PEDOMAN PELAYANAN LABORATORIUM

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PEDOMAN PELAYANAN LABORATORIUM"

Transkripsi

1 PEDOMAN PELAYANAN LABORATORIUM PUSKESMAS KAUMAN DINAS KESEHATAN KABUPATEN PONOROGO TAHUN 2015

2 KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan berkat dan rahmat-nya sehingga Puskesmas Kauman Kabupaten Ponorogo pada Tahun 2016 ini mendapat kesempatan untuk melaksanakan akreditasi. Akreditasi bagi Puskesmas Kauman Kabupaten Ponorogo sangatlah penting untuk meningkatkan mutu pelayanan dan kepuasan bagi pasien serta masyarakat. Untuk menunjang pelaksanaan akreditasi di Puskesmas Kauman Kabupaten Ponorogo maka diperlukan pedoman pelayanan di Puskesmas Kauman. Harapan kami mudah mudahan pedoman pelayanan ini ndapat member manfaat dan bagi Puskesmas Kauman, sehingga akreditasi di Puskesmas Kauman Kabupaten Ponorogo berjalan lancar dan menjadi Puskesmas yang lebih baik. Kepala Puskesmas Kauman drg. Rahayu Kusdarini, M.Kes. NIP BAB I PENDAHULUAN

3 A. LATAR BELAKANG Puskesmas adalah UPTD Kesehatan Kabupaten / Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja. Puskesmas Kauman adalah salah satu dari Dinas Kesehatan Kabupaten Ponorogo dengan wilayah kerja yang mencakup 11 desa dari 16 desa yang ada di Kecamatan Ponorogo. Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas Kauman adalah Sebagai Penggerak Pembangunan Kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Kauman untuk mewujudkan masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan. Untuk mewujudkan visi tersebut maka Pelayanan Medis di Puskesmas Kauman dilengkapi dengan Laboratorium Klinik yang dilengkapi dengan Alat yang canggih. Guna menunjang keakuratan hasil maka Laboratorium rutin melakukan perawatan alat. Hal ini tentunya akan menjamin hasil pemeriksaan yang akurat dan terpercaya guna menjamin tepatnya diagnosa penyakit. Tidak ketinggalan Laboratorium Puskesmas Kauman melakukan Pemantapan Mutu External (PME) dan Pemantapan Mutu Internal (PMI). Dalam melaksanakan pelayanan Laboratorium di Puskesmas, supaya dapat berjalan dengan baik dan dapat memenuhi kebutuhan pasien maka Puskesmas Kauman menyusun PEDOMAN PELAYANAN LABORATORIUM PUSKESMAS KAUMAN. B. TUJUAN 1. TUJUAN UMUM Terlaksananya pelayanan Laboratorium yang bermutu di Puskesmas Kauman. 2. TUJUAN KHUSUS Sebagai acuan bagi tenaga kesehatan dalam melaksanakan pelayanan berdasarkan hasil Pemeriksaan Laboratorium yang akurat di Puskesmas Kauman. C. SASARAN Pedoman ini disusun untuk digunakan bagi para pihak terkait, yaitu :Tenaga Pelaksana di Puskesmas D. RUANG LINGKUP PELAYANAN Pelayanan poli umum di Puskesmas Kauman secara garis besar meliputi empat kegiatan, yaitu kegiatan yang bersifat promotif, prefentif, kuratif dan rehabilitative. Untuk menunjang hal tersebut maka Pelayanan Laboratorium sangat diperlukan untuk menegakkan diagnosa penyakit. E. BATASAN OPERASIONAL Laboratorium puskesmas kauman beroprasi setiap hari kerja mulai pukul 8 hingga pukul 12.30,untuk hari senin hingga kamis dan untuk hari jumat hingga pukul 10 wib.untuk hari sabtu hingga pukul 12 siang Laboratorium puskesmas kauman dapat mengerjakan pemeriksaan sebagai berikut 1.darah lengkap 2.widal 3.gula darah 3.Asam urat 4.Cholesterol

4 5.Urine lengkap 6.bta sputum 7.skin smer kusta F. LANDASAN HUKUM PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2015 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT ( PUSKESMAS ). BAB II STANDAR KETENAGAAN A. KUALIFIKASI SUMBER DAYA MANUSIA Untuk dapat melaksanakan fungsinya dan menyelenggarakan pelayanan Laboratorium di Puskesmas, dibutuhkan sumber daya manusia yang mencukupi baik jumlah maupun mutunya. Pola ketenagaan minimal harus dimiliki oleh Puskesmas. Adapun tenaga di laboratorium Puskesmas Kauman sebagai berikut : No JENIS TENAGA KUALIFIKASI JUMLAH 1 PENANGGUNG JAWAB D III Analis Kesehatan 1 2 PELAKSANA SMAK 1 JUMLAH 2

5 Untuk pembagian kerja masing masing petugas berdasarkan TUPOKSI yang sesuai kompetensinya. 1. Penanggung jawab Laboratorium di Puskesmas mempunyai tugas: a. Menyusun program kerja untuk menunjang keakuratan hasil dalam hal ini PME, PMI, perawatan alat, Kalibrasi Alat, Pemenuhan reagent, dll b. Memonitor setiap pelaksanaan program kerja. c. Bertanggung jawab terhadap hasil Laboratorium. B. DISTRIBUSI KETENAGAAN Tenaga Medis di Laboratorium bertugas di Ruang Laboratorium dan ditempat pelayanan lain bila ditugaskan oleh Kepala Puskesmas. BAGAN STRUKTUR ORGANISASI PELAYANAN LABORATORIUM KEPALA PUSKESMAS drg. Rahayu Kusdarini, M.Kes PENANGGUNG JAWAB UKP drg. Aulin Raras Artha

6 PENANGGUNG JAWAB PELAYANAN LABORATORIUM Arif Kartiko, A.Md. Laboratorium Poli Lansia PELAKSANA PELAYANAN LABORATORIUM : Elfira Nur Mayasari : Novika Sartika Dewi, S.Kep.NS. UGD/ Rawat Inap : Sutini, A.Md.Kep. Pustu Tegalombo : Widowati, A.Md.Kep. C. JADWAL KEGIATAN D. Dalam rangka penyiapan dan pengembangan ketrampilan tenaga Medis maka Puskesmas menyelenggarakan aktivitas sebagai berikut: a. Setiap tenaga medis dan paramedis mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya. b. Tenaga medis harus memberi masukan pada pimpinannya dalam menyusun program pengembangan staf. c. Staf baru mengikuti orientasi untuk mengetahui tugas,fungsi wewenang dan tanggung jawabnya. d. Melakukan analisa kebutuhan peningkatan ketrampilan dan pengetahuan bagi tenaga medis dan para medis. e. Tenaga medis dan para medis difasilitasi untuk mengikuti program yang di adakan oleh organisasi profesi dan institusi pengembangan pendidikan berkelanjutan. f. Memberikan kesempatan bagi institusi lain untuk melakukan praktik,magang dan penelitian tentang pelayanan kesehatan di puskesmas.

7 BAB III STANDAR FASILITAS Sarana adalah suatu tempat,fasilitas dan peralatan yang langsung terkait dengan Pelayanan klinis. Sedangkan prasarana adalah tempat,fasilitas dan peralatan yang Secara tidak langsung mendukung pelayanan kesehatan. Dalam upaya mendukung Pelayanan klinik puskesmas diperlukan sarana dan prasarana yang memadai. A.DENAH RUANG LABORATORIUM Meja dari bahan cor Kulakas Reagent Kurs i Kurs i Almari Kurs i Meja Penerimaan Pasien Bed pasi en Kursi Meja dari bahan cor Almari Meja Wastafel

8 KETERANGAN : a. Luas ruangan 4 x 6 m² b. Ruangan kering dan tidak lembab c. Memiliki ventilasi yang cukup d. Memiliki cahaya yang cukup e. Lantai terbuat dari keramik f. Dinding dicat warna cerah g. Ruang berac B.STANDAR FASILITAS 1. PERLENGKAPAN a. Meja pemeriksaan b. Kursi Pasien c. Wastafel d. Tempat sampah 3 e. Komputer f. Alat Hematology Analizer g. Fotometer h. Mikroskop i. Centrifuge j. Hematokrit Centrifuge k. Rotator l. Urine Analizer m. Kulkas Reagent n. Strerilisator o. Bed Pasien p. Almari 2. PERALATAN NO JENIS ALAT JUMLAH 1 Setirilisator 1 2 Hematology Analizer 1 3 Meja Pasien 1 4 Fotometer 1 5 Mikroskop 1 6 Centrifuge 1 7 Hematokrit Centrifuge 1 8 Rotator 1 9 Bed Pasien 1 10 Komputer Rak Tabung 3 12 Rak Westergren 2 13 Tabung Westergren Tabung Reaksi Kaki 3 1

9 16 Bak Pengecatan 1 17 Bunsen 2 18 Pipet tetes Klinipet 6 20 Hemositometer 1 set 21 Obyek Glass 5 22 Cover Glass 5 BAB IV TATA LAKSANA PELAYANAN A. LINGKUP KEGIATAN

10 Upaya Pelayanan Kesehatan Umum di Indonesia dilaksanakan baik oleh pemerintah maupun swasta. Upaya pelayanan kesehatan umum yang dilaksanakan oleh pemerintah selama ini mengacu pada pendekatan level of care (kebijakan WHO) yaitu tindakan Promotif, Preventif, Kuratif dan Rehabilitatif yang merumuskan pelayanan kesehatan berjenjang untuk memberikan pelayanan yang menyeluruh dikaitkan dengan sumber daya yang ada. B. METODE ALUR KEGIATAN PEMERIKSAAN PASIEN PENDAFTARAN 1.POLI UMUM 2. POLI GIGI 3.POLI KIA/ KB 4.POLI LANSIA 5.UGD 6.RAWAT INAP PEMERIKSAAN LABORATORIUM PEMBAYARAN/ KASIR KEMBALI KE POLI PENGIRIM PENGAMBILAN HASIL LAB Keterangan : 1. Pasien datang dari pendaftaran ( loket ) diterima oleh petugas poli (Poli Gigi, Poli Lansia, Poli Umum, Poli KIA, Rawat Inap, IGD ) 2. Petugas poli mengirim pasien beserta blangko rujukan Laboratorium 3. Petugas Laboratorium Mengerjakan Pemeriksaan Lab sesuai Blangko Rujukan Laboratorium. 4. Pasien membayar biaya pemeriksaan Lab ke Kasir. 5. Pasien datang lagi ke Lab untuk mengambil hasil Lab dengan menunjukkan kwitansi pembayaran. 6. Pasien kembali lagi ke Poli Pengirim untuk mendapatkan tindakan selanjutnya. C. LANGKAH KEGIATAN 1) KEMAMPUAN PELAYANAN Kemampuan pelayanan Laboratorium Puskesmas Kauman melakukan pemeriksaan meliputi : a. Sampling darah.

11 b. Pemeriksaan Darah Lengkap meliputi Hemoglobin, Leukosit, Trombosit, Erytrosit, Hematokrit; c. Waktu Pembekuan; d. Waktu Perdarahan; e. Pemeriksaan Urine Lengkap; f. Pemeriksaan Kehamilan; g. Pemeriksaan Faeces Lengkap; h. Pemeriksaan BTA Kusta; i. Pemeriksaan HIV; j. Pemeriksaan Widal; k. Pemeriksaan Malaria; l. Pemeriksaan HBsAg; m. Pemeriksaan Sputum BTA; n. Pemeriksaan Kimia Klinik ( Gula Darah, Cholesterol, Trigliserida, Asam Urat); o. Pemeriksaan Golongan Darah; Laboratorium Puskesmas diselenggarakan berdasarkan kondisi dan permasalahan kesehatan masyarakat setempat dengan tetap berprinsip pada pelayanan secara holistic, komprehensif, dan terpadu dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya. Setiap Laboratorium Puskesmas harus diselenggarakan secara baik dengan memenuhi criteria ketenagaan, sarana, prasarana, perlengkapan dan peralatan, kegiatan pemeriksaan, kesehatan dan keselamatan kerja, dan mutu. ( Peratutan Menteri Kesehatan RI Nomor 37 Tahun 2012) Laboratorium mempunyai peran sebagai penunjang dalam menegakkan diagnose yang ingin ditegakkan oleh dokter dalam merawat pasiennya. Selain itu, laboratorium mempunyai peran seperti uji penyaringsecara laboratories sehat tidaknya seseorang misalnya medical chek up. Juga berperan sebagai follow up atau pemantauhasil pengobatan. Serta prognosis suatu penyakit. Sehubungan dengan hal tersebut, pemeriksaan laboratorium hendaknya dilakukan sesuai dengan standart pelayanan laboratorium sehingga menghasilkan pemeriksaan yang akurat..( Workshop Plebotomi Bagi Petugas Lab di Puskesmas, Dinkes Propinsi Tahun 2009) Untuk melakukan pemeriksaan laboratorium diperlukan reagent, standart, bahan control, air, media. Dasar pemilihan bahan laboratorium pada umumnya harus mempertimbangkan kebutuhan, produksi pabrik yang telah dikenal, deskripsi lengkap dari bahan atau produk, mempunyai masa kadaluarsa yang panjang, volume, mudah diperoleh di pasaran, kelancaran dan kesinambungan pengadaan, pelayanan purna jual. ( Pedoman Praktek Laboratorium Yang Benar, Depkes RI Tahun 2004) Untuk mendapatkan sampel darah pasien dilakukan dengan cara pengambilan darah vena dan kapiler. Lokasi vena yang digunakan untuk tempat penusukan adalh 3 vena utama di lengan yaitu vena cevalika, vena mediana cubiti, dan vena mediana basilica. Pada umumnya vena mediana cubiti merupakan pilihan karena terfiksasi baik dan tidak bergerak saat ditusuk. Sebelum melakukan pemeriksaan petugas harus menggunakan APD. APD bertujuan untuk melindungi kulit dan selaput lendir petugas dari resiko pejanan darah, semua jenis cairan, kulit yang tidak utuh. APD ada beberapa jenis yaitu sarung tangan, masker, kacamata, penutup kepala, jas laboratorium, sepatu pelindung. Tidak semua

12 alat pelindung diri dipakai tergantung tindakan dan kegiatan yang dikerjakan. Pada plebotomi cukup menggunakan sarung tangan jas laboratorium. Limbah plebotomi dipilah-pilah ketempat sampah medis (kapas bekas pakai dan jarum suntik) dan nonmedis pembungkus jarum suntik. Tempat sampah harus diberi kantong plastic tertutup, dibedakan sampah infeksius dan non infeksius. Sampah pada kantong diberi label lalu dibakar..( Workshop Plebotomi Bagi Petugas Lab di Puskesmas, Dinkes Propinsi Tahun 2009) Bahwa sebagai upaya pemerintah untuk mencegah dan menanggulangi pencemaran lingkungan adalh dengan meningkatnya penataan terhadap ketentuanketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. Dalam rangka penataan terhadap peraturan perundang-undangan tersebut dapat dilakukan dengan upaya kemitraan dengan badan usaha penghasil limbah bahan berbahaya dan beracun. Limbah adalah bahan sisa suatu kegiatan dan atau proses produksi. Limbah bahan berbahaya dan beracun disingkat B3 adalah setiap limbah yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak dan atau mencemarkan lingkungan hidup dan atau membahayakan keselamatan manusia. Pengelolaan limbah B3 adalah rangkaian kegiatan yang mencakup penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan limbah B3 termasuk penimbunan hasil pengolahan tersebut.( Keputusan Kepala Bapedal No 03 Tahun 1998) Kegiatan laboratorium kesehatan mempunyai resiko baik yang berasal dari factor fisik, biologi, kimia, ergonomic, dan psikososial dengan akibat dapat mengganggu kesehatan dan keselamatan petugas laboratorium serta lingkungannya. Untuk itu perlu dilakukan manajemen K3 yang meliputi identifikasi, perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, melaksanakan upaya perbaikan. ( Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja Laboratorium Kesehatan, Depkes RI Tahun 2003) Pemantapan mutu laboratorium kesehatan adalah semua kegiatan yang ditujukan untuk menjamin ketelitian dan ketepatan hasil pemeriksaan laboratorium. Pemantapan mutu ada 2 macam yaitu Pemantapan Mutu Internal dan Pemantapan Mutu Ekternal. Pemantapan Mutu Internal meliputi persiapan pasien, pengambilan dan pengolahan spesimen, kalibrasi alat.pemantapan Mutu Eksternal adalah kegiatan yang diselenggarakan secara periodic oleh pihak lain diluar laboratorium yang bersangkutan untuk memantau dan menilai penampilan suatu laboratorium dalam bidang pemeriksaan tertentu. ( Pedoman Laboratorium Yang Benar, Depkes RI Tahun Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan di Puskesmas Kauman meliputi: a. Darah lengkap Pemeriksaan ini meliputi pemeriksaan hemoglobin, leukosit, trombosit, erytrosit, hematokrit, hitung jenis. Ada beberapa cara pemeriksaan darah lengkap yaitu cara manual dan cara menggunakan alat auto analyzer. Alat ini menggunakan sampel darah segar dengan langkah-langkah sebagai berikut. Langkah pertama menekan tombol WB dilanjutkan dengan menekan tombol sampel ID. Kemudian

13 menekan tombol enter memasang tempat sampel, menhomogenkan sampel kemudian sampel ditaruh di tempat sampel, tutup tempat sampel lalu tekan tombol RUN ( Buku Manual alat poch-100i Sysmex) b. Waktu Pembekuan Dengan test ini ditentukan lamanya waktu yang diperlukan darah untuk membeku, hasilnya menjadi ukuran aktifitas fakto-faktor koagulasi darah, terutama factor-faktor yang membentuk tromboplastin dan factor yang berasal dari trombosit. Selain itu kadar fibrinogen berpengaruh juga. Ujung jari dibersihkan dengan alcohol 70% kemudian ditusuk dengan lancet. Stopwatch mulai dijalankan saat darah mulai keluar. Setelah itu darah yang keluar dihisap dengan tabung mikrokapiler lalu setiap 30 detik tabung dipatahkan sampai terlihat adanya benang fibrin.( Petunjuk Praktikum Laboratorium, Gandhasoebrata Tahun 1984) c. Waktu Perdarahan Pemeriksaan ini untuk menilai factor-faktor hemostasis yang letaknya ekstravaskuler, tetapi keadaan dinding kapiler dan jumlah trombosit juga berpengaruh. Anak daun telinga yang akan ditusuk dibersihkan dengan kapas alcohol 70% dan biarkan kering. Pinggir anak daun telinga ditusuk dengan lancet. Jika terlihat darah mulai keluar maka stopwatch mulai dijalankan. Darah dihisap dengan tissue setiap 30 detik dan hentikan stopwatch pada waktu darah tidak keluar lagi..( Petunjuk Praktikum Laboratorium, Gandhasoebrata Tahun 1984) d. Pemeriksaan urin Jenis urine yang diperlukan ada 2 yaitu urin sewaktu dan urin pagi. Urine sewaktu adalah urin yang dikeluarkan pada waktu yang tidak ditentukan sedangkan urin pagi adalah urin yang dikeluarkan pertama-tama pada pagi hari setelah bangun tidur. Pemeriksaan urin dapat digunakan untuk pemeriksaan test kehamilan dan pemeriksaan urin rutin. Tempat urin harus bermulut lebar tertutup, bersih, kering, dan diberi label.volume urin yang ditampung kurang lebih 20 ml. Pemeriksaan urin meliputi makroskopis dan mikroskopis. Pemeriksaan makroskopis meliputi warna, kejernihan, berat jenis, bilirubin, reduksi, protein, keton, urobilinogen. Sedangkan pemeriksaan mikroskopis berupa pemeriksaan sediment urine dimana pemeriksaan ini dilakukan dengan melakukan centrifuge terhadap urin kemudian sediment diperiksa di bawah mikroskop.( Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas, Departemen Kesehatan RI Tahun 1991) e. Pemeriksaan faeces Pemeriksaan faeces ini bertujuan untuk mengetahui adanya cacing, telur cacing, parasit, dan lain-lain. Faeces untuk pemeriksaan sebaiknya berasal dari defekasi spontan. Untuk pemeriksaanbiasa dipakai faeces sewaktu, jarang diperlukan faeces 24 jam untuk pemeriksaa. Wadah harus bermulut lebar bersih dan tidak

14 mudah pecah. Jika memeriksa faeces pilihlah bagian yang kemungkinan besar menemui adanya kelainan, umpamanya bagian yang bercampur dengan lender ataupun darah. Pemeriksaan faeces meliputi pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis. Makroskopis meliputi warna, bau, konsistensi, lender, darah. Sedangkan pemeriksaan mikroskopis menggunakan larutan PZ lalu diamati di bawah mikroskop.( Petunjuk Praktikum Laboratorium, Gandhasoebrata Tahun 1984) f. Pemeriksaan BTA Kusta Penyakit kusta merupakan penyakit menular menahun yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Leprae yang terutama menyerang syaraf tepi, kulit dan organ tubuh lain kecuali susunan syaraf pusat. Kusta mempunyai masa inkubasi 2-5 tahun, akan tetapi dapat juga bertahun-tahun. Secara teoritis penularan ini dapat terjadi dengan cara kontak yang erat dan lam dengan penderita.( Modul Pelatihan Program P2 Kusta, Subdirektorat Kusta dan Frambusia) Cara pengambilan sediaan yaitu bagian yang akan diambil dibersihkan dengan kapas alcohol 70%. Bagian tersebut dijepit dengan dua jari lalu disayat sepanjang 0,5 cm dan sedalam 2 mm. Lalu cairan yang keluar dibuat apusan lalu dicat dengan cat Ziehl Nielsen. Setelah kering diamati di bawah mikroskop. ( Modul Pelatihan Skean Smear UPT RS. Kusta Kediri). g. Pemeriksaan HIV Penyakit HIV di Indonesia semakin lam jumlah penderitanya semakin meningkat. Untuk itu perlu dilakukan penjaringan di tingkat Puskesmas seperti para penderita TB dan ibu hamil. Adapun pemeriksaan HIV menggunakan sampel serum dengan cara diteteskan pada rapid test sebanyak 10 ul. Kemudian ditambah 4 tetes reagent lalu ditunggu menit untuk membaca hasilnya ( Lembar prosedur pada box kemasan reagent) h. Pemeriksaan BTA Paru Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis. Sebagian TBC menyerang paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh yang lain. Cara penularan TBC adalah melalui percikan atau droplet. Cara pemeriksaan BTA ini adalah dengan membuat hapusan dahak dengan ukuran 2x3 cm. Kemudian hapusan ini dicat dengan reagent Ziehl Nielsen lalu diamati di bawah mikroskop. ( Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Depkes RI Tahun 2005) i. Widal Pemeriksaan widal adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi adanya penyakit typus. Pemeriksaan ini dilakukan jika pasien sudah mengalami panas 3-4 hari. Sampel dari pemeriksaan ini adalah serum atau plasma. Serum diteteskan sebanyak 4 tetes di tempat terpisah di atas kaca obyek. Kepada masing-masing tetesan serum ditambah reagent typho O, typhi H, paratyphi A, paratyphi B. Dilakukan pencampuran lalu digoyangkan dan diamati adanya

15 aglutinasi di bawah mikroskop.( Petunjuk Praktikum Laboratorium, Gandhasoebrata Tahun 1984) j. Pemeriksaan kimia klinik( Gula Darah, Asam Urat, Cholesterol) Pemeriksaan kimia klinik dilakukan dengan alat stik dengan menggunakan darah segar. Darah diteteskan pada stik yang telah disiapkan pada alat. Setelah itu ditunggu beberapa menit kemudian hasil akan muncul pada layar alat. k. Malaria Pemeriksaan malaria adalah pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi adanya parasit penyebab malaria dalam sediaan darah tepi. Parasit malaria ada 4 macam yaitu plasmodium falciparum, plasmodium malariae, plasmodium vivax, plasmodium ovale. Lokasi pengambilan darah pada orang dewasa adalah pada ujung jari tengah atau ujung jari manis, seangkan pada orang dewasa dan anak kecil adalah pada bagian tumit atau ibu jari kaki. Setelah dilakukan penusukan maka darah diteteskan pada kaca obyek setelah itu dibuat hapusan.. Kemudian setelah kering dilakukan pengecatan dengan pewarna wright giemsa. Setelah kering diamati di bawah mikroskop. ( Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas, Depkes RI Tahun 1991) l. Golongan Darah Penetapan golongan darah adalah menentukan jenis aglutinogen yang ada dalam sel, disamping itu juga dikenal jenis agglutinin yang ada dalam serum. Darah diteteskan sebanyak 4 tetes pada kaca obyek di tempat yang berbeda. Kemudian ke masing-masing tetesan darah ditetesi dengan antisera a, B, AB, dan Anti D. Selanjutnya dicampur dan digoyang dan diamati adanya aglutinas. ( Petunjuk Praktikum Laboratorium, Gandhasoebrata Tahun 1984) Hasil pemeriksaan laboratorium kritis harus disampaikan segera kepada tenaga kesehatan yang meminta dalam batas waktu paling lambat satu jam setelah hasil diperoleh dengan acuan sebagai berikut: a. Untuk pemeriksaan Hematologi nilai kritis: NAMA TEST KURANG DARI LEBIH DARI *KIMIA KLINIK* 1. Gula Darah Sewaktu < 45 mg/dl >500 mg/dl 2. Asam urat < 3 mg/dl >20 mg/dl 3. Cholesterol <100 mg/dl >400 mg/dl *HEMATOLOGI* 4. Hemoglobin < 7,0 g/dl < 20 g/dl 5. Leukosit < 500 /ul < /ul 6. Trombosit Dewasa < /ul < /ul 7. Trombosit Anak < /ul < /ul

16 8. Erytrosit 9. Hematokrit < 20 VOL% < 60 VOL% Lama nya pemeriksaan laboratorium telah di tentukan denga cara perhitungan per pasien dan rapat kolaborasi dengan tiap poli. Jenis Pemeriksaan Waktu Penyampaian Hasil Keterangan DL (darah lengkap) 30 menit -Waktu yang BTA sputum Cholesterol Trigliserida Asam urat Urine lengkap Widal Golongan darah Hemoglobin Gula darah HIV HbsAg 2 jam 10 menit 30 menit 10 menit 30 menit 30 menit 10 menit 10 menit 10 menit 1 jam 30 menit dicantumkan sudah siap untuk kerja(sampel sudah tersedia) -Rata-rata waktu pemeriksaan setiap pasien ± 1 jam -Khusus untuk pemeriksaan Cyto waktu pemeriksaannya adalah maksimal 30 menit Malaria Skin Smear Kusta Test kehamilan 1 jam 2 jam 10 menit Saat memberikan hasil pemeriksaan ke pada pasien harus di sertai dengan nilai normal pemeriksaan. NO Nama Pemeriksaan Nilai normal DL (darah lengkap) -Hemoglobin -leukosit -trombosit gr% /ul darah /ul darah

17 -erytrosit 4 5,5 juta/ul darah -hematokrit Cholesterol Trigliserida Asam urat Gula darah -gula darah puasa -gula darah 2jpp < 200 mg/dl <150 mg/dl 4 7 mg/dl < 150 mg/dl <110 mg/dl <125 mg/dl widal Negative (-) HbsAg Negatife (-) HIV Non reaktif Nilai normal tersebut di dapat dari startkit tiap reagen dan juga dari rapat kolaborasi tiap poli. 2) RUJUKAN Jika Laboratorium tidak dapat melaksanakan Pemeriksaan Karena suatu hal ( Alat Rusak, Listrik Mati, dll) maka darah akan dikirim ke Laboratorium Lain. 3) PENCATATAN DAN PELAPORAN 1. PENCATATAN Pencatatan selain untuk pemantauan data juga untuk evaluasi. Macam-macam pencatatan antara lain : a. Buku Kwitansi Pembayaran. b. Buku Hasil Pemeriksaan Laboratorium. c. Lembar Copy hasil pemeriksaan. d. Blangko Pemeriksaan Laboratorium. e. Buku bukti Pengambilan Hasil f. Buku Stok Reagent. 2. PELAPORAN Pelaporan yang harus disampaikan secara berkala ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota berupa laporan bulanan yang merupakan hasil rekapitulasi pencatan harian. Laporan triwulan, semesteran dan tahunan sesuai ketentuan yang berlaku Pelaporan ditentukan oleh program. untuk penyakit tertentu menggunakan formulir baku yang sudah

18 BAB V LOGISTIK Kebutuhan logistik untuk pelaksanaan pelayanan Laboratorium Puskesmas kauman direncanakan dalam POA, permintaan obat dan bahan habis pakai dan lokmin bulanan. Pengadaan logistik berasal dari Dinas Kesehatan Kabupaten. Untuk yang pengadaan yang lewat DKK, Puskesmas setiap tahun membuat pengajuan logistik yang dibutuhkan. Kemudian Puskesmas tinggal menunggu logistik datang dari DKK. Daftar logistik Laboratorium di Puskesmas kauman No NAMA 1. Stik Gula 2 Stik Asam Urat 3 Stik Cholesterol 4 Reagent Cholesterol 5 Reagent Alat Hematology Analizer 6 Reagent Golongan Darah 7 Reagent Widal 8 Reagent ZN 9 Rapid Test HIV 10 Rapid Test HBsAg 11 Blood Lancet 12 Spuit Injeksi 13 Kartu Golongan Darah 14 Objek Glass 15 Cover Glass

19 BAB VI KESELAMATAN PASIEN Tujuan dari ditetapkannya sasaran keselamatan pasien adalah untuk mendorong perbaikan spesifik dalam keselamatan pasien. Sasaran menyoroti bagian-bagian yang bermasalah dalam pelayanan kesehatan dan menjelaskan bukti serta solusi dari konsensus berbasis bukti dan keahlian atas permasalahan ini. Untuk meningkatkan keselamatan pasien perlu dilakukan pengukuran terhadap sasaransasaran keselamatan pasien. Indikator pengukuran sasaran keselamatan pasien seperti pada tabel berikut ini: NO INDIKATOR SASARAN KESELAMATAN PASIEN TARGET 1. Tidak terjadinya kesalahan identifikasi pasien 100% 2. Peningkatan komunikasi efektif 100% 3. Tidak terjadinya kesalahan pemberian obat kepada pasien 100% 4. Tidak terjadinya kesalahan prosedur tindakan medis dan keperawatan 100% 5. Pengurangan terjadinya risiko infeksi di Puskesmas 75% 6. Tidak terjadinya pasien jatuh 100% 1. Tidak terjadinya kesalahan identifikasi pasien Identifikasi pasien yang tepat meliputi tiga detail wajib, yaitu: nama, umur, nomor rekam medis pasien. Kegiatan identifikasi pasien dilakukan pada saat pemberian obat, pengambilan spesimen atau pemberian tindakan 2. Peningkatan komunikasi efektif Komunikasi efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, jelas, dan yang dipahami oleh resipien/penerima akan mengurangi kesalahan, dan menghasilkan peningkatan

20 keselamatan pasien. Komunikasi dapat secara elektronik, lisan, atau tertulis. Komunikasi yang paling mudah mengalami kesalahan adalah perintah diberikan secara lisan dan yang diberikan melalui telpon. Komunikasi lain yang mudah terjadi kesalahan adalah pelaporan kembali hasil pemeriksaan klinis, seperti laboratorium klinis menelpon unit pelayanan untuk melaporkan hasil pemeriksaan segera/ cito. 3. Tidak terjadinya kesalahan pemberian obat kepada pasien Ketepatan pemberian obat kepada pasien dimaksudkan agar tidak terjadi kesalahan identifikasi pada saat memberikan obat kepada pasien. Pengukuran indikator dilakukan dengan cara menghitung jumlah pasien yang dilayani oleh bagian farmasi dikurangi kejadian kesalahan pemberian obat dibagi jumlah seluruh pasien yang mendapat pelayanan obat. 4. Tidak terjadi kesalahan prosedur tindakan medis dan keperawatan Dalam melaksanakan tindakan medis dan keperawatan, petugas harus selalu melaksanakannya sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Identifikasi pasien yang akan mendapatkan tindakan medis dan keperawatan perlu dilakukan sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pemberian prosedur. 5. Pengurangan terjadinya risiko infeksi di puskesmas Agar tidak terjadi risiko infeksi, maka semua petugas Puskesmas Kauman wajib menjaga kebersihan tangan dengan cara mencuci tangan 7 langkah dengan menggunakan sabun dan air mengalir. Tujuh langkah cuci tangan pakai sabun (CTPS) harus dilaksanakan pada lima keadaan, yaitu: a. Sebelum kontak dengan pasien b. Setelah kontak dengan pasien c. Sebelum tindakan aseptik d. Setelah kontak dengan cairan tubuh pasien e. Setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien. 6. Tidak terjadinya pasien jatuh Setiap pasien yang dirawat di Puskesmas Kauman dilakukan pengkajian terhadap kemungkinan risiko jatuh untuk meminimalkan risiko jatuh. Pencegahan terjadinya pasien jatuh dilakukan dengan cara: a. Memberikan identifikasi jatuh pada setiap pasien dengan pada setiap pasien yang beresiko jatuh dengan memberi tanda pada pintu ruang rawat inap. b. Memberikan intervensi kepada pasien yang beresiko serta memberikan lingkungan yang aman.

21 BAB VII KESELAMATAN KERJA Untuk keamanan dan kenyamanan bagi petugas paramedic dan petugas medis dalam memberikan pelayanan kesehatan, terutama untuk mencegah tertularnya penyakit dimana di puskesmas banyak kasus kasus penyakit menular misal; TBC,Kusta,hepatitis, HIV AIDS dan penyakit yang disebabkan virus lainya. maka petugas dalam melaksanakan pelayanan diwajibkan memperhatikaan keamanan diri dengan pemakaian Alat Perlindungan Diri (APD) yaitu menggunakan masker,sarung tangan, jas kerja laboratorium, kacamata pelindung. Dan selalu melakukan cuci tangan sebelum dan setelah melaksanakan kegiatan atau pelayanan. PEMAKAIAN ALAT PERLINDUNGAN DIRI (APD) Pemeriksaa n Tindakan Perlukaan SCalling Tindakan tanpa perlukaan Sanitasi tangan Ya Ya ya ya Sarung tangan Ya Ya ya ya Jas Laboratorium Ya Ya Ya ya Masker Ya Ya ya ya Kaca mata pelindung tidak Penilaian resiko ya tidak Sterilisasi Alat: Mencuci alat dengan sabun yg mengandung anti septic Penyemprotan/ oles alcohol pada alat yg akan digunak

22 Sterilisator listrik setiap selesai pelayanan, dan alat2 dari stainless/ metal yg sudah di sterilisasi dibiarkan di dalam sterilisator sampai besoknya, sehingga pemakaian alat alat sudah siap dipergunakan esoknya. BAB VIII PENGENDALIAN MUTU Dalam perencanaan sampai dengan pelaksanaan kegiatan di Laboratorium perlu diperhatikan keselamatan pasien dengan melakukan identifikasi resiko terhadap segala kemungkinan yang dapat terjadi pada saat pelaksanaan kegiatan. Upaya pencegahan resiko terhadap pasien harus dilakukan untuk tiap-tiap kegiatan yang akan dilaksanakan. Pengendalian mutu pelayanan klinis merupakan kegiatan untuk mencegah terjadinya masalah terkait pelayanan pengobatan atau mencegah terjadinya kesalahan pengobatan / medikasi (medication error), yang bertujuan untuk keselamatan pasien. Unsur-unsur yang mempengaruhi mutu pelayanan sebagai berikut: a. Unsur masukan (input), yaitu sumber daya manusia, sarana dan prasarana, ketersediaan dana, dan Standar Operasional Prosedur. b. Unsur proses, yaitu tindakan yang dilakukan, komunikasi, dan kerja sama. c. Unsur lingkungan, yaitu kebijakan, organisasi, manajemen, budaya, respon dan tingkat pendidikan masyarakat. Pengendalian mutu pelayanan klinis terintegrasi dengan program pengendalian mutu pelayanan klinis Puskesmas yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Kegiatan pengendalian mutu pelayanan klinis meliputi: a. Perencanaan, yaitu menyusun rencana kerja dan cara monitoring dan evaluasi untuk peningkatan mutu standar. b. Pelaksanaan, yaitu: 1. Monitoring dan evaluasi capaian pelaksanaan rencana kerja(membandingkan antara capaian dengan rencana kerja) 2. Memberikan umpan balik terhadap hasil capaian. c. Tindakan hasil monitoring dan evaluasi yaitu: 1. Melakukan perbaikan kualitas pelayanan standar 2. Meningkatkan kualitas pelayanan jika capaian sudah memuaskan. Monitoring merupakan kegiatan pemantauan selama proses berlangsung untuk memastikan bahwa aktifitas berlangsung sesuai dengan yang direncanakan. Monitoring dapat dilakukan oleh tenaga medis dan paramedis yang melakukan proses. Aktifitas monitoring perlu direncanakan untuk mengoptimalkan hasil pemantauan. Contoh ; monitoring pelayanan pasien, monitoring kinerja tenaga kesehatan Sedangkan untuk menilai hasil atau capaian pelaksanaan pelayanan klinis, dilakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan terhadap data yang dikumpulkan yang diperleh melalui metode berdasarkan waktu, cara dan teknik pengambilan data.

23 Berdasarkan waktu pengambilan data, terdiri atas: a. Retrospektif Pengambilan data dilakukan setelah pelayanan dilaksanakan. Contoh : survey kepuasan pelanggan, laporan mutasi barang. b. Prospektif Pengambilan data dijalankan bersamaan dengan pelaksanaan pelayanan. Contoh : waktu pelayanan kesehatan di Puskesmas, sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan cara pengambilan data, terdiri atas: a. Langsung (data primer); Data diperoleh secara langsung dari sumber informasi oleh pengambil data. Contoh: survey kepuasan pelanggan terhadap kualitas pelayanan kilnis b. Tidak langsung (data sekunder); Data diperoleh dari sumber informasi yang tidak langsung Contoh: catatan riwayat penyakit yang lalu Cara pengambilan data : a. Survei Survei yaitu pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner. Contoh : survey kepuasan pelanggan. b. Observasi Observasi yaitu pengamatan langsung aktifitas atau proses dengan menggunakan ceklist atau perekaman. Pelaksanaan evaluasi terdiri atas : a. Audit Audit merupakan usaha untuk menyempurnakan kualitas pelayanan dengan pengukuran kinerja bagi yang memberikan pelayanan dengan menentukan kinerja yang berkaitan dengan standar yang dikehendaki dan dengan menyempurnakan kinerja tersebut. Oleh karena itu, audit merupakan alat untuk menilai, mengevaluasi, menyempurnakan pelayanan klinis secara sistematis. Terdapat 2 macam audit, yaitu: 1. Audit Klinis Audit Klinis yaitu analisis kritis sistematis terhadap pelayanan klinis, meliputi prosedur yang digunakan untuk pelayanan, penggunaan sumber daya, hasil yang didapat dan kualitas hidup pasien. Audit klinis dikaitkan dengan pengobatan berbasis bukti. 2. Audit Profesional Audit Profesional yaitu analisis kritis pelayanan klinis oleh seluruh tenaga medis dan paramedis terkait dengan pencapaian sasaran yang disepakati, penggunaan sumber daya dan hasil yang diperoleh. Contoh : audit pelaksanaan system manajemen mutu b. Review (pengkajian) Review (pengkajian) yaitu tinjauan atau kajian terhadap pelaksanaan pelayanan klinis tanpa dibandingkan dengan standar. Contoh : kajian penggunaan antibiotika. BAB IX PENUTUP Pedoman Pelayanan Laboratorium Puskesmas Kauman ini digunakan sebagai acuan pelaksanaan pelayanan Laboratorium di Puskesmas Kauman. Untuk keberhasilan pelaksanaan Pedoman Pelayanan Laboratorium Puskesmas Kauman diperlukan komitmen dan kerja sama semua pihak.

24 Hal tersebut akan menjadikan Pelayanan Laboratorium di Puskesmas Kauman semakin optimal dan dapat dirasakan manfaatnya oleh pasien dan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA 1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 37 Tahun Peraturan Pemerintah No 85 Tahun Keputusan Kepala Bapedal No 03 Tahun Pedoman Praktek Laboratorium Yang Benar, Depkes RI Tahun Pedoman Kesehatan dan Keselamatan Kerja Laboratorium Kesehatan, Depkes RI Tahun Buku Workshop Plebotomi Bagi Petugas Laboratorium di Puskesmas, Dinkes Propinsi Tahun Buku Manual Alat poch-100i SYSMEX 8. Petunjuk Praktikum Laboratorium, Gandhasoebrata Tahun Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas, Depkes RI Tahun Modul Pelatihan Program P2 Kusta, Subdirektorat Kusta dan Frambusia 11. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis, Depkes RI Tahun 2005

25

DINAS KESEHATAN KABUPATEN LEBONG PUSKESMAS MUARA AMAN. Jalan Lapangan Hatta No. 1 Kelurahan Pasar Muara aman

DINAS KESEHATAN KABUPATEN LEBONG PUSKESMAS MUARA AMAN. Jalan Lapangan Hatta No. 1 Kelurahan Pasar Muara aman DINAS KESEHATAN KABUPATEN LEBONG PUSKESMAS MUARA AMAN Jalan Lapangan Hatta No. 1 Kelurahan Pasar Muara aman SURAT KEPUTUSAN KEPALA PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT MUARA AMAN Nomor : TENTANG PERMINTAAN, PEMERIKSAAN,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KUBU RAYA DINAS KESEHATAN PUSKESMAS SUNGAI KAKAP

PEMERINTAH KABUPATEN KUBU RAYA DINAS KESEHATAN PUSKESMAS SUNGAI KAKAP PEMERINTAH KABUPATEN KUBU RAYA DINAS KESEHATAN PUSKESMAS SUNGAI KAKAP Jalan Raya Sungai Kakap Telp. (0561) 743574 Kecamatan Sungai Kakap Kode Pos 78381 KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS SUNGAI KAKAP Nomor : 445/

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN JENIS JENIS PEMERIKSAAN

PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN JENIS JENIS PEMERIKSAAN PUSKESMAS PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN JENIS JENIS PEMERIKSAAN Pemeriksaan penunjang Laboratorium untuk menentukan penyakit. 3.kebijakan Pemeriksaan Lab. Dilakukan untuk menegakkan diagnosa pasien Laboran

Lebih terperinci

PERMINTAAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM, PENERIMAAN, PENGAMBILAN DAN PENYIMPANAN SPESIMEN No. Dokumen : C/VIII/SOP/I/16/002 No.

PERMINTAAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM, PENERIMAAN, PENGAMBILAN DAN PENYIMPANAN SPESIMEN No. Dokumen : C/VIII/SOP/I/16/002 No. UPTD PUSKESMAS BELOPA PERMINTAAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM, PENERIMAAN, PENGAMBILAN DAN PENYIMPANAN SPESIMEN No. Dokumen : C/VIII/SOP/I/16/002 No. Revisi : 00 SOP Tanggal terbit : 02 Januari 2016 Halaman

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN HEMATOLOGY ( SECARA OTOMATIS )

PEMERIKSAAN HEMATOLOGY ( SECARA OTOMATIS ) PEMERIKSAAN HEMATOLOGY ( SECARA OTOMATIS ) SOP No. Dokumen :SOP/UKP-LAB/054-03O/VII/2016 No. Revisi :0/0 TanggalTerbit :18 Juli 2016 Halaman :1/1 UPTD PUSKESMAS DTP PONED KLARI dr. DINI NURDIANTI P. M.

Lebih terperinci

Lampiran 1. Universitas Sumatera Utara

Lampiran 1. Universitas Sumatera Utara Lampiran 1 110 Lampiran 2 111 112 Lampiran 3 KUESIONER PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI KINERJA PETUGAS TB (TUBERCULOSIS) DI RUMAH SAKIT YANG TELAH DILATIH PROGRAM HDL (HOSPITAL DOTS LINGKAGE)

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK MALARIA

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK MALARIA PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK MALARIA UPT. PUSKESMAS NUSA PENIDA I SOP No. Dokumen : 21/SOP/Lab-NPI/2016 No. Revisi : 01 Tgl. Terbit : 01 April 2016 Halaman : 1-4 Kepala UPT Puskesmas Nusa Penida I dr. I Ketut

Lebih terperinci

Lampiran Surat Keputusan Direktur RS Mutiara Hati Mojokerto

Lampiran Surat Keputusan Direktur RS Mutiara Hati Mojokerto Lampiran Surat Keputusan Direktur RS Mutiara Hati Mojokerto 1 Nomor : 050/SK/DIR/VI/2016 Tanggal : 10 Juni 2016 Perihal : Kebijakan Pelayanan Laboratorium di Rumah Sakit Mutiara Hati Mojokerto. KEBIJAKAN

Lebih terperinci

GOOD LABORATORY PRACTICE (PRAKTEK LABORATORIUM YANG BENAR) Hasil pemeriksaan laboratorium digunakan untuk :

GOOD LABORATORY PRACTICE (PRAKTEK LABORATORIUM YANG BENAR) Hasil pemeriksaan laboratorium digunakan untuk : GOOD LABORATORY PRACTICE (PRAKTEK LABORATORIUM YANG BENAR) Pelayanan laboratorium merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang diperlukan untuk menunjang upaya peningkatan kesehatan, pencegahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit Kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat komplek. Penyebab penyakit kusta yaitu Mycobacterium Leprae. Masalah yang dimaksud

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium Puskesmas Kemangkon Kabupaten

BAB III METODE PENELITIAN. Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium Puskesmas Kemangkon Kabupaten BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis Penelitian adalah penelitian deskriptif. B. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian dilakukan di Laboratorium Puskesmas Kemangkon Kabupaten Purbalingga.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian dilaksanakan di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Wilayah

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian dilaksanakan di Balai Kesehatan Paru Masyarakat Wilayah BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif. B. Tempat dan Waktu Penelitan 1. Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Balai Kesehatan Paru Masyarakat

Lebih terperinci

Pasal 6 Peraturan Menteri Kesehatan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Pasal 6 Peraturan Menteri Kesehatan ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 364/MENKES/SK/III/2003 tentang Laboratorium Kesehatan; 3. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1647/MENKES/SK/XII/2005 tentang Pedoman Jejaring Pelayanan Laboratorium Kesehatan; 4. Peraturan Menteri Kesehatan

Lebih terperinci

PANDUAN MANAJEMEN RESIKO PUSKESMAS CADASARI PEMERINTAH KABUPATEN PANDEGLANG DINAS KESEHATAN UPT PUSKESMAS CADASARI

PANDUAN MANAJEMEN RESIKO PUSKESMAS CADASARI PEMERINTAH KABUPATEN PANDEGLANG DINAS KESEHATAN UPT PUSKESMAS CADASARI PANDUAN MANAJEMEN RESIKO PUSKESMAS CADASARI PEMERINTAH KABUPATEN PANDEGLANG DINAS KESEHATAN UPT PUSKESMAS CADASARI Jl. Raya Serang Km. 5, Kec. Cadasari Kab. Pandeglang Banten DAFTAR ISI BAB I MANAJEMEN

Lebih terperinci

PENERAPAN STRATEGI DOTS DI RUMAH SAKIT HBS MODUL F HDL 1

PENERAPAN STRATEGI DOTS DI RUMAH SAKIT HBS MODUL F HDL 1 PENERAPAN STRATEGI DOTS DI RUMAH SAKIT HBS MODUL F HDL 1 RUMAH SAKIT PERLU DOTS? Selama ini strategi DOTS hanya ada di semua puskesmas. Kasus TBC DI RS Banyak, SETIDAKNYA 10 BESAR penyakit, TETAPI tidak

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik.

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik. B. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian dilakukan di Puskesmas Pabelan Kabupaten Semarang

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN BTA ( BAKTERI TAHAN ASAM )

PEMERIKSAAN BTA ( BAKTERI TAHAN ASAM ) UPT. PUSKESMAS NUSA PENIDA I SOP PEMERIKSAAN BTA ( BAKTERI TAHAN ASAM ) No. Dokumen : 23/SOP/Lab-NPI/2016 No. Revisi : 01 Tgl. Terbit : 01 April 2016 Halaman : 1-5 Kepala UPT Puskesmas Nusa Penida I dr.

Lebih terperinci

PENERAPAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL LABORATORIUM TUBERKULOSIS PADA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN DI KOTA MATARAM TAHUN 2014

PENERAPAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL LABORATORIUM TUBERKULOSIS PADA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN DI KOTA MATARAM TAHUN 2014 ISSN No. 1978-3787 Media Bina Ilmiah57 PENERAPAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL LABORATORIUM TUBERKULOSIS PADA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN DI KOTA MATARAM TAHUN 2014 Oleh : Erna Haryati A.A Istri Agung Trisnawati

Lebih terperinci

No.Revisi : Tanggal terbit : Halaman :

No.Revisi : Tanggal terbit : Halaman : STANDAR SENAM USILA Senam lansia adalah satu bentuk latihan fisik yang memberikan pengaruh baik terhadap tingkat kemampuan fisik manusia, bila dilaksanakan dengan baik dan benar. Untuk menjaga tubuh dalam

Lebih terperinci

2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431);

2. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431); BERITA DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 33 TAHUN 2016 SERI B.25 PERATURAN BUPATI CIREBON NOMOR 33 TAHUN 2016 TENTANG PENANGGULANGAN KOLABORASI TB-HIV (TUBERKULOSIS-HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS) KABUPATEN

Lebih terperinci

dr. H.R.Danang Sananto S NIP MENETAPKAN Pertama Keputusan Kepala Puskesmas WONOSOBO I tentang Sasaran- Sasaran Keselamatan Pasien.

dr. H.R.Danang Sananto S NIP MENETAPKAN Pertama Keputusan Kepala Puskesmas WONOSOBO I tentang Sasaran- Sasaran Keselamatan Pasien. MEMUTUSKAN MENETAPKAN Pertama Kedua Ketiga Keputusan Kepala Puskesmas WONOSOBO I tentang Sasaran- Sasaran Keselamatan Pasien. Menetapkan sasaran-sasaran keselamatan pasien sebagaimana tertera dalam lampiran

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian analitik Jenis Penelitian yang digunakan untuk menunjang penelitian ini adalah B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat dan Waktu Penelitian Adapun tempat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Faktor-faktor yang mempengaruhi Phlebotomy. 2. Tempat phlebotomy yang dilakukan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Faktor-faktor yang mempengaruhi Phlebotomy. 2. Tempat phlebotomy yang dilakukan. 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Faktor-faktor yang mempengaruhi Phlebotomy 1. Pelaksanaan phlebotomy. 2. Tempat phlebotomy yang dilakukan. 3. Peralatan phlebotomy dan cara penggunaanya. 4. Keadaan pasien.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan adalah analitik. Wonodri Sendang Raya 2A Semarang.

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan adalah analitik. Wonodri Sendang Raya 2A Semarang. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah analitik. B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian dilakukan di laboratorium klinik Analis Kesehatan fakultas

Lebih terperinci

Puskesmas Purworejo. Anda Puas Kami Bahagia. Masyarakat Sehat dambaan kita bersama. Jl Pasar kebonagung kecamatan purworejo Kota Pasuruan

Puskesmas Purworejo. Anda Puas Kami Bahagia. Masyarakat Sehat dambaan kita bersama. Jl Pasar kebonagung kecamatan purworejo Kota Pasuruan Puskesmas Purworejo Anda Puas Kami Bahagia Masyarakat Sehat dambaan kita bersama. Jl Pasar kebonagung kecamatan purworejo Kota Pasuruan Phone: 0343 411284 E-mail: [email protected] Puskesmas Purworejo

Lebih terperinci

JUMLA H EP SOP pendaftaran 2. Bagan alur pendaftaran. 3. Kerangka acuan (kepuasan pelanggan

JUMLA H EP SOP pendaftaran 2. Bagan alur pendaftaran. 3. Kerangka acuan (kepuasan pelanggan BA B VII STANDAR 1. Proses Pendaftaran Pasien. Proses pendaftaran pasien memenuhi kebutuhan pelanggan dan didukung oleh sarana dan lingkungan yang memadai. KRITE RIA JUMLA H EP 1 7 1. SOP pendaftaran 2.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. hidup bersih dan sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil

BAB 1 PENDAHULUAN. hidup bersih dan sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan di Indonesia diarahkan untuk mencapai masa depan dimana bangsa Indonesia hidup dalam lingkungan sehat, penduduknya berperilaku hidup bersih dan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN NUNUKAN

PEMERINTAH KABUPATEN NUNUKAN PEMERINTAH KABUPATEN NUNUKAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN NUNUKAN NOMOR 08 TAHUN 2011 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN PADA PUSKESMAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI NUNUKAN, Menimbang : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

Keterampilan Laboratorium PADA BLOK 2.2 HEMATOIMUNOLIMFOPOETIK:

Keterampilan Laboratorium PADA BLOK 2.2 HEMATOIMUNOLIMFOPOETIK: Keterampilan Laboratorium PADA BLOK 2.2 HEMATOIMUNOLIMFOPOETIK: DARAH 2: -LED -Membuat & memeriksa sediaan apus darah tepi -Evaluasi DARAH 3: - Pemeriksaan gol.darah -Tes inkompatibilitas DARAH 4: Bleeding

Lebih terperinci

Pengertian. Tujuan. b. Persiapan pasien - c. Pelaksanaan

Pengertian. Tujuan. b. Persiapan pasien - c. Pelaksanaan PEMERINTAH KABUPATEN PONOROGO PUSKESMAS SIMAN Jl. Raya Siman No. 48 Telp. ( 0352 ) 485198 Kode Pos 63471 PONOROGO STANDART OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PENCATATAN DAN PELAPORAN PASIEN TB Pengertian Tujuan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SANGGAU DINAS KESEHATAN PUSKESMAS ENTIKONG KEPALA PUSKESMAS ENTIKONG,

PEMERINTAH KABUPATEN SANGGAU DINAS KESEHATAN PUSKESMAS ENTIKONG KEPALA PUSKESMAS ENTIKONG, PEMERINTAH KABUPATEN SANGGAU DINAS KESEHATAN PUSKESMAS ENTIKONG Jl. Lintas Malindo Entikong (78557) Telepon (0564) 31294 Email : [email protected] KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS ENTIKONG NOMOR

Lebih terperinci

2017, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Neg

2017, No Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Neg No.122, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMKES. TB. Penanggulangan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 67 TAHUN 2016 TENTANG PENANGGULANGAN TUBERKULOSIS DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik. UNIMUS, Jl. Wonodri Sendang Raya 2A Semarang. Waktu penelitian yaitu

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik. UNIMUS, Jl. Wonodri Sendang Raya 2A Semarang. Waktu penelitian yaitu BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik. B. Tempat dan Waktu Tempat penelitian adalah dilaboratorium Klinik Analis Kesehatan UNIMUS, Jl. Wonodri Sendang

Lebih terperinci

DAFTAR TILIK AUDIT INTERNAL UPT PUSKESMAS FAJAR MULIA UNIT PENDAFTARAN

DAFTAR TILIK AUDIT INTERNAL UPT PUSKESMAS FAJAR MULIA UNIT PENDAFTARAN UNIT PENDAFTARAN NO 1 Terdapat prosedur pendaftaran 2 Tersedia alur pendaftaran 3 Petugas memahami dan melaksanakan prosedur pendaftaran 4 Tersedia SOP Penilaian kepuasan pelangggan 5 Tersedia form penilaian

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAYANAN LABORATORIUM BAB I PENDAHULUAN

PEDOMAN PELAYANAN LABORATORIUM BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah Sakit merupakan salah satu jaringan pelayanan kesehatan yang penting, sarat dengan tugas, beban, masalah dan harapan yang digantungkan kepadanya. Perkembangan

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis, serta pengobatan penyakit yang diderita oleh

BAB 1 : PENDAHULUAN. keperawatan yang berkesinambungan, diagnosis, serta pengobatan penyakit yang diderita oleh BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit adalah suatu organisasi tenaga medis professional yang terorganisasi serta sarana kedokteran yang permanen dalam menyelenggarakan pelayanan kedokteran,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Pembangunan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari tujuan dan upaya pemerintah dalam memberikan arah pembangunan ke depan bagi bangsa Indonesia.

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR D I N A S K E S E H A T A N PUSKESMAS LENEK

PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR D I N A S K E S E H A T A N PUSKESMAS LENEK PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK TIMUR D I N A S K E S E H A T A N PUSKESMAS LENEK Jalan raya mataram-lb.lombok, Kec. Aikmel Kab. Lombok Timur KP. 83653 Kode Pos 83612 KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS LENEK NOMOR

Lebih terperinci

PENGOLAHAN DAN PEMUSNAHAN LIMBAH LABORATORIUM

PENGOLAHAN DAN PEMUSNAHAN LIMBAH LABORATORIUM UPT. PUSKESMAS PENANAE PENGOLAHAN DAN PEMUSNAHAN LIMBAH LABORATORIUM No. Dokumen : No Revisi : SOP Tanggal terbit: Halaman: Ttd.Ka.Puskesmas : N u r a h d i a h Nip.: 196612311986032087 1. PENGERTIAN Limbah

Lebih terperinci

Elemen Penilaian BAB VIII

Elemen Penilaian BAB VIII Elemen Penilaian BAB VIII 8. 1. 1 EP 1 SK Jenis-jenis Pemeriksaan Laboratorium SOP Pemeriksaan Laboratorium Brosur Pelayanan Laboratorium Panduan Pemeriksaan Laboratorium 8. 1. 1 EP 2 Pola Ketenagaan Persyaratan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam pembuatan karya ilmiah adalah. Waktu penelitian dimulai dari bulan Maret 2009

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam pembuatan karya ilmiah adalah. Waktu penelitian dimulai dari bulan Maret 2009 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam pembuatan karya ilmiah adalah penelitian analitik diskriptif. B. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu Penelitian Waktu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. serta pengobatan penyakit banyak digunakan alat-alat ataupun benda-benda

BAB I PENDAHULUAN. serta pengobatan penyakit banyak digunakan alat-alat ataupun benda-benda BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit merupakan suatu organisasi melalui tenaga medis professional yang teroganisir serta sarana kedokteran yang permanen menyelenggarakan pelayanan kedokteran,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian Karya Tulis Ilmiah ini adalah penelitian analitik.

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian Karya Tulis Ilmiah ini adalah penelitian analitik. BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN Jenis penelitian Karya Tulis Ilmiah ini adalah penelitian analitik. B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN 1. Tempat penelitian Tempat penelitian dilakukan dilaboraturium

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Rumah sakit termasuk pelayanan laboratorium didalamnya oleh WHO

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Rumah sakit termasuk pelayanan laboratorium didalamnya oleh WHO BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit termasuk pelayanan laboratorium didalamnya oleh WHO (World Health Organisation) tahun 1957 diberikan batasan yaitu suatu bagian menyeluruh, integrasi dari

Lebih terperinci

PEDOMAN MANAJEMEN RESIKO PUSKESMAS MONCEK

PEDOMAN MANAJEMEN RESIKO PUSKESMAS MONCEK PEDOMAN MANAJEMEN RESIKO PUSKESMAS MONCEK PEMERINTAHAN KABUPATEN SUMENEP DINAS KESEHATAN PUSKESMAS MONCEK KECAMATAN LENTENG SUMENEP 0 DAFTAR ISI BAB I MANAJEMEN RISIKO LINGKUNGAN... A DEFINISI... 2 B RUANG

Lebih terperinci

PEDOMAN MANAJEMEN RESIKO PUSKESMAS SAMBALIUNG

PEDOMAN MANAJEMEN RESIKO PUSKESMAS SAMBALIUNG PEDOMAN MANAJEMEN RESIKO PUSKESMAS SAMBALIUNG PEMERINTAH KABUPATEN BERAU DINAS KESEHATAN PUSKESMAS SAMBALIUNG JL.Mangkubumi II Rt. VII Sambaliung DAFTAR ISI 0 BAB I MANAJEMEN RISIKO LINGKUNGAN... A DEFINISI...

Lebih terperinci

Stabat dalam rangka pembinaan Puskesmas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pusat Kesehatan Masyarakat yang disingkat puskesmas adalah unit

Stabat dalam rangka pembinaan Puskesmas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pusat Kesehatan Masyarakat yang disingkat puskesmas adalah unit Puskesmas dan sebagai bahan masukan kepada Dinas Kesehatan Kota Stabat dalam rangka pembinaan Puskesmas. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat yang disingkat puskesmas

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1316, 2013 KEMENTERIAN KESEHATAN. Laboratorium. Pemeriksaaan. Ibu Hamil. Bersalin, dan Nifas. Penyelenggaraaan. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah analitik karena mencari perbedaan antara dua variabel yaitu perbedaan darah lengkap kanker payudara positif dan diduga kanker payudara.

Lebih terperinci

- SOP tentang monitoring pelaksanaan kegiatan UKP dan UKM - SK dan SOP tentang pemberian informasi kepada masyarakat kegiatan UKM dan UKP - Bukti

- SOP tentang monitoring pelaksanaan kegiatan UKP dan UKM - SK dan SOP tentang pemberian informasi kepada masyarakat kegiatan UKM dan UKP - Bukti POKJA I BAB I 1.1.1 Di Puskesmas ditetapkan jenis pelayanan yang disediakan - SK Kepala Puskesmas tentang jenis pelayanan yang disediakan - Brosur - Flyer - Papan pemberitahuan - Jadwal pelayanan dalam

Lebih terperinci

PANDUAN PELAYANAN DOTS TB RSU DADI KELUARGA TAHUN 2016

PANDUAN PELAYANAN DOTS TB RSU DADI KELUARGA TAHUN 2016 PANDUAN PELAYANAN DOTS TB RSU DADI KELUARGA TAHUN 2016 RUMAH SAKIT UMUM DADI KELUARGA Jl. Sultan Agung No.8A Purwokerto Tahun 2016 BAB I DEFINISI Sampai saat ini, Rumah Sakit di luar negeri termasuk di

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tujuan pemeriksaan sediaan apus darah tepi antara lain menilai berbagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tujuan pemeriksaan sediaan apus darah tepi antara lain menilai berbagai BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sediaan Apus Darah Tepi Tujuan pemeriksaan sediaan apus darah tepi antara lain menilai berbagai unsur sel darah tepi seperti eritrosit, leukosit, dan trombosit dan mencari adanya

Lebih terperinci

1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan

1. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan I. Latar Belakang Beberapa pertimbangan dikeluarkannya Permenkes ini diantaranya, bahwa penyelenggaraan Pusat Kesehatan Masyarakat perlu ditata ulang untuk meningkatkan aksesibilitas, keterjangkauan, dan

Lebih terperinci

A. `LAPORAN VALID INDIKATOR AREA KLINIS 1. Asesment pasien: Ketidaklengkapan Pengisian Rekam Medik Triase dan Pengkajian IGD

A. `LAPORAN VALID INDIKATOR AREA KLINIS 1. Asesment pasien: Ketidaklengkapan Pengisian Rekam Medik Triase dan Pengkajian IGD A. `LAPORAN INDIKATOR AREA KLINIS 1. Asesment pasien: Ketidaklengkapan Pengisian Rekam Medik Triase dan Pengkajian IGD Judul indikator Ketidaklengkapan Pengisian Rekam Medik Triase dan Pengkajian IGD Jumlah

Lebih terperinci

ISNANIAR BP PEMBIMBING I:

ISNANIAR BP PEMBIMBING I: HUBUNGAN ANTARA FAKTOR MANUSIA, LINGKUNGAN, MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN PENYAKIT DAN KECELAKAAN KERJA PADA PERAWATDI RAWAT INAP RSUD ARIFIN ACHMAD PEKANBARU TESIS OLEH: ISNANIAR BP.

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kewaspadaan universal (Universal Precaution) adalah suatu tindakan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Kewaspadaan universal (Universal Precaution) adalah suatu tindakan BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kewaspadaan Umum/Universal Precaution 2.1.1. Defenisi Kewaspadaan universal (Universal Precaution) adalah suatu tindakan pengendalian infeksi yang dilakukan oleh seluruh tenaga

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1.1Tujuan A. Pungsi Darah Vena (Flebotomi) Untuk pemeriksaan hematologi, yaitu pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui keadaan darah dan komponen-komponennya. B. Pemeriksaan Laju

Lebih terperinci

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA BAGI PETUGAS No. Dokumen : No. Revisi : 00. Tanggal Terbit : Halaman : 1/2

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA BAGI PETUGAS No. Dokumen : No. Revisi : 00. Tanggal Terbit : Halaman : 1/2 No Dokumen : No Revisi : 00 drhjnilawati NIP 19621030 200210 2 001 1 2 3 Pengertian Tujuan Kebijakan Berbagai alat dan pemrosesan spesimen di laboratorium dapat menimbulkan bahaya bagi petugas Untuk mencegah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik. Waktu penelitian adalah Desember April 2010.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik. Waktu penelitian adalah Desember April 2010. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik. B. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian di Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) wilayah Pati.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah deskriptif, yaitu menggambarkan perbedaan

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah deskriptif, yaitu menggambarkan perbedaan BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif, yaitu menggambarkan perbedaan hasil pemeriksaan asam urat metode test strip dengan metode enzymatic colorimetric. B.

Lebih terperinci

STANDAR PELAYANAN PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG DINAS KESEHATAN PUSKESMAS OMBEN KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS NOMOR : 188/45/

STANDAR PELAYANAN PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG DINAS KESEHATAN PUSKESMAS OMBEN KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS NOMOR : 188/45/ STANDAR PELAYANAN PEMERINTAH KABUPATEN SAMPANG DINAS KESEHATAN PUSKESMAS OMBEN KEPUTUSAN KEPALA PUSKESMAS NOMOR : 188/45/434.101.05/2009 TENTANG STANDART PELAYANAN PUBLIK PUSKESMAS OMBEN KEPALA PUSKESMAS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang paru BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Tuberkulosis 2.1.1.1 Definisi Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi menular yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berlangsung dua puluh empat jam sehari dan melibatkan berbagai aktifitas orang

BAB I PENDAHULUAN. berlangsung dua puluh empat jam sehari dan melibatkan berbagai aktifitas orang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan yang potensial menimbulkan dampak negatif pada lingkungan. Seperti halnya sektor industri, kegiatan rumah sakit berlangsung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi dan penyakit menular merupakan masalah yang masih dihadapi oleh negara-negara berkembang.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi dan penyakit menular merupakan masalah yang masih dihadapi oleh negara-negara berkembang. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit infeksi dan penyakit menular merupakan masalah yang masih dihadapi oleh negara-negara berkembang. Seperti halnya di Indonesia, penyakit infeksi masih merupakan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BONDWOSO KERANGKA ACUAN KEGIATAN MONITORING DAN EVALUASI INDIKATOR MUTU UKM PUSKESMAS PAKEM

PEMERINTAH KABUPATEN BONDWOSO KERANGKA ACUAN KEGIATAN MONITORING DAN EVALUASI INDIKATOR MUTU UKM PUSKESMAS PAKEM PEMERINTAH KABUPATEN BONDWOSO DINAS KESEHATAN PUSKESMAS PAKEM Jl. Raya Patemon No. 52 Telp.( 08113615566 ) E-mail:[email protected],Website:http://www.bondowosokab.go.id KECAMATAN PAKEM BONDOWOSO

Lebih terperinci

DESKRIPSI KEGIATAN Kegiatan Waktu Deskripsi 1. Pendahuluan 10 menit Instruktur menelaskan tujuan dari kegiatan ini

DESKRIPSI KEGIATAN Kegiatan Waktu Deskripsi 1. Pendahuluan 10 menit Instruktur menelaskan tujuan dari kegiatan ini 1 KETERAMPILAN PENGAMBILAN DARAH TEPI, MEMBUAT APUSAN, PEWARNAAN GIEMSA DAN PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK APUSAN DARAH TEPI (Dipersiapkan oleh Sitti Wahyuni) TUJUAN Umum: Setelah selesai melaksanakan kegiatan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian analitik.

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian analitik. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian analitik. B. Waktu dan tempat penelitian Tempat penelitian desa Pekacangan, Cacaban, dan Ketosari Kecamatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bila upaya pencegahan infeksi tidak dikelola dengan baik. 2. berkembang menjadi sirosis hati maupun kanker hati primer.

BAB I PENDAHULUAN. bila upaya pencegahan infeksi tidak dikelola dengan baik. 2. berkembang menjadi sirosis hati maupun kanker hati primer. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Undang-undang Republik Indonesia tentang kesehatan No. 23 tahun 1992 pasal 10 menyatakan bahwa untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat, diselenggarakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Puskesmas Pusat Kesehatan Masyarakat yang selanjutnya disingkat puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. pemeriksaan di Unit Transfusi Darah Cabang Palang Merah Indonesia

BAB III METODE PENELITIAN. pemeriksaan di Unit Transfusi Darah Cabang Palang Merah Indonesia BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian 1234567Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik. B. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian dilakukan di Rumah Sakit Banyumas II,tempat

Lebih terperinci

INDIKATOR DAN TARGET SPM. 1. Indikator dan Target Pelayanan Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial dan Keperawatan Kesehatan Masyarakat

INDIKATOR DAN TARGET SPM. 1. Indikator dan Target Pelayanan Upaya Kesehatan Masyarakat Esensial dan Keperawatan Kesehatan Masyarakat LAMPIRAN I PERATURAN BUPATI GARUT NOMOR 1406 TAHUN 2015 TANGGAL 31-12 - 2015 INDIKATOR DAN TARGET SPM 1. Indikator dan Target Pelayanan Upaya Masyarakat Esensial dan Keperawatan Masyarakat 1 Pelayanan

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. Dalam hal ini sarana pelayanan kesehatan harus pula memperhatikan keterkaitan

BAB 1 : PENDAHULUAN. Dalam hal ini sarana pelayanan kesehatan harus pula memperhatikan keterkaitan BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah lingkungan erat sekali hubungannya dengan dunia kesehatan. Untuk mencapai kondisi masyarakat yang sehat diperlukan lingkungan yang baik pula. Dalam hal ini

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGORGANISASIAN UNIT RAWAT JALAN RUMAH SAKIT ELIZABETH

PEDOMAN PENGORGANISASIAN UNIT RAWAT JALAN RUMAH SAKIT ELIZABETH PEDOMAN PENGORGANISASIAN UNIT RAWAT JALAN RUMAH SAKIT ELIZABETH PT NUSANTARA SEBELAS MEDIKA RUMAH SAKIT ELIZABETH SITUBONDO 2015 DAFTAR ISI BAB 1 PENDAHULUAN Tujuan Umum... 2 Tujuan Khusus... 2 BAB II

Lebih terperinci

SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 8. Penggunaan Alat Dan Bahan Laboratorium Latihan Soal 8.4

SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 8. Penggunaan Alat Dan Bahan Laboratorium Latihan Soal 8.4 1. Cara aman membawa alat gelas adalah dengan... SMP kelas 7 - BIOLOGI BAB 8. Penggunaan Alat Dan Bahan Laboratorium Latihan Soal 8.4 Satu tangan Dua tangan Dua jari Lima jari Kunci Jawaban : B Alat-alat

Lebih terperinci

PTP LABORATORIUM PUSK KRETEK 2018

PTP LABORATORIUM PUSK KRETEK 2018 N O PENETAPAN PRIORITAS MASALAH ANALISA MASALAH PEMECAHAN MASALAH 1 Petugas sering kewalahan dengan Terjadi saat yang PMK no 37 th 2012 semakin meningkatnya kunjungan bertugas satu BAB II ttg pasien di

Lebih terperinci

2.1. Supervisi ke unit pelayanan penanggulangan TBC termasuk Laboratorium Membuat Lembar Kerja Proyek, termasuk biaya operasional X X X

2.1. Supervisi ke unit pelayanan penanggulangan TBC termasuk Laboratorium Membuat Lembar Kerja Proyek, termasuk biaya operasional X X X 26/03/08 No. 1 2 3 4 5 6 URAIAN TUGAS PROGRAM TBC UNTUK PETUGAS KABUPATEN/KOTA URAIAN TUGAS Ka Din Kes Ka Sie P2M Wasor TBC GFK Lab Kes Da Ka Sie PKM MEMBUAT RENCANA KEGIATAN: 1.1. Pengembangan unit pelayanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Tuberculosis menyebabkan 5000 kematian perhari atau hampir 2 juta

BAB I PENDAHULUAN. infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Tuberculosis menyebabkan 5000 kematian perhari atau hampir 2 juta 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN Penyakit Tuberkulosis Paru (TB Paru), merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia. Tuberculosis menyebabkan 5000 kematian perhari

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya5.

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya5. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) adalah suatu organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran serta

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif.. Tempat pengambilan sampel dan pemeriksaan sampel di Laboratorium

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif.. Tempat pengambilan sampel dan pemeriksaan sampel di Laboratorium BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif.. B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Tempat pengambilan sampel dan pemeriksaan sampel di Laboratorium

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. TB.Paru merupakan penyakit yang mudah menular dan bersifat menahun, disebabkan

BAB 1 PENDAHULUAN. TB.Paru merupakan penyakit yang mudah menular dan bersifat menahun, disebabkan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) atau dalam program kesehatan dikenal dengan TB.Paru merupakan penyakit yang mudah menular dan bersifat menahun, disebabkan oleh kuman Mycobacterium

Lebih terperinci

MEDICAL WASTE ANALYSIS IN PUBLIC HEALTH CENTER. Anita Dewi Moelyaningrum Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember.

MEDICAL WASTE ANALYSIS IN PUBLIC HEALTH CENTER. Anita Dewi Moelyaningrum Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember. MEDICAL WASTE ANALYSIS IN PUBLIC HEALTH CENTER Anita Dewi Moelyaningrum Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember. Abstract Public Health Center is one of the institution which produce medical waste.

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS MALARIA BALAI LABORATORIUM KESEHATAN PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2013

PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS MALARIA BALAI LABORATORIUM KESEHATAN PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2013 PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS MALARIA BALAI LABORATORIUM KESEHATAN PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2013 TUJUAN Mampu membuat, mewarnai dan melakukan pemeriksaan mikroskpis sediaan darah malaria sesuai standar : Melakukan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian analitik.

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian analitik. BAB III METODE PENELITIAN 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah penelitian analitik. 2. Tempat dan waktu penelitian Penelitian di lakukan di laboratorium klinik

Lebih terperinci

100% 100% (2/2) 100% 100% (4142) (4162) (269) (307) (307) (269) (278) (263) (265) (264) 0% (638) 12 mnt. (578) 10 mnt

100% 100% (2/2) 100% 100% (4142) (4162) (269) (307) (307) (269) (278) (263) (265) (264) 0% (638) 12 mnt. (578) 10 mnt Press Release Implementasi Standar Akreditasi Untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan & Keselamatan Pasien RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang, merupakan rumah sakit

Lebih terperinci

Perbedaan puskesmas dan klinik PUSKESMAS

Perbedaan puskesmas dan klinik PUSKESMAS Perbedaan puskesmas dan klinik PUSKESMAS 1. Puskesmas adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama, dengan lebih

Lebih terperinci

No Upaya Kesehatan Kegiatan Tujuan. menyediakan informasi bagi masyarakat tentang kegiatan puskesmas. 1 Loket meja Informasi

No Upaya Kesehatan Kegiatan Tujuan. menyediakan informasi bagi masyarakat tentang kegiatan puskesmas. 1 Loket meja Informasi R UPTD PUSKES No Upaya Kesehatan Kegiatan Tujuan 1 Loket meja Informasi menyediakan informasi bagi masyarakat tentang kegiatan puskesmas memberikan bantuan pada pasien tentang kebijakan baru terkait alur

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Undang-Undang Kesehatan nomor 36 tahun 2009 menyatakan

BAB 1 : PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Undang-Undang Kesehatan nomor 36 tahun 2009 menyatakan 1 BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Berdasarkan Undang-Undang Kesehatan nomor 36 tahun 2009 menyatakan bahwa upaya kesehatan lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Informasi Rumah Sakit 2.1.1 Sistem Sistem adalah gabungan dari elemen-elemen yang saling dihubungkan dengan suatu proses atau struktur dan berfungsi sebagai satu kesatuan

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN PROGRAM KESEHATAN LINGKUNGAN (KESLING) PUSKESMAS MANIMPAHOI

KERANGKA ACUAN PROGRAM KESEHATAN LINGKUNGAN (KESLING) PUSKESMAS MANIMPAHOI KERANGKA ACUAN PROGRAM KESEHATAN LINGKUNGAN (KESLING) A. PENDAHULUAN Upaya kesehatan lingkungan adalah pengendalian factor-faktor risiko lingkungan fisik, biologis,social yang dapat menimbulkan hal-hal

Lebih terperinci

BAB VIII. Manajemen Penunjang Layanan Klinis

BAB VIII. Manajemen Penunjang Layanan Klinis BAB VIII Manajemen Penunjang Layanan Klinis Pelayanan Laboratorium Standar 8.1. Pelayanan Laboratorium Tersedia Tepat Waktu untuk Memenuhi Kebutuhan Pengkajian Pasien, serta Mematuhi Standar, Hukum dan

Lebih terperinci

BAB III ELABORASI TEMA

BAB III ELABORASI TEMA BAB III ELABORASI TEMA 3.1 Pengertian Tema yang akan diangkat dalam perancangan Rumah Sakit Islam Ini adalah Habluminallah wa Habluminannas yang berarti hubungan Manusia dengan Tuhan dan hubungan Manusia

Lebih terperinci

Nomor : Revisi Ke : Berlaku Tgl : INDIKATOR DAN STANDART MUTU KLINIS. Ditetapkan Kepala Puskesmas Parigi IA SOLIHAT NIP:

Nomor : Revisi Ke : Berlaku Tgl : INDIKATOR DAN STANDART MUTU KLINIS. Ditetapkan Kepala Puskesmas Parigi IA SOLIHAT NIP: Nomor : Revisi Ke : Berlaku Tgl : INDIKATOR DAN STANDART MUTU KLINIS Ditetapkan Kepala Puskesmas Parigi IA SOLIHAT NIP: DINAS KESEHATAN KOTA TANGERANG SELATAN PUSKESMAS PARIGI JalanTrans Sulawesi BAB 9.1.1

Lebih terperinci

PERESEPAN, PEMESANAN DAN PENGELOLAAN OBAT

PERESEPAN, PEMESANAN DAN PENGELOLAAN OBAT PERESEPAN, PEMESANAN DAN PENGELOLAAN OBAT SOP No. Dokumen No. Revisi : Tanggal Terbit : 51.VIII/SOP/PNG/V/2016 : 3 Mei 2016 Halaman : 1/ 6 UPT PUSKESMAS PANUNGGANGAN 1. Pengertian 2. Tujuan 3. Kebijakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Industri farmasi diwajibkan menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB). Hal ini didasarkan oleh Keputusan Menteri Kesehatan RI. No.43/MENKES/SK/II/1988 tentang CPOB dan Keputusan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Hasil Penelitian Terdahulu Pada penelitian sebelumnya dengan judul pengaruh keberadaan apoteker terhadap mutu pelayanan kefarmasian di Puskesmas wilayah Kabupaten Banyumas berdasarkan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN FASILITASI AKREDITASI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN FASILITASI AKREDITASI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN FASILITASI AKREDITASI FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang

Lebih terperinci

SOP PENGAMBILAN SAMPEL AIR UNTUK UJI BAKTERIOLOGIS No. Dokumen 60/L/PL/2013

SOP PENGAMBILAN SAMPEL AIR UNTUK UJI BAKTERIOLOGIS No. Dokumen 60/L/PL/2013 PENGAMBILAN SAMPEL AIR UNTUK UJI BAKTERIOLOGIS No. Dokumen 60/L/PL/203 Tanggal Pengertian Tujuan Kebijakan Prasarana Prosedur Tetap Catatan - Mengambil sampel air bersih / air minum untuk pemeriksaan bakteriologis

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian eksperimen, dimana uji coba dilakukan dengan membuat proporsi antara ekstrak kulit nanas muda dan masak

Lebih terperinci

Pendahuluan. Tujuan Penggunaan

Pendahuluan. Tujuan Penggunaan Pendahuluan Malaria merupakan salah satu penyakit parasit paling umum di dunia dan menempati urutan ke 3 dalam tingkat mortalitas diantara prnyakit infeksi utama lainnya. Parasit protozoa penyebab malaria

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1406/MENKES/SK/XI/2002 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1406/MENKES/SK/XI/2002 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1406/MENKES/SK/XI/2002 TENTANG STANDAR PEMERIKSAAN KADAR TIMAH HITAM PADA SPESIMEN BIOMARKER MANUSIA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci