PELAKSAAN KEGIATAN MAGANG
|
|
|
- Suhendra Budiono
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 36 PELAKSAAN KEGIATAN MAGANG Pemuliaan Kelapa Sawit Pemuliaan kelapa sawit telah dimulai sejak tanaman ini sudah mulai diperkebunkan di Afrika dan Asia Tenggara. Telah diketahuinya bahwa penanaman TxD/DxT lebih baik dari DxD menjadikan pemuliaan kelapa sawit semakin berkembang. Pemuliaan bertujuan selain untuk meningkatkan produksi dan rendemen minyak adalah guna mendapatkan pohon yang pertumbuhan meningginya lambat, lebih toleran terhadap penyakit, respon terhadap pemupukan baik, tandan lebih berat, komposisi buah dan minyak lebih baik, tangkai tandan buah (stalk) lebih pendek hingga panen lebih mudah, adaptasi baik dan lain-lain. Pemuliaan mulai dilakukan pada tahun 1915 di Marihat baris dan merupakan kebun seleksi pertama dimana setiap pohon ditimbang tandannya. Program pemuliaan sawit betujuan untuk memperoleh individu-individu superior dalam hal produktivitas dan kualitas minyak. Selain itu, pemuliaan tanaman kelapa sawit ditujukan untuk mendapatkan varietas baru yang memiliki petumbuhan yang homogen, toleran terhadap berbagai macam penyakit dan kekeringan. Namun karena permintaan akan kelapa sawit yang memiliki pertumbuhan meninggi yang lambat maka para pemulia pun mengarahkan penelitiannya kepada hal tersebut. Pusat Penelitian Kelapa sawit (PPKS) dalam melaksanakan program pemulian tanaman mengadopsi metode Reciprocal Reccurent Selection (RSS) yang dikembangkan oleh IRHO (CIRAD, Perancis). Melalui metode pemuliaan RSS dapat dilakukan perbaikan secara serentak daya gabung dari dua populasi dasar yaitu populasi dari grup Deli (A) dan populasi dari grup Afrika (B). metode RSS dapat melaksanakan eksploitasi persilangan terbaik dengan segera. Skema metode pemulian RSS ada pada Gambar 3. Populasi Dasar Populasi dasar yang digunakan dalam pemuliaan kelapa sawit di PPKS terdiri atas dua populasi utama, yaitu populasi kelapa sawit yang memiliki jumlah tandan sedikit tetapi besar-besar (Group A) dan populasi kelapa sawit yang memiliki jumlah tandan banyak tetapi kecil-kecil (Group B). Group A yang
2 37 digunakan adalah Dura Deli yang telah melalui seleksi yang lama. Beberapa hasil seleksi yang dilakukan terhadap Dura Deli yang menghasilkan populasi material induk, seperti Dura Marihat, Dura Dolok, Dura Sinumbah, Dura Tinjowan dan Dura Rispa. Selain itu terdapat juga Dura Gunung Bayu, Socfin, dan Dumpy Marihat yang merupakan hasil seleksi awal pada beberapa kebun yang berbeda. Group B yang digunakan sebagian besar hasil introduksi dari Zaire. Beberapa origin hasil introduksi ini antara lain orijin Bangun, Bah Jambi, Dolok Sinumbah, Sungai Pancur (SP 540 T), Yangambi (LM 238 T, LM 239 T, LM 718 T, LM 432 T). Selain itu, terdapat juga orijin yang diintroduksi dari Pantai Gading seperti orijin Lame (LM 2 T, LM 7 T, LM 9 T, dan LM 14 T), Yocoboue, Nigeria (Orijin Nifor), dan Kamerun (Orijin Marihat). Dura Group D1 D2 D3 Pengujian Progeni Studi GCA dan SCA D x P, D x T Psifera/Tenera Group P1 P2 P3 T1 T2. Dura Terpilih Selfing/Crossing Pisifera/Tenera Terpilih Perbanyakan Klonal Produksi Kecambah D x Gambar 3. Skema Metode Pemuliaan RSS (Pamin, 1997) Proses pemuliaan yang panjang yang dilakukan oleh PPKS telah menghasilkan sebelas varietas utama yang telah dilepas oleh PPKS. Varietas tersebut adalah DP AVROS, DP Bah Jambi, DP Dolok Sinumbah, DP La Me, DP
3 38 Yangambi, DP Sungai Pancur 1, DP Sungai Pancur 2, DP Langkat, DP Simalungun, dan dua varietas baru yaitu PPKS 540 dan PPKS 718. Saat ini program RSS yang dijalankan PPKS telah memasuki siklus ke III. Beberapa bagian yang berada pada divisi pemuliaan di PPKS adalah : Crossing plan Crossing plan merupakan salah satu kegiatan yang ada pada divisi BRD. Tugas dari crossing plan yakni merealisasikan mating design yang telah telah ada sebelumnya. Mating design merupakan rencana persilangan dari beberapa tetua yang terpilih. Crossing plan juga bertugas memilih atau menyeleksi calon pohon induk dari beberapa persilangan yang telah dilakukan. Selain itu kegiatan yang dilakukan crossing plan adalah mengamati dan mengambil polen dari bunga jantan yang telah terseleksi kemudian pollen yang sudah didapat tersebut diserbukkan pada bunga betina yang telah dipersiapkan dari pohon-pohon yang telah terseleksi sebelumnya atau kegiatan ini disebut pembungkusan. Hasil tandan dari proses pembungkusan dibawa untuk dikecambahkan untuk dilakukan pengujian lainnya. Pada divisi ini orientasi dilaksanakan dalam satu hari dengan mengikuti dan mempelajari proses - prosesnya. Analisis tandan Analisis tandan merupakan salah satu kegiatan yang ada pada divisi BRD. Tugas dari sub divisi ini yakni menganalisa kandungan minyak yang terdapat dalam sebuah tandan. Informasi dari analisis tandan sangat berguna untuk mendapatkan calon tanaman induk dan tanaman bapak yang akan digunakan untuk produksi benih selanjutnya, dan DxP untuk pengujian keturunan sehingga mendapatkan informasi persilangan yang akan dilepas menjadi varietas baru. Untuk Jenis persilangan yang dianalisis adalah DxD/DxT. Teknis pelaksanaannya yakni tandan diambil dari masing-masing kebun percobaan dengan rentang waktu enam bulan sekali tetapi jika dalam satu pohon pada rentang waktu empat bulan tandannya sudah matang maka sudah bisa dipanen dan tidak menunggu sampai enam bulan. Tandan yang diambil harus memenuhi beberapa persyaratan seperti tandan harus sudah membrondol 5 20 biji, kualitas dan berat buah mendekati rata-rata pohon pokok yang bersangkutan dan hal yang terpenting yakni setiap
4 39 tandan yang dianalisis harus memiliki identitas yang jelas (label). Tandan yang sudah diambil di ditimbang beratnya, dicincang, dirontokan dari spikelet dengan menggunakan kapak, ditimbang lagi berat brondolannya, kemudian diambil 30 buah yang terdiri dari 10 buah bagian luar, 10 buah bagian tengah, dan 10 buah bagian dalam. Timbang 30 buah buah tersebut, kemudian mesocarp buah dicincang untuk memisahkan dari bijinya. Mesocarp dicincang sampai halus sedangkan bijinya difermentasi selama 10 hari untuk melihat banyaknya inti yang terkandung dalam biji. Pada divisi ini orientasi dilaksanakan dalam satu hari dengan mempelajari dan mempraktekan beberapa proses kegiatan. Pengamatan vegetatif Pengamatan vegetatif adalah kegiatan yang dilakukan divisi BRD. Tugas pengamatan vegetatif yakni mengamati karakter vegetatif seperti tinggi tanaman, produksi daun, jumlah daun, panjang pelepah, jumlah anak daun, diameter batang, jumlah pelepah serta panjang dan lebar petiole. Tinggi tanaman di ukur dengan menggunakan egrek yang panjangnya telah ditandai sebelumnya. Untuk tanaman yang dewasa berumur lebih dari empat tahun pengukuran tinggi dilakukan pada daun ke 17. Pada tanaman muda (umur 1 2 tahun) dimana daun ke -17 belum terbentuk pengukuran tinggi dilakukan pada pelepah daun ke 4 dan pada tanaman umur 3 4 tahun pada pelepah daun ke 9. Produksi daun tanaman dapat diperoleh dengan menghitung pertambahan jumlah daun dari pengamatan sebelumnya. Sedangkan jumlah daun dapat diperoleh dengan menghitung jumlah pelepah yang ada pada saat pengamatan dengan menghitung jumlah spiral daun kelapa sawit kemudian dikalikan dengan delapan. Pengamatan panjang pelepah didapat dengan cara mengukur dari anak daun rudimenter paling bawah sampai ujung daun yang paling atas. Jumlah anak daun diukur dengan menghitung jumlah anak daun pada salah satu sisi pelepah daun ke 17. Diameter batang diukur dengan menggunakan meteran dimana pengukuran dilakukan satu meter diatas tanah. Pada divisi ini orientasi dilaksanakan dalam satu hari dengan mengikuti dan mempelajari proses proses dan cara pengamatan vegetatif.
5 40 Pembibitan Pemuliaan Pembibitan tanaman pada divisi BRD (Breeding) tidak terlalu berbeda jauh dengan pembibitan tanaman konvensional. Pada pembibitan pemuliaan (BRD) tanaman hasil persilangan lebih diperhatikan pertumbuhan bibit yang ditanam apakah sesuai dengan karakteristik yang diinginkan pada saat persilangan atau menyimpang dari yang diinginkan. Hasil dari bibit ini ditujukan untuk pohon induk (Dura), pohon bapak (Pisifera), pohon penguji (Progeni), sisipan atau keperluan penelitian lainnya. Perbedaan lainnya antara pembibitan komersial dengan pembibitan BRD yakni sistem pengelompokan bibit, identitas bibit dan dari hasil persilangan apa bibit tersebut tercantum dengan jelas dan rapi. Kemurnian genetik sangat diperhatikan pada pembibitan BRD sehingga kemungkinan heterogenitas pada satu kelompok tanaman sangat kecil. Pada pembibitan pemuliaan semua faktor pertumbuhan bibit (panjang, diameter, jumlah daun) dan genotipe dari bibit yang ditanam sangat diperhatikan. Pembibitan pemuliaan dapat menghasilkan bibit-bibit kelapa sawit unggul dari hasil pemuliaan yang memiliki produksi lebih tinggi, ketahanan terhadap hama dan penyakit, ketahanan terhadap cekaman lingkungan, pertumbuhan meninggi yang lambat, dan ALTJ (asam lemak tak jenuh) yang tinggi. Pada divisi ini kegiatan dilakukan selama dua bulan dengan mempelajari dan memperaktekan beberapa kegiatan pembibitan pemuliaan. Beberapa kegiatan yang dilakukan di pembibitan BRD selama berlangsungnya kegiatan magang : 1. Pembibitan awal (pre nursery) Pembibitan awal merupakan kegiatan pertama yang dilakukan di pembibitan. Pada pembibitan awal kecambah yang diterima disemai dalam polibeg kecil untuk ditangkarkan dan dilakukan pemeliharaan intensif selama 3 4 bulan. Beberapa hal yang dilakukan pada pembibitan awal adalah : a. Persiapan areal Areal untuk pembibitan awal haruslah rata, persediaan air cukup, tidak kebanjiran, dekat dengan kantor untuk memudahkan pengawasan, teratur dan bersih. Pada pembibitan awal perlu dibuat bedengan tetapa yang terbuat dari kayu,
6 41 bambu dan papan dengan lebar 1,2 m dan panjang 8 m tiap bedengan dan jarak tiap bedengan 0,80 m yang akan dipergunakan sebagai jalan atau parit drainase. Sebelum penanaman areal harus bersih dari rerumputan dan alang-alang atau bibit-bibit sisa seleksi agar kemurnian genetik dapat dijaga. Letak bedengan harus lebih tinggi dari permukaan tanah agar air dapat mengalir dengan baik. Tiap bedengan dengan ukuran tersebut dapat memuat 1000 kantong polibeg ukuran kecil 22 cm x 14 cm, Tebal 0,07 mm, hitam/putih, berlubang Ø 0,3 cm. Untuk 1 bedengan mampu menghasilkan 5 ha tanaman di lapangan. b. Pembuatan naungan Bedengan dilindungi dengan naungan yang terbuat dari daun kelapa, kelapa sawit, aren, nipah, alang dan lain-lain yang sebelumnya telah dibersihkan dari hama dan penyakit yang dapat menular ke bibit yang berada di bawahnya. Bahan-bahan tadi biasanya disemprot terlebih dahulu dengan pestisida. Penggunaan bahan-bahan tadi akan mengatur intensitas cahaya matahari yang masuk karena berangsur-angsur daun menjadi kering. Tinggi naungan adalah 1,76 m dari atas tanah. Dengan tiang-tiang yang terbuat dari besi, bambu dan kayu. Pembuatan naungan dimaksudkan agar kecambah yang baru ditanam atau bibit yang masih muda tidak terkena cahaya matahari langsung yang dapat menyebabkan bibit gosong atau mati. Naungan diberikan secara bertahap agar bibit mampu mengalami adaptasi yang baik c. Pemagaran Sekeliling pembibitan awal harus dipagari untuk menghindari gangguangangguan dari luar seperti : sapi, tikus dan manusia. Parit-parit buangan hendaknya dirawat dengan baik untuk menghindari kebanjiran. d. Saluran irigasi Pada pembibitan awal sistem penyiraman menggunakan sprinkler yang dihidupkan selama dua kali sehari. Sprinkler dipasang tiga buah pada setiap bedengan agar pancaran air mampu menjangkau setiap sudut pada bedengan. Sprinkler dihidupkan menit sehari dan mampu menghabiskan air satu drum di penampungan. Apabila turun hujan bibit pada pembibitan awal tidak
7 42 disiram kembali karena jika terlalu banyak air bibit akan busuk. Bila sprinkler mati atau rusak maka bibit disiram dengan menggunakan gembor sampai tanah pada tiap polibeg basah dan lembab. e. Persiapan media tanah Sebelum penanaman/penyemaian media tanah atau pembibitan harus disiapkan. Media tanah merupakan tanah top soil yang ada di areal pembibitan. Tanah top soil berada 0 10 cm dari permukaan tanah. Tanah top soil diambil dengan mencangkul bagian tanah kemudian dikumpulkan menjadi satu gundukan besar. Pada pembibitan pemulian dalam kegiatan pengisian tanah setiap 1 HOK mampu mengisi 300 polibeg kecil. Penulis hanya mampu mengisi 200 polibeg kecil/hok. Tanah yang digunakan haruslah gembur, apabila tanah tidak gembur dapat dicampur dengan pasir dengan perbandingan 3 : 1. Tanah untuk penyemaian harusnya disaring dan diayak agar diperoleh tanah yang gembur. Akan tetapi dikarenakan waktu yang lama serta memerlukan tenaga yang banyak maka penyaringan dan pengayakan jarang dilakukan. Tanah yang kurang gembur dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan plumula dan radikula sehingga pertumbuhan kecambah tidak akan maksimal. Tidak gemburnya tanah dapat menurunkan daya tumbuh kecambah dan meningkatkan abnormalitas yang disebabkan oleh faktor lingkungan. Pengisian hendaknya cukup padat agar tidak terjadi kantongan-kantongan air kelak tetapi jangan terlalu padat. f. Penanaman/Penyemaian Polibeg kecil diisi dengan tanah sampai 2 cm dari ujung tepi polibeg. Hal ini dilakukan agar tanah tidak terlalu padat sehingga menyebabkan kecambah sulit untuk tumbuh. Polibeg yang telah diisi sebaiknya didiamkan selama dua minggu agar tanah menjadi stabil dan sedikit memadat, Pada saat penanaman tanah dalam polibeg yang keras terlebih dahulu disiram agar tanah menjadi lembab. Plumula biasanya akan muncul (terlihat) diatas tanah setelah hari. Prosedur penanaman kecambah adalah ; 1. Kecambah dikeluarkan dari kemasan dan diletakan diatas tampah atau pelastik pembungkus kecambah.
8 43 2. Lubang tanam dibuat sedalam lebih kurang 2 cm dengan menggunakan tugal atau jari. Jangan terlalu dangkal karena akan terbongkar apabila disiram. Dan jangan terlalu dalam karena akan menghambat perkembangan kecambah. 3. Kecambah dimasukan dengan posisi yang benar yaitu radikula menghadap ke bawah dan plumula menghadap ke atas. 4. Kecambah ditutup dengan tanah. a b Gambar 4. Penanaman Kecambah: (a) Posisi Penanaman/Penyemaian Kecambah dan (b) Penanaman Kecambah di Pembibitan Awal Penanaman dilakukan pada pagi hari, petugas yang melakukan penanaman diusahakan bisa membedakan antara plumula (bakal daun) dan radikula (bakal akar) agar tidak terjadi kesalahan penanaman. Plumula menghadap ke atas sedangkan radikula menghadap ke bawah. Kecambah yang telah ditanam ditutup dengan tanah yang gembur. Dalam menanam/menyemai kecambah ke dalam polibeg kecil harus benar-benar diperhatikan ciri-ciri kecambah yang baik seperti : 1). Warna radikula kekuning-kuningan, sedangkan plumula keputih-putihan, 2). Ukuran radikula lebih panjang daripada plumula, 3). Pertumbuhan plumula dan radikula lurus dan berlawanan arah, 4). Panjang radikula maksimum 5 cm sedangkan plumula 3 cm. g. Pengelompokan Pengelompokan sangat penting bagi pembibitan pemuliaan karena menetukan kemurnian genetik dari bibit yang ditangkarkan. Identitas sangat diperhatikan mulai dari : tanggal tanam, varietas, persilangan dan jumlah. Persaingan dalam mendapatkan sinar matahari menyebabkan kurangnya intensitas yang diterima oleh klorofil daun bibit kelapa sawit. Sehingga fotosintesis akan
9 44 berjalan tidak sempurna dan menyebabkan kurangnya pasokan energi pada tanaman muda untuk tumbuh dan berkembang. Keseragaman pertumbuhan bibit akan meningkatkan mutu genetik dari bibit yang ditangkarkan. a b c Gambar 5. Pengelompokan Bibit: (a) Pengelompokan Pembibitan Awal, (b) Papan Nama Pengelompokan, dan (c) Pengelompokan Pembibitan Utama. h. Penyiraman Penyiraman dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi dan petang, tiap kantong memerlukan air 0,25-0,50 liter air setiap kali penyiraman. Penyiraman dilakukan dengan sprinkler, gembor dan lain-lain dan dilakukan dengan hati-hati agar kecambah tidak terbongkar. i. Memecah lapisan keras pada tanah Sering terjadi pembentukan lapisan keras pada permukaan kantong yang ditumbuhi lumut. Lapisan keras (cap) ini menghalangi masuknya air. Lapisan ini dapat dihilangkan dengan memecahnya menggunakan bambu kecil 1x 1 bulan. j. Pemupukan Pupuk urea diberikan dengan dosis 2 gr/liter untuk 100 bibit. Pupuk diaplikasikan dengan menyemprot bibit dengan larutan pupuk yang diberikan sekali dalam seminggu. Setelah penyemprotan segera disiram kembali dengan air untuk menghidari pembakaran. k. Pengendalian gulma Rumput-rumput yang tumbuh pada kantongan pengendaliannya dapat dilakukan dengan manual dengan tangan yakni mencabut gulma pada kantong plastik sekali dalam dua minggu atau dengan kored dan cangkul untuk areal disekitar bedengan. Pada pembibitan awal di pembibitan pemuliaan penggunaan
10 45 herbisida jarang/tidak dilakukan karena sangat beresiko selain itu karena luasan pembibitan awal yang kecil cara manual sangat mungkin untuk dilakukan. l. Pengendalian OPT Gangguan penyakit seperti Anthracnose, Helmintosphorium dan lain-lain dapat dicegah dengan menggunakan Dithane, Zineb, Savin dan lain-lain. Sedangkan untuk hama seperti semut, belalang, jangkrik, cacing dapat menggunakan tepung HCH, yang ditaburkan atau disiram. Penggunaan pestisida dilakukan jika gejala-gejala serangan telah terlihat dan menggangu pertumbuhan bibit. Pestisida disemprotkan pada bagian daun bibit dengan menggunakan semprotan spray. Penyemprotan harus searah dengan arah angin agar pestisida tersebar dengan rata. Gambar 6. Penyemprotan Pestisida. m. Seleksi Pada pembibitan awal seleksi bibit harus benar-benar dilakukan dengan ketat agar bibit abnormal yang tidak baik pertumbuhannya bercampur dengan bibit normal. Seleksi dilakukan pertama kali dengan melakukan inspeksi kesemua tanaman pada kantongan serta memperhatikan dengan sangat teliti bibit mana yang tidak sesuai dengan pertumbuhan standar dan yang diinginkan. Pengamatan visual perlu dilakukan terhadap seluruh parameter pertumbuhan bibit dengan cara membandingkan antara satu bibit dengan bibit lain yang berasal dari persilangan yang sama. Berdasarkan hasil pengamatan, dapat diketahui keadaan bibit yang penampilannya menyimpang dari bibit normal yang telah ditentukan (tinggi, jumlah pelepah, dan besar bonggol) serta beda populasi yang ada seperti kerdil,
11 46 penyakit tajuk (crown desease), pertumbuhan berputar, daun tidak membuka dan lain-lain. Setelah diseleksi maka bibit-bibit abnormal dapat diklasifikasikan per jenis keabnormalannya sekaligus diketahui presentasenya. Seleksi bibit di PN sebaiknya dilakukan tiga tahap pada setiap tahap dilakukan oleh satu atau dua orang yang teleh mengenal betul tanda-tanda abnormalitas. Seleksi dilakukan dengan memberi tanda yang dibuat dari patok kayu kecil yang ujungnya di cat dan di tancapkan dalam polibeg yang bibitnya tidak memenuhi syarat (abnormal). Seleksi pertama di lakukan terhadap kecambah yang tidak tumbuh, ditandai dengan patok yang berwarna putih. Pekerjaan ini dilakukan oleh petugas pembibitan yang telah berpengalaman dengan melihat kecambah-kecambah yang tidak tumbuh pada polibeg kecil. Kecambah yang tidak tumbuh ditandai tetapi belum dipisahkan dan di afkir karena masih ada kemungkinan kecambah tersebut tumbuh hanya lambat. Seleksi dilakukan dengan mencatat setiap kecambah yang tidak tumbuh dari setiap kelompok atau persilangan. Seleksi tahap kedua dilakukan ketika bibit berumur dua bulan. Seleksi ini merupakan pra seleksi terhadap bibit-bibit abnormal ditandai dengan patok berwarna biru, pada tahap ini ada beberapa bibit yang telah menampakan gejala abnormalitas hanya kenampakannya masih diragukan atau belum pasti. Petugas menandai bibit yang menampakkan gejala abnormalitas akan tetapi bibit belum dipisahkan dan diafkir untuk menghindari kesalahan pengenalan gejala abnormalitas dan kemungkinan untuk pulih. Gambar 7. Seleksi Tahap Kedua. Seleksi tahap ketiga dilakukan sebelum pindah tanam pada umur 3 4 bulan. Seleksi ini dilakukan terhadap bibit yang diyakini tumbuh abnormal ditandai dengan patok berwarna merah. Petugas memisahkan dan mengafkir bibit-
12 47 bibit yang telah pasti abnormal dengan mencatatat jumlahnya dan asal persilangannya. Dikarenakan efisiensi yang kurang dan para pekerja yang sedikit hal ini biasanya jarang dilakukan. Seleksi pada pembibitan awal biasanya dilakukan pada umur 3-4 bulan sebelum bibit dipindahkan ke pembibitan utama. Seleksi dilakukan per kelompok dengan meletakan bibit mati/afkir di bagian ujung kelompok/persilangan berbatasan dengan kelompok/persilangan lain dalam satu bedengan. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pencatatan dan pembuatan berita acara pemusnahan bibit mengingat bibit abnormal harus dikumpulkan dan dimusnahkan. Bibit yang tersisa ini perlu dihitung dan dikelompokan menurut persilangan masing-masing untuk pengaturan tempatnya di pembibitan utama agar bibit yang sejenis tertananam pada petak yang sama. Hal ini perlu mendapat perhatian karena tiap persilangan kecepatan tumbuhnya berbeda-beda. Seleksi yang ketat di PN yang dilakukan dengan baik merupakan jaminan untuk memperoleh bibit yang baik dan seragam dalam pertumbuhannya. n. Transplanting Transplanting dilakukan setelah bibit berumur 3-4 bulan dan telah mengalami seleksi yang ketat. Pada saat transplanting bibit harus langsung diatanam pada pembibitan utama agar bibit tidak terlalu mengalami stress. Stress pada tanaman biasanya dialami bibit selama satu bulan pertama di pembibitan utama sehingga perhatian yang lebih harus diberikan pada bibit tersebut. Transplanting pada musim hujan akan mengurangi stress pada tanaman tersebut karena keadaan suhu udara yang baik dan kebutuhan air yang cukup. Pada saat melakukan transplanting, setidaknya diperlukan empat orang yang mempunyai tugas masing-masing yaitu 1 orang meletakan polibeg kecil diatas polibeg besar, 1 orang merobek polibeg kecil dengan cutter, 1-2 orang memindahkan/menanam bibit beserta tanah yang menempel pada akar kedalam polibeg pembibitan utama. o. Pemusnahan Pemusnahan dilakukan pada bibit di pembibitan awal yang sudah tidak digunakan lagi dan bibit abnormal yang telah pasti terseleksi. Pemusnahan dilakukan dengan mematikan bakal tunas daun (pupus) dengan membelahnya
13 48 dengan tangan (ditarik). Setelah bibit dimatikan pupusnya sisa bibit dikumpulkan untuk dibakar. Bibit sisa yang masih digunakan disimpan dalam bedengan sampai bibit-bibit tersebut pindah tanam atau dimusnahkan jika benar-benar sudah tidak digunakan lagi. 2. Pembibitan utama (main nursery) Bibit yang telah berumur 3-4 bulan dipindahkan ke pembibitan utama. Pemindahan harus tepat waktu karena kekurangan atau kelebihan umur bibit dapat menghambat pertumbuhan bibit. Pembibitan utama memerlukan lahan yang lebih luas daripada pembibitan awal karena ditanam pada jarak yang lebih besar. Pada pembibitan awal bibit dipelihara secara intensif selama 9-12 bulan. Beberapa hal yang dilakukan pada pembibitan utama adalah : a. Persiapan areal Areal harus dekat dengan sumber air karena memerlukan air yang cukup banyak. Bebas dari banjir. Topografi tanah yang rata dan drainase yang baik. Areal pembibitan harus merupakan lapangan terbuka yang bebas dari rumputrumputan, harus dipagari agar tidak mendapatkan gangguan ternak, parit-parit dibuat dan dirawat dengan baik. Pembersihan dan perataan lahan harus dilakukan minimal dua minggu sebelum penanaman. b. Saluran irigasi Saluran air dibuat sedemikian rupa agar kebutuhan air pada bibit terpenuhi. Pada pembibitan pemuliaan saluran air untuk pembibitan utama dibuat dengan menggunakan pipa-pipa yang mengelilingi semua pembibitan dengan adanya penampungan air yang besar dan pompa air yang berkekuatan besar maka pemenuhan kebutuhan air dapat terpenuhi. Air berasal dari sungai disekitar pembibitan yang terlebih dahulu melewati saringan air pada pompa air, sehingga sampah tidak terbawa pipa-pipa saluran. Pipa-pipa besar dari penampungan air dihubungkan dengan pipa yang ukurannya lebih kecil. Kemudian pipa tersebut memiliki keran disetiap sudut yang terhubung dengan selang-selang air yang memiliki panjang meter untuk menjangkau semua area pembibitan yang berada pada sekitar keran air.
14 49 c. Persiapan media tanah Tanah yang digunakan adalah tanah top soil yang dicangkul disekitar area pembibitan utama. Pada pembibitan pemulian dalam kegiatan pengisian tanah setiap 1 HOK mampu mengisi 100 polibeg besar untuk pembibitan utama. Penulis hanya mampu mengisi 40 polibeg/ HOK. Pengisian dilakukan dengan memasukan tanah langsung kedalam polibeg dengan menggunakan cangkul atau tangan, tanah tidak disaring terlebih dahulu dan tanpa pencampuran kompos atau pasir. Rumputrumput dan sampah-sampah yang ikut masuk kedalam polobag dibersihkan. Sesekali polibeg dipukulkan dan digoncangkan untuk mrnghindari terbentuknya kantongan-kantongan air. 1-2 minggu sebelum tanam kantongan-kantongan tersebut harus disiram dengan air agar tanah tersebut turun dan tidak menggumpal. d. Pembuatan jarak tanam Pembibitan pemuliaan menggunakan jarak tanam 90 cm x 90 cm x 90 cm segitiga dapat menampung bibit/ha. Jarak tanaman tersebut memungkinkan bibit dapat dapat ditahan sampai umur 12 bulan. Hal ini sangat penting bagi pembibitan pemuliaan karena banyak bibit yang sudah lewat umur masih berada di pertanaman dikarenakan beberapa hal seperti : tidak tersedia lahan, penelitian belum selesai dilakukan, disimpan untuk sewaktu-waktu ada penyisipan untuk tanaman induk atau tanaman bapak, koleksi dan pengamatan lanjut sebelum bibit-bibit tersebut dimusnahkan. Pada awal sebelum penanaman bibit, polibeg disusun dua baris lurus dengan menggunakan tali kawat sebagai pembatas. Penggunaan dua baris ini dilakukan agar pemeliharaan bibit pada masa awal dapat mudah dilakukan dan menunggu bibit untuk adaptasi dengan lingkungan baru. Setelah satu bulan barulah bibit digeser untuk menmpati jarak tanam 90 cm x 90 cm x 90 cm. ini dilakukan dengan menggunakan kawat yang telah diberi pembatas 90 cm dan patok bambu-bambu berjarak 90 cm. tiap petak berisi lima baris dan tiap baris berisi bibit. Baris ke-6 dari setiap petak dikosongkan untuk jalan pemeliharaan.
15 50 e. Penanaman Sebelum melakukan penanaman kantongan disiram terlebih dahulu dengan air. Pembuatan lubang tanam bisa dilakukan dengan alat silinder plat besi, tangan atau menggebor tanah menggunakan selang yang airnya mengalir. Penggunaan silinder besi jarang dilakukan karena tidak menghemat waktu dan boros dalam penggunaan tenaga. Penggunaan tangan yang digabungkan dengan pengeboran menggunakan selang air adalah cara yang paling disukai karena mudah dan cepat. Lubang tanam dibuat sedalam ukuran polibeg pada pembibitan awal (10-12 cm diameter). Setelah lubang tanam dibuat, terlebih dahulu polibeg diberi identitas untuk menghindari tercampurnya persilangan lainnya. Pada saat penanaman diperlukan tenaga kerja yang cukup banyak karena dibagi menjadi beberapa bagian tugas seperti membuat lubang tanam dengan membor menggunakan selang air, membawa bibit dari pembibitan awal dan menyimpannya satu per satu pada polibeg besar, menulis identitas pada polibeg besar, membuka/merobek polibeg kecil dan menanamnya dan menyiram bibit yang baru selesai di tanam secara hatihati. Pada waktu merobek tanah harus dilakukan secara hati-hati agar akar tanah tidak pecah sehingga akar tidak terlalu stress menghadapi lingkungan yang baru. Letakan bibit tepat ditengah, bibit ditanam hingga sebatas leher akar dan tutup sampai benar-benar bibit tegak dan kuat. f. Penyiraman Penyiraman bibit pada pembibitan utama di pemuliaan dilakukan dengan menggunakan selang air yang terhubung dengan keran pada pipa air. Penyiraman dilakukan dua kali sehari pada pagi dan petang. Apabila turun hujan penyiraman tidak dilakukan. g. Pemupukan Pemupukan pada pembibitan utama dilakukan dengan menggunakan pupuk majemuk NPKMg yang diaplikasikan dengan menyebarkan disekitar kantongan tanpa mengenai batang dan daun. Setiap polibeg diberi satu genggam NPKMg majemuk. Interval pemupukan dan jumlah pupuk yang digunakan
16 51 tergantung pada umur bibit. Pemupukan pada pembibitan pemuliaan diberikan sesuai anjuran atau standar yang berlaku di PPKS. a b Gambar 8. Pemupukan Bibit Kelapa Sawit. (a) Bentuk Pupuk. (b) Cara Pemupukan di Pembibitan Utama. h. Pengendalian gulma Gulma dikendalikan dengan kored dan garu untuk wilayah disekitar kantong bibit dengan siklus 2-3 minggu dan mencabut diareal kantong dengan menggunakan tangan. Apabila dengan cara kimia bisa menggunakan herbisida pra tumbuh dan kemudian menggunakan herbisida purna tumbuh dengan siklus 3 bulan. Tinggi penyemprotan harus dibawah kantongan bibit agar tidak mengenai bibit. Jenis herbisida yang biasa digunakan adalah ametrin, simazin, dan diuron 2-2,5 kg dilarutkan dalam 500 liter air untuk 1ha. Pada pembibitan utama di pembibitan pemuliaan penggunaan herbisida jarang/tidak dilakukan karena sangat beresiko dan dapat menyebabkan abnormalitas apabila tidak digunakan secara hati-hati. i. Pengendalian OPT Pemeriksaan teratur perlu dilakukan dan setiap kejadian baru yang ditemukan segera di laporkan. Pemakaian sistem pengendalian perlu diperhatikan dengan benar. Hama yang paling sering menyerang adalah Apogonia sp. Dan Aderotus sp. Aktif memakan epidermis daun dan meninggalkan lubang-lubang. Bekerja mulai sore hari dan pada siang hari bersembunyi disemak-semak pembibitan. Penyakit yang sering menyerang adalah cendawan Rhizoctonia sp. dan Phytium sp. Terhadap masalah hama dan penyakit cara yang terbaik adalah pencegahan. Menciptakan kondisi yang tidak terlalu lembab dan menghilangkan sumber infeksi seperti dengan mengurangi naungan, memotong bagian yang sakit
17 52 atau tanaman yang telah terserang, pemusnahan atau pembakaran tanaman yang terkena gejala atau telah terserang, pengutipan hama, membebaskan tanah atau pelindung dari kemungkinan mengandung sumber infeksi. Pengamatan yang terus menerus dan teliti akan menghindari tanaman pada pembibitan utama dari serangan hama dan penyakit. Pada pembibitan pemuliaan penggunaan bahanbahan kimia tidak dianjurkan karena akan menggangu pertumbuhan tanaman yang diteliti persilangannya. Gambar 9. Penyemprotan Pestisida di Pembibitan Utama. j. Pemangkasan Pemangkasan dilakukan agar bibit terlihat bagus dan terawat. Selain itu pemangkasan sangat baik untuk peremajaan tanaman khususnya pada bagian daun dan sanitasi tanaman. Daun yang telah tua dan rusak perlu dipangkas agar energy yang ada pada daun terfokus untuk penumbuhan bakal daun (daun muda). Daun dipangkas dengan menggunakan gunting atau arit, buang daun-daun yang rusak atau terkena serangan hama karena akan menjadi tempat penyakit masuk. Buang daun dan sisakan pada bagian pangkal untuk menunjang daun muda tumbuh khususnya pada awal-awal bibit masuk ke pembibitan utama. k. Seleksi Seleksi pada pembibitan utama dilaksanakan pada saat bibit berumur 4 bulan, 8 bulan, dan saat akan dipindahkan kelapangan (12 bulan). Tetapi tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan seleksi pada saat ditemui bibit abnormal di luar waktu yang telah ditetapkan. Seleksi dilakukan dengan melakukan inspeksi pada setiap kelompok tanaman yang dipelihara. Pertumbuhan bibit abnormal akan sangat jelas pertumbuhan dan kanampakannya apabila diperhatikan dengan teliti
18 53 dan jelas. Apabila ciri-ciri abnormalitas sudah jelas maka bibit sudah bisa untuk diafkir karena bibit abnormal akan mengganggu pertumbuhan bibit lainnya dan untuk abnormalitas tertentu dapat menularkan ke bibit lainnya yang sehat dan jagur. Seleksi yang sangat ketat sangat dibutuhkan agar pada saat penanaman tidak tercampur bibit abnormal ke dalam bibit yang sehat dan normal. Pengetahuan symton atau tanda gejala abnormalitas bagi para petugas harus benar-benar dikuasai agar tidak terjadi kesalahan pada saat seleksi dan petugas mampu dengan cepat mengidentifikasi bibit-bibit yang abnormal. Penanganan yang teliti dan cepat akan mengurangi tingkat kesalahan pada saat seleksi bibit. Karena bibit yang ditanam merupakan investasi kedepannya. Gambar 10. Bibit Hasil Seleksi di Pembibitan Utama. Pada seleksi tahap pertama atau umur 4 bulan bibit pada pembibitan awal diperiksa dengan sangat ketat oleh 3 orang petugas. Tugas dari ketiga orang tersebut yakni satu orang sebagai pencatat dari kelompok persilangan mana dan berapa jumlah bibit yang menunjukan ciri-ciri abnormal, dua orang sisa berdiri di kedua sisi bedengan pada pembibitan awal untuk melihat dan mencari pada kedua sisi timur dan barat bibit-bibit yang menunjukan gejala abnormalitas. Pada tahap awal ini gejala abnormalitas belum terlalu jelas sehingga bibit yang dicurigai abnormal hanya ditandai dengan patok atau cat. Seleksi tahap kedua dilakukan pada bibit berumur 8 bulan. Sama seperti seleksi pertama dilakukan oleh tiga orang petugas yang pekerjaannya sama seperti pada seleksi pertama. Pada seleksi tahap kedua bibit yang sudah terseleksi pada tahap pertama diperiksa kembali apakah semakin jelas menampakan abnormalitasnya atau malah pulih dari gejala abnormalitas. Pada seleksi tahap
19 54 kedua sudah ada beberapa gejala abnormal yang telah terlihat untuk yang telah pasti abnormal bisa langsung di afkir dari pertanaman apalagi jika abnormalitasnya bisa menular ke tanaman lainnya seperti abnormalitas yang disebabkan oleh penyakit. Sedangkan untuk gejala abnormalitas yang masih kurang jelas masih bisa dibiarkan tumbuh di pertanaman karena kemungkinan untuk pulih masih ada. Pada seleksi tahap ketiga dengan jumlah petugas yang sama bibit yang telah ditandai diperiksa kembali kenampakan pertumbuhannya apakah masih menunjukan pertumbuhan abnormal atau malah pulih menjadi tanaman yang sehat dan normal. Untuk tanaman yang telah pasti abnormal dipisahkan dari pertanaman dan di afkir (dimusnahkan). Sedangkan bibit yang sehat dan normal sudah siap untuk dipindahkan ke lapang untuk ditanam. Pada setiap bibit yang abnormal dan afkir salah satu petugas yang bertugas mencatat harus memasukan data bibit abnormal dan jumlah bibit yang di afkir agar identitas bibit dan berita acara pemusnahan jelas tertulis di laporan. l. Pemusnahan Pemusnahan dilakukan pada sisa bibit yang tidak digunakan Pemusnahan merupakan kegiatan yang harus dilakukan agar sisa sisa tanaman penelitian dari berbagai persilangan tidak tercampur dan disalahgunakan. Selain itu pemusnahan dilakukan karena lahan akan digunakan kembali untuk tanaman yang akan diteliti selanjutnya. Beberapa kegiatan pemusnahan diantaranya adalah : pemotongan pangkal batang, pencincangan polibeg sisa pemotongan dan pembakaran. Bibit sisa maupun abnormal dimusnahkan dengan memotong pangkal batang atau 2-3 cm dibawah pangkal batang. Pemotongan dilakukan dengan menggunakan kapak, usahakan pemotongan tepat pada titik tumbuh agar tanaman benar-benar mati. Apabila tidak terpotong pada bagian titik tumbuh maka tanaman akan tumbuh kembali. Pemotongan dilakukan per kelompok persilangan agar teratur dan rapi. Pada setiap pemotongan disisakan 5-10 tanaman per kelompok persilangan sebagai sisa persilangan yang apabila sisa masih digunakan bisa digunakan. Pekerjaan dilakukan oleh semua pekerja, pembagiannya setiap pekerja berpasangan dimana satu orang memotong pangkal batang sedangkan satu orang
20 55 lagi membawa dan mengumpulkan hasil potongan. Setelah bibit terpotong kumpulkan sampah daun pada satu titik untuk selanjutnya dibakar sedangkan sampah polibeg dan tanah dibiarkan untuk selanjutnya dicincang. Mandor mencatat setiap persilangan dan jumlah bibit yang dimusnahkan. Polibeg sisa pemotongan dicincang untuk memisahkan sisa tanah dan akar di dalamnya. Polibeg dicincang dengan menggunakan kapak dengan membagi dua bagian kemudian bisa menginjaknya agar akar dan tanah yang berada di dalamnya keluar dari polibeg dan mudah untuk dipisahkan. Tanah bekas penanaman terdahulu yang terpisah dibiarkan tetap di pertanaman sedangkan akar dikumpulkan untuk dimusnahkan dan dibakar. Sampah hasil pemusnahan dibiarkan agar kering terkena sinar matahari. Setelah beberapa hari sampah dibakar pada suatu lahan yang kosong agar panas tidak mengenai bibit disekitarnya. Seleksi Bibit Seleksi bibit harus dilakukan pada pembibitan awal maupun pembibitan utama. Seleksi dilakukan agar didapat bibit-bibit yang sehat dan jagur. Pelaksanaan seleksi yang ketat menyebabkan tidak tercampurnya bibit-bibit abnormal pada masa transplanting ke pembibitan utama maupun pada pertanaman dilapangan. Pengamatan visual dan pengenalan symton (tanda-tanda) pada bibit akan memudahkan membedakan mana bibit yang sehat dan mana bibit yang tidak sehat (abnormal). Dalam seleksi bibit perkembangan vegetatif bibit diperhatikan kesesuaiannya dengan standar pertumbuhan bibit pada umumnya. Seleksi bibit dilakukan pada pembibitan awal dilakukan pada satu bulan pertama, dua bulan, 3-4 bulan atau sebelum pindah tanam. Sedangkan pada pembibitan utama dilakukan pada umur 4 bulan, 8 bulan dan 12 bulan atau saat pindah tanam ke lapang. Hasil Pada pengamatan seleksi kedua yang dilakukan pada tanaman kelapa sawit jenis Cameroon didapat bahwa abnormalitas tertinggi pada jenis Dura berada pada jenis 066 D dengan 21,05 % dikuti dengan 101 D, 092 D, 041 D dan 044D dengan nilai masing-masing 20,00 %, 16,67 %, 14,29 %
21 56 dan 13,04 %. Sedangkan tingkat abnormalitas terendah didapat pada 020 D dengan nilai 1,25%. untuk jenis Tenera yang memiliki tingkat abnormalitas tertinggi berada pada 074 T dengan nilai 7,14% dan terendah pada 102 T dengan nilai 7,02%. Data tingkat abnormalitas jenis Cameroon disajikan dalam Gambar 13. Dari Gambar 12 dapat diketahui persentase jenis abnormalitas pada Cameroon tipe DxD tertinggi pada jenis abnormalitas bibit tegak (Sterile/baren) dengan persentase 0,50 %, sedangkan jenis abnormalitas terendah adalah anak daun melebar dan memendek serta etiolasi dengan nilai 0,04 %. Hal ini terlihat pada Gambar 12. % Abnormalitas Keterangan : ADJ (anak daun jarang), ADR (anak daun rapat), CD (Crown Desease), ADMM (anak daun melebar`dan memendek) Gambar 11. Persentase Abnormalitas Pada Cameroon Tipe DxD Untuk tipe TxT abnormalitas tertinggi ada pada jenis abnormalitas etiolasi dan crown desease dengan nilai 0,07% sedangakan yang terendah adalah pertumbuhan terhambat dan anak daun rapat dengan nilai 0,03 %. Hal ini terlihat pada Gambar 13. % abnormalitas terhambat etiolasi ADR CD Keterangan : ADR (anak daun rapat), CD (Crown Desease) Gambar 12. Persentase Abnormalitas Pada Cameroon tipe TxT
22 Gambar 13. Persentase Tingkat Abnormalitas pada Bibit Cameroon 57
23 58 Tingkat abnormalitas pada setiap jenis abnormalitas 1. Penyakit tajuk Pengamatan bibit yang terkena penyakit tajuk pada Cameroon didapat bahwa tingkat abnormalitas tertinggi ada pada 041 D dengan nilai 7,14 %. Hal ini terlihat dalam Gambar 14. Persentase (%) D 059 D 099 D 074 T Bag code Gambar 14. Persentase Crown Desease pada Bibit Cameroon 2. Kerdil (Stunted) Pengamatan tingkat abnormalitas tertinggi untuk bibit yang kerdil berada pada 029 D dengan nilai 3,03 %. Dapat dilihat pada Gambar 15. Persentase (%) D 044 D Bag code Gambar 15. Persentase Kerdil pada Bibit Cameroon 3. Bibit tegak (sterile/baren) Pengamatan pada Cameroon menunjukan bahwa persentase bibit tegak tertinggi berada pada 101 D dengan nilai 20 %. Persentase bibit tegak ini dapat dilihat pada Gambar 16.
24 59 25 Persentase (%) D 018 D 029 D 035 D 037 D 044 D Bag code 066 D 086 D Gambar 16. Persentase Bibit Tegak pada Cameroon 092 D 101 D 4. Pertumbuhan terhambat Pada pengamatan di Cameroon didapat bahwa jenis Cameroon yang memiliki tingkat abnormalitas tertinggi pada pertumbuhan terhambat berada pada 072 D dengan nilai 7,41 %. Persentase bibit tegak ini dapat dilihat pada Gambar 17. persentase D 021 D 041 D 044 D 049 D 050 D Bag code 072 D 080 D 087 D Gambar 17. Persentase Bibit Terhambat pada Cameroon 099 D 074 T 5. Anak daun rapat Pengamatan abnormalitas anak daun rapat pada Cameroon didapat bahwa 008 D memiliki persentase terbesar dalam tingkat abnormalitas dengan nilai 7,69 %.
25 60 10 Persentase (%) D 029 D 033 D 036 D 041 D 045 D 078 D 090 D 102 T Bag code Gambar 18. Persentase Anak Daun Rapat pada Bibit Cameroon 6. Anak daun jarang (Wide internode) Pengamatan tingkat abnormalitas pada anak daun jarang di Cameroon didapat bahwa persentase tertinggi ada pada 006 D dengan nilai 5,26 %. Dapat dilihat pada Gambar Persentase (%) D 066 D bag code Gambar 19. Persentase Anak Daun Jarang pada Cameroon 7. Etiolasi Pengamatan menunjukan bahwa persentase tertinggi bibit abnormal etiolasi pada Cameroon tertinggi berada pada 074 D dengan nilai 3,57%. Dapat dilihat pada Gambar 20.
26 61 Persentase (%) D 102 T 074 T Bag code Gambar 20. Persentase Etiolasi pada Cameroon Pengaruh Ukuran dan Jenis Polibeg Terhadap Keragaan Tumbuh dan Efisiensi di Pre Nursery Tingginya pertumbuhan dan perkembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia menyebabkan semakin tingginya minat masyarakat untuk membuka perkebunan kelapa sawit, hal ini menyebabkan semakin banyak lahan yang digunakan untuk perkebunan kelapa sawit. Tingginya konversi lahan manjadi kelapa sawit menyebabkan semakin sedikitnya ketersediaan lahan serta tanah. Efisiensi dan efektivitas dalam penggunaan lahan dan tanah sangat diperlukan agar lahan tidak digunakan secara sia-sia. Areal pembibitan kelapa sawit merupakan tempat dimana lahan dan tanah harus digunakan seefisien dan seefektif mungkin. Hal ini terjadi karena pada areal pembibitan yang memiliki luasan sekitar 1 1,5 % dari seluruh luasan pertanaman harus mampu menampung semua bibit yang diperlukan untuk pertanaman keseluruhan. Selain itu ketersediaan media tanam (top soil) di pembibitan harus tersedia baik untuk keperluan pre nursery maupun main nursery. Syarat media tumbuh yang baik adalah ringan, murah, mudah didapat, porus (gembur) dan subur (kaya unsur hara). Penggunaan media tumbuh yang tepat akan menentukan pertumbuhan optimum bibit yang ditangkarkan. Pada budidaya kelapa sawit tanah yang umum di gunakan adalah top soil. Penggunaan media tanah top soil yang terus-menerus menyebabkan semakin berkurang dan hilangnya top soil yang ada pada areal pembibitan yang akan menyebabkan
27 62 kurang optimumnya pertumbuhan bibit kelapa sawit. Penggunaan tanah top soil yang bijak akan mempertahankan ketersediaan top soil. Penggunaan wadah media tanam yang tepat akan mengurangi pemborosan pada penggunaan tanah (top soil) di pembibitan sehingga tanah yang digunakan akan efisien dan mampu memenuhi kebutuhan top soil di pembibitan. Jenis wadah media tanam yang umum digunakan di pembibitan yakni polibeg. Pemilihan polibeg sebagai wadah tanam untuk budidaya dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dimilikinya seperti: harga murah, tahan karat, tahan lama, ringan bentuk seragam, tidak cepat kotor dan mudah diperoleh pada toko Saprodi, toko Plastik. Selain itu haruslah sangat baik untuk drainase dan aerasi sehingga tanaman dapat tumbuh subur seperti dilahan. Penentuan ukuran Polibeg yang cocok untuk pertumbuhan tanaman diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam penggunaan media dan nutrisi (Rahman, 2008). Meningkatanya permintaan akan bibit sawit menyebabkan ketersediaan media dan wadah tanam harus selalu siap dalam waktu yang cepat. Hal ini akan menyebabkan semakin tingginya harga wadah media tanam yang digunakan khususnya polibeg, ini akan menjadi sangat berat bagi perusahaan sawit apalagi para petani kecil kelapa sawit. Penggantian jenis dan ukuran polibeg dari yang standar atau biasa digunakan diharapkan mampu mengurangi masalah tersebut. Hasil 1. Rekapitulasi hasil sidik ragam Hasil sidik ragam menunjukan bahwa penggunaan jenis dan ukuran polibeg yang berbeda berpengaruh nyata terhadap peubah jumlah daun (5 MST) dan berpengaruh sangat nyata (pada 10, 11, dan 12 MST) ada pada, untuk tinggi berpengaruh nyata (pada 5, 7, dan 12 MST) dan berpengaruh sangat nyata (pada 6, 8, 9, 10, dan 11 MST), sedangkan diameter berpengaruh nyata (7 MST) dan berpengaruh sangat nyata (pada 10, 11 dan 12 MST). Varietas berpengaruh nyata terhadap jumlah daun (pada 6, 9, dan 10 MST) dan berpengaruh sangat nyata (pada 5, 7, 11, dan 12 MST), terhadap tinggi varietas berpengaruh sangat nyata (4-10 MST), sedangkan terhadap diameter varietas berpengaruh sangat nyata (5-12 MST). Rekapitulasi Uji F disajikan dalam Tabel 5.
28 63 Tabel 5. Rekapitulasi Uji F Peubah Periode Pengamatan (MST) Polibeg (P) Varietas (V) Interaksi P&V Jumlah Daun 4 tn tn tn 6.9 KK 5 * ** tn tn * tn tn ** tn tn tn tn tn * tn ** * tn ** ** tn ** ** tn 6.51 Tinggi 4 tn ** tn * ** tn ** ** tn * ** tn ** ** tn ** ** tn ** ** tn ** tn * * tn * 5.51 Diameter 4 tn tn tn tn ** tn tn ** tn * ** tn tn ** tn tn ** tn ** ** tn ** ** tn ** ** tn 9.44 Keterangan : P&V : Interaksi perlakuan dan varietas * : Berpengaruh nyata pada uji F taraf 5 % ** : Berpengaruh sangat nyata pada uji F taraf 1% tn : Tidak nyata
29 64 Informasi sidik ragam terhadap jumlah daun, tinggi dan diameter adaa pada Lampiran Persen tumbuh Hasil pada diagram persen tumbuh menunjukan bahwaa Persen tumbuh pada 2 MST rata-rata tertinggi pada P2 pada varietas Simalungun dengann nilai 100%, P3 pada varietas Langkat dengann 96 % dan P1 dan P3 pada varietas Yangambi masing-masing 98,67%. Sedangkan terendah pada P4 untuk semua varietas dengan nilai masing-masing 82,67%, 66,67% dan 73,33%. Pada 3 MST tertinggi P2, P3 dan P4 pada Simalungunn dengan nilai 100%, P1 dan P3 pada langkat dengan nilai 97,33% dan P0 dan P3 pada Yangambi dengan nilai 100%. Sedangkann terendah P0 dan P1 pada Simalungun dengan nilai 97.33%, P0 pada Langkat dengan nilaii 93,33%, P4 pada Yangambi dengan nilai 96%. Pada 4 MST persen tumbuh tertinggi pada P2, P3 dan P4 pada Simalungun dengan nilai 100%, P3 pada Langkat dengan 98,67%, P0, P1 dan P3 pada Yangambi dengann nilai 100%. Sedangkan terendah pada P1 dengan 97,33% %, P0 dan P4 pada langkat dengan nilai 96% dan P4 pada yangambi dengan nilai 97,33%. Dari data tersebut pada 3 dan 4 MST ada peningkatan signifikan padaa persen tumbuh P4 dapat dilihat pada Gambar % Tumbuh P0 P1 P SM SM SM LTC LTC LTC YNG YNG YNG P3 P4 2 MST 3MST 4 MST 2 MST 3MST 4 MST 2 MST 3MST 4 MST Varietas dan Waktu Gambar 21. Persentase Tumbuh Bibit
30 65 3. Pengaruh penggunaan jenis dan ukuran polibeg, varietas dan interaksi polibeg dengan varietas terhadap peubah pertumbuhan bibit Tabel 6 menunjukan bahwa polibeg berpengaruh nyata terhadap peubah pertumbuhan, kecuali pada jumlah daun umur 4, 6, 7, 8 dan 9 MST, tinggi bibit pada umur 4 MST dan diameter bibit pada umur 4, 5, 6, 8 dan 9 MST tidak berpengaruh nyata. Tabel 6. Pengaruh Jenis Polibeg Terhadap Jumlah Daun, Tinggi Bibit dan Diameter Batang Peubah Umur Uji F Polibeg P0 P1 P2 P3 P4 Jumlah Daun 4 tn * 1.28a 1.29a 1.29a 1.11b 1.11b 6 tn tn tn tn ** 2.40a 2.27ab 2.14b 1.99c 1.98c 11 ** 2.75a 2.57b 2.51b 2.27c 2.02d 12 ** 2.99a 2.89a 2.85a 2.63b 2.34c Tinggi 4 tn * 7.76bc 8.12b 7.84bc 7.50c 8.71a 6 ** 9.71bc 9.91b 9.71bc 9.26c 10.76a 7 * 11.36b 11.50b 11.75ab 10.55c 12.33a 8 ** 12.42b 12.35b 12.79ab 11.25c 13.53a 9 ** 14.79a 14.57a 14.62a 12.61b 14.69a 10 ** 16.62a 16.57a 16.33a 14.26b 15.91a 11 ** 17.45a 17.47a 17.45a 15.50b 17.15a 12 * 17.97a 18.11a 18.21a 16.53b 18.35a Diameter 4 tn tn tn * 0.46a 0.41b 0.41b 0.42b 0.41b 8 tn tn ** 0.56a 0.50b 0.51b 0.49b 0.42c 11 ** 0.58a 0.54b 0.53b 0.51b 0.45c 12 ** 0.60a 0.56a 0.57a 0.56a 0.48b Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%.
31 66 Tabel 7 menunjukan bahwa varietas berpengaruh nyata terhadap peubah pertumbuhan, kecuali pada jumlah daun umur bibit 4 dan 8 MST, tinggi bibit umur 11 dan 12 MST dan diameter umur bibit 4 MST. Tabel 7. Pengaruh Varietas Terhadap Jumlah Daun, Tinggi Bibit dan Diameter Batang Peubah Varietas Umur Uji F (MST) Simalungun Langkat Yangambi Jumlah Daun 4 tn ** 1.34a 1.22b 1.15b 6 * 1.67a 1.55b 1.55b 7 ** 1.91a 1.83b 1.77b 8 tn * 2.04ab 2.07a 1.98b 10 * 2.22a 2.19a 2.06b 11 ** 2.59a 2.49a 2.19b 12 ** 2.82a 2.86a 2.55b Tinggi 4 ** 7.75a 7.14b 5.95c 5 ** 8.64a 8.21b 7.10c 6 ** 10.27a 10.12a 9.23b 7 ** 12.04a 11.77a 10.68b 8 ** 13.12a 12.70a 11.59b 9 ** 14.97a 14.28ab 13.53b 10 ** 16.55a 15.95ab 15.32b 11 tn 17.24a 17.10a 16.67a 12 tn Diameter 4 tn ** 0.40a 0.39a 0.36b 6 ** 0.42a 0.41a 0.36b 7 ** 0.45a 0.43a 0.39b 8 ** 0.450a 0.450a 0.390b 9 ** 0.47a 0.46a 0.39b 10 ** 0.52a 0.52a 0.44b 11 ** 0.56a 0.55a 0.45b 12 ** 0.58a 0.61a 0.48b Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%. a. Jumlah daun Tabel 8 menunjukan jumlah daun perlakuan berpengaruh nyata (pada MST) dan tidak berbeda nyata (pada 4-9 MST). Jumlah daun berpengaruh
32 67 terhadap varietas namun tidak berbeda nyata (pada 4 dan 8 MST). Jumlah daun semakin meningkat dengan dengan semakin meningkatnya umur. Jumlah daun yang terbesar dari semua perlakuan pada 9 MST adalah varietas Langkat pada P0 yaitu 2.23 helai yang tidak berbeda nyata dengan P0 pada varietas Simalungun. Pada umur 12 MST, jumlah daun terbesar adalah varietas Langkat pada perlakuan P0 yaitu 3.20 helai daun yang tidak berbeda nyata terhadap P1 dan P2 pada varietas yang sama dan P0, P1 dan P2 pada varietas Simalungun. b. Tinggi Tabel 9 menunjukan tinggi perlakuan berpengaruh (pada 5-12 MST) namun tidak berpengaruh nyata pada 4 MST. Tinggi berpengaruh sangat nyata (pada 4-10 MST) namun tidak berbeda nyata (pada 11 dan 12 MST). Tinggi bibit semakin meningkat seiring dengan semakin meningkatnya umur bibit. Tinggi bibit tertinggi pada umur 9 MST dari semua perlakuan adalah varietas Simalungun pada P4 yaitu cm yang tidak berbeda nyata dengan P1 dan P2 pada varietas yang sama dan P0 pada varietas Langkat. Pada umur 12 MST tinggi tertinggi adalah varietas Simalungun pada perlakuan P4 yaitu 19,73 cm yang tidak berbeda nyata terhadap P1 dan P2 pada varietas yang sama, P0, P1 dan P2 pada varietas Langkat dan P0, P1, P2, dan P4 pada varietas Yangambi. c. Diameter Tabel 10 menunjukan diameter perlakuan berpengaruh sangat nyata (pada MST) namun tidak berpengaruh nyata (pada 4-9 MST). Diameter berpengaruh sangat nyata (pada 5-12 MST) namun tidak berbeda nyata pada 4 MST. Diameter bibit semakin meningkat seiring dengan semakin meningkatnya umur bibit. Diameter bibit tertinggi pada semua perlakuan pada umur 7 MST adalah varietas Langkat pada perlakuan P0 yaitu 0.48 cm yang tidak berbeda nyata dengan P0, P2 dan P4 pada varietas Simalungun. Pada umur 12 MST diameter tertinggi untuk semua perlakuan adalah varietas Langkat pada perlakuan P3 yaitu 0,67 cm yang tidak berbeda nyata terhadap P0, P1 dan P2 pada varietas yang sama dan P0, P1 dan P2 pada varietas Simalungun.
33 68 Tabel 8. Interaksi Jenis Polibeg dan Varietas Terhadap Jumlah Daun. Jenis Polibeg Umur (MST) helai. Simalungun a 1.37ab 1.70ab 1.97a 1.93a 2.17ab 2.53a 2.93a 3.10ab a 1.37ab 1.63ab 1.87ab 1.87a 2.10abc 2.33ab 2.83abc 2.97abc a 1.37ab 1.67ab 1.93ab 1.93a 2.00bcd 2.20bcd 2.77abc 2.93abc a 1.20abcde 1.57abcd 1.83ab 1.90a 1.93cd 1.97de 2.37defg 2.60cd a 1.40a 1.77a 1.97a 2.00a 2.00bcd 2.07bcde 2.07hi 2.50d Langkat a 1.30abc 1.67ab 1.93ab 1.93a 2.23a 2.50a 2.87ab 3.20a a 1.33ab 1.70ab 1.93ab 1.93a 2.10abc 2.30abc 2.63bcd 2.97abc a 1.20abcde 1.53abcd 1.80ab 1.90a 2.03abcd 2.13bcde 2.57cde 2.90abc a 1.03de 1.37cd 1.77ab 1.93a 2.00bcd 2.00cde 2.30efgh 2.80bcd a 1.23abcd 1.47bcd 1.70b 1.83a 2.00bcd 2.00cde 2.10ghi 2.43de Yangambi a 1.17bcde 1.60abc 1.77ab 1.83a 2.07abcd 2.17bcde 2.47def 2.67cd a 1.17bcde 1.60abc 1.73ab 1.93a 2.00bcd 2.17bcde 2.23fgh 2.73bcd a 1.30abc 1.73ab 1.73ab 1.83a 1.97bcd 2.10bcde 2.20fgh 2.73bcd a 1.10cde 1.47bcd 1.80ab 1.93a 2.00bcd 2.00cde 2.13ghi 2.50d a 1.00e 1.33d 1.83ab 1.83a 1.87d 1.87e 1.90i 2.10e Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%. 68
34 69 Tabel 9. Interaksi Jenis Polibeg dan Varietas Terhadap Tinggi Jenis Polibeg Umur (MST) cm. Simalungun bc 9.90bcde 11.47bc 12.57bcd 14.66abc 16.29abcd 16.85bc 17.03bc b 10.43abc 12.17ab 13.05bcd 15.00ab 16.77abc 17.13abc 17.81ab bc 9.87bcde 12.19ab 13.36abc 15.36ab 16.94ab 17.67ab 18.42ab bc 9.78bcde 11.11bc 11.90bcd 13.44bc 15.12cd 15.95c 16.81bc a 11.38a 13.25a 14.71a 16.37a 17.61a 18.63a 19.73a Langkat bc 9.83bcde 11.56bc 12.74bcd 15.09ab 16.76abc 17.72ab 18.63ab bc 10.07bcde 11.75bc 12.61bcd 14.79abc 16.91ab 17.77ab 18.25ab bc 10.27bcd 12.13ab 12.85bcd 14.36bc 16.23abcd 17.55abc 18.17ab cd 9.73bcde 11.05bc 11.79cd 12.93cd 14.83d 16.26bc 17.44b bc 10.71ab 12.40ab 13.52ab 14.21bc 15.05cd 16.20bc 17.07bc Yangambi de 9.41cde 11.05bc 11.96bcd 14.61abc 16.81abc 17.79ab 18.25ab de 9.24def 10.57cd 11.41de 13.93bc 16.05abcd 17.51abc 18.27ab de 9.01ef 10.92bc 12.16bcd 14.15bc 15.83bcd 17.12abc 18.03ab e 8.28f 9.51d 10.01e 11.47d 12.83e 14.27d 15.35c cd 10.20bcd 11.34bc 12.37bcd 13.49bc 15.08cd 16.63bc 18.23ab Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%. 69
35 70 Tabel 10. Interaksi Jenis Polibeg dan Varietas Terhadap Diameter Umur (MST) Jenis Polibeg cm. Simalungun a ab 0.60ab 0.64ab abcd bcde 0.59abc 0.58abc a abc 0.60ab 0.63ab abc de 0.51cde 0.56bcd ab e 0.50cde 0.49def Langkat a a 0.62a 0.64ab abcd bcde 0.56abcd 0.59abc bcd bcde 0.56abcd 0.60abc abcd abcd 0.57abc 0.67a abc e 0.47de 0.53cde Yangambi abc cde 0.52bcde 0.52cde de de 0.47de 0.52cde de de 0.44ef 0.48def cd e 0.45ef 0.46ef e f 0.37f 0.41f Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukan hasil yang tidak berbeda nyata berdasarkan uji DMRT pada taraf 5%. 70
36 71 4. Bentuk akar Hasil pengamatan menunjukan bentuk akar yang berbeda pada setiap perlakuan. Perlakuan P0 memiliki akar yang paling besar dan kekar. Bentuk akar dipengaruhi oleh bentuk polibeg semakin besar polibeg berarti akan semakin besar dan banyak akar yang terbentuk. Bentuk dan jumlah akar semakin mengecil seiring dengan semakin kecilnya polibeg. Perlakuan P3 dengan plastik aqua menyebabkan akar kecil dan panjang menggulung pada bagian dasar gelas. Hal ini diakibatkan oleh lubang yang kurang pada dasar plastik tersebut sehingga akar sulit berkembang. Apabila lubang ditambah pada dasar plastik kekuatan menyimpan air polibeg semakin rendah sehingga kondisi media dalam polibeg akan cepat kering. Perlakuan P4 menyebabkan ukuran akar yang kecil dikarenakan ruang tumbuh yang semakin kecil akar sulit berkembang. Jemis tanah yang digunakan adalah podzolik. Hal ini bisa dilihat pada Gambar 22. a b c d e Gambar 22. Bentuk Akar pada Setiap Perlakuan: (a) Perlakuan PO, (b) Perlakuan P1, (c) Perlakuan P2, (d) Perlakuan P3, dan (e) Perlakuan P4 5. Hasil Seleksi Bibit Pada pengamatan hasil seleksi bibit didapat bahwa persentasi abnormalitas tertinggi pada varietas simalungun adalah perlakuan P1 dengan 0,07 % sedangkan abnormalitas terendah ada pada perlakuan P4 dengan nilai 0,01 %. Jumlah bibit atau kecambah mati tertinggi ada pada perlakuan P0 dengan nilai 0,01 %. Dapat dilihat dalam Gambar 23.
37 72 Persentase (%) SMB Abnormal SMB Mati P0 P1 P2 P3 P4 Gambar 23. Persentase Abnormalitas dan Bibit/Kecambah Mati pada Simalungun Pada varietas Langkat persentasi abnormalitas tertinggi didapat pada perlakuan P0, P1 dan P4 dengan nilai 0,03 % dan terendah pada perlakuan P3 dengan 0 %. Untuk tingkat kematian perlakuan P2 dan P4 memiliki persen kematian tertinggi dengan nilai 0,04 % sedangkan terendah ada pada perlakuan P3 dengan nilai 0,01 %. Dapat dilihat dalam Gambar 24. Persentase (%) P0 P1 P2 P3 P4 LTC Abnormal LTC Mati Gambar 24. Persentase Abnormalitas dan Bibit/Kecambah Mati pada Langkat Pada varietas Yangambi persentasi abnormalitas tertinggi didapat pada perlakuan P4 dengan nilai 0,01 % dan terendah pada perlakuan P0, P1 dan P3 dengan 0 %. Untuk tingkat kematian perlakuan P2 memiliki persen kematian tertinggi dengan nilai 0,04 % sedangkan terendah ada pada perlakuan P0 dan P3 dengan nilai 0 %. Dapat dilihat dalam Gambar 25.
38 73 Persentase (%) P0 P1 P2 P3 P4 YNG Abnormal YNG Mati Gambar 25. Persentasi Abnormalitas dan Bibit/Kecambah Mati pada Yangambi 6. Efisiensi Penggunaan Ukuran dan Jenis Polibeg a. Waktu Tabel 11 menunjukan perlakuan P3 dapat mempercepat waktu pengisian polibeg dengan nilai tertinggi yakni polibeg/hk (8 jam). Sedangkan perlakuan P4 adalah yang terendah dengan nilai buah polibeg/hk (8 jam). Tabel 11. Efisiensi Pengisian Polibeg/HK (8 jam) Perlakuan Jumlah Polibeg/ HK P P P P P b. Luas Dari Tabel 12 dapat dilihat bahwa efisiensi luas terbaik ada pada perlakuan P4 dengan jumlah bibit/luas bedengan (8 x 1.2 m). Efisiensi luas yang paling rendah pada perlakuan P0 dengan nilai 1333/luas bedengan (8 x 1,2 m). Tabel 12. Efisiensi Luas Per Bedengan 8 m x 1,2 m Perlakuan Luas Yang Terpakai (m²) Jumlah Bibit/bedengan P P P P P
39 74 c. Harga Dari Tabel 13 dapat dilihat bahwa kebutuhan biaya paling rendah untuk polibeg adalah perlakuan P2 dan P4 yaitu Rp Sedangkan perlakuan yang biayanya tertinggi adalah perlakuan P3 yaitu Rp Tabel 13. Efisiensi Harga/ Kebutuhan No Nama Barang Harga Satuan Volume Jumlah Harga 1 P3 Gelas Aqua Rp 7000/100 buah 3 Rp P0 22 x 14 Rp 16000/kg 1 Rp P1 18 x 9.5 Rp /kg 0,5 Rp P2 15x5 Rp /kg 0,25 Rp P4 13x6 Rp /kg 0,25 Rp 6.000
METODE MAGANG. Tempat dan Waktu
10 METODE MAGANG Tempat dan Waktu Kegiatan magang dilaksanakan di Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Unit Usaha Marihat, Provinsi Sumatera Utara selama 4 bulan yang dimulai dari tanggal 1 Maret 2010
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau, Jalan Bina Widya Km 12,5 Kelurahan Simpang Baru Kecamatan Tampan Kota
II. TINJAUAN PUSTAKA. Kelapa sawit termasuk sebagai tanaman monokotil, mempunyai akar serabut.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Dan Morfologi Kelapa Sawit 1. Akar Kelapa sawit termasuk sebagai tanaman monokotil, mempunyai akar serabut. Akar pertama yang muncul dari biji yang berkecambah disebut radikula
Tujuan Pembibitan Pemuliaan dan Capaian Pembibitan
75 PEMBAHASAN Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) sebagai suatu institusi yang menghasilkan benih kelapa sawit unggul mampu menjadi produsen dan penyalur benih kelapa sawit terbesar di Indonesia. Untuk
TINJAUAN PUSTAKA. Botani Kelapa Sawit
3 TINJAUAN PUSTAKA Botani Kelapa Sawit Kelapa sawit adalah tanaman perkebunan/industri berupa pohon batang lurus dari famili Arecaceae. Tanaman tropis ini dikenal sebagai penghasil minyak sayur yang berasal
Peluang Usaha Budidaya Cabai?
Sambal Aseli Pedasnya Peluang Usaha Budidaya Cabai? Tanaman cabai dapat tumbuh di wilayah Indonesia dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Peluang pasar besar dan luas dengan rata-rata konsumsi cabai
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate,
PEMBAHASAN. Posisi PPKS sebagai Sumber Benih di Indonesia
57 PEMBAHASAN Posisi PPKS sebagai Sumber Benih di Indonesia Hasil pertemuan yang dilakukan pengusaha sumber benih kelapa sawit yang dipimpin oleh Direktur Jenderal Perkebunan pada tanggal 12 Februari 2010,
Lampiran 1. Jurnal Mingguan Kegiatan Magang PPKS Marihat
LAMPIRAN 71 72 Lampiran 1. Jurnal Mingguan Kegiatan Magang PPKS Marihat No Tanggal Uraian Kegiatan Divisi/ Lokasi Pembimbing 1 01/03/10-05/03/10 Tiba di PPKS Marihat, Sumatera Utara. Penjelasan mengenai
III. MATERI DAN METODE
III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang beralamat di Jl. H.R.
m. BAHAN DAN METODE Penelitian ini telah dilaksanakan di kebun percobaan Fakuteis Pertanian
m. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di kebun percobaan Fakuteis Pertanian Universitas Riau, Kampus BinaWidya Km 12,5 Kelurahan Simpang Baru, Kecamatan Tampan Pekanbaru,
III. MATERI DAN METODE
III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, Jalan H.R. Soebrantas No.
III. METODE PENELITIAN. Medan Area yang berlokasi di jalan kolam No.1 Medan Estate, Kecamatan Percut
III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan kolam No.1 Medan Estate, Kecamatan Percut
Cara Menanam Tomat Dalam Polybag
Cara Menanam Tomat Dalam Polybag Pendahuluan Tomat dikategorikan sebagai sayuran, meskipun mempunyai struktur buah. Tanaman ini bisa tumbuh baik didataran rendah maupun tinggi mulai dari 0-1500 meter dpl,
III. BAHAN DAN METODE
III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lahan pertanian milik masyarakat Jl. Swadaya. Desa Sidodadi, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatra
III. METODE PENELITIAN. Kecamatan Medan Percut Sei Tuan dengan ketinggian tempat kira-kira 12 m dpl,
III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di Jl. Kolam No.1 Medan Estate Kecamatan Medan Percut
III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR
20 III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Kenteng Rt 08 Rw 02, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian
14 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung Gedung Meneng, Kecamatan raja basa, Bandar Lampung
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sistem Pembibitan Kelapa Sawit Pembibitan merupakan awal kegiatan lapangan yang harus dimulai setahun sebelum penanaman di lapangan. Waktu yang relatif lama ini sangat memegang
TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan, Laboratorium Penelitian
III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan, Laboratorium Penelitian dan Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian
III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan
III. BAHAN DAN METODE. laut, dengan topografi datar. Penelitian dilakukan mulai bulan Mei 2015 sampai
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian III. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan Percut
PELAKSANAAN PENELITIAN
PELAKSANAAN PENELITIAN Persiapan Lahan Disiapkan lahan dengan panjang 21 m dan lebar 12 m yang kemudian dibersihkan dari gulma. Dalam persiapan lahan dilakukan pembuatan plot dengan 4 baris petakan dan
TATA CARA PENELITIN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. B. Bahan dan Alat Penelitian
III. TATA CARA PENELITIN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilakukan di areal perkebunan kelapa sawit rakyat di Kecamatan Kualuh Hilir Kabupaten Labuhanbatu Utara, Provinsi Sumatera Utara.
PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1
PEMBUATAN BAHAN TANAM UNGGUL KAKAO HIBRIDA F1 Wahyu Asrining Cahyowati, A.Md (PBT Terampil Pelaksana) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya I. Pendahuluan Tanaman kakao merupakan
BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Desa Manjung, Kecamatan Sawit, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Kecamatan Sawit memiliki ketinggian tempat 150 m dpl. Penelitian ini dilaksanakan
III BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan. Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012.
III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012. 3.2 Bahan dan alat Bahan
Ukuran Plot: 50 cm x 50 cm
Lampiran 1. Bagan dan Plot Penelitian 1 2 3 a U b L 1 M 0 L 1 M 2 L 2 M 1 L 3 M 0 L 3 M 2 L 3 M 0 a = 40 cm (jarak antar blok) L 2 M 0 L 2 M 2 L 0 M 2 S b = 20 cm (jarak antar plot) L 0 M 1 L 3 M 0 L 3
III. TATA LAKSANA TUGAS AKHIR
16 III. TATA LAKSANA TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Tugas Akhir Kegiatan Tugas Akhir dilaksanakan di Banaran RT 4 RW 10, Kelurahan Wonoboyo, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. B. Waktu
I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung.
I. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2010 sampai dengan panen sekitar
TEKNIS BUDIDAYA TEMBAKAU
TEKNIS BUDIDAYA TEMBAKAU ( Nicotiana tabacum L. ) Oleh Murhawi ( Pengawas Benih Tanaman Ahli Madya ) Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya A. Pendahuluan Penanam dan penggunaan
Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah. Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat
Teknik Budidaya Kubis Dataran Rendah Oleh : Juwariyah BP3K garum 1. Syarat Tumbuh Untuk membudidayakan tanaman kubis diperlukan suatu tinjauan syarat tumbuh yang sesuai tanaman ini. Syarat tumbuh tanaman
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan gambut Desa Rimbo Panjang
III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di lahan gambut Desa Rimbo Panjang Kecamatan Kampar dengan ketinggian tempat 10 meter di atas permukaan laut selama 5 bulan,
III. BAHAN DAN METODE. Universitas Lampung pada titik koordinat LS dan BT
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada titik koordinat 5 22 10 LS dan 105 14 38 BT
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas
16 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada di lahan sawah milik warga di Desa Candimas Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan. Penelitian ini dilakukan
MATERI DAN METODE. Riau Jalan H.R Subrantas Km 15 Simpang Baru Panam. Penelitian ini berlangsung
III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Agronomi dan di lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
III.TATA CARA PENELITIAN
III.TATA CARA PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan November 2015 sampai bulan Maret 2016 di Green House dan Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No.1 Medan Estate, Kecamatan
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1. Waktu Dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No.1 Medan Estate,
III. BAHAN DAN METODE
III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah di laksanakan di Rumah Kaca Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Jalan Bina Widya KM 12,5 Simpang Baru Kecamatan Tampan Pekanbaru yang berada
III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian
III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 7 bulan pada bulan Mei sampai bulan Desember 2015 di kebun salak Tapansari, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Salak yang
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada 5 o 22 10 LS dan 105 o 14 38 BT dengan ketinggian
Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.
Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya. Penyiangan Penyiangan terhadap gulma dilakukan
Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk
Standar Nasional Indonesia Penanganan bibit jati (Tectona grandis Linn. f.) dengan perbanyakan stek pucuk ICS 65.020.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup...
BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR
13 BAB III TATALAKSANA TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir dilaksanakan di Dusun Kwojo Wetan, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. B. Waktu Pelaksanaan
Pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan yaitu dengan menutup atau mengolesi luka bekas pengambilan anakan dengan tanah atau insektisida,
PEMBAHASAN PT National Sago Prima saat ini merupakan perusahaan satu-satunya yang bergerak dalam bidang pengusahaan perkebunan sagu di Indonesia. Pengusahaan sagu masih berada dibawah dinas kehutanan karena
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Bahan dan Alat Metode Penelitian
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di dua tempat, yaitu pembibitan di Kebun Percobaan Leuwikopo Institut Pertanian Bogor, Darmaga, Bogor, dan penanaman dilakukan di
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan
15 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran, dari bulan Oktober 2011 sampai dengan April 2012. 3.2
BAB III METODE PENELITIAN. dilakukan dengan memberi perlakuan (treatment) terhadap objek. penelitian serta adanya kontrol penelitian.
31 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini jenis penelitian eksperimen, yaitu penelitian yang dilakukan dengan memberi perlakuan (treatment) terhadap objek penelitian serta adanya
Percobaan 3. Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Kacang Tanah pada Populasi Tanaman yang Berbeda
Percobaan 3. Pertumbuhan dan Produksi Dua Varietas Kacang Tanah pada Populasi Tanaman yang Berbeda Latar Belakang Untuk memperoleh hasil tanaman yang tinggi dapat dilakukan manipulasi genetik maupun lingkungan.
TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Januari sampai Maret B. Penyiapan Bahan Bio-slurry
III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Green house Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Januari sampai Maret 2016. B. Penyiapan
III. MATERI DAN METODE
III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Penelitian dilakukan pada
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari sampai dengan bulan Mei
III. BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari sampai dengan bulan Mei 2007 di UPT Fakultas Pertanian Universitas Riau, Kampus Bina Widya, Jl. Bina Widya Km.
TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian ini dilakukan di Lahan Percobaan, di daerah Ketep, kecamatan
III. TATA CARA PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di Lahan Percobaan, di daerah Ketep, kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa tengah, dengan ketinggian tempat
BUDIDAYA BELIMBING MANIS ( Averhoa carambola L. )
BUDIDAYA BELIMBING MANIS ( Averhoa carambola L. ) PENDAHULUAN Blimbing manis dikenal dalam bahasa latin dengan nama Averhoa carambola L. berasal dari keluarga Oralidaceae, marga Averhoa. Blimbing manis
III. BAHAN DAN METODE. Tuan dengan ketinggian 25 mdpl, topografi datar dan jenis tanah alluvial.
III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan Percut Sei
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Kondisi Umum Percobaan studi populasi tanaman terhadap produktivitas dilakukan pada dua kali musim tanam, karena keterbatasan lahan. Pada musim pertama dilakukan penanaman bayam
Pemeliharaan Ideal Pemeliharaan ideal yaitu upaya untuk mempertahankan tujuan dan fungsi taman rumah agar sesuai dengan tujuan dan fungsinya semula.
PEMELIHARAAN Dalam proses pembuatan taman pemeliharaan merupakan tahapan yang terakhir, namun tahapan ini merupakan tahapan yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan. Keberhasilan pemeliharaan bahkan
III. MATERI DAN METODE
III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan dilahan pertanian yang beralamat di Jl. Sukajadi, Desa Tarai Mangun, Kecamatan Tambang, Kampar. Penelitian ini dilakukan bulan
I. TATA CARA PENELITIAN. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten
I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Green House Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul,
BAB III BAHAN DAN METODE. Medan Area yang berlokasi di Jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan
BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Medan Area yang berlokasi di Jalan Kolam No. 1 Medan Estate, Kecamatan Percut
Tujuan TINJAUAN PUSTAKA. Botani Kelapa Sawit
2 Pembibitan merupakan kegiatan teknis budidaya yang dapat dilakukan untuk memperoleh bibit kelapa sawit yang berkualitas. Kegiatan pemeliharaan merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan pembibitan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Botani Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Jagung (Zea mays L) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis rumputan/graminae yang mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan
TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2016 sampai dengan Juli 2016
III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari 2016 sampai dengan Juli 2016 yang bertempat di Greenhouse Fakultas Pertanian dan Laboratorium Penelitian,
III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai 3 Juni Juli 2016 di Green House
III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan mulai 3 Juni 2016-15 Juli 2016 di Green House Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. B. Bahan dan Alat
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian
15 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung Desa Muara Putih Kecamatan Natar Lampung Selatan
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP)
15 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Kebun Percobaan Natar, Desa Negara Ratu, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung
VI.SISTEM PRODUKSI BENIH
VI.SISTEM PRODUKSI BENIH UNTUK PRODUKSI BENIH MAKA HARUS TERSEDIA POHON INDUK POPULASI DURA TERPILIH POPULASI PISIFERA TERPILIH SISTEM REPRODUKSI TANAMAN POLINASI BUATAN UNTUK PRODUKSI BENIH PERSIAPAN
III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dileksanakan dari bulan Juni sampai September 2013, lahan
III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dileksanakan dari bulan Juni sampai September 2013, lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif
SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO
SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,
TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016
III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Mei 2016 di Lahan Percobaan, Laboratorium Penelitian dan Laboratorium Tanah Fakultas
Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag
Cara Sukses Menanam dan Budidaya Cabe Dalam Polybag Oleh : Tatok Hidayatul Rohman Cara Budidaya Cabe Cabe merupakan salah satu jenis tanaman yang saat ini banyak digunakan untuk bumbu masakan. Harga komoditas
PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG
PELAKSANAAN KEGIATAN MAGANG PRODUKSI DAN PEMASARAN BENIH KELAPA SAWIT Pemuliaan Kelapa Sawit Program pemuliaan kelapa sawit memiliki tujuan utama untuk memperoleh individu-individu superior dalam hal produktivitas
III. MATERI DAN METODE. HR. Soebrantas KM 15 Panam, Pekanbaru. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Mei
III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di lahan percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau yang beralamat di
BAHAN METODE PENELITIAN
BAHAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di lahan penelitian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara Medan, dengan ketinggian tempat ± 25 m dpl, dilaksanakan pada
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung di Desa Muara Putih Kecamatan Natar Kabupaten Lampung
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sistem Pembibitan Pembibitan merupakan langka awal penentu keberhasilan usaha pertanian, termasuk budidaya kelapa sawit. Pembibitan kelapa sawit berdasarkan sistem pengairannya
II. TINJAUAN PUSTAKA A.
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Morfologi Tanaman Pakcoy Pakcoy (Brassica rapa L.) adalah jenis tanaman sayur-sayuran yang termasuk keluarga Brassicaceae. Tumbuhan pakcoy berasal dari China dan telah dibudidayakan
BAHAN DAN METODE. Tempat dan Waktu
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Parung Farm yang terletak di Jalan Raya Parung Nomor 546, Parung, Bogor, selama satu bulan mulai bulan April sampai dengan Mei 2011. Bahan
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas
17 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung mulai
KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.)
KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) I. SYARAT PERTUMBUHAN 1.1. Iklim Lama penyinaran matahari rata rata 5 7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500 4.000 mm. Temperatur optimal 24 280C. Ketinggian tempat
III. BAHAN DAN METODE. Sederhana Dusun IX, Desa Sambirejo Timur, Kecamatan Percut Sei Tuan,
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan yang berlokasi di Jalan Sederhana Dusun IX, Desa Sambirejo Timur, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan
21 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran dan Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian Universitas
3. METODE DAN PELAKSANAAN
3. METODE DAN PELAKSANAAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian UKSW Salaran, Desa Wates, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Persiapan hingga
BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Ketinggian tempat
III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan di UPT-Kebun Bibit Dinas di Desa Krasak Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Provinsi Jawa Tengah. Ketinggian tempat berada 96
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Kel. Gunung sulah, Kec.Way Halim, Kota Bandar
21 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kel. Gunung sulah, Kec.Way Halim, Kota Bandar Lampung dengan kondisi iklim tropis, memiliki curah hujan 2000 mm/th dan
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Hortikultura Fakultas Pertanian
19 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Hortikultura Fakultas Pertanian Universitas Lampung yang dimulai pada bulan November 2014 sampai April
TATA CARA PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca dan di laboratorium dan rumah
III. TATA CARA PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan di rumah kaca dan di laboratorium dan rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada bulan Februari
TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Timur Kabupaten Semarang dan di Laboratorium Penelitian Fakultas Pertanian
III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilaksanakan di lahan kering daerah Kecamatan Ungaran Timur Kabupaten Semarang dan di Laboratorium Penelitian Fakultas Pertanian
BUDIDAYA KELAPA SAWIT
KARYA ILMIAH BUDIDAYA KELAPA SAWIT Disusun oleh: LEGIMIN 11.11.5014 SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMUNIKASI AMIKOM YOGYAKARTA 2012 ABSTRAK Kelapa sawit merupakan komoditas yang penting karena
III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR
16 III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Kegiatan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Desa Sidoharjo Rt 5 Rw 10 Kelurahan Banaran Kecamatan Boyolali Kabupaten Boyolali Jawa Tengah.
TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian ini dilaksanakan di lahan Percobaan dan Laboratorium
I I I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan Percobaan dan Laboratorium penelitian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Laboratorium
BAHAN DAN METODE PENELITIAN. dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember
BAHAN DAN METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan di desa Cengkeh Turi dengan ketinggian tempat ± 25 di atas permukaan laut, mulai bulan Desember sampai
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di kebun Kota Sepang Jaya, Kecamatan Labuhan Ratu,
III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat Dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di kebun Kota Sepang Jaya, Kecamatan Labuhan Ratu, Secara geografis Kota Sepang Jaya terletak pada koordinat antara 105 15 23 dan
Teknik Penyediaan Bibit Kelapa
Teknik Penyediaan Bibit Kelapa Engelbert Manaroinsong, Novalisa Lumentut dan Maliangkay, R.B. BALAI PENELITIAN TANAMAN KELAPA DAN PALMA LAIN PENDAHULUAN Usaha perbaikan produktifitas tanaman kelapa harus
III. BAHAN DAN METODE
III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di rumah kaca Unit Pelayanan Teknis (UPT), Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau. Pelaksanaannya dilakukan pada bulan
III. METODE PENELITIAN
9 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada periode Juli 2015 sampai dengan Februari 2016. Bertempat di screen house B, rumah kaca B dan laboratorium ekologi dan
TATA LAKSANA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di
III. TATA LAKSANA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di laboratorium fakultas pertanian UMY. Pengamatan pertumbuhan tanaman bawang merah dan
MATERI DAN METODE. dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih pakcoy (deskripsi
III. MATERI DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di lahan percobaan dan Laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau,
III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian,
17 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung. Pengamatan setelah panen dilanjutkan di Laboratorium
