Chem Info. Vol 1, No 1, Hal , 2013
|
|
|
- Sugiarto Irawan
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 Nama NIM Judul Title : Sapto Adi Wibowo : J2C : Studi Interaksi Segmen Dimer Kitosan...Nikotinamida secara Komputasi Ab Initio dan Eksperimen : Study of Interaction Segment Dimer Chitosan...Nicotinamide by Ab Initio Computational and Experimental ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang studi interaksi segmen dimer kitosan...nikotinamida secara komputasi ab initio dan eksperimen. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan energi interaksi antara segmen dimer kitosan dengan nikotinamida pada konfigurasi tertentu dengan metode komputasi ab initio dan menentukan efisiensi enkapsulasi nikotinamida dalam kitosan dengan variasi konsentrasi nikotinamida terhadap perbandingan (b/v) kitosan dengan asam asetat (1%) 20mg/20mL dengan metode sentrifugasi. Metode yang digunakan adalah metode komputasi ab initio pada tingkat teori dan basis set RHF/6-31G(d,p) dan eksperimen menggunakan metode sentrifugasi. Hasil perhitungan menunjukkan energi interaksi antara segmen dimer kitosan..nikotinamida pada konfigurasi 1 dan konfigurasi 2 mempunyai energi interaksi masing-masing sebesar -65,254 kj/mol atau -15,596 kkal/mol, dan -57,061 kj/mol atau -13,63791 kkal/mol. Efisiensi enkapsulasi (EE) nikotinamida pada rentang variasi konsentrasi nikotinamida 500 ppm ppm dengan perbandingan (b/v) kitosan dengan asam asetat (1%) 20mg/20mL rata-rata besarnya 46,83%. Perbedaan energi interaksi yang terjadi antara kitosan dengan nikotinamida pada konfigurasi 1 dan konfigurasi 2 dapat menjelaskan proses pelepasan berkala nikotinamida dari matriks kitosan. Interaksi pada konfigurasi 2 akan lebih dahulu lepas daripada konfigurasi 1 saat proses pelepasan berkala. Kata kunci : kitosan, nikotinamida, ab initio, efisiensi enkapsulasi ABSTRACT The research has been done on theoritical study interaction between segment chitosan dimer and nicotinamide by ab initio computational dand experimental. The aims of this research is to determine interaction energy between segment chitosan dimer and nicotinamide in specific configuration by ab initio computational method and determine encapsulation efficiency nicotinamide with variation nicotinamide concentration to rasio (b/v) chitosan with acetic acid (1%) 20mg/20mL. The method that used is ab initio quantum mechanical calculations at theoritical level and basis sets RHF/6-31G (d, p) and experiment with centrifugation method. The result of calculation showed interaction energy between dimer chitosan segment nicotinamide on first configuration has interaction energy -65,254 kj/mol or - 15,596 kkal/mol and second configuration has interaction energy -57,061 kj/mol or -13,63791 kkal/mol. Encapsulation efficiency (EE) nicotinamide in range nicotinamide concentration variation 500 ppm ppm to rasio (b/v) chitosan with acetic acid (1%) 20mg/20mL average 46,83%. The difference of interaction energy between nicotinamide with the chitosan in configuration 1 and configuration 2 can explain the slow-release process of nicotinamide from the chitosan matrix. Interaction in configuration 2 easier released than configuration 1 at time release process. Keywords : chitosan, nicotinamide, ab initio, encapsulation efficiency Pendahuluan Latar Belakang Perkembangan dalam dunia farmasi terutama obat-obatan semakin berkembang pesat saat ini. Para peneliti mencoba untuk mengembangkan obat yang selektif hanya menghancurkan sel penyakit tanpa merusak sel yang sehat atau disebut juga sistem drug delivery tepat sasaran. Gagasan tersebut telah dikemukakan oleh Paul Ehrlich hampir seabad yang lalu, ia menyebutkan obat tersebut sebagai magic bullet (Strebhardt dan Ullrich, 2008). Penemuan tentang pengobatan berbasis teknologi nano dan pengetahuan tentang sel dan molekul biologi mendorong konsep Ehrlich menjadi kenyataan (Vasir dkk, 2005). Sistem drug delivery tepat sasaran terdiri dari agen pengobatan, gugus fungsi molekul target, dan sistem pembawa (carier system). Obat dapat bergabung dengan sistem pembawanya secara absorpsi 256
2 pasif, atau konjugasi kimia. Sistem pembawa berperan penting untuk menentukan efek farmakokinetik, dan farmakodinamik suatu obat (Park dkk, 2010). Material yang umum digunakan sebagai pembawa obat antara lain polimer alami atau sintetis (Duncan, 2003), lemak (Duncan, 2006), surfaktan (Torchilin, 2008), dan dendrimer (Sampathkumar, dan Yarema, 2005). Namun, kitosan mendapatkan perhatian yang lebih diantara semua material tersebut. Kitosan merupakan aminopolisakarida linier yang tersusun oleh ikatan (1-4) D-glukosamin dan N-asetil- D-glukosamin yang terdistribusi secara acak. Kitosan terbentuk dari proses deasetilasi kitin, polisakarida alami yang tersebar luas dan dapat ditemukan pada cangkang krustasea seperti kepiting dan kerang (Kumar dkk., 2004). Kitosan mempunyai banyak kelebihan yaitu berlimpah di alam, sifat mukoadesif yang unik, sifat farmakologi yang melekat, dan kelebihan biologis lain seperti biokompatibel, biodegaradabel, tidak beracun, dan imunogenitas yang rendah (Kumar dkk., 2004; Illum, 1998; dan Felt dkk., 1998). Selain itu kitosan juga mempunyai kemampuan untuk membuka tight junction (TJ), sehingga dapat membawa obat masuk ke dalam sel (Amidi dkk., 2010). Manfaat kitosan dalam bidang drug delivery telah banyak dilakukan dalam penelitian lain, seperti sebagai pengiriman obat anti-kanker (Quiñones dkk., 2011), dan obat Azeimer (Wilson dkk., 2010), terapi gen (Amidi dkk., 2010), dan enkapsulasi vitamin C (Alishahi dkk., 2011). Interaksi kitosan pada tingkat molekular dapat dipelajari dengan menggunakan metode pemodelan, misalnya komputasi ab initio. Penelitian kali ini memodelkan segmentasi kitosan dengan nikotinamida. Nikotinamida merupakan bentuk umum vitamin B3 yang mempunyai kemampuan anti-pellagra. Nikotinamida ditemukan dalam tubuh sebagai bagian nicotinamide adenin dinucleotide (NAD) yang secara umum berperan dalam proses produksi energi. Nikotinamida mempunyai fungsi untuk menghambat gangguan sistem kekebalan tubuh oleh radiasi UVA dan UVB. Beberapa fungsi lain dari nikotinamida yang penting untuk kesehatan, seperti metabolisme energi, pertumbuhan dan perkembangan, sintesis hormon dan kesehatan kulit, genetik, sistem pencernaan, sel darah, otak, dan sistem saraf (Kumar dkk., 2010). Kestabilan nikotinamida dalam tubuh dapat ditingkatkan melalui proses enkapsulasi (Alishahi dkk., 2011). Enkapsulasi adalah proses atau teknik untuk menyalut inti yang berupa suatu senyawa aktif padat, cair, gas, ataupun sel dengan suatu bahan pelindung tertentu yang dapat mengurangi kerusakan senyawa aktif tersebut, salah satu perlakuannya adalah dengan penambahan kitosan. Ketika waktu simpan nikotinamida dalam tubuh semakin meningkat diharapkan pengunaan nikotinamida menjadi lebih efisien, sehingga tidak banyak nikotinamida yang terbuang percuma dalam tubuh. Penelitian kali ini digunakan pemodelan interaksi segmen kitosan dengan nikotinamida secara komputasi ab initio. Studi interaksi antara kitosan dengan nikotinamida bertujuan untuk memahami sifat-sifat kitosan, seperti pengaruh berat molekul dan derajat deasetilasi. Energi interaksi dan konformasi kitosan dengan nikotinamida sangat menentukan sifat interaksi kedua molekul tersebut dalam proses enkapsulasi. Pemahaman sifat interaksi antara kitosan dengan nikotinamida dapat digunakan untuk memprediksikan sifat kitosan dalam proses enkapsulasi. Tujuan penelitian adalah mengetahui energi interaksi antara segmen dimer kitosan dengan molekul nikotinamida pada konfigurasi tertentu dengan metode komputasi ab initio dan menentukan efisiensi enkapsulasi nikotinamida dalam kitosan dengan variasi konsentrasi nikotinamida terhadap perbandingan (b/v) kitosan dengan asam asetat (1%) 20mg/20mL dengan metode sentrifugasi. Metode Penelitian Komputasi Langkah pertama melakukan perhitungan optimasi molekul nikotinamida. Kedua melakukan optimasi model interaksi segmen dimer kitosan dengan nikotinamida konfigurasi 1 dan 2, segmen dimer kitosan telah dilakukan pada penelitian sebelumnya. Perhitungan ab initio pada teori dan basis set RHF/6-31G(d,p) dengan software Gaussian-03W berbasis Linux. Energi interaksi, E int dihitung sebagai fungsi jarak R dengan rumus: 257
3 Eksperimen Eksperimen dilakukan menggunakan metode sentrifugasi pada suhu ruang. Konsentrasi nikotinamida bebas dianalisis menggunakan spektrofotometer uv-vis kemudian hasil pengukuran absorbansi digunakan untuk menentukan nilai efisiensi enkapsulasi (EE) nikotinamida. Persamaan : ( A B) EE = 100% A A = konsentrasi total nikotinamida (ppm) B = konsentrasi nikotinamida bebas (ppm) Hasil dan Pembahasan Sifat-sifat molekul tunggal Basis set dan tingkat teori perhitungan yang digunakan akan menentukan besarnya parameter sifat-sifat molekul seperti energi, momen dipol, dan muatan atom. Hasil perhitungan pada basis set RHF/6-31G(d,p), harga energi dan momen dipol segmen dimer kitosan adalah sebesar -1251, Hartree atau ,106 kj/mol dan 2,9401 Debye. Nikotinamida mempunyai energi dan momen dipol sebesar -414, Hartree dan 2,1336 Debye. Kedua molekul tunggal tersebut telah stabil karena mempunyai energi yang telah negatif, dan dapat saling berinteraksi karena kedua molekul mempunyai momen dipol yang besar.energi dan momen dipol molekul tergantung pada geometri molekul. Struktur molekul sebelum optimasi memberikan energi yang lebih besar (lebih positif), akibat tolakan dari atomatom penyusunnya. Setelah mengalami optimasi, energi molekul akan turun sampai ke tingkat energi yang terendah (negatif), sehingga molekul tersebut dikatakan stabil. Jika ditinjau dari distribusi muatan (Skala Mulliken) atom-atom penyusunnya seperti pada Tabel 1, atom N13 pada struktur nikotinamida mempunyai distribusi muatan atom yang paling negatif yaitu sebesar -0, Sedangkan atom C2 mempunyai distribusi muatan atom paling positif yaitu sebesar 0, Hal tersebut mengindikasikan jika molekul nikotinamida merupakan molekul polar. Hal ini diperkuat dengan momen dipol molekul yaitu sebesar 2,1385 Debye. Keterangan: = atom C, = atom H, = atom O, dan = atom N (a) (b) Gambar 1. Struktur Geometri Nikotinamida (a) hasil optimasi perhitungan ab initio RHF/6-31 G(d,p), E = -414, Hartree (b) Struktur Lewis nikotinamida Panjang ikatan C-O pada C2-O1 sebesar 1,19951 Å, mengindikasikan termasuk ikatan C rangkap. Panjang ikatan C-N pada C6-N7 sebesar Å, sedangkan pada C2-N13 sebesar Å. Bentuk geometri molekul adalah linier. Hal ini dibuktikan oleh sudut torsi atau dihedral yang dibentuk oleh atom C4-C3-C8-N7 sebesar 1,223 o dan sudut C2-C3-C8-N7 sebesar 179,582 o. Namun, pada dihedral yang dibentuk atom O1-C2-C3-C4 sebesar 18,820 o dan N13-C2-C3-C4 sebesar -161,912 o menunjukkan bentuk molekul yang kurang linier pada antara atom O1 dan N13. Hal ini terjadi karena adanya gaya tolak menolak antara atom O dan N dengan cincin piridin sehingga atom O1 dan N13 akan mencari posisi yang saling berjauhan. 258
4 Tabel IV.1 : Distribusi muatan (skala Mulliken) atom-atom Nikotinamida Atom Muatan Atom Muatan O1-0,598 H9 0,208 C2 0,770 H10 0,167 C3-0,210 H11 0,161 C4-0,048 H12 0,158 C5-0,216 N13-0,763 C6 0,142 H14 0,308 N7-0,548 H15 0,321 C8 0,148 Molekul kitosan yang digunakan merupakan segmen dimer dari polimer kitosan yang mempunyai rantai panjang. Pemodelan polimer kitosan tidak mungkin dilakukan, sehingga diperlukan pendekatan melalui segmentasi molekul kitosan. Penelitian ini perhitungan dilakukan untuk segmen dimer kitosan dengan interaksi antarmolekul 1:1. Artinya 1 molekul segmen dimer kitosan dan 1 molekul nikotinamida. Ikatan hidrogen dalam dimer kitosan terjadi antara N7 dan H45 pada jarak 2,113 Å. Dihedral antara atom O6-C1-O12-C25 sebesar -113,807 o, hal ini terjadi karena adanya gaya tolakan antara monomer penyusun segmen dimer kitosan. Gaya-gaya tolakan antara atom penyusun segmen dimer kitosan menyebabkan struktur molekulnya berbentuk struktur kursi. Keterangan: = atom C, = atom H, = atom O, dan atom N (a) (b) Gambar 2. (a) Struktur Segmen Dimer Kitosan hasil perhitungan dengan basis set RHF/6-31G(d,p), E = , Hartree (Dewi dkk., 2011) (b) struktur Lewis segmen dimer kitosan 259
5 Sifat-Sifat Interaksi Antarmolekul Momen dipol kedua molekul segmen dimer kitosan dan nikotinamida menunjukkan bahwa kedua molekul lebih polar relatif dibandingkan air yang mempunyai momen dipol 2,148 Debye. Berdasarkan momen dipol tersebut diperkirakan segmen dimer kitosan dan nikotinamida dapat berinteraksi dengan kuat. Berdasarkan muatan relatif (skala Mulliken) dari kedua molekul diperkirakan dapat terjadi interaksi pada berbagai konfigurasi, tetapi pada penelitian ini dilakukan 2 konfigurasi yaitu, konfigurasi 1, dan 2. Model interaksi tiap konfigurasi diawali dengan optimasi segmen dimer kitosan dan nikotinamida. Pada konfigurasi 1, interaksi antara kedua molekul diwakili oleh atom H44 untuk molekul segmen dimer kitosan dan O59 untuk molekul nikotinamida. Energi interaksi konfigurasi 1 sebesar -0,0249 Hartree atau -65,254 kj/mol atau -15,596 kkal/mol pada jarak terdekat yaitu 1,912 Å. Jika dilihat dari distribusi muatannya (skala Mulliken), atom H44 sebesar 0,390 dan O59 sebesar Dihedral yang terbentuk antara atom O6-C1-O12-C25 pada molekul segmen dimer kitosan sebesar -120,551 o. Besarnya dihedral berubah 6,745 o dari dihedral awal. Hal ini dapat terjadi karena interaksi dengan nikotinamida yang memberikan tambahan gaya tolakan pada segmen dimer kitosan. Keterangan: = atom C, = atom H, = atom O, dan atom N Gambar 3. Struktur Optimasi Interaksi segmen dimer kitosan..nikotinamida konfigurasi 1 dengan basis set RHF/6-31G (d,p) Pada konfigurasi 2, interaksi antara kedua molekul terjadi pada atom O34 untuk molekul segmen dimer kitosan dan H62 untuk molekul nikotinamida. Energi interaksi konfigurasi 2 sebesar -0,0217 Hartree atau -57,061 kj/mol atau -13,63791 kkal/mol pada jarak terdekat yaitu 2,11700 Å. Jika dilihat dari distribusi muatannya (Skala Mulliken) pada atom O34 sebesar dan H62 sebesar Konfigurasi interaksi antara segmen dimer kitosan dengan nikotinamida di atas memperlihatkan perbedaan energi interaksi antara konfigurasi 1, dan 2. Konfigurasi 1 mempunyai energi interaksi yang lebih besar daripada konfigurasi 2, sehingga dapat dikatakan konfigurasi 1 lebih stabil daripada konfigurasi 2. Interaksi antara segmen dimer kitosan dengan nikotinamida termasuk dalam ikatan hidrogen kekuatan sedang. Ikatan hidrogen kekuatan sedang terjadi pada jarak 1,5 2,2 Å (Jeffrey, 1997). Semakin besar energi interaksi antara segmen dimer kitosan dengan nikotinamida akan menyebabkan segmen dimer kitosan sulit melepaskan molekul nikotinamida, sedangkan semakin lemah energi interaksi akan menyebabkan semakin mudah segmen dimer kitosan melepaskan molekul nikotinamida. Fakta ini menjelaskan bagaimana mekanisme drug release untuk melepaskan obat (nikotinamida) secara perlahan-halan sehingga nikotinamida dapat bertahan lama dalam tubuh. Berdasarkan hasil ini, diperoleh pemahaman bahwa proses drug delivery maupun drug release 260
6 nikotinamida dari sistem kitosan..nikotinamida tergantung dari jenis konfigurasi asosiasi kitosan..nikotinamida. 118,98490 o Keterangan: = atom C, = atom H, = atom O, dan atom N Gambar 4. Struktur Optimasi Interaksi segmen dimer kitosan..nikotinamida konfigurasi 2 dengan basis set RHF/6-31G Perhitungan Scan energi interaksi segmen dimer kitosan..nikotinamida konfigurasi 1 dan 2 Perhitungan scan energi interaksi segmen dimer kitosan..nikotinamida konfigurasi 1 dan 2 menggunakan basis set RHF/6-31G (d,p). Grafik energi interaksi antara segmen dimer kitosan dengan nikotinamida terhadap jarak sesuai dengan potensial Lennard-Jones (LJ). Menurut potensial LJ, kekuatan tolak menolak mempunyai pangkat duabelas (12) dan kekuatan tarik menarik mempunyai pangkat enam (6). Potensial LJ berbanding terbalik terhadap jarak, sehingga semakin dekat jarak maka interaksi tolak menolak lebih dominan, ditandai dengan energi interaksi yang positif (+) atau energi interaksi yang berada di atas sumbu x, sedangkan semakin jauh jarak interaksi tarik menarik akan lebih dominan ditandai dengan energi interaksi yang negatif (-) atau energi interaksi di bawah sumbu x. Namun, pada jarak tertentu energi interaksi akan mencapai energi paling minimum dimana terjadi interaksi tarik menarik yang lebih kuat dari interaksi pada jarak yang lain antara segmen dimer kitosan dengan nikotinamida, tetapi pada r = tidak terjadi interaksi yang ditunjukkan dengan besar energi interaksi sebesar nol (0). Gambar 5. Grafik energi interaksi segmen dimer kitosan..nikotinamida konfigurasi 1 terhadap jarak interaksi 261
7 Grafik energi interaksi antara segmen dimer kitosan..nikotinamida konfigurasi 1 terhadap jarak menunjukkan pada jarak terdekat (0,655 Å) terjadi tolak menolak yang sangat kuat (E int = 236,531 kj/mol), kemudian turun sampai mencapai jarak energi terendah (E int = -65,254 kj/mol) terjadi interaksi tarik menarik antara segmen dimer kitosan dengan nikotinamida yaitu pada jarak 1,912 Å. Setelah mencapai energi paling minimum dengan semakin besarnya jarak interaksi, energi interaksi semakin mendekati nol (0), hal ini menunjukkan tidak ada interaksi antara kedua molekul tersebut pada jarak yang semakin jauh. Gambar 6. Grafik energi interaksi segmen dimer kitosan..nikotinamida konfigurasi 2 terhadap jarak interaksi Grafik energi interaksi antara segmen dimer kitosan..nikotinamida konfigurasi 2 terhadap jarak menunjukkan pada jarak terdekat (0,617 Å) terjadi tolak menolak yang sangat kuat (E int = 400,226 kj/mol), kemudian turun sampai mencapai jarak energi paling minimum (E int = -57,061 kj/mol), pada titik ini terjadi interaksi tarik menarik antara segmen dimer kitosan dengan nikotinamida yaitu pada jarak 2,117 Å. Pengukuran Efisiensi Enkapsulasi Nikotinamida Efisiensi enkapsulasi nikotinamida diukur dengan menggunakan perbandingan (b/v) kitosan dengan asam asetat (1%) sebesar 20mg/20mL. Perbandingan (b/v) kitosan dengan asam asetat (1%) sebesar 20mg/20mL menunjukkan efisiensi enkapsulasi yang optimum untuk vitamin C (Siahaan dkk., 2012). Gambar 7. Grafik efisiensi enkapsulasi nikotinamida untuk variasi konsentrasi nikotinamida Gambar 7. memperlihatkan EE nikotinamida dengan variasi konsentrasi nikotinamida, terjadi penurunan EE nikotinamida pada konsentrasi nikotinamida 500 ppm menuju ppm, 262
8 tetapi kemudian naik pada konsentrasi ppm ke ppm. Namun, kenaikan dan penurunan efisiensi enkapsulasi tidak begitu signifikan. Hasil yang didapatkan memperlihatkan efisiensi enkapsulasi pada rentang konsentrasi nikotinamida 500 ppm sampai ppm ratarata sebesar 46,83%. Hal ini dapat memberikan gambaran ketika konsentrasi nikotinamida yang ditambahkan semakin besar hanya kurang dari 50 % yang terserap dalam matriks kitosan. Hasil eksperimen untuk variasi konsentrasi nikotinamida memperlihatkan kemampuan kitosan mengenkapsulasi nikotinamida mendekati 50 % atau separuh dari jumlah total nikotinamida. Efisiensi enkapsulasi menunjukkan seberapa efisien kitosan yang digunakan untuk mengenkapsulasi nikotinamida. Semakin besar enfisiensi enkapsulasi, maka semakin baik konsentrasi kitosan yang digunakan untuk mengenkapsulasi nikotinamida. Kesimpulan Energi interaksi segmen dimer kitosan dengan niktinamida konfigurasi 1 sebesar -65,254 kj/mol atau -15,596 kkal/mol dan konfigurasi 2 sebesar -57,061 kj/mol atau -13,638 kkal/mol. Keduannya termasuk dalam ikatan hidrogen kekuatan sedang. Perbedaan energi interaksi kitosan dengan nikotinamida pada konfigurasi 1 dan 2 menjelaskan proses pelepasan berkala nikotinamida dari matriks kitosan. Interaksi pada konfigurasi 2 akan lebih dahulu lepas daripada konfigurasi 1 saat proses pelepasan berkala. Efisiensi enkapsulasi (EE) nikotinamida pada rentang variasi konsentrasi nikotinamida 500 ppm ppm dengan perbandingan (b/v) kitosan dengan asam asetat (1%) 20mg/20mL rata-rata besarnya 46,83%. Daftar Pustaka Alishahi, A., Mirvaghefi, A., Farahmand, H., Shojaosadati, S.A., Dorkoosh, F.A., dan Elsabee, M.Z., 2011, Shelf Life and Delivery Enhancement of Vitamin C Using Chitosan Nanoparticles, Food Chemistry, 126, Amidi, M., Mastrobattista, E., Jiskoot, W., dan Hennink, W.E., 2010, Chitosan-based Delivery Systems for Protein Therapeutics and Antigens, Adv. Drug Deliv. Rev., 62, Dewi, S.K., Windarti, T., dan Siahaan, P., 2011, Kitosan sebagai Bahan Dasar Drug Delivery: Studi Interaksi Molekul Kitosan dengan Vitamin C secara Komputasi Ab Initio dan Eksperimen, Skripsi, Jurusan Kimia UNDIP, Semarang Duncan, R., 2003, The Dawning Era of Polymer Therapeutics, Nat. Rev. Drug Discov., 2, Duncan, R., 2006, Polymer Conjugates for Drug Targeting : From Inspired to Inspiration!, J. Drug Target, 14, Felt, O., Buri, P., dan Gurny, R., 1998, Chitosan : A Unique Polysacharide for Drug Delivery, Drug Dev. Ind. Pharm., 24, Illum, L., 1998, Chitosan and Its Use as A Pharmateutical Excipient, Pharm. Res., 15, Jeffrey, G. A., 1997, An Introduction to Hydrogen Bonding, Oxford University Press, Oxford, New York Kumar, M.N., Muzzarelli, R.A., Muzzarelli, C., Sashiwa, H., dan Domb, A.J., 2004, Chitosan Chemistry and Pharmateutical Perspective, Chem. Rev., 104, Kumar, M., Jaiswal, S., Singh, R., Srivastav, G., Singh, P., Yadav, T.N., dan Yadav, R.A., 2010, Ab initio studies of molecular structures, conformers and vibrational spectra of heterocyclic organics: I. Nicotinamide and its N-oxide, Spectrochimica Acta Part A: Molecular and Biomolecular Spectroscopy, 75, Quiñones, J.P., Szopkob, R., Schmidt, C., dan Covas, C.P., 2011, Novel Drug Delivery Systems: Chitosan Conjugates Covalently Attached to Steroid with Potential Anticancer and Agrochemical Activity, Carbohydrate Polymers, 84, Sampathkumar, S.G., dan Yarema, K.J., 2005, Targeting cancer cells with dendrimers, Chem. Biol., 12,
9 Siahaan, P., Windarti, T., Anam, K., Wibowo, S.A., Suryanto, A., Hasanah, N., Laksitorini, M., dan Siahaan, T.J., 2012, Energy of Interaction of Complex Molecule Chitosan Segment Polycation (A) and TPP Polyanion in Encapsulation Process: Physical Properties Analysis and Calculations by Ab Initio Quantum Mechanics, Proseding Seminar Internasional The 2 nd International Seminar on New Paradigm and Innovation on Natural Sciences and Its Applications, Semarang 4 Oktober 2012 Strebhardt, K., dan Ullrich, A., 2008, Paul Ehrlich s Magic Bullet Concept : 100 Years of Progress, Nat. Rev. Cancer, 8, Torchilin, V., 2008, Antibody-Modified Liposomes for Cancer Chemotherapy, Expert Opin. Drug Deliv, 5, Vasir, J.K., Reddy, M.K., dan Labhasetwar, V.D., 2005, Nanosystems in drug targeting: opportunities and challenges, Curr. Nanosci., 1, Wilson, B., Samanta, M.K., Santhi, K., Kumar, K.P.S., Ramasamy, M., dan Suresh, B., 2010, Chitosan Nanoparticles As A New Delivery System for The Anti-Alzheimer Drug Tacrine, Nanomedicine: Nanotechnology, Biology, and Medicine, 6,
STUDI AB INITIO: STRUKTUR MEMBRAN NATA DE COCO TERSULFONASI
Prosiding Seminar Nasional Volume 02, Nomor 1 ISSN 2443-1109 STUDI AB INITIO: STRUKTUR MEMBRAN NATA DE COCO TERSULFONASI Sitti Rahmawati 1, Cynthia Linaya Radiman 2, Muhamad A. Martoprawiro 3 Universitas
PANDUAN PRAKTIKUM KIMIA TERPADU GRUP IMC (INTERMOLECULAR CHEMISTRY) OLEH : Dr. Parsaoran Siahaan, MS
P a n d u a n P K T G r u p I M C 0 PANDUAN PRAKTIKUM KIMIA TERPADU GRUP IMC (INTERMOLECULAR CHEMISTRY) OLEH : Dr. Parsaoran Siahaan, MS JURUSAN KIMIA FAKULTAS SAINS SAINS DAN MATEMATIKA UNIVERSITAS DIPONEGORO
PERHITUNGAN AB INITIO INTERAKSI ANTARA TRIKALSIUM FOSFAT DAN HIDROKSIAPATIT DENGAN SEGMEN MOLEKUL SELULOSA
PERHITUNGAN AB INITIO INTERAKSI ANTARA TRIKALSIUM FOSFAT DAN HIDROKSIAPATIT DENGAN SEGMEN MOLEKUL SELULOSA Abstrak Komposit selulosa bakterial-kalsium fosfat merupakan material hibrid organik-anorganik
KAJIAN PERUBAHAN UKURAN RONGGA ZEOLIT RHO BERDASARKAN VARIASI RASIO Si/Al DAN VARIASI KATION ALKALI MENGGUNAKAN METODE MEKANIKA MOLEKULER
Jurnal Kimia Mulawarman Volume 14 Nomor 1 November 2016 P-ISSN 1693-5616 Kimia FMIPA Unmul E-ISSN 2476-9258 KAJIAN PERUBAHAN UKURAN RONGGA ZEOLIT RHO BERDASARKAN VARIASI RASIO Si/Al DAN VARIASI KATION
SIMULASI EFEKTIVITAS SENYAWA OBAT ERITROMISIN F DAN 6,7 ANHIDROERITROMISIN F DALAM LAMBUNG MENGGUNAKAN METODE SEMIEMPIRIS AUSTIN MODEL 1 (AM1)
SIMULASI EFEKTIVITAS SENYAWA OBAT ERITROMISIN F DAN 6,7 ANHIDROERITROMISIN F DALAM LAMBUNG MENGGUNAKAN METODE SEMIEMPIRIS AUSTIN MODEL 1 (AM1) Agung Tri Prasetya, M. Alauhdin, Nuni Widiarti Kimia FMIPA
LAPORAN RESMI PAKTIKUM KIMIA KOMPUTASI. Analisis Butana. Oleh : AMRULLAH 13/347361/PA/ Jum at, 4 Maret 2016 Asisten Pembimbing : Wiji Utami
LAPORAN RESMI PAKTIKUM KIMIA KOMPUTASI Analisis Butana Oleh : AMRULLAH 13/347361/PA/15202 Jum at, 4 Maret 2016 Asisten Pembimbing : Wiji Utami Laboratorium Kimia Komputasi Departemen Kimia Fakultas Matematika
PEMODELAN INTERAKSI ETER MAHKOTA BZ15C5 TERHADAP KATION Zn 2+ BERDASARKAN METODE DENSITY FUNCTIONAL THEORY
SEMINAR NASIONAL PENDIDIKAN SAINS Strategi Pengembangan Pembelajaran dan Penelitian Sains untuk Mengasah Keterampilan Abad 21 (Creativity and Universitas Sebelas Maret Surakarta, 26 Oktober 2017 PEMODELAN
TUTORIAL KE-I KIMIA KOMPUTASI. Oleh: Dra. M. Setyorini, M.Si Andrian Saputra, S.Pd., M.Sc
TUTORIAL KE-I KIMIA KOMPUTASI Oleh: Dra. M. Setyorini, M.Si Andrian Saputra, S.Pd., M.Sc I. Pendahuluan NWChem (Northwest Computational Chemistry Package) merupakan salah satu perangkat lunak (software)
PAH akan mengalami degradasi saat terkena suhu tinggi pada analisis dengan GC dan instrumen GC sulit digunakan untuk memisahkan PAH yang berbentuk
BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Poliaromatik hidrokarbon (PAH) adalah golongan senyawa organik yang terdiri atas dua atau lebih molekul cincin aromatik yang disusun dari atom karbon dan hidrogen.
REAKSI DEKOMPOSISI SENYAWA ERITROMISIN F DAN 6,7 ANHIDROERITROMISIN F SUATU KAJIAN MENGGUNAKAN METODE SEMIEMPIRIS AUSTIN MODEL 1 (AM1) ABSTRAK
1 REAKSI DEKMPSISI SENYAWA ERITRMISIN F DAN 6,7 ANHIDRERITRMISIN F SUATU KAJIAN MENGGUNAKAN METDE SEMIEMPIRIS AUSTIN MDEL 1 (AM1) Enokta Hedi Permana 1, Agung Tri Prasetya 2, Kasmui 3 1) Mahasiawa Jurusan
Struktur Molekul:Teori Orbital Molekul
Kimia Fisik III, Struktur Molekul:, Dr. Parsaoran Siahaan, November/Desember 2014, 1 Pokok Bahasan 3 Struktur Molekul:Teori Orbital Molekul Oleh: Dr. Parsaoran Siahaan Pendahuluan: motivasi/review pokok
ESTIMASI pk a dan pk b BERDASARKAN PENDEKATAN KIMIA KOMPUTASI DENGAN METODA SEMIEMPIRIK PM3
ESTIMASI pk a dan pk b BERDASARKAN PENDEKATAN KIMIA KOMPUTASI DENGAN METODA SEMIEMPIRIK PM3 Suwardi Jurusan Pendidikan Kimia, FMIPA UNY Yogyakarta e-mail : [email protected] Abstrak Telah dilakukan pemodelan
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nanopartikel mempunyai kelebihan yaitu dapat menembus ruang-ruang antar sel yang hanya dapat ditembus oleh partikel berukuran koloidal. Kelebihan lainnya adalah adanya
2. Tinjauan Pustaka Sel Bahan Bakar (Fuel Cell)
2. Tinjauan Pustaka 2.1 2.1 Sel Bahan Bakar (Fuel Cell) Sel bahan bakar merupakan salah satu solusi untuk masalah krisis energi. Sampai saat ini, pemakaian sel bahan bakar dalam aktivitas sehari-hari masih
Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam
Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam klorida 0,1 N. Prosedur uji disolusi dalam asam dilakukan dengan cara
4 Hasil dan Pembahasan
4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Pemilihan Metode dan Himpunan Basis Teori Fungsional Kerapatan merupakan suatu metode dalam penyelesaian persamaan Schrödinger dengan menggunakan teorema Kohn-Sham, dengan pendekatan
STUDI SIFAT KOOPERATIF IKATAN HIDROGEN PADA CH 3 CHO.2H 2 O DAN CH 2 ClCHO.2H 2 O MENGGUNAKAN METODE DFT
STUDI SIFAT KOOPERATIF IKATAN HIDROGEN PADA CH 3 CHO.2H 2 O DAN CH 2 ClCHO.2H 2 O MENGGUNAKAN METODE DFT Rahmah Muyassaroh Noor, Yahmin, dan Parlan Universitas Negeri Malang Correspondence Author: [email protected]
Ikatan Kimia. Linda Windia Sundarti
Ikatan Kimia Aturan ktet Unsur yang paling stabil adalah unsur yang termasuk dalam golongan gas mulia. Semua unsur gas mulia di alam ditemukan dalam bentuk gas monoatomik dan tidak ditemukan bersenyawa
J. Ind. Soc. Integ. Chem., 2013, Volume 5, Nomor 2 PERHITUNGAN MOMEN DWIKUTUB MOLEKUL AIR DENGAN TEORI GRUP
PERHITUNGAN MOMEN DWIKUTUB MOLEKUL AIR DENGAN TEORI GRUP Asrial Jurusan Pendidikan MIPA FKIP Universitas Jambi,Kampus Pinang Masak, Jambi, Indonesia e-mail : [email protected]; Telp.: 0741-7007454/081319074907
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kelarutan Ibuprofen dalam Minyak, Surfaktan, dan Kosurfaktan Formulasi Self-nanoemulsifying Drug Delivery System
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kelarutan Ibuprofen dalam Minyak, Surfaktan, dan Kosurfaktan Formulasi Self-nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) terdiri dari minyak, surfaktan, kosurfaktan, dan
PERHITUNGAN MEKANIKA MOLEKUL
Austrian Indonesian Centre (AIC) for Computational Chemistry Jurusan Kimia - FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) KIMIA KOMPUTASI Anatomi Perhitungan Mekanika Molekul l Drs. Iqmal Tahir, M.Si. Austrian-Indonesian
PENDAHULUAN. adalah Timbal (Pb). Timbal merupakan logam berat yang banyak digunakan
1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah pencemaran lingkungan oleh logam berat cukup membahayakan kehidupan. Salah satu logam berbahaya yang menjadi bahan pencemar tersebut adalah Timbal (Pb). Timbal
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk merubah karakter permukaan bentonit dari hidrofilik menjadi hidrofobik, sehingga dapat meningkatkan kinerja kitosan-bentonit
BAB I PENDAHULUAN I.1
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Matahari adalah sumber energi yang sangat besar dan tidak akan pernah habis. Energi sinar matahari yang dipancarkan ke bumi dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan
I. PENDAHULUAN. ditemukan sangat banyak dalam kehidupan sehari-hari, sehingga banyak orang
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Polimer saat ini telah berkembang sangat pesat. Berbagai aplikasi polimer ditemukan sangat banyak dalam kehidupan sehari-hari, sehingga banyak orang yang sudah mengenal
Gambar 2 Penurunan viskositas intrinsik kitosan setelah hidrolisis dengan papain.
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh konsentrasi papain terhadap hidrolisis kitosan Pengaruh papain dalam menghidrolisis kitosan dapat dipelajari secara viskometri. Metode viskometri merupakan salah satu
BIDANG MINAT BIOFISIKA
PENGARUH KONSENTRASI DAN TEMPERATUR LARUTAN TERHADAP KARAKTERISTIK RAPAT ARUS DIFUSI-BEDA TEGANGAN DARI MEMBRAN KITOSAN DENGAN VARIASI MATRIK / PELARUT SKRIPSI BIDANG MINAT BIOFISIKA Angelia Bella Kusumaningtyas
PENDAHULUAN Latar Belakang
PENDAHULUAN Latar Belakang Studi terhadap kitosan telah banyak dilakukan baik dalam bentuk serpih, butiran, membran, maupun gel. Kemampuan kitosan yang diterapkan dalam berbagai bidang industri modern,
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap diazinon, terlebih dahulu disintesis adsorben kitosan-bentonit mengikuti prosedur yang telah teruji (Dimas,
BAB I PENDAHULUAN. Kitosan dihasilkan dari kitin dan mempunyai struktur kimia yang sama
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kitosan dihasilkan dari kitin dan mempunyai struktur kimia yang sama dengan kitin, terdiri dari rantai molekul yang panjang dan berat molekul yang tinggi. Adapun perbedaan
CIRI NANOPARTIKEL KITOSAN DAN PENGARUHNYA PADA UKURAN PARTIKEL DAN EFISIENSI PENYALUTAN KETOPROFEN DWI WAHYONO
CIRI NANOPARTIKEL KITOSAN DAN PENGARUHNYA PADA UKURAN PARTIKEL DAN EFISIENSI PENYALUTAN KETOPROFEN DWI WAHYONO SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2010 PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER
I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Setiap tahun permintaan untuk Drug Delivery System atau sistem
1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap tahun permintaan untuk Drug Delivery System atau sistem penghantaran obat semakin meningkat. Sistem penghantaran obat tersebut dapat diklasifikasikan berdasarkan
SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II
ISBN : 978-602-97522-0-5 PROSEDING SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II Konstribusi Sains Untuk Pengembangan Pendidikan, Biodiversitas dan Metigasi Bencana Pada Daerah Kepulauan SCIENTIFIC COMMITTEE: Prof.
BAB I PENDAHULUAN. Gambar I.1 Struktur molekul kolesterol
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kolesterol merupakan suatu bahan metabolit yang mengandung lemak sterol (waxy steroid) yang ditemukan pada membran sel dan disirkulasikan dalam plasma darah. Kolesterol
I. PENDAHULUAN. Udang dan kepiting merupakan komoditas andal dan bernilai ekonomis
I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Udang dan kepiting merupakan komoditas andal dan bernilai ekonomis sebagai salah satu hasil utama perikanan Indonesia. Menurut Pusat Data Statistik dan Informasi Departemen
4. Hasil dan Pembahasan
4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Isolasi Kitin dan Kitosan Isolasi kitin dan kitosan yang dilakukan pada penelitian ini mengikuti metode isolasi kitin dan kitosan dari kulit udang yaitu meliputi tahap deproteinasi,
4 HASIL DAN PEMBAHASAN
14 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Pembuatan glukosamin hidroklorida (GlcN HCl) pada penelitian ini dilakukan melalui proses hidrolisis pada autoklaf bertekanan 1 atm. Berbeda dengan proses hidrolisis glukosamin
BAB I PENDAHULUAN. Kolesterol adalah suatu molekul lemak di dalam sel yang terdiri atas LDL
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kolesterol adalah suatu molekul lemak di dalam sel yang terdiri atas LDL (low density lipoprotein), HDL (high density lipoprotein), total kolesterol dan trigliserida.
BAB I PENDAHULUAN. Kitin dan kitosan merupakan biopolimer yang secara komersial potensial
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kitin dan kitosan merupakan biopolimer yang secara komersial potensial dalam berbagai bidang dan industri. Kitin dan kitosan merupakan bahan dasar dalam bidang biokimia,
Ikatan Kimia II: VSEPR dan prediksi geometri Molekular, teori ikatan valensi dan Hibridisasi Orbital Atom; teori orbital atom
Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi 2010 dimodifikasi oleh Dr. Indriana Kartini Chapter 3c Ikatan Kimia II: dan prediksi geometri ar, teori ikatan valensi dan
4 Pembahasan. 4.1 Sintesis Resasetofenon
4 Pembahasan 4.1 Sintesis Resasetofenon O HO H 3 C HO ZnCl 2 CH 3 O Gambar 4. 1 Sintesis resasetofenon Pada sintesis resasetofenon dilakukan pengeringan katalis ZnCl 2 terlebih dahulu. Katalis ZnCl 2 merupakan
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Falerin (4,5-dihidroksi-5 -metoksibenzofenon-3-o-glukosida) adalah isolat dari buah mahkota dewa berkerangka benzofenon yang mempunyai aktivitas antiinflamasi. Penelitian
Bahasan. Konsep Dasar. Simbol Lewis. 1. Teori Lewis : Ringkasan
Bahasan Ikatan Kimia I: Konsep Dasar Irwansyah, M.Si Referensi: General Chemistry Principles and Modern Applications Petrucci arwood erring 8 th Edition Teori Lewis 2 Ikatan Kovalen 3 Ikatan Kovalen Polar
Bentuk-Bentuk Molekul
Bentuk-Bentuk Molekul Di bab ini, kita akan mempelajari bagaimana cara mengubah rumus molekul dari suatu senyawa menjadi sebuah rumus struktur senyawa dalam bentuk dua dimensi yang memperlihatkan hubungan
relatif kecil sehingga memudahkan dalam proses pengemasan, penyimpanan dan pengangkutan. Beberapa bentuk sediaan padat dirancang untuk melepaskan
BAB 1 PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat terutama dalam bidang industri farmasi memacu setiap industri farmasi untuk menemukan dan mengembangkan berbagai macam sediaan obat. Dengan didukung
IJCR-Indonesian Journal of Chemical Research p. ISSN: Vol.3 No.1-2, Hal
Molecular Modeling of An Analog Of Curcumin Compounds Pentagamavunon-0 (PGV-0) And Pentagamavunon-1 (PGV-1) Through Computational Chemistry Methods Ab-Initio HF/4-31G Nurcahyo Iman Prakoso a*, Lukman Hakim
DERAJAT DEASETILASI DAN KELARUTAN CHITOSAN YANG BERASAL DARI CHITIN IRRADIASI
SEMIAR ASIAL KIMIA DA PEDIDIKA KIMIA V Kontribusi Kimia dan Pendidikan Kimia dalam Pembangunan Bangsa yang Berkarakter Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan PMIPA FKIP US Surakarta, 6 April 2013 MAKALAH
REAKSI Cr, Cr 2, Mn, Mn 2, Fe, DAN Fe 2 DENGAN F 2, H 2, N 2, DAN O 2 : KAJIAN TEORI FUNGSIONAL KERAPATAN
REAKSI Cr, Cr 2, Mn, Mn 2, Fe, DAN Fe 2 DENGAN F 2, H 2, N 2, DAN O 2 : KAJIAN TEORI FUNGSIONAL KERAPATAN SKRIPSI BERLIN WIJAYA 10500017 PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan
Bab IV asil Penelitian dan Pembahasan IV.1 Isolasi Kitin dari Limbah Udang Sampel limbah udang kering diproses dalam beberapa tahap yaitu penghilangan protein, penghilangan mineral, dan deasetilasi untuk
SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II
ISBN : 978-602-97522-0-5 PROSEDING SEMINAR NASIONAL BASIC SCIENCE II Konstribusi Sains Untuk Pengembangan Pendidikan, Biodiversitas dan Metigasi Bencana Pada Daerah Kepulauan SCIENTIFIC COMMITTEE: Prof.
Yang akan dibahas: 1. Kristal dan Ikatan pada zat Padat 2. Teori Pita Zat Padat
ZAT PADAT Yang akan dibahas: 1. Kristal dan Ikatan pada zat Padat 2. Teori Pita Zat Padat ZAT PADAT Sifat sifat zat padat bergantung pada: Jenis atom penyusunnya Struktur materialnya Berdasarkan struktur
Ikatan Kimia II: VSEPR dan prediksi geometri Molekular, teori ikatan valensi dan Hibridisasi Orbital Atom; teori orbital atom
Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi 2010 dimodifikasi oleh Dr. Indriana Kartini Chapter 3c Ikatan Kimia II: VSEPR dan prediksi geometri Molekular, teori ikatan
Jurnal ILMU DASAR Vol. 10 No : Bagus Rahmat Basuki & I Gusti Made Sanjaya Jurusan Kimia,FMIPA, Universitas Negeri Surabaya
Jurnal ILMU DASAR Vol. 10 No. 1. 2009 : 93 101 93 Sintesis Ikat Silang Kitosan dengan Glutaraldehid serta Identifikasi Gugus Fungsi dan Derajat Deasetilasinya ross-linked hitosan Synthesis Using Glutaraldehyde
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini penggunaan magnetic nanoparticles (MNPs) sebagai perangkat elektronik semakin banyak diminati. Hal ini didasarkan pada keunikan sifat kemagnetan yang dimilikinya.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nanopartikel magnetik adalah partikel yang bersifat magnetik, berukuran dalam kisaran 1 nm sampai 100 nm. Ukuran partikel dalam skala nanometer hingga mikrometer identik
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Paparan sinar matahari dapat memicu berbagai respon biologis seperti sunburn, eritema hingga kanker kulit (Patil et al., 2015). Radiasi UV dari sinar matahari
BAB I PENDAHULUAN. Kitosan merupakan kitin yang dihilangkan gugus asetilnya dan termasuk
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kitosan merupakan kitin yang dihilangkan gugus asetilnya dan termasuk kelompok senyawa polisakarida, dimana gugus asetilnya telah hilang sehingga menyisakan gugus amina
Lampiran 8. Dasar Pengembangan Kisi-Kisi Soal Kimia SwC Kelas XI
Lampiran 8 Dasar Pengembangan Kisi-Kisi Kimia SwC Kelas XI 50 DASAR PENGEMBANGAN KISI-KISI SOAL KIMIA SwC KELAS XI SK-KD dalam Standar Isi, Ujian Nasional Kimia (), SNMPTN (4), UM UGM (4), UMB UNDIP (),
SIMULASI DAN VISUALISASI DINAMIKA MOLEKUL DENGAN MODEL POTENSIAL LENNARD JONES SKRIPSI LILI ANGGRAINI HARAHAP
SIMULASI DAN VISUALISASI DINAMIKA MOLEKUL DENGAN MODEL POTENSIAL LENNARD JONES SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains LILI ANGGRAINI HARAHAP 040801016
PENGGUNAAN METODE FTIR (FOURIER TRANSFORM INFRA RED) UNTUK STUDI ANALISIS GUGUS FUNGSI SAMPEL MINYAK GORENG DENGAN PERLAKUAN VARIASI PEMANASAN
PENGGUNAAN METODE FTIR (FOURIER TRANSFORM INFRA RED) UNTUK STUDI ANALISIS GUGUS FUNGSI SAMPEL MINYAK GORENG DENGAN PERLAKUAN VARIASI PEMANASAN oleh : Siti Cholifah /J2D 004 194 Jurusan Fisika FMIPA UNDIP
PENGARUH SUHU DAN WAKTU REAKSI PADA PEMBUATAN KITOSAN DARI TULANG SOTONG (Sepia officinalis)
Jurnal Teknologi Kimia Unimal 5 : 2 (November 2016) 37-44 Jurnal Teknologi Kimia Unimal http://ft.unimal.ac.id/teknik_kimia/jurnal Jurnal Teknologi Kimia Unimal PENGARUH SUHU DAN WAKTU REAKSI PADA PEMBUATAN
PERCOBAAN III KONFORMASI 1,3-BUTADIENA
PERCOBAAN III KONFORMASI 1,3-BUTADIENA Tujuan : Untuk mendapatkan geometri yang stabil untuk setiap energi minimum dari konformer 1,3-butadiena menggu-nakan perhitungan semi empiris AM1. Latar belakang
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
ISI BAB I 1. Pendahuluan 2. Struktur Atom 3. Elektronegativitas 4. Ikatan Ionik 5. Ikatan Kovalen 6. Struktur Lewis 7. Polaritas Ikatan 8. Sifat-Sifat Senyawa Kovalen TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS Setelah
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Ribosome Inactivating Protein (RIP) merupakan kelompok enzim tanaman
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ribosome Inactivating Protein (RIP) merupakan kelompok enzim tanaman yang memiliki kemampuan untuk menonaktifkan ribosom dengan memodifikasi 28S rrna melalui aktivitas
I. PENDAHULUAN. sehingga memiliki umur simpan yang relatif pendek. Makanan dapat. dikatakan rusak atau busuk ketika terjadi perubahan-perubahan yang
I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara umum, bahan pangan memiliki sifat mudah rusak (perishable), sehingga memiliki umur simpan yang relatif pendek. Makanan dapat dikatakan rusak atau busuk ketika terjadi
Simulasi Dinamika Molekular Proses Adhesi pada Model Nanopartikel 2D
SK004 Prosiding Seminar Kontribusi Fisika 2011 (SKF 2011) Simulasi Dinamika Molekular Proses Adhesi pada Model Nanopartikel 2D Fadjar Fathurrahman*, Suprijadi Haryono Abstrak Dalam makalah ini akan dilaporkan
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Berdasarkan penelitian diperoleh hasil kadar ikan kembung yang diawetkan dengan garam dan khitosan ditunjukkan pada tabel 4.1. Tabel 4.1 Hasil
BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Limbah dari berbagai industri mengandung zat pewarna berbahaya, yang harus dihilangkan untuk menjaga kualitas lingkungan. Limbah zat warna, timbul sebagai akibat langsung
Bab II Bentuk Molekul dan Gaya Antarmolekul
Bab II Bentuk Molekul dan Gaya Antarmolekul Sumber: oltzclaw, General Chemistry with Qualitative Analysis Model struktur DNA pada komputer ada yang berbentuk trigonal piramida, dan trigonal planar. TUJUAN
BAB I PENDAHULUAN. dalam bidang perindustrian. Penggunaan logam krombiasanya terdapat pada industri
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Logam krom (Cr) merupakan salah satu logam berat yang sering digunakan dalam bidang perindustrian. Penggunaan logam krombiasanya terdapat pada industri pelapisan logam,
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN. Dalam pengembangan strategi pembelajaran intertekstualitas pada materi
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN Dalam pengembangan strategi pembelajaran intertekstualitas pada materi ikatan kimia ini dilakukan beberapa tahap kerja. Tahapan kerja tersebut meliputi analisis standar kompetensi
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
53 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Analisis Mutu Kitosan Hasil analisis proksimat kitosan yang dihasilkan dari limbah kulit udang tercantum pada Tabel 2 yang merupakan rata-rata dari dua kali ulangan.
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Senyawa polifenol merupakan senyawa yang mempunyai peran penting di bidang kesehatan. Senyawa ini telah banyak digunakan untuk mencegah dan mengobati berbagai macam
Sintesis dan Enkapsulasi Partikel Nanomagnetik Nikel dengan Alginat-Kitosan dan Senyawa Aktif Mangosteen
Research and Development on Nanotechnology in Indonesia, Vol.1, No.2, 2014, pp. 58-63 ISSN : 2356-3303 Sintesis dan Enkapsulasi Partikel Nanomagnetik Nikel dengan Alginat-Kitosan dan Senyawa Aktif Mangosteen
RINGKASAN. SINTESIS, KARAKTERISASI, MEKANISME DAN UJI PREKLINIK NANOGOLD SEBAGAI MATERIAL ESENSIAL DALAM KOSMETIK ANTI AGING Titik Taufikurohmah
RINGKASAN SINTESIS, KARAKTERISASI, MEKANISME DAN UJI PREKLINIK NANOGOLD SEBAGAI MATERIAL ESENSIAL DALAM KOSMETIK ANTI AGING Titik Taufikurohmah Kebutuhan kosmetik saat ini tidak terbatas pada kosmetik
Ikatan yang terjadi antara atom O dengan O membentuk molekul O 2
Ikatan Kovalen adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian pasangan elektron secara bersama oleh 2 atom yang berikatan. Ikatan kovalen terjadi akibat ketidakmampuan salah 1 atom yang akan berikatan untuk
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sintesis dan Karakterisasi Karboksimetil Kitosan Spektrum FT-IR kitosan yang digunakan untuk mensintesis karboksimetil kitosan (KMK) dapat dilihat pada Gambar 8 dan terlihat
BAB 3 GEOMETRI DAN KEPOLARAN MOLEKUL
GEOMETRI DAN KEPOLARAN MOLEKUL 3.1 PENGANTAR MENGENAI BENTUK MOLEKUL Bentuk molekul mengontrol sifat-sifat fisik maupun kimia molekul. Geometri elektron dan bentuk molekul ditentukan oleh orientasi semua
SEMINAR NASIONAL ke 8 Tahun 2013 : Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi
UPAYA PENINGKATAN KELARUTAN KITOSAN DALAM ASAM ASETAT DENGAN MELAKUKAN PERLAKUAN AWAL PADA PENGOLAHAN LIMBAH KULIT UDANG MENJADI KITOSAN Ani Purwanti 1, Muhammad Yusuf 2 1 Jurusan Teknik Kimia, Fakultas
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
1BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Membran adalah sebuah penghalang selektif antara dua fase. Membran memiliki ketebalan yang berbeda- beda, ada yang tebal dan ada juga yang tipis. Ditinjau dari bahannya,
KATA PENGANTAR. berjudul PENGGUNAAN BIOPOLIMER POLI(3-HIDROKSIBUTIRAT) SEBAGAI PENYALUT DALAM FORMULASI MIKROKAPSUL
KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini yang berjudul PENGGUNAAN BIOPOLIMER POLI(3-HIDROKSIBUTIRAT)
BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hidrogel yang terbuat dari polisakarida alami sudah secara luas di teliti dalam bidang farmasi dan kesehatan, seperti rekayasa jaringan, penghantaran obat, imobilisasi
IKATAN KIMIA BAB 3. Pada pelajaran bab tiga ini akan dipelajari tentang ikatan ion, ikatan kovalen, dan ikatan logam.
BAB 3 IKATAN KIMIA Gambar 3.1 Kisi Kristal Senyawa NaCl. Sumber: amparan Dunia Ilmu Time life Pada pelajaran bab tiga ini akan dipelajari tentang ikatan ion, ikatan kovalen, dan ikatan logam. Ikatan Kimia
PENENTUAN RUMUS ION KOMPLEKS BESI DENGAN ASAM SALISILAT
PENENTUAN RUMUS ION KOMPLEKS BESI DENGAN ASAM SALISILAT Desi Eka Martuti, Suci Amalsari, Siti Nurul Handini., Nurul Aini Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jenderal
Prediksi Ikatan Molekular Kemenyan Jawa dan Adas Bintang terhadap Mutase Korismat Mycobacterium tuberculosis (2fp2, 3st6)
Prediksi Ikatan Molekular Kemenyan Jawa dan Adas Bintang terhadap Mutase Korismat Mycobacterium tuberculosis (2fp2, 3st6) Rani Wulandari 1, Broto Santoso 2 Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta
RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER. Mata Kuliah : KIMIA KOMPUTASI Semester: VI (ENAM) sks: 3 Kode: D
FM-0-AKD-05 Rektor: (024)850808 Fax (024)8508082, Purek I: (024) 850800 RENCANA PEMBELAJARAN SEMESTER dari 2 29 Februari 206 Mata Kuliah : KIMIA KOMPUTASI Semester: VI (ENAM) sks: 3 Kode: D34047 Program
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Permasalahan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mendorong pesatnya perkembangan di berbagai sektor kehidupan manusia terutama sektor industri. Perkembangan
PEMBUATAN KHITOSAN DARI KULIT UDANG UNTUK MENGADSORBSI LOGAM KROM (Cr 6+ ) DAN TEMBAGA (Cu)
Reaktor, Vol. 11 No.2, Desember 27, Hal. : 86- PEMBUATAN KHITOSAN DARI KULIT UDANG UNTUK MENGADSORBSI LOGAM KROM (Cr 6+ ) DAN TEMBAGA (Cu) K. Haryani, Hargono dan C.S. Budiyati *) Abstrak Khitosan adalah
I.PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi yang pesat dalam dua dekade terakhir ini telah
I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan teknologi yang pesat dalam dua dekade terakhir ini telah membawa pengaruh yang sangat luas dalam berbagai kehidupan manusia terutama dalam bidang ilmu sains
TINGKATAN KUALITAS KITOSAN HASIL MODIFIKASI PROSES PRODUKSI. Abstrak
TINGKATAN KUALITAS KITOSAN HASIL MODIFIKASI PROSES PRODUKSI Pipih suptijah* ) Abstrak Kitosan adalah turunan dari kitin yang merupakan polimer alam terdapat pada karapas/ limbah udang sekitar 10 % - 25%.
Gambar 4.1 Hasil Formulasi Nanopartikel Polimer PLGA Sebagai Pembawa Deksametason Natrium Fosfat.
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Organoleptis Nanopartikel Polimer PLGA Uji organoleptis dilakukan dengan mengamati warna, bau, dan bentuk nanopartikel PLGA pembawa deksametason natrium fosfat. Uji organoleptis
KIMIA KOMPUTASI Pengantar Konsep Kimia i Komputasi
Austrian Indonesian Centre (AIC) for Computational Chemistry Jurusan Kimia - FMIPA Universitas Gadjah Mada (UGM) KIMIA KOMPUTASI Pengantar Konsep Kimia i Komputasi Drs. Iqmal Tahir, M.Si. Austrian-Indonesian
PENDAHULUAN BAB I. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nanofiber merupakan fiber (serat) berukuran submikron hingga skala nanometer. Sebagai bidang riset yang baru, teknologi nanofiber memiliki potensi aplikasi sebagai
Pengaruh Pelapisan Membran Kitosan Pada Benih Jagung Terhadap Sifat Water Absorption dan Proses Pembusukan
Pengaruh Pelapisan Membran Kitosan Pada Benih Jagung Terhadap Sifat Water Absorption dan Proses Pembusukan Windy Ayu Lestari 1, Ozi Adi Saputra 1,*, Desi Suci Handayani, Marta Nauqinida 1, Tomy Setyadianto
