PEMBAHASAN UMUM Studi Analitis/Simulasi

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PEMBAHASAN UMUM Studi Analitis/Simulasi"

Transkripsi

1 PEMBAHASAN UMUM Penelitian dibagi menjadi dua tahapan yang meliputi tahapan persiapan dan tahapan lanjutan. Tahap persiapan dimaksudkan untuk menjamin keberhasilan penelitian sedangkan tahap lanjutan dimaksudkan untuk membuktikan fenomena penurunan draft pembajakan serta penurunan kebutuhan energi. Tahap persiapan meliputi kegiatan/tahap studi analitis/simulasi bajak getar jenis self-excited vibration dan kegiatan/tahap perancangan peralatan. Tahap lanjutan berupa kegiatan eksperimen meliputi eksperimen guna mencari draft pembajakan tanpa getar, eksperimen bajak getar self-excited vibration dan eksperimen penggetaran berenergi rendah pada bajak getar self-excited vibration. Studi Analitis/Simulasi Dalam studi analitis/simulasi, dicari hubungan antara karakteristik draft pembajakan (draft maksimum/minimum dan frekuensi draft pembajakan) dan parameter dinamis dari sistem getar (kekakuan pegas k dan inersia dari batang bajak J) dengan getaran batang bajak dan penurunan draft pembajakan. Tujuannya adalah mengungkapkan mekanisme turunnya draft pembajakan secara analitis serta seberapa besar turunnya draft pembajakan. Draft pembajakan dimodelkan sebagai fungsi periodik yang diekspansikan lebih lanjut dalam deret Fourier. Guna simulasi, diambil draft pembajakan maksimum sebesar 2500 N dan draft pembajakan minimum sebesar 500 N. Digunakan dua frekuensi draft pembajakan masing-masing f=5 Hz dan f= 2 Hz. Bajak getar dimodelkan sebagai sistem getar satu derajat kebebasan dan sitem getar dua derajat kebebasan. Untuk simulasi sistem getar satu derajat kebebasan, derajat kebebasan yang dipilih adalah getaran batang bajak itu sendiri. Batang bajak mempunyai momen inersia massa sebesar J=3.789 kg-m 2 dan digunakan satu jenis pegas semi-eliptis yang mempunyai kekakuan k=18750 Nm/rad. Kombinasi kekakuan pegas k dan momen inersia massa batang bajak J menghasilkan frekuensi alami dari sistem getar =11.7 Hz. atau frekuensi sudut sebesar 73.5 rad/s. Dalam kondisi ini, bila gangguannya mempunyai frekuensi 5.0 Hz (frekuensi sedang), maka batang bajak bergetar lebih hebat dibandingkan dengan simpangan statis dari batang bajaknya. Namun, bila frekuensi gangguannya adalah 2 Hz (frekuensi

2 136 rendah), batang bajak cenderung bergetar mengikuti simpangan statis dari batang bajaknya. Dalam simulasi sistem getar dua derajat kebebasan, ditambahkan sebuah lengan ayun yang dihubungkan dengan batang bajak oleh sebuah pegas koil yang mempunyai kekakuan k 2 =12000 N/m. Derajat kebebasan yang dipilih adalah simpangan batang bajak dan simpangan lengan ayun. Oleh karenanya digunakan dua jenis pegas yaitu pegas semi-eliptis dengan kekakuan k 1 = Nm/rad dan pegas koil dengan kekakuan k 2 =12000 N/m. Data lainnya adalah momen inersia J 1 =3.789 kg-m 2 dan momen inersia lengan ayun J 2 =0.02 kg-m 2. Pada lengan ayun ditambahkan sebuah massa m 2. Persamaan diferensial yang disusun menunjukkan bahwa koordinat terkopling dengan koodinat. Dalam solusinya digunakan metode analisis modal. Optimasi dilakukan dengan memvariasikan besar massa ayun m 2 dari 0-3 kg. dan dihasilkankan massa m 2 =0.783 kg, frekuensi alami 10 Hz. dan Hz. Simulasi hanya dilakukan pada frekuensi draft pembajakan f e =5 Hz. dan didapat hasil yaitu getaran batang bajak yang lebih hebat dibandingkan dengan simpangan statisnya. Penurunan draft pembajakan dicari dengan menggunakan prinsip contact ratio pada bajak getar oscillatory tillage yang dikembangkan oleh Radite et al. (2002) dan Sakai (2009). Selanjutnya prinsip ini dimodifikasi dan digunakan untuk mengungkapkan penurunan draft pembajakan pada bajak getar self-excited vibration. Simulasi guna mencari penurunan draft pembajakan dilakukan pada rasio kecepatan Hasilnya terjadi penurunan draft pembajakan secara signifikan dan kurang bergantung kepada rasio kecepatan. Pada sistem getar satu derajat kebebasan dengan frekuensi draft pembajakan 5 Hz, terjadi penurunan draft sekitar % sedangkan pada frekuensi draft pembajakan 2 Hz, terjadi penurunan draft pembajakan sekitar 23 %, lebih rendah dibandingkan dengan penurunan draft pembajakan pada frekuensi draft pembajakan fe=5 Hz. Untuk sistem getar dua derajat kebebasan dengan frekuensi draft pembajakan 5 Hz, terjadi penurunan draft pembajakan sekitar %, lebih tinggi jika dibandingkan dengan penurunan draft pembajakan pada sistem getar satu derajat kebebasan.

3 137 Penurunan draft pembajakan hasil simulasi ini mempunyai kemungkinan yang baik untuk melanjutkan penelitian melalui uji eksperimental. Yang perlu diperhatikan adalah model matematis draft pembajakan serta parameter dinamis dari sistem getar serta hubungannya dengan penurunan draft pembajakan. Untuk frekuensi draft pembajakan rendah ternyata penurunan draft pembajakan juga rendah. Oleh karenanya, dalam uji eksperimen nantinya perlu dirancang dengan cermat parameter dinamis dari sistem getar serta perlu dimodelkan dengan teliti model matematis dari draft pembajakan. Perancangan peralatan. Peralatan guna eksperimental belum tersedia di Laboratorium Teknik Mesin dan Budi Daya Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Untuk keperluan penelitian, perlu dipersiapkan terlebih dahulu peralatan guna kegiatan eksperimental. Untuk itu perlu dibuat perancangan peralatan dengan cermat sehingga menjamin terwujudnya peralatan yang akan digunakan untuk penelitian. Perancangan telah disusun secara sistemik sesuai dengan metode VDI2221 (Pahl et al. 1976). Dalam metode ini tahapan perancangan meliputi klarifikasi tugas, perancangan konsep, perancangan wujud dan perancangan detil. Perancangan lebih ditekankan pada perancangan konsep karena tahapan ini merupakan kegiatan manajerial sedangkan kegiatan perancangan selanjutnya merupagan kegiatan tingkat teknisi. Pertama kali dilakukan klarifikasi tugas sehinga didapat kejelasan tentang peralatan apa dan bagaimana yang akan digunakan dalam penelitian. Selanjutnya dibuat daftar spesifikasi peralatan sehingga ada kejelasan tentang geometris peralatan, kinematika, gaya, energi, material, sinyal, keselamatan, produksi, kontrol kualitas, perakitan, pengoperasian, perawatan serta batasan biaya guna membuat peralatan. Juga ada kejelasan spesifikasi yang harus dipenuhi oleh peralatan serta spesifikasi apa yang merupakan keinginan dari peneliti. Masalah esensiil didapat dengan cara mengabstraksikan tahap demi tahap daftar spesifikasi dan hasilnya adalah: Merancang peralatan dalam skala laboratorium guna simulasi penurunan draft pembajakan dan energi pada subsoiler getar jenis self-excited vibration.

4 138 Struktur fungsi (Gambar 17) memberikan kejelasan akan cara kerja dari peralatan yang dirancang, disusun dalam bentuk diagram blok dari aliran tanah, aliran energi dan aliran sinyal. Aliran tanah meliputi pengkondisian tanah, memadatkan tanah, membajak tanah serta menggemburkan tanah. Diperlukan energi mekanis guna memadatkan tanah, membajak tanah dan menggemburkan tanah. Yang unik adalah adanya blok diagram guna menyimpan energi dari draft pembajakan, untuk selanjutnya diubah menjadi energi mekanis sebagai tambahan energi guna membongkar tanah padat sehingga diharapkan terjadi penurunan energi. Prinsip solusi dari setiap blok diagram disusun dalam bentuk tiga buah matriks prinsip solusi, masing-masing adalah matriks prinsip solusi memadatkan tanah (Gamnar 18), matriks prinsip solusi membajak tanah (Gambar 19) dan matriks prinsip solusi pengukuran (Gambar 20). Kombinasi dari prinsip solusi memadatkan tanah didapatkan tujuh konsep varian masing-masing adalah V31, V32, V33, V34, V41, V42 dan V43 sedangkan kombinasi dari prinsip solusi membajak tanah didapatkan enam konsep varian masing-masing adalah V11, V12, V13, V21, V22 dan V23. Untuk prinsip solusi pengukuran gaya dipilih exctended octagonal ring transducer sedangkan untuk memperkirakan besar kecepatan membajak dipilih inverter. Ke dua grup konsep varian tersebut dikombinasikan dan didapatkan empat belas konsep varian (, j=1..14) yang memungkinkan untuk diwujudkan menjadi peralatan penelitian. Metode VDI2221 mensyaratkan ke empat belas konsep varian di atas dievaluasi sevara kualitatif. Dipilih kriteria evaluasi yang meliputi sesuai dengan daftar kehendak dan fungsi secara keseluruhan, secara rinsip dapat diwujudkan, dalam batasan biaya produksi, pengetahuan tentang konsep memadahi, disetujui oleh pembuat dan memenuhi syarat keamanan. Didapat hasil tiga buah konsep peralatan, masingmasing ditunjukkan pada Gambar 21, Gambar 22 dan Gambar 23. Akan dipilih sebuah rancangan konsep optimum dari ketiganya. Untuk itu dilakukan evaluasi secara kuantitatif seperti ditunjukkan pada Tabel 4 dengan kriteria evaluasi utama berupa operasi kerja, konstruksi peralatan, kemudahan diproduksi serta keamanan. Didapat hasil evaluasi ternyata varian konsep yang merupakan konsep perancangan optimum dari peralatan penelitian.

5 139 Konsep perancangan memberikan kejelasan tentang prinsip kerja dari peralatan. Agar dapat diproduksi, konsep tersebut perlu diwujudkan dalam bentuk lay-out (gambar susunan), bentuk komponen dan material yang digunakan. Untuk itu digunakan tiga prinsip yaitu sederhana, jelas dan aman. Hasilnya adalah rancangan wujud peralatan (Gambar 26), rancangan wujud struktur landasan (Gambar 27), rancangan wujud soil bin (Gambar 28) dan rancangan wujud peralatan pemadatan tanah (Gambar 29). Gambar-gambar tersebut menunjukkan kesederhanaannya sehingga mudah diproduksi dan dimengerti serta menunjukkan kejelasan prinsip kerja dan hubungan antar fungsi. Untuk menjamin keamanan kekuatannya, struktur juga diuji dengan menggunakan program paket INVENTOR (hasil tidak ditunjukkan) yang meliputi pengujian kekuatan (tegangan Von Misses) serta pengujian defleksi. Hasilnya menunjukkan bahwa peralatan yang dirancang adalah aman untuk dioperasikan. Hasil rancangan ini dapat memberikan jaminan akan keberhasilan dari penelitian ini. Draft Pembajakan Bajak Tanpa Getar Penelitian dilakukan di dalam soil bin berukuran panjang 1.2 m, lebar 0.3 m dan tinggi (dalam) 0.4 m. Tanah yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah liat dengan kandungan clay, sand dan silt masing-masing sebesar 83.41, 3.11 dan 13.48%. Tanah mempunyai batas plastis 45.51%, batas cair 70.3% dan kohesi tanah serta sudut gesekan (pada tahanan penetrasi 2.75 MPa) masingmasing adalah C=69.54 Kpa dan ϕ=36 0. Tanah dikondisikan di dalam soil bin sehingga mempunyai ketebalam lapisan kedap sekitar cm dengan tahanan penetrasi tanah sekitar 2.75 MPa serta densitas tanah sekitar 1.6 g/cm 3. Di atas lapisan kedap adalah lapisan tanah dengan ketebalan 7 cm dengan tahanan penetrasi tanah sekitar 1.1 MPa. Lapisan kedap yang dibajak setebal 7-10 cm sedangkan kedalaman membajak diatur setebal cm. Digunakan dua jenis chisel plow yaitu chisel plow dengan batang lurus tegak (S1) dan chisel plow dengan batang lurus miring (S2) dengan sudut kemiringan sekitar Kecepatan membajak divariasikan dari m/s. Draft pembajakan diukur dengan menggunakan extended octagonal ring transducer yang dapat mengukur draft pembajakan dalam arah horisontal, arah

6 140 vertikal dan arah momen. Sinyal keluaran dari load cell dikirim ke rangkaian instrumentasi yang terdiri atas instrumented amplifier dan wireless analog to digital converter selanjutnya dikirim ke komputer dalam bentuk data digital. Data draft pembajakan yang diperlukan untuk setiap tingkat kecepatan membajak adalah draft pembajakan maksimum, rerata draft pembajakan, draft pembajakan minimum dan frekuensi draft pembajakan. Data tersebut diperlukan untuk merancang pegas yang akan digunakan pada bajak getar self-excited vibration. Disamping itu juga akan dibuat model matematis dari draft pembajakan yang akan digunakan untuk simulasi lanjutan dari bajak getar self-excited vibration. Data eksperimental menunjukkan bahwa draft pembajakan maksimum dan rerata draft pembajakan akan semakin besar dengan semakin tebalnya lapisan kedap yang dibongkar serta semakin tingginya kecepatan membajak. Draft pembajakan untuk chisel plow S2 lebih rendah dibandingkan dengan draft pembajakan untuk chisel plow S1. Hal ini karena luas kontak antara batang bajak dengan tanah padat pada chisel plow S1 selalu lebih besar dibandingkan dengan luas kontak antara batang bajak dengan tanah padat pada chisel plow S2. Juga tercatat draft pembajakan untuk semua kondisi ketebalan lapisan kedap yang dibajak merupakan fungsi linier terhadap kecepatan membajak. Draft pembajakan terbesar untuk rerata draft pembajakan dan maksimum draft pembajakan tercatat pada kecepatan membajak m/s, tebal lapisan kedap yang dibajak 10 cm dan dengan menggunakan chisel plow S1. Dalam kondisi itu besar Draft pembajakan maksimum adalah 4800 N sedangkan besar rerata Draft pembajakan adalah 3821 N. Data ini digunakan untuk merancang pegas yang diperlukan untuk bajak getar jenis self-excited vibration. Model/grafik draft pembajakan menunjukkan bahwa draft pembajakan sifatnya adalah stokastik. Kendati demikian draft pembajakan tersebut dapat dimodelkan sebagai fungsi periodik dengan frekuensi rendah yang sesuai dengan frekuensi draft pembajakannya ( Hz.). Model matematis yang dibangun ini rumusannya dibuat agak berbeda dengan model matematis draft pembajakan yang dibuat pada simulasi awal. Tahapan draft pembajakan tersebut meliputi: Pisau bajak bergerak maju melalui aliran tanah plastis. Dalam tahap ini draft pembajakannya dianggap konstan sebesar draft minimum.

7 141 Pisau bajak bergerak mundur terdorong oleh tanah padat. Dalam tahap ini draft pembajakannya dianggap berupa fungsi pangkat tiga dari waktu, meningkat dari draft pembajakan minimum ke draft pembajakan maksimum. Pisau bajak bergerak maju melalui tanah yang telah terbongkar. Dalam tahap ini draft pembajakannya dianggap linier terhadap waktu, menurun dari draft pembajakan maksimum ke draft pembajakan minimum. Model matematis ini akan digunakan untuk simulasi lanjutan pada bajak getar self-excited vibration. Draft Pembajakan pada Bajak Getar Self-Excited Vibration Penelitian dimulai dengan merancang pegas semi-eliptis dengan bentuk dan ukuran seperti terlihat pada Gambar 53. Pegas dibuat dari baja S55C dan di heat treatment sehingga pegas mempunyai yield strength sekitar 550 MPa. Perhitungan pegas yang meliputi analisis statis (tegangan dan perpindahan) serta analisis modal dilakukan dengan menggunakan program paket INVENTOR dan hasilnya ditunjukkan pada Gambar 83. Gambar 83. Hasil analisis statis dan analisis modal dengan menggunakan program paket INVENTOR. Pembebanan sebesar 7000 N (load factor =1.46) diberikan di ujung pisau bajak (titik A) dan tercatat tegangan Von Misses tertinggi sebesar 501 MPa., lebih rendah dibandingkan dengan yield strength dari bahan pegas. Juga tercatat simpangan maksimum terjadi di titik A dalam vertical sebesar 36 mm, dalam arah

8 142 horizontal sebesar 58 mm sedangkan simpangan absolutnya sebesar 71 mm. Simpangan yang besar ini diharapkan mampu menghancurkan tanah di depan pisau bajak sehingga terjadi penurunan draft pembajakan. Analisis modal menunjukkan bahwa rangkaian pegas dengan chisel plow mempunyai potensi bergetar menyudut sehingga mempunyai potensi getar dalam arah vertical dan horizontal. Dalam kondisi ini frekuensi alami yang fundamental adalah sebesar Hz. Simulasi guna membuktikan kebenaran model matematis yang dibangun dilakukan dengan menggunakan model matematis draft pembajakan tanpa getar. Dalam simulasi awal, penurunan draft pembajakan untuk frekuensi draft pembajakan 2 Hz. diperkirakan sekitar 22 %, sedangkan dalam simulasi lanjutan, penurunan draft pembajakan untuk frekuensi draft pembajakan 2 Hz diperkirakan sekitar 13 % (untuk chisel plow S1) dan sekitar 16 % (untuk chisel plow S2). Perbedaan ini terjadi disebabkan oleh: Waktu kontak antara ujung pisau bajak dengan tanah padat pada simulasi lanjutan lebih lama dibandingkan dengan waktu kontak antara ujung pisau bajak dengan tanah padat pada simulasi awal. Perbandingan antara draft pembajakan minimum dengan draft pembajakan maksimum pada simulasi lanjutan lebih tinggi jika dibandingkan dengan perbandingan antara draft pembajakan minimum dengan draft pembajakan maksimum pada simulasi awal. Untuk kegiatan eksperimental, digunakan peralatan yang sama dengan peralatan eksperimental guna mencari draft pembajakan tanpa getar. Yang membedakan adalah ditambahkannya pegas semi-eliptis yang menghubungkan batang bajak dengan load cell. Digunakan jenis tanah yang sama serta dikondisikan di dalam soil bin sehingga mempunyai ketebalan lapisan kedap, densitas tanah, kandungan air tanah serta tahanan penetrasi tanah yang sama. Demikian pula digunakan chisel plow serta kecepatan membajak yang sama yaitu pada kecepatan membajak 0.158, dan m/s. Eksperimen meliputi bajak getar satu derajat kebebasan dengan orientasi pegas menghadap ke muka (FST), bajak getar satu derajat kebebasan dengan orientasi pegas menghadap ke belakang (RST) dan bajak getar dua derajat kebebasan (TST).

9 143 Pada bajak getar satu derajat kebebasan FST, hanya diuji pada satu tingkat kecepatan membajak yaitu pada kecepatan membajak m/s, tercatat kenaikan draft pembajakan secara berlebihan. Jika digunakan chisel plow S1, tercatat kenaikan draft pembajakan maksimum dari 3640 N menjadi 4941 N atau terjadi kenaikan draft pembajakan maksimum sekitar 46 %. Bila digunakan chisel plow S2, tercatat kenaikan draft pembajakan maksimum dari 3306 N menjadi 6856 N atau terjadi kenaikan draft pembajakan maksimum sekitar 92 %. Kenaikan draft pembajakan ini disebabkan oleh turunnya ujung pisau bajak (sebagai akibat dari draft pembajakan) sehingga sistem membajak tanah lebih dalam. Untuk menghindari beban berlebih yang dapat mengakibatkan load cell dan pegas berubah menjadi plastis, perlakuan ini tidak dilanjutkan pada kecepatan membajak yang lebih tinggi. Demikian pula perlakuan ini tidak direkomendasikan untuk digunakan dalam skala lapang. Dalam bajak getar satu derajat kebebasan RST, kecepatan membajak divariasikan dari 0.158, dan m/s. serta digunakan chisel plow S1 dan S2. Dengan menggunakan ke dua jenis chisel plow tersebut, tercatat penurunan draft pembajakan yang semakin tinggi dengan semakin tingginya kecepatan membajak yaitu antara % (untuk chisel plow S1) dan antara % (untuk chisel plow S2). Turunnya draft pembajakan ini karena naiknya posisi ujung pisau bajak (sebagai akibat dari draft pembajakan) sehingga sistem akan membajak lebih dangkal serta karena tumbukan antara ujung pisau bajak saat menyentuh tanah padat. Dalam eksperimen, terdeteksi defleksi pegas yang agak berlebihan yang menandakan bahwa pegasnya terlalu elastis. Dalam skala lapang, karena membajak tanah yang lebih dalam serta kecepatan membajak yang lebih tinggi, maka draft pembajakannya semakin besar dengan frekuensi draft pembajakan yang semakin tinggi. Untuk itu dalam skala lapang derekomendasikan pegasnya dibuat semakin kaku. Kalau pegas elastis yang dibuat mempunyai frekuensi alami sekitar 14 Hz, maka dalam skala lapang direkomendasikan agar sistem mempunyai frekuensi alami di atas 15 Hz. atau sekitar 21 Hz sesuai dengan yang di rekomendasikan oleh Laszlo et al. (2002). Sebagai gambaran, untuk membajak tanah yang memberikan momen lentur pada pegas elastis sebesar 6750 Nm, maka disain pegas elastisnya ditunjukkan pada

10 144 Gambar 84a (bentuk semi-eliptis) dan pada Gambar 84b (bentuk setengah lingkaran dengan momemn lentur pada pegas elastis sebesar 8500 Nm). Pegas pada Gambar 84a mempunyai ketebalan 40 mm sedangkan pegas semi lingkaran mempunyai ketebalan 45 mm. keduanya diuji dengan menggunakan program paket INVENTOR. Untuk beban 9000 N, tercatat tegangan von misses pada pegas semi-eliptis sebesar 330 MPa dengan displacement pada ujung pisau bajak sebesar 56 mm. Untuk pegas semi lingkaran diuji dengan beban N, tercatat tegangan von misses sebesar 405 MPa dengan displacement pada ujung pisau bajak sebesar 69 mm. Displacement ini diperkirakan cukup besar sehingga energi yang disimpan pada pegas akan mampu menghancurkan tanah padat yang akan mengakibatkan turunnya draft pembajakan. Kedua jenis bajak getar di atas juga mempunyai potensi getar dalam arah menyudut dan dalam arah transversal. Untuk pegas semi-eliptis mempunyai potensi getar dalam arah menyudut dan transversal masing-masing pada frekuensi 16.9 dan 19 Hz. sedangkan pegas semi lingkaran mempunyai potensi getar dalam arah menyudut dan transversal masing-masing pada frekuensi 17.6 dan 18 Hz. Gambar 84 (a) bajak getar SEV kapasitas draft pembajakan 9000 N, (b) bajak getar SEV kapasitas draft pembajakan N. Bajak getar dua derajat kebebasan TST dilakukan dengan menambahkan sebuah pegas kantilever pada pegas semi-eliptis. Disamping itu pada ujung pegas kantilever juga ditambahkan sebuah massa ayun. Sistem menggunakan chisel plow jenis S1 dan S2 dan baru diuji pada tingkat kecepatan membajak m/s. Dalam eksperimen, tercatat penurunan draft pembajakan sekitar %.

11 145 Karena baru diuji pada satu tingkat kecepatan, maka belum dapat diambil kesimpulan tentang penurunan draft pembajakan. Walaupun demikian sistem ini berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut yaitu dengan cara memvariasikan kekakuan pegas kantilever serta dengan memvariasikan bobot massa ayun. Penggetaran Berenergi Rendah Rangkaian penelitian diakhiri dengan eksperimen penggetaran berenergi rendah pada pada bajak getar SEV, tujuan utamanya adalah memperbesar penurunan draft pembajakan pada bajak getar SEV perlakuan RST. Sistem ini dilakukan dengan menambahkan penggetar pada batang bajak yang gaya inersia dari massa tak imbangnya digunakan untuk menggetarkan pegas elastis sehingga batang bajak berosilasi pada frekuensi tinggi dengan amplitude getar rendah. Dalam eksperimen, tercatat penurunan draft pembajakan relatif terhadap draft pembajakan tanpa getar dan relatif terhadap draft pembajakan bajak getar SEV, di mana penurunannya akan semakin tinggi dengan semakin tingginya kecepatan membajak. Walaupun demikian, penurunan penggunaan energinya hanya tercatat pada kecepatan membejak tertinggi. Penurunan draft pembajakan ini didasarkan pada tiga alasan utama yaitu: Akibat draft pembajakan maka ujung pisau bajak akan terangkat ke atas sehingga untuk sesaat kedalaman membajak menjadi lebih dangkal. Fenomena ini juga terjadi pada bajak getar SEV. Putaran dari massa tak imbang mengakibatkan getaran pada ujung pisau bajak dengan amplitudo getar rendah. Gaya inersia yang ditransmisikan ke ujung pisau bajak menyebabkan kerusakan tanah di depan ujung pisau bajak serta tidak terbentuknya irisan tanah sehingga luasan kontak antara ujung pisau bajak dengan tanah lebih kecil. Hal ini berakibat turunnya draft pembajakan. Selain itu getaran membuat waktu kontak antara tanah dan ujung pisau bajak lebih pendek sehingga kelengketan tanah, gesekan antara tanah dengan bajak serta adhesi di dalam tanah menjadi jauh berkurang. Akibatnya adalah terjadi penurunan draft pembajakan. Fenomena ini tidak terjadi pada perlakuan selfexcited vibration sehingga penurunan draft pembajakan pada perlakuan

12 146 penggetaran pegas elastis berenergi rendah selalu lebih besar jika dibandingkan dengan penurunan draft pembajakan pada perlakuan self-excited vibration. Sistem ini merupakan kebaruan utama dari seluruh rangkaian penelitian dan mempunyai potensi untuk dikembangkan dan digunakan lebih lanjut dalam skala lapang. Hal ini dilakukan dengan menentukan kekakuan pegas yang tepat, besar massa penggetar, besar massa tak imbang, putaran massa tak imbang serta orientasi getar yang tepat. Gambar 85 (a) Bajak getar SEV diberi gangguan dalam arah menyudut, (b) bajak getar SEV diberi gangguan dalam arah transversal, (c) batang bajak bergetar dalam orientasi menudut, (d) Batang bajak bergetar dalam orientasi transversal. Dari bahasan sebelumnya didapat hasil yaitu bajak getar SEV yang dibangun mempunyai potensi getar dalam arah menyudut (vertikal dan horisontal) serta dalam arah transversal. Oleh karena itu bila bajak getar SEV diberi gangguan

13 147 menyudut (Gambar 85a), maka batang bajak akan bergetar dengan orientasi getar menyudut (Gambar 85c). sebaliknya bila bajak getar SEV diberi gangguan dalam arah transversal, maka batang bajak akan bergetar dalam arah transversal. Walaupun belum ditemukan data publikasi, namun diduga bahwa getaran ujung pisau bajak dalam arah transversal akan mempunyai pengaruh menghancurkan tanah yang lebih besar dibandingkan dengan getaran ujung pisau bajak dalam arah menyudut. Hal ini karena getaran dalam arah menyudut masih mempuyai potensi memadatkan tanah. Oleh karena itu penurunan draft pembajakan untuk bajak getar SEV yang digetarkan dengan orientasi getar transversal diduga lebih besar dibandingkan dengan penurunan draft pembajakan pada bajak getar SEV yang digetarkan dengan orientasi getar menyudut. Dari orientasi getar pada Gambar 85 terlihat bahwa getaran batang bajak pada bajak getar SEV dengan orientasi getar menyudut mempunyai potensi menghancurkan tanah di depan batang bajak yang lebih besar dibandingkan dengan kehancuran tanah di depan batang bajak pada bajak getar SEV dengan orientasi getar transversal.

MENURUNKAN DRAFT DAN ENERGI PEMBAJAKAN DENGAN GETARAN PAKSA BERENERGI RENDAH PADA BAJAK GETAR SELF-EXCITED VIBRATION

MENURUNKAN DRAFT DAN ENERGI PEMBAJAKAN DENGAN GETARAN PAKSA BERENERGI RENDAH PADA BAJAK GETAR SELF-EXCITED VIBRATION MENURUNKAN DRAFT DAN ENERGI PEMBAJAKAN DENGAN GETARAN PAKSA BERENERGI RENDAH PADA BAJAK GETAR SELF-EXCITED VIBRATION (Draft force and energy reduction by low energy force vibration method on Self-Excited

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. DESAIN PENGGETAR MOLE PLOW Prototip mole plow mempunyai empat bagian utama, yaitu rangka three hitch point, beam, blade, dan mole. Rangka three hitch point merupakan struktur

Lebih terperinci

STUDI ANALITIS SELF-EXCITED VIBRATION PADA VIBRATORY-TILLAGE

STUDI ANALITIS SELF-EXCITED VIBRATION PADA VIBRATORY-TILLAGE STUDI ANALITIS SELF-EXCITED VIBRATION PADA VIBRATORY-TILLAGE (Analytical Study of Self-Excited Vibration Vibratory-tillage) Abstrak Studi analitis dan eksperimental terhadap penggetaran batang bajak dengan

Lebih terperinci

STUDI EKSPERIMENTAL DRAFT PEMBAJAKAN PADA OPERASI MEMBAJAK TANAH DI DALAM SOIL BIN

STUDI EKSPERIMENTAL DRAFT PEMBAJAKAN PADA OPERASI MEMBAJAK TANAH DI DALAM SOIL BIN STUDI EKSPERIMENTAL DRAFT PEMBAJAKAN PADA OPERASI MEMBAJAK TANAH DI DALAM SOIL BIN (Experimental Study in Soil Bin on Draft Force of a Tilled Operation) Abstrak Dalam bab ini dibahas hasil-hasil eksperimen

Lebih terperinci

INTRODUKSI Dr. Soeharsono FTI Universitas Trisakti F

INTRODUKSI Dr. Soeharsono FTI Universitas Trisakti F INTRODUKSI Dr. Soeharsono FTI Universitas Trisakti F164070142 1 Terminologi getaran GETARAN: Gerak osilasi di sekitar titik keseimbangan Parameter getar: massa (m), kekakuan (k) dan peredam (c) in m,c,k

Lebih terperinci

Jurnal Teknika Atw 1

Jurnal Teknika Atw 1 PENGARUH BENTUK PENAMPANG BATANG STRUKTUR TERHADAP TEGANGAN DAN DEFLEKSI OLEH BEBAN BENDING Agung Supriyanto, Joko Yunianto P Program Studi Teknik Mesin,Akademi Teknologi Warga Surakarta ABSTRAK Dalam

Lebih terperinci

APLIKASI METODE FUNGSI TRANSFER PADA ANALISIS KARAKTERISTIK GETARAN BALOK KOMPOSIT (BAJA DAN ALUMINIUM) DENGAN SISTEM TUMPUAN SEDERHANA

APLIKASI METODE FUNGSI TRANSFER PADA ANALISIS KARAKTERISTIK GETARAN BALOK KOMPOSIT (BAJA DAN ALUMINIUM) DENGAN SISTEM TUMPUAN SEDERHANA APLIKASI METODE UNGSI TRANSER PADA ANALISIS KARAKTERISTIK GETARAN BALOK KOMPOSIT (BAJA DAN ALUMINIUM) DENGAN SISTEM TUMPUAN SEDERHANA Naharuddin, Abdul Muis Laboratorium Bahan Teknik, Jurusan Teknik Mesin

Lebih terperinci

Uji Kompetensi Semester 1

Uji Kompetensi Semester 1 A. Pilihlah jawaban yang paling tepat! Uji Kompetensi Semester 1 1. Sebuah benda bergerak lurus sepanjang sumbu x dengan persamaan posisi r = (2t 2 + 6t + 8)i m. Kecepatan benda tersebut adalah. a. (-4t

Lebih terperinci

Prediksi 1 UN SMA IPA Fisika

Prediksi 1 UN SMA IPA Fisika Prediksi UN SMA IPA Fisika Kode Soal Doc. Version : 0-06 halaman 0. Dari hasil pengukuran luas sebuah lempeng baja tipis, diperoleh, panjang = 5,65 cm dan lebar 0,5 cm. Berdasarkan pada angka penting maka

Lebih terperinci

IV. PENDEKATAN DESAIN

IV. PENDEKATAN DESAIN IV. PENDEKATAN DESAIN A. Kriteria Desain Alat pengupas kulit ari kacang tanah ini dirancang untuk memudahkan pengupasan kulit ari kacang tanah. Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa proses pengupasan

Lebih terperinci

IV. ANALISA PERANCANGAN

IV. ANALISA PERANCANGAN IV. ANALISA PERANCANGAN Mesin penanam dan pemupuk jagung menggunakan traktor tangan sebagai sumber tenaga tarik dan diintegrasikan bersama dengan alat pembuat guludan dan alat pengolah tanah (rotary tiller).

Lebih terperinci

Rancang Bangun Sistem Chassis Kendaraan Pengais Garam

Rancang Bangun Sistem Chassis Kendaraan Pengais Garam SIDANG TUGAS AKHIR TM091476 Rancang Bangun Sistem Chassis Kendaraan Pengais Garam Oleh: AGENG PREMANA 2108 100 603 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA

Lebih terperinci

iii Banda Aceh, Nopember 2008 Sabri, ST., MT

iii Banda Aceh, Nopember 2008 Sabri, ST., MT ii PRAKATA Buku ini menyajikan pembahasan dasar mengenai getaran mekanik dan ditulis untuk mereka yang baru belajar getaran. Getaran yang dibahas di sini adalah getaran linier, yaitu getaran yang persamaan

Lebih terperinci

PERANCANGAN KONSEP DARI PERALATAN GUNA SIMULASI SELF-EXCITED VIBRATION VIBRATORY-TILLAGE

PERANCANGAN KONSEP DARI PERALATAN GUNA SIMULASI SELF-EXCITED VIBRATION VIBRATORY-TILLAGE PERANCANGAN KONSEP ARI PERALATAN GUNA SIMULASI SELF-EXCITE VIBRATION VIBRATORY-TILLAGE (Conceptual design of equipment used for simulation of Self-excited vibration vibratory-tillage) Abstrak Perancangan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN BAB III METODOLOGI PERENCANAAN Penulisan ini didasarkan atas survey literatur, serta didukung dengan data perencanaan dengan berdasarkan pertimbangan effisiensi waktu pengerjaan dengan tahapan kegiatan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Hasil pengolahan amplitudo mole plow getar dengan software Corel Photo Paint-12

Lampiran 1. Hasil pengolahan amplitudo mole plow getar dengan software Corel Photo Paint-12 LAMPIRAN 78 Panjang pegas kantilever (mm) Lampiran 1. Hasil pengolahan amplitudo mole plow getar dengan software Corel Photo Paint-12 TABEL PENGOLAHAN DATA AMPLITUDO HORIZONTAL KANTILEVER BEAM F (Hz) T1

Lebih terperinci

Pengaruh Perubahan Posisi Sumber Eksitasi dan Massa DVA dari Titik Berat Massa Beam Terhadap Karakteristik Getaran Translasi dan Rotasi

Pengaruh Perubahan Posisi Sumber Eksitasi dan Massa DVA dari Titik Berat Massa Beam Terhadap Karakteristik Getaran Translasi dan Rotasi Pengaruh Perubahan Posisi Sumber Eksitasi dan Massa DVA dari Titik Berat Massa Beam Terhadap Karakteristik Getaran Translasi dan Rotasi Abdul Rohman 1,*, Harus Laksana Guntur 2 1 Program Pascasarjana Bidang

Lebih terperinci

Konsep Dasar Getaran dan Gelombang Kasus: Pegas. Powerpoint presentation by Muchammad Chusnan Aprianto

Konsep Dasar Getaran dan Gelombang Kasus: Pegas. Powerpoint presentation by Muchammad Chusnan Aprianto Konsep Dasar Getaran dan Gelombang Kasus: Pegas Powerpoint presentation by Muchammad Chusnan Aprianto Definisi Gerak periodik adalah gerakan maju dan mundur atau melingkar pada lintasan yang sama untuk

Lebih terperinci

Karakteristik Gerak Harmonik Sederhana

Karakteristik Gerak Harmonik Sederhana Pertemuan GEARAN HARMONIK Kelas XI IPA Karakteristik Gerak Harmonik Sederhana Rasdiana Riang, (5B0809), Pendidikan Fisika PPS UNM Makassar 06 Beberapa parameter yang menentukan karaktersitik getaran: Amplitudo

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK GERAK HARMONIK SEDERHANA

KARAKTERISTIK GERAK HARMONIK SEDERHANA KARAKTERISTIK GERAK HARMONIK SEDERHANA Pertemuan 2 GETARAN HARMONIK Kelas XI IPA Karakteristik Gerak Harmonik Sederhana Rasdiana Riang, (15B08019), Pendidikan Fisika PPS UNM Makassar 2016 Beberapa parameter

Lebih terperinci

MEKANIKA UNIT. Pengukuran, Besaran & Vektor. Kumpulan Soal Latihan UN

MEKANIKA UNIT. Pengukuran, Besaran & Vektor. Kumpulan Soal Latihan UN Kumpulan Soal Latihan UN UNIT MEKANIKA Pengukuran, Besaran & Vektor 1. Besaran yang dimensinya ML -1 T -2 adalah... A. Gaya B. Tekanan C. Energi D. Momentum E. Percepatan 2. Besar tetapan Planck adalah

Lebih terperinci

DASAR PENGUKURAN MEKANIKA

DASAR PENGUKURAN MEKANIKA DASAR PENGUKURAN MEKANIKA 1. Jelaskan pengertian beberapa istilah alat ukur berikut dan berikan contoh! a. Kemampuan bacaan b. Cacah terkecil 2. Jelaskan tentang proses kalibrasi alat ukur! 3. Tunjukkan

Lebih terperinci

TUJUAN PERCOBAAN II. DASAR TEORI

TUJUAN PERCOBAAN II. DASAR TEORI I. TUJUAN PERCOBAAN 1. Menentukan momen inersia batang. 2. Mempelajari sifat sifat osilasi pada batang. 3. Mempelajari sistem osilasi. 4. Menentukan periode osilasi dengan panjang tali dan jarak antara

Lebih terperinci

SOAL TRY OUT UJIAN NASIONAL FISIKA SMA N 1 SINGARAJA. 1. Hasil pengukuran yang ditunjukkan oleh gambar di atas adalah.. mm

SOAL TRY OUT UJIAN NASIONAL FISIKA SMA N 1 SINGARAJA. 1. Hasil pengukuran yang ditunjukkan oleh gambar di atas adalah.. mm SOAL TRY OUT UJIAN NASIONAL FISIKA SMA N 1 SINGARAJA 1. Hasil pengukuran yang ditunjukkan oleh gambar di atas adalah.. mm A. 2, 507 ± 0,01 B. 2,507 ± 0,005 C. 2, 570 ± 0,01 D. 2, 570 ± 0,005 E. 2,700 ±

Lebih terperinci

PENGARUH MODULUS GESER TANAH TERHADAP KESTABILAN PONDASI MESIN JENIS BLOK STUDI KASUS: MESIN ID FAN PLTU 2 AMURANG SULUT

PENGARUH MODULUS GESER TANAH TERHADAP KESTABILAN PONDASI MESIN JENIS BLOK STUDI KASUS: MESIN ID FAN PLTU 2 AMURANG SULUT Jurnal Sipil Statik Vol.1 No.9, Agustus 213 (593-62) ISSN: 2337-6732 PENGARUH MODULUS GESER TANAH TERHADAP KESTABILAN PONDASI MESIN JENIS BLOK STUDI KASUS: MESIN ID FAN PLTU 2 AMURANG SULUT Almey Lolo

Lebih terperinci

FISIKA IPA SMA/MA 1 D Suatu pipa diukur diameter dalamnya menggunakan jangka sorong diperlihatkan pada gambar di bawah.

FISIKA IPA SMA/MA 1 D Suatu pipa diukur diameter dalamnya menggunakan jangka sorong diperlihatkan pada gambar di bawah. 1 D49 1. Suatu pipa diukur diameter dalamnya menggunakan jangka sorong diperlihatkan pada gambar di bawah. Hasil pengukuran adalah. A. 4,18 cm B. 4,13 cm C. 3,88 cm D. 3,81 cm E. 3,78 cm 2. Ayu melakukan

Lebih terperinci

Gambar 41 Peragaan pengukuran tahanan pemotongan kulit tanaman tua. Cara memegang alat ukur pada saat menggiris kulit pohon karet tanaman muda terlihat pada Gambar 42. Bagian atas maupun bawah ring tidak

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema Dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin pencacah rumput ini adalah sumber tenaga motor listrik di transmisikan ke poros melalui pulley dan v-belt. Sehingga pisau

Lebih terperinci

SASARAN PEMBELAJARAN

SASARAN PEMBELAJARAN OSILASI SASARAN PEMBELAJARAN Mahasiswa mengenal persamaan matematik osilasi harmonik sederhana. Mahasiswa mampu mencari besaranbesaran osilasi antara lain amplitudo, frekuensi, fasa awal. Syarat Kelulusan

Lebih terperinci

PHYSICS SUMMIT 2 nd 2014

PHYSICS SUMMIT 2 nd 2014 KETENTUAN UMUM 1. Periksa terlebih dahulu bahwa jumlah soal Saudara terdiri dari 8 (tujuh) buah soal 2. Waktu total untuk mengerjakan tes ini adalah 3 jam atau 180 menit 3. Peserta diperbolehkan menggunakan

Lebih terperinci

BAB II METODE PERANCANGAN SISTEMATIS

BAB II METODE PERANCANGAN SISTEMATIS BAB II METODE PERANCANGAN SISTEMATIS Metode perancangan sistematis adalah metode pemecahan masalah teknik menggunakan tahap analisis dan sintesis. Analisis adalah penguraian sistem yang komplek menjadi

Lebih terperinci

Osilasi Harmonis Sederhana: Beban Massa pada Pegas

Osilasi Harmonis Sederhana: Beban Massa pada Pegas OSILASI Osilasi Osilasi terjadi bila sebuah sistem diganggu dari posisi kesetimbangannya. Karakteristik gerak osilasi yang paling dikenal adalah gerak tersebut bersifat periodik, yaitu berulang-ulang.

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI Sistem Transmisi

BAB II DASAR TEORI Sistem Transmisi BAB II DASAR TEORI Dasar teori yang digunakan untuk pembuatan mesin pemotong kerupuk rambak kulit adalah sistem transmisi. Berikut ini adalah pengertian-pengertian dari suatu sistem transmisi dan penjelasannya.

Lebih terperinci

SEMINAR NASIONAL TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS GADJAH MADA 2011 Yogyakarta, 26 Juli Intisari

SEMINAR NASIONAL TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS GADJAH MADA 2011 Yogyakarta, 26 Juli Intisari Sistem Pendorong pada Model Mesin Pemilah Otomatis Cokorda Prapti Mahandari dan Yogie Winarno Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri Universitas Gunadarma J1. Margonda Raya No.100, Depok 15424

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Proses perancangan mesin peniris minyak pada kacang seperti terlihat pada gambar 3.1 berikut ini: Mulai Studi Literatur Gambar Sketsa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Suatu prosedur design yang disediakan untuk menentukan kriteria penerimaan manusia akibat getaran lantai, bervariasi sesuai dengan bahan yang digunakan dalam konstruksi lantai.

Lebih terperinci

Antiremed Kelas 8 Fisika

Antiremed Kelas 8 Fisika Antiremed Kelas 8 Fisika Getaran dan Gelombang Doc. Name: K3AR08FIS030 Version : 204-09 halaman 0. Gambar berikut merupakan diagram sebuah bandul yang sedang berosilasi (bergetar). Definisi satu getaran,

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR

BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR BAB III PERENCANAAN DAN GAMBAR 3.1 Skema Dan Prinsip Kerja Alat Prinsip kerja mesin pemotong krupuk rambak kulit ini adalah sumber tenaga motor listrik ditransmisikan kepulley 2 dan memutar pulley 3 dengan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut:

BAB II DASAR TEORI. c) Untuk mencari torsi dapat dirumuskan sebagai berikut: BAB II DASAR TEORI 2.1 Daya Penggerak Secara umum daya diartikan sebagai suatu kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan sebuah kerja, yang dinyatakan dalam satuan Watt ataupun HP. Penentuan besar daya

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA. Berikut adalah data data awal dari Upper Hinge Pass yang menjadi dasar dalam

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA. Berikut adalah data data awal dari Upper Hinge Pass yang menjadi dasar dalam BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1. Data Data Awal Analisa Tegangan Berikut adalah data data awal dari Upper Hinge Pass yang menjadi dasar dalam analisa tegangan ini, baik perhitungan analisa tegangan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA DRAINASE MOLE

II. TINJAUAN PUSTAKA DRAINASE MOLE II. TINJAUAN PUSTAKA A. DRAINASE MOLE Pembuatan saluran drainase merupakan salah satu kegiatan utama pada waktu menyiapkan suatu lahan pertanian. Tanaman membutuhkan cukup air untuk pertumbuhannya tetapi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN DASAR TEORI 2.1. TINJAUAN PUSTAKA Potato peeler atau alat pengupas kulit kentang adalah alat bantu yang digunakan untuk mengupas kulit kentang, alat pengupas kulit kentang yang

Lebih terperinci

1. Sebuah beban 20 N digantungkan pada kawat yang panjangnya 3,0 m dan luas penampangnya 8 10

1. Sebuah beban 20 N digantungkan pada kawat yang panjangnya 3,0 m dan luas penampangnya 8 10 1. Sebuah beban 20 N digantungkan pada kawat yang panjangnya 3,0 m dan 7 luas penampangnya 8 10 m 2 hingga menghasilkan pertambahan panjang 0,1 mm. hitung: a. Teganagan b. Regangan c. Modulus elastic kawat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. desain untuk pembangunan strukturalnya, terutama bila terletak di wilayah yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. desain untuk pembangunan strukturalnya, terutama bila terletak di wilayah yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Struktur bangunan bertingkat tinggi memiliki tantangan tersendiri dalam desain untuk pembangunan strukturalnya, terutama bila terletak di wilayah yang memiliki faktor resiko

Lebih terperinci

Benda B menumbuk benda A yang sedang diam seperti gambar. Jika setelah tumbukan A dan B menyatu, maka kecepatan benda A dan B

Benda B menumbuk benda A yang sedang diam seperti gambar. Jika setelah tumbukan A dan B menyatu, maka kecepatan benda A dan B 1. Gaya Gravitasi antara dua benda bermassa 4 kg dan 10 kg yang terpisah sejauh 4 meter A. 2,072 x N B. 1,668 x N C. 1,675 x N D. 1,679 x N E. 2,072 x N 2. Kuat medan gravitasi pada permukaan bumi setara

Lebih terperinci

SOAL TRY OUT FISIKA 2

SOAL TRY OUT FISIKA 2 SOAL TRY OUT FISIKA 2 1. Dua benda bermassa m 1 dan m 2 berjarak r satu sama lain. Bila jarak r diubah-ubah maka grafik yang menyatakan hubungan gaya interaksi kedua benda adalah A. B. C. D. E. 2. Sebuah

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN Analisis Tekanan Isi Pipa

BAB IV PEMBAHASAN Analisis Tekanan Isi Pipa BAB IV PEMBAHASAN Pada bab ini akan dilakukan analisis studi kasus pada pipa penyalur yang dipendam di bawah tanah (onshore pipeline) yang telah mengalami upheaval buckling. Dari analisis ini nantinya

Lebih terperinci

PEMICU 1 29 SEPT 2015

PEMICU 1 29 SEPT 2015 PEMICU 1 9 SEPT 015 Kumpul 06 Okt 015 Diketahui: Data eksperimental hasil pengukuran sinyal vibrasi sesuai soal. Ditanya: a. Hitung persamaan karakteristiknya. b. Dapatkan putaran kritisnya c. Simulasikan

Lebih terperinci

Tujuan Pembelajaran:

Tujuan Pembelajaran: P.O.R.O.S Tujuan Pembelajaran: 1. Mahasiswa dapat memahami pengertian poros dan fungsinya 2. Mahasiswa dapat memahami macam-macam poros 3. Mahasiswa dapat memahami hal-hal penting dalam merancang poros

Lebih terperinci

ANALISIS CELLULAR BEAM DENGAN METODE PENDEKATAN DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM ANSYS TUGAS AKHIR. Anton Wijaya

ANALISIS CELLULAR BEAM DENGAN METODE PENDEKATAN DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM ANSYS TUGAS AKHIR. Anton Wijaya ANALISIS CELLULAR BEAM DENGAN METODE PENDEKATAN DIBANDINGKAN DENGAN PROGRAM ANSYS TUGAS AKHIR Diajukan untuk melengkapi syarat penyelesaian Pendidikan sarjana teknik sipil Anton Wijaya 060404116 BIDANG

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. dasar ke permukaan tanah untuk suatu situs, maka situs tersebut harus

BAB III LANDASAN TEORI. dasar ke permukaan tanah untuk suatu situs, maka situs tersebut harus BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Perencanaan Beban Gempa 3.1.1 Klasifikasi Situs Dalam perumusan kriteria desain seismik suatu bangunan di permukaan tanah atau penentuan amplifikasi besaran percepatan gempa

Lebih terperinci

PETUNJUK UMUM Pengerjaan Soal Tahap 1 Diponegoro Physics Competititon Tingkat SMA

PETUNJUK UMUM Pengerjaan Soal Tahap 1 Diponegoro Physics Competititon Tingkat SMA PETUNJUK UMUM Pengerjaan Soal Tahap 1 Diponegoro Physics Competititon Tingkat SMA 1. Soal Olimpiade Sains bidang studi Fisika terdiri dari dua (2) bagian yaitu : soal isian singkat (24 soal) dan soal pilihan

Lebih terperinci

Teori & Soal GGB Getaran - Set 08

Teori & Soal GGB Getaran - Set 08 Xpedia Fisika Teori & Soal GGB Getaran - Set 08 Doc Name : XPFIS0108 Version : 2013-02 halaman 1 01. Menurut Hukum Hooke untuk getaran suatu benda bermassa pada pegas ideal, panjang peregangan yang dijadikan

Lebih terperinci

Analisa Variable Moment of Inertia (VMI) Flywheel pada Hydro-Shock Absorber Kendaraan

Analisa Variable Moment of Inertia (VMI) Flywheel pada Hydro-Shock Absorber Kendaraan B-542 JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5 No. 2 (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) Analisa Variable Moment of Inertia (VMI) Flywheel pada Hydro-Shock Absorber Kendaraan Hasbulah Zarkasy, Harus Laksana Guntur

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2012 sampai Mei 2012 di

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2012 sampai Mei 2012 di III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2012 sampai Mei 2012 di Laboratorium Rekayasa Bioproses dan Pasca Panen dan di Laboratorium Mekanisasi

Lebih terperinci

BAB I CENTRIFUGAL FAN TESTING APPARATUS

BAB I CENTRIFUGAL FAN TESTING APPARATUS DAFTAR ISI BAB I CENTRIFUGAL FAN TESTING APPARATUS 1.1 Dasar Teori 1.1.1 Pengertian Fan 1.1.2 Jenis-Jenis Fan 1.1.2.1 Kelebihan dan Kekurangan Fan 1.1.2.2 Jenis-Jenis Sudu pada Fan 1.1.3 Hukum Kontinuitas

Lebih terperinci

Antiremed Kelas 8 Fisika

Antiremed Kelas 8 Fisika Antiremed Kelas 8 Fisika Getaran dan Gelombang - Latihan Soal Pilihan Ganda Doc. Name: AR08FIS0499 Version : 20-07 halaman 0. Gambar berikut merupakan diagram sebuah bandul yang sedang berosilasi (bergetar).

Lebih terperinci

DINAS PENDIDIKAN KOTA PADANG SMA NEGERI 10 PADANG GETARAN

DINAS PENDIDIKAN KOTA PADANG SMA NEGERI 10 PADANG GETARAN Mata Pelajaran : Fisika Guru : Arnel Hendri, SPd., M.Si Nama Siswa :... Kelas :... EBTANAS-06-24 Pada getaran selaras... A. pada titik terjauh percepatannya maksimum dan kecepatan minimum B. pada titik

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengujian Frekuensi Pribadi Pada Gambar 4.1 diperlihatkan Grafik respon percepatan dari massa utama dengan waktu pengamatan selama 10 detik. Grafik pada Gambar 4.1 diperoleh

Lebih terperinci

Antiremed Kelas 11 FISIKA

Antiremed Kelas 11 FISIKA Antiremed Kelas 11 FISIKA Gerak Harmonis - Soal Doc Name: K1AR11FIS0401 Version : 014-09 halaman 1 01. Dalam getaran harmonik, percepatan getaran (A) selalu sebanding dengan simpangannya tidak bergantung

Lebih terperinci

PENGUJIAN TAHANAN TARIK (DRAFT) BAJAK SUBSOIL GETAR TIPE LENGKUNG PARABOLIK SKRIPSI

PENGUJIAN TAHANAN TARIK (DRAFT) BAJAK SUBSOIL GETAR TIPE LENGKUNG PARABOLIK SKRIPSI PENGUJIAN TAHANAN TARIK (DRAFT) BAJAK SUBSOIL GETAR TIPE LENGKUNG PARABOLIK SKRIPSI Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA TEKNOLOGI PERTANIAN Departemen Teknik Pertanian Fakultas Teknologi

Lebih terperinci

SILABUS PEMBELAJARAN

SILABUS PEMBELAJARAN SILABUS PEMBELAJARAN Sekolah : SMA... Kelas / Semester : X / 1 Mata Pelajaran : FISIKA 1. Standar : 1. Menerapkan konsep besaran fisika dan pengukurannya. 1.1 Mengukur besaran fisika (massa, panjang, dan

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN ANALISIS PEMBEBANAN GERGAJI RADIAL 4 ARAH

PERANCANGAN DAN ANALISIS PEMBEBANAN GERGAJI RADIAL 4 ARAH PERANCANGAN DAN ANALISIS PEMBEBANAN GERGAJI RADIAL 4 ARAH Michael Wijaya, Didi Widya Utama dan Agus Halim Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik Universitas Tarumanagara, Jakarta e-mail: [email protected]

Lebih terperinci

PERENCANAAN GEDUNG PERKANTORAN 4 LANTAI (+ BASEMENT) DI WILAYAH SURAKARTA DENGAN DAKTAIL PARSIAL (R=6,4) (dengan mutu f c=25 MPa;f y=350 MPa)

PERENCANAAN GEDUNG PERKANTORAN 4 LANTAI (+ BASEMENT) DI WILAYAH SURAKARTA DENGAN DAKTAIL PARSIAL (R=6,4) (dengan mutu f c=25 MPa;f y=350 MPa) PERENCANAAN GEDUNG PERKANTORAN 4 LANTAI (+ BASEMENT) DI WILAYAH SURAKARTA DENGAN DAKTAIL PARSIAL (R=6,4) (dengan mutu f c=25 MPa;f y=350 MPa) Tugas Akhir untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat

Lebih terperinci

Tuning Mass-Spring Damper Pada Rekayasa Follower Rest Untuk Meningkatkan Batas Stabilitas Proses Bubut Slender Bar

Tuning Mass-Spring Damper Pada Rekayasa Follower Rest Untuk Meningkatkan Batas Stabilitas Proses Bubut Slender Bar Tuning Mass-Spring Damper Pada Rekayasa Follower Rest Untuk Meningkatkan Batas Stabilitas Proses Bubut Slender Bar Peniel Immanuel Gultom 1, Suhardjono 2,* 1,2 Pascasarjana Jurusan Teknik Mesin, Fak. Teknologi

Lebih terperinci

4 RANCANGAN SIMULATOR GETARAN DENGAN OUTPUT ARAH GETARAN DOMINAN VERTIKAL DAN HORIZONTAL

4 RANCANGAN SIMULATOR GETARAN DENGAN OUTPUT ARAH GETARAN DOMINAN VERTIKAL DAN HORIZONTAL 33 4 RANCANGAN SIMULATOR GETARAN DENGAN OUTPUT ARAH GETARAN DOMINAN VERTIKAL DAN HORIZONTAL Perancangan simulator getaran ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu : pengumpulan konsep rancangan dan pembuatan

Lebih terperinci

BAB III UJI LABORATORIUM. Pengujian bahan yang akan diuji merupakan bangunan yang terdiri dari 3

BAB III UJI LABORATORIUM. Pengujian bahan yang akan diuji merupakan bangunan yang terdiri dari 3 BAB III UJI LABORATORIUM 3.1. Benda Uji Pengujian bahan yang akan diuji merupakan bangunan yang terdiri dari 3 dimensi, tiga lantai yaitu dinding penumpu yang menahan beban gempa dan dinding yang menahan

Lebih terperinci

VII ELASTISITAS Benda Elastis dan Benda Plastis

VII ELASTISITAS Benda Elastis dan Benda Plastis VII EASTISITAS Kompetensi yang diharapkan dicapai oleh mahasiswa setelah mempelajari bab elastisitas adalah kemampuan memahami, menganalisis dan mengaplikasikan konsep-konsep elastisitas pada kehidupan

Lebih terperinci

Besarnya defleksi ditunjukan oleh pergeseran jarak y. Besarnya defleksi y pada setiap nilai x sepanjang balok disebut persamaan kurva defleksi balok

Besarnya defleksi ditunjukan oleh pergeseran jarak y. Besarnya defleksi y pada setiap nilai x sepanjang balok disebut persamaan kurva defleksi balok Hasil dan Pembahasan A. Defleksi pada Balok Metode Integrasi Ganda 1. Defleksi Balok Sumbu sebuah balok akan berdefleksi (atau melentur) dari kedudukannya semula apabila berada di bawah pengaruh gaya terpakai.

Lebih terperinci

Pelatihan Ulangan Semester Gasal

Pelatihan Ulangan Semester Gasal Pelatihan Ulangan Semester Gasal A. Pilihlah jawaban yang benar dengan menuliskan huruf a, b, c, d, atau e di dalam buku tugas Anda!. Perhatikan gambar di samping! Jarak yang ditempuh benda setelah bergerak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Umum. Pada dasarnya dalam suatu struktur, batang akan mengalami gaya lateral

BAB I PENDAHULUAN Umum. Pada dasarnya dalam suatu struktur, batang akan mengalami gaya lateral 1 BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Umum Pada dasarnya dalam suatu struktur, batang akan mengalami gaya lateral dan aksial. Suatu batang yang menerima gaya aksial desak dan lateral secara bersamaan disebut balok

Lebih terperinci

SIMULASI BEBAN STATIS PADA RANGKA MOBIL GOKART LISTRIK TMUG 03 DENGAN MENGGUNAKAN SOLIDWORKS 2014

SIMULASI BEBAN STATIS PADA RANGKA MOBIL GOKART LISTRIK TMUG 03 DENGAN MENGGUNAKAN SOLIDWORKS 2014 SIMULASI BEBAN STATIS PADA RANGKA MOBIL GOKART LISTRIK TMUG 03 DENGAN MENGGUNAKAN SOLIDWORKS 2014 Agus Supriatna 20412401 Teknik Mesin Pembimbing: Dr. RR. Sri Poernomo Sari, ST., MT. LATAR BELAKANG Energi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Konstruksi Mesin Secara keseluruhan mesin kepras tebu tipe rotari terdiri dari beberapa bagian utama yaitu bagian rangka utama, bagian coulter, unit pisau dan transmisi daya (Gambar

Lebih terperinci

BAB VII PENUTUP Perancangan sistem perpipaan

BAB VII PENUTUP Perancangan sistem perpipaan BAB VII PENUTUP 7.1. Kesimpulan Dari hasil perancangan dan analisis tegangan sistem perpipaan sistem perpipaan berdasarkan standar ASME B 31.4 (studi kasus jalur perpipaan LPG dermaga Unit 68 ke tangki

Lebih terperinci

SILABUS : : : : Menggunakan alat ukur besaran panjang, massa, dan waktu dengan beberapa jenis alat ukur.

SILABUS : : : : Menggunakan alat ukur besaran panjang, massa, dan waktu dengan beberapa jenis alat ukur. SILABUS Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Kelas Semester SMA Dwija Praja Pekalongan FISIKA X (Sepuluh) 1 (Satu) Standar Kompetensi 1. Menerapkan konsep besaran fisika dan pengukurannya. Kompetensi 1.1 Mengukur

Lebih terperinci

L p. L r. L x L y L n. M c. M p. M g. M pr. M n M nc. M nx M ny M lx M ly M tx. xxi

L p. L r. L x L y L n. M c. M p. M g. M pr. M n M nc. M nx M ny M lx M ly M tx. xxi DAFTAR SIMBOL a tinggi balok tegangan persegi ekuivalen pada diagram tegangan suatu penampang beton bertulang A b luas penampang bruto A c luas penampang beton yang menahan penyaluran geser A cp luasan

Lebih terperinci

STUDI EKSPERIMEN REDAMAN GETARAN TRANSLASI DAN ROTASI DENGAN POSISI SUMBER EKSITASI DVA (DYNAMIC VIBRATION ABSORBER)

STUDI EKSPERIMEN REDAMAN GETARAN TRANSLASI DAN ROTASI DENGAN POSISI SUMBER EKSITASI DVA (DYNAMIC VIBRATION ABSORBER) STUDI EKSPERIMEN REDAMAN GETARAN TRANSLASI DAN ROTASI DENGAN POSISI SUMBER EKSITASI DVA (DYNAMIC VIBRATION ABSORBER) Abdul Rohman Staf Pengajar Prodi Teknik Mesin, Politeknik Negeri Banyuwangi E-mail :

Lebih terperinci

K13 Revisi Antiremed Kelas 10 FISIKA

K13 Revisi Antiremed Kelas 10 FISIKA K Revisi Antiremed Kelas 0 FISIKA Getaran Harmonis - Soal Doc Name: RKAR0FIS00 Version : 06-0 halaman 0. Dalam getaran harmonik, percepatan getaran (A) selalu sebanding dengan simpangannya tidak bergantung

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2011 hingga bulan November 2011. Desain, pembuatan model dan prototipe rangka unit penebar pupuk dilaksanakan

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan Pada Pelat Lantai

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan Pada Pelat Lantai 8 BAB III LANDASAN TEORI A. Pembebanan Pada Pelat Lantai Dalam penelitian ini pelat lantai merupakan pelat persegi yang diberi pembebanan secara merata pada seluruh bagian permukaannya. Material yang digunakan

Lebih terperinci

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

V. HASIL DAN PEMBAHASAN V. HASIL DAN PEMBAHASAN Semua mekanisme yang telah berhasil dirancang kemudian dirangkai menjadi satu dengan sistem kontrol. Sistem kontrol yang digunakan berupa sistem kontrol loop tertutup yang menjadikan

Lebih terperinci

Bab III Elastisitas. Sumber : Fisika SMA/MA XI

Bab III Elastisitas. Sumber :  Fisika SMA/MA XI Bab III Elastisitas Sumber : www.lib.ui.ac Baja yang digunakan dalam jembatan mempunyai elastisitas agar tidak patah apabila dilewati kendaraan. Agar tidak melebihi kemampuan elastisitas, harus ada pembatasan

Lebih terperinci

GERAK HARMONIK SEDERHANA

GERAK HARMONIK SEDERHANA GERAK HARMONIK SEDERHANA Gerak harmonik sederhana adalah gerak bolak-balik benda melalui suatu titik kesetimbangan tertentu dengan banyaknya getaran benda dalam setiap sekon selalu konstan. Gerak harmonik

Lebih terperinci

ANALISA STABILITAS DINDING PENAHAN TANAH (RETAINING WALL) AKIBAT BEBAN DINAMIS DENGAN SIMULASI NUMERIK ABSTRAK

ANALISA STABILITAS DINDING PENAHAN TANAH (RETAINING WALL) AKIBAT BEBAN DINAMIS DENGAN SIMULASI NUMERIK ABSTRAK VOLUME 6 NO., OKTOBER 010 ANALISA STABILITAS DINDING PENAHAN TANAH (RETAINING WALL) AKIBAT BEBAN DINAMIS DENGAN SIMULASI NUMERIK Oscar Fithrah Nur 1, Abdul Hakam ABSTRAK Penggunaan simulasi numerik dalam

Lebih terperinci

Talifatim Machfuroh 4

Talifatim Machfuroh 4 PENGARUH PENAMBAHAN DUAL DYNAMIC VIBRATION ABSORBER (DDVA)- DEPENDENT DALAM PEREDAMAN GETARAN PADA SISTEM UTAMA 2-DOF Talifatim Machfuroh 4 Abstrak: Suatu sistem yang beroperasi dapat mengalami getaran

Lebih terperinci

BAB IV PERANGKAT PENGUJIAN GETARAN POROS-ROTOR

BAB IV PERANGKAT PENGUJIAN GETARAN POROS-ROTOR BAB IV PERANGKAT PENGUJIAN GETARAN POROS-ROTOR 4.1 Perangkat Uji Sistem Poros-rotor Perangkat uji sistem poros-rotor yang digunakan tersusun atas lima belas komponen utama, antara lain: landasan (base),

Lebih terperinci

BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN BAB IV PERHITUNGAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Perencanaan Tabung Luar Dan Tabung Dalam a. Perencanaan Tabung Dalam Direncanakan tabung bagian dalam memiliki tebal stainles steel 0,6, perencenaan tabung pengupas

Lebih terperinci

3. (4 poin) Seutas tali homogen (massa M, panjang 4L) diikat pada ujung sebuah pegas

3. (4 poin) Seutas tali homogen (massa M, panjang 4L) diikat pada ujung sebuah pegas Soal Multiple Choise 1.(4 poin) Sebuah benda yang bergerak pada bidang dua dimensi mendapat gaya konstan. Setelah detik pertama, kelajuan benda menjadi 1/3 dari kelajuan awal benda. Dan setelah detik selanjutnya

Lebih terperinci

K 1. h = 0,75 H. y x. O d K 2

K 1. h = 0,75 H. y x. O d K 2 1. (25 poin) Dari atas sebuah tembok dengan ketinggian H ditembakkan sebuah bola kecil bermassa m (Jari-jari R dapat dianggap jauh lebih kecil daripada H) dengan kecepatan awal horizontal v 0. Dua buah

Lebih terperinci

Hukum gravitasi yang ada di jagad raya ini dijelaskan oleh Newton dengan persamaan sebagai berikut :

Hukum gravitasi yang ada di jagad raya ini dijelaskan oleh Newton dengan persamaan sebagai berikut : PENDAHULUAN Hukum gravitasi yang ada di jagad raya ini dijelaskan oleh Newton dengan persamaan sebagai berikut : F = G Dimana : F = Gaya tarikan menarik antara massa m 1 dan m 2, arahnya menurut garispenghubung

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Proses Perancangan Produk Mulai Perencanaan dan Penjelasan Produk Analisis Kebutuhan Pasar Pertimbangan Perancangan Perancangan konsep produk Menentukan konsep produk

Lebih terperinci

LAMPIRAN A. Tabel A-1 Angka Praktis Plat Datar

LAMPIRAN A. Tabel A-1 Angka Praktis Plat Datar LAMPIRAN A Tabel A-1 Angka Praktis Plat Datar LAMPIRAN B Tabel B-1 Analisa Rangkaian Lintas Datar 80 70 60 50 40 30 20 10 F lokomotif F gerbong v = 60 v = 60 1 8825.959 12462.954 16764.636 22223.702 29825.540

Lebih terperinci

Alternatif Material Hood dan Side Panel Mobil Angkutan Pedesaan Multiguna

Alternatif Material Hood dan Side Panel Mobil Angkutan Pedesaan Multiguna JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) E-1 Alternatif Material Hood dan Side Panel Mobil Angkutan Pedesaan Multiguna Muhammad Ihsan dan I Made Londen Batan Jurusan Teknik

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN

BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN BAB III PERANCANGAN DAN PERHITUNGAN 3.1 Diagram Alir Proses Perancangan Proses perancangan konstruksi mesin pengupas serabut kelapa ini terlihat pada Gambar 3.1. Mulai Survei alat yang sudah ada dipasaran

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Semarang, 28 Mei Penyusun

KATA PENGANTAR. Semarang, 28 Mei Penyusun KATA PENGANTAR Segala puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang MahaEsa. Berkat rahmat dan karunia-nya, kami bisa menyelesaikan makalah ini. Dalam penulisan makalah ini, penyusun menyadari masih

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Baja Baja merupakan bahan konstruksi yang sangat baik, sifat baja antara lain kekuatannya yang sangat besar dan keliatannya yang tinggi. Keliatan (ductility) ialah kemampuan

Lebih terperinci

PETUNJUK UMUM Pengerjaan Soal Tahap II Semifinal Diponegoro Physics Competititon Tingkat SMA

PETUNJUK UMUM Pengerjaan Soal Tahap II Semifinal Diponegoro Physics Competititon Tingkat SMA PETUNJUK UMUM Pengerjaan Soal Tahap II Semifinal Diponegoro Physics Competititon Tingkat SMA 1. Soal Olimpiade Sains bidang studi Fisika Tingkat SMA yaitu dalam bentuk Essay panjang. 2. Soal essay panjang

Lebih terperinci

Antiremed Kelas 11 FISIKA

Antiremed Kelas 11 FISIKA Antiremed Kelas 11 FISIKA Persiapan UAS - Latihan Soal Doc. Name: K13AR11FIS02UAS Version : 2016-05 halaman 1 01. Perhatikan gambar berikut ini! F=15N 5kg kasar s = 0,4 Jika benda diam, berapakah gaya

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Tanah yang akan di gunakan untuk penguujian adalah jenis tanah lempung

III. METODE PENELITIAN. Tanah yang akan di gunakan untuk penguujian adalah jenis tanah lempung ` III. METODE PENELITIAN A. Sampel Tanah Tanah yang akan di gunakan untuk penguujian adalah jenis tanah lempung yang diambil dari Belimbing Sari, Lampung Timur, dengan titik kordinat 105 o 30 o 10.74 o

Lebih terperinci