III. KERANGKA PEMIKIRAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "III. KERANGKA PEMIKIRAN"

Transkripsi

1 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Pertanian terpadu yang dibangun pada suatu lokasi pada dasarnya merupakan ilmu rancang bangun dan rekayasa sumber daya pertanian yang tuntas. Pertanian terpadu pada dasarnya tidak terlepas dari kaidah-kaidah ilmu usahatani yang berkembang lebih lanjut. Ilmu usahatani itu sendiri merupakan suatu proses produksi biologis yang memanfaatkan sumber daya alam, sumber daya manusia, modal, dan manajemen yang jumlahnya terbatas. Karena sumber daya tersebut jumlahnya terbatas maka penerapan pertanian terpadu dalam proses produksi pertanian tidak terlepas dari prinsip dan teori ekonomi (Kusnadi 2008) Definisi Pertanian Terpadu Pertanian terpadu atau Integrated Farming System (IFS) merupakan pengembangan dari berbagai konsep pertanian berkelanjutan yang telah banyak dikembangkan sebelumnya misalnya Biodinamic Farming oleh Steiner pada tahun 1924, LEISA (Low External Input Sustainable Agriculture) yang dikembangkan Reintjess (Righby dan Caceres 2001). Pertanian terpadu adalah bentuk pengembangan sektor pertanian yang memposisikan usahatani sebagai suatu sistem dikenal sebagai usahatani terpadu atau farming system. Interaksi pada usahatani yang diintegrasikan dapat mempertahankan keberadaan usahatani dan menjaga bahkan meningkatkan kestabilan pendapatan usahatani (Harwood 1979). Pengelolaan usahatani terpadu melibatkan berbagai kegiatan usahatani yang dikelola secara bersamaan dengan menggunakan sumberdaya yang tersedia. Pengusahaan sistem usahatani yang berbeda perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut antara lain (1) sifat usahatani, (2) sumber daya manusia, (3) skala usaha, (4) sarana dan prasarana, (5) kemitraan dan hubungan antar subssitem agribisnis (orientasi usaha), dan (6) kelestarian sumber daya dan lingkungan (Rusono 1999, Sutanto 2004). Petani harus membuat pilihan terhadap cabang usaha yang akan diterapkan agar diperoleh tingkat produksi tertentu dengan pendapatan usahatani yang maksimal (Debertin 1986). Kombinasi optimal dari aktivitas usahatani yang diintegrasikan memiliki sifat melengkapi (komplementer), berinteraksi secara sinergis, dan berkelanjutan 24

2 (Behera et al., 2008). Interaksi dalam hubungan tersebut dapat meningkatkan efisiensi produksi, produksi optimal, peningkatan daya saing produk, peningkatan pendapatan, sekaligus mewujudkan pertanian yang berwawasan lingkungan. Usahatani terpadu akan tercapai dengan baik jika terjadi pemanfaatan antara sumberdaya manusia, modal, alam, dan manajemen. Pemanfaatan keempat sumberdaya tersebut akan memberikan ciri teknologi ushatani berupa luas garapan, jumlah ternak, dan penggunaan tenaga kerja, penggunaan modal, pemilihan pola tanam serta memilih kombinasi usaha yang dianggap paling menguntungkan (Prodjodihardjo, 1988). Penerapan pertanian terpadu memiliki banyak manfaat bagi petani dan lingkungan antara lain sebagai upaya untuk mendiversifikasikan penggunaan sumberdaya, mengurangi risiko, mengoptimalkan penggunaan tenaga kerja, peningkatan produktivitas dan pendapatan, peningkatan efisiensi penggunaan sumberdaya, dan mengurangi ketergantungan dengan output dari luar (Devendra 1993). Konsep keterpaduan tersebut menurut Gumbira-Said (2002) identik dengan pengelolaan sistem agribisnis yang meliputi sistem yang terpadu vertikal maupun horizontal. Pertanian terpadu pun dapat dibangun dengan memadukan antara integrasi vertikal dan integrasi horisontal. Sistem agribisnis sendiri merupakan pengembangan dari diversifikasi usaha dimana masing-masing subsistemnya terkait antara satu dengan lainnya dalam satu sistem yang tidak dapat terpisahkan. Diversifikasi dapat dilakukan pada skala rumah tangga sampai dengan skala regional (wilayah). Diversifikasi secara vertikal biasanya ditandai dengan pengembangan usaha sampai dengan pasca panen misalnya sortasi, grading, pemrosesan atau pengolahan, pengemasan, penyimpanan, sampai dengan distribusi. Pengembangan diversifikasi secara horisontal diilustrasikan sebagai pengalokasian sumberdaya untuk berbagai aktivitas dalam periode (tahun) tertentu. Keberagaman aktivitas usahatani monokultur pada suatu wilayah dapat membentuk suatu kawasan (regional) yang terdiversifikasi secara horisontal (Siregar 2006) Pertanian Terpadu Tanaman-Ternak Proses integrasi ternak ke dalam usahatani tanaman, baik tanaman perkebunan, pangan, maupun hortikultura adalah mengusahakan sejumlah ternak, 25

3 baik ruminansia (sapi,kerbau, kambing, domba) dan atau pseudoruminansia (kelinci, kuda) tanpa mengurangi aktivitas dan produksi tanaman. Bahkan keberadaan ternak ini harus dapat meningkatkan produksi tanaman dan produktivitas ternak itu sendiri. Baik hewan ternak maupun tanaman, keduanya saling bersinergis dalam mencapai produksi yang optimal (Direktorat Jenderal Peternakan Deptan 2008). Pengembangan usahatani tanaman-ternak secara terpadu tersebut memiliki karakkteristik yang serupa pada pengelolaan usahatani secara intensif (Powell et al. 2004). Integrasi tanaman-ternak dapat dilakukan dalam satu rumah tangga petani atau dilakukan antara beberapa rumah tangga usahatani. Pilihan pengusahaan usahatani terpadu pada kedua skala tersebut sangat bergantung pada pengetahuan petani, motivasi, dan ketersediaan sumberdaya. Perpaduan antara tanaman-ternak dapat meningkatkan keuntungan dan keberlanjutan kegiatan usahatani. Integrasi ternak ke dalam suatu usahatani tanaman menjadi sangat penting pada saat pengusahaan tanaman secara organik (Russelle et al.2006). Adanya hubungan yang erat antara usahatani tanaman dan usahaternak salah satunya disebabkan karena ternak memiliki kemampuan mendaur ulang limbah usahatani secara efektif. Peningkatan pemanfaatan limbah pertanaman sebagai pakan ternak salah satunya dilatarbelakangi oleh adanya persaingan yang cukup tinggi antar ternak untuk memperoleh pakan hijauan lapang. Bahkan Zemmelink (2000) mengutarakan bahwa aksesibilitas pakan hijauan lapang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumberdaya tenaga kerja untuk mencari pakan. Pemanfaatan limbah tanaman sebagai pakan ternak di berbagai negara cukup tinggi. Sebanyak 70 persen kebutuhan pakan ternak di Bangladesh dipenuhi dengan memanfaatkan limbah usahatani tanaman. Kondisi yang hampir serupa juga terjadi di India dimana sekitar 350 juta ton limbah tanaman berpotensi untuk memenuhi 66 persen kebutuhan pakan ternak. Pemanfaatan limbah tanaman sebagai pakan ternak juga tinggi di beberapa negara lain, misalnya di Sri Lanka, Nepal dan Pakistan yakni rata-rata mencapai 49 persen (Perera 1992, Sidhu 1996, Renard 1997, Maehl 1997, diacu dalam Thomas et al. 2002). Hewan ternak juga memiliki peran yang sangat besar dalam pertanian terpadu yakni menjaga keberlanjutan produksi usahatani tanaman dengan cara penggunaan kotoran ternak 26

4 sebagai pupuk (Schiere et al. 2002). Benjamin et al. (1990) diacu dalam Edwards (1990) menunjukkan bahwa tanaman yang dipupuk dengan kotoran hewan memiliki produksi panen yang paling tidak sebanding atau lebih tinggi daripada tanaman yang dipupuk dengan pupuk kimia. Usahatani terpadu di Indonesia dicirikan oleh usaha yang saling mengisi antara pertanian tanaman pangan dan peternakan, karena ternak dapat digunakan sebagai tambahan tenaga kerja untuk mengolah tanah dan juga sebagai penghasil pupuk yang bermanfaat untuk meningkatkan kelestarian tanah. Ternak juga dapat memanfaatkan limbah pertanian dan menghasilkan produk-produk bernilai tinggi seperti daging, telur, dan susu. (Sastrodihardjo et al., 1982). Hubungan timbal balik antara tanaman padi dan ternak terutama dalam memanfaatkan limbah, akan menekan biaya produksi dan mengoptimalkan pendapatan keluarga petani peternak. Selain itu pengusahaan ternak sebagai penunjang dan pelengkap usahatani merupakan suatu cara dalam menambah penghasilan, juga berfungsi sebagai tabungan dan membantu kesuburan tanah, serta dapat digunakan sebagai tenaga mengolah tanah (Tawaf 1984) Konsep Ekonomi Pertanian Terpadu Pengelolaan bersama aktivitas yang diintergasikan ditujukan untuk memaksimumkan pendapatan usahatani selalu dihadapkan oleh adanya keterbatasan sumberdaya yang dimiliki (Debertin, 1986). Secara ekonomi konsep pertanian terpadu tanaman-hewan ternak dapat dijelaskan dengan konsep produksi ganda (multiproduct production). Keputusan petani dalam memproduksi dua atau lebih produk yang memaksimumkan pendapatan usahatani dalam keterbatasan sumberdaya dapat ditunjukkan oleh kurva kemungkinan produksi (KKP). KKP seringkali disebut juga dengan kurva oportunitas maupun kurva transformasi produk. LP dapat menjadi salah satu alat analisis untuk merencanakan pertanian terpadu di suatu lokasi. Oleh karena itu untuk merumuskan MUSOT Desa Karekel, pada penelitian ini digunakan LP. MUSOT yang dibangun disesuaikan dengan rencana GPW dimana setiap aktivitas usaha akan dilakukan oleh kelompok-kelompok secara spesifik sehingga keterpaduan usahatani dibangun pada skala wilayah Desa Karehkel. (Doll dan Orazem, 1984; Beattie dan Taylor, 1985). KKP sebagai kurva opportunitas ditunjukkan dengan 27

5 peningkatan jumlah produksi suatu produk akan diikuti dengan pengurangan produksi produk lainnya. Hal ini disebabkan karena dalam memproduksi dua produk tersebut digunakan sumberdaya yang sama. Peningkatan sumberdaya untuk satu kegiatan akan berdampak pada pengurangan curahan sumberdaya aktivitas produksi produk lainnya sehingga salah satu output yang dihasilkan harus dikorbankan (dikurangi). GPW diasumsikan sebagai pengambil keputusan dalam menentukan jumlah pengusahaan masing-masing aktivitas dalam MUSOT. Misalnya GPW akan melakukan aktivitas produksi ternak kelinci dan ternak domba. Aktivitas ternak kelinci menghasilkan produk anakan kelinci dan limbah kelinci (kotoran dan urin) sedangkan aktivitas ternak domba menghasilkan produk daging dan produk berupa kotoran ternak. Daging domba dan anakan kelinci merupakan produk akhir sedangkan limbah kelinci (y 1 ) dan kotoran domba (y 2 ) adalah sebagai produk antara (intermediate product) yang dijadikan sebagai input produksi aktivitas produksi sayuran organik. Input produksi yang dimaksud adalah berupa kebutuhan pupuk organik. Keputusan GPW dalam memproduksi dua atau lebih produk dapat diilustrasikan oleh Gambar 1 berikut ini. Output II (y 2) Output II (y 2 ) A Kurva isokuan produk sayuran (KIPS) A Z A KKP O B B B Output I (y 1 ) Gambar 1. Keputusan Memproduksi Dua atau Lebih Produk yang Memaksimumkan Pendapatan Tanpa Pasar Produk Antara Sumber: Doll dan Orazem (1984) 28

6 Adanya keterbatasan sumberdaya yang dimiliki menyebabkan GPW hanya dapat memproduksi limbah kelinci dan kotoran domba pada alternatif keputusan produksi yang berada di sepanjang kurva kemungkinan produksi (KKP). Sumberdaya yang menjadi pembatas dalam aktivitas ternak domba dan produksi limbah kelinci pada ilustrasi ini misalnya adalah ketersediaan tenaga kerja yang dimiliki GPW. GPW tidak mungkin memilih seluruh alternatif produksi pada KKP sehingga GPW hanya dapat memilih salah satu kombinasi produksi limbah kelinci dan kotoran domba pada jumlah tertentu. Kurva isokuan (KIPS) menggambarkan jumlah sayuran organik yang dapat diproduksi dengan menggunakan pupuk organik yang berasal dari limbah kelinci dan atau berasal dari kotoran domba. Berdasarkan ketersediaan sumberdaya tenaga kerja yang dimiliki GPW, keputusan untuk memproduksi limbah kelinci pada titik OB dan kotoran domba pada titik OA adalah keputusan yang paling tepat. Hal ini disebabkan karena GPW dapat memproduksi sayuran organik dalam jumlah yang maksimum (KIPS 2) sehingga dapat memaksimumkan pendapatannya. Keputusan GPW untuk memproduksi limbah kelinci dan kotoran domba sebanyak OB dan OA atau OB dan OA dapat menyebabkan GPW kehilangan peluang untuk memaksimukan keuntungannya. Keputusan tersebut adalah kurang tepat karena sumberdaya tenaga kerja yang dimiliki tidak dimanfaatkan secara optimal. Akibatnya jumlah limbah kelinci dan kotoran domba yang diproduksi berada di bawah tingkat produksi maksimum yang seharusnya dapat dicapai. Akibatnya jumlah sayuran yang diproduksi adalah lebih sedikit (KIPS 1) jika dibandingkan tingkat produksi sayuran maksimum yang sebenarnya dapat dicapai (KIPS 2). Sebagai pelaku ekonomi, GPW akan selalu berupaya untuk meningkatkan pendapatan dari setiap aktivitas usaha yang dilakukannya. Aktivitas memproduksi sayuran organik pada KIPS 3 menawarkan pendapatan yang lebih tinggi bagi GPW daripada memproduksi sayuran organik pada KIPS 1 dan KIPS 2. Adanya keterbatasan sumberdaya tenaga kerja yang dimiliki menyebabkan GPW tidak akan mampu memproduksi sayuran organik pada KIPS 3. GPW memerlukan lebih sedikit kotoran domba (OA-A A) dan membutuhkan lebih 29

7 banyak pupuk bokashi (OB+BB ). Output II (y 2 ) Isorevenue A Kurva isokuan produk sayuran (KIPS) A Z A KKP O B B B Output I (y 1 ) Gambar 2. Keputusan Memproduksi Dua atau Lebih Produk yang Memaksimumkan Pendapatan dengan Pasar Produk Antara Sumber: Doll dan Orazem (1984) GPW mungkin saja untuk memproduksi sayuran organik pada KIPS 3 apabila terdapat pasar produk antara. Adanya pasar produk antara dapat ditunjukkan oleh Gambar 2 yang ditandai dengan adanya garis isorevenue. Garis isorevenue ini tidak lain merupakan harga produk antara (limbah kelinci dan kotoran domba) pada pasar produk antara. Garis isorevenue menggambarkan kombinasi penjualan output yang menghasilkan jumlah penerimaan yang sama. Pasar produk antara memungkinkan bagi GPW untuk menjual kelebihan produksi suatu produk lalu membeli produk lainnya sehingga dapat terpenuhi kebutuhannya. Berdasarkan Gambar 2 dapat dilihat bahwasanya dengan memproduksi limbah kelinci sejumlah OB dan kotoran domba sebanyak OA maka GPW memiliki peluang untuk memperoleh keuntungan sama dengan aktivitas memproduksi sayuran organik pada KIPS 3. GPW dapat menjual kelebihan kotoran domba yang diproduksi (A A ) lalu membeli kekurangan limbah kelinci (B B ) di pasar produk antara sehingga dapat memproduksi sayuran organik pada KIPS 3. Garis isorevenue tersebut merupakan isocost dari aktivitas produksi sayuran organik sehingga sayuran organik diproduksi pada biaya minimum. 30

8 Konsep Pemecahan Masalah dengan Program Linear Linear programming merupakan salah satu alat analisis yang dapat digunakan untuk memecahkan permasalahan manajemen seperti pengambilan keputusan dalam kegiatan pertanian. Misalnya adalah proses alokasi sumberdaya yang terbatas pada sebuah kegiatan usahatani (Doll dan Orazem 1984). Setiap input usahatani dapat dialokasikan ke berbagai kemungkinan produksi karena adanya berbagai macam sumberdaya dan banyaknya alternatif produksi yang layak dalam sebuah kondisi pertanian. Dengan pendekatan linear programming seorang pengambil keputusan dalam usahatani dapat menentukan pilihan keputusan terbaik dari banyak alternatif yang tersedia (Beneke dan Winterboer 1973). Basis dari analisis menggunakan linear programming adalah bagaimana mencapai maksimisasi keuntungan maupun minimisasi biaya melalui kombinasi input atau kombinasi output yang optimal (Doll dan Orazem 1984). Teknik linear programming menggunakan persamaan dan ketidaksamaan linear dalam rangka untuk mencari pemecahaan yang optimum dengan memperhatikan pembatasan-pembatasan yang ada (Supranto 1998). Pada umumnya program linier yang dirancang digunakan panduan untuk mengalokasikan sumber daya yang terbatas diantara berbagai alternatif penggunaan sumber daya sehingga dapat dicapai tujuan yang telah ditetapkan secara optimal (Siswanto 2007). Beneke dan Winterboer (1973) mengutarakan beberapa keterbatasan dalam pemecahan masalah dengan linear programming diantaranya (1) Linier Programming tidak dapat membantu manajer dalam merumuskan ekspektasi harga di masa depan, (2) Terkadang hambatan cukup sulit untuk ditentukan, (3) Adanya fenomena diminishing marginal return dalam kegiatan pertanian yang tidak terakomodasi, (4) Sangat banyaknya aktivitas dan hambatan yang dikajai dalam linear programming membutuhkan fasilitas pembantu yang memadai, misalnya computer. Dalam memecahkan masalah menggunakan program linier terdapat beberapa asumsi yang berlaku diantaranya: 1) Fungsi produksi bersifat linear, tidak ada input yang dapat saling mensubstitusi dan bersifat constant return to scale. Tipe khusus fungsi produksi yang mendasari program linier disebut sebagai fixed-proportion 31

9 production function ( Doll dan Orazem 1984; Nasendi 1985; Debertin 1986) 2) Finite atau Deterministik. Artinya setiap aktivitas atau parameter adalah tetap, dan dapat diketahui secara pasti (Doll dan Orazem 1984; Nasendi 1985). 3) Divisibility. Artinya peubah-peubah pengambil keputusan jika diperlukan dapat dibagi kedalam pecahan-pecahan, yaitu bahwa nilai-nilai tidak perlu integer (hanya 0 dan 1 atau bilangan bulat), tetapi boleh non-integer (Doll dan Orazem 1984; Nasendi 1985). 4) Proporsionalitas. Artinya jika peubah pengambil keputusan berubah, maka dampak perubahannya akan menyebar dalam proporsi yang sama terhadap fungsi tujuan dan juga pada kendalanya (Taha 1982; Nasendi 1985). 5) Additivity. Artinya nilai parameter suatu kriteria optimasi (koefisien peubah pengambilan keputusan dalam fungsi tujuan) merupakan jumlah dari nilai individu dalam model program linear tersebut (Taha 1982; Doll dan Orazem 1984; Nasendi 1985). Beneke dan Winterboer (1973) menjelaskan prosedur dalam membangun program linear, diantaranya: 1) Mendefinisikan aktivitas. Aktivitas-aktivitas dalam permasalahan yang dikaji harus didefinisikan secara jelas. Misalnya dalam sebuah kegiatan usahatani tanaman atau ternak. Aktivitas membeli input, menjual output, penggunaan tenaga kerja, aktivitas budidaya, panen, sampai dengan pemasaran harus dapat didefinisikan secara jelas. Contoh lainnya adalah kegiatan pemupukan pada musim tanam I dengan pemupukan pada musim tanam II merupakan kedua aktivitas yang berbeda. 2) Fungsi Tujuan(Objective Function) Tujuan yang akan dicapai perusahaan adalah terkait dengan maksimisasi keuntungan atau minimisasi biaya. 3) Batasan atau Kendala (Restraint, Constraint) Kendala dapat diumpamakan sebagai pembatas terhadap keputusan yang mungkin dibuat. Batasan tersebut dapat dibedakan menjadi (1) Batasan 32

10 sumberdaya input seperti tenaga kerja, lahan, modal, (2) Batasan eksternal misalnya keterbatasan sumber dan besarnya pinjaman yang tersedia, (3) Batasan subjektif yang disebabkan oleh individu pengambil keputusan. Menurut Nasendi (1985), model matematis program linier dalam bentuk standar dirumuskan sebagai berikut: 1) Fungsi tujuan yakni maksimisasi atau minimisasi yang dirumuskan sebagai berikut: Z = CjXj 2) Fungsi kendala yang berfungsi sebagai pembatas dapat dirumuskan sebagai berikut: aij. xj ; bi, untuk i = 1,2,3,, m Keterangan: Z = fungsi tujuan C j x j a ij b i = koefisien peubah pengambil keputusan ke-j dalam fungsi tujuan = tingkat kegiatan ke-j = koefisien dalam kendala ke-i dalam pengambilan keputusan ke-j = kapasitas sumberdaya i yang tersedia untuk dialokasikan ke setiap unit kegiatan Setelah menentukan aktivitas, fungsi tujuan, kendala, kemudian dilakukan beberapa analisis dalam linear programming. Analisis yang pertama adalah primal. Analisis primal merupakan permasalahan yang dikemukakan mula-mula. Solusi optimal dalam analisis primal dapat berupa memaksimumkan atau meminimumkan nilai fungsi tujuan yang telah dikemukakan mula-mula. Solusi yang dihasilkan menunjukkan kombinasi alternatif terbaik atau optimal dengan keterbatasan sumberdaya yang tersedia. Analisis yang kedua adalah dual. Analisis dual merupakan analisis terhadap masalah tandingan primal. Dalam analisis dual melibatkan variable slack/surplus.hasil analisis dual menghasilkan ukuran ukuran marginal value dari sumber daya primal yang disebut shadow price atau dual price. Shadow price menunjukkan jumlah perbaikan pada fungsi tujuan optimal bila nilai sisi 33

11 kanan kendala tertentu ditingkatkan sebesar satu satuan dengan parameterparameter lain konstan. Di akhir linier programming dilakukan analisis sensitivitas yang terdiri atas dua tipe, yaitu analisis perubahan nilai koefisien dari fungsi tujuan dan analisis sisi kanan dari fungsi tujuan (Right Hand Side). Analisis perubahan koefisien fungsi tujuan dilakukan untuk mengetahui efek perubahan koefisien fungsi tujuan yang dapat dinaikkan atau diturunkan tanpa mengubah solusi optimal dengan parameter lain dipertahankan konstan. Tujuan dari analisis Right Hand Side (RHS) adalah untuk menentukan berapa banyak nilai sisi kanan dari fungsi kendala dapat ditingkatkan atau diturunkan tanpa mengubah nilai shadow price-nya dengan parameter lain dipertahankan konstan. Pada tahap optimal Nasendi dan Anwar (1985); Soekartawi (1992), diacu dalam Handayani (2009) mengutarakan bahwa terdapat beberapa penafsiran dalam pemecahan masalah program linier, diantaranya: 1) Aktivitas yang masuk dalam program optimal akan memiliki reduced cost atau opportunity cost sama dengan nol. Memperluas pengusahaan yang masuk dalam program optimal satu unit tidak akan merubah nilai optimal. 2) Aktivitas yang tidak masuk dalam solusi optimal akan memiliki nilai reduce cost tidak sama dengan nol. Penambahan satu unit aktivitas akan menurunkan nilai fungsi tujuan sebesar opportunity cost nya. 3) Shadow price akan muncul pada sumberdaya yang habis terpakai. Nilai shadow price adalah positif dan tidak sama dengan nol pada kondisi ini. Penambahan satu unit faktor produksi yang terbatas ketersediaannya akan menambah nilai fungsi tujuan sebesar harga bayangan sumberdaya tersebut. 4) Faktor produksi yang tidak habis terpakai, harga bayangannya menjadi sama dengan nol. Penambahan satu unit faktor produksi ini tidak akan merubah nilai optimal fungsi tujuan Kerangka Pemikiran Operasional Upaya GPW untuk meningkatkan total keuntungan wilayah yang mencakup beragam kegiatan usahatani dapat dilakukan dengan membenahi pola 34

12 pengelolaan aktivitas usahatani tersebut. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan pertanian terpadu. Pertanian terpadu yang dirancang berbasiskan komoditas unggulan di Desa Karehkel yakni sayuran organik. Keberadaaan hewan ternak yakni kelinci dan domba, merupakan penyokong yang sangat penting karena antara sayuran organik dan ternak tersebut sangat memungkinkan untuk bersinergis satu sama lain dalam pertanian terpadu. Selain itu, keberadaan aktivitas produksi pupuk bokashi dan silase juga cukup penting untuk menangani limbah usahatani dan usahaternak. Tentu saja setiap aktivitas usaha yang akan diintegrasikan memiliki karakter pengusahaan sangat beragam baik dalam hal metode budidaya, kebutuhan input, tingkat produksi, dan ketersediaan sumberdaya yang dimiliki. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala dalam merencanakan pertanian terpadu yang tepat untuk diterapkan di Desa Karehkel. Pemrograman linear dapat menjadi salah satu alternatif untuk melakukan kegiatan perencanaan pertanian terpadu di Desa Karehkel. Pemograman linear dibangun dengan merancang model linear usahatani sayuran organik terpadu yang disokong oleh aktivitas ternak kelinci, domba, produksi pupuk bokashi, dan silase. Hasil pemrograman linear dapat memberikan informasi mengenai aktivitas usaha yang sebaiknya diintegrasikan, jumlah pengusahaan masing-masing aktivitas usaha, alokasi sumberdaya yang optimal, serta dampak penerapan pertanian terpadu terhadap pemanfaatan produk antara di dalam desa dan terhadap total keuntungan wilayah. Informasi tersebut dapat menjadi rekomendasi bagi GPW sehingga program pertanian terpadu di Desa Karehkel dapat direncanakan dengan lebih baik. Kerangka pemikiran operasional penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3. 35

13 Upaya GPW untuk meningkatkan total keuntungan aktivitas usahatani di Desa Karehkel Aktivitas: 1. Usahatani sayuran organik 2. Ternak domba 3. Ternak kelinci 4. Usaha produksi kompos 5. Usaha produksi silase Adanya kendala : 1. Kendala lahan 2. Kendala ketersediaan tenaga kerja 3. Kendala ketersediaan input pendukung aktivitas produksi yang berasal dari dalam dan luar desa Pertanian terpadu Sayuran Organik-Ternak Analisis program linear Aktivitas yang harus diintegrasikan Alokasi sumberdaya yang optimal Jumlah pengusahaan masing-masing aktivitas Dampak penerapan model sayuran organik terpadu terhadap pemanfaatan produk dan terhadap total keuntungan wilayah Rekomendasi Gambar 3. Kerangka Pemikiran Operasional 36

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN Aktivitas usahatani sangat terkait dengan kegiatan produksi yang dilakukan petani, yaitu kegiatan memanfaatkan sejumlah faktor produksi yang dimiliki petani dengan jumlah yang terbatas.

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Teori Produksi Produksi adalah suatu kegiatan atau proses yang mentransformasikan masukan (input) menjadi hasil keluaran (output) yang berupa

Lebih terperinci

BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN BAB III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Teori Produksi Produksi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau proses yang mentransformasi masukan (input) menjadi hasil keluaran

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang.

I. PENDAHULUAN. melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Upaya peningkatan produksi tanaman pangan khususnya pada lahan sawah melalui perluasan areal menghadapi tantangan besar pada masa akan datang. Pertambahan jumlah penduduk

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Sistem Produksi Secara umum produksi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau proses yang mentransformasikan masukan (input) menjadi hasil

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kelangkaan merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Hal ini menjadi masalah utama ketika keinginan manusia yang tidak terbatas berhadapan dengan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Kombinasi Produk Optimum Penentuan kombinasi produksi dilakukan untuk memperoleh lebih dari satu output dengan menggunakan satu input. Hal ini

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Produksi Menurut Salvatore (2001), produksi merujuk pada transformasi dari berbagai input atau sumberdaya menjadi output berupa barang atau

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Fungsi Produksi Produksi dan operasi dalam ekonomi menurut Assauri (2008) dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang berhubungan dengan usaha

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Objek Penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Karehkel yang berada di wilayah Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Objek penelitian ini

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Produksi Menurut Salvatore (2002), produksi merujuk pada transformasi dari berbagai input atau sumberdaya menjadi output berupa barang atau

Lebih terperinci

Penataan Wilayah Pengembangan FAKULTAS PETERNAKAN

Penataan Wilayah Pengembangan FAKULTAS PETERNAKAN Sistem Produksi Pertanian/ Peternakan Penataan Wilayah Pengembangan FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS PADJADJARAN Tradisi pertanian masyarakat Indonesia ------ integrasi tanaman dan ternak pertanian campuran

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Dalam setiap perusahaan berusaha untuk menghasilkan nilai yang optimal dengan biaya tertentu yang dikeluarkannya. Proses penciptaan nilai yang optimal dapat

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Peternakan Puyuh Bintang Tiga (PPBT) yang berlokasi di Jalan KH Abdul Hamid Km 3, Desa Situ Ilir Kecamatan Cibungbulang,

Lebih terperinci

PENDEKATAN KUANTITATIF SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF METODE PEMECAHAN MASALAH. Dewi Atika Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan

PENDEKATAN KUANTITATIF SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF METODE PEMECAHAN MASALAH. Dewi Atika Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan PENDEKATAN KUANTITATIF SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF METODE PEMECAHAN MASALAH Dewi Atika Dosen Tetap Fakultas Ekonomi Universitas Pakuan ABSTRAK Pemecahan masalah dengan menggunakan pendekatan kuantitatif,

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoritis Untuk mengetahui dampak kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku (input) dalam industri tempe, akan digunakan beberapa teori yang berkaitan dengan hal tersebut.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. terpadu dan melanggar kaidah pelestarian lahan dan lingkungan. Eksploitasi lahan

I. PENDAHULUAN. terpadu dan melanggar kaidah pelestarian lahan dan lingkungan. Eksploitasi lahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Laju peningkatan produktivitas tanaman padi di Indonesia akhir-akhir ini cenderung melandai, ditandai salah satunya dengan menurunnya produksi padi sekitar 0.06 persen

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 7 Pemerintah Dorong Kawasan Hortikultura Terpadu. [April, 2010]

II. TINJAUAN PUSTAKA. 7 Pemerintah Dorong Kawasan Hortikultura Terpadu.  [April, 2010] II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konteks, Ruang Lingkup, dan Faktor-faktor Penting dalam Pembangunan dan Pengembangan Pertanian Terpadu Pembangunan dan pengembangan pertanian terpadu di suatu daerah memiliki

Lebih terperinci

X. REKOMENDASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN BERKELANJUTAN BERBASIS PETERNAKAN SAPI POTONG TERPADU DI KABUPATEN SITUBONDO

X. REKOMENDASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN BERKELANJUTAN BERBASIS PETERNAKAN SAPI POTONG TERPADU DI KABUPATEN SITUBONDO X. REKOMENDASI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN BERKELANJUTAN BERBASIS PETERNAKAN SAPI POTONG TERPADU DI KABUPATEN SITUBONDO 10.1. Kebijakan Umum Penduduk Kabupaten Situbondo pada umumnya banyak

Lebih terperinci

VII. PEMECAHAN OPTIMAL MODEL INTEGRASI TANAMAN TERNAK

VII. PEMECAHAN OPTIMAL MODEL INTEGRASI TANAMAN TERNAK VII. PEMECAHAN OPTIMAL MODEL INTEGRASI TANAMAN TERNAK 7.1. Pola Usahatani Pola usahatani yang dimasukkan dalam program linier sesuai kebiasaan petani adalah pola tanam padi-bera untuk lahan sawah satu

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Usahatani Definisi usahatani ialah setiap organisasi dari alam, tenaga kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data

IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2 Jenis dan Sumber Data IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kelompok Tani Pondok Menteng Desa Citapen, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan lokasi dilakukan secara

Lebih terperinci

Matematika Bisnis (Linear Programming-Metode Grafik Minimisasi) Dosen Febriyanto, SE, MM.

Matematika Bisnis (Linear Programming-Metode Grafik Minimisasi) Dosen Febriyanto, SE, MM. (Linear Programming-Metode Grafik Minimisasi) Dosen Febriyanto, SE, MM. www.febriyanto79.wordpress.com - Linear Programming Linear programing (LP) adalah salah satu metode matematis yang digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu sektor utama yang menunjang perkembangan perekonomian Indonesia. Pada saat ini, sektor pertanian merupakan sektor penghasil devisa bagi

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis

KERANGKA PEMIKIRAN Kerangka Pemikiran Teoritis III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Optimalisasi Distribusi Sistem distribusi adalah cara yang ditempuh atau digunakan untuk menyalurkan barang dan jasa dari produsen

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sistem pertanian terpadu (Integrated Farming System) merupakan integrasi antara tanaman dan ternak yaitu dengan perpaduan dari kegiatan peternakan dan pertanian. Dengan

Lebih terperinci

Dualitas Dalam Model Linear Programing

Dualitas Dalam Model Linear Programing Maximize or Minimize Z = f (x,y) Subject to: g (x,y) = c Dualitas Dalam Model Linear Programing Prof. Dr. Ir. ZULKIFLI ALAMSYAH, M.Sc. Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi KONSEP

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Dalam bab ini akan diuraikan mengenai metode-metode ilmiah dari teori-teori yang digunakan dalam penyelesaian persoalan untuk menentukan model program linier dalam produksi.. 2.1 Teori

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan adalah untuk mengetahui tingkat pendapatan usahatani tomat dan faktor-faktor produksi yang mempengaruhi

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Produksi Produksi merupakan serangkaian proses dalam penggunaan berbagai input yang ada guna menghasilkan output tertentu. Produksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian masih sangat penting bagi perekonomian nasional. Hal

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian masih sangat penting bagi perekonomian nasional. Hal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian masih sangat penting bagi perekonomian nasional. Hal tersebut dikarenakan potensi dari sektor pertanian di Indonesia didukung oleh ketersediaan sumber

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Teori Produksi Produksi merupakan suatu proses transformasi atau perubahan dari dua atau lebih input (sumberdaya) menjadi satu atau lebih output

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Usaha Kecil Menengah

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Usaha Kecil Menengah II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Usaha Kecil Menengah Pengertian Usaha Kecil Menengah (UKM) menurut Keputusan Presiden RI No. 99 tahun 1998, yaitu kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan acuan alur berfikir dalam menjalankan penelitian. Penelitian ini mencakup teori produksi, konsep efisiensi,

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Pendapatan Usahatani Suratiyah (2006), mengatakan bahwa usahatani sebagai ilmu yang mempelajari cara-cara petani menentukan, mengorganisasikan

Lebih terperinci

ANALISIS MODEL LINEAR PROGRAMMING

ANALISIS MODEL LINEAR PROGRAMMING VII ANALISIS MODEL LINEAR PROGRAMMING 7.1. Penentuan Model Linear Programming Produksi Tempe Dampak kenaikan harga kedelai pada pengrajin tempe skala kecil, menengah, dan besar dianalisis dengan menggunakan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. elastisitas, konsep return to scale, konsep efisiensi penggunaan faktor produksi

III. KERANGKA PEMIKIRAN. elastisitas, konsep return to scale, konsep efisiensi penggunaan faktor produksi III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis berisi teori dan konsep kajian ilmu yang akan digunakan dalam penelitian. Teori dan konsep yang digunakan dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. ditentukan dengan metode purposive sampling, yaitu suatu metode penentuan lokasi

BAB IV METODE PENELITIAN. ditentukan dengan metode purposive sampling, yaitu suatu metode penentuan lokasi BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi Penelitian Lokasi penelitian yaitu Kecamatan Denpasar Utara Kota Denpasar, ditentukan dengan metode purposive sampling, yaitu suatu metode penentuan lokasi secara sengaja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Program kebijakan revitalisasi pertanian menitikberatkan pada program

BAB I PENDAHULUAN. Program kebijakan revitalisasi pertanian menitikberatkan pada program 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Program kebijakan revitalisasi pertanian menitikberatkan pada program pengembangan agribisnis. Program ini bertujuan untuk memfasilitasi berkembangnya usaha agribisnis

Lebih terperinci

Add your company slogan. Biaya. Teori Produksi LOGO

Add your company slogan. Biaya. Teori Produksi LOGO Add your company slogan Biaya Teori Produksi LOGO Asumsi Dalam pembahasan ekonomi, perusahaan selalu diasumsikan bertujuan untuk memaksimalkan keuntungannya. Perusahaan yang didirikan tidak untuk mendapatkan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Usahatani Usahatani didefinisikan sebagai satuan organisasi produksi di lapangan pertanian dimana terdapat unsur lahan yang mewakili

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Sistem Budidaya Padi Konvensional Menurut Muhajir dan Nazaruddin (2003) Sistem budidaya padi secara konvensional di dahului dengan pengolahan

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN. peningkatan produksi pangan dan menjaga ketersediaan pangan yang cukup dan

BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN. peningkatan produksi pangan dan menjaga ketersediaan pangan yang cukup dan BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN Program ketahanan pangan diarahkan pada kemandirian masyarakat/petani yang berbasis sumberdaya lokal yang secara operasional dilakukan melalui program peningkatan produksi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian di Indonesia merupakan sektor yang terus. dikembangkan dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari

I. PENDAHULUAN. Pembangunan pertanian di Indonesia merupakan sektor yang terus. dikembangkan dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan pertanian di Indonesia merupakan sektor yang terus dikembangkan dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan nasional. Sektor pertanian

Lebih terperinci

IX. KESIMPULAN DAN SARAN. petani cukup tinggi, dimana sebagian besar alokasi pengeluaran. dipergunakan untuk membiayai konsumsi pangan.

IX. KESIMPULAN DAN SARAN. petani cukup tinggi, dimana sebagian besar alokasi pengeluaran. dipergunakan untuk membiayai konsumsi pangan. IX. KESIMPULAN DAN SARAN 9.1. Kesimpulan 1. Penggunaan tenaga kerja bagi suami dialokasikan utamanya pada kegiatan usahatani, sedangkan istri dan anak lebih banyak bekerja pada usaha di luar usahataninya

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, dan pengalaman dalam usahatani.

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. tingkat pendidikan, jumlah anggota keluarga, dan pengalaman dalam usahatani. BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 6.1 Karakteristik Petani Sampel Berdasarkan data primer yang diperoleh dari 84 orang petani sampel, maka dapat dikemukakan karakteristik petani sampel, khususnya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Pertanian Menurut Mubyarto (1995), pertanian dalam arti luas mencakup pertanian rakyat atau pertanian dalam arti sempit disebut perkebunan (termasuk didalamnya perkebunan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka Penelitian tentang optimasi penggunaan input produksi telah dilakukan oleh beberapa peneliti pada komoditas lain, seperti pada tanaman bawang merah dan kubis.

Lebih terperinci

MATEMATIKA SISTEM INFORMASI 2 [KODE/SKS : IT / 2 SKS]

MATEMATIKA SISTEM INFORMASI 2 [KODE/SKS : IT / 2 SKS] MATA KULIAH MATEMATIKA SISTEM INFORMASI 2 [KODE/SKS : IT011215 / 2 SKS] LINIER PROGRAMMING Formulasi Masalah dan Pemodelan Pengertian Linear Programming Linear Programming (LP) adalah salah satu teknik

Lebih terperinci

Konsep Usahatani Terpadu : Tanaman Pangan dan Ternak FAKULTAS PETERNAKAN

Konsep Usahatani Terpadu : Tanaman Pangan dan Ternak FAKULTAS PETERNAKAN Sistem Produksi Pertanian/ Peternakan Konsep Usahatani Terpadu : Tanaman Pangan dan Ternak FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS PADJADJARAN Pembangunan peternakan rakyat (small farmers) di negara yang sedang

Lebih terperinci

RISET OPERASIONAL MINGGU KE-2. Disusun oleh: Nur Azifah., SE., M.Si. Linier Programming: Formulasi Masalah dan Model

RISET OPERASIONAL MINGGU KE-2. Disusun oleh: Nur Azifah., SE., M.Si. Linier Programming: Formulasi Masalah dan Model RISET OPERASIONAL MINGGU KE- Linier Programming: Formulasi Masalah dan Model Disusun oleh: Nur Azifah., SE., M.Si Pengertian Linear Programming Linear Programming (LP) adalah salah satu teknik riset operasi

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Teori Organisasi Produksi Usahatani Menurut Rivai dalam Hernanto (1989) mendefinisikan usahatani sebagai organisasi dari alam, kerja dan modal

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Teori Produksi Produksi atau memproduksi menurut Putong (2002) adalah menambah kegunaan (nilai-nilai guna) suatu barang. Kegunaan suatu barang

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Teori Produksi Produksi adalah kegiatan menghasilkan output dengan berbagai kombinasi input dan teknologi terbaik yang tersedia (Nicholson,

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I.PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memegang peranan penting dalam struktur ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam pembentukan

Lebih terperinci

III. KERANGKA TEORI. Integrasi usaha sapi pada kawasan persawahan bertujuan untuk. memanfaatkan potensi sumberdaya wilayah dalam rangka mempertahankan

III. KERANGKA TEORI. Integrasi usaha sapi pada kawasan persawahan bertujuan untuk. memanfaatkan potensi sumberdaya wilayah dalam rangka mempertahankan III. KERANGKA TEORI 3.1. Kerangka Konseptual Integrasi usaha sapi pada kawasan persawahan bertujuan untuk memanfaatkan potensi sumberdaya wilayah dalam rangka mempertahankan kesuburan lahan melalui siklus

Lebih terperinci

DEFINISI LP FUNGSI-FUNGSI DALAM PL MODEL LINEAR PROGRAMMING. Linear Programming Taufiqurrahman 1

DEFINISI LP FUNGSI-FUNGSI DALAM PL MODEL LINEAR PROGRAMMING. Linear Programming Taufiqurrahman 1 DEFINISI LP PENGANTAR LINEAR PROGRAMMING Linear Programming/LP (Program Linear) merupakan salah satu teknik dalam Riset Operasional (Operation Research) yang paling luas digunakan dan dikenal dengan baik.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Program Linier Menurut Aminudin (2005), program linier merupakan suatu model matematika untuk mendapatkan alternatif penggunaan terbaik atas sumber-sumber yang tersedia. Kata linier

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Peranan Kredit dalam Kegiatan Usahatani Ada dua sumber permodalan usaha yaitu modal dari dalam (modal sendiri) dan modal dari luar (pinjaman/kredit).

Lebih terperinci

IV. METODOLOGI. merupakan salah satu daerah pertanian produktif di Kabupaten Majalengka.

IV. METODOLOGI. merupakan salah satu daerah pertanian produktif di Kabupaten Majalengka. IV. METODOLOGI 4.1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka. Pemilihan lokasi ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa Kecamatan Sukahaji merupakan salah satu

Lebih terperinci

VI HASIL DAN PEMBAHASAN

VI HASIL DAN PEMBAHASAN VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1. Perumusan Fungsi Tujuan Berdasarkan metode penelitian, perumusan model program linear didahului dengan penentuan variabel keputusan, fungsi tujuan, dan kendala. Fungsi tujuan

Lebih terperinci

Bab II. Teori Produksi Pertanian Neo Klasik

Bab II. Teori Produksi Pertanian Neo Klasik Bab II. Teori Produksi Pertanian Neo Klasik A. Pengambilan Keputusan Usahatani Dalam pendekatan analisis pengambilan keputusan usahatani neoklasik, petani dipandang sebagai pengambil keputusan yang menentukan

Lebih terperinci

Pertanian merupakan salah satu sektor yang menjadi tulang punggung. perekonomian Indonesia. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa sektor pertanian

Pertanian merupakan salah satu sektor yang menjadi tulang punggung. perekonomian Indonesia. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa sektor pertanian 11. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Usahatani Pertanian merupakan salah satu sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa sektor pertanian merupakan salah satu

Lebih terperinci

Manajemen Operasional

Manajemen Operasional Linear Programming (LP) Dosen Febriyanto, SE. MM. www.febriyanto79.wordpress.com Linear Programming Linear programing (LP) adalah salah satu metode matematis yang digunakan untuk membantu manajer dalam

Lebih terperinci

Dualitas Dalam Model Linear Programing

Dualitas Dalam Model Linear Programing Maximize or Minimize Z = f (x,y) Subject to: g (x,y) = c Dualitas Dalam Model Linear Programing Prof. Dr. Ir. ZULKIFLI ALAMSYAH, M.Sc. Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi KONSEP

Lebih terperinci

MATEMATIKA SISTEM INFORMASI 2 IT

MATEMATIKA SISTEM INFORMASI 2 IT MATEMATIKA SISTEM INFORMASI 2 IT 011215 UMMU KALSUM UNIVERSITAS GUNADARMA 2016 Penerapan Riset Operasi Bidang akuntansi dan keuangan Penentuan jumlah kelayakan kredit Alokasi modal investasi, dll Bidang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang keduanya tidak bisa dilepaskan, bahkan yang saling melengkapi.

I. PENDAHULUAN. yang keduanya tidak bisa dilepaskan, bahkan yang saling melengkapi. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian dan peternakan merupakan satu kesatuan terintegrasi yang keduanya tidak bisa dilepaskan, bahkan yang saling melengkapi. Pembangunan kedua sektor ini bertujuan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Usahatani Hernanto (1988) mengatakan bahwa usahatani adalah organisasi dari alam, kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi dilapangan pertanian. Organisasi ini ketatalaksanaannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesempatan kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat. Sektor pertanian

BAB I PENDAHULUAN. kesempatan kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat. Sektor pertanian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan pertanian di Indonesia mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian bangsa. Sektor pertanian telah berperan dalam pembentukan PDB, perolehan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 kiranya dapat

I. PENDAHULUAN. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 kiranya dapat I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 kiranya dapat menjadi suatu koreksi akan strategi pembangunan yang selama ini dilaksanakan. Krisis tersebut ternyata

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Ekonomi 3.1.1.1 Fungsi Produksi Dalam proses produksi terkandung hubungan antara tingkat penggunaan faktorfaktor produksi dengan produk

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang 1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pentingnya sektor pertanian dalam proses Pembangunan Indonesia disadari oleh Pemerintah Era reformasi terlihat dari dicanangkannya Revitaslisasi Pertanian oleh Presiden

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian memegang peranan penting dalam struktur ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam pembentukan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C rasio).

III. KERANGKA PEMIKIRAN. usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C rasio). III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis penelitian ini meliputi konsep usahatani, biaya usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C

Lebih terperinci

CCR314 - Riset Operasional Materi #2 Ganjil 2015/2016 CCR314 RISET OPERASIONAL

CCR314 - Riset Operasional Materi #2 Ganjil 2015/2016 CCR314 RISET OPERASIONAL Materi #2 CCR314 RISET OPERASIONAL Definisi LP 2 Linear Programming/LP (Program Linear) merupakan salah satu teknik dalam Riset Operasional (Operation Research) yang paling luas digunakan dan dikenal dengan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan suatu alur pemikiran yang bersifat teoritis dengan mengacu kepada teori-teori yang berkaitan dengan penelitian.

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Adolina PTPN IV Medan, Sumatera Utara. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja

Lebih terperinci

CCR-314 #2 Pengantar Linear Programming DEFINISI LP

CCR-314 #2 Pengantar Linear Programming DEFINISI LP PENGANTAR LINEAR PROGRAMMING DEFINISI LP Linear Programming/LP (Program Linear) merupakan salah satu teknik dalam Riset Operasional (Operation Research) yang paling luas digunakan dan dikenal dengan baik.

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. konsep efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi, serta konsep penerimaan,

III. KERANGKA PEMIKIRAN. konsep efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi, serta konsep penerimaan, III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan acuan alur berfikir dalam menjalankan penelitian. Penelitian ini mencakup fungsi produksi dan elastisitas,

Lebih terperinci

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1 Konsep Program Linear Program linear merupakan model matematik untuk mendapatkan alternatif penggunaan terbaik atas sumber-sumber organisasi. Kata sifat linear digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Manajemen Produksi dan Operasi Menurut Heizer dan Render (2006:4) manajemen operasi (operation management-om) adalah serangkaian aktivitas yang menghasilkan nilai

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Bachtiar Rivai (1980) yang dikutip oleh Hernanto (1996),

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Menurut Bachtiar Rivai (1980) yang dikutip oleh Hernanto (1996), III. KERANGKA PEMIKIRAN 3. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.. Konsep Usahatani Menurut Bachtiar Rivai (980) yang dikutip oleh Hernanto (996), mengatakan bahwa usahatani merupakan sebuah organisasi dari alam,

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Pembiayaan dalam dunia usaha sangat dibutuhkan dalam mendukung keberlangsungan suatu usaha yang dijalankan. Dari suatu usaha yang memerlukan pembiayaan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pertanian modern atau pertanian anorganik merupakan pertanian yang

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pertanian modern atau pertanian anorganik merupakan pertanian yang II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pertanian Anorganik Pertanian modern atau pertanian anorganik merupakan pertanian yang menggunakan varietas unggul untuk berproduksi tinggi, pestisida kimia, pupuk kimia, dan

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi beternak babi di Indonesia kebanyakan berasal dari negaranegara sub tropis yang sering kali membutuhkan biaya pemeliharaan yang tinggi. Teknologi beternak babi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perekonomian padi dan beras merupakan pendukung pesatnya

II. TINJAUAN PUSTAKA. Perekonomian padi dan beras merupakan pendukung pesatnya II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ekonomi Padi Perekonomian padi dan beras merupakan pendukung pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut Kasryno dan Pasandaran (2004), beras serta tanaman pangan umumnya berperan

Lebih terperinci

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN

BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN BAB IV VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI, DAN KEBIJAKAN 4.1 Visi dan Misi SKPD Visi SKPD adalah gambaran arah pembangunan atau kondisi masa depan yang ingin dicapai SKPD melalui penyelenggaraan tugas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. A. Sistem Persamaan Linear dan Sistem Pertidaksamaan Linear

BAB II LANDASAN TEORI. A. Sistem Persamaan Linear dan Sistem Pertidaksamaan Linear 5 BAB II LANDASAN TEORI A Sistem Persamaan Linear dan Sistem Pertidaksamaan Linear Persamaan linear adalah bentuk kalimat terbuka yang memuat variabel dengan derajat tertinggi adalah satu Sedangkan sistem

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Rinadya Yoghurt yang berlokasi di Bukit Asri Ciomas Blok A5 No. 9, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pemilihan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan alur berfikir dalam melakukan penelitian berdasarkan tujuan penelitian. Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan acuan alur pikir dalam melakukan penelitian berdasarkan tujuan penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian memegang peranan yang penting dalam pembangunan Negara Indonesia dari dulu dan pada masa yang akan datang. Arti penting pertanian dapat dilihat secara

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Fungsi Produksi Produksi adalah kegiatan menghasilkan barang dan jasa, adapun sumberdaya yang digunakan untuk memproduksi barang

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Kerangka pemikiran teoritis meliputi penjelasan-penjelasan mengenai halhal

III. KERANGKA PEMIKIRAN. Kerangka pemikiran teoritis meliputi penjelasan-penjelasan mengenai halhal III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis meliputi penjelasan-penjelasan mengenai halhal yang berdasar pada teori yang digunakan dalam penelitian. Penelitian

Lebih terperinci

MODEL USAHATANI TERPADU SAYURAN ORGANIK-HEWAN TERNAK

MODEL USAHATANI TERPADU SAYURAN ORGANIK-HEWAN TERNAK MODEL USAHATANI TERPADU SAYURAN ORGANIK-HEWAN TERNAK (Studi Kasus: Gapoktan Pandan Wangi, Desa Karehkel, Kecamatan Leuwiliang,Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat) SKRIPSI FIRZA MAUDI H34060227 DEPARTEMEN

Lebih terperinci

VII. KEPUTUSAN PRODUKSI AKTUAL DAN OPTIMAL

VII. KEPUTUSAN PRODUKSI AKTUAL DAN OPTIMAL VII. KEPUTUSAN PRODUKSI AKTUAL DAN OPTIMAL 7.1 Keputusan Produksi Aktual Keputusan produksi aktual adalah keputusan produksi yang sudah terjadi di P4S Nusa Indah. Produksi aktual di P4S Nusa Indah pada

Lebih terperinci

Wawasan Lingkungan Hidup Dan Sustainable Agroecosystem FAKULTAS PETERNAKAN

Wawasan Lingkungan Hidup Dan Sustainable Agroecosystem FAKULTAS PETERNAKAN Wawasan Lingkungan Hidup Dan Sustainable Agroecosystem FAKULTAS PETERNAKAN UNIVERSITAS PADJADJARAN Terminologi Berkaitan dengan Lingkungan Hidup Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam perekonomian nasional. Hal ini dapat dilihat dari kontribusi yang dominan, baik secara langsung maupun

Lebih terperinci