MODUL SIB 06 : PENGUKURAN DAN PEMATOKAN
|
|
|
- Iwan Rachman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 PELATIHAN SITE INSPECTOR OF BRIDGE (INSPEKTUR PEKERJAAN LAPANGAN PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL SIB 06 : PENGUKURAN DAN PEMATOKAN 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN KOMPETENSI DAN PELATIHAN KONSTRUKSI (PUSBIN-KPK) MyDoc/Pusbin-KPK/Draft1
2 Modul SIB-06 : Pengukuran dan Pematokan Kata Pengantar KATA PENGANTAR Modul ini berisi bahasan tentang penfetahuan tentang dasar-dasat pengukuran, alat ukur dan teknik pengukuran dan pematokan. Pengetahuan ini sangat bermanfaat dalam menunjang tugas-tugas inspector jalan dalam rangka melaksanakan tugas pengawasan pekerjaan jalan. Inspeksi pekerjaan jalan dalam rangaka pengawasan pekerjaan jalan dimaksudkan agar hasil pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan ketentuan spesifikasi dan dokumen kontrak lainnya. Pengukuran dan pematokan merupakan merupakan pekerjaan menetapkan lokasi dan dimensi pekerjaan sesuai ketentuan gambar rencana dan gambar kerja. Ketepatan dalam pengukuran dan pematokan sesuai dengan gambar rencana dan gambar kerja merupakan awal dari keberhasilan pelaksanaan pekerjaan dan kerugian waktu dan biaya akibat kesalahan lokasi dan dimensi pekerjaan akan dapat terhindari. Modul ini disusun berdasarkan dokumen pelaksanaan pekerjaan jalan yang secara umum digunakan oleh penyelenggara jalan. Diharapkan modul ini bermanfaat bagi para pembaca terutama dalam meningkatkan kemampuan pengawasan pekerjaan jalan. -i-
3 Modul SIB-06 : Pengukuran dan Pematokan Kata Pengantar -ii-
4 Modul SIB-06 : Pengukuran dan Pematokan Kata Pengantar LEMBAR TUJUAN JUDUL PELATIHAN : Pelatihan Inspektor Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge) MODEL PELATIHAN : Lokakarya terstruktur TUJUAN UMUM PELATIHAN : Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu melaksanakan pengawasan dan perlaporan pekerjaan konstruksi jembatan untuk memastikan kesesuaian dengan rencana, metode kerja dan dokumen kontrak. TUJUAN KHUSUS PELATIHAN : Pada akhir pelatihan ini peserta diharapkan mampu: 1. Mengawasi pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2. Membaca Data Geoteknik 3. Mengawasi penggunaan Bahan Jembatan 4. Membaca Gambar 5. Mengawasi penggunaan Alat-alat Berat 6. Mengawasi pelaksanaan Pengukuran dan Pematokan 7. Mengawasi pelaksanaan Pekerjaan Tanah 8. Mengawasi pelaksanaan Pekerjaan Beton 9. Mengawasi pelaksanaan Pekerjaan Bangunan Pelengkap dan Perlengkapan Jembatan 10. Mengawasi pelaksanaan Pemeliharaan Jalan Darurat dan Pengaturan Lalu Lintas 11. Mengawasi pelaksanaan Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan 12. Membuat Laporan Pengawasan Pekerjaan -iii-
5 Modul SIB-06 : Pengukuran dan Pematokan Kata Pengantar NOMOR MODUL : SIB-06 JUDUL MODUL : PENGUKURAN DAN PEMATOKAN TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM (TIU) Setelah modul ini dipelajari, peserta mampu memahami dan memeriksa hasil pengukuran dan pematokan pekerjaan jalan dan memastikan kesesuaian dengan gambar rencana dan gambar kerja. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS (TIK) Pada akhir pelatihan peserta mampu : 1. Menjelaskan penggunaan peta-peta, pengukuran horisontal dan pematokan batas lahan lokasi pekerjaan. 2. Menjelaskan alat ukur penyipat datar. 3. Menjelaskan alat ukur sudut 4. Menjelaskan pengukuran situasi dan trase 5. Menjelaskan penggambaran dan pemetaan 6. Menjelaskan pematokan -iv-
6 Modul SIB-06 : Pengukuran dan Pematokan Kata Pengantar DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR LEMBAR TUJUAN DAFTAR ISI DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN INSPEKTOR LAPANGAN PEKERJAAN JEMBATAN (Site Inspector of Bridge) DAFTAR MODUL PANDUAN PEMBELAJARAN i ii iv vi vii viii BAB I PENDAHULUAN 1.1. Umum 1.2. Penggunaan Peta Topografi Dan Foto Udara 1.3. Pengukuran Horizontal 1.4. Pematokan Batas Lahan Kawasan Proyek BAB II ALAT UKUR PENYIPAT DATAR 2.1. Pengetahuan Dasar 2.2. Alat Penyipat Datar 2.3. Data Data Tentang Alat Penyipat Datar Wild BAB III ALAT UKUR SUDUT 3.1. Pengetahuan Dasar Jaringan Segi Tiga (Tiangulasi) Rangkaian Segi Banyak (Poligon) 3.2. Jenis Alat Ukur Jenis Teodolit Teodolit Universil Wild T Teodolit Wild T Teodolit Repetisi dan Teodolit Tachimetri Teodolit Kompas Wild T Teodolit Wild T Bagian Dari Alat Ukur Sudut Pemilihan Teodolit yang Cocok BAB IV PENGUKURAN SITUASI DAN TRASE 4.1. Pengukuran Pengukuran Perbedaan Tinggi Antara Titik-Titik Tertentu Penyipat Datar Yang Memanjang Pengukuran Tinggi Dengan Garis Bidik Pengukuran Tinggi untuk Profil Memanjang dan Melintang Pengukuran Tinggi untuk suatu Bangunan Luas 4.2. Cara Penghitungan I 1 I 1 I 2 I 2 I 3 II 1 II 1 II 2 II 9 III 1 III 1 III 2 III 4 III 5 III 5 III 5 III 7 III 7 III 12 III 13 III 13 III 15 IV 1 IV 1 IV 1 IV 3 IV 3 IV 4 IV 7 IV 8 -v-
7 Modul SIB-06 : Pengukuran dan Pematokan Kata Pengantar 4.3. Menghindari Kesalahan Dalam Pengukuran Umum Kesalahan pada alat yang digunakan Karena Keadaan Alam Kesalahan Akibat Manusia Nilai-nilai Toleransi Hasil Pengukuran 4.4. Ketentuan Spesifikasi Pengukuran Horisontal Pengukuran Vertikal 4.5. Metode Pengecekan Pengecekan Secara Langsung Pengecekan Secara Tidak Langsung Alat-alat Ukur, Buku Catatan Survei, Metode Survei 4.6. Pertanggungan Jawab Untuk Setiap Anggota Surveyor Chief of Surveys Kepala Team Survey (Party Chief) Note Keeper (Juru Catat Data Survei) Juru Baca Pesawat Juru Pemegang Baak (Random) dan Juru Tarik Tali (Chainman) BAB V PENGGAMBARAN DAN PEMETAAN 5.1. Fungsi Gambar Alat Penyampaian Informasi Alat Penyimpan Data Gambar sebagai Bahasa Teknik 5.2. Gambar Situasi Garis Kontur Penentuan Kemiringan Menyipat Datar dengan Bantuan Permukaan Air Sistem Grid atau Kisi 5.3. Penggambaran Profil Memanjang 5.4. Penggambaran Profil Melintang BAB VI PEMATOKAN 6.1 Umum 6.2 Titik Kontrol Survei 6.3 Penelitian Elemen-elemen Struktur 6.4 Pematokan Bersama IV 14 IV 14 IV 14 IV 19 IV 21 IV 22 IV 23 IV 23 IV 26 IV 28 IV 28 IV 28 IV 29 IV 33 IV 33 IV 33 IV 33 IV 33 IV 34 V 1 V 1 V 1 V 1 V 2 V 2 V 2 V 3 V 4 V 6 V 7 V 10 VI 1 VI 1 VI 1 VI 1 VI 2 RANGKUMAN DAFTAR PUSTAKA HAND OUT -vi-
8 Modul SIB-06 : Pengukuran dan Pematokan Kata Pengantar DESKRIPSI SINGKAT PENGEMBANGAN MODUL PELATIHAN INSPEKTOR LAPANGAN PEKERJAAN JEMBATAN (Site Inspector of Bridge) 1. Kompetensi kerja yang disyaratkan untuk jabatan kerja Inspektor Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge) dibakukan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) yang didalamnya telah ditetapkan unit-unit kerja sehingga dalam Pelatihan Inspektor Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge) unit-unit tersebut menjadi Tujuan Khusus Pelatihan. 2. Standar Latihan Kerja (SLK) disusun berdasarkan analisis dari masing-masing Unit Kompetensi, Elemen Kompetensi dan Kriteria Unjuk Kerja yang menghasilkan kebutuhan pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku dari setiap Elemen Kompetensi yang dituangkan dalam bentuk suatu susunan kurikulum dan silabus pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan kompetensi tersebut. 3. Untuk mendukung tercapainya tujuan khusus pelatihan tersebut, maka berdasarkan Kurikulum dan Silabus yang ditetapkan dalam SLK, disusun seperangkat modul pelatihan (seperti tercantum dalam Daftar Modul) yang harus menjadi bahan pengajaran dalam pelatihan Inspektor Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridge). -vii-
9 Modul SIB-06 : Pengukuran dan Pematokan Kata Pengantar DAFTAR MODUL Jabatan Kerja : Nomor Modul Kode Inspektur Lapangan Pekerjaan Jembatan Site Inspector of Bridge (SIB) Judul Modul 1 SIB 01 Keselamatan dan Kesehatan Kerja 2 SIB 02 Membaca Data Geoteknik 3 SIB 03 Bahan Jembatan 4 SIB 04 Membaca Gambar 5 SIB 05 Alat Berat 6 SIB 06 Pengukuran dan Pematokan 7 SIB 07 Pekerjaan Tanah 8 SIB 08 Pekerjaan Beton 9 SIB 09 Pekerjaan Bangunan Pelengkap dan Perlengkapan Jalan 10 SIB 10 Pemeliharaan Jalan Darurat dan Pengaturan Lalu Lintas 11 SIB 11 Metode Kerja Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan 12 SIB 12 Teknik Pelaporan -viii-
10 Modul SIB-06 : Pengukuran dan Pematokan Kata Pengantar PANDUAN INSTRUKTUR A. BATASAN NAMA PELATIHAN : Inspektor Lapangan Pekerjaan Jembatan (Site Inspector of Bridges ) NO. DAN JUDUL MODUL : SIB 06 PENGUKURAN & PEMATOKAN DESKRIPSI : Modul ini menguraikan penggunaan peta-peta, pengukuran horisontal dan pematokan batas lahan lokasi pekerjaan, alat ukur penyipat datar, alat ukur sudut, pengukuran situasi dan trase, penggambaran dan pemetaan, dan menjelaskan pematokan. TEMPAT KEGIATAN : Ruangan Kelas lengkap dengan fasilitasnya. WAKTU PEMBELAJARAN: 2 (Dua) Jam Pelajaran (JP) (1 JP = 45 Menit) -ix-
11 Modul SIB-06 : Pengukuran dan Pematokan Kata Pengantar B. RENCANA PEMBELAJARAN Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung 1. Ceramah : Pembukaan Menjelaskan tujuan instruksional (TIU dan TIK ) Penggunaan peta topografi dan foto udara Pengukuran horizontal Pematokan batas lahan kawasan proyek Waktu : 10 menit Mengikuti penjelasan TIU dan TIK dengan tekun dan aktif Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas OHP. 2. Ceramah : Alat ukur penyipat datar Memberikan penjelasan mengenai Pengetahuan dasar Alat penyipat datar Data data tentang alat penyipat datar WILD Waktu : 15 menit Mengikuti penjelasan instruktur Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas OHP. 3. Ceramah : Alat ukur sudut Memberikan penjelasan mengenai Pengetahuan dasar Jenis alat ukur Waktu : 10 menit Mengikuti penjelasan instruktur Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas OHP. 4. Ceramah : Pengukuran situasi dan trase Memberikan penjelasan mengenai Pengukuran Cara penghitungan Menghindari kesalahan dalam pengukuran Ketentuan spesifikasi Metode pengecekan Pertanggungan jawab setiap anggota surveyor Waktu : 20 menit 5. Ceramah : Penggambaran pemetaan Mengikuti penjelasan instruktur Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas OHP. -x-
12 Modul SIB-06 : Pengukuran dan Pematokan Kata Pengantar Kegiatan Instruktur Kegiatan Peserta Pendukung Memberikan penjelasan mengenai Fungsi gambar Gambar situasi Penggambaran profil memanjang Penggambaran profil melintang Waktu : 20 menit Mengikuti penjelasan instruktur Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas OHP. 6. Ceramah : Pematokan Memberikan penjelasan mengenai Umum Titik kontrol survai Penentuan elemen-elemen struktur Pematokan bersama (setting out) Waktu : 15 menit Mengikuti penjelasan instruktur Mengajukan pertanyaan apabila kurang jelas OHP. -xi-
13 Bab I : Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN 1.1 UMUM Untuk mengelola sesuatu pekerjaan pengukuran membutuhkan ketelitian dan keakurasian dengan baik, maka dibutuhkan suatu gambaran dari obyek yang akan dikerjakan; baik gambaran yang sederhana, seperti denah maupun gambaran yang teliti dan baik seperti peta topografi. Begitu pula dalam survey pembukaan lahan untuk daerah pemukiman baru, pembuatan jalan dibutuhkan peta topografi saja, juga foto udara pun telah lebih banyak digunakan sebagai pengganti peta topografi; terutama untuk daerah yang belum dipetakan atau tidak ada peta topografinya menurut skalanya yang diminta. Jadi, foto udara dan peta fotografi merupakan salah satu di antara beberapa alat di dalam survei. Sehingga hasil pekerjaannya akan memberikan data lapangan yang lengkap dan benar serta tepat pada waktunya, yang penting tidak perlu diadakan ulangan survei. Survei pada umumnya dapat dibagi menjadi beberapa tahap, seperti : Survei Penelitian Lapangan, Survei Pendahuluan, Survei Lokasi dan Survei Konstruksi. Meskipun pekerjaan survei pembukaan tanah untuk daerah pemukiman baru dapat dibagi menjadi beberapa tahap, tapi pada dasarnya pekerjaan yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Menentukan dan meletakkan titik-titik kontrol horisontal dan vertikal. 2. Mengadakan pengukuran sifat datar dan pengukuran topografi. 3. Pematokan batas lahan pemilikan dan pematokan untuk perencanaan jalan. 4. Pematokan untuk pekerjaan konstruksi dan kuantitas pekerjaan. 5. As-built survey Guna mendapatkan hasil yang baik dari pekerjaan tersebut di atas, kita harus mempunyai ketentuan-ketentuan dan spesifikasi setiap pekerjaan sehingga setiap kesalahan yang dibuat akan dengan mudah dapat dikontrolnya. Sebetulnya dengan ketentuan dan spesifikasi itu bukan merupakan jaminan untuk mendapatkan hasil yang baik, jika pekerjaan itu dikerjakan oleh tenaga yang belum terdidik dan berpengalaman. Hal ini pun masih belum sempurna bila tidak diimbangi dengan peralatan yang baik dan mutakhir. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan keberhasilan di dalam pekerjaan survei, paling sedikit harus dapat terpenuhi sembilan puluh prosen dari ketentuan-ketentuan yang diminta. I-1
14 Bab I : Pendahuluan 1.2 PENGGUNAAN PETA TOPOGRAFI DAN FOTO UDARA Peta topografi yang digunakan di dalam survei, biasanya berskala besar dengan interval garis ketinggian tidak boleh lebih dari 2 m. Di dalam peta topografi biasanya terdapat tanda-tanda (simbul) titik pasti nasional (triangulasi). Bila proyeksi peta topografi itu adalah proyeksi Universal Transverse Mercator (UTM) dan jika di dalam peta itu tidak terdapat simbul triangulasi, karena proyeksi Universal Transverse Mercator untuk Indonesia telah diselaraskan dan dikaitkan dengan jaringan titik-pasti nasional (titik triangulasi). Dengan kata lain, tiap sudut peta topografi yang berproyeksi UTM mempunyai koordinatnya. Dengan demikian di dalam survei penelitian lapangan yang menggunakan peta topografi dengan proyeksi UTM, kita sudah dapat menentukan di mana letak titik-titik kontrol kedua, yang akan dibuatnya dan memperhitungkan pekerjaan selanjutnya. Sedangkan ketinggian dari sesuatu tempat sudah dapat dibaca dari garis ketinggian (contour) pada peta itu. Foto udara dipakai dalam survey adalah sebagai pengganti peta topografi, apabila daerah yang akan dibuka untuk daerah pemukiman itu tidak ada peta yang teliti dan baik. Kalau foto udara itu dibuat sebelum adanya rencana pembukaan daerah baru, maka titik-titik kontrolnya berdasarkan bangunan permanen yang ada dan diketahui tingginya. Kalau foto udara itu dibuat berdasar perencanaan, maka sebelum mengadakan pemotretan pada daerah yang akan dibuka; terlebih dahulu harus dibuatkan titik-titik kontrol yang diketahui koordinat dan ketinggiannya sepanjang jalur penerbangan dengan jarak interval setiap 5 km. Titik-titik kontrol itu diberi tanda supaya dapat terlihat jelas nantinya difoto, biasanya berujud garis silang besar dengan warna putih, besarnya tergantung kepada ketingian terbangnya pesawat. Di atas mozaik foto udara tadi digambarkan batas-batas kawasan proyek yang akan dibangun berdasarkan titik kontrol tadi. Dengan bantuan alat foto grammetris; maka sudah dapat dibuat peta detail yang dapat digunakan dalam memperhitungkan pekerjaan konstruksi selanjutnya. Jika ingin mendapatkan ketelitian yang sempurna, sebaiknya menggunakan peta topografi dan foto udara. 1.3 PENGUKURAN HORISONTAL PENGUKURAN HORISONTAL BERDASARKAN GARIS TRAVERS Apabila foto udara yang dipakai untuk menentukan lokasi dan sebagai pendahuluan design, maka titik kontrol hendaklah diletakkan di tempat yang tinggi untuk daerah perbukitan dan untuk daerah datar dibuatkan tugu. I-2
15 Bab I : Pendahuluan Surveyor kemudian akan membuat lokasi dari titik-titik ini dengan pertolongan titik triangulasi dengan menggunakan pesawat theodolite yang teliti. Dari foto udara dan garis travers, batas kawasan tanah proyek yang sebenarnya sudah dapat ditentukan; kemudian akan diukur jaraknya sambil membuatkan reference point (titik petunjuk). Titik petunjuk ini gunanya untuk menentukan kembali letak/patok, mengingat bahwa kemungkinan besar patok batas kawasan proyek rusak dan hilang besar sekali. Ketelitian dalam mengukur garis kaki travers sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi persyaratan yang diminta untuk pembuatan peta detail. Garis travers digunakan apabila sebuah proyek melalui suatu daerah yang masih perawan, di mana daerah ini sedikitnya penghubung, daerah berawa dan perbukitan. Apabila pengukuran vertikal digunakan dengan garis travers, maka vertikal kontrol itu adalah sementara. Adalah tidak pada tempatnya untuk memasang vertikal tetap, apabila garis sumbu ukur belum diketahui letaknya. Meskipun begitu moment bench mark hendaklah diletakkan cukup dekat dengan garis travers, mudah didekati dan letaknya tidak lebih dari satu kilometer jaraknya dari garis travers. Bench mark ini harus memenuhi persyaratan yang diminta untuk survey pembukaan lahan untuk daerah pemukiman. 1.4 PEMATOKAN BATAS LAHAN KAWASAN PROYEK Dari hasil pengukuran triangulasi atau polygon yang ditunda dengan berdirinya monument kontrol, maka batas tanah kawasan proyek sudah dapat ditentukan dan dihitung luas arealnya. Sebetulnya pekerjaan pengukuran hak batas tanah milik merupakan pekerjaan dari pengukuran kadaster (cadastral surveying), meskipun prosedur kerjanya tiada berbeda dengan pengukuran pada umumnya. Perbedaannya hanya terdapat dalam mencatat data perbatasan hak milik (boundary description). Boundary description ini adalah sangat penting dalam hubungannya dalam hubungannya dengan harta tanah dan faktor ekonomi lainnya. Karena dengan hilangnya data mengenai batas tanah milik, maka seseorang akan mendapatkan kesukaran dalam menggugat orang lain bila diketahui tanahnya telah diserobotnya. I-3
16 Bab II : Alat Ukur Penyipat Datar BAB II ALAT UKUR PENYIPAT DATAR 2.1. PENGETAHUAN DASAR Menyipat datar adalah menentukan/mengukur beda tinggi antara dua titik atau lebih. Ketelitian penentuan ukuran tergantung pada alat-alat yang digunakan serta pada ketelitian pengukuran dan yang dapat dilaksanakan. Biasanya kayu sipat merupakan alat pertolongan yang paling sederhana pada penentuan beda tinggi beberapa titik tertentu. Kayu sipat biasanya sebuah papan yang lurus dan sekitar 3.00 m panjangnya, kita pegang horisontal dengan bantuan sebuah nivotabung. Kemudian dengan sebuah rambu ukur, beda tinggi antara dua titik tertentu A dan B dapat kita tentukan seperti terlihat pada gambar 1 berikut. Cara ini umumnya dapat dilakukan untuk menentukan dan menggambar profil memanjang dan profil melintang. Bilamana panjang profil yang kita inginkan lebih panjang dari kayu sipat, maka pengukuran kita lakukan beberapa kali seperti terlihat pada gambar2 berikut. Pada penentuan beda tinggi duat titik yang jauh, pengukuran dengan kayu sipat menjadi sukar dan kurang teliti. Jukalau kita mencari beda tinggi antara titik B dan C (Gambar 2), II-1
17 Bab II : Alat Ukur Penyipat Datar pelaksanaannya dapat kita lakukan menurut gambar itu dengan hasil = m. Tetapi kayu sipat dipakai liam kali dan di horisontalkan dengan nivo tabung juga luma kali. Kita dapat juga memasang sebuah kayu sipat dan membaca rambu ukur yang didirikan pada titik C. sasaran itu lebih mudah kita capai dnegan alat bidik sederhana atau dengan celah pejera dan pejera seperti pada sebuah bedil. Alat ini dapat dipasang pada suatu statif (kaki tiga) atau dipegang tangan saja. Pada alat bidik yang dipegang tangan kita harus memperhatikan sasaran dan nivo sekaligus. Akan tetapi alat bidik ini masih kurang teliti karena kita membaca rambu ukur langsung (tanpa teropong). Jaraknya agak terbatas ALAT PENYIPAT DATAR Jikalau kita ingin menentukan beda tinggi pada jarak jauh dengan teliti, garis bidik harus kita tentukan dengan suatu alat bidik yang teliti tanpa ada paralaks dan untuk membaca mistar diperlukan sebuah teropong. Atas dasar dua ketentuan ini dikonstruksikan semua alat penyipat datar. II-2
18 Bab II : Alat Ukur Penyipat Datar Alat-alat penyipat datar yang sederhana (lihat gambar 3 dan 4 diatas) terdiri dari sebuah teropong dengan garis bidiknya (garis vizier) dapat dibuat horisontal dengan sebuah nivo tabung (11). Untuk mencari sasaran sembarang sekeliling alat penyipat datar, maka teropong dan nivo tabung dapat diputar pada sumbu pertama yang dapat diatur pada tiga sekrup pendatar (9). Dengan sekrup penyetel fokus (6) bayangan rambu ukur dapat disetel tajam. Dengan sekrup penggerak horisontal (7) bayangan dapat disetel tajam. Cermin yang dapat diputar ke atas (5) memungkinkan kita mengawasi nivo tabung dari okuler teropong (3). Dalam keadaan tertutup cermin itu melindungi nivo tabung. Makin lama alat penyipat datar mengalami perkembangan. Suatu perlengkapan menentukan garis bidik horisontal secara otomatisoleh pengaruh gaya-berat, jikalau garis bidik disetel dahulu kira-kira dengan ketelitian + beberapa menit bisir, mengantikan nivo tabung. a. Bagian-bagian alat penyipat datar Ketelitian suatu alat penyipat dara dengan nivo tabung, tergantung dari kepekaan nivo tabung dan pembesaran teropong. Kepekaan nivo tabung.. Data-data tentang alat penyipat datar Wild) ditentukan oleh jari-jari kelengkungan tabung nivo. Gambar 5 memperlihatkan dua nivo tabung dengan jari-jari kelengkungan yang berbeda. Pada kemiringan ά yang sama, gelembung pada nivo tabung A bergerak lebih jauh daripada gelembung nivo tabung B, karena jari-jari busur pada nivo tabung A menjadi lebih besar. Karena itu perubahan gelembung dapat diawasi lebih mudah. Pada alat peyimpat datar Wild, kepekaan nivo tabung ditentukan demikian rupa, sehingga ukuran sudut itu menentukan suatu pergeseran gelembung sebesar 2 mm. ketelitian pada suatu gelembung pada nivo tabung bisa menjadi 1/5 dari nilai itu, yaitu 0,4 mm. Akan tetapi dengan menggunakan suatu nivo tabung koinsidensi ketelitian itu menjadi 1/40, yaitu 0,05 mm. Sebaliknya suatu nivo tabung biasa dapat kita pusatkan lebih cepat dan lebih mudah, karena nivo tabung itu kurang peka terhadap pengaruhpengaruh luar seperti sinar matahari, perubahan suhu dsb. II-3
19 Bab II : Alat Ukur Penyipat Datar 1. Kaca pembesar 2. tutup pada nivo tabung 3. sekrup ungkit 4. sekrup pendatar Gambar 6 memperlihatkan gelembung pada suatu nivo tabung dengan skala terbuka yang telah di horisontalkan. Gambar 7 memperlihatkan gelembung pada suatu prisma koinsidensi Wild. Dengan menggunakan prisma dapat kita perhatikan bagian gelembung kiri atas a dan kanan atas b sekaligus. Nvo tabung menjadi horisontal, jika dua ujung itu seimbang (mengkoinsidensi-kan). Pengawasan dapat dilakukan dengan bantuan suatu kaca pembesar (1), lihat Gambar 8 di atas, yang sebelah kiri dari okuler teropong. Penggunaan prisma koinsidensi ini memungkinkan pemasangan suatu tutup pada nivo tabung (2) sehingga nivo tabung itu dilindungi terhadap sinar matahari, dan selanjutnya mengingkatkan ketelitian pada putaran vertikal teropong. Jikalau pada suatu alat penyipat datar biasa nivo tabung dapat disetel dengan tiga sekrup pen datar (4), pada prisma koinsidensi diperlukan tambahan sebuah sekrup ukit (3) yang tidak mengubah sumbu pertama. Gambar 9 memperlihatkan skematis penampang memanjang seuatu teropong sederhana. Sinar cahaya yang masuk pada obyektif (1) membentuk bayangan antara/diagfragma (3) suatu bayangan terbalik dari rambu ukur yang diperhatikan, bayangan rambu ini diperbesar ileh okuler (4). Disitu juga ada pemasangan benang silang yang digores pada suatu pelat kaca, seperti dilihat pada gambar 10 berikut: II-4
20 Bab II : Alat Ukur Penyipat Datar Okuler teropong (4) harus diputar sampai benang silang dapat dilihat tepat dan tajam. Penyetelan ini tidak usah diubah lagi untuk mata yang sama. Titik potong pada benangsilang menjai titik pusat pada objektif dan garis bidik teropong. Agar jarak pada benangsilang dapat diukur, ada tambahan dua benang horisontal yang dinamakan benang stadia, dengan jarak yang ditentukan demikian, sehingga ukuran pada rambu ukru yang dilihat diantaranya dikalikan dengn 100 adalah jarak antara penyipat datar dan rambu ukur. Karena jarak itu biasanya lebih kecil dari 100 m, teropong dilengkapi dengan suatu lensa koreksi (2) supaya bayangan selalu dapat disetel tajam juga. Jarak terkecil, tergantung pada alat penyipat datar, adalah antara 0.80 dan 2.20 m (lihat data-data tentang alat penyimpat datar Wild). Karena bayangan pada teropong siasat terbalik, maka dalam penggunaan kita harus membiasakan diri sedikit. Bisa juga digunakan rambu ukur dengan angka-angka terbalik, sehingga pada bayangan terbalik angka-angka itu dapat dibaca tegak. Dengan perlengkapan prisma balik pada teropong menurut Gambar 11 di atas kekurangan itu dapat diatasi. Semua alat penyimpat datar Wild mempunyai perlengkapan prisma balik itu. Lihat prisma balik (5) pada gambar 11 di atas. II-5
21 Bab II : Alat Ukur Penyipat Datar Pada alat penyipat datar automatis Wild bagian teropong tidak lagi menjadi begitu sederhana karena berisi juga perlengkapan penyetel garis bidik horisontal secara automatis. Perlengkapan itu terdiri dari sebuah bandul dengan prisma (5) yang digantungkan pada rumah-rumah alat penyipat datar dengan pegas-pegas bersilang (1), antara lensa koreksi dan kaca benang-silang. Pegas-pegas yang bersilang terdiri dari baja khusus sehingga perubahan bentuk oleh perubahan suhu selalu menjadi sejajar. Simpangan bandul terbatas goyangan sebesar + 15, cukup luas jikalau alat penyipat datar distel dengan niveau kotak. Goyangan bandul direndam dengan udara oleh piston (8) dan silinder (9). Alat penyipat datar mempunyai suatu tombol sebagai kontrol fungsi (7). Sebelum membaca pada rambu ukur kita menekan pada tombol yang menggoyangkan bandul dengan satu per (6) dan kita dapat memperhatikan bagaimana garis bisik dapat distel kembali sebagai garis yang horisontal. Dengan melakukan ini kita dengan cepat dapat memeriksa apakah alat penyipat datar dengan bantuan nivo kotak. Jikalau teropong sudah horisontal benar, maka garis bidik dari rambu ukur melalui semua bagian-bagian optik jatuh pada titik potong benang-silang. Pada teropong miring, dan bagian bagian optik tetap di tempat semula, berkas sinar dari rambu ukur tidak lagi kena titik potong benang-silang, melainkan suatu titik yang lebih tinggi atau lebih rndah. Sebagai koreksi perbedaan ini, maka prisma (5) mengalami Suatu kemiringan yang lebih besar daripada kemiringan teropong dan berjurusan berlawanan. Nilai kemiringan itu tergantung dari titik berat bandul yang ditentukan demikian rupa, sehingga berkas sinar selalu mengenai titik potong benang silang. Atas dasar ketentuan ini boleh kita katakan: suatu berkas sinar yang jatuh di pusat objekstif dalam arah yang horisontal akan tetap kena titik potong benang-silang jikalau kemiringan teropong tidak lebih daripada II-6
22 Bab II : Alat Ukur Penyipat Datar Pada penyipatan datar kita hanya perlu menyetel sumbu pertama sejajar anting dengan nivo kotak. Segera dapat dimulai dengan pengukuran yang terdiri dari empat bagian, yaitu: 1. teropong di arahkan ke rambu ukur dengan alat bidik (vizier) 2. bayangan teropong distel tajam 3. dengan sekrup penggerak horisontal dipasang rambu ukur ke tengahtengah bayangan. 4. rambu ukur pada benang silang dibaca. Pembesaran bayangan teropong, data data tentang alat penyipat datar Wild menentukan ketelitian pembacaan pada rambu ukur. Karena rambu ukur pada penyipat datar biasanya dengan pembagian sentimeter saja. Bagian-bagian yang lebih kecil harus diperkirakan. Jikalau pada Gambar 13 teropong A membesarkan bayangan rambu ukur dua kali teropong B maka nilai milimeter dapat diperkirakan juga dua kali lebih teliti. Ini berarti juga, bahwa jarak. Rambu ukur pada teropong A dapat ditentukan sampai dua kali lebih jauh. Maka ketelitian masih lebih baik/sama seperti pada teropong B. Akan tetapi garis tengah bayangan pada teropong A menjadi hanya separuh dari garistengah bayangan pada teropong B, jikalau garis tengah objektifnya sama. Supaya penerangan bayangan pada teropong dengan pembesaran bayangan yang kuat masih cukup, biasanya diperlukan juga garis tengah objektif yang lebih besar II-7
23 Bab II : Alat Ukur Penyipat Datar Pada penyipat datar yang sangat teliti perkiraan dalam milimeter tidak lagi memenuhi. Alat penyipat datar yang teliti sekali dilengkapi dengan suatu kaca datar-plan-paralel yang dapat diputar ke muka objektif dan yang menggeser garis bidik sejajar sampai dengan satu sentimeter. Dengan perlengkapan ini kita dapat mengukur jarak antara dua benang stadia pada benang-saling pada benang-silang dan garis sentimer yang terdekat pada rambu ukur. Pergeseran garis bidik dapat dilakukan dengan memutar sekrup mikrometer yang memutar suatu kaca berskala yang memungkinkan pembacaan milimeter serta persepuluhan milimeter dan perkiraan perseratusan milimeter (lihat Gambar 14). GAMBAR 15 Pada penentuan beda tinggi antara beberapa titik, lingkaran horisontal berskala (busur derajat) pada alat penyipat datar tidak diperlukan. Akan tetapi perlengkapan ini memudahkan ketentuan arah/jurusan titik masing-masing. Walaupun harus dijelaskan, bahwa karena lingkaran horisontal berskala ini suatu alat penyipat datar belum menjadi suatu teodolit atau sebaliknya. Tiap-tiap alat mempunyai tugas yang khusus: alat penyipat datar guna penentuan beda tinggi antara titik-titik, dan teodolit guna penentuan sudut sudut dalam ruang. Karena itu ketelitian lingkaran horisontal berskala pada alat penyipat datar sudah memenuhi hampir semua kebutuhan dengan menit saja. Pada prinsipnya semua alat penyipat datar mempergunakan garis bidik yang horisontal. Akan tetapi ada perbedaan besar antara ketelitiannya. Karena itu adalah beberapa tipe II-8
24 Bab II : Alat Ukur Penyipat Datar alat penyipat datar, masing-masing sesuai dengan lingkungan kerjanya maupun kegunaannya DATA DATA TENTANG ALAT PENYIPAT DATAR WILD Pada tabel dengan data-data tentang alat penyipat datar Wild dapat di perhatikan kualitas dan ketelitian penyipatan pada tiap-tiap tipe alat penyipat datar. Data-data NA 0 NAK 0 NA 1 NAK 1 NA 2 NAK 2 NA 05 NAK 05 NA 1 NAK 1 NA 2 NAK 2 N 3 1. pembesaran teropong / (4) bayangan tegak E E E E E E E - E bayangan terbalik U 2. gari-tengah obyektifnya (mm) konstant stadia (4) 4. jarak bidik terpendek (m) kepekaan nivo tabung per 2 mm ketelitian menyetal gelembung 6. medan pandangan dalam m/100 m 7. kesalahan normal pada menyipat datar (1) 1.5 (1) 0.7 (2) (1) km pulang pergi 0.3 (3) 1.0 (3) 8. berat sendiri alat penyipat datar / / / / buku petunjuk G2 106 d G2 107d G2 108d G2 150 d G2 103 d G2 103 d G2 155d alat penyipat datar G1142 e G1 143e G1 108e G1 150 e G2 154 e G1 131 e G1 145 e 1. kesalahan pada jarak bidik 30 m = + 1 mm 2. menurut mistar dan cara menyipat yang digunakan 3. dengan mikrometer berkaca datar plan paralel 4. tergantung pada jarak bidik II-9
25 Bab III : Alat Ukur Sudut BAB III ALAT UKUR SUDUT 3.1. PENGETAHUAN DASAR Gambar 3.1. Dengan alat ukur sudut (teodolit) kita dapat mengukur sudut arah ke dua titik atau lebih dan sudut curaman terhadap bidang yang horisontal pada titik pembacaan. Akan terdapat pada tiap-tiap titik suatu sudut horisontal dan suatu sudut vertikal. Pada gambar 43 titik O menjadi titik pembacaan. Dari titik itu kita membidik titik P 1, P 2, dan P 3. garis sumbu kedua dengan teropong teodolit berada pada bidang yang horisontal yang melalui titik O. kemudian dapat kita mengukur sudut arahnya antara titik P 1 dan titik P 2 sebesar a 1-2 dan antara titik P 2 dan titik P 3 sebesar a 2-3. sebagai sudut vertikal kita tentukan kecuraman antara garis bidik dan bidang yang horisontal. Karena garis garis bidik ke titik P 1 dan titik P 2 diletakkan sebelah atas di bidang yang horisontal, maka sudut vertikal B 1 dan B 2 menjadi positif. Garis bidik ke titik P 3 berada di sebelah bawah bidang yang horisontal, maka sudut vertikal B 3 manjadi negarif. O - P 1, O - P 2 dan O - P 3 menjadi proyeksi horisontal dari jarak O - P 1, O - P 2 dan O - P 3 menjadi proyeksi horisontal dari jarak O - P 1, O - P 2 dan O - P 3 yang sebenarnya. Jikalau kita mengetahui ukuran jarak yang sebenarnya, maka dengan bantuan nilai sudut vertikal dapat kita tentukan ukuran horisontal O - P 1 dan perbedaan tingginya P 1 - P 1, yang menjadi sama dengan beda tinggi O dan P 1 dsb. Pada penggunaan sistim koordinat dan penggambaran, peta-peta kita hanya boleh memakai proyek-proyeksi horisontal ini saja. Ketelitian pembacaan sudut tergantung antara lain dari garis tengah lingkaran horisontal berskala dan garis tengah lingkaran vertikal berskala yang menjadi perlengkapan III-1
26 Bab III : Alat Ukur Sudut teodolit. Akan tetapi garis tengah lingkaran berskala menentukan juga ukuran dan beratnya alat penyipat ruang karena perlengkap nilainnya seperti pelat statif, teropong dsb. Juga harus sesuai dengan lingkaran berskala itu. Tuntutan atas ketelitian pengukuran sudut berbeda sekali, jikalau kita perhatikan semua kemungkinan pada pengukuran sudut. Karena itu alat-alat ukur sudut berbeda juga. Supaya kita dapat menilai tuntutan itu dengan baik, dan sekaligus menambah pengertian pengukuran sudut, maka bagian ini menerangkan dasar- dasarnya. Pada daerah yang luas (wilayah, pulau) kita memerlukan sebagai dasar suatu jaringan dengan titik-titik tertentu dengan membuat kerangka utama, misalnya dengan triangulasi yang akan memungkinkan suatu penentuan topografis yang teliti sekali. Dasarnya menjadi triangulasi dan dengan membuat kerangka cabang misalnya dengan poligan JARINGAN SEGI-TIGA (TIANGULASI) Prinsip triangulasi menjadi sederhana sekali. Jikalau pada suatu segitiga diketahui panjangnya sebuah sisi dan dua sudut, dapat kita tentukan semua nilai-nilai lainnya. Jikalau dapat kita mengukur sebuah sisi dan tiga sedut maka kita mendapat suatu kontrol, karena jumlah tiga sudut selalu harus menjadi Gambar 3.2. Jikalau kita menentukan suatu basis A B yang relatif pendek tetapi diukur dengan teliti sekali, dan kemudian menentukan sudut-sudut ke titik C dan titik D, maka dapat kita menghitung ukuran jarak C D dan tempat dua titik itu pada suatu sistem koordinat, seperti terlihat pada gambar 44 di atas. Dengan cara yang sama dapat kita menentukan titik E dan titik F dengan mengambil garis C D sebagai basis. III-2
27 Bab III : Alat Ukur Sudut Sistem pembesaran basis ini kita lakukan terus menerus sampai kita mendapat sisi-sisi segitiga yang seimbang dengan triangulasi primer. Kemudian daerah (wilayah, pulau) yang diperhatikan, dibentangi oleh suatu jaringan segitiga dengan panjang sisi masingmasing antara 30 km dan 100 km seperti terlihat pada gambar 17 berikut. Dengan meletakkan beberapa tugu/stasiun astronomi yang terbagi tepat di daerah yang diperhatikan, dapat kita menentukan peletakan jaringan segitiga ini secara astronomis maupun secara geografis. Pada jaringan triangulasi di pulau Jawa terdapat tiga buah basis yaitu Basis di Simplak dekat Bogor untuk Jawa Barat, Basis Logantung dekat Demak untuk Jawa Tengah dan Basis Tangsil dekat Bondowoso untuk Jawa Timur Basis Simplak diukur dari 12 Juli hingga 1 Nopermber 1873 di bawah pimpinan Porf. Oudemans sendiri. Dalam 114 hari kerja diukur jarak 3915 m pulang pergi, sehingga ratarata satu hari diukur jarak 70 m. Panjang basis ada 3887,710 m. untuk membayangkan ketelitian ukuran basis ini dapat diterangkan bahwa kesalahan rata-rata ukuran basis ini ada 2.33 mm atau 1 : dari panjang basis. Basis Longantung letaknya di daerah yang datar dan diukur dari 16 Juli s/d 24 September 1874, di bawah pimpinan Ir. Woldringh. Ukuran ini dilakukan dengan menggunakan pengalaman di Simplak. Basis yang lurus ini panjangnya 4175 m dan diukur pulang pergi dalam 71 hari, dengan pukul rata 134 m tiap tiap hari. Kesalahan rata-rata ukuran basis ini ada 0,464 mm atau 1 : dari panjangnya basis. Basis Tangsil yang panjangnya 3040 m diukur di bawah pimpinan Ir. Scaters dari 20 Agustus s/d 27 Oktober seluruh basis diukur pulang pergi dalam 61 hari kerja dengan pukul rata 166 m tiap-tiap hari. Kesalahan rata-rata ukuran basis ini ada 0,609 mm atau 1 : dari panjang basis. Untuk triangulasi Sumatera Barat dibuat basis dekat Padang. Basis ini hanya diukur dengan rantai pada tahun 1883, karena tidak ada alat ukur basis. Triangulasi Sumatera Bagian Timur memakai basis di Sampun. Kemudian dengan menggunakan segitiga yang lebih kecil kita mendapatkan titik/tugu sekunder dan selanjutnya tugu tertier dan tugu kwarter. Akhirnya kita mempunyai 1 s/d 3 titi /tugu per km 2, jikalau penentuan tugu pada daerah yang diperhatikan sudah dipenuhi sampai dengan tugu kwarter. III-3
28 Bab III : Alat Ukur Sudut Gambar 3.3. Dengan menggunakan Wild Distomat DI 50 dapat kita mengukur jarak secara elektro optis s/d 150 km jauhnya dengan ketelitian 10 cm dan cara ini dinamakan trilaterasi. Pada prakteknya sering juga kita menggunakan dua metode ini bersama-sama. Pada pengukuran tinggi trigonometris kita juga memperhatikan beda tinggi antara dua titik, karena pada triangulasi atau jaringan segitiga dalam bidang kita hanya menentukan jarak horisontal antara dua titik tertentu RANGKAIAN SEGI BANYAK (POLIGON) Gambar 3.4. III-4
29 Bab III : Alat Ukur Sudut Walau pada suatu lapangan sudah ada triangulasi sampai dengan tugu kwarter, tetapi kerapatan titik-titik tertentu belum memungkinkan penggambaran peta berdetail. Kita harus melakukan suatu penyipatan dalam ruang yang lebih rapat. Prinsip yang digunakan bukan lagi triangulas, melainkan suatu rangkaian segi banyak. Kita menghubungkan dua titik/tugu triangulasi dengan suatu deretan titik dengan menentukan jarak dan sudut masing-masing seperti terlihat pada gambar 19 di atas. Karena titik pertama dan titik berakhir menjadi tugu triangulasi maka perhitungan rangkaian segi banyak dapat dikontrol. Dengan alat-alat pegukur jarak yang modern penentuan jarak menjadi sama pentingnya dengan penentuan sudut. Sesudah kita sekarang menentukan dan mengontrol dasardasar penyipatan kita mulai dengan penentuaan detail-detail untuk menggambarkan peta. Hal ini dapat dilakukan dengan macam-macam yang akan dibicarakan. Pada banyak negara triangulasi dapat diganti dengan bantuan alat pengukur jarak secara elektronis yang dilengkapi dengan fotogrametri udara JENIS ALAT UKUR JENIS TEODOLIT Atas dasar apa yang sudah dibicarakan sampai saat ini dapat kita fahami bahwa penyusunan alat teodolit harus ada dua macamnya sesuai dengan penggunaannya. Triangulasi membutuhkan alat ukur sudut dengan kemungkinan pembacaan sudut seteliti mungkin. Alat ukur sudut ini dinamakan teodolit reiterasi atau teodolit setik/sekon. Pada poligon dan penyipatan detail ketelitian pembacaan sudut 1/10 memenuhi kebutuhan jikalau ada kemungkinan mengukur jarak secara optis. Pada dua-duanya ketelitian tergantung pada tiga faktor: alat ukur sudut, cara pengukuran/ penyipatan dan cara mengatasi kesalahan-kesalahan. Sebelum kita berlatih dengan contoh-contoh pengukuran sudut dsb, kita harus memperhatikan pengaruh pengaruh itu. III-5
30 Bab III : Alat Ukur Sudut Gambar 3.5 III-6
31 Bab III : Alat Ukur Sudut Suatu alat ukur sudut terdiri dari tiga bagian utama, yaitu: bagian bawah yang tidak dapat begerak dengan pelat dasar berkaki tiga, bagian atas yang bisa bergerak dan teropong. Pelat dasar berkaki tiga dipasang diatas stabtif dan dihorisontalkan dengan bantuan nivo kotak. Pada teodolit yang sederhana dan agak tua pada pelat dasar ini juga dipasangkan lingkaran horisontal berskala seperti terlihat pada gambar 20 di atas. Pada alat ukur sudut yang lebih modern lingkaran horisontal berskala dapat distel juga. Pada bagian atas (alhidate) yang dapat berputar pada garis sumbu pertama (vertikal) dipasangkan kaki penyangga dengan sumbu kedua (horisontal) yang dilengkapi) dengan teropong (garis bidik) dan lingkaran vertikal berskala. Alhidade juga mempunyai alat pembaca lingkaran horisontal berskala. Bagian bahwa dapat dihorisontalkan kira-kira saja dengan nivo kotak akan tetapi kemudian ditelitikan dengan nivo alhidade. Dengan bantuan sebuah anting (lot) dapat kita letakkan alat ukur sudut pada titik/tugu dasar. Lingkaran vertikal berskala dapat kita horisontalkan dengan nivo indeks atau secara automatis dengan sebuah kompensator. Dengan memutar teropong pada sumbu pertama atau sumbu kedua kita dapat membidik tiap tiap arah tertentu dalam ruang dan dengan klem dan sekrup pada suatu titik sembarang dalam ruang. Pada teodolit repetisi lingkaran horisontal berskala dapat diputar pada sumbu pertama. Karena itu sumbu pertama harus dibuat demikian rupa, sehingga menjadi suatu sumbu rangkap. Dapat juga kita pilih pembacaan lingkaran horisontal berskala misalnya sehingga pada waktu menyipat titik A membacaan menjadi O O dsb. Dengan keterangan mengenai penyusunan alat ukur sudut yang singkat ini kita akan memeprhatikan lebih teliti teodolit teodolit yang lebih modern. Teodolit modern didasarkan pada pengalaman, bahwa teodolit kini menjadi berat, pembacaan lingkaran horisontal dan vertikal makan waktu dan memenatkan terutama pada pekerjaan triangulasi pada lapangan yang sulit dengan teodolit reiterasi. Heinrich Wild yang mengalami kesulitan ini sendiri pada pekerjaan di lapangan, mengatur kesulitan ini dengna jiwa penelitinya yang genial: ia membangun teodolit universil Wild T2 pada tahun TEODOLIT UNIVERSIL WILD T2 Pada pembuatan alat ukur sudut ini pertama kali digunakan lingkaran-lingkaran dari kaca dan sistim pembacaan secara optis. Sistim pembacaan ini menghubungkan dua lingkaran tsb. Pada satu bayangan yang dapat dibaca sekaligus pada mikroskop yang berada di samping okuler teropong, dan yang dinamakan mikroskop koinsidensi. Pembacaan yang disatukan dalam satu okuler menjadi pembacaan rata-rata yang dahulu didapatkan dari dua III-7
32 Bab III : Alat Ukur Sudut Gambar 3.6. Pembacaan untuk menghindari kesalahan exsentrisitas lingkaran. Dengan pembangunan teodolit modern semacam ini baru timbul kemungkinan memasang bagian-bagian yang peka ke dalam alat ukur sudut dan konstruksi itu memungkinkan bentuk teodolit yang kompak dan stabil. Kemungkinan pembidikan dan pembacaan kedua lingkaran berskala dari satu titik tegak berarti tidak hanya menghemat waktu, melainkan juga ketelitian pembacaan yang lebih tinggi. III-8
33 Bab III : Alat Ukur Sudut Pembacaan koinsidensi pada teodolit Universil Wild T2 dapat dilakukan seperti berikut : Gambar 3.7. Dalam bidang pandangan mikroskop pembaca timbul pada segiempat atas lingkaran kiri dan kanan berskala. Skala-skalanya timbul seperti dibagi oleh garis halus (lihat gambar 3.7). Jarak antara dua garis skala itu berarti 20 (20 C ). suatu putaran teropong mengakibatkan suatu gerakan berlawanan pada kedua bayangan lingkaran. Kalau kita ambil sebagai dasar pemaduan koinsidensi pada gambar 22 dan kita putar teropong, maka garis sebelah atas garis sebelah bawah bergerak berlawanan. Kita akan mendapatkan sesudah suatu putaran sebesar 10 (10 C ) suatu pemaduan koinsidensi (pertemuan pada tengah tengah jalan ). Sehingga kita dapat tiap-tiap 10 (10 C ) suatu koinsidensi. Teodolit ini sekarang dilengkapi dengan sebuah mikrometer optis yang berskala 1 (1 CC ) pada jangkanan 10 (10 C ), yang menggeser dua lingkaran tsb. Di atas secara optis sampai terjadi pemaduan koindensi. Nilai pergeseran optis ini sampai koinsidensi pada tengah-tengah jalan dapat kita baca di mikroskop pada skala mikrometer sebagai nilai rata-rata kedua pergeseran lingkaran (atas dan bawah). Pada bayangan tengah kita sekarang dapat membaca derajatnya ( O ) sedang pada V indeks nilai puluhan menit. Pada contoh ini misalnya Pada skala mikrometer pada bayangan sebelah bawah dapat kitabaca menit dan detik/sekon, misalnya 2 44 (224 CC ). Akhirnya pembacaan seluruhnya menjadi pada contoh ini ( ). Pembacaan pada lingkaran horisontal berskala dan pada lingkaran vertikal berskala menjadi sama. Sesuai dengan pengaturan tombol pemilihan pembacaan lingkaran berskala dapat kita baca dalam mikroskop: lingkaran horizontal (Hz) yang kuning dan lingkaran vertikal (V) yang putih. Tentu saja pemaduan koinsidensi harus dicari pada dua duanya. Karena alat ukur sudut ini dilengkapi dengan indeks tingginya yang automatis, maka pembacaan lingkaran vertikal berskala dapat dibaca langsung. III-9
34 Bab III : Alat Ukur Sudut TEODOLIT WILD T3 Gambar 3.8. Teodolit wild T3 juga dilengkapi dengan pembacaan koinsidensi. Hanya jarak antara dua garis pada skala skalanya berarti 4 sehingga pada tiap-tiap 2 timbul satu koinsidensi. Karena skala mikrometer dibagi 1200 maka berarti ketelitiannya 0,1. Pada contoh gambar 23 sebelah atas kita baca, mulai dari kiri, sampai angka yang terbalik sebelah atas dan yang selisihnya 180 0, dapat kita menghitung 13 jarak bernilai 2 maka hasilyang kita dapat ialah Pada skala mikrometer sebelah bawah kita baca 1 59, 6 maka pembacaan seluruhnya berarti ,6. Pembacaan lingkaran vertikal berskala dapat kita lakukan dengan cara yang sama, sesudah nivo indeks disetel TEODOLIT REPETISI DAN TEODOLIT TACHIMETRI Pada teodolit repetisi dan teodolit tachimetri mikroskop pembacaan juga dipasangkan di samping okuler teropong. Pembacaan hanya dilakukan pada satu bagian lingkaran berskala karena pengaruh exsentrisitas lingkaran pada jarak bidik yang pendek pada penyipatan detail amat kecil, dan jika perlu dapat diabaikan dengan mengkukur sudut pada dua posisi teropong. Ketelitian pembacaan dengan + 0,1 biasanya cukup pada teodolit repetisi atau teodolit tachimetri. III-10
35 Bab III : Alat Ukur Sudut Gambar 3.9. Pada bidang pandangan mikroskop pembacaan pada mikroskop skala dapat kita lihat sekaligus lingkaran horisontal berskala (Hz) sebelah bawah dan lingkaran vertikal (V) sebelah atas seperti terlihat pada gambar 24 kiri. Pada kedua lingkaran setiap derajat terbagi. Bagian yang akan dibaca pada mikroskop diproyeksikan pada suatu pelat kaca yang di bagi atas 60 (100 C ) demikian rupa, sehingga pada contoh ini dpaat dibaca pada Hz (pada lingkaran horisontal berskala) 55,6 (pada pelat kaca berskala). Skala teodolit wild T 16 dengan indeks automatis dan teodolit diagram tachimeter Wild RDS dilengkapi dengan mikroskop skala. Gambar Pada bidang pandangan mikroskop pembacaan terlihat juga di sini lingkaran Hz dan lingkaran V bersama-sama seperti terlihat pada gambar 25 kiri. Dengan putaran tombol mikrometer pada kaki penyangga kanan kita menggeser dua garis tipis sehingga mengapit satu garis derajad dari lingkaran berskala. Pergeseran dapat dibaca sebelah III-11
36 Bab III : Alat Ukur Sudut kanan pada contoh ini misalnya lingkaran horisontal berskala Hz = ,6. Pembacaan lingkaran vertikal berskala dapat disetel dengan tombol mirometer. Kemudian dengan cara pembacaan ini kita dapatkan pada teodolit mikrometer Wild T1 dengan indek automatis TEODOLIT KOMPAS WILD T0 Gambar Untuk penyipatan dengan ketelitian yang tinggi di hutan atau pada ekspedisi-ekspedisi kita menggunakan teodolit kompas Wild T0. alat ukur sudut ini dilengkapi dengan lingkaran horisontal berskala yang berputar bebas dan jarum magnit yang selalu menunjuk ke utara (kutub utara magnetis). Karena lingkaran ini bersifat exsentris dan adanya peralaks, maka di sini juga diadakan pembacaan koinsidensi seperti dibicarakan pada teodolit iniversil Wild T2, lihat juga Gambar 26 di atas. Derajat-derajat kita baca dari bawah kiri ke atas kanan dan menit-menit pada indeks teromol mikrometer, pada contoh ini Pembacaan lingkaran vertikal dilakukan sesudah nivo indeks disetel pada kedua bagian lingkaran yang dicerminkan dia metral tanpa koinsidensi. Derajat-derajat dan puluhan menit dapat dibaca, menit-menit diperkirakan. III-12
37 Bab III : Alat Ukur Sudut TEODOLIT WILD T05 Gambar 3.12 Untuk pekerjaan-pekerjaan konstruksi bangunan dsb. Dengan ketelitian menit kita dapat menggunakan teodolit Wild T05 yang sangat ekonomis. Skala pada lingkaran horisontal dan lingkaran vertikal berskala dibuat 10 (10 C ) dan dapat diperkirakan ada 1 (1 C ). teodolit ini dilengkapi dengan penerangan lingkaran-lingkaran dengan batu baterei yang akan hidup selama 30 sekon jikalau ditekan tombolnya. Perlengkapan tersebut memungkinkan juga penggunaan alat ukur sudut ini di dalam gedung-gedung yang agak gelap. Sebagai tambahan perlengkapan dapat juga dipasang suatu nivo tabung khusus yang memungkinkan penggunaan teodolit ini sebagai alat penyipat datar BAGIAN DARI ALAT UKUR SUDUT a. Nivo tabung koinsidensi Nivo indeks pada teodolit Wild T3 dan teodolit diagram tachimeter Wild RDS adalah nivo tabung koinsiden, Pembacaan lingkaran vertikal baru dapat dilakukan sesudah gelembung di koinsidensi kan dengan bantuan tombol pengatur nivo. Untuk III-13
38 Bab III : Alat Ukur Sudut membedakan dengan sekrup sekrup lain yang berkelar kelar sekrup ungkit tabung dibuat bergerigi. a) Bayangan teropong Gambar Pada teropong astronomi teodolit kompas Wild T0 dan teodolit Wild T3 bayangan objek pada diafragma terbalik seperti terlihat pada gambar 28 di atas. Bayangan objek kita perhatikan melalui okuler teropong, yang bertindak sebagai kaca pembesar. Hampir semua teodolit Wild dilengkapi dengan suatu sistim prisma yang memungkinkan tercapainya bayangan objek yang tegak (teropong bumi). Gambar Pada diafragma juga ada benang-silang yang pada suatu pelat kaca seperti sudah diterangkan terdapat perbedaan, bahwa pada teodolit bagian bahwa benang vertical terdiri dari dua garis sejajar (1) seperti terlihat pada Gambar 29 di atas. Perlengkapan III-14
39 Bab III : Alat Ukur Sudut ini memungkinkan menyetel teropong tajam juga pada sasaran yang agak jauh atau berukuran gemuk. Semua benang-silang teodolit di lengkapi dengan benang stadia (3) kecuali teodolit Wild T3. Penyetel teropong tajam pada sasaran kita lakukan dengan memutar gelang penyetel fokus dan pada teodolit diagram tachimeter Wild RDS dan teodolit Wild T05 dengan sekrup penyetel fokus. b) Medan pandangan (gezichtaveld) Medan pandangan suatu teropong merupakan bidang lingkaran. Garis tengahnya tergantung dari jarak titik api F dangaris tengah diafragma. Makin pendek jarak titik api makin besar sudut penglihatan B pada gari tengah diafragma a yang tetap, seperti terlihat pada gambar 29. Garis tengah medan pandangan kita tentukan biasanya dalam 0 00 (m per km). Pada gambar 29 di atas kita lihat garis tengah medan pandangan pada teodolit wild masing-masing. c) Pembesaran Pembesaran teropong sudah diterangkan pada bab (bagian-bagian alat penyipat datar). Gambar 30 kiri memperlihatkan perbedaan pembesaran teropong pada teodolit Wild masing-masing pada suatu rambu ukur dengan jarak tetap. Gambar PEMILIHAN TEODOLIT YANG COCOK Dalam praktek kita mencoba mencapai ketelitian yang diperlukan dengan waktu dan pekerjaan yang sesedikit mungkin. Syarat ini dapat kita penuhi dnegan pemilihan alat ukur sudut yang cocok dan pengaturan penyipatan yang praktis. Data-data alat ukur sudut yang akan digunakan harus seimbang dengan tugasnya. Tugas-tugas yang akan dilakukan dengan alat ukur sudut sudah harus diperhatikan pada waktu membeli alat itu. Pada prinsipnya teodolit-teodolit dapat dibagi atas tiga golongan seperti dapat dilihat pada tabel berikut: III-15
40 Bab III : Alat Ukur Sudut Golongan I II III Tipe T05 T0 T1 T16 RDS T2 T3 Ketelitian yang dapat diperkirakan Menjadi sebanyak 1 cm atas 1 Kira kira 30 m M 1 2 Km Km Perbedaan ketelitian antara tiga golongan ini menjadi besar. Golongan I sebaiknya digunakan pada pekerjaan-pekerjaan penyipatan yang sederhana dengan keterangan, bahwa tipe T0 dilengkapi dengan kompas. Golongan II terdiri dari teodolit tachimetri dan teodolit poligon. Jarak bidik biasanya sampai dengan 150 m. alat penyipat ruang ini cocok pada pekerjaan penyipatan detail pada lapangan terbatas, dan pada triangulasi dengan T3 pada riangulasi primer sampai 60 km dan T2 yang ringan itu pada pekerjaan triangulasi sekunder dan tersier. III-16
41 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase BAB IV PENGUKURAN SITUASI DAN TRASE 4.1. PENGUKURAN Seperti dijelaskan di muka bahwa alat ukur penyipat datar ini digunakan untuk mengukur perbedaan tinggi dan jarak antara titik-titik tertentu. Sesuai dengan kegunaannya tersebut maka cara pengukurannya dapat kita lakukan sebagai berikut : PENGUKURAN PERBEDAAN TINGGI ANTARA TITIK-TITIK TERTENTU Untuk pengukuran beda tinggi antara dua titik dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu : a. Cara Pertama : adalah dengan menempatkan alat ukur langsung di atas salah satu titik. Aturlah sedemikian rupa sehingga sumbu kesatu alat tepat berada di atas patok (titik), kemudian ukurlah tinggi garis bidik terhadap patok (titik) tersebut misalnya a. Kemudian dengan gelembung nivo di tengah-tengah garis bidik diarahkan ke mistar yang terletak di atas titik satunya lagi, dan didapat pembacaan adalah b. Sehingga dengan mudah dapat diketahui beda kedua titik A dan B adalah t = b a, lihatlah gambar di bawah ini. b. Cara Kedua : adalah dengan cara menempatkan alat ukur di tengah-tengah jarak antara kedua titik tersebut, sedangkan di atas kedua titik diletakkan mistar-mistar ukuran (baak). Dengan gelembung nivo di tengah-tengah arahkan garis bidik ke mistar A dan B. Kemudian bacalah, misalnya b dan m, maka didapat beda tinggi adalah t = b m, seperti gambar di bawah ini. Di dalam praktek sehari-hari untuk menempatkan alat ukur di tengah-tengah jarak antara kedua titik adalah banyak memakan waktu atau tidak praktis, selain itu pula tidak tepat benar di tengahtengah; untuk mengatasi hal ini maka timbul cara ketiga yaitu : IV-1
42 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase c. Cara Ketiga : adalah dengan menempatkan alat pada salah satu tempat dengan salah satu titik yang akan diukur. Dengan gelembung nivo berada di tengahtengah arahkan garis bidik ke mistar pada titik A dan mistar pada titik B, sehingga pembacaan di dalam b dan m, dengan demikian anda dapat menghitung beda tinggi A dan B adalah t = b m. Dari ketiga cara di atas didapat hasil yang paling teliti adalah pengukuran dengan cara menaruh alat ukur di tengah-tengah kedua titik. Karena untuk pengukuran yang banyak kesalahan-kesalahan yang didapat antara kedua titik akan saling dikoreksi oleh kesalahan pada titik-titik berikutnya. Yang harus anda ingat untuk pengukuran penyipat datar memanjang, maka pembacaan beda tinggi adalah beda pembacaan mistar belakang dikurangi dengan pembacaan pada mistar muka, jadi t = b m. Kemudian apabila b m > 0, maka ini berarti titik muka lebih tinggi dari titik belakang dan jika b m < 0 ini berarti titik belakang lebih tinggi dari titik sumbu. IV-2
43 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase MENYIPAT DATAR YANG MEMANJANG Bila jarak kedua titik yang akan diukur beda tingginya terlalu besar, sehingga pembacaan mistar ukur tidak dapat dilihat dengan jelas maka pengukuran dilakukan dengan membuat titik-titik tambahan di antara kedua titik tersebut sebagai titik buntu. Jarak-jarak titik buntu ini biasanya diambil antara m, disesuaikan dengan keadaan lapangan. Cara pengukurannya adalah sebagai berikut : mula-mula taruhlah satu mistar ukur di atas titik A atau titik yang akan diukur beda tingginya, dan satu mistar lagi di tanah pada titik 1 sebagai titik buntu pertama dengan jarak 50 m, dan taruhlah alat water pass di tengah-tengah A dan 1. Kemudian Bacalah ketinggianketinggian pada mistar A dan 1, misalnya a 1, k 1 kemudian catatlah dalam buku ukur anda. Sesudah itu pindahkanlah alat penyipat datar pada titik m 2 yaitu di tengahtengah yaitu antara 1 dan 2 dan mistar yang berada di atas titik A dipindahkan ke titik 2. sesudah itu lakukanlah pembacaan ketinggian pada titik 1 dan 2 tersebut misalnya k 2, k 3. lakukanlah hal yang demikian berkali-kali sampai pada titik terakhir yaitu titik B yang telah ditentukan tersebut. Sehingga pembacaan adalah k 4, k 5 dan seterusnya sampai b 1 untuk melihat cara penempatan mistar dan alat water pass tersebut dapat anda lihat seperti gambar di bawah ini. Selain cara di atas, ada cara lain yang lebih gampang atau praktis yaitu : PENGUKURAN TINGGI DENGAN GARIS BIDIK Pada cara ini anda akan melakukan pengukuran tinggi garis bidik terlebih dahulu pada setiap perpindahan alat penyipat datarnya. Cara pengukuran tinggi garis bidik ini ada dua cara yaitu : pada gambar di bawah ini. IV-3
44 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase Yaitu penyipat datar ditaruh tegak lurus di atas suatu titik yang telah diketahui tinggi garis bidik dapat diukur di atas titik tersebut (tugu) dengan mistar; bila tinggi garis bidik adalah T a, sedangkan tinggi alas tugu adalah T t maka tinggi garis bidik adalah T a + T t = tgb. Sedangkan cara kedua adalah alat ukur penyipat datar tidak ditaruh di atas tugu, melainkan ditaruh biasa. Sedangkan mistar ukurnya ditaruh di atas tugu. Lihatlah gambar di bawah ini. Dengan gelembung di tengah-tengah garis bidik diarahkan ke mistar dan pembacaan adalah a; sedangkan tinggi alas tugu adalah T t, maka tinggi garis bidik adalah tgb= T t PENGUKURAN TINGGI UNTUK PROFIL MEMANJANG DAN MELINTANG Profil memanjang adalah untuk menentukan trace jalan raya atau kereta api atau saluran air dan lain-lain. Pembuatan profil memanjang ini adalah hasil dari suatu pengukuran jarak dan ketinggian titik-titik di atas permukaan tanah. Di lapangan di mana proyek akan dibangun akan anda jumpai patok-patok kayu yang menyatakan sumbu proyek di mana telah dilakukan pengukuran ketinggian dan jarak. Sehingga dalam pelaksanaan dapat dilakukan dengan pengukuran tinggi garis bidik, IV-4
45 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase dan anda harus membuat daftar pembacaan seperti di bawah ini, sehingga didapat tinggi titik x adalah : T x = tgb b Dengan cara kedua ini anda dapat dengan mudah mengukur tinggi titik-titik di sekitar titik yang telah anda ketahui tingginya, seperti terlihat pada gambar di bawah ini. Selain profil memanjang pada proyek akan anda jumpai pula profil melintang yang harus dibuat tegak lurus pada sumbu proyek; biasanya lebar pengukuran diambil m ke kiri-kanan sumbu proyek. IV-5
46 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase Titik Pembacaan Mistar Belakang Muka Lain-lain Tinggi garis bidik tgb Tinggi titik 1 0,65 351,92 351,27 0,00 a 0,43 351,49 10,1 b 1,22 350,70 20,3 c 1,37 350,55 46,6 d 1,85 350,07 55,3 2 1,93 349,99 70,5 2 1,45 351,44 349,99 70,5 a 2,23 349,21 77,0 b 2,19 349,25 80,9 c 1,47 349,97 85,2 d 1,31 350,13 99,8 3 0,31 351,13 115,3 3 2,24 353,37 351,13 115,3 a 2,15 351,22 124,2 b 1,30 351,07 131,8 4 1,11 351,26 164,8 4 2,23 354,49 352,26 164,8 a Jarak m Keterangan Tinggi tetap jang dipakai Cara melakukan pengukuran profil melintang ini dapat dilakukan sama seperti pada mengukur profil memanjang Skala penggambaran dapat dibuat skala memanjang dan tinggi sama yaitu 1 : 100 cm. Bentuk profil melintang dapat dilihat seperti contoh di bawah ini. Dari contoh profil melintang ini anda akan dapat menentukan banyak penggalian atau penimbunannya. IV-6
47 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase PENGUKURAN TINGGI UNTUK SUATU BANGUNAN LUAS Pada suatu proyek pembangunan gedung-gedung atau suatu proyek dengan luas tertentu diperlukan peta keadaan ketinggian seluruh proyek. Maka cara pengukurannya dapat dilakukan dengan menyipat datar dengan menggunakan tinggi garis bidik. Penempatan alat penyipat datar diletakkan pada suatu titik yang dipilih sehingga dapat melakukan pengukuran terhadap titik-titik yang berada di sekelilingnya. Pada contoh di bawah ini akan anda lihat pengukuran dilakukan melalui tiga titik yaitu A, B, C. Cara-cara pengukurannya dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Cara penghitungan untuk penggambaran dapat anda pelajari pada Bab V yang akan datang. IV-7
48 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase 4.2. CARA PENGHITUNGAN Cara pencatatan dan perhitungan pengukuran ada beberapa cara sesuai dengan maksud pengukuran tersebut. Cara-cara tersebut adalah : 1. Cara Kesatu Dalam pengukuran penyipat datar memanjang ingin dicari beda tinggi antara dua titik ujungnya saja, maka dapat dihitung jumlah semua pembacaan b dan jumlah semua pembacaan m, jadi beda tinggi adalah : t = b - m, karena t 1 = b 1 m 1 t 2 = b 2 m 2 t 3 = b 3 m 3 t n = b n m n t = t 1 + t 2 + t 3 + t n = (b 1+b n) (m 1 + m 3) atau t = b - m di mana pencatatan pengukuran dapat anda buat seperti di bawah ini. Titik Pembacaan Mistar Belakang (b) Muka (m) Jarak (d) A B 2. Cara Kedua b 6,212 m 4,063 t + 2,149 1,426 0,528 84,47 0,795 2,282 86,08 1,723 0,389 87,94 2,268 0,864 92,38 4,063 Jadi, didapat t = b - m Bila kita perlu mengetahui juga beda tinggi titik-titik antara atau titik-titik bantu di dalam pengukuran beda tinggi titik A dan B, maka anda harus menghitung beda tinggi masing-masing titik, oleh sebab itu anda harus membuat kolom hasil pengukuran, seperti gambar di bawah ini. Jadi beda tinggi IV-8
49 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase t = b - m dan beda tinggi tiap-tiap titik harus dihitung. Yang akhirnya dapat dijumlah yaitu: t = t 1 + t 2 t n = b - m Titik Pembacaan Mistar Belakang Muka (b) (m) Jarak (d) Beda tinggi (t) + _ Tinggi A 721,586 1,426 0,528 84,47 0, ,484 0,795 2,282 86,08 1, ,997 1,723 0,389 87,94 1, ,331 2,268 0,864 92,38 1,404 B 723,735 b 6,212 4, ,636-1,487 m 4,063-1,487 t + 2, , , Cara Ketiga Adalah cara menghilangkan tanah negatif menjadi tanah positif sebagai hasil perhitungan beda tinggi. Karena dalam perhitungan beda tinggi kita harus mengurangkan dua pembacaan, maka hasil pengurangan itu akan didapat tanda positif bila b m, dan tanda negatif bila b m. Untuk menghilangkan tanda negatif inilah maka kita buat suatu sistem logaritaris fungsi sinus, cosinus dan tangens. Sebagai misal pembacaan b = 0,795 m dan m = 2,282 m. Jadi b- m = - 1,487 = 8, Sehingga dapat ditulis dengan angka 8,513, tetapi harus diingat hasil akhir harus dikurangi dengan angka 10. Dengan demikian, kolom pengukuran dapat anda buat seperti di bawah ini. IV-9
50 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase Titik Pembacaan Mistar Belakang Muka (b) (m) Jarak (d) Beda tinggi (t) Tinggi titik A 721,586 1,426 0,528 84,47 0, ,484 0,795 2,282 86,08 x 8, ,997 1,723 0,389 87,94 1, ,331 2,268 0,864 92,38 1,404 B 723,735 cb 6,212 4,063 m 4,063 t 2,149 2,149 2, Cara Keempat Pada pengukuran pulang pergi biasanya terdapat suatu angka selisih, namun angka selisih ini seharusnya lebih kecil dari angka toleransi. Untuk perhitungan dari hasil pengukuran ini harus diingat yaitu apabila pada pengukuran pergi terdapat suatu penurunan, maka pada pengukuran pulang harus berubah menjadi naik, demikian sebaliknya. Untuk mencatat hasil pengukuran anda dapat membuat formulir seperti di bawah ini. IV-10
51 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase titik pengukuran pergi pengukuran pulang beda tinggi pembacaan mistar jarak pembacaan mistar pengukuran belakang muka (d) belakang muka pergi pulang (b) (m) (b) (m) t 1 t 2 A 345,15 2,345 0,397 76,28 0,555 2,589 2,038 x 7,966 2, ,186 1,152 2,758 84,90 2,556 0,951 x 8,394 1,605 x 8, ,580 2,153 0,251 92,08 0,416 2,313 1,902 x 8,103 1, ,480 2,246 0,205 72,66 0,358 2,395 2,041 x 7,963 2,039 B 349,519 b 7,986 3,611 b 3,885 8,248 4,375 x 5,637 4,369 4,369 m 3,611 m 8,248-4,369 t 1 4,375 t 2 x 5,637 4,369 rata-rata t = 1/2(t 1 +t 2 ) tanda dari t 1 titik tinggi IV-11
52 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase 5. Cara Kelima Di dalam pengukuran dengan penyipat datar ini, jarak dapat ditentukan dengan alat pengukur jarak optis, biasanya ditempatkan pada diafragma. Sehingga pad diafragma terdapat tiga garis mendatar yaitu garis mendatar atas (a), garis mendatar tengah (t) dan garis mendatar bawah (b), seperti terlihat daladm gambar di bawah ini, di mana t adalah di tengah-tengah antara a dan b. Maka rumus untuk jarak adalah D = B.i + A. Pada alat ukur penyipat datar yang baru, pabrik pembuatannya telah mengatur jarak ini sedemikian rupa sehingga B = 100, atau p = 0,01 f. obyek. Sedangkan A adalah konstante yang tidak akan melebihi 50 cm, untuk itu angka konstante ini dapat diabaikan. Jadi, jarak D = B.i = 100.i. Kemudian untuk penelitian bahwa pembacaan t = ½ (a + b). Sehingga pengukuran anda dapat dibuat menurut formulir di bawah ini. IV-12
53 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase titik b pembacaan t mistar a b + a 2t Belakang Muka Belakang Muka d b=b b-a b d m=b m- a m d = d b- d m beda tinggi t = t b-t m tinggi titik A 454,721 1,006 2,011 1,507 3,514 50,1 0,753 1,757 1,506 3,514 50,8 X 8,996 0,501 1, , ,717 0,339 2,764 0,463 5,272 21,5 0,232 2,636 0,464 5,272 25,6 X 7,596 47, ,313 1,527 1,451 2,492 2,317 56,2 1,246 1,158 2,492 2,316 58,5 0,088 0,965 0, , ,401 2,907 0,467 5,503 0,620 41,1 2,751 0,310 5,502 0,620 41,5 2,441 82, ,842 2,464 1,308 4,324 2,028 60,4 2,162 1,014 4,324 2,028 58,8 1, , ,990 0,735 2,990 1,061 5,578 40,9 0,531 2,789 1,062 5,578 40,1 X 7,742 0,047 2,765 40, ,990 0,253 2,966 0,300 5,731 20,6 0,150 2,865 0,300 5,730 20,1 X 7,285 0,047 2,765 40, ,017 0,361 2,667 0,466 5,066 25,6 0,232 2,533 0,466 5,066 26,8 X 7,700 0,105 2,399 52,4 B 447,717 t b 8,058 15,062 t m 15,062 t X 2,996 X 2,996 X 2,996 IV-13
54 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase 6. Cara Keenam Cara pengukuran dengan tinggi garis bidik. Cara ini digunakan untuk mengukur profil memanjang dan melintang suatu proyek. Sehingga diperlukan formulir pengukuran sebagai berikut : titik pembacaan mistar belakang muka lain-lain tinggi garis bidik tgb tinggi titik jarak m Keterangan 1 0,65 351,92 351,27 0,00 tinggi tetap a 0,43 351,49 10,1 jang dipakai b 1,22 350,70 20,3 c 1,37 350,55 46,6 d 1,85 350,07 55,3 2 1,93 349,99 70,5 2 1,45 351,44 349,99 70,5 a 2,23 349,21 77,0 b 2,19 349,25 80,9 c 1,47 349,97 85,2 d 1,31 350,13 99,8 3 0,31 351,13 115,3 3 2,24 353,37 351,13 115,3 a 2,15 351,22 124,2 b 1,30 351,07 131,8 4 1,11 351,26 164,8 4 2,23 354,49 352,26 164,8 a Pada contoh di atas tinggi titik 1 diketahui sebesar 351,27 m. Karena pembacaan mistar di atas titik 1 adalah 0,65 m, maka tinggi garis bidik Tgb = 351,27 + 0,65 = 351,92 m. Pembacaan pada mistar yang diletakkan di atas titiktitik a, b, c dan d serta 2 akan berturut-turut 0, 43, 1,22, 1,37, 1,85 dan 1,33. Sehingga tinggi garis bidik Tgb = 351,92, maka pembacaan menjadi 351,49, 350,70; 350,53, 350,07 dan 349,99 m. Begitu pula untuk titik-titik di antara titik 2 dan 3 maka ketinggian titik-titik menjadi dasar perhitungan. Demikianlah selanjutnya cara menghitung ketinggian titik-titik tersebut. IV-14
55 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase IV-15
56 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase 4.3. MENGHINDARI KESALAHAN DALAM PENGUKURAN UMUM Seperti diuraikan pada Bab 2 di mana pada waktu pengukuran sering kita jumpai kesalahan-kesalahan sistematis maupun kesalahan kebetulan. Pada bab ini akan anda pelajari mengenai sumber-sumber kesalahan tersebut serta bagaimana cara memperkecil kesalahan atau jika mungkin untuk menghilangkan kesalahan-kesalahan tersebut. Sumber-sumber kesalahan dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini : a. karena kesalahan pada alat b. kesalahan karena keadaan alam c. kesalahan oleh si pengukur sendiri Baiklah, anda ikuti uraian berikut ini guna mengetahui hal-hal yang mungkin akan menyebabkan kesalahan tersebut serta bagaimana cara mengatasi secara satu per satu KESALAHAN PADA ALAT YANG DIGUNAKAN Alat-alat yang digunakan adalah alat penyipat datar dan mistar pengukur (baak). Kesalahan-kesalahan yang mungkin didapat adalah dari alat penyipat datar dan mungkin juga dari baak (mistar ukur). Mula-mula, ikutilah uraian mengenai kesalahan dari alat penyipat datarnya di mana pada waktu pengukuran alat belum memenuhi syarat-syarat utamanya yaitu garis bidik tidak sejajar dengan garis arah nivo. Seperti yang telah dijelaskan pada Bab 2, di mana untuk mendapatkan beda tinggi antara dua titik, maka anda harus membidikkan alat penyipat datar dengan garis bidik ke arah dua buah baak yang telah diletakkan di atas titik-titik yang akan anda ukur. Sehingga semua pembacaan yang dilakukan dengan garis bidik mendatar dapat diberi indeks nol. Lihat gambar berikut ini yaitu a 0 dan b 0, sedangkan semua pembacaan dengan garis bidik tidak mendatar tidak kita beri indeks misalnya a, b. Sehingga bila ala tidak di tengah-tengah antara dua titik, pembacaan akan membuat sudut 1 dan 2. IV-16
57 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase Jadi, dari gambar di atas dapat kita lihat apabila garis bidik telah mendatar maka beda tinggi adalah t = a 0 b 0. Sedangkan apabila garis bidik tidak mendatar t = a b. Untuk itu, kedua pembacaan ini harus anda cari hubungannya yaitu : a b = (a 0 + a 0a) (b 0 + b 0b) = (a 0 b 0) + (a 0a b 0b) = t -(a 0a b 0b) atau a b = t (d 1 tg 1 d 2 tg 2) Dari hubungan di atas didapatkan suatu penjelasan bahwa beda tinggi adalah sama dengan a 0 b 0 apabila a 0a b 0b = 0, atau d 1 tg 1 d 2 tg 2 = 0. Jadi, dengan kata lain bahwa kesalahan beda tinggi ini dapat diatasi dengan membuat jarak d 1 = d 2, maka 1 2, atau dengan perkataan lain adalah tempatkanlah alat ukur penyipat datar selalu di tengah-tengah antara titik A dan B untuk setiap pengukuran guna menghilangkan kemungkinan kesalahan akibat garis bidik tidak sejajar dengan garis arah nivo dan garis nivo tidak tegak lurus sumbu kesatu. Dalam praktek sehari-hari penempatan alat penyipat datar selalu di tengah-tengah antara kedua titik adalah pekerjaan yang sangat sulit dilakukan karena keadaan lapangan tidak selamanya memungkinkan untuk hal tersebut. Mengingat keadaan lapangan juga menentukan maka dapat dicari cara lain yaitu dengan membuat jumlah jarak pengukuran ke mistar belakang sama dengan jumlah jarak pengukuran ke mistar muka, anda dapat melihat uraian seperti gambar di bawah ini. IV-17
58 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase Dari gambar di atas dapat anda hitung beda tinggi antara titik 1 dan titik 2 adalah : t 01 = a 0 b 0 atau t 1 = a b = (a 0 + (a 0a)) (b 0 + (b 0b)) = t 01 + (a 0a b 0b 0) begitu pula beda tinggi antara titik 2 dan 3 yaitu : t 02 = c 0 d 0 dan t 2 = t 02 + (c 0c d 0d) Cara yang sama pula didapat beda antara 3 dan 4 t 03 = e 0 f 0 atau t 3 = t 03 + (e 0e f 0f) Juga antara titik 4 dan 5 didapat t 04 = g 0 h 0 dan t 4 = t 04 + (g 0g h 0h) Maka, dengan demikian didapat beda tinggi adalah t 0 = t 01 + t 02 + t 03 + t 04 sedangkan t 1 = t 01 + t 02 + t 03 + t 04 + (a 0a b 0b) + (c 0c d 0d) + (e 0e f 0f) + (g 0g h 0h) atau t = t 0 +(a 0a b 0b) + (c 0c d 0d) + (e 0e f 0f) + (g 0g h 0h) atau t = t 0 +(d 1tg 1 d 2tg 2) + (d 3tg 3 d 4tg 4) + (d 5tg 5 d 6tg 6) + (d 7tg 7 d 8tg 8) IV-18
59 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase Jadi, (d 1tg 1 + d 3tg 3 + d 5tg 5 + d 7tg 7) (d 2tg 2 + d 4tg 4 + d 6tg 6 + d 8tg 8) = 0 maka, d 1 + d 3 + d 5 + d 7 = d 2 + d 4 + d 6 + d 8 Maka ini berarti jumlah jarak pembacaan ke arah mistar muka harus sama dengan jumlah jarak pembacaan ke arah mistar belakang ( d belakang). Jadi, pada waktu melakukan pengukuran anda tidak perlu mengukurnya dari mulamula tetapi anda cukup mengeceknya pada jarak antara dua titik terakhir dengan jalan menghitung jumlah jarak muka dan belakang bagi titik-titik yang telah anda ukur, kemudian barulah anda menentukan tempat alat penyipat datar yang dapat memenuhi d muka = d belakang. Sekarang, ikutilah pula kesalahan kedua yang mungkin akan terjadi yaitu kesalahan garis nol dari mistar ukur atau baak. Lihatlah gambar di bawah ini. Bila mistar tersebut baik, maka garis nol adalah berimpit dengan alas mistar atau plat dudukan mistar, kesalahan yang didapat oleh garis nol ini, maka kita sebut kesalahan garis nol mistar. Dalam gambar di atas dapat anda lihat dan dapat anda hitung beda tinggi akibat kesalahan garis nol mistar ini yaitu beda tinggi antara titik 1 dan titik 2 adalah t 01 = a 0 b 0, maka t 1 = a b = (a + 1) (b 2) = (a 0 + b 0) ( 1 + 2) = t 0 + ( 1 + 2) Beda tinggi antara titik 2 dan titik 3 adalah t 02 = c 0 d 0, maka t 2 = c d = t 02 -( 1+ 2). IV-19
60 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase Dengan cara yang sama didapat pula beda tinggi antara titik 3 dan titik 4 adalah t 03 = e 0 f 0, maka t 3 = e f = t 03 + ( 1+ 2). Beda tinggi antara titik 4 dan titik 5 adalah t 04 = g 0 h 0, dan t 4 = g h = t 04 - ( 1+ 2). Jadi beda tinggi antara 1 dan 5 adalah t = t 01 + t 02 + t 03 + t 04, dan t = t 01 + t 02 + t 03 + t 04 + ( 1+ 2) -( 1+ 2) + ( 1+ 2) -( 1+ 2) = t 01 + t 02 + t 03 + t 04 Maka, dengan perhitungan di atas membuktikan bahwa beda tinggi antara titik 1 dan 5 adalah bebas dari kesalahan karena dibagi dalam bilangan genap. Jadi, bila pembagian jarak adalah ganjil, kesalahan titik nol tidak dapat dihilangkan. Selain kesalahan ini, ada lagi kemungkinan kesalahan yang disebabkan oleh nivo kotak pada alat pembuat mistar tegak. Hal ini sering terjadi karena si pengukur menggunakan mistar dan meletakkannya sedikit miring walaupun gelembung nivo sudah berada di tengah-tengah. Akibatnya adalah pembacaan menjadi a cos a 0 dan 0 1 cos 2 Jika 1 dan 2 adalah kemiringan mistar dari pembacaan ini didapat beda tinggi adalah: a0 cos 1 b0 cos 2 Dengan demikian, kita tidak bisa menghapuskannya, oleh sebab itu dalam pengukuran, anda harus berhati-hati dan sebelum pelaksanaan sudah harus anda atur nivo kotaknya dan benar-benar dapat membuat mistar tegak lurus. IV-20
61 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase KARENA KEADAAN ALAM a. Karena lengkungnya permukaan bumi Sebenarnya bidang-bidang nivo adalah melengkung sesuai dengan permukaan bumi, maka beda tinggi antara dua titik adalah jarak dua bidang nivo yang melalui titik-titik tersebut. Untuk lebih jelasnya lihatlah gambar di bawah ini. Pada gambar di atas terlihat alat ukur penyipat data ditempatkan tegak lurus di atas titik A dan mistar ditempatkan tegak lurus di atas titik B dan C. Maka garis CA dan CB tegak lurus ke arah pusat bumi (P). Garis CD adalah bidang nivo yang melalui titik bidik C dan memotong mistar di titik D. garis CE memotong mistar B di titik E. Pembacaan pada mistar seharusnya di titik D, karena melengkungnya bidang nivo dan pembacaan yang didapat dari garis bidik mendatar ada di titik E, maka ED = P. Jari-jari bumi ke titik A dan B adalah R A, R B yang besarnya kira-kira km. Sedangkan tinggi CA dan pembacaan EB sangat kecil bila dibandingkan dengan jarijari bumi ini maka CP dan DP dapat dianggap ½ (R A + R B). Maka dalam segitiga siku CEP, didapat rumus : CP 2 + CE 2 = EP 2 IV-21
62 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase atau (ED + DP) 2 = CP 2 + CE 2 S 2 Bila ED = P dan CE = AB = S, maka (P + R) 2 = R 2 + S 2. Jadi, P = di 2R mana P2 diabaikan. Untuk sekedar catatan anda dapat mengingat besar P seperti pada tabel. S 50 m 100 m 500 m 1 km 10 km P 0,20 mm 0,78 mm 1,96 cm 7,85 cm 7,85 m Pengaruh melengkungnya permukaan bumi dapat dihilangkan bila p = q, di mana dapat dicapai bila jarak ke mistar muka sama dengan jarak ke mistar belakang. b. Karena Pengaruh Melengkungnya Sinar Refleksi Sinar cahaya yang datang dari benda masuk ke dalam teropong melalui lapisanlapisan udara yang tidak sama padatnya, karena suhu dan tekanannya tidak sama. Sehingga mengakibatkan suatu pembiasan, sinar dan dapat mengakibatkan suatu garis lengkung atau cembung. Dengan demikian dapat disamakan dengan pengaruh permukaan bumi yang cembung dengan perkalian koefisien. Koefisien ini kita namakan koefisien refraksi, maka pengaruh pembacaan P 1 = S 2..2R Koefisien refraksi dapat diambil sebenarnya 0,14. Pengaruh melengkungnya sinar cahaya ini oleh Kukamahi dibuat suatu tabel seperti di bawah ini. S 10 m 20 m 30 m 40 m P n + P 1-0,20 mm -0,07 mm -0,15 mm -0,27 mm S 50 m 60 m 70 m 80 m P n + P 1-0,42 mm -0,60 mm -0,80 mm -1,06 mm c. Pengaruh Karena Getaran Udara Karena adanya pemindahan hawa panas di permukaan bumi, maka bayangan dari pantulan cahaya mistar ukur akan terlihat bergetar pada teropong dan hal ini dapat mengakibatkan pembacaan angka-angka pada mistar tidak diteliti. Untuk mengatasinya adalah anda harus berhenti mengukur apabila panas udara cukup tinggi. IV-22
63 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase d. Kesalahan akibat masuknya kaki tiga dari alat serta mistar ke dalam tanah Bila pada waktu melakukan pengukuran di atas tanah yang lembek, maka berkemungkinan sekali kaki tiga (standard) dari alat penyipat datar masuk ke dalam permukaan tanah. Selain itu pula dapat juga mistarnya atau landasan mistar yang masuk ke dalam permukaan tanah sehingga mengakibatkan pembacaan ketinggian salah. Untuk menghindari kesalahan akibat hal ini, maka anda dapat melakukan penekanan terlebih dahulu terhadap standard sebelum penyetelan alat-alatnya. Sehingga selama pengukuran alat tersebut tidak dapat berubah bentuk lagi. Juga untuk baak (mistar ukur) harus anda tekan terlebih dahulu landasannya sebelum mistar ditaruh di atasnya. e. Kesalahan Akibat Perubahan Garis Arah Nivo Hal ini sering disebabkan oleh karena pemuaian alat tersebut pada waktu pengukuran di bawah panas matahari. Untuk menghindari hal ini, anda harus memberi perlindungan terhadap alat tersebut pada waktu panas. Jadi berilah payung di atas alat ukur tersebut KESALAHAN AKIBAT MANUSIA Kesalahan yang dilakukan oleh si pengukur mempunyai banyak sebab dan bersifat individuil. Untuk meninjau semua kesalahan tersebut sangat sukar, jadi dalam kursus ini kita hanya akan meninjau ketiga penyipat yang mudah terjadi yaitu : a. Kesalahan pada Mata Kebanyakan orang pada waktu mengukur menggunakan satu mata saja, sehingga dapat melelahkan mata itu sendiri dan mengakibatkan kasarnya pembacaan. Hal ini akan lebih besar kesalahannya apabila nivo tersendiri karena pengamatan gelembung nivo tidak bisa dilihat sekaligus, yang berkemungkinan besar gelembung tidak dapat di tengah-tengah. Hal ini berarti membuat garis arah nivo tidak tegak lurus sumbu pertama. b. Kesalahan pada Pembacaan Karena pembacaan dilakukan dengan mata, maka nilai yang dilihat adalah secara taksiran. Apabila mata telah lelah nilai taksiran menjadi tidak tepat dan kasar. IV-23
64 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase c. Kesalahan yang Kasar Karena pembacaan pada mistar ada beberapa macam, dan si pengukur kurang memahami pembacaan tersebut, maka pembacaannya menjadi kasar terutama dalam membaca dm dan cm. Semua kesalahan-kesalahan yang diakibatkan oleh si pengukur harus segera diteliti dengan cara : 1. Bila pembacaan pada suatu tempat anda membaca benang diafragma a, t, dan b, maka telitilah harga t = ¼ (a + b). 2. Bila anda memakai alat yang menggunakan riversi nivo, lakukanlah pengukuran dengan cara nivo di atas dan nivo di bawah. Hasil pembacaan ketinggian pada nivo di atas harus sama dengan pembacaan pada nivo di bawah. 3. Bila mengukur dua titik dengan jarak 2 km, lakukanlah pengukuran pulang pergi dan selisih perbedaan ketinggian tidak boleh melebihi angka toleransi NILAI-NILAI TOLERANSI HASIL PENGUKURAN Untuk menentukan baik buruknya pengukuran penyipat datar, maka pengukuran tersebut ditentukan oleh nilai kesalahan maksimal yang masih dapat diterima, yaitu : a. Bila dilakukan pengukuran pulang pergi nilai-nilai kesalahan tidak boleh dari k 1 = (+ 2,0 s km) mm untuk pengukuran pertama. k 2 = (+ 3,0 s km) mm untuk pengukuran kedua. k 3 = (+ 6,0 s km) mm untuk pengukuran ketiga. b. Bila pengukuran dilakukan dengan cara menyikat (2 titik ujung pangkal) diketahui tingginya, maka hasil pengukuran tidak boleh melebihi selisih. k' 1 = 2,0 + 2,0 s km k' 2 = 2,0 + 3,0 s km k' 3 = 2,0 + 6,0 s km s km adalah jarak ukuran dalam km. Besarnya ketelitian untuk pekerjaan teknis harga k, dan k tidak berarti. IV-24
65 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase 4.4. KETENTUAN SPESIFIKASI PENGUKURAN HORISONTAL Untuk menentukan letak titik-titik kontrol di atas muka bumi yang diketahui koordinat dan elevasinya pada survey bidang datar digunakan metode triangulasi, intersection, resection dan travers. Sedangkan pengukuran yang lebih teliti dan mendetail dapat digunakan metode extrapolation dan interpolation. Yang penting dalam pekerjaan ini ialah dalam soal perhitungannya dapat mengontrol pembacaan sudut, jarak dan koordinat serta dapat dikoreksi. Ketentuan toleransi yang dipakai dalam pengukuran horizontal dibedakan menjadi : 1. Ketelitian untuk pekerjaan survey pendahuluan yang datanya akan digambarkan pada peta yang berskala intermediate, maka kesalahan pembacaan sudut dapat dibaca sampai menit. Kesalahan waktu mengadakan penutupan tidak melebihi dari 1 30 n (n = banyaknya pengamatan), jumlah kesalahan dalam mengukur garis tidak lebih dari 1/ Ketelitian untuk pekerjaan pengukuran kadaster, jalan raya dan jalan kereta api, kesalahan pembacaan sudut sampai pada menit, kesalahan pada waktu mengadakan penutupan tidak melebihi dari 1 n, jumlah kesalahan dalam pengukuran garis tidak boleh lebih dari 1/ Ketelitian untuk pekerjaan pengukuran tata kota, batas tanah penting dan pembuatan peta topografi, pembacaan sudut dilakukan dua tiga kali dan dikontrol oleh titik reference, kesalahan waktu mengadakan penutupan tidak lebih dari kesalahan pada waktu mengadakan penutupan tidak melebihi dari 30 n, dan jumlah kesalahan dalam pengukuran garis tidak boleh lebih dari 1/ Ketelitian untuk pekerjaan pengukuran perkembangan kota dan untuk pekerjaan yang membutuhkan ketelitian tinggi, pembacaan sudut harus dilakukan dua tiga kali dengan pengontrolan ke titik referen, kesalahan pada waktu penutupan tidak melebihi dari 15 n, dan jumlah kesalahan dalam pengukuran garis tidak lebih dari 1/ Demikianlah kira-kira ketentuan yang harus dijalankan untuk mendapatkan hasil yang baik sesuai dengan tujuan pengukuran. Ketentuan yang dimaksudkan di atas untuk pengukuran pekerjaan yang luas daerah operasinya, sedangkan untuk daerah yang hanya merupakan suatu koridor cukup dengan menggunakan metode traversing atau metode polygon. IV-25
66 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase Secara umum terdapat tiga macam polygon yang dikatakan sempurna, yaitu : 1. Polygon terbuka yang diikatkan pada dua titik tetap yang diketahui Azimuth Awal dan Azimuth Akhir 2. Polygon terbuka yang dikaitkan pada tiga titik tetap yang diketahui Azimuth Awal dan Akhir 3. Polygon terbuka yang dikaitkan pada empat titik tetap yang diketahui Azimuth Awal dan Akhir Ketiga polygon tersebut di atas menurut hemat saya dapat dipakai sebagai patokan (standard) pada pengukuran polygon jalan raya. Karena ketiganya merupakan polygon terbuka yang sisi-sisinya dapat dibuat dengan mengikuti arah jalur jalan yang akan dibuatnya. Yang penting dalam perhitungannya dapat mengontrol sudut, jarak dan koordinat (absis dan ordinat) serta sudut dapat dikoreksi. Setiap mengerjakan pekerjaan polygon haruslah : 1. Dimulai dari Titik Tetap Nasional atau Titik Bench Mark dan diakhiri pada titik tetap nasional (triangulasi). 2. Sisi-sisi polygon sedapat mungkin harus diletakkan searah dengan garis sumbu jalan yang akan dibangun. 3. Azimuth Awal dan Azimuth Akhir harus diambil dari hasil perhitungan titik tetap nasional pertama (triangulasi primair) atau dari hasil pengamatan matahari. IV-26
67 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase 4. Setiap jarak lima kilometer diadakan pengamatan matahari guna mengontrol dan menentukan azimuth, dalam perhitungan azimuth selanjutnya. 5. Jarak sisi polygon utama dibuat sejauh mungkin, hal ini dapat mengurangi kesalahan pembacaan sudut (jurusan). 6. Titik-titik utama busur lingkaran seperti PC ; PI dan PT harus diikatkan pada titik yang dilalui sisi polygon. 7. Pembacaan sudut (jurusan) dilakukan dalam keadaan biasa dan luar bisa dengan sistem pengukuran sudut. Keadaan biasa AB) CA) AC) CD) Satu sudut Luar biasa AC) CD) AB) CA) Satu sudut 8. Selisih pembacaan sudut (jurusan) antara bacaan biasa dan bacaan luar biasa dipertahankan tidak lebih dari 2 (second). 9. Pada daerah yang medannya irregular (perbukitan) dilakukan pembacaan sudut vertikal. 10. Di daerah-daerah yang tidak terdapat titik pasti nasional (triangulasi), sebagai koordinat awalnya dipergunakan lokal atau geografi. Responsible ada pada pimpinan proyek. Dengan toleransi yang diminta untuk pengukuran sudut (jurusan) adalah : 1. Pada survey jalur jalan raya cepat seperti expressway, highway, urban way dimasukkan dalam kategori jenis pengukuran first order accuracy (tingkat ketelitian pertama). Dengan toleransi tidak lebih dari 1,5 second setiap pembaca sudut (jurusan). 2. Pada survey jalur jalan kelas I (first class way) termasuk kategori jenis pengukuran second order accuracy (ketelitian kedua) dengan harga toleransi yang diminta IV-27
68 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase adalah 20 second banyaknya sudut yang diukur, untuk setiap pembacaan sudut (jurusan). 3. Pada survey jalur jalan yang tidak begitu memerlukan ketelitian tinggi seperti second class way, termasuk kategori pengukuran third order accuracy (ketelitian ketiga) dengan harga toleransi yang diminta adalah 40 second banyaknya sudut yang diukur, untuk setiap bacaan sudut (jurusan). Sedangkan harga toleransi yang diminta untuk pengukuran jarak adalah : 1. Pada survey jalur jalan raya cepat seperti expressway, highway dan urban high way, termasuk kategori jenis pengukuran first order accuracy (tingkat ketelitian pertama) dengan harga toleransi yang diminta adalah satu per dua puluh lima ribu bagian yang diukur. Jadi, setiap pengukuran jarak 1 km, harga toleransinya 0,04 m. 2. Pada survey jalur jalan kelas I (first class way) termasuk kategori jenis pengukuran second order accuracy (tingkat ketelitian kedua) dengan harga toleransi yang diminta adalah x panjang jarak yang diukur Jadi, setiap 1km harga toleransinya 0,08 meter. 3. Pada survey jalur jalan kelas II (second class way) termasuk kategori jenis pengukuran third order accuracy (tingkat ketelitian ketiga) dengan harga toleransi yang diminta adalah x panjang jarak yang diukur Jadi, setiap 1km harga toleransinya 0,125 meter. 4. Alat pengukur jarak elektronis tidak diberi toleransi, karena setiap model pesawat telah dilengkapi dengan harga toleransinya (terdapat daftar). 5. Harga toleransi diberikan untuk semua jenis pengukuran jarak yang menggunakan steel chain (rantai baja) atau sejenisnya. Yang dimaksud dengan harga toleransi adalah suatu batas harga kesalahan terbesar yang dapat diterima PENGUKURAN VERTIKAL Dasar untuk menentukan ketinggian sesuatu tempat adalah ketinggian permukaan air laut yang dianggap nol (M.S.L.) sebagai patokannya. IV-28
69 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase Metode yang digunakan untuk mengetahui ketinggian sesuatu tempat adalah intermediate for-sight dan differential. Pekerjaan mencari ketinggian sesuatu tempat disebut pekerjaan sipat datar. Pekerjaan sipat datar untuk survey peta detail dapat dilakukan secara melintang dan membujur, radial, areal. Ketentuan yang harus dilakukan dalam pekerjaan sipat datar untuk peta detail adalah sebagai berikut : 1. Permulaan penyipat datar harus diambil dari monument N.W.P. yang baik dan menutupnya juga kepada monument N.W.P. pula. 2. Sebelum mengadakan sipat datar, terlebih dahulu harus mengecek paling sedikit tiga monument N.W.P. 3. Ambillah salah satu di antara monumen N.W.P. dipilih yang paling baik dan dekat daerah proyek. 4. Satu monumen N.W.P. untuk seluruh pekerjaan dalam satu proyek. 5. Tidak boleh mengambil dua monument untuk seluruh pekerjaan-dalam satu proyek, kecuali untuk menutup dan mengeceknya. 6. Jangan lupa untuk menuliskan data-data monument yang diminta. 7. Pada waktu running sipat datar selalu menggunakan Rod Target dan selalu mengadakan double check. 8. Sehabis mengerjakan pekerjaan sipat datar selalu harus mengembalikan kepada monumen semula atau monumen lain sebagai kontrol. 9. Sebelum mengadakan penyipatan datar untuk pekerjaan konstruksi, terlebih dahulu harus mengadakan Running Bench Mark dulu. 10. Bila terdapat ketidak-benaran dalam Bench Mark, catat nomornya dan segera laporkan ke Kepala Bagian Survey. Adapun ketelitian (toleransi) yang diminta pekerjaan sipat datar untuk : 1. Jalur jalan raya cepat (expressway, highway, urban-way) adalah termasuk kategori first order accuracy (tingkat ketelitian pertama) dengan harga toleransi yang diminta adalah 0,003 meter untuk setiap 1 km panjang pengukuran. 2. Jalur jalan raya first class way adalah termasuk kategori adalah termasuk kategori second order accuracy (tingkat ketelitian kedua) dengan harga toleransi 0,005 meter untuk setiap 1 km panjang pengukuran. 3. Jalur jalan second class way adalah termasuk kategori third order accuracy (tingkat ketelitian ketiga) dengan harga toleransi 0,010 meter untuk setiap 1 km panjang yang diukur. IV-29
70 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase 4.5. METODE PENGECEKAN Pengecekan dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung Pengecekan Secara Langsung a. Pada Pengukuran Travers Kita sendiri langsung mengadakan pengecekan ke lapangan, misalnya dengan membaca kembali beberapa sudut dan azimuth pada suatu jaringan polygon, dengan syarat titik-titik yang berurutan yang kita baca pada jaringan tersebut masih utuh dan kedudukannya tidak terganggu. Kalau hal ini terpenuhi, maka dengan menggunakan alat ukur sudut yang sama/sejenis dengan alat yang dipergunakan semula, kita akan mendapatkan sudut yang sama seperti sudut pada pembacaan pengukuran pertama. Untuk pengecekan azimuth cukup kita menggunakan alat ukur sudut yang lebih rendah ketelitiannya seperti To (THEODOLIT) dan kalau dipergunakan hanya untuk keperluan pengecekan azimuth, cara ini masih dapat dibenarkan, karena dari sini kita akan mendapatkan bacaan dengan perbedaan hanya beberapa menit saja kalau dibandingkan pembacaan THEODOLIT T2. b. Pada Pengukuran Sipat Datar Pengecekan secara langsung kita lakukan paling tidak satu seksi pengukuran. Sama halnya seperti pengecekan pengukuran Travers, pengecekan sipat datar kita lakukan dengan mempergunakan alat ukur yang sama atau paling tidak tingkat ketelitian alat yang kita gunakan sama seperti pada pengukuran pertama PENGECEKAN SECARA TIDAK LANGSUNG Pengecekan ini dilakukan tidak langsung ke lapangan, tapi dilakukan di kantor yaitu dengan berdasarkan data-data pembacaan di lapangan yang telah dilakukan oleh pengukur pertama. Dalam hal ini pertama-tama kita harus beranggapan benar pada data-data pertama, kecuali kalau terdapat data-data yang meragukan kita, misalnya : adanya bekas penyetipan yang berlebihan pada data-data tadi. Pada pengecekan cara ini, pertama kita harus berpedoman pada toleransi yang telah kita tentukan sebelumnya. Dengan bertitik tolak pada toleransi tadi, satu persatu kita IV-30
71 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase lakukan pengecekan data-data pembacaan di lapangan terlebih dahulu baru kemudian data-data perhitungannya. Yang perlu kita ingat dalam hal ini adalah, bahwa data-data pembacaan yang kita minta harus data-data yang asli yang ditulis di lapangan oleh si pengukur pertama (survey pendahuluan). Dan pada data-data tersebut harus jelas pula dari titik mana dia mengambil dasar sebagai titik kontrolnya. Semua pengecekan harus kita lakukan sebelum didesign ALAT-ALAT UKUR, BUKU CATATAN SURVEI, METODE SURVEI a. Alat-alat ukur yang terpenting adalah transit (di Indonesia terkenal dengan theodolite), level (di Indonesia terkenal dengan water pass) dan electric measuring device (contoh distomat). 1. Transit Sebelum pimpinan proyek membeli alat-alat survei, terlebih dahulu hendaklah berkonsultasi dengan seorang surveyor yang ahli untuk memilih alat survei mana yang diperlukan untuk sesuatu proyek. Sehingga tidak akan membeli alat-alat survey yang tidak pada tempatnya. Misalnya, tidak perlu membeli alat-alat ukur yang mempunyai estimit 1/10 second seperti Wild T2, andaikata pekerjaan itu hanya membutuhkan untuk pekerjaan dengan estimit 5 second, maka cukuplah dengan membeli Wild T1. Ada beberapa macam alat untuk mengukur sudut dengan setelah teliti dan teliti. Model lama sudah tidak digunakan lagi. Theodolite dan compass theodolite adalah lebih baik daripada alat lama, meskipun harganya mahal dan harus hati-hati cara dalam penggunaannya. Biasanya untuk pekerjaan jalan raya dengan kapasitas expressway, maka diperlukan theodolite T2 dan sebagai imbangannya adalah T-0 atau T-1. Hendaklah setiap satu tahun sekali alat tersebut di atas sudah harus dibawa ke bengkel untuk dibersihkan dan di-adjust. Jika sebelum berpengalaman, janganlah meng-adjust alat-alat survey, lebih baik segera melaporkan kalau terdapat suatu ketidakbetulan. IV-31
72 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase 2. Level (Water Pass) Seperti juga halnya transit, sekarang telah dibuat alat penyipat datar, yang dapat menyipat datar sendiri, oleh pabrik-pabrik alat survei di Switzerland, sehingga menyisihkan pesawat level buatan Dumphy. Dalam hal pesawat level buatan pabrik Wild dan Zeiss adalah yang paling baik, diantaranya ialah NA-2 dan NK-10. Yang design dan konstruksinya paling sedikit lebih baik dari Zeiss Ni-2. Meskipun begitu Ni-2 tidak meragukan kebaikannya. Dari ketiga pesawat itu bila digunakan oleh orang yang berpengalaman dengan metode yang baik akan menghasilkan ketelitian untuk tingkat pertama. Pesawat level harus dan dapat di-adjust di lapangan untuk setiap tiga atau empat minggu sekali. Kalau membeli pesawat transit buatan Wild, maka pesawat level juga harus buatan Wild, sehingga mudah untuk mengaturnya kalau terjadi kerusakan. 3. Electric Measuring Device Alat-alat ini merupakan barang baru dalam dunia pengukuran, seperti gediometer, tellurometer, electrotape, microchain, dan distomat yang sekarang telah banyak digunakan. Pesawat jenis ini adalah terlalu mahal untuk digunakan pengukur jarak di bawah 200 meter. Di antara tersebut di atas, wild distomat DI-10, mungkin yang paling praktis untuk pekerjaan jalan raya dan dapat dipakai bersama dengan wild T2 theodolite. Tidak terlalu berat untuk dibawa. Meskipun begitu hendaklah berkonsultasi dahulu sebelum membeli alat-ala survei. 4. Alat-alat perlengkapan yang diperlukan untuk mengerjakan pekerjaan survei adalah sebagai berikut : Theodolite Wild T0 dan T2 lengkap Level (water pass) NA 2 dan Ni-2 lengkap Alat ukur jarak E.D.M. sejenisnya (distomat) Standard steel chain 30 m dan 50 m Hand level (Water Pass tangan) Ringpole Plumb bob Rod level Rod target dan Springtarget Cloth tape Thermometer lapangan IV-32
73 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase 3 M steel tape Mesin hitung Repair kit Drawing box Strait baak (alat baak/rod) Peta topografi dan foto udara Lain-lain perlengkapan yang dapat diusahakan di dalam negeri b. Pencatatan Data Lapangan Pada umumnya cara yang dipakai untuk mencatat data-data survey adalah sama di sebagian benua. Kepala proyek harus memilih dengan tepat apa yang harus mereka catat, menerbitkan buku petunjuk dan mengeceknya apakah petunjuk itu dikerjakan atau tidak. Buku catatan survey berisikan keterangan yang lengkap dari semua persoalan yang terdapat di dalamnya. Jika mencatat data hasil penyipatan datar dan topografi, hendaklah tidak terlalu ruwet dan semrawut. Keterangan mengenai waktu pengambilan survei, anggota team survei dan alatnya harus dicatat di dalam buku catatan survei. Lembar pertama dari setiap buku catatan survei harus berisikan daftar pekerjaan yang telah dikerjakan. Kepala team survei dan juru catat data harus hati-hati dalam menyimpan buku-buku catatan survei. Baik di kantor maupun lebih-lebih di lapangan. Semua buku catatan survei yang keluar dan masuk harus dicatat, hal ini mempermudah pengontrolannya. c. Metode Survei dan Kebiasaan Biasanya metode survei untuk jalan raya atau pembukaan tanah pemukiman telah ditentukan oleh Dirjen. Bina Marga Departemen PU. Lebih baik menjalankan kebiasaan yang baik dengan susah payah, karena kebiasaan yang jelek akan mudah dikerjakan. Oleh sebab itu, sebelum suatu proyek itu dibuat, hendaklah diadakan pertemuan antara pimpinan proyek, kepala bagian, untuk menentukan metode apa yang dipakainya. Beberapa kebiasaan yang baik harus ditaati ialah tak pernah mengumpamakan sesuatu, yang akan berakhir dengan mengumpamakan pula. 1. Bila menggunakan transit a) Jika membuat garis pelurusan ke muka, selalu menggunakan dua kali pengarahan, tak pernah hanya satu kali pandangan ke belakang dan di-flop ke muka. IV-33
74 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase b) Jika mengukur sudut atau putaran sudut, selalu dua kali putar untuk meyakinkan bacaan dan kesalahan pesawat. c) Jika memutar sudut deflection pada lingkungan, selalu dikontrol (dicek) ke titik kontrol di depannya, POC, PC, P.T. dan sebagainya, sebelum dan sesudah memutar sudut pada titik pertengahan. 2. Bila menggunakan level (water pass) a) Jika mengambil ketinggian dari suatu bench mark, selalu dikoreksi ke bench mark itu lagi, dan dikoreksi ke bench mark yang lain. b) Jika running bench mark, selalu mempunyai jarak yang seimbang antara bacaan ke muka dan ke belakang. Hal ini untuk menjaga kesalahan yang terdapat jika pesawat level kurang adjustment-nya (belum di-adjustment). Keseimbangan ini dapat dilakukan dengan mengukur, juru pegang bak melangkahi, dengan pesawat level yang difokuskan ke bak belakang dan ke muka selanjutnya juru pegang bak bergerak maju mundur sesuai dengan perintah juru baca pesawat atau dengan kebiasaan bila mengadakan penyipatan datar kasar dan pengukuran topo. Derajat ketelitian dapat ditentukan pengontrolannya dengan keseimbangan jarak. 3. Bila mencatat bacaan sudut survei a) Jika mencatat bacaan sudut atau bacaan ketinggian, selalu diulangi dengan jelas, persis seperti apa yang diucapkan oleh juru baca pesawat. Tak pernah menganggap bahwa dirinya mendengar persis seperti pesawat dengan benar. Lebih baik ulangi lagi. b) Jika running level, juru baca pesawat harus selalu menu is elevansi dan nomor T.P., untuk mengoreksi tinggi pesawat (H.I.) dan T.P. yang telah dihitung oleh juru catat data survey. Jadi harus selalu bekerja sama dan saling koreksi. c) Jika running bench mark, selalu dibuat keterangan dan lokasinya, di dalam hubungannya dengan garis sumbu jalan. d) Jika survey topografi, selalu dibuat keterangan semua objeknya dan letaknya, terutama kabel listrik, saluran air minum dan fasilitasnya. e) Jika mengukur suatu jarak, juru ukur jarak selalu harus mengecek meteran yang dipakai dan angkanya, sambil unting-unting masih menancap pada tempatnya. Sedangkan tali unting-unting dipegang pada meteran berangka. Kepala Team Survey dan juru tarik meteran harus selalu mengecek garis sumbu jalan untuk mengecek bahwa tidak ada station sumbu jalan yang dihilangkan, atau bahwa station itu telah dipindahkan. IV-34
75 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase 4.6. PERTANGGUNGAN JAWAB UNTUK SETIAP ANGGOTA SURVEYOR CHIEF OF SURVEYS Seorang Chief Survey mempunyai tugas utamanya, di samping tugas-tugas yang lain, yaitu : Mengkoordinir semua kegiatan survey lapangan baik dengan kontraktor maupun dengan masing-masing bagian di dalam ruang lingkup proyek sendiri. Memberikan petunjuk dan kebiasaan yang baik di dalam metode survey untuk setiap pekerjaan kepada Kepala Team Survey Menentukan tingkat ketelitian dan toleransi untuk semua pekerjaan survey yang dilakukan. Menentukan apakah pekerjaan itu perlu diulang dan dicek kembali di lapangan atau tidak. Menerima laporan bulanan dari kepala team survey mengenai pekerjaan yang telah diselesaikan, keadaan alat-alat survey, barang-barang keperluan survey yang dibeli dan permintaan barang-barang untuk jangka waktu 3 bulan. Bila dipandang perlu Chief Survey bisa mengadakan pengecekan langsung ke lapangan KEPALA TEAM SURVEY (PARTY CHIEF) Tugas dan kewajiban seorang kepala team survey adalah sebagai berikut : Bertanggung jawab langsung kepada chief survey atas kelanjutan pekerjaan survey. Bertanggung jawab terhadap bagian design maupun pelaksana lapangan mengenai kebenaran dan ketelitian data-data survey serta waktunya. Bertanggung jawab terhadap semua pekerjaan lapangan yang dikerjakan oleh team survey. Bertanggung jawab terhadap semua alat-alat survey yang dipakai, perawatannya dan perbaikannya. Memeriksa semua catatan hasil survey yang diberikan oleh team survey NOTE KEEPER (JURU CATAT DATA SURVEI) Tugas dan kewajiban juru catat data survei adalah sebagai berikut : IV-35
76 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase Bertanggung jawab terhadap kebenaran, kelengkapan dan keakuran catatan data survey yang dikumpulkan dari juru baca pesawat, pemegang baik dan juru tarik tali. Bertanggung jawab terhadap keselamatan buku catatan data survey. Melakukan perhitungan (me-reduce, calculation) catatan data hasil survey yang selanjutnya menyerahkan buku data catatan survey itu kepada kepala team survey JURU BACA PESAWAT Tugas dan kewajiban juru baca pesawat adalah sebagai berikut : Bertanggung jawab terhadap ketelitian dan kebenaran bacaan. Bertanggung jawab terhadap alat yang digunakan (merawat dan menyimpannya. Hindarkanlah salah pengertian terhadap juru catat data survey atas data-data yang disampaikannya JURU PEMEGANG BAAK (RODMAN) DAN JURU TARIK TALI (CHAINMAN) Tugas dan kewajiban Rodman dan Chainman adalah sebagai berikut : Bertanggung jawab terhadap kebenaran data-data pengukuran jarak dan keterangan lain yang diberikan kepada juru catat data sesuai dengan apa yang terdapat di lapangan. Bertanggung jawab terhadap kerusakan dan kehilangan alat-alat yang dipakainya serta menyimpannya baik-baik. Monumen (Tugu) Monumen dipasang/dibangun, untuk menjamin bahwa keakurasian pengukuran horizontal dan vertikal dapat ditentukan dan digunakan oleh surveyor tanpa penundaan. Monumen tetap biasanya dibuat dari beton dicor waktu memasang dan ditempatkan segaris dengan R/W, titik petunjuk garis sumbu jalan dan titik triangulasi. Hanya yang dipakai oleh titik triangulasi teliti (first order) yang mempunyai kap bulatan dari kuningan dipasang di atas patok itu. Biasanya untuk monumen jalan raya cukup dengan batang kuningan bulat panjang bergaris tengah antara 6 mm 10mm dengan garis silang dekat dasarnya ditempatkan di puncak pada tengah-tengah monumen. Monumen ini akan digunakan untuk lokasi horizontal dan vertikal. Monumen R/W biasanya telah dicetak dengan bentuk segitiga 15 cm kali 20 cm panjangnya 150 cm. Puncaknya hendaknya berbentuk agak mahkota dan diletakkan paku kuningan sehingga batang bak dapat berdiri di atasnya. Lubang kecil di tengah paku akan digunakan untuk horizontal kontrol. Monumen R/W ini harus dipasang persis pada batas tanah kawasan jalan dan akan mempunyai fungsi IV-36
77 Bab IV :Pengukuran Situasi dan Trase berganda, bila surveyor meletakkan titik petunjuk atau ketinggian. Bagian R/W monumen yang kelihatan di atas tanah sepanjang 30 cm sampai 45 cm. Patok titik petunjuk biasanya dibuat dari pipa besi dengan garis tengah 5,5 cm (2 ) dan panjangnya 150 cm. Dimasukkan ke dalam tanah yang 5 cm kelihatan di atas tanah. Diberi adukan semen sekeliling pipa sedalam 45 cm dari 5 cm ke bawah. Pada ujung pipa bagian atas dibuat garis silang atau diberi adukan semen dengan paku di tengahnya. Sebagai akhir kesimpulan dari tulisan ini adalah : JANGAN MENYALAHKAN PESAWAT, TETAPI SALAHKAN SIAPA YANG DI BELAKANG PESAWAT ITU IV-37
78 Bab V : Penggambaran dan Pemetaan BAB V PENGGAMBARAN DAN PEMETAAN 5.1. FUNGSI GAMBAR Gambar secara garis besar mempunyai 3 fungsi, yaitu : Sebagai alat untuk menyampaikan informasi Untuk menyimpan data atau sebagai arsip Sebagai bahasa teknik ALAT PENYAMPAIAN INFORMASI Sebagai contoh ada satu bundel gambar perencanaan bangunan gedung yang dibuat oleh seorang perencana. Dalam gambar tersebut seorang perencana menyampaikan ide pikirannya melalui gambar dan selanjutnya informasi tersebut diterima oleh orang lain misalnya kontraktor untuk dilaksanakan. Setelah proyek tersebut selesai dibangun ternyata hasilnya sama seperti yang diinginkan oleh perencanaannya. Ini suatu bukti bahwa melalui gambar tersebut terjadilah transformasi informasi secara tepat dan benar ALAT MENYIMPAN DATA Gambar merupakan data teknis yang paling ampuh untuk mengarsipkan data. Informasi tentang suatu proyek atau konstruksi yang telah dibuat beberapa tahun yang silam dapat dilihat kembali dan diperoleh keterangannya melalui sebuah gambar yang diarsipkan. Sebagai contoh suatu balok beton bertulang setelah balok tersebut jadi, tidak dapat diketahui berapa jumlah penulangan baja yang digunakan untuk memperkuat balok beton bertulang tersebut. Tetapi 50 tahun kemudian, dengan pengarsipan gambar yang tidak baik maka penulangan jembatan tersebut masih dapat diketahui sehingga kekuatan balok dapat dihitung ulang untuk menahan perkembangan penambahan beban yang ditempatkan sekarang gambar-gambar dapat disimpan dengan menggunakan micro-film, di mana penyimpanannya lebih menghemat tempat dan lebih tahan lama. V-1
79 Bab V : Penggambaran dan Pemetaan GAMBAR SEBAGAI BAHASA TEKNIK Gambar adalah bahasa yang dipakai oleh orang teknik, seperti Teknik Sipil, Teknik Mesin, Teknik Elektro, Arsitektur dan lain-lain. Oleh karena itu gambar dapat disebut sebagai bahasa teknik. Dengan gambar, orang-orang teknik menggunakan / melengkapi komunikasinya, yang mana sangat sulit bahkan tidak mungkin apabila diceritakan dengan bahasa lisan ataupun tulis. Sebagai alat komunikasi, suatu gambar dapat untuk menyampaikan ide / gagasan yang ada di pikiran seseorang untuk disampaikan kepada orang lain. Penerusan informasi adalah sebagai fungsi yang penting untuk suatu gambar, oleh karena itu diharapkan gambar dapat meneruskan keterangan secara tepat dan objektif. Setelah gambar memerlukan kelengkapan keterangan-keterangan. Karena gambar juga merupakan bahasa lambang yang mana perlu kesepakatan dalam mengartikan lambanglambang yang dipakai untuk kelengkapan gambar GAMBAR SITUASI GARIS KONTUR Pada salah satu lapangan dengan kemiringan / kelandaian yang kurang dari sekitar 5% sebaiknya kita mencari titik-titik sembarang pada garis-garis kontur daripada titik-titik tertentu yang akan di-interpolir. Gambar 5.1. V-2
80 Bab V : Penggambaran dan Pemetaan Sebagaimana contoh pada Gambar 4.1 di atas, maka tingginya titik J2 menjadi 251,30m, tingginya garis bidik 1,37 m, maka bidang garis bidik 252,67 m. pada garis-garis kontur 251,00 kita selalu harus membaca 1,67 m. atas dasar ketentuan ini tinggallah kita mencari dengan rambu ukur titik masing-masing dan mengukur jarak dan sudutnya. Kemudian semua titik pada garis kontur 251,50 harus mempunyai pembacaan 1,17 m dan seterusnya PENENTUAN KEMIRINGAN Pada harus ditentukan pada lapangan dengan kemiringan tertentu. Gambar 5.2. Sebagaimana pada gambar 4 di atas, suatu proyek jalan, garis sumbu jalan harus ditentukan dengan kemiringan 7% dan dengan jarak antara titik masing-masing 10,0 m. Perbedaan tinggi antara dua titik atas dasar penentuan ini menjadi 0,70 m. Dari titik J1, sudah ditentukan titik 27. Kita sekarang meletakkan alat penyipat datar pada titik J2 dan membaca sumbu ukur pada titik 27 misalnya 0,20 m. Dengan jarak 10,00 m dari titik 27 itu kita sekarang mencari titik berikut yang 0,70 m lebih rendah, sampai dengan titik 31 dari titik mana kita meletakkan alat penyipat datar ke titik J3, maka titik 27,31 dan 34 dapat diukur masing-masing dua kali. Dengan pembicaraan tentang teknik penyipat datar, baik pada penyipat datar memanjang maupun penyipat datar pada bidang, dapat kita pahami dasar-dasar pada penyipatan datar atau penentuan perbedaan tinggi antara titik-titik tertentu. V-3
81 Bab V : Penggambaran dan Pemetaan Akhirnya kita akan memperhatikan suatu kemungkinan penyipatan datar yang di Indonesia juga berulang kali digunakan, yaitu : MENYIPAT DATAR DENGAN BANTUAN PERMUKAAN AIR Pada muara sungai yang bercabang-cabang pada daerah rawa-rawa dengan banyak air atau pada pantai laut dengan danau dapat kita menyiprat datar dengan bantuan permukaan air. Kita akan memperhatikan contoh-contoh berikut : Gambar 3 Pada suatu muara sungai yang bercabang-cabang (lihat gambar di atas) adalah suatu proyek yang merencanakan misalnya suatu jembatan. Karena lapangan ini menjadi hampir datar dan biasanya pada suatu muara sungai yang bercabang-cabang timbul tumbuh-tumbuhan yang padat sekali, sebaiknya kita menentukan profil-profil yang sejajar dengan jarak antara 100 s/d 500 m. Suatu pedoman atau segi banyak diukur dengan rambu-rambu dasar Invar menentukan jarak dan arahnya profil. Karena pada suatu muara sungai yang bercabang-cabang arus menjadi kecil sekali, maka boleh ditentukan horisontal. Permukaan air ini biasanya hanya berubah oleh pasang-surut atau oleh air hujan yang lebat. Akan tetapi jikalau kita memperhatikan perubahan ini pada suatu pengukur air misalnya di titik A yang menentukan tingginya permukaan air misalnya tiaptiap jam, dapat kita tentukan tingginya permukaan air sebagai dasar pada seluruh penyipatan datar ini. Kita mulai misalnya penyipatan datar ini pada cabang sungai a (lihat gambar) dan mencatat tidak hanya tingginya melainkan juga waktunya. Pada akhirnya profil ini tembus pada cabang sungai b yang juga kita catat tingginya dan waktunya. Bersama catatan pada pengukur air A dapat kita tentukan tingginya yang sebenarnya. V-4
82 Bab V : Penggambaran dan Pemetaan Gambar 4 Kemungkinan kedua pada penyipatan datar yang menghubungkan dua titik pada pantai laut atau danau. Jikalau kita mengetahui tinggi pengukur air A (lihat pada gambar) kita mendasarkan penyipatan datar atas permukaan air. Jikalau kita menentukan tinggi permukaan air pada titik B pada waktu tertentu, dengan begitu kita mendapatkan suatu kontrol dalam penyipatan datar karena titik permulaan dan titik akhirnya sudah kita ketahui tingginya. Kemungkinan juga kita dapat menentukan tingginya pada titik-titik sembarang pada lantai. Penentuan tingginya permukaan air harus dilakukan pada waktu tanpa angin dan tanpa ombak besar. Pada pantai dengan pasir dapat kita menggali lobang dengan permukaan air yang tenang walaupun laut atau danau berombak. Permukaan air harus kita ukur cukup lama, sehingga perubahan tingginya antara dua titik dapat diseimbangkan. Dengan melakukan cara ini pada penyipatan datar dekat pantai atau pada muara sungai yang bercabang-cabang kita akan menghemat waktu dan menambah ketelitian terutama pada penyipatan datar memanjang yang panjang. Pada daerah yang digambar pada gambar di atas harus digambar garis-garis kontur, supaya dapat dibayangkan tentang tinggi rendahnya daerah itu. Maka dilakukan penentuan tiga titik J1, J2, dan J3. Dari penentuan itu kita dapat meletakkan alat penyipat datar dan yang dapat dihubungkan. V-5
83 Bab V : Penggambaran dan Pemetaan SISTEM GRID ATAU KISI Gambar 5.5 Di daerah tanpa peta dan tanpa atau sedikit bangunan saja kita dapat menggunakan sistem kisi (grid). Menurut tinggi rendahnya dan penggunaan peta dengan garis-garis kontur yang kita rencanakan kita tentukan suatu jaringan siku-siku, yang biasanya dinyatakan di lapangan dengan pancang-pancang dari kayu. Pada penentuan garis-garis kisi (grid) sebaiknya kita menggunakan suatu double penafon prisma (prisma sudut) seperti terlihat pada gambar di atas. Tentu saja sistem ini memudahkan juga penentuan jaringan jalan. V-6
84 Bab V : Penggambaran dan Pemetaan Gambar 6 Oleh penyipatan datar pada bidang dengan sistem kisi (grid) dapat juga kita menggambar profil masing-masing profil dari lapangan seperti terlihat pada gambar 8 di atas PENGGAMBARAN PROFIL MEMANJANG Penggambaran profil memanjang menunjukkan hasil pengukuran yang dituangkan dalam gambar yang dimulai dari titik atau station tertentu sebagai awalnya sampai dengan titik atau station yang lainnya sebagai akhirnya. Pada gambar profil memanjang dituangkan semua data-data hasil pengukuran yang digambarkan dalam legenda dengan skala tertentu. Dalam penggambaran profil memanjang biasanya dibuat : Setengah halaman di bagian atas untuk penggambaran situasi penampang memanjang lengkap dengan data-data pengukuran dan legenda. Setengah halaman bagian bawah untuk menggambarkan profil memanjang yang dituangkan dalam kisi-kisi. Untuk lebih jelasnya dapat dipelajari seperti gambar berikut : V-7
85 Bab V : Penggambaran dan Pemetaan V-8
86 Bab V : Penggambaran dan Pemetaan V-9
87 Bab V : Penggambaran dan Pemetaan 5.4. PENGGAMBARAN PROFIL MELINTANG Penggambaran profil melintang adalah penuangan hasil pengukuran dalam bentukbentuk penampang melintang pada titik-titik yang ditetapkan yang elevasinya sesuai hasil pengukuran lapangan dengan menggunakan pesawat (theodolit). Di dalam gambar profil melintang akan tertuang data-data hasil pengukuran antara lain tentang tinggi/perbedaan tinggi dari titik satu dengan titik lainnya, kemiringan permukaan, kelandaian serta bentuk-bentuk drainase, perkerasan jalan, bahu jalan, keadaan lahan samping kiri-kanan jalan maupun bangunan pelengkap jalan. Gambar profil melintang akan menunjukkan keadaan-keadaan jalan atau rencana jalan pada titik atau tempat tertentu, dan di samping itu diberi tanda untuk menjelaskan pada titik atau tempat tertentu tersebut akan adanya pekerjaan tanah yaitu pekerjaan penggalian atau penimbunan untuk mendapatkan permukaan jalan yang direncanakan. Untuk lebih jelasnya dapat dipelajari seperti gambar di bawah ini. V-10
88 Bab V : Penggambaran dan Pemetaan V-11
89 Bab VI : Pematokan BAB VI PEMATOKAN 6.1. UMUM Suatu pembangunan membutuhkan pelaksanaan seluruh elemen-elemennya pada posisi yang benar. Untuk memindahkan suatu Gambar Rencana dari atas kertas ke suatu bangunan di lapangan, maka dibutuhkan : Disana harus ada sejumlah titik kontrol pengukuran yang harus dikaitkan pada suatu sistem koordinat yang tetap. Perencanaan konstruksi harus dikaitkan pada sistem koordinat yang sama. Apabila terdapat ketidak jelasan informasi pada gambar rencana yang menimbulkan keraguan interpretasi, maka pengawas lapangan harus menghubungi perencananya untuk mendapatkan kejelasan. Kontraktor bertanggung jawab dalam penentuan dan pematokan secara keseluruhan, sedang pengawas lapangan harus memastikan bahwa kontraktor mendapatkan informasi yang tepat serta menyiapkan titik-titik kontrol yang dipasang TITIK KONTROL SURVEI Suatu jaringan titik kontrol survei ditentukan untuk mencakup seluruh daerah proyek, dan ditempatkan pada posisi yang tepat didalam pekerjaan konstruksi. Jarak antara titik-titik kontrol dianjurkan kira-kira 50 meter. Titik-titik kontrol survei sebaiknya berada dekat dengan lokasi pekerjaan tetapi bebas dari area kegiatan, dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan adanya pergeseran posisi akibat aktivitas pekerjaan termasuk pengoperasian dari peralatan. Untuk itu letak titik-titik kontrol tersebut harus selalu dicek secara teratur. Perubahan letak titik kontrol juga dapat terjadi pada dasar tanah, pada timbunan pelapisan tanah yang mudah mampat atau proses dalam tanah itu sendiri, seperti proses yang terjadi akibat besarnya variasi kadar kelembaban PENENTUAN ELEMEN-ELEMEN STRUKTUR Letak dari elemen-elemen utama struktur ditentukan berdasarkan pada sistem referensi yang digunakan. VI-1
90 Bab VI : Pematokan Titik offset referensi harus ditetapkan untuk tiap elemen utama. Letak dan jarak offset tiap-tiap titik referensi harus hati-hati diputuskan dan dikenali dilapangan dan untuk menyiapkan tahap penentuan kembali yang mudah bagi letak elemen utama selama pelaksanaan pekerjaan sehingga titik-titik ini tidak terganggu. Letak elemen-elemen kecil lain seperti kerb, parapet, galian drainase ditentukan berdasarkan pada letak elemen-elemen dengan mempertimbangkan pengukuran. Penempatan dan pematokan letak elemen-elemen yang telah ditentukan harus diperiksa. Pemeriksaan ini harus dilakukan secara terpisah dan dilakukan oleh Staf Engineer dengan menggunakan peralatan lain yang berbeda dengan peralatan yang digunakan pada saat penempatan dan pematokan awal. Bagi kontraktor yang melaksanakan pemeriksaan ulang atas hasil pekerjaannya sendiri, dianjurkan untuk menggunakan methoda lain yang berbeda dengan methoda yang telah digunakan pada saat awal penempatan dan pematokan. Untuk menghindari kesalahan dari ketidak tepatan identifikasi patok, ketidak-tepatan panandaan atau kesalahan dalam melaksanakan survei, maka pengukuran jarak dan beda tinggi dilakukan dengan memeriksa hasil pekerjaan dari titik awal suatu sisi sampai pada titik akhir pada sisi yang lain, kemudian diikatkan pada titik kontrol hasil survei pertama. Pemeriksaan ini tidak diperkenankan dilakukan hanya dengan mengukur dari satu titik akhir saja atau dua titik akhir pada sisi yang terpisah PEMATOKAN BERSAMA (SETTING OUT) Semua survei di lapangan selama pematokan bersama dan selama konstruksi akan dilaksanakan oleh kontraktor di bawah petunjuk konsultan. Hasil survei tersebut akan dikaitkan dengan gambar-gambar konstruksi, kondisi yang ada dan beberapa ketidaksesuaian antara gambar-gambar dan kondisi-kondisi yang ada akan dipergunakan untuk mereview design untuk keperluan proyek (bila ada). VI-2
91 Rangkuman RANGKUMAN Survei pada umumnya dapat dibagi menjadi beberapa tahap, seperti : Survei Penelitian Lapangan, Survei Pendahuluan, Survei Lokasi dan Survei Konstruksi. Meskipun pekerjaan survei pembukaan tanah untuk daerah pemukiman baru dapat dibagi menjadi beberapa tahap, tapi pada dasarnya pekerjaan yang dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Menentukan dan meletakkan titik-titik kontrol horisontal dan vertikal. 2. Mengadakan pengukuran sifat datar dan pengukuran topografi. 3. Pematokan batas lahan pemilikan dan pematokan untuk perencanaan jalan. 4. Pematokan untuk pekerjaan konstruksi dan kuantitas pekerjaan. 5. As-built survey Menyipat datar adalah menentukan/mengukur beda tinggi antara dua titik atau lebih. Ketelitian penentuan ukuran tergantung pada alat-alat yang digunakan serta pada ketelitian pengukuran dan yang dapat dilaksanakan. Biasanya kayu sipat merupakan alat pertolongan yang paling sederhana pada penentuan beda tinggi beberapa titik tertentu. Dengan alat ukur sudut (teodolit) kita dapat mengukur sudut arah ke dua titik atau lebih dan sudut curaman terhadap bidang yang horisontal pada titik pembacaan. Akan terdapat pada tiap-tiap titik suatu sudut horisontal dan suatu sudut vertikal. Alat ukur sudut terdiri atas teodolit reiterasi atau teodolit setik/sekon dan teodolit Universil Wild T2 Untuk pengukuran beda tinggi antara dua titik dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu : 1. Cara Pertama : adalah dengan menempatkan alat ukur langsung di atas salah satu titik. 2. Cara Kedua : adalah dengan cara menempatkan alat ukur di tengah-tengah jarak antara kedua titik tersebut, sedangkan di atas kedua titik diletakkan mistar-mistar ukuran (baak). 3. Cara Ketiga : adalah dengan menempatkan alat pada salah satu tempat dengan salah satu titik yang akan diukur. Sumber-sumber kesalahan dalam pengukuran dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini : a. karena kesalahan pada alat b. kesalahan karena keadaan alam c. kesalahan oleh si pengukur sendiri Alat-alat ukur yang terpenting adalah transit (di Indonesia terkenal dengan theodolite), level (di Indonesia terkenal dengan water pass) dan electric measuring device (contoh distomat). Gambar secara garis besar mempunyai 3 fungsi, yaitu : Sebagai alat untuk menyampaikan informasi R-1
92 Rangkuman Untuk menyimpan data atau sebagai arsip Sebagai bahasa teknik Penggambaran profil memanjang menunjukkan hasil pengukuran yang dituangkan dalam gambar yang dimulai dari titik atau station tertentu sebagai awalnya sampai dengan titik atau station yang lainnya sebagai akhirnya. Pada gambar profil memanjang dituangkan semua data-data hasil pengukuran yang digambarkan dalam legenda dengan skala tertentu. Dalam penggambaran profil memanjang biasanya dibuat : Setengah halaman di bagian atas untuk penggambaran situasi penampang memanjang lengkap dengan data-data pengukuran dan legenda. Setengah halaman bagian bawah untuk menggambarkan profil memanjang yang dituangkan dalam kisi-kisi. Untuk memindahkan suatu Gambar Rencana dari atas kertas ke suatu bangunan di lapangan, maka dibutuhkan : Disana harus ada sejumlah titik kontrol pengukuran yang harus dikaitkan pada suatu sistem koordinat yang tetap. Perencanaan konstruksi harus dikaitkan pada sistem koordinat yang sama. Kontraktor bertanggung jawab dalam penentuan dan pematokan secara keseluruhan, sedang pengawas lapangan harus memastikan bahwa kontraktor mendapatkan informasi yang tepat serta menyiapkan titik-titik kontrol yang dipasang. R-2
93 Daftar Pustaka DAFTAR PUSTAKA 1. Brinker, Russell C, Section 12 Surveying (Merrit, Frederick S, Standard Handbook for Civil Engineers, Second Edition, McGraw-Hill Inc.,New York, 1976) 2. Wongsotjitro, Soetomo, Ilmu Ukur Tanah, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, DP-1
PELATIHAN INSPEKTOR LAPANGAN PEKERJAAN JALAN (SITE INSPECTOR OF ROADS)
SIR 06 = PENGUKURAN DAN PEMATOKAN PELATIHAN INSPEKTOR LAPANGAN PEKERJAAN JALAN (SITE INSPECTOR OF ROADS) 2007 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN
BAB I PENDAHULUAN. diselesaikan secara matematis untuk meratakan kesalahan (koreksi), kemudian
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ilmu ukur tanah (Plane Surveying) adalah ilmu yang mempelajari tentang pengukuran-pengukuran pada sebagian permukaan bumi guna pembuatan peta serta memasang kembali
MODUL KULIAH ILMU UKUR TANAH JURUSAN TEKNIK SIPIL POLIBAN
Teodolit adalah salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk menentukan sudut mendatar dan sudut tegak. Sudut yang dibaca bisa sampai pada satuan sekon (detik). Dalam pekerjaan pekerjaan ukur tanah,
PRINSIP KERJA DAN PROSEDUR PENGGUNAAN THEODOLITE. Prinsip kerja optis theodolite
PRINSIP KERJA DAN PROSEDUR PENGGUNAAN THEODOLITE Prinsip kerja optis theodolite Pada theodolite terdapat 2 lensa atau 3 lensa yakni lensa objektif, lensa focus dan lensa pembalik. Biasanya yang memiliki
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH 1 SENTERING, PENGATURAN SUMBU I VERTIKAL DAN PEMBACAAN SUDUT PADA TEODOLIT FENNEL KASSEL
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH 1 SENTERING, PENGATURAN SUMBU I VERTIKAL DAN PEMBACAAN SUDUT PADA TEODOLIT FENNEL KASSEL Kelompok 4 Kelas A Anggota : 1. Aeny Sugianto 12/330070/TK/39261 2. Ahmad
TIM PENYUSUN LAPORAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH DENGAN WATERPASS MEI 2014
LAPORAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH MEI 2014 TIM PENYUSUN Pujiana (41113120068) Rohmat Indi Wibowo (41113120067) Gilang Aditya Permana (41113120125) Santi Octaviani Erna Erviyana Lutvia wahyu (41113120077)
KLASIFIKASI PENGUKURAN DAN UNSUR PETA
PERPETAAN - 2 KLASIFIKASI PENGUKURAN DAN UNSUR PETA Pemetaan dimana seluruh data yg digunakan diperoleh dengan melakukan pengukuran-pengukuran dilapangan disebut : Pemetaan secara terestris Pemetaan Extra
Pemetaan dimana seluruh data yg digunakan diperoleh dengan melakukan pengukuran-pengukuran dilapangan disebut : Pemetaan secara terestris Pemetaan yan
PERPETAAN - 2 Pemetaan dimana seluruh data yg digunakan diperoleh dengan melakukan pengukuran-pengukuran dilapangan disebut : Pemetaan secara terestris Pemetaan yang sebagian datanya diperoleh dari photo
CONTOH LAPORAN PRAKTIKUM SURVEY PENGUKURAN MENGGUNAKAN ALAT WATERPAS
CONTOH LAPORAN PRAKTIKUM SURVEY PENGUKURAN MENGGUNAKAN ALAT WATERPAS BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ilmu ukur tanah adalah bagian rendah dari ilmu Geodesi, yang merupakan suatu ilmu yang mempelajari
Pengukuran Sipat Datar Memanjang dan Melintang A. LATAR BELAKANG
Pengukuran Sipat Datar Memanjang dan Melintang A. LATAR BELAKANG Sipat datar (levelling) adalah suatu operasi untuk menentukan beda tinggi antara dua titik di permukaan tanah. Sebuah bidang datar acuan,
UJIAN NASIONAL Tahun Pelajaran 2011/2012 SOAL TEORI KEJURUAN
DOKUMEN NEGARA UJIAN NASIONAL Tahun Pelajaran 2011/2012 SOAL TEORI KEJURUAN Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kompetensi Keahlian : Teknik Survei dan Pemetaan Kode Soal : 1014 Alokasi
UJIAN NASIONAL Tahun Pelajaran 2011/2012 SOAL TEORI KEJURUAN
DOKUMEN NEGARA UJIAN NASIONAL Tahun Pelajaran 2011/2012 SOAL TEORI KEJURUAN Satuan Pendidikan : Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kompetensi Keahlian : Teknik Survei dan Pemetaan Kode Soal : 1014 Alokasi
PENGERTIAN ALAT UKUR TANAH DAN ALAT SURVEY PEMETAAN
PENGERTIAN ALAT UKUR TANAH DAN ALAT SURVEY PEMETAAN Pengertian Alat Ukur Tanah Pengukuran merupakan suatu aktifitas dan atau tindakan membandingkan suatu besaran yang belum diketahui nilainya atau harganya
dimana, Ba = Benang atas (mm) Bb = Benang bawah (mm) Bt = Benang tengah (mm) D = Jarak optis (m) b) hitung beda tinggi ( h) dengan rumus
F. Uraian Materi 1. Konsep Pengukuran Topografi Pengukuran Topografi atau Pemetaan bertujuan untuk membuat peta topografi yang berisi informasi terbaru dari keadaan permukaan lahan atau daerah yang dipetakan,
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI - SUB SEKTOR SIPIL JABATAN KERJA AHLI PELAKSANA LAPANGAN PERKERASAN JALAN BETON MELAKSANAKAN PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN HASIL PEKERJAAN PELAKSANAAN
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Peta merupakan gambaran dari permukaan bumi yang diproyeksikan
BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Peta merupakan gambaran dari permukaan bumi yang diproyeksikan terhadap bidang datar. Peta yang baik memberikan informasi yang akurat mengenai permukaan bumi kepada
Ir. Atut Widhi Karono APA PERANAN GEODESI DIAREA OILFIELD- ONSHORE PROJECT. Penerbit Ganesha Ilmu Persada
Ir. Atut Widhi Karono APA PERANAN GEODESI DIAREA OILFIELD- ONSHORE PROJECT Penerbit Ganesha Ilmu Persada Daftar Isi BAGIAN I PENGENALAN LAND SURVEY 7 Pemakaian Alat Survey Dan Pengukuran 8 A. Perbedaan
PANDUAN PENYETELAN THEODOLIT DAN PEMBACAAN SUDUT (Latihan per-individu dengan pengawasan Teknisi Laboratorium)
PANDUAN PENYETELAN THEODOLIT DAN PEMBACAAN SUDUT (Latihan per-individu dengan pengawasan Teknisi Laboratorium) 1. Tujuan Praktek dan Alat-alat : Praktek ini akan memberikan kesempatan kepada mahasiswa
MODUL SIB 01 : KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
PELATIHAN SITE INSPECTOR OF BRIDGE (INSPEKTUR PEKERJAAN LAPANGAN PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL SIB 01 : KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER
PENGUKURAN WATERPASS
PENGUKURAN WATERPASS A. DASAR TEORI Pengukuran waterpass adalah pengukuran untuk menentukan ketinggian atau beda tinggi antara dua titik. Pengukuran waterpass ini sangat penting gunanya untuk mendapatkan
Metode Ilmu Ukur Tanah
Metode Ilmu Ukur Tanah Assalamu'alaikum guys, postingan kali ini saya akan membahas metode ilmu ukur tanah, yang terdiri dari : 1. Pengukuran Kerangka Dasar Vertikal ( KDV ) 2. Pengukuran Kerangka Dasar
BAB. XVI. THEODOLIT 16.1 Pengertian 16.2 Bagian Theodolit
BAB. XVI. THEODOLIT 16.1 Pengertian Theodolit merupakan alat ukur tanah yang universal. Selain digunakan untuk mengukur sudut harisontal dan sudut vertikal, theodolit juga dapat digunakan untuk mengukur
alat ukur waterpass dan theodolit
alat ukur waterpass dan theodolit Waterpass dan Theodolite Waterpass digunakan untuk menentukan elevasi/ peil untuk lantai, balok, dan lain-lain yang membutuhkan elevasi berdasarkan ketinggian titik yang
MODUL SIB 10 : PEMELIHARAAN JALAN DARURAT DAN PEMELIHARAAN LALU LINTAS
PELATIHAN SITE INSPECTOR OF BRIDGE (INSPEKTUR PEKERJAAN LAPANGAN PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL SIB 10 : PEMELIHARAAN JALAN DARURAT DAN PEMELIHARAAN LALU LINTAS 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN
PENGUKURAN BEDA TINGGI / SIPAT DATAR
PENGUKURAN BEDA TINGGI / SIPAT DATAR Survei dan Pengukuran APA YG DIHASILKAN DARI SIPAT DATAR 2 1 3 4 2 5 3 KONTUR DALAM ILMU UKUR TANAH Kontur adalah garis khayal yang menghubungkan titik-titik yang berketinggian
SURVEYING (CIV -104)
SURVEYING (CIV -104) PERTEMUAN 6 : METODE PENGUKURAN SUDUT UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224 Pendahuluan Pengukuran sudut berarti mengukur
BAB VI PERALATAN UKUR SUDUT/ ARAH
BAB VI PERALATAN UKUR SUDUT/ ARAH Untuk mengukur arah dan sudut pada pengukuran tanah alat yang umum digunakan adalah Theodolit, disamping itu juga dapat dipakai untuk mengukur jarak secara optis. Theodolit
Pemetaan Situasi dengan Metode Koordinat Kutub di Desa Banyuripan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten
Jurnal Integrasi Vol. 8, No. 1, April 2016, 50-55 p-issn: 2085-3858 Article History Received February, 2016 Accepted March, 2016 Pemetaan Situasi dengan Metode Koordinat Kutub di Desa Banyuripan, Kecamatan
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Sekolah : SMK Muhammadiyah Pakem Mata Pelajaran : Ilmu Ukur Tanah Kelas/Semester : X/1 : 4 x pertemuan (4 x 45 menit) A. Kompetensi Inti KI 3 Memahami, menerapkan,
LAPORAN PRAKTIKUM PENGUKURAN BEDA TINGGI MENGGUNAKAN ALAT THEODOLIT Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar Teknik
LAPORAN PRAKTIKUM PENGUKURAN BEDA TINGGI MENGGUNAKAN ALAT THEODOLIT Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar Teknik Disusun oleh : 1. Nur Hidayati P07133111028 2. Ratna Dwi Yulintina P07133111030
MAKALAH SURVEY DAN PEMETAAN
MAKALAH SURVEY DAN PEMETAAN (Macam-macam Peralatan Ukur Tanah) Disusun oleh: 1. Dinda Safara (5113416039) 2. Mohamad Irsyad Widyadi (5113416038) FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2017 BAB I PENDAHULUAN
Pengukuran Tachymetri Untuk Bidikan Miring
BAB XII Pengukuran Tachymetri Untuk Bidikan Miring Metode tachymetri didasarkan pada prinsip bahwa pada segitiga-segitiga sebangun, sisi yang sepihak adalah sebanding. Kebanyakan pengukuran tachymetri
SURVEYING (CIV-104) PERTEMUAN 4-5 : METODE PENGUKURAN SIPAT DATAR
SURVEYING (CIV-104) PERTEMUAN 4-5 : METODE PENGUKURAN SIPAT DATAR UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224 Pendahuluan Beda tinggi adalah perbedaan
LAPORAN PRAKTIKUM PEMETAAN SUMBERDAYA LAHAN (Pengukuran Beda Tinggi dengan Sipat Ukur Datar Profil Memanjang)
LAPORAN PRAKTIKUM PEMETAAN SUMBERDAYA LAHAN (Pengukuran Beda Tinggi dengan Sipat Ukur Datar Profil Memanjang) Oleh: Kelompok : 4 Kelas/Hari/Tanggal : TEP Shift B/Rabu, 30 Maret 2016 Nama (NPM) : 1. Reimon
VISUALISASI 3D LAHAN RENCANA PROYEK UNTUK PERHITUNGAN VOLUME GALIAN DAN TIMBUNAN
VISUALISASI 3D LAHAN RENCANA PROYEK UNTUK PERHITUNGAN VOLUME GALIAN DAN TIMBUNAN Arief A NRP : 0021039 Pembimbing : Ir. Maksum Tanubrata., MT UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK
Ilmu Ukur Tanah (Plan Survaying)
Ilmu Ukur Tanah (Plan Survaying) Merupakan ilmu, seni, dan teknologi untuk menyajikan bentuk permukaan bumi baik unsur alam maupun unsur buatan manusia pada bidang yang dianggap datar. Yang merupakan bagian
Civil Engineering Diploma Program Vocational School Gadjah Mada University. Nursyamsu Hidayat, Ph.D.
Civil Engineering Diploma Program Vocational School Gadjah Mada University KERANGKA DASAR PEMETAAN Nursyamsu Hidayat, Ph.D. THEODOLIT Theodolit adalah salah satu alat ukur tanah yang digunakan untuk menentukan
Gambar 1. Skema sederhana pesawat Theodolit.
2.2 Alat Ukur Sipat Ruang (Theodolit) 2.2.1 Konstruksi Theodolit Secara umum konstruksi theodolit terdiri dari 3 bahagian utama, yaitu : 1. Bahagian Bawah. a. 3 sekrup penyama rata b. Tabung sumbu I c.
SALMANI SALEH ILMU UKUR TANAH
MODUL KULIAH Modul 11-1 Modul 11 Pengukuran Jalan dan Pengairan Pengukuran dan pemetaan rute dimaksudkan untuk membahas penerapan pengukuran dan pemetaan rute dalam bidang rekayasa teknik sipil, khususnya
BAB VII PENGUKURAN JARAK OPTIS
BAB VII PENGUKURAN JARAK OPTIS Pengukuran jarak optis termasuk dalam pengukuran jarak tidak Iangsung, jarak disini didapat melalui proses hitungan. Pengukuran jarak optis dilakukan dengan alat ukut theodolit,
Pemetaan situasi dan detail adalah pemetaan suatu daerah atau wilayah ukur
Modul 7-1 Modul 7 Pemetaan Situasi Detail 7.1. PENDAHULUAN Pemetaan situasi dan detail adalah pemetaan suatu daerah atau wilayah ukur yang mencakup penyajian dalam dimensi horisontal dan vertikal secara
PEMETAAN SITUASI DENGAN PLANE TABLE
PEMETAAN SITUASI DENGAN PLANE TABLE BAG- TSP.004.A- 39 60 JAM Penyusun : TIM FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH KEJURUAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DAN
PELATIHAN INSPEKTOR LAPANGAN PEKERJAAN JALAN (SITE INSPECTOR OF ROADS)
SIR 01 = KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PELATIHAN INSPEKTOR LAPANGAN PEKERJAAN JALAN (SITE INSPECTOR OF ROADS) 2007 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN
KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
KURIKULUM SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN: TEKNIK BANGUNAN PROGRAM KEAHLIAN: TEKNIK BANGUNAN GEDUNG KOMPETENSI: SURVEI DAN PEMETAAN MODUL / SUB-KOMPETENSI: MEMBUAT PETA SITUASI DENGAN ALAT UKUR
PROPOSAL KEGIATAN SURVEI PENGUKURAN DAN PEMETAAN
PROPOSAL KEGIATAN SURVEI PENGUKURAN DAN PEMETAAN KELOMPOK 7: D51115307 D51115311 D51115314 D51115312 A. M. SYAHDANI MUDRIKAH MAWADDAH HAERI AMRI RACHMAT RIFKY JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK
SURVEYING (CIV-104) PERTEMUAN 7 : PENGUKURAN DENGAN TOTAL STATION
SURVEYING (CIV-104) PERTEMUAN 7 : PENGUKURAN DENGAN TOTAL STATION UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224 APA ITU TOTAL STATION???? Secara sederhana
Pematokan/Stake out adalah memindahkan atau mentransfer titik-titik yang ada dipeta perencanaan kelapangan (permukaan bumi).
Abstrak. Pematokan/Stake out adalah memindahkan atau mentransfer titik-titik yang ada dipeta perencanaan kelapangan (permukaan bumi). Jalur transportasi, komunikasi, saluran irigasi dan utilitas adalah
Pengukuran dan Pemetaan Hutan : PrinsipAlat Ukur Tanah
Pengukuran dan Pemetaan Hutan : PrinsipAlat Ukur Tanah KULIAH 5 Koreksi Boussole / Kompas pada Theodolith Digunakan untuk koreksi arah utara 0 o yang sebenarnya (bukan utara magnetis). Ada beberapa metode
BAB 1 PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Peta adalah suatu gambaran dari permukaan bumi dengan mempergunakan skala tertentu dan digambarkan pada bidang horizontal dengan mempergunakan proyeksi tertentu, gambaran
Tujuan Khusus. Tujuan Umum
Tujuan Umum Tujuan Khusus Mahasiswa memahami arti Kerangka Kontrol Horizontal (KKH) Mahasiswa memahami cara pengukuran, cara menghitung, cara koreksi dari suatu pengukuran polygon baik polygon sistem terbuka
MODUL III WATERPASS MEMANJANG DAN MELINTANG
LAPORAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH MODUL III WATERPASS MEMANJANG DAN MELINTANG Abdul Ghani Sani Putra 1006680631 Dila Anandatri 1006680764 Nur Aisyah al-anbiya 1006660913 Pricilia Duma Laura 1006680915
Peta Topografi. Legenda peta antara lain berisi tentang : a. Judul Peta
Pendahuluan Sebagai orang yang mengaku dekat dengan alam, pengetahuan peta dan kompas serta cara penggunaannya mutlak dan harus dimiliki. Perjalanan ke tempat-tempat yang jauh dan tidak dikenal akan lebih
METODA-METODA PENGUKURAN
METODA-METODA PENGUKURAN METDA PENGUKURAN HORIZONTAL 1. Metda poligon 2. Metoda Pengikatan 3. Global Positioning System (GPS) METODA PENGUKURAN VERTIKAL 1. M.Sifat Datar 2. M. Trigonometris 3. M. Barometris
MODUL AJAR PRAKTIKUM POLIGON & TACHIMETRI DAFTAR ISI BUKU MODUL PRAKTIKUM POLIGON DAN TACHIMETRI PENYETELAN THEODOLITH DAN PEMBACAAN SUDUT
DAFTAR ISI BUKU MODUL PRAKTIKUM POLIGON DAN TACHIMETRI BAB I. BAB II. RENCANA PEMBELAJARAN PENYETELAN THEODOLITH DAN PEMBACAAN SUDUT 1. Tujuan dan Alat-alat 2. Petunjuk Umum & Keselamatan Kerja 3. Langkah
MODUL RDE - 05: DASAR-DASAR PENGUKURAN TOPOGRAFI
PELATIHAN ROAD DESIGN ENGINEER (AHLI TEKNIK DESAIN JALAN) MODUL RDE - 05: DASAR-DASAR PENGUKURAN TOPOGRAFI 2005 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN
Pertemuan Pengukuran dengan Menyipat Datar. Can be accessed on:
Pertemuan 3 1. Alat Ukur Tanah 2. Pengukuran dengan Menyipat Datar Can be accessed on: http://haryono_putro.staff.gunadarma.ac.id/ 1 Pendahuluan Konstruksi alat ukur disesuaikan dengan maksud dan penggunaan
TUJUAN INSTRUKSIONAL
Pengukuran dan perhitungan hasil PELAKSANAAN PEKERJAAN JALAN TUJUAN INSTRUKSIONAL SETELAH MENGIKUTI PELATIHAN PESERTA DIHARAPKAN MEMAHAMI MATERI PENGUKURAN PADA PEKERJAAN KONSTRUKSI JALAN SERTA MAMPU MELAKSANAKAN
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR BANGUNAN GEDUNG PENGUASAAN PERALATAN UKUR
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR BANGUNAN GEDUNG PENGUASAAN PERALATAN UKUR NO. KODE : INA.5230.223.23.03.07 BUKU PENILAIAN DAFTAR ISI
DASAR-DASAR METROLOGI INDUSTRI Bab VI Pengukuran Kelurusan, Kesikuan, Keparalellan, Dan Kedataran BAB VI
BAB VI Tujuan : Setelah mempelajari materi pelajaran pada bab VI, diharapkan mahasiswa dapat : 1. Menjelaskan arti dari kelurusan, kesikuan, keparalelan dan kedataran. 2. Menyebutkan beberapa alat ukur
Alat ukur sudut. Alat ukur sudut langsung
Alat ukur sudut Merupakan sebuah alat ukur yang digunakan untuk mengukur suatu sudut. Sudut dapat diartikan sebagai harga besar kecilnya pembukaan antara dua garis (lurus) yang bertemu pada suatu titik.
TEORI SIPAT DATAR (LEVELLING)
POKOK BAHASAN : TEORI SIPAT DATAR (LEVELLING) Prinsip penentuan beda tinggi; Jenis Peralatan Sipat Datar: Dumpy Level, Tilting level, Automatic Level; Bagian Alat; Mengatur Alat : garis arah niveau, garis
MODUL RDE - 04: SURVEI PENENTUAN TRASE JALAN
PELATIHAN ROAD DESIGN ENGINEER (AHLI TEKNIK DESAIN JALAN) MODUL RDE - 04: SURVEI PENENTUAN TRASE JALAN 2005 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI DAN SUMBER DAYA MANUSIA PUSAT PEMBINAAN
DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Pita ukur... 2 Gambar 2. Bak ukur... 3 Gambar 3. Pembacaan rambu ukur... 4 Gambar 4. Tripod... 5 Gambar 5. Unting-unting...
DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR GAMBAR... iv Modul III.1. Teknik Penggunaan Alat Survey... 1 A. Capaian Pembelajaran... 1 B. Sub Capaian Pembelajaran... 1 C. Pendahuluan... 1 D.
Pengukuran dan pemetaan teristris sungai
Konstruksi dan Bangunan Pengukuran dan pemetaan teristris sungai Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Nomor : 360/KPTS/M/2004 Tanggal : 1 Oktober 2004 DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARANA
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI A. Alat Ukur GPS GPS (Global Positioning System) adalah sistem radio navigasi menggunakan satelit yang dimiliki dan dikelola oleh Amerika Serikat, untuk menentukan posisi, kecepatan
PENGENALAN MATA KULIAH SURVEY DIGITAL
TUGAS I PENGENALAN MATA KULIAH SURVEY DIGITAL Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Survey Digital Fakultas Teknik tahun 2013 Nama : Herwinda Rosyid NIM : 12/333809/TK/40151 HALAMAN JUDUL
PENGENALAN MACAM-MACAM PENGUKURAN SITUASI
PENGENALAN MACAM-MACAM PENGUKURAN SITUASI Pengukuran Situasi Adalah Pengukuran Untuk Membuat Peta Yang Bisa Menggambarkan Kondisi Lapangan Baik Posisi Horisontal (Koordinat X;Y) Maupun Posisi Ketinggiannya/
BAB I PEMETAAN 1. PENDAHULUAN 2. MAKSUD DAN TUJUAN 3. TEORI a. Skala
BAB I PEMETAAN 1. PENDAHULUAN Definisi : Peta adalah sarana guna memperoleh infomasi ilmiah mengenai keadaan permukaan bumi dengan cara menggambar berbagai tanda dan keterangan sehingga mudah dibaca dan
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN
BAB III PELAKSANAAN PENELITIAN 3.1 Persiapan Persiapan menjadi salah satu kegiatan yang penting di dalam kegiatan penelitian tugas akhir ini. Tahap persiapan terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu : 3.1.1
Tugas 1. Survei Konstruksi. Makalah Pemetaan Topografi Kampus ITB. Krisna Andhika
Tugas 1 Survei Konstruksi Makalah Pemetaan Topografi Kampus ITB Krisna Andhika - 15109050 TEKNIK GEODESI DAN GEOMATIKA FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2012 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN. A. Deskripsi. B. Prasyarat. C. Petunjuk Penggunaan Modul
BAB I PENDAHULUAN A. Deskripsi Modul ini bertujuan untuk mempersiapkan seorang penyurvei tambang yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja untuk melaksanakan penggunaan alat ukur tanah sesuai
ba - bb j Gambar Pembacaan benang jarak pada bak ukur
ba - bb Yang diukur pada pengukuran waterpas terbuka tak terikat titik tetap adalah a. Jarak antartitik ukur Jarak antartitik ukur dapat dicari dengan persamaan : j = (ba bb) x 100 Keterangan: ba = benang
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR BANGUNAN GEDUNG PENGUASAAN PERALATAN UKUR
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR BANGUNAN GEDUNG PENGUASAAN PERALATAN UKUR NO. KODE : INA.5230.223.23.03.07 BUKU INFORMASI INA.5230.223.23.03.07
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Maksud 1.2 Tujuan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Maksud 1.1.1 Mengetahui perhitungan paralaks dengan menggunakan pengukkuran lembar per lembar dan orientasi stereoskopik 1.1.2 Menghitung base photo, tinggi terbang, serta skala foto
A. Peta 1. Pengertian Peta 2. Syarat Peta
A. Peta Dalam kehidupan sehari-hari kamu tentu membutuhkan peta, misalnya saja mencari daerah yang terkena bencana alam setelah kamu mendengar beritanya di televisi, sewaktu mudik untuk memudahkan rute
Pengukuran Poligon Tertutup Terikat Koordinat
Pengukuran Poligon Tertutup Terikat Koordinat A. LATAR BELAKANG Pengukuran dan pemetaan poligon merupakan salah satu metode pengukuran dan pemetaan kerangka dasar horizontal untuk memperoleh koordinat
INSTRUKSI KERJA PEMAKAIAN ALAT LABORATORIUM PEDOLOGI
INSTRUKSI KERJA PEMAKAIAN ALAT LABORATORIUM PEDOLOGI JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012 INSTRUKSI KERJA PEMAKAIAN ALAT LAB. PEDOLOGI LABORATORIUM PEDOLOGI & SISTEM INFORMASI
Kesalahan Sistematis ( Systhematical error ) Kesalahan acak ( Random error ) Kesalahan besar ( Blunder )
Fenomena alam tiidak pernah lepas dari kesalahan, demikian juga didang penggukuran dan pemetaan. Kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi pada pengukuran dan pemetaan tterdiri dari : Kesalahan Sistematis
TEKNIK SURVEI DAN PEMETAAN JILID 2
Iskandar Muda TEKNIK SURVEI DAN PEMETAAN JILID 2 SMK Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional Hak Cipta
ALAT UKUR SIFAT RUANG (THEODOLITE)
ALAT UKUR SIFAT RUANG (THEODOLITE) Sudut di lapang diukur dg alat yg telah dirancang konstruksinya sedemikian rupa sesuai dg tk ketelitiannya, yg disebut Theodolite. Sedangkan jarak antara satu titik ke
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR BANGUNAN GEDUNG STAKE OUT DAN MONITORING
MATERI PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI SEKTOR KONSTRUKSI SUB SEKTOR BANGUNAN GEDUNG EDISI 2011 JURU UKUR BANGUNAN GEDUNG STAKE OUT DAN MONITORING NO. KODE : BUKU PENILAIAN DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 1 BAB
BAB IV METODE PENELITIAN
37 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 TAHAPAN PENELITIAN Penelitian ini di bagi menjadi 2 tahap: 1. Pengukuran kondisi geometri pada ruas jalan Ring Road Selatan Yogyakarta Km. 36,7-37,4 untuk mengkorfirmasi
Modul 10 Garis Kontur
MODUL KULIAH Modul 10-1 Modul 10 Garis Kontur 10.1 Kontur Salah satu unsur yang penting pada suatu peta topografi adalah informasi tentang tinggi suatu tempat terhadap rujukan tertentu. Untuk menyajikan
Lampiran I. Soal. 2. Gambarkan garis normal apabila diketahui sinar datangnya! 3. Gambarkan garis normal apabila diketahui sinar datangnya!
LAMPIRAN Tahap I : Menggambarkan garis normal dari bidang batas yang datar No. Soal No. Soal 1. Gambarkan garis normal apabila diketahui sinar datangnya! 2. Gambarkan garis normal apabila diketahui sinar
INSTRUKSI KERJA PEMAKAIAN ALAT LABORATORIUM PEDOLOGI
INSTRUKSI KERJA PEMAKAIAN ALAT LABORATORIUM PEDOLOGI UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011 Instruksi Kerja Pemakaian Alat Lab. Pedologi Laboratorium Pedologi & Sistem Informasi Sumberdaya Lahan Jurusan Tanah
Pengertian Garis Kontur, Peraturan, & Cara PembuatanDEFINISI, GEOGRAFI, IPS ON FEBRUARY 23, 2016 NO COMMENTS
Pengertian Garis Kontur, Peraturan, & Cara PembuatanDEFINISI, GEOGRAFI, IPS ON FEBRUARY 23, 2016 NO COMMENTS Pengertian Garis Kontur, Peraturan, & Cara Pembuatan Peta merupakan gambaran permukaan bumi
LAPORAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH
LAPORAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH PENGUKURAN POLIGON TERTUTUP OLEH: FEBRIAN 1215011037 JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS LAMPUNG 2013 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengukuran dan pemetaan
BAB III PELAKSANAAN PEKERJAAN. Pengukuran Detail Rehabilitasi Jaringan Irigasi tersier Pada UPTD. Purbolinggo
BAB III PELAKSANAAN PEKERJAAN Pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan pada kerja praktek ini merupakan bagian dari Pengukuran Detail Rehabilitasi Jaringan Irigasi tersier Pada UPTD. Purbolinggo Lampung Timur
DAFTAR ISI. Hal Kata Pengantar... i Daftar Isi BAB I KONSEP PENILAIAN Latar Belakang Tujuan Metoda Penilaian...
DAFTAR ISI Hal Kata Pengantar... i Daftar Isi... 1 BAB I KONSEP PENILAIAN... 2 1.1 Latar Belakang... 2 1.2 Tujuan... 2 1.3 Metoda Penilaian... 2 BAB II PELAKSANAAN PENILAIAN... 4 2.1 Kunci Jawaban Tugas-Tugas
BAB I PENDAHULUAN. Kelompok 2 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang IUT adalah bagian yang lebih rendah daripada geodesi. Geodesi merupakan ilmu yang mempelajari tentang struktur permukaan bumi. ilmu ukur tanah mencakup kajian dan pengukuran
KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 61 TAHUN 1993 TENTANG RAMBU-RAMBU LALU LINTAS DI JALAN MENTERI PERHUBUNGAN,
KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 61 TAHUN 1993 TENTANG RAMBU-RAMBU LALU LINTAS DI JALAN MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. bahwa dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana
ILMU UKUR TANAH. Oleh: IDI SUTARDI
ILMU UKUR TANAH Oleh: IDI SUTARDI BANDUNG 2007 1 KATA PENGANTAR Ilmu Ukur Tanah ini disajikan untuk Para Mahasiswa Program Pendidikan Diploma DIII, Jurusan Geologi, Jurusan Tambang mengingat tugas-tugasnya
TEKNIK GAMBAR DASAR A. PERALATAN DAN PERLENGKAPAN GAMBAR
TEKNIK GAMBAR DASAR A. PERALATAN DAN PERLENGKAPAN GAMBAR 1. MEJA GAMBAR Meja gambar yang baik mempunyai bidang permukaan yang rata tidak melengkung. Meja tersebut dibuat dari kayu yang tidak terlalu keras
LEVELLING 3 SIPAT DATAR MEMANJANG & MELINTANG (UNTUK MENDAPATKAN BENTUK PROFIL POT.TANAH) Salmani,, ST, MS, MT 2012
LEVELLING 3 SIPAT DATAR MEMANJANG & MELINTANG (UNTUK MENDAPATKAN BENTUK PROFIL POT.TANAH) Salmani,, ST, MS, MT 2012 SIPAT DATAR MEMANJANG & MELINTANG (UNTUK MENDAPATKAN BENTUK PROFIL POT.TANAH) Pengukuran
BAB I PENDAHULUAN. Ilmu Ukur Tanah adalah suatu ilmu yang mempelajari cara-cara pengukuran yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ilmu Ukur Tanah adalah suatu ilmu yang mempelajari cara-cara pengukuran yang diperlukan untuk menyatakan kedudukan suatu titik di permukaan bumi. Ilmu Ukur Tanah itu
TACHIMETRI. Pengukuran titik detil tachimetri adalah suatu pemetaan detil. lengkap (situasi) yaitu pengukuran dengan menggunakan prinsip
TACHIMETRI Pengukuran titik detil tachimetri adalah suatu pemetaan detil lengkap (situasi) yaitu pengukuran dengan menggunakan prinsip tachimetri (tacheo artinya menentukan posisi dengan jarak) untuk membuat
3.4 PEMBUATAN. Program D3/D4 Teknik Sipil FTSP ITS Mata Kuliah : Ilmu Ukur Tanah
3.4 PEMBUATAN KONTUR Program D3/D4 Teknik Sipil FTSP ITS Mata Kuliah : Pengantar Pemetaan/ pembuatan peta adalah pengukuran secara langsung atau tidak langsung akan menghasilkan suatu gambar situasi/ permukaan
MODUL STEBC 07 : PERMASALAHAN PELAKSANAAN JEMBATAN
PELATIHAN STRUCTURE ENGINEER OF BRIDGE CONSTRUCTION PEKERJAAN (AHLI STRUKTUR PEKERJAAN JEMBATAN) MODUL STEBC 07 : PERMASALAHAN PELAKSANAAN JEMBATAN 2006 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM BADAN PEMBINAAN KONSTRUKSI
ILMU UKUR TANAH. Oleh: IDI SUTARDI
ILMU UKUR TANAH Oleh: IDI SUTARDI BANDUNG 2007 1 KATA PENGANTAR Ilmu Ukur Tanah ini disajikan untuk Para Mahasiswa Program Pendidikan Diploma DIII, Jurusan Geologi, Jurusan Tambang mengingat tugas-tugasnya
KERANGKA ACUAN KERJA (KAK)
KERANGKA ACUAN KERJA (KAK) OPTIMALISASI LAHAN KAMPUS STAIN ZAWIYAH COT KALA LANGSA TAHUN ANGGARAN 2013 1) DATA PROYEK Nama Pekerjaan : Optimalisasi Lahan Kampus STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa Lokasi Pekerjaan
