BAB 1 PENDAHULUAN. 8,39 % 1,67 % 5,04% Jumlah
|
|
|
- Sugiarto Agusalim
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Rumah merupakan kebutuhan dasar manusia selain sandang dan pangan. Seiring dengan perkembangannya, rumah menjadi salah satu bentuk investasi yang menarik. Saat ini, kebutuhan perumahan di Kota Bandung mengalami peningkatan sejalan dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat yang salah satunya disebabkan oleh urbanisasi atau migrasi penduduk dari luar kota. Pertumbuhan penduduk serta kepadatan penduduk merupakan dua hal yang saling berkaitan dalam mempengaruhi kebutuhan perumahan kota Bandung. Berdasarkan BPS Kota Bandung, sampai dengan tahun 2011, jumlah penduduk kota Bandung adalah jiwa dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai orang per kilometer persegi. Menurut proyeksi dari BPS Kota Bandung, dengan laju pertumbuhan Penduduk (LPP) sebesar 1,09 % maka pada tahun 2020 jumlah penduduk Kota Bandung akan mencapai angka jiwa. Sejalan dengan hal tersebut, permintaan akan tempat tinggal (hunian) di kota Bandung akan meningkat. Hal itu disebabkan karena padatnya jumlah penduduk dan terbatasnya lahan. Saat ini proyeksi kebutuhan rumah kota Bandung cukup tinggi namun supply untuk kebutuhan tersebut belum dapat memenuhi. Adapun hal itu dapat dilihat pada tabel 1.1 dan tabel 1.2 berikut ini : Tabel 1.1: Proyeksi Kebutuhan Rumah Kota Bandung Tipe rumah Jumlah Persentase Rumah sederhana Rumah menengah Rumah mewah ,39 % 1,67 % 5,04% Jumlah Sumber : Simanungkalit (2011)
2 Tabel 1.2 : Supply Rumah Kota Bandung Tipe rumah Jumlah Persentase Rumah sederhana Rumah menengah Rumah mewah ,09 % 4,20 % 1,25 % Jumlah Sumber : Simanungkalit (2011) Berdasarkan tabel 1.2, Saat ini, supply perumahan yang dilakukan oleh pengembang dan pemerintah masih belum memenuhi kebutuhan penduduk secara kuantitatif, dengan jumlah supply rumah sampai dengan 2011 adalah jumlah kebutuhan tertinggi adalah tipe rumah sederhana dengan persentase sebesar 8,39 % dan kekurangan supply tipe rumah mewah sebesar 8,40% dan menengah 2,80%. Adapun proyeksi kekurangan untuk supply rumah kota Bandung 2011 sampai dengan tahun 2020 dapat dilihat pada tabel 1.3 : Tabel 1.3 : Proyeksi Kekurangan Supply Rumah Kota Bandung Tipe rumah Jumlah Persentase Rumah sederhana Rumah menengah Rumah mewah ,40 % 2.80 % 8,40 % Jumlah Sumber : Simanungkalit (2011) Berdasarkan tabel 1.3, diketahui bahwa masih diperlukannya perumahan dengan kebutuhan sebesar , Untuk itu diperlukan kebijakan yang komprehensif untuk menanggulangi permasalahan perumahan kota Bandung. PT. Kereta Api Indonesia (Persero) DAOP 2 Bandung memiliki aset lahan kosong yang terletak di Jalan Batu Api kawasan Buah Batu Bandung, lahan ini memiliki luas m 2 dan merupakan aset properti milik perusahaan yang sangat potensial keberadaannya mengingat lokasinya yang strategis, yaitu dekat dengan pusat kota Bandung. Selain itu lokasi aset dekat dengan pintu tol Buah Batu
3 Bandung dengan jarak pintu tol ke lokasi aset adalah sekitar 300 m, sehingga lokasi ini sangat mudah untuk dijangkau. Berdasarkan hasil studi kasus mengenai Analisis Kelayakan Keuangan Pemanfaatan Aset Lahan Kosong PT Kereta Api Indonesia (Persero), Diketahui bahwa aset tanah di jalan Batu Api Bandung akan lebih produktif apabila dikembangkan menjadi sebuah perumahan vertical. Hal tersebut dikarenakan perumahan vertical memungkinkan secara fisik, diizinkan secara legal dan layak secara keuangan. Oleh karena itu, pembangunan perumahan vertical Batu Api dapat dijadikan alternatif pemanfaatan, karena keberadaannya akan sangat dibutuhkan. Selain itu, penggunaan lahan akan lebih efisien karena dibangun secara bertingkat (vertical) akan menjadi solusi yang tepat dalam permasalahan pemukiman tersebut. Dengan masih adanya kekurangan proyeksi supply perumahan yang ada di kota Bandung dan masih adanya lahan kosong milik PT KAI (Persero) yang belum dimanfatkan. Maka pemanfaatan aset untuk perancanaan perumahan vertical di lahan Batu Api milik PT KAI (Persero) akan sangat menguntungkan, selain itu pemanfaatan aset lahan untuk perumahan vertical akan sangat membantu program pemerintah untuk menanggulangi masalah perumahan dan pemukiman di kota Bandung. Namun, dalam perencanaan pembangunan perumahan vertical Batu Api, sebelumnya perlu diukur minat ataupun respon pasar terhadap perencanaan pengembangan perumahan vertical. Sehingga perencanaan pembangunan perumahan vertical ini dapat memenuhi permintaan serta kebutuhan masyarakat dalam perumahan vertical. Sehubungan dengan fenomena diatas, maka penulis tertarik untuk mengambil judul Tugas Akhir yaitu Analisis Potensi Pasar Pemanfaatan Aset Lahan Batu Api Untuk Perumahan Vertical PT Kereta Api Indonesia (Persero).
4 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan penjelasan yang dikemukakan dalam latar belakang. Penulis mengidentifikasi beberapa masalah. Identifikasi masalah tersebut dipaparkan sebagai berikut : 1. Banyaknya kebutuhan dan permintaan akan perumahan di kota Bandung 2. Terbatasnya lahan yang tersedia dengan laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. 3. Mengacu Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung. bahwa arah pengembangan di daerah Batu Api termasuk dalam Sub Wilayah Kota (SWK) Karees yaitu jasa, perdagangan, serta perumahan yang dibangun secara vertikal/bertingkat (rumah susun/perumahan Vertical). 4. Berdasarkan hasil studi kasus diketahui bahwa aset tanah di jalan Batu Api Bandung akan lebih produktif apabila dikembangkan menjadi perumahan vertical. 1.3 Pembatasan Masalah Berdasarkan identifikasi masalah diatas. Penulis membatasi masalah yang akan diteliti agar penelitian menjadi lebih fokus dan terarah. Adapun permasalahan yang akan dikaji sebagai berikut : 1. Terbatasnya lahan yang tersedia dengan laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat sehingga menambah kebutuhan akan perumahan. 2. Mengacu Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Bandung. bahwa arah pengembangan di daerah Batu Api adalah perumahan yang dibangun secara vertikal/bertingkat. 3. Berdasarkan hasil studi kasus diketahui bahwa aset tanah di jalan Batu Api Bandung akan lebih produktif apabila dikembangkan menjadi sebuah perumahan vertical.
5 1.4 Perumusan Masalah Berdasarkan pembatasan masalah diatas, maka penulis merumuskan masalah tersebut kedalam butir- butir pertanyaan sebagai berikut : 1. Bagaimana potensi pasar atas pemanfaatan aset lahan PT KAI (Persero) di jalan Batu Api Bandung untuk Perumahan Vertical? 2. Bagaimana segmentasi, targeting dan positioning pada Perumahan Vertical Batu Api Bandung? 1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang telah telah diungkapkan di atas, maka tujuan dan manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut: Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Tujuan dari pemanfaatan aset berdasarkan aspek pemasaran yaitu : a. Terukurnya tingkat potensi pasar pada permintaan Perumahan Vertical Batu Api b. Mengetahui segmentasi,targeting dan positioning pada Perumahan Vertical Batu Api Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian tugas akhir ini adalah sebagai berikut: 1. Manfaat Praktis Dapat membantu dalam memberikan informasi dan masukan bagi PT KAI (Persero) DAOP 2 Bandung untuk pemanfaatan aset lahan, sehingga diharapkan lahan yang menganggur dapat meningkatkan pendapatan perusahaan. khusunya aset lahan Batu Api Bandung 2. Manfaat Teoritis Menambah wawasan terhadap ilmu pengetahuan di bidang manajemen aset, khususnya pengelolaan aset untuk pembuatan
6 pemanfaatan dan pengelolaan aset milik negara yang tidak digunakan (idle). 1.6 KERANGKA BERFIKIR Pada bagian ini akan dijelaskan langkah-langkah dalam kerangka berfikir yang akan dibuat, mengenai analisis potensi pasar pemanfaatan aset lahan Batu Api Bandung untuk Perumahan Vertical. Diawali dengan adanya masalah setelah dilakukan studi kasus mengenai pemanfaatan aset lahan PT KAI (Bandung). Dapat diketahui bahwa aset lahan di jalan Batu Api Bandung masih belum optimal dan akan lebih produktif apabila lahan Batu Api dimanfaatkan untuk Perumahan Vertical, Berikut ini rangkaian langkah dalam kerangka berfikir tersebut : 1. Input Input dari kerangka berfikir ini adalah hasil dari identifikasi masalah mengenai pemanfaatan aset lahan kosong Jalan Batu Api Kawasan Buah Batu Bandung milik PT.KAI DAOP 2 Bandung. Input dalam proses ini adalah data primer dan data sekunder dan data awal dari pengelola aset DAOP 2 Bandung. 2. Proses Metode dan proses dalam kerangka berfikir ini adalah dengan mengelola data yang berasal dari input. Proses yang digunakan adalah dengan cara studi dokumentasi, melakukan interview pada pengelola aset dan observasi terhadap aset yang akan di kaji. Proses perancangan pemanfaatan ini adalah dengan melakukan pengukuran minat pasar terhadap respon rencana pembangunan Perumahan Vertical. Apabila telah diketahui tingkat potensial pasar terhadap Perumahan Vertical, maka tahapan selanjutnya adalah pemasaran Perumahan Vertical dengan menggunakan segmentasi, targeting, positioning, sehingga jenis konsumen akan lebih terarah. 3. Output Output yang akan dihasilkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
7 a. Mengetahui potensi pasar terhadap rencana pembangunan Perumahan Vertical b. Mengetahui segmentasi targeting dan positioning Perumahan Vertical yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di kota Bandung, Untuk lebih jelasnya mengenai kerangka berfikir mengenai analisis potensi pasar Pemanfaatan Aset Lahan Batu Api Untuk Perumahan Vertical dapat dilihat pada gambar 1.1 sebagai berikut :
8 INPUT Potensi pemanfaatan lahan kosong api seluas m2 di jalan Batu Api kota Bandung PROSES Perencanaan pemanfaatan Aset Lahan Batu Api Untuk Perumahan Vertical OUTPUT 1. Meningkatnya kebutuhan perumahan seiring dengan terbatasnya lahan dan laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat. 2. Mengacu pada RTRW kota Bandung arah pengembangan di kawasan Batu Api dapat dibangun Perumahan Vertical. 3. Berdasarkan hasil studi kasus aset lahan Batu Api akan lebih produktif apabila dibangun Perumahan Vertical Analisis Potensi Pasar Aset Lahan Batu Api Bandung Untuk Perumahan Vertical Perancangan pemanfaatan tanah Batu Api pada aspek pemasaran yang meliputi : a. Pengukuran minat pasar terhadap perumahan vertical b. Pemasaran perumahan vertical dengan segmentation targeting positioning Landasan Normatif 1. Perda No 16 Tahun 2011 mengenai tata ruang kota Bandung 2. PMK No 96 Tahun PP No 6 Tahun ) Mengetahui potensi/minat pasar terhadap rencana perumahan vertical 2) Mengetahui segmentation targeting dan positioning perumahan vertical Batu Api Sumber: Olah Data Penulis Gambar 1.1 Kerangka Berfikir Proses selanjutnya Yang melandasi
9 1.7 Lokasi dan Waktu Penelitian Adapun lokasi dan waktu penelitian adalah sebagai berikut : Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dilaksanakan di PT Kereta Api Indonesia (Persero) DAOP 2 Bandung, yang beralamat di Jalan Stasiun Selatan No. 25 Bandung Sedangkan objek aset terletak di Jalan Batu Api kelurahan Turangga kecamatan Lengkong Kota Bandung. Lokasi asetdi Jl. Batu Api kawasan Buah Batu, Bandung Sumber : DAOP 2 Bandung Gambar 1.2 Foto Citra Satelit Objek Aset Berdasarkan gambar 1.2 di atas, lokasi dari objek Aset berada dalam garis warna merah yang menandakan keberadaannya di Jalan Batu Api Bandung melalui foto citra satelit dari ketinggian ± 100 meter di udara Waktu Penelitian Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan selama 3 bulan yang dimulai pada awal bulan April 2012 sampai Juni Adapun jadwal pelaksanaan penelitian seperti tertera pada tabel 1.4 berikut :
10 Tabel 1.4 JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN BULAN KEGIATAN/TAHUN 2012 NO KEGIATAN April Mei Juni Survey pra penelitian (pre research survey) Penentuan topik dan objek 2 penelitian 3 Pertemuan dengan pembimbing 4 Pengumpulan data awal 5 Pengolahan data awal 6 Pengumpulan data akhir 7 Pengolahan data 8 Penulisan laporan tugas akhir Persetujuan Pembimbing untuk 9 seminar tugas akhir 10 Penyerahan laporan tugas akhir ke Program Studi 11 Seminar tugas akhir 12 Pengumpulan laporan tugas akhir
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri properti merupakan industri yang sedang mengalami perkembangan yang pesat di Indonesia pada saat ini. Perkembangan tersebut disebabkan oleh beberapa faktor,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah
1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN PT. Pegadaian merupakan sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mempunyai bisnis inti berupa usaha gadai yang dinamakan kredit cepat aman (KCA). Selain
BAB I PENDAHULUAN. kota berkembang dari tempat-tempat pemukiman yang sangat sederhana hingga
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kota sebagai salah satu kenampakan di permukaan bumi, menurut sejarahnya kota berkembang dari tempat-tempat pemukiman yang sangat sederhana hingga timbullah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Aset adalah suatu potensi yang baik yang dimiliki oleh organisasi atau individu untuk mencapai tujuan. Aset dapat berbentuk riil atau terukur yang disebut sebagai
ANALISIS POTENSI PASAR PEMANFAATAN ASET LAHAN BATU API UNTUK PERUMAHAN VERTICAL
ANALISIS POTENSI PASAR PEMANFAATAN ASET LAHAN BATU API UNTUK PERUMAHAN VERTICAL PT KERETA API INDONESIA (PERSERO) ANALYSIS OF MARKET POTENTIAL UTILIZATION OF LAND ASSETS FOR FLINT VERTICAL HOUSING PT KERETA
BAB I PENDAHULUAN. dalam pemenuhannya masih sulit dijangkau terutama bagi penduduk berpendapatan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Perumahan merupakan kebutuhan masyarakat yang paling mendasar, dan dalam pemenuhannya masih sulit dijangkau terutama bagi penduduk berpendapatan rendah
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertamina didirikan dengan Undang-Undang Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1971 tentang perusahaan pertambangan minyak dan gas bumi Negara. Kemudian berdasarkan
APARTEMEN DI BEKASI BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Bekasi adalah penyangga ibukota Republik Indonesia, DKI Jakarta. Terletak di sebelah timur DKI Jakarta, dengan letak astronomis 106 55 bujur timur dan 6 7-6 15
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota menurut Alan S. Burger The City yang diterjemahkan oleh (Dyayadi, 2008) dalam bukunya Tata Kota menurut Islam adalah suatu permukiman yang menetap (permanen) dengan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota merupakan tempat kosentrasi kegiatan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, meliputi kegiatan industri, perkantoran, hingga hunian. Perkembangan kegiatan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Kota-kota besar di negara-negara berkembang umumnya mengalami laju
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kota-kota besar di negara-negara berkembang umumnya mengalami laju pertumbuhan penduduk yang pesat sebagai akibat dari faktor-faktor alami yaitu kelahiran dan terutama
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di zaman ini perkembangan transportasi terus meningkat dan kebutuhan manusia akan transportasi pun terus meningkat. Hal ini membuat manusia itu sendiri terus
BAB I PENDAHULUAN. ditunjukkan oleh besarnya tingkat pemanfaatan lahan untuk kawasan permukiman,
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perkembangan kota yang ditunjukkan oleh pertumbuhan penduduk dan aktivitas kota menuntut pula kebutuhan lahan yang semakin besar. Hal ini ditunjukkan oleh besarnya tingkat
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perumahan dan pemukiman merupakan kebutuhan dasar manusia dan mempunyai peranan strategis dalam pembentukan watak serta kepribadian bangsa, dan perlu dibina dan dikembangkan
BAB I PENDAHULUAN. Pertambahan penduduk daerah perkotaan di negara-negara berkembang,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertambahan penduduk daerah perkotaan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, masih cukup tinggi. Salah satu penyebab adanya laju pertambahan penduduk
BAB I PENGANTAR. Kota Tangerang terletak antara Lintang Selatan dan
BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Kota Tangerang terletak antara 6 6-6 13 Lintang Selatan dan 106 36-106 42 Bujur Timur. Luas wilayah Kota Tangerang sekitar 164,55 km², saat ini memiliki 13 wilayah administratif
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penelitian Pengelolaan aset bertujuan untuk memberikan kejelasan status kepemilikan aset, inventarisasi kekayaan, optimasi penggunaan dan pemanfaatan aset dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan penduduk kota kota di Indonesia baik sebagai akibat pertumbuhan penduduk maupun akibat urbanisasi telah memberikan indikasi adanya masalah perkotaan yang
BAB I PENDAHULUAN. Tinggi terletak pada LU dan BT. Kota Tebing Tinggi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Tebing Tinggi adalah adalah satu dari tujuh kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara, yang berjarak sekitar 78 kilometer dari Kota Medan. Kota Tebing Tinggi terletak
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sesuai dengan arahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DKI Jakarta 2010 dan untuk mendukung fungsi Kota Jakarta sebagai ibukota negara dan pusat kegiatan ekonomi yang
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang penelitian Perwilayahan adalah usaha untuk membagi bagi permukaan bumi atau bagian permukaan bumi tertentu untuk tujuan yang tertentu pula (Hadi Sabari Yunus, 1977).
CONTOH KASUS PEREMAJAAN KOTA DI INDONESIA (GENTRIFIKASI)
Perancangan Kota CONTOH KASUS PEREMAJAAN KOTA DI INDONESIA (GENTRIFIKASI) OLEH: CUT NISSA AMALIA 1404104010037 DOSEN KOORDINATOR IRFANDI, ST., MT. 197812232002121003 PEREMAJAAN KOTA Saat ini, Perkembangan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kebutuhan dan keinginan manusia terus berkembang dan tidak terbatas
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan dan keinginan manusia terus berkembang dan tidak terbatas seiring dengan perkembangan zaman. Manusia tidak lagi mampu untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya
BAB I PENDAHULUAN. Kota menawarkan berbagai ragam potensi untuk mengakumulasi aset
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kota menawarkan berbagai ragam potensi untuk mengakumulasi aset sosial, ekonomi, dan fisik. Kota berpotensi memberikan kondisi kehidupan yang sehat dan aman, gaya hidup
BAB I PENDAHULUAN 1.1 L atar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT Pegadaian merupakan BUMN di Indonesia yang usaha intinya bergerak di bidang jasa penyaluran kredit kepada masyarakat atas dasar hukum gadai. Dasar hukum pendirian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan kawasan permukiman, yaitu kumpulan rumah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang perumahan dan kawasan permukiman, yaitu kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman, baik perkotaan maupun perdesaan,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan akan hunian sudah menjadi hal yang pokok dalam menjalankan kehidupan, terlebih lagi dengan adanya prinsip sandang, pangan, dan papan. Kehidupan seseorang
BAB I PENDAHULUAN. Kawasan(PLP2K-BK) 1 Buku Panduan Penanganan Lingkungan Perumahan dan Permukiman Kumuh Berbasis
BAB I PENDAHULUAN 1.4. Latar Belakang Permukiman kumuh merupakan permasalahan klasik yang sejak lama telah berkembang di kota-kota besar. Walaupun demikian, permasalahan permukiman kumuh tetap menjadi
BAB I PENDAHULUAN. Pulau Bali yang terkenal sebagai pulau Dewata merupakan salah satu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau Bali yang terkenal sebagai pulau Dewata merupakan salah satu Provinsi di Indonesia yang menjadi tujuan wisata bagi para wisatawan domestik maupun dari manca negara,
BAB I: PENDAHULUAN Latarbelakang.
BAB I: PENDAHULUAN 1.1. Latarbelakang Seiring dengan perkembangan Kota DKI Jakarta di mana keterbatasan lahan dan mahalnya harga tanah menjadi masalah dalam penyediaan hunian layak bagi masyarakat terutama
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi dan ketatnya persaingan saat ini menjadi sebuah tantangan yang wajib dihadapi setiap perusahaan untuk mempertahankan eksistensi dan kehidupannya. Perusahaan
BAB I PENGANTAR. Setelah Jakarta kian sesak akibat maraknya pembangunan properti, apartemen pun merambah daerah di luar Ibu Kota Jakarta yaitu Bekasi,
BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Setelah Jakarta kian sesak akibat maraknya pembangunan properti, apartemen pun merambah daerah di luar Ibu Kota Jakarta yaitu Bekasi, Tangerang, Depok, dan Bogor menjadi
BAB I PENDAHULUAN. A. JUDUL Terminal Bus Tipe A di Surakarta, dengan penekanan pada tampilan arsitektur modern.
BAB I PENDAHULUAN A. JUDUL Terminal Bus Tipe A di Surakarta, dengan penekanan pada tampilan arsitektur modern. B. PENGERTIAN JUDUL v Terminal : Perhentian (bus, kereta api, dan sebagainya) penghabisan,
IDENTIFIKASI PENGADAAN RUMAH SWADAYA OLEH MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI KECAMATAN TEMBALANG KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR
IDENTIFIKASI PENGADAAN RUMAH SWADAYA OLEH MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI KECAMATAN TEMBALANG KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR Oleh : IRMA NURYANI L2D 001 436 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan kota sebagai perwujudan aktivitas manusia senantiasa mengalami perkembangan dari waktu ke waktu.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan kota sebagai perwujudan aktivitas manusia senantiasa mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Aktivitas kota menjadi daya tarik bagi masyarakat sehingga
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Septi Sri Rahmawati, 2015
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Lahan merupakan salah satu faktor penunjang kehidupan di muka bumi baik bagi hewan, tumbuhan hingga manusia. Lahan berperan penting sebagai ruang kehidupan,
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Kota merupakan sebuah tempat permukiman yang sifatnya permanen
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota merupakan sebuah tempat permukiman yang sifatnya permanen dengan tingkat kepadatan penduduknya yang mencolok, di mana corak masyarakatnya yang heterogen dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia tanpa air manusia tidak mungkin dapat hidup, karena untuk berbagai macam kegunaan, manusia selalu mengkonsumsi
RUMAH SUSUN MILIK DI JAKARTA DENGAN PENENKANAN DESAIN MODERN-GREEN Sevi Maulani, 2014 BAB I PENDAHULUAN
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Mengapa rumah susun? Kebutuhan tempat tinggal merupakan kebutuhan primer manusia. Berbagai macam upaya pemenuh kebutuhan ini terwujud dengan semakin banyaknya proyek-proyek
BAB I PENDAHULUAN. kondisi penggunaan lahan dinamis, sehingga perlu terus dipantau. dilestarikan agar tidak terjadi kerusakan dan salah pemanfaatan.
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pembangunan sangat diperlukan untuk kelanjutan hidup manusia. Kemajuan pembangunan di suatu wilayah sejalan dengan peningkatan jumlah pertumbuhan penduduk yang diiringi
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sumber daya lahan yang terdapat pada suatu wilayah, pada dasarnya
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sumber daya lahan yang terdapat pada suatu wilayah, pada dasarnya merupakan modal dasar pembangunan yang perlu digali dan dimanfaatkan dengan memperhatikan karakteristiknya.
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Permukiman adalah kawasan lingkungan hidup baik di perkotaan maupun di
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang adalah kawasan lingkungan hidup baik di perkotaan maupun di pedesaan yang dilengkapi oleh sarana dan prasarana lingkungan yang mendukung kegiatan penduduknya. Seiring
BAB I PENDAHULUAN. Sarana transportasi merupakan sarana mobilitas yang telah menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sarana transportasi merupakan sarana mobilitas yang telah menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap orang. Di Indonesia sendiri sebagai negara kepulauan, salah
BAB I PENDAHULUAN. perlunya perumahan dan pemukiman telah diarahkan pula oleh Undang-undang Republik
BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG I.1.1. Latar Belakang Eksistensi Proyek Pemukiman dan perumahan adalah merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi oleh manusia. Perumahan dan pemukiman tidak hanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai sumber daya yang tersebar secara luas di bumi ini walaupun dalam jumlah yang berbeda, air terdapat dimana saja dan memegang peranan penting dalam kehidupan
Evaluasi Kondisi Tata Ruang Eksisiting Kota Bandung SWK Cibeunying
Prosiding Perencanaan Wilayah dan Kota ISSN: 2460-6480 Evaluasi Kondisi Tata Ruang Eksisiting Kota Bandung SWK Cibeunying 1 Indri Pebrianto, 2 Saraswati 1,2 Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses pembangunan dan pengembangan suatu kota berjalan sangat cepat, sehingga apabila proses ini tidak diimbangi dengan pengelolaan lingkungan hidup dikhawatirkan akan
Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Kereta api merupakan salah satu alat transportasi modern saat ini yang paling sering digunakan sebagai alat transportasi utama di beberapa kota besar di Indonesia,
1 A p a r t e m e n S i s i n g a m a n g a r a j a S e m a r a n g
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tempat tinggal merupakan salah satu kebutuhan primer manusia. Berbagai upaya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal ini, salah satu caranya adalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Hampir semua
BAB I PENDAHULUAN. Jakarta merupakan ibu kota Indonesia yang merupakan kota dengan penduduk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jakarta merupakan ibu kota Indonesia yang merupakan kota dengan penduduk terpadat di Indonesia (MetroTv News, 2013). Jumlah penduduk sekarang mencapai +9.604.329 jiwa
BAB I PENDAHULUAN. Strategis Kementerian Pertanian tahun adalah meningkatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu tujuan pembangunan pertanian yang tertuang dalam Rencana Strategis Kementerian Pertanian tahun 2010-2014 adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan
BAB 1 PENDAHULUAN. Relokasi Stasiun Merak 1
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sarana transportasi dari tahun ke tahun mengalami kenaikan dalam jumlah pelayanan kepada masyarakat, terutama tranportasi darat. Kereta api merupakan transportasi darat
BAB III METODE PERANCANGAN. kualitatif. Dimana dalam melakukan analisisnya, yaitu dengan menggunakan konteks
BAB III METODE PERANCANGAN Metode perancangan Rumah Susun pekerja ini menggunakan metode secara kualitatif. Dimana dalam melakukan analisisnya, yaitu dengan menggunakan konteks permasalahan yang ada secara
BAB I PENDAHULUAN. Respon risiko..., Juanto Sitorus, FT UI., Sumber data : BPS DKI Jakarta, September 2000
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Pembangunan Kota Jakarta dengan visi dan misi mewujudkan Ibu kota negara sejajar dengan kota-kota dinegara maju dan dihuni oleh masyarakat yang sejahtera. Permasalahan
BAB 1 PENDAHULUAN. Lahan sawah adalah lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lahan sawah adalah lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh pematang (galengan), saluran untuk menahan/ menyalurkan air,yang biasanya ditanami padi sawah
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bekasi adalah salah satu kota yang termasuk dalam kawasan megapolitan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1. Latar Belakang Pembangunan Proyek Bekasi adalah salah satu kota yang termasuk dalam kawasan megapolitan (Jabodetabek), dan menjadi kota keempat terbesar di indonesia.
Politeknik Negeri Sriwijaya BAB I PENDAHULUAN
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Jasa Raharja (Persero) Sumatera Selatan adalah sebuah instansi yang mempunyai tugas untuk melayani masyarakat dalam menangani masalah asuransi. Secara garis
I. PENDAHULUAN. pertumbuhan sebesar 1,49 % pada tahun Badan Pusat Statistik (BPS,
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah penduduk Indonesia terus meningkat setiap tahunnya dengan laju pertumbuhan sebesar 1,49 % pada tahun 2000-2010. Badan Pusat Statistik (BPS, 2010) mempublikasikan
STUDI KARAKTERISTIK HOUSING CAREER GOLONGAN MASYARAKAT BERPENDAPATAN MENENGAH-RENDAH DI KOTA SEMARANG
STUDI KARAKTERISTIK HOUSING CAREER GOLONGAN MASYARAKAT BERPENDAPATAN MENENGAH-RENDAH DI KOTA SEMARANG (Studi Kasus: Perumnas Banyumanik dan Perumahan Bukit Kencana Jaya) TUGAS AKHIR Oleh: ARIEF WIBOWO
BAB I PENDAHULUAN FRANSISCA RENI W / L2B
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota merupakan hasil cipta, rasa, karsa dan karya manusia yang paling rumit sepanjang sejarah peradaban. Begitu banyak masalah bermunculan silih berganti, akibat pertarungan
TOWNHOUSE Sebagai Pengembangan Perumahan Grand Tembalang Regency Di Semarang
LANDASAN PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR TOWNHOUSE Sebagai Pengembangan Perumahan Grand Tembalang Regency Di Semarang Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Teknik
A. LATAR BELAKANG PENELITIAN
1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Indonesia adalah negara agraris dimana mayoritas penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Berbagai hasil pertanian diunggulkan sebagai penguat
BAB I PENDAHULUAN. sampai besar seperti cafe, rumah makan maupun restoran. Jawa Barat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan bisnis sekarang ini telah berkembang sangat pesat dan mengalami metamorfosis yang berkesinambungan menjadikan daya tarik bisnis itu tersendiri.
BAB I PENDAHULUAN. Barry Render dan Jay Heizer (Render& Heizer, 2001) mengemukakan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Barry Render dan Jay Heizer (Render& Heizer, 2001) mengemukakan beberapa alasan utama mengenai pentingnya suatu perusahaan menerapkan manajemen operasi,
BAB I PENDAHULUAN. perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan
BAB I PENDAHULUAN Bab pendahuluan ini akan menguraikan tentang latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. Pada latar belakang dipaparkan secara singkat mengenai
V. HASIL DAN PEMBAHASAN
31 V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Spasial Ruang Terbuka Hijau 5.1.1. Identifikasi Perubahan Luas RTH di Jakarta Timur Identifikasi penyebaran dan analisis perubahan Ruang Terbuka Hijau di kawasan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan diuraikan latar belakang guna mencari tahu kenapa proyek ini dibutuhkan dan seberapa layak proyek ini diadakan, rumusan permasalahan permasalahan yang ada, tujuan yang
LP3A Tugas Akhir 135: Apartemen Tanjung Barat BAB 1 PENDAHULUAN
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Tingginya investasi di DKI Jakarta, serta pertumbuhan perekonomian yang baik memicu semakin banyaknya tenaga kerja yang terserap dan menetap di DKI Jakarta. Sehingga
BAB I PENDAHULUAN. banyak, masih dianggap belum dapat menjadi primadona. Jika diperhatikan. dialihfungsikan menjadi lahan non-pertanian.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan nasional bertujuan untuk kemakmuran rakyat, memerlukan keseimbangan antar berbagai sektor. Sektor pertanian yang selama ini merupakan aset penting karena
KARAKTERISTIK PEMEKARAN KOTA BOGOR DAN EVALUASINYA TERHADAP POLA RUANG SKRIPSI
KARAKTERISTIK PEMEKARAN KOTA BOGOR DAN EVALUASINYA TERHADAP POLA RUANG SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana S-1 Diajukan Oleh: Muhammad Azzam NIM : E 100 14 0001
Persentase Jumlah Penduduk yang Tinggi, versus Lahan yang Terbatas
Dalam pembukaan UUD 1945, tiap-tiap warga negara berhak atas penghidupan yang layak. Dalam perjalanannya, kita hampir melupakan aspek pemerataan atau cita-cita keadilan sosial yang begitu mendasar dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang merupakan bagian dari pelayanan sosial yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat kota, karena sarana merupakan pendukung kegiatan/aktivitas masyarakat kota
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Judul
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Judul Pengertian judul : SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN MESIN DAN OTOMOTIF BERSTANDAR INTERNASIONAL DI SOLO BARU (PENEKANAN PADA ARSITEKTUR BIOKLIMATIK) adalah sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Kebutuhan akan perumahan semakin meningkat sedangkan informasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan akan perumahan semakin meningkat sedangkan informasi tentang perumahan yang ada sangat terbatas. Pembangunan perumahan didominasi oleh pembangunan rumah-rumah
BAB I PENDAHULUAN. 1-1 Universitas Kristen Maranatha
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pemasaran yang baik merupakan kunci sukses utama dari setiap bisnis untuk dapat memajukan usahanya, baik dalam bidang manufaktur maupun perindustrian pangan.
BAB I PENDAHULUAN. sumberdaya lahan (Sitorus, 2011). Pertumbuhan dan perkembangan kota
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penggunaan lahan berhubungan erat dengan dengan aktivitas manusia dan sumberdaya lahan (Sitorus, 2011). Pertumbuhan dan perkembangan kota dipengaruhi oleh adanya
I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang Peningkatan jumlah penduduk di perkotaan menimbulkan peningkatan
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Peningkatan jumlah penduduk di perkotaan menimbulkan peningkatan kebutuhan perumahan, yang berakibat juga pada harga tanah di perkotaan yang semakin tinggi. Selama ini
BAB I PENDAHULUAN. terkait dengan pertumbuhan kota lainnya adalah unsur penduduk.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota dalam perjalanannya selalu tumbuh dan berkembang, dan salah satu penyebab terjadinya pertumbuhan dan perkembangan kota adalah adanya pertumbuhan ekonomi. Dengan
I. PENDAHULUAN. membutuhkan rumah sebagai tempat tinggal, tempat pendidikan keluarga dan
I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemukiman sering menjadi masalah bagi setiap individu karena individu membutuhkan rumah sebagai tempat tinggal, tempat pendidikan keluarga dan pemberi ketentraman hidup.
BAB I PENDAHULUAN. dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Transportasi berperan penting dalam
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Transportasi merupakan suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dan sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Transportasi berperan penting dalam menunjang
EVALUASI STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN PERUMAHAN MELALUI PENDEKATAN URBAN REDEVELOPMENT DI KAWASAN KEMAYORAN DKI JAKARTA TUGAS AKHIR
EVALUASI STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN PERUMAHAN MELALUI PENDEKATAN URBAN REDEVELOPMENT DI KAWASAN KEMAYORAN DKI JAKARTA TUGAS AKHIR Oleh : MANDA MACHYUS L2D 002 419 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. prioritas utama dalam pemenuhannya. Seiring dengan perkembangan jaman dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan primer bagi umat manusia di mana pun berada selalu menjadi prioritas utama dalam pemenuhannya. Seiring dengan perkembangan jaman dan pertumbuhan ekonomi,
BAB III METODE PENELITIAN
33 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 TAHAPAN PENELITIAN Tahapan penelitian disajikan dalam diagram langkah-langkah metodologi penelitian yang merupakan skema sistematis mengenai keseluruhan proses studi yang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Rumah sakit sebagai salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat memiliki peran yang sangat strategis dalam mempercepat peningkatan
