Survei Konsumsi Pangan Kualitatif dan Kuantitatif

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Survei Konsumsi Pangan Kualitatif dan Kuantitatif"

Transkripsi

1 Metode Survei Konsumsi Pangan Survei Konsumsi Pangan Kualitatif dan Kuantitatif Nikmah Utami Dewi Maret 2017 Berdasarkan Jenis Data yang diperoleh a. Metode Kualitatif b. Metode Kuantitatif c. Metode Kuantitatif dan Kualitatif Berdasarkan Sasaran Pengamatan a. Tingkat Nasional b. Tingkat Rumah Tangga c. Tingkat Individu Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako Outline Pendahuluan Tujuan Survei Kualitatif Macam Metode Survei Konsumsi Kualitatif Pengertian dan Tujuan Survei Konsumsi Kuantitatif Macam Metode Survei Konsumsi Kuantitatif Survei Konsumsi Pangan Kualitatif - Menitikberatkan pada aspek-aspek yang berhubungan dengan kebiasaan makan /faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsipangan (Suhardjo dkk, 1987) - Digunakan untuk mengetahui frekuensi makan, frekuensi konsumsi menurut jenis bahan pangan, dan menggali informasi tentang kebiasaan makan ( Supariasa dkk, 2002). 1

2 Tujuan Survei Konsumsi Pangan secara Kualitatif??? Kebiasaan Makan - Diartikan sebagai cara individu /kelompok untuk memilih pangan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh fisiologik, psikologik, sosial dan budaya - Dipengaruhi kegiatan budaya keluarga, kelompok masyarakat, negara atau suatu bangsa - Kebudayaan mempunyai kekuatan dalam pengaruh pemilihan pangan anggotanya. Pola Makan Pola makan adalah gambaran mengenai macam, jumlah, dan komposisi bahan makanan yang dimakan tiap hari oleh satu orang yang merupakan ciri khas dari suatu kelompok masyarakat tertentu (Hartono, 2000) Pola Makan - Biasanya berkembang dari pangan setempat - Dipengaruhi oleh kelangkaan pangan dan kebiasaan bekerja anggota keluarga - Pangan pokok suatu negara/daerah biasanya menempati kedudukan tinggi dari nilai sosial - Pola makan 1X? 2X? 3X? 5X sehari? 2

3 Pembagian Makan dalam Keluarga - Secara tradisional, prioritas utama adalah.? - Wanita?? - Pembagian makanan yang tidak merata dalam keluarga merupakan bencana bagi kesehatan maupun kehidupan - Lebih mudah jika jumlah keluarga sedikit - Perlunya program keluarga berencana dan pembatasan penduduk Akseptabilitas - Cara turun temurun untuk mencari, memilih, menangani, menyiapkan, menyajikan dan memakan makanan - Pada umumnya kebiasan pangan tidak didasarkan karena keperluan fisik pada zat-zat gizi dalam pangan. Tetapi? - Jagung makanan pokok?? Beras?? - Makanan pantangan. Biasanya pada kelompok anak kecil, ibu hamil dan ibu menyusui. Metode Survei Kualitatif - Pengamatan Berpartisipasi - Dietary History - Food Frequency Questionnaire Pengamatan Berpartisipasi - Metode anthropologi kontak lama, intensif dan bervariasi dengan orang lain serta pendapat-pendapat mereka - Tujuan pokok: Pengembangan pengertian intensif terhadap kebudayaan lain Pengumpulan data yang akurat Pembentukan perspektif yang holistik 3

4 Pengamatan Berpartisipasi (Lanjutan ) 1. Pengembangan pengertian intensif terhadap kebudayaan lain - Peneliti menulis pengamatan-pengamatannya dan berusaha untuk mengintepretasikan dan menganalisanya - Berusaha untuk mengerti mengapa manusia bertindak dengan cara tertentu, menemukan kaitan-kaitan tindakan itu dan menerangkan - Selama kerja lapangan peneliti mengembangkan pengertian intuitif terhadap kebudayaan lain Pengamatan Berpartisipasi (Lanjutan ) 2. Memperoleh data yang akurat - Informan sangat berhati-hati dalam memberikan informasi pada orang asing - Peneliti berusaha mengadakan hubungan pribadi - Pendapatan petani, pendapatan bermacam-macamjumlahnya, perlu pengamatan yang dilakukan sendiri oleh peneliti dalam waktu lama Pengamatan Berpartisipasi (Lanjutan ) 3. Pembentukan perspektif yang holistik - Kita terbiasa membagi jurusan ilmu secara akademik - Tindakan manusia merupakan suatu keseluruhan - Keterkaitan ekonomi, kehidupan sosial, keagamaan Pengamatan Berpartisipasi (Lanjutan ) Keuntungan: - Paling sesuai untuk memperoleh pengertian tentang hubungan-hubungan sosial yang ada dalam kelompok kecil setempat - Mungkin untuk memperoleh pengertian dalam hubungan-hubungan sosial dan gejala yang sulit diperoleh dengan pendekatan survei formal - Dapat mengetahui bagaimana gejala-gejala tersebut tersulam satu dan yang lainnya 4

5 Pengamatan Berpartisipasi (Lanjutan ) Kekurangan: - Penelitian berskala kecil - Dilema banyak informasi tentang sedikit kasus atau informasi yang kurang tentang keseluruhan yang luas Dietary History - The method is a detailed retrospective dietary assessment used more often in clinical practice/ dietary advice than in research studies. - A diet history is used to describe usual food and/or nutrient intakes over a relatively long period e.g. 6 months and typically one year. Dietary History Prosedur 1. Lakukan 24-hours recall untuk mengetahui kebiasaan pola makan responden Apa yang biasa dimakan 2. Wawancarai responden berkaitan dengan dietary intake pada 1, 3, 6 atau 12 bulan yang lalu (sesuai tujuan penelitian). 3. Hitung yang paling sering dimakan atau gunakan food record selama 3 hari pada 1 hari weekdays (Senin-Jumat), Sabtu dan minggu. Food Frequency Questionnaire (FFQ) - Kebanyakan penelitian gizi bertujuan untuk mengetahui usual intake/kebiasaan makan individu - Single 24-hours tidak cocok, multiple recalls mahal dan sulit. - Untuk case control study, recall atau food record tidak cocok karena metode tersebut digunakan untuk mengetahui diet masa sekarang (current diet) 5

6 Food Frequency Questionnaire (lanjutan ) Prinsip penggunaan - FFQ menilai asupan energi atau zat gizi dengan menentukan seberapa sering seseorang mengkonsumsi sejumlah makanan sebagai sumber utama zat gizi tertentu dengan pertanyaan per-hari (minggu atau bulan) selama jangka waktu tertentu (6 bulan atau 1 tahun) - Data habitual intake (kebiasaan konsumsi) zat gizi, makanan tertentu atau kelompok makanan tertentu - FFQ terdiri dari kira-kira 100 atau kurang jenis pangan atau grup pangan sebagai kontributor penting pada asupan energi atau zat gizi tertentu yang ingin diketahui Food Frequency Questionnaire (lanjutan ) Prinsip penggunaan - Sederhana dan jelas - Biasanya self-administered karena itu harus mudah diisi oleh responden - Bisa berupa FFQ semi-quantitative jika menyertakan pertanyaan mengenai portion size - Culture specific Food Frequency Questionnaire (lanjutan ) Dua Tipe FFQ 1. FFQ Kualitatif, terdiri dari - List food (grup pangan spesifik) - Frekensi makan (harian, mingguan, bulanan, tahunan) 2. FFQ Semi-kuantitatif FFQ - FFQ kualitatif dengan tambahan porsi pangan - Ukuran kecil, sedang, besar - Dapat dihitung jumlah energi/zat gizi yang dikonsumsi Food Frequency Questionnaire (lanjutan ) Penggunaan FFQ Kualitatif - Mengetahui pola konsumsi makan/ kebiasaan makan - Mengetahui kemungkinan korelasi antara kebiasaan makan/ konsumsi makanan di masa lampau yang berhubungan dengan penyakit kronik tertentu/ kesehatan - Menilai program pendidikan gizi - Mengidentifikasi kelompok individu/ individu yang mungkin memerlukan penilaian konsumsi pangan yang lebih detail - Mengetahui trend pembelian makanan - Membedakan partisipan berdasarkan asupan gizi dan kebiasaan pangannya (tinggi, sedang, rendah) 6

7 Food Frequency Questionnaire Prosedur FFQ Kualitatif - Dari list pangan/kelompok pangan tertentu, tanyakan responden berapa sering mereka mengkonsumsi pangan tersebut - Pilihan frekuensi makan bisa harian, mingguan, bulanan, tahunan atau tidak pernah - Responden memberi tanda pilihan yang paling sesuai pada kolom frekuensi konsumsi pangan dari masing-masing item pangan Contoh: Form FFQ digunakan untuk meranking individu berdasarkan asupan makanan/zat gizinya Menampilkan referensi ukuran porsi untuk masing-masing makanan tertentu Data dari SQ-FFQ dapat dikonversikan menjadi data asupan energi atau zat gizi tertentu dengan MENGALIKAN ukuran porsi tiap makanan yang dikonsumsi perhari dengan konten energi/gizinya yang diperoleh dari data komposisi makanan. Seluruh hasilnya kemudian dijumlahkan untuk mendapatkan estimasi total asupan harian individu FFQ harus memuat cukup makanan yang merupakan sumber zat gizi tertentu untuk membedakan konsumsi rendah dan tinggi FFQ harus sederhana, jelas jenis/ kategori makanannya. Dan open question harus dihindari 7

8 Prosedur Lengkapi 3 langkah prosedur pada FFQ kualitatif Tersedia 3 pilihan ukuran porsi : small (S), medium (M) dan large (L) untuk masing-masing item makanan Cara mengkonversikan kategori frekuensi adalah dengan menggunakan basis harian. 1 X sehari = 1 Kalikan frekuensi perhari dengan ukuran porsi yang dipilih (dalam gram) untuk menghasilkan berat yang dikonsumsi perhari. Contoh A. Konversi frekuensi Nasi dikonsumsi 3 kali perhari 3 Tahu dikonsumsi 4 kali seminggu= 4/ per hari Es krim dikonsumsi 5 kali sebulan= 5/ per hari Contoh B. Nutrient score Jumlah porsi tahu yang dimakan= 2 buah sekali makan Ukuran porsi = sedang = 20 gram Frekuensi = 1 X sehari Kandungan protein = 7.8 gram/ 100 gram (100% BDD) Food score: 2 X 20 X 1 = 40 gram/ hari Nutrient score (protein): 40 x 7.8/100 = 3.12 gram/hari HOW TO OBTAIN FOOD LIST?? 8

9 Food List?? Langkah-langkah: 1. Carilah makanan yang kaya akan zat gizi tertentu (sesuai kelompok/tema) berdasarkan makanan yang sering dikonsumsi orang indonesia (Survei diet total 2014). Lakukan berdasarkan ukuran porsi. 2. List semua makanan yang kaya akan zat gizi tertentu (yang ingin diketahui). Makanan spesifik berdasarkan berkontribusi minimal 80% (90% Fe & Vit C) Food List?? 3. Lakukan FGD pada komunitas tertentu untuk mengetahui apakah makanan dalam list yang telah dibuat tersedia atau sering dikonsumsi 4. Makanan yang tidak pernah atau jarang dikonsumsi (misal: dikonsumsi <10% subjek) dikeluarkan dari list 5. Makanan yang tersisa dari langkah 4 kemudian dimasukkan dalm list FFQ dan diujicobakan dalam pilot tested sebelum final FFQ diproduksi Very long food lists will tend to overestimate the intake, while short lists will tend to underestimate the intake. Portion Size (Ukuran Porsi) How to obtain portion sizes used as a standard portion size in semi FFQ? Portion Size (Ukuran Porsi) 1. Available sources: a. USDA Foods Commonly Eaten by Individuals Medium portion size use the median portion consumed per eating occasion Small and large portion sizes were based on the 25th and the 75 th percentile b. Nutrition Canada Food Consumption Portion Data Medium portion size use the mean portion consumed Small and large portion sizes were based on the ± 1 SD 9

10 Portion Size (Ukuran Porsi) 2. Portion size calculated from the survey Each food item (data gathered from 24-h recall - once 24-h recall for each subject) sum to obtain total amount reported Calculate the mean portion size for each item. Total amount reported divided by the number of persons reporting the item. For example 11,047 g of mixed beef dishes were eaten by 55 people, thus resulted in a portion of 146g/person Mean portion size for each food item could be used as the medium portion size SQ-FFQ Kelebihan Mudah dlm pengumpulan data, sederhana Cepat (antara 20 menit s.d 1 jam) Beban responden rendah jika dibanding record method Dapat diisi sendiri oleh responden Data processing relatif sederhana Tingkat partisipasi tinggi sehingga dpt digunakan pada sampel yang besar Dapat menggambarkan usual intake untuk kelompok pangan ttt dlm kurun waktu ttt Kelemahan Hasil tergantung pada kelengkapan data makanan yang ada di kuesioner Pangan musiman sulit untuk dikuantifikasi Mengandalkan ingatan Ukuran porsi pada SQ-FFQ mungkin tidak merefleksikan apa yang dimakan subyek Hanya cocok untuk zat gizi tertentu (tidak dapat digunakan untuk semua zat gizi) Akurasi pengukuran intake absolute lebih rendah daripda metode lain. FFQ lebih abstrak krn responden hrs berfikir usual frekuensi Survei Konsumsi Pangan Kuantitatif - Dimaksudkan untuk mengetahui jumlah pangan atau makanan yang dikonsumsi - Dapat dihitung zat gizi yang dikonsumsi 10

11 Metode Survei Kuantitatif - Food Record/ Estimated food record - Weighing Method/ Weighed food method (Weighed foodrecord) - Recall method - Metode Inventaris (Inventory Method) - Metode Pendaftaran (Food List Method) Food Record (Estimated Food Records and Weighed Food Records) Prinsip dan Penggunaan - Berdasarkan jumlah aktual makanan yang dikonsumsi yang diukur dengan Ukuran Rumah Tangga (URT)/food model/gambar atau dengan penimbangan - Metode penimbangan cocok untuk studi konseling diet atau hubungan antara tingkat konsumsi dengan parameter biologi - Jika menggunakan metode penimbangan responden harus memiliki motivasi yang kuat, bisa membaca/ mencatat atau bisa dibantu oleh research asistant untuk mencatat/menimbang makanannya. Food Record (Estimated Food Records and Weighed Food Records) Prosedur - Responden diminta mencatat pada saat yang sama saat dia mengkonsumsi semua makanan dan minuman termasuk jajanan yang habis dimakan - Deskripsi makanan/minuman harus jelas: nama, cara memasak, merk (jika ada) - Timbang makanan/minuman yg dikonsumsi (yg disajikan dikurangi sisa) atau perkirakan dengan menggunakan URT - Jika responden makan di luar/membeli, diminta untuk mencatat secara detail sehingga nutrisionis dpt membeli dan menimbang duplicate portion makanan yang telah dicatat responden tsb Estimated Food Records VS Weighed Food Records Estimated Food Record (EFR) Jumlah makanan dan sisa makanan diukur dengan URT Tingkat keakuratan kurang jika dibandingkan WFR Beban responden lebih ringan jika dibandingkan WFR Weighed Food Record (WFR) Makanan dan sisa makanan ditimbang menggunakan timbangan yang disediakan oleh peneliti Metode yang paling precise untuk memperkirakan usual food dan nutrient intake pada individu Memerlukan kerjasama yang tinggi dari responden jika dibanding EFR Perlu biaya untuk membeli timbangan makanan 11

12 Food Record (Estimated Food Records and Weighed Food Records) Kelebihan: - Tidak tergantung memori/ingatan - Data yang tersedia detail ukuran porsi yang dikonsumsi terutama ketika ditimbang - Valid hingga pengukuran lebih dari 5 hari - Dapat mengukur pola makan dan kebiasaan makan yang berhubungan dengan sosial demografi responden - Dapat meningkatkan interpretasi pada data pengukuran laboratorium, antropometri dan klinik. - Multiple-day data lebih merepresentasikan usual intake Food Record (Estimated Food Records and Weighed Food Records) Kekurangan: - Perlu responden yang memiliki motivasi tinggi dan mau bekerja sama dengan baik - Bisa merubah kebiasaan diet - Berpengaruh pada respon responden jika responden merasa terlalu terbebani - Responden harus bisa membaca/menulis atau perlu bantuan research assistant/ asisten peneliti - Time-consuming. - Analysis is labor-intensive and expensive. - Significant underreporting may still occur Weighed Food Record Form Tanggal wawancara : Nama Responden : Nama Pewawancara : 24-Hour Recalls Waktu Makan Nama Makanan/ Menu ( Per baris per makanan) Cara memasak Sajian (gram) Berat Sisa (gram) Penggunaan laboratorium Berat makanan yang dikonsumsi (gram) Code Makanan 12

13 24-Hour Recalls (Single and Repeated 24-Hour Recalls) Prinsip dan Penggunaan - Metode yang digunakan untuk mengukur actual food intake individu pada hari sebelumnya (24 jam sebelumnya) - Digunakan untuk mengestimasi usual nutrient intake individu berdasarkan variasi hari ke hari pada satu individu - If more than one-day recall is required, nonconsecutive days should be selected - 24-hours recalls dapat diulang pada musim yang berbeda untuk mengestimasirata-rata konsumsi pada individu dalam jangka waktu panjang (usual food intake) 24-Hour Recalls (Single and Repeated 24-Hour Recalls) Prinsip dan Penggunaan - Single 24-hours recalls > to characterize average intakes of population groups when the subjects are representative to the population > the assessment should be conducted such a way that all days of the week are equally represented. > It is not sufficient to describe an individual s usual intake of food and nutrient; multiple 24-h recalls on the same individual over several days are required to achieve this objective 24-Hour Recalls (Single and Repeated 24-Hour Recalls) Prinsip dan Penggunaan - Repeated 24-hours recalls > Can be used to assess usual nutrient intakes for an individual. > Repeated 24-hr recalls on a sub-group of the population can be used to assess prevalence of inadequate nutrient intakes within each sub-group. 24-Hour Recalls (Single and Repeated 24-Hour Recalls) Prosedur - Responden mengingat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi 24 jam yang lalu - Responden memberikan informasi yang detail setiap pangan yang telah dikonsumsi mulai dari pagi bangun tidur dan berlanjut secara bertahap sampai makanan/minuman terakhir yang dikonsumsi pada hari tersebut - Responden memperkirakan ukuran porsi dengan menggunakan URT, food model - Interviewer men-check kembali hasil recall dengan responden - Interviewer mengkonversi ukuran porsi ke ukuran gram 13

14 24-Hour Recalls (Single and Repeated 24-Hour Recalls) 4 Langkah yang digunakan dalam wawancara (multiple-pass interviewing technique ) 1. Lengkapi list semua makanan dan minuman yang dikonsumsi responden sehari sebelumnya 2. Tanyakan detail deskripsi dari masing-masing makanan dan minuman yang dikonsumsi (cara masak dan nama merk) 3. Estimasi jumlah makanan dan minuman yang dikonsumsi (Biasanya digunakan URT) 4. Cek kembali hasil recall termasuk penggunaan suplemen/vitamin jika ada 24-Hour Recalls (Single and Repeated 24-Hour Recalls) Interactive 24-h recall Modifikasi dari 24-h recall u/ memperoleh informasi pada populasi pedesaan (rural area) pada negara berkembang 1. Responden dilatih untuk mengestimasi portion size sebelum recall dilakukan 2. Disediakan piring/mangkok untuk membantu responden mengingat jumlah makanan yang dikonsumsi 3. Juga penting menanyakan ukuran piring, mangkuk, gelas atau alat makan lain yang dipakai oleh responden yang kemudian dikonversikan pada ukuran berat yang sama (gram). 24-Hour Recalls (Single and Repeated 24-Hour Recalls) Kelebihan 1. Sederhana, murah, mudah dan cepat 2. Menyediakan deskripsi kualitatif tentang pola makan dan asupan nutrient 3. Dapat digunakan untuk mengukur rata-rata usual intake pada populasi yang besar 4. Bisa digunakan pada subjek yang tidak dapat membaca/menulis 5. Tidak perlu melatih responden cara mengukur 6. Tidak terlalu mengganggu responden sehingga respon responden tinggi 7. Tidak merubah diet 24-Hour Recalls (Single and Repeated 24-Hour Recalls) Kelemahan 1. Tergantung ingatan 2. Kurang cocok digunakan pada anak dan lansia 3. Under/overestimation portion sizes consumed 4. Tidak menggambarkan usual intake pada grup tertentu jika recalls tidak merepresentasikan hari-hari dalam seminggu 5. Interviewer harus terlatih 6. Kesalahan mengkonversikan portion size ke gram 7. Kesalahan melakukan pengkodean pada makanan jika database kurang 8. Data entry labor intensive 14

15 Contoh Form 24-Hour Recalls Tanggal Wawancara: Nama Responden Nama Pewawancara (catatan: Data adalah makanan/minuman yang dikonsumsipada pukul sampai pada hari sebelumnya) Tempat Makan Waktu Makan Nama makanan/mi numan Cara Masak Dskripsi detail makanan/m inuman (komposisi, merk jika ada) Berat makanan yang dikonsumsi Unit URT Gram Levels of objectives in measuring diets Untuk menghitung kebutuhan energi, kami membutuhkan data berikut: Jenis kelamin: L/P Umur: tahun Berat Badan kg Tinggi badan cm Levels of objectives in measuring diets 1. Untuk mendapatkan rata-rata asupan kelompok 2. Untuk menilai proporsi populasi yang berisiko kekurangan zat gizi ttt(inadequate nutrient intake) 3. Untuk menilai usual intake dari individu dengan tujuan me-ranking 4. Untuk menilai usual intake dari individu dengan tujuan meng-korelasi Level of Objectives Harus ditentukan sebelum memulai penilaian dietetik Setiap level of objectives yang berbeda memiliki prosedur yang berbeda 15

16 Level of Objectives Level of Objectives Level 1: Untuk mendapatkan rata-rata asupan kelompok Populasi Asupan gizi untuk tiap subjek hanya diukur untuk satu (1) hari Setiap hari dalam satu minggu harus terwakili secara proporsional pada sampel final (sampel total) Level 2: Untuk menilai proporsi populasi yang berisiko kekurangan zat gizi tertentu (inadequate nutrient intake) Penilaian asupan gizi setidaknya dilakukan selama 2 hari pada sub-sampel (30 40 subyek) Sebaiknya dilakukan pada hari yang tidak berurutan (Nonconsecutive days) saat dua kali pengulangan. Jika non-consecutive days tidak memungkinkan, maka sebaiknya dilakukan selama 3 hari Level of Objectives Level 3: Rank intakes of subjects within the distribution Multiple replicates of 24-hour recalls/diet records/diet history Alternatively, semi-quantitative FFQ can be used Level of Objectives Level 4: Usual intakes for correlations or counseling Larger number of replicates required Alternatively, semi-quantitative FFQ or diet history can be used 16

17 Figure: The four levels of objectives in measuring nutrient intakes and methods which can be used to meet the objectives Case Study LEVEL 1 Mean nutrient intake of a group All days of the week equally represented SINGLE 24hr-recall / food records / weighed diet records LEVEL 2 LEVEL 3 LEVEL 4 Proportion of Usual intake of Usual intakes of population at nutrients in foods / nutrients risk individuals for in individuals for ranking within a counseling or for group correlation or regression analysis At least 2 replicates in sub-sample Replicates in all Replicates in all MULTIPLE 24hr-recall / Semi Diet History food records / Quantitativeweighed diet FFQ records LEVEL 1 1. Menghitung prevalensi inadequate intakes of nutrients. 2. Mengidentifikasi sub-populasi yang memiliki risiko tinggi kekurangan zat gizi. LEVEL 2 3. Mengidentifikasi karakteristik individu yang memiliki risiko untuk mengalami penyakit jantung LEVEL koroner 3 4. Memberikan informasi ttg hubungan antara status kesehatan, sosial, ekonomi dan gizi pada sub-group populasi yang terpilih untuk pengembangan kebijakan, termasuk promosi kesehatanlevel 4 65 TUGAS I 1. Berpasangan single 24-hour recall (1 2 kelompok tampil praktek minggu depan) 2. Catat makanan/minuman/suplemen yang dimakan dalam 1 hari (individu) (food record) yang dilakukan bukan pada hari dilaksanakannya recall dan bukan pada 1 hari sebelum dilaksanakannya recall 3. Hitung secara manual kecukupan energinya, protein, karbohidrat, lemak. 4. Buatlah kesimpulan hasil analisis Anda. TUGAS 2 Membuat Food Frequecy Questionnaire Semi Kuantitatif Langkah-langkah: 1. Carilahmakanan yang kaya akan zat gizi tertentu (sesuai kelompok/tema) berdasarkan makanan yang sering dikonsumsi orang indonesia (Survei diet total 2014). Lakukan berdasarkan ukuran porsi. 2. List semua makanan yang kaya akan zat gizi tertentu (yang ingin diketahui). Makanan spesifik berdasarkan berkontribusi minimal 80% (90% Fe & Vit C) 17

18 TUGAS 2 Membuat Food Frequecy Questionnaire Semi Kuantitatif Langkah-langkah: 3. Buat layout kuesionernya (frekuensi, ukuran porsi) 4. Lakukan pilot study dengan minimal 10 responden (face validity, apa yang sering dikonsumsi/tidak pernah dikonsumsi) 5. Adaptasi kuesioner yang telah dibuat sesuai hasil pilot study Laporan memuat hal-hal berikut: 1. FFQ (lembarffq) 2. Penjelasan langkah-langkah pembuatan FFQ yang telah ditempuh 3. Contohperhitunganasupan gizi 4. Argumentasi a) Apatujuan FFQ tersebut dibuat? b) Mengapalist makanan yang dibuat 50/63/70/100?? c) Mengapamemilih referensiwaktu sepertiapayang kelompok Anda gunakan d) Portion size yang digunakan, kenapa kelompok Anda memakai portion size tersebut? e) Hasil pilot study, siapa respondennya (misal: umur, jenis kelamin, pendidikan) apa yang Anda tambahkan dan kurangi dari kuesioner yang telah dibuat? Mengapa? Tema: a. Vitamin C dan status imun siswa SMP se-kota Palu b. Asupan Lemak dan resiko penyakit Cardiovascular disease pada pria di Kota Palu c. Asupan Karbohidrat pada kejadian obesitas sentral pada mahasiswa kesehatan d. Asupan Fe dan kejadian stunting pada anak sekolah dasar di kota Palu 18

RINA HASNIYATI, SKM, M.Kes

RINA HASNIYATI, SKM, M.Kes RINA HASNIYATI, SKM, M.Kes Menentukan asupan makanan dan zat gizi (termasuk kontaminan) Merencanaan dan mengevaluasi kebijakan kesehatan dan pertanian Mempelajari hubungan asupan-penyakit (epidemiologi)

Lebih terperinci

SURVEI KONSUMSI PANGAN

SURVEI KONSUMSI PANGAN SURVEI KONSUMSI PANGAN Disusun oleh Ir. Lilik Noor Yuliati, MFSA Ir. Retnaningsih, MSi Departemen IKK-FEMA IPB 2016 Informasi yang diperoleh Apa yang dikonsumsi Frekuensi konsumsi Jumlah yang dikonsumsi

Lebih terperinci

Disampaikan oleh: Sulistiyani, M.Kes

Disampaikan oleh: Sulistiyani, M.Kes Disampaikan oleh: Sulistiyani, M.Kes 1 Kompetensi Dasar Setelah perkuliahan selesai diharapkan mahasiswa mampu: Menjelaskan pengertian penentuan status gizi dietetic Menyebutkan dan menjelaskan macam penentuan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Sosial Ekonomi Keluarga

TINJAUAN PUSTAKA. Sosial Ekonomi Keluarga TINJAUAN PUSTAKA Sosial Ekonomi Keluarga Besar Keluarga Besar keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak, dan anggota keluarga lain yang hidup dari pengelolaan sumberdaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang baik serta benar. Dalam

BAB I PENDAHULUAN. pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang baik serta benar. Dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tumbuh kembangnya anak usia sekolah yang optimal tergantung dari pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang baik serta benar. Dalam masa tumbuh kembang tersebut

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Status Gizi Status gizi merupakan suatu keadaan tubuh akibat interaksi antara asupan energi dan protein serta zat-zat gizi esensial lainnya dengan keadaan kesehatan tubuh (Sri,

Lebih terperinci

Output Perhitungan Besar Sampel dengan Software G Power

Output Perhitungan Besar Sampel dengan Software G Power Lampiran 1 Output Perhitungan Besar Sampel dengan Software G Power Exact - Correlations: Difference from constant (one sample case) Options: exact distribution Analysis: A priori: Compute required sample

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah metode preexperimental karena berupa penelitian lapangan yang memberikan perlakuan atau tindakan

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 15 METODOLOGI PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Penelitian ini menggunakan desain crossecsional study, semua data yang dibutuhkan dikumpulkan dalam satu waktu (Singarimbun & Effendi 2006).

Lebih terperinci

NASKAH PENJELASAN SEBELUM PERSETUJUAN

NASKAH PENJELASAN SEBELUM PERSETUJUAN Lampiran 1 NASKAH PENJELASAN SEBELUM PERSETUJUAN Saya Meiti Mahar Resy sebagai mahasiswi Universitas Esa Unggul akan melakukan penelitian Skripsi di RW 03 Kelurahan Pondok Kacang Timur Tangerang Banten.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mellitus tingkat kejadiannya terus meningkat di banyak negara di dunia (Lopez et

BAB I PENDAHULUAN. mellitus tingkat kejadiannya terus meningkat di banyak negara di dunia (Lopez et BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit tidak menular yang berkaitan dengan gizi seperti diabetes mellitus tingkat kejadiannya terus meningkat di banyak negara di dunia (Lopez et al., 2006 dalam Sacks,

Lebih terperinci

Informed Consent Persetujuan menjadi Responden

Informed Consent Persetujuan menjadi Responden Informed Consent Persetujuan menjadi Responden Selamat Pagi/Siang/Sore Perkenalkan nama Saya Laila Suciati mahasiswi S1 eks 2006 Peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas

Lebih terperinci

Gambar 1 Bagan kerangka pemikiran analisis kontribusi konsumsi ikan terhadap kecukupan zat gizi ibu hamil

Gambar 1 Bagan kerangka pemikiran analisis kontribusi konsumsi ikan terhadap kecukupan zat gizi ibu hamil 13 KERANGKA PEMIKIRAN Masa kehamilan merupakan masa yang sangat menentukan kualitas anak yang akan dilahirkan. Menurut Sediaoetama (1996), pemenuhan kebutuhan akan zat gizi merupakan faktor utama untuk

Lebih terperinci

MENGGUNAKAN PROGRAM NUTRI SURVEY SECARA PRAKTIS. Dr.dr.Saptawati Bardosono, MSc

MENGGUNAKAN PROGRAM NUTRI SURVEY SECARA PRAKTIS. Dr.dr.Saptawati Bardosono, MSc MENGGUNAKAN PROGRAM NUTRI SURVEY SECARA PRAKTIS Dr.dr.Saptawati Bardosono, MSc Apa itu Nutrisurvey? Program untuk menganalisis kandungan zat gizi bahan makanan dan/atau resep makanan Program untuk menentukan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pola Konsumsi Makanan Dalam kehidupan sehari-hari, orang tidak terlepas dari makanan karena makanan adalah salah satu kebutuhan pokok manusia. Fungsi pokok makanan adalah untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Obesitas merupakan masalah yang banyak dijumpai baik di negara maju maupun di negara berkembang. Obesitas merupakan suatu masalah serius pada masa remaja seperti

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU TINGKAT KONSUMSI PADA MASYARAKAT BERBASIS POLA PANGAN JAGUNG DI DESA GETAS, KECAMATAN KALORAN, KABUPATEN TEMANGGUNG

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU TINGKAT KONSUMSI PADA MASYARAKAT BERBASIS POLA PANGAN JAGUNG DI DESA GETAS, KECAMATAN KALORAN, KABUPATEN TEMANGGUNG ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU TINGKAT KONSUMSI PADA MASYARAKAT BERBASIS POLA PANGAN JAGUNG DI DESA GETAS, KECAMATAN KALORAN, KABUPATEN TEMANGGUNG DETERMINANT FACTORS ANALYSIS OF CONSUMPTION LEVELS AMONG

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN

PENGEMBANGAN SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN BAB 4 PENGEMBANGAN SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN Bab ini mengenai analisis yang dilakukan sebelum membuat aplikasi kesehatan untuk menentukan menu diet dengan model What-If Analyisis serta tampilan sistem

Lebih terperinci

KUESIONER DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

KUESIONER DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR LAMPIRAN 59 Lampiran 1 Kuesioner Penelitian KUESIONER DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR KEBIASAAN SARAPAN, AKTIVITAS FISIK, DAN STATUS GIZI MAHASISWA MAYOR ILMU

Lebih terperinci

Pola Konsumsi Pangan Penyandang Disabilitas di Kota Malang

Pola Konsumsi Pangan Penyandang Disabilitas di Kota Malang Indonesian Journal of Disability Studies ISSN : - Pola Konsumsi Pangan Penyandang Disabilitas di Kota Malang * Agustina Shinta Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD), Universitas Brawijaya, Malang,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sarapan Pagi Sarapan pagi adalah makanan atau minuman yang memberikan energi dan zat gizi lain yang dikonsumsi pada waktu pagi hari. Makan pagi ini penting karena makanan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat diperoleh melalui survei konsumsi pangan. Penilaian survei konsumsi

BAB I PENDAHULUAN. dapat diperoleh melalui survei konsumsi pangan. Penilaian survei konsumsi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tingkat kecukupan zat gizi individu maupun kelompok masyarakat dapat diperoleh melalui survei konsumsi pangan. Penilaian survei konsumsi pangan ada 2 macam, yaitu secara

Lebih terperinci

Penentuan Status Gizi

Penentuan Status Gizi Pengantar Penentuan Status Gizi Edited by: Suyatno,, Ir. MKes E-mail : [email protected] Hp : 08122815730 Blog : suyatno.blog.undip.ac.id Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro Semarang

Lebih terperinci

LAMPIRAN KUESIONER PENELITIAN SURAT PERSETUJUAN RESPONDEN

LAMPIRAN KUESIONER PENELITIAN SURAT PERSETUJUAN RESPONDEN LAMPIRAN LAMPIRAN 1 KUESIONER PENELITIAN SURAT PERSETUJUAN RESPONDEN Berkaitan dengan penelitian Hubungan Aktivitas Fisik dan Pola Makan dengan Indeks Massa Tubuh dan Lingkar Pinggang pada Mahasiswa Fakultas

Lebih terperinci

POLA PANGAN HARAPAN (PPH)

POLA PANGAN HARAPAN (PPH) PANDUAN PENGHITUNGAN POLA PANGAN HARAPAN (PPH) Skor PPH Nasional Tahun 2009-2014 75,7 85,7 85,6 83,5 81,4 83,4 Kacangkacangan Buah/Biji Berminyak 5,0 3,0 10,0 Minyak dan Lemak Gula 5,0 Sayur & buah Lain-lain

Lebih terperinci

DAFTAR ISI LEMBAR PERSETUJUAN SURAT PERNY AT AAN ABSTRAK ABSTRACT

DAFTAR ISI LEMBAR PERSETUJUAN SURAT PERNY AT AAN ABSTRAK ABSTRACT ABSTRAK Asupan gizi sangat penting untuk diperhatikan terutama pada saat masa kanakkanak. Asupan gizi yang baik akan rnernpengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Penelitian ini bertujuan untuk mencarijrnengetahui

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL PENELITIAN. SMA Raksana Medan Tahun Oleh : RISHITHARAN DORAISAMY

LAPORAN HASIL PENELITIAN. SMA Raksana Medan Tahun Oleh : RISHITHARAN DORAISAMY LAPORAN HASIL PENELITIAN Gambaran Pengetahuan Tentang Diet Seimbang pada Siswa SMA Raksana Medan Tahun 2011 Oleh : RISHITHARAN DORAISAMY 080100424 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4. 1. Jenis Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif yang menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain cross sectional karena pengambilan data

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Desain penelitian ini adalah cross sectional study, dilakukan di SDN 09 Pagi Pademangan Barat Jakarta Utara. Pemilihan lokasi sekolah dasar dilakukan secara

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data 26 METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Desain penelitian ini adalah crosectional study. Penelitian dilakukan menggunakan data sekunder dari Program Perbaikan Anemia Gizi Besi di Sekolah

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 16 METODOLOGI PENELITIAN Desain Waktu dan Tempat Penelitian Desain penelitian ini adalah Cross sectional study yaitu rancangan yang digunakan pada penelitian dengan variabel sebab atau faktor resiko dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Masa kanak-kanak dibagi menjadi dua periode yang berbeda, yaitu masa awal

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Masa kanak-kanak dibagi menjadi dua periode yang berbeda, yaitu masa awal BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anak Usia Dini Masa kanak-kanak dibagi menjadi dua periode yang berbeda, yaitu masa awal dan masa akhir kanak-kanak. Periode awal berlangsung dari umur dua tahun sampai enam

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Gizi 2.1.1. Definisi Gizi Ilmu gizi adalah ilmu yang mempelajari proses yang terjadi pada organisme hidup. Proses tersebut mencakup pengambilan dan pengolahan zat padat dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Daya Tahan Tubuh (Endurance) 1. Pengertian Menurut Toho Cholik Mutohir dan Ali Maksum (2007) daya tahan umum adalah kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas terus-menerus (lebih

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Waktu dan Tempat Penelitian Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh

METODE PENELITIAN Desain, Waktu dan Tempat Penelitian Jumlah dan Cara Pengambilan Contoh 19 METODE PENELITIAN Desain, Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study. Cross sectional study yaitu rancangan yang digunakan pada penelitian dengan variabel sebab

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian

METODE PENELITIAN. Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian 23 METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Desain penelitian ini adalah crosssectional study dimana seluruh paparan dan outcome diamati pada saat bersamaan dan pengumpulan data dilakukan

Lebih terperinci

ABSTRAK PENGARUH SARAPAN YANG TIDAK TERATUR, FAKTOR GENETIK TERHADAP RISIKO OBESITAS DAN BMI (BODY MASS INDEX) YANG ABNORMAL

ABSTRAK PENGARUH SARAPAN YANG TIDAK TERATUR, FAKTOR GENETIK TERHADAP RISIKO OBESITAS DAN BMI (BODY MASS INDEX) YANG ABNORMAL ABSTRAK PENGARUH SARAPAN YANG TIDAK TERATUR, FAKTOR GENETIK TERHADAP RISIKO OBESITAS DAN BMI (BODY MASS INDEX) YANG ABNORMAL Silvia, 2007 Pembimbing 1 Pembimbing 2 : Dr. Iwan Budiman,dr.,MS.,MM.,MKes.,AIF

Lebih terperinci

METODE Disain, Tempat dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Subyek

METODE Disain, Tempat dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Subyek METODE Disain, Tempat dan Waktu Penelitian ini menggunakan data dasar hasil penelitian Kebiasaan Minum dan Status Hidrasi pada Remaja dan Dewasa di Dua Wilayah Ekologi Berbeda yang dilaksanakan oleh tim

Lebih terperinci

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 41 BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian Penelitian menggunakan rancangan kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional study, yaitu suatu pendekatan yang sifatnya sesaat pada

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan cross sectional yaitu penelitian non-eksperimental dengan menggunakan data primer untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian dan Karakteristik Anak Sekolah Dasar

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Pengertian dan Karakteristik Anak Sekolah Dasar BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Anak Sekolah Dasar 2.1.1. Pengertian dan Karakteristik Anak Sekolah Dasar Anak sekolah dasar adalah anak yang berusia 7-12 tahun, memiliki fisik lebih kuat mempunyai sifat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu peneliti melakukan pengukuran terhadap

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 FORMULIR FOOD RECALL 24 JAM

LAMPIRAN 1 FORMULIR FOOD RECALL 24 JAM LAMPIRAN 1 FORMULIR FOOD RECALL 24 JAM No. Responden : Nama : Umur : Jenis Kelamin : Tinggi Badan : Berat Badan : Waktu makan Pagi Nama makanan Hari ke : Bahan Zat Gizi Jenis Banyaknya Energi Protein URT

Lebih terperinci

PENGETAHUAN, SIKAP, PRAKTEK KONSUMSI SUSU DAN STATUS GIZI IBU HAMIL

PENGETAHUAN, SIKAP, PRAKTEK KONSUMSI SUSU DAN STATUS GIZI IBU HAMIL 71 Lampiran 1 Kuesioner Penelitian Tanggal wawancara: Kode responden PENGETAHUAN, SIKAP, PRAKTEK KONSUMSI SUSU DAN STATUS GIZI IBU HAMIL Nama Responden :... Alamat :...... No. Telepon :... Lokasi penelitian

Lebih terperinci

Jawaban mohon diisi dengan jelas dan lengkap, untuk pertanyaan pilihan, selahkan pada pilihan saudara (hanya 1 pilihan).

Jawaban mohon diisi dengan jelas dan lengkap, untuk pertanyaan pilihan, selahkan pada pilihan saudara (hanya 1 pilihan). FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN OBESITAS BERDASARKAN PERSEN LEMAK TUBUH PADA PRIA (40-55 TAHUN) ANGGOTA ABRI/TNI DI KANTOR DIREKTORAT JENDERAL-ZENI TNI- AD TAHUN 2008 (Selamat Pagi/Siang/Sore). Perkenalkan

Lebih terperinci

SMP/Mts PT (Sarjana) 3. Jenis Kelamin Balita : Laki laki Perempuan 4. Umur Balita :

SMP/Mts PT (Sarjana) 3. Jenis Kelamin Balita : Laki laki Perempuan 4. Umur Balita : KUISIONER PENELITIAN HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PERILAKU KONSUMSI MIE INSTAN PADA BALITA DI RW. 04 PERUMAHAN VILLA BALARAJA KABUPATEN TANGERANG TAHUN 2013 Identitas Peneliti Nama : Fitri Anita Nim

Lebih terperinci

Penentuan status gizi sangat penting Dasar untuk perencanaan tindakan selanjutnya Dasar untuk pemilihan promosi gzi Untuk keselamatan ibu dan bayi

Penentuan status gizi sangat penting Dasar untuk perencanaan tindakan selanjutnya Dasar untuk pemilihan promosi gzi Untuk keselamatan ibu dan bayi Penentuan Status Gizi Ibu Hamil Penentuan status gizi sangat penting Dasar untuk perencanaan tindakan selanjutnya Dasar untuk pemilihan promosi gzi Untuk keselamatan ibu dan bayi Kegunaan Penentuan status

Lebih terperinci

METODE Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Pengambilan Sampel

METODE Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Pengambilan Sampel 15 METODE Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian ini seluruhnya menggunakan data dasar hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen

Lebih terperinci

METODE Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODE Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Jumlah dan Cara Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data METODE Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study, yaitu data dikumpulkan pada satu waktu yang tidak berkelanjutan untuk menggambarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jumlah perempuan dalam keluarga utuh (dua orangtua) sebagai tenaga kerja berbayar, meningkat secara drastis dalam 50 terakhir (Frediksen-Goldsen & Scharlach, 2001).

Lebih terperinci

METODOLOGI Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Jumlah dan Teknik Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODOLOGI Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Jumlah dan Teknik Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data 18 METODOLOGI Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Desain penelitian ini adalah cross sectional study dimana seluruh pengumpulan data dilakukan pada satu waktu. Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 1 Malangsari

Lebih terperinci

Hubungan Antara Tingkat Konsumsi Energi, Protein dan Daya Beli Makanan dengan Status Gizi pada Remaja di SMP Negeri 2 Banjarbaru

Hubungan Antara Tingkat Konsumsi Energi, Protein dan Daya Beli Makanan dengan Status Gizi pada Remaja di SMP Negeri 2 Banjarbaru Hubungan Antara Tingkat Konsumsi Energi, Protein dan Daya Beli Makanan dengan Status Gizi pada Remaja di SMP Correlation Of Energy Consumption Level, Protein and Food Consumerism With Nutritional Status

Lebih terperinci

FAKTOR RISIKO GIZI LEBIH PADA ANAK UMUR 9-11 TAHUN DI SEKOLAH DASAR MARSUDIRINI SEMARANG TAHUN 2016

FAKTOR RISIKO GIZI LEBIH PADA ANAK UMUR 9-11 TAHUN DI SEKOLAH DASAR MARSUDIRINI SEMARANG TAHUN 2016 FAKTOR RISIKO GIZI LEBIH PADA ANAK UMUR 9-11 TAHUN DI SEKOLAH DASAR MARSUDIRINI SEMARANG TAHUN 2016 ` Herliana Endang Supriyatini* ), dr. Siti Fatimah P.** ), M. Zen Rahfiludin ** ) * ) Mahasiswa Peminatan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Yayasan Yasmina Bogor (Purposive) N= 65. Kabupaten Bogor (N = 54) Populasi sumber (N=50) Contoh penelitian (n= 30)

METODE PENELITIAN. Yayasan Yasmina Bogor (Purposive) N= 65. Kabupaten Bogor (N = 54) Populasi sumber (N=50) Contoh penelitian (n= 30) 25 METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Desain penelitian ini adalah dengan cross sectional study. Pemilihan tempat tersebut dilakukan secara purposive, yaitu di Bogor pada peserta Program

Lebih terperinci

METODE. PAUD Cikal Mandiri. PAUD Dukuh. Gambar 2 Kerangka pemilihan contoh. Kls B 1 :25. Kls A:20. Kls B 2 :30. Kls B:25. Kls A:11

METODE. PAUD Cikal Mandiri. PAUD Dukuh. Gambar 2 Kerangka pemilihan contoh. Kls B 1 :25. Kls A:20. Kls B 2 :30. Kls B:25. Kls A:11 METODE Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Desain penelitian ini adalah cross sectional study (sebab akibat diteliti dalam satu waktu). Pemilihan PAUD dilakukan secara purposive, dengan kriteria memiliki

Lebih terperinci

Management & Presenting Data

Management & Presenting Data Management & Presenting Data Widya Rahmawati Part of this presentation if from Iwan Ariawan, 2006; Nurul Muslihah, 2010. Jenis Variabel Kuantitatif Kualitatif descrete/deskrit Continues Nominal Ordinal

Lebih terperinci

KEBIASAAN MAKAN YANG MENYEBABKAN TERJADINYA KEGEMUKAN PADA REMAJA (Studi di SMP Al-Muttaqin Kota Tasikmalaya)

KEBIASAAN MAKAN YANG MENYEBABKAN TERJADINYA KEGEMUKAN PADA REMAJA (Studi di SMP Al-Muttaqin Kota Tasikmalaya) KEBIASAAN MAKAN YANG MENYEBABKAN TERJADINYA KEGEMUKAN PADA REMAJA (Studi di SMP Al-Muttaqin Kota Tasikmalaya) Arief 1) Hidayanti 2) Peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas

Lebih terperinci

NASKAH PENJELASAN PENELITIAN

NASKAH PENJELASAN PENELITIAN 58 Lampiran 1 NASKAH PENJELASAN PENELITIAN HUBUNGAN ASUPAN KALSIUM, MAGNESIUM, DAN KEBIASAAN OLAHRAGA TERHADAP DISMENORE PADA SISWI SMPN 191 KEBUN JERUK JAKARTA BARAT Saya Vina Edika Rosmawati Simorangkir,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Kerangka Konsep Variabel Bebas Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Pendidikan VariabelTerikat Status Perkawinan Kejadian Malnutrisi Riwayat Penyakit Aktifitas Fisik Perilaku Merokok

Lebih terperinci

ABSTRAK. iii. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. iii. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui derajat Self-Efficacy Beliefs dalam mempromosikan produk Wine dan Spirits yang dimiliki sales Shop X Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif

Lebih terperinci

Lembaran Persetujuan Menjadi Responden. Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Saat ini saya sedang melakukan

Lembaran Persetujuan Menjadi Responden. Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Saat ini saya sedang melakukan Lampiran 1 No. Responden :.. Lembaran Persetujuan Menjadi Responden Saya yang bernama Septina Sari (051101024) adalah mahasiswa Fakultas Keperawatan. Saat ini saya sedang melakukan penelitian tentang Pengaruh

Lebih terperinci

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DALAM PEMENUHAN NUTRISI DENGAN TEKANAN DARAH LANSIA DI MANCINGAN XI PARANGTRITIS KRETEK BANTUL YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DALAM PEMENUHAN NUTRISI DENGAN TEKANAN DARAH LANSIA DI MANCINGAN XI PARANGTRITIS KRETEK BANTUL YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DALAM PEMENUHAN NUTRISI DENGAN TEKANAN DARAH LANSIA DI MANCINGAN XI PARANGTRITIS KRETEK BANTUL YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI Disusun Oleh : VRIASTUTI 201210201214 PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif deskriptif yang menggunakan data primer yaitu dengan cara meminta responden untuk mengisi kuesioner

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Penyelenggaraan Makanan Penyelenggaraan makanan merupakan suatu kegiatan atau proses menyediakan makanan dalam jumlah yang banyak atau dalam jumlah yang besar. Pada institusi

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERSEPSI BODY IMAGE DAN KEBIASAAN MAKAN DENGAN STATUS GIZI ATLET SENAM DAN ATLET RENANG DI SEKOLAH ATLET RAGUNAN JAKARTA

HUBUNGAN PERSEPSI BODY IMAGE DAN KEBIASAAN MAKAN DENGAN STATUS GIZI ATLET SENAM DAN ATLET RENANG DI SEKOLAH ATLET RAGUNAN JAKARTA LAMPIRAN 68 69 Lampiran 1 Kuesioner penelitian KODE: KUESIONER HUBUNGAN PERSEPSI BODY IMAGE DAN KEBIASAAN MAKAN DENGAN STATUS GIZI ATLET SENAM DAN ATLET RENANG DI SEKOLAH ATLET RAGUNAN JAKARTA Saya setuju

Lebih terperinci

POLA MAKAN DAN STATUS GIZI PADA ANAK ETNIS CINA DI SD SUTOMO 2 DAN ANAK ETNIS BATAK TOBA DI SD ANTONIUS MEDAN TAHUN 2014

POLA MAKAN DAN STATUS GIZI PADA ANAK ETNIS CINA DI SD SUTOMO 2 DAN ANAK ETNIS BATAK TOBA DI SD ANTONIUS MEDAN TAHUN 2014 POLA MAKAN DAN STATUS GIZI PADA ANAK ETNIS CINA DI SD SUTOMO 2 DAN ANAK ETNIS BATAK TOBA DI SD ANTONIUS MEDAN TAHUN 2014 Hetty Gustina Simamora Staff Pengajar STIKes Santa Elisabeth Medan ABSTRAK Pola

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN

KUESIONER PENELITIAN LAMPIRAN Lampiran 1 Kuesioner Penelitian KUESIONER PENELITIAN STUDI TENTANG PENGETAHUAN GIZI, KEBIASAAN MAKAN, AKTIVITAS FISIK,STATUS GIZI DAN BODYIMAGE REMAJA PUTRI YANG BERSTATUS GIZI NORMAL DAN GEMUK

Lebih terperinci

ABSTRAK HUBUNGAN FREKUENSI MAKAN TERHADAP GEJALA MAAG PADA MAHASISWA AKADEMI FARMASI ISFI BANJARMASIN

ABSTRAK HUBUNGAN FREKUENSI MAKAN TERHADAP GEJALA MAAG PADA MAHASISWA AKADEMI FARMASI ISFI BANJARMASIN ABSTRAK HUBUNGAN FREKUENSI MAKAN TERHADAP GEJALA MAAG PADA MAHASISWA AKADEMI FARMASI ISFI BANJARMASIN Nordin 1 ; Aditya M.P.P 2 ;Yugo Susanto 3 Menurut data dari World Health Organization (WHO) bahwa Indonesia

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. n = n/n(d) 2 + 1

METODE PENELITIAN. n = n/n(d) 2 + 1 20 METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Desain penelitian adalah cross sectional study dengan metode survey observational. Tempat penelitian dipilih dengan metode purposive yaitu di UPT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Overweight dan obesitas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu mendapatkan perhatian yang serius karena merupakan peringkat kelima penyebab kematian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Anak prasekolah adalah anak berusia dua sampai lima tahun. Rentang usia

BAB I PENDAHULUAN. 1.1.Latar Belakang. Anak prasekolah adalah anak berusia dua sampai lima tahun. Rentang usia BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Anak prasekolah adalah anak berusia dua sampai lima tahun. Rentang usia tersebut merupakan periode emas seorang anak dalam pertumbuhan dan perkembangan terutama fungsi

Lebih terperinci

rumus : n = (P 1 -P Ket : Z 1- - P 1 Kebiasaan makan..., Evi Heryanti, FKM UI, )²

rumus : n = (P 1 -P Ket : Z 1- - P 1 Kebiasaan makan..., Evi Heryanti, FKM UI, )² BAB 4 METODOLOGI PENELITIP AN 4.1. Desain Penelitian Penelitian ini mengenai kebiasaan makan cepat saji (fast food modern), aktivitas fisik dan faktor lainnyaa dengan status gizi mahasiswa penghuni Asrama

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Disain studi Penelitian ini merupakan penelitian yang memanfaatkan penelitian sebelumnya mengenai Pengaruh Asupan Asam Lemak Trans terhadap Profil Lipid Darah yang dilakukan

Lebih terperinci

GAMBARAN POLA MAKAN DAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO PADA REMAJA GEMUK DI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR JURUSAN GIZI

GAMBARAN POLA MAKAN DAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO PADA REMAJA GEMUK DI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR JURUSAN GIZI GAMBARAN POLA MAKAN DAN ASUPAN ZAT GIZI MAKRO PADA REMAJA GEMUK DI POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR JURUSAN GIZI Zakaria 1, Hj Hikmawati 1, Suriani Rauf 1, Mira Salama 2 1 Jurusan Gizi, Politeknik

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Ketahanan Pangan

TINJAUAN PUSTAKA Ketahanan Pangan 4 TINJAUAN PUSTAKA Ketahanan Pangan Menurut UU RI No 7 tahun 1996 tentang pangan menyatakan ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian yang bersifat deskriptif. Metode penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Teknik Penarikan Contoh

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Teknik Penarikan Contoh METODE PENELITIAN Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional study. Cross sectional study dilakukan untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN BAB V HASIL PENELITIAN 5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Sekolah Menengah Atas Islam Terpadu Nurul Fikri Depok merupakan salah satu sekolah swasta yang cukup terkenal di Kota Depok, terletak di Jalan

Lebih terperinci

METODE Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Teknik Penarikan Contoh

METODE Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Teknik Penarikan Contoh METODE Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study yaitu pengamatan yang dilakukan sekaligus pada satu waktu. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret

Lebih terperinci

METODOLOGI Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Sampel Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODOLOGI Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Sampel Jenis dan Cara Pengumpulan Data 22 METODOLOGI Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang menggambarkan hubungan antara asupan makanan dan komposisi lemak tubuh terhadap kapasitas daya tahan tubuh

Lebih terperinci

ProgramStudi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS, Makassar (Alamat Respondensi :

ProgramStudi Ilmu Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS, Makassar (Alamat Respondensi : STUDI VALIDASI ASUPAN VITAMIN MENGGUNAKAN METODE SEMI-QUANTITATIVE FOOD FREQUENCY QUESTIONNAIRE DENGAN FOOD RECALL 24 JAM PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS KASSI-KASSI KOTA MAKASSAR TAHUN 2013 Validation Study

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, ditujukan untuk

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, ditujukan untuk 41 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Cara Pengambilan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Cara Pengambilan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data 21 METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain Cross Sectional Study. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret-Mei 2011 di SMP/SMA Ragunan

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. n = N 1+ N (d 2 ) keterangan : N = besar populasi n = besar sampel d = tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan

METODE PENELITIAN. n = N 1+ N (d 2 ) keterangan : N = besar populasi n = besar sampel d = tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study karena pengambilan data dilakukan pada suatu waktu. Penelitian dilaksanakan di Pesantren di

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Cara Pengambilan Sampel Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Cara Pengambilan Sampel Jenis dan Cara Pengumpulan Data 29 METODE PENELITIAN Desain, Waktu, dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain Cross Sectional Study. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus-Desember 2011 di SMA Ragunan

Lebih terperinci

METODE. Zα 2 x p x (1-p)

METODE. Zα 2 x p x (1-p) 16 METODE Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Desain penelitian ini adalah cross sectional study. Pemilihan tempat dilakukan secara purposif dengan pertimbangan kemudahan akses dan perolehan izin. Penelitian

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Universitas Indonesia

LAMPIRAN. Universitas Indonesia 90 LAMPIRAN 91 Lampiran 1: Prosedur Tes Bangku 3 Menit YMCA METODE TES KEBUGARAN: TES BANGKU 3 MENIT YMCA/ YMCA 3-MINUTE STEP TEST (Nieman, 2007) Tes bangku 3 menit YMCA dilakukan pada responden yang telah

Lebih terperinci

Distribusi probabilitas dan normal. Statisitik Farmasi 2015

Distribusi probabilitas dan normal. Statisitik Farmasi 2015 Distribusi probabilitas dan normal Statisitik Farmasi 2015 Part 1. DISTRIBUSI PROBABILITAS Statisitik Farmasi 2015 Tujuan Perkuliahan Setelah menyelesaikan kuliah ini, mahasiswa mampu: Membuat distribusi

Lebih terperinci

Survei Konsumsi Gizi, oleh Clara M. Kusharto; I Dewa Nyoman Supariasa Hak Cipta 2014 pada penulis

Survei Konsumsi Gizi, oleh Clara M. Kusharto; I Dewa Nyoman Supariasa Hak Cipta 2014 pada penulis Survei Konsumsi Gizi, oleh Clara M. Kusharto; I Dewa Nyoman Supariasa Hak Cipta 2014 pada penulis GRAHA ILMU Ruko Jambusari 7A Yogyakarta 55283 Telp: 0274-882262; 0274-889398; Fax: 0274-889057; E-mail:

Lebih terperinci

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011 LAMPIRAN 60 61 Lampiran 1 Kuesioner Penelitian Kode: KUESIONER PENELITIAN HUBUNGAN KARAKTERISTIK, PENGETAHUAN GIZI, KONSUMSI PANGAN, DAN TINGKAT KECUKUPAN GIZI TERHADAP KEBUGARAN ATLET BOLA BASKET DI SMP/SMA

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 31 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional, yaitu pengambilan data yang dilakukan dalam satu kurun waktu, maksimal

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. n1 = = 35. n2 = = 32. n3 =

METODE PENELITIAN. n1 = = 35. n2 = = 32. n3 = 17 METODE PENELITIAN Desain, Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study yang dilakukan di perguruan tinggi penyelenggara Beastudi Etos wilayah Jawa Barat yaitu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anak Sehat Anak sehat adalah anak yang dapat tumbuh kembang dengan baik dan teratur, jiwanya berkembang sesuai dengan tingkat umurnya, aktif, gembira, makannya teratur, bersih,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lanjut usia adalah tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lanjut usia adalah tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Lanjut Usia Lanjut usia adalah tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia (Budi,1999). Sedangkan menurut pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No.13 Tahun 1998

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Jumlah dan Teknik Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data

METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Jumlah dan Teknik Penarikan Contoh Jenis dan Cara Pengumpulan Data METODE PENELITIAN Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, bertempat di Pabrik Hot Strip Mill (HSM) PT. Krakatau Steel Cilegon, Propinsi Banten. Lokasi penelitian

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 LEMBAR PENJELASAN

LAMPIRAN 1 LEMBAR PENJELASAN LAMPIRAN 1 LEMBAR PENJELASAN Dengan Hormat, Saya, Ruth Manullang, mahasiswi semester VII Fakultas Kedokteran, akan melakukan penelitian dengan judul Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Pola Konsumsi Buah

Lebih terperinci

METODE Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Contoh

METODE Desain, Tempat, dan Waktu Jumlah dan Cara Penarikan Contoh METODE Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian ini menggunakan desain cross sectional study yang bertujuan mempelajari hubungan pengetahuan gizi ibu dan kebiasaan jajan siswa serta kaitannya dengan status

Lebih terperinci

Esti Nurwanti, S.Gz., Dietisien., MPH

Esti Nurwanti, S.Gz., Dietisien., MPH Esti Nurwanti, S.Gz., Dietisien., MPH Suatu model problem solving yang sistematis, menggunakan cara berpikir kritis dalam membuat keputusan menangani berbagai masalah yang berkaitan dengan nutrisi dan

Lebih terperinci