ANALISIS PENDAPATAN PENYADAP GETAH

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS PENDAPATAN PENYADAP GETAH"

Transkripsi

1 ANALISIS PENDAPATAN PENYADAP GETAH Pinus merkusii Jungh et de Vriese DAN HUBUNGANNYA DENGAN TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM KEGIATAN PENYADAPAN GETAH DI BKPH KARANGKOBAR KPH BANYUMAS TIMUR Oleh : ADITYA DEWI KARTIKA NINGRUM E DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

2 RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan pada tanggal 25 April 1984 di Kabupaten Purbalingga Propinsi Jawa Tengah, merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari keluarga Bapak Karseno Adi dan Ibu Nining Rustini. Pendidikan yang ditempuh penulis dimulai dari TK Pertiwi Karangkobar pada tahun Pada tahun 1996 penulis menyelesaikan pendidikan dasar di Sekolah Dasar Negeri Karangkobar I, kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri I Karangkobar hingga tahun Pada tahun 2002 penulis menyelesaikan jenjang pendidikan di Sekolah Menengah Umum Negeri I Purbalingga. Pada tahun yang sama diterima di Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI). Selama menempuh pendidikan di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor penulis mengikuti magang di BKPH Gunung Slamet Barat KPH Banyumas Timur pada tahun 2004, Praktek Umum Kehutanan di Cilacap dan Baturraden, Praktek Pengelolaan Hutan Lestari di Getas pada tahun Pada tahun 2006 penulis mengikuti KKN di desa Sinarsari, kecamatan Dramaga, kabupaten Bogor. Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, penulis menyusun skripsi yang berjudul Analisis Pendapat Penyadap Getah Pinus merkusii Jungh et de Vriese dan Hubunganya dengan Tingkat Partisipasi Masyarakat Dalam Kegiatan Penyadapan Getah di BKPH Karangkobar KPH Banyumas Timur di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir Dudung Darusman, MA.

3 RINGKASAN Aditya Dewi Kartika Ningrum (E ). Analisis Pendapatan Penyadap Getah Pinus merkusii Jungh et de Vriese dan Hubungannya dengan Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Kegiatan Penyadapan Getah di BKPH Karangkobar KPH Banyumas Timur, di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA. Perum Perhutani sebagai pemegang hak pengusahaan hutan di pulau Jawa memiliki beberapa kelas perusahaan, diantaranya adalah kelas perusahaan hutan Pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese). Hingga saat ini di pulau Jawa terdapat sekitar Ha hutan Pinus yang menjadi tanggung jawab wilayah kerja Perum Perhutani. Produk yang dihasilkan dari kelas perusahaan Pinus adalah getah dan kayu Pinus. Namun saat ini yang menjadi perhatian adalah hasil berupa getah yang merupakan bahan baku industri yang dapat diolah menjadi gondorukem dan terpentin. Untuk mendapatkan getah dari tegakan pinus maka perlu dilakukan kegiatan penyadapan getah. Perhutani membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak dalam kegiatan ini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melibatkan masyarakat desa sekitar hutan sebagai tenaga penyadap. Umumnya masyarakat desa yang tinggal di sekitar hutan memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan lapangan pekerjaan yang terbatas hanya di bidang pertanian. Perhutani berusaha untuk melibatkan masyarakat di sekitar hutan dalam usaha pengelolaan hutan diantaranya dengan melibatkan masyarakat sebagai tenaga penyadap getah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pendapatan penyadap yang diperoleh dari kegiatan penyadapan getah Pinus, faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya pendapatan yang diperoleh oleh penyadap getah dan mengetahui hubungan antara besarnya pendapatan yang diperoleh penyadap dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan penyadapan getah Pinus. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2006 berlokasi di BKPH Karangkobar KPH Banyumas Timur. Penentuan jumlah responden dilakukan menggunakan metode stratified random sampling dengan stratum wilayah kerja mandor sadap dan intensitas sampling sebesar 8%. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner. Analisis data yang dipakai adalah analisis regresi linear dan analisis data deskriptif.

4 ii Pendapatan penyadap sangat tergantung pada jumlah getah yang mampu mereka hasilkan setiap bulan. Rata-rata pendapatan penyadap di BKPH Karangkobar adalah Rp per bulan. Selain dari kegiatan penyadapan penyadap juga mendapatkan penghasilan dari kegiatan lain seperti kegiatan usaha tani maupun peternakan. Kontribusi pendapatan dari kegiatan penyadapan ratarata sebesar 67,61% terhadap total pendapatan penyadap. Kontribusi terbesar dari kegiatan penyadapan terdapat di RPH Kalibening sebesar 80,52% sedangkan yang terendah berada di RPH Wanayasa sebesar 38,47%. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan dari kegiatan penyadapan antara lain luas areal sadapan. Rata-rata luas areal sadapan untuk tiap penyadap di BKPH karangkobar adalah 2,85 Ha. Luas areal sadapan berhubungan dengan jumlah pohon yang dapat dipanen oleh penyadap. Rata-rata jumlah pohon yang mampu disadap dalam sehari adalah 100 pohon. Jam kerja dalam penyadapan adalah 4,20 jam per hari dan jumlah hari kerja dalam sebulan adalah 18,03 hari. Kegiatan penyadapan di BKPH karangkobar menggunakan larutan asam Socepas 235 AS sebagai stimultan karena elevasi blok sadapan yang berada di ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan laut. Penggunaan larutan asam ini bertujuan untuk mengurangi laju pembekuan getah sehingga getah tidak cepat mengental dan menghambat saluran getah. Dari 21 peubah yang diambil di lapangan dari responden ternyata tidak semuanya dapat di analisis secara statistik. Peubah tersebut antara lain mata pencaharian responden, perlakuan penjarangan pada tegakan, penggunaan larutan asam, jenis tanah dan curah hujan. Peubah perlakuan penjarangan pada tegakan, penggunaan larutan asam, jenis tanah dan dan curah hujan memiliki nilai yang sama (konstan) sehingga bila dimasukkan dalam analisis statistik tidak akan berpengaruh nyata terhadap peubah tak bebas pendapatan. Dari beberapa faktor yang diprediksikan akan mempengaruhi besarnya pendapatan penyadap tidak seluruhnya berpengaruh nyata. Hasil analisis regresi dari 16 faktor yang diduga berpengaruh terhadap pendapatan penyadap ternyata hanya dua faktor yang berpengaruh nyata terhadap besarnya pendapatan penyadap yaitu faktor jumlah getah yang dapat di produksi tiap bulan (X 10 ) dan faktor umur

5 iii tegakan (X 13 ). Persamaan Regresi yang diperoleh adalah Y = X X 13. Dengan asumsi bahwa produksi getah per bulan dapat didekati dengan luas areal sadapan (X 5 ), hari kerja dalam sebulan (X 6 ), dan jam kerja efektif per hari(x 11 ) maka diperoleh rumus yang lebih mudah digunakan dalam pengelolaan tegakan yaitu : Y = X X X X 13 Rata-rata tingkat partisipasi masyarakat berdasarkan jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan penyadapan di BKPH Karangkobar sebesar 3,82%. RPH Pandanarum memiliki tingkat partisipasi masyarakat tertinggi yaitu sebesar 4,92%. Tingkat partisipasi ini berbanding lurus dengan luas areal sadapan pada masing-masing RPH. Tingkat partisipasi masyarakat di RPH Siweru adalah 3,43%, di RPH Wanayasa 3,80% dan tingkat partsisipasi terkecil berada di wilayah RPH Kalibening sebesar 3,13%. Tingkat partisipasi masyarakat di BKPH Karangkobar berdasarkan jam kerja rata-rata sebesar 61,80%, lebih tinggi dari tingkat partisipasi berdasarkan jumlah hari kerja dalam sebulan yaitu sebesar 60,10%. RPH Siweru memiliki tingkat partisipasi tertinggi berdasarkan jumlah jam kerja per hari maupun berdasarkan jumlah hari kerja per bulan. Tingkat partisipasi berdasarkan jam kerja sebesar 66,88 % sedangkan berdasarkan jumlah hari kerja dalam sebulan adalah 67,67%. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat partisipasi dengan pendapatan dapat dilihat dari nilai koefisien korelasi. Nilai koefisien korelasi antara pendapatan dan tingkat partisipasi berdasarkan jam kerja adalah 0,650 berarti korelasi antara tingkat partisipasi berdasarkan jam kerja dengan pendapatan cukup erat. Nilai koefisien korelasi antara pendapatan dengan jumlah hari kerja dalam sebulan adalah 0,861. Hal ini berarti hubungan antara pendapatan dengan tingkat partisipasi berdasarkan hari kerja per bulan erat. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pendapatan yang diperoleh penyadap dari sektor sadapan maka akan semakin besar pula tingkat partisipasi penyadap dalam hal jumlah jam kerja dalam sehari dan jumlah hari kerja dalam sebulan.

6 i KATA PENGANTAR Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai tugas akhir untuk mendapatkan gelar sarjana di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Skripsi ini berjudul Analisis Pendapatan Penyadap Getah Pinus Merkusii Jungh et de Vriese dan Hubungannya Dengan Tingkat partisipasi Masyarakat dalam Kegiatan Penyadapan Getah di BKPH Karangkobar KPH Banyumas Timur. Dalam penulisan skripsi ini banyak pihak yang telah membantu, baik secara moral maupun material. Karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Ibu, Bapak dan Bayu atas semua doa, dukungan moral dan material yang selama ini diberikan. 2. Prof. Dr. Ir. Dudung Darusman, MA selaku dosen pembimbing atas semua saran, bimbingan selama penelitian dan penulisan skripsi serta kesempatan untuk menimba ilmu dari Bapak. 3. Ir. Bedyaman Tambunan, MS selaku dosen penguji dari Departemen Hasil Hutan dan Dr. Ir. Agus Hikmat, M.Sc selaku dosen penguji dari Departemen Konservasi Sumber Daya Hutan. 4. Pa Gito atas bantuan transportasi selama penelitian di lapangan. 5. Pa Kamaluin Latif dan Mas Sriyono atas bantuan dan data-data sekundernya. 6. Pa Agung dan Pa Dwi di KPH Banyumas Timur atas bantuan dalam pengurusan ijin penelitian. 7. Teman-teman MNH 39 atas keceriaan dan kebersamaan selama 4 tahun. 8. Sahabat-sahabatku tercinta Tetty, Yuni, Linda, Indah, Fieta dan Ona 9. Teman-teman Nabila Anggrek Uni Esy, Tila, Naok, Aldise, Lola dan teman-teman Regina Bateng Wooland, Lilly, Febri, Dame. 10. Angga Prawira atas semua dukungan, perhatian dan bantuan yang diberikan sejak awal penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini

7 ii Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu selama pelaksanaan penelitian dan penulisan skripsi yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi orang yang memerlukan di masa yang akan datang. Bogor, Agustus 2006 Penulis

8 iii DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... iii DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... vi DAFTAR LAMPIRAN... vii PENDAHULUAN Latar Belakang... 1 Perumusan Masalah... 2 Tujuan Penelitian... 2 Manfaat Penelitian... 3 TINJAUAN PUSTAKA Pinus merkusii Jungh et de Vriese... 4 Penyadapan Getah Pinus... 4 Tenaga Penyadap... 8 Pendapatan Keluarga Penyadap... 9 Partisipasi Masyarakat... 9 METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Alat dan Objek Kerangka Pemikiran Metode Pengambilan Contoh Pengumpulan Data Analisi dan Pengolahan Data Definisi Operasional Hipotesis KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Letak dan Luas Wilayah Topografi, Tanah dan Iklim Kondisi Sosial Ekonomi... 22

9 iv Sistem Penyadapan Getah Sarana Penyadapan Getah Pinus PEMBAHASAN Karakteristik Penyadap Pendapatan Penyadap dari Sektor Sadapan Pendapatan Penyadap dari Luar Sektor Sadapan Kontribusi Pendapatan dari Penyadapan terhadap Pendapatan Total Penyadap Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Penyadap Partisipasi Masyarakat dalam Kegiatan Penyadapan KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 55

10 v DAFTAR TABEL Nomor Halaman Teks 1. Jumlah Responden tiap Wilayah Kerja Mandor Penggunaan Lahan di Masing-Masing Kecamatan Jumlah dan Kepadatan Penduduk Tiap Kecamatan Mata Pencaharian Penduduk di Kecamatan Sekitar BKPH Karangkobar Peralatan Sadap Metode Quare yang Dibakukan Tarif Getah yang Berlaku di Wilayah KPH Banyumas Timur Rata-rata Pendapatan Penyadap dari Kegiatan Penyadapan Rata-rata Luas Blok Sadapan Tiap Penyadap Rata-rata Produsi Getah per Penyadap di Masing-masing RPH Rata-rata Jarak Tempuh dan Jam Kerja Efektif dalam Penyadapan Besarnya Kontribusi dari Kegiatan Penyadapan terhadap Pendapatan Total Penyadap Hasil Uji-t Regresi Linear Antara 16 Variabel yang Diduga Mempengaruhi Pendapatan Penyadap Sidik Ragam Persamaan Regresi Sidik Ragam Persamaan Regresi Penduga Pendapatan Tingkat Partisipasi Masyarakat Berdasarkan Jumlah Penyadap Tingkat Partisipasi Berdasarkan Jumlah Jam Kerja per Hari dan Hari Kerja per Bulan Rata-rata Tingkat Partisipasai dan Rata-rata Pendapatan Penyadap per Bulan di BKPH Karangkobar Koefisien Korelasi Antara Tingkat Partsispasi dengan Pendapatan... 49

11 vi DAFTAR GAMBAR Nomor Halaman Teks 1. Kerangka Pemikiran Penelitian Sistem Penyadapan Metode Quare... 24

12 vii DAFTAR LAMPIRAN Nomor Halaman Teks 1. Rekapitulasi Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Pendapatan Penyadap dari Sektor Sadapan Perbandingan Antara Jumlah Penyadap dengan Jumlah Tenaga Kerja Laki-laki tiap Wilayah Kerja Mandor Sadap Hasil Pengolahan Data dengan Minitab 13.3 For Window Pendapatan Penyadap dari Sektor Sadapan dan dari Luar Sektor Sadapan... 64

13 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Perum Perhutani sebagai pemegang hak pengusahaan hutan di pulau Jawa memiliki beberapa kelas perusahaan, diantaranya adalah kelas perusahaan hutan pinus (Pinus merkusii Jungh et de Vriese). Hingga saat ini di pulau Jawa terdapat sekitar Ha hutan Pinus yang menjadi tanggung jawab wilayah kerja Perum Perhutani. Produk yang dihasilkan dari kelas perusahaan pinus adalah getah dan kayu pinus. Namun saat ini yang menjadi perhatian adalah hasil berupa getah yang merupakan bahan baku industri yang dapat diolah menjadi gondorukem dan terpentin. Untuk mendapatkan hasil berupa getah maka tegakan pinus harus disadap. Dalam kegiatan ini Perum Perhutani membutuhkan tenaga kerja yang cukup banyak untuk bekerja sebagai penyadap getah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan melibatkan masyarakat yang ada disekitar hutan. Umumnya masyarakat desa yang tinggal di sekitar hutan memiliki tingkat pendidikan yang rendah dan lapangan pekerjaan yang terbatas hanya di bidang pertanian. Perhutani berusaha untuk melibatkan masyarakat di sekitar hutan dalam usaha pengelolaan hutan diantaranya dengan melibatkan masyarakat sebagai tenaga penyadap getah. Permasalahan yang timbul adalah apakah masyarakat sekitar hutan tertarik atau tidak untuk bekerja sebagai penyadap getah. Tenaga kerja yang tersedia dalam jumlah yang cukup banyak tidak akan berarti dalam mendukung kegiatan penyadapan getah bila masyarakat tidak tertarik untuk ikut berpartisipasi di dalamnya. Masyarakat akan tertarik untuk bekerja sebagai penyadap apabila hasil yang diperoleh dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan pekerjaan penyadapan memberikan hasil yang lebih baik dari pekerjaan lain. Masalah berapakan pendapatan yang diperoleh oleh penyadap dari kegiatan penyadapan, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan penyadap dari kegiatan penyadapan dan pengaruh besarnya pendapatan penyadap terhadap tingkat partisipasi masyarakat terhadap kegiatan penyadapan getah perlu untuk diteliti lebih lanjut. Penelitian ini berjudul Analisis Pendapat Penyadap Getah Pinus merkusii Jungh et de Vriese dan Hubunganya dengan Tingkat Partisipasi

14 2 Masyarakat Dalam Kegiatan Penyadapan Getah di BKPH Karangkobar KPH Banyumas Timur. Perumusan Masalah Pengelolaan hutan pinus oleh Perum Perhutani melibatkansebagian masyarakat di sekitar hutan untuk bekerja sebagai penyadap getah. Dengan adanya kegiatan penyadapan getah ini maka memberikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat di sekitar hutan. Namun minat masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan penyadapan getah pinus masih rendah sedangkan areal hutan yang harus disadap masih luas. Penyebab dari rendahnya minat masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan penyadapan getah pinus diduga akibat rendahnya kontribusi pendapatan dari kegiatan penyadapan getah Pinus terhadap pendapatan total penyadap. Penyebab rendahnya pendapatan para penyadap mungkin diakibatkan oleh rendahnya produksi getah para penyadap dan rendahnya upah penyadapan getah. Masalah utama yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah besarnya pendapatan yang diperoleh penyadap dari kegiatan penyadapan getah Pinus dan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan para penyadap serta untuk mengetahui hubungan antara pendapatan yang diperoleh oleh para penyadap dalam kegiatan penyadapan dengan tingkat parisipasi masyarakat dalam kegiatan penyadapan. Karena akan semakin banyak masyarakat yang tertarik menjadikan pekerjaan menyadap getah Pinus sebagai mata pencaharian utama bila penghasilan yang diperoleh dari kegiatan tersebut lebih besar dari penghasilan yang didapatkan dari pekerjaan lainnya. Serta penghasilan dari penyadapan mampu memenuhi kebutuhan hidup bagi keluarga penyadap. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1. Besarnya pendapatan penyadap yang diperoleh dari kegiatan penyadapan getah Pinus. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya pendapatan yang diperoleh oleh penyadap getah.

15 3 3. Mengetahui hubungan antara besarnya pendapatan yang diperoleh penyadap dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan penyadapan getah Pinus. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat untuk memberikan informasi mengenai: 1. besarnya pendapatan penyadap yang diperoleh dari kegiatan penyadapan getah. 2. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap besarnya pendapatan yang diperoleh para penyadap dari kegiatan penyadapan sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam usaha meningkatkan pendapatan penyadap. 3. Hubungan antara besarnya pendapatan dari kegiatan penyadapan getah dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan penyadapan getah.

16 4 TINJAUAN PUSTAKA Pinus merkusii Jungh et. de Vriese Pinus merkusii Jungh et de Vriese merupakan salah satu jenis tumbuhan dari marga Pinaceae. Marga Pineceae memiliki ciri yang khas yaitu memiliki batang utama silindris, lurus dalam tegakan rapat serta memiliki alur yang dalam, cabangcabang membentuk putaran yang teratur, tinggi bebas cabang bisa mencapai meter, tidak memiliki banir tetapi bagian pangkal batangnya melebar. Memiliki bentuk daun jarum dengan jumlah dua helai yang dapat bertahan lebih dari dua tahun dengan tepi daun bergerigi halus. Bunga berbentuk strobili jantan dan betina. Tumbuhan ini merupakan jenis pionir yang mudah dan cepat tumbuh (Prosea, 1998). Penyebaran alami dari Pinus merkusii Jungh et de Vriese meliputi Burma, Kamboja, Vietnam, Sumatra, dan Filipina. Pinus ini tidak dijumpai di Semenanjung Malaya. Di pulau Sumatra ditemukan tiga galur yaitu galur Aceh, Tapanuli dan Kerinci yang berbeda dalam bentuk batang, percabangan, kandungan resin dan ketahanan terhadap serangan ngengat Milionia basalis. Pinus merkusii dapat tumbuh pada ketinggian antara meter di atas permukaan laut namun akan tumbuh optimal pada ketinggian meter di atas permukaan laut (Mirov, 1967). Pohon Pinus merupakan jenis pohon multi guna karena kayunya dapat dimanfaatkan untuk bahan baku industri korek api, chop stick (sumpit makanan), kayu perkakas dan meubel. Selain hasil berupa kayu, pinus juga menghasilkan getah melalui proses penyadapan dan pengolahan getah dapat menghasilan gondorukem (gum rosin) dan terpentin (turpentine). Kedua produk ini tidak hanya dibutuhkan untuk industri dalam negeri tetapi juga laku untuk di eksport. (Soedjono, 1992) Penyadapan Getah Pinus Menurut Soetomo (1971) dalam Purwandari (2002) menyatakan bahwa ada tiga sistem penyadapan yang digunakan dalam penyadapan getah pinus yaitu sistem koakan (quarre system), sistem Bor dan sistem Amerika. Dari ketiga

17 5 sistem diatas yang biasa digunakan di Indonesia adalah sistem koakan (quarre system) karena merupakan cara yang sederhana, murah dan mudah dikerjakan. Dalam sistem koakan batang yang akan disadap kulitnya dibersihkan setebal 3 mm tanpa melukai kayunya dengan maksud mempermudah pelaksanaan pembuatan koakan. Koakan awal (sadapan awal) dibuat setinggi 20 cm dari permukaan tanah dengan menggunakan petel sadap atau kadukul. Koakan berukuran cm dengan kedalaman 2 cm tidak termasuk tebal kulit. Getah yang keluar dialirkan melalui talang dan ditampung dalam tempurung. Pemasangan talang dilakukan dengan menempelkan talang di bagian tepi bawah koakan dan dipaku pada kedua sisinya agar tidak mengganggu aliran getah ke bawah. Ukuran talang 10 5 cm dengan bentuk melengkung yang terbuat dari seng galvanisir. Tempurung tempat menampung getah dipasang 5 cm di bawah talang. Tempurung dan talang perlu dinaikkan setiap koakan bertambah 30 cm. Pembaruan koakan dilakukan setiap tiga hari sekali dengan memperpanjang koakan tinggi 3-5 mm. Pemungutan getah dilakukan setiap 9-10 hari sekali. Menurut ketentuan yang berlaku di Perum Perhutani jumlah koakan yang dapat diterima tidak boleh lebih dari 2 koakan untuk setiap pohon serta maksimum tinggi koakan dari tanah adalah 2 meter. Kelebihan dari sistem koakan adalah : (a) biaya operasional dan harga alat murah, (b) lebih mudah dalam pelaksanaan di lapangan, (c) tidak mencemari lingkungan. Sedangkan kelemahan dari sistem ini adalah : (a) alat sadap yang sederhana dan tenaga kerja yang berbeda-beda dapat menyebabkan terjadinya perbedaan kedalaman luka yang dihasilkan, (b) getah yang dihasilkan banyak mengandung kotoran karena tempurung tempat penampungan getah terbuka sehingga getah mudah tercampur kotoran, (c) pulihnya luka sangat lama kurang lebih 8-9 tahun, (d) bagian yang terbuka relatif lebar sehingga rentan terhadap serangan hama dan penyakit serta mudah rusak di bagian alur sadap (Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan, 1996). Produksi getah Pinus dipengaruhi oleh kondisi biofisik dari pohon yang disadap serta kondisi lingkungan sekitarnya. Pada musim penghujan produksi getah cenderung mengalami penurunan karena getah yang keluar dari luka sadapan berkurang. Hal ini juga sama dialami pada daerah-daerah dengan

18 6 ketinggian lebih dari 700 meter di atas permukaan laut. Pengaruh suhu dan kelembaban udara ini sangat menentukan keluarnya getah sadapan dari tiap-tiap pohon per satuan waktu. Hal ini dikarenakan pada suhu rendah (dibawah 20 C) dan kelembaban udara yang tinggi (di atas 70%) sangat besar pengaruhnya terhadap kondisi saluran getah. Saluran getah menyempit atau bahkan buntu sehingga apabila masih ada getah yang bisa keluar akan segera mengalami pembekuan di mulut saluran getah, hal ini akan menghambat getah yang seharusnya masih bisa keluar (Kasmudjo, 1992) Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan (1996) getah pinus sebagai hasil dari proses metabolisme pohon, produksinya sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang juga berpengaruh terhadap pertumbuhan pohon itu sendiri. Faktor-faktor tersebut antar lain : 1. Faktor biologis pohon (jenis pohon, umur tegakan, diameter dan tinggi pohon) 2. Faktor tempat tumbuh (ketinggian tempat, dan iklim) 3. Faktor perlakuan terhadap pohon (metode sadapan, arah sadapan, penjarangan pohon) Jenis pohon Produksi getah berbeda menurut jenis pohon, misalnya Pinus caribaea menghasilkan getah yang lebih benyak dengan kerak yang menempel pada pohon lebih sedikit dibandingkan Pinus palustris. Umur tegakan Umur dan bonita tegakan mempunyai pengaruh nyata terhadap produksi getah Pinus. Perum Perhutani baru melaksanakan penyadapan setelah pohon berumur 10 tahun (kelas umur III) dan produksi getah pada kelas umur V- VI telah mengalami penurunan. Diameter dan tinggi pohon Bidang dasar atau diamater pohon, tinggi pohon, dan jarak antar pohon (populasi) berpengaruh terhadap produksi getah Pinus merkusii. Dari ketiga peubah tersebut diameter pohon memiliki pengaruh yang paling besar.

19 7 Ketinggian tempat Tinggi tempat tumbuh dari permukaan laut mempengaruhi produksi getah Pinus merkusii. Produksi getah pada elevasi rendah (sampai dengan ketinggian 500 meter di atas permukaan laut) lebih besar dari pada produksi getah pada elevasi sedang ( meter di atas permukaan laut) dan elevasi tinggi (di atas 1000 meter di atas permukaan laut). Tinggi tempat tumbuh mempengaruhi suhu dan intensitas cahaya karena semakin tinggi tempat dari permukaan laut suhu semakin rendah demikian juga intensitas cahaya. Hal ini akan mempengaruhi laju metabolisme dan asimilasi pohon yang selanjutnya akan mempengaruhi produksi getah. Iklim Musim panas akan menghasilkan getah yang lebih banyak karena suhu dan intensitas cahaya lebih tinggi, tetapi panas yang terus menerus menyebabkan getah cepat kering dan aliran getah akan terhenti. Cuaca yang dingin dapat memperlambat aliran getah, karena saluran getah dapat tersumbat oleh getah yang membeku. Metode sadapan Penyadapan tanpa menggunakan larutan asam lebih baik dari pada penggunan larutan asam dalam penyadapan sistem quarre. Penggunaan larutan asam hanya dapat memperpanjang waktu pembaruan koakan dari tiga hari menjadi enam hari dan bukan untuk meningkatkan produksi. Kerusakan pada pemakaian larutan asam dapat terlihat jelas dalam penyadapan bentuk koakan pada kayu yang mengering dan kulit yang merekah terpisah antara kayu dan kulitnya. Arah sadapan Koakan yang menghadap ke Timur akan menghasilkan getah yang lebih banyak karen mendapatkan cahaya yang lebih cepat dan lebih lama. Karena suhu yang tinggi dan intensitas cahaya yang lebih banyak sehingga getah yang dihasilkan tidak cepat mengental. Penjarangan pohon Penjarangan adalah perlakuan silvikultur terhadap tegakan hutan yang dibangun untuk menghasilkan kondisi pohon dalam pertumbuhan yang baik.

20 8 Pada kondisi pohon yang baik akan dihasilkan kayu maupun getah Pinus yang optimal. Sehingga dalam penjarangan yang diperhatikan adalah kondisi tegakannya bukan hasil dari kegiatan penjarangan. Pohon yang ditebang saat penjarangan adalah : (a) pohon yang terserang hama dan penyakit, (b) bentuknya jelek, (c) kondisinya tertekan, (d) pertumbuhannya abnormal, (e) jaraknya terlalu rapat dengan pohon lain dan (f) tanaman selain tanaman pokok yang mengganggu tanaman pokok. Pada umumnya penjarangan dilakukan setiap 5 tahun sekali. Tenaga Penyadap Tenaga penyadap umumnya berstatus pekerja atau buruh lepas yang menerima upah borongan. Mereka terdiri dari penduduk daerah di sekitar hutan dan penduduk dari luar daerah bila tenaga setempat tidak mencukupi. Kebanyakan penyadapan getah pinus merupakan pekerja musiman atau dianggap sebagai pekerjaan sambilan sehingga pada waktu musim menggarap sawah atau memanen padi pekerjaan penyadapan getah sering terbengkalai atau bahkan terhenti. Di beberapa tempat dimana lapangan kerja sulit dicari dan hasil pertanian kurang dapat mendukung kehidupan petani, kegiatan penyadapan getah yang dikembangkan oleh Perum Perhutani semakin menarik para pencari kerja untuk memperoleh penghasilan yang relatif tetap atau terus menerus (Soedjono, 1992) Alasan masyarakat bekerja sebagai penyadap getah biasanya karena rendahnya pendapatan mereka yang tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Bekerja sebagai penyadap getah mereka pilih sebagai pekerjaan sampingan. Kondisi sosial ekonomi penyadap merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas getah pinus yang diperoleh. Umumnya tenaga penyadap memiliki tingkat pendidikan setingkat atau di bawah SD. Rendahnya kualitas tenaga penyadap akan mempengaruhi rendahnya kualitas getah yang disadap. Selain itu apabila pendapatan dari sawah atau tegalan kurang karena adanya kegagalan panen maka jumlah getah yang disadap bertambah banyak, demikian pula bila menjelang Lebaran atau musim hajatan (Badan Peneliti dan Pengembangan Departemen Kehutanan Republik Indonesia, 1996)

21 9 Pendapatan Keluarga Menurut Kasryno (1984) dalam Hutagalung (1998) pendapatan bersih rumah tangga adalah pendapatan bersih usaha tani ditambah dengan penerimaan rumah tangga lainnya seperti upah kerja yang diperoleh dari luar sektor usaha tani seperti upah buruh dan keuntungan dari berdagang. Untuk rumah tangga di pedesaan yang hanya memiliki faktor produksi tenaga kerja, pendapatan rumah tangga ditentukan oleh besarnya kesempatan kerja yang tersedia dan tingkat upah yang berlaku. Dewasa ini banyak rumah tangga di negara berkembang memiliki pendapatan yang rendah. Hal ini karena jumlah anggota rumah tangga yang tidak produktif lebih banyak dari jumlah anggota rumah tangga yang produktif sehingga jumlah tanggungan pekerja lebih berat. Selain itu ada korelasi positif antara pendidikan formal dan pendapatan masyarakat. Bila pendidikan rendah maka pendapatannya juga rendah. Hal ini terjadi karena ketidak mampuan masyarakat yang berpendidikan rendah untuk menganalisa dan memanfaatkan informasi yang berkaitan dengan peluang-peluang untuk memperoleh serta meningkatkan penghasilan (Bishop dan Toussaint, 1979). Menurut Purwandari (2002) faktor-faktor yang berpengaruh secara nyata terhadap pendapatan penyadap dari kegiatan penyadapan getah antara lain jumlah pohon yang mampu disadap oleh penyadap, kemampuan penyadap dalam memperbarui koakan, produksi getah yang dihasilkan setiap penyadap dan keterampilan kerja penyadap dengan menggunakan teknologi yang lebih produktif misalnya dengan menggunakan larutan asam. Partisipasi Masyarakat Arti kata partisipasi menurut Hardjosoediro (1977) dalam Hutagalung (1998) adalah mengambil bagian secara aktif, konstruktif dan bermanfaat. Partisipasi dalam hal ini mengandung arti pasif yaitu melukiskan adanya kegiatan (bersama) yang ditimbulkan oleh sebagian pihak yang mempunyai inisiatif. Pihak lain yang yang hanya ikut bagian dalam kegiatan tersebut berada dalam bagian pasif, hanya mengikuti apa yang ditimbulkan oleh pihak yang mengajak. Perkembangan ke arah sikap aktif dari semua pihak yang mengambil bagian

22 10 dalam kegiatan tersebut ditentukan oleh hubungan antar objek kegiatan, pengambilan inisiatif, dan pihak yang diajak untuk turut serta dalam kegiatan tersebut. Dalam menganalisa partisipasi masyarakat dalam pembangunan kehutanan Wiersum (1984) dalam Kartasubrata (1986) mengemukakan bahwa ada empat jenis masukan dasar untuk berpartisipasi yaitu dalam bentuk lahan, tenaga kerja, modal dan teknologi. Dalam hal ini teknologi dibedakan antara teknologi profesional yang berdasarkan ilmu kehutanan dan teknologi asli yang berdasarkan pengalaman penduduk setempat. Dalam kebanyakan program kehutanan khususnya kehutanan sosial beberapa jenis masukan partisipasi dapat dibedakan oleh penduduk desa baik secara berkelompok atau dalam hubungan komunal maupun secara perorangan (Kartasubrata, 1986)

23 11 METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di BKPH Karangkobar KPH Banyumas Timur Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Waktu pelaksanakan penelitian selama dua bulan mulai bulan Mei sampai bulan Juni Alat dan Objek Penelitian ini dilakukan terhadap responden yaitu penyadap getah pinus di BKPH Karangkobar sebagai objek penelitian dengan alat bantu berupa kuisioner, alat tulis dan kamera. Kerangka Pemikiran Hasil dari kelas perusahaan pinus adalah getah yang perlu untuk disadap dalam selang periode tertentu. Perum Perhutani yang mengusahakan kelas perusahaan pinus memanfaatkan potensi getah yang dihasilkan dari pohon pinus untuk memperoleh pendapatan (income). Kegiatan penyadapan getah Pinus memerlukan tenaga kerja yang cukup banyak dan perlu dilakukan secara teratur dan kontinyu. Karena terbatasnya tenaga kerja yang dimiliki oleh Perum Perhutani maka dalam kegiatan penyadapan getah Perum Perhutani melibatkan masyarakat sekitar hutan sebagai tenaga kerja. Di lain pihak desa di sekitar hutan memiliki potensi tenaga kerja yang besar dengan lapangan pekerjaan yang terbatas hanya dibidang pertanian. Dengan adanya kegiatan penyadapan getah diharapkan akan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Namun saat ini kegiatan penyadapan getah pinus hanya menjadi pekerjaan sampingan saja selain pekerjaan pokok sebagai petani. Partisipasi masyarakat sekitar hutan dalam kegiatan penyadapan getah akan berlangsung bila pendapatan yang mereka peroleh dari kegiatan penyadapan tersebut mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dan pendapatan yang diperoleh tersebut lebih baik dari pekerjaan di bidang yang lain.

24 12 Perhutani Sebagai Pengelola Hutan Masyarakat Sekitar Hutan Tegakan Hutan Pinus Pelestarian dan Pemberdayaan Kegiatan Penyadapan Getah Pinus Optimalisasi Pengelolaan dan Penyadapan Masalah Yang Dikaji : 1. Pendapatan dari Penyadapan 2. Pendapatan dan Faktor yang Berpengaruh 3. Pendapatan dan Partisipasi Data Yang Dihimpun : 1. Pendapatan dari Penyadapan 2. Faktor yang Berpengaruh Terhadap Pendapatan 3. Tingkat Partisipasi Masyarakat Tujuan Yang Ingin Dicapai : 1. Peningkatan Pendapatan Penyadap 2. Peningkatan Partisipasi Masyarakat dalam Kegiatan Penyadapan Gambar 1. Kerangka Pemikiran

25 13 Metode Pengambilan Contoh Metode yang digunakan dalam pengambilan contoh pada penelitian ini adalah metode Stratified randon sampling dengan stratum wilayah kerja mandor sadap. Stratifikasi yang dilakukan berdasarkan wilayah kerja mandor sadap dimaksudkan agar contoh yang diambil merata di wilayah BKPH Karangkobar sehingga data yang didapatkan benar-benar mewakili kondisi yang sebenarnya. Kegiatan awal sebelum menentukan banyaknya contoh yang akan diambil perlu untuk mengetahui jumlah penyadap tiap wilayah kerja mandor sadap di BKPH Karangkobar. Dari lima RPH yag ada di BKPH Karangkobar hanya empat RPH yang memproduksi getah pinus yaitu RPH Wanayasa, RPH Pandanarum, RPH Kalibening dan RPH Siweru sedangkan RPH Batur memproduksi kopal. Penentuan jumlah responden yang akan diambil didasarkan pada kemapuan penulis dengan mempertimbangkan waktu penelitian dan kemampuan peniliti dalam mengambil data per hari. Jangka waktu yang direncanakan dalam pelaksanaan penelitian adalah 2 bulan dengan asumsi jumlah hari kerja optimal dalam pengambilan data adalah 40 hari. Kemampuan untuk mengambil data dilapangan adalah 2 responden setiap hari maka jumlah responden total yang diperoleh kurang lebih adalah 80 orang. Dari total populasi sebanyak 1022 orang maka intensitas sampling yang digunakan adalah 8% dan sudah cukup mewakili kondisi yang sebenarnya. Jumlah responden yang diambil untuk tiap wilayah kerja mandor disajikan dalam tabel dibawah ini :

26 14 Tabel 1. Jumlah penyadap getah dan responden tiap wilayah kerja mandor RPH Stratum Jumlah Penyadap Jumlah Responden Pandan Arum Kalibening Wannayasa Siweru Total Pengumpulan Data Data yang dikumpulkan melalui penelitian ini adalah data primer tentang penyadap yang diperoleh melalui kuisioner dan wawancara serta data sekunder tentang demografi tempat penelitian yang diperoleh melalui kantor pemerintah yang terkait. 1. Data primer terdiri dari: a. Kondisi penyadap yang meliputi : Umur Jumlah anggota keluarga yang terlibat dalam penyadapan

27 15 Pendidikan Mata pencaharian Lama menjadi penyadap b. Aktivitas penyadapan yang meliputi : Luas areal sadapan Hari kerja dalam sebulan Jarak rumah ke lokasi penyadapan Jarak lokasi penyadapan ke tempat pengumpulan getah Produksi getah per bulan Jam kerja efektif dalam setiap penyadapan Jangka waktu pemungutan getah Jangka waktu pengumpulan getah Umur tegakan yang disadap Jumlah pohon yang dapat disadap setiap hari Penjarangan tegakan Penggunaan larutan asam c. Kondisi tempat penyadapan Tinggi tempat Jenis tanah Curah hujan Kemiringan lahan 2. Data sekunder terdiri dari : a. Jumlah penduduk b. Mata pencaharian penduduk c. Letak dan keadaan geografi lokasi penelitian d. Kondisi sosial ekonomi penduduk e. Sarana dan prasarana penunjang lainnya

28 16 Analisis dan Pengolahan Data Dalam pengolahan dan analisis data digunakan analisis regresi linear untuk menganalisa faktor yang paling berpengaruh terhadap besarnya pendapatan yang diperoleh penyadap dari kegiatan penyadapan. Analisis data deskriptif digunakan untuk menganalisa data yang tidak dapat dijelaskan secara statistik yaitu untuk menjelaskan apakah ada hubungan antara tingkat pendapatan penyadap getah dengan tingkat pertisipasi masyarakat. 1. Pendapatan dari kegiatan penyadapan : R 1 : (Q A P A + Q B P B ) + (Q A + Q B ) r μ Dimana : R 1 Q A Q B P A P B r μ : Pendapatan dari hasil penyadapan : Getah hasil sadapan kualitas A (Kg) : Getah hasil sadapan kualitas B (Kg) : Tarif upah sadapan getah kualitas A (Rp/Kg) : Tarif upah sadapan getah kualitas B (Rp/Kg) : Jarak pikul (Hm) : Upah pikul (Rp/Hm) 2. Pendapatan total penyadap R T : R 1 + R 2 + R R n Dimana : R T R 1 R 2 R 3 R n : Pendapatan total penyadap : Pendapatan dari kegiatan penyadapan : Pendapatan dari kegiatan bertani : Pendapatan dari kegiatan berdagang : Pendapatan dari kegiatan lain seperti gaji atau upah buruh 3. Kontribusi pendapatan dari penyadapan terhadap pendapatan total R K = 1 100% R T Dimana : K : Kontribusi pendapatan

29 17 R 1 R T : Pendapatan dari kegiatan penyadapan : Pendapatan total penyadap 4. Tingkat partisispasi berdasarkan jumlah tenaga kerja Dimana : T P P G P T PG Tp = x 100% P T : Tingkat partisipasi berdasarkan jumlah tenaga kerja : Jumlah penyadap : Jumlah total penduduk desa laki-laki usia kerja. 5. Tingkat partisipasi berdasarkan jumlah jam kerja per hari T Dimana : T P J k p = 8 J k x100% : Tingkat pertisipasi berdasarkan jumlah jam kerja per hari : Jumlah jam kerja per hari 8 : Asumsi jumlah jam kerja optimal penyadapan getah per hari 6. Tingkat ratisipasi berdasarkan jumlah hari kerja per bulan T Dimana : T p H k p = H 30 k x100% : Tingkat partisipasi berdasarkan jumlah hari kerja per bulan : Jumlah hari kerja per bulan 30 : Asumsi jumlah hari kerja optimal per bulan dalam kegiatan penyadapan

30 18 7. Korelasi antara tingkat pendapatan dengan tingkat patrisipasi masyarakat r = n n n i= 1 n n 2 xi i= 1 i= 1 xi yi x i 2 n i= 1 n xi n i= 1 y n n 2 yi i= 1 i= 1 Dimana : r : Koefisien korelasi antar pendapatan dengan tingkat partisipasi x i : Tingkat pendapatan : Tingkat partisipasi masyarakat y i i y i 2 8. Faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan penyadap Dimana : Y i bo bi xi ei n i = bo + bi i=1 Y x + e i i : Peubah tak bebas yaitu pendapatan penyadap : Intersep : Koefisien regresi : Peubah bebas : Kesalahan baku Peubah bebas (xi) adalah faktor yang diduga berpengaruh terhadap besarnya pendapatan yang akan diperoleh oleh penyadap antara lain : X 1 X 2 X 3 X 4 X 5 X 6 X 7 X 8 X 9 X 10 X 11 : Luas blok sadapan (Ha) : Hari kerja dalam sebulan (Hari) : Jarak rumah ke lokasi penyadapan (Km) : Jarak lokasi penyadapan ke tempat pengumpulan getah (Km) : Produksi getah per bulan (Kg) : Jam kerja efektif dalam setiap penyadapan (Jam/Hari) : Jangka waktu pemungutan getah (Hari) : Jangka waktu pengumpulan getah (Hari) : Umur tegakan (Tahun) : Jumlah pohon yang dapat disadap (Pohon/Hari) : Perlakuan penjarangan

31 19 X 12 X 13 X 14 X 15 X 16 X 17 X 18 X 19 X 20 X 21 : Penggunaan larutan asam : Tinggi tempat (mdpl) : Jenis tanah : Curah hujan : Kemiringan lahan : Umur penyadap (Tahun) : Anggota keluarga yang terlibat dalam penyadapan (Orang) : Pendidikan : Mata pencaharian : Lama menjadi penyadap Pengujian hipotesis (Ho) dilakukan dengan sidik ragam, cara pengujiannya adalah dengan membandingkan F hitung dalam tabel sidik ragam dengan F kritis dari tabel pada tingkat nyata 0,05 dan 0,01. Jika F hitung lebih besar dari F kritis Ho ditolak, jika F hitung lebih kecil dari F kritis maka terima Ho. Melalui sidik ragam dengan asumsi kesalahan pengganggu (ei) mengikuti distribusi sebaran normal, maka : Ho : b 1 =b 2 =b 3 =...=b n =0 Hi ; b i 0, untuk i tertentu atau setidaknya ada satu b i 0 Bentuk analisis varian dari faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan penyadap adalah sebagai berikut : Sumber Keragaman JK DB KT F-hit Regresi JK Regresi m-1 Sisa JK Sisa n-m Total JK Total n-1 JKRe gresi m 1 JKSisa n m KTregresi KTSisa Peubah-peubah bebas yang berpengaruh nyata secara individual dapat diketahui dengan uji T, dimana t hitung dibandingkan dengan t kritis (tabel) pada tingkat nyata 0,05 dan 0,01. Jika t hitung lebih besar dari t tabel berarti peubah tersebut berpengruh nyata.

32 20 Definisi Operasional 1. Penyadap adalah tenaga kerja yang bekerja membuat luka koakan pada pohon Pinus, mengumpulkan getah dan mengangkut getah tersebut ke tempat pengumpulan getah. 2. Pendapatan dari sadapan besarnya pendapatan yang diperoleh penyadap dari kegiatan penyadapan getah yang merupakan hasil kali antara tarif upah penyadapan (Rp/Kg) dengan jumlah getah yang dihasilkan (Kg). 3. Pendapatan keluarga adalah besarnya pendapatan yang diperoleh oleh keluarga penyadap dari kegiatan penyadapan dan kegiatan lain di luar penyadapan 4. Partisipasi adalah tingkat keterlibatan masyarakat yang diukur berdasarkan perbandingan antara jumlah tenaga yang terlibat dalam penyadapan dengan jumlah tenaga kerja yang ada, perbandingan antara jumlah jam kerja rata-rata per hari dengan jumlah jam kerja optimal serta perbandingan antara jumlah hari kerja per bulan dengan jumlah hari kerja optimal per bulan. Hipotesis Hipotesa dari penelitian ini adalah makin besar pendapatan yang diperoleh dari hasil kegiatan penyadapan maka tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan penyadapan akan semakin besar.

33 21 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Letak dan Luas Wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Karangkobar termasuk ke dalam wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur. Luas wilayah kawasan hutan BKPH Karangkobar ,30 ha dimana terdiri dari ,90 ha luas kawasan hutan dan 86,40 ha luas alur. Dari luas hutan tersebut terbagi kedalam 5 wilayah kerja Resort Pemangkuan Hutan (RPH) yaitu RPH Siweru seluas 1.847,60 ha, RPH Wanayasa seluas 2.577,00 ha, RPH Kalibening seluas 3.087,90 ha, RPH Pandanarum seluas 2.891,60 ha dan PRH Batur seluas 1.158,80 ha. Wilayah BKPH Karangkobar di sebelah Utara berbatasan dengan wilayah BKPH Peninggaran, sedangkan di sebelah Selatan berbatasan dengan wilayah BKPH Banjarnegara. Bagian Barat berbatasan dengan wilayah kerja BKPH Gunung Slamet Timur dan sebalah Selatan berbatasan dengan KPH Kedu Selatan. Berdasarkan sebaran wilayah administratif BKPH Karangkobar masuk ke dalam 8 wilayah kecamatan di kabupaten Banjarnegara yaitu : Kecamatan Kalibening : 5.122,90 ha Kecamatan Punggelan : 1.001,80 ha Kecamatan Madukara : 516,90 ha Kecamatan Banjarmangu : 529,30 ha Kecamatan Karangkobar : 628,60 ha Kecamatan Batur : 1.089,50 ha Kecamatan Pejawaran : 69,30 ha Kecamatan Wanayasa : 2.605,20 ha Topografi, Tanah dan Iklim Kondisi lapangan BKPH Karangkobar sangat beragam mulai dari dataran yang landai sampai punggungan berombak dengan kemiringan 5 0 sampai jenis tanah di BKPH Karangkobar relatif seragam yaitu berupa tanah latosol merah kecoklatan dan latosol abu-abu hitam dengan ketinggian meter di

34 22 atas permukaan laut. Curah hujan rata-rata mm/th dan masuk kedalam tipe iklim A berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson. Sosial Ekonomi Wilayah BKPH Karangkobar tercakup dalam 8 Kecamatan di wilayah Kabupaten Banjarnegara namun penelitian ini hanya mengambil responden dari 5 kecamatan saja karena 3 kecamatan yang lain yaitu Kecamatan Batur, Pejawaran dan Punggelan tidak terdapat tegakan pinus yang bisa disadap. Data mengenai penggunaan lahan, dan jumlah penduduk disajikan dalam tabel berikut ini Tabel 2. Penggunaan Lahan di masing-masing Kecamatan No Jenis penggunaan Kecamatan (Ha) Jumlah lahan A B C D E (ha) % 1 Sawah 1132,78 799,68 329,51 372, , ,41 11,60 2 Pekarangan 541,90 852,45 292,56 237,84 336, ,67 6,23 3 Tegalan/kebun 2300, , , , , ,45 46,47 4 Kolam 25,63 31,24 39,96 23,44 120,27 0,33 5 Hutan negara 529,30 516,90 628, , , ,90 25,90 6 Perkebunan 249,66 827,86 658, ,34 4,78 7 Lain-Lain 151,99 395,50 213,23 171,51 769, ,62 4,69 Jumlah (Ha) 4656, , , , ,66 % 12,83 13,97 10,68 23,63 38, Sumber : BPS Banjarnegara Tahun 2005 Keterangan : A : Kecamatan Banjarmangu B : Kecamatan Madukara C : Kecamatan Karangkobar D : Kecamatan Wanayasa E : Kecamatan Kalibening Dari tabel 3 di atas dapat dilihat penggunaan lahan kecamatan yang berada di sekitar BKPH Karangkobar. Luas total lahan yang ada adalah ,66 ha yang sebagian besar digunakan sebagai tegalan atau kebun (46,47%). Sedangkan lahan hutan negara memiliki total luas terbesar kedua sebesar 9.402,90 Ha (25,90%). Areal persawahan sendiri hanya seluas 4.210,41 Ha atau 11,60% dari luas total lahan yang ada. Dari lima kecamatan di sekitar wilayah BKPH Karangkobar yang memiliki luas hutan negara terbesar adalah kecamatan Kalibening yaitu 5.122,90 Ha atau sebesar 36,27% dari luas lahan di kecamatan tersebut.

35 23 Tabel 3. Jumlah dan Kepadatan Penduduk Tiap Kecamatan No Kecamatan Jumlah Luas Jumlah usia kerja Kepadatan penduduk (Km 2 ) (Jiwa) (Jiwa) (%) (Jiwa/Km 2 ) 1 Banjarmangu 46, ,77 848,79 2 Madukara 48, ,85 828,42 3 Karangkobar 39, ,68 702,94 4 Wanayasa 82, ,23 517,32 5 Kalibening 142, ,96 441,01 Sumber : BPS Kabupaten Banjarnegara Dari data di atas dapat dilihat bahwa kecamatan Kalibening merupakan kecamatan terluas yang berada di sekitar BKPH Karangkobar yaitu Km 2. Namun dilihat dari kepadatan penduduknya kecamatan Kalibening memiliki kepadatan terendah yaitu 441,01 jiwa/km 2 sedangkan kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi adalah kecamatan Banjarmangu dengan kepadatan penduduk 848,79 jiwa/km 2 atau hampir dua kali kepadatan penduduk kecamatan Kalibening. Semakin tinggi jumlah penduduk di suatu kecamatan maka kebutuhan tanah untuk mencukupi kebutuhan perumahan dan lahan pertanian akan semakin besar. Hal ini akan meningkatkan kemungkinan terjadinya konversi lahan hutan menjadi areal pemukiman maupun lahan pertanian. Keadaan ini akan meningkatkan tekanan terhadap keberadaan hutan di wilayah tersebut. Rata-rata jumlah penduduk usia kerja (10-55 tahun) di lima kecamatan yang berada di sekitar BKPH Karangkobar adalah 67,10% dari jumlah penduduk yang ada. Kecamatan Kalibening memiliki jumlah penduduk usia kerja terbesar yaitu jiwa namun persentase jumlah penduduk usia kerja terbesar ada di kecamatan Wanayasa yaitu 79,23%. Sedangkan kecamatan Karangkobar memiliki jumlah penduduk usia kerja terkecil yaitu jiwa dan persentase jumlah penduduk usia kerja terkecil berada di kecamatan Banjarmangu yaitu 55,77%. Dengan adanya jumlah penduduk usia kerja yang besar di suatu kecamatan berarti menyediakan tenaga kerja yang besar pula untuk bekerja sebagai penyadap.

36 24 Tabel 4. Mata Pencaharian Penduduk di Kecamatan Sekitar BKPH Karangkobar No Jenis Kecamatan Jumlah % Pekerjaan A B C D E (jiwa) 1 Petani ,31 2 Buruh tani ,94 3 Buruh Industri ,85 4 Buruh Bangunan ,63 5 Jasa sosial ,28 6 Pedagang ,53 7 Angkutan ,73 8 PNS ,07 9 TNI dan POLRI ,08 10 Pensiunan ,47 11 Pengusaha ,07 12 Lain-lain ,05 Jumlah (jiwa) % 15,98 13,12 16,23 22,88 31, Sumber : BPS Kabupaten Banjarnegara Kecamatan Dalam Angka Keterangan : A : Kecamatan Banjarmangu B : Kecamatan Madukara C : Kecamatan Karangkobar D : Kecamatan Wanayasa E : Kecamatan Kalibening Dari data pada tabel 5 di atas dapat dilihat bahwa mata pencaharian utama sebagian besar masyarakat di wilayah kecamatan di sekitar BKPH Karangkobar adalah sebagai petani (49,31%) dan buruh tani (11,94%). Sebenarya berdasarkan tabel di atas mata pencaharian terbanyak kedua adalah di bidang selain yang telah dicantumkan diatas (lain-lain sebesar 26,05%) namun karena tidak terinci secara jelas maka tidak dapat diketahui apakah jenis pekerjaan lain memiliki nilai persentase yang lebih besar dari pada buruh tani. Sistem Penyadapan Getah Sistem penyadapan yang dipakai di BKPH Karangkobar adalah sistem koakan atau quare. Dalam metode koakan untuk mendapatkan getah maka di buat luka sampai ke dalam kayu. Bagian batang yang akan disadap kulitnya

37 25 dibersihkan setebal 3mm, lebar 20 cm, panjang 70 cm di atas tanah tanpa melukai kayunya. Mal sadap di buat dengan lebar 10 cm di tengah-tengah kulit pohon yang telah dibersihkan. Quare awal dibuat setinggi 20 cm dari permukaan tanah dan berukuran 10 x 10 cm. Kedalaman quare 2 cm tidak termasuk tebal kulit dan lebar quare 10 cm. Gambar 2. Sistem penyadapan metode quare Pembaruan luka sadapan dilakukan setiap 5-6 hari sekali di atas luka sadapan yang telah ada dengan perpanjangan 3-5 mm. Pemungutan getah dilakukan setiap 9-10 hari sekali. Oleh penyadap getah dikumpulkan ke dalam kotak kayu maupun drum fiber dan kemudian dipikul ke tempat pengumpulan getah (TPG). Bila jarak yang harus ditempuh antara blok sadapan dengan tempat pengumpulan getah cukup jauh maka getah diangkut dengan kendaraan. Getah diterima dan dibayar berdasarkan berat getah dan kualitas getah. Oleh sebab itu sebaiknya sebelum dikumpulkan kotoran-kotoran seperti tatal, daun maupun ranting dibersihkan terlebih dahulu. Pembayaran upah kerja dilakukan langsung setelah penyadap menyetorkan getah sehingga penyadap dapat langsung memperoleh upah kerja. Getah yang berasal dari penyadap di TPG ditampung dalam bak penampungan getah yang terbuat dari semen atau kayu dan getah dipisah berdasarkan kualitas. Bila tidak ada bak penampungan maka getah dimasukkan ke

38 26 dalam drum fiberglass. Dari sini getah diangkut ke pabrik pengolahan gondorukem dan terpentin (PGT) menggunakan truk dan getah di tampung dalam drum-drum fiberglass berkapasitas 125 kg dan diberi penutup untuk mencegah terjadinya susut berat. Karena semua lokasi sadapan berada di ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukan laut penyadapan di BKPH Karangkobar menggunakan cairan asam stimultan Socepas 235 As untuk merangsang keluarnya getah. Larutan Socepas 235 As mengandung Asam Klorida 0,08 gr/liter, Asam Fosfat 23,73 gr/liter dan Asam Sulfat 210,32 gr/liter. Penggunaan larutan ini bukan untuk menambah jumlah getah yang dikeluarkan pohon tetapi untuk memperpanjang waktu pembaruan luka koakan karena dengan penggunaan larutan asam ini akan mengurangi laju pembekuan getah sehingga saluran getah tidak tersumbat dan getah dapat terus mengalir. Sarana Penyadapan Getah Pinus 1. Alat Penyadapan Untuk pelaksanaan penyadapan diperlukan peralatan sadap antara lain petel sadap (pecok), talang seng, tempurung kelapa, ember sadap, pengeruk getah, spayer, larutan asam Socepas 235 As sebagai stimultan dan drum fiberglass sebagai penampung getah. Seluruh sarana penyadapan disediakan oleh pihak Perhutani. Kadang kala Perhutani juga memberikan sepatu karet dan mantel (jas hujan) bagi para penyadap. Ada beberapa penyadap yang menganggap pecok (petel sadap) yang disediakan Perhutani kurang bagus kualitasnya sehingga mereka berinisiatif untuk memesan sendiri dengan ukuran yang sama dengan pecok yang disediakan Perhutani. Di bawah ini disajikan tebel peralatan sadap metode quare yang dibakukan

39 27 Tabel 5. Peralatan Sadap Metode Quare yang Dibakukan No Jenis Alat Spesifikasi Umur Teknis Keterangan 1 Tempurung Ø min 8 cm tanpa mata 2 tahun 2 Talang sadap Tin plat 10x5x0,02 cm 0,5 tahun 3 Petel sadap Buatan lokal 3 tahun 4 Peti pikul 30 x 40 x 10 cm 2 tahun 5 Drum fiberglass Bekas bahan kimia 3 tahun 6 Ember plastik Ø 20 cm 2 tahun 7 Pengukur kadalaman quare Buatan lokal 5 tahun 8 Penggaris mal Buatan lokal 5 tahun sadap 9 Batu asah Segi empat 3 tahun 10 Cat mal sadap Warna Putih 1 kg = 500 pohon Sumber : Perum Perhutani, Tempat Pengumpulan Getah (TPG) BKPH Karangkobar memiliki 10 TPG yang tersebar di 4 RPH yaitu TPG Karangkobar, TPG Siweru, TPG Mandala, TPG Bendawuluh, TPG Clapar di RPH Siweru. TPG Tempuran di RPH Wanayasa. TPG Kalibening dan TPG Kalibombong di RPH Kalibening. TPG Talangan dan TPG Kalisat di RPH Pandanarum. TPG Kalibening selain untuk menampung getah dari RPH Kalibening juga digunakan untuk menampung sebagian getah dari RPH Pandanarum. Seluruh TPG dapat dilalui oleh kendaraan roda empat dengan baik. Di tiap TPG dilengkapi dengan bak penampung, timbangan gantung (dacin) kapasitas ±100 Kg dan contoh standar mutu getah Pinus yang ditempatkan dalam tabung kaca ukuran 250ml.

40 28 3. Upah Sadap Tarif upah yang berlaku ketika dilakukan penelitian ini dibedakan berdasarkan kualitas getah dan jarak pikul dari blok sadapan ke tempat pengumpulan getah. Adapun tarif upah getah yang berlaku di wilayah KPH Banyumas Timur adalah Tabel 6. Tarif Getah yang Berlaku di Wilayah KPH Banyumas Timur Jarak Pikul Tarif Getah (Rp/kg) (km) Kualitas A Kualitas B Sumber : Perhutani KPH Banyumas Timur

41 29 HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Penyadap Jumlah penyadap yang terdapat di BKPH Karangkobar adalah 1022 orang yang tersebar ke dalam 4 wilayah RPH. Seluruh penyadap yang ada merupakan penduduk lokal dari desa-desa di sekitar hutan. Penyadap dari RPH Siweru berasal dari desa di sekitar hutan yang terletak di kecamatan Madukara, kecamatan Banjarmangu, kecamatan Karangkobar dan kecamatan Wanayasa. Penyadap di RPH Wanayasa bertempat tinggal di kecamatan Wanayasa dan penyadap di RPH Kalibening dan RPH Pandanarum berasal dari desa-desa yang berada di wilayah kecamatan Kalibening. Dari kegiatan wawancara dengan responden umumnya para penyadap menganggap bahwa pekerjaan utama mereka adalah sebagai petani dan menjadikan pekerjaan sadapan sebagai pekerjaan sampingan. Namun ada beberapa orang yang menjadikan pekerjaan penyadap sebagai pekerjaan utama terutama para penyadap yang telah menyadap puluhan tahun. Lahan pertanian yang mereka garap tidak begitu luas dan ditanami dengan tanaman-tanaman palawija yang hasilnya sebagian besar untuk dikonsumsi sendiri dan dijual jika hasilnya berlebih. Banyak pula penyadap yang memelihara ternak seperti sapi dan kambing. Biasanya mereka membeli ternak dalam jumlah kecil untuk dipelihara selama jangka waktu tertentu dan akan dijual kembali untuk mendapatkan keuntungan. Karena pekerjaan menyadap hanyalah pekerjaan sampingan maka curahan waktu untuk bekerja di hutan hanya setengah hari atau dari pagi sampai tengah hari sedangkan dari siang sampai sore digunakan untuk bekerja di lahan pertanian atau mencari rumput untuk makanan ternak. Jam kerja efektif para penyadap juga dipengaruhi oleh jarak yang harus mereka tempuh dari rumah ke blok sadapan. Jarak terdekat 0,5 Km dan jarak terjauh 6 Km. Semakin jauh jarak yang harus ditempuh maka jam kerja efektif penyadapan akan berkurang karena waktu tempuh dari rumah ke blok sadapan yang semakin lama. Pekerjaan penyadapan akan terhenti atau ditinggalkan bila ada kegiatan di desa yang melibatkan seluruh penduduk desa seperti gotong royong membangun

42 30 sarana desa, membangun rumah, hajatan atau mengerjakan dan memanen hasil pertanian. Contoh kasus yang terjadi di desa Sijeruk seluruh penyadap dari Dukuh Gunung Raja Wetan menghentikan kegiatan penyadapan lebih dari tiga bulan karena mereka harus bekerja untuk membangun kembali rumah mereka yang hancur akibat adanya musibah tanah longsor. Ketika musim panen tiba banyak penyadap yang meninggalkan kegiatan penyadapan untuk bekerja sebagai buruh pikul karena pekarjaan ini dapat menghasilkan uang yang lebih banyak daripada penyadapan. Terutama bila musim panen salak tiba banyak penyadap yang bekerja sebagai buruh pikul salak karena dalam sehari mereka bisa mendapatkan uang sampai lima puluh ribu rupiah. Umumnya alasan menjadi penyadap adalah karena keinginan sendiri untuk mendapatkan tambahan penghasilan yang kontinyu setiap bulan diluar penghasilan dari beternak dan bertani. Selain itu ada juga yang menjadi penyadap karena orang tua mereka juga penyadap. Anggota keluarga yang terlibat dalam kegiatan penyadapan sebagian besar hanyalah kepala keluarga dan ada beberapa yang dibantu oleh anggota keluarga yang lain seperti istri maupun anak. Rentang umur penyadap yang ditemui pada saat penelitian adalah 20 sampai 55 tahun dengan masa kerja 1 sampai 30 tahun. Semakin tua usia penyadap maka produktivitas penyadap akan semakin menurun sehingga akan berpengaruh terhadap jumlah getah yang dihasilkan. Semakin tua penyadap maka kemampuan untuk memikul getah menurun sehingga kadang penyadap harus mengupah orang lain untuk memikulkan getah. Tingkat pendidikan para penyadap tergolong masih rendah sebagian besar hanya bersekolah sampai SD dan ada yang tidak pernah bersekolah. Hal ini sangat berpengaruh terhadap kesadaran penyadap untuk menjaga kelestarian dari pohon pinus yang mereka sadap. Karena ada beberapa penyadap yang mengutamakan hasil getah yang disadap dengan mengabaikan peraturan yang berlaku seperti tebal pembaruan koakan atau jumlah koakan per pohon yang melebihi dari jumlah yang telah ditetapkan. Sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam kegiatan penyadapan di sediakan oleh pihak Perhutani. Alat-alat yang disediakan untuk kegiatan penyadapan antara lain : petel sadap (pecok), pengeruk getah, talang seng,

43 31 tempurung, ember sadap, sprayer, larutan asam sebagai stimultan dan drum fiber sebagai tempat penampung getah. Kadang kala Perhutani juga memberikan bantuan berupa sepatu karet, jas hujan dan baju. Ada beberapa penyadap yang merasa bahwa petel sadap standar yang diberikan oleh Perhutani kurang nyaman untuk dipakai (kurang tajam) sehingga mereka berinisiatif untuk memesan petel sadap sendiri ke pembuat pisau dengan standar ukuran yang sama dengan yang diberikan oleh pihak Perhutani. Pendapatan Penyadap dari Sektor Sadapan Besarnya pendapatan yang diperoleh penyadap dari kegiatan penyadapan sangat ditentukan oleh kemampuan penyadap untuk menghasilkan getah karena upah yang diberikan kepada penyadap bersifat borongan. Pendapatan penyadap merupakan perkalian antara jumlah getah yang dihasilkan dengan tarif upah yang berlaku berdasarkan jarak pikul dari blok sadapan ke TPG (Tempat Pengumpulan Getah). Rata-rata pendapatan penyadap di BKPH Karangkobar adalah Rp per bulan. Rata-rata pendapatan penyadap tiap RPH disajikan dalam tabel di bawah ini : Tabel 7. Rata-rata Pendapatan Penyadap dari Kegiatan Penyadapan RPH Pendapatan (Rp/bulan/penyadap) Siweru Pandanarum Kalibening Wanayasa Dari tabel 8. di atas dapat dilihat bahwa rata-rata pendapatan dari kegiatan penyadapan terbesar ada di RPH Siweru sebesar Rp per bulan per penyadap. Sedangkan rata-rata pendapatan terendah ada di wilayah RPH Wanayasa sebesar Rp per bulan. Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap besarnya produksi getah yang mampu dihasilkan penyadap adalah luas blok sadapan. Dengan adanya luas areal sadapan yang berbeda tiap RPH menyebabkan luas areal sadapan untuk masingmasing penyadap berbeda. Rata-rata luas blok sadapan untuk masing-masing penyadap di BKPH Karangkobar disajikan dalam tabel di bawah ini.

44 32 Tabel 8. Rata-rata Luas Blok Sadapan Tiap Penyadap RPH Luas blok sadapan Jumlah penyadap Luas per penyadap (Ha) (Orang) (Ha/orang) Siweru 755, ,86 Wanayasa 69,6 62 1,12 Kalibening 900, ,79 Pandanarum 1184, ,33 Total 2910, ,85 Sumber BKPH Karangkobar Dari tabel 9. di atas dapat diketahui bahwa luas total areal sadapan di BKPH Karangkobar adalah 2910,1 Ha dengan jumlah penyadap yang terdaftar sebanyak 1022 orang. Rata-rata luas blok sadapan untuk masing-masing penyadap di BKPH Karangkobar adalah 2,85 Ha per penyadap. Areal sadapan terbesar ada di wilayah RPH Pandanarum dengan jumlah penyadap 508 orang sehingga luas blok sadapan rata-rata adalah 2,33 Ha per orang. Di RPH Kalibening luas blok sadapan untuk masing-masing penyadap lebih besar dari pada RPH Pandanarum. Walaupun luas areal sadapannya lebih sempit namun jumlah penyadapnya juga jauh lebih kecil dari jumlah penyadap yang ada di RPH Pandanarum sehingga luasan yang diperoleh penyadap lebih besar yaitu 4,79 Ha per penyadap. Luas blok sadapan tersempit berada di wilayah RPH Wanayasa yaitu 1,12 Ha untuk masing-masing penyadap. Penetapan areal sadapan bagi para penyadap diserahkan kepada mandor sadap. Bila areal sadapan penyadap sudah tidak produktif lagi atau akan dilakukan penebangan dan penyadap masih ingin melanjutkan pekerjaan menyadap maka akan diberikan areal sadapan lain yang baru dibuka. Atau bila belum ada areal sadapan baru yang dibuka maka penyadap dilibatkan dalam kegiatan pengelolaan hutan yang lain misalnya dalam kegiatan penanaman maupun dalam kegiatan penebangan. Ketinggian tempat dari permukaan laut juga berpengaruh terhadap jumlah getah yang dapat dihasilkan dari pohon pinus. Di bawah ini disajikan data mengenai rata-rata produksi getah per penyadap di empat RPH wilayah kerja BKPH Karangkobar

45 33 Tabel 9. Rata-rata Produsi Getah per Penyadap di Masing-masing RPH RPH Rata-rata per penyadap Produksi/Ha Luas Blok Sadapan Produksi (Kg/bulan/Ha) (Ha) (Kg/bulan) Siweru 2,24 290,05 129,63 Pandanarum 2,51 261,15 104,15 Wanayasa 1, ,42 Kalibening 1,88 236, RPH Siweru memiliki rata-rata produksi per hektar yang lebih tinggi dari RPH lain yaitu sebesar 129,63 Kg/bulan/Ha. Sedangkan produksi terendah adalah RPH wanayasa sebesar 64,42 Kg/bulan/Ha. RPH Siweru memiliki elevasi antara 500 sampai 1000 meter di atas permukaan laut sedangkan RPH Wanayasa, RPH Pandanarum dan RPH Kalibening semuanya memiliki elevasi lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan (1996) ketinggian tempat mempengaruhi suhu dan intensitas cahaya. Semakin tinggi tempat dari permukaan laut, suhu semakin rendah demikian juga dengan intensitas cahaya. Hal ini akan mempengaruhi laju metabolisme dan asimilasi untuk selanjutnya akan mempengaruhi produksi getah. Semakin rendah suhu juga akan menyebabkan getah yang keluar dari pori-pori akan semakin cepat membeku di mulut saluran getah sehingga akan menghambat keluarnya getah yang baru. Hasil penelitian Fakultas Kehutanan IPB (1991), bahwa produksi getah dari tegakan yang tumbuh pada elevasi meter di atas permukaan laut ratarata 4,096 gr/pohon/hari sedangkan pada elevasi lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut sebesar 3,593 gr/pohon/hari. Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa produksi getah di RPH Siweru akan lebih besar dari produksi getah di RPH lain. Penyadapan getah di wilayah BKPH Karangkobar menggunakan bantuan larutan asam Socepas 235 As untuk merangsang keluarnya getah. Larutan Socepas 235 As mengandung Asam Klorida 0,08 gr/liter, Asam Fosfat 23,73 gr/liter dan Asan Sulfat 210,32 gr/liter. Penggunaan larutan ini bukan untuk menambah jumlah getah yang dikeluarkan pohon tetapi untuk memperpanjang waktu pembaruan luka koakan karena dengan penggunaan larutan asam ini akan

46 34 mengurangi laju pembekuan getah sehingga saluran getah tidak tersumbat dan getah dapat terus mengalir. Faktor lain yang diduga berpengaruh terhadap pendapatan penyadap adalah jumlah hari kerja dalam sebulan. Waktu kerja yang dicurahkan oleh penyadap rata-rata adalah 21 hari setiap bulan. Dan dalam kurun waktu satu bulan terdapat dua kali periode penyadapan. Dalam satu periode kerja penyadap melakukan pekerjaan pembaruan luka koakan, penyemprotan larutan asam dan pemanenan getah. Jangka waktu pembaruan luka koakan adalah 5 sampai 6 hari sekali. Jangka waktu ini lebih lama dari jangka waktu pembaruan luka yang ditetapkan oleh Perhutani yaitu 3 hari sekali. Hal ini terjadi karena penggunaan larutan asam menyebabkan pori-pori kayu membuka lebih lama sehingga memperpanjang waktu pembaruan luka koakan. Jangka waktu pemungutan getah adalah 10 hari sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pihak Perhutani. Jadi dalam satu bulan penyadap memungut getah dua kali. Dalam satu bulan tidak seluruh waktu penyadap di curahkan dalam kegiatan penyadapan karena umumnya para penyadap sangat terikat kepada desanya sehingga apabila ada pekerjaan maupun kegiatan yang melibatkan seluruh masyarakat desa seperti kerja bakti, membangun sarana desa, kegiatan keagamaan, hajatan, membangun rumah maupun kegiatan lain di desa para penyadap lebih mengutamakan kegiatan tersebut dan akan meninggalkan pekerjaan penyadapan, begitu pula bila musim bercocok tanam tiba. Pendapatan penyadap juga dipengaruhi oleh jarak antara blok sadapan dengan tempat pengumpulan getah. Semakin jauh jarak yang harus ditempuh maka pendapatan yang diperoleh penyadap akan semakin besar karena tarif getah di wilayah KPH Banyumas Timur memperhitungkan jarak pikul yang harus ditempuh oleh penyadap dari blok sadapan ke TPG. Berdasarkan tarif yang berlaku jika jarak yang harus ditempuh bertambah satu kilometer maka upah pikul akan bertambah Rp 6. Jauhnya jarak pikul yang harus ditempuh penyadap dari blok sadapan ke TPG mengakibatkan penyadap harus mengeluarkan biaya lebih untuk mengangkut getah hasil sadapan ke TPG. Hal tersebut berpengaruh terhadap jangka waktu pengumpulan getah.

47 35 Sebagian besar penyadap mengumpulkan getah ke TPG dua kali dalam sebulan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk mengangkut getah. Jangka waktu pengumpulan getah juga dipengaruhi oleh jumlah getah yang dihasilkan. Biasanya penyadap mengumpulkan getah ke TPG setelah drum penampung getah yang berkapasitas 125 Kg telah penuh. Pada awal bulan jumlah penyadap yang mengumpulkan getah lebih banyak dari waktu-waktu yang lain karena pada saat tersebut banyak penyadap yang membutuhkan uang untuk membayar uang sekolah anaknya maupun untuk membayar tagihan listrik. Umumnya penyadap hanya setengah hari bekerja di penyadapan mulai dari pagi sampai tengah hari karena mereka harus bekerja kembali untuk mengurus ladang atau mencari pakan ternak pada sore harinya. Waktu kerja efektif dalam penyadapan juga dipegaruhi oleh jarak yang harus ditempuh oleh penyadap dari rumah ke blok sadapan. Tabel 10. Rata-rata Jarak Tempuh dan Jam Kerja per Hari dalam Penyadapan RPH Rata-rata Jarak tempuh (Km) Jam kerja (jam/hari) Siweru 2,80 5,35 Wanayasa 1,60 4,20 Kalibening 1,84 5,00 Pandanarum 2,74 4,94 Rata-rata 2,25 4,87 Rata-rata jarak yang harus ditempuh penyadap dari rumah adalah 2,25 Km dan rata-rata jam kerja efektif adalah 4,87 jam per hari dimana penyadap dari RPH Siweru memiliki jam kerja efektif terpanjang yaitu 5,35 jam per hari dan penyadap dari RPH Wanayasa memiliki rata-rata jam kerja terpendek yaitu 4,20 jam per hari kerja. Dari tabel diatas rata-rata jarak tempuh terjauh terdapat di RPH Siweru yaitu 2,80 Km sedangkan rata-rata jarak tempuh terpendek berada di RPH Wanayasa sejauh 1,60 Km. Pendapatan penyadap dipengaruhi juga oleh jumlah pohon yang mampu disadap per hari. Rata-rata penyadap hanya mampu memanen 100 pohon per hari. Banyaknya pohon yang mampu dipanen oleh penyadap dipengaruhi oleh banyaknya koakan yang ada di pohon tersebut. Bila dalam satu pohon hanya

48 36 terdapat satu koakan maka penyadap bisa memanen pohon per hari sedangkan bila jumlah koakan lebih dari satu maka penyadap tara-rata hanya mampu memanen 70 pohon setiap harinya. Menurut Fakultas Kehutanan IPB (1991) jumlah pohon yang dapat dibebankan kepada penyadap adalah 556 pohon per hari atau 1668 pohon dalam siklus tiga hari. Dilihat dari hasil tersebut sebenarya kemampuan penyadap masih dapat ditingkatkan lagi. Oleh karena itu pihak Perhutani selaku pengelola harus dapat meningkatkan motivasi dan produktivitas para penyadap. Upaya yang dapat dilakukan antara lain dengan memberikan insentif kepada penyadap yang memiliki produktivitas tinggi agar dapat memacu peningkatan produktivitas penyadap yang lain. Kemiringan lahan dari blok sadapan juga diduga berpengaruh terhadap pendapatan penyadap. Kemiringan lapangan yang ditemui antara 15 sampai 25. Kemiringan lahan berpengaruh terhadap produktivitas kerja penyadap seperti kemampuan penyadap dalam memanen pohon tiap hari. Semakin miring lahan jumlah pohon yang dapat dipanen oleh penyadap semakin sedikit akibat sulitnya medan yang harus ditempuh penyadap sehinga lebih banyak tenaga yang dikeluarkan untuk menempuh medan kerja daripada untuk memanen pohon. Kemiringan lahan juga berpengaruh terhadap jumlah pohon yang terdapat dalam areal sadapan penyadap. Di beberapa blok sadapan yang memiliki kemiringan lahan cukup terjal sering terjadi longsor sehinggga jumlah pohon yang ada di areal tersebut berkurang. Selain jumlah getah yang dapat dihasilkan oleh penyadap kualitas getah juga berpengaruh terhadap jumlah uang yang akan diperoleh oleh penyadap karena perbedaan tarif antar getah mutu A dan mutu B adalah Rp. 350 per kilogram. Berdasarkan Keputusan Direkasi Perusahaan Umum Kehutanan Negara Nomor 2574/KPTS/DIR/1994 tentang Pedoman Sortasi Mutu dan Pengukuran Berat Getah Pinus, kualitas getah dibedakan menjadi dua standar mutu yaitu : 1. Mutu A atau mutu pertama Getah mutu A mempunyai syarat antara lain getah berwarna bening atau putih, tidak mengandung tanah, lumpur atau kotoran lain. Kandungan kotoran tidak boleh lebih dari 2% dan kandungan air kurang dari 3%.

49 37 2. Mutu B atau mutu kedua Syarat getah bermutu B adalah bila berwarna keruh atau kecoklatcoklatan. Bercampur tanah, lumpur dan kotoran lain. Kandungan kotoran antara 2% sampai 5% dan kandungan air kurang dari 3%. Getah dengan kandungan kotoran atau air lebih dari 5% tidak diterima. Contoh standar mutu getah pinus ditempatkan ke dalam tabung kaca berukuran 250 ml dan dibagikan ke setiap TP getah dan TPG serta harus diperbaharui setiap tahun yang disediakan oleh Biro Produksi. Penentuan getah pinus atau sortasi getah pinus dilakuakan oleh mandor sadap maupun mandor TPG. Adapun prosedur penentuan mutu getah pinus adalah sebagai berikut : 1. Getah yang akan diterima harus diaduk dengan tongkat kayu atau bambu sampai merata. 2. Getah dicocokan penampakan warna dan kandungan kotorannya dengan standar mutu yang ada. 3. Bila getah mudah diaduk dan penampakan terlihat putih atau bening serta kandungan kotorannya sedikit (kurang dari 2%) maka getah dimasukkan kedalam mutu A. 4. Bila getah tidak mudah diaduk dan penampakan terlihat berwarna keruh atau kecoklat-coklatan serta kandungan kotoran banyak (lebih dari 2%) maka getah dimasukan kedalam mutu B. Untuk mendapatkan kualitas getah terbaik maka penyadap harus memperhatikan proses pemanenan getah supaya getah tidak terlalu banyak tercampur dengan kotoran. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan menaikan tempurung penampung getah stiap tinggi koakan bertambah 30 sentimeter atau memberikan penutup drum penampung getah supaya kotoran tidak dapat masuk ke dalam drum. Namun masih banyak penyadap yang kurang memperhatikan hal tersebut sehingga kualitas getah yang dihasilkan tidak maksimal.

50 38 Pendapatan Penyadap di Luar Sektor Penyadapan Karena pekerjaan menyadap merupakan pekerjaan sampingan maka penyadap juga memperoleh pendapatan dari kegiatan di luar penyadapan. Selain bekerja sebagai penyadap mereka juga bertani dan memelihara ternak seperti ayam, kambing dan sapi. Umumnya masyarakat membeli hewan ternak untuk dijual kembali setelah dipelihara selama beberapa bulan. Masyarakat memilih untuk memelihara ternak seperti kambing maupun sapi karena mereka menganggap memelihara ternak tersebut tidak memerlukan biaya karena pakan untuk ternak bisa mereka dapatkan sendiri dan tersedia cukup banyak di sektar tempat tinggal mereka maupun di areal blok sadapan. Kegiatan usaha tani yang dilakukan para penyadap antara lain dengan menanam palawija seperti singkong dan jagung. Karena luas lahan yang tidak terlalu lebar biasanya hasil panen yang mereka peroleh hanya digunakan untuk konsumsi sendiri dan dijual bila hasilnya melimpah. Bibit tanaman yang akan mereka budidayakan biasanya berasal dari hasil panen periode sebelumnya sehingga mengurangi biaya yang harus mereka keluarkan. Selain kegiatan usaha tani dan memelihara ternak ada sebagian penyadap yang bekerja sebagai tukang bagunan maupun bekerja sebagai buruh tani. Upah buruh bangunan yang mereka terima rata-rata Rp per hari. Mereka juga kadang bekerja memelihara hewan ternak orang lain seperti kambing maupun sapi. Dari kegiatan ini mereka bisa mendapatkan upah Rp per hari untuk jasa memelihara dan memberi makan sapi sedangkan untuk jasa mencarikan rumput untuk kambing rata-rata mereka mendapatkan upah Rp per bulan. Walaupun jumlah uang yang diperoleh dari kegiatan penyadapan lebih banyak dari kegiatan diluar sektor sadapan, bagi masyarakat desa pekerjaan menyadap dianggap sebagai pekerjaan sampingan dan bertani dianggap sebagai pekerjaan utama karena pekerjaan tersebut dapat dilakukan seumur hidup sedangkan pekerjaan menyadap tidak bisa dilakukan seumur hidup karena terikat perjanjian dengan Perhutani. Seseorang menganggap suatu pekerjaan sebagai pekerjaan utama bila pekerjaan tersebut memberikan rasa aman dalam hal ini yang membuat masyarakat desa merasa aman adalah bila kebutuhan pangan mereka terpenuhi bukan kebutuhan akan uang. Dari kegiatan bertani mereka

51 39 mendapatakan hasil berupa bahan makanan yang dapat mereka konsumsi sendiri. Selain itu untuk menentukan suatau pekerjaan dianggap sebagai pekerjaan pokok atau pekerjaan sampingan tidak dapat hanya dilihat dari besarnya kontribusi pendapatan dari pekerjaan tersebut yang diberikan terhadap pendapatan total masyarakat. Kontribusi Pendapatan dari Penyadapan terhadap Pendapatan Total Penyadap Dilihat dari besarnya pendapatan total yang diperoleh penyadap, pendapatan dari sektor sadapan memberikan kontribusi yang lebih besar dibandingkan dengan pendapatan dari sektor lain. Di bawah ini disajikan data besarnya kontribusi dari kegiatan penyadapan terhadap pendapatan total penyadap. Tabel 11. Besarnya Kontribusi dari kegiatan Penyadapan terhadap Pendapatan Total Penyadap Rata-rata Pendapatan (Rp/bulan) RPH Sadapan Non sadapan Total Kontribusi (%) Siweru ,99 Pandanarum ,47 Kalibening Wanayasa ,47 Rata-rata 67,61 Dari tabel 12 di atas dapat dilihat bahwa pendapatan dari sektor sadapan lebih besar dibandingkan dari sektor diluar sadapan. Pendapatan dari penyadapan rata-rata memberikan kontribusi sebesar 67,61% terhadap total pendapatan. Di RPH Kalibening pendapatan dari sektor sadapan memberikan kontribusi terbesar dibandingkan dengan RPH lain yaitu sebesar 80,52%. Sedangkan di RPH wanayasa pendapatan dari penyadapan memberikan kontribusi terkecil yaitu sebesar 38,47%. Pendapatan dari kegiatan penyadapan di RPH wanayasa memberikan kontribusi terkecil dibandingkan dengan RPH yang lain. Hal ini disebabkan karena kawasan RPH Wanayasa memiliki elevasi lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut sehingga cocok untuk membudidayakan sayur-sayuran. Penyadap lebih memilih untuk mengusahakan lahan pertaniannya dengan tanaman sayuran

52 40 yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi seperti kentang dan kol karena keuntungan yang bisa didapatkan relatif tinggi. Selain keuntungan yang didapatkan relatif tinggi jangka waktu antara penanaman dengan pemanenan relatif dekat yaitu hanya tiga bulan sehingga dalam satu tahun mereka bisa bercocok tanam sampai tiga kali. Karena tanaman sayuran memerlukan perawatan yang intensif maka banyak waktu penyadap yang tercurah untuk mengurus lahan pertaniannya sehingga hanya sedikit waktu yang tercurah untuk kegiatan penyadapan. Hal ini menyebabkan getah yang mampu dipanen oleh penyadap di RPH Wanayasa lebih sedikit sehingga pendapatan dari kegiatan penyadapan sedikit. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Penyadap Dari 21 peubah yang diambil di lapangan dari responden ternyata tidak semuanya dapat di analisis secara statistik. Peubah tersebut antara lain mata pencaharian responden, perlakuan penjarangan pada tegakan, penggunaan larutan asam, jenis tanah dan curah hujan. Peubah perlakuan penjarangan pada tegakan, penggunaan larutan asam, jenis tanah dan dan curah hujan memiliki nilai yang sama (konstan) sehingga bila dimasukkan dalam analisis statistik tidak akan berpengaruh nyata terhadap peubah tak bebas pendapatan. Peubah penjarangan bernilai konstan karena seluruh blok sadapan di BKPH Karangkobar dilakukan kegiatan penjarangan tegakan. Selain di lakukan penjarangan kegiatan penyadapan getah di BKPH Karangkobar seluruhnya menggunakan larutan stimultan Socepas 235 As karena keseluruhan areal sadapan berada di ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan tanah. Peubah jenis tanah dan curah hujan memiliki nilai yang konstan karena lokasi penelitian masih berada di wilayah yang sama maka memiliki jenis tanah yang sama yaitu tanah Latosol dan tingkat curah hujan yang sama antara mm per tahun. Dari beberapa faktor yang diprediksikan akan mempengaruhi besarnya pendapatan penyadap tidak seluruhnya berpengaruh nyata. Hasil analisis regresi dari 16 faktor yang dianalisis hanya dua faktor yang berpengaruh nyata terhadap besarnya pendapatan penyadap yaitu faktor jumlah getah yang dapat di produksi per bulan (X 10 ) dan faktor umur tegakan (X 13 ). Hasil uji-t regresi berganda

53 41 hubungan antara 16 variabel yang diduga mempengaruhi pendapatan disajikan dalam tabel berikut : Tabel 12. Hasil Uji-t Analisis Regresi Berganda Antara 16 Variabel yang Diduga Mempengaruhi Pendapatan Penyadap Predictor Coef SE Coef T P Constant X X X X X X X X X X X X X X X X Peubah bebas dikatakan berpengaruh nyata bila nilai T hitung lebih besar dari nilai T tabel. Nilai T tabel adalah 2,284 dan berdasarkan hasil uji T yang memiliki nilai T hitung lebih besar adalah peubah bebas X 10 dengan nilai T hitung 14,94 dan peubah bebas X 13 dengan nilai T hitung 2,29 Persamaan Regresi yang diperoleh adalah Y = X X 13 Untuk menguji berapa besar peubah tak bebas dapat dijelaskan oleh kombinasi peubah bebas dinyatakan dalam koefisien determinan R 2 dimana hasil dari persamaan regresi di atas diperoleh nilai koefisien determinasi R 2 = 0,927 artinya keragaman peubah tak bebas pendapatan (Y) dapat dijelaskan oleh semua peubah bebas X (2 peubah) sebesar 92,7% atau hanya sekitar 7,3% dipengaruhi oleh peubah atau faktor lain.

54 42 Sedangkan untuk menguji berapa besar pengaruh keeratan antar peubah bebas (X) dengan peubah tak bebas (Y) digunakan koefisien korelasi R dimana hasil regresi ganda diatas menunjukan R = 0,963 artinya hubungan korelasi antara peubah bebas dengan peubah tak bebas sangat erat (96,3%). Sidik ragam persamaan regresi ditampilkan dalam tabel di bawah ini : Tabel 13. Sidik Ragam Persamaan Regresi Sumber Keragaman DB JKT KT F hitung P Regresi 2 2,03957E+12 1,01978E ,63 0,000 Sisa 78 1,60165E+11 2,05340E+9 Total 80 2,19973E+12 Nilai F hitung sebesar 496,63 lebih besar di bandingkan dengan nilai F tabel 1,99 maka berdasarkan uji F pada persamaan regresi dapat disimpulan bahwa peubah peubah bebas yang ada (produksi per bulan dan umur tegakan) secara umum (bersama-sama) dapat digunakan untuk menduga peubah tak bebas pendapatan pada taraf nyata 1%. Berdasarkan persamaan regresi yang dihasilkan, faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan penyadap adalah : 1. Produksi getah per bulan (X 10 ) Peubah bebas X 10 memiliki nilai koefisien Hal ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan peubah produksi getah sebesar satu satuan (Kg/bulan) akan meningkatkan pendapatan sebesar 1463 satuan (Rupiah) dengan asumsi peubah yang lain tetap. Produksi getah per bulan sangat berpengaruh terhadap besarnya pendapatan yang diterima oleh penyadap karena besarnya jumlah uang yang akan diterima penyadap tergantung dari jumlah getah yang disetorkan ke TPG dikalikan dengan tarif yang berlaku dengan mempertimbangkan jarak pikul antara blok sadapan dengan TPG. Faktor utama yang berpengaruh terhadap jumlah getah yang mampu dihasilkan oleh penyadap adalah produktivitas penyadap antara lain luas blok sadapan, kemampuan penyadap untuk menyadap pohon setiap hari, jumlah jam kerja per hari dan jumlah hari kerja setiap bulan. Semakin banyak pohon yang mampu disadap oleh penyadap maka jumlah getah yang dihasilkan per hari akan semakin besar. Banyaknya jumlah pohon

55 43 yang mampu disadap bergantung pada luasan blok sadap. Semakin luas blok sadap maka akan semakin banyak jumlah pohon yang bisa disadap dalam periode kerja yang sama. 2. Umur Tegakan (X 13 ) Peubah bebas umur tegakan (X 13 ) memiliki nilai koefisien regresi sebesar 1558, nilai tersebut menunjukkan bahwa setiap kenaikan peubah umur tegakan sebesar satu satuan (tahun) dapat meningkatkan pendapatan sebesar 1558 satuan (Rupiah) dengan asumsi bahwa peubah yang lain tetap. Pohon pinus mulai dapat disadap jika telah berumur 11 tahun (KU III). Jumlah koakan hidup pada dasarnya hanya diperbolehkan satu buah. Peraturan jumlah koakan maksimal yang dapat diterima dapat dirumuskan dengan Q max = Dimana : Q max D d q 3 D 5 : Jumlah quare maksimal per pohon : Diameter pohon (cm) : Lebar quare (10 cm) Peraturan tentang jumlah koakan maksimal diatas ditujukan agar tegakan pinus yang disadap tidak mengalami kerusakan batang yang cukup parah sehingga bila nanti sudah tidak disadap lagi masih dapat dimanfaatkan hasil kayunya. Peraturan diatas juga ditetapkan bukan berdasarkan jumlah getah maksimal yang dapat diproduksi. Pada pohon Pinus KU V sampai VI sebenarnya produksi getah sudah mengalami penurunan. Seiring dengan bertambahnya umur pohon maka terjadi peningkatan diameter pohon sehingga jumlah koakan dapat ditambah. Dengan bertambahnya jumlah koakan maka produksi getah yang dihasilkan dapat bertambah sehingga akan meningkatkan pendapatan yang bisa diterima oleh penyadap. Tindakan yang dilakukan penyadap dengan menambah jumlah koakan yang kadang melebihi jumlah yang telah ditetapkan tidak sepenuhnya salah karena mungkin dengan pengalaman menyadap yang telah puluhan tahun penyadap lebih mengetahui jumlah optimal koakan yang diperlukan agar pohon pinus d q

56 44 menghasilkan getah maksimal. Penambahan jumlah koakan yang melebihi peraturan yang ditetapkan mungkin bisa memberikan nilai benefit per cost yang lebih tinggi karena dengan jumlah koakan yang lebih banyak maka penyadap dapat memanen getah yang lebih banyak dengan waktu kerja yang lebih singkat atau dengan jumlah pohon yang sama maka getah yang dihasilkan bisa lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah getah yang bisa dihasilkan bila jumlah koakan mengikuti peraturan yang ditetapkan oleh Perhutani. Sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai penetapan jumlah koakan optimum supaya produksi getah per pohon optimal dengan nilai benefit per cost tertinggi. Dalam kegiatan penyadapan getah untuk meningkatkan produksi getah dapat dilakukan antara lain dengan menambah luas blok sadapan, meningkatkan kemampuan memperbaharui koakan per hari, menambah jam kerja dan hari kerja per bulan. Maka untuk memudahkan dalam mengoptimalkan produksi getah dalam kegiatan manajemen produksi getah pinus di buat persamaan untuk menduga pendapatan penyadap sebagai berikut : Y = X X X X 13 Dimana Y adalah peubah tak bebas pendapatan, X 5 adalah luas areal sadapan, X 6 adalah hari kerja dalam sebulan, X 11 adalah jam kerja efektif per hari dan X 13 adalah umur tegakan. Persamaan di atas memiliki koefisien determinasi 64,8% artinya keragaman peubah tak bebas pendapatan dapat dijelaskan oleh semua peubah bebas X sebesar 64,8% atau hanya sekitar 35,2% dijelaskan oleh peubah yang lain. Nilai koefisien korelasinya adalah 0,805 artinya korelasi atau hubungan antara peubah bebas dan peubah tak bebas sangat erat. Walaupun nilai koefisien korelasi dan koefisien determinasinya lebih rendah dari pesamaan sebelumnya namun persamaan ini secara manajemen lebih mudah digunakan untuk mengelola produksi getah dari pada persamaan yang sebelumnya. Tabel 14. Sidik Ragam Persamaan Regresi Penduga Pendapatan Sumber DB JKT JK F hitung P keragaman Regresi 4 1,42642E+12 3,56604E+11 35,05 0,000 Sisa 76 7,73319E+11 1,01750E+10 Total 80 2,19973E+12

57 45 Dari hasil sidik ragam diketahui bahwa F hitung sebesar 35,05 dan lebih besar dari F tabel sehingga dapat disimpulan bahwa peubah peubah bebas yang ada secara umum (bersama-sama) dapat digunakan untuk menduga peubah tak bebas pendapatan pada taraf nyata 1%. Dari persamaan regresi yang diperoleh peubah bebas luas blok sadapan memiliki nilai koefisien sebesar 8726 artinya bila peubah bebas yang lain tetap maka setiap peningkatan luas areal sadapan sebesar 1 hektar akan meningkatkan pendapatan penyadap sebesar Rp per bulan. Sedangkan peubah hari kerja dalam sebulan memiliki nilai koefisien sebesar artinya bila jumlah hari kerja dalam sebulan bertambah 1 hari maka akan meningkatkan pendapatan penyadap sebesar Rp per bulan dengan asumsi bahwa peubah yang lain tetap. Peubah bebas jumlah jam kerja dalam sehari memiliki nilai koefisien 4913 artinya setiap penambahan jam kerja satu satuan maka akan meningkatkan jumlah pendapatan penyadap sebesar Rp per bulan. Dilihat dari persamaan diatas maka salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan jumlah pendapatan yang diperoleh penyadap adalah dengan menambah jumlah hari kerja dalam sebulan karena setiap penambahan jumlah hari kerja memberikan perubahan terbesar pada penambahan jumlah pendapatan yang diperoleh penyadap. Selain faktor di atas upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pendapatan penyadap adalah dengan meningkatkan upah para penyadap. Karena dengan meningkatkan upah maka jumlah uang yang dapat diperoleh penyadap semakin meningkat walaupun jumlah getah yang mereka sadap tetap. Partisipasi Masyarakat dalam Kegiatan Penyadapan Partisipasi masyarakat desa di sekitar hutan dalam kegiatan penyadapan getah pinus merupakan salah satu wujud dari upaya yang dilakukan untuk mendukung peningkatan produksi getah pinus di Perum Perhutani. Dengan melibatkan masyarakat dalam kegiatan penyadapan getah juga merupakan salah satu upaya pemberdayaan masyarakat desa di sekitar hutan yang dilakukan oleh Perum Perhutani karena merekalah yang berinteraksi secara langsung dengan hutan setiap harinya.

58 46 Untuk mengetahui tingkat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan penyadapan dapat dilihat berdasarkan perbandingan antara jumlah penyadap dengan jumlah tenaga kerja yang tersedia. Tabel 15. Tingkat Partisipasi Masyarakat Berdasarkan Jumlah Penyadap RPH Stratum Penyadap Tenaga kerja Partisipasi (%) Pandanarum , , , , , , , , , ,03 Rata-rata 4,92 Kalibening , , , , , , , , , ,47 Rata-rata 3,13 Wanayasa , ,13 Rata-rata 3,80 Siweru , , , , , , ,19 Rata-rata 3,43 Rata-rata 3,82 Dari tabel 16 diatas dapat diketahui bahwa rata-rata tingkat partisipasi Masyarakat dalam kegiatan penyadapan sebesar 3,82%. RPH Pandanarum memiliki tingkat partisipasi masyarakat tertinggi yaitu sebesar 4,92%. Tingkat partisipasi ini berbanding lurus dengan luas areal sadapan pada masing-masing

59 47 RPH. Tingkat partisipasi masyarakat di RPH Siweru adalah 3,43%, di RPH Wanayasa 3,80% dan tingkat partsisipasi terkecil berada di wilayah RPH Kalibening sebesar 3,13%. Tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan penyadapan juga dapat dilihat dari jumlah jam kerja dalam sehari dan hari kerja dalam sebulan yang mereka curahkan dalam kegiatan penyadapan. Tabel 16. Tingkat Partisipasi Berdasarkan Jumlah Jam Kerja dan Hari Kerja per Bulan Jam kerja (jam/hari) Hari kerja (hari/bulan) RPH Rata-rata Partisipasi (%) Rata-rata Partisipasi (%) Siweru 5,35 66,88 20,30 67,67 Pandanarum 5,23 65,31 17,88 59,58 Kalibening 5,00 62,50 15,94 53,13 Wanayasa 4,20 52,50 18,00 60,00 Rata-rata 61,80 60,10 Keterangan : Jumlah jam kerja yang ditetapkan adalah 8jam/hari Jumlah hari kerja dalam sebulan adalah 30 hari Tabel di atas menjelaskan bahwa tingkat partisipasi masyarakat di BKPH Karangkobar berdasarkan jam kerja rata-rata sebesar 61,80%, lebih tinggi dari tingkat partisipasi berdasarkan jumlah hari kerja dalam sebulan yaitu sebesar 60,10%. RPH Siweru memiliki tingkat partisipasi tertinggi berdasarkan jumlah jam kerja per hari maupun berdasarkan jumlah hari kerja per bulan. Tingkat partisipasi berdasarkan jam kerja sebesar 66,88 % sedangkan berdasarkan jumlah hari kerja dalam sebulan adalah 67,67%. Tingkat partisipasi berdasarkan jumlah jam kerja per hari dan hari kerja per bulan juga dapat menjelaskan tingkat kedisiplinan penyadap dalam melakukan penyadapan. Hal tersebut berkaitan dengan tingkat produktivitas penyadap dalam menghasilkan getah. Di bawah ini disajikan tabel rata-rata tingkat partisipasi berdasarkan jam kerja per hari, berdasarkan hari kerja per bulan dan berdasarkan jumlah tenaga kerja dan rata-rata pendapatan per bulan dari penyadap di BKPH Karangkobar

60 48 Tabel 17. Rata-rata Tingkat Partisipasi dan Rata-rata Pendapatan Penyadap per bulan di BKPH Karangkobar RPH Tingkat partisipasi (%) Pendapatan Jam kerja Jumlah penyadap Hari kerja (Rp/bulan) Siweru 66,87 3,43 67, Pandanarum 65,31 4,92 59, Kalibening 62,50 3,13 53, Wanayasa 52,50 3,80 60, Berdasarkan tabel 18 di atas diketahui bahwa partisipasi masyarakat berdasarkan jam kerja per hari berbanding lurus dengan pendapatan yang mereka peroleh. Semakin tinggi pendapatan mereka semakin besar tingkat partisipasi masyarakat berdasarkan jam kerja per hari. Tingkat partisipasi berdasarkan jumlah tenaga kerja tidak terpengaruh dengan jumlah pendapatan yang diperoleh oleh penyadap. Dari tabel diatas tingkat partisipasi berdasarkan tenaga kerja tertinggi berada di wilayah RPH Pandanarum sedangkan rata-rata pendapatan penyadap tertinggi ada di wilayah RPH Siweru. Tingkat partsisipasi terendah ada di wilayah RPH Kalibening. Walaupun rata-rata pendapatan per penyadap di wilayah RPH Wanayasa paling rendah dibandingkan dengan RPH yang lain. Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat partisipasi dengan pendapatan dapat dilihat dari nilai koefisien korelasi. Karena satuan yang digunakan tidak tepat maka nilai koefisien korelasi tingkat partisipasi berdasarkan jumlah tenaga kerja dengan tingkat pendapatan penyadap tidak dapat dihitung. Di bawah ini disajikan nilai koefisien korelasi antara tingkat partisipasi dengan pendapatan rata-rata yang diperoleh penyadap. Tabel 18. Koefisien Korelasi Antara Tingkat Partisipasi dengan Pendapatan partisipasi pendapatan Tenaga kerja Jam kerja Hari kerja Pendapatan 1 0,182 0,650 0,861 Tenaga 0,182 kerja 1 Partisipasi Jam kerja 0,650 1 Hari kerja 0,861 1 Dua peubah dikatakan memiliki korelasi yang cukup erat apabila nilai koefisien korelasinya lebih dari 0,50, bila nilai koefisien korelasinya lebih dari

61 49 0,70 maka korelasi kedua peubah erat dan bila nilai koefisien korelasi lebih dari 0,90 sangat erat. Dari tabel 15 dapat dilihat bahwa yang memiliki nilai koefisien korelasi tertinggi adalah hubungan antara pendapatan dengan tingkat partisipasi berdasarkan hari kerja dalam sebulan. Jadi pendapatan penyadap berpengaruh paling besar terhadap tingkat partisipasi berdasarkan hari kerja dalam satu bulan. Nilai koefisien korelasi antara pendapatan dan tingkat partisipasi berdasarkan jam kerja adalah 0,650 berarti korelasi antara tingkat partisipasi berdasarkan jam kerja dengan pendapatan cukup erat. Nilai koefisien korelasi antara pendapatan dengan jumlah hari kerja dalam sebulan adalah 0,861. Hal ini berarti hubungan antara pendapatan dengan tingkat partisiasi berdasarkan hari kerja per bulan erat. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi pendapatan yang diperoleh penyadap dari sektor sadapan maka akan semakin besar pula tingkat partisipasi penyadap dalam hal jumlah jam kerja per hari dan jumlah hari kerja dalam satu bulan. Nilai koefisien korelasi antara tingkat partisipasi berdasarkan jumlah tenaga kerja dengan tingkat pendapatan adalah sebesar 0,182 atau bisa dikatakan tidak ada korelasi. Tidak adanya korelasi antara tingkat partisipasi berdasarkan jumlah tenaga kerja dengan pendapatan yang diperoleh penyadap kemungkinan disebabkan oleh ketersediaan lapangan kerja di daerah tersebut. Bila lapangan pekerjaan di luar sektor penyadapan kurang tersedia di daerah tersebut maka masyarakat akan memilih untuk menjadi penyadap walaupun upah sadap yang mereka terima relatif kecil dibandingkan upah sadap yang diterima penyadap di daerah lain. Kemungkinan yang lain adalah karena hanya membandingkan jumlah penyadap dengan jumlah tenaga kerja laki-laki yang tersedia maka tingkat partisipasi berdasarkan jumlah tenaga kerja yang terlibat juga dipengaruhi oleh jumlah tenaga kerja laki-laki yang tersedia di suatu daerah sehingga tidak ada ukuran optimum baku untuk masing-masing daerah seperti jumlah jam kerja optimum per hari maupun jumlah hari kerja optimum per bulan. Selain itu kemungkinan lain dari tidak adanya korelasi adalah indikator yang dipakai kurang tepat karena dalam mengukur tingkat partisipasi berdasarkan jumlah tenaga kerja hanya membandingkan antara jumlah penyadap dengan jumlah tenaga kerja

62 50 sedangkan tingkat pendapatan adalah tingkat pendapatan penyadap sehingga berdasarkan indikator saja keduanya tidak ada hubungan sama sekali. Karena itu perlu untuk dicari lagi indikator lain yang lebih tepat digunakan untuk menduga tingkat partisipasi masyarakat berdasarkan jumlah tenaga kerja yang terlibat misslksn dengsn membandingkan antara jumlah tenaga kerja di suatu wilayah dengan jumlah keseluruhan penyadap yang ada. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan penyadapan getah masih perlu untuk ditingkatkan lagi. Hal ini dikarenakan penyadapan bukan mata pencaharian utama dari masyarakat. Masyarakat akan lebih mengutamakan kegiatan bercocok tanam walaupun hasil yang mereka peroleh dari kegiatan tersebut tidak begitu besar. Hal ini terlihat dari kecilnya jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan penyadapan dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja yang ada. Faktor utama dalam usaha peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan penyadapan adalah dengan memperhatikan kesejahteraan penyadap. Karena penyadap akan bekerja penuh di bidang penyadapan bila pendapatan dari kegiatan penyadapan bisa mencukupi kebutuhan hidup penyadap dan keluarganya. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan luas blok sadapan yang optimal. Fahutan IPB (1991) menyebutkan bahwa jumlah pohon yang dapat dibebankan kepada penyadap maksimal 556 pohon per hari atau 1668 phon dalam periode tiga hari dengan luas blok sadapan ±3 Ha. Selain itu produktivitas penyadap perlu untuk ditingkatkan. Hal ini bisa dilakukan dengan pengawasan dan pemberian informasi oleh mandor sadap melalui kegiatan bimbingan. Peningkatan produktivitas penyadap juga dapat dilakukan dengan menambah luas blok sadapan dan meningkatkan upah sadapan dan pemenuhan kebutuhan fasilitas alat sadapan seperti petel sadap, batok kelapa, talang seng, drum fiber dan larutan socepas serta kebutuhan fasilitas kerja seperti sepatu karet, baju dan jas hujan. Pemberian insentif kepada penyadap yang memiliki produktivitas tinggi juga bisa memacu peningkatan produktivitas dari penyadap yang bersangkutan maupun penyadap lain.

63 51 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Kegiatan penyadapan di BKPH Karangkobar merupakan pekerjaan sampingan selain kegiatan di bidang usaha tani maupun peternakan. Pendapatan rata-rata yang diperoleh penyadap dari kegiatan penyadapan adalah Rp per bulan. Pendapatan dari kegiatan tersebut memberikan kontribusi yang lebih besar dari pendapatan di luar penyadapan yaitu sebesar 67,61% dari pendapatan total penyadap. Kontribusi terbesar dari kegiatan penyadapan terdapat di RPH Kalibening sebesar 80,52% sedangkan yang terrendah berada di RPH Wanayasa sebesar 38,47%. 2. Faktor utama yang berpengaruh terhadap pendapatan penyadap adalah produksi getah yang dihasilkan tiap bulan dan umur tegakan yang disadap. Persamaan yang dapat digunakan untuk menduga pendapatan penyadap dari hasil analisi regresi adalah Y = X X 13 dimana Y adalah pendapatan penyadap tiap bulan (Rp/bulan), X 10 adalah produksi getah yang dapat dihasilkan penyadap per bulan (Kg/bulan) dan X 13 adalah umur tegakan yang disadap (tahun). 3. Maka untuk memudahkan dalam mengoptimalkan produksi getah dalam kegiatan pengelolaan produksi getah pinus di buat persamaan untuk menduga pendapatan penyadap sebagai berikut : Y = X X X X 13. Dimana Y adalah peubah tak bebas pendapatan, X 5 adalah luas areal sadapan (Ha), X 6 adalah hari kerja dalam sebulan (hari), X 11 adalah jam kerja efektif per hari (jam) dan X 13 adalah umur tegakan (tahun). 4. Tingkat partisipasi rata-rata masyarakat berdasarakan jumlah total tenaga kerja yang terlibat adalah 3,82%, berdasarkan jumlah jam kerja dalam sehari adalah 61,80% sedangkan berdasarkan jumlah hari kerja dalam sebulan adalah 60,10%. Untuk mengetahui apakah ada korelasi antara tingkat pendapatan dengan tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan penyadapan dapat dilihat dari nilai koefisien korelasinya. Nilai koefisien korelasi antara pendapatan dengan tingkat partisipasi berdasarkan jumlah jam kerja perhari dan jumlah hari kerja per bulan adalah 0,65 dan 0,861 hal ini berarti ada

64 52 hubungan antara pendapatan dengan tingkat partisipasi. Sedangkan nilai koefisien korelasi antara pendapatan dengan tingkat partisipasi berdasarkan jumlah tenaga kerja adalah 0,182 atau bisa dikatakan tidak ada hubungan antara tingkat partisipasi berdasarkan jumlah tenaga kerja dengan tingkat pendapatan penyadap. Saran 1. Untuk meningkatkan pendapatan penyadap perlu ditingkatkan produktivitas kerja penyadap karena pendapatan penyadap sangat ditentukan oleh jumlah getah yang dapat mereka peroleh dalam sebulan. Peningkatan produktivitas bisa dilakukan dengan menambah luas areal sadapan, meningkatkan kemampuaan penyadap dalam memanen pohon per hari maupun dengan menambah jumlah jam kerja dalam sehari dan jumlah hari kerja dalam sebulan. Hal tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan pelatihan maupun bimbingan dari mandor sadap. 2. Untuk meningkatkan partsipasi penyadap dapat dilakukan dengan memperhatikan kesejahteraan dari penyadap salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan tarif upah yang berlaku dan memberikan pelatihan kepada penyadap sehingga mampu meningkatkan kualitas penyadapan.

65 53 DAFTAR PUSTAKA Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Kehutanan Republik Indonesia Kajian Teknis Ekonomis Pengolahan Gondorukem dalam Rangka Peningkatan Nilai Tambah (Studi Kasus di PGT Paninggaran dan PGT Cimanggu). Kerjasama Litbang Kehutanan dengan Universitas Sebelas Maret. Bogor. Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara. 2005a. Kabupaten Banjarnegara Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara. Banjarnegara b. Kecamatan Banjarmangu Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara. Banjarnegara c. Kecamatan Kalibening Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara. Banjarnegara d. Kecamatan Karangkobar Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara. Banjarnegara e. Kecamatan Madukara Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara. Banjarnegara f. Kecamatan Wanayasa Dalam Angka. Badan Pusat Statistik Kabupaten Banjarnegara. Banjarnegara. Bishop,C.E dan W.D Toussaint Pengantar Analisa Ekonomi Pertanian. Penerbit Mutiara. Jakarta. Hutagalung, E.L Analisis Sumber-Sumber dan Tingkat Pendapatan Keluarga Penyadap dan Pengaruhnya Terhadap Partisipasi Masyarakat Pada Kegiatan Penyadapan Getah Pinus di Perum Perhutani (Studi Kasus di RPH Genteng BKPH Manglayang Timur dan RPH Pajagan BKPH Cadasngampar KPH Sumedang). Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor.

66 54 Kartasubrata, J Partisipasi Rakyat dalam Pengelolaan dan Pemanfaatan Hutan di Jawa. Fakultas Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor. Kasmudjo Usaha Stimulan pada Penyadapan Getah Pinus. Duta Rimba No. 149/XVII. Jakarta. Mirov, N.T The Genus Pinus. The Ronald Press Company. New York. Prahasto, H Pengaruh Faktor Sosial Ekonomi Pesanggem terhadap Pendapatannya. Duta Rimba No.91-92/XIV. Jakarta. Prosea Pedoman Pengenalan Pohon Hutan di Indonesia. Yayasan Prosea. Bogor. Purwandari, Sri Analisis Pendapatan Penyadap Getah Pinus merkusii Jungh et de Vriese di BKPH Bogor. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Soejono, S. Manfaat Ekonomi dan Sosial Penyadapan Getah Pinus Bagi Perusahaan Kehutanan Negara. Duta Rimba No Jakarta. Walpole, Ronald.E. Pengantar Statistik Edisi ke 3. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

67 55

68 56 Lampiran 1. Rekapitulasi Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Pendapatan Penyadap dari Sektor sadapan NO Y X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X <1000 latosol socepas dijarangi SD <1000 latosol socepas dijarangi SD <1000 latosol socepas dijarangi SD <1000 latosol socepas dijarangi <1000 latosol socepas dijarangi SD <1000 latosol socepas dijarangi <1000 latosol socepas dijarangi <1000 latosol socepas dijarangi SD <1000 latosol socepas dijarangi SD <1000 latosol socepas dijarangi <1000 latosol socepas dijarangi SD <1000 latosol socepas dijarangi SD <1000 latosol socepas dijarangi SD <1000 latosol socepas dijarangi SD <1000 latosol socepas dijarangi SD <1000 latosol socepas dijarangi <1000 latosol socepas dijarangi SD <1000 latosol socepas dijarangi SD <1000 latosol socepas dijarangi SD <1000 latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi 56

69 57 NO Y X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi 57

70 58 NO Y X1 X2 X3 X4 X5 X6 X7 X8 X9 X10 X11 X12 X13 X14 X15 X16 X17 X18 X19 X SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi SD latosol socepas dijarangi 58

71 59 Keterangan : Y : Pendapatan penyadap dari kegiatan penyadapan ( Rp/bulan) X 1 : Umur penyadap (Tahun) X 2 : Pendidikan X 3 : Lama menjadi penyadap (Tahun) X 4 : Jumlah keluarga yang terlibat dalam kegiatan penyadapan (Orang) X 5 : Luas areal sadapan (Hektar) X 6 : Hari kerja dalam sebulan (Hari) X 7 : Jarak rumah ke blok sadapan (Km) X 8 : Jarak blok sadapan ke TPG (Km) X 9 : Jangka waktu pemungutan getah (Hari) X 10 : Produksi getah dalam sebulan (Kg) X 11 : Jam kerja efektif per hari X 12 : Jangka waktu pengumpulan getah (Hari) X 13 : Umur tegakan (Tahun) X 14 : Jumlah pohon yang dapat disadap (Pohon/hari) X 15 : Kemiringan lapangan (Derajat) X 16 : Ketinggian blok sadapan (mdpl) X 17 : Jenis tanah X 18 : Curah hujan (mm/th) X 19 : Penggunaan larutan asam

72 60 Lampiran 2. Perbandingan Antara Jumlah Penyadap dengan Jumlah Tenaga Kerja Laki-laki tiap Wilayah Kerja Mandor Sadap No Jumlah Penyadap Tenaga kerja Partisipasi Pendapatan

73 61 Lampiran 3. Hasil Pengolahan Data dengan Minitab 13.3 For Window Regression Analysis: PENDAPATAN versus X1, X2,... The regression equation is PENDAPATAN = X X X X X X X7-197 X X X X X X X X X16 Predictor Coef SE Coef T P Constant X X X X X X X X X X X X X X X X S = R-Sq = 93.8% R-Sq(adj) = 92.3% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression E E Residual Error E Total E+12 Source DF Seq SS X X X X E+11 X X E+11 X X X X E+11 X X X X X X Unusual Observations Obs X1 PENDAPAT Fit SE Fit Residual St Resid RX R R

74 R R denotes an observation with a large standardized residual X denotes an observation whose X value gives it large influence. Regression Analysis: PENDAPATAN versus X10, X13 The regression equation is PENDAPATAN = X X13 Predictor Coef SE Coef T P Constant X X S = R-Sq = 92.7% R-Sq(adj) = 92.5% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression E E Residual Error E Total E+12 Source DF Seq SS X E+12 X Unusual Observations Obs X10 PENDAPAT Fit SE Fit Residual St Resid X R R R denotes an observation with a large standardized residual X denotes an observation whose X value gives it large influence.

75 63 Regression Analysis: PENDAPATAN versus X5, X6, X11, X13 The regression equation is PENDAPATAN = X X X X13 Predictor Coef SE Coef T P Constant X X X X S = R-Sq = 64.8% R-Sq(adj) = 63.0% Analysis of Variance Source DF SS MS F P Regression E E Residual Error E Total E+12 Source DF Seq SS X X E+12 X X E+11 Unusual Observations Obs X5 PENDAPAT Fit SE Fit Residual St Resid R R R X R R denotes an observation with a large standardized residual X denotes an observation whose X value gives it large influence.

76 64 Lampiran 4. Pendapatan Penyadap dari Sektor Sadapan dan di Luar Sektor Sadapan Pendapatan (Rp/bulan) No Sadapan Non sadapan Total kontibusi , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,93

77 65 No Pendapatan (Rp/bulan) Sadapan Non sadapan Total Kontibusi , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,85

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tinjauan Umum tentang Pinus 2.1.1. Habitat dan Penyebaran Pinus di Indonesia Menurut Martawijaya et al. (2005), pinus dapat tumbuh pada tanah jelek dan kurang subur, pada tanah

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 25 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kegiatan Pengelolaan Hutan Pinus 5.1.1 Potensi Getah Pinus Getah pinus di KPH Banyumas Barat seperti yang tertera pada Tabel 4 berasal dari 6 BKPH yang termasuk ke dalam

Lebih terperinci

PENGARUH JUMLAH SADAPAN TERHADAP PRODUKSI GETAH PINUS

PENGARUH JUMLAH SADAPAN TERHADAP PRODUKSI GETAH PINUS PENGARUH JUMLAH SADAPAN TERHADAP PRODUKSI GETAH PINUS (Pinus merkusii) DENGAN METODE KOAKAN DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT KABUPATEN SUKABUMI JAWA BARAT YUDHA ASMARA ADHI DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Tentang Pohon Pinus merkusii Pinus merkusii termasuk dalam famili Pinaceae dengan nama lainnya Pinus sumatrana

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Tentang Pohon Pinus merkusii Pinus merkusii termasuk dalam famili Pinaceae dengan nama lainnya Pinus sumatrana 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Tentang Pohon Pinus merkusii Pinus merkusii termasuk dalam famili Pinaceae dengan nama lainnya Pinus sumatrana Jungh. Pinus memiliki nama lokal yang berbeda-beda

Lebih terperinci

PENGARUH KARAKTERISTIK DEMOGRAFI, SOSIAL DAN EKONOMI TERHADAP PENDAPATAN PETANI PENYADAP GETAH PINUS DI KECAMATAN SESENA PADANG KABUPATEN MAMASA

PENGARUH KARAKTERISTIK DEMOGRAFI, SOSIAL DAN EKONOMI TERHADAP PENDAPATAN PETANI PENYADAP GETAH PINUS DI KECAMATAN SESENA PADANG KABUPATEN MAMASA PENGARUH KARAKTERISTIK DEMOGRAFI, SOSIAL DAN EKONOMI TERHADAP PENDAPATAN PETANI PENYADAP GETAH PINUS DI KECAMATAN SESENA PADANG KABUPATEN MAMASA INFLUENCE OF CHARACTERISTIC DEMOGRAPHY, SOCIAL AND ECONOMIC

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Letak dan Keadaan Geografi Daerah Penelitian Desa Perbawati merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Sukabumi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Batas-batas

Lebih terperinci

MOHAMMAD ZULFI ILHAM NIM

MOHAMMAD ZULFI ILHAM NIM LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANG (PKL) DI RESORT PEMANGKUAN HUTAN (RPH) MANDIRANCAN BAGIAN KESATUAN PEMANGKUAN HUTAN (BKPH) KEBASEN KESATUAN PEMANGKUAN HUTAN (KPH) BANYUMAS TIMUR PERUM PERHUTANI UNIT I JAWA

Lebih terperinci

ANALISIS BIAYA PENGOLAHAN GONDORUKEM DAN TERPENTIN DI PGT. SINDANGWANGI, KPH BANDUNG UTARA, PERUM PERHUTANI UNIT III JAWA BARAT BANTEN.

ANALISIS BIAYA PENGOLAHAN GONDORUKEM DAN TERPENTIN DI PGT. SINDANGWANGI, KPH BANDUNG UTARA, PERUM PERHUTANI UNIT III JAWA BARAT BANTEN. ANALISIS BIAYA PENGOLAHAN GONDORUKEM DAN TERPENTIN DI PGT. SINDANGWANGI, KPH BANDUNG UTARA, PERUM PERHUTANI UNIT III JAWA BARAT BANTEN. Dwi Nugroho Artiyanto E 24101029 DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS

Lebih terperinci

HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI, DENGAN METODA STRATIFIED SYSTEMATIC SAMPLING WITH RANDOM

HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI, DENGAN METODA STRATIFIED SYSTEMATIC SAMPLING WITH RANDOM PENDUGAAN POTENSI TEGAKAN HUTAN PINUS (Pinus merkusii) DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, SUKABUMI, DENGAN METODA STRATIFIED SYSTEMATIC SAMPLING WITH RANDOM START MENGGUNAKAN UNIT CONTOH LINGKARAN KONVENSIONAL

Lebih terperinci

ANALISIS PENGELUARAN ENERGI PEKERJA PENYADAPAN KOPAL DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT KABUPATEN SUKABUMI JAWA BARAT AVIANTO SUDIARTO

ANALISIS PENGELUARAN ENERGI PEKERJA PENYADAPAN KOPAL DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT KABUPATEN SUKABUMI JAWA BARAT AVIANTO SUDIARTO ANALISIS PENGELUARAN ENERGI PEKERJA PENYADAPAN KOPAL DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT KABUPATEN SUKABUMI JAWA BARAT AVIANTO SUDIARTO DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007

Lebih terperinci

Gambar 2 Lokasi penelitian dan pohon contoh penelitian di blok Cikatomas.

Gambar 2 Lokasi penelitian dan pohon contoh penelitian di blok Cikatomas. 21 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Lapangan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam satu blok, yaitu di petak penelitian permanen teknologi penyadapan getah pinus (blok Cikatomas) dengan

Lebih terperinci

PENGARUH JUMLAH SADAPAN TERHADAP PRODUKSI GETAH PINUS

PENGARUH JUMLAH SADAPAN TERHADAP PRODUKSI GETAH PINUS PENGARUH JUMLAH SADAPAN TERHADAP PRODUKSI GETAH PINUS (Pinus merkusii) DENGAN METODE KOAKAN DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT KABUPATEN SUKABUMI JAWA BARAT YUDHA ASMARA ADHI DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI JENIS STIMULANSIA TERHADAP PRODUKSI GETAH PINUS

PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI JENIS STIMULANSIA TERHADAP PRODUKSI GETAH PINUS PENGARUH PEMBERIAN BERBAGAI JENIS STIMULANSIA TERHADAP PRODUKSI GETAH PINUS (Pinus merkusii Jung et de Vriese) DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT NURKHAIRANI DEPARTEMEN HASIL

Lebih terperinci

ANALISIS PENGELUARAN ENERGI PEKERJA PENYADAPAN KOPAL DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT KABUPATEN SUKABUMI JAWA BARAT AVIANTO SUDIARTO

ANALISIS PENGELUARAN ENERGI PEKERJA PENYADAPAN KOPAL DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT KABUPATEN SUKABUMI JAWA BARAT AVIANTO SUDIARTO ANALISIS PENGELUARAN ENERGI PEKERJA PENYADAPAN KOPAL DI HUTAN PENDIDIKAN GUNUNG WALAT KABUPATEN SUKABUMI JAWA BARAT AVIANTO SUDIARTO DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Kabupaten Kerinci 5.1.1 Kondisi Geografis Kabupaten Kerinci terletak di sepanjang Bukit Barisan, diantaranya terdapat gunung-gunung antara lain Gunung

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Karakteristik Wilayah Kabupaten Banjarnegara termasuk dalam wilayah Propinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah seluas 106.971,01 Ha dengan pusat pemerintahan Kab.

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 19 3.1 Luas dan Lokasi BAB III KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN Kabupaten Humbang Hasundutan mempunyai luas wilayah seluas 2.335,33 km 2 (atau 233.533 ha). Terletak pada 2 o l'-2 o 28' Lintang Utara dan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan pada tegakan Hevea brasiliensis yang terdapat di

BAHAN DAN METODE. Penelitian dilakukan pada tegakan Hevea brasiliensis yang terdapat di BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan pada tegakan Hevea brasiliensis yang terdapat di perkebunan rakyat Desa Huta II Tumorang, kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara.

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Cidokom Kecamatan Rumpin. Kecamatan Leuwiliang merupakan kawasan

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Cidokom Kecamatan Rumpin. Kecamatan Leuwiliang merupakan kawasan V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5. Kecamatan Leuwiliang Penelitian dilakukan di Desa Pasir Honje Kecamatan Leuwiliang dan Desa Cidokom Kecamatan Rumpin. Kecamatan Leuwiliang merupakan kawasan pertanian

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Karakteristik Wilayah Lokasi yang dipilih untuk penelitian ini adalah Desa Gunung Malang, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor. Desa Gunung Malang merupakan salah

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 23 BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Lokasi Penelitian Penelitian Pengaruh Penggunaan Stimulansia Organik dan ZPT terhadap Produktivitas Penyadapan Getah Pinus di Hutan Pendidikan Gunung Walat dilaksanakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Hutan merupakan sumber kekayaan alam yang dapat diperbaharui dan

I. PENDAHULUAN. Hutan merupakan sumber kekayaan alam yang dapat diperbaharui dan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hutan merupakan sumber kekayaan alam yang dapat diperbaharui dan memiliki fungsi produksi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Fungsi produksi hutan yang dapat dimanfaatkan

Lebih terperinci

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI

KONDISI UMUM WILAYAH STUDI 16 KONDISI UMUM WILAYAH STUDI Kondisi Geografis dan Administratif Kota Sukabumi terletak pada bagian selatan tengah Jawa Barat pada koordinat 106 0 45 50 Bujur Timur dan 106 0 45 10 Bujur Timur, 6 0 49

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Lokasi Penelitian Kegiatan penyadapan dilakukan di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) yang terletak di wilayah Sukabumi Jawa Barat, tepatnya pada Petak Penelitian

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Letak, Batas dan Luas Daerah Penelitian. Kabupaten Wonosobo, terletak lintang selatan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Letak, Batas dan Luas Daerah Penelitian. Kabupaten Wonosobo, terletak lintang selatan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Daerah Penelitian 1. Kondisi Fisik a. Letak, Batas dan Luas Daerah Penelitian Kecamatan Mojotengah merupakan salah satu dari 15 kecamatan di Kabupaten

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 38 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Penelitian 1) Usahatani Karet Usahatani karet yang ada di Desa Retok merupakan usaha keluarga yang dikelola oleh orang-orang dalam keluarga tersebut. Dalam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Gambaran Umum Pinus Pinus terdiri atas banyak spesies, salah satunya adalah Pinus merkusii. Di Indonesia, pinus dikenal dengan nama tusam. Menurut Hendromono et al (2005)

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Biomassa

II. TINJAUAN PUSTAKA Biomassa 3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Biomassa Biomassa merupakan bahan organik dalam vegetasi yang masih hidup maupun yang sudah mati, misalnya pada pohon (daun, ranting, cabang, dan batang utama) dan biomassa

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH

V. GAMBARAN UMUM WILAYAH V. GAMBARAN UMUM WILAYAH 5.1. Kondisi Geografis Luas wilayah Kota Bogor tercatat 11.850 Ha atau 0,27 persen dari luas Propinsi Jawa Barat. Secara administrasi, Kota Bogor terdiri dari 6 Kecamatan, yaitu

Lebih terperinci

BAB IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan.

BAB IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan. 43 BAB IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sragi Kabupaten Lampung Selatan. Kecamatan Sragi merupakan sebuah Kecamatan yang ada

Lebih terperinci

SIFAT FISIS MEKANIS PANEL SANDWICH DARI TIGA JENIS BAMBU FEBRIYANI

SIFAT FISIS MEKANIS PANEL SANDWICH DARI TIGA JENIS BAMBU FEBRIYANI SIFAT FISIS MEKANIS PANEL SANDWICH DARI TIGA JENIS BAMBU FEBRIYANI DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 RINGKASAN Febriyani. E24104030. Sifat Fisis Mekanis Panel Sandwich

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan daerah provinsi di Indonesia, yang terletak di bagian selatan Pulau Jawa. Ibu kota Provinsi Daerah Istimewa

Lebih terperinci

BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 16. Tabel 4. Luas Wilayah Desa Sedari Menurut Penggunaannya Tahun 2009

BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 16. Tabel 4. Luas Wilayah Desa Sedari Menurut Penggunaannya Tahun 2009 33 BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 16 4.1 Keadaan Wilayah Desa Sedari merupakan salah satu desa di Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang. Luas wilayah Desa Sedari adalah 3.899,5 hektar (Ha). Batas

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Letak dan Keadaan Geografi Daerah Penelitian Desa Pulorejo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Batas-batas

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang 43 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Gambaran Umum Daerah Penelitian 1. Keadaan Umum Kecamatan Sragi a. Letak Geografis Kecamatan Sragi merupakan salah satu kecamatan dari 17 Kecamatan yang ada di

Lebih terperinci

BAB IV KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

BAB IV KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN BAB IV KEADAAN UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1 Kecamatan Conggeang 4.1.1 Letak geografis dan administrasi pemerintahan Secara geografis, Kecamatan Conggeang terletak di sebelah utara Kabupaten Sumedang. Kecamatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. hutan dapat dipandang sebagai suatu sistem ekologi atau ekosistem yang sangat. berguna bagi manusia (Soerianegara dan Indrawan. 2005).

I. PENDAHULUAN. hutan dapat dipandang sebagai suatu sistem ekologi atau ekosistem yang sangat. berguna bagi manusia (Soerianegara dan Indrawan. 2005). I. PENDAHULUAN Hutan adalah masyarakat tetumbuhan dan hewan yang hidup di lapisan permukaan tanah yang terletak pada suatu kawasan, serta membentuk suatu kesatuan ekosistem yang berada dalam keseimbangan

Lebih terperinci

PENGARUH LAMA WAKTU PENUMPUKAN KAYU KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) TERHADAP SIFAT - SIFAT PAPAN PARTIKEL TRIDASA A SAFRIKA

PENGARUH LAMA WAKTU PENUMPUKAN KAYU KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) TERHADAP SIFAT - SIFAT PAPAN PARTIKEL TRIDASA A SAFRIKA PENGARUH LAMA WAKTU PENUMPUKAN KAYU KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) TERHADAP SIFAT - SIFAT PAPAN PARTIKEL TRIDASA A SAFRIKA DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang 70 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Tanggamus 1. Keadaan Geografis Tanggamus merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Lampung yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten

Lebih terperinci

KADAR AIR TITIK JENUH SERAT BEBERAPA JENIS KAYU PERDAGANGAN INDONESIA ARIF RAKHMAN HARIJADI

KADAR AIR TITIK JENUH SERAT BEBERAPA JENIS KAYU PERDAGANGAN INDONESIA ARIF RAKHMAN HARIJADI KADAR AIR TITIK JENUH SERAT BEBERAPA JENIS KAYU PERDAGANGAN INDONESIA ARIF RAKHMAN HARIJADI DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009 KADAR AIR TITIK JENUH SERAT BEBERAPA

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 23 BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Umum KPH Cepu 4.1.1 Letak Geografi dan Luas Kawasan Berdasarkan peta geografis, KPH Cepu terletak antara 111 16 111 38 Bujur Timur dan 06 528 07 248

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Analisis Citra Digital Interpretasi dilakukan dengan pembuatan area contoh (training set) berdasarkan pengamatan visual terhadap karakteristik objek dari citra Landsat. Untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yaitu di Aceh, Tapanuli dan Kerinci. Dalam perkembangannya tanaman

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia yaitu di Aceh, Tapanuli dan Kerinci. Dalam perkembangannya tanaman BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pinus merkusii merupakan spesies pinus yang tumbuh secara alami di Indonesia yaitu di Aceh, Tapanuli dan Kerinci. Dalam perkembangannya tanaman P. merkusii banyak dibudidayakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. PT. Perhutani KPH Surakarta, dimulai dari pelaksanaan pada periode tahun

BAB I PENDAHULUAN. PT. Perhutani KPH Surakarta, dimulai dari pelaksanaan pada periode tahun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejarah umum mengenai penanaman hutan pinus, yang dikelola oleh PT. Perhutani KPH Surakarta, dimulai dari pelaksanaan pada periode tahun 1967 1974. Menyadari

Lebih terperinci

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi

IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik Wilayah Administrasi IV. KONDISI UMUM 4.1 Kondisi Fisik 4.1.1 Wilayah Administrasi Kota Bandung merupakan Ibukota Propinsi Jawa Barat. Kota Bandung terletak pada 6 o 49 58 hingga 6 o 58 38 Lintang Selatan dan 107 o 32 32 hingga

Lebih terperinci

II. METODOLOGI. A. Metode survei

II. METODOLOGI. A. Metode survei II. METODOLOGI A. Metode survei Pelaksanaan kegiatan inventarisasi hutan di KPHP Maria Donggomassa wilayah Donggomasa menggunakan sistem plot, dengan tahapan pelaksaan sebagai berikut : 1. Stratifikasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Kehidupan di dunia tidak terlepas dari perubahan-perubahan suatu lingkungan.

I. PENDAHULUAN. Kehidupan di dunia tidak terlepas dari perubahan-perubahan suatu lingkungan. 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehidupan di dunia tidak terlepas dari perubahan-perubahan suatu lingkungan. Lingkungan fisik, lingkungan biologis serta lingkungan sosial manusia akan selalu berubah

Lebih terperinci

ANALISIS KOMPOSISI JENIS DAN STRUKTUR TEGAKAN DI HUTAN BEKAS TEBANGAN DAN HUTAN PRIMER DI AREAL IUPHHK PT

ANALISIS KOMPOSISI JENIS DAN STRUKTUR TEGAKAN DI HUTAN BEKAS TEBANGAN DAN HUTAN PRIMER DI AREAL IUPHHK PT ANALISIS KOMPOSISI JENIS DAN STRUKTUR TEGAKAN DI HUTAN BEKAS TEBANGAN DAN HUTAN PRIMER DI AREAL IUPHHK PT. SARMIENTO PARAKANTJA TIMBER KALIMANTAN TENGAH Oleh : SUTJIE DWI UTAMI E 14102057 DEPARTEMEN MANAJEMEN

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kecamatan Pugung memiliki luas wilayah ,56 Ha yang terdiri dari

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Kecamatan Pugung memiliki luas wilayah ,56 Ha yang terdiri dari 54 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Umum Kecamatan Pugung 1. Letak Geografis dan Luas Wilayah Kecamatan Pugung memiliki luas wilayah 18.540,56 Ha yang terdiri dari 27 pekon/desa, 1.897 Ha

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang Barat terletak pada BT dan

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Kabupaten Tulang Bawang Barat terletak pada BT dan 77 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak Geografis Kabupaten Tulang Bawang Barat terletak pada 104 552-105 102 BT dan 4 102-4 422 LS. Batas-batas wilayah Kabupaten Tulang Bawang Barat secara geografis

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Tempat Penelitian Desa Sumber Makmur yang terletak di Kecamatan Banjar Margo, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung memiliki luas daerah 889 ha. Iklim

Lebih terperinci

KONTRIBUSI PENYADAPAN GETAH PINUS (Pinus merkusii) TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN PENYADAP SKRIPSI HENNY MONIKA SITORUS /MANAJEMEN HUTAN

KONTRIBUSI PENYADAPAN GETAH PINUS (Pinus merkusii) TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN PENYADAP SKRIPSI HENNY MONIKA SITORUS /MANAJEMEN HUTAN KONTRIBUSI PENYADAPAN GETAH PINUS (Pinus merkusii) TERHADAP TINGKAT PENDAPATAN PENYADAP SKRIPSI HENNY MONIKA SITORUS 071201024/MANAJEMEN HUTAN PROGRAM STUDI KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Lokasi dan Kondisi Geografis Desa Citapen Lokasi penelitian tepatnya berada di Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Berdasarkan data Dinas

Lebih terperinci

V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN

V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1. Gambaran Umum Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi Gambaran umum Kecamatan Kebon Pedes, Kabupaten Sukabumi dalam penelitian ini dihat

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Metro. Kelurahan Karangrejo pertama kali dibuka pada zaman pemerintahan

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Metro. Kelurahan Karangrejo pertama kali dibuka pada zaman pemerintahan IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Sejarah Berdirinya Kelurahan Karangrejo Karangrejo adalah salah satu Kelurahan di Kecamatan Metro Utara Kota Metro. Kelurahan Karangrejo pertama kali dibuka pada

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN KARAKTERISTIK PETANI

V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN KARAKTERISTIK PETANI V GAMBARAN UMUM LOKASI DAN KARAKTERISTIK PETANI 5.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 5.1.1. Kabupaten Banyuasin Kabupaten Banyuasin merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Sumatera Selatan.

Lebih terperinci

KUANTIFIKASI KAYU SISA PENEBANGAN JATI PADA AREAL PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT TERSERTIFIKASI DI KABUPATEN KONAWE SELATAN, SULAWESI TENGGARA

KUANTIFIKASI KAYU SISA PENEBANGAN JATI PADA AREAL PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT TERSERTIFIKASI DI KABUPATEN KONAWE SELATAN, SULAWESI TENGGARA KUANTIFIKASI KAYU SISA PENEBANGAN JATI PADA AREAL PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT TERSERTIFIKASI DI KABUPATEN KONAWE SELATAN, SULAWESI TENGGARA PUTRI KOMALASARI DEPARTEMEN HASIL HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DESA KALIURANG. memiliki luas lahan pertanian sebesar 3.958,10 hektar dan luas lahan non

IV. KEADAAN UMUM DESA KALIURANG. memiliki luas lahan pertanian sebesar 3.958,10 hektar dan luas lahan non IV. KEADAAN UMUM DESA KALIURANG A. Letak Geografis Wilayah Kecamatan Srumbung terletak di di seputaran kaki gunung Merapi tepatnya di bagian timur wilayah Kabupaten Magelang. Kecamatan Srumbung memiliki

Lebih terperinci

KEMAMPUAN SERAPAN KARBONDIOKSIDA PADA TANAMAN HUTAN KOTA DI KEBUN RAYA BOGOR SRI PURWANINGSIH

KEMAMPUAN SERAPAN KARBONDIOKSIDA PADA TANAMAN HUTAN KOTA DI KEBUN RAYA BOGOR SRI PURWANINGSIH KEMAMPUAN SERAPAN KARBONDIOKSIDA PADA TANAMAN HUTAN KOTA DI KEBUN RAYA BOGOR SRI PURWANINGSIH Kemampuan Serapan Karbondioksida pada Tanaman Hutan Kota di Kebun Raya Bogor SRI PURWANINGSIH DEPARTEMEN KONSERVASI

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN BAB IV KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Sejarah Kota Bekasi Berdasarkan Undang-Undang No 14 Tahun 1950, terbentuk Kabupaten Bekasi. Kabupaten bekasi mempunyai 4 kawedanan, 13 kecamatan, dan 95 desa.

Lebih terperinci

PENGUJIAN KUALITAS KAYU BUNDAR JATI

PENGUJIAN KUALITAS KAYU BUNDAR JATI PENGUJIAN KUALITAS KAYU BUNDAR JATI ( Tectona grandis Linn. f) PADA PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT TERSERTIFIKASI DI KABUPATEN KONAWE SELATAN, SULAWESI TENGGARA AHSAN MAULANA DEPARTEMEN HASIL HUTAN

Lebih terperinci

Kemampuan Serapan Karbondioksida pada Tanaman Hutan Kota di Kebun Raya Bogor SRI PURWANINGSIH

Kemampuan Serapan Karbondioksida pada Tanaman Hutan Kota di Kebun Raya Bogor SRI PURWANINGSIH Kemampuan Serapan Karbondioksida pada Tanaman Hutan Kota di Kebun Raya Bogor SRI PURWANINGSIH DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007 Kemampuan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Geografis Wilayah Kabupaten Blitar

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Kondisi Geografis Wilayah Kabupaten Blitar BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Geografis Wilayah Kabupaten Blitar Wilayah Blitar merupakan wilayah yang strategis dikarenakan wilayah Blitar berbatasan dengan beberapa Kabupaten yaitu

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH

IV. KEADAAN UMUM WILAYAH IV. KEADAAN UMUM WILAYAH 4.1. Sejarah Kabupaten Bekasi Kabupaten Bekasi dibentuk berdasarkan Undang-Undang No.14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Dasar-Dasar Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa Barat

Lebih terperinci

RINGKASAN BAKHTIAR SANTRI AJI.

RINGKASAN BAKHTIAR SANTRI AJI. PEMETAAN PENYEBARAN POLUTAN SEBAGAI BAHAN PERTIMBANGAN PEMBANGUNAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DI KOTA CILEGON BAKHTIAR SANTRI AJI DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN

Lebih terperinci

Lampiran 4. Analisis Keragaman Retensi Bahan Pengawet Asam Borat

Lampiran 4. Analisis Keragaman Retensi Bahan Pengawet Asam Borat Lampiran 1. Kadar Air Kayu Sebelum Proses Pengawetan Kayu Berat Awal (gram) BKT (gram) Kadar Air (%) 1 185,8 165,2 12,46 2 187,2 166,8 12,23 3 173,4 152,3 13,85 Kadar Air Rata-rata 12,85 Lampiran 2. Kerapatan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Letak, Luas dan Batas Wilayah

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Letak, Luas dan Batas Wilayah 39 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Daerah Penelitian 1. Kondisi Fisiografis a. Letak, Luas dan Batas Wilayah Letak geografis Kabupaten Landak adalah 109 40 48 BT - 110 04 BT dan 00

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL KONVERSI TANAMAN KAYU MANIS MENJADI KAKAO DI KECAMATAN GUNUNG RAYA KABUPATEN KERINCI PROVINSI JAMBI

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL KONVERSI TANAMAN KAYU MANIS MENJADI KAKAO DI KECAMATAN GUNUNG RAYA KABUPATEN KERINCI PROVINSI JAMBI ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL KONVERSI TANAMAN KAYU MANIS MENJADI KAKAO DI KECAMATAN GUNUNG RAYA KABUPATEN KERINCI PROVINSI JAMBI OLEH SUCI NOLA ASHARI A14302009 PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan. Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105.

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan. Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105. IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Selatan 4.1.1. Keadaan Geografis Wilayah Kabupaten Lampung Selatan terletak antara 105.14 sampai dengan 105, 45 Bujur Timur dan 5,15

Lebih terperinci

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN

4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4. KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN 4.1. Kondisi Geografis Kota Makassar secara geografi terletak pada koordinat 119 o 24 17,38 BT dan 5 o 8 6,19 LS dengan ketinggian yang bervariasi antara 1-25 meter dari

Lebih terperinci

DAMPAK PENYIAPAN LAHAN Acacia crassicarpa TERHADAP SERANGAN PENYAKIT BUSUK AKAR PUTIH SYAMSI FAUQO NURI

DAMPAK PENYIAPAN LAHAN Acacia crassicarpa TERHADAP SERANGAN PENYAKIT BUSUK AKAR PUTIH SYAMSI FAUQO NURI DAMPAK PENYIAPAN LAHAN Acacia crassicarpa TERHADAP SERANGAN PENYAKIT BUSUK AKAR PUTIH SYAMSI FAUQO NURI DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2005 DAMPAK PENYIAPAN

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 24 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Keadaan Wilayah dan Potensi Sumber daya Alam Desa Cikarawang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan luas wilayah 2.27

Lebih terperinci

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 15 BAB IV KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Letak Sub DAS Model DAS Mikro (MDM) Barek Kisi berada di wilayah Kabupaten Blitar dan termasuk ke dalam Sub DAS Lahar. Lokasi ini terletak antara 7 59 46 LS

Lebih terperinci

PENGARUH KONDISI RUANG, FREKUENSI DAN VOLUME PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERIODE LAYAK DISPLAY Dracaena marginata Tricolour

PENGARUH KONDISI RUANG, FREKUENSI DAN VOLUME PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERIODE LAYAK DISPLAY Dracaena marginata Tricolour PENGARUH KONDISI RUANG, FREKUENSI DAN VOLUME PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERIODE LAYAK DISPLAY Dracaena marginata Tricolour Oleh : Ita Lestari A34301058 PROGRAM STUDI HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung.

IV. GAMBARAN UMUM. Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. IV. GAMBARAN UMUM A. Kondisi Umum Kabupaten Lampung Tengah Kabupaten Lampung Tengah adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung. Luas wilayah Kabupaten Lampung Tengah sebesar 13,57 % dari Total Luas

Lebih terperinci

PENGARUH BERBAGAI PENUTUPAN TUMBUHAN BAWAH DAN ARAH SADAP TERHADAP PRODUKTIVITAS GETAH PINUS (Pinus merkusii) EVA DANIAWATI

PENGARUH BERBAGAI PENUTUPAN TUMBUHAN BAWAH DAN ARAH SADAP TERHADAP PRODUKTIVITAS GETAH PINUS (Pinus merkusii) EVA DANIAWATI PENGARUH BERBAGAI PENUTUPAN TUMBUHAN BAWAH DAN ARAH SADAP TERHADAP PRODUKTIVITAS GETAH PINUS (Pinus merkusii) EVA DANIAWATI DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

Lebih terperinci

TINGKAT KONSUMSI KAYU BAKAR MASYARAKAT DESA SEKITAR HUTAN (Kasus Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat)

TINGKAT KONSUMSI KAYU BAKAR MASYARAKAT DESA SEKITAR HUTAN (Kasus Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat) TINGKAT KONSUMSI KAYU BAKAR MASYARAKAT DESA SEKITAR HUTAN (Kasus Desa Hegarmanah, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi, Propinsi Jawa Barat) BUDIYANTO DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Letak Geografis Desa Lebih terletak di Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali dengan luas wilayah 205 Ha. Desa Lebih termasuk daerah dataran rendah dengan ketinggian

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. a. Letak, Luas, dan Batas Daerah Penelitian. geografis berada di koordinat 07 o LS-7 o LS dan

BAB IV PEMBAHASAN. a. Letak, Luas, dan Batas Daerah Penelitian. geografis berada di koordinat 07 o LS-7 o LS dan BAB IV PEMBAHASAN A. Deskripsi Daerah Penelitian 1. Kondisi Fisik a. Letak, Luas, dan Batas Daerah Penelitian Desa Banjarharjo adalah salah satu desa di Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulon Progo, Daerah

Lebih terperinci

III. KEADAAN UMUM LOKASI

III. KEADAAN UMUM LOKASI III. KEADAAN UMUM LOKASI Penelitian dilakukan di wilayah Jawa Timur dan berdasarkan jenis datanya terbagi menjadi 2 yaitu: data habitat dan morfometri. Data karakteristik habitat diambil di Kabupaten Nganjuk,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3. 1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada tanggal 21 Februari sampai dengan 9 April 2011 di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. 3. 2

Lebih terperinci

Karakteristik Biometrik Pohon Belian (Eusideroxylon zwageri T. et B.) pada Tegakan Hutan Sumber Benih Plomas Sanggau Kalimantan Barat MAULIDIAN

Karakteristik Biometrik Pohon Belian (Eusideroxylon zwageri T. et B.) pada Tegakan Hutan Sumber Benih Plomas Sanggau Kalimantan Barat MAULIDIAN Karakteristik Biometrik Pohon Belian (Eusideroxylon zwageri T. et B.) pada Tegakan Hutan Sumber Benih Plomas Sanggau Kalimantan Barat MAULIDIAN DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

POLA PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT PADA LAHAN KRITIS (Studi Kasus di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan) Oleh : Nur Hayati

POLA PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT PADA LAHAN KRITIS (Studi Kasus di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan) Oleh : Nur Hayati POLA PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT PADA LAHAN KRITIS (Studi Kasus di Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan) Oleh : Nur Hayati Ringkasan Penelitian ini dilakukan terhadap anggota Kelompok Tani

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Daerah penelitian ditentukan secara secara sengaja (purposive sampling), yaitu

III. METODOLOGI PENELITIAN. Daerah penelitian ditentukan secara secara sengaja (purposive sampling), yaitu III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Penentuan Daerah Penelitian Daerah penelitian ditentukan secara secara sengaja (purposive sampling), yaitu Desa Parbuluan I Kecamatan Parbuluan Kabupaten Dairi, dengan pertimbangan

Lebih terperinci

Oleh : Apollonaris Ratu Daton A

Oleh : Apollonaris Ratu Daton A ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAMBU MENTE (Anacardium Occidentale L.) (Kasus di Desa Ratulodong, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, Propinsi Nusa Tenggara Timur ) Oleh : Apollonaris Ratu

Lebih terperinci

3/30/2012 PENDAHULUAN PENDAHULUAN METODE PENELITIAN

3/30/2012 PENDAHULUAN PENDAHULUAN METODE PENELITIAN APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFI DALAM EVALUASI DAERAH RAWAN LONGSOR DI KABUPATEN BANJARNEGARA (Studi Kasus di Gunung Pawinihan dan Sekitarnya Sijeruk Kecamatan Banjarmangu Kabupaten

Lebih terperinci

GAMBARAN WILAYAH PEGUNUNGAN KENDENG

GAMBARAN WILAYAH PEGUNUNGAN KENDENG 101 GAMBARAN WILAYAH PEGUNUNGAN KENDENG Wilayah Pegunungan Kendeng merupakan bagian dari Kabupaten Pati dengan kondisi umum yang tidak terpisahkan dari kondisi Kabupaten Pati. Kondisi wilayah Pegunungan

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Karawang. Kabupaten Karawang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa

V. GAMBARAN UMUM. 5.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Karawang. Kabupaten Karawang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa V. GAMBARAN UMUM 5.1 Gambaran Umum Wilayah Kabupaten Karawang Kabupaten Karawang merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Barat. Secara geografis, wilayah Kabupaten Karawang terletak antara 107

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Kondisi Tegakan Sebelum Pemanenan Kegiatan inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP) dilakukan untuk mengetahui potensi tegakan berdiameter 20 cm dan pohon layak tebang.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya yang sangat penting untuk kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Air merupakan sumber daya yang sangat penting untuk kehidupan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan sumber daya yang sangat penting untuk kehidupan makhluk hidup khususnya manusia, antara lain untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, industri dan tenaga

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Tengah BT dan LS, dan memiliki areal daratan seluas

IV. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Tengah BT dan LS, dan memiliki areal daratan seluas IV. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN A. Keadaan Umum Kabupaten Lampung Tengah 1. Keadaan Geografis Kabupaten Lampung Tengah merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Propinsi Lampung. Kabupaten Lampung

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH. RW, 305 RT dengan luas wilayah ha, jumlah penduduk jiwa.

IV. KEADAAN UMUM DAERAH. RW, 305 RT dengan luas wilayah ha, jumlah penduduk jiwa. 31 IV. KEADAAN UMUM DAERAH A. Letak Geografis Kecamatan Galur merupakan salah satu dari 12 kecamatan di Kabupaten Kulonprogo, terdiri dari 7 desa yaitu Brosot, Kranggan, Banaran, Nomporejo, Karangsewu,

Lebih terperinci

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Kondisi Geografis Daerah Penelitian. Kecamatan Rumbai merupakan salah satu Kecamatan di ibukota

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Kondisi Geografis Daerah Penelitian. Kecamatan Rumbai merupakan salah satu Kecamatan di ibukota IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN Kondisi Geografis Daerah Penelitian Kecamatan Rumbai merupakan salah satu Kecamatan di ibukota Pekanbaru yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM

BAB IV GAMBARAN UMUM BAB IV GAMBARAN UMUM A. Kondisi Geografis dan Administrasi Kabupaten Banjarnegara mempunyai luas wilayah 106.970,997 Ha terletak antara 7 o 12 sampai 7 o 31 Lintang Selatan dan 109 o 20 sampai 109 o 45

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Istimewa Yogyakarta. Gunungkidul memiliki luas 1.485,36 Km 2 terletak antara 7

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Istimewa Yogyakarta. Gunungkidul memiliki luas 1.485,36 Km 2 terletak antara 7 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Fisik Daerah Gunungkidul adalah daerah yang termasuk dalam wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Gunungkidul memiliki luas 1.485,36 Km 2 terletak antara

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2 Persentase responden berdasarkan kelompok umur

V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 2 Persentase responden berdasarkan kelompok umur V. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Masyarakat Desa Hutan Gambaran mengenai karakteristik masyarakat sekitar hutan di Desa Buniwangi dilakukan dengan metode wawancara terhadap responden. Jumlah responden

Lebih terperinci

4. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Tabel 4 Luas wilayah studi di RPH Tegal-Tangkil

4. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN. Tabel 4 Luas wilayah studi di RPH Tegal-Tangkil 27 4. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1. Letak Geografis Lokasi penelitian, khususnya ekosistem mangrove masuk dalam wilayah pengelolaan Resort Polisi Hutan (RPH) Tegal-Tangkil, BKPH Ciasem- Pamanukan.

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN. wilayah kilometerpersegi. Wilayah ini berbatasan langsung dengan V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN DAN KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1. Lokasi dan Topografi Kabupaten Donggala memiliki 21 kecamatan dan 278 desa, dengan luas wilayah 10 471.71 kilometerpersegi. Wilayah ini

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. lebih dari dua pertiga penduduk Propinsi Lampung diserap oleh sektor

I. PENDAHULUAN. lebih dari dua pertiga penduduk Propinsi Lampung diserap oleh sektor I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu sektor andalan perekonomian di Propinsi Lampung adalah pertanian. Kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Propinsi Lampung

Lebih terperinci