BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
|
|
|
- Hamdani Sudjarwadi
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB I PENDAHULUAN
2 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang I.1.1. Sejarah Kedatangan Meski tidak pasti, orang India di Sumatera Utara diperkirakan sudah bermukim sejak sebelum Masehi, yaitu membawa agama Hindu dan Buddha. Mereka selalu berkunjung pada masa arus angin dari India ke Barus pada tiap bulan November dan Desember. Lalu pada sekitar abad ke-4 atau ke-5 Masehi, gelombang dari India Selatan membawa agama Buddha ke Sumatera dan memperkenalkan aksara Nagari yang menjadi cikal bakal penulisan aksara Melayu Kuno, Batak, dan lain-lain. Besar kemungkinan, masyarakat India Tamil telah ikut dalam mobilitas tersebut. Kedatangan masyarakat India Tamil ke Sumatera Utara baru dapat dibuktikan jejaknya secara pasti sejak zaman Hindia Belanda melalui usaha dagang VOC (Verenigde Oost Indische Companie) pada 20 Maret 1602 hingga 31 Desember Pada saat itulah mereka menginjakkan kaki di ''negeri seberang'' ini. Keahlian membuat jalan dan bekerja di perkebunan tembakau, menjadi alasan pemerintah penjajahan Belanda ketika itu mendatangkan orang-orang dari India. Kedatangan pertama ini lalu disusul oleh gelombang kedatangan kedua pada tahun 1830 sebagai pekerja di perkebunan Belanda di Sumatera Utara (waktu itu Sumatra Timur). Namun, di masa perjuangan kemerdekaan RI, orang-orang India Tamil turut berpartisipasi bahu membahu bersama kaum pribumi untuk merebut kebebasan. Setelah Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, banyak orang Tamil yang ingin kembali ke India. Sekitar tahun 1948, pemerintah India mendatangkan dua kapal, yaitu kapal Sidambaran dan Chandra Bus untuk mengangkut kepulangan mereka. Namun, ternyata banyak di antaranya yang turun di Malaysia dan Singapura saat perjalanan pulang, karena tertarik dengan dua negara yang pernah menjadi bagian wilayah Indonesia di zaman Kerajaan Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada itu. Akhirnya banyak orang Tamil yang menetap dan bercocok tanam di sana hingga membuat komunitas sendiri sampai sekarang. Keturunan Tamil sampai sekarang ini masih tetap bertahan di Medan. Kulit hitam, hidung mancung dan kumis lebat menjadi ciri khas kebanyakan keturunan India Tamil di sana. Sepenggal paragraf di atas adalah uraian singkat dari sejarah hingga keberadaan masyarakat India Tamil pada saat sekarang ini. Umumnya di Indonesia (nama Indonesia sendiri berasal dari bahasa Latin Indus "India" dan bahasa Yunani nêsos "pulau" yang secara harafiah berarti 'Kepulauan India'), masyarakat Tamil di berbagai kota telah hidup
3 dan bertempat tinggal, begitu pula di Medan, Sumatera Utara pada khususnya, telah menjadi bagian dari sejarah negara ini. Kedatangan mereka sejak penjajahan masa kolonial belanda telah melahirkan suatu multikulturalisme masyarakat Sumatera Utara, khususnya kota Medan. Sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia, Medan mempunyai kekayaan etnis yang bila diangkat dapat menjadi kekayaan budaya masyarakat Medan. Adanya etnis melayu, batak, tionghoa, sampai pada etnis tamil membuat Medan sebagai kota dengan budaya yang majemuk. Tetapi dengan kemajemukannya tersebut, Medan dapat menjadi kota yang maju dan metropolitan jika dengan sinergis memeliharanya sebagai suatu kekayaan regionalisme yang mungkin tidak dimiliki oleh kota lain di Indonesia. Etnis terakhir yang disebut dapat menjadi suatu daya tarik bagi kota Medan. I.1.2 Pelestarian Budaya Seturut dengan kedatangan mereka di bumi pertiwi ini, maka mereka sebagai sebuah etnis sudah menjadi bagian dari tubuh tanah air tercinta yang memiliki ragam budaya. Komunitas India Tamil telah hadir dan menjadi bagian yang signifikan dalam perkembangan kebudayaan di Nusantara sejak beberapa abad yang lalu, terutama di sebagian masyarakat yang ada di Pulau Sumatera. Dengan perpindahan manusia yang massif tersebut terjadilah proses difusi kebudayaan, akulturasi dan assimilasi. Kisah-kisah kehadiran satu kaum di tengah-tengah kaum yang lain sebagai akibat dari gerak migrasi penduduk sudah lama menjadi perhatian dan bahan kajian kalangan ilmuwan sosial. Di Medan, mereka hidup dalam keseharian dan melebur dengan masyarakat setempat. Terdapat sebuah tempat dimana mereka beraktifitas, hidup dan berkembang seiring dengan perkembangan kota Medan. Kampung Keling, demikian orang Medan menyebutnya. Dinamakan Keling karena di daerah ini dikenal sebagai komunitas orang Tamil yang berkulit hitam. Di daerah ini pula sejarah ajaran Hindu berkembang dan diawali berdirinya Kuil Sri Mariamman. Bersebelahan dengan kuil, berdiri kantor Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Sumut. Selain Kuil Mariamman yang berdiri sekitar tahun 1800, masih banyak tempat ibadah umat Hindu di Sumut. Adanya kampung ini menjadi bukti bahwa masyarakat etnis tamil telah lama ada dan bermukim disini seperti halnya dengan etnis lainnya. Istilah kampung menandakan bahwa mereka (masyarakat Etnis Tamil) adalah bagian dari sipilisasi kota ini, dimana mereka hidup, tinggal, bekerja, sekolah, dll. Kampung ini menjadai suatu hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka. Terlihat bahwa jumlah penduduk etnis Tamil di kota medan cukup banyak. Tetapi jumlah ini dari tahun ke tahun semakin berkurang. Ini disebabkan oleh adanya migrasi ke
4 tempat lain dan angka kematian yang meningkat. Migrasi ini terutama disebabkan oleh faktor ekonomi. Masyarakat etnis tamil kebanyakan berpenghasilan rendah, ini karena mata pencaharian mereka adalah berdagang, yang telah menjadi kebiasaan mereka. Berdagang adalah salah satu mata pencaharian yang diajarkan pendahulu mereka. Tak heran, hanya sedikit saja dari mereka yang bermata pencaharian lain. Ini yang menyebabkan mereka menjadi masyarakat ekonomi menengah kebawah. Tak jarang juga, mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Akibatnya, terjadilah migrasi ke daerah lain yang mungkin dapat merubah nasib dan peruntungan mereka, seiring berkembangnya kota Medan sebagai kota metropolitan. Pun pada Kampung Keling pada khususnya, masyarakat etnis Tamil yang tinggal disini semakin berkurang jumlahnya. Hanya tinggal sebagian kecil yang masih tinggal dan berdomisili di daerah ini. Tidak seperti dulu, yang kebanyakan dari penghuni kampung ini adalah masyarakat etnis Tamil. Ini terbukti dengan adanya peninggalan-peninggalan kebudayaan etnis Tamil yang dapat dilihat jika melewati kampung ini. Kuil menjadi salah satu unsur visual eksistensi etnis Tamil yang sangat penting. Selain itu terdapat juga mesjid yang bercorak etnis Tamil, sekolah Khalsa yang merupakan sekolah etnis Tamil pertama di Medan yang juga merupakan sekolah pertama di kota Medan yang mengajarkan Bahasa Inggris dalam kurikulumnya. Ada juga tempat-tempat berjualan seperti toko makanan, toko olahraga yang bercorak Tamil. Ini menunjukkan bahwa di kampung ini pernah menjadi suatu tempat dimana masyarakat etnis Tamil tumbuh dan berkembang dan membentuk suatu daerah teritori mereka di tengah-tengah kehidupan kota Medan. Tetapi jika melihat kondisi pada masa sekarang, sangat ironis melihat fakta bahwa kampung ini pernah menjadi pertumbuhan etnis Tamil. Masyarakat tionghoa semakin mendominasi, pembangunan bangunan-bangunan komersil dan modern disekitar kampung Keling, pertumbuhan kota yang sangat cepat, seakan menghilangkan identitas mereka. Meskipun masih ada beberapa dari mereka yang tetap tinggal dan berdomisili disni, dan tak jarang juga masih berdagang di daerah ini. Budaya sebagai buah budi akal pikiran manusia telah terlahir sebagai suatu bentuk bahwa manusia itu sendiri telah ada dan berkembang. Kebudayaan Tamil yang telah lahir dari kehidupan mereka di Medan pada khususnya, menjadi salah satu nilai budaya bangsa. Indonesia sebagai bangsa Bhineka Tunggal Ika, adalah wadah keberadaan budaya Tamil. Bahwa budaya Tamil telah ada dan berkembang di kota Medan. Bahwa pengaruh kebudayaan Tamil sangat kuat dalam kehidupan bangsa Indonesia sudah menjadi pengetahuan awam, dan proses penyerapan unsur-unsur budaya India oleh berbagai komunitas yang ada di negeri ini juga masih berlangsung hingga hari ini. Temuan-temuan arekologis di Sumatera maupun di Jawa mulai dari abad
5 ke-7 M hingga abad ke-14 memperlihatkan kesinambungan kehadiran peradaban India di Kepulauan Nusantara (lihat Y.Subbarayalu, 2002a). Untuk konteks Sumatera Utara misalnya, kehadiran orang-orang India sudah terekam dalam sebuah prasasti bertarikh 1010 Saka atau 1088 M tentang perkumpulan pedagang Tamil di Barus yang ditemukan pada 1873 di situs Lobu Tua (Barus), sebuah kota purba di pinggir pantai Samudera Hindia. Segala bukti peninggalan dan warisan diatas seharusnya dilestarikan dan diperkenalkan untuk memunculkan sebuah eksistensi yang kuat dan berdampak pada pengetahuan masyarakat akan budaya Tamil. I.1.3 Kasus Proyek Pusat Budaya tentang Tamil seharusnya diperlukan untuk tetap menjaga bukti peninggalan, warisan, nilai-nilai budaya, adat istiadat, filosofi tentang Tamil agar tetap lestari di kota Medan khususnya. Sehingga dari sini, eksistensi yang hendak ditimbulkan dapat tercapai. Dalam era demokratisasi dan globalisasi dewasa ini, pilihan-pilihan baru tentu terbuka bagi warga masyarakat Tamil di Sumatera Utara, apakah mereka akan mengikuti proses historis seperti yang terjadi di masa lalu, yaitu secara perlahan melebur ke dalam kebudayaan yang dominan di suatu negeri, atau kembali menumbuhkan kesadaran identitas mereka sebagai sebuah komunitas sendiri dengan corak kebudayaan yang khas seperti yang mereka wariskan dari leluhur mereka. Dengan penguatan paham multikulturalisme, dimana prinsip kesetaraan, penghargaan, pengakuan dan penghormatan atas hak-hak kultural semua kelompok etnik dan budaya yang berbeda harus diutamakan, maka pilihan untuk menguatkan kembali identitas ke-tamilan- juga bukanlah sesuatu yang tabu. Dengan prinsip multikulturalisme, kita memandang keanekaragaman suku dan kebudayaan sungguh-sungguh sebagai sebuah mozaik indah yang membangun ke-indonesia-an, dan di sanalah hakikat Bhinneka Tunggal Ika terwujud. I.2. Perumusan Masalah Untuk dapat merencanakan sebuah Tamil Cultural Centre ini harus mempunyai standar-standar perencanaan yang perlu diperhatikan dan memerlukan studi banding. Namun dalam konteks perencanaan di Kota Medan, diperlukan perhatian khusus baik itu dalam standar maupun berbagai disiplin ilmu yang sebaiknya saling membantu sehingga dihasilkan perencanaan yang optimal, kontekstual dan dapat diterima oleh berbagai pihak khususnya Pemerintah Kota Medan sebagai pemberi izin dan kebijakan. Juga bagi pihak Swasta yang mendukung dan mendanai pembangunan proyek ini nantinya. Dari rumusan-rumusan yang ada, masalah yang akan dihadapi adalah:
6 Jenis-jenis kegiatan yang direncanakan, sesuai dengan fungsinya sebagai pusat budaya yang melingkupi TAMIL (Tour, Act, Museum, Identiy, and Landmark) Bagaimana konsep yang disajikan untuk mendukung adanya wisata, aktivitas, museum, identitas, dan penanda. Kajian akan ilmu arsitektur, hal ini perlu dilakukan dalam mengkaji kebutuhankebutuhan ruang, fasilitas apa saja yang dibutuhkan dan juga sebagai suatu simbol untuk membuat suatu ekspresi kebudayaan. Menciptakan bangunan yang konteks dan tanggap terhadap manusia dan lingkungan di sekitarnya. Batasan-batasan dan lingkup kajian yang akan dibahas dalam kasus proyek ini adalah bagaimana mengembangkan berbagai konsep dalam merencanakan dan merancang sebuah Tamil Cultural Centre. Adapun lingkup pembahasan yang akan digunakan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan dalam perencanaan dan perancangan adalah: Masyarakat etnis Tamil dan perkembangannya. Penjabaran budaya dalam konteks kawasan kota Medan. Menelusuri proses kegiatan baik keseharian maupun acara khusus yang tak lepas dari kebudayaannya dan tata caranya. Menelusuri kebutuhan-kebutuhan akan fasilitas utama dan pendukung yang diperlukan untuk membuat suatu identitas bagi tempat ini, baik bagi bangunan manusia dan lingkungannya. I.3. Tujuan dan Manfaat Adapun maksud dan tujuan perencanaan dan perancangan pusat pembelajaran profesi dan lingkungan bagi anak ini adalah: Merencanakan dan merancang fasilitas yang dapat membuat Tamil Cultural Centre sebagai suatu tempat wisata, pusat aktivitas, pengenalan sejarah, pembangun identitas dan dapat dijadikan sebagai suatu landmark kota Medan. Memberikan fasilitas yang memadai dalam proses pembentukan Tamil Cultural Centre. Menggali potensi budaya etnis Tamil, mengenali, membangun, dan membentuk budaya etnis Tamil dalam segala proses aplikasinya. Mendukung pemerintah daerah dalam meningkatkan kebudayaan daerah setempat dan memperkaya warisan leluhur.
7 Menumbuhkan kembali dan meningkatkan peranan eksistensi masyarakat etnis Tamil sebagai suatu multikulturalisme bangsa. Merencanakan sebuah pusat kebudayaan yang terpadu dan terorganisasi untuk menghasilkan identitas suatu budaya yang akan berguna bagi generasi yang akan datang. I.4. Metoda Pendekatan Untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang akan dihadapi dalam proses perencanaan dan perancangan Tamil Cultural Centre bagi pengunjung dan penggunanya dilakukan berbagai pendekatan desain yaitu: Mengadakan survei dalam memperoleh data-data dan gambaran akan bagaimana Tamil Cultural Centre tersebut diselenggarakan, Memperoleh data-data dari berbagai lembaga maupun badan-badan yang bergerak dalam bidang kebudayaan etnis Tamil. Mengadakan wawancara dengan berbagai kalangan yang memiliki kaitan dengan perencanaan dan perancangan proyek ini. Studi berbagai sumber pustaka yang berkaitan dengan standar-standar arsitektur bagi perencanaan sebuah pusat kebudayaan etnis Tamil ini dengan pendekatan tema arsitektur simbiosis. I.5. Lingkup dan Batasan Proyek Batasan-batasan dan lingkup kajian yang akan dibahas dalam kasus proyek ini adalah bagaimana mengembangkan berbagai konsep dalam merencanakan dan merancang Tamil Cultural Centre. Lingkup pembahasan yang akan digunakan adalah: Menelusuri proses aplikasi kebudayaan dan tata caranya dengan hubungannya dengan manusia, lingkungan dan bangunan itu sendiri. Menelusuri kebutuhan-kebutuhan akan fasilitas pendukung Tamil Cultural Centre. Bagaimana hubungan antara bentuk dan proses aplikasi kebudayaan dengan bentukan ruang dan massa rancangan nantinya. Menerapkan pendekatan tema Arsitektur Simbiosis ke dalam perancangan massa bangunan dan tapak. Batasan-batasan dalam merencanakan Tamil Cultural Centre adalah:
8 Hanya membahas tentang masalah-masalah yang dihadapi dalam merancang sebuah fasilitas Tamil Cultural Centre yang bersifat edukatif, rekreatif dan mendukung segala kegiatan kebudayaan bagi para pengunjung dan penggunanya nanti. Kajian arsitektur akan dibatasi oleh pendekatan tema dalam penyelesaian kasus ini yaitu Arsitektur Simbiosis.
9 I.6. Kerangka berpikir Latar Belakang - Kondisi rakyat etnis Tamil di Medan - Jumlah rakyat etnis Tamil di Medan semakin berkurang - Pentingnya pelestarian budaya Tamil untuk meningkatkan kekayaan budaya dalam konteks regional kota Medan - Perlunya wadah untuk meningkatkan dan mengembangkan kebudayaan Tamil dalam peranannya dalam multikulturalisme kota Medan - Memberi tempat sebagai pusat kebudayaan dan kegiatan yang mengacu pada budaya etnis Tamil di Sumatera Utara Judul Perancangan: Tamil Cultural Centre Tema Perancangan: Arsitektur Simbiosis Tujuan dan Manfaat - Memberikan fasilitas yang memadai dalam proses pembentukan Tamil Cultural Centre. - Menggali potensi budaya etnis Tamil, mengenali, membangun, dan membentuk budaya etnis Tamil dalam segala proses aplikasinya. Perumusan Masalah - Jenis-jenis kegiatan yang direncanakan, sesuai dengan fungsinya sebagai pusat budaya yang melingkupi TAMIL (Tour, Act, Museum, Identiy, and Landmark) - Bagaimana konsep yang disajikan untuk mendukung adanya wisata, aktivitas, museum, identitas, dan penanda. - Kajian akan ilmu arsitektur, hal ini perlu dilakukan dalam mengkaji kebutuhankebutuhan ruang, fasilitas apa saja yang dibutuhkan dan juga sebagai suatu simbol untuk membuat suatu ekspresi kebudayaan. - Menciptakan bangunan yang konteks dan tanggap terhadap manusia dan lingkungan di sekitarnya. Data Perencanaan: Data Tapak Studi Literatur Studi Banding Survei Lapangan Analisa Tapak (analisa fisik) View, sirkulasi, orientasi, dll Analisa Fungsional (analisa non fisik) Pengguna, alur kegiatan, dll Programming Program Ruang dalam dan ruang luar Hubungan antar Ruang Konsep perancangan Konsep ruang luar, ruang dalam, massa, tema, struktur dan Desain perancanga n Umpan balik
10 I.7. Sistematika Penulisan Laporan Secara garis besar, urutan pembahasan dalam penulisan laporan ini adalah sebagai berikut: Bab 1 Pendahuluan, berisi kajian tentang latar belakang pembangunan Tamil Cultural Centre, yaitu kondisi eksistensi masyarakat etnis Tamil di Sumatera Utara secara umum dan di Medan secara khusus yang membutuhkan suatu wadah untuk mendapatkan informasi dan melaksanakan berbagai kegiatan termasuk pertunjukan kesenian Tamil dan pendidikan informal tentang Tamil dalam rangka memperkenalkan kebudayaan Tamil pada dunia luar, maksud dan tujuan merencanakan Tamil Cultural Centre adalah untuk menyediakan wadah sebagai pusat informasi, pusat kegiatan dan pusat pendidikan informal dan pelatihan khusus kesenian Tamil di Sumatera Utara, masalah perancangan yang akan dihadapi antara lain bagaimana merancang suatu pusat kebudayaan khusus etnis Tamil yang berorientasi pada filosofi Tamil, pengaturan ruang dan massa yang efektif dan efisien serta menjawab kebutuhan mereka akan sebuah pusat kebudayaan yang fungsional tetapi tetap menarik, lingkup dan batasan akan dibatasi oleh penerapan Arsitektur Kontekstual, Perilaku dan Simbiosis dalam merencanakan sebuah Tamil Cultural Centre, dan metode pendekatan yang dilaksanakan dengan melakukan studi banding tentang fungsi sejenis Cultural Centre untuk mengetahui kegiatan apa saja yang terjadi didalamnya, dan mempelajari Arsitektur Simbiosis dalam penerapannya di bangunan. Bab 2 Deskripsi Proyek, berisi tentang pembahasan mengenai terminologi judul Tamil Cultural Centre yang berarti pusat kebudayaan etnis Tamil yang akan mewadahi informasi dan kegiatan bagi kebudayaan masyarakat Tamil di berbagai bidang, pemilihan lokasi yang sesuai dengan Tamil Cultural Centre dalam ruang pelayanan di Sumatera Utara dan berlokasi di Kota Medan tepatnya di Kampung Madras, Jalan Airlangga, deskripsi kondisi eksisting berupa lahan terbangun, luas lahan adalah ±1 Ha dengan keistimewaan lahan yang keempat sisinya terletak di sepanjang jalan, 2 diantaranya adalah jalan primer yang penting di kawasan Kampung Madras, yang merupakan salah satu jalur sibuk di kota Medan, tinjauan fungsi dan studi banding arsitektur dengan fungsi sejenis adalah berupa studi banding beberapa literatur dari buku dan internet yang menjelaskan kegiatan yang berlangsung di dalam sebuah Cultural Centre kemudian diperbandingkan dan mengambil kegiatan- kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Tamil di Sumatera Utara.
11 Bab 3 Elaborasi Tema, menjelaskan tentang pengertian tema yang diambil, yakni Arsitektur Simbiosis, yaitu suatu pandangan yang lahir pada era Arsitektur Pos-Modern, yang menerapkan kebutuhan pengguna dan fungsi sebagai hal utama, tetapi tidak mengabaikan unsur budaya, tradisi local dan estetika dalam perancangan, keterkaitan tema Arsitektur Simbiosis dengan Cultural Centre berupa hubungan yang diakronik (menggabungkan kebudayaan dua tempat berbeda dalam rentang waktu yang sama) pada setiap pola pikir desain, tanggap terhadap keragaman budaya yang ada dan kritis terhadap arsitektur Modern yang menganut faham barat tetapi tidak kehilangan nilai-nilai filosofi ke-tamil-annya. Tema Simbiosis juga diterapkan melalui efisiensi dan efektifitas ruang dan hubungan antara manusia dan lingkungan, arsitektur dan lingkungan, bentuk dan fungsi serta site dan kawasan. Penjelasan penerapan studi banding pada bangunan diperjelas dengan studi banding yang ada. Bab 4 Analisa Perancangan, menjelaskan tentang analisa kondisi tapak dan lingkungan pada lokasi, berbatasan dengan Jalan Tumapel di sebelah Utara, Jalan Taruma di sebelah Barat, Jalan Airlangga di sebelah Selatan dan di sebelah Timur berbatasan dengan Jalan Teuku Umar. Analisa fisik pada site dan lingkungan dilanjutkan dengan analisa pencapaian, kebisingan, sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki dan sebagainya. Analisa fungsional berupa menganalisa pengguna bangunan Tamil Cultural Centre dan kegiatan apa saja yang berlangsung didalamnya. Menentukan kebutuhan ruang dan program ruang Tamil Cultural Centre. Bab 5 Konsep Perancangan, menjelaskan konsep penerapan hasil analisis yang saling berhubungan dari analisa fisik dan non fisik dari site dan lingkungan yang kemudian menghasilkan program ruang dan pola hubungan antar ruang. Selain itu studi terhadap proyek sejenis dan bangunan sekitar yang mempengaruhi juga dipertimbangkan dan dihubungkan dengan filosofi-filosofi budaya Tamil dalam kerangka kesatuan dan prinsip Arsitektur Simbiosis. Daftar Pustaka
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 1.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat diperoleh beberapa kesimpulan, diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Kedatangan etnis Tamil dimulai
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Kota Medan merupakan ibukota Provinsi Sumatera Utara, juga termasuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kota Medan merupakan ibukota Provinsi Sumatera Utara, juga termasuk kota terbesar ketiga di Indonesia. Tidak hanya besar dari segi wilayah, namun juga besar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Kasus Proyek
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG 1.1.1 Kasus Proyek Perkembangan globalisasi telah memberikan dampak kesegala bidang, tidak terkecuali pengembangan potensi pariwisata suatu kawasan maupun kota. Pengembangan
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada abad ini gerak perubahan zaman terasa semakin cepat sekaligus semakin padat. Perubahan demi perubahan terus-menerus terjadi seiring gejolak globalisasi yang kian
BAB I PENDAHULUAN. Museum Budaya Dayak Di Kota Palangka Raya Page 1
BAB I PENDAHULUAN 1. 1. LATAR BELAKANG EKSISTENSI PROYEK Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah Masyarakat majemuk yang hidup bersama dalam satu wilayah terdiri dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda tentunya sangat rentan dengan gesekan yang dapat
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peningkatan dan pertumbuhan jumlah penduduk, industri dan perdagangan merupakan unsur utama dalam perkembangan kota Pematangsiantar. Keadaan ini juga
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan perekonomian dan pembangunan di Indonesia yang didukung kegiatan di sektor industri sebagian besar terkonsentrasi di daerah perkotaan yang struktur dan infrastrukturnya
BAB I (Times New Roman 16, Bold) PENDAHULUAN
BAB I (Times New Roman 16, Bold) PENDAHULUAN a. Latar Belakang (Times New Roman 14) Menguraikan tentang alasan dan motivasi dari penulis terhadap topik permasalahan yang diteliti / dikaji. Indonesia memiliki
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan hidup manusia semakin berkembang sejalan dengan modernisasi yang tidak pernah terhenti terjadi di bumi. Aktifitas yang dilakukan oleh manusia semakin kompleks
MEDAN TRADITIONAL HANDICRAFT CENTER (ARSITEKTUR METAFORA)
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki berbagai ragam budaya yang dilatarbelakangi suku-suku dari daerah setempat. Ragam budaya tersebut memiliki ciri khas masing-masing
Kasino Hotel di Bintan Kasino Hotel BAB I PENDAHULUAN. Suwanti Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Gambling merupakan sebuah dunia lain yang bersifat untung-untungan dimana kegiatan ini telah berkembang sejak dahulu kala, dan terus mengalami perkembangan seiring
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota pada perkembangannya memiliki dinamika yang tinggi sebagai akibat dari proses terjadinya pertemuan antara pelaku dan kepentingan dalam proses pembangunan. Untuk
BAB I PENDAHULUAN. olehnya. Bahkan kesenian menjadi warisan budaya yang terus berkembang dan maju.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberadaan Art Development Center di Banda Aceh sudah menjadi hal yang penting untuk dibahas. Terutama saat Tsunami membumihanguskan berbagai fasilitas yang ada, namun
BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Kekayaan Indonesia akan flora dan faunanya membawa indonesia kepada sederet rekor dan catatan kekayaan di dunia. Tanahnya yang subur dan iklim yang menunjang, memiliki
Xiang Shan Meditation Center
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Meditasi merupakan warisan Buddha yang terpenting dan merupakan ciri khas ajaran Buddha yang sudah selayaknya dilestarikan melintasi generasi dan dibudayakan ke segenap
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara yang mempunyai beragam suku, agama dan budaya, ada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang mempunyai beragam suku, agama dan budaya, ada sekitar 1.340 suku bangsa di Indonesia. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan seni dan budayanya. Hal itu telihat dari keberagaman suku yang dimiliki Bangsa Indonesia, mulai dari cara hidup
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Aerotropolis adalah pengembangan dari konsep aerocity, yang merupakan konsep paling modern dalam pembangunan dan pengelolaan bandara dewasa ini. Pada konsep aerotropolis,
BAB I PENDAHULUAN. baru, maka keberadaan seni dan budaya dari masa ke masa juga mengalami
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proyek Di Indonesia seni dan budaya merupakan salah satu media bagi masyarakat maupun perseorangan untuk saling berinteraksi satu sama lain. Dengan adanya arus globalisasi
Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Industri pariwisata dan kreatifitas merupakan salah satu industri yang memiliki potesial tinggi untuk dikembangkan pada masa sekarang. Menurut Alvin Toffler dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pada abad ke 14, bangsa Tionghoa mulai bermigrasi ke Pulau Jawa, terutama di sepanjang pantai utara Jawa. Perpindahan ini merupakan akibat dari aktivitas perdagangan
BAB I PENDAHULUAN. kontrak perkebunan Deli yang didatangkan pada akhir abad ke-19.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kabupaten Batubara merupakan salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten yang baru menginjak usia 8 tahun ini diresmikan tepatnya pada 15
BAB I PENDAHULUAN. Utara yang berjarak ± 160 Km dari Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara (Medan). Kota
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kota Kisaran adalah Ibu Kota dari Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara yang berjarak ± 160 Km dari Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara (Medan). Kota Kisaran
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan budaya dan teknologi semakin lama semakin berkembang, perkembangan ini juga diikuti oleh perkembangan di dalam dunia kuliner. Dunia kuliner merupakan hal
Tengah berasal dari sebuah kota kecil yang banyak menyimpan peninggalan. situs-situs kepurbakalaan dalam bentuk bangunan-bangunan candi pada masa
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek Propinsi Jawa Tengah yang merupakan salah satu Daerah Tujuan Wisata ( DTW ) Propinsi di Indonesia, memiliki keanekaragaman daya tarik wisata baik
Wahana Wisata Biota Akuatik BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan dimana sebagian besar dari seluruh luas Indonesia adalah berupa perairan. Karena itu indonesia memiliki potensi laut yang besar
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. keanekaragaman kulinernya yang sangat khas. Setiap suku bangsa di Indonesia
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Surakarta selain dikenal sebagai kota batik, juga populer dengan keanekaragaman kulinernya yang sangat khas. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki kekhasan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota Binjai merupakan kota multi etnik yang dihuni oleh etnis Melayu,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kota Binjai merupakan kota multi etnik yang dihuni oleh etnis Melayu, Jawa, Batak Karo, India dan Cina. Di antara etnik tersebut terdapat dua kelompok etnik yang berasal
Bab I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
Bab I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Buddha Tzu Chi merupakan sebuah organisasi sosial kemanusiaan yang lintas suku, agama, ras dan juga negara yang mendasar kepada prinsip cinta kasih universal, yang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi telah melahirkan masyarakat informasi yang makin besar tuntutannya akan hak untuk mengetahui dan hak untuk mendapatkan
BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Presentase Jumlah Pecinta Seni di Medan. Jenis Kesenian yang Paling Sering Dilakukan Gol. Jumlah
BAB I PENDAHULUAN I. 1 LATAR BELAKANG Ditinjau dari kegiatan komersil, kota Medan memperlihatkan peningkatan di bidang hiburan musik khususnya. Hal ini terlihat pada statistic social budaya, presentase
BELAWAN INTERNATIONAL PORT PASSANGER TERMINAL 2012 BAB I. PENDAHULUAN
BAB I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kota Medan dewasa ini merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia yang mengalami perkembangan dan peningkatan di segala aspek kehidupan, mencakup bagian dari
BAB I PENDAHULUAN. Suku bangsa Melayu di Sumatera Timur mendiami daerah pesisir timur
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Suku bangsa Melayu di Sumatera Timur mendiami daerah pesisir timur Propinsi Sumatera Utara, yang membentang mulai dari Kabupaten Langkat di sebelah Utara, membujur
BAB I PENDAHULUAN 1.7 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.7 Latar Belakang Banda Aceh merupakan salah satu kota yang dilanda bencana alam Tsunami pada Desember Tahun 2004. Pasca bencana Tsunami, kota Banda Aceh kembali di bangun oleh Pemerintah
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Sumatera Timur adalah wilayah yang ada di Pulau Sumatera. Kawasan ini
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sumatera Timur adalah wilayah yang ada di Pulau Sumatera. Kawasan ini didiami oleh beberapa kelompok etnis yaitu Etnis Melayu, Batak Karo dan Batak Simalungun.
BAB III METODE PERANCANGAN. Ide perancangan ini muncul dikarenakan tidak adanya suatu tempat untuk
BAB III METODE PERANCANGAN 3.1 Ide Perancangan Ide perancangan ini muncul dikarenakan tidak adanya suatu tempat untuk menjaga dan melestarikan potensi kesenian tradisional dan kuliner yang ada di Trenggalek.
BAB I PENDAHULUAN. Museum Permainan Tradisional di Yogyakarta AM. Titis Rum Kuntari /
BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG PENGADAAN PROYEK Proyek yang diusulkan dalam penulisan Tugas Akhir ini berjudul Museum Permainan Tradisional di Yogyakarta. Era globalisasi yang begitu cepat berkembang
GALERI SENI RUPA DI MEDAN BAB 1 PENDAHULUAN
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seni pada mulanya adalah proses dari manusia yang merupakan bentuk eksperimen seniman yang memiliki sifat-sifat kreatif, emosional, individual, abadi, dan universal.
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan atau archipelago terbesar di dunia dengan lebih dari 2/3 luasnya terdiri dari wilayah perairan. Indonesia dikenal sebagai negara
BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Hubungan antara kota dengan kawasan tepi air telah terjalin sejak awal peradaban manusia.
BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Hubungan antara kota dengan kawasan tepi air telah terjalin sejak awal peradaban manusia. Dimana pada masa perkembangan peradaban kota badan air merupakan satu-satunya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bangsa Indonesia adalah bangsa dengan masyarakatnya yang Pluralistic mempunyai berbagai macam bentuk dan variasi dari kesenian budaya. Warisan kebudayaan tersebut harus
BAB I PENDAHULUAN. Upaya pemerintah Indonesia dalam pengembangan kepariwisataan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Upaya pemerintah Indonesia dalam pengembangan kepariwisataan diwujudkan dalam program Visit Indonesia yang telah dicanangkannya sejak tahun 2007. Indonesia sebagai
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bandung adalah salah satu kota besar di Indonesia dan merupakan Ibukota Provinsi Jawa Barat yang banyak menyimpan berbagai sejarah serta memiliki kekayaan
I.PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERMASALAHAN
I.PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PERMASALAHAN Kota pada masa sekarang ini semakin tidak memperhatikan sisi-sisi kemanusiaan dan hubungan sosial dengan masyarakat sekitar,dengan semakin terbukanya lahan
Universitas Sumatera Utara
1.1. LATAR BELAKANG Indonesia sebagai negara kepulauan yang terbesar dengan kedudukan geopolitis yang strategis dikarunia Tuhan keanekaragaman kekayaan alam dan budaya yang istimewa, yang menjadi sumber
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia penuh dengan keberagaman atau kemajemukan. Majemuk memiliki
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia penuh dengan keberagaman atau kemajemukan. Majemuk memiliki makna sesuatu yang beragam, sesuatu yang memilik banyak perbedaan begitupun dengan masyarakat
BAB I PENDAHULUAN. yang terbentang sepanjang Selat Malaka dan Selat Karimata.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki sekitar 500 kelompok etnis, tiap etnis memiliki warisan budaya yang berkembang selama berabad-abad, yang dipengaruhi oleh kebudayaan India,
KAWASAN WISATA BUNGA KOTA BANDUNG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. JUDUL Judul Studio Tugas Akhir yang di ambil adalah Kawasan Wisata Bunga Kota Bandung 1.2. LATAR BELAKANG Tanaman dapat memberikan keindahan, kenyamanan, dan berbagai fungsi lainnya
BAB I PENDAHULUAN. menyebut dirinya dengan istilah Hokkian, Tiochiu, dan Hakka. Kedatangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suku bangsa Tionghoa merupakan salah satu etnik di Indonesia. Mereka menyebut dirinya dengan istilah Hokkian, Tiochiu, dan Hakka. Kedatangan leluhur orang Tionghoa
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seperti kita ketahui, Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman budaya dan kesenian. Keberagaman budaya inilah yang membuat Indonesia dikenal oleh negara-negara
TERMINAL TERPADU AMPLAS BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terminal sebagai simpul transportasi membantu peningkatan pelayanan operasi transportasi jalan raya. Dengan adanya terminal sebagai tempat keberangkatan, pemberhentian
BAB I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh masyarakat khusunya generasi muda. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi membuat bangunan-bangunan
BAB I Pendahuluan. 1.1 Multimedia Interaktif Flash Flip Book Pakaian Adat Betawi
1 BAB I Pendahuluan 1.1 Multimedia Interaktif Flash Flip Book Pakaian Adat Betawi Republik Indonesia disingkat RI atau Indonesia adalah negara di Asia Tenggara, yang dilintasi garis khatulistiwa dan berada
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masakan Indonesia merupakan pencerminan beragam budaya dan tradisi yang berasal dari kepulauan Nusantara yang terdiri dari sekitar 6.000 pulau dan memegang peran penting
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap kota pastinya memiliki nilai sejarah tersendiri, dimana nilai sejarah ini yang menjadi kebanggaan dari kota tersebut. Peristiwa peristiwa yang telah terjadi
BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kekompleksitasan Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah membuat Indonesia menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Globalisasi sering diterjemahkan sebagai gambaran dunia yang lebih seragam dan terstandar melalui teknologi, komersialisasi, dan sinkronisasi budaya yang dipengaruhi
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Pariwisata sekarang sudah merupakan suatu tuntutan hidup dalam zaman modern ini. Permintaan orang-orang untuk melakukan perjalanan wisata, dari tahun ke tahun terus
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang merupakan daerah yang memiliki potensi budaya yang masih berkembang secara optimal. Keanekaragaman budaya mencerminkan kepercayaan dan kebudayaan masyarakat setempat
BAB 1 PENDAHULUAN. itu wajib bagi generasi muda untuk melestarikan dan menjaganya agar tidak. hilang terkena arus globalisasi dan modernisasi.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keanekaragaman kebudayaannya dari sabang sampai merauke dan setiap kebudayaannya memiliki ciri khas dan karakter yang
I.1 LATAR BELAKANG I.1.1
BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG I.1.1 Latar Belakang Pemilihan Kasus Kebudayaan memiliki unsur budi dan akal yang digunakan dalam penciptaan sekaligus pelestariannya. Keluhuran dan kemajuan suatu
Bab I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang.
I.1 Latar Belakang. Bab I PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki potensi wisata alam yang melimpah. Terletak di garis khatulistiwa dengan iklim tropis yang mendapat sinar matahari yang
BAB I PENDAHULUAN. Pendapatan Asli Daerah yang cukup potensial. Pariwisata telah menjadi industri yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Alasan Pemilihan Judul Sektor pariwisata merupakan sektor penting dalam upaya penerimaan Pendapatan Asli Daerah yang cukup potensial. Pariwisata telah menjadi industri yang mampu
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Kebijakan Tata Ruang Nasional menempatkan Metropolitan Mebidang-Ro sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) sekaligus sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dengan
BAB 1 PENDAHULUAN Latar belakang proyek
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang proyek Sejarah dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal-usul (keturunan) silsilah,
- BAB I - PENDAHULUAN
- BAB I - PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mal salah satu obyek rekreasi yang banyak dinikmati oleh masyarakat sebagai tempat hiburan untuk merelaksasikan diri, karena tuntutan aktifitas kesibukan sehari-hari
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sistem pendidikan nasional pada hakikatnya mencari nilai tambah melalui pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia atau kualitas manusia utuh jasmaniah rohaniah,
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proyek Seiring dengan perkembangan jaman, terjadi pergeseran budaya, semua serba canggih, praktis, tersaji dengan cepat mungkin, seiring itu juga timbul masalahmasalah
1.1 MAKSUD, TUJUAN DAN SASARAN
BAB I LATAR BELAKANG Indonesia terletak pada koordinat 6 0 LU 11 0 08LS dan 95 0 BB 141 0 45 BT serta terletak diantara benua Asia dan benua Australia, yang mana di lalui garis khatulistiwa yang kaya akan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Desa Cangkuang adalah sebuah desa yang terletak diantara kota Bandung dan kota Garut, di desa ini terdapat sebuah kampung yang bernama kampung Pulo, dan di kampung
BAB 1 START FROM HERE. A river runs through it yang artinya sebuah sungai mengalir melewati,
BAB 1 START FROM HERE A river runs through it yang artinya sebuah sungai mengalir melewati, merupakan sebuah tema besar yang akan menjadi arahan dalam proses desain. Jadi peranan sungai sebenarnya sangat
BAB III METODE PERANCANGAN. perancang dalam mengembangkan ide rancangan. Metode yang digunakan dalam
BAB III METODE PERANCANGAN Suatu proses perancangan membutuhkan suatu metode yang memudahkan bagi perancang dalam mengembangkan ide rancangan. Metode yang digunakan dalam Perancangan Pusat Dokumentasi
BAB I PASAR SENI DI WAIKABUBAK SUMBA BARAT NTT ARSITEKTUR TRADISIONAL SEBAGAI ACUAN PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB I PASAR SENI DI WAIKABUBAK SUMBA BARAT NTT ARSITEKTUR TRADISIONAL SEBAGAI ACUAN PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sesuatu yang hidup dialam ini merupakan makluk hidup
Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Medan merupakan salah satu kawasan strategis yang terletak di Negara Indonesia dimana wilayah penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Existensi proyek
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Existensi proyek Provinsi Kalimantan Barat merupakan salah satu propinsi yang memiliki keistimewaan. Dikatakan istimewa, karena kota ini adalah salah satu dari beberapa
BAB I PENDAHULUAN. perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi mengakibatkan terjadinya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Arsitektur sebagai produk dari kebudayaan, tidak terlepas dari pengaruh perkembangan teknologi. Perkembangan teknologi mengakibatkan terjadinya proses perubahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. PENGERTIAN JUDUL
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. PENGERTIAN JUDUL Proyek yang direncanakan dalam Studio Konsep Perancangan Arsitektur (SKPA) berjudul Boyolali Historical Park sebagai Pengembangan Taman Sonokridanggo. Maksud dari
BAB I PENDAHULUAN. besar ke kota Medan (Sinar, 1996). Orang Cina dan Jawa didatangkan sebagai kuli
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada akhir abad ke-19 sampai awal abad ke-20 terjadi gelombang migrasi besar ke kota Medan (Sinar, 1996). Orang Cina dan Jawa didatangkan sebagai kuli kontrak akibat
BAB I PENDAHULUAN. dipengaruhi oleh kebudayaan bangsa-bangsa asing yang datang ke Indonesia.
A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Inkulturasi budaya Indonesia berawal dari masuknya bangsa-bangsa asing ke Indonesia yang awalnya memiliki tujuan untuk berdagang. Dengan masuknya budaya-budaya
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ><
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebudayaan adalah sesuatu yang tidak dipisahkan dari negara Indonesia yang terkenal akan keanekaragamannya. Keanekaragaman ini menjadi unsur perekat kesatuan dan persatuan
I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan Bangsa yang majemuk, artinya Bangsa yang terdiri dari beberapa suku
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan Bangsa yang majemuk, artinya Bangsa yang terdiri dari beberapa suku bangsa, beranekaragam Agama, latar belakang sejarah dan kebudayaan daerah.
BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman budaya, suku dan kesenian yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Salah satu suku yang terdapat di Indonesia adalah
BAB I PENDAHULUAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Provinsi Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi dari sekian banyak provinsi di Indonesia yang memiliki budaya yang kental. Banyak kebudayaan yang tertinggal
BAB II RUANG BAGI KEHIDUPAN
BAB II RUANG BAGI KEHIDUPAN Untuk memperoleh hasil pemrograman yang maksimal, proses analisa yang dilakukan sebaiknya bersumber pada data yang tersusun dengan sempurna. Data yang sudah terkumpul kemudian
BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Banyak daerah-daerah di Indonesia yang memiliki potensi pariwisata yang dapat diolah dan dikembangkan untuk dikenalkan kepada wisatawan mancanegara bahwa Indonesia
BAB V PENUTUP. 5.1 Kesimpulan
116 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dari hasil analisis semiotika dengan unsur tanda, objek, dan interpretasi terhadap video iklan pariwisata Wonderful Indonesia episode East Java, serta analisis pada tiga
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebudayaan adalah kekayaan warisan yang harus tetap dijaga, dan dilestarikan dengan tujuan agar kebudayaan tersebut bisa bertahan terus menerus mengikuti perkembangan
KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR. Oleh : SABRINA SABILA L2D
KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR Oleh : SABRINA SABILA L2D 005 400 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
BAB I PENDAHULUAN. halnya di daerah Sumatera Utara khususnya di kabupaten Karo, rumah adat
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ragam hias atau disebut juga dengan ornamen di Indonesia merupakan kesatuan dari pola-pola ragam hias daerah atau suku-suku yang telah membudaya berabad-abad.
BAB I PENDAHULUAN. membentang luas lautan yang merupakan pesisir utara pulau Jawa. Kabupaten
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kabupaten Tuban provinsi Jawa Timur merupakan wilayah yang berada di Jalur Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa. Sebelah utara Kabupaten Tuban membentang luas lautan
BAB I PENDAHULUAN. keberagaman suku, agama, ras, budaya dan bahasa daerah. Indonesia memiliki
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Budaya merupakan simbol peradaban. Apabila sebuah budaya luntur dan tidak lagi dipedulikan oleh sebuah bangsa, peradaban bangsa tersebut tinggal menunggu waktu
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Projek Gagasan awal. Projek akhir arsitektur berjudul Pusat Rekreasi dan Interaksi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Projek 1.1.1 Gagasan awal Projek akhir arsitektur berjudul Pusat Rekreasi dan Interaksi Biota Laut Endemik di Jepara merupakan pendekatan sebuah perancangan baru kompleks
