BAB II DESKRIPSI PROYEK
|
|
|
- Ridwan Rachman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB II DESKRIPSI PROYEK 2.1. Terminologi Judul Pengertian judul Medan Convention and Exhibition Center Medan adalah salah satu nama kota terbesar ke-3 di Indonesia yang merupakan ibukota provinsi Sumatera Utara yang berada di Pulau Sumatera. Pengertian Convention : o Pertemuan sekelompok orang yang secara bersama-sama bertukar pikiran, pengalaman dan informasi melalui pembicaraan terbuka, saling siap untuk mendengar dan didengar serta mempelajari, mendiskusikan kemudian menyimpulkan topik-topik yang dibahas dalam pertemuan dimaksud. Kelompok ini bisa terdiri dari 10 orang atau lebih. o Kongres, konferensi, atau konvensi merupakan suatu kegiatan berupa pertemuan sekelompok orang (negarawan,usahawan, cendekiawan, dan sebagainya) untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama. 1 Pengertian Exhibition o Merupakan salah satu cara atau media penyebaran informasi, perkenalan sekaligus pemasaran suatu produk, baik bentuk gagasan maupun barang. o Suatu kegiatan untuk menyebarluaskan informasi dan promosi yang ada hubungannya dengan penyelenggaraan konvensi atau yang ada kaitannya dengan pariwisata. 2 Pengertian Center : o Centre is place for a particular activity. 3 (Menempatkan untuk fasilitas tertentu). o Pusat, sentral, bagian yang paling penting dari sebuah kegiatan atau organisasi. o Tempat aktivitas utama, dari kepentingan khusus yang dikonsentrasikan. o Suatu tempat dimana sesuatu yang menarik aktifitas atau fungsi terkumpul atau terkonsentrasi. Berdasarkan pengertian diatas, maka Medan Convention and Exhibition Center adalah suatu bangunan atau atau kelompok bangunan yang merupakan pusat aktifitas bisnis, pusat kegiatan masyarakat kota, nasional maupun internasional, dimana dapat berupa suatu pertemuan, kongres, forum, pameran dan acara-acara public ceremony seperti perayaan hari besar agama, pernikahan, konser musik,dll. Dengan tujuan untuk melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat luas. Convention and Exhibition Center merupakan bangunan komersial dengan fungsi utama sebuah ruang serbaguna yang sifat pemakaiannya insidental, artinya kegiatan yang 1 Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi No. KM 108/HM.703/MPPT-91 2 Keputusan Menparpostel RI nomor KM.108/HM.703/MPPT-91, bab 1 pasal 1c 3 Oxford Learner s Pocket Dictionary, Oxford,
2 dapat diwadahi tidak secara rutin diselenggarakan. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan berbagai jenis kegiatan, seperti pameran, pertemuan-pertemuan berskala besar seperti konferensi dan pertemuan berskala kecil seperti seminar, workshop, dan rapat perusahaan sebagai fokus utama. Selain itu, bangunan ini dapat dipergunakan untuk resepsi pernikahan, acara wisuda, kegiatan pertunjukan seperti konser musik dan berbagai jenis kegiatan lainnya. Fungsi utama dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang bersifat komersial, seperti ruang pertemuan, retail-retail dan cafe yang berfungsi mendukung keseluruhan fasilitas agar dapat menghidupkan aktifitas ketika ruang serbaguna tidak disewakan. Kegiatan pameran yang akan ditampung adalah kegiatan public show yang memamerkan display yang menjadi objek utama dan biasanya para exhibitor berhak atau mengharapkan mendapatkan keuntungan dari penyelenggaraan kegiatan. Kegiatan pertemuan atau conference yang akan ditampung adalah kegiatan komunikasi dalam tingkat perorangan (personal level), yang memberikan kesempatan kepada individu untuk bertukar gagasan dan pandangan PENGGUNA BANGUNAN Pengguna bangunan dapat digolongkan sebagai berikut : 1. Pihak penyewa tempat Merupakan pihak-pihak yang menyewa tempat untuk menyelenggarakan suatu kegiatan, yaitu pelaksana dan peserta kegiatan. 2. Pengunjung Merupakan pihak-pihak yang menghadiri kegiatan, tanpa harus menyewa tempat, mereka adalah pengunjung pameran, peserta workshop atau seminar, atau acara-acara yang bersifat umum. Golongan ini pun termasuk pengunjung fasilitas-fasilitas komersial. 3. Pemakai fasilitas komersial Merupakan pihak-pihak yang menyewa fasilitas-fasilitas komersial untuk publik, seperti retail (jasa travel, jasa kurir, pengelola money changer, jasa sewa) dan pengelola cafe dan bar PROGRAM KEGIATAN Secara umum, bangunan ini dikelompokkan menjadi empat jenis kegiatan, antara lain : Kegiatan Administratif Kegiatan ini berkaitan dengan kebutuhan lingkup pelayanan penunjang yang cukup luas bagi penyelenggaraan kegiatan pameran dan pertemuan. Lingkup kegiatan administratif berkaitan dengan pengelolaan seluruh kegiatan dalam bangunan ini, juga sebagai pusat segala informasi bagi pengunjung. Waktu aktifitas terjadi pada saat jam kantor, yaitu pukul
3 2.3.2 Kegiatan Pameran dan Pertemuan Mengadakan berbagai jenis kegiatan pameran dan pertemuan yang merupakan inti kegiatan dari bangunan ini. Kegiatan yang dapat diakomodasi yaitu : Kegiatan pameran, antara lain : Pameran dagang, seperti furniture expo, pameran komputer, pameran buku, pameran otomotif. Pameran seni, seperti pameran lukisan, pameran foto. Pameran jasa, seperti pameran pendidikan, bursa tenaga kerja. Terdapat dua jenis kegiatan pameran, yaitu : Pameran terbatas Pameran yang khusus diperuntukkan peserta pertemuan dan diadakan pada saat istirahat dan pulang pertemuan. Pameran sepanjang hari. Pameran ini bisa berkaitan maupun tidak dengan pertemuan yang sedang dilaksanakan. Pengunjungnya tidak hanya terdiri dari peserta pertemuan, tetapi juga masyarakat umum. Durasi kegiatan pameran ini setiap harinya lebih lama, yaitu antara pukul Berbagai bentuk pertemuan yang dapat ditampung antara lain : Kongres yang merupakan kegiatan pertemuan berupa diskusi untuk menyelesaikan beberapa masalah. Kongres merupakan jenis kegiatan pertemuan besar yang bersifat formal untuk bertukar informasi, mencari pemecahan terhadap permasalahan yang diajukan. Ruangan harus mampu menampung peserta dalam jumlah yang besar apalagi ini bertaraf internasional. Untuk penyusunan kursinya, biasanya disusun seperti kursikursi teater. Konvensi yang berskala kecil hingga besar, tingkat nasional maupun internasional. Konvensi biasanya diakhiri dengan sebuah pameran, misalnya konvensi yang membahas produk kerajinan tangan nusantara atau daerah tujuan wisata di Indonesia. Koferensi yang berupa kegiatan pertemuan dimana pembicaraan yang terjadi secara timbal balik antara peserta dengan jumlah peserta yang banyak terutama yang berminat dengan permasalahan yang dikemukakan. Biasanya yang menjadi masalah dalam pembicaraan biasanya masalah organisasi, adanya informasi-informasi terbaru dan lain sebagainya. Biasanya meja diatur menurut pola lingkaran, setengah lingkaran, atau bahkan persegi. Kalau kegiatan koferensi menghabiskan waktu lebih dari satu hari, maka akan membutuhkan tempat yang relatif dekat dengan penginapan. Seminar, merupakan kegiatan tatap muka antara orang-orang yang telah memiliki pengalaman untuk melakukan diskusi dan membahas masalah serta membagi pengalaman antar peserta. 8
4 Workshop, merupakan kegiatan untuk membahas suatu masalah secara bersama-sama antar kelompok peserta dan melatih satu sama lain sehingga setiap peserta akan mendapat pengetahuan, keahlian, dan wawasan mengenai hal-hal yang baru. Misalnya workshop seni lukis, workshop desain, workshop fotografi, dan lain-lain. Simposium, merupakan kegiatan untuk diskusi untuk membahas suatu persoalan dari berbagai sudut pandang dengan melakukan interaksi tanya jawab dari seorang ahli dalam bidangnya dengan peserta yang terlibat. Diskusi ini kadangkala meminta pendapat dari seorang ahli terlebih dahulu sebelum dilempar kepada peserta, melalui diskusi ini akan didapat perbandingan pandangan paham serta titik-titik pokok dari suatu masalah. Misalnya simposium tentang kesehatan yang dihadiri oleh pakar kesehatan atau dokter-dokter se-indonesia. Forum, merupakan kegiatan diskusi yang menyanggah sebuah pendapat, dimana pesertanya dari bidang yang berlainan. Disini para peserta bebas untuk berpartisipasi, misalnya forum yang membahas tentang bahaya NAPZA, AIDS. Panel yang berupa tanya jawab oleh dua atau lebih kelompok peserta, misalnya panel yang dihadiri oleh himpunan mahasiswa se-kota Bandung. Kuliah umum, misalnya kuliah umum tentang profesi kerja bagi mahasiswa. Pada umumnya, kegiatan-kegiatan tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis pertemuan berdasarkan lama waktu pelaksanaannya (Lawson,1981), yaitu: Pertemuan setengah hari (pukul ) Pertemuan seharí penuh (pukul ) Pertemuan beberapa hari (setiap hari pada pukul ) Kegiatan ini umumnya disertai beberapa kali istirahat atau hanya satu kali istirahat pada waktu makan siang. Pada saat istirahat, peserta dapat berdiskusi dengan sesama peserta ataupun makan di ruang makan atau cafe. Waktu - waktu istirahat tersebut antara lain : Istirahat I pada pukul Istirahat II pada pukul Istirahat III pada pukul Di samping kegiatan pameran dan pertemuan, terdapat kegiatan lain yang dapat diselenggarakan dalam fasilitas ini yang biasanya diadakan pada hari libur atau pada malam hari di luar aktifitas pertemuan, antara lain : Resepsi pernikahan dengan berbagai konsep penyelenggaraan. Acara wisuda mahasiswa. Konser musik, dan lain-lain. 9
5 2.3.3 Kegiatan Komersial Kegiatan komersial berfungsi memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam hal jasa maupun hiburan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menunjang fungsi utama sekaligus membantu pembiayaan fasilitas ini, serta menghidupkan aktifitas apabila tidak ada penyewaan gedung serbaguna. Jadwal kegiatan komersial ini ada beberapa jenis, yaitu: Buka setengah hari, misalnya jasa travel dan sewa, seperti agen biro perjalanan, money changer, perusahaan sewa alat-alat pernikahan. Buka 12 jam, misalnya retail, cafe. Buka 24 jam, misalnya bussiness center Kegiatan Servis Kegiatan ini berkaitan dengan pengelolaan, perawatan dan pengamanan terhadap keseluruhan fasilitas. Kegiatan ini merupakan servis untuk segala kegiatan dengan jadwal kerja yang dapat disesuaikan dengan jenis kegiatan yang akan dilaksanakan, dapat berlangsung selama 24 jam. Untuk kegiatan keamanan berlangsung selama 24 jam. 2.4 Segmen Maarket 4 1. International Organization / Organisasi Internasional Merupakan kegiatan konvensi yang dihadiri oleh para peserta yang sebagian besar atau keseluruhannya merupakan anggota dari organisasi yang bernaung di bawah organsasi internasional, seperti : PBB (UNESCO, UNICEF, ILO), OPEC, dan lain-lain. 2. Association Convention / Rapat Asosiasi Pertemuan yang biasanya diselenggarakan oleh suatu asosiasi profesi baik tingkat nasional, regional, maupun internasional, seperti : - Pertemuan dari Ikatan Dokter Indonesia se-indonesia - Pertemuan dari Ikatan Ahli Penyakit Dalam se-asia Pasifik - Pertemuan dari Asosiasi LNG se-dunia 3. Incentive Programme Pertemuan yang diselenggarakan oleh suatu perusahaan besar. Para peserta adalah karyawan khusus atau dealer khusus dari perusahaan tersebut, yang bisa meningkatkan produktifitas perusahaan. 4. Company Event / Coorperate Pertemuan yang umumnya berupa rapat oleh anggota direksi, seminar bagi sales, pertemuan antar sales, atau rapat divisi. 5. Trade Fair / Exhibition / Pameran Pameran yang dapat diselenggarakan secara nasional seperti Jakarta Fair, regional seperti Asean Fair, dan yang bersifat Internasional seperti Osaka Fair, Hanoover Fair, dan Leipzig International Fair Dinas Pariwisata, Wisata Konvensi
6 2.5 KEBUTUHAN RUANG Fasilitas Administrasi Fasilitas ini berfungsi sebagai ruang kerja pengelola dan pusat informasi pengunjung, terdiri dari : 1. Grand lobby yang berfungsi sebagai pusat informasi, juga dapat dipergunakan untuk pameran temporer. 2. Kantor pengelola yang bersifat open layout dengan penggunaan dinding sekat sebagai pemisah ruang kerja dan dilengkapi dengan lobby sebagai ruang istirahat karyawan, juga sebagai ruang penerima tamu. 3. Ruang rapat. 4. Toilet dan pantry Fasilitas Pameran dan Pertemuan Fasilitas ini berfungsi sebagai ruang serba guna yaitu untuk pertemuan, pameran, resepsi pernikahan, dan pertunjukan. Ruangan dapat dibagi-bagi menjadi ruang-ruang lebih kecil untuk meningkatkan fleksibilitas. Material langit-langit dan dinding berdaya serap suara yang baik untuk menunjang akustik ruang. Ruang pertemuan memiliki dinding sekat yang bersifat fleksibel yang dapat disesuaikan dengan jenis dan kapasitas pertemuan yang diadakan. Ruang ini memiliki perlengkapan standar seperti meja, kursi, infokus, layar, papan tulis dan lain-lain yang disusun sesuai dengan kebutuhan. Fasilitas ini memerlukan ruang pendukung berupa : - Ruang penyelenggara acara / panitia - Pantry persiapan untuk mempersiapkan makanan - Gudang yang berfungsi untuk menyimpan meja, kursi, peralatan hall seperti lampu, signage, display item, audiovisual aid equipment, extra stand, dan lain-lain. - Ruang kontrol untuk mengontrol pencahayaan dan tata suara ruang - Ruang untuk menyimpan partisi - Panggung dan Ruang Persiapan (Green Area) - Ruang penyimpanan peralatan panggung - Ruang tunggu VIP - Ruang Pers Fasilitas Komersial Fasilitas ini disediakan untuk menjaga agar aktifitas dalam bangunan tetap berlangsung karena fasilitas pameran dan pertemuan hanya digunakan pada waktu waktu tertentu saja. Fasilitas ini direncanakan tidak hanya melayani kebutuhan intern bangunan saja tapi terbuka untuk umum. Fasilitas ini terdiri dari retail-retail jasa pelayanan, cafe dan bar. 11
7 2.5.4 Plaza Plaza merupakan ruang terbuka sebagai ruang transisi dari jalan raya menuju bangunan utama. Fasilitas ini yang dapat dipergunakan sebagai tempat diselenggarakannya pertemuan atau pameran dengan konsep outdoor dengan tetap memperhatikan kenyamanan pengunjung. Jenis pertemuan yang dapat diselenggarakan di tempat ini adalah pertemuan yang memiliki karakteristik informal, tidak bermasalah dengan pencahayaan dan penghawaan alami serta tidak membutuhkan ruang kedap suara. Penyelenggaran pertemuan hanya dengan penggunaan panggung dan pengaturan letak kursi. Jenis pameran yang diselenggarakan secara outdoor adalah pameran yang tidak memiliki masalah dengan pengaruh udara luar, misalnya pameran produk yang tahan dengan cuaca panas, angin, debu dan lain-lain Fasilitas Servis Fasilitas servis berfungsi sebagai pendukung bangunan utama dan menjadi sangat penting pada saat sebuah kegiatan akan diselenggarakan, yaitu pada waktu persiapan, waktu penyelenggaraan, dan waktu penutupan. Pada saat akan diselenggarakan sebuah kegiatan, fasilitas ini sangat mungkin akan dipergunakan selama 24 jam. Ruang-ruang yang termasuk kedalam fasilitas servis antara lain area loading dock, dapur dan ruang-ruang utilitas pada setiap lantai. 2.6 TINJAUAN LOKASI Tinjauan Pemilihan Kota Medan Pemilihan lokasi kota Medan untuk Medan Convention and Exhibition Center: Medan merupakan kota menuju metropolitan, kota terbesar ke-3 di Indonesia, dan ibukota Propinsi Sumatera Utara, sehingga menjadikannya pusat kegiatan di Sumatera Utara. Kota Medan memiliki letak geografis yang cukup strategis karena lokasinya berdekatan dengan wilayah kerjasama ekonomi regional IMT-GT (Malaysia-Indonesia-Thailand), AFTA (Asean Free Trade Area), APEC (Asia Pacific Economic Cooperation). Adanya fasilitas bandara bertaraf internasional sehingga menyebabkan sering dikunjungi wisatawan mancanegara. Adanya transportasi darat yang baik menuju kota Medan. Tingkat ekonomi dan sosial budaya yang cukup tinggi Kriteria Pemilihan Lokasi Sebagai sebuah bangunan publik untuk semua lapisan masyarakat, hal pertama yang harus dilakukan ialah memilih lokasi yang mendukung keberadaan Medan Convention Center beserta fasilitas pendukungnya tersebut, yaitu : Lokasi merupakan daerah wilayah pengembangan. 12
8 Dapat dicapai dengan mudah dari berbagai tempat diseputaran kota Medan, dan transportasi menuju ke lokasi lancar. Dekat dengan kawasan urban dan kawasan wisata kota sebagai acuan untuk sasaran pengunjung yang diperkirakan akan menjadi penunjang utama untuk bangunan ini. Tidak berada pada kawasan perindustrian A. Tinjauan Terhadap Struktur Kota Dalam pemilihan lokasi untuk Medan Convention Center perlu pula diperhatikan Rencana Umum Tata Ruang Kota Medan ( RUTRK ). Penentuan lokasi harus sesuai dengan kebijakan pemerintah terhadap peruntukan lahan kota. Berdasarkan RUTRK, wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Medan dikelompokkan ke dalam 5 Wilayah Pengembangan Pembangunan (WPP), yaitu : Tabel 2.1 Potensi Pengembangan Wilayah Kota Medan WPP Cakupan Kecamatan Pusat Pengembangan A 1. Kec. Medan Belawan Belawan 2. Kec. Medan Marelan 3. Kec. Medan Labuhan Sasaran Peruntukkan Pelabuhan, industri, pemukiman, rekreasi, maritim, usaha kegiatan pembangunan jalan baru, jaringan air minum, septic tank, sarana pendidikan B Kec. Medan Deli Tanjung Mulia Kawasan perkantoran, perdagangan, rekreasi indoor, pemukiman, pembangunan jalan baru, jaringan air minum, pembuangan sampah, dan sarana pendidikan C D E 1. Kec. Medan Timur 2. Kec. Medan perjuangan 3. Kec. Medan Tembung 4. Kec. Medan Area 5. Kec. Medan Denai 6. Kec. Medan Amplas 1. Kec. Medan Johor 2. Kec. Medan Kota 3. Kec. Medan Baru 4. Kec. Medan Maimoon 5. Kec. Medan Polonia 1. Kec. Medan Barat 2. Kec. Medan Petisah 3. Kec. Medan Sunggal 4. Kec. Medan Selayang 5. Kec. Medan Tuntungan Aksara Inti Kota Sei Sikambing Pemukiman, perdagangan, dan rekreasi, pembangunan sambungan air minum, septic tank, jalan baru, rumah permanen, sarana pendidikan dan kesehatan Kawasan perdagangan, perkantoran, rekreasi indoor dan pemukiman, dengan program kegiatan pembangunan perumahan permanen, penanganan sampah dan sarana pendidikan Kawasan pemukiman, perdagangan, dan rekreasi dengan program kegiatan sambungan air minum, septic tank, jalan baru, rumah permanen, sarana pendidikan dan kesehatan B. Pencapaian Untuk sebuah gedung bersifat publik yang diharapkan akan ramai dikunjungi orang, beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain: Mudah diakses dari tempat-tempat penting diluar site ( bahkan akan lebih baik dapat 13 dicapai dengan berjalan kaki ), seperti terminal, bandara, pelabuhan, bank, dan sarana
9 public lainnya. Karena mengingat bangunan memiliki skala pelayanan internasional sehingga harus diupayakan berada di jalur transportasi utama. Transportasi menuju dan keluar site mudah didapat. Tidak di kawasan macet, karena dapat semakin menambah kekacauan pada lalu lintas Analisa Pemilihan Lokasi WPP D Pusat Bisnis(CBD), pusat pemerintahan, perumahan, hutan kota dan pusat pendidikan WPP E Perumahan, perkantoran, konservasi, la WPP A Merupakan Kawasan Pelabuhan, industri, pergudangan dan permukiman WPP B Merupakan kawasan perkantoran dan perdagangan WPP C Merupakan kawasan pemukiman,pendidikan,re kreasi, dan perdagangan Gambar 2.1 Peta Pembagian Wilayah Medan Sumber : Hasil Olah Data Primer Berdasarkan beberapa kriteria di atas maka lokasi yang dipilih untuk Medan Convention and Exhibitoin Center adalah JL.Imam Bonjol dan JL Avrost, karena lokasi-lokasi tersebut memiliki beberapa potensi yaitu: Berada di pusat kota Pencapaian mudah karena banyak angkutan umum yang melewati site Berada pada kawasan pendidikan,komersil dan pariwisata. Memiliki akses pejalan kaki yang baik 14
10 Alternatif A Lokasi : Jl. Imam Bonjol (persimpangan dengan Jalan Palang Merah) Luas Lahan : 2 Ha Batas- batas: Utara : Rumah tua yang dipreservasi Timur : Bank Universal Selatan : Hotel Danau Toba Barat : Bank Mandiri dan perkantoran Rumah tua yang dipreservasi Gambar 2.2 Peta Alternatif Lokasi Sumber : Hasil Olah Data Primer Komplek perumahan Bank Indonesia Ex Bank Universal Kantor Bank Sumut Hotel Danau Toba Posisi terhadap Struktur Ruang Kota : Berada pada kecamatan Medan Baru Gambar 2.2 Peta alternative lokasi Sumber : Hasil Olah Data Primer Berdasarkan WPP C dengan fungsi Inti Kota, Pusat Pemerintahan, Hutan Kota, Pusat Pendidikan, Perkantoran, Rekreasi Indoor, Permukiman. 15
11 Alternatif B Jl. Avrost (ex Airpot Internasional Polonia dan restaurant avia samudra) Luas Lahan : 5,4 Ha Batas- batas : Utara : Jalan Avrost Timur : Kantor Pemerintahan Selatan : jalan Boulevard Barat : Jalan Boulevard Utama Selatan: Jalan Boulevard Gambar 2.3 Peta Alternative Lokasi Sumber : Hasil Olah Data Primer Timur : Kantor Pemerintahan Barat: Jalan Boulevard Utama Utara: Jalan Avrost 16
12 Posisi terhadap Struktur Ruang Kota: Berada pada kecamatan Medan Polonia Berdasarkan WPP D dengan fungsi kawasan pemukiman, pendidikan,rekreasi, dan perdagangan serta komersil. Tabel 2.2 Penilaian Alternatif Lokasi Kriteria Luas lahan Alternatif A 2 Ha (2) Lokasi Alternatif B 5,4 Ha (3) Tingkatan jalan Jalan arteri primer (3) Jalan arteri primer (3) Mudah karena dapat diakses dari Mudah karena dapat diakses dari segala segala penjuru Medan baik dengan penjuru Medan baik dengan kendaraan Pencapaian ke lokasi kendaraan pribadi maupun angkutan pribadi maupun angkutan umum. (3) umum. (3) Berada di pusat kota dan merupakan Berada di pusat kota dan merupakan daerah pengembangan CBD, Pusat daerah pengembangan CBD, Pusat Pemerintahan, Hutan Kota, Pusat Pemerintahan,Hutan Kota, Pusat Jangkauan terhadap struktur kota Pendidikan, Perkantoran, Rekreasi Pendidikan,pemukiman, rekreasi,dan Indoor, Permukiman. (3) perdagangan. (3) Pertokoan, kantor, plaza, hotel, gedung Pertokoan, kantor, plaza, hotel, Fungsi pendukung sekitar lokasi pemerintahan, sarana pariwisata pemerintahan, pendidikan, sarana lainnya. (3) pariwisata lainnya. (2) Fungsi eksisting Perkantoran dan pemukiman penduduk Lahan kosong (3) (2) Kontur Relatif datar (3) Relatif datar (3) Baik Baik Pengenalan entrance Berada di persimpangan jalan Berada di persimpangan jalan (2) (2) Aksesbilitas Kendaraan pribadi Baik (2) Baik sekali (3) Kendaraan umum Baik sekali (3) Baik sekali (3) Pejalan kaki Baik (2) Baik (2) Kesesuaian dengan RUTRK Medan Sesuai (3) Sesuai (3) Jumlah nilai Peringkat 2 1 Maka berdasarkan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa lokasi yang tepat untuk Medan Convention and Exhibition Center adalah alternatif lokasi B yang terletak di Jalan Avrost. 17
13 2.7 STUDI BANDING PROYEK SEJENIS Tokyo International Forum Selesai dibangun : 1997 Lokasi : 5-1 Marunouchi 3-chome, Chiyoda-ku, Tokyo, , Jepang. Klien : Tokyo Metropolitan Government Arsitek : Rafael Viňoly (dibantu Charles Bloomberg) Ahli struktur : Structural Design Group Co. Ltd. Luas lahan : m2 Luas bangunan : m2 Luas lantai total : m2 Panjang bangunan : 208 m Lebar bangunan : 31,7 m Tinggi bangunan : 57,5 m Berat konstruksi baja : ton Gambar 2.4 Tokyo International Forum Sumber : Internet Tokyo International Forum berlokasi di tengah kota. Di sudut dua blok, yaitu pusat hiburan dan komersial Ginza serta pusat bisnis Marunoichi. Lahan ini sebelumnya ditempati oleh bangunan Tokyo City Hall. Jadi, bangunan ini difungsikan sebagai wadah yang mampu mengakomodasikan aktivitas, baik bisnis maupun hiburan. Bangunan ini telah menjadi ikon baru di Jepang, simbol dari keajaiban perekonomian Jepang. Bangunan ini dibangun dilatarbelakangi oleh kompetisi internasional pada tahun 1989 yang diadakan oleh Union Internationale der Architectes (UIA) dalam rangka kepentingan politik untuk memfasilitasi pertukaran informasi kebudayaan dan internasional dalam konteks urban center. Rafael Viňoly, seorang arsitek dari New York memenangkan kompetisi ini. Konsep awal dari bangunan ini memakai analogi kapal di tengah ombak yang berguncang. Ombak yang berguncang dia analogikan sebagai Jepang yang sering terguncang oleh gempa. Pemakaian model kapal ini dianggap mampu menahan getaran gempa layaknya sebuah kapal yang mampu menahan gelombang yang kuat. 18
14 Skalanya yang besar menggambarkan kebesaran kota Tokyo yang pembangunannya tidak luput dari kepentingan perluasan kebudayaan. Karena skalanya yang besar, Tokyo International Forum (TIF) mampu menampung 5000 orang di dalam ruang konferensinya. TIF yang dikelilingi oleh jalur subway memudahkan akses masuk ke dalam bangunan yang meraih Commercial DuPont Benedictus Award pada tahun 1997 ini menjadi mudah. Gambar 2.5 Interior Tokyo International Forum Sumber : Internet Selain ruang konferensi, TIF dilengkapi dengan fasilitas: 2 teater (salah satunya terbesar di dunia) Lebih dari 6000 m2 area pameran Restoran Perpustakaan Ruang multimedia Cafe Galeri kesenian Multimedia teater 19
15 Tokyo International Forum mempunyai beberapa elemen yang menarik, di antaranya adalah: Glass Hall Glass hall yang sangat besar didukung oleh sistem baja tempa inovatif berbentuk lengkung yang telah melalui proses kompresi dan didukung dengan penggunaan elemen kabel baja (penahan gaya tarik) yang membentang sepanjang 225 m. Kabel baja itu digunakan sebagai pengikat dua mega kolom yang terletak di ujung-ujung sumbu memanjang dari Glass Wall yang berfungsi menopang balok utama yang mempersatukan semua rangka baja yang melengkung. Selain itu didukung pula dengan penggunaan Virendel yang berfungsi sebagai jembatan penghubung elemen bracing antara dua sisi Glass Wall. Gambar 2.6 Glass Hall Sumber : Internet Block Cluster Block Cluster yang disusun oleh empat buah volume yang hampir kubikus dengan komposisi Square dari yang terkecil terletak di Utara dan terbesar di Selatan. Hal yang paling menajubkan dari TIF adalah penggunaan kacayang mencapai 80% dari seluruh fasade bangunan, terutama pada Glass Hall yang luas kacanya mencapai m2 disusun atas panel panel Laminated Heat-strengthened Glass setebal 17,5 mm yang merupakan produksi dari Asahi Glass of Japan ditopang oleh spider joint pada tiap empat panel 20 kaca yang dirangkaikan pada rangka baja lengkung. Tinggi Glass Hall ini mencapai 60 m.
16 Pengunaan Laminated Glass ini atas dasar pertimbangan akan keamanan yang tinggi terhadap getaran. Gambar 2.7 Block Cluster Sumber : Internet San Diego Convention Center Lokasi : San Diego, California, Amerika Serikat Pemilik : Port of San Diego Arsitek : Arthur Erickson Architect San Diego Convention Center berlokasi di tepi San Diego Bay sehingga didesain dengan karakter arsitektur waterfront. Gambar 2.8 San Diego Convention Center Bangunan dengan luas total kaki persegi ini terdiri dari kaki persegi exhibition hall pada lantai dasar, kaki persegi meeting rooms pada mezzanine dan lantai atasnya yang terdiri dari 35 ruang konvensi dengan luas antara kaki persegi, dan parkir bawah tanah 21 berkapasitas mobil.
17 Dalam merancang bangunan ini sang arsitek membedakan kegiatan pemakaian bangunan menjadi dua yaitu pemakaian yang aktif seperti tempat kedatangan, reception, dan sirkulasi, pada daerah yang menghadap kota, dan pemakaian pasif seperti meeting rooms, lounges, dan landscapes terraces, pada bagian yang menghadap pelabuhan. Gambar 2.9 San Diego Convention Center Sumber : Internet Tantangan dalam merancang lahan waterfront seluas 11,2 acre ini adalah memenuhi kebutuhan bangunan yang massif tanpa memotong akses ke teluk dan kesadaran akan kedekatannya dengan teluk. Setiap usaha dilakukan untuk membuat bangunan serendah mungkin dengan sistem distribusi akomodasi yang bertingkat-tingkat. Akibatnya, bangunan panjang dengan vault-vault kaca ini seperti bertumpuk-tumpuk, kenudian pada satu sisi merendah kearah jalan dan ke arah teluk pada sisi lain. Vault-vault tersebut dipegang oleh struktur beton berbentuk sirip bersudut lancip, yang sebelumnya direncanakan berupa tiang pancang baja untuk lebih memberi kesan kelautan, namun diubah karena alasan dana dan ketahanan terhadap kebakaran. Vault-vault tersebut diakhiri dengan lempeng beton persegi dengan jendela bundar yang memegang medali merah cerah di bagian tengahnya, yang merupakan salah satu aksen warna primer yang menghidupkan bangunan dengan panjang kaki. Vault pertama pada sisi yang menghadap kota menutupi lobby dengan pintu-pintu masuk menerus yang memanjang sepanjang bangunan sejajar Harbour Drive. Jembatan untuk pedestrian yang menghubungkan bangunan dengan taman yang diusulkan dan perpanjangan sistem angkutan kota di seberang jalan. Vault di atas daerah sirkulasi dan daerah pre-function memberikan penerangan dan pemandangan yang bagus ke arah kota dan teluk, memberikan kelegaan bagi peserta konvensi yang hampir seharian duduk. 22
18 Ruang-ruang ini dihubungkan oleh galeri berkubah yang besar, yang pada eksterior bangunan ditandai dengan seperempat vault miring, yang disebut bubbles. Bukaan pada galeri pada sisi teluk adalah suatu atrium yang dramatis dengan eskalator dan lingkaran dan busur beton besar yang membentuk dua dinding dan melingkari sisi teluk membentuk amphiteater. Gambar 2.10 San Diego Convention Center Sumber : Internet Penggunaan kaca pada bangunan ini untuk memberikan kesan ringan, sehingga dapat menghindarkan adanya bangunan raksasa yang tidak menarik sepanjang waterfront. Elemen lain yang menarik adalah atap tenda (tensile roof) yang disinari di malam hari. Atap fiber berlapis Teflon ini merupakan penutup ruang terbuka yang digunakan untuk pameran khusus, konser, dan perjamuan, berkapasitas tempat duduk. Atap miring layer yang dipegang oleh jaringan kabel pada ketinggian 30 hingga 90 kaki di atas dek ini mampu meneruskan 15% cahaya dengan beban panas minimum. Vault kaca berterali pada dua sisi ruang, yang diisi dengan bougenvillea, melindungi dek terhadap angin lepas pantai. Bangunan yang dibangun oleh San Diego Unified Port District dan dikelola oleh kota ini seluruhnya terbuka untuk umum. Pengunjung yang tidak berkepentingan dalam suatu konvensi atau eksibisi yang sedang berlangsung pun dapat menikmati seluruh ruang publik yang ada Jakarta Convention Center (JCC) JCC merupakan Pusat Konvensi di ibukota yang sering dijadikan tempat diselenggarakannya kegiatan-kegiatan berskala nasional maupun internasional, seperti konferensi PBB, pertemuan negara-negara APEC, pertemuan negaranegara GNB. Selain itu sering dijadikan tempat diselenggarakannya acara penganugerahan, pementasan seni, konser musik, dan berbagai pameran. 23 Beberapa fasilitas yang dimiliki JCC antara lain :
19 Plennary Hall dengan kapasitas 5000 kursi Assembly Hall seluas m2 yang dapat dibagi menjadi tiga ruang-ruang kecil Dua Exhibition Halls (Hall A seluas m2, Hall B seluas m2) dengan kapasitas 8000 orang. 13 Flexible Meeting Rooms dengan ukuran yang berbeda-beda Main Lobby seluas 5.500m2 yang bersifat multifungsi. Keterangan : Ruang Pameran Ruang Pertemuan Gambar 2.11 Denah Jakarta Convention Center Sumber : Internet Jakarta Convention Center terdiri atas beberapa hall besar dengan kapasitas yang cukup besar. Plenary Hall yang berbentuk lingkaran, dapat memuat sampai dengan 5000 tempat duduk, merupakan hall utama. Konsep ruang yang fleksibel, memungkinkan fungsi Plenary Hall untuk diubah sesuai dengan kebutuhan, baik untuk kegiatan konvensi maupun pameran. Selain itu terdapat Assembly Hall dengan luas ruang 3.921m2 dapat dibagai menjadi tiga ruangan yang lebih kecil sesuai dengan kebutuhan. Selain itu terdapat dua ruang pameran besar, yaitu Exhibition Hall A dan Exhibition Hall B, dengan luas total 9.585m2, beberapa ruang pertemuan sedang maupun kecil, dan lobby utama dengan luas 5.500m2, yang dapat digunakan untuk keperluan-keperluan tertentu sesuai dengan kebutuhan acara. 24 Plenary Hall dirancang sangat fleksibel, dengan kapasitas sampai dengan 5000 orang, mulai
20 dari kegitan konferensi yang bersifat formal, sampai dengan konser musik yang hingar bingar. Dilengkapi dengan peralatan audio video yang canggih termasuk 64 kamera video, dan sistem penerjemah yang dapat mengakomodasi sampai dengan 8 bahasa. Assembly Hall dapat menampung 2500 orang untuk pertemuan dengan tempat duduk, dan 4500 orang untuk acara dengan berdiri. Ruangnya yang fleksibel memungkinkan berbagai kegiatan untuk dilakukan. Mulai dari gala dinner, ruang kelas, fashion show, launching produk, sampai malam penganugerahan. Gambar 2.13 Layout Ruang Pameran JCC Sumber : Internet Ruang pameran utama terdiri dari dua bagian, A dan B. Kedua ruangan dihubungkan dengan koridor sehingga memungkinkan kedua ruangan untuk dipakai secara bersama-sama. Selain itu terdapat 13 ruang-ruang pertemuan sedang dan kecil, dengan kapasitas mulai dari 20 orang sampai dengan 1000 orang. Secara umum, penataan ruang-ruang utama tersebut diletakkan menyebar dengan orientasi utama pada lobby utama. Sirkulasi pengunjung dari lobby utama kemudian dipecah ke ruang-ruang sesuai dengan keperluannya. Hal ini memberi keuntungan jika salah satu ruang saja yang terpakai, pintu masuk tetap melalui lobby utama., sehingga sirkulasi menjadi lebih efisien. Jakarta Convention Center juga mempunyai drop off yang cukup panjang. Hal ini untuk mengakomodasi banyaknya pengunjung yang datang yang mencapai ribuan orang, dan kondisi tapak yang berada di daerah perkotaan yang padat KUALA LUMPUR CONVENTION CENTER (KLCC) 25
21 KLCC merupakan pusat Konvensi di ibukota Malaysia yang sering sering dijadikan tempat diselenggarakannya kegiatan-kegiatan berskala nasional maupun internasional, seperti konferensi PBB, pertemuan negara-negara APEC, pertemuan negaranegara GNB. Selain itu sering dijadikan tempat diselenggarakannya acara penganugerahan, pementasan seni, konser musik, dan berbagai pameran. Beberapa fasilitas yang dimiliki KLCC antara lain : Grand Ballroom seluas 2.389m dengan kapasitas 2000 kursi Exhibition Hall dengan kapasitas 3500 orang dengan ukuran 2.502m2 dan 2.332m2 Conference Hall dengan kapasitas 1800orang dan terbagi tiga ruang-ruang kecil. Yang dapat menampung 500,770,510 orang. Plenary Hall yang dapat menampung 3000 orang dengan 2000 orang dilantai dasar dan 1000 di balkon. Banquet Hall yang merupakan ruang yang di desain untuk menggunakan teknologi pertemuan dengan kapasitas 740 orang dan 550 untuk kursi. Plenary Theatre dengan Auditorium Venue dapat meanmpung 500 orang diperuntukkan untuk konvensi yang kecil. Gambar 2.15Suasana Ruang Exhibiton Hall KLCC Sumber : Internet 26
22 Gambar 2.16 Suasana Grand Ballroom KLCC Sumber : Internet 27
23 Gambar 2.17 Plenary Theatre Sumber : Internet Secara umum pada KLCC mempunyai kelebihan pada fasilitas teknologi dan ruang yang cukup lengkap dengan adanya Plenary theatre. Dari segi kapasitas juga cukup memadai dengan pembagian ruang-ruang sesuai dengan kapasitas penyewa. KLCC juga terletak pada pusat kota Kuala Lumpur dekat dengan Petronas Tower dan KL tower sangat strategis karena banyak fasilitas pendukung seperti Hotel-Hotel dan Fasilitas Komersil lainnya. 2.8 Kesimpulan Studi Banding Proyek Sejenis Fasilitas convention dan exhibition center merupakan fasilitas yang dapat menjadi ikon dari suatu daerah, baik skala kota maupun negara. Fasilitas ini memegang peranan penting dalam memacu roda perekonomian dari suatu negara. Secara ruang, bangunan ini dalam skala kota harus dapat merespon tempat dia berdiri. Isu yang paling jelas dari beberapa studi kasus di atas adalah respon terhadap kebutuhan ruang publik. Ruang publik merupakan isu yang sangat penting dalam konteks urban. Hal ini juga direspon oleh desain Tokyo International Forum. Dengan keterbatasan lahan yang ada, Tokyo International Forum masih mempunyai ruang terbuka di antara dua massa bangunan utama yang digunakan sebagai ruang publik, ditanami beberapa pohon agar memberi sedikit keteduhan. Pemilihan material yang digunakan juga sangat modern. Pemilihan materialmaterial kaca dan baja sesuai dengan tuntutan struktur yang besar, tetapi tetap terkesan ringan. Pada San Diego Convention Center, sekali lagi dijumpai konsep pemanfaatan ruang untuk kepentingan umum, namun dengan penyelesaian yang berbeda, disesuaikan dengan kondisi lahan yang berada di dekat pantai. Secara organisasi ruang, Jakarta Convention Center, dengan beberapa ruang utama 28 yang cukup banyak, mampu ditata dengan baik. Sirkulasi manusia dan kendaraan dapat dirancang seefisien mungkin. Dari tiap ruang menggunakan prinsip Universitas fleksibilitas, Sumatera fleksibilitas Utara
24 dalam hal luas ruang maupun fungsi yang dapat digunakan di dalamnya. Pada ruang-ruang pameran utama dapat dibagi-bagi menjadi ruang-ruang yang lebih kecil sesuai dengan jenis pameran yang diadakan. Dan pada Plenary Hall yang berbentuk lingkaran dapat digunakan baik untuk konvensi maupun pameran. Pada lantai dasar sangat open lay-out sehingga dapat diatur peruntukannya sesuai dengan acara yang berlangsung. Dengan kapasitas yang cukup besar, Plenary Hall Jakarta Convention Center dapat digunakan untuk konser musik yang membutuhkan fleksibilitas yang tinggi dengan konsentrasi orang yang sangat banyak. Fasilitas convention hall, selain dapat berfungsi dengan baik, harus mampu menciptakan ruang publik bagi masyarakat kota. Fasilitas sesuai dengan fungsinya akan membutuhkan luas yang cukup lebar, dan dengan skalanya yang cukup besar, bisa saja menggangu pemandangan kota jika tidak didesain dengan baik. Pemilihan material sangat berpengaruh dalam menimbulkan kesan damai dengan konteks urban. Pada Kuala Lumpur Convention Center sarana dan prasarana sudah lengkap dengan fasilitas yang memadai dan juga pembagian ruang-ruang yang di sewakan berbagai macam jenis untuk berbagai kegiatan baik pameran,konser,kinvensi dan acara hiburan lainnya. Dari segi desain bangunan, fasilitas ini sudah jelas membutuhkan bentang yang lebar, dan bahkan bebas kolom. Sirkulasi pengunjung juga harus diatur, penempatan fungsi yang ada di dalamnya harus ditempatkan sesuai dengan alur yang diinginkan, antara area publik dan private harus dipisahkan dengan jelas, terutama untuk fasilitas konvensi yang membutuhkan konsentrasi dan orientasi ke dalam. Pada umumnya, tempat pameran dan pertemuan berada pada lokasi yang ditunjang oleh fasilitas lain yang berhubungan dengan penyelengaraan kegiatan pameran dan pertemuan seperti hotel, museum, sarana olahraga, pusat perbelanjaan, gedung pemerintahan,fasilitas pendidikan, dan lain-lain. 29
BAB II DESKRIPSI PROYEK
BAB II DESKRIPSI PROYEK 2.1 Umum Proyek ini merupakan proyek fiktif yang direncanakan pada area pesawahan milik warga yang berada di Jalan Kutamaya Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang. Dan diperuntukan
BAB II DESKRIPSI PROYEK
BAB II DESKRIPSI PROYEK 2.1 TERMINOLOGI JUDUL Judul proyek yang akan di rancang adalah Medan international exhibition center. Adapun pengertian dari medan international exhibition center dapat di uraikan
Pusat Pameran dan Konvensi Kota Surakarta:
BAB II Deskripsi Proyek 2.1. Umum Status proyek : Semi fiktif Pemilik proyek : Developer swasta dan pemerintah kota Sumber dana : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota Surakarta dan investasi swasta
BAB II DESKRIPSI PROYEK
BAB II DESKRIPSI PROYEK Pada deskripsi proyek Medan Convention & Exhibition Center memiliki beberapa tinjauan yaitu meliputi terminologi judul, tinjauan proyek dan tinjauan fungsi. II.1. Terminologi Judul
BAB II TINJAUAN PROYEK
BAB II TINJAUAN PROYEK 2.1. Tinjauan Umum Bangunan Pet Station Medan merupakan bangunan yang mempunyai fungsi sebagai penjualan hewan-hewan peliharaan, pusat pelayanan kesehatan dan perawatan hewan-hewan
BAB II Manusia, Aktifitas dan Ruang
BAB II Manusia, Aktifitas dan Ruang Setelah mendapatkan data dan menganalisisnya, hal yang kami lakukan selanjutnya adalah merancang program ruang. hal yang pertama yang kami lakukan adalah mengidentifikasi
BAB V HASIL RANCANGAN
BAB V HASIL RANCANGAN 5.1 Perancangan Tapak 5.1.1 Pemintakatan Secara umum bangunan dibagi menjadi beberapa area, yaitu : Area Pertunjukkan, merupakan area dapat diakses oleh penonton, artis, maupun pegawai.
BAB V PENERAPAN KONSEP
BAB V PENERAPAN KONSEP 5.1 Konsep Kawasan Integrated Convention & Exhibition Center Konsep bangunan sesuai dengan tujuan utamanya yaitu fleksibiltas. Hal-hal yang diperhatikan: - Akses dan sirkulasi -
BELAWAN INTERNATIONAL PORT PASSANGER TERMINAL 2012 BAB I. PENDAHULUAN
BAB I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kota Medan dewasa ini merupakan salah satu kota metropolitan di Indonesia yang mengalami perkembangan dan peningkatan di segala aspek kehidupan, mencakup bagian dari
5. HASIL RANCANGAN. Gambar 47 Perspektif Mata Burung
5. HASIL RANCANGAN 5.1 Hasil Rancangan pada Tapak Perletakan massa bangunan pada tapak dipengaruhi oleh massa eksisting yang sudah ada pada lahan tersebut. Di lahan tersebut telah terdapat 3 (tiga) gedung
BAB II DESKRIPSI PROYEK
BAB II DESKRIPSI PROYEK II.1. TERMINOLOGI JUDUL Judul proyek ini adalah MEDAN CONVENTION CENTER. Berikut merupakan penjelasan dari judul tersebut. Medan adalah salah satu nama kota terbesar ke-3 di Indonesia
BAB IV ANALISA PERENCANAAN
BAB IV ANALISA PERENCANAAN 4.1. Analisa Non Fisik Adalah kegiatan yang mewadahi pelaku pengguna dengan tujuan dan kegiatannya sehingga menghasilkan besaran ruang yang dibutuhkan untuk mewadahi kegiatannya.
BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Rumusan konsep ini merupakan dasar yang digunakan sebagai acuan pada desain studio akhir. Konsep ini disusun dari hasil analisis penulis dari tinjauan pustaka
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1. Konsep Dasar Konsep dasar perancangan Pusat Seni Pertunjukan ini adalah mendesain suatu bangunan dengan fasilitas pertunjukan yang dapat berfungsi dengan baik secara sistem
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1. KONSEP DASAR PERANCANGAN Dalam konsep dasar pada perancangan Fashion Design & Modeling Center di Jakarta ini, yang digunakan sebagai konsep dasar adalah EKSPRESI BENTUK dengan
PURWOKERTO EXPO CENTER Oleh : Larasati Probosiwi,, Budi Sudarwanto, Agung Dwiyanto
PURWOKERTO EXPO CENTER Oleh : Larasati Probosiwi,, Budi Sudarwanto, Agung Dwiyanto ABSTRAK Sekarang ini pertemuan dan konvensi dapat sebagai alat penyebaran dan pertukaran informasi tentang hal-hal baru
BAB 4 PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB 4 PENDEKATAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 4.1. PENDEKATAN ASPEK FUNGSIONAL 4.1.1. Studi Pelaku Kegiatan Galeri Batik berskala Kawasan diharapkan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat kota Pekalongan
Bab III. Aspek Tanah dan Arsitektural Desain. : Puri Indah, Jakarta Barat
Bab III Aspek Tanah dan Arsitektural Desain 3.1 Peta dan Tapak Tanah Nama usaha Peruntukan lahan Letak tapak : Tridith Venue : Bangunan serbaguna : Puri Indah, Jakarta Barat Luas tapak : 4.068 m² Luas
BAB III ANALISA 3.1 ANALISA TAPAK
BAB III ANALISA 3.1 ANALISA TAPAK Pada tapak terdapat beberapa jenis bangunan berdasarkan fungsi-fungsinya. Daerah ini merupakan daerah yang cukup ramai dengan aktiviitas perniagaan dan jasa. Hal ini mendukung
Medan Convention and Exhibition Center 1 BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Pada masa sekarang ini penyebaran dan pertukaran informasi maupun hal-hal baru beserta masalah-masalah yang sifatnya universal terhadap kepentingan manusia selain
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Building form Bentuk dasar yang akan digunakan dalam Kostel ini adalah bentuk persegi yang akan dikembangkan lebih lanjut.
BAB IV ANALISA PERANCANGAN
BAB IV 4.1 Analisa Non Fisik Adalah kegiatan yang mewadahi pelaku pengguna dengan tujuan dan kegiatannya sehingga menghasilkan besaran ruang yang dibutuhkan untuk mewadahi kegiatannya. 4.1.1 Analisa Pelaku
Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2)
Fasilitas Komersial (Area Makan Lantai 1) (2) Gambar simulasi rancangan 5.30 : Area makan lantai satu bangunan komersial di boulevard stasiun kereta api Bandung bagian Selatan 5.6.3 Jalur Pedestrian Jalur
BAB II DESKRIPSI PROYEK. edukasi, tempat pertunjukkan/teater dan retail UKM. Medan Art Centre terdiri
BAB II DESKRIPSI PROYEK 2.1 Terminologi Judul Medan Art Centre merupakan penggabungan dari 3 fungsi, yaitu tempat edukasi, tempat pertunjukkan/teater dan retail UKM. Medan Art Centre terdiri dari 3 kata
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BINTANG EMPAT
BINNG EMPAT HOTEL BISNIS DI KO MEDAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kota Medan yang terletak dibagian utara pulau Sumatera, tepatnya terletak di provinsi Sumatera Utara merupakan kota terbesar ketiga
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Yang menjadi dasar dari perencanaan dan perancangan Mesjid di Kebon Jeruk adalah : Jumlah kapasitas seluruh mesjid pada wilayah
BAB II TINJAUAN OBJEK GEDUNG KESENIAN GDE MANIK SINGARAJA
BAB II TINJAUAN OBJEK GEDUNG KESENIAN GDE MANIK SINGARAJA Pada bab ini akan dilakukan evaluasi mengenai Gedung Kesenian Gde Manik (GKGM) dari aspek kondisi fisik, non-fisik, dan spesifikasi khusus GKGM
BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA)
BAB V KONSEP DAN RANCANGAN RUANG PUBLIK (RUANG TERBUKA) 5.1 Sirkulasi Kendaraan Pribadi Pembuatan akses baru menuju jalan yang selama ini belum berfungsi secara optimal, bertujuan untuk mengurangi kepadatan
BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Program Perencanaan Didasari oleh beberapa permasalahan yang ada pada KOTA Kudus kususnya dibidang olahraga dan kebudayaan sekarang ini, maka dibutuhkan
Transformasi pada objek
PROFIL UKURAN LAHAN KEBUTUHAN RUANG KONSEP PELETAKAN MASSA wadah kegiatan komersil dan kegiatan wisata edukasi untuk meningkatkan apresiasi konsumen terhadap hasil karya produsen. Pemilik : Swasta - APTA
shelter of emosion BAB III ANALISA
BAB III ANALISA III.1. Analisa Tapak III.1.1 Analisa kondisi dan lingkungan site existing Site berada dilokasi dengan kepadatan lalu lintas dan aktifitas yang tinggi dengan luas kesuruhan site 2.3 hektar.
Analisa perencanaan dan perancangan gedung Convention Centre ini akan lebih
BAB II ANALISA KONSEP 2.1. Analisa Konsep Analisa perencanaan dan perancangan gedung Convention Centre ini akan lebih membahas tentang : Analisa (Tapak) pemilihan lokasi dan site, Analisa jenis kegiatan,
4 BAB IV KONSEP PERANCANGAN
4 BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4.1 Konsep Fungsi Dalam merancang sebuah bangunan, hal yang utama yang harus diketahui adalah fungsi bangunan yang akan dirancang, sehingga terciptalah bangunan dengan desain
BAB I SHARPEN YOUR POINT OF VIEW. Pelaksanaan PA6 ini dimulai dari tema besar arsitektur muka air, Riverfront
BAB I SHARPEN YOUR POINT OF VIEW Proses Perancangan Arsitektur 6 (PA6) merupakan obyek riset skripsi untuk pendidikan sarjana strata satu (S1) bagi mahasiswa peserta skripsi alur profesi. Pelaksanaan PA6
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Bandung merupakan kota metropolitan dan kota wisata, yang perekonominnya berkembang pesat. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan Bank
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1. KONSEP MAKRO Secara makro, konsep perencanaan dan perancangan Museum Tekstil Indonesia ini merupakan sebuah alat untuk mendekatkan masyarakat Indonesia agar
Development Designfor Tanjung Batu Harbour towards Sea Tolls Concept
BAB IV DESKRIPSI HASIL RANCANGAN 4.1 Data Pengguna dan Klien Kegiatan di terminal penumpang terbagi menjadi dua, yaitu : 1. Kegiatan Pelayanan Penumpang 2. Kegiatan pengiriman barang lewat laut (POS, atau
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1 KONSEP DASAR Konsep dasar dalam perancangan hotel ini adalah menghadirkan suasana alam ke dalam bangunan sehingga tercipta suasana alami dan nyaman, selain itu juga menciptakan
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1 KONSEP TAPAK DAN RUANG LUAR IV.1.1 Pengolahan Tapak dan Ruang Luar Mempertahankan daerah tapak sebagai daerah resapan air. Mempertahankan pohon-pohon besar yang ada disekitar
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Aerotropolis adalah pengembangan dari konsep aerocity, yang merupakan konsep paling modern dalam pembangunan dan pengelolaan bandara dewasa ini. Pada konsep aerotropolis,
BAB III ANALISA. ±4000 org b. Debarkasi Penumpang
BAB III ANALISA 3.1 Analisa Pengguna Munculnya Kegiatan Pengguna tak dapat lepas dari ragam kegiatan yang akan diwadahi serta pengaruh dai pelaku kegiatan itu sendiri. Berdasarkan hal tersebut nantinya
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Perencanaan dan Perancangan Topik dan Tema Proyek wisma atlet ini menggunakan pendekatan behavior/perilaku sebagai dasar perencanaan dan perancangan.
BAB I PENDAHULUAN. Exhibition) atau Wisata Konvensi, merupakan bagian dari industri pariwisata
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan bisnis MICE (Meeting, Incentive, Convention dan Exhibition) atau Wisata Konvensi, merupakan bagian dari industri pariwisata dan muncul pada dekade tahun
BAB V KONSEP PERANCANGAN PASAR. event FESTIVAL. dll. seni pertunjukan
BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Dasar Konsep dasar pada perancangan Pasar Astana Anyar ini merupakan konsep yang menjadi acuan dalam mengembangkan konsep-konsep pada setiap elemen perancangan arsitektur
BAB VI HASIL RANCANGAN. Redesain terminal Arjosari Malang ini memiliki batasan-batasan
BAB VI HASIL RANCANGAN Redesain terminal Arjosari Malang ini memiliki batasan-batasan perancangan. Batasan-batasan perancangan tersebut seperti: sirkulasi kedaraan dan manusia, Ruang Terbuka Hijau (RTH),
BAB VI HASIL PERANCANGAN. Penerapan Tema dasar Arsitektur Islam yang berwawasan lingkungan pada
190 BAB VI HASIL PERANCANGAN Penerapan Tema dasar Arsitektur Islam yang berwawasan lingkungan pada bangunan, terbagi menjadi tiga wujud nilai yaitu Hablumminal alam, Hablumminannas, dan Hablumminallah,
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar perancangan meliputi pembahasan mengenai pemanfaatan penghawaan dan pencahayaan alami pada City Hotel yang bertujuan untuk
Sampit. Desain Shopping Arcade ini juga merespon akan natural setting, Dalam aktivitas urban, desain Shopping Arcade dapat menjadi
ZDhoppinq Arcade Mahendrata - 015 12131 X BAB IV LAPORAN PERANCANGAN 4.1 Perkembangan desain 4.1.1 Kriteria Desain Shopping Arcade Desain Shopping Arcade yang dirancang di kota Sampit ini merupakan suatu
BAB I PENDAHULUAN. : Kelurahan Pulo Brayan Lama (Kecamatan Medan Timur, Kecamatan Medan Barat dan Kecamatan Medan Deli)
BAB I PENDAHULUAN Kota Medan merupakan kota yang berada di posisi strategis IMT-GT (Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle) dari keadaan itu pula kota Medan menjadi salah satu Kawasan Strategis Nasional.
RENCANA TAPAK. Gambar 5.1 Rencana tapak
BB V HSIL RNCNGN Luas lahan rumah susun ini adalah ±1.3 ha dengan luas bangunan ±8500 m². seperempat dari luas bangunan ditujukan untuk fasilitas umum dan sosial yang dapat mewadahi kebutuhan penghuni
TEMA DAN KONSEP. PUSAT MODE DAN DESAIN Tema : Dinamis KONSEP RUANG KONSEP TAPAK LOKASI OBJEK RANCANG
TEMA DAN KONSEP T E M A Trend dalam berpakaian dari tahun ke tahun akan TEMA terus berputar, dan akan berkembang lagi seiring berjalannya waktu eksplorasi tentang suatu pergerakan progressive yang selalu
BAB V KESIMPULAN ARSITEKTUR BINUS UNIVERSITY
81 BAB V KESIMPULAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan V.1.1 Keterkaitan Konsep dengan Tema dan Topik Konsep dasar pada perancangan ini yaitu penggunaan isu tentang Sustainable architecture atau Environmental
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Konsep Makro 5.1.1 Site terpilih Gambar 5.1 Site terpilih Sumber : analisis penulis Site terpilih sangat strategis dengan lingkungan kampus/ perguruan tinggi
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN. a. Aksesibilitas d. View g. Vegetasi
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Penjelasan konsep dibagi menjadi dua bagian yaitu: A. Konsep Tapak yang meliputi: a. Aksesibilitas d. View g. Vegetasi b. Sirkulasi e. Orientasi c. Lingkungan f. Skyline
TUGAS AKHIR LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR. SEMARANG INTERNASIONAL CONVENTION AND EXHIBITION CENTER (COEXs)
TUGAS AKHIR LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR SEMARANG INTERNASIONAL CONVENTION AND EXHIBITION CENTER (COEXs) Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh judul Tugas
Pusat Pameran Perdagangan dan Konvensi Kota Surakarta
Pusat Pameran Perdagangan dan Konvensi Kota Surakarta Laporan Perancangan AR 40Z0 Studio Tugas Akhir Semester II 2006 / 2007 Sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik Arsitektur Oleh: Achmad
BAB 6 HASIL PERANCANGAN. konsep Hibridisasi arsitektur candi zaman Isana sampai Rajasa, adalah candi jawa
BAB 6 HASIL PERANCANGAN 6.1. Hasil Perancangan Hasil perancangan Pusat Seni dan Kerajinan Arek di Kota Batu adalah penerapan konsep Hibridisasi arsitektur candi zaman Isana sampai Rajasa, adalah candi
BAB III: DATA DAN ANALISA
BAB III: DATA DAN ANALISA 3.1. Data Fisik dan Non Fisik Sumber : KAK Sayembara Arsitektur Museum Batik Indonesia Gambar 40 Lokasi Museum Batik Indonesia 1. Data Tapak - Lokasi : Kawasan Taman Mini Indonesia
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB VI KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Konsep utama yang mendasari Rancang Ulang Stasiun Kereta Api Solobalapan sebagai bangunan multifungsi (mix use building) dengan memusatkan pada sistem dalam melayani
BAB III ANALISA SITE
33 BAB III ANALISA SITE 3.1 Deskripsi Objek Studi Nama Proyek Arsitek Status proyek Sifat proyek Pemilik proyek Pemilik dana Pengguna Lokasi Luas lahan : Akuarium Laut Indonesia : Giri Narasoma : Fiktif
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Umum Perancangan 5.1.1 Dasar Perancangan Pasar tradisional merupakan suatu tempat bertemunya para pelaku ekonomi dalam hal ini pedagang dan penjual, dimana mereka melakukan
1. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang
1. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Musik telah menjadi kebutuhan yang penting bagi kelangsungan hidup manusia, baik itu bagi para pendengar musik ataupun bagi para musisi pencipta lagu. Bagi para musisi
BAB III TINJAUAN LOKASI
3.1 TINJAUAN UMUM KOTA SEMARANG 3.1.1 Keadaan Geografis BAB III TINJAUAN LOKASI Semarang merupakan ibukota provinsi Jawa Tengah, secara geografis terletak di Pantai Utara Jawa Tengah, tepatnya pada garis
BAB V KONSEP PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERANCANGAN Skripsi 5.1 Konsep Kegiatan 5.1.1 Konsep Pelaku kegiatan 5.1.2 Konsep Kegiatan 1) Pengelola Mengurus gedung, dan mengatur jadwal kegiatan yang akan dilangsungkan didalam gedung,
BAB V KONSEP. Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki
BAB V KONSEP 5.1 Konsep Perancangan Tapak 5.1.1 Pencapaian Pejalan Kaki Gambar 5.1: Kesimpulan Analisa Pencapaian Pejalan Kaki Sisi timur dan selatan tapak terdapat jalan utama dan sekunder, untuk memudahkan
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1. KONSEP LINGKUNGAN SEKITAR DAN DALAM TAPAK 5.1.1. Konsep Ruang Luar Jalan bulungan adalah daerah yang selalu ramai karena adanya area komersil seperti Blok M Plaza, maka dari
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Bandar Udara Internasional Kuala Namu merupakan sebuah bandar udara Internasional yang terletak di kawasan Kuala Namu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Bandara ini menggantikan
Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang
Bab I Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Perkembangan kepariwisataan dunia yang terus bergerak dinamis dan kecenderungan wisatawan untuk melakukan perjalanan pariwisata dalam berbagai pola yang berbeda merupakan
BAB 3 SRIWIJAYA ARCHAEOLOGY MUSEUM
BAB 3 PENYELESAIAN PERSOALAN PERANCANGAN Pada bab kali ini akan membahas penyelesaian persoalan perancangan dari hasil kajian yang dipaparkan pada bab sebelumnya. Kajian yang telah dielaborasikan menjadi
BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan atau archipelago terbesar di dunia dengan lebih dari 2/3 luasnya terdiri dari wilayah perairan. Indonesia dikenal sebagai negara
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN
BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1 KONSEP DASAR PERANCANGAN Konsep dasar perancangan penulis sebelumnya melihat peruntukan lahannya, sebelum merancang sebuah bangunan rancangan apa yang pantas pada tapak dengan
PENGENALAN OBJEK. SIDANG TUGAS AKHIR SEKOLAH TINGGI MODE SURABAYA Tema HAUTE COUTURE Cherry Candsevia Difarissa
PENGENALAN OBJEK LATAR BELAKANG PEMILIHAN OBJEK Perkembangan dunia mode yang begitu pesat, kompetitif dan selalu berubah Mode menjadi salah satu gaya hidup (lifestyle) Antusiasme masyarakat terhadap mode
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan 5.1.1 Program Ruang Topik dari proyek ini adalah perilaku atlet, dengan tema penerapan pola perilaku istirahat atlet
PERANCANGAN KOTA. Lokasi Alun - Alun BAB III
BAB III DATA ALUN-ALUN KABUPATEN WONOGIRI Kabupaten Wonogiri, dengan luas wilayah 182.236,02 Ha secara geografis terletak pada garis lintang 7 0 32' sampai 8 0 15' dan garis bujur 110 0 41' sampai 111
BAB VI HASIL PERANCANGAN. apartemen sewa untuk keluarga baru yang merupakan output dari proses analisis
185 BAB VI HASIL PERANCANGAN Bab enam ini akan menjelaskan tentang desain akhir perancangan apartemen sewa untuk keluarga baru yang merupakan output dari proses analisis tapak dan objek. 6.1 Tata Massa
BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN
STUDI PENGARUH TATA RUANG TERHADAP TINGKAT KEPUASAN KONSUMEN DI MALIOBORO MALL, GALERIA MALL DAN AMBARRUKMO PLAZA, YOGYAKARTA 2014 BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dan saran dari hasil penelitian
BAB IV KONSEP 4.1 IDE AWAL
BAB IV KONSEP 4.1 IDE AWAL Gedung Auditorium Musik Bandung ini merupakan fasilitas yang diperuntukkan kepada kaum remaja di Bandung. Kaum remaja yang senang berekspresi menjadi pertimbangan dalam pencarian
PUSAT FOTOGRAFI YANG BERSIFAT FLEKSIBEL DI BANTUL, YOGYAKARTA
LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PUSAT FOTOGRAFI YANG BERSIFAT FLEKSIBEL DI BANTUL, YOGYAKARTA TUGAS AKHIR SARJANA STRATA 1 UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN YUDISIUM UNTUK MENCAPAI SARJANA
BAB 5 HASIL RANCANGAN
BAB 5 HASIL RANCANGAN 6. Desain Bangunan Desain bangunan pertunjukan seni ini memiliki bentuk kotak masif untuk efisiensi bentuk bangunan dan ruang bangunan. Bentuk bangunan yang berbentuk kotak masif
ENTERTAINMENT CENTER DI PURWODADI
TUGAS AKHIR DASAR PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR ( DP3A ) ENTERTAINMENT CENTER DI PURWODADI Diajukan Untuk Melengkapi Salah Satu Persyaratan Guna Mencapai Gelar Sarjana Teknik Arsitektur
BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan. bab sebelumnya didasarkan pada sebuah tema arsitektur organik yang menerapkan
BAB 6 HASIL RANCANGAN 6.1 Perubahan Konsep Tapak pada Hasil Rancangan 6.1.1 Bentuk Tata Massa Konsep perancangan pada redesain kawasan wisata Gua Lowo pada uraian bab sebelumnya didasarkan pada sebuah
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN Konsep perancangan dari Taman Krida Budaya Malang yang baru meliputi pertemuan matriks transformasi pendopo dengan fungsi ruang publik pada setting perkotaan Malang. Pada bagian
PUSAT SINEMA SIDOARJO
PUSAT SINEMA SIDOARJO MAHASISWA : M.ABRAM WAHYU N. NRP : 3207100027 PEMBIMBING : Ir. HARI PURNOMO Mbdg, Sc TEMA : 0ase PUSAT... Yaitu merupakan tempat pemusatan aktifitas atau kegiatan dan fasilitas tertentu
[STASIUN TELEVISI SWASTA DI JAKARTA]
5.1. Konsep Dasar BAB V KONSEP PERANCANGAN Konsep Dasar yang akan di terapkan pada bangunan Stasiun Televisi Swasta ini berkaitan dengan topik Ekspresi Bentuk, dan tema Pendekatan ekspresi bentuk pada
BAB VI HASIL RANCANGAN. wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik,
BAB VI HASIL RANCANGAN Perancangan Museum Anak-Anak di Kota Malang ini merupakan suatu wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik, serta film untuk anak-anak. Selain sebagai
BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang
BAB I I.1. Latar Belakang PENDAHULUAN Bandara Udara Internasional Kuala Namu adalah sebuah bandara udara baru untuk kota Medan, Indonesia. Lokasinya merupakan bekas areal perkebunan PT. Perkebunan Nusantara
DAFTAR ISI. Halaman Judul Halaman Pengesahan Kata Pengantar Halaman Persembahan Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Bagan Daftar Tabel Abstraksi
DAFTAR ISI Halaman Judul Halaman Pengesahan Kata Pengantar Halaman Persembahan Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Bagan Daftar Tabel Abstraksi i ii iii iv v x xiii xiv xv BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang
BAB VI HASIL PERANCANGAN
BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Hasil Rancangan Kawasan Kompleks kawasan smart masjid terbagi atas beberapa massa yang terdiri dari bangunan masjid, penitipan anak, kantin dan bussiness center. Dalam penataan
BAB VI HASIL RANCANGAN. Perancangan Pusat Rekreasi Peragaan IPTEK ini terletak di Batu,karena
BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1 Desain Kawasan 6.1.1 Rancangan Obyek Dalam Tapak Perancangan Pusat Rekreasi Peragaan IPTEK ini terletak di Batu,karena kesesuian dengan fungsi dan kriteria obyek perancangan
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Lokasi Solo baru adalah daerah bagian selatan dan sebelah utara kota Surakarta jawa tengah untuk daerah ini bertepatan dengan kabupaten Sukoharjo daerah ini dulunya
BAB IV KONSEP PERANCANGAN
BAB IV KONSEP PERANCANGAN IV.1. Konsep Dasar Konsep dasar yang melatarbelakangi perancangan stasiun tv TPI didasarkan pada empat isu utama, yaitu : Pembagian sirkulasi yang sederhana, jelas, dan efisien
BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dengan lingkungannya yang baru.
BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Beberapa hal yang menjadi dasar perencanaan dan perancangan Asrama Mahasiwa Bina Nusantara: a. Mahasiswa yang berasal dari
BAB IV ANALISA PERENCANAAN
BAB IV ANALISA PERENCANAAN IV.1. Analisa Tapak dan Lingkungan IV.1.1 Data Fisik Tapak PETA LOKASI / SITE Utara - 19 - Data fisik tapak / kondisi tapak saat ini tidak banyak berbeda dengan apa yang akan
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Saat ini, Indonesia sudah berkembang menjadi salah satu negara tujuan bisnis dan wisata. Hal itu dibuktikan dengan perolehan data dari Statistical Report on Visitor
BAB IV KONSEP. 4.1 Ide Awal
BAB IV KONSEP 4.1 Ide Awal Kawasan Manggarai, menurut rencana pemprov DKI Jakarta akan dijadikan sebagai kawasan perekonomian yang baru dengan kelengkapan berbagai fasilitas. Fasilitas utama pada kawasan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Permasalahan. 1. Tingginya Mobilitas Penggunaan Jalan di Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Latar belakang permasalahan merupakan beberapa isu yang membutuhkan solusi melalui perancagan sebuah fasilitas bangunan untuk memecahkan masalah tersbut.
BAB 3 METODE PERANCANGAN. Metode perancangan yang digunakan dalam perancangan Convention and
BAB 3 METODE PERANCANGAN Metode perancangan yang digunakan dalam perancangan Convention and Exhibition Center di Kota Batu ini menggunakan penelitian dengan metode analisis dan sintesis. Metode tersebut
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pengadaan Proyek
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengadaan Proyek Indonesia memiliki sumber daya pariwisata yang tidak kalah menariknya bila dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asean. Namun demikian kepemilikan
BAB II DESKRIPSI PROYEK
BAB II DESKRIPSI PROYEK 2.1 Umum Proyek ini merupakan proyek fiktif yang diirencanakan pada lahan kosong yang berada di Jalan Soekarno-hatta dan diperuntukan untuk pertandingan renang internasional dan
BAB VI KONSEP PERENCANAAN
BAB VI KONSEP PERENCANAAN VI.1 KONSEP BANGUNAN VI.1.1 Konsep Massa Bangunan Pada konsep terminal dan stasiun kereta api senen ditetapkan memakai masa gubahan tunggal memanjang atau linier. Hal ini dengan
