Arus HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Yanti Budiaman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Lokasi Penelitian Pulau Pari merupakan salah satu gugusan pulau yang termasuk dalam Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Gugusan Pulau Pari terdiri dari Pulau Kongsi, Pulau Tengah, Pulau Burung, Pulau Tikus, dan Pulau Pari sendiri. Gugusan Pulau Pari berada pada jarak sekitar 5t 35 km dari Jakarta dan terletak diantara 106'33'58.6" BT - 106'38'10.5'' BT dan 05'50'21.4" LS - 05'53' 14.4" LS. Hasil pengukuran parameter lingkungan (fisika - kimia) di perairan Pulau Pari yang meliputi; Suhu, Kekeruhan, Kecerahan, Arus, Salinitas, ph, Nitrat, Fosfat, Silikat, dan Oksigen Terlarut (DO) dapat dilihat pada Tabel (3). Tabel 3 HasiI pengukuran kondisi perairan di lokasi penelitian Parameter Unit Barat Pulau Pari Selatan Pulau Pari Suhu OC Kekeruhan NTU Kecerahan m Kecepatan m/s ,037 Arus Salinitas 0 I, Nitrat mg/l Fosfat mg/l Silikat mg/l Oksigen mga Terlarut (DO) Berdasarkan hasil pengukuran parameter lingkungan yang diperoleh (Tabel 3) dapat dikatakan bahwa kondisi perairan di selatan dan barat Pulau Pari tidak terlalu jauh berbeda. Nilai parameter kualitas air di sini adalah suhu air sekitar 30 C, dengan salinitas yang berkisar antara 33-34'1,. Nilai derajat keasarnan (ph) berkisar antara yang mash berada dalam kisaran ph normal air laut yang berkisar antara (Nybakken, 1988). Oksigen terlarut
2 berkisar antara mg/l nilai-nilai ini menunjukkan bahwa kedua lokasi ini belum tercemar. Suatu perairan diiatakan tercemar bila kandungan oksigen terlarutnya menurun sampai di bawah batas yang dibutuhkan untuk kehidupan biota. Perairan yang baik bagi kehidupan organisme adalah bila konsentrasi oksigen terlarut lebih besar dari 4 rng/l. Bila konsentrasi oksigen terlarut kurang dari 2 mg/l maka dapat mengganggu kehidupan organisme perairan. Kadar oksigen terht pada perairan alarni biasanya kurang dari 10 mg/l (Effendi, 2003). Nilai fosfat pada kedua lokasi berkisar antara mg/l sedangkan nilai nitrat berkisar antara mgll ha1 ini menunjukkan bahwa kedua lokasi belum dicemari oleh limbah organik. Kadar nitrat Iebih dari 5 mg/l menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik yang berasal dari aktivitas manusia dan tinja hewan. Nitrat tidak bersifat tosik terhadap organisme akuatik (Effendi, 2003). Nilai silika berkisar antara mg/l dan keberadaan silika pada perairan tidak menimbulkan masalah karena tidak bersifat toksik bagi makhluk hidup. Beberapa jenis algae, terutama fitopiankton seperti diatom (Bacillariophyta) membutuhkan silika untuk membentuk ji-ustule (dinding sel), sedangkan spons menggunakan silika untuk mernbentuk spikula mereka (Effendi, 2003). Pada penelitian ini pembahasan mengenai morfologis dan perkembangan gonad spons Aaptos aaptos dibahas secara umurn dan tidak melihat pada perbedaan lokasi pengambilan sampel. Struktur Morfblogis dan Anatomis Spons Aaptos aaptos Spons Aaptos aaptos merupakan spons laut yang keberadaannya mulai pada kedalaman sekitar 3-5 m, bagian luarnya berwarna ungu kemerahan sedangkan bagian dalam berwarna kuning kecoklatan. Pada habitat alaminya spons ini tampak seperti bongkahan-bongkahan berbentuk bulat tidak beratwan. Lubang pelepasan utarna (oskulum) terletak pada ujung spons yang berbentuk bulat. Gambaran skematis struktur morfologis dan anatomis spons Aaptos aaptos dapat dilihat pada Gambar (12). Pada irisan melintang jaringan spons terliiat adanya lapisan mesohyl yang didalamnya terdapat spikula dan kantong garnet, serta sistem saluran air, sedangkan pada bagian luarnya menunjukkan adanya
3 pinacoderm dengan lubang-lubang ostianya yang merupakan tempat masuk keluarnya air yang membawa makanan ke dalam tubuh spons. Spikuia Mesohyl Kantong Garnet (b) Ostia Gambar 12 Skema struktur morfologis dan anatomis spons Aaptos aaptos; (a) Morfologi tub&, (b) Penampang melintang tubuh spons dan bagian-bagian yang dikenali Pengamatan secara histologis menunjukkan bahwa pada irisan melintang jaringan spons menunjukkan adanya lubang ostia yang terdapat pada lapisan permukaannya (Gambar 3). Spons yang berbentuk bulat dengan rangka radial ini, sering tersusun oleh pertemuan unit-unit yang berbentuk bulat atau bola Mempunyai permukaan yang halus clan biasanya terasa kasar bila diraba karena adanya tonjolan spikula pada lapisan permukaan luarnya. Dalam beberapa grup spons, lapisan permukaan didukung oleh suatu jaringan spikula atau serat-serat. Dalam beberapa hal, tonjolan-tonjolan kecil pada permukaan selalu didukung oleh serat-serat kolagen dan materi-materi lendir yang cenderung dikeluarkan melalui tempat-tempat pertemuan antara serat-serat 'spongin' clan jalur-jalur spikula (Amir dan Budiyanto, 1996) (Gambar 14 dan 15). Irisan melintang jaringan spons juga menunjukkan adanya spikula (Gambar 16), rangka keras menyebar dalam bidang dan spikula tunggal terdapat pada bagian tengah. Pada bagian pemukaan bidangnya menyebar dan membentuk jaringan pagar yang padat tersusun dari spikula kecil yang bercampur dengan antara bagian akhir dari spikula yang besar. Spikula besar bertipe strongyloxeas; spikula berukuran sedang dan kecil biasanya mempunyai tipe oxeas, styles atau tylostyles. Spons tidak akan berdiri tegak jika tidak ditunjang oleh spikula atau spongin yang membentuk kerangka, yang
4 dibuahi dikeluarkan dari tubuh spons kemudian menetas, sedangkan pada jenis spons yang vivipar, larva spons dikeluarkan dari tubuh spons clan berenang dengan bulu getarnya selarna selang waktu tertentu sampai mendapat tempat menempel yang tepat (Bergquist, 1978). Jurnlah individu spons yang teridentifhi sebagai individu betina sebanyak tiga individu dari sekitar 36 individu yang diambil dari perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, menunjukkan sedikitnya individu betina yaw sedang bereproduksi dalam populasinya. Sedikitnya jumlah individu betina yang reproduktif diduga bahwa oogenesis ditunjang hanya oleh beberapa individu dalam populasi (Sidri et al. 2005). Suatu populasi umumnya ditandai dengan asinkroni diantara individu dala~n aktivitas reproduksi. Hal ini memberikan kemungkinan aktivitas reproduksi terjadi hanya pada sebagian kecil individu dahm suatu area (Brusca dan Brusca, 1990). Tidak adanya individu jantan yang mengandung spermatosit dalam sampel kemungkinan disebabkan oleh terjadinnya proses spermatogenesis sebelum oogenesis. Dalam ha1 ini, beberapa specimen yang diambil yang tidak reproduktif mungkin saja individu jantan. Selain itu sulitnya menemukan individu yang sedang bereproduksi dan 'dalam waktu dan tempat yang tepat' merupakan kendala tersendiri dalam mempelajari biologi reproduksi spons (Sidri et al. 2005). Sulitnya mendapatkan individu spons yang sedang bereproduksi juga dialarni oleh peneliti lainnya seperti Corriero et al. (1998) yang meneliti mengenai strategi reproduksi Mycalecontarenii (Porifera: Demospongiae) yang dilakukan selama lebih dari dua tahun. Dalam penelitian ini tidak ditemukan individu jantan yang kemungkinan disebabkan oleh pendeknya siklus spermatogenesis. Sidri et al. (2005) menemukan lirna individu betina dari 18 individu spons jenis Chondrilla nucula yang ditelitinya, sedangkan Hoppe (1988) hanya menemukan oosit muda pada satu individu dari sepuluh individu spons jenis Ircinia strobilina yang diamatinya, bahkan pada spons jenis Agelas clathrodes (N = 195) sarna sekali tidak ditemukan adanya aktivitas reproduksi selama dua tahun pengarnatan secara histologis. Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Usher et al. (2004) mengenai reproduksi seksual Chondrilla australiensis menunjukkan bahwa proses perkembangan telur membutuhkan waktu sekitar empat rninggu sedangkan sperma sekitar dua minggu. Menurut Haris (2005)
5 siklus spermatogenesis spons Aaptos aaptos di Pulau Barrang Lompo relatif pendek, yaitu sekitar dua kali selama empat bulan. Struktur dan Posisi Gonad Spons Aapios aaptos Spons mempunyai kemampuan untuk melakukan reproduksi secara seksual tetapi keterangan mengenai proses ini masih sedikit diketahui karena keberadaan gonad, garnet dan embrio yang berada dalam mesohyl belurn teridentifkasi dengan jelas (Brusca dm Brusca, 1990). Spons juga telah digunakan sebagai model secara luas dari sistem biologi. Walaupun dernikian, sedikit sekali yang dietahui mengenai biologi reproduksi dari spons yang menunjukkan sedikitnya gonad atau gonaduk yang dimilikinya (Usher et al. 2004). Berbeda dengan semua hewan lainnya, spons tidak mempunyai organ tubuh tertentu yang secara structural dapat dikatakan sebagai organ reproduksi. Perkembangan gamet-gametnya merupakan diferensiasi cadangan sel-sel spons dewasa (choanocytes atau archaeucytes) ke dalam bentuk spermatogonia atau oogonia yang terbentuk dalam mesohyl. Sperma narnpaknya berkembang terutama dari choanocyte; telur berkembang dari chonaocytes &tau arcaheocytes. Spermatogenesis biasanya te rjadi dalam spermatic cyst (kantong sperma), yang merupakan bentuk ketika semua sel dari ruang choanocyte diubah menjadi spermatogonia atau saat perubahan choanocytes berpindah ke mesohyl dan mengelompok di situ. Dalarn proses oogenesis, oosit yang tersendiri (soliter) berkembang dalam 'cysts' dikelilingi oleh lapisan folikel sel dan nurse sel (tropocytes). Permulaan meiosis setelah oogonium mengakumulasi sejumlah cadangan makanan yang cukup, kemungkinan disuplai lewat pemakanan tropocytes (Brusca dan Brusca, 1990). Pengamatan histologis jaringan tubuh spons (Gambar 17) memperlihatkan adanya lapisan mesohyl yang terletak di sebelah dalam dari lapisan pinacoderm. Lapisan ini merupakan suatu matriks protein yang didalamnya terdapat bahan rangka (Gambar 14 dan 16) dan semua tipe sel spons lainnya. Selain itu juga terlihat adanya ruang atau rongga yang merupakan bagian dari sistem sirkulasi air dalam tubuh spons, juga terdapat suatu saluran yang merupakan bagian dari sduran oskulurn spons yang salah satu fimgsinya sebagai tempat pengeluaran
6 telur atau sperma. Lapisan mesohyl mempakan tempat untuk melakukan proses reproduksi spons telihat dari adanya oosit yang terdapat pada bagian ujung dalam suatu kantong (cyst) garnet yang tabpat didalamnya. Kantong (cyst) garnet yang terdapat dalam lapisan mesohyl ini berbentuk lonjong dengan bagian dalam yang berlekuk-lekuk, ukurannya sekitar pm. Kantong ini diduga digunakan &lam proses perkembangan dan pembesaran gamet-garnet spons. Jadi terdapat kemun&nan bahwa sel-sel choanocytes ataupun archaeocytes yang &pat berkembang menjadi spermatosit ataupun oosit menuju ke lapisan mesohyl sebelum masuk ke dalam kantong tersebut untuk proses perkembangan dan pembesaran selanjutnya. Kantong pembesaran ini berlokasi dekat dengan saluran oskulum yang mempakan saluran pengeluaran untuk mempermudah pengeluaran telur tersebut. Diperkirakan dalarn proses pematangan gonad selanjutnya akan bergerak ke arah saluran oskulum untuk mempermudah pengeluaran telur melalui oskulum tersebut. Kantong pembesaran (cyst) ini tidak disebutkan oleh Haris (2005) dalam hail penelitian untuk jenis spons yang sama di Pulau Barrang Lompo, Sulawesi Selatan. Gambar 17 Irisan melintang tubuh spons, hari kedua fase bulan pumama (12 Juni 2006); (A) lapisan pinacoderm, (B) saluran oskulum, (C) kantong telur, (E) mesohyl, (F) saluran air (pewarnaan Hematoksilin-Eosin)
7 Gonad Jantan Pada penelitian ini gonad jantan belum dapat teridentifbsi dengan jelas karena tidak ditemukan spermatosit didalam jaringan histologis yang diamati, sehingga pembahasan lebih diarahkan pada perkembangan gonad betina. Kesulitan dalam mengidentifikasi spermatosit atau spermatozoa spons disebabkan antara lain oleh ukmamya yang sangat hi1 dan keberadaannya hanya terlihat pada saat akan memijah dan minimnya literatur mengenai bentuk morfologis spermatosit atau spermatozoa spons. Pengamatan pada jenis spons yang lain menunjukkan bahwa spenna juga terletak di &lam spermatic cyst (Gambar 18). Gambar 18 Bentuk spermatic cyst spons dengan spermatosit didalamnya (jenis spons belum diketahui) ; (A) Spermatic cyst, (B) Spematosit (Pewmaan Hematoksilin-Eosin)
8 Gonad Betina Pada penelitian ini oosit ditemukan berada dalam suatu kantong pembesaran garnet dengan pola pengaturan oosit yang berada pada bagian pinggir dari saluran yang berlekuk-lekuk di &lam kantong tersebut (Gambar 19). Fungsi dari bagian yang berlekuk-lekuk ini belum diketahui dengan pasti tetapi kemungkiinan merupakan sumber nutrisi bagi perkembangan oosit di dalam kantong tersebut. Ilan dan Loya (1990) melaporkan bahwa pada spons jenis Niphates sp dan Chalinula sp. produk reproduktif betinanya terjadi dalam suatu kantong yang terisolasi yang disebut sebagai 'brood chamber' atau 'nurseries'. Telur-telur yang teramati dalarn penelitian hi kemungkinan menunggu dibuahi oleh sperma sehingga telur yang akan dikeluarkan adalah telur yang sudah dibuahi (zigot). Diantara spons yang berasal dari kelas Demospongiae, terdapat beberapa spesies yang membebaskan telur yang telah difertilisasi (oviparous) lewat oskulum dan perkembangan selanjutnya terjadi dalam perairan laut (Rupert dan Barnes, 1991). Hasil penelitian sebelumnya mengenai reproduksi spons, menunjukkan bahwa proses perkembangan oosit umumnya terjadi dalam lapisan mesohyl, seperti pada spons jenis Halisarca dujardini, Myxilla incrustans dan Iophon piceus (Ereskovsky, 2000); Chondrilla nucula (Sidri et al. 2005); Xestospongia bergquistia, X testudinaria dan X exigua (Fromont dan Bergquist, 1994). Oosit ini menyebar luas di dalam mesohyl, dan mempunyai lapisan luar yang jelas sehingga dapat dibedakan dengan sel lainnya dalam lapisan mesohyl. Jadi pernisahan antara bagian yang reproduktif dan tidak reprodukitf dalam lapisan mesohyl teriihat jelas. Pada spons jenis Haliclona amboinensis dan Niphates nitida, oosit yang belum matang yang diamati menyebar luas dalam mesohyl sebelum terlihat dalarn brood chamber (Fromont, 1994). Brood chamber hi kemungkinan merupakan mekanisme adaptasi untuk melindungi oosit dari predator, kerusakan akibat turbulensi ataupun melindungi oosit dari dehidrasi (Fromont, 1994). Hasil pengamatan histologis pada penelitian ini yang menunjukkan adanya kantong garnet yang berisi telur didalarnnya kemungkinan juga merupakan bentuk mekanisme adaptasi dari spons jenis Aaptos aaptos ini untuk tujuan diatas.
9 Gambar 19 Irisan melintang kantong tempat pembesam garnet spons Aaptos aaptos dengan telw di dalarnnya, hari kedua fase bulan purnama, 12 Juni 2006 ; (A) Telw (Pewamaan Hematoksilin-Eosin). Perkembangan Gonad Betina (Oogenesb) Tahap perkembangan gonad diidentibi her- karakter ukuran sel dan morfologisnya serta karakter warna yang dihasilkan dari pewamaan HE (Hemaktosilin-bin). Hasil pengamatan histologis terhadap tip sunpel spons Aaptos aaptos yang mengandung oosit dengan tahapan perkembangan yang berbeda disarikan pada tabel 4.
10 Tabel 4 Karakter dari setiap tahapan perkembangan gonad betina spons Aaptos aaptos di perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu 0 - I Berasal dari diferensiasi sel-sel archaeocyte atau choanocytes. Oosit awal atau oogonia umumnya melalui tingkat amoeboid dan bergerak secara aktif dalam mesohyl mernfagositosis nurse cell dan meningkat secara cepat dalam ukuran. Nurce cell merupakan sornatik sel yang menyediakan sumber kuning telur selama oogenesis. Pada tahap ini dinding oosit belum terlihat jelas dan batas antara oosit belum jelas, mempunyai ukuran sekitar 10 pm, inti dan anak inti belum terlihat (Gambar 20) 0-11 Oosit semakin besar karena akumulasi nurse cell yang ada disekitarnya. Pada tahap ini terlihat bahwa oosit sudah bennigrasi ke dalam kantong pembesaran gamet. Kantong pembesaran masih berukuran kecil sekitar 150 pm dengan batas luar yang jelas yang dapat membedakamya dengan bagian lainnya yang terdapat dalam lapisan mesohyl, bagian dalam dari kantong ini belum banyak berkembang. Dinding oosit sudah terbentuk dan cukup tebal, sehingga batas antara oosit terlihat jelas. Ukuran oosit sekii 25 pm, dengan inti yang sudah kelihatan, demikian juga dengan butiran-butiran lemak yang be& disekelilingnya (Gambar 2 1) 0 - I11 Oosit semakii besar dan berbentuk agak berlekuk, ukuran oosit sekitar 50 pm Pada tahap ini butiran-butiran lemak mulai memadat. Intinya semakin besar dan berwarna agak gelap (Gambar 22) 0 - IV Pada tahap ini oosit semakin besar karena akumulasi kuning telur (butiran lemak) dan bentuknya agak membulat. Ukuran oosit sekitar 65 pm, dengan butiran-butiran lemak yang sudah semakin memadat dengan inti dan anak inti yang bergeser dipinggir. Ukuran kantong pembesaran gamet sekitar pm (Gambar 23) Pengarnatan secara histologis menunjukkan bahwa spons Aaptos aaptos pada oosit tahap I (Gambar 20), mempunyai ukuran yang masih sangat kecil, dengan inti sel yang belum terlihat jelas, begitu juga anak inti. Ukuran oosit sekitar 10 pm dan terliiat menyebar dalam kelornpok-kelompok kecil pada lapisan mesohyl. Untuk jenis spons yang sama di Pulau Barrang Lompo (Haris 2005) pada tahap ini ukuran oosit sample berkisar pm dengan inti sel dan anak inti yang belum nampak jelas. Menurut Frornont (1988) pada spons jenis Xestospongia testudinaria, pada tahap awal perkembangan telurnya, oosit mempunyai inti dan anak inti yang terlihat jelas dengan ukuran diameter oosit awal sekitar 7 pm. Oosit mengandung butiran-butiran kuning telur dekat dengan batas luamya. Bagian luar dari oosit tidak selalu dibatasi oleh lapisan epitel dan
11 beberapa pertuksran seluler tamp& wadi antara oosit dengan jaringan induknya. Menurut Hoppe (1987) pada spons jmis Zrcinia strobilina oosit muds terlihat bebas di dalam mesohyl tanpa ada struktur yang menyertainya. Gambar 20 Oosit tahap I spons Aaptos aaptos, hari kedua fase bulan baru, 28 Juni 2006 ; (A) Oosit I (Pewarnaan Hemaktosilin-kin) Gambar 21 Oosit tahap I1 spons Aaptos aaptos, yang terlihat dalm kantong pembesaran garnet, hati keenam fase bulan baru, 2 Juli 2006; (A) Oosit 11, (B) Dinding oosit, (C) Inti (pewarnaan Hematoksilin-Eosin)
12 Gambar 22 Oosit tahap 111 spons Aaptos aaptos, hari kedua fase bulan purnama, 12 Juni 2006; (A) hit 111, (B) Butiran l& (C) Inti (pewarman Hematoksilin-Eosin). Gambar 23 Oosit tahap IV spons Aaptos aaptos, hari kedua fase bulan purnama, 12 Juni 2006; (A) Oosit IV, (B) Butiran lemak, (C) Inti (pewarman Hemaktosilin-Eosin). Pada tahap oosit 11 (Gambar 21), oosit tampak semakin besar dan dcumnnya lebih besar dari oosit tahap I. Ukuran oosit &tar 25 pm, dengan inti yang sudah kelihatan dernikian juga dengan butiran-butiran lemak dan ksrbohidrat yang berada disekelilingnya. 'hrlihat bahwa proses perkembangan telur terjadi &lam suatu kantong pembeswdl garnet yang tidak disebutkan pada jenis spons
13 yang sama di Puhu Barrang Lompo, Suiawesi Selatan (Haris, 2005). Jadi terdapat kemungkian bahwa oosit yang belurn matang yang diamati menyebar luas dalam mesohyl sebelum terlihat dalam kantong pembesaran melakukan migrasi ke dalam kantong tersebut. Kantong pembesaran gamet pada tahap ini mempunyai ukuran sekitar 150 pm dan sudah mempunyai batas luar yang jelas yang dapat membedakannya dari bagian lainnya dalam lapisan mesohyl. Bagian dalam kantong pembesaran pada tahap ini belum menunjukkan perkembangan yang berarti tetapi terlihat adanya interaksi antara oosit dengan bagian dalam tersebut yang kemungkinan merupakan surnber nutritif bagi perkembangan oosit didalamnya, walaupun fimgsi dari bagian dalam ini belum diketahui dengan jelas. Tahap awal pertumbuhan oosit meliputi asimilasi nutrien, kemungkinan dengan pinositosis yang berasal dari mesohyl yang bennigrasi melalui sarung sel-sel folikel yang mengelilinginya dan mensintesa vitelline (Harrrison dan de Vos, 1991). Menurut Fromont (1994), oosit yang belurn matang pada spons jenis Haliclona amboinensis dan Niphates nitida diamati menyebar luas dalam mesohyl sebelum terlihat dalam brood chamber. Sebagaimana perkembangan reproduktif selanjutnya, oosit yang diamati dalam brood chamber dengan produk-produk dewasanya, diperkirakan melakukan migrasi ke dalarn brood chamber. Ukuran oosit pada tahap I1 yang diidentifikasi oleh Haris (2005) berkisar pm dengan inti yang sudah agak kelihatan, demikian juga dengan butiran-butiran lemak pada sitoplasma. Pada tahap oosit I11 (Gambar 22), oosit sudah semakin besar dan ukurannya lebih besar daripada oosit 11, ukuran oosit sekitar 50 pm. Pada tahap ini butiran-butiran lemak dan karbohidrat yang mulai memadat dan intinya semakin besara dan berwarna agak gelap. Ukuran oosit pada tahap I11 yang diidentifikasi oleh Haris (2005) berkisar pm dengan butiran-butiran lemak yang semakin memadat. Pada tahap oosit IV (matang) (Gambar 23), oosit sudah mencapai ukuran maksimumnya dan oosit berubah menjadi ootid atau telur yang siap dipijahkan. Ukuran ootid pada tahap ini sekitar 65 pm, dengan butiran-butiran lemak yang sudah semakin memadat dan inti yang bergeser ke pinggir. Butiran-butiran lemak ini merupakan salah satu bahan yang mengisi kuning telur (yolk). Kuning telur
14 (yolk) biasanya terdiri dari tiga jenis bahan pokok yaitu; yolk vesicle (gelembung kuning telur) yang mengandung glikoprotein, yolk globules yang mengandung lipoprotein dengan beberapa karbohidrat dan oil droplets yang mengandung gliserid dan kolesterol (Hibiya, 1982). Ukuran kantong pembesaran pun mengalami perkembangan yang berarti yakni sekitar pm dengan struktur bagian dalam yang telah berkembang menjadi suatu saluran yang berlekuk-lekuk. Umurnnya akhir dari vitellogenesis, telur dipenuhi dengan sebagian nurce sell yang dicerna atau kuning telur yang berbeda dalam ukuran dan komposisi. Yang terakhir terbagi menjadi granular yang menutupi pusat ruang sekitar nukelus clan besar, terrnasuk bentuk seperti bola yang berlokasi disekeliling telur (Ereskovskii, 1999). Menurut Hope (1987), pada spons jenis Ircina strobilina perkembangan selanjutnya dari oosit matang dikelilingi oleh tiga sel folikel epitelium yarlg tebal. Sitoplasma oosit memperlihatkan buti. granular kasar, kemungkiian disebabkan oleh penelanan dari keseluruhan sel folikuler. Selama pematangan oosit, tropocytes dan sel-sel folikel membentuk suatu pembungkus folikuller. Ketebalan dan banyaknya pelapisan dimulai pada pembungkus follikular, lapisan ini tumbuh leb& tebal secara progress, mengelilingi oosit. Sitoplasma oosit secara bertahap dipenuhi dengan partikelpartikel kuning telur. Pada akhir pembentukan oosit sitoplasma menyempurnakan pengambilan cadangan kuning telurnya (Harrison dan De Vos, 1991 ). Penelitian ini sedikit banyak juga memberikan perhatian khusus pada bagian dari jaringan induknya (maternal tissue) dalam tingkat perkembangan reproduksi seksual yang berbeda. Terlihat pada tahap perkembangan oosit awal (Gambar 20), jaringan induk dalam ha1 ini lapisan mesohyl dipadati oleh kurnpulan sel-sel yang mengelornpok yang nantinya &an berkembang menjadi sel telur atau sperma. Kumpulan sel-sel ini kemudian akan berrnigrasi ke dalam kantong pembesaran gamet yang terlihat jelas pada jaringan induk (rnesohyl) yang juga mengalami perkembangan. Kantong pembesaran gamet ini mempunyai batas luar yang jelas sehingga dapat dibedakan dengan jaringan induknya dan pada awal perkembangannya mempunyai struktur dalarn yang belum terlalu jelas (Gambar 21). Seiring dengan perkembangan oosit (oosit 11, I11 dan IV) yang berada dalam kantong gamet struktur bagian dalarnnya juga mengalami perkembangan terlihat
15 dari adanya saluran yang berlekuk-lekuk kemungkinan merupakan saluran nutritif bagi perkembangan oosit di dalarnnya, walaupun belurn ada keterangan yang jelas mengenai k s i dari saluran ini (Gambar 19). Pada jaringan induknya kumpulan sel-sel yang akan berkembang menjadi oosit atau sperma sudah tidak keliiatan lagi dan kantong garnet ini berada dekat dengan saluran pengeluaran (oskulum) (Gambar 17). Menurut Sidri et al. (2005) pada spons jenis Chondrilla nucula memperlihat kan perbedaan yang cukup jelas dalam lapisan meso hy 1 selama periode reproduksi, pada saat oosit ada maka choanosit chamber tidak berada dalam keadaan normal di dalam choanosom tetapi hanya beberapa saluran keluar yang secara keseluruhan dikelilingi oleh telur. Lapisan mesohylnya juga menunjukkan tipikal struktur saluran sistem air (aquiferous system) dengan sejurnlah besar saluran keluar ada. Menurut Ereskovsky (2000) dalam menganalisis mengenai reproduksi spons penting juga untuk mempertimbangkan bagian dari jaringan induk (maternal tissue) dan upaya reproduktif dari spesimen selama periode reproduksi Ereskovsky (2000) menyatakan bahwa morfogenesis seksual dan somatik mempunyai hubungan yang erat dalam spons ontogenesis. Jadi, jaringan somatik penting juga dalam pencapaian perkembangan reproduksi seksual dalam t ingkatan yang berbeda. Karakter clan tahap perkembangan gamet betina spons Aaptos aaptos yang diambil dari perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu sedikit berbeda dengan yang diteliti oleh Haris (2005) di Pulau Barrang Lompo, Sulawesi Selatan. Karakter dan tahap perkembangan gonad betina spons Aaptos aaptos berdasarkan hasil penelitian Harris (2005) dapat disarikan pada tabel 5. Perbedaan yang paling jelas terlihat dari adanya kantong pembesaran gamet betina yang ditemukan pada lapisan mesohyl spons Aaptos aaptos dalam penelitian ini. Kantong pembesaran gamet betina ini tidak disebutkan dalam hasil penelitian Haris (2005). Selain itu ukuran oosit untuk setiap tahapan perkembangan gamet betina juga agak berbeda untuk kedua lokasi diatas, yakni ukuran oosit spons yang diambil di perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu lebih kecil dibanding di Pulau Barrang Lompo, Sulawesi Selatan. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan habitat pengambilan sampel.
16 Tabel 5 Karakter dsi setiap tahapan perkembangan gonad betina spons Aaptos aaptos menurut Hark (2005). 0-1 Ukuran oosit rnasih sangat kecil berkisar antara pm, inti sel belum nampak jelas, begitu pula anak inti. 0-n Oosit sernakin besar dan ukurannya lebih dari oosit I, berkisar antara pm Pada tahap ini inti sudah agak kelihatan, dernikian juga butiran-butiran lemak pada sitoplasma Oosit semakin besar dan ukurannya lebih besar dari oosit I1 berkisar antara pm Pada tahap ini butiran-butiran lemak 0-IV sudah semakin mernadat. Oosit sudah semakin besar dan mempunyai ukuran maksirnum Pada tahap ini oosit sudah berubah menjadi ootid atau telur yang siap dipijahkan Ukurannya berkisar antara pm. Pada tahap ini butiran-butiran lemak sudah semakii memadat, oosit membentuk kelompok dalam sebuah untaian yang dilekatkan antara satu oosit dengan oosit lainnya oleh sernacam lendir. Pengaruh Fase Bulan Terhadap Tingkat Perkembangan Gonad Salah satu faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi proses gametogenesis pada kebanyakan hewan laut adalah siklus bulan. Pada kebanyakan hewan laut, siklus bulan mungkin memicu waktu pematangan sperma dan telur (Norton, 1981; Philips et al dalam Rani, 2004). Demikian juga dengan Hoppe clan Reichert (1987) menjelaskan juga bahwa pengeluaran gamet spons jenis Neofibularia nolitangere pada daerah tropik berhubungan erat dengan fase bulan. Pada penelitian ini didapatkan bahwa ukuran oosit meningkat secara perlahan dalam setiap fase bulan. Hasil pengamatan histologis pada fase bulan baru (Gambar 20), menunjukkan ukuran oosit awal yang masih kecil sekitar lopm dengan bentuk yang belum beraturan. Bagian luar dari oosit belum dibatasi oleh suatu lapisan epitel yang jelas, intinya juga belum kelihatan dan mempunyai kepadatan yang cukup tinggi dalam lapisan mesohyl. Terjadinya akumulasi kuning telur yang disediakan oleh nurse cell menyebabkan ukuran oosit semakin meningkat dan mulai bermigrasi ke dalam kantong pembesaran gamet (Gambar 21). Proses migrasi oosit ke dalam kantong pembesaran belum diketahui dengan pasti tetapi diduga terjadi melalui proses-proses seluler antara oosit dengan
17 jaringan induknya. Pada fase bulan baru ini juga ukuran oosit mulai semakin besar sekitar 25 pm dengan inti yang mulai kelihatan. Diperkirakan oosit masuk ke dalarn kantong pembesaran gamet pada akhir fase bulan bm. Oosit ini mempunyai inti yang sudah kelihatan dernikian juga dengan dinding oositnya. Memasuki fase bulan purnama (Gambar 22 dan 23) oosit yang telah berada dalam kantong pembesaran mengalami perubahan yang cukup berarti yakni mulai dikelilingi oleh butiran-butiran lemak, intinya sernakin besar dan kelihatan lebih gelap. Perkembangan oosit selanjutnya dalam kantong pembesaran ini menunjukkan bentuk dan ukuran oosit yang semakin besar sekitar 50 pm pada tahap oosit I11 dan sekitar 65 pm pada tahap oosit IV (matang), sedangkan bentuk telurnya menjadi agak membulat diperkirakan pada akhir fase bulan puma ini spons akan melepaskan telur-telurnya Tingkat perkembangan gonad betina spons Aaptos aaptos berdasarkan fase bulan dapat dilihat pada Gambar (24) Z BPMm B3HM.r BBJm B114Juni B P M B314JuV BBJuH BlMJuli WJMi Fase Bulrn Gambar 24 Tingkat kematangan gonad betina spons Aaptos aaptos berdasarkan fase bulan (BB = bulan baru, BP = bulan purnama) Perubahan terjadi bukan hanya pada ukuran oosit yang meningkat pada setiap tahapan perkembangan oosit tetapi juga pada jaringan induknya (mesohyl) seperti yang telah dijelaskan sebelurnnya. Sedikitnya oosit yang teramati dalam penelitian ini menyebabkan kesulitan tersendiri dalam menentukan peningkatan ukuran oosit rata-rata untuk setiap bulannya. Demikian juga dalam menentukan
18 kapan tepatnya permulaan oogenesis tersebut. Pengamatan kehadiran oosit awal terjadi pada fhse bulan baru yakni pada akhir Juni dan awal Juli 2006, sehingga ada dugaan sementara bahwa awal oogenesis terjadi pada fase bulan ini. Tetapi tentunya perlu pengkajian lebii jauh mengenai ha1 ini karena mungkii saja ada faktor-faktor endogenous yang memicu perkembangan gamet spons. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa pada sampel yang diarnati pada periode bulan purnama medio Mei 2006 tidak terlihat adanya oosit sedangkan pada periode bulan purnama medio Juni 2006 menunjukkan adanya kehadiran dari oosit di dalam jaringan tubuh spons Aaptos aaptos yang diamati. Pendugaan atas fenornena ini mungkin saja bahwa pada periode Mei 2006 telur telah dikeluarkan sedangkan pada medio Juni telur sedang dalarn proses perkembangan dan mau dikeluarkan. Pendugaan lainnya kemungkinan proses perkembangan telur spons jenis ini membutuhkan waktu yang cukup lama Menurut Haris (2005), berdasarkan penyebaran diameter oosit pada setiap fase bulan menunjukkan bahwa spons jenis Aaptos aaptos mengelmkan atau menghasilkan telurnya beberapa kali dalam setahun. Spons yang bersifat oviparous seperti Axinella dbmicornis, A. verrucosa (Fromont dan Bergquist, 1994) clan Suberitas massa (Fromont dan Bergquist, 1994) perkembangan oositnya membutuhkan waktu sekitar dua bulan atau lebih. Menurut Fromont (1988) untuk spons jenis Xestospongia testudinaria b a n oositnya meningkat seiriig dengan pertambahan umur bulan yakni ukuran diameter oosit mengalami peningkatan rata-rata 6-14 pm setiap bulannya. Penentuan awal oogenesis spons ini belum dapat ditentukan dengan pasti. Perkembangan telur pada spons jenis ini memiliki periode yang panjang sekitar 5-6 bulan sedan- pada Petrosia Jiciformis perkembangan telurnya sekitar 8 bulan. Menurut Usher et al. (2004) untuk spons jenis Chondrilla australiensis perkembangan telurnya membutuhkan waktu sekitar 4 minggu dan sperma sekitar 2 minggu. Untuk spons jenis Aaptos aaptos sendiri baii yang diarnati di Pulau Barrang Lompo, Sulawesi Selatan (Harris, 2005) maupun yang dari Perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, belum mendapatkan lama waktu yang pasti untuk perkembangan telurnya, sehingga perlu dilakukan penelitian yang Iebih intensif lagi untuk mengetahui lama waktu yang diperlukan dalam perkembangan telurnya.
19 Tehx-telur yang telah matang ini tentunya membutuhkan waktu yang tepat untuk dikeluarkan dari dalam tubuhnya, salah satu isyarat yang digunakan adalah siklus bulan, selain faktor lainnya seperti suhu dan irarna pasang surut. Walaupun penelitian ini tidak melihat sampai pada pengeluaran telur tetapi dari hasil pengamatan Iapangan menunjukkan bahwa pernijahan spons Aaptos aaptos di perairan Pulau Pari terjadi pada bulan purnama dan pengeluaran telur atau spenna diamati mulai dari jam 4 sore sarnpai 8 malam, suhu rata-rata perairan 30 C. Menurut Haris (2005) pengeluaran telur spons jenis Aaptos aaptos, baik yang ditransplantasi maupun yang diambil dari alam terjadi beberapa hari setelah bulan purnama pada periode Juli-Agustus 2003 dan bulan bulan seperempat pada periode September-Oktober 2003, pada saat itu suhu rata-rata perairan 28.5 OC. Menurut Fromont (1988) spons jenis Xestospongia testudinaria yang berbentuk lunak (soft form) memijah sehari setelah bulan baru (new moon) pada saat puncak pasang surut (peak tidal range) dan suhu rata-rata harian air laut sekitar 27.4OC pada tahun Pada tahun 1987, spons dengan bentuk lunak dari jenis ini, termasuk yang diamati pada tahun 1986, memijah 6-7 hari setelah bulan penuh (full moon) pada saat amplitudo minimum pasang surut (minimum tidal amplitudo) dan suhu rata-rata air laut sekitar 2S C. Pada bentuk yang keras (hard form) dari spons jenis Xestospongia testudinaria menunjukkan adanya hubungan antara pernijahan dan siklus bulan. Pada tahun 1986, bentuk keras dari spons jenis ini memijah sehari setelah bulan penuh VuZZ moon) dm hanya setelah amplitudo maksirnum pasang-surut (maximum tidal amplitudo). Menurut Hoppe (1987) spons jenis Agelas clathrodes memijah secara sinkronis selama pertengahan Juli pada sore hari pada periode fase bulan antara bulan tigaperempat dan bulan baru. Untuk spons jenis Chondrilla australiensis pernijahan terjadi pada 4-5 hari setelah akhir mush panas dan musim gugur, pada saat pasang tinggi (Usher, et al. 2004).
REPRODUKSI SEKSUAL SPONS
IV. REPRODUKSI SEKSUAL SPONS PENDAHULUAN Latar Belakang Morfologi spons sebagai phylum Porifera sangat sederhana. Sel epitel atau pinacosit terletak pada lapisan luar tubuh dan di seluruh permukaan tubuh
PEMBAHASAN UMUM. faktor lingkungan dimana fragmen spons diletakkan pada saat fragmentasi.
PEMBAHASAN UMUM Kelangsungan hidup (sintasan) dan pertumbuhan spons dipengaruhi oleh faktor lingkungan dimana fragmen spons diletakkan pada saat fragmentasi. Kondisi lingkungan yang optimal dibutuhkan
2. TINJAUAN PUSTAKA. Spons merupakan hewan tidak bertulang belakang yang bersifat primitif
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi Spons Spons merupakan hewan tidak bertulang belakang yang bersifat primitif dan sessil (menetap di dasar perairan). Spons tidak bergerak tetapi tinggal dan hidup sampai
5. PARAMETER-PARAMETER REPRODUKSI
5. PARAMETER-PARAMETER REPRODUKSI Pengukuran parameter reproduksi akan menjadi usaha yang sangat berguna untuk mengetahui keadaan kelamin, kematangan alat kelamin dan beberapa besar potensi produksi dari
DENSITAS DAN UKURAN GAMET SPONS Aaptos aaptos (Schmidt 1864) HASIL TRANSPLANTASI DI HABITAT BUATAN ANCOL, DKI JAKARTA
DENSITAS DAN UKURAN GAMET SPONS Aaptos aaptos (Schmidt 1864) HASIL TRANSPLANTASI DI HABITAT BUATAN ANCOL, DKI JAKARTA Oleh: Wini Wardani Hidayat C64103013 PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai (Odum, 1996). dua cara yang berbeda dasar pembagiannya, yaitu :
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai adalah suatu perairan yang airnya berasal dari mata air, air hujan, air permukaan dan mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Aliran air
Seksualitas dan Perkembangan Gamet Sponge Laut Aaptos aaptos Schmidt
Jurnal Natur Indonesia 14(3): 205-211 ISSN 1410-9379 Seksualitas dan perkembangan gamet sponge laut Aaptos aaptos schmidt 205 Seksualitas dan Perkembangan Gamet Sponge Laut Aaptos aaptos Schmidt Abdul
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Indeks Gonad Somatik (IGS) Hasil pengamatan nilai IGS secara keseluruhan berkisar antara,89-3,5% (Gambar 1). Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa bioflok
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Semua hewan yang tidak memiliki tulang belakang dikelompokkan dalam hewan Invertebrata (avertebrata). Hewan invertebrata ada yang tersusun oleh satu sel (uniselluler)
DENSITAS DAN UKURAN GAMET SPONS Aaptos aaptos (Schmidt 1864) HASIL TRANSPLANTASI DI HABITAT BUATAN ANCOL, DKI JAKARTA
DENSITAS DAN UKURAN GAMET SPONS Aaptos aaptos (Schmidt 1864) HASIL TRANSPLANTASI DI HABITAT BUATAN ANCOL, DKI JAKARTA Oleh: Wini Wardani Hidayat C64103013 PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS
II. TINJAUAN PUSTAKA. Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas
6 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Morfologi Daphnia sp. digolongkan ke dalam Filum Arthropoda, Kelas Crustacea, Subkelas Branchiopoda, Divisi Oligobranchiopoda, Ordo Cladocera, Famili Daphnidae,
statistik menggunakan T-test (α=5%), baik pada perlakuan taurin dan tanpa diberi Hubungan kematangan gonad jantan tanpa perlakuan berdasarkan indeks
Persentase Rasio gonad perberat Tubuh Cobia 32 Pembahasan Berdasarkan hasil pengukuran rasio gonad dan berat tubuh cobia yang dianalisis statistik menggunakan T-test (α=5%), baik pada perlakuan taurin
T~NJAUAN PUSTAKA. Ktasifikasi Spons Aaptos aaptos. (1968), sebagai berikut :
T~NJAUAN PUSTAKA Ktasifikasi Spons Aaptos aaptos Spons laut Aaptos aaptos dapat diklasif'ikasikan menurut Bergquist (1968), sebagai berikut : Kingdom : Animalia Filum: Porifera (Grant, 1836) Kelas : Demospongiae
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sebaran Frekuensi Ikan Tetet (Johnius belangerii) Ikan contoh ditangkap setiap hari selama 6 bulan pada musim barat (Oktober-Maret) dengan jumlah total 681 ikan dan semua sampel
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Jenis Kelamin Belut Belut sawah merupakan hermaprodit protogini, berdasarkan Tabel 3 menunjukkan bahwa pada ukuran panjang kurang dari 40 cm belut berada pada
3.KUALITAS TELUR IKAN
3.KUALITAS TELUR IKAN Kualitas telur dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi: umur induk, ukuran induk dan genetik. Faktor eksternal meliputi: pakan,
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Morfologi Clownfish Klasifikasi Clownfish menurut Burges (1990) adalah sebagai berikut: Kingdom Filum Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Chordata : Perciformes
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Fekunditas Pemijahan
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Derajat Pemijahan Berdasarkan tingkat keberhasilan ikan lele Sangkuriang memijah, maka dalam penelitian ini dibagi dalam tiga kelompok yaitu kelompok perlakuan yang tidak menyebabkan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Morfologi
II. TINJAUAN PUSTAKA Morfologi Spons adalah hewan yang termasuk Filum Porifera, terdiri atas tiga kelas, yaitu: Calcarea, Demospongiae, dan Hexactinellida (Haywood dan Wells,1989; Sara,1992; Amir dan Budiyanto,1996;
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Fisika dan Kimia Perairan Kondisi alami sampel karang berdasarkan data (Lampiran 1) dengan kondisi tempat fragmentasi memiliki perbedaan yang tidak terlalu signifikan
genus Barbodes, sedangkan ikan lalawak sungai dan kolam termasuk ke dalam species Barbodes ballaroides. Susunan kromosom ikan lalawak jengkol berbeda
116 PEMBAHASAN UMUM Domestikasi adalah merupakan suatu upaya menjinakan hewan (ikan) yang biasa hidup liar menjadi jinak sehingga dapat bermanfaat bagi manusia. Domestikasi ikan perairan umum merupakan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pemeliharaan Induk Teknik Pemijahan ikan lele sangkuriang dilakukan yaitu dengan memelihara induk terlebih dahulu di kolam pemeliharaan induk yang ada di BBII. Induk dipelihara
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi dan Variasi Temporal Parameter Fisika-Kimiawi Perairan Kondisi perairan merupakan faktor utama dalam keberhasilan hidup karang. Perubahan kondisi perairan dapat mempengaruhi
4. HASIL DAN PEMBAHASAN. Kultur Chaetoceros sp. dilakukan skala laboratorium dengan kondisi
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pertumbuhan Chaetoceros sp. Kultur Chaetoceros sp. dilakukan skala laboratorium dengan kondisi parameter kualitas air terkontrol (Lampiran 4). Selama kultur berlangsung suhu
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Persentase Ikan Jantan Salah satu faktor yang dapat digunakan dalam mengukur keberhasilan proses maskulinisasi ikan nila yaitu persentase ikan jantan. Persentase jantan
SET 5 REPRODUKSI SEL 2 (GAMETOGENESIS) Gametogenesis adalah pembentukan gamet pada tubuh makhluk hidup. a. GametOGenesis pada manusia dan hewan
05 MATERI DAN LATIHAN SBMPTN TOP LEVEL - XII SMA BIOLOGI SET 5 REPRODUKSI SEL 2 (GAMETOGENESIS) Gametogenesis adalah pembentukan gamet pada tubuh makhluk hidup. a. GametOGenesis pada manusia dan hewan
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perairan Teluk Jakarta Perairan Teluk Jakarta merupakan sebuah teluk di perairan Laut Jawa yang terletak di sebelah utara provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Terletak
II. TINJAUAN PUSTAKA
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Klasifikasi ikan Juaro (Pangasius polyuranodon) menurut Kottelat dan Whitten (1993) adalah sebagai berikut : Filum : Chordata Sub filum : Vertebrata Kelas
3 METODE PENELITIAN. Waktu dan Lokasi Penelitian
3 METODE PENELITIAN Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan selama empat bulan dari Oktober 2011 hingga Januari 2012 di Waduk Ir. H. Djuanda, Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat (Gambar 3). Pengambilan
HUBUNGAN HORMON REPRODUKSI DENGAN PROSES GAMETOGENESIS MAKALAH
HUBUNGAN HORMON REPRODUKSI DENGAN PROSES GAMETOGENESIS MAKALAH UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH Teknologi Informasi dalam Kebidanan yang dibina oleh Bapak Nuruddin Santoso, ST., MT Oleh Devina Nindi Aulia
bio.unsoed.ac.id TELAAH PUSTAKA A. Morfologi dan Klasifikasi Ikan Brek
II. TELAAH PUSTAKA A. Morfologi dan Klasifikasi Ikan Brek Puntius Orphoides C.V adalah ikan yang termasuk anggota Familia Cyprinidae, disebut juga dengan ikan mata merah. Ikan brek mempunyai garis rusuk
I. PENDAHULUAN. Waduk merupakan salah satu bentuk perairan menggenang yang dibuat
I. PENDAHULUAN Waduk merupakan salah satu bentuk perairan menggenang yang dibuat dengan cara membendung aliran sungai sehingga aliran air sungai menjadi terhalang (Thohir, 1985). Wibowo (2004) menyatakan
bio.unsoed.ac.id III. METODE PENELITIAN A. Materi 1. Materi Penelitian
III. METODE PENELITIAN A. Materi 1. Materi Penelitian Materi penelitian berupa benih ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) berumur 1, 2, 3, dan 4 bulan hasil kejut panas pada menit ke 25, 27 atau 29 setelah
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
17 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil 4.1.1. Organ reproduksi Jenis kelamin ikan ditentukan berdasarkan pengamatan terhadap gonad ikan dan selanjutnya ditentukan tingkat kematangan gonad pada tiap-tiap
Migrasi Ikan Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya
Migrasi Ikan Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya Migrasi ikan adalah adalah pergerakan perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain yang mempunyai arti penyesuaian terhadap kondisi alam yang menguntungkan
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
17 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perairan Teluk Jakarta Pesisir Teluk Jakarta terletak di Pantai Utara Jakarta dibatasi oleh garis bujur 106⁰33 00 BT hingga 107⁰03 00 BT dan garis lintang 5⁰48
3. METODE PENELITIAN
16 3. METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian Pola reproduksi ikan swanggi (Priacanthus tayenus) pada penelitian ini adalah tinjauan mengenai sebagian aspek reproduksi yaitu pendugaan ukuran pertama
SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 1. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGANLatihan Soal 1.3. igotik. Embrionik. Pasca lahir
1. Metamorfosis merupakan tahap pada fase... SMP kelas 8 - BIOLOGI BAB 1. PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGANLatihan Soal 1.3 igotik Embrionik Pasca embrionik Pasca lahir Fase Pasca Embrionik Yaitu pertumbuhan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
15 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ini dilakukan pada 8 induk ikan Sumatra yang mendapat perlakuan. Hasil penelitian ini menunjukan Spawnprime A dapat mempengaruhi proses pematangan akhir
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. disebut arus dan merupakan ciri khas ekosistem sungai. Secara ekologis sungai
4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Perairan Sungai Sungai merupakan suatu perairan yang airnya berasal dari air tanah dan air hujan, yang mengalir secara terus menerus pada arah tertentu. Aliran tersebut dapat
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. larva. Kolam pemijahan yang digunakan yaitu terbuat dari tembok sehingga
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Persiapan Kolam Pemijahan Kolam pemijahan dibuat terpisah dengan kolam penetasan dan perawatan larva. Kolam pemijahan yang digunakan yaitu terbuat dari tembok sehingga mudah
2.2. Struktur Komunitas
5 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Makrozoobentos Hewan bentos dibagi dalam tiga kelompok ukuran, yaitu makrobentos (ukuran lebih dari 1,0 mm), meiobentos (ukuran antara 0,1-1 mm) dan mikrobentos (ukuran kurang
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
16 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Kajian populasi Kondisi populasi keong bakau lebih baik di lahan terlantar bekas tambak dibandingkan di daerah bermangrove. Hal ini ditunjukkan oleh nilai kepadatan
3. METODOLOGI PENELITIAN
3. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Sampel spons Petrosia (petrosia) nigricans yang digunakan untuk penelitian di laboratorium di peroleh di bagian barat daya Pulau Pramuka Gugusan
GAMBARAN HISTOLOGIS TESTIS MUDA DAN DEWASA PADA IKAN MAS Cyprinus carpio.l RAHMAT HIDAYAT SKRIPSI
GAMBARAN HISTOLOGIS TESTIS MUDA DAN DEWASA PADA IKAN MAS Cyprinus carpio.l RAHMAT HIDAYAT SKRIPSI PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN AKUAKULTUR DEPARTEMEN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU
I. PENDAHULUAN. lkan nila merupakan salah satu jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi. Ikan nila
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang lkan nila merupakan salah satu jenis ikan yang bernilai ekonomis tinggi. Ikan nila berdaging padat, tidak mempunyai banyak duri, mudah disajikan dan mudah didapatkan di
II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Kelas : Pisces. Ordo : Ostariophysi. Famili : Clariidae
6 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi Lele Klasifikasi lele menurut SNI (2000), adalah sebagai berikut : Filum: Chordata Kelas : Pisces Ordo : Ostariophysi Famili : Clariidae Genus : Clarias Spesies :
I. PENDAHULUAN LATAR BELAKANG
I. PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Beberapa tahun terakhir ini, para peneliti mencoba mengatasi masalahmasalah reproduksi pada hewan melalui teknologi transplantasi sel germinal jantan atau disebut juga transplantasi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Benih ikan mas (Cyprinus carpio) tergolong ikan ekonomis penting karena ikan ini sangat dibutuhkan masyarakat dan hingga kini masih belum dapat dipenuhi oleh produsen
Adina Rizka Amalia. Hafizhuddin Wafi. Annisa Putri Ningsih FILLUM PORIFERA. Nurul Hasna K. Bunga Amalia. Ulya Amalia
Adina Rizka Amalia Hafizhuddin Wafi Annisa Putri Ningsih Nurul Hasna K Bunga Amalia Ulya Amalia FILLUM PORIFERA Istilah porifera berasal dari bahasa latin, yaitu Pori yang artinya lubang dan Fere yang
II. TINJAUAN PUSTAKA. : Volvocales. : Tetraselmis. Tetraselmis sp. merupakan alga bersel tunggal, berbentuk oval elips dan memiliki
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tetraselmis sp. Menurut B u t c h e r ( 1 9 5 9 ) klasifikasi Tetraselmis sp. adalah sebagai berikut: Filum : Chlorophyta Kelas : Chlorophyceae Ordo : Volvocales Sub ordo Genus
Deskripsi. METODA PRODUKSI MASSAL BENIH IKAN HIAS MANDARIN (Synchiropus splendidus)
1 Deskripsi METODA PRODUKSI MASSAL BENIH IKAN HIAS MANDARIN (Synchiropus splendidus) Bidang Teknik Invensi Invensi ini berhubungan dengan produksi massal benih ikan hias mandarin (Synchiropus splendidus),
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PEMIJAHAN, PENETASAN TELUR DAN PERAWATAN LARVA Pemijahan merupakan proses perkawinan antara induk jantan dengan induk betina. Pembuahan ikan dilakukan di luar tubuh. Masing-masing
PENGARUH HABITAT BUATAN TERHADAP JUMLAH DAN UKURAN OOSIT SPONS Petrosia (petrosia) nigricans
PENGARUH HABITAT BUATAN TERHADAP JUMLAH DAN UKURAN OOSIT SPONS Petrosia (petrosia) nigricans WAHYU ADI SETYANINGSIH SKRIPSI DEPARTEMEN ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT
BUDIDAYA BELUT (Monopterus albus)
BUDIDAYA BELUT (Monopterus albus) 1. PENDAHULUAN Kata Belut merupakan kata yang sudah akrab bagi masyarakat. Jenis ikan ini dengan mudah dapat ditemukan dikawasan pesawahan. Ikan ini ada kesamaan dengan
KARAKTERISTIK FISIKA KIMIA PERAIRAN DAN KAITANNYA DENGAN DISTRIBUSI SERTA KELIMPAHAN LARVA IKAN DI TELUK PALABUHAN RATU NURMILA ANWAR
KARAKTERISTIK FISIKA KIMIA PERAIRAN DAN KAITANNYA DENGAN DISTRIBUSI SERTA KELIMPAHAN LARVA IKAN DI TELUK PALABUHAN RATU NURMILA ANWAR SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2008 0 I. PENDAHULUAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pertumbuhan Mikroalga Laut Scenedesmus sp. Hasil pengamatan pengaruh kelimpahan sel Scenedesmus sp. terhadap limbah industri dengan dua pelakuan yang berbeda yaitu menggunakan
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
2 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Keadaan Umum Perairan Teluk Jakarta Perairan Teluk Jakarta merupakan salah satu teluk yang terdapat di utara pulau Jawa. Secara geografis, teluk ini mempunyai panjang pantai
bio.unsoed.ac.id III. METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 1. Materi Penelitian
III. METODE PENELITIAN A. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 1. Materi Penelitian Materi yang diteliti adalah ikan nilem ( Osteochilus hasselti C. V.), pada tahap perkembangan juvenil berumur 13 minggu
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae.
Pertambahan bobot (gram) BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pengaruh Media terhadap Pertambahan biomassa Cacing Tanah Eudrilus eugeniae. Pengambilan data pertambahan biomassa cacing tanah dilakukan
LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN MAS : IMADUDIN ATHIF N.I.M :
LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS BUDIDAYA IKAN MAS NAMA KELAS : IMADUDIN ATHIF : S1-SI-02 N.I.M : 11.12.5452 KELOMPOK : G STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2011 KATA PENGANTAR Puji syukur kita panjatkan kehadirat
PENDAHULUAN. salah satunya pemenuhan gizi yang berasal dari protein hewani. Terlepas dari
1 I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk, kebutuhan pangan semakin meningkat pula. Pangan yang dibutuhkan oleh masyarakat jenisnya beragam, salah satunya pemenuhan
TINJAUAN PUSTAKA. memiliki empat buah flagella. Flagella ini bergerak secara aktif seperti hewan. Inti
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Klasifikasi dan Biologi Tetraselmis sp. Tetraselmis sp. merupakan alga bersel tunggal, berbentuk oval elips dan memiliki empat buah flagella. Flagella ini bergerak secara aktif
TINJAUAN PUSTAKA. Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif,
TINJAUAN PUSTAKA Ekosistem Estuari Estuari oleh sejumlah peneliti disebut-kan sebagai area paling produktif, karena area ini merupakan area ekoton daerah pertemuan dua ekosistem berbeda (tawar dan laut)
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Fisika dan Kimia Perairan Pulau Karya Tabel 2. Data parameter fisika dan kimia lokasi transplantasi di perairan Pulau Karya bulan September 2010 sampai dengan Juli
Keberadaan sumber daya ikan sangat tergantung pada faktor-faktor. yang sangat berfluktuasi dari tahun ke tahun. Kemungkinan ini disebabkan karena
1.1. Latar Belakang Keberadaan sumber daya ikan sangat tergantung pada faktor-faktor lingkungan, sehingga kelimpahannya sangat berfluktuasi di suatu perairan. MacLennan dan Simmonds (1992), menyatakan
BAHAN DAN METODE. Percobaan 1. Pengaruh pemberian bahan aromatase inhibitor pada tiga genotipe ikan nila sampai tahap pendederan.
12 BAHAN DAN METODE Tempat dan waktu Penelitian dilakukan di Laboratorium Pemuliaan dan Genetika dan kolam percobaan pada Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar, Jl. Raya 2 Sukamandi,
HASIL DAN PEMBAHASAN
III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Hasil 3.1.1 Amonia Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, diperoleh data berupa nilai dari parameter amonia yang disajikan dalam bentuk grafik. Dari grafik dapat diketahui
3. METODE PENELITIAN
9 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Ikan contoh diambil dari TPI Kali Baru mulai dari bulan Agustus 2010 sampai dengan bulan November 2010 yang merupakan hasil tangkapan nelayan di
II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Reproduksi dan Perkembangan Gonad Ikan Lele. Ikan lele (Clarias sp) pertama kali matang kelamin pada umur 6 bulan dengan
II. TINJAUAN PUSTAKA A. Reproduksi dan Perkembangan Gonad Ikan Lele Ikan lele (Clarias sp) pertama kali matang kelamin pada umur 6 bulan dengan ukuran panjang tubuh sekitar 45cm dan ukuran berat tubuh
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Rasio Kelamin Ikan Nilem Penentuan jenis kelamin ikan dapat diperoleh berdasarkan karakter seksual primer dan sekunder. Pemeriksaan gonad ikan dilakukan dengan mengamati
STUDI DAN HUBUNGAN ARUS TERHADAP SEBARAN DAN FLUKTUASI NUTRIEN (N DAN P) DI PERAIRAN KALIANGET KABUPATEN SUMENEP
STUDI DAN HUBUNGAN ARUS TERHADAP SEBARAN DAN FLUKTUASI NUTRIEN (N DAN P) DI PERAIRAN KALIANGET KABUPATEN SUMENEP Wiwid Prahara Agustin 1, Agus Romadhon 2, Aries Dwi Siswanto 2 1 Mahasiswa Jurusan Ilmu
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Kebiasaaan Jenis Makanan Index Stomach Content (ISC) Hasil perhitungan indek kepenuhan isi lambung (ISC) per-tkg dapat dilihat pada Gambar 3, untuk nilai ISC dapat dilihat pada
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kelompok Umur Pertumbuhan populasi tiram dapat dilihat berdasarkan sebaran kelompok umur. Analisis sebaran kelompok umur dilakukan dengan menggunakan FISAT II metode NORMSEP.
PENDAHULUAN Latar belakang
16 PENDAHULUAN Latar belakang Ikan nila merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan yang memiliki potensi cukup baik untuk dikembangkan. Beberapa kelebihan yang dimiliki ikan ini adalah mudah dipelihara,
III. METODE PENELITIAN. Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias, Depok Jawa Barat.
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai Mei 2013, di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias, Depok Jawa Barat. B. Alat dan Bahan (1)
TINJAUAN PUSTAKA. tahapan dalam stadia hidupnya (larva, juwana, dewasa). Estuari merupakan
5 TINJAUAN PUSTAKA Estuari Estuari merupakan suatu komponen ekosistem pesisir yang dikenal sangat produktif dan paling mudah terganggu oleh tekanan lingkungan yang diakibatkan kegiatan manusia maupun oleh
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
23 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pola Sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) Hasil olahan citra Modis Level 1 yang merupakan data harian dengan tingkat resolusi spasial yang lebih baik yaitu 1 km dapat menggambarkan
Tingkat Kelangsungan Hidup
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Tingkat Kelangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup merupakan suatu nilai perbandingan antara jumlah organisme yang hidup di akhir pemeliharaan dengan jumlah organisme
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Ciri Morfologis Klasifikasi
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Klasifikasi dan Ciri Morfologis 2.1.1. Klasifikasi Klasifikasi ikan tembang (Sardinella maderensis Lowe, 1838 in www.fishbase.com) adalah sebagai berikut : Filum : Chordata Subfilum
Teknik pembenihan ikan air laut Keberhasilan suatu pembenihan sangat ditentukan pada ketersedian induk yang cukup baik, jumlah, kualitas dan
Teknik pembenihan ikan air laut Keberhasilan suatu pembenihan sangat ditentukan pada ketersedian induk yang cukup baik, jumlah, kualitas dan keseragaman.induk yang baik untuk pemijahan memiliki umur untuk
2.2. Morfologi Ikan Tambakan ( H. temminckii 2.3. Habitat dan Distribusi
4 2.2. Morfologi Ikan Tambakan (H. temminckii) Ikan tambakan memiliki tubuh berbentuk pipih vertikal. Sirip punggung dan sirip analnya memiliki bentuk dan ukuran yang hampir serupa. Sirip ekornya sendiri
PEMBAHASAN Siklus Hidup C. trifenestrata Studi Perkembangan Embrio C. trifenestrata
PEMBAHASAN Siklus Hidup C. trifenestrata Tahapan hidup C. trifenestrata terdiri dari telur, larva, pupa, dan imago. Telur yang fertil akan menetas setelah hari kedelapan, sedang larva terdiri dari lima
PERKEMBANGAN GAMET KARANG LUNAK Sinularia dura HASIL TRANSPLANTASI DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA
PERKEMBANGAN GAMET KARANG LUNAK Sinularia dura HASIL TRANSPLANTASI DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA Oleh: Edy Setyawan C64104005 PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Terumbu adalah serangkaian struktur kapur yang keras dan padat yang berada di dalam atau dekat permukaan air. Sedangkan karang adalah salah satu organisme laut yang tidak
APLIKASI PAKAN BUATAN UNTUK PEMIJAHAN INDUK IKAN MANDARIN (Synchiropus splendidus)
APLIKASI PAKAN BUATAN UNTUK PEMIJAHAN INDUK IKAN MANDARIN (Synchiropus splendidus) Oleh Adi Hardiyanto, Marwa dan Narulitta Ely ABSTRAK Induk ikan mandarin memanfaatkan pakan untuk reproduksi. Salah satu
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumberdaya alam, sebagai negara kepulauan dan memiliki dua per tiga wilayah yang merupakan perairan. Salah satu sumberdaya
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komposisi dan Kelimpahan Plankton Hasil identifikasi komunitas plankton sampai tingkat genus di Pulau Biawak terdiri dari 18 genus plankton yang terbagi kedalam 14 genera
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kondisi Umum Lokasi Penelitian 4.1.1. Perairan Bondet Perairan Bondet merupakan wilayah penangkapan kerang darah bagi nelayannelayan desa Bondet dan sekitarnya. Beberapa
TINJAUAN PUSTAKA. Gambar 1. Ikan nila merah Oreochromis sp.
II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karakteristik ikan nila merah Oreochromis sp. Ikan nila merupakan ikan yang berasal dari Sungai Nil (Mesir) dan danaudanau yang berhubungan dengan aliran sungai itu. Ikan nila
ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga. Pendahuluan
Pendahuluan Pembenihan merupakan suatu tahap kegiatan dalam budidaya yang sangat menentukan kegiatan pemeliharaan selanjutnya dan bertujuan untuk menghasilkan benih. Benih yang dihasilkan dari proses pembenihan
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Pengambilan data penelitian telah dilaksanakan pada bulan Desember 2012 sampai bulan Januari 2013 bertempat di Hatcery Kolam Percobaan Ciparanje
Periode Pemijahan Spons Aaptos aaptos (Porifera: Demospongia) di Perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta
Biota Vol. 13 (2): 68-74, Juni 2008 ISSN 0853-8670 Periode Pemijahan Spons Aaptos aaptos (Porifera: Demospongia) di Perairan Pulau Pari, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta Spawning Period of Sponge Aaptos aaptos
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pulau Pramuka I II III
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Parameter Fisika dan Kimiawi Perairan Berdasarkan hasil penelitian di perairan Kepulauan Seribu yaitu Pulau Pramuka dan Pulau Semak Daun, diperoleh nilai-nilai parameter
METODE PENELITIAN. Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitan ini dilaksanakan pada bulan November 2014 sampai bulan Januari 2015 bertempat di Desa Toto Katon, Kecamatan Punggur, Kabupaten Lampung Tengah, Provinsi
BAB I PENDAHULUAN. penting salah satunya adalah teripang yang dikenal dengan nama lain teat fish, sea
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara kepulauan yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia dengan panjang 81.000 km dengan luas perairan laut sekitar 5,8 juta km
I. PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (2015),
1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan merupakan komoditas bahan pangan yang bergizi tinggi dan banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan (2015), konsumsi produk
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kerang hijau Perna viridis memiliki kandungan gizi yang cukup baik untuk konsumsi masyarakat, karena mengandung nilai gizi yang tinggi yaitu protein 20,1%, karbohidrat
