5 HASIL DAN PEMBAHASAN
|
|
|
- Benny Tedjo
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 21 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kapal Kayu Gambaran Umum Kapal perikanan merupakan unit penangkapan ikan yang sangat penting dalam mendukung kegiatan operasi penangkapan ikan yang terdapat di perairan Indramayu. Jenis kapal perikanan yang digunakan nelayan di Karangsong Indramayu sebagian besar kapal perikanan yang dibuat dari bahan dasar kayu dengan ukuran yang beragam mulai dari 5 GT hingga kapal yang berukuran 60 GT. Lokasi pembuatan kapal kayu sendiri banyak ditemukan di sekitar Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Karangsong Indramayu yang jumlahnya lebih dari 10 galangan yang memproduksi kapal kayu. Proses pembangunan kapal yang terdapat di galangan kapal kayu karangsong secara umum meliputi : 1) Pemasangan lunas; 2) Pemasangan linggi haluan dan linggi buritan; 3) Pemasangan kulit kapal; 4) Pemasangan gading-gading; 5) Pemasangan lantai dek kapal; 6) Pemasangan rumah-rumah; 7) Pemasangan pagar; dan 8) Pendempulan dan pengecatan kasko kapal. Proses produksi baru dilakukan setelah ada transaksi dan perjanjian yang disepakati oleh pemilik galangan dan pemesan kapal. Pada umumnya pemesan kapal menyerahkan sepenuhnya perencanaan dan desain kapal yang akan dibangun kepada pemilik galangan, tetapi ada juga yang memberi bentuk dan desain kasar yang diinginkan oleh pemesan kapal tersebut. Kapal yang telah dibangun selanjutnya diserahkan kepada pemesan kapal. Kapal diserahkan dalam bentuk kasko kapal yang telah dicat. Pada umumnya proses penyerahan kapal dilakukan bersamaan dengan peluncuran kapal ke dalam air. Segala urusan mengenai surat-surat kapal diberikan oleh pihak syahbandar
2 22 setempat. Kapal kayu yang telah dibangun rencananya akan dioperasikan dalam kegiatan penangkapan menggunakan jaring milenium. Spesifikasi dari ketiga kapal kayu yang menjadi objek penelitian dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Dimensi utama ketiga kapal kayu No Ukuran Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 LOA (m) Lpp (m) 8, B (m) 2,6 3,6 5 4 D (m) 1 1,5 2,25 5 d (m) 0,4 0,6 0,7 6 CUNO (Cubic Number) (m³) 26 75,6 213,75 7 GT 3,58 10,40 29, Produksi kapal kayu Komponen biaya yang dikeluarkan dalam pembangunan kapal kayu meliputi biaya kasko kapal, biaya tenaga kerja dan biaya pembelian mesin. Biaya tersebut sangat mempengaruhi biaya yang dikeluarkan dalam memproduksi satu unit kapal. Di bawah ini dijelaskan satu persatu komponen biaya tersebut. 1) Biaya kasko kapal Biaya kasko kapal dalam pembuatan kapal kayu meliputi komponen biaya material. Biaya material ini dibagi menjadi biaya material utama dan biaya material pendukung. Kayu merupakan material utama dalam pembangunan kapal kayu. Jenis kayu yang digunakan pada pembuatan kapal kayu di Karangsong Indramayu berbeda-beda mulai dari kayu jati, kayu merbau dan kayu pernis. Kayu dengan jenis jati yang umumnya lebih banyak digunakan pengrajin kapal. Jenis kayu yang digunakan pada pembuatan ketiga kapal dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Jenis kayu yang digunakan pada konstruksi kapal kayu Jenis Kayu Bagian Konstruksi Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 Lunas Jati Jati Pernis Gading-gading Jati Jati Pernis Kulit / Lambung Jati Jati Merbau Geladak Jati Jati Jati Bangunan atas Jati Jati Jati
3 23 Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian besar kayu yang digunakan pada pembuatan kapal yaitu kayu jati. Pada kapal 1 dan kapal 2 keseluruhan kayu yang digunakan untuk semua bagian konstruksi adalah jenis kayu jati. Sementara itu, untuk kapal 3 jenis kayu yang digunakan berbeda-beda yaitu jati, merbau, dan pernis. Menurut pemilik galangan kapal, pemilihan jenis kayu dilakukan berdasarkan pesanan pemesan kapal dan juga biaya yang diberikan oleh pemilik kapal. Kayu yang digunakan pada pembuatan kapal diperoleh dari wilayah Indramayu dan Surabaya. Komponen biaya yang dikeluarkan pada pembuatan kapal kayu selain material utama kayu adalah material pendukung. Material pendukung adalah material yang digunakan dalam membantu proses pembangunan kapal kayu. Material pendukung ini meliputi paku, baut, gelam, cat, dempul, poxy, cruing dan cor untuk lunas. Di bawah ini disajikan rincian biaya kasko kapal dari ketiga pembuatan kapal kayu. Rincian biaya lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7. Tabel 3 Rincian biaya kasko kapal kayu No Keterangan Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 Material utama (Rp) Material pendukung (Rp) Total (Rp) Kapal 3 memiliki biaya kasko kapal terbesar yaitu Rp ,00 jika dibandingkan kapal 1 sebesar Rp ,00 dan kapal 2 sebesar Rp ,00. Hal ini terjadi karena ukuran kapal 3 lebih besar dari yang lain sehingga membutuhkan material dan biaya lebih besar. 2) Biaya tenaga kerja Biaya upah tenaga kerja yang dikeluarkan pada pembuatan kapal tergantung pada kesepakatan pemilik kapal dan pemilik galangan. Biaya tersebut sudah meliputi biaya makan minum dan biaya rokok. Sistem upah yang digunakan di galangan kapal kayu ini yaitu sistem borongan. Upah tenaga kerja yang diberikan tidak dibedakan berdasarkan ketrampilan pekerjanya melainkan diberikan sama setiap pekerjanya. Sistem pemberian upah tenaga kerja pembuatan kapal kayu dapat dilihat pada Tabel 4 di bawah ini.
4 24 Tabel 4 Sistem pemberian upah pada kapal kayu No Keterangan Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 Sistem pembayaran upah pekerja Borongan Borongan Borongan 2 Lama Pembangunan Kapal 1 bulan 2 bulan 4 bulan 3 Jumlah tenaga kerja 4 orang 5 orang 8 orang 4 Besar upah (Rp) ) Biaya pembelian mesin Komponen lain yang tidak kalah penting adalah mesin. Mesin yang digunakan dibagi menjadi dua yaitu mesin utama dan mesin bantu. Mesin utama dan mesin bantu diperoleh dari sekitar Kota Indramayu. Merk mesin yang digunakan pada kapal 1, kapal 2, dan kapal 3 berbeda-beda. Spesifikasi mesin yang digunakan pada ketiga kapal dapat dilihat pada Tabel 5 di bawah ini. Tabel 5 Spesifikasi mesin dan harga pembelian No Parameter Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 Tenaga mesin Mesin utama 7 HP 25 HP 16 HP Mesin bantu 24 HP 30 HP 2 Merk mesin Mesin utama Dongfeng Kubuta Mitsubishi Mesin bantu Dongfeng Dongfeng 3 Bahan bakar Solar Solar Solar 4 Harga mesin Berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa tenaga mesin yang digunakan kapal 2 dan kapal 3 hampir sama. Pada kapal 2 mesin utama dibeli dengan kondisi tidak baru lagi (second) dengan harga Rp ,00. Sementara itu, pada kapal 3 kondisi mesin bantu dibeli dengan kondisi tidak baru dengan harga Rp ,00. Menurut pemilik galangan kapal hal ini dikarenakan harga mesin untuk kondisi tidak baru harganya lebih murah jika dibandingkan dengan mesin yang baru yaitu setengah dari harga mesin baru, namun kondisi mesin ini tidak kalah dengan mesin yang baru. Mesin yang digunakan diperoleh dari daerah sekitar Indramayu dan Cirebon. Selanjutnya, komponen mesin ini tidak dicantumkan pada perhitungan biaya produksi kapal kayu. Hal ini dikarenakan pembelian mesin tersebut
5 25 disesuaikan dengan kemampuan pemilik kapal apakah akan menggunakan mesin baru atau bekas, sehingga pada penelitian ini hanya melihat biaya produksi pembuatan kapal kayu yang meliputi biaya kasko kapal dan tenaga kerja. Biaya produksi kapal merupakan penjumlahan total biaya-biaya yang digunakan dalam pembangunan satu unit kapal. Biaya tersebut meliputi biaya kasko kapal dan biaya tenaga kerja. Biaya total produksi juga merupakan biaya total yang dikeluarkan oleh pihak galangan pembuat kapal. Besar biaya produksi dijadikan pertimbangan bagi pihak galangan dalam menentukan berapa besar keuntungan yang ingin diperoleh dari penjualan satu unit kapal. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Karangsong Indramayu diperoleh total biaya produksi pembuatan kapal. Dibawah ini dapat kita lihat pada Tabel 6 rincian biaya produksi kapal kayu yang menjadi objek penelitian. Rincian biaya lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 7. Tabel 6 Biaya pembuatan satu unit kapal kayu No Komponen biaya Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 A Biaya Variabel 1 Biaya kasko kapal a. Material utama (Rp) b. Material pendukung (Rp) Biaya tenaga kerja (Rp) B Biaya Tetap 1 Biaya pemeliharaan alat (Rp) Biaya penyusutan (Rp) Listrik (Rp) Total biaya pembuatan kapal (Rp) Total biaya pembuatan kapal per CUNO (Rp) Berdasarkan Tabel 6 diketahui bahwa total biaya pembuatan masingmasing kapal kayu adalah kapal 1 sebesar Rp ,00 kapal 2 sebesar Rp ,00 dan kapal 3 sebesar Rp ,00. Biaya total pembuatan terkecil adalah pada kapal 1, sedangkan total biaya pembuatan terbesar adalah kapal 3. Hal ini terjadi karena komponen biaya material utama (kayu) pada kapal 1 lebih kecil dari dua kapal lainnya. Sementara itu, pada kapal 3, total biaya pembuatan paling besar karena ukuran kapal tersebut lebih besar sehingga biaya pembangunannya pun jauh lebih besar. Total biaya pembuatan kapal per CUNO
6 26 yang diperoleh ketiga kapal masing-masing yaitu kapal 1 sebesar Rp ,00 kapal 2 sebesar Rp ,00 dan kapal 3 sebesar Rp ,00. Biaya pembuatan kapal per CUNO pada kapal 2 lebih besar daripada kapal 3. Hal ini diduga terjadi karena efisensi penggunaan sumberdaya yang lebih besar dari kapal 2. Di bawah ini dapat dilihat pada Gambar 1 persentase total biaya tiap-tiap komponen yang terkait dalam pembuatan kapal kayu. Gambar 1 Persentase biaya pembuatan kapal kayu. Gambar 1 menunjukkan persentase komponen biaya pembuatan kapal kayu yang meliputi biaya material utama, material pendukung dan biaya tenaga kerja dan biaya tetap (biaya pemeliharaan, penyusutan dan listrik). Komponen biaya yang memiliki persentase terbesar dari ketiga diagram yang disajikan yaitu komponen biaya material utama yaitu masing-masing kapal 1 sebesar 60 %, kapal 2 sebesar 69 % dan kapal 3 sebesar 60 %. Hal ini didukung oleh pernyataan hasil penelitian dari Ayuningsari (2007) yang mengatakan bahwa biaya material utama (kayu) memiliki persentase 66 % dari total biaya produksi pembuatan kapal kayu. 5.2 Kapal Fiberglass Gambaran umum Kapal perikanan yang terdapat di wilayah Cilacap sebagian besar terbuat dari bahan fiberglass. Pemilihan bahan fiberglass sebagai bahan baku kapal disebabkan karena bahan baku yang tersedia mudah diperoleh. Proses pembuatan kapal fiberglass secara umum meliputi : 1) Pembuatan cetakan (mold);
7 27 2) Setelah mold selesai, kemudian di lepas; 3) Pelapisan mirror glaze bertujuan agar kapal yang dicetak mudah dilepaskan dari cetakan; 4) Pembuatan gelcoat. Gelcoat dibuat dari campuran resin, erosil dan pigmen; 5) Pembuatan badan perahu, dilakukan dengan teknis laminasi yaitu : (1) Pelapisan gelcoat (2) Pelapisan matt 300 (3) Pelapisan woven roving 800 6) Pembuatan tulang-tulang fiber untuk kekuatan pada lambung kapal; 7) Pembuatan ruangan-ruangan sesuai desain gambar; dan 8) Finishing body kapal serta pemasangan mesin. Proses pemesanan kapal tidak jauh berbeda dengan kapal kayu. Pada kapal fiberglass pemesanan dilakukan oleh pemesan kapal kepada pemilik galangan kapal CV. Sinar Fiberglass dengan melakukan transaksi dan perjanjian yang telah disepakati oleh kedua belah pihak. Selanjutnya, pemesan kapal menyerahkan perencanaan dan desain kapal yang akan di bangun sesuai keinginan pemesan kapal fiberglass tersebut. Proses penyerahan pun hampir sama dengan kapal kayu yaitu kapal yang telah dibangun diserahkan dalam bentuk kasko kapal yang telah dicat dan sudah dilengkapi mesin. Kapal fiberglass yang dibangun rencananya akan dioperasikan dalam kegiatan penangkapan dengan menggunakan jaring insang (gillnet). Dimensi utama ketiga kapal yang menjadi objek penelitian dapat dilihat pada Tabel 7 di bawah ini. Tabel 7 Dimensi utama kapal fiberglass No Ukuran Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 LOA (m) ,5 2 Lpp (m) B (m) 1,15 2,3 3,2 4 D (m) 0,8 1,2 1,2 5 d (m) 0,2 0,5 0,5 6 CUNO (Cubic Number) (m³) 9,2 30,36 51,84 7 GT 1,27 4,17 7,13
8 Produksi kapal fiberglass Komponen biaya yang dikeluarkan dalam membangun kapal fiberglass tidak beda dengan kapal kayu yaitu meliputi biaya kasko kapal, biaya tenaga kerja dan biaya pembelian mesin. Komponen biaya tersebut selengkapnya dijelaskan satu persatu di bawah ini. 1) Biaya kasko kapal Biaya kasko kapal fiberglass sama seperti pada kapal kayu yaitu meliputi biaya yang dikeluarkan untuk material utama dan material pendukung. Fiberglass reinforcement plastic atau yang biasa kita kenal dengan fiberglass merupakan bahan baku utama dalam pembuatan cetakan kapal fiberglass. fiberglass digunakan karena sifatnya yang lentur, awet serta mudah dalam perawatanya. Resin yang digunakan ketiga kapal fiberglass yang dibangun yaitu resin dengan jenis polyester orthophthalic yakni resin Yukalac 157. Serat yang digunakan sebagai penguat terdapat dua macam yaitu matt 300 dan woven roving 800. Material fiberglass yang digunakan pada pembuatan kapal yang diteliti dapat dilihat pada Tabel 8 di bawah ini. Tabel 8 Material fiberglass yang digunakan pada kapal fiberglass No Nama bahan Spesifikasi 1 Resin Yukalak Compond - 3 Mirror Glaze - 4 Katalis - 5 Kobalt - 6 Erosil - 7 Pigmen - 8 Talk - 9 Matt M Woven Roving WR800 Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa material fiberrglass ini merupakan bahan dasar dalam pembuatan kapal fiberglass, masing-masing material memiliki fungsi dan kegunaan yang berbeda. Pada pembuatan kapal fiberglass, material resin memiliki jumlah lebih besar dari material lainnya. Material pendukung dalam pembuatan kapal fiberglass digunakan untuk menguatkan, menyambung dan merapikan bagian-bagian konstruksi kapal. Material pendukung yang digunakan pada pembuatan kapal dapat dilihat pada
9 29 Tabel 9. Tabel 9 Material pendukung pada pembuatan kapal fiberglass No Nama bahan Spesifikasi 1 Paku Ukuran 5 Ukuran 7 2 Alat Pembersih Gayung Ember 3 Kuas 3 inc 4 Solasi Kertas - 5 Amplas Nomor 3 6 Obat Cor Busa - 7 Cor Beton - Berdasarkan Tabel 9 diketahui terdapat komponen cor beton. Cor beton ini digunakan pada pembuatan lunas kapal, dimana material yang digunakan adalah campuran pasir, semen, besi, begel, besmitel dan split. Material utama dan pendukung pada pembuatan ketiga kapal ini mudah diperoleh dari toko-toko sekitar Kota Cilacap. Biaya kasko kapal pada pembuatan ketiga kapal fiberglass disajikan pada Tabel 10 dibawah ini. Rincian biaya lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 8. Tabel 10 Biaya kasko kapal fiberglass No Keterangan Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 Material utama (Rp) Material pendukung (Rp) Total (Rp) Tabel 10 menunjukkan bahwa biaya kasko kapal pada pembuatan kapal fiberglass, biaya terbesar yaitu biaya material utama dan biaya terkecil yaitu biaya material pendukung. Kapal 3 memiliki biaya kasko kapal terbesar yaitu Rp ,00 jika dibandingkan kapal 1 sebesar Rp ,00 dan kapal 2 sebesar Rp ,00. 2) Biaya tenaga kerja Sistem upah yang diterapkan pada pembuatan kapal fiberglass di CV. Sinar Fiberglass Cilacap adalah sistem harian. Upah tenaga kerja diberikan per hari oleh pemilik galangan. Pembagian upah juga tidak dibedakan berdasarkan ketrampilan pekerjanya namun diberikan upah yang sama. Dibawah ini dapat
10 30 dilihat jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam menyelesaikan pembuatan kapal fiberglass di galangan kapal CV. Sinar Fiberglass Cilacap. Tabel 11 Sistem pemberian upah pada kapal fiberglass No Keterangan Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 Sistem pembayaran upah pekerja Harian Harian Harian 2 Lama Pembangunan Kapal 6 hari 25 hari 30 hari 3 Jumlah tenaga kerja 6 orang 10 orang 10 orang 4 Total upah (Rp) Berdasarkan Tabel 11 di atas diketahui bahwa tenaga kerja yang diperlukan dalam menyelesaikan kapal 2 dan kapal 3 jumlahnya sama yaitu 10 orang. Sedangkan untuk kapal 1 sendiri tenaga kerja yang diperlukan berjumlah 6 orang. Jumlah tenaga kerja kapal 2 dan kapal 3 lebih besar dikarenakan ukuran kapal yang dibangun jauh lebih besar dan lama waktu pengerjaan kapal lebih lama. 3) Biaya pembelian mesin Mesin yang digunakan pada ketiga kapal fiberglass yang diteliti seluruhnya menggunakan mesin utama dengan kondisi masih baru. Pembelian mesin pada pembangunan kapal fiberglass diperoleh dari daerah sekitar Kota Cilacap. Spesifikasi mesin yang akan digunakan pada ketiga kapal fiberglass dapat dilihat pada Tabel 12 di bawah ini. Tabel 12 Spesifikasi mesin dan harga pembelian No Keterangan Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 1 Tenaga mesin 15 HP 31 HP 31 HP 2 Merk mesin Yamaha Kubuta 3 Silinder Kubuta 3 Silinder 3 Bahan bakar Bensin Solar Solar 4 Harga beli Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa merk mesin yang digunakan pada ketiga kapal berbeda-beda. Pemilihan merk mesin ini sesuai dengan pesanan pemilik kapal. Sama halnya dengan kapal kayu biaya pembelian mesin ini tidak dicantumkan pada perhitungan biaya total produksi kapal dikarenakan dibatasi hanya pada kasko kapal. Total biaya produksi pembuatan kapal fiberglass memiliki komponen biaya yang sama dengan pembuatan kapal kayu yaitu meliputi biaya kasko kapal,
11 31 dan biaya tenaga kerja. Rincian total biaya produksi kapal fiberglass dapat kita lihat pada Tabel 13 di bawah ini. Rincian biaya lengkapnya lihat di Lampiran 8. Tabel 13 Biaya pembuatan satu unit kapal fiberglass No Komponen biaya Kapal 1 Kapal 2 Kapal 3 A Biaya Variabel 1 Biaya kasko kapal a. Material utama (Rp) b. Material pendukung (Rp) Biaya tenaga kerja (Rp) B Biaya Tetap 1 Biaya pemeliharaan alat (Rp) Biaya penyusutan (Rp) Listrik (Rp) Total biaya pembuatan kapal (Rp) Total biaya pembuatan kapal per CUNO (Rp) Berdasarkan Tabel 13 diketahui bahwa total biaya produksi masingmasing kapal fiberglass sebesar Rp ,00 untuk kapal 1, kapal 2 sebesar Rp ,00 dan kapal 3 sebesar Rp ,00. Total biaya produksi terkecil adalah kapal 1 sedangkan biaya total produksi terbesar adalah kapal 3. Hal ini terjadi karena pada kapal 1 biaya material yang dikeluarkan lebih sedikit. Sementara itu, pada kapal 3 biaya material yang dikeluarkan lebih besar, kemudian ukuran kapal 3 juga jauh lebih besar dibandingkan kedua kapal lainnya. Berdasarkan biaya per CUNO dari pembuatan ketiga kapal fiberglass masingmasing kapal yaitu kapal 1 sebesar Rp ,00 kapal 2 sebesar Rp ,00 dan kapal 3 sebesar Rp ,00. Biaya per CUNO kapal 2 lebih besar daripada kapal 3 diduga terjadi karena efisiensi penggunaan sumberdaya kapal 2 yang lebih besar. Komponen-komponen yang mempengaruhi besar kecilnya biaya produksi kapal fiberglass dapat dilihat pada ketiga gambar di bawah ini.
12 32 Gambar 2 Persentase biaya pembuatan kapal fiberglass. Gambar 2 menunjukan persentase komponen biaya pembuatan kapal fiberglass yang meliputi biaya material utama, material pendukung, biaya tenaga kerja dan biaya tetap (biaya penyusutan, pemeliharaan alat dan listrik). Komponen biaya pada pembuatan kapal fiberglass yang memiliki persentase terbesar dari ketiga diagram yang disajikan yaitu komponen biaya material utama yaitu masing-masing kapal 1 sebesar 53 %, kapal 2 sebesar 67 % dan kapal 3 sebesar 72 %. Pernyataan ini didukung oleh penelitian dari Nurcahyadi (2010) yang mengatakan bahwa material utama (fiberglass) memiliki persentase terbesar yaitu 78,44 % dari total biaya produksi pembuatan kapal fiberglass. Pembuatan kapal yang baik yaitu harus dilakukan dengan perencanaan yang matang, mulai dari desain kapal yang akan di bangun sampai dengan biaya yang dibutuhkan dalam pembuatan kapal itu sendiri. Salah satu fakor penting dalam pembangunan kapal adalah biaya. Biaya yang dikeluarkan dalam pembangunan kapal akan mempengaruhi ukuran kapal yang di bangun, bahan yang digunakan dalam pembuatan kapal, jenis mesin yang di gunakan sampai dengan lama waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan satu unit kapal. Secara umum, besar kecilnya biaya produksi dalam pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass sangat dipengaruhi pada ukuran kapal yang akan dibangun. Berdasarkan tiga sampel kapal kayu dan kapal fiberglass yang diambil, kapal kayu 2 memiliki ukuran kapal yang hampir sama dengan kapal fiberglass 3 pada pembuatan kapal fiberglass, dengan demikian biaya produksinya dapat dibandingkan. Kapal kayu 2 pada pembuatan kapal kayu menghabiskan biaya sebesar Rp ,00 dalam proses pembuatannya. Sementara itu, kapal
13 33 fiberglass 3 pada pembuatan kapal fiberglass biaya yang dihabiskan dalam proses pembuatannya yaitu sebesar Rp ,00. Melihat hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pada ukuran kapal yang hampir sama ternyata kapal fiberglass memiliki biaya produksi yang lebih murah jika dibandingkan kapal kayu. Hal ini terjadi karena harga material yang digunakan pada pembuatan kapal fiberglass lebih murah daripada kapal kayu. Tahapan selanjutnya adalah membandingkan biaya penyusutan, biaya perawatan kapal dan kelayakan usaha kedua jenis kapal tersebut. Sampel kapal yang digunakan pada perhitungan ini yaitu menggunakan sampel kapal kayu 2 dan kapal fiberglass 3 karena ukuran dimensi kedua jenis kapal ini memiliki ukuran yang hampir sama. 5.3 Biaya Penyusutan dan Perawatan Kapal Kayu dan Kapal Fiberglass Kapal perikanan berbahan dasar kayu dan berbahan fiberglass memiliki karakteristik yang berbeda. Salah satunya yaitu pada biaya perawatan dan umur teknis kapal. Berdasarkan hasil wawancara kepada pihak nelayan yang mengoperasikan kapal perikanan berbahan kayu dan fiberglass diketahui bahwa umur teknis kapal fiberglass lebih lama dibandingkan umur teknis kapal kayu. Di bawah ini dapat dilihat biaya penyusutan dan perawatan kapal kayu dan kapal fiberglass. Tabel 14 Biaya penyusutan dan perawatan kapal kayu dan kapal fiberglass No Keterangan Kapal kayu 2 Kapal fiberglass 3 1 Dimensi kapal (LOA, B, D) (14 m, 3,6 m, 1,5 m) (13,5 m, 3,2 m, 1,2 m) 2 Harga kapal (Rp) Umur teknis kapal (tahun) Biaya penyusutan kapal (Rp) Biaya perawatan kapal per tahun (Rp) Total biaya per tahun (Rp) Umur teknis merupakan umur asset yang berlaku hingga secara teknis asset yang dipakai tidak dapat dipergunakan lagi. Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa umur teknis kapal fiberglass yaitu 15 tahun, lebih lama jika dibandingkan dengan kapal kayu dengan umur teknis 10 tahun.
14 34 Biaya penyusutan merupakan biaya yang secara periodik harus dikeluarkan sebagai konsekuensi atas penurunan alat, mesin atau asset lainnya akibat pemakaian. Pengeluaran biaya penyusutan ini dimaksudkan untuk mengantisipasi berakhirnya umur pakai aset yang dibeli dan diganti dengan asset yang baru. Pada biaya operasional kapal, biaya penyusutan dari kapal kayu yaitu sebesar Rp ,00 dan kapal fiberglass yaitu sebesar Rp ,00. Perawatan kapal perikanan sangat penting dilakukan, hal ini bertujuan untuk menjaga kapal tersebut dalam kondisi baik sehingga dalam proses operasi penangkapan ikan di laut tidak terjadi hal berbahaya yang disebabkan oleh kondisi kapal. Berdasarkan hasil penelitian, biaya perawatan yang dikeluarkan kapal kayu dan kapal fiberglass dengan ukuran kapal yang hampir sama memiliki biaya yang berbeda. Biaya perawatan yang dikeluarkan kapal fiberglass dalam satu tahun yaitu sebesar Rp ,00 lebih rendah dibandingkan kapal kayu dengan biaya perawatan per tahun yaitu sebesar Rp ,00. Kapal kayu memiliki biaya perawatan yang lebih besar dibandingkan dengan kapal fiberglass. Hal ini terjadi karena material kayu memiliki sifat mudah lapuk sehingga ada salah satu bagian kapal yang perlu diganti dengan kayu baru. Lain halnya dengan kapal fiberglass yang tidak memiliki sambungan-sambungan, perawatan yang dilakukan sebatas membersihkan badan kapal sehingga biaya yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Biaya total penyusutan dan perawatan kedua jenis kapal ini masing-masing yaitu kapal kayu sebesar Rp ,00 dan kapal fiberglass yaitu sebesar Rp ,00. Berdasarkan uraian diatas diketahui bahwa total biaya penyusutan dan biaya perawatan kapal kayu lebih mahal jika dibandingkan dengan kapal fiberglass. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa dari segi biaya produksi dan biaya perawatan kapal fiberglass ternyata lebih murah jika dibandingkan dengan kapal kayu. Selanjutnya dari segi usaha pembuatan kapalnya dapat diketahui dari analisis ekonomi pembuatan masing-masing kapal tersebut. 5.4 Analisis Kelayakan Usaha Pembuatan Kapal Kayu dan Kapal Fiberglass Analisis yang digunakan dalam mengevaluasi aspek ekonomi pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass yaitu dengan menganalisis usaha pembuatan
15 35 kapal kayu dan kapal fiberglass. Komponen ini meliputi biaya investasi, biaya operasional (biaya tetap dan biaya variabel) dan penerimaan pemilik galangan. Pada perhitungan usaha pembuatan kedua jenis kapal ini digunakan asumsi- asumsi sebagai berikut: 1) Umur usaha kedua jenis pembuatan kapal yaitu 10 tahun; 2) Pembuatan kapal dalam satu tahun memproduksi empat kapal; 3) Galangan kapal ini akan dikembangkan di satu lokasi; dan 4) Biaya dan informasi yang ada berdasarkan hasil wawancara terhadap pemilik galangan. Selanjutnya dijelaskan satu persatu penjelasan dari masing-masing komponen biaya investasi, biaya operasional dan penerimaan pemilik galangan di bawah ini. (1) Biaya investasi Biaya investasi dalam pembuatan kapal kayu meliputi biaya pembelian gergaji, palu, golok, kapak, mesin serut kayu, mesin bor, alat press, pahat, pandel dan mesin pemotong kayu. Pada kapal fiberglass, investasi yang dikeluarkan ada sedikit tambahan yaitu biaya pembuatan cetakan kapal. Uraian dari biaya investasi pembuatan kedua kapal ini dapat dilihat pada Tabel 15 di bawah ini. Tabel 15 Rincian biaya investasi pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass Kapal kayu Kapal fiberglass Uraian (Rp) Uraian (Rp) Lokasi galangan Lokasi galangan Gergaji kecil Cetakan perahu Gergaji besar Mesin bor Palu besar Mesin gerinda Palu kecil Gergaji Golok Palu kecil Kapak Palu besar Mesin serut kayu Alat press Mesin bor Bedok Alat press Serut kayu Pahat Pandel/Rimbas Mesin pemotong kayu Total Total Berdasarkan Tabel 15 diketahui bahwa total biaya investasi kapal kayu yaitu sebesar Rp ,00 jumlah ini lebih kecil jika dibandingkan total investasi kapal fiberglass yaitu sebesar Rp ,00.
16 36 (2) Biaya operasional Biaya operasional terdiri atas biaya variabel dan biaya tetap. Biaya variabel dalam pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass ini meliputi biaya material utama, biaya material pendukung, dan upah tenaga kerja. Selanjutnya untuk biaya tetap meliputi biaya listrik, penyusutan peralatan, dan pemeliharaan peralatan. Uraian dari biaya operasional pembuatan kedua jenis kapal dapat dilihat pada Tabel 16 di bawah ini. Tabel 16 Biaya operasional pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass Uraian Kapal kayu Kapal fiberglass 1. Biaya variabel a. Biaya material utama b. Biaya material pendukung c. Upah tenaga kerja Biaya tetap a. Listrik b. Pemeliharaan peralatan c. Penyusutan peralatan Total Berdasarkan Tabel 16 diketahui bahwa biaya variabel kapal kayu lebih besar dibandingkan kapal fiberglass. Pada biaya tetap kapal kayu biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan listrik lebih besar dikarenakan penggunaan listrik pada pembuatan kapal kayu lebih banyak. Sementara pada biaya penyusutan peralatan, kapal fiberglass memiliki biaya yang lebih besar daripada kapal kayu. Hal ini terjadi karena pada pembuatan kapal fiberglass membutuhkan komponen cetakan kapal yang memiliki biaya yang paling besar. (3) Penerimaan Penerimaan yang diperoleh dari usaha pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass diperoleh dari hasil penjualan kapal yang telah diproduksi. Pada produksi kapal kayu, galangan kapal dalam setahun dapat menjual kapal sebanyak 4 unit. Sama seperti galangan kapal fiberglass, dalam setahun dapat memproduksi dan menjual kapal sebanyak 4 unit. Kapal kayu dan kapal fiberglass ini di jual dengan harga per unitnya yaitu sebesar Rp ,00 sedangkan untuk kapal fiberglass di jual dengan harga per unitnya yaitu sebesar Rp ,00. Keuntungan yang diambil dari penjualan kapal kayu per unitnya yaitu sebesar Rp ,00 dan kapal fiberglass sebesar Rp ,00 atau sekitar 10 %
17 37 dari total biaya pembuatannya. Total penerimaan yang diperoleh dari penjualan kapal kayu dalam setahun sebesar Rp ,00 sedangkan untuk kapal fiberglass dalam setahun mendapatkan penerimaan sebesar Rp ,00. (4) Analisis usaha Parameter yang digunakan dalam mengetahui kelayakan usaha pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass yaitu dengan mencari nilai keuntungan, R/C, profitabilitas, NPV, IRR, PP dan net B/C. Nilai dari masing-masing parameter tersebut disajikan pada Tabel 17 di bawah ini. Rincian nilai lengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 9,10,11 dan 12. Tabel 17 Hasil analisis usaha pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass Parameter Kapal kayu Kapal fiberglass Keuntungan (tahun) , ,00 R/C (tahun) 1,11 1,14 PP 1,24 1,84 NPV , ,15 IRR 81 % 57 % Net B/C 4,57 3,12 Berdasarkan Tabel 17 dapat dilihat bahwa dari semua parameter yang terdapat pada usaha pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass yaitu nilai keuntungan, R/C, NPV, IRR, dan net B/C terlihat bahwa usaha pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass layak untuk dikembangkan. Berikut di bawah ini dapat dilihat penjelasan dari masing-masing parameter yang tersebut. Keuntungan merupakan penerimaan pemilik galangan yang diperoleh dari selisih antara total pemasukan yang diterima dengan total pengeluaran yang dikeluarkan. Pada kapal kayu diperoleh keuntungan per tahunnya sebesar Rp ,00 sedangkan pada kapal fiberglass keuntungan yang diperoleh sebesar Rp ,00. Hal ini artinya bahwa usaha pembuatan kapal kayu memiliki nilai keuntungan yang lebih besar dibandingkan usaha pembuatan kapal fiberglass per tahunnya. Revenue cost ratio merupakan perbandingan antara total penerimaan dan total biaya. Nilai R/C lebih besar dari satu dapat diartikan bahwa total penerimaan yang diperoleh lebih besar dari total pengeluaran, sehingga menghasilkan keuntungan. Nilai R/C yang diperoleh pada usaha kapal kayu yaitu 1,11 dan usaha
18 38 kapal fiberglass yaitu 1,14. Berdasarkan nilai R/C tersebut dapat diketahui bahwa setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan pada pembuatan kapal fiberglass akan menghasilkan penerimaan sebesar Rp1,14,00. Nilai ini lebih besar apabila dibandingkan dengan penerimaan pada pembuatan kapal kayu yaitu sebesar Rp1,11,00. Payback Period (PP) merupakan waktu yang diperlukan untuk menutup kembali pengeluaran biaya investasi dengan menggunakan aliran kas dalam satu bulan atau tahun. Pada kapal kayu diperoleh PP sebesar 1,24 sedangkan pada kapal fiberglass diperoleh nilai PP sebesar 1,84. Hal ini berarti bahwa pada usaha pembuatan kapal kayu dapat mengembalikan modal yang diinvestasikan dalam jangka waktu satu tahun dua bulan 26 hari, sedangkan pada kapal fiberglass dalam jangka waktu satu tahun 10 bulan dua hari modal yang diinvestasikan sudah dapat kembali. Dengan demikian, diketahui bahwa usaha pembuatan kapal kayu lebih cepat pengembalian modalnya dibandingkan usaha kapal fiberglass. Net Present Value (NPV) merupakan nilai sekarang yang akan diperoleh pada masa mendatang dan merupakan selisih antara nilai sekarang dari penerimaan dan nilai sekarang dari pengeluaran atau jumlah nilai sekarang dari mannfaat bersih selama umur bisnis. Nilai NPV yang diperoleh pada usaha pembuatan kapal kayu yaitu Rp ,89. Nilai ini diperoleh selama umur proyek 10 tahun. Sementara itu, nilai NPV yang diperoleh pada usaha pembuatan kapal fiberglass yaitu Rp ,15 dengan umur proyek selama 10 tahun. Kedua nilai NPV ini diperoleh dengan discount factor sebesar 12 %. Dengan demikian, selama umur usaha 10 tahun diketahui bahwa usaha pembuatan kapal kayu memiliki nilai keuntungan lebih besar dibandingkan usaha kapal fiberglass. Internal Rate of Return (IRR) merupakan metode yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengembalian bisnis terhadap investasi yang ditanamkan. Pada usaha pembuatan kapal kayu dihasilkan IRR sebesar 81 %, sedangkan pada usaha pembuatan kapal fiberglass IRR yang di peroleh yaitu sebesar 57 %. Nilai tersebut menyatakan bahwa usaha pembuatan kapal kayu memiliki tingkat keuntungan internal yang lebih besar atas investasi yang ditanamkan jika dibandingkan dengan usaha pembuatan kapal fiberglass. Nilai
19 39 IRR kedua usaha tersebut lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku yaitu 12 %, sehinga kedua usaha tersebut layak untuk dijalankan. Net B/C merupakan perbandingan manfaat bersih yang bernilai positif dengan manfaat bersih yang bernilai negatif. Nilai net B/C yang dihasilkan pada usaha pembuatan kapal kayu yaitu sebesar 4,57. Sementara itu, nilai net B/C yang diperoleh pada usaha kapal fiberglass yaitu sebesar 3,12. Hal ini dapat diketahui bahwa nilai net B/C pada usaha kapal kayu lebih besar dibandingkan pada usaha kapal fiberglass, dapat diartikan bahwa pada tingkat suku bunga 12 % per tahun, jika kedua usaha tersebut mengeluarkan biaya yang sama, benefit yang diperoleh usaha kapal kayu akan lebih besar. Berdasarkan uraian di atas diketahui bahwa usaha pembuatan kapal kayu dan kapal fiberglass layak untuk dikembangkan. Sementara itu, berdasarkan nilai ke enam parameter tersebut secara umum dapat diketahui bahwa usaha pembuatan kapal kayu lebih menguntungkan dibandingkan usaha pembuatan kapal fiberglass.
Lampiran 1 Tiga kapal kayu yang menjadi objek penelitian 1) Kapal 1. 2) Kapal 2. 3) Kapal 3
LAMPIRAN 44 45 Lampiran 1 Tiga kapal kayu yang menjadi objek penelitian 1) Kapal 1 2) Kapal 2 3) Kapal 3 46 Lampiran 2 Tiga kapal fiberglass yang menjadi objek penelitian 1) Kapal 1 2) Kapal 2 3) Kapal
6. PEMBAHASAN 6.1 Metode pembuatan perahu FRP
6. PEMBAHASAN 6.1 Metode pembuatan perahu FRP Fiberglass Reinforcement Plastic (FRP) merupakan bahan dasar yang digunakan dalam pembuatan perahu cadik yang dilakukan di Cisolok Sukabumi. FRP digunakan
3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian 3.2 Peralatan Penelitian 3.3 Metode Penelitian 3.4 Pengumpulan Data
13 3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Pengambilan data lapang penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2011. Tempat penelitian berada di dua lokasi yaitu untuk kapal fiberglass di galangan
4. HASIL PENELITIAN 4.1 Teknologi Pembuatan Perahu Cadik Fiberglass Reinforcement Plastic (FRP) Metode pembuatan perahu dan tahapan kerja
4. HASIL PENELITIAN 4.1 Teknologi Pembuatan Perahu Cadik Fiberglass Reinforcement Plastic (FRP) 4.1.1 Metode pembuatan perahu dan tahapan kerja Berdasarkan hasil penelitian di lapang, metode pembangunan
Lampiran 2 Hasil kegiatan pembuatan mold/cetakan perahu
76 Lampiran 1 Gambar bahan Fiberglass Resin 157, erosil, katalis, mirror glaze, pigmen dan talk Roving Mat 77 Lampiran 2 Hasil kegiatan pembuatan mold/cetakan perahu No. Tanggal Kegiatan Jumlah Pekerja
ANALISIS PRODUKSI KAPAL PERIKANAN BERBAHAN DASAR KAYU DAN FIBERGLASS KHAERUL ANWAR
ANALISIS PRODUKSI KAPAL PERIKANAN BERBAHAN DASAR KAYU DAN FIBERGLASS KHAERUL ANWAR PROGRAM STUDI TEKNOLOGI DAN MANAJEMEN PERIKANAN TANGKAP DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN
VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL
VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Analisis kelayakan finansial dilakukan untuk mengetahui kelayakan pembesaran ikan lele sangkuriang kolam terpal. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam aspek finansial
3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengambilan Responden 3.5 Metode Pengumpulan Data
19 3 METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian di lapangan dilakukan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu, Sukabumi Jawa Barat. Pengambilan data di lapangan dilakukan selama 1 bulan,
STUDI MODERNISASI INDUSTRI KAPAL RAKYAT DI JAWA TIMUR
STUDI MODERNISASI INDUSTRI KAPAL RAKYAT DI JAWA TIMUR Disusun Oleh: Sa adatul Munawaroh NRP: 4109100701 Dosen pembimbing: Sri Rejeki Wahyu Pribadi,ST.MT Ir. Soejitno Jurusan teknik perkapalan Fakultas
MATERI 7 ASPEK EKONOMI FINANSIAL
MATERI 7 ASPEK EKONOMI FINANSIAL Analisis kelayakan finansial adalah alat yang digunakan untuk mengkaji kemungkinan keuntungan yang diperoleh dari suatu penanaman modal. Tujuan dilakukan analisis kelayakan
VIII. ANALISIS FINANSIAL
VIII. ANALISIS FINANSIAL Analisis aspek finansial bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan.
METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Alat dan Bahan 3.3 Metode Penelitian 3.4 Metode Pengumpulan Data
3 METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni 2012. Tempat penelitian dan pengambilan data dilakukan di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Blanakan, Kabupaten Subang. 3.2 Alat
4 KEADAAN UMUM GALANGAN
28 4 KEADAAN UMUM GALANGAN Galangan kapal Koperasi Pegawai Negeri Dinas Perikanan (KPNDP) terletak di Jalan Mandala Bahari No.1 Muara Angke, Jakarta Utara. Galangan kapal KPNDP berada satu wilayah komplek
BAB IV METODE PENELITIAN. dan data yang diperoleh. Penelitian ini disusun sebagai penelitian induktif yaitu
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Jenis/Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif karena dalam pelaksanaannya meliputi data, analisis dan interpretasi tentang arti
VII. RENCANA KEUANGAN
VII. RENCANA KEUANGAN Rencana keuangan bertujuan untuk menentukan rencana investasi melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan antara pengeluaran dan pendapatan. Untuk melakukan
BAB I PENDAHULUAN. baik agar penambangan yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian baik. dari segi materi maupun waktu. Maka dari itu, dengan adanya
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Industri pertambangan membutuhkan suatu perencanaan yang baik agar penambangan yang dilakukan tidak menimbulkan kerugian baik dari segi materi maupun waktu. Maka dari
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
. HASIL DAN PEMBAHASAN yang dijadikan sampel dan diukur pada penelitian ini berjumlah 22 unit yang mempunyai wilayah pengoperasian lokal, yaitu di daerah yang tidak jauh dari teluk Palabuhanratu. Konstruksi
5.3 Keragaan Ekonomi Usaha Penangkapan Udang Net Present Value (NPV)
5.3 Keragaan Ekonomi Usaha Penangkapan Udang 5.3.1 Net Present Value (NPV) Usaha penangkapan udang, yang dilakukan oleh nelayan pesisir Delta Mahakam dan sekitarnya yang diproyeksikan dalam lima tahun
BAB 5 ANALISA KEUANGAN
BAB 5 ANALISA KEUANGAN 5.1 Ekuitas (Equity) Tiga elemen penting dari bisnis adalah aset, hutang, dan ekuitas yang dimiliki oleh perusahaan. Menurut Weygandt, Kimmel, dan Kieso (2011:12), terdapat hubungan
VIII. ANALISIS FINANSIAL
VIII. ANALISIS FINANSIAL Analisis finansial bertujuan untuk menghitung jumlah dana yang diperlukan dalam perencanaan suatu industri melalui perhitungan biaya dan manfaat yang diharapkan dengan membandingkan
TEKNO EKONOMI KAPAL GILLNET DI KALIBARU DAN MUARA ANGKE JAKARTA UTARA LUSI ALMIRA KALYANA
TEKNO EKONOMI KAPAL GILLNET DI KALIBARU DAN MUARA ANGKE JAKARTA UTARA LUSI ALMIRA KALYANA DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008
Analisis usaha alat tangkap gillnet di pandan Kabupaten Tapanuli 28. Tengah Sumatera Utara
Analisis usaha alat tangkap gillnet di pandan Kabupaten Tapanuli 28 Jurnal perikanan dan kelautan 17,2 (2012): 28-35 ANALISIS USAHA ALAT TANGKAP GILLNET di PANDAN KABUPATEN TAPANULI TENGAH SUMATERA UTARA
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pada akhirnya setelah penulis melakukan penelitian langsung ke perusahaan serta melakukan perhitungan untuk masing-masing rumus dan mencari serta mengumpulkan
ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL
VII ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan ikan lele phyton, serta untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan pada
6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI
6 ANALISIS KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN SURIMI 6.1 Pendahuluan Industri surimi merupakan suatu industri pengolahan yang memiliki peluang besar untuk dibangun dan dikembangkan. Hal ini didukung oleh adanya
ANALISIS FINANSIAL UNIT PENANGKAPAN JARING INSANG HANYUT DI DESA SUNGAI LUMPUR KABUPATEN OKI PROVINSI SUMATERA SELATAN
MASPARI JOURNAL Januari 2015, 7(1): 29-34 ANALISIS FINANSIAL UNIT PENANGKAPAN JARING INSANG HANYUT DI DESA SUNGAI LUMPUR KABUPATEN OKI PROVINSI SUMATERA SELATAN FINANSIAL ANALYSIS OF DRIFT GILL NET IN
KAPAL JURNAL ILMU PENGETAHUAN & TEKNOLOGI KELAUTAN
1829-8370 (p) 2301-9069 (e) http://ejournal.undip.ac.id/index.php/kapal KAPAL JURNAL ILMU PENGETAHUAN & TEKNOLOGI KELAUTAN Fabrikasi Kapal Fiberglass Sebagai Bahan Alternatif Pengganti Kapal Kayu Untuk
KERANGKA PEMIKIRAN. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Konseptual Pada bagian ini akan dijelaskan tentang konsep dan teori yang berhubungan dengan penelitian studi kelayakan usaha pupuk kompos pada Kelompok Tani
BAHAN DAN METODE. Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tulang
BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2016 di Laboratorium Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan. Bahan
IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengolahan dan Analisis Data
IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Restoran Pastel and Pizza Rijsttafel yang terletak di Jalan Binamarga I/1 Bogor. Pemilihan tempat penelitian ini dilakukan
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. berfokus pada bidang penggemukan sapi.sapi yang digemukkan mulai dari yang
V. HASIL DAN PEMBAHASAN Usaha peternakan sapi di CV. Anugrah farm merupakan peternakan yang berfokus pada bidang penggemukan sapi.sapi yang digemukkan mulai dari yang berbobot 200 kg sampai dengan 300
III. METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Usaha warnet sebetulnya tidak terlalu sulit untuk didirikan dan dikelola. Cukup membeli beberapa buah komputer kemudian menginstalnya dengan software,
WISATA PANCING (Design and Construction of Fiberglass Catamaran Boat for Fishing Tours)
BULETIN PSP ISSN: 0251-286X Volume 21 No. 1 Edisi April 2013 Hal 119-136 DESAIN DAN KONSTRUKSI PERAHU KATAMARAN FIBERGLASS UNTUK WISATA PANCING (Design and Construction of Fiberglass Catamaran Boat for
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah penulis uraikan dalam bab sebelumnya, maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Sampai
VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL
VII. ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL Pada penelitian ini dilakukan analisis kelayakan finansial untuk mengetahui kelayakan pengusahaan ikan lele, serta untuk mengetahui apakah usaha yang dilakukan pada kelompok
VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL
VII ANALISIS ASPEK FINANSIAL Menganalisis kelayakan suatu proyek atau usaha dari segi keuangan dapat mengunakan. Analisis finansial. Adapun kriteria kriteria penilaian investasi yang dapat digunakan yaitu
Gambar 6 Peta lokasi penelitian.
3 METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan dimulai dengan penyusunan proposal dan penelusuran literatur mengenai objek penelitian cantrang di Pulau Jawa dari
Aspek Ekonomi dan Keuangan. Pertemuan 11
Aspek Ekonomi dan Keuangan Pertemuan 11 Aspek Ekonomi dan Keuangan Aspek ekonomi dan keuangan membahas tentang kebutuhan modal dan investasi yang diperlukan dalam pendirian dan pengembangan usaha yang
VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL
VII. PEMBAHASAN ASPEK FINANSIAL 7.1. Proyeksi Arus Kas (Cashflow) Proyeksi arus kas merupakan laporan aliran kas yang memperlihatkan gambaran penerimaan (inflow) dan pengeluaran kas (outflow). Dalam penelitian
VII. ANALISIS ASPEK FINANSIAL
VII. ANALISIS ASPEK FINANSIAL Analisis aspek finansial digunakan untuk menganalisis kelayakan suatu proyek atau usaha dari segi keuangan. Analisis aspek finansial dapat memberikan perhitungan secara kuantatif
IV. DESKRIPSI USAHA PENGOLAHAN TEPUNG UBI JALAR
IV. DESKRIPSI USAHA PENGOLAHAN TEPUNG UBI JALAR 4.1 Gambaran Umum Kelompok Tani Hurip Kelompok Tani Hurip terletak di Desa Cikarawang Kecamatan Darmaga. Desa Cikarawang adalah salah satu Desa di Kecamatan
ANALISIS FINANSIAL USAHA DOCKING KAPAL PURSE SEINE DI CV PUTRA BAROKAH KABUPATEN PATI
ANALISIS FINANSIAL USAHA DOCKING KAPAL PURSE SEINE DI CV PUTRA BAROKAH KABUPATEN PATI Business Financial Analysis Purse Seine Boat Docking at CV Putra Barokah Pati Regency Bagus Mukti Wibowo, Herry Boesono
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di perusahaan peternakan sapi perah di CV. Cisarua Integrated Farming, yang berlokasi di Kampung Barusireum, Desa Cibeureum, Kecamatan
III KERANGKA PEMIKIRAN
III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1.Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Menurut Husnan dan Suwarsono (2000), proyek pada dasarnya merupakan kegiatan yang menyangkut pengeluaran modal (capital
III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Kadariah (2001), tujuan dari analisis proyek adalah :
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Analisis Kelayakan Investasi Pengertian Proyek pertanian menurut Gittinger (1986) adalah kegiatan usaha yang rumit karena penggunaan sumberdaya
usaha dari segi keuntungan. Analisis finansial dilakukan dengan menggunakan
34 Roda Mandala Asia Makmur Trass 2.5 35 Rumpin Satria Bangun Trass 1.3 36 Sirtu Pratama Usaha Andesit 1.8 37 Sumber Alfa Prolindo Pasir 4 38 Tarabatuh Manunggal Andesit 16 39 Wiguna Karya II Trass 2.5
BAB V SIMPULAN DAN SARAN. penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut:
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan permasalahan serta maksud dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, maka penulis dapat menarik simpulan sebagai berikut: 1. Estimasi incremental
METODE PENELITIAN. menganalisis data yang berhubungan dengan penelitian atau mencakup. yang berhubungan dengan tujuan penelitian.
III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti, serta penting untuk memperoleh
EVALUASI USAHA PERIKANAN TANGKAP DI PROVINSI RIAU. Oleh. T Ersti Yulika Sari ABSTRAK
EVALUASI USAHA PERIKANAN TANGKAP DI PROVINSI RIAU Oleh T Ersti Yulika Sari Email: [email protected] ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui usaha perikanan tangkap yang layak untuk
3 METODE PENELITIAN. # Lokasi Penelitian
35 3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Timur, khususnya di PPP Labuhan. Penelitian ini difokuskan pada PPP Labuhan karena pelabuhan perikanan tersebut
IV. METODE PENELITIAN
IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Pemilihan lokasi secara sengaja (purposive) berdasarkan pertimbangan bahwa
BAB III METODE PENELITIAN. Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu Propinsi Sumatera Utara. Pemilihan lokasi
23 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di industri pembuatan tempe UD. Tigo Putro di Rantauprapat Kabupaten Labuhanbatu Propinsi Sumatera Utara. Pemilihan
PEMBUATAN PETI/PALKA BERINSULASI
PEMBUATAN PETI/PALKA BERINSULASI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN INSTALASI PENELITIAN DAN PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN JAKARTA 1997 / 1998 KATA PENGANTAR Upaya para nelayan dalam mempertahankan
ABSTRAK. Kata Kunci: Capital Budgeting, Payback Period, Net Present Value, dan Internal Rate of Return. Universitas Kristen Maranatha
ABSTRAK PT. Citra Jaya Putra Utama merupakan salah satu perusahaan jasa yang bergerak di bidang distribusi farmasi. Perusahaan saat ini ingin melakukan investasi modal dalam bentuk cabang baru di Surabaya
Analisis Perbandingan Perhitungan Teknis Dan Ekonomis Kapal Kayu Pelayaran Rakyat Menggunakan Regulasi BKI Dan Tradisional
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2014) ISSN: 2337 3539 (2301 9271 Print) 1 Analisis Perbandingan Perhitungan Teknis Dan Ekonomis Kapal Kayu Pelayaran Rakyat Menggunakan Regulasi BKI Dan Tradisional
BAHAN DAN METODE. Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, mulai pada bulan
BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilakukan di Laboratorium Keteknikan Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, mulai pada bulan September- Oktober
STUDI KELAYAKAN BISNIS PADA USAHA RUMAH MAKAN AYAM BAKAR TERASSAMBEL
STUDI KELAYAKAN BISNIS PADA USAHA RUMAH MAKAN AYAM BAKAR TERASSAMBEL Nama : Marlina Fitri Annisa Npm : 15213303 Kelas : 4EA33 Fakultas : Ekonomi Jurusan : Manajemen Pembimbing : Christera Kuswahyu Indira,
LAMINASI FIBERGLASS SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK MELINDUNGI KONSTRUKSI LAMBUNG KAPAL KAYU
LAMINASI FIBERGLASS SEBAGAI ALTERNATIF UNTUK MELINDUNGI KONSTRUKSI LAMBUNG KAPAL KAYU Oleh : Jozua CH. Huwae dan Heru Santoso Politeknik Kelautan dan Perikanan Bitung Jl. Tandurusa Kotak Pos. 12 BTG/Bitung
VII. ANALISIS FINANSIAL
VII. ANALISIS FINANSIAL Usaha peternakan Agus Suhendar adalah usaha dalam bidang agribisnis ayam broiler yang menggunakan modal sendiri dalam menjalankan usahanya. Skala usaha peternakan Agus Suhendar
JURNAL TEKNIK PERKAPALAN Jurnal Hasil Karya Ilmiah Lulusan S1 Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro
http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/naval JURNAL TEKNIK PERKAPALAN Jurnal Hasil Karya Ilmiah Lulusan S1 Teknik Perkapalan Universitas Diponegoro ISSN 2338-0322 Analisa Perbandingan Ekonomis PVC Baruna
IV. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian
IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Maju Bersama, Desa Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian
BAB I PENDAHULUAN. Kondisi suatu pasar yang dapat menjanjikan tingkat profitabilitas yang cukup
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kondisi suatu pasar yang dapat menjanjikan tingkat profitabilitas yang cukup menarik dan menguntungkan tentu saja akan mendorong para pengusaha untuk masuk
III. KERANGKA PEMIKIRAN
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis mengemukakan teori-teori terkait penelitian. Teori-teori tersebut antara lain pengertian proyek, keterkaitan proyek dengan
Metode Penilaian Investasi Pada Aset Riil. Manajemen Investasi
Metode Penilaian Investasi Pada Aset Riil Manajemen Investasi Pendahuluan Dalam menentukan usulan proyek investasi mana yang akan diterima atau ditolak Maka usulan proyek investasi tersebut harus dinilai
2 TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kapal Perikanan
2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kapal Perikanan Kapal perikanan merupakan kapal yang digunakan untuk aktivitas penangkapan ikan di laut (Iskandar dan Pujiati, 1995). Kapal perikanan adalah kapal yang digunakan
5 HASIL DAN PEMBAHASAN
36 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Analisis Teknik Unit penangkapan pancing rumpon merupakan unit penangkapan ikan yang sedang berkembang pesat di PPN Palabuhanratu. Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang
III. KERANGKA PEMIKIRAN
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek adalah kegiatan-kegiatan yang dapat direncanakan dan dilaksanakan dalam suatu bentuk kesatuan dengan mempergunakan
BAB III METODE PENELITIAN
BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Rumah Makan Sudi Mampir di Kecamatan Bone Pantai Kabupaten Bone Bolango. Waktu penelitian adalah bulan April sampai
Studi Teknis Ekonomis Pengaruh Variasi Sambungan Terhadap Kekuatan Konstruksi Lunas, Gading dan Balok Geladak Berbahan Bambu Laminasi
Studi Teknis Ekonomis Pengaruh Variasi Sambungan Terhadap Kekuatan Konstruksi Lunas, Gading dan Balok Geladak Berbahan Bambu Laminasi Febry Firghani Oemry - 4108100079 Dosen Pembimbing: Ir. Heri Supomo,
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Sumber Data Jenis data yang digunakan menggunakan jenis data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dari sumber data secara langsung.
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA
BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Pada bab ini dijelaskan mengenai pengumpulan dan pengolahan data untuk menganalisa kelayakan investasi yang dilakukan oleh CV. Utama Karya Mandiri. Data ini digunakan
KONSEP DAN METODE PENILAIAN INVESTASI
KONSEP DAN METODE PENILAIAN INVESTASI 4.1. KONSEP INVESTASI Penganggaran modal adalah merupakan keputusan investasi jangka panjang, yang pada umumnya menyangkut pengeluaran yang besar yang akan memberikan
METODE PERBANDINGAN EKONOMI. Pusat Pengembangan Pendidikan - Universitas Gadjah Mada
METODE PERBANDINGAN EKONOMI METODE BIAYA TAHUNAN EKIVALEN Untuk tujuan perbandingan, digunakan perubahan nilai menjadi biaya tahunan seragam ekivalen. Perhitungan secara pendekatan : Perlu diperhitungkan
III. METODE PENELITIAN. Tanaman kehutanan adalah tanaman yang tumbuh di hutan yang berumur
47 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional mencakup pengertian yang digunakan untuk mendapatkan dan menganalisis data sesuai dengan tujuan
BAB III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kabupaten Lampung Barat pada bulan Januari
47 BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan waktu penelitian Penelitian dilaksanakan di Wilayah Kabupaten Lampung Barat pada bulan Januari sampai dengan Februari 2011. 3.2 Bahan dan alat Bahan yang di
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
32 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Proses penelitian ini dilakukan selama periode Agustus Desember 2012 dan bertempat di PT Panarub Industry. 3.2 Materi Penelitian Subyek
III. METODE PENELITIAN. tentang istilah-istilah dalam penelitian ini, maka dibuat definisi operasional
III. METODE PENELITIAN A. Definisi Operasional Untuk memperjelas dan menghindari kesalahpamaham mengenai pengertian tentang istilah-istilah dalam penelitian ini, maka dibuat definisi operasional sebagai
METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu 4.2. Jenis dan Sumber Data 4.3. Metode Pengumpulan Data
IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan di Usaha Mi Ayam Bapak Sukimin yang terletak di Ciheuleut, Kelurahan Tegal Lega, Kota Bogor. Lokasi penelitian diambil secara sengaja (purposive)
BAB I PENDAHULUAN. karena memerlukan dana dalam jumlah yang besar dan tertanam dalam jangka waktu
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam suatu perusahaan, selalu terdapat aktiva tetap untuk menjalankan operasinya. Aktiva tetap mempunyai kedudukan yang penting dalam perusahaan karena memerlukan
METODE PENELITIAN. ini yang dianalisis adalah biaya, benefit, serta kelayakan usahatani lada putih yang
III. METODE PENELITIAN A. Metode Dasar Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analisis, yang merupakan suatu metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan
III. METODOLOGI. 3.1 Kerangka Pemikiran. 3.2 Metode Penelitian
III. METODOLOGI 3.1 Kerangka Pemikiran Ketersediaan bahan baku ikan hasil tangkap sampingan yang melimpah merupakan potensi yang besar untuk dijadikan surimi. Akan tetapi, belum banyak industri di Indonesia
BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN
BAB IV PROSES PEMBUATAN DAN PENGUJIAN 4.1. Proses Pembuatan proses pembuatan adalah proses untuk mencapai suatu hasil. Proses pembuatan sand filter rotary machine dikerjakan dalam beberapa tahap, mulai
Teknik Analisis Biaya / Manfaat
Teknik Analisis Biaya / Manfaat Komponen Biaya Biaya Pengadaan (procurement cost) Biaya Persiapan Operasi (start-up cost) Biaya Proyek (project-related cost) Biaya Operasi (ongoing cost) dan Biaya Perawatan
III. METODOLOGI PENELITIAN
16 III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Usaha pengembangan kerupuk Ichtiar merupakan suatu usaha yang didirikan dengan tujuan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Melihat dari adanya peluang
III. METODE PENELITIAN
17 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Usaha Kecil Menengah (UKM) pengolahan pupuk kompos padat di Jatikuwung Innovation Center, Kecamatan Gondangrejo Kabupaten
STUDI KELAYAKAN BISNIS. Julian Adam Ridjal PS Agribisnis UNEJ
STUDI KELAYAKAN BISNIS Julian Adam Ridjal PS Agribisnis UNEJ http://adamjulian.web.unej.ac.id/ PENDAHULUAN Arti Studi Kelayakan Bisnis??? Peranan Studi Kelayakan Bisnis Studi Kelayakan Bisnis memerlukan
III. METODOLOGI PENELITIAN
III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian dilaksanankan selama 3 bulan, yaitu mulai bulan Juli - September 2010. Objek yang dijadikan sebagai lokasi penelitian adalah usaha
BAB I PENDAHULUAN. bersosialisasi. Dalam bersosialisasi, terdapat berbagai macam jenis hubungan yang
BAB I PENDAHULUAN Dalam bab pendahuluan, penulis akan menyampaikan beberapa hal yang berhubungan dengan proses pengerjaan penelitian ini. Antara lain berkenaan dengan latar belakang penelitian, identifikasi
4 KEADAAN UMUM GALANGAN
4 KEADAAN UMUM GALANGAN 4.1 Produktivitas Galangan Galangan kapal Koperasi Pegawai Negeri Dinas Perikanan (KPNDP) merupakan galangan kapal yang terletak di komplek Pangkalan Pendaratan Ikan Muara Angke
ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA AYAM GORENG SABANA CABANG PERUMAHAN ANGKASA PURI JATI ASIH - BEKASI
ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA AYAM GORENG SABANA CABANG PERUMAHAN ANGKASA PURI JATI ASIH - BEKASI Nama NPM : 12210810 Jurusan Pembimbing : Firman Rengga Adi Nugroho : Manajemen : Dessy Hutajulu, SE., MM
III. KERANGKA PEMIKIRAN
III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Studi Kelayakan Proyek Proyek adalah suatu keseluruhan aktivitas yang menggunakan sumber-sumber untuk mendapatkan kemanfaatan (benefit),
VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL
VII. ANALISIS KELAYAKAN ASPEK FINANSIAL Analisis finansial dilakukan untuk melihat sejauh mana Peternakan Maju Bersama dapat dikatakan layak dari aspek finansial. Untuk menilai layak atau tidak usaha tersebut
Analisis Kelayakan Finansial Usaha Penangkapan Ikan Dengan Jaring Insang (Gillnet) di Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil
Analisis Kelayakan Finansial Usaha Penangkapan Ikan Dengan Jaring Insang (Gillnet) di Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil The Analysis on The Financial Feasibility of Fishing and Catching Gillnet
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Data Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum Perusahaan Di negara Indonesia banyak berkembang usaha-usaha dalam industri mebel, dengan memanfaatkan bahan baku kayu hingga
LAMPIRAN Lampiran 1. Flow chart pelaksanaan penelitian
LAMPIRAN Lampiran 1. Flow chart pelaksanaan penelitian Mulai Observasi desain dan rancangan Alat Destilasi bioetanol pada literatur Penyusunan desain dan rancangan Alat Destilasi bioetanol Pemilihan bahan
DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1
ABSTRAK Seorang investor pemilik PT X menilai permintaan dan pangsa pasar di kota Bandung terlihat masih menjanjikan untuk bisnis Depot air Minum isi ulang AMIRA. Tetapi sebelum investor menanamkan modalnya
4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
26 4 KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Produktivitas Galangan Dok Pembinaan Unit Pelaksana Teknis Balai Teknologi Penangkapan Ikan (UPT BTPI) memiliki fungsi sebagai tempat membangun, merawat, dan memperbaiki
ANALISIS STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN USAHA KONVEKSI PADA CV. TATA SARANA MANDIRI. : Dedik Fahrudin NPM : Jenjang/Jurusan : S1/Manajemen
ANALISIS STUDI KELAYAKAN PENGEMBANGAN USAHA KONVEKSI PADA CV. TATA SARANA MANDIRI Nama : Dedik Fahrudin NPM : 11212796 Jenjang/Jurusan : S1/Manajemen LATAR BELAKANG Studi kelayakan terhadap suatu usaha
TEKNO-EKONOMI PEMBANGUNAN KAPAL KAYU GALANGAN KAPAL RAKYAT DI DESA GEBANG, CIREBON, JAWA BARAT
TEKNO-EKONOMI PEMBANGUNAN KAPAL KAYU GALANGAN KAPAL RAKYAT DI DESA GEBANG, CIREBON, JAWA BARAT Oleh : DEWI AYUNINGSARI C54103050 SKRIPSI DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN
