V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN
|
|
|
- Teguh Susanto Atmadjaja
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 V KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Gambaran Umum Kelurahan Semanan Kelurahan Semanan yang berada pada wilayah Kecamatan Kalideres, berbatasan langsung dengan Sungai Cisadane di sebelah utara, Kelurahan Petir- Cipondoh di sebelah selatan. Di sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Poris Gaga Tangerang dan sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Duri Kosambi. Luas wilayah Kelurahan Semanan yaitu hektar dengan jarak ke pusat Pemerintahan DKI Jakarta sejauh 17 Km, jarak ke pusat Pemerintahan Kotamadya Jakarta Barat sejauh 9 Km, dan jarak ke Kecamatan Kalideres sejauh 2 Km. Sarana ekonomi yang terdapat di wilayah ini yaitu satu buah bank milik pemerintah, satu buah lembaga keuangan milik pemerintah, koperasi serba usaha sebanyak dua buah, dan warung serba ada atau minimarket sebanyak lima buah. Disamping sarana ekonomi, di Kelurahan Semanan juga terdapat sarana perdagangan dan industri yang terdiri dari pertokoan sebanyak tiga buah, pasar sebanyak enam buah, toko sebanyak 356 buah, kios sebanyak 600 buah, warung sebanyak 540 buah, lokasi kaki lima sebanyak dua buah, industri besar sebanyak enam belas buah, industri menengah sebanyak dua puluh buah, industri kecil sebanyak tiga belas buah, dan industri rumah tangga sebanyak tiga buah. Untuk mendukung sarana perekonomian dan perdagangan, Kelurahan Semanan juga memiliki sarana perhubungan berupa: stasiun kereta api sebanyak satu buah; jalan lingkungan sepanjang 6,7 Km; tempat penyeberangan sungai sebanyak tiga buah; dan jembatan sebanyak tujuh buah. Adapun sarana komunikasi yang terdapat di Kelurahan Semanan meliputi telepon umum sebanyak lima buah, warung telekomunikasi sebanyak lima puluh tiga buah, warung internet sebanyak enam buah, kantor pos sebanyak satu buah, dan tiga buah bus surat. Sarana pendidikan yang dimiliki Kelurahan Semanan yaitu gedung Sekolah Dasar (SD) sebanyak empat belas buah buah, gedung Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sebanyak dua buah, dan gedung Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) sebanyak dua buah.
2 Kelurahan Semanan memiliki 12 RW dan 113 RT, dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak orang sedangkan jumlah penduduk perempuan sebanyak orang. Sebaran usia terbanyak berada pada kisaran 31 sampai 40 tahun sebanyak orang (14,76 persen). Penduduk di Kelurahan Semanan pada umumnya memiliki tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) sebanyak orang atau 22,69 persen dan disusul dengan tingkat pendidikan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) sebanyak orang atau 13,63 persen. Berdasarkan mata pencahariannya, penduduk di Kelurahan Semanan secara rinci dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5. Sebaran Penduduk di Kelurahan Semanan berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2009 Mata Pencaharian Jumlah Kontribusi (%) Tani 607 2,15 Buruh ,55 Pedagang ,12 Karyawan swasta 613 2,17 PNS 469 1,66 ABRI 45 0,16 Pensiunan 276 0,98 Swasta lainnya 856 3,03 Lainnya ,18 Jumlah ,00 Sumber : Monografi Kelurahan Semanan (2010) 5.2. Gambaran Umum Sentra Industri Tempe Kelurahan Semanan Karakteristik Pengrajin Tempe Karakteristik pengrajin tempe diperoleh melalui hasil wawancara sebanyak 70 pengrajin tempe, yang terdiri dari 45 pengrajin tempe skala kecil, 17 pengrajin tempe skala menengah, dan 8 pengrajin tempe skala besar. Karakteristik 47
3 pengrajin meliputi tingkat pendidikan, usia, jumlah anggota keluarga, lama pengalaman usaha, dan cara pemasaran Tingkat Pendidikan Tingkat pendidikan pada daerah penelitian, sebagian besar didominasi oleh responden lulusan Sekolah Dasar (SD). Keadaan ini terjadi di masing-masing skala produksi pengrajin tempe (Tabel 6). Dapat dikatakan bahwa kemampuan dalam membuat tempe tidak dipengaruhi oleh faktor tingkat pendidikan. Tabel 6. Sebaran Responden Menurut Tingkat Pendidikan di Sentra Industri Tempe Kelurahan Semanan Tahun 2010 Tingkat Pendidikan Skala Produksi Total Kecil Menengah Besar Tidak tamat SD SD SMP Total Sumber: Data Primer (2010) Usia Rata-rata usia seluruh responden adalah 43 tahun, dengan usia termuda adalah 23 tahun. Sebaran usia terbanyak pada responden di tiap skala adalah antara usia 41 tahun hingga usia 50 tahun. Sebaran usia yang paling sedikit beragam di setiap skala. Responden skala kecil memiliki sebaran usia yang paling sedikit pada umur 20 hingga 30 tahun. Responden skala menengah dan besar memiliki sebaran usia yang paling sedikit pada umur 31 hingga 40 tahun. Secara rinci diperlihatkan pada Tabel 7. Tabel tersebut menunjukkan bahwa besarnya skala pengrajin tempe di Sentra Industri Tempe Kelurahan Semanan tidak dipengaruhi oleh usia pengrajin. 48
4 Tabel 7. Sebaran Responden Menurut Usia di Sentra Industri Tempe Kelurahan Semanan Tahun 2010 Sebaran Usia Skala Produksi Total (Tahun) Kecil Menengah Besar > Total Sumber: Data Primer (2010) Anggota Keluarga Jumlah anggota keluarga memiliki pengaruh yang cukup penting dalam menggeluti usaha tempe. Bagi kebanyakan pengrajin, anggota keluarga dapat dijadikan sebagai sumber tenaga kerja untuk memproduksi tempe. Semakin banyak jumlah anggota keluarga yang dimiliki pengrajin tempe, berarti semakin besar pula kebutuhan dan pengeluaran biaya hidup yang harus ditanggung oleh pengrajin, karena pada umumnya para pengrajin ini tidak memiliki pekerjaan lain atau usaha sampingan selain memproduksi tempe. Sebaran responden menurut jumlah anggota keluarga dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Sebaran Responden Menurut Jumlah Anggota Keluarga di Sentra Industri Tempe Kelurahan Semanan Tahun 2010 Jumlah Anggota Skala Produksi Jumlah Keluarga Kecil Menengah Besar Jumlah Sumber: Data Primer (2010) 49
5 Tabel 8 memperlihatkan bahwa pada umumnya pengrajin tempe di daerah penelitian memiliki anggota keluarga antara tiga sampai empat orang. Hal ini terlihat pada ketiga skala pengusahaan pengrajin. Dengan demikian semakin besar jumlah anggota keluarga yang dimiliki, tidak diikuti dengan peningkatan skala pengusahaan pengrajin Lama Pengalaman Usaha Keahlian pengrajin tempe sebagian besar diperoleh dari keluarga, karena pada umumnya usaha tempe ini merupakan usaha turun temurun. Sebaran lama pengalaman usaha terbesar pada setiap skala pengrajin berada pada kisaran 21 tahun hingga 30 tahun. Sebaran lama pengalaman terkecil beragam pada tiap skala. Pengrajin skala kecil memiliki tingkat pengalaman lama usaha terkecil pada kisaran 11 hingga 20 tahun, pengrajin skala menengah 31 hingga 40 tahun, dan pengrajin skala besar 21 hingga 30 tahun. Berdasarkan uraian tersebut, maka lama pengalaman usaha bukanlah jaminan apakah usaha produksi tempe mampu berkembang dengan baik atau tidak, karena masih ada faktor lain seperti keterbatasan modal yang dimiliki maupun motivasi pengrajin untuk mengembangkan usahanya. Sebaran responden menurut lama pengalaman usaha dapat dilihat pada Tabel 9. Tabel 9. Sebaran Responden Menurut Lama Pengalaman Usaha di Kelurahan Semanan Tahun 2010 Lama Pengalaman Skala Produksi Total (Tahun) Kecil Menengah Besar Total Sumber: Data Primer (2010) 50
6 Cara Pemasaran Pemasaran merupakan aspek yang sangat penting setelah kegiatan produksi, karena melalui pemasaran ini pengrajin dapat memperoleh penghasilan. Pada umumnya pengrajin tempe di daerah penelitian memasarkan tempe yang dihasilkannya dengan berjualan secara keliling. Pengrajin skala menengah dan besar paling banyak berjualan di pasar. Pengrajin skala kecil didominasi cara penjualan secara keliling dengan menggunakan sepeda atau motor yang telah dilengkapi dengan keranjang bambu untuk membawa tempe. Secara rinci dapat dilihat pada Tabel 10. Tabel 10. Sebaran Responden Menurut Cara Pemasaran Tempe di Sentra Industri Tempe Kelurahan Semanan Tahun 2010 Cara Pemasaran Tempe Kecil Skala Produksi Menengah Besar Total Pasar Keliling Total Sumber: Data Primer (2010) Proses Produksi Pembuatan tempe pada dasarnya adalah mencampur benih kapang agar tumbuh subur sehingga biji kedelai yang telah direbus tertutup lapuk yang berwarna putih seperti kapas. Untuk memproduksi tempe hingga siap untuk dipasarkan, dibutuhkan tiga hari proses produksi. Meskipun demikian proses produksi ini dilakukan setiap hari, sehingga tempe dapat dijual setiap harinya. Tempe segar dalam suhu ruang memiliki umur simpan satu hingga dua hari. Lebih dari dua hari disimpan dalam suhu ruangan, tempe akan berubah baik dari penampakan luar, aroma, maupun rasa. Masing-masing pengrajin pada daerah penelitian, pada umumnya memiliki cara yang sama dalam pembuatan tempe. Kegiatan mengolah kedelai menjadi 51
7 tempe dilakukan dalam beberapa tahap yaitu pencucian, perebusan, perendaman, pengupasan kulit, peragian, pembungkusan atau pencetakan, dan pengeraman. Pada umumnya alat yang diperlukan untuk membuat tempe merupakan peralatan rumah tangga dan relatif sederhana. Meskipun sederhana, namun diperlukan keterampilan dan pengalaman agar mendapatkan hasil tempe yang baik. Berikut ini dijelaskan peralatan yang dibutuhkan dan proses atau cara pembuatan tempe pada masing-masing skala produksi Peralatan Produksi Peralatan yang dibutuhkan untuk membuat tempe pada masing-masing skala kecil, menengah, dan besar hampir serupa. Perbedaan pada masing-masing skala terletak pada jumlah (unit) peralatannya. Begitu pula bahan-bahan yang dibutuhkan dalam memproduksi tempe, setiap skala menggunakan bahan-bahan yang sama. Untuk membuat tempe pada pengrajin skala kecil dibutuhkan peralatan berupa drum plastik untuk merendam kedelai dan menampung air, drum besi untuk merebus kedelai, ayakan bambu yang berguna untuk memisahkan kulit kedelai setelah direbus, gayung untuk mengangkat kedelai dari drum besi ke dalam drum plastik, dan alat pemecah kedelai. Untuk memecahkan kedelai, pengrajin tempe di dareah penelitian sudah menggunakan cara yang lebih modern yaitu dengan menggunakan mesin pemecah kedelai, tidak dengan menginjak-injak kedelai. Mesin ini digunakan setelah kedelai direbus dan berguna untuk memecah kepingan kedelai. Pada daerah penelitian terdapat mesin yang terbuat dari kayu dan besi. Mesin yang terbuat dari kayu ada yang digerakkan secara manual dengan cara memutar tuas yang ada di samping mesin dan ada pula pengrajin yang sudah menggunakan mesin yang digerakkan dengan dinamo listrik. Tampilan kedua jenis mesin tersebut dapat dilihat pada Gambar 9 berikut ini. 52
8 (a) (b) Gambar 9. (a) Mesin Pemecah Kedelai Manual; (b) Mesin Pemecah Kedelai Listrik Peralatan lainnya yang digunakan yaitu kajang atau selanjutnya biasa disebut dengan kere yang berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan kedelai yang telah dicetak atau dikemas selama masa pemeraman. Kere terbuat dari anyaman bambu berukuran 200 cm x 40 cm. Kemudian dibutuhkan pula bak-bak cetakan terbuat dari kayu yang berguna untuk mencetak kedelai setelah tercampur dengan ragi atau laru. Cetakan dibutuhkan untuk mendapatkan bentuk dan ukuran tempe yang seragam. Rata-rata pengrajin tempe skala kecil memerlukan dua buah drum plastik untuk menampung air, 1 buah drum plastik sebagai tempat merendam kedelai, serta 1 buah drum besi untuk merebus kedelai. Kere dan cetakan yang dimiliki pengrajin tempe skala kecil rata-rata berjumlah empat hingga dua puluh unit. Dapur yang digunakan untuk mengolah kedelai merupakan dapur yang digunakan pula sebagai dapur rumah, tempat memasak makanan sehari-hari. Dengan kata lain dapur sebagai tempat pembuatan tempe bergabung dengan dapur rumah utama. Tidak ada sekat antara sumur dengan dapur, sehingga dapur menjadi mudah kotor oleh air yang berasal dari sumur. Tempat untuk merebus kedelai juga sangat berdekatan dengan sumur, namun dibuat lebih tinggi. Sehingga di dalam ruang dapur menjadi panas dan penuh asap ketika kedelai sedang direbus. Ditambah lagi tidak adanya jendela atau lubang angin yang memadai, sehingga udara panas sulit untuk keluar ruangan. 53
9 Gambar 10. Suasana Dapur Produksi Tempe Dapur menjadi pusat kegiatan pembuatan tempe, tempe yang telah direbus dan dicampur dengan ragi kemudian dicetak dalam cetakan kayu yang juga dilakukan di dalam dapur. Namun ada beberapa pengrajin tempe skala kecil yang melakukan proses pencetakan di teras depan rumah. Setelah dicetak dan agak padat, tempe yang setengah jadi dipindahkan ke dalam kere dan kemudian disimpan dalam rak penyimpan yang juga diletakkan di dalam dapur. Peralatan yang dimiliki pengrajin skala menengah relatif sama dengan pengrajin skala kecil. Peralatan yang dibutuhkan yaitu drum besi untuk merebus sebanyak satu hingga dua buah, drum plastik sebagai tempat untuk menampung air dan merendam serta mencuci kedelai sebanyak empat buah. Ayakan atau saringan bambu untuk memisahkan kulit kedelai saat direndam sebanyak dua hingga empat buah, ember sebanyak dua buah untuk memindahkan kedelai yang telah direndam dan ditiriskan ke dalam cetakan dan sebelumnya telah dicampur dengan ragi atau laru. Seperti pengrajin tempe skala kecil, pengrajin tempe skala menengah juga menggunakan mesin pemecah kedelai. Namun terdapat perbedaan mesin yang digunakan pengrajin skala kecil dengan skala menengah. Mesin yang digunakan oleh pengrajin skala kecil berupa mesin yang terbuat dari kayu dan digerakkan secara manual dengan memutar rantai. Sedangkan mesin pemecah kedelai yang dimiliki oleh pengrajin skala menengah sudah otomatis 54
10 menggunakan dinamo, namun bak penampung masih menggunakan kayu. Harga beli mesin kayu manual berkisar antara Rp hingga Rp , sedangkan mesin pemecah kedelai yang sudah menggunakan dinamo dengan bak penampung terbuat dari kayu harganya berkisar antara Rp hingga Rp Apabila terjadi kerusakan pada mesin yang dimiliki pengrajin skala kecil, paling sering akibat bak kayu yang sudah lapuk sehingga perlu diganti. Sedangkan kerusakan yang paling sering terjadi pada mesin pemecah kedelai yang dimiliki pengrajin skala menengah yaitu pada komponen dinamo apabila terkena air, sehingga perlu diganti dengan dinamo yang baru. Peralatan lainnya yaitu kajang atau kere anyaman bambu untuk tempat meletakkan kedelai yang telah dicetak hingga menjadi tempe. Tidak ada perbedaan antara kere yang dimiliki pengrajin masing-masing skala. Kere yang dimiliki oleh pengrajin skala menengah berkisar antara dua puluh buah hingga lima puluh buah kere. Rak yang dimiliki pengrajin skala menengah adalah rak dengan sepuluh tingkat, bahkan pada umumnya pengrajin juga membuat semacam rak tambahan yang letaknya berada di atas atau menggantung. Jika masih tidak mencukupi, pengrajin meletakkan kere yang telah terisi dengan calon tempe di bagian depan rumah. Dapur yang digunakan sebagai tempat produksi, pada umumnya masih menempel dengan rumah utama. Biasanya terletak di bagian samping rumah, sehingga tidak mengganggu aktivitas dapur rumah utama. Namun masih ada beberapa pengrajin yang menyatukan antara dapur untuk produksi tempe dan dapur rumahtangga pengrajin. Pengrajin tempe skala besar juga membutuhkan peralatan yang serupa dengan pengrajin di skala lainnya. Untuk mencuci dan membersihkan kedelai dari kotoran seperti batu dan batang kedelai kering digunakan drum plastik seperti yang digunakan pengrajin skala kecil dan menengah. Drum plastik yang dimiliki oleh pengrajin skala besar berjumlah lima hingga sepuluh buah, dengan kapasitas tiap drumnya sebanyak 50 kg kedelai. Tempat penampungan air, selain menggunakan drum plastik, juga dibuat kolam sederhana yang terbuat dari batubata dan semen. Kolam bervariasi ukurannya, ada yang berbentuk persegi dengan ukuran 1,2 m dan ada pula yang berbentuk memanjang dengan ukuran 2,5 x 1 m. 55
11 Dibutuhkan pula drum besi untuk merebus yang dapat memuat 50 kg kedelai untuk tiap drumnya. Pengrajin skala besar memiliki dua hingga empat drum besi untuk merebus. Kemudian digunakan pula mesin pemecah kedelai yang terbuat dari besi dan digerakkan dengan dinamo. Mesin ini sangat tahan lama bila dinamo dijaga agar tidak terkena air. Bila dinamo mengalami kerusakan, biaya perbaikan yang dikeluarkan pengrajin sebesar Rp hingga Rp Untuk memindahkan kedelai yang telah dicampur dengan ragi ke dalam cetakan atau kantong, pengrajin skala besar menggunakan ember yang berjumlah dua hingga lima buah. Seperti pengrajin skala kecil maupun menengah, pengrajin skala besar juga menggunakan kere anyaman sebagai tempat menaruh kedelai yang telah dicetak atau dikemas. Kere anyaman yang dimiliki pengrajin skala besar berjumlah empat puluh hingga lima puluh buah. Berbeda dengan pengrajin tempe skala kecil dan menengah yang menggunakan dapur bersama dengan dapur rumah tangga, maka pengrajin tempe skala besar memiliki dapur yang terpisah dengan rumah utama. Dengan kata lain, pengrajin memiliki dua buah rumah yang letaknya saling berdekatan. Rumah pertama digunakan untuk tempat tinggal, dan rumah kedua dijadikan sebagai tempat mengolah kedelai sekaligus gudang penyimpanan kedelai dan tempat tinggal bagi pekerja sebanyak dua hingga empat orang Cara Pembuatan Tempe Tidak ada perbedaan antara pengrajin skala kecil, menengah, dan besar dalam membuat tempe. Perbedaan hanya ada pada kegiatan pengemasan. Langkah pertama dalam membuat tempe adalah mencuci kedelai dengan air. Kedelai dicuci dalam drum plastik untuk membersihkan benda-benda asing yang tidak diinginkan, seperti kerikil atau batang tanaman kedelai. Kemudian kedelai direbus dalam drum besi hingga air mendidih. Perebusan bertujuan untuk melunakan biji kedelai yang keras sehingga memudahkan ragi untuk menembus kedelai saat pemeraman. Untuk merebus kedelai digunakan kayu sebagai bahan bakar. Kedelai yang telah direbus kemudian direndam dalam air dingin selama jam sampai menghasilkan kedelai yang berlendir dan masam. Tahap selanjutnya yaitu mencuci kedelai dengan membuag air rendaman terlebih dahulu 56
12 hingga bersih. Dilanjutkan dengan kegiatan mengupas kulit dan memecah kedelai dengan menggunakan mesin. Kegiatan ini bertujuan untuk memudahkan penetrasi enzim dan pertumbuhan miselium kapang yang digunakan. Kegiatan selanjutnya setelah proses pengupasan kulit yaitu pencucian kedelai kembali dengan menggunakan air bersih. Kedelai dicuci dengan cara diaduk-aduk sehingga kulit kedelai mengapung dan mudah diambil dengan menggunakan ayakan bambu. Kemudian kedelai ditiriskan dan dibiarkan dingin dalam drum plastik yang telah dilubangi, sehingga air dapat dimaksimalkan untuk keluar dan mencegah terjadinya kelebihan air yang dapat mendorong berkembangnya bakteri. Kedelai yang telah benar-benar tiris kemudian dicampur dengan ragi atau laru tempe dengan mencampur dan mengaduknya bersama kedelai hingga tercampur benar. Proses ini sering dianggap sebagai proses yang paling sulit, karena apabila salah dalam melakukan proses ini, maka kapang akan gagal tumbuh sehingga tempe tidak akan jadi. Menurut pengalaman pengrajin, keadaan suhu lingkungan dan cuaca sangat menentukan banyaknya ragi yang akan diberikan. Apabila cuaca panas maka ragi yang diberikan akan lebih sedikit dibandingan dengan cuaca dingin atau kurang panas. Kedelai yang telah tercampur ragi, kemudian siap untuk dicetak atau dikemas. Kegiatan mencetak dapat menggunakan bak kayu cetakan atau secara manual dengan membentuk sendiri ukuran tempe yang diinginkan, tetapi hasilnya tidak terlalu berbeda jauh dengan ukuran tempe yang menggunakan bak kayu cetakan. Sebelum mencetak, bak kayu maupun kere telah dialasi dengan plastik bening yang telah dilubangi dengan menggunakan pisau. Apabila telah menjadi tempe, kemasan ada yang diganti dengan menggunakan daun pisang dan ada pula yang dibiarkan tetap menggunakan plastik. Disamping membuat tempe yang dicetak, beberapa pengrajin juga ada yang langsung mengemas kedelai yang telah dicampur ragi tersebut dengan plastik bening bermacam-macam ukuran mulai dari plastik ukuran 3 ons hingga 1 kg. Plastik ini sebelumnya juga telah dilubangi menggunakan pisau atau alat pelubang yang terbuat dari paku. Kegiatan terakhir adalah pemeraman, yaitu menyimpan kedelai yang telah dicetak atau dikemas dan diletakkan di kere anyaman selama jam hingga 57
13 tekstur menjadi rapat dan bagian permukaan berwarna putih seperti kapas yang disebut sebagai tempe hingga siap dipasarkan dan dikonsumsi masyarakat. Kere yang telah terisi dengan bakal tempe kemudian diletakkan di atas rak kayu pemeraman. Gambar 11. Pemeraman Bakal Tempe Respon Awal Pengrajin Tempe Terhadap Kenaikan Harga Kedelai Harga kedelai yang sempat melonjak lebih dari 100 persen di tahun 2008 membuat pengrajin harus melakukan berbagai cara agar dapat terus bertahan dalam usahanya. Berdasarkan hasil penelitian dapat ditunjukkan bahwa walaupun harga kedelai meningkat, namun pengrajin tempe tetap membeli kedelai dengan jumlah yang sama dengan ketika harga kedelai belum meningkat. Hal ini disebabkan tetap adanya permintaan tempe oleh konsumen, meskipun harga kedelai relatif mahal. Walaupun tetap ada permintaan tempe, namun pengrajin tidak dapat dengan mudah menaikkan harga jual tempe. Sulitnya bagi pengrajin untuk menaikkan harga jual dikarenakan struktur pasar yang dihadapi pengrajin tempe cenderung mengarah ke pasar persaingan sempurna, dan konsumen akan merasa sangat keberatan jika harga tempe dinaikkan. Biaya produksi yang semakin meningkat akibat kenaikan harga beli kedelai ini, disikapi pengrajin dengan memperkecil ukuran tempe. Sehingga tempe yang dapat dijual semakin banyak dengan harga jual cenderung tetap. Menurut pengalaman pengrajin, konsumen tempe lebih peka terhadap harga, 58
14 namun tidak terlalu peduli dengan ukuran tempe yang mereka beli. Dengan demikian pengrajin lebih memilih untuk memperkecil ukuran tempe yang dijualnya, dibandingkan dengan menaikkan harga jual. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa respon awal pengrajin dalam menghadapi kenaikan harga kedelai cukup beragam. Ada pengrajin yang mengurangi jumlah penggunaan kedelai, memperkecil ukuran tempe, menaikkan harga jual tempe, mengurangi penggunaan jumlah tenaga kerja luar keluarga, bahkan ada pengrajin yang merespon kenaikan harga kedelai dengan menghentikan produksinya. Respon yang beragam tersebut ternyata berbeda-beda di setiap skala produksi pengrajin tempe. Tabel 11 meringkas perbedaan respon awal pengrajin tempe pada skala produksi kecil, menengah, dan besar terhadap kenaikan harga kedelai. Tabel 11. Perbedaan Respon Awal Pengrajin pada Skala Produksi Kecil, Menengah, dan Besar Terhadap Kenaikan Harga Kedelai Skala Produksi Respon Awal Kecil Menengah Besar Orang % Orang % Orang % Mengurangi jumlah penggunaan kedelai Memperkecil ukuran tempe Menaikkan harga jual tempe Mengurangi penggunaan jumlah tenaga kerja luar keluarga Berhenti berproduksi Tidak melakukan tindakan apapun Total Sumber: Data Primer (2010) 59
15 Tabel 11 memperlihatkan berbagai reaksi pengrajin tempe skala kecil, menengah, dan besar terhadap kenaikan harga kedelai. Pengrajin dengan skala produksi kecil dan menengah, menunjukkan bahwa sebagian besar pengrajin merespon kenaikan harga kedelai dengan memperkecil ukuran tempe yang mereka jual. Respon ini berkaitan dengan pembeli utama mereka yang pada umumnya adalah ibu-ibu rumah tangga. Menurut pengrajin tempe skala kecil dan menengah, ibu-ibu rumah tangga lebih sensitif terhadap perubahan harga dibandingkan dengan perubahan ukuran tempe. Padahal dengan memperkecil ukuran tempe, pengrajin sebenarnya telah menaikkan harga jual tempe sehingga ibu-ibu rumah tangga sebenarnya telah membeli tempe yang harganya lebih mahal akibat adanya kenaikan harga kedelai. Pada pengrajin skala besar, respon yang paling banyak dilakukan (66 persen) ketika harga kedelai meningkat yaitu dengan mengurangi penggunaan jumlah tenaga kerja luar keluarga. Pengurangan jumlah tenaga kerja luar keluarga, dapat menghemat biaya produksi pengrajin tempe skala besar karena pengrajin dapat mengurangi biaya upah tenaga kerja keluarga. 60
V. PROFIL INDUSTRI TEMPE. responden yang diambil adalah 31 pengrajin yang semuanya termasuk dalam
V. PROFIL INDUSTRI TEMPE A. Identitas Pengrajin Identitas pengrajin diperlukan untuk mengetahui latar belakang dari kondisi sosial ekonomi sosial pengrajin. Dalam penelitian ini keseluruhan jumlah responden
V. PROFIL INDUSTRI RUMAH TANGGA TAHU. pemilik usaha industri tahu yang ada di Desa Karanganyar Kecamatan Weru
V. PROFIL INDUSTRI RUMAH TANGGA TAHU A. Identitas Pengrajin Identitas pengrajin merupakan gambaran umum tentang keadaan dan latar belakang pengrajin yang berkaitan dan berpengaruh terhadap kegiatan dalam
3. Untuk mempermudah bagi mereka mereka yang berminat untuk mendirikan industri rumah tangga yang mengspesialisasikan pembuatan tempe. C.
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Tempe merupakan salah satu makanan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat. Tempe merupakan salah satu produk olahan berbasis bioteknologi. Bioteknologi merupakan bidang
ANALISIS BIAYA, PENDAPATAN DAN R/C AGROINDUSTRI TEMPE (Studi Kasus pada Perajin Tempe di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran)
ANALISIS BIAYA, PENDAPATAN DAN R/C AGROINDUSTRI TEMPE (Studi Kasus pada Perajin Tempe di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran) Oleh: 1 Sunarti, 2 Dedi Herdiansah Sujaya, 3 Tito Hardiyanto
VI ANALISIS STRUKTUR BIAYA USAHA TEMPE
VI ANALISIS STRUKTUR BIAYA USAHA TEMPE Setiap kegiatan produksi tidak terlepas dari biaya, begitu pula kegiatan produksi tempe. Biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi tempe meliputi biaya pembelian
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. A. Gambaran Umum Kelurahan Gunung Sulah Kecamatan Way Halim
IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Gambaran Umum Kelurahan Gunung Sulah Kecamatan Way Halim Berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 04 Tahun 2012 tanggal 17 September 2012 tentang Penataan
Bab 5 Aspek Teknis. Bagaimana bentuk tempe yang anda suka? Apa warna tempe yang anda suka? Jenis bahan tempe apa yang anda sukai?
Bab 5 Aspek Teknis No 1. 5.1. Perencanaan Produk Berdasarkan data kuisioner yang terdapat pada bab 4, maka untuk menentukan perencanaan produk didapat data dari hasil penyebaran kuisioner sebagai berikut:
4 KEADAAN UMUM UKM. Pulau Pasaran SKALA 1:
29 4 KEADAAN UMUM UKM 4.1 Lokasi dan Keadaan Umum Pengolah Unit Pengolahan ikan teri nasi setengah kering berlokasi di Pulau Pasaran, Lingkungan 2, Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Barat,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian 1. Letak Geografis Lokasi Penelitian Kecamatan Telaga berjarak 6 Km dari ibu kota Kabupaten Gorontalo. Daerah ini bertofografi rendah dengan
BAB III INDUSTRI KERUPUK RAMBAK DWIJOYO DESA PENANGGULAN KECAMATAN PEGANDON KABUPATEN KENDAL
BAB III INDUSTRI KERUPUK RAMBAK DWIJOYO DESA PENANGGULAN KECAMATAN PEGANDON KABUPATEN KENDAL A. Gambaran Umum Industri Kecil dan Menengah di Desa Penanggulan Desa Penanggulan termasuk wilayah yang memiliki
ANALISIS MODEL LINEAR PROGRAMMING
VII ANALISIS MODEL LINEAR PROGRAMMING 7.1. Penentuan Model Linear Programming Produksi Tempe Dampak kenaikan harga kedelai pada pengrajin tempe skala kecil, menengah, dan besar dianalisis dengan menggunakan
PRAKTIKUM PRAKARYA KIMIA PEMBUATAN TEMPE
PRAKTIKUM PRAKARYA KIMIA PEMBUATAN TEMPE Disusun Oleh: Mukaromah K3310058 Nuryanto K3310060 Sita Untari K3310079 Uswatun Hasanah K3310081 Pendidikan Kimia A PROGAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN
LAMPIRAN FOTO-FOTO RISET
LAMPIRAN FOTO-FOTO RISET DENAH LOKASI PEMBUATAN TEMPE Jalan Besar Belok kiri Jalan Lurus Lokasi Pembuatan Tempe Bagian Sebelah Kiri Lokasi LIMBAH CAIR PEMBUATAN TEMPE Tempat Limbah Mengalir PROSES SINGKAT
V. GAMBARAN UMUM WILAYAH
V. GAMBARAN UMUM WILAYAH 5.1. Karakteristik Wilayah Kabupaten Brebes merupakan salah satu dari tiga puluh lima daerah otonom di Propinsi Jawa Tengah yang terletak di sepanjang pantai utara Pulau Jawa.
. Pedoman Teknis Pengolahan Mi Sagu - 9
III PROSES PEMBUATAN MI SAGU A Bahan 1 Pati Sagu Pati sagu untuk bahan baku mi sebaiknya dipilih yang berwarna putih bersih dan bebas kotoran, dengan derajat putih yang diukur menggunakan Whiteness Meter
VI. ANALISIS BIAYA DAN PENDAPATAN INDUSTRI RUMAH TANGGA TAHU. A. Analisis Biaya Industri Rumah Tangga Tahu di Desa Karanganayar
VI. ANALISIS BIAYA DAN PENDAPATAN INDUSTRI RUMAH TANGGA TAHU A. Analisis Biaya Industri Rumah Tangga Tahu di Desa Karanganayar Biaya dalam industri tahu meliputi biaya eksplisit dan biaya implisit. Biaya
Ergonomic Assessment Pada Home Industri (Studi Kasus Industri Tempe)
Ergonomic Assessment Pada Home Industri (Studi Kasus Industri Tempe) Company Profile Letak : Pemilik : Pekerja : Jam Kerja : Kapasitas Produksi/hari :... kg kacang kedelai Flowchart Proses Produksi Kacang
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK BONGGOL DAN KULIT NANAS PADA PROSES FERMENTASI TEMPE
PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK BONGGOL DAN KULIT NANAS PADA PROSES FERMENTASI TEMPE Siti Miskah, Rini Daslam, Dwi Endah Suryani Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya Abstrak Nanas merupakan
BAB II TINJAUAN PUSTAKA. aroma spesifik dan mempunyai nilai gizi cukup tinggi. Bagian kepala beratnya
2.1 Komposisi Kimia Udang BAB II TINJAUAN PUSTAKA Udang merupakan salah satu produk perikanan yang istimewa, memiliki aroma spesifik dan mempunyai nilai gizi cukup tinggi. Bagian kepala beratnya lebih
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan UD. Tiga Bawang merupakan sebuah industri kecil menengah yang bergerak dibidang pembuatan keripik dengan bahan baku ubi kayu. UD. Tiga Bawang adalah
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Purworejo yang terdiri dari 49 desa.luas wilayah Kecamatan Pituruh yaitu 7681
IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Letak Geografis Kecamatan Pituruh merupakan salah satu dari 16 Kecamatan di Kabupaten Purworejo yang terdiri dari 49 desa.luas wilayah Kecamatan Pituruh yaitu 7681.
III. METODE PELAKSANAAN. bulan April 2013 sampai dengan pertengahan Juni 2013.
III. METODE PELAKSANAAN 3.1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Pengalaman kerja praktek mahasiswa (PKPM) ini dilakukan di perusahaan bakpia pathok 25 Yogyakarta, dan dilakukan selama 2,5 bulan yaitu dimulai
Kecap Asin/Manis CARA MEMBUAT:
Kecap Asin/Manis BAHAN: 1 kg kedelai putih atau hitam 3 gr ragi tempe 3 lbr daun salam 2 btg serai 3 Daun jeruk 1 lembar 4 cm lengkuas 1 sdt pokak 6 kg gula merah 1 ½ lt air untuk melarutkan gula merah
NAMA KELOMPOK : PUTRI FEBRIANTANIA M ( ) R
USAHA TELUR ASIN NAMA KELOMPOK : PUTRI FEBRIANTANIA M (0610963043) R. YISKA DEVIARANI S (0610963045) SHANTY MESURINGTYAS (0610963059) WIDIA NUR D (0610963067) YOLANDA KUMALASARI (0610963071) PROGRAM STUDI
V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Karakteristik Responden Usaha Pengolahan Ikan Asin
V. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Responden Usaha Pengolahan Ikan Asin Karakteristik responden usaha pengolahan ikan asin memberikan gambaran mengenai responden atau pemilih usaha ikan
KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS PEMBUATAN TEMPE. Disusunoleh: Nama: Yulia Nur Isnaini Kelas : S1 TI 2I NIM :
KARYA ILMIAH PELUANG BISNIS PEMBUATAN TEMPE Disusunoleh: Nama: Yulia Nur Isnaini Kelas : S1 TI 2I NIM : 10 11 4210 1 INDUSTRI PEMBUATAN TEMPE 1). Pengertian Tempe Tempe adalah makanan yang dibuat dari
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. 1. Identitas Pengrajin Tahu Karakteristik responden merupakan gambaran secara umum tentang
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Profil Industri Tahu 1. Identitas Pengrajin Tahu Karakteristik responden merupakan gambaran secara umum tentang keadaan dan latar belakang responden yang berkaitan dan berpengaruh
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
24 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Keadaan Wilayah dan Potensi Sumber daya Alam Desa Cikarawang adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat dengan luas wilayah 2.27
KUALITAS TEPUNG BERAS SEBAGAI BAHAN BAKU CAMPURAN RAGI TEMPE (Rhizopus oligosporus) DILIHAT DARI HASIL PRODUKSI TEMPE KEDELAI ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH
KUALITAS TEPUNG BERAS SEBAGAI BAHAN BAKU CAMPURAN RAGI TEMPE (Rhizopus oligosporus) DILIHAT DARI HASIL PRODUKSI TEMPE KEDELAI ARTIKEL PUBLIKASI ILMIAH Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada proses penggolahan stick singkong, singkong yang digunakan yaitu
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN terdiri dari : Tahapan-tahapan proses pengolahan stick singkong di UKM Flamboyan 4.1 Persiapan Bahan Baku Pada proses penggolahan stick singkong, singkong yang digunakan yaitu
V. GAMBARAN UMUM P4S NUSA INDAH
V. GAMBARAN UMUM P4S NUSA INDAH 5.1. Sejarah dan Perkembangan P4S Nusa Indah Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) Nusa Indah adalah sebuah pusat pelatihan usaha jamur tiram dan tanaman hias
PENANGANAN PASCA PANEN YANG BAIK (GOOD HANDLING PRACTICES/GHP) RIMPANG
PENANGANAN PASCA PANEN YANG BAIK (GOOD HANDLING PRACTICES/GHP) RIMPANG Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian (2017) TUJUAN PEMBELAJARAN
CABE GILING DALAM KEMASAN
CABE GILING DALAM KEMASAN 1. PENDAHULUAN Cabe giling adalah hasil penggilingan cabe segar, dengan atau tanpa bahan pengawet. Umumnya cabe giling diberi garam sampai konsentrasi 20 %, bahkan ada mencapai
Meningkatkan Nilai Tambah Bawang Merah Oleh: Farid R. Abadi
Meningkatkan Nilai Tambah Bawang Merah Oleh: Farid R. Abadi Bawang merah merupakan komoditas hortikultura yang memiliki permintaan yang cukup tinggi dalam bentuk segar. Meskipun demikian, bawang merah
T E M P E 1. PENDAHULUAN
T E M P E 1. PENDAHULUAN Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa dan lain-lain merupakan bahan pangan sumber protein dan lemak nabati yang sangat
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
V GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1. Profil Kecamatan Cisarua 5.1.1. Letak dan Keadaan Geografis Secara Geografis, Kecamatan Cisarua terletak di Selatan wilayah Bogor pada 06 42 LS dan 106 56 BB. Kecamatan
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
3 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4. Gambaran Kelurahan Cikaret Kelurahan Cikaret merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat. Kelurahan
OLEH: YULFINA HAYATI
PENGOLAHAN HASIL KEDELAI (Glycine max) OLEH: YULFINA HAYATI PENDAHULUAN Dalam usaha budidaya tanaman pangan dan tanaman perdagangan, kegiatan penanganan dan pengelolaan tanaman sangat penting diperhatikan
BAB II GAMABARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. A. Sejarah Singkat Usaha Keripik Cabe Bintang dan Keripik Cabe Mai
BAB II GAMABARAN UMUM OBJEK PENELITIAN A. Sejarah Singkat Usaha Keripik Cabe Bintang dan Keripik Cabe Mai Satun di Kota Dumai 1. Keripik Cabe Bintang Usaha industri keripik cabe rumahan di Kelurahan Purnama
CONTOH TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN PADA KELOMPOK BAHAN PANGAN
CONTOH TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN PADA KELOMPOK BAHAN PANGAN 1. Serealia ) Pengolahan jagung : a. Pembuatan tepung jagung (tradisional) Bahan/alat : - Jagung pipilan - Alat penggiling - Ember penampung
INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU
INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU Oleh: Gusti Setiavani, S.TP, M.P Staff Pengajar di STPP Medan Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa
HASIL WAWANCARA No Pertanyaan Wawancara Jawaban Wawancara 1 Sejak kapan Pabrik Tahu dan Tempe ini bapak dirikan dan bagaimana asal mula bapak tertarik membuka untuk mendirikan pabrik ini? Pabrik ini saya
BAB I PENDAHULUAN. tumbuh subur di Indonesia. Semua bagian pohon kelapa dapat dimanfaatkan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kelapa (Cocos nucifera) merupakan salah satu tanaman tropis yang tumbuh subur di Indonesia. Semua bagian pohon kelapa dapat dimanfaatkan mulai dari akar, batang, buah,
BAB V KARAKTERISTIK RESPONDEN
50 BAB V KARAKTERISTIK RESPONDEN 5.1 Faktor Internal Faktor internal dalam penelitian ini merupakan karakteristik individu yang dimiliki responden yang berbeda satu sama lain. Responden dalam penelitian
KONTRIBUSI PENDAPATAN TENAGA KERJA WANITA PADA USAHA PEMBUATAN TEMPE TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA
KONTRIBUSI PENDAPATAN TENAGA KERJA WANITA PADA USAHA PEMBUATAN TEMPE TERHADAP PENDAPATAN KELUARGA (Studi Kasus: Kelurahan Tanjung Sari, Kecamatan Medan Selayang) SKRIPSI OLEH : ACHMAD ALBAR MURAD D 110304050
PEMBUATAN TEPUNG JAGUNG
PEMBUATAN TEPUNG JAGUNG Qanytah Tepung jagung merupakan butiran-butiran halus yang berasal dari jagung kering yang dihancurkan. Pengolahan jagung menjadi bentuk tepung lebih dianjurkan dibanding produk
FUAD MARKIAWAN S1TI / STMIK AMIKOM YOGYAKARTA. Jl. Ring Road Utara, Condong Catur, Yogyakarta.
FUAD MARKIAWAN S1TI / 10.11.3541 STMIK AMIKOM YOGYAKARTA Jl. Ring Road Utara, Condong Catur, Yogyakarta www.amikom.ac.id A. ABSTRAK Bombardir masakan impor terasa luar biasa. Tak bisa ditolak, tetapi masakan
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan UD. Ponimin merupakan sebuah industri kecil yang bergerak dalam bidang produksi tahu. UD. Ponimin ini didirikan oleh Bapak Ponimin pada tahun 1998.
BAB III HOME INDUSTRY TAHU DI DUSUN BULUR DESA NGRECO KECAMATAN KANDAT KABUPATEN KEDIRI
62 BAB III HOME INDUSTRY TAHU DI DUSUN BULUR DESA NGRECO KECAMATAN KANDAT KABUPATEN KEDIRI A. Gambaran Umum Dusun Bulur Desa Ngreco Kec. Kandat Kab. Kediri Desa Ngreco merupakan salah satu Desa yang ada
MODUL 4 PRESTO IKAN. Standar Unit Kompetensi: Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu membuat presto ikan yang bercita rasa enak.
MODUL 4 PRESTO IKAN Standar Unit Kompetensi: Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu membuat presto ikan yang bercita rasa enak. Indikator Keberhasilan: Mutu presto ikan yang dihasilkan utuh, bersih,
IV. DESKRIPSI USAHA PENGOLAHAN TEPUNG UBI JALAR
IV. DESKRIPSI USAHA PENGOLAHAN TEPUNG UBI JALAR 4.1 Gambaran Umum Kelompok Tani Hurip Kelompok Tani Hurip terletak di Desa Cikarawang Kecamatan Darmaga. Desa Cikarawang adalah salah satu Desa di Kecamatan
BAB III GAMBARAN WILAYAH PENELITIAN. A. Kelurahan Proyonanggan Utara Batang
BAB III GAMBARAN WILAYAH PENELITIAN A. Kelurahan Proyonanggan Utara Batang 1. Keadaan Fisik a. Letak 62 Kelurahan Proyonangan Utara merupakan kelurahan salah satu desa pesisir di Kabupaten Batang Provinsi
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan Berdirinya UD. Ponimin pada tahun 1998, UD. Ponimin merupakan industri rumah tangga yang memproduksi tahu. UD. Ponimin ini milik Bapak Ponimin. Awalnya
MODUL 3 PENGOLAHAN IKAN TERI ASIN
MODUL 3 PENGOLAHAN IKAN TERI ASIN Standar Unit Kompetensi: Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu mengolah ikan teri asin kering yang berkualitas dan higienis. Indikator Keberhasilan: Mutu ikan
IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
IV. GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PERUSAHAAN Sari Sehat Multifarm didirikan pada bulan April tahun 2006 oleh Bapak Hanggoro. Perusahaan ini beralamat di Jalan Tegalwaru No. 33 di
Arang Tempurung Kelapa
Arang Tempurung Kelapa Mengapa harus arang tempurung? Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), terutama minyak tanah, membuat masyarakat mencari alternatif lain untuk keperluan memasak. Salah satu yang
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. Kota Palu setelah usaha pengolahan bawang goreng khas Palu. Pengusaha olahan
46 V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Profil Usaha Pengolahan Pisang Di Kota Palu Usaha pengolahan pisang merupakan usaha pengolahan kedua terbanyak di Kota Palu setelah usaha pengolahan bawang goreng khas Palu.
Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. Alat yang digunakan dipilih dengan
Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan bebas dari cemaran dan dalam keadaan kering. Alat yang digunakan dipilih dengan tepat untuk mengurangi terbawanya bahan atau tanah
V. GAMBARAN UMUM. Cisaat berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada Tabel 4.
V. GAMBARAN UMUM 5.1. Kondisi Umum Lokasi Penelitian Desa Cisaat terletak di Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi dengan luas wilayah 125.625 Ha. Desa Cisaat berbatasan dengan Jalan Raya Cisaat di sebelah
BAB III REKAYASA PENURUNAN GENERASI PDA KE GENERASI BIBIT INDUK F1 3.1. Pembuatan Bibit Induk F1 Bibit induk F1 adalah hasil turunan generasi dari bibit PDA. Media yang digunakan bisa dari serbuk gergajian,
IKAN ASAP 1. PENDAHULUAN
IKAN ASAP 1. PENDAHULUAN Ikan merupakan bahan makanan yang banyak dikonsumsi masyarakat selain sebagai komoditi ekspor. Ikan cepat mengalami proses pembusukan dibandingkan dengan bahan makanan lain. Bakteri
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Pengolahan Cookies Tepung Beras 4.1.1 Penyangraian Penyangraian bahan bakunya (tepung beras) terlebih dahulu, dituangkan pada wajan dan disangrai menggunakan kompor,
1 DATA PENELITIAN HASIL WAWANCARA PROFIL INDUSTRI RUMAHAN TAHU PAK FAIZIN DI DESA DUET
LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran 1 DATA PENELITIAN HASIL WAWANCARA PROFIL INDUSTRI RUMAHAN TAHU PAK FAIZIN DI DESA DUET 1. Siapa pemilik INDUSTRI RUMAHAN TAHU didesa Duet? Bapak Faizin 2. Sejak kapan berdirinya
III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2016 di Desa Margototo Metro Kibang
18 III. METODOLOGI PENELITIAN 1.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2016 di Desa Margototo Metro Kibang dan Laboratorium Tanaman I, Politeknik Negeri Lampung. 3.2 Alat dan Bahan
NATA DE COCO 1. PENDAHULUAN
NATA DE COCO 1. PENDAHULUAN Nata adalah biomassa yang sebagian besar terdiri dari sellulosa, berbentuk agar dan berwarna putih. Massa ini berasal dari pertumbuhan Acetobacter xylinum pada permukaan media
II. PENGAWETAN IKAN DENGAN PENGGARAMAN & PENGERINGAN DINI SURILAYANI
II. PENGAWETAN IKAN DENGAN PENGGARAMAN & PENGERINGAN DINI SURILAYANI 1. PENGERINGAN Pengeringan adalah suatu proses pengawetan pangan yang sudah lama dilakukan oleh manusia. Metode pengeringan ada dua,
V. GAMBARAN UMUM. Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal,
V. GAMBARAN UMUM 5.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian Desa Lulut secara administratif terletak di Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa ini berbatasan dengan Desa Bantarjati
Menanan Jamur Merang di Dalam Kumbung
Menanan Jamur Merang di Dalam Kumbung Oleh Elly Sarnis Pukesmawati, SP., MP. A. Latar Belakang Budidaya jamur merang di dalam kumbung merupakan teknik budidaya jamur yang dilakukan secara modern dengan
V. GAMBARAN UMUM. permukaan laut, dan batas-batas wilayah sebagai berikut : a) Batas Utara : Kabupaten Banyuasin
V. GAMBARAN UMUM 5.1 Keadaan Umum Kota Palembang Kota Palembang merupakan ibukota dari Provinsi Sumatera Selatan. Secara geografis Kota Palembang terletak antara 2 52' - 3 5' Lintang Selatan dan 104 37'
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN
BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Sejarah Perusahaan UD. Kreasi Lutvi merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi makanan ringan keripik singkong. UD. Kreasi Lutvi berdiri pada tahun 1999. Sejarah
BAB I PENDAHULUAN. penghasil devisa negara, penyedia lapangan kerja serta mendorong pengembangan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kakao merupakan salah satu komoditas andalan perkebunan yang memegang peranan cukup penting dalam perekonomian Indonesia, yakni sebagai penghasil devisa negara, penyedia
Maulida Silvia Arianti 1
ejournal Administrasi Bisnis, 2016, 4 (4): 1016-1030 ISSN 2355-5408, ejournal.adbisnis.fisip-unmul.ac.id Copyright 2016 Analisis Quality Control Untuk Menjaga Kualitas Produk Tempe Pada Usaha Home Industri
TUGAS AKHIR MATA KULIAH LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS TAHU KEDELAI DISUSUN OLEH GUNTUR OCTOSA YUDHA WIJAYA
TUGAS AKHIR MATA KULIAH LINGKUNGAN BISNIS PELUANG BISNIS TAHU KEDELAI DISUSUN OLEH GUNTUR OCTOSA YUDHA WIJAYA 11.02.8080 STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2011/2012 ABSTRAK Tahu adalah makanan yang dibuat dari kacang
Menerapkan Teknik Pengolahan Menggunakan Media Penghantar Panas. KD 1. Melakukan Proses Pengolahan Abon Ikan
1 Menerapkan Teknik Pengolahan Menggunakan Media Penghantar Panas KD 1. Melakukan Proses Pengolahan Abon Ikan Pengertian Abon Abon merupakan salah satu jenis makanan awetan berasal dari daging (sapi, kerbau,
TATA LAKSANA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu. Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di
III. TATA LAKSANA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di daerah Minggir, Sleman, Yogyakarta dan di laboratorium fakultas pertanian UMY. Pengamatan pertumbuhan tanaman bawang merah dan
Dalam proses ekstraksi tepung karaginan, proses yang dilakukan yaitu : tali rafia. Hal ini sangat penting dilakukan untuk memperoleh mutu yang lebih
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses Ekstraksi Tepung Karaginan Dalam proses ekstraksi tepung karaginan, proses yang dilakukan yaitu : 1. Sortasi dan Penimbangan Proses sortasi ini bertujuan untuk memisahkan
II. TINJAUAN PUSTAKA. Pada dasarnya setiap industri, baik industri besar, menengah, dan kecil
16 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Industri Pada dasarnya setiap industri, baik industri besar, menengah, dan kecil menghadapi berbagai macam masalah. Demikian juga untuk industri tempe skala mikro di Kota Bandar
BAB I PENDAHULUAN. mutu dan keamanan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pangan adalah kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya merupakan hak azasi setiap warga masyarakat sehingga harus tersedia dalam jumlah yang cukup, aman, bermutu,
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Profil Industri Rumah Tangga olahan Salak Pondoh. Kegiatan pengolahan Salak Pondoh sudah dilakukan oleh warga masyarakat
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Profil Industri Rumah Tangga olahan Salak Pondoh Kegiatan pengolahan Salak Pondoh sudah dilakukan oleh warga masyarakat Desa Donokerto selama 10 tahun terakhir. Pengolahan Salak
PENGOLAHAN KEDELAI MENJADI TEMPE KEJO SECARA SEDERHANA
PENGOLAHAN KEDELAI MENJADI TEMPE KEJO SECARA SEDERHANA DI UNIT PENGOLAHAN HASIL BALAI PELATIHAN PERTANIAN JAMBI Oleh : Kemas Muhammad Erwansyah, S.TP NIP. 19820916200901 1010 I. PENDAHULUAN Kedelai mempunyai
V. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Teknik Budidaya Ikan Nila, Bawal, dan Udang Galah
V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Teknik Budidaya Ikan Nila, Bawal, dan Udang Galah 1. Persiapan kolam Di Desa Sendangtirto, seluruh petani pembudidaya ikan menggunakan kolam tanah biasa. Jenis kolam ini memiliki
KRIPIK TEMPE KARTIKASARI...MA NYUS...
KRIPIK TEMPE KARTIKASARI...MA NYUS... Di Desa Pesanggrahan kripik tempe buatan Bu Sartem bukan hal yang asing selain rasanya yang enak juga renyah. Olahan kripik tempe ini bukan saja dikenal di desa itu
Teknologi Pengolahan Kopi Cara Basah Untuk Meningkatkan Mutu Kopi Ditingkat Petani
Teknologi Pengolahan Kopi Cara Basah Untuk Meningkatkan Mutu Kopi Ditingkat Petani Oleh: Ir. Nur Asni, MS PENDAHULUAN Tanaman kopi (Coffea.sp) merupakan salah satu komoditas perkebunan andalan sebagai
BAB III METODE PENELITIAN. yaitu penelitian yang dilakukan dengan memberikan perlakuan (treatment)
40 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis penelitian Jenis penelitian pada penelitian ini adalah penelitian eksperimen, yaitu penelitian yang dilakukan dengan memberikan perlakuan (treatment) terhadap objek
V. DESKRIPSI LOKASI DAN SAMPEL PENELITIAN. Kelurahan Kamal Muara merupakan wilayah pecahan dari Kelurahan
V. DESKRIPSI LOKASI DAN SAMPEL PENELITIAN Kelurahan Kamal Muara merupakan wilayah pecahan dari Kelurahan Kapuk, Kelurahan Kamal dan Kelurahan Tegal Alur, dengan luas wilayah 1 053 Ha. Terdiri dari 4 Rukun
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
35 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN Bab ini mendeskripsikan keadaan umum wilayah penelitian dan deskripsi dan analisis tayangan iklan layanan masyarakat. Dalam penelitian ini kondisi potensi sosial
GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. A. Keadaan Umum Kecamatan Teluk Betung Timur. Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 04 Tahun 2012, tentang
79 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Kecamatan Teluk Betung Timur 1. Keadaan Umum Pemerintahan Kecamatan Teluk Betung Timur terbentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung
BAB IV PEMBAHASAN. a. Letak, Luas, dan Batas Daerah Penelitian. geografis berada di koordinat 07 o LS-7 o LS dan
BAB IV PEMBAHASAN A. Deskripsi Daerah Penelitian 1. Kondisi Fisik a. Letak, Luas, dan Batas Daerah Penelitian Desa Banjarharjo adalah salah satu desa di Kecamatan Kalibawang Kabupaten Kulon Progo, Daerah
BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN
BAB III TATA LAKSANA PELAKSANAAN A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktek Produksi Kopi Biji Salak dengan Penambahan Jahe Merah dilaksanakan pada bulan Maret-April 2016 di Laboratorium Rekayasa Proses dan
BAB II DATA DAN ANALISA
BAB II DATA DAN ANALISA Manisan adalah salah satu bentuk makanan olahan yang banyak disukai oleh masyarakat. Rasanya yang manis bercampur dengan rasa khas buah sangat cocok untuk dinikmati diberbagai kesempatan.
Pengolahan hasil pertanian dalam pelatihan ini dimaksudkan untuk mengubah bentuk bahan baku menjadi bahan
Pelatihan Kewirausahaan untuk Pemula olahan dengan memperhatikan nilai gizi dan memperpanjang umur simpan atau keawetan produk. Untuk meningkatkan keawetan produk dapat dilakukan dengan cara : (1) Alami
Lampiran 1. Penyusutan Peralatan yang Digunakan dalam Produksi Manisan Carica
LAMPIRAN 43 Lampiran 1. Penyusutan Peralatan yang Digunakan dalam Produksi Manisan Carica No. Jenis Alat Spesifikasi Jumlah Harga/Satuan Total Harga Nilai Baru Usia Ekonomis Nilai Sisa Penyusutan (Tahun)
OLEH HARI SUBAGYO BP3K DOKO PROSES PENGOLAHAN BIJI KOPI
OLEH HARI SUBAGYO BP3K DOKO PROSES PENGOLAHAN BIJI KOPI Secangkir kopi dihasilkan melalui proses yang sangat panjang. Mulai dari teknik budidaya, pengolahan pasca panen hingga ke penyajian akhir. Hanya
TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH PASCA
AgroinovasI TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH PASCA Dalam menghasilkan benih bermutu tinggi, perbaikan mutu fisik, fisiologis maupun mutu genetik juga dilakukan selama penanganan pascapanen. Menjaga mutu fisik
LAPORAN KEGIATAN OBSERVASI PEMBUATAN KRIPIK SALAK
LAPORAN KEGIATAN OBSERVASI PEMBUATAN KRIPIK SALAK Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keterampilan Dosen Pengampu: Dra. Y. Flori Setiarini, M.Pd. Disusun Oleh: 1. Desi Muji H (14144600178) 2. Arif Rahman
BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN
18 BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Gambaran Umum Desa Gorowong Desa Gorowong merupakan salah satu desa yang termasuk dalam Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Desa
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. a. Letak, Luas dan Batas Wilayah. dari kantor Kabupaten Wonogiri sekitar 30 km.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Daerah Penelitian 1. Kondisi Fisiografis a. Letak, Luas dan Batas Wilayah Desa Punduh Sari merupakan bagian dari wilayah administratif di Kecamatan Manyaran
PENGOLAHAN BUAH LADA
PENGOLAHAN BUAH LADA Oleh: Puji Lestari, S.TP Widyaiswara Pertama I. PENDAHULUAN Lada memiliki nama latin Piper nigrum dan merupakan family Piperaceae. Lada disebut juga sebagai raja dalam kelompok rempah
MANISAN BASAH JAHE 1. PENDAHULUAN 2. BAHAN
MANISAN BASAH JAHE 1. PENDAHULUAN Manisan biasanya dibuat dari buah. Produk ini merupakan bahan setengah kering dengan kadar air sekitar 30 %, dan kadar gula tinggi (>60%). Kondisi ini memungkinkan manisan
