papah,.da Hen, kakak-kakak

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "papah,.da Hen, kakak-kakak"

Transkripsi

1 Usaha Manusia Bermacam-macam Yang Terpenting Adalah Mencari Keridhaan Allah ( QS A-Lail ) Skripsi ini kupersembahkan kehadapan mamah, papah,.da Hen, kakak-kakak serta keponakan-keponakan tercinta

2 PENGARUH BERBAGA PERli\KUAHcAWAl TERHADAP PENGElUARAN DARAH DAN PEMBUSUKAN KARKAS AYAM BROLER Oleh HER LS YULSTANA BARA B FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN NSTTUT PERTANAN BOGOR 1 988

3 RNGKASAN HERLS YULSTANA BARA. Pengaruh Berbagai Perlakuan Awal Terhadap Pengeluaran Darah dan Pembusukan Karkas Ayam Broiler. Dibawah bimbingan Dr. Emir Alkissah Siregar SKM. Tujuam umum dari penelitian ini adalah untuk membedakan karkas dari ketiga macam perlakuan. Grup pertama adalah kelompok ayam yang dipotong tanpa diberi perlakuan awaj. Grup ke-dua adalah kelompok ayam yang dipotong setelah diberi perlakuan awal berupa derita cekaman (stress). Grup ke-tiga adalah kelompok ayam yang diberi perlakuan strangulasi (pencekikan). Tujuan khusus dalam penelitian ini antara lain; Yang pertama untuk mempelajari hubungan jumlah pengeluaran darah akibat perbedaan perlakuan antara grup pertama dan ke-dua. Yang kedua untuk mempelajari hubungan antara ketiga jenis perlakuan tersebut terhadap kecepatan pembusukan karkas dan mengamati beberapa perubahan organoleptisnya. Data yang digunakan dalam penelitian ini didapat dari hasil penelitian selama 3 hari yaitu pada tanggal 16, 18 dan 20 Agustus 1987, di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner Jurusan lmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner. Penelitian dilakukan terhadap 3 grup ayam. Setiap grup terdiri dari 5 ekor ayam dari strain, jenis kelamin, usia dan berat badan yang relatif sarna. Pemotongan pada grup pertama dan kedua pada V. Jugularis di bawah rahang tanpa memotong batang tenggorok dan oesophagus, sesuai dengan kaidah slam.

4 Penampungan darah hanya dilakukan pada grup pertama ii dan ke-dua, grup ke-tiga tidak memungkinkan keluarnya darah. Per end am an dari ketiga grup tersebut pada air bersuhu 55 C selama detik. Pencabutan bulu masing-masing selama 15 menit dan eviserasi selama 3 menit. Otot yang digunakan dalam penelitian ini adalah otot bagian kaki yang membungkus os femur dan os tibiotarsus, baik untuk uji pembusukan maupun pengukuran ph. Pada karkas ayam grup ke-tiga beberapa saat setelah pemotongan otot berwarna merah kecoklatan dan terdapat bercak-bercak merah pada otot maupun di bawah kulit, kulit berwarna kemerahan. ke-dua menunjukan warna kuning kemerahan pada otot dan kulit coklat kemerahan serta terdapat bercak merili pada otot Grup warna dan di bawah kulit. Pada grup pertama warna otot kuning dan warna kulit kuning-merah muda. Pengeluaran darah antara grup pertama dan ke-dua menunjukan perbedaan yang nyata dengan menggunakan t-tes, pada taraf pengujian.( = 0,05 dimana t hitung = 3,4506 dan t tabel = 2,3060. Perubahan ph ternyata tidak ikut terpengaruh akibat macam perlakuan tersebut selama 16 jam waktu pengamatan, ketiga tetapi menunjukan hubungan keeratan antara penurunan ph dengan waktu pengamatan. Dari hasil pene1itian dengan menggunakan anajisa secara statistik deskriptif, ternyata ayam dari grup ke-tiga mengalami pembusukan pada jam ke-8 dan jam ke-9 pos mortem sebanyak 80 % dari 5 ekor ayam dimana ph sebesar 6,04 dan 5,82. Grup ke-dua

5 iii menga1ami pembusukan pada jam ke-8 pos mortem sebanyak 40 %. jam ke-9 pos mortem sebanyak 60 % dari 5 ekor ayam dim ana ph 6.16 dan Permu1aan pembusukan grup pertama pada jam ke-12 dan ke- 13 pos mortem sebanyak 60 % dari 5 ekor ayam dimana plf ada1ah 5.88 dan Rata-rata berat karkas dan jeroan dari ketiga grup terse but berbeda nyata dengan menggunakan uji Chi-Kuadrat dimana X 2 hitung = dan X 2 tabel = 5.99 pada taraf pengujian d... = Berat karkas dan jeroan grup ke-tiga lebih besar dibandingkan grup ke-dua dan grup pertama. Berat karkas dan jeroan grup ke-dua 1ebih besar daripada grup pertama.

6 PENGARUH BERBAGA PERLAKUAN AWAL TERHADAP PENGELUARAN DARAH DAN PEMBUSUKAN KARKAS AYAM BROLER OLEH HERLS YULSTANA BARA B Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Dokter Hewan pada Fakultas Kedokteran Hewan nstitut Pertanian Bogor FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN NSTTUT PERTANAN BOGOR 1988

7 Judul Tulisan Nama Mahasiswa Nomor Pokok Fakultas Pengaruh Berbagai Perlakuan Awal Pengeluaran Darah dan Pembusukan Ayam Broiler Herlis Yulistiana Bara B Kedokteran Hewan terhadap Karkas Menyetujui ~ J:!~j;3E~_~_~~~lL~_~~~ Pembimbing Disetujui tang gal

8 RWAYAT HDUP Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 7 Juli 1964, dari ibu yang bernama Annie Heryanie dan bapak yang bernama Bachtiar- Rachman. Penulis adalah anak ke-lima dari lima bersaudara. Pendidikan yang pernah diterima adalah menamatkan SD pada tahun 1976 di SD Mampang Prapatan Pagi Jakarta Selatan. Setelah itu mep.amatkan SMP pada tahun 1980 di SMP Negeri 43 Jakarta Selatan. Menamatkan SMA pada tahun 1983 di SMA Negeri 3 Jakarta Se1atan. Pada tahun 1983 penulis diterima di nstitut Pertanian Bogor me1alui jalur Proyek Perintis, pada tahun 1984 diterima di Fakultas Kedokteran Hewan, nstitut Pertanian Bogor. Sarjana Kedokteran Hewan diselesaikan pada tang gal 14 Juli 1987.

9 KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan taufik dan hidayah-nya maka penulis berhasil menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yaitu : Bapak Dr. Emir Alkissah Siregar SKM selaku dosen pembimbing yang banyak memberikan pengarahan dan sumbangan pemikiran. Staf dosen Kesehatan Masyarakat Veteriner yang turut menyumbangkan pemikir!lll. bu Eha dan Bapak Rohim yang turut membantu kelancaran jalannya penelitian. Baudara Dewa yang membantu dalam menganalisa data. Da Hen yang begitu banyak memberi bantuan baik material maupun spiritual selama menyelesaikan penulisan ini. Terutama kepada kedua orang tuaku, A'en, Kak Lyn, Kak Lya, Kak Ade, Mas Parjo, 'Mba Atmi, Bung Nirwan beserta keponakankeponakan tercinta. Tanpa mereka penuis tidak yakin dapat menyelesaikan tugas ini. Akhirnya penuis menyadari bahwa tuisan ini jauh dari sempurna baik dari segi isi maupun dalam penyajiannya. Oleh karena itu penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran dari pembaca.

10 Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat dan sumbangan pemikiran kepada pembaca. viii Bogor, Juli 1988 Penulis

11 DAFTAR ls KATA PENGANTAR... DAFT AR ls... DAFTAR LAMPRAN.... Halarnan vii ix xi DAFTAR TABEL DAFTAR GAM BAR.... PENDAHULUAN... Latar Belakang... Maksud dan Tujuan Penelitian... Kegunaan Penelitian... TNJAUAN PUSTAKA... Ayam Anatorni Peranan Daging Ayarn dalarn Mernenuhi Kebutuhan Kon- xiii.xiv sumsi Masyarakat Komp osisi Kimia Daging Ayarn 7 Keadaan ph Pos Mprtern Daging Ayarn 9 Kondisi Pembusukan Daging Ayarn 13 BAHAN TEMP AT DAN MET ODE PENELTAN 16 Bahan Penelitian... Ternpat dan Lama Penelitian... Metode Penelitian... Pengurnpu1an dan Analisis Data... HASL DAN PEMBAHASAN

12 KESMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran,..... DAFTAR PUSTAKA LAMPRAN

13 DAFTAR LAMPRAN Lampiran Halaman Teks 1. Uji Chi-Kuadrat terhadap Rata-rata Berat Karkas dan Jeroan dari Kelompok Ayam yang Dipotong Tanpa Perlakuan Awal. Kelompok Ayam yang Dib~ ri Perlakuan Awal Berupa Derita Cekaman (stress) serta Kelompok Ayam yang Diberi Perlakuan Strangulasi (pencekikan) Uji t terhadap Rata-rata Pengeluaran Darah dari Kelompok Ayam yang Dipotong Tanpa Perlakuan Awal dengan Kelompok Ayam yang Diberi Perlak',! an Awal Berupa Derita Cekaman (stress) Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Pertama tee hadap Ketiga Macam Perlakuan Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Kedua terge dap Ketiga Macam Perlakuan Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Ketiga terhe clap Ketiga Macam Perlakuan... '" Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Keempat terhadap Ketiga Macam Per lakuan Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Kelima terhaclap Ketiga Macam Perlakuan Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Keenam terh e dap Ketiga Macam Perlakuan Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Ketujuh terhadap Ketiga Macam Perlakuan Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Kedelapan terhadap Ketiga Macam Perlakuan Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Kesembilan terhadapa Ketiga Macam Perlakuan. " Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Kesepuluh terhadap Ketiga Macam Perlakuan Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Kesebelas terhadap Ketiga Macam Perlakuan 48

14 14. Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Kedua belas terhadap Ketiga Macam Perlakuan Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Ketiga belas terhadap Ketiga Macam Perlakuan Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Keempat belas terhadap Ketiga Macam Perlakuan Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Kelima belas terhadap Ketiga Macam Perlakuan Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Keenam belas terhadap Ketiga Macam Perlakuan.., Analisa Regresi Berindeks dari Perubahan ph Kelompok Ayam yang Dipotong Tanpa Perlakuan Awal dengan Waktu Pengamatan..., Analisa Regresi Berindeks dari Perubahan ph Kelompok Ayam yang Dipotong dengan Perlakuan Awal Berupa Derita Cekaman (stress) dengan Waktu Pengamatan Analisa Regresi Berindeks dari Perubahan ph Kelompok Ayam yang Diberi Perlakuan Strangulasi (pencekikan) Grafik ph dalam 16 Jam Waktu~Pengamatan pada Kelompok' Ayam yang Dipotong Tal).pa Diberi P.erlakuan Awal Grafik ph dalam 16 Jam Waktu Pengamatan pada Kelompok Ayam yang Dipotong Setelah Diberi Perlakuan Awal Berupa Derita Cekaman (stress) Grafik ph dalam 16 Jam Waktu Pengamatan pada Kelompok Ayam yang Diberi Perlakuan Strangulasi (pencekikan) Prosentase Timbulnya Tanda (-), (±) dan (+) pada Reaksi Postma dari Kelompok Ayam yang Dipotong Tanpa Perlakuan AWal Prosentase Timbulnya Tanda (-), (±) dan (+) pada Reaksi Postma dari Kelompok Ayam yang Dipotong Setelah Diberi Perlakuan AWal Berupa Derita Cekaman (stress) Prosentase Timbulnya Tanda (-), (±) dan (+) pada Reaksi Postma dari Kelompok Ayam yang Diberi Perlakuan Strangulasi (pencekikan) 58 xii

15 28. t-tes untuk Menguji Sebaran Normal Unitunit Percobaan xiii

16 Tabel DAFT AR T ABEL Teks Gejala Kebusukan pada Permukaan Daging yang Disebabkan oleh Berbagai Mikroorganisma... Pemeriksaan Ante Mortem pada 15 Ekor Ayam dengan Tiga Perlakuan.....'..... Proses Pemotongan dan Penyiapan Karkas Ayam Hasil Pemeriksaan Pos Mortem pada Karkas Ayam Halaman J 26 )/~ 5. Pengukuran ph Pos Mortem selama 16 Jam Pengamatan Hasil Uji Permulaan Pembusukan dengan Reaksi Postma

17 DAFT AR GAM BAR Gambar Halaman Teks Konsentrasi Glikogen Pos Mortem pada Kelompok Ayam yang Dianastesi dengan Pentobarbital, dengan Menggunakan Pemingsanan Listrik dan Tag pa Anastesi dan Pemingsanan.... Keadaan ph Pos Mo rtem dari Otot Dada Daging Ayam yang Diberi Perlakuan Pemingsanan dan Tanpa Pemingsanan pada 20 Menit dan 24 Jam Pos Mortem Pemotongan pada Leher Ayam _ Otot Bagian kaki Ayam Broiler Dilihat dari Bagi an Lateral dan Superfisial ,:- Grafik ph dalam 16 Jam Pengamatan dari Tiga Perlakuan

18 PENDAHULUAN!;E-.!!!:!:_!?_el!!:~E-EK Semakin majunya rakyat ndonesia, juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya peningkatan gizi yang dikonsumsi sehari-hari. ni mengakibatkan semakin tingginya konsumsi sebagai produk peternakan. protein hewani Ternak ayam merupakan komoditi yang paling 1uas penyebarannya di ndonesia. Karena se1ain mudah pemeliharannya dan pengangkutannya, harganya re1atif terjangkau dibandingkan dengan komoditi ternak 1ainnya serta nilai gizinya tidak ka1ah dengan ternak 1ainnya. Dirjen Peternakan (1987) me1aporkan di ndonesia produksi daging unggas dari tahun ke tahun menunjukan peningkatan. Pada tahun 1986 produksi daging unggas sebesar ton yang merupakan 41,53 % dari kese1uruhan produksi daging. Drh Soehadji da1am "Poultry ndonesia" (1988) mengatakan popu1asi ayam broiler pada tahun 1987 sebesar ekor. Dengan tingginya permintaan ternak ayam, produsenpun meningkatkan penyediaan ayam potong. Diduga ada beberapa cara pemotongan yang dilakukan produsen tetapi sayangnya tidak semua berakibat baik bagi konsumen. Dari cara pemotongan yang terjadi dapat digo1ongkan sebagai berikut, ayam yang dipotong dengan kaidah slam yaitu dengan menggunakan pisau yang sesuai tajam untuk mengurangi rasa sakit, ayam yang dipotong dengan kondisi abnormal misa1nya pada hewan yang sakit karena dipengaruhi oleh

19 2 kondisi lokal (Miller, 1963) maupun ayam yang telah lebih dahulu mati tetapi tetap diperjual belikan untu konsumsi masyarakat (ayamduren). Berangkat dari situasi terse but dilakukan penelitian terhadap 3 grup ayam antara lain. grup pertama adalah kelompok ayam dipotong tanpa perlakuan awal. grup ke-dua adalah kelompok yang ayam.yang dipotong setelah diberi perlakuan awal berupa derita cekaman (stress) dan grup ke-tiga adalah kelornpok ayam yang diberi perlakuan strangulasi (pencekikan). Penelitian dilakukan terhadap perbedaan karkas dari ketiga macam perlakuan tersebut. Selain itu dilakukan penelitian ternadap pengeluaran volume daran. perubahan ph, pengukuran berat karkas yang dibandingkan dengan berat badan ayam hidup, kecepatan pembusukan serta pengamatan terhadap perubahan organoleptisnya. ~~_~~~q_g~p ~~i~~~_~~p~li~~g_ Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk membedakan karkas dari ketiga macam perlakuan. Tujuan khusus yang pertama adalah untuk mempelajari hubungan jumlah pengeluaran darah akibat perbedaan perlakuan, yaitu antara kelompok ayam yang di potong tanpa perlakuan awal dengan kelompok ayam yang dipotong setelah diberi perlakuan awal berupa derita cekaman (stress). Yang ke-dua adalah untuk mempelajari hubungan antara ketiga jenis perlakuan terhadap kecepatan pembusukan serta mengamati beberapa perubahan organoleptisnya. Aspek lain seperti pengaruh sanitasi serta pendinginan belum dapat dilakukan dalam penelitian ini. karena waktu dan dana yang terbatas.

20 3 HasH penelitian ini merupakan suatu sumbangan untuk informasi dasar dalam proses penyediaan daging ayam konsumsi masyarakat. sebagai bahan Bermanfaat bagi peneliti lain untuk mempelajari aspek lainnya yang belum dapat dilakukan dalam penelitian ini. Sebagai latihan dalam melakukan penelitian.

21 TNJAUAN PUSTAKA Ayam merupakan salah satu klas atau grup yang esensial dari unggas ( poultry ) dengan karakteristik fisik yang sarna. Karakteristik fisik diasosiasikan pada umur dan seks ( Miller, Unggas dalam pengertian umum adalah termasuk semua 1963) burungburung domestik yang digunakan sebagai konsumsi manusia (Winton dan Winton, 1949). Sedangkan ayam broiler yang digunakan seba - gai konsumsi masyarakat sehari-hari adalah ayam muda, biasanya di bawah usia 16 minggu baik berjenis kelamin jantan ataupun betina (Miller, 1963). Anatomi Ayam broiler mempunyai struktur anatomi kulit yang tipis dan berwarna putih sampai kuning kemerahan. Permukaan kulit ditutupi oleh bulu-bulu yang berasal dari folikel dalam kulit. Ada beberapa jenis bulu, dari bulu yang halus dan juga yang berkesan lua::us sampai rambut yang mirip bulu yang mana lebih banyak terdapat pada ayam tua (Bremner, 1977). Struktur tulang dari daerah kaki terdiri dari tulang femur yang agak besar, tibiotarsus dan fibula yang tipis, bersama-sama membentuk suatu daerah yang disebut drumstick, kemudian tarso - metatarsal atau tulang kering dan jari-jari. Daerah patella mempunyai hubungan dengan bagian distal os femur. Hubungan 'antara tibiotarsus dengan tarsometatarsus dikenal sebagai persendian panggul. Daerah leher yang fleksibel terdiri dari vert"bra",-

22 5 cervicajis. Daerah dada hanya terdiri dari 4 vertebrae thoracajis yang aktif dan sisanya menjadi satu. Persatuan synsacrum pada daerah sacrum. Daerah caudal vertebrae yang terdiri dari daerah bebas dan ekor atau pygostile dibentuk dari persatuan caudal vertebrae terminal (Bremner, 1977). Tulang rusuk terdiri dari 2 bagian, meskipun kedua bagian tersebut tidak selalu ada. pertama dari tulang rusuk vertebrae bersambung dengan Bagian tulang belakang dan bagian kedua adalah tulang rusuk sternal yang menempel dengan sternum dan bersatu dengan tulang rusuk vertebrae sternum (tulang dada) menutupi bagian bawah tubuh dan merupakan salah satu tulang yang besar dalam tubuh (Bremner, 1977). Sistem muskulaturnya terbagi menjadi 2 tipe, yaitu serabut otot putih yang lebih banyak terdapat pada daging dada dan serabut otot merah yang lebih banyak pada daerah kaki. Daerah kaki lebih banyak dalam menyediakan energi karen a tugasnya sebagai basis dari berat badan dan mampu lebih lama dalam melakukan aktivitas daripada tipe serabut otot putih (Bremner, 1977). otot pectoral yang mempunyai daerah yang sangat luas, Pada terbagi lagi menjadi 2 tipe, yaltu otot serabut besar dan otot serabut kecil. Otot serabut besar mempunyai warna cerah, otot serabut kedl mempunyai warna lebih gelap (Wilson, 1975). Otot pectoral meru - pakan separuh berat dari total berat muskulatur. Fungsi dari otot pectoral adalah mendepres sayap untuk dapat terbang. Otot Supracoracoid yang berasal dari sayap, tumbuh lebih kecil dan ditutupi oleh otot pectoral (Wilson, 1975).

23 6 r~r2p_~~_~~gi~g_!l~~~_p_<;!2~ ~~~~1'_~~L_~~2E~EP_~~_~9P3~~~~_~~~Y2r2~~j Daging ayam adalah makanan yang baik yang dapat menolong kita mencapai kesehatan dan vitalitas yang optimal. Daging ayam merupakan makanan ideal bagi bayi, anal-anak, remaja, orang dewasa, orang tua dan orang yang baru sembuh dari sakit (convalescent) untuk mengontrol berat badannya (Mountney, 1966). Banyak orang menyukai daging ayam karena terdiri dari daging yang empuk, lembut serta lentur, tekstur kulitnya basah dan tulang rawan dadanya bersifat fleksibel (Miller, 1963). Keempukan daging dipengaruhi oleh aktivitas enzim sekitar 25 macam dalam fermentasi. Kerja enzim pada protein, karbohidrat dan lemak daging dengan cara menghancurkan jaringan ikat menjadi bentuk yang berkonsistensi seperti gelatin. Proses ini membuat daging menjadi empuk dan juga mempengaruhi rasa (Ashbrook, 1970). Raskopf (1966) menyatakan bahwa daging ayam banyak dikonsumsi oleh suatu keluarga karena faktor-faktor sebagai berikut, varietas ayam broiler yang ada, bentuk-bentuk produksinya, harga yang relatif terjangkau kaitannya dengan pendapatan keluarga, besar keluarga, keefektifan pembekuan, adanya freezer di rumah-rumah, berat badan ayam broiler, pengetahuan penjual dan daerah temp at tinggal. Keuntungan lainnya adalah selain otot, jeroan ayampun dapat dimakan misalnya, hati, jantung, gizzard dan lain-lain yang juga mempunyai nilai nutrisi yang tinggi.

24 7 ~.9_l12E~~~~LLCjE'j2-_Q'!Ki...nJi._~y_a_'!'. Menurut analisa dari Mountney (1966) anak ayam broiler mem - punyai kadar air pada ototnya sebesar 71 %, ayam betina 56 %, ayam untuk dipanggang (roaster) 66 %. Karkas ayam muda mempunyai kadar air yang lebih besar dibandingkan karkas ayam tua. umum otot hewan mempunyai kadar air sebesar 75 % (Smith Secara dan Walters, 1967). Daging ayam mempunyai nilai kalori yang rendah, baik digunakan sebagai bahan makanan bagi orang-orang yang melakukan L. kontrol diet, convalescent dan orang yang tidak aktif secara fisiko Nilai kalori ayam broiler sebesar 151 kalori/loo gram daging. Sebagai perbandingan nilai kalori pada unggas lain adalah; pada ayam untuk dipanggang (roaster) 200 kalori/oo gram daging, ayam betina 302 kalori/loo gram daging, pada kalkun dengan kegemukan sedang 268 kalori/oo gram daging (Mountney, 1966). Daging ayam berfungsi sebagai sumber protein yang baik, kualitas proteinnyatinggi sehingga mudah untuk dicerna dan berisi asam amino esensial yangsangat dibutuhkan dalam makanan manusia (Mountney, 1966). Protein yang terkandung pada daging ayam lebih besar nilainya apabila dibandingkan dengan daging merah (Mountney, 1966). Pada daging ayam yang dimasak tanpa viscera terdapat 25 % - 35 % protein, besar protein tergantung di bagian mana karkas terse but diambil dan metode dalam mempersiapkannya. Pada daging sapi kadar proteinnya 21 % - 27 %, kadar protein daging babi 23 % - 24 %, anak domba sebesar 21 %-24 % (Mountney, 1966).

25 8 Lemak pada unggas umumnya terdapat di bawah kulit daripada sebagai bentuk komponen intase1u1er di da1am otot (Mountney. 1966). Banyaknyapun bervariasi tergantung usia. seks dan spesies dari unggas (Mountney. 1966). Daging ayam merupakan sumber dari as am 1emak jenuh ataupun tidak jenuh. dengan proporsi asam 1emak tidak jenuh yang tinggi daripada daging merah. tetapi 1ebih rendah daripada 1ebih 1emak tumbuhan (Mountney. 1966). Keterangan mengenai jum1ah serta tipe dari 1emak ini cukup penting. Pada daging ayam asam lemak tidak jenuh merupakan bagian yang tinggi. keadaan ini berpengaruh terhadap cepatnya pembusukan (Thornton dan Gracey. 1974). Daging yang mempunyai 1emak dengan proporsi asam 1emak jenuhnya tinggi menyebabkan peningktan ko1estero1 darah seperti pada daging merah. Kadar asam 1emak jenuh daging ayam lebih rendah daripada daging merah. tetapi lebih rendah lagi pada tumbuhan (Mountney. 1966). Lemak yang terdapat da1am abdomen mempunyai nilai titik 1ebur yang tinggi dan 1ebih keras daripada 1emak yang berada di bawah kulit (Smith dan Walters. 1967). Mountney (1966) juga menganalisa terhadap vitamin yang terdapat pada daging ayam. Daging ayam merupakan sumber yang baik dari niacin dan cukup baik sebagai sumber dari riboflavin, thiamin serta asam askorbat. Pad a hati ayam yang tidak dimasak terkandung U vitamin A mg tiamin mg riboflavin mg niasin dan 20 mg asam askorbat. Di bag ian lain dari karkaspun dapat dijumpai tiamin. riboflavin dan niasin tetapi dengan kadar yang lebih sedikit (Mountney. 1966).

26 9 Sodium, potasium, Mg, Ca, Fe, Cl, F, S serta adalah komponen-komponen mineral yang terdapat dalam daging ayam (Mountney, 1966). Warna merah dari daging adalah karena mioglobin yang mengandung oksigen dan memberi aspek merah cerah. Apabila telah terjadi pembusukan karena beberapa sebab warna menjadi merah ungu sampai coklat. Pigmen merah lain yang terdapat dalam jumlah kedl adalah sitokrom dan hemoglobin. ~.5'.. l_<i~~~j2!::lj'_~s_.m~!:1~,!,_p_<w_n..k_~y.. l.!12. Pada hewan hidup ph daging ayam berkisar 7,4-7,6. Nilai ph pos mortemnya menjadi menurun sampai 5,2-5,7 (Smitha dan Walters, 1957). Lyon et al (985) mencatat bahwa dalam 1,5-24 jam pos mortem penurunan ph daging ayam tidak signifikan, dengan rata-rata nilai ph 5,7. Penurunan ph pos mortem terjadi karena adanya konversi lebih kurang % glikogen menjadi as am laktat (Jay, 1966). Selama jam pos mortem keadaan yang dominan terjadi adalah peristiwa glikolisis seperti yang disebut di at as Peristiwa glikolisis merupakan salah satu fenomena rigor mortis yang mempengaruhi mikrobiologi otot (Jay, 1966). Faktor-faktor lainnya akan dibicarakan pada sub bab pembusukan. Peristiwa glikolisis dijelaskan oleh defremery (1966) sebagai perubahan kimia yang antara lain adalah; hilangnya glikogen, Adenosin Triphosphate (ATP) dan H-Fosforilkreatin. Yang kedua adalah adanya amonia dan asam inosinat yang berasal dari deaminase as am adenilat. Yang ketiga adalah terjadinya akumulasi asam-

27 10 laktat sebagai sebab dari pembongkaran glikogen secara anaerobik. Di bawah kondisi normal konsentrasi ATP pada otot dada ayam mendekati 10 moll gram berat segar. Satu-tiga jam pos mortem sisa ATP masih tinggi. Kemudian berkurang dengan cepat untuk melewati rigor mortis ketika nilai konsentrasi ATP turun 30 % (defremery, 1966). Akumulasi asam laktat menurunkan ph dari di atas 7 sampai titik akhir yaitu 5,5-5,7 (defremery, 1966). Kondisi fisik hewan saat pemotongan sangat penting, bioki mia dari hewan hidup mempunyai pengaruh secara karena lang sung terhadap daging setelah pemotongan. Pengaruhnya terletak pada kecepatan asam laktat dibentuk dan kualitas daging yang diproduksi untuk konsumsi masyarakat (Smith dan Walters, 1957). Kondisi stress pada saat pemotongan akan mempercepat terjadinya glikolisis (Khan dan Nakamura, 1970). Lawrie (1970) juga menyatakan bahwa pemotongan hewan babi yang dalam keadaan stress dapat diasosiasikan dengan glikolisis yang cepat memproduksi keadaan otot yang "Pale Soft Exudative" dan dengan menurunkan daya larut dari sarkoplasmi k dan miofibrilar protein daripada kontrol. Pada percobaan defremery (1966) dapat kita jadikan perbandingan terhadap keadaan ph daging ayam dalam berbagai kondisi. defremery menggunakan kelompok ayam yang dianastesi dengan pentobarbital 25 mg/kg BB intra vena, kelompok ke-dua dengan menggunakan pemingsanan listrik yang dimaksudkan untuk menghindari perontaan dan kelompok ke-tiga tanpa dianastesi dan tanpa pemingsanan listrik,

28 11 hasilnya dapat dijihat pada gambar 1. Pada gambar tamapak kelompok yang dianastesi dengan pentobarbital mempunyai konsentrasi glikogen paling tinggi. Hal ini disebabkan tidak terjadinya mobilisasi glikogen menjadi glukosa darah sebelum pemotongan, sehingga konsentrasi glikogen pos mortem masih tinggi. Pada kelompok ayam yang dipingsag kan, terjadi mobilisasi glikogen, karena terjadi shock sebelum pemotq ngan, akibatnya konsentrasi glikogen berkurang. Kelompok ayam yang mengalami perontaan, konsentrasi glikogen pos mortem menjam sangat berkurang, karena terjadi lebih banyak mobilisasi glikogen. Gambar 1. Anastesi Konsentrasi Glikogen Pos Mortem pad a Kelompok Ayam yang Danastesi dengan Pentobarbital, dengan ~lenggunakan Pemingsanan Listrik dan Tan pa Anastesi serta Pemingsanan. Konsentrasi Glikogen mg/gram Sumber de Fremery, Mortem Changes in Some Aspects Poultry Meat. of Pas Thomson ~L~ (1986) meneliti keadaan ph pas mortem daging dada ayam yang dipingsankan lebih dulu, pada 20 menit pertama pos

29 12 mortem. Keadaan stress akan mempengaruhi penurunan ph. ph 5,9 at au lebih pada 20 menit pertama pos mortem dapat digunakan seba - gai indikasi keadaan pre rigor pada daging dada dan terjadinya pe - ningkatan fungsi tubuh. Daging yang mempunyai ph di bawah 5,9 pada 20 menit pos mortem dinyatakan telah mengalami pos rigor. Pada gambar 2 tampak kelompok ayam yang dipingsankan lebih dulu p~ da percobaan 1 dan 2, serta kelompok ayam yang tidak dipingsankan pada percobaan 2, semua dalam keadaan pre rigor. Kelompok ayam yang tidak dipingsankan pada percobaan 1 telah mengalami pos rigor pada 20 menit pos mortem, dengan menunjukan ph di bawah 5,9. Untuk jelasnya dapat dilihat pada gambar 2. Gambar 2. Keadaan ph Pos Mo rtem Otot Dada Daging Ayam yang Diberi Perlakuan Pemingsanan dan Tanpa Pemingsanan pada 20 Menit dan 24 Jam Pos Mortem 6,40 6Jl a tludk diplogs.jn ~drz 62l b d,rfog~'dnk.an &10 ~.3 &OJ :'..'1} 5!l 5.~ Sumber (YillJ~ 5.ro :llntfl :lln2t1 :lln2t1 :llntfl Thomson ~L~l. (1986). Effects of Electrical Stunning and Hot Deboning on Broiler Breast Meat Quality.

30 13 Kondisi Pembusukan Pada DaKinK Ayam Terjadinya pembusukan disebabkan oleh adanya mikroorganisma pembusuk (Mountney. 1966). Fenomena lain yang mempengaruhi mikrobiologi otot yang dicatat oleh Jay (966) antara lain;!. Reduksi ph oleh asam laktat sebagai peristiwa glikolisis. 2. Penghentian fungsi fagosit yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan bakteri yang ada dalam tubuh hewan. 3. Penurunan potensi oksidasi-reduksi yang membuat suasana anaerob karen a penghentian penyediaan oksigen. 4. Akumulasi dari berbagai hasil metabolisme seperti; hiposan - tin, ribosa, fosfat anorganik dan lain-lain yang digunakan mikroorganisme untuk tumbuh. 5. Kombinasi aktin-miosin menjadi aktomiosin. 6. Autolisis yang terjadi karena pengubahan protein oleh kate? sin. 7. Penurunan konsentrasi ATP 8. Pelepasan Ca dan "ujl-take" ion logam lainnya seperti potasium oleh struktur protein. Kondisi terse but di atas menguntungkan bagi pertumbuhan bakteri pembusuk. Selain itu mikroorganisma pembusuk memerlukan media tertentu untuk tumbuhnya antara lain; sumber karbon. nitrogen. vitamin. pro_ tein. peptida. lemak. kelembaban tertentu, tekanan osmotik. nilai ph tertentu yaitu di bawah 4 atau di atas 9. potensi redoks sera atmosfir (Buckle. 1978).

31 14 Keadaan pembusukan yang dicatat oleh Lawrie (1966) digambarkan pada tabel 3. Pada tabel dapat dilihat gejala-gejala kebusukan yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme pada permukaan daging. Gejala kebusukan pada daging ayam, hampir tidak pernah disebabkan karena jamur dan ragi, tetapi disebabkan oleh bakteri. Dengan mengetahui gejala kebusukan pada daging, dapat dijadikan pedoman dalam menilai kualitas daging., Tabel J. Gejala Kebusukan pada Permukaan Daging yang Disebabkan oleh Berbagai Mikroorganisma, , itipe Mikroorganisme : Gejala ; ~ ~: i- Bakteri : - Permukaan daging tampak berair 1 Perubahan warna akibat destruksi pigmen, 1 daging atau pertumbuhan koloni organis-, me yang mengubah warna. - Produksi bau yang tidak sedap. - Dekomposisi lemak.,. Ragi Jamur - Permukaan daging berair. - Perubahan warna, bau dan rasa. - Dekomposisi lemak. - Permukaan daging tampak bergetah, leng ket dan kasar. - Perubahan warna dan bau. - Dekomposisi lemak., 1 B akteri lain Bau yang tidak sedap dan gejala pembusukan lain. Produksi gas serta keasaman ~ Sumber; Lawrie (1966). Meat Science.

32 15 Pembusukan akan 1ebih cepat terjadi pada hewan yang kurang beristirahat, dibandingkan hewan yang te1ah cukup beristirahat sebe1um pemotongan. Hal ini terjadi karen a peristiwa rigor yang tidak komplit (Jay, 1966). Pemotongan pada hewan sehat dengan cara yang steril, akan membantu penekanan pertumbuhan bakteri. 01eh sebab itu faktor kebersihanpun turut mempengaruhi kecepatan pembusukan (Jay, 1966).

33 BAHAN. TEMP A T DAN METODE PENELTAN Pada penelitian ini digunakan ayam broiler strain Hubbard yang berasal dari peternakan rakyat di Bogor. Jenis kelamin betina dengan usia hari dan secara klinis hew an dalam keadaan sehat. Pemeliharaan ayam-ayam tersebut mengambil tempat di Laboratorium Biokimia selama beberapa hari dalam menunggu jalannya penelitian. Sedangkan untuk penelitian diadakan di laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner Jurusan Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner. Penelitian berlangsung selama tiga hari yaitu pada tangga dan 20 Agustus Metode Penelitian Ja1annya penelitian dapat dijelaskan sebagai berikut; Yang pertama dilakukan adalah pengukuran dan penge1ompokan berat badan yang relatif sarna untuk 3 grup. masing-masing grup terdiri dari lima ekor. Grup pertama adalah kelompok ayam yang diberi perlakuan pemotongan tanpa perlakuan awal. grup ke-dua diberi perlakuan awal berupa derita cekaman (stress) sebelum dipotong. grup ke-tiga diberi perlakuan strangulasi ( pencekikan). Setelah penge1ompokan diadakan pencatatan umur. ras. jenis kelamin serta pemeriksaan secara klinis terhadap kesehatan hewan. Bagi grup ke-dua yaitu grup yang diberi perlakuan awal berupa

34 17 derita cekaman (stress) sebefum dipotong, perlakuan awal tersebut dilakukan lebih dahulu dari ketiga macam perlakuan dari 3 grup dan dilakukan tiap hari penelitian. Derita cekaman (stress) dilakukan dengan membuat perubahan kondisi lingkungan di dalam maupun di luar tubuh, yaitu dengan pemberian panas dan ayam ditempatkan pada kotak yang sempit serta diberi guncangan yang berlebihan. Pemotongan setiap hari-hari penelitian dimulai pukul untuk grup pertama. Dalam pemotongan digunakan pisau yang tajam dengan mengikuti kaidah slam. Vena Jugularis di bawah rahang dipotong, sedang batang tenggorok dan oesophagus tidak ikut terpotong. Cara ini memudahkan pengeluaran darah dan meninggalkan kepala dan leher secara utuh (F.G. Ashbrook, 1955). Gambar 3. Pemotongan pada Leher Ayam Ketika darah keluar diadakan penampungan dengan gelas ukur, sehingga dapat diadakan pengukuran secara langsung. Penampungan darah tanpa antikoagulan. Ayam dari grup pertama kemudian direndam dalam air yang te - lah dipanaskan 55 C selama detik.

35 18 Sementara ayam dari grup pertama direndam ayam dari grup ked;"'a yang telah mengalami derita cekaman (stress) diadakan pemotongan dan lang sung penampungan dan pengukuran volume darah yang keluar, sarna seperti yang dilakukan pada ayam grup pertama. Kemudian direndam pada air yang bersuhu 55 C selama detik, pada wadah yang berbeda dari ayam grup pertama. Ketika ayam dari grup ke-dua direndam, ayam dari grup pertama diadakan pencabutan bulu selama 15 menit. Setelah penimbangan eviserasi dilakukan selama lebih kurang 3 menit. Ayam dari grup ke-dua diadakan hal yang sarna yaitu pencabutan bulu dan eviserasi dengan menggunakan wadah yang berbeda.. Bersamaan dengan perendaman ayam dari grup ke-dua dan eviserasi ayam grup pertama, ayam dari grup ke-tiga diadakan strangulasi (pencekikan) yang memungkinkan ayam mati lemas. Setelah itu sarna dengan ayam grup lainnya, diadakan perendaman pada air ber - suhu 55 C selama detik, pencabutan bulu serta eviserasi pada wadah yang berbeda. Penimbangan karkas dan jeroan dari masing-masing grup ciiadakan sebelum eviserasi. Pengamatan perubahan organoleptis berupa pemeriksaan bau, warna kulit, warna otot, konsistensi dan organ dalam. Untuk uji permulaan pembusukan dari ketiga perlakuan tersebut digunakan metode reaksi Postma. Untuk mengukur ph digunakan kertas ph dengan selang kepekaan 0,2. Teknik pengamatan dengan pendekatan kearah mana ph cenderung lebih dekat. Untuk uji permulaan pembusukan dan pengukuran ph digunakan

36 daging pada bagian kaki seperti tampak pada gambar. yang terdiri 19 dari beberapa otot antara lain; M. Sartorius, M. liotibialis, M. liotrochantericus, M. Gluteus, M. Femorotibialis, M. Biceps Femoris, M. Piriformis, Mm. Semitendinosus, M. Semimembranosus, M. schiofemoralis, M. Adductor Longus et Brevis, M. Obturator, M. liacus, M. Ambiens, M. Gastrocnemius, M. Tibialis Anterior, M. Extensor Digitorum Longus, M. Peroneus Longus et Brevis (George dan Berger, 1966). Gambar 4. Otot bagian kaki ayam broiler dilihat dari bagian lateral dan superfisiaj. So, Aponeurotic So, lib. ---{+.;o:;. Ep l:t p.d.m s ----Sic. fern. Tib. Per. ''''''',.-- P". b", " :-----G" (p.ex!.) ---Fp. el p,d,m ---F. per. d. n hot.!\c----f.diq.l "","'-""'- lib. ccrt Sup er fisial Lateral Sumber George dan Berger (1966). Avian Myologi.

37 Uji permulaan pembusukan dilakukan dengan interval dua jam, 20 dimulai setelah eviserasi. Pengukuran ph dilakukan dengan interval satu jam, dimulai setelah eviserasi. Akhir pengujian dilakukan sanpai dengan pukul ~jl_~~~~el~~~_~~~~~ E_~~~ ~~~~E3i_~9!~~1 Prinsip Sebelum NH3 keluar dari daging sebagai gas bebas, NH3 berikatan dengan beberapa zat (misalnya gas laktat ) dalam daging. Dalam reaksi ini MgO dipergunakan untuk membebaskan NH3 dari ikatannya. Sesudah itu gas NH3 bebas untuk dibuktikan. Alat Gawan petri Prosedur: Penangas air 50 0 G Alat-alat untuk membuat ekstrak daging MgO Pembuatan ekstrak daging dengan perbandingan bagian daging dengan sepuluh bagian air matang telah didiamkan selama 10 menit pada suhu kamar. satu yang - 10 ml ekstrak daging yang telah disaring ditaruh dalam cawan petri kemudian ditambahkan 100 mg MgO dan cawan ditutup. - Bagian dalam dan luar cawan petri dilekatkan kertas lakmus merah. Lakmus yang sebelah dalam tidak boleh bersentuhan dengan cairan. - Gawan petri diletakan ke atas penangas air 50 0 G selama lima menit.

38 21 '~.!1Ji!!'!.'pyJ2.!1 <!.'!.~_~.!1.!'l!.~.c;_P_'!.t.?-_ Data dikumpu1kan me1a1ui percobaan dengan menggunakan Po1a Rancang Acak Lengkap (Sudjana, 1985). Pada po1a rancangan ini pengambilan sampe1 secara acak asumsi bahwa unit-unit percobaan bersifat re1atif homogen. dengan Homogenitas unit percobaan da1am penelitian ini diusahakan dengan pemakaian hewan percobaan berjenis ke1amin sama, usia serta berat badan yang re1atif sarna.

39 HASL DAN PEMBAHASAN Homogenitas dari unit-unit percobaan diusahakan dengan menggunakan ayam yang berasal dari perternakan yang sama, ras yang sama, usia berkisar hari, berat badan antara gram dengan rata-rata berat badan ketiga grup sebesar 870 gram. Jenis kelamin betina dan hewan secara klinis tidak memperlihatkan adanya luka-luka. dalam keadaan sehat serta Keterangan mengenai pengam at an ante mortem dapat dilihat pada tabel 4. Selain asumsi dari kehomogenitasan unit-unit percobaan, juga dilakukan t-tes untuk. menguji apakah unit-unit percobaan mempunyai distribusi normal atau tidak. Ternyata unit-unit percobaan mempunyai distribusi normal P9: da taraf pengujian cl = 0,01 dim ana t hitung = -2,785 dan t tabel = -2,977. Pengusahaan kehomogenitasan dari unit-unit percobaan dilakukan karena kecepatan pembusukan juga dipengaruhi oleh spesies, ras, jenis kelamin, usia, besar tubuh individu dan kondisi kesehatan hewan (Rumawas, 1980). Proses pemotongan dilakukan setiap jam 07.00, lima menit kemudian dilanjutkan dengan pemotongan grup ke-dua, terakhir strangul9: si ayam grup ke-tiga. Ayam ke-2 dan 3 serta ayam ke-4 dan 5 dari 3 perlakuan diteliti pada hari yang sarna. Sehingga proses pemotong an diatur sedemikian rupa, agar jalan penelitian dapat lancar. Pena~ pungan darah hanya dilakukan pada grup pertarna dan ke-dua, karena grup ke-tiga tidak memungkinkan untuk keluarnya darah. Air yang digunakan untuk perendaman bersuhu 55 C, karena pada suhu terse but dan dengan waktu detik cukup untuk mempertahankan

40 Tabel 2. Pmeriksaan Ante Mortem pada 15 Ekor Ayam dengan Tiga Perlakuan, , T , T T j : : Umur ~ Berat Badan l Jenis Gejala! : ( hari) : (gram) : Kelamin : Penyakit : Luka-uka l ~ l ~ Ayam Yang Dipotong Tanpa Perlakuan Awal Ayam Yang Dipotong Setelah Diberi Perlakuan : Awal Berupa :Derita Ce- ' kaman (stress) Ayam Yang Diberi Perlakuan Strangulasi (pencekikan) 5 :. 1 j ~ )) )) )) 9 9 )) )) )) P P : : p : - : - : : : : ~-_ L-----_ L ~- L ~ ~ N W

41 24 kulit agar tetap utuh dan cukup mudah untuk mencabut semua lapisan epidermal kulit. Kombinasi antara waktu dan suhu sangat penting, karena dengan suhu yang sangat panas dan waktu yang lama akan m~ nyebabkan kulit menjadi mengelupas, bernoda dan kering. Pencabutan bulu membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu selama 15 menit, karen a dilakukan dengan tenaga manusia. Eviserasi dilakukan selama 3 menit. Untuk melihat proses pemotongan dan persiapan dalam penyediaan daging ayam dapat dilihat pada tabel 3.!' Perubahan organoleptis yang diamati pada bau dan konsistensi be berapa saat setelah pemotongan dari ketiga perlakuan tersebut ternyata sarna saja, dengan bau yang khas dan konsistensi yang kenya!. Perbedaan terletak pada warna kulit dan warna otot. Warna kulit dari ayam grup pertama menunjukan warna kuning-merah muda, grup ke-dua memperlihatkan warna kulit coklat kemerahan dan ayam ayam grup ke-tiga memperlihatkan warna kulit yang kemerahan. Pada otot ayam grup pertama berwarna kuning, otot ayam grup ke-dua berwarna kuning kemerahan dan otot ayam grup ke-tiga berwarna merah kecoklatan. Keadaan ini terjada, karena pada saat ayam stress atau mati lemas, darah tidak dapat dipompa dengan baik oleh jantung, terutarna pada pembuluh darah perifer yang dekat dengan kulit. Dinding pembuluh darah akan ditembus dengan jalan perembesan darah, bahkan apabila tekanan dalam pembuluh darah sang at tinggi, dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah. Akibatnya kulit menjadi berwarna kemerahan demikian pula otot di sekitar pembuluh darah. Pada tabel '1 dapat dhihat hash pemeriksaan pos mortem karkas ayam.

42 Tabel 3. Proses Pemotongan dan Penyiapan Karkas Ayam ""j , r j , "': Jam Pemo-; Volume ~ Suhu Per en-! Lama Per en- : Lama Penea- : Berat karkas Lama Evise, tongan l Darah (ee) : daman (og) : daman (De- butan bulu ; dan Jeroan : rasi (menit t 1, tik) (menit) (gram), ""i , t Ayam Yang Dipotong Tanpa Perlakuan 1 Awal , , , , ,100 3 Ayam Yang Dipotong: : Setelah Diberi Perla- kuan Awal Berupa : Derita Cekaman , , , , ,000 3 Ayam Yang Diberi : Perlakuan Strangu-, lasi (pencekikan) 1 1 : , , , : , , , ~ ~ J ~ N en

43 Tabel 4. Ha::dl Pemeriksaan Pos Mortem pada Karkas Ayam , " ; l Bau setelah eviserasi: Warna Kulit : Warna Otot : Konsistensi : '- 1 L l, J Ayam Yang Dipotong Tanpa Perlakuan Awal Ayam Yang Dipotong Setelah Diberi Perlakuan Awal Berupa Derita Cekaman (stress) j 1!, ', : khas : kuning-merah muda : khas kuning-merah muda t khas : kuning-merah muda khas khas khas khas khas khas khas : kuning-merah muda : kuning-merah muda coklat kemerahan coklat kemerahan coklat kemerahan coklat kemerahan coklat kemerahan kuning kuning kuning kuning kuning kuning-merah kuning merah kuning merah kuning merah kuning merah kenyal kenyal kenyal kenyal kenyal kenyal kenyal kenyal kenyal kenyal, 1. - Ayam Yang Diberi Perlakuan Strangulasi (pencekikan) khas khas khas khas khas...!. kemerahan kemerahan kemerahan kemerahan kemerahan merah kecoklatan merah kecoklatan merah kecoklatan ' merah kecoklatan ; merah kecoklatan kenyal kenyal kenyal kenya! kenyal, ~ ~ ~ N Cl'

44 27 Dari data yang diperoleh dan setelah diadakan uji secara statistik dengan menggunakan t-tes terhadap rata-rata pengeluran darah pemotongan ayam grup pertama yang tidak diberi perlakuan awal dengan grup ke-dua yang diberi perlakuan awal berupa stress, terny~ ta berbeda nyata. t tabel = 2,3060. Taraf pengujian d.. = 0,05; t hitung = 3,4506 dan Keadaan stress akan mempengaruhi sistem kardiov,,"skular dan terjadi insufisiensia kortiko adrenalis (Oliver dan Birre~ kott Jr, 1982). Naiknya temperatur tubuh akibat stress, menyebabkan aktifnya organ-organ lain seperti paru-paru dan jantung, sebagai ko~ pensasi untuk menanggulangi panas yang tertimbun (subagja, 1980). Dalam keadaan organ yang sedang aktif, maka darah yang keluar melalui pemotongan tidaklah sebanyak pada kelompok ayam yang tidak me ngalami stress. Telah dibuktikan pula oleh Mountney (1966) bahwa kalkun yang diberi shock elektrik ternyata pengeluaran darahnya diperlambat. Smith dan Oliver (970) dalam penelitiannya membuktikan bahwa pengeluaran darah dari ayam yang dipotong setelah diimobijisasi dengan pisau elektris 5 m.a., volt, lebih sedikit daripada kelompok ayam stan dar yang dipotong pada V. J ugularis dan A. Carotis. Pengukuran berat badan dilakukan sebelum pemotongan, kemudian setelah pencabutan bulu berat karkas dan jeroan kembali ditimbang. Dengan Chi-Kuadrat pada d.. = 0,05; X 2 hitung = 0,6227 ; X2 tabel = 5,99; menunjukan bahwa akibat ketiga perlakuan tersebut berbeda nyata terhadap berat karkas dan jeroan. Rata-rata berat karkas dan jeroan grup ke-tiga grup ke-dua grup pertama. Mengingat proses pengeluaran darah pada grup pertama ebih banyak daripada grup ke-dua, dan grup ke-tiga tidak memungkinkan untuk keluarnya darah.

45 28 Tertahannya darah dalam tubuh tersebut akan mempengaruhi berat karkas da!! jeroan, pada ketis" erup dalam penelitian. Subagja (980) juga telah melakukan penelitian terhadap perubahan fisiologis yang ter jadi akibat perbedaan temperatur lingkungan, yang salah satunya diukur melalui berat organ hati dan jantung ayam broiler. Keadaan tercekam (stress) membuat organ hati dan jantung lebih berat daripada kontrol (normal). Dari hasil uji secara statistik dengan analisa ragam, didapatkan bahwa pengaruh ketiga perlakuan terse but di atas tidak berbeda nyata terhadap perubahan ph pos mortem- selama 16 jam w"ktu?engamatan. Perbedaan hanya terjadi pada 1-3 jam pengamatan. Pada grup pertarna yang mengalami perontaan tetapi tidak diberi perlakuan awal pers~ diaan glikogen masih cukup banyak untuk menurunkan ph pos mortem Pada gambar dapat dilihat grafik penurunan ph yang agak curam dalam 1-3 jam waktu pengamatan. Grup ke-dua yang mengalami stress sebelum pemotongan dan juga mengalami perontaan setelah pemotongan, kadar gli kogen dalam tubuh menjadi berkurang, karena telah banyak digunakan saat hewan mengalami stress dan perontaan. Akibatnya penurunan ph yang tampak pada grafik menjadi landai selama 1-3 jam waktu pengamatan. Grup ke-tiga yang tidak mengalami perontaan, karena ayam mati dengan lemas ketika dilakukan pencekikan (strangulasi) mempunyai kadar glikogen yang banyak dalam tubuh, yang berfungsi dalam menurunkan ph, sehingga pada grafik jelas menunjukan penuru!]. an ph yang curam pada 1-3 jam pengamatan. Setelah 3 jam pengamatan sampai 16 jam kemudian perubahan ph pada dasarnya sarna saja.

46 Gambar 5. (' (~{"l. O,[:U r GrafikpH da1am 16 Jam Pengamatan dari Tiga Per1akuan (Grafik ph grup ke-dua).", ~ {... r,..., t'!fi} ~... {, ~.~.,.~ r-, t14ij i -- ', 1- Cl 'J i l ~' ')(\ U,LJ, --.1 (Grafik ph grup pertama) (Grafik ph grup ke-tiga) f,', '-"'1 t),lt, o J 4 r ) 6 s 10 1 J '- -,,/ q w l' J 14 'J5 16 (w±tu Ptrlq:rnoicn) v

47 30 Berdasarkan Jiteratur pada ayam, secara normal keadaan ph pos mortem berbeda dengan hewan lain. Penurunan ph terjadi dengan cepat, dan kenaikan ph kemudian tidak ditemukan. Thomson et al (1986) memperkuat dengan hasil penelitiannya pada ayam yang dibuat pingsan lebih dahulu,mempunyai nilai ph pos mortem yang lebih tinggi daripada ph pos mortem ayam yang tidak dipingsankan, pada 20 menit per - tama setelah penyembelihan. Keadaan tersebut mengindikasi bahwa efek pemingsanan terhadap perubahan ph pos mortem terbatas beberapa saat setelah penyembelihan. Dodge dan Peters (1960) mendapatkan keadaan ph ayam pada saat pemotongan 7,3; kemudian meningkat me!). jadi meningkat 7,5 dan turun kembali sampai mencapai nilai ph akhir. Peningkatan ph setelah pemotongan karen a terhentinya pelepasan kre!"; tin fosfat atau adanya perubahan sis tern buffer dalam jaringan otol Penelitian lain yang dilakukan oleh Froning!::L,!l (1978) pada ph daging kalkun yang mengalami perontaan bebas setelah pemotongan, ter nyata lebih rendah secara nyata daripada perlakuan lain yang diamati. Berdasarkan uji postma pada ayam grup pertama, pembusukan di mulai pada jam ke-12 dan ke-13 pos mortem sebanyak 60 % dari 5 ekor ayam, dengan ph 5,88 dan 5,86. Pembusukan pada grup ke-dua dim>;! lai pada jam ke-8 dan ke-9 pos mortem sebanyak 40 % dan 60 % dari 5 ekor ayam dengan ph 6,16 dan 5,98. Pembusukan pada grup ke-tiga dimulai pada jam ke-8 dan ke-9 sebanyak 80 % dari 5 ekor ayam dengan ph 6,04 dan 5,82. Dengan analisa deskriptif yang lain, yaitu dengan menggunakan prosentase munculnya tanda (-) untuk belum terjadi pembusukan, tanda (±) untuk mulai mengarah ke terjadinya

48 Tabel 5. PenBukuran ph Pas Mortem selama 16 Jam Pengamatan dengan nterval 1 Jam pada Suhu Kamar, T TT Tr , :\ Ayam Yang Dipotong Tanpa H Ayam Yang Dipotong Setelah Diberi l: Ayam Yang Diberi Perlakuan, :: Perlakuan Awal :' Perlakuan Awal Berupa Derita Ceka~ i: Strangulasi (pencekikan) 1 : : :: an (stress) : ; ""it r------r------l------"ti ' , ' , ' i,jam :1 1,2 : 3 \ 4 '5 it 1 : 2 '3 '4 ' 5 i: 1 : 2 '3 : 4 : 5 j j, T r t ~T ; t------; L T T------~------T------r----, OS.OO :: 7,00 7,00, 7,00 6,50 6,50 7,00 7,00' 7,00 6,50 6,50 :: 7,00: 7,00 : 7,00 : 6,50 : 6, ' 7,00 6,50: 7,00 : 6,00 6,00: 6,50 7,00: 7,00 6,50 6,50 'l 6,50: 6,50 6,50, 6,00 6, :t 6,20 6,20 7,00: 6,00 ' 6,00 6,50 6,50' 7,00 6,50 6,50 : 6,50' 6,20 7,00 6,00 6, :i 6,20 5,90 7,00 6,00 6,00 6,20 6,50 7,00 6,00 6,00 :: 6,20 5,90 7,00 6,00 6, \' 6,20 6,50 6,50 6,00 6,00 6,00 6,50 7,00 6,00 6,00 ': 6,50 6,20 7,00 6,00 6, :: 6,20 6,50 6,20 6,70 5,70 6,50 6,50 6,70 6,70 5,70 :' 5,90 6,50 6,50 5,70 5, '' 5,90 5,SO 6,20 5,70 5,70 6,50 5,SO 6,50 5,70 5,70 :: 5,90 6,20 6,50 5,70 5,7,,, 15.00,,5,90 6,70 6,20 5,70 5,70 ' 6,50 6,30 6,50 5,70 5,SO " 5,90 6,30 6,50 5,70 5,8, :' 6,20 6,70 6,20 5,70 5,70 ' 6,50 5,SO 6,20 5,70 5,70 " 5,90 5,80' 6,00 5,70 5, ': 5,90 6,10 6,00 6,00 5,70: 1 6,00 6,10 6,00 6,00 6,00 :: 6,00 6,10 6,00 6,00 6,0 ls.00 :: 5,90 6,10 6,20 5,70 5,70:1 6,00 5,70 6,00 5,70 5,70 :: 6,00 5,90 6,20 5,70 5, :: 5,90,6,10 6,00 5,70 5,70:1 6,00 5,90 6,00 5,70 5,70 :: 5,90 5,90 6,20 5,70 5, ," 6,00 ' 6,20,5,70 5,70 5,70 6,20 5,70: 5,70 5,70 5,70 " 6,00, 5,70 ' 5,70,6,20 5,7, 6 ' ,90,,20' 5,70 5,70 5,70 6,00 5,90; 5,70 5,70 5,70 " 6,00, 5,90 5,70,5,70 5, ~,' 5,90 : 6,20 : 5,70 5,70 5,70.1 6,00 5,90: 6,00 5,70 5,70 :: 6,00: 5,90 : 5,70 : 5,70, 5, ',' 6,00 '6 ",00,'6,00 5,70 5,70', 6,00 5,90 16,00 5,70,5,70 " " 6,00' 5,99' 5,70,5,70' 5,7 r ~ ~ ~ ~ ~L ~ ~ W --'

49 Tabel 6. Hasil uji Permulaan Pembusukan dengan Reaksi Postma nterval 2 jam Penyimpanan pada Suhu Kamar r Tr T ,,,: Ayaoo YangDipotong Tanpa!: Ayam Yang Dipotong Setelahll Ayarn YangDiberi Perlakuan : " Perlakuan Awal :: Diberi Perlakuan Awal Berupa ': Strangulasi (pencekikan), :1 ': Derita Cekaman (stress) :: _,, ' "Tr "'j'------T------r------ij"------r------T------T------T i------'j------T ; , : Jam' ;J ; 4 ~ 5 l' 1 i ~ 4 j 5,~ 1 ~ " 4 ; 5. : ~ T------t ~------~ ~t------~------i------~------~------~ ', :: [ t [ : t, t,, )1 i ' (,, ", " " + - +, - ' ' " ± ± ± 1\, ± ± ± ± ± ± ± ±, J ± J ± ±, ± ± ± ± : ± ± ± ± ± J : + + +: : : + : + : ) t , - - t J : + 1 ± + ± : ± l ± ± : ± ± ; + + ;, 11 : : J 11 : 1 oj.! l.l!..!...!.!....!.. l..!...l. '!...l.!...! ~ W N

50 33 pembusukan dan tanda (+) untuk dimulainya pembusukan, didapat seperti di bawah ini. Pada grup pertama prosentase timbulnya tanda (-) sebesar 70 %, tanda (±) sebesar 22,5 % dan tanda (+) sebesar 7,5 %. Prosentase timbulnya tanda (-) pada grup ke-dua sebesar 52,5 %, tan da (±) sebesar 40 % dan tanda (+) 7,5 %. Pada grup ke-tiga prosentase timbulnya tanda (-) sebesar 42,5 %, tanda (±) 42,5 % dan tanda (+) sebesar 15 %. Pada reaksi postma yang menunjukan tanda (+), terjadi pelepasan NH3 dari ikatannya, misalnya pada asam amino. Pada uji ini perubahan-perubahan selama pembusukan daging yang diukur, sering tidak tetap dan komponen-komponenya dapat atau meningkat kadarnya (Me Meekin dan Thomas, 1979). menu run Secara normal bakteri pembusuk akan tumbuh pada daging ayam, yang akan menimbulkan kebusukan. Setelah dibandingkan, ternyata pada ayam yang diberi perlakuan strangulasi mengalami pembusukan yang lebih eepat dibandingkan dengan grup pertama dan ke-dua. Darah yang tidak keluar dalam daging ayam, akan menjadi media yang baik untuk berkembangnya bakteri pembusuk. Stress berupa panas juga mempe!: eepat terjadinya pembusukan, karen a darah yang tidak keluar dengan sempurna dari tubuh ayam juga mempercepat berkembangnya bakteri pembusuk. Bau yang tidak sedap dari karkas ayam yang telah busuk disebabkan oleh adanya senyawa-senyawa yang mudah menguap dari karkas. Freeman!:Le.1 (1976) mengatakan bahwa pembusukan daging_ pada suhu zoe dan looe menghasilkan HZS, metil merkaptan, dimetilsulfida, dimetildisulfida, n-heptana, n-heptena, benzena, heptadin, n-oktan, aseton, metil asetal, etil asetat, metanol, etanol dan toluena.

51 KESMPULAN DAN SARAN ~~3.!!!l'p_':'c.g..A Dari hasil penelitian terhadap 15 ekor ayam broiler yang dibagi dalam 3 grup yang dilakukan di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner Jurusan lmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH-PB dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Pengeluaran darah akibat pemotongan grup pertama yaitu kelompok ayam yang dipotong tanpa perlakuan awal dan grup ke-dua yaitu kelompok ayam yang dipotong setelah diberi perlakuan awal berupa derita cekaman (stress) secara statistik dinyatakan berbeda nyata. Taraf pengujian ct: = 0.05 dimana t hitung = sedang t tabel = Pada grup pertama pengeluaran darah lebih baik daripada grup ke-dua. Berdasarkan analisis ragam pengaruh perlakuan pemotongan tanpa perlakuan awal. pemotongan setelah mengalami derita cekaman (stress) dan perlakuan strangulasi (pencekikan) ternyata berbeda nyata terhadap perubahan ph pada taraf pengujian tidak =0.05. Hubungan keeratan antara perubahan ph dengan waktu pengamatan cukup tinggi yaitu semakin lama waktu pengamatan maka semakin rendah nilai ph. Timbulnya pembusukan dimulai oleh grup ke-tiga. kemudian disusul oleh grup ke-dua dan terakhir grup pertama. Mengingat retensi darah dalam tubuh ayam. Daging ayam cepat menjadi busuk karena proporsi asam lemak tidak jenuhnya tinggi. serta kadar protein yang tinggi dalam

52 35 tubuh. Selain itu ada faktor eksternal yang mempengaruhi kecepatan pembusukan, yaitu pada saat proses pemotongan dan penyiapan karkas. Saran Jangan menyimpan daging ayam lebih dari 11 jam pada suhu kamar. 2. Bila perlu bagi konsumen daging ayam setelah pembelian kembali ditempatkan pada lemari pendingin di rumah, karen a suhu dan waktu penting dalam mencegah pembusukan dari daging ayam segar. 3. Hati-hati terhadap daging ayam yang menunjukan perubahan organoleptis berupa otot yang lebih merah, banyak ditemui blood splashing (merembesnya darah dari pembuluh darah ke jaringan sekitar). 4. Bagi masyarakat khususnya masyarakat slam dalam mengkonsumsi daging ayam, sebaiknya tidak dilakukan dengan cara pence - kikan ayam dan sebaiknya sebelum ayam dipotong telah beristi - rahat lebih dahulu. 5. Penelitian dapat dilanjutkan, karena penelitian ini belum dilakukan pemeriksaan lebih dari 16 jam yang mungkin ada perubahan lain. Pada penelitian ini penimbangan dilakukan terhadap karkas dan jeroan yang dibandingkan dengan berat hidnp yang terdiri dari berat daging, tulang, bulu, jeroan dan darah. Untuk penelitian selanjutnya dapat lebih diteliti dengan memperbandingkan berat ayam setelah dibului (berat tulang, daging dan jeroan),

53 36 juga dapat dilakukan pengukuran berat karkas yang terdiri dari tulang dan daging. 6. PeneJitian dapat dilanjutkan dengan mengarahkan pada perubag an ph dan sebab-sebab terjadinya perbedaan.da:i"i ketiga per - lakuan tersebut.

54 DAFTAR PUSTAKA Anonimous, Menyongsong Repelita V Peternakan ~21'!'.!.l Poultry ndonesia No. 102 : Anonimous, Buku Statistik Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen.Pertanian. Jakarta. Ashbrook, G. F., Butchering, Processing and Preservation of Meat. D.Van Nostrand Company, nc. USA. Bremner, A. S., Tindall, London. Poultry Meat Hygiene and nspection Bailliere Buckle, K.A., A.R. Edwards, H.G. Fleet, M. Wooton, A Cour se Manual in Food Science. Watson Ferguson & Co. Brisbane. Deaton, J.W., McNaughton, D.B. Lott, Effects of Heat Stress on Laying Hens Acclimated to Cyclic Versus Constant Tempera - tures. Poultry Science. 61: defremery, D., Some Aspects of Post Mortem Changes in Poultry Muscle ~'" Physiology and Biochemistry of Muscles as A Food. The University of Wisconsin Press. Madison, Milwaukee, London. Dodge, J.W. and E.F. Peters, Temperature and ph Changes in Poultry Breast Muscles at Slaughter. Poultry Sci. 39: Fletcher, D.L. and M.D. Thomason, The nfluence of Environmental and Processing Condition on The Physical Carcass Quality Factors Assosiated With Oily Birds Syndrome. Poultry Sci. 59 : Fox, T. W _., Studies on Heat Tolerance in Domestic Fowl. Poultry Sci. 30: Freeman, '-.R., J.G. Silverman, P. Angelini, C. Merrit jr. and B.W. Esselen, Volatiles Produced by Microorganism solated from Refrigerated Chickens at Spoilage. Appl. and Environ. Micr. 32: Froning, G.W., S.A. Babji, B.F. Mathers, The Effects of Pre Slaughter Temperature, Stress, Struggle and Anesthetization on Colors and Textural Characteristics of Turkey Muscles. Poultry Sci. 57: George, J.C. and A.J Berger, New York and London. Avian Myology. Academic Press

55 Jay, J. M., nfluence of Post Mortem Condition on Muscle Microbiology.!.'2 Physiology and Biochemistry of Muscles as A Food. The University of Wisconsin Press. Madison, Milwaukee, London. Jones, M.J., Review: Appilcation of Science and Technology to Poultry Meat Processing. J. Food Tech. 21: Khan, A.W. and R.Nakamura, Effects of Pre and Post Mortem Glycolysis on Poultry Tenderness. J. OF Food Sci. 35: Kotula, A.W. and V.N. Helbacka, Blood Volume of Chickens and nfluence of Slaughter Technique on Blood Poultry Sci. 57: Live Loss. Kuenzel, W.J., L.A. ngling, M.D. Denbow, H..! Walther, M.M. Scaefer, Variable Frequency Stunning and Comparison of Two Bleed Out Time nterval for Maximizing Blood Release in Processed Poultry. Poultry Sci. 57: Lawrie, R.A., Meat Science. Pergamon Press. Edinburg. Lyon, C.E., D. Ha= and E.J. Thomson, ph and Tenderness of Broiler Breast Meat Deboned Various Time After Chilling. Poultry Sci. 64: May, K.N., Hot Weather Steps Up Meat Spoilage. Poultry Meat 6: McMeckin, A. T. and C.J. Thomas, Aspects of The Microbiology of Poultry Processing and Storage : a Review Food Tech. in Australia 31: Miller A.R., Meat Hygiene. Second Edition. Lea and Febiger. Philadelphia. Mountney, G.J., Poultry Product Technology. The AV Pub lishing Company nc. Westport, Connecticut. Oliver, J.C. and G.P. Birrenkott Jr., Response of Broilers to Hyperthermic Stress Following Treatment with A New Cyclo Oxygenase nhibitor. Poultry Sci. 61: Raskopf, D.D., Broiler Chickens. Factors that nfluence The Consumption Poultry Meat 3: of Rumawas, W., Patologi Umum. Fakultas Kedokteran Hewan nstitut Pertanian Bogor, Bogor.

56 39 Smith, A.J. and J. Oliver, Environmental Temperatures 44: Some Physiological Effects of High on The Laying Hen. Poultry Sci. Smith, D.B. and H.A. Walters, ntroductory Food Science. Great Britain by Harrison & Sons Ltd Bedfordbury, London. Steel, D. G. R. and J.H. Torrie, Principles and Procedures of Statistics. McGraw-Hill nt. Book Co. Singapore. Subagja, D., Pengaruh Cekaman Panas terhadap Perubahan Fi siologis serta Berat Organ Dalam Ayam Broiler. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Proyek Pengembangan lmu dan Teknologi Direktorat Pembinaan Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Ditjen Pendidikan Tinggi Dep. Pendidikan dan Kebu dayaan. Jakarta. Sudjana, Disain dan Analisis Eksperimen, Edisi ke-dua. Pener bit Tarsito. Bandung. Thomson, J.E., E.C. Lyon, D. Hamm, A.J. Dickens, Effects of Electrical Stunning and Hot Deboning on Broiler Breast Meat Quality. Poultry Sci. 65: Thornton, H. and J.F. Gracey, Text Book of Meat Hygiene, Sixth Edition. Bailliere, Tindall, London. Winton, L.A. and B.K. Winton, The Structure and Composition of Foods. New York John Willey and Sons nc. London. Wilson, A., Practical Meat nspection, Third Edition. Black- Well Scientific Publicating. Oxford, London, Edinburg, Melbourne.

57 LAMPRAN

58 41 Lampiran 1 Ho Oji Chi-Kuadrat terhadap Rata-rata B.erat Karkas dan Jeroan dari Kelompok Ayam yang ])ipotong Tanpa Perlakuan Ava1, Ke1ompok AYam yang D iberi perlakuan Awa1 Berupa Derita C~aman (stress) serta Ke1ompok Ayam yang Diberi Perkkuan Strangu1asi (pencekikan). = = ~1 = berat rata-rata karkas dan jeroan dari ayam grup pertama = 797,480 x 2 = berat rata-rata karkas dan jeroan dari ayam grup kedua = 817,820 = berat rata-rata karkas dan jeroan dari ayam grup ketiga = 828,880 x. = berat rata-rata ayam hidup dari grup pertama, kedua dan 1 ketiga. = - x x 2 = 0,6227 X 2 (0,05)(3-1) = 5,99 Hipotesa diterima. Ternyata dengan berbagai per1akuan tersebut berat karkas dan jeroan berbeda nyata.

59 42 Lmpiran 2 Uji t terhadap rata-rata pengeluaran darah dari kelompok ayam yang dipotong tanpa perlakuan awal dengan kelompok ayam yang diberi perlakuan awal berupa de - rita cekaman (stress). Jumlah ayam dalam i kelompok 5 Jumlah variabel Ho - x = x 0 Z x - x = 2 H x f XZ. x - X z T -L 0 Z Volume pengeluaran darah ayam grup pertama = ZO. 30. ZO Rata-rata (x) = 28 cc Volume pengeluaran darah ayam grup kedua = Rata-rata (x Z ) = Zo cc Z Ragam (S) = 70 Ragam (S/) = 37.5 Standar Error = Standar Error = 6.1Z37 Ragam Gabungan (SZ x l -x 2 ) = t hitung = t tabel = Ternyata dengan pemotongan kelompok ayam tanpa perlakuan awal dengan pemotongan kelompok ayam yang diberi perlakuan awaj berupa derita cekaman (stress) berbeda nyata pada taraf pengujian 0(= 0.05 terhadap pengeluaran darah. Hipotesa diterima.

60 43 Lampiran 3 Analisa Ragam dari rata-rata ph jam pertama terhadap ketiga macam perlakuan., , :Grup : Rata-rata: Jumlah Ayam : : r , " 1, 6,800' 5, ', 2 6,800 5, 3, 6,800 5 Rata- rata total 6, t ~ J ~ ~, , l r , :Sumber: JK : DB : KT : F ratio : ~ ~ ~ :Perlakuan: 0, ,000' 0,000,,Sisaan 0,900 i 12 0,075, 1 0, Tota,,900 14, '! -!.! J ~. F tabe1 2,12 dengan d.. = 0,05 ada1ah 3,89. Lampiran 4 Analisa Ragam dari rata-rata ph jam kedua terhadap ketiga macam perlakuan T Grup 'Rata-rata Jumlah Ayam, J ~ ,500 5, 2 6,700 5 ' 3 6,300 5,Rata-rata total, 6, !.....! J r r ~r i : Sumber ' JK : DB : KT : F ratio!....j!.. -.l. : Per1akuan 0,400: 2 0,200' 1,500 : Sisaan 1, ,133, 1,Total L, 2,000: 14 : : : ~ ~ L ~ F tabel 2,12 dengan d.. 0,05 = 3,89

61 44 Lampiran 5 Analisa Ragam dari rata-rata ph jam ketiga terhadap ketiga macam perlakuan , , , : Grup Rata-rata : Jumlah Ayam, L...J t, 6, : 6,600 5 : 3 6,340 5, Rata-rata total i L 6,470: 15 : ~, r r r , :Sumber : JK : DB : KT F ratio',! r ' , :----, f ;Perlakuan 0,289: 2 0,145 1,085!,, ', Sisaan 1,600, ' ' ; Total 1,889' 14,, L l...l...:. F tabe1 2,12 dengan 0( 0,05 = 3,89 Lampiran 6 Analisa Ragam dari rata-rata phjam keempat terhadap ketiga macam perlakuan. r r j :Grup : Rata-rata i Jumlah Ayam :! ~ ~ ,220 5 : 2 6,340 5, 3,6,220 5 lrata-rata total 6,260: 15 : f ~ L ~, ; , , , , Sumber : JK DB i KT : F ratio i ; ~ ; ~ ~ i ', Perlakuan 0, ,024 0,124 i isisaan 2, ,194 i : Total : 2,376 14: : :, L.!...!... l.... F tabel 2,12 dengan d.. 0,05 = 3,89

62 ~ 45 Lampiran 7 Analisa Ragam dari rata-rata ph jam kelima terhadap ketiga macam perlakuan.! r r , :Grup 'Rata-rata' Jumlah Ayam ', , f : 1 1 ' : 6,240 5' : 2 6,300 5, 3 6,340 5 :Rata-rata total 6,293 15, ' ~ J, r T , , , :Sumber : JK : DB : KT : F ratio : : ~ ~ ~ ~ l.,, :Perlakuan 0, ,013 0,086, 'Sisaan 1, :,Total L '1,789,14 : ~ ~ ~ ~. F tabel 2,12 dengan ~ 0,05 = 3,89 Lampiran 8 Analisa Ragam dari rata-rata ph jam keen am terhadap ketiga macam perlakuan , r , : Grup : Rata-rata : Jumlah Ayam : L ~ 1, 6,260 5, 2 6,420 5, 3 6,060, 'Rata-rata total 6,247 S L L ' r , r r ;Sumber : JK : DB : KT : F ratio ~ ~ ~ ~ ~ :Perlakuan: 0, ,163' 1,010 S lsaan : 1, ,,!Total!, 2,257! 14,! ~ ~ L ~ l F tabel 2,12 dengan cj... 0,05 = 3,89 5

63 46 Lampiran 9 Anali sa Ragam dari rata-rata ph jam ketujuh terhadap ketiga macam perlakuan., r i , : Grup : Rata-rata Jumlah Ayam : L L --, " : 1 5,860 i 5 2 6,040: 5 3 6,000' 5', :,Rata-rata totals, i t L ~ , ~------r 'Sumber ',JK : DB " KT, F ratio, ", r ~------~~ r , 'Perlakuan 0,089: 2 0,045 0,393,Sisaan 1,364' J : ;~_o:~~ ~ ~_~: L_!~ L F tabel 2,12 dengan 0/.. 0,05 = 3,89 L J Lampiran JO Analisa Ragam dari rata-rata ph jam kedelapan terhadap ketiga macam perlakuan., j r , :Grup T Rata-rata ; Jumlah Ayam :, J r !. 1 6, ,160 2, 3 6,040, ;Rata-rata total 6, ' L J : r r-----r r ,,sumber JK 'DB KT 'F ratio ' tt ~ r ~ :Perlakuan 0,048 '2 0,024 0,162, 's, isaan '6,1, ,148 ",, Total -'- : 1,824.L. : 14 : ~!....J F tabel 2,12 dengan 0( 0,05 = 3,89 5 5

64 47 Lampiran 11. Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Kesembilan terhadap Ketiga Macam Perlakuan : r : Grup, Rata-rata Jumlah Ayam, : : , : 1,: 6,100 5 ' 2 5, ,820 5,, ',Rata-rata total', 5, : ~ ~ ' r------"t-----, , :Sumber : JK : DB : KT ; F ratio :, ~-----~ ~ ~ 'Perlakuan: 0,197, 2, 0,099": 0,928 ' j :Sisaan ' : 0,106, 1 1 : Total,1,473' 14, :, L J...!, -+ F tabel 2,12 dengan,,= 0,05 adalah '3,89., Lampiran 12. Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Kesepuluh terhadap Ketiga Macam Perlakuan., , : Grup ; Rata-rata : Jumlah Ayam :.J..1. _.' : 1 ' 5,940 : 5,2,, 6,020 5,: 3 : 6,020 5 : Rata-rata total: 5, ~ , r------,-----l t , : Sumber JK :DB 'KT if ratio : ~ ~ ~ ~ 1 ~ ~ Perlakuan, 0,021, 2, 0,011 : 1,185 'Sisaan : 0,108' 12,9,OOOOE-03, : Total : 0,129: 14, : : ~ ~ J ~ ~ F tabel 2,12 dengan cl. = 0,05 adalah 3,89.

65 48 Lampiran 13. Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Kesebelas terhadap Ketiga Macam Perlakuan. ; r r : Grup : Rata-rata Jumlah Ayam : r l 5, ,820 5, 3 5,900 5 : Rata-rata total: 5,880 : 15,! ~ ~, r r-----, T , :Sumber : JK : DB : KT : F ratio ~-----_L------_~ ~,, ' ', 'Perlakuanl 0,028' 2 0,014, 0,339,, Sisaan 0, ,041! : Total : 0, :, L ~ L J ~_ F tabel 2,12 dengan J = 0,05 adalah' 3,89.,,, 5 Lampiran 14. Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Kedua belas terhadap Ketiga Macam Perlakuan., r j : Grup Rata-rata : Jumlah Ayam :, r , l,,, 2 5,860 5, 1 5, ,880 5,, 'Rata-rata total,s, 873,15 1._ : ~ T r, Sumber.,JK : DB: KT ' F ratio' l ~ ~----~ ~------~ j,perlakuan, 1,3333E-03 2,6,6667E-04. 0,021 : Sisaan 0, :0,032 'Total ' ' ' -----~ ~ F tabel 2,12 dengan ci. = 0,05 adalah 3,89.

66 49 Lampiran 15. Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Ketiga belas terhadap Ketiga Macam Perlakuan r i : Grup : Rata-rata : Jumlah Ayam : ~ ~ ---~ ",, 1 5, , ,860 : Rata-rata total, 5,840 15, i L..J --' r r , : Sumber : JK : DB : KT ' F ratio, ~ ~ : : :: 'Perlakuanl 0,012' 2: 6,OOOOE-03: 0,0115,, : Sisaan 0, ,052 Total '0,636' 14', t ~ ~ ~ ~! F tabel 2,12 dengan d = 0,05 adalah 3, ,, Lampiran 16. Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Keempat belas terhadap Ketiga Macam Perlakuan r r , Grup : Rata-rata ' Jumlah Ayam, : r : :,, 1 5,840 5 ' 2 5,800: 5 3 5, t,rata-rata total 5,813 '15.L.. _ r ,------r , l : Sumber : JK : DB: KT : F ratio: ! L------r : : : : Perlakuan, 5,3333E ,6667E-03: 0,091 : : Sisaan : 0, ,029 : " : Total!.. 0, ~ l F tabel 2,12 dengan 0(= 0,05 adalah 3,89.

67 50 Lampiran 17. Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Kelima belas terhadap Ketiga Macam Perlakuan , l i Grup L Rata-rata : Jumlah Ayam 1 ~ ~ [ 1 1 5, , : 5, L ~ 1 Rata-rata total 5, ' , ,-----, , , S b 1 JK DB KT 1 F. urn er ratio, , ,-----, r ! :Perlakuan, 9,3333E-03 2 i 4,6667E-03: 0,154 1 Sisaan 0,364 12: 0,030 1 Total : 0,373 i 14 : : ~ '!... -l F tabel 2,12 dengan d.. = 3,89. Jampiran 18. Analisa Ragam dari Rata-rata ph Jam Keenam belas terhadap Ketiga Macam Perlakuan. : r Grup Rata-rata Jumlah Ayam : j t ~ , ,860: , Rata-rata total 5, '..J, r r r r : Sumber : JK : DB : KT : F ratio : L ~ L ~ J 1 Perlakuan 0, ,6667 E-03: 0,371, 1 1 : Sisaan 0, : 0, Total :0,297: 14: : : L ~ _ F tabel 2,12 dengan d.. = 0,05 adalah 3,89.

68 51 Lampiran 19. Analisa Regresi Berindeks dari Perubahan ph Kelompok Ayam yang Dipotong Tanpa Perlakuan Awal dengan Waktu Pengamatan. j ; r t ; 'J P ' am engamatan xl ' Yl : Y2 Y3, ~ L ~ J ~, 1-15,00 6,80 6,80' 6, ,00 6,50 6,70 6, ,00 : 6,28 6,60 6,34 4 9,00 6,22 6,34 6,22 5 7,00 6,24 6,30 6,34 6 5,00 6,26 6,42 6,06 7 3,00 5,86 6,04 6,00 8 1,00 6,04 6,16 6,04 9 1,00 6,10 5,98 5, ,00 5,94 6,02 6, ,00 5,92 5,82 5, ,00 5,88 5,86 5, ,00 5,86 5,80 5, ,00 5,84 5,80 5, ,00 5,84 5,86 5,86,16 15,00 1 5,88,5,86 5,80 ', ~ L ~ J J j ,------i i l :ndeks t--- : Nama: Variabel ; Standar Deviasi ~ ~ ~ J :Variabel terikat: xl: 0,0000: 9,5219 :Variabel bebas : Yl: 6,0913' 0,2768 : ~!... J """, r r r 'Variabel : Koefisien Regresi: Std. Error: T(DB=4) : ~ L ~ ~ J xl , ,,,Konstanta 6,0913,, _..! , Standar Error dari estimasi = 0,4066; r = - 0,9323 Persamaan menjadi Y = 6,0913-0,0253 X Semakin besar nilai X semakin kecil nilai Y. Semakin besar waktu semakin berkurang nilai ph. Nilai r = -0,9323 menunjukan hubungan keeratan yang cukup tinggi antara waktu pengamatan dengan ph.

69 52 Lampiran 20. Jumlah Kasus 16 Jumlah Variabel: 4 Analisa Regresi Berindeks dari Perubahan ph Kelompok Ayam yang Dipotong dengan Perlakuan Awal Berupa Derita Cekaman (stress) dengan Waktu Pengamatan ,------, :ndeks : Nama: Variabel; Std. Deviasi: ; , Variabel terikat xl 0,0000 9,5219 Variabel bebas yz 6,1475 0,3390 : ~------~ ~ ,, , , Y3'-.!ie!?~L_J.J~2~i!.~~!' ~~g!:~~!.~_~!.<!:.._~!:!:2!:~--l'jr.~=j2j - 0,0331 0,2338-3,830 : xl Konstanta 6,1475, t ~ ~ Stan dar Error dari estimasi = 0,530; r = - 1,2202 Persamaan menjadi Y = 6,1475-0,0331 X Nilai r = - Semakin besar nilai X semakin kecil nilai Y. Semakin besar waktu semakin berkurang nilai ph. 1,2202 menunjukan hubungan keeratan yang cukup tinggi antara waktu pengama.tan dengan ph.

70 53 Lampiran 21. Jumlah kasus 16 Jumlah variabel: 4 Analisa Regresi Berindeks dari Perubahan ph Kelompok Ayam yang Diberi Perlakuan Strangulasi (peneekikan) dengan Waktu Pengamatan., r----, , , ilndeks :Nama: Variabel: Std. Deviasi: l ~_---~_ _ l : :Variabel terikat: xl: 0,0000' 9,5219 t :Variabel bebas : Y3: 6,0650: 0,2726 : _--_ ~ t r j ! :Variabel :Koefisien Regresi: Std. Error: T (DB=4): : ~ xl : - 0,0251 0,2580-2,802,, ' :Konstanta: 6, 0650, : : 1:....1 :... 1 = Standar Error dari estimasi = 0,5982; r = - 0,9241 Persamaan menjadi Y = 6,0650-0, 0251 X Nilai r = - Semakin besar nilai X semakin keeil nilai Y. Semakin besar waktu semakin berkurang nilai ph. 0,9241 menunjukan hubungan keeratan yang eukup tinggi antara waktu pengamatan dengan ph.

71 ~,, 'f\ b,t t, r~~, 6 : 110 :- ~', ' "f' ' ) d;,) ~~~ ("DO ; i,.l.,.j '1.. ') ;:.. ~," 't 6 ", B in P"~ ;:,;,..1.u... '.' H,if:, Q ',! 11 i::,, ,.."...

72 55 Lit~ptrao ".-?f1 b,,.,j 6.00 ') 0 4 ~, " <1.-~ i...., to..! \.0' W l: ~j.~ '1,,,... ' '" " f 1l i~.,... " ''. t \ ':::'"!J. ~,",K Pengand tar)) 1;]

73 LaMpit'dn 24 : GNfik ph d~lam.16 J~M.~aktu p~nya~.3.t~n.lada ~~lo~pqk Aya~!H.ng ctlhen pe1 1 1aKUan ~ trangul?.51 (renceklkarj! 56 r; 11 vii 'J r ~D - i ;H ~ ~t\ L f...t r' ~ '.1! "i'lj!, r i i t \ \ \, \, ~ \A~ i\ \l.. t C r;n i V r i. L:. f~'", '-" r h.nn ~ ~... ""!.. \ ~! 1!,,"f i 1-11n: 1 ",' ",t,.. /, \ \ \;. '\5.~. ~ -l 4>- " \ 1\. \/ ':[... a 1 a.. *' T 6... B...,. J...!s:_. -, ~ -,... 1 i"! 0 0 lu l~ F i'\.&.1.1.&.\1 'i i i.-, i: "l l,j J 11 (Waktu PengaMatan)

74 57 Lampiran 25. Prosentase Timbu1nya Tanda (-), (±) dan (+) pada Reaksi Postma dari Ke1ompok Ayam yang Dipotong Tanpa Perlakuan Awal. --.,: r------"j r ,, " P f... rosentase! - ~ r 'Ayam ---_: (-),(±),(+), -_ ~ ~------,, , ,5 37,5, 12,5 5,62,5 37,5,, ', 'R ata-rata! 70 : 22 5: 7",,,.J ~ J ~ ~_ r ,_ Lampiran 26. Prosentase Timbulnya Tanda (-), (±) dan (+) pada Reaksi Postma dari Ke1ompok Ayam yang Dipotong Sete1ah Diberi Per1akuan Awal Berupa Derita Cekaman (stress). ~~ r l ! , "',J'rosentase " - layam -,_ (-) (±), (+) ~, ' ' : , ,5 37,5 12,5 12,5 37, ,5 50, 12,5 ' 1-!......, : r Rata-rata 52,5 L 40 7,5 ~ _

75 58 Lampiran 27. Prosentase Timbulnya Tanda (-), (±) dan (+) pada Reaksi Postma dari Kelompok Ayam yang Diberi Perlakuan Strangulasi (pencekikan). "' T ,------, 'p... rosentase t :... Ayam " (-) (±): (+) ~ ~ ~------~-----! ' 1 : 62,5 : 12,5 : 25,! 2 '37,5 37,S 25, 3 37,5 62,5: 4 37, ,5 5 '37,5,50 : 12,51 1~ L ,Rata-rata : 42,S 42,5 15 ',.!...!... L. : Lampiran 28. t-tes untuk Menguji Sebaran Normal Unit-unit Percobaan. Jumlah unit percobaan = 15 oj{ :f s = 0,417 j{ = 900 gram, x = 870 gram t hitung = =.!.L:_2.!.Q 0,417/15 = - 2,785 Pada = 0,01; t tabel = - 2,977 H diterima. o

papah,.da Hen, kakak-kakak

papah,.da Hen, kakak-kakak Usaha Manusia Bermacam-macam Yang Terpenting Adalah Mencari Keridhaan Allah ( QS AI-Lail ) Skripsi ini kupersembahkan kehadapan mamah, papah,.da Hen, kakak-kakak serta keponakan-keponakan tercinta PENGARUH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semakin meningkat menuntut produksi lebih dan menjangkau banyak konsumen di. sehat, utuh dan halal saat dikonsumsi (Cicilia, 2008).

BAB I PENDAHULUAN. semakin meningkat menuntut produksi lebih dan menjangkau banyak konsumen di. sehat, utuh dan halal saat dikonsumsi (Cicilia, 2008). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan masyarakat Indonesia akan gizi menuntut dikembangkannya berbagai industri pangan. Salah satu sektor yang turut berperan penting dalam ketersediaan bahan pangan

Lebih terperinci

KIAT-KIAT MEMILIH DAGING SEHAT Oleh : Bidang Keswan-Kesmavet, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat (disadur dari berbagai macam sumber)

KIAT-KIAT MEMILIH DAGING SEHAT Oleh : Bidang Keswan-Kesmavet, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat (disadur dari berbagai macam sumber) KIAT-KIAT MEMILIH DAGING SEHAT Oleh : Bidang Keswan-Kesmavet, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat (disadur dari berbagai macam sumber) KASUS SEPUTAR DAGING Menghadapi Bulan Ramadhan dan Lebaran biasanya

Lebih terperinci

Tanya Jawab Seputar DAGING AYAM SUMBER MAKANAN BERGIZI

Tanya Jawab Seputar DAGING AYAM SUMBER MAKANAN BERGIZI Tanya Jawab Seputar DAGING AYAM SUMBER MAKANAN BERGIZI KEMENTERIAN PERTANIAN DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN 2012 DAFTAR ISI 1. Apa Kandungan gizi dalam Daging ayam? 2. Bagaimana ciri-ciri

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Daging merupakan makanan yang kaya akan protein, mineral, vitamin, lemak

I. PENDAHULUAN. Daging merupakan makanan yang kaya akan protein, mineral, vitamin, lemak 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Daging merupakan makanan yang kaya akan protein, mineral, vitamin, lemak serta zat yang lain yang sangat dibutuhkan oleh tubuh. Usaha untuk meningkatkan konsumsi

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Konversi Otot Menjadi Daging

TINJAUAN PUSTAKA Konversi Otot Menjadi Daging II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konversi Otot Menjadi Daging Kondisi ternak sebelum penyembelihan akan mempengaruhi tingkat konversi otot menjadi daging dan juga mempengaruhi kualitas daging yang dihasilkan

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING

KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING ILMU PASCA PANEN PETERNAKAN (Kuliah TM 4; 23 Sept 2014) PROSES MENGHASILKAN DAGING TERNAK HIDUP KARKAS POTONGAN BESAR READY TO COOK Red meat White meat NAMP Meat Buyer

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Daging ayam merupakan daging yang paling banyak dikonsumsi masyarakat

PENDAHULUAN. Daging ayam merupakan daging yang paling banyak dikonsumsi masyarakat I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Daging ayam merupakan daging yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia karena rasanya disukai dan harganya jauh lebih murah di banding harga daging lainnya. Daging

Lebih terperinci

DAGING. Theresia Puspita Titis Sari Kusuma. There - 1

DAGING. Theresia Puspita Titis Sari Kusuma. There - 1 DAGING Theresia Puspita Titis Sari Kusuma There - 1 Pengertian daging Daging adalah bagian tubuh yang berasal dari ternak sapi, babi atau domba yang dalam keadaan sehat dan cukup umur untuk dipotong, tetapi

Lebih terperinci

Karakteristik mutu daging

Karakteristik mutu daging Karakteristik mutu daging Oleh: Elvira Syamsir (Tulisan asli dalam Kulinologi Indonesia edisi Maret 2011) Mutu merupakan gabungan atribut produk yang dinilai secara organoleptik dan digunakan konsumen

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Data yang diperoleh dari Dinas Kelautan, Perikanan Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Gorontalo memiliki 10 Tempat Pemotongan Hewan yang lokasinya

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. amino esensial yang lengkap dan dalam perbandingan jumlah yang baik. Daging broiler

PENDAHULUAN. amino esensial yang lengkap dan dalam perbandingan jumlah yang baik. Daging broiler PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Daging broiler merupakan komoditas yang banyak diperdagangkan dan sangat diminati oleh konsumen karena merupakan sumber protein hewani yang memiliki kandungan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Daging sapi didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Daging sapi didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produk 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daging Sapi Daging sapi didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produk hasil pengolahan jaringan-jaringan tersebut yang sesuai untuk dimakan serta tidak menimbulkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler termasuk ke dalam ordo Galliformes,familyPhasianidae dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler termasuk ke dalam ordo Galliformes,familyPhasianidae dan 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ayam Broiler Ayam broiler termasuk ke dalam ordo Galliformes,familyPhasianidae dan spesies Gallusdomesticus. Ayam broiler merupakan ayam tipe pedaging yang lebih muda dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kecukupan gizi. Unsur gizi yang dibutuhkan manusia antara lain: protein, lemak,

BAB I PENDAHULUAN. kecukupan gizi. Unsur gizi yang dibutuhkan manusia antara lain: protein, lemak, BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kelangsungan hidup manusia sangat dipengaruhi oleh nilai atau kecukupan gizi. Unsur gizi yang dibutuhkan manusia antara lain: protein, lemak, karbohidrat, mineral, serta

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi. Tabel 2. Komposisi Zat Makanan Ransum Penelitian Zat Makanan Jumlah (%)

MATERI DAN METODE. Materi. Tabel 2. Komposisi Zat Makanan Ransum Penelitian Zat Makanan Jumlah (%) MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Blok B, Unit Unggas. Pemotongan puyuh dan penelitian persentase karkas dilakukan di Laboratorium Unggas serta uji mutu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Produk daging yang dihasilkan dari kelinci ada dua macam yaitu fryer dan roaster. Kelinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Produk daging yang dihasilkan dari kelinci ada dua macam yaitu fryer dan roaster. Kelinci BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daging Kelinci Produk daging yang dihasilkan dari kelinci ada dua macam yaitu fryer dan roaster. Kelinci fryermerupakan karkas kelinci muda umur 2 bulan, sedangkan karkas kelinci

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pakan Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pakan Penelitian Kandungan Nutrisi Pakan HASIL DAN PEMBAHASAN Pakan Penelitian Kandungan nutrisi pakan tergantung pada bahan pakan yang digunakan dalam pakan tersebut. Kandungan nutrisi pakan penelitian dari analisis proksimat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kambing Kacang yang lebih banyak sehingga ciri-ciri kambing ini lebih menyerupai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kambing Kacang yang lebih banyak sehingga ciri-ciri kambing ini lebih menyerupai 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Jawarandu Kambing Jawarandu merupakan kambing hasil persilangan antara kambing Peranakan Etawa dengan kambing Kacang. Kambing ini memiliki komposisi darah kambing

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi

1. PENDAHULUAN. pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi 1 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pertambahan jumlah penduduk Indonesia yang disertai dengan perkembangan pengetahuan dan tingkat kesadaran masyarakat tentang kebutuhan gizi menyebabkan terjadinya

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Sebagian besar masyarakat Indonesia menyukai daging ayam karena. Sebagai sumber pangan, daging ayam mempunyai beberapa kelebihan lainnya

PENDAHULUAN. Sebagian besar masyarakat Indonesia menyukai daging ayam karena. Sebagai sumber pangan, daging ayam mempunyai beberapa kelebihan lainnya I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagian besar masyarakat Indonesia menyukai daging ayam karena dagingnya selain rasanya enak juga merupakan bahan pangan sumber protein yang memiliki kandungan gizi lengkap

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking TINJAUAN PUSTAKA Itik Peking Itik peking adalah itik yang berasal dari daerah China. Setelah mengalami perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking dapat dipelihara

Lebih terperinci

METODE. Materi. Pakan Pakan yang diberikan selama pemeliharaan yaitu rumput Brachiaria humidicola, kulit ubi jalar dan konsentrat.

METODE. Materi. Pakan Pakan yang diberikan selama pemeliharaan yaitu rumput Brachiaria humidicola, kulit ubi jalar dan konsentrat. METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapangan IPT Ruminansia Kecil serta Laboratorium IPT Ruminansia Besar, Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan,

Lebih terperinci

DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN KABUPATEN GROBOGAN MEMILIH DAGING ASUH ( AMAN, SEHAT, UTUH, HALAL )

DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN KABUPATEN GROBOGAN MEMILIH DAGING ASUH ( AMAN, SEHAT, UTUH, HALAL ) DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN KABUPATEN GROBOGAN MEMILIH DAGING ASUH ( AMAN, SEHAT, UTUH, HALAL ) Diterbitkan : Bidang Keswan dan Kesmavet Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Grobogan Jl. A. Yani No.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Ayam Broiler Ayam broiler merupakan bangsa unggas yang arah kemampuan utamanya adalah untuk menghasilkan daging yang banyak dengan kecepatan pertumbuhan yang sangat pesat. Ayam

Lebih terperinci

Mutiara Nugraheni

Mutiara Nugraheni Mutiara Nugraheni [email protected] 1. 2. 3. Mutu protein tinggi, asam amino esensial lengkap dan seimbang Protein lebih mudah dicerna daripada nabati Mengandung vitamin dan mineral 1.Sapi Penghasil

Lebih terperinci

DAGING. Pengertian daging

DAGING. Pengertian daging Pengertian daging DAGING Titis Sari Kusuma Daging adalah bagian tubuh yang berasal dari ternak sapi, babi atau domba yang dalam keadaan sehat dan cukup umur untuk dipotong, tetapi hanya terbatas pada bagian

Lebih terperinci

PENGOLAHAN DENGAN SUHU RENDAH. Oleh : ROSIDA, S.TP,MP

PENGOLAHAN DENGAN SUHU RENDAH. Oleh : ROSIDA, S.TP,MP PENGOLAHAN DENGAN SUHU RENDAH Oleh : ROSIDA, S.TP,MP PENDINGINAN (Cooling / Refrigerasi) : Adalah penyimpanan bahan pangan (Nabati/Hewani) diatas suhu titik beku tetapi kurang dari 15oC Pendinginan merupakan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE PENELITIAN III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1. Bahan dan Peralatan Penelitian 3.1.1. Bahan Penelitian Penelitian ini menggunakan daging ayam broiler sebanyak 8 ekor yang berasal dari CV. Putra Mandiri, dan strain

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. alot (Chang et al., 2005). Daging itik mempunyai kandungan lemak dan protein lebih

II. TINJAUAN PUSTAKA. alot (Chang et al., 2005). Daging itik mempunyai kandungan lemak dan protein lebih II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daging Itik Afkir Daging itik mempunyai kualitas rendah karena bau amis, bertekstur kasar dan alot (Chang et al., 2005). Daging itik mempunyai kandungan lemak dan protein lebih

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat Fisik Daging Kualitas karkas dan daging dipengaruhi oleh faktor sebelum dan setelah pemotongan. Faktor sebelum pemotongan yang dapat mempengaruhi kualitas daging antara lain

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum di dalam Kandang Rataan temperatur dan kelembaban di dalam kandang selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Rataan Suhu dan Kelembaban Relatif Kandang Selama

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN ,8 ton (49,97%) dari total produksi daging (Direktorat Jenderal Peternakan,

I. PENDAHULUAN ,8 ton (49,97%) dari total produksi daging (Direktorat Jenderal Peternakan, I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daging ayam broiler adalah bahan pangan sumber protein hewani yang berkualitas tinggi karena mengandung asam amino esensial yang lengkap, lemak, vitamin, dan mineral serta

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING (lanjutan)

KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING (lanjutan) KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING (lanjutan) ILMU PASCA PANEN PETERNAKAN (Kuliah TM 5) normal DFD Gambar daging sapi yang memiliki DIA normal dan daging yang memiliki DIA tinggi sehingga tampak gelap

Lebih terperinci

Nova Nurfauziawati Kelompok 11 A V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Nova Nurfauziawati Kelompok 11 A V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN V. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN Praktikum yang dilaksanakan pada 12 September 2011 mengenai perubahan fisik, kimia dan fungsional pada daging. Pada praktikum kali ini dilaksanakan pengamatan perubahan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. unggas yang lain. Itik mampu mempertahankan produksi telur lebih lama

I. PENDAHULUAN. unggas yang lain. Itik mampu mempertahankan produksi telur lebih lama 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Itik adalah salah satu jenis unggas yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan unggas yang lain. Itik mampu mempertahankan produksi telur lebih lama dibandingkan

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Ternak Percobaan Kandang Bahan dan Alat Prosedur Persiapan Bahan Pakan

MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Materi Ternak Percobaan Kandang Bahan dan Alat Prosedur Persiapan Bahan Pakan MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei sampai September 2011. Pemeliharaan domba dilakukan di kandang percobaan Laboratorium Ternak Ruminansia Kecil sedangkan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. dan dikenal sebagai ayam petarung. Ayam Bangkok mempunyai kelebihan pada

PENDAHULUAN. dan dikenal sebagai ayam petarung. Ayam Bangkok mempunyai kelebihan pada 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ayam Bangkok merupakan jenis ayam lokal yang berasal dari Thailand dan dikenal sebagai ayam petarung. Ayam Bangkok mempunyai kelebihan pada daya adaptasi tinggi karena

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kandang Hewan Percobaan, Laboratorium fisiologi dan biokimia, Fakultas

BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Kandang Hewan Percobaan, Laboratorium fisiologi dan biokimia, Fakultas BAB III BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakasanakan di Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Kandang Hewan Percobaan, Laboratorium fisiologi dan biokimia, Fakultas Peternakan Universitas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh penggunaan restraining box terhadap ph daging Hasil pengujian nilai ph dari daging yang berasal dari sapi dengan perlakuan restraining box, nilai ph rata-rata pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesa Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu

BAB I PENDAHULUAN. (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesa Penelitian, dan (7) Tempat dan Waktu BAB I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilakukan di Farm dan Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Jambi, pada tanggal 28 September sampai tanggal 28 November 2016.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Aves, ordo Anseriformes, family Anatidae, sub family Anatinae, rumpun Anatini,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Aves, ordo Anseriformes, family Anatidae, sub family Anatinae, rumpun Anatini, 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daging Itik Itik merupakan salah satu unggas air yang lebih dikenal dibanding dengan jenis unggas air lainnya seperti angsa dan entog. Itik termasuk ke dalam kelas Aves,

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2011 hingga Februari 2012. Pemeliharaan dan penyembelihan ternak dilakukan di Laboratorium Lapang Blok B, Unit Unggas,

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. berbeda dilaksanakan mulai bulan Maret sampai Agustus 2016 di kandang domba

BAB III MATERI DAN METODE. berbeda dilaksanakan mulai bulan Maret sampai Agustus 2016 di kandang domba 12 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian mengenai produksi karkas dan non karkas domba ekor tipis jantan lepas sapih yang digemukkan dengan imbangan protein dan energi pakan berbeda dilaksanakan mulai bulan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Bobot dan Persentase Komponen Karkas Komponen karkas terdiri dari daging, tulang, dan lemak. Bobot komponen karkas dapat berubah seiring dengan laju pertumbuhan. Definisi pertumbuhan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Ariansah (2008), itik masih sangat populer dan banyak di manfaatkan

TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Ariansah (2008), itik masih sangat populer dan banyak di manfaatkan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Daging Itik Afkir Itik afkir merupakan ternak betina yang tidak produktif bertelur lagi. Menurut Ariansah (2008), itik masih sangat populer dan banyak di manfaatkan sebagai bahan

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING

KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING ILMU PASCA PANEN PETERNAKAN KARAKTERISTIK DAN KOMPOSISI DAGING KELAS B Juni Sumarmono, PhD Ir. Kusuma Widayaka, MS SEMESTER GASAL 207/2018 Kuliah TM 4 Laboratorium Teknologi Hasil Ternak, Fakultas Peternakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. antara ayam jantan ras White Cornish dari Inggris dengan ayam betina dari ras

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. antara ayam jantan ras White Cornish dari Inggris dengan ayam betina dari ras BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Pedaging Ayam ras pedaging atau yang lebih dikenal oleh masyarakat dengan nama ayam broiler adalah merupakan jenis ras unggul dari persilangan (perkawinan) antara ayam

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui sifat dendeng kelinci yang dibungkus daun

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui sifat dendeng kelinci yang dibungkus daun BAB III MATERI DAN METODE Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui sifat dendeng kelinci yang dibungkus daun papaya terhadap ph, daya kunyah dan kesukaan dilaksanakan pada tanggal 15 Januari sampai 14

Lebih terperinci

>> PENDAHULUAN >> TUJUAN >> MANFAAT

>> PENDAHULUAN >> TUJUAN >> MANFAAT >> PENDAHULUAN Pedoman Cara Ritel Pangan yang Baik di Pasar Tradisional adalah acuan yang digunakan dalam melakukan kegiatan ritel pangan di pasar tradisional dan dalam rangka pengawasan keamanan pangan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler atau yang juga disebut ayam pedaging merupakan salah satu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Ayam broiler atau yang juga disebut ayam pedaging merupakan salah satu 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Broiler Ayam broiler atau yang juga disebut ayam pedaging merupakan salah satu unggas yang sangat efisien dalam menghasilkan daging dan digemari oleh masyarakat Indonesia

Lebih terperinci

Berikut tips mengenali dan memilih pangan yang berasal dari hewan yang memenuhi kriteria Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).

Berikut tips mengenali dan memilih pangan yang berasal dari hewan yang memenuhi kriteria Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Selama bulan puasa dan saat Lebaran tiba, sudah menjadi kebiasaan khususnya umat Islam menyajikan makanan yang bergizi serta lezat dalam cita rasa bagi keluarga. Berbagai bahan makanan disiapkan untuk

Lebih terperinci

PAPER BIOKIMIA PANGAN

PAPER BIOKIMIA PANGAN PAPER BIOKIMIA PANGAN BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ilmu kimia terkait erat dengan kehidupan manusia sehari-hari. Mulai dari urusan sandang dan pangan, bahan bakar, obat-obatan sampai bahan konstruksi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN Produksi Bakteriosin HASIL DAN PEMBAHASAN Bakteriosin merupakan senyawa protein yang berasal dari Lactobacillus plantarum 2C12. Senyawa protein dari bakteriosin telah diukur konsentrasi dengan menggunakan

Lebih terperinci

Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu - 19 o c

Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu - 19 o c Kualitas Daging Sapi Wagyu dan Daging Sapi Bali yang Disimpan pada Suhu - 19 o c (THE QUALITY OF WAGYU BEEF AND BALI CATTLE BEEF DURING THE FROZEN STORAGE AT - 19 O C) Thea Sarassati 1, Kadek Karang Agustina

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. makanan sangat terbatas dan mudah rusak (perishable). Dengan pengawetan,

BAB I PENDAHULUAN. makanan sangat terbatas dan mudah rusak (perishable). Dengan pengawetan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penggunaan pengawet berbahaya dalam bahan makanan seperti ikan dan daging menjadi permasalahan serius yang dihadapi oleh pemerintah. Penggunaan bahan pengawet

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kampung. Ayam kampung merupakan ayam lokal Indonesia yang berasal dari ayam

TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kampung. Ayam kampung merupakan ayam lokal Indonesia yang berasal dari ayam TINJAUAN PUSTAKA Ayam Kampung Ayam kampung merupakan ayam lokal Indonesia yang berasal dari ayam hutan merah yang berhasil dijinakkan. Akibat dari proses evolusi dan domestikasi maka terciptalah ayam kampung

Lebih terperinci

METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian Penelitian Pendahuluan

METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian Penelitian Pendahuluan METODE Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan mulai dari bulan Mei 2012 sampai bulan Agustus 2012. Tempat yang digunakan untuk melakukan penelitian ini adalah Laboratorium Percobaan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung mulai Agustus September

III. METODE PENELITIAN. Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung mulai Agustus September 14 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lampung mulai Agustus

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi Ternak Percobaan. Kandang dan Perlengkapan

MATERI DAN METODE. Lokasi dan Waktu. Materi Ternak Percobaan. Kandang dan Perlengkapan MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai bulan Agustus 2008 di Desa Pamijahan, Leuwiliang, Kabupaten Bogor, menggunakan kandang panggung peternak komersil. Analisis

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Sosis Sapi

HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakteristik Fisik Sosis Sapi HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Fisik Sosis Sapi Nilai ph Sosis Sapi Substrat antimikroba yang diambil dari bakteri asam laktat dapat menghasilkan senyawa amonia, hidrogen peroksida, asam organik (Jack

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pakan Ayam Pakan merupakan bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, hewan,ataupun bahan lain yang diberikan kepada ternak. Pakan tersebut diberikan kepada ayam dalam

Lebih terperinci

Harryara Sitanggang

Harryara Sitanggang IV. Hasil Pengamatan & Pembahasan Penanganan pasca panen bukan hanya berlaku untuk produk pangan yang berasal dari tumbuhan atau biasa disebut produk nabati. Pemanenan dari komoditas hewani juga perlu

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Daging ayam juga merupakan bahan pangan kaya akan gizi yang sangat. diperlukan manusia. Daging ayam dalam bentuk segar relatif

TINJAUAN PUSTAKA. Daging ayam juga merupakan bahan pangan kaya akan gizi yang sangat. diperlukan manusia. Daging ayam dalam bentuk segar relatif II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Nugget Ayam Bahan pangan sumber protein hewani berupa daging ayam mudah diolah, dicerna dan mempunyai citarasa yang enak sehingga disukai banyak orang. Daging ayam juga merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan protein hewani mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seiring meningkatnya pendapatan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi bagi kesehatan. Salah satu

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Nilai Organoleptik Ikan Layang Data hasil penelitian pengaruh konsentrasi belimbing terhadap nilai organoleptik ikan layang dapat dilihat pada Lampiran 2. Histogram hasil

Lebih terperinci

I. TINJAUAN PUSTAKA. hingga diperoleh ayam yang paling cepat tumbuh disebut ayam ras pedaging,

I. TINJAUAN PUSTAKA. hingga diperoleh ayam yang paling cepat tumbuh disebut ayam ras pedaging, I. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Ayam Ras Pedaging Menurut Indro (2004), ayam ras pedaging merupakan hasil rekayasa genetik dihasilkan dengan cara menyilangkan sanak saudara. Kebanyakan induknya diambil dari Amerika

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Perubahan Ion Leakage Ion merupakan muatan larutan baik berupa atom maupun molekul dan dengan reaksi transfer elektron sesuai dengan bilangan oksidasinya menghasilkan ion.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pendek, yaitu pada umur 4-5 minggu berat badannya dapat mencapai 1,2-1,9 kg

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pendek, yaitu pada umur 4-5 minggu berat badannya dapat mencapai 1,2-1,9 kg BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ayam Broiler Ayam broiler merupakan ternak ayam yang pertumbuhan badannya sangat cepat dengan perolehan timbangan berat badan yang tinggi dalam waktu yang relatif pendek, yaitu

Lebih terperinci

KOMPOSISI PAKAN DAN TUBUH HEWAN

KOMPOSISI PAKAN DAN TUBUH HEWAN 1 KOMPOSISI PAKAN DAN TUBUH HEWAN M.K. Pengantar Ilmu Nutrisi Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB Zat makanan adalah unsur atau senyawa kimia dalam pangan / pakan yang dapat

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Pada pendahuluan menjelaskan mengenai (1) Latar Belakang, (2)

I PENDAHULUAN. Pada pendahuluan menjelaskan mengenai (1) Latar Belakang, (2) I PENDAHULUAN Pada pendahuluan menjelaskan mengenai (1) Latar Belakang, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Karakteristik Babi Ternak babi memiliki karakteristik yang sama kedudukannya dalam sistematika hewan yaitu: Filum: Chordata, Sub Filum: Vertebrata (bertulang belakang), Marga:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan tingkat kebutuhan gizi

BAB I PENDAHULUAN. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan tingkat kebutuhan gizi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk dan tingkat kebutuhan gizi masyarakat, mempengaruhi meningkatnya kebutuhan akan makanan asal hewan (daging). Faktor lain

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. dapat diperoleh di pasar atau di toko-toko yang menjual bahan pangan. Abon dapat

I PENDAHULUAN. dapat diperoleh di pasar atau di toko-toko yang menjual bahan pangan. Abon dapat I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1.1) Latar Belakang, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

1. Jenis-jenis Sapi Potong. Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :

1. Jenis-jenis Sapi Potong. Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah : BUDIDAYA SAPI POTONG I. Pendahuluan. Usaha peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Sapi potong merupakan salah satu komoditas ternak yang potensial dan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Sapi potong merupakan salah satu komoditas ternak yang potensial dan PENDAHULUAN Latar Belakang Sapi potong merupakan salah satu komoditas ternak yang potensial dan strategis untuk dikembangkan di Indonesia. Populasi ternak sapi di suatu wilayah perlu diketahui untuk menjaga

Lebih terperinci

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Bangkok dengan betina ras petelur tipe medium keturunan pertama pada umur

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Bangkok dengan betina ras petelur tipe medium keturunan pertama pada umur 14 III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Bahan Penelitian 3.1.1 Objek Penelitian Objek penelitian yang digunakan adalah ayam hasil persilangan pejantan Bangkok dengan betina ras petelur tipe medium keturunan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Itik (Anas platyrhynchos)

TINJAUAN PUSTAKA. Itik (Anas platyrhynchos) TINJAUAN PUSTAKA Itik (Anas platyrhynchos) Menurut Achmanu (1997), itik termasuk ke dalam unggas air (waterfowl) yang mempunyai klasifikasi sebagai berikut : kelas Aves, ordo Anseriformes, family Anatidae,

Lebih terperinci

PROSES FERMENTASI DENGAN BAKTERI ASAM LAKTAT TERHADAP SIFAT KIMIA DENDENG SAPI IRIS DAN GILING. Oleh : Akram Hamidi

PROSES FERMENTASI DENGAN BAKTERI ASAM LAKTAT TERHADAP SIFAT KIMIA DENDENG SAPI IRIS DAN GILING. Oleh : Akram Hamidi PROSES FERMENTASI DENGAN BAKTERI ASAM LAKTAT TERHADAP SIFAT KIMIA DENDENG SAPI IRIS DAN GILING Oleh : Akram Hamidi 1. Pendahuluan Daging merupakan salah satu bahan pangan bergizi tinggi yang sangat bermanfaat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Nutrien

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Nutrien HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Nutrien Hasil analisa proksimat digunakan sebagai acuan dalam menentukan kualitas nutrien bahan pakan dan dalam menghitung komponen nutrien karena kualitas nutrien bahan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Kerbau adalah hewan tergolong memamah biak subkeluarga bovinae dan

TINJAUAN PUSTAKA. Kerbau adalah hewan tergolong memamah biak subkeluarga bovinae dan TINJAUAN PUSTAKA Daging Kerbau Kerbau adalah hewan tergolong memamah biak subkeluarga bovinae dan mempunyaikebiasaan berendam di sungai dan lumpur. Ternak kerbau merupakan salah satu sarana produksi yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Konsumsi Pakan

HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi Konsumsi Pakan HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Lokasi PT. Purwakarta Agrotechnopreneur Centre (PAC), terletak di desa Pasir Jambu, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Berdasarkan data statistik desa setempat, daerah

Lebih terperinci

SUSU. b. Sifat Fisik Susu Sifat fisik susu meliputi warna, bau, rasa, berat jenis, titik didih, titik beku, dan kekentalannya.

SUSU. b. Sifat Fisik Susu Sifat fisik susu meliputi warna, bau, rasa, berat jenis, titik didih, titik beku, dan kekentalannya. SUSU a. Definisi Susu Air susu termasuk jenis bahan pangan hewani, berupa cairan putih yang dihasilkan oleh hewan ternak mamalia dan diperoleh dengan cara pemerahan (Hadiwiyoto, 1983). Sedangkan menurut

Lebih terperinci

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. adalah Day Old Duck (DOD) hasil pembibitan generasi ke-3 sebanyak 9 ekor itik

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. adalah Day Old Duck (DOD) hasil pembibitan generasi ke-3 sebanyak 9 ekor itik III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1 Bahan dan Objek Penelitian 3.1.1 Ternak Percobaan Itik Rambon dan Cihateup yang digunakan sebagai bahan penelitian adalah Day Old Duck (DOD) hasil pembibitan generasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSATAKA

BAB II TINJAUAN PUSATAKA BAB II TINJAUAN PUSATAKA Terdapat beberapa penelitian tentang analisis preferensi konsumen yang menjadi referensi, salah satunya adalah penelitan Arum Wijaya (2008). Tujuan penelitian ini adalah untuk

Lebih terperinci

4 Telur biasanya juga mengandung semua vitamin yang sangat dibutuhkan kecuali vitamin C. Vitamin larut lemak (A, D, E, dan K), vitamin yang larut air

4 Telur biasanya juga mengandung semua vitamin yang sangat dibutuhkan kecuali vitamin C. Vitamin larut lemak (A, D, E, dan K), vitamin yang larut air TINJAUAN PUSTAKA Telur Telur merupakan bahan pangan asal hewan yang mempunyai daya pengawet alamiah yang paling baik, karena memiliki suatu pelindung kimia dan fisis terhadap infeksi mikroba. Mekanisme

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 21 HASIL DAN PEMBAHASAN Pada setiap sediaan otot gastrocnemius dilakukan tiga kali perekaman mekanomiogram. Perekaman yang pertama adalah ketika otot direndam dalam ringer laktat, kemudian dilanjutkan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dengan nilai gizi yang tinggi dan disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa

I. PENDAHULUAN. dengan nilai gizi yang tinggi dan disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Telur puyuh adalah produk utama yang dihasilkan oleh ternak puyuh dengan nilai gizi yang tinggi dan disukai oleh anak-anak maupun orang dewasa serta harga relatif murah.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, karena daging merupakan sumber protein

BAB I PENDAHULUAN. mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, karena daging merupakan sumber protein BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daging merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, karena daging merupakan sumber protein utama dan sebagai sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Yoghurt merupakan salah satu bentuk produk minuman hasil pengolahan susu yang memanfaatkan mikroba dalam proses fermentasi susu segar menjadi bentuk produk emulsi

Lebih terperinci

THERMOREGULATION SYSTEM ON POULTRY

THERMOREGULATION SYSTEM ON POULTRY THERMOREGULATION SYSTEM ON POULTRY Oleh : Suhardi, S.Pt.,MP Pembibitan Ternak Unggas AYAM KURANG TOLERAN TERHADAP PERUBAHAN SUHU LINGKUNGAN, SEHINGGA LEBIH SULIT MELAKUKAN ADAPTASI TERHADAP PERUBAHAN SUHU

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2)

I. PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) I. PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. perubahan pola makan yang ternyata berdampak negatif pada meningkatnya

I PENDAHULUAN. perubahan pola makan yang ternyata berdampak negatif pada meningkatnya I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1.1) Latar Belakang Penelitian, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

II KAJIAN KEPUSTAKAAN

II KAJIAN KEPUSTAKAAN II KAJIAN KEPUSTAKAAN 2.1 Deskripsi Itik Itik merupakan salah satu jenis unggas yang sudah lama dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia. Selain sebagai alat pemenuh kebutuhan konsumsi namun juga berpotensi

Lebih terperinci

Buletin Peternakan Edisi IV 2017 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Sulawesi Selatan

Buletin Peternakan Edisi IV 2017 Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Sulawesi Selatan PROSES PEMBUATAN TELUR ASIN SEBAGAI PELUANG USAHA Oleh : Andi Mulia, Staff Pengajar di UIN Alauddin Makassar Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. protein yang lebih baik bagi tubuh dibandingkan sumber protein nabati karena mengandung

I. PENDAHULUAN. protein yang lebih baik bagi tubuh dibandingkan sumber protein nabati karena mengandung I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Daging merupakan bahan makanan hewani yang digemari oleh seluruh lapisan masyarakat karena rasanya yang lezat dan mengandung nilai gizi yang tinggi. Daging merupakan

Lebih terperinci

Mutu karkas dan daging ayam

Mutu karkas dan daging ayam Standar Nasional Indonesia Mutu karkas dan daging ayam ICS 67.120.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi...

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pengawetan dengan suhu rendah bertujuan untuk memperlambat atau menghentikan metabolisme. Hal ini dilakukan berdasarkan fakta bahwa respirasi pada buah dan sayuran tetap

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Secara umum penelitian ini sudah berjalan dengan cukup baik. Terdapat sedikit hambatan saat akan memulai penelitian untuk mencari ternak percobaan dengan umur

Lebih terperinci