JST Kesehatan, April 2011, Vol.1 No.1 : ISSN
|
|
|
- Yuliana Inge Hermawan
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 JST Kesehatan, April 2011, Vol.1 No.1 : ISSN PERBANDINGAN EFEKTIVITAS ADAPALENE 0.1% GEL DAN ISOTRETINOIN 0.05% GEL YANG DINILAI DENGAN GAMBARAN KLINIS SERTA PROFIL INTERLEUKIN 1-α (IL-1α) PADA ACNE VULGARIS Effectiveness Comparison Between Adapalene 0.1% Gel and Isotretinoin 0.05% Gel Clinical Apperance and Profile Interleukin-1α (IL-1α) in Patient s Vulgaris Acne Yenni, Safruddin Amin, Khairuddin Djawad Bagian Dermato-Venereology, Fakultas Kedokteran, Unhas, Makassar ( [email protected]) ABSTRAK Penelitian ini bertujuan membandingkan efektivitas adapalene 0.1% gel dan isotretinoin 0.05% gel dengan melihat perbaikan secara klinis sebelum, selama dan sesudah terapi serta membandingkan profil IL-1α antara papul dan pustul. Sampel penelitian sebanyak 60 orang yang terbagi dalam dua kelompok perlakuan, yaitu kelompok adapalene 0.1% gel dan isotretinoin 0.05% gel serta diambil sekret secara lokal. Kedua kelompok tersebut di follow up selama tiga minggu kemudian dibandingkan jumlah papul, pustul dan nodul setiap minggunya. Sementara secret Acne vulgaris diperiksa dengan ELISA untuk mengukur interleukin-1α (IL-1α). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok isotretinoin 0.05% gel memperlihatkan perbaikan yang bermakna (p< 0.05) pada papul dan pustul tetapi tidak bermakna pada nodul (p>0.05), sedangkan kelompok adapalene 0.1% gel tidak memperlihatkan perbaikan bermakna (p> 0.05) pada papul, pustul dan nodul. Dengan demikian, perbedaan profil IL-1α yaitu pustul lebih tinggi daripada papul. Kata Kunci: Acne Vulgaris, Adapalene 0.1% gel, Isotretinoin 0.05% gel, Profil IL-1α ABSTRACT The aims of the research were to compare the effectiveness of adapalene 0.1% gel compared to isotretinoin 0.05% gel by looking at clinical improvements before, during and after therapy and to compare between the profile of IL-1α for papule and that of pustule. The sample consisted of 60 people divided into two treatment groups, i.e adapalene 0.1% gel and isotretinoin 0.05% gel and then local secretions of the two the groups were taken. The two groups were followed up for three weeks and the number of papules, pustules and nodules were compared every week. Meanwhile, vulgaris acne secretion was treated with ELISA to measure interleukin-1 alpha (IL-1α). The results revealed that isotretinoin 0.05% gel group indicated a significant improvement (p< 0.05) for papule and pustule, but was not significant for nodule (p> 0.05), while adapalene 0.1% gel group did not indicate a significant improvement (p> 0.05) for papule, pustule and nodule. Meanwhile, it was indicated that the profile of IL-1α for pustule is higher than that of papule. Key Words: Acne Vulgaris, Adapalene 0.1% gel, Isotretinoin 0.05% gel, IL-1α Profile 85
2 Yenni ISSN PENDAHULUAN Acne vulgaris (AV) adalah penyakit yang kompleks (multifaktorial) dengan elemen patogenesis yaitu kerusakkan pada keratinisasi epidermal, sekresi androgen, fungsi sebaseous, pertumbuhan bakteri, inflamasi dan imunitas (Guy, 2007) (Andrea, 2006). Empat faktor yang telah diidentifikasikan yaitu hiperproliferasi folikular epidermal, produksi sebum yang berlebihan, inflamasi dan adanya serta aktivitas P.acne (Andrea, 2008). Umumnya Acne berpengaruh pada pilosebaseus unit yaitu wajah, leher, dada dan punggung karena kelenjar sebaseus pada daerah tersebut aktif. Prevalensi penderita AV 80 85% pada remaja dengan puncak insidens usia tahun, 12% pada wanita usia > 25 tahun dan 3% pada usia tahun (Thielitz, 2007). Acne vulgaris yang berat terlihat pada laki-laki dan perokok. Penderita AV lebih mudah depresi, menarik diri dari kehidupan sosial dan pemarah (Sidiropoulos, 2006) (Guy, 2002). Mekanisme pembentukan AV sebagai berikut: pertama, stimulasi produksi kelenjar sebaseus yang menyebabkan hiperseborrea biasanya dimulai pada pubertas; kedua, pembentukkan komedo yang berhubungan dengan anomali proliferasi keratinosit, adhesi dan diferensiasi pada infrainfudibulum folikel pilosebaseus; ketiga, pembentukkan lesi inflamasi dimana yang berperan adalah bakteri anaerob yaitu P.acne (Henry, 2004). Pada hiperproliferasi folikular epidermal salah satu yang berperan yaitu interleukin 1 (IL-1). Penelitian pada keratinosit folikular manusia memperlihatkan hiperproliferasi dan pembentukkan mikrokomedo setelah IL- 1 ditambahkan. Reseptor antgonis IL-1 menghambat pembentukkan mikrokomedo. (Andrea, 2008) Beberapa sitokin terlibat dalam proses inflamasi tetapi hanya empat yang berperan pada AV yaitu IL-1α, interferon-gamma (IFNγ), transforming growth factor alpha (TGF-α) dan IL-4. IL-1α berperan penting menyebabkan pembentukkan komedo dan menstimulasi imunitas spesifik (Henry, 2004). Interleukin-1α mempunyai konsentrasi tinggi 1000x lebih tinggi di keratinosit interfolikular, komedo terbuka dan kelenjar sebaseus (Burkhart, 2003). Penelitian terbaru secara in vitro pada folikel Acne tampak sitokin seperti IL- 1 memodulasi kornifikasi epidermis dan terlibat dalam menginduksi inflamasi komedo (Guy, 2007). Penatalaksanaan AV bervariasi. Beberapa penelitian secara klinis telah dilakukan untuk mencari penatalaksanaan yang sesuai. Managemen AV yang efektif adalah menurunkan atau mengeliminasi lesi primer secara klinik yaitu mikrokomedo yang merupakan prekursor untuk semua lesi AV. Retinoid topikal secara umum bersifat komedolitik dan menghambat pembentukkan mikrokomedo yang merupakan awal dari AV. Target kerja retinoid yaitu pada proliferasi abnormal dan diferensiasi keratinosit serta mempunyai efek anti inflamasi. (Cynthia, 2008) (Leyden, 2003) (Thielitz, 2007). BAHAN DAN METODE Penelitian ini merupakan cross section, eksperimental dan single-blind. Penderita pada penelitian ini adalah penderita AV berusia tahun yang datang kepoliklinik RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar dan memenuhi klasifikasi AV menurut Cunliffe yang dikutip dari James WD yaitu ringan = komedo serta papul dan pustul <10; sedang = papul dan pustul (10 40) serta komedo (10 40); sedang-berat = papul dan pustul (40 100), komedo (40 100), lesi inflamasi nodular ( 5) dan meliputi daerah wajah, dada serta punggung; dan berat = Acne nodulokistik, Acne konglobata serta papul, pustul dan komedo (James, 2005) serta tidak termasuk dalam kriteria ekslusi yaitu mendapatkan terapi dengan radiasi ultraviolet, hipersensitivitas 86
3 Acne Vulgaris, Adapalene 0.1% gel, Isotretinoin 0.05% gel, Profil IL-1α ISSN terhadap retinoid, menderita penyakit sistemik yang berat dan ada riwayat seboroik. Lama penelitian adalah tiga (3) minggudengan 60 penderita AV (berdasarkan tabel Isaac dan Michael) yang terbagi dalam dua kelompok perlakuan yaitu kelompok I mendapatkan terapi adapalene0.1% gel sedangkan kelompok ke II mendapatkan terapi isotretinoin 0.05% gel. Setiap minggu kedua kelompok perlakuan dievaluasi dengan cara membandingkan jumlah papul, pustul dan nodul. Dalam penelitian ini dilakukan pemeriksaan IL-1α dengan cara mengambil sekret secara lokal pada lesi AV. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pada tabel 1 memperlihatkan bahwa jumlah penderita AV pada penelitian ini secara keseluruhan terbanyak berada pada kelompok umur tahun (58%). Pada tabel 2 tampak bahwa grade AV cenderung memiliki proporsi seimbang antara tiap perlakuan dan gradasi AV berdasarkan klasifikasi Cunliffe dkk.pada tabel 3 dan 4 memperlihatkan kadar IL-1α lebih tinggi pada pustul dibandingkan papul. Tabel 5 memperlihatkan perbaikan tidak bermakna dilihat dari jumlah papul setiap minggunya pada adapalene 0.1% gel (p>0.05) sedangkan pada tabel 6 dimana isotretinoin 0.05% gel memperlihatkan perbaikan bermakna (p< 0.05). Tabel 7 memperlihatkan perbaikan tidak bermakna dilihat dari jumlah pustul pada adapalene 0.1% gel (p>0.05) sedangkan tabel 8 memperlihatkan perbaikan bermakna pada isotretinoin 0.05% gel (p<0.05). Tabel 9, memperlihatkan perbaikan tidak bermakna dilihat dari jumlah nodul pada adapalene 0.1 % gel (p>0.05) dan tabel 10, isotretinoin 0.05% gel tidak memperlihatkan perbaikan bermakna (p>0.05). Pembahasan Penelitian dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan dengan mengambil sampel pada penderita AV. Pada penelitian ini (tabel1), usia sampel berkisar antara tahun. Pemilihan batas usia sampel tersebut dilakukan berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan prevalensi AV paling tinggi pada usia tersebut (Thielitz, 2007). Beberapa penelitian lain yang meneliti AV menggunakan rentang usia yang berbeda yaitu penelitian Ioannides dkk (2002) pada penderita AV yang berusia diantara tahun (Ioannides, 2002), penelitian Sabri (2009) penderita AV dengan usia antara tahun (Sabry, 2009), penelitian Hughes dkk (1992) penderita AV berusia antara tahun (Hughes, 1992), penelitian Dominguez dkk (1998) penderita AV berusia tahun (Dominguez, 1998) dan penelitian Langner dkk (2008) penderita AV yang berusia tahun (Langner, 2008). Guy dkk (1999) menyatakan bahwa mekanisme perkembangan lesi inflamasi pada AV masih belum jelas. Hiperstimulasi sebocyte dan keratinosit oleh androgen selama pubertas yang menyebabkan hiperplasia kelenjar sebasea dan seborrhoe sebagai karakteristik AV (Guy, 1999). Hormon androgen mengontrol aktivitas sekresi kelenjar sebaseous terutama testosteron dan dehidroepiandrosteron. Komposisi sebum yaitu trigliserida (57% kelenjar; 42% permukaan), asam lemak bebas (15% permukaan), wax esters (25% kelenjar; 25% permukaan), Squalene (15% kelenjar; 15% permukaan), ester kolesterol (2% kelenjar; 2% permukaan) dan kolesterol (1% kelenjar; 1% permukaan) (Shivaswamy, 2005) (Leyden, 1995) (Guy, 1995). Umur 7 9 tahun, androgen mulai meningkatkan produksi sebum. Pada masa pubertas, androgen beraksi secara lokal dalam kelenjar sebaseous. Hal ini menyebabkan meningkatnya jumlah lobulus sebaseus dan ukuran folikular. Androgen masuk 87
4 Yenni ISSN kedalam sel kemudian berikatan pada reseptor androgen terjadi diferensiasi sebosite dan transkripsi gene sehingga sebosite menjadi matur. Sebosite diferensiasi, ruptur dan melepaskan lipid dalam duktus sebaseus dan folikel (Andrea, 2006). Tujuan dari penelitian ini untuk melihat efektifitas adapalene 0,1 % gel dan isotretinoin 0,05% gel dengan membandingkan jumlah papul, pustul dan nodul sebelum,selama dan sesudah penelitian. Untuk membandingkan efloresensi AV sebelum, selama dan setelah pemberian terapi dipergunakan klasifikasi AV menurut Cunliffe dkk. Berdasarkan klasifikasi tersebut derajat AV dibagi menjadi ringan, sedang, sedang-berat dan berat. Pada penelitian kami, karakteristik jumlah sampel yang mendapat adapalene 0,1% gel dan isotretinoin 0,05% gel relatif seimbang antara tiap perlakuan dan gradasi AV (tabel 2). Selanjutnya, berdasarkan tingkat AV maka jumlah sampel pada penelitian kami mayoritas menunjukkan tipe sedang yaitu papul dan pustul (10 40), komedo (10 40). Penelitian lain menggunakan pembagian AV yang berbeda dengan klasifikasi Cunliffe dkk yaitu penelitian Ionnides dkk, membandingkan adapalene 0,1 % gel dan isotretinoin 0,05% gel dengan mengelompokkan AV berdasarkan lesi inflamasi, lesi noninflamasi dan < 3 lesi nodulokistik (Ioannides, 2002) dan penelitian oleh Judith dkk mengelompokkan jumlah lesi AV menjadi lesi inflamasi, lesi non-inflamasi dan <3 lesi nodulokistik (Dominguez, 1998). Dalam penelitian ini adapalene 0,1 % gel dan isotretinoin 0,05% gel dioleskan 1x/hari pada malam hari selama 3 minggu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok yang diterapi dengan isotretinoin 0,05 % gel mengalami perbaikan bermakna pada papul dan pustul (tabel 6 dan tabel 8) dan tidak bermakna pada nodul (tabel 10). Sedang kelompok yang diterapi dengan adapalene 0,1 % gel mengalami tidak perbaikan bermakna pada papul, pustul dan nodul (tabel 5, tabel 7 dan tabel 9). Hal ini sesuai dengan penelitian Brown SK dkk (1998) dan Dominguez dkk (1998), isotretinoin 0,05% gel efektif terhadap lesi inflamasi dan non inflamasi pada AV tipe ringan sampai sedang (Brown,1988) (Dominguez, 1988). Beberapa penelitian lain yang menunjukkan efektifitas adapalene 0,1% gel dan isotretinoin 0,05% gel pada AV tipe ringan sampai sedang yaitu Iftikhar dkk (2009) tentang efektifitas adapalene 0,1% gel dan isotretinoin 0,05% gel menunjukkan 15 dari 22 penderita lesi non inflamasi dan 14 dari 18 penderita lesi inflamasi mengalami perbaikan signifikan setelah terapi adapalene 0,1% gel. Sedangkan yang diterapi dengan isotretinoin 0,05% gel menunjukkan perbaikan signifikan pada 15 dari 26 lesi non inflamasi dan 7 dari 14 lesi inflamasi. Penelitian tersebut menunjukkan efektifitas yang sama antara adapalene 0,1% gel dan isotretinoin 0,05% gel. Pada penelitian tersebut menunjukkan adapalene 0,1% gel dan isotretinoin 0,05% gel bekerja pada AV tipe ringan sampai sedang (Iftikhar, 2009). Pada penelitian serupa oleh Ionnides dkk (2002) memperlihatkan bahwa adapalene 0,1% gel dan isotretinoin 0,05% gel mempunyai efektifitas yang sama (Ioannides, 2002); dan penelitian Kose dkk (2008), menunjukkan bahwa adapalene 0,1% gel signifikan menurunkan lesi inflamasi dan non inflamasi pada lesi AV tipe ringan sampai sedang (Kose, 2008). Pada penelitian ini diperiksa nilai IL-1α (tabel 3 dan 4) yang diambil sebelum penderita mendapatkan terapi adapalene 0,1% gel dan isotretinoin 0,05% gel memperlihatkan kadar IL-1α sebelum terapi dimana lebih tinggi pada pustul dibandingkan papul. Kadar IL-1α pada papul yaitu 20,81 ± 16,39 dan 22,93 ± 12,35 sedangkan untuk pustul yaitu 104,09 ± 45,05 dan 203,87 ± 154,82. 88
5 Acne Vulgaris, Adapalene 0.1% gel, Isotretinoin 0.05% gel, Profil IL-1α ISSN Pemeriksaan kadar IL-1α dengan menggunakan ELISA. Sensitivitas kits IL-1α bervariasi dari 17 dan 31 ng/l ( pg/ IL-1α/komedo). Dalam penelitian ini, 6 sampel kadar IL-1α dengan nilai ekstrapolarisasi yaitu 1 sampel 658,21; 3 sampel >700; 1 sampel 522,07 dan 1 sampel 526,47. Kadar IL- 1α yang mengalami ekstrapolarisasi kemungkinan disebabkan karena teknik pengambilan sampel yang salah. Penelitian Ingham dkk (1992) bahwa dosis minimal yang dapat terdeteksi oleh ELISA kits yaitu IL-1α = 0,5 pg/ml (Suh, 2002) (Ingham, 1992). Dari hasil penelitian memperlihatkan bahwa perbandingan isotretinoin 0,05% gel dengan adapalene 0,1% gel dapat dilakukan penelitian efektifitas karena distribusi penderita AV yang diberi adapalene 0,1% dan isotretinoin 0,05% bersifat homogen. Pada penelitian ini, kelompok yang mendapatkan terapi isotretinoin 0,05% gel mengalami perbaikan signifikan pada lesi AV papul dan pustul (tabel 6 dan tabel 8) tetapi tidak signifikan untuk kelompok yang mendapatkan terapi adapalene 0.1% gel (tabel 5, tabel 7 dan tabel 9). Dalam penelitian ini juga diperiksa kadar IL-1α sebelum terapi pada kedua kelompok dengan menggunakan ELISA. Hasil dari pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa kadar IL-1α pustul lebih tinggi daripada papul. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pada penelitian ini tampak perbedaan signifikan profil IL-1α pada papul dan pustul dimana lebih tinggi pustul daripada papul. Derajat AV secara klinis pada kelompok adapalene 0.1% gel dalam penelitian ini tidak mengalami perbaikan bermakna secara statistik antara sebelum dan setelah diterapi sedangkan derajat AV secara klinis pada kelompok isotretinoin 0.05% gel dalam penelitian ini mengalami perbaikan bermakna secara statistik antara sebelum dan setelah diterapi. Saran Kekurangan dari penelitian ini adalah tidak membandingkan kadar IL- 1α sehingga tidak dapat mengetahui perbedaan kadar IL-1α sebelum dan sesudah terapi. DAFTAR PUSTAKA Andrea L Zaenglein, Dine M Thiboutot (2006) Expert committee recommedations for acne management. Pediatrics, 118, Andrea L Zaenglein, Dine M Thiboutot, Strauss JS (2008) Acne vulgaris and acneiform eruptions, New York, Mc Graw Hill. Brown SK, Shalita AR (1998) Acne vulgaris. The lancet, 351, Burkhart CN (2003) Clinical assessment of acne pathogenesis with treatment implications. International pediatric, 18, Christina Oprica, Lennart Emtestam, Lena Hagstromer, Carl Erik Nord (2006) Clinical and microbiological comparisons of isotretinoin vs tetracycline in acne vulgaris. Acta derm venereol, 87, Diane M Thiboutot, Alan R Shalita, Paul S Yamauchi, Catherine Dawson, Nabil Kerrouche, Stephanie Arsonnaud, Sewon Kang (2006) Adapalene gel 0,1% as maintenance therapy for acne vulgaris. Arch dermatol, 142, Dominguez J, Hojyo MT, Celayo JL, Soto LD, Teixera F (1998) Topical isotretinoin vs topical retinoid acid in the treatment of acne vulgaris. Int J Dermatol, 37, Guy F Webster (1995) Inflammation in acne vulgaris. J Am Acad Dermatol, 33, Guy Robert, Green MR, Kealey T (1996) Modelling acne in vitro. J Invest Dermatol, 106,
6 Yenni ISSN Guy F Webster (1999) Acne vulgaris: state of the science. Arch dermatol, 135, Guy F Webster (2002) Acne vulgaris. BMJ, 325, Guy F Webster (2007) Overview of the pathogenesis of acne. Guy FW, Rawling AV, Sharlita AR, Norris DA. Acne and its therapy: Basic and clinical dermatology. New York; Informa Healthcare,1-7. Henry P, Claire B, Martine C, Michel F, Florence P, Jean R, Brigitte D (2004) Physiopathology of acne vulgaris: recent data, new understanding of the treatments. Eur J Dermatol, 14, Hughes BR, Norris JFB, Cunliffe WJ (1992) A double-blind evaluation of topical isotretinoin 0.05%, benzoyl peroxide gel 5 % and placebo in patients with acne. Clinical and experimental dermatology, 17, Iftikhar A, Sarwar M (2009) Topical adapalene cream 0.1% vs isotretinoin 0.05% in the treatment of acne vulgaris: a randomized open-label clinical trial. Journal of Pakistan Association of Dermatologist, 19, Ingham E, Eady E Anne, Goodwin CE, Cove JH, Cunliffe WJ (1992) Proinflammatory levels of interleukin- 1α-like bioactivity are present in the majority of open comedones in acne vulgaris. J Invest Dermatol, 98, Ioannides D, Rigopoulos D, Katsambas A (2002) Topical adapalene gel 0.1% vs isotretinoin gel 0.05% in the j treatment of acne vulgaris: a randomized open-label clinical trial. Br J Dermatol, 147, Kose O, Koc Erol, Arca E (2008) Adapalene 0.1 % gel in the treatment of infantile acne: an open clinical study. Pediatr dermatol, 25, Langner A, Goulden V, Chu A, Ambroziak M (2007) A randomized, single-blind comparison of topical clindamycin+benzoyl peroxide and adapalene in the treatment of mild to moderate facial acne vulgaris. Br J Dermatol, 158, Leyden JJ (1995) New understanding of the pathogenesis of acne. J Am Acad Dermatol, 32, S Leyden JJ (2003) A review of the use of combination therapies for the treatment of acne vulgaris. J Am Acad Dermatol, 49, S200-S210. Sabry EY (2009) A three-stage strategy in treating acne vulgaris in patients with atopic dermatitis-a pilot study. Journal of pakistan association of dermatologist, 19, Shivaswamy KN, Thappa DM (2005) Current concepts in the pathogenesis and management of acne vulgaris. Indian J Dermatol, 50, Sidiropoulos M (2006) Acne vulgaris:pathogenesis and retinoid therapy. University of Toronto medical journal, 83, Thielitz, F Sidou, H Gollnick (2007) Control of microcomedone formation throught a maintenance treatment with adapalene gel 0.1%.JEADV,21,
7 Acne Vulgaris, Adapalene 0.1% gel, Isotretinoin 0.05% gel, Profil IL-1α ISSN Tabel 1. Jumlah penderita AV dalam penelitian ini Kelompok umur Jenis kelamin Laki-laki (%) Perempuan (%) < 15 tahun 2 (5,5) tahun 34 (94,4) 24 (100) tahun 0 0 Tabel 2. Klasifikasi AV dalam penelitian ini berdasarkan klasifikasi Cunliffe Klasifikasi AV Adapalene 0.1% Isotretinoin 0.05% Ringan 8 (26.6) 7 (23.3) Sedang 15 (50.0) 17 (56.6) Sedang berat 7 (23.3) 6 (20.0) Berat - - Tabel 3. Kadar IL-1α pada lesi papul sebelum terapi Kelompok n Standar devisiasi p Adapalene 0,1% gel 17 20,81 ± 16,39 0,709 Isotretinoin 0,05% gel 12 22,93 ± 12,35 Tabel 4. Kadar IL-1α pada lesi pustul sebelum terapi Kelompok n Standar devisiasi P Adapalene 0,1% gel ,09 ± 45,05 0,031 Isotretinoin 0,05% gel ,87 ± 154,82 Tabel 5. Perbandingan efek klinis jumlah papul pada AV yang diterapi dengan adapalene 0.1 % gel. Papul Minggu I ± Minggu II ± Minggu II ± Minggu III ±
8 Yenni ISSN Tabel 6. Perbandingan efek klinis jumlah papul pada AV yang diterapi dengan isotretinoin 0.05% gel Papul Minggu I ± Minggu II ± Minggu II ± Minggu III 9.567± Tabel 7. Perbandingan efek klinis pustul pada AV yang diterapi dengan adapalene 0.1% gel Pustul Minggu I 7.033±5.417 Minggu II 7.000±4.000 Minggu II 7.000±4.000 Minggu III 6.567± Tabel 8. Perbandingan efek klinis pustul pada AV yang diterapi dengan isotretinoin 0.05% gel Pustul Minggu I 7.567±4.407 Minggu II 7.333±6.227 Minggu II 7.333±6.227 Minggu III 5.700±
9 Acne Vulgaris, Adapalene 0.1% gel, Isotretinoin 0.05% gel, Profil IL-1α ISSN Tabel 9. Perbandingan efek klinis nodul pada AV yang diterapi dengan adapalene 0.1% gel Nodul Minggu I 1.267±2.803 Minggu II 0.600±1.567 Minggu II 0.600±1.567 Minggu III 0.533± Tabel 10. Perbandingan efek klinis nodul pada AV yang diterapi dengan isotretinoin 0.05% gel Nodul Minggu I 0.367±1.034 Minggu II 0.333±0.844 Minggu II 0.333±0.844 Minggu III 0.267±
BAB I. A. Latar Belakang Penelitian. atas. Akne biasanya timbul pada awal usia remaja.
1 BAB I A. Latar Belakang Penelitian Akne merupakan penyakit kulit yang terjadi akibat peradangan menahun folikel pilosebasea yang ditandai dengan komedo, papul, pustul, nodul dan kista pada wajah, leher,
BAB 1 PENDAHULUAN. mengandung kelenjar sebasea seperti: muka, dada dan punggung ( kelenjar/cm). 1,2 Acne
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Salah satu penyakit kulit yang merisaukan remaja dan dewasa adalah jerawat, karena dapat mengurangi kepercayaan diri seseorang 1. Acne vulgaris atau lebih sering
BAB I PENDAHULUAN. yang disebabkan oleh berbagai faktor dengan gambaran klinis yang khas
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akne vulgaris merupakan suatu peradangan kronik dari folikel pilosebasea yang disebabkan oleh berbagai faktor dengan gambaran klinis yang khas (Siregar, 2013). Gambaran
BAB I PENDAHULUAN. sebasea yang dapat dialami oleh semua usia dengan gambaran klinis yang bervariasi antara
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Akne vulgaris merupakan kelainan yang sering dijumpai pada struktur kelenjar sebasea yang dapat dialami oleh semua usia dengan gambaran klinis yang bervariasi antara
BAB 1 PENDAHULUAN. pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, pustul, nodus dan kista dengan
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Akne vulgaris adalah suatu peradangan yang bersifat menahun pada unit pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, pustul, nodus dan kista dengan predileksi di
BAB I PENDAHULUAN. vulgaris disertai dengan suatu variasi pleomorfik dari lesi, yang terdiri dari
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akne vulgaris merupakan suatu penyakit dari unit pilosebasea yang dapat sembuh sendiri, terutama dijumpai pada anak remaja. Kebanyakan kasus akne vulgaris disertai
TERAPI TOPIKAL AZELAIC ACID DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE+ZINC PADA AKNE VULGARIS LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH
TERAPI TOPIKAL AZELAIC ACID DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE+ZINC PADA AKNE VULGARIS LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti seminar hasil Karya Tulis Ilmiah
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Akne vulgaris (jerawat) merupakan penyakit. peradangan kronis pada unit pilosebaseus yang sering
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Akne vulgaris (jerawat) merupakan penyakit peradangan kronis pada unit pilosebaseus yang sering dikeluhkan oleh banyak orang terutama remaja. Timbulnya akne vulgaris
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jerawat, atau dalam bahasa medisnya disebut akne, merupakan salah satu penyakit kulit yang banyak dijumpai secara global pada remaja dan dewasa muda (Yuindartanto,
BAB I PENDAHULUAN. punggung bagian atas. Jerawat terjadi karena pori-pori kulit. terbuka dan tersumbat dengan minyak, sel-sel kulit mati, infeksi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jerawat (Akne Vulgaris) merupakan penyakit kulit peradangan kronik folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dengan gambaran klinis berupa komedo, papul,
TERAPI TOPIKAL CLINDAMYCIN DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE + ZINC PADA ACNE VULGARIS LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH
TERAPI TOPIKAL CLINDAMYCIN DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE + ZINC PADA ACNE VULGARIS LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti seminar hasil Karya Tulis Ilmiah
ABSTRAK Gambaran Karakteristik Penderita Akne Vulgaris di Klinik Spesialis Kulit dan Kelamin Sakura Derma Bandung
ABSTRAK Gambaran Karakteristik Penderita Akne Vulgaris di Klinik Spesialis Kulit dan Kelamin Sakura Derma Bandung Regina Emmanuela Gusti Pratiwi, 2016 Pembimbing I : dr. Dani M.kes Pembimbing II : dr.
BAB I PENDAHULUAN. praktek dermatologi (Simonart, 2012). Akne vulgaris adalah penyakit inflamasi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Akne vulgaris termasuk salah satu penyakit yang paling umum ditemui di praktek dermatologi (Simonart, 2012). Akne vulgaris adalah penyakit inflamasi kronik unit pilosebaseus
BAB 1 PENDAHULUAN. papul, pustul, nodul dan kista di area predileksinya yang biasanya pada
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar belakang Acne vulgaris adalah penyakit kulit kronis yang terjadi akibat peradangan menahun pilosebasea yang ditandai dengan adanya komedo, papul, pustul, nodul dan kista di area
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA AKNE VULGARIS 2.1 Definisi Akne Vulgaris Akne vulgaris adalah penyakit peradangan menahun folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri. Gambaran
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 LatarBelakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Akne Vulgaris merupakan permasalahan yang sangat akrab diperbincangkan baik di kalangan dewasa muda maupun remaja. Saat ini tidak begitu banyak sumber yang memuat tulisan
The Correlation between Cosmetics Usage to Acne Vulgaris in Female Student in FKIK Muhammadiyah University of Yogyakarta
The Correlation between Cosmetics Usage to Acne Vulgaris in Female Student in FKIK Muhammadiyah University of Yogyakarta Hubungan Lamanya Paparan Kosmetik dengan Timbulnya Acne Vulgaris pada Mahasiswi
TERAPI TOPIKAL CLINDAMYCIN DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE+ZINC PADA AKNE VULGARIS JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA
TERAPI TOPIKAL CLINDAMYCIN DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE+ZINC PADA AKNE VULGARIS JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA Diajukan sebagai Syarat Kelulusan Program Sarjana Kedokteran Umum RIMA ADJANI NUGROHO G2A009122
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Akne vulgaris adalah peradangan kronik folikel pilosebasea dengan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akne vulgaris adalah peradangan kronik folikel pilosebasea dengan gambaran klinis polimorfi, yang terdiri atas wujud kelainan kulit berupa komedo, papul, pustul,
BAB I PENDAHULUAN. merupakan penyakit kulit yang melibatkan unit pilosebasea ditandai. Indonesia, menurut catatan Kelompok Studi Dermatologi Kosmetika
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akne vulgaris atau yang oleh masyarakat umum disebut jerawat merupakan penyakit kulit yang melibatkan unit pilosebasea ditandai dengan adanya komedo terbuka
Khasiat Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) terhadap Penyembuhan Acne Vulgaris
Khasiat Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) terhadap Penyembuhan Acne Vulgaris Nur Anggraini 1, Oktadoni Saputra 2 1 Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung 2 Bagian Pendidikan Kedokteran,
LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH
PENGARUH PENAMBAHAN BEDAK PADAT TERHADAP JUMLAH LESI AKNE VULGARIS (Penelitian Klinis pada Mahasiswi Penderita Akne Vulgaris yang Diberi Terapi Standar Tretinoin 0,025% + TSF 15) LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Akne vulgaris adalah suatu penyakit yang. dialami oleh hampir semua remaja dan orang dewasa
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akne vulgaris adalah suatu penyakit yang dialami oleh hampir semua remaja dan orang dewasa dalam kehidupan mereka. Meskipun penyakit ini tidak mengganggu kesehatan
BAB I PENDAHULUAN. Acne Vulgaris (AV) merupakan suatu penyakit peradangan kronis dari folikel
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Acne Vulgaris (AV) merupakan suatu penyakit peradangan kronis dari folikel pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, kista, dan pustula.(tahir, 2010). Penyakit
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang. Akne vulgaris adalah salah satu penyakit kulit. yang selalu menjadi masalah bagi remaja dan dewasa muda
1 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Akne vulgaris adalah salah satu penyakit kulit yang selalu menjadi masalah bagi remaja dan dewasa muda (Purdy dan DeBerker, 2007). Prevalensi yang mencapai 90 %
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Akne vulgaris atau lebih dikenal dengan jerawat, adalah penyakit self-limited yang menyerang unit
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Akne vulgaris atau lebih dikenal dengan jerawat, adalah penyakit self-limited yang menyerang unit pilosebaseus dan sering dijumpai pada usia remaja (Zaenglein dkk,
TERAPI TOPIKAL TRETINOIN 0,025% + ZINC ORAL DIBANDINGKAN TOPIKAL NICOTINAMIDE 4% + ZINC ORAL PADA AKNE VULGARIS
TERAPI TOPIKAL TRETINOIN 0,025% + ZINC ORAL DIBANDINGKAN TOPIKAL NICOTINAMIDE 4% + ZINC ORAL PADA AKNE VULGARIS Gloria Permata Usodo 1, Dhega Anindita Wibowo 2, Ariosta 3 1 Mahasiswa Program Pendidika
MDVI Vol 42 No. 4 Tahun 2015;
MDVI Vol 42 No. 4 Tahun 2015; 157-162 Artikel Asli PENAMBAHAN FOTOTERAPI LIGHT EMITTING DIODE SINAR BIRU-MERAH PADA TERAPI LINI PERTAMA PASIEN AKNE VULGARIS DERAJAT SEDANG (Analisis efektivitas, keamanan,
BAB I PENDAHULUAN. Pasien dapat mengalami keluhan gatal, nyeri, dan atau penyakit kuku serta artritis
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Psoriasis merupakan penyakit inflamasi kulit bersifat kronis residif dengan patogenesis yang masih belum dapat dijelaskan dengan pasti hingga saat ini. Pasien dapat
TREATMENT FOR ACNE VULGARIS
[ARTIKEL PENELITIAN] TREATMENT FOR ACNE VULGARIS Resti Ramdani, 1 Hendra Tarigan Sibero 2 Medical Faculty of Lampung University 1, Dermatovenerologist Division of Abdoel Moeloek Hospital 2, Faculty of
BAB 1 PENDAHULUAN. Akne vulgaris (AV) atau jerawat merupakan suatu penyakit. keradangan kronis dari folikel pilosebasea yang ditandai dengan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Akne vulgaris (AV) atau jerawat merupakan suatu penyakit keradangan kronis dari folikel pilosebasea yang ditandai dengan adanya komedo, papul, kista, dan pustula.
PROFIL TINGKAT STRES PSIKOLOGIS TERHADAP DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DI DENPASAR
PROFIL TINGKAT STRES PSIKOLOGIS TERHADAP DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DI DENPASAR Luh Putu Arya Putri Ratnasari 1, I Gusti Ayu Agung Elis Indira 2 1 Program Studi Pendidikan
Artikel Asli ABSTRAK ABSTRACT
Artikel Asli EFEKTVTAS TERAP GEL NASNAMD 4% DBANDNGKAN DENGAN KOMBNAS GEL BENZOL PEROKSDA 5% DAN KLNDAMSN 1,2% PADA PASEN AKNE VULGARS DERAJAT RNGAN ATAU SEDANG Marita Amiranti, Endang Sutedja, Kartika
BAB I PENDAHULUAN. Akne atau jerawat merupakan penyakit kulit yang terjadi akibat peradangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akne atau jerawat merupakan penyakit kulit yang terjadi akibat peradangan kronik unit pilosebasea (Zaenglein dkk., 2008). Penyakit ini dianggap sebagai kelainan kulit
BAB 1 PENDAHULUAN. pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akne vulgaris (AV) adalah penyakit peradangan menahun folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri (Wasitaatmaja, 2015). Akne
TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDANTENTANG FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG DAPAT MEMPERBERAT AKNE VULGARIS
TINGKAT PENGETAHUAN MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HKBP NOMMENSEN MEDANTENTANG FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG DAPAT MEMPERBERAT AKNE VULGARIS Rudyn Reymond Panjaitan ABSTRACT This study aims to find
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
PENGARUH PENAMBAHAN BEDAK PADAT TERHADAP JUMLAH LESI AKNE VULGARIS (PENELITIAN KLINIS PADA MAHASISWI PENDERITA AKNE VULGARIS YANG DIBERI TERAPI STANDAR TRETINOIN 0,025% + TSF 15) Olivia Jovina Priyanto
BAB 1 PENDAHULUAN. polisebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akne vulgaris atau jerawat adalah penyakit peradangan menahun folikel polisebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri (Wasitaatmadja, 2007).
BAB I PENDAHULUAN. a. Latar Belakang Penelitian. Akne vulgaris adalah suatu kelainan pada unit. pilosebaseus yang banyak dijumpai pada remaja.
BAB I PENDAHULUAN a. Latar Belakang Akne adalah suatu kelainan pada unit pilosebaseus yang banyak dijumpai pada remaja. Penyakit ini bermanifestasi sebagai lesi pleiomorfik yang terdiri atas komedo, papul,
KELAIANAN KELENJAR SEBASEA DAN KELENJAR EKRIN. Betty Ekawati Irianto Departement Dermato & venereology FK UII be Queen Skin & genital Care Centre
KELAIANAN KELENJAR SEBASEA DAN KELENJAR EKRIN Betty Ekawati Irianto Departement Dermato & venereology FK UII be Queen Skin & genital Care Centre INTRODUCTION Acne is an inflammatory disorder on pilosebaceous
TEAM BASED LEARNING MODUL. Diberikan pada Mahasiswa Semester V Fakultas Kedokteran Unhas DISUSUN OLEH :
TEAM BASED LEARNING MODUL Diberikan pada Mahasiswa Semester V Fakultas Kedokteran Unhas DISUSUN OLEH : Prof. DR. Dr. Anis Irawan, Sp.KK (K), FINSDV, FAADV DR. dr. Farida Tabri, Sp.KK (K). FINSDV SISTEM
Terapi Akne Inflamasi dengan Azitromisin Dosis Denyut Kasus Seri
LAPORAN KASUS Terapi Akne Inflamasi dengan Azitromisin Dosis Denyut Kasus Seri (Azithromycin Pulse Dose in the Treatment of Inflammatory Acne Serial Cases) Devi Artami Susetiati, Febrina Rismauli Panggabean,
Terapi Akne Vulgaris Berat dengan Azitromisin Dosis Denyut
Laporan Kasus Terapi Akne Vulgaris Berat dengan Azitromisin Dosis Denyut Satya Wydya Yenny, Wahyu Lestari SMF/Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Dr M Djamil/ Fakultas Kedokteran Universitas
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Akne vulgaris adalah suatu penyakit peradangan menahun dari folikel pilosebasea yang umumnya terjadi pada masa remaja dan dapat sembuh sendiri. Gambaran klinis
HUBUNGAN TIDUR LARUT MALAM TERHADAP TIMBULNYA AKNE VULGARIS PADA MAHASANTRI PUTRA PESANTREN INTERNATIONAL K.H MAS MANSUR UMS 2015
HUBUNGAN TIDUR LARUT MALAM TERHADAP TIMBULNYA AKNE VULGARIS PADA MAHASANTRI PUTRA PESANTREN INTERNATIONAL K.H MAS MANSUR UMS 2015 NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana
ABSTRAK. PENGARUH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) TERHADAP ACNE RINGAN
ABSTRAK PENGARUH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) TERHADAP ACNE RINGAN Nadia Elizabeth, 2006. Pembimbing I : Winsa Husin, dr.,msc., Mkes. Pembimbing II : Dian Puspitasari, dr., SpKK. Penampilan kulit
BAB I PENDAHULUAN. pleomorfik, komedo, papul, pustul, dan nodul. (Zaenglein dkk, 2008).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akne atau jerawat adalah kondisi yang paling umum dilakukan oleh dokter di seluruh dunia (Ghosh dkk, 2014). Penyakit akne ini merupakan penyakit peradangan pada unit
BAB I PENDAHULUAN. ditemukan pada pasien gagal ginjal terminal (GGT). Keluhan pruritus yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pruritus uremia (PU) masih merupakan keluhan yang paling sering ditemukan pada pasien gagal ginjal terminal (GGT). Keluhan pruritus yang signifikan ditemukan pada 15%
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang membuat hidup seseorang menjadi sejahtera dan ekonomis. Masyarakat harus berperan aktif dalam mengupayakan
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Akne vulgaris merupakan gangguan dari unit pilosebasea yang sering dijumpai,
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Akne vulgaris 2.1.1 Definisi Akne vulgaris merupakan gangguan dari unit pilosebasea yang sering dijumpai, dikarateristikkan dengan adanya papul folikular non inflamasi (komedo)
BAB I PENDAHULUAN. Psoriasis vulgaris merupakan suatu penyakit inflamasi kulit yang bersifat
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Psoriasis vulgaris merupakan suatu penyakit inflamasi kulit yang bersifat kronis dan kompleks. Penyakit ini dapat menyerang segala usia dan jenis kelamin. Lesi yang
BAB 4 METODE PENELITIAN
BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian adalah ruang lingkup disiplin ilmu kesehatan kulit. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian - Tempat penelitian : Fakultas Kedokteran
BAB V PEMBAHASAN. 25 orang (39.1%) yang mengalami jerawat berat. Hasil observasi yang
BAB V PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden 1. Kejadian Jerawat Berdasarkan hasil penelitian yang ditunjukkan tabel 4.1 mengenai distribusi responden berdasarkan kejadian jerawat, terdapat 25 orang (39.1%)
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini adalah penelitian di bidang Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini berlokasi di Fakultas
BAB I PENDAHULUAN. ditutupi sisik tebal berwarna putih. Psoriasis sangat mengganggu kualitas hidup
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Psoriasis merupakan penyakit inflamasi kronis pada kulit dengan penyebab yang belum diketahui sampai saat ini, ditandai oleh adanya plak eritema batas tegas ditutupi
ABSTRAK PENGARUH PENGGUNAAN PIL KONTRASEPSI ORAL KOMBINASI PADA PENGOBATAN AKNE VULGARIS
ABSTRAK PENGARUH PENGGUNAAN PIL KONTRASEPSI ORAL KOMBINASI PADA PENGOBATAN AKNE VULGARIS Regina, 2004. Pembimbing : Endang Evacuasiany,Dra.,MS.,AFK.,Apt dan Slamet Santosa, dr., M Kes. Akne vulgaris adalah
PROFIL AKNE VULGARIS DI RSUP Prof. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE
PROFIL AKNE VULGARIS DI RSUP Prof. Dr. R. D. KANDOU MANADO PERIODE 2009-2011 1 Muhammad Mizwar 2 Marlyn Grace Kapantow 3 Pieter Levinus Suling Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran
Dewi Luksri Anjaniwati, Richa Yuswantina, Sikni Retno K. ABSTRACT
The Effectivity of Atorvastatin, Fenofibrate, and Gemfibrozil in Single and Combination Dose to Reduce Total Cholesterol Levels in White Male Rats of Wistar Strain Dewi Luksri Anjaniwati, Richa Yuswantina,
TERAPI TOPIKAL AZELAIC ACID DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE+ZINC PADA AKNE VULGARIS JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA
TERAPI TOPIKAL AZELAIC ACID DIBANDINGKAN DENGAN NIACINAMIDE+ZINC PADA AKNE VULGARIS JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA Diajukan sebagai Syarat Kelulusan Program Sarjana Kedokteran Umum AINI SOEYONO G2A009101 PROGRAM
BAB I PENDAHULUAN UKDW. al, 2008). Tempat-tempat predileksi acne vulgaris adalah wajah, leher,
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN Acne vulgaris atau jerawat adalah penyakit kulit yang terjadi akibat inflamasi kronik pada folikel pilosebasea yang ditandai adanya komedo, papul, pustul,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Sebaran usia mahasiswi yang menggunakan kosmetik
Jumlah BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1. Sebaran usia mahasiswi yang menggunakan kosmetik Penelitian ini melibatkan 85 responden mahasiswi yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Responden tersebut
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Psoriasis merupakan penyakit inflamasi kronis dengan karakteristik proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis berupa
BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kulit merupakan organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasi dari lingkungan hidup manusia. Berat kulit kira-kira 15% dari berat badan seseorang. Kulit merupakan
ABSTRAK KADAR CRP DAN LED BERKORELASI POSITIF DENGAN DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS
ABSTRAK KADAR CRP DAN LED BERKORELASI POSITIF DENGAN DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS Akne vulgaris merupakan suatu keradangan kronis dari folikel pilosebasea yang ditandai dengan adanya komedo, papul,
ABSTRACT THE EFFECT OF OLIVE OIL ADDITION INTO OATMEAL IN LOWERING BLOOD TOTAL CHOLESTEROL AND LDL (LOW DENSITY LIPOPROTEIN) IN WISTAR STRAIN RAT
ABSTRACT THE EFFECT OF OLIVE OIL ADDITION INTO OATMEAL IN LOWERING BLOOD TOTAL CHOLESTEROL AND LDL (LOW DENSITY LIPOPROTEIN) IN WISTAR STRAIN RAT Sebastian Hadinata, 2014, 1 st Tutor : Heddy Herdiman,
BAB I PENDAHULUAN. jerawat atau akne (Yuindartanto, 2009). Akne vulgaris merupakan suatu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit kulit yang sering dijumpai pada remaja dan dewasa muda adalah jerawat atau akne (Yuindartanto, 2009). Akne vulgaris merupakan suatu kelainan yang dapat sembuh
BAB II LANDASAN TEORI
digilib.uns.ac.id BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka 1. Akne Vulgaris a. Definisi Akne Vulgaris Akne vulgaris merupakan penyakit kulit yang dapat sembuh sendiri berupa peradangan kronis folikel
Jerawat biasanya muncul di wajah, leher, bahu, dada, punggung dan bahu, dan maaf ada juga di daerah pantat.
Written by DR. Santi Hoesodo Merah dan ranum! Kalau untuk buah-buahan sih ok saja. Tapi untuk keadaan berjerawat. Aduh...siapa juga yang mau. Penulis ingat semasa SMA kalau ada teman yang berjerawat besar
ABSTRAK. Kata kunci : Kemampuan dalam pengambilan keputusan karir, Pelatihan perencanaan karir pendekatan trait-factor. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauhmana efektivitas pelatihan perencanaan karir pendekatan trait-factor dalam meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan dalam memilih jurusan Perguruan
Ekstraksi Daun Sirsak (Annona muricata) sebagai Antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Propionibacterium acnes
Ekstraksi Daun Sirsak (Annona muricata) sebagai Antibakteri terhadap Staphylococcus aureus Adlia Ulfa Syafira 1, Ety Apriliana 2 1 Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung 2 Bagian Mikrobiologi,
ABSTRAK. EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava Linn.) DALAM MENURUNKAN KADAR TRIGLISERIDA TIKUS WISTAR JANTAN
ABSTRAK EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava Linn.) DALAM MENURUNKAN KADAR TRIGLISERIDA TIKUS WISTAR JANTAN Tria Pertiwi, 2014 Pembimbing I Dr. Sugiarto Puradisastra, dr., M.Kes. Pembimbing
PENGARUH PEMAKAIAN SABUN SULFUR TERHADAP JUMLAH LESI AKNE VULGARIS LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH
PENGARUH PEMAKAIAN SABUN SULFUR TERHADAP JUMLAH LESI AKNE VULGARIS (PenelitianKlinispadaMahasiswiPenderitaAkne Vulgaris yang DiberikanTerapiStandarTretinoin 0,025% + TSF 15) LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH
Perbandingan Konsumsi Lemak Berdasarkan Tingkat Keparahan Akne Vulgaris pada Siswa SMK Negeri 1 Kota Jambi
751 Artikel Penelitian Perbandingan Konsumsi Lemak Berdasarkan Keparahan Akne Vulgaris pada Siswa SMK Negeri 1 Kota Jambi Nisa Sulistia 1, Nur Indrawaty Lipoeto 2, Sri Lestari 3 Abstrak Salah satu faktor
BAB I PENDAHULUAN. sering ditemukan pada pasien penyakit ginjal kronis. Keluhan pruritus yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pruritus penyakit ginjal kronis masih merupakan keluhan yang paling sering ditemukan pada pasien penyakit ginjal kronis. Keluhan pruritus yang signifikan ditemukan pada
ARTIKEL ASLI. Antibiotik Oral pada Pasien Akne Vulgaris: Penelitian Retrospektif. (Oral Antibiotic in Acne Vulgaris Patients: Retrospective Study)
ARTIKEL ASLI (Oral Antibiotic in Acne Vulgaris Patients: Retrospective Study) Marina Rimadhani, Rahmadewi Departemen/Staf Medik Fungsional Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas
BAB III METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah ilmu kesehatan kulit dan kelamin.
BAB III METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Ruang lingkup penelitian adalah ilmu kesehatan kulit dan kelamin. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian 4.2.1 Tempat Penelitian Tempat pengambilan sampel
KAJIAN PENGOBATAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KARANG ASAM SAMARINDA
KAJIAN PENGOBATAN HIPERTENSI DI PUSKESMAS KARANG ASAM SAMARINDA Faisal Ramdani, Nur Mita, Rolan Rusli* Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Farmaka Tropis Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman, Samarinda
KARAKTERISTIK PENDERITA DERMATITIS ATOPIK DI POLIKLINIK RSUP DR. KARIADI SEMARANG LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH
KARAKTERISTIK PENDERITA DERMATITIS ATOPIK DI POLIKLINIK RSUP DR. KARIADI SEMARANG LAPORAN HASIL KARYA TULIS ILMIAH Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai gelar sarjana strata-1 kedokteran
TEAM BASED LEARNING MODUL BINTIL PADA KULIT
TEAM BASED LEARNING MODUL BINTIL PADA KULIT Diberikan pada Mahasiswa Semester IV Fakultas Kedokteran Unhas Disusun Oleh: dr. Idrianti Idrus, Sp.KK, M.Kes Dr. dr. Khairuddin Djawad, Sp.KK(K), FINSDV SISTEM
Hubungan Kadar Testosteron Serum dengan Berbagai Derajat Keparahan Akne Vulgaris pada Wanita Dewasa
Hubungan Kadar Testosteron Serum dengan Berbagai Derajat Keparahan Akne Vulgaris pada Wanita Dewasa (Association of Serum Testosterone with Various Severity of Acne Vulgaris in Adult Women) Umi Miranti,
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
PENGARUH PEMAKAIAN SABUN SULFUR TERHADAP JUMLAH LESI AKNE VULGARIS: PENELITIAN KLINIS PADA MAHASISWI PENDERITA AKNE VULGARIS YANG DIBERI TERAPI STANDAR TRETINOIN 0,025% + TSF 15 Mejestha Rouli Puspitasari
PENGGUNAAN KLINDAMISIN ORAL PASIEN AKNE VULGARIS SEDANG DI POLIKLINIK RSCM JAKARTA TAHUN 2009
Artikel Asli PENGGUNAAN KLINDAMISIN ORAL PASIEN AKNE VULGARIS SEDANG DI POLIKLINIK RSCM JAKARTA TAHUN 2009 Irma Bernadette Simbolon Sitohang, Wresti Indriatmi Makes Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan
PERBANDINGAN EFEK DARK CHOCOLATE DAN MILK CHOCOLATE DENGAN KONTROL DALAM MEMICU PENINGKATAN LESI AKNE PADA AKNE VULGARIS DERAJAT RINGAN SKRIPSI
PERBANDINGAN EFEK DARK CHOCOLATE DAN MILK CHOCOLATE DENGAN KONTROL DALAM MEMICU PENINGKATAN LESI AKNE PADA AKNE VULGARIS DERAJAT RINGAN SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran
RESISTENSI ANTIBIOTIK PROPIONIBACTERIUM ACNES DARI BERBAGAI LESI KULIT AKNE VULGARIS DI RUMAH SAKIT Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG
Artikel Asli RESISTENSI ANTIBIOTIK PROPIONIBACTERIUM ACNES DARI BERBAGAI LESI KULIT AKNE VULGARIS DI RUMAH SAKIT Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG Reti Hindritiani, Asmaja Soedarwoto, Kartika Ruchiatan, Oki Suwarsa,
Disusun Oleh : MELDA AGUSTIN NIM
HUBUNGAN ANTARA DERAJAT KEPARAHAN AKNE VULGARIS DENGAN TINGKAT KUALITAS HIDUP PADA SISWA KELAS VIII DAN IX MADRASAH TSANAWIYAH PEMBANGUNAN UIN JAKARTA TAHUN AJARAN 2016-2017 Laporan Penelitian ini ditulis
Perbedaan Derajat Akne Vulgaris pada Diet dengan Indeks Glikemik Sedang dan Tinggi
Perbedaan Derajat Akne Vulgaris pada Diet dengan Indeks Glikemik Sedang dan Tinggi The Variance of Acne Severity in The Moderate and High Glicemic Indeks Diet Siti Aminah Tri Susila Estri 1, Tri Ari Susanto
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Akne vulgaris adalah peradangan kronik dari folikel polisebasea yang
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Akne Vulgaris 2.1.1 Definisi Akne vulgaris adalah peradangan kronik dari folikel polisebasea yang menyebabkan deskuamasi abnormal epitel folikel dan sumbatan folikel sehingga
ABSTRAK. Albert Christopher Ryanto, Pembimbing I: Heddy Herdiman, dr., M.Kes. Pembimbing II: Christine Sugiarto, dr., Sp.PK.
ABSTRAK PERBANDINGAN EFEKTIVITAS MADU HUTAN DAN MADU TERNAK TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PUASA PADA MENCIT JANTAN GALUR SWISS WEBSTER YANG DIINDUKSI OLEH ALOKSAN Albert Christopher Ryanto, 2014.
ABSTRAK PERBANDINGAN KADAR RET HE, FE, DAN TIBC PADA PENDERITA ANEMIA DEFISIENSI FE DENGAN ANEMIA KARENA PENYAKIT KRONIS
ABSTRAK PERBANDINGAN KADAR RET HE, FE, DAN TIBC PADA PENDERITA ANEMIA DEFISIENSI FE DENGAN ANEMIA KARENA PENYAKIT KRONIS Renaldi, 2013 Pembimbing I : dr. Fenny, Sp.PK., M.Kes Pembimbing II : dr. Indahwaty,
DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian...
DAFTAR ISI Halaman SAMPUL DALAM... i LEMBAR PENGESAHAN.... ii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iii KATA PENGANTAR... iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI... v ABSTRAK... vi ABSTRCT... vii RINGKASAN...
Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: X
Prosiding Pendidikan Dokter ISSN: 2460-657X Hubungan Antara Konsumsi Susu dan Produk Olahannya dengan Kejadian Akne Vulgaris pada Mahasiswa Tingkat IV Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun
