LIMA Dinamika Fakta Empirik
|
|
|
- Susanto Hartanto
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 LIMA Dinamika Fakta Empirik Data yang diperoleh dirasakan melalui uji indikator variabel, yang dinilai berdasarkan nilai reratanya, serta uji model yang dikembangkan dalam penelitian ini. Uji indikator variabel dilakukan untuk melihat apakah indikator variabel yang diajukan dalam penelitian ini dapat disetujui atau benar-benar terjadi pada obyek penelitian yaitu IKM mebel ekspor Jepara. Hasil uji indikator ini dapat digunakan sebagai gambaran awal tentang kelayakan dan kehandalan indikator-indikator yang diajukan, untuk mengukur variabel-variabel yang menjadi dasar pengembangan model penelitian ini. Uji selanjutnya adalah uji kelayakan model penelitian yang dibangun berdasarkan variabel-variabel yang dikembangkan dalam penelitian ini. Uji model ini terdiri dari tiga tahap yaitu evaluasi asumsi struktural, uji kelayakan model dan uji hipotesis. Uji terakhir yang dilakukan untuk merasakan data ini adalah uji intepretasi model. Uji Skor Rerata Indikator Variabel Uji ini ditujukan untuk mengetahui sejauh mana indikatorindikator yang dikembangkan dalam penelitian ini mampu menjadi tolok ukur variabel pembentuk model yang dikembangkan untuk memecahkan permasalahan IKM mebel ekspor Jepara. Selain itu uji ini digunakan untuk mengetahui kecenderungan arah jawaban responden (pimpinan perusahaan IKM mebel ekspor Jepara), apakah mereka menyatakan persetujuannya terhadap indikator yang dikembangkan dalam penelitian ini sebagai tolok ukur dari modal sosial struktural, solidaritas dan trust yang mereka bangun, daya dan aktivitas inovasi yang mereka kembangkan sebagai budaya inovasi dan peningkatan kinerja produk yang mereka capai. Uji rerata ini menggunakan jenjang 153
2 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara skala persetujuan sebagai berikut : (max min)/jenjang skala = (10 1)/5 = 1,80. 1,00 2,80 = sangat tidak setuju. 2,81 4,61 = tidak setuju. 4,62 6,42 = cukup setuju. 6,43 8,23 = setuju. 8,24 10,00 = sangat setuju. Tabel 5.1 Skor Rerata Modal Sosial Struktural No Indikator Modal Sosial Struktural Skor Rerata Keterangan 1 Karyawan memiliki hubungan yang erat 6,833 Setuju dengan pimpinan perusahaan. 2 Hubungan erat antara karyawan dan 6,873 Setuju pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efektif. 3 Hubungan erat antara karyawan dan 6,533 Setuju pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efisien. 4 Karyawan dapat belajar dari pimpinan 6,740 Setuju perusahaan dari keeratan hubungan yang ada. RATA RATA 6,745 Setuju Hasil rata-rata pada tabel di atas, menunjukkan ke empat ukuran pembangunan modal sosial struktural disetujui oleh pimpinan perusahaan IKM mebel ekspor Jepara, sebagai ukuran yang dapat diterima. Komunikasi yang efektif yang dihasilkan dari keeratan hubungan antara pimpinan perusahaan dengan karyawan, merupakan tolok ukur pembangunan modal sosial struktural pada IKM mebel ekspor Jepara. Berbeda dengan efektivitas komunikasi, efisiensi komunikasi yang dihasilkan dari keeratan hubungan antara pimpinan perusahaan dengan karyawan, memiliki nilai terendah. Hal ini menunjukkan bahwa efektivitas komunikasi, lebih penting dibanding efisiensi komunikasi yang merupakan hasil dari keeratan hubungan antara pimpinan perusahaan dengan karyawan, sebagai ukuran pembangunan modal sosial struktural. 154
3 Dinamika Fakta Empirik Tabel 5.2 Skor Rerata Indikator Solidaritas No Indikator Solidaritas Skor Rerata Keterangan 1 Tujuan bersama lebih penting dari kebutuhan 6,980 Setuju pribadi. 2 Keputusan bersama harus dilaksanakan 6,887 Setuju meskipun terdapat perbedaan pendapat. 3 Pemecahan masalah bersama lebih baik dibanding pemecahan masalah individual. 6,480 Setuju 4 Komunikasi internal perusahaan berjalan 6,660 Setuju secara efisien. RATA RATA 6,752 Setuju Rerata pada tabel di atas menunjukkan bahwa, ke empat ukuran pembangunan solidaritas yang dikembangkan, disetujui oleh pimpinan perusahaan IKM mebel ekspor Jepara, sebagai ukuran yang layak. Urgensinya tujuan bersama, lebih penting bagi pimpinan perusahaan IKM mebel ekspor Jepara sebagai ukuran pembangunan solidaritas dibandingkan dengan keputusan bersama, efisiensi internal dan pemecahan masalah bersama. Pentingnya pemecahan masalah bersama paling rendah nilainya sebagai ukuran pembangunan solidaritas pada IKM mebel ekspor Jepara. Hal ini menunjukkan bahwa secara general sebelum dikaji lebih dalam, pimpinan perusahaan IKM mebel ekspor Jepara memandang bahwa kebersamaan dalam mencapai tujuan bersama merupakan ukuran paling penting, dibanding kebersamaan untuk melaksanakan keputusan dan memecahkan permasalahan, sebagai ukuran pembangunan solidaritas. Tabel 5.3 Skor Rerata Indikator Trust No Indikator Trust Skor Rerata Keterangan 1 6,673 Setuju karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan (benevolence trust). 2 7,027 Setuju karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). 155
4 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara No Indikator Trust Skor Rerata Keterangan 3 7,047 Setuju karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). 4 6,920 Setuju karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu (integrity trust). 5 karyawan bahwa karyawan memiliki 6,920 Setuju kompetensi teknologi (competence trust). 6 7,020 Setuju karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya (competence trust). RATA RATA 6,934 Setuju Baik indikator-indikator integrity, benevolence dan competence trust terbagi ke dalam nilai rerata yaitu 7 dan 6. Nilai rerata 7 menunjukkan tingkat persetujuan yang lebih tinggi bagi indikator sebagai ukuran pembangunan trust bagi IKM mebel ekspor Jepara. Kelompok nilai 7 tertinggi adalah pada integrity trust yang berupa kepercayaan pimpinan perusahaan terhadap visi ke depan yang dimiliki oleh karyawannya. Hal ini juga terjadi pada kelompok nilai 6, nilai tertinggi pada integrity trust, yang berupa kepercayaan pimpinan perusahaan terhadap kapabilitas karyawannya untuk berkembang dan belajar secara kontinyu. Hasil ini menunjukkan bahwa integrity trust secara umum dipandang oleh pimpinan perusahaan IKM mebel ekspor Jepara sebagai tolok ukur keberhasilan pembangunan trust yang utama dibandingkan dengan benevolence dan competence trust. Tabel 5.4 Skor Rerata Indikator Daya Inovasi No Indikator Daya Inovasi Skor Rerata Keterangan 1 Kemampuan menghasilkan produk yang 6,660 Setuju dianggap baru dan inovatif oleh konsumen (daya inovasi produk). 2 Kemampuan untuk menerima perbedaan pengerjaan tugas untuk setiap individu karyawan (daya inovasi perilaku). 6,833 Setuju 156
5 Dinamika Fakta Empirik No Indikator Daya Inovasi Skor Rerata Keterangan 3 Kemampuan untuk mencoba metode yang 6,913 Setuju baru dalam mendapatkan peluang (daya inovasi proses). 4 Kebersediaan untuk mengambil risiko 6,927 Setuju dalam mendapatkan peluang baru (daya inovasi stratejik). RATA RATA 6,833 Setuju Bagi pimpinan perusahaan IKM mebel ekspor Jepara, pemberdayaan daya inovasi ditandai dengan tumbuhnya kesediaan untuk mengambil risiko dalam upaya memperoleh peluang baru. Daya inovasi stratejik ini, kemudian diikuti dengan kemampuan untuk mencoba peluang baru. Kemampuan perusahaan untuk menghasilkan produk inovatif memiliki nilai yang terendah. Hal ini disebabkan karena kemampuan penciptaan produk inovatif ini tergantung pada kemampuan perusahaan untuk mengambil risiko, mencoba metode baru dan menerima perbedaan pengerjaan tugas. Tabel 5.5 Skor Rerata Indikator Pembelajaran Eksploratif No Indikator Pembelajaran Eksploratif Skor Rerata Keterangan 1 Pembelajaran fokus pada perolehan 7,147 Setuju pengetahuan baru melalui eksperimen. 2 Pencarian informasi yang mengarahkan 6,680 Setuju pada pasar baru. 3 Pembelajaran cenderung berdasarkan 6,660 Setuju pengalaman. RATA - RATA 6,829 Setuju Keberhasilan Pembelajaran Eksploratif yang dibangun oleh IKM mebel ekspor Jepara ditandai dengan adanya pembelajaran yang dilakukan oleh IKM mebel ekspor Jepara, yang fokus pada perolehan pengetahuan baru melalui eksperimen. Pembelajaran berdasar uji coba ini akan mengarahkan IKM mebel ekspor Jepara untuk melakukan pencarian informasi pada pasar baru, dan pembelajaran berdasarkan pada pengalaman. 157
6 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Tabel 5.6 Skor Rerata Indikator Transfer Pengetahuan No Indikator Transfer Pengetahuan Skor Rerata Keterangan 1 Transfer pengetahuan tentang kepuasan 6,567 Setuju konsumen melalui berbagi cerita. 2 Transfer pengetahuan tentang teknologi tepat guna melalui berbagi pengalaman. 6,927 Setuju 3 Transfer pengetahuan tentang persepsi 7,160 Setuju konsumen melalui berbagi nilai nilai yang diyakini konsumen. 4 Transfer pengetahuan tentang 7,087 Setuju penggunaan teknologi tepat guna melalui praktek secara langsung. RATA RATA 6,935 Setuju Persepsi konsumen merupakan jenis pengetahuan yang tidak terdapat pada buku yang dapat dipelajari, oleh sebab itu harus ditransfer melalui berbagi nilai-nilai yang diyakini konsumen dari kontributor pengetahuan ke konsumen pengetahuan. Hal ini juga terjadi pada pengetahuan teknologi tepat guna yang hanya dapat diperoleh melalui praktek secara langsung ataupun berbagi pengalaman. Teknologi tepat guna yang digunakan pada IKM mebel ekspor Jepara antara lain sekrel, mesin bubut dan gergaji bengkok, yang penggunaannya berdasarkan pada kreatifitas masing-masing penggunaan untuk membuat produk yang inovatif. Hal ini menjadi dasar pemahaman mengapa ke indikator tersebut menjadi tolok ukur penting bagi transfer pengetahuan. Tabel 5.7 Skor Rerata Indikator Kinerja Produk No Indikator Kinerja Produk Skor Rerata Keterangan 1 Kemampuan produk untuk meningkatkan penjualan 7,453 Setuju karena lebih unggul dibanding pesaing. 2 Kemampuan produk untuk meningkatkan 7,240 Setuju jumlah konsumen karena keunikannya. 3 Kemampuan produk untuk memperluas pasar 7,347 Setuju karena sesuai dengan kebutuhan konsumen. 4 Kemampuan produk untuk meningkatkan 7,007 Setuju keuntungan karena klasik dan elegan. RATA RATA 7,262 Setuju 158
7 Dinamika Fakta Empirik Keunggulan produk dibanding pesaing sehingga mampu meningkatkan penjualan, merupakan ukuran kinerja produk yang paling tinggi nilainya. Hal ini menunjukkan bahwa, bagi pimpinan perusahaan, peningkatan kinerja produk perusahaan mereka, pertama kali harus ditandai dengan kemampuan produk tersebut untuk meningkatkan penjualan karena lebih unggul dibanding produk pesaing. Selain peningkatan penjualan, kemampuan produk untuk memperluas pasar juga menjadi ukuran penting bagi keberhasilan produk IKM mebel ekspor Jepara. Hal ini disebabkan karena perluasan pasar berarti penguasaan pasar yang semakin meningkat. Disamping itu, produk yang mampu memperluas pasar adalah produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumennya. Evaluasi Asumsi Model Struktural Evaluasi asumsi model struktural merupakan langkah yang harus dilakukan sebelum uji kelayakan model. Evaluasi ini dilakukan untuk menghindari terjadinya problem identifikasi, atau mempersiapkan data agar sesuai dengan yang disyaratkan di dalam pendekatan SEM. Evaluasi yang dilakukan meliputi: uji normalitas data, uji outliers, uji multikolinieritas, uji offending estimate, uji validitas konstruk dan uji unidimensionalitas. Uji Normalitas data Uji normalitas data dilakukan melalui dua uji yaitu normalitas univariat dan normalitas multivariat. Uji normalitas univariat dilakukan dengan menghitung nilai skewness dan nilai kurtosis yaitu data dikatakan normal apabila nilai skewness kurang dari 2 dan kurtosisnya kurang dari 7. Uji normalitas univariat ini juga dapat dilakukan dengan menghitung nilai critical ratio skewness dan nilai critical ratio kurtosis, yaitu data dikatakan normal jika nilai critical ratio skewness dan nilai critical ratio kurtosis di bawah 2,58. Sedangkan normalitas multivariat dapat dilihat dari nilai critical 159
8 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara kurtosis multivariate yaitu tidak boleh lebih tinggi dari 2,58, pada tingkat signifikansi 1%. Hasil uji normalitas data univariat menunjukkan bahwa baik nilai skewness, nilai critical ratio skewness, nilai kurtosis dan nilai critical ratio kurtosis tidak ada yang lebih tinggi dari 2,58. Nilai tertinggi skewness adalah -0,473 dan nilai tertinggi critical ratio skewness adalah sebesar 0,201, sedangkan nilai kurtosis tertinggi adalah sebesar -0,890 dan nilai critical ratio kurtosis tertinggi sebesar - 0,400. Hasil ini menunjukkan bahwa data secara univariat berdistribusi normal. Hasil uji normalitas data multivariat menunjukkan bahwa nilai critical ratio kurtosis multivariate tidak ada yang melebihi 2,58. Nilai critical ratio kurtosis multivariate adalah sebesar 2,555 < 2,58, dengan demikian dapat dikatakan bahwa data secara multivariat berdistribusi normal. Hasil uji normalitas data menunjukkan bahwa data berdistribusi normal baik secara univariat maupun multivariat (lampiran 2). Hal ini menunjukkan bahwa data yang diperoleh telah memenuhi asumsi normalitas yang dibutuhkan dalam estimasi ML (Maximum Likelihood) yang digunakan dalam penelitian ini. Normalitas data ini akan menghindarkan uji model trust sebagai penggerak daya dan aktivitas inovasi dalam peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara ini terhindar dari (1) solusi yang tidak sesuai; (2) menghasilkan nilai CFI yang underestimate. Uji Outliers Uji univariate outlier dilakukan dengan menghitung nilai z score. Hasil perhitungan nilai z score menunjukkan bahwa nilai z score di bawah 3 atau tidak berada pada rentang 3 4. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat univariate outlier pada data penelitian. Uji multivariate outlier dilakukan dengan menghitung nilai jarak mahalanobis. Berdasarkan nilai chi-square dengan derajat kebebasan 29 yaitu jumlah indikator variabel pada tingkat signifikansi 160
9 Dinamika Fakta Empirik 0,001 didapat nilai mahalanobis distance (29; 0,001) = 58,30. Nilai mahalanobis yang melebihi 58,30 pada tabel mahalanobis terdapat multivariate outlier. Berdasarkan hasil pengolahan data dapat diketahui bahwa jarak mahalanobis minimal adalah 26,427 dan maksimal adalah 40,150 dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat multivariate outliers (lampiran 3). Hasil uji outliers menunjukkan bahwa tidak terdapat baik univariate outlier dan multivariate outliers. Dengan tidak terdapatnya outliers pada data, maka dapat dikatakan bahwa data yang ada bersih dari nilai ekstrim. Uji Multikolinieritas Terdapatnya multikolinearitas (multicollinearity) atau singularitas (singularity) pada data dapat dilihat pada matrik kovarian sampelnya, dimana nilai determinan matrik kovarian yang benar benar kecil atau mendekati nol. Hasil perhitungan Dari hasil pengolahan data pada penelitian ini, nilai determinan matrik kovarian sampel sebagai berikut : Determinant of sample covariance matrix = 1395,542 Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai determinan matrik kovarian sampel tidaksama dengan nol. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa data penelitian yang digunakan tidak terdapat multikolinearitas dan singularitas, sehingga data layak untuk digunakan. Uji Kelayakan Estimasi Parameter Kelayakan parameter dalam model diukur dari estimasi yang memberikan tanda dan besaran yang sesuai dengan teori. Nilai estimasi parameter yang tidak sesuai merupakan indikasi adanya kesalahan model. Terjadinya hasil estimasi yang tidak sesuai ditandai dengan nilai stándard error besar untuk satu atau lebih koefisien, nilai error variance negatif dan adanya nilai korelasi yang tinggi > 0,90 antar koefisien estimasi. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa nilai 161
10 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara korelasi < 0,90 yaitu sebesar 0,396. Nilai variance tidak ada yang negatif dan stándar eror juga tidak terlalu besar ataupun mendekati nol. Selain itu nilai loading factor dari masing-masing indikator > 0,5. Hasil pengolahan data ini menunjukkan bahwa estimasi parameter mampu menghasilkan estimasi yang unik (lampiran 4). Uji Validitas Konstrak Penelitian ini mengukur validitas konstrak yaitu menjelaskan keakuratan dari kumpulan item yang terukur yang menggambarkan variabel laten secara teoritis. Unji validitas konstrak ini menggunakan 2 ukuran yaitu variance extracted, dan reliability. Variance extrated menguji item item yang terukur mampu yang menjelaskan variabel laten, sedangkan reliabilitas menguji kehandalan dan konsitensi item yang terukur yang menjelaskan variabel laten. Hasil uji variance extracted, dan reliability menunjukkan bahwa nilai variance extracted untuk semua variabel > 0,5, sedangkan nilai reliability untuk semua variabel > 0,7. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semua variabel tersebut memiliki convergent yang baik, dan variabel laten yang diteliti layak dan handal. Hasil uji variance extracted, dan reliability dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 5.8 Hasil Uji Variance Extracted, dan Reliability Modal Sosial Struktural dan Solidaritas Loading (Loading) ( ) 2 RELIABEL VE Memenuhi kriteria bila 0,7 0,5 Modal sosial struktural X1 0,893 0,797 0,203 12,257 0,929 0,766 X2 0,853 0,728 0,272 X3 0,889 0,790 0,210 X4 0,866 0,750 0,250 Jumlah 3,501 3,065 0,935 Solidaritas X5 0,917 0,841 0,159 12,831 0,942 0,803 X6 0,929 0,863 0,137 X7 0,835 0,697 0,303 X8 0,901 0,812 0,188 Jumlah 3,582 3,213 0,
11 Dinamika Fakta Empirik Tabel di atas menunjukkan bahwa keeratan hubungan antara pimpinan perusahaan IKM mebel ekspor Jepara dan karyawannya yang bukan saja menghasilkan komunikasi baik efektif dan efisien, namun juga membuka kesempatan bagi karyawan untuk belajar dari pimpinannya, bukan saja mampu menjelasakan, melainkan juga handal dan konsisten sebagai tolok ukur pembangunan modal sosial struktural pada IKM mebel ekspor Jepara. Sedangkan pembangunan solidaritas pada IKM mebel ekspor Jepara, dapat diukur keberhasilannya melalui pencapaian tujuan bersama, pelaksanaan keputusan bersama, pemecahan masalah bersama dan efisiensi komunikasi internal. Tabel 5.9 Hasil Uji Variance Extracted, dan Reliability: Trust, Pembelajaran Eksploratif, Transfer Pengetahuan dan Kinerja Produk Loading (Loading) ( ) 2 RELIABEL VE Memenuhi kriteria bila 0,7 0,5 Trust X9 0,800 0,640 0,360 25,020 0,932 0,696 X10 0,834 0,696 0,304 X11 0,838 0,702 0,298 Loading Memenuhi kriteria bila 0,7 0,5 Trust X12 0,785 0,616 0,384 X13 0,857 0,734 0,266 X14 0,888 0,789 0,211 Jumlah 5,002 4,177 1,823 Daya inovasi X15 0,782 0,612 0,388 10,824 0,894 0,678 X16 0,782 0,612 0,388 X17 0,870 0,757 0,243 X18 0,856 0,733 0,267 Jumlah 3,290 2,713 1,287 Pembelajaran eksploratif X19 0,876 0,767 0,233 6,396 0,881 0,711 X20 0,825 0,681 0,319 X21 0,828 0,686 0,314 Jumlah 2,529 2,134 0,866 (Loading) ( ) 2 RELIABEL VE 163
12 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Transfer pengetahuan X22 0,712 0,507 0,493 7,314 0,856 0,691 X23 0,903 0,815 0,185 X24 0,849 0,721 0,279 X25 0,850 0,723 0,278 Jumlah 3,314 2,766 1,234 Kinerja produk X26 0,909 0,826 0,174 12,069 0,925 0,757 X27 0,857 0,734 0,266 X28 0,913 0,834 0,166 X29 0,795 0,632 0,368 Jumlah 3,474 3,026 0,974 Tabel di atas menunjukkan bahwa baik benevolence, competence dan integrity trust, dapat mengukur pembangunan trust dengan baik pada IKM mebel ekspor Jepara. Demikian juga untuk daya inovasi yang keberhasilan pembangunannya ditentukan oleh adanya daya inovasi produk, perilaku, proeses, dan stratejik. Keberhasilan pembangunan aktivitas inovasi IKM mebel ekspor Jepara, yang berupa pembelajaran eksploratif keberhasilan pembangunannya ditentukan oleh adanya pembelajaran berdasara eksperimen, pengalaman dan pencarian informasi baru. Aktivitas inovasi yang berupa transfer pembelajaran keberhasilan pembangunannya pada IKM mebel ekspor Jepara ditentukan oleh hadirnya transfer pengetahuan tekait dengan kepuasan konsumen yang dilakukan melalui berbagi cerita dan nilai nilai yang diyakini konsumen, serta transfer pengetahuan terkait dengan teknologi tepat guna yang dilakukan melalui berbagi pengalaman dan praktek secara langsung. Ukuran peningkatan kinerja produk ditentukan melalui kemampuan produk tersebut bukan saja dalam meningkatkan penjualan, namun juga memperluas pasar, meningkatkan jumlah konsumen, dan meningkatkan keuntungan IKM mebel ekspor Jepara. Uji Unidimensionalitas Uji unidimensionalitas dalam penelitian ini dilakukan melalui uji konfirmatori faktor eksogen (variabel laten independen) dan endogen (variabel laten dependen). 164
13 Dinamika Fakta Empirik Uji Konfirmatori Faktor Eksogen Analisis faktor konfirmatori konstruk eksogen bertujuan menguji unidimensionalitas dari dimensi-dimensi pembentuk masingmasing variabel modal sosial struktural, dan solidaritas. Hasil analisis faktor konfirmatori pada konstruk modal sosial struktural dan solidaritas menunjukkan hasil sebagai berikut: Minimum was achieved Chi-square = 29,524 Degrees of freedom = 19 Probability level = 0,
14 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara 166 Gambar 5.1 Analisis Faktor Konfirmatori Konstruk Eksogen Hasil di atas menunjukkan bahwa model fit baik berdasarkan pada absolute goodness of fit, incremental fit maupun parsimonius fit. Hasil analisis adalah sebagai berikut: 1) Hasil Chi-Square dengan nilai probabilitas > 0,05 menunjukkan bahwa hipotesa nol yang menyatakan model sama dengan data empiris diterima, yang berarti model fit. 2) Nilai CMINDF sebesar 1,554 < 2, berarti model fit. 3) Nilai GFI sebesar 0,949 > 0,90, berarti model fit. 4) Nilai RMSEA sebesar 0,061 < 0,08, berarti model fit. 5) Nilai CFI sebesar 0,990 > 0,90, berarti model fit. 6) Nilai AGFI sebesar 0,904 > 0,90, berarti model fit. 7) Nilai TLI sebesar 0,985 > 0,90, berarti model fit. 8) Nilai NFI sebesar 0,983 > 0,90 berarti model fit. 9) Nilai PNFI sebesar 0,660 > 0,60, hal ini menunjukkan bahwa model dapat dikatakan parsimonius fit. 10) Nilai PGFI sebesar 0,501, nilai ini masih dalam toleransi kelayakan, karena nilai PGFI berkisar antara 0 1,00 dan tidak ada nilai yang distandarkan. Hasil analisis faktor konfirmatori pada konstruk eksogen menunjukkan bahwa modal sosial struktural dan solidaritas layak diuji pada tahap full model, karena nilai hasil uji absolute, incremental dan parsimonius fit, masih dalam batas toleransi kelayakan. Hasil analisis ini dapat dikatakan memenuhi kriteria standar yang disyaratkan. Hasil analisis data juga menunjukkan bahwa observed variables (indikator) dari modal sosial dan solidaritas dikatakan valid karena mempunyai nilai koefisien atau loading factor di atas 0,5 yang menunjukkan bahwa ada kecocokan dari indikator-indikator atau unidimensionalitas (lampiran 5).
15 Dinamika Fakta Empirik Hasil analisis juga menunjukkan bahwa tidak satupun observed variables (indikator) yang dihilangkan karena bahwa setiap indikator atau dimensi pembentuk modal sosial struktural dan solidaritas menunjukkan hasil yang memenuhi kriteria yaitu nilai Critical Ratio (CR) >1.96 dengan Probability (P) lebih kecil dari pada 0,05. Berdasarkan hasil ini, maka dapat dikatakan bahwa indikator-indikator pembentuk modal sosial struktural dan solidaritas telah menunjukkan unidimensionalitas atau indikator indikator pembentuk modal sosial struktural dan solidaritas merupakan suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan (lampiran 5). Uji Konfirmatori Faktor Endogen Analisis faktor konfirmatori konstruk endogen bertujuan untuk menguji unidimensionalitas indikator-indikator pembentuk variabel laten (konstruk) endogen. Konstruk endogen dalam penelitian ini terdiri dari 5 variabel yaitu trust, daya inovasi, pembelajaran eksploratif, transfer pengetahuan dan kinerja produk, dengan 21 observed variabel sebagai pembentuknya. Gambar 5.2 menunjukkan bahwa model fit baik berdasarkan pada absolute goodness of fit, incremental fit maupun parsimonius fit. Hasil analisis adalah sebagai berikut: 1) Hasil Chi-Square dengan nilai probabilitas sebesar 0,058 > 0,05 menunjukkan bahwa hipotesa nol yang menyatakan model sama dengan data empiris diterima, yang berarti model fit. 2) Nilai CMINDF sebesar 1,002 < 2, berarti model fit. 3) Nilai GFI sebesar 0,894, nilai ini mendekati 0,90 sehingga dapat dikatakan bahwa nilai GFI masih dalam range kelayakan. 4) Nilai RMSEA sebesar 0,012 < 0,08, berarti model fit. 5) Nilai CFI sebesar 0,998 > 0,90, berarti model fit. 6) Nilai AGFI sebesar 0,863 yang mendekati nilai 0,90. Dapat dikatakan bahwa nilai AGFI masih dalalm range kelayakan. 7) Nilai TLI sebesar 0,998 > 0,90, berarti model fit. 167
16 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara 8) Nilai NFI sebesar 0,922 > 0,90 berarti model fit. 9) Nilai PNFI sebesar 0,786 > 0,60, hal ini menunjukkan bahwa model dapat dikatakan parsimonius fit. 10) Nilai PGFI sebesar 0,693 > 0,60, nilai ini masih dalam toleransi kelayakan, karena nilai PGFI berkisar antara 0 1,00 dan tidak ada nilai yang distandarkan. Hasil analisis faktor konfirmatori pada konstruk endogen menunjukkan bahwa trust, daya inovasi, pembelajaran eksploratif, transfer pengetahuan dan kinerja produk layak diuji pada tahap full model, karena nilai absolute goodness of fit, incremental fit maupun parsimonius fit dimana hasil ini masih dalam batas toleransi kelayakan. Hasil analisis ini dapat dikatakan memenuhi kriteria standar yang disyaratkan. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa hasil perhitungan ukuran goodness of fit sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Observed variables (indikator) pembentuk trust, daya inovasi, pembelajaran eksploratif, transfer pengetahuan dan kinerja produk memiliki nilai (loading factor) di atas 0,5 atau dapat dikatakan valid. Oleh sebab itu semua indikator yang ada dapat digunakan untuk analisis full model. Setiap indikator pembentuk trust, daya inovasi, pembelajaran eksploratif, transfer pengetahuan dan kinerja produk memiliki nilai Critical Ratio (CR) >1.96 dengan Probability (P) lebih kecil dari pada 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa indikator-indikator pembentuk variabel laten telah menunjukkan unidimensionalitas atau suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Hasil analisis konfirmatori trust, daya inovasi, pembelajaran eksploratif, transfer pengetahuan dan kinerja produk dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Minimum was achieved Chi-square = 29,524 Degrees of freedom = 19 Probability level = 0,
17 Dinamika Fakta Empirik Chi-Square=183,001 CMINDF=1,022 GFI=,894 RMSEA =,012 CFI=,998 AGFI =,863 TLI=,998 NFI=,922 PNFI=,786 PGFI=,693 e9 e10 e11 e12 e13 e14,63,70,70,62,74,79 x9 x10 x11 x12 x13 x14,20,80,83,83,79,86,89,20,02 Trust -,17 e15 e16 e17 e18,61 x15,61,78 x16,78,87,76 Daya Inovasi x17,86,73 x18,39,88 x19 Pembelajaran Eksploratif,77 x20,82,67,83,69 x21,32,71,90 Transfer Pengetahuan,51 x22 e22,81 x23 e23,72,85 x24 e24,85,72 x25 e25 e19 e20 e21,20,07,19 Kinerja Produk,18,82,85,91,73,79,91,83,63 x26 x27 x28 x29 e26 e27 e28 e29 Gambar 5.2 Analisis Faktor Konfirmatori Konstruk Endogen 169
18 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Uji Kelayakan Model Hasil uji kesalahan parameter untuk model peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara melalui pembangunan trust sebagai penggerak daya dan aktivitas inovasi, menunjukkan bahwa tidak terjadi kesalahan parameter. Hal ini dapat dilihat dari nilai baik korelasi maupun kovarian tidak ada yang > 0,9, dan nilai varian tidak ada yang negatif. Hasil uji kesalahan parameter ini menunjukkan bahwa tidak terjadi kesalahan model pembangunan trust sebagai penggerak daya dan aktivitas inovasi dalam peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara (lampiran 7). Nilai parameter dalam model trust sebagai penggerak daya dan aktivitas inovasi dalam peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara, ini dapat ditentukan dan didefinisikan dengan baik, karena hasil uji standar error menunjukkan bahwa nilai standar eror tidak ada yang mendekati nol ataupun terlalu besar (lampiran 8). Hasil uji signifikansi parameter menunjukkan bahwa nilai loading factor untuk semua variabel indikator > 0,7. Hal ini berarti bahwa semua indikator yang digunakan untuk mengukur variabel laten dalam penelitian ini dinyatakan valid (lampiran 9). Hasil uji konfirmatori faktor dengan variance extracted, dan construct reliability menunjukkan hasil yang mendukung hasil uji uji sebelumnya. Hasil uji variance extracted menunjukkan bahwa trust, modal sosial strukturall, solidaritas, pembelajaran eksploratif, transfer pengetahuan, daya inovasi dan kinerja produk memiliki nilai variance extract > 0,5, dengan demikian dapat dikatakan bahwa semua variabel tersebut memiliki convergent yang baik. Hasil uji construct reliability menunjukkan bahwa variabel trust, modal sosial struktural, solidaritas, pembelajaran eksploratif, transfer pengetahuan, daya inovasi dan kinerja produk yang merupakan variabel laten yang diuji memiliki nilai construct reliability > 0,7, ini berarti semua variabel yang diuji menunjukkan kehandalan yang baik (tabel 5.8 dan 5.9) 170
19 Dinamika Fakta Empirik Hasil uji absolute fit model pembangunan trust sebagai penggerak daya dan aktivitas inovasi dalam peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara menunjukkan bahwa: 1) Nilai Chi Square sebesar 387,216, dengan degree of freedom 368, dan nilai probabilitas 0,236 > 0,05 menunjukkan bahwa model fit berdasarkan ukuran Chi Square. 2) Nilai CMIN/DF adalah sebesar 1,052 atau < 2, dengan demikian dapat dikatakan bahwa model fit berdasarkan ukuran CMIN/DF. 3) Nilail GFI adalah sebesar 0,852 atau < 0,90, hal ini menunjukkan bahwa model memiliki goodness of fit yang marginal, namun karena ukuran GFI belum ada standar yang pasti maka model dapat dikatakan fit berdasarkan ukuran GFI. 4) Nilai AGFI sebesar 0,825 mendekati 0,90 atau dapat dikatakan model memiliki nilai fit yang marginal atau masih dalam toleransi dapat diterima. 5) Nilai RMSEA adalah 0,019 atau < 0,08, dengan demikian dapat dikatakan bahwa model memiliki goodness of fit yang baik berdasarkan ukuran RMSEA. Berdasarkan ke lima ukuran absolute fit ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan model trust sebagai penggerak daya dan aktivitas inovasi dalam peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara memiliki goodness of fit yang baik. Hasil uji incremental fit model pembangunan trust sebagai penggerak daya dan aktivitas inovasi dalam peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara menunjukkan bahwa: 1) Nilai CFI sebesar 0,994 > 0,90, sehingga dapat dikatakan model memiliki nilai fit yang baik. 2) Nilai TLI sebesar 0,993 > 0,90, sehingga dapat dikatakan model fit berdasarkan ukuran TLI. 171
20 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara 3) Nilai NFI sebesar 0,893 mendekati 0,90 dapat dikatakan model memiliki nilai fit yang marginal atau masih dalam toleransi dapat diterima. Hasil uji ini menunjukkan bahwa model penelitian yang diajukan dapat diperbandingkan dengan null model (model dimana tidak ada hubungan kausalitas antara variabel independen dan dependen), dan berada di atas null model. Hasil uji parsimony model pembangunan trust sebagai penggerak daya dan aktivitas inovasi dalam peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara menunjukkan bahwa: 1) Nilai PNFI sebesar 0,809 > 0,60 menunjukkan bahwa model fit berdasarkan ukuran PNFI. 2) Nilai PGFI sebesar 0,721 > 0,60 menunjukkan bahwa model fit berdasarkan ukuran PGFI. Nilai PNFI dan PGFI di atas menunjukkkan bahwa full model fit berdasarkan pada hasil uji parsimonius uji telah tercapai. Keseluruhan hasil uji di atas menyatakan bahwa model pembangunan trust sebagai penggerak daya dan aktivitas inovasi dalam peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara memiliki goodness of fit model yang baik. Hasil uji kelayakan model ini menunjukkan bahwa model ini dapat dipakai sebagai model acuan bagi IKM mebel ekspor Jepara untuk menggerakkan daya dan aktivitas inovasinya melalui pembangunan trust dalam meningkatkan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara. Hasil uji full model dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 172
21 Dinamika Fakta Empirik e1 e2 e3 e4,80,73,79,75 x1 x2 x3 x4,40 e5 e6 e7 e8,84,86,70,81 x5 x6 x7 x8,89,89,85,87,92,84,93,90 Modal Sosial Struktural e9 e10 e11 e12 e13 e14,64,70,70,62,74,79 x9 x10 x11 x12 x13 x14,34,80,83,78,84,86,89,19,20 Solidaritas Trust Z1Z e15 e16 e17,61,20,33,20 x15,61,78,11,04,78 x16,76 Pembelajaran,87 Daya Inovasi Z3 Eksploratif x17,86,73,88,82,83,77,68,69,71,04,90 Transfer Pengetahuan,51 x22,82 x23,72,85 x24,85,72 e22 e23 e24 e18 x18 Z2 x19 x20 x21 Z4 x25 e25,18 e19 e20,23 e21,20 Chi-Square=387,216 CMIN/DF=1,052 GFI=,852 RMSEA=,019 AGFI=,825 CFI=,994 TLI=,993 NFI=,893 PNFI=,809 PGFI=,721 Kinerja Z5 Produk,91,86,91,80,83,73,83,14,63 x26 e26 x27 e27 x28 e28 x29 e29 Gambar 5.3 Analisis Full Model 173
22 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Uji Hipotesis Uji hipotesis menggunakan standar nilai CR (Critical Ratio) 1,96 dan P (Probability) 0,05. Hasil pengujian 8 hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Tabel 5.10 Hasil Uji Hipotesis Hipotesis C.R. P Trust <--- Modal_Sosial_Struktural 3,748 *** Trust <--- Solidaritas 2,146 0,032 Daya Inovasi <--- Trust 2,235 0,025 Pembelajaran_Eksploratif <--- Trust 3,672 *** Transfer_Pengetahuan <--- Trust 2,275 0,023 Kinerja_Produk <--- Daya Inovasi 2,075 0,038 Kinerja_Produk <--- Pembelajaran_Eksploratif 2,670 0,008 Kinerja_Produk <--- Transfer_Pengetahuan 2,374 0,018 Hipotesis 1 yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Semakin kuat modal sosial struktural semakin tinggi trust yang dibangun perusahaan. Hasil analisis data nilai CR pada hubungan antara structural sosial capital dengan trust adalah sebesar 3,748 > 1,96 dan nilai P sebesar 0,000 < 0,05, dengan demikian dapat dikatakan bahwa hipotesis 1 dapat diterima. Hipotesis 2 yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Semakin tinggi solidaritas semakin tinggi trust yang dibangun perusahaan. Hasil analisis data diketahui bahwa nilai CR pada hubungan antara solidaritas terhadap trust adalah sebesar 2,146 > 1,96, dan P sebesar 0,032 < 0,05, dengan demikian dapat dikatakan bahwa hipotesis 2 dapat diterima. Hipotesis 3 yang dikembangkan dalam penelitian ini ádalah Semakin tinggi trust semakin berhasil pemberdayaan daya inovasi perusahaan. Hasil analisis data diketahui bahwa nilai CR pada hubungan antara trust terhadap daya inovasiadalah sebesar 2,235 > 1,96 dan nilai P sebesar 0,025 < 0,05, dengan demikian hipotesis 3 dapat diterima. 174
23 Dinamika Fakta Empirik Hipotesis 4 yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Semakin tinggi trust semakin berhasil pemberdayaan pembelajaran eksploratif dalam perusahaan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa hubungan antara trust dan pembelajaran eksploratif memiliki nilai CR sebesar 3,672 > 1,96 dan P sebesar 0,000 < 0,000, dengan demikian dapat dikatakan bahwa hipotesis 4 dapat diterima. Hipotesis 5 yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Semakin tinggi trust semakin berhasil pemberdayaan transfer pengetahuan dalam perusahaan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa hubungan antara trust dan transfer pengetahuan memiliki nilai CR sebesar 2,275 > 1,96 dan P sebesar 0,023, dengan demikian dapat dikatakan bahwa hipotesis 5 diterima. Hipotesis 6 yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Semakin berhasil pemberdayaan daya inovasi, semakin tinggi kinerja produk perusahaan. Hasil analisis menunjukkan nilai CR pada hubungan antara daya inovasi terhadap kinerja produk adalah sebesar 2,075 > 1,96 dan nilai P sebesar 0,038 < 0,05, dengan demikian dapat dikatakan bahwa hipotesis 6 penelitian ini dapat diterima. Hipotesis 7 yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Semakin berhasil pemberdayaan pembelajaran eksploratif semakin tinggi kinerja produk perusahaan. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai CR pada hubungan antara daya inovasi terhadap kinerja produk adalah sebesar 2,67 lebih besar dari 1,96 dan P sebesar 0,008 < 0,05, dengan demikian dapat dikatakan bahwa hipotesis 7 diterima. Hipotesis 8 yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah Semakin berhasil pemberdayaan transfer pengetahuan semakin tinggi kinerja produk perusahaan. Hasil analisis data menunjukkan nilai CR pada hubungan antara daya inovasi terhadap kinerja produk adalah sebesar 2,374 > 1,96 dan P sebesar 0,018, dengan demikian dapat dikatakan bahwa hipotesis 8 dapat diterima. 175
24 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Intepretasi Model Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa model fit, artinya model layak untuk diperlakukan sebagai model peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara. Oleh sebab itu tidak diperlukan modifikasi model. Alasan lain yang mendasari tidak diperlukannya modifikasi model adalah nilai residual kovarian yang lebih kecil dari 2,58 (lampiran 10). Model penelitian ini yang merupakan model peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara melalui pemberdayaan daya dan aktivitas inovasi yang digerakkan oleh trust dapat diintepretasikan ke dalam tiga bagian yaitu: bagian pertama adalah bagaimana trust dibangun oleh IKM mebel ekspor Jepara; bagian ke dua bagaimana trust digunakan sebagai penggerak daya dan aktivitas inovasi oleh IKM mebel ekspor Jepara; dan bagian ke tiga bagaimana daya dan aktivitas inovasi mampu meningkatkan kinerja produk ekspor IKM mebel ekspor Jepara. Intepretasi model yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahap. Tahapan yang pertama mengukur pengaruh antar variabel laten, sesuai dengan hipotesis yang diajukan. Tahapan ke dua mengukur tingkat kemampuan indikator variabel dalam membentuk atau sebagai tolok ukur variabel latennya. Tahapan ke tiga adalah mengukur tingkat pengaruh indikator-indikator variabel terhadap indikator-indikator variabel lain yang variabel latennya memiliki hubungan kausalitas. Pengaruh antar Variabel Laten Pengaruh antar variabel laten yang dimaksud disini adalah: pengaruh antara variabel independen murni yaitu modal sosial struktural, dan solidaritas terhadap trust; pengaruh trus terhadap daya inovasi, pembelajaran eksploratif dan transfer pengetahuan; dan pengaruh daya inovasi, pembelajaran eksploratif dan transfer pengetahuan terhadap kinerja produk. Hasil analisis pengaruh antar variabel laten dapat dilihat di bawah ini: 176
25 Dinamika Fakta Empirik Tabel 5.11 Tingkat Pengaruh Variabel Laten S MSS Trust TP PE DI KP Trust 0,188 0, TP 0 0 0, PE 0 0 0, DI 0 0 0, KP ,204 0,233 0,177 0 Dari tabel di atas dapat dikatakan bahwa tingkat pengaruh modal sosial struktural (0,341) lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat pengaruh solidaritas (0,188) dalam pembangunan trust pada IKM mebel ekspor Jepara. Hal ini berarti bahwa dalam pembangunan trust pada IKM mebel ekspor Jepara modal sosial struktural memiliki efektivitas lebih tinggi dibanding dengan solidaritas, meskipun ke duanya memiliki pengaruh terhadap pembangunan trust. Trust yang telah berhasil dibangun oleh IKM mebel ekspor Jepara memiliki kemampuan yang berbeda di dalam menggerakkan daya dan aktivitas inovasi. Kemampuan trust menggerakkan aktivitas inovasi lebih besar dibandingkan dengan kemampuannya menggerakkan daya inovasi. Kemampuan trust di dalam menggerakkan aktivitas inovasi lebih besar pada kemampuan menggerakkan pembelajaran eksploratif (0,330) dibandingkan dengan kemampuan menggerakkan transfer pengetahuan (0,203). Hasil ini menunjukkan bahwa dorongan trust akan sangat kuat pada peningkatan pembelajaran eksploratif yang akan diikuti oleh transfer pengetahuan, dan daya inovasi (0,199). Aktivitas pembelajaran eksploratif (0,233) yang digerakkan oleh trust, mampu mempengaruhi peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara lebih besar dibandingkan dengan transfer pengetahuan (0,204), dan daya inovasi (0,177). 177
26 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Tingkat Kemampuan Indikator Sebagai Pembentuk Variabel Laten Tingkat kemampuan indikator sebagai pembentuk variabel laten ini diukur dengan pengaruh langsung indikator terhadap variabel yang dibentuknya, misal keeratan hubungan antara pimpinan perusahaan dan karyawan merupakan pembentuk atau tolok ukur modal sosial struktural. Semakin tinggi nilai pengaruh langsungnya semakin tinggi kemampuan indikator tersebut membentuk variabel latennya. Hasil analisis dapat dilihat di bawah ini: Tabel 5.12 Direct Effect Indikator Modal Sosial Struktural Notasi Indikator Direct Effect X1 Karyawan memiliki hubungan yang erat dengan 0,893 pimpinan perusahaan. X2 Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan 0,853 perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efektif. X3 Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan 0,889 perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efisien. X4 Karyawan dapat belajar dari pimpinan perusahaan dari keeratan hubungan yang ada. 0,866 Keberhasilan pembangunan modal sosial struktural pada IKM mebel ekspor Jepara dapat ditunjukkan dari terciptanya hubungan yang erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan, karena indikator ini yang memiliki nilai yang paling tinggi (0,893). Hubungan yang erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan ini akan mampu menghasilkan komunikasi yang efisien (0,889), dimana komunikasi yang efisien ini mampu membuka kesempatan bagi karyawan untuk belajar dari pimpinan perusahaan (0,866). Kesempatan belajar dari pimpinan perusahaan yang dimanfaatkan oleh karyawan sebaikbaiknya akan menghasilkan komunikasi yang efektif antara karyawan dan pimpinan perusahaan. Rangkaian penjelasan ini yang menunjukkan keberhasilan pembangunan modal sosial struktural pada IKM mebel ekspor Jepara. 178
27 Dinamika Fakta Empirik Tabel 5.13 Direct Effect Indikator Solidaritas Notasi Indikator Direct Effect X5 Tujuan bersama lebih penting dari kebutuhan pribadi. 0,917 X6 Keputusan bersama harus dilaksanakan meskipun 0,929 terdapat perbedaan pendapat. X7 Pemecahan masalah bersama lebih baik dibanding 0,835 pemecahan masalah individual. X8 Komunikasi internal perusahaan berjalan secara efisien. 0,901 Keberhasilan IKM Mebel Ekspor Jepara dalam membangun solidaritas sangat ditentukan oleh keiklasan seluruh anggota perusahaan baik karyawan maupun pimpinan perusahaan untuk melaksanakan keputusan bersama dengan mengesampingkan terjadinya konflik kepentingan (0,929). Keiklasan untuk melaksanakan keputusan bersama dalam upaya mereka untuk mencapai tujuan yang telah mereka sepakati bersama (0,917). Kemauan baik karyawan maupun pimpinan perusahaan untuk mencapai tujuan bersama dengan mengorbankan tujuan pribadi ini akan meningkatkan efisiensi komunikasi internal (0,901), yang mendorong pada kesadaran pemecahan masalah bersama lebih baik hasilnya (0,835). Tabel 5.14 Direct Effect Indikator Trust Notasi Indikator Direct Effect X9 karyawan bahwa 0,800 karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan. (benevolence trust). X10 karyawan bahwa 0,834 karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). X11 karyawan bahwa 0,838 karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). X12 karyawan bahwa 0,785 memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu. (integrity trust). X13 karyawan bahwa karyawan memiliki. kompetensi teknologi (competence trust). 0,857 X14 karyawan bahwa memiliki kepakaran sesuai bidangnya (competence trust). 0,
28 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Tolok ukur keberhasilan IKM mebel ekspor Jepara dalam pembangunan trust dapat dilihat dari tumbuhnya kepercayaan pimpinan perusahaan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai dengan bidangnya (0,888). Kepercayaan pada kepakaran karyawan ini akan diikuti dengan kepercayaan pada kompetensi teknologi yang dimiliki oleh karyawan (0,857). Kepakaran dan kompetensi teknologi yang dipercayai dimiliki oleh para karyawan ini akan mendorong ke arah tumbuhnya kepercayaan pimpinan perusahaan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (0,838). Ketika karyawan memiliki visi ke depan maka pimpinan perusahaan percaya bahwa karyawan akan memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugasnya yang ditunjukkan dengan selalu memenuhi janjinya untuk menyelesaikan tugas pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya (0,834). Karyawan yang memiliki visi dan komitmen dalam pekerjaannya dapat dipercayai bahwa karyawan memikirkan apa yang bermanfaat bagi bidang kerjanya, dan hal ini akan mendorong kapabilitas karyawan untuk berkembang dan belajar secara kontinyu. Jika tolok ukur ini terpenuhi maka pembangunan trust dapat dilacak keberhasilannya. Tabel 5.15 Direct Effect Indikator Daya Inovasi Notasi Indikator Direct Effect X15 Kemampuan menghasilkan produk yang dianggap 0,782 baru dan inovatif oleh konsumen (product daya inovasi). X16 Kemampuan untuk menerima perbedaan pengerjaan 0,782 tugas untuk setiap individu karyawan (behaviour daya inovasi). X17 Kemampuan untuk mencoba metode yang baru 0,870 dalam mendapatkan peluang (process daya inovasi). X18 Kebersediaan untuk mengambil risiko dalam mendapatkan peluang baru (strategic daya inovasi). 0,856 Tolok ukur utama keberhasilan IKM mebel ekspor Jepara dalam menggerakkan daya inovasi mereka adalah meningkatnya kemampuan mereka untuk mencoba metode baru untuk mendapatkan peluang (0,870). Kemampuan ini akan mendorong tergeraknya kebersediaan IKM mebel ekspor Jepara untuk mengambil risiko dalam mendapatkan peluang baru (0,856). Di satu sisi meningkatnya 180
29 Dinamika Fakta Empirik kemampuan untuk mencoba metode baru ini akan mengarahkan pada kemampuan IKM Mebel Ekspor untuk menghasilkan produk yang baru (0,782), disisi lain kebersediaan pimpinan perusahaan untuk mengambil risiko akan mengarahkan pada penerimaan pimpinan perusahaan terhadap perbedaan pengerjaan tugas oleh setiap individu karyawan (0,782). Tabel 5.16 Direct Effect Indikator Pembelajaran Eksploratif Notasi Indikator Direct Effect X19 Pembelajaran fokus pada perolehan pengetahuan baru melalui eksperimen. 0,876 X20 Pencarian informasi yang mengarahkan pada pasar baru 0,825 X21 Pembelajaran eksploratif cenderung berdasarkan pengalaman. 0,828 Keberhasilan IKM mebel ekspor Jepara dalam menggerakkan pembelajaran eksploratif dapat diukur dari terciptanya pembelajaran pada IKM mebel ekspor Jepara yang terfokus pada perolehan pengetahuan baru berdasarkan uji coba di pasar (0,876). Uji coba untuk mendapatkan pengetahuan baru ini akan mengarahkan IKM mebel ekspor Jepara pada pembelajaran eksploratif yang berdasarkan pengalaman (0,828), dimana seluruh pencarian informasi yang dilakukan oleh IKM mebel ekspor Jepara diarahkan pada pasar baru (0,825). Tabel 5.17 Direct Effect Indikator Transfer Pengetahuan Notasi Indikator Direct Effect X22 Transfer pengetahuan tentang kepuasan konsumen melalui berbagi cerita. 0,712 X23 Transfer pengetahuan tentang teknologi tepat guna melalui berbagi pengalaman. 0,903 X24 Transfer pengetahuan tentang persepsi konsumen melalui berbagi nilai nilai yang diyakini konsumen. 0,849 X25 Transfer pengetahuan tentang penggunaan teknologi tepat guna melalui praktek secara langsung. 0,850 Keberhasilan IKM mebel ekspor Jepara dalam menggerakkan transfer pengetahuan dapat diukur dengan terdapatnya peningkatan 181
30 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara transfer pengetahuan yang terkait dengan teknologi tepat guna. Transfer pengetahuan teknologi tepat guna ini terjadi melalui berbagi pengalaman baik antar karyawan maupun karyawan dan pimpinan perusahaan (0,903), dan praktek secara langsung (0,850). Peningkatan transfer teknologi ini akan diiringi dengan transfer pengetahuan yang terkait dengan konsumen yaitu pengetahuan tentang persepsi konsumen yang dilakukan dengan berbagi nilai-nilai yang diyakini oleh konsumen (0,850). Tolok ukur terakhir keberhasilan IKM mebel ekspor Jepara dalam menggerakkan transfer pengetahuan adalah meningkatnya transfer pengetahuan tentang kepuasan konsumen yang dilakukan melalui berbagi cerita baik antar karyawan maupun antara karyawan dengan pimpinan perusahaan. Tabel 5.18 Direct Effect Indikator Kinerja Produk Notasi Indikator Direct Effect X26 Kemampuan produk untuk meningkatkan penjualan karena lebih unggul dibanding pesaing. 0,909 X27 Kemampuan produk untuk meningkatkan jumlah konsumen karena keunikannya 0,857 X28 Kemampuan produk untuk memperluas pasar karena sesuai dengan kebutuhan konsumen 0,913 X29 Kemampuan produk untuk meningkatkan keuntungan karena klasik dan elegan 0,795 Keberhasilan IKM mebel ekspor Jepara dalam meningkatkan kinerja produknya, diukur dari keberhasilan IKM mebel ekspor Jepara dalam menghasilkan produk yang mampu memperluas pasar, karena sesuai dengan kebutuhan konsumen (0,913). Produk yang sesuai dengan kebutuhan konsumen ini secara tidak langsung akan lebih unggul dibanding pesaing sehingga volume penjualan produk mengalami peningkatan (0,909). Produk yang unggul dan diminati konsumen akan akan bertahan jika produk tersebut unik, produk yang unik akan menarik konsumen sehingga meningkatkan jumlah konsumen yang membeli produk tersebut (0,857). Keunikan produk, yang diiringi dengan kesan klasik dan elegan membuat produk mampu meningkatkan keuntungan IKM mebel ekspor Jepara (0,795). 182
31 Dinamika Fakta Empirik Pengaruh Antar Indikator Variabel Uji pengaruh antar indikator variabel ini bukan untuk mengetahui berpengaruh tidaknya antar indikator variabel, melainkan untuk mengetahui besar kecilnya pengaruh. Pengaruh antar indikator pada masing-masing variabel laten yang dibentuknya ini diukur dengan menggunakan koefisien korelasi hasil analisis SEM. Batas nilai besarnya pengaruh menggunakan rerata dari semua indikator yang berpengaruh, dimana nilai koefisien korelasi yang lebih besar reratanya dianggap lebih besar pengaruhnya, sedangkan nilai koefisien korelasi yang lebih rendah dari reratanya lebih kecil pengaruhnya. Dengan kata lain semakin besar koefisien korelasi semakin besar pengaruhnya. Hasil analisisnya adalah sebagai berikut: Pengaruh Indikator Modal Sosial Struktural Terhadap Indikator Trust Besarnya pengaruh ke empat indikator modal sosial struktural terhadap ke enam indikator trust ditunjukkan dari nilai setiap indikator yang lebih besar dari nilai reratanya. Hasil analisis pengaruh indikator modal sosial struktural terhadap indikator trust dapat dilihat pada tabel-tabel di bawah ini. Tabel 5.19 Pengaruh Indikator Modal Sosial Struktural Terhadap Kepercayaan Pimpinan Perusahaan Pada Pemikiran Karyawan akan Kemanfaatan Keseluruhan NOTASI KETERANGAN X9 X1 Karyawan memiliki hubungan yang erat dengan pimpinan perusahaan. 0,297 X2 Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efektif. 0,283 X3 Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efisien. 0,295 X4 Karyawan dapat belajar dari pimpinan perusahaan dari keeratan hubungan yang ada. 0,288 JUMLAH 1,163 RATA RATA 0,
32 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Tabel 5.20 Pengaruh Indikator Modal Sosial Struktural Terhadap Kepercayaan Pimpinan Perusahaan Pada Pemenuhan Janji Karyawan NOTASI KETERANGAN X10 X1 Karyawan memiliki hubungan yang erat dengan pimpinan perusahaan. 0, X2 X3 X4 Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efektif. 0,296 Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efisien. Karyawan dapat belajar dari pimpinan perusahaan dari keeratan hubungan yang ada. 0,308 0,300 JUMLAH 1,213 RATA RATA 0,303 Tabel 5.21 Pengaruh Indikator Modal Sosial Struktural Terhadap Kepercayaan Pimpinan Perusahaan Pada Visi ke depan Karyawan NOTASI KETERANGAN X11 X1 Karyawan memiliki hubungan yang erat dengan pimpinan perusahaan. 0,311 X2 X3 X4 Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efektif. 0,297 Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efisien. 0,309 Karyawan dapat belajar dari pimpinan perusahaan dari keeratan hubungan yang ada. 0,301 JUMLAH 1,218 RATA RATA 0,305 Tabel 5.22 Pengaruh Indikator Modal Sosial Struktural Terhadap Kepercayaan Pimpinan Perusahaan Pada Kapabilitas Belajar secara Kontinyu Karyawan NOTASI KETERANGAN X12 X1 Karyawan memiliki hubungan yang erat dengan pimpinan perusahaan. 0,291 X2 Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efektif. 0,278
33 Dinamika Fakta Empirik NOTASI KETERANGAN X12 X3 Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efisien. 0,290 X4 Karyawan dapat belajar dari pimpinan perusahaan dari keeratan hubungan yang ada. 0,282 JUMLAH 1,141 RATA RATA 0,285 Tabel 5.23 Pengaruh Indikator Modal Sosial Struktural Terhadap Kepercayaan Pimpinan Perusahaan Pada Kompetensi Teknologi Karyawan NOTASI KETERANGAN X13 X1 Karyawan memiliki hubungan yang erat dengan pimpinan perusahaan. 0,318 X2 X3 X4 Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efektif. 0,304 Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efisien. 0,317 Karyawan dapat belajar dari pimpinan perusahaan dari keeratan hubungan yang ada. 0,308 JUMLAH 1,247 RATA RATA 0,312 Tabel 5.24 Pengaruh Indikator Modal Sosial Struktural Terhadap Kepercayaan Pimpinan Perusahaan Pada Kepakaran Karyawan NOTASI KETERANGAN X14 X1 Karyawan memiliki hubungan yang erat dengan pimpinan perusahaan. 0,329 X2 X3 X4 Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efektif. 0,315 Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efisien. 0,328 Karyawan dapat belajar dari pimpinan perusahaan dari keeratan hubungan yang ada. 0,319 JUMLAH 1,291 RATA RATA 0,
34 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa pembangunan trust pada IKM mebel ekspor Jepara sangat ditentukan keberhasilannya oleh keeratan hubungan yang dibangun antara pimpinan perusahaan dengan karyawannya, dimana keeratan hubungan tersebut mampu menghasilkan komunikasi yang efisien. Eratnya hubungan antara pimpinan perusahaan dan karyawan, dan eratnya hubungan yang mampu menghasilkan komunikasi yang efisien bukan saja mampu menjadi dasar pembangunan benevolence trust, namun juga competence dan integrity trust. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan trust pada IKM mebel ekspor Jepara, adalah keeratan hubungan antara pimpinan perusahaan dan karyawan, dimana karyawan dapat belajar dari pimpinannya. Indikator ini memiliki nilai koefisien yang lebih rendah dari rerata dan nilainya paling rendah dibanding dengan indikator lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa keeratan hubungan antara pimpinan perusahaan dan karyawannya yang membuka peluang karyawan untuk belajar dari pimpinannya, memiliki kemampuan yang paling rendah untuk membangun trust dibanding dengan indikator lainnya. Adapun urutan tingginya pengaruh modal sosial struktural terhadap pembangunan trust pada IKM mebel ekspor Jepara, berdasarkan koefisien korelasi yang lebih tinggi dari koefisien korelasi reratanya adalah sebagai berikut: Tabel 5.25 Pengaruh Indikator Modal Sosial Struktural terhadap Indikator Trust Indikator Modal Sosial Struktural Karyawan memiliki hubungan yang erat dengan pimpinan perusahaan. Nilai 0,329 0,318 0,311 0,309 Indikator Trust karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya (competence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi (competence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). 186
35 Dinamika Fakta Empirik Indikator Modal Sosial Struktural Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efisien. Nilai 0,297 0,291 0,328 0,317 0,309 0,308 0,295 0,290 Indikator Trust karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan (benevolence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu (integrity trust). karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya (competence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi (competence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan (benevolence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu (integrity trust). Pengaruh Indikator Solidaritas Terhadap Indikator Trust Hasil analisis pengaruh indikator solidaritas terhadap indikator trust adalah sebagai berikut: Tabel 5.26 Pengaruh Indikator Solidaritas Terhadap Kepercayaan Pimpinan Perusahaan Pada Pemikiran Karyawan akan Kemanfaatan Keseluruhan NOTASI KETERANGAN X9 X5 Tujuan bersama lebih penting dari kebutuhan pribadi. 0,237 X6 Keputusan bersama harus dilaksanakan meskipun terdapat perbedaan pendapat. 0,
36 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara NOTASI KETERANGAN X9 X7 Pemecahan masalah bersama lebih baik dibanding pemecahan masalah individual. 0,216 X8 Komunikasi internal perusahaan berjalan secara efisien. 0,233 JUMLAH 0,926 RATA RATA 0,232 Tabel 5.27 Pengaruh Indikator Solidaritas Terhadap Kepercayaan Pimpinan Perusahaan Pada Pemenuhan Janji Karyawan NOTASI KETERANGAN X10 X5 Tujuan bersama lebih penting dari kebutuhan pribadi. 0,247 X6 X7 X8 Keputusan bersama harus dilaksanakan meskipun terdapat perbedaan pendapat. Pemecahan masalah bersama lebih baik dibanding pemecahan masalah individual. 0,251 0,225 Komunikasi internal perusahaan berjalan secara efisien. 0,243 JUMLAH 0,966 RATA RATA 0,242 Tabel 5.28 Pengaruh Indikator Solidaritas Terhadap Kepercayaan Pimpinan Perusahaan Pada Visi ke depan Karyawan NOTASI KETERANGAN X11 X5 Tujuan bersama lebih penting dari kebutuhan pribadi. 0,248 X6 X7 X8 Keputusan bersama harus dilaksanakan meskipun terdapat perbedaan pendapat. 0,252 Pemecahan masalah bersama lebih baik dibanding pemecahan masalah individual. 0,226 Komunikasi internal perusahaan berjalan secara efisien. 0,244 JUMLAH 0,970 RATA RATA 0,
37 Dinamika Fakta Empirik Tabel 5.29 Pengaruh Indikator Solidaritas Terhadap Kepercayaan Pimpinan Perusahaan Pada Kapabilitas Belajar secara Kontinyu Karyawan NOTASI KETERANGAN X12 X5 Tujuan bersama lebih penting dari kebutuhan pribadi. 0,233 X6 Keputusan bersama harus dilaksanakan meskipun terdapat perbedaan pendapat. 0,236 X7 Pemecahan masalah bersama lebih baik dibanding pemecahan masalah individual. 0,212 X8 Komunikasi internal perusahaan berjalan secara efisien. 0,228 JUMLAH 0,909 RATA RATA 0,227 Tabel 5.30 Pengaruh Indikator Solidaritas Terhadap Kepercayaan Pimpinan Perusahaan Pada Kompetensi Teknologi Karyawan NOTASI KETERANGAN X13 X5 Tujuan bersama lebih penting dari kebutuhan pribadi. 0,254 X6 X7 X8 Keputusan bersama harus dilaksanakan meskipun terdapat perbedaan pendapat. 0,257 Pemecahan masalah bersama lebih baik dibanding pemecahan masalah individual. 0,231 Komunikasi internal perusahaan berjalan secara efisien. 0,250 JUMLAH 0,992 RATA RATA 0,248 Tabel 5.31 Pengaruh Indikator Solidaritas Terhadap Kepercayaan Pimpinan Perusahaan Pada Kepakaran Karyawan NOTASI KETERANGAN X14 Tujuan bersama lebih penting dari kebutuhan X5 pribadi. 0,263 Keputusan bersama harus dilaksanakan X6 meskipun terdapat perbedaan pendapat. 0,267 Pemecahan masalah bersama lebih baik X7 dibanding pemecahan masalah individual. 0,
38 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara NOTASI KETERANGAN X14 Komunikasi internal perusahaan berjalan secara X8 efisien. 0,259 JUMLAH 1,029 RATA RATA 0,257 Pentingnya tujuan bersama, pelaksanaan keputusan bersama dan efisiensi komunikasi internal IKM mebel ekspor Jepara, merupakan landasan yang kuat bagi keberhasilan pembangunan trust. Hal ini ditunjukkan dari nilai koefisien korelasi yang lebih tinggi dari nilai koefisien korelasi rerata. Ke tiga indikator solidaritas ini bukan saja mampu membangun benevolence trust dengan baik, namun juga competence dan integrity trust. Satu-satunya indikator solidaritas yang rendah efektifitasnya untuk membangun trust adalah pemecahan masalah bersama. Hal ini ditunjukkan dari nilai koefisien korelasinya yang dibawah rerata. Adapun urutan tingkat pengaruh solidaritas terhadap pembangunan trust, yang koefisien korelasinya lebih tinggi dari koefisien korelasinya reratanya, adalah sebagai berikut: Tabel 5.32 Pengaruh Indikator Solidaritas Terhadap Indikator Trust Indikator Solidaritas Nilai Indikator Trust Keputusan bersama harus dilaksanakan meskipun terdapat perbedaan pendapat. 0,267 0,257 0,252 0,251 0,240 karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya (competence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi (competence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan (benevolence trust). 190
39 Dinamika Fakta Empirik Indikator Solidaritas Nilai Indikator Trust Tujuan bersama lebih penting dari kebutuhan pribadi. Komunikasi internal perusahaan berjalan secara efisien. 0,236 0,263 0,254 0,248 0,247 0,237 0,233 0,259 0,250 0,244 0,243 0,233 0,228 karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu (integrity trust). karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya (competence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi (competence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan (benevolence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu (integrity trust). karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya (competence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi (competence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan (benevolence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu (integrity trust). 191
40 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Pengaruh Indikator Trust Terhadap Indikator Daya Inovasi Terdapat empat indikator daya inovasi yang diberdayakan oleh indikator trust yaitu: kemampuan menghasilkan produk yang dianggap baru dan inovatif oleh konsumen, kemampuan untuk menerima perbedaan pengerjaan tugas untuk setiap individu karyawan, kemampuan untuk mencoba metode yang baru dalam mendapatkan peluang, dan kebersediaan untuk mengambil risiko dalam mendapatkan peluang baru; dan enam indikator trust yaitu: kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan, kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya, kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan, kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu, kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi, dan kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa memiliki kepakaran sesuai bidangnya. Hasil analisis dapat dilihat pada tabel-tabel berikut ini: Tabel 5.33 Pengaruh Indikator Trust Terhadap Daya Inovasi Produk NOTASI KETERANGAN X15 karyawan 0,124 X9 bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan (benevolence trust). karyawan 0,130 X10 bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). karyawan 0,130 X11 bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). karyawan 0,122 X12 bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu (integrity trust). karyawan 0,133 X13 bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi (competence trust). X14 karyawan 0,
41 Dinamika Fakta Empirik NOTASI KETERANGAN X15 bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya (competence trust). JUMLAH 0,777 RATA RATA 0,130 Tabel 5.34 Pengaruh Indikator Trust Terhadap Daya Inovasi Perilaku NOTASI KETERANGAN X16 X9 karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang 0,125 bermanfaat secara keseluruhan (benevolence trust). X10 karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya 0,130 (benevolence trust). X11 karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity 0,130 trust). X12 karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu (integrity 0,122 trust). X13 karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi 0,133 (competence trust). X14 karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai 0,138 bidangnya (competence trust). JUMLAH 0,778 RATA RATA 0,130 Tabel 5.35 Pengaruh Indikator Trust Terhadap Daya Inovasi Proses NOTASI KETERANGAN X17 X9 karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang 0,138 bermanfaat secara keseluruhan (benevolence trust). X10 karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya 0,144 (benevolence trust). X11 karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity 0,145 trust). X12 karyawan 0,
42 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara NOTASI KETERANGAN X17 bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu (integrity trust). X13 karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi 0,148 (competence trust). X14 karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai 0,154 bidangnya (competence trust). JUMLAH 0,865 RATA RATA 0,144 Tabel 5.36 Pengaruh Indikator Trust Terhadap Daya Inovasi Stratejik NOTASI KETERANGAN X18 X9 karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang 0,136 bermanfaat secara keseluruhan (benevolence trust). X10 karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya 0,142 (benevolence trust). X11 karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity 0,143 trust). X12 karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu (integrity 0,134 trust). X13 karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi 0,146 (competence trust). X14 karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai 0,151 bidangnya (competence trust). JUMLAH 0,852 RA TA RATA 0,142 Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa competence trust yang berupa kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya dan kompetensi teknologi secara efektif mampu menggerakkan daya inovasi produk 194
43 Dinamika Fakta Empirik (kemampuan IKM mebel ekspor Jepara untuk menghasilkan produk yang dianggap baru dan inovatif oleh konsumen), daya inovasi perilaku (kemampuan IKM mebel ekspor Jepara untuk menerima perbedaan pengerjaan tugas untuk setiap individu karyawan, daya inovasi proses (Kemampuan IKM mebel ekspor Jepara untuk mencoba metode yang baru dalam mendapatkan peluang), dan daya inovasi stratejik (kebersediaan IKM mebel ekspor Jepara untuk mengambil risiko dalam mendapatkan peluang baru. Berbeda dengan compence trust, hanya satu benevolence trust yang mampu menggerakkan daya inovasi secara efektif yaitu kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya. Demikian juga untuk integrity trust hanya kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan, yang efektif menggerakkan daya inovasi. Terdapat dua indikator trust yang efektivitasnya rendah untuk menggerakkan daya inovasi, dilihat dari nilai koefisien korelasinya yang lebih rendah dari nilai koefisien korelasi reratanya. Ke dua indikator tersebut adalah benevolence trust (kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan) dan integrity trust (kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu). Adapun urutan tingkat pengaruh trust terhadap pemberdayaan daya inovasi, yang koefisien korelasinya lebih tinggi dari koefisien korelasi reratanya, adalah sebagai berikut: Tabel 5.37 Pengaruh Indikator Trust Terhadap Indikator Daya Inovasi Indikator Trust Nilai Indikator Daya Inovasi Kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya (competence trust). 0,154 0,151 0,138 Kemampuan untuk mencoba metode yang baru dalam mendapatkan peluang (daya inovasi proses). Kebersediaan untuk mengambil risiko dalam mendapatkan peluang baru (daya inovasi stratejik). Kemampuan menghasilkan produk yang dianggap baru dan inovatif oleh konsumen (daya inovasi produk). 195
44 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara 196 Indikator Trust Nilai Indikator Daya Inovasi Kemampuan untuk menerima perbedaan 0,138 pengerjaan tugas untuk setiap individu karyawan (daya inovasi perilaku). Kemampuan untuk mencoba metode yang baru dalam mendapatkan peluang (daya Kepercayaan inovasi proses). pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa 0,146 Kebersediaan untuk mengambil risiko dalam mendapatkan peluang baru (daya inovasi stratejik). karyawan memiliki kompetensi teknologi 0,133 Kemampuan menghasilkan produk yang dianggap baru dan inovatif oleh konsumen (daya inovasi produk). (competence trust). 0,133 Kemampuan untuk menerima perbedaan pengerjaan tugas untuk setiap individu karyawan (daya inovasi perilaku). 0,145 Kemampuan untuk mencoba metode yang baru dalam mendapatkan peluang (daya inovasi proses). Kepercayaan Kebersediaan untuk mengambil risiko dalam pimpinan 0,143 mendapatkan peluang baru (daya inovasi perusahaan pada stratejik). karyawan bahwa Kemampuan menghasilkan produk yang karyawan memiliki 0,130 dianggap baru dan inovatif oleh konsumen visi ke depan (daya inovasi produk). (integrity trust). Kemampuan untuk menerima perbedaan 0,130 pengerjaan tugas untuk setiap individu karyawan (daya inovasi perilaku). Kemampuan untuk mencoba metode yang 0,144 baru dalam mendapatkan peluang (daya Kepercayaan inovasi proses). pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa 0,142 Kebersediaan untuk mengambil risiko dalam mendapatkan peluang baru (daya inovasi stratejik). karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence 0,130 Kemampuan menghasilkan produk yang dianggap baru dan inovatif oleh konsumen (daya inovasi produk). trust). 0,130 Kemampuan untuk menerima perbedaan pengerjaan tugas untuk setiap individu karyawan (daya inovasi perilaku). Pengaruh Indikator Trust Terhadap Indikator Pembelajaran Eksploratif Hasil analisis pengaruh indikator trust terhadap indikator pembelajaran eksploratif dapat dijelaskan sebagai berikut:
45 Dinamika Fakta Empirik Tabel 5.38 Pengaruh Indikator Trust Terhadap Pembelajaran Fokus Pada Perolehan Pengetahuan Baru Melalui Eksperimen NOTASI KETERANGAN X19 X9 karyawan bahwa 0,231 karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan (benevolence trust). X10 karyawan bahwa 0,241 karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). X11 karyawan bahwa 0,242 karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). X12 karyawan bahwa 0,227 karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu (integrity trust). X13 karyawan bahwa 0,248 karyawan memiliki kompetensi teknologi (competence trust). X14 karyawan bahwa 0,257 karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya (competence trust). JUMLAH 1,446 RATA RATA 0,241 Tabel 5.39 Pencarian Informasi Yang Mengarahkan Pada Pasar Baru NOTASI KETERANGAN X20 X9 karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara 0,218 keseluruhan (benevolence trust). X10 karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). 0,227 X11 karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). 0,228 X12 karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan 0,214 belajar secara kontinyu (integrity trust). X13 karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi (competence 0,234 trust). X14 karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya 0,242 (competence trust). JUMLAH 1,363 RATA RATA 0,
46 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Tabel 5.40 Pengaruh Indikator Trust Terhadap Pembelajaran Eksploratif Cenderung Berdasarkan Pengalaman NOTASI KETERANGAN X21 X9 karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang 0,219 bermanfaat secara keseluruhan (benevolence trust). X10 karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya 0,228 (benevolence trust). X11 karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity 0,229 trust). X12 karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu (integrity 0,215 trust). X13 karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi 0,234 (competence trust). X14 karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai 0,243 bidangnya (competence trust). JUMLAH 1,368 RATA RATA 0,228 Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa competence trust yang berupa kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya dan kompetensi teknologi secara efektif mampu menggerakkan pembelajaran eksploratif. Berbeda dengan compence trust, hanya satu benevolence trust yang mampu menggerakkan pembelajaran eksploratif secara efektif yaitu kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya. Demikian juga untuk integrity trust hanya kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan, yang efektif menggerakkan pembelajaran eksplorataif. Terdapat dua indikator trust yang efektivitasnya rendah untuk menggerakkan pembelajaran eksploratif, dilihat dari nilai koefisien korelasinya yang lebih rendah dari nilai koefisien korelasi reratanya. Ke dua indikator tersebut adalah benevolence trust (kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan 198
47 Dinamika Fakta Empirik bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan) dan integrity trust (kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu). Adapun urutan tingkat pengaruh trust terhadap pembelajaran eksploratif, yang koefisien korelasinya lebih tinggi dari keofisien korelasi reratanya, adalah sebagai berikut: Tabel 5.41 Pengaruh Indikator Trust Terhadap Indikator Pembelajaran Eksploratif Indikator Trust Nilai Indikator Pembelajaran Eksploratif Kepercayaan pimpinan Pembelajaran fokus pada perolehan 0,257 perusahaan pada pengetahuan baru melalui eksperimen. karyawan bahwa karyawan Pembelajaran cenderung berdasarkan 0,243 memiliki kepakaran sesuai pengalaman. bidangnya (competence Pencarian informasi yang mengarahkan 0,242 trust). pada pasar baru. Kepercayaan pimpinan Pembelajaran fokus pada perolehan 0,248 perusahaan pada pengetahuan baru melalui eksperimen. karyawan bahwa karyawan Pencarian informasi yang mengarahkan 0,234 memiliki kompetensi pada pasar baru. teknologi (competence Pembelajaran cenderung berdasarkan 0,234 trust). pengalaman. Kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). Kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). 0,242 0,229 0,228 0,241 0,228 0,227 Pembelajaran fokus pada perolehan pengetahuan baru melalui eksperimen. Pembelajaran cenderung berdasarkan pengalaman. Pencarian informasi yang mengarahkan pada pasar baru. Pembelajaran fokus pada perolehan pengetahuan baru melalui eksperimen. Pembelajaran cenderung berdasarkan pengalaman. Pencarian informasi yang mengarahkan pada pasar baru. Pengaruh Indikator Trust Terhadap Indikator Transfer Pengetahuan Hasil analisis pengaruh indikator trust terhadap indikator transfer pengetahuan dapat dijelaskan sebagai berikut: 199
48 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Tabel 5.42 Pengaruh Indikator Trust terhadap Transfer Pengetahuan Tentang Konsumen Melalui Berbagi Cerita NOTASI KETERANGAN X22 X9 karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan (benevolence trust). 0,116 X10 karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). 0,121 X11 karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). 0,121 X12 karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan 0,114 belajar secara kontinyu (integrity trust). X13 karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi (competence 0,124 trust). X14 karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya 0,128 (competence trust). JUMLAH 0,724 RATA RATA 0,121 Tabel 5.43 Pengaruh Indikator Trust terhadap Transfer Pengetahuan Tentang Penggunaan Teknologi Tepat Guna Melalui Berbagi Pengalaman NOTASI KETERANGAN X23 X9 karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara 0,147 keseluruhan (benevolence trust). X10 karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). 0,153 X11 karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). 0,154 X12 karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan 0,144 belajar secara kontinyu (integrity trust). X13 karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi (competence 0,157 trust). X14 karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya 0,163 (competence trust). JUMLAH 0,918 RATA RATA 0,
49 Dinamika Fakta Empirik Tabel 5.44 Pengaruh Indikator Trust Terhadap Transfer Pengetahuan Tentang Persepsi Konsumen Melalui Berbagi Nilai nilai Yang Diyakini Konsumen NOTASI KETERANGAN X24 X9 karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara 0,138 keseluruhan (benevolence trust). X10 karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). 0,144 X11 karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). 0,144 X12 karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan 0,135 belajar secara kontinyu (integrity trust). X13 karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi (competence trust). 0,148 X14 karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya 0,153 (competence trust). JUMLAH 0,862 RATA RATA 0,144 Tabel 5.45 Pengaruh Indikator Trust Terhadap Transfer Pengetahuan Tentang Penggunaan Teknologi Tepat Guna Melalui Praktek Secara Langsung NOTASI KETERANGAN X25 X9 karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara 0,138 keseluruhan (benevolence trust). X10 karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). 0,144 X11 karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). 0,145 X12 karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan 0,136 belajar secara kontinyu (integrity trust). X13 karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi (competence trust). 0,148 X14 karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya 0,153 (competence trust). JUMLAH 0,864 RATA RATA 0,
50 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa competence trust yang berupa kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya dan kompetensi teknologi secara efektif mampu menggerakkan semua indikator transfer pengetahuan. Berbeda dengan compence trust, hanya satu benevolence trust yang mampu menggerakkan semua indikator transfer pengetahuan secara efektif yaitu kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya. Demikian juga untuk integrity trust hanya kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan, yang efektif menggerakkan semua indikator transfer pengetahuan. Terdapat dua indikator trust yang efektivitasnya rendah untuk menggerakkan semua indikator transfer pengetahuan, dilihat dari nilai koefisien korelasinya yang lebih rendah dari nilai koefisien korelasi reratanya. Ke dua indikator tersebut adalah benevolence trust (kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan) dan integrity trust (kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu). Adapun urutan tingkat pengaruh trust terhadap transfer pengetahuan, yang koefisien korelasinya lebih tinggi dari keofisien korelasi reratanya, adalah sebagai berikut: 202 Tabel 5.46 Pengaruh Indikator Trust Terhadap Indikator Transfer Pengetahuan Indikator Trust Nilai Indikator Transfer Pengetahuan Kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya (competence trust). Kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa 0,163 0,153 0,153 0,128 0,157 0,148 Transfer pengetahuan tentang teknologi tepat guna melalui berbagi pengalaman. Transfer pengetahuan tentang persepsi konsumen melalui berbagi nilai-nilai yang diyakini konsumen. Transfer pengetahuan tentang penggunaan teknologi tepat guna melalui praktek secara langsung. Transfer pengetahuan tentang kepuasan konsumen melalui berbagi cerita. Transfer pengetahuan tentang teknologi tepat guna melalui berbagi pengalaman. Transfer pengetahuan tentang persepsi konsumen melalui berbagi nilai nilai yang diyakini konsumen.
51 Dinamika Fakta Empirik Indikator Trust Nilai Indikator Transfer Pengetahuan karyawan memiliki kompetensi teknologi 0,148 Transfer pengetahuan tentang penggunaan teknologi tepat guna melalui praktek secara langsung. (competence Transfer pengetahuan tentang kepuasan konsumen 0,124 trust). melalui berbagi cerita. Transfer pengetahuan tentang teknologi tepat guna Kepercayaan pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). 0,154 0,145 0,144 0,121 Kepercayaan 0,153 pimpinan perusahaan pada karyawan bahwa karya- 0,144 wan selalu memenuhi janjinya 0,144 (benevolence trust). 0,121 melalui berbagi pengalaman. Transfer pengetahuan tentang penggunaan teknologi tepat guna melalui praktek secara langsung. Transfer pengetahuan tentang persepsi konsumen melalui berbagi nilai nilai yang diyakini konsumen. Transfer pengetahuan tentang kepuasan konsumen melalui berbagi cerita. Transfer pengetahuan tentang teknologi tepat guna melalui berbagi pengalaman. Transfer pengetahuan tentang persepsi konsumen melalui berbagi nilai nilai yang diyakini konsumen. Transfer pengetahuan tentang penggunaan teknologi tepat guna melalui praktek secara langsung. Transfer pengetahuan tentang kepuasan konsumen melalui berbagi cerita. Pengaruh Indikator Daya Inovasi Terhadap Indikator Kinerja Produk. Hasil analisis pengaruh indikator daya inovasi terhadap indikator kinerja produk dapat dijelaskan sebagai berikut: Tabel 5.47 Pengaruh Indikator Daya Inovasi Terhadap Kemampuan Produk Untuk Meningkatkan Penjualan Karena Lebih Unggul Dibanding Pesaing NOTASI KETERANGAN X26 X15 Kemampuan menghasilkan produk yang dianggap baru 0,142 dan inovatif oleh konsumen (daya inovasi produk). X16 Kemampuan untuk menerima perbedaan pengerjaan tugas untuk setiap individu karyawan (daya inovasi 0,142 perilaku). X17 Kemampuan untuk mencoba metode yang baru dalam mendapatkan peluang (daya inovasi proses). 0,158 X18 Kebersediaan untuk mengambil risiko dalam mendapatkan peluang baru (daya inovasi stratejik). 0,156 JUMLAH 0,598 RATA RATA 0,
52 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Tabel 5.48 Pengaruh Indikator Daya Inovasi Terhadap Kemampuan Produk Untuk Meningkatkan Jumlah Konsumen Karena Keunikannya NOTASI KETERANGAN X27 X15 Kemampuan menghasilkan produk yang dianggap baru dan inovatif oleh konsumen (daya inovasi 0,134 produk). X16 Kemampuan untuk menerima perbedaan pengerjaan tugas untuk setiap individu karyawan (daya inovasi 0,134 perilaku). X17 Kemampuan untuk mencoba metode yang baru dalam mendapatkan peluang (daya inovasi proses). 0,149 X18 Kebersediaan untuk mengambil risiko dalam mendapatkan peluang baru (daya inovasi stratejik). 0,147 JUMLAH 0,564 RATA RATA 0,141 Tabel 5.49 Pengaruh Indikator Daya Inovasi Terhadap Kemampuan Produk Untuk Memperluas Pasar Karena Sesuai dengan Kebutuhan Konsumen NOTASI KETERANGAN X28 X15 Kemampuan menghasilkan produk yang dianggap baru dan inovatif oleh konsumen (daya inovasi produk). 0,143 X16 Kemampuan untuk menerima perbedaan pengerjaan tugas untuk setiap individu karyawan (daya inovasi 0,143 perilaku). X17 Kemampuan untuk mencoba metode yang baru dalam mendapatkan peluang (daya inovasi proses). 0,159 X18 Kebersediaan untuk mengambil risiko dalam mendapatkan peluang baru (daya inovasi stratejik). 0,157 JUMLAH 0,602 RATA RATA 0,151 Tabel 5.50 Pengaruh Indikator Daya Inovasi Terhadap Kemampuan Produk Untuk Meningkatkan Keuntungan Karena Klasik dan Elegan NOTASI KETERANGAN X29 X15 Kemampuan menghasilkan produk yang dianggap baru dan inovatif oleh konsumen (daya inovasi produk). 0,125 X16 Kemampuan untuk menerima perbedaan pengerjaan tugas untuk setiap individu karyawan (daya inovasi perilaku). 0,
53 Dinamika Fakta Empirik NOTASI KETERANGAN X29 X17 Kemampuan untuk mencoba metode yang baru dalam mendapatkan peluang (daya inovasi proses). 0,139 X18 Kebersediaan untuk mengambil risiko dalam mendapatkan peluang baru (daya inovasi stratejik). 0,136 JUMLAH 0,525 RATA RATA 0,131 Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa keberhasilan IKM mebel ekspor Jepara dalam memberdayakan daya inovasi proses (kemampuan untuk mencoba metode yang baru dalam mendapatkan peluang), dan daya inovasi stratejik (kebersediaan untuk mengambil risiko dalam mendapatkan peluang baru) merupakan faktor peningkat kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara. Hal ini bisa dilihat dari nilai koefisien korelasinya yang lebih tinggi dari nilai koefisien korelasi reratanya. Sedangkan daya inovasi produk yang terkait dengan kemampuan IKM mebel ekspor Jepara menghasilkan produk yang dianggap baru dan inovatif oleh konsumen, dan daya inovasi perilaku yang terkait dengan kemampuan IKM mebel ekspor Jepara untuk menerima perbedaan pengerjaan tugas untuk setiap individu karyawan lebih rendah efektivitasnya dalam meningkatkan kinerja produknya. Hal ini ditunjukkan dengan nilai koefisien korelasi yang lebih rendah dari nilai koefisien korelasi reratanya. Adapun urutan tingkat pengaruh daya inovasi terhadap peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara, yang koefisien korelasinya lebih tinggi dari koefisien korelasi reratanya adalah sebagai berikut: Tabel 5.51 Pengaruh Indikator Daya Inovasi Terhadap Indikator Kinerja Produk Indikator Daya Inovasi Nilai Indikator Kinerja Produk Kemampuan produk untuk memperluas 0,159 pasar karena sesuai dengan kebutuhan Kemampuan untuk mencoba metode yang baru dalam mendapatkan peluang (daya inovasi proses). 0,158 0,149 0,139 konsumen. Kemampuan produk untuk meningkatkan penjualan karena lebih unggul dibanding pesaing. Kemampuan produk untuk meningkatkan jumlah konsumen karena keunikannya. Kemampuan produk untuk meningkatkan keuntungan karena klasik 205
54 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Indikator Daya Inovasi Nilai Indikator Kinerja Produk dan elegan. Kemampuan produk untuk memperluas 0,157 pasar karena sesuai dengan kebutuhan konsumen. Kemampuan produk untuk 0,156 meningkatkan penjualan karena lebih unggul dibanding pesaing. Kebersediaan untuk mengambil risiko dalam mendapatkan peluang baru (daya inovasi stratejik) ,147 0,136 Kemampuan produk untuk meningkatkan jumlah konsumen karena keunikannya. Kemampuan produk untuk meningkatkan keuntungan karena klasik dan elegan. Pengaruh Indikator Pembelajaran Eksploratif Terhadap Indikator Kinerja Produk Hasil analisis pengaruh indikator pembelajaran eksploratif terhadap indikator kinerja produk dapat dijelaskan sebagai berikut: Tabel 5.52 Pengaruh Indikator Pembelajaran Eksploratif Kemampuan Produk Untuk Meningkatkan Penjualan Karena Lebih Unggul Dibanding Pesaing NOTASI KETERANGAN X26 X19 Pembelajaran fokus pada perolehan pengetahuan baru melalui eksperimen. 0,205 X20 Pencarian informasi yang mengarahkan pada pasar baru. 0,193 X21 Pembelajaran cenderung berdasarkan pengalaman. 0,194 JUMLAH 0,592 RATA RATA 0,197 Tabel 5.53 Pengaruh Indikator Pembelajaran Eksploratif Terhadap Kemampuan Produk Untuk Meningkatkan Jumlah Konsumen Karena Keunikannya NOTASI KETERANGAN X27 X19 Pembelajaran fokus pada perolehan pengetahuan baru melalui eksperimen. 0,193 X20 Pencarian informasi yang mengarahkan pada pasar baru. 0,182 X21 Pembelajaran cenderung berdasarkan pengalaman. 0,183 JUMLAH 0,558 RATA RATA 0,186
55 Dinamika Fakta Empirik Tabel 5.54 Pengaruh Indikator Pembelajaran Eksploratif Terhadap Kemampuan Produk Untuk Memperluas Pasar Karena Sesuai Dengan Kebutuhan Konsumen NOTASI KETERANGAN X28 X19 Pembelajaran fokus pada perolehan pengetahuan baru melalui eksperimen. 0,206 X20 Pencarian informasi yang mengarahkan pada pasar baru. 0,194 X21 Pembelajaran cenderung berdasarkan pengalaman. 0,195 JUMLAH 0,595 RATA RATA 0,198 Tabel 5.55 Pengaruh Indikator Pembelajaran Eksploratif Terhadap Kemampuan Produk Untuk Meningkatkan Keuntungan Karena Klasik Dan Elegan NOTASI KETERANGAN X29 X19 Pembelajaran fokus pada perolehan pengetahuan baru melalui eksperimen. 0,180 X20 Pencarian informasi yang mengarahkan pada pasar baru. 0,169 X21 Pembelajaran cenderung berdasarkan pengalaman. 0,170 JUMLAH 0,519 RATA RATA 0,173 Hasil analisis di atas menunjukkan bahwa pembelajaran yang fokus pada perolehan pengetahuan baru melalui eksperimen, merupakan satu-satunya indikator pembelajaran eksploratif yang paling efektif dalam meningkatkan semua indikator kinerja produk. Hal ini ditunjukkan dari nilai koefisien korelasinya yang lebih besar dari nilai koefisien korelasi reratanya. Sedangkan pencarian informasi yang mengarahkan pada pasar baru dan pembelajaran yang cenderung berdasarkan pengalaman efektivitasnya lebih rendah dalam peningkatan kinerja produk, yang ditunjukkan dari nilai koefisien korelasinya yang lebih rendah dari nilai koefisien korelasi reratanya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pada IKM mebel ekspor Jepara keberhasilan pemberdayaan pembelajaran eksploratif yang terkait dengan perolehan pengetahuan baru melalui eksperimen, merupakan titik tolak dari peningkatan kinerja produk mereka. Adapun urutan tingkat pengaruh pembelajaran eksploratif terhadap 207
56 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara, yang koefisien korelasinya lebih tinggi dari koefisien korelasi reratanya adalah sebagai berikut: Tabel 5.56 Pengaruh Indikator Pembelajaran Eksploratif Terhadap Kinerja Produk Indikator Pembelajaran Eksploratif Pembelajaran fokus pada perolehan pengetahuan baru melalui eksperimen. Nilai 0,206 0,205 0,193 0,180 Indikator Kinerja Produk Kemampuan produk untuk memperluas pasar karena sesuai dengan kebutuhan konsumen. Kemampuan produk untuk meningkatkan penjualan karena lebih unggul dibanding pesaing. Kemampuan produk untuk meningkatkan jumlah konsumen karena keunikannya. Kemampuan produk untuk meningkatkan keuntungan karena klasik dan elegan. Pengaruh Indikator Transfer Pengetahuan Terhadap Indikator Kinerja Produk Hasil analisis pengaruh indikator pembelajaran eksploratif terhadap indikator kinerja produk dapat dijelaskan sebagai berikut: Tabel 5.57 Pengaruh Indikator Transfer Pengetahuan Terhadap Kemampuan Produk Untuk Meningkatkan Penjualan Karena Lebih Unggul Dibanding Pesaing NOTASI KETERANGAN X26 X22 Transfer pengetahuan tentang kepuasan konsumen melalui berbagi cerita. 0,147 X23 Transfer pengetahuan tentang teknologi tepat guna melalui berbagi pengalaman. 0,186 X24 Transfer pengetahuan tentang persepsi konsumen melalui berbagi nilai nilai yang diyakini konsumen. 0,175 X25 Transfer pengetahuan tentang penggunaan teknologi tepat guna melalui praktek secara langsung. 0,175 JUMLAH 0,683 RATA RATA 0,
57 Dinamika Fakta Empirik Tabel 5.58 Pengaruh Indikator Transfer Pengetahuan Terhadap Kemampuan Produk Untuk Meningkatkan Jumlah Konsumen Karena Keunikannya NOTASI KETERANGAN X27 X22 Transfer pengetahuan tentang kepuasan konsumen melalui berbagi cerita. 0,138 X23 Transfer pengetahuan tentang teknologi tepat guna melalui berbagi pengalaman. 0,176 X24 Transfer pengetahuan tentang persepsi konsumen melalui berbagi nilai nilai yang diyakini konsumen. 0,165 X25 Transfer pengetahuan tentang penggunaan teknologi tepat guna melalui praktek secara langsung. 0,165 JUMLAH 0,644 RATA RATA 0,161 Tabel 5.59 Pengaruh Indikator Transfer Pengetahuan Terhadap Kemampuan Produk Untuk Memperluas Pasar Karena Sesuai Dengan Kebutuhan Konsumen NOTASI KETERANGAN X28 X22 Transfer pengetahuan tentang kepuasan konsumen melalui berbagi cerita. 0,148 X23 Transfer pengetahuan tentang teknologi tepat guna melalui berbagi pengalaman. 0,187 X24 Transfer pengetahuan tentang persepsi konsumen melalui berbagi nilai nilai yang diyakini konsumen. 0,176 X25 Transfer pengetahuan tentang penggunaan teknologi tepat guna melalui praktek secara langsung. 0,176 JUMLAH 0,687 RATA RATA 0,172 Tabel 5.60 Pengaruh Indikator Transfer Pengetahuan Terhadap Kemampuan Produk Untuk Meningkatkan Keuntungan Karena Klasik Dan Elegan NOTASI KETERANGAN X29 X22 Transfer pengetahuan tentang kepuasan konsumen melalui berbagi cerita. 0,128 X23 Transfer pengetahuan tentang teknologi tepat guna melalui berbagi pengalaman. 0,163 X24 Transfer pengetahuan tentang persepsi konsumen melalui berbagi nilai nilai yang diyakini konsumen. 0,153 X25 Transfer pengetahuan tentang penggunaan teknologi tepat guna melalui praktek secara langsung. 0,153 JUMLAH 0,597 RATA RATA 0,
58 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Terdapat tiga jenis transfer pengetahuan yang efektif untuk meningkatkan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara yaitu: transfer pengetahuan tentang teknologi tepat guna melalui berbagi pengalaman, transfer pengetahuan tentang persepsi konsumen melalui berbagi nilai-nilai yang diyakini konsumen, dan transfer pengetahuan tentang penggunaan teknologi tepat guna melalui praktek secara langsung. Hal ini ditunjukkan dari nilai koefisien korelasinya yang lebih tinggi dari nilai koefisien korelasi reratanya. Dengan kata lain IKM mebel ekspor Jepara akan berhasil meningkatkan kinerja produknya bila mampu memberdayakan ketiga jenis transfer pengetahuan dengan baik. Urutan tingkat pengaruh transfer pengetahuan terhadap peningkatan kinerja produk IKM mebel ekspor Jepara berdasar pada nilai koefisien korelasi yang lebih tinggi dari koefisien korelasi reratanya adalah: Tabel 5.61 Pengaruh Indikator Transfer Pengetahuan Terhadap Indikator Kinerja Produk Indikator Transfer Nilai Indikator Kinerja Produk Pengetahuan Transfer pengetahuan tentang teknologi tepat guna melalui berbagi pengalaman. Transfer pengetahuan tentang penggunaan teknologi tepat guna melalui praktek secara langsung. Transfer pengetahuan tentang persepsi konsumen melalui berbagi nilai nilai yang diyakini konsumen ,187 0,186 0,176 0,163 0,176 0,175 0,165 0,153 0,176 0,175 0,165 0,153 Kemampuan produk untuk memperluas pasar karena sesuai dengan kebutuhan konsumen. Kemampuan produk untuk meningkatkan penjualan karena lebih unggul dibanding pesaing. Kemampuan produk untuk meningkatkan jumlah konsumen karena keunikannya. Kemampuan produk untuk meningkatkan keuntungan karena klasik dan elegan. Kemampuan produk untuk memperluas pasar karena sesuai dengan kebutuhan konsumen. Kemampuan produk untuk meningkatkan penjualan karena lebih unggul dibanding pesaing. Kemampuan produk untuk meningkatkan jumlah konsumen karena keunikannya. Kemampuan produk untuk meningkatkan keuntungan karena klasik dan elegan. Kemampuan produk untuk memperluas pasar karena sesuai dengan kebutuhan konsumen. Kemampuan produk untuk meningkatkan penjualan karena lebih unggul dibanding pesaing. Kemampuan produk untuk meningkatkan jumlah konsumen karena keunikannya. Kemampuan produk untuk meningkatkan keuntungan karena klasik dan elegan.
59 Dinamika Fakta Empirik Hasil analisis di atas menunjukkan gambaran bagaimana IKM mebel ekspor Jepara membangun trust dan menggunakannya sebagai penggerak daya inovasi, pembelajaran eksploratif dan transfer pengetahuan, yang digunakan oleh IKM mebel ekspor Jepara untuk meningkatkan kinerja produk mereka. Gambaran tersebut disajikan dalam gambar-gambar di bawah ini. Pembangunan Trust oleh IKM Mebel Ekspor Jepara MODAL SOSIAL STRUKTURAL Karyawan memiliki hubungan yang erat dengan pimpinan perusahaan Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efektif. Hubungan erat antara karyawan dan pimpinan perusahaan mampu menghasilkan komunikasi yang efisien. Karyawan dapat belajar dari pimpinan perusahaan dari keeratan hubungan yang ada. TRUST SOLIDARITA S Tujuan bersama lebih penting dari kebutuhan pribadi. Keputusan bersama harus dilaksanakan meskipun terdapat perbedaan pendapat. Pemecahan masalah bersama lebih baik dibanding pemecahan masalah individual. Komunikasi internal perusahaan berjalan secara efisien. Keterangan: Peringkat Gambar 5.4 Pembangunan Trust Pada IKM mebel ekspor Jepara 211
60 PENDEKATAN ALTERNATIF PENINGKATAN KINERJA PRODUK Studi pada IKM Mebel Ekspor Jepara Pemberdayaan Daya dan Aktivitas Inovasi oleh IKM Mebel Ekspor Jepara TRUST Daya Inovasi karyawan bahwa karyawan selalu memikirkan apa yang bermanfaat secara keseluruhan (benevolence trust). karyawan bahwa karyawan selalu memenuhi janjinya (benevolence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki visi ke depan (integrity trust). karyawan bahwa karyawan memiliki kapabilitas untuk berkembang dan belajar secara kontinyu (integrity trust). Pemb elajar an Ekspl oratif karyawan bahwa karyawan memiliki kompetensi teknologi (competence trust). karyawan bahwa karyawan memiliki kepakaran sesuai bidangnya (competence trust). Keterangan: Peringkat Transfer Pengeta huhuan Gambar 5.5 Pemberdayaan Daya Inovasi, Pembelajaran Eksploratif dan Transfer Pengetahuan melalui Trust 212
61 Dinamika Fakta Empirik Peningkatan Kinerja Produk oleh IKM Mebel Ekspor Jepara DAYA INOVASI iinovasi Kemampuan menghasilkan produk yang dianggap baru dan inovatif oleh konsumen Kemampuan untuk menerima perbedaan pengerjaan tugas untuk setiap individu Kemampuan untuk mencoba metode yang baru dalam mendapatkan peluang (daya inovasi proses). Kebersediaan untuk mengambil risiko dalam mendapatkan peluang baru (daya inovasi stratejik). PEMBELAJARAN EKSPLORATIF Pembelajaran fokus pada perolehan pengetahuan baru melalui eksperimen. Pencarian informasi yang mengarahkan pada pasar baru. Pembelajaran cenderung berdasarkan pengalaman. KINERJA PRODUK TRANSFER PENGETAHUAN Transfer pengetahuan tentang kepuasan konsumen melalui berbagi cerita. Transfer pengetahuan tentang teknologi tepat guna melalui berbagi pengalaman. Transfer pengetahuan tentang persepsi konsumen melalui berbagi nilai nilai yang diyakini konsumen. Transfer pengetahuan tentang penggunaan teknologi tepat guna melalui praktek secara langsung. Keterangan: Peringkat Gambar 5.6 Peningkatan Kinerja Produk IKM mebel ekspor Jepara melalui Daya Inovasi, Pembelajaran Eksploratif dan Transfer Pengetahuan 213
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek Penelitian Kantor Pelayanan Pajak Pratama Sleman merupakan salah satu instansi vertikal Direktorat Jenderal Pajak yang terletak di Jalan Ring Road
BAB VI ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEPUTUSAN HUTANG
BAB VI ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENENTU KEPUTUSAN HUTANG Bab ini akan memaparkan analisis terhadap faktor-faktor yang menentukan keputusan hutang pada pemilik usaha tenun dengan menggunakan Theory Planned
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. metode pengambilan sampel yang digunakan adalah non-probability sampling dan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Deskripsi Objek Penelitian Data diambil menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada konsumen Indomaret Point Pandanaran di kota Semarang. Populasi
BAB III METODE PENELITIAN. menjelaskan bahwa populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Populasi
23 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Populasi dan Sampel 3.1.1 Populasi Populasi adalah kelompok subyek yang hendak digeneralisasikan oleh hasil penelitian (Sugiyono, 2014). Sedangkan Arikunto (2010) menjelaskan
BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
BAB IV PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN Dalam bab ini akan dilakukan pengujian dan analisis model berdasarkan data kuesioner yang terkumpul untuk menjawab pertanyaan penelitian dan hipotesis yang telah diajukan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Responden Pada bab IV ini akan menampilkan hasil penelitian yang berupa gambaran umum objek penelitian dan data deskriptif serta menyajikan hasil komputasi
BAB 5 ANALISIS HASIL STUDI. responden yang berada di Sumatera Utara. Karakteristik responden merupakan
BAB 5 ANALISIS HASIL STUDI 5.1 Deskripsi Umum Sampel Penelitian Setelah dilakukan penyebaran kuesioner kepada responden maka hasil kuesioner yang layak dan secara penuh mengisi kuesioner berjumlah 134
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data, baik data yang bersifat data sekunder maupun data primer, dengan tujuan dan kegunaan tertentu (Sugiyono, 2013).
BAB III METODE PENELITIAN. D.I.Yogyakarta. Sedangkan subjek penelitian adalah Wajib Pajak orang
BAB III METODE PENELITIAN A. Objek/Subjek Penelitian Objek dalam penelitian ini adalah Kantor Pelayanan Pajak di Provinsi D.I.Yogyakarta. Sedangkan subjek penelitian adalah Wajib Pajak orang pribadi, dimana
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. digunakan untuk menggambarkan kondisi jawaban responden untuk masing-masing
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pada Bab IV ini disajikan gambaran data penelitian yang diperoleh dari hasil jawaban responden, proses pengolahan data dan analisis hasil pengolahan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Nusantara Tour di Semarang. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pelanggan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Deskripsi Objek Penelitian Data diambil menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada pelanggan Nusantara Tour di Semarang. Populasi dalam penelitian
BAB III METODE PENELITIAN. Bab ini bertujuan untuk memberikan suatu dasar yang valid dan reliabel untuk
BAB III METODE PENELITIAN Bab ini bertujuan untuk memberikan suatu dasar yang valid dan reliabel untuk menghasilkan data yang dapat diyakini kebenarannya, sehingga informasi yang diperoleh dari penelitian
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Bab ini bertujuan untuk mengungkap hasil analisis data penelitian dan pembahasannya. Pembahasan diawali dengan dimulai hasil statistik deskriptif yang bertujuan untuk
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Karakterisitik Responden. dapat di jelaskan pada tabel sebagai berikut;
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Karakterisitik Responden Berdasarkan hasil perhitungan responden dalam penelitian ini, di klasifikasikan menjadi tiga karakteristik dengan frekuensi keseluruhan
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Karakteristik Responden Berdasarkan jumlah sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu sebanyak 135 responden, dengan kriteria jenis kelamin, usia, pendidikan, lama
BAB III METODE PENELITIAN. Secara keseluruhan, bab ini berisi tentang desain penelitian, ruang lingkup penelitian,
BAB III METODE PENELITIAN Bab ini bertujuan untuk memberikan landasan yang valid dan reliabel untuk menghasilkan data yang dapat diyakini kebenarannya. Sehingga informasi yang dihasilkan dapat dipercaya
BAB III METODE PENELITIAN. Subyek dalam penelitian ini adalah perawat pelaksana di Ruang
BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek dan Subyek Penelitian 1. Obyek Penelitian Obyek penelitian pada penelitian ini adalah RSUD Praya. 2. Subyek Penelitian Subyek dalam penelitian ini adalah perawat pelaksana
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam peneliian ini adalah pendekatan kuantitatif dan disajikan dalam bentuk angka-angka yang akan diolah dengan metode statistika.
BAB III METODE PENELITIAN. Obyek dalam penelitian ini adalah CV Opal Transport, sedangkan subyek dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan CV
BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek dan Subyek Penelitian Obyek dalam penelitian ini adalah CV Opal Transport, sedangkan subyek dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan CV Opal Transport. B. Populasi
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian Penelitian ini dikategorikan sebagai explanatory research yaitu penelitian yang bertujuan menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel melalui
BAB III METODE PENELITIAN. di D.I. Yogyakarta, yang berlokasi di Purwomartani, Kalasan, Sleman, dan Nitipuran, Yogyakarta. Sedangkan subyek dari
BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian 1. Obyek dan subyek penelitian Obyek penelitian adalah di kantor UPT Kementerian Sosial di D.I. Yogyakarta, yang berlokasi di Purwomartani, Kalasan, Sleman,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Bab ini bertujuan untuk memberikan landasan yang valid dan reliabel untuk
BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini bertujuan untuk memberikan landasan yang valid dan reliabel untuk menghasilkan data yang dapat diyakini kebenarannya, sehingga informasi yang diperoleh dari penelitian
With AMOS Application
ASUMSI DAN PERSYARATAN PADA STRUCTURAL EQUATION MODELLING (SEM) With AMOS Application Eko Budi Setiawan, S.Kom., M.T. Asumsi dan persyaratan penting saat menggunakan SEM 1. Sample Size 2. Normalitas Data
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN Dalam bab ini akan dijelaskan metode-metode penelitian yang akan digunakan, yang meliputi sumber dan jenis data, populasi dan sampel, metode pengumpulan data dan teknik analisis
Bab 3. Metode Penelitian
Bab 3 Metode Penelitian 3.1 Jenis dan Lokasi Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian mengenai pengujian model Theory Planned Behavior dalam menentukan pengaruh sikap siswa, norma subjektif,
BAB III METODE PENELITIAN. Berdasarkan tujuannya penelitian ini termasuk applied research atau
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Berdasarkan tujuannya penelitian ini termasuk applied research atau penelitian terapan yang mana didalamnya terdapat solusi atas suatu permasalahan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis pendekatan dan penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian survey, yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengambil sampel secara langsung dari populasi,
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
31 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Obyek/ Subyek Penelitian 1. Sejarah Smartphone Xiaomi Salah satu perusahaan yang memproduksi smartphone adalah Xiaomi. Xiaomi sendiri mulai menjual
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
33 BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1. Identifikasi Responden Pada penelitian ini jumlah sampel yang digunakan adalah pemilik usaha laundry di Surabaya, sebanyak 120 responden. Dengan Menggunaan metode
BAB III METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, obyek yang akan diteliti adalah. SMA Negeri 1 Sumbawa Besar, SMA Negeri 1 Lape dan
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Obyek dan Subyek Penelitian Dalam penelitian ini, obyek yang akan diteliti adalah SMA Negeri 1 Sumbawa Besar, SMA Negeri 1 Lape dan SMA Negeri 1 Maronge NTB. Subyek penelitian
BAB III METODE PENELITIAN. alamat Jalan Rekso Bayan No 1 Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,
BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek dan Subyek Penelitian: Obyek penelitian ini adalah Polresta Yogyakarta Polda DIY, dengan alamat Jalan Rekso Bayan No 1 Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Penelitian yang bertujuan untuk meneliti adanya pengaruh persepsi biaya, persepsi kenyamanan, dan persepsi resiko terhadap minat beli situs tokobagus.com. Karena itulah
BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.1.1 Variabel Penelitian Dalam penelitian ini menggunakan tiga jenis variabel yang dapat dikelompokkan sebagai berikut : 1. Variabel
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek dan Subyek Penelitian Obyek penelitian ini adalah PT. Mega Andalan Komponen Logam yang beralamat di Kalasan, Sleman, Yogyakarta. Dan subyek dalam penelitian ini adalah
BAB III METODE PENELITIAN. dalam menghasilkan data yang dapat diyakini kebenarannya, sehingga informasi
BAB III METODE PENELITIAN Bab ini bertujuan untuk memberikan landasan yang valid dan reliabel dalam menghasilkan data yang dapat diyakini kebenarannya, sehingga informasi yang dihasilkan dapat dipercaya
BAB 4 ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
BAB 4 ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 4.1. Karakteristik Responden Demi memberikan deskripsi mengenai responden yang menjadi obyek penelitian, penulis membuat karakteristik responden dimana dalam penelitian
BAB IV HASIL PENELITAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITAN DAN PEMBAHASAN A. GAMBARAN UMUM OBYEK/SUBYEK PENELITIAN 1. Obyek dan Subyek Penelitian Objek dalam penelitian ini yaitu Centro yang ada di Mall Ambarrukmo Plaza Jl. Laksda Adisucipto
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. contact person kepada WP yang telah diwajibkan menggunakan e-filing
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Obyek Penelitian 1. Analisis Karakteristik Responden Data penelitian yang digunakan adalah primer yang diperoleh dengan mengajukan beberapa pertanyaan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Sumber Data dan Tehnik Pengumpulan Data Data yang di gunakan dalam penelitian ini bersumber dari data primer. Menurut Azwar (2009) data primer adalah data yang di peroleh
BAB 3 METODE PENELITIAN
BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Populasi dan Sampel Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah seluruh guru PAUD di Salatiga, dengan menggunakan sampel guru PAUD di Salatiga yang diambil dari 3 kecamatan
BAB III METODE PENELITIAN
A. Subjek dan Objek Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Subjek dari penelitian ini adalah konsumen Hero Supermarket di Kota Yogyakarta, sedangkan objek dalam penelitian ini adalah Hero Supermarket di
BAB III METODE PENELITIAN. teknik sampling, definisi operasional variabel dan teknik analisis yang digunakan. A. Desain Penelitian
digilib.uns.ac.id 23 BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian berisi tentang desain penelitian, populasi, sampel dan teknik sampling, definisi operasional variabel dan teknik analisis yang digunakan.
BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi dalam penelitian ini adalah di Kabupaten Purbalingga, Jawa
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Lokasi dalam penelitian ini adalah di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Alasan memilih Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah karena untuk memudahkan penulis
BAB II LANDASAN TEORI
BAB II LANDASAN TEORI Pada bagian ini terdiri dari tujauan pustaka, landasan teori dan kerangka pemikiran Tinjauan pustaka berisi penelitian-penelitian sebelumnya dan digunakan sebagai dasar dilaksanakannya
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek dan Subjek Penelitian 1. Gambaran Objek Penelitian Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah produk Eiger. PT. Eigerindo Multi Produk
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. CV Opal Transport merupakan perusahaan yang bergerak di
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Profil CV Opal Transport CV Opal Transport merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa rental mobil, paket wisata, dan pengiriman barang. CV Opal Transport
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN. A. Deskripsi Obyek Penelitian. Universitas Trisakti angkatan sebagai respondennya. Dari penyebaran kuesioner
BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Obyek Penelitian 1. Gambaran Umum Responden Objek penelitian yang ditetapkan adalah mahasiswa Program S1 Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti angkatan 2006-2010
BAB III METODE PENELITIAN. terdaftar di Badan Pusat Statistik (BPS) sejak sampel. Berikut jumlah perusahaan yang berpartisipasi:
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Objek dan Lokasi Penelitian Dalam penelitian ini, objek penelitian adalah karyawan-karyawan dengan jabatan manajer pada perusahaan manufaktur yang ada di kota Semarang yang
BAB III METODE PENELITIAN. 1. Populasi mengacu pada keseluruhan kelompok orang, kejadian atau hal. diteliti adalah masyarakat Surakarta.
BAB III METODE PENELITIAN A. Populasi dan Sampel 1. Populasi mengacu pada keseluruhan kelompok orang, kejadian atau hal minat yang ingin peneliti investigasi (Sekaran, 2011: 121). Populasi yang diteliti
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di perusahaan PT. Sari Warna Asli III,
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan di perusahaan PT. Sari Warna Asli III, Karanganyar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian survey. Penelitian survey adalah
3. METODE PENELITIAN 3.1. Penentuan Waktu dan Lokasi 3.2. Jenis Penelitian 3.3. Teknik Pengambilan Sampel
3. METODE PENELITIAN 3.1. Penentuan Waktu dan Lokasi Penelitian dilaksanakan pada 12 Februari 2016 hingga13 April 2016 di Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Pemilihan lokasi dilakukan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek dan Subyek Penelitian Obyek dalan penelitian ini adalah Balai Metrologi DIY. Sebagai subyek penelitiannya adalah pegawai organik kantor Balai Metrologi DIY. Pegawai yang
III. METODE PENELITIAN
III. METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai bulan Agustus 2016. Tempat pelaksanaan kegiatan penelitian berada di Kecamatan Getasan, Kabupaten
BAB III METODE PENELITIAN. Lokasi dalam penelitian ini adalah di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Alasan
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Lokasi dalam penelitian ini adalah di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Alasan memilih Kabupaten Ngawi, Jawa Timur karena untuk memudahkan penulis melakukan penelitian
Pengaruh Budaya Perusahaan, Kedisiplinan dan Kepuasan Kerja Terhadap Produktivitas Karyawan dengan Metode Structural Equation Modeling
Jurnal Teknik Industri, Vol.1, No.2, Juni 2013, pp.88-95 ISSN 2302-495X Pengaruh Budaya Perusahaan, Kedisiplinan dan Kepuasan Kerja Terhadap Produktivitas Karyawan dengan Metode Structural Equation Modeling
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. (77,4%) lebih banyak daripada responden pria (22,5%). Tampil anggun dan menawan
71 5.1 Hasil Penelitian 5.1.1 Karakteristik Responden 5.1.1.1 Jenis Kelamin Responden BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Berdasarkan Tabel 5.1 dibawah ini dapat diketahui bahwa responden wanita (77,4%)
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini menjelaskan hubungan mempengaruhi dan dipengaruhi
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Obyek dan Subyek Penelitian 1. Obyek penelitian. Obyek dalam penelitian ini adalah tempat hiburan karaoke Princess Syahrini F-KTV di Yogyakarta.
BAB IV RUANG LINGKUP PERUSAHAAN, HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA
BAB IV RUANG LINGKUP PERUSAHAAN, HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA A. Ruang Lingkup Perusahaan 1. Legalitas Nama Lembaga : Bank Syariah Mandiri Kantor Kas Ponpes Attanwir Alamat : Jl. Raya Talun No. 220
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini akan dilakukan pengujian dan analisis model berdasarkan data kuesioner yang terkumpul untuk menjawab pertanyaan peneltian dan hipotesis yang telah diajukan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat penerimaan SUOT-
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat penerimaan SUOT- RD sebagai salah satu media evaluasi pembelajaran. Melalui penelitian ini
Distribusi Responden Berdasarkan Usia
V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 ANALISIS DESKRIPTIF 5.1.1 Deskriptif Responden Distribusi Responden Berdasarkan Usia 1% 15% 19% 15-24 25-30 31-44 45-65 65% Gambar 3. Distribusi Responden Berdasarkan Usia Distribusi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. konsumen yang sedang belanja di Outline store. Sedangkan metode pengambilan
67 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Deskripsi Objek Penelitian Data diambil menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada konsumen Outline store di kota Semarang. Populasi dalam penelitian
BAB III METODE PENELITIAN. B. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling
18 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain survei, yaitu mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data. B. Populasi,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. (BBPLK) Serang. Sedangkan untuk subyek penelitian ini yaitu seluruh pegawai
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Obyek dan Subyek Penelitian Obyek penelitian ini adalah Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Serang. Sedangkan untuk subyek penelitian ini yaitu seluruh pegawai
BAB III METODOLOGI PENELITIAN. hubungan antara satu dengan variabel yang lain (Sugiyono, 2005).
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan penelitian eksplanatori adalah penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. PROFIL KOPERASI CU PUNDHI ARTA
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. PROFIL KOPERASI CU PUNDHI ARTA Koperasi CU Pundhi Arta merupakan koperasi simpan pinjam yang berbadan hukum Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta dengan
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di PT. Nasmoco Bengawan Motor Solo
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. Nasmoco Bengawan Motor Solo Baru, Sukoharjo.Penelitian ini menggunakan metode penelitian survey. Penelitian survey adalah
BAB III METODE PENELITIAN. Kebayoran, Jakarta Selatan selama penelitian. Kebayoran Lama, Jakarta Selatan yang dipilih sebagai tempat penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Objek Penelitian Industri ini mengacu pada kegiatan operasional percetakan dan obyek penelitian ini ialah untuk mengetahui besarnya pengaruh Kepercayaan Pelanggan dan Kualitas
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek dan Subyek Penelitian 1. Obyek Obyek penelitian merupakan sasaran untuk mendapatkan suatu data dan obyek pada penelitian ini adalah Waroeng Spesial Sambal di Yogyakarta.
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 4.1. Analisis Deskriptif Responden Berikut ini penulis akan memberikan gambaran yang lebih menyeluruh terhadap deskripsi respoden yang terdiri dari status responden,
BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain survey, yaitu metode pengumpulan
digilib.uns.ac.id BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain survey, yaitu metode pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden
ISSN: JURNAL GAUSSIAN, Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016, Halaman Online di:
ISSN: 2339-2541 JURNAL GAUSSIAN, Volume 5, Nomor 3, Tahun 2016, Halaman 553-562 Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/gaussian PENGARUH MARKETING MIX TERHADAP KEPUASAN DAN LOYALITAS KONSUMEN
BAB III METODE PENELITIAN. 3.1 Obyek dan Subyek Penelitian Obyek penelitian ini adalah sesuatu yang menjadi
41 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Obyek dan Subyek Penelitian Obyek penelitian ini adalah sesuatu yang menjadi pemusatan pada kegiatan penelitian, atau dengan kata lain segala sesuatu yang menjadi sasaran
BAB IV METODE PENELITIAN
BAB IV METODE PENELITIAN 1.1. Desain Penelitian Pada penelitian ini penulis menggunakan penelitian menggunakan metode Kausalitas, digunakan untuk meneliti pada pupolasi atau sampel tertentu, pengumpulan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
46 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Objek/Subjek Penelitian 1. Sejarah sepatu olahraga Nike Salah satu perusahaan yang menjadi market leader dalam penjualan sepatu olahraga adalah
PENGARUH HUMAN CAPITAL DAN CORPORATE VALUE TERHADAP KINERJA KARYAWAN
PENGARUH HUMAN CAPITAL DAN CORPORATE VALUE TERHADAP KINERJA KARYAWAN Putiri Bhuana Katili 1),Mutia Adha 2) Jurusan Teknik Industri, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Jl. Jend.Sudirman Km.3 Cilegon, Banten
Kata kunci: Relationship Quality, Service Quality, Loyalty, Structural Equation Modeling (SEM).
ANALISIS SERVICE QUALITY PT. TERMINAL PETI KEMAS SURABAYA BERBASIS STRUCTURAL EQUATION MODELING (SEM) Trinil Muktiningrum, Haryono, Vita Ratnasari Program Studi Magister Manajemen Teknologi ITS Jl. Cokroaminoto
VITA ANDYANI EA24. Dosen Pembimbing: Dr. Wardoyo, SE., MM
Kamis, 29 September 2016 PENGARUH ORIENTASI PASAR, INOVASI PRODUK, DAN ORIENTASI KEWIRAUSAHAAN TERHADAP KINERJA PEMASARAN PADA USAHA MIKRO KECIL MAKANAN DAN MINUMAN DI WILAYAH JAKARTA TIMUR VITA ANDYANI
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek dan Subyek Penelitian Obyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang berada di Jalan Lingkar Selatan, Kasihan, Bantul, Daerah
Bab 4. Hasil Penelitian dan Analisis Data
Bab 4 Hasil Penelitian dan Analisis Data 4.1. Profil Objek Penelitian dan Data Diskriptif SMP Negeri 3 Banyubiru merupakan unit sekolah baru (USB) yang didirikan pada tahun 2007. Sekolah ini mulai beroperasi
JURNAL GAUSSIAN, Volume 2, Nomor 2, April 2013, Halaman Online di:
JURNAL GAUSSIAN, Volume 2, Nomor 2, April 2013, Halaman 98-108 Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/gaussian ANALISIS PENGARUH KUALITAS LAYANAN DAN KUALITAS PRODUK TERHADAP LOYALITAS PELANGGAN
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1 BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Deskriptif 1. Analisis secara deskriptif Bagian ini akan membahas hasil pengolahan data yang telah dikumpulkan dari lapangan berdasarkan karakteristik
BAB III METODE PENELITIAN. mengapa peneliti memilih subyek tersebut karena peneliti menemukan bahwa
BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek & Subyek Penelitian Obyek dari penelitian ini yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan subyeknya ialah para Mahasiswa Magister UMY. Alasan mengapa peneliti memilih
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam bab hasil dan pembahasan ini akan dibahas mengenai hasil dari analisis
ADLN PERPUSTAKAAN AIRLANGGA BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam bab hasil dan pembahasan ini akan dibahas mengenai hasil dari analisis kuesioner yang didapat, baik secara deskriptif maupun kuantitatif. Analisis
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. peningkatan kehidupan. Dengan berbagai program akademik dan kemahasiswaan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya yang telah berjalan sejak 20 September 1960, memandang bahwa kampus adalah tempat pembentukan
PENERAPAN STRUCTURAL EQUATION MODELING (SEM) UNTUK ANALISIS KOMPETENSI ALUMNI
Buletin Ilmiah Math. Stat. dan Terapannya (Bimaster) Volume 6, No. 0 (017), hal 113 10. PENERAPAN STRUCTURAL EQUATION MODELING (SEM) UNTUK ANALISIS KOMPETENSI ALUMNI Matius Robi, Dadan Kusnandar, Evy Sulistianingsih
BAB IV SEM (STRUCTURAL EQUATION MODELING)
BAB IV SEM (STRUCTURAL EQUATION MODELING) 4.. Pendahuluan SEM merupakan sekumpulan teknik-teknik statistik yang memungkinkan pengujian serangkaian hubungan antar variabel yang relatif rumit secara simultan
BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN
4.1 Identifikasi Responden BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian ini peneliti menyebarkan 216 kuesioner kepada konsumen yang pernah berkunjung dan melakukan pembelian di gerai Starbucks di Surabaya.
BAB V PEMBAHASAN. estimasi loading factor, bobot loading factor (factor score wight), dan error variance
BAB V PEMBAHASAN 5.1 Analisis Konfirmatori Analisis faktor konfirmatori dalam penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan estimasi loading factor, bobot loading factor (factor score wight), dan error variance
BAB IV PEMBAHASAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian 1.2. Karakteristik responden
BAB IV PEMBAHASAN 1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian Rumah sakit Gereja Protestan Maluku merupakan satu-satunya rumah sakit Kristen di kota Ambon, Rumah Sakit Gereja Protestan Maluku di dirikan pada tanggal
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
digilib.uns.ac.id BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bagian ini bertujuan untuk mengungkap hasil penelitian dan pembahasannya. Tahapan awal dalam menganalisis data yang dilakukan yaitu dimulai dengan
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN. langsung kepada responden yang mengisi kuesioner pada aplikasi google form di
30 BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Pengumpulan Data Pada penelitian ini, yang menjadi objek penelitiannya adalah mahasiswa program studi akuntansi Universitas Islam Indonesia. Kuesioner
