|
|
|
- Hendra Sanjaya
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11 Resolusi yang diadopsi tanpa mengacu pada komite Pertanyaan dipertimbangkan oleh Dewan Keamanan pada pertemuan 749 dan750, yang diselenggarakan pada 30 Oktober 1956 Resolusi 997 (ES-I) Majelis Umum, Memperhatikan pengabaian banyak kesempatan oleh pihak dalam perjanjian gencatan senjata Israel-Arab tahun 1949 dari ketentuan perjanjian tersebut, dan angkatan bersenjata Israel telah merambah jauh ke dalam wilayah Mesir yang melanggar Perjanjian Gencatan Senjata Umum antara Mesir dan Israel 24 Februari Memperhatikan bahwa angkatan bersenjata Perancis dan Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia Utara sedang melakukan operasi militer terhadap wilayah Mesir, memperhatikan lalu lintas yang melalui Terusan Suez kini menjadi masalah serius sehingga menjadi perhatian banyak negara, Mengekspresikan keprihatinannya atas pembangunan tersebut, 1. Mendesak sebagai prioritas bahwa semua pihak yang sekarang ini terlibat dalam permusuhan di daerah setuju untuk segera gencatan senjata dan, sebagai bagian daripadanya, menyerang pergerakan pasukan militer dan senjata ke wilayah; 2. Mendesak pihak dalam perjanjian gencatan senjata segera untuk menarik semua pasukan di belakang garis gencatan senjata, untuk menghentikan serangan melintasi garis gencatan senjata ke wilayah tetangga, dan mengamati teliti ketentuan perjanjian gencatan senjata; 3. Merekomendasikan semua Negara Anggota untuk menahan diri dari memperkenalkan barang-barang militer di bidang permusuhan dan menahan diri dari setiap tindakan umum yang akan menunda atau mencegah pelaksanaan resolusi ini; 4. Mendesak bahwa, pada saat gencatan senjata langkah efektif yang diambil adalah untuk membuka kembali Terusan Suez dan mengembalikan kebebasan aman navigasi; 5. Meminta Sekretaris Jenderal untuk mengamati dan melaporkan segera sesuai dengan yang sudah diatur dalam resolusi ini kepada Dewan Keamanan dan Majelis Umum, untuk tindakan lebih lanjut seperti yang mereka anggap tepat sesuai dengan Piagam; 6. Memutuskan untuk tetap dalam keadaan darurat tertunda sesuai denganresolusi ini. Rapat pleno 562, 2 November 1956 Resolusi 998 (ES-I) Majelis Umum, Mengingat kebutuhan mendesak untuk memfasilitasi kepatuhan terhadap resolusi997 (ES-I) 2 November 1956, Permintaan, sebagai sebuah prioritas, kepada Sekretaris Jenderal untuk menyerahkan dalam waktu empat puluh delapan jam rencana persiapan, dengan
12 persetujuan dari negara-negara yang bersangkutan, dari darurat internasional Angkatan PBB untuk mengamankan dan mengawasi penghentian permusuhan disesuai dengan semua persyaratan dari resolusi tersebut. Rapat pleno 563, 4 November 1956 Resolusi 999 (ES-I) Majelis Umum, Memperhatikan dengan menyesal bahwa tidak semua pihak yang bersangkutan setuju untuk mematuhi ketentuan resolusi 997 (ES-I) 2 November 1956, Memperhatikan prioritas khusus yang diberikan dalam resolusi ke segera gencatan senjata dan, sebagai bagian daripadanya, untuk menghentikan pergerakan pasukan militer dan senjata ke daerah. Memperhatikan lebih lanjut bahwa resolusi mendesak pihak dalam perjanjian gencatan senjata segera untuk menarik semua pasukan di belakang garis gencatan senjata, untuk menghentikan serangan di garis gencatan senjata ke wilayah tetangga, dan untuk mengamati dengan teliti ketentuan perjanjian gencatan senjata, 1. Menegaskan kembali resolusi 997 (ES-I), dan sekali lagi menyerukan kepada pihak segera untuk mematuhi ketentuan mengatakan resolusi; 2. Kewenangan Sekretaris Jenderal, segera mengatur dengan pihak terkait untuk pelaksanaan gencatan senjata dan menghentikan pergerakan pasukan militer dan senjata ke wilayah, dan memintanya untuk melaporkan kepatuhan segera dan, dalam hal apapun, tidak lebih dari dua belas jam dari waktu adopsi resolusi ini; 3. Meminta Sekretaris Jenderal, dengan bantuan Kepala Staf dan anggota Perserikatan Bangsa Gencatan Senjata Organisasi Pengawasan Serikat, untuk memperoleh kepatuhan penarikan semua pasukan di belakang garis gencatan senjata; 4. Memutuskan untuk bertemu lagi segera pada penerimaan Sekretaris Jenderal melaporkan yang dimaksud dalam ayat 2 dari resolusi ini. Rapat pleno 563, 4 November 1956 Resolusi 1000 (ES-I) Majelis Umum, Setelah meminta Sekretaris Jenderal, dalam resolusi 998 (ES-I) 4 November 1956, untuk menyerahkan sebuah rencana Angkatan Darurat Internasional PBB untuk tujuan menyatakan, Memperhatikan dengan kepuasan laporan pertama dari Sekretaris Jenderal tentang rencana, dan karena dalam pikiran khususnya ayat 4 laporan itu.
13 1. Menetapkan Komando PBB untuk Angkatan Darurat Internasional untuk mengamankan dan mengawasi penghentian permusuhan sesuai dengan semua ketentuan resolusi Majelis Umum 997 (ES-I) 2 November 1956; 2. Menuunjuk, secara darurat, Kepala Staf Perserikatan Bangsa Gencatan Senjata Pengawasan Organisasi Serikat, Mayor Jendral E.L.M Burns, sebagai Kepala Komando; 3. Kewenangan Kepala Komando segera untuk merekrut, dari pengamat korps Organisasi Pengawasan Gencatan Senjata Perserikatan Bangsa-bangsa, sejumlah petugas yang harus dari warga negara dari negara-negara selain yang memiliki keanggotaan tetap di Dewan Keamanan, dan selanjutnya kewenangannya, dalam konsultasi dengan Sekretaris Jenderal, untuk melakukan perekrutan secara langsung, dari berbagai anggota Dewan Keamanan, sebagai jumlah tambahan petugas yang dibutuhkan; 4. Mengundang Sekretaris Jenderal untuk mengambil tindakan administratif jika mungkin diperlukan untuk pelaksanaan desakan dari tindakan yang digambarkan dalam resolusi ini. Rapat pleno 565, 5 November Resolusi 1001 (ES-I) Majelis Umum, Mengingat resolusi 997 (ES-I) 2 November 1956 tentang gencatan senjata, penarikan pasukan dan masalah lain yang berhubungan dengan operasi militer di wilayah Mesir, serta resolusi 998 (ES-I) 4 November 1956 tentang permintaan kepada Sekretaris Jenderal untuk menyerahkan rencana untuk Angkatan Darurat Internasional PBB, Setelah ditetapkan oleh resolusi 1000 (ES-I) 5 November 1956 perintah PBB untuk Angkatan internasional darurat, setelah ditunjuk sebagai Kepala Staf Perserikatan Bangsa Organisasi Pengawasan Gencatan Senjata Serikat sebagai Kepala Komando dengan otorisasinya untuk memulai perekrutan perwira Komando, dan setelah mengundang Sekretaris Jenderal untuk mengambil langkah-langkah administratif yang diperlukan untuk pelaksanaan prompt resolusi tersebut. Memperhatikan pada penghargaan laporan kedua dan terakhir dari Sekretaris Jenderal tentang rencana untuk keadaan darurat internasional Angkatan PBB sebagai permintaan di resolusi Majelis Umum 998 (ES-I), dan setelah diperiksa rencana, 1. Menyampaikan persetujuan dari prinsip bagi organisasi dan fungsi internasional Angkatan PBB darurat sebagaimana diuraikan dalam paragraf 6 sampai 9 dari laporan Sekretaris Jenderal; 2. Sepakat dalam definisi fungsi Angkatan sebagaimana dimaksud pada ayat 12 dari laporan Sekretaris Jenderal; 3. Mengundang Sekretaris Jenderal untuk melanjutkan diskusi dengan Pemerintah Negara-negara Anggota mengenai tawaran partisipasi dalam Angkatan, menuju tujuan komposisi yang seimbang tersebut;
14 4. Meminta Kepala Komando, dalam konsultasi dengan Sekretaris Jenderal sebagai ukuran hal dan komposisi, untuk melanjutkan segera dengan organisasi penuh Angkatan; 5. Menyetujui sementara aturan dasar mengenai pembiayaan Angkatan terjerumus di paragraf 15 dari laporan Sekretaris Jenderal; 6. Membentuk sebuah Komite Penasehat terdiri dari satu wakil dari masingmasing negara-negara berikut: Brazil, Kanada, Ceylon, Kolombia, India, Norwegia dan Pakistan, dan permintaan komite ini, yang akan menjadi Ketua Sekretaris Jenderal, untuk melakukan pengembangan aspek-aspek dari perencanaan Angkatan dan operasinya sebelum berurusan dengan oleh Majelis Umum dan yang tidak termasuk dalam wilayah tanggung jawab langsung dari Kepala Komando; 7. Kewenangan Sekretaris Jenderal untuk mengeluarkan semua peraturan dan instruksi yang mungkin penting untuk fungsi efektif dari Angkatan, setelah berkonsultasi dengan Komite tersebut, dan untuk mengambil semua tindakan administratif dan eksekutif lainnya yang diperlukan; 8. Menentukan bahwa, setelah pemenuhan tanggung jawab langsung ditetapkan untuk itu dalam operasi ayat 6 dan 7 di atas, Komite Penasehat akan terus membantu Sekretaris Jenderal dalam tanggung jawab jatuh kepadanya di bawah resolusi yang relevan saat ini dan lainnya. 9. Memutuskan bahwa Komite Penasehat, dalam melaksanakan tugasnya, harus diberdayakan untuk meminta, melalui prosedur biasa, diselenggarakannya Majelis Umum dan melaporkan kepada Majelis kapanpun masalah timbul yang menurut pendapatnya merupakan prioritas dan penting untuk meminta pertimbangan oleh Majelis Umum itu sendiri; 10. Permintaan semua negara anggota untuk mengupayakan bantuan yang diperlukan untuk Komando PBB dalam menjalankan fungsinya, termasuk pengaturan untuk bagian ke dan dari daerah yang terlibat. Rapat pleno 567, 7 November Resolusi 1002 (ES-I) Majelis Umum, Mengingat resolusi 997 (ES-I) 2 November 1956, 998 (ES-I) dan 999 (ES-I) 4 November 1956 dan 1000 (ES-I) 5 November 1956, yang diadopsi oleh mayoritas besar anggota, Memperhatikan secara khusus bahwa Majelis Umum dengan Resolusi 1000 (ES- I), membentuk Komando PBB untuk Angkatan Darurat Internasional untuk
15 mengamankan dan mengawasi penghentian permusuhan sesuai dengan semua ketentuan resolusi 997 (ES-I). 1. Menegaskan kembali resolusi yang disebutkan di atas; 2. Panggilan sekali lagi atas Israel segera menarik mundur pasukannya di belakang garis gencatan senjata yang dibentuk berdasarkan Persetujuan Gencatan Senjata Umum antara Mesir dan Israel tanggal 24 Februari 1949; 3. Panggilan sekali lagi pada Inggris dan Perancis segera menarik semua pasukan mereka membentuk wilayah Mesir, konsisten dengan resolusi yang disebutkan di atas; 4. Desak Sekretaris Jenderal untuk berkomunikasi resolusi ini kepada pihakpihak yang bersangkutan, dan meminta dia segera melaporkan kepada Majelis Umum pada kepatuhan dengan resolusi ini. Rapat pleno 567, 7 November Resolusi 1003 (ES-I) Majelis Umum, 1. Memutuskan untuk ditempatkan di agenda sementara sesi reguler kesebelas, sebagai prioritas, pertanyaan pada agenda sidang khusus darurat pertama; 2. Mengacu pada sesi reguler kesebelas, untuk dipertimbangkan, catatan pertemuan dan dokumen dari sidang khusus darurat pertama; 3. Memutuskan bahwa, tidak sama dengan ayat 1 di atas, sesi khusus darurat pertama dapat terus mempertimbangkan pertanyaan, jika perlu, sebelum sesi reguler kesebelas Majelis.
16
17 118 (1956). Resolusi 13 Oktober 1956 [S/3675] Dewan Keamanan, Mencatat deklarasi yang dibuat sebelumnya dan pengembangan laporan dari hasil penyelidikan di Suez dari Sekretaris Umum PBB dan Mentri Luar Negri Mesir, Prancis dan Inggris Raya. Menyetujui bahwa setiap penyelesaian masalah Suez harus mengikuti beberapa persyaratan di bawah ini: (1) Akses perpindahan yang melalui Kanal harus bebas dan terbuka tanpa adanya diskriminasi, rahasia atau secara sembunyi baik dari aspek politik dan secara teknik; (2) Kedaulatan Mesir harus dihormati; (3) Eksploitasi di Kanal harus ditutup dari politik negara manapun; (4) Cara penentuan bea cukai dan pajak harus diatur berdasarkan kesepekatan antara Mesir dan pengguna; (5) Pembagian proporsi hak harus dibagikan untuk pengembangan (6) Jika ada perselisihan, hubungan tidak baik yang tidak bisa diselesaikan antara Perusahaan Terusan Suez dan Pemerintahan Mesir harus diselesaikan dengan rujukan yang sesuai dan syarat yang tepat untuk sejumlah pembayaran ditemukan yang dimminta. Diadopsi tanpa sumber dari pertemuan ke 743.
18
19 119 (1956) Resolusi 31 Oktober 1956 [3/3721] Dewan Keamanan, Berdasarkan pada situasi buruk yang telah terjadi akibat adanya pengambilalihan Mesir, Menimbang bahwa akibat kurangnya dari kekosongan atas anggota tetap pada pertemuan ke 749 dan ke 750 Dewan Keamanan telah mencegah hal tersebut dari penggunaan tanggung jawab dasar untuk menjaga kestabilan keamanan dan perdamaian internasional. Memutuskan untuk menentapkan suatu keadaan darura khusus oleh Majlis Umum, seperti ditetapkan dalam resolusi Majlis Umum 377 A (V) 3 November 1950, dalam rangka menyiapkan rekomendasi yang tepat. Diadaptasi dari Pertemuan ke 751 Dengan perbandingan 7 banding 2 suara (Prancis, Britania Raya, Irlandia Utara) 2 Abstain (Australia, Belgia)
20 92 Lampiran 4: Peta Politik Afrika Sumber: africa_pol_2008.jpg diakses pada 16 Juli 2013 pukul WIB
21 93 Lampiran 5: Peta Mesir Sumber: diakses pada 6 Juni 2013 pukul WIB
22 94 Lampiran 6: Peta Terusan Suez Sumber: diakses pada 26 Juli 2013 pukul WIB
23 95 Lampiran 7: Peta Teluk Aqabah Sumber: diakses pada 26 Juli 2013 pukul WIB
24 96 Lampiran 8: Peta Perang Sinai Mesir-Israel Sumber: Varble, Derek. (2003). Essential Histories: The Suez Crisis Oxford: Osprey Publishing.
25 97 Lampiran 9: Foto Presiden Gamal Abdul Nasser Sumber: diakses tanggal 16 Juli 2013 pukul WIB.
26 98 Lampiran 10: Foto Perdana Menteri Inggris Sir Robert Anthony Eden Sumber: 1.amazonaws.com/images/jreviews/Anthony-Eden-1956.jpg diakses tanggal 16 Juli 2013 pukul WIB
27 99 Lampiran 11: Presiden Amerika Serikat Dwight D. Eisenhower Sumber: fficial_photo_portrait,_may_29,_1959.jpg diakses pada 16 Juli 2013 pukul WIB
28 100 Lampiran 12: Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Foster Dulles Sumber: diakses pada 16 Juli 2013 pukul WIB
29 101 Lampiran 12: Perdana Menteri Perancis Guy Mollet Sumber: 90/37/3795/9BIIF00Z/posters/french-leader-guy-mollet-sitting-in-his-office.jpg diakses pada 6 Juni 2013 pukul WIB
30 102 Lampiran 13: Perdana Menteri Israel David Ben Gurion Sumber: diakses pada 6 Juni 2013 pukul WIB.
BAB I PENDAHULUAN. internasional, negara harus memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Negara merupakan salah satu subjek hukum internasional. Sebagai subjek hukum internasional, negara harus memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi yaitu, salah satunya
H. BUDI MULYANA, S.IP., M.SI
PENYELESAIAN SENGKETA INTERNASIONAL H. BUDI MULYANA, S.IP., M.SI Pasal 2 (3) dari Piagam PBB Semua anggota wajib menyelesaikan perselisihan internasional mereka melalui cara-cara damai sedemikian rupa
PROTOKOL OPSIONAL KONVENSI HAK-HAK ANAK MENGENAI KETERLIBATAN ANAK DALAM KONFLIK BERSENJATA
PROTOKOL OPSIONAL KONVENSI HAK-HAK ANAK MENGENAI KETERLIBATAN ANAK DALAM KONFLIK BERSENJATA Negara-Negara Pihak pada Protokol ini, Didorong oleh dukungan penuh terhadap Konvensi tentang Hak-Hak Anak, yang
Pada pokoknya Hukum Internasional menghendaki agar sengketa-sengketa antar negara dapat diselesaikan secara damai he Hague Peace
Pasal 2 (3) dari Piagam PBB - Semua anggota wajib menyelesaikan perselisihan internasional mereka melalui cara-cara damai sedemikian rupa sehingga perdamaian, keamanan dan keadilan internasional tidak
MENEGAKKAN TANGGUNG JAWAB MELINDUNGI: PERAN ANGGOTA PARLEMEN DALAM PENGAMANAN HIDUP WARGA SIPIL
MENEGAKKAN TANGGUNG JAWAB MELINDUNGI: PERAN ANGGOTA PARLEMEN DALAM PENGAMANAN HIDUP WARGA SIPIL Resolusi disahkan oleh konsensus* dalam Sidang IPU ke-128 (Quito, 27 Maret 2013) Sidang ke-128 Inter-Parliamentary
Telah menyetujui sebagai berikut: Pasal 1. Untuk tujuan Konvensi ini:
LAMPIRAN II UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE SUPPRESSION OF TERRORIST BOMBINGS, 1997 (KONVENSI INTERNASIONAL PEMBERANTASAN PENGEBOMAN
Distr.: Terbatas 15 Oktober Asli: Bahasa Inggris
Perserikatan Bangsa-bangsa Majelis Umum Distr.: Terbatas 15 Oktober 2004 A/C.3/59/L.25 Asli: Bahasa Inggris Sidang kelimapuluhsembilan Komisi Ketiga Agenda urutan 98 Pemajuan wanita Australia, Austria,
KONVENSI MENENTANG PENYIKSAAN DAN PERLAKUAN ATAU PENGHUKUMAN LAIN YANG KEJAM, TIDAK MANUSIAWI DAN MERENDAHKAN MARTABAT MANUSIA
KONVENSI MENENTANG PENYIKSAAN DAN PERLAKUAN ATAU PENGHUKUMAN LAIN YANG KEJAM, TIDAK MANUSIAWI DAN MERENDAHKAN MARTABAT MANUSIA Diterima dan terbuka untuk penandatanganan, ratifikasi dan aksesi olah Resolusi
Diadaptasi oleh Dewan Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 18 Januari 2002
Protokol Konvensi Hak Anak Tentang Perdagangan Anak, Prostitusi Anak dan Pronografi Anak Diadaptasi oleh Dewan Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 18 Januari 2002 Negara-negara peserta tentang
K143 KONVENSI PEKERJA MIGRAN (KETENTUAN TAMBAHAN), 1975
K143 KONVENSI PEKERJA MIGRAN (KETENTUAN TAMBAHAN), 1975 1 K-143 Konvensi Pekerja Migran (Ketentuan Tambahan), 1975 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang
KONVENSI MENENTANG PENYIKSAAN DAN PERLAKUAN ATAU PENGHUKUMAN LAIN YANG KEJAM, TIDAK MANUSIAWI DAN MERENDAHKAN MARTABAT MANUSIA
KONVENSI MENENTANG PENYIKSAAN DAN PERLAKUAN ATAU PENGHUKUMAN LAIN YANG KEJAM, TIDAK MANUSIAWI DAN MERENDAHKAN MARTABAT MANUSIA Diterima dan terbuka untuk penandatanganan, ratifikasi dan aksesi olah Resolusi
PROTOKOL OPSIONAL PERTAMA PADA KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK SIPIL DAN POLITIK 1
PROTOKOL OPSIONAL PERTAMA PADA KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK SIPIL DAN POLITIK 1 Negara-negara Pihak pada Protokol ini, Menimbang bahwa untuk lebih jauh mencapai tujuan Kovenan Internasional tentang
PROTOKOL OPSIONAL PADA KONVENSI TENTANG HAK ANAK TENTANG KETERLIBATAN ANAK DALAM KONFLIK BERSENJATA
1 PROTOKOL OPSIONAL PADA KONVENSI TENTANG HAK ANAK TENTANG KETERLIBATAN ANAK DALAM KONFLIK BERSENJATA Ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa Pada tanggal 25 Mei 2000 Negara-negara Pihak
Protokol Tambahan Konvensi Hak Anak Terkait Keterlibatan Anak Dalam Konflik Bersenjata
Protokol Tambahan Konvensi Hak Anak Terkait Keterlibatan Anak Dalam Konflik Bersenjata 12 Februari 2002 Negara-negara yang turut serta dalam Protokol ini,terdorong oleh dukungan yang melimpah atas Konvensi
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2000 TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NOMOR 182 CONCERNING THE PROHIBITION AND IMMEDIATE ACTION FOR ELIMINATION OF THE WORST FORMS OF CHILD LABOUR (KONVENSI
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 1 TAHUN 2000 (1/2000) TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NOMOR 182 CONCERNING THE PROHIBITION AND IMMEDIATE ACTION FOR ELIMINATION OF THE WORST FORMS OF CHILD
K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011
K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011 2 K-189: Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011 K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi
15A. Catatan Sementara NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional
Konferensi Perburuhan Internasional Catatan Sementara 15A Sesi Ke-100, Jenewa, 2011 NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA 15A/ 1 NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG
KONVENSI KETENAKERJAAN INTERNASIONAL KONVENSI 182 MENGENAI PELARANGAN DAN TINDAKAN SEGERA PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK UNTUK ANAK
1 KONVENSI KETENAKERJAAN INTERNASIONAL KONVENSI 182 MENGENAI PELARANGAN DAN TINDAKAN SEGERA PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK UNTUK ANAK Yang Disetujui Oleh Konferensi Ketenagakerjaan Internasional
K185 PERUBAHAN DOKUMEN IDENTITAS PELAUT, 2003
K185 PERUBAHAN DOKUMEN IDENTITAS PELAUT, 2003 1 K-185 Perubahan Dokumen Identitas Pelaut, 2003 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL
www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK
K182 PELANGGARAN DAN TINDAKAN SEGERA PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK UNTUK ANAK
K182 PELANGGARAN DAN TINDAKAN SEGERA PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK UNTUK ANAK 1 K 182 - Pelanggaran dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak 2 Pengantar
REGULASI NO. 2000/09
UNITED NATIONS United Nations Transitional Administration in East Timor NATIONS UNIES Administrasion Transitoire des Nations Unies in au Timor Oriental UNTAET UNTAET/REG/2000/9 25 February 2000 REGULASI
K131. Konvensi Penetapan Upah Minimum, 1970
K131 Konvensi Penetapan Upah Minimum, 1970 2 K-131 Konvensi Penetapan Upah Minimum, 1970 K131 Konvensi Penetapan Upah Minimum, 1970 Konvensi mengenai Penetapan Upah Minimum, dengan Rujukan Khusus pada
K168. Konvensi Promosi Kesempatan Kerja dan Perlindungan terhadap Pengangguran, 1988 (No. 168)
K168 Konvensi Promosi Kesempatan Kerja dan Perlindungan terhadap Pengangguran, 1988 (No. 168) K168 - Konvensi Promosi Kesempatan Kerja dan Perlindungan terhadap Pengangguran, 1988 (No. 168) 2 K168 Konvensi
2 2. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 156, Tambahan Lembaran Negara
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.175, 2015 Pertahanan. Misi Pemeliharaan Perdamaian. Pengiriman. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 2015 TENTANG PENGIRIMAN MISI PEMELIHARAAN PERDAMAIAN
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
2018, No Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2014 tentang P
No.29, 2018 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEGISLATIF. MPR. DPR. DPD. DPRD. Kedudukan. Perubahan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6187) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN MARITIM, 1979 (Hamburg, 27 April 1979)
KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENCARIAN DAN PERTOLONGAN MARITIM, 1979 (Hamburg, 27 April 1979) PARA PIHAK DALAM KONVENSI MEMPERHATIKAN arti penting yang tercantum dalam beberapa konvensi mengenai pemberian
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL Menimbang: DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:
LAMPIRAN II UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1961 TENTANG PERSETUJUAN ATAS TIGA KONVENSI JENEWA TAHUN 1958 MENGENAI HUKUM LAUT
LAMPIRAN II UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1961 TENTANG PERSETUJUAN ATAS TIGA KONVENSI JENEWA TAHUN 1958 MENGENAI HUKUM LAUT KONVENSI MENGENAI PENGAMBILAN IKAN SERTA HASIL LAUT DAN PEMBINAAN
KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK SIPIL DAN POLITIK 1 MUKADIMAH
KOVENAN INTERNASIONAL TENTANG HAK SIPIL DAN POLITIK 1 MUKADIMAH Negara-negara Pihak pada Kovenan ini, Menimbang bahwa, sesuai dengan prinsip-prinsip yang diproklamasikan pada Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa,
K111 DISKRIMINASI DALAM PEKERJAAN DAN JABATAN
K111 DISKRIMINASI DALAM PEKERJAAN DAN JABATAN 1 K 111 - Diskriminasi dalam Pekerjaan dan Jabatan 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan
Konvensi Internasional mengenai Penindasan dan Penghukuman Kejahatan Apartheid
Konvensi Internasional mengenai Penindasan dan Penghukuman Kejahatan Apartheid disetujui dan terbuka untuk penandatanganan dan ratifikasi oleh Resolusi Majelis Umum 3068 (XXVIII) 30 November 1973 Negara-negara
LAMPIRAN. Pasal 1 Definisi. Untuk maksud-maksud Persetujuan ini, kecuali konteksnya mensyaratkan sebaliknya;
LAMPIRAN PERSETUJUAN MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PERSETUJUAN KERANGKA KERJA MENGENAI KERJA SAMA EKONOMI MENYELURUH ANTAR PEMERINTAH NEGARA-NEGARA ANGGOTA PERHIMPUNAN BANGSA-BANGSA ASIA TENGGARA
KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN SECARA PAKSA
KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN SECARA PAKSA Diadopsi pada 20 Desember 2006 oleh Resolusi Majelis Umum PBB A/RES/61/177 Mukadimah Negara-negara
PENYUSUNAN STANDAR INTERNASIONAL UNTUK PEKERJA RUMAH TANGGA. Organisasi Perburuhan Internasional
PENYUSUNAN STANDAR INTERNASIONAL UNTUK PEKERJA RUMAH TANGGA Organisasi Perburuhan Internasional Agenda Kerja Layak ILO untuk Pekerja Rumah Tangga Penyusunan Standar untuk Pekerja Rumah Tangga 2 I. DASAR
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 116, Tambaha
No.1775, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DJSN. Kode Etik. Majelis Kehormatan. PERATURAN DEWAN JAMINAN SOSIAL NASIONAL NOMOR 02 TAHUN 2014 TENTANG KODE ETIK DAN MAJELIS KEHORMATAN DEWAN JAMINAN SOSIAL
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang
K156 Konvensi Pekerja dengan Tanggung Jawab Keluarga, 1981
K156 Konvensi Pekerja dengan Tanggung Jawab Keluarga, 1981 2 K-156 Konvensi Pekerja dengan Tanggung Jawab Keluarga, 1981 K156 Konvensi Pekerja dengan Tanggung Jawab Keluarga, 1981 Konvensi mengenai Kesempatan
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE SUPPRESSION OF ACTS OF NUCLEAR TERRORISM (KONVENSI INTERNASIONAL PENANGGULANGAN TINDAKAN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
1 PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN PROTOCOL ON THE AUTHENTIC SIX-LANGUAGE TEXT OF THE CONVENTION ON INTERNATIONAL CIVIL AVIATION, CHICAGO 1944 (PROTOKOL TENTANG
b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah
BAB I PENDAHULUAN. memonitoring aktivitas nuklir negara-negara di dunia, International Atomic. kasus Iran ini kepada Dewan Keamanan PBB.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada Februari 2003, Iran mengumumkan program pengayaan uranium yang berpusat di Natanz. Iran mengklaim bahwa program pengayaan uranium tersebut akan digunakan
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewan keamanan PBB bertugas untuk menjaga perdamaian dan keamanan antar negara dan dalam melaksanakan tugasnya bertindak atas nama negaranegara anggota PBB.
KOMENTAR UMUM no. 08
1 KOMENTAR UMUM no. 08 KAITAN ANTARA SANKSI EKONOMI DENGAN PENGHORMATAN TERHADAP HAK- HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA Komite Persatuan Bangsa-bangsa untuk Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya E/C.12/1997/8
Mengenal Konvensi PBB 1990 tentang Perlindungan Hak-Hak Seluruh Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya
Mengenal Konvensi PBB 1990 tentang Perlindungan Hak-Hak Seluruh Pekerja Migran dan Anggota Keluarganya (Konvensi Migran 1990) KOMNAS PEREMPUAN KOMISI NASIONAL ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN Mengenal
STATUTA ASOSISI MAHKAMAH KONSTITUSI DAN INSTITUSI SEJENIS SE-ASIA
STATUTA ASOSISI MAHKAMAH KONSTITUSI DAN INSTITUSI SEJENIS SE-ASIA Pembukaan Presiden atau Kepala mahkamah konstitusi dan institusi sejenis yang melaksanakan kewenangan konstitusional di Asia: MENGINGAT
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 57, 1999 KONVENSI. TENAGA KERJA. HAK ASASI MANUSIA. ILO. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA
BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1603, 2013 DEWAN KEHORMATAN PENYELENGGARA PEMILU. Kode Etik. Beracara. Pedoman. Pencabutan. PERATURAN DEWAN KEHORMATAN PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION ON THE ELIMINATION OF ALL FORMS OF RACIAL DISCRIMINATION 1965 (KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PENGHAPUSAN
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI
TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI No.5518 PENGESAHAN. Konvensi. Penanggulangan. Terorisme Nuklir. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Repubik Indonesia Tahun 2014 Nomor 59) PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK
K 158 KONVENSI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982
K 158 KONVENSI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982 2 K-158 Konvensi Pemutusan Hubungan Kerja, 1982 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan
Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia
Konvensi Menentang Penyiksaan dan Perlakuan atau Hukuman Lain yang Kejam, Tidak Manusiawi, dan Merendahkan Martabat Manusia (Resolusi No. 39/46 disetujui oleh Majelis Umum pada 10 Desember 1984) Majelis
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.257, 2014 PERTAHANAN. Hukum. Disiplin. Militer. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5591) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
Isi. Pro dan Kontra Palestina masuk PBB
Isi Pro dan Kontra Palestina masuk PBB Dari 193 negara anggota Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 138 negara anggota menyetujui Palestina tidak lagi hanya berstatus sebagai entitas pengamat
KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN SECARA PAKSA
E/CN.4/2005/WG.22/WP.1/REV.4 23 September 2005 (Diterjemahkan dari Bahasa Inggris. Naskah Asli dalam Bahasa Prancis) KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN TERHADAP SEMUA ORANG DARI TINDAKAN PENGHILANGAN
PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH NEGARA QATAR MENGENAI PENINGKATAN DAN PERLINDUNGAN ATAS PENANAMAN MODAL
LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2007 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH NEGARA QATAR MENGENAI PENINGKATAN DAN PERLINDUNGAN
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG
Menimbang : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NO. 111 CONCERNING DISCRIMINATION IN RESPECT OF EMPLOYMENT AND OCCUPATION (KONVENSI ILO MENGENAI DISKRIMINASI
K177 Konvensi Kerja Rumahan, 1996 (No. 177)
K177 Konvensi Kerja Rumahan, 1996 (No. 177) 1 K177 - Konvensi Kerja Rumahan, 1996 (No. 177) 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan
Terjemahan Tidak Resmi STATUTA UNIDROIT. Pasal 1
Terjemahan Tidak Resmi STATUTA UNIDROIT Pasal 1 Maksud dari Lembaga Internasional untuk Unifikasi Hukum Perdata adalah meneliti cara cara untuk melakukan harmonisasi dan koordinasi hukum perdata pada Negara
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa keamanan dalam negeri
2 2. Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Tata Tertib (Berita Negara Republik Indonesia Nomor 1607); MEMUTU
No.547, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DPR-RI. Kode Etik. PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG KODE ETIK DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DENGAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
KEPPRES 60/1994, PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DENGAN PEMERINTAH REPUBLIK ITALIA MENGENAI PENINGKATAN DAN PERLINDUNGAN ATAS PENANAMAN MODAL Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NO. 111 CONCERNING DISCRIMINATION IN RESPECT OF EMPLOYMENT AND OCCUPATION (KONVENSI ILO MENGENAI DISKRIMINASI DALAM
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE SUPPRESSION OF THE FINANCING OF TERRORISM, 1999 (KONVENSI INTERNASIONAL PEMBERANTASAN PENDANAAN TERORISME,
PERANGKAT HAK ASASI MANUSIA LEMBAR FAKTA NO. 1. Kampanye Dunia untuk Hak Asasi Manusia
PERANGKAT HAK ASASI MANUSIA LEMBAR FAKTA NO. 1 Kampanye Dunia untuk Hak Asasi Manusia 1 KEPEDULIAN INTERNASIONAL TERHADAP HAK ASASI MANUSIA Kepedulian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terhadap kemajuan
K105 PENGHAPUSAN KERJA PAKSA
K105 PENGHAPUSAN KERJA PAKSA 1 K 105 - Penghapusan Kerja Paksa 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki dan
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2007 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH NEGARA QATAR MENGENAI PENINGKATAN DAN PERLINDUNGAN ATAS PENANAMAN
R-188 REKOMENDASI AGEN PENEMPATAN KERJA SWASTA, 1997
R-188 REKOMENDASI AGEN PENEMPATAN KERJA SWASTA, 1997 2 R-188 Rekomendasi Agen Penempatan kerja Swasta, 1997 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas
UMUM. 1. Latar Belakang Pengesahan
PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE SUPPRESSION OF THE FINANCING OF TERRORISM, 1999 (KONVENSI INTERNASIONAL
K159 Konvensi Rehabilitasi Vokasional dan Lapangan Kerja (Difabel), 1990
K159 Konvensi Rehabilitasi Vokasional dan Lapangan Kerja (Difabel), 1990 2 K-159 Konvensi Rehabilitasi Vokasional dan Lapangan Kerja (Difabel), 1990 K159 Konvensi Rehabilitasi Vokasional dan Lapangan Kerja
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENGESAHAN INTERNATIONAL CONVENTION FOR THE SUPPRESSION OF THE FINANCING OF TERRORISM, 1999 (KONVENSI INTERNASIONAL PEMBERANTASAN PENDANAAN TERORISME,
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pembahasan dari bab ini adalah kesimpulan dan saran yang merujuk pada jawaban-jawaban permasalahan penelitian yang telah dikaji. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan
UNTAET Administrasi Transisi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Timor Lorosae REGULASI NOMOR 16 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN KEJAKSAAN DI TIMOR TIMUR
UNITED NATIONS NATIONS UNIES United Nations Transitional Administration Administration Transitoire des Nations Unies in East Timor au Timor Oriental UNTAET Administrasi Transisi Perserikatan Bangsa-Bangsa
BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG
BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG PENEGAKAN KODE ETIK PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM BAGI ANGGOTA DAN JAJARAN SEKRETARIAT
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah
PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-02.KP TAHUN 2010 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI IMIGRASI
PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-02.KP.05.02 TAHUN 2010 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI IMIGRASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK (AGREEMENT BETWEEN THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND THE GOVERNMENT OF THE
LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace mencabut: UU 28-1997 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 2, 2002 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4168) UNDANG-UNDANG
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DENGAN PEMERINTAH REPUBLIK ITALIA MENGENAI PENINGKATAN DAN PERLINDUNGAN ATAS PENANAMAN MODAL (Keputusan Presiden Nomor 60 Tahun 1994 Tanggal
PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN REPUBLIK RAKYAT CHINA MENGENAI BANTUAN HUKUM TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA
PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN REPUBLIK RAKYAT CHINA MENGENAI BANTUAN HUKUM TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA Republik Indonesia dan Republik Rakyat China (dalam hal ini disebut sebagai "Para
Konvensi tentang Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida
Konvensi tentang Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida Disetujut dan diusulkan untuk penandatanganan dan ratiftkasi atau aksesi dengan resolusi Majelis Umum 260 A (HI), 9 December 1948 Negara-negara
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47 TAHUN 2007 TENTANG PENGESAHAN PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AUSTRALIA TENTANG KERANGKA KERJA SAMA KEAMANAN (AGREEMENT BETWEEN THE REPUBLIC OF INDONESIA
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2018 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH,
Tuduhan Amnesty Internasional terhadap Sudan terkait penggunaan senjata kimia di Jabal Murrah
Tuduhan Amnesty Internasional terhadap Sudan terkait penggunaan senjata kimia di Jabal Murrah Rabu, 28 September 2016, Taryana Hassan, Direktur Riset Krisis dan Bencana di Lembaga Amnesty Internasional
