PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI"

Transkripsi

1 PERBEDAAN CINTA STERNBERG (INTIMACY, PASSION, COMMITMENT) BERDASARKAN JARAK TEMPAT TINGGAL PADA WANITA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh : Krisentia Indah Permatasari NIM : PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013 i

2 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

3 PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI

4 Di mana ada cinta kasih, di situ ada Allah Tritunggal: Pecinta, yang dicinta, dan sumber cinta kasih (St. Agustinus) Darkness cannot drive out darkness: only light can do that. Hate cannot drive out hate: only love can do that (Martin Luther King Jr.) Aku ingin mencintaimu dengan sederhana Dengan kata yang tak sempat diucapkan Kayu kepada api yang menjadikannya abu. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada. (Sapardi Djoko Damono) iv

5 PERSEMBAHAN Karya sederhana ini aku persembahkan untuk: Tuhan Yesus Kristus yang dengan setianya selalu menemani di setiap langkah-langkahku baik dalam suka maupun duka, Bunda Maria yang selalu menjadi tempat berkeluh kesahku, Mbahku Alm. Bpk & Ibu Wignyosuharjo; Alm. Bpk & Ibu Parto Miharjo Kedua orang tuaku, Bapak dan Ibu Andreas Indra Wiyanta yang dengan sabar dan setianya selalu menyemangati dan mengerti segala sikonku dalam pembuatan skripsiku ini, Adikku tersayang Rio, Sahabat-sahabatku, dan semua orang yang kusayangi yang membuat hidupku semakin berwarna. v

6 PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 2 Agustus 2013 Penulis Krisentia Indah Permatasari vi

7 PERBEDAAN CINTA STERNBERG (INTIMACY, PASSION, COMMITMENT) BERDASARKAN JARAK TEMPAT TINGGAL PADA WANITA Krisentia Indah Permatasari ABSTRAK Penelitian komparatif ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hubungan cinta jarak dekat/face to face dan jarak jauh/ldr dilihat menurut komponen cinta Sternberg (1997). Variabel pertama dalam penelitian ini adalah jarak (tempat) dalam hubungan cinta yaitu jarak dekat/face to face dan jarak jauh/ldr, sedangkan variabel kedua adalah komponen cinta Sternberg (intimacy, passion, dan commitment). Hipotesis dalam penelitian ini mengatakan ada perbedaan yang signifikan dalam komponen cinta Sternberg (intimacy, passion, dan commitment) pada hubungan cinta jarak dekat/face to face dan jarak jauh/ldr. Subjek penelitian adalah 50 mahasiswi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang terdiri dari 25 mahasiswi yang menjalin hubungan jarak dekat/face to face dan 25 mahasiswi yang menjalin hubungan jarak jauh/ldr. Pengambilan data dilakukan dengan pengisian skala STLS/Sternberg s Triangular Love Scale. Uji validitas dan reliabilitas skala STLS menghasilkan 45 aitem valid dengan koefisien reliabilitas secara keseluruhan sebesar 0,945. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan independent sample t-test. Hasil analisis data komponen intimacy menunjukkan nilai t hitung sebesar 0.817, komponen passion sebesar 0.777, dan komponen commitment sebesar Semua nilai t hitung tersebut lebih kecil daripada nilai t tabel sebesar 1,68 (t hitung < 1,68). Dengan demikian ketiga hipotesis dalam penelitian ini ditolak. Kata kunci : intimacy, passion, commitment, hubungan jarak jauh/ldr, hubungan jarak dekat/face to face. vii

8 THE DIFFERENCE OF STERNBERG LOVE (INTIMACY, PASSION, COMMITMENT) BASED ON THE DISTANCE AMONG WOMEN Krisentia Indah Permatasari ABSTRACT This comparative research aims to find out the difference between face to face relationship and long distance relationship based on Sternberg s love components (1997). The first variable of this research is the distance consisting of face to face distance and long distance. The second variable is Sternberg s love components (intimacy, passion, and commitment). Hypothesis of this research states that there is significant difference in Sternberg s love components (intimacy, passion, and commitment) between face to face relationship and long distance relationship. The research subjects were 50 females who studied in Sanata Dharma University. Twenty five of them had face to face relationship and twenty five of them had long distance relationship. Data were collected by filling Stenberg s Triangular Love scale (STLS). Validity and reliability of test produced 45 valid items with the whole coefficient reliability of Data analysis method in this research uses independent sample t-test. The t-test of the data shows for intimacy, for passion, and for commitment. They do not exited the critical t of Therefore three hypothesis research are rejected. Keywords : intimacy, passion, commitment, LDR relationship, face to face relationship. viii

9 LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama : Krisentia Indah Permatasari NIM : Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan Kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: PERBEDAAN CINTA STERNBERG (INTIMACY, PASSION, COMMITMENT) BERDASARKAN JARAK TEMPAT TINGGAL PADA WANITA beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan Kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa harus meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya Dibuat di Yogyakarta Pada tanggal: 2 Agustus 2013 Yang menyatakan, (Krisentia Indah Permatasari) ix

10 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah Bapa di surga karena kasih setianya penulis mampu menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. Skripsi yang berjudul Perbedaan Cinta Sternberg (Intimacy, Passion, Commitment) Berdasarkan Jarak Tempat Tinggal Pada Wanita disusun untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi (S.Psi) di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah berperan serta dalam meluangkan waktu, pikiran, tenaga serta memberikan dukungan baik secara moril maupun materiil sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada: 1. Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan kekuatan, kesehatan, dan pikiran sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. 2. Bunda Maria yang dengan setianya selalu mendengarkan keluh kesahku selama pengerjaan skripsi ini. 3. Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. 4. Ibu Sylvia Carolina MYM., S.Psi., M.Si. selaku Dosen Pembimbing Akademik atas kepedulian yang besar terhadap anak-anak bimbingan akademiknya. 5. Ibu Ratri Sunar Astuti, M.Si., selaku Kepala Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. x

11 6. Dr. A. Priyono Marwan, S.J. selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang dengan sabar mendampingi dan membimbing penulis dalam penyelesaian skripsi ini. Terima kasih juga karena telah mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, masukan dan sharing yang luar biasa, kebersamaan yang singkat, serta terima kasih telah mengajarkan untuk selalu tersenyum. 7. Seluruh dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Terima kasih atas pengalaman dan ilmunya yang telah diberikan kepada penulis selama mengemban studi di Universitas Sanata Dharma. 8. Mas Doni, Mas Gandung, Pak Gie, Mas Muji, dan Bu Nanik atas bantuan, keramahan, dan senyumannya yang diberikan selama ini. 9. Kedua orang tuaku tersayang, Bapak Andreas Indra Wiyanta dan Ibu Anastasia Endang Suyatmi yang telah membesarkan, menyayangi, mendidik, mendukung, mendampingi, dan mendoakanku tak henti-hentinya selama proses penulisan skripsi ini. Semoga karya kecilku ini dapat membuat bapak dan mama bangga. 10. Adikku tersayang, Marselinus Satrio Wicaksono atas kasih sayang, ledekanledekan, kebawelan, kebandelan, dan berantemnya selama ini. 11. Mbah-mbahku di surga, khususnya Bapak Parto Miharjo Aku sudah menepati janjiku mbah jadi seorang sarjana seperti yang mbah inginkan. 12. Om-omku, om Mul dan om Padi. Terima kasih telah merawatku dari kecil dan menjadi temanku selama ini. 13. Sahabat-sahabatku Panca Sekawan Ditia, Manda, Ricky, dan Vista. Terima kasih atas kebersamaannya selama 5 tahun ini. xi

12 14. Teman-teman seperjuangaku Dewi, Jeje, Mengty, dan Sinto yang selalu menyemangati demi memperoleh gelar Sarjana Psikologi (S.Psi). 15. Teman-temanku SMA Egi, Finne, Frengky, Frisilia, Momon, Nindy, Tere yang selalu memotivasiku untuk cepat lulus. Terima kasih atas kegilaan kalian setiap kali kita reuni. 16. Anak-anak kost Asti, Dian, Ela, Laurin, Mbak Iin, Oli, Putu, Yana, dan Yani. Terima kasih telah berbagi canda, tawa, suka dan duka selama tinggal satu atap dengan kalian. 17. Teman-teman P2TKP Pak Adi, Anju, Ayu, Bella, Dewi, Efrem, Heimbach, Mbak Jes, Mila, Mbak Nenis, Mbak Putri, Mbak Rani, Pak Tony, Mbak We, dll. Terima kasih atas kebersamaannya selama berdinamika dengan kalian. 18. Agung, Damar, Juli, dan Puput. Terima kasih telah diberi kesempatan untuk lebih mengenal kalian dan segala hal yang telah diberikan. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan masih jauh dari kesempurna sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Yogyakarta, 2 Agustus 2013 Penulis Krisentia Indah Permatasari xii

13 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL.....i HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii HALAMAN MOTTO... iv HALAMAN PERSEMBAHAN... v HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... vi ABSTRAK... vii ABSTRACT... viii HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH... ix KATA PENGANTAR... x DAFTAR ISI... xiii DAFTAR TABEL... xvii DAFTAR LAMPIRAN... xviii BAB I. PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang Masalah... 1 B. Rumusan Masalah... 6 C. Tujuan Penelitian... 6 D. Manfaat Penelitian Manfaat Praktis Manfaat Teoritis... 7 xiii

14 BAB II. LANDASAN TEORI... 8 A. Cinta Definisi Cinta secara Umum Definisi dari Cinta Strenberg Komponen Cinta Jenis jenis Cinta Geometri Segitiga Cinta Sternberg Faktor faktor Penyebab Cinta B. Hubungan Jarak Jauh dan Jarak Dekat Pengertian Hubungan Jarak Jauh dan Jarak Dekat Faktor faktor yang Mempengaruhi Jarak Dampak dari Hubungan Jarak Jauh dan Jarak Dekat Perbedaan Hubungan Jarak Jauh dan Jarak Dekat C. Masa Dewasa Awal Definisi Masa Dewasa Awal Perkembangan Psikososial Masa Dewasa Awal Wanita dalam Hubungan Romantis D. Perbedaan Cinta Sternberg (Intimacy, Passion, Commitment) berdasarkan Jarak Tempat Tinggal E. Skema F. Hipotesis Penelitian BAB III. METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian xiv

15 B. Variabel Penelitian C. Definisi Operasional Variabel Penelitian D. Subjek Penelitian E. Metode Pengumpulan Data F. Alat Pengumpulan Data G. Uji Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur Uji Validitas Seleksi Aitem Uji Reliabilitas H. Metode Analisis Data BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Penelitian B. Deskripsi Subjek Penelitian C. Hasil Penelitian Uji Asumsi Uji Hipotesis D. Pembahasan BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran Bagi Penelitian Selanjutnya Bagi Subjek Penelitian xv

16 C. Keterbatasan Penelitian DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN xvi

17 DAFTAR TABEL Tabel 1. Blue Print Sternberg s Triangular Love Scale/STLS Tabel 2. Blue Print Sternberg s Triangular Love Scale/STLS setelah Seleksi Aitem Tabel 3. Hasil Uji Reliabilitas secara Keseluruhan Tabel 4. Hasil Uji Reliabilitas pada Komponen Intimacy Tabel 5. Hasil Uji Reliabilitas pada Komponen Passion Tabel 6. Hasil Uji Reliabilitas pada Komponen Commitment Tabel 7. Deskripsi Subjek Penelitian berdasarkan Jenis Hubungan Tabel 8. Deskripsi Subjek Penelitian berdasarkan Usia Tabel 9. Deskripsi Subjek Penelitian berdasarkan Program Studi Tabel 10. Hasil Uji Normalitas pada Intimacy Tabel 11. Hasil Uji Normalitas pada Passion Tabel 12. Hasil Uji Normalitas pada Commitment Tabel 13. Hasil Uji Homogenitas untuk Komponen Intimacy Tabel 14. Hasil Uji Homogenitas untuk Komponen Passion Tabel 15. Hasil Uji Homogenitas untuk Komponen Commitment Tabel 16. Hasil Uji Hipotesis Tabel 17. Hasil Uji-t Tiap Komponen Cinta Sternberg Tabel 18. Hasil Jawaban Subjek berdasarkan Cacah Subjek dan Cacah Aitem xvii

18 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran A. Skala Penelitian Lampiran B. Uji Reliabilitas Lampiran C. Uji Normalitas Lampiran D. Uji Homogenitas Lampiran E Uji Hipotesis xviii

19 BAB I PENDAHULUAN Bagian pendahuluan ini menguraikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian. A. LATAR BELAKANG MASALAH Berbicara mengenai cinta tentu tidak akan ada habisnya. Cinta bersifat sangat subjektif bagi sebagian besar orang dan hanya manusialah yang dapat merasakan apa itu cinta. Mengenai cinta dalam sejarah psikologi, Sternberg (1997) membaginya menjadi dua bidang ilmu, yaitu bidang klinis dan sosial. Sternberg (1997) dari bidang sosial memperkenalkan teori cinta dengan nama The Triangular Theory of Love. Sternberg (2000) mendefinisikan cinta adalah sebuah kisah dan para kekasih adalah kreator dari kisah cinta mereka. Kisah tersebut dapat berasal dari gambaran cerita romantis yang didapat dari sebuah pertunjukkan film, siaran televise dan buku roman. Sternberg (1997) juga memperkenalkan konsep cintanya melalui sebuah segitiga cinta. Segitiga cinta ini dapat membantu kita untuk lebih memahami cinta yang mencakup tiga komponen yaitu intimacy/keintiman, passion/gairah, commitment/komitment. Intimacy/keintiman merupakan pengalaman seseorang yang timbul dari perasaan kedekatan, keterikatan, dan keterhubungan seseorang dengan orang lain yang melibatkan keinginan untuk memberi dan menerima serta membagi suatu pikiran terdalam seseorang kepada orang lain. Passion/gairah merupakan keinginan yang romantis yang mencakup hasrat seksual seseorang yang intens 1

20 2 kepada orang lain, disertai dengan gairah psikologis. Kemudian commitment/komitmen merupakan usaha seseorang untuk mempertahankan cintanya melalui suatu komitmen dalam suatu hubungan (Sternberg, 1997). Hubungan cinta banyak terjadi di kalangan mahasiswa. Banyak penelitian mengenai cinta yang dilakukan di kalangan mahasiswa (dalam Saragaih & Irmawati, 2005). Hubungan jarak jauh/ldr menurut Bebee, Bebee, & Redmond (2011) merupakan suatu hubungan yang tidak memungkinkan mereka untuk bertemu secara face to face karena terpisah oleh jarak dalam jangka waktu tertentu. Stafford (dalam Mays, 2011) mengatakan bahwa hubungan cinta di kalangan mahasiswa sudah biasa terjadi, termasuk hubungan cinta jarak jauh. Penelitian Dellmann-Jenkins, Bernard-Paolucci, dan Rushing (dalam Dansie, 2012) bahkan mengatakan 75% dari mahasiswa berada dalam hubungan cinta jarak jauh. Dellmann-Jenkins, Bernard-Paolucci, dkk (dalam Skinner, 2005) juga mengatakan 20% - 40% mahasiswa terlibat dalam hubungan LDR. Penelitian lain yang dilakukan Aylor (2003) mengatakan bahwa sepertiga dari mahasiswa mengalami hubungan cinta jarak jauh. Selain itu, setengah dari mahasiswa di tahun pertama perkuliahan mengalami hubungan cinta jarak jauh. Hasil survei yang dilakukan oleh Danastri dkk (2013) di Indonesia khususnya di Yogyakarta terhadap 167 mahasiswa yang sedang menjalin hubungan pacaran menghasilkan sebanyak 30% mahasiswa ternyata menjalin hubungan jarak jauh. Menurut Yudistriana dkk (2010), salah satu alasan mahasiswa menjalin hubungan jarak jauh/ldr adalah salah satu dari mereka mungkin

21 3 sekolah di luar kota atau di luar negeri. Hasil prosentase ini menujukkan bahwa semakin tahun hubungan jarak jauh/ldr mengalami penurunan. Tidak selamanya hubungan jarak jauh/ldr selalu berjalan dengan mulus seperti yang diharapkan. Menurut Cameron dan Ross (dalam Mays, 2011), pasangan yang menjalin hubungan jarak jauh/ldr berpotensi mengalami berbagai resiko interpersonal dalam hubungan mereka. Resiko interpersonal tersebut meliputi ketidak-puasan, ketidak-amanan, ketidakpercayaan, ketidak-stabilan, dan stress dalam suatu hubungan. Selain itu, Yudistriana dkk (2010) mengatakan situasi emosi antara individu yang menjalin hubungan jarak jauh sangat berbeda dengan individu yang menjalin hubungan jarak dekat. Pada individu yang menjalin hubungan jarak jauh, mereka sering dilanda rasa cemburu dan curiga terhadap pasangannya apabila tidak memberikan kabar dibandingkan dengan mereka yang menjalin hubungan jarak dekat yang memberi kabar. Hal inilah yang menyebabkan hubungan jarak jauh tidak dapat bertahan lama. Berbeda dengan hubungan jarak jauh/ldr, hubungan jarak dekat/face to face merupakan suatu hubungan yang memungkinkan pasangan dapat bertemu secara face to face hampir setiap hari karena dekat secara geografis (Guldner dalam Skinner, 2005). Stafford dan Reske (1990) mengatakan bahwa pasangan yang terlibat dalam hubungan face to face memiliki keuntungan daripada pasangan LDR. Pasangan face to face dapat menjalin komunikasi dengan pasangannya secara langsung meskipun intensitas penggunaan alat komunikasinya sangat jarang. Ternyata pada hubungan ini terdapat suatu

22 4 permasalah meskipun waktu bertemu mereka hampir setiap hari. Pistol et al. (dalam Mays, 2011) menyatakan bahwa pasangan yang terlibat dalam hubungan jarak dekat/face to face memiliki kemauan yang sedikit untuk menghabiskan waktu bersama pasangannya. Hal ini dikarenakan individu yang menjalin hubungan jarak dekat telah mengetahui bahwa mereka dapat bertemu dengan pasangannya sesering mungkin. Apabila ingin membandingkan antara hubungan jarak dekat dan jarak jauh, individu yang menjalin hubungan jarak jauh cenderung dihadapkan pada perasaan kecewa dan kesepian karena ketidak-hadiran pasangan di samping mereka (Stafford, 2010). Selain itu, individu yang menjalin hubungan percintaan jarak jauh juga akan mengalami berbagai macam konflik dalam pemenuhan hubungan mereka dibandingkan dengan individu yang menjalin hubungan jarak dekat. Di samping itu karena keterpisahan jarak, komponen cinta dalam suatu hubungan mengalami perubahan. Ditinjau dari komponen intimacy/keintimannya, pasangan yang menjalin hubungan jarak jauh memiliki keintiman yang kurang dibanding dengan individu yang menjalin hubungan jarak dekat. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Scott, Mottarella, dan Lavooy (2006) bahwa individu yang terlibat dalam hubungan romantis face to face memiliki keintiman yang lebih besar dibandingkan individu yang menjalin hubungan romantis virtual karena keintiman dapat berkembang melalui hubungan face to face. Kemudian menurut Yudistriana dkk (2010), jika melihat komponen passion, pemenuhan passion/gairah pada hubungan jarak jauh juga kurang. Hal ini disebabkan karena pasangan saling berjauhan dan

23 5 tidak memungkinkan untuk melakukan kontak secara fisik satu sama lain. Komponen selanjutnya yaitu komitmen/commitment. Dalam hubungan cinta jarak jauh/ldr, komitmen juga menimbulkan masalah. Pasangan menjadi sulit untuk berkomitmen terhadap hubungan mereka karena satu sama lain saling berjauhan dan tidak dapat mendiskusikan keputusan yang diambil secara bersama-sama. Berbeda dari penelitian Yudistriana dkk (2010), fakta mencengangkan tentang commitment dalam hubungan jarak jauh ditemukan oleh peneliti dalam penelitian Laura Stafford dan James Reske (1990). Ia menyatakan bahwa pasangan yang memiliki hubungan jarak jauh/ldr ternyata mengalami kepuasan hubungan yang lebih besar dan lebih mampu mempertahankan komitmen mereka meskipun waktu untuk bertemu tatap muka lebih sedikit dan komunikasi yang dilakukan sangat jarang daripada pasangan yang memiliki hubungan jarak dekat/face to face. Berbicara mengenai wanita dalam suatu hubungan, Schwebel et al. (dalam Skinner 2005) mengatakan bahwa wanita yang berada dalam hubungan jarak jauh memiliki usaha yang lebih besar untuk mempertahankan hubungannya daripada laki-laki. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sacher dan Fine (1996), yang mengatakan bahwa wanita memiliki komitmen yang lebih tinggi daripada laki-laki. Mereka lebih mampu untuk mempertahankan hubungan mereka daripada laki-laki. Meskipun demikian, Maguire dan Kinney (dalam Dansie, 2012) mengatakan bahwa ketika terlibat dalam hubungan jarak

24 6 jauh, wanita mengalami distress yang tinggi karena terpisah dari pasangan untuk jangka waktu yang tak pasti. Berdasarkan semua latar belakang di atas, peneliti memiliki ketertarikan pada teori Sternberg (1997) mengenai cinta yang terdiri dari tiga komponen. Ketiga komponen tersebut menyempurnakan sekaligus menantang relasi orangorang yang saling mencintai (Sternberg, 1997). Selanjutnya, peneliti juga tertarik meneliti teori Sternberg (1997) dalam hubungannya dengan cinta jarak dekat dan jarak jauh yang terjadi di kalangan mahasiswa sebagai individu dewasa awal. Subjek dipilih mahasiwa karena mahasiswa termasuk dalam individu dewasa awal yang memiliki tugas perkembangan yaitu menjalin hubungan intim dengan individu lain. Selain itu, peneliti ingin mengetahui perbedaan antara cinta jarak jauh dan jarak dekat. Cinta jarak jauh di kalangan mahasiswa mempunyai jumlah yang signifikan sekalipun semakin tahun semakin menurun. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas dengan membatasi diri di antara para mahasiswi rumusan masalah adalah apakah ada perbedaan hubungan cinta jarak dekat/face to face dan jarak jauh/ldr dilihat menurut komponen cinta Sternberg (1997). C. TUJUAN PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan hubungan cinta jarak dekat/face to face dan jarak jauh/ldr berdasarkan komponen cinta Sternberg (1997).

25 7 D. MANFAAT PENELITIAN 1. Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan memberikan informasi pada individu khusunya wanita yang menjalin hubungan cinta jarak dekat dan jarak jauh untuk terus meningkatkan hubungan cinta mereka berdasarkan komponen cinta Sternberg (1997). 2. Manfaat Teoritis Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan literatur di bidang psikologi sosial mengenai perbedaan antara hubungan cinta jarak dekat dan jarak jauh berdasarkan komponen cinta Sternberg (1997).

26 BAB II LANDASAN TEORI Pada landasan teori ini, penulis menguraikan penjelasan mengenai cinta, hubungan interpersonal, dan perbedaan hubungan cinta jarak dekat dan jarak jauh dilihat menurut komponen cinta Sternberg (1997). A. CINTA 1. Definisi Cinta secara Umum Sternberg (1997) mengatakan bahwa cinta dalam sejarah psikologi dibagi menjadi dua bidang ilmu yaitu bidang klinis dan sosial. Bidang klinis tokohnya Maslow (dalam Kobayashi, 2008) dan Helen Fischer (dalam Reber & Beyers, 2000). Definisi cinta Maslow (dalam Kobayashi, 2008) adalah suatu motivasi yang dihasilkan oleh dua manusia yang berbeda. Motivasi tersebut dapat menghasilkan dua gaya cinta yaitu D-love (Deficiency love) dan B-love (Being love). Definisi cinta menurut Helen Fischer (dalam Reber & Beyers, 2000) adalah perasaan yang timbul karena kerja dari reaksi kimia dari hormon tertentu yang terdapat di dalam otak. Sedangkan di bidang sosial/kepribadian tokohnya Lee (dalam Sternberg, 1997), Davis (Sternberg, 1986), dan Hasan dan Shaver (dalam Dwyer, 2000). Definisi cinta Lee (dalam Sternberg, 1997) adalah suatu hal yang bukan bersifat tunggal tapi suatu kesatuan yang diperlukan oleh setiap orang agar dapat memahami setiap gaya cinta yang ada pada setiap individu. Definisi cinta Davis (Sternberg, 1986) adalah cinta berbeda 8

27 9 dengan menyukai. Berscheid dan Walster (dalam Dwyer, 2000) mendefinisikan liking/menyukai adalah suatu perasaan kasih sayang seseorang kepada seorang teman. Definisi cinta menurut Susan dan Clyde Hendrick (dalam Rathus, Nevid, & Rathus, 2008) adalah emosi positif yang timbul dari perasaan kegembiraan yang dapat memberikan keyakinan dan kesejahteraan psikologis terhadap masa depan. Selain itu, Davis (dalam Sternberg, 1986) mengatakan di dalam hubungan cinta terdapat dua kluster tambahan yaitu kluster daya tarik fisik dan kluster peduli. Definisi cinta menurut Hasan dan Shaver (dalam Dwyer, 2000) adalah suatu kelekatan pada orang lain dimana kelekatan yang terbentuk pada masa bayi dapat mempengaruhi gaya mencintai kita pada orang lain. Berdasarkan pada pengenalan atas aneka macam cinta tersebut, peneliti memilih teori cinta menurut Sternberg (1997) sebagai landasan teori karena teori Sternberg (1997) berdasarkan pada teori Hasan dan Shaver (dalam Dwyer, 2000) dan Davis (dalam Sternberg, 1986) yang masing-masing menjelaskan cinta dalam tiga komponen. Sternberg (1997) ingin menjelaskan teori segitiga cinta lebih rinci lagi. Di bawah ini dijelaskan definisi dari cinta Sternberg (2000), komponen-komponen cinta, jenis-jenis cinta, dan geometri segitiga cinta menurut model segitiga cinta Sternberg (1997). 2. Definisi dari Cinta Sternberg Sternberg (2000) mendefinisikan cinta sebagai sebuah kisah yang dapat diciptakan oleh setiap orang dan kita sendiri adalah kreator dari kisah

28 10 cinta kita. Kisah tersebut terbentuk saat kita dilahirkan dan berasal dari pengalaman serta pengamatan kita terhadap sekitar yang selanjutnya dapat mempengaruhi kepribadian kita. Selain itu, kisah tersebut berasal dari film, siaran televisi, dan buku roman. 3. Komponen Cinta Sternberg (1997) menyimpulkan cinta dengan suatu segitiga yang mencakup 3 komponen yaitu intimacy, passion, dan commitment. a. Intimacy Intimacy/keintiman merupakan pengalaman seseorang yang timbul dari perasaan kedekatan, keterikatan, dan keterhubungan seseorang dengan orang lain yang melibatkan keinginan untuk memberi dan menerima serta membagi suatu pikiran terdalam seseorang kepada orang lain. Mengenai keintiman, Sternberg dan Grajek (dalam Sternberg, 1997) melakukan analisis data cluster dari (1) skala Rubin (dalam Sternberg, 1997) tentang menyukai dan mencintai dan (2) skala hubungan dekat oleh Levinger, Rands dan Talaber (dalam Sternberg, 1997). Mereka menganalisis dan menemukan 10 bagian dari keintiman yaitu: (1) keinginan untuk mempromosikan kesejahteraan dari cinta, (2) pengalaman bahagia terhadap orang yang dicintai, (3) mengagungagungkan orang yang dicintainya, (4) ketika dibutuhkan, orang yang dicintai dapat diandalkan, (5) rasa saling pengertian dengan orang yang dicintai, (6) berbagi diri dan hartanya kepada orang yang dicintai, (7)

29 11 menerima dukungan emosional dari orang yang dicintai, (8) memberikan dukungan emosional kepada orang yang dicintai, (9) menjaga komunikasi yang intim dengan orang yang dicintai, dan (10) menghargai orang yang dicintai dalam kehidupannya. b. Passion Passion/gairah merupakan keinginan yang romantis yang mencakup hasrat seksual seseorang yang intens kepada orang lain, disertai dengan gairah psikologis (Sternberg, 1997). Sternberg (1997) mengatakan daya tarik fisik juga merupakan bagian dari passion. Passion/gairah dapat dimanifestasi dalam beberapa bentuk tindakan seperti bercinta, menatap, menyentuh, dan sebagainya. Tidak hanya kebutuhan seks saja yang mendominasi, namun juga kebutuhan lain yang dapat menyebabkan gairah/passion itu terjadi, seperti: self-esteem (harga diri), kebutuhan afiliasi, dominansi, succorance, nurturance, aktualisasi diri, dan kepatuhan. Dalam Rathus, Nevid, dan Rathus (2008) terdapat dua jenis cinta di dalam passion sendiri yaitu romantic love dan consummate love. c. Commitment Commitment/komitmen menurut Sternberg (dalam Rathus, Nevid, & Rathus, 2008) merupakan usaha seseorang untuk mempertahankan cintanya melalui suatu komitmen dalam suatu hubungan. Komitmen tersebut dapat diwujudkan melalui suatu bentuk tindakan seperti sebuah pertunangan, pernikahan, kesetiaan seksual

30 12 terhadap pasangan, dan lain sebagianya (Sternberg, 1997). Berdasarkan penjelasan ini, Sternberg (1997) membedakan komitmen menjadi dua jenis yaitu: 1) Komitmen jangka panjang Komitmen jangka panjang merupakan usaha seseorang untuk mempertahankan hubungan cintanya. 2) Komitmen jangka pendek Komitmen jangka pendek merupakan keputusan seseorang untuk mencintai orang yang dicintainya. Berdasarkan konsep dari segitiga cinta Sternberg (Triangular Theory of Love; 1997) di atas, cinta dapat dikatakan serasi bila cinta tersebut memiliki semua komponen segitiga cinta yaitu keintiman (intimacy), gairah (passion), dan komitmen (commitment). 4. Jenis-jenis Cinta Dari model segitiga cinta, Sternberg (1986) mengembangkannya menjadi delapan jenis cinta. Delapan jenis cinta tersebut adalah: a. Non Love Non love adalah sebuah hubungan yang tidak mencakup ketiga komponen dari cinta. Menurut Sternberg (1986), sebagian besar hubungan pribadi kita merupakan jenis hubungan yang tidak melibatkan unsur cinta.

31 13 b. Liking Liking merupakan pengalaman kita dengan orang lain sebagai seorang sahabat. Liking mempunyai komponen cinta yang kuat yaitu keintiman (intimacy), namun tidak memiliki komponen gairah (passion) dan komitmen (commitment). c. Infatuation Infatuation adalah cinta pada pandangan pertama ketika seseorang mengalami suatu gairah kerinduan terhadap orang lain. Infatuation ini hanya memiliki komponen gairah (passion), akan tetapi tidak memiliki komponen keintiman (intimacy) dan komitmen (commitment). d. Empty love Empty love merupakan cinta yang ditandai hanya dengan komitmen (commitment) untuk mempertahankan hubungan tetapi tidak mempunyai komponen gairah (passion) dan keintiman (intimacy). Empty love bisa menjadi hubungan yang stagnan apabila tidak melibatkan keintiman emosional dan ketertarikan fisik. Salah satu contoh empty love yaitu perjodohan dalam sebuah pernikahan di mana masing-masing pasangan mencoba untuk saling mencintai. e. Romantic love Romantic love/cinta romantis merupakan kombinasi dari keintiman (intimacy) dan gairah (passion) namun tidak memiliki komitmen (commitment). Orang yang mengalami romatic love tidak

32 14 hanya tertarik secara fisik saja tetapi telah terikat secara emosional satu sama lain. f. Companionate love Companionate love merupakan kombinasi dari keintiman (intimacy) dan komitmen (commitment). Companionate love sering terjadi pada hubungan jangka panjang yang gairah ketertarikan telah berkurang dan digantikan dengan komitmen persahabatan. g. Fatuous love Fatuous love merupakan salah satu tipe cinta Sternberg (1986) yang dapat diasosiasikan seperti badai angin asmara yang dapat menimbulkan pernikahan kilat. Fatuous love adalah suatu hubungan yang memiliki komponen cinta berupa komitmen (commitment) dan gairah (passion), tetapi tidak memiliki komponen keintiman (intimacy). Komitmen yang dibuat pada hubungan ini berdasarkan pada gairah saja tanpa melibatkan keintiman sehingga dapat menyebabkan perceraian dalam suatu pernikahan. h. Consummate love Consummate love adalah cinta yang lengkap dan kuat karena cinta ini terdiri dari keintiman (intimacy), gairah (passion), dan komitmen (commitment). Kebanyakan pasangan berusaha keras untuk mewujudkan jenis cinta ini untuk menghasilkan suatu hubungan yang ideal.

33 15 Kedelapan jenis cinta dan komponennya disajikan pada skema segitiga cinta Sternberg (dalam Rathus, Nevid, & Rathus, 2008) berikut ini: Liking (Intimacy) Romantic love (intimacy+passion) Consummate love (intimacy+passion+de cision/commitment) Companionate love (intimacy+decision/commitmen) Infatuation Empty love (Passion) Fatuous love (Decision/commitment) (passion+decision/commitment) 5. Geometri Segitiga Cinta Sternberg Sternberg (1997) menegaskan bahwa geometri segitiga cinta terdiri atas dua faktor yaitu: a. Jumlah cinta Jumlah cinta dapat dilihat melalui besarnya area segitiga cinta. Semakin besar jumlah cinta maka area dari segitiga semakin besar. Selain itu, perbedaan ukuran ketiga komponen cinta dapat diwakili dalam bentuk segitiga yang berbeda. Bentuk segitiga berdasarkan besarnya jumlah cinta pada setiap komponen cinta dapat disajikan melalui skema berikut ini (Sternberg, 1998):

34 16 Intimacy Passion Commitment b. Keseimbangan cinta Cinta yang seimbang diwakili oleh sebuah segitiga sama sisi, dengan jumlah setiap komponen cinta kurang lebih sama. Intimacy Passion Commitment 6. Faktor-faktor Penyebab Cinta Sternberg (2000) mengatakan ada dua faktor yang menyebabkan terjadinya cinta yaitu: a. Daya tarik fisik Daya tarik fisik merupakan salah satu faktor yang menyebabkan pasangan tertarik satu sama lain. Seseorang mulai tertarik satu sama lain dari penampilan fisik saat pertama kali bertemu. b. Kesamaan Sternberg (2000) mengatakan ketika membentuk suatu hubungan, setiap orang mencari pasangan yang memiliki kesamaan dengan dirinya. Kesamaan tersebut meliputi kesamaan dalam

35 17 pandangan, kisah percintaan, dan kebutuhan dalam suatu hubungan. Sternberg (1998) mengatakan bahwa orang cenderung jatuh cinta dengan orang lain yang memiliki cerita yang sama dengan dirinya. B. HUBUNGAN JARAK JAUH DAN JARAK DEKAT Pada bagian ini dijelaskan definisi dari hubungan jarak jauh dan jarak dekat serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi jarak menurut Bebee, Bebee, dan Redmond (2011). Selanjutnya dijelaskan pula dampak dari hubungan jarak jauh dan jarak dekat dan juga perbedaan antara hubungan jarak dekat dan jarak jauh. 1. Pengertian Hubungan Jarak Jauh dan Jarak Dekat Bebee, Bebee, dan Redmond (2011) mengatakan suatu hubungan dapat dilakukan secara jarak dekat atau jarak jauh. Ia juga mengatakan bahwa tidak selamanya kita bersama dengan orang-orang terdekat kita. Pada waktu-waktu tertentu kita akan terpisah dengan orang tua, pasangan, anak, saudara kandung, anggota keluarga, teman-teman, rekan kerja, bahkan dengan klien kita. Pada waktu itu kita memiliki sebuah hubungan jarak jauh dengan mereka. Hubungan jarak jauh/ldr merupakan suatu hubungan yang tidak memungkinkan pasangan untuk bertemu secara face to face karena terpisah oleh jarak dalam jangka waktu tertentu (Bebee, Bebee, & Redmond, 2011). Mays (2011) mengatakan hubungan dapat dikatakan jarak jauh jika mereka terpisah sekitar 500 mil jauhnya atau sekitar 5 jam perjalanan. Sedangkan untuk hubungan jarak dekat sangat beragam istilah yang ada antara lain face to face relationship,

36 18 geographically close relationship, dan non-long distance. Peneliti memilih istilah face to face relationship karena berdasarkan literatur yang dikemukakan oleh Scott, Mottarella, dan Lavooy (2006). Hubungan jarak dekat/face to face menurut Guldner (dalam Skinner, 2005) berarti hubungan yang memungkinkan pasangan untuk bertemu secara face to face hampir setiap hari karena dekat secara geografis. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Jarak Bebee, Bebee, dan Redmond (2011) mengatakan ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi jarak dalam suatu hubungan yaitu: a. Komunikasi Komunikasi merupakan faktor penentu dalam memelihara suatu hubungan sekali pun dipisahkan oleh jarak. Setiap pasangan diharapkan dapat saling terbuka dan jujur satu sama lain. b. Interaksi Tatap Muka Hubungan jarak jauh membuat interaksi face to face di antara pasangan lebih sedikit daripada hubungan jarak dekat. Meskipun kesempatan berinteraksi tatap muka lebih sedikit, pasangan yang berada dalam hubungan jarak jauh selalu berusaha untuk menunjukkan perilaku-perilaku positif mereka kepada pasangan ketika bertemu sehingga membuat kepuasan dalam suatu hubungan lebih besar. c. Biaya Dalam mempertahankan suatu hubungan yang dibatasi oleh jarak, biaya memainkan peran penting. Khususnya untuk hubungan jarak jauh

37 19 membutuhkan biaya yang lebih besar daripada hubungan jarak dekat. Pasangan akan mengeluarkan biaya tersendiri seperti biaya telpon jarak jauh, biaya tiket pesawat, bensin, atau makan untuk dapat berkomunikasi atau bertemu dengan pasangannya di tempat yang berbeda dengannya. 3. Dampak dari Hubungan Jarak Jauh dan Jarak Dekat Cameron dan Ross (dalam Mays, 2011) mengatakan bahwa individu yang berada dalam hubungan jarak jauh akan mengalami berbagai resiko interpersonal seperti stress, ketidak-puasan, ketidak-amanan, ketidakpercayaan, dan ketidak-stabilan dalam hubungan mereka. Mereka juga harus merasa aman dan percaya dengan pasangan agar hubungan mereka tetap terjaga. Pada hubungan jarak dekat, Pistol et al. (dalam Mays, 2011) mengatakan bahwa karena intensitas bertemu tatap muka bisa sesering mungkin mengakibatkan individu yang menjalin hubungan jarak dekat kurang mau menghabiskan waktu bersama dengan pasangannya. 4. Perbedaan Hubungan Jarak Jauh dan Jarak Dekat Stafford (2010) mengatakan hubungan jarak jauh dan jarak dekat dapat dibedakan berdasarkan: a. Frekuensi tatap muka/face to face Stafford dan Merolla (dalam Stafford, 2010) mengatakan bahwa individu yang menjalin hubungan jarak jauh/ldr memiliki waktu yang lebih sedikit untuk berinteraksi secara face to face daripada individu yang menjalin hubungan jarak dekat/face to face yang memiliki waktu

38 20 interaksi face to face lebih banyak. Menurut Kelley dan Thibaut (dalam Stafford, 2010), meskipun waktu berinteraksi face to face relativ lebih sedikit, hal tersebut membuat pasangan tidak saling tergantung satu sama lain. b. Isi Komunikasi Pada individu yang menjalin hubungan jarak jauh, ketika berkomunikasi dengan pasangan cenderung menghindari pembicaraan yang dapat menimbulkan konflik dalam hubungan mereka. Selain itu, mereka juga menyesuaikan topik pembicaraan ke arah yang lebih positif sehingga dapat meningkatkan keintiman (Stafford, 2010). Stephen (dalam Stafford, 2010) juga mengatakan bahwa pasangan yang menjalin hubungan jarak jauh/ldr akan memfokuskan pembicaraan mereka pada keintiman, cinta, dan masalah yang berkaitan dengan hubungan mereka. Selain itu juga, Stephen (dalam Lin & Knee, 2006) mengatakan bahwa individu yang menjalin hubungan jarak jauh/ldr cenderung membahas hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharan hubungan mereka dibandingkan dengan individu yang menjalin hubungan jarak dekat/face to face yang membahas hal-hal yang tidak berkaitan dengan hubungan mereka. C. MASA DEWASA AWAL Pada bagian ini dijelaskan definisi masa dewasa awal dan perkembangan psikososial masa dewasa awal menurut Papalia, Olds, dan

39 21 Feldman (2008). Selain itu akan dijelaskan pula wanita dalam hubungan romantis. 1. Definisi Masa Dewasa Awal Papalia, Olds, dan Feldman (2008) mendefinisikan masa dewasa awal sebagai tahap perkembangan ketika seseorang mulai memasuki rentang usia antara tahun. 2. Perkembangan Psikososial Masa Dewasa Awal Erikson (dalam Papalia, Old, & Feldman, 2008) menegaskan masa dewasa awal sebagai masa terpenting bagi individu untuk menjalankan tugas perkembangannya yaitu membentuk suatu hubungan yang intim dengan individu lain. Papalia, Old, dan Feldman (2008) menjelaskan hubungan yang intim terbentuk atas dasar hubungan pertemanan, cinta, dan seksualitas yang diperoleh dari teman sebaya atau pasangannya. Lambeth dan Hallet (dalam Papalia, Old, & Feldman, 2008) mengatakan hubungan yang intim mengharuskan individu memiliki berbagai keterampilan ketika mereka memutuskan untuk menikah, menjalin hubungan berpasangan baik tanpa menikah atau homoseksual, dan memiliki anak atau tidak memiliki anak. Keterampilan tersebut antara lain kepekaan, empati, kemampuan untuk mengkomunikasikan emosi, menyelesaikan konflik, dan mempertahankan komitmen. Selain itu, pengungkapan diri/self-disclosure pada orang lain dan rasa memiliki/sense of belonging juga menjadi unsur terpenting dalam keintiman.

40 22 Sikap terbuka mengenai diri pada orang lain, adanya rasa saling menerima dan saling menghormati/mutual acceptance, dan peka terhadap kebutuhan orang lain dapat membuat hubungan menjadi lebih intim (Harvey & Omarzu, 1997; Reis & Patrick dalam Papalia, Old, & Feldman, 2008). Seperti halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Harvey dan Omarzu (1997) yang mengatakan bahwa sikap saling terbuka dapat terjadi saat kita mengurus pasangan kita. Mengurus pasangan merupakan suatu proses yang melibatkan pikiran, perasaan, dan perilaku di mana dapat membuat satu sama lain saling berbagi informasi tentang diri mereka. 3. Wanita dalam Hubungan Romantis Dalam hubungan romantis, wanita berbeda dari pria. Berbicara mengenai pernikahan, Kephart (dalam Santrock, 2002) mengatakan bahwa ketika dihadapkan pada masalah pernikahan wanita cenderung memutuskan untuk tetap akan menikah dengan calon suaminya meskipun ia tidak mencintainya. Selanjutnya mengenai seksualitas, Peplau (Papalia, Olds, & Feldman, 2009) mengatakan wanita cenderung menginginkan hubungan seks dengan pasangannya dalam suatu hubungan intim yang berkomitmen. Selain itu, Schwebel et al. (dalam Skinner, 2005) mengatakan bahwa mahasiwi (wanita) di tahun pertama perkuliahan memiliki usaha yang lebih untuk mempertahankan hubungannya daripada laki-laki. Hal yang sama juga dikatakan oleh Sacher dan Fine (1996) bahwa wanita memiliki komitmen yang tinggi terhadap hubungan mereka yaitu berusaha untuk mempertahankan hubungan daripada laki-laki. Selain itu, Maguire dan

41 23 Kinney (dalam Dansie, 2012) mengatakan bahwa wanita cenderung mengalami stress ketika mengalami hubungan jarak jauh karena terpisah dari pasangan untuk waktu yang tak pasti. D. PERBEDAAN CINTA STERNBERG (INTIMACY, PASSION, COMMITMENT) BERDASARKAN JARAK TEMPAT TINGGAL Bebee, Bebee, dan Redmond (2011) mengatakan suatu hubungan dapat dilakukan secara jarak dekat dan jarak jauh. Hubungan jarak dekat/face to face menurut Guldner (dalam Skinner, 2005) berarti hubungan yang memungkinkan pasangan untuk bertemu secara face to face hampir setiap hari karena dekat secara geografis. Sedangkan hubungan jarak jauh/ldr merupakan suatu hubungan yang tidak memungkinkan pasangan untuk bertemu secara face to face karena terpisah oleh jarak dalam jangka waktu tertentu (Bebee, Bebee, & Redmond, 2011). Biasanya mereka terpisah 500 mil jauhnya atau sekitar 5 jam perjalanan. Berbicara mengenai hubungan cinta jarak jauh/ldr dan jarak dekatface to face tidak selalu berjalan dengan mulus seperti yang diharapkan. Keterpisahan fisik dan jarak membuat hubungan jarak jauh dihadapkan dengan berbagai masalah dalam hubungan mereka seperti masalah waktu bertemu tatap muka, kontak fisik, dan berbagai masalah dalam pemenuhan hubungan mereka. Individu yang terlibat dalam hubungan jarak jauh/ldr memiliki waktu bertemu secara face to face lebih sedikit daripada individu yang menjalin hubungan jarak dekat (Bebee, Bebee, & Redmond, 2011). Stafford dan Reske (dalam Mays, 2011) mengatakan individu yang menjalin hubungan

42 24 jarak dekat dapat langsung bertemu dengan pasangannya meskipun penggunaan media komunikasi sangat minim. Kemudian Cameron dan Ross (dalam Mays, 2011) mengatakan mereka yang terlibat dalam hubungan jarak jauh/ldr sangat rentan mengalami berbagai resiko interpersonal seperti stress, ketidak-puasan, ketidak-amanan, ketidak-percayaan, dan ketidak-stabilan dalam hubungan mereka. Selain itu juga, karena keterpisahan fisik dan jarak mengakibatkan komponen cinta Sternberg (1997) yang terdiri dari intimacy, passion, dan commitment juga mengalami perubahan. Sternberg (1997) mengatakan keintiman merupakan pengalaman seseorang yang timbul dari perasaan kedekatan, keterikatan, dan keterhubungan seseorang dengan yang orang lain. Gairah/passion merupakan keinginan yang romantis yang mencakup hasrat seksual seseorang yang intens pada orang lain disertai dengan gairah psikologis. Sedangkan komitmen/commitment adalah usaha seseorang untuk mempertahankan cintanya melalui suatu komitmen dalam suatu hubungan, baik komitmen jangka pendek maupun jangka panjang. Sebuah studi yang dilakukan oleh Scott, Mottarella, dan Lavooy (2006) yang menguji tingkat keintiman pada hubungan romantis tatap muka dan hubungan romantis virtual/tidak tatap muka menemukan bahwa individu yang terlibat dalam hubungan romantis face to face memiliki tingkat keintiman yang lebih besar daripada individu yang terlibat dalam hubungan romantis secara virtual. Sedangkan individu yang terlibat dalam hubungan romantis virtual memiliki tingkat keintiman yang rendah karena tatap muka yang kurang secara

43 25 langsung dan menggunakan media komunikasi elektronik sebagai perantaranya. Hal ini disebabkan keintiman dapat berkembang ketika individu menjalin hubungan secara emosional dengan individu lain melalui hubungan face to face tanpa melihat media komunikasi yang digunakan. Hal ini didukung oleh pendapat Yudistriana dkk (2010) yang mengatakan keterpisahan secara fisik membuat keintiman pada individu yang menjalin hubungan LDR berkurang. Yudistriana dkk (2010) juga berasumsi bahwa individu yang menjalin hubungan LDR tidak dapat melakukan kontak fisik dengan pasangannya karena mengalami keterpisahan secara fisik. Dansie (2012) dalam penelitiannya mengatakan bahwa seorang wanita Hal ini mengakibatkan passion dalam hubungan LDR berkurang. Meskipun keintiman jauh lebih besar pada hubungan face to face, penelitian yang dilakukan oleh Laura Stanfford dan James Reske (1990) menemukan bahwa pasangan yang memiliki hubungan jarak jauh/ldr memiliki kepuasan hubungan yang lebih besar dan lebih mampu mempertahankan komitmen mereka meskipun waktu untuk bertemu tatap muka lebih sedikit dan komunikasi yang dilakukan sangat jarang daripada pasangan yang memiliki hubungan jarak dekat/face to face. Mereka memiliki komitmen untuk membuat hubungan mereka menjadi berkelanjutan. Bila dicermati mengenai komitmen wanita dalam suatu hubungan jarak jauh, Sacher dan Fine (1996) mengatakan wanita memiliki komitmen yang lebih tinggi

44 26 daripada laki-laki untuk hubungan jarak jauh. Mereka lebih berusaha untuk mempertahankan hubungan mereka daripada laki-laki. E. SKEMA Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan hubungan cinta jarak dekat dan jarak jauh menurut komponen cinta Sternberg (1997). Skema penelitian ini dapat ditunjukan sebagai berikut: Interaksi tatap muka lebih sering Penggunaan alat komunikasi elektronik minim Intimacy besar Face to face Kontak fisik lebih sering Passion besar Jarak dalam relasi Interaksi tatap muka lebih banyak Interaksi tatap muka kurang Komunikasi lebih sering Penggunaan alat komunikasi elektronik lebih banyak Commitment kecil Intimacy kecil LDR Kontak fisik jarang Passion kecil Interaksi tatap muka sedikit Komunikasi jarang Commitment besar

45 27 F. HIPOTESIS PENELITIAN Berdasarkan uraian di atas, peneliti merumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut: 1. Intimacy individu yang menjalin hubungan jarak dekat/face to face lebih besar daripada individu yang menjalin hubungan jarak jauh/ldr. 2. Passion individu yang menjalin hubungan jarak dekat/face to face lebih besar daripada individu yang menjalin hubungan jarak jauh/ldr. 3. Commitment individu yang menjalin hubungan jarak dekat/face to face lebih kecil daripada individu yang menjalin hubungan jarak jauh/ldr.

46 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini menguraikan jenis penelitian, variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, subjek penelitian, metode pengumpulan data, alat pengumpulan data, uji validitas dan reliabilitas alat ukur, dan metode analisis data. A. JENIS PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif komparatif yang bertujuan untuk mengetahui dan membedakan hubungan cinta jarak dekat dan jarak jauh yang dilihat menurut komponen cinta Sternberg (1997). B. VARIABEL PENELITIAN 1. Variabel pertama dalam penelitian ini adalah adalah jarak (tempat) dalam hubungan cinta yaitu jarak dekat/face to face dan jarak jauh/ldr. 2. Variabel kedua dalam penelitian ini adalah komponen cinta Sternberg (1997) yaitu intimacy, passion, dan commitment. C. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL PENELITIAN Definisi operasional merupakan berbagai macam bukti empiris yang ditemukan di lapangan yang dapat menggambarkan secara tepat konsep yang dimaksud oleh peneliti sehingga konsep tersebut dapat diukur dan diamati (Purwanto & Sulistyastuti, 2007). Definisi operasional variabel-variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 28

47 29 1. Hubungan jarak dekat/face to face adalah hubungan yang memungkinkan pasangan bertemu face to face hampir setiap harinya karena dekat secara geografis. Sedangkan hubungan jarak jauh/ldr adalah hubungan yang dipisahkan baik secara jarak (tempat) maupun fisik sehingga tidak memungkinkan untuk bertemu secara face to face setiap harinya. Biasanya mereka tidak berada dalam satu kota yang sama, hidup terpisah sekitar 500 mil jauhnya atau sekitar 5 jam perjalanan, dan membutuhkan media komunikasi lain untuk menghubungkan keduanya. Waktu bertemu tatap muka antara keduanya relatif lebih sedikit yaitu maksimal satu kali dalam seminggu. 2. Teori Cinta menurut Sternberg Definisi operasional dari Teori Cinta menurut Sternberg adalah sebuah kisah yang dimiliki oleh setiap orang dan berasal dari gambaran cerita romantis yang didapat dari pertunjukkan film, siaran televis, dan buku roman. Ubahan ini diukur melalui skala Sternberg s Triangular Love Scale (STLS; 1988). Skala ini mengukur tiga komponen cinta yaitu intimacy/keintiman, passion/gairah, dan commitment/komitmen. D. SUBJEK PENELITIAN Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswi (perempuan) yang belajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang masuk ke dalam usia dewasa awal. Pada penelitian ini, teknik pengambilan sampel yang digunakan oleh peneliti adalah convenience sampling. Convenience sampling adalah teknik pengambilan sampel yang dilakukan oleh peneliti dengan cara memilih subjek

48 30 yang tersedia yang dianggap sesuai dengan tujuan penelitian (Narimawati & Munandar, 2008). Penelitian ini melibatkan 50 subjek perempuan dan memenuhi kriteria penelitian yang telah ditetapkan oleh peneliti. Kriteria subjek yang menjadi pertimbangan untuk penelitian adalah: 1. Berstatus sebagai mahasiswi (perempuan) di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Berada dalam rentang usia dewasa awal yaitu tahun. 3. Sedang menjalin hubungan pacaran baik jarak dekat maupun jarak jauh. E. METODE PENGUMPULAN DATA Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian survei yang dilakukan dengan cara penyebaran skala yang selanjutnya diisi oleh subjek penelitian. Skala yang digunakan adalah Sternberg s Triangular Love Scale (STLS; 1988) yang telah diadaptasikan oleh peneliti. Di dalam Sternberg s Triangular Love Scale (STLS) (1988) terdapat aitem-aitem yang disusun berdasarkan tiga komponen segitiga cinta Sternberg yang meliputi: (1) keintiman/intimacy, (2) gairah/passion, dan (3) komitmen/commitment. Jenis skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Likert. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan uji coba terpakai pada skala STLS/Sternberg s Triangular Love Scale (1988). Uji coba terpakai merupakan uji coba yang hasilnya sekaligus dapat digunakan sebagai data penelitian. Peneliti menggunakan uji coba terpakai karena keterbatasan jumlah subjek penelitian (Hadi, 2005).

49 31 F. ALAT PENGUMPULAN DATA Sternberg s Triangular Love Scale/STLS (1988) berisi 45 aitem yang didesain untuk mengukur tiga komponen cinta dalam relasi hubungan dekat seseorang. Ketiga komponen cinta tersebut antara lain: (1) keintiman/intimacy, (2) gairah/passion, dan (3) komitmen/commitment. Masing-masing komponen berisikan 15 aitem yang bersifat favorable. Sternberg s Triangular Love Scale/STLS (1988) meminta subjek untuk memikirkan hubungan dekat yang sedang mereka alami saat ini. Hubungan dekat yang dimaksud adalah hubungan pacaran. Selanjutnya subjek diminta untuk memberikan penilaian terhadap hubungan tersebut dengan cara memilih salah satu peringkat dari sembilan peringkat yang telah disediakan, mulai dari peringkat 1 9. Masing-masing peringkat mewakili penilaian mereka yaitu (1) Sangat Tidak Setuju sampai dengan (9) Sangat Setuju. Semakin rendah peringkat menandakan subjek sangat tidak setuju terhadap pernyataan yang diberikan dan semakin tinggi peringkat menandakan subjek sangat setuju terhadap pernyataan yang diberikan. Cara penilaian terhadap skala ini adalah menjumlahkan skor yang didapatkan oleh subjek pada masing-masing komponen cinta Sternberg (1997).

50 32 Tabel 1. Blue print Sternberg s Triangular Love Scale/STLS KOMPONEN AITEM JUMLAH AITEM Keintiman/intimacy 1, 4, 7, 10, 13, 16, 19, 15 22, 25, 28, 31, 34, 37, 40, 43 Gairah/passion 2, 5, 8, 11, 14, 17, 20, 15 23, 26, 29, 32, 35, 38, 41, 44 Komitmen/commitment 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 15 24, 27, 30, 33, 36, 39, 42, 45 Jumlah 45 G. UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS ALAT UKUR 1. Uji Validitas Validitas merupakan sejauh mana suatu alat ukur dapat dengan akurat dan teliti menjalankan fungsi ukurnya. Alat ukur memiliki validitas yang tinggi apabila alat ukur tersebut mampu memberikan hasil data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurnya (Azwar, 2012). Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas tampang dan validitas isi. Validitas tampang adalah validitas yang pengujiannya dilakukan dengan melihat dari segi penampilan luar alat ukur, apakah bisa memotivasi subjek

51 33 untuk memberikan jawaban dengan serius atau tidak. Validitas isi adalah validitas yang pengujiannya dapat dilakukan dengan menggunakan evaluasi nalar dan akal sehat. Penilaiannya tidak dapat didasarkan hanya pada keputusan penulis saja tetapi juga berdasarkan keputusan dari professional judgment atau penilai yang ahli dalam bidang tersebut (Azwar, 2012). Uji validitas tampang skala STLS/ Sternberg s Triangular Love Scale adalah sebagai berikut: a. Aitem-aitem Sternberg s Triangular Love Scale yang diadaptasi dari The Triangle of Love oleh Robert J. Sternberg (1988) kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. b. Setelah diterjemahkan, peneliti memberikan skala tersebut kepada 3 mahasiswa dan 3 mahasiswi Universitas Sanata Dharma dengan prodi yang berbeda-beda dengan tujuan apakah aitem-aitem sudah dapat dipahami oleh mereka atau belum. Uji validitas tampang ini dilakukan karena yang akan mengerjakan skala ini nantinya adalah subjek (mahasiswi). Uji validitas isi dilakukan oleh peneliti bersama dengan professional judgment yaitu dosen pembimbing skripsi. 2. Seleksi Aitem Seleksi aitem dilakukan dengan menggunakan korelasi aitem total dari program SPSS 16.0 for Windows. Seleksi aitem dilakukan untuk mendapatkan aitem-aitem yang valid. Seleksi aitem didasarkan pada daya diskriminasi aitem. Daya diskriminasi aitem adalah sejauh mana aitem

52 34 mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan tidak memiliki atribut yang diukur. Pengujian daya diskriminasi aitem dilakukan dengan menghitung koefisien antara distribusi skor aitem dengan distribusi skor skala sehingga menghasilkan koefisien korelasi aitem total (r xi ). Besar koefisien korelasi aitem total (r xi ) bergerak dari 0 sampai dengan 1,00 dengan tanda positif atau negatif. Semakin baik daya diskrimiasi aitem, maka koefisien korelasi aitem total (r xi ) mendekati 1,00. Aitem yang memiliki nilai r ix minimal 0,30 dianggap memuaskan. Jika jumlah aitem yang lolos masih belum mencukupi jumlah yang diinginkan maka dapat menurunkan batas kriterianya menjadi 0,25 (Azwar, 2012). Pada penelitian ini, peneliti menggunakan standard 0,25 dalam penyeleksian aitem skala penelitian. Seleksi aitem pada skala STLS/ Sternberg s Triangular Love Scale (1988) 45 aitem yang sahih dari 45 aitem. Aitem-aitem yang sahih meliputi 15 aitem untuk komponen intimacy, 15 aitem untuk komponen passion, dan 15 aitem untuk komponen commitment. Hasil seleksi aitem ini dapat disimpulkan semua aitem tidak ada yang gugur sehingga 45 aitem yang sahih ini dapat langsung digunakan untuk menganalisis hasil penelitian lebih lanjut. Berikut ini dapat dilihat tabel blueprint skala STLS/Sternberg s Triangular Love Scale (1988) setelah dilakukan seleksi item.

53 35 Tabel 2. Blue print Sternberg s Triangular Love Scale/STLS setelah Seleksi Aitem KOMPONEN AITEM JUMLAH AITEM Keintiman/intimacy 1, 4, 7, 10, 13, 16, 19, 15 22, 25, 28, 31, 34, 37, 40, 43 Gairah/passion 2, 5, 8, 11, 14, 17, 20, 15 23, 26, 29, 32, 35, 38, 41, 44 Komitmen/commitment 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 15 24, 27, 30, 33, 36, 39, 42, 45 Jumlah Uji Reliabilitas Reliabilitas adalah sejauh mana hasil dari pengukuran dapat dipercaya. Koefisien reliabilitas berkisar dari angka 0 sampai dengan 1,00. Semakin angka koefisien reliabilitas mendekati 1,00 maka pengukuran semakin reliabel, akan tetapi sangat sulit dijumpai suatu pengukuran dengan angka koefisien reliabilitasnya mencapai 1,00. Hasil perhitungan koefisien reliabilitas pada skala STLS/ Sternberg s Triangular Love Scale (1988) secara keseluruhan sebesar 0,945. Koefisien reliabilitas untuk komponen intimacy/keintiman sebesar 0,854; untuk

54 36 kompnen passion/gairah sebesar 0,891; dan untuk komponen commitment/komitmen sebesar 0,883. Ini berarti skala STLS reliabel/dapat dipercaya. Tabel 3. Hasil Uji Reliabilitas secara Keseluruhan Nilai Alpha Cronbach Jumlah Aitem yang Reliabel 0, Tabel 4. Hasil Uji Reliabilitas pada Komponen Intimacy Nilai Alpha Cronbach Jumlah Aitem yang Reliabel 0, Tabel 5. Hasil Uji Reliabilitas pada Komponen Passion Nilai Alpha Cronbach Jumlah Aitem yang Reliabel 0, Tabel 6. Hasil Uji Reliabilitas pada Komponen Commitment Nilai Alpha Cronbach Jumlah Aitem yang Reliabel 0,883 15

55 37 H. METODE ANALISIS DATA Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah independent sample t-test yang bertujuan untuk melihat perbedaan mengenai hubungan cinta jarak dekat/face to face dan jarak jauh/ldr dilihat menurut komponen cinta Sternberg. Proses analisis data menggunakan program SPSS 16.0 for Windows.

56 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Bab ini menguraikan tentang pelaksanaan penelitian, deskripsi subjek penelitian, hasil penelitian, dan pembahasan. A. PELAKSANAAN PENELITIAN Penelitian dilaksanaan pada tanggal 5 8 Mei 2013 dengan menyebarkan 50 eksemplar skala. Teknik penyebaran skala dilakukan oleh peneliti sendiri dengan cara mendatangi subjek penelitian langsung ke kostnya atau yang sedang berada di lingkungan kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Informasi mengenai subjek penelitian diperoleh dari temanteman. Pada saat pengisian skala, peneliti menunggui subjek penelitian untuk memastikan yang mengisi skala adalah subjek sendiri dan bila terjadi kesulitan dalam pengisian, subjek dapat langsung menanyakan pada peneliti. B. DESKRIPSI SUBJEK PENELITIAN Subjek dalam penelitian ini berjumlah 50 orang yang berusia antara 20 tahun sampai dengan 23 tahun dengan status mahasiswi (perempuan) di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Pada subjek wanita yang menjalin hubungan jarak jauh/ldr telah memenuhi kriteria penelitian yaitu berada 500 mil jauhnya atau sekitar 5 jam perjalanan. Kebanyakan subjek penelitian menjalin hubungan jarak jauh di beberapa kota di Indonesia seperti Bali, Jakarta, Kalimantan, Malang, Surabaya, Tanggerang bahkan ada yang di luar negeri. Data mengenai subjek penelitian dapat dilihat pada tabel berikut: 38

57 39 Tabel 7. Deskripsi Subjek Penelitian berdasarkan Jenis Hubungan Jenis Kelamin Jenis Hubungan Total Subjek Jarak Dekat/face to face Jarak Jauh/ LDR Perempuan 25 orang 25 orang 50 orang Tabel 8. Deskripsi Subjek Penelitian berdasarkan Usia Tabel 9. Usia Jenis Hubungan Total Jarak Dekat Jarak Jauh Subjek 20 tahun 9 orang 10 orang tahun 7 orang 7 orang tahun 7 orang 7 orang tahun 2 orang 1 orang 3 Jumlah 25 orang 25 orang 50 orang Deskripsi Subjek Penelitian berdasarkan Program Studi Program Studi Jenis Hubungan Total Jarak Dekat Jarak Jauh Subjek Psikologi Farmasi Pendidikan Matematika Pendidikan Fisika Bimbingan Konseling Total 25 orang 25 orang 50 orang

58 40 C. HASIL PENELITIAN 1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas Uji normalitas merupakan suatu pengujian yang dilakukan untuk mengetahui apakah data penelitian berasal dari populasi yang bersifat normal atau tidak (Santoso, 2010). Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan program SPSS 16.0 for Windows dengan teknik One- Sample Kolmogorov-Smirnov Test. Tabel 10. Hasil Uji Normalitas pada Intimacy Jenis Hubungan N Nilai K- SZ Nilai Asymp Sig. (2 tailed) Keterangan Face to face Normal LDR Normal Tabel 11. Hasil Uji Normalitas pada Passion Jenis N Nilai K- Nilai Asymp Keterangan Hubungan SZ Sig. (2 tailed) Face to face Normal LDR Normal Tabel 12. Hasil Uji Normalitas pada Commitment Jenis N Nilai K- Nilai Asymp Keterangan Hubungan SZ Sig. (2 tailed) Face to face Normal LDR Normal

59 41 Asumsi untuk uji normalitas adalah jika nilai Asymp Sig.(2 tailed) atau p > 0,1 adalah hipotesis nol gagal ditolak atau dapat dikatakan sebaran data yang dimiliki normal. Apabila nilai p < 0,1 maka sebaran data yang dimiliki dinyatakan tidak normal. Asymp Sig. (2 tailed) merupakan nilai p yang dihasilkan dari uji hipotesis nol yang berbunyi tidak ada perbedaan antara distribusi data yang diuji dengan distribusi data normal (Santoso, 2010). Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa nilai Asymp Sig.(2 tailed) atau nilai probabilitas pada komponen intimacy pada mahasiswi yang menjalin hubungan face to face sebesar 0,270 sedangkan pada mahasiswi yang menjalin hubungan LDR sebesar 0,878. Oleh karena itu, dapat dikatakan sebaran datanya mengikuti distribusi normal. Nilai probabilitas pada komponen passion pada mahasiswi yang menjalin hubungan face to face sebesar 0,463 sedangkan pada mahasiswi yang menjalin hubungan LDR sebesar 0,778 sehingga dapat dikatakan sebaran data untuk komponen passion mengikuti distribusi normal. Kemudian nilai probabilitas pada komponen commitment pada mahasiswi yang menjalin hubungan face to face sebesar 0,971 sedangkan pada mahasiswi yang menjalin hubungan LDR sebesar 0,750 sehingga dapat disimpulkan sebaran data untuk komponen commitment juga dinyatakan mengikuti distribusi normal.

60 42 b. Uji Homogenitas Uji homogenitas merupakan suatu pengujian yang dilakukan untuk mengetahui apakah sampel penelitian berasal dari populasi yang memiliki varian yang sama. Asumsi untuk uji homogenitas adalah jika p > 0,05 maka sampel penelitian memiliki varians yang sama. Jika p < 0,05 maka sampel penelitian memiliki varians yang berbeda (Santoso, 2012). Tabel 13. Hasil Uji Homogenitas untuk Komponen Intimacy Levene s Test for Equality of Variances F Sig. Equal variances assumed Tabel 14. Hasil Uji Homogenitas untuk Komponen Passion Levene s Test for Equality of Variances F Sig. Equal variances assumed Tabel 15. Hasil Uji Homogenitas untuk Komponen Commitment Levene s Test for Equality of Variances F Sig. Equal variances assumed

61 43 Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa semua komponen cinta pada Teori Segitiga Cinta Sternberg memiliki nilai signifikansi p > 0,05 yaitu pada komponen intimacy sebesar 0,743 (p > 0,05), passion sebesar 0,194 (p > 0,05), dan commitment sebesar 0,553 (p > 0,05) yang berarti sampel penelitian memiliki varians yang sama. 2. Uji Hipotesis Uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan teknik Independent- Samples T-test yang terdapat pada program SPSS 16.0 for Windows. Pada penelitian ini terdapat tiga hipotesis yaitu: a. Intimacy individu yang menjalin hubungan jarak dekat/face to face lebih besar daripada individu yang menjalin hubungan jarak jauh/ldr. b. Passion individu yang menjalin hubungan jarak dekat/face to face lebih besar daripada individu yang menjalin hubungan jarak jauh/ldr. c. Commitment individu yang menjalin hubungan jarak dekat/face to face lebih kecil daripada individu yang menjalin hubungan jarak jauh/ldr. Dasar pengambilan keputusan pada uji hipotesis yaitu dengan melihat nilai probabilitas dan t tabel. Jika nilai probabilitas atau nilai p > 0,05 maka H 1 ditolak. Sebaliknya, jika nilai probabilitas atau nilai p < 0,05 maka H 1 diterima (Santoso, 2012). Jika t hitung/t output > t tabel maka H 1 diterima dan sebaliknya jika t hitung/t output < t tabel maka H 1 ditolak (Trihendradi, 2005).

62 44 Tabel 16. Hasil Uji Hipotesis Jenis Kelamin Perempuan Jenis Hubungan N Mean Mean Difference T Sig. (1-tailed) Face to face LDR Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa diperoleh nilai t sebesar dengan nilai probabilitas/nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,705. Dalam hal ini hipotesis yang digunakan satu arah/one tailed, maka nilai probabilitas sig. (2-tailed) dibagi dua sehingga diperoleh nilai probabilitas sebesar (p > 0,05) dan nilai t tabel sebesar 1,68 (Myres & Hansen, 2002) yang berarti H 1 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan di antara mahasiswi yang menjalin hubungan jarak dekat/non LDR/face to face maupun jarak jauh/ldr. Tabel 17. Hasil Uji-t Tiap Komponen Cinta Sternberg Komponen Jenis Hubungan Mean Mean Difference T Sig. (1-tailed) Intimacy Face to face LDR Passion Face to face LDR Commitment Face to face LDR Berdasarkan hasi uji t pada tiap-tiap komponen segitiga cinta Sternberg di atas yaitu intimacy, passion, dan commitment diperoleh nilai t

63 45 hitung pada komponen intimacy sebesar 0,817 dan nilai t tabel sebesar 1,68 (t hitung < t tabel) dengan nilai probabilitas sig.(1-tailed) pada face to face dan LDR sebesar 0,209 (p > 0,05). Dengan demikian hipotesis tidak terbukti adanya perbedaan di antara mahasiswi yang menjalin hubungan face to face maupun LDR. Nilai t hitung pada komponen passion sebesar dan nilai t tabel sebesar 1,68 (t hitung < t tabel) dengan nilai probabilitas sig.(1-tailed) pada face to face dan LDR sebesar 0,2205 (p > 0,05). Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis pada penelitian ini tidak terbukti ada perbedaan di antara mahasiswi yang menjalin hubungan face to face maupun LDR yang dilihat pada komponen passion. Nilai t pada komponen commitment sebesar 0,897 dan nilai t tabel sebesar 1,68 (t hitung < t tabel) dengan nilai probabilitas sig.(1-tailed) pada face to face dan LDR sebesar 0,187 (p > 0,05). Dengan demikian hipotesis pada penelitian ini tidak terbukti ada perbedaan di antara mahasiswi yang menjalin hubungan face to face maupun LDR yang dilihat pada komponen commitment pada Teori Segitiga Cinta Sternberg. D. PEMBAHASAN Hasil uji t pada ketiga komponen cinta Sternberg di atas menyatakan hipotesis satu atau H 1 ditolak dalam penelitian ini. Hal ini menunjukkan tidak ada perbedaan di antara hubungan cinta jarak dekat/non LDR/face to face dan jarak jauh/ldr yang dilihat berdasarkan komponen cinta Sternberg (1997).

64 46 Tidak adanya perbedaan di antara hubungan cinta jarak dekat dan jarak jauh diduga disebabkan oleh beberapa hal. Hal pertama mengenai pandangan atas jarak dalam hubungan interpersonal. Hipotesis penelitian ini beranggapan bahwa jarak akan menjadi penghalang dalam hubungan interpersonal. Ternyata pandangan atas jarak dalam hubungan interpersonal tersebut tidak berlaku dalam penelitian ini. Hal ini disebabkan hambatan berkomunikasi karena jarak untuk saat ini bisa dijembatani dengan berbagai media komunikasi yang cerdas. Hal kedua terkait dengan alat ukur penelitian. Pada skala penelitian, rentang pilihan jawaban terlalu panjang sehingga membuat subjek mengalami kebingungan pada waktu menjawab. Hal tersebut tampak ketika subjek mengucapkan secara verbal saat memberikan jawaban. Selain itu, Azwar (2012) mengatakan rentang yang terlalu panjang/lebih dari tujuh pilihan jawaban dapat membuat subjek menjadi tidak cukup peka dengan pilihan jawaban tersebut. Hal ini dapat mengaburkan perbedaan yang ada pada setiap jawaban yang dimaksud. Kemudian atribut pada skala penelitian ini juga cenderung mengarahkan subjek ke jawaban setuju. Hal ketiga mengenai jawaban subjek. Rata-rata subjek menjawab pada rentang jawaban di tengah dan atas sehingga diduga subjek menjawab apa yang sebaiknya/apa yang diinginkannya bukan apa yang sebenarnya subjek alami. Hal ini memungkinkan terjadinya social desirability. Hal tersebut dapat ditunjukkan sebagai berikut:

65 47 Tabel 18. Hasil Jawaban Subjek berdasarkan Cacah Subjek dan Cacah Aitem Jenis Rentang Jawaban Subjek (%) Hubungan Subjek Face to 1,51 1,25 2,31 5,16 10,13 14,31 24,71 23,29 17,3% face % % % % % % % % LDR 0,27 % 0,97 % 1,41 % 4,94 % 12,08 % 14,46 % 25,4 % 24,43 % 16,05 % Hal keempat mengenai subjek. Agaknya semua subjek dalam penelitian banyak menggunakan dan memiliki alat komunikasi yang memudahkan mereka berkomunikasi dengan pasangan sekali pun dibatasi oleh jarak yaitu sebanyak 38 subjek dari 50 total subjek atau sekitar 76 %. Hal tersebut yang menyebabkan tidak terdapat perbedaan di antara hubungan jarak dekat dan jarak jauh.

66 BAB V PENUTUP Bab ini menguraikan tentang kesimpulan dan saran. A. KESIMPULAN Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan peneliti maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hubungan cinta baik jarak dekat/face to face maupun jarak jauh/ldr dilihat berdasarkan komponen segitiga cinta Sternberg (1997). B. SARAN 1. Bagi Penelitian Selanjutnya Penelitian selanjutnya yang berminat pada tema komponen segitiga cinta Sternberg (1997) disarankan untuk: a. Memperhatikan kembali rentangan jawaban dalam skala. Sebaiknya rentangan jawaban perlu disederhanakan menjadi empat pilihan jawaban saja. b. Tidak diberi angka pada rentang jawaban agar subjek tidak terpengaruh pada skor yang akan diperolehnya. c. Membuat atribut pada skala lebih netral. d. Mencari subjek baik yang tak beralat komunikasi maupun beralat komunikasi. 48

67 49 2. Bagi Subjek Penelitian a. Bagi mereka yang menjalin hubungan face to face untuk lebih proaktiv dalam hubungan untuk meningkatkan passion di antara pasangan. C. KETERBATASAN PENELITIAN Penelitian ini memiliki keterbatasan terkait dengan subjek penelitian. Subjek yang dilibatkan dalam penelitian ini hanya wanita yang berada di sekitar kampus III Universitas Sanata Dharma tanpa mempertimbangkan subjek laki-laki.

68 DAFTAR PUSTAKA Aylor, B. A. (2003). Maintaining long-distance relationships. In D. J. Canary & M. Dainton (Eds.), Maintaining relationships through communication: Relational, contextual, and cultural variations (pp ). Mahawh, NJ: Erlbaum. Azwar, Saifuddin. (2012). Penyusunan skala psikologi (ed. ke-2). Yogyakarta: Pustaka Belajar. Bebee, Steven A., Bebee, Susan J., & Redmond, Mark V. (2011). Interpersonal communication relating to others (6 th ed). Boston: Pearson Education, Inc. Danastri, Beatrich Rani., Permatasari, Jane Ginza Ayu., Vinasti Lisabetha Elok Reno., Prawitasari, Stenny., & Nugrahaeni, Ni Nyoman Laksmi. (2013). Hubungan kelekatan dewasa dengan kepuasan berelasi pada mahasiswi yang menjalin relasi pacaran jarak jauh di yogyakarta. Pra Penelitian Tentang Attachment. Yogyakarta. Tidak diterbitkan. Dansie, Loni. (2012). Long-distance dating relationships among college students: The benefits and drawbacks of using technology. Thesis magister. University of Missouri. Dwyer, Diana. (2000). Interpersonal relationships. London: Taylor & Francis Inc. Hadi, Sutrisno. (2005). Aplikasi ilmu statistika di fakultas psikologi. Anima, Indonesian Psychological Journal, 20(3), Harvey, John H., & Omarzu, Julia. (1997). Minding the close relationship. Personality and Psychology Review, 1, Kobayashi, Futoshi. (2008). Looking at lee s love theory through abraham maslow s eyes: Factor analyzing four different models. Comparative Culture, 14, Lin, Hellen Lee., & Knee, C. Raymond. (2006). So far and yet so close: Predictors of closeness in local and long-distance relationships. Psi Chi Journal of Undergraduate Research, 11(3), Mays, Aleia. (2011). Geographic distance and its influence on romantic relationships: Comparing long distance and geographically close relationships. Xavier University of Louisiana s Undergraduate Research Journal, 9(1), Myres, Anne., & Hansen, Christine H. (2002). Experimental psychology (5 th ed). California: Wadswort. 50

69 51 Narimawati, U., & Munandar, D. (2008). Teknik sampling: Teori dan praktik dengan menggunakan SPSS 15. Yogyakarta: Gava Media. Papalia, Diane E., Olds, Sally Wendkos., & Feldman, Ruth Duskin. (2008). Human development (ed. Ke-9). Jakarta: Kencana. Penerjemah: A. K. Anwar. Papalia, Diane E., Olds, Sally Wendkos., & Feldman, Ruth Duskin. (2009). Human development (ed. Ke-10). Jakarta: Salemba Humanika. Penerjemah: Brian Marwensdy. Purwanto, Erwan Agus., & Sulistyastuti, Dyah Ratih. (2007). Metode penelitian kuantitatif untuk administrasi publik dan masalah-masalah sosial. Yogyakarta: Gava Media. Rathus, Spencer A., Nevid, Jeffrey S., & Rathus, Lois Fichner. (2008). Human sexuality in a world of diversity. Boston: Pearson Education, Inc. Reber, Jeffrey S., & Beyers, Marissa S. (2000). Love is not an evolutionarily derived mechanism. Issue 5. Dipungut 18 April, 2013, dari on_-_love_and_evolution_-_no.pdf Sacher, Jennifer A., & Fine, Mark A. (1996). Predicting relationship status and satisfaction after six months among dating couples. Jorunal of Marriage and the Family, 58(1), Santoso, Agung. (2010). Statistik untuk psikologi dari blog menjadi buku. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Santoso, Singgih. (2012). Panduan lengkap SPSS versi 20. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Santrock, John W. (2002). Life-span development (ed. Ke-5). Jakarta: Erlangga. Penerjemah: Juda Damanik, Achmad Chusairi. Saragih, Juliana Irmayanti., & Irmawati. (2005). Fenomena jatuh cinta pada mahasiswa. Psikologia, 1(1). Scott, Veronica M., Mottarella, Karen E., & Lavooy, Maria J. (2006). Does virtual intimacy exist? A brief exploration into reported levels of intimacy in online relationships. Cyber Psychology & Behavior, 9 (6). Skinner, Breeana. (2005). Perceptions of college students in long distance relationship. UW-L Journal of Undergraduate Research VIII. Stafford, Laura., & Reske, James R. (1990). Idealization and communication in long-distance premarital relationships. Family Relations, 39,

70 52 Stafford, Laura. (2010). Geographic distance and communication during courtship. Communication Research, 37(2), Sternberg, Robert J. (1986). A triangular theory of love. Psychological Review 93(2), Sternberg, Robert J. (1988). Sternberg s triangular model of love. Dipungut 17 November, 2012, dari pdf Sternberg, Robert J. (1997). Construct validation of a triangular love scale. European Journal of Social Psychology, 27, Sternberg, Robert J. (1998). Cupid s arrow: The course of love through time. New York: Cambridge University Press. Sternberg, Robert J. (1998). Love is a story: A new theory of relationships. New York: Oxford University Press. A231&dq=sternberg+1995+theory+of+love&source=bl&ots=dIkjpwfVA9 &sig=0j6ou1dchuaeel4jyj_iqkjcszm&hl=id&sa=x&ei=fsfeuds7g5 CSiQeQroH4Aw&redir_esc=y#v=onepage&q=sternberg%201995%20the ory%20of%20love&f=false Sternberg, Robert J. (2000). What s Your Love Story? Psychology Today, 33(4), 52. Supratiknya, A. (2007). Merujuk sumber acuan dalam penulisan karya ilmiah. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma. Trihendradi, Cornelius. (2005). SPSS 13: Step by step analisis data statistik (ed. Ke-1). Yogyakarta: Andi. Yudistriana, Kiki., Basuki, A. M. Heru., & Harsanti, Intaglia. (2010). Intimasi pada pria dewasa awal yang berpacaran jarak jauh beda kota. Jurnal Psikologi, 3(2).

71 LAMPIRAN A SKALA PENELITIAN 53

72 54 SKALA PENELITIAN Krisentia Indah Permatasari NIM : PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2013

73 55 Teman-teman yang baik, Saya memohon kesediaan teman-teman untuk mengisi angket penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan jawaban yang cocok dengan keadaan diri teman-teman. Teman-teman diharapkan menjawab pernyataanpernyataan sesuai dengan keadaan, pikiran dan perasaan teman-teman sebenarnya. Tidak ada jawaban yang benar atau salah selama jawaban yang temanteman pilih merupakan keadaan sebenarnya dari diri teman-teman. Jangan sampai ada pernyataan yang terlewati untuk dijawab. Semua identitas dan jawaban teman-teman, akan dijamin kerahasiaannya. Terimakasih atas waktu, partisipasi dan kerjasamanya dalam pengisian angket ini. Krisentia Indah P. PSI/USD/

74 56 Pernyataan Kesediaan Saya menyatakan bahwa saya mengisi skala berikut untuk membantu pelaksanaan penelitian dengan sukarela dan tidak di bawah paksaan atau tekanan dari pihak tertentu. Semua jawaban yang saya berikan merupakan keadaan sebenarnya dari diri saya, bukan berdasarkan pandangan masyarakat pada umumnya. Saya mengijinkan jawaban saya digunakan sebagai data untuk penelitian ilmiah ini. Menyetujui ( Paraf ) Yogyakarta/ /2013

75 57 SKALA Identitas Diri Usia : tahun Jenis Kelamin : a. Laki-laki b. Perempuan Program Studi/Fakultas : / Lama Pacaran : bulan/tahun Jenis hubungan : a. Jarak Jauh b. Jarak dekat Jangka waktu bertemu face-to-face : a. setiap hari d. sebulan sekali g. < 1x dalam setahun b. seminggu sekali e. < 1x dalam sebulan c. < 1x dalam seminggu f. setahun sekali Sarana komunikasi yang paling sering digunakan: a. Ponsel (sms, telepon b. Aplikasi jejaring sosial (Aplikasi jejaring sosial: Facebook, Twitter, YM, Skype, Whatsapp, Viber, Line, MySpace, Kakaotalk, Wechat, dan sebagainya). Petunjuk : Berikut ini terdapat pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan pengalaman teman-teman dalam menjalin hubungan berpacaran. Teman-teman dimohon untuk menanggapi pernyataan tersebut dengan cara memikirkan hubungan pacaran teman-teman dan memberi penilaian terhadap hubungan tersebut dengan cara membuat tanda silang (X) pada salah satu peringkat (1

76 58 sampai dengan 9); 1 berarti sangat tidak setuju dan 9 berarti sangat setuju untuk setiap pernyataan. Dalam hal ini tidak ada jawaban benar dan salah selama jawaban yang dipilih merupakan keadaan sebenarnya dari diri teman-teman. Jangan sampai ada pernyat aan yang terlewati untuk dijawab. Contoh cara menjawab: Sangat Tidak Setuju Sangat Setuju Pernyataan 1. Saya sangat mencintai dan menyayangi pasangan Respon saya melebihi apa pun di dunia ini. Selamat Mengerjakan

77 59 Pernyataan Respon 1. Saya secara aktif turut mengusahakan kesehatan jiwa dan raga pasangan saya. 2. Hanya dengan melihat pasangan, saya menjadi bergairah. 3. Saya tahu saya peduli tentang pasangan saya Saya mempunyai sebuah hubungan yang hangat dengan pasangan saya. 5. Setiap hari saya sering memikirkan pasangan saya. 6. Saya berkomitmen untuk menjaga hubungan saya dengan pasangan saya. 7. Saya dapat mengandalkan pasangan saya saat dia saya butuhkan. 8. Hubungan saya dengan pasangan saya sangat romantis. 9. Karena komitmen saya pada pasangan, saya tidak akan membiarkan orang lain hadir di antara kami. 10.Saya dapat diandalkannya saat dia membutuhkan saya. 11.Secara pribadi saya menemukan pasangan saya sangat menarik. 12.Saya mempunyai keyakinan bahwa hubungan kami stabil. 13.Saya bersedia untuk berbagi diri dan harta saya dengan pasangan saya. 14.Saya mengidealkan pasangan saya Saya tidak dapat membiarkan sesuatu menghalangi komitmen saya pada pasangan saya. 16.Saya menerima dukungan emosional yang

78 60 wajar dari pasangan saya. 17.Saya tidak dapat membayangkan orang lain membuat saya bahagia seperti pasangan saya (lakukan). 18.Saya berharap cinta saya untuk pasangan saya berlangsung selama sisa hidup saya. 19.Saya memberikan dukungan emosional yang besar kepada pasangan saya. 20.Saya lebih suka bersama dengan pasangan saya daripada bersama orang lain. 21.Saya selalu merasa memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pasangan saya. 22.Saya berkomunikasi secara baik dengan pasangan saya. 23.Tidak ada yang lebih penting daripada hubungan saya dengan pasangan saya. 24.Saya melihat komitmen saya untuk pasangan saya sebagai sesuatu yang solid. 25.Saya menilai pasangan saya sangat berarti dalam hidup saya. 26.Saya secara khusus menyukai kontak fisik dengan pasangan saya. 27.Saya tidak dapat membayangkan saya mengakhiri hubungan saya dengan pasangan. 28.Saya merasa dekat dengan pasangan saya Ada sesuatu yang menakjubkan tentang hubungan saya dengan pasangan saya. 30.Saya yakin cinta saya untuk pasangan saya Saya memiliki hubungan yang nyaman dengan pasangan saya.

79 61 32.Saya mengagumi pasangan saya Saya melihat hubungan saya dengan pasangan saya sebagai sesuatu yang permanen. 34.Saya merasa saya benar-benar mengerti pasangan saya. 35.Saya tidak dapat membayangkan hidup tanpa pasangan saya. 36.Saya melihat hubungan saya dengan pasangan saya sebagai sebuah keputusan yang baik. 37.Saya merasa bahwa pasangan saya benar-benar mengerti saya. 38.Hubungan saya dengan pasangan saya penuh gairah. 39.Saya merasa bertanggung jawab pada pasangan saya. 40.Saya merasa bahwa saya dapat benar-benar mempercayai pasangan. 41.Ketika saya melihat film romantis dan membaca buku romantis, saya terpikir pasangan saya. 42.Saya berencana untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius dengan pasangan saya. 43.Saya berbagi informasi yang sangat pribadi tentang diri saya dengan pasangan saya. 44.Saya berfantasi tentang pasangan saya Bahkan ketika saya sangat sulit bergaul dengan pasangan, saya tetap berkomitmen pada hubungan kami.

80 LAMPIRAN B UJI RELIABILITAS 62

81 63 Hasil Uji Reliabilitas 1. Reliability of Intimacy Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Alpha if Item Item Deleted Item Deleted Total Correlation Deleted Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Scale Statistics Mean Variance Std. Deviation N of Items

82 64 2. Reliability of passion Reliability Statistics Cronbach's Alpha N of Items Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Alpha if Item Item Deleted Item Deleted Total Correlation Deleted Aitem Aitem Aitme Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Scale Statistics Mean Variance Std. Deviation N of Items

83 65 3. Reliability of commitment Reliability Statistics Cr onbach's Alpha N of Items Item-Total Statistics Cronbach's Scale Mean if Scale Variance if Corrected Item- Al pha if Item Item Deleted Item Deleted Total Correlation Deleted Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Aitem Scale Statistics Mean Variance Std. Deviation N of Items

84 LAMPIRAN C UJI NORMALITAS 66

85 67 HASIL UJI NORMALITAS 1. Uji Normalitas pada intimacy One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test IntimacyF2F IntimacyLDR N Normal Parameters a Mean Std. Deviation Most Extreme Differences Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal. 2. Uji Normalitas pada passion One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test PassionF2F PassionLDR N Normal Parameters a Mean Std. Deviation Most Extreme Differences Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal.

86 68 3. Uji Normalitas pada commitment One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Commitment F2F Commitment LDR N Normal Mean Parameters a Std. Deviation Most Extreme Differences Absolute Positive Negative Kolmogorov-Smirnov Z Asymp. Sig. (2-tailed) a. Test distribution is Normal.

87 LAMPIRAN D UJI HOMOGENITAS 69

88 70 1. Uji Homogenitas pada Intimacy HASIL UJI HOMOGENITAS Levene's Test for Equality of Variances F Sig. Inti ma cy Equal variances assumed Equal variances not assumed 2. Uji Homogenitas pada Passion Levene's Test for Equality of Variances F Sig. Pa ssi on Equal variances assumed Equal variances not assumed 3. Uji Homogenitas pada Commitment Levene's Test for Equality of Variances F Sig. Commit ment Equal variances assumed Equal variances not assumed

89 LAMPIRAN E UJI HIPOTESIS 71

90 72 HASIL UJI-T Group Statistics Jenis hubungan N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Perempu Face to face an LDR Independent Samples Test Levene's Test for Equality of Variances t test for Equality of Means 95% Confidence Interval of the Difference F Sig. t df Sig. (2 tailed) Mean Difference Std. Error Difference Lower Upper P Equal variances e assumed r e Equal variances mnot assumed p u a n

91 73 HASIL UJI-T TIAP KOMPONEN CINTA STERNBERG 1. Uji-T Komponen Intimacy Group Statistics Jenis hubungan N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Intimacy Face to face LDR Independent Sample Test Levene's Test for Equality of Variances t test for Equality of Means 95% Confidence Interval of the Difference F Sig. t df Sig. (2 tailed) Mean Difference Std. Error Difference Lower Upper I Equal variances n assumed ti m Equal variances a not assumed c y

92 74 2. Uji-T Komponen Passion Group Statistics Jenis hubungan N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Passion Face to face LDR Independent Sample Test Levene's Test for Equality of Variances t test for Equality of Means F Sig. t df Sig. (2 tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pass ion Equal variances assumed Equal variances not assumed

93 75 3. Uji-T Komponen Commitment Group Statistics Jenis hubungan N Mean Std. Deviation Std. Error Mean Commitment Face to face LDR Independent Sample Test Levene's Test for Equality of Variances t test for Equality of Means F Sig. t df Sig. (2 tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper C o m m it m e n t Equal variances assumed Equal variances not assumed

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial. Dalam sejarah manusia, belum. ditemukan seorang manusia yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial. Dalam sejarah manusia, belum. ditemukan seorang manusia yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Dalam sejarah manusia, belum ditemukan seorang manusia yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain (Dr.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. komunikasi menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Teknologi yang semakin

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. komunikasi menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Teknologi yang semakin BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini perkembangan teknologi semakin canggih membuat komunikasi menjadi lebih mudah untuk dilakukan. Teknologi yang semakin canggih dan berbagai sosial

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. cinta, seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan individu dewasa.

BAB I PENDAHULUAN. cinta, seiring dengan perkembangan dan pertumbuhan individu dewasa. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu tugas perkembangan individu dewasa adalah merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis yang akan menimbulkan hubungan interpersonal sebagai bentuk interaksi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah a mixed methods

BAB III METODE PENELITIAN. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah a mixed methods BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah a mixed methods research designs yaitu prosedur penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan, dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Cinta (Love) 1. Pengertian Cinta Chaplin (2011), mendefinisikan cinta sebagai satu perasaan kuat penuh kasih sayang atau kecintaan terhadap seseorang, biasanya disertai satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pernikahan merupakan hal yang umumnya akan dilalui dalam kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Pernikahan merupakan hal yang umumnya akan dilalui dalam kehidupan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG PENELITIAN Pernikahan merupakan hal yang umumnya akan dilalui dalam kehidupan ini. Sebagian besar manusia dewasa, akan menghadapi kehidupan pernikahan. Sebelum memasuki

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS KOMUNIKASI ORANG TUA ANAK DENGAN PENGENDALIAN DORONGAN SEKSUAL SEBELUM MENIKAH PADA REMAJA SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA KUALITAS KOMUNIKASI ORANG TUA ANAK DENGAN PENGENDALIAN DORONGAN SEKSUAL SEBELUM MENIKAH PADA REMAJA SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA KUALITAS KOMUNIKASI ORANG TUA ANAK DENGAN PENGENDALIAN DORONGAN SEKSUAL SEBELUM MENIKAH PADA REMAJA SKRIPSI Disusun Dan Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Gelar

Lebih terperinci

Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang

Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial, dimana manusia hidup saling membutuhkan satu sama lain. Salah satunya adalah hubungan intim dengan lawan jenis atau melakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tidak tinggal bersama (Long Distance Relationship) dalam satu rumah karena

BAB I PENDAHULUAN. tidak tinggal bersama (Long Distance Relationship) dalam satu rumah karena BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah sebuah komitmen legal dengan ikatan emosional antara dua orang untuk saling berbagi keintiman fisik dan emosional, berbagi tanggung jawab,

Lebih terperinci

HUBUNGAN KOMPONEN CINTA STERNBERG DENGAN KEPUASAN HUBUNGAN ROMANTIS PADA DUNIA MAYA DAN DUNIA NYATA SKRIPSI. Diajukan untuk memenuhi persyaratan

HUBUNGAN KOMPONEN CINTA STERNBERG DENGAN KEPUASAN HUBUNGAN ROMANTIS PADA DUNIA MAYA DAN DUNIA NYATA SKRIPSI. Diajukan untuk memenuhi persyaratan HUBUNGAN KOMPONEN CINTA STERNBERG DENGAN KEPUASAN HUBUNGAN ROMANTIS PADA DUNIA MAYA DAN DUNIA NYATA SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi Oleh: CECILIA HORISON 091301082 FAKULTAS

Lebih terperinci

PERBEDAAN PERILAKU KONSUMTIF MAHASISWI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA YANG KOST DAN YANG TINGGAL DENGAN ORANGTUA DITINJAU DARI KONTROL DIRI

PERBEDAAN PERILAKU KONSUMTIF MAHASISWI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA YANG KOST DAN YANG TINGGAL DENGAN ORANGTUA DITINJAU DARI KONTROL DIRI PERBEDAAN PERILAKU KONSUMTIF MAHASISWI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA YANG KOST DAN YANG TINGGAL DENGAN ORANGTUA DITINJAU DARI KONTROL DIRI SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Sarjana Psikologi

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DENGAN KEDISIPLINAN BELAJAR SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DENGAN KEDISIPLINAN BELAJAR SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP LAYANAN BIMBINGAN KONSELING DENGAN KEDISIPLINAN BELAJAR SKRIPSI Diajukan Oleh : AFIFAH NUR AINI F 100 070 127 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2012

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengalaman manusia yang paling umum. Menurut Sternberg (dalam Tambunan,

BAB I PENDAHULUAN. pengalaman manusia yang paling umum. Menurut Sternberg (dalam Tambunan, BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Cinta (love) merupakan salah satu tema yang paling umum dalam lagu-lagu, film, dan kehidupan sehari-hari. Sebagian besar orang menerima cinta sebagai pengalaman

Lebih terperinci

KETERTARIKAN ANTAR PRIBADI

KETERTARIKAN ANTAR PRIBADI KETERTARIKAN ANTAR PRIBADI Diana Septi Purnama Email: [email protected] www.uny.ac.id 1 Afiliasi : Asal Mula Ketertarikan Akar afiliasi pada saat infancy 6 hal penting yang dapat diperoleh dari

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Definisi Kepuasan dalam Hubungan Romantis

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Definisi Kepuasan dalam Hubungan Romantis BAB II LANDASAN TEORI A. Kepuasan dalam Hubungan Romantis 1. Definisi Kepuasan dalam Hubungan Romantis Hubungan romantis merupakan aktivitas bersama yang dilakukan oleh dua individu dalam usaha untuk saling

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Hubungan jarak jauh (long distance relationship) Pengertian hubungan jarak jauh atau sering disebut dengan long distance relationship adalah dimana pasangan dipisahkan oleh jarak

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DAN POLA ASUH OTORITER DENGAN PERILAKU AGRESI PADA REMAJA SKRIPSI ASIH MURNIATI UNIVERSITAS MURIA KUDUS

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DAN POLA ASUH OTORITER DENGAN PERILAKU AGRESI PADA REMAJA SKRIPSI ASIH MURNIATI UNIVERSITAS MURIA KUDUS HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DAN POLA ASUH OTORITER DENGAN PERILAKU AGRESI PADA REMAJA SKRIPSI ASIH MURNIATI 2010 60 043 UNIVERSITAS MURIA KUDUS FAKULTAS PSIKOLOGI 2014 i HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. baik secara fisik maupun psikis. Menurut Paul dan White (dalam Santrock,

BAB I PENDAHULUAN. baik secara fisik maupun psikis. Menurut Paul dan White (dalam Santrock, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk yang tidak pernah berhenti berubah, semenjak pembuahan hingga akhir kehidupan selalu terjadi perubahan baik dalam kemampuan fisik maupun

Lebih terperinci

KEKERASAN DALAM PACARAN DITINJAU DARI KONFLIK DALAM KELUARGA

KEKERASAN DALAM PACARAN DITINJAU DARI KONFLIK DALAM KELUARGA KEKERASAN DALAM PACARAN DITINJAU DARI KONFLIK DALAM KELUARGA SKRIPSI DISUSUN OLEH : BERNADETA NOER ARSANTI NUGRAHANI 00.40.0265 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG 2010 HALAMAN

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Bab ini akan membahas tentang landasan teori berupa definisi, dimensi, dan faktor yang berpengaruh dalam variabel yang akan diteliti, yaitu bahasa cinta, gambaran tentang subjek

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL PASANGAN DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN. Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana ( S-1) Psikologi

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL PASANGAN DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN. Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana ( S-1) Psikologi HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL PASANGAN DENGAN KEPUASAN PERNIKAHAN Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana ( S-1) Psikologi Diajukan Oleh : Rahmi Fadhillah Hayati F 100 060 148

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini,

BAB I PENDAHULUAN. berbeda dengan keadaan yang nyaman dalam perut ibunya. Dalam kondisi ini, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri tanpa kehadiran manusia lainnya. Kehidupan menjadi lebih bermakna dan berarti dengan kehadiran

Lebih terperinci

Abstrak. v Universitas Kristen Maranatha

Abstrak. v Universitas Kristen Maranatha Abstrak Individu yang menjalani hubungan jarak jauh dalam berelasinya banyak yang mengalami kesulitan, namun ada pula yang dapat mempertahankan hubungannya. Maka dari itu penelitian ini ingin mengetahui

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA TRUST DENGAN KONFLIK INTERPERSONAL PADA DEWASA AWAL YANG MENJALANI HUBUNGAN PACARAN JARAK JAUH

HUBUNGAN ANTARA TRUST DENGAN KONFLIK INTERPERSONAL PADA DEWASA AWAL YANG MENJALANI HUBUNGAN PACARAN JARAK JAUH HUBUNGAN ANTARA TRUST DENGAN KONFLIK INTERPERSONAL PADA DEWASA AWAL YANG MENJALANI HUBUNGAN PACARAN JARAK JAUH SKRIPSI Diajukan Kepada Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menjaga hubungan romantis dengan pasangan romantis (romantic partner) seperti

BAB I PENDAHULUAN. Menjaga hubungan romantis dengan pasangan romantis (romantic partner) seperti 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Menjaga hubungan romantis dengan pasangan romantis (romantic partner) seperti saat masih menjadi teman dekat atau pacar sangat penting dilakukan agar pernikahan bertahan

Lebih terperinci

dengan usia sekitar 18 hingga 25 tahun. Menurut Jeffrey Arnett (2004), emerging

dengan usia sekitar 18 hingga 25 tahun. Menurut Jeffrey Arnett (2004), emerging STUDI DESKRIPTIF MENGENAI CINTA PADA MAHASISWA UNIVERSITAS PADJADJARAN YANG MENJALANI LONG DISTANCE RELATIONSHIP YOLANDA CHYNTYA NOVIYANTI BASARIA 190110100132 ABSTRACT Cinta dapat dipahami sebagai sebuah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membahas mengenai kualitas komunikasi yang dijabarkan dalam bentuk pengertian kualitas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membahas mengenai kualitas komunikasi yang dijabarkan dalam bentuk pengertian kualitas BAB II TINJAUAN PUSTAKA Bab ini terbagi atas empat sub bab. Sub bab pertama membahas mengenai komunikasi sebagai media pertukaran informasi antara dua orang atau lebih. Sub bab kedua membahas mengenai

Lebih terperinci

PENGARUH SINDROM PRAMENSTRUASI TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWI KELAS XI DI SMK KRISTEN SALATIGA SKRIPSI

PENGARUH SINDROM PRAMENSTRUASI TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWI KELAS XI DI SMK KRISTEN SALATIGA SKRIPSI PENGARUH SINDROM PRAMENSTRUASI TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWI KELAS XI DI SMK KRISTEN SALATIGA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan Disusun

Lebih terperinci

HUBUNGAN KUALITAS KOMUNIKASI ISTRI DENGAN KEMAMPUAN MENGELOLA KONFLIK DALAM PERKAWINAN

HUBUNGAN KUALITAS KOMUNIKASI ISTRI DENGAN KEMAMPUAN MENGELOLA KONFLIK DALAM PERKAWINAN HUBUNGAN KUALITAS KOMUNIKASI ISTRI DENGAN KEMAMPUAN MENGELOLA KONFLIK DALAM PERKAWINAN SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Diajukan oleh: PURI NUGRAHANING TYAS

Lebih terperinci

Perkembangan Sepanjang Hayat

Perkembangan Sepanjang Hayat Modul ke: Perkembangan Sepanjang Hayat Memahami Masa Perkembangan Dewasa Awal dalam Aspek Psikososial Fakultas PSIKOLOGI Hanifah, M.Psi, Psikolog Program Studi Psikologi http://mercubuana.ac.id Masa Dewasa

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KETERGANTUNGAN MEDIA SOSIAL DENGAN RELASI INTERPERSONAL SAAT BERPACARAN PADA MAHASISWA SKRIPSI HERTANTY DELLA MAESTRY

HUBUNGAN ANTARA KETERGANTUNGAN MEDIA SOSIAL DENGAN RELASI INTERPERSONAL SAAT BERPACARAN PADA MAHASISWA SKRIPSI HERTANTY DELLA MAESTRY HUBUNGAN ANTARA KETERGANTUNGAN MEDIA SOSIAL DENGAN RELASI INTERPERSONAL SAAT BERPACARAN PADA MAHASISWA SKRIPSI HERTANTY DELLA MAESTRY 13.40.0282 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DAN DUKUNGAN SOSIAL ORANG TUA DENGAN KEJENUHAN BELAJAR SISWA

HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DAN DUKUNGAN SOSIAL ORANG TUA DENGAN KEJENUHAN BELAJAR SISWA HUBUNGAN ANTARA MOTIVASI BERPRESTASI DAN DUKUNGAN SOSIAL ORANG TUA DENGAN KEJENUHAN BELAJAR SISWA UD UL TESIS KURNIA FITROTIN S300110008 PROGRAM MAGISTER PSIKOLOGI SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH

Lebih terperinci

EMA SAFITRI

EMA SAFITRI 1 GAMBARAN KECEMASAN AKADEMIK SISWA DI SMA NEGERI UNGGUL ACEH TIMUR S k r i p s i Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi Disusun Oleh: EMA SAFITRI 051301056 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seorang wanita yang memilih untuk menikah dengan prajurit TNI bukanlah hal yang mudah, wanita tersebut harus memiliki komitmen yang kuat dalam hubungan pernikahannya.

Lebih terperinci

KEBUTUHAN AKTUALISASI DIRI PADA REMAJA PENYANDANG TUNANETRA YANG BERSEKOLAH DI SEKOLAH UMUM DITINJAU DARI KEMATANGAN EMOSI DAN SELF DISCLOSURE

KEBUTUHAN AKTUALISASI DIRI PADA REMAJA PENYANDANG TUNANETRA YANG BERSEKOLAH DI SEKOLAH UMUM DITINJAU DARI KEMATANGAN EMOSI DAN SELF DISCLOSURE KEBUTUHAN AKTUALISASI DIRI PADA REMAJA PENYANDANG TUNANETRA YANG BERSEKOLAH DI SEKOLAH UMUM DITINJAU DARI KEMATANGAN EMOSI DAN SELF DISCLOSURE SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Mencapai

Lebih terperinci

PERAN KOMUNIKASI ORANGTUA ANAK, KECERDASAN EMOSI, KECERDASAN SPIRITUAL, TERHADAP PERILAKU BULLYING. Tesis

PERAN KOMUNIKASI ORANGTUA ANAK, KECERDASAN EMOSI, KECERDASAN SPIRITUAL, TERHADAP PERILAKU BULLYING. Tesis PERAN KOMUNIKASI ORANGTUA ANAK, KECERDASAN EMOSI, KECERDASAN SPIRITUAL, TERHADAP PERILAKU BULLYING Tesis Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Pasca Sarjana S-2 Disusun oleh

Lebih terperinci

PERBEDAAN TINGKAH LAKU MENOLONG SISWA KELAS REGULER DENGAN SISWA KELAS AKSELERASI DI SMA NEGERI 3 SEMARANG SKRIPSI MONA APRILIA

PERBEDAAN TINGKAH LAKU MENOLONG SISWA KELAS REGULER DENGAN SISWA KELAS AKSELERASI DI SMA NEGERI 3 SEMARANG SKRIPSI MONA APRILIA PERBEDAAN TINGKAH LAKU MENOLONG SISWA KELAS REGULER DENGAN SISWA KELAS AKSELERASI DI SMA NEGERI 3 SEMARANG SKRIPSI MONA APRILIA 09.40.0142 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA 2014 PERBEDAAN

Lebih terperinci

Tingkat Stres Kerja Ditinjau dari Beban Kerja. pada Air Traffic Controller (ATC)

Tingkat Stres Kerja Ditinjau dari Beban Kerja. pada Air Traffic Controller (ATC) Tingkat Stres Kerja Ditinjau dari Beban Kerja pada Air Traffic Controller (ATC) SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi Oleh : JUNIKA MINDA PRATIWI 101301038 FAKULTAS PSIKOLOGI

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DAN POLA ASUH DEMOKRATIS DENGAN PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DAN POLA ASUH DEMOKRATIS DENGAN PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DAN POLA ASUH DEMOKRATIS DENGAN PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA SKRIPSI Oleh: Deny Setya Budi 2010-60-044 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MURIA KUDUS 2014 HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. (UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dalam Libertus, 2008). Keputusan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. (UU No. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dalam Libertus, 2008). Keputusan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan dapat diartikan sebagai sebuah ikatan lahir batin seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA SELF DISCLOSURE (KETERBUKAAN DIRI) DENGAN KEPUASAN HUBUNGAN BERPACARAN PADA MAHASISWA SKRIPSI PATRICK YESANDRO PRISTANTYO

HUBUNGAN ANTARA SELF DISCLOSURE (KETERBUKAAN DIRI) DENGAN KEPUASAN HUBUNGAN BERPACARAN PADA MAHASISWA SKRIPSI PATRICK YESANDRO PRISTANTYO HUBUNGAN ANTARA SELF DISCLOSURE (KETERBUKAAN DIRI) DENGAN KEPUASAN HUBUNGAN BERPACARAN PADA MAHASISWA SKRIPSI PATRICK YESANDRO PRISTANTYO 11.40.0084 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain

BAB I PENDAHULUAN. manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial. Dalam kehidupan, belum ada seorang manusia pun yang dapat hidup sendiri tanpa membutuhkan kehadiran manusia lain (www.wikipedia.com).

Lebih terperinci

SIKAP TERHADAP ABORSI DITINJAU DARI KONSEP DIRI PADA MAHASISWI SKRIPSI

SIKAP TERHADAP ABORSI DITINJAU DARI KONSEP DIRI PADA MAHASISWI SKRIPSI SIKAP TERHADAP ABORSI DITINJAU DARI KONSEP DIRI PADA MAHASISWI SKRIPSI Oleh : Irine Lesmana 03.40.0069 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG 2008 i SIKAP TERHADAP ABORSI DITINJAU

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. individu saling mengenal, memahami, dan menghargai satu sama lain. Hubungan

BAB I PENDAHULUAN. individu saling mengenal, memahami, dan menghargai satu sama lain. Hubungan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pacaran merupakan salah satu proses yang biasanya dijalani individu sebelum akhirnya memutuskan menikah dengan pasangan. Pada masa pacaran, individu saling

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh : ERNA IRIYANI F

SKRIPSI. Oleh : ERNA IRIYANI F HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI TERHADAP INTERAKSI SOSIAL DALAM FACEBOOK DENGAN CEMBURU PADA PASANGAN SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana (S-1) Psikologi

Lebih terperinci

SRI HARYATI NIM: S

SRI HARYATI NIM: S HUBUNGAN HARGA DIRI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN KEPERCAYAAN DIRI REMAJA AWAL TESIS Diajukan Kepada Program Studi Magister Sains Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta Untuk Memenuhi Salah Satu

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN BEREMPATI DENGAN KECENDERUNGAN BURN-OUT PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT PERMATA BUNDA PURWODADI GROBOGAN

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN BEREMPATI DENGAN KECENDERUNGAN BURN-OUT PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT PERMATA BUNDA PURWODADI GROBOGAN HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN BEREMPATI DENGAN KECENDERUNGAN BURN-OUT PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT PERMATA BUNDA PURWODADI GROBOGAN SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Memenuhi Derajat Sarjana

Lebih terperinci

HUBUNGAN POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH REMAJA YANG MENGONSUMSI KONTEN PORNO DENGAN KEMATANGAN EMOSI SEBAGAI MEDIATOR

HUBUNGAN POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH REMAJA YANG MENGONSUMSI KONTEN PORNO DENGAN KEMATANGAN EMOSI SEBAGAI MEDIATOR HUBUNGAN POLA ASUH ORANGTUA TERHADAP PERILAKU SEKSUAL PRANIKAH REMAJA YANG MENGONSUMSI KONTEN PORNO DENGAN KEMATANGAN EMOSI SEBAGAI MEDIATOR Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Papalia, 2009). Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 1 pasal 1

BAB I PENDAHULUAN. (Papalia, 2009). Menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 1 pasal 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah salah satu tahap penting dalam siklus kehidupan individu di samping siklus kehidupan lainnya seperti kelahiran, perceraian, atau kematian

Lebih terperinci

Oleh: META OKTAVIANI

Oleh: META OKTAVIANI KECEMASAN WANITA DEWASA MUDA DARI ORANGTUA YANG BERCERAI TERHADAP PERNIKAHAN SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat Guna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Santrock (2002) menjelaskan bahwa masa dewasa awal (usia 20an-30an)

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Santrock (2002) menjelaskan bahwa masa dewasa awal (usia 20an-30an) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Santrock (2002) menjelaskan bahwa masa dewasa awal (usia 20an-30an) adalah masa pembentukan karir dan memilih pasangan hidup untuk kawin. Santrock (2002) juga mendefinisikan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA ANGGOTA KOMUNITAS ORANG MUDA KATOLIK (OMK) KEVIKEPAN SURABAYA BARAT SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA ANGGOTA KOMUNITAS ORANG MUDA KATOLIK (OMK) KEVIKEPAN SURABAYA BARAT SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA ANGGOTA KOMUNITAS ORANG MUDA KATOLIK (OMK) KEVIKEPAN SURABAYA BARAT SKRIPSI Oleh: Kevin Jonathan Susilo NRP: 7103013025 Fakultas Psikologi

Lebih terperinci

BAYU PUTRI ALDILA SAKTI NIM F

BAYU PUTRI ALDILA SAKTI NIM F HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TERHADAP PENDIDIKAN BERBASIS INTERNASIONAL DENGAN PENYESUAIAN DIRI DALAM PEMBELAJARAN PADA SISWA SMA NEGERI 1 BOYOLALI SKRIPSI Disusun Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan

Lebih terperinci

KECEMASAN TERHADAP ROB DITINJAU DARI SELF EFFICACY SKRIPSI ELIZABETH PRADIPTA SANTI SANTOSO

KECEMASAN TERHADAP ROB DITINJAU DARI SELF EFFICACY SKRIPSI ELIZABETH PRADIPTA SANTI SANTOSO KECEMASAN TERHADAP ROB DITINJAU DARI SELF EFFICACY SKRIPSI ELIZABETH PRADIPTA SANTI SANTOSO 08.40.0024 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG 2013 KECEMASAN TERHADAP ROB DITINJAU

Lebih terperinci

PERILAKU AGRESIF REMAJA DITINJAU DARI KONFORMITAS TEMAN SEBAYA SKRIPSI REGINA AYU KINANTI

PERILAKU AGRESIF REMAJA DITINJAU DARI KONFORMITAS TEMAN SEBAYA SKRIPSI REGINA AYU KINANTI PERILAKU AGRESIF REMAJA DITINJAU DARI KONFORMITAS TEMAN SEBAYA SKRIPSI REGINA AYU KINANTI 12.40.0107 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG 2016 i PERILAKU AGRESIF REMAJA DITINJAU

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN COPING STRESS PADA SISWA AKSELERASI SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN COPING STRESS PADA SISWA AKSELERASI SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DENGAN COPING STRESS PADA SISWA AKSELERASI SKRIPSI Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai gelar derajat sarjana S-1 Psikologi Diajukan oleh : EVITA DEVI DHAMAR

Lebih terperinci

UNIVERSITAS MURIA KUDUS

UNIVERSITAS MURIA KUDUS HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ASERTIF DAN POLA ASUH OTORITER DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK PADA MAHASISWA UNIVERSITAS MURIA KUDUS SKRIPSI Disusun Oleh: KIMMY KATKHAR 2009 60 032 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN COLLEGE ADJUSTMENT PADA MAHASISWA TINGKAT PERTAMA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN COLLEGE ADJUSTMENT PADA MAHASISWA TINGKAT PERTAMA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN COLLEGE ADJUSTMENT PADA MAHASISWA TINGKAT PERTAMA FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA SKRIPSI Oleh : Leila Rizki Febriyanti 201210515075 PROGRAM

Lebih terperinci

KEPUASAN PERNIKAHAN PADA SUAMI DITINJAU DARI EFEKTIVITAS KOMUNIKASI

KEPUASAN PERNIKAHAN PADA SUAMI DITINJAU DARI EFEKTIVITAS KOMUNIKASI KEPUASAN PERNIKAHAN PADA SUAMI DITINJAU DARI EFEKTIVITAS KOMUNIKASI SKRIPSI Oleh : DINA CAHYOWINARTI 06.40.0221 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG 2010 KEPUASAN PERNIKAHAN PADA

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA LAYANAN INFORMASI KARIR DAN EFIKASI DIRI DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN STUDI LANJUT SISWA

HUBUNGAN ANTARA LAYANAN INFORMASI KARIR DAN EFIKASI DIRI DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN STUDI LANJUT SISWA HUBUNGAN ANTARA LAYANAN INFORMASI KARIR DAN EFIKASI DIRI DENGAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN STUDI LANJUT SISWA TESIS Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat guna Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Ilmu Psikologi

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DAN INTENSITAS KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK DENGAN KENAKALAN REMAJA SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DAN INTENSITAS KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK DENGAN KENAKALAN REMAJA SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DAN INTENSITAS KOMUNIKASI ORANG TUA DAN ANAK DENGAN KENAKALAN REMAJA SKRIPSI Oleh NAYLUL IZZATI DEVVY NIM. 2009-60-014 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MURIA KUDUS 2013

Lebih terperinci

PENGARUH PERBEDAAN GENDER, INOVASI FASHION DAN OPINION LEADERSHIP, DAN NEED FOR TOUCH PADA PREFERENSI TOUCH / NON-TOUCH CHANNEL DALAM BELANJA PAKAIAN

PENGARUH PERBEDAAN GENDER, INOVASI FASHION DAN OPINION LEADERSHIP, DAN NEED FOR TOUCH PADA PREFERENSI TOUCH / NON-TOUCH CHANNEL DALAM BELANJA PAKAIAN PENGARUH PERBEDAAN GENDER, INOVASI FASHION DAN OPINION LEADERSHIP, DAN NEED FOR TOUCH PADA PREFERENSI TOUCH / NON-TOUCH CHANNEL DALAM BELANJA PAKAIAN Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTAR PRIBADI

HUBUNGAN ANTAR PRIBADI HUBUNGAN ANTAR PRIBADI Modul ke: Fakultas Psikologi Macam-macam hubungan antar pribadi, hubungan dengan orang belum dikenal, kerabat, hubungan romantis, pernikahan, masalah-masalah dalam hubungan pribadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam memenuhi kebutuhannya. Salah satu tugas perkembangan seorang individu adalah

BAB I PENDAHULUAN. dalam memenuhi kebutuhannya. Salah satu tugas perkembangan seorang individu adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebagaimana yang kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk sosial oleh karena itu manusia tidak dapat hidup sendiri dan manusia juga akan berinteraksi dengan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. A. Kepuasan Pernikahan. 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan

BAB II LANDASAN TEORI. A. Kepuasan Pernikahan. 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan 13 BAB II LANDASAN TEORI A. Kepuasan Pernikahan 1. Pengertian Kepuasan Pernikahan Pernikahan merupakan suatu istilah yang hampir tiap hari didengar atau dibaca dalam media massa. Namun kalau ditanyakan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KEYAKINAN DIRI DAN DUKUNGAN ORANGTUA DENGAN KESIAPAN KERJA PADA SISWA KELAS XII SMK WISUDHA KARYA KUDUS SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA KEYAKINAN DIRI DAN DUKUNGAN ORANGTUA DENGAN KESIAPAN KERJA PADA SISWA KELAS XII SMK WISUDHA KARYA KUDUS SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA KEYAKINAN DIRI DAN DUKUNGAN ORANGTUA DENGAN KESIAPAN KERJA PADA SISWA KELAS XII SMK WISUDHA KARYA KUDUS SKRIPSI DisusunOleh: WAHYU AGUS SAPUTRO 2012 60 050 UNIVERSITAS MURIA KUDUS FAKULTAS

Lebih terperinci

PERILAKU PENGGUNAAN JEJARING SOSIAL FACEBOOK PADA MAHASISWA DITINJAU DARI KEBUTUHAN AFILIASI SKRIPSI ELVANIA DESTIANINGRUM

PERILAKU PENGGUNAAN JEJARING SOSIAL FACEBOOK PADA MAHASISWA DITINJAU DARI KEBUTUHAN AFILIASI SKRIPSI ELVANIA DESTIANINGRUM PERILAKU PENGGUNAAN JEJARING SOSIAL FACEBOOK PADA MAHASISWA DITINJAU DARI KEBUTUHAN AFILIASI SKRIPSI ELVANIA DESTIANINGRUM 07.40.0156 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG 2011

Lebih terperinci

PROFIL KEPRIBADIAN 16 PF PADA SISWA PELAKU BULLYING

PROFIL KEPRIBADIAN 16 PF PADA SISWA PELAKU BULLYING PROFIL KEPRIBADIAN 16 PF PADA SISWA PELAKU BULLYING SKRIPSI Diajukan Oleh : Indrastiti RatnaWardhani F 100 070 105 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2011 PROFIL KEPRIBADIAN 16 PF PADA

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN ORIENTASI KESUKSESAN USAHA

HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN ORIENTASI KESUKSESAN USAHA HUBUNGAN ANTARA KEPERCAYAAN DIRI DAN TINGKAT PENDIDIKAN DENGAN ORIENTASI KESUKSESAN USAHA SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Derajat Gelar Sarjana S-1 Psikologi Disusun Oleh : FADILA

Lebih terperinci

KECEMASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM DITINJAU DARI SELF-EFFICACY MAHASISWA BARU UKWMS SKRIPSI. OLEH: Melisa Futri NRP

KECEMASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM DITINJAU DARI SELF-EFFICACY MAHASISWA BARU UKWMS SKRIPSI. OLEH: Melisa Futri NRP KECEMASAN BERBICARA DI DEPAN UMUM DITINJAU DARI SELF-EFFICACY MAHASISWA BARU UKWMS SKRIPSI OLEH: Melisa Futri NRP 7103012041 Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya 2016 ii KECEMASAN

Lebih terperinci

PENYESUAIAN DIRI WANITA SEBAGAI PACAR ANGGOTA POLRI DITINJAU DARI KEMATANGAN EMOSI SKRIPSI

PENYESUAIAN DIRI WANITA SEBAGAI PACAR ANGGOTA POLRI DITINJAU DARI KEMATANGAN EMOSI SKRIPSI PENYESUAIAN DIRI WANITA SEBAGAI PACAR ANGGOTA POLRI DITINJAU DARI KEMATANGAN EMOSI SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang Untuk Memenuhi Sebagian Dari Syarat

Lebih terperinci

PENYESUAIAN PERKAWINAN PADA PASANGAN PERKAWINAN BEDA USIA (SUAMI LEBIH MUDA DARI ISTRI)

PENYESUAIAN PERKAWINAN PADA PASANGAN PERKAWINAN BEDA USIA (SUAMI LEBIH MUDA DARI ISTRI) PENYESUAIAN PERKAWINAN PADA PASANGAN PERKAWINAN BEDA USIA (SUAMI LEBIH MUDA DARI ISTRI) SKRIPSI HENRETHA LEONTI LUMINGAS 11.40.0031 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG 2016 i

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DENGAN PERILAKU ALTRUISTIK PADA SISWA SISWI ANGGOTA PRAMUKA SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DENGAN PERILAKU ALTRUISTIK PADA SISWA SISWI ANGGOTA PRAMUKA SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DENGAN PERILAKU ALTRUISTIK PADA SISWA SISWI ANGGOTA PRAMUKA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Derajat Sarjana

Lebih terperinci

KAITAN ANTARA POLA ASUH PERMISIF DENGAN PERILAKU ASERTIF SKRIPSI. Diajukan kepada Fakultas Psikologi. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaraan Memperoleh

KAITAN ANTARA POLA ASUH PERMISIF DENGAN PERILAKU ASERTIF SKRIPSI. Diajukan kepada Fakultas Psikologi. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaraan Memperoleh KAITAN ANTARA POLA ASUH PERMISIF DENGAN PERILAKU ASERTIF SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaraan Memperoleh Gelar Derajat Sarjana (S-1) Psikologi Diajukan oleh : DINA

Lebih terperinci

SIKAP REMAJA TERHADAP HUBUNGAN SEKS PRA NIKAH DITINJAU DARI JENIS PENDIDIKAN DAN JENIS KELAMIN. Skripsi

SIKAP REMAJA TERHADAP HUBUNGAN SEKS PRA NIKAH DITINJAU DARI JENIS PENDIDIKAN DAN JENIS KELAMIN. Skripsi SIKAP REMAJA TERHADAP HUBUNGAN SEKS PRA NIKAH DITINJAU DARI JENIS PENDIDIKAN DAN JENIS KELAMIN Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Diajukan oleh : Novi Indriastuti

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori

Bab 2. Landasan Teori Bab 2 Landasan Teori 2.1 Dewasa Muda Istilah adult atau dewasa awal berasal dari bentuk lampau kata adultus yang berarti telah tumbuh menjadi kekuatan atau ukuran yang sempurna atau telah menjadi dewasa.

Lebih terperinci

STUDI DESKRIPTIF KECERDASAN EMOSI PADA SALESMAN SEPEDA MOTOR DI PEMALANG

STUDI DESKRIPTIF KECERDASAN EMOSI PADA SALESMAN SEPEDA MOTOR DI PEMALANG STUDI DESKRIPTIF KECERDASAN EMOSI PADA SALESMAN SEPEDA MOTOR DI PEMALANG SKRIPSI Diajukan untuk me menuhi sebagian persyaratan dalam me mperoleh gelar Sarjana Strata 1 Psikologi Oleh: INTAN DWI PERMATASARI

Lebih terperinci

PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENJADI WARIA PADA PRIA TRANSEKSUAL

PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENJADI WARIA PADA PRIA TRANSEKSUAL PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN MENJADI WARIA PADA PRIA TRANSEKSUAL SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana-S1 Bidang Psikologi dan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

PERBEDAAN ANTARA KEPUASAN SEKSUAL PADA SUAMI DI FASE DEWASA AWAL DENGAN DEWASA MADYA DI DESA KEDONDONG KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS

PERBEDAAN ANTARA KEPUASAN SEKSUAL PADA SUAMI DI FASE DEWASA AWAL DENGAN DEWASA MADYA DI DESA KEDONDONG KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS PERBEDAAN ANTARA KEPUASAN SEKSUAL PADA SUAMI DI FASE DEWASA AWAL DENGAN DEWASA MADYA DI DESA KEDONDONG KECAMATAN SOKARAJA KABUPATEN BANYUMAS SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi sebagian persyaratan Dalam mencapai

Lebih terperinci

HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI DUNIA KERJA PADA MAHASISWA SEMESTER AKHIR SKRIPSI. Disusun oleh: DESY ANITASARI

HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI DUNIA KERJA PADA MAHASISWA SEMESTER AKHIR SKRIPSI. Disusun oleh: DESY ANITASARI HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI DUNIA KERJA PADA MAHASISWA SEMESTER AKHIR SKRIPSI Disusun oleh: DESY ANITASARI 08.40.0104 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG

Lebih terperinci

Skripsi. Disusun Oleh: Gracia Asri Wulandari NIM: F

Skripsi. Disusun Oleh: Gracia Asri Wulandari NIM: F digilib.uns.ac.id Analisis Hubungan Konflik Pekerjaan-Keluarga Terhadap Turnover Intentions Dengan Job Satisfaction Sebagai Variabel Intervening pada KAP di Kota Surakarta dan Yogyakarta Skripsi Diajukan

Lebih terperinci

SELF REGULATION DAN PERILAKU MAKAN SEHAT MAHASISWA YANG MENGALAMI DYSPEPSIA UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA SKRIPSI

SELF REGULATION DAN PERILAKU MAKAN SEHAT MAHASISWA YANG MENGALAMI DYSPEPSIA UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA SKRIPSI SELF REGULATION DAN PERILAKU MAKAN SEHAT MAHASISWA YANG MENGALAMI DYSPEPSIA UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sepakat untuk hidup di dalam satu keluarga. Dalam sebuah perkawinan terdapat

BAB I PENDAHULUAN. sepakat untuk hidup di dalam satu keluarga. Dalam sebuah perkawinan terdapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkawinan adalah bersatunya dua orang manusia yang bersama-sama sepakat untuk hidup di dalam satu keluarga. Dalam sebuah perkawinan terdapat keterikatan secara

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN KEMATANGAN EMOSI DENGAN KECEMASAN DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL PADA SISWA KELAS XII SMA NASIONAL PATI SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN KEMATANGAN EMOSI DENGAN KECEMASAN DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL PADA SISWA KELAS XII SMA NASIONAL PATI SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL DAN KEMATANGAN EMOSI DENGAN KECEMASAN DALAM MENGHADAPI UJIAN NASIONAL PADA SISWA KELAS XII SMA NASIONAL PATI SKRIPSI Disusun Oleh: SRI SURYANI 2008-60-020 FAKULTAS PSIKOLOGI

Lebih terperinci

MOTIVASI KERJA KARYAWAN OUTSOURCING DITINJAU DARI PERSEPSI TERHADAP PENGEMBANGAN KARIR

MOTIVASI KERJA KARYAWAN OUTSOURCING DITINJAU DARI PERSEPSI TERHADAP PENGEMBANGAN KARIR MOTIVASI KERJA KARYAWAN OUTSOURCING DITINJAU DARI PERSEPSI TERHADAP PENGEMBANGAN KARIR SKRIPSI Oleh : Ignatius Budiaribawa 05.40.0051 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG 2009

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN KEDISIPLINAN SISWA

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN KEDISIPLINAN SISWA HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN KEDISIPLINAN SISWA SKRIPSI DISUSUN OLEH: RINA SETIYO WATI 2008-60-003 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MURIA KUDUS 2012 i HUBUNGAN ANTARA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sosial yang disebut keluarga. Dalam keluarga yang baru terbentuk inilah

BAB I PENDAHULUAN. sosial yang disebut keluarga. Dalam keluarga yang baru terbentuk inilah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam rumah tangga sudah tentu terdapat suami dan istri. Melalui proses perkawinan, maka seseorang individu membentuk sebuah miniatur dari organisasi sosial

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA MANAJEMEN DIRI DENGAN PRESTASI KERJA KARYAWAN SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA MANAJEMEN DIRI DENGAN PRESTASI KERJA KARYAWAN SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA MANAJEMEN DIRI DENGAN PRESTASI KERJA KARYAWAN SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Diajukan oleh: Tri Puspita Ratih A. F 100 020 125 FAKULTAS PSIKOLOGI

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI PERSALINAN DI KECAMATAN KARANGANYAR - DEMAK S K R I P S I

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI PERSALINAN DI KECAMATAN KARANGANYAR - DEMAK S K R I P S I HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI PERSALINAN DI KECAMATAN KARANGANYAR - DEMAK S K R I P S I Oleh : NUR HALIMAH 2008-60-007 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MURIA

Lebih terperinci

SKRIPSI PROGAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA

SKRIPSI PROGAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA HUBUNGAN ANTARA INTERAKSI SOSIAL DALAM KELOMPOK TEMAN SEBAYA DENGAN KEMAMPUAN SOSIALISASI SISWA KELAS IX SMP NEGERI 2 PABELAN TAHUN PELAJARAN 2014 / 2015 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Syarat Memperoleh

Lebih terperinci