Ikhtisar Ajaran Buddha
|
|
|
- Lanny Susman
- 8 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Ikhtisar Ajaran Buddha Juga bagi para non-buddhis seperti saya, naskah ini memberikan cukup informasi dan pemahaman yang memadai mengenai Buddhisme. Sungguh memikat. Fahd Djibran, cendekiawan Muslim BASIC BUDDHISM What Should We Know About Buddhism Oleh Upa. Sasanasena Seng Hansen
2 Ikhtisar Ajaran Buddha Disusun oleh : Upa. Sasanasena Seng Hansen Proof Reader : Willy Yandi Wijaya Ukuran buku jadi : 130x185 mm Kertas cover : Art Cartoon 210 gram Isi : HVS 70 gram Jumlah halaman : 80 halaman Jenis Font : Times New Roman Myriad Pro Goudy Old Style Bickham Script Diterbitkan Oleh : Vidyāsenā Production Vihāra Vidyāloka Jl. Kenari Gg. Tanjung I No. 231 Telp. / Fax Yogyakarta Cetakan Pertama, Mei 2008 Cetakan Kedua, September 2008 (revisi) Untuk Kalangan Sendiri Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku dalam bentuk apapun tanpa seizin penerbit. ii
3 Buku ini dipersembahkan bagi mereka: Yang mencintai ajaran Buddha dan ingin mengetahui mengapa mereka mencintai ajaran ini Yang mendambakan kedamaian dan ingin melestarikan kedamaian itu Buku IKHTISAR AJARAN BUDDHA: Basic Buddhis, What should we know about Buddhism ini disarikan dari berbagai Dharmaclass, Dharmacourse, pelatihan Dharmaduta yang diadakan oleh Vidyāsenā Vihāra Vidyāloka Yogyakarta; dari artikel Dharmadesana di Vihāra Vidyāloka Yogyakarta; dari bukubuku buddhis; dan dari program meditasi di Vihāra Mendut. Buku ini bertujuan untuk menambah pengetahuan mengenai agama Buddha terutama bagi kalangan non-buddhis dan sebagai salah satu upaya mempertahankan dan melestarikan Buddhisme sebagai warisan dunia. Semoga bermanfaat iii
4 Misi Sang Buddha benar-benar unik dalam sifatnya, karena itu ia berdiri jauh terpisah dari banyak agama-agama lainnya di dunia. Misinya adalah untuk menggiring burung-burung idealisme yang sedang terbang melayang di angkasa untuk lebih mendekat ke bumi karena makanan bagi tubuh-tubuh mereka adalah milik Sang Bumi Hazrat Inayat Khan, The Sufi Message iv
5 PRAWACANA PENERBIT Hari Raya Waisak akan segera tiba. Umat Buddha kembali lagi akan merayakan sebuah momen yang paling berharga, yakni hari kelahiran Pangeran Sidhartha Gautama, saat pencerahan Pertapa Gautama dan hari wafatnya Buddha Gautama. Ketiga kejadian tersebutlah yang membuat Hari Raya Waisak bagi Umat Buddha menjadi sebuah hari yang istimewa dimana dimulailah sejarah Agama Buddha yang diawali dengan sejarah pendirinya (Sidhartha Gautama). Teristimewa tahun ini, Hari Raya Waisak di Indonesia bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Kita harapkan momentum ini semakin memantapkan kebangkitan agama Buddha di Indonesia. Hal tersebut disebabkan semakin memantapkan ajaran Buddha di Indonesia dengan terus tumbuhnya generasi muda yang lebih peduli terhadap ajaran Buddha. Salah satu wujudnya adalah semakin banyak muncul penulis buku berdarah Nasional yang menulis buku mengenai Ajaran Buddha. Buku ini ditulis oleh Sdr. Seng Hansen dengan merangkum poin-poin penting ajaran Buddha. Dengan terbitnya buku ini diharapkan bagi Anda yang baru mengenal agama Buddha, dapat mengerti dengan jelas dasar-dasar yang penting dalam ajaran Buddha. Bahasa dalam buku ini telah dibuat sebaik mungkin sehingga Anda dapat memahami isinya walaupun Anda baru mengenal ajaran Buddha. Jadi terima kasih untuk Sdr. Seng Hansen yang telah menulis buku ini dan kepada Sdr. Willy Yandi Wijaya yang telah menjadi editor untuk buku ini. Terima kasih juga kepada para donatur, karena tanpa Anda buku ini tidak akan terbit. Terima kasih kepada para pembaca karena tanpa Anda, buku ini hanya akan menjadi sebuah buku yang tidak bermakna. Oleh karena itu, penerbit selalu mengharapkan agar kita berdana sekecil apapun. Untuk semakin memperluas cakrawala dan pandangan, marilah kita semakin membiasakan diri untuk membaca buku, khusunya buku Dhamma. Terima kasih atas perhatiannya. Semoga semua makhluk selalu hidup berbahagia. Insight Vidyasena Production Menejer Produksi Buku v
6 KATA PENGANTAR EDITOR Biasanya buku mengenai agama Buddha banyak menggunakan bahasa Pali atau Sansekerta sehingga tatkala ada orang yang bukan beragama Buddha mencoba membaca atau memahami konsep ajaran Buddha, seringkali yang terjadi adalah kebingungan atau kesalahan penafsiran terhadap Buddhisme. Saya sempat membaca beberapa buku perbandingan agama yang menyinggung mengenai ajaran Buddha yang ditulis oleh penulis nonbuddhis dan yang terjadi adalah kesalahan dalam penafsiran terhadap ajaran Buddha. Mungkin kesalahan seperti itu disebabkan kebingungan terhadap istilah Pali atau Sansekerta atau padanannya dalam Bahasa Inggris atau karena pandangannya dari sudut pandang yang berbeda. Ketika saya mengedit tulisan Sdr. Seng Hansen ini, saya berusaha meminimalkan bahasa Pali atau Sansekerta, seperti kata dukkha. Kata tersebut sering diterjemahkan sebagai penderitaan atau ada juga yang menerjemahkannya sebagai ketidakpuasan. Di buku ini, kata dukkha tidak diganti dengan kata penderitaan. Akan tetapi, untuk beberapa kasus kata penderitaan atau ketidakpuasan digunakan sesuai dengan konteks kalimatnya. Beberapa kata yang lebih umum dan terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) saya gunakan untuk mengganti bahasa Pali atau Sansekerta. Salah satu wujud penghargaan terhadap Bahasa Indonesia adalah berusaha menggunakan kata yang telah ada padanannya dalam KBBI, walau untuk beberapa kalimat saya tetap mempertahankan penggunaan bahasa Pali atau Sansekerta. Catatan kaki saya tambahkan untuk membantu menjelaskan arti kata atau kalimat sehingga tidak terjadi salah pengertian. Salam, Willy Yandi Wijaya vi
7 DAFTAR ISI PRAWACANA PENERBIT... v KATA PENGANTAR EDITOR... vi BAB I... 1 PENDAHULUAN Sistem Kepercayaan Vs Ajaran Buddha India Sebelum Masa Buddha Gautama... 2 BAB II... 4 BUDDHA... 4 BAB III... 6 AJARAN BUDDHA (DHARMA) Tinjauan Secara Ringkas...6. Empat Kebenaran Mulia...7. Kebenaran Mulia tentang Dukkha...8. Kebenaran Mulia tentang Sebab dari Dukkha...8. Kebenaran Mulia tentang Berakhirnya Dukkha...8. Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha Corak Kehidupan (Tilakkhana) Perubahan (Anicca) Penderitaan (Dukkha) Tidak Ada Roh Yang Kekal (Anatta) Hukum Karma Bahaya Kemelekatan Dan Ke- Aku -An Kesalingterkaitan Antar Segala Sesuatu. (Hukum Paticca Samuppada) Hukum Alam (Niyama Dhamma) Delapan Kondisi Yang Tidak Dapat Dihindari. (Atthaloka Dhamma) Dharma Pelindung Dunia (Lokapaladhamma) Lima Aturan Buddhis (Pancasila Buddhis) Sepuluh Kesempurnaan (Dasa Paramita) Sifat Luhur (Brahmavihara) Anjuran Kepada Umat Buddha Perumah Tangga. (Sigalovada Sutta) Empat Syarat Kebahagiaan (Vyagghapajja Sutta) Lima Kelompok Penyusun Kehidupan (Panca Khanda) Wawasan Ke Dalam (Merenung Ke Dalam Diri) Pikiran Dan Kesadaran Meditasi Hidup Di Sini Dan Pada Saat Ini Bagaimana Cara Memperlakukan Ajaran Buddha?...37 vii
8 BAB IV SANGHA (Kelompok Bhikkhu Atau Bhikkhuni) Keunikan Ajaran Buddha Bentuk Keyakinan Dalam Buddhis (Kalama Sutta)...39 BAB V KEUNIKAN AJARAN BUDDHA Tradisi Dalam Buddhisme (Schools In Buddhism) Toleransi Terhadap Kepercayaan Lain...45 BAB VI APA YANG DIYAKINI UMAT BUDDHA Tidak Ada Pahala Atau Hukuman, Yang Ada Hanyalah Konsekuensi- Konsekuensi Kelahiran Kembali (Punabhava) Tuhan Menurut Ajaran Buddha Manfaat Paritta...50 BAB VII APLIKASI AJARAN BUDDHA Tindakan Melepas Hewan (Fangshen) Penguatan Tekad (Adhitthana) Kepemimpinan Buddhis Pelayanan Sosial...57 BAB VIII MISCELLANEOUS (SERBA-SERBI) Tripitaka: Kitab Suci Umat Buddha Buddha Rupang Tempat-Tempat Suci Umat Buddha Hari Raya Umat Buddha Bendera Buddhis...62 BAB IX CERITA BUDDHIS Kisa Gotami Kebenaran Mulia Pertama: Dukkha Jebakan Monyet Kebenaran Mulia Kedua : Sebab Dukkha Seorang Bhikkhu Yang Bahagia Kebenaran Mulia Ketiga: Akhir. Dukkha Rakit Kebenaran Mulia Keempat: Jalan Menuju Akhir Dukkha Kamu Tidak Dapat Mengotori Langit Ucapan Benar...65 BAB X THE TRUE POWER OF BUDDHISM Sumbangsih Ajaran Buddha Sebagai Penutup BACAAN LANJUTAN UCAPAN TERIMAKASIH...69 viii
9 BAB i PENDAHULUAN Sistem Kepercayaan Vs Ajaran Buddha Terdapat perbedaan mendasar antara ajaran Buddha dengan ajaran agama-agama lainnya di dunia. Apakah itu? Bahwa ajaran Buddha bukan merupakan sebuah sistem kepercayaan (belief system). Sistem kepercayaan selalu dilandasi oleh iman atau keyakinan mutlak seseorang terhadap agama yang dianutnya. Sebaliknya Buddha selalu mengajar dengan memegang prinsip Ehipassiko yang dilandasi oleh pengalaman pribadi. Ehipassiko berarti datang dan buktikanlah sendiri Seorang buddhis tidak diminta untuk memercayai begitu saja ajaran yang diterima, tetapi justru untuk mengalaminya sendiri Dengan demikian terdapat dua corak dari agama-agama di dunia dewasa ini, yaitu berpusat pada Tuhan (theis-sentris) dan berpusat pada manusia (homo-sentris). Theis-sentris Berpusat pada Tuhan Berkembang dari agama wahyu dan cenderung bersifat eksternal Homo-sentris Berpusat pada manusia Didasarkan dari pengalamanpengalaman pribadi dan bersifat internal Contohnya adalah agama Buddha 1
10 India Sebelum Masa Buddha Gautama Sebagai salah satu tempat berkembangnya peradaban dan kebudayaan dunia, India telah menjadi tanah suci bagi banyak orang untuk mendalami hakikat hidup. Terdapat 2 pandangan yang lazim di India sebelum masa Buddha Gautama, yaitu Brahmanisme dan Sramanaisme. Apakah pandangan Brahmanisme dan Sramanaisme itu? Brahmanisme roh = jasmani nihilisme pemuasan nafsu Sramanaisme roh jasmanie eternalisme penyiksaan diri Pandangan Brahmanisme merupakan paham yang diturunkan dari bangsa Arya. Menurut paham ini, roh dan jasmani adalah satu. Dengan demikian apabila roh dan jasmani merupakan satu kesatuan, maka setelah kehidupan saat ini tidak ada lagi kehidupan selanjutnya (karena matinya badan jasmani akan berarti matinya roh atau jiwa). Inilah yang disebut paham nihilisme. Apa akibat dari mereka yang memegang pandangan ini? Karena beranggapan bahwa hidup hanya sekali dan tidak ada lagi kehidupan selanjutnya, maka seseorang akan terus-menerus memuaskan nafsu keserakahannya pada kehidupan ini. Berbeda dari pandangan Brahmanisme, pandangan Sramanaisme yang diturunkan oleh bangsa Dravida menganggap bahwa roh dan jasmani bukanlah satu kesatuan. Dan karena roh tidak sama dengan jasmani, maka matinya badan jasmani tidak berarti matinya roh atau jiwa. Roh dianggap sebagai sesuatu yang kekal dan abadi dan apabila pada saatnya seseorang meninggal, rohnya akan tetap ada dan harus berupaya menyatu dengan keabadian itu sendiri. Pandangan ini memunculkan paham eternalisme (kekekalan). Apa akibat dari mereka yang memegang pandangan ini? Karena 2
11 beranggapan bahwa roh akan terus ada, roh ini pada akhirnya harus berhenti dalam penyatuan dengan sesuatu yang disebut Maha Kekal. Dan untuk bisa menyatu dengan sesuatu Yang Maha Kekal, roh tersebut haruslah menjadi roh yang suci dahulu. Akibatnya seseorang akan terus melakukan penyiksaan diri (bahkan sampai berlebihan) dengan tujuan menyucikan rohnya sendiri. Kedua pandangan ini ditolak oleh Buddha Gautama dan pada akhirnya Sang Buddha menawarkan sebuah jalan alternatif yang kemudian disebut sebagai Jalan Mulia Berunsur Delapan (the eightfold path) atau Jalan Tengah (the middle way). Bagi umat Buddha ajaran yang dibabarkan oleh Buddha Gautama lebih dilihat sebagai sebuah pedoman hidup (the way of life) daripada sebatas agama. Mengapa? Karena apa yang ditawarkan oleh Buddha Gautama bukanlah sebuah sistem kepercayaan, melainkan sebuah pedoman yang sifatnya universal (dapat diterima oleh semua orang) agar manusia dapat menjalani hidupnya dengan lebih berarti. 3
12 BAB ii BUDDHA Sang Buddha dengan mudah dipilih sebagai satu-satunya orang yang dikenal sebagai manusia yang menerima pujian dari begitu banyak umat manusia Prof. Saunders, Literary Secretary YMCA, India, Myanmar, Ceylon Buddha merupakan sebuah sebutan atau gelar yang diberikan kepada seseorang yang telah mencapai Pencerahan (Enlightenment). Buddha sendiri tidak hanya satu. Namun secara historis pada zaman ini hanya dikenal satu Buddha yaitu Buddha Gautama. Buddha Gautama hidup di bagian utara India sekitar abad ke-6 SM. Nama pribadinya adalah Siddhartha sedangkan Gautama adalah nama keluarganya. Tabel Kronologi Hidup Buddha Gautama Tahun 563 SM 555 SM 547 SM Peristiwa Lahirnya Pangeran Siddhartha di Taman Lumbini. Pangeran Siddhartha adalah penerus kerajaan Kapilawastu dari suku Sakya. Ayahnya adalah Raja Suddhodana dan ibunya adalah Ratu Maha Maya Dewi Pangeran kecil melakukan meditasi untuk pertama kalinya. Acara ini berlangsung pada saat perayaan membajak sawah Pada usia 16 tahun Pangeran Siddhartha memenangkan sayembara dan menikahi Putri Yasodharā 4
13 Pada usia 29 tahun Pangeran Siddhartha memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawi dan menjadi seorang pertapa setelah melihat 4 peristiwa nyata yang pasti dialami setiap orang, yaitu: orang tua, orang sakit, orang mati, dan pertapa. Pada saat yang bersamaan lahir putera Beliau yang diberi 534 SM nama Rahula. Pangeran Siddhartha meninggalkan kehidupan duniawinya dilandasi atas rasa cinta kasihnya yang demikian besar kepada semua makhluk dengan tujuan mencari obat penawar (jalan keluar) dari ketiga utusan kehidupan (sakit, tua, dan mati) Pangeran Siddhartha melakukan pengembaraan dan SM pertapaan selama 6 tahun Pada usia 35 tahun, Pangeran Siddhartha duduk bermeditasi di bawah pohon Bodhi (Latin: Ficus Religiosa) dan mencapai Pencerahan. Semenjak saat itulah Beliau disebut sebagai Buddha (Yang Sadar). Setelah mencapai Penerangan Sempurna, Buddha 528 SM Gautama kemudian pergi menuju Taman Rusa Isipatana. Di sana Beliau bertemu dengan 5 orang pertapa dan membabarkan ajarannya untuk pertama kalinya (disebut sebagai Dharmacakkappavattana Sutta). Pada saat itulah mulai terbentuk Sangha (perkumpulan biksu) pertama di dunia Selama 45 tahun membabarkan ajarannya, Buddha Gautama telah memberikan inspirasi dan pencerahan SM bagi banyak orang (bahkan walau telah lama Beliau tiada, ajarannya masih dan akan terus menginspirasi banyak orang) 483 SM Wafatnya Buddha Gautama di Kusinara. (Catatan Editor: Tahun kehidupan Buddha Gautama sampai saat ini masih diteliti oleh para ahli. Tahun yang digunakan di sini adalah yang diduga lebih tepat oleh para ahli. ) 5
14 BAB iii AJARAN BUDDHA (DHARMA) Tinjauan Secara Ringkas Dua puluh lima abad yang lalu India menyaksikan suatu revolusi intelektual dan religius yang berpuncak pada runtuhnya monoteisme, keegoisan yang berkenaan dengan kependetaan, serta pendirian suatu agama sintetis; dengan suatu sistem pencerahan dan pandangan yang dengan tepatnya disebut Dharma [Ajaran Buddha], Agama Filosofis Anagarika Dharmapala, The World s Debt to Buddha Secara umum kita menyebut ajaran Buddha dengan sebutan Dhamma (bahasa Pali) atau Dharma (bahasa Sansekerta). Dharma sendiri dapat diartikan sebagai Kebenaran Sejati (Realitas Dunia). Entah seorang Buddha muncul atau tidak di dunia ini, Kebenaran Sejati itu selalu ada dan siap untuk ditemukan kembali oleh Buddha berikutnya. Oleh karena itu Buddha Gautama dalam Mahaparinibbana Sutta 1 menyebutkan bahwa: apa yang telah Beliau ajarkan sebagai Dharma dan Winaya 2 itulah yang kelak akan menjadi Guru (pengganti Beliau). Adapun intisari ajaran Buddha secara ringkas terdapat dalam Kitab Dhammapada 183: Janganlah berbuat jahat Tambahkanlah kebaikan Sucikan pikiran Inilah ajaran para Buddha 1 Terdapat pada Sutta Pitaka, salah satu bagian dari Tripitaka berbahasa Pali. 2 Berasal dari bahasa Pali, Vinaya, yang merujuk pada aturan bagi para biksu juga merupakan salah satu bagian dari Tripitaka berbahasa Pali yaitu Vinaya (baca: Winaya) Pitaka. 6
15 Empat Kebenaran Mulia Basic Buddhism Ajaran Buddha didasarkan pada Empat Kebenaran Mulia. Apakah Empat Kebenaran Mulia itu? 1. Kebenaran Mulia tentang Dukkha 2. Kebenaran Mulia tentang sebab dari Dukkha 3. Kebenaran Mulia tentang berakhirnya Dukkha 4. Kebenaran Mulia tentang jalan menuju lenyapnya Dukkha Kita dapat menganalogikan Kebenaran Mulia yang ditemukan oleh Buddha Gautama dengan perumpamaan seorang dokter. Ketika seorang pesakit datang menemui seorang dokter, maka dokter yang baik akan memeriksa apakah benar orang tersebut sedang sakit. Langkah kedua; setelah memastikan bahwa si pasien memang sakit, si dokter akan memeriksa apa penyebabnya. Nah, setelah mengetahui apa penyebab si pasien menjadi sakit, dokter yang baik harus bisa melihat bahwa sakit itu bisa disembuhkan. Dan untuk bisa disembuhkan, maka si dokter akan memberikan resep kepada si pesakit agar pesakit itu menjadi sembuh. Masih banyak orang yang menganggap bahwa ajaran Buddha adalah ajaran yang pesimistis. Mengapa demikian? Hal itu lebih disebabkan karena mereka tidak melihat ajaran Buddha secara utuh, hanya setengah-setengah. Ajaran Buddha boleh saja disebut ajaran yang pesimis hanya bila apa yang diajarkan oleh Buddha Gautama berhenti pada tahap 1 (mengetahui bahwa seseorang sedang sakit), tahap 2 (mengetahui sebabnya), atau tahap 3 (mengetahui bahwa sakit itu bisa disembuhkan). Tetapi Buddha Gautama juga mengajarkan tahap 4 sebagai puncak dari apa yang diketahuinya, yaitu menawarkan sebuah resep bagi si pesakit agar sembuh. Dengan demikian ajaran Buddha bukanlah ajaran yang pesimistis, namun sangat realistis. 7
16 Kebenaran Mulia tentang Dukkha Dukkha dalam bahasa Pali (bahasa India kuno) memiliki pemahaman yang sangat mendalam, namun secara umum kata dukkha diterjemahkan sebagai penderitaan atau ketidakpuasan (walau sebagian orang pun kurang setuju dengan pengertian diatas; ada pula yang beranggapan bahwa dukkha = duka dalam bahasa Indonesia). Harus diakui bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan manusia adalah dukkha. Mengapa demikian? Karena pengertian dukkha juga mencakup hal yang lebih mendalam, seperti ketidaksempurnaan, sakit, ketidakabadian, ketidaknyamanan, maupun ketidakpuasan. Dengan demikian tidak ada seorang pun yang dapat menyanggah bahwa hidup ini memang merupakan dukkha. Selalu terdapat ketidakpuasan, ketidaknyamanan, maupun ketidakabadian. Segala sesuatu akan terus berubah, bahkan terhadap hal-hal yang kita sebut sebagai sukkha (mirip dengan kata suka dalam bahasa Indonesia) atau kesenangan. Inilah prinsip dasar dari Kebenaran Mulia yang pertama. Kebenaran Mulia tentang Sebab dari Dukkha Sumber dari dukkha adalah tanha (nafsu keinginan yang tiada habisnya) dan avijja (ketidaktahuan). Oleh karena adanya ketidaktahuan inilah maka seseorang akan terus dan terus memupuk (bernafsu) pengalaman yang menyenangkan atau tidak, nafsu akan benda-benda material, nafsu akan hidup abadi (eksistensi terusmenerus), termasuk pula nafsu akan kematian abadi (pemusnahan diri). Apa bahaya dari ketidaktahuan (avijja)? Ketidaktahuan akan menyebabkan seseorang menjadi tidak mampu memahami esensi dari hidup itu sendiri. Ketidaktahuan akan menutupi celah-celah bagi seseorang untuk bisa melihat realitas hidup ini. Oleh karena itu keinginan yang berlebihan/keserakahan (tanha) dan ketidaktahuan (avijja) keduanya akan menyebabkan seseorang terus berputar dalam penderitaan hidup. Kebenaran Mulia tentang Berakhirnya Dukkha Dukkha sebagai salah satu sifat sejati segala sesuatu yang berkondisi ternyata memiliki akhir. Proses terhentinya dukkha inilah 8
17 yang dinamakan oleh umat Buddha sebagai Nibbana atau Nirwana 3. Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa Nirwana itu sendiri sebagai sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata, tidak bisa diwujudkan dalam kehidupan saat ini. Apabila demikian, maka itu bukanlah Nirwana menurut konsep buddhisme. Beranggapan demikian hanya akan membuat pengertian tentang Nirwana tidak jauh berbeda dari pengertian Tuhan. Kita meyakini bahwa apa yang Buddha Gautama ajarkan adalah hal-hal yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari saat ini juga. Sang Buddha tidak mengajar untuk kepentingan kehidupan setelah mati (life after death), tetapi Beliau mengajarkan untuk kepentingan kehidupan saat ini. Untuk itu Sang Buddha sendiri telah mengartikan Nirwana sebagai lenyapnya keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan batin (moha) 4. Dan Beliau menyatakan bahwa Nirwana 5 dapat direalisasikan (dialami) pada saat ini juga dalam kehidupan sehari-hari. Kebenaran Mulia tentang Jalan Menuju Lenyapnya Dukkha Sebagai solusi dari penderitaan yang dialami manusia, Buddha Gautama menawarkan sebuah jalan universal yang dapat digunakan sebagai pedoman hidup bagi manusia. Jalan ini disebut sebagai Hasta Ariya Magha atau Jalan Mulia Berunsur Delapan. 3 Nirwana berasal dari bahasa Sansekerta Nirvana. 4 Kebodohan batin berarti kebodohan dalam pikiran seseorang dimana ia tidak mau mengembangkan pandangannya terhadap hidup ini dan tidak mau membuka diri terhadap hal yang belum ia ketahui, menolak menerima realitas alam atau kebenaran sejati bahwa dunia ini selalu berubah dan tidak ada yang abadi. 5 Perlu dimengerti bahwa Nirwana bukan sebuah alam. Nirwana bukanlah surga. Nirwana adalah sebuah kondisi batin/pikiran. 9
18 Tabel Jalan Mulia Berunsur Delapan secara ringkas Mengembangkan Kebijaksanaan (Pañña) Mejalankan Moralitas (Sila) Melatih Pikiran (Samadhi) P a n d a n g a n Benar Pikiran Benar Ucapan Benar P e r b u a t a n Benar P e n c a h a r i a n Benar Daya Benar Upaya P e r h a t i a n Benar K o n s e n t r a s i Benar Pandangan hidup yang selaras dengan kebenaran sejati (relalitas), yakni: Empat Kebenaran Mulia, Tiga Corak Kehidupan (Tilakkhana), Kesalingterkaitan Antar Segala Sesuatu (Paticca-Samuppada), dan Hukum Sebab-Akibat (Karma) Pikiran yang bebas dari keserakahan, kebencian, dan kekejaman/kekerasan. Ucapan yang memenuhi 4 syarat: 1.Ucapan itu benar (sesuai kenyataan), 2.Ucapan itu beralasan (ada tujuan), 3.Ucapan itu bermanfaat, dan 4.Ucapan itu tepat pada waktunya Adalah perbuatan yang menghindari pembunuhan, pencurian, dan asusila Terdapat 5 sifat mata pencaharian yang harus dihindari: penipuan, ketidaksetiaan, penujuman, kecurangan, dan memungut bunga yang tinggi (lintah darat) Terdapat pula 5 macam pencaharian yang harus dihindari: berdagang alat senjata, makhluk hidup, daging, minum-minuman yang memabukkan, serta berdagang racun Terdiri dari 4 unsur, yaitu: mencegah munculnya unsur-unsur jahat, melenyapkan unsur-unsur jahat yang sudah ada, membangkitkan unsurunsur baik, dan mengembangkan unsur-unsur baik yang sudah ada Perenungan terhadap tubuh, perasaan, kesadaran, dan bentuk-bentuk pikiran Pemusatan pikiran sebagai bentuk latihan untuk melatih kesadaran, kontrol pikiran dari emosi, pemusatan pikiran untuk ketenangan dan pelatihan meditasi. 10
19 3 Corak Kehidupan (Ti l a k k h a n a) Basic Buddhism Hukum Tilakkhana termasuk Hukum Kebenaran Mutlak, artinya bahwa hukum ini berlaku dimana-mana dan setiap waktu (tidak terikat oleh waktu dan tempat). Hukum Tilakkhana ini mengacu pada 3 corak kehidupan yang pasti terjadi dan terdapat pada segala sesuatu yang berkondisi. Apa saja 3 corak kehidupan itu? 1. Sabba Sankhara Anicca (ketidakkekalan atau perubahan) Segala sesuatu dalam alam semesta yang terdiri dari perpaduan unsur-unsur adalah tidak kekal. Buddha Gautama melihat bahwa segala sesuatu dalam alam semesta ini sebagai suatu proses yang terus berubah atau berevolusi. 2. Sabbe Sankhara Dukkha (tidak memuaskan atau penderitaan) Bahwa segala sesuatu yang tidak kekal tersebut sesungguhnya tidak memuaskan dan oleh karena itu merupakan penderitaan (dukkha) karena tidak bisa menerima perubahan yang terjadi. 3. Sabbe Dharma Anatta (tidak ada jiwa yang abadi) Pada akhirnya akan kembali pada pengertian bahwa tidak ada yang dapat disebut sebagai Aku atau jiwa atau roh yang abadi karena semua bentuk selalu berubah. Jadi tidak ada yang namanya jiwa atau roh yang abadi. Semua itu hanyalah pandangan egoisme terhadap diri. 11
20 Perubahan (Anicca) Any speech which ignores uncertainty is not the speech of a sage Ajahn Chah Sudah menjadi sifat umum dari segala sesuatu yang berkondisi untuk selalu mengalami perubahan (impermanence). Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya tiada satu bentuk pun yang dapat dikatakan sebagai sesuatu yang kekal. Semua kondisi berjalan dengan sendirinya. Terkadang kita tertawa, di lain waktu kita menangis. Bahkan sejak kita dilahirkan di dunia ini, baik disadari ataupun tidak, kita terus menerus mengalami perubahan usia, karakter, intelektualitas dan kebijaksanaan. Bayi Anak-anak Remaja Dewasa Orang tua Meninggal Apakah kita bisa mencegah perubahan itu? Tidak ada ilmu pengetahuan yang bisa mencegah jalan alami ini. Kita semua tidak dapat mencegahnya. Dapatkah Anda mengeluarkan napas tanpa menghirupnya? Atau Anda hanya menarik napas tanpa mengeluarkannya? Tidak mungkin itu terjadi. Manusia ingin segala sesuatu agar kekal, tetapi tidak bisa. Itu adalah hal yang mustahil. Jika seseorang menyadari bahwa segala sesuatu adalah tidak kekal, pikirannya berangsur-angsur terbuka. Dan ketika ada sesuatu yang muncul, dia hanya akan mengatakan: Oh, satu lagi wujud perubahan. Penderitaan (Du k k h a) Ketika penderitaan muncul, tidak seorang pun yang dengan mudah bersedia menerimanya. Kecenderungan orang akan beranggapan bahwa penderitaan ini bukan milikku, kebahagiaan adalah milikku. Namun, hal itu justru semakin menjauhkan orang tersebut dari kedamaian dan malah terus membuatnya menderita. Kemelekatan (attachment) merupakan salah satu sifat dari 12
21 pengumbaran nafsu keinginan. Semakin seseorang melekat pada sesuatu, semakin sulit pula bagi dia untuk melepaskan diri dari penderitaan dan melihat kebijaksanaan. Tidak Ada Roh Yang Kekal (Anatta) Buddha Gautama menolak semua teori dan spekulasi mengenai jiwa sebagai sesuatu yang abadi atau kekal. Demikian juga jiwa yang sifatnya sementara maupun jiwa yang akan menyatu dengan sesuatu yang disebut Maha Abadi. Seluruh tubuh ini tersusun dari 4 elemen: tanah (unsur padatan), air (unsur cairan), api (unsur panas), dan angin (unsur gerak). Ketika semuanya bersatu dan membentuk tubuh, Ketika kita membuat roti, kita memakai tepung, ragi, gula, garam, mentega, susu, air, api, tenaga atau energi, dll. Tetapi setelah roti itu jadi, tidak mungkin kita akan menunjuk satu bagian tertentu dan mengatakan bahwa ini adalah tepungnya, ini menteganya, ini gulanya, dst. Karena setelah semua bahan diaduk menjadi adonan dan dibakar dalam oven, maka bahanbahan itu telah berubah sama sekali kemudian kita menamakannya sebagai pria, wanita, dan lain-lain. Tapi itu hanya nama saja, bukanlah diri. Disamping paham anatta (tanpa jiwa) yang merupakan ciri khas ajaran Buddha, terdapat pula 2 paham lain yang saling bertolak belakang dan sama-sama tidak dibenarkan oleh Buddha Gautama, yaitu: 1. Attavada paham bahwa roh/jiwa adalah kekal abadi dan akan berlangsung sepanjang masa 2. Ucchedavada paham bahwa setelah mati atma itupun akan turut lenyap 13
22 Hu k u m Ka r m a Kata Karma (berasal dari bahasa Sansekerta Karma) memiliki arti sebagai perbuatan yang dilandasi oleh kehendak yang diliputi keserakahan, kebencian dan kebodohan batin. Dalam Kitab Anguttara Nikaya Buddha Gautama bersabda: O bhikkhu, kehendak [diliputi oleh keserakahan, kebencian dan kebodohan batin] untuk berbuat itulah yang Kunamakan Karma. Sesudah berkehendak seseorang akan berbuat dengan badan jasmani, perkataan, atau pikiran. Selain itu Buddha Gautama juga mengajarkan bahwa segala sesuatu yang kita perbuat, maka kitalah yang akan memetik akibat dari perbuatan tersebut. Sesuai dengan benih yang ditabur, Begitulah buah yang akan dipetiknya. Pembuat kebaikan akan mendapat kebaikan, Pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Benih apapun yang engkau tabur, Engkau pulalah yang akan merasakan buah daripadanya. Samyutta Nikaya Konsep mengenai Hukum Karma 6 inilah yang menjelaskan mengapa terjadi berbagai bentuk ketidakseimbangan dalam hidup ini. Ada yang kaya, ada pula yang miskin; yang baik, ada pula yang jahat; yang cacat dan yang sempurna; yang pintar, yang bodoh, atau yang sedang-sedang saja; dan lain sebagainya. Mengapa hal ini terjadi? Ajaran Buddha tidaklah sebatas menyatakan sebab keberuntungan atau ketidakberuntungan yang diperoleh seseorang, namun lebih dalam lagi, yaitu mengenai apa yang menyebabkan perubahan itu. Namun, di mata kebanyakan orang (bahkan oleh umat Buddha sendiri), mereka melihat karma seperti takdir (fate) sebagaimana 6 Hukum Karma berarti hukum sebab-akibat. Karma sendiri berarti kehendak (diliputi keserakahan, kebencian dan kebodohan batin) yang terwujud dalam perbuatan. 14
23 yang diyakini oleh pemeluk agama lain. Sebagai contoh sering kali kita mendengar apabila seseorang sedang mengalami kesulitan maka dikatakan bahwa, Ah, itukan karmanya yang sedang berbuah. Hal ini merupakan sebuah kekeliruan karena sifat dan cara kerja dari karma sangat berbeda dengan konsep takdir. Karma tidaklah berjalan linear dalam sebuah garis lurus. Mengapa demikian? Karena apabila karma berjalan secara linear, maka tidak akan ada kesempatan bagi seseorang untuk terbebas dari penderitaannya. Bila kita hendak menyederhanakan cara kerja karma menurut pandangan Buddhis, maka cara kerja karma tidaklah berjalan linear bahwa momen saat ini dibentuk oleh masa lampau dan masa saat ini, dan tindakan saat ini tidak hanya membentuk masa depan tetapi juga masa saat ini. past present future Bagi seseorang yang telah terbebas, segala perbuatannya tidak lagi dilandasi oleh kehendak [yang diliputi kebencian, keserakahan dan kebodohan batin] dan oleh karena itu tidak dapat disebut sebagai karma. Karena telah memutuskan karma, maka berarti tidak ada lagi kelahiran kembali di alam penderitaan. Demikianlah telah tercapai Nibbana Bahaya Kemelekatan Dan Ke- Aku -An Dari Aku 7 timbullah kemelekatan. Dari kemelekatan terjadilah karma. Dari karma seseorang akan terus mengalami kelahiran kembali. Dari kelahiran kembali inilah terjadi penderitaan. 7 Aku yang dimaksud merujuk pada keegoisan, keinginan yang serakah. 15
24 Aku --- melekat --- karma --- kelahiran kembali --- penderitaan Apa yang diajarkan Buddha Gautama adalah melihat ke dalam diri sendiri (insight) dan menyadari bahwa tiada diri yang pantas disebut Aku. Untuk itu Buddha Gautama mengajarkan cara memutus akar dari penderitaan ini. Mengenai bahaya kemelekatan dan ke- Aku -an ini, terdapat sebuah kisah menarik yakni kisah Angulimala. Angulimala adalah seorang murid yang melekat pada pandangan salah dan terusmenerus membunuh untuk mengumpulkan 1000 ibu jari tangan manusia. Pada suatu ketika Sang Buddha melihat dengan kekuatan batin bahwa Angulimala akan membunuh ibunya sendiri. Dengan welas asih Sang Buddha menemui Angulimala dengan maksud untuk menyadarkannya. Melihat Sang Buddha datang, Angulimala mengejar dengan bersenjatakan pedang, tameng, anak panah, dan busurnya, mengikuti Sang Buddha dari jarak dekat. Namun, dengan kesaktian Beliau, Angulimala tidak dapat menyusul Sang Buddha walaupun dia telah berlari sekuat tenaga. Dengan terengah-engah dia berteriak: Tittha Samana! (Berhentilah pertapa). Yang menarik adalah jawaban dari Sang Buddha: Saya sudah berhenti. Engkau yang masih belum berhenti. Angulimala dengan keheranan bertanya: Apa maksudmu? Sang Buddha menjawab: Sudah berhenti nafsu saya, sudah berhenti ketamakan saya, sudah berhenti kegelapan batin (kebodohan batin) saya, saya sudah berhenti dari kelahiran kembali. Engkau yang masih berjalan terus. Engkau belum berhenti melakukan pembunuhan. Tersadar oleh perkataan Sang Buddha, Angulimala kemudian memutuskan untuk menjadi seorang biksu dan akhirnya mendapatkan kebahagiaan sejati. 16
25 Ke s a l i n g t e r k a i ta n An t a r Se g a l a Se s u a t u (Hu k u m Paticca Samuppada) Prinsip dari Hukum Paticca-samuppada ini adalah Dengan adanya ini, maka terjadilah itu Dengan timbulnya ini, maka timbullah itu Dengan tidak adanya ini, maka tidak adalah itu Dengan terhentinya ini, maka terhentilah pula itu Dari prinsip ini maka kita dapat melihat bahwa segala sesuatu tidak lebih dari sekedar hubungan (relation). Semua yang berkondisi akan saling bergantung untuk mempertahankan eksistensinya. Tidak ada di dunia ini yang dapat dianggap sebagai sesuatu yang permanen. Berdasarkan prinsip ini pula maka keseluruhan dari keberadaan segala sesuatu yang berkondisi dapat diterangkan dalam formula 12 mata rantai sebab-akibat, yaitu: 1. dengan adanya ketidaktahuan, maka terjadilah bentuk-bentuk karma 2. dengan adanya bentukbentuk karma, maka terjadilah kesadaran 3. dengan adanya kesadaran, maka terjadilah batin dan jasmani 4. dengan adanya batin dan jasmani, maka terjadilah enam indera Enam indera menurut buddhis adalah mata(penglihatan), telinga(pendengaran), lidah (pencicip), hidung (penciuman), kulit (peraba), dan pikiran (otak) 6. dengan adanya enam indera, maka terjadilah kesan-kesan (persepsi) 7. dengan adanya persepsi, maka terjadilah perasaan 8. dengan adanya perasaan, maka terjadilah nafsu keinginan 9. dengan adanya nafsu keinginan, maka terjadilah kemelekatan 10. dengan adanya kemelekatan, maka terjadilah proses menjadi 11.dengan adanya proses menjadi, maka terjadilah kelahiran kembali 17
26 12. dengan adanya kelahiran kembali, maka terjadilah usia tua, sakit dan kematian 13. (dan masih karena ketidaktahuan kita), kelapukan dan kematian itu sendiri adalah sebab dari kelahiran kembali Demikian proses ini terus berlanjut dan menyebabkan seseorang terus berputar di alam penderitaan dan menderita. Inilah hukum universal yang berlaku untuk semua hal yang berkondisi. Melihat urutan pertama dari keduabelas mata rantai sebab-akibat ini adalah ketidaktahuan (avijja), Buddha Gautama mengajarkan sebuah kebijaksanaan yang juga bersifat universal untuk memerangi ketidaktahuan tersebut. Inilah alasan mengapa ajaran Buddha Gautama disebut sebagai ajaran kebijaksanaan dan Buddha Gautama disebut sebagai manusia yang paling bijaksana. Hukum Alam (Niyama Dhamma ) Hukum ini bekerja dengan sendirinya dan bersifat universal. Terdiri dari: 1. Utu Niyama, Hukum ini mencakup semua fenomena anorganik, termasuk hukum-hukum dalam fisika dan kimia. Contohnya adalah hukum mengenai terbentuk dan hancurnya bumi, planet, tata surya, galaksi, temperatur, iklim, gempa bumi, angin, erupsi, dan segala sesuatu yang bertalian dengan energi. 2. Bija Niyama, Hukum ini mencakup semua gejala organik seperti dalam biologi. Contohnya adalah perkembangan hewan atau tumbuhan, mutasi gen manusia, pembuahan, proses perkembangbiakkan pada tumbuh-tumbuhan. 3. Kamma Niyama, Hukum Moralitas, yaitu Hukum sebabakibat (hukum karma). Segala tindakan sengaja atau tidak disengaja akan menghasilkan sesuatu yang baik atau buruk. 4. Citta Niyama, mengenai pikiran misalnya bagaimana proses kesadaran bekerja. Hukum ini bekerja pada memori manusia dan bagaimana psikis seseorang. Hukum ini mengatur 18
27 pertalian kerja antara sesuatu yang hidup dan mati. 5. Dhamma Niyama, mengenai segala sesuatu yang tidak diatur oleh keempat Hukum diatas. Hukum ini mencakup konsep abstrak yang dikembangkan manusia seperti dalam ilmu matematika dimana realitas alam dijelaskan dalam bentuk abstrak (tidak berwujud). De l a pa n Ko n d i s i Ya n g Ti d a k Da pa t Dihindari (Atthaloka Dhamma ) Dalam hidup ini tidak semuanya berjalan baik atau buruk. Hidup dapat diibaratkan seperti bunga mawar bunga yang indah namun berduri pada tangkainya. Bagi orang yang optimis akan menganggap bahwa dunia ini dipenuhi mawar. Bagi orang yang pesimistis akan menganggap bahwa hidup ini dipenuhi dengan duri. Bagi orang yang realistis, tidak akan melihat hidup ini hanya dari mawar atau durinya saja. Akan tetapi, ia memandang hidup ini diisi oleh mawar-mawar yang indah bersamaan dengan duri-duri yang tajam. Ia akan memandang bunga mawar apa adanya (ia mampu melihat kenyataan baik dan buruk yang datang silih-berganti). Buddha Gautama mengajarkan bahwa dalam hidup ada delapan kondisi yang pasti akan dialami oleh setiap manusia tanpa bisa dihindari (delapan lokadhamma). Delapan kondisi ini terdiri dari empat kondisi yang selalu diinginkan dan empat kondisi yang selalu tidak diinginkan untuk terjadi. Apa sajakah kedelapan kondisi itu? Kondisi yang diinginkan Untung (labha) Kemasyhuran (yaso) Dipuji (pasamsa) Bahagia (sukha) Kondisi yang tidak diinginkan Rugi (alabha) Tak terkenal (ayaso) Dicela (ninda) Menderita (dukkha) 19
28 Bagaimana kita menyikapi diri kita apabila mengalami salah satu dari delapan kondisi tersebut? Hendaknya kita dapat merenungkan: Kondisi itu timbul dalam diriku, tetapi ia tidak kekal dan dukkha (tidak memuaskan), sifatnya dapat berubah, harus diketahui sebagaimana adanya. Jadi dengan kata lain janganlah terlalu gembira akan hal-hal yang menyenangkan ataupun terlalu sedih dalam halhal yang tidak menyenangkan. Setelah mengetahui fakta kehidupan yang diajarkan oleh Buddha Gautama, kita menjadi tahu bahwa dalam hidup di dunia ini segalanya berjalan secara seimbang baik dan buruk akan silih-berganti. Tidak akan ada orang yang selamanya akan mengalami kebaikan dan tidak akan ada orang yang mengalami keburukan selamanya. Pada saat kita menerima kebaikan maka kita harus siap mengalami keburukan, demikian pula sebaliknya. Dharma Pelindung Dunia (Lo k a pa l a d h a m m a) Manusia boleh jadi merupakan makhluk yang paling mendominasi di dunia ini. Dengan kemampuan berpikir dan dilandasi oleh ego, manusia telah berhasil mengubah wajah bumi ini dan menyebabkan banyak ketidakseimbangan yang terjadi. Kita dapat melihat bukti nyata dari tindakan manusia yang merusak lingkungan, menghancurkan peradaban, dan bahkan pada hal yang mendasar sekalipun hubungan antar manusia. Namun sesungguhnya manusia juga dapat melakukan hal sebaliknya dan menjaga dunia ini dari kekacauan. Apa itu? Lokapaladhamma adalah jawabannya, yaitu: Hiri Ottappa Perasaan malu untuk melakukan hal-hal yang tidak baik Perasaan takut untuk menerima akibat dari perbuatan yang tidak baik tersebut Hiri dan Ottappa inilah dasar pembentuk latihan moralitas (sila). 20
29 Lima Aturan Buddhis (Pancasila Buddhis) Terdiri dari 5 aturan yaitu: 1. Bertekad menghindari menyakiti makhluk hidup (manusia dan hewan) 2. Bertekad menghindari pengambilan barang yang tidak diberikan 3. Bertekad menghindari perbuatan asusila 4. Bertekad menghindari ucapan tidak benar 5. Bertekad menghindari makanan atau minuman yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran dan menimbulkan ketagihan. Sepuluh Kesempurnaan (Dasa Paramita) Sepuluh kesempurnaan dalam kebajikan yang harus dilatih oleh seorang umat Buddha: Dana Sila Nekkhamma Pañña Viriya Dermawan, gemar menolong orang lain Ada beberapa macam bentuk dana, yaitu: dana materi, dana dengan mengorbankan kepentingan pribadi, dana dengan mengorbankan diri sendiri, dan dana ajaran kebenaran sebagai dana tertinggi Moralitas Terdiri dari: 5 aturan buddhis (Pancasila Buddhis) dan 8 aturan buddhis (atthasila) untuk umat Buddha; 10 aturan buddhis (bagi calon biksu/biksuni), dan aturan kebiksuan (aturan bagi biksu/biksuni) Mengurangi keinginan-keinginan Kebijaksanaan Tekun, bersemangat, ulet 21
30 Khanti Sacca Adhitthana Metta Sabar, dapat memaafkan kesalahan orang lain dengan tulus Kejujuran dan menepati janji Teguh dalam tekad, tak tergoyahkan Cinta kasih luhur, tanpa perbedaan Upekkha Keseimbangan batin, tidak terlena dalam kesenangan dan tidak putus asa ketika menderita. 4 Sifat Luhur (Br a h m av i h a r a) Brahmavihara adalah empat sifat luhur tanpa batas. Empat sifat luhur ini sangat dianjurkan untuk dikembangkan untuk mendapatkan kedamaian sejati Metta Karuna Mudita Upekkha Cinta kasih yang universal welas asih kepada semua makhluk Rasa empati yang mendalam Ketenangseimbangan An j u r a n Ke pa d a Um a t Bu d d h a Pe r u m a h Ta n g g a (Sigalovada Sutta) 4 cacat dalam tingkah laku yang harus disingkirkan 1. Membunuh 2. Mengambil apa yang tidak diberikan (mencuri) 3. Berbuat asusila 4. Mengucapkan kata-kata yang tidak benar (berbohong) 22
31 6 jalan menghabiskan harta kekayaan yang harus dihindari 1. Ketagihan minuman keras 2. Sering mengunjungi tempat pelesiran (lokalisasi) 3. Sering berkeliaran di jalanan pada waktu yang tidak layak 4. Gemar berjudi 5. Pergaulan yang tidak baik 6. Kebiasaan bermalas-malasan 6 bahaya bagi seseorang yang ketagihan minuman keras 1. Harta akan habis 2. Sering bercekcok dengan orang lain 3. Mudah terserang penyakit 4. Watak baik akan hilang 5. Menampakkan diri secara tidak pantas 6. Kecerdasan menurun 6 bahaya bagi seseorang yang sering mengunjungi tempat pelesiran Ia akan selalu berpikir: 1. Dimanakah ada tarian? 2. Dimanakah ada nyanyi-nyanyian? 3. Dimanakah ada musik? 4. Dimanakah ada pertunjukkan? 5. Dimanakah ada pertunjukkan? 6. Dimanakah ada yang pukul gembreng? 7. Dimanakah ada yang pukul gendang? 23
32 6 bahaya bagi seseorang yang sering berkeliaran di jalanan pada waktu yang tidak layak 1. Dirinya sendiri tidak terjaga dan terlindungi 2. Anak istrinya tidak terjaga dan terlindungi 3. Hartanya tidak terjaga dan terlindungi 4. Sering dituduh melakukan kejahatan (yang masih belum terungkap) 5. Menjadi sasaran segala macam desas-desus 6. Akan mengalami banyak kesulitan lain 6 bahaya bagi seseorang yang gemar berjudi 1. Jika menang, ia akan dibenci orang 2. Jika kalah, ia hanya dapat meratapi hartanya yang hilang 3. Ia menghambur-hamburkan hartanya yang berharga 4. Di pengadilan, ucapannya dianggap tidak berharga 5. Ia dipandang rendah oleh kawan dan lawan 6. Ia tidak disukai oleh orang yang mencari menantu, karena seorang penjudi tidak dapat memelihara keluarganya dengan baik 6 bahaya bagi seseorang yang mempunyai pergaulan yang tidak baik 1. Setiap penjudi adalah kawannya 2. Setiap orang yang nakal (asusila) adalah kawannya 3. Setiap pemabuk adalah kawannya 4. Setiap pembohong adalah kawannya 5. Setiap penipu adalah kawannya 6. Setiap tukang berkelahi adalah kawannya 24
33 6 bahaya bagi seseorang yang mempunyai kebiasaan bermalasmalasan Ia tidak bekerja dengan alasan: 1. Masih terlalu dingin 2. Masih terlalu panas 3. Masih terlalu pagi 4. Masih terlalu siang 5. Masih terlalu lapar 6. Masih terlalu kenyang sehingga semua pekerjaan yang harus ia lakukan, tidak dikerjakan 4 macam manusia yang harus dianggap sebagai musuh yang berpura-pura menjadi sahabat Orang yang sangat tamak Orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat apa-apa Ciri-ciri: 1. Ia sangat tamak 2. Memberi sedikit, tapi meminta banyak 3. Melakukan kewajiban karena takut 4. Hanya ingat kepentingannya sendiri Ciri-ciri: 1. Ia mengeluarkan pernyataan bersahabat mengenai hal-hal yang telah lewat 2. Ia mengeluarkan pernyataan bersahabat mengenai hal-hal yang akan datang 3. Ia berusaha mendapatkan perhatianmu dengan kata-kata kosong 4. Tetapi, jika saatnya tiba untuk memberikan jasa kepadamu, ia menyatakan tidak sanggup 25
34 Seorang penjilat Seorang pemboros Ciri-ciri: 1. Ia membiarkan engkau berbuat salah 2. Ia tidak menganjurkan engkau berbuat baik 3. Di depanmu ia memuji-muji 4. Di belakangmu ia menjelek-jelekkan dirimu Ciri-ciri: Ia menjadi sahabatmu jika: 1. Engkau menyerah pada minuman keras 2. Engkau sering berkeliaran di jalanan pada waktu yang tidak layak 3. Engkau sering mengunjungi tempat pelesiran 4. Engkau gemar berjudi 4 macam manusia yang harus dipandang sebagai sahabat yang berhati tulus Sahabat yang suka menolong Ciri-ciri: 1. Ia menjaga dirimu sewaktu engkau sedang tidak siaga 2. Ia menjaga milikmu sewaktu engkau sedang lengah 3. Ia akan melindungimu sewaktu engkau sedang ketakutan 4. Jika engkau mau mengerjakan sesuatu, ia akan membantumu dengan bekal dua kali dari apa yang engkau butuhkan 26
35 Sahabat di waktu senang dan susah Sahabat yang suka memberi nasehat baik Sahabat yang selalu memperhatikan keadaanmu Ciri-ciri: 1. Ia menceritakan rahasianya kepadamu 2. Ia merahasiakan rahasiamu 3. Jika engkau dalam kesusahan, ia tidak akan meninggalkanmu 4. Ia bahkan bersedia mengorbankan nyawanya untuk membela dirimu Ciri-ciri: 1. Ia akan mencegah engkau berbuat salah 2. Ia menganjurkan engkau berbuat baik 3. Ia memberitahukan apa yang belum pernah engkau dengar 4. Ia menunjukkan jalan menuju kebahagiaan Ciri-ciri: 1. Ia tidak bergembira atas bencana yang menimpa dirimu 2. Ia turut bergembira atas keberhasilanmu 3. Ia mencegah orang lain berbicara jelek tentang dirimu 4. Ia menyetujui setiap orang yang memuji dirimu Dalam agama Buddha, pengormatan dilambangkan dengan berbagai arah. Setiap arah mewakili makna yang dianjurkan untuk dilaksanakan. 27
36 Arah Timur: hubungan orang tua anak 5 cara seorang anak memperlakukan orang tuanya: 1. Menunjang mereka ketika sudah dewasa 2. Melakukan kewajiban sebagai anak yang berbakti 3. Menjaga baik kehormatan keluarga 4. Menjaga baik harta warisan 5. Mengurus persembahan kepada sanak keluarga yang telah meninggal 5 cara orang tua menunjukkan kecintaan kepada anaknya: 1. Mencegah anaknya berbuat jahat 2. Menganjurkan anaknya berbuat baik 3. Melatih anaknya bekerja mandiri 4. Mencarikan pasangan yang sesuai untuk anaknya 5. Pada waktunya menyerahkan warisan kepada anaknya Arah Selatan: hubungan guru murid 5 cara seorang murid memperlakukan gurunya: 1. Bangun dari tempat duduk (sebagai bentuk penghormatan) 2. Melayani gurunya 3. Bertekad keras mengajar 4. Memberikan jasa-jasanya 5. Memperhatikan dengan baik waktu diberi pelajaran 5 cara seorang guru mencintai muridnya: 1. Melatih muridnya dengan baik sesuai keahlian yang dimiliki 2. Membuat muridnya menguasai pelajaran yang diberikan 3. Mengajar secara mendalam semua ilmu yang dikuasainya 4. Bicara baik tentang muridnya kepada sahabat dan kenalannya 5. Menjaga muridnya dari setiap segi 28
37 Arah Barat: hubungan suami istri Basic Buddhism 5 cara seorang suami memperlakukan istrinya: 1. Memperhatikan kebutuhan istrinya 2. Bersikap lembut 3. Setia kepada istrinya 4. Memberi kekuasaan tertentu (mengatur rumah, menjaga anak, dsb) kepada istrinya 5. Memberi perhiasan kepada istrinya 5 cara seorang istri mencintai suaminya: 1. Melakukan tugasnya dengan baik 2. Ramah-tamah kepada keluarga dari kedua belah pihak 3. Setia kepada suaminya 4. Menjaga baik barang yang dibawa suaminya 5. Pandai dan rajin mengurus rumah tangga Arah Utara: hubungan antar sahabat 5 cara seseorang harus memperlakukan sahabatnya: 1. Bermurah hati kepada mereka 2. Ramah-tamah kepada mereka 3. Berbuat baik kepada mereka 4. Menjamu mereka seperti menjamu diri sendiri 5. Menepati janji kepada mereka 5 cara seorang sahabat akan mencintai orang tersebut: 1. Melindunginya ketika ia tidak siaga 2. Menjaga juga harta bendanya 3. Waktu dalam bahaya, mereka akan melindunginya 4. Waktu dalam kesusahan, mereka tidak akan meninggalkannya 5. Senantiasa menghormatinya 29
38 Arah Bawah: hubungan majikan bawahan 5 cara seorang majikan memperlakukan bawahannya: 1. Memberi pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan 2. Memberi makanan dan gaji yang sesuai 3. Memberi perawatan ketika sakit 4. Membagi makanan enak pada waktu-waktu tertentu 5. Memberi libur pada waktu-waktu tertentu 5 cara seorang bawahan mencintai majikannya: 1. Bangun lebih pagi dari majikan 2. Tidur setelah majikan tidur 3. Berterima kasih atas perlakuan yang mereka terima 4. Bekerja dengan baik 5. Memuji majikan di mana pun juga Arah Atas: hubungan biksu atau biksuni umat awam 5 cara seorang umat awam memperlakukan para biksu atau biksuni: 1. Dengan perbuatan penuh kasih sayang 2. Dengan ucapan ramah-tamah 3. Dengan pikiran penuh kasih sayang 4. Dengan selalu membuka pintu untuk mereka 5. Dengan memberikan keperluan hidup mereka 6 cara seorang biksu atau biksuni mencintai umat awam: 1. Mencegah mereka berbuat jahat 2. Menganjurkan mereka berbuat baik 3. Mencintai mereka dengan pikiran penuh kasih sayang 4. Mengajar sesuatu yang mereka belum pernah dengar 5. Memperbaiki dan menjelaskan sesuatu yang mereka pernah dengar 6. Menunjukkan mereka jalan menuju kebahagiaan 30
39 Empat Syarat Kebahagiaan (Vyagghapajja Sutta) Terdapat 4 syarat untuk kebahagiaan dalam hidup sekarang ini, yaitu: 1. Utthanasampada: rajin dan bersemangat dalam bekerja untuk mendapatkan penghidupan yang baik 2. Arakkhasampada: menjaga dengan hati-hati kekayaan yang diperoleh secara benar 3. Kalyanamitta: memiliki teman-teman yang baik yang dapat memberikan nasihat, yang penuh keyakinan (saddha), taat aturan (sila), penuh kedermawanan (caga), dan penuh kebijaksanaan (pañña) 4. Samajivikata: hidup sesuai dengan batas-batas kemampuan Terdapat pula 4 macam kebahagiaan bagi umat Buddha yang berkeluarga, yaitu: 1. Atthi Sukha :kebahagiaan karena memiliki kekayaan 2. Bhoga Sukha :kebahagiaan karena mempergunakan kekayaan 3. Anana Sukha :kebahagiaan karena tidak memiliki hutang 4. Anavajja Sukha :kebahagiaan karena tidak melakukan perbuatan tercela Li m a Ke l o m p o k Pe n y u s u n Ke h i d u pa n (Pa n c a Kh a n da) Menurut ajaran Buddha, seorang manusia terdiri dari lima kelompok kegemaran/kehidupan (Khanda) yang saling bekerja sama dengan erat sekali, yaitu: Rupa Rupa Bentuk/tubuh/badan jasmani Kita menangkap suatu rangsangan melalui kelima indera kita yang merupakan bagian dari tubuh 31
40 Nama Viññana Sañña Sankhara Vedana Kesadaran Pikiran kita tahu ada rangsangan Persepsi Rangsangan diterima oleh otak, pikiran mulai berusaha membedakan baik atau buruk Pemikiran Rangsangan yang diterima otak ini kita banding-bandingkan dengan pengalaman kita yang terdahulu melalui gambaran-gambaran yang tersimpan dalam pikiran kita Perasaan Dengan membanding-bandingkan ini lalu timbul suatu perasaan suka atau tidak suka Wawasan Ke Dalam (Merenung Ke Dalam Diri) Bagi sebagian orang mungkin akan bertanya-tanya mengapa umat Buddha sering kali melakukan meditasi, mengapa umat Buddha sering kali berbicara mengenai hal-hal dan upaya-upaya untuk melihat ke dalam diri. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan perbedaan konsep yang mendasari keduanya. Bagi pemeluk agama lain segala sesuatu telah ditakdirkan dan untuk itu manusia hanya perlu menjalankan hidupnya sesuai dengan kehendak Yang Di Atas. Sebaliknya seorang buddhis akan melihat bahwa hidupnya ditentukan oleh dirinya sendiri. Penderitaan akan disebabkan oleh dirinya sendiri, demikian pula sebaliknya bahwa Kebahagiaan disebabkan diri sendiri dan Ajaran Buddha mengajarkan cara untuk mencapai kebahagiaan dengan upaya sendiri. Jika Anda merasa alergi pergi ke suatu tempat, maka Anda akan merasa alergi di semua tempat. Namun bukan tempat di luar Anda 32
41 yang menyebabkan masalah (Anda alergi di tempat itu), melainkan tempat di dalam Anda Ajahn Chah Pikiran Dan Kesadaran Pikiran mendahului semua kondisi batin, pikiran adalah pelopor Ssegalanya diciptakan oleh pikiran Buddha Gautama Pada suatu kesempatan ketika seseorang sedang kuliah dan mendengar penjelasan dosennya, bisa saja dia berpikir: Kalau begitu rumus yang digunakan adalah ini, rumus kedalaman pondasi adalah ini, sedangkan rumus tiang pancang adalah ini. Ini biasa kita sebut sebagai proses berpikir. Jadi sesungguhnya apa itu pikiran? Pikiran adalah respon dari rangsangan. Dan harus kita akui bahwa kemampuan otak (sebagai pusat olah pikir manusia) adalah sangat menakjubkan. Bahkan gerak refleks pun dikarenakan proses berpikir yang cepat sekali. Dan salah satu hal yang diajarkan Buddha Gautama adalah mengamati pikiran. Mengapa? Karena pikiran inilah yang membentuk ke- Aku -an (ke-ego-an), membentuk bentukbentuk pikiran yang lain yang melekat pada sesuatu, yang tidak menyenangi sesuatu, dan lain-lain; yang pada akhirnya akan berujung pada penderitaan kita. Buddha Gautama mengatakan bahwa pikiran adalah sukar ditaklukkan. Memang benar demikian. Kecenderungan manusia menaklukkan pikiran dengan ilmu pengetahuan (dengan kata lain berpikir lagi). Namun, justru sebaliknya Buddha Gautama mengajarkan bahwa pikiran hanya dapat ditaklukkan apabila pikiran ini tenang, diam sehingga dengan mudah diamati, dan untuk itulah seorang buddhis melakukan meditasi vipassana. Apa yang diamati? Menyadari bahwa segala sesuatu akan timbul dan tenggelam sebagaimana mestinya itulah kesadaran 33
42 (awareness). Untuk menyadari hal ini diperlukan kewaspadaan. Waspadai terus-menerus setiap bentuk pikiran dan pemikiran (proses berpikir) yang muncul. Jangan disesali, jangan dilekati. Jangan terbawa arus. Cukup disadari saja tanpa perlu menganalisis darimana munculnya pikiran-pikiran tersebut. Inilah yang disebut sebagai kesadaran pasif (passive awareness atau choiceless awareness). Setelah pikiran dapat ditaklukkan, barulah kita akan menyadari sepenuhnya apa yang dimaksud dengan perubahan (anicca-dukkhaanatta). Runtuhlah tembok ke- Aku -an dan kemelekatan. Berakhirlah kelahiran kembali dan penderitaan. Me d i t a s i We don t meditate to see heaven, but to end suffering If you have time to be mindful, you have time to meditate Ajahn Chah Meditasi (samadhi) merupakan suatu bentuk latihan spiritual bagi umat Buddha. Seperti yang telah kita ketahui bahwa hakikat dari kehidupan ini adalah penderitaan karena segala sesuatu akan selalu mengalami perubahan dan tidak dapat kita pertahankan. Namun, sayangnya sebagai manusia kita menjadi terlalu larut dalam perubahan itu dan tidak menyadari bahwa sesungguhnya ada jalan untuk memutuskan penderitaan ini. Meditasi bertujuan untuk melihat esensi diri dan sampai pada akhirnya kita menyadari bahwa segala sesuatu tidaklah kekal (impermanence) sehingga membantu pengembangan pandangan benar. Untuk bisa melihat bahwa segala sesuatu itu tidaklah kekal, maka pikiran ini harus 2 jenis meditasi: 1. Samatha bhavana adalah pengamatan (perenungan) pada satu objek. 2. Vipassana bhavana adalah pengamatan (perenungan) pada beberapa objek. Meditasi tersebut dapat dilakukan terpisah atau secara bersama-sama. Ketika ke dua jenis meditasi tersebut telah sempurna, maka mendukung pengembangan pandangan benar. 34
43 diam jangan malah terlarut dalam perubahan. Ketika sedang diam inilah, maka baru perubahan yang muncul dapat diamati dan disadari. Namun, selama bermeditasi pun pasti terdapat rintangan yang muncul dan bisa menjadi penyebab kegagalan meditasi seseorang. Rintangan tersebut sebenarnya sudah ada dalam kehidupan kita sehari-hari namun akan tampak semakin jelas ketika kita berupaya untuk mengamati pikiran ini. Lima rintangan batin (nivarana) dalam meditasi 1. Thinamiddha kelambanan, kemalasan, kebosanan Ibarat terdapat sebuah kolam dan kita hendak melihat ke dasar kolam tersebut, maka keadaan pikiran yang malas dan bosan dapat diibaratkan sebagai kolam yang permukaannya penuh lumpur pekat sehingga kita tidak dapat melihat dasar kolam 2. Uddhaccakukkuca kekacauan, kegelisahan, kekhawatiran Ibarat kolam yang beriak/bergelombang karena angin 3. Vicikiccha keragu-raguan Ibarat melihat kolam pada waktu gelap atau tidak ada penerangan 4. Kamacchanda keinginan Ibarat kolam yang permukaannya dipenuhi bunga-bunga cantik 5. Byapada ketidaksenangan Ibarat kolam dengan air yang mendidih Hi d u p Di Si n i Da n Pa d a Sa a t In i Dalam kehidupan sehari-hari, pikiran cenderung untuk lari kesana-kemari. Pikiran dengan mudahnya terbawa arus kehidupan. Sesaat kita menyesali tindakan-tindakan kita yang telah lampau kadang menyakitkan, kadang menyenangkan, atau bahkan biasa-biasa saja. Namun, sedetik kemudian yang kita pikirkan adalah hal-hal yang 35
44 kita kehendaki untuk terjadi kedepannya memikirkan masa depan kita. Inilah hal yang dengan lebih jelas kita lihat dan amati ketika kita sedang bermeditasi. Memikirkan sesuatu yang telah lewat tidaklah ada gunanya dan memikirkan sesuatu yang akan datang belumlah pasti. Bila pikiran selalu mengarah ke masa lampau atau ke masa depan, maka kita hanya hidup dalam bayang-bayang. Agar dapat hidup sehidup-hidupnya, maka seharusnya seseorang hidup disini dan pada saat ini (here & now). Dengan demikian maka seseorang hidup dalam setiap detik yang berharga. Ibarat sebuah alur sungai, kita melihat tegak lurus alur tersebut sehingga membentuk sebuah tampang cross-section. Apabila terdapat ikan, sepatu, batang pohon, dll yang mengalir dari hulu menuju ke hilir, kita hanya cukup melihat pada tampang itu saja. Itu sudah cukup bagi kita untuk mengetahui bahwa ada ikan, sepatu, batang pohon, dll yang memang ada dan akan lewat. Tidak perlu bagi kita untuk ingin tahu sebelumnya apa yang akan kita lihat (the future) atau mengikuti arus untuk melihat benda-benda yang sama dengan yang telah kita lihat tadi sebelumnya (the past). Dan ada satu kata sepakat, bahwa pikiran itu liar dan sulit ditaklukkan. Inilah mengapa kita melakukan meditasi. Here & now future past 36
45 Bagaimana Cara Memperlakukan Ajaran Buddha? Mengenal lebih dekat ajaran Buddha merupakan suatu kebahagiaan dan keberuntungan bagi umat manusia. Namun bagaimana cara kita harus memperlakukan ajaran Buddha? Tak dapat dipungkiri bahwa keyakinan yang mendalam terhadap ajaran Buddha bisa jadi malah menyebabkan fanatisme yang membelenggu. Oleh karena itu Buddha Gautama bersabda: Perlakukan Dharma [Ajaran Buddha] yang Kuajarkan sebagai rakit yang digunakan untuk menyeberangi sungai dan bukan untuk terus engkau pegangi saja. O, biksu, bila kamu mengerti dengan baik ajaranku yang dapat diumpamakan sebagai rakit maka kamu seharusnya tidak lagi melekat kepada hal-hal yang baik, terlebih lagi kepada hal-hal yang tidak baik Alagaddupama Sutta, Kitab Majjhima Nikaya 22 37
46 BAB iv Sangha (Kelompok BHIKKHU Atau BHIKKHUNI) Agama Buddha adalah agama misionari yang pertama dalam sejarah kemanusiaan dengan suatu pesan keselamatan yang universal bagi semua umat manusia. Sang Buddha setelah mencapai Pencerahan/ Penerangan Sempurna, mengutus enam puluh satu siswanya ke berbagai arah yang berlainan dan meminta mereka untuk membabarkan Dharma demi kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Dr. K.N. Jayatilleke, Buddhism and Peace Sebagai seorang biksu atau biksuni buddhis, mereka haruslah meninggalkan kehidupan berumah tangga. Para biksu atau biksuni biasa hanya memiliki sedikit barang, seperti jubah, mangkuk (patta), dan pisau untuk mencukur rambut. Kepala dicukur Ketika banyak orang ingin untuk mempunyai rambut yang bagus dan menghabiskan banyak uang dan waktu untuk menata rambutnya, para biksu atau biksuni buddhis mencukur rambut mereka. Dengan demikian sangat mudah untuk mengenali para biksu atau biksuni buddhis melalui kepala mereka yang tercukur. Mangkuk (Patta) Berdana makanan kepada para biksu atau biksuni merupakan bagian dari praktik dan tradisi buddhis. Di Asia Tenggara tidaklah jarang untuk melihat para biksu atau biksuni berjalan dari rumah ke rumah pagi-pagi sekali untuk menerima dana makanan. Karena para biksu atau biksuni tidak diperbolehkan untuk memilah-milah makanan yang mereka terima, mereka belajar untuk berterima kasih atas apa yang telah diberikan. Praktik ini berguna sebagai latihan mengurangi keserakahan dan mengembangkan rasa syukur (bagi para 38
47 biksu atau biksuni), serta latihan memberi dan ketulusan (bagi umat yang berdana). Jubah Pada awalnya para biksu atau biksuni hanya mempunyai 3 jubah. Ketika ajaran Buddha menyebar ke negara-negara yang lebih dingin seperti Cina dan Jepang, maka mereka membutuhkan lebih banyak lapisan untuk menjaga badan agar mereka agar tetap hangat. Jubahnya pun didesain lebih simpel dan terbuat dari kain katun atau linen. Warna dari jubah para biksu atau biksuni berbeda di masingmasing negara dan tergantung pula dari tradisi yang mereka anut. Sebagai contoh, di Sri Lanka dan Thailand jubah dengan warna kuning kecoklatan lebih sering dijumpai, sedangkan hitam dipakai di Jepang. Di Cina dan Korea, para biksu atau biksuni mengenakan jubah berwarna abu-abu dan coklat, sedangkan merah kehitam-hitaman dipakai di Tibet. Sangha adalah persaudaraan para biksu atau biksuni. Sangha sendiri terdiri dari 2 yaitu Ariya Sangha (bagi mereka yang sudah mencapai salah satu dari 4 tingkat kesucian), dan Sammutti Sangha (bagi mereka yang belum mencapai tingkat kesucian). Makna Sangha sebagai tempat perlindungan umat Buddha adalah Ariya Sangha Keunikan Ajaran Buddha Jika ada suatu agama yang akan memenuhi tuntutan kebutuhan ilmu pengetahuan modern, maka agama tersebut adalah agama Buddha Albert Einstein Bentuk Keyakinan Dalam Buddhis (Kalama Sutta) Khotbah Buddha Gautama kepada suku Kalama dari Kesaputta merupakan sebuah khotbah yang terkenal karena instruksi Buddha Gautama yang mendorong untuk melakukan penyelidikan 39
48 yang mendalam terhadap sesuatu (hal/keyakinan/kepercayaan), yang terbebas dari fanatisme atau sekedar kepercayaan membuta. Berikut isi dari Kalama Sutta: Jangan percaya pada sesuatu (semata-mata) Hanya karena engkau telah mendengarnya. Jangan percaya pada tradisi-tradisi hanya karena tradisi itu telah diturunkan dari generasi ke generasi. Jangan percaya pada sesuatu hanya karena hal itu diucapkan dan dibicarakan oleh banyak orang. Jangan percaya pada sesuatu (semata-mata) hanya karena hal itu tertulis di kitab suci agamamu. Jangan percaya pada sesuatu semata-mata hanya karena kekuasaan guru-gurumu Dan mereka yang lebih tua. Tetapi setelah mengamati dan menganalisis, Ketika engkau dapati bahwa sesuatu itu sesuai dengan akal sehat dan mampu membawa pada kebaikan dan manfaat bagi seseorang dan semua makhluk, maka terimalah hal itu dan hiduplah sesuai dengannya Anguttara Nikaya 40
49 BAB v KEUNIKAN AJARAN BUDDHA Memang benar bahwa agama Buddha seperti yang kita temukan benar-benar tercatat, bukanlah merupakan suatu sistem hipotesis kuno, yang masih tetap merupakan tantangan bagi agamaagama lainnya Bishop Gore, Buddha and the Christ Ada enam segi yang selalu terdapat dalam agama-agama di dunia agar bisa bertahan. Apa sajakah keenam segi tersebut? Tabel 6 Segi yang dibutuhkan oleh agama-agama dunia Otoritas Upacara keagamaan Renungan spekulatif Tradisi Dibutuhkan sebuah sistem yang bersifat otoritas sehingga para pemeluknya dapat menghormati dan menuruti ajaran dari agama tesebut Memegang peranan penting dan tidak dapat dipisahkan dalam ibadah sehari-hari Renungan yang bersifat spekulatif artinya hanya dapat diraba-raba, namun tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Sebagai contoh pertanyaan mengenai eksistensi Tuhan. Setiap agama memiliki jawabannya masing-masing namun dengan mudah dapat dipatahkan Agama berkembang menjadi tradisi yang paling kuat dan diturunkan dari generasi ke generasi 41
50 Kekuasaan rahmat Ilahi Misteri dan Mempercayai kekuasaan Tuhan atau sesuatu yang Di Atas sebagai penentu kehidupan manusia Adanya keterkaitan antara agama dengan kekuatan mukjizat, kekuatan Ilahi, dan lain sebagainya Inilah enam segi yang dibutuhkan oleh agama-agama di dunia agar bisa bertahan. Namun Buddha Gautama menawarkan sebuah master piece yang hampir sepenuhnya terbebas dari keenam segi diatas. Tabel keunikan ajaran Buddha Tidak otoritas Tanpa keagamaan mengenal upacara Tanpa renungan spekulatif Semua memiliki kemampuan untuk melepaskan diri dari belenggu dan mencapai Nirwana Tidak harus menuruti perintah dari pihak otoriter karena berpegang pada prinsip ehipassiko (lakukan & buktikan sendiri) Buddha Gautama mengajarkan bahwa percaya pada upacara-upacara keagamaan yang salah termasuk salah satu dari 10 belenggu dalam mencapai kebahagiaan Ibarat seseorang yang terluka karena panah beracun. Sewaktu kerabatnya memanggil seorang ahli bedah untuk menyembuhkannya, pesakit itu berkata, saya tidak akan membiarkan Anda mencabut anak panah ini sampai saya tahu siapa yang telah melukai saya, apakah ia dari kasta prajurit, pedagang, brahmana, atau dari kasta petani yang paling rendah...dsb. Sebelum mengetahui semuanya itu, pesakit itu telah mati Buddha beranggapan renungan spekulatif tidak akan membantu dalam pencapaian kesucian. Malah sangat mungkin bila satu pertanyaan terjawab, maka muncul pertanyaan lain yang tidak ada habis-habisnya 42
51 Bebas dari tradisi Ajaran yang mandiri Tidak mengenal hal yang bersifat Adikodrati Sesuai dengan yang disampaikan oleh Buddha Gautama dalam Kalama Sutta (lihat bagian sebelumnya) Tidak bergantung pada mukjizat, kekuatan magis dan lain sebagainya. Menurut ajaran Buddha, manusia bertanggung jawab atas semua perbuatannya. Tidak ada Tuhan yang mengatur. Kenyataan atau kesahihan kepercayaan akan Tuhan didasarkan pada kapasitas pengertian dan kematangan pikiran manusia (Dhammananda, Keyakinan Umat Buddha ) Tradisi Dalam Buddhisme (Schools In Buddhism) Akibat adanya penyebaran ajaran Buddha, maka terjadilah akulturasi. Akulturasi ini sendiri merupakan hal yang sudah wajar terjadi selain karena ajaran Buddha yang memiliki nilai toleransi tinggi, juga karena tidak ada satu agama pun yang memiliki hak untuk memaksakan ajaran maupun tradisinya kepada masyarakat dengan tradisi setempat. Penyebab kedua terbentuknya aliran-aliran yang berbeda dalam agama Buddha adalah karena adanya perbedaan persepsi, dan ini pun juga adalah hal yang wajar. Sebagai sebuah ajaran yang bersumber pada pengalaman manusianya sendiri, sudah tentu banyak persepsi yang muncul selama kurang lebih 2500 tahun. Saat ini terdapat 3 aliran utama dalam Buddhisme di dunia, yaitu: 1. Theravada (baca: The-ra-wa-da) Sebagai aliran yang memegang teguh Dharma-Winaya sesuai kitab Tripitaka Pali. Oleh karena itu disebut juga sebagai ajaran para sesepuh atau juga Early Buddhism (Buddhisme Awal). Theravada berkembang di Asia bagian selatan (Sri Lanka) dan Asia Tenggara. 2. Mahayana Sebagai ajaran yang berkembang pesat di Asia bagian timur (khususnya) dan seluruh Asia (umumnya) 43
52 3. Vajrayana atau Tantrayana Sebenarnya merupakan bagian dari Mahayana namun memiliki perbedaan doktrin maka terbentuklah aliran ini. Pada mulanya merupakan akulturasi antara ajaran Buddha dengan kebudayaan dan tradisi Tibet. Titik Temu Perbedaan Tradisi Namun demikian terdapat titik temu dari masing-masing aliran yang berbeda-beda ini. Cara menemukan titik temu yang dapat dianggap sebagai awal mula ajaran Buddha adalah dengan cara membandingkan kitab suci dan ajaran dari masing-masing aliran. Pasti akan ada satu atau lebih hal yang sama yang terdapat diantara masing-masing aliran. Apa titik temu (common core) dalam tradisi-tradisi buddhis? 1. Bersifat non-otoriter mengajarkan semua pemeluknya agar tidak tergantung pada otoritas tertentu (termasuk kitab suci) 2. Bersifat non-spekulatif tidak berspekulasi karena tidak ada gunanya. Ingat perumpamaan panah beracun dan korbannya! 3. Bersifat non-absolutisme tidak ada yang absolut. Semua bisa dilihat dari berbagai sudut yang berbeda-beda karena tergantung pada kondisi/ premis pembentuknya 44
53 Dimana: E = Buddhisme Awal (Early Buddhism) T = Theravada M = Mahayana V = Vajrayana etc = Lain-lain (Catatan: Lain-lain yang dimaksud adalah kemungkinan munculnya tradisi baru buddhisme seperti yang mulai terlihat dalam dunia Barat saat ini.-ed.) To l e r a n s i Te r h a da p Ke p e rcaya a n La i n Agama Buddha mengajarkan suatu kehidupan bukan dengan perintah, tetapi dengan prinsip, suatu kehidupan yang indah; dan sebagai konsekuensinya, ia merupakan suatu agama yang penuh toleransi. Ia adalah sistem yang paling penuh toleransi di kolong langit ini Rev. Joseph Wain Bagaimana sikap seorang buddhis terhadap pemeluk agama lain? Disini ditekankan perlu adanya toleransi dan kerja sama. Misi Buddha Gautama bukanlah menjadikan semua umat manusia sebagai penganut ajarannya, melainkan untuk menawarkan sebuah jalan sebagai pegangan hidup bagi mereka yang merasa membutuhkannya. 45
54 Bahkan ketika Buddha Gautama bersabda: Pergilah, O para biksu, demi kebaikan semua, demi kebahagiaan semua, atas dasar belas kasih kepada dunia, demi kebaikan, keuntungan, dan kebahagiaan para manusia, babarkanlah Dharma [ajaran Buddha] yang telah kuajarkan, sebagai misionaris pertama di dunia, para biksu tidak mengejar kuantitas umat melainkan didasari oleh rasa belas kasih kepada dunia. Apabila penyebaran agama Buddha melalui jalan peperangan, sudah barang tentu hal itu bertentangan dengan sabda Sang Buddha. Seorang buddhis tidak memiliki keinginan untuk mengubah orang lain menjadi penganut agama Buddha. Jika seseorang merasa puas dengan agamanya sendiri, maka tidak ada keperluan bagi seorang buddhis untuk membuddhiskan orang tersebut. Sikap toleransi dan bisa menghargai ajaran agama lain inilah yang mendasari penyebaran agama Buddha di dunia. 46
55 BAB vi APA YANG DIYAKINI UMAT BUDDHA Ti d a k Ad a Pa h a l a At au Hu k u m a n, Ya n g Ad a Ha n ya l a h Ko n s e k u e n s i-ko n s e k u e n s i Menurut pandangan buddhis, tidak ada yang namanya hukuman bila seseorang berbuat salah, pun tidak ada yang namanya pahala bagi seseorang yang berbuat baik. Yang ada hanyalah konsekuensi-konsekuensi. Bila seseorang berbuat jahat, maka pada suatu saat dia akan menuai karma buruknya (menerima akibat buruk), sebaliknya bila seseorang berbuat baik, maka dia juga akan menuai karma baiknya. Hal ini akan mengajarkan tanggung jawab (responsible) seseorang terhadap hidupnya sendiri tidak tergantung pada satu makhluk atau pada orang lain. Dari pengembangan rasa tanggung jawab inilah baru seseorang akan menyadari dengan sungguh-sungguh mengapa dia harus berbuat baik dan menjauhi perbuatan buruk. Kelahiran Kembali (Pu n a b h ava ) Punabhava terdiri dari kata puna yang artinya lagi dan bhava yang artinya menjadi. Jadi punabhava berarti menjadi kembali atau lahir kembali. Konsep inilah yang merupakan ajaran yang menyatakan tentang adanya kehidupan berulang kali dari makhluk yang adil. Sering kali orang beranggapan bahwa punabhava sama dengan reinkarnasi, padahal keduanya berbeda. Perbedaannya terletak pada ada tidaknya roh/atma yang berpindah. Menurut paham reinkarnasi ada roh yang berpindah dari satu kelahiran ke kelahiran berikutnya. Hal ini ditolak dalam ajaran Buddha mengingat sabda Buddha Gautama 47
56 mengenai tanpa jiwa (Anatta). Jadi apa yang sesungguhnya terlahir kembali menurut ajaran Buddha? Untuk itu kita perlu memahami bahwa kelahiran kembali merupakan kelangsungan arus kehidupan dari kesadaran, bukan perpindahan kehidupan. Kelangsungan proses kehidupan ini kuat karena tergantung dari karma kita masing-masing, namun Buddha Gautama mengajarkan cara untuk menghentikan proses ini. Tuhan Menurut Ajaran Buddha Sesuai dengan ajaran Buddha mengenai Tanpa jiwa, maka sesungguhnya tidak ada sesuatu yang pantas disebut sebagai Yang Maha atau Tuhan. Menurut buddhis gagasan mengenai Tuhan adalah hal yang sangat lemah sekaligus sangat kuat pengaruhnya. Lemah di sini berarti sebenarnya gagasan ini sangat mudah dipatahkan. Siapa yang pernah melihat Tuhan? Siapa yang pernah mendengar suara Tuhan? Mengapa Tuhan yang katanya Maha Adil dan Maha Kasih Sayang, namun tetap ada manusia yang terlahir cacat, miskin, kurang beruntung, dll. Mengapa Tuhan yang katanya Maha Pengampun namun tetap menjerumuskan mereka yang kafir dan berdosa ke dalam neraka? Dan masih banyak lagi pertanyaan segudang yang mungkin akan dijawab dengan sangat tidak bertanggung jawab: Jangan mempertanyakan ke-ilahi-an Tuhan! Jangan mempertanyakan kehendak Tuhan! dll. Namun, pula sesungguhnya gagasan mengenai Tuhan memiliki peranan yang sangat kuat dalam menggerakkan manusia dan mengubah wajah peradaban. Bayangkanlah berapa banyak korban jiwa yang berjatuhan atas nama Tuhan? Sebaliknya, berapa banyak perdamaian yang tercipta atas nama Tuhan? Dengan demikian Tuhan mau tak mau telah menjadi realitas penting dalam kehidupan sehari-hari manusia yang penuh dengan ketidakpastian. Mengapa sampai timbul gagasan mengenai Tuhan? Harus diakui karena manusia adalah makhluk penakut yang mudah pasrah dengan kondisi dan lingkungannya. Satu hal yang menarik adalah masingmasing penganut agama theis akan memiliki gambaran Tuhan yang berbeda-beda dan akan mengatakan bahwa Tuhannyalah yang paling 48
57 benar. Kalau begitu Tuhan siapa yang benar? Ini adalah kekeliruan terbesar yang pernah dibuat oleh manusia. Sekarang bagaimana pandangan buddhis mengenai gagasan tentang Tuhan ini? Harus diakui secara jujur bahwa Buddha Gautama tidak pernah menyatakan bahwa ajarannya berasal dari Tuhan dan dia adalah utusan Tuhan. Sebaliknya Buddha Gautama menyatakan bahwa ajarannya adalah murni hasil pencapaian seorang manusia dengan tekad yang teguh dan dilandasi dengan cinta-kasih kepada semua makhluk. Bila demikian apakah benar bahwa agama Buddha adalah agama yang nonteis? Untuk pernyataan ini maka jawabannya adalah benar. Harus diakui bersama bahwa ajaran Buddha untuk semua tradisi memang tidak mengenal kata Tuhan. Namun, hal ini bukan berarti dalam ajaran Buddha tidak dikenal konsep-konsep ketuhanan konsep mengenai sifat-sifat Tuhan 8. Bila dalam agama theis dikenal perintah dan larangan Tuhan yang mengatur kehidupan sehingga manusia menjadi lebih bermoral, maka dalam ajaran Buddha dikenal Sila (Aturan Moralitas) 9. Bila dalam agama theis dikenal surga dan neraka serta penyatuan bersama Tuhan sebagai tujuan akhir dari segala peribadatan yang dilakukan semasa hidup, maka dalam agama Buddha dikenal surga, neraka, dan Nirwana 10. Walaupun terdapat sedikit banyak perbedaan, namun kita dapat menemukan sifat-sifat Tuhan itu sendiri dalam agama Buddha. Terlebih selama kurang lebih 2500 tahun ajaran Buddha telah menjadi pedoman dan pegangan hidup bagi sebagian umat manusia di dunia, baik yang memang umat Buddha maupun yang bukan umat Buddha. 8 Konsep ketuhanan sebagai pengatur atau penentu kehidupan manusia DITOLAK oleh ajaran Buddha. Jadi konsep Tuhan yang dapat diterima adalah sifat-sifat Tuhan, yaitu cinta kasih, welas asih, simpati, dan ketenangseimbangan pikiran. 9 Lihat Bagian pembahasan Lima Aturan Buddhis (pancasila buddhis). 10 Sekali lagi perlu dipahami bahwa Nirwana bukanlah surga atau suatu alam atau sesuatu di luar manusia. Nirwana hanyalah kondisi batin atau pikiran seseorang. 49
58 Manfaat Pa r i t ta Paritta memiliki arti perlindungan. Semuanya digunakan untuk menjelaskan sutta-sutta (ceramah-ceramah) tertentu yang dijelaskan oleh Buddha Gautama. Sutta-sutta ini ada sebagian yang memang dianggap mampu memberikan perlindungan dari pengaruhpengaruh yang membahayakan. Namun, semuanya sesungguhnya kembali kepada seberapa besar kekuatan keyakinan (saddha) yang kita miliki ketika sedang membaca paritta tersebut. Menjadi seorang umat Buddha memang tidak ada keharusan untuk dapat membaca paritta dengan baik, benar, serta hafal di luar kepala, tetapi tidak berarti pula pembacaan paritta tidak ada manfaatnya dan hanya sekedar pelaksanaan ritual saja. Adapun manfaat pembacaan paritta antara lain: 1. Kita membaca dan mengucapkan sesuatu yang baik, dengan demikian kita telah melakukan karma baik setidaknya melalui pikiran dan ucapan (untuk itu penting bagi seseorang agar membaca dan memahami makna paritta dari terjemahannya) 2. Membaca paritta berarti kita berupaya untuk memahami apa yang sebelumnya kurang kita pahami 3. Membaca paritta berarti mengulang khotbah-khotbah Buddha Gautama (walaupun tidak semua paritta berasal dari khotbah Sang Buddha), dengan demikian kita telah melestarikan kelangsungan ajaran Buddha. 50
59 BAB vii APLIKASI AJARAN BUDDHA Tindakan Melepas Hewan (Fa n g s h e n) Tindakan melepas hewan atau lebih dikenal fangshen bertujuan untuk mengurangi penderitaan makhluk hidup lain. Tindakan ini dilandasi dengan kekuatan cinta kasih terhadap sesama makhluk hidup. Ada banyak binatang yang bisa dilepas seperti burung, ikan, kura-kura dan lain sebagainya. Mengingat intinya adalah untuk mengurangi penderitaan makhluk lain dengan cara melepasnya ke alam bebas, maka ketika fangshen dilakukan hendaknya dilakukan dengan cepat agar jangan sampai ada binatang yang mati menjelang pelepasan. Tidak terdapat paritta khusus yang harus dibacakan ketika fangshen ini dilakukan, namun ada baiknya setelah selesai melepas makhluk kita membacakan paritta pelimpahan jasa. Penguatan Tekad (Ad h i t t h a n a) Selama menjalani hidup sebagai manusia diperlukan tekad yang kuat untuk mencapai tujuan-tujuan kita. Dengan tekad yang kuat inilah kita mampu mencapai apapun yang bisa dimenangkan oleh kekuatan manusia sepertihalnya Pangeran Siddhartha yang bertekad untuk tidak meninggalkan pohon Bodhi sampai tercapainya Penerangan Sempurna (Enlightenment) yang dapat dimenangkan oleh kekuatan manusia. Tekad yang kuat atau ketetapan hati inilah yang disebut sebagai adhitthana salah satu paramita (kebajikan) dari dasaparamita (sepuluh kebajikan). Dengan adanya adhitthana barulah segala tindakan memiliki arti yang jelas, semua jalan terlihat dengan jelas. Bagaimana cara membangkitkan adhitthana (tekad yang kuat)? Adhitthana merupakan hal yang berasal dari dalam diri. Boleh jadi ada rangsangan dari luar (ekstrinsik motivation) yang bisa membuat seseorang bertekad kuat. Sebagai contoh ketika kita selesai 51
60 mengikuti seminar motivasi, kemudian kita bertekad untuk menjadi seseorang yang lebih baik. Namun faktor utama seseorang untuk melakukan adhitthana adalah dirinya sendiri (intrinsik motivation). Sering kali ketika seseorang bertekad kuat tak lama kemudian mulai kendur dari semangatnya. Untuk itu disarankan agar terus mengulang tekad sendiri pada waktu-waktu tertentu bisa jadi setiap hari. Dengan demikian kita tetap menyimpan semangat untuk mewujudkan tekad kita. Kepemimpinan Buddhis Walaupun seseorang telah menaklukkan jutaan musuh dalam berbagai pertempuran, namun sesungguhnya penakluk terbesar adalah ia yang dapat menaklukkan dirinya sendiri Dhammapada VIII: 103 Hidup sebagai manusia tentu tidak lepas dari interaksi dengan manusia lainnya. Interaksi inilah yang akan membentuk suatu bentuk kerjasama dan pada akhirnya menjadi suatu organisasi. Dengan demikian setiap manusia pasti akan terlibat dengan istilah dipimpin atau memimpin. Ada beberapa poin yang dapat ditangkap dalam upaya menciptakan kepemimpinan yang sesuai dengan prinsip ajaran Buddha: Persatuan & Persahabatan Setelah suatu organisasi atau komunitas memiliki rasa persatuan dan persahabatan, barulah segala tujuan yang dikehendaki dapat dicapai. Dalam Anguttara Nikaya, Chakkanipata yaitu Saraniyadhamma Sutta (Sutta tentang hal-hal yang membuat dikenang) menyebutkan 6 cara untuk menciptakan kerukunan: 1-3 Memiliki perbuatan, ucapan, dan pikiran berdasarkan cinta kasih di depan maupun di belakang orang lain 4 Mau berbagi miliknya dengan orang lain 52
61 5 Melaksanakan kemoralan yang sama sewaktu ia sendirian maupun di depan umum 6 Memiliki pandangan yang benar di kala sendirian maupun bersama Penerapan keenam cara ini dalam kehidupan sehari-hari akan membawa perdamaian dan kebahagiaan. Demikian pula untuk memperoleh suasana persahabatan dari orang lain atau sekelompok orang, kita harus mampu menjadikan diri kita sebagai sahabat bagi mereka. Dalam Anguttara Nikaya II;32 dijelaskan empat sifat yang menjadikan suasana persahabatan (Sanghavatthu), yaitu: 1. Dana; memberi dan membagi barang-barang kepada orang lain yang pantas untuk menerimanya. Pemberian ini dapat berupa materi, dapat juga berupa non materi, seperti Dhammadesana (khotbah ajaran Buddha), perhatian, dan lain-lain. 2. Piyavaca; ucapan yang baik, berdiskusi dan membicarakan semua hal dengan ucapan yang menyenangkan dan halus, menghindari kata-kata makian. Janganlah berbicara kasar kepada siapapun, karena mereka yang mendapat perlakuan demikian akan membalas dengan cara yang sama. Sungguh menyakitkan ucapan yang kasar itu, yang pada gilirannya akan melukaimu. (Dhammapada 133) 3. Atthacariya; melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain, misalnya memberi pertolongan bila teman membutuhkan. 4. Samanattata; memiliki ketenangan batin dan tanpa kesombongan. Ketenangan ini diperoleh dari latihan meditasi dan kemoralan (sila) secara terus-menerus. Komitmen yang teguh Dalam Mahaparinibbana Sutta, sebelum Raja Ajatasattu yang memerintah kerajaan Magadha akan mengadakan ekspansi ke wilayah suku Vajji, Raja Ajatasattu mengirimkan menterinya 53
62 menghadap Buddha Gautama untuk memberitahukan maksud penaklukkan wilayah suku Vajji kepada Sang Buddha. Disini terjadi percakapan antara Buddha Gautama dan Biksu Ananda, dimana menteri Vassakara menteri Raja Ajatasattu mendengarkan 7 butir kekuatan komitmen suku Vajji, yang merupakan tujuh syarat kesejahteraan bangsa, yaitu: 1. Sering mengadakan pertemuan dan dihadiri oleh banyak orang 2. Menghadiri dan memulai pertemuan serta melaksanakan tugas dalam suasana persatuan dan secara harmonis 3. Tidak menghapus peraturan-peraturan yang telah dibuat dan membuat peraturan-peraturan baru tetapi berpegang pada peraturan yang telah berlaku 4. Memerhatikan, menghormat, dan menghargai orang-orang tua dan menganggap berharga untuk mendengar kata-kata mereka 5. Menjauhkan diri dari penculikan wanita-wanita serta gadis-gadis dari keluarga baik-baik dan juga tidak menahannya 6. Memerhatikan, menghormat, menghargai, dan menyokong tempattempat suci dan tidak melalaikan puja atau penghormatan 7. Menjaga dan melindungi dengan seksama orang-orang suci, sehingga mereka yang belum mencapai keadaan itu dapat mencapainya dan mereka yang sudah mencapai keadaan itu dapat hidup dengan tenang Selama tujuh hal ini dapat berlangsung dan masih ditaati (berkomitmen) maka kemajuan akan dapat diharapkan. Bahkan apabila hanya satu atau lebih syarat kesejahteraan ini dilaksanakan maka kemajuan sudah dapat diharapkan bukan keruntuhannya, apalagi kalau tujuh hal ini dijalankan dengan sempurna maka tiada lagi bencana apapun yang dapat menimpanya. Hanya ada satu hal yang dapat menyebabkan kemunduran yaitu pengkhianatan atau perselisihan di dalamnya (tidak berkomitmen). Usaha untuk mencapai tujuan akhir Dalam Vibbanga 216 dan 413, Buddha Gautama menjelaskan 4 kondisi berguna yang memungkinkan seseorang untuk mencapai 54
63 tujuan akhir, yaitu: Basic Buddhism 1. Chanda; kepuasan dan kegembiraan dalam mengerjakan hal-hal yang sedang dikerjakan. 2. Viriya; usaha yang bersemangat dalam mengerjakan sesuatu. 3. Citta; memperhatikan dengan sepenuh hati hal-hal yang sedang dikerjakan tanpa membiarkannya begitu saja. 4. Vimamsa; merenungkan dan menyelidiki alasan-alasan di dalam hal-hal yang sedang dikerjakan. Memimpin Dalam kitab Jataka, Sang Buddha memberikan sepuluh persyaratan seorang pemimpin yang baik (Dasa Raja Dharma), yaitu: 1. Dana (bermurah hati); seorang pemimpin tidak boleh terlalu terikat dengan kekayaannya, dia memberikan pertolongan baik berupa materi maupun nonmateri bahkan bersedia mengorbankan hartanya demi kepentingan anggotanya 2. Sila (bermoral); pemimpin harus memiliki sikap yang baik dengan pikiran, ucapan, perbuatan, dan hidup berprilaku sesuai dengan aturan moralitas 3. Pariccaga (berkorban); seorang pemimpin harus rela mengorbankan kesenangan atau kepentingan pribadi demi kepentingan orang banyak 4. Ajjava (tulus hati dan bersih); memiliki kejujuran, ketulusan sikap maupun pikiran, dan kebersihan tujuan serta cita-cita dalam kepemimpinannya 5. Maddava (ramah tamah dan sopan santun); memiliki sikap ramah tamah, simpatik dan menjaga sopan santun, melalui pikiran, ucapan, dan perbuatan 6. Tapa (sederhana); membiasakan diri dalam hidup kesederhanaan dan tidak berlebih-lebihan dalam kebutuhan hidup 7. Akkodha (tidak berniat jahat, bermusuhan, dan membenci); memiliki sifat pemaaf dan bersahabat, menjauhi niat jahat, permusuhan, dan kebencian 8. Avihimsa (tanpa kekerasan); tidak menyakiti hati orang lain, 55
64 memelihara sikap kekeluargaan, senang pada perdamaian, menjauhi segala sikap kekerasan dan penghancuran hidup 9. Khanti (sabar dan rendah hati); memiliki kesabaran pada saat mengalami halangan dan kesulitan. Memiliki kerendahan hati pada saat menghadapi hinaan dan celaan, sehingga menimbulkan pengertian dan kebijaksanaan pada saat menentukan keputusan 10. Avirodhana (tidak menimbulkan atau mencari pertentangan); tidak menentang dan menghalangi kehendak mereka yang dipimpinnya untuk memperoleh kemajuan sesuai dengan tujuan dan cita-cita kepemimpinannya. Ia harus hidup bersatu dengan anggota sesuai dengan tuntutan hati nurani anggota Kesepuluh syarat di atas, sebagian besar berisikan pengendalian diri sendiri. Sang Buddha mengajarkan cara menguasai diri sendiri sebagai dasar agar dapat menjadi pemimpin yang baik, bukan cara menguasai atau memaksa orang lain yang dipimpin. Seni kepemimpinan Buddhis adalah seni memimpin yang dimulai dari memimpin diri sendiri baru kemudian orang lain. Karena keteladanan adalah cara yang paling ampuh dalam memimpin sekelompok orang atau organisasi. Kemampuan memimpin sesungguhnya bukan merupakan bakat saja melainkan akumulasi latihan, latihan menguasai diri sendiri. Seorang pemimpin harus memiliki rasa percaya diri, dia harus mampu melihat dirinya dan percaya pada dirinya bahwa dia mampu untuk menjadi seorang pemimpin. Ada lima hal yang menimbulkan keyakinan pada diri sendiri (Lima Vesarajjakammatthana): 1. Saddha; keyakinan terhadap hal-hal yang patut diyakini, dalam hal ini ajaran Buddha atau ajaran Kebenaran. 2. Sila; mengendalikan perbuatan dan perkataan sesuai dengan norma-norma selaras ajaran Buddha. 3. Bahusacca; memiliki pengetahuan luas. 4. Viriyarambha; rajin dan penuh semangat. 5. Pañña; mengetahui sesuatu yang memang patut untuk diketahui. 56
65 Pelayanan Sosial Bekerjalah demi kesejahteraan pihak lain. Sutta Nipata Dalam ajaran Buddha dikenal sepuluh ajaran kebajikan (Dasa Paramita) yang harus dipraktekkan oleh setiap Bodhisatwa (calon Buddha) dalam rangka mencapai Pencerahan spiritual. Apabila kita cermati, sesungguhnya kesepuluh kesempurnaan tersebut merupakan perwujudan pelayanan sosial seorang Bodhisatwa. Dalam komentar Cariya Pitaka, dijelaskan bahwa Parami adalah kebajikan yang dikembangkan dengan kasih sayang, dilandasi oleh alasan, tidak dipengaruhi oleh keinginan pribadi, serta tidak dinodai oleh kepercayaan yang salah dan semua kecongkakan pribadi. Seharusnya seorang Buddhis bertindak dengan cara demikian itu tidak mencari kesenangan demi kepuasan sendiri. Bahkan demi kebahagiaan orang lain atau mahkluk lain ia tidak akan segan mengorbankan hartanya yang paling ia cintai tanpa mengecualikan penghidupan itu sendiri seperti dipaparkan dalam Vyaghri-Jataka, kisah dimana demi memberi makan si harimau betina dan tiga ekor anaknya yang hampir mati kelaparan juga mencegah si induk memangsa anaknya, sang rusa melemparkan dirinya ke bawah tebing itu. Ia sepenuhnya mendahulukan orang lain dalam setiap motifnya dan kepentingan pribadi tidak berperan dalam kegiatannya yang tidak mengejar keuntungan pribadi. Ia mengetahui bahwa ketenaran datang kepadanya tanpa dicari karena memang ia patut memperolehnya, mengapa ia harus mengejar itu? Begitulah konsep sosial yang begitu indah dan mulia telah diajarkan Buddha Gautama. Semua kebajikan tersebut dilandasi oleh kebijaksanaan. Bila perbuatan baik yang kita lakukan selama ini masih selalu mempertimbangkan keuntungan individu, memiliki alasan pribadi, maka ini adalah kebajikan biasa. Lebih jauh kita harus dapat melepaskan konsep diri ini. Tanpa orang lain yang membutuhkan pertolongan kita, kebajikan kita tidak terwujud. Jadi hanya kebajikan yang ada, tidak ada aku yang sesungguhnya itu. Semua yang kita 57
66 lakukan sebenarnya adalah Proses Kebajikan, inilah permata Dharma yang sangat indah. Di samping pengertian benar dari kebajikan yang kita lakukan, seseorang juga harus mempunyai kebijaksanaan dalam berbuat. Memang tidak ada pembedaan antara satu makhluk dengan lainnya bagi kita untuk menolong, tetapi harus ada pembedaan bijaksana dengan kemurahan hati ini. Bila kita tahu bahwa orang yang akan kita tolong (misal pemabuk) akan menyalahgunakan bantuan kita, maka kita harus menolaknya sebab menurut Buddha Gautama, kemurahan hati yang salah tempat itu tidaklah membentuk Parami. Malah lebih baik apabila kita membantu orang tersebut dengan memberikan pengertian dan pandangan benar sehingga jalan hidup orang tersebut berubah menjadi lebih baik daripada sekedar menjadi seorang pemabuk. Sesungguhnya perbuatan sosial dalam konteks Buddhis memiliki perbedaan yang mendasar dengan sosial pada umumnya. Society bukanlah pihak lain melainkan suatu faktor, suatu lahan, suatu medium bagi kita untuk melakukan pengabdian kebajikan (parami) tadi. Sosial dan lingkungan merupakan suatu lahan untuk menantang kita dalam menyempurnakan kebajikan kita dalam menuju misi kita sebagai seorang buddhis. Perbedaan lain adalah pengabdian yang kita lakukan dilandasi kebijaksanaan (pañña), tanpa mementingkan diri sendiri tetapi kebahagiaan mahkluk lain dan dunia. Dengan demikian akan membuahkan kebahagiaan dalam jangka waktu yang panjang. Dan juga perlu ditekankan pengabdian atau pelayanan sosial Buddhis ini hendaknya menjadi suatu tekad, artinya harus dilakukan tidak hanya kehidupan sekarang melainkan untuk kehidupan akan datang yang tak terhitung jumlahnya. 58
67 BAB viii MISCELLANEOUS (SERBA-SERBI) Tripitaka: Kitab Suci Umat Buddha Kitab suci umat Buddha yang tertulis dalam Bahasa Pali adalah Tipitaka (artinya 3 keranjang). Vinaya (baca: winaya) Pitaka Sutta Pitaka Abhidhamma Pitaka Berisi tata-tertib bagi para biksu atau biksuni Berisi khotbah-khotbah Buddha Gautama Berisi ajaran yang lebih mendalam Buddha Rupang Buddha rupang atau patung Buddha adalah hal yang umum dijumpai setiap kali anda mengunjungi wihara-wihara atau candi-candi. Ada satu keunikan dari patung-patung ini, yaitu bahwa mereka tidak pernah sama. Setiap tempat di masing-masing negara atau daerah memiliki ciri khas rupa patung Buddha. Sebagai contoh patung Buddha Indonesia yang dicerminkan oleh patung Buddha di Candi Borobudur sangat berbeda dengan patung Buddha di pagodapagoda Cina. Demikian juga di Sri Lanka, di Myanmar, di Jepang, di Tibet, dll semua akan digambarkan sesuai dengan rupa masyarakat setempat. Apa makna dari Buddha rupang? Buddha rupang bagi umat Buddha sendiri bukanlah sesuatu yang menggambarkan perwujudan Tuhan atau Yang Maha, tetapi merupakan perwujudan dari keteguhan, ketenangan, kedamaian, dan segala pencapaian yang dapat dicapai oleh kemampuan seorang manusia. Disitulah letak 59
68 makna penghormatan seorang umat Buddha. Jadi umat Buddha bukan menyembah patung, melainkan sebagai sebuah simbol ajaran Buddha yang perlu dilaksanakan. Pernah pada suatu ketika saat sedang bermeditasi, salah seorang teman berkata: Sulit bagi saya untuk bermeditasi. Saya merasa sesak dan sakit di sekitar wajah saya. Mungkin ini karena sebelumnya saya pernah mengkonsumsi narkoba. Namun ketika rasa sakit itu menjalar, saya melihat patung Buddha. Seketika itu saya melihat senyumnya. Hati saya terenyuh dan saya mulai mencoba untuk tersenyum. Akhirnya rasa sakit yang sebelumnya saya rasakan mulai mereda. Tempat -Tempat Suci Umat Buddha Lumbini (sekarang Rumminde di Pejwar, Nepal) Bodhgaya (disebut juga Buddha Gaya) Taman Rusa Isipatana (Sarnath, India) Kusinara Tempat kelahiran Pangeran Siddhartha Tempat Pangeran Siddhartha mencapai Penerangan Sempurna di bawah pohon Bodhi dan menjadi seorang Buddha Tempat ajaran Buddha untuk pertama kalinya diwartakan kepada 5 orang pertapa Di Taman Rusa ini dapat ditemukan bangunan bersejarah, yaitu: 1. Stupa Dhamekh 2. Stupa Dhammarajika 3. Mulagandhakuti (tempat di mana Buddha Gautama pernah menetap selama masa penghujan pertama kali ketika Beliau di Sarnath) 4. Pilar Asoka 5. Wihara Mulagandhakuti Tempat Buddha Gautama wafat, di kebun pohon Sala milik suku Malla, di antara pohon Sala Kembar 60
69 Selain keempat tempat di atas, terdapat pula beberapa tempat penting lainnya yang berkaitan dengan sejarah Buddha Gautama, yaitu: Rajagaha (sekarang disebut Rajgir salah satu kota tertua di India) Bukit Gijjhakutta atau Bukit Burung Nazar Jivakambavana Tempat pertama kalinya Buddha Gautama bertemu dengan Raja Bimbisara Di tempat inilah Devadatta pernah mencoba membunuh Sang Buddha dengan cara menggulingkan batu besar. Di tempat ini pula (puncak bukit) terdapat tempat tinggal Buddha Tempat praktik dokter Jivaka (dokter pribadi Raja Bimbisara dan pendukung setia Sang Buddha) Hari Raya Umat Buddha Hari Waisak Hari Asadha Dirayakan pada bulan Mei atau Juni pada waktu bulan terang (purnama sidhi) untuk memperingati 3 peristiwa penting, yaitu: 1. Lahirnya Pangeran Siddhartha di Taman Lumbini di tahun 563 SM 2. Pangeran Siddhartha mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya pada usia 35 tahun 3. Buddha Gautama wafat di Kusinara pada usia 80 tahun Dirayakan 2 bulan setelah hari Waisak, pada saat bulan purnama sidhi di bulan Juli atau Agustus, untuk memperingati khotbah pertama Buddha Gautama di Taman Rusa Isipatana (dekat Benares) di hadapan 5 orang pertapa, yaitu: Kondañña, Bodhiya, Vappa, Mahanama, dan Assaji 61
70 Hari Kathina Hari Magha Dirayakan 3 bulan setelah hari Asadha. Perayaan Kathina dilakukan 1 bulan penuh. Upacara dimaksudkan untuk memberikan keperluan hidup sehari-hari kepada para biksu yang telah melaksanakan masa vassa (masa menetap selama masa penghujan) selama 3 bulan di suatu tempat tertentu. Senioritas seorang biksu dihitung dari jumlah vassa yang telah dilaksanakannya Dirayakan di bulan Magha (Februari/Maret) pada purnama sidhi; untuk memperingati peristiwa berkumpulnya 4 peristiwa penting pada pertemuan akbar tersebut, yaitu: 1. Berkumpulnya 1250 biksu tanpa pemberitahuan 2. Kesemuanya adalah arahat dan memiliki 6 kekuatan batin 3. Semuanya ditahbiskan oleh sang buddha sendiri dengan ucapan ehi bhikkhu 4. Diberikannya Ovadapatimokkha (Inti ajaran Buddha) Bendera Buddhis Bendera Buddhis dirancang oleh Kolonel Henry Steele Olcott pada tahun Bendera ini pertama kali dikibarkan pada tahun 1885 di Sri Lanka. Bendera ini terdiri dari 5 warna dan bentuk sebagai berikut: Biru Kuning Merah Putih Oranye : Bakti : Kebijaksanaan : Cinta Kasih : Suci : Semangat 62
71 BAB ix Cerita Buddhis Kisa Gotami Kebenaran Mulia Pertama : Du k k h a Kisa Gotami adalah seorang wanita muda dari keluarga kaya raya yang juga seorang istri dari seorang pedagang kaya. Ketika berusia sekitar setahun, anak laki-lakinya tiba-tiba jatuh sakit dan meninggal. Larut dalam kesedihan, Kisa Gotami berkeliling dari rumah ke rumah dan memohon kepada setiap orang yang dia jumpai kalau ada yang bisa membangkitkan anaknya kembali. Tentu tidak ada seorang pun yang bisa menyanggupi permohonannya. Akhirnya dia bertemu dengan seorang penganut ajaran Buddha dan menyuruhnya untuk menemui Buddha Gautama. Ketika Kisa Gotami membawa bayi yang telah meninggal tersebut ke hadapan Sang Buddha, Buddha Gautama berkata padanya: Hanya terdapat satu cara utuk menyelesaikan masalahmu. Pergi dan bawalah lima benih dari keluarga yang belum pernah ada satu anggota keluarganya pun yang telah meninggal. Kisa Gotami beranjak pergi dan bertanya dari rumah ke rumah namun tidak ada satu keluarga pun yang belum pernah mengalami kematian dari anggota keluarganya. Menyadari maksud Sang Buddha, Kisa Gotami akhirnya kembali menemui Sang Buddha dan menjadi biksuni. Je b a k a n Mo n y e t Ke b e n a r a n Mu l i a Ke d u a : Se b a b Du k k h a Di Cina, monyet-monyet ditangkap dengan sebuah cara yang unik. Si pemburu pertama-tama akan mengambil sebuah kelapa. Dia kemudian membuat sebuah lubang yang hanya cukup bagi sebuah tangan masuk kedalamnya tanpa menggenggam apapun. Dia kemudian akan mengisi kelapa tersebut dengan kacang-kacangan dan meletakkannya di tempat-tempat yang biasa dilalui monyet. 63
72 Sebelum pergi, si pemburu akan menyebarkan beberapa kacang di sekitar kelapa. Cepat atau lambat, seekor monyet akan melalui tempat tersebut. Pertama-tama si monyet akan memakan kacang yang ada di tanah. Kemudian si monyet akan menemukan bahwa di dalam kelapa terdapat lebih banyak kacang. Ketika dia memasukkan tangannya dan menggenggam kacang-kacang tersebut, si monyet akan kesulitan mengeluarkan tangannya. Dipaksa bagaimanapun juga tidak bisa keluar. Si monyet kemudian mulai menangis atau marah. Namun karena tidak melepas genggamannya, tak lama kemudian si pemburu datang dan menangkapnya. Se o r a n g Bh i k k h u Ya n g Ba h a g i a Ke b e n a r a n Mu l i a Ke t i g a: Ak h i r Du k k h a Suatu ketika terdapat seorang pemuda yang kaya raya dan memiliki kedudukan yang tinggi. Dia menyadari bahwa penderitaan akan dialami oleh semua orang kaya maupun miskin. Jadi dia memutuskan untuk menjadi seorang bhikkhu untuk berlatih meditasi. Dia selalu tersenyum berbahagia dalam kehidupan sucinya. Suatu ketika biksu tadi melewati sebuah kerajaan. Raja kerajaan itu hendak mengundang biksu tersebut. Namun si raja merasa terhina melihat biksu tersebut tidak menyadari kedatangan raja dan hanya tersenyum. Melihat ketidaksenangan si raja, seorang biksu tua berkata: Bersabarlah, rajaku, dan saya akaan mengatakan sebab mengapa dia berbahagia. Tidak banyak orang yang mengetahuinya. Dulu dia juga seorang raja sepertihalnya dirimu. Tapi setelah meninggalkan kerajaannya dan memutuskan menjadi seorang biksu, dia menemukan kebahagiaan yang dia cari-cari. Duduk sendirian di dalam hutan, dia tidak memiliki rasa takut dan tidak perlu dikawal oleh para penjaga. Dia telah menemukan kedamaian dalam meditasi. Sang raja akhirnya menyadari apa arti sesungguhnya dari kebahagiaan. 64
73 Ra k i t Ke b e n a r a n Mu l i a Ke e m pat: Ja l a n Me n u j u Ak h i r Du k k h a Seorang laki-laki yang sedang kabur dari kejaran perampok sampai di sebuah tepian sungai. Dia menyadari bahwa seberang sungai sana akan lebih aman untuknya. Namun, sayangnya dia tidak melihat sebuah perahu atau jembatan untuk menyeberangi sungai tersebut. Jadi secepat kilat dia mengumpulkan kayu, batang, ranting, dan dedaunan untuk dijadikan sebuah rakit. Dan dengan bantuan rakit tersebut, dia akhirnya dapat menyeberang dengan selamat ke seberang sungai. Kamu Tidak Dapat Mengotori Langit Ucapan Benar Suatu ketika, seorang pria pemarah datang menemui Sang Buddha. Pria tersebut menggunakan kata-kata kasar untuk menghina Sang Buddha. Buddha Gautama mendengarkannya dengan diam dan sabar. Ketika akhirnya si pria berhenti berbicara, Sang Buddha kemudian memintanya, Jika seseorang ingin memberikanmu sesuatu, tapi kamu tidak menghendakinya, kepada siapa pemberian itu ditujukan? Tentu saja kepada dia yang hendak memberikan pemberian tersebut, jawab si pria. Demikian juga dengan ucapan kasarmu, kata Sang Buddha. Saya tidak bermaksud untuk menerimanya dan dengan demikian ucapan itu adalah milikmu. Kamu harus menyimpan pemberian ucapan kasar dan menghina untuk dirimu sendiri. Dan saya takut pada akhirnya kamu akan menderita karena bagi seseorang yang menghina orang bijak dapat menyebabkannya menderita. Ibarat seorang pria hendak mengotori langit dengan meludahinya. Ludahnya tidak akan pernah mengotori langit dan akan jatuh mengenai wajah si peludah itu sendiri. Pria yang mendengar hal tersebut menjadi malu. Dia akhirnya memohon maaf dari Sang Buddha dan menjadi salah seorang pengikut Buddha. 65
74 BAB x THE TRUE POWER OF BUDDHISM Agama Buddha akan tetap bertahan sepanjang sang mentari dan sang rembulan masih ada dan bangsa manusia masih ada di Bumi ini, karena ia adalah agama bagi manusia, bagi umat manusia sebagai suatu keseluruhan Bandaranaike, Mantan PM Sri lanka Sumbangsih Ajaran Buddha Adalah pendapat saya yang berhati-hati bahwasanya bagian penting dari ajaran Sang Buddha sekarang ini membentuk bagian yang integral pada Hinduisme. Tidaklah mungkin bagi Hindu India dewasa ini untuk menelusuri kembali langkah-langkahnya dan melampaui reformasi besar yang dibuat oleh Gautama yang dapat memberi pengaruh terhadap Hinduisme. Dengan pengorbanannya yang demikian besar, dengan pelepasan-agungnya, dan dengan kesucian yang tak bernoda dari hidupnya, beliau meninggalkan kesan yang tak terhapuskan pada Hinduisme, dan Hinduisme berhutang suatu hutang budi yang abadi kepada Sang Guru Agung tersebut Mahatma Gandhi, Maha Bodhi Ajaran Buddha adalah agama tertua di dunia yang masih bertahan hingga saat ini. Mengapa Dharma atau ajaran Buddha ini masih tetap bertahan? Karena ajaran Buddha ini masih relevan dengan keperluan masyarakat masa kini. Pesan Buddha Gautama ditujukan kepada semua orang dan dimaksudkan untuk meningkatkan kebahagiaan, kesejahteraan, hingga akhirnya tercapai pembebasan yang kesemuanya bersumber dari manusia itu sendiri. Ajaran ini telah memberikan 66
75 sumbangsih tak terbantahkan kepada manusia. Sebagai contoh ajaran ini tidak dibabarkan dengan senjata atau kekuatan politik. Tidak setetes darah pun menodai jalannya yang suci. Ini merupakan perwujudan perdamaian yang dilandasi cinta kasih kepada semua makhluk. Penyebaran agama melalui peperangan tidak diperbolehkan dalam agama Buddha. Pengaruh kedua adalah bahwa ajaran ini menekankan pada penaklukkan diri sendiri. Dan kita telah menemukan sebuah contoh yang tepat, yaitu Raja Asoka raja yang paling terkenal dari daratan Asia. Kaisar Asoka yang sebelumnya kejam dan bengis berubah menjadi sosok raja yang adil, penuh welas asih, dan bijaksana setelah terpengaruh ajaran Buddha. Ia tidak lagi berperang, ia bahkan melarang pembunuhan hewan di kerajaannya. Ia menyadari bahwa akar dari segala permasalahan adalah nafsu keinginan yang tak terpuaskan. Dan yang terakhir adalah peran ajaran Buddha dan Buddha sendiri yang telah menginspirasi banyak orang untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Buddha Gautama adalah penakluk terbesar di dunia yang pernah kita kenal. Beliau menaklukkan dunia tidak dengan senjata dan peperangan, tidak pula dengan api kebencian dan perselisihan. Beliau menaklukkan dunia dengan cinta dan kebijaksanaan, dengan ajarannya yang mulia. Sebagai Penutup Pertanyaan yang tak terelakkan yang muncul dengan sendirinya adalah, seberapa jauh pesan agung Sang Buddha dapat diterapkan terhadap dunia kita dewasa ini? Mungkin ia dapat diterapkan, mungkin juga tidak; akan tetapi, bila kita mengikuti prinsip-prinsip yang disampaikan oleh Sang Buddha, kita pada akhirnya akan memenangkan kedamaian dan ketenangan atas dunia ini Nehru 67
76 Mengenal lebih dekat ajaran Buddha sebagai salah satu agama dunia haruslah dilandasi dengan pengertian bahwa perdamaian akan terwujud apabila seseorang mengerti dan memahami esensi di balik ajaran suatu agama tertentu. Untuk itu kita memang perlu mengetahui lebih dalam mengenai ajaran masing-masing agama dan dalam hal ini adalah ajaran Buddha. Buddha Gautama tidak pernah menyebut ajarannya sebagai sebuah agama, namun sebagai sebuah pedoman atau pegangan hidup bagi umat manusia. Ajaran Buddha dengan segala aspeknya mampu diterima oleh semua kalangan buddhis maupun non buddhis, intelek maupun awam yang menyebabkannya dikatakan sebagai sebuah ajaran yang universal. Sesungguhnya tidak perlu menjadi seorang umat Buddha untuk menjadi seorang buddhis sejati. Jadikanlah ajaran Buddha sebagai pedoman hidup (the way of life). Buddha Gautama telah mewariskan sebuah ajaran yang indah pada awalnya, indah pada pertengahannya, dan indah pada akhirnya. Sudah sewajarnya bila kita menjaga dan melestarikan warisan dunia ini demi kehidupan saat ini dan demi generasi yang akan datang. Tiada selembar halaman pun dalam sejarah agama Buddha yang telah diserami oleh sinar api-api pengadilan terhadap para pembangkang, atau digelapi oleh asap dari kota-kota para pembangkang ataupun kaum kafir yang terbakar, atau dimerahi oleh darah korban-korban tak berdosa akibat kebencian keagamaan. Agama Buddha menggunakan hanya sebilah pedang pedang kebijaksanaan, dan mengenal hanya satu musuh kebodohan. Ini adalah pembuktian sejarah, yang tak terbantahkan Prof. Bapat, 2500 years of Buddhism 68
77 Bacaan Lanjutan Keyakinan Umat Buddha, Sri Dhammananda, Penerbit Karaniya Buku Panduan Pelatihan Dharmaduta, Vidyāsenā Vihāra Vidyāloka Yogyakarta Intisari Agama Buddha, Pandita S. Widyadharma Buku Kenangan 20 Tahun Pengabdian Vidyāsenā: Think Globally Act Locally Melangkah di Keheningan Mengenal Lebih Dekat Bhikkhu Uttammo dan Ajaran Agama Buddha Uca pa n Te r i m a Ka s i h Terima kasih kepada orang-orang berikut ini yang telah menambah wawasan penulis mengenai Ajaran Buddha baik secara lisan maupun tulisan: Pak Widiyono, Pak Hudoyo Hupudio, Y.M. Sri Paññavaro, Y.M. Jotidhammo, Y.M. Sri Dhammananda, Y.M. Ajahn Chah, Pandita S. Widyadharma, ko Andy Boedianto, ko Ashien, dan Cik Marlin. Terima kasih juga kepada Seng Hansun atas dorongannya dan Willy Yandi Wijaya atas editannya, dan tentunya tak lupa kepada rekan-rekan Vidyāsenā. Dan terakhir, tak pantas bila saya tidak menyampaikan rasa terima kasih kepada mas Fahd Djibran, seorang cendekiawan Muslim yang menjadi proof reader pertama segera setelah naskah buku ini saya buat. Terima kasih banyak atas masukanmasukannya yang sunguh berharga karena meninjau buku ini dari sudut pandang Non-Buddhis. May u all be happy... 69
78 LEMBAR SPONSORSHIP Dana Dhamma adalah dana yang tertinggi Sang Buddha Jika Anda berniat untuk menyebarkan Dhamma, yang merupakan dana yang tertinggi, dengan cara menyokong biaya percetakan dan pengiriman buku-buku dana (free distribution), guntinglah halaman ini dan isi dengan keterangan jelas halaman berikut, kirimkan kembali kepada kami. Dana Anda bisa dikirimkan ke : Rek BCA Cab. Pingit Yogyakarta a.n. CAROLINE EVA MURSITO atau Vidyāsenā Production Vihāra Vidyāloka Jl. Kenari Gg. Tanjung I No.231 Yogyakarta Telp. / Fax (0274) Keterangan lebih lanjut, hubungi : Insight Vidyāsenā Production [email protected] 70
79 LEMBAR PATTIDANA DI SINI... 71
80 72 Basic Buddhism
Ikhtisar Ajaran Buddha
Ikhtisar Ajaran Buddha Juga bagi para non-buddhis seperti saya, naskah ini memberikan cukup informasi dan pemahaman yang memadai mengenai Buddhisme. Sungguh memikat. Fahd Djibran, cendekiawan Muslim BASIC
Ikhtisar Ajaran Buddha
Ikhtisar Ajaran Buddha Juga bagi para non-buddhis seperti saya, naskah ini memberikan cukup informasi dan pemahaman yang memadai mengenai Buddhisme. Sungguh memikat. Fahd Djibran, cendekiawan Muslim BASIC
Agama dan Tujuan Hidup Umat Buddha Pengertian Agama
Agama dan Tujuan Hidup Umat Buddha Pengertian Agama Kata agama berasal dari kata dalam bahasa Pali atau bisa juga dari kata dalam bahasa Sansekerta, yaitu dari akar kata gacc, yang artinya adalah pergi
Mengapa bhikkhu harus dipotong rambutnya? Mengapa bhikkhu itu tidak boleh beristeri? Mengapa anak perempuan tidak boleh dekat bhikkhu?
TENTANG SANG BUDDHA 1. Apa arti kata Buddha? Kata Buddha berarti "Yang telah Bangun" atau "Yang telah Sadar", yaitu seseorang yang dengan usahanya sendiri telah mencapai Penerangan Sempurna. 2. Apakah
Sutta Nipata menyebut keempat faktor sebagai berikut: Lebih lanjut, murid para
1 Ciri-ciri Seorang Sotapanna (The Character of a Stream-enterer) Pada umumnya Tipitaka menjelaskan seorang Sotapanna sehubungan dengan empat faktor. Tiga faktor pertama dari keempat faktor Sotapatti ini
D. ucapan benar E. usaha benar
1. Keyakinan yang dituntut dalam agama Buddha adalah A. keyakinan tanpa dasar terhadap seluruh ajaran Buddha B. keyakinan yang muncul dari proses pembelajaran, pengalaman, dan perenungan C. keyakinan yang
PELAJARAN 1 UPACARA PEMBERIAN NAMA PANGERAN SIDDHARTA
PELAJARAN 1 UPACARA PEMBERIAN NAMA PANGERAN SIDDHARTA 1. Raja Sudhodhana mengundang 108 pertapa/brahmana, diantara 108 pertapa itu ada 8 orang pertapa bijak 2. Salah satu orang bijak adalah Kondanya 3.
Manfaatkan Waktu. Semaksimal Mungkin
Manfaatkan Waktu Semaksimal Mungkin Oleh: U Sikkhānanda (Andi Kusnadi) Pernahkah anda merenungkan seberapa baik anda memanfaatkan waktu yang anda miliki? Dapat dipastikan jawabannya adalah TIDAK. Sebagian
Sutta Kalama: Kepada Para Kalama (Kalama Sutta: To the Kalamas)
1 Sutta Kalama: Kepada Para Kalama (Kalama Sutta: To the Kalamas) [Anguttara Nikaya 3.65] Demikianlah telah saya dengar. Bhagavan sedang melakukan perjalanan bersama orang-orang Kosala dengan sekumpulan
Dharmayatra tempat suci Buddha
Dharmayatra tempat suci Buddha 1. Pengertian Dharmayatra Dharmayatra terdiri dari dua kata, yaitu : dhamma dan yatra. Dharmma (Pali) atau Dharma (Sanskerta) artinya kesunyataan, benar, kebenaran, hukum,
LEMBAR SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER GASAL SMA EHIPASSIKO SCHOOL BSD T. P. 2016/2017
LEMBAR SOAL ULANGAN AKHIR SEMESTER GASAL SMA EHIPASSIKO SCHOOL BSD T. P. 2016/2017 Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Hari, Tanggal : Rabu 8 Maret 2017 Kelas/Semester : XI/IV Alokasi Waktu : 120 menit Guru
SUTRA 42 BAGIAN. B. Nyanabhadra
SUTRA 42 BAGIAN [ ] B. Nyanabhadra RAJA MING DINASTI HAN Tahun 28-75 Mimpi tentang makhluk memancarkan cahaya kuning KASYAPA MATANGA & DHARMARATNA Tahun 67 dari India ke Luoyang Menerjemahkan Sutra 42
Meditasi. Oleh : Taridi ( ) KTP. Standar Kompetensi Mengembangkan meditasi untuk belajar mengendalikan diri
Meditasi Oleh : Taridi (0104510015) KTP Standar Kompetensi Mengembangkan meditasi untuk belajar mengendalikan diri Kompetensi Dasar Mendeskripsikan meditasi sebagai bagian dari jalan mulia berunsur delapan.
PANDANGAN BENAR : Upa. Jayagandho Willy Yandi Wijaya Proof Reader : Upa. Sasanasanto Seng Hansun
PANDANGAN BENAR Penulis : Upa. Jayagandho Willy Yandi Wijaya Proof Reader : Upa. Sasanasanto Seng Hansun Ukuran Buku : 80 x 120 mm Kertas sampul : Art Cartoon 210 gsm Kertas isi : HVS 70 gsm Jumlah Halaman
UNTAIAN KISAH KEHIDUPAN (JATAKAMALA) Kisah Ajastya
1 UNTAIAN KISAH KEHIDUPAN (JATAKAMALA) Kisah Ajastya Kelahiran Bodhisattva berikut menunjukkan bagaimana sebagai seorang pertapa, beliau mempraktikkan kemurahan hati dan pemberian secara terusmenerus,
Aturan -Moralitas Buddhis
1 35 Aturan -Moralitas Buddhis Pengertian, Penjelasan, dan Penerapan Ronald Satya Surya i 1 3ii 1 3Buku ini saya dedikasikan untuk: Ibu yang mencurahkan cinta dan kasih sayangnya tanpa pernah mengeluh,
Kompetensi Dasar: - Menumbuhkan kesadaran luhur dalam melaksanakan peringatan hari raya
Pendidikan Agama Buddha 2 Hari Raya Agama Buddha Petunjuk Belajar Sebelum belajar materi ini Anda diharapkan berdoa terlebih dahulu dan membaca materi dengan benar serta ketika mengerjakan latihan soal
Dhamma Inside. Kematian Yang Indah. Orang-orang. Akhir dari Keragu-raguan. Vol September 2015
Dhamma Inside Vol. 22 - September 2015 Kematian Yang Indah Akhir dari Keragu-raguan Orang-orang Kematian Yang Indah Oleh : Bhikkhu Santacitto Kematian adalah peristiwa yang tidak dapat dihindari oleh siapapun,
Dhamma Inside. Bersikap Ramah. Standar. Berada di luar Kata-kata : Alamilah Sendiri. Vol Oktober 2015
Dhamma Inside Vol. 23 - Oktober 2015 Bersikap Ramah Standar Berada di luar Kata-kata : Alamilah Sendiri Bersikap Ramah Oleh : Bhikkhu Santacitto Pada umumnya, ramah dipahami sebagai sikap positif yang
1 3SEKSUALITAS DALAM BUDDHISME. Buddhisme dan Seks Judul Asli : Buddhism and Sex Alih Bahasa : amri Editor : Willy Yandi Wijaya
1 3 1 3 1 3SEKSUALITAS DALAM BUDDHISME Buddhisme dan Seks Judul Asli : Buddhism and Sex Alih Bahasa : amri Editor : Willy Yandi Wijaya Homoseksualitas dan Buddhisme Judul Asli : Homosexuality and Theravada
21. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha untuk Sekolah Dasar (SD)
21. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Buddha untuk Sekolah Dasar (SD) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan
Siapakah Yesus Kristus? (4/6)
Siapakah Yesus Kristus? (4/6) Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS? Nama Pelajaran : Yesus adalah Juru Selamat dan Tuhan Kode Pelajaran : SYK-P04 Pelajaran 04 - YESUS ADALAH JURU SELAMAT DAN TUHAN DAFTAR
Tidak Ada Ajahn Chan. Kelahiran dan Kematian
Tidak Ada Ajahn Chan Kelahiran dan Kematian Latihan yang baik adalah bertanya kepada diri Anda sendiri dengan sungguh-sungguh, "Mengapa saya dilahirkan?" Tanyakan diri Anda sendiri dengan pertanyaan ini
Sutta Magandiya: Kepada Magandiya (Magandiya Sutta: To Magandiya) [Majjhima Nikaya 75]
1 Sutta Magandiya: Kepada Magandiya (Magandiya Sutta: To Magandiya) [Majjhima Nikaya 75] Magandiya, seandainya ada seorang penderita kusta yang dipenuhi luka- luka dan infeksi, dimakan oleh cacing, menggaruk
1. Mengapa bermeditasi?
CARA BERMEDITASI 1. Mengapa bermeditasi? Oleh: Venerable Piyananda Alih bahasa: Jinapiya Thera Dalam dunia ini, apakah yang dicari oleh kebanyakan orang dalam hidupnya? Sebenarnya, mereka ingin mencari
Hari Raya Korban? (Idul Adha)
Hari Raya Korban? (Idul Adha) Ini merupakan cerita yang terkenal pada saat Allah bertanya pada Abraham untuk mengorbankan anaknya. Juga merupakan cerita seorang anak muda yang dihukum mati oleh Tuhan.
62 PANDANGAN SALAH (3) Dhammavihārī Buddhist Studies
62 PANDANGAN SALAH (3) D. PAHAM PENYANGKALAN TANPA AKHIR Amarāvikkhepavāda Para bhikkhu, beberapa pertapa dan Brahmana seperti belut yang menggeliat. Pada saat ditanya tentang sesuatu, mereka menjawab
DOA. Prinsip: Doa dimulai dengan hubungan kita dengan Tuhan.
DOA Pengantar Apakah Anda pernah kagum akan sesuatu yang dikatakan oleh seorang anak kecil? Mungkin caranya menerangkan bagaimana cara kerja sebuah mainan. Atau mungkin ia menceriterakan tentang suatu
Hari Raya Korban? Hari Raya Korban? (Idul Adha) (Idul Adha) Yesus menyatakan:
Yesus menyatakan: Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata
1.Definisi Hukum. 2.Pembagian/jenis-jenis Hukum
1.Definisi Hukum Hukum adalah himpunan petunjuk hidup (perintah atau larangan) yang mengatur tata tertib dalam suatu masyarakat yang seharusnya ditaati oleh anggota masyarakat dan jika dilanggar dapat
REFORMASI KESEHATAN PERLU DILAKSANAKAN
BEKERJA UNTUK YANG KECANDUAN REFORMASI KESEHATAN PERLU DILAKSANAKAN Setiap reformasi yang benar mendapat tempat dalam pekerjaan keselamatan dan cenderung mengangkat jiwa kepada satu kehidupan yang baru
Dāna-4. Berdana Kepada Bhikkhu Leher Kuning? Pariyatti Sāsana hp ; pin. Friday, April 12, 13
Dāna-4 Berdana Kepada Bhikkhu Leher Kuning? Pariyatti Sāsana www.pjbi.org; hp.0813 1691 3166; pin 2965F5FD Definisi Bhikkhu Leher-Kuning Anggota-anggota dari silsilah Buddha Gotama yang berleherkuning,
En-Publishing Refleksi-refleksi mengenai Rumah Sakit. Perenungan buat dokter, perawat, pasien, keluarga
En-Publishing Refleksi-refleksi mengenai Rumah Sakit Perenungan buat dokter, perawat, pasien, keluarga Jeffrey Lim Puisi dibuat oleh Sdr. Jeffrey Lim TOC Daftar Isi I..Pendahuluan : Rumah sakit itu tempat
Mari berbuat karma baik dengan mendanai cetak ulang buku ini sebagai derma Dharma kepada sesama dan pelimpahan jasa kepada leluhur.
book Bakti Kepada Bakti Kepada Orangtua merupakan paduan ajaran klasik Buddha yang inspiratif dengan tampilan modern yang atraktif, sehingga merupakan sarana efektif untuk: membelajarkan sifat luhur sejak
BAB I PENDAHULUAN. pada satu objek tertentu agar pikiran dapat lebih fokus. Dalam bahasa Pāli
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Meditasi adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk memusatkan pikiran pada satu objek tertentu agar pikiran dapat lebih fokus. Dalam bahasa Pāli meditasi disebut juga
My Journey with Jesus #2 - Perjalananku dengan Yesus #2 THE JOY OF THE LORD SUKACITA DALAM TUHAN
My Journey with Jesus #2 - Perjalananku dengan Yesus #2 THE JOY OF THE LORD SUKACITA DALAM TUHAN Hari ini judul khotbah saya adalah THE JOY OF THE LORD/SUKACITA DALAM TUHAN. Saya rindu hari ini bahkan
Meditasi Mettā (Meditasi Cinta Kasih)
Meditasi Mettā (Meditasi Cinta Kasih) oleh: U Sikkhānanda (Andi Kusnadi) Dari ceramah Dhamma Chanmyay Sayadaw pada retret meditasi vipassanā tanggal 2-3 Jan.2009 di Pusat Meditasi YASATI, Bacom, Cianjur,
PANDANGAN BENAR : Upa. Jayagandho Willy Yandi Wijaya Proof Reader : Upa. Sasanasanto Seng Hansun
PANDANGAN BENAR Penulis : Upa. Jayagandho Willy Yandi Wijaya Proof Reader : Upa. Sasanasanto Seng Hansun Ukuran Buku : 80 x 120 mm Kertas sampul : Art Cartoon 210 gsm Kertas isi : HVS 70 gsm Jumlah Halaman
Sutta Devadaha: Di Devadaha (Devadaha Sutta: At Devadaha) [Majjhima Nikaya 101]
1 Sutta Devadaha: Di Devadaha (Devadaha Sutta: At Devadaha) [Majjhima Nikaya 101] [Buddha]: Menghampiri para Nigantha yang mengajarkan demikian, saya bertanya kepada mereka, Sahabat- sahabat Nigantha,
SEKOLAH SESUDAH INI. "Dan mereka akan melihat wajah-nya dan nama-nya akan tertulis di dahi mereka."
SEKOLAH SESUDAH INI "Dan mereka akan melihat wajah-nya dan nama-nya akan tertulis di dahi mereka." Sorga adalah sebuah sekolah; bidang studinya, alam semesta; gurunya, Yang tak berkesudahan hari-nya. Cabang
本師釋迦牟尼佛. (Ben shi shi jia mou ni fo) Sakyamuni Buddha
本師釋迦牟尼佛 (Ben shi shi jia mou ni fo) Sakyamuni Buddha Hyang Buddha Sakyamuni adalah pendiri agama Buddha, beliau mengajarkan bagaimana manusia melepaskan penderitaannya, mengajarkan hal-hal yang baik dan
Kasih dan Terima Kasih Kasih dan Terima Kasih
Namo tassa bhagavato arahato sammā sambuddhassa. Pada kesempatan yang sangat baik ini saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran pengurus Dhammavihārī Buddhist Studies (DBS)
Revelation 11, Study No. 39 in Indonesian Language. Seri Kitab Wahyu pasal 11, Pembahasan No. 39, oleh Chris McCann
Revelation 11, Study No. 39 in Indonesian Language Seri Kitab Wahyu pasal 11, Pembahasan No. 39, oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di pemahaman Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu.
Rangkuman Kata Mutiara Tentang Waktu
Rangkuman Kata Mutiara Tentang Waktu Ambillah waktu untuk berfikir, itu adalah sumber kekuatan. Ambillah waktu untuk bermain, itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi. Ambillah waktu untuk berdoa,
Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #19 oleh Chris McCann
Seri Kitab Wahyu Pasal 14, Pembahasan #19 oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di pembahasan Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu. Malam ini adalah pembahasan #19 tentang Wahyu, pasal
Injil Maria Magdalena. (The Gospel of Mary)
Injil Maria Magdalena (The Gospel of Mary) Para Murid Berbincang-bincang dengan Guru Mereka, Sang Juruselamat Apakah segala sesuatu akan hancur? Sang Juruselamat berkata, Segenap alam, segala hal yang
Written by Administrator Wednesday, 25 January :43 - Last Updated Saturday, 28 January :28
Ven. Ajahn Karuniko (Christopher John Woodfine) dilahirkan pada tahun 1953 dekat wilayah Manchester di Inggris. Beliau adalah lulusan Universitas Sheffield dengan gelar kehormatan di bidang Teknik Elektronika
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pergilah, bekerjalah untuk keselamatan orang banyak, untuk kebahagiaan orang banyak, karena belas kasihan pada dunia, untuk kesejahteraan, untuk keselamatan,
Mahā Maṅgala Sutta (1)
Mahā Maṅgala Sutta (1) Azimat Buddhis Dhammavihārī Buddhist Studies www.dhammavihari.or.id Pseudo Sebab-Akibat Jangan memindah guci-abu-jenasah yang sudah disimpan di vihāra. Penempatan guci-abu. Ibu mengandung
Siapakah Yesus Kristus? (5/6)
Siapakah Yesus Kristus? (5/6) Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS? Nama Pelajaran : Yesus Memiliki Semua Kuasa dan Penakluk Kematian Kode Pelajaran : SYK-P05 Pelajaran 05 - YESUS MEMILIKI SEMUA KUASA
62 Pandangan Salah (6)
62 Pandangan Salah (6) Dari Brahmajāla Sutta dan Kitab Komentarnya Dhammavihārī Buddhist Studies www.dhammavihari.or.id PAHAM SPEKULATIF TENTANG MASA DEPAN (44) (APARANTAKAPPIKA) I. Paham tentang Pemusnahan
SĪLA-2. Pariyatti Sāsana hp ; pin!
SĪLA-2 Pariyatti Sāsana www.pjbi.or.id; hp.0813 1691 3166; pin! 2965F5FD Murid-buangan (Upāsakacaṇḍāla) Vs Murid-permata (upāsakaratana) Murid buangan atau pengikut-yang-ternoda (upāsakamala) atau pengikut-kelas-bawah
Siapakah Yesus Kristus? (3/6)
Siapakah Yesus Kristus? (3/6) Nama Kursus : SIAPAKAH YESUS KRISTUS? Nama Pelajaran : Yesus adalah Allah Sejati dan Manusia Sejati Tanpa Dosa Kode Pelajaran : SYK-P03 Pelajaran 03 - YESUS ADALAH ALLAH SEJATI
DPD Patria Sumatera Utara. Juara II. Lomba Berkarya Dhamma PIKIRAN ADALAH PELOPOR DARI SEGALA SESUATU DODI PURNOMO WIJAKSONO, SURABAYA
DPD Patria Sumatera Utara Juara II Lomba Berkarya Dhamma PIKIRAN ADALAH PELOPOR DARI SEGALA SESUATU DODI PURNOMO WIJAKSONO, SURABAYA Namo Tassa Bhagavato Arahato Samma Sambuddhassa Namo Tassa Bhagavato
Level 2 Pelajaran 12
Level 2 Pelajaran 12 KASIHNYA ALLAH (Bagian 1) Oleh Don Krow Hari ini kita akan bahas mengenai kasihnya Allah. Di 1 Korintus 13:13 tertulis berikut ini: Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman,
Sutta Mahavacchagotta (The Greater Discourse to Vacchagotta)
1 Sutta Mahavacchagotta (The Greater Discourse to Vacchagotta) Demikianlah telah saya dengar. Suatu ketika Bhagavan sedang berada di Kalantakanivapa, Hutan Bambu, di Rajagaha. Kemudian Samana Vacchagotta
Pratityasamutpada: Sebuah Pujian Buddha (Dependent Arising: A Praise of the Buddha) oleh Je Tsongkhapa
1 Pratityasamutpada: Sebuah Pujian Buddha (Dependent Arising: A Praise of the Buddha) oleh Je Tsongkhapa Sujud kepada Guruku, Manjushri yang belia! Yang melihat dan membabarkan pratityasamutpada (saling
Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Tesalonika
1 Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Tesalonika Kepada yang kekasih saudara-saudari saya seiman di Tesalonika yaitu kalian yang sudah bersatu dengan Allah Bapa dan Tuhan kita Kristus Yesus: Salam
Merenungkan/Membayangkan Penderitaan Neraka
Merenungkan/Membayangkan Penderitaan Neraka Oleh: U Sikkhānanda (Andi Kusnadi) Seseorang harus benar-benar mempertimbangkan dan merenungkan penderitaan yang akan dijalaninya di neraka. Sewaktu Sang Buddha
28. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DAN BUDI PEKERTI SD
28. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DAN BUDI PEKERTI SD KELAS: I Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan secara keseluruhan
KAMMA 1 Bukan kata lain dari fatalisme atau takdir. Pariyatti Sāsana hp ; pin!
KAMMA 1 Bukan kata lain dari fatalisme atau takdir Pariyatti Sāsana www.pjbi.or.id; hp.0813 1691 3166; pin! 2965F5FD KEMUNCULAN TEORI KAMMA Ciri khas agama-agama di India sejak awal periode Vedic (1750-500
"Jika saya begitu takut maka biarlah saya mati malam ini". Saya takut, tetapi saya tertantang. Bagaimanapun juga toh akhirnya kita harus mati.
Malam di Perkuburan Diposkan pada 03 Januari 2016 Sebelumnya saya tidak pernah tinggal di tanah perkuburan. Dan tak ingin tinggal di sana. Namun suatu saat saya mengajak seorang pa-kow. Ketika saya sampai
-AKTIVITAS-AKTIVITAS
KEHIDUPAN BARU -AKTIVITAS-AKTIVITAS BARU Dalam Pelajaran Ini Saudara Akan Mempelajari Bagaimanakah Saudara Mempergunakan Waktumu? Bila Kegemaran-kegemaran Saudara Berubah Kegemaran-kegemaran Yang Baru
Mengapa berdana? Pariyatti Sāsana hp ; pin. Friday, April 12, 13
Dāna-3 Mengapa berdana? Pariyatti Sāsana www.pjbi.org; hp.0813 1691 3166; pin 2965F5FD 1 Pandangan Tentang Dāna Kaum materialis: Dāna tidak ada buah karena tidak ada kehidupan setelah ini. Kaum Theis:
ALKITAB. Alkitab The Bible Halaman 1
ALKITAB Pengantar Perempuan manakah yang tidak menghargai surat cinta dari orang yang ia cintai? Dalam diri kita semua terdapat suatu kebutuhan untuk mengetahui bahwa kita diperhatikan dan dihargai, terutama
Sutta Maha Kammavibhanga: Penjelasan Mendetail Tentang Kamma (Maha Kammavibhanga Sutta: The Great Exposition of Kamma) Majjhima Nikaya 136
1 Sutta Maha Kammavibhanga: Penjelasan Mendetail Tentang Kamma (Maha Kammavibhanga Sutta: The Great Exposition of Kamma) Majjhima Nikaya 136 1. Demikianlah telah saya dengar. Pada suatu waktu, Bhagavan
Rencana Allah untuk Gereja Tuhan
Rencana Allah untuk Gereja Tuhan Yesus berkata, "Aku akan mendirikan jemaatku dan alam maut tidak akan menguasainya" (Matius 16:18). Inilah janji yang indah! Ayat ini memberitahukan beberapa hal yang penting
Pdt. Gerry CJ Takaria
KEPASTIAN KEDATANGAN KRISTUS Para rasul dan orang-orang Kristen yang mula-mula menganggap kedatangan Kristus kedua kali adalah pengharapan yang penuh bahagia (Tit. 2:13; bandingkan Ibr. 9:28). KEPASTIAN
Para rasul dan orang-orang Kristen yang mula-mula menganggap kedatangan Kristus kedua kali adalah pengharapan yang penuh bahagia (Tit.
Para rasul dan orang-orang Kristen yang mula-mula menganggap kedatangan Kristus kedua kali adalah pengharapan yang penuh bahagia (Tit. 2:13; bandingkan Ibr. 9:28). Kesaksian Kitab Suci. Kepastian Kedatangan
Dhammacakka Pavattana Sutta!
Khotbah Pertama Dhammacakka Pavattana Sutta! (S 5:420-424) Bagian1 Pariyatti Sāsana Yunior 2 www.pjbi.or.id; hp.0813 1691 3166; pin! 2965F5FD Bertemu Pertapa Telanjang Upaka Setelah 49 hari retret, Buddha
o Di dalam tradisi Theravāda, pāramī bukanlah untuk Buddha saja, tetapi sebagai prak/k yang juga harus dipenuhi oleh Paccekabuddha dan sāvakā.
o Apakah yang dimaksud dengan pāramī? Pāramī adalah kualitas mulia seper/ memberi, dll., yang disertai oleh belas kasih dan cara- cara yang baik (upāya kosalla) serta /dak ternoda oleh nafsu- keinginan,
Kolose. 1 1 Dari Paulus, rasul* Kristus Yesus
296 Kolose 1 1 Dari Paulus, rasul* Kristus Yesus sesuai dengan kehendak Allah dan dari Timotius, saudara kita dalam Kristus. 2Kepada umat Allah, saudara-saudara yang setia dalam Kristus, yang tinggal di
E. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNADAKSA
- 1266 - E. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DAN BUDI PEKERTI SDLB TUNADAKSA KELAS : I Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan
KUMPULAN KATA-KATA BIJAK
KUMPULAN KATA-KATA BIJAK Sesuatu yang baik, belum tentu benar. Sesuatu yang benar, belum tentu baik. Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga. Sesuatu yang berharga/berguna, belum tentu bagus. Pikiran
1 1-4 Kepada yang kekasih saudara saya seiman Titus yaitu anak rohani
Surat Paulus kepada Titus 1 1-4 Kepada yang kekasih saudara saya seiman Titus yaitu anak rohani saya yang sesungguhnya karena mempunyai keyakinan yang sama: Salam dari Paulus, hamba Allah dan rasul Kristus
Kebahagiaan Berdana. Diposkan pada 02 Desember 2015
Kebahagiaan Berdana Diposkan pada 02 Desember 2015 Berdana dan melaksanakan Dhamma di dalam kehidupan sehari-hari, itulah berkah utama Kehidupan berlangsung terus dari waktu ke waktu. Hari berganti bulan
Mari berbuat karma baik dengan mendanai cetak ulang buku ini sebagai derma Dharma kepada sesama dan pelimpahan jasa kepada leluhur, agar ajaran
book Mari berbuat karma baik dengan mendanai cetak ulang buku ini sebagai derma Dharma kepada sesama dan pelimpahan jasa kepada leluhur, agar ajaran Buddha bisa kita sebar kepada banyak orang. KARMA Ajaran
Tahun A-B-C : Hari Raya Paskah LITURGI SABDA
1 Tahun A-B-C : Hari Raya Paskah LITURGI SABDA Bacaan Pertama Kis. 10 : 34a. 37-43 Kami telah makan dan minum bersama dengan Yesus setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Bacaan diambil dari Kisah Para
Gatha Dasar Jalan Tengah (Mulamadhyamakakarika) The Fundamental Wisdom of the Middle Way oleh Arya Nagarjuna. Pengantar
1 Gatha Dasar Jalan Tengah (Mulamadhyamakakarika) The Fundamental Wisdom of the Middle Way oleh Arya Nagarjuna Pengantar Arya Nagarjuna yang hidup di India Selatan sekitar abad kedua Masehi, tak diragukan
"Ia [kasih]tidak melakukan yang tidak sopan."
"Ia [kasih]tidak melakukan yang tidak sopan." SOPAN SANTUN Nilai sopan santun sangat kurang dihargai. Banyak orang yang baik hatinya kurang memiliki tingkah laku yang baik. Banyak orang dihormati karena
Willy Yandi Wijaya. Pikiran Benar
Willy Yandi Wijaya Pikiran Benar i PIKIRAN BENAR Penulis : Willy Yandi Wijaya Proof Reader : Upa. Sasanasanto Seng Hansun Ukuran Buku : 105 x 148.5 mm Kertas sampul : Art Cartoon 210 gsm Kertas isi : HVS
KUMPULAN 50 TANYA JAWAB (16) Di Website Buddhis Samaggi Phala Oleh Bhikkhu Uttamo Online sejak tanggal 24 September 2005 s.d.
KUMPULAN 50 TANYA JAWAB (16) Di Website Buddhis Samaggi Phala Oleh Bhikkhu Uttamo Online sejak tanggal 24 September 2005 s.d. 12 November 2005 1. Dari: Herlina, Medan Bhante, Selama ini sering ada pandangan
Mengapa memberitakan Injil? Kis.14:15-18 Ev. Jimmy Pardede, M.A.
Mengapa memberitakan Injil? Kis.14:15-18 Ev. Jimmy Pardede, M.A. Hari ini kita akan melihat mengapa kita harus memberitakan Injil Tuhan? Mengapa harus repot-repot mengadakan kebaktian penginjilan atau
SUTTA SATIPATTHANA [JALAN LANGSUNG]
1 SUTTA SATIPATTHANA Demikianlah telah saya dengar. Suatu ketika Bhagavan sedang berada di negeri Kuru, di kota para Kuru bernama Kammasadhamma. Beliau berkata kepada para bhikkhu: Para bhikkhu. Mereka
KEBEBASAN DARI KEKUATIRAN DAN KEGELISAHAN Bagian ke-2
KEBEBASAN DARI KEKUATIRAN DAN KEGELISAHAN Bagian ke-2 Pengantar Umat manusia dipenuhi dengan orang-orang yang kuatir, gelisah. Bagaimana hal ini bisa terjadi padahal Yesus berjanji bahwa kehidupan yang
Bab 2. Landasan Teori. Buddhisme dengan suatu citra tertentu, sedangkan dalam komunitas Buddhis tradisional
Bab 2 Landasan Teori 2.1 Konsep Budha Santina ( 2004 ) mengatakan bahwa di Barat, masyarakat umum memandang Buddhisme dengan suatu citra tertentu, sedangkan dalam komunitas Buddhis tradisional ( khususnya
RENUNGAN KITAB 1Timotius Oleh: Pdt. Yabes Order
RENUNGAN KITAB 1Timotius Oleh: Pdt. Yabes Order HARI 1 JEJAK-JEJAK PEMURIDAN DALAM SURAT 1-2 TIMOTIUS Pendahuluan Surat 1-2 Timotius dikenal sebagai bagian dari kategori Surat Penggembalaan. Latar belakang
Desas-desus. 1 P a g e
Desas-desus Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui
APA KATA TUHAN? RENUNGAN SINGKAT! POKOK ANGGUR YANG BENAR. Yoh 15:1-8
Yoh 15:1-8 POKOK ANGGUR YANG BENAR HARI MINGGU PASKAH V 03 MEI 2015 (1) Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. (2) Setiap ranting pada-ku yang tidak berbuah, dipotong-nya dan setiap
MEDITASI VIPASSANĀ & EMPAT KESUNYATAAN MULIA
(edited version 15/8/06, Daung) (edited version 17/8/06, Andi Kusnadi) CERAMAH DI CAMBRIDGE MEDITASI VIPASSANĀ & EMPAT KESUNYATAAN MULIA OLEH : SAYADAW CHANMYAY Kata Pengantar Minggu sore 11 Juli 2004
A Life of Blessings Hidup Penuh dengan Berkah. T Y LEE www.justbegood.net
1 A Life of Blessings Hidup Penuh dengan Berkah T Y LEE www.justbegood.net PENERJEMAH: YULIANA LIE PANNASIRI, MBA PENYUNTING: NYANNA SURIYA JOHNNY, SE DESIGN COVER: GEELYN LIM LINA DHAMMANARI DESIGN LAY
Lesson 2 for January 13, 2018
Lesson 2 for January 13, 2018 Kita harus bersyukur atas berkat-berkat yang diberikan Allah kepada kita. Namun, haruskah berkat-berkat itu menjadi pendorong kita untuk menyembah Dia? Di sisi lain, kita
Tiga Sumpah Agung. Hal 1.
Tiga Sumpah Agung Banyak diantara kalian sudah mengetahui bahwa ketika saya berusia 25 tahun, saya pergi mengunjungi sebuah kuil Taoisme di Taiwan dari sanalah Maha Dewi Yao Chi Jin Mu membuka mata dewa
Buddhism And Duties Of A Lay Buddhist oleh: Ven. K. Sri Dhammananda
Buddhism And Duties Of A Lay Buddhist oleh: Ven. K. Sri Dhammananda AJARAN BUDDHA DAN KEWAJIBAN SEORANG UMAT BUDDHA Pendahuluan Agama Buddha bukanlah agama yang berdasarkan kepercayaan. Agama Buddha adalah
1 Tesalonika. 1 1 Dari Paulus, Silas, dan Timotius. 2 1 Saudara-saudara, kamu tahu bahwa
301 1 Tesalonika 1 1 Dari Paulus, Silas, dan Timotius untuk jemaat yang tinggal di Tesalonika, yang ada dalam Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Semoga Allah memberikan berkat dan damai sejahtera kepada
Prinsip Pemulihan Tuhan
Prinsip Pemulihan Tuhan Pendahuluan Kitab Ayub sangat baik karena mengandung pelajaran penting bagaimana kita menghadapi kesulitan dan tragedi dalam hidup kita. Beberapa mengajarkan bahwa kitab Ayub tidak
Amatilah citta kita. Jika kita benar-benar percaya
Amatilah citta kita. Jika kita benar-benar percaya bahwa semua kebahagiaan yang kita alami berasal dari objek materi dan kita mencurahkan seluruh hidup kita untuk mengejarnya, maka kita dikendalikan oleh
MODUL PENGANTAR FILSAFAT (PSI 113) MODUL 1 PENGERTIAN DAN PERENUNGAN KEFILSAFATAN DISUSUN OLEH. Drs. MULYO WIHARTO, MM, MHA UNIVERSITAS ESA UNGGUL
MODUL PENGANTAR FILSAFAT (PSI 113) MODUL 1 PENGERTIAN DAN PERENUNGAN KEFILSAFATAN DISUSUN OLEH Drs. MULYO WIHARTO, MM, MHA UNIVERSITAS ESA UNGGUL 2012 Revisi (Tgl) : 0 (10 Juni 2013) 1 / 12 PENGERTIAN
Mengatasi Kegagalan & Mencapai Kejayaan Melalui KRISTUS YESUS
Mengatasi Kegagalan & Mencapai Kejayaan Melalui KRISTUS YESUS 1. TUHAN YESUS KRISTUS KAMU berkata di dalam alkitab Galatia 6:7 Karena apa yang ditabur orang, itu juga akan dituainya. YESUS KRISTUS aku
Surat Paulus kepada Titus
Titus 1:1-4 1 Titus 1:6 Surat Paulus kepada Titus 1-4 Kepada yang kekasih saudara saya seiman Titus yaitu anak rohani saya yang sesungguhnya karena mempunyai keyakinan yang sama: Salam dari Paulus, hamba
