BAB 5 ANALISIS. 79 Universitas Indonesia
|
|
|
- Surya Hadiman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 5 ANALISIS Bab ini merupakan analisis terhadap permasalahan penelitian yaitu kehadiran back channel negotiation dalam membawa munculnya Oslo Agreement. Bab ini akan memberikan penjelasan tentang analisis terhadap penggunaan back channel pada proses negosiasi Oslo dan keberhasilan back channel dalam membawa perdamaian antara Israel dan Palestina. Bagian pertama akan menguraikan penjelasan tentang alasan para pemimpin masing-masing pihak untuk memutuskan akan menggunakan back channel pada proses negosiasi mereka. Bagian kedua akan menjelaskan tentang keberhasilan back channel negotiation untuk mewujudkan perdamaian antara Israel dan Palestina melalui Oslo Agreement. Penjelasan bab ini diharapkan dapat memberikan suatu pemahaman mengenai keberhasilan negosiasi tertutup sebagai salah satu jalan untuk menghasilkan suatu kesepakatan damai diantara pihak-pihak yang berselisih. 5.1 Analisis terhadap Penggunaan Back Channel pada Proses Negosiasi Oslo Pada bab-bab yang sebelumnya telah dijelaskan bahwa dalam perjalanan proses negosiasi Oslo kedua belah pihak sepakat untuk menggunakan back channel negotiation atau negosiasi tertutup sebagai cara untuk bernegosiasi. Penggunaan negosiasi tertutup ini tentu saja bukan tanpa alasan, karena tidak pelak lagi berkat kehadiran negosiasi tertutuplah kesepakatan untuk perdamaian antara Israel dan Palestina berhasil diraih. Lalu bagaimana negosiasi tertutup dapat digunakan dalam proses perdamaian antara kedua belah pihak, tentu tidak terlepas dari peran penting para pemimpin untuk melegitimasi kehadiran negosiasi tertutup ini. Ada empat kategori ketidakpastian yang menggambarkan dilema yang dihadapi para pemimpin dan negosiator, dimana keempat kategori tersebut dapat menjelaskan mengapa negosiasi tertutup yang dipilih untuk digunakan dalam proses negosiasi. Seperti yang dinyatakan oleh Howard Raiffa (1995) yang mencatat bahwa para pihak dapat mengambil keuntungan dari dialog-dialog informal untuk mengurangi ketidakpastian ketika ikut serta di dalam negosiasi: parties can take advantage of informal dialogues to reduce the uncertainties 79
2 80 of entering into negotiations. 184 Kategori-kategori tersebut adalah ketidakpastian terhadap the costs of entry, ketidakpastian terhadap spoilers, ketidakpastian terhadap interest and priorities, dan ketidakpastian terhadap outcome. Kategori-kategori dari ketidakpastian ini menunjukkan bahwa ada resiko yang harus dihadapi dalam proses perdamaian oleh para pemimpin dan negosiator untuk menyelamatkan keberlangsungan negara atau bangsanya. Secara bersamaan, kategori ketidakpastian ini dapat memberikan penjelasan tentang fenomena negosiasi tertutup. Mengapa negosiasi ini digunakan atau keuntungan positif apakah dari negosiasi ini yang telah menjanjikan keadaan yang jauh lebih baik dibandingkan pelaksanaan negosiasi secara terbuka. Berikut ini adalah beberapa penjelasan tentang masing-masing kategori ketidakpastian yang menjadi pemicu digunakannya back channel negotiation Ketidakpastian terhadap the Cost of Entry Ketidakpastian terhadap the cost of entry ini adalah ketidakpastian untuk menentukan prakondisi yang telah disiapkan dan kemudian diajukan oleh para pihak sebagai bagian dari pernyataan kesediaan mereka untuk turut terlibat pada proses perdamaian. Prakondisi tersebut dapat termasuk gencatan senjata, penarikan mundur pasukan, penyerahan penjahat perang, atau bahkan pemberian legitimasi atau pengakuan terhadap pihak lawan. Namun tak jarang penentuan prakondisi ini menimbulkan ketidakpastian ketika adanya ketidakjelasan tentang apa yang akan diberikan oleh pihak lawan sebagai pertukaran terhadap apa yang diberikan oleh pihak sendiri. 185 Atas dasar inilah di dalam beberapa kasus, pihak-pihak tertentu menolak untuk melakukan negosiasi dengan pihak lawan, terutama untuk melaksanakan negosiasi secara terbuka. Mereka menghindari timbulnya kekecewaan terhadap pertukaran yang diberikan oleh pihak lawan yang dipandang tidak sesuai atau tidak sederajat dengan apa yang mereka berikan. Back channel negotiation mampu menutupi kekhawatiran ini. Ketika pertukaran yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, dengan keuntungan positif yang terdapat di dalam negosiasi tertutup, negosiator dapat 184 Anthony Wanis-St. John, Back-Channel Negotiation: International Bargaining in the Shadows, Negotiation Journal, 22:2 (Apr, 2006), h. 123; terjemahan oleh penulis. 185 Ibid., h. 125.
3 81 mundur dari negosiasi atau bahkan tidak mengakui keberadaan negosiasi tersebut. Tidak ada pihak yang dikecewakan atau dirugikan dari negosiasi tertutup karena tidak ada yang mengetahui keberadaan negosiasi ini selain negosiator dan para pemimpin dari pihak yang bersangkutan. Dan yang paling penting, apa yang telah diberikan sebagai syarat untuk pelaksanaan proses perdamaian dapat ditarik kembali karena negosiasi yang dilangsungkan dapat dikatakan tidak pernah ada. Inilah yang menarik dari fenomena negosiasi tertutup. Negosiasi ini seakan-akan dapat memberikan jaminan terhadap the cost of entry para peserta tanpa harus merasa takut pada pertukaran yang tidak sesuai terhadap prakondisi yang telah diajukan tersebut. Untuk kasus Oslo Agreement, ketidakpastian dalam menentukan prakondisi apa yang akan diajukan juga melanda Israel dan PLO. Bagi PLO prakondisi yang dapat mereka berikan untuk menjamin keseriusannya terhadap proses perdamaian ini adalah dengan memberikan pengakuannya terhadap Negara Israel. Pengakuan ini diimplementasikan dengan pengiriman delegasi resminya, yakni Abu Ala (bendaharawan PLO), untuk bertemu delegasi Israel. 186 PLO berencana untuk memberikan pengakuan terhadap Negara Israel dengan harapan Israel dapat melakukan hal yang sama pula. Namun ternyata Israel tidak langsung mengirimkan delegasi resminya pada pertemuan pertama. Israel hanya mengirimkan akademisinya, yakni Dr. Yair Hirschfeld dan Dr. Ron Pundak. 187 Bagi Israel prakondisi yang dapat mereka berikan untuk menjamin keterlibatannya pada proses Oslo adalah kesediaannya untuk memasukkan Jalur Gaza sebagai obyek yang akan didiskusikan pada perundingan pertama. Kesediaannya ini terlihat ketika Israel menyatakan keseriusannya untuk menarik mundur pasukannya dari Jalur Gaza. 188 Pilihan Israel kepada Jalur Gaza bukan tanpa alasan. Israel tahu betul bahwa semenjak tahun 1979, sesuai dengan kesepakatan Camp David, Palestina seharusnya telah diberikan 186 Anthony Wanis-St. John, Back Channel Diplomacy: The Strategic Use of Multiple Channels of Negotiation in Middle East Peacemaking, United States: Tufts University, April 2001, h Ibid. 188 Ibid.
4 82 otonomi terhadap Jalur Gaza. 189 Namun hingga kini, daerah tersebut belum juga diserahkan Israel kepada Palestina. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu pemicu serangan masyarakat Palestina terhadap Israel pada Intifada tahun Pasca Infifada pun masih sering terjadi gerakan ekstrimis yang menyerang pasukan Israel dan permukiman Israel di Jalur Gaza. 191 Dengan memberikan daerah tersebut kembali kepada Palestina, Israel berharap dapat bekerja sama dengan PLO untuk menghentikan gerakan ekstrimis tersebut. Perbedaan-perbedaan yang mewarnai harapan dari masing-masing pihak inilah yang menimbulkan ketidakjelasan diantara para pihak. Keinginan PLO untuk memperoleh pengakuan terlebih dahulu daripada wilayah dipahami oleh penulis sebagai salah satu cara untuk mendapatkan legitimasi yang sah sebagai perwakilan resmi masyarakat Palestina. Dengan adanya legitimasi tersebut, PLO akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Pertama, peningkatan karir politik PLO, terutama Arafat. Jika Israel bersedia untuk memberikan pengakuannya terhadap PLO, maka pada negosiasi-negosiasi untuk perdamaian berikutnya PLO-lah yang akan diminta untuk mewakili masyarakat Palestina. Masyarakat Palestina akan menyandarkan harapannya kepada PLO yang kemudian akan meningkatkan kepercayaan publik kembali kepada PLO. Hal ini sangat dibutuhkan mengingat semakin bertambahnya dukungan publik terhadap Hamas setelah sekian lama PLO tidak memberikan kemajuan yang berarti pada proses perdamaian antara Israel dan Palestina. Kedua, dengan pengakuan tersebut aktifitas PLO untuk memperjuangkan hak masyarakat Arab Palestina di dunia internasional akan lebih mudah untuk dijalankan. Pengakuan yang diberikan oleh Israel diharapkan juga akan diikuti oleh negara-negara sekutunya seperti Amerika Serikat. PLO ingin hubungan antara dirinya dengan Amerika Serikat semakin membaik di kemudian hari. Dengan begitu, perjuangan PLO untuk mendapatkan tanah bagi masyarakat Arab Palestina diharapkan lebih mendapat dukungan dari negara superpower. 189 Oren Barak, The Failure of the Israeli-Palestinian Peace Process, , Journal of Peace Research, 42:6 (Nov, 2005), h Charles D. Smith, Palestine and the Arab-Israeli Conflict, United States of America: Bedford/St. Martin s, 2001, h Ibid., h. 437.
5 83 Sebaliknya keinginan Israel untuk bermurah hati memberikan Jalur Gaza juga bukan tanpa alasan. Israel tahu betul bahwa inti gerakan ekstrimis Palestina adalah untuk mendapatkan hak atas tanah Palestina dan menolak perluasan permukiman Yahudi. Untuk itulah Israel memberikan Jalur Gaza kepada PLO agar dapat membantu Israel menenangkan gerakan ekstrimis tersebut dengan janji kepemilikan Palestina terhadap wilayah tertentu. Israel sengaja tidak memberikan pengakuan terlebih dahulu kepada PLO hingga adanya jaminan dari PLO untuk membantu Israel mengatasi gerakan ekstrimis tersebut. Israel yang tidak semerta-merta untuk memberikan pengakuannya terhadap PLO menjadikan PLO juga lebih berhati-hati terhadap prakondisi yang diajukan oleh Israel. Hal inilah yang kemudian menimbulkan ketidakpastian dari kedua belah pihak yang akhirnya memicu keputusan keduanya untuk melangsungkan negosiasi secara tertutup. Baik Israel dan Palestina membutuhkan proses negosiasi untuk perdamaian ini, namun keduanya tidak ingin mengambil resiko. Jika suatu saat harapan mereka atas pertukaran yang diberikan oleh pihak lawan tidak tercapai atau gagal, mereka ingin pemberian yang semula telah diberikan dapat ditarik kembali. Untuk itu dibutuhkan suatu proses negosiasi yang membuat Israel dan PLO lebih leluasa untuk melakukan hal tersebut. Negosiasi tertutuplah yang tepat untuk digunakan oleh kedua belah pihak dalam keadaan seperti ini Ketidakpastian terhadap Hadirnya Spoilers Dalam memberikan keputusan tentang perlu atau tidaknya dilaksanakan negosiasi, para pemimpin biasanya juga mempertimbangkan keberadaan spoilers. Spoilers adalah pihak-pihak yang menentang peserta negosiasi dan memiliki kepentingan untuk mempertahankan status quo. Spoilers tidak hanya berasal dari pihak oposisi peserta negosiasi namun juga dapat dari pihak ketiga, bahkan yang bertindak sebagai mediator sekalipun. Para pihak biasanya dapat mengatasi gangguan dari spoilers ini jika spoilers tidak mengetahui tentang adanya proses negosiasi. Disinilah peran penting dari back channel negotiation. Dengan melakukan negosiasi secara tertutup, para peserta negosiasi dapat terus melanjutkan diskusinya hingga tercapai
6 84 kesepakatan tanpa ada kesempatan dari spoilers untuk menganggu jalannya proses negosiasi. 192 Menurut penulis, spoilers yang cukup dikhawatirkan pada proses negosiasi antara Israel dan Palestina adalah Hamas 193 dan Partai Likud 194. Ketika perkembangan konflik di Timur Tengah semakin mengkhawatirkan, Israel dipaksa dan dihadapkan pada kenyataan untuk berdamai dengan Palestina. Ini harus dilakukan karena menurut banyak pihak, terutama Amerika Serikat, bahwa akar permasalahan konflik di kawasan tersebut adalah konflik diantara Israel dan Palestina. Memang sudah ada proses perdamaian yang sedang berjalan yakni Washington Talks. Hanya saja, proses perdamaian ini tidak berjalan mulus bagi rencana perdamaian antara Israel dan Palestina. Penyebabnya adalah tidak adanya keterlibatan langsung PLO pada proses negosiasi tersebut padahal perwakilan Palestina (Faisal Husseini, pemimpin Tepi Barat) di dalam negosiasi Washington ini diketahui bergerak atas perintah dari Tunis. Hal inilah yang kemudian membuat Israel berpikir bahwa agar proses perdamaian berjalan lancar PLO harus dilibatkan. 195 Saat rencana negosiasi Oslo bergulir dan adanya keterangan bahwa proses ini melibatkan PLO, Israel secara berhati-hati bersedia untuk ikut serta. Hal ini tidak mudah untuk dilakukan oleh Israel mengingat semenjak pemimpin Arab memberikan pengakuannya terhadap PLO sebagai satusatunya perwakilan masyarakat Palestina yang sah pada tahun 1974, Israel tidak pernah bersedia untuk mengakui keberadaan PLO. 196 Ketika Israel bersedia untuk mengikutsertakan PLO secara langsung di dalam negosiasi Oslo, saat itu juga para negosiator Israel menyadari bahwa keputusan ini akan 192 Anthony Wanis-St. John, Back Channel Negotiation: International Bargaining in the Shadows, Negotiation Journal, 22:2 (Apr, 2006), h Partai radikal muslim yang semenjak tahun 1980-an telah muncul untuk menarik simpatik rakyat Palestina untuk menentang penjajahan. Gerakan Hamas ini semakin keras dirasakan ketika PLO telah mengubah kebijakannya untuk mengakui keberadaan Israel dan bersedia untuk hidup berdampingan dengan Israel. 194 Partai Likud adalah lawan dari Partai Buruh yang menguasai pemerintahan Israel pada saat itu. Sama seperti Hamas, Partai Likud pun tidak bersedia mengakui PLO sebagai perwakilan rakyat Palestina karena ditakutkan akan memicu terbentuknya Negara Palestina. 195 Avi Shlaim, The Oslo Accord, Journal of Palesine Studies, 23:3 (Spring, 1994), h Fred Halliday, The Middle East in International Relations, United States of America: Cambridge University Press, 2005, h.121.
7 85 menimbulkan kontroversi. Partai Likud sebagai oposisi pemerintahan Israel saat itu, tentu saja akan menolak keputusan keterlibatan PLO tersebut karena bertentangan dengan prinsip yang telah mereka pertahankan selama ini. Apalagi dengan adanya kesediaan Israel untuk memberikan Jalur Gaza kepada PLO, dimana banyak permukiman masyarakat Israel didalamnya 197, dikhawatirkan akan menambah protes golongan Likud terhadap keberlangsungan proses negosiasi Oslo. Dari pihak PLO, golongan yang menjadi spoilers terhadap jalannya proses negosiasi di Oslo adalah Hamas. Semenjak terbentuknya Hamas pada tahun 1988, organisasi ini secara tegas menentang kehadiran Israel di tanah Palestina. Apalagi untuk berdamai dengan Israel adalah hal terakhir yang mungkin dipikirkan oleh Hamas. Pasca Perang Teluk, Hamas semakin memberikan tekanan kepada PLO yang dipandang semakin melunak kepada Israel. Hamas juga semakin sering melakukan serangan-serangan terhadap penduduk Israel dan menyatakan komitmennya untuk menghukum warga Palestina yang bekerja sama dengan Israel. 198 Hal ini cukup membuat PLO merasa khawatir terhadap tindakan Hamas jika mengetahui adanya negosiasi yang akan terjalin antara Israel dan PLO. Kedua spoilers yang datang dari pihak Israel dan PLO inilah yang ditakutkan akan menganggu jalannya proses negosiasi. Tidak ada yang tahu pasti dengan cara bagaimanakah mereka akan menghambat negosiasi. Tapi yang pasti, Israel dan PLO sepakat untuk tidak mempublikasikan negosiasi Oslo agar kesepakatan damai diantara kedua belah pihak berjalan sesuai rencana Ketidakpastian untuk Menentukan Interest dan Priorities Para pihak peserta negosiasi seringkali tidak yakin bagaimanan untuk menyatukan kepentingan dan prioritas pihak sendiri dan pihak lawan. Penyatuan ini dibutuhkan agar tidak terjadinya ketidakpastian terhadap kepentingan dan prioritas yang sebenarnya dari proses negosiasi. Namun 197 Nabil Shaath, The Oslo Agreement. An Interview with Nabil Shaath, Journal of Palestine Studies, 23:1 (Autumn, 1993), h Charles D. Smith, Palestine and the Arab-Israeli Conflict, United States of America: Bedford/St. Martin s, 2001, h. 426.
8 86 penyatuan dua kepentingan dari pihak-pihak yang berbeda bukanlah perkara yang mudah. Salah satu hambatan yang paling umum adalah kurangnya informasi yang dimiliki tentang kebutuhan yang sebenarnya dari pihak lawan. Kurangnya informasi ini pada akhirnya hanya menimbulkan spekulasispekulasi tanpa ada kepastian yang jelas tentang kebutuhan tersebut. Hal inilah yang dapat menyebabkan terjadinya penolakan para pihak untuk melakukan negosiasi, terutama yang terbuka. Negosiasi tertutup dapat membantu pelaku negosiasi untuk mengatasi persoalan ini. Dengan negosiasi tertutup, proses perdamaian diantara para pihak dapat terus berjalan walaupun penyatuan kepentingan belum dapat terjadi. Umumnya para peserta berkeinginan untuk mengatasi penyatuan kepentingan ini seiring dengan berjalannya proses negosiasi. Para pihak dapat mengatakan kebutuhan mereka yang sebenarnya tanpa harus takut diketahui masyarakat luas. Hal ini diperlukan karena terkadang informasi yang diberikan bersifat rahasia dan tertutup untuk publik. Di dalam kasus proses negosiasi Oslo, ketidakmampuan untuk menyatukan kepentingan dari kedua belah pihak pun terjadi. Bagi Israel, kepentingan yang paling utama saat itu adalah penghentian kekerasan terhadap dirinya karena ada kekhawatiran terhadap peningkatan penggunaan misil balistik, senjata kimia, dan biologi pasca terjadinya Intifada dan Perang Teluk. 199 Sedangkan bagi PLO, kepentingan Palestina yang paling utama saat itu adalah penghentian pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza dan pengembalian kedua daerah tersebut sesuai kesepakatan Camp David 1979 yang selama ini telah memicu kemarahan masyarakat Palestina. 200 Perbedaan kepentingan dari Israel dan Palestina inilah yang mungkin memicu keputusan kedua belah pihak untuk melakukan negosiasi secara tertutup. Dengan negosiasi tertutup, proses perdamaian dapat terus berjalan walaupun kedua belah pihak masih sulit menyatukan kepentingan mereka hingga akhirnya kepentingan kedua belah pihak dapat disatukan. Hal ini 199 Gerald M. Steinberg, Unripeness and Conflict Management: Re-Examining the Oslo Process and its Lessons, Israel: Bar Illan University, 18 June 2002, h Charles D. Smith, Palestine and the Arab-Israeli Conflict, United States of America: Bedford/St. Martin s, 2001, h. 414.
9 87 ditemukan ketika Israel akhirnya bersedia untuk memberikan pengakuan terhadap PLO, Jalur Gaza, dan pembentukan otonomi Palestina dengan harapan PLO dapat menjalankan tanggung jawab untuk mengawasi partai politik yang saling bertentangan di wilayah pendudukan dan mencegah kekerasan dari golongan anti Israel. 201 Disisi lain PLO menerima tawaran yang diberikan oleh Israel dengan menambahkan Jericho sebagai bagian dari wilayah otonomi Palestina. 202 Bagi beberapa negosiator, ketidakpastian dalam menyatukan kepentingan dan prioritas dari pihak-pihak yang berselisih dapat diatasi dengan memberikan tawaran baru yang lebih kreatif. Keleluasaan negosiator untuk memberikan tawaran baru ini hanya dapat dilakukan jika negosiasi diselenggarakan secara tertutup. Hal ini disebabkan karena beberapa tawaran baru tersebut terkadang merupakan isu yang kontroversial yang memang sengaja tidak diangkat. Keberanian para negosiator untuk memberikan tawaran-tawaran baru juga bukan tanpa alasan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang memiliki kedekatan khusus dengan para pemimpin. Inilah yang semakin menambah keleluasaan kekuasaan negosiator untuk menemukan pilihan-pilihan baru untuk proses negosiasi. 203 Pada negosiasi Oslo, situasi ini dapat terlihat ketika Israel akhirnya bersedia untuk memberikan pengakuan terhadap PLO. Seperti yang kita ketahui bahwa semenjak negara-negara Arab memberikan pengakuan yang sah terhadap PLO sebagai perwakilan masyarakat Palestina di tahun 1974, Israel telah menolak kehadiran PLO. 204 Penolakan ini seakan telah menjadi prinsip yang telah mendarah daging pada masyarakat Israel karena dikhawatirkan akan memicu terbentuknya Negara Palestina. 205 Atas dasar itulah, pemberian pengakuan terhadap PLO akan menjadi kontroversial di kalangan masyarakat Israel. 201 Anthony Wanis-St. John, Back Channel Diplomacy: The Strategic Use of Multiple Channels of Negotiation in Middle East Peacemaking, United States: Tufts University, April 2001, h Ibid., h Anthony Wanis-St. John, Back Channel Negotiation: International Bargaining in the Shadows, Negotiation Journal, 22:2 (Apr, 2006), h Fred Halliday, The Middle East in International Relations, United States of America: Cambridge University Press, 2005, h Charles D. Smith, Palestine and the Arab-Israeli Conflict, United States of America: Bedford/St. Martin s, 2001, h. 428.
10 88 Berlawanan dengan pandangan umum masyarakat Israel, bagi Joel Singer (pengacara Kementrian Luar Negeri Israel), hanya pemberian pengakuanlah yang dapat mengikat PLO untuk menjalankan tanggung jawab dalam mengawasi partai politik dan mencegah kekerasan dari golongan anti Israel. Singer juga mengatakan bahwa PLO akan menjalankan perannya tersebut jika Israel telah menandatangani kesepakatan tentang pengakuan terhadap PLO. Pada awalnya, Yitzak Rabin (Perdana Menteri Israel) dan Shimon Peres (Menteri Luar Negeri Israel) tidak menyetujui ide Singer ini. Namun akhirnya Rabin memberikan persetujuannya walaupun meminta Singer untuk mengakuinya sebagai inisiatif sendiri. 206 Persetujuan dari Rabin ini mengindikasikan adanya rasa percaya Rabin terhadap saran yang diberikan oleh Singer tentang pemberian pengakuan terhadap PLO tersebut Ketidakpastian Mengenai Outcome Ketidakpastian mengenai outcome ini adalah ketidakpastian mengenai hasil yang akan diraih dalam suatu kesepakatan. Tidak ada hasil yang pasti dalam pelaksanaan suatu negosiasi. Terlebih lagi untuk konflik yang masih memanas, hasil yang diharapkan dari suatu negosiasi semakin tidak pasti. Apakah berhasil atau gagal, tidak ada yang dapat menentukan. Kegagalan negosiasi inilah yang paling dihindari oleh para negosiator karena akan mengurangi prestise, popularitas serta reputasi mereka sebagai pelaksana negosiasi di dunia conflict settlement. Namun back channel memberikan suatu kemudahan dimana dengan dilakukannya suatu negosiasi tertutup para negosiator tidak perlu khawatir dengan hasil yang dicapai. Jika gagal, maka proses negosiasi ini dengan mudah dapat ditutupi. Dan jika berhasil, maka barulah proses negosiasi tersebut dikemukakan dihadapan publik. 207 Pada proses negosiasi Oslo, keputusan kedua belah pihak untuk mengadakan negosiasi secara tertutup juga didukung karena adanya ketidakpastian terhadap hasil negosiasi Oslo. Dari sisi Israel, ketidakpastian tersebut dapat ditemukan ketika Shimon Peres untuk pertama kalinya 206 Anthony Wanis-St. John, Back Channel Diplomacy: The Strategic Use of Multiple Channels of Negotiation in Middle East Peacemaking, United States: Tufts University, April 2001, h Anthony Wanis-St. John, Back Channel Negotiation: International Bargaining in the Shadows, Negotiation Journal, 22:2 (Apr, 2006),h. 129.
11 89 mengabarkan negosiasi ini kepada Yitzak Rabin. Peres meyakinkan Rabin bahwa negosiasi Oslo ini aman untuk diikuti oleh Israel dan beresiko kecil karena belum adanya komitmen Israel secara resmi. 208 Sedangkan dari sisi PLO, keinginannya untuk melangsungkan negosiasi secara rahasia disebabkan karena jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti gagal meraih kesepakatan, PLO dapat menyangkal keterlibatannya. 209 Hal ini perlu dilakukan oleh PLO mengingat pasca Intifada dan Perang Teluk, PLO mengalami penurunan popularitas. 210 Kegagalan dari suatu proses negosiasi, dikhawatirkan akan semakin memperburuk popularitas dan reputasi PLO di kalangan masyarakat Palestina. Tabel 5.1 Empat Kategori Ketidakpastian pada PLO dan Israel Ketidakpastian Cost of Entry Spoilers Interest and Priorities Outcome Para Pihak PLO Memberikan pengakuan terhadap Israel dengan mengirimkan delegasi resmi Hamas Penghentian pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza Khawatir bahwa negosiasi Oslo tidak akan berhasil mencapai kesepakatan Israel Bersedia menyerahkan Jalur Gaza sebagai obyek negosiasi Partai Likud Penghentian kekerasan baik terhadap tentara Israel maupun permukiman Israel Khawatir bahwa negosiasi Oslo tidak akan berhasil mencapai kesepakatan 5.2 Keberhasilan Back Channel dalam Mewujudkan Perdamaian antara Israel dan Palestina Keberhasilan back channel negotiation dalam menghasilkan Oslo Agreement sebagai kesepakatan perdamaian diantara Israel dan Palestina tentu saja tidak dapat terlepas dari keputusan para pihak untuk menggunakannya. Berdasarkan 208 Anthony Wanis-St. John, op.cit., h Hilde Henriksen Waage, Explaining the Oslo Backchannel: Norway s Political Past in the Middle East, The Middle East Journal, 56:4 (Autumn, 2002), h Charles D. Smith, Palestine and the Arab-Israeli Conflict, United States of America: Bedford/St. Martin s, 2001, h
12 90 pertimbangan-pertimbangan yang berasal dari berbagai kondisi pada saat itu, negosiasi tertutup dirasakan sebagai alat tepat untuk menghantarkan kedua belah pihak pada proses perdamaian yang lebih baik. Ada beberapa hal yang dapat menjelaskan keberhasilan negosiasi tertutup dibandingkan dengan negosiasi yang lain, yaitu: a. Para peserta negosiasinya Ada salah satu peserta yang berbeda dengan peserta pada proses perdamaian yang sebelumnya yakni PLO. Setelah menyadari peran penting PLO dan juga menyadari bahwa delegasi Palestina (Faisal Husseini, pemimpin Tepi Barat) di Washington Talks bergerak atas perintah Tunis, Israel akhirnya bersedia untuk melibatkan PLO secara langsung di dalam proses perdamaian. 211 Keterlibatan langsung PLO ini adalah untuk yang pertama kalinya dan bukan perkara yang mudah. Israel telah sekian lama berkomitmen untuk tidak mengakui PLO sebagai perwakilan resmi masyarakat Palestina karena dikhawatirkan akan memicu terbentuknya Negara Palestina. 212 Begitu juga sebaliknya dimana PLO sangat tidak bersedia untuk memberikan pengakuannya terhadap Israel karena akan bertentangan dengan Palestinian National Charter tahun Komitmen kedua belah pihak ini setelah sekian lama kemudian mengakar dan menjadi prinsip dalam kehidupan masyarakatnya. Konflik-konflik yang terus terjadi adalah salah satu gambaran sampai sejauh mana komitmen ini tertanam pada kehidupan masyarakat masing-masing pihak. Gelombang penolakan pasti akan bermunculan untuk menolak pertemuan langsung para delegasi ini. Namun kedua belah pihak menyadari bahwa kehadiran PLO di dalam proses negosiasi sangat dibutuhkan dan penting. Sebagai contoh, Washington Talks sulit untuk menemukan formula yang tepat untuk perdamaian antara Israel dan Palestina karena delegasi Palestina tidak berasal dari PLO. Delegasi ini (Faisal Husseini) bergerak atas perintah Tunis dan langkah mereka didasarkan atas perintah tersebut. Shimon Peres (Menteri 211 Avi Shlaim, The Oslo Accord, Journal of Palesine Studies, 23:3 (Spring, 1994), h Charles D. Smith, Palestine and the Arab-Israeli Conflict, United States of America: Bedford/St. Martin s, 2001, h Avi Shlaim, op.cit., h. 25.
13 91 Luar Negeri Israel) pun mengakui pentingnya pengaruh Tunis sehubungan dengan proses perdamaian diantara kedua belah pihak. 214 Melihat kenyataan di atas maka keputusan untuk melibatkan PLO adalah langkah yang tepat dan negosiasi tertutup dapat menjadi forum yang berguna untuk melangsungkan pertemuan yang penuh kontroversi tersebut. Para delegasi negosiasi tertutup umumnya adalah orang-orang yang memiliki kedekatan dengan para pemimpin mereka dibandingkan dengan delegasi negosiasi terbuka. Mereka adalah orang-orang kepercayaan para pemimpin sehingga mudah bagi mereka untuk memberikan ide-ide baru yang mungkin akan sulit untuk disampaikan oleh delegasi biasa. Sebagai contoh, ketika Joel Singer (pengacara Kementrian Luar Negeri Israel) menyarankan akan dibentuk pengakuan bersama antara Israel dan PLO. Semula Yitzak Rabin (Perdana Menteri Israel) dan Shimon Peres (Menteri Luar Negeri Israel) menolak saran dari Singer tersebut. Namun saran ini kemudian diterima oleh Rabin walaupun Rabin meminta Singer untuk mengakuinya sebagai inisiatif sendiri. 215 Kepercayaan yang diberikan oleh Rabin kepada Singer inilah yang menyebabkan rencana pengakuan bersama dapat berjalan dengan baik. b. Non intervensi Dengan negosiasi tertutup kedua belah pihak dapat dengan leluasa menyampaikan ide dan permasalahan mereka tanpa harus khawatir akan adanya gangguan atau tekanan dari pihak oposisi. Karena dijalankan secara tertutup dan jauh dari publisitas para negosiator dapat lebih fokus untuk membicarakan kemungkinan-kemungkinan perdamaian bagi kedua belah pihak. Sebagai contoh adalah Hamas. Semenjak terbentuknya Hamas pada tahun 1988, organisasi ini secara tegas menentang kehadiran Israel di tanah Palestina. Apalagi untuk berdamai dengan Israel adalah hal terakhir yang mungkin dipikirkan oleh Hamas. Pasca Perang Teluk, Hamas semakin memberikan tekanan kepada PLO yang dipandang semakin melunak kepada Israel. Hamas juga semakin sering melakukan serangan-serangan terhadap penduduk Israel dan menyatakan komitmennya untuk menghukum warga 214 Anthony Wanis-St. John, Back Channel Diplomacy: The Strategic Use of Multiple Channels of Negotiation in Middle East Peacemaking, United States: Tufts University, April 2001, h Anthony Wanis-St. John, op.cit., h
14 92 Palestina yang bekerja sama dengan Israel. 216 Tindakan Hamas inilah yang dikhawatirkan dapat mengganggu jalannya proses negosiasi. Sehingga suatu hal yang tepat jika kedua belah pihak sepakat untuk menutupi negosiasi ini dari Hamas. c. Mediator Dengan berbagai keuntungan positif yang dapat diperoleh dari negosiasi tertutup ini maka proses negosiasi dapat berjalan lancar tanpa adanya hambatan yang berarti. Tetapi peran dari mediator untuk terus mempertahankan sifat tertutup selama proses negosiasi berlangsung juga sangat penting. Jika tidak berhati-hati dan pintar dalam menyediakan sarana rahasia yang bagus, maka negosiasi yang semula tertutup akan menyeruak terbuka dan ini tidak baik bagi kelangsungan proses negosiasi. Apa yang dilakukan oleh Norwegia untuk menyamarkan proses negosiasi ini sangat sempurna untuk menyembunyikan proses negosiasi. Pemerintah Norwegia bekerjasama dengan FAFO menyamarkan proses negosiasi ini sebagai bagian dari proyek penelitian FAFO. 217 Sebagai salah satu lembaga penelitian Norwegia yang pernah melakukan penelitian di Jalur Gaza dan Tepi Barat dan berhubungan dekat dengan masyarakat Israel dan Palestina 218, tidak banyak pihak yang memiliki kecurigaan dengan tindakan Norwegia dalam mengundang orang-orang penting dari Israel dan Palestina. Sehingga penyamaran dapat berjalan mulus hingga kesepakatan berhasil diraih antara Israel dan Palestina. d. Hasil Perundingan Walaupun pada awalnya terjadi ketidakpastian tentang kepentingan dan prioritas pihak lawan, seiring dengan berjalannya proses negosiasi kebutuhan yang sebenarnya dari pihak lawan dapat diketahui. Dengan keleluasaan yang dimiliki oleh para delegasi negosiasi tertutup untuk memberikan tawaran baru, titik temu untuk menemukan solusi yang tepat lebih mudah untuk dicapai. Hal inilah yang sulit untuk dilakukan pada negosiasi terbuka. Terlebih lagi untuk 216 Charles D. Smith, Palestine and the Arab-Israeli Conflict, United States of America: Bedford/St. Martin s, 2001, h Hilde Henriksen Waage, Explaining the Oslo Backchannel: Norway s Political Past in the Middle East, The Middle East Journal, 56:4 (Autumn, 2002), h Ibid., h. 599.
15 93 konflik yang berkepanjangan antara Israel dan Palestina dimana kompleksitas dari hubungan kedua belah pihak sangat kental terasa. Dibutuhkan suatu negosiasi yang mampu memancing saran atau ide-ide kreatif untuk memberikan solusi terbaik bagi penyelesaian konflik diantara Israel dan Palestina. Negosiasi tertutup yang telah dilakukan oleh kedua belah pihak terbukti telah memberikan solusi-solusi yang jauh lebih baik seperti pengakuan bersama, pembentukan Palestinian Authority, status sementara Jalur Gaza dan Jericho (Tepi Barat), pasukan keamanan bersama antara Israel dan Palestina, serta lainnya. Kedua belah pihak tentunya lebih puas terhadap pilihan solusi yang dihasilkan dari negosiasi tertutup ini. Sehingga kesepakatan untuk perdamaian diantara para pihak tidak lagi hanya sekedar angan-angan tapi kini terimplementasi dengan baik di dalam Oslo Agreement. e. Negosiasi yang aman Negosiasi tertutup jauh lebih aman dibandingkan dengan negosiasi terbuka. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dengan negosiasi tertutup para negosiator bahkan para pemimpin yang dekat dengan mereka dapat menyelamatkan prestise, popularitas serta reputasi masing-masing pihak jika ternyata negosiasi yang diusung tidak berhasil atau gagal dalam meraih kesepakatan. 219 Seperti yang dikemukakan oleh Jeffrey Rubin, Dean Pruitt, dan Sung Hee Kim (1994) yang menyatakan bahwa pemecahan masalah secara tersembunyi memungkinkan para pihak untuk mengurangi masalah yang dapat muncul dari negosiasi tawar menawar secara terbuka, termasuk kehilangan citra (suatu persepsi dimana para pihak lemah dan tidak tegas, yang berujung pada pemberian sesuatu yang berharga kepada pihak lawan): covert problem solving that permits parties to reduce the problems that can arise from overt bargaining, including image loss (the perception that a party is weak and irresolute, hence, willing to make extensive concessions) Anthony Wanis-St. John, Back Channel Negotiation: International Bargaining in the Shadows, Negotiation Journal, 22:2 (Apr, 2006),h Ibid., h. 123; terjemahan oleh penulis.
16 94 Rasa aman yang timbul dari negosiasi tertutup ini jugalah yang menyebabkan keleluasaan dalam bernegosiasi semakin bertambah. Tanpa harus takut dengan kegagalan para delegasi dapat memberikan opsi-opsi yang lebih baik bagi penyelesaian konflik diantara para pihak. Di dalam negosiasi Oslo, rasa aman tersebut sangat penting bagi para delegasi mengingat pilihanpilihan yang diajukan pada forum tersebut kebanyakan pilihan-pilihan yang bersifat kontroversi. 221 Sebagai contohnya adalah tawaran mengenai solusi pengakuan bersama (mutual recognition) yang dilakukan oleh Israel dan PLO. Jika ternyata solusi ini gagal dalam menghadirkan kesepakatan untuk perdamaian diantara kedua belah pihak, maka Israel dan PLO dapat menarik kembali pengakuan yang telah diberikan tersebut tanpa harus kehilangan muka. Demikianlah beberapa keberhasilan dari negosiasi tertutup yang menurut penulis dapat mewujudkan Oslo Agreement diantara Israel dan Palestina. Dengan berbagai peran positif yang diberikannya, Oslo Agreement mampu mencapai keberhasilan yang tidak dapat diraih oleh kesepakatan yang sebelumnya. Walau begitu, peran dari negosiasi tertutup ini tidak akan tercapai apabila para pemimpin dan negosiator proses perdamaian tidak memutuskan untuk melangsungkan negosiasi secara tertutup. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan terhadap ketidakpastian yang melanda pihak sendiri dan pihak lawan, para pihak memutuskan untuk mencoba melakukan negosiasi dengan cara yang berbeda, yakni tertutup. Keputusan yang didasarkan oleh pertimbangan yang tepat inilah yang menyebabkan negosiasi tertutup berhasil dalam meraih kesepakatan diantara pihak-pihak yang sempat diragukan akan sulit untuk berdamai. 221 Ibid., h. 128.
BAB 3 LATAR BELAKANG SEJARAH KONFLIK ANTARA ISRAEL DAN PALESTINA
BAB 3 LATAR BELAKANG SEJARAH KONFLIK ANTARA ISRAEL DAN PALESTINA Bab ini merupakan tinjauan historis mengenai konflik antara Israel dan Palestina yang diberikan secara singkat dan jelas, berisikan penjelasan
KEHADIRAN BACK CHANNEL NEGOTIATION PADA PROSES NEGOSIASI OSLO AGREEMENT ANTARA ISRAEL DAN PALESTINA TESIS
UNIVERSITAS INDONESIA KEHADIRAN BACK CHANNEL NEGOTIATION PADA PROSES NEGOSIASI OSLO AGREEMENT ANTARA ISRAEL DAN PALESTINA TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains
BAB I PENDAHULUAN. internasional, negara harus memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara merupakan salah satu subjek hukum internasional. Sebagai subjek hukum internasional, negara harus memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu, salah satunya
BAB 2 BACK CHANNEL NEGOTIATION THEORY
24 BAB 2 BACK CHANNEL NEGOTIATION THEORY Bab ini merupakan tinjauan terhadap teori utama yang digunakan pada tesis ini yakni teori back channel. Tinjauan ini meliputi perkembangan back channel negotiation
Peranan hamas dalam konflik palestina israel tahun
Peranan hamas dalam konflik palestina israel tahun 1967 1972 Oleh: Ida Fitrianingrum K4400026 BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian seperti yang diuraikan pada
BAB VI. 6.1 Kesimpulan Strategi Suriah dalam menghadapi konflik dengan Israel pada masa Hafiz al-
166 BAB VI 6.1 Kesimpulan Strategi Suriah dalam menghadapi konflik dengan Israel pada masa Hafiz al- Assad berkaitan dengan dasar ideologi Partai Ba ath yang menjunjung persatuan, kebebasan, dan sosialisme
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Bab ini merupakan kesimpulan dari penelitian skripsi peneliti yang berjudul Peran New Zealand dalam Pakta ANZUS (Australia, New Zealand, United States) Tahun 1951-.
BAB 5 KESIMPULAN. Kebijakan nuklir..., Tide Aji Pratama, FISIP UI., 2008.
BAB 5 KESIMPULAN Kecurigaan utama negara-negara Barat terutama Amerika Serikat adalah bahwa program nuklir sipil merupakan kedok untuk menutupi pengembangan senjata nuklir. Persepsi negara-negara Barat
BAB III PROBLEMATIKA KEMANUSIAAN DI PALESTINA
BAB III PROBLEMATIKA KEMANUSIAAN DI PALESTINA Pada bab ini penulis akan bercerita tentang bagaimana sejarah konflik antara Palestina dan Israel dan dampak yang terjadi pada warga Palestina akibat dari
BAB I PENDAHULUAN. beberapa belahan dunia. Salah satu dari konflik tersebut adalah konflik Israel
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perdamaian dunia yang selalu dikumandangkan oleh Persatuan Bangsa- Bangsa (PBB) sepertinya masih membutuhkan waktu yang lama untuk dapat terwujud. Akibat berbagai hal
MENGATASI KONFLIK, NEGOSIASI, PENDEKATAN KEAMANAN BERPERSPEKTIF HAM
SEMINAR DAN WORKSHOP Proses Penanganan Kasus Perkara dengan Perspektif dan Prinsip Nilai HAM untuk Tenaga Pelatih Akademi Kepolisian Semarang Hotel Santika Premiere Yogyakarta, 7-9 Desember 2016 MAKALAH
yang berperan sebagai milisi dan non-milisi. Hal inilah yang menyebabkan skala kekerasan terus meningkat karena serangan-serangaan yang dilakukan
Bab V Kesimpulan Hal yang bermula sebagai sebuah perjuangan untuk memperoleh persamaan hak dalam politik dan ekonomi telah berkembang menjadi sebuah konflik kekerasan yang berbasis agama di antara grup-grup
BAB I PENDAHULUAN. tersebut memiliki nilai tawar kekuatan untuk menentukan suatu pemerintahan
BAB I PENDAHULUAN A. Alasan Pemilihan Judul Kepemilikan senjata nuklir oleh suatu negara memang menjadikan perubahan konteks politik internasional menjadi rawan konflik mengingat senjata tersebut memiliki
KEBIJAKAN PEMERINTAH FILIPINA DALAM MENANGANI GERAKAN SEPARATIS MORO DI MINDANAO RESUME SKRIPSI
KEBIJAKAN PEMERINTAH FILIPINA DALAM MENANGANI GERAKAN SEPARATIS MORO DI MINDANAO RESUME SKRIPSI Disusun Oleh: TRI SARWINI 151070012 JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
BAB V. Kesimpulan. Seperti negara-negara lain, Republik Turki juga telah menjalin kerja sama
BAB V Kesimpulan Seperti negara-negara lain, Republik Turki juga telah menjalin kerja sama ekonomi melalui perjanjian perdagangan bebas dengan beberapa negara secara bilateral, seperti perjanjian perdagangan
Mengapa HT terus mendesak pemerintah mengirimkan tentara perang melawan Israel?
Hafidz Abdurrahman Ketua Lajnah Tsaqafiyah DPP HTI Inggris melakukan berbagai upaya untuk mendudukkan Yahudi di Palestina namun selalu gagal. Tapi setelah khilafah runtuh dan ruh jihad mati barulah negara
MUNDURNYA YUKIO HATOYAMA SEBAGAI PERDANA MENTERI JEPANG
MUNDURNYA YUKIO HATOYAMA SEBAGAI PERDANA MENTERI JEPANG Resume Fransiskus Carles Malek 151050084 JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL
mengakibatkan potensi ancaman dan esklasi konflik. Eskalasi konflik di kawasan mulai terlihat dari persaingan anggaran belanja militer Cina, Korea
BAB V PENUTUP Tesis ini menjelaskan kompleksitas keamanan kawasan Asia Timur yang berimplikasi terhadap program pengembangan senjata nuklir Korea Utara. Kompleksitas keamanan yang terjadi di kawasan Asia
BAB 4 KESIMPULAN. 97 Universitas Indonesia. Dampak pengembangan..., Alfina Farmaritia Wicahyani, FISIP UI, 2010.
BAB 4 KESIMPULAN Korea Utara sejak tahun 1950 telah menjadi ancaman utama bagi keamanan kawasan Asia Timur. Korea Utara telah mengancam Korea Selatan dengan invasinya. Kemudian Korea Utara dapat menjadi
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Penelitian ini mencoba untuk memberikan penjelasan terhadap pertanyaan penelitian penulis tentang mengapa back channel negotiation berhasil dalam mewujudkan Oslo
SENGKETA INTERNASIONAL
SENGKETA INTERNASIONAL HUKUM INTERNASIONAL H. Budi Mulyana, S.IP., M.Si Indonesia-Malaysia SENGKETA INTERNASIONAL Pada hakikatnya sengketa internasional adalah sengketa atau perselisihan yang terjadi antar
Negosiasi Bisnis. Minggu-11: Agen, Konstituen, dan Khalayak. By: Dra. Ai Lili Yuliati, MM, Mobail: ,
Negosiasi Bisnis Minggu-11: Agen, Konstituen, dan Khalayak By: Dra. Ai Lili Yuliati, MM, Mobail: 08122035131, Email: [email protected] Jumlah Pihak Dalam Negosiasi Negosiasi antar dua orang negosiator.
I. PENDAHULUAN. dalamnya. Untuk dapat mewujudkan cita-cita itu maka seluruh komponen yang
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan suatu negara untuk menjadi lebih baik dari aspek kehidupan merupakan cita-cita dan sekaligus harapan bagi seluruh rakyat yang bernaung di dalamnya.
terlalu keras kepada kelima negara tersebut. Karena akan berakibat pada hubungan kemitraan diantara ASEAN dan kelima negara tersebut.
BAB V KESIMPULAN Sampai saat ini kelima negara pemilik nuklir belum juga bersedia menandatangani Protokol SEANWFZ. Dan dilihat dari usaha ASEAN dalam berbagai jalur diplomasi tersebut masih belum cukup
Realitas di balik konflik Amerika Serikat-Irak : analisis terhadap invasi AS ke Irak Azman Ridha Zain
Perpustakaan Universitas Indonesia >> UI - Tesis (Membership) Realitas di balik konflik Amerika Serikat-Irak : analisis terhadap invasi AS ke Irak Azman Ridha Zain Deskripsi Dokumen: http://lib.ui.ac.id/opac/themes/libri2/detail.jsp?id=93120&lokasi=lokal
Resolusi yang diadopsi tanpa mengacu pada komite Pertanyaan dipertimbangkan oleh Dewan Keamanan pada pertemuan 749 dan750, yang diselenggarakan pada 30 Oktober 1956 Resolusi 997 (ES-I) Majelis Umum, Memperhatikan
Bahan Ajar Komunikasi Bisnis Dosen : Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si.
Bahan Ajar Komunikasi Bisnis Dosen : Gumgum Gumilar, S.Sos., M.Si. Oxford Dictionary : Negosiasi didefinisikan sebagai : pembicaran dengan orang lain dengan maksud untuk mencapai kompromi atau kesepakatan
PENGARUH AIPAC TERHADAP KEBIJAKAN AMERIKA SERIKAT PASCA PERISTIWA 11 SEPTEMBER 2001
PENGARUH AIPAC TERHADAP KEBIJAKAN AMERIKA SERIKAT PASCA PERISTIWA 11 SEPTEMBER 2001 Oleh: Muh. Miftachun Niam (08430008) Natashia Cecillia Angelina (09430028) ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU
A. Analisis Proses Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan Agama Purwodadi
BAB IV ANALISIS A. Analisis Proses Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan Agama Purwodadi Berdasarkan apa yang telah dipaparkan pada bab-bab sebelumnya dapat diketahui bahwa secara umum mediasi diartikan sebagai
DIALOG KOREA UTARA-KOREA SELATAN DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEAMANAN KAWASAN
Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI Gd. Nusantara I Lt. 2 Jl. Jend. Gatot Subroto Jakarta Pusat - 10270 c 5715409 d 5715245 m [email protected] BIDANG HUBUNGAN INTERNASIONAL KAJIAN SINGKAT TERHADAP
BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJA SAMA INTERNASIONAL
BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJA SAMA INTERNASIONAL A. KONDISI UMUM Perhatian yang sangat serius terhadap persatuan dan kesatuan nasional, penegakan hukum dan penghormatan HAM
negara-negara di Afrika Barat memiliki pemerintahan yang lemah karena mereka sebenarnya tidak memiliki kesiapan politik, sosial, dan ekonomi untuk
BAB IV KESIMPULAN Sejak berakhirnya Perang Dingin isu-isu keamanan non-tradisional telah menjadi masalah utama dalam sistem politik internasional. Isu-isu keamanan tradisional memang masih menjadi masalah
BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan
BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan Akuntansi merupakan satu-satunya bahasa bisnis utama di pasar modal. Tanpa standar akuntansi yang baik, pasar modal tidak akan pernah berjalan dengan baik pula karena laporan
BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJASAMA INTERNASIONAL
BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJASAMA INTERNASIONAL BAB 7 PEMANTAPAN POLITIK LUAR NEGERI DAN PENINGKATAN KERJASAMA INTERNASIONAL A. KONDISI UMUM Perhatian yang sangat serius terhadap
Negosiasi : This is how we do it!
Negosiasi : This is how we do it! disusun oleh : Praluki Herliawan Universitas Islam Bandung Pengurus Harian Wilayah Kajian & Strategis ISMKI Wilayah 2 Negosiasi Pengertian Negosiasi Negosiasi menurut
Lampiran 1 Kuesioner Keahlian Ketua PENGANTAR
Lampiran 1 Kuesioner Keahlian Ketua PENGANTAR Sebagai salah satu syarat kelulusan seorang mahasiswa Fakultas Psikologi UKM Bandung, saya sebagai peneliti bermaksud untuk mengadakan suatu penelitian sebagai
BAB V KESIMPULAN. Sebelum dipimpin oleh Erdogan, Hubungan Turki dengan NATO, dan Uni
BAB V KESIMPULAN Sebelum dipimpin oleh Erdogan, Hubungan Turki dengan NATO, dan Uni Eropa bisa dikatakan sangat dekat. Turki berusaha mendekat menjadi lebih demokratis. Turki menjadi angota NATO sejak
Pengantar Negosiasi. Wiwiek Awiati & Fatahillah. Indonesian Institute for Conflict Transformation (IICT
Pengantar Negosiasi Wiwiek Awiati & Fatahillah Indonesian Institute for Conflict Transformation (IICT Negosiasi - Pengertiannya Metode penyelesaian sengketa yang paling dasar, sederhana, dan tidak formal.
BAB I PENDAHULUAN. yaitu di daerah Preah Vihear yang terletak di Pegunungan Dangrek. Di
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Thailand dan Kamboja merupakan dua negara yang memiliki letak geografis berdekatan dan terletak dalam satu kawasan yakni di kawasan Asia Tenggara. Kedua negara ini
PENGERTIAN NEGOSIASI
PENGERTIAN NEGOSIASI 1. Adalah suatu proses dimana dua belah pihak atau lebih dengan keadaan biasa atau dengan adanya konflik kepentingan, masing-masing duduk bersama dengan keinginan untuk mencapai PERSETUJUAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. UNODC dan KPK memandang bahwa korupsi tidak dapat digolongkan
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan UNODC dan KPK memandang bahwa korupsi tidak dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa (ordinary crimes) akan tetapi sudah menjadi kejahatan yang luar biasa (extraordinary
BAB V KESIMPULAN. Runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990an merubah konstelasi politik dunia. Rusia
BAB V KESIMPULAN Runtuhnya Uni Soviet pada tahun 1990an merubah konstelasi politik dunia. Rusia berubah dari super power state menjadi middle-power state (negara dengan kekuatan menengah). Kebijakan luar
H. BUDI MULYANA, S.IP., M.SI
PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL H. BUDI MULYANA, S.IP., M.SI Pasal 2 (3) dari Piagam PBB Semua anggota wajib menyelesaikan perselisihan internasional mereka melalui cara-cara damai sedemikian rupa
BAB V KESIMPULAN. Bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Dalam
BAB V KESIMPULAN Bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Dalam peneltian ini peneliti dapat melihat bahwa, Menteri Luar Negeri Ali Alatas melihat Timor Timur sebagai bagian
91 menganut prinsip penyeleasaian sengketa dilakukan dengan jalan damai maka ASEAN berusaha untuk tidak menggunakan langkah yang represif atau dengan
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Melalui penelitian mengenai peran ASEAN dalam menangani konflik di Laut China Selatan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Sengketa di Laut China Selatan merupakan sengketa
A. Penyelesaian Sengketa Melalui Pengadilan
A. Penyelesaian Sengketa Melalui Pengadilan Litigasi atau jalur pengadilan merupakan suatu proses gugatan atas suatu konflik yang diritualisasikan yang menggantikan konflik sesungguhnya, dimana para pihak
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Romania, selanjutmya disebut Para Pihak :
PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH ROMANIA TENTANG KERJASAMA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN KEJAHATAN TERORGANISIR TRANSNASIONAL, TERORISME DAN JENIS KEJAHATAN LAINNYA Pemerintah
BAB I PENDAHULUAN. India dan Pakistan merupakan dua negara yang terletak di antara Asia
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah India dan Pakistan merupakan dua negara yang terletak di antara Asia Tengah dan Asia Tenggara yang terlingkup dalam satu kawasan, yaitu Asia Selatan. Negara-negara
MOTIVASI, MEDIASI DAN KETERAMPILAN BERNEGOSIASI UNTUK MEMBANTU PETANI
MOTIVASI, MEDIASI DAN KETERAMPILAN BERNEGOSIASI UNTUK MEMBANTU PETANI Motivasi Motivasi sangat penting bagi petani sebagai modal untuk tetap eksis dalam berusahatani. Pada saat mengalai kesulitan seperti
Universitas Sumatera Utara REKONSTRUKSI DATA B.1. Analisa
REKONSTRUKSI DATA B. NO Analisa Analisa dan koding tematik Perceive threat Adanya ketidakadilan terhadap pelebelan terorisme yang dirasakan umat Islam FGD.B..8 FGD.B..04 FGD.B.. FGD.B..79 FGD.B..989 Umat
TEKNIK LOBBY, NEGOSIASI DAN DIPLOMASI
TEKNIK LOBBY, NEGOSIASI DAN Modul ke: DIPLOMASI Metode Pertarungan dan Penutupan Negosiasi: 1.Mengenal metode pertarungan dan taktik negosiasi. 2.Menghadapi metode pertarungan. 3.Penutupan negosiasi Fakultas
MEDIASI ATAU KONSILIASI DALAM REALITA DUNIA BISNIS
MEDIASI ATAU KONSILIASI DALAM REALITA DUNIA BISNIS Ditujukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Metode Alternatif Penyelesaian Sengketa Disusun Oleh: Raden Zulfikar Soepinarko Putra 2011 200 206 UNIVERSITAS
bilateral, multilateral maupun regional dan peningkatan henemoni Amerika Serikat di dunia. Pada masa perang dingin, kebijakan luar negeri Amerika
BAB V KESIMPULAN Amerika Serikat merupakan negara adikuasa dengan dinamika kebijakan politik luar negeri yang dinamis. Kebijakan luar negeri yang diputuskan oleh Amerika Serikat disesuaikan dengan isu
BAB V KESIMPULAN. Bab ini merupakan kesimpulan dari penulisan skripsi yang berjudul Peranan
138 BAB V KESIMPULAN Bab ini merupakan kesimpulan dari penulisan skripsi yang berjudul Peranan Ideologi Posmarxisme Dalam Perkembangan Gerakan Anti Perang Masyarakat Global. Kesimpulan tersebut merujuk
RESUME. bagian selatan yang juga merupakan benua terkecil di dunia. Di sebelah. barat Australia berbatasan dengan Indonesia dan Papua New Guinea,
RESUME Australia adalah sebuah negara yang terdapat di belahan bumi bagian selatan yang juga merupakan benua terkecil di dunia. Di sebelah barat Australia berbatasan dengan Indonesia dan Papua New Guinea,
I. PENDAHULUAN. Konflik Hizbullah-Israel dimulai dari persoalan keamanan di Libanon dan Israel yang telah
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Konflik Hizbullah-Israel dimulai dari persoalan keamanan di Libanon dan Israel yang telah terjadi atau mempunyai riwayat yang cukup panjang. Keamanan di wilayah Libanon
Pada pokoknya Hukum Internasional menghendaki agar sengketa-sengketa antar negara dapat diselesaikan secara damai he Hague Peace
Pasal 2 (3) dari Piagam PBB - Semua anggota wajib menyelesaikan perselisihan internasional mereka melalui cara-cara damai sedemikian rupa sehingga perdamaian, keamanan dan keadilan internasional tidak
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Polandia, selanjutnya disebut Para Pihak :
PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK POLANDIA TENTANG KERJASAMA PEMBERANTASAN KEJAHATAN TERORGANISIR TRANSNASIONAL DAN KEJAHATAN LAINNYA Pemerintah Republik Indonesia
note BUILDING AGREEMENT AQUARIUS note Learn More in Less Time D08 AQUARIUS
Learn More in Less Time BUILDING AGREEMENT USING EMOTION AS YOU NEGOTIATE OLEH : ROGER FISHER RANDOM HOUSE BUSINESS BOOKS 244 HALAMAN ISBN-13 : 978-1905211081 Kita tidak dapat berhenti memiliki emosi,
BAB III TAHAPAN DAN PROSES MEDIASI DI PENGADILAN AGAMA PANDEGLANG
BAB III TAHAPAN DAN PROSES MEDIASI DI PENGADILAN AGAMA PANDEGLANG A. Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan Agama Pandeglang Berdasarkan hasil wawancara dengan Nuning selaku Panitera di Pengadilan Agama Pandeglang
Pidato Dr. R.M Marty M. Natalegawa, Menlu RI selaku Ketua ASEAN di DK PBB, New York, 14 Februari 2011
Pidato Dr. R.M Marty M. Natalegawa, Menlu RI selaku Ketua ASEAN di DK PBB, New York, 14 Februari 2011 Senin, 14 Februari 2011 PIDATO DR. R.M MARTY M. NATALEGAWA MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA SELAKU
LAMPIRAN. Universitas Kristen Maranatha
LAMPIRAN KATA PENGANTAR Saya adalah mahasiswa Psikologi. Saat ini saya sedang melakukan suatu penelitian untuk tugas akhir saya (skripsi) mengenai kecerdasan dari Pemimpin Kelompok Kecil (PKK) Persekutuan
Strategi dan Seni dalam NEGOSIASI. Lucky B Pangau,SSos MM HP : Lucky B Pangau.
Strategi dan Seni dalam NEGOSIASI Lucky B Pangau,SSos MM E-mail : [email protected] HP : 0877 3940 4649 Lucky B Pangau Seni Negosiasi 1 NEGOSIASI Adalah proses komunikasi yang gunakan untuk memenuhi
BASIS KONFLIK DI TIMUR TENGAH
BASIS KONFLIK DI TIMUR TENGAH Konflik antara Iraq-Kuwait merupakan konflik yang terjadi semenjak perang dunia II, yang kemudian menempatkan wilayah Babilonia klasik menjadi sebuah entitas negara yang kemudian
Isi. Pro dan Kontra Palestina masuk PBB
Isi Pro dan Kontra Palestina masuk PBB Dari 193 negara anggota Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 138 negara anggota menyetujui Palestina tidak lagi hanya berstatus sebagai entitas pengamat
DUA BELAS FAKTA DAN KEKELIRUAN TENTANG KONVENSI MUNISI TANDAN (Convention on Cluster Munitions)
Fakta dan Kekeliruan April 2009 DUA BELAS FAKTA DAN KEKELIRUAN TENTANG KONVENSI MUNISI TANDAN (Convention on Cluster Munitions) Kekeliruan 1: Bergabung dengan Konvensi Munisi Tandan (CCM) menimbulkan ancaman
BAB I PENDAHULUAN. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi (Soekanto, 2003: 243). Peranan merupakan aspek
PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH KERAJAAN THAILAND MENGENAI PENINGKATAN DAN PERLINDUNGAN ATAS PENANAMAN MODAL
PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH KERAJAAN THAILAND MENGENAI PENINGKATAN DAN PERLINDUNGAN ATAS PENANAMAN MODAL Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Thailand,
merasa perlu untuk menawar kembali
Negosiasi merupakan kata serapan bahasa inggris yang berasal dari kata negotiate yang berarti : merundingkan, bermusyawarah. Negosiasi adalah suatu cara untuk mencapai kesepakatan melalui diskusi. Negosiator
BAB V KESIMPULAN. mengacu pada bab I serta hasil analisis pada bab IV. Sesuai dengan rumusan
BAB V KESIMPULAN Bab ini berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan mengacu pada bab I serta hasil analisis pada bab IV. Sesuai dengan rumusan masalah pada bab I, terdapat empat hal
PIAGAM KERJASAMA PARTAI DEMOKRAT DAN PARTAI KEADILAN SEJAHTERA TAHUN
PIAGAM KERJASAMA PARTAI DEMOKRAT DAN PARTAI KEADILAN SEJAHTERA TAHUN 2009-2014 Atas berkat Rahmat Allah SWT, Para penandatangan piagam kerjasama telah sepakat untuk membentuk koalisi berbasis platform
BAB I PENDAHULUAN. Perang atau konflik bersenjata merupakan salah satu bentuk peristiwa yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perang atau konflik bersenjata merupakan salah satu bentuk peristiwa yang hampir sama tuanya dengan peradaban kehidupan manusia. Perang merupakan suatu keadaan dimana
Pidato Presiden RI mengenai Dinamika Hubungan Indonesia - Malaysia, 1 September 2010 Rabu, 01 September 2010
Pidato Presiden RI mengenai Dinamika Hubungan Indonesia - Malaysia, 1 September 2010 Rabu, 01 September 2010 PIDATO PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA MENGENAI DINAMIKA HUBUNGAN indonesia - MALAYSIA DI MABES
BAB V PENUTUP. Tesis ini berupaya untuk memberikan sebuah penjelasan mengenai
BAB V PENUTUP Tesis ini berupaya untuk memberikan sebuah penjelasan mengenai hubungan antara kebangkitan gerakan politik Islam dalam pergolakan yang terjadi di Suriah dengan persepsi Amerika Serikat, yang
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pilkada beberapa daerah telah berlangsung. Hasilnya menunjukkan bahwa angka Golput semakin meningkat, bahkan pemenang pemiluhan umum adalah golput. Di Medan, angka golput
BAB I PENDAHULUAN. dalam Hubungan Internasional untuk memenuhi national interest nya masingmasing.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hubungan kerjasama antar dua negara atau yang disebut juga Hubungan Bilateral, merupakan salah satu bentuk dari interaksi antar negara sebagai aktor dalam Hubungan
BAB V PENUTUP I. KESIMPULAN
BAB V PENUTUP I. KESIMPULAN Pada bagian awal penelitian ini peneliti sudah menjelaskan bahwa melalui penelitian ini peneliti ingin mencari tahu bagaimana komunikasi resolusi konflik yang dilakukan oleh
DINAMIKA PERUBAHAN & RESOLUSI KONFLIK
DINAMIKA PERUBAHAN & RESOLUSI KONFLIK Resolusi dan Alternatif Resolusi Konflik (1) Dr. Teguh Kismantoroadji Dr. Eko Murdiyanto 1 Kompetensi Khusus: Mahasiswa mampu menentukan alternatif resolusi konflik
BAB VI KESIMPULAN. Penulis menyimpulkan bahwa strategi perlawanan petani mengalami
BAB VI KESIMPULAN Penulis menyimpulkan bahwa strategi perlawanan petani mengalami perubahan. Pada awalnya strategi perlawanan yang dilakukan PPLP melalui tindakan kolektif tanpa kekerasan (nonviolent).
pembentukan FSD pada tahun 2001 lalu. Kota tersebut dianggap mewakili kontradiksi neoliberalisme, ia merupakan kota finansial terbesar di India juga
BAB V KESIMPULAN Sejak sejarah pembentukannya di awal tahun 2000 lalu, Forum Sosial Dunia sudah mendeklarasikan diri sebagai wacana kontrahegemoni terhadap globalisasi ekonomi neoliberal, terutama tandingan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2007 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AUSTRALIA TENTANG KERANGKA KERJA SAMA KEAMANAN (AGREEMENT BETWEEN THE REPUBLIC OF INDONESIA
BAB I. PENDAHULUAN. bangsa Indonesia setelah lama berada di bawah penjajahan bangsa asing.
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 yang diucapkan oleh Soekarno Hatta atas nama bangsa Indonesia merupakan tonggak sejarah berdirinya
BAB 3 HUBUNGAN PENGECER DENGAN PEMASOK DAN TEKNIK NEGOSIASI
BAB 3 HUBUNGAN PENGECER DENGAN PEMASOK DAN TEKNIK NEGOSIASI I. Pentingnya Hubungan Pengecer dengan Pemasok Hubungan antara pengecer, dalam hal ini pengelola toko dengan pemasok atau suplier merupakan tahapan
BAB IV KESIMPULAN. Kebijakan pemerintahan Francisco..., Fadhil Patra Dwi Gumala, FISIP UI, Universitas Indonesia
68 BAB IV KESIMPULAN Pasca berakhirnya perang saudara di Spanyol pada tahun 1939, Francisco Franco langsung menyatakan dirinya sebagai El Claudilo atau pemimpin yang menggunakan kekuasaannya dengan menerapkan
Keterlibatan Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris. dalam Genosida 65
Keterlibatan Pemerintah Amerika Serikat dan Inggris dalam Genosida 65 Majalah Bhinneka April 2, 2016 http://bhinnekanusantara.org/keterlibatan-pemerintah-amerika-serikat-dan-inggris-dalam-genosida-65/
GAYA KERJA PEMBIMBING KEMAHASISWAAN
GAYA KERJA PEMBIMBING KEMAHASISWAAN Oleh: Putut Hargiyarto, M.Pd. PT Mesin FT UNY Disajikan pada OPPEK UNY, 24-26 September 2010 A. Latar Belakang Untuk mampu menyelesaikan tugasnya, seseorang pada umumnya
BAB III SIKAP OKI TERHADAP KONFLIK ARAB/PALESTINA-ISRAEL. Arab/Palestina-Israel lalu kegagalan OKI (Organisasi Kerjasama Islam) dalam menangnai dan
BAB III SIKAP OKI TERHADAP KONFLIK ARAB/PALESTINA-ISRAEL Pada Bab 3 ini membahas tentang sikap OKI (Organisasi Kerjasama Islam) dan konflik berkepanjangan Palestina, yang meliputi; sejarah dari Palestina,
Demokratisasi di Mesir (Arab Spring) Ketiga dapat dikatakan benar. Afrika Utara dan Timur Tengah mengalami proses demokrasi
Rani Apriliani Aditya 6211111049 Hubungan Internasional 2011 Demokratisasi di Mesir (Arab Spring) Apa yang diprediksikan oleh Huntington dalam bukunya Gelombang Demokrasi Ketiga dapat dikatakan benar.
Budi Mulyana, Pengamat Hubungan Internasional
Budi Mulyana, Pengamat Hubungan Internasional Kasus perburuan Osama merupakan contoh kesekian kalinya yang menunjukkan bahwa hukum internasional merupakan aturan yang sangat multiinterpretasi. Kesepakatan
03FIKOM. Teknik Lobby, Negosiasi dan Diplomasi. Prinsip Prinsip dan Dimensi Negosiasi. Radityo Muhammad, SH.MA. Modul ke: Fakultas
Modul ke: Teknik Lobby, Negosiasi dan Diplomasi Prinsip Prinsip dan Dimensi Negosiasi Fakultas 03FIKOM Radityo Muhammad, SH.MA Program Studi Public Relations Negosiasi atau Yang Lain? Alternatif Penyelesaian
BAB I PENDAHULUAN. menguntungkan, salah satunya adalah pertukaran informasi guna meningkatkan. ilmu pengetahuan diantara kedua belah pihak.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sebuah bangsa besar adalah bangsa yang memiliki masyarakat yang berilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan bisa diperoleh dari berbagai sumber, misalnya lembaga
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE SUPPRESSION OF TERRORIST BOMBINGS, 1997 (KONVENSI INTERNASIONAL PEMBERANTASAN PENGEBOMAN OLEH TERORIS,
BAB IX KETERAMPILAN BERNEGOSIASI. Ahmad Sumiyanto, SE MSI Program Studi D3 TI Fakultas Ilmu Komputer Universitas Amikom Yogyakarta
BAB IX KETERAMPILAN BERNEGOSIASI Ahmad Sumiyanto, SE MSI Program Studi D3 TI Fakultas Ilmu Komputer Universitas Amikom Yogyakarta NEGOSIASI Adalah sebuah proses usaha untuk menemukan kesepakatan diantara
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang. Dengan berakhirnya Perang Dunia kedua, maka Indonesia yang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Dengan berakhirnya Perang Dunia kedua, maka Indonesia yang sebelumnya dijajah oleh Jepang selama 3,5 tahun berhasil mendapatkan kemerdekaannya setelah di bacakannya
Oleh : Ayu Diah Listyawati Khesary Ida Bagus Putu Sutama. Hukum Bisnis Fakultas Hukum Universitas Udayana
PENYELESAIAN PERSELISIHAN ANTARA PEKERJA DENGAN PENGUSAHA BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2004 TENTANG PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL Oleh : Ayu Diah Listyawati Khesary Ida Bagus
