Bab 5 Bisnis Global 10/2/2017 1 Bab 5 Bisnis Global 10/2/2017 1 Pengertian Globalisasi Globalisasi: Perekonomian dunia yang menjadi sistem tunggal yang saling bergantung satu dengan yang lainnya Beberapa kekuatan yang digabungkan menyulut

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi Negara di Dunia Periode (%)

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Pertumbuhan Ekonomi Negara di Dunia Periode (%) I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia pada periode 24 28 mulai menunjukkan perkembangan yang pesat. Kondisi ini sangat memengaruhi perekonomian dunia. Tabel 1 menunjukkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemerintah Australia begitu gencar dalam merespon Illegal, Unreported, Unregulated Fishing (IUU Fishing), salah satu aktivitas ilegal yang mengancam ketersediaan ikan

Lebih terperinci

Bab 5 Bisnis Global P E R T E M U A N 5

Bab 5 Bisnis Global P E R T E M U A N 5 Bab 5 Bisnis Global P E R T E M U A N 5 1 PENGERTIAN GLOBALISASI Globalisasi: Perekonomian dunia yang menjadi sistem tunggal yang saling bergantung satu dengan yang lainnya Beberapa kekuatan yang digabungkan

Lebih terperinci

Materi Minggu 12. Kerjasama Ekonomi Internasional

Materi Minggu 12. Kerjasama Ekonomi Internasional E k o n o m i I n t e r n a s i o n a l 101 Materi Minggu 12 Kerjasama Ekonomi Internasional Semua negara di dunia ini tidak dapat berdiri sendiri. Perlu kerjasama dengan negara lain karena adanya saling

Lebih terperinci

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan MARI DUKUNG! I M P L E M E N T A S I P E N U H. oleh Agus Justianto

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan MARI DUKUNG! I M P L E M E N T A S I P E N U H. oleh Agus Justianto Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan MARI DUKUNG! I M P L E M E N T A S I P E N U H S V L K oleh Agus Justianto Sistem Verifikasi Legalitas Kayu Dibangun sejak 2003 dan melibatkan para pemangku kepentingan

Lebih terperinci

PENGARUH REGULASI ECO LABELLING DI UNI EROPA TERHADAP REGULASI EKSPOR PRODUK KAYU DI INDONESIA

PENGARUH REGULASI ECO LABELLING DI UNI EROPA TERHADAP REGULASI EKSPOR PRODUK KAYU DI INDONESIA PENGARUH REGULASI ECO LABELLING DI UNI EROPA TERHADAP REGULASI EKSPOR PRODUK KAYU DI INDONESIA Masitha Tismananda Kumala Fakultas Hukum Universitas Airlangga e-mail: [email protected] ABSTRAK Uni Eropa

Lebih terperinci

Integrasi Produk Pariwisata Indonesia Berbasis Environmental Supply Chain Management

Integrasi Produk Pariwisata Indonesia Berbasis Environmental Supply Chain Management Integrasi Produk Pariwisata Indonesia Berbasis Environmental Supply Chain Management Pendahuluan Peran sektor jasa dalam Perekonomian Indonesia semakin penting dan terus berkembang sejak krisis tahun 1997

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kerja sama merupakan upaya yang dilakukan oleh perseorangan, kelompok maupun negara untuk mencapai kepentingan bersama. Lewat bekerjasama, tentu saja seseorang, kelompok

Lebih terperinci

Rencana Strategis Pemantauan Independen Kehutanan di Indonesia

Rencana Strategis Pemantauan Independen Kehutanan di Indonesia Rencana Strategis Pemantauan Independen Kehutanan di Indonesia Rencana Strategis Pemantauan Independen Kehutanan di Indonesia¹ TUJUAN & RINGKASAN Kegiatan pemantauan secara independen terhadap sektor

Lebih terperinci

RESUM SKRIPSI PERANAN GREENPEACE DALAM PELESTARIAN HUTAN RAWA GAMBUT DI SEMENANJUNG KAMPAR RIAU

RESUM SKRIPSI PERANAN GREENPEACE DALAM PELESTARIAN HUTAN RAWA GAMBUT DI SEMENANJUNG KAMPAR RIAU RESUM SKRIPSI PERANAN GREENPEACE DALAM PELESTARIAN HUTAN RAWA GAMBUT DI SEMENANJUNG KAMPAR RIAU Disusun oleh : ELISABETH NIGA BEDA (151070007) JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Industri pulp dan kertas merupakan salah satu industri yang memiliki

BAB I PENDAHULUAN. Industri pulp dan kertas merupakan salah satu industri yang memiliki BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Industri pulp dan kertas merupakan salah satu industri yang memiliki prospek di masa mendatang dan menjadi komoditas menarik bagi Indonesia. Produk industri kehutanan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Isu globalisasi sering diperbincangkan sejak awal tahun Globalisasi

I. PENDAHULUAN. Isu globalisasi sering diperbincangkan sejak awal tahun Globalisasi I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Isu globalisasi sering diperbincangkan sejak awal tahun 1980. Globalisasi selain memberikan dampak positif, juga memberikan dampak yang mengkhawatirkan bagi negara yang

Lebih terperinci

Assalamu alaikum Wr.Wb.

Assalamu alaikum Wr.Wb. ASEAN INTER-PARLIAMENTARY ASSEMBLY PRESS RELEASE PENYELENGGARAAN EXCOM dan AIFOCOM MEETING Yogyakarta, 9 10 July 2012 ----------------- Assalamu alaikum Wr.Wb. Terima kasih atas atensi dan kehadiran rekan-rekan

Lebih terperinci

PRESS RELEASE Standar Pengelolaan Hutan Lestari IFCC (Indonesian Forestry Certification Cooperation) Mendapat Endorsement dari PEFC

PRESS RELEASE Standar Pengelolaan Hutan Lestari IFCC (Indonesian Forestry Certification Cooperation) Mendapat Endorsement dari PEFC PRESS RELEASE Jakarta, 11 Desember 2014 Pada 1 Oktober 2014, Skema Sertifikasi Pengelolaan Hutan Lestari IFCC* secara resmi telah mendapatkan endorsement dari sistem sertifikasi terdepan dan terpercaya

Lebih terperinci

Pengaruh Implementasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) Terhadap Industri Ekspor Furniture Kayu Indonesia di Solo Raya, Jawa Tengah

Pengaruh Implementasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) Terhadap Industri Ekspor Furniture Kayu Indonesia di Solo Raya, Jawa Tengah Pengaruh Implementasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) Terhadap Industri Ekspor Furniture Kayu Indonesia di Solo Raya, Jawa Tengah Abstract Indonesia has a large forested areas, will benefit for

Lebih terperinci

ANALISIS DAMPAK VPA TERHADAP PERDAGANGAN KAYU INDONESIA

ANALISIS DAMPAK VPA TERHADAP PERDAGANGAN KAYU INDONESIA ANALISIS DAMPAK VPA TERHADAP PERDAGANGAN KAYU INDONESIA Pelaksanaan studi: pertengahan Juni akhir Nov 07 Metodologi: a) Wawancara dengan asosiasi, instansi pemerintah, perorangan, LSM b) Kajian literatur,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peradaban umat manusia di berbagai belahan dunia (Maryudi, 2015). Luas hutan

BAB I PENDAHULUAN. peradaban umat manusia di berbagai belahan dunia (Maryudi, 2015). Luas hutan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumberdaya hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki peran penting bagi keberlangsungan hidup umat manusia di muka bumi. Peran penting sumberdaya hutan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. ASEAN sebagai organisasi regional, kerjasama ekonomi dijadikan sebagai salah

I. PENDAHULUAN. ASEAN sebagai organisasi regional, kerjasama ekonomi dijadikan sebagai salah 17 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ASEAN terbentuk pada tahun 1967 melalui Deklarasi ASEAN atau Deklarasi Bangkok tepatnya pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok oleh Wakil Perdana Menteri merangkap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pentingnya peran energi dalam kebutuhan sehari-hari mulai dari zaman dahulu

BAB I PENDAHULUAN. Pentingnya peran energi dalam kebutuhan sehari-hari mulai dari zaman dahulu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Topik tentang energi saat ini menjadi perhatian besar bagi seluruh dunia. Pentingnya peran energi dalam kebutuhan sehari-hari mulai dari zaman dahulu hingga sekarang

Lebih terperinci

KOMUNIKE BERSAMA MENGENAI KERJA SAMA UNTUK MEMERANGI PERIKANAN TIDAK SAH, TIDAK DILAPORKAN DAN TIDAK DIATUR (/UU FISHING)

KOMUNIKE BERSAMA MENGENAI KERJA SAMA UNTUK MEMERANGI PERIKANAN TIDAK SAH, TIDAK DILAPORKAN DAN TIDAK DIATUR (/UU FISHING) t \.. REPUBU K INDONESIA KOMUNIKE BERSAMA MENGENAI KERJA SAMA UNTUK MEMERANGI PERIKANAN TIDAK SAH, TIDAK DILAPORKAN DAN TIDAK DIATUR (/UU FISHING) DAN UNTUK MEMAJUKAN TATA KELOLA PERIKANAN BERKELANJUTAN

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. internasional, sebagai aktor dalam hubungan internasional, dalam hal pembentukan

BAB V KESIMPULAN. internasional, sebagai aktor dalam hubungan internasional, dalam hal pembentukan BAB V KESIMPULAN Penelitian ini merupakan sarana eksplanasi tentang perilaku organisasi internasional, sebagai aktor dalam hubungan internasional, dalam hal pembentukan suatu program atau agenda yang diimplementasikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Tinbergen (1954), integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur perekonomian internasional yang lebih bebas dengan jalan menghapuskan semua hambatanhambatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini

BAB 1 PENDAHULUAN. (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) / ASEAN Economic Community (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini merupakan agenda utama negara

Lebih terperinci

ANALISIS POSISI EKSPOR KOPI INDONESIA DI PASAR DUNIA EXPORT POSITION ANALYSIS OF COFFEE INDONESIA IN THE WORLD MARKET

ANALISIS POSISI EKSPOR KOPI INDONESIA DI PASAR DUNIA EXPORT POSITION ANALYSIS OF COFFEE INDONESIA IN THE WORLD MARKET ANALISIS POSISI EKSPOR KOPI INDONESIA DI PASAR DUNIA EXPORT POSITION ANALYSIS OF COFFEE INDONESIA IN THE WORLD MARKET Desi Ratna Sari 1, Ermi Tety 2, Eliza 2 Department of Agribussiness, Faculty of Agriculture,

Lebih terperinci

Akumulasi logam mulia adalah esensial bagi kekayaan suatu bangsa. Kebijakan ekonomi: mendorong ekspor dan membatasi impor

Akumulasi logam mulia adalah esensial bagi kekayaan suatu bangsa. Kebijakan ekonomi: mendorong ekspor dan membatasi impor Bisnis Internasional #2 Nofie Iman Merkantilisme Berkembang di Eropa abad ke-16 hingga 18 Akumulasi logam mulia adalah esensial bagi kekayaan suatu bangsa Kebijakan ekonomi: mendorong ekspor dan membatasi

Lebih terperinci

FLEGT-VPA: Ringkasan. Ringkasan dan kronologis_ind_june2009.doc 1

FLEGT-VPA: Ringkasan. Ringkasan dan kronologis_ind_june2009.doc 1 Forest Law Enforcement, Governance and Trade Voluntary Partnership Agreement (FLEGT-VPA) Penegakan Hukum, Tata Kelola dan Perdagangan bidang Kehutanan - Perjanjian Kemitraan Sukarela FLEGT-VPA: Ringkasan

Lebih terperinci

Perihal: Pengembangan Sistem Data Base dan Informasi MFP3 Referensi:

Perihal: Pengembangan Sistem Data Base dan Informasi MFP3 Referensi: Mekanisme : Purchase Order Tanggal Diterbitkan : 13 Agustus 2015 Tanggal Penutupan : 21 Agustus 2015 (6 hari kerja setelah tanggal diterbitkan) Waktu Penutupan : 17.00 WIB Perihal: Request for Quotation

Lebih terperinci

AGENDA AKSI DEKADE KETIGA GERAKAN PUSAKA INDONESIA DASA WARSA Tema "Pusaka untuk Kesejahteraan Rakyat"

AGENDA AKSI DEKADE KETIGA GERAKAN PUSAKA INDONESIA DASA WARSA Tema Pusaka untuk Kesejahteraan Rakyat AGENDA AKSI DEKADE KETIGA GERAKAN PUSAKA INDONESIA DASA WARSA 2014-2023 Tema "Pusaka untuk Kesejahteraan Rakyat" 1 AGENDA AKSI DEKADE KETIGA GERAKAN PUSAKA INDONESIA DASA WARSA 2014-2023 Tema "Pusaka untuk

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Persoalan lingkungan mulai menjadi perhatian global sejak Konferensi Stokhlom 1972 yang merupakan forum internasional yang berfokus pada lingkungan hidup dan manusia dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hutan di Indonesia menjadi potensi besar sebagai paru-paru dunia,

BAB I PENDAHULUAN. Hutan di Indonesia menjadi potensi besar sebagai paru-paru dunia, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hutan di Indonesia menjadi potensi besar sebagai paru-paru dunia, berdasarkan data Food and Agriculture Organization (2015) luas wilayah hutan tropis terbesar ketiga

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1. 1 Kepadatan UMKM Lintas Dunia Sumber: World Bank IFC (2010)

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1. 1 Kepadatan UMKM Lintas Dunia Sumber: World Bank IFC (2010) BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Usaha Mikro, Kecil Menengah atau UMKM merupakan sektor penting sebagai mesin penggerak utama ekonomi global. Hal ini dapat terlihat dari mendominasinya jumlah

Lebih terperinci

2 masing-masing negara masih berhak untuk menentukan sendiri hambatan bagi negara non anggota. 1 Sebagai negara dalam kawasan Asia Tenggara tentunya p

2 masing-masing negara masih berhak untuk menentukan sendiri hambatan bagi negara non anggota. 1 Sebagai negara dalam kawasan Asia Tenggara tentunya p 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era globalisasi yang semakin maju ini ada banyak isu-isu yang berkembang. Bukan hanya isu mengenai hard power yang menjadi perhatian dunia, tetapi isu soft

Lebih terperinci

PERJALANAN PANJANG PERKEMBANGAN KONSEPSI PENGELOLAAN HUTAN LESTARI

PERJALANAN PANJANG PERKEMBANGAN KONSEPSI PENGELOLAAN HUTAN LESTARI 2. Pengusahaan hutan diartikan sebagai kegiatan pemanfaatan hutan yang didasarkan atas azas kelestarian dan azas perusahaan yang meliputi penanaman, pemeliharaan, pengamanan, pemanenan hasil, pengolahan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1. Luasan lahan perkebunan kakao dan jumlah yang menghasilkan (TM) tahun

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gambar 1. Luasan lahan perkebunan kakao dan jumlah yang menghasilkan (TM) tahun 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha perkebunan merupakan usaha yang berperan penting bagi perekonomian nasional, antara lain sebagai penyedia lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi petani, sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang tak dapat dipisahkan. Diantara keduanya terdapat hubungan timbal. balik antara manusia dan lingkungan tempat hidupnya.

BAB I PENDAHULUAN. yang tak dapat dipisahkan. Diantara keduanya terdapat hubungan timbal. balik antara manusia dan lingkungan tempat hidupnya. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Manusia dan lingkungan hidupnya bagaikan dua sisi mata uang yang tak dapat dipisahkan. Diantara keduanya terdapat hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan

Lebih terperinci

Legalitas Pengeksporan Hasil-Hasil Hutan ke Negara-Negara Uni Eropa, Australia dan Amerika Serikat. Kota, Negara Tanggal, 2013

Legalitas Pengeksporan Hasil-Hasil Hutan ke Negara-Negara Uni Eropa, Australia dan Amerika Serikat. Kota, Negara Tanggal, 2013 Legalitas Pengeksporan Hasil-Hasil Hutan ke Negara-Negara Uni Eropa, Australia dan Amerika Serikat Kota, Negara Tanggal, 2013 Regulasi Kayu Uni Eropa (European Union Timber Regulation/EUTR) Regulasi Kayu

Lebih terperinci

Renstra Pusat Akreditasi Lembaga Sertifikasi BSN Tahun RENSTRA PUSAT AKREDITASI LEMBAGA SERTIFIKASI TAHUN

Renstra Pusat Akreditasi Lembaga Sertifikasi BSN Tahun RENSTRA PUSAT AKREDITASI LEMBAGA SERTIFIKASI TAHUN RENSTRA PUSAT AKREDITASI LEMBAGA SERTIFIKASI TAHUN 2015-2019 BADAN STANDARDISASI NASIONAL 2015 Kata Pengantar Dalam rangka melaksanakan amanat Undang-Undang No. 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

Lebih terperinci

Dhiani Dyahjatmatmayanti, S.TP., M.B.A.

Dhiani Dyahjatmatmayanti, S.TP., M.B.A. Pertemuan 5 Dinamika Organisasi Internasional Dhiani Dyahjatmatmayanti, S.TP., M.B.A. STTKD Yogyakarta Jl.Parangtritis Km.4,5 Yogyakarta, http://www.sttkd.ac.id [email protected], [email protected]

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Fenomensa globalisasi dalam bidang ekonomi mendorong perkembangan ekonomi yang semakin dinamis antar negara. Dengan adanya globalisasi, terjadi perubahan sistem ekonomi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, terutama pada sektor pertanian. Sektor pertanian sangat berpengaruh bagi perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)

BAB I PENDAHULUAN. Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasca runtuhnya Uni Soviet sebagai salah satu negara adi kuasa, telah membawa agenda baru dalam tatanan studi hubungan internasional (Multazam, 2010). Agenda yang awalnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tahun terakhir, produk kelapa sawit merupakan produk perkebunan yang. hampir mencakup seluruh daerah tropis (RSPO, 2009).

BAB I PENDAHULUAN. tahun terakhir, produk kelapa sawit merupakan produk perkebunan yang. hampir mencakup seluruh daerah tropis (RSPO, 2009). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kelapa sawit bukan tanaman asli Indonesia, namun keberadaan tanaman ini telah masuk hampir ke semua sektor kehidupan. Kondisi ini telah mendorong semakin meluasnya

Lebih terperinci

Pemeriksaan uji tuntas Penggunaan Kerangka Kerja Legalitas Kayu (bagi importir)

Pemeriksaan uji tuntas Penggunaan Kerangka Kerja Legalitas Kayu (bagi importir) Pemeriksaan uji tuntas Penggunaan Kerangka Kerja Legalitas Kayu (bagi importir) LEMBAR DATA 2.3 Apabila Anda seorang importir, setelah Anda mengumpulkan informasi (sebagai langkah pertama dalam pemeriksaan

Lebih terperinci

Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan Departemen Kehutanan

Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan Departemen Kehutanan Sosialisasi Peraturan Menteri Kehutanan P.38/Menhut-II/2009 tentang Standar dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu Direktorat Jenderal Bina Produksi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang ada. Sebagai contoh laporan World Wild Fund (WWF) pada tahun 2005

I. PENDAHULUAN. yang ada. Sebagai contoh laporan World Wild Fund (WWF) pada tahun 2005 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan populasi penduduk dunia menyebabkan kebutuhan akan sumber daya semakin meningkat terutama sumber daya alam. Perkembangan ini tidak seiring dengan kemampuan

Lebih terperinci

ANALISIS PELUANG DI PASAR GLOBAL. Pokok Bahasan

ANALISIS PELUANG DI PASAR GLOBAL. Pokok Bahasan ANALISIS PELUANG DI PASAR GLOBAL Pokok Bahasan Pasar dan Pembeli Global, dengan Bahasan : Kerjasana Ekonomi dan Pengaturan Perdagangan, Kejasama Ekonomi Regional, Karakteristik Pasar Regional, Pemasaran

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi telah menyentuh hampir seluruh aktivitas ekonomi dalam masyarakat. Kehidupan ekonomi global kini bersifat bebas dan tidak dibatasi oleh teritorial antar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. oleh United Nations Security Council yang menyebabkan berkembangnya

BAB I PENDAHULUAN. oleh United Nations Security Council yang menyebabkan berkembangnya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan organisasi internasional sebagai subjek hukum internasional, tidak terlepas dari munculnya berbagai organisasi internasional pasca Perang Dunia ke II. Terjadinya

Lebih terperinci

DAFTAR RIWAYAT HIDUP DUTA BESAR LUAR BIASA DAN BERKUASA PENUH REPUBLIK INDONESIA UNTUK FEDERASI RUSIA MERANGKAP REPUBLIK BELARUS

DAFTAR RIWAYAT HIDUP DUTA BESAR LUAR BIASA DAN BERKUASA PENUH REPUBLIK INDONESIA UNTUK FEDERASI RUSIA MERANGKAP REPUBLIK BELARUS DAFTAR RIWAYAT HIDUP DUTA BESAR LUAR BIASA DAN BERKUASA PENUH REPUBLIK INDONESIA UNTUK FEDERASI RUSIA MERANGKAP REPUBLIK BELARUS Nama Drs. Djauhari Oratmangun Tempat dan Tanggal Lahir Beo - Sulawesi Utara,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ECPAT International, What We Do, diakses pada 05 Desember 2013.

BAB I PENDAHULUAN. ECPAT International, What We Do,  diakses pada 05 Desember 2013. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) merupakan sebuah bentuk pelanggaran mendasar terhadap hak-hak anak yang bisa terjadi pada siapa saja dan dimana saja. 1 Prostitusi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.

II. TINJAUAN PUSTAKA. atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Perdagangan Internasional Menurut Oktaviani dan Novianti (2009) perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan negara lain

Lebih terperinci

Market Brief. Pasar Produk Organik di Jerman ### ITPC Hamburg ITPC HAMBURG - PELUANG PASAR PRODUK ORGANIK DI JERMAN 2015 I

Market Brief. Pasar Produk Organik di Jerman ### ITPC Hamburg ITPC HAMBURG - PELUANG PASAR PRODUK ORGANIK DI JERMAN 2015 I Market Brief Pasar Produk Organik di Jerman ### ITPC Hamburg ITPC HAMBURG - PELUANG PASAR PRODUK ORGANIK DI JERMAN 2015 I Daftar Isi Kata Pengantar... III 1 Pendahuluan... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap

I. PENDAHULUAN. perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi dunia akan semakin besar seiring dengan pesatnya perkembangan industrialisasi modern saat ini. Salah satu yang harus terus tetap terpenuhi agar roda

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan. A. Latar Belakang Masalah

BAB I. Pendahuluan. A. Latar Belakang Masalah BAB I Pendahuluan A. Latar Belakang Masalah Fenomena internasional yang menjadi tren perdagangan dewasa ini adalah perdagangan bebas yang meliputi ekspor-impor barang dari suatu negara ke negara lain.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. (UKM) dengan sistem home industry yang bekerjasama dengan industri-industri

I. PENDAHULUAN. (UKM) dengan sistem home industry yang bekerjasama dengan industri-industri I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Usaha furniture sudah lama dikenal masyarakat Indonesia, bahkan dibeberapa daerah tertentu sudah menjadi budaya turun temurun. Sentra-sentra industri furniture berkembang

Lebih terperinci

KEBIJAKAN ECOLABEL JERMAN TERHADAP IMPOR KOPI INDONESIA. Gladiola 1

KEBIJAKAN ECOLABEL JERMAN TERHADAP IMPOR KOPI INDONESIA. Gladiola 1 ejournal Ilmu Hubungan Internasional, 2015, 3 (3): 629-638 ISSN 0000-0000, ejournal.hi.fisip-unmul.org Copyright 2015 KEBIJAKAN ECOLABEL JERMAN TERHADAP IMPOR KOPI INDONESIA Gladiola 1 Abstrak German ecolabel

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh RINI SULISTYOWATI

SKRIPSI. Oleh RINI SULISTYOWATI Peran WWF ( World Wide Fund For Nature ) Dalam Usaha Penyelamatan Penyu Di Bali Indonesia (The Role of WWF ( World Wide Fund For Nature ) In saving destruction of marine turtle in Bali Indonesia) SKRIPSI

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan

I. PENDAHULUAN. Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan sektor pertanian saat ini telah mengalami perubahan orientasi yaitu dari orientasi peningkatan produksi ke orientasi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan dalam berbagai bidang, tak terkecuali dalam bidang ekonomi. Menurut Todaro dan Smith (2006), globalisasi

Lebih terperinci

ARAH DAN SKENARIO PENGEMBANGAN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN. Ani Mardiastuti

ARAH DAN SKENARIO PENGEMBANGAN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN. Ani Mardiastuti ARAH DAN SKENARIO PENGEMBANGAN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN Ani Mardiastuti Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Terms of Reference Pengumpulan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman DAFTAR TABEL... xvi DAFTAR GAMBAR... xvii DAFTAR LAMPIRAN.. xix

DAFTAR ISI. Halaman DAFTAR TABEL... xvi DAFTAR GAMBAR... xvii DAFTAR LAMPIRAN.. xix DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL........ xvi DAFTAR GAMBAR........ xvii DAFTAR LAMPIRAN.. xix I. PENDAHULUAN.... 1 1.1 Latar Belakang. 1 1.2 Rumusan Masalah. 4 1.3 Tujuan Penelitian... 4 1.4 Manfaat Penelitian....

Lebih terperinci

Menerjang Arus Globalisasi ACFTA dan Masa Depan Ekonomi Politik Indonesia

Menerjang Arus Globalisasi ACFTA dan Masa Depan Ekonomi Politik Indonesia Menerjang Arus Globalisasi ACFTA dan Masa Depan Ekonomi Politik Indonesia Tahun 2001, pada pertemuan antara China dan ASEAN di Bandar Sri Begawan, Brunei Darussalam, Cina menawarkan sebuah proposal ASEAN-China

Lebih terperinci

Efektivitas ASEAN Economic Community Terhadap Optimalisasi Kualitas Industri Kerajinan Keramik Dinoyo Malang

Efektivitas ASEAN Economic Community Terhadap Optimalisasi Kualitas Industri Kerajinan Keramik Dinoyo Malang PASAR BEBAS Efektivitas ASEAN Economic Community Terhadap Optimalisasi Kualitas Industri Kerajinan Keramik Dinoyo Malang Latar Belakang Integrasi ekonomi merupakan salah satu sarana dalam meningkatkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pasar modal memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian suatu negara, karena pasar modal merupakan lembaga intermediasi dana dari pihak yang kelebihan dana

Lebih terperinci