BAB 2 LANDASAN TEORI
|
|
|
- Siska Kusumo
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Umum Cagar Budaya Menurut UU No.11 tahun 2010, Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebedaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan melalui proses penetapan. Macammacam bentuk cagar budaya : - Benda cagar budaya Benda cagar budaya adalah benda alam atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok atau bagianbagiannya dan sejarah berkembang manusia. - Bangunan cagar budaya Bangunan cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding atau ruang tidak berdinding atau beratap. - Situs cagar budaya Situs cagar budaya adalah lokasi yang berada di darat atau di air yang mengandung benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu. - Kawasan cagar budaya Kawasan cagar budaya adalah kawasan atau kelompok bangunan yang memiliki nilai sejarah, budaya dan nilai lainnya yang dianggap penting untuk dilindungi dan dilestarikan untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dokumentasi dan pariwisata. Menurut UU No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya, Pelestarian Cagar Budaya bertujuan untuk : - melestarikan warisan budaya bangsa dan warisan umat manusia - meningkatkan harkat dan martabat bangsa melalui Cagar Budaya - memperkuat kepribadian bangsa 11
2 12 - meningkatkan kesejahteraan rakyat - mempromosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional. Menurut UU No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya, terdapat beberapa kriteria struktur cagar budaya yang harus terpenuhi, yaitu : - berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih. - mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun. - memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. - memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa. Menurut UU No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya, Pemugaran Bangunan Cagar Budaya dan Struktur Cagar Budaya yang rusak dilakukan untuk mengembalikan kondisi fisik dengan cara memperbaiki, memperkuat, dan/atau mengawetkannya melalui pekerjaan rekonstruksi, konsolidasi, rehabilitasi, dan restorasi. Pemugaran Cagar Budaya yang dimaksud harus memperhatikan: - keaslian bahan, bentuk, tata letak, gaya, dan/atau teknologi pengerjaan. - kondisi semula dengan tingkat perubahan sekecil mungkin. - penggunaan teknik, metode, dan bahan yang tidak bersifat merusak. - kompetensi pelaksana di bidang pemugaran. Pemugaran harus memungkinkan dilakukannya penyesuaian pada masa mendatang dengan tetap mempertimbangkan keamanan masyarakat dan keselamatan Cagar Budaya. Pemugaran yang berpotensi menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan sosial dan lingkungan fisik harus didahului untuk analisis mengenai dampak lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Tabel 1. Lingkup Pemugaran Bangunan Cagar Budaya Golongan Facade Perubahan yang diperbolehkan Struktur Interior Utama Ornamen A B - - C - : Boleh dirubah Sumber : Buku berjudul 100 bangunan cagar budaya di Bandung(Harastoeti,2010)
3 Preservasi Menurut Istilah-istilah dalam pelestarian dan pemugaran, preservasi adalah pelestarian bangunan dan/atau lingkungan dengan cara mempertahankan kadaan asli tanpa perubahan, termasuk upaya mencegah kehancuran. Preservasi layak dilakukan apabila bahan yang ada atau kondisinya menjadi bukti signifikansi budaya, atau apabila bukti yang ada tidak memadai, maka diizinkan untuk melakukan proses konservasi yang lain. Preservasi merupakan kegiatan mencegah dan menjaga yang meliputi sebagai berikut : - Untuk menjaga dalam keselamatan dari cedera atau bahaya (melindungi). - Untuk menjaga dalam kondisi sempurna atau tidak berubah/keaslian. - Untuk menjaga atau mempertahankan keutuhan Konservasi Konsep konservasi telah dicetuskan lebih dari seratus tahun yang lalu, ketika William Morris mendirikan Lembaga Pelestarian Bangunan Kuno ( Society For the Protection of Ancient Buildings,1877. Jauh sebelum itu, pada tahun 1700, Vanburgh seorang arsitek Istana Bleinheim Inggris, telah merumuskan konsep pelestarian, namun konsep itu belum mempunyai kekuatan hukum. Peraturan dan undang-undang yang pertama kali melandasi kebijakan konservasi lingkungan/ bangunan bersejarah dibuat pada tahun 1882 dalam Ancient Monuments Act, peraturan yang berkaitan dengan perlindungan bangunan bersejarah di Indonesia adalah UU No 11 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya. Dalam kegiatan pemugaran atau pelestarian suatu bangunan, terdapat istilahistilah yang dituliskan dalam buku yang berjudul 100 bangunan cagar budaya di Bandung yaitu sebagai berikut : 1. Konservasi adalah sebuah proses yang bertujuan memperpanjang umur warisan budaya bersejarah, dengan cara memlihara dan melindungi keotentikan dan maknanya dari gangguan dan kerusakan, agar dapat dipergunakan pada saat sekarang maupun masa yang akan datang, baik dengan menghidupkan kembalu fungsi lama atau dengan memperkenalkan fungsi baru yang dibutuhkan. 2. Restorasi adalah sebuah tindakan atau proses yang bertujuan untuk mengembalikan bentuk serta detil-detil sebuah properti dan settingnya secara
4 14 akurat seperti tampak pada periode tertentu, dengan cara menghilangkan bagianbagian tambahn yang dilakukan kemudian, ataupun dengan melengkapi kembali bagian-bagian yang hilang. 3. Renovasi adalah Modernisasi bangunan bersejarah yang masih dipertanyakan dengan terjadinya perbaikan yang tidak tepat yang menghilangkan wujud dan detil penting. 4. Rehabilitasi adalah Tindakan atau proses pengembalian sebuah obyek pada kondisi yang dapat dipergunakan kembali melalui perbaikan atau perubahan yang memungkinkan penggunaan sementara yang efisien, sementara wujud-wujud yang bernilai sejarah, arsitektur dan budaya tetap dipertahankan. 5. Revitalisasi adalah sebuah proses untuk menigkatkan kegiatan sosial dan ekonomi bangunan/lingkungan bersejarah, yang sudah kehilangan vitaliyas aslinya. 6. Adaptasi (adaptive reuse) adalah sebuah proses pengubahan sebuah bangunan untuk kegunaan yang berbeda dari tujuan kegunaan ketika bangunan tersebut didirikan. Proses-proses diatas, menurut Alan Dobby dalam buku Planning and Conservation memiliki tingkat perubahan yang berbeda-beda. Berikut adalah tabel perubahan yang dilakukan terhadap bangunan cagar budaya : Tabel 2. Lingkup Kegiatan Pelestarian Perubahan Tidak ada (kecuali perbaikan dan pemeliharaan) Sedikit Banyak Total Kegiatan Repair X Preservation X Enchancement X X X Conservation X X X X Restoration X X X Recontruction X X X Sumber : Buku Conservation And Planning (Alan Dobby,1978:19) Dalam Diktat Pemugaran Pemerintahan Propinsi DKI Jakarta, sasaran dari konservasi adalah sebagai berikut (Idrus, Diktat Pemugaran Pemerintah Propinsi DKI Jakarta) : - Mengembalikan wajah dari obyek pelestarian.
5 15 - Memanfaatkan obyek pelestarian untuk menunjang kehidupan masa kini. - Mengarahkan perkembangan masa kini yang diselaraskan dengan perencanaan masa lalu. - Menampilkan sejarah pertumbuhan kota, dalam wujud fisik tiga dimensi. Berikut prinsip-prinsip dalam melakukan konservasi adalah : - Tidak mengubah bukti-bukti sejarah. - Menerapkan kembali makna budaya dari suatu tempat atau bangunan. - Suatu bangunan atau suatu hasil karya bersejarah harus tetap berada pada lokasi historisnya. - Menjaga terpeliharanya latar visual yang cocok, seperti bentuk, skala, warna, tekstur, serta bahan material yang digunakan. IDENTIFIKASI INVENTARISASI, PENELITIAN PENILAIAN PERENCANAAN KONSERVASI MENETAPKAN TINGKAT PERLINDUNGAN INTEGRASI ANTARA TUJUAN KONSERVASI DENGAN TUJUAN SOSIAL & EKONOMIS MASYARAKAT - PENDIDIKAN & PELATIHAN - PARTISIPASI PENDANAAN Gambar 4. Bagan Langkah-Langkah Kegiatan Konservasi Sumber : Buku berjudul 100 bangunan cagar budaya di Bandung(Harastoeti,2010) Pada gambar 4 terlihat langkah-langkah yang akan dilakukan dalam kegiatan konservasi, mulai dari langkah identifikasi terhadap obyek bangunan hingga pendanaan yang akan dikeluarkan saat kegiatan berlangsung. Kegiatan konservasi yang dipilih dalam bentuk pelestarian, mempengaruhi bentuk fisik maupun fungsi yang akan diberikan, hal ini terlihat pula pada tabel 3 bahwa didalam setiap kegiatan konservasi memungkinkan perubahan pada fungsi yang akan diberikan namun perubahan pada fisik disesuaikan kembali dengan bentuk kegiatan yang dilakukan pada bangunan tersebut.
6 16 Tabel 3. Kaitan Antara Kegiatan Konservasi Dengan Perubahan Fisik Dan Fungsi K E G I A T A N Yang Terjadi Tidak Ber ubah FISIK FUNGSI Berubah Tidak Berubah Berubah Penambahan Pembongkaran Menerus & Adaptasi & penyisipan sebagian & berkembang kebutuhan elemen penggantian (extended use) baru bangunan elemen (adaptive baru bangunan baru reuse) Konservasi Renovasi o Rehabilitasi o Fasadisasi o Preservasi o o Rekontruksi o o Restorasi o Replikasi o o Revitalisasi o : Terjadi o : Tidak Terjadi Sumber : Buku berjudul 100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung (Harastoeti,2010) Dasar Hukum Terkait Pelestarian Bangunan Cagar Budaya - Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 475 tahun 1993 tentang penetapan bangunan-bangunan bersejarah di Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai benda cagar budaya. - Undang-undang Nomor 11 tahun 2010 tentang cagar budaya - UU No.11 tahun 2010 Pasal 1 ayat (26) tentang zonasi adalah penentuan batasbatas keruangan Situs Cagar Budaya dan Kawasan Cagar Budaya sesuai dengan kebutuhan. - UU No.11 tahun 2010 pasal 73 ayat (1) Sistem Zonasi mengatur fungsi ruang pada Cagar Budaya. - UU No.11 tahun 2010 pasal 78 (3) tentang Pengembangan Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dapat diarahkan untuk memacu pengembangan ekonomi yang hasilnya digunakan untuk Pemeliharaan Cagar Budaya dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. - UU No.11 tahun 2010 pasal 82 tentang Revitalisasi Cagar Budaya harus memberi manfaat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mempertahankan ciri budaya lokal.
7 17 - UU No.11 tahun 2010 pasal 83 ayat (1) tentang Bangunan Cagar Budaya atau Struktur Cagar Budaya dapat dilakukan adaptasi untuk memenuhi kebutuhan masa kini dengan tetap mempertahankan keaslian bangunan cagar budaya atau struktur cagar budaya. - Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No: 01/PRT/M/2015 tentang Bangunan Gedung Cgara Budaya yang Dilestarikan. - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 1 (5) mengatakan bahwa bangunan gedung cagar budaya yang dilestarikan adalah bangunan gedung cagar budaya yang melalui upaya dinamis, dipertahankan keberadaan dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya. - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 1 (8) mengatakan bahwa pengembangan bangunan gedung cagar budaya adalah peningkatan potensi nilai, informasi, dan promosi bangunan gedung cagar budaya serta pemanfaatannya melalui penelitian, revitalisasi, dan adaptasi secara berkelanjutan serta tidak bertentangan dengan tujuan pelestarian. - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 4 mengatakan bahwa Setiap bangunan gedung cagar budaya yang dilestarikan harus memenuhi persyaratan : a. Administratif (status bangunan gedung sebagai gedung cagar budaya, status kepemilikan, perizinan) b. Teknis (persyaraan tata bangunan, persyaratan keandalan bangunan gedung cagar budaya, persyaratan pelestarian) - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 7 (2) mengatakan bahwa Persyaratan tata bangunan harus diberlakukan dalam hal bangunan gedung cagar budaya yang dilestarikan mengalami perubahan fungsi, bentuk,l karakter fisik dan/atau penambahan bangunan gedung. - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 8 (1) mengatakan bahwa Persyaratan keandalan bangunan gedung cagar budaya terdiri atas : a. Keselamatan; b. Kesehatan; c. Kenyamanan; dan d. Kemudahan. - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 8 (6) mengatakan bahwa Persyaratan keandalan bangunan gedung cagar budaya dituangkan dalam ketentuan yang meliputi aspek :
8 18 a. Arsitektur; b. Struktur; c. Utilitas; d. Aksebilitas; e. Keberadaan dan nilai penting cagar budaya. - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 14 (1) mengatakan bahwa rekomndasi tindakan pelestarian bangunan gedung cagar budaya berupa perlindungan, pengembangan dan atau pemanfaatan. Dan pengembangan tersebut terbagi atas revitalisasi dan adaptasi. - Peraturan Menteri PU dan PR pasal 16 (2) mengatakan bahwa adaptasi sebagaimana yang dimaksud dilakukan upaya pengembangan bangunan gedung cagar budaya untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan cara melakukan perubahan terbatas yang tidak mengakibatkan penurunan nilai penting atau kerusakan pada bagian yang mempunyai nilai penting Dasar Hukum Terkait Pelestarian Bangunan Pada Kawasan Kota Tua - Perda DKI Jakarta No.1 tahun 2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dan Peraturan zonasi. - Perda DKI Jakarta No.1 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah tahun 2030 pasal 100 membahas Kawasan Kota Tua termasuk kawasan strategis kepentingan sosial budaya. - Peraturan Gubernur Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No.36 tahun 2014 tentang Rencana Induk Kawasan Kota Tua Pemanfaatan Kembali Bangunan Cagar Budaya Setelah bangunan diperbaiki pada bagian-bagiannya yang rusak, bangunan tersebut diberikan fungsi sehingga dapat bermanfaat bagi kehidupan saat ini. Secara keseluruhan terdapat 3 pemanfaatan kembali bangunan cagar budaya, yaitu : - Continued Use Cara ini berupa penggunaan kembali bangunan tua sesuai dengan fungsi lamanya ketika pertama kali didirikan serta dapat juga ditambahkan fungsi baru sebagai fungsi pendukung fungsi utamanya. - Adaptive Reuse
9 19 Cara ini berupa penggunaan kembali bangunan tua dengan mengubah fungsi awal dari bangunan tersebut dengan menyesuaikan pada keadaan masa sekarang. - New Additions Cara ini berupa penambahan kontruksi baru atau membangun struktur baru pada struktur sebelumnya dengan mempertimbangkan kesesuaian bangunan sebelumnya Adaptive Reuse Secara umum, adaptive reuse merupakan pengunaan ulang atau the process of adapting old structures and sites for new purposes. Lebih jelasnya, adaptive reuse is a process that changes a disused or ineffective item into a new item that can be used for a different purpose. Sometimes,nothing changes but the item s use. Dan menurut UU No.11 tahun 2010 tentang cagar budaya mengatakan bahwa adaptasi merupakan upaya pengembangan Cagar Budaya untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan kebutuhan masa kini dengan melakukan perubahan terbatas yang tidak akan mengakibatkan kemerosotan nilai pentingnya atau kerusakan pada bagian yang mempunyai nilai penting. Adaptive reuse seringkali digunakan dalam konservasi bangunan bangunan tua bersejarah. Dengan adaptive reuse dapat memberi nafas baru ke dalam bangunan tanpa mengubah tampilan luar dan bentuknya secara radikal. Di sisi lain juga dapat menciptakan kembali nilai ekonomi dan sosial dari bangunan yang dilakukan adaptive reuse. Proses Adaptive reuse melibatkan 3 jenis perlakuan yang dapat dilakukan terhadap bangunan yaitu The installation system,the Intervention system, serta The Insertion System. - Intervention adalah pendekatan dengan cara merubah bangunan lama menjadi lebih baik sehingga lebih layak, namun tetap saling terkait antara bangunan lama dengan bangunan baru setelah diperbaiki. - Insertion adalah memasukkan dimensi yang telah ditentukan dalam batas bangunan yang ada. - Installation adalah menambahkan elemen baru (bisa seperti bangunan baru) yang bisa jadi dipengaruhi bangunan yang ada, ditempatkan dalam batasan bangunan yang ada itu sendiri. Alternatif penyesuaian dengan menggunakan konsep adaptive reuse, dapat dilihat dari sisi bentuk bangunan yang dipreservasi atau dikonservasi keasliannya
10 20 harus dipertahankan, tidak diubah, sehingga fungsi baru yang ditampung di dalamnya perlu disesuaikan dengan kapasitas maupun tatanan ruang yang ada. Dengan demikian perlu ada seleksi dalam memilih fungsi baru tersebut. Adaptasi sebagaimana dimaksud dalam UU No.11 tahun 2010 dilakukan dengan : - mempertahankan nilai-nilai yang melekat pada Cagar Budaya. - menambah fasilitas sesuai dengan kebutuhan. - mengubah susunan ruang secara terbatas. - mempertahankan gaya arsitektur, konstruksi asli, dan keharmonisan estetika lingkungan di sekitarnya. 2.2 Tinjauan Khusus Terhadap Bangunan Sejarah Kawasan Kota Tua Sebagai Warisan Cagar Budaya Kota Tua Jakarta terletak di Kelurahan Pinangsia Kecamatan Tamansari Kotamadya Jakarta Barat. Saat ini, kawasan Kota Tua berada di dua wilayah kotamadya, yaitu Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Kota Tua sebagai cikal bakal Jakarta, oleh karena itu banyak cerita di balik megahnya bangunan (tua) cagar budaya peninggalan masa lalu dari zaman kolonial Belanda. Kota Tua Jakarta, daerahnya berbatasan sebelah utara dengan Pasar Ikan, Pelabuhan Sunda Kalapa dan Laut Jawa, sebelah Selatan berbatasan dengan jalan Jembatan Batu dan jalan Asemka, sebelah Barat berbatasan dengan Kali Krukut dan sebelah Timur berbatasan dengan Kali Ciliwung. Kota Tua Jakarta di masa lalu merupakan kota yang menjadi simbol kejayaan bagi siapa saja yang dapat menguasainya. Oleh karena itu, mulai dari Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Sunda Pajajaran, Kesultanan Banten Jayakarta, Verenigde Oost-indische Compagnie (VOC), Pemerintah Jepang, hingga kini Republik Indonesia melalui Pemerintah DKI Jakarta, terus berupaya mempertahankannya menjadi kota nomor satu di negara ini. Kota Tua Jakarta, juga dikenal dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 1,3 kilometer persegi melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka). Dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad ke- 16 oleh pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah.
11 21 Pasa masa abad ke-16 sampai dengan awal abad ke-20, kawasan Kotatua merupakan kawasan daerah pusat politik dan kekuasaan yang didukung oleh pusat kawasan komersil dan perdagangan. Kota yang tua (lama), banyak menyimpan bangunan-bangunan (tua) sisa peninggalan para pendahulu yang bernilai sejarah, arsitektur dan arkelologis dari beberapa zaman yang berbeda. Pemda DKI Jakarta dengan mengeluarkan SK Gubernur No. 475 Tahun 1993 yang isinya menetapkan Bangunan-Banguan Bersejarah dan Monumen di DKI Jakarta dilindungi sebagai bangunan cagar budaya (BCB) oleh pemerintah. Hal ini berlaku juga pada kawasan Kota Tua Jakarta Gedung PT. Kerta Niaga Sebagai Bangunan Cagar Budaya Tabel 4. Data Gedung Nama gedung : PT. Kerta Niaga Tahun berdiri : 1912 Nama dulu : Perusahaan Koloniale Zee en Brand Assurantie Maatschappij Desain Arsitek : Biro Arsitek Cuypers en Hulswit Langgam gaya : Art Deco Sumber : Olahan Penulis Gedung PT. Kerta Niaga termasuk dalam daftar bangunan cagar budaya yang perlu dilestarikan, menurut Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta no 475 tahun Gedung PT. Kerta Niaga dibangun sekitar tahun 1912 oleh Biro Arsitek Cuypers en Hulswit. Bangunan ini bergaya Art Deco. Pada masa itu, biro arsitek tersebut merupakan biro yang bersejarah bagi pembangunan arsitektur di Indonesia pada eranya begitu pula langgamnya. Gambar 5. Bangunan PT. Kerta Niaga tahun 1912 Sumber : Data Collection Tropenmuseum Amsterdam
12 22 Awalnya bangunan ini berfungsi sebagai gedung perusahaan Koloniale Zee en Brand Assurantie Maatschappij. Pada kepemilikan pertama inilah bentuk fasad bangunan masih terlihat asli dengan ornamen yang terlihat pada fasad gambar 5. Namun, pada tahun 1950 terjadi penghilangan ornamen pada fasad tersebut, yang terlihat pada gambar 6 ketika berada di kepemilikan kedua. Dan terjadi nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan Belanda pada akhir tahun 1950, perusahaan ini melakukan perubahan nama menjadi P.N. (Perusahaan Negara) Kerta Niaga tepatnya tahun Bidang usahanya pun berubah menjadi distributor barang, utamanya di bidang sandang pangan dan kebutuhan pokok bagi rakyat. Pada akhirnya, bangunan ini menjadi aset P.N. Kerta Niaga, yang kemudian berubah status menjadi P.T. Kerta Niaga pada tahun Gambar 6. Bangunan PT. KertaNiaga tahun 1950 Sumber : Data Collection Tropenmuseum Amsterdam Ketika dilakukan efisiensi terhadap Badan Usaha Milik Negara, P.T. Kerta Niaga dilikuidasi dan dilebur ke dalam P.T. Dharma Niaga pada tahun Bangunan ini turut berpindah pengelolan, juga ketika dilakukan penggabungan atas tiga BUMN di bidang perdagangan : PT. Panca Niaga, PT. Dharma Niaga, dan PT. Cipta Niaga, yang menjadi PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) pada tahun PPI merupakan pemegang kepemilikan gedung yang ketiga, pada saat itu juga dilakukan penambahan elemen jendela seperti gambar 7 yang berbeda dengan bentuk asalnya. Gambar 7. PT. Kerta Niaga tahun 2003 Sumber : Data Collection Tropenmuseum Amsterdam Gambar 8. PT. Kerta Niaga Saat Ini Sumber : Dokumentasi Penulis
13 23 Meski beralih kepemilikan berkali-kali, kondisi bangunan PT. Kerta Niaga saat ini cukup baik, walaupun terdapat kerusakan-kerusakan karena termakan usia seperti pada gambar 8. Unsur-unsur keaslian bangunanpun masih kuat. Sekarang ini, hanya tersisa bangunan kantor yang ditinggalkan kisah sejarah untuk dilestarikan. Gedung PT. Kerta Niaga merupakan salah satu dari banyaknya bangunan yang terletak di kawasan Kotatua. Gedung PT. Kerta Niaga berlokasi pada blok PT. Kerta Niaga yang memiliki 4 gedung. Bangunan yang dipilih adalah bangunan yang terletak pada Jalan Kali Besar Timur terlihat pada gambar 9. Gambar 9. Letak Gedung PT.Kerta Niaga Sumber : Olahan penulis Dahulu Kawasan Kali Besar merupakan kawasan Central Business District (Kawasan Kali Besar CBD), pada masa kolonial disebut De Groote Rivier (Kali Besar). Saat itu, muara sungai ciliwung merupakan jantung perekonomian di Jakarta yaitu sebagai pusat perdagangan atau perkantoran Hindia Belanda. Pada masa itu, terdapat pula dermaga-dermaga di tepi kali besar tersebut. Walaupun saat ini tidak terdapat kanal-kanal di sepanjang kali besar, gedung-gedung di sekitar kali besar timur terutama merupakan wilayah perkantoran. Gambar 10. Kali Besar Tahun 1920 Sumber : Diakses dari googlemaps.com pada tanggal 14 April 2015 Gambar 11. Kali Besar Saat Ini Sumber : Diakses dari googlemaps.com pada tanggal 14 April 2015
14 24 Gedung PT. Kerta Niaga dalam proses revitalisasi, yang dikategorikan pada kawasan Art And Culture di Kota Tua Jakarta (JOTRC) dan lebih mengfokuskan terhadap fungsi perdagangan dan jasa menurut RDTR No.1 tahun Tinjauan Khusus Terhadap Style Pengertian Style Kata gaya dalam bahasa inggris adalah style yang berarti jenis tertentu atau semacam, jenis mengacu pada bentuk, penampilan, atau karakter. Menurut Marizar, Gaya pada suatu periode dapat dibedakan berdasarkan beberapa kategori, yaitu dimulai dari ornamen, warna atau aksesoris, karakter desain dari elemen interior (bentuk), pola bentuk, tekstur dan kombinasi dari beberapa unsur tersebut. Warna juga merupakan salah satu unsur desain untuk memberikan tambahan efek tertentu dengan juga didukung oleh unsur pencayahaan. Bentuk dalam desain interior merupakan gabungan antara bidang yang meliputi struktur dinding, lantai, plafon dan perabot. Sedangkan pola atau tekstur dapat ditemukan pada dinding, lantai, dan plafon yang didapat dari pemakaian material dan penggunaan jenis finishing dari material tersebut. Gaya sebagai identitas sebuah perancangan yang menggambarkan pengaruh jaman atau asal usul dan aktivitas pengguna. Gaya menurut Pile terbagi kedalam beberapa periode yang mempengaruhi perkembangan gaya. Di dalam interior ruang memiliki gaya dan desain yang berbeda-beda, karakteristik dari gaya-gaya itupun mempunyai ciri khasnya masing-masing Art Deco Art deco adalah gaya hias yang lahir setelah Perang Dunia I dan berakhir sebelum Perang Dunia II. Art deco banyak diterapkan dalam berbagai bidang, misalnya eksterior, interior, mebel, patung, perhiasan dan lain-lain. Art deco dipengaruhi oleh berbagai macam aliran modern, antara lain Kubisme, Futurisme dan Konstruktivisme serta juga mengambil ide-ide desain kuno seperti dari Mesir, Siria dan Persia. Seniman art deco banyak bereksperimen dengan memakai teknik baru dan material baru, misalnya metal, kaca, bakelit serta plastik dan menggabungkannya dengan penemuan-penemuan baru saat itu, lampu misalnya. Karya mereka sering memakai warna-warna yang kuat serta bentuk abstrak dan geometris tetapi kadang masih menggunakan motif tumbuhan dan figur.
15 25 Langgam art deco tercipta dari pencampuran ornamen-ornamen historis, aliran arsitektur sekarang dan muatan lokal. Setiap negara yang menerima langgam Art Deco mengembangkannya sendiri dan memberikan sentuhan lokal sehingga art deco di suatu tempat akan berbeda dengan art deco di tempat lain. Sebelum tahun 1966, masyarakat belum mengenal nama art deco. Masyarakat saat itu menamai seni yang populer tersebut sebagai seni modern. Ungkapan art deco diperkenalkan pertama kali pada tahun 1966 dalam katalog yang diterbitkan oleh Musée des Arts Décoratifs di Paris yang pada saat itu sedang mengadakan pameran dengan tema Les Années 25 yang bertujuan untuk meninjau kembali pameran internasional Exposition Internationale des Arts Décoratifs et Industriels Modernes yang diselenggarakan tahun 1925 di Paris Sejarah Art Deco Gerakan awal ini disebut Style Moderne. Istilah Art Deco diambil dari eksposisi 1925, meskipun baru pada 1960 istilah ini diciptakan, ketika terjadi kebangkitan kembali Art Deco. Nama Art Deco diilhami dari satu pameran Exposition Internationale des Arts Decoratifs Industriale et Modernes yang diadakan di Paris pada tahun Art Deco menunjukkan suatu istilah langgam decoratif yang terbentuk di antara tahun Yang membedakan antara langgam arsitektur ini dengan langgam lainnya adalah adanya gerakan Modernisme. Gerakan ini memenuhi konsep modernisme, yaitu tuntutan estetika menuju bentuk sederhana. Hanya saja kelemahannya di satu pihak gerakan modernisme membebaskan diri dari keterikatan Arsitektur Klasik, tetapi di pihak lain membuat ikatan sendiri dalam bentuk konsensus internasional (International Style). Art deco menginduk pada modernisme hanya saja lebih fokus pada berbagai variasi dekoratif dalam berbagai produk. Karakter yang paling utama adalah bentuk geometrik murni dan kesederhanaan (Simplicity), penggunaan warna-warna cemerlang dan bentuk sederhana untuk merayakan hadirnya dunia komersial dan teknologi. Dari sinilah lahir art deco yang menjadi penanda jaman dalam bentuk-bentuk Arsitektur yang anggun.
16 Fasade Bangunan Art-Deco Pada tahun 1928 pengamat arsitektur new modern mendiskripsikan karakter art deco yaitu geras lurus, kaku, geometris dan cenderung mengikuti proporsi kubis. Garis datar yang sederhana dan kuat dengan sentuhan dekorasi pada warna, besi dan kaca untuk relief. Aritektur art deco dipengaruhi oleh berbagi aliran seperti kubism, futurism, dan ekspresionism ditambah dengan ekspresi dunia yang mengakibatkan revolusi industri II wajah arsitektur mengalami perkembangan yaitu : - kesederhanaan dalam dekorasi dengan menggunakan pita. - Menggunakan bentuk-bentuk geometri dengan garis lurus yang kuat pada bidang horisontal dan vertikal yang dominan. - Penggunaan warna-warna lembut tapi kontras. - Penggunaan bahan metal sebagai alternatif pengolahan desain. - Mengambil semangat mesin dari international style Langgam Art-Deco Art deco terbagi sesuai dengan klasifikasi yang ada, arsitektur langgam artdeco dibedakan menjadi empat, yaitu floral deco, streamline deco, zigzag deco, dan neo-classicael deco. Di Indonesia, banyak dikenal dua langgam yang pertama. Berikut penjelasan langgam tersebut : 1. Floral deco Floral deco merupakan salah satu tipe art deco yang memiliki desain berbentuk lekukan-lekukan garis yang melengkung, dan memiliki ciri khas ukiran bunga atau daun. Gambar 12. Langgam Floral Deco Sumber : Jurnal Media Matrasain 2. Streamline deco Streamline deco adalah salah satu tipe art deco yang merupakan gaya desain yang muncul selama tahun Desain ini menekankan gaya arsitektur yang
17 27 memiliki bentuk melengkung, dan garis horizontal panjang. Tipe ini banyak terlihat pada bangunan-bangunan yang ada di Indonesia. Contohnya di bandung terdapat bangunan yang menggunakan tipe art deco streamline, yaitu Gedung Villa Isola Bandung. 3. Zig zag deco Gambar 13. Langgam Streamline Deco Sumber : Jurnal Media Matrasain Zig zag deco memiliki pola bentuk garis yang tajam dan tegas serta bentuk zig zag yang merupakan ciri khasnya dan mengalami pengulangan bentuk yang harmonis. 4. Neo classicael deco Gambar 14. Langgam Zig zag Deco Sumber : Jurnal Media Matrasain Neo classicael deco merupakan tipe dari art deco yang memiliki corak ragam ukiran kuno yang dapat berbentuk wajah/benda, geometri, dan terdiri dari corak gabungan yang terlihat seperti ukiran-ukiran kuno. Gambar 15. Langgam Neo classicael Deco Sumber : Jurnal Media Matrasain
18 Ciri-Ciri Gaya Art-Deco Awal mula gaya art deco berkembang yaitu setelah gaya art nouveau berakhir yaitu mulai tahun 1910 sampai tahun Gaya art deco merupakan adaptasi dari bentukan historism ke bentukan modern. Gaya art deco ini memiliki estetika yang menjadi gaya pilihan bagi gedung-gedung dan tempat public seperti bioskop, stasiun kereta api, hotel, restoran dan kapal laut. Ciri gaya art deco sebagai berikut : - Berdasarkan peletakan bangunan menggunakan dua cara yaitu bangunan sudut dan bangunan menghadap ke jalan, namun tetap mempertahan fasad yang simetris. Pada bangunan publik akan ditemukan ruang lobby, sebelum dapat mengakses ruang-ruang yang lain. - Bentuk tampilan keseluruhan fasad bangunan art Deco pada umumnya memiliki simetris dalam berbagai skala bangunan. Penggunaan simetris visual ini diterapkan pada berbagai komponen bangunan berupa : canopy, jendela, pintu, teralis, armatur lampu, elemen estetik hingga signage pada bangunan. - Penggunaan bentuk yang bertingkat-tingkat atau berlapis-lapis (stepped form), streamline, zig-zag, lengkung, serta permukaan licin. - Interior dengan konsep estetik art deco menjadikan karakter lay-out sangat kuat terhadap pembentukan pola-pola simetris ruang. - Furniture art deco untuk interior dapat berupa loose-furniture dan built-in yang mengadopsi detail-detail yang khas dengan penyelesaian bentuk-bentuk geometris. - Terdapat ornamen sebagai ciri dari gaya art deco yang tampil dalam bentuk tiga dimensi atau memiliki profil dua dimensi yang berupa pembedaan warna pada suatu finishing. - Pintu dan jendela berbahan kayu solid berbentuk panel yang dikombinasikan dengan logam dan kaca polos (Calloway, ). - Penggunaan kaca patri dengan motif-motif geometris (Calloway, 416). - Elemen dekoratif yang digunakan kebanyakan berupa sepuhan warna krom, besi tempa,perunggu, plastic (Young, 9). - Material yang umumnya digunakan adalah stainless steel, aluminium, glass block, batu gamping dan terakota karena sudah terpengaruh dengan teknologi modern.
19 Novelty Novelty adalah prinsip kebaruan dari suatu objek. Judul dan topik mengenai konservasi, maka prinsip kebaruan (novelty) terkait dengan hal tersebut. Konservasi adalah bentuk pelestarian atau perlindungan dari bangunan tua yang dikatakan bersejarah. Dahulu konservasi dilakukan hanya sebatas memperbaiki bangunan yang sudah ada sehingga serupa dengan bentuk bangunan yang sebelumnya, tanpa menambah atau mengurangi elemen-elemen yang ada pada bangunan, guna mempertahankan keaslian nilai bersejarah bangunan tersebut saat didirikan. Namun untuk saat ini, terdapat beberapa aplikasi alternatif sebagai bentuk tindakan konservasi. Tindakan tersebut disesuaikan dengan kondisi bangunan yang akan dikonservasi. Contoh dari aplikasi konservasi yang dianggap baru adalah adaptive reuse, adaptive reuse sebenarnya adalah proses akhir dari tindakan konservasi dengan memasukkan fungsi baru pada bangunan yang telah dikonservasi sesuai dengan kondisi keadaan saat ini. Selain bentuk penggunaan kembali bangunan yang telah ada sehingga mengurangi konstruksi bangunan baru, hal tersebut berkaitan dengan strategi bangunan yang berkelanjutan (sustanaibility). Karena dengan menggunakan bangunan yang sudah ada, dapat mengurangi biaya seumur hidup bangunan tersebut, limbah serta dapat melakukan peningkatan fungsi bangunan. Seperti halnya pada gedung PT. Kerta Niaga yang berada di Kawasan Kota Tua Jakarta, yang merupakan kawasan revitalisasi. Gedung PT. Kerta Niaga dalam kajian ini, dilakukan proses konservasi dengan memasukkan fungsi baru yaitu adaptive reuse. Yang selama ini gedung-gedung di Kota Tua hanya dibiarkan hingga rusak dan rubuh. Kali ini gedung tersebut dihidupkan kembali dengan fungsi baru yang sesuai dengan peraturan yang berlaku, kondisi gedung, serta lingkungannya. Kondisi gedug PT. Kerta Niaga tetap utuh seperti kondisi saat gedung ini didirikan. Ciri khas langgam art deco terlihat jelas pada gedung PT. Kerta Niaga, oleh karena itu, yang biasanya bangunan tua bersejarah ketika digunakan kembali akan dimasukkan pula gaya interior modern sesuai dengan zaman saat ini. Pada gedung PT. Kerta Niaga tetap dimasukkan gaya interior art deco untuk mempertahankan langgam-langgam art deco yang telah terbentuk didalam gedung tersebut.
20 Kerangka Berpikir STUDI PUSTAKA State Of The Art Latar Belakang Perumusan Masalah Penentuan Tujuan Identifikasi masalah Bangunan PT. Kertaniaga pada zona dilestarikan bentuknya dan peuntukan bangunan zona ini adalah art and culture. Pengumpulan Data Sekunder UN Habitat Gaya bangunan PT. Kertaniaga Teori Konservasi Revitalisasi Kota Tua Sejarah Kota Tua Teori Style Art Deco Peruntukan Bangunan Landasan Hukum yang terkait Sejarah dan foto awal bangunan PT. Kertaniaga Teori Adaptive Reuse Pengumpulan Data Primer Foto bangunan saat ini eksterior maupun interior Identifikasi kerusakan Denah Verifikasi Ukuran ekstrior & interior Jika Ya? Analisa manusia Analisa pengguna dan aktifitas Analisa Zonasi Analisis Data Analisa Bangunan Analisa Interior Analisa kerusakan Analisa eksterior Analisa Fasad Analisa Lingkungan Analisa eksisting Analisa pemetaan bangunan Kesimpulan Skematik desain Gambar 16. Kerangka Berpikir Sumber : Olahan Penulis Perancangan
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tempat-tempat bersejarah, obyek-obyek dan manifestasi adalah ekspresi yang penting dari budaya, identitas serta agama kepercayaan untuk masyarakat sekitar. Setiap nilai
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada tahun 2010, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya. Dalam UU tersebut, dikatakan
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR
GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 66 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang Mengingat : a.
BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1. Hotel Des Indes (kiri) yang Menjadi Komplek Duta Merlin (kanan) Sumber:google.co.id, 5 Maret 2015
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan pembangunan di Jakarta melaju demikian cepat hingga menyebabkan lahan kosong semakin sulit ditemukan di Jakarta. Semakin banyak bangunan baru yang dibangun,
Kementerian Pendidikan Nasional merupakan lembaga pemerintahan yang bertugas meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. salah satu langkah yang di
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.1.1 Latar Belakang Proyek Menurut catatan sejarah umat manusia yang sempat terungkap tentang keberadaan dan perkembangan perpustakaan menunjukkan bahwa perpustakaan
BAB 2 PELESTARIAN BANGUNAN PUSAKA
BAB 2 PELESTARIAN BANGUNAN PUSAKA Dugaan kemungkinan terjadinya bencana kerusakan bangunan pusaka yang bertambah besar pada abad ke-19 menyebabkan dilakukannya upaya yang sungguh-sungguh untuk melestarikan
BAB II KAJIAN LITERATUR
BAB II KAJIAN LITERATUR 2.1 Pengertian Pelestarian Filosofi pelestarian didasarkan pada kecenderungan manusia untuk melestarikan nilai-nilai budaya pada masa yang telah lewat namun memiliki arti penting
BAB I PENDAHULUAN. Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kota Bandung memiliki sejarah yang sangat panjang. Kota Bandung berdiri pada akhir dekade pertama abad ke-19, diresmikan tanggal 25 September 1810. Bangunan
KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR. Oleh : SABRINA SABILA L2D
KAJIAN PELESTARIAN KAWASAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG SEBAGAI ASET WISATA TUGAS AKHIR Oleh : SABRINA SABILA L2D 005 400 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
JURNAL TUGAS AKHIR JUDUL PENGEMBANGAN HOTEL SAVOY HOMANN BIDAKARA BANDUNG
JURNAL TUGAS AKHIR JUDUL PENGEMBANGAN HOTEL SAVOY HOMANN BIDAKARA BANDUNG LATAR BELAKANG indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki khasanah yang kaya akan peninggalan Arsitektur, sebagian masih
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perjalanan panjang sejarah terbentuknya kota Jakarta dimulai dari sebuah area kecil yang kini disebut daerah jembatan gantung kota intan. Dahulu lokasi tersebut adalah
7.4 Avant Garde Avant Garde buka suatu aliran dalam seni lukis, melainkan gaya yang berkembang dalam dunia fashion serta bergerak ke desain grafis
7.4 Avant Garde Avant Garde buka suatu aliran dalam seni lukis, melainkan gaya yang berkembang dalam dunia fashion serta bergerak ke desain grafis Avant Garde dalam bahasa Perancis berarti "garda terdepan"
Karakter Visual Bangunan Stasiun Kereta Api Tanjung Priok
Karakter Visual Bangunan Stasiun Kereta Api Tanjung Priok Alifah Laily Kurniati 1 dan Antariksa 2 1 Mahasiswa Program Sarjana Arsitektur, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya 2 Dosen
BAB 5 KESIMPULAN. 88 Universitas Indonesia. Gereja Koinonia..., Rinno Widianto, FIB UI, 2009
BAB 5 KESIMPULAN Bangunan Gereja Koinonia merupakan bangunan tinggalan kolonial pada awal abad 20 jika dilihat dari tahun berdirinya. Perkembangan gaya seni arsitektur di Indonesia tidak lepas dari pengaruh
BAB I PENDAHULUAN HOTEL INNA DIBYA PURI SEBAGAI CITY HOTEL DI SEMARANG
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Kota Semarang direncanakan menjadi pusat perdagangan dan industri yang berskala regional, nasional dan internasional. Kawasan Johar merupakan salah satu pusat perniagaan
BAB I PENDAHULUAN. Kisaran terbagi menjadi dua kecamatan yaitu Kecamatan Kisaran Timur dan
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Kisaran adalah ibu kota dari Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara yang bejarak 160 km dari Kota Medan ( ibu kota Provinsi Sumatera Utara). Kota Kisaran
Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitektur Kolonial pada Masjid Cut Meutia Jakarta
SEMINAR HERITAGEIPLBI 2017 DISKURSUS Perpaduan Unsur Arsitektur Islam dan Gaya Arsitektur Kolonial pada Masjid Cut Meutia Jakarta Indah Mega Ashari [email protected] Program Studi A rsitektur, Sekolah
BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG
BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Konsep utama yang mendasari Rancang Ulang Stasiun Kereta Api Solobalapan sebagai bangunan multifungsi (mix use building) dengan memusatkan pada sistem dalam melayani
- 1 - WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA DI KOTA MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
- 1 - WALIKOTA MAGELANG PERATURAN DAERAH KOTA MAGELANG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA DI KOTA MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MAGELANG, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan
BAB III TINJAUAN TEMA INSERTION
BAB III TINJAUAN TEMA INSERTION 3.1 LATAR BELAKANG Perkembangan kota ditandai dengan makin pesatnya pembangunan fisik berupa bangunanbangunan baru di pusat kota. Bangunan-bangunan baru tersebut dibangun
Rumah Tinggal Dengan Gaya Arsitektur Bali Modern Di Denpasar
Rumah Tinggal Dengan Gaya Arsitektur Bali Modern Di Denpasar Oleh : Naya Maria Manoi [email protected] Mahasiswa Desain Interior FSRD ISI Denpasar ABSTRAK Arsitektur tradisional Bali merupakan budaya
BAB I PENDAHULUAN. pembangunan untuk fasilitas-fasilitas pendukungnya. menginap dalam jangka waktu pendek.
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang I.1.1. Latar Belakang Proyek Indonesia sebagai negara berkembang terus menerus berusaha untuk meningkatkan hasil yang maksimal di segala bidang pembangunan, salah
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Umum 2.1.1 Pengertian Adaptive Reuse Yang dimaksud dengan konservasi adalah proses merawat sebuah tempat, benda, ruang, dan pemandangan, untuk menjaga nilai budaya, estetika,
MEMUTUSKAN: : PERATURAN BUPATI TENTANG PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA.
Menimbang Mengingat BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 61 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI : a. bahwa cagar budaya
BAB I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh
BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi ini, bangunan bersejarah mulai dilupakan oleh masyarakat khusunya generasi muda. Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi membuat bangunan-bangunan
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA STASIUN PASAR MINGGU
Seminar Nasional Cendekiawan ke 3 Tahun 2017 ISSN (P) : 2460-8696 Buku 2 ISSN (E) : 2540-7589 PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR NEO VERNAKULAR PADA STASIUN PASAR MINGGU Ghina Fajrine1), Agus Budi Purnomo2),Jimmy
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG
LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN BANGUNAN, STRUKTUR, DAN KAWASAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH
IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH 4.1. Posisi Makro terhadap DKI Jakarta. Jakarta, Ibukota Indonesia, berada di daerah dataran rendah, bahkan di bawah permukaan laut yang terletak antara 6 12 LS and 106 48 BT.
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini persoalan utama yang dihadapi kota-kota besar di Pulau Jawa akibat pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi adalah masalah transportasi, masalah transportasi
WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
WALIKOTA PEKALONGAN PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 14 TAHUN 2015 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKALONGAN, Menimbang : a. bahwa cagar budaya
BAB III TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORERIKAL PENDEKATAN ARSITEKTUR ORGANIK PADA TATA RUANG LUAR DAN DALAM HOMESTAY DAN EKOWISATA SAWAH
BAB III TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORERIKAL PENDEKATAN ARSITEKTUR ORGANIK PADA TATA RUANG LUAR DAN DALAM HOMESTAY DAN EKOWISATA SAWAH 3.1. Tinjauan Pendekatan Arsitektur Organik 3.1.1. Definisi Arsitektur
GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2017
SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG ARSITEKTUR BANGUNAN BERCIRI KHAS DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Art deco adalah sebuah gerakan desain yang populer dari 1920 hingga 1939, yang mempengaruhi seni dekoratif seperti arsitektur, desain interior, dan desain industri,
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01/PRT/M/2015 TENTANG BANGUNAN GEDUNG CAGAR BUDAYA YANG DILESTARIKAN
PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 01/PRT/M/2015 TENTANG BANGUNAN GEDUNG CAGAR BUDAYA YANG DILESTARIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM
Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta
SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Perkuatan Struktur pada Revitalisasi Bangunan Cagar Budaya Kasus Studi: Toko Dynasti, Jalan AM Sangaji Yogyakarta Augustinus Madyana Putra (1), Andi Prasetiyo Wibowo
TENTANG CAGAR BUDAYA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMO 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa
BUPATI GOWA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GOWA NOMOR 09 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN CAGAR BUDAYA
BUPATI GOWA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GOWA NOMOR 09 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GOWA, Menimbang : a. bahwa kawasan dan
Bab IV Simulasi IV.1 Kerangka Simulasi
Bab IV Simulasi IV.1 Kerangka Simulasi Untuk menjawab pertanyaan penelitian, maka diperlukan adanya saran atau rekomendasi yang dibuat sebagai masukan dalam menyusun pedoman penataan fasade bangunan-bangunan
Ekspresi gaya arsitektur kolonial pada desain interior Gedung Lindeteves Surabaya
Ekspresi gaya arsitektur kolonial pada desain interior Gedung Lindeteves Surabaya Juan Antonio Koeswandi Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur, Universitas Widya Kartika Jl. Sutorejo Prima Utara II/1, Surabaya
PELESTARIAN BANGUNAN GEDUNG PELAYANAN PERIZINAN TERPADU JATIM (EKS SOERABAIASCH HANDELSBLAD)
PELESTARIAN BANGUNAN GEDUNG PELAYANAN PERIZINAN TERPADU JATIM (EKS SOERABAIASCH HANDELSBLAD) Lina Mardiani 1, Antariksa 2, Abraham M. Ridjal 2 1 Jurusan Arsitektur/Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya
BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Sumber:
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Olahraga dapat menjadi batu loncatan sebagai pemersatu bangsa, daerah dan negara lainnya, baik di dalam skala nasional maupun internasional. Dalam setiap skala, negara-negara
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Masjid Raya Al-Mashun merupakan masjid peninggalan Kesultanan Deli
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masjid Raya Al-Mashun merupakan masjid peninggalan Kesultanan Deli yang dibangun pada tahun 1906 M, pada masa pemerintahan sultan Maamun Al- Rasyid Perkasa Alamsjah.Masjid
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Tinjauan Umum Cagar Budaya Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan cagar, sebagai daerah perlindungan untuk melestarikan tumbuh-tumbuhan,
Gambar 5. 1 Citra ruang 1 Gambar 5. 2 Citra ruang 2 2. Lounge Lounge merupakan salah satu area dimana pengunjung dapat bersantai dan bersosialisasi de
BAB V KONSEP PERENCANAAN INTERIOR 5.1 Konsep Citra Ruang Konsep citra ruang yang ingin dicapai adalah ruangan yang memberikan suasana kondusif kepada pengguna perpustakaan. citra ruang dimana pengguna
Tipomorfologi Fasade Bangunan Pertokoan di Sepanjang Ruas Jalan Malioboro, Yogyakarta
TEMU ILMIAH IPLBI 2017 Tipomorfologi Fasade Bangunan Pertokoan di Sepanjang Ruas Jalan Malioboro, Yogyakarta Adinda Rafika Dani (1), Djoko Wijono (2) [email protected] (1) Mahasiswa Program S2 Arsitektur,
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bangunan cagar budaya merupakan sebuah saksi sejarah perjalanan suatu negara dapat ditemui di hampir setiap kota-kota besar dan kecil di seluruh Indonesia. Menurut
TIPOLOGI GEREJA IMMANUEL DI DESA MANDOMAI. Abstraksi
ISSN 1907-8536 Volume 5 Nomor 1 Juli 2010 TIPOLOGI GEREJA IMMANUEL DI DESA MANDOMAI Alderina 1) Abstraksi Terdapat suatu gereja peninggalan Zending Barmen (Jerman) yang berlokasi di desa Saka Mangkahai
MAKASSAR merupakan salah satu kota yang mengalami perkembangan pesat dalam berbagai bidang. meningkatkan jumlah pengunjung/wisatawan
MAKASSAR merupakan salah satu kota yang mengalami perkembangan pesat dalam berbagai bidang EKONOMI SOSIAL POLITIK INDUSTRI PARIWISATA BUDAYA mengalami perkembangan mengikuti kemajuan zaman meningkatkan
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA
PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA I. UMUM Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengamanatkan bahwa negara memajukan
BAB 1 PENDAHULUAN. yang dibahas dalam tesis ini. 1 Subkawasan Arjuna pada RTRW kota Bandung tahun merupakan kawasan Arjuna
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kawasan Arjuna terletak pada bagian Barat Kota Bandung ditetapkan sebagai salah satu Kawasan Cagar Budaya oleh Pemerintah Kota Bandung (RTRW Kota Bandung 2003-2013).
BAB I PENDAHULUAN. Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam perjalanan sejarah, pada titik-titik tertentu terdapat peninggalanpeninggalan yang masih dapat terlihat sampai sekarang yang kemudian menjadi warisan budaya.
2.2 Tinjauan Gaya Neo Klasik Eropa dan Indonesia Sejarah Gaya Arsitektur Neo Klasik
2.2 Tinjauan Gaya Neo Klasik Eropa dan Indonesia 2.2.1 Sejarah Gaya Arsitektur Neo Klasik Pada akhir zaman klasik, timbul kejenuhan terhadap bentuk, konsep dan norma arsitektur klasik, yang sudah merajai
KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 013/M/2014 TENTANG
KEPUTUSAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 013/M/2014 TENTANG BANGUNAN UTAMA HOTEL TOEGOE SEBAGAI BANGUNAN CAGAR BUDAYA PERINGKAT NASIONAL MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK
BAB I PENDAHULUAN. bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya, namun banyak juga yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Yogyakarta memiliki banyak bangunan monumental seperti Tamansari, Panggung Krapyak, Gedung Agung, Benteng Vredeburg, dan Stasiun Kereta api Tugu (Brata: 1997). Beberapa
BAB I PENDAHULUAN. 1 Brosur resmi Istana Kepresidenan Bogor, 2012.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Istana Kepresidenan Bogor terletak di Jalan Ir. H. Juanda No.1,Kota Bogor, Propinsi Jawa Barat, sekitar 60 Kilometer dari kota Jakarta dengan luas sekitar
PENGARUH REVOLUSI INDUSTRI TERHADAP PERKEMBANGAN DESAIN MODERN. Didiek Prasetya M.Sn
PENGARUH REVOLUSI INDUSTRI TERHADAP PERKEMBANGAN DESAIN MODERN Didiek Prasetya M.Sn Sejarah Perkembangan Desain Setelah Revolusi Industri Arts and Crafts Movement (1850-1900) Revolusi Industri yang terjadi
BUPATI BONDOWOSO PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
1 BUPATI BONDOWOSO PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONDOWOSO NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PELESTARIAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BONDOWOSO, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan
Keselarasan antara Baru dan Lama Eks-Bioskop Indra Surabaya
JURNAL SAINS DAN SENI POMITS Vol. 6, No.2, (2017) 2337-3520 (2301-928X Print) G 152 Keselarasan antara Baru dan Lama Eks-Bioskop Indra Surabaya Shinta Mayangsari dan M. Dwi Hariadi Departemen Arsitektur,
WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA KOTA KENDARI
WALIKOTA KENDARI PERATURAN DAERAH KOTA KENDARI NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG CAGAR BUDAYA KOTA KENDARI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KENDARI, Menimbang : a. bahwa keberadaan Cagar Budaya di
BAB 2 LANDASAN TEORI
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Umum 2.1.1 Pengertian Cagar Budaya Bangunan Cagar Budaya adalah sebuah kelompok bangunan bersejarah dan lingkungannya, yang memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PT. Pos Indonesia yang selanjutnya disebut Kantor Pos merupakan badan usaha milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang layanan sarana komunikasi seperti mengirimkan
BAB V KONSEP PERANCANGAN. Studi Tipologi Bangunan Pabrik Gula Krebet. Kawasan Pabrik gula yang berasal dari buku, data arsitek dan sumber-sumber lain
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Perancangan Konsep dasar yang digunakan dalam Revitalisasi Kawasan Pabrik Gula Krebet Malang ini mencangkup empat aspek yaitu: Standar Perancangan Objek Prinsip-prinsip
BAB III KONSEP PERANCANGAN PUSAT ILMU PENGETAHUAN DAN KEBUDAYAAN RUSIA
BAB III KONSEP PERANCANGAN PUSAT ILMU PENGETAHUAN DAN KEBUDAYAAN RUSIA 3.1 Tema dan Penggayaan Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia merupakan sebuah sarana yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan
Bab I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang
Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Pesisir Timur pantai Sumatera Utara sejak abad ke-13, merupakan tempat persinggahan bangsa-bangsa asing dan lintas perdagangan. Bangsa India dan Arab datang dengan
Art Nouveau. Ciri-ciri
Art Nouveau adalah sebuah aliran / style seni rupa modern yang marak pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di Eropa daratan. Art nouveau merupakan lanjutan dari Art and craft movement. Abad ke-20 merupakan
BAB I PENDAHULUAN. ibu kota negara Indonesia. Jakarta terletak di bagian barat laut Pulau Jawa.
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta) adalah sebuah provinsi sekaligus ibu kota negara Indonesia. Jakarta terletak di bagian barat laut Pulau Jawa. Koordinatnya
PERANCANGAN RUANG DALAM
UNIVERSITAS UDAYANA JURUSAN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK PERANCANGAN RUANG DALAM Ulasan Teori dan Konsep Perancangan Ruang Dalam Metode Studi Literatur Mahasiswa; ARFIEL ZAQTA SURYA 131925105 Teori dan konsep
PELESTARIAN BANGUNAN MASJID TUO KAYU JAO DI SUMATERA BARAT
PELESTARIAN BANGUNAN MASJID TUO KAYU JAO DI SUMATERA BARAT Dion Farhan Harun, Antariksa, Abraham Mohammad Ridjal Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jl. Mayjen Haryono 167, Malang
BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DAN CAGAR BUDAYA
BUPATI SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN WARISAN BUDAYA DAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI SLEMAN, Menimbang
BAB I PENDAHULUAN. Belanda pada tahun 1619 yang dipimpin oleh Jan Pieterzoon Coen.
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Judul Pada awalnya kota Jakarta adalah sebuah kota kecil yang berdiri di atas lahan bekas Pelabuhan Sunda Kalapa, dibangun oleh Pangeran Fatahillah pada tahun 1527
Dasar Kebijakan Pelestarian Kota Pusaka 1. Tantangan Kota Pusaka 2. Dasar Kebijakan terkait (di Indonesia) 3. Konvensi Internasional
1. Tantangan 2. Dasar terkait (di Indonesia) 3. Konvensi Internasional Source: PU-PPI. (2011). - Langkah Indonesia Membuka Mata Dunia. Jakarta: Direktorat Jenderal Penataan Ruang bersama-sama adan Indonesia
BAB III TINJAUAN KHUSUS
3.1 Latar belakang Tema 8 BAB III BAB III TINJAUAN KHUSUS Latar belakang penggunan tema Arsitektur Kontekstual adalah: Perkembangan teknologi dan informasi yang cukup pesat sehingga perlunya penyesuaian
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bangsa Indonesia adalah bangsa dengan masyarakatnya yang Pluralistic mempunyai berbagai macam bentuk dan variasi dari kesenian budaya. Warisan kebudayaan tersebut harus
Syarat Bangunan Gedung
Syarat Bangunan Gedung http://www.imland.co.id I. PENDAHULUAN Pemerintah Indonesia sedang giatnya melaksanakan kegiatan pembangunan, karena hal tersebut merupakan rangkaian gerak perubahan menuju kepada
PERUBAHAN FASADE DAN FUNGSI BANGUNAN BERSEJARAH (DI RUAS JALAN UTAMA KAWASAN MALIOBORO) TUGAS AKHIR. Oleh: NDARU RISDANTI L2D
PERUBAHAN FASADE DAN FUNGSI BANGUNAN BERSEJARAH (DI RUAS JALAN UTAMA KAWASAN MALIOBORO) TUGAS AKHIR Oleh: NDARU RISDANTI L2D 005 384 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
BAB I PENDAHULUAN. Sejarah dalam bahasa Indonesia merupakan peristiwa yang benar-benar
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejarah dalam bahasa Indonesia merupakan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal-usul (keturunan) silsilah, terutama bagi rajaraja yang memerintah.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menurut Haryoto Kunto (2000) dalam Wajah Bandoeng Tempoe Doeloe, Bandung sempat dijadikan Ibu Kota Nusantara Pemerintahan Hindia Belanda pada zaman kolonial
PROGRAM JANGKA PENDEK: - Peningkatan kapasitas P3KP - Pengelolaan secara internal
@SITA Pendirian Jaringan Kota Pusaka Indonesia/JKPI), declared by Minister Culture and Tourism, in Solo, October 25, 2008 Assisted by Indonesian Heritage Trust PROGRAM JANGKA PENDEK: - Peningkatan kapasitas
TEoRI DAN DeSAIN TERPILIH
TEoRI DAN DeSAIN TERPILIH ARFIEL ZAQTA SURYA 13-57 Teori dan konsep interior desain merupakan sebuah gagasan atau dasar pemikiran desainer di dalam memecahkan permasalahn atau problem desain. Konsep desain
BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada masa penjajahan Belanda, Indonesia mengalami pengaruh occidental (Barat) dalam berbagai segi kehidupan termasuk kebudayaan, hal ini antara lain dapat dilihat dalam
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4.1. Ide Perancangan Desain Setiap keluarga memiliki kebiasaan yang berbeda, kebiasaan-kebiasaan ini secara tidak langsung menjadi acuan dalam memilih furnitur yang ada di dalam
REVITALISASI BANGUNAN MEGARIA SEBAGAI PUSAT SINEMA
REVITALISASI BANGUNAN MEGARIA SEBAGAI PUSAT SINEMA Oleh : Harry Anggara 1 & Agus Dharma 2 Abstrak Bangunan bioskop Megaria merupakan salah satu peninggalan sejarah perkembangan arsitektur di tanah air.
BAB VI HASIL PERANCANGAN. simbolisme dari kalimat Minazh zhulumati ilan nur pada surat Al Baqarah 257.
BAB VI HASIL PERANCANGAN Revitalisasi kawasan wisata makam Kartini ini berlandaskan pada konsep simbolisme dari kalimat Minazh zhulumati ilan nur pada surat Al Baqarah 257. Nilai-nilai Islam yang terkandung
WALIKOTA PAREPARE PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA PAREPARE NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN DAN PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA
WALIKOTA PAREPARE PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA PAREPARE NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PELESTARIAN DAN PENGELOLAAN CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PAREPARE, Menimbang
Pelestarian Bangunan Bersejarah Di Kota Lhokseumawe
SEMINAR HERITAGE IPLBI 2017 KASUS STUDI Pelestarian Bangunan Bersejarah Di Kota Lhokseumawe Cut Azmah Fithri (1), Sisca Olivia (1), Nurhaiza (1) [email protected] (1) Dosen Tetap Program Studi Arsitektur
WALIKOTA PALANGKA RAYA
1 WALIKOTA PALANGKA RAYA PERATURAN DAERAH KOTA PALANGKA RAYA NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PENGATURAN BANGUNAN BERCIRIKAN ORNAMEN DAERAH KALIMANTAN TENGAH DI KOTA PALANGKA RAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PERUMAHAN DAN KAWASAN PERMUKIMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk
BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Bandung adalah salah satu kota besar di Indonesia dan merupakan Ibukota Provinsi Jawa Barat yang banyak menyimpan berbagai sejarah serta memiliki kekayaan
BAB IV: PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV: PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Survey (Observasi) Lapangan Dalam penelitian ini, secara garis besar penyajian data-data yang dikumpulkan melalui gambar-gambar dari hasil observasi lalu diuraikan
BAB I PENDAHULUAN. arsitek Indonesia masih berkiblat pada arsitektur kolonial tersebut.
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Arsitektur kolonial yang ada di Indonesia, tersebar di berbagai wilayah kota-kota besar termasuk di kota Medan. Tidak semua arsitektur kolonial dibangun oleh arsitektur
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa
GAYA ARSITEKTUR DI PERUMAHAN DINAS MILITER ANGKATAN DARAT, CIMAHI, JAWA BARAT
GAYA ARSITEKTUR DI PERUMAHAN DINAS MILITER ANGKATAN DARAT, CIMAHI, JAWA BARAT Milla Ardiani Architecture Department, Faculty of Engineering, Binus University Jl. K.H. Syahdan No. 9, Palmerah, Jakarta Barat
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Seni adalah karya cipta manusia yang memiliki nilai estetika dan artistik.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seni adalah karya cipta manusia yang memiliki nilai estetika dan artistik. Sepanjang sejarah, manusia tidak terlepas dari seni. Karena seni adalah salah satu
