BAB V HASIL KERJA TAHUN 2016

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB V HASIL KERJA TAHUN 2016"

Transkripsi

1 BAB V HASIL KERJA TAHUN PENCAPAIAN TARGET KINERJA PENCAPAIAN TARGET KEGIATAN DAN PENDAPATAN sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kesehatan R.I. yang berada di Jawa Timur, memberikan pelayanan untuk pemeriksaan sampel klinik maupun sampel non klinik. Upaya-upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan kinerja pelayanan adalah melalui kegiatan sebagai berikut : 1) Pelayanan Upaya Kesehatan Masyarakat, Perorangan dan Lingkungan Kegiatan dalam pelayanan ini antara lain : Masyarakat Pelayanan Laboratorium Klinik dan Uji Kesehatan serta Laboratorium Kesehatan Pelayanan pemeriksaan laboratorium klinik & uji kesehatan dan laboratorium kesehatan masyarakat dilaksanakan untuk melayani permintaan dari : Rumah Sakit Pemerintah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota Puskesmas Rujukan wilayah Instansi Pemerintah lain Rumah Sakit Swasta Dokter praktek swasta Perorangan/Lain-lain Industri Lain-lain Kegiatan pelayanan laboratorium pada digolongkan sebagai berikut : 1. Instalasi Patologi, terdiri dari : a. Laboratorium Hematologi b. Laboratorium Kimia Klinik 2. Instalasi Mikrobiologi, terdiri dari : a. Laboratorium Mikrobiologi Klinik (Bakteriologi, Parasitologi, Mikologi) b. Laboratorium TBC c. Laboratorium Biomolekuler 3. Instalasi Virologi a. Pemeriksaan Kultur Virus b. Pemeriksaan Biomolekuler 4. Instalasi Imunologi 5. Instalasi Bakteriologi Sanitasi 6. Instalasi Kimia Kesehatan 30

2 7. Instalasi Penerimaan, Pengambilan Sampel dan Penyerahan Hasil, pemeriksaan terdiri dari : a. Radiologi Diagnostik b. Electrocardiography (ECG) c. Patologi Anatomi d. USG e. Treadmill f. Audiometri 8. Instalasi Media Reagensia dan Hewan Percobaan a. Laboratorium Media Reagensia Laboratorium Media dan Reagensia membuat bermacam-macam media siap pakai untuk memenuhi kebutuhan di lingkungan Instalasi Mikrobiologi dan Bakteriologi Sanitasi dan juga untuk permintaan dari luar BBLK. Untuk pemeriksaan Corynebacterium diphteriae telah menggunakan metode baru sesuai Manual for The Laboratory Diagnosis of Diphteria yaitu standard yang direkomendasi oleh WHO Global Refference Laboratory for Diphteria and Streptococcus. Berdasarkan fungsi Media dan Reagensia, macam-macam media serta jumlah pembuatan media tahun 2016 sebagai berikut: Tabel 5.1 Rekapitulasi Pembuatan Media dan Reagensia di Tahun 2016 No Jenis Media & Reagensia Jumlah No Jenis Media & Reagensia Jumlah 1 Media Pertumbuhan/ Media Enriched 7 Reagensia Pengecatan Nutrient Broth 100 ml) kolf Neisser A 100 ml) 15 btl Bouillon/Nutrient Broth 10 ml) tb Neisser B 100 ml) 14 btl Bouillon/Nutrient Broth 5 ml ) 818 tb Neisser C 100 ml) 18 btl Trypticase Soy Broth/TSB 5 ml) 85 btl Cristal Violet 100 ml) 100 btl Trypticase Soy Broth/TSB 2 ml) tb Safranin 100 ml) 85 btl Blood agar plate (@ 20 ml) pl. Lugol 100 ml) 451 btl Trypticase Soy Agar Blood/ 104 pl. HCl alkohol 100 ml) btl 31

3 TSAB 20 ml) Carbol fuchsin 100 ml) 700 btl Letheen Broth 15 ml) 351 btl Methylen Blue 1 % 100 ml) 710 btl 2 Media Enrichment/Pemupuk Pepton alkali 1 % ( 4 ml ) 830 tb. 8 Media Differential KOH 20% (@ 50 ml) 8 btl. Selenite broth 900 ml) 9 kolf CLED/Brolacin 20 ml) 547 pl. Fluid thioglycolate medium 10 ml) 946 tb. EMB Agar Plate 20 ml) pl. NaCl broth 500 ml) 8 kolf KIA (Kligger Iron Agar) 5 ml) tb. NaCl broth 4 ml) 705 tb. Lactose Broth I 10 ml) tb. Columbia Medium 20 ml) 723 pl. Lactose Broth II 10 ml) tb. 3 Media Biakan Jamur Mac Conkey 20 ml) PDA 400 ml) 27 kolf 9 Media Khusus untuk PDA 200 ml) 77 kolf mengetahui MRSA pl. Saboroud agar plate (@ 20 ml) 53 pl. MRSA (Metisilin Resisten 20 ml) 9 pl. Saboroud tb. 5 ml) 766 tb. Staphylococcus Aureus) Corn Meal Agar 20) 10 pl. MSA (Manitol Salt Phenol Red Agar) 411 pl. Bird Sheed Agar (BSA) 5 ml) 16 tb. Saboroud broth 5 ml) 278 tb. 10 Media Penyimpan Bakteri Stock culture 8 ml) 34 tb. 4 Media Test Kepekaan untuk BHIB / HIB 20 ml ) 299 btl. TB BHI + Glyserol 100 ml) 6 kolf L J Tanpa Obat 6 ml) btl. L J Obat/Sensi Test 6 ml) btl. 12 Media Test Kepekaan MH agar/mueller Hinton Agar 20) pl. 5 Media untuk Screening tes MH agar + Blood 20) 277 pl. Tinsdale Medium 20) 75 pl. No Jenis Media & Reagensia Jumlah No Jenis Media & Reagensia Jumlah 6 Media Biakan Dasar 13 Reagen Indikator Media Nutrient Agar 200 ml) 521 kolf Methyl red 250 ml 2 btl. Nutrient Slank Agar /NAS 5 ml) 1610 tb Nutrient Agar pl 20) 420 pl. 11 Media untuk Toxigenik kuman Difteri 14 Media Selektif ELEK 20) 45 pl. BGLB 8 ml) tb. Livental agar tabung 5 ml) 780 tb. 17 Media dan Reagensia Uji Biokimia Livental agar plate 20 ml) 21 pl. Air pepton / Indol 4 ml) 760 tb. T C B S agar 20 ml) 413 Arginin 4 ml) 104 tb. Thayer martin agar 20 ml) 198 Simon citrat agar 4 ml) 866 tb. Manitol Salt agar 20 ml) 412 Lysine 4 ml) 538 tb. SS agar 20 ml) M I U 5 ml) 891 tb. XLD agar 20 ml) 166 Malonat 5 ml) 20 tb. E. coli broth I (EC I ) 10 ml) 410 Ornithine 4 ml) 24 tb. Hoyle Medium 20 ml) D Nase agar 20 ml) 7 pl. Chrom Agar Candida 20 ml) 137 Urea agar 4 ml) 820 tb. VP / MR 4 ml) tb. 15 Reagensia Pengenceran Bile esculin 5 ml) 71 tb. 32

4 Phosphat buffer aq. 100 ml) kolf Mannitol 5 ml) 90 tb. Phosphat buffer aq. 10 ml) btl. Trehalose 5 ml) 30 tb. Phosphat buffer saline phenol (btl 34 btl. Galaktose 5 ml) ml) Arabinose 5 ml) 110 tb. PZ / NaCl 0,9 % 3 ml) tb. Gula-gula biasa 5 ml) tb. PZ / NaCl 0,9 % 100 ml) 134 kolf 18 Gula2 untuk mengetahui 16 Reagen Pembanding Varian Difteri Mac Farland 0,5 10) 4 tb. Gula - gula diphtheria 3 ml) 240 tb. Jumlah : Media 2 ml tb. Media 500 ml 34 btl. Media 3 ml tb. Media 250 ml 2 btl. Media 4 ml tb. Media 100 ml btl. Media 5 ml tb. Media 50 ml 8 btl. Media 10 ml tb. Media 20 ml 299 btl. Media 8 ml tb. Media 15 ml 351 btl. Media 20 ml pl. Media 10 ml btl. Media 900 ml 9 kolf Media 6 ml btl. Media 500 ml 8 kolf Media 5 ml 85 btl. Media 400 ml 27 kolf Media 200 ml 598 kolf Media 100 ml kolf Jumlah Media : Sumber : Instalasi Media Reagensia dan Hewan Percobaan BBLK Surabaya, 2016 b. Laboratorium Hewan Percobaan Laboratorium Hewan Percobaan bertujuan memelihara dan menyiapkan hewan yang diperlukan untuk menunjang pemeriksaan laboratorium. Instalasi yang membutuhkan hewan percobaan antara lain : - Media Reagensia - Imunologi - Mikrobiologi - Kimia Kesehatan Hewan-hewan yang dipelihara dan diperlukan untuk menunjang pemeriksaan laboratorium sebagai berikut : 1. Domba Jumlah domba per-31 Desember 2016 : 16 ekor. Pengambilan darah domba setiap kali pengambilan ml. Darah tersebut diperlukan untuk : - Membuat media di Instalasi Media Reagensia - Pemeriksaan laboratorium di Instalasi Imunologi - Pemeriksaan laboratorium di Instalasi Kimia Kesehatan 2. Kelinci Jumlah kelinci per-31 Desember 2016 : 30 ekor. Pengambilan darah kelinci setiap kali pengambilan + 20 ml. Darah, serum, plasma kelinci diperlukan untuk : 33

5 - Membuat media di Instalasi Media Reagensia - Pemeriksaan laboratorium di Instalasi Imunologi dan Mikrobiologi Untuk mempersiapkan hewan yang sehat dan siap dipergunakan, dilakukan upayaupaya sebagai berikut : 1. Mengatur pola/menu makan masing-masing hewan 2. Menjaga kebersihan kandang-kandang hewan 3. Melakukan peremajaan hewan-hewan yang ada 4. Memberi pengobatan untuk hewan-hewan yang tidak sehat dan pemberian vitamin untuk domba Selain itu untuk meningkatkan kualitas kesehatan hewan coba dalam mendukung kebutuhan di Instalasi-instalasi terutama laboratorium klinik, maka diperlukan kerjasama dengan klinik/dokter hewan untuk pemeriksaan rutin hewan. 9. Instalasi Sterilisasi Instalasi Sterilisasi menerima limbah sisa sampel media maupun alat-alat gelas yang telah digunakan untuk pemeriksaan dari semua Instalasi. Instalasi Sterilisasi bertanggung jawab terhadap kebersihan dan sterilitas jas laboratorium dan alat-alat gelas yang telah dipakai di laboratorium serta penanganan/pengolahan limbah dari Instalasi, baik melalui sterilisasi basah maupun kering. Kegiatan di Instalasi Sterilisasi baik penerimaan limbah sisa sampel, pencucian dan sterilisasi alat gelas, jas laboratorium, hingga distribusi ke Instalasi pengguna dicatat dan dilaporkan tiap bulan. Berikut rincian kegiatan pencucian dan sterilisasi periode 1 Januari s.d 31 Desember 2016 : Tabel 5.2 Kegiatan Pencucian dan Sterilisasi Peralatan Laboratorium Periode 1 Januari s.d 31 Desember 2016 No. Jenis Peralatan Laboratorium Jumlah 1. Jas Laboratorium buah 2. Botol LJ (Mc Cartney) buah 3. Plate buah 4. Tabung buah 5. Botol buah 6. Pipet buah 7. Kolf/Erlenmeyer buah 8. Specimen carrier buah 34

6 9. Ice pack buah 10. Rak plastik, container plastik, rak stainless steel, rak tabung buah 11. Botol Thioglycolate 172 buah 12. Botol Phosphat Buffer Saline 352 buah Jumlah buah Sumber : Instalasi Sterilisasi BBLK Surabaya, 2016 Secara keseluruhan, jumlah pemeriksaan laboratorium dan penunjang medik di Balai Besar Laboratorium pada tahun 2016 mengalami peningkatan sebesar 13,43% dibanding tahun 2015 ( pemeriksaan pada tahun 2015 menjadi pemeriksaan pada tahun 2016). Berikut ini rincian jumlah pemeriksaan laboratorium dan penunjang medik periode tahun : Tabel 5.3 Rekapitulasi Jumlah Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang Medik Periode tahun No. Jenis Pemeriksaan Jumlah Pemeriksaan Tahun 2015 Tahun 2016 % Kenaikan / Penurunan A. Laboratorium 1. Hematologi ,79% 2. Kimia Klinik ,87% 3. Mikrobiologi ,71% 4. Virologi ,85% 5. Imunologi ,24% 6. Patologi Anatomi ,17% 7. Radiologi Diagnostik ,44% 8. ECG ,01% 9. USG ,58% 10. Treadmill ,00% 11. Audiometri ,00% 12. Bakteriologi Sanitasi ,17% 13. Kimia Kesehatan ,04% TOTAL ,43% Sumber : Data Pelayanan Laboratorium dan Penunjang Medik BBLK Surabaya Berdasarkan Parameter Pemeriksaan,

7 Dari tabel di atas dapat dilihat jenis pemeriksaan yang mengalami persentase peningkatan tertinggi yaitu Audiometri 600,00%, Bakteriologi Sanitasi 55,17% dan Kimia Kesehatan 50,04%. Tabel berikut menunjukkan capaian kinerja pada masing-masing Instalasi dalam pendapatan Badan Layanan Umum tahun : Tabel 5.4 Pendapatan Badan Layanan Umum per-instalasi tahun di Balai Besar Laboratorium No Instalasi/Uraian Pencapaian Tahun 2015 (Rp) Pencapaian Tahun 2016 (Rp) % Kenaikan / Penurunan 1 Patologi : ,66% a. Hematologi ,15% b. Kimia Klinik ,78% 2 Mikrobiologi ,07% 3 Virologi ,94% 4 Imunologi ,18% 5 Penunjang Medik : ,61% a. Patologi Anatomi ( Pap Smear ) ,24% b. Radiologi Diagnostik ,29% c. Electrocardiography (ECG) ,93% d. USG ,16% e. Treadmill ,00% f. Audiometri ,17% 6 Bakteriologi Sanitasi ,04% 7 Kimia Kesehatan ,42% 8 Media Reagensia ,27% 9 Bimbingan Teknis : ,00% a. Magang/PKL/ Pelatihan ,00% b. Sarana/Sewa Ruang ,66% 10 Limbah ,94% 11 Jasa Giro Total Pendapatan BLU ,79% Sumber : Sub Bagian Keuangan dan BMN BBLK Surabaya, Dari tabel tersebut dapat dilihat Instalasi yang mengalami persentase peningkatan jumlah pendapatan tertinggi yaitu Instalasi Virologi 4552,94%, Media Reagensia 113,21%, Bakteriologi Sanitasi 95,04 dan Kimia Kesehatan 82,42%. 36

8 Pada periode yang sama, jumlah pelayanan dan pendapatan mengalami peningkatan dari tahun 2014 sampai dengan Bila dibandingkan dengan target dalam Rencana Strategis, realisasi pelayanan pemeriksaan laboratorium dan pendapatan BLU tahun dapat dilihat dalam tabel berikut : Tabel 5.5 Target dan Realisasi Pelayanan Tahun Jenis Pemeriksaan Target 2014 Realisasi 2014 % Capaian Target 2015 Realisasi 2015 % Capaian Target 2016 Realisasi 2016 % Capaian 1. Patologi - Hematologi ,77% ,16% ,57% - Kimia Klinik ,82% ,56% ,56% 2. Mikrobiologi ,18% ,79% ,24% 3. Virologi ,27% 4. Imunologi ,40% ,56% ,70% 5. PPS-PH - Patologi Anatomi ,24% ,26% ,38% - Radiologi Diagnostik ,43% ,97% ,01% - ECG ,15% ,68% ,04% - USG ,21% ,38% ,41% - Treadmill ,00% ,53% ,67% - Audiometri ,06% ,79% ,70% 6. Bakteriologi Sanitasi ,18% ,92% ,90% 7. Kimia Kesehatan ,11% % ,09% Total ,28% ,94% ,30% Sumber : Instalasi Data dan Informasi,

9 Tabel 5.6 Target dan Realisasi Pendapatan Tahun Berdasarkan Rencana Strategis Bisnis Janis Pelayanan 1. Patologi Target 2014 (Rp) Realisasi 2014 (Rp) % Capaian Target 2015 (Rp) Realisasi 2015 (Rp) % Capaian Target 2016 (Rp) Realisasi 2016 (Rp) - Hematologi ,03% ,08% ,94% - Kimia Klinik ,99% ,21% ,69% 2. Mikrobiologi ,72% ,80% 167,45% 3. Virologi Imunologi ,36% ,14% ,35% 5. PPS-PH - Patologi Anatomi ,98% ,79% ,65% - Radiologi ,24% ,94% ,12% - ECG ,04% ,14% ,37% - USG ,51% ,99% ,73% - Treadmill ,20% ,87% ,67% - Audiometri ,26% ,16% ,67% 6. Bakt. Sanitasi ,28% ,39% ,52% 7. Kimia Kesehatan ,74% ,55% ,00% 8. Media ,01% ,62% ,68% 9. Bimb. Teknik - Magang/PKL/ ,94% ,01% Pelatihan 53,83% - Sewa Ruang % Capaian 10. Limbah Pendapatan jasa lembaga keu ,24% ,09% ,71% Total Pendapatan BLU ,74% ,82% ,71% Sumber : Instalasi Data dan Informasi BBLK Surabaya,

10 Realisasi kegiatan pelayanan laboratorium tahun 2016 dapat dilihat pada grafik di bawah ini : Gambar 5.1 Persentase Realisasi Kegiatan Pelayanan Laboratorium Menurut Parameter Tahun 2016 Treadmill 0,00% Radiologi Diagnostik 0,54% Kimia Kesehatan 27,73% Patologi Klinik 30,62% Patologi Anatomi 0,02% Imunologi 5,48% Bakteriologi Sanitasi 7,93% Audiometri 0,03% Mikrobiologi 26,91% ECG 0,21% Virologi 0,46% USG 0,07% Sumber : Instalasi Data dan Informasi BBLK Surabaya, 2016 Berdasarkan grafik di atas, persentase terbesar realisasi pemeriksaan laboratorium dan penunjang medik pada tahun 2016 adalah pemeriksaan Patologi Klinik 30,62%, Kimia Kesehatan 27,73% dan Mikrobiologi 26,91%. Sedangkan realisasi pendapatan BLU per-instalasi dapat dilihat pada grafik berikut : Gambar 5.2 Persentase Realisasi Pendapatan BLU Per-Instalasi Tahun 2016 Jasa Giro 0,36% 39 Bakteriologi Imunologi 12,82% Patologi Klinik 19,58%

11 Sumber : Sub Bagian Keuangan dan BMN BBLK Surabaya, 2016 Berdasarkan grafik di atas, persentase terbesar realisasi pendapatan BLU tahun 2016 dicapai oleh Instalasi Kimia Kesehatan 24,68%, Patologi Klinik 19,58% dan Mikrobiologi (+Virologi) 18,59%. Jumlah kunjungan pelanggan tahun 2016 sejumlah , terbanyak berasal dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya sejumlah kunjungan (33,54%). Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut : 40

12 Gambar 5.3 Jumlah Kunjungan Pelanggan Berdasarkan Asal Instansi Tahun 2016 BUMN/BUMD Inst. Pem. Lain Ins. Kes. Lingk. Dinkes Kab/Kota Pendidikan/Penelitian RS Pem. Lain RS Pem. Kab/Kota Puskesmas Dinkes Pem. Provinsi RSU Dr. Soetomo Industri Swasta Dokter Swasta Ins.Kes Pem.Lain RS/Klinik/Lab Swasta Sumber APS/Dokter : Instalasi BBLK Penerimaan, Pengambilan Sampel & Penyerahan Hasil BBLK Surabaya, 2016 DKK Surabaya Sedangkan kunjungan pelanggan laboratorium klinik dan uji kesehatan berdasarkan kelompok umur tahun 2016 dapat dilihat pada grafik berikut : Gambar 5.4 Jumlah Kunjungan Pelanggan Laboratorium Klinik dan Uji Kesehatan Berdasarkan Kelompok Umur Tahun

13 Sumber : Instalasi Penerimaan, Pengambilan Sampel & Penyerahan Hasil BBLK Surabaya, 2016 Berdasarkan kelompok umur, kunjungan pelanggan laboratorium klinik dan uji kesehatan terbanyak pada kelompok umur tahun sejumlah kunjungan (39,47%). 2) Pelayanan Rujukan Laboratorium dan Pencegahan Pemberantasan Penyakit Kegiatan ini meliputi pelayanan laboratorium rujukan, surveilans dan Kejadian Luar Biasa (KLB), yang terdiri dari pelayanan pemeriksaan sebagai berikut : 42

14 a. Instalasi Mikrobiologi 1. Pemeriksaan Tuberkulosis ( TBC ) Tabel 5.7 Pemeriksaan Rutin TB dan Hasil Positif TB Menurut Asal Spesimen (Mikroskopis s/d Desember 2016, Positif kultur s/d November 2016) No 1 RS. Dr. Soetomo 2 Puskesmas 3 RS Kab./Kota 4 RSUP Sanglah 5 BP4/RS Paru 6 RS Paru Surabaya 7 RSAL 8 RSJ MENUR 9 RSUP NTB 10 RS. Swasta 11 Lain-2/APS 12 Lab. Swasta 13 FKH UNAIR 14 BBTKL Surabaya 15 BBLK Surabaya Instansi PENGECATAN ZIEHL NELSEN Jumlah Pemeriksaan Kultur *) Kultur Positif **) Proses Kultur 43 LINI-1 UJI KEPEKAAN LINI-2 Jml. Pos. Neg. Jml. Pos. Jml. Pos. Proses DST Jumlah Keterangan : *) Jumlah pemeriksaan kultur s.d Desember 2016 = 970 **) Jumlah kultur positif s.d November 2016 = 319 Tabel 5.8 Pemeriksaan PMDT TB dan Hasil Positif TB Menurut Asal Spesimen (Mikroskopis s.d Desember 2016, Positif kultur s/d November 2016) Sumber : Instalasi Mikrobiologi (Lab. TBC) BBLK Surabaya, 2016

15 PEMERIKSAAN PMDT PEMERIKSAAN TCM No Instansi PENGECATAN ZIEHL NELSEN Jumlah Pemeriksaan Kultur *) Kultur Positif **) Proses Kultur LINI-1 KEPEKAAN LINI-2 PENGECATAN ZIEHL NELSEN Genexpert Jml. Pos. Neg. Jml. Pos. Jml. Pos Pos Neg. Jml Jml Pos Neg. 1 RS. Dr. Soetomo RSUD Soewandi RSUD Ibnu Sina Gresik RSUD Jombang RS Syaiful Anwar Madiun (RSUD dr. Harjono) Tulungagung RSUP Sanglah Puskesmas RS Paru Surabaya RSUP Jember NTT NTB (Mataram) AMBON (Maluku) Sulawesi Tenggara/Kendari Palu (Sultra) Sumbar (Padang) Kalimantan Tengah

16 PEMERIKSAAN PMDT PEMERIKSAAN TCM No Instansi PENGECATAN ZIEHL NELSEN Jumlah Pemeriksaan Kultur *) Kultur Positif **) Proses Kultur LINI-1 KEPEKAAN LINI-2 PENGECATAN ZIEHL NELSEN Genexpert Jml. Pos. Neg. Jml. Pos. Jml. Pos Pos Neg. Jml Jml Pos Neg. 19 Kalimantan Timur Kalimantan Selatan(Banjar) Gorontalo Sulut (Manado) Jumlah Keterangan : *) Jumlah pemeriksaan kultur s.d Desember 2016 = **) Jumlah kultur positif s.d November 2016 = 916 Sumber : Instalasi Mikrobiologi (Lab. TBC) BBLK Surabaya,

17 Pada tahun 2016 telah dilaksanakan pemeriksaan TBC yang spesimennya berasal dari berbagai instansi dengan rincian sebagai berikut : 1) Pemeriksaan Rutin Pemeriksaan mikroskopis dengan teknik Pewarnaan Ziehl Neelsen Dari spesimen yang diterima untuk pemeriksaan BTA, ( 25,21% ) dinyatakan sebagai BTA positif. 531 spesimen Pemeriksaan kultur TBC Dari 970 spesimen yang diterima s.d Desember 2016, 970 spesimen yang sudah dibaca dan hasil positif 319. spesimen ( 32,89% ) sampai dengan November 2016 sedangkan 70 spesimen masih dalam proses pembacaan hasil. Pemeriksaan Tes Kepekaan Permintaan pemeriksaan untuk Tes Kepekaan sampai dengan Desember 2016 sejumlah 830 spesimen Sedangkan yang diperiksa s/d November 2016 sejumlah 243 spesimen berdasarkan pertumbuhan kultur dan kiriman isolat dari instansi laboratorium di luar. Pemeriksaan Tes Kepekaan umumnya digunakan untuk memantau resistensi obat pada penderita yang sudah diberikan terapi. Untuk semua teknik pemeriksaan di atas, jumlah spesimen terbanyak berasal dari RSU Dr. Soetomo Surabaya. 2. Pemeriksaan Spesimen PMDT (Programatic Management Drug of Tuberculosis) Pemeriksaan mikroskopis dengan teknik Pewarnaan Ziehl Neelsen Dari spesimen yang diterima untuk pemeriksaan BTA, ( 29,26% ) dinyatakan sebagai BTA positif. 791 spesimen Pemeriksaan kultur TBC Dari spesimen yang diterima s.d Desember 2016, spesimen yang sudah dibaca dan hasil positif 916. spesimen ( 33,68% ) sampai dengan November 2016 sedangkan 23 spesimen masih dalam proses pembacaan hasil. Pemeriksaan Tes Kepekaan Permintaan pemeriksaan untuk Tes Kepekaan sejumlah 814 spesimen. Sedangkan yang diperiksa s/d November 2016 sejumlah 440 spesimen berdasarkan pertumbuhan kultur dan kiriman isolat dari instansi laboratorium di luar. Untuk semua teknik pemeriksaan di atas, jumlah spesimen terbanyak berasal dari RSU Dr. Soetomo Surabaya. 46

18 Tabel 5.9 Prevalensi Resisten OAT Lini I pada Pemeriksaan Rutin Januari - November 2016 Total number of strains tested 243 Total N % SUSCEPTIBLE TO ALL 4 DRUGS ,32 ANY RESISTANCE - Isoniazid (INH) 44 18,11 - Rifampicin (RMP) 28 11,52 - Ethambutol (EMB) 39 16,05 - Streptomycin (SM) 40 16,46 MONORESISTANCE - Isoniazid (INH) 11 4,53 - Rifampicin (RMP) 5 2,06 - Ethambutol (EMB) 19 7,82 - Streptomycin (SM) 21 8,64 MULTIDRUG RESISTANCE - INH + RMP 7 2,88 - INH + RMP + EMB 7 2,88 - INH + RMP + SM 3 1,23 - INH + RMP + EMB + SM 5 2,06 OTHER PATTERNS - INH + EMB 2 0,82 - INH + SM 7 2,88 - INH + EMB + SM 2 0,82 - RMP + EMB - RMP + SM 1 0,41 - RMP + EMB + SM - EMB + SM NUMBER OF DRUGS RESISTANT TO : Keterangan : 47

19 MDR XDR : Multi Drug Resistance (Resisten terhadap INH dan Rifampycin) : Extensively Drug Resistance (MDR yang Resisten terhadap Ofloxacin dan Kanamicin/Amikacin. Sumber : Instalasi Mikrobiologi (Lab. TBC) BBLK Surabaya, 2016 Tabel 5.10 Prevalensi Resisten Oat Lini I & Lini II Pada Pemeriksaan Rutin Januari November 2016 Tabel 5.11 Prevalensi Resisten OAT Lini I & Lini II Pada Pemeriksaan PMDT Januari - November 2016 Total Total Total number of strains tested 1st n 2nd line N % N % 2 Total number of strains tested 1st n 2nd line 440 SUSCEPTIBLE TO ALL 7 DRUGS 1 50 SUSCEPTIBLE TO ALL 7 DRUGS 39 8,86 SUSCEPTIBLE TO ALL 4 DRUGS - Ofloxacine - Kanamycin - Amikacyn - Oflo + Kan&/Amk MULTIDRUG RESISTANCE MULTIDRUG RESISTANCE - MDR+Suseptible - MDR + Ofloxacine 35 7,95 - MDR + Ofloxacine MDR + Kanamycin 8 1,82 - MDR + Kanamycin - MDR + Amikacyn 2 0,45 - MDR + Amikacyn - MDR + Oflo + Kan&/Amk 2 0,45 - MDR + Oflo + Kan&/Amk - MDR + Kan&/Amk 5 1,14 - MDR+Kan & Amk ANY RESISTANCE BUT NOT MULTIDRUG RESISTANCE ANY RESISTANCE BUT NOT MULTIDRUG RESISTANCE - Any Rif (not MDR) + Ofloxacine - Any Rif (not MDR) + Ofloxacine - Any Rif (not MDR) + Kanamycin - Any Rif (not MDR) + Kanamycin - Any Rif (not MDR) + Amikacyn - Any Rif (not MDR) + Amikacyn - Any Rif (not MDR) + Oflo + Kan &/Amk - Any Rif (not MDR) + Oflo + Kan &/Amk MULTIDRUG RESISTANCE SUSCEPTIBLE 2nd LINE ,14 - Other pattern - Other pattern ,18 Keterangan : MDR XDR : Multi Drug Resistance (Resisten terhadap INH dan Rifampycin) : Extensively Drug Resistance (MDR yang Resisten terhadap Ofloxacin dan Kanamicin/Amikacin) 48

20 Sumber : Instalasi Mikrobiologi (Lab. TBC) BBLK Surabaya 2016 Pemeriksaan sampel rutin dan PMDT yang dikerjakan di periode Januari Desember 2016 terhadap OAT Lini I dan II sebagai berikut : a. Dari pemeriksaan sampel PMDT pasien diagnosa Januari November 2016 sejumlah 440 pasien yang diperiksa OAT Lini I dan II sebanyak 440 paien dengan hasil : - MDR : XDR : 2 - MOTT Diagnosa : 10 - Sensitif Lini I dan II : 39 - Pola Resisten Lain : 102 Hasil pemeriksaan yang MDR dan XDR sejumlah 288 pasien tersebut berasal dari : - RS Dr. Soetomo : 99 - Kalimantan Selatan : 13 - Syaiful Anwar : 22 - Kalimantan Timur : 12 - BKPM Ambon : 7 - Kalimantan Tengah : 1 - RSUP Sanglah : 5 - NTT : 4 - RSP Jember : 26 - NTB : 8 - RSUD Madiun : 5 - Sulawesi Tenggara : 8 - Ibnu Sina (Gresik) : 15 - Sulawesi Selatan : 12 - RSUD Jombang : 3 - Gorontalo : 1 - Sulawesi Tengah : 6 - Maluku Utara : 41 b. Pemeriksaan Sampel rutin yang meminta pemriksaan DST Januari November 2016 sejumlah 830 pasien, yang diperiksa OAT Lini I sebanyak 287 pasien dengan hasil : - MDR : 22 - XDR : 0 - MOTT Diagnosa : 9 - Sensitif Lini I dan II : Pola Resisten Lain : 16 Hasil pemeriksaan yang MDR sejumlah 19 pasien tersebut berasal dari : - Lab. Swasta : 7 - Lain lain : 3 - Puskesmas : 1 - RSUD NTB : 1 - RS Swasta : 8 - RS Dr. Soetomo : 1 - RSUP Sanglah : 1 2. Pemeriksaan Difteri 49

21 adalah salah satu laboratorium pemeriksa Difteri di Indonesia yang melaksanakan pemeriksaan Difteri, penentua tipe dan toksigenisitas kuman Difteri sesuai dengan srandar WHO Manual for The Laboratory Diagnosis of Diphteria. BBLK Surabaya sudah mendapat pelatihan dari WHO Global Reference Laboratory for Diphteria and Streptococcus, Public Health England, United Kingdom. Pelatihan yang sudah diikuti adalah : 1) Pemeriksaan kultur, penentuan tipe dan toksigenisitas kuman. 2) Molecular typing untuk penentuan karakteristik kuman. 3) Penentuan titer antibody terhadap toksin Difteri dengan metode Vero cell neutralization test. Dari hasil pelatihan tersebut diharapkan Kesehatan Surabaya mampu melakukan pengembangan epidemiologi molekuler untuk menentukan karakteristik dari masing-masing varian Difteri di Indonesia sehingga dapat dipakai dalam mengambil kebijakan untuk penanggulangan KLB Difteri lebih lanjut. Secara rutin BBLK Surabaya melakukan pemeriksaan kultur, penentuan tipe dan uji toksigenik pada semua suspek kasus Difteri yang dikirim baik dari Jawa Timur maupun dari Provinsi lain, sedangkan pengembangan pemeriksaan molecular typing masih terbatas karena hambatan peralatan dan reagen yang masih belum lengkap. Pada tahun 2014 beberapa alat telah direncanakan mendapatkan dari DIPA BBLK Surabaya. Untuk reagen masih menjadi kendala utama karena dana DIPA yang ada di BBLK Surabaya masih belum mencukupi apalagi BBLK Surabaya harus membantu BLK wilayah binaan di luar provinsi Jawa Timur. Kemampuan Kesehatan / Balai Laboratorium Kesehatan di Indonesia (selain ) dalam pemeriksaan Difteri belum semuanya sesuai standar WHO, maka selain melakukan pemeriksaan KLB Difteri dari Provinsi Jawa Timur, pada tahun juga menerima spesimen dari luar Provinsi Jawa Timur yaitu Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Bali, Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara. Dari 38 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur, pemeriksaan kultur KLB Difteri pada Januari s.d Desember 2016 di BBLK Surabaya didapatkan total sebagai berikut : 1. Kasus yang diambil spesimen dan diperiksakan sebanyak 314 kasus (240 dari Surveilans Kab/Kota dan 74 dari RS Dr. Soetomo Surabaya) Dari kasus yang diperiksa menunjukkan kenaikan jumlah kasus yang di konfirmasi ke BBLK Surabaya pada tahun 2015 sebanyak 235 menjadi 314 pada tahun 2016 atau terjadi kenaikan sebesar 25,16% dan juga terjadi pada positif rate di tahun 2015 sebanyak 9 menjadi 10 pada tahun 2016 atau terjadi kenaikan sebesar 10%. Pada tahun 2016 C.diphtheriae yang toxigenic masih ditemukan di JawaTimur 8 kasus dari 10 kasus yang positif. Hal ini menggambarkan bahwa Jawa Timur masih rentan adanya peningkatan KLB Difteri apabila pengendalian penularan difteri ini tidak dilakukan dengan baik karena C.diphtheria yang toxigenic masih ditemukan di 6 Kabupaten di Jawa Timur. 2. Pada Kontak kasus yang diambil spesimen dan diperiksakan pada tahun 2016 untuk Provinsi Jawa Timur sebanyak 1172 mengalami penurunan dibanding pada tahun

22 yaitu sebesar 1651 (penurunan sebesar (29,01%). Pada tahun 2016 masih ditemukan kontak kasus positif yang toxigenic sebanyak 1 kontak dari 2 kontak kasus menurun dibanding tahun 2015 sebanyak 13 kontak kasus (92,31%). Berikut Laporan Pemeriksaan Spesimen Kasus Difteri Kesehatan Surabaya menurut Kabupaten/Kota di Jawa Timur periode 1 Januari s.d 31 Desember 2016 : Tabel 5.12 Laporan Pemeriksaan Spesimen Kasus KLB Difteri Menurut Kabupaten / Kota di Provinsi Jawa Timur, Periode 1 Januari 31 Desember 2016 No Kab/Kota Total Negatif Positif Varian Toxigenic Keterangan 1 Kab. Gresik Belfanti 0 Belfanti Non Tox=1 2 Kab. Sidoarjo Kab. Mojokerto Kab. Jombang Kab. Bojonegoro Kab. Tuban Kab. Lamongan Kab. Madiun Kab. Ngawi Kab. Magetan Kab. Ponorogo Kab. Pacitan Kab. Kediri Kab. Nganjuk Kab. Blitar Mitis 1 Mitis Tox=1 16 Kab. Tulungagung Kab. Trenggalek Kab. Malang Kab. Pasuruan Kab. Probolinggo Gravis 1 Gravis Tox=1 21 Kab. Lumajang Kab. Bondowoso Kab. Situbondo Mitis 1 Mitis Tox=1 24 Kab. Jember Kab. Banyuwangi Kab. Pamekasan

23 No Kab/Kota Total Negatif Positif Varian Toxigenic Keterangan 27 Kab. Sampang Gravis=2 Mitis=2 3 Gravis Tox=2 Mitis Tox=1 Mitis Non Tox=1 28 Kab. Sumenep Mitis 1 Mitis Tox=1 29 Kab. Bangkalan Mitis 1 Mitis Tox=1 30 Kota Surabaya Kota Madiun Kota Probolinggo Kota Blitar Kota Kediri Kota Mojokerto Kota Malang Kota Pasuruan Kota Batu TOTAL JAWA TIMUR Sumber : Instalasi Mikrobiologi BBLK Surabaya, 2016 Kabupaten/Kota yang masih ditemukan kasus positif C. diphtheriae adalah Kab. Gresik (1 kasus dari 35 kasus diperiksa / 2,86%), Kab. Blitar (1 dari 47 kasus yang diperiksa / 2,13%), Kab. Probolinggo (1 dari 5 kasus yang diperiksa / 20%), Kab. Situbondo (1 dari 5 kasus yang diperiksa / 20%), Kab. Sampang (4 dari 8 kasus yang diperiksa / 50%), Kab. Sumenep (1 dari 5 kasus yang diperiksa / 20%), Kab. Bangkalan (1 dari 14 kasus yang diperiksa / 7,14%) Berikut Pemeriksaan Spesimen Kasus Difteri yang berasal dari Luar Provinsi Jawa Timur periode 1 Januari 31 Desember 2016 : Tabel 5.13 Laporan Pemeriksaan Spesimen Kasus KLB Difteri yang Berasal dari Luar Provinsi Jawa Timur periode 1 Januari 31 Desember 2016 No Provinsi Total Negatif Positif Varian Toxigenic Keterangan 1 Prov. Bali Prov. Kaltim Prov. Sultra Prov. Sulsel Prov. Sulteng Prov. Sulut Prov. Kalsel

24 8 Prov. NAD Mitis=2 Gravis=1 9 Prov. NTB Prov. Papua Prov. Kep. Riau Mitis Tox=1 Gravis Tox=1 Mitis Non Tox=1 TOTAL Sumber : Instalasi Mikrobiologi BBLK Surabaya, 2016 Pemeriksaan Spesimen Kontak Difteri menurut Kabupaten/Kota di Jawa Timur periode 1 Januari 31 Desember 2016 dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 5.14 Laporan Pemeriksaan Spesimen Kontak Difteri Menurut Kabupaten / Kota di Jawa Timur periode 1 Januari 31 Desember 2016 No Kab/Kota Total Negatif Positif Varian Toxigenic Keterangan 1 Kab. Gresik Kab. Sidoarjo Kab. Mojokerto Kab. Jombang Kab. Bojonegoro Kab. Tuban Kab. Lamongan Kab. Madiun Kab. Ngawi Kab. Magetan Kab. Ponorogo Kab. Pacitan Kab. Kediri Kab. Nganjuk Kab. Blitar Kab. Tulungagung Kab. Trenggalek Kab. Malang Kab. Pasuruan MITIS 1 MITIS TOX=1 20 Kab. Probolinggo Kab. Lumajang Kab. Bondowoso Kab. Situbondo Kab. Jember

25 No Kab/Kota Total Negatif Positif Varian Toxigenic Keterangan 25 Kab. Banyuwangi Kab. Pamekasan Kab. Sampang Kab. Sumenep Kab. Bangkalan Kota Surabaya BELFANTI 0 31 Kota Madiun Kota Probolinggo Kota Blitar Kota Kediri Kota Mojokerto Kota Malang Kota Pasuruan Kota Batu BELFANTI NON TOX=1 TOTAL JAWA TIMUR Sumber : Kabupaten/Kota Instalasi Mikrobiologi yang masih BBLK ditemukan Surabaya, kontak 2016 positif C.diphtheria adalah Kab. Pasuruan (1 kontak dari 121kontak / 0,83%) dan Kota Surabaya (1 kontak dari 60 kontak / 1,67%). Dari semua kabupaten/kota yang ditemukan kultur C. diphtheriae positif, pada periode Januari-Desember 2016 sebanyak 6 dengan varian Mitis Toxigenic tersebar di wilayah Kab. Blitar, Kab. Situbondo, Kab. Sampang, Kab. Sumenep, Kab. Bangkalan dan Kab. Pasuruan. Sebanyak 3 dengan varian Gravis Toxegenic tersebar di wilayah Kab. Probolinggo dan Kab. Sampang, sebanyak 1 dengan varian Mitis Non Toxigenic tersebar di wilayah Kab. Sampang, serta 2 dengan varian Belfanti Non Toxigenic tersebar di wilayah Kab. Gresik, Kab. Situbondo dan Kota Surabaya. Berikut mapping area Difteri Patogenik di Jawa Timur Periode 1 Januari - 31 Desember 2016 : Gambar 5.5 Mapping Area Difteri Patogenik di Jawa Timur Periode 1 Januari 31 Desember

26 Jumlah kasus Difteri positif di Jawa Timur pada periode 1 Januari 31 Sumber : Instalasi Desember Mikrobiologi 2016 paling BBLK banyak Surabaya, terdapat 2016 pada kelompok umur 0-4 tahun yaitu sebesar 40,00%. Hal ini dapat dilihat pada grafik berikut : Gambar 5.6 Persentase Kasus Difteri Positif di Jawa Timur Menurut Kelompok Umur Periode 1 Januari s.d 31 Desember th 10,00% th 20,00% N = th 40,00% 5-14 th 30,00% Sumber : Instalasi Mikrobiologi BBLK Surabaya, 2016 Tabel 5.15 Laporan Pemeriksaan Spesimen Kontak Difteri yang Berasal dari Luar Provinsi Jawa Timur Periode 1 Januari 31 Desember 2016 No Provinsi Total Negatif Positif Varian Toxigenic Keterangan 1 Prov. Bali Prov. Kaltim Prov. Sultra Prov. Sulsel Prov. Sulteng Prov. Sulut Prov. Kalsel Mitis 1 Mitis Tox=1 55

27 8 Prov. NAD Mitis=1 Gravis =1 9 Prov. NTB Prov. Papua Gravis Tox =1 Mitis Non Tox=1 TOTAL LUAR JAWA TIMUR 3. Pemeriksaan Malaria Sumber : Instalasi Mikrobiologi BBLK Surabaya, 2016 Dari 6 spesimen yang diperiksa berasal dari Surabaya semuanya negatif Plasmodium. Untuk pasien dengan hasil positif, pasien disarankan untuk berobat ke RSU Dr. Soetomo atau ke RS Haji Surabaya dimana tersedia obat malaria yang sudah ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. 4. Pemeriksaan Filariasis = 0 pemeriksaan. 5. Pemeriksaan Kusta/Lepra = 28 pemeriksaan Dari 28 spesimen yang diperiksa, sebanyak 50% (14 spesimen) positif Lepra. 6. Pemeriksaan Diare Dari 74 spesimen rectal swab dan 4 spesimen faeces yang diperiksa, didapatkan hasil : - Dinkes Kab. Situbondo = dari 17 spesimen rectal swab yang diperiksa, 1 spesimen positif E. coli patogen (usia tidak diketahui), 6 spesimen positif Salmonella (Usia th = 3 kasus, usia tidak diketahui = 3 kasus). - Dinkes Kota Kediri = Dari 3 spesimen rectal swab yang diperiksa, semua hasilnya negatif terhadap E.coli patogen, Vibrio cholerae, Salmonella spp, Shigella spp. - Dinkes Kab. Jombang = Dari 6 spesimen rectal swab yang diperiksa, 1 spesimen positif E. coli patogen (Usia th), 1 spesimen positif Salmonella (Usia th) Dari 4 spesimen feces yang diperiksa, 3 positif Salmonella (Usia 5-9 th). - Dinkes Kab. Kediri = Dari 22 spesimen rectal swab yang diperiksa, 1 spesimen positif E. coli patogen (Usia th), 2 spesimen positif Salmonella (Usia 1-4 tahun dan th), 1 spesimen positif Staph. aureus (usia th). - Dinkes Kab. Tulungagung = Dari 2 spesimen rectal swab yang diperiksa, 1 spesimen positif E. coli patogen (Usia th), 1 spesimen positif Salmonella (Usia th) - Dinkes Kab. Pasuruan = Dari 14 spesimen rectal swab yang diperiksa, 2 spesimen positif E. coli patogen (Usia tidak diketahui), 5 spesimen positif Salmonella (Usia tidak diketahui). - Dinkes Kab. Malang = Dari 1 spesimen faeces yang diperiksa, hasilnya positif Salmonella dan Staph. aureus (Usia 5-9 th). - Dinkes Kota Surabaya = 56

28 Dari 5 spesimen rectal swab yang diperiksa, 1 spesimen positif E. coli patogen dan Staph. aureus (Usia 5-9 th). - Dinkes Kota Jember = Dari 5 spesimen rectal swab yang diperiksa, 1 spesimen positif E. coli patogen (Usia th). 7. Pemeriksaan telur cacing = 97 pemeriksaan Dari 97 spesimen yang diperiksa 6 spesimen positif yaitu; 4 spesimen positif telur cacing Ascaris lumbricoides, 1 positif telur cacing Enterobius vermicularis dan 1 spesimen positif Blastocystis hominis. b. Instalasi Virologi 1. Pemeriksaan Virus Polio dari Kasus AFP yang ditemukan tahun 2016 sejumlah 422 kasus dengan 860 spesimen. merupakan Laboratorium Nasional untuk pemeriksaan virus Polio, Campak dan Rubella sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : HK.02.02/Menkes/322/2015 tentang Penunjukkan Laboratorium Polio, Campak dan Rubella. Wilayah pemeriksaan meliputi Provinsi Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, Maluku Utara, Gorontalo, Papua Barat, Sulawesi Barat. Berdasarkan sensus Populasi 2003 oleh Biro Pusat Statistik, sejak tahun 2006 target jumlah minimal kasus AFP (AFP Rate) di Indonesia 2: anak usia <15 tahun, jadi target jumlah minimal kasus AFP untuk wilayah Timur menjadi 358 kasus atau 716 spesimen. Pada periode 1 Januari 31 Desember 2016 jumlah kasus yang diperiksa sebanyak 422. kasus dengan 860 spesimen. Artinya bahwa target spesimen yang diterima oleh melampaui target yang ditentukan. Pemeriksaan Intratypic Deferentiation Test (ITD) dan VDPV telah dilakukan sesuai hasil pelatihan/workshop bulan April 2014 dengan versi 3.0 dan sejak bulan Mei tahun 2016 telah diganti dengan pemeriksaan ITD/VDPV Versi 4.0 dan selanjutnya diupdate kembali menjadi versi 4.1. Pada tanggal 28 Maret s.d 1 April 2016 Kepala Seksi Laboratorium Klinik & Uji Kesehatan selaku Virologist di Laboratorium Polio Nasional Surabaya beserta 1 orang staf telah mengikuti kegiatan Workshop yang diadakan oleh SEARO Regional Workshop on Biorisk Managemen / Global Action Plan-III (BRM/GAP-III) Implementation of Diagnostic Facilities di Bangkok, Thailand. Kegiatan tersebut di atas dikuti oleh 19 Laboratorium Polio Nasional di region SEAR dan perwakilan dari Kementerian Kesehatan yang terkait dengan Sertifikasi Bebas Polio & Containment Virus Polio di Region SEAR. 57

29 Dari Workshop tersebut masing masing Laboratorium Polio Nasional & perwakilan Kementerian Kesehatan wajib mensosialisasikan 16 elemen Biorisk Management/Global Action Plan II (BRM/GAP-III) kepada pimpinan & staf terkait. Selain element tersebut ada rencana untuk pemeriksaan Enviromental Surveillance of Polioviruses, rekomendasi pemeriksaan ITD untuk Laboratorium Nasional yang baru saja di training untuk pemeriksaan ITD dan hasil Proficiency, overview tentang rencana ke depan untuk status Eradikasi Polio baik Region SEAR maupun Global yang masuk di dalam GAP III and Current eradication status. Element yang harus disosialisasikan ada 16 yaitu: Biorisk Management System, Risk Assesment, Polio Virus Inventory and Information and Exercise, General Safety, Personnel & Competency & exercise, Good Microbiology Techniques, Clothing & Protective Equipment (PPE) & Exercise, Human Factor, Healthcare, Emergency Response & Contigency Planning, Accident/Incident Investigation, Facility Physical Requirement & Exercise, Equipment & Maintenance, Decontamination, Disinfection & Sterilization, Transport Procedures, Security & Exercise. Selain sosialisasi kegaitan diatas Laboratorium Polio Nasional juga diwajibkan untuk membuat Risk Assesment di Laboratorium Masing-masing sesuai kondisi laboratorium. Laboratorium Polio Nasional Surabaya telah melakukan sosialisasi hasil Workshop tersebut & telah membuar Risk Assesment. Workshop selanjutnya yang diikuti oleh Laboratorium Nasional Polio BBLK Surabaya yaitu pada tanggal 9-20 Mei salah satu Staf di Instalasi Virologi BBLK Surabaya telah mengikuti Workshop Strengthening Capacity of the SEAR Polio Laboratory Network on Poliovirus/VDPV Detection di Enterovirus Research Centre (ERC) Mumbai India. Pelatihan tersebut telah dimplementasikan pada kegiatan pemeriksaan Laboratorium Polio Nasional di BBLK Surabaya. Dalam rangka pengembangan Laboratorium Polio setelah adanya deklarasi bebas polio maka sebagai support pada Global Polio Eradication Initiative (GPEI), Target yang pertama adalah mendeteksi adanya sirkulasi Virus Polio pada lingkungan dan mendeteksi secara dini New Polio Virus importase pada wilayah yang telah bebas polio dan adanya VDPV, maka BBLK Surabaya sebagai Laboratorium Polio Nasional mendukung program tersebut sehingga perlu menjadi Laboratorium Lingkungan Polio. Tahap pertama yang telah dilakukan adalah salah satu staf instalasi Virologi BBLK Surabaya telah mengikuti Pelatihan pemeriksaan Virus Polio pada lingkungan di Puslitbang Biomedis dan Tehnologi Dasar Kesehatan Jakarta pada tanggal 1-5 Agustus 2016 Hasil pelatihan tersebut diatas belum bisa diimplementasi karena terkendala sarana dan prasarana yang belum lengkap. Pada bulan Januari tahun 2017 baru bisa merencanakan pengadaan alat-alat dan media reagensia yang diperlukan dan diharapkan tahun 2018 semua direalisasikan dari anggaran di BBLK Surabaya. Setiap tahun, Laboratorium Nasional Polio mendapatkan Proficiency Panel Test dan Akreditasi dari WHO. Sejak tahun 2016 Laboratorium Nasional Polio BBLK Surabaya mulai mendapatkan Proficiency Panel Test untuk pemeriksaan Intratypic Deferentiation 58

30 Test (ITD) dan VDPV Versi 4.1 mendapatkan score 95%. Untuk Proficiency Isolasi Virus Polio belum dilaksanakan karena belum mendapat kiriman dari WHO. Laboratorium Polio Nasional BBLK Surabaya pada tanggal Desember 2016 telah diakreditasi oleh WHO dengan Assesor dr. Julia Fem Paladin dari WHO-HQ Geneve dengan hasil Fully Accreditted. Laboratorium Polio Nasional telah dapat mempertahankan kinerja dan kualitas nya dengan sangat baik & memuaskan Berikut Kinerja Laboratorium Polio tahun 2011 s.d 2016 : Tabel 5.16 Kinerja Laboratorium Polio tahun 2012 s.d 2016 No Kegiatan Proficieny Test - Isolation 100% 100% 100% 100% Not yet - ITD % 100% 95% 2 Accreditation Fully Accredited Fully Accredited Not Yet Fully Accredited Fully Accredited 3 Jumlah kasus Spesimen yang diterima Hasil 14 hari 100% 99,8% 100% 100% 100% 6 Hasil NPEV Positive 8,67% 9,45% 5,65% 7,21% 6,1% 7 Polio 1 VDPV Positive Polio Sabin Positive 16 sp 8 sp 11 sp 6 sp 28 9 Polio 1 Liar Positive Contact Hot Case ITD Sumber : Instalasi Virologi BBLK Surabaya, Tabel 5.17 Rekapitulasi Hasil Pemeriksaan Kasus AFP Menurut Provinsi Periode 1 Januari s.d 31 Desember 2016 Provinsi Jumlah Kasus Jumlah Spesimen Spes Tiba 3 hari Spes. Baik Kasus 2 Spes 14 hari NPEV (%) Polio Sabin Hasil 14 hari 59

31 Paralysis JAWA TIMUR SULAWESI UTARA SULAWESI TENGAH SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGGARA BALI NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR MALUKU 3 6 PAPUA 8 17 MALUKU UTARA 3 6 GORONTALO PAPUA BARAT 0 0 SULAWESI BARAT 1 2 TOTAL (100%) (94,32%) (89,01%) (3,51%) (1,89%) (100%) (86%) (100%) (86,67%) (6,90%) (0%) (100%) (100%) (78,57%) (95,24%) (4,76%) (9,52%) (100%) (100%) (96,15%) (92,11%) (3,85%) (5,13%) (100%) (100%) (94,12%) (76,47%) (8,82%) (5,88%) (100%) (100%) (91,03%) (68,42%) (1,28%) (5,13%) (100%) (100%) (78,79%) (90,91%) (6,06%) (3,03%) (100%) (84%) (72,73%) (95,35%) (15,91%) (0%) (100%) (33%) (100%) (100%) (33%) (0%) (100%) (82%) (70,59%) (75%) (11,76%) (0%) (100%) (100%) (100%) (66,67%) (0%) (0%) (100%) (100%) (86,36%) (85%) (9,09%) (11,36%) (100%) (100%) (100%) (100%) (0%) (0%) (100%) (97%) (89,42%) (87,44%) (5,81%) (3,26%) (100%) Sumber : Instalasi Virologi BBLK Surabaya, Pemeriksaan PCR Virus H5N1 dan H1N1 Sebagai Laboratorium Regional tahun 2016 melakukan pemeriksaan 3 spesimen tersangka virus H1N1 (usap tenggorok, usap hidung & sputum). Sedangkan untuk pemeriksaan Virus H5N1 tidak ada permintaan pemeriksaan. Untuk menjamin mutu pemeriksaan PCR H1N1 dan H5N1 maka BBLK Surabaya mendapatkan Pemantapan Mutu Eksternal dari Badan Litbangkes Jakarta pada tanggal 11 November 2016 dan mendapatkan hasil Memuaskan (10 sampel benar semua). 3. Pemeriksaan Kultur Virus Campak, Rubella PCR Detection dan Genotyping Sejak tahun 2012 BBLK Surabaya sudah melaksanakan pemeriksaan PCR Detection dan PCR genotyping. Mulai tahun 2016 pemeriksaan PCR Detection & PCR Genotyping Campak dan Rubella baik dari isolat Campak maupun langsung dari sampel klinis (urine/usap tenggorok). 60

32 Pemeriksaan kultur virus Campak pada KLB Campak dan Case Base Measles Surveilans (CBMS) tahun 2016 sebanyak 221 spesimen urine dan 1 spesimen usap tenggorok. Hasil isolasi campak positif sebanyak 24. Sedangkan pemeriksaan PCR detection & PCR Genotyping Campak sebanyak 93 spesimen dengan hasil positif 61 spesimen. Semua hasil positif dilakukan pemeriksaan selanjutnya yaitu skuensing yang di kirim ke Laboratorium Nasional Measles & Rubella Bio Farma Bandung & Puslit Biomedis & Teknologi Dasar Kesehatan Jakarta. Tabel 5.18 Rekapitulasi Pemeriksaan Isolasi Virus Campak dan PCR Genotyping menurut Provinsi, periode 1 Januari Desember 2016 No Provinsi Jumlah Spesimen Positif Negatif Jumlah Test PCR Positif Negatif Hasil Skuensing / Genotype 1 Jawa Timur Type D8 = Pending 2 Sulawesi Utara 3 Sulawesi Tengah Pending 4 Sulawesi Selatan 5 Sulawesi Tenggara 6 Bali Pending 7 8 Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur 9 Maluku 10 Papua Pending 11 Maluku Utara 12 Gorontalo 13 Papua Barat 14 Sulawesi Barat Total Sumber : Instalasi Virologi BBLK Surabaya, 2016 Sejak tahun 2015 Lab Nasional Campak dan Rubella BBLK Surabaya telah mendapatkan tugas sebagai Laboratorium sentinel Congenital Rubella Syndrome (CRS). Pemeriksaan Isolasi virus Rubella dari KLB Campak & Case Base Measles Surveillance (CBMS) sebanyak 222 Spesimen dengan hasil negative semua, untuk pemeriksaan PCR Detection Rubella sebanyak 8 spesimen (1 Positif dan 7 61

33 negatif). Spesimen dari kasus CRS sebanyak 15 spesimen ( 9 throat swab & 6 massa lensa). Dari 15 spesimen tersebut telah dilakukan pemeriksaan PCR detection sebanyak 6 spesimen (2 Positif dan 4 negatif), 3 Spesimen yang positif dilakukan pemeriksann selanjutnya yaitu skuensing dengan hasil masih menunggu dari Lab Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Jakarta. Tabel 5.19 Pemeriksaan Isolasi Virus Rubella & PCR Genotyping Tahun 2016 No Provinsi Jumlah Spesimen Positif Negatif Jumlah Test PCR Positif Negatif Hasil Skuensing / Genotype 1 Jawa Timur Pending 2 Sulawesi Utara 3 Sulawesi Tengah 4 Sulawesi Selatan 5 Sulawesi Tenggara 6 Bali Nusa Tenggara Barat 8 Nusa Tenggara Timur 9 Maluku 10 Papua Maluku Utara 12 Gorontalo 13 Papua Barat 14 Sulawesi Barat Total Sumber : Instalasi Virologi BBLK Surabaya, 2016 Pada bulan November 2015 BBLK Surabaya berhasil lulus Proficiency Panel Test untuk PCR Detection Measles dan Rubella baik konvensional maupun Real Time serta Genotyping Measles dan Rubella. Sementara Proficiency Panel Test tahun 2016 masih dalam proses pengiriman dari WHO 4. Pemeriksaan Middle East Respiratory Syndrom Corona Virus (MERSCoV) BBLK Surabaya telah mendapatkan sosialisasi tentang pengambilan spesimen virus MERSCoV di Batam pada tanggal 8-11 Oktober Setelah mendapatkan sosialisasi BBLK Surabaya telah melaksanakan tugas untuk pengambilan spesimen 62

34 suspect MERSCoV dan mengirimkan ke Laboratorium penguji di Badan Litbangkes Jakarta Untuk meningkatkan kemampuan SDM, BBLK Surabaya mengikuti pelatihan Biosafety, Biosecurity dan pemeriksaan MERSCoV dengan metode PCR di Jakarta pada Januari Spesimen yang telah diambil tahun 2016 sebanyak 6. spesimen Cairan (3 usap hidung & 3 usap tenggorok) semua spesimen dikirimkan ke Laboratorium Pusat Biomedis & Tehnologi Dasar Kesehatan Jakarta 5. Pemeriksaan Virus Ebola BBLK Surabaya telah mengikuti Pelatihan Peningkatan Kemampuan Teknis TOT Penatalaksanaan Spesimen Ebola bagi Petugas Kesehatan pada April Pada tahun 2016 tidak ada pengambilan spesimen virus Ebola c. Instalasi Imunologi 1. Pemeriksaan Campak (Measles) dan Rubella Tabel 5.20 Rekapitulasi Hasil Pemeriksaan Campak dan Rubella Periode 1 Januari 31 Desember 2016 Jenis Pemeriksaan Campak & Rubella Jumlah Pem. IgM Measles Pos. Neg. EQVL Pending Jumlah Pem. IgM Rubella Pos. Neg. EQVL CASE BASED KLB TOTAL Sumber : Instalasi Imunologi BBLK Surabaya, 2016 Tabel 5.21 Kinerja Laboratorium Measles untuk Case Based Measles Surveilans (CBMS) Periode 1 Januari - 31 Desember 2016 Provinsi Spes. yang diterima Spes. yang diperiksa Measles Posi tif Hasil Pem. Measles IgM Nega tif Equi vocal Hasil Pem. Rubella IgM Spes. yang diperiksa Pen-ding Rubella Posi tif Nega tif Equi vocal Spesimen Negatif Measles dan Rubella Jatim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Bali

35 Provinsi Spes. yang diterima Spes. yang diperiksa Measles Posi tif Hasil Pem. Measles IgM Nega tif Equi vocal Hasil Pem. Rubella IgM Spes. yang diperiksa Pen-ding Rubella Posi tif Nega tif Equi vocal Spesimen Negatif Measles dan Rubella NTB NTT Maluku Papua Malut Gorontalo Papua Barat Sulbar Total Sumber : Instalasi Imunologi BBLK Surabaya, 2016 Tabel 5.22 Laporan Pemeriksaan Spesimen Kejadian Luar Biasa (KLB) Measles Periode 1 Januari - 31 Desember 2016 Provinsi Spes. yang diterima Spes. yang diperiksa Measles Posi tif Hasil Pem. Measles IgM Nega tif Equi vocal Pending Spes. yang diperiksa Rubella Hasil Pem. Rubella IgM Posi tif Nega tif Equi vocal Spesimen Negatif Measles dan Rubella Jatim Sulut Sulteng Sulsel Sultra Bali NTB NTT Maluku Papua Malut Gorontalo Papua Barat Sulbar Total Sumber : Instalasi Imunologi BBLK Surabaya,

36 Pada periode 1 Januari 31 Desember 2016 Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak masih terjadi di Provinsi Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah. Hasil Rubella positif terjadi di Provinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. 2. Surveilans HIV Pada tahun 2016 BBLK Surabaya melaksanakan pemeriksaan Surveilans HIV dan Sifilis dari Dinas Kesehatan Kab./Kota di Jawa Timur sebanyak spesimen. Dari spesimen yang diperiksa HIV, 81 spesimen positif HIV (Usia tahun 75,31% ; tahun 17,28% ; tahun 3,70% ; tahun 1,29% serta tidak diketahui 2,47%). Sedangkan untuk Sifilis, dari sampel yang diperiksa, 31 spesimen positif Sifilis (terbanyak Usia tahun 54,84% dan usia tahun 35,48%). Positif rate anti HIV tertinggi berasal dari : Kota Surabaya sebanyak 35 sampel positif dari 289 sampel dikirim (12,11%), disusul Kab. Tulungagung sebanyak 23 sampel positif dari 208 sampel dikirim (11,06%) dan Kab. Kediri sebanyak 5 sampel positif dari 250 sampel dikirim (6,00%). Persentase hasil positif HIV per-kabupaten/kota pengirim spesimen surveilans HIV tahun 2016 dapat dilihat pada mapping berikut : Gambar 5.7 Mapping Positif Rate Spesimen Pemeriksaan Anti HIV per- Kabupaten/Kota di Jawa Timur Tahun

37 Sumber : Instalasi Imunologi BBLK Surabaya, Chikungunya = 59 pemeriksaan Pemeriksaan sampel IgM Chikungunya sebanyak 59 sampel dengan hasil 2 sampel reaktif (Usia 22-44th), 1 sampel reaktif (Usia th). 4. Hepatitis A = 27 pemeriksaan Pada tahun 2016 terjadi KLB Hepatitis A di Kab. Bondowoso, Kab. Jember dan Kab. Blitar. - Pada Januari 2016 : terdapat 12 spesimen dari Kab. Bondowoso dengan hasil positif sebanyak 9 spesimen. - Pada Februari 2016 : terdapat 5 spesimen dari Kab. Jember dengan hasil positif sebanyak 1 spesimen. - Pada Mei 2016 : terdapat 4 spesimen dari Kab. Jember dengan hasil positif sebanyak 3 spesimen. - Pada November 2016 : terdapat 6 spesimen dari Kab. Blitar dengan hasil positif sebanyak 3 spesimen. d. Instalasi Bakteriologi Sanitasi 1. Pemeriksaan Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Makanan dan Minuman Sampel yang diperiksa antara lain : makanan, minuman, cairan lambung/ muntahan dan air bersih dengan total 205 sampel periode 1 Januari 31 Desember Secara umum uji yang dilakukan terhadap sampel KLB keracunan makanan/minuman di Instalasi Bakteriologi Sanitasi adalah uji terhadap parameter sebagai berikut : - Salmonella - Clostridium perfringens - E. coli patogen - Bacillus cereus - Staphylococcus aureus - MPN coliform - Vibrio cholerae Dari 50 kejadian KLB Keracunan makanan/minuman yang berasal dari 23 Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Jawa Timur, diperoleh hasil sebagai berikut : 1) Sampel makanan : dari 151 sampel yang diperiksa, diperoleh hasil : 63 sampel memenuhi syarat, 12 sampel Positif E. coli patogen. 66

38 2) Sampel minuman : dari 6 sampel yang diperiksa, diperoleh hasil : 5 sampel memenuhi syarat, 1 sampel Positif Bacillus cereus. 3) Sampel cairan lambung/muntahan : dari 21 sampel yang diperiksa, diperoleh hasil : 18 sampel memenuhi syarat, 2 sampel Positif E.coli patogen dan 1 sampel Positif Bacillus cereus. 4) Sampel Air Bersih : dari 22 sampel yang diperiksa, diperoleh hasil : 6 sampel memenuhi syarat, 1 sampel Positif E.coli patogen dan 15 sampel MPN Positif. 5) Sampel Air Minum : dari 5 sampel yang diperiksa, diperoleh hasil : 3 sampel memenuhi syarat, 1 sampel Positif E.coli patogen dan 1 sampel MPN Positif. e. Instalasi Kimia Kesehatan : 1. Pemeriksaan Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Makanan dan Minuman Sampel yang diperiksa antara lain : makanan dan minuman, cairan lambung/muntahan, air bersih dan air minum dengan total 197 sampel periode 1 Januari - 31 Desember Secara umum uji yang dilakukan terhadap sampel KLB keracunan makanan/minuman di Instalasi Kimia Kesehatan adalah uji terhadap parameter sebagai berikut : - Nitrit - ph - Cyanida - Amoniak - Arsen - Pestisida - Logam berat Dari 49 kejadian KLB Keracunan makanan/minuman yang berasal dari 21 Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di Jawa Timur, diperoleh hasil sebagai berikut : 1) Sampel makanan : dari 146 sampel yang diperiksa, diperoleh hasil : 145 sampel memenuhi syarat, 1 sampel jumlah bahan tidak mencukupi untuk dilakukan pengujian. 2) Sampel minuman : dari 8 sampel yang diperiksa, diperoleh hasil : 7 sampel memenuhi syarat, 1 sampel Postif Nitrit = 4,275 ppm. 3) Sampel cairan lambung/muntahan : dari 18 sampel yang diperiksa, diperoleh hasil : 18 sampel memenuhi syarat. 4) Sampel Air Bersih : dari 8 sampel yang diperiksa, diperoleh hasil : 8 sampel memenuhi syarat. 5) Sampel Air Minum : dari 17 sampel yang diperiksa, diperoleh hasil : 17 sampel memenuhi syarat. 67

39 3) Kegiatan Pemasaran/Marketing Kegiatan marketing dilaksanakan dalam upaya untuk meningkatkan pendapatan Balai Besar Laboratorium. Kegiatan yang telah dilaksanakan yaitu pemasaran dan pengembangan pasar melalui : website yang selalu diperbarui, pembagian leaflet, brosur, gimmick, penawaran general check up ke pelanggan lama dan baru. 4) Pemantapan Mutu Kegiatan Pemantapan Mutu yang dilaksanakan di Kesehatan Surabaya meliputi : 1. Pemantapan Mutu Internal Pemantapan Mutu Internal telah dilaksanakan secara rutin di seluruh ruang lingkup pemeriksaan/pengujian pada masing-masing Instalasi (Patologi, Imunologi, Mikrobiologi, Virologi, Bakteriologi Sanitasi, Kimia Kesehatan, Media Reagensia, Sterilisasi). 2. Pemantapan Mutu Eksternal ( PME ) [ a. Sebagai Penyelenggara PME sebagai penyelenggara Pemantapan Mutu Eksternal (PME) berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : HK.02.02/MENKES/400/2016 tanggal 3 Agustus Berikut kepesertaan PME Tahun 2016 berdasarkan jenis laboratorium : PME Kesmas 37 Lab. Pemerintah Lab. Swasta PME Klinik Sedangkan kepesertaan PME Tahun 2016 berdasarkan bidang : Kimia Air Terbatas Kimia Air 9 10 Telur cacing BTA Siklus II Siklus I Anti HCV HbsAg Syphilis 66 67

40 PME Hematologi Pelaksanaan 2 siklus dengan 8 parameter : Hemoglobin, Lekosit, Eritrosit, Hematokrit, MCV, MCH, MCHC dan Trombosit. Jumlah peserta : 204 RSUD : 78 PKM : 13 RS Swasta : 41 RS Bhayangkara : 7 BBLK : 1 RS Jiwa : 6 BLK : 11 RS Kusta & Paru : 4 Lab. Klinik Swasta : 44 Jadwal pengiriman bahan : a. Siklus I : 9 Agustus 2016 b. Siklus II : 27 September 2016 Siklus I : - Jumlah yang kirim hasil : Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 - Hasil Evaluasi : terlampir Siklus II : - Jumlah yang kirim hasil : Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 - Hasil Evaluasi : terlampir PME Kimia Klinik Pelaksanaan 2 siklus dengan 19 parameter : Bilirubin Total, Kolesterol, Kreatinin, Glukosa, Protein Total, Ureum, Asam Urat, Trigliserida, SGOT, SGPT, Kalsium (Total), Albumin, Alkali Fosfatase, Gamma GT, Natrium, Kalium, Chlorida, CK dan CKMB. 69

41 Jumlah peserta : 203 RSUD : 78 PKM : 9 RS Swasta : 40 RS Bhayangkara : 8 BBLK : 1 RS Jiwa : 5 BLK : 11 RS Kusta & Paru : 4 Lab. Klinik Swasta : 47 Jadwal pengiriman bahan : a. Siklus I : 9 Agustus 2016 b. Siklus II : 27 September 2016 Siklus I : - Jumlah yang kirim hasil : Jumlah yang tidak kirim hasil : 1 - Keterangan/alasan tidak mengirim : alat rusak - Hasil Evaluasi : terlampir Siklus II : - Jumlah yang kirim hasil : Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 - Keterangan/alasan tidak mengirim : Hasil Evaluasi : terlampir PME Urinalisis Pelaksanaan 2 siklus dengan 11 parameter : Berat Jenis, ph, Keton, Protein/Albumin, Glukosa, Bilirubin, Tes Kehamilan, Urobilinogen, Blood, Nitrit dan Lekosit. Jumlah peserta : 138 RSUD : 66 PKM : 1 RS Swasta : 26 RS Bhayangkara : 4 BLK : 8 RS Jiwa : 3 Lab. Klinik Swasta : 27 RS Paru : 3 Jadwal pengiriman bahan : a. Siklus I : 9 Agustus 2016 b. Siklus II : 27 September 2016 Siklus I : - Jumlah yang kirim hasil : Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 - Hasil Evaluasi : 138 peserta (100%) hasil sangat baik. Siklus II : - Jumlah yang kirim hasil : Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 - Hasil Evaluasi : 124 peserta (89,9%) hasil sangat baik 70

42 12 peserta ( 8,7%) hasil baik Berikut Hasil Evaluasi PME Urinalisis Tahun 2016 : Siklus II Siklus I Sangat Baik Baik Kurang PME 0Mikroskopis BTA 50 Pelaksanaan 2 siklus Jumlah peserta : 74 laboratorium (6 Labkes Provinsi, 48 RS Pemerintah, 4 Puskesmas, 11 RS swasta dan 5 Lab. swasta) Jadwal pengiriman bahan : a. Siklus I : 9 Agustus 2016 b. Siklus II : 27 September 2016 Siklus I : - Jumlah yang kirim hasil : 74 - Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 - Hasil Evaluasi : Dari 74 peserta, 99,65% (73 peserta) lulus dan 0,35% (1 peserta) tidak lulus. Siklus II : - Jumlah yang kirim hasil : 74 - Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 - Hasil Evaluasi : Dari 74 peserta, 93,24% (69 peserta) lulus dan 6,76% (5 peserta) tidak lulus. Berikut Hasil Evaluasi PME Mikroskopis BTA Tahun 2016 : Lulus Tidak Lulus Siklus II Siklus I 73 1

43 PME MikroskopisTelur Cacing Pelaksanaan 2 siklus. Jumlah peserta : 56 laboratorium (6 Labkes Provinsi, 46 Rumah Sakit Pemerintah, 3 RS Swasta dan 1 Lab. Klinik Swasta) Jadwal pengiriman bahan : a. Siklus I : 9 Agustus 2016 b. Siklus II : 27 September 2016 Siklus I : - Jumlah yang kirim hasil : 56 - Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 - Hasil Evaluasi : Dari 56 peserta yang mengirmkan hasil ujinya, 47% (26 peserta) mendapat nilai Baik Sekali, 30% (17 peserta) mendapat nilai Baik, 23% (13 peserta) mendapat nilai Kurang Baik. Siklus II : - Jumlah yang kirim hasil : 56 - Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 - Hasil Evaluasi : Dari 56 peserta yang mengirmkan hasil ujinya, 55% (31 peserta) mendapat nilai Baik Sekali, 32% (18 peserta) mendapat nilai Baik, 11% (6 peserta) mendapat nilai Kurang serta 2% (1 peserta) mendapat nilai Kurang Sekali. Berikut Hasil Evaluasi PME Mikroskopis Telur Cacing Tahun 2016 : Siklus II Baik Sekali Baik Kurang Siklus I Kurang Sekali PME- Imunologi (Anti HIV, Syphilis, HbsAg dan Anti HCV) 72

44 Pelaksanaan 2 siklus. Jadwal pengiriman bahan : a. Siklus I : 9 Agustus 2016 b. Siklus II : 27 September 2016 PME Anti HIV Jumlah Peserta 106 pada Siklus I dan 105 pada Siklus II dengan rincian : RS : 57 Lab. Klinik Swasta : 9 PMI : 33 Puskesmas : 1 BLK : 5 Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kes. Hasil Siklus I : Jumlah yang kirim hasil : 106 peserta Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 peserta Hasil evaluasi : - Nilai Baik : 106 peserta - Nilai kurang : 0 peserta Hasil Siklus II : Jumlah yang kirim hasil : 105 peserta Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 peserta Hasil evaluasi : - Nilai Baik : 102 peserta - Nilai kurang : 3 peserta : 1 Berikut Hasil Evaluasi PME Anti HIV Tahun 2016 : Baik Kurang Siklus II Siklus I 106 PME Syphilis Jumlah Peserta 67 pada Siklus I dan 66 pada Siklus II dengan rincian : RS : 26 Lab. Klinik Swasta : 3 PMI : 33 Pusat Biomedis dan : 1 BLK : 4 Teknologi Dasar Kes. Hasil Siklus I : Jumlah yang kirim hasil : 66 peserta (RPR = 26, 73

45 TP=61) Jumlah yang tidak kirim hasil : 1 peserta Keterangan/alasan tidak mengirim : tidak ada reagen Hasil evaluasi : RPR - Nilai Baik : 24 peserta - Nilai kurang : 2 peserta TP - Nilai Baik : 58 peserta - Nilai kurang : 3 peserta Hasil Siklus II : Jumlah yang kirim hasil : 65 peserta Jumlah yang tidak kirim hasil : 1 peserta Keterangan/alasan tidak mengirim : tidak ada reagen Hasil evaluasi : RPR - Nilai Baik : 22 peserta - Nilai kurang : 2 peserta TP - Nilai Baik : 58 peserta - Nilai kurang : 2 peserta Berikut Hasil Evaluasi PME Syphilis Tahun 2016 : Baik Kurang Baik Kurang Siklus I Siklus II RPR TP PME HBsAg Jumlah Peserta 112 pada Siklus I dan 111 pada Siklus II dengan rincian : 74

46 RS : 58 Lab. Klinik Swasta : 11 PMI : 33 Pusat Biomedis dan : 1 BLK : 9 Teknologi Dasar Kes. Hasil Siklus I : Jumlah yang kirim hasil : 112 peserta Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 peserta Hasil evaluasi : - Nilai Baik : 107 peserta - Nilai kurang : 5 peserta Hasil Siklus II : Jumlah yang kirim hasil : 111 peserta Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 peserta Hasil evaluasi : - Nilai Baik : 109 peserta - Nilai kurang : 2 peserta Berikut Hasil Evaluasi PME HBsAg Tahun 2016 : Siklus II Baik Kurang Siklus I PME Anti HCV Jumlah Peserta 81 pada Siklus I dan 80 pada Siklus II dengan rincian : RS : 38 Lab. Klinik Swasta : 5 PMI : 33 Pusat Biomedis dan : 1 BLK : 4 Teknologi Dasar Kes. Hasil Siklus I : Jumlah yang kirim hasil : 80 peserta Jumlah yang tidak kirim hasil : 1 peserta Keterangan/alasan tidak mengirim : alat rusak Hasil evaluasi : - Nilai Baik : 77 peserta 75

47 - Nilai kurang : 3 peserta Hasil Siklus II : Jumlah yang kirim hasil : 80 peserta Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 peserta Hasil evaluasi : - Nilai Baik : 75 peserta - Nilai kurang : 5 peserta Berikut Hasil Evaluasi PME Anti HCV Tahun 2016 : Baik Kurang Siklus II 75 5 Siklus I 77 3 PME Kimia Air Parameter : Cr, Cd, Fe dan Mn Pelaksanaan 2 siklus Jumlah peserta : 10 laboratorium pada Siklus I dan 9 laboratorium pada Siklus II (BBLK dan BLK Provinsi). Jadwal pengiriman bahan : - Siklus I : 22 Agustus Siklus II : 10 Okober 2016 Hasil Siklus I : - Jumlah yang kirim hasil : 10 peserta - Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 peserta Hasil Siklus II : - Jumlah yang kirim hasil : 9 peserta - Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 peserta PNPME Kimia Air Terbatas Parameter Pelaksanaan 2 siklus : Fe dan Mn 76

48 Jumlah peserta : 25 laboratorium pada Siklus I dan 28 laboratorium pada Siklus II (Labkesda dan UPT Labkes) Jadwal pengiriman bahan : - Siklus I : 22 Agustus Siklus II : 10 Okober 2016 Hasil Siklus I : - Jumlah yang kirim hasil : 25 peserta - Jumlah yang tidak kirim hasil : 0 peserta - Hasil evaluasi : Parameter Fe : Dari 25 peserta yang mengirim hasil uji : - Hasil baik : 24 peserta - Hasil kurang memuaskan : 1 peserta Parameter Mn : Dari 25 peserta yang mengirim hasil uji : - Hasil baik : 23 peserta - Hasil meragukan : 1 peserta - 1 peserta tidak mengirimkan hasil uji Mn. Hasil Siklus II : - Jumlah yang kirim hasil : 28 peserta - Jumlah yang tidak kirim hasil : 2 peserta - Keterangan/alasan tidak mengirim : tidak ada keterangan - Hasil evaluasi : Parameter Fe : Dari 28 peserta yang mengirim hasil uji : - Hasil baik : 24 peserta - Hasil kurang memuaskan : 1 peserta - 3 peserta tidak mengirimkan hasil uji Fe. Parameter Mn : Dari 28 peserta yang mengirim hasil uji : - Hasil baik : 24 peserta - Hasil kurang memuaskan : 1 peserta - 1 peserta tidak melakukan uji Mn karena tidak mempunyai reagen. - 2 peserta tidak mengirimkan hasil uji Mn. Berikut Hasil Evaluasi PME Kimia Air Terbatas Tahun 2016 : Siklus I 77 Siklus II

49 PME Uji Kepekaan M.tuberculosis Obat Anti Tuberculosis (OAT) Lini Pertama dan Lini Kedua. Pelaksanaan PME Uji Kepekaan M.tuberculosis diberikan kepada peserta reguler 1 tahun sekali dan peserta baru yang memenuhi syarat. Pelaksanaan PME Uji Kepekaan M.tuberculosis diberikan kepada peserta reguler 1 tahun sekali dan peserta baru yang memenuhi syarat. PME Uji Kepekaan M.tuberculosis lini pertama yang diuji adalah : Isoniazid (INH), Rifampisin (RIF), Streptomisin (STR) dan Ethambutiol (EMB). Lini kedua terdiri dari : Amikacin (AM), Ofloksaxin (OFL) dan Kanamycin (KAN). Perserta dinyatakan lulus apabila : a) Hasil kepekaan semua obat sesuai. b) Hanya boleh 1 hasil diskrepansi pada uji kepekaan obat INH atau RIF atau lini 2. c) Hanya boleh 2 hasil diskrepansi pada masing-masing uji kepekaan obat STR dan/atau EMB. Hasil dikirimkan kepada penyelenggara (BBLK Surabaya sebagai Laboratorium Rujukan Nasional biakan dan uji kepekaan TB) maksimal 6 bulan setelah bahan PME Uji Kepekaan M.tuberculosis diterima oleh laboratorium peserta. Jumlah peserta PME Uji Kepekaan M.tuberculosis : a) OAT Lini Pertama : - Pengiriman 5 Oktober 2016 : 2 peserta b) OAT Lini Pertama dan Kedua : - Pengiriman 5 September 2016 : 3 peserta - Pengiriman 6 September 2016 : 3 peserta - Pengiriman 7 September 2016 : 2 peserta - Pengiriman 13 September 2016 : 1 peserta Hasil dikirimkan kepada penyelenggara (BBLK Surabaya sebagai Laboratorium Rujukan Nasional biakan dan uji kepekaan TB) maksimal 6 bulan setelah bahan PME Uji Kepekaan M.tuberculosis diterima oleh laboratorium peserta. b. Sebagai Peserta PME : 78

50 1) PME Nasional : a) Penyelenggara : Persatuan Dokter Spesialis - Patologi Klinik (PDS- PATKLIN) Bidang Hematologi : Pelaksanaan 2 kali dalam setahun dengan 8 parameter : Lekosit, Eritrosit, Hb, Hematokrit, Trombosit, Evaluasi Darah Tepi, PT dan APTT. - Hasil 2014, Siklus I : Baik - Baik sekali Siklus II : Baik sekali - Hasil 2015, Siklus I : Baik - Baik sekali Siklus II : Baik - Baik sekali - Hasil 2016, Siklus I : Baik - Baik sekali Siklus II : dalam proses evaluasi. Bidang Kimia Klinik Pelaksanaan 2 kali dalam satu tahun masing-masing 2 spesimen dengan 17 parameter : Total Protein, Albumin, SGOT, SGPT, Alkali Fosfatase, Gamma GT, Urea, Kreatinin, Uric Acid, Glukosa, Kolesterol, Trigliserida, Bilirubin, Natrium, Kalium, Klorida dan Kalsium. - Hasil 2014, Siklus I : Baik - Cukup Siklus II : Cukup - Hasil 2015, Siklus I : Baik Siklus II : Baik - Sangat Baik - Hasil 2016, Siklus I : Baik - Sangat Baik Siklus II : dalam proses evaluasi. b) Penyelenggara : BBLK Jakarta PME Hematologi Jumlah siklus : 2 Parameter : 8 (Lekosit, Eritrosit, Hb, Hematokrit, Trombosit, MCV, MCH, MCHC) Hasil : dalam proses evaluasi PME Kimia Klinik Jumlah siklus : 2 parameter : 13 (Cholesterol, Trigliserid, SGOT, SGPT, Total Bilirubin, Albumin, Total Protein, Alkali Fosfatase, Gamma GT, Ureum, Kreatinin, Glukose, Asam Urat) Hasil evaluasi : dalam proses evaluasi. PME Imunologi Jumlah siklus : 1 parameter : Anti HIV, Syphilis, HbsAg, Anti HCV Hasil : belum menerima hasil evaluasi. 79

51 c) Penyelenggara : Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbangkes Kemenkes R.I Uji Profisiensi PCR H5N1 dan H1N1 - Hasil tahun 2014 : tidak menerima spesimen. - Hasil tahun 2015 : belum menerima hasil evaluasi. - Hasil tahun 2016 : baik. 2) PME Internasional (Uji Profisiensi) a) Uji Profisiensi Anti HIV dari NRL Australia Pelaksanaan : 3 kali dalam setahun Hasil Siklus I tahun 2016 : baik Hasil Siklus II tahun 2016 : baik Hasil Siklus III tahun 2016 : baik b) Uji Profisiensi VDRL dan TPHA dari CDC Atlanta Pelaksanaan : 3 kali dalam setahun Hasil Siklus I tahun 2016 : baik Hasil Siklus II tahun 2016 :belum menerima hasil evaluasi Hasil Siklus III tahun 2016 :belum menerima hasil evaluasi c) Uji Profesiensi IgM Anti Campak dan IgM Anti Rubella dari WHO-SEARO Hasil tahun 2016 : score 100. d) Uji Profisiensi Isolasi Virus Polio dari WHO. Hasil tahun 2016 : belum menerima spesimen uji profisiensi. e) Uji Profisiensi First Line and Second Line Drugs Susceptibility Testing of Mycobacterium tuberculosis dari IMVS Australia. Tahun 2016 tidak menerima bahan uji profisiensi terkait kendala dana pada program di Kementerian Kesehatan. f) Uji Profisiensi ITD Virus Polio dari WHO Hasil tahun 2016 : lulus (score : 95%). g) Uji Profisiensi PCR Measles dan Rubella dari WHO Hasil tahun 2016 : belum menerima spesimen uji profisiensi. h) Uji Profisiensi Microbiology Proficiency Testing Programs 2015 pada Sub Program Environmental Water dari IFM Quality Services Pty. Ltd. Australia (parameter : TPC, Coliforms, E.coli, Mould, Faecal coliforms ; komoditi uji : Air) Hasil : - TPC : Excellent - Coliforms : Excellent - parameter lainnya : Good. i) Uji Profisiensi pada Program Uji Profisiensi PP Kim-LIPI 2016 terhadap komoditi Air Limbah (parameter uji : As, Cd, Pb, Hg) 80

52 Hasil : - As : Satisfactory - Cd : Satisfactory - Pb : Satisfactory - Hg : Unsatisfactory Masing-masing Hasil Uji Profisiensi dievaluasi oleh Manajer Teknis atau Kepala Instalasi terkait sebagai upaya continuous improvement dalam pelaksanaan program kegiatan maupun demi kepuasan pelanggan. 5) Akreditasi sebagai Laboratorium Penguji, pertama kali terakreditasi pada Sistem Manajemen Mutu ISO/IEC 17025:2005 oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) pada tanggal 25 September 2008 dengan Nomor Akreditasi LP-399-IDN untuk ruang lingkup pada Laboratorium Kimia Kesehatan & Toksikologi, Mikrobiologi, Virologi, Kimia Klinik, Hematologi dan Imunologi. Pada tahun 2012 BBLK Surabaya berhasil melewati asesmen Re-akreditasi ISO/IEC 17025:2005, dan sertifikat ditandatangani pada tanggal 18 April 2013 dengan nomor akreditasi LP-399-IDN. Tahun 2014 dilakukan asesmen surveilans pertama pada tanggal 5 Desember 2014 dan berdasar surat yang ditandatangani oleh Sekjen KAN pada tanggal 18 Agustus 2015, diberitahukan bahwasanya KAN memutuskan untuk mempertahankan status akreditasi Balai Besar Laboratorium Asesmen survailen kedua ISO/IEC 17025:2005 dan penambahan ruang lingkup yang terdiri dari 3 (tiga) parameter uji pada Instalasi Kimia Kesehatan yaitu : 1. Timbal (Pb) pada contoh uji air limbah 2. Klorida (Cl) pada contoh uji air 3. Sulfat (SO 4 ) pada contoh uji air telah dilaksanakan pada Desember 2015 dan BBLK Surabaya dinyatakan lulus dengan surat dari Komite Akreditasi Nasional tanggal 28 Juli terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan dan manajemen melalui akreditasi ISO 9001:2008, ISO 15189:2007 serta KALK (Komite Akreditasi Laboratorium Kesehatan). Tahun 2010 telah terakreditasi ISO 9001:2008 oleh TUV Rheinland dengan nomor akreditasi Cert No tanggal 17 Desember 2010 dan dapat mempertahankan status akreditasi pada surveilans tahun Tahun 2011 telah terakreditasi oleh KALK dengan nomor akreditasi 01/S/KALK-P/IX/2011 tanggal 5 September Monitoring dan evaluasi dilaksanakan setiap tahun dengan melaksanakan self assessment 81

53 oleh tim KALK. Setelah 5 tahun dilaksanakan re-akreditasi KALK yang dijadwalkan tahun juga telah terakreditasi ISO 15189:2007 oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN) dengan nomor akreditasi LM-029-IDN tanggal 18 April Tahun 2015 dilakukan Re-asesmen ISO/IEC 15189:2012 dari KAN dan dinyatakan lulus. Tahun 2016 dilakukan asesmen tahunan dari KAN dan dinyatakan lulus Tahun 2016 sebagai penyelenggara Pemantapan Mutu Eksternal/Uji Profisiensi sedang dalam proses persiapan menuju akreditasi ISO 17043:2010. Dalam upaya untuk mempermudah akses informasi dan pelaporan, telah dikembangkan Sistem Informasi Laboratorium Kesehatan secara online yang dapat juga berfungsi sebagai kartu kendali. 6) Kinerja Organisasi dan Sumber Daya Manusia Untuk menyikapi persaingan yang semakin ketat di lingkungan yang berubah sangat cepat, maka berusaha terus-menerus melakukan perubahan ke arah perbaikan melalui kinerja organisasi dan sumber daya manusia. Kegiatan yang menunjang kinerja ini adalah : a. Pengembangan Organisasi Kegiatan pengembangan organisasi meliputi : 1. Analisis Positioning Laboratorium Analisis positioning laboratorium diperlukan untuk mengetahui posisi Balai Besar Laboratorium sehingga dapat ditentukan strategi yang sesuai untuk pengembangan organisasi selanjutnya. Setelah dilakukan Analisis SWOT, posisi tahun 2015 berada di Kuadran II (Stability Strategy) dan strategi yang diterapkan adalah melakukan prioritas strategis untuk investasi penyempurnaan dan penataan kemampuan organisasi, kemampuan sistem managemen dan proses bisnis serta kemampuan personilnya sambil memantapkan tingkat penguasaan layanannya. 2. Hak dan Kewajiban Pegawai Kegiatan ini meliputi beberapa sub kegiatan, yaitu : gaji, cuti dan absensi. a) Gaji Gaji diterimakan setiap bulan sesuai dengan pangkat, golongan dan masa kerja masing-masing pegawai. b) Cuti Cuti Tahunan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) adalah 12 hari kerja, dikurangi masa cuti bersama 5 hari kerja sehingga menjadi 7 hari kerja dalam tahun 2016 untuk setiap pegawai. c) Absensi 82

54 Untuk memelihara disiplin pegawai, setiap pegawai diwajibkan untuk mentaati peraturan jam kerja sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. Absensi rutin menggunakan alat sidik jari/wajah dan tanda tangan. Selama periode Januari-Desember 2016 : - rata-rata persentase kehadiran pegawai : 90,45%. - rata-rata persentase ketidak hadiran sebesar 9,55%, terdiri dari : Dinas Luar : 3,72% Sakit : 0,81% Cuti : 2,75% Ijin : 2,26% 3. Komunikasi dan Edukasi Salah satu sarana penyampaian informasi di Kesehatan Surabaya adalah melalui apel pagi hari Senin yang dihadiri oleh sebagian besar karyawan yang berdinas pagi hari. Dalam kegiatan rutin tersebut, setiap karyawan dapat menyampaikan informasi dan memberikan tanggapan atas informasi yang telah disampaikan sehingga terjadi komunikasi dua arah. Karyawan yang telah mengikuti pendidikan/pelatihan di dalam maupun luar negeri berkesempatan menyampaikan materi yang telah diperolehnya melalui kegiatan rutin Kamiso (Kamis-Solusi). Melalui kegiatan ini, karyawan lainnya dapat memperoleh pengetahuan baru meskipun tidak secara langsung mengikuti pendidikan/pelatihan tersebut. 4. Reward dan Punishment Reward dan punishment diperlukan untuk memotivasi pegawai agar dapat meningkatkan kinerjanya secara berkesinambungan. Dengan demikian produktivitas dan kinerja organisasi dapat lebih ditingkatkan. a. Reward yang diberikan meliputi : 1) Piagam Penghargaan yang diberikan Presiden maupun Menteri Kesehatan RI meliputi Lencana Karya Satya dan Lencana Karya Bhakti Karya Husada. 2) Uang lembur : diberikan kepada Pegawai Negeri Sipil yang menyelesaikan pekerjaannya di luar ketentuan jam kerja dan sesuai ketentuan yang berlaku. 3) Remunerasi : dibagikan kepada setiap karyawan BBLK Surabaya dalam kurun waktu 2 bulan sekali. 4) Kenaikan Pangkat : dibagi menjadi 2 kategori, yaitu : - kenaikan pangkat reguler untuk jabatan struktural dan fungsional umum (setiap 4 tahun sekali dengan penilaian SKP kategori baik). Jumlah pegawai yang menerima kenaikan pangkat reguler tahun 2016 adalah 6 orang. - kenaikan pangkat untuk jabatan fungsional tertentu (menggunakan penilaian perhitungan angka kredit sesuai dengan kriteria yang ada). Jumlah pegawai yang menerima kenaikan pangkat jabatan fungsional tahun 2016 adalah 17 orang. 83

55 5) Kenaikan Gaji Berkala : bagi Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat b. Punishment diberikan kenaikan gaji berkala setiap 2 (dua) tahun sekali. Untuk karyawan yang tidak menaati peraturan sesuai PP 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil (PNS), diberikan punishment dalam bentuk teguran lisan maupun tertulis. Selama periode tahun 2016, terdapat 1 karyawan yang menerima teguran lisan dan 1 karyawan yang menerima teguran tertulis. 5. Analisis Beban Kerja Analisis beban kerja diperlukan untuk mengetahui beban kerja tiap pegawai terhadap suatu pekerjaan dan jumlah pegawai yang dibutuhkan untuk melaksanakan suatu tugas/pekerjaan tertentu. Hal ini bermanfaat terutama untuk perencanaan dan pengajuan formasi kebutuhan tenaga. Sejak tahun 2015 Analisis Beban Kerja secara online telah dilaksanakan. 6. Pengamanan Keadaan Darurat Kegiatan pengamanan keadaan darurat meliputi 2 sub kegiatan yaitu : a. Keamanan dan Keselamatan Kerja Keamanan dan keselamatan kerja standar laboratorium telah dilaksanakan secara rutin di melalui penerapan Good Laboratory Practice (GLP). b. Pengamanan Keadaan Darurat Perlunya pelatihan penyegaran untuk penanganan keadaan darurat, implementasi biorisk management dan modul Biosafety di Instalasi Virologi dalam rangka eradikasi Polio. 7. Satuan Pengawas Intern (SPI) Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 23 tahun 2005 tentang Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, BBLK Surabaya telah membentuk Satuan Pengawas Intern (SPI) untuk pengawasan tugas dan fungsi di lingkungan Balai Besar Laboratorium. Tugas dari SPI adalah melaksanakan audit internal seluruh kegiatan pada BBLK Surabaya setiap bulan. SPI telah dibentuk sejak tahun 2012 dan mulai melakukan audit secara berkala sejak tahun 2013 setelah mendapatkan pelatihan di BPKP Ciawi Bogor pada tahun Tahun 2014 dan 2015 tim berjumlah 2 orang, terdiri dari Ketua dan anggota tim berdasarkan Surat Keputusan dan Surat Tugas dari Kepala BBLK Surabaya. Pada tahun 2014, 2015 dan 2016 Tim SPI telah melaksanakan tugas sebagai Auditor Internal yang dilaksanakan setiap bulan dan melaporkan hasil temuan kepada Kepala BBLK Surabaya berupa rekomendasi untuk ditindaklanjuti. 8. Kegiatan Dharma Wanita Kegiatan ini dalam bentuk pertemuan rutin dilaksanakan setiap 2 bulan sekali dan dipimpin oleh Ketua Dharma Wanita Persatuan Kesehatan Surabaya. 84

56 9. Kegiatan KORPRI Kegiatan yang ditangani oleh KORPRI antara lain : pelepasan karyawan yang purna tugas, memperingati hari besar nasional dan hari raya keagamaan, ceramah agama rutin serta kegiatan olahraga setiap hari Jumat. Untuk kegiatan ini seluruh dana dibebankan pada dana KORPRI. 10. Kegiatan Koperasi Kegiatan KPRI Karya Husada antara lain: 1) Toko milik KPRI Karya Husada yang menyediakan barang-barang yang dibutuhkan oleh karyawan maupun masyarakat umum. 2) KPRI Karya Husada yang mengelola simpan pinjam uang maupun barang bagi karyawan dan pegawai purna tugas Kesehatan Surabaya. 3) Rapat Anggota Tahunan/RAT yang dilaksanakan sebagai Laporan Tahunan. 7) Evaluasi Manajemen dan Audit Internal Sebagai upaya untuk mengevaluasi pencapaian kinerja Kesehatan Surabaya baik dari aspek manajemen maupun pelayanan telah dilaksanakan kegiatan Kaji Ulang Manajemen (KUM) serta Audit Internal. Kegiatan Audit Internal telah dilaksanakan pada tanggal 06 s/d 10 Juni 2016 dengan 4 temuan minor. Terhadap temuan yang ada telah dilakukan tindakan koreksi. Sedangkan Kaji Ulang Manajemen telah dilaksanakan pada 29 Agustus ) Pengembangan Layanan terus berupaya melakukan pengembangan layanan. Pada periode tahun 2016 terdapat penambahan parameter dan atau metode pemeriksaan baru sebagai berikut : Tabel 5.23 Jenis Parameter dan atau Metode Baru Uji Pelayanan Laboratorium dan Surveilans Menurut Instalasi Tahun 2016 No. Instalasi Parameter dan atau Metode Baru Tahun 2016 Uji Pelayanan Lab. Uji Surveilans 1. Patologi 1) Fibrinogen 2. Bakteriolologi Sanitasi 1) MPN E.coli dengan metode Quanty Tray/Colilert 3. Imunologi 1) CD4 85

57 4. Mikrobiologi 1) PCR Methicillin Resistance Staphylococcus Aureus (MRSA) 1) M.tb dengan metode Automatic Biomolecular 5. Virologi 1) Tes Antibodi Virus Polio dengan metode netralisasi sel kultur 2) ITD Virus Polio dengan metode Real Time PCR versi 4.1 3) VDPV dengan metode Real Time PCR versi 4.1 Total parameter dan atau metode baru 4 4 Pengembangan yang direncanakan selanjutnya adalah : - Patologi Klinik : pemeriksaan Creatinin Kinase, CRP Auto Analyzer - Imunologi : C3, Hepatitis dengan metode CLEIA - Mikrobiologi : PCR Pertusis - Virologi : ITD Virus Polio dan VDPV dengan metode Real Time PCR versi ) Pengembangan Sumber Daya Manusia ( SDM ) Dalam upaya meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, selama tahun 2016 pegawai BBLK Surabaya mengikuti : Peningkatan kualitas SDM di dalam negeri - Pelatihan : 22 topik 35 orang - Workshop : 26 topik 34 orang - Seminar : 6 topik 14 orang - Lokakarya : 1 topik 3 orang - Kursus : 2 topik 16 orang - Bimtek : 4 topik 9 orang - Ujian Sertifikasi : 1 topik 3 orang - Capacity Building : 87 orang Peningkatan kualitas SDM di Luar Negeri - Pelatihan : 1 topik 1 orang - Workshop : 3 topik 3 orang 86

58 10) Bimbingan Teknik Bimbingan Teknik yang diselenggarakan bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga teknis dan non teknis dari luar BBLK Surabaya. Kegiatan bimbingan teknik meliputi : 1. Praktek Kerja Lapangan (PKL) Sebanyak 755 orang dari berbagai institusi pendidikan telah menerima bimbingan selama Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Kesehatan Surabaya. 2. Orientasi Jumlah peserta orientasi sebanyak 16 orang dari PPDS UNAIR dan 1 orang dari UNPAD Semarang. Gambar 5.8 Jumlah Peserta Praktek Kerja Lapangan (PKL) dan Orientasi Per-Institusi Pendidikan Periode Januari Desember

59 Gambar 5.9 Jumlah Peserta Praktek Kerja Lapangan (PKL) dan Orientasi Berdasarkan Tingkat Pendidikan Periode Januari Desember 2016 S2 2,20% S1 1,55% DIV 3,63% SMK 38,47% N = 772 DIII 54,15% Sumber : Instalasi Bimtek BBLK Surabaya, Kunjungan dan Konsultasi Pada periode Januari - Desember 2016 : 4. Magang - Jumlah kunjungan sebanyak 470 orang dari 8 instansi. - Jumlah konsultasi sebanyak 40 orang dari 10 instansi. Pada periode Januari - Desember 2016, jumlah peserta magang sebanyak 43 orang dari 24 instansi. Dari kegiatan PKL, Orientasi, Kunjungan dan Konsultasi serta Magang yang telah dilaksanakan, Mikrobiologi dan Media Reagensia merupakan bidang yang paling diminati selama tahun Gambar 5.10 Bidang Peminatan PKL, Orientasi, Kunjungan dan Konsultasi serta Magang Periode Januari Desember 2016 Lain-Lain 0,31% Sampling 12,75% Patologi 12,78% Kimia Kesehatan 12,54% Bakteriologi Sanitasi 12,25% 88 Imunologi Virologi 9,69%

60 Sumber : Instalasi Bimtek BBLK Surabaya, Workshop TB Tahun 2016 BBLK Surabaya sebagai penyelenggara workshop TB bekerja sama dengan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI. Workshop ini diikuti oleh 40 peserta dari Puskesmas dan Rumah Sakit di wilayah Indonesia Timur. Sumber dana : Global Fund (GF). 6. Pelatihan Laboratorium Survei Resistensi OAT di Indonesia Tahun 2016 BBLK Surabaya sebagai penyelenggara workshop TB bekerja sama dengan Badan Litbangkes Kemenkes RI. Pelatihan ini diikuti oleh 38 peserta dari Puskesmas dan Rumah Sakit di wilayah Indonesia Timur. Sumber dana : Badan Litbangkes INDIKATOR BLU Berdasarkan penilaian kinerja Individu Kepala Semester II didapatkan hasil sebagai berikut : a. Area Pelayanan Medis, dengan total skor 78,5 b. Area Keuangan, dengan total skor 10 Jadi total skor yang didapat dari penilaian kinerja tersebut yaitu 88,50. Jika dikonversikan, diperoleh nilai IKI 1, STANDAR PELAYANAN MINIMUM (SPM) Dalam melaksanakan pelayanan, telah sepenuhnya melaksanakan Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil evaluasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) periode Januari Desember 2016 : 89

61 1. Hasil evaluasi Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yang dilaksanakan Balai Besar Laboratorium memperoleh kategori A (sangat baik) dengan score 83,774 pada periode Januari Juni 2016 dan score 82,997 pada periode Juli - Desember Aspek penilaian yaitu unsur pelayanan sebagai berikut : - Prosedur pelayanan - Persyaratan pelayanan - Kejelasan petugas pelayanan - Kedisiplinan petugas pelayanan - Tanggung jawab petugas pelayanan - Kemampuan petugas pelayanan - Kecepatan pelayanan - Keadilan mendapat pelayanan - Kesopanan dan keramahan petugas - Kewajaran biaya pelayanan - Kepastian biaya pelayanan - Kepastian jadwal pelayanan - Kenyamanan lingkungan - Keamanan pelayanan 2. Selain itu juga ada suatu evaluasi dari laboratorium lain yang melaksanakan kerjasama dengan, dengan score rata-rata 80 pada periode Januari Desember Aspek penilaian meliputi : ketepatan penyerahan hasil, sistem pelayanan, dan keakuratan hasil KEY PERFORMANCE INDICATOR (KPI) Tabel 5.24 Target Indikator Tahun 2016 serta Capaian Tahun 2016 Berdasarkan Rencana Strategis Bisnis Tahun No Sasaran IKU Satuan Target Realisasi % Capaian 1 Terwujudnya kepuasan pelanggan 2 Terwujudnya peningkatan standar mutu pelayanan 3. Terwujudnya peningkatan kemitraan dan jejaring lab. 4. Terwujudnya tata kelola yang baik a. Tingkat Kepuasan Stakeholder per tahun b. Prosentase keluhan pelanggan yang ditindaklanjuti a. Jumlah pemutahiran Metode dan atau penambahan parameter uji untuk Surveilans b. Pemutahiran metode dan atau penambahan parameter uji pelayanan laboratorium c. Jumlah pemeriksaan laboratorium yang terakreditasi a. Jumlah kerjasama kelembagaan / customer yang berjalan efektif Nominal IKM 87 83,385 95,84% Persen ,94% Metode/ parameter Metode/ parameter ,00% ,00% Parameter ,50% Kerjasama ,22% a. Tingkat Kesehatan BLU Score 83,5 88,50 105,99% 90

62 b. Kesesuaian perencanaan dengan realisasi output Persen 92, ,11% c. Capaian kinerja pelayanan Persen ,30 112,30% d. Capaian kinerja pendapatan Persen ,71 133,71% 5. Terwujudnya penyelenggara PME 6. Terwujudnya budaya kerja a. Tingkat kepesertaan penyelenggaraan PME Regional & Nasional b. Jumlah parameter PME Regional & Nasional Persen 94 99,77 106,14% Parameter ,59% a. Indeks survey Budaya Nilai 85 83,79 98,58% No Sasaran IKU Satuan Target Realisasi % Capaian 7 Terwujudnya SDM yang kompeten 8. Terwujudnya SILK terintegrasi 9. Terwujudnya Sarpras yang handal a. Prosentase SDM yang memiliki kompetensi yang sesuai a. Jumlah modul SILK yang diimplementasikan a. Ketepatan Kalibrasi alat laboratorium sesuai jadwal Persen 94 97,41 103,63% Modul ,00% Persen 92 68,75 74,73% b. Utilisasi alat laboratorium Persen ,70% PROMOTIF PREVENTIF Bimbingan Teknik Bimbingan teknik merupakan kegiatan pembinaan yang dilaksanakan oleh Balai Besar Laboratorium maupun oleh pihak luar terhadap. Dengan adanya Bimtek, terjalin kerjasama lintas sektoral, peningkatan mutu sumber daya manusia dan penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi. Kegiatan Bimbingan Teknik tahun 2016 sebagai berikut : a. Bimbingan Teknik di dalam Provinsi Jawa Timur Tahun 2016 Bimbingan Teknik dilaksanakan melalui workshop dengan peserta dari petugas laboratorium dan narasumber dari BBLK Surabaya dan Dinas Kesehatan Kab./Kota. Topik Bimtek : Pemantapan Mutu Internal dan Eksternal (PMI & PME). Sampai saat ini Bimbingan Teknik telah diberikan kepada 80 petugas laboratorium Puskesmas/Labkes/RSUD di 10 wilayah Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Pada periode sebelumnya, Bimbingan Teknik dilaksanakan petugas BBLK Surabaya melalui kunjungan ke laboratorium Puskesmas/RSUD yang ditunjuk oleh Dinas Kesehatan setempat. Sumber dana : APBN b. Bimbingan Teknik di luar Provinsi Jawa Timur Bimbingan Teknik kepada laboratorium di 7 Provinsi di luar Jawa Timur yang menjadi wilayah binaan. 91

63 Tahun 2016 Bimbingan Teknik khusus Provinsi Bali dilaksanakan melalui workshop dengan 50 peserta dari Puskesmas, BLK dan RSU sebagai langkah awal model Bimbingan Teknik mendatang. Sedangkan untuk 6 Provinsi lainnya tahun 2016 tidak dapat terlaksana karena adanya efisiensi anggaran di Kementerian Kesehatan. Sumber dana : APBN c. Pembinaan mutu serta pengembangan dan/penguatan jejaring lab. kultur dan DST di Indonesia Pembinaan ini dilaksanakan terhadap laboratorium TB yang dipersiapkan untuk menjadi lab. rujukan di provinsi masing-masing. Tahun 2016 telah dilaksanakan supervisi terhadap 6 laboratorium TB yaitu : RSUD Dr. Soetomo Surabaya, RS Paru Jember, RS Paru Mangunharjo Madiun, RSUD Jombang dan BBLK Makassar. Lingkup Bimtek : Laboratorium TB. Sumber dana : KNCV PROGRAM UNGGULAN 1) Penyelenggara PME dengan bidang : a. Patologi (Hematologi, Kimia Klinik, Urinalisis) b. Mikrobiologi (Mikroskopis BTA, Mikroskopis Telur Cacing) c. Imunologi (Anti HIV, Syphilis, HBsAg dan Anti HCV) d. Kimia Kesehatan (Kimia Air dan Kimia Air Terbatas) 2) Pelayanan Kejadian Luar Biasa (KLB) : - Dibentuk tim KLB (Tim Gerak Cepat) yang dapat dihubungi selama 24 jam termasuk hari libur. - On the job training pengambilan spesimen KLB di lapangan. 3) Laboratorium Rujukan Nasional TBC untuk pemeriksaan kultur dan tes kepekaan. 4) Laboratorium Nasional Polio secara kultur virus dan ITD (Intratypic Differentiation) dengan metode PCR. 5) Laboratorium Nasional Campak dan Rubella secara Imunologi, kultur virus, PCR dan Genotyping. 6) Laboratorium Regional PCR Avian Influenza (H5N1 dan H7N9) dan H1N1. 7) Laboratorium pemeriksa Yersinia pestis secara Mikrobiologi. 8) Laboratorium pemeriksa Difteri (kultur, varian, toxigenic dan Ribotyping) serta pemeriksaan titer Antitoksin terhadap Difteri dengan metode netralisasi menggunakan sel vero. 9) Laboratorium pemeriksa toksikologi logam berat pada spesimen manusia. 10) Laboratorium pemeriksa kultur udara ruang. 92

64 Berikut foto dan dokumentasi kegiatan pada periode Januari - Desember 2016 : Gambar 5.11 Bimbingan Teknik terhadap kepada 80 petugas laboratorium RSUD/Puskesmas/Labkes di Kabupaten / Kota di Jawa Timur Gambar 5.12 Kegiatan Capacity Building BBLK Surabaya pada Mei 2016 Gambar 5.13 Kunjungan Sekretaris Ditjen Pelayanan Kesehatan Gambar 5.14 Sosialisasi Analisis Beban Kerja (ABK) Online dari Biro Kepegawaian Sekretariat Jenderal Pelayanan Kesehatan 93

65 Gambar 5.15 Sosialisasi Pelaporan pajak online dengan e-filling oleh KPP Pratama Gubeng Surabaya Gambar 5.16 Rapat Anggota Tahunan (RAT) KPRI Karya Husada Tahun Buku 2015 Gambar 5.17 Kegiatan Praktek Kerja Lapangan / PKL Mahasiswa 94

66 Gambar 5.18 Kegiatan Kunjungan Mahasiswa Gambar 5.19 Asesmen ISO 15189:2007 tanggal 15 Agustus 2016 Gambar 5.20 Pelatihan ISO 17043:2010 tanggal 15 September 2016 Gambar 5.21 Workshop TB tanggal 27 Oktober

67 Gambar 5.22 Assesment ISO 9001:2008 tanggal November 2016 Gambar 5.23 Kunjungan Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Tanggal 23 November 2016 Gambar 5.24 Pelatihan Laboratorium Survei Resistensi Obat Anti Tuberkulosis di Indonesia tanggal 8 Desember SUMBER DAYA KEUANGAN LAPORAN REALISASI ANGGARAN A. Pendapatan Negara dan Hibah Realisasi Pendapatan untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2016 adalah sebesar Rp atau mencapai 134,07 persen dari estimasi pendapatan yang ditetapkan 96

68 sebesar Rp Pendapatan terdiri dari Pendapatan Jasa dan Pendapatan Lain-lain. Rincian Estimasi Pendapatan dan Realisasinya dapat dilihat dalam tabel berikut ini : Tabel 5.25 Rincian Estimasi dan Realisasi Pendapatan TA 2016 (dalam Rupiah) Uraian Anggaran 2016 Realisasi % Real Angg. Pendapatan Badan Layanan Umum ,71 Pendapatan Lainnya ,00 Jumlah ,07 Sumber : Sub Bagian Keuangan & BMN, 2016 B. Belanja Negara Realisasi Belanja instansi pada 31 Desember 2016 adalah sebesar Rp atau 91,24 persen dari anggaran belanja sebesar Rp Rincian anggaran dan realisasi belanja 31 Desember 2016 adalah sebagai berikut: Tabel 5.26 Rincian Estimasi dan Realisasi Belanja TA URAIAN Anggaran Realisasi % Real Angg. Belanja Pegawai ,15 Belanja Barang ,49 Belanja Modal ,65 Total Belanja Kotor ,25 Pengembalian Belanja ( ) Jumlah ,24 Sumber : Sub Bagian Keuangan & BMN,

69 Komposisi anggaran dan realisasi belanja dapat dilihat dalam grafik berikut ini: Gambar 5.25 Komposisi Anggaran dan Realisasi Belanja Tahun Anggaran Realisasi Belanja Pegawai Belanja Barang Belanja Modal NERACA Neraca menggambarkan posisi keuangan entitas mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas pada 31 Desember Nilai Aset per 31 Desember 2016 dicatat dan disajikan sebesar Rp yang terdiri dari : Aset Lancar sebesar Rp ; Aset Tetap (neto) sebesar Rp ; dan Aset Lainnya (neto) sebesar Rp0. Nilai Kewajiban dan Ekuitas masing-masing sebesar Rp dan Rp Ringkasan Neraca per 31 Desember 2016 dapat disajikan sebagai berikut : Tabel 5.27 Ringkasan Neraca per 31 Desember 2016 URAIAN TA 2016 ASET ASET LANCAR KaspadaBadanLayananUmum PiutangdarikegiatanOperasionalBadanLayananUmum PenyisihanPiutangTakTertagih - Piutangdari keg. BLU (8.850) PersediaanBadanLayananUmum JumlahAsetLancar ASET TETAP PeralatandanMesinBadanLayananUmum GedungdanBangunanBadanLayananUmum AkumulasiPenyusutanAsetTetap ( ) JumlahAsetTetap

70 ASET LAINNYA AsetTakBerwujud - BadanLayananUmum Aset Lain-Lain - BadanLayananUmum AkumulasiPenyusutandanAmortisasiAsetLainnya ( ) JumlahAsetLainnya - JUMLAH ASET KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK UtangkepadaPihakKetiga JumlahKewajibanJangkaPendek JUMLAH KEWAJIBAN EKUITAS Ekuitas JUMLAH EKUITAS JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS Sumber : Sub Bagian Keuangan & BMN, UPAYA UNTUK MERAIH WTP DAN REFORMASI BIROKRASI Tabel 5.28 Pencapaian Strategi dan Langkah-Langkah Raih WTP tahun 2016 di Balai Besar Laboratorium NO STRATEGI LANGKAH LANGKAH PENCAPAIAN 1. Membangun komitmen dan integritas pimpinan, para pengelola dan para pelaksana kegiatan 2. Penguatan Perencanaan dan Penganggaran 3. Pembenahan Pengelolaan Kas / Sistem Pembukuan/ Akuntansi 1. Penandatanganan Pakta Komitmen Raih WTP oleh Para Kepala Bidang, Kepala Seksi serta Kepala Tata Usaha dan Kepala Instalasi dan seluruh SDM BBLK Surabaya. 2. Menciptakan Atmosphere of WTP 3. Menyusun Aturan Perilaku bagi Pengelola Keuangan dan Pelaksana Kegiatan 4. Membentuk Satgas WTP 1. Penyusunan perencanaan 2. Penguatan penelaahan RKA-KL 3. Penggunaan Bagan Akun Standar (BAS) secara cermat (Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Modal, Belanja Bantuan Sosial) 4. Penyiapan kelengkapan dan keakuratan Dokumen Pendukung Perencanaan (TOR, RAB) 1. Reviu dan Penyempurnaan Kebijakan Akuntansi Kementerian Kesehatan; 2. Meningkatkan kualitas penyusunan RPK, RPD, perencanaan Kas; 3. Meningkatkan ketepatan waktu pelaksanaan anggaran; 4. Pemeriksaan Kas Internal oleh KPA 1. Membentuk satgas WTP BBLK Surabaya 2. Sosialisasi WTP 16 September Deklarasi WTP 19 September Membuat SOP pengelolaan keuangan 5. Menciptakan sistem pengendalian internal 1. Penyusunan RBA berdasarkan usulan satuan kerja ( bottom up ) dan kemampuan sumber dana / pagu anggaran 2. Penyusunan RBA dilengkapi TOR dan RAB 3. Pelaksanaan anggaran menggunakan BAS yang sesuai. 1. SPI telah melakukan review atas laporan keuangan setiap akhir semester 2. Menyusuan POA rencana pengadaan setiap bulan 3. Rekening bendahara sudah masuk TNP 99

71 NO STRATEGI LANGKAH LANGKAH PENCAPAIAN 4. PerbaikanPenatausahaanpe ndapatan BLU dan/atau PPK; 5. Rekening Bendahara Pengeluaran masuk dalam TNP (Treasury Notional Pooling); 1. Rekonsiliasi antara unit pelaksana layanan dan unit pelaksana administrasi 2. Mendorong Satker pemungut melaksanakan pungutan PNBP melalui Bank; 4. Pemeriksaan kas oleh Pemeriksa Kas Intern setiap tiga bulan 1. Penerimaan pendapatan PNPB disetor ke rekening penerimaan paling lambat 2x24 jam 5. PenataanRekening 1. Melakukan re-inventarisasi rekening yang digunakan oleh Satuan Kerja 2. Mengajukan persetujuan pembukaan rekening (bagi Satker yang belum) 3. Percepatan penutupan rekening yang sudah tidak digunakan 4. Melaporkan kepada Menteri Keuangan pembukaan dan penutupan rekening 1. Mengelompokkan rekeningrekening yang ada di BBLK Surabaya sesuai PMK yang berlaku dan telah mendapat persetujuan dari KPPN Surabaya II 2. Mengajukan persetujuan rekening ke KPPN Surabaya II 3. Rekening bank yang dimiliki BBLK Surabaya sudah mendapat persetujuan KPPN Surabaya II sebanyak 2 rekening. 4. Melaporkan pembukaan maupun penutupan rekening ke KPPN Surabaya II 6. Peningkatan Kualitas Pengadaan Barang/ Jasa 7. Pembenahan Penatausahaan BMN 1. Sosialisasi Perpres No. 70/2012 tentang Pengadaan Barang & Jasa 2. Meningkatkan peran KPA dan PPK dalam penyusunan HPS, penyusunan dan pelaksanaan kontrak. 3. Meningkatkan kualitas panitia pengadaan dalam penyusunan dokumen pengadaan, pelaksanaan evaluasi 4. Meningkatkan kualitas panitia penerima hasil pekerjaan 5. Pendampingan/konsultasi (LKPP, Itjen, BPKP) 1. Menuntaskan Inventarisasi dan Penilaian BMN serta menginput dalam SIMAK-BMN; 2. Menuntaskan Proses Konversi Penggolongan dan Kodifikasi BMN sesuai PMK No. 29/PMK.06/2007; 1. BBLK Surabaya sudah membentuk unit layanan pengadaan barang / jasa tahun Melakukan konsultasike LKPP melalui media internet 1. Setiap semester dan tahun dilakukan stock opname persediaan 2. Membuat BeritaAcara stock opname 3. Menuntaskan Proses Migrasi BMN sesuai dengan Aplikasi SIMAK-BMN 2014; 3. Mengentry aset tetap yang dibeli dan hibah jika ada ke dalam SIMAK BMN secara 100

72 NO STRATEGI LANGKAH LANGKAH PENCAPAIAN 4. Menatausahakan BMN (stock opname barang persediaan, rekonsiliasi internal daneksternal, labelisasi); 8. Penguatan Kapasitas SDM 1. Melaksanakan pelatihan pengelolaan keuangan bagi para pejabat, para pengelola keuangan dan pelaksana kegiatan 2. Menempatkan tenaga akuntansi yang kapabel di unit pengelola keuangan 3. Meningkatkan kualitas SDM pengadaan barang/jasa (PPK dan Panitia) 9. Penguatan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) 1. Menyusun SOP SPIP di tingkat BBLK Surabaya 2. Melakukan pelatihan SPIP secara bertahap dan berjenjang 3. Membentuk Tim Satgas SPIP di tingkat BBLK Surabaya periodik 4. Melakukan rekon internal setiap bulan antara bagian SAK dan SIMAK BMN 1. Mengirim pejabat keuangan dan akuntansi untuk mengikuti pelatihan peningkatan kualitas SDM keuangan yang diselenggarakan Kemenkeu dan Kemenkes 2. Mengirim SDM ULP untuk mengikuti pelatihan pengadaan barang / jasa 3. Sudah menempatkan staf keuangan sesuai kompetensi 1. Sudah dilakukan pelatihan SPIP selama 2 hari dari Itjen Kemenkes RI 10. Penguatan Monitoring danevaluasi 11. Perbaikan Penyusunan dan Penyampaian Laporan Keuangan 1. Meningkatkan kualitas pelaksanaan monitoring terpadu terhadap pelaksanaan kegiatan dan anggaran; 2. Melakukan perbaikan segera terhadap ketidaksesuaian pelaksanaan kegiatan dan anggaran 3. Melakukan pertemuan rutin secara berkala dan berjenjang dalam rangka evaluasi pelaksanaan kegiatan dan anggaran 1. Menyusun dan menyampaikan Laporan Keuangan sesuai dengan ketentuan (akurat, lengkap, teratur, tepat waktu, berjenjang) 2. Mengoptimalkan peran UAPPA-W dalam rangka mengumpulkan, mengkompilasi, dan menyampaikan Laporan Keuangan 3. Melakukan konsultasi secara berkala kepada BPK dalam penyusunan Laporan Keuangan 1. Membuat laporan realisasi penyerapan anggaran setiap tanggal 3 awal bulan berikutnya. 2. Melakukan usulan perubahan MAK dan BAS terhadap kegiatan yang melebihi pagu sebelumnya. 1. Sudah penyusun laporan keuangan SAI dan SAK semesteran dan tahunan sesuai pedoman SAP dan PABLU 2. Mengirim laporan keuangan SAI ke koordinator wilayah jatim secara periodik 3. Melakukan konsultasi ke KPPN dan DJPB 101

73 NO STRATEGI LANGKAH LANGKAH PENCAPAIAN 4. Pendampingan dalam penyusunan Laporan Keuangan oleh BPKP, Itjen, Biro Keuangan dan BMN 5. Merancang dan melaksanakan aplikasi yang terintegrasi serta real time terkait pelaporan keuangan 12. Peningkatan Kualitas Pengawasan 12. Peningkatan Kualitas Pengawasan 1. Melakukan pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan kegiatan dan anggaran; 2. Melaksanakan Reviu Laporan Keuangan secara terintegrasi dan berjenjang 3. Melakukan monitoring secara ketat Tindak Lanjut Rekomendasi Hasil Reviu Laporan Keuangan 4. Pendampingan oleh pejabat yang berkompeten selama Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan oleh BPK 1. Laporan Keuangan telah direview oleh SPI setiap semester dan tahun. 2. Laporan Keuangan 2015 telah diaudit oleh KAP dengan opini WTP. 3. Laporan keuangan Semester I TA 2016 telah direview Itjen Kemenkes. 13. Percepatan PenyelesaianTindak Lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) 1. Melakukan pemantauan yang ketat terhadap penyelesaian Tindak Lanjut LHP 2. Melakukan pemutakhiran data penyelesaian tindak lanjut secara berkala 1. Telah melakukan monitoring tindak lanjut atas temuan auditor PENCAPAIAN 100% 100% Keterangan : Sampai dengan Desember 2016 strategi dan langkah-langkah dalam meraih WTP sudah mencapai 100%. 102

BAB V HASIL KERJA TAHUN 2013

BAB V HASIL KERJA TAHUN 2013 BAB V HASIL KERJA TAHUN 2013 5.1 PENCAPAIAN TARGET KINERJA 5.1.1 PENCAPAIAN TARGET KEGIATAN DAN PENDAPATAN Tabel 5.1 Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan Masukan No (Input) 1 Melaksanakan Sistem Akuntansi

Lebih terperinci

BAB V HASIL KERJA TAHUN Daftar Masukan Kegiatan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2012

BAB V HASIL KERJA TAHUN Daftar Masukan Kegiatan Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya Tahun 2012 BAB V HASIL KERJA TAHUN 2012 5.1 PENCAPAIAN TARGET KINERJA 5.1.1 PENCAPAIAN TARGET KEGIATAN DAN PENDAPATAN Daftar Masukan Kegiatan Tahun 2012 Tabel 5.1 Sub Bagian Perencanaan dan Keuangan Masukan No (Input)

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... iv DAFTAR GAMBAR... vii EXECUTIVE SUMMARY... ix

DAFTAR ISI. KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... iv DAFTAR GAMBAR... vii EXECUTIVE SUMMARY... ix DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... iv DAFTAR GAMBAR... vii EXECUTIVE SUMMARY... ix BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Maksud dan Tujuan Laporan... 2 1.3 Ruang

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN KINERJA SAAT INI

BAB II GAMBARAN KINERJA SAAT INI 6 BAB II GAMBARAN KINERJA SAAT INI 2.1 Gambaran Kinerja Aspek Pelayanan 2.1.1 Kinerja Pelayanan Laboratorium Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian

Lebih terperinci

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2016

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2016 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Tahun 2016 KEMENTERIAN KESEHATAN RI DIREKTORAT JENDERAL PELAYANAN KESEHATAN BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN SURABAYA Jl. Karangmenjangan No.

Lebih terperinci

EVALUASI/FEEDBACK KOMDAT PRIORITAS, PROFIL KESEHATAN, & SPM BIDANG KESEHATAN

EVALUASI/FEEDBACK KOMDAT PRIORITAS, PROFIL KESEHATAN, & SPM BIDANG KESEHATAN EVALUASI/FEEDBACK PRIORITAS, PROFIL KESEHATAN, & SPM BIDANG KESEHATAN MALANG, 1 JUNI 2016 APLIKASI KOMUNIKASI DATA PRIORITAS FEEDBACK KETERISIAN DATA PADA APLIKASI PRIORITAS 3 OVERVIEW KOMUNIKASI DATA

Lebih terperinci

per km 2 LAMPIRAN 1 LUAS JUMLAH WILAYAH JUMLAH KABUPATEN/KOTA (km 2 )

per km 2 LAMPIRAN 1 LUAS JUMLAH WILAYAH JUMLAH KABUPATEN/KOTA (km 2 ) LAMPIRAN 1 LUAS WILAYAH,, DESA/KELURAHAN, PENDUDUK, RUMAH TANGGA, DAN KEPADATAN PENDUDUK MENURUT LUAS RATA-RATA KEPADATAN WILAYAH RUMAH JIWA / RUMAH PENDUDUK DESA KELURAHAN DESA+KEL. PENDUDUK (km 2 ) TANGGA

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KESEHATAN RI DIREKTORAT JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN SURABAYA

KEMENTERIAN KESEHATAN RI DIREKTORAT JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN SURABAYA KEMENTERIAN KESEHATAN RI DIREKTORAT JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN SURABAYA Jl. Karangmenjangan No. 18 Surabaya Telp. 031-5021451, Fax. 031-5020388 e-mail : [email protected]

Lebih terperinci

EVALUASI TEPRA KABUPATEN/KOTA PROVINSI JAWA TIMUR OKTOBER 2016

EVALUASI TEPRA KABUPATEN/KOTA PROVINSI JAWA TIMUR OKTOBER 2016 EVALUASI TEPRA KABUPATEN/KOTA PROVINSI JAWA TIMUR OKTOBER 2016 Realisasi belanja APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota se-provinsi Jawa Timur Oktober 2016 PROVINSI KABUPATEN/KOTA Provinsi Gorontalo Provinsi

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP

KATA PENGANTAR. Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan. drg. Oscar Primadi, MPH NIP KATA PENGANTAR Keberhasilan pembangunan kesehatan membutuhkan perencanaan yang baik yang didasarkan pada data dan informasi kesehatan yang tepat dan akurat serta berkualitas, sehingga dapat menggambarkan

Lebih terperinci

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro)

POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro) POTRET PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR (Indikator Makro) Pusat Data dan Statistik Pendidikan - Kebudayaan Setjen, Kemendikbud Jakarta, 2015 DAFTAR ISI A. Dua Konsep Pembahasan B. Potret IPM 2013 1. Nasional

Lebih terperinci

Jumlah Penduduk Jawa Timur dalam 7 (Tujuh) Tahun Terakhir Berdasarkan Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab./Kota

Jumlah Penduduk Jawa Timur dalam 7 (Tujuh) Tahun Terakhir Berdasarkan Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab./Kota Jumlah Penduduk Jawa Timur dalam 7 (Tujuh) Tahun Terakhir Berdasarkan Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kab./Kota TAHUN LAKI-LAKI KOMPOSISI PENDUDUK PEREMPUAN JML TOTAL JIWA % 1 2005 17,639,401

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2009 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2010

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2009 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2010 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2009 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2010 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang Mengingat : a. bahwa dalam upaya meningkatkan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/359/KPTS/013/2015 TENTANG PELAKSANAAN REGIONAL SISTEM RUJUKAN PROVINSI JAWA TIMUR

GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/359/KPTS/013/2015 TENTANG PELAKSANAAN REGIONAL SISTEM RUJUKAN PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/359/KPTS/013/2015 TENTANG PELAKSANAAN REGIONAL SISTEM RUJUKAN PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

Kata Pengantar Keberhasilan pembangunan kesehatan tentu saja membutuhkan perencanaan yang baik. Perencanaan kesehatan yang baik membutuhkan data/infor

Kata Pengantar Keberhasilan pembangunan kesehatan tentu saja membutuhkan perencanaan yang baik. Perencanaan kesehatan yang baik membutuhkan data/infor DATA/INFORMASI KESEHATAN KABUPATEN LAMONGAN Pusat Data dan Informasi, Kementerian Kesehatan RI 2012 Kata Pengantar Keberhasilan pembangunan kesehatan tentu saja membutuhkan perencanaan yang baik. Perencanaan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 125 TAHUN 2008

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 125 TAHUN 2008 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 125 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PEKERJAAN UMUM BINA MARGA PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR MENIMBANG

Lebih terperinci

DAFTAR ISI JATIM DALAM ANGKA TERKINI TAHUN 2012-2013 TRIWULAN I

DAFTAR ISI JATIM DALAM ANGKA TERKINI TAHUN 2012-2013 TRIWULAN I DAFTAR ISI JATIM DALAM ANGKA TERKINI TAHUN 2012-2013 TRIWULAN I 1 DERAJAT KESEHATAN (AHH, AKB DAN AKI) 2 STATUS GIZI KURANG DAN GIZI BURUK PADA BALITA 3 JUMLAH RUMAH SAKIT BERDASARKAN KEPEMILIKAN DAN PELAYANAN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 68 TAHUN 2015 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2016

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 68 TAHUN 2015 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2016 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 68 TAHUN 2015 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2016 GUBERNUR JAWA TIMUR. Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI. 2.1 Sejarah Singkat PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI. 2.1 Sejarah Singkat PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI 2.1 Sejarah Singkat PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Timur merupakan salah satu unit pelaksana induk dibawah PT PLN (Persero) yang merupakan

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KESEHATAN RI DIREKTORAT JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN SURABAYA

KEMENTERIAN KESEHATAN RI DIREKTORAT JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN SURABAYA KEMENTERIAN KESEHATAN RI DIREKTORAT JENDERAL BINA UPAYA KESEHATAN BALAI BESAR LABORATORIUM KESEHATAN SURABAYA Jl. Karangmenjangan No. 18 Surabaya Telp. 031-5021451, Fax. 031-5020388 e-mail : [email protected]

Lebih terperinci

TUTIK KUSMIATI, dr. SpP(K)

TUTIK KUSMIATI, dr. SpP(K) TUTIK KUSMIATI, dr. SpP(K) TB paru problem kesehatan global MODALITAS TES CEPAT MENDETEKSI DR-TB & DS-TB TB Resisten Obat meningkat TB HIV +++ METODE DETEKSI KASUS YANG LAMBAT PASIEN TB HIV + PASIEN DIAGNOSIS

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2014 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2015

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2014 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2015 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2014 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2015 GUBERNUR JAWA TIMUR. Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 121 TAHUN 2016 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2017

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 121 TAHUN 2016 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2017 \ PERATURAN NOMOR 121 TAHUN 2016 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2017 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya

Lebih terperinci

P E N U T U P P E N U T U P

P E N U T U P P E N U T U P P E N U T U P 160 Masterplan Pengembangan Kawasan Tanaman Pangan dan Hortikultura P E N U T U P 4.1. Kesimpulan Dasar pengembangan kawasan di Jawa Timur adalah besarnya potensi sumberdaya alam dan potensi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis. Sumber infeksi TB kebanyakan melalui udara, yaitu

BAB 1 PENDAHULUAN. Mycobacterium tuberculosis. Sumber infeksi TB kebanyakan melalui udara, yaitu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Sumber infeksi TB kebanyakan melalui udara, yaitu melalui inhalasi

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2014

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2014 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 78 TAHUN 2013 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2014 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

repository.unimus.ac.id

repository.unimus.ac.id 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit kronis yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Penyakit TBC merupakan penyakit menular

Lebih terperinci

Berikut kami sampaikan Laporan Eksekutif Kewaspadaan KLB Penyakit dan Keracunan Pangan di Indonesia Jumat Minggu Ke-9 Tahun 2015

Berikut kami sampaikan Laporan Eksekutif Kewaspadaan KLB Penyakit dan Keracunan Pangan di Indonesia Jumat Minggu Ke-9 Tahun 2015 Berikut kami sampaikan Laporan Eksekutif Kewaspadaan KLB Penyakit dan Keracunan Pangan di Indonesia Jumat Minggu Ke-9 Tahun 2015 A. Berdasarkan laporan verifikasi rumor kesehatan dapat kami laporkan KLB

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG PERKIRAAN ALOKASI DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU KEPADA PROVINSI JAWA TIMUR DAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

PEMBANGUNAN PERPUSTAKAAN DESA/KELURAHAN DI JAWA TIMUR 22 MEI 2012

PEMBANGUNAN PERPUSTAKAAN DESA/KELURAHAN DI JAWA TIMUR 22 MEI 2012 PEMBANGUNAN PERPUSTAKAAN DESA/KELURAHAN DI JAWA TIMUR 22 MEI 2012 OLEH : Drs. MUDJIB AFAN, MARS KEPALA BADAN PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI JAWA TIMUR DEFINISI : Dalam sistem pemerintahan di Indonesia

Lebih terperinci

2. JUMLAH USAHA PERTANIAN

2. JUMLAH USAHA PERTANIAN BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 61/09/35/Tahun XI, 2 September 2013 HASIL SENSUS PERTANIAN 2013 PROVINSI JAWA TIMUR (ANGKA SEMENTARA) JUMLAH RUMAH TANGGA USAHA PERTANIAN DI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2013 SEBANYAK

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR. Provinsi Jawa Timur membentang antara BT BT dan BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI JAWA TIMUR 4. 1 Kondisi Geografis Provinsi Jawa Timur membentang antara 111 0 BT - 114 4 BT dan 7 12 LS - 8 48 LS, dengan ibukota yang terletak di Kota Surabaya. Bagian utara

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN FASILITASI AKREDITASI FASILITAS TINGKAT PERTAMA

PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN FASILITASI AKREDITASI FASILITAS TINGKAT PERTAMA PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 43 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN FASILITASI AKREDITASI FASILITAS TINGKAT PERTAMA DRG LILI APRILI ANT I KEPAL A SEKS I KESE H ATAN DASAR DAN PENUNJAN G Pertimbangan Penyusunan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PEKERJAAN UMUM PENGAIRAN PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang

Lebih terperinci

MULTI DRUG RESISANT TUBERCULOSIS (MDR-TB): PENGOBATAN PADA DEWASA

MULTI DRUG RESISANT TUBERCULOSIS (MDR-TB): PENGOBATAN PADA DEWASA MULTI DRUG RESISANT TUBERCULOSIS (MDR-TB): PENGOBATAN PADA DEWASA Sumardi Divisi Pulmonologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUGM / KSM Pulmonologi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Abstract Tuberculosis treatment

Lebih terperinci

Lampiran 1 LAPORAN REALISASI DAU, PAD TAHUN 2010 DAN REALISASI BELANJA DAERAH TAHUN 2010 KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR (dalam Rp 000)

Lampiran 1 LAPORAN REALISASI DAU, PAD TAHUN 2010 DAN REALISASI BELANJA DAERAH TAHUN 2010 KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR (dalam Rp 000) Lampiran 1 LAPORAN REALISASI DAU, PAD TAHUN 2010 DAN REALISASI BELANJA DAERAH TAHUN 2010 KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR (dalam Rp 000) Kabupaten/Kota DAU 2010 PAD 2010 Belanja Daerah 2010 Kab Bangkalan 497.594.900

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 75 TAHUN 2015 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 75 TAHUN 2015 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 75 TAHUN 2015 TENTANG PERKIRAAN ALOKASI DANA BAGI HASIL CUKAI HASIL TEMBAKAU KEPADA PROVINSI JAWA TIMUR DAN KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

BAB III TUJUAN DAN SASARAN KERJA

BAB III TUJUAN DAN SASARAN KERJA BAB III TUJUAN DAN SASARAN KERJA 3.1 DASAR HUKUM a. Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 57/KMK.05/2010 tanggal 05 Februari 2010 tentang Penetapan pada Kementerian Kesehatan sebagai Instansi Pemerintah

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 94 TAHUN 2016

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 94 TAHUN 2016 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 94 TAHUN 2016 TENTANG NOMENKLATUR, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA CABANG DINAS PENDIDIKAN PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 114 TAHUN 2016 TENTANG NOMENKLATUR, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PEKERJAAN UMUM BINA

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Kedelai merupakan salah satu tanaman yang menjadi komoditas utama di Indonesia. Bagian yang dimanfaatkan pada tanaman kedelai adalah bijinya. Berdasarkan Sastrahidajat

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PERHUBUNGAN DAN LALU LINTAS ANGKUTAN JALAN PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR

Lebih terperinci

CENTER OF GRAVITY MODEL PENENTUAN LOKASI SARANA KESEHATAN ILHAM AKHSANU RIDLO

CENTER OF GRAVITY MODEL PENENTUAN LOKASI SARANA KESEHATAN ILHAM AKHSANU RIDLO CENTER OF GRAVITY MODEL PENENTUAN LOKASI SARANA KESEHATAN ILHAM AKHSANU RIDLO 1 CENTER OF GRAVITY MODEL PENENTUAN LOKASI SARANA KESEHATAN Serial Paper Manajemen Penulis: Ilham Akhsanu Ridlo PHMovement

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2005 TENTANG PENETAPAN SEMENTARA BAGIAN PENERIMAAN PAJAK PENGHASILAN ORANG PRIBADI DALAM NEGERI PASAL 25/29 DAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular. langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang. Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular. langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis yang sebagian besar menyerang paru-paru tetapi juga dapat mengenai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memperkirakan

BAB 1 PENDAHULUAN. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memperkirakan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memperkirakan sepertiga dari

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI. ditingkatkan saat beberapa perusahaan asal Belanda yang bergerak di bidang pabrik

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI. ditingkatkan saat beberapa perusahaan asal Belanda yang bergerak di bidang pabrik 6 BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI 2.1 Sejarah Berdirinya PT PLN (Persero) Pada abad ke-19, perkembangan ketenagalistrikan di Indonesia mulai ditingkatkan saat beberapa perusahaan asal Belanda yang bergerak

Lebih terperinci

Jumlah Penderita Baru Di Asean Tahun 2012

Jumlah Penderita Baru Di Asean Tahun 2012 PERINGATAN HARI KUSTA SEDUNIA TAHUN 214 Tema : Galang kekuatan, hapus stigma dan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta 1. Penyakit kusta merupakan penyakit kronis disebabkan oleh Micobacterium

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat dari tahun ketahun. Pertumbuhan ekonomi dapat didefinisikan sebagai

Lebih terperinci

KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/ 557 /KPTS/013/2016 TENTANG PENETAPAN KABUPATEN / KOTA SEHAT PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2016

KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/ 557 /KPTS/013/2016 TENTANG PENETAPAN KABUPATEN / KOTA SEHAT PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2016 KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/ 557 /KPTS/013/2016 TENTANG PENETAPAN KABUPATEN / KOTA SEHAT PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2016 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : a. bahwa dalam rangka tercapainya kondisi

Lebih terperinci

Laporan Eksekutif Kewaspadaan KLB Penyakit dan Keracunan Pangan di Indonesia Tahun 2015 Jumat, Minggu ke-7

Laporan Eksekutif Kewaspadaan KLB Penyakit dan Keracunan Pangan di Indonesia Tahun 2015 Jumat, Minggu ke-7 Laporan Eksekutif Kewaspadaan KLB Penyakit dan Keracunan Pangan di Indonesia Tahun 2015 Jumat, Minggu ke-7 Berikut kami sampaikan Laporan Eksekutif Kewaspadaan KLB Penyakit dan Keracunan Pangan di Indonesia

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 57 TAHUN 2005 TENTANG PENETAPAN DEFINITIF BAGIAN PENERIMAAN PAJAK PENGHASILAN ORANG PRIBADI DALAM NEGERI (PASAL 25/29) DAN PAJAK PENGHASILAN PASAL

Lebih terperinci

64 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes

64 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes PELATIHAN PERAWAT DAN KADER DALAM PENANGANAN PASUNG BERBASIS KOMUNITAS DI PROVINSI JAWA TIMUR Yuni Ramawati (Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga) ABSTRAK Provinsi Jawa Timur memiliki target

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG UPAH MINIMUM KABUPATEN / KOTA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013 Menimbang: a. Bahwa dalam upaya meningkatkan kersejahteraan rakyat khususnya

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2000 TENTANG

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2000 TENTANG PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR NOMOR 8 TAHUN 1996 TENTANG ORGANISASI

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI

BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI 6 BAB II GAMBARAN UMUM INSTANSI 2.1 Sejarah Berdirinya PT PLN (Persero) Pada akhir abad ke-19, perkembangan ketenagalistrikan di Indonesia mulai ditingkatkan saat beberapa perusahaan asal Belanda yang

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2000 TENTANG

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2000 TENTANG PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA PERATURAN DAERAH PROPINSI DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR NOMOR 8 TAHUN 1996 TENTANG ORGANISASI

Lebih terperinci

BAB III TUJUAN DAN SASARAN KERJA

BAB III TUJUAN DAN SASARAN KERJA BAB III TUJUAN DAN SASARAN KERJA 3.1 DASAR HUKUM Dalam menetapkan tujuan, sasaran dan indikator kinerja Balai Besar Laboratorium menggunakan acuan berupa regulasi atau peraturan sebagai berikut : 1) Peraturan

Lebih terperinci

EVALUASI PROGRAM KKBPK DATA MARET 2017 PERWAKILAN BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL PROPINSI JAWA TIMUR,

EVALUASI PROGRAM KKBPK DATA MARET 2017 PERWAKILAN BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL PROPINSI JAWA TIMUR, EVALUASI PROGRAM KKBPK DATA MARET 2017 PERWAKILAN BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL PROPINSI JAWA TIMUR, 2017 1 INDIKATOR KKP 2 INDIKATOR PROGRAM TAHUN 2017 NO INDIKATOR PROGRAM 2017 SASARAN

Lebih terperinci

Grafik Skor Daya Saing Kabupaten/Kota di Jawa Timur

Grafik Skor Daya Saing Kabupaten/Kota di Jawa Timur Grafik Skor Daya Saing Kabupaten/Kota di Jawa Timur TOTAL SKOR INPUT 14.802 8.3268.059 7.0847.0216.8916.755 6.5516.258 5.9535.7085.572 5.4675.3035.2425.2185.1375.080 4.7284.4974.3274.318 4.228 3.7823.6313.5613.5553.4883.4733.3813.3733.367

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban secara tertulis atas pelaksanaan tugas-tugas

Lebih terperinci

BAB III TUJUAN DAN SASARAN KERJA

BAB III TUJUAN DAN SASARAN KERJA BAB III TUJUAN DAN SASARAN KERJA 3.1 DASAR HUKUM Dalam menetapkan tujuan, sasaran dan indikator kinerja Balai Besar Laboratorium menggunakan acuan berupa regulasi atau peraturan sebagai berikut : 1) Peraturan

Lebih terperinci

DATA DINAMIS PROVINSI JAWA TIMUR TRIWULAN IV BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2017

DATA DINAMIS PROVINSI JAWA TIMUR TRIWULAN IV BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2017 DATA DINAMIS PROVINSI JAWA TIMUR TRIWULAN IV - 2017 DATA DINAMIS PROVINSI JAWA TIMUR TRIWULAN IV - 2017 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2017 DATA DINAMIS

Lebih terperinci

RENCANA PENGADAAN BARANG/JASA SUMBER DANA : DPA APBD SKPD DINAS PETERNAKAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2012

RENCANA PENGADAAN BARANG/JASA SUMBER DANA : DPA APBD SKPD DINAS PETERNAKAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2012 RENCANA PENGADAAN BARANG/JASA SUMBER DANA : DPA APBD SKPD DINAS PETERNAKAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2012 URAIAN JENIS PEKERJAAN / KEGIATAN VOLUME SATUAN HARGA SATUAN HARGA TOTAL PAKET LELANG

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2003 TENTANG HARGA ECERAN TERTINGGI (NET) MINYAK TANAH Dl PANGKALAN MINYAK TANAH Dl JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : bahwa dalam

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TIMUR

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TIMUR BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI JAWA TIMUR Seuntai Kata Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 10 (sepuluh) tahun sekali

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 110 TAHUN 2016

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 110 TAHUN 2016 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 110 TAHUN 2016 TENTANG NOMENKLATUR, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS KEHUTANAN PROVINSI JAWA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di

BAB I PENDAHULUAN. Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan sepertiga dari populasi dunia telah terinfeksi

Lebih terperinci

ANALISIS KORESPONDENSI KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR BERDASARKAN PENYEBARAN PENYAKIT ISPA

ANALISIS KORESPONDENSI KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR BERDASARKAN PENYEBARAN PENYAKIT ISPA ANALISIS KORESPONDENSI KABUPATEN/KOTA DI JAWA TIMUR BERDASARKAN PENYEBARAN PENYAKIT ISPA IKO PUTRI TYASHENING 1311 030 013 Dosen Pembimbing : Dr Santi Wulan Purnami, MSi PENDAHULUAN PENDAHULUAN RUMUSAN

Lebih terperinci

Peran BPJS Kesehatan dalam Integrasi System pada FKTP

Peran BPJS Kesehatan dalam Integrasi System pada FKTP Peran BPJS Kesehatan dalam Integrasi System pada FKTP Nama : EDY SURLIS, S. Komp, IT IL, AAAK Jabatan : Kepala Departemen Perencanaan, Evaluasi, Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko Kantor : BPJS Kesehatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) sejak tahun 1993

BAB 1 PENDAHULUAN. Menurut WHO (World Health Organization) sejak tahun 1993 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut WHO (World Health Organization) sejak tahun 1993 memperkirakan sepertiga dari populasi dunia telah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis masih

Lebih terperinci

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 41/PHPU.D-VI/2008 Tentang Sengketa perselisihan hasil suara pilkada provinsi Jawa Timur

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 41/PHPU.D-VI/2008 Tentang Sengketa perselisihan hasil suara pilkada provinsi Jawa Timur RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 41/PHPU.D-VI/2008 Tentang Sengketa perselisihan hasil suara pilkada provinsi Jawa Timur I. PEMOHON Hj. Khofifah Indar Parawansa dan Mudjiono, selanjutnya disebut

Lebih terperinci

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Jenis kelamin pasien TB-MDR pada penelitian ini lebih banyak

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN. 1. Jenis kelamin pasien TB-MDR pada penelitian ini lebih banyak BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Jenis kelamin pasien TB-MDR pada penelitian ini lebih banyak pada pasien laki-laki

Lebih terperinci

TABEL II.A.1. LUAS LAHAN KRITIS DI LUAR KAWASAN HUTAN JAWA TIMUR TAHUN

TABEL II.A.1. LUAS LAHAN KRITIS DI LUAR KAWASAN HUTAN JAWA TIMUR TAHUN TABEL II.A.1. LUAS LAHAN KRITIS DI LUAR KAWASAN HUTAN JAWA TIMUR TAHUN 2008-2012 PADA MASING-MASING DAS (BRANTAS, SOLO DAN SAMPEAN) No Kabupaten Luas Wilayah Lahan Kritis Luar Kawasan Hutan (Ha) Ket. (Ha)

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/43/KPTS/013/2006 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/43/KPTS/013/2006 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 188/43/KPTS/013/2006 TENTANG TIM PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA INVESTASI NON PMDN / PMA PROPINSI JAWA TIMUR TAHUN 2006 GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang

Lebih terperinci

GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR KEPUTUSAN NOMOR 159 TAHUN 1980

GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR KEPUTUSAN NOMOR 159 TAHUN 1980 GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR KEPUTUSAN GUBERNUR KEPALA DAERAH TINGKAT I JAWA TIMUR NOMOR 159 TAHUN 1980 TENTANG PEMBENTUKAN, TUGAS POKOK, FUNGSI, SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA CABANG

Lebih terperinci

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Konferensi Pers UN 2017 Jenjang SMP UN untuk memantau, mendorong dan meningkatkan mutu pembelajaran

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Konferensi Pers UN 2017 Jenjang SMP UN untuk memantau, mendorong dan meningkatkan mutu pembelajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Konferensi Pers UN 2017 Jenjang SMP UN untuk memantau, mendorong dan meningkatkan mutu pembelajaran 1.349.744 2.855.633 11.096 45.092 6.891 4.205 20.292 115.631 765

Lebih terperinci

RENCANA KERJA DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2010

RENCANA KERJA DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2010 RENCANA KERJA DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 200 KODE PERMEN 2 05 000 2 Kelautan dan Program Peningkatan Kesejahteraan Petani Dinas 2.400.000 Fasilitasi Program Anti Kemiskinan

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG KEBUTUHAN DAN PENYALURAN SERTA HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN

Lebih terperinci

DANA PERIMBANGAN. Lampiran 1. Data Dana Perimbangan

DANA PERIMBANGAN. Lampiran 1. Data Dana Perimbangan Lampiran. Data Dana Perimbangan DANA PERIMBANGAN (Dalam Ribuan) No Daerah 2009 200 20 202 203 Kab. Bangkalan 628,028 64,037 738,324 870,077,004,255 2 Kab. Banyuwangi 897,07 908,07 954,894,70,038,299,958

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR TIMUR

GUBERNUR JAWA TIMUR TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN BADAN KOORDINASI WILAYAH PEMERINTAHAN DAN PEMBANGUNAN PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

JURUSAN STATISTIKA - FMIPA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER. Ayunanda Melliana Dosen Pembimbing : Dr. Dra. Ismaini Zain, M.

JURUSAN STATISTIKA - FMIPA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER. Ayunanda Melliana Dosen Pembimbing : Dr. Dra. Ismaini Zain, M. JURUSAN STATISTIKA - FMIPA INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER Seminar hasil TUGAS AKHIR Ayunanda Melliana 1309100104 Dosen Pembimbing : Dr. Dra. Ismaini Zain, M.Si PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Gambaran Umum Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. 2.1 Gambaran Umum Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Gambaran Umum Badan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur Berikut dijelaskan tentang tugas pokok dan fungsi, profil, visi misi, dan keorganisasian Badan Ketahanan Pangan

Lebih terperinci

DITJEN PP&PL KEMENTERIAN KESEHATAN RI 2011

DITJEN PP&PL KEMENTERIAN KESEHATAN RI 2011 LAPORAN SITUASI TERKINI PERKEMBANGAN TUBERKULOSIS DI INDONESIA Januari-Juni 211 DITJEN PP&PL KEMENTERIAN KESEHATAN RI 211 * Data dapat dikutip dan dipublikasikan dengan menyebutkan sumber 1 1. Pencapaian

Lebih terperinci

APLIKASI KOMUNIKASI DATA

APLIKASI KOMUNIKASI DATA APLIKASI KOMUNIKASI DATA APLIKASI KOMUNIKASI DATA Penyelenggaraan komunikasi data dimaksudkan untuk membangun dan mengoptimalkan aliran data dari kabupaten/kota dan provinsi ke pusat atau sebaliknya Mampu

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu. Setelah perang kemerdekaan, TB

Lebih terperinci

NILAI DIAGNOSTIK PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS SPUTUM BTA PADA PASIEN KLINIS TUBERKULOSIS PARU DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

NILAI DIAGNOSTIK PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS SPUTUM BTA PADA PASIEN KLINIS TUBERKULOSIS PARU DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA NILAI DIAGNOSTIK PEMERIKSAAN MIKROSKOPIS SPUTUM BTA PADA PASIEN KLINIS TUBERKULOSIS PARU DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Inayati* Bagian Mikrobiologi Fakuktas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratorik dengan

III. METODE PENELITIAN. 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratorik dengan III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratorik dengan pendekatan cross sectional, menggunakan metode difusi dengan memakai media Agar

Lebih terperinci

KETERSEDIAAN DATA KESEHATAN MASYARAKAT DI PROP. JAWA TIMUR DINKES PROPINSI JATIM

KETERSEDIAAN DATA KESEHATAN MASYARAKAT DI PROP. JAWA TIMUR DINKES PROPINSI JATIM KETERSEDIAAN DATA KESEHATAN MASYARAKAT DI PROP. JAWA TIMUR DINKES PROPINSI JATIM KETERSEDIAAN DATA PENGUMPULAN PENGOLAHAN DATA ANALISA DATA INTERPRETASI T U J U A N UMUM DIPEROLEHNYA GAMBARAN DAN INFORMASI

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 109 TAHUN 2016

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 109 TAHUN 2016 3 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 109 TAHUN 2016 TENTANG NOMENKLATUR, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PERHUBUNGAN PROVINSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis yang paling sering mengenai organ paru-paru. Tuberkulosis paru merupakan

Lebih terperinci