Laporan Ekonomi Bulanan
|
|
|
- Herman Susman
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan Agustus 2006 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha DR. Tulus Tambunan Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna Said X-5 Kav. 2-3 Kuningan Jakarta Selatan
2 INDIKATOR EKONOMI No Indikator Nilai PDB Harga Konstan Tahun 2000 (Rp triliun) 1, , , , (1) 2 Pertumbuhan PDB (%) (1) 3 Inflasi (%) (2) 4 Total Expor (USD milyar) (3) 5 Expor Non Migas (USD milyar) (3) 6 Total Impor (USD milyar) (3) 7 Impor Non Migas (USD milyar) (3) 8 Neraca Perdagangan (USD milyar) (3) 9 Neraca Transaksi Berjalan (USD milyar) (1) 10 Cadangan Devisa (USD milyar, akhir tahun) (7) 11 Posisi Utang Luar Negeri (USD milyar) (8) 12 Rupiah/USD (Kurs Tengah Bank Indonesia) 8,940 8,330 9,355 9,830 9,100 (7) 13 Total Penerimaan Pemerintah (Rp triliun) (*) 14 Total Pengeluaran Pemerintah (Rp triliun) (*) 15 Defisit Anggaran (Rp triliun) (*) 16 Uang Primer (Rp triliun) (4) 17 Uang Beredar (Rp triliun) a. Arti Sempit (M1) (5) b. Arti Luas (M2) , , ,237.5 (5) 18 Dana Pihak Ketiga Perbankan (Rp triliun) , ,179.5 (5) 19 Kredit Perbankan (Rp trilioun) (5) 20 Suku Bunga (% per tahun) a. SBI satu bulan (6) b. Deposito 1 bulan (5) c. Kredit Modal Kerja (5) d. Kredit Investasi (5) 21 Persetujuan Investasi - Domestik (Rp triliun) (3) - Asing (Rp triliun) (3) 22 IHSG BEJ , , ,431.3 (7) 23 Nilai Kapitalisasi Pasar BEJ (Rp triliun) (4) Source: BPS, BI and JSX 1) Semester I 5) Posisi akhir Juni ) Januari Agustus ) Posisi 8 Agustus ) Januari Juli ) Posisi akhir Agustus ) Posisi akhir Juli ) Posisi akhir triwulan I 2006 *) dalam APBN 2006 Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 Kamar Dagang dan Industri Indonesia 2
3 Perkembangan Ekonomi Indonesia Analisa Bulanan Oleh Sekretariat KADIN Indonesia Erna Zetha dan DR. Tulus Tambunan Penasehat Ahli JETRO Yojiro OGAWA dan Shoji MAEDA KADIN Indonesia Agustus 2006 Terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah, berkurangnya tekanan inflasi, dan adanya kecenderungan penurunan suku bunga perbankan akhirnya mampu menimbulkan rasa optimisme baru di kalangan dunia usaha, meskipun kondisi sektor riil belum menunjukkan perbaikan yang nyata. Bahkan sebenarnya rasa optimisme ini sudah berlangsung sejak awal tiwulan II 2006, yang ditunjukkan antara lain oleh membaiknya sentimen pelaku bisnis selama triwulan tersebut. Dalam keterpurukan kinerja kebanyakan dunia usaha selama semester I 2006, pemimpin bisnis pada kenyataannya menyimpan harapan akan bergeraknya perekonomian dalam semester kedua tahun ini. Didukung oleh harapan akan terus turunnya suku bunga kredit dalam paruh kedua tahun ini, gairah pebisnis menunjukkan perbaikan yang cukup berarti. Kondisi ini semakin diperkuat oleh membaiknya kinerja ekspor, bergairahnya pasar modal dan pasar obligasi, dan mulai munculnya kembali gairah investasi di berbagai sektor usaha. Membaiknya gairah pebisnis tidak saja ditandai oleh naiknya Indeks Sentimen Bisnis (ISB) dalam survey yang dilakukan Danareksa Research Institute pada bulan April-Mei 2006 lalu, tetapi juga dilihat dari Indeks Tendensi Bisnis (ITB) dari Badan Pusat Statistik (BPS). Bahkan dalam menanggapi pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di depan Rapat Paripurna DPR pada 16 Agustus 2006 lalu, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Mohamad. S Hidayat, menyatakan rasa optimisnya bahwa target pertumbuhan 6,3 persen untuk tahun 2007 akan bisa tercapai jika pemerintah mampu menghilangkan berbagai hambatan birokrasi yang sering menimbulkan distorsi dalam implementasi kebijakan. Dalam hal ini Ketua Kadin Indonesia mengharapkan adanya kepemimpinan yang jelas dan tegas, tidak hanya dalam hal penegakan hukum tetapi juga dalam setiap kebijakan yang dikeluarkan. Harapan tersebut selayaknya digaribawahi dan menjadi perhatian penting pemerintah. Sudah berapa kali dikemukakan dalam laporan bulanan Kadin Indonesia bahwa pemerintah hanya lebih sering berwacana dan mengeluarkan program-program yang tidak kunjung terlihat implementasinya. Berkaitan dengan kebijakan ekonomi, sampai saat ini empat peraturan yang ditunggu investor tidak kunjung rampung dibahas. Undangundang mengenai perpajakan, bea dan cukai, investasi, dan tentang tenaga kerja yang belum bisa disahkan karena terganjal masalah prosedur, selayaknya segera dicari jalan keluarnya. Dengan kemungkinan bahwa pengesahan paket Undang-Undang Perpajakan dan penanaman modal tidak akan selesai akhir tahun ini, maka pemerintah hendaknya segera mengupayakan terobosan konkret untuk memperbaiki iklim usaha pada momentum yang cukup baik sekarang ini. Dalam kondisi seperti saat ini, yang dibutuhkan dunia usaha dan masyarakat pada umumnya tidak lagi sekedar data perbaikan indikator ekonomi, tetapi fakta dari implementasi kebijakan yang bisa membawa pada perbaikan ekonomi yang sesungguhnya. Perkembangan Pasar Uang dan Pasar Modal Stabilnya nilai tukar rupiah selama bulan Agustus 2006 ditunjukkan oleh rendahnya fluktuasi kurs rupiah dalam bulan tersebut, yaitu berada dalam kisaran Rp Rp per dollar AS. Turunnya suku bunga rujukan atau BI rate sebesar 50 basis poin di awal Agustus lalu berdampak pada meningkatnya kepercayaan masyarakat pada kondisi perekonomian yang lebih baik, yang pada gilirannya mengurangi minat spekulasi di pasar valuta asing. Sempat melemahnya rupiah menjelang akhir Agutus 2006 lebih dipengaruhi oleh kondisi eksternal berkaitan dengan melemahnya bursa saham regional, namun hal tersebut dapat dikatakan tidak berpengaruh sama sekali karena secara keseluruhan nilai rupiah cenderung terus menguat. Relatif menguatnya rupiah terhadap dollar AS memungkinkan harga bahan bakar minyak untuk industri untuk bulan September 2006 tidak naik terlalu tinggi akibat naiknya harga Mid Oil Platts Singapore (MOPS), yang selama bulan Agustus 2006 naik rata-rata 0,2-3,6%. Dan penguatan ini juga terus menurunkan tekanan inflasi dan mendorong penurunan tingkat suku bunga perbankan. Sementara itu tren kenaikan harga saham dalam negeri juga terus berlanjut sejalan dengan terjaganya stabilitas moneter dan membaiknya gairah pasar modal dunia. Pada 31 Agustus 2006 indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) tercatat berada pada level 1.431,26 atau naik 79,61 poin (sekitar 5,9 persen) dari level Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 Kamar Dagang dan Industri Indonesia 3
4 1351,65 pada akhir Juli Walaupun masih berada di bawah level yang pernah dicapai pada 11 Mei 2006, namun tren kenaikan harga saham nampaknya masih akan terus berlanjut sampai bulan September 2006 jika tidak ada kejutan kejutan sosial politik, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Grafik 1 Kurs Tengah Rupiah & Indeks Harga Saham Gabungan Januari Agustus ,400 1,600 8,600 8,800 9,000 9,200 9,400 9,600 9,800 10,000 2-Jan Jan-06 1-Feb Feb-06 1-Mar Mar Mar Apr-06 3-May May-06 5-Jun Jun-06 3-Jul Jul Jul Aug Aug-06 Rp/US$ Rupiah/US$ IHSG 1,500 1,400 1,300 1,200 1,100 1,000 Pertumbuhan Ekonomi Semester I 2006 Dengan dicapainya tingkat pertumbuhan yang hanya sebesar 2,2% pada triwulan II 2006 (quarter to quarter), maka secara kumulatif pertumbuhan ekonomi Indonesia selama semester I 2006 tidak sampai mencapai angka 5%, atau sekitar 4,97% terhadap semester I Dibandingkan dengan angka pertumbuhan semester I 2005 yang mencapai 5,94%, angka ini menunjukkan perlambanan ekonomi, yang memang sudah dirasakan sejak akhir triwulan IV 2005, ketika harga bahan bakar minyak dalam negeri (BBM) dinaikkan dengan sangat berarti. Melambannya perekonomian Indonesia yang terutama disebabkan oleh rendahnya permintaan dalam negeri, terlihat tidak saja dari rendahnya tingkat konsumsi rumah tangga tetapi juga dari turunnya pertumbuhan investasi fisik dalam Produk Domestik Bruto. Sungguhpun demikian dicapainya pertumbuhan sekitar 5% bukanlah suatu kinerja yang buruk. Selain ditunjang oleh kenaikan konsumsi pemerintah yang mencapai 22,4%, dicapainya pertumbuhan ekonomi itu juga didukung oleh kenaikan ekspor barang dan jasa sebesar 11,13%, dimana ekspor barang mencatat pertumbuhan sebesar 11,94% pada semester I Membaiknya kinerja ekspor dalam dua bulan terakhir semester I 2006 tidak hanya disebabkan oleh membaiknya harga beberapa komoditas ekpor, tetapi juga karena terjadinya peningkatan volume ekspor pada beberapa komoditi utama. Dari angka Produk Domestik Bruto harga konstan tahun 2000, kenaikan ekspor barang dan jasa selama triwulan II 2006 tercatat mencapai 5%. Sementara kenaikan impor barang dan jasa mencapai sekitar 7,9%. Masih lemahnya daya beli masyarakat ditunjukkan oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang hanya mencapai sekitar 2,96% pada semester I 2005 dibanding dengan pertumbuhan konsumsi yang mencapai 3,6% pada semestes I Dampak kenaikan harga BBM pada bulan Oktober 2005 tidak hanya berpengaruh terhadap tekanan inflasi di bulan-bulan awal tahun 2006 tetapi juga pada daya beli masyarakat secara keseluruhan sampai akhir semester I Penurunan daya beli masyarakat tidaklah terbatas karena naiknya harga barang akibat kenaikan harga BBM, tetapi juga karena menurunnya pendapatan yang diterima masyarakat sebagai akibat naiknya tingkat pengangguran karena terpuruknya sektor produksi riil. Terjadinya penutupan usaha dan pemutusan hubungan kerja pada sebagian usaha di sektor industri kecil dan menengah merupakan dampak lanjutan dari kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM di bulan oktober Sementara itu perusahaan-perusahaan yang dapat bertahan dan tetap beroperasi tidak lagi mampu menaikkan upah karyawannya untuk mengkompensasi kenaikan tingkat inflasi yang telah menggerus daya beli masyarakat. Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 Kamar Dagang dan Industri Indonesia 4
5 Laju Pertumbuhan PDB Menurut Penggunaan (%) JENIS PENGELUARAN Semester I 2006 Thd Sem. I 2005 Thd Sem. II 2005 Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Pemerintah Pembentukan Modal Tetap Domestik Ekspor Barang danj asa Dikurangi Impor Barang dan Jasa PRODUK DOMESTIK BRUTO Sumber: BPS Dari sisi produksi, kenaikan produksi tertinggi terjadi pada sektor pengangkutan dan komunikasi yang mencapai sebesar 12,2%, dimana pada semester I 2006 sektor komunikasi saja mencapai pertumbuhan sebesar 22,9%. Kenaikan tertinggi kedua adalah sektor konstruksi yang mencapai kenaikan sekitar 7,7%, yang terutama terjadi dalam triwulan II Secara quarter to quarter pertumbuhan sektor kontruksi pada triwulan II 2006 mencapai 3,14% yang merupakan kenaikan triwulan tertinggi dalam dua tahun terakhir. Meningkatnya pembangunan sektor properti yang cukup pesat selama triwulan II 2006 terdorong oleh minat investasi yang cukup tinggi di sektor konstruksi dibandingkan minat investasi di sektor lainnya. Laju Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha (%) LAPANGAN USAHA Sem I 2006 Thd Sem. I 2005 Thd Sem. II PERTANIAN, PETERNAKAN, KEHUTANAN DAN PERIKANAN 2. PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN INDUSTRI PENGOLAHAN LISTRIK, GAS, DAN AIR BERSIH B A N G U N A N PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI KEUANGAN, PERSEWAAN & JASA PERSH JASA - JASA PRODUK DOMESTIK BRUTO PRODUK DOMESTIK BRUTO TANPA MIGAS Sumber: BPS Selain kenaikan yang tinggi pada kedua sektor tersebut diatas, kinerja perekonomian pada semester I 2006 juga didorong oleh sektor-sektor yang berbasis sumber daya alam, seperti sektor pertanian dan sektor pertambangan yang masing-masing mencatat pertumbuhan sebesar 4,47% da 4,54%. Membaiknya harga komoditas pertanian, pertambangan, dan penggalian di pasar dunia telah memacu pertumbuhan produksi pada kedua sektor tersebut. Hal ini terutama terjadi pada sub sektor perkebunan yang tumbuh sebesar 5,8% pada semester I 2006, dan sub sektor pertambangan bukan migas yang tumbuh sebesar 14,3%. Perkembangan Laju Inflasi Seiring dengan masih terbatasnya permintaan domestik dan membaiknya ekspektasi inflasi, angka inflasi pada bulan Agustus 2006 tercatat sebesar 0,33 persen, lebih rendah dari inflasi bulan Juli 2006 yang mencapai 0,45 persen. Secara kumulatif laju inflasi Januari-Agustus 2006 hanya mencapai 3,67 persen, yang hampir 2 persen lebih rendah dari inflasi kumulatif pada periode yang sama tahun Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 Kamar Dagang dan Industri Indonesia 5
6 20 Grafik 2 Inflasi Kumulatif (%) (Januari - Agustus) Kumulatif 2005 Kumulatif % January February March April May June July August September October November December Semakin menurunnya tekanan inflasi dari bulan ke bulan menyebabkan inflasi secara year on year terus mengalami penurunan dan pada Agustus 2006 tingkat inflasi year on year (terhadap Agustus 2005) tercatat sebesar 14,9 persen. Ini kali pertama tingkat inflasi year on year menembus angka di bawah 15 persen sejak awal tahun (terhadap Agustus 2005), dan menguatkan harapan bahwa angka inflasi untuk seluruh tahun 2006 bisa berada di bawah 7 persen jika tidak muncul kejutan-kejutan ekonomi yang bersifat inflatoir. Dilihat menurut kelompok pengeluaran, kelompok barang yang memberikan sumbangan terbesar pada inflasi Agustus 2006 adalah dari kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 4,77 persen. Naiknya uang sekolah dari mulai tingkat SD, SMP, SMA, sampai pergurunan tinggi merupakan penyebab utama kenaikan inflasi pada kelompok pengeluaran ini, disamping naiknya harga buku bacaan dan buku pelajaran sekolah. Sedangkan kelompok bahan makanan yang pada bulan Juli 2006 mencatat kenaikan harga tertinggi, pada bulan Agustus 2006 mengalami deflasi sebesar -0,34 persen. Terjadinya penurunan harga pada bawang merah, cabe merah, bawang putih, cane rawit, tomat sayur, dan jeruk merupakan penyebab utama terjadinya deflasi pada kelompok pengeluaran ini. Dengan deflasi sebesar -0,34 persen, maka sumbangan inflasi kelompok ini pada seluruh angka inflasi Agustus 2006 mencapai -0,12% dari inflasi umum sebesar 0,33 persen. Perkembangan Ekspor Kembali di bulan Juli 2006 Indonesia mencatatkan rekor nilai ekspor bulanan tertinggi sepanjang sejarah, yaitu sebesar US$ 8,82 milyar, atau naik 4 persen dari nilai ekspor bulan Juni 2006 sebesar US$ 8,48 milyar. Peningkatan ekspor ini mendorong kenaikan yang sangat berarti pada nilai ekspor kumulatif yang selama perode Januai Juli 2006 mencapai US$ 55,77 milyar atau naik 16,42 persen dari nilai ekspor pada periode yang sama tahun 2005, yang sebesar US$ 47,9 milyar. Dalam periode ini kenaikan ekspor migas tetap lebih tinggi dari kenaikan ekspor non migas yaitu masing-masing 19,2 persen dan 15,7 persen. Ekspor migas meningkat dari US$ 10,46 milyar pada tujuh bulan pertama tahun 2005 menjadi US$ 12,5 milyar pada periode yang sama tahun 2006, yang terutama ditunjang oleh kenaikan ekspor hasil minyak yang mencapai 41,1 persen. Adapun kenaikan ekspor minyak mentah yang hanya sekitar 10,7% pada Januari-Juli 2006 disebabkan terjadinya penurunan nilai ekpor komoditi ini pada bulan Juli 2006 sebesar 9,5 persen. Padahal pada bulan Juli 2006 harga minyak mentah Indonesia di pasar dunia naik menjadi US$ 71,95 per barel dari US$ 67,85 per barel di bulan Juni Sementara itu ekspor non migas meningkat dari US$ 37,44 milyar pada Januari-Juli 2005 menjadi US$ 43,31 milyar pada periode yang sama tahun Peningkatan ekspor non migas sebesar itu terutama disebabkan oleh meningkatnya ekspor sektor pertambangan dan lainnya sebesar 29,36 persen dan sektor pertanian sebesar 17,24 persen, sedangkan peningkatan ekspor sektor industri hanya sebesar 13,78 persen. Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 Kamar Dagang dan Industri Indonesia 6
7 Grafik 4 Nilai Ekspor, Januari - Juli 2006 (Juta US$) 60,000 50,000 US$ Juta 40,000 30,000 20,000 37, ,307.9 Non-migas Migas 10,000 10, , Jan-Juli 2005 Jan-Juli 2006 Note : Ekspor total naik sekitar 16,42%. Seperti pada bulan-bulan sebelumnya, melonjaknya nilai ekspor di bulan Juli 2006 masih didukung oleh kenaikan harga komoditas ekspor Indonesia, terutama pada sektor pertambangan dan sektor pertanian, diantaranya adalah batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan karet. Hal ini ditunjukkan oleh peningkatan terbesar ekspor nonmigas bulan Juli 2006 yang terjadi pada bahan bakar mineral/batubara sebesar US$ 179,1 juta terhadap nilai ekspor bulan Juni Begitu juga dengan peningkatan nilai kspor lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$ 83,89 juta, serta karet dan barang dari karet sebesar US$ 52,9 juta pada bulan Juli Sedangkan penurunan nilai ekspor terbesar terjadi pada mesin/peralatan listrik sebesar US$ 142,5 juta yang termasuk dalam sektor industri. Perkembangan Impor Sementara itu nilai impor Indonesia selama bulan Juli 2006 mengalami penurunan sebesar 5 persen terhadap nilai impor bulan Juni 2006, yaitu dari US$ 5.668,2 juta menjadi US$ 5.384,9. Dengan nilai impor sebesar itu, maka total nilai impor pada tujuh bulan pertama tahun 2006 mencapai US$ 34,26 milyar, atau hanya naik sekitar 2,42 persen terhadap nilai impor pada periode yang sama tahun Dalam hal ini impor migas naik sekitar 14,2 persen, sedangkan impor non migas masih mengalami penurunan sebesar 2,23 persen. Naiknya impor hasil minyak sebesar 20,62 persen pada Januari Juli 2006 merupakan penyebab utama kenaikan impor migas sebesar itu pada periode tersebut, dan hal ini berkaitan dengan naiknya harga minyak di pasar dunia dan meningkatnya impor BBM pada semester I Tetapi untuk selama bulan Juli saja, nilai impor hasil minyak tercatat mengalami penurunan sebesar 15,7 persen yang menyebabkan penurunan nilai impor migas sebesar 14,7 persen pada bulan tersebut. Berkurangnya impor BBM selama bulan tersebut, nampaknya berkaitan dengan masih cukup tersedianya stock persediaan BBM dalam negeri yang sebelumnya meningkat tinggi. Seperti diketahui, selama semester I 2006 kenaikan impor hasil minyak mencapai 22%, yang terutama terjadi di bulan Juni 2006 dimana pada bulan tersebut impor hasil minyak mencapai kenaikan sebesar 50,65 persen terhadap nilai impor bulan Mei Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 Kamar Dagang dan Industri Indonesia 7
8 Grafik 5 Perkembangan Nilai Ekspor dan Nilai Impor Indonesia (US$ Milyar) US$ Milyar Ekspor Impor Jan - Juli 2005 Jan - Juli 2006 Dilihat dari golongan penggunaan barang, dalam periode tujuh bulan pertama tahun 2006, hampir semua golongan barang mengalami kenaikan nilai impor. Kenaikan terbesar terjadi pada impor barang konsumsi sebesar 6,94 persen, kemudian impor barang modal yang meningkat 2,6 persen dan 3,75 persen, dan impor bahan baku/penolong sekitar 1,93 persen. Rendahnya kenaikan impor bahan baku selama periode Januari Juli 2006 antara lain disebabkan terjadinya penurunan impor bahan baku pada bulan Juli 2006, yaitu menjadi US$ 4.275,3 juta dari US$ 4.611,2 juta pada Juni Turunnya impor golongan barang ini jelas mengindikasikan belum meningkatnya kegiatan produksi sampai bulan akhir bulan Juli US$ Milyar Grafik 6 Impor Menurut Golongan Barang (US$ Milyar) Jan-Juli Jan-Juli 2006 Barang Konsumsi Bahan Baku Barang Modal Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 Kamar Dagang dan Industri Indonesia 8
9 [Laporan Khusus] Penurunan Suku Bunga Bukan Segala-galanya Berita di Kompas hari Jumat, 11 Agustus 2006 mengatakan bahwa Pemerintah dan DPR sepakat untuk menurunkan target pertmbuhan ekonomi dari 6,1% dalam APBN 2006 menjadi 5,8% dalam APBN Perubahan Untuk itu, pertumbuhan ekonomi pada semester II harus mencapai 7% agar target pertumbuhan hingga akhir tahun ini dapat tercapai. Target pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan dengan usulan pemerintah yakni 5,9%. Usulan pemerintah ini memang menjadi tidak realistis jika dilihat dari realisasi pertumbuhan ekonomi pada semester I mencapai hanya 4,6%. Banyak pihak yang mengharapkan bahwa penurunan suku bunga saat ini dapat membantu peningkatan pertumbuhan ekonomi di dalam negeri. Memang dalam buku-buku teks ekonomi makro dijelaskan bahwa hubungan antara tingkat suku bunga dan output agregat ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) adalah negatif, dan hubungan ini terjadi lewat efek pertumbuhan investasi atau efek penurunan tabungan masyarakat. Namun perlu disadari bahwa di dalam teori-teori ekonomi, setiap hubungan antara dua variabel selalu didasarkan pada ceteris paribus, atau asumsi bahwa faktor-faktor berpengaruh lainnya mendukung atau paling tidak tetap tidak berubah. Jadi dalam hubungan antara suku bunga dan pertumbuhan ekonomi, dapat dikatakan bahwa menurunnya suku bunga akan menaikkan PDB (atau berdampak positif terhadap pertumbuhan PDB) hanya jika pengusaha/investor yang memiliki dana untuk investasi dan masyarakat yang memiliki tabungan di bank atau lembaga keuangan lainnya merespons sesuai hipotesa. Sekarang masalahnya di Indonesia adalah bahwa selama ini sejak krisis ekonomi 1997/98, banyak faktor lain selain suku bunga yang juga menjadi pertimbangan serius bagi setiap investor sebelum mengambil keputusan untuk menanam modalnya di Indonesia, seperti kondisi infrastruktur, keamanan, kepastian hukum, stabilitas sosial dan politik, ketersediaan sumber daya manusia dan industri pendukung, dll. Semua ini sangat berpengaruh terhadap biaya investasi dan biaya produksi jangka panjang yang selanjutnya sangat menentukan daya saing global dari perusahaan bersangkutan. Jika diperhatikan, sejak krisis 1997/98 hingga saat ini, sejumlah perusahaan asing memindahkan operasi mereka dari Indonesia ke negara lain, banyak industri di negara lain membatalkan rencana realokasi ke Indonesia, kurangnya respons investor asing terhadap rencana pembangunan infrastruktur setelah KTT Infrastruktur I, dan rencana investasi Jepang dalam rangka Economic Partnership Agreement (EPA) senilai 15 miliar dollar AS masih belum jelas, dan banyak lagi kasus-kasus lain bukan semata-mata karena suku bunga di Indonesia relatif lebih mahal dibandingkan di negara-negara tujuan lainnya, tetapi karena parahnya kondisi infrastruktur, kebijakan-kebijakan ekonomi yang tidak kondusif terhadap iklim usaha (termasuk kebijakan investasi), dan semakin buruknya kondisi perburuhan di dalam negeri. Sedangkan dari sisi masyarakat, mungkin dalam periode jangka pendek, penurunan suku bunga perbankan akan berdampak positif terhadap pertumbuhan konsumsi masyarakat karena dua hal utama. Pertama, biaya mendapatkan kredit konsumsi menjadi relatif murah yang berarti daya beli masyarakat meningkat. Kedua, menabung di bank menjadi kurang menarik, apalagi jika inflasi tetap tinggi yang membuat pendapatan riil dari menabung menjadi rendah (walaupun dalam kenyataannya dalam beberapa bulan terakhir ini tekanan inflasi di dalam negeri mulai meredah). Jika fenomena jangka pendek ini memang terjadi, dalam kata lain pertumbuhan ekonomi memang sedikit meningkat, namun ini adalah pertumbuhan semu dan hal ini sangat berbahaya dalam periode jangka panjang. Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 Kamar Dagang dan Industri Indonesia 9
10 Karena teori ekonomi konvensional (misalnya paradigma Harrod-Domar) mengajarkan bahwa diantara komponen-komponen permintaan agregat, investasi jangka panjang adalah yang terpenting (disusul kemudian oleh pengeluaran pemerintah yang sebagian juga berorientasi investasi). Implikasi dari teori ini terhadap kondisi Indonesia saat ini adalah bahwa jika investasi tidak meningkat (atau bahkan menurun) sementara konsumsi meningkat, maka pertumbuhan ekonomi hanya akan menghasilkan pertumbuhan impor (karena pedagang akan dengan senang hati mengimpor segalanya jika ada permintaan; bahkan perusahaan-perusahaan yang tadinya berproduksi akan berubah menjadi trading company karena lebih menguntungkan), dan pertumbuhan impor tanpa dibarengi dengan pertumbuhan ekspor (karena yang terakhir ini sangat membutuhkan investasi), maka defisit neraca perdagangan yang membesar tidak bisa dihindari. Akhir kata, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya digerakkan oleh konsumsi akibat menurunnya suku bunga perbankan hanya akan menambah hutang luar negeri Indonesia. This report is for use by professional and business investors only and has been prepared for information purposes and is not an offer to sell or a solicitation to buy any institution. The information herein was obtained or derived from sources that we believe are reliable, but whilst all reasonable care has been taken to ensure that stated facts are accurate and opinions fair and reasonable, we do not represent that it is accurate or complete and it should not be relied upon as such. All opinions and estimates included in this report constitute our judgment as of this date and are subject to change without notice. This document is for the information of clients only and must not be copied, reproduced or mare available to others. Laporan Ekonomi Bulan Juli 2006 Kamar Dagang dan Industri Indonesia 10
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan Juli 27 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha Rusman Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna Said X-5 Kav.
Laporan Ekonomi Bulanan
Laporan Ekonomi Bulanan Edisi Juli 2005 Diterbitkan oleh Sekretariat Kadin Indonesia Kerjasama KADIN Indonesia dan JETRO JETRO Expert: Yojiro OGAWA Indikator Ekonomi Indikator 2000 2001 2002 2003 2004
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan Juli 2006 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha DR. Tulus Tambunan Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna
KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI INDONESIA. Laporan Ekonomi Bulanan. Mei 2006
KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI INDONESIA Laporan Ekonomi Bulanan Mei 2006 Diterbitkan oleh Sekretariat Kadin Indonesia Kerjasama KADIN Indonesia dan JETRO Yojiro OGAWA Shoji MAEDA Erna Zetha Tulus Tambunan
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan Desember 2006 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha DR. Tulus Tambunan Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna
Laporan Ekonomi Bulanan
Laporan Ekonomi Bulanan Edisi Januari 2006 Diterbitkan oleh Sekretariat Kadin Indonesia Kerjasama KADIN Indonesia dan JETRO JETRO Expert: Yojiro OGAWA INDIKATOR EKONOMI Indikator 2001 2002 2003 2004 2005
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan Oktober 2007 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha Rusman Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna Said X-5
Laporan Ekonomi Bulanan
Laporan Ekonomi Bulanan Maret 2006 Diterbitkan oleh Sekretariat Kadin Indonesia Kerjasama KADIN Indonesia dan JETRO JETRO Expert: Yojiro OGAWA Indikator Ekonomi Indikator 2002 2003 2004 2005 2006 1. Nilai
Kondisi Perekonomian Indonesia
KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI INDONESIA Kondisi Perekonomian Indonesia Tim Ekonomi Kadin Indonesia 1. Kondisi perekonomian dunia dikhawatirkan akan benar-benar menuju jurang resesi jika tidak segera dilakukan
Laporan Ekonomi Bulanan
Laporan Ekonomi Bulanan Edisi November 2005 Diterbitkan oleh Sekretariat Kadin ndonesia Kerjasama KADN ndonesia dan JETRO JETRO Expert: Yojiro OGAWA ndikator Ekonomi ndikator 2001 2002 2003 2004 2005 1.
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan September 2007 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha Rusman Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna Said
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan Januari 2007 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha DR. Tulus Tambunan Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna
Laporan Ekonomi Bulanan
Laporan Ekonomi Bulanan Juni 2006 Diterbitkan oleh Sekretariat Kadin Indonesia Oleh Yojiro Ogawa Shoji Maeda Erna Zetha Tulus Tambunan Kamar Dagang dan Industri Indonesia Sekretariat: Menara Kadin Lt.
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan Maret 27 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha dan DR. Tulus Tambunan Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna
LAPORAN PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN I/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001
REPUBLIK INDONESIA LAPORAN PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN I/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001 Dalam tahun 2000 pemulihan ekonomi terus berlangsung. Namun memasuki tahun
BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2004
BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 24 Kondisi ekonomi menjelang akhir tahun 24 dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, sejak memasuki tahun 22 stabilitas moneter membaik yang tercermin dari stabil dan
BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi,
BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA 4.1 Perkembangan Laju Inflasi di Indonesia Tingkat inflasi merupakan salah satu indikator fundamental ekonomi suatu negara selain faktor-faktor lainnya seperti
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 263 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 Tim Penulis
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Sejak pertengahan tahun 2006, kondisi ekonomi membaik dari ketidakstabilan ekonomi tahun 2005 dan penyesuaian kebijakan fiskal dan moneter yang
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Perkembangan ekonomi makro bulan Oktober 2004 hingga bulan Juli 2008 dapat diringkas sebagai berikut. Pertama, stabilitas ekonomi tetap terjaga
Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011
Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Nomor. 30/AN/B.AN/2010 0 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI Analisis Asumsi Makro Ekonomi
BAB I PENDAHULUAN. saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Small open economic, merupakan gambaran bagi perekonomian Indonesia saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap perekonomian dunia,
BAB II PROSES PEMULIHAN EKONOMI TAHUN 2003
BAB II PROSES PEMULIHAN EKONOMI TAHUN 23 Secara ringkas stabilitas moneter dalam tahun 23 tetap terkendali, seperti tercermin dari menguatnya nilai tukar rupiah; menurunnya laju inflasi dan suku bunga;
BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, perekonomian Indonesia diliput banyak masalah. Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Saat ini, perekonomian Indonesia diliput banyak masalah. Permasalahan tersebut muncul dari faktor internal maupun faktor eksternal. Namun saat ini, permasalahan
1. Tinjauan Umum
1. Tinjauan Umum Perekonomian Indonesia dalam triwulan III-2005 menunjukkan kinerja yang tidak sebaik perkiraan semula, dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih rendah sementara tekanan terhadap
BAB I PENDAHULUAN. perekonomian di Indonesia. Fluktuasi kurs rupiah yang. faktor non ekonomi. Banyak kalangan maupun Bank Indonesia sendiri yang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada saat krisis keuangan global beberapa tahun belakan ini kurs, inflasi, suku bunga dan jumlah uang beredar seolah tidak lepas dari masalah perekonomian di Indonesia.
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN APRIL 2002
REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN APRIL 2002 Pada bulan April 2002 pemerintah berhasil menjadwal ulang cicilan pokok dan bunga utang luar negeri pemerintah dalam Paris Club
Kinerja CARLISYA PRO MIXED
29-Jan-16 NAV: 1,707.101 Total Dana Kelolaan 12,072,920,562.29 - Pasar Uang 0-90% - Deposito Syariah - Efek Pendapatan Tetap 10-90% - Syariah - Efek Ekuitas 10-90% - Ekuitas Syariah 12.37% 48.71% 38.92%
Economic Update. Exhibit 1. Kontribusi Lapangan Usaha Terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Exhibit 2. Kontribusi Penggunaan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Highlights PDB Indonesia Triwulan I 2010 Tumbuh +5,7% YoY Laju Inflasi April 2010 Meningkat Pertumbuhan Impor Lebih Cepat Dari Ekspor Maret 2010 BI Rate Tetap Pada Level 6,5% Ratna Lim [email protected]
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN I. Ekonomi Dunia Pertumbuhan ekonomi nasional tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dunia. Sejak tahun 2004, ekonomi dunia tumbuh tinggi
BAB V. Kesimpulan dan Saran. 1. Guncangan harga minyak berpengaruh positif terhadap produk domestik
BAB V Kesimpulan dan Saran 5. 1 Kesimpulan 1. Guncangan harga minyak berpengaruh positif terhadap produk domestik bruto. Indonesia merupakan negara pengekspor energi seperti batu bara dan gas alam. Seiring
LAPORAN PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN II/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001
REPUBLIK INDONESIA LAPORAN PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN TRIWULAN II/2001 DAN PROYEKSI PERTUMBUHAN EKONOMI TAHUN 2001 Dalam triwulan II/2001 proses pemulihan ekonomi masih diliputi oleh ketidakpastian.
Kinerja Perekonomian Indonesia dan Amanat Pasal 44 RUU APBN 2012
Kinerja Perekonomian Indonesia dan Amanat Pasal 44 RUU APBN 2012 I. Pendahuluan Setelah melalui perdebatan, pemerintah dan Komisi XI DPR RI akhirnya menyetujui asumsi makro dalam RAPBN 2012 yang terkait
Kinerja CARLISYA PRO SAFE
29-Jan-16 NAV: (netto) vs per December 2015 () 5.15% 6.92% Total Dana Kelolaan 395,930,218.07 10 0-100% Kinerja - Inflasi (Jan 2016) 0.51% Deskripsi Jan-16 YoY - Inflasi (YoY) 4.14% - BI Rate 7.25% Yield
LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND
LAPORAN BULANAN - PANIN Rp CASH FUND 10-Mar-2004 Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen pasar uang. Pasar Uang 100% Deposito
Kinerja CENTURY PRO FIXED
29-Jan-16 NAV: Total Dana Kelolaan 3,058,893,148.56 - Keuangan - Infrastruktur 0-80% AAA A - 66.33% 15.52% 18.15% - Inflasi (Jan 2016) - Inflasi (YoY) - BI Rate 0.51% 4.14% 7.25% Kinerja Sejak pe- Deskripsi
BAB I PENDAHULAN. yang sedang berkembang (emerging market), kondisi makro ekonomi
BAB I PENDAHULAN A. Latar Belakang Masalah Di era globalisasi ini pasar modal merupakan instrumen penting dalam perekonomian suatu negara. Pasar modal yang ada di Indonesia merupakan pasar yang sedang
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan dana yang tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan dana yang tidak sedikit jumlahnya di dalam pembangunan nasional. Dalam konteks pembangunan nasional maupun
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001
REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001 Kondisi ekonomi makro bulan Juni 2001 tidak mengalami perbaikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kepercayaan masyarakat
PERKEMBANGAN DAN VOLATILITAS NILAI TUKAR RUPIAH
PERKEMBANGAN DAN VOLATILITAS NILAI TUKAR RUPIAH Asumsi nilai tukar rupiah terhadap US$ merupakan salah satu indikator makro penting dalam penyusunan APBN. Nilai tukar rupiah terhadap US$ sangat berpengaruh
ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Ma kro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007
ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Makro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007 Nomor. 02/ A/B.AN/VII/2007 Perkembangan Ekonomi Tahun 2007 Pada APBN 2007 Pemerintah telah menyampaikan indikator-indikator
BERITA RESMI STATISTIK
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TRIWULAN I-2014 No. 32/05/35/Th. XIV, 5 Mei 2014 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Triwulan I Tahun 2014 (y-on-y) mencapai 6,40
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH No.12/02/33/Th.VII, 5 Februari 2013 PERTUMBUHAN PDRB JAWA TENGAH TAHUN 2012 MENCAPAI 6,3 PERSEN Besaran PDRB Jawa Tengah pada tahun 2012 atas dasar harga berlaku mencapai
PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-2011
No. 43/08/63/Th XV, 05 Agustus 20 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TRIWULAN II-20 Ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan II-20 tumbuh sebesar 5,74 persen jika dibandingkan triwulan I-20 (q to q)
BAB 1 PENDAHULUAN. salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perekonomian secara umum.
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai perekonomian terbuka kecil, perkembangan nilai tukar merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kinerja perekonomian secara umum. Pengaruh nilai tukar
Kinerja CARLISYA PRO FIXED
29-Jan-16 NAV: Total Dana Kelolaan 1,728,431,985.66 Pasar Uang 0-80% Deposito Syariah 6.12% 93.88% Infrastruktur 87.50% Disetahunkaluncuran Sejak pe- Deskripsi Jan-16 YoY Keuangan 12.50% Yield 0.64% 7.66%
Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN Nomor. 01/ A/B.AN/VI/2007 BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI
Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2008 Nomor. 01/ A/B.AN/VI/2007 Asumsi Dasar dan Kebijakan Fiskal 2008 Sesuai dengan ketentuan UU Nomor 17 Tahun 2003, Pemerintah Pusat diwajibkan untuk menyampaikan
TINJAUAN KEBIJAKAN MONETER
TINJAUAN KEBIJAKAN MONETER 1 1 2 3 2 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jan-12 Mar-12 May-12 Jul-12 Sep-12 Nov-12 Jan-13 Mar-13 May-13 Jul-13 Sep-13 Nov-13 Jan-14 Mar-14 May-14 Jul-14 Sep-14 Nov-14 Jan-15 35.0 30.0
BERITA RESMI STATISTIK
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 32/05/35/Th. XI, 6 Mei 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TRIWULAN I-2013 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Triwulan I Tahun 2013 (y-on-y) mencapai 6,62
BAB I PENDAHULUAN. seberapa besar kontribusi perdagangan internasional yang telah dilakukan bangsa
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perekonomian global yang terjadi saat ini sebenarnya merupakan perkembangan dari proses perdagangan internasional. Indonesia yang ikut serta dalam Perdagangan internasional
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 127 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 Tim Penulis
BAB I PENDAHULUAN. Indonesia mengambil langkah meningkatkan BI-rate dengan tujuan menarik minat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia pernah mengalami krisis pada tahun 1997, ketika itu nilai tukar rupiah merosot tajam, harga-harga meningkat tajam yang mengakibatkan inflasi yang tinggi,
PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH
No. 06/02/72/Th. XIV. 7 Februari 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI SULAWESI TENGAH Ekonomi Sulawesi Tengah tahun 2010 yang diukur dari kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan 2000
Analisis Perkembangan Industri
APRIL 2017 Analisis Perkembangan Industri Pusat Data dan Informasi April 2017 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan I 2017 Pada triwulan 1 2017 perekonomian Indonesia, tumbuh sebesar 5,01% (yoy). Pertumbuhan
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2008
No.05/02/33/Th.III, 16 Februari 2009 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TAHUN 2008 PDRB Jawa Tengah triwulan IV/2008 menurun 3,7 persen dibandingkan dengan triwulan III/2007 (q-to-q), dan bila dibandingkan
MACROECONOMIC REPORT JUNI, 2014
INFLASI BULAN MEI TERCATAT 0,1% Pada bulan Mei 2014, laju inflasi tercatat sebesar 0,1%. Faktor pendukung inflasi karena harga makanan jadi dan minuman yang meningkat. Inflasi tahun kalender sebesar 1,56%,
CENTURY PRO MIXED Dana Investasi Campuran
29-Jan-16 NAV: 1,949.507 Total Dana Kelolaan 3,914,904,953.34 Pasar Uang 0-90% Ekuitas 77.38% Efek Pendapatan Tetap 10-90% Obligasi 12.93% Efek Ekuitas 10-90% Pasar Uang 8.82% 0.87% Keuangan A Deskripsi
INDONESIA PADA GUBERNUR BANK PANITIA ANGGARAN SEMESTER
PANDANGAN GUBERNUR BANK INDONESIA PADA RAPAT KERJA PANITIA ANGGARAN DPR RI MENGENAI LAPORAN SEMESTER I DAN PROGNOSIS SEMESTER II APBN TA 2006 2006 Anggota Dewan yang terhormat, 1. Pertama-tama perkenankanlah
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN III TAHUN 2014
No. 68/11/33/Th.VIII, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN III TAHUN 2014 Perekonomian Jawa Tengah yang diukur berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan III tahun
BAB I PENDAHULUAN. seluruh penghasilan saat ini, maka dia dihadapkan pada keputusan investasi.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap orang dihadapkan pada berbagai pilihan dalam menentukan proporsi dana atau sumber daya yang mereka miliki untuk konsumsi saat ini dan di masa mendatang. Kapan
PEREKONOMIAN INDONESIA TAHUN 2007: PROSPEK DAN KEBIJAKAN
PEREKONOMIAN INDONESIA TAHUN 2007: PROSPEK DAN KEBIJAKAN KANTOR MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (BAPPENAS) DIREKTORAT PERENCANAAN MAKRO FEBRUARI
BAB I PENDAHULUAN. Sehubungan dengan fenomena shock ini adalah sangat menarik berbicara tentang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Guncangan (shock) dalam suatu perekonomian adalah suatu keniscayaan. Terminologi ini merujuk pada apa-apa yang menjadi penyebab ekspansi dan kontraksi atau sering juga
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN FEBRUARI 2002
REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN FEBRUARI 2002 Kepercayaan masyarakat baik dalam maupun luar negeri masih relatif lemah sebagaimana yang tercermin dari survei yang dilakukan
BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka,
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sebagai negara yang menganut sistem perekonomian terbuka, seperti Indonesia serta dalam era globalisasi sekarang ini, suatu negara tidak terlepas dari kegiatan
BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014
BAB I PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN II (SEMESTER I) TAHUN 2014 1.1 LATAR BELAKANG Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2014 sebesar 5,12 persen melambat dibandingkan dengan triwulan yang sama pada tahun
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2011
No.43/08/33/Th.V, 5 Agustus 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2011 PDRB Jawa Tengah pada triwulan II tahun 2011 meningkat sebesar 1,8 persen dibandingkan triwulan I tahun 2011 (q-to-q).
ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III
ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran,Triwulan III - 2005 135 ANALISA TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2005 Tim Penulis
BAB I PENDAHULUAN. negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu fungsi ekonomi dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pasar modal memiliki peranan yang penting terhadap perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan.
Tinjauan Ekonomi Desember 2009
Tinjauan Ekonomi Desember 2009 Akhir Tahun 2009, BI rate tetap 6,50% Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia akhirnya menetapkan untuk mempertahankan BI rate sebesar 6,50%, menurut Dewan Gubernur Bank Indonesia
I. PENDAHULUAN. Pada tahun 1997 kondisi perekonomian Indonesia mengalami krisis yang
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada tahun 1997 kondisi perekonomian Indonesia mengalami krisis yang hebat, yang berdampak pada semua aktivitas bisnis di sektor riil. Selama dua tiga tahun terakhir
I. PENDAHULUAN. Investasi merupakan suatu daya tarik bagi para investor karena dengan
I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Investasi merupakan suatu daya tarik bagi para investor karena dengan berinvestasi seorang investor dihadapkan pada dua hal yaitu return (imbal hasil) dan risiko. Dalam
ANALISA PERUBAHAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLLAR AMERIKA DALAM RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERUBAHAN TAHUN 2014
ANALISA PERUBAHAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLLAR AMERIKA DALAM RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERUBAHAN TAHUN 2014 Pendahuluan Akibat dari krisis ekonomi yang dialami Indonesia tahun
PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2007
BPS PROVINSI DKI JAKARTA No. 30/08/31/Th.IX, 15 AGUSTUS 2007 PERTUMBUHAN EKONOMI DKI JAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2007 Perekonomian DKI Jakarta pada triwulan II tahun 2007 yang diukur berdasarkan PDRB atas
Mengobati Penyakit Ekonomi Oleh: Mudrajad Kuncoro
Mengobati Penyakit Ekonomi Oleh: Mudrajad Kuncoro Melemahnya nilai tukar rupiah dan merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan membuat panik pelaku bisnis. Pengusaha tahu-tempe, barang elektronik, dan sejumlah
BERITA RESMI STATISTIK
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 72/11/35/Th. X, 5 November 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TRIWULAN III-2012 Ekonomi Jawa Timur Triwulan III Tahun 2012 (y-on-y) mencapai 7,24 persen
LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND
LAPORAN BULANAN - PANIN Rp CASH FUND Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen pasar uang. 10-Mar-2004 Pasar Uang 100% Obligasi
Ringsek KER Zona Sumbagteng Tw.I-2009 Ekonomi Zona Sumbagteng Melambat Seiring Dengan Melambatnya Permintaan Domestik
B O K S Ringsek KER Zona Sumbagteng Tw.I-29 Ekonomi Zona Sumbagteng Melambat Seiring Dengan Melambatnya Permintaan Domestik PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Pertumbuhan ekonomi Zona Sumbagteng terus
BAB I PENDAHULUAN. ekonomi makro, maka dari itu kondisi ekonomi makro yang stabil dan baik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kondisi pasar modal yang mengalami pasang surut memberikan tanda bahwa kegiatan di pasar modal memiliki hubungan yang erat dengan keadaan ekonomi makro, maka
I. PENDAHULUAN. Investasi menurut Bodie (2005) adalah suatu komitmen terhadap dana
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi menurut Bodie (2005) adalah suatu komitmen terhadap dana tertentu yang ditanamkan pada periode waktu tertentu dengan tujuan untuk mendapatkan pembayaran di kemudian
PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014
No.51/08/33/Th.VIII, 5 Agustus 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TENGAH TRIWULAN II TAHUN 2014 Perekonomian Jawa Tengah yang diukur berdasarkan besaran PDRB atas dasar harga berlaku pada triwulan II tahun
Perkembangan Indikator Makroekonomi Indonesia di tengah Ketidakseimbangan Global
2015 Vol. 2 Perkembangan Indikator Makroekonomi Indonesia di tengah Ketidakseimbangan Global Oleh: Irfani Fithria dan Fithra Faisal Hastiadi Pertumbuhan Ekonomi P erkembangan indikator ekonomi pada kuartal
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Perkembangan ekonomi makro tahun 2005 sampai dengan bulan Juli 2006 dapat diringkas sebagai berikut. Pertama, stabilitas ekonomi membaik dari
Grafik 1 Laju dan Sumber Pertumbuhan PDRB Jawa Timur q-to-q Triwulan IV (persen)
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 13/02/35/Th. XII, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR I. PERTUMBUHAN DAN STRUKTUR EKONOMI MENURUT LAPANGAN USAHA Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur
PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2008
BADAN PUSAT STATISTIK No.43/08/Th. XI, 14 Agustus PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II- Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diukur berdasarkan kenaikan Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan II-
