EKONOMI MAKANAN. commit to user. SKRIPSI persyaratan. Maret. Oleh : H

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "EKONOMI MAKANAN. commit to user. SKRIPSI persyaratan. Maret. Oleh : H"

Transkripsi

1 ANALISIS PERAN KOMODITII TANAMAN BAHAN MAKANAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN SRAGEN (PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN) SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Jurusan/Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian/Agrobisnis Oleh : DIAN INDRASWARI H FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2011 i

2 ii

3 KATA PENGANTAR Puji syukur senantiasa Penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang selalu melimpahkan berkat dan perlindungannya sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Peran Komoditi Tanaman Bahan Makanan Dalam Pembangunan Ekonomi Kabupaten Sragen (Pendekatan Tipologi Klassen) Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Ir. Suntoro, M.S. selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Bapak Ir. Agustono, M.Si. selaku Ketua Jurusan/Program Studi Sosial Ekonomi Pertanian/Agrobisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 3. Bapak Prof. Dr. Ir. Darsono, M.Si. selaku Dosen Pembimbing Utama, yang telah sabar memberikan bimbingan dan masukan dalam penulisan skripsi ini. 4. Ibu Wiwit Rahayu, S.P., M.P. selaku Dosen Pembimbing Pendamping, yang telah sabar memberikan bimbingan dan masukan dalam penulisan skripsi ini. 5. Ibu Dr. Ir. Sri Marwanti, M.S. selaku Dosen Penguji yang telah memberikan arahan dan masukan kepada Penulis. 6. Ibu Ir. Rhina Uchayani Fajarningsih, M.S. selaku Dosen Pembimbing Akademik, yang telah memberikan banyak nasehat dan bimbingan selama Penulis menempuh pendidikan sarjana (S1) Agrobisnis di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. 7. Kepala BAPPEDA Kabupaten Sragen beserta staf, yang telah memberikan izin dan bantuan dalam penyediaan data yang dibutuhkan Penulis. 8. Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Sragen beserta staf, yang telah memberikan bantuan dalam penyediaan data yang dibutuhkan Penulis. 9. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sragen beserta staf, yang telah memberikan bantuan dalam penyediaan data yang dibutuhkan Penulis. iii

4 10. Kepala Bapeluh Kabupaten Sragen beserta staf, yang telah membantu dalam menyediakan data yang dibutuhkan Penulis. 11. Penyuluh lapangan Kecamatan Sragen dan Kelompok Tani Ngudi Rahayu, atas kesediaan waktu untuk membantu dalam menyediakan data melalui wawancara. 12. Bapak Ir. Simon Nugroho Sri Yudanto dan Ibu Ir. Harmani Ening Jati Wahyuni yang telah sabar dan banyak membantu Penulis dalam proses penelitian untuk skripsi ini. 13. Seluruh Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat bagi Penulis 14. Bapak Syamsuri dan Mbak Iriawati N yang dengan sabar membantu menyelesaikan segala urusan administrasi berkenaan dengan studi dan skripsi Penulis. 15. Seluruh Karyawan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberikan bantuan. 16. Kedua orang tuaku, Bapak Agustinus Indrarto dan Ibu Veronika Endang Sri Sunarsih, terimakasih atas segala kebaikan, kesabaran dan curahan kasih sayang serta doa, bimbingan, nasehat dan semangat yang tiada henti diberikan kepada Penulis. 17. Keluarga besar di Sragen, Papah Simon Nugroho, Mamah Harmani Ening, Budhe Budi Kahono dan Mbah Wi atas kebaikan, kasih sayang, doa dan nasehat yang selalu diberikan kepada Penulis serta kebersamaan yang indah khususnya selama penelitian di Sragen. 18. Kakak-kakakku, Mas Indraswono Eko Saputro, S.T. dan Mas Andreas Indri Novianto, S.Psi., atas dukungan doa, nasehat dan segala bantuan yang selalu diberikan kepada Penulis. 19. Pendampingku, Mas Hilarius Prin Pujianto, A.Md, atas kesabaran, kasih sayang, bantuan, doa dan kesediaannya untuk mengisi sisi-sisi yang kosong dalam diri Penulis sehingga menjadi pribadi yang lebih baik. 20. Sahabat-sahabatku, Elisabet, Widy, Dini, Fahmi, Serafina, Agnes, Nian, Eni, Annisa, Hanna, Happy, Tina, Arantxa, Kiki, Mariana Ayu, sahabat MFC, atas iv

5 persahabatan yang indah, kebersamaan dalam suka duka dan segala bantuan serta dukungan semangat yang selalu diberikan kepada Penulis. 21. Keluarga besar dari Sragen dan Wonogiri, Pakdhe, Budhe, Bulik, Om, Kakak-kakak, Adik-adik, serta semua keponakanku, terimakasih atas semua doa dan dukungan untuk Penulis. 22. Keluarga besar KMK (Keluarga Mahasiswa Katolik) Fakultas Pertanian UNS, atas kebersamaan, pengalaman hidup, dukungan doa dan persaudaraan yang indah. 23. Keluarga besar Bursa Mahasiswa Fakultas Pertanian, pengurus periode tahun 2008 dan tahun 2009, atas kesempatan untuk menimba ilmu dalam berorganisasi, pengalaman, kebersamaan dan keceriaan selama ini. 24. Team Magang Aspakusa Makmur 2010, Elisabet, Dini, Sendi dan Santini, atas kebersamaan yang indah dan kekompakan kita sehingga semua berjalan dengan baik. 25. Team PKM Kewirausahaan Dikti Nugget Kacang Merah Edifela tahun 2010, Elisabet, Lani dan Febri, atas pengalaman yang luar biasa, kebersamaan dalam suka duka membangun bisnis dan bantuan dalam penyelesaian skripsi. 26. Teman-teman mahasiswa Agrobisnis angkatan 2007, atas persaudaraan, kebersamaan yang indah dan segala bantuan yang diberikan kepada Penulis selama ini. 27. Teman-teman mahasiswa Fakultas Pertanian angkatan 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, terimakasih atas kebersamaan selama ini. 28. Semua pihak yang tidak dapat Penulis sebutkan satu persatu, terimakasih. Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun di kesempatan yang akan datang. Akhirnya Penulis berharap semoga skripsi ini berguna bagi para pembaca. Surakarta, April 2011 Penulis v

6 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... III. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian B. Metode Pengambilan Daerah Penelitian C. Jenis dan Sumber Data D. Metode Analisis Data vi Halaman DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... RINGKASAN... SUMMARY... xiv I. PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Perumusan Masalah... 6 C. Tujuan Penelitian D. Kegunaan Penelitian II. LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu B. Tinjauan Pustaka Perencanaan Pembangunan Pembangunan Ekonomi Pembangunan Daerah Pembangunan Pertanian Peranan Sektor Pertanian Pembangunan Sektor Tanaman Bahan Makanan Metode Analisis Potensi Relatif Perekonomian Wilayah a. Metode Analisis LQ b. Metode Analisis Shift-Share c. Metode Input Output d. Metode Tipologi Klassen C. Kerangka Teori Pendekatan Masalah D. Pembatasan Masalah E. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel i ii iii vi x xi xii

7 IV. KONDISI UMUM KABUPATEN SRAGEN A. Keadaan Umum Daerah B. Keadaan Penduduk C. Keadaan Perekonomian D. Keadaan Sektor Pertanian V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Keragaan Umum Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen A. Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen B. Kontribusi Nilai Produksi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen B. Klasifikasi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen dengan Pendekatan Tipologi Klassen Komoditi Prima Komoditi Potensial Komoditi Berkembang Komoditi Terbelakang C. Strategi Pengembangan Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Alternatif Strategi Jangka Pendek Alternatif Strategi Jangka Menengah Alternatif Strategi Jangka Panjang VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vii

8 DAFTAR TABEL Nomor Judul Halaman 1. Distribusi Kontribusi PDRB Kabupaten Sragen Tahun menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 (dalam persen) Distribusi Kontribusi Subsektor Pertanian terhadap PDRB Sektor Pertanian Kabupaten Sragen Tahun Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 (dalam persen) Laju Pertumbuhan PDRB Subsektor Pertanian Kabupaten Sragen Tahun Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 (dalam persen) Nilai Produksi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen tahun (dalam rupiah) Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen tahun (dalam persen) Matriks Tipologi Klassen Matriks Strategi Pengembangan Identifikasi dan Klasifikasi Komoditi Tanaman Bahan Makanan dengan Pendekatan Tipologi Klassen Matriks Strategi Pengembangan Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Luas Kabupaten Sragen Dirinci Menurut Penggunaan Lahan Tahun Ketinggian di Atas Permukaan Laut dirinci Per Kecamatan di Kabupaten Sragen Tahun Kepadatan Penduduk Kabupaten Sragen Tahun Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Sragen Tahun Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kabupaten Sragen Tahun Komposisi Penduduk Kabupaten Sragen Menurut Mata Pencaharian Tahun Produk Domestik Regional Bruto Menurut Sektor Perekonomian di Kabupaten Sragen Tahun (dalam jutaan Rupiah)... viii 44

9 17. Pendapatan Per Kapita di Kabupaten Sragen Tahun Produksi dan Nilai Produksi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Tahun Produksi dan Nilai Produksi Komoditi Tanaman Perkebunan di Kabupaten Sragen Tahun Produksi dan Nilai Produksi Komoditi Peternakan di Kabupaten Sragen Tahun Produksi dan Nilai Produksi Komoditi Perikanan di Kabupaten Sragen Tahun Produksi dan Nilai Produksi Komoditi Kehutanan di Kabupaten Sragen Tahun Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Tanaman Pangan (Padi dan Palawija) di Kabupaten Sragen Tahun (%) Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Sayur-sayuran di Kabupaten Sragen Tahun (%) Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Buah-buahan di Kabupaten Sragen Tahun (%) Kontribusi Nilai Produksi Komoditi Tanaman Pangan (Padi dan Palawija) di Kabupaten Sragen Tahun (%) Kontribusi Nilai Produksi Komoditi Sayur-sayuran di Kabupaten Sragen Tahun (%) Kontribusi Nilai Produksi Komoditi Buah-buahan di Kabupaten Sragen Tahun (%) Matriks Tipologi Klassen Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Matriks Alternatif Strategi Pengembangan Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen ix

10 DAFTAR GAMBAR Nomor Judul Halaman 1. Alur Pemikiran dan Kerangka Penentuan Klasifikasi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Grafik Rata-rata Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Tanaman Pangan (Padi dan Palawija) di Kabupaten Sragen Tahun Grafik Rata-rata Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Sayur-sayuran di Kabupaten Sragen Tahun Grafik Rata-rata Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Buah-buahan di Kabupaten Sragen Tahun Grafik Rata-rata Kontribusi Nilai Produksi Komoditi Tanaman Pangan (Padi dan Palawija) di Kabupaten Sragen Tahun Grafik Rata-rata Kontribusi Nilai Produksi Komoditi Sayur-sayuran di Kabupaten Sragen Tahun Grafik Rata-rata Kontribusi Nilai Produksi Komoditi Buahbuahan di Kabupaten Sragen Tahun x

11 DAFTAR LAMPIRAN Nomor Judul Halaman 1. PDRB Provinsi Jawa Tengah menurut Lapangan Usaha ADHK 2000 Tahun (Jutaan Rupiah) PDRB Kabupaten Sragen menurut Lapangan Usaha ADHK 2000 Tahun (Jutaan Rupiah) Distribusi Kontribusi PDRB Kabupaten Sragen Tahun menurut Lapangan Usaha ADHK 2000 (persen) Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen Tahun Menurut Lapangan Usaha ADHK 2000 (persen) Distribusi Kontribusi Subsektor Pertanian terhadap PDRB Sektor Pertanian Kabupaten Sragen Tahun Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 (dalam persen) Laju Pertumbuhan PDRB Subsektor Pertanian Kabupaten Sragen Tahun Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 (dalam persen) Jumlah Produksi Komoditi Pertanian di Kabupaten Sragen Tahun Indeks Harga Konsumen Kabupaten Sragen Tahun Harga Konstan Tingkat Produsen Komoditi Pertanian di Kabupaten Sragen Tahun (dalam Rupiah) Nilai Produksi Komoditi Pertanian di Kabupaten Sragen Tahun (dalam Rupiah) Kontribusi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Tahun Laju Pertumbuhan Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Tahun Klasifikasi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Tahun Matrik Tipologi Klassen Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Tahun Matrik Strategi Pengembangan Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Dokumentasi Peta Kabupaten Sragen Surat Ijin Penelitian dari BAPPEDA Kabupaten Sragen xi

12 RINGKASAN Dian Indraswari, H Analisis Peran Komoditi Tanaman Bahan Makanan dalam Pembangunan Ekonomi Kabupaten Sragen (Pendekatan Tipologi Klassen). Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dibawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Darsono, M.Si. dan Wiwit Rahayu, S.P., M.P. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui klasifikasi komoditi tanaman bahan makanan berdasarkan pendekatan Tipologi Klassen serta mengetahui alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan dalam kerangka perencanaan pengembangan ekonomi daerah Kabupaten Sragen dengan periode jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Metode dasar penelitian deskriptif analitis. Daerah penelitian adalah Kabupaten Sragen dan data yang digunakan sekunder dan primer. Data sekunder yang digunakan berupa data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sragen tahun , PDRB Provinsi Jawa Tengah tahun ADHK 2000, jumlah produksi komoditi tanaman bahan makanan tahun di Kabupaten Sragen, harga komoditi tanaman bahan makanan tahun di Kabupaten Sragen, indeks harga konsumen (IHK) tahun Kabupaten Sragen, data Rencana Strategis (RENSTRA) Kabupaten Sragen, Bahan LKPJ Bupati tahun 2010 dan data yang ada pada Sragen Dalam Angka Data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sragen, BAPPEDA Kabupaten Sragen, Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Dinas Peternakan Kabupaten Sragen, Dinas Perikanan Kabupaten Sragen dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sragen. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Penyuluh lapang, dan Ketua kelompok tani. Wawancara terkait dengan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam kegiatan on farm dan off farm tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen. Hasil penelitian dengan pendekatan Tipologi Klassen menunjukkan bahwa klasifikasi komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen terbagi menjadi empat. Komoditi prima terdiri atas jagung, ubi kayu, kacang tanah dan pisang. Komoditi potensial terdiri atas padi dan mangga. Komoditi berkembang terdiri atas ubi jalar, kedelai, ketimun, kangkung, rambutan, jeruk, pepaya dan nanas. Komoditi terbelakang terdiri atas kacang hijau, kacang panjang, cabe, tomat, bayam, terong, semangka, melon dan sawo. Alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan, jangka pendek meliputi dua macam strategi yaitu mempertahankan komoditi prima agar tetap menjadi komoditi prima dengan cara pengembangan agribisnis komoditi jagung, penerapan sistem tumpangsari pada komoditi ubi kayu dan kacang tanah, peningkatan produktivitas pisang, peningkatan kerjasama antara pihak swasta dengan petani dan mengembangkan komoditi potensial menjadi komoditi prima dengan cara peningkatan produktivitas padi, peningkatan akses petani terhadap lembaga keuangan, peningkatan produksi komoditi mangga dengan pemeliharaan yang intensif. Strategi jangka menengah meliputi tiga xii

13 macam strategi yaitu mengembangkan komoditi potensial menjadi komoditi prima dengan cara pengembangan padi organik di seluruh wilayah Kabupaten Sragen, mengembangkan komoditi berkembang menjadi komoditi potensial dengan cara peningkatan kualitas sumber daya manusia (petani), pengembangan daerah sentra komoditi sayur dan buah, dan mengembangkan komoditi terbelakang menjadi komoditi berkembang dengan cara penerapan budidaya pertanian yang baik untuk sayur dan buah, pengembangan demonstrasi plot (demplot) sayur dan buah. Strategi jangka panjang meliputi dua macam strategi yaitu mengembangkan komoditi terbelakang menjadi komoditi berkembang dengan cara pembangunan Sub Terminal Agribisnis dan mempertahankan komoditi prima agar tetap menjadi komoditi prima dengan cara mengurangi alih fungsi lahan pertanian ke lahan non pertanian, pengelolaan sumberdaya air untuk pertanian dan penerapan pertanian berkelanjutan berbasis pertanian organik. Alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan tersebut dapat sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan ekonomi daerah di Kabupaten Sragen baik dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. xiii

14 SUMMARY Dian Indraswari, H Analysis of Food Crops Commodity Role in Economic Development of Sragen Regency (Klassen Typology Approach). Faculty of Agriculture, Surakarta Sebelas Maret University. Under the guidance of Mr. Prof. Dr. Ir. Darsono, M.Si. and Mrs. Wiwit Rahayu, S.P., M.P. The aims of this research are to determine the classification of food crops commodity based on the Klassen typology approach and explore alternative strategies for developing food crops commodity within the Sragen Regency framework of regional economic development planning with periods of short-term, medium term and long term. The basic method of research is descriptive analytical. The research area is Sragen Regency and used data are secondary and primary. Secondary data used in the form of data of Gross Regional Domestic Product (GRDP) of Sragen Regency, GRDP at constant price 2000 of Central Java Province, total production of food crops commodity in of Sragen Regency, the price of food crops commodity years in Sragen, the Consumer Price Index (CPI) of Sragen Regency, Strategic Plan data of Sragen Regency, LKPJ 2010 material of Sragen Regency s Regent and the data which available in Sragen in Figures Secondary data in this study were obtained from the Central Statistics Agency (CSA) of Sragen Regency, BAPPEDA of Sragen Regency, Agriculture Service of Sragen Regency, Livestock Service of Sragen Regency, Fisheries Service of Sragen Regency, Forestry and Estate Service of Sragen Regency. Primary data were obtained from direct interview with Agriculture Service of Sragen Regency, field instructor, and Chairman of the farmer groups. Interviews are related to the strengths, weaknesses, opportunities and threats in the activities of food crops on farm and off farm in Sragen Regency. The results of research by Klassen Typology approach shows that the classification of food crops commodity in Sragen Regency is divided into four. Prime commodity consists of corn, cassava, peanuts and bananas. Potential commodity consists of rice and mango. Developing commodity consists of sweet potato, soybean, cucumber, water spinach, rambutan, oranges, papaya and pineapple. Retarded commodity consists of green beans, long beans, chili, tomato, spinach, eggplant, watermelon, melon and sapodilla. Development strategies alternative of food crops commodity, short-term strategy comprises two kinds of strategies, maintaining prime commodity remain a prime commodity by corn commodity agribusiness development, application of cropping system on cassava and peanuts commodity, bananas increase productivity, increase cooperation between the private sector with farmers and develop potential commodity into prime commodity by rice increase productivity, increase farmers access to financial institutions, improving the production of mango commodity with intensive maintenance. Medium-term strategy comprises three kinds of strategies, develop potential commodities become prime commodities which the way is development of organic rice in all regions of Sragen xiv

15 Regency, develop evolve commodity into potential commodity by improving the quality of human resources (farmers), development of vegetables and fruit commodity regional centers, and develop retarded commodity into evolve commodity by the application of good agriculture practices for fruit and vegetables, the development of vegetable and fruit plot demonstration. Long-term strategy comprises two kinds of strategies, develop retarded commodity into evolve commodities by Agribusiness Sub Terminal development and maintaining prime commodities remain a prime commodity by reducing agricultural land conversion to non-agricultural land, water resources management for agriculture and the implementation of sustainable agriculture based on organic farming. That development strategy alternative of food crops commodity can be used in local economic development planning in Sragen Regency in both the short, medium and long term. xv

16 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan di Indonesia berpedoman pada tujuan pembangunan nasional yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar Alinea ke empat dalam UUD 1945 menyebutkan bahwa salah satu tujuan pembangunan nasional adalah memajukan kesejahteraan umum, sehingga kebijakan pemerintah dalam pembangunan diharapkan mampu mendorong dan mengembangkan perekonomian masyarakat di daerah. Perencanaan memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembangunan. Perencanaan adalah upaya institusi publik untuk membuat arah kebijakan pembangunan yang harus dilakukan disebuah wilayah baik negara maupun di daerah dengan didasarkan keunggulan dan kelemahan yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Dalam proses perencanaan, lembaga perencanaan wajib memperhatikan kondisi sosial, budaya, ekonomi, keamanan, kondisi fisik, segi pembiayaan serta kualitas sumber daya yang ada di wilayah tersebut (Widodo, 2006). Perencanaan perlu dilakukan dalam usaha pembangunan suatu daerah agar pembangunan daerah lebih terencana dengan baik. Perencanaan yang tepat menjadi syarat mutlak agar usaha pembangunan dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Perencanaan pembangunan sebaiknya memperhatikan kemampuan dan kondisi dari wilayah tersebut. Keunggulan wilayah didorong agar mampu memberikan kontribusi yang lebih besar pada pembangunan dan kelemahan wilayah diperbaiki agar mampu memberikan kontribusi yang mendukung pembangunan. Berlakunya UU No 32 Tahun 2004 tentang Otonomi Daerah yang memberikan wewenang yang lebih luas bagi daerah untuk mengatur rumah tangganya sendiri, mendorong daerah lebih menyiapkan diri untuk lebih mandiri. Sasaran pembangunan akan terwujud apabila pemerintah daerah mengetahui potensi daerah dan merumuskan strategi kebijakan pengembangan sektor perekonomian. Pembangunan pada masing-masing 1

17 2 daerah di Indonesia menentukan keberhasilan pembangunan Nasional. Keadaan perekonomian Nasional merupakan susunan dari keadaan perekonomian masing-masing daerah. Kabupaten Sragen merupakan salah satu kabupaten yang melaksanakan otonomi daerah dalam proses pembangunan ekonominya. Pemberian otonomi daerah ini bertujuan untuk lebih mendekatkan pemerintah dengan masyarakat, artinya agar keinginan masyarakat lebih diperhatikan dan terpenuhi. Dengan adanya otonomi di Kabupaten Sragen maka pemerintah daerah Kabupaten Sragen harus mampu untuk meningkatkan pendapatan asli daerah sehingga akan meningkatkan kemampuan dalam penyelenggaraan urusan daerah. Pendapatan asli daerah terdiri atas hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Pendapatan ini dapat digunakan sesuai dengan prakarsa dan inisiatif daerah sedangkan non pendapatan asli daerah sifatnya lebih terikat. Oleh karena itu, pemerintah daerah Kabupaten Sragen perlu mengenal dan mengelola keunggulan dan kelemahan daerahnya, sehingga dapat digunakan untuk merumuskan berbagai strategi pengembangan daerah untuk perencanaan pembangunan daerah Kabupaten Sragen. Lapangan usaha di Kabupaten Sragen masing-masing memberikan sumbangan PDRB yang berbeda. Dari kesembilan lapangan usaha, sektor pertanian memberikan kontribusi terbesar pada setiap tahunnya dari tahun Besar PDRB pada setiap lapangan usaha pada perekonomian Kabupaten Sragen disajikan pada Tabel 1.

18 3 Tabel 1. Distribusi Kontribusi PDRB Kabupaten Sragen Tahun menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 (dalam persen) NO LAPANGAN USAHA Pertanian 36,08 35,34 34,74 34,01 2 Pertambangan Dan Penggalian 0,30 0,29 0,30 0,30 3 Industri Pengolahan 21,54 21,80 22,02 22,27 4 Listrik, Gas, Dan Air Bersih 1,14 1,17 1,19 1,20 5 Bangunan/Konstruksi 4,37 4,41 4,45 4,50 6 Perdagangan 17,99 18,12 18,19 18,32 7 Pengangkutan Dan Komunikasi 3,28 3,28 3,27 3,28 8 Keuangan, Persewaan, Dan Jasa Perusahaan 3,89 3,94 3,98 4,00 9 Jasa-Jasa 11,39 11,65 11,87 12,12 TOTAL Sumber : BPS dan BAPPEDA Kabupaten Sragen, 2009 Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat besar kontribusi PDRB sektor pertanian terus mengalami penurunan dari tahun 2005 sampai tahun 2008, pada tahun 2005 sebesar 36,08%, pada tahun 2006 sebesar 35,34%, pada tahun 2007 sebesar 34,74%, dan pada tahun 2008 sebesar 34,01%. Namun, dari tahun 2005 sampai tahun 2008, sektor pertanian memberikan sumbangan PDRB terbesar dibanding sektor lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian tetap merupakan sektor yang memiliki peran penting dalam perekonomian di Kabupaten Sragen. Sektor pertanian di Kabupaten Sragen terdiri dari lima subsektor pertanian. Kelima subsektor tersebut antara lain tanaman bahan makanan, subsektor perkebunan, subsektor peternakan, subsektor kehutanan, dan subsektor perikanan. Kelima subsektor pertanian memberikan kontribusi yang berbeda terhadap PDRB Kabupaten Sragen. Besarnya kontribusi masingmasing subsektor pertanian dapat dilihat dari distribusi kontribusi subsektor pertanian terhadap PDRB sektor pertanian Kabupaten Sragen pada Tabel 2.

19 4 Tabel 2. Distribusi Kontribusi Subsektor Pertanian terhadap PDRB Sektor Pertanian Kabupaten Sragen Tahun Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 (dalam persen) No Subsektor Pertanian Rata-rata 1 Tanaman Bahan Makanan 82,22 82,19 82,10 81,86 82,09 2 Tanaman Perkebunan 6,52 6,51 6,54 6,65 6,56 3 Peternakan 7,73 7,73 7,79 7,84 7,77 4 Kehutanan 0,95 0,99 0,98 1,00 0,98 5 Perikanan 2,58 2,59 2,59 2,64 2,60 Total Sumber : BPS dan BAPPEDA Kabupaten Sragen, 2009 Berdasarkan Tabel 2. dapat diketahui bahwa nilai rata-rata kontribusi PDRB subsektor pertanian yaitu subsektor tanaman bahan makanan sebesar 82,09%, subsektor tanaman perkebunan sebesar 6,56%, subsektor peternakan sebesar 7,77%, sedangkan subsektor kehutanan sebesar 0,98% dan subsektor perikanan sebesar 2,60%. Dari besarnya nilai rata-rata kontribusi masingmasing subsektor pertanian menunjukkan bahwa subsektor tanaman bahan makanan mempunyai nilai kontribusi PDRB yang paling besar dibanding dengan subsektor pertanian yang lain. Selama empat tahun berturut-turut yaitu pada tahun 2005 hingga tahun 2008 subsektor tanaman bahan makanan memberi kontribusi yang paling besar terhadap PDRB Kabupaten Sragen yaitu pada tahun 2005 sebesar 82,22%, pada tahun 2006 sebesar 82,19%, pada tahun 2007 sebesar 82,10%, dan pada tahun 2008 sebesar 81,86%. Hal ini menunjukkan bahwa subsektor tanaman bahan makanan merupakan subsektor yang memiliki peran penting dalam perekonomian Kabupaten Sragen. Kontribusi yang besar pada subsektor tanaman bahan makanan ini salah satunya disebabkan karena luas penggunaan lahan untuk lahan sawah sebesar 43% ( Ha) dari luas total wilayah di Kabupaten Sragen sebesar Ha (BPS Kabupaten Sragen, 2009). Indikator yang menunjukkan peran masing-masing subsektor pertanian juga dapat dilihat dari laju pertumbuhan. Laju pertumbuhan subsektor pertanian Kabupaten Sragen disajikan pada tabel 3.

20 5 Tabel 3. Laju Pertumbuhan PDRB Subsektor Pertanian Kabupaten Sragen Tahun Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) 2000 (dalam persen) No Subsektor Pertanian Rata-rata 1 Tanaman Bahan Makanan 4,52 2,97 3,83 3,17 3,84 2 Tanaman Perkebunan 3,41 2,77 4,41 5,27 3,37 3 Peternakan 3,78 2,98 4,78 4,18 4,20 4 Kehutanan 4,70 7,47 3,16 5,50 5,55 5 Perikanan 3,03 3,35 4,17 5,18 4,26 Sumber : BPS dan BAPPEDA Kabupaten Sragen, 2009 Tabel 3. menunjukkan bahwa nilai laju pertumbuhan PDRB subsektor pertanian pada tahun secara umum berfluktuatif. Nilai rata-rata laju pertumbuhan masing-masing subsektor berbeda, subsektor tanaman bahan makanan sebesar 3,84%; subsektor tanaman perkebunan sebesar 3,37%; subsektor tanaman peternakan sebesar 4,19%; subsektor kehutanan sebesar 5,55%; dan subsektor perikanan dengan nilai 4,26%. Dari kelima subsektor tersebut, subsektor tanaman bahan makanan menempati urutan keempat dalam rata-rata laju pertumbuhan PDRB. Berdasarkan kontribusi dan laju pertumbuhan subsektor tanaman bahan makanan, diketahui bahwa subsektor tanaman bahan makanan memiliki peran penting dalam perekonomian Kabupaten Sragen. Kontribusi subsektor tanaman bahan makanan terbesar dibanding subsektor pertanian yang lain dalam perekonomian Kabupaten Sragen. Laju pertumbuhan subsektor tanaman bahan makanan mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun sehingga perlu diperhatikan dan direncanakan mengenai pembangunan daerah yang berbasis tanaman bahan makanan. Hal ini bertujuan agar laju pertumbuhan tanaman bahan makanan dapat tetap atau meningkat sehingga dapat tetap menjadi subsektor yang memiliki peran penting bagi Kabupaten Sragen. Dengan Tipologi Klassen dapat diketahui komoditi prima, komoditi potensial, komoditi berkembang dan komoditi terbelakang dari subsektor tanaman bahan makanan yang selanjutnya dapat dibuat perencanaan pembangunan ekonomi daerah Kabupaten Sragen. Perencanaan pembangunan ini

21 6 didasarkan pada periode waktu, baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang B. Perumusan Masalah Kabupaten Sragen mempunyai luas wilayah sebesar 941,55 km 2 terbagi dalam 20 kecamatan, 208 desa/kelurahan. Wilayah Kabupaten Sragen dibelah oleh sungai Bengawan Solo. Yang membagi menjadi dua daerah utama. Daerah di Utara aliran Bengawan Solo, cenderung bertanah kurang subur. Sedangkan daerah di Selatan aliran Bengawan Solo relatif lebih subur. Di wilayah Selatan sungai ini pula, lahan pertanian, sawah, dan perkebunan berkembang pesat. Dari luasan tersebut Ha (43%) merupakan sawah dan Ha (57%) merupakan lahan bukan sawah (BPS Kabupaten Sragen, 2009). Kabupaten Sragen memiliki sektor pertanian yang kuat. Sumbangan PDRB sektor pertanian menempati urutan pertama dari keseluruhan sektor perekonomian yang lain. Sektor pertanian terdiri dari subsektor tanaman bahan makanan, subsektor perkebunan, subsektor peternakan, subsektor kehutanan dan subsektor perikanan. Dari kelima subsektor tersebut, subsektor tanaman bahan makanan merupakan subsektor yang memiliki kontribusi yang besar dalam PDRB daerah karena salah satunya didukung faktor luas penggunaan lahan di Kabupaten Sragen 43% digunakan untuk lahan sawah. Oleh karena itu, maka subsektor tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen menghasilkan komoditi tanaman bahan makanan utama yang besar jumlah produksinya, selain itu terdapat pula tanaman sayuran dan buahbuahan. Tanaman bahan makanan utama terdiri atas padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedelai, dan kacang hijau. Tanaman sayuran terdiri atas kacang panjang, cabe, tomat, ketimun, kangkung, bayam, dan terong. Buahbuahan terdiri dari semangka, pisang, mangga, rambutan, melon, jeruk, sawo, pepaya, dan nanas. Nilai produksi dari beberapa komoditi yang termasuk dalam subsektor tanaman bahan makanan disajikan pada Tabel 4.

22 7 Tabel 4. Nilai Produksi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen tahun (dalam rupiah) Komoditi Tanaman Tahun Bahan Makanan Padi , , , ,90 Jagung , , , ,04 Ubi Kayu , , , ,32 Ubi Jalar , , , ,19 Kacang tanah , , , ,69 Kedelai , , , ,86 Kacang hijau , , , ,90 Kacang panjang , , , ,98 Cabe , , , ,12 Tomat , , , ,54 Ketimun , , , ,45 Kangkung , , , ,74 Bayam , , , ,89 Terong , , , ,09 Semangka , , , ,76 Pisang , , , ,84 Mangga , , , ,21 Rambutan , , , ,68 Melon , , , ,43 Jeruk , , , ,64 Sawo , , , ,59 Pepaya , , , ,35 Nanas , , , ,47 Sumber : Analisis Data Sekunder (Lampiran 10) Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui beberapa jenis komoditi tanaman bahan makanan yang dihasilkan di Kabupaten Sragen. Komoditi yang memiliki nilai produksi terbesar pada tahun adalah padi, dimana nilai produksinya mengalami penurunan pada tahun 2008 karena harga gabah kering panen lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Hampir semua komoditi pada Tabel 4 memiliki nilai produksi berfluktuatif yaitu jagung, ubi kayu, ubi jalar, kedelai, kacang hijau, kacang panjang, cabe, tomat, ketimun, kangkung, bayam, terong, semangka, rambutan, melon, jeruk, sawo, pepaya, dan nanas. Komoditi padi, pisang dan kacang tanah memiliki nilai produksi yang cenderung meningkat. Komoditi mangga memiliki nilai produksi yang cenderung mengalami penurunan. Besarnya nilai produksi komoditi dipengaruhi oleh jumlah produksi dan harga komoditi di tingkat produsen pada waktu tertentu. Nilai produksi komoditi yang besar akan berpengaruh terhadap besarnya kontribusi yang diberikan terhadap PDRB sektor pertanian di Kabupaten Sragen.

23 8 Peranan subsektor tanaman bahan makanan, selain dapat dilihat dari nilai produksi juga dapat dilihat dari laju pertumbuhannya. Laju pertumbuhan nilai produksi untuk komoditi tanaman bahan makanan yang dihasilkan di Kabupaten Sragen disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen tahun (dalam persen) Komoditi Tahun Rata-rata Tanaman Bahan Makanan Padi 4,69 12,13-7,51 3,11 Jagung -31,25 215,26 62,66 82,22 Ubi kayu 59,46-15,51-12,88 10,36 Ubi jalar -78,88 710,32-79,78 183,89 Kacang tanah 15,98 2,97 7,47 8,81 Kedelai 34,99-2,01 49,77 27,58 Kacang Hijau 17,86-49,01 7,41-7,91 Kacang panjang -7,33-23,85 36,26 1,70 Cabe -53,36 20,07 5,05-9,41 Tomat 4,31-43,91-15,85-18,48 Ketimun -58,49 5,12 289,20 78,61 Kangkung 175,57-36,21 68,92 69,42 Bayam -48,37 24,62 28,54 1,60 Terong -26,37 18,99 0,37-2,34 Semangka -60,53 88,19-27,71-0,02 Pisang 70,40 121,74 55,55 82,56 Mangga -33,93-8,56-11,28-17,92 Rambutan 93,19-8,41 150,74 78,51 Melon -39,62-3,82 44,15 0,24 Jeruk 13,34-42,42 519,73 163,55 Sawo -3,30 6,54-24,93-7,23 Pepaya 4,43-0,82 76,01 26,54 Nanas -46,54 37,62 58,35 16,48 Sumber : Analisis Data Sekunder (Lampiran 11) Berdasarkan Tabel 5 dapat diketahui rata-rata laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan makanan ada yang mengalami pertumbuhan positif dan ada yang mengalami pertumbuhan negatif. Komoditi yang memiliki rata-rata laju pertumbuhan nilai produksi yang positif adalah padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kedelai, kacang panjang, ketimun, kangkung, bayam, pisang, rambutan, melon, jeruk, pepaya dan nanas. Komoditi yang memiliki rata-rata laju pertumbuhan nilai produksi yang negatif adalah kacang hijau, cabe, tomat, terong, semangka, mangga, dan sawo. Komoditi tanaman bahan makanan yang memiliki laju pertumbuhan

24 9 nilai produksi yang positif memiliki peranan besar terhadap pertumbuhan sektor pertanian di Kabupaten Sragen. Berdasarkan Rencana Strategis (RENSTRA) Kabupaten Sragen tahun , pemerintah daerah Kabupaten Sragen menetapkan beberapa kebijakan terkait dengan pembangunan sektor pertanian, antara lain: 1. Setiap desa/kelurahan memiliki sentra produksi dan produk unggulan. 2. Seluruh produk unggulan daerah memperoleh fasilitas pemasaran 3. Setiap desa/kelurahan memenuhi standart mutu lingkungan dan mampu menyediakan bahan baku industri dari hutan rakyat yang lestari sesuai dengan potensi yang dimiliki. Program-program pembangunan daerah Kabupaten Sragen pada sektor pertanian, antara lain : 1. Peningkatan pemasaran hasil produksi pertanian/perkebunan. 2. Peningkatan kesejahteraan petani. 3. Pemberdayaan penyuluh pertanian/perkebunan lapangan. 4. Peningkatan ketahanan pangan. 5. Peningkatan produksi pertanian dan perkebunan. 6. Rehabilitasi hutan dan lahan. 7. Peningkatan penerapan teknologi pertanian dan perkebunan. 8. Perencanaan dan pengembangan hutan. Berdasarkan kontribusi subsektor tanaman bahan makanan tahun dan laju pertumbuhan subsektor tanaman bahan makanan tahun di Kabupaten Sragen dan sejalan dengan Rencana Strategis Kabupaten Sragen tahun maka perlu dilakukan perencanaan pembangunan ekonomi daerah agar dapat meningkatkan perekonomian daerah Kabupaten Sragen. Dengan melihat besarnya nilai produksi dan nilai laju pertumbuhan dari suatu komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen, maka dapat diketahui komoditi tanaman bahan makanan yang perlu diprioritaskan terlebih dahulu dalam jangka pendek dan juga komoditi yang belum layak diprioritaskan dalam jangka pendek, tetapi tetap harus dikembangkan untuk kebutuhan jangka menengah dan jangka panjang.

25 10 Setelah diketahui komoditi yang perlu diprioritaskan untuk dikembangkan maka perencanaan pembangunan ekonomi daerah berbasis komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen dapat lebih jelas dan terarah sehingga mampu meningkatkan perekonomian daerah Sragen. Berdasarkan uraian di atas maka permasalahan dirumuskan sebagai berikut : 1. Bagaimana peran komoditi tanaman bahan makanan dalam pembangunan ekonomi di Kabupaten Sragen? 2. Bagaimana strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan dalam kerangka perencanaan pembangunan ekonomi daerah di Kabupaten Sragen? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1. Menganalisis peran komoditi tanaman bahan makanan dalam pembangunan ekonomi di Kabupaten Sragen. 2. Menganalisis strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan dalam kerangka perencanaan pembangunan ekonomi daerah di Kabupaten Sragen. D. Kegunaan Penelitian Kegunaan dari penelitian ini adalah: 1. Bagi penulis, menambah wawasan dan pengetahuan terutama yang berkaitan dengan topik penelitian serta merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian dari Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 2. Bagi pemerintah Kabupaten Sragen, diharapkan hasil penelitian dapat dijadikan masukan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan terkait dengan kebijakan-kebijakan dalam perencanaan pembangunan ekonomi daerah terutama komoditi tanaman bahan makanan.

26 11 3. Bagi pembaca, diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pustaka dalam menambah wawasan dan pengetahuan serta sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya

27 12 II. LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu Hasil penelitian Palupi (2009), yang berjudul Dampak Permintaan Akhir Terhadap Sektor Tanaman Bahan Makanan dalam Pembangunan Wilayah Kabupaten Sragen dengan Pendekatan Analisis Input-Output, menyatakan bahwa Sektor tanaman bahan makanan menduduki urutan pertama dan keseluruhan nilai output sektor perekonomian lain di Kabupaten Sragen. Hal ini menandakan bahwa sektor tanaman bahan makanan merupakan sektor yang relatif penting dalam menyumbang output perekonomian di Kabupaten Sragen. Output sektor tanaman bahan makanan terdiri dari padi dan palawija, buahbuahan dan sayur-sayuran. Output dari sektor tanaman bahan makanan yang relatif tinggi dapat memenuhi permintaan dari sektor perekonomian lain, baik itu permintaan antara maupun permintaan akhir. Hasil penelitian Hastutiningsih (2010), yang berjudul Pembangunan Wilayah Kecamatan Berbasis Komoditi Pertanian di Kabupaten Sragen, menyatakan bahwa komoditi pertanian yang paling menjadi basis di banyak kecamatan Kabupaten Sragen adalah padi sawah, kelapa, wijen, domba, dan katak hijau. Padi sawah menjadi basis pada sebelas kecamatan. Jenis padi yang ditanam di Kabupaten Sragen meliputi padi IR64, Menthik, Pandhan Wangi, dan padi organik. Kecamatan yang memiliki nilai LQ rata-rata tertinggi untuk komoditi padi sawah adalah kecamatan Sidoharjo yaitu sebesar 1,77, artinya keseluruhan produksi padi sawah yang ada sebanyak 1 bagian untuk memenuhi kebutuhan di kecamatan Sidoharjo dan 0,77 bagian lainnya untuk ekspor atau memenuhi kebutuhan di luar daerah Kecamatan Sidoharjo. Hasil penelitian Hartanto (2010), yang berjudul Komoditi Tanaman Bahan Makanan Dalam Pengembangan Perekonomian Daerah Kabupaten Wonogiri, dengan menggunakan pendekatan Tipologi Klassen menyimpulkan bahwa klasifikasi komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Wonogiri terbagi dalam empat kategori komoditi, yaitu: 12

28 13 1. Komoditi Prima terdiri dari komoditi padi, kacang tanah, kedelai, mangga dan pisang. 2. Komoditi Potensial terdiri dari komoditi jagung dan ubi kayu. 3. Komoditi Berkembang terdiri dari komoditi cabai, sirsak, bawang merah pepaya, buncis, kacang panjang, alpukat, sawo, jeruk, kentang, kacang hijau, sawi, bayam, terong, mentimun, ketela rambat, wortel, kangkung, tomat, sukun, kubis, labu siam, bawang putih, dan bawang daun. 4. Komoditi Terbelakang terdiri dari komoditi durian sorghum, rambutan, dan nanas. Hasil penelitian Julianti (2010), yang berjudul Strategi Pengembangan Sektor Pertanian di Kabupaten Banjarnegara (Pendekatan Tipologi Klassen), menyimpulkan bahwa klasifikasi subsektor pertanian di Kabupaten Banjarnegara berdasarkan pendekatan Tipologi Klassen diperoleh empat kategori subsektor, yaitu : 1. Subsektor prima : subsektor peternakan 2. Subsektor potensial : subsektor tanaman bahan makanan dan subsektor perkebunan 3. Subsektor berkembang : subsektor kehutanan 4. Subsektor terbelakang : subsektor perikanan Strategi pengembangan sektor pertanian di Kabupaten Bajarnegara, meliputi : 1. Strategi jangka pendek yang direncanakan bertujuan untuk mempertahankan subsektor prima tetap menjadi subsektor prima, yaitu tetap mempertahankan laju pertumbuhannya yang cepat dan besarnya kontribusi dari subsektor prima. Strategi pengembangan yaitu dengan cara diversifikasi produk hasil peternakan (daging dan susu), stabilisasi hasil peternakan dan sistem gaduh ternak. 2. Strategi pengembangan jangka menengah terdiri dari 3 macam alternatif strategi : a. Mengupayakan subsektor potensial menjadi subsektor prima yaitu dengan meningkatkan laju pertumbuhan sektor potensial melalui upaya meningkatkan peran kelompok tani, pengembangan pertanian pada lahan

29 14 kritis, promosi atas hasil produksi pertanian unggul daerah (tanaman bahan makanan dan perkebunan), pelibatan pihak swasta sebagai mitra petani dan peningkatan kualitas SDM petani. b. Mengupayakan sub sektor berkembang menjadi sub sektor potensial, yaitu dengan meningkatkan kontribusi sub sektor berkembang melalui upaya pengembangan hasil hutan non kayu (lebah madu), pelestarian hutan untuk menjaga ketersediaan air dan untuk mencegah erosi. c. Mengupayakan sub sektor terbelakang menjadi sub sektor berkembang, yaitu dengan meningkatkan laju pertumbuhan subsektor terbelakang melalui upaya pengembangan bibit ikan unggul dan penguatan kelompok pembudidaya ikan (pokdakan). 3. Strategi pengembangan jangka panjang terdiri dua macam alternatif strategi, yaitu : a. Mengupayakan subsektor terbelakang menjadi subsektor berkembang, yaitu dengan meningkatkan laju pertumbuhan subsektor terbelakang, melalui upaya kerjasama dengan pihak swasta untuk meningkatkan penjualan produk perikanan dan memfasilitasi peningkatan akses pembudidaya ikan terhadap sumber permodalan. b. Mengupayakan subsektor prima tetap menjadi subsektor prima, yaitu dengan tetap mempertahankan laju pertumbuhannya yang cepat dan besarnya kontribusi dari subsektor prima melalui upaya inseminasi buatan pada ternak, penelitian dan pengolahan gizi dan pakan ternak, dan pemanfaatan kotoran dan urine ternak sebagai pupuk organik dan biogas. Penelitian-penelitian di atas dijadikan sebagai acuan atau bahan referensi dalam penelitian ini karena: 1. Adanya kesamaan topik penelitian, yaitu mengenai sektor pertanian dan kesamaan lokasi penelitian di Kabupaten Sragen, yaitu dalam penelitian Palupi (2009) dan Hastutiningsih (2010). 2. Adanya kesamaan metode pendekatan analisis, yaitu menggunakan analisis pendekatan Tipologi Klassen dalam penelitian Hartanto (2010) dan Julianti (2010).

30 15 Hasil penelitian tersebut dapat memberikan informasi dan gambaran secara komprehensif, sehingga akan mempermudah penelitian ini untuk menentukan strategi pengembangan wilayah berbasis tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen. Hasil penelitian tersebut juga digunakan sebagai pembanding, khususnya penelitian yang di Kabupaten Sragen untuk mengetahui perkembangan dari sektor pertanian. B. Tinjauan Pustaka 1. Perencanaan Pembangunan Perencanaan dapat didefinisikan sebagai upaya yang dilakukan oleh sebuah institusi publik untuk membuat arah kebijakan pembangunan yang harus dilakukan di sebuah wilayah baik negara maupun di daerah dengan didasarkan keunggulan dan kelemahan yang dimiliki oleh wilayah tersebut. Artinya, dalam sebuah proses perencanaan, lembaga perencana wajib memperhatikan kondisi sosial, budaya, ekonomi, keamanan,kondisi fisik, segi pembiayaan serta kualitas sumber daya yang ada si wilayah tersebut (Widodo, 2006). Perencanaan pembangunan pada umumnya dilakukan oleh ahli-ahli ekonomi dan pelaksanaan pembangunan dilaksanakan oleh aparat-aparat pemerintah, pengusaha swasta maupun pelaksana-pelaksana perusahaan pemerintah, dan individu-individu dalam masyarakat. Apabila pelaksana pembangunan menjalankan kegiatan yang tidak sesuai dengan yang digariskan oleh perencana pembangunan, maka proses pembangunan akan tidak berjalan seperti yang direncanakan dan menimbulkan corak pembangunan ekonomi yang tidak diharapkan. Oleh sebab itu adalah kurang pada tempatnya memundakkan seluruh tanggung jawab dari kepincangan yang terjadi dalam proses pembangunan kepada ahli-ahli ekonomi (Sukirno, 1985). 2. Pembangunan Ekonomi Pandangan pembangunan lama atau dikenal dengan pembangunan tradisional menyatakan bahwa pembangunan adalah upaya yang dilakukan untuk meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) ditingkat nasional

31 16 atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ditingkat daerah. Penggunaan indikator ini terkait dengan kemampuan indikator ini dalam mencerminkan tingkat kemakmuran bangsa. Indikator ini memungkinkan kita untuk mengetahui tingkat output yang diproduksi di sebuah negara untuk dikonsumsi oleh penduduknya (Widodo, 2006). Pembangunan harus dipandang sebagai suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat dan institusi-institusi nasional, disamping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan kemiskinan. Jadi, pada hakikatnya, pembangunan harus mencerminkan perubahan total suatu masyarakat atau penyesuaian sistem sosial secara keseluruhan tanpa mengabaikankeragaman kebutuhan dasar dan keinginan individual maupun kelompok sosial yang ada di dalamnya, untuk bergerak lebih maju menuju suatu kondisi kehidupan yang serba lebih baik, secara materiil dan spiritual (Todaro dan Smith, 2006). Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan pendapatan total dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya pertambahan penduduk dan disertai dengan perubahan fundamental dalam struktur ekonomi suatu negara. Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (economic growth); pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses pembangunan ekonomi. Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi peningkatan GNP riil di negara tersebut. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi (Anonim, 2010). Tujuan pembangunan ekonomi adalah disamping menaikkan pendapatan nasional. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan

32 17 ekonomi suatu negara. Faktor-faktor tersebut dapat digolongkan menjadi dua yaitu : a. Faktor Ekonomi b. Faktor Non Ekonomi (seperti sistem pemerintahan, hukum, pendidikan, agama, kebudayaan, adat istiadat, tradisi dan sebagainya). Pembangunan ekonomi dapat memberikan kepada manusia yang bersangkutan kemampuan yang lebih besar untuk menguasai alam sekitarnya dan mempertinggi tingkat kebebasannya dalam mengadakan tindakan tertentu (Martono, 2008). 3. Pembangunan Daerah Basis otonomi daerah tersebut adalah daerah Kabupaten dan daerah Kota yang didasarkan pada azas desentralisasi, adapun daerah propinsi merupakan wakil pemerintah pusat yang menyelenggarakan urusan administrasi yang mencakup lintas daerah kabupaten dan daerah kota. Diberlakukannya Otonomi Daerah, harus kita sadari bahwa bersamaan pula adanya desakan dari arus globalisasi bagi masyarakat, antara lain menimbulkan beberapa tantangan; pertama, berbagai produk akan menghadapi persaingan yang sengit dengan produk yang datang dari luar. Bagi semua hasil produksi termasuk dari pertanian, industri mikro dan keluarga tidak ada jalan lain kecuali meningkatkan daya saing produk. Dalam posisi SDM rendah kualitas dan teknologi yang tidak tepat, maka akan kalah bersaing. Kedua, arus globalisasi akan mengundang semakin terbukanya peluang investasi asing, sehingga perusahaan domestik harus bersaing dengan usaha asing di negerinya sendiri. Untuk itu diperlukan kebijakan pemerintah tentang perlunya penyertaan partner lokal, agar usaha domestik ikut maju (Karsidi, 2000). Ada dua kondisi yang mempengaruhi proses perencanaan pembangunan daerah, yaitu tekanan yang berasal dari lingkungan dalam negeri maupun luar negeri yang mempengaruhi kebutuhan daerah dalam proses pembangunan perekonomiannya. Dan kenyataan bahwa perekonomian daerah dalam suatu negara dipengaruhi oleh setiap sektor

33 18 secara berbeda-beda, misalkan beberapa daerah mengalami pertumbuhan pada sektor industri sedangkan daerah lain mengalami penurunan (Kuncoro, 2004 b ). 4. Pembangunan Pertanian Tantangan pembangunan pertanian Indonesia ke depan antara lain bagaimana memenuhi kebutuhan pangan serta keseimbangan gizi keluarga; memperbaiki dan membangun infrastruktur lahan dan air serta perbenihan dan perbibitan; meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk pertanian; membuka akses pembiayaan pertanian dengan suku bunga rendah bagi petani/peternak kecil; memperkokoh kelembagaan usaha ekonomi produktif di perdesaan; menciptakan sistem penyuluhan pertanian yang efektif; membudayakan penggunaan pupuk kimiawi dan organik secara berimbang untuk memperbaiki dan meningkatkan kesuburan tanah; mengupayakan adaptasi terhadap perubahan iklim dan pelestarian lingkungan hidup; menciptakan kebijakan harga (pricing policies) yang proporsional untuk produk-produk pertanian khusus; mengupayakan pencapaian Millenium Development Goals (MDG s) yang mencakup angka kemiskinan, pengangguran, dan rawan pangan; memperkuat kemampuan untuk bersaing di pasar global serta mengatasi pelemahan pertumbuhan ekonomi akibat krisis global; serta memperbaiki citra petani dan pertanian agar kembali diminati generasi penerus (Deptan, 2009). 5. Peranan Sektor Pertanian Pakar ilmu ekonomi mulai menyadari bahwa daerah pedesaan pada umumnya dan sektor pertanian pada khususnya ternyata tidak bersifat pasif, tetapi jauh lebih penting dari sekedar penunjang dalam proses pembangunan ekonomi secara keseluruhan. Keduanya harus ditempatkan pada kedudukan sebenarnya, yakni sebagai unsur atau elemen unggulan yang sangat penting, dinamis, dan bahkan menentukan dalam strategistrategi pembangunan secara keseluruhan, terutama pada negara sedang berkembang yang berpendapatan rendah (Todaro dan Smith, 2006).

34 19 Pertanian dapat bekerjasama secara harmonis dengan sektor-sektor lain untuk menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat, mengurangi kemiskinan, dan melestarikan lingkungan. Dunia pertanian berkontribusi pada pembangunan sebagai sebuah aktivitas ekonomi, sebagai mata pencaharian dan sebagai cara untuk melestarikan lingkungan, sehingga menjadikan sektor ini sebuah instrumen unik bagi pembangunan (Grup Bank Dunia, 2008). Sumbangan atau jasa sektor pertanian pada pembangunan ekonomi terletak dalam hal : (i) menyediakan surplus pangan yang semakin besar kepada penduduk yang kian meningkat. (ii) meningkatkan permintaan akan produk industri dan dengan demikian mendorong keharusan diperluasnya sektor sekunder dan tersier. (iii) menyediakan tambahan penghasilan devisa untuk impor barang-barang modal bagi pembangunan melalui ekspor hasil pertanian terus menerus. (iv) meningkatkan pendapatan untuk dimobilisasi pemerintah. (v) memperbaiki kesejahteraan rakyat pedesaan (Jhingan, 2007). 6. Pembangunan Sektor Tanaman Bahan Makanan Di negara terbelakang produksi pangan mendominasi sektor pertanian. Jika output membesar lantaran meningkatnya produktivitas, maka pendapatan para petani akan meningkat. Dalam situasi dimana kenaikan produksi komoditi pertanian tertinggal di belakang pertumbuhan permintaannya, maka akan timbul kenaikan harga bahan makanan. Untuk menutup kelangkaan dalam negeri dan mencegah membumbungnya harga bahan pangan dapat saja di impor dari luar negeri, tetapi impor demikian mungkin akan mengorbankan barang-barang modal yang diperlukan untuk pembangunan. Kesemuanya ini menekan perlunya menaikkan produksi pangan dan surplus pertanian untuk pembentukan modal di negara terbelakang (Jhingan, 2007). Program ketahanan pangan belum bisa terlepas sepenuhnya dari beras sebagai komoditi basis yang strategis. Hal ini tersurat pada rumusan pembangunan pertanian bahwa sasaran indikatif produksi komoditas

35 20 utama tanaman pangan sampai tahun 2006 dan cadangan pangan pemerintah juga masih berbasis pada beras. Namun demikian, dengan semakin berkurangnya areal garapan per petani, keterbatasan pasokan air irigasi dan mahalnya harga input serta relatif rendahnya harga produk dapat menjadi faktor-faktor pembatas/kendala untuk program peningkatan kesejahteraan dan kemandirian petani yang berbasis sumberdaya lokal tersebut (Darwanto dan Ratnaningtyas, 2007). 7. Metode Analisis Potensi Relatif Perekonomian Wilayah Ada beberapa metode analisis yang dapat digunakan untuk menentukan potensi relatif perekonomian suatu wilayah. Metode analisis itu diantaranya adalah : a. Metode Analisis LQ Asumsi utama dalam analisis LQ adalah bahwa semua penduduk di setiap daerah mempunyai pola permintaan yang sama dengan pola permintaan pada tingkat daerah referensi (pola pengeluaran secara geografi adalah sama). Produktivitas tenaga kerja adalah sama dan setiap industri menghasilkan orang yang sama (homogen) pada setiap sektor (Arsyad, 1999). b. Metode Analisis Shift-Share Menurut Widodo (2006), analisis Shift Share adalah salah satu teknik kuantitatif yang bisa digunakan untuk menganalisis perubahan struktur ekonomi daerah relatif terhadap struktur ekonomi wilayah administratif yang lebih tinggi sebagai pembanding atau referensi. Untuk tujuan tersebut, analisis ini menggunakan tiga informasi dasar yang berhubungan satu sama lain, yaitu: 1) Pertumbuhan ekonomi referensi provinsi atau nasional (national growth effect), yang menunjukkan bagaimana pengaruh pertumbuhan ekonomi nasional terhadap perekonomian daerah. 2) Pergeseran proporsional (proportional shift), yang menunjukkan perubahan relatif kinerja suatu sektor di daerah tertentu terhadap sektor yang sama di referensi propinsi atau nasional.

36 21 3) Pergeseran diferensial (differential shift) yang memberikan informasi dalam menentukan seberapa jauh daya saing industri daerah (lokal) dengan perekonomian yang dijadikan referensi. c. Metode Input output Menurut Kuncoro (2004 a ), manfaat analisis input output antara lain menyajikan gambaran rinci mengenai struktur ekonomi pada suatu kurun waktu tertentu, memberikan gambaran lengkap mengenai aliran barang, jasa, dan input antar sektor, dan sebagai alat peramal mengenai pengaruh suatu perubahan situasi/kebijakan ekonomi Analisis IO dipergunakan untuk perencanaan ekonomi nasional maupun regional. Model IO memberikan informasi yang perlu mengenai koefisien struktural berbagai sektor perekonomian selama suatu jangka waktu atau suatu waktu tertentu yang dapat dipergunakan seoptimal mungkin mengalokasikan sumberdaya-sumberdaya ekonomi menuju cita-cita yang diinginkan. Selain dapat mengetahui besarnya keterkaitan antarsektor baik ke depan maupun ke belakang, perencana juga dapat mengetahui besarnya angka pengganda dari setiap sektor produksi dalam perekonomian tersebut. Angka pengganda yang dihasilkan dari model IO mencakup angka pengganda output, tenaga kerja serta pendapatan. Dari keduanya (angka pengganda dan koefisien keterkaitan antarsektor) dapat diketahui sektor apa yang menjadi unggulan daerah serta yang mampu memacu pertumbuhan ekonomi regional (Widodo, 2006). d. Metode Tipologi Klassen Teknik Tipologi Klassen dapat digunakan untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan sektoral daerah. Menurut Tipologi Klassen, masing-masing sektor ekonomi di daerah dapat diklasifikasikan sebagai sektor yang prima, berkembang, potensial, dan terbelakang. Analisis ini mendasarkan pengelompokan suatu sektor dengan melihat pertumbuhan dan kontribusi sektor tertentu terhadap total PDRB suatu daerah. Dengan menggunakan analisis

37 22 Tipologi Klassen, suatu sektor dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori, yaitu : sektor prima, sektor potensial, sektor berkembang, dan sektor terbelakang. Penentuan kategori suatu sektor ke dalam empat kategori tersebut didasarkan pada laju pertumbuhan kontribusi sektoralnya dan rerata besar kontribusi sektoralnya terhadap PDRB, seperti yang ditunjukkan Tabel 6. Tabel 6. Matriks Tipologi Klassen Rerata Kontribusi Sektoral thd PDRB Y Rerata Laju SEKTOR Y PDRB Pertumbuhan Sektoral Y SEKTOR < Y PDRB r SEKTOR r PDRB Sektor Prima Sektor Berkembang r SEKTOR < r PDRB Sektor Potensial Sektor Terbelakang Sumber: Widodo, 2006 Keterangan: a. Y SEKTOR = nilai sektor ke i b. Y PRDB = rata-rata PDRB c. r SEKTOR = laju pertumbuhan sektor ke i d. r PDRB = laju pertumbuhan PDRB Bila dikaitkan dengan kegiatan perencanaan untuk pengembangan ekonomi daerah di masa mendatang, dapat dilakukan dengan menentukan strategi pengembangan menurut periode waktu yang dapat dilakukan dalam tiga tahap yaitu prioritas pengembangan ekonomi untuk masa jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 7.

38 23 Tabel 7. Matriks Strategi Pengembangan Jangka Pendek Jangka Menengah (1-5th) (5-10th) - sektor prima - sektor berkembang menjadi sektor prima - sektor terbelakang menjadi sektor berkembang Sumber : Widodo, 2006 Jangka Panjang (10-25th) - sektor berkembang menjadi sektor prima C. Kerangka Teori Pendekatan Masalah Perencanaan memiliki peran yang penting dalam proses pembangunan. Perencanaan pembangunan yang baik haruslah memperhatikan kondisi lingkungan, kekuatan dan kelemahan di suatu daerah, badan perencana pembangunan dan ruang serta waktu. Perencanaan pembangunan yang tepat dibutuhkan agar tujuan pembangunan dapat dicapai dan berjalan baik. Oleh karena itu perencanaan pembangunan diperlukan sebagai dasar dan arahan dalam melakukan proses pembangunan sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Pembangunan daerah di Kabupaten Sragen mencakup dua sektor yaitu sektor perekonomian dan sektor non perekonomian. Sektor perekonomian terdiri dari sektor pertanian dan sektor non pertanian dimana masing-masing sektor tersebut memberikan sumbangan yang beragam bagi PDRB Kabupaten Sragen. Sektor pertanian terdiri dari lima subsektor antara lain subsektor tanaman bahan makanan, subsektor tanaman perkebunan, subsektor peternakan, subsektor kehutanan dan subsektor perikanan. Sedangkan untuk sektor non pertanian terdiri dari delapan sektor antara lain sektor pertambangan dan penggalian; sektor industri pengolahan; sektor listrik, gas, dan air minum; sektor bangunan/kontruksi; sektor perdagangan, restoran, dan hotel; sektor pengangkutan dan komunikasi; sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan; dan sektor jasa-jasa. Subsektor tanaman bahan makanan merupakan subsektor yang memberikan kontribusi terbesar dari sektor pertanian, sehingga tanaman bahan

39 24 makanan memiliki peranan penting bagi sektor pertanian di Kabupaten Sragen. Subsektor ini memperoleh kontribusi dari berbagai komoditi tanaman pangan (padi dan palawija), sayuran dan buah-buahan. Dari hasil produksi komoditi tersebut dapat diketahui besarnya nilai produksi dan laju pertumbuhan komoditi dengan melihat jumlah produksi dan harga komoditi tingkat produsen pada tahun tertentu. Kontribusi komoditi tanaman bahan makanan dapat diketahui yaitu dengan membandingkan nilai produksi masing-masing komoditi tanaman bahan makanan terhadap total nilai produksi komoditi pertanian secara keseluruhan di Kabupaten Sragen. Besarnya kontribusi dan laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen dapat dijadikan sebagai indikator untuk menentukan klasifikasi tanaman bahan makanan dengan menggunakan analisis Tipologi Klassen. Dengan analisis Tipologi Klassen, masing-masing komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen diidentifikasi sehingga dapat diketahui komoditi yang menjadi prioritas atau unggulan di Kabupaten Sragen. Komoditi tanaman bahan makanan berdasarkan Tipologi Klassen diklasifikasikan menjadi empat kategori yaitu komoditi prima, komoditi potensial, komoditi berkembang, dan komoditi terbelakang. Berdasarkan hasil klasifikasi, maka Pemerintah Daerah Kabupaten Sragen dapat melakukan kegiatan perencanaan untuk pembangunan ekonomi daerahnya di masa yang akan datang yaitu dengan menentukan strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan. Strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan ini dapat disusun melalui matriks strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan yang berdasarkan pada periode waktu, meliputi pengembangan untuk masa jangka pendek (1-5 tahun), jangka menengah (5-10 tahun) dan jangka panjang (10-25 tahun). Hasil rumusan strategi pengembangan yang telah disusun berdasarkan periode waktu tersebut dapat dijadikan sebagai sumbangan pemikiran bagi pemerintah daerah, sehingga akan mempermudah pemerintah daerah dalam menyusun rencana pembangunan daerah Kabupaten Sragen. Dengan demikian, perencanaan pembangunan daerah merupakan

40 25 tindak lanjut dari penetapan strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan di KabupatenSragen. Gambar alur kerangka pemikiran dalam penelitian Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah Berbasis Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen disajikan pada Gambar 1

41 26 Perencanaan Pembangunan Ekonomi Kabupaten Sragen Pembangunan Daerah Kabupaten Sragen Sektor Perekonomian Sektor Non Perekonomian Sektor Pertanian Sektor Non Pertanian Subsektor Tanaman Bahan Makanan Subsektor Tanaman Perkebunan Subsektor Peternakan Subsektor Kehutanan Subsektor Perikanan Komoditi Tanaman Bahan Makanan Pendekatan Tipologi Klassen Klasifikasi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Komoditi Prima Komoditi Potensial Komoditi Berkembang Komoditi Terbelakang Alternatif Strategi Pengembangan Komoditi Tanaman Bahan Makanan Jangka Pendek 1-5 Tahun Jangka Menengah 5-10 Tahun Jangka Panjang Tahun Gambar 1. Alur Pemikiran Penentuan Klasifikasi dan Alternatif Strategi Pengembangan Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen

42 27 D. Pembatasan Masalah 1. Model Analisis yang dapat digunakan untuk menentukan potensi relatif perekonomian suatu wilayah adalah meliputi model teori ekonomi basis, model Shift Share, model input-output, maupun pendekatan Tipologi Klassen. Dalam penelitian ini analisis dibatasi hanya menggunakan pendekatan Tipologi Klassen. 2. Komoditi tanaman bahan makanan terdiri dari tanaman padi, tanaman palawija, dan tanaman hortikultura. Tanaman hortikultura meliputi tanaman sayur-sayuran, buah-buahan, biofarmaka, dan tanaman hias. Dalam penelitian ini komoditi tanaman bahan makanan terdiri dari padi, palawija, sayur-sayuran dan buah-buahan. 3. Harga komoditi tanaman bahan makanan yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga rata-rata tahunan komoditi tanaman bahan makanan di tingkat produsen di Kabupaten Sragen pada tahun Alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan mengacu pada matrik strategi pengembangan dari buku Perencanaan Pembangunan : Aplikasi Komputer karangan Tri Widodo. E. Definisi Operasional Dan Konsep Pengukuran Variabel 1. Klasifikasi adalah pengelompokan yang sistematis pada sejumlah objek, gagasan, atau benda-benda lain ke dalam kelas atau golongan tertentu berdasarkan ciri-ciri yang sama. Dalam penelitian ini, menggunakan pendekatan Tipologi Klassen yang mengklasifikasikan komoditi tanaman bahan makanan berdasarkan laju pertumbuhan dan kontribusi komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen. Tipologi Klassen membagi komoditi tanaman bahan makanan menjadi empat kategori yaitu komoditi prima, komoditi potensial, komoditi berkembang dan komoditi terbelakang. 2. Komoditi adalah suatu produk yang diperdagangkan atau barang perdagangan. Dalam penelitian ini, komoditi adalah suatu produk yang dihasilkan dari suatu kegiatan dengan menggunakan sumberdaya yang tersedia di Kabupaten Sragen.

43 28 3. Tanaman bahan makanan adalah berbagai jenis tanaman yang dibudidayakan yang dapat dijadikan atau dibuat menjadi bentuk lain dan berguna untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia. 4. Komoditi tanaman bahan makanan adalah komoditi yang berasal dari kegiatan di sektor pertanian khususnya subsektor tanaman bahan makanan yang dapat diolah menjadi bentuk lain sehingga dapat dikonsumsi. Dalam penelitian ini, komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen meliputi padi, palawija, sayur-sayuran dan buah-buahan. 5. Nilai produksi komoditi adalah besarnya hasil jasa dari komoditi yang dibudidayakan. Dalam penelitian ini, nilai produksi komoditi tanaman bahan makanan diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah produksi komoditi tanaman bahan makanan dengan harga rata-rata komoditi tanaman bahan makanan di tingkat produsen dalam satu tahun di Kabupaten Sragen dan dinyatakan dalam satuan Rupiah. Harga rata-rata komoditi tanaman bahan makanan adalah harga konstan komoditi tanaman bahan makanan yang diperoleh dengan mengubah komoditi harga berlaku dengan rumus sebagai berikut : IHK HK rill i = D xhki IHKi 100 HK rill i = xhki IHKi Keterangan : HK riil i : Harga Komoditas Atas Dasar Harga Konstan Tahun i IHK D : Indeks Harga Konsumen Tahun Dasar IHK i : Indeks Harga Konsumen Tahun i HK i : Harga Komoditas Tahun i i : Tahun Penelitian Dalam penelitian ini, harga konstan komoditi tanaman bahan makanan di tingkat produsen atas dasar tahun 2002 di Kabupaten Sragen. 6. Kontribusi adalah sumbangan, peranan atau fungsi suatu kegiatan ekonomi. Dalam penelitian ini, kontribusi komoditi tanaman bahan makanan

44 29 ditunjukkan dengan perbandingan antara kontribusi nilai produksi komoditi tanaman bahan makanan i dengan total nilai produksi komoditi pertanian kemudian dikalikan 100%. Untuk mengetahui besar kecilnya kontribusi komoditi tanaman bahan makanan, maka kontribusi tanaman bahan makanan tersebut dibandingkan dengan kontribusi PDRB Kabupaten Sragen terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah. Adapun kriterianya adalah: Kontribusi besar : apabila kontribusi komoditi tanaman bahan makanan i lebih besar daripada kontribusi PDRB Kabupaten Sragen. Kontribusi kecil : apabila kontribusi komoditi tanaman bahan makanan i lebih kecil daripada kontribusi PDRB Kabupaten Sragen. 7. Laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan makanan adalah proses perubahan tingkat kegiatan ekonomi pada komoditi tanaman bahan makanan yang terjadi dari tahun ke tahun. Dalam penelitian ini yang dimaksud laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan makanan adalah perubahan dari nilai produksi komoditi tanaman bahan makanan i (kemajuan atau kemunduran) yang ditunjukkan oleh selisih antara nilai produksi komoditi tanaman bahan makanan i pada tahun t dengan nilai produksi komoditi tanaman bahan makanan i tahun sebelumnya (tahun t-1 ), hasilnya dibagi dengan nilai produksi komoditi tanaman bahan makanan i tahun sebelumnya (tahun t-1 ), dikalikan 100%. Untuk mengetahui cepat lambatnya, laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan makanan Kabupaten Sragen dibandingkan dengan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen. Kriteria yang digunakan adalah: Tumbuh cepat : apabila laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan makanan i memiliki nilai lebih besar dan sama dengan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen. Tumbuh lambat : apabila laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan makanan i memiliki nilai lebih kecil daripada laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen. 8. Perencanaan pembangunan adalah sebuah tindakan yang berupaya untuk mengantisipasi ketidakseimbangan yang terjadi dan untuk mencapai

45 30 berbagai tujuan yang ditetapkan. Dalam penelitian ini perencanaan pembangunan ekonomi daerah Kabupaten Sragen didasarkan atas kontribusi dan laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan makanan dengan menggunakan Pendekatan Tipologi Klassen. 9. Strategi pengembangan adalah usaha atau cara (trik) agar suatu hal dapat mengalami perkembangan yang bersifat lebih baik/maju. Strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan dalam penelitian ini adalah suatu perencanaan untuk mengembangkan komoditi tanaman bahan makanan yang ada di Kabupaten Sragen berdasarkan pada kontribusi dan laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan makanan dalam jangka waktu tertentu. Strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan didasarkan pada periode waktu, yang terdiri dari: a. Strategi jangka pendek dilakukan dalam jangka waktu 1-5 tahun b. Strategi jangka menengah dilakukan dalam jangka waktu 5-10 tahun c. Strategi jangka panjang dilakukan dalam jangka waktu tahun

46 31 III. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dektriptif analitik. Metode deskriptif adalah metode yang memusatkan diri pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang, pada masalah-masalah yang aktual. Data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan, dan kemudian dianalisa. Metode ini sering pula disebut metode analitik (Surakhmad, 1985). B. Metode Pengambilan Daerah Penelitian Daerah penelitian yang diambil adalah Kabupaten Sragen dengan pertimbangan sebagai berikut: 1. Sektor pertanian di Kabupaten Sragen memberikan kontribusi yang tertinggi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada tahun (Tabel 1). 2. Subsektor tanaman bahan makanan mempunyai nilai kontribusi PDRB yang paling tinggi dibanding dengan subsektor yang lain (Tabel 2), namun dalam laju pertumbuhan subsektor tanaman bahan makanan pada tahun masih bersifat fluktuatif (Tabel 3). Oleh karena itu, kondisi ini perlu diperhatikan agar dapat lebih meningkat pada waktu mendatang, yaitu dengan menentukan strategi pengembangan pada sektor pertanian, khususnya pada komoditi dari subsektor tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen. C. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dan data primer. Data sekunder merupakan data yang telah tersedia dalam berbagai bentuk. Biasanya jenis data ini lebih banyak sebagai data statistik atau data yang sudah diolah sedemikian rupa sehingga siap digunakan. Data dalam bentuk statistik biasanya tersedia pada kantor-kantor pemerintahan, biro jasa data, perusahaan swasta atau badan lain yang berhubungan dengan 31

47 32 penggunaan data. Sumber utama data statistik di Indonesia adalah Badan Pusat Statistik (Daniel, 2004). Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sragen, BAPPEDA Kabupaten Sragen, Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Dinas Peternakan Kabupaten Sragen, Dinas Perikanan Kabupaten Sragen dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Sragen. Data sekunder yang digunakan berupa data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Sragen tahun , PDRB Provinsi Jawa Tengah tahun ADHK 2000, jumlah produksi komoditi tanaman bahan makanan tahun di Kabupaten Sragen, harga komoditi tanaman bahan makanan tahun di Kabupaten Sragen, indeks harga konsumen (IHK) tahun Kabupaten Sragen, data Rencana Strategis (RENSTRA) Kabupaten Sragen, bahan LKPJ Bupati tahun 2010 dan data yang ada pada Sragen Dalam Angka Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan narasumber. Wawancara dilakukan kepada dinas terkait yaitu Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, Penyuluh lapang, dan Ketua kelompok tani. Wawancara terkait dengan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam kegiatan on farm dan off farm komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen. D. Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan Tipologi Klassen. Pendekatan Tipologi Klassen adalah alat analisis untuk mengetahui gambaran tentang pola dan struktur pertumbuhan ekonomi masing-masing komoditi tanaman bahan makanan. Tipologi Klassen untuk penelitian ini pada dasarnya membagi komoditi tanaman bahan makanan berdasarkan dua indikator utama, yaitu laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan dan kontribusi komoditi tanaman bahan makanan terhadap PDRB kabupaten Sragen.

48 33 1. Analisis Klasifikasi Komoditi Tanaman Bahan Makanan Identifikasi komoditi tanaman bahan makanan yang ada di Kabupaten Sragen dengan menggunakan pendekatan Tipologi Klassen. Pendekatan Tipologi Klassen ini dilakukan dengan: a. Membandingkan besarnya kontribusi komoditi tanaman bahan makanan dengan kontribusi PDRB Kabupaten Sragen terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah. b. Membandingkan laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan makanan dengan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen. Dari identifikasi dengan menggunakan pendekatan Tipologi Klassen tersebut diperoleh klasifikasi komoditi tanaman bahan makanan yaitu komoditi prima, komoditi potensial, komoditi berkembang dan komoditi terbelakang. Penjelasan pengklasifikasian tersebut didasarkan pada besar kecilnya kontribusi antara komoditi tanaman bahan makanan i dengan kontribusi PDRB Kabupaten Sragen dan cepat lambatnya laju pertumbuhan antara komoditi tanaman bahan makanan i dengan PDRB Kabupaten Sragen. Untuk lebih jelasnya mengenai identifikasi dan klasifikasi komoditi tanaman bahan makanan dengan pendekatan Tipologi Klassen disajikan pada Tabel 8. Tabel 8. Identifikasi dan Klasifikasi Komoditi Tanaman Bahan Makanan dengan Pendekatan Tipologi Klassen Kontribusi Komoditi Tanaman Bahan Kontribusi Besar (Kontribusi Komoditi i Kontribusi Kecil (Kontribusi Komoditi Laju Makanan > Kontribusi PDRB ) i< Kontribusi Pertumbuhan PDRB) Komoditi Tanaman Bahan Makanan Tumbuh Cepat Komoditi Komoditi (r komoditi i >r PDRB ) Prima Berkembang Tumbuh Lambat Komoditi Komoditi (r komoditi i <r PDRB ) Potensial Terbelakang Keterangan : r Komoditi i : laju pertumbuhan komoditi i r PDRB : laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen

49 34 Pendekatan Tipologi Klassen ini akan memberikan hasil yang menunjukkan posisi pertumbuhan dan kontribusi komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen. Berdasarkan Matriks Tipologi Klassen, komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen dapat diklasifikasikan menjadi empat kategori, yaitu: a. Komoditi prima adalah komoditi yang memiliki laju pertumbuhan cepat dan kontribusi yang besar terhadap PDRB Kabupaten Sragen. b. Komoditi potensial adalah komoditi yang memiliki laju pertumbuhan lambat dan kontribusi yang besar terhadap PDRB Kabupaten Sragen. c. Komoditi berkembang adalah komoditi yang memiliki pertumbuhan cepat dan kontribusi yang kecil terhadap PDRB Kabupaten Sragen. d. Komoditi terbelakang adalah komoditi yang memiliki laju pertumbuhan lambat dan kontribusi yang kecil terhadap PDRB Kabupaten Sragen. 2. Alternatif Strategi Pengembangan Komoditi Tanaman Bahan Makanan Setelah dilakukan klasifikasi pada komoditi tanaman bahan makanan maka dapat dirumuskan suatu strategi pengembangan dalam rangka perencanaan pembangunan ekonomi daerah untuk meningkatkan pendapatan daerah Kabupaten Sragen. Strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang secara lebih jelas disajikan pada Tabel 9. Tabel 9. Matriks Strategi Pengembangan Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Jangka Pendek (1-5th) Jangka Menengah (5-10th) Jangka Panjang (10-25th) Komoditi Prima Komoditi potensial menjadi komoditi prima Komoditi potensial menjadi komoditi prima Komoditi berkembang menjadi komoditi potensial Komoditi terbelakang menjadi komoditi berkembang Komoditi terbelakang menjadi komoditi berkembang Komoditi Prima

50 35 Strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen sebagai dasar perencanaan pembangunan ekonomi, dapat dilakukan melalui: a. Strategi Jangka Pendek Strategi pengembangan jangka pendek dilakukan dengan periode waktu antara 1-5 tahun. Strategi jangka pendek ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan potensi komoditi prima dalam meningkatkan PDRB Kabupaten Sragen. Selain itu juga dengan mengupayakan komoditi potensial menjadi komoditi prima. Strategi yang dapat dilakukan dengan meningkatkan laju pertumbuhan komoditi potensial. b. Strategi Jangka Menengah Strategi pengembangan dalam jangka menengah dilakukan dengan periode waktu antara 5-10 tahun. Strategi jangka menengah dilakukan dengan mengusahakan agar komoditi potensial dapat menjadi komoditi prima yaitu dengan meningkatkan nilai laju pertumbuhan komoditi potensial tersebut, mengupayakan komoditi berkembang menjadi komoditi potensial dengan meningkatkan kontribusi komoditi berkembang sehingga apabila komoditi potensial mengalami kemunduran atau menggantikan komoditi prima maka komoditi berkembang dapat menggantikan komoditi potensial, mengupayakan komoditi terbelakang dapat menjadi komoditi yang berkembang dengan meningkatkan laju pertumbuhan komoditi terbelakang. c. Strategi Jangka Panjang Strategi pengembangan dalam jangka panjang dilakukan dengan periode waktu antara tahun. Strategi jangka panjang ini dapat dilakukan dengan mengusahakan agar komoditi terbelakang menjadi komoditi berkembang dengan meningkatkan laju pertumbuhan komoditi terbelakang dan juga untuk mempertahankan komoditi prima menjadi komoditi prima agar kontinuitas sebagai penyumbang besar PDRB Kabupaten Sragen tetap terjaga.

51 36 IV. KONDISI UMUM KABUPATEN SRAGEN A. Kondisi Umum Daerah 1. Letak Geografis Kabupaten Sragen adalah salah satu kabupaten yang terletak di Propinsi Jawa Tengah. Letak Kabupaten Sragen secara geografis antara dan BT serta 7.15 dan 7.30 LS. Letak Kabupaten Sragen berada di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur sehingga merupakan Kabupaten yang terletak paling timur di Propinsi Jawa Tengah. Batas-batas wilayah Kabupaten Sragen adalah sebagai berikut : Sebelah Timur : Kabupaten Ngawi (Propinsi Jawa Timur) Sebelah Barat : Kabupaten Boyolali Sebelah Selatan : Kabupaten Karanganyar Sebelah Utara : Kabupaten Grobogan Dilihat dari peta Jawa Tengah, Kabupaten Sragen adalah salah satu kabupaten yang dilalui sungai Bengawan Solo, merupakan sungai terpanjang di pulau Jawa dengan mata air dari daerah Wonogiri dan bermuara di Laut Jawa di daerah Ujung Pangkah, Gresik. Letak Kabupaten Sragen berada di lembah daerah aliran Sungai Bengawan Solo yang mengalir ke arah Timur. Kabupaten Sragen menjadi gerbang utama sebelah Timur Propinsi Jawa Tengah, yang berbatasan langsung dengan Propinsi Jawa Timur. Kabupaten Sragen memiliki posisi strategis yang terletak di jalur utama transportasi darat antara Solo dan Surabaya. Kabupaten Sragen dilintasi jalur kereta api lintas selatan Pulau Jawa (Surabaya-Yogyakarta-Jakarta) dengan stasiun terbesarnya Sragen, serta lintas Semarang-Solo dengan stasiun terbesarnya Gemolong. 2. Luas Wilayah dan Pembagian Administrasi Kabupaten Sragen memiliki luas wilayah sebesar 941,55 km 2. Penggunaan lahan di Kabupaten Sragen terbagi menjadi dua yaitu lahan sawah sebesar Ha (43%) dan lahan bukan sawah sebesar Ha 36

52 37 (57%). Luas lahan menurut penggunaanya secara lebih terinci disajikan pada Tabel 10. Tabel 10. Luas Kabupaten Sragen Dirinci Menurut Penggunaan Lahan Tahun 2008 Jenis Lahan Luas Lahan Persentase (Ha) (%) I. Lahan Sawah ,00 42,84 a. Irigasi Teknis ,00 19,94 b. Irigasi Setengah Teknis 3.865,00 4,10 c. Irigasi Sederhana 2.194,00 2,33 d. Tadah Hujan ,00 14,70 e. Lain-lain 1.659,00 1,76 II. Lahan Bukan Sawah ,00 57,16 a. Pekarangan/bangunan ,00 24,53 b. Tegal/kebun ladang/huma ,00 20,06 c. Padang/gembala rumput - - d. Kolam/Empang 41,00 0,04 e. Tanaman Kayu-kayuan dan perkebunan negara/swasta 825,00 0,90 f. Hutan Negara 2.964,00 3,15 g. Lain-lain 7.971,00 8,47 Jumlah (I + II) ,00 Sumber : BPS Kabupaten Sragen, 2009 Jenis tanah di Kabupaten Sragen adalah grummosol, alluvial regosol, latosol dan mediteran. Jenis tanah yang berbeda maka akan memiliki sifat yang berbeda, hal ini akan berpengaruh pada keragaman komoditi pertanian yang diusahakan. Kesuburan tanah juga akan berpengaruh pada keputusan dalam penggunaan lahan Pembagian administrasi di Kabupaten Sragen terdiri dari 20 kecamatan, 12 kelurahan dan 196 desa. Kecamatan di Kabupaten Sragen antara lain : Kalijambe, Plupuh, Masaran, Kedawung, Sambirejo, Gondang, Sambungmacan, Ngrampal, Karangmalang, Sragen, Sidoharjo, Tanon, Gemolong, Miri, Sumberlawang, Mondokan, Sukodono, Gesi, Tangen dan Jenar. Pusat pemerintahan Kabupaten Sragen berada di kecamatan Sragen.

53 38 3. Keadaan Topografi Kabupaten Sragen terletak pada ketinggian rata-rata 109 meter di atas permukaan laut. Ketinggian tempat di berbagai wilayah kecamatan di Kabupaten Sragen berkisar antara meter di atas permukaan laut. Ketinggian tempat di rinci per kecamatan di Kabupaten Sragen disajikan pada Tabel 11. Tabel 11. Ketinggian di Atas Permukaan Laut dirinci Per Kecamatan di Kabupaten Sragen Tahun 2008 Tinggi Daerah dari Permukaan Laut Kecamatan (meter) 1. Kalijambe Plupuh Masaran Kedawung Sambirejo Gondang Sambungmacan Ngrampal Karangmalang Sragen Sidoharjo Tanon Gemolong Miri Sumberlawang Mondokan Sukodono Gesi Tangen Jenar 118 Rata-rata 109 Sumber : BPS Kabupaten Sragen, 2009 Kabupaten Sragen mempunyai relief yang beraneka ragam yaitu pengunungan dan dataran rendah. Pegunungan kapur membentang dari timur ke barat terletak disebelah utara Sungai Bengawan Solo. Dataran rendah tersebar diseluruh wilayah Kabupaten Sragen. Wilayah Kabupaten Sragen dialiri sungai Bengawan Solo sehingga membagi wilayah menjadi wilayah utara Bengawan Solo dan wilayah selatan Bengawan Solo.

54 39 Pengelompokan wilayah berdasarkan aliran sungai Bengawan Solo adalah sebagai berikut : a. Utara Bengawan Solo terdapat sebelas kecamatan yaitu Kecamatan Kalijambe, Plupuh, Tanon, Gemolong, Miri, Sumberlawang, Mondokan, Sukodono, Gesi, Tangen, Jenar b. Selatan Bengawan Solo terdapat sembilan kecamatan yaitu Kecamatan Masaran, Kedawung, Sambirejo, Gondang, Sambungmacan, Ngrampal, Karangmalang, Sragen, Sidoharjo. 4. Keadaan Iklim dan Curah Hujan Kabupaten Sragen beriklim tropis dan bertemperatur sedang. Iklim tropis menyebabkan Kabupaten Sragen memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Suhu harian di Kabupaten Sragen berkisar antara o C. Kabupaten Sragen mempunyai curah hujan rata-rata di bawah 3000 mm/tahun. Curah hujan pada tahun 2008 meningkat jika dibandingkan curah hujan tahun Pada tahun 2007 curah hujan rata-rata sebesar 1882 mm/tahun dengan hari hujan 86 hari. Pada tahun 2008 curah hujan rata-rata mencapai 2662 mm dengan hari hujan 106 hari. Curah hujan tahun 2008 tertinggi terjadi pada bulan Maret sebesar 8296 mm dan curah hujan terendah terjadi pada bulan September sebesar 105 mm. Stasiun pengamatan yang ada di Kabupaten Sragen tersebar di 15 kecamatan dan berjumlah 22 stasiun pengamatan. Stasiun pengamatan Kalimacan terdapat di Kecamatan Kalijambe. Stasiun pengamatan Bapang terdapat di Kecamatan Plupuh. Stasiun pengamatan Masaran, Kedung Gatot, Sidodadi, Gebang terdapat di Kecamatan Masaran. Stasiun pengamatan Kedawung, Batu Jamus, Purworejo terdapat di Kecamatan Kedawung. Stasiun Sambirejo dan Gebyar terdapat di Kecamatan Sambirejo. Stasiun pengamatan Kedung Banteng terdapat di Kecamatan Gondang. Stasiun pengamatan Bakalan terdapat di Kecamatan Sambungmacan. Stasiun pengamatan Kenatan dan Ngarum terdapat di Kecamatan Ngrampal. Stasiun pengamatan Gembong terdapat di

55 40 Kecamatan Karang Malang. Stasiun pengamatan Mojo terdapat di Kecamatan Sragen. Stasiun pengamatan Singopadu terdapat di Kecamatan Sidoharjo. Stasiun pengamatan Ketro terdapat di Kecamatan Tanon. Stasiun Stasiun pengamatan Dadapan terdapat di Kecamatan Gemolong. Stasiun pengamatan Kedung Kancil terdapat di Kecamatan Miri. Stasiun pengamatan Tangen terdapat di Kecamatan Tangen. B. Keadaan Penduduk 1. Jumlah Penduduk Jumlah penduduk yang besar pada suatu wilayah mempunyai potensi untuk menjadi aset yang baik bagi keberhasilan pembangunan suatu wilayah. Keberhasilan tersebut perlu didukung dengan kualitas penduduk sebagai pelaku kegiatan pembangunan dan juga sebagai sasaran kegiatan pembangunan. Kepadatan penduduk di Kabupaten Sragen disajikan pada Tabel 12. Tabel 12. Kepadatan Penduduk Kabupaten Sragen Tahun Tahun Luas Wilayah Jumlah Kepadatan Penduduk (Km 2 ) Penduduk (Jiwa) (Jiwa/Km 2 ) , , , , Sumber : BPS Kabupaten Sragen, 2009 Berdasarkan Tabel 12, diketahui bahwa jumlah penduduk di Kabupaten Sragen meningkat setiap tahun dari tahun 2005 sampai tahun Jumlah penduduk tertinggi pada tahun 2008 sebesar jiwa. Seiring meningkatnya jumlah penduduk, maka kepadatan penduduk akan meningkat pula. Kepadatan penduduk meningkat dari tahun 2005 sampai tahun Pada tahun 2005 kepadatan penduduk sebesar 912 jiwa/km 2 dan tahun 2008 kepadatan penduduk sebesar 926 jiwa/km 2. Jumlah penduduk meningkat setiap tahunnya tetapi penyebarannya tidak merata di Kabupaten Sragen. Penduduk banyak terpusat di kecamatan Sragen sejumlah jiwa dan kepadatan penduduk

56 41 sejumlah jiwa/km 2. Kecenderungan terpusatnya penduduk ini dikarenakan Kecamatan Sragen merupakan letak pusat pemerintahan Kabupaten Sragen. Kecamatan Sragen selain menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Sragen juga menjadi pusat perekonomian. 2. Komposisi Penduduk a. Komposisi Penduduk menurut Jenis Kelamin Komposisi penduduk menurut jenis kelamin terbagi menjadi dua yaitu laki-laki dan perempuan. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin di Kabupaten Sragen disajikan pada Tabel 13. Tabel 13. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Sragen Tahun Tahun Jumlah Penduduk Berjenis Kelamin Laki-laki Perempuan Sumber :BPS Kabupaten Sragen, 2009 Berdasarkan Tabel 13 diketahui bahwa jumlah penduduk laki-laki dan penduduk perempuan meningkat dari tahun 2005 sampai tahun Jumlah penduduk terbesar pada tahun 2008, yaitu penduduk lakilaki sejumlah jiwa dan penduduk perempuan sejumlah jiwa. Jumlah penduduk perempuan lebih banyak jumlahnya dibanding jumlah penduduk laki-laki. b. Komposisi Penduduk menurut Kelompok Umur Komposisi penduduk berdasarkan kelompok umur membagi penduduk dalam dua kelompok yaitu penduduk usia produktif dan penduduk usia non produktif. Penduduk usia produktif adalah penduduk yang berusia antara 0-14 tahun dan penduduk yang berusia lebih dari 65 tahun, sedangkan penduduk usia produktif adalah penduduk yang berusia tahun. Komposisi penduduk menurut kelompok umur di Kabupaten Sragen disajikan di Tabel 14.

57 42 Tabel 14. Komposisi Penduduk Menurut Kelompok Umur di Kabupaten Sragen Tahun 2008 Kelompok Umur (tahun) Jumlah Penduduk (orang) , Jumlah Sumber : BPS Kabupaten Sragen, 2009 Angka Beban Tanggungan (%) Berdasarkan Tabel 14 diketahui bahwa jumlah penduduk usia produktif lebih besar jumlahnya dibanding dengan jumlah penduduk usia non produktif. Angka beban tanggungan di Kabupaten Sragen sebesar 51,49% artinya bahwa 100 jiwa penduduk kelompok umur produktif harus menanggung 51,49 jiwa penduduk kelompok umur non produktif. Semakin kecil angka beban tanggungan maka semakin besar sumberdaya manusia yang dapat digunakan untuk pembangunan Kabupaten Sragen. Angka beban tanggungan di Kabupaten Sragen perlu mendapat perhatian, oleh karenanya pemerintah Kabupaten Sragen mendirikan balai pelatihan untuk meningkatkan produktivitas penduduk usia produktif. Balai Latihan Kerja Technopark Ganesha Sukowati memberi jenis pelatihan antara lain Kejuruan Otomotif, Kejuruan Teknologi Mekanik Logam, Kejuruan Teknologi Mekanik Las, Kejuruan Listrik, Kejuruan Bangunan, Kejuruan Tata Niaga, dan Kejuruan Industri Tekstil. Adanya balai pelatihan ini akan mampu meningkatkan keterampilan penduduk usia produktif sehingga produktivitasnya akan meningkat yang berdampak pendapatan akan meningkat pula. Peningkatan pendapatan penduduk usia produktif akan mampu memenuhi kebutuhan dari penduduk usia non produktif. c. Komposisi Penduduk menurut Mata Pencaharian Kabupaten Sragen memiliki sembilan sektor perekonomian yang masing-masing menyediakan lapangan pekerjaan bagi penduduk Kabupaten Sragen. Masing-masing sektor mampu menyerap dan memberdayakan tenaga kerja yang tersedia. Komposisi penduduk

58 43 Kabupaten Sragen menurut mata pencaharian sesuai kesembilan sektor perekonomian disajikan pada Tabel 15. Tabel 15. Komposisi Penduduk Kabupaten Sragen Menurut Mata Pencaharian Tahun 2008 Mata Pencaharian Jumlah Penduduk (orang) Persentase (%) 1. Pertanian ,91 2. Pertambangan dan 571 0,12 Galian 3. Industri ,55 4. Listrik, Gas, dan Air 332 0, Konstruksi ,72 6. Perdagangan ,44 7. Komunikasi ,25 8. Keuangan ,46 9. Jasa ,49 Jumlah Sumber : BPS Kabupaten Sragen, 2009 Berdasarkan Tabel 15 diketahui bahwa komposisi penduduk menurut mata pencaharian terbesar diserap oleh sektor pertanian dan komposisi penduduk menurut mata pencaharian yang paling kecil diserap oleh sektor listrik, air dan gas. Sektor pertanian mampu menyerap tenaga kerja lebih dari 50% tenaga kerja di Kabupaten Sragen karena luasnya lapangan pekerjaan yang disediakan oleh sektor pertanian. Dapat ketahui dari penggunaan lahan di Kabupaten Sragen bahwa 43% lahan adalah lahan sawah, selain itu 20,06% adalah lahan tegal; 0,04% adalah kolam; 0,9% adalah lahan tanaman kayu-kayuan dan perkebunan negara/swasta dan 3,15% adalah hutan negara sehingga lebih dari 60% lahan di Kabupaten Sragen digunakan oleh sektor pertanian yang memberikan banyak peluang lapangan kerja bagi penduduk di Kabupaten Sragen. Dengan demikian sektor pertanian memberi kontribusi yang besar dalam memberikan sumber pendapatan melalui mata pencaharian bagi penduduk.

59 44 C. Keadaan Perekonomian 1. Struktur Perekonomian Kabupaten Sragen memiliki sembilan sektor perekonomian yang memberikan kontribusi PDRB yang berbeda satu dengan yang lain. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) setiap sektor perekonomian di Kabupaten Sragen dari tahun disajikan pada Tabel 16. Tabel 16. Produk Domestik Regional Bruto Menurut Sektor Perekonomian di Kabupaten Sragen Tahun (dalam jutaan Rupiah) No Sektor Pertanian , , , ,66 2. Pertambanagan dan 7.008, , , ,57 Penggalian 3. Industri Pengolahan , , , ,47 4. Listri, Gas, dan Air , , , ,11 Bersih 5. Bangunan , , , ,11 /Konstruksi 6. Perdagangan , , , ,78 7. Pengangkutan dan , , , ,45 Komunikasi 8. Keuangan, , , , ,85 Persewaan dan Jasa Perusahaan 9. Jasa-Jasa , , , ,33 Jumlah , , , ,33 Sumber : BPS dan BAPPEDA Kabupaten Sragen, 2009 Berdasar Tabel 16 diketahui bahwa kegiatan perekonomian di Kabupaten Sragen ditopang oleh kesembilan sektor perekonomian. Jumlah PDRB dari tahun 2005 terus mengalami peningkatan hingga tahun Sektor pertanian merupakan penyumbang PDRB terbesar setiap tahunnya. Sumbangan PDRB sektor pertanian selalu meningkat dari tahun 2005 sampai tahun Hal ini dikarenakan sektor pertanian memberikan output yang besar dari hasil usahatani berupa komoditi pertanian. Komoditi pertanian antara lain komoditi tanaman bahan makanan, komoditi perkebunan, komoditi kehutanan, komoditi peternakan dan komoditi perikanan.

60 45 2. Pendapatan Per Kapita Pendapatan per kapita adalah besarnya nilai pendapatan per penduduk di suatu wilayah. Nilai pendapatan ini diperoleh dari nilai PDRB dibagi dengan jumlah penduduk. Pendapatan per kapita menjadi indikator untuk mengukur tingkat kemakmuran penduduk suatu daerah dalam periode tahun tertentu. Pendapatan per kapita di Kabupaten Sragen Tahun disajikan pada tabel 17. Tabel 17. Pendapatan Per Kapita di Kabupaten Sragen Tahun Uraian PDRB (Jutaan Rupiah) Jumlah Penduduk (Jiwa) PDRB Perkapita (Rupiah) , , , , , , , , , , , ,72 Sumber : BPS dan BAPPEDA Kabupaten Sragen, 2009 Berdasarkan Tabel 17 diketahui bahwa PDRB per kapita mengalami peningkatan dari tahun 2005 ke tahun 2008 di Kabupaten Sragen. Peningkatan PDRB per kapita disebabkan oleh PDRB yang jumlahnya meningkat namun jumlah penduduk cenderung tetap. Dengan demikian dapat diketahui bahwa pembangunan ekonomi daerah di Kabupaten Sragen telah mampu meningkatkan pendapatan per kapita penduduknya. D. Keadaan Sektor Pertanian Sektor pertanian merupakan sektor perekonomian yang memiliki peran yang penting bagi pembangunan ekonomi daerah Kabupaten Sragen. Sektor pertanian memberikan kontribusi PDRB tertinggi dibanding kedelapan sektor perekonomian di Kabupaten Sragen. Kontribusi yang besar dari sektor pertanian disokong oleh kelima subsektor yaitu subsektor tanaman bahan makanan, subsektor tanaman perkebunan, subsektor peternakan, subsektor kehutanan, dan subsektor perikanan. Adapun produksi dan nilai produksi pertanian yang dihasilkan setiap subsektor di Kabupaten Sragen pada tahun 2008 yaitu :

61 46 1. Subsektor Tanaman Bahan Makanan Komoditi dalam subsektor tanaman bahan makanan terdiri dari padi dan palawija, sayur mayur dan buah-buahan. Produksi dan nilai produksi komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen pada tahun 2008 disajikan pada Tabel 18. Tabel 18. Produksi dan Nilai Produksi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Tahun 2008 No Jenis Komoditi Produksi Nilai Produksi 1. Padi ,54 2. Jagung ,04 3. Ubi Kayu ,32 4. Ubi Jalar ,19 5. Kacang tanah ,69 6. Kedelai ,86 7. Kacang hijau ,90 8. Kacang panjang ,98 9. Cabe , Tomat , Ketimun , Kangkung , Bayam , Terong , Semangka , Pisang , Mangga , Rambutan , Melon , Jeruk , Sawo , Pepaya , Nanas ,47 Sumber : Analisis Data Sekunder (Lampiran 7 dan 10) Berdasarkan Tabel 18, diketahui bahwa produksi dan nilai produksi komoditi terbesar untuk komoditi padi dan palawija di Kabupaten Sragen pada tahun 2008 adalah padi dengan produksi sebesar kg dan nilai produksi sebesar Rp ,0. Sedangkan nilai produksi terkecil adalah ubi jalar yaitu Rp ,9 dengan produksi sebesar kg. Ubi jalar hanya diusahakan di Kecamatan Miri dengan luas lahan produksi pada tahun 2008 seluas 5 ha.

62 47 Padi banyak dihasilkan di Kabupaten Sragen karena 43 persen dari luas lahan Kabupaten Sragen dimanfaatkan sebagai lahan sawah. Tingginya produksi padi didukung oleh topografi Kabupaten Sragen yang merupakan daerah dataran rendah dan dilalui aliran sungai Bengawan Solo. Kebutuhan air terpenuhi dengan baik juga karena terdapat sarana irigasi untuk memasok air ke lahan persawahan. Kabupaten Sragen mempunyai tujuh waduk dengan luas genangan 131,01 Ha. Ketujuh waduk tersebut adalah Waduk Kambangan Kecamatan Karangmalang, Waduk Gembong Kecamatan Karangmalang, Waduk Bothok Kecamatan Kedawung, Waduk Barambang Kecamatan Kedawung, Waduk Ketro Kecamatan Tanon, Waduk Blimbing Kecamatan Sambirejo, dan Waduk Gebyar Kecamatan Sambirejo. Pemerintah Kabupaten Sragen juga telah melaksanakan pembangunan 10 embung di empat kecamatan yaitu Kecamatan Karang Malang, Gondang, Gesi, dan Kedawung. Tujuan pembangunan embung agar dapat menampung air pada musim penghujan untuk keperluan pertanian, perikanan, pariwisata dan kebutuhan air penduduk. Komoditi sayuran dengan hasil produksi paling banyak dan mempunyai nilai produksi tertinggi di antara komoditi sayuran lainnya di Kabupaten Sragen pada tahun 2008 adalah komoditi cabe. Komoditi cabe merah ini mampu diproduksi sebesar kg dengan nilai produksi Rp ,0. Produsen cabe terbesar adalah Kecamatan Tanon dengan produksi kg. Buah-buahan yang paling banyak diproduksi di Kabupaten Sragen adalah pisang yaitu sebesar kg dengan nilai produksi sebesar Rp ,0. Kecamatan yang paling banyak memproduksi pisang adalah Kecamatan Kalijambe yaitu kg. Pisang banyak diproduksi di Kabupaten Sragen karena tanaman pisang dapat tumbuh baik di jenis tanah apapun pada dataran rendah. Produksi pisang yang besar juga ditunjang oleh adanya industri kecil kripik pisang di Kabupaten Sragen.

63 48 2. Subsektor Tanaman Perkebunan Subsektor tanaman perkebunan di Kabupaten Sragen terdiri dari tanaman perkebunan tebu (gula pasir), jambu mete, kapuk randu, wijen, dan cengkeh. Produksi dan nilai produksi dari masing-masing komoditi tanaman perkebunan di Kabupaten Sragen disajikan pada Tabel 19. Tabel 19. Produksi dan Nilai Produksi Komoditi Tanaman Perkebunan di Kabupaten Sragen Tahun 2008 No Jenis Komoditi Produksi Nilai produksi 1. Gula Pasir (tebu) , ,36 2. Mete , ,50 3. Kapuk Randu , ,54 4. Wijen , ,39 5. Cengkeh , ,67 Sumber : Analisis Data Sekunder (Lampiran 7 dan 10) Berdasakan Tabel 19 diketahui bahwa komoditi yang produksi dan nilai produksinya tertinggi adalah gula pasir yang merupakan olahan dari tanaman tebu. Tanaman perkebunan tebu dikembangkan di Kabupaten Sragen, kecuali kecamatan Masaran, Kedawung, Sragen dan Tanon. Tebu yang dikembangkan adalah tebu tegalan yang diusahakan oleh rakyat. Produksi tebu tegalan tertinggi dihasilkan di kecamatan Jenar sebesar kg. Tanaman tebu banyak dibudidayakan oleh masyarakat karena didukung adanya Pabrik Gula Mojo di Kabupaten Sragen. Pabrik Gula Mojo milik PT Perkebunan Nusantara IX ini, membutuhkan bahan baku utama yaitu tebu untuk melangsungkan proses produksi. Hal ini yang mendorong masyarakat untuk menyediakan bahan baku dengan mengembangkan tanaman tebu di tegalan mereka. Pabrik Gula Mojo telah berperan dalam meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat Sragen dengan membeli hasil panen tebu tegalan. Selain itu Pabrik Gula Mojo juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar sebagai karyawan tetap maupun karyawan musiman. Karyawan musiman

64 49 dibutuhkan ketika Pabrik Gula Mojo sedang berproduksi karena proses produksi hanya dilakukan setahun dua kali. 3. Subsektor Peternakan Peternakan di Kabupaten Sragen terdiri dari peternakan sapi, ayam kampung, ayam ras dan itik. Hasil peternakan tersebut berupa telur dan susu. Produksi dan nilai produksi dari subsektor peternakan di Kabupaten Sragen tahun 2008 disajikan pada Tabel 20. Tabel 20. Produksi dan Nilai Produksi Komoditi Peternakan di Kabupaten Sragen Tahun 2008 No Jenis Komoditi Produksi Nilai Produksi 1. Telur Ayam Kampung , ,24 2. Telur Ayam Ras , ,65 3. Telur itik , ,43 4. Susu sapi perah , ,87 Sumber : Analisis Data Sekunder (Lampiran 7 dan 10) Berdasarkan Tabel 20 diketahui bahwa komoditi telur ayam ras memiliki produksi dan nilai produksi tertinggi dibanding dengan jenis komoditi lain. Peternakan ayam ras terdapat di seluruh kecamatan di Kabupaten Sragen dengan banyak ternak sejumlah ekor pada tahun Ayam ras diusahakan oleh peternak karena kebutuhan pangan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Ayam ras merupakan ayam potong yang dapat dimanfaatkan daging, telur, dan kulitnya sebagai bahan pangan. 4. Subsektor Perikanan Perikanan di Kabupaten Sragen merupakan perikanan air tawar. Komoditi perikanan terdiri dari ikan Kutuk, Lele, Mujaher, Ikan Mas, Tawes, Gurameh, Nila Merah, Belut, Udang, Katak, dan ikan lainnya. Produksi dan nilai produksi masing-masing komoditi berbeda satu dengan yang lain. Produksi dan nilai produksi komoditi perikanan di Kabupaten Sragen Tahun 2008 disajikan pada Tabel 21.

65 50 Tabel 21. Produksi dan Nilai Produksi Komoditi Perikanan di Kabupaten Sragen Tahun 2008 No Jenis Komoditi Produksi (kg) Nilai Produksi (Rp) 1 Kutuk/Gabus , ,22 2 Lele , ,96 3 Mujaher , ,15 4 Ikan Mas , ,05 5 Tawes , ,91 6 Gurameh , ,49 7 Nila Merah , ,23 8 Belut , ,99 9 Patin , ,41 10 Udang , ,49 11 Katak , ,99 12 Ikan Lainnya , ,51 Sumber : Analisis Data Sekunder (Lampiran 7 dan 10) Berdasarkan Tabel 21, diketahui bahwa komoditi ikan Nila Merah memiliki nilai produksi yang tertinggi yaitu Rp ,23 dengan produksi sejumlah ,00 kg. Komoditi perikanan yang memiliki nilai produksi terkecil adalah katak yaitu Rp ,32 dengan produksi kg. Nila merah dan katak diusahakan di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Sragen. Potensi perikanan di Kabupaten Sragen salah satunya terdapat di kawasan Waduk Kedung Ombo yang sangat cocok untuk pengembangan ikan nila merah melalui karamba. Waduk ini digunakan untuk menampung air yang digunakan untuk pengairan serta untuk budidaya dan penangkapan ikan. 5. Subsektor Kehutanan Subsektor kehutanan di Kabupaten Sragen menghasilkan berbagai macam kayu pertukangan yaitu kayu jati dan kayu rimba. Setiap jenis kayu tersebut digolongkan ke tiga golongan yaitu A1, A2, A3 yang produksi dan nilai produksinya berbeda satu dengan yang lain. Produksi dan nilai produksi dari komoditi kehutanan di Kabupaten Sragen tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel 22.

66 51 Tabel 22. Produksi dan Nilai Produksi Komoditi Kehutanan di Kabupaten Sragen Tahun 2008 No Jenis Komoditi Produksi (m 3 ) Nilai Produksi (Rp) 1 Kayu Jati Pertukangan A , ,63 2 Kayu Jati Pertukangan A , ,90 3 Kayu Jati Pertukangan A3 477, ,70 4 Kayu Rimba Pertukangan A1 261, ,43 5 Kayu Rimba Pertukangan A2 159, ,31 6 Kayu Rimba Pertukangan A3 468, ,60 Sumber : Analisis Data Sekunder (Lampiran 7 dan 10) Berdasarkan Tabel 22 diketahui bahwa komoditi yang produksi dan nilai produksi tertinggi adalah kayu jati pertukangan A1. Sedangkan komoditi yang produksi dan nilai produksi terendah adalah kayu Rimba pertukangan A2. Perbedaan golongan kayu didasarkan pada ukuran diameter kayu. Golongan A1 adalah kayu berdiameter 7-19 cm. Golongan A2 adalah kayu berdiameter cm. Golongan A3 adalah kayu berdiameter lebih dari 30 cm. Perbedaan ukuran ini menyebabkan perbedaan harga per m 3 dari setiap golongan, golongan A3 merupakan kayu dengan harga tertinggi dan golongan A1 merupakan kayu dengan harga terendah.

67 52 V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Keragaan Umum Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Kabupaten Sragen merupakan kabupaten yang menjadi bagian dari Karisidenan Surakarta. Kabupaten Sragen juga tergabung dalam kawasan Subosukawonosraten yaitu Kota Surakarta, Kabupaten Boyolali, Kabupaten Sukoharjo,Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Sragen, dan Kabupaten Klaten. Kawasan Subosukawonosraten memiliki lokasi yang saling berdekatan dan menjalin kerjasama ekonomi antardaerah. Muflihun (2009) menyatakan bahwa Kawasan Subosukawonosraten merupakan model kerja sama antardaerah dan diharapkan akan dapat mewujudkan pusat gravitasi pertumbuhan ekonomi baru (the new area of economic) baik di wilayah Provinsi Jawa Tengah, nasional bahkan internasional. Setiap daerah di kawasan Subosukawonosraten memiliki keunggulan yang berbeda untuk sektor perekonomian. Salah satunya adalah Kabupaten Sragen yang memiliki sektor unggulan yaitu pertanian untuk tanaman bahan makanan. Potensi sumberdaya manusia dan sumberdaya alam khususnya di sektor pertanian yang dimiliki oleh Kabupaten Sragen selama ini telah dikelola dengan baik. Pengelolaan itu telah menghasilkan sebuah predikat bahwa Kabupaten Sragen merupakan Kabupaten dengan sektor unggulan pertanian untuk subsektor tanaman bahan makanan. Keunggulan di subsektor tanaman bahan makanan perlu dipertahankan oleh Kabupaten Sragen bahkan perlu dilakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Kabupaten Sragen perlu mengoptimalkan potensi sumber daya pertanian yang dimiliki untuk dapat bersaing dan menghadapi perubahan lingkungan yang terjadi. Subsektor tanaman bahan makanan merupakan subsektor yang memberikan kontribusi paling besar terhadap PDRB sektor pertanian di Kabupaten Sragen. Subsektor tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen terdiri dari komoditi tanaman pangan (padi dan palawija), komoditi sayursayuran dan komoditi buah-buahan. Masing-masing komoditi tanaman bahan 52

68 53 makanan memiliki jumlah produksi dan harga yang berbeda setiap tahunnya, sehingga laju pertumbuhan dan besar kontribusi berbeda-beda terhadap sektor pertanian di Kabupaten Sragen. Keadaan laju pertumbuhan dan besar kontribusi dari masing-masing komoditi tanaman bahan makanan terhadap sektor pertanian di Kabupaten Sragen secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan makanan menunjukkan suatu perkembangan dari masing-masing komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen. Laju pertumbuhan diketahui dari perubahan nilai produksi setiap tahunnya. Laju pertumbuhan bernilai positif apabila nilai produksi komoditi meningkat dari tahun sebelumnya. Laju pertumbuhan bernilai negatif apabila nilai produksi komoditi menurun dari tahun sebelumnya. Adapun laju pertumbuhan nilai produksi komoditi tanaman bahan makanan yang berupa tanaman pangan (padi dan palawija) di Kabupaten Sragen disajikan pada Tabel 23. Tabel 23. Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Tanaman Pangan (Padi dan Palawija) di Kabupaten Sragen Tahun (%) No Komoditi Rata-rata 1 Padi 4,69 12,13-7,51 3,11 2 Jagung -31,25 215,26 62,66 82,22 3 Ubi kayu 59,46-15,51-12,88 10,36 4 Ubi jalar -78,88 710,32-79,78 183,89 5 Kacang tanah 15,98 2,97 7,47 8,81 6 Kedelai 34,99-2,01 49,77 27,58 7 Kacang hijau 17,86-49,01 7,41-7,91 Sumber : Analisis Data Sekunder (Lampiran 12) Berdasarkan Tabel 23 diketahui bahwa laju pertumbuhan nilai produksi komoditi tanaman pangan (padi dan palawija) secara umum berfluktuasi. Pada tahun 2006, tanaman pangan yang mengalami laju pertumbuhan positif adalah padi, ubi kayu, kacang tanah, kedelai, dan

69 54 kacang hijau. Komoditi yang laju pertumbuhan positifnya paling besar adalah ubi kayu yaitu sebesar 59,46%, berarti nilai produksi komoditi ubi kayu mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Keadaan bencana alam kekeringan yang terjadi di tahun 2006 mendorong petani untuk mengusahakan palawija. Produksi ubi kayu pada tahun 2006 meningkat kg dari tahun Peningkatan produksi ubi kayu terjadi karena luas panen bertambah 941 Ha. Komoditi yang laju pertumbuhannya negatif adalah jagung dan ubi jalar. Komoditi yang memiliki laju pertumbuhan negatif paling besar adalah ubi jalar sebesar -78,88%, berarti nilai produksi komoditi ubi jalar mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Hal ini karena luas panen ubi jalar berkurang sebesar 14 Ha sehingga terjadi penurunan produksi pada tahun 2006 sebesar kg dari tahun 2005 (BPS Kabupaten Sragen, 2009). Pada tahun 2007, komoditi tanaman pangan yang mempunyai laju pertumbuhan positif adalah padi, jagung, ubi jalar, dan kacang tanah. Dari keempat komoditi tersebut yang mempunyai laju pertumbuhan positif paling besar adalah ubi jalar sebesar 710,32%, berarti nilai produksi komoditi ubi jalar mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Komoditi ubi jalar mengalami peningkatan produksi sebesar kg dari produksi tahun sebelumnya. Peningkatan produksi ubi jalar dikarenakan luas panen yang bertambah yaitu 6 kali lebih luas dibanding luas panen tahun Komoditi tanaman pangan yang laju pertumbuhannya negatif adalah ubi kayu, kedelai dan kacang hijau. Pertumbuhan negatif terbesar dialami oleh komoditi kacang hijau yaitu sebesar -49,01%, berarti nilai produksi komoditi kacang hijau mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Hal ini karena produksi kacang hijau mengalami penurunan yang cukup drastis dari kg menjadi kg. Pada tahun 2008, komoditi tanaman pangan yang mempunyai laju pertumbuhan positif adalah jagung, kacang tanah, kedelai dan kacang hijau. Komoditi yang laju pertumbuhan positifnya paling besar adalah

70 55 jagung sebesar 62,6573%, berarti nilai produksi komoditi jagung mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan produksi komoditi jagung mengalami peningkatan sebesar kg dari tahun sebelumnya. Komoditi tanaman pangan yang mengalami laju pertumbuhan negatif adalah padi, ubi kayu dan ubi jalar. Komoditi yang mengalami laju pertumbuhan negatif terbesar adalah ubi jalar sebesar -79,78%, berarti nilai produksi komoditi ubi jalar mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan produksi ubi jalar mengalami penurunan drastis sebesar kg dari tahun sebelumnya. Luas panen ubi jalar tahun 2008 hanya 5 Ha sedangkan luas panen tahun 2007 seluas 24 Ha (BPS Kabupaten Sragen, 2009). Komoditi tanaman pangan yang memiliki rata-rata laju pertumbuhan tertinggi pada tahun adalah ubi jalar sebesar 183,89% dan komoditi tanaman pangan yang memiliki rata-rata laju pertumbuhan terendah pada tahun adalah kacang hijau sebesar -7,91%. Ratarata laju pertumbuhan komoditi tanaman pangan (padi dan palawija) di Kabupaten Sragen tahun disajikan pada Gambar 2. Gambar 2. Grafik Rata-rata Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Tanaman Pangan (Padi dan Palawija) di Kabupaten Sragen Tahun

71 56 Jenis komoditi tanaman bahan makanan yang dihasilkan di Kabupaten Sragen selain tanaman pangan adalah sayur-sayuran. Laju pertumbuhan nilai produksi komoditi sayur-sayuran di Kabupaten Sragen disajikan pada Tabel 24. Tabel 24. Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Sayur-sayuran di Kabupaten Sragen Tahun (%) No Komoditi Rata-rata 1 Kacang panjang -7,33-23,85 36,26 1,70 2 Cabe -53,36 20,07 5,05-9,41 3 Tomat 4,31-43,91-15,85-18,48 4 Ketimun -58,49 5,12 289,20 78,61 5 Kangkung 175,57-36,21 68,92 69,42 6 Bayam -48,37 24,62 28,54 1,60 7 Terong -26,37 18,99 0,37-2,34 Sumber : Analisis Data Sekunder (Lampiran 12) Berdasarkan Tabel 24 diketahui bahwa laju pertumbuhan nilai produksi komoditi sayur-sayuran di Kabupaten Sragen tahun secara umum berfluktuatif. Pada tahun 2006, komoditi sayur-sayuran yang mengalami laju pertumbuhan positif adalah tomat dan kangkung. Komoditi yang laju pertumbuhan positifnya terbesar adalah kangkung sebesar 175,57%, berarti nilai produksi komoditi kangkung mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal ini karena produksi kangkung meningkat sebesar kg dari tahun sebelumnya. Komoditi sayursayuran yang mengalami laju pertumbuhan negatif adalah kacang panjang, cabe, ketimun, bayam dan terong. Komoditi yang laju pertumbuhan negatifnya terbesar adalah ketimun sebesar -58,49%, berarti nilai produksi komoditi ketimun mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. hal ini karena luas panen yang menurun drastis sebesar 20 Ha sehingga produksi dari kg di tahun 2005 menjadi kg di tahun 2006 (BPS Kabupaten Sragen, 2009). Komoditi sayur-sayuran banyak yang mengalami laju pertumbuhan negatif karena keadaan kekeringan yang

72 57 melanda Kabupaten Sragen sehingga produksi komoditi sayur-sayuran menurun. Pada tahun 2007, komoditi sayur-sayuran yang mengalami laju pertumbuhan positif adalah cabe, ketimun, bayam dan terong. Laju pertumbuhan positif terbesar pada komoditi bayam sebesar 24,62%, berarti nilai produksi komoditi bayam mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Hal ini karena produksi bayam meningkat dari tahun sebelumnya sebesar kg. Komoditi sayur-sayuran yang mengalami laju pertumbuhan negatif adalah kacang panjang, tomat dan kangkung. Komoditi yang laju pertumbuhan negatifnya terbesar adalah tomat sebesar -43,91%, berarti nilai produksi komoditi tomat mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Hal ini karena produksi tomat menurun sebesar kg dari tahun sebelumnya (BPS Kabupaten Sragen, 2009). Pada tahun 2008, komoditi sayur-sayuran yang mengalami laju pertumbuhan positif adalah kacang panjang, cabe, ketimun, kangkung, bayam dan terong. Komoditi yang laju pertumbuhan positifnya terbesar adalah ketimun sebesar 289,20%, berarti nilai produksi komoditi ketimun mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Peningkatan nilai produksi terjadi karena produksi ketimun meningkat sebesar kg dari tahun sebelumnya. Komoditi sayur-sayuran yang mengalami laju pertumbuhan negatif adalah tomat dengan nilai laju pertumbuhan sebesar -15,85%. Komoditi tomat mengalami laju pertumbuhan negatif karena harga jual tomat mengalami penurunan sebesar Rp 1.075,00/kg dari tahun sebelumnya. Komoditi sayur-sayuran yang memiliki rata-rata laju pertumbuhan tertinggi pada tahun adalah ketimun sebesar 78,61% dan sayursayuran yang memiliki rata-rata laju pertumbuhan terendah pada tahun adalah tomat sebesar -18,48%. Rata-rata laju pertumbuhan komoditi sayur-sayuran di Kabupaten Sragen tahun disajikan pada Gambar 3.

73 58 Gambar 3. Grafik Rata-rata Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Sayur-sayuran di Kabupaten Sragen Tahun Jenis komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen selain komoditi tanaman pangan dan sayur-sayuran adalah komoditi buah-buahan. Laju pertumbuhan nilai produksi komoditi buah-buahan di Kabupaten Sragen disajikan pada Tabel 25. Tabel 25. Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Buah-buahan di Kabupaten Sragen Tahun (%) No Komoditi Rata-rata 1 Semangka -60,53 88,19-27,71-0,02 2 Pisang 70,40 121,74 55,55 82,56 3 Mangga -33,93-8,56-11,28-17,92 4 Rambutan 93,19-8,41 150,74 78,51 5 Melon -39,62-3,82 44,15 0,24 6 Jeruk 13,34-42,42 519,73 163,55 7 Sawo -3,29 6,54-24,93-7,23 8 Pepaya 4,43-0,82 76,01 26,54 9 Nanas -46,54 37,62 58,35 16,48 Sumber : Analisis Data Sekunder (Lampiran 12) Berdasarkan Tabel 25, diketahui bahwa laju pertumbuhan nilai produksi komoditi buah-buahan di Kabupaten Sragen tahun secara umum berfluktuatif. Pada tahun 2006, komoditi buah-buahan yang

74 59 mengalami laju pertumbuhan positif adalah pisang, rambutan, jeruk dan pepaya. Komoditi rambutan merupakan komoditi yang nilai laju pertumbuhan positifnya terbesar yaitu 93,19%, berarti nilai produksi komoditi rambutan mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal ini karena produksi meningkat sebesar kg dari tahun sebelumnya. Komoditi buah-buahan yang mengalami laju pertumbuhan negatif adalah semangka, mangga, melon, sawo dan nanas. Komoditi semangka adalah komoditi yang nilai laju pertumbuhan negatifnya terbesar yaitu -60,53%, berarti nilai produksi komoditi semangka mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Hal ini karena produksi komoditi semangka menurun drastis sebesar kg dari tahun sebelumnya (BPS Kabupaten Sragen, 2009). Pada tahun 2007, komoditi buah-buahan yang mengalami laju pertumbuhan positif adalah semangka, pisang, sawo dan nanas. Komoditi pisang merupakan komoditi yang nilai laju pertumbuhan positifnya terbesar sebesar 121,74%, berarti nilai produksi komoditi pisang mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal ini karena produksi pisang mengalami peningkatan produksi yaitu lebih dari 2 kali lipat dari tahun sebelumnya. Komoditi buah-buahan yang menngalami laju pertumbuhan negatif adalah mangga, rambutan, melon, jeruk, pepaya. Dari kelima komoditi yang laju pertumbuhan negatifnya paling besar adalah komoditi -42,42%, berarti nilai produksi komoditi jeruk mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Penurunan nilai produksi karena terjadi penurunan jumlah produksi sebesar kg dari tahun sebelumnya (BPS Kabupaten Sragen, 2009). Pada tahun 2008, komoditi buah-buahan yang mengalami laju pertumbuhan positif adalah pisang, rambutan, melon, jeruk, pepaya dan nanas. Komoditi jeruk merupakan komoditi dengan nilai laju pertumbuhan positif yang terbesar yaitu 519,73%, berarti nilai produksi komoditi jeruk mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal ini karena produksi jeruk meningkat sebesar kg dari tahun sebelumnya. Komoditi

75 60 buah-buahan yang mengalami laju pertumbuhan negatif adalah semangka, mangga dan sawo. Komoditi semangka memiliki laju pertumbuhan negatif terbesar yaitu -27,71%, berarti nilai produksi komoditi semangka mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Hal ini karena produksi komoditi semangka mengalami penurunan sebesar kg dari tahun sebelumnya (BPS Kabupaten Sragen, 2009). Komoditi buah-buahan yang memiliki rata-rata laju pertumbuhan tertinggi pada tahun adalah jeruk sebesar 163,55% dan komoditi buah-buahan yang memiliki rata-rata laju pertumbuhan terendah pada tahun adalah mangga sebesar -17,92%. Rata-rata laju pertumbuhan komoditi buah-buahan di Kabupaten Sragen tahun disajikan pada Gambar 4. Gambar 4. Grafik Rata-rata Laju Pertumbuhan Nilai Produksi Komoditi Buah-buahan di Kabupaten Sragen Tahun Kontribusi Nilai Produksi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Subsektor tanaman bahan makanan merupakan subsektor yang memberikan kontribusi terbesar diantara subsektor yang lain terhadap sektor pertanian di Kabupaten Sragen. Kontribusi subsektor tanaman bahan makanan berasal dari kontribusi masing-masing komoditi tanaman

76 61 pangan (padi dan palawija), komoditi sayur-sayuran dan komoditi buahbuahan. Besarnya kontribusi masing-masing komoditi tanaman bahan makanan dapat diketahui dengan membandingkan nilai produksi dari masing-masing komoditi tanaman bahan makanan terhadap total nilai produksi komoditi pertanian yang dihasilkan di Kabupaten Sragen. Besarnya kontribusi masing-masing komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen tahun disajikan pada Tabel 26, Tabel 27 dan Tabel 28. Tabel 26. Kontribusi Nilai Produksi Komoditi Tanaman Pangan (Padi dan Palawija) di Kabupaten Sragen Tahun (%) No Komoditi Rata-rata 1 Padi 59, , , , , Jagung 2,5608 1,6891 4,1052 7,2960 3, Ubi kayu 3,4305 5,2481 3,4183 3,2538 3, Ubi jalar 0,0142 0,0029 0,0180 0,0040 0, Kacang tanah 3,0635 3,4088 2,7059 3,1773 3, Kedelai 1,0227 1,3245 1,0005 1,6372 1, Kacang hijau 1,9020 2,1507 0,8454 0,9921 1,4726 Sumber : Analisis Data Sekunder (Lampiran 11) Keterangan : Penggunaan lebih dari dua digit dalam formula persen (%), untuk mendalami tingkat kontribusi yang sangat kecil. Berdasarkan Tabel 26, diketahui bahwa kontribusi nilai produksi komoditi tanaman pangan (padi dan palawija) di Kabupaten Sragen tahun secara umum berfluktuasi. Masing-masing komoditi memberikan kontribusi yang berbeda terhadap sektor pertanian setiap tahunnya. Rata-rata kontribusi masing-masing komoditi tanaman pangan (padi dan palawija) disajikan pada Gambar 5.

77 62 Gambar 5. Grafik Rata-rata Kontribusi Nilai Produksi Komoditi Tanaman Pangan (Padi dan Palawija) di Kabupaten Sragen Tahun Berdasarkan Gambar 5 diketahui bahwa komoditi padi merupakan komoditi yang memberikan kontribusi terbesar diantara komoditi tanaman pangan lainnya. Rata-rata kontribusi komoditi padi adalah 55,5640% selama tahun Besar kontribusi komoditi padi tersebut karena besarnya jumlah produksi padi yang dihasilkan disetiap kecamatan di Kabupaten Sragen. Hal ini dipengaruhi oleh permintaan akan komoditi padi yang merupakan bahan baku dalam membuat nasi. Nasi adalah makanan pokok bagi penduduk di Kabupaten Sragen bahkan di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Oleh karena itu, Kabupaten Sragen berusaha memenuhi permintaan komoditi padi dari penduduk daerah Sragen dan dari luar daerah Sragen. Kemampuan Kabupaten Sragen dalam memenuhi kebutuhan padi di dalam dan luar daerahnya menjadikan Kabupaten Sragen dikenal sebagai lumbung padi Provinsi Jawa Tengah. Sedangkan komoditi palawija yang memberikan kontribusi paling kecil adalah komoditi ubi jalar. Rata-rata kontribusi komoditi ubi jalar adalah 0,0097% selama tahun Hal ini dikarenakan jumlah produksi komoditi ubi jalar dari tahun ke tahun selalu jauh lebih kecil dibanding komoditi

78 63 tanaman pangan lainnya. Komoditi ubi jalar diusahakan di satu kecamatan yaitu Miri. Kontribusi tanaman bahan makanan juga berasal dari kontribusi sayur-sayuran. Besarnya kontribusi nilai produksi komoditi sayur-sayuran di Kabupaten Sragen disajikan pada Tabel 27. Tabel 27. Kontribusi Nilai Produksi Komoditi Sayur-sayuran di Kabupaten Sragen Tahun (%) No Komoditi Rata-rata 1 Kacang panjang 0,0924 0,0822 0,0482 0,0718 0, Cabe 1,8108 0,8102 0,7500 0,8608 1, Tomat 0,0273 0,0273 0,0118 0,0109 0, Ketimun 0,0308 0,0122 0,0099 0,0422 0, Kangkung 0,0027 0,0072 0,0035 0,0065 0, Bayam 0,0044 0,0022 0,0021 0,0030 0, Terong 0,0560 0,0396 0,0363 0,0398 0,0429 Sumber : Analisis Data Sekunder Lampiran 11 Keterangan : Penggunaan lebih dari dua digit dalam formula persen (%), untuk mendalami tingkat kontribusi yang sangat kecil. Berdasarkan Tabel 27, diketahui bahwa kontribusi nilai produksi komoditi sayur-sayuran di Kabupaten Sragen Tahun secara umum berfluktuatif. Masing-masing komoditi sayur-sayuran memberikan kontribusi yang berbeda terhadap sektor pertanian disetiap tahunnya. Rata-rata kontribusi masing-masing komoditi sayur-sayuran di Kabupaten Sragen disajikan pada Gambar 6.

79 64 Gambar 6. Grafik Rata-rata Kontribusi Nilai Produksi Komoditi Sayur-sayuran di Kabupaten Sragen Tahun Berdasarkan Gambar 6, diketahui bahwa komoditi cabe merupakan komoditi yang memberikan kontribusi paling besar diantara komoditi sayur-sayuran yang lain. Rata-rata kontribusi komoditi cabe adalah 1,0580% selama tahun Besar kontribusi komoditi cabe karena jumlah produksi komoditi cabe yang terbesar dibanding komoditi sayursayuran lainnya. Komoditi cabe adalah komoditi hortikultura yang cocok dibudidayakan di Kabupaten Sragen. Luas panen cabe terdapat di setiap kecamatan kecuali kecamatan Ngrampal dan Gemolong. Sedangkan ratarata kontribusi yang paling kecil adalah komoditi bayam yaitu 0,0029%. Hal ini dikarenakan sedikit jumlah produksi bayam disetiap tahunnya. Kontribusi komoditi tanaman bahan makanan juga berasal dari kontribusi komoditi buah-buahan. Besarnya kontribusi nilai produksi komoditi buah-buahan di Kabupaten Sragen disajikan pada Tabel 28.

80 65 Tabel 28. Kontribusi Nilai Produksi Komoditi Buah-buahan di Kabupaten Sragen Tahun (%) No Komoditi Rata-rata 1 Semangka 0,6138 0,2324 0,3372 0,2664 0, Pisang 1,3384 2,1881 3,7403 6,3568 3, Mangga 4,5012 2,8533 2,0114 1,9499 2, Rambutan 0,1602 0,2969 0,2096 0,5743 0, Melon 0,9549 0,5531 0,4101 0,6459 0, Jeruk 0,0526 0,0572 0,0254 0,1719 0, Sawo 0,1509 0,1400 0,1150 0,0943 0, Pepaya 0,2269 0,2273 0,1738 0,3343 0, Nanas 0,0002 0,0001 0,0001 0,0002 0,0002 Sumber : Analisis Data Sekunder (Lampiran 11) Keterangan : Penggunaan lebih dari dua digit dalam formula persen (%), untuk mendalami tingkat kontribusi yang sangat kecil. Berdasarkan Tabel 28, diketahui bahwa kontribusi komoditi buahbuahan yang cenderung meningkat adalah komoditi pisang. Hal ini dikarenakan komoditi pisang mengalami peningkatan nilai produksi setiap tahunnya. Komoditi yang kontribusinya cenderung menurun adalah komoditi mangga dan sawo. Kontribusi menurun dikarenakan penurunan nilai produksi komoditi setiap tahunnya. Komoditi yang memberikan kontribusi yang tetap adalah komoditi nanas. Komoditi nanas juga merupakan komoditi yang memberikan kontribusi terkecil. Komoditi lain seperti semangka, rambutan, melon, jeruk dan pepaya memberikan kontribusi yang cenderung berfluktuatif selama tahun Masingmasing komoditi sayur-sayuran memberikan kontribusi yang berbeda setiap tahunnya. Rata-rata kontribusi komoditi sayur-sayuran di Kabupaten Sragen disajikan pada Gambar 7.

81 66 Gambar 7. Grafik Rata-rata Kontribusi Nilai Produksi Komoditi Buah-buahan di Kabupaten Sragen Tahun Berdasarkan Gambar 7, diketahui bahwa komoditi pisang merupakan komoditi yang memberikan rata-rata kontribusi yang paling besar diantara komoditi buah-buahan lainnya. Rata-rata kontribusi komoditi pisang adalah 3,4059% selama tahun Besar kontribusi komoditi pisang karena jumlah produksi komoditi pisang yang besar sehingga nilai produksinya juga besar. Nilai produksi komoditi pisang paling besar diantara komoditi buah-buahan lainnya. sedangkan komoditi buah-buahan yang memberikan rata-rata kontribusi paling kecil adalah nanas. Hal ini dikarenakan sedikitnya luas panen sehingga mengakibatkan sedikitnya jumlah produksi nanas. Secara keseluruhan dari komoditi tanaman bahan makanan yang memberikan kontribusi yang paling besar diantara komoditi tanaman pangan, komoditi sayur-sayuran dan komoditi buah-buahan adalah komoditi padi yang termasuk dalam komoditi tanaman pangan. Komoditi padi memberikan rata-rata kontribusi sebesar 55,5640%. Besarnya kontribusi komoditi padi dipengaruhi oleh besar nilai produksi komoditi padi dan nilai produksi total sektor pertanian. Nilai produksi padi dibentuk dari jumlah produksi padi dan harga padi pada tahun tertentu. Nilai

82 67 produksi padi merupakan nilai produksi yang paling besar diantara nilai produksi komoditi pertanian di Kabupaten Sragen. Oleh karena itu, komoditi padi memberikan kontribusi yang paling besar diantara komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen. Sedangkan komoditi tanaman bahan makanan yang memberi kontribusi yang paling kecil adalah nanas yang termasuk dalam komoditi buah-buahan. Hal ini karena nilai produksi nanas yang sangat kecil karena jumlah produksi yang sedikit. Komoditi nanas hanya diusahakan di empat kecamatan yaitu Kalijambe, Plupuh, Sambirejo dan Gemolong sehingga luas lahan panennya sedikit. B. Klasifikasi Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen dengan Pendekatan Tipologi Klassen Komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen yang terdiri dari tanaman pangan (padi dan palawija), sayur-sayuran dan buah-buahan diklasifikasikan dengan menggunakan pendekatan Tipologi Klassen. Pendekatan Tipologi Klassen menggunakan dua indikator utama yaitu laju pertumbuhan dan kontribusi komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen yang dibandingkan dengan kontribusi PDRB Kabupaten Sragen. Laju pertumbuhan komoditi merupakan proses perubahan nilai produksi dari tahun ke tahun. Laju pertumbuhan mempunyai dua kriteria yaitu tumbuh cepat dan tumbuh lambat. Kriteria tumbuh cepat apabila laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan makanan lebih besar atau sama dengan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen. Kriteria tumbuh lambat apabila laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan makanan lebih kecil daripada laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen. Kontribusi tanaman bahan makanan merupakan perbandingan antara nilai produksi komoditi tanaman bahan makanan terhadap total nilai produksi komoditi pertanian. Kontribusi mempunyai dua kriteria yaitu kontribusi besar dan kontribusi kecil. Kontribusi besar apabila kontribusi tanaman bahan makanan lebih besar atau sama dengan kontribusi PDRB Kabupaten Sragen terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah. Kontribusi kecil apabila kontribusi

83 68 tanaman bahan makanan lebih kecil dari kontribusi PDRB Kabupaten Sragen terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah. Analisis Tipologi Klassen dengan Matrik Tipologi Klassen mengklasifikasikan komoditi tanaman bahan makanan menjadi empat klasifikasi yaitu komoditi prima, komoditi potensial, komoditi berkembang dan komoditi terbelakang. Klasifikasi komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen disajikan pada Tabel 29. Tabel 29. Matriks Tipologi Klassen Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Kontribusi Besar Kontribusi Kecil Kontribusi Komoditi (Kontribusi komoditi i Kontribusi PDRB ) > (Kontribusi komoditi i < Kontribusi PDRB) Laju Pertumbuhan Komoditi Tumbuh Cepat (r komoditi i > r PDRB ) Tumbuh Lambat (r komoditi i < r PDRB ) Komoditi Prima : Jagung, Ubi kayu, Kacang tanah dan Pisang Komoditi Potensial : Padi dan Mangga Sumber : Analisis Data Sekunder (Lampiran 14) Komoditi Berkembang : Ubi Jalar, Kedelai, Ketimun, Kangkung, Rambutan, Jeruk, Pepaya dan Nanas Komoditi Terbelakang : Kacang hijau, Kacang panjang, Cabe, Tomat, Bayam, Terong, Semangka, Melon dan Sawo Berdasarkan Tabel 29 diketahui bahwa hasil analisis pendekatan Tipologi Klassen, komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok kategori. Klasifikasi tersebut terdiri dari komoditi prima, komoditi potensial, komoditi berkembang dan komoditi terbelakang. Penjelasan secara rinci mengenai klasifikasi komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen adalah sebagai berikut : 1. Komoditi Prima Komoditi prima adalah komoditi tanaman bahan makanan yang mempunyai kriteria yaitu laju pertumbuhan cepat dan kontribusi besar.

84 69 Berdasarkan hasil analisis Tipologi Klassen, komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen yang termasuk dalam komoditi prima adalah jagung, ubi kayu, kacang tanah dan pisang. Keempat komoditi prima tersebut mempunyai peranan yang penting dalam memberikan sumbangan pendapatan daerah Kabupaten Sragen. Komoditi jagung merupakan komoditi prima di Kabupaten Sragen karena komoditi jagung mempunyai laju pertumbuhan yang cepat dan kontribusi yang besar. Laju pertumbuhan komoditi jagung lebih besar dari laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen sehingga dikatakan laju pertumbuhan cepat. Laju pertumbuhan komoditi jagung sebesar 82,22% lebih besar jika dibandingkan nilai laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen sebesar 5,53%. Kontribusi komoditi jagung dikatakan besar karena kontribusi komoditi jagung senilai 3,9128% lebih besar jika dibandingkan kontribusi PDRB Kabupaten Sragen terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah senilai 1,6236%. Komoditi jagung dapat menjadi komoditi prima karena nilai produksi komoditi jagung mengalami peningkatan setiap tahun kecuali pada tahun 2006, nilai produksi komoditi jagung mengalami penurunan karena jumlah produksi yang menurun. Pada tahun 2006, bencana alam kekeringan menyebabkan seluas 80 Ha lahan jagung mengalami kerusakan ringan, sedang maupun berat. Keadaan ini berpengaruh pada jumlah produksi jagung di Kabupaten Sragen. Komoditi jagung dapat diusahakan pada semua kecamatan di Kabupaten Sragen. Kondisi tanah dan iklim di Kabupaten Sragen mendukung untuk budidaya tanaman jagung. Beberapa kecamatan menghasilkan jagung dalam jumlah yang besar yaitu Kecamatan Sumberlawang, Mondokan dan Tangen. Kecamatan Sumberlawang dikenal sebagai produsen jagung terbesar di Kabupaten Sragen. Komoditi ubi kayu menjadi komoditi prima di Kabupaten Sragen karena mempunyai kriteria laju pertumbuhan yang cepat dan kontribusi yang besar. Laju pertumbuhan dikatakan cepat karena laju pertumbuhan

85 70 komoditi ubi kayu lebih besar daripada laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen. Laju pertumbuhan ubi kayu sebesar 10,36% lebih besar dibanding laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen sebesar 5,53%. Kontribusi dikatakan besar karena kontribusi komoditi ubi kayu lebih besar daripada kontribusi PDRB Kabupaten Sragen. Kontribusi komoditi ubi kayu sebesar 3,8377% lebih besar dibanding kontribusi PDRB Kabupaten Sragen terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah sebesar 1,6236%. Komoditi ubi kayu menjadi komoditi prima mengingat ubi kayu sebagai alternatif pangan karena sumber karbohidrat yang terkandung di dalamnya. Tanaman ubi kayu merupakan tanaman palawija yang mudah diusahakan di lahan tegalan atau lahan kering. Beberapa kecamatan di Kabupaten Sragen menghasilkan komoditi ubi kayu. Kecamatan yang menghasilkan ubi kayu dalam jumlah terbesar adalah Kecamatan Mondokan. Komoditi kacang tanah menjadi komoditi prima di Kabupaten Sragen karena mempunyai kriteria laju pertumbuhan yang cepat dan kontribusi yang besar. Laju pertumbuhan dikatakan cepat karena laju pertumbuhan komoditi kacang tanah lebih besar daripada laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen. Laju pertumbuhan kacang tanah sebesar 8,81% lebih besar dibanding laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen sebesar 5,53%. Kontribusi dikatakan besar karena kontribusi komoditi kacang tanah lebih besar daripada kontribusi PDRB Kabupaten Sragen. Kontribusi komoditi kacang tanah sebesar 3,0889% lebih besar dibanding kontribusi PDRB Kabupaten Sragen terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah sebesar 1,6236%. Selain dari tanaman pangan, klasifikasi komoditi prima juga terdapat pada komoditi buah-buahan yaitu pisang. Komoditi pisang menjadi komoditi prima di Kabupaten Sragen karena mempunyai kriteria laju pertumbuhan yang cepat dan kontribusi yang besar. Laju pertumbuhan dikatakan cepat karena laju pertumbuhan komoditi pisang lebih besar

86 71 daripada laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen. Laju pertumbuhan pisang sebesar 82,56% lebih besar dibanding laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen sebesar 5,53%. Kontribusi dikatakan besar karena kontribusi komoditi pisang lebih besar daripada kontribusi PDRB Kabupaten Sragen. Kontribusi komoditi pisang sebesar 3,4059% lebih besar dibanding kontribusi PDRB Kabupaten Sragen terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah sebesar 1,6236%. Komoditi pisang banyak diusahakan oleh masyarakat di Kabupaten Sragen. Komoditi pisang mudah untuk dibudidayakan sehingga produksinya melimpah. Luas panen komoditi pisang terdapat diseluruh kecamatan di Kabupaten Sragen. Kecamatan Sidoarjo dikenal sebagai produsen terbesar untuk komoditi pisang. Komoditi prima yaitu komoditi jagung, ubi kayu, kacang tanah dan pisang mempunyai peran yang penting dalam perekonomian Kabupaten Sragen. Kriteria laju pertumbuhan yang cepat dan kontribusi yang besar masi dapat dioptimalkan karena pada tahun tertentu masih mengalami laju pertumbuhan yang negatif. Oleh karena itu, pengembangan akan komoditi prima perlu dilakukan agar komoditi prima tetap menjadi komoditi prima dengan mengoptimalkan potensi komoditi prima. 2. Komoditi Potensial Komoditi potensial adalah komoditi tanaman bahan makanan yang mempunyai kriteria yaitu laju pertumbuhan lambat dan kontribusi besar. Berdasarkan hasil analisis Tipologi Klassen, komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen yang termasuk dalam komoditi potensial adalah padi dan mangga. Komoditi padi termasuk dalam komoditi tanaman pangan. Komoditi mangga termasuk dalam komoditi buah-buahan. Komoditi padi mempunyai kontribusi yang besar dibandingkan kontribusi PDRB Kabupaten Sragen. Kontribusi komoditi padi sebesar 55,5640% terhadap total nilai produksi komoditi pertanian. Kontribusi komoditi padi yang besar dipengaruhi oleh jumlah produksi padi yang terbesar diantara komoditi pertanian yang lain dan selalu meningkat setiap

87 72 tahun. Produksi padi yang dihitung berupa gabah kering panen dan harga komoditinya adalah harga gabah kering panen/kg. Padi merupakan komoditi pertanian yang andalan bagi Kabupaten Sragen. Tanaman padi dapat ditemui diseluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Sragen. Tanaman padi dapat tumbuh subur di wilayah Kabupaten Sragen karena tanah yang subur dan tersedianya air yang cukup. Kondisi ini didukung dengan adanya saluran irigasi teknis dari Waduk Gajah Mungkur dan 7 waduk di Kabupaten Sragen yaitu Gebyar, Blimbing, Kembangan, Botok, Brambang, Gembong dan Ketro. Keberadaan waduk juga didukung dengan adanya embung yang tersebar di 6 Kecamatan antara lain Gondang, Sambirejo, Sambungmacan, Karangmalang, Masaran dan Kedawung. Selain faktor pendukung tersebut, padi merupakan makanan pokok bagi masyarakat di Kabupaten Sragen. Permintaan akan komoditi padi akan terus meningkat seiring dengan pertambahan penduduk. Pemenuhan akan permintaan kebutuhan pangan pokok inilah yang mendorong petani di Kabupaten Sragen untuk mengusahakan tanaman padi. Komoditi padi mempunyai kontribusi yang besar namun laju pertumbuhan lambat. Laju pertumbuhan komoditi padi selalu positif selama tahun , akan tetapi nilai laju pertumbuhannya rendah dibanding laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen. Nilai laju pertumbuhan yang rendah disebabkan nilai produksi selama tahun bertambah dalam jumlah yang sedikit setiap tahunnya. Hal ini disebabkan oleh produksi dan harga komoditi yang berfluktuatif selama tahun Komoditi mangga memberikan kontribusi yang besar dibandingkan kontribusi PDRB Kabupaten Sragen. Kontribusi komoditi mangga sebesar 2,8290% terhadap total nilai produksi komoditi pertanian. Kontribusi komoditi mangga terbesar kedua dalam kelompok komoditi buah-buahan. Tanaman mangga mempunyai luas panen diseluruh kecamatan di Kabupaten Sragen. Kecamatan andalan untuk produksi mangga adalah

88 73 Sumberlawang. Keadaan alam Kabupaten Sragen mendukung untuk dibudidayakan tanaman mangga yaitu tanah yang subur dan berdrainase baik. Komoditi mangga mempunyai nilai laju pertumbuhan yang rendah sehingga laju pertumbuhannya lambat. Laju pertumbuhan komoditi mangga selalu bernilai negatif setiap tahunnya. Kondisi ini karena nilai produksi mangga mengalami penurunan setiap tahun dari tahun Nilai produksi yang selalu menurun menyebabkan laju pertumbuhannya negatif. Laju pertumbuhan rata-rata komoditi mangga lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen. Komoditi padi dan mangga sudah mampu memberikan kontribusi yang besar akan tetapi laju pertumbuhannya lambat. Kedua komoditi ini mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi komoditi prima. Kontribusi yang besar perlu diperhatikan dan laju pertumbuhan perlu ditingkatkan agar dapat menjadi komoditi prima. 3. Komoditi Berkembang Komoditi berkembang adalah komoditi tanaman bahan makanan yang mempunyai kriteria yaitu laju pertumbuhan cepat dan kontribusi kecil. Berdasarkan hasil analisis Tipologi Klassen, komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen yang termasuk dalam komoditi berkembang adalah ubi jalar, kedelai, ketimun, kangkung, rambutan, jeruk, pepaya dan nanas. Komoditi ubi jalar dan kedelai termasuk kelompok komoditi tanaman pangan. Komoditi ketimun dan kangkung termasuk kelompok komoditi sayur-sayuran. Komoditi rambutan, jeruk, pepaya dan nanas termasuk kelompok komoditi buah-buahan. Komoditi tanaman pangan (palawija) yang termasuk dalam komoditi berkembang adalah ubi jalar dan kedelai. Laju pertumbuhan komoditi ubi jalar yaitu sebesar 183,89%, nilai ini terbesar dibandingkan nilai laju pertumbuhan komoditi tanaman bahan makanan yang lain. Laju pertumbuhan komoditi kedelai yaitu sebesar 27,5813%. Kedua komoditi palawija tersebut mempunyai nilai laju pertumbuhan yang lebih besar

89 74 dibandingkan nilai laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen, akan tetapi kontribusi komoditi palawija tersebut lebih kecil dibanding kontribusi PDRB Kabupaten Sragen. Laju pertumbuhan yang besar pada komoditi ubi jalar karena pada tahun 2007 terjadi penambahan luas panen sebesar 20 Ha dari tahun sebelumnya, sehingga produksi dapat meningkat tajam. Sedangkan komoditi kedelai mempunyai nilai laju pertumbuhan yang besar karena pada tahun 2006 dan 2008 terjadi penambahan luas panen dari tahun sebelumnya sehingga produksinya meningkat. Komoditi sayur-sayuran yang termasuk dalam komoditi berkembang adalah ketimun dan kangkung. Laju pertumbuhan komoditi ketimun sebesar 78,61% dan laju pertumbuhan komoditi kangkung sebesar 69,42%. Kedua komoditi tersebut mempunyai nilai laju pertumbuhan terbesar diantara komoditi sayur-sayuran. Laju pertumbuhan yang besar untuk komoditi ketimun karena pada tahun 2007 terjadi penambahan luas panen sebesar 26 Ha dari tahun sebelumnya. Lahan budidaya ketimun memanfaatkan lahan yang belum dimanfaatkan di kecamatan Mondokan dan Sukodono. Kedua kecamatan inilah yang dikenal sebagai penghasil komoditi ketimun di Kabupaten Sragen. Laju pertumbuhan yang besar untuk komoditi kangkung karena terjadi peningkatan produksi pada tahun 2006 dan 2008 dari tahun sebelumnya. Komoditi buah-buahan yang termasuk dalam komoditi berkembang adalah rambutan, jeruk, pepaya dan nanas. Komoditi buah-buahan yang mempunyai nilai laju pertumbuhan yang terbesar adalah jeruk sebesar 163,55%. Semua komoditi buah-buahan yang termasuk dalam komoditi berkembang mempunyai nilai laju pertumbuhan yang lebih besar jika dibandingkan dengan nilai laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen sehingga disebut laju pertumbuhannya cepat. Meskipun demikian, kontribusi komoditi tersebut kecil jika dibandingkan dengan kontribusi PDRB Kabupaten Sragen terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah. Terdapat 8 komoditi tanaman bahan makanan yang termasuk komoditi berkembang. Komoditi tersebut mempunyai laju pertumbuhan

90 75 yang cepat, akan tetapi kontribusinya kecil terhadap PDRB Kabupaten Sragen. Komoditi berkembang mempunyai potensi untuk dapat dikembangkan, mengingat laju pertumbuhannya yang cepat. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan kontribusi dari komoditi ini agar memberikan kontribusi yang besar bagi pembangunan perekonomian daerah Kabupaten Sragen. 4. Komoditi Terbelakang Komoditi terbelakang adalah komoditi tanaman bahan makanan yang mempunyai kriteria yaitu laju pertumbuhan lambat dan kontribusi kecil. Berdasarkan hasil analisis Tipologi Klassen, komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen yang termasuk dalam komoditi terbelakang adalah kacang hijau, kacang panjang, cabe, tomat, bayam, terong, semangka, melon dan sawo. Komoditi kacang hijau termasuk kelompok komoditi tanaman pangan. Komoditi kacang panjang, cabe, tomat, bayam dan terong termasuk kelompok komoditi sayur-sayuran. Komoditi semangka, melon dan sawo termasuk kelompok komoditi buahbuahan. Komoditi tanaman pangan yang termasuk dalam komoditi terbelakang adalah kacang hijau. Komoditi kacang hijau memiliki laju pertumbuhan sebesar -7,91% dan kontribusi sebesar 1,4726%. Nilai laju pertumbuhan komoditi kacang hijau lebih kecil dibanding nilai laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen. Kontribusi komoditi kacang hijau lebih kecil dibanding kontribusi PDRB Kabupaten Sragen terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah. Hal ini karena produksi kacang hijau sangat berfluaktuatif setiap tahunnya dengan kecenderungan penurunan hasil. Komoditi sayur-sayuran yang termasuk dalam komoditi terbelakang adalah kacang panjang, cabe, tomat, bayam dan terong. Komoditi yang mempunyai nilai kontribusi yang terkecil adalah komoditi bayam sebesar 0,0029% dan dengan laju pertumbuhan sebesar 1,60% lebih kecil dibanding laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen. Produksi komoditi bayam terendah dibanding produksi komoditi sayur-sayuran yang lain

91 76 selama tahun Komoditi bayam hanya diusahakan di beberapa kecamatan antara lain Plupuh, Sragen, Mondokan, Sukodono dan Tangen. Secara keseluruhan komoditi sayur-sayuran tidak mudah diusahakan di wilayah utara Bengawan Solo karena kondisi tanah yang berkapur, sehingga komoditi sayur-sayuran di Kabupaten Sragen perlu mendapat perhatian khusus terkait dengan budidaya tanamannya. Komoditi buah-buahan yang termasuk dalam komoditi terbelakang adalah semangka, melon dan sawo. Ketiga komoditi tersebut memiliki nilai kontribusi yang kecil yaitu 0,3625%, 0,6410% dan 0,1250%. Kontribusi ketiga komoditi tersebut lebih kecil dari kontribusi PDRB Kabupaten Sragen terhadap PDRB Propinsi Jawa Tengah. Laju pertumbuhan semangka, melon dan sawo adalah -0,02%, 0,24% dan -7,23%. Laju pertumbuhan komoditi tersebut lebih kecil daripada laju pertumbuhan PDRB Kabupaten Sragen sehingga dikatakan laju pertumbuhannya lambat. Komoditi sawo mempunyai nilai laju pertumbuhan dan kontribusi yang terkecil diantara ketiganya. Komoditi terbelakang perlu mendapat perhatian karena laju pertumbuhannya lambat dan kontribusinya kecil terhadap PDRB Kabupaten Sragen. Apabila tidak diupayakan peningkatan kontribusi dan laju pertumbuhannya, maka akan dapat semakin menurunkan PDRB Kabupaten Sragen. Oleh karena itu, perlu adanya usaha pengembangan komoditi terbelakang dengan memanfaatkan potensi wilayah yang ada. Usaha yang dilakukan adalah meningkatkan laju pertumbuhan dan kontribusi komoditi terbelakang, sehingga akan mampu memberikan peranan yang lebih baik bagi perekonomian Kabupaten Sragen. C. Strategi Pengembangan Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Pembangunan pertanian sebagai agenda prioritas pembangunan daerah di Kabupaten Sragen, mengingat sektor pertanian memberikan kontribusi terbesar dalam PDRB Kabupaten Sragen. Pembangunan pertanian masih menghadapi berbagai kendala atau kelemahan yang ada dalam lingkungan

92 77 pertanian yaitu kurangnya modal usaha tani, kurang sarana dan prasarana yang memadai serta kualitas sumberdaya manusia (petani) yang masih rendah. Pembangunan pertanian juga menghadapi berbagai ancaman yang berasal dari luar lingkungan pertanian antara lain berkurangnya lahan pertanian, mahalnya biaya produksi, fluktuasi harga produksi pertanian dan rendahnya pendapatan petani (BAPPEDA Kabupaten Sragen, 2006). Kendala dalam pembangunan pertanian perlu diperhatikan agar kendala dan ancaman tidak mengganggu pembangunan pertanian ke depannya khususnya perkembangan komoditi tanaman bahan makanan. Oleh karena itu, perlu disusun perencanaan pembangunan ekonomi daerah Kabupaten Sragen berbasis komoditi tanaman bahan makanan, mengingat subsektor tanaman bahan makanan merupakan subsektor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap sektor pertanian dalam PDRB Kabupaten Sragen. Berdasarkan klasifikasi tanaman bahan makanan yang telah dilakukan dengan pendekatan Tipologi Klassen, maka dapat disusun perencanaan pembangunan ekonomi daerah Kabupaten Sragen berbasis komoditi tanaman bahan makanan. Perumusan perencanaan pembangunan ekonomi daerah dilakukan dengan membuat matrik alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan. Alternatif strategi pengembangan terbagi ke dalam tiga periode waktu yaitu alternatif strategi pengembangan jangka pendek (1-5 tahun), jangka menengah (5-10 tahun) dan jangka panjang (10-25 tahun). Hasil matrik alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen disajikan pada Tabel 30.

93 78 Tabel 30. Matrik Alternatif Strategi Pengembangan Komoditi Tanaman Bahan Makanan di Kabupaten Sragen Jangka Pendek (1-5 tahun) Jangka Menengah (5-10 tahun) Jangka Panjang (10-25 tahun) Komoditi Prima Strateginya dengan mempertahankan laju pertumbuhan yang cepat dan kontribusi yang besar dari komoditi prima, melalui upaya : - Pengembangan agribisnis komoditi jagung - Penerapan sistem tumpang sari pada komoditi ubi kayu dan kacang tanah - Peningkatan produktivitas pisang - Peningkatan kerjasama antara pihak swasta dengan petani Komoditi Potensial menjadi Komoditi Prima Strateginya dengan meningkatkan laju pertumbuhan komoditi potensial, melalui upaya : - Pengembangan padi organik di seluruh wilayah Kabupaten Sragen Komoditi Terbelakang menjadi Komoditi Berkembang Strateginya dengan meningkatkan laju pertumbuhan komoditi terbelakang, melalui upaya : - Pembangunan Sub Terminal Agribisnis Komoditi Potensial menjadi Komoditi Prima Strateginya dengan meningkatkan laju pertumbuhan komoditi potensial, melalui upaya : - Peningkatan produktivitas padi - Peningkatan akses petani terhadap lembaga keuangan - Peningkatan produksi komoditi mangga dengan pemeliharaan yang intensif Komoditi Berkembang menjadi Komoditi Potensial Strateginya dengan meningkatkan kontribusi komoditi berkembang, melalui upaya : - Peningkatan kualitas SDM (petani) - Pengembangan daerah sentra komoditi sayur dan buah Komoditi Terbelakang menjadi Komoditi Berkembang Strateginya dengan meningkatkan laju pertumbuhan komoditi terbelakang, melalui upaya : - Penerapan budidaya pertanian yang baik untuk sayur dan buah - Pengembangan demplot sayur dan buah Sumber : Analisis Data Sekunder (Lampiran 15) Komoditi Prima Strateginya dengan mempertahankan laju pertumbuhan yang cepat dan kontribusi yang besar dari komoditi prima, melalui upaya: - Mengurangi alih fungsi lahan pertanian ke lahan non pertanian - Pengelolaan sumberdaya air untuk pertanian - Penerapan pertanian berkelanjutan berbasis pertanian organik. Berdasarkan Tabel 30 diketahui bahwa alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan merupakan upaya untuk mengembangkan komoditi tanaman bahan makanan dalam jangka waktu tertentu. Penjelasan lebih rinci mengenai masing-masing alternatif strategi

94 79 pengembangan komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen adalah sebagai berikut : 1. Alternatif Strategi Pengembangan Jangka Pendek Alternatif strategi jangka pendek adalah alternatif strategi yang dilakukan dalam periode waktu antara 1-5 tahun. Strategi untuk pengembangan komoditi tanaman bahan makanan yang terdiri dari dua alternatif yaitu mempertahankan komoditi prima dan mengupayakan komoditi potensial menjadi komoditi prima. Alternatif strategi mempertahankan komoditi prima dilakukan dengan mengoptimalkan potensi Kabupaten Sragen untuk mempertahankan laju pertumbuhan dan kontribusi komoditi prima agar tetap menjadi komoditi prima. Alternatif strategi mengupayakan komoditi potensial menjadi komoditi prima dilakukan dengan meningkatkan laju pertumbuhan komoditi potensial sehingga dapat menjadi komoditi prima. Berdasarkan analisis klasifikasi komoditi tanaman bahan makanan dengan pendekatan Tipologi Klassen maka diketahui bahwa komoditi prima di Kabupaten Sragen adalah jagung, ubi kayu, kacang tanah dan pisang. Komoditi potensial di Kabupaten Sragen adalah padi dan mangga. Maka dirumuskan alternatif strategi menggunakan matrik alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan yang berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sragen dan hasil wawancara dengan petani, penyuluh dan Dinas Pertanian Kabupaten Sragen. Alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan dalam jangka pendek di Kabupaten Sragen antara lain : a. Alternatif strategi pengembangan jangka pendek yang mengupayakan komoditi prima tetap bertahan sebagai komoditi prima 1) Pengembangan agribisnis komoditi jagung Pengembangan agribisnis komoditi jagung dilakukan dengan mengadakan kerjasama yang baik antara subsistem yang terlibat dalam agribisnis jagung. Subsistem yang terlibat antara lain subsistem pengadaan sarana produksi jagung, subsistem produksi

95 80 usahatani jagung, subsistem pengolahan dan industri hasil pertanian, subsistem pemasaran dan perdagangan serta subsistem kelembagaan penunjang. Subsistem pengadaan sarana produksi jagung menyediakan benih jagung berkualitas super hibrida yang didukung dengan pupuk dan sarana pertanian lain. Subsistem produksi usahatani mengusahakan budidaya jagung dengan penggunaan benih berkualitas super hibrida, sistem tanam yang benar, perawatan dan pemanenan yang tepat sehingga hasil dapat mememuaskan. Subsistem pengolahan dan industri hasil pertanian mengupayakan kegiatan pasca panen yang baik misalnya pengeringan dan pengolahan menjadi jagung pipilan untuk meningkatkan kualitas jagung. Subsistem pemasaran dan perdagangan yang mengusahakan hasil komoditi jagung sampai ke tangan konsumen dengan jalur pemasaran yang efisien. Subsistem kelembagaan penunjang adalah lembaga yang membantu kegiatan agribisnis jagung misalnya lembaga keuangan untuk pengadaan modal. Upaya pengembangan agribisnis jagung diarahkan agar kegiatan pertanian tidak hanya terpusat pada kegiatan budidaya saja yang diperhatikan, akan tetapi lebih kepada kegiatan pertanian dalam arti luas, yaitu pengembangan kegiatan pertanian on farm dan off farm. Apabila subsistem-subsistem yang membentuk sistem agribisnis jagung bekerja secara baik maka akan dapat meningkatkan kualitas dan produktivitas jagung. Hal ini akan mempengaruhi tingkat pendapatan petani yang meningkat sehingga kesejahteraan petani juga dapat meningkat. 2) Penerapan sistem tumpang sari pada komoditi ubi kayu dan kacang tanah Komoditi ubi kayu dan kacang tanah termasuk dalam kelompok palawija komoditi prima di Kabupaten Sragen. Tanaman palawija dibudidayakan di lahan tegalan atau lahan kering. Lahan kering tidak membutuhkan banyak air seperti lahan basah yang

96 81 umumnya digunakan untuk persawahan. Oleh karena itu, budidaya tanaman lahan kering (palawija) sangat dipengaruhi oleh keadaan curah hujan sehingga pemilihan waktu tanam dan varietas tanaman harus tepat. Komoditi prima kelompok palawija ini dapat diusahakan dengan pola tanam monokultur dan tumpangsari. Pola tanam tumpangsari dilakukan antara ubi kayu dengan kacang tanah dan ubi kayu/kacang tanah dengan padi gogo. Tumpangsari ubi kayu dan kacang tanah memanfaatkan lahan yang tersedia secara efisien sehingga dari satu lahan pertanian dapat menghasilkan dua komoditi prima palawija. Tumpangsari ubi kayu/kacang tanah dengan padi gogo adalah pola tanam dengan padi gogo sebagai tanaman utama dan ubi kayu/kacang tanah sebagai tanaman sela. Pola tanam ini memanfaatkan lahan tegalan untuk budidaya padi gogo yang banyak diusahakan di Kabupaten Sragen. Tumpangsari ubi kayu/kacang tanah dengan padi gogo memanfaatkan lahan yang tersedia diantara tanaman padi gogo secara efisien, sehingga selain menghasilkan komoditi utama yaitu padi juga menghasilkan komoditi ubi kayu / kacang tanah. Sistem tumpangsari dapat memperluas areal tanam komoditi ubi kayu dan kacang tanah sehingga dapat meningkatkan produksi. Peningkatan produksi setiap tahunnya akan meningkatkan laju pertumbuhan dan mempengaruhi peningkatan kontribusi komoditi tersebut terhadap perekonomian Kabupaten Sragen. 3) Peningkatan produktivitas pisang Pisang merupakan komoditi buah-buahan andalan di Kabupaten Sragen. Jenis pisang yang dibudidayakan di wilayah Sragen adalah pisang Kepok dan pisang Raja. Budidaya pisang masih dilakukan secara sederhana dimana bibit berasal dari tanaman sebelumnya dan pemeliharaan secara terbatas. Pisang masih sebatas sebagai tanaman pekarangan rakyat yang diusahakan di pekarangan

97 82 penduduk. Pengetahuan akan budidaya dan teknologi yang rendah menghambat perkembangan komoditi pisang. Upaya peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi dilakukan untuk meningkatkan hasil dengan cara budidaya pertanian yang baik. Tindakan intensifikasi untuk komoditi pisang adalah penggunaan bibit unggul tanaman, pengolahan tanah yang baik, pemupukan, pengairan dan pemberantasan hama dan penyakit. Peran pemerintah dalam menyediakan bantuan bibit dan modal petani sangat diperlukan dalam tindakan ini. Pemerintah melalui penyuluh juga memberikan pendampingan berupa arahan dalam budidaya pisang yang baik. Ekstensifikasi merupakan tindakan perluasan areal tanam komoditi pisang. Tanaman pisang selama ini hanya diusahakan di pekarangan rumah penduduk. Perluasan areal tanam pada tegalan sebagai alternatif dalam menambah luas panen komoditi pisang. Luas panen yang bertambah dapat menyebabkan produksi komoditi pisang meningkat. 4) Peningkatan kerjasama antara pihak swasta dengan petani (pola kemitraan) Komoditi prima perlu dikembangkan lebih baik lagi, mengingat peranan komoditi yang besar terhadap perekonomian Kabupaten Sragen. Pengembangan komoditi prima perlu kerjasama antara pihak swasta dengan petani, sehingga pemerintah perlu mengupayakan agar investor pertanian berniat mengembangkan kemitraan dengan petani. Pola kemitraan/kerjasama memiliki dasar saling membutuhkan dan saling menguntungkan antara kedua belah pihak. Kepercayaan antara pihak swasta dan petani menjadi modal keberhasilan pola kemitraan ini. Kemitraan antara pihak swasta dan petani meliputi seluruh aspek dari kegiatan agribisnis. Kerjasama pengadaan sarana produksi, seperti benih, bibit, pupuk dan alat mesin pertanian

98 83 melibatkan pihak swasta dalam penyediaan dan pendistribusiannya. Pihak swasta dapat merupakan toko-toko sarana produksi, pabrik pupuk, pabrik pestisida. Kerjasama pengolahan hasil dilakukan dengan pengusaha industri yang menggunakan bahan baku dari komoditi prima. Kerjasama menyebabkan produk komoditi pertanian dari petani dapat langsung terserap pasar. Saat ini ada beberapa industri di Kabupaten Sragen yang menggunakan komoditi prima sebagai bahan baku antara lain industri pakan ternak (jagung dan ubi kayu), industri kacang oven dan industri keripik pisang. Kerjasama dengan lembaga keuangan dalam pengadaan modal, membantu petani dalam memperoleh pinjaman modal dengan bunga yang rendah dan prosedur yang mudah. Oleh karena itu, perlu peningkatan kerjasama antara pihak swasta dengan petani agar mendorong berkembangnya komoditi prima subsektor tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen. b. Alternatif strategi pengembangan jangka pendek yang mengupayakan komoditi potensial menjadi komoditi prima 1) Peningkatan produktivitas padi Padi merupakan komoditi andalan Kabupaten Sragen yang memiliki jumlah produksi yang tinggi. Padi banyak diusahakan oleh masyarakat diseluruh kecamatan di Kabupaten Sragen, karena komoditi padi mempunyai karakteristik tanam dan panen secara serempak pada areal yang cukup luas. Pentingnya peran komoditi padi pada perekonomian Kabupaten Sragen maka perlu ditingkatkan produktivitasnya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan penggunaan bibit unggul pada tanaman padi. Varietas unggul Inbrida Padi Irigasi (INPARI) yaitu INPARI 1, INPARI 2, INPARI 4, INPARI 6 merupakan varietas padi sawah yang cocok ditanam di lahan sawah irigasi. Varietas tersebut juga merupakan varietas yang cocok ditanam di dataran rendah, dengan umur tanam relatif pendek

99 84 dan potensi hasil yang cukup tinggi. Varietas ini juga mempunyai ketahanan terhadap hama wereng coklat biotipe 2 dan 3, penyakit hawar daun bakteri dan tahan rebah. Tanaman Padi di Kabupaten Sragen selain dibudidayakan secara konvensional juga secara organik, meskipun masih dalam luasan areal tanam yang sempit dibanding secara konvensional. Produksi beras organik di Kabupaten Sragen telah bebas dari pestisida dan residu zat kimia lainnya. Pengembangan padi organik tidak terlepas dari sarana produksi yaitu pupuk dan pestisida organik yang menjadi kebutuhan mendasar dalam budidaya padi organik. Kendala yang dihadapi pemerintah kabupaten Sragen terkait dengan pupuk dan pestisida adalah banyak pupuk alternatif yang beredar dimana kandungan unsur hara masih diragukan. Selain itu pupuk dan pestisida organik yang dihasilkan petani/kelompok tani masih heterogen karena menggunakan peralatan yang sederhana/manual (BAPPEDA Kabupaten Sragen, 2006). Upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan meningkatkan pengetahuan akan teknologi dalam pembuatan pupuk dan pestisida organik. Setiap limbah organik dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pupuk dan pestisida organik, sehingga dengan memanfaatkan limbah yang ada dapat meningkatkan jumlah produksi pupuk dan pestisida organik. Dukungan pemerintah dalam pengembangan home industry pupuk dan pestisida organik, khususnya dalam bantuan modal diperlukan oleh produsen pupuk dan pestisida organik yang saat ini berjumlah 194 produsen pupuk organik serta 20 produsen pestisida organik. Jumlah produsen ini diharapkan terus bertambah guna memenuhi kebutuhan pupuk dan pestisida untuk pertanian organik, sehingga pemupukan dapat tepat waktu dan dosis, serta tersedianya pestisida dapat mengatasi serangan hama penyakit. Penggunaan bibit unggul tanaman padi dan peningkatan produksi pupuk dan pestisida organik akan dapat meningkatkan

100 85 produktivitas padi. Tanaman padi dapat tumbuh baik karena memiliki ketahanan diri terhadap serangan hama penyakit, serta didukung terpenuhinya unsur hara sehingga potensi hasil yang tinggi dapat tercapai. Produktivitas yang meningkat akan mendorong peningkatan produksi padi sehingga kontribusinya akan semakin meningkat di masa yang akan datang. 2) Peningkatan akses petani terhadap lembaga keuangan Salah satu kendala yang dihadapi oleh petani di Kabupaten Sragen adalah kurangnya modal untuk usaha tani. Berdasarkan RENSTRA Dinas Pertanian tahun diketahui bahwa salah satu isu yang terjadi pada bidang pertanian adalah kurangnya modal usaha petani dalam mengembangkan usaha khususnya pengembangan pangan. Hasil wawancara dengan petani, penyuluh dan Dinas Pertanian menyatakan bahwa kurangnya modal menjadi hambatan dalam pengembangan pertanian khususnya pertanian organik. Kegiatan pertanian sangat tergantung dengan keadaan alam seperti kekeringan dan banjir menjadi penyebab gagal panen. Modal petani yang sudah digunakan dalam usaha tani hilang akibat bencana alam. Selain itu, himpitan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan hidup yang pokok menyebabkan petani kesulitan dalam mengadakan modal untuk berusaha tani. Kesulitan petani dalam mengadakan modal menyebabkan mereka tidak dapat optimal dalam menjalankan usaha tani. Mereka tidak dapat mengaplikasikan teknologi secara lengkap karena modal sendiri yang sangat terbatas. Barangkali modal yang ada hanya mampu untuk membeli benih dan pupuk, sehingga ketika ada serangan hama dan penyakit petani tidak mempunyai modal untuk membeli pestisida. Keadaan ini mengakibatkan produksi pertanian akan rendah dan tidak sesuai harapan. Oleh karena itu, petani perlu bantuan modal untuk kelangsungan kegiatan budidaya yang dilakukan petani.

101 86 Lembaga keuangan mikro (LKM) merupakan lembaga keuangan yang mengelola jasa keuangan untuk membiayai usaha skala mikro yang dikelola oleh masyarakat. Lembaga keuangan mikro (LKM) berbasis komunitas petani dikelola oleh suatu kelompok tani, dimana LKM merupakan sumber keuangan yang dapat diandalkan oleh petani. LKM memberikan solusi atas kendala yang dihadapi petani ketika ingin mengajukan kredit kepada lembaga keuangan formal (bank). Konsep perkreditan oleh LKM bahwa peminjaman diusulkan melalui kelompok tani, berbunga rendah, dan pembayaran diangsur secara fleksibel. Konsep ini lebih memudahkan petani dalam memperoleh pinjaman modal untuk usaha taninya. Pendirian LKM perlu dukungan dari pemerintah dalam hal permodalan dan pelatihan pengurus LKM, sehingga setiap kelompok tani berprestasi mampu mendirikan LKM untuk meningkatkan akses petani terhadap lembaga keuangan. 3) Peningkatan produksi komoditi mangga dengan pemeliharaan yang intensif Mangga merupakan salah satu komoditi unggulan Kabupaten Sragen dan berdasarkan analisis Tipologi Klassen merupakan komoditi potensial. Jenis mangga yang dibudidayakan di Kabupaten Sragen adalah harum manis, gadung, golek dan manalagi. Tanaman mangga kurang mendapat perhatian khusus sebagai tanaman budidaya dan lebih sebagai tanaman peneduh di pekarangan rumah. Pemeliharaan pada tanaman mangga secara umum di Kabupaten Sragen dilakukan seperlunya seperti kegiatan pemupukan yang hanya dilakukan pada awal tanaman tumbuh dan setelahnya tidak ada pemeliharaan bagi tanaman mangga. Keterbatasan dalam pemeliharaan karena pengetahuan masyarakat yang terbatas mengenai budidaya tanaman mangga. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produksi mangga dengan pemeliharaan secara intensif. Tanaman mangga

102 87 perlu pemeliharaan agar buah yang dihasilkan berkualitas dan berjumlah banyak. Kegiatan pemeliharaan tanaman mangga adalah sebagai berikut penyiangan gulma, penggemburan tanah, pemangkasan tunas dan pemupukan. Penyiangan gulma dapat dilakukan bersamaan dengan penggemburan. Penggemburan dilakukan pada tanah padat sekitar pangkal pohon dan dilakukan pada awal musim hujan. Pemangkasan tunas bertujuan untuk membentuk kanopi dan meningkatkan produksi dengan mempertahankan beberapa tunas dalam satu batang. Pemupukan dilakukan setiap tahunnya baik menggunakan pupuk organik maupun pupuk anorganik. Sosialisasi mengenai pemeliharaan mangga memerlukan peran penyuluh sebagai perpanjangan tangan pemerintah kepada masyarakat. Penyuluhan akan memberikan dampak yang positif setelah masyarakat melaksanakan pemeliharaan yang baik dan tepat yaitu peningkatan produksi mangga di Kabupaten Sragen. Alternatif strategi pengembangan jangka pendek diharapkan dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan kontribusi dari komoditi prima dan komoditi potensial tanaman bahan makanan. Komoditi tanaman bahan makanan sebagai subsektor dari sektor pertanian dengan alternatif strategi ini dapat meningkatkan perannya dalam perekonomian di Kabupaten Sragen. Selain itu, alternatif strategi pengembangan dapat berperan serta dalam upaya perencanaan pembangunan ekonomi daerah Kabupaten Sragen dalam jangka pendek dimasa yang akan datang. 2. Alternatif Strategi Pengembangan Jangka Menengah Alternatif strategi jangka menengah adalah alternatif strategi yang dilakukan dalam periode waktu antara 5-10 tahun. Strategi untuk pengembangan komoditi tanaman bahan makanan yang terdiri dari tiga alternatif yaitu mengupayakan komoditi potensial menjadi komoditi prima, mengupayakan komoditi berkembang menjadi komoditi potensial dan mengupayakan komoditi terbelakang menjadi komoditi berkembang.

103 88 Alternatif strategi mengupayakan komoditi potensial menjadi komoditi prima dilakukan dengan meningkatkan laju pertumbuhan komoditi potensial sehingga dapat menjadi komoditi prima. Alternatif strategi mengupayakan komoditi berkembang menjadi komoditi potensial dilakukan dengan meningkatkan kontribusi komoditi berkembang sehingga dapat menjadi komoditi potensial. Alternatif strategi mengupayakan komoditi terbelakang menjadi komoditi berkembang dilakukan dengan meningkatkan laju pertumbuhan komoditi terbelakang sehingga dapat menjadi komoditi berkembang. Berdasarkan analisis klasifikasi komoditi tanaman bahan makanan dengan pendekatan Tipologi Klassen maka diketahui bahwa komoditi potensial di Kabupaten Sragen adalah padi dan mangga. Komoditi berkembang di Kabupaten Sragen adalah ubi jalar, kedelai, ketimun, kangkung, rambutan, jeruk, pepaya dan nanas. Komoditi terbelakang di Kabupaten Sragen adalah kacang hijau, kacang panjang, cabe, tomat, bayam, terong, semangka, melon dan sawo. Maka dirumuskan alternatif strategi menggunakan matrik alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan yang berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sragen dan hasil wawancara dengan petani, penyuluh dan Dinas Pertanian Kabupaten Sragen. Alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan dalam jangka menengah di Kabupaten Sragen antara lain : a. Alternatif strategi pengembangan jangka menengah yang mengupayakan komoditi potensial menjadi komoditi prima - Pengembangan padi organik di seluruh wilayah Kabupaten Sragen Pertanian yang konvensional telah mampu memberikan produksi yang tinggi namun menimbulkan banyak pencemaran yang dapat merusak alam dan kesehatan manusia. Adanya kesadaran akan dampak yang ditimbulkan tersebut, Kabupaten Sragen berusaha mengembangkan pertanian organik dengan menerapkan pertanian organik khususnya pada tanaman padi. Tanaman padi merupakan

104 89 komoditas utama yang ditaman masyarakat karena memiliki sifat tanam dan panen secara serempak pada areal tanam yang luas. Menurut Dinas Pertanian, Kabupaten Sragen sampai dengan tahun 2010 masih menjadi andalan Jawa Tengah dalam hal produksi padi karena memiliki surplus beras yang cukup besar. Luas tanam padi organik di Kabupaten Sragen pada tahun 2010 seluas ha dengan luas panen ha. Produksi padi organik ,28 ton dan produktifitas 65,51 kw/ha (Dinas Pertanian Kabupaten Sragen, 2011). Padi organik adalah komoditi yang aman bagi kesehatan dan lingkungan, dimana menggunakan input yang alami, tidak bergantung pada produk-produk kimia. Pemerintah harus semakin giat mensosialisasikan pertanian padi organik di semua wilayah produksi padi. Selain itu, perluasan areal tanam komoditi padi organik perlu dilakukan di setiap desa di Kabupaten Sragen. Mengingat pertanian dengan sistem organik memberikan berbagai keuntungan bagi banyak pihak. Secara teknis, pertanian organik membantu menjaga kesuburan tanah. Secara ekonomi, pertanian organik mampu meningkatkan pendapatan petani karena produk organik dapat dijual dengan harga tinggi. Secara kesehatan, pertanian organik menghasilkan produk yang menyehatkan masyarakat. b. Alternatif strategi pengembangan jangka menengah yang mengupayakan komoditi berkembang menjadi komoditi potensial 1) Peningkatan kualitas SDM (petani) Kondisi wilayah Kabupaten Sragen terdiri dari daerah selatan Bengawan Solo dan utara Bengawan Solo. Daerah selatan Bengawan Solo merupakan daerah yang subur dan dimaksimalkan untuk komoditi padi dan buah-buahan. Daerah utara Bengawan Solo dimaksimalkan untuk komoditi palawija, sayur-sayuran dan buahbuahan (BAPPEDA Kabupaten Sragen, 2006)

105 90 Berdasarkan data yang ada diketahui bahwa komoditi palawija, sayur-sayuran dan buah-buahan dimaksimalkan di daerah utara Bengawan Solo. Daerah utara Bengawan Solo merupakan daerah pegunungan kapur sehingga tanahnya kurang subur dan tandus. Usaha tani di daerah ini perlu penanggulangan yang baik dengan terus meningkatkan kualitas sumberdaya yang mengelola usaha tani di lahan tersebut. Peningkatan keterampilan dan pengetahuan petani akan inovasi dan teknologi baru di bidang pertanian dilakukan secara kontinue. Kegiatan yang dapat diadakan oleh pemerintah antara lain sekolah lapang pengendalian hama terpadu, sekolah lapang iklim, sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu, penyuluhan secara intensif dan kursus manajemen usaha tani. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (petani) dengan dukungan dari penyuluh pertanian dan pemerintah. Dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut yang dilakukan secara kontinue akan mempercepat petani dalam mengadopsi inovasi yang baru. 2) Pengembangan daerah sentra komoditi sayur dan buah Komoditi berkembang didominasi oleh tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan. Komoditi ini tidak dapat cepat berkembang karena kondisi wilayah Kabupaten Sragen yang beragam. Wilayah Selatan Bengawan Solo berupa dataran rendah yang tidak digunakan untuk budidaya sayur-sayuran namun dititik beratkan pada budidaya komoditi padi dan buah-buahan. Wilayah Utara Bengawan Solo yang berupa daerah pegunungan kapur diupayakan semaksimal mungkin untuk budidaya palawija, sayur dan buah. Bedasarkan penggunaan lahan, Kabupaten Sragen terbagi menjadi dua yaitu lahan sawah sebesar Ha (43%) dan lahan bukan sawah sebesar Ha (53%) (BPS Kabupaten Sragen, 2009). Oleh karena itu, daerah penanaman hortikultura yang terbatas menjadi pertimbangan dalam mengembangkan hortikultura di Kabupaten Sragen.

106 91 Kabupaten Sragen telah menetapkan beberapa daerah sentra komoditi hortikultura antara lain komoditi jeruk, mangga, pisang rambutan dan salak. Komoditi sayur-sayuran belum memiliki daerah sentra produksi. Pemerintah Kabupaten Sragen perlu menetapkan kawasan sentra hortikultura yang lain khususnya komoditi sayur. Penetapan daerah sentra dilakukan oleh pemerintah dengan mempertimbangkan keadaan dan potensi daerah masing-masing. Pengembangan kawasan sentra dapat diusahakan dengan kegiatan berbasis pertanian dari penyediaan sarana produksi, budidaya yang baik, penanganan pasca panen (pengolahan hasil) sampai pemasaran hasil. Pengenbangan kawasan sentra bertujuan untuk meningkatkan produksi dengan memanfaatkan lahan, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Mengingat baiknya tujuan pengembangan kawasan sentra, pemerintah perlu mendukung dengan penyediaan sarana dan infrastruktur yang memadai untuk budidaya serta pemasaran, perlu adanya alokasi anggaran kegiatan untuk kawasan sentra. Pemerintah selalu menjadwalkan pemantauan secara rutin terhadap perkembangan kawasan sentra hortikultura yang telah ditetapkan. c. Alternatif strategi pengembangan jangka menengah yang mengupayakan komoditi terbelakang menjadi komoditi berkembang 1) Penerapan budidaya pertanian yang baik untuk sayur dan buah Penerapan budidaya pertanian yang baik untuk komoditi sayur dan buah perlu dilakukan mengingat komoditi sayur dan buah mendominasi kelompok komoditi terbelakang di Kabupaten Sragen. Komoditi terbelakang perlu perhatian khusus untuk meningkatkan kontribusi dan laju pertumbuhannya. Salah satu upaya perbaikan dengan menerapkan budidaya pertanian yang baik untuk memperoleh produktivitas yang tinggi, kualitas produk yang baik,

107 92 ramah lingkungan dan memperhatikan keamanan serta kesejahteraan petani. Penerapan tindakan budidaya pertanian yang baik untuk sayur dan buah antara lain pemilihan dan penggunaan lahan yang tepat yaitu lahan yang digunakan untuk budidaya adalah lahan yang bebas dari cemaran limbah berbahaya, lahan juga harus diolah sebelum ditanami untuk memperbaiki struktur tanah. Tindakan pemupukan yang baik yaitu penggunaan pupuk yang tepat jenis, tepat waktu dan tepat dosis, apabila menggunakan pupuk organik berbahan baku kotoran hewan harus melalui proses pengolahan sebelum digunakan. Tindakan pengendalian hama dan penyakit yaitu penggunaan pestisida sesuai dosis yang telah tertulis pada label serta menggunakan pestisida yang telah terdaftar resmi di pemerintah. Penerapan tindaka-tindakan tersebut secara benar dapat mendukung pengembangan komoditi terbelakang, sehingga akan mampu meningkatkan kualitas dan produksinya. 2) Pengembangan demplot sayur dan buah Perubahan iklim yang tidak menentu dan perkembangan teknologi menuntut petani untuk dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada. Petani sebaiknya mampu menyerap berbagai inovasi yang sesuai dan mengaplikasikannya di lapang dengan baik. Hal ini dengan tujuan agar komoditi yang diusahakan memiliki produktivitas yang tinggi sehingga dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Lahan Demonstrasi Plot (Demplot) merupakan lahan yang digunakan untuk percobaan budidaya suatu komoditi tertentu. Demplot dapat digunakan sebagai sarana pengenalan kepada masyarakat tentang inovasi dan teknologi terbaru pertanian. Dengan adanya demplot, petani lebih mengenal suatu inovasi dan teknologi dengan baik karena mengaplikasikan langsung di lahan demplot. Hasil dari usaha tani komoditi yang ditanam pada lahan demplot

108 93 umumnya lebih baik daripada hasil usaha tani komoditi oleh petani. Pola demplot mengupayakan suatu komoditi diusahakan dengan teknik budidaya yang lebih baik yaitu menggunakan bibit unggul, pengolahan tanah, pola tanam, pengairan, pemupukan dan pengendalian hama penyakit, pada pola ini suatu inovasi dan teknologi diterapkan. Penerapan inovasi dan teknologi pada demplot-demplot ini ke depannya dapat memberikan gambaran kepada petani sehingga tertarik untuk mengaplikasikan inovasi dan teknologi baru di lahan mereka sendiri. Kabupaten Sragen telah mengembangkan pola demplot pada komoditi tanaman bahan makanan, akan tetapi untuk komoditi hortikultura hanya beberapa tanaman buah yang sudah terdapat lahan demplot. Pengembangan demplot-demplot untuk tanaman hortikultura khususnya sayur-sayuran sebaiknya dilakukan mengingat adanya potensi wilayah Kabupaten Sragen untuk tanaman hortikultura dataran rendah. Pemerintah perlu menyediakan alokasi dana dan sumberdaya manusia (penyuluh), selanjutnya dilakukan pemantauan secara kontinue sampai program selesai. Kerjasama dengan pihak swasta juga akan sangat mendukung dalam penyelenggaraan program demplot, misalnya dalam penyediaan benih/bibit, penyediaan pupuk, penyediaan pestisida, maupun penyediaan mesin pertanian. Pengembangan pola demplot dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (petani) serta dapat mengembangkan komoditi terbelakang sehingga produksinya dapat meningkat. Alternatif strategi pengembangan jangka menengah diharapkan dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan kontribusi dari komoditi potensial, komoditi berkembang dan komoditi terbelakang tanaman bahan makanan. Komoditi tanaman bahan makanan sebagai subsektor dari sektor pertanian dengan alternatif strategi ini dapat meningkatkan perannya dalam perekonomian di Kabupaten Sragen. Selain itu, alternatif strategi

109 94 pengembangan dapat berperan serta dalam upaya perencanaan pembangunan ekonomi daerah Kabupaten Sragen dalam jangka menengah dimasa yang akan datang. 3. Alternatif Strategi Pemngembangan Jangka Panjang Alternatif strategi jangka panjang adalah alternatif strategi yang dilakukan dalam periode waktu antara tahun. Strategi untuk pengembangan komoditi tanaman bahan makanan yang terdiri dari dua alternatif yaitu mengupayakan komoditi potensial menjadi komoditi terbelakang menjadi komoditi berkembang dan mempertahankan komoditi prima agar tetap menjadi komoditi prima. Alternatif strategi mengupayakan komoditi terbelakang menjadi komoditi berkembang dilakukan dengan meningkatkan laju pertumbuhan komoditi terbelakang sehingga dapat menjadi komoditi berkembang. Alternatif strategi mempertahankan komoditi prima agar tetap menjadi komoditi prima dilakukan dengan mengoptimalkan potensi wilayah Kabupaten Sragen agar dapat mempertahankan laju pertumbuhan dan kontribusi komoditi prima sehingga tetap menjadi komoditi prima. Berdasarkan analisis klasifikasi komoditi tanaman bahan makanan dengan pendekatan Tipologi Klassen maka diketahui bahwa komoditi prima di Kabupaten Sragen adalah jagung, ubi kayu, kacang tanah dan pisang. Komoditi terbelakang di Kabupaten Sragen adalah kacang hijau, kacang panjang, cabe, tomat, bayam, terong, semangka, melon dan sawo. Maka dirumuskan alternatif strategi menggunakan matrik alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan yang berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Sragen dan hasil wawancara dengan petani, penyuluh dan Dinas Pertanian Kabupaten Sragen. Alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan dalam jangka panjang di Kabupaten Sragen antara lain :

110 95 a. Alternatif strategi pengembangan jangka panjang yang mengupayakan komoditi terbelakang menjadi komoditi berkembang - Pembangunan Sub Terminal Agribisnis Pemasaran komoditi pertanian merupakan bagian dari kegiatan agribisnis. Pemasaran komoditi pertanian umumnya mempunyai mata rantai yang panjang sehingga keuntungan yang diperoleh petani menjadi rendah. Petani hanya sebagai penerima harga (price taker), sehingga posisinya lemah dalam rantai pemasaran. Konsumen juga harus membayar komoditi dengan harga yang tinggi akibat panjangnya rantai pemasaran karena biaya pemasaran yang tinggi. Anugrah (2004) menyatakan bahwa pola pemasaran tidak mampu menunjang upaya pengembangan berbagai jenis komoditas. Lemahnya posisi tawar petani serta semakin banyaknya produk impor komoditas yang sama di pasar dalam negeri, menuntut upaya peningkatan efisiensi pemasaran dengan mengembangkan infrastruktur pemasaran. Sub terminal agribisnis sebagai suatu infrastruktur pasar. Upaya yang dapat dilakukan untuk menangani permasalahan dalam pemasaran adalah dengan pembangunan Sub Terminal Agribisnis (STA). Kabupaten Sragen perlu memiliki STA karena sangat mendukung pemasaran komoditi tanaman bahan makanan secara efisien. STA merupakan infrastruktur pemasaran dimana selain sebagai tempat transaksi jual beli, juga sebagai wadah untuk mengakomodasi kepentingan pelaku agribisnis dengan pendekatan pasar lelang. Pembinaan mutu komoditi agribisnis dapat dilakukan di tempat ini, karena tersedia tempat sortasi dan pengemasan, air bersih, es, gudang, cool room, dan cold storage. Kemampuan petani dan pedagang dalam penanganan komoditi pertanian dapat ditingkatkan dengan adanya pelatihan penanganan dan pengemasan. Konsep pasar lelang pada STA melibatkan kelompok tani dalam memasarkan hasil pertanian. Kelompok tani secara bersama

111 96 melakukan sortasi dan grading pada komoditas yang akan di lelang. Dengan ini, produk yang dijual nantinya adalah produk yang baik dan berkualitas. Petani yang memiliki komoditi sejenis memasarkan hasil pertanian ke STA dengan dikoordinir ketua kelompok tani. Ketua kelompok tani menyerahkan sampel produk yang akan ditawarkan kepada petugas lelang. STA memberikan informasi harga dengan patokan pasar induk. STA menarik pedagang / pembeli dengan mengadakan lelang, disini terjadi proses tawar menawar antara pembeli dengan petani yang diwakilkan dengam kelompok tani. Setelah harga disepakati, STA memfasilitasi transaksi jual beli secara langsung maupun dengan kontrak dagang. Keberadaan STA memberikan kepastian kepada petani bahwa hasil pertanian mampu terserap pasar. Apabila STA berjalan sesuai konsep dengan baik maka petani akan memiliki keinginan untuk meningkatkan produksi komoditi tanaman bahan makanan. Keberadaan STA pada akhirnya turut mendorong berkembangnya komoditi terbelakang di Kabupaten Sragen. b. Alternatif strategi pengembangan jangka panjang yang mempertahankan komoditi prima menjadi komoditi prima 1) Mengurangi alih fungsi lahan pertanian ke lahan non pertanian Isu strategis yang terjadi pada bidang pertanian, salah satunya adalah berkurangnya lahan pertanian yang produktif. Lahan pertanian beralih fungsi menjadi lahan non pertanian (BAPPEDA Kabupaten Sragen, 2006). Jumlah penduduk yang bertambah membutuhkan lahan untuk tempat tinggal. Lahan pertanian yang subur banyak beralih ke lahan non pertanian, salah satunya untuk pembangunan perumahan. Pemerintah Kabupaten Sragen perlu campur tangan dengan menetapkan beberapa peraturan dan larangan konversi lahan pertanian yang subur menjadi lahan non pertanian. Penggunaan lahan non pertanian dapat diarahkan ke lahan yang kurang subur.

112 97 Pemerintah harus menetapkan pembagian areal, dimana areal pemukiman, areal industri dan areal pertanian. Pemerintah juga harus berperan aktif dalam rehabilitasi lahan yang tidak produktif agar lahan produktif semakin luas. Perlu adanya pengembangan teknologi untuk pertanian. Pengembangan teknologi pertanian dengan permasalahan lahan pertanian yang sempit dapat menjadi solusi untuk mengusahakan pertanian di lahan yang terbatas. 2) Pengelolaan sumberdaya air untuk pertanian Sumberdaya air perlu dijaga kelestariannya untuk masa depan. Air merupakan kebutuhan pokok untuk pertanian untuk lahan basah juga lahan kering. Pengelolaan air yang baik dengan memanfaatkan air semaksimal mungkin, hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu pemeliharaan jaringan irigasi, pengembangan embung, dan pemeliharaan waduk. Jaringan irigasi berfungsi untuk mendistribusikan air kepada pemakai air / lahan pertanian. Kecukupan air pada lahan pertanian akan mempengaruhi produksi komoditi dan kesuburan tanah. Kondisi jaringan irigasi di Kabupaten Sragen yang perlu diperhatikan adalah kondisi irigasi di tingkat usaha tani, tersier sampai ke petak petani. Pengelolaan tingkat tersier sampai ke petak dilakukan oleh petani dan Perhimpunan Petani Pemakai Air (P3A). Kendala yang terjadi bila P3A tidak berjalan sesuai fungsinya sehingga akan terjadi pembagian air yang tidak adil. Peran serta pemerintah diperlukan dalam pengelolaan jaringan irigasi sampai ke petak petani. Embung dan waduk merupakan tempat penampungan kelebihan air, akan tetapi ukuran embung lebih kecil. Kabupaten Sragen telah memiliki 16 embung dan 7 waduk yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Sragen. Pengembangan embung perlu dilakukan dengan penambahan jumlah embung di beberapa daerah yang belum terdapat embung. Penambahan embung perlu dilakukan

113 98 dengan alasan pemerintah menetapkan peralihan secara perlahan sumur dalam menjadi sumur dangkal, sehingga perlu tempat penampung air untuk memenuhi kebutuhan air di musim kemarau. Pemeliharaan waduk sebaiknya dilakukan secara kontinue, pembersihan waduk dengan mengangkat sampah-sampah di dalam waduk akan mencegah pendangkalan waduk. Selain itu konstruksi bangunan juga perlu dilakukan pemeliharaan secara berkala agar umur pakai waduk dapat maksimal. 3) Penerapan pertanian berkelanjutan berbasis pertanian organik Proses produksi pertanian berkelanjutan akan lebih mengarah kepada produk-produk hayati yang ramah lingkungan. Penggunaan pupuk organik, pestisida organik, musuh alami digunakan untuk mendukung pertanian berbasis organik. Berbagai kegiatan pertanian berkelanjutan berbasis pertanian organik yaitu pengendalian hama terpadu, konservasi lahan, perlindungan sumberdaya air, penggunaan tanaman pelindung, diversifikasi tanaman dan pemasaran. Pertanian Kabupaten Sragen dalam jangka panjang diarahkan kepada pertanian organik yang ramah akan lingkungan. Komoditi tanaman bahan makanan sebaiknya mulai dikelola secara organik untuk jangka panjang. Alternatif strategi pengembangan jangka panjang diharapkan dapat meningkatkan laju pertumbuhan dan kontribusi dari komoditi terbelakang dan komoditi prima tanaman bahan makanan. Komoditi tanaman bahan makanan sebagai subsektor dari sektor pertanian dengan alternatif strategi ini dapat meningkatkan perannya dalam perekonomian di Kabupaten Sragen. Selain itu, alternatif strategi pengembangan dapat berperan serta dalam upaya perencanaan pembangunan ekonomi daerah Kabupaten Sragen dalam jangka panjang dimasa yang akan datang.

114 99 VI. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian berjudul Analisis Peran Komoditi Tanaman Bahan Makanan dalam Pembangunan Ekonomi Kabupaten Sragen (Pendekatan Tipologi Klassen) dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Klasifikasi komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen berdasarkan pendekatan Tipologi Klassen terdiri dari empat klasifikasi komoditi, yaitu : a. Komoditi prima terdiri dari jagung, ubi kayu, kacang tanah dan pisang. b. Komoditi potensial terdiri dari padi dan mangga. c. Komoditi berkembang terdiri dari ubi jalar, kedelai, ketimun, kangkung, rambutan, jeruk, pepaya dan nanas. d. Komoditi terbelakang terdiri dari kacang hijau, kacang panjang, cabe, tomat, bayam, terong, semangka, melon dan sawo. 2. Alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan di Kabupaten Sragen, meliputi : a. Alternatif strategi jangka pendek terdiri dari dua macam strategi yaitu : 1) Mempertahankan laju pertumbuhan yang cepat dan kontribusi yang besar dari komoditi prima, melalui upaya pengembangan agribisnis komoditi jagung, penerapan sistem tumpang sari pada komoditi ubi kayu dan kacang tanah, peningkatan produktivitas pisang dan peningkatan kerjasama antara pihak swasta dengan petani 2) Meningkatkan laju pertumbuhan komoditi potensial agar menjadi komoditi prima, melalui upaya peningkatan produktivitas padi, meningkatkan akses petani terhadap lembaga keuangan dan peningkatan produksi komoditi mangga dengan pemeliharaan yang intensif. 99

115 100 b. Alternatif strategi jangka menengah terdiri dari tiga macam strategi yaitu : 1) Meningkatkan laju pertumbuhan komoditi potensial agar menjadi komoditi prima, melalui upaya pengembangan padi organik di seluruh wilayah Kabupaten Sragen. 2) Meningkatkan kontribusi komoditi berkembang agar menjadi komoditi potensial, melalui upaya peningkatan kualitas SDM (petani) dan pengembangan daerah sentra komoditi sayur dan buah. 3) Meningkatkan laju pertumbuhan komoditi terbelakang agar menjadi komoditi berkembang, melalui upaya penerapan budidaya pertanian yang baik untuk sayur dan buah, pengembangan demplot sayur dan buah. c. Alternatif strategi jangka panjang terdiri dari dua macam strategi yaitu : 1) Strateginya dengan meningkatkan laju pertumbuhan komoditi terbelakang, melalui upaya pembangunan Sub Terminal Agribisnis. 2) Strateginya dengan mempertahankan laju pertumbuhan yang cepat dan kontribusi yang besar dari komoditi prima, melalui upaya mengurangi alih fungsi lahan pertanian ke lahan non pertanian, pengelolaan sumberdaya air untuk pertanian dan penerapan pertanian berkelanjutan berbasis pertanian organik. B. Saran Berdasarkan hasil penelitian tentang Analisis Peran Komoditi Tanaman Bahan Makanan dalam Pembangunan Ekonomi Kabupaten Sragen (Pendekatan Tipologi Klassen), maka saran yang dapat diberikan adalah : 1. Sebaiknya Pemerintah Kabupaten Sragen mempertimbangkan alternatif strategi pengembangan komoditi tanaman bahan makanan berdasarkan klasifikasi komoditi dengan pendekatan Tipologi Klassen agar masingmasing komoditi dapat meningkatkan perannya dalam pembangunan perekonomian Kabupaten Sragen. 2. Sebaiknya dilakukan penelitian lanjutan dengan metode analisis yang lain untuk menyempurnakan informasi, misalnya strategi pengembangan

116 101 daerah Kabupaten Sragen berbasis komoditi tanaman bahan makanan dengan pendekatan SWOT (Strengh Weakness Opportunity and Threatment) maupun dengan pendekatan QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix), sehingga diharapkan akan mendapatkan hasil yang lebih baik.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan merupakan upaya perubahan secara terencana seluruh dimensi kehidupan menuju tatanan kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Sebagai perubahan yang terencana,

Lebih terperinci

KINERJA DAN PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN BLORA

KINERJA DAN PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN BLORA SEPA : Vol. 9 No. 2 Februari 2013 : 201-208 ISSN : 1829-9946 KINERJA DAN PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN BLORA WIWIT RAHAYU Staf Pengajar Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/Agrobisnis

Lebih terperinci

Analisis keterkaitan sektor tanaman bahan makanan terhadap sektor perekonomian lain di kabupaten Sragen dengan pendekatan analisis input output Oleh :

Analisis keterkaitan sektor tanaman bahan makanan terhadap sektor perekonomian lain di kabupaten Sragen dengan pendekatan analisis input output Oleh : 1 Analisis keterkaitan sektor tanaman bahan makanan terhadap sektor perekonomian lain di kabupaten Sragen dengan pendekatan analisis input output Oleh : Sri Windarti H.0305039 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Lebih terperinci

ANALISIS PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN DI KABUPATEN SRAGEN (Pendekatan Location Quotient dan Shift Share Analysis)

ANALISIS PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN DI KABUPATEN SRAGEN (Pendekatan Location Quotient dan Shift Share Analysis) ANALISIS PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN DI KABUPATEN SRAGEN (Pendekatan Location Quotient dan Shift Share Analysis) Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana

Lebih terperinci

ANALISIS KOMODITAS UNGGULAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA DI KABUPATEN MEMPAWAH. Universitas Tanjungpura Pontianak.

ANALISIS KOMODITAS UNGGULAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA DI KABUPATEN MEMPAWAH. Universitas Tanjungpura Pontianak. ANALISIS KOMODITAS UNGGULAN TANAMAN PANGAN DAN HORTIKULTURA DI KABUPATEN MEMPAWAH ADE IRMAYADI 1), ERLINDA YURISINTHAE 2), ADI SUYATNO 2) 1) Alumni Magister Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA IDENTIFIKASI SUB SEKTOR PERTANIAN DAN PERANNYA DALAM MENGURANGI KETIMPANGAN PENDAPATAN DI EKS KARESIDENAN KEDU (PENDEKATAN MINIMUM REQUIREMENTS TECHNIQUE DAN INDEKS WILLIAMSON) SKRIPSI Oleh : Dinan Azifah

Lebih terperinci

PERENCANAAN PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG BERBASIS KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN (PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN)

PERENCANAAN PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG BERBASIS KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN (PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN) PERENCANAAN PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG BERBASIS KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN (PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN) Agustina Dwi Permatasari, Darsono, Nuning Setyowati Program Studi Agribisnis

Lebih terperinci

ANALISIS PERAN KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN SLEMAN (PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN)

ANALISIS PERAN KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN SLEMAN (PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN) ANALISIS PERAN KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI KABUPATEN SLEMAN (PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN) Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana Pertanian

Lebih terperinci

ANALISIS STRUKTUR EKONOMI DAN PENGEMBANGAN POTENSI EKONOMI LOKAL KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN

ANALISIS STRUKTUR EKONOMI DAN PENGEMBANGAN POTENSI EKONOMI LOKAL KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN ANALISIS STRUKTUR EKONOMI DAN PENGEMBANGAN POTENSI EKONOMI LOKAL KABUPATEN SUKOHARJO TAHUN 2008-2013 SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi Syarat syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi

Lebih terperinci

PERENCANAAN PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG BERBASIS KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN (PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN)

PERENCANAAN PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG BERBASIS KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN (PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN) PERENCANAAN PEMBANGUNAN EKONOMI DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG BERBASIS KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN (PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN) SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna memperoleh derajat gelar

Lebih terperinci

ANALISIS PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN DI KABUPATEN BLITAR TAHUN

ANALISIS PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN DI KABUPATEN BLITAR TAHUN digilib.uns.ac.id ANALISIS PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN DI KABUPATEN BLITAR TAHUN 2007-2011 Skripsi Diajukan Sebagai Kelengkapan dan Syarat Untuk Menyelesaikan Program Sarjana Pada Program

Lebih terperinci

DINAMIKA PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI KAWASAN SOLO RAYA

DINAMIKA PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI KAWASAN SOLO RAYA DINAMIKA PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI DI KAWASAN SOLO RAYA Wiwit Rahayu, Nuning Setyowati 1) 1) Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret email: [email protected]

Lebih terperinci

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. bujur timur. Wilayahnya sangat strategis karena dilewati Jalur Pantai Utara yang

KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. bujur timur. Wilayahnya sangat strategis karena dilewati Jalur Pantai Utara yang IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Kondisi Geografis Kabupaten Batang adalah salah satu kabupaten yang tercatat pada wilayah administrasi Provinsi Jawa Tengah. Letak wilayah berada diantara koordinat

Lebih terperinci

ANALISIS SEKTOR UNGGULAN MENGGUNAKAN DATA PDRB

ANALISIS SEKTOR UNGGULAN MENGGUNAKAN DATA PDRB ANALISIS SEKTOR UNGGULAN MENGGUNAKAN DATA PDRB (STUDI KASUS BPS KABUPATEN KENDAL TAHUN 2006-2010) SKRIPSI Disusun oleh : ROSITA WAHYUNINGTYAS J2E 008 051 JURUSAN STATISTIKA FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. daerah bersangkutan (Soeparmoko, 2002: 45). Keberhasilan pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. daerah bersangkutan (Soeparmoko, 2002: 45). Keberhasilan pembangunan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan ekonomi daerah merupakan suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat mengelola sumberdaya-sumberdaya yang ada, dengan menjalin pola-pola kemitraan

Lebih terperinci

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA ANALISIS SEKTOR BASIS DAN KONDISI PEREKONOMIAN KABUPATEN DEMAK TAHUN 2006-2012 Skripsi Diajukan untuk Melengkapi Syarat-Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Fakultas

Lebih terperinci

PERAN TANAMAN BAHAN MAKANAN DALAM PEREKOMONIAN DAERAH KABUPATEN GROBOGAN (PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN) SKRIPSI

PERAN TANAMAN BAHAN MAKANAN DALAM PEREKOMONIAN DAERAH KABUPATEN GROBOGAN (PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN) SKRIPSI digilib.uns.ac.id PERAN TANAMAN BAHAN MAKANAN DALAM PEREKOMONIAN DAERAH KABUPATEN GROBOGAN (PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN) SKRIPSI Oleh : NITA YUDITASARI H 0307016 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Isu strategis yang kini sedang dihadapi dunia adalah perubahan iklim global, krisis pangan dan energi dunia, harga pangan dan energi meningkat, sehingga negara-negara

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan

I. PENDAHULUAN. nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan. dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan kesejahteraan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan daerah merupakan bagian dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan daerah tersebut. Tujuan dari pembangunan daerah adalah untuk meningkatkan

Lebih terperinci

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016

PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan, dan akuntabel serta berorientasi pada hasil, kami yang bertandatangan di bawah ini : Nama : Ir. Bambang

Lebih terperinci

STRATEGI PENGEMBANGAN KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN DI KABUPATEN KEBUMEN

STRATEGI PENGEMBANGAN KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN DI KABUPATEN KEBUMEN digilib.uns.ac.id STRATEGI PENGEMBANGAN KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN DI KABUPATEN KEBUMEN Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

SUB SEKTOR PERTANIAN UNGGULAN KABUPATEN TASIKMALAYA SELAMA TAHUN

SUB SEKTOR PERTANIAN UNGGULAN KABUPATEN TASIKMALAYA SELAMA TAHUN SUB SEKTOR PERTANIAN UNGGULAN KABUPATEN TASIKMALAYA SELAMA TAHUN 2005-2014 Sri Hidayah 1) Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Uniersitas Siliwangi [email protected] Unang 2) Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu kebijakan pembangunan yang dipandang tepat dan strategis dalam rangka pembangunan wilayah di Indonesia sekaligus mengantisipasi dimulainya era perdagangan

Lebih terperinci

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN WILAYAH DI KABUPATEN INDRAMAYU. Nurhidayati, Sri Marwanti, Nuning Setyowati

ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN WILAYAH DI KABUPATEN INDRAMAYU. Nurhidayati, Sri Marwanti, Nuning Setyowati ANALISIS PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PEREKONOMIAN WILAYAH DI KABUPATEN INDRAMAYU Nurhidayati, Sri Marwanti, Nuning Setyowati Pogram Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Jl.

Lebih terperinci

SKRIPSI ANALISIS POTENSI PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN BONE PERIODE KUSNADI ZAINUDDIN JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

SKRIPSI ANALISIS POTENSI PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN BONE PERIODE KUSNADI ZAINUDDIN JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS i SKRIPSI ANALISIS POTENSI PERTUMBUHAN EKONOMI KABUPATEN BONE PERIODE 2006-2010 KUSNADI ZAINUDDIN JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012 ii SKRIPSI ANALISIS

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI DAN KONTRIBUSI SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN WILAYAH KABUPATEN PATI SKRIPSI

IDENTIFIKASI DAN KONTRIBUSI SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN WILAYAH KABUPATEN PATI SKRIPSI IDENTIFIKASI DAN KONTRIBUSI SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN WILAYAH KABUPATEN PATI SKRIPSI Oleh : Selviana M H 0809101 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013 commit i to user IDENTIFIKASI

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK

GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK 34 IV. GAMBARAN UMUM PROVINSI LAMPUNG dan SUBSIDI PUPUK ORGANIK 4.1 Gambaran Umum Provinsi Lampung Lintang Selatan. Disebelah utara berbatasan dengann Provinsi Sumatera Selatan dan Bengkulu, sebelah Selatan

Lebih terperinci

Perkembangan Ekonomi Makro

Perkembangan Ekonomi Makro Boks 1.2. Pemetaan Sektor Pertanian di Jawa Barat* Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB (harga berlaku) tahun 2006 sebesar sekitar 11,5%, sementara pada tahun 2000 sebesar 14,7% atau dalam kurun waktu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi daerah berorientasi pada proses. Suatu proses yang

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi daerah berorientasi pada proses. Suatu proses yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penelitian Pembangunan ekonomi daerah berorientasi pada proses. Suatu proses yang melibatkan pembentukan institusi baru, pembangunan industri alternatif, perbaikan

Lebih terperinci

A. Realisasi Keuangan

A. Realisasi Keuangan BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA TAHUN 2008 A. Realisasi Keuangan 1. Belanja Pendapatan Realisasi belanja pendapatan (Pendapatan Asli Daerah) Tahun 2008 Dinas Pertanian Kabupaten Majalengka mencapai 100%

Lebih terperinci

ANALISIS PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH KABUPATEN DEMAK

ANALISIS PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH KABUPATEN DEMAK ANALISIS PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH KABUPATEN DEMAK Khusnul Khatimah, Suprapti Supardi, Wiwit Rahayu Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta

Lebih terperinci

KOMODITAS HORTIKULTURA UNGGULAN DI KABUPATEN SEMARANG (PENDEKATAN LQ DAN SURPLUS PRODUKSI)

KOMODITAS HORTIKULTURA UNGGULAN DI KABUPATEN SEMARANG (PENDEKATAN LQ DAN SURPLUS PRODUKSI) KOMODITAS HORTIKULTURA UNGGULAN DI KABUPATEN SEMARANG (PENDEKATAN DAN SURPLUS PRODUKSI) Eka Dewi Nurjayanti, Endah Subekti Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Wahid Hasyim Jl. Menoreh

Lebih terperinci

ANALISIS PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH KABUPATEN DEMAK

ANALISIS PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH KABUPATEN DEMAK ANALISIS PERANAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN WILAYAH KABUPATEN DEMAK SKRIPSI Oleh : Khusnul Khatimah H 0809070 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013 i ANALISIS PERANAN SEKTOR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Tujuan utama dari pembangunan ekonomi Indonesia adalah terciptanya

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Tujuan utama dari pembangunan ekonomi Indonesia adalah terciptanya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tujuan utama dari pembangunan ekonomi Indonesia adalah terciptanya masyarakat adil dan sejahtera. Pembangunan yang dilaksanakan di Indonesia meliputi pembangunan segala

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR Bismillahirrohmanirrohim

KATA PENGANTAR Bismillahirrohmanirrohim ABSTRAK Pembangunan Wilayah (regional) merupakan fungsi dari potensi sumberdaya alam, tenaga kerja dan sumberdaya manusia, investasi modal, prasarana dan sarana pembangunan, transportasi dan komunikasi,

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI SEKTOR UNGGULAN DI KABUPATEN NGANJUK SEBELUM DAN SELAMA OTONOMI DAERAH SKRIPSI

IDENTIFIKASI SEKTOR UNGGULAN DI KABUPATEN NGANJUK SEBELUM DAN SELAMA OTONOMI DAERAH SKRIPSI IDENTIFIKASI SEKTOR UNGGULAN DI KABUPATEN NGANJUK SEBELUM DAN SELAMA OTONOMI DAERAH SKRIPSI DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN DALAM MEMPEROLEH GELAR SARJANA EKONOMI DEPARTEMEN ILMU EKONOMI PROGRAM

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN DI KOTA SALATIGA DENGAN PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN. Skripsi

PENGEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN DI KOTA SALATIGA DENGAN PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN. Skripsi PENGEMBANGAN SEKTOR PERTANIAN DI KOTA SALATIGA DENGAN PENDEKATAN TIPOLOGI KLASSEN Skripsi untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian Oleh : Eye

Lebih terperinci

PERAN DAN IDENTIFIKASI KOMODITAS PERTANIAN UNGGULAN DI KABUPATEN WONOGIRI

PERAN DAN IDENTIFIKASI KOMODITAS PERTANIAN UNGGULAN DI KABUPATEN WONOGIRI PERAN DAN IDENTIFIKASI KOMODITAS PERTANIAN UNGGULAN DI KABUPATEN WONOGIRI Aminah Happy MA Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Abstract The objectives of this research are to calculate

Lebih terperinci

PENENTUAN KOMODITAS UNGGULAN TANAMAN PANGAN BERDASARKAN NILAI PRODUKSI DI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT

PENENTUAN KOMODITAS UNGGULAN TANAMAN PANGAN BERDASARKAN NILAI PRODUKSI DI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PENENTUAN KOMODITAS UNGGULAN TANAMAN PANGAN BERDASARKAN NILAI PRODUKSI DI KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT (Determination of the Main Commodity Crops Based of Production in the Kotawaringin Barat Regency)

Lebih terperinci

KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN DALAM PENGEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI

KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN DALAM PENGEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN DALAM PENGEMBANGAN PEREKONOMIAN DAERAH KABUPATEN WONOGIRI Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Jumlah petani di Indonesia menurut data BPS mencapai 45% dari total angkatan kerja di Indonesia, atau sekitar 42,47 juta jiwa. Sebagai negara dengan sebagian besar penduduk

Lebih terperinci

2. TANAMAN PANGAN 2.1. Luas Tanam (Ha) Komoditi Tanaman Pangan Kabupaten Luwu, tahun

2. TANAMAN PANGAN 2.1. Luas Tanam (Ha) Komoditi Tanaman Pangan Kabupaten Luwu, tahun 2. TANAMAN PANGAN 2.1. Luas Tanam (Ha) Komoditi Tanaman Pangan Kabupaten Luwu, tahun 2009-2012 PADI LADANG PADI SAWAH JAGUNG 2009 2010 2011 2012 2009 2010 2011 2012 2009 2010 2011 2012 LAROMPONG - - 4

Lebih terperinci

PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN DI KABUPATEN KLATEN SKRIPSI

PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN DI KABUPATEN KLATEN SKRIPSI PERAN SEKTOR PERTANIAN TERHADAP PENYERAPAN TENAGA KERJA DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN DI KABUPATEN KLATEN SKRIPSI Oleh : Muhammad Luthfi K H 0813118 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2017

Lebih terperinci

JURNAL GAUSSIAN, Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013, Halaman Online di:

JURNAL GAUSSIAN, Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013, Halaman Online di: JURNAL GAUSSIAN, Volume 2, Nomor 3, Tahun 2013, Halaman 219-228 Online di: http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/gaussian ANALISIS SEKTOR UNGGULAN MENGGUNAKAN DATA PDRB (Studi Kasus BPS Kabupaten Kendal

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pembentukan Gross National Product (GNP) maupun Produk Domestik Regional

I. PENDAHULUAN. pembentukan Gross National Product (GNP) maupun Produk Domestik Regional I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peranan sektor pertanian dalam pembangunan Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. Peran penting sektor pertanian tersebut sudah tergambar dalam fakta empiris yang

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH. 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya;

BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH. 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya; BAB II KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH 2.1 Perkembangan indikator ekonomi makro daerah pada tahun sebelumnya; A. Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi (economic growth) merupakan salah satu indikator yang

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan yang dititikberatkan pada pertumbuhan ekonomi berimplikasi pada pemusatan perhatian pembangunan pada sektor-sektor pembangunan yang dapat memberikan kontribusi pertumbuhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Sebaran Struktur PDB Indonesia Menurut Lapangan Usahanya Tahun

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Sebaran Struktur PDB Indonesia Menurut Lapangan Usahanya Tahun I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia terutama dalam pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto). Distribusi PDB menurut sektor ekonomi atau

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sumber: Badan Pusat Statistik (2009)

I. PENDAHULUAN. Sumber: Badan Pusat Statistik (2009) I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertanian merupakan sektor yang memiliki peranan penting bagi perekonomian Negara Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia menggantungkan kehidupan mereka pada sektor

Lebih terperinci

The Contribution Of Agricultural Sector in the Economy at Bone Bolango Regency By

The Contribution Of Agricultural Sector in the Economy at Bone Bolango Regency By The Contribution Of Agricultural Sector in the Economy at Bone Bolango Regency By Irawati Puloli 1) Mahludin Baruwadi 2) Ria Indriani 3) DEPARTMENTAGRIBISNIS FACULTY OF AGRICULTURE STATE UNIVERSITYGORONTALO

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional.

BAB I PENDAHULUAN. langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan regional memiliki peran utama dalam menangani secara langsung persoalan-persoalan fungsional yang berkenaan dengan tingkat regional. Peranan perencanaan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI No. 04/05/Th. XIV, 2 Mei 2011 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI APRIL 2011 NILAI TUKAR PETANI SEBESAR 98,78 PERSEN NTP Provinsi Sulawesi Tengah Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P) tercatat sebesar 84,25 persen,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya. bertahap. Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang meliputi

I. PENDAHULUAN. Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya. bertahap. Pembangunan adalah suatu proses multidimensional yang meliputi 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tingkat perekonomian suatu wilayah didukung dengan adanya pembangunan ekonomi jangka panjang yang terencana dan dilaksanakan secara bertahap. Pembangunan adalah suatu

Lebih terperinci

KONTRIBUSI SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN WILAYAH KABUPATEN PATI. Eka Dewi Nurjayanti Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Wahid Hasyim

KONTRIBUSI SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN WILAYAH KABUPATEN PATI. Eka Dewi Nurjayanti Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Wahid Hasyim KONTRIBUSI SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN WILAYAH KABUPATEN PATI Eka Dewi Nurjayanti Staf Pengajar Fakultas Pertanian Universitas Wahid Hasyim ABSTRACK The purpose of this research are to identify

Lebih terperinci

ANALISIS PRODUKSI DAN KELAYAKAN USAHATANI KAKAO DI KABUPATEN MADIUN

ANALISIS PRODUKSI DAN KELAYAKAN USAHATANI KAKAO DI KABUPATEN MADIUN digilib.uns.ac.id ANALISIS PRODUKSI DAN KELAYAKAN USAHATANI KAKAO DI KABUPATEN MADIUN TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1 Kementerian Pertanian Kontribusi Pertanian Terhadap Sektor PDB.

I. PENDAHULUAN. 1 Kementerian Pertanian Kontribusi Pertanian Terhadap Sektor PDB. I. PENDAHULUAN 1.1. Latarbelakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam meningkatkan perkembangan ekonomi Indonesia. Hal ini dikarenakan sektor pertanian adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola

BAB I PENDAHULUAN. suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan kekayaan hayati yang melimpah, hal ini memberikan keuntungan bagi Indonesia terhadap pembangunan perekonomian melalui

Lebih terperinci

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013 ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS LAHAN DAN PENDAPATAN USAHATANI PADI BERDASARKAN KELEMBAGAAN LAHAN DI DUKUH SRIBIT LOR DESA SRIBIT KECAMATAN DELANGGU KABUPATEN KLATEN Skripsi Untuk memenuhi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi tanaman bahan makanan di

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi tanaman bahan makanan di I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki lahan pertanian yang sangat luas dan sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Jawa Barat merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan nasional merupakan cerminan keberhasilan pembangunan. perlu dilaksanakan demi kehidupan manusia yang layak.

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan nasional merupakan cerminan keberhasilan pembangunan. perlu dilaksanakan demi kehidupan manusia yang layak. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dasarnya pembangunan adalah suatu proses perubahan yang direncanakan dan merupakan rangkaian kegiatan yang berkesinambungan, berkelanjutan dan bertahap menuju tingkat

Lebih terperinci

5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

5 GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 27 Secara rinci indikator-indikator penilaian pada penetapan sentra pengembangan komoditas unggulan dapat dijelaskan sebagai berikut: Lokasi/jarak ekonomi: Jarak yang dimaksud disini adalah jarak produksi

Lebih terperinci

PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PERTUMBUHAN DAN STABILITAS PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO DI KABUPATEN BOJONEGORO

PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PERTUMBUHAN DAN STABILITAS PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO DI KABUPATEN BOJONEGORO SEPA : Vol. 8 No.1 September 2011 : 14 21 ISSN : 1829-9946 PERAN SEKTOR PERTANIAN DALAM PERTUMBUHAN DAN STABILITAS PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO DI KABUPATEN BOJONEGORO AGUSTONO Program Studi Agribisnis,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan. masyarakat meningkat dalam periode waktu yang panjang.

BAB I PENDAHULUAN. yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan. masyarakat meningkat dalam periode waktu yang panjang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara umum pembangunan ekonomi di definisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan GNP perkapita (Gross National Product) atau pendapatan masyarakat meningkat dalam

Lebih terperinci

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013

PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO KABUPATEN YAHUKIMO, TAHUN 2013 Nomor Katalog : 9302001.9416 Ukuran Buku : 14,80 cm x 21,00 cm Jumlah Halaman

Lebih terperinci

PENDAPATAN REGIONAL REGIONAL INCOME

PENDAPATAN REGIONAL REGIONAL INCOME PENDAPATAN REGIONAL REGIONAL INCOME NUSA TENGGARA BARAT DALAM ANGKA 2013 NUSA TENGGARA BARAT IN FIGURES 2013 Pendapatan Regional/ BAB XI PENDAPATAN REGIONAL CHAPTER XI REGIONAL INCOME Produk Domestik

Lebih terperinci

STRATEGI PENGEMBANGAN KOMODITAS PERTANIAN UNGGULAN DI KECAMATAN KALITIDU KABUPATEN BOJONEGORO

STRATEGI PENGEMBANGAN KOMODITAS PERTANIAN UNGGULAN DI KECAMATAN KALITIDU KABUPATEN BOJONEGORO SEPA : Vol. 7 No.2 Pebruari 2011 : 127 134 ISSN : 1829-9946 STRATEGI PENGEMBANGAN KOMODITAS PERTANIAN UNGGULAN DI KECAMATAN KALITIDU KABUPATEN BOJONEGORO WIWIT RAHAYU Staf Pengajar Jurusan Sosek Pertanian/Agrobisnis,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor yang masih memegang peranan dalam peningkatan perekonomian nasional. Selain itu, sebagian besar penduduk Indonesia masih menggantungkan

Lebih terperinci

ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI

ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI BERAS MERAH ORGANIK (ORYZA NIVARA) DAN BERAS PUTIH ORGANIK (ORYZA SATIVA) ( Studi Kasus di Desa Sukorejo Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen ) SKRIPSI Oleh Susi Naluri H0809104

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Secara geografis wilayah Kota Bandar Lampung berada antara 50º20 -

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Secara geografis wilayah Kota Bandar Lampung berada antara 50º20 - 56 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Kondisi Geografis dan Administrasi Secara geografis wilayah Kota Bandar Lampung berada antara 50º20-50º30 LS dan 105º28-105º37 BT dengan luas wilayah 197,22 km

Lebih terperinci

ANALISIS KOMPARATIF PEMANFAATAN KREDIT DARI KOPERASI KELOMPOK TANI (KKT) TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI PADI DI KECAMATAN SUKOHARJO KABUPATEN SUKOHARJO

ANALISIS KOMPARATIF PEMANFAATAN KREDIT DARI KOPERASI KELOMPOK TANI (KKT) TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI PADI DI KECAMATAN SUKOHARJO KABUPATEN SUKOHARJO ANALISIS KOMPARATIF PEMANFAATAN KREDIT DARI KOPERASI KELOMPOK TANI (KKT) TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI PADI DI KECAMATAN SUKOHARJO KABUPATEN SUKOHARJO SKRIPSI Disusun Oleh : Fitri Kisworo Wardani H0808102

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN * Keterangan : *Angka ramalan PDB berdasarkan harga berlaku Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2010) 1

I PENDAHULUAN * Keterangan : *Angka ramalan PDB berdasarkan harga berlaku Sumber : Direktorat Jenderal Hortikultura (2010) 1 1.1 Latar Belakang I PENDAHULUAN Sektor pertanian terdiri dari beberapa sub sektor, yaitu tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan, dimana keempat sub sektor tersebut mempunyai peranan

Lebih terperinci

ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA SURAKARTA DAN KABUPATEN KLATEN TAHUN

ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA SURAKARTA DAN KABUPATEN KLATEN TAHUN ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAN PERTUMBUHAN EKONOMI KOTA SURAKARTA DAN KABUPATEN KLATEN TAHUN 2008-2012 Skripsi Diajukan Untuk Melengkapi Syarat-Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi

Lebih terperinci

KAJIAN IDENTIFIKASI KOMODITAS UNGGULAN TANAMAN PANGAN PROVINSI LAMPUNG. Jamhari Hadipurwanta dan Bariot Hafif

KAJIAN IDENTIFIKASI KOMODITAS UNGGULAN TANAMAN PANGAN PROVINSI LAMPUNG. Jamhari Hadipurwanta dan Bariot Hafif KAJIAN IDENTIFIKASI KOMODITAS UNGGULAN TANAMAN PANGAN PROVINSI LAMPUNG Jamhari Hadipurwanta dan Bariot Hafif Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung Jl. H. Zainal Abidin Pagaralam No. 1A, Rajabasa,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian memegang peranan penting dalam struktur ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam pembentukan

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH DESENTRALISASI FISKAL TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAN TINGKAT KEMISKINAN DI KABUPATEN/KOTA PROVINSI JAWA TENGAH

ANALISIS PENGARUH DESENTRALISASI FISKAL TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAN TINGKAT KEMISKINAN DI KABUPATEN/KOTA PROVINSI JAWA TENGAH ANALISIS PENGARUH DESENTRALISASI FISKAL TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAN TINGKAT KEMISKINAN DI KABUPATEN/KOTA PROVINSI JAWA TENGAH Skripsi Diajukan untuk Melengkapi Syarat-Syarat Untuk Mendapat Gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya pembangunan ekonomi nasional bertujuan untuk. membangun manusia Indonesia seutuhnya, dan pembangunan tersebut harus

BAB I PENDAHULUAN. Pada dasarnya pembangunan ekonomi nasional bertujuan untuk. membangun manusia Indonesia seutuhnya, dan pembangunan tersebut harus 13 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada dasarnya pembangunan ekonomi nasional bertujuan untuk membangun manusia Indonesia seutuhnya, dan pembangunan tersebut harus dilaksanakan dengan berpedoman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan usaha yang meliputi perubahan pada berbagai aspek

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan merupakan usaha yang meliputi perubahan pada berbagai aspek BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Pembangunan merupakan usaha yang meliputi perubahan pada berbagai aspek termasuk di dalamnya struktur sosial, sikap masyarakat, serta institusi nasional dan mengutamakan

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN WILAYAH KABUPATEN BOGOR JAWA BARAT

ANALISIS KINERJA SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN WILAYAH KABUPATEN BOGOR JAWA BARAT ANALISIS KINERJA SEKTOR PERTANIAN DALAM PEREKONOMIAN WILAYAH KABUPATEN BOGOR JAWA BARAT Kiky Fitriyanti Rezeki, Wiwit Rahayu, Emi Widiyanti Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kontribusi bagi pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB)

BAB I PENDAHULUAN. memiliki kontribusi bagi pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris dimana sebagian besar penduduknya hidup dari hasil bercocok tanam atau bertani, sehingga pertanian merupakan sektor yang memegang peranan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Globalisasi dan liberalisasi perdagangan memberikan peluang. peluang karena pasar komoditas akan semakin luas sejalan dengan

I. PENDAHULUAN. Globalisasi dan liberalisasi perdagangan memberikan peluang. peluang karena pasar komoditas akan semakin luas sejalan dengan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Globalisasi dan liberalisasi perdagangan memberikan peluang sekaligus tantangan baru yang harus dihadapi dalam pembangunan pertanian di masa depan. Globalisasi dan liberalisasi

Lebih terperinci

Pendapatan Regional/ Regional Income

Pendapatan Regional/ Regional Income Nusa Tenggara Barat in Figures 2012 559 560 Nusa Tenggara in Figures 2012 BAB XI PENDAPATAN REGIONAL CHAPTER XI REGIONAL INCOME Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada tahun

Lebih terperinci

ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI KETELA RAMBAT KUNING DAN KETELA RAMBAT PUTIH DI KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN KARANGANYAR. Skripsi

ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI KETELA RAMBAT KUNING DAN KETELA RAMBAT PUTIH DI KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN KARANGANYAR. Skripsi ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI KETELA RAMBAT KUNING DAN KETELA RAMBAT PUTIH DI KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN KARANGANYAR Skripsi Oleh : Fika Ayu Widayanti H0809048 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYERAPAN TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYERAPAN TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYERAPAN TENAGA KERJA SEKTOR INDUSTRI DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2010-2014 TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Magister Ekonomi

Lebih terperinci

ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAN KINERJA EKONOMI PROVINSI JAWA TENGAH

ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAN KINERJA EKONOMI PROVINSI JAWA TENGAH ANALISIS SEKTOR UNGGULAN DAN KINERJA EKONOMI PROVINSI JAWA TENGAH 2008-2012 Diajukan untuk Menyusun Skripsi dan Memenuhi Syarat-syarat Guna Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan yang dilaksanakan dalam suatu wilayah agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan memerlukan perencanaan yang akurat dari pemerintah. Upaya dalam meningkatkan

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN CABAI RAWIT DI DESA PAGERJURANG KECAMATAN MUSUK KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN CABAI RAWIT DI DESA PAGERJURANG KECAMATAN MUSUK KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN CABAI RAWIT DI DESA PAGERJURANG KECAMATAN MUSUK KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI Oleh Yunita Khusnul Khotimah H0813180 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2017

Lebih terperinci

PENGARUH KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI TERHADAP

PENGARUH KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI TERHADAP PENGARUH KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI TERHADAP KEPUTUSAN PETANI PADI ORGANIK DALAM MENJALIN KEMITRAAN DENGAN PERUSAHAAN BERAS PADI MULYA DI KECAMATAN SAMBIREJO KABUPATEN SRAGEN SKRIPSI Oleh : Rita Tutik

Lebih terperinci

KLASIFIKASI KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN DALAM KERANGKA PERENCANAAN PENGEMBANGAN EKONOMI DAERAH KABUPATEN KLATEN

KLASIFIKASI KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN DALAM KERANGKA PERENCANAAN PENGEMBANGAN EKONOMI DAERAH KABUPATEN KLATEN 1 KLASIFIKASI KOMODITI TANAMAN BAHAN MAKANAN DALAM KERANGKA PERENCANAAN PENGEMBANGAN EKONOMI DAERAH KABUPATEN KLATEN Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian/ Program Studi Agrobisnis Oleh : Joko Purwanto H0305021

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kemiskinan merupakan permasalahan kemanusiaan purba yang bersifat laten dan aktual sekaligus. Ia telah ada sejak peradaban manusia ada dan hingga kini masih menjadi

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI No. 04/04/Th. XV, 2 April 2012 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI NILAI TUKAR PETANI BULAN MARET 2012 SEBESAR 97,86 PERSEN NTP Provinsi Sulawesi Tengah (NTP-Gabungan) bulan Maret 2012 sebesar 97,86 persen,

Lebih terperinci

ANALISIS KEBUTUHAN INVESTASI BIDANG USAHA UNGGULAN BERBAHAN BAKU PERTANIAN DALAM SUBSEKTOR INDUSTRI MAKANAN DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

ANALISIS KEBUTUHAN INVESTASI BIDANG USAHA UNGGULAN BERBAHAN BAKU PERTANIAN DALAM SUBSEKTOR INDUSTRI MAKANAN DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA ANALISIS KEBUTUHAN INVESTASI BIDANG USAHA UNGGULAN BERBAHAN BAKU PERTANIAN DALAM SUBSEKTOR INDUSTRI MAKANAN DI KABUPATEN LIMA PULUH KOTA OLEH MUHAMMAD MARDIANTO 07114042 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi 69 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak dan Luas Daerah Kabupaten Tulang Bawang adalah kabupaten yang terdapat di Provinsi Lampung yang letak daerahnya hampir dekat dengan daerah sumatra selatan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sektor pertanian mencakup segala pengusahaan yang di dapat dari alam dan merupakan barang biologis atau hidup, dimana hasilnya akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia, yang

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia, yang 17 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia, yang dilakukan secara berkelanjutan, berdasarkan kemampuan dengan pemanfaatan kemajuan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI No. 04/04/Th. XIV, 1 April 2011 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI MARET 2011 NILAI TUKAR PETANI SEBESAR 98,45 PERSEN NTP Provinsi Sulawesi Tengah Subsektor Tanaman Pangan (NTP-P) tercatat sebesar 83,67 persen,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI DESEMBER 2010 NILAI TUKAR PETANI SEBESAR 97,63 PERSEN No. 04/01/Th. XIV, 3 Januari 2011 Pada bulan Desember 2010, NTP Provinsi Sulawesi Tengah masing-masing subsektor tercatat

Lebih terperinci

30% Pertanian 0% TAHUN

30% Pertanian 0% TAHUN PERANAN SEKTOR TERHADAP PDB TOTAL I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Julukan negara agraris yang kerap kali disematkan pada Indonesia dirasa memang benar adanya. Pertanian merupakan salah satu sumber kehidupan

Lebih terperinci

TESIS. Disusun oleh: MUHAMMAD NURWIBOWO NIM. S

TESIS. Disusun oleh: MUHAMMAD NURWIBOWO NIM. S STRUKTUR DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN RUMAH TANGGA SERTA STRATEGI KEBIJAKAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI JAGUNG DI LAHAN PERHUTANI DI KECAMATAN TANGGUNGHARJO KABUPATEN GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH TESIS

Lebih terperinci