BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN
|
|
|
- Iwan Setiabudi
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN 24
2 BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH TRIWULAN III 2008 KANTOR 25
3 BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya (kredibel) secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil Misi Bank Indonesia Mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah melalui pemeliharaan kestabilan moneter dan pengembangan stabilitas sistem keuangan untuk pembangunan jangka panjang Negara Indonesia yang berkesinambungan Tugas Bank Indonesia 1. Menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter 2. Mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran 3. Mengatur dan mengawasi bank Kritik, saran, masukan dan komentar dapat disampaikan kepada : Redaksi : Kelompok Kajian, Statistik dan Survei Kantor Bank Indonesia Palu Jl. Dr. Sam Ratulangi No.23 Palu Telp : Fax : [email protected]; [email protected] Homepage : 26
4 BAB 3. PERKEMBANGAN KATA PENGANTAR PERBANKAN KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan karunia-nya sehingga penyusunan buku Kajian Ekonomi Regional (KER) Provinsi Sulawesi Tengah triwulan III-2008 dapat diselesaikan. Tujuan dari penyusunan buku laporan triwulanan ini adalah untuk memberikan informasi kepada stakeholders tentang perkembangan ekonomi dan perbankan di Sulawesi Tengah, dengan harapan informasi tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu sumber referensi bagi pembuat kebijakan, akademisi, masyarakat dan pihak-pihak lainnya yang membutuhkan dan memiliki perhatian terhadap perkembangan ekonomi di Sulawesi Tengah. Cakupan kajian di dalam buku KER ini cukup luas, yaitu meliputi kajian perkembangan makroekonomi regional, perkembangan inflasi, perkembangan perbankan, perkembangan sistem pembayaran, perkembangan ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat, keuangan daerah serta perkiraan ekonomi dan inflasi ke depan. Berdasarkan asesmen pada triwulan III-2008, perekonomian Sulawesi Tengah diperkirakan mengalami perlambatan pertumbuhan dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya dan inflasi cenderung meningkat terutama disebabkan oleh faktor musiman hari raya keagamaan, masih tingginya harga komoditas pangan internasional dan terbatasnya pasokan bahan bakar rumah tangga. Sementara itu, kenaikan BI Rate yang telah ditransmisikan pada naiknya rata-rata tertimbang suku bunga kredit relatif belum mempengaruhi fungsi intermediasi perbankan sebagaimana tercermin pada pertumbuhan kredit perbankan. Kami menyadari bahwa publikasi ini masih belum sempurna. Dalam rangka penyempurnaan dan peningkatan kualitas kajian di waktu yang akan datang, sangat diharapkan saran, masukan dan tentunya supply data terkini dari berbagai pihak. Selanjutnya, pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini. Palu, November 2008 TTD Suparmo Pemimpin 27i
5 BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN DAFTAR ISI DAFTAR ISI Kata Pengantar..... i Daftar Isi... ii Daftar Tabel... iv Daftar Grafik... v Ringkasan Eksekutif... 1 BAB 1. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI REGIONAL Permintaan Daerah Penawaran Daerah BAB 2. PERKEMBANGAN INFLASI BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN Perkembangan Moneter Perkembangan Perbankan Aset dan Jaringan Kantor Penghimpunan Dana Penyaluran Kredit Kolektibilitas Kredit Boks : Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao BAB 4. PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Perkembangan Uang Kartal Perkembangan Uang Palsu Yang Ditemukan Perkembangan Kliring Lokal ii 28
6 BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN DAFTAR ISI BAB 5. PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Gini Ratio Kemiskinan BAB 6. KEUANGAN DAERAH BAB 7. PERKIRAAN EKONOMI DAN INFLASI Prospek Pertumbuhan Ekonomi Prospek Inflasi Prospek Perbankan DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN 29 iii
7 BAB 3. PERKEMBANGAN DAFTAR PERBANKAN TABEL DAFTAR TABEL Tabel 1.1. PDRB Menurut Penggunaan ADH Konstan Tabel 1.2. Laju Pertumbuhan PDRB Menurut Penggunaan ADH Konstan Tabel 1.3. Perkembangan Produksi Tanaman Bahan Makanan Tabel 1.4. PDRB Menurut Lapangan Usaha ADH Konstan Tabel 1.5. Laju Pertumbuhan PDRB Menurut Lapangan Usaha ADH Konstan Tabel 2. Inflasi Kota Palu Menurut Kelompok Barang dan Jasa Tabel 3.1. Perkembangan Komponen Uang Beredar Regional (Miliar Rp) Tabel 3.2. Perkembangan Total Aset Perbankan (Miliar Rp) Tabel 3.3. Perkembangan Dana Perbankan Berdasarkan Golongan Pemilik Tabel 3.4. Penghimpunan Dana Perbankan (Miliar Rp) Tabel 3.5. Perkembangan Kredit Perbankan (Miliar Rp) Tabel 3.6. Perkembangan Kredit UMKM Perbankan Sulawesi Tengah (Miliar Rp) Tabel 3.7. Kolektibilitas Kredit Bank Umum (Miliar Rp) Tabel 3.8. Perkembangan NPLs Gross Bank Umum Berdasarkan Sektor Ekonomi Tabel 3.9. Kolektibilitas Kredit BPR (Juta Rp) Tabel 4.1. Jumlah Uang Palsu Yang Ditemukan (Lembar) Tabel 4.2. Perputaran Kliring dan Cek/BG Kosong Tabel 5.1. Perkembangan Ketenagakerjaan Tabel 5.2. Perkembangan Gini Ratio Sulawesi Tengah Tabel 5.3. Perkembangan Indikator-Indikator Kemiskinan di Provinsi Sulawesi Tengah Tabel 6. Kinerja APBD Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah iv
8 BAB 3. PERKEMBANGAN DAFTAR PERBANKAN GRAFIK DAFTAR GRAFIK Grafik 1.1. Laju Pertumbuhan PDRB Sulawesi Tengah Grafik 1.2. Perkembangan Kredit Konsumsi di Sulawesi Tengah Grafik 1.3. Perkembangan Penjualan Motor dan Mobil Grafik 1.4. Perkembangan Konsumsi Premium di Kota Palu Grafik 1.5. Realisasi APBD Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah Grafik 1.6. Realisasi Pengadaan Semen di Sulawesi Tengah Grafik 1.7. Perkembangan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Berbintang Grafik 1.8. Perkembangan Kredit Perbankan Sektor Perdagangan Grafik 1.9. Perkembangan Jumlah Penumpang Pesawat Terbang Grafik Perkembangan Jumlah Penumpang Kapal Laut Grafik Perkembangan Kredit Perbankan Sektor Industri Grafik Perkembangan Volume Penjualan Perumahan Grafik Perkembangan Kredit Perbankan di Sulawesi Tengah Grafik Perkembangan Kualitas Kredit Perbankan di Sulawesi Tengah Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi Tahunan (y-o-y) Grafik 2.2. Perkembangan Inflasi Bulanan (m-t-m) dan Tahun Kalender.. 21 Grafik 2.3. Perkembangan Sumbangan Kelompok Pengeluaran terhadap Inflasi Kota Palu (m-t-m) Grafik 2.4. Inflasi per Kelompok Pengeluaran Triwulan III-2008 (q-t-q) 22 Grafik 3.1. Perkembangan Suku Bunga 25 Grafik 3.2. Distribusi Kantor Bank di Sulawesi Tengah Triwulan III Grafik 4.1. Perkembangan Inflow-Outflow Grafik 4.2. Perkembangan PTTB Grafik 5.1. Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Grafik 5.2. Perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Grafik 5.3. Perkembangan UMP di Sulawesi Tengah Grafik 6.1. Perkembangan DAU di Sulawesi Tengah Grafik 6.2. Perkembangan DAK di Sulawesi Tengah v
9 BAB 3. PERKEMBANGAN RINGKASAN PERBANKAN EKSEKUTIF RINGKASAN EKSEKUTIF KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH TRIWULAN III-2008 Pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2008 diperkirakan 8,09% (y-o-y)... Di tengah masih berlanjutnya gejolak perekonomian global, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan III-2008 diperkirakan masih relatif tinggi, meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya maupun triwulan III Pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan diperkirakan 8,09% (y-o-y) dan ditopang oleh masih kuatnya permintaan, khususnya konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan cukup tinggi meskipun mengalami perlambatan pertumbuhan dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Hal ini didukung oleh daya beli masyarakat yang masih relatif baik, faktor musiman berupa hari raya keagamaan dan pembiayaan perbankan untuk kegiatan konsumsi. Berbagai kebijakan Pemerintah antara lain penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahap II, percepatan pembayaran gaji pegawai negeri bulan Oktober 2008 dan penyaluran Raskin ikut memperkuat daya beli masyarakat pada triwulan laporan. Sementara itu, kegiatan ekspor (terutama antar negara) dan investasi di Sulawesi Tengah diperkirakan tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebagai dampak melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, penurunan produksi komoditas ekspor utama (kakao) dan kenaikan harga berbagai bahan bangunan yang sangat dibutuhkan dalam kegiatan investasi. Dari sisi penawaran, perlambatan pertumbuhan terjadi pada sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor listrik dan air bersih dan sektor 32 1
10 BAB 3. PERKEMBANGAN RINGKASAN PERBANKAN EKSEKUTIF Pada triwulan III-2008, laju inflasi bulanan Kota Palu cenderung meningkat... Rata-rata nilai tukar rupiah selama triwulan III-2008 masih tercatat menguat... bangunan. Namun demikian, perlambatan pada sektor-sektor tersebut dapat diimbangi oleh peningkatan pertumbuhan pada sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa. Pada triwulan III-2008, laju inflasi bulanan Kota Palu cenderung meningkat terutama disebabkan oleh masih kuatnya permintaan, gangguan pasokan dan faktor musiman hari raya keagamaan. Secara tahunan, laju inflasi Kota Palu pada akhir triwulan III-2008 mencapai 14,33% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan dengan akhir triwulan sebelumnya yang mencapai 10,20% (y-o-y) maupun laju inflasi nasional yang tercatat sebesar 12,14% (y-o-y). Pada bulan September 2008, inflasi bulanan mencapai 1,20% (m-t-m), sedangkan inflasi triwulanan mencapai 5,01% (q-t-q). Selama triwulan III-2008 rata-rata nilai tukar rupiah masih tercatat menguat, meski mendapat tekanan depresiasi di akhir periode laporan. Rata-rata nilai tukar rupiah pada triwulan III-2008 terapresiasi 0,47% yaitu dari Rp9.259/USD pada triwulan II-2008 menjadi Rp9.216/USD pada triwulan laporan. Tingginya tekanan depresiasi terhadap rupiah pada akhir triwulan laporan menyebabkan rupiah ditutup melemah 1,76% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yaitu dari Rp9.220/USD pada akhir triwulan II-2008 menjadi Rp9.385/USD pada akhir triwulan III Meningkatnya risiko perlambatan ekonomi global, krisis sektor keuangan di Amerika Serikat serta persepsi terhadap prospek neraca pembayaran mempengaruhi perkembangan rupiah selama triwulan III Perlambatan ekonomi global dan penguatan USD mendorong turunnya harga komoditas internasional, termasuk komoditas ekspor andalan Sulawesi Tengah (kakao). Harga kakao di salah satu sentra produksi (Kabupaten Parigi Moutong) mengalami penurunan harga yang signifikan yaitu dari rata-rata Rp26.525/kg 33 2
11 BAB 3. PERKEMBANGAN RINGKASAN PERBANKAN EKSEKUTIF Sepanjang triwulan III-2008, BI Rate naik 75 bps... Kenaikan suku bunga simpanan mempengaruhi pertumbuhan DPK, khususnya jenis deposito... pada akhir triwulan sebelumnya menjadi Rp21.175/kg pada akhir triwulan laporan. Penurunan harga komoditas tersebut tentunya akan berpengaruh pada tingkat kesejahteraan petani, khususnya petani di subsektor perkebunan. Sepanjang triwulan III-2008, Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebesar 75 bps hingga menjadi 9,25% pada akhir triwulan III Kebijakan tersebut dilakukan guna menjaga dan mengamankan pencapaian sasaran inflasi jangka menengah dengan mencermati berbagai perkembangan serta mempertimbangkan kondisi makroekonomi nasional secara keseluruhan dan stabilitas sistem keuangan. Kenaikan BI Rate diikuti dengan peningkatan suku bunga deposito, suku bunga penjaminan deposito rupiah dan suku bunga kredit. Di Sulawesi Tengah, rata-rata tertimbang suku bunga deposito 1 bulan pada September 2008 tercatat sebesar 8,88%, naik dibandingkan bulan Juni 2008 sebesar 7,13%, sedangkan suku bunga penjaminan deposito rupiah yang ditetapkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tercatat 8,75% atau lebih tinggi daripada suku bunga penjaminan bulan Juni 2008 sebesar 8,25%. Sementara itu, rata-rata tertimbang (weighted average) suku bunga kredit perbankan di Sulawesi Tengah naik dari 14,24% pada akhir triwulan II-2008 menjadi sebesar 14,48% pada akhir triwulan III Dari sisi penghimpunan dana, kenaikan suku bunga simpanan mempengaruhi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK), khususnya jenis deposito. Pada triwulan III-2008, deposito perbankan tumbuh 12,20% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sementara itu, DPK jenis tabungan tercatat tumbuh -6,42% (q-t-q), dan diperkirakan akibat perpindahan dana dari tabungan ke deposito terkait dengan semakin menariknya suku bunga deposito dan juga meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam bentuk uang kartal menghadapi hari raya keagamaan. Secara tahunan, DPK perbankan tumbuh 11,22% (y-o-y), lebih rendah daripada triwulan III-2007 sebesar 23,39% (y-o-y). 343
12 BAB 3. PERKEMBANGAN RINGKASAN PERBANKAN EKSEKUTIF Pada triwulan III-2008 kredit perbankan tercatat tumbuh 33,22% (y-o-y)... LDR perbankan Sulawesi Tengah tercatat sebesar 104,95%... Kualitas kredit perbankan, bank umum dan BPR, mengalami perbaikan... Dari sisi penyaluran kredit, pada triwulan III-2008 kredit perbankan tercatat tumbuh 33,22% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2007 sebesar 24,63% (y-o-y). Berdasarkan penggunaannya, kenaikan pertumbuhan kredit terjadi pada seluruh jenis kredit dan yang tertinggi pada kredit konsumsi yaitu sebesar 33,70% (y-o-y). Berdasarkan sektor ekonomi, pertumbuhan kredit terjadi pada seluruh sektor ekonomi kecuali sektor pertanian yang mengalami pertumbuhan negatif -0,75% (y-o-y). Pertumbuhan kredit tertinggi terjadi pada sektor listrik, gas dan air dan sektor pertambangan masing-masing sebesar 426,00% (y-o-y) dan 137,58% (y-o-y). Adapun total penyaluran kredit perbankan Sulawesi Tengah sampai dengan triwulan laporan mencapai Rp5.884,14 miliar. Sementara itu, kredit UMKM perbankan Sulawesi Tengah pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp5.250,20 miliar atau 89,23% dari total kredit. Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, kredit UMKM telah bertumbuh 7,47%. Loans to Deposit Ratio (LDR atau rasio kredit terhadap DPK) perbankan di Sulawesi Tengah pada akhir triwulan III-2008 tercatat sebesar 104,95% atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 97,57%. Kenaikan LDR perbankan disebabkan pertumbuhan kredit pada triwulan laporan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK seiring dengan semakin meningkatnya kegiatan usaha yang menggunakan kredit perbankan. Pertumbuhan kredit yang cukup menggembirakan pada triwulan III-2008 ikut mempengaruhi adanya peningkatan kualitas kredit. Kualitas kredit bank umum pada triwulan laporan mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi triwulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari turunnya rasio Non Performing Loans (NPLs) gross bank umum pada triwulan laporan dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu dari 4,93% menjadi 4,67%. Sementara itu secara 35 4
13 BAB 3. PERKEMBANGAN RINGKASAN PERBANKAN EKSEKUTIF Aliran uang kartal di Bank Indonesia berada pada kondisi net outflow... Angka IPM Sulawesi Tengah menunjukkan perbaikan... net, NPLs bank umum tercatat sebesar 1,24%. Sementara itu, kualitas kredit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) juga mengalami perbaikan, tercermin dari turunnya NPLs gross yaitu dari 1,85% pada triwulan II-2008 menjadi sebesar 1,81% pada triwulan laporan. Apabila dihitung secara netto, NPLs BPR berada pada angka 0,78% atau masih di bawah batas indikatif 5%. Aliran uang kartal di Bank Indonesia Palu pada triwulan III-2008 berada pada kondisi net outflow yang berarti aliran uang keluar lebih besar dibandingkan aliran uang masuk. Jumlah outflow pada triwulan laporan dipengaruhi oleh kebutuhan uang kartal masyarakat menghadapi perayaan hari besar keagamaan (Idul Fitri). Jumlah inflow di Bank Indonesia Palu pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp261,63 miliar atau naik 35,60% dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp192,94 miliar. Sementara itu, jumlah outflow tercatat sebesar Rp821,82 miliar atau turun -7,94% dibandingkan triwulan II-2008 sebesar Rp892,71 miliar. Meskipun transaksi tunai masih mendominasi kegiatan perekonomian masyarakat di Sulawesi Tengah, Bank Indonesia bersama dengan perbankan menghendaki meningkatnya penggunaan transaksi non tunai dan berupaya mendorong masyarakat untuk lebih banyak menggunakan transaksi non tunai (less cash society). Dari sisi Bank Indonesia, dengan meningkatnya penggunaan transaksi non tunai maka biaya pencetakan uang dan biaya logistik pengedaran uang dapat ditekan. Angka Indeks Pembangunan Manusia atau IPM Sulawesi Tengah menunjukkan perbaikan, walaupun belum terlalu signifikan. Dibandingkan dengan angka IPM nasional, IPM Sulawesi Tengah selalu berada di bawah IPM nasional. Pada tahun 2006, angka IPM Sulawesi Tengah sebesar 68,80 sedangkan angka IPM nasional sebesar 70,10. Selama ini terdapat tiga kriteria IPM, yaitu IPM tinggi dengan angka indeks di atas 80,00, IPM sedang dengan batas angka 50,00 79,90 dan IPM rendah dengan angka di bawah 36 5
14 BAB 3. PERKEMBANGAN RINGKASAN PERBANKAN EKSEKUTIF Realisasi APBD Provinsi Sulawesi Tengah sampai dengan triwulan III-2008 masih relatif rendah... Perekonomian Sulawesi Tengah triwulan IV-2008 diperkirakan tumbuh pada kisaran 6,50% - 7,00%... Inflasi IHK Kota Palu pada triwulan IV-2008 diperkirakan sekitar 12,50% - 13,00%... 50,00. Angka IPM Sulawesi Tengah dan kebanyakan provinsi di Indonesia masuk dalam kategori sedang. Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sulawesi Tengah sampai dengan triwulan III-2008 tercatat masih relatif rendah, terutama dari sisi belanja daerah. Secara keseluruhan, realisasi belanja daerah Provinsi Sulawesi Tengah mencapai Rp522,94 miliar atau 56,26% dari total anggaran belanja daerah tahun 2008 sebesar Rp929,52 miliar. Realisasi belanja daerah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pendapatan daerah sehingga APBD Provinsi Sulawesi Tengah sampai dengan triwulan III-2008 masih mengalami surplus sebesar Rp161,36 miliar. Surplus tersebut juga tercermin dari perkembangan DPK milik Pemerintah Daerah di perbankan yang terus meningkat dan cukup besar. Perekonomian Sulawesi Tengah pada triwulan IV-2008 diperkirakan tumbuh pada kisaran 6,50% - 7,00%. Di sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi masih didorong oleh tiga sektor utama yaitu sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor jasa-jasa. Dari sisi permintaan, kegiatan konsumsi rumah tangga masih menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi walaupun melambat pertumbuhannya. Adapun kegiatan yang diperkirakan mengalami peningkatan pertumbuhan adalah konsumsi Pemerintah dan investasi, terutama investasi Pemerintah. Sementara itu, kegiatan ekspor Sulawesi Tengah diperkirakan melambat pertumbuhannya akibat menurunnya kinerja ekspor antar negara sebagai dampak krisis keuangan dunia dan penurunan produksi komoditas ekspor utama (kakao). Inflasi IHK tahunan (y-o-y) Kota Palu pada triwulan IV-2008 diperkirakan berada pada kisaran 12,50% - 13,00%. Inflasi terutama terjadi pada kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar. Inflasi pada triwulan 37 6
15 BAB 3. PERKEMBANGAN RINGKASAN PERBANKAN EKSEKUTIF Perbankan Sulawesi Tengah pada tahun 2008 diperkirakan masih tetap stabil... mendatang tersebut antara lain didorong oleh imported inflation akibat pelemahan kurs rupiah, musim hujan yang menyebabkan gangguan pasokan subkelompok sayur-sayuran dan ekspektasi kenaikan upah yang diikuti dengan kenaikan harga beberapa barang dan jasa pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (misalnya sewa dan kontrak rumah). Rencana Pemerintah menurunkan harga BBM subsidi diharapkan mampu mengurangi ekspektasi inflasi masyarakat. Berdasarkan perkembangan berbagai indikator perbankan sampai dengan akhir triwulan laporan, perbankan Sulawesi Tengah pada tahun 2008 diperkirakan masih tetap stabil dengan beberapa pencapaian antara lain pertumbuhan kredit di atas 30% dan NPLs netto di bawah 5%. Namun demikian, terdapat hal yang perlu dicermati karena berpotensi memberikan tekanan pada kualitas kredit yaitu turunnya permintaan dunia akibat krisis keuangan di Amerika Serikat. Turunnya permintaan dunia berpotensi mengganggu kinerja sektor ekonomi yang berorientasi ekspor, dan akhirnya dapat meningkatkan kredit bermasalah pada sektor tersebut. Oleh karena itu, perbankan perlu meningkatkan kehatihatian dalam penyaluran kredit. 38 7
16 BAB 3. PERKEMBANGAN TABEL INDIKATOR PERBANKAN EKONOMI TABEL INDIKATOR EKONOMI PROPINSI SULAWESI TENGAH a. Inflasi dan PDRB Indikator Triwulan II Triwulan III MAKRO Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Palu 152,86 165,29 109,64 *) 115,13 *) Laju Inflasi Tahunan (%) Kota Palu 8,69 8,13 10,20 *) 14,33 *) PDRB harga konstan (miliar Rp) , , , ,54 - Pertanian 5.579, , , ,26 - Pertambangan dan Penggalian 328,29 451,82 131,92 137,34 - Industri Pengolahan 819,32 886,76 232,09 240,46 - Listrik dan Air Bersih 97,73 103,29 25,08 27,02 - Bangunan 819,59 902,41 226,28 268,51 - Perdagangan, Hotel dan Restoran 1.640, ,58 465,42 514,66 - Pengangkutan dan Komunikasi 889,46 977,50 270,25 283,89 - Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 570,89 624,21 173,90 190,56 - Jasa-Jasa 1.925, ,58 600,54 671,83 Pertumbuhan PDRB tahunan (%) 7,82 7,99 9,33 8,09 Nilai Ekspor Non-Migas (USD Juta) 202,16 251,58 82,03 24,43 **) Volume Ekspor Non-Migas (Ton) , , , ,26 **) Nilai Impor Non-Migas (USD Juta) 6,29 0,54 0,00 0,00 **) Volume Impor Non-Migas (Ton) 2.681,99 720,87 0,00 0,00 **) Ket. : *) Menggunakan tahun dasar 2007 (sebelumnya tahun dasar 2002) **) Posisi Juli Agustus
17 BAB 3. PERKEMBANGAN TABEL INDIKATOR PERBANKAN EKONOMI b. Perbankan Indikator Triwulan II Triwulan III PERBANKAN Bank Umum : Total Aset (Miliar Rp) 5.940, , , ,51 DPK (Miliar Rp) 4.476, , , ,65 - Tabungan (Miliar Rp) 2.108, , , ,94 - Giro (Miliar Rp) 1.407, , , ,68 - Deposito (Miliar Rp) 931,58 952,54 908, ,03 Kredit (Miliar Rp) - Berdasarkan Lokasi Proyek 3.837, , , ,70 *) - Modal Kerja 1.684, , , ,08 *) - Konsumsi 1.859, , , ,26 *) - Investasi 292,70 433,37 453,78 585,36 *) - LDR (%) 85,72 98,06 111,10 127,52 *) Kredit (Miliar Rp) Berdasarkan Bank Pelapor 3.587, , , ,55 - Modal Kerja 1.666, , , ,24 - Konsumsi 1.704, , , ,90 - Investasi 216,84 285,40 305,42 321,41 - LDR (%) 80,14 88,96 96,12 103,30 Kredit UMKM (Miliar Rp) 3.257, , , ,60 Kredit Mikro 1.670, , , ,98 Kredit Kecil 822, , , ,52 Kredit Menengah 764,50 977, , ,10 NPLs gross (%) 6,74 6,30 4,93 4,67 NPLs netto (%) 2,85 3,61 2,41 1,24 BPR : Total Aset (Miliar Rp) 104,80 193,07 307,81 361,76 DPK (Miliar Rp) 40,07 54,50 78,78 86,83 - Tabungan (Miliar Rp) 7,89 11,58 17,30 18,98 - Deposito (Miliar Rp) 32,18 42,92 61,48 67,85 Kredit (Miliar Rp) 75,43 113,07 158,,27 182,60 - Modal Kerja 12,08 17,35 20,25 22,15 - Konsumsi 60,98 93,28 135,81 157,99 - Investasi 2,37 2,44 2,21 2,46 Kredit UMKM 75,43 113,07 158,27 182,60 Rasio NPLs gross (%) 4,44 1,70 1,85 1,81 Rasio NPL Netto (%) 3,57 0,79 0,73 0,78 LDR (%) 188,26 207,48 200,92 210,29 Ket. : *) Posisi Agustus
18 BAB 3. PERKEMBANGAN TABEL INDIKATOR PERBANKAN EKONOMI c. Sistem Pembayaran Indikator Triwulan II Triwulan III SISTEM PEMBAYARAN Posisi Kas Gabungan (Miliar Rp) 183,00 216,72 334,20 184,69 Inflow (Miliar Rp) 2.317,25 393,97 192,94 261,63 Outflow (Miliar Rp) 3.310, ,44 892,71 821,82 Pemusnahan Uang (Miliar Rp) 492,90 91,94 64,14 84,58 Transaksi RTGS - Inflow (Miliar Rp) , ,78 - Outflow (Miliar Rp) , ,92 Nominal Kliring (Miliar Rp) 3.435, ,77 760,66 832,61 Volume Kliring (Lembar) Rata-Rata Harian Nominal Kliring (Miliar Rp) 13,96 27,86 12,09 13,05 Rata-Rata Harian Volume Kliring (Lembar) Rata-Rata Harian Nominal Cek/BG Kosong (%) 0,50 0,37 0,50 0,57 Rata-Rata Harian Volume Cek/BG Kosong (%) 0,78 0,84 0,52 0,59 41
19 BAB 1. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI PERBANKAN REGIONAL BAB 1 PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI REGIONAL Di tengah masih berlanjutnya gejolak perekonomian global, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan III-2008 diperkirakan masih relatif tinggi, meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya maupun triwulan III Pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan diperkirakan 8,09% (y-o-y) dan ditopang oleh masih kuatnya permintaan, khususnya konsumsi rumah tangga. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga diperkirakan cukup tinggi meskipun mengalami perlambatan pertumbuhan dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Hal ini didukung oleh daya beli masyarakat yang masih relatif baik, faktor musiman berupa hari raya keagamaan dan pembiayaan perbankan untuk kegiatan konsumsi. Berbagai kebijakan Pemerintah antara lain penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahap II, percepatan pembayaran gaji pegawai negeri bulan Oktober 2008 dan penyaluran Raskin ikut memperkuat daya beli masyarakat pada triwulan laporan. Sementara itu, kegiatan ekspor (terutama antar negara) dan investasi di Sulawesi Tengah diperkirakan tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebagai dampak melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia, penurunan produksi komoditas ekspor utama (kakao) dan kenaikan harga berbagai bahan bangunan yang sangat dibutuhkan dalam kegiatan investasi. Dari sisi penawaran, perlambatan pertumbuhan terjadi pada sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor listrik dan air bersih dan sektor bangunan. Namun demikian, perlambatan pada sektor-sektor tersebut dapat diimbangi oleh peningkatan pertumbuhan pada sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa. 42 8
20 BAB 1. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI PERBANKAN REGIONAL y-o-y Persen (%) Tr I-06 Tr II-06 Tr III-06 Tr IV-06 Tr I-07 Tr II-07 Tr III-07 Tr IV-07 Tr I-08 Tr II-08 Tr III-08 Grafik 1.1. Laju Pertumbuhan PDRB Sulawesi Tengah Atas Dasar Harga Konstan PERMINTAAN DAERAH Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah pada triwulan III-2008 dengan sumbangan sekitar 4,59%. Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh 6,63% (y-o-y), melambat dibandingkan triwulan III-2007 sebesar 8,93% (y-o-y). Perlambatan tersebut disebabkan masih adanya dampak kenaikan harga BBM subsidi. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan laporan didukung oleh daya beli masyarakat yang masih relatif baik, faktor musiman berupa hari raya keagamaan dan pembiayaan perbankan untuk kegiatan konsumsi. Berbagai kebijakan Pemerintah antara lain penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) tahap II, percepatan pembayaran gaji pegawai negeri bulan Oktober 2008 dan penyaluran Raskin diperkirakan ikut memperkuat daya beli masyarakat pada triwulan laporan. Beberapa prompt indicator menunjukkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga seperti pertumbuhan kredit konsumsi perbankan, pertumbuhan volume penjualan motor dan mobil serta perkembangan konsumsi BBM jenis premium di Kota Palu. Kredit konsumsi perbankan pada bulan September 2008 tumbuh 33,70% (y-o-y) dengan outstanding mencapai Rp2,97 triliun. Volume penjualan motor dan mobil pada triwulan laporan tumbuh 71,48% (y-o-y). Sementara itu, konsumsi BBM jenis premium pada triwulan III-2008 diperkirakan naik sekitar 37,56% (y-o-y) seiring dengan pertumbuhan kendaraan yang cukup pesat. 43 9
21 BAB 1. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI PERBANKAN REGIONAL Outstanding Kredit Konsumsi (Triliun Rp) Pertumbuhan (y-o-y) Triliun Rp Persen (%) - Tr IV Tr I Tr II Tr III Tr IV Tr I Tr II Tr III Sumber : Bank Indonesia Palu - Grafik 1.2. Perkembangan Kredit Konsumsi di Sulawesi Tengah Unit 14,000 12,000 10,000 8,000 6,000 4,000 2,000 Volume Penjualan Motor dan Mobil Pertumbuhan (y-o-y) Persen (%) - Tr IV Tr I Tr II Tr III Tr IV Tr I Tr II Tr III Sumber : BPS Sulteng Grafik 1.3. Perkembangan Penjualan Motor dan Mobil - 30,000 25,000 26,355 27,326 20,000 18,788 18,926 19,865 21,047 21,870 Kilo Liter 15,000 13,215 10,000 5,000 - Tr IV Tr I Tr II Tr III Tr IV Tr I Tr II Tr III Sumber : BPS Sulteng Grafik 1.4. Perkembangan Konsumsi Premium di Kota Palu Tabel 1.1. PDRB Menurut Penggunaan Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Rincian 2007 *) 2008 **) Tr II Tr III Tr IV Tr II Tr III 1.Konsumsi RT 1.896, , , , ,74 2.Konsumsi Lembaga Nirlaba 40,55 49,00 49,59 43,71 49,92 3.Konsumsi Pemerintah 410,64 524,39 662,72 457,94 566,14 4.Investasi 648,96 727,14 783,05 717,48 802,17 5.Ekspor 563,37 570,45 533,25 627,83 628,77 6.Impor 222,57 344,70 482,34 244,50 367,20 PDRB 3.337, , , , ,54 Sumber : BPS Sulteng, diolah Ket : *) Data sementara **) Data sangat sementara 10 44
22 BAB 1. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI PERBANKAN REGIONAL Tabel 1.2. Laju Pertumbuhan PDRB Menurut Penggunaan Atas Dasar Harga Konstan 2000 (%) 2007 *) 2008 **) Rincian Tr II Tr III Tr IV Tr II Tr III 1.Konsumsi RT 8,34 8,93 6,72 7,91 6,63 2.Konsumsi Lembaga Nirlaba 9,01 5,86 6,33 7,80 1,86 3.Konsumsi Pemerintah 7,43 7,85 5,56 11,52 7,96 4.Investasi 9,90 13,27 6,25 10,56 10,32 5.Ekspor 11,62 12,92 4,73 11,44 10,22 6.Impor 6,06 5,46 6,49 9,85 6,53 PDRB 9,24 10,55 6,16 9,33 8,09 Sumber : BPS Sulteng, diolah Ket : *) Data sementara (y-o-y) **) Data sangat sementara (y-o-y) Pada triwulan III-2008 konsumsi pemerintah diperkirakan tumbuh sebesar 7,96% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2007 sebesar 7,85% (y-o-y) dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 1,18%. Peningkatan pertumbuhan tersebut tercermin dari persentase realisasi belanja daerah (minus belanja modal) Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah sampai dengan triwulan III-2008 yaitu sebesar 48,32%, lebih besar dari periode yang sama tahun 2007 sebesar 38,88%. Faktor pendorong meningkatnya realisasi belanja daerah (minus belanja modal) antara lain kebijakan Pemerintah Pusat melakukan percepatan pembayaran gaji pegawai negeri dalam rangka hari raya keagamaan. APBD Realisasi (%) Miliar Rp Persen (%) 0 Belanja Daerah (minus belanja modal) Sumber : Biro Keuangan Prov.Sulteng Belanja Modal 0 Grafik 1.5. Realisasi APBD Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah sd.triwulan III-2008 Pada triwulan III-2008, investasi diperkirakan tumbuh sebesar 10,32% (y-o-y), mengalami perlambatan pertumbuhan dibandingkan triwulan III-2007 sebesar 13,27% (y-o-y) dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 1,67%. Perlambatan pertumbuhan investasi tersebut dapat dikonfirmasi dari masih rendahnya realisasi belanja modal Pemerintah Daerah sampai dengan akhir triwulan III
23 BAB 1. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI PERBANKAN REGIONAL yaitu sekitar 30,00%. Faktor penyebab rendahnya realisasi belanja modal antara lain keterlambatan proses tender proyek, kenaikan harga barang modal serta kurangnya monitoring dan evaluasi kegiatan atau program dari masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Untuk investasi swasta, keterbatasan infrastruktur (seperti jalan, pelabuhan dan tenaga listrik), kenaikan harga barang modal seiring dengan tingginya inflasi dan kecenderungan naiknya suku bunga merupakan faktor penghambat perkembangan inflasi di Sulawesi Tengah. Dari sisi komponennya, perlambatan pertumbuhan investasi diperkirakan berasal dari perlambatan pertumbuhan investasi bangunan dan non bangunan. Indikasi perlambatan pertumbuhan investasi dapat dilihat dari minimnya impor barang modal, pertumbuhan konsumsi semen yang bergerak menurun dan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha triwulan III Namun demikian, indikator dini seperti kredit investasi dan volume penjualan truk masih menunjukkan kecederungan yang meningkat. Kredit investasi perbankan pada triwulan III-2008 tumbuh 32,58% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2007 sebesar 17,69% (y-o-y). Sementara itu, volume penjualan truk pada triwulan laporan tercatat 118 unit, naik signifikan dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebanyak 41 unit. Sulawesi Tengah Kota Palu Pertumbuhan Konsumsi Semen Kota Palu (%) 120, , ,413 91,136 96, Ton 80,000 60,000 72,373 79,074 80,892 79, Persen (%) 40,000 20,000 22,036 23,424 27,448 27,932 26,360 30,811 28, Tr.I Tr.II Tr.III Tr.IV Tr.I Tr.II Tr. III Sumber : ASI dan BPS Sulteng 0 Grafik 1.6. Realisasi Pengadaan Semen di Sulawesi Tengah Tahun Untuk terus meningkatkan pertumbuhan investasi di Sulawesi Tengah, dibutuhkan berbagai stimulus dari Pemerintah Daerah misalnya penyediaan infrastruktur yang memadai (terutama listrik, pelabuhan dan jalan), kemudahan berinvestasi, jaminan keamanan untuk berusaha dan menghilangkan high cost economy. Dengan berbagai stimulus tersebut, investasi di Sulawesi Tengah 12 46
24 BAB 1. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI PERBANKAN REGIONAL diharapkan tetap tumbuh positif dan menjadi salah satu motor penggerak perekonomian daerah sehingga mampu menyediakan lapangan kerja dan mendorong perkembangan sektor lain. Berdasarkan data yang ada, Pemerintah Daerah selama ini telah berupaya melakukan langkah-langkah nyata untuk mengatasi berbagai kendala investasi antara lain meningkatkan alokasi belanja modal, pendekatan kepada Pemerintah Pusat dan investor PLTA Poso untuk mengutamakan kebutuhan energi listrik Sulawesi Tengah dan penyelenggaraan pameran untuk mempromosikan berbagai peluang investasi di Sulawesi Tengah. Ekspor 1 Sulawesi Tengah pada triwulan III-2008 tumbuh 10,22% (y-o-y), melambat dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 12,92% (y-o-y). Adapun kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi diperkirakan sebesar 1,31%. Perlambatan pertumbuhan ekspor disebabkan turunnya kinerja ekspor antar negara pada triwulan laporan, yaitu dari 94,93% (y-o-y) pada triwulan III-2007 menjadi 13,57% (y-o-y). Hal ini dapat dikonfirmasi dari data ekspor antar negara yang dikeluarkan Dirjen Bea dan Cukai. Volume ekspor antar negara Sulawesi Tengah periode Juli-Agustus 2008 tumbuh -74,45% (y-o-y), berbeda dengan periode Juli-Agustus 2007 yang tumbuh 116,49% (y-o-y). Demikian juga dilihat dari nilainya, ekspor Sulawesi Tengah periode Juli-Agustus 2008 turun -59,01% (y-o-y) yaitu dari USD59,61 juta menjadi USD24,43 juta. Memburuknya kinerja ekspor antar negara Sulawesi Tengah disebabkan turunnya produksi komoditas ekspor utama (kakao) antara lain akibat serangan hama dan penyakit. Selain itu melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia juga berdampak pada turunnya permintaan komoditas pertanian, termasuk kakao. Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi antar berbagai pemangku kepentingan untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sementara itu, ekspor antar provinsi mengalami peningkatan pertumbuhan namun tidak cukup untuk menahan perlambatan ekspor secara keseluruhan karena pangsanya tidak dominan. Pada triwulan III-2008, ekspor antar provinsi tumbuh 1,49% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2007 sebesar -46,14% (y-o-y). Peningkatan pertumbuhan ekspor antar provinsi terutama didorong oleh ekspor bahan galian C dan komoditas pertanian. 1 Pengertian ekspor dan impor dalam konteks PDRB mencakup perdagangan barang dan jasa antar negara dan antar propinsi
25 BAB 1. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI PERBANKAN REGIONAL Impor Sulawesi Tengah triwulan III-2008 diperkirakan tumbuh 6,53% (y-o-y) atau lebih tinggi dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,46% (y-o-y). Peningkatan pertumbuhan impor terjadi pada aktivitas impor antar provinsi terkait dengan hari raya keagamaan. Sementara itu, berdasarkan data impor antar negara yang dikeluarkan Dirjen Bea dan Cukai, pada periode Juli Agustus 2008 tidak terjadi kegiatan impor antar negara di Sulawesi Tengah. Selama ini impor antar negara Sulawesi Tengah didominasi oleh komoditas buah-buahan dan sayur-sayuran, mesin, bahan kimia dan tekstil. 2. PENAWARAN DAERAH Searah dengan perkembangan di sisi permintaan, perekonomian Sulawesi Tengah triwulan III-2008 pada sisi penawaran diperkirakan masih tumbuh tinggi, namun melambat dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Perlambatan pertumbuhan terjadi pada sektor pertanian, sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, sektor listrik dan air bersih dan sektor bangunan. Namun demikian, perlambatan pada sektor-sektor tersebut dapat diimbangi oleh peningkatan pertumbuhan pada sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor angkutan dan komunikasi, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan dan sektor jasa-jasa. Sektor pertanian pada triwulan III-2008 diperkirakan tumbuh sebesar 1,03% (y-o-y), mengalami perlambatan pertumbuhan dibandingkan triwulan III-2007 sebesar 11,19% (y-o-y) dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 3,23%. Sektor pertanian mengalami perlambatan pertumbuhan terutama pada subsektor tanaman bahan makanan, subsektor perkebunan dan subsektor perikanan. Faktor yang mempengaruhi perlambatan tersebut antara lain banjir di sentra produksi padi seperti di Kabupaten Banggai, cuaca yang kurang mendukung dan turunnya produktivitas tanaman perkebunan akibat serangan hama penyakit dan tanaman yang sudah tua. Perlambatan pertumbuhan sektor pertanian dapat dikonfirmasi dari angka ramalan (ARAM) II-2008 produksi padi di Sulawesi Tengah. Produksi padi tahun 2008 diperkirakan tumbuh 11,92%, lebih rendah dibandingkan tahun 2007 yang tercatat tumbuh sebesar 15,91%. Program bantuan benih, subsidi pupuk, pembangunan sarana irigasi dan pencetakan areal sawah baru yang digulirkan 14 48
26 BAB 1. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI PERBANKAN REGIONAL Pemerintah diharapkan mampu meningkatkan produksi pertanian Sulawesi Tengah tahun Tabel 1.3. Perkembangan Produksi Tanaman Bahan Makanan di Sulawesi Tengah Keterangan ATAP 2006 ATAP 2007 ARAM II 2008 Padi (sawah dan ladang) Luas Panen (ha) Produktivitas (kwintal/ha) 41,31 41,96 43,94 Produksi (ton) Jagung Luas Panen (ha) Produktivitas (kwintal/ha) 25,96 29,45 30,16 Produksi (ton) Kedelai Luas Panen (ha) Produktivitas (kwintal/ha) 10,86 11,26 11,91 Produksi (ton) Sumber : BPS Sulteng Sektor jasa-jasa pada triwulan III-2008 tercatat tumbuh 17,44% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2007 sebesar 8,76% (y-o-y). Adapun kontribusi sektor ini terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan laporan adalah sebesar 1,40%. Dalam struktur PDRB Sulawesi Tengah, sektor ini memiliki pangsa 17,29% atau terbesar kedua setelah sektor pertanian. Peningkatan pertumbuhan sektor jasa-jasa terjadi pada subsektor pemerintahan umum terkait dengan semakin meningkatnya realisasi belanja Pemerintah Daerah. Tabel 1.4. PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah) Rincian 2007 *) 2008 **) Tr II Tr III Tr IV Tr II Tr III 1.Pertanian 1.418, , , , ,26 2.Pertambangan&Penggalian 106,60 115,74 119,85 131,92 137,34 3.Industri Pengolahan 211,02 222,89 229,23 232,09 240,46 4.Listrik&Air Bersih 23,92 26,27 29,93 25,08 27,03 5.Bangunan 206,42 243,50 270,75 226,28 268,51 6.Perdag, Hotel&Restoran 424,06 467,82 502,16 465,42 514,66 7.Angkutan&Komunikasi 243,68 247,86 248,12 270,25 283,89 8.Keu, Sewa&Js.Perusahaan 146,24 163,21 182,57 173,89 190,56 9.Jasa-Jasa 557,35 572,06 574,06 600,54 671,83 PDRB 3.337, , , , ,54 Sumber : BPS Sulteng, diolah Ket : *) Data sementara **) Data sangat sementara 15 49
27 BAB 1. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI PERBANKAN REGIONAL Sektor perdagangan, hotel dan restoran diperkirakan masih tumbuh tinggi pada triwulan III-2008 yaitu sebesar 10,01% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 6,85% (y-o-y) dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 1,07%. Tingginya pertumbuhan konsumsi rumah tangga, terutama menjelang hari besar keagamaan (bulan puasa dan Idul Fitri) pada akhir triwulan III-2008 menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan pertumbuhan sektor perdagangan, hotel dan restoran, terutama subsektor perdagangan besar dan eceran. Adapun subsektor hotel dan subsektor restoran mengalami perlambatan pertumbuhan seiring dengan menurunnya berbagai kegiatan seminar, rapat, pesta dan lainnya yang memanfaatkan fasilitas hotel dan restoran saat bulan puasa. Peningkatan pertumbuhan subsektor perdagangan besar dan eceran dapat dikonfirmasi dari kenaikan volume bongkar muat barang melalui angkutan laut di Pelabuhan Pantoloan, Pelabuhan Donggala dan Pelabuhan Tolitoli. Hal sama juga terlihat dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia Palu triwulan III-2008 dan pertumbuhan kredit pada sektor perdagangan. Hasil SKDU menunjukkan bahwa kegiatan usaha di sektor ini mengalami peningkatan ekspansi dibandingkan triwulan sebelumnya maupun triwulan III Adapun kredit sektor perdagangan pada triwulan laporan tercatat tumbuh 33,65% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2007 sebesar 25,00% (y-o-y). Sementara itu, perlambatan pada subsektor hotel dan restoran tercermin dari penurunan persentase tingkat penghunian kamar dan rata-rata lama menginap tamu di hotel berbintang. TPK (%) RLTM (%) Tr III Tr IV Tr I Tr II Tr III Sumber : BPS Sulteng Grafik 1.7. Perkembangan Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Berbintang di Sulawesi Tengah 16 50
28 BAB 1. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI PERBANKAN REGIONAL Outstanding Kredit Growth (y-o-y) 2, , , Miliar Rp 1, Persen (%) Mar Jun Sept Des Mar Jun Sept Grafik 1.8. Perkembangan Kredit Perbankan Sektor Perdagangan di Sulawesi Tengah - Tabel 1.5. Laju Pertumbuhan PDRB Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Konstan 2000 (%) Rincian 2007 *) 2008 **) Tr II Tr III Tr IV Tr II Tr III 1.Pertanian 7,03 11,19-1,61 7,43 1,03 2.Pertambangan&Penggalian 39,62 40,99 34,45 23,76 18,67 3.Industri Pengolahan 8,09 8,31 10,56 9,99 7,88 4.Listrik&Air Bersih 6,08 5,91 0,33 4,87 2,88 5.Bangunan 10,06 14,38 8,19 9,62 10,27 6.Perdag, Hotel&Restoran 7,13 6,85 12,31 9,75 10,01 7.Angkutan&Komunikasi 17,24 6,36 12,54 10,90 14,54 8.Keu, Sewa&Js.Perusahaan 10,03 10,05 9,44 18,91 16,76 9.Jasa-Jasa 8,86 8,76 15,35 7,75 17,44 PDRB 9,24 10,55 6,16 9,33 8,09 Sumber : BPS Sulteng, diolah Ket : *) Data sementara (y-o-y) **) Data sangat sementara (y-o-y) Sektor angkutan dan komunikasi pada triwulan III-2008 diperkirakan tumbuh14,54% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2007 sebesar 6,36% (y-o-y) dengan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 0,59%. Tingginya pertumbuhan sektor ini terutama didorong oleh peningkatan pertumbuhan pada subsektor angkutan. Faktor yang mempengaruhi peningkatan pertumbuhan pada subsektor angkutan adalah permintaan masyarakat yang tinggi menjelang hari raya keagamaan. Hal ini tercermin dari peningkatan pertumbuhan jumlah penumpang pesawat terbang dan kapal laut pada triwulan laporan, baik untuk kedatangan maupun keberangkatan. Dari sisi pembiayaan, pertumbuhan kredit sektor pengangkutan dan komunikasi masih tumbuh dalam tren yang meningkat. Kredit sektor ini posisi September 2008 tumbuh 88,96% (y-o-y), lebih tinggi daripada triwulan III-2007 sebesar 17,89% (y-o-y)
29 BAB 1. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI PERBANKAN REGIONAL 70,000 Jumlah Penumpang Berangkat Growth (y-o-y) Berangkat Jumlah Penumpang Datang Growth (y-o-y) Datang , , Orang 40,000 30, Persen (%) 20, , Tr I Tr II Tr III Tr IV Tr I Tr II Tr III Sumber : BPS Sulteng Grafik 1.9. Perkembangan Jumlah Penumpang Pesawat Terbang di Sulawesi Tengah - 40,000 35,000 30,000 Jumlah Penumpang Berangkat Growth (y-o-y) Berangkat Jumlah Penumpang Datang Growth (y-o-y) Datang (5.00) Orang 25,000 20,000 15,000 10,000 5,000 (10.00) (15.00) (20.00) (25.00) (30.00) (35.00) Persen (%) - Tr I Tr II Tr III Tr IV Tr I Tr II Tr III Sumber : BPS Sulteng Grafik Perkembangan Jumlah Penumpang Kapal Laut di Sulawesi Tengah (40.00) Sektor pertambangan dan penggalian pada triwulan III-2008 diperkirakan tumbuh 18,67% (y-o-y), melambat dibandingkan triwulan III-2007 sebesar 40,99% (y-o-y). Perlambatan pertumbuhan terutama terjadi pada subsektor pertambangan akibat produksi minyak bumi di Lapangan Tiaka Kabupaten Morowali relatif telah mendekati maksimal. Kinerja subsektor pertambangan diperkirakan akan kembali mengalami peningkatan yang signifikan di masa mendatang jika pembangunan kilang gas alam terintegrasi di Lapangan Donggi-Senoro (Kabupaten Banggai) telah selesai. Selama triwulan III-2008, sektor industri pengolahan tumbuh 7,88% (y-o-y), lebih rendah dibandingkan triwulan III-2007 sebesar 8,31% (y-o-y) dengan sumbangan terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 0,50%. Perlambatan pertumbuhan sektor industri pengolahan antara lain disebabkan kesulitan bahan baku, kenaikan biaya produksi dan terbatasnya pasokan energi listrik. Hal ini dapat dikonfirmasi dari hasil SKDU Bank Indonesia Palu triwulan III-2008 yang menunjukkan masih terjadinya kontraksi pada sektor ini. Namun demikian, masih cukup baiknya daya beli 18 52
30 BAB 1. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI PERBANKAN REGIONAL masyarakat pada triwulan laporan ikut mengurangi perlambatan pertumbuhan sektor ini. Sementara itu dari sisi pembiayaan perbankan, kredit sektor industri terus menunjukkan peningkatan pertumbuhan yaitu dari -9,49% (y-o-y) pada triwulan III menjadi sebesar 54,22% (y-o-y) pada triwulan laporan. Outstanding Kredit Growth (y-o-y) Miliar Rp Persen (%) (10.00) - Mar Jun Sept Des Mar Jun Sept Grafik Perkembangan Kredit Perbankan Sektor Industri di Sulawesi Tengah (20.00) Sektor listrik dan air bersih pada triwulan III-2008 tumbuh 2,88% (y-o-y), mengalami perlambatan dibandingkan triwulan III-2007 yang tercatat tumbuh 5,91% (y-o-y). Adapun sumbangan sektor ini terhadap pertumbuhan ekonomi daerah pada triwulan laporan sebesar 0,06%. Perlambatan pertumbuhan sektor ini disebabkan menurunnya kinerja subsektor listrik akibat tersendatnya pasokan batu bara untuk PLTU Mpanau Palu, terutama selama bulan Agustus Ke depan, kinerja sektor listrik dan air bersih diperkirakan akan semakin baik seiring dengan beroperasinya PLTA Poso II (3 x 60 MW) yang ditargetkan pada bulan Agustus Sektor bangunan pada triwulan III-2008 diperkirakan tumbuh masih cukup tinggi yaitu sebesar 10,27% (y-o-y), walaupun melambat dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 14,38% (y-o-y). Masih tingginya pertumbuhan di sektor bangunan dikonfirmasi oleh pertumbuhan kredit konstruksi perbankan dan volume penjualan perumahan (RS dan RSS). Pada triwulan III-2008, kredit konstruksi perbankan tumbuh 26,92% (y-o-y). Sementara itu, volume penjualan perumahan tercatat tumbuh 108,73% (y-o-y). Adapun faktor penyebab melambatnya pertumbuhan sektor bangunan antara lain kenaikan harga berbagai bahan bangunan dan keterlambatan proses tender proyek fisik Pemerintah
31 BAB 1. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN MAKROEKONOMI PERBANKAN REGIONAL Unit Trw IV Trw I Tr II Tr III Tr IV Tr I Tr II Tr III Tr IV Tr I Tr II Tr III Sumber : BPS Sulteng Grafik Perkembangan Volume Penjualan Perumahan (RS dan RSS) di Kota Palu dan Sekitarnya Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan pada triwulan III-2008 diperkirakan tumbuh 16,76% (y-o-y), mengalami peningkatan pertumbuhan dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 10,05% (y-o-y). Faktor yang mendorong peningkatan pertumbuhan sektor ini adalah semakin membaiknya kinerja subsektor bank seiring dengan kemampuan bank melakukan efisiensi sehingga masih dapat memberikan suku bunga kredit yang kompetitif. Kegiatan intermediasi perbankan di Sulawesi Tengah pada triwulan laporan meningkat sebagaimana tercermin dari kredit yang bertumbuh 33,22% (y-o-y), jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2007 sebesar 24,63% (y-o-y). Di sisi lain, peningkatan pertumbuhan kredit diikuti dengan meningkatnya kualitas kredit perbankan. Outstanding Kredit Growth (y-o-y) 7, , , Miliar Rp 4, , Persen (%) 2, , Mar Jun Sept Des Mar Jun Sept Grafik Perkembangan Kredit Perbankan di Sulawesi Tengah 8.00 NPLs Gross (%) NPLs netto (%) Persen (%) Mar Jun Sept Des Mar Jun Sept Grafik Perkembangan Kualitas Kredit Perbankan di Sulawesi Tengah 20 54
32 BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN Boks GERAKAN PENINGKATAN PRODUKSI DAN MUTU KAKAO Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan Sulawesi Tengah dan memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya pada subsektor perkebunan. Dengan lahan seluas ha, produksi kakao Sulawesi Tengah pada tahun 2007 tercatat sebanyak ton atau sekitar 23,05% dari seluruh produksi kakao nasional. Dari sisi luas lahan, perkebunan kakao di Sulawesi Tengah terus meningkat, namun dari sisi produktivitas diperkirakan masih rendah. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas antara lain kondisi kebun yang kurang terawat, serangan hama dan penyakit serta umur tanaman yang sudah tua atau tidak produktif. Serangan hama penyakit terutama adalah serangan penggerek buah kakao (PBK), vascular streak dieback (VSD) dan buah busuk sehingga menyebabkan turunnya produktivitas menjadi sekitar 0,32 ton/ha/tahun atau 30% dari produktivitas yang seharusnya dapat dicapai yaitu sekitar 1,10 ton/ha/tahun. Tabel. Perkembangan Luas Areal dan Produksi Kakao Tahun Sulawesi Tengah Nasional Tahun Luas Areal (ha) Produksi (ton) Luas Areal (ha) Produksi (ton) Sumber : Statistik Ditjen Perkebunan dan BPS Sulteng Berdasarkan data ekspor antar negara, kakao adalah komoditas ekspor utama Sulawesi Tengah. Komoditas ini merupakan penghasil devisa negara terbesar di Sulawesi Tengah (nilai ekspor tahun 2007 sekitar USD201,39 juta), sumber pendapatan petani dan sangat berperan dalam penciptaan lapangan kerja. Secara nasional, luas areal kakao diperkirakan sekitar ha dan didominasi oleh perkebunan rakyat (92,34%). Kondisi yang hampir sama juga 55
33 BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN terjadi di Sulawesi Tengah. Adapun jumlah keluarga di Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada tanaman kakao diperkirakan sekitar KK dengan produksi tahun 2007 mencapai ton. Di tingkat dunia, Indonesia adalah negera penghasil kakao terbesar kedua setelah Pantai Gading. Dalam rangka meningkatkan produksi dan kualitas kakao nasional, termasuk di Sulawesi Tengah, Pemerintah melalui Departemen Pertanian pada tahun 2009 akan melakukan Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao Nasional. Gerakan ini bertujuan untuk mempercepat peningkatan produktivitas sekaligus mutu kakao Indonesia melalui perbaikan budidaya tanaman dan pengendalian hama penyakit tanaman dengan melibatkan seluruh potensi stakeholders dan sumberdaya perkakaoan Indonesia. Adapun sasaran yang ingin dicapai sebagai berikut : Peremajaan tanaman tua dan rusak seluas ha dengan bibit somatic embryogenesis. Intensifikasi produksi untuk kebun seluas ha dengan pemupukan dan pemeliharaan. Rehabilitasi tanaman seluas ha dengan sambung samping. Gerakan Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao tahun 2009 ini akan difokuskan di 4 provinsi yaitu Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara. Kegiatan lain yang akan dilakukan terkait dengan gerakan tersebut adalah peningkatan kemampuan SDM (petani dan petugas pertanian), pembangunan 4 unit stasiun penelitian, pembangunan 4 unit laboratorium lapangan dan sosialisasi penerapan mutu. Sementara itu, pembiayaan diharapkan berasal dari berbagai pihak yaitu Pemerintah Pusat (sekitar Rp2,50 triliun), Pemerintah Daerah, perbankan, swasta serta petani dengan total biaya diperkirakan sekitar Rp13,00 triliun. 56
34 Ga n BAB BAB PERKEMBANGAN PERBANKAN INFLASI BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI Pada triwulan III-2008, laju inflasi bulanan Kota Palu cenderung meningkat terutama disebabkan oleh masih kuatnya permintaan, gangguan pasokan dan faktor musiman hari raya keagamaan. Secara tahunan, laju inflasi Kota Palu pada akhir triwulan III-2008 mencapai 14,33% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan dengan akhir triwulan sebelumnya yang mencapai 10,20% (y-o-y) maupun laju inflasi nasional yang tercatat sebesar 12,14% (y-o-y). Pada bulan September 2008, inflasi bulanan mencapai 1,20% (m-t-m), sedangkan inflasi triwulanan mencapai 5,01% (q-t-q) Kota Palu Nasional Persen (%) T r I-05 T r II-0 5 T r III-0 5 T r IV -0 5 T r I-0 6 T r II-0 6 T r III-0 6 T r IV -0 6 T r I-0 7 T r II-0 7 T r III-0 7 T r IV -0 7 T r I-0 8 T r II-0 8 T r III-0 8 Grafik 2.1. Perkembangan Inflasi Tahunan (y-o-y ) m-t-m y-t-d Persen (%) (2.00) (4.00) Sumber : BPS Sulteng Grafik 2.2. Perkembangan Inflasi Bulanan (m-t-m ) dan Tahun Kalender (y-t-d ) Kota Palu Penyumbang utama inflasi Kota Palu pada bulan September 2008 (m-t-m) adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,46%, kemudian diikuti kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,41% serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,13%. Sementara itu, kelompok barang dan jasa yang mengalami inflasi tertinggi pada bulan September 57 21
35 BAB BAB PERKEMBANGAN PERBANKAN INFLASI 2008 (m-t-m) adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau (2,66%), kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (1,84%) dan kelompok sandang (1,73%) Juni 2008 September Persen (%) (0.50) (0.01) Umum Bahan Makanan Makanan Jadi Perumahan Sandang Kesehatan Pendidikan Transpor Grafik 2.3. Perkembangan Sumbangan Kelompok Pengeluaran terhadap Inflasi Kota Palu (m-t-m) Transpor 1.92 Pendidikan 6.07 Kesehatan 0.77 Sandang 2.96 Perumahan 5.70 Makanan Jadi 5.87 Bahan Makanan 7.44 Umum Grafik 2.4. Inflasi per Kelompok Pengeluaran Triwulan III-2008 (q-t-q ) Persen (%) Tabel 2. Inflasi Kota Palu Menurut Kelompok Barang dan Jasa September 2008 (%) Kelompok Pengeluaran m-t-m y-t-d y-o-y Umum 1,20 11,10 14,33 Bahan Makanan 0,31 18,70 29,76 Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 2,66 10,15 9,50 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 1,84 11,05 14,61 Sandang 1,73 4,70 8,67 Kesehatan 0,43 7,94 10,59 Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga -0,16 10,79 12,98 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 0,68 6,22 5,26 Sumber : BPS Sulawesi Tengah Kelompok bahan makanan pada bulan September 2008 mengalami inflasi sebesar 0,31% (m-t-m) dengan sumbangan terhadap inflasi sebesar 0,08%. Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi antara lain ikan cakalang, ikan ekor kuning, telur ayam ras, daging ayam ras, daging ayam kampung, gula merah, tempe, 58 22
36 BAB BAB PERKEMBANGAN PERBANKAN INFLASI daging sapi, daging babi, kentang, kol putih, kacang tanah, kelapa muda dan mie basah. Kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau pada bulan September 2008 mengalami inflasi sebesar 2,66% (m-t-m). Kelompok ini secara keseluruhan memberikan sumbangan inflasi sebesar 0,46% dengan komoditas yang dominan memberikan sumbangan inflasi yaitu rokok putih, rokok kretek, ikan bakar, air kemasan, minuman ringan, kue kering berminyak dan sirop. Kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar pada September 2008 mengalami inflasi sebesar 1,84% (m-t-m) dengan sumbangan terhadap inflasi sebesar 0,41%. Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi yaitu bahan bakar rumah tangga, semen, stoples, besi beton, panci, keramik, kain gorden, piring, gelas minum, kursi, meja kursi tamu, tempat tidur, lemari hias, sabun cream detergen, sabun detergen bubuk dan magic com. Faktor yang mempengaruhi kenaikan harga pada kelompok ini antara lain gangguan pasokan (terutama bahan bakar rumah tangga) dan naiknya permintaan menghadapi hari raya keagamaan. Kelompok sandang pada September 2008 mengalami inflasi sebesar 1,73% (m-t-m) dengan sumbangan terhadap inflasi sebesar 0,11%. Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi pada kelompok ini adalah baju kaos, sepatu, sandal kulit, kaos oblong, sarung katun, sandal, jam tangan, kemeja panjang katun, emas perhiasan, tas tangan wanita, kemeja pendek, jilbab, mukena, baju muslim, kebaya, rok luar model biasa dan celana dalam pria. Sementara itu, inflasi pada kelompok kesehatan tercatat sebesar 0,43% (m-t-m) dengan sumbangan terhadap inflasi sebesar 0,02%. Komoditas yang memberikan sumbangan inflasi yaitu keriting/meluruskan rambut dan facial. Kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga pada bulan September 2008 mengalami deflasi sebesar -0,16% (m-t-m). Komoditas yang memberikan sumbangan deflasi adalah laptop, personal computer dan vcd/dvd player. Sementara itu, inflasi pada kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan tercatat sebesar 0,68% (m-t-m) dengan sumbangan terhadap inflasi sebesar 0,13%. Adapun komoditas yang memberikan sumbangan inflasi yaitu angkutan antar kota, angkutan udara, mobil, sepeda motor, pemeliharaan/service dan biaya pengiriman barang
37 BAB PERKEMBANGAN PERBANKAN BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN Selama triwulan III-2008 rata-rata nilai tukar rupiah masih tercatat menguat, meski mendapat tekanan depresiasi di akhir periode laporan. Rata-rata nilai tukar rupiah pada triwulan III-2008 terapresiasi 0,47% yaitu dari Rp9.259/USD pada triwulan II-2008 menjadi Rp9.216/USD pada triwulan laporan. Tingginya tekanan depresiasi terhadap rupiah pada akhir triwulan laporan menyebabkan rupiah ditutup melemah 1,76% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yaitu dari Rp9.220/USD pada akhir triwulan II-2008 menjadi Rp9.385/USD pada akhir triwulan III Meningkatnya risiko perlambatan ekonomi global, krisis sektor keuangan di Amerika Serikat serta persepsi terhadap prospek neraca pembayaran mempengaruhi perkembangan rupiah selama triwulan III Perlambatan ekonomi global dan penguatan USD mendorong turunnya harga komoditas internasional, termasuk komoditas ekspor andalan Sulawesi Tengah (kakao). Harga kakao di salah satu sentra produksi (Kabupaten Parigi Moutong) mengalami penurunan harga yang signifikan yaitu dari rata-rata Rp26.525/kg pada akhir triwulan sebelumnya menjadi Rp21.175/kg pada akhir triwulan laporan. Penurunan harga komoditas tersebut tentunya akan berpengaruh pada tingkat kesejahteraan petani, khususnya petani di subsektor perkebunan. Sepanjang triwulan III-2008, Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate sebesar 75 bps hingga menjadi 9,25% pada akhir triwulan III Kebijakan tersebut dilakukan guna menjaga dan mengamankan pencapaian sasaran inflasi jangka menengah dengan mencermati berbagai perkembangan serta mempertimbangkan kondisi makroekonomi nasional secara keseluruhan dan stabilitas sistem keuangan. Kenaikan BI Rate diikuti dengan peningkatan suku bunga deposito, suku bunga penjaminan deposito rupiah dan suku bunga kredit. Di Sulawesi Tengah, rata-rata tertimbang suku bunga deposito 1 bulan pada September 2008 tercatat sebesar 8,88%, naik dibandingkan bulan Juni 2008 sebesar 7,13%, sedangkan suku bunga penjaminan deposito rupiah yang ditetapkan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) tercatat 8,75% 24 60
38 BAB PERKEMBANGAN PERBANKAN atau lebih tinggi daripada suku bunga penjaminan bulan Juni 2008 sebesar 8,25%. Sementara itu, rata-rata tertimbang (weighted average) suku bunga kredit perbankan di Sulawesi Tengah naik dari 14,24% pada akhir triwulan II-2008 menjadi sebesar 14,48% pada akhir triwulan III BI Rate r deposito 1 bln perbankan Sulteng r tabungan perbankan Sulteng r kredit perbankan Sulteng Persen (%) Grafik 3.1. Perkembangan Suku Bunga Dari sisi penghimpunan dana, kenaikan suku bunga simpanan mempengaruhi pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK), khususnya jenis deposito. Pada triwulan III-2008, deposito perbankan tumbuh 12,20% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sementara itu, DPK jenis tabungan tercatat tumbuh -6,42% (q-t-q), dan diperkirakan akibat perpindahan dana dari tabungan ke deposito terkait dengan semakin menariknya suku bunga deposito dan juga meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam bentuk uang kartal menghadapi hari raya keagamaan. Secara tahunan, DPK perbankan tumbuh 11,22% (y-o-y), lebih rendah daripada triwulan III-2007 sebesar 23,39% (y-o-y). Dari sisi penyaluran kredit, pada triwulan III-2008 kredit perbankan tercatat tumbuh 33,22% (y-o-y), lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2007 sebesar 24,63% (y-o-y). Berdasarkan penggunaannya, kenaikan pertumbuhan kredit terjadi pada seluruh jenis kredit dan yang tertinggi pada kredit konsumsi yaitu sebesar 33,70% (y-o-y). Sementara itu berdasarkan sektor ekonomi, pertumbuhan kredit terjadi pada seluruh sektor ekonomi kecuali sektor pertanian yang mengalami pertumbuhan negatif -0,75% (y-o-y). Pertumbuhan kredit tertinggi terjadi pada sektor listrik, gas dan air dan sektor pertambangan masing-masing sebesar 426,00% (y-o-y) dan 137,58% (y-o-y). Adapun total penyaluran kredit perbankan Sulawesi Tengah sampai dengan triwulan laporan mencapai Rp5.884,14 miliar
39 BAB PERKEMBANGAN PERBANKAN 1. PERKEMBANGAN MONETER Perkembangan moneter di Sulawesi Tengah antara lain tercermin dari komponen-komponen uang beredar regional. Pada akhir triwulan III-2008 uang giral tercatat sebesar Rp1.719,68 miliar atau naik 1,11% dibandingkan akhir triwulan II-2008 sebesar Rp1.700,74 miliar. Pertumbuhan uang giral tersebut terutama didorong oleh kenaikan giro milik Pemerintah Daerah. Sementara itu, posisi uang kuasi turun -1,86% yaitu dari Rp3.960,53 miliar pada triwulan sebelumnya menjadi sebesar Rp3.886,79 miliar pada triwulan laporan. Tabel 3.1. Perkembangan Komponen Uang Beredar Regional (Miliar Rupiah) 2008 Komponen Des.2005 Des.2006 Des.2007 Mar Jun Sept Uang Giral 942, , , , , ,68 Uang Kuasi - Deposito - Tabungan 2.455,11 844, ,95 Sumber : Bank Indonesia Palu 3.079,74 963, , ,18 995, , , , , ,53 969, , , , ,91 2. PERKEMBANGAN PERBANKAN Kondisi perbankan Sulawesi Tengah sampai dengan triwulan III-2008 masih menunjukkan perkembangan yang relatif baik sebagaimana tercermin dari berbagai indikator kinerja perbankan seperti perkembangan aset, perkembangan Dana Pihak Ketiga (DPK), pertumbuhan kredit, perkembangan kualitas kredit dan Loans to Deposit Ratio (LDR) ASET DAN JARINGAN KANTOR Aset perbankan Sulawesi Tengah pada triwulan III-2008 mencapai Rp7.970,27 miliar atau naik 4,99% dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp7.591,26 miliar. Kenaikan aset tersebut terjadi pada seluruh kelompok bank dan yang tertinggi terjadi pada BPR yaitu mencapai 17,53% (q-t-q) seiring dengan menariknya suku bunga simpanan yang ditawarkan BPR. Pangsa terbesar aset perbankan masih pada kelompok bank umum pemerintah yaitu sebesar 81,87%. Hal ini disebabkan jaringan kantornya yang lebih banyak dan menyebar hampir di semua kabupaten/kota di Sulawesi Tengah
40 BAB BAB PERKEMBANGAN PERBANKAN Tabel 3.2. Perkembangan Total Aset Perbankan (Miliar Rupiah) 2008 Keterangan Des.2005 Des.2006 Des.2007 Mar Jun Sept Bank Umum Pemerintah 3.940, , , , , ,15 Bank Umum Swasta 534,14 702,86 917,72 875,35 976, ,36 BPR 61,06 104,80 193,07 224,17 307,81 361,76 Total 4.535, , , , , ,27 Sumber : Bank Indonesia Palu Berdasarkan daerah bank pelapor, aset perbankan tumbuh positif (q-t-q) di seluruh kabupaten/kota, kecuali Kabupaten Donggala yang mengalami pertumbuhan negatif. Pertumbuhan aset tertinggi terjadi di Kota Palu (5,95%) yaitu dari Rp4.437,43 miliar menjadi Rp4.701,32. Adapun pangsa terbesar aset perbankan masih terdapat di Kota Palu yang mencapai 58,99%, sedangkan yang terkecil di Kabupaten Donggala yaitu 5,37% 2. Jaringan kantor bank selama triwulan III-2008 bertambah 2 buah sehingga menjadi 140 kantor. Sementara itu, jumlah ATM perbankan bertambah 4 buah sehingga menjadi 93 ATM yang tersebar di seluruh kabupaten/kota di Sulawesi Tengah. Dari jumlah tersebut, sebagian besar kantor bank terdapat di Kota Palu yaitu sebanyak 37 kantor. Dari sekitar 144 kecamatan yang ada di Sulawesi Tengah, belum seluruhnya memiliki jaringan kantor bank. Untuk itu Bank Indonesia Palu akan berupaya mendorong perbankan untuk memperluas jaringan kantornya terutama di daerah/kecamatan yang belum tersentuh layanan perbankan, tentunya dengan memperhitungkan faktor cost dan benefit. Palu 37 Tojo Unauna 6 Parigi Moutong 24 Buol 4 Tolitoli 14 Donggala 14 Poso 14 Morowali 6 Banggai 18 Banggai Kepulauan Jumlah Bank Grafik 3.2. Distribusi Kantor Bank di Sulawesi Tengah Triwulan III Data perbankan di Kabupaten Morowali dan Kabupaten Buol tidak ditampilkan karena hanya terdapat 1 buah kantor bank pelapor 27 63
41 BAB PERKEMBANGAN PERBANKAN 2.2. PENGHIMPUNAN DANA Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) oleh perbankan Sulawesi Tengah pada triwulan III-2008 secara keseluruhan mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya. DPK pada triwulan III-2008 tercatat sebesar Rp5.606,48 miliar atau turun -0,97% dibandingkan posisi triwulan sebelumnya sebesar Rp5.661,27 miliar. DPK yang tumbuh positif adalah jenis giro dan deposito masing-masing sebesar 1,11% (q-t-q) dan 12,20% (q-t-q), sedangkan jenis tabungan tumbuh negatif. Sementara itu secara tahunan, DPK perbankan tumbuh 11,22% (y-o-y), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan triwulan III-2007 sebesar 23,39% (y-o-y). Berdasarkan kepemilikannya, DPK masih didominasi milik perseorangan (67,22%) dan milik Pemerintah Daerah (18,58%). Tabel 3.3. Perkembangan Dana Perbankan Berdasarkan Golongan Pemilik di Bank Umum (Miliar Rupiah) 2008 Golongan Pemilik Des.2006 Des.2007 Mar Jun Sept Pemerintah Pusat Pemerintah Daerah Perusahaan Swasta Perorangan Lainnya 314,01 520,22 209, ,91 222,78 72,70 586,36 233, ,72 210,35 55,83 937,62 156, ,61 300,36 81,48 961,39 154, ,20 362,83 114, ,74 141, ,45 453,17 Jumlah 4.447, , , , ,65 Sumber : Bank Indonesia Palu Tabel 3.4. Penghimpunan Dana Perbankan (Miliar Rupiah) Keterangan Des.2005 Des.2006 Des Mar Jun Sept 2.897, , , , ,09 890, , , , ,97 608,57 674,32 701,35 694,00 650, , , , , ,65 Bank Umum Pemerintah - Giro - Deposito - Tabungan Bank Umum Swasta - Giro - Deposito - Tabungan BPR - Deposito - Tabungan 460,20 51,88 203,66 204,66 39,41 31,94 7,47 595,84 59,05 257,25 279,54 40,07 32,18 7,89 726,30 94,64 251,18 380,48 54,50 42,92 11,58 726,40 97,38 249,98 379,04 72,56 59,13 13,43 777,40 103,78 257,64 415,98 78,78 61,48 17, , ,50 735, ,49 801,27 90,18 284,64 426,45 86,83 67,86 18,97 Total DPK 3.397, , , , , ,48 Sumber : Bank Indonesia Palu 28 64
42 BAB BAB PERKEMBANGAN PERBANKAN Berdasarkan struktur atau komposisi penempatan DPK, masyarakat Sulawesi Tengah masih lebih banyak menempatkan dananya dalam bentuk tabungan yaitu sebesar 49,92%, disusul kemudian dalam bentuk giro sebesar 30,67% dan dalam bentuk deposito sebesar 19,40%. Masyarakat lebih banyak menempatkan dananya dalam bentuk tabungan antara lain disebabkan jangka waktu penarikan tabungan lebih fleksibel melalui ATM maupun kantor bank dan hadiah yang ditawarkan bank cukup banyak. Dengan struktur dana pihak ketiga yang didominasi oleh dana jangka pendek, maka respon perbankan Sulawesi Tengah terhadap kebijakan tingkat bunga yang dikeluarkan oleh otoritas moneter (Bank Indonesia) relatif cepat. Berdasarkan daerah bank pelapor, DPK perbankan pada triwulan III-2008 tumbuh negatif (q-t-q) di seluruh kabupaten/kota. Pangsa penghimpunan DPK terbesar masih terdapat di Kota Palu yaitu sebesar 55,28% dan yang terkecil di Kabupaten Donggala sebesar 6,46%. Pertumbuhan DPK perbankan di berbagai kabupaten/kota di Sulawesi Tengah dipengaruhi oleh berbagai hal antara lain aktivitas perekonomian daerah, jaringan kantor bank, perkembangan suku bunga serta realisasi pendapatan dan belanja daerah PENYALURAN KREDIT Penyaluran kredit perbankan pada triwulan III-2008 bertumbuh sebesar 6,52% (q-t-q). Secara tahunan, kredit perbankan tumbuh 33,22% (y-o-y), lebih tinggi daripada triwulan III-2007 sebesar 24,63% (y-o-y). Sumber pertumbuhan kredit pada triwulan III-2008 antara lain karena penggunaan plafon kredit baru yang disetujui oleh perbankan. Plafon kredit baru yang disetujui (kumulatif) selama triwulan laporan tercatat sebesar Rp1.059,22 miliar, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp1.157,09 miliar. Distribusi kredit per-sektor ekonomi maupun jenis penggunaan dan kelompok bank tidak mengalami perubahan yang berarti dari waktu ke waktu. Berdasarkan sektor ekonomi, kredit perbankan pada triwulan laporan masih didominasi sektor lain-lain (50,76%) dan sektor perdagangan (35,81%). Berdasarkan jenis penggunaan, pangsa kredit modal kerja tercatat sebesar 43,99%, kredit investasi sebesar 5,50% dan kredit konsumsi sebesar 50,51%. Pada triwulan laporan kredit konsumsi mengalami pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 9,86% (q-t-q), diikuti kredit investasi 29 65
43 BAB PERKEMBANGAN PERBANKAN sebesar 5,27% (q-t-q) dan kredit modal kerja sebesar 3,07% (q-t-q). Pertumbuhan kredit konsumsi salah satunya didorong oleh semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat menghadapi hari raya keagamaan (Idul Fitri). Jenis Penggunaan - Modal Kerja - Investasi - Konsumsi Tabel 3.5. Perkembangan Kredit Perbankan (Miliar Rupiah) Keterangan Des.2005 Des.2006 Des.2007 Sektor Ekonomi - Pertanian - Pertambangan - Perindustrian - Listrik, Gas&Air - Konstruksi - Perdag., Rest&Hotel - Pengangkutan - Jasa-Jasa - Lain-Lain Kelompok Bank - Bank Umum Pemerintah - Bank Umum Swasta - BPR Sumber : Bank Indonesia Palu 3.101, ,59 206, , ,80 212,67 16,77 113,17-67, ,37 29,93 78, , , ,33 324,34 54, , ,40 219, , ,94 203,67 12,14 107,18-82, ,18 26,76 115, , , ,40 401,11 75, , ,59 287, , ,13 170,78 33,72 105,50 0,25 164, ,78 31,14 80, , , ,67 587,39 113, Mar Jun Sept 5.523, ,17 307, , , ,42 298, , ,36 214,04 36,48 101,79 0,25 140, ,60 40,13 195, , , ,02 607,68 133, ,93 229,44 36,89 141,48 0,36 198, ,45 40,16 105, , , ,11 685,55 158, , ,38 323, , ,13 213,29 35,12 137,16 1,31 228, ,07 64,14 110, , , ,44 742,10 182,60 Pangsa terbesar penyaluran kredit masih pada bank umum pemerintah yang mencapai 84,28%, diikuti bank umum swasta dan BPR masing-masing dengan pangsa 12,61% dan 3,10%. Berdasarkan daerah bank pelapor, pangsa terbesar penyaluran kredit masih berada di Kota Palu yaitu sebesar 55,58%. Hal ini disebabkan jumlah kantor bank yang lebih banyak, infrastruktur lebih memadai dan kegiatan perekonomian yang lebih berkembang sebagai ibukota propinsi. Loans to Deposit Ratio (LDR atau rasio kredit terhadap DPK) perbankan di Sulawesi Tengah pada akhir triwulan III-2008 tercatat sebesar 104,95% atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 97,57%. Kenaikan LDR perbankan disebabkan pertumbuhan kredit pada triwulan laporan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK seiring dengan semakin meningkatnya kegiatan usaha yang menggunakan kredit perbankan
44 BAB PERKEMBANGAN PERBANKAN Kredit UMKM Perbankan, termasuk di Sulawesi Tengah, memiliki peranan besar dalam mendorong pembangunan ekonomi daerah terutama melalui pembiayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Oleh sebab itu Bank Indonesia Palu terus berupaya mendorong perbankan untuk meningkatkan pembiayaan/kredit kepada UMKM melalui berbagai program dan kegiatan antara lain workshop/seminar UMKM, pameran perbankan dan produk UMKM, pelatihan Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB), survei dan riset komoditas unggulan daerah, memfasilitasi pembentukan skema penjaminan kredit serta memfasilitasi kerjasama BPR dengan bank umum/lembaga lain (linkage program). Linkage program merupakan kerjasama bank umum dengan BPR untuk meningkatkan peran dan kontribusi perbankan dalam penyaluran kredit dan mendukung pengembangan UMKM serta meningkatkan efisiensi dan kemampuan SDM BPR yang dilandasi semangat kemitraan. Berbagai upaya tersebut tampaknya cukup berhasil, tercermin dari perkembangan kredit UMKM selama triwulan III Kredit UMKM perbankan Sulawesi Tengah pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp5.250,20 miliar atau 89,23% dari total kredit. Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, kredit UMKM telah bertumbuh 7,47%. Tabel 3.6. Perkembangan Kredit UMKM Perbankan Sulawesi Tengah (Miliar Rupiah) Keterangan Des.2006 Des Mar Jun Sept Kredit Mikro 1.746, , , , ,58 Kredit Kecil 822, , , , ,52 Kredit Menengah 764,50 977,04 901, , ,10 Kredit UMKM 3.332, , , , ,20 Sumber : Bank Indonesia Palu Implementasi Sistem Penjaminan Kredit terkait dengan Instruksi Presiden No.6 Tahun 2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan UMKM melalui Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) diharapkan akan semakin meningkatkan penyaluran kredit UMKM. KUR merupakan kredit/pembiayaan kepada UMKM baru dan koperasi untuk kegiatan produktif yang bersifat individu, kelompok, kemitraan dan atau kluster dengan plafon kredit maksimal Rp500 juta
45 BAB BAB PERKEMBANGAN PERBANKAN 2.4. KOLEKTIBILITAS KREDIT Pertumbuhan kredit yang cukup menggembirakan pada triwulan III-2008 ikut mempengaruhi adanya peningkatan kualitas kredit. Kualitas kredit bank umum pada triwulan laporan mengalami peningkatan dibandingkan dengan kondisi triwulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari turunnya rasio Non Performing Loans (NPLs) gross bank umum pada triwulan laporan dibandingkan triwulan sebelumnya, yaitu dari 4,93% menjadi 4,67%. Sementara itu secara net, NPLs bank umum tercatat sebesar 1,24%. Tabel 3.7. Kolektibilitas Kredit Bank Umum (Miliar Rupiah) Kolektibilitas Des.2005 Des.2006 Des Mar Jun Sept Jumlah Kredit 3.047, , , , , ,55 Lancar 2.662, , , , , ,46 Dalam Perhatian Khusus 237,66 202,19 228,20 264,36 259,70 352,05 Kurang Lancar 41,47 20,02 35,86 26,95 15,75 18,59 Diragukan 32,19 23,26 21,25 24,61 18,05 41,45 Macet 74,30 198,49 232,47 213,48 230,56 206,00 NPLs Gross (%) 4,85 6,74 6,30 5,57 4,93 4,67 NPLs net (%) 1,49 2,85 3,61 2,86 2,41 1,24 Sumber : Bank Indonesia Palu Tabel 3.8. Perkembangan NPLs Gross Bank Umum Berdasarkan Sektor Ekonomi (Miliar Rupiah) Keterangan Desember 2007 Juni 2008 September 2008 Nominal % NPL Nominal % NPL Nominal % NPL Pertanian 27,16 16,47 25,92 11,65 49,56 24,19 Pertambangan 0,48 1,41 0,48 1,29 0,48 1,35 Perindustrian 12,31 11,73 11,87 8,41 11,15 8,16 Listrik, Gas dan Air Konstruksi 21,63 13,15 23,14 11,68 23,09 10,10 Perdagangan 159,89 9,14 142,83 7,00 129,14 6,17 Pengangkutan 1,03 3,31 1,16 2,89 1,02 1,60 Jasa-Jasa 3,39 4,35 3,88 3,74 4,60 4,24 Lain-Lain 63,70 2,80 55,09 2,13 46,99 1,66 Total 289,59 6,30 264,37 4,93 266,03 4,67 Sumber : Bank Indonesia Palu Kredit sektor perdagangan pada triwulan III-2008 masih memberikan sumbangan NPLs terbesar yaitu sebesar Rp129,14 miliar. Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, kontribusi kredit sektor perdagangan terhadap pembentukan NPLs gross mengalami penurunan yaitu dari 54,03% menjadi 48,54%. Di sisi lain, kontribusi kredit sektor pertanian dan sektor jasa-jasa dalam pembentukan NPLs gross 68 32
46 BAB BAB PERKEMBANGAN PERBANKAN cenderung meningkat. Krisis keuangan global yang berdampak pada turunnya permintaan dan harga komoditas pertanian diperkirakan akan mempengaruhi kualitas kredit sektor pertanian pada periode mendatang. Sementara itu, kualitas kredit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) juga mengalami perbaikan, tercermin dari turunnya NPLs gross yaitu dari 1,85% pada triwulan II-2008 menjadi sebesar 1,81% pada triwulan laporan. Apabila dihitung secara netto, NPLs BPR berada pada angka 0,78% atau masih di bawah batas indikatif 5%. Tabel 3.9. Kolektibilitas Kredit BPR (Miliar Rupiah) Kolektibilitas Des.2005 Des.2006 Des Mar Jun Sept Lancar 53,22 72,08 111,14 131,30 155,35 179,30 Kurang Lancar 0,35 1,71 0,73 1,07 0,95 1,30 Diragukan 0,36 1,30 0,48 0,40 0,73 0,70 Macet 0,19 0,34 0,72 0,88 1,24 1,30 NPLs Gross (%) 1,67 4,44 1,70 1,76 1,85 1,81 NPLs Net (%) 0,67 3,57 0,79 0,80 0,73 0,78 Sumber : Bank Indonesia Palu Untuk memitigasi risiko kredit atau kemungkinan peningkatan NPLs maka perbankan di Sulawesi Tengah dapat menempuh beberapa langkah sebagai berikut : - Peningkatan fungsi manajemen risiko di bidang perkreditan antara lain dengan membentuk unit manajemen risiko kredit dan mengikuti sertifikasi manajemen risiko. - Optimalisasi pemanfaatan informasi kredit untuk mengurangi informasi asimetris sehingga dapat memitigasi risiko kredit lebih dini. Bank umum maupun BPR yang menjadi bank pelapor Sistem Informasi Debitur (SID) dapat memanfaatkan SID yang berguna dalam mendukung pengambilan keputusan. - Meningkatkan keahlian SDM dan infrastruktur untuk mendukung ekspansi kredit. - Restrukturisasi dan hapus buku untuk menahan kenaikan kredit bermasalah. - Memastikan kecukupan Pembentukan Penyisihan Penghapusan Kredit (PPPK). - Menjaga permodalan yang memadai untuk mengatasi berbagai risiko. - Melakukan penjaminan kredit bekerjasama dengan lembaga penjaminan kredit yang sudah ada seperti PT. Askrindo (Persero) dan Perum Sarana Pengembangan Usaha (Perum SPU)
47 BAB 4. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN PERBANKAN BAB 4 PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN 1. PERKEMBANGAN UANG KARTAL (INFLOW / OUTFLOW) Aliran uang kartal di Bank Indonesia Palu pada triwulan III-2008 berada pada kondisi net outflow yang berarti aliran uang keluar lebih besar dibandingkan aliran uang masuk. Jumlah outflow pada triwulan laporan dipengaruhi oleh kebutuhan uang kartal masyarakat menghadapi perayaan hari besar keagamaan (Idul Fitri). Jumlah inflow di Bank Indonesia Palu pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp261,63 miliar atau naik 35,60% dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp192,94 miliar. Sementara itu, jumlah outflow tercatat sebesar Rp821,82 miliar atau turun -7,94% dibandingkan triwulan II-2008 sebesar Rp892,71 miliar. Meskipun transaksi tunai masih mendominasi kegiatan perekonomian masyarakat di Sulawesi Tengah, Bank Indonesia bersama dengan perbankan menghendaki meningkatnya penggunaan transaksi non tunai dan berupaya mendorong masyarakat untuk lebih banyak menggunakan transaksi non tunai (less cash society). Dari sisi Bank Indonesia, dengan meningkatnya penggunaan transaksi non tunai maka biaya pencetakan uang dan biaya logistik pengedaran uang dapat ditekan Inflow Outflow 1000 Miliar Rp Tr I-05 Tr II-05 Tr III-05 Tr IV-05 Tr I-06 Tr II-06 Tr III-06 Tr IV-06 Tr I-07 Tr II-07 Tr III-07 Tr IV-07 Tr I-08 Tr II-08 Tr III-08 Grafik 4.1. Perkembangan Inflow-Outflow Dalam rangka menjaga kualitas uang rupiah dalam kondisi yang layak edar di masyarakat, Bank Indonesia Palu melakukan kegiatan pemusnahan uang. Uang rupiah yang dimusnahkan adalah uang yang sudah dicabut dan ditarik dari peredaran dan uang yang sudah tidak layak edar. Jumlah uang yang dimusnahkan dapat dilihat dari jumlah Pemberian Tanda Tidak Berharga (PTTB). Selama triwulan III-2008, jumlah 70 34
48 BAB 4. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN PERBANKAN uang kertas yang dimusnahkan di Bank Indonesia Palu mencapai Rp84,58 miliar atau naik 25,34% dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp64,14 miliar. Kenaikan tersebut searah dengan kenaikan inflow pada triwulan laporan. 700 Inflow Miliar Rp PTTB Rasio PTTB Thd Inflow Persen (%) Tr I-05 Tr II-05 Tr III-05 Tr IV-05 Tr I-06 Tr II-06 Tr III-06 Tr IV-06 Tr I-07 Tr II-07 Tr III-07 Tr IV-07 Tr I-08 Tr II-08 Tr III-08 Grafik 4.2. Perkembangan PTTB PERKEMBANGAN UANG PALSU YANG DITEMUKAN Selama triwulan III-2008 jumlah uang palsu yang ditemukan sebanyak 3 lembar, jauh lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebanyak 850 lembar. Untuk meminimalisir jumlah uang palsu, Bank Indonesia Palu telah menjalin kerjasama dengan pihak-pihak terkait dan secara berkesinambungan melaksanakan kegiatan sosialisasi mengenai pengenalan ciri-ciri keaslian uang rupiah kepada masyarakat. Tujuan dari sosialisasi tersebut adalah untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat umum tentang ciri-ciri keaslian uang rupiah, sehingga masyarakat diharapkan aktif membantu mengamankan uang rupiah dari pemalsuan. Tabel 4.1. Jumlah Uang Palsu Yang Ditemukan (Lembar) Pecahan Mata Uang (Nominal) Tr I Tr II Tr III Rp Rp Rp Rp Jumlah Sumber : Bank Indonesia Palu 71 35
49 BAB 4. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN PERBANKAN 3. PERKEMBANGAN KLIRING LOKAL Pasal 16 Undang-Undang No.23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No.3 tahun 2004 menyatakan bahwa Bank Indonesia berwenang mengatur sistem kliring antar bank dalam mata uang rupiah dan valas. Adanya kliring diharapkan dapat meningkatkan penggunaan instrumen pembayaran giral dan mendorong masyarakat untuk menyimpan dana di bank. Secara umum manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya penyelenggaraan kliring untuk transaksi antar bank adalah memberikan alternatif bagi masyarakat dalam melakukan suatu pembayaran yang aman, efektif dan efisien, dan bagi bank merupakan salah satu layanan kepada nasabah dan dapat menjadi salah satu sumber fee based income (pendapatan di luar bunga). Dalam rangka meningkatkan kecepatan dan keakuratan settlement sehingga lebih memberikan kepastian dalam penyelesaian transaksi serta meminimalkan risiko kegagalam settlement, maka sejak September 2006 Kantor Bank Indonesia Palu telah menerapkan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI). Terlaksananya transmisi arus dana melalui SKNBI secara real time, otomatis akan mempercepat perputaran uang (velocity of money) dan mengurangi floating dana karena tidak ada lagi penundaan (time lag) dalam settlement sebagaimana terjadi pada sistem kliring lokal. Sementara itu, penerapan SKNBI di Kota Tolitoli dan Kota Luwuk telah dimulai sejak bulan November Selama triwulan III-2008, jumlah warkat kliring naik 2,79% yaitu dari lembar pada triwulan sebelumnya menjadi lembar. Demikian juga nominal perputaran kliring tercatat naik 9,46% dibandingkan triwulan II-2008 sehingga menjadi Rp832,61 miliar. Kenaikan jumlah warkat dan nominal kliring mengindikasikan semakin meningkatnya aktivitas perekonomian daerah
50 BAB 4. PERKEMBANGAN BAB 3. PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN PERBANKAN Tabel 4.2. Perputaran Kliring dan Cek/BG Kosong Keterangan Tr IV Tr IV Tr I Tr II Tr III Perputaran Kliring - Lembar - Nominal (Miliar Rp) , , , , ,61 Rata-Rata Harian Perputaran Kliring - Lembar - Nominal (Miliar Rp) , , , , ,05 Rata-Rata Harian Penolakan Cek/BG Kosong - Lembar (%) - Nominal (%) 1,17 0,80 0,84 0,37 0,53 0,21 0,52 0,50 0,59 0,57 Sumber : Bank Indonesia Palu Sementara itu, kualitas kliring di wilayah kerja Bank Indonesia Palu pada triwulan III-2008 relatif menurun dibandingkan triwulan sebelumnya sebagaimana tercermin pada peningkatan persentase rata-rata harian penolakan cek/bg kosong, baik dari sisi lembar maupun nominal kliring. Persentase rata-rata harian nominal cek/bg yang ditolak pada triwulan III-2008 tercatat 0,57%, lebih tinggi daripada triwulan sebelumnya sebesar 0,50%. Sementara itu, rata-rata harian lembar cek/bg yang ditolak tercatat 0,59%, lebih tinggi dibandingkan triwulan II-2008 sebesar 0,52%. Dalam rangka meningkatkan kualitas kliring dan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap cek dan bilyet giro (BG) sebagai salah satu alat pembayaran non tunai, Bank Indonesia telah menyempurnakan aturan pelaksana tata usaha Daftar Hitam Nasional (DHN) melalui Surat Edaran No.9/13/DASP tanggal 15 Juni Dengan dikeluarkannya peraturan DHN ini diharapkan akan tercipta efisiensi dalam administrasi DH yaitu hanya satu kali penerbitan DH secara nasional setiap periode penerbitan. Bagi bank tentunya akan mempercepat dan memudahkan bank dalam proses identifikasi calon nasabah yang akan membuka atau memperoleh fasilitas rekening giro dengan memanfaatkan data nasabah yang tercantum dalam DHN
51 BAB 5. PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN BAB KESEJAHTERAAN 3. PERKEMBANGAN MASYARAKAT PERBANKAN BAB 5 PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT Angka Indeks Pembangunan Manusia atau IPM 3 Sulawesi Tengah menunjukkan perbaikan, walaupun belum terlalu signifikan. Dibandingkan dengan angka IPM nasional, IPM Sulawesi Tengah selalu berada di bawah IPM nasional. Pada tahun 2006, angka IPM Sulawesi Tengah sebesar 68,80 sedangkan angka IPM nasional sebesar 70,10. Selama ini terdapat tiga kriteria IPM, yaitu IPM tinggi dengan angka indeks di atas 80,00, IPM sedang dengan batas angka 50,00 79,90 dan IPM rendah dengan angka di bawah 50,00. Angka IPM Sulawesi Tengah dan kebanyakan provinsi di Indonesia masuk dalam kategori sedang. Nasional Sulteng Sumber : BPS Grafik 5.1. Perkembangan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Sulawesi Tengah Jumlah angkatan kerja di Sulawesi Tengah posisi Februari 2008 mengalami peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja. Pada posisi Februari 2008 jumlah angkatan kerja di Sulawesi Tengah tercatat sebanyak 1,22 juta jiwa, naik 9,91% dibandingkan posisi Februari 2007 yang tercatat sebanyak 1,11 juta jiwa. Sementara itu, penyerapan tenaga kerja posisi Februari IPM dikembangkan pada 1990 oleh ekonom Pakistan Mahbub ul Haq, dan telah digunakan sejak tahun 1993 oleh UNDP pada laporan tahunannya. Nilai IPM menunjukkan pencapaian rata-rata dalam tiga dimensi dasar pembangunan manusia yaitu 1. usia yang panjang dan sehat yang diukur dengan angka harapan hidup, 2. pendidikan yang diukur dengan tingkat baca tulis dengan pembobotan dua per tiga dan angka partisipasi kasar dengan pembobotan satu per tiga, dan 3. standar hidup yang layak yang diukur dengan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita pada paritas daya beli dalam mata uang USD 38 74
52 BAB 5. PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN BAB KESEJAHTERAAN 3. PERKEMBANGAN MASYARAKAT PERBANKAN hanya naik 9,71% dibandingkan posisi Februari 2007 yaitu dari 1,03 juta jiwa menjadi 1,13 juta jiwa. Kombinasi perkembangan dua hal ini menyebabkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sulawesi Tengah naik yaitu dari 7,01% pada kondisi Februari 2007 menjadi 7,25% pada kondisi Februari Namun demikian, TPT tersebut masih lebih rendah dibandingkan TPT nasional sebesar 8,46%. Untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja, Pemerintah Daerah dan stakeholders terkait lainnya perlu berupaya keras meningkatkan aliran investasi ke Sulawesi Tengah antara lain dengan perbaikan infrastruktur (jalan, pelabuhan dan listrik), peningkatan kualitas SDM, jaminan stabilitas keamanan, jaminan minimnya biaya tinggi dan fokus pada pengembangan industri yang berbasis komoditas unggulan (dalam hal ini sektor pertanian) Persen (%) Sumber : BPS Sulteng Feb.2005 Feb.2006 Feb.2007 Feb.2008 Grafik 5.2. Perkembangan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulawesi Tengah Sementara itu, jumlah pencari kerja yang terdaftar di Kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Sulawesi Tengah pada triwulan III-2008 tercatat sebanyak orang atau naik 0,65% dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada triwulan laporan terdapat 1 orang tenaga kerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), lebih rendah daripada triwulan II Pada triwulan laporan juga terdapat pengiriman TKI asal Sulawesi Tengah ke luar negeri sebanyak 140 orang tenaga kerja. Tabel 5.1. Perkembangan Ketenagakerjaan Indikator Tenaga Kerja Tr IV Tr III Tr IV Tr I Tr II Tr III *) Jumlah TKI Jumlah Kasus PHK Jumlah TK yang di PHK Pencari Kerja yang Terdaftar **) Sumber : Disnakertrans Sulteng Ket : *) Angka sementara 75 39
53 BAB 5. PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN BAB KESEJAHTERAAN 3. PERKEMBANGAN MASYARAKAT PERBANKAN Sementara itu, Upah Minimum Provinsi (UMP) Sulawesi Tengah tahun 2008 ditetapkan sebesar Rp per-bulan atau naik 8,94% dibandingkan tahun 2007 sebesar Rp Namun demikian, angka tersebut masih berada di bawah angka Kebutuhan Hidup Layak (KHL) Sulawesi Tengah tahun Dibandingkan dengan rata-rata UMP se-indonesia (Rp per-bulan), UMP Sulawesi Tengah lebih rendah 10,34%. UMP (Rupiah) KHL (Rupiah) 850, , , , , , , , , , , , , , , ,000 50,000 - UMP / KHL (%) % % 90.00% 80.00% 70.00% 60.00% 50.00% 40.00% 30.00% 20.00% 10.00% 0.00% Grafik 5.3. Perkembangan UMP di Sulawesi Tengah 1. GINI RATIO Pertumbuhan ekonomi daerah diharapkan berdampak positif pada perbaikan kesejahteraan masyarakat, baik melalui penciptaan lapangan kerja maupun peningkatan pendapatan. Di sisi tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi akan membuka lapangan kerja sehingga angkatan kerja yang ada dapat diserap dan memiliki pendapatan. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi daerah yang terjadi tidak serta merta mampu menyebabkan penciptaan lapangan kerja secara signifikan sehingga pendapatan yang terjadi hanya dinikmati oleh sebagian masyarakat. Di sisi pendapatan, pertumbuhan ekonomi daerah akan menciptakan pendapatan bagi setiap pelaku usaha. Namun demikian, pendapatan yang tercipta belum tentu dapat dinikmati oleh masyarakat secara lebih luas. Penilaian dampak pertumbuhan ekonomi terhadap perbaikan kesejahteraan salah satunya adalah melalui tingkat distribusi ketimpangan pendapatan yang tercermin dari angka Gini Ratio 4. 4 Gini Ratio merupakan ukuran kemerataan tingkat pendapatan. Nilai Gini Ratio terletak antara 0 dan 1, dimana nilai yang mendekati 0 maka tingkat ketimpangan pendapatan sangat rendah (distribusi pendapatan merata), dan sebaliknya. Distribusi pendapatan di Indonesia dibagi atas tiga kelompok yaitu kelompok teratas, menengah dan terendah. Menurut Bank Dunia, distribusi pendapatan timpang manakala kelompok pendapatan terendah hanya menikmati kue ekonomi kurang dari 17%
54 BAB 5. PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN BAB KESEJAHTERAAN 3. PERKEMBANGAN MASYARAKAT PERBANKAN Tabel 5.2. Perkembangan Gini Ratio Sulawesi Tengah % 40% 20% 40% 40% 20% Keterangan populasi dengan pendapatan populasi dengan pendapatan populasi dengan pendapatan Gini Ratio populasi dengan pendapatan populasi dengan pendapatan populasi dengan pendapatan Gini Ratio terendah menengah tertinggi terendah menengah tertinggi Sulteng 21,85 38,07 40,08 0,30 20,88 39,09 40,04 0,32 Nasional 18,81 36,40 44,78 0,36 19,10 36,11 44,79 0,36 Sumber : BPS Berdasarkan perkembangan Gini Ratio pada tabel 5.2 dapat dikemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah belum sepenuhnya mampu memperbaiki ketimpangan pendapatan di Sulawesi Tengah. Hal ini tercermin dari memburuknya angka Gini Ratio Sulawesi Tengah tahun 2007 dibandingkan tahun 2005 yaitu dari 0,30 menjadi 0,32. Pada tahun 2007, 40% masyarakat Sulawesi Tengah dengan pendapatan terendah menikmati kue ekonomi di atas 17% (20,88%) sehingga ketimpangan tahun 2007 masih relatif rendah. 2. KEMISKINAN Persentase penduduk miskin di Sulawesi Tengah tahun 2008 tercatat sebesar 20,75%, lebih rendah dibandingkan tahun 2007 sebesar 22,42%, namun masih jauh lebih tinggi dibandingkan dengan persentase penduduk miskin nasional sebesar 15,42%. Pengukuran persentase penduduk miskin ini dilakukan pada bulan Maret 2008 sehingga angkanya berpotensi meningkat pada tahun 2009 setelah memperhitungkan dampak kenaikan harga BBM subsidi sebesar 28,70% pada akhir bulan Mei Dilihat berdasarkan lokasinya, jumlah penduduk miskin di pedesaan lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin di perkotaan. Jumlah penduduk miskin di pedesaan tahun 2008 mencapai 463,80 ribu jiwa (88,39%), dan penduduk miskin di perkotaan sebanyak 60,90 ribu jiwa (11,61%). Sementara itu, indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan di pedesaan juga lebih tinggi dibandingkan dengan perkotaan. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kemiskinan di daerah pedesaan lebih parah daripada di daerah perkotaan. Berdasarkan data tersebut, 77 41
55 BAB 5. PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN BAB KESEJAHTERAAN 3. PERKEMBANGAN MASYARAKAT PERBANKAN Pemerintah Daerah perlu memberikan perhatian ekstra terhadap permasalahan kemiskinan di pedesaan antara lain melalui penyediaan dan perbaikan infrastruktur pertanian (pencetakan lahan baru dan sarana irigasi) sebagai lapangan kerja utama di pedesaan, pembangunan jalan ke kantong-kantong produksi pertanian, jaminan ketersediaan pupuk dan benih unggul, perluasan akses pemasaran komoditas pertanian dan sebagainya. Tabel 5.3. Perkembangan Indikator Indikator Kemiskinan di Propinsi Sulawesi Tengah Keterangan Jumlah Penduduk Miskin (ribu jiwa) Kota Desa Persentase Penduduk Miskin (%) Kota Desa Indeks Kedalaman Kemiskinan (%) Kota Desa Indeks Keparahan Kemiskinan (%) Kota Desa Sumber : BPS Sulteng 486,30 70,50 415,80 21,69 15,33 23,33 4,03 3,19 4,73 1,14 0,96 1,37 527,50 73,20 454,30 21,80 14,41 23,76 4,18 2,26 4,64 1,20 0,63 4,18 566,10 76,60 489,50 24,09 15,52 26,37 6,49 2,71 7,47 2,00 0,72 6,49 557,50 67,10 490,40 22,42 12,86 24,97 4,46 2,14 5,08 1,38 0,56 1,60 524,70 60,90 463,80 20,75 11,47 23,22 4,33 2,22 4,89 1,41 0,60 1,63 Dalam rangka mengatasi rawan pangan dan penurunan daya beli masyarakat, termasuk di Provinsi Sulawesi Tengah, maka sejak pertengahan tahun 1998 sampai dengan saat ini Pemerintah Pusat telah menugaskan Perum Bulog untuk melaksanakan penyaluran Raskin (beras untuk keluarga miskin). Berdasarkan data tahun 2006, di Sulawesi Tengah terdapat rumah tangga miskin (RTM) yang tersebar di 9 kabupaten dan 1 kota. Jumlah RTM paling banyak terdapat di Kabupaten Donggala ( RTM), sedangkan yang paling sedikit terdapat di Kabupaten Buol ( RTM). RTM adalah sasaran atau penerima Raskin yang disalurkan Perum Bulog Divisi Regional Sulteng tiap bulan. Jatah Raskin tahun 2008 awalnya adalah sebanyak 10 kg/bulan/rtm dengan harga tebus Rp1.600/kg. Terkait dengan kebijakan stabilisasi pangan tahun 2008, jatah Raskin saat ini ditingkatkan menjadi 15 kg/bulan/rtm. Selain itu, untuk mengurangi penurunan daya beli masyarakat miskin akibat kenaikan harga BBM subsidi sebesar 28,70% pada akhir bulan Mei 2008, Pemerintah 78 42
56 BAB 5. PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN DAN BAB KESEJAHTERAAN 3. PERKEMBANGAN MASYARAKAT PERBANKAN kembali menggulirkan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) dengan nilai Rp /3 bulan/rts. Di Sulawesi Tengah, jumlah rumah tangga yang dianggap layak menerima BLT tercatat sebanyak rumah tangga sasaran (RTS), dan jumlah RTS paling banyak terdapat di Kabupaten Donggala yaitu sebanyak RTS. Berdasarkan data PT. Pos Indonesia (Persero), realisasi penyaluran BLT tahap I di Sulawesi Tengah mencapai 91,24% atau RTS, sedangkan penyaluran BLT tahap II (posisi akhir Oktober 2008) mencapai 86,13% atau RTS. Target penyaluran BLT tahap II adalah sampai dengan akhir tahun
57 BAB 3. PERKEMBANGAN BAB 6. KEUANGAN PERBANKAN DAERAH BAB 6 KEUANGAN DAERAH Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi Sulawesi Tengah sampai dengan triwulan III-2008 tercatat masih relatif rendah, terutama dari sisi belanja daerah. Secara keseluruhan, realisasi belanja daerah Provinsi Sulawesi Tengah mencapai Rp522,94 miliar atau 56,26% dari total anggaran belanja daerah tahun 2008 sebesar Rp929,52 miliar. Realisasi belanja daerah tersebut lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pendapatan daerah sehingga APBD Provinsi Sulawesi Tengah sampai dengan triwulan III-2008 masih mengalami surplus sebesar Rp161,36 miliar. Surplus tersebut juga tercermin dari perkembangan DPK milik Pemerintah Daerah di perbankan yang terus meningkat dan cukup besar. Tabel 6. Kinerja APBD Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah Uraian APBD 2008 (Miliar Rupiah) Realisasi sd. Triwulan III-2008 Nominal % Realisasi Pendapatan Daerah Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dana Perimbangan Lain-Lain Pendapatan Daerah Yang Sah 929,22 183,05 703,27 42,90 684,30 175,11 501,62 7,57 73,64 95,67 71,33 17,63 Belanja Daerah Belanja Operasi Belanja Modal Belanja Tak Terduga Transfer Bagi Hasil Pajak ke Kab/Kota 929,52 614,48 245,96 5,00 64,08 522,94 399,70 73,79 0,00 49,45 56,26 65,05 30,00 0,00 77,17 Surplus / (Defisit) (0,30) 161,36 Pembiayaan Daerah (netto) 38,22 0,00 0,00 Sumber : Biro Keuangan Provinsi Sulawesi Tengah Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa realisasi belanja operasi relatif lebih baik dibandingkan realisasi belanja lainnya. Realisasi belanja operasi sampai dengan akhir triwulan III-2008 telah mencapai Rp399,70 miliar atau 65,05% dari anggaran dan sebagian besar untuk gaji pegawai dan belanja barang, sedangkan realisasi belanja modal masih terbatas yaitu sebesar Rp73,79 miliar atau 30,00% dari anggaran. Dengan sisa waktu satu triwulan, Pemerintah Daerah perlu berupaya keras untuk 44 80
58 BAB 3. PERKEMBANGAN BAB 6. KEUANGAN PERBANKAN DAERAH meningkatkan realisasi belanja daerah terutama untuk belanja modal antara lain melalui kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap seluruh program dan kegiatan di masing-masing SKPD. Dampak positif dari peningkatan realisasi belanja daerah yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Sampai dengan triwulan III-2008, belanja daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah memberikan kontribusi sebesar 2,78% terhadap PDRB Sulawesi Tengah (atas dasar harga berlaku). Dari sisi pendapatan daerah, dana perimbangan masih merupakan sumber utama pendapatan daerah di Sulawesi Tengah dengan kontribusi sangat besar. Sebagai informasi, pada tahun 2006 kontribusi dana perimbangan terhadap pendapatan daerah seluruh Pemerintah Daerah di Sulawesi Tengah mencapai 92,45%, sedangkan tahun 2007 kontribusinya sedikit menurun menjadi 90,73%. Dana perimbangan terdiri dari dana bagi hasil pajak, dana bagi hasil sumber daya alam, dana alokasi umum (DAU) dan dana alokasi khusus (DAK). DAU adalah komponen dana perimbangan terbesar. Pada tahun 2006, kontribusi DAU terhadap pendapatan daerah mencapai 77,78%, dan pada tahun 2007 kontribusinya sedikit menurun menjadi 75,22%. DAU yang diterima Pemerintah Daerah se-sulawesi Tengah tahun 2008 sebesar Rp4.049,96 miliar atau naik 12,24% dibandingkan DAU tahun 2007 sebesar Rp3.608,22 miliar. Realisasi penyaluran DAU tahun 2008 sampai dengan triwulan III-2008 diperkirakan telah mencapai 83,33% dengan asumsi realisasi setiap bulan mencapai seperduabelas dari besaran DAU (sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No.04/PMK.07/2008), kecuali penyaluran bulan Oktober 2008 yang dipercepat menjadi minggu keempat September DAU (Miliar Rp) Kenaikan (%) 4.500, , , , , , ,96 90,00 80,00 70,00 60,00 Miliar Rp 2.500, , ,00 50,00 40,00 30,00 Persen (%) 1.000,00 20,00 500,00 10, Sumber : Depkeu Grafik 6.1. Perkembangan DAU di Sulawesi Tengah 45 81
59 BAB 3. PERKEMBANGAN BAB 6. KEUANGAN PERBANKAN DAERAH Sementara itu, DAK merupakan komponen dana perimbangan terbesar kedua setelah setelah DAU. Tahun 2006 kontribusi DAK terhadap pendapatan daerah mencapai 6,97%, tahun 2007 kontribusi DAK meningkat menjadi 9,80%, dan tahun 2008 menurun menjadi 3,79%. Tahun 2008, DAK yang dialokasikan ke seluruh daerah di Sulawesi Tengah mencapai Rp578,98 miliar atau naik 23,72% dibandingkan tahun 2007 sebesar Rp467,96 miliar. DAK dialokasikan untuk bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur, kelautan dan perikanan, pertanian, prasarana Pemerintahan Daerah serta lingkungan hidup. Namun demikian, dengan adanya Peraturan Menteri Keuangan No.04/PMK.07/2008 tanggal 28 Januari 2008 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah, realisasi DAK untuk Sulawesi Tengah berpotensi lebih rendah daripada DAK yang telah ditetapkan/dialokasikan Pemerintah Pusat. Hal ini disebabkan Pemerintah Pusat telah menetapkan bahwa penyaluran DAK dilakukan dalam empat tahap yaitu : - Tahap I sebesar 30% dari alokasi DAK, dilaksanakan setelah Perda APBD diterima Dirjen Perimbangan Keuangan, paling cepat disalurkan bulan Februari. - Tahap II sebesar 30% dari alokasi DAK, dilaksanakan selambat-lambatnya 15 hari kerja setelah laporan penyerapan penggunaan DAK tahap I diterima Dirjen Perimbangan Keuangan. - Tahap III sebesar 30% dari alokasi DAK, dilaksanakan selambat-lambatnya 15 hari kerja setelah laporan penyerapan penggunaan DAK tahap II diterima Dirjen Perimbangan Keuangan. - Tahap IV sebesar 10% dari alokasi DAK, dilaksanakan selambat-lambatnya 15 hari kerja setelah laporan penyerapan penggunaan DAK tahap III diterima Dirjen Perimbangan Keuangan. Berdasarkan data Dirjen Perimbangan Keuangan-Depkeu, dari 10 kabupaten/kota dan 1 provinsi di Sulawesi Tengah yang mendapatkan alokasi DAK, hanya 6 kabupaten/kota yang telah mendapatkan realisasi DAK tahap I pada bulan Februari 2008 yaitu Kabupaten Banggai Kepulauan, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Donggala, kabupaten Poso, Kota Palu dan Kabupaten Parigi Moutong dengan nilai keseluruhan mencapai Rp101,02 miliar. Berdasarkan peraturan yang ada, daerah lainnya yang tidak mendapatkan penyaluran DAK tahap I berpotensi tidak mendapatkan DAK. Permasalahan yang diperkirakan menjadi kendala dalam 46 82
60 BAB 3. PERKEMBANGAN BAB 6. KEUANGAN PERBANKAN DAERAH penyaluran DAK tahun 2008 antara lain Perda APBD belum disahkan dan laporan penggunaan DAK tahun sebelumnya belum disampaikan kepada Pemerintah Pusat. DAK (Miliar Rp) Kenaikan (%) Miliar Rp Persen (%) Sumber : Depkeu Grafik 6.2. Perkembangan DAK di Sulawesi Tengah Pada tahun 2008 ini, dana bagi hasil pajak yang akan diterima daerah-daerah di Sulawesi Tengah diperkirakan mencapai Rp303,49 miliar atau naik 18,31% dibandingkan tahun 2007 sekitar Rp256,51 miliar. Dana bagi hasil pajak tersebut sebagian besar berasal dari Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Sementara itu, dana bagi hasil sumber daya alam yang diterima Sulawesi Tengah tahun 2008 diperkirakan sebesar Rp32,15 miliar atau meningkat 79,92% dibandingkan tahun 2007 sebesar Rp17,87 miliar. Dana bagi hasil sumber daya alam tersebut berasal dari minyak bumi di Kabupaten Morowali sehingga kabupaten tersebut mendapatkan alokasi terbesar yaitu 40% atau sekitar Rp12,86 miliar, sedangkan Pemerintah Provinsi mendapatkan alokasi 20% atau sekitar Rp6,43 miliar dan daerah lainnya mendapatkan masingmasing 4,44% atau sekitar Rp1,43 miliar
61 BAB 7. BAB PERKIRAAN 3. PERKEMBANGAN EKONOMI DAN PERBANKAN INFLASI BAB 7 PERKIRAAN EKONOMI DAN INFLASI 1. PROSPEK PERTUMBUHAN EKONOMI Perekonomian Sulawesi Tengah pada triwulan IV-2008 diperkirakan tumbuh pada kisaran 6,50% - 7,00%. Di sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi masih didorong oleh tiga sektor utama yaitu sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran dan sektor jasa-jasa. Sektor pertanian diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Pada triwulan IV-2007, sektor pertanian tercatat tumbuh sebesar -1,61% (y-o-y). Berdasarkan angka ramalan (ARAM) II-2008, produksi padi periode September-Desember 2008 diperkirakan tumbuh sekitar 2,48% dibandingkan periode September-Desember Komoditas subsektor tanaman bahan makanan lainnya yaitu jagung, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau juga diperkirakan meningkat. Musim hujan pada awal Oktober 2008 yang menimbulkan banjir di beberapa daerah diperkirakan tidak begitu mempengaruhi produksi subsektor tanaman bahan makanan. Peningkatan pertumbuhan sektor pertanian juga ditopang oleh membaiknya kinerja subsektor peternakan dan subsektor perikanan. Adapun subsektor perkebunan masih menunjukkan kinerja yang menurun seiring dengan tren turunnya produksi komoditas perkebunan utama (terutama kakao) dan memburuknya harga komoditas pertanian dunia. Kinerja sektor perdagangan, hotel dan restoran pada triwulan IV-2008 diperkirakan lebih rendah daripada triwulan yang sama tahun sebelumnya, namun tetap memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah. Sementara itu, sektor jasa-jasa mengalami peningkatan pertumbuhan terutama didorong oleh subsektor jasa-jasa pemerintahan umum seiring dengan meningkatnya realisasi belanja non modal Pemerintah menjelang akhir tahun anggaran. Sektor lainnya yang diperkirakan akan mengalami peningkatan pertumbuhan adalah sektor bangunan dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan
62 BAB 7. BAB PERKIRAAN 3. PERKEMBANGAN EKONOMI DAN PERBANKAN INFLASI Dari sisi permintaan, kegiatan konsumsi rumah tangga masih menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi walaupun melambat pertumbuhannya. Namun demikian, adanya rencana Pemerintah untuk menurunkan harga BBM subsidi memberikan harapan semakin membaiknya daya beli masyarakat. Selain itu, perayaan hari raya keagamaan (Natal) dan tahun baru diperkirakan mampu mendorong pertumbuhan kegiatan konsumsi rumah tangga. Adapun kegiatan yang diperkirakan mengalami peningkatan pertumbuhan adalah konsumsi Pemerintah dan investasi, terutama investasi Pemerintah. Sementara itu, kegiatan ekspor Sulawesi Tengah diperkirakan melambat pertumbuhannya akibat menurunnya kinerja ekspor antar negara sebagai dampak krisis keuangan dunia dan penurunan produksi komoditas ekspor utama (kakao). 2. PROSPEK INFLASI Inflasi IHK tahunan (y-o-y) Kota Palu pada triwulan IV-2008 diperkirakan berada pada kisaran 12,50% - 13,00%. Inflasi terutama terjadi pada kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau serta kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar. Inflasi pada triwulan mendatang tersebut antara lain didorong oleh imported inflation akibat pelemahan kurs rupiah, musim hujan yang menyebabkan gangguan pasokan subkelompok sayur-sayuran dan ekspektasi kenaikan upah yang diikuti dengan kenaikan harga beberapa barang dan jasa pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar (misalnya sewa dan kontrak rumah). Rencana Pemerintah menurunkan harga BBM subsidi diharapkan mampu mengurangi ekspektasi inflasi masyarakat. Untuk memantau inflasi di daerah, khususnya di Sulawesi Tengah (Kota Palu), Bank Indonesia Palu mendorong perlunya suatu koordinasi antar pemangku kepentingan untuk turut berperan aktif memberikan saran dan rekomendasi kepada Pemerintah Daerah dan instansi/lembaga terkait lainnya dalam upaya pengendalian harga di daerah. Koordinasi tersebut dilakukan dengan membentuk Tim Pemantau Inflasi Daerah
63 BAB 7. BAB PERKIRAAN 3. PERKEMBANGAN EKONOMI DAN PERBANKAN INFLASI 3. PROSPEK PERBANKAN Berdasarkan perkembangan berbagai indikator perbankan sampai dengan akhir triwulan laporan, perbankan Sulawesi Tengah pada tahun 2008 diperkirakan masih tetap stabil dengan beberapa pencapaian antara lain pertumbuhan kredit di atas 30% dan NPLs netto di bawah 5%. Namun demikian, terdapat hal yang perlu dicermati karena berpotensi memberikan tekanan pada kualitas kredit yaitu turunnya permintaan dunia akibat krisis keuangan di Amerika Serikat. Turunnya permintaan dunia berpotensi mengganggu kinerja sektor ekonomi yang berorientasi ekspor, dan akhirnya dapat meningkatkan kredit bermasalah pada sektor tersebut. Oleh karena itu, perbankan perlu meningkatkan kehati-hatian dalam penyaluran kredit
64 BAB 3. PERKEMBANGAN PERBANKAN LAMPIRAN 87
65 BAB DAFTAR 3. PERKEMBANGAN ISTILAH DAN SINGKATAN PERBANKAN DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN Inflasi Inflasi month to month Inflasi year to date Inflasi year on year Inflasi quarter to quarter Inflasi inti (core inflation) Adalah peningkatan harga barang dan jasa secara umum dalam satu periode. Umumnya inflasi diukur dengan melihat perubahan harga sekelompok barang dan jasa yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat seperti tercermin pada perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK). Berdasarkan faktor penyebabnya, inflasi dapat dipengaruhi baik oleh sisi permintaan maupun sisi penawaran. Adalah perbandingan harga (nisbah) perubahan Indeks Harga Konsumen bulan bersangkutan dibandingkan IHK bulan sebelumnya (inflasi bulanan), dan sering disingkat (m-t-m). Adalah inflasi yang mengukur perbandingan harga perubahan Indeks Harga Konsumen bulan bersangkutan dibandingkan IHK bulan Desember tahun sebelumnya (inflasi kumulatif), dan sering disingkat (y-t-d). Adalah inflasi yang mengukur perbandingan harga perubahan Indeks Harga Konsumen bulan bersangkutan dibandingkan IHK bulan yang sama tahun sebelumnya (inflasi tahunan), dan sering disingkat (y-o-y). Adalah inflasi yang mengukur perbandingan harga perubahan Indeks Harga Konsumen pada akhir triwulan yang bersangkutan dibandingkan IHK akhir triwulan sebelumnya (inflasi triwulanan), dan sering disingkat (q-t-q). Adalah inflasi komoditas yang perkembangan harganya dipengaruhi oleh perkembangan ekonomi secara umum (faktor-faktor fundamental seperti ekspektasi inflasi, nilai tukar dan keseimbangan permintaan dan penawaran agregat) yang akan berdampak pada perubahan hargaharga secara umum dan lebih bersifat permanen. 88
66 BAB DAFTAR 3. PERKEMBANGAN ISTILAH DAN SINGKATAN PERBANKAN Inflasi volatile foods Inflasi administered prices Uang kartal Uang kuasi Uang giral LDR NPLs PPAP Adalah inflasi kelompok komoditas bahan makanan yang perkembangan harganya sangat bergejolak karena faktorfaktor tertentu. Adalah inflasi kelompok komoditas yang perkembangan harganya diatur oleh pemerintah. Adalah uang kertas, uang logam, komemoratif koin dan uang kertas komemoratif yang dikeluarkan oleh bank sentral yang menjadi alat pembayaran yang sah di suatu negara. Adalah kewajiban sistem moneter dalam bentuk deposito berjangka, tabungan dalam rupiah dan saldo rekening valuta asing milik penduduk. Berdasarkan standar penyusunan dan penyajian statistik secara internasional yang terbaru, BPR/BPRS dimasukkan sebagai anggota sistem moneter sehingga tabungan dan deposito yang ada di BPR/BPRS diperhitungkan sebagai uang kuasi. Terdiri dari rekening giro masyarakat di bank, kiriman uang, simpanan berjangka dan tabungan yang sudah jatuh tempo yang seluruhnya merupakan simpanan penduduk dalam rupiah pada sistem moneter. Adalah rasio total kredit terhadap total Dana Pihak Ketiga (DPK). DPK terdiri dari deposito berjangka, tabungan dan giro. LDR singkatan dari Loans to Deposit Ratio. Adalah kredit-kredit di perbankan yang tergolong kolektibilitas tidak lancar, yaitu kurang lancar, diragukan dan macet berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. NPLs singkatan dari Non Performing Loans. Adalah sejumlah dana yang dialokasikan untuk mengantisipasi tidak tertagihnya aktiva produktif yang tergolong kurang lancar, diragukan dan macet berdasarkan ketentuan Bank Indonesia. Aktiva produktif dalam hal ini adalah kredit. PPAP singkatan dari Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif. 89
67 BAB DAFTAR 3. PERKEMBANGAN ISTILAH DAN SINGKATAN PERBANKAN Cash Inflow Cash outflow Net flow PTTB PDB-PDRB DAU DAK Bagi Hasil Adalah uang kartal yang masuk ke Bank Indonesia, misalnya melalui kegiatan setoran yang dilakukan oleh bank-bank umum. Adalah uang kartal yang keluar dari Bank Indonesia melalui proses penarikan tunai bank umum dari giro di Bank Indonesia atau pembayaran tunai melalui Bank Indonesia. Adalah selisih antara outflow dan inflow. Adalah kegiatan pemusnahan uang atau Pemberian Tanda Tidak Berharga, sebagai upaya Bank Indonesia untuk menyediakan uang kartal yang layak dan segar (fit for circulation) untuk bertransaksi. Adalah sebuah analisis perhitungan pertumbuhan ekonomi dengan menghitung seluruh nilai tambah yang terjadi di sebuah wilayah tertentu pada waktu tertentu. Untuk skala nasional disebut Produk Domestik Bruto (PDB) dan untuk skala regional/daerah disebut Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). DAU singkatan dari Dana Alokasi Umum. DAU merupakan transfer yang bersifat umum (block grant) untuk mengatasi masalah ketimpangan horisontal (antar daerah) dengan tujuan utama pemerataan kemampuan keuangan antar daerah. DAK singkatan dari Dana Alokasi Khusus. DAK merupakan transfer yang bersifat khusus (specific grant) untuk memenuhi pembiayaan kebutuhan khusus daerah dan atau kepentingan nasional. Merupakan dana perimbangan untuk mengatasi masalah ketimpangan vertikal (antara pusat dan daerah) yang dilakukan melalui pembagian hasil antara pemerintah pusat dan daerah penghasil, dari sebagian penerimaan perpajakan (nasional) dan penerimaan sumber daya alam. 90
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH TRIWULAN III 2009 KANTOR BANK INDONESIA PALU Visi Bank Indonesia maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta Misi Bank
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA TRIWULAN II 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Gorontalo Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan I 2013 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui
Kajian Ekonomi Regional Banten
Kajian Ekonomi Regional Banten Triwulan I - 2009 i Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan segala rahmat-nya sehingga penyusunan buku Kajian Ekonomi Regional
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III 2010 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH TRIWULAN IV 2009 KANTOR BANK INDONESIA PALU Visi Bank Indonesia maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta Misi Bank
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III 2012 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan IV 2012 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Asesmen Ekonomi Pada triwulan I 2012 pertumbuhan Kepulauan Riau mengalami akselerasi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 6,34% (yoy)
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2012 Asesmen Ekonomi Laju pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan II 2012 tercatat sebesar 7,25%, mengalami perlambatan dibandingkan
Asesmen Pertumbuhan Ekonomi
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Penurunan momentum pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau di periode ini telah diperkirakan sebelumnya setelah mengalami tingkat pertumbuhan
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN DI ACEH Perbankan Aceh PERKEMBANGAN PERBANKAN DI ACEH KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. ACEH TRIWULAN 4-2012 45 Perkembangan Perbankan Aceh Kinerja perbankan (Bank
P D R B 7.24% 8.50% 8.63% 8.60% 6.52% 3.05% -0.89% Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara **) angka sangat sementara
Ringkasan Eksekutif Asesmen Ekonomi Di awal tahun 2009, imbas krisis finansial global terhadap perekonomian Kepulauan Riau dirasakan semakin intens. Laju pertumbuhan ekonomi memasuki zona negatif dengan
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI ACEH VISI Menjadi Kantor Bank Indonesia yang dapat dipercaya di daerah melalui peningkatan peran dalam menjalankan tugas-tugas Bank Indonesia yang diberikan. MISI Mendukung
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan IV 2010 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan IV-2012
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan -2012 Asesmen Ekonomi Pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2012 tercatat 8,21% lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2011 yang tercatat
Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau
Ringkasan Eksekutif Asesmen Ekonomi Kondisi perekonomian provinsi Kepulauan Riau triwulan II- 2008 relatif menurun dibanding triwulan sebelumnya. Data perubahan terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH TRIWULAN IV 2010 KANTOR BANK INDONESIA PALU Visi Bank Indonesia maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta Misi Bank
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Triwulan II-2013 Asesmen Ekonomi Perekonomian Kepulauan Riau (Kepri) pada triwulan II-2013 mengalami pelemahan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pada
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
1.2 SISI PENAWARAN Di sisi penawaran, hampir keseluruhan sektor mengalami perlambatan. Dua sektor utama yang menekan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2012 adalah sektor pertanian dan sektor jasa-jasa mengingat
6.1. Kinerja Sistem Pembayaran Transaksi Keuangan Secara Tunai Transaksi Keuangan Secara Non Tunai... 74
i ii ii 1.1. Analisis PDRB Dari Sisi Penawaran... 3 1.1.1. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan... 4 1.1.2. Sektor Pertambangan dan Penggalian... 6 1.1.3. Sektor Industri Pengolahan... 8 1.1.4. Sektor
L A M P I R A N. Kantor Bank Indonesia Ambon 1 PERTUMBUHAN TAHUNAN (Y.O.Y) PDRB SEKTORAL
PERTUMBUHAN TAHUNAN (Y.O.Y) PDRB SEKTORAL No. Sektor 2006 2007 2008. 1 Pertanian 3.90% 4.01% 3.77% 0.31% 2.43% 3.29% 2.57% 8.18% 5.37% 4.23% 2.69% -0.49% 2 Pertambangan dan Penggalian -3.24% 77.11% 8.98%
BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN
BAB 5 SISTEM PEMBAYARAN BAB 5 : SISTEM PEMBAYARAN Transaksi sistem pembayaran tunai di Gorontalo pada triwulan I-2011 diwarnai oleh net inflow dan peningkatan persediaan uang layak edar. Sementara itu,
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA TRIWULAN III-2013 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX 2013 KATA PENGANTAR Buku Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sumatera Utara merupakan terbitan
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Ekonomi Pemulihan ekonomi Kepulauan Riau di kuartal akhir 2009 bergerak semakin intens dan diperkirakan tumbuh 2,47% (yoy). Angka pertumbuhan berakselerasi
BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL
BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL Perekonomian Gorontalo pada triwulan II-2013 tumbuh 7,74% (y.o.y) relatif lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,63% (y.o.y). Angka tersebut
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN IV-28 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 18 BANDUNG Telp : 22 423223 Fax : 22 4214326 Visi Bank Indonesia Menjadi
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan I2010 Kantor Bank Indonesia Palangka Raya KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat Nya sehingga Kajian
Grafik 1.1 Laju Pertumbuhan Ekonomi Kepulauan Riau (y o y) Sumber : BPS Kepulauan Riau *) angka sementara ; **) angka sangat sementara
RINGKASAN EKSEKUTIF Asesmen Ekonomi Krisis finansial global semakin berpengaruh terhadap pertumbuhan industri dan ekspor Kepulauan Riau di triwulan IV-2008. Laju pertumbuhan ekonomi (y-o-y) kembali terkoreksi
BERITA RESMI STATISTIK
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 72/11/35/Th. X, 5 November 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TRIWULAN III-2012 Ekonomi Jawa Timur Triwulan III Tahun 2012 (y-on-y) mencapai 7,24 persen
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI PAPUA AGUSTUS 2017 Vol. 3 No. 2 Triwulanan April - Jun 2017 (terbit Agustus 2017) Triwulan II 2017 ISSN 2460-490257 e-issn 2460-598212 KATA PENGANTAR RINGKASAN
Kajian. Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Kalimantan Tengah
Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Triwulan III 2015 1 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat-nya (KEKR) Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan III
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kalimantan Selatan Triwulan III - 2011 Kantor Bank Indonesia Banjarmasin Kata Pengantar KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU Triwulan III - 2010 Penyusun : Tim Ekonomi Moneter Kelompok Kajian, Statistik dan Survei : 1. Bayu Martanto Peneliti Ekonomi Muda Senior 2. Jimmy Kathon Peneliti
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN IV-2009 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN I-2008 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia
UMKM & Prospek Ekonomi 2006
UMKM & Prospek Ekonomi 2006 Oleh : B.S. Kusmuljono Ketua Komite Nasional Pemberdayaan Keuangan Mikro Indonesia (Komnas PKMI) Komisaris BRI Disampaikan pada : Dialog Ekonomi 2005 & Prospek Ekonomi Indonesia
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur Triwulan IV - 2013 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur KATA PENGANTAR Sejalan dengan salah satu tugas pokok Bank Indonesia,
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Barat
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Sumatera Barat Triwulan I - 29 Kantor Triwulan I-29 BANK INDONESIA PADANG KELOMPOK KAJIAN EKONOMI Jl. Jend. Sudirman No. 22 Padang Telp. 751-317 Fax. 751-27313 Penerbit
Kata pengantar. Publikasi Data Strategis Kepulauan Riau Tahun merupakan publikasi perdana yang disusun dalam rangka
Kata pengantar Publikasi Data Strategis Kepulauan Riau Tahun 2012 merupakan publikasi perdana yang disusun dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen data terhadap data-data yang sifatnya strategis, dalam
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROPINSI SULAWESI SELATAN TRIWULAN-II Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Selatan Triwulan II-2008 i
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROPINSI SULAWESI SELATAN TRIWULAN-II 008 Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Selatan Triwulan II-008 i Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank Kata Pengantar
Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2014 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat
Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan terbaik di regional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan nilai tukar yang stabil
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU Triwulan III - 2011 cxççâáâç M Tim Ekonomi Moneter Kelompok Kajian, Statistik dan Survei : 1. Muhammad Jon Analis Muda Senior 2. Asnawati Peneliti Ekonomi Muda
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI JAWA BARAT TRIWULAN II-2008 KANTOR BANK INDONESIA BANDUNG Kantor Bank Indonesia Bandung Jl. Braga No. 108 BANDUNG Telp : 022 4230223 Fax : 022 4214326 Visi Bank Indonesia
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 127 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan III - 2009 Tim Penulis
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Triwulan IV 2012 Januari 2013 Kinerja Ekonomi Daerah Cukup Kuat, Inflasi Daerah Terkendali Ditengah perlambatan perekonomian global, pertumbuhan ekonomi berbagai daerah di Indonesia
Kajian Ekonomi Regional Triwulan I-2011 Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat
Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang rendah dan stabil Misi
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA. Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo
BANK SENTRAL REPUBLIK INDONESIA Kajian Ekonomi Regional Provinsi Gorontalo Triwulan III 2011 Visi Bank Indonesia : Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya secara nasional maupun internasional
Daftar Isi. Kata Pengantar... i Daftar Isi...ii Daftar Tabel...iv Daftar Grafik... v Daftar Lampiran... vii Tabel Indikator Ekonomi Terpilih
Visi Bank Indonesia: Menjadi lembaga Bank Sentral yang dapat dipercaya (kredibel) secara nasional maupun internasional melalui penguatan nilai-nilai strategis yang dimiliki serta pencapaian inflasi yang
Asesmen Pertumbuhan Ekonomi
Ringkasan Eksekutif Kajian Ekonomi Regional Asesmen Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau pada triwulan II-2010 diestimasi sedikit melambat dibanding triwulan sebelumnya. Badan Pusat Statistik
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur Triwulan II 2014 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Nusa Tenggara Timur Triwulan II - 2014
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI BENGKULU Triwulan I - 2011 cxççâáâç M Tim Ekonomi Moneter Kelompok Kajian, Statistik dan Survei : 1. Muhammad Jon Analis Muda Senior 2. Neva Andina Peneliti Ekonomi Muda
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH TRIWULAN IV 2013 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI TENGAH Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan
1. Tinjauan Umum
1. Tinjauan Umum Perekonomian Indonesia dalam triwulan III-2005 menunjukkan kinerja yang tidak sebaik perkiraan semula, dengan pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih rendah sementara tekanan terhadap
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Propinsi Kepulauan Bangka Belitung Triwulan III - 2008 Kantor Bank Indonesia Palembang Daftar Isi KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL
BAB 1 : PERKEMBANGAN MAKRO REGIONAL Perekonomian Gorontalo triwulan I-2013 tumbuh 7,63% (y.o.y) lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,57% (y.o.y.) Pencapaian tersebut masih
BERITA RESMISTATISTIK
BERITA RESMISTATISTIK BPS PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT No. 72/11/52/Th. VII, 6 November-2013 PERTUMBUHAN EKONOMI NUSA TENGGARA BARAT PADA TRIWULAN III-2013 PDRB Provinsi NTB pada triwulan III-2013 a. Dengan
BERITA RESMI STATISTIK
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 32/05/35/Th. XI, 6 Mei 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR TRIWULAN I-2013 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Triwulan I Tahun 2013 (y-on-y) mencapai 6,62
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV
ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 263 ANALISIS TRIWULANAN: Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran, Triwulan IV - 2009 Tim Penulis
No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014
No.11/02/63/Th XVII. 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2013 Secara triwulanan, PDRB Kalimantan Selatan triwulan IV-2013 menurun dibandingkan dengan triwulan III-2013 (q-to-q)
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH TRIWULAN III 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI TENGAH Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI SULAWESI TENGAH TRIWULAN II 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA PROVINSI SULAWESI TENGAH Visi Bank Indonesia Menjadi lembaga bank sentral yang kredibel dan
BAB 4 : KEUANGAN DAERAH
BAB 4 KEUANGAN DAERAH BAB 4 : KEUANGAN DAERAH Realisasi penyerapan belanja daerah relatif lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya meskipun secara besaran belum mencapai target anggaran
No. Sektor No. Sektor No. Jenis Penggunaan
PDRB SEKTORAL Berdasarkan Harga Berlaku (Rp Miliar) No. Sektor 2006 2007 1 Pertanian 431.31 447.38 465.09 459.18 462.01 491.83 511.76 547.49 521.88 537.38 2 Pertambangan dan Penggalian 11.48 11.44 11.80
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH. Triwulan III 2015
KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI ACEH Triwulan III 215 VISI Menjadi Kantor Perwakilan yang kredibel dalam pelaksanaan tugas BI dan kontributif bagi pembangunan ekonomi daerah maupun nasional.
KAJIAN EKONOMI REGIONAL
KAJIAN EKONOMI REGIONAL Provinsi Kalimantan Tengah Triwulan I2009 Kantor Bank Indonesia Palangka Raya KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmatnya sehingga Laporan
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI BARAT
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SULAWESI BARAT TRIWULAN-I 2013 halaman ini sengaja dikosongkan iv Triwulan I-2013 Kajian Ekonomi Regional Sulawesi Barat Daftar Isi KATA PENGANTAR... III DAFTAR ISI...
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA TRIWULAN I-2013
KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROVINSI SUMATERA UTARA TRIWULAN I-2013 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH IX 2013 KATA PENGANTAR Buku Kajian Ekonomi Regional Provinsi Sumatera Utara merupakan terbitan rutin
BERITA RESMI STATISTIK
BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI JAWA TIMUR PERTUMBUHAN EKONOMI JAWA TIMUR No. 13/02/35/Th.XI, 5 Februari 2013 Ekonomi Jawa Timur Tahun 2012 Mencapai 7,27 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO ACEH
PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO ACEH Pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan III tahun 212 sebesar 5,21% (yoy), mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,9% (yoy), namun masih lebih
PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2004
Perkembangan Moneter, Perbankan dan Sistem Pembayaran Triwulan III 2004 185 PERKEMBANGAN MONETER, PERBANKAN DAN SISTEM PEMBAYARAN TRIWULAN III 2004 Tim Penulis Laporan Triwulanan III 2004, Bank Indonesia
