Laporan Ekonomi Bulanan
|
|
|
- Hendri Hartanto
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Laporan Ekonomi Bulanan Juni 2006 Diterbitkan oleh Sekretariat Kadin Indonesia Oleh Yojiro Ogawa Shoji Maeda Erna Zetha Tulus Tambunan Kamar Dagang dan Industri Indonesia Sekretariat: Menara Kadin Lt. 29, Jl. HR. Rasuna Said X-5 Kav. 2-3 Kuningan, Jakarta Selatan Tel Fax www. kadin-indonesia.or.id
2 Indikator Ekonomi Indikator Nilai PDB Harga Konstan Tahun 2000 (Rp Triliun 1, , , , (1) 2. Pertumbuhan PDB (%) (1) 3. Inflasi (%) (2) 4. Neraca Transaksi Berjalan (US$ Billion) Total Ekspor (US$ Billion) (3) 6. Ekspor Nonmigas (US$ Billion) (3) 7. Total Impor (US$ Billion) (3) 8. Impor Nonmigas (US$ Billion) (3) 9. Neraca Perdagangan (US$ Billion) (3) 10. Uang Primer (Rp Triliun) (4) 11. Uang Beredar (Rp Triliun) a. Arti Sempit (M1) (4) b. Arti Luas (M2) , , ,198.0 (4) 12. Dana Pihak Ketiga Perbankan (Rp Triliun) , ,133.5 (5) 13. Kredit Perbankan (Rp Triliun) (5) 14. Suku Bunga (persen per tahun) a. SBI 1 Bulan (6) b. Deposito 1 Bulan (5) c. Kredit Modal Kerja (5) d. Kredit Investasi (5) 15. Rupiah/US$ (Kurs Tengah Bank Indonesia) 8,940 8,330 9,355 9,830 9,300 (7) 16. Persetujuan Investasi - Domestik (Rp Triliun) (3) - Asing (US$ Billion) (3) 17. IHSG BEJ , , ,310.3 (7) 18. Nilai Kapitalisasi Pasar BEJ (Rp Triliun) (4) Sumber: BPS, BI, dan BEJ 1) Proyeksi 5) Posisi akhir April ) Januari - Juni ) Posisi 28 Juni ) Januari - Mei ) Posisi akhir Juni ) Posisi akhir Mei
3 Perkembangan Ekonomi Indonesia Analisa Bulanan Juni 2006 Langkah bank sentral Amerika Serikat, yang hanya menaikkan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin, merupakan sinyal dari penghentian rangkaian kenaikan suku bunga dari bank tersebut yang telah berlangsung sampai 17 kali dalam dua tahun terakhir ini. Sinyal tersebut telah menghapus ketidakpastian dan kekhawatiran pasar yang selama ini memperkirakan The Fed akan terus menaikkan suku bunganya hingga ke level 6 persen untuk mengerem tingkat pertumbuhan ekonomi dan angka inflasi yang tinggi di Amerika Serikat. Keputusan Komite Pasar Terbuka Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Open Market Committee/FOMC) tersebut, yang hanya menaikkan suku bunga The Fed menjadi 5,25 persen, langsung menjatuhkan nilai tukar dollar AS terhadap mata uang lainnya. Bersamaan dengan itu, nilai tukar rupiah juga segera menguat secara moderat dari kurs tengah Rp pada 29 Juni menjadi Rp pada 30 Juni 2006, dan kemudian menjadi Rp pe dollar AS di awal Juli lalu (4 Juli 2006). Seperti diketahui, setelah mencapai puncak terkuatnya di bulan Mei 2006, kurs rupiah mengalami koreksi yang cukup tajam sejak pertengahan bulan Mei dan pada hampir sepanjang bulan Juni Kurs tengah rupiah yang pernah mencapai level Rp per dollar AS pada 10 Mei 2006, sempat melemah ke posisi Rp pada pertengahan Juni lalu. Kebijakan suku bunga The Fed ini juga menggairahkan kembali bursa saham dunia dengan munculnya eforia yang menguatkan indeks bursa global menjelang akhir bulan Juni Indeks Dow Jones naik sebesar 1,97 persen dari ,56 pada 28 Juni menjadi ,8 pada 29 Juni Indeks Nasdaq naik 2,96 persen dari 2.111,84 ke 2.174,38 pada periode yang sama, dan pada 3 Juli 2006 indeks harga saham pada kedua bursa tersebut telah meningkat lagi menjadi masing-masing ,02 dan 2.190,43 dengan semakin kuatnya indikasi bahwa rally kenaikan suku bunga The Fed akan segera berakhir. Di pasar saham dalam negeri, menguatnya indeks harga saham tidak semata-mata dipengaruhi oleh membaiknya bursa saham global, tetapi juga oleh serangkaian kebijakan sektor keuangan yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia dalam rangka mendorong pergerakan sektor riil. Sentimen positif ini menaikkan kembali secara berarti indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ), yang di sepanjang bulan Juni cenderung melemah. IHSG yang sempat melebihi angka pada 11 Mei 2006, pada 29 Juni 2006 telah terkoreksi ke posisi 1.274,7, dan pada 30 Juni 2006 melompat kembali sebesar 35,5 poin (2,8%) ke level 1.310,2. Kenaikan ini terus berlanjut, dan pada 3 Juli 2006 IHSG tercatat berada pada level 1.327,8 dan terus menguat mencapai 1.347,9 pada 7 Juli
4 Rp/US$ 8,400 8,600 8,800 9,000 9,200 9,400 9,600 9,800 Grafik 1 Kurs Tengah Rupiah & Indeks Harga Saham Gabungan Januari Juli 2006 Rupiah/US$ IHSG 1,600 1,500 1,400 1,300 1,200 1,100 10,000 1,000 2-Jan Jan-06 1-Feb Feb-06 1-Mar Mar Mar Apr-06 3-May May-06 5-Jun Jun-06 3-Jul-06 Penguatan rupiah ini diharapkan dapat menjamin kembali terjaganya stabilitas ekonomi makro dalam negeri, dan selayaknya juga bisa mendorong penurunan tingkat suku bunga dalam negeri secara lebih berarti. Namun, nampaknya Bank Indonesia akan sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan mengenai suku bunga ini. Selain adanya hambatan berupa berlanjutnya kenaikan harga minyak dunia yang dewasa ini telah mencapai US$ 73,71 per barrel, juga belum terlihat kecenderungan penurunan laju inflasi dalam negeri. Adanya berbagai bencana alam di banyak daerah di tanah air, yang banyak merusak infrastruktur jalan raya, dikhawatirkan akan menaikkan laju inflasi pada beberapa bulan ke depan. Kebijakan uang ketat nampaknya masih akan diberlakukan dalam beberapa bulan mendatang, meskipun disadari tidak sejalan dengan upaya pemerintah dalam menciptakan iklim usaha yang kondunsif. Perkembangan Laju Inflasi Tekanan inflasi yang kembali tinggi terlihat dari angka inflasi bulan Juni 2006 yang mencapai 0,45 persen. Meskipun angka inflasi ini lebih rendah dari inflasi bulan April 2005, namun lebih tinggi dibanding angka inflasi pada dua bulan sebelumnya (April dan Mei 2006), yang masing-masing hanya mencapai 0.05% dan 0,37%. Begitu juga, meskipun inflasi kumulatif Januari-Juni 2006, yang hanya mencapai 2,87 persen, lebih rendah dari inflasi kumulatif pada periode yang sama tahun 2005, namun tetap terlihat kecenderungan angka inflasi yang tinggi pada tahun 2006 ini. Hal ini dapat dilihat dari laju inflasi year-on year (Juni Juni 2006) yang mencapai 15,5 persen. 3
5 20 Grafik 2 Inflasi Kumulatif (%) (Januari - Juni) Kumulatif 2005 Kumulatif % January February March April May June July August September October November December Suku Bunga Dengan kecenderungan inflasi yang masih relatif tinggi, tidak mudah bagi Bank Indonesia untuk menetapkan kebijakan suku bunga pasca kenaikan suku bunga The Fed yang hanya 25 basis poin. Keinginan untuk menyokong pertumbuhan sektor riil masih berhadapan dengan risiko pelarian modal ke luar negeri mengingat tidak cukup kuatnya fundamental ekonomi untuk mendukung rendahnya tingkat suku bunga perbankan. Dengan iklim investasi yang masih jauh dari kondisi yang kondunsif, dampak penurunan tingkat suku bunga dikhawatirkan tidak sesuai dengan fakta yang diharapkan. Oleh karena itulah Bank Indonesia hanya menurunkan suku bunga acuan BI Rate hanya sebesar 25 basis poin menjadi 12,25 persen pada 6 Juli yang lalu. Penurunan BI rate yang kembali hanya sebesar 25 basis poin sedikit banyak diharapkan bisa memberi jaminan kepada dunia usaha tentang adanya kecenderungan penurunan suku bunga dalam negeri. Di tambah dengan adanya paket kebijakan bidang keuangan, yang melengkapi paket kebijakan perbaikan iklim usaha dan pembangunan infrastruktur, diharapkan tren penurunan suku bunga ini bisa membangkitkan kembali perekonomian Indonesia yang sedang dihadapkan pada perlambatan. Dibandingkan dengan semester tahun lalu yang mencatat pertumbuhan ekonomi sekitar 6,3 persen, semester pertama tahun ini pertumbuhan ekonomi diperkirakan hanya akan berada di sekitar angka 4,6 persen. 4
6 Grafik 3 Suku Bunga SBI, Deposito dan Kredit Modal Kerja Januari Juli 2006 (%) % Kredit Modal Kerja SBI 1 Bulan 7 Deposito 1 Bulan 5 Jan. 04 Mar. 04 May. 04 July. 04 Sept. 04 Nov. 04 Jan. 05 Mar. 05 May. 05 July. 05 Sept. 05 Nov. 05 Jan.06 Mar.06 May Juli.06 Perkembangan Ekspor Ditengah isue tidak berkembangnya kegiatan sektor riil, nilai ekspor bulan Mei 2006 mencatat jumlah tertinggi sepanjang sejarah perekonomian Indonesia, yaitu sebesar US$ 8,34 milyar. Dengan nilai ekspor sebesar itu, maka selama periode Januari-Mei 2006 nilai ekspor Indonesia mencapai US$ 38,39 milyar atau naik 13,4 persen dari nilai ekspor pada periode yang sama tahun 2005, sebesar US$ 33,85 milyar. Dalam periode ini kenaikan ekspor migas kembali lebih tinggi dari kenaikan ekspor non migas yaitu masing-masing 17,7 persen dan 12,2 persen. Ekspor migas meningkat dari US$ 7,3 milyar menjadi US$ 8,6 milyar, yang tetap terkait dengan tingginya harga minyak di pasar internasional, yang dewasa ini sudah mencapai sekitar US$ 73,7 per barel. Selain itu kenaikan ini juga ditunjang oleh kenaikan ekspor hasil minyak dan gas yang masing-masing mencapai 42,8 persen dan 21,2 persen. Secara umum tingginya nilai ekspor selama bulan Mei lalu disebabkan oleh meningkatnya harga komoditas ekspor Indonesia, terutama pada sektor pertambangan dan sektor pertanian. Dalam lima bulan pertama tahun ini, nilai ekspor karet mencapai US$ 776 juta, minyak sawit mentah (crude palm oil) sebesar US$ 360 juta, dan batu bara sekitar US$ 800 juta. Secara keseluruhan nilai ekspor non migas dalam periode tersebut meningkat dari sekitar US$ 26,5 milyar menjadi US$ 29,8 milyar. 5
7 Grafik 4 Nilai Ekspor, Januari - Mei 2006 (Juta US$) 40,000 35,000 US$ Juta 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 26, , , ,607.4 Non-migas Migas 0 Jan-Mei 2005 Jan-Mei 2006 Note : Ekspor total naik sekitar 13,4%. Perkembangan Impor Dari sisi impor, meskipun nilai impor bulan Mei 2006 yang mencapai US$ 5,96 milyar lebih tinggi 6,5 persen dari nilai impor bulan April 2006, namun total nilai impor selama lima bulan pertama tahun 2006 turun sebesar 2,12 persen dari nilai impor pada periode yang sama tahun 2005, yaitu menjadi US$ 23,14 milyar. Dalam hal ini impor migas naik sekitar 2,4 persen, sedangkan impor non migas mengalami penurunan sebesar 3,9 persen. Naiknya harga minyak di pasar dunia membawa dampak terhadap naiknya impor migas di bulan Mei 2006, yaitu mencapai US$ 1,69 milyar atau naik sekitar 19,9 persen terhadap nilai impor migas bula April Seperti diketahui hubungan ekspor-impor Indonesia masih didominasi oleh empat negara utama yaitu Amerika Serikat, Jepang, Singapura, dan China. Untuk mencapai target peningkatan ekspor yang katanya bisa mencapai US$ 100 milyar pada tahun 2006 ini, diperlukan diversifikasi pasar yang serius untuk menambah volume ekspor Indonesia. Tentunya hal ini hanya bisa terwujud apabila produksi dalam negeri juga mengalami peningkatan yang berarti. Untuk mencapai hal ini, lagi-lagi perlu diingatkan bahwa yang diperlukan bukan sekedar lahirnya berbagai kebijakan, tetapi yang terpenting adalah implementasi nyata dari kebijakan-kebijakan tersebut, yang sampai saat ini masih belum terlihat. 6
8 Grafik 4 Perkembangan Nilai Ekspor dan Nilai Impor Indonesia (US$ Milyar) US$ Milyar Ekspor Impor Jan - Mei 2005 Jan - Mei 2006 Daya Saing Internasional Setelah era krisis 1997/98 kinerja ekspor manufaktur Indonesia tidak semakin baik; bahkan untuk produk-produk andalan tertentu ekspornya semakin merosot seperti tekstil dan produk-produknya (TPT) dan kayu lapis. Mulai tersendatnya ekspor TPT Indonesia disebabkan industri padat karya ini semakin sulit bersaing dengan China dan negaranegara pesaing lainnya yang bisa beroperasi dengan biaya produksi yang lebih rendah. Dalam lima tahun belakangan ini impor TPT China semakin membanjiri pasar dalam negeri. Beberapa studi memprediksi bahwa setelah pembatasan impor TPT dihapuskan di AS dan UE, pangsa impor TPT dari China akan meningkat tajam dan memdominasi pasar domestik di AS dan UE, dan pangsa impor TPT Indonesia akan turun atau tetap kecil. Ini artinya, Indonesia menghadapi persaingan ketat dari TPT China tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di pasar global. Indonesia mulai kehilangan daya saing di industri TPT, khususnya garmen, meskipun biaya satuan pekerja, yaitu biaya upah disesuaikan dengan produktivitas kerja, tetap kompetitif.. Akan tetapi investasi asing (PMA) sejak beberapa tahun terakhir ini di industri TPT Indonesia tidak dilakulkan lagi. Investasi Jepang di industri TPT Indonesia yang cukup dominan selama Orde Baru sangat merosot sesudah krisis ekonomi. Ekspor kayu lapis juga menunjukkan kecenderungan yang semakin menurun akibat masalah kelangkaan bahan baku yang juga membuat harga kayu menjadi sangat mahal karena potensi hutan Indonesia yang semakin menurun dan penyelundupan kayu gelondongan ke luar negeri. Mengutip data BPS, produk kayu dan hasil hutan dalam tiga tahun terakhir ini terus mengalami pertumbuhan negatif. Tahun 2004 industri ini tercatat tumbuh minus 2,1%, tahun 2005 tumbuh minus 1,3%, lalu makin terperosok pada kuartal pertama 2006 menjadi minus 5,8%. Berdasarkan data Asosiasi Panel Kayu Indonesia (Apkindo), produksi panel kayu Indonesia yang pernah mencapai sekitar 7 juta meter kubik pada periode juga merosot menjadi 3,5 juta meter kubik tahun Padahal, Malaysia diperkirakan masih memproduksi panel kayu hingga 4 juta meter kubik. Dari 120 pabrik kayu lapis di Indonesia, pabrik yang sampai saat ini tercatat masih 7
9 berproduksi dan mengekspor hasil produksinya tinggal 52 pabrik. Tetapi, pabrik-pabrik ini rata-rata berproduksi dengan kapasitas terpakai kurang dari 50% kapasitas normal. Ironisnya, industri kayu dan hasil hutan justru berkembang pesat di negara-negara kompetitor seperti China, Malaysia dan Vietnam yang tidak mempunyai bahan baku kayu sendiri. Ekspor meubel Indonesia tercatat 1,79 miliar dollar AS atau tumbuh rata-rata 0,088 miliar dollar AS per tahun dalam 8 tahun terakhir. Pada periode yang sama, ekspor meubel dari China tumbuh rata-rata 1,1 miliar dollar AS. China yang melarang penebangan kayu di negerinya mengekspor meubel senilai 14 miliar dollar AS tahun Menurut penelitian Bank Dunia (2004), pertumbuhan ekspor manufaktur Indonesia yang lamban terutama disebabkan oleh empat faktor, yaitu: 1. Daya saing biaya (cost competitiveness) yang merosot akibat apresiasi rupiah dan inflasi yang lebih tinggi ketimbang inflasi di mitra perdagangannya yang paling penting. Menurut perkiraan IMF biaya satuan pekerja di Indonesia kini 35% lebih tinggi ketimbang sebelum krisis. Daya saing biaya dari industri-industri manufaktur Indonesia juga disebabkan oleh biaya transaksi domestik yang besar di Indonesia. 2. Investasi yang merosot. Iklim usaha Indonesia yang buruk menghambat pertumbuhan ekspor karena tidak bisa menarik investasi asing yang sebelum krisis justru mrerupakan pelaku utama dalam mendorong ekspor non-migas, termasuk hasil-hasil industri. Tiadanya investasi asing yang berarti juga berarti bahwa investasi baru yang diperlukan untuk peningkatan jenis dan mutu barang (product upgrading) tidak dating. Investasi asing juga dapat memberikan sumbangan penting kepada peningkatan ekspor non-migas, khususnya ekspor hasil-hasil industri, seperti dapat dilihat pada lonjalkan ekspor hasil-hasil industri sejak akhir 1980-an sampai dengan Lonjakan ekspor yang menakjubkan dari China untuk sebagian besar disebabkan oleh kegiatan berorientasi ekspor dari investasi asing. 3. Persaingan internasional yang lebih tajam. China dan Vietnam merupakan pesaing yang kuat bagi Indonesia karena mereka bersaing dalam ekspor hasil-hasil industri padat karya yang sama dengan Indonesia, seperti tekstil, garmen dan alas kaki, yang justru bertumbuh lebih pesat ketimbang ekspor Indonesia. Oleh karena ini Indonesia akhir-akhir kehilangan pangsa pasar dalam 30 ekspor non-migas, termasuk hasil-hasil industri, yang diraih oleh China dan Vietnam, misalnya dalam tekstil dan alas kaki dan barang-barang padat karya lainnya. 4. Fasilitasi perdagangan yang lemah. Berbagai hambatan di pelabuhan dan prasarana fisik merupakan salah satu faktor pokok yang menambah biaya hasil-hasil ekspor. Meskipun tarif penggunaan pelabuhan Indonesia relative rendah, namun hamper semua ekspor Indonesia dalam container disalurkan (transshipped) melalui Singapura atau Malaysia karena efisiensi pelabuhan Indonesia begitu rendah. Menurut suatu kajian mengenai efisiensi pelabuhan Indonesia, Terminal Container Internasional di Jakarta (Jakarta International Container Terminal, JICT), yang merupakan terminal utama di Tanjung Priok, pelabuhan Indonesia terbesar, adalah terminal yang paling tidak efisien di Asia Tenggara. Baik ditinjau dari produktivitas (jumlah contasiner yasng bisa diangkat dalam satu jam) masupun biaya satuan (biaya mengangkat satu container berisi berukuran 40 foot, JICT di Tanjung Priok adalah paling tidak efisien dibanding dengan pelabuhan-pelabuhan lain di Asia Tenggara, misalnya Singapura, dan Port Klang di Malaysia. 8
10 This report is for use by professional and business investors only and has been prepared for information purposes and is not an offer to sell or a solicitation to buy any institution. The information herein was obtained or derived from sources that we believe are reliable, but whilst all reasonable care has been taken to ensure that stated facts are accurate and opinions fair and reasonable, we do not represent that it is accurate or complete and it should not be relied upon as such. All opinions and estimates included in this report constitute our judgement as of this date and are subject to change without notice. This document is for the information of clients only and must not be copied, reproduced or mare available to others. 9
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan Juli 27 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha Rusman Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna Said X-5 Kav.
Laporan Ekonomi Bulanan
Laporan Ekonomi Bulanan Edisi Juli 2005 Diterbitkan oleh Sekretariat Kadin Indonesia Kerjasama KADIN Indonesia dan JETRO JETRO Expert: Yojiro OGAWA Indikator Ekonomi Indikator 2000 2001 2002 2003 2004
KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI INDONESIA. Laporan Ekonomi Bulanan. Mei 2006
KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI INDONESIA Laporan Ekonomi Bulanan Mei 2006 Diterbitkan oleh Sekretariat Kadin Indonesia Kerjasama KADIN Indonesia dan JETRO Yojiro OGAWA Shoji MAEDA Erna Zetha Tulus Tambunan
Laporan Ekonomi Bulanan
Laporan Ekonomi Bulanan Maret 2006 Diterbitkan oleh Sekretariat Kadin Indonesia Kerjasama KADIN Indonesia dan JETRO JETRO Expert: Yojiro OGAWA Indikator Ekonomi Indikator 2002 2003 2004 2005 2006 1. Nilai
Laporan Ekonomi Bulanan
Laporan Ekonomi Bulanan Edisi Januari 2006 Diterbitkan oleh Sekretariat Kadin Indonesia Kerjasama KADIN Indonesia dan JETRO JETRO Expert: Yojiro OGAWA INDIKATOR EKONOMI Indikator 2001 2002 2003 2004 2005
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan Desember 2006 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha DR. Tulus Tambunan Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan Juli 2006 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha DR. Tulus Tambunan Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan Oktober 2007 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha Rusman Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna Said X-5
Laporan Ekonomi Bulanan
Laporan Ekonomi Bulanan Edisi November 2005 Diterbitkan oleh Sekretariat Kadin ndonesia Kerjasama KADN ndonesia dan JETRO JETRO Expert: Yojiro OGAWA ndikator Ekonomi ndikator 2001 2002 2003 2004 2005 1.
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan September 2007 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha Rusman Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna Said
Kondisi Perekonomian Indonesia
KAMAR DAGANG DAN INDUSTRI INDONESIA Kondisi Perekonomian Indonesia Tim Ekonomi Kadin Indonesia 1. Kondisi perekonomian dunia dikhawatirkan akan benar-benar menuju jurang resesi jika tidak segera dilakukan
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan Agustus 2006 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha DR. Tulus Tambunan Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan Januari 2007 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha DR. Tulus Tambunan Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna
Laporan Ekonomi Bulanan
Kamar Dagang dan Industri Indonesia Laporan Ekonomi Bulanan Maret 27 Sekretariat Kamar Dagang dan Industri Indonesia oleh Erna Zetha dan DR. Tulus Tambunan Menara Kadin Indonesia 29 th Floor Jl. HR. Rasuna
BAB I PENDAHULUAN. Dalam era perdagangan bebas saat ini, telah terjadi perubahan secara
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam era perdagangan bebas saat ini, telah terjadi perubahan secara fundamental, bahwa gerak perdagangan semakin terbuka, dinamis, dan cepat yang menyebabkan
Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011
Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Nomor. 30/AN/B.AN/2010 0 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI Analisis Asumsi Makro Ekonomi
Mengobati Penyakit Ekonomi Oleh: Mudrajad Kuncoro
Mengobati Penyakit Ekonomi Oleh: Mudrajad Kuncoro Melemahnya nilai tukar rupiah dan merosotnya Indeks Harga Saham Gabungan membuat panik pelaku bisnis. Pengusaha tahu-tempe, barang elektronik, dan sejumlah
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JANUARI 2002
REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JANUARI 2002 Posisi uang primer pada akhir Januari 2002 menurun menjadi Rp 116,5 triliun atau 8,8% lebih rendah dibandingkan akhir bulan
Kinerja CARLISYA PRO SAFE
29-Jan-16 NAV: (netto) vs per December 2015 () 5.15% 6.92% Total Dana Kelolaan 395,930,218.07 10 0-100% Kinerja - Inflasi (Jan 2016) 0.51% Deskripsi Jan-16 YoY - Inflasi (YoY) 4.14% - BI Rate 7.25% Yield
BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA. negara selain faktor-faktor lainnya seperti PDB per kapita, pertumbuhan ekonomi,
BAB IV GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN INDONESIA 4.1 Perkembangan Laju Inflasi di Indonesia Tingkat inflasi merupakan salah satu indikator fundamental ekonomi suatu negara selain faktor-faktor lainnya seperti
Kinerja CENTURY PRO FIXED
29-Jan-16 NAV: Total Dana Kelolaan 3,058,893,148.56 - Keuangan - Infrastruktur 0-80% AAA A - 66.33% 15.52% 18.15% - Inflasi (Jan 2016) - Inflasi (YoY) - BI Rate 0.51% 4.14% 7.25% Kinerja Sejak pe- Deskripsi
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN APRIL 2002
REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN APRIL 2002 Pada bulan April 2002 pemerintah berhasil menjadwal ulang cicilan pokok dan bunga utang luar negeri pemerintah dalam Paris Club
BAB I PENDAHULUAN. pesat sesuai dengan kemajuan teknologi. Dalam era globalisasi peran transportasi
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Globalisasi dari sisi ekonomi adalah suatu perubahan dunia yang bersifat mendasar atau struktural dan akan berlangsung terus dalam Iaju yang semakin pesat
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan dana yang tidak
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sebagai negara berkembang, Indonesia membutuhkan dana yang tidak sedikit jumlahnya di dalam pembangunan nasional. Dalam konteks pembangunan nasional maupun
BAB I PENDAHULAN. yang sedang berkembang (emerging market), kondisi makro ekonomi
BAB I PENDAHULAN A. Latar Belakang Masalah Di era globalisasi ini pasar modal merupakan instrumen penting dalam perekonomian suatu negara. Pasar modal yang ada di Indonesia merupakan pasar yang sedang
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN I. Ekonomi Dunia Pertumbuhan ekonomi nasional tidak terlepas dari perkembangan ekonomi dunia. Sejak tahun 2004, ekonomi dunia tumbuh tinggi
Economic Update. Exhibit 1. Kontribusi Lapangan Usaha Terhadap Pertumbuhan Ekonomi. Exhibit 2. Kontribusi Penggunaan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Highlights PDB Indonesia Triwulan I 2010 Tumbuh +5,7% YoY Laju Inflasi April 2010 Meningkat Pertumbuhan Impor Lebih Cepat Dari Ekspor Maret 2010 BI Rate Tetap Pada Level 6,5% Ratna Lim [email protected]
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN SEPTEMBER 2001
REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN SEPTEMBER 2001 World Economic Report, September 2001, memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2001 hanya mencapai 2,6% antara lain
BAB I PENDAHULUAN. saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Small open economic, merupakan gambaran bagi perekonomian Indonesia saat ini. Sekalipun pengaruh aktifitas ekonomi Indonesia tidak besar terhadap perekonomian dunia,
MACROECONOMIC REPORT JUNI, 2014
INFLASI BULAN MEI TERCATAT 0,1% Pada bulan Mei 2014, laju inflasi tercatat sebesar 0,1%. Faktor pendukung inflasi karena harga makanan jadi dan minuman yang meningkat. Inflasi tahun kalender sebesar 1,56%,
Perkembangan Indikator Makroekonomi Indonesia di tengah Ketidakseimbangan Global
2015 Vol. 2 Perkembangan Indikator Makroekonomi Indonesia di tengah Ketidakseimbangan Global Oleh: Irfani Fithria dan Fithra Faisal Hastiadi Pertumbuhan Ekonomi P erkembangan indikator ekonomi pada kuartal
MEDIA BRIEFING Pusat HUMAS Departemen Perdagangan Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta Tel: /Fax:
KEMENTERIAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA MEDIA BRIEFING Pusat HUMAS Departemen Perdagangan Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 10110 Tel: 021-23528446/Fax: 021-23528456 www.depdag.go.id Prospek Ekspor
Ekspor Indonesia Masih Sesuai Target 2008: Pemerintah Ambil Berbagai Langkah Guna Antisipasi Perlambatan Pertumbuhan Ekonomi Dunia
SIARAN PERS DEPARTEMEN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA Pusat HUMAS Departemen Perdagangan Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 10110 Tel: 021 3858216, 23528400. Fax: 021-23528456 www.depdag.go.id Ekspor Indonesia
BAB I PENDAHULUAN. terpuruk. Konsekuensi dari terjadinya krisis di Amerika tersebut berdampak pada
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kredit macet sektor perumahan di Amerika Serikat menjadi awal terjadinya krisis ekonomi global. Krisis tersebut menjadi penyebab ambruknya pasar modal Amerika
BAB I PENDAHULUAN. negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu fungsi ekonomi dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pasar modal memiliki peranan yang penting terhadap perekonomian suatu negara karena pasar modal menjalankan dua fungsi, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan.
BAB I PENDAHULUAN. Pada awal masa pembangunan Indonesia dimulai, perdagangan luar negeri
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada awal masa pembangunan Indonesia dimulai, perdagangan luar negeri Indonesia bertumpu kepada minyak bumi dan gas sebagai komoditi ekspor utama penghasil
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001
REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001 Kondisi ekonomi makro bulan Juni 2001 tidak mengalami perbaikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kepercayaan masyarakat
Kinerja Ekspor Nonmigas November 2010 Memperkuat Optimisme Pencapaian Target Ekspor 2010
SIARAN PERS Pusat HUMAS Kementerian Perdagangan Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 111 Telp: 21-386371/Fax: 21-358711 www.kemendag.go.id Kinerja Ekspor Nonmigas November 21 Memperkuat Optimisme
BAB I PENDAHULUAN. motor penggerak perekonomian nasional. Perdagangan internasional dapat
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perdagangan internasional mempunyai peranan sangat penting sebagai motor penggerak perekonomian nasional. Perdagangan internasional dapat didefinisikan sebagai
Kinerja CARLISYA PRO FIXED
29-Jan-16 NAV: Total Dana Kelolaan 1,728,431,985.66 Pasar Uang 0-80% Deposito Syariah 6.12% 93.88% Infrastruktur 87.50% Disetahunkaluncuran Sejak pe- Deskripsi Jan-16 YoY Keuangan 12.50% Yield 0.64% 7.66%
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Sektor Properti
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Sektor Properti Sektor properti merupakan sektor yang rentan terhadap perubahan dalam perekonomian, sebab sektor properti menjual produk yang
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Perkembangan ekonomi makro bulan Oktober 2004 hingga bulan Juli 2008 dapat diringkas sebagai berikut. Pertama, stabilitas ekonomi tetap terjaga
CENTURY PRO MIXED Dana Investasi Campuran
29-Jan-16 NAV: 1,949.507 Total Dana Kelolaan 3,914,904,953.34 Pasar Uang 0-90% Ekuitas 77.38% Efek Pendapatan Tetap 10-90% Obligasi 12.93% Efek Ekuitas 10-90% Pasar Uang 8.82% 0.87% Keuangan A Deskripsi
PEREKONOMIAN INDONESIA TAHUN 2007: PROSPEK DAN KEBIJAKAN
PEREKONOMIAN INDONESIA TAHUN 2007: PROSPEK DAN KEBIJAKAN KANTOR MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (BAPPENAS) DIREKTORAT PERENCANAAN MAKRO FEBRUARI
BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2004
BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 24 Kondisi ekonomi menjelang akhir tahun 24 dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, sejak memasuki tahun 22 stabilitas moneter membaik yang tercermin dari stabil dan
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
BAB 35 PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Sejak pertengahan tahun 2006, kondisi ekonomi membaik dari ketidakstabilan ekonomi tahun 2005 dan penyesuaian kebijakan fiskal dan moneter yang
BAB I PENDAHULUAN. Saat ini, perekonomian Indonesia diliput banyak masalah. Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Saat ini, perekonomian Indonesia diliput banyak masalah. Permasalahan tersebut muncul dari faktor internal maupun faktor eksternal. Namun saat ini, permasalahan
ANALISA PERUBAHAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLLAR AMERIKA DALAM RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERUBAHAN TAHUN 2014
ANALISA PERUBAHAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP DOLLAR AMERIKA DALAM RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA PERUBAHAN TAHUN 2014 Pendahuluan Akibat dari krisis ekonomi yang dialami Indonesia tahun
Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN Nomor. 01/ A/B.AN/VI/2007 BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI
Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2008 Nomor. 01/ A/B.AN/VI/2007 Asumsi Dasar dan Kebijakan Fiskal 2008 Sesuai dengan ketentuan UU Nomor 17 Tahun 2003, Pemerintah Pusat diwajibkan untuk menyampaikan
BAB I PENDAHULUAN. ekspansi, penambahan modal kerja dan lain-lain, kedua pasar modal menjadi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pasar Modal memiliki peran penting bagi perekonomian suatu negara yang mempunyai fungsi sebagai sarana bagi pendanaan usaha atau sebagai sarana bagi perusahaan
TINJAUAN KEBIJAKAN MONETER
TINJAUAN KEBIJAKAN MONETER 1 1 2 3 2 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Jan-12 Mar-12 May-12 Jul-12 Sep-12 Nov-12 Jan-13 Mar-13 May-13 Jul-13 Sep-13 Nov-13 Jan-14 Mar-14 May-14 Jul-14 Sep-14 Nov-14 Jan-15 35.0 30.0
I. PENDAHULUAN. secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003)
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan pembangunan ekonomi suatu negara dapat diukur dan digambarkan secara umum oleh tingkat laju pertumbuhan ekonominya. Mankiw (2003) menyatakan bahwa pertumbuhan
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 263 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 Tim Penulis
TINJAUAN EKONOMI Januari 2010
TINJAUAN EKONOMI Januari 2 Cadangan Devisa Sumber : Bank Indonesia dan Data Olahan Erdikha Awal Tahun 2, BI rate inline dengan konsensusnya Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan
ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H
ANALISIS STRUKTUR, PERILAKU, KINERJA DAN DAYA SAING INDUSTRI ELEKTRONIKA DI INDONESIA JOHANNA SARI LUMBAN TOBING H14104016 DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Ringsek KER Zona Sumbagteng Tw.I-2009 Ekonomi Zona Sumbagteng Melambat Seiring Dengan Melambatnya Permintaan Domestik
B O K S Ringsek KER Zona Sumbagteng Tw.I-29 Ekonomi Zona Sumbagteng Melambat Seiring Dengan Melambatnya Permintaan Domestik PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO REGIONAL Pertumbuhan ekonomi Zona Sumbagteng terus
PERKEMBANGAN DAN VOLATILITAS NILAI TUKAR RUPIAH
PERKEMBANGAN DAN VOLATILITAS NILAI TUKAR RUPIAH Asumsi nilai tukar rupiah terhadap US$ merupakan salah satu indikator makro penting dalam penyusunan APBN. Nilai tukar rupiah terhadap US$ sangat berpengaruh
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Persaingan usaha yang semakin ketat membuat perusahaan mencari cara untuk tetap mampu bertahan, cara yang dapat dilakukan adalah dengan menambah modal kerja dan memperluas
LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND
LAPORAN BULANAN - PANIN Rp CASH FUND 10-Mar-2004 Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen pasar uang. Pasar Uang 100% Deposito
IV. GAMBARAN UMUM INDIKATOR FUNDAMENTAL MAKRO EKONOMI NEGARA ASEAN+3
IV. GAMBARAN UMUM INDIKATOR FUNDAMENTAL MAKRO EKONOMI NEGARA ASEAN+3 4.1 Pertumbuhan Ekonomi Negara ASEAN+3 Potret ekonomi dikawasan ASEAN+3 hingga tahun 199-an secara umum dinilai sangat fenomenal. Hal
Surplus Neraca Perdagangan September 2010 Melonjak 68 Persen Mencapai US$ 2,5 Miliar
SIARAN PERS Pusat HUMAS Kementerian Perdagangan Gd. I Lt. 2, Jl. M.I Ridwan Rais No. 5, Jakarta 10110 Telp: 021-3860371/Fax: 021-3508711 www.kemendag.go.id Surplus Neraca Perdagangan September 2010 Melonjak
LAPORAN KINERJA BULANAN - PANIN Rp CASH FUND
LAPORAN BULANAN - PANIN Rp CASH FUND Panin Rp Cash Fund bertujuan untuk memberikan hasil yang relatif stabil melalui penempatan terutama pada instrumen pasar uang. 10-Mar-2004 Pasar Uang 100% Obligasi
BAB II PROSES PEMULIHAN EKONOMI TAHUN 2003
BAB II PROSES PEMULIHAN EKONOMI TAHUN 23 Secara ringkas stabilitas moneter dalam tahun 23 tetap terkendali, seperti tercermin dari menguatnya nilai tukar rupiah; menurunnya laju inflasi dan suku bunga;
ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Ma kro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007
ANALISIS Perkembangan Indikator Ekonomi Makro Semester I 2007 Dan Prognosisi Semester II 2007 Nomor. 02/ A/B.AN/VII/2007 Perkembangan Ekonomi Tahun 2007 Pada APBN 2007 Pemerintah telah menyampaikan indikator-indikator
1. Tinjauan Umum
1. Tinjauan Umum Perekonomian Indonesia dalam triwulan III-2005 menunjukkan kinerja yang tidak sebaik perkiraan semula, dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih rendah sementara tekanan terhadap
DAMPAK KRISIS EKONOMI GLOBAL TERHADAP KONDISI PERBANKAN DAN SEKTOR RIIL DI WILAYAH KERJA KBI KUPANG
DAMPAK KRISIS EKONOMI GLOBAL TERHADAP KONDISI PERBANKAN DAN SEKTOR RIIL DI WILAYAH KERJA KBI KUPANG Latar Belakang Krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat, ternyata berdampak kepada negara-negara
PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR BANTEN MARET 2014
No. 19/05/36/Th.VIII, 2 Mei 2014 PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR BANTEN MARET 2014 A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR MARET 2014 NAIK 0,99 PERSEN MENJADI US$802,39 JUTA Nilai ekspor Banten pada Maret 2014 naik
BAB 1 PENDAHULUAN. tingkat suku bunga. Tingginya tingkat suku bunga seolah menjadi bayang-bayang
1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Permasalahan perbankan yang kerap kali muncul menjadi isu krusial bagi perbankan Indonesia dan menjadi perhatian masyarakat adalah masalah tingginya tingkat
BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting untuk menganalisis pembangunan ekonomi yang terjadi disuatu Negara yang diukur dari perbedaan PDB tahun
I. PENDAHULUAN. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah sebuah indikator yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah sebuah indikator yang menunjukkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks ini mencakup pergerakan seluruh
BAB I PENDAHULUAN. Pada awal tahun 2008 terjadi krisis energi yang membayangi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada awal tahun 2008 terjadi krisis energi yang membayangi perekonomian global, ditandai dengan meningkatnya harga minyak dunia sampai menyentuh harga tertinggi $170
BAB 1 PENDAHULUAN. Nilai tukar mata uang mencerminkan kuatnya perekonomian suatu negara. Jika
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Nilai tukar mata uang mencerminkan kuatnya perekonomian suatu negara. Jika perekonomian suatu negara mengalami depresiasi mata uang, maka bisa dikatakan
BAB I PENDAHULUAN. Era globalisasi ekonomi telah membawa pembaharuan yang sangat cepat
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Era globalisasi ekonomi telah membawa pembaharuan yang sangat cepat dan berdampak luas bagi perekonomian di dalam negeri maupun di dunia internasional. Dampak yang
BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global, nilai tukar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejalan dengan tingginya ketidakpastian perekonomian global, nilai tukar Rupiah terus mengalami tekanan depresiasi. Ketidakpastian pemulihan ekonomi dunia juga telah
BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN
BAB IV GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN A. Perkembangan Inflasi di Indonesia Indonesia merupakan salah satu Negara berkembang, dimana adanya perubahan tingkat inflasi sangat berpengaruh terhadap stabilitas
PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR BANTEN SEPTEMBER 2016
No. 61/11/36/Th.X, 1 November PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR BANTEN SEPTEMBER A. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR SEPTEMBER TURUN 5,17 PERSEN MENJADI US$729,59 JUTA Nilai ekspor Banten pada September turun 5,17
Kinerja CARLISYA PRO SAFE
29-Jan-16 NAV: Peserta mempunyai kebebasan untuk memilih penempatan Dana Investasinya pada portfolio investasi Syariah yang disediakan pihak perusahaan. (netto) vs per December 2015 () 5.15% 6.92% Total
BAB I PENDAHULUAN. Pertumbuhan sektor properti dan real estat yang ditandai dengan kenaikan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pertumbuhan sektor properti dan real estat yang ditandai dengan kenaikan harga tanah dan bangunan yang lebih tinggi dari laju inflasi setiap tahunnya menyebabkan semakin
