Spasme infantil (SI) merupakan salah satu

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Spasme infantil (SI) merupakan salah satu"

Transkripsi

1 Sari Pediatri, Vol. 8, No. 3 (Suplemen), Januari 2007: Manifestasi Klinik dan Tata laksana Spasme Infantil di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Setyo Handryastuti, Irawan Mangunatmadja Latar belakang. Spasme infantil (SI) merupakan sindrom epilepsi pada anak yang bersifat katastropik. Manifestasi spasme sangat bervariasi, tetapi pada umumnya terdiri dari kontraksi otot yang melibatkan leher, batang tubuh dan ekstremitas yang bersifat simetris. Pada beberapa kasus terjadi retardasi mental berat karena penyakit yang mendasarinya seperti lisensefali. Di lain pihak status perkembangan pada pasien SI dapat membaik dengan terkontrolnya kejang, sehingga diagnosis dan tata laksana SI dini sangatlah penting. Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran manifestasi klinik dan membandingkan efek berbagai macam obat anti epilepsi (OAE) terutama ACTH dalam tata laksana SI. Metoda. Penelitian ini adalah studi deskriptif retrospektif dari data pasien SI yang berkunjung ke poliklinik Neurologi Anak RS Cipto Mangunkusumo sejak Januari 2000 sampai Desember Hasil. Selama 5 tahun terdapat 36 pasien SI dengan usia berkisar antara 3 minggu sampai 13 bulan. Sebagian besar (22/36) tidak mengalami bebas kejang meskipun mendapat politerapi, sisanya mengalami bebas kejang (14/36). Pada kelompok yang mengalami bebas kejang, 7 pasien mendapat politerapi, 7 pasien mendapat monoterapi yaitu fenobarbital (luminal) (1/14), asam valproat (2/14), topiramat (1/14) dan ACTH (3/14). Pasien yang mendapat ACTH memperlihatkan respon yang baik setelah 3 14 hari pemberian dan gambaran EEG berupa burst suppression menghilang dalam waktu 1-2 minggu. Efek samping pemberian ACTH yang dilaporkan adalah kenaikan berat badan. Kesimpulan. Jika dijumpai pasien berusia kurang dari 9 bulan dengan gejala spasme, harus dipikirkan kemungkinan SI. Spasme infantil harus segera didiagnosis, obati sedini mungkin, dan dapat dicoba dengan obat yang sudah direkomendasikan yaitu ACTH sebagai terapi jangka pendek. Kata kunci: spasme infantil, ACTH Alamat korespondensi: dr. Setyo Handryastuti, SpA Divisi Neurologi Anak FKUI-RSCM Jl. Salemba No. 6, Jakarta 10430, Indonesia Telpon : (021) e- mail : [email protected] Spasme infantil (SI) merupakan salah satu sindrom epilepsi pada anak yang bersifat katastropik karena adanya dua hal yaitu kejang yang sulit terkontrol dan berkaitan dengan retardasi mental berat. 1 Pada beberapa kasus, retardasi mental berat disebabkan oleh penyakit yang mendasarinya 21

2 seperti lisensefali. Di lain pihak, status perkembangan pada pasien SI dapat membaik dengan menanggulangi kejang, sehingga diagnosis dan tata laksana SI dini sangatlah penting. 1 Angka kejadian SI berkisar antara 2 sampai 5 per orang anak, dengan angka harapan hidup pada usia 10 tahun berkisar antara 1,5 sampai 2 per orang anak. 2-3 Usia awitan SI yang diperoleh dari beberapa penelitian hampir seragam, 90% terjadi sebelum usia 1 tahun dengan peak onset usia 4-6 bulan. Meskipun dilaporkan laki-laki lebih banyak terkena daripada perempuan, tetapi tidak terdapat perbedaan yang bermakna. 4 Manifestasi spasme sangat bervariasi, tetapi pada umumnya terdiri dari kontraksi otot yang melibatkan leher, batang tubuh dan ekstremitas yang bersifat simetris 5 Spasme dikelompokkan menjadi 3 subtipe yaitu fleksor, ekstensor dan campuran (fleksorekstensor) berdasarkan manifestasi postural dan pola keterlibatan otot selama kejang. 6,7 Etiologi SI dapat dibagi menjadi simtomatik, kriptogenik dan idiopatik. Spasme infantil simtomatik jika etiologi telah diketahui, kriptogenik sebenarnya termasuk SI simtomatik tetapi etiologi spesifik tidak diketahui. 8 Sedangkan SI idiopatik memperlihatkan perkembangan normal pada saat onset, pemeriksaan neurologi dan pencitraan normal serta pemeriksaan EEG menunjukkan hipsaritmia tanpa kelainan epileptiform fokal. 9 Gambaran EEG interiktal yang klasik pada pasien spasme infantil adalah hypsarrhytmia, meskipun demikian tidak semua spasme infantil menunjukkan gambaran hypsarrhytmia pada EEG, sebaliknya hypsarrhytmia juga tidak spesifik untuk spasme infantil karena dapat ditemukan pada sindrom epilepsi yang lain. 10,11 Modifikasi hypsarrhytmia yang dapat ditemukan pada spasme infantil adalah: hipersinkronisasi interhemisfer, fokus epileptiform yang konsisten, hemi hypsarrhytmia, burst-supressions, atau aktifitas gelombang lambat bervoltase tinggi dengan gelombang paku minimal. 12 Spasme infantil sulit diterapi dengan obat antiepilepsi (OAE) biasa, seperti telah terbukti pada lebih dari 50 penelitian. Terapi hormonal dengan Adrenocorticotropine (ACTH) telah dikenal sejak tahun 1958, Vigabatrin (a γ-aminobutyric acid GABA) inhibitor dipakai di Eropa secara luas untuk terapi SI. 13 Terapi hormonal dengan ACTH telah dikenal di Indonesia, akan tetapi karena terbatasnya persediaan obat maka jarang dipergunakan. Terapi SI di Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Jakarta memakai berbagai macam obat antiepilepsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas berbagai macam OAE terhadap SI terutama ACTH. Metoda Penelitian ini adalah studi deskriptif retrospektif dengan mengumpulkan data pasien SI yang berkunjung ke poliklinik Neurologi Anak RS Cipto Mangunkusumo Jakarta sejak Januari 2000 sampai Desember Diagnosis ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis dan gambaran EEG. Data yang dikumpulkan ialah jenis kelamin, usia awitan, riwayat kejang neonatus, klasifikasi etiologi, status perkembangan, defisit neurology, gambaran EEG, terapi dan respon terapi minimal dalam jangka waktu 6 bulan. Hasil Sejak bulan Januari 2000 sampai Desember 2005 terdapat 36 pasien SI yang berobat ke poliklinik Neurologi Anak RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Dari 36 pasien, terdapat 19 perempuan dan 17 lakilaki. Usia awitan berkisar antara 3 minggu sampai 13 bulan dengan angka kejadian yang tertinggi pada usia 1-9 bulan sebanyak 27 pasien (Tabel 1). Riwayat kejang neonatus terdapat pada 5 pasien. Abnormalitas perkembangan terdapat pada 34 pasien. Dari 2 pasien dengan perkembangan yang normal 1 pasien tidak lagi mengalami kejang dengan 1 macam OAE yaitu fenobarbital. Empat belas pasien dikelompokkan dalam klasifikasi kriptogenik, namun karena data yang tidak lengkap (riwayat penyakit maupun keterbatasan pemeriksaan penunjang) sehingga etiologi tidak dapat ditentukan. Dua pasien dikelompokkan dalam Tabel 1. Usia awitan spasme infantil pada 36 pasien Usia (bulan) n < < > 12 1 Total 36 22

3 idiopatik dengan kejang yang terkontrol (1 dengan monoterapi fenobarbital, 1 dengan 2 jenis OAE) serta menunjukkan perkembangan yang normal. (Tabel 2) Dari kelompok simtomatik, faktor etiologi prenatal (kelainan perkembangan otak, prematuritas, infeksi kongenital) ditemukan pada 15 pasien, faktor perinatal (asfiksia) pada 5 pasien dan pasca natal (ensefalitis) pada 1 pasien. Pemeriksaan CT-scan kepala dikerjakan pada 21 pasien dengan hasil atrofi otak (15/21), lisensefali (1/21), agenesis korpus kalosum dan atrofi otak (1/21), tuberosklerosis (2/21), kalsifikasi intrakranial (1/21) dan ensefalomalasia (1/21). Pada Tabel 3 terlihat bahwa gambaran hypsarrhytmia hanya terdapat pada 2 pasien, sisanya adalah gambaran modifikasi hypsarrhytmia dengan gambaran terbanyak suppression burst (22/36). Terapi OAE yang diberikan selama ini dalam bentuk mono dan politerapi (2-4 OAE), ACTH mulai dipakai pada tahun 2003 ketika obat tersebut sudah tersedia meskipun tidak selalu ada. Respon terapi OAE terhadap kontrol kejang dapat dilihat pada Tabel 4. OAE lain yang dipakai sebagai terapi adalah fenobarbital, asam valproat, prednison, metil-prednisolon, klonazepam, klobazam, nitrazepam dan topiramat. Pada pasien dengan kejang yang tidak terkontrol, 13 pasien termasuk klasifikasi simtomatik, 8 pasien kriptogenik. Sedangkan dari kelompok pasien dengan kejang yang terkontrol 2 pasien termasuk klasifikasi idiopatik, 6 kriptogenik dan 7 simtomatik. Kejang yang tidak terkontrol pada beberapa pasien berubah menjadi epilepsi intraktabel yang sulit diobati. Tabel 2. Klasifikasi Spasme Infantil pada 36 pasien Klasifikasi Spasme Infantil n Simtomatik 20 Kriptogenik 14 Idiopatik 2 Total 36 Dari 15 pasien dengan kejang yang terkontrol, 7 pasien mendapat monoterapi, sisanya memperoleh politerapi dengan 2-3 OAE. Jenis OAE yang diberikan untuk monoterapi fenobarbital (1/7), asam valproat (2/ 7), topiramat (1/7), dan ACTH (3/7). Respon terhadap pemberian ACTH tampak dalam waktu 3-14 hari setelah terapi dimulai dengan menghilangnya gejala klinis serta gambaran supression burst menghilang dalam waktu 1-2 minggu. Preparat ACTH yang tersedia adalah Synachten yang mengandung tetracosactide 1 mg /ml yang setara dengan 80 IU/ml. Dosis awal ACTH yang diberikan adalah 0,25 ml sekali sehari, dinaikkan secara bertahap setiap 3 hari tergantung dari respon. Dosis maksimal 2x0,5 ml pada 1 pasien. Terapi ACTH diberikan selama 4 minggu. Efek samping yang terjadi adalah kenaikan berat badan yang berlebihan dan moonface yang reversibel ketika ACTH dihentikan. Semua pasien yang mendapat terapi ACTH bebas kejang, 1 pasien dengan diagnosis sindrom Aicardi mengalami relaps 2 bulan setelah penghentian ACTH. Pasien yang mendapat monoterapi lain mengalami bebas kejang dalam waktu yang lebih lama yaitu 5 12 bulan. Status neurologi yang ditemukan pada pasien dapat dilihat pada Tabel 5. Jika dilihat dari kelompok kriptogenik 10 pasien mengalami defisit neurologi yang menunjukkan adanya gangguan perkembangan otak, mungkin dengan pemeriksaan penunjang lebih lanjut etiologi pasti dapat ditelusuri sehingga dapat dimasukkan dalam klasifikasi simtomatik. Tabel 4. Respon terapi OAE terhadap kejang Terapi n Kejang Kejang terkontrol tidak terkontrol 1 OAE OAE OAE OAE 1-1 Total Tabel 3. Hasil pemeriksaan EEG pada saat pertama kali datang Pemeriksaan EEG n Suppression burst dengan dan tanpa gelombang epileptiform multifokal 22 Gelombang epileptiform multifokal 8 Hipofungsi berat dan gelombang epileptiform multifokal 4 Hypsarrhytmia 2 Total 36 23

4 Tabel 5. Status neurologi pada 36 pasien Spasme Infantil Status neurologi Diskusi Klasifikasi Idiopatik Simtomatik Kriptogenik Normal 2 4 Palsi serebral Perkembangan terlambat 3 Total Pada penelitian ini jumlah pasien perempuan lebih banyak dari laki-laki, hal ini tidak sesuai dengan kepustakaan yang menyatakan sebaliknya. Akan tetapi hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ismael S 14 di Departemen IKA RSCM Jakarta yang melaporkan selama 10 tahun ( ) terdapat 53 pasien, 22 laki-laki, 31 perempuan. 14 Hampir semua pasien mempunyai perkembangan yang abnormal (34/ 36), sesuai dengan penelitian Ismael S 14 di RSCM yang menunjukan angka yang hampir sama (49/53). Usia awitan berkisar antara 3 minggu sampai 13 bulan. Sekitar 90% terjadi sebelum usia 1 tahun, sisanya di atas usia 1 tahun, seperti pada penelitian ini yaitu usia 13 bulan. Angka kejadian tertinggi menurut kepustakaan adalah usia 4-6 bulan, ada juga peneliti lain yang mengatakan 3-7 bulan 4,15 Penelitian ini menunjukkan bahwa peak onset antara usia 1-9 bulan, sesuai dengan kepustakaan. Berdasarkan etiologi, SI dapat diklasifikasikan menjadi simtomatik, kriptogenik dan idiopatik. Kepustakaan menyebutkan bahwa sebagian besar SI termasuk kategori simtomatik, 9 seperti pada penelitian ini simtomatik (20/36), kriptogenik (14/36) dan idiopatik (2/36). Kelompok simtomatik mungkin dapat lebih besar lagi jika berbagai macam pemeriksaan penunjang seperti MRI, PET scan, pemeriksaan kelainan metabolik dan genetik.dapat dilakukan. 16 Pemeriksaan CT-scan kepala yang dilakukan pada 22 pasien seluruhnya memperlihatkan gangguan perkembangan otak. Dua pasien yang termasuk kategori idiopatik memperlihatkan perkembangan yang normal dan berespon terhadap pemberian OAE. Diagnosis SI ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis ditunjang dengan gambaran EEG. Gambaran EEG pada penelitian ini yang terbanyak adalah modifikasi hypsarrhytmia berupa suppression burst dan suppression burst disertai gelombang epileptiform multifokal (22/36), hypsarrhytmia hanya ditemukan pada 2 orang pasien. Kepustakaan menyebutkan bahwa gambaran hypsarrhytmia terutama timbul pada pemeriksaan EEG interiktal pada saat anak dalam keadaan bangun dan fase awal dari perjalanan penyakit SI. 15 Kemungkinan penyebab gambaran EEG yang tampak sebagian besar modifikasi hypsarrhytmia adalah karena rekaman dilakukan pada anak dalam keadaan tidur karena sebagian besar perekaman EEG dilakukan dalam sedasi; penyebab lain yang mungkin adalah perjalanan penyakit SI masih dalam tahap awal sehingga gambaran khas hypsarrhytmia tidak muncul. Tata laksana pasien SI di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM Jakarta selama kurun waktu penelitian menggunakan obat fenobarbital (luminal), asam valproat, prednison, metil-prednisolon, klonazepam, klobazam, nitrazepam dan topiramat. Kepustakaan menyebutkan obat lini pertama yang dipakai dalam terapi SI ialah Vigabatrin, ACTH, prednison, nitrazepam (randomized controlled), piridoksin, asam valproat, zonisamide (openlabel studies). Sedangkan obat-obat yang digunakan sebagai lini kedua ialah asam valproat (randomized controlled studies), felbamat, lamotrigin dan topiramat (randomized controlled). 5,17-19 Selama kurang lebih 50 tahun terapi hormonal di Amerika Utara telah dikenal luas. Pengobatan ACTH dilaporkan pertama kali pada tahun 1958 mempunyai efek yang dramatik dan berefek cepat terhadap spasm. Meskipun demikian masih banyak kontroversi tentang pemakaian ACTH dari segi efikasi, dosis optimal, lama pemberian dan faktor prediktif dari ACTH. 5 American Academy of Neurology and the Child Neurology Society mengeluarkan rekomendasi bahwa ACTH mungkin efektif untuk terapi jangka pendek SI dan perbaikan hypsarrhytmia (kelas I-II, level B) tetapi tidak terdapat bukti cukup yang merekomendasikan dosis optimal dan lama terapi ACTH (level U). Kortikosteroid oral tidak terbukti efektif untuk terapi SI (level U). Vigabatrin mungkin efektif untuk terapi jangka pendek SI (kelas III-IV, level C), toksisitas retina patut diperhatikan sebagai efek samping, meskipun tidak terdapat data untuk merekomendasikan frekuensi dan cara uji tapis untuk mengurangi komplikasi pada anak (kelas IV, level U). Mengenai OAE lain seperti asam valproat, benzodiazepin, piridoksin, zonisamide, topiramat,ivig, liposteroid, diet ketogenik dan thyrotropin-releasing hormone (TRH) tidak ada bukti yang cukup untuk merekomendasikan obat-obat tersebut untuk terapi SI (kelas III-IV, level U)

5 Kortikotropin, lebih dikenal sebagai ACTH alamiah mempunyai masa kerja jam, sedangkan derivat sintetiknya yaitu Zn tetracosactrin mempunyai masa kerja jam. Seratus unit kortikotropin ekuivalen dengan 1 mg tetracosactrin. Dosis ACTH yang dipakai cukup beragam, Jepang menggunakan dosis 3-14 IU/hari, Finlandia IU/hari, Amerika 80 IU/hari. Beberapa penulis merekomendasikan pemberian tetracosactide selang sehari mengingat masa kerjanya yang lama. 13 Vigabatrin direkomendasikan oleh beberapa peneliti untuk SI dengan etiologi simtomatik, khususnya tuberosklerosis. Dosis dimulai dari mg/kg BB/hari, dinaikkan secara bertahap sampai terdapat respon secara klinis dan gambaran EEG. Dosis maksimal dapat diberikan sampai mg/kg BB/hari, efek samping berupa toksisitas retina dan gangguan lapang pandang patut dipertimbangkan. 18,21,22 Penelitian ini menunjukkan kesan efektifitas ACTH sebagai terapi jangka pendek SI, oleh karena itu tersedianya preparat ACTH sangat penting untuk terapi SI. Gejala SI menghilang secara spontan tanpa atau dengan terapi pada sebagian besar pasien pada saat pertengahan masa kanak-kanak. 23 Kejang dalam bentuk lain (50%-70%) atau epilepsi intraktabel (50%) akan timbul pada pasien dengan riwayat SI. 23,24 Penelitian ini menunjukkan lebih dari separuh pasien (21/36) manifestasi klinik berubah menjadi epilepsi intraktabel. Sampai sejauh ini faktor utama dalam memprediksi prognosis untuk status perkembangan dan epilepsi di kemudian hari adalah etiologi SI. Pasien dengan etiologi kriptogenik hanya 30%-50% mengalami retardasi mental, sedangkan SI simtomatik 80%- 95%. 23,24 Prognosis baik apabila pemeriksaan neurologi dan perkembangan yang normal saat onset, umur yang lebih tua pada saat onset, spasm singkat, dan terapi ACTH dini. 23,24 Penelitian ini menunjukkan seluruh pasien dengan etiologi simtomatik (20/20) mengalami defisit neurologi, angka ini mendekati persentasi yang disebut dalam kepustakaan. Dari kelompok kriptogenik 10 pasien (10/14) juga mengalami defisit neurologi; angka ini berbeda dengan kepustakaan, hal ini mungkin disebabkan pasien dengan klasifikasi kriptogenik sebenarnya dapat dimasukkan dalam kelompok simtomatik apabila dilakukan pemeriksaan penunjang lebih lanjut. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa jika dijumpai pasien berusia kurang dari 9 bulan dengan gejala spasme, harus dipikirkan kemungkinan SI. Spasme infantil harus segera didiagnosis dan diobati sedini mungkin dan dapat dicoba dengan obat yang sudah direkomendasikan yaitu ACTH sebagai terapi jangka pendek. Diagnosis SI tidak sulit, namun tata laksana SI di Indonesia menjadi sulit karena terbatasnya persediaan ACTH. Penentuan klasifikasi berdasarkan etiologi sangat penting untuk menentukan prognosis dari segi respon terapi dan status perkembangan. Daftar pustaka 1. Shields WD. Infantile spasm: an overview. J Pediatr Neurol 2004; 2: Trevathan F, Murphy CC, Yearginn-Alsopp M. The descriptive epidemiology of infantile spasms among Atlanta children. Epilepsia 1999; 40: Sidenvall R, Reg-Oloffson O. Epidemiology of infantil spasms in Sweden. Epilepsia 1995; 36: Glauser TA. Infantile spasm (West syndrome). Didapat dari: Diunduh pada Juni Wong M, Trevathan E. Infantile spasms. Pediatr neurol 2001; 24: Fusco L, Vigevano F. Ictal clinical electroencephalographic findings of spasms in West syndrome. Epilepsia 1993; 34: Dulae O. Epileptic spasms including infantile spasms. Didapat dari: 8. Commission on Classification and Terminolgy of The International League Against Epilepsy. Proposal for revised classification of epilepsies and epileptic syndromes. Epilepsia 1989; 30: Commission on Pediatric Epilepsy of The International League Against Epilepsy. Workshop on infantile spasms. Epilepsia 1992; 33: Donat JF, Wright FS. Seizures in series: Similarities between seizures of the West and Lennox-Gastaut syndromes. Epilepsia 1991; 32: Friedman F, Pampiglion G. Prognostic implications of electroencephalographic findings of hypsarrhytmia in first year of life. Br Med J 1971; 4: Hrachovy RA, Frost JD, Kellaway P. Hypsarrhytmia: variations on the theme. Epilepsia 1984; 25: Riikonen R. The latest on infantile spasms. Curr Opin in Neurol 2005; 18: Ismael S. Outcome of patients with infantile spasm. Paediatr Indones 2000; 40:

6 15. Arzimanoglou A, Guerrini R, Aicardi J. Infantile spasms and related syndrome. Dalam: Aicardi s epilepsy in children, penyunting. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; h Trasmonte JV, Barron TF. Infantile spasms: A proposal for a staged evaluation. Neurol 1998; 19: Riikonen R. Steroids or vigabatrin in the treatment of infantile spasms?. Pediatr Neurol 2000; 23: Mitchell WG, Shah NS. Vigabatrine for infantile spasms. Pediatr Neurol 2002; 27: Lotze TE, Wilfong AA. Zonisamide treatment for symptomatic infantile spasms. Neurology; 62: Mackay MT, Weiss SK, Adams-Webber T, Ashwal S, Stephens D, Ballaban-Gill K dkk. Practice parameter: medical treatment of infantile spasm. Report of American Academy of Neurology and the Child Neurology Society. Neurology 2004; 62: Koo B. Vigabatrin in the treatment of infantile spasms. Pediatr Neurol 1999; 20: Hancock E, Osborne JP. Vigabatrin in the treatment of infantile spasms in tuberosclerosis:literature review. J Child neurol 1999; 14: Riikonen R. A long-term follow-up study of 214 children with the syndrome of infantile spasm. Neuropediatr 1982; 13: Koo B, Hwang PA, Logan WJ. Infantile spasms: Outcome and prognostic factors of cryptogenic and symptomatic groups. Neurology 1993; 43:

BAB I PENDAHULUAN. Kejang merupakan masalah neurologi yang paling sering kita jumpai pada

BAB I PENDAHULUAN. Kejang merupakan masalah neurologi yang paling sering kita jumpai pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kejang merupakan masalah neurologi yang paling sering kita jumpai pada anak, dan biasanya kejang sudah dimulai sejak usia bayi dan anak-anak. Kejang pada

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tidak didapatkan infeksi intrakranial ataupun kelainan lain di otak. 1,2 Demam

BAB 1 PENDAHULUAN. tidak didapatkan infeksi intrakranial ataupun kelainan lain di otak. 1,2 Demam BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Kejang demam adalah kejang yang terkait dengan demam dan usia, serta tidak didapatkan infeksi intrakranial ataupun kelainan lain di otak. 1,2 Demam adalah kenaikan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 17 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Definisi Epilepsi Epilepsi merupakan gangguan kronik otak yang menunjukan gejala-gejala berupa serangan yang berulang yang terjadi akibat adanya ketidaknormalan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 60 bulan disertai suhu tubuh 38 C (100,4 F) atau lebih yang tidak. (SFSs) merupakan serangan kejang yang bersifat tonic-clonic di

BAB 1 PENDAHULUAN. 60 bulan disertai suhu tubuh 38 C (100,4 F) atau lebih yang tidak. (SFSs) merupakan serangan kejang yang bersifat tonic-clonic di BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kejang demam atau febrile seizure (FS) merupakan kejang yang terjadi pada anak dengan rentang umur 6 sampai dengan 60 bulan disertai suhu tubuh 38 C (100,4

Lebih terperinci

Takrif/pengertian. 1/2/2009 Zullies Ikawati's Lecture Notes

Takrif/pengertian. 1/2/2009 Zullies Ikawati's Lecture Notes EPILEPSI Takrif/pengertian epilepsi : kejadian kejang yang terjadi berulang (kambuhan) Kejang : manifestasi klinik dari aktivitas neuron yang berlebihan di dalam korteks serebral Manifestasi klinik kejang

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL... i HALAMAN JUDUL... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii HALAMAN PERNYATAAN... iv HALAMAN PERSEMBAHAN... v KATA PENGANTAR...

DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL... i HALAMAN JUDUL... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii HALAMAN PERNYATAAN... iv HALAMAN PERSEMBAHAN... v KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL... i HALAMAN JUDUL... ii HALAMAN PENGESAHAN... iii HALAMAN PERNYATAAN... iv HALAMAN PERSEMBAHAN... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... ix DAFTAR TABEL... xi DAFTAR GAMBAR...

Lebih terperinci

Faktor Prognostik Kegagalan Terapi Epilepsi pada Anak dengan Monoterapi

Faktor Prognostik Kegagalan Terapi Epilepsi pada Anak dengan Monoterapi Artikel Asli Faktor Prognostik Kegagalan Terapi Epilepsi pada Anak dengan Agung Triono, Elisabeth Siti Herini Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada /RSUP Dr. Sardjito,

Lebih terperinci

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract. Vivit Erdina Yunita, 1 Afdal, 2 Iskandar Syarif 3

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract.  Vivit Erdina Yunita, 1 Afdal, 2 Iskandar Syarif 3 705 Artikel Penelitian Gambaran Faktor yang Berhubungan dengan Timbulnya Kejang Demam Berulang pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Anak RS. DR. M. Djamil Padang Periode Januari 2010 Desember 2012 Vivit

Lebih terperinci

Kejang Demam (KD) Erny FK Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Kejang Demam (KD) Erny FK Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Kejang Demam (KD) Erny FK Universitas Wijaya Kusuma Surabaya Tingkat kompetensi : 4 Kompetensi dasar : mampu mendiagnosis dan melakukan tatalaksana secara paripurna Sub-kompetensi : Menggali anamnesa untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sindrom neurokutaneus merupakan sekelompok besar kelainan kongenital

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Sindrom neurokutaneus merupakan sekelompok besar kelainan kongenital BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sindrom neurokutaneus merupakan sekelompok besar kelainan kongenital yang sangat bervariasi, tidak saling terkait, dengan karakteristik klinis, patologis dan genetik

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL

BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL BAB 3 KERANGKA KONSEP PENELITIAN DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1. Kerangka konsep penelitian Berdasarkan tujuan penelitian yang telah dikemukakan, kerangka konsep mengenai angka kejadian relaps sindrom nefrotik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gangguan tidur dijumpai 25% pada populasi anak yang sehat, 1-5%

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Gangguan tidur dijumpai 25% pada populasi anak yang sehat, 1-5% BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gangguan tidur dijumpai 25% pada populasi anak yang sehat, 1-5% diantaranya adalah gangguan kesulitan bernapas saat tidur (obstructive sleep apneu syndrome: OSAS) (Owens,

Lebih terperinci

EPILEPSI PADA ANAK. Anna MG.Sinardja Lab.Neurologi FK.UNUD / RS Sanglah

EPILEPSI PADA ANAK. Anna MG.Sinardja Lab.Neurologi FK.UNUD / RS Sanglah EPILEPSI PADA ANAK Anna MG.Sinardja Lab.Neurologi FK.UNUD / RS Sanglah Prinsip dasar diagnosis dan pengobatan PENDAHULUAN Epilepsi adl suatu gangguan neurologi yg sering muncul. - - Dx/ lbh penting dp

Lebih terperinci

Curiculum vitae. Dokter umum 1991-FKUI Spesialis anak 2002 FKUI Spesialis konsultan 2008 Kolegium IDAI Doktor 2013 FKUI

Curiculum vitae. Dokter umum 1991-FKUI Spesialis anak 2002 FKUI Spesialis konsultan 2008 Kolegium IDAI Doktor 2013 FKUI Curiculum vitae Nama : DR.Dr. Setyo Handryastuti, SpA(K) Tempat/tanggal lahir : Jakarta 27 Januari 1968 Pekerjaan : Staf pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM Pendidikan : Dokter umum 1991-FKUI

Lebih terperinci

PEDOMAN DIAGNOSTIK & PENGOBATAN EPILEPSI PADA ANAK. Dr Erny SpA(K) FK UWKS

PEDOMAN DIAGNOSTIK & PENGOBATAN EPILEPSI PADA ANAK. Dr Erny SpA(K) FK UWKS PEDOMAN DIAGNOSTIK & PENGOBATAN EPILEPSI PADA ANAK Dr Erny SpA(K) FK UWKS 1 Kompetensi dasar mampu menegakkan diagnosis epilepsi dan menyusun program terapi epilepsi pada anak 2 Sub-kompetensi Mampu menyebutkan

Lebih terperinci

Prevalens dan Profil Klinis pada Anak Palsi Serebral Spastik dengan Epilepsi

Prevalens dan Profil Klinis pada Anak Palsi Serebral Spastik dengan Epilepsi Artikel Asli Prevalens dan Profil Klinis pada Anak Palsi Serebral Spastik dengan Epilepsi Alinda Rubiati Wibowo, Deddy Ria Saputra Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUP Fatmawati, Jakarta Latar belakang.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Informasi Obat Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan kegiatan penyediaan dan pemberian informasi obat, rekomendasi obat yang independen, akurat,. 4 komprehensif, terkini,

Lebih terperinci

KEJANG PADA ANAK. Oleh: Nia Kania, dr., SpA., MKes

KEJANG PADA ANAK. Oleh: Nia Kania, dr., SpA., MKes KEJANG PADA ANAK Oleh: Nia Kania, dr., SpA., MKes Kejang merupakan suatu manifestasi klinis yang sering dijumpai di ruang gawat darurat. Hampir 5% anak berumur di bawah 16 tahun setidaknya pernah mengalami

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan dan bentuk tubuh, yang

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan dan bentuk tubuh, yang 5 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Palsi serebral 2.1.1 Definisi palsi serebral Palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan dan bentuk tubuh, yang menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik, gangguan tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Epilepsi merupakan penyakit kronis di bidang neurologi dan penyakit

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Epilepsi merupakan penyakit kronis di bidang neurologi dan penyakit BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Epilepsi merupakan penyakit kronis di bidang neurologi dan penyakit kedua terbanyak setelah stroke (Blum, 2003). Epilepsi disebabkan oleh berbagai etiologi

Lebih terperinci

PENUNTUN PRAKTIKUM NEUROPSIKIATRI CONVULSANT & ANTICONVULSANT

PENUNTUN PRAKTIKUM NEUROPSIKIATRI CONVULSANT & ANTICONVULSANT SISTEM NEUROPSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN PENUNTUN PRAKTIKUM NEUROPSIKIATRI CONVULSANT & ANTICONVULSANT UNTUK MAHASISWA DISUSUN OLEH : dr. Jason Sriwijaya, Sp.FK FAKULTAS KEDOKTERAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kejang berulang disebabkan oleh pelepasan sinkron berulang, abnormal, dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. kejang berulang disebabkan oleh pelepasan sinkron berulang, abnormal, dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Epilepsi adalah kondisi neurologis yang ditandai dengan kekambuhan kejang berulang disebabkan oleh pelepasan sinkron berulang, abnormal, dan berlebihan dari

Lebih terperinci

Kejang Demam pada Anak. Divisi Neurologi Departemen IKA FKUI-RSCM UKK Neurologi IDAI

Kejang Demam pada Anak. Divisi Neurologi Departemen IKA FKUI-RSCM UKK Neurologi IDAI Kejang Demam pada Anak Setyo Handryastuti Divisi Neurologi Departemen IKA FKUI-RSCM UKK Neurologi IDAI Pendahuluan Rekomendasi terus diperbaharui Indikasi LP, EEG,CT-scan/ MRI, laboratorium Indikasi terapi

Lebih terperinci

EEG AWAL TERAPI SEBAGAI PREDIKTOR KEKAMBUHAN PADA PENDERITA EPILEPSI YANG MENDAPAT TERAPI OBAT ANTIEPILEPSI

EEG AWAL TERAPI SEBAGAI PREDIKTOR KEKAMBUHAN PADA PENDERITA EPILEPSI YANG MENDAPAT TERAPI OBAT ANTIEPILEPSI EEG AWAL TERAPI SEBAGAI PREDIKTOR KEKAMBUHAN PADA PENDERITA EPILEPSI YANG MENDAPAT TERAPI OBAT ANTIEPILEPSI EEG IN FIRST THERAPY AS PREDICTOR RELAPSE AT EPILEPSY PATIENT WITH ANTIEPILEPTIC DRUGS THERAPY

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. pada ketidakmampuan untuk mengendalikan fungsi motorik, postur/ sikap dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. pada ketidakmampuan untuk mengendalikan fungsi motorik, postur/ sikap dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Palsi serebral adalah suatu kelainan statis nonprogresif yang disebabkan oleh cedera otak pada periode prenatal, perinatal dan postnatal, yang berpengaruh pada ketidakmampuan

Lebih terperinci

PROFIL PENYANDANG EPILEPSI DI POLIKLINIK SARAF RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE JUNI 2013 MEI 2014

PROFIL PENYANDANG EPILEPSI DI POLIKLINIK SARAF RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE JUNI 2013 MEI 2014 PROFIL PENYANDANG EPILEPSI DI POLIKLINIK SARAF RSUP PROF. DR. R.D. KANDOU MANADO PERIODE JUNI 2013 MEI 2014 1 Rhiza Khasanah 2 Corry N. Mahama 2 Theresia Runtuwene 1 Kandidat Skripsi Fakultas Kedokteran

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. (American Academy of Pediatrics, 2008). Penyebab demam pada pasien

BAB 1 PENDAHULUAN. (American Academy of Pediatrics, 2008). Penyebab demam pada pasien BAB 1 1.1. Latar Belakang PENDAHULUAN Kejang Demam adalah kejang pada anak sekitar usia 6 bulan sampai 6 tahun yang terjadi saat demam yang tidak terkait dengan kelainan intrakranial, gangguan metabolik,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menduduki urutan ke 10 dari urutan prevalensi penyakit. Inflamasi yang terjadi pada sistem saraf pusat

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menduduki urutan ke 10 dari urutan prevalensi penyakit. Inflamasi yang terjadi pada sistem saraf pusat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di Indonesia, infeksi susunan saraf pusat menduduki urutan ke 10 dari urutan prevalensi penyakit (Saharso dan Hidayati, 2000). Inflamasi yang terjadi pada sistem

Lebih terperinci

Pengaruh Lama Pengobatan Awal Sindrom Nefrotik terhadap Terjadinya Kekambuhan

Pengaruh Lama Pengobatan Awal Sindrom Nefrotik terhadap Terjadinya Kekambuhan Sari Pediatri, Sari Pediatri, Vol. 4, Vol. No. 4, 1, No. Juni 1, 2002: Juni 20022-6 Pengaruh Lama Pengobatan Awal Sindrom Nefrotik terhadap Terjadinya Kekambuhan Partini P Trihono, Eva Miranda Marwali,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Epilepsi merupakan salah satu penyakit pada otak tersering mencapai 50 juta

BAB 1 PENDAHULUAN. Epilepsi merupakan salah satu penyakit pada otak tersering mencapai 50 juta BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Epilepsi merupakan salah satu penyakit pada otak tersering mencapai 50 juta individu di dunia (WHO, 2005a). Epilepsi di wilayah Asia Tenggara berkisar 1% dari populasi

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di ruang rekam medik RSUP Dr.Kariadi Semarang

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di ruang rekam medik RSUP Dr.Kariadi Semarang BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Divisi Perinatologi RSUP Dr.Kariadi/FK Undip Semarang. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian

Lebih terperinci

Perbandingan Melatonin dan Prosedur Deprivasi Tidur untuk Persiapan Pemeriksaan Elektroensefalografi pada Anak

Perbandingan Melatonin dan Prosedur Deprivasi Tidur untuk Persiapan Pemeriksaan Elektroensefalografi pada Anak Perbandingan Melatonin dan Prosedur Deprivasi Tidur untuk Persiapan Pemeriksaan Elektroensefalografi pada Anak Setyo Handryastuti,* Lenny S. Budi,** Irawan Mangunatmadja,* Taralan Tambunan,* Agus Firmansyah,*

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bell s palsy adalah paralisis saraf fasial unilateral akut yang

BAB I PENDAHULUAN. Bell s palsy adalah paralisis saraf fasial unilateral akut yang BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Bell s palsy adalah paralisis saraf fasial unilateral akut yang pertama kali dideskripsikan pada tahun 1821 oleh seorang anatomis dan dokter bedah bernama Sir Charles

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang datang dalam serangan-serangan berulang secara spontan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang datang dalam serangan-serangan berulang secara spontan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Epilepsi merupakan gangguan saraf kronik dengan ciri timbulnya gejalagejala yang datang dalam serangan-serangan berulang secara spontan yang disebabkan lepasnya

Lebih terperinci

6/5/2010. Analytic. Descriptive Case report Case series Survey. Observational Cross sectional Case-control Cohort studies

6/5/2010. Analytic. Descriptive Case report Case series Survey. Observational Cross sectional Case-control Cohort studies Disampaikan oleh: Retna Siwi Padmawati KMPK-2009 Tujuan Memberi pengantar tentang disain metode penelitian Memahami perbedaan penelitian deskriptif dan analytic Mengidentifikasi hirarki disain penelitian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dijumpai di masyarakat, baik anak-anak, remaja, dewasa. maupun lanjut usia. Cedera kepala dapat dikaitkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dijumpai di masyarakat, baik anak-anak, remaja, dewasa. maupun lanjut usia. Cedera kepala dapat dikaitkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cedera kepala merupakan kasus yang cukup banyak dijumpai di masyarakat, baik anak-anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia. Cedera kepala dapat dikaitkan dengan begitu

Lebih terperinci

PREDIKTOR KEJADIAN KEJANG PASCAOPERASI BEDAH EPILEPSI LOBUS TEMPORAL PADA PENDERITA EPILEPSI LOBUS TEMPORAL JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA

PREDIKTOR KEJADIAN KEJANG PASCAOPERASI BEDAH EPILEPSI LOBUS TEMPORAL PADA PENDERITA EPILEPSI LOBUS TEMPORAL JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA PREDIKTOR KEJADIAN KEJANG PASCAOPERASI BEDAH EPILEPSI LOBUS TEMPORAL PADA PENDERITA EPILEPSI LOBUS TEMPORAL JURNAL MEDIA MEDIKA MUDA Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana

Lebih terperinci

Algoritme Tatalaksana Kejang Akut dan Status Epileptikus pada Anak

Algoritme Tatalaksana Kejang Akut dan Status Epileptikus pada Anak Algoritme Tatalaksana Kejang Akut dan Status Epileptikus pada Anak Yazid Dimyati Divisi Saraf Anak Departemen IKA FKUSU / RSHAM Medan UKK Neurologi / IDAI 2006 Pendahuluan Kejang merupakan petunjuk adanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terbanyak yang sering dijumpai pada anak. Sindrom nefrotik adalah suatu sindrom

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. terbanyak yang sering dijumpai pada anak. Sindrom nefrotik adalah suatu sindrom 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sindrom nefrotik (SN, Nephrotic Syndrome) merupakan salah satu penyakit ginjal terbanyak yang sering dijumpai pada anak. Sindrom nefrotik adalah suatu sindrom klinik

Lebih terperinci

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA KAJIAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN FENITOIN, KARBAMAZEPIN, DAN ASAM VALPROAT TUNGGAL TERHADAP OUTCOME PASIEN

ADLN - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA KAJIAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN FENITOIN, KARBAMAZEPIN, DAN ASAM VALPROAT TUNGGAL TERHADAP OUTCOME PASIEN SKRIPSI KAJIAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN FENITOIN, KARBAMAZEPIN, DAN ASAM VALPROAT TUNGGAL TERHADAP OUTCOME PASIEN EPILEPSI SIMPTOMATIK (Penelitian Dilakukan di Poli Saraf IRJ Saraf RSU Dr. Soetomo Surabaya)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. otak (Dipiro et.al, 2005). Epilepsi dapat dialami oleh setiap orang baik laki-laki

I. PENDAHULUAN. otak (Dipiro et.al, 2005). Epilepsi dapat dialami oleh setiap orang baik laki-laki I. PENDAHULUAN Epilepsi adalah terganggunya aktivitas listrik di otak yang disebabkan oleh beberapa etiologi diantaranya cedera otak, keracunan, stroke, infeksi, dan tumor otak (Dipiro et.al, 2005). Epilepsi

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. : Ilmu penyakit kulit dan kelamin. : Bagian rekam medik Poliklinik kulit dan kelamin RSUP Dr.

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. : Ilmu penyakit kulit dan kelamin. : Bagian rekam medik Poliklinik kulit dan kelamin RSUP Dr. 33 BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Lingkup ilmu : Ilmu penyakit kulit dan kelamin Lingkup lokasi : Bagian rekam medik Poliklinik kulit dan kelamin RSUP Dr. Kariadi Semarang Lingkup

Lebih terperinci

2/19/2017 MATERI DEFINISI EPILEPSI PENATALAKSANAAN EPILEPSI. Definisi Konseptual

2/19/2017 MATERI DEFINISI EPILEPSI PENATALAKSANAAN EPILEPSI. Definisi Konseptual PENATALAKSANAAN EPILEPSI DR. Suryani Gunadharma SpS(K), M.Kes MATERI Definisi Etiologi Pemeriksaan penunjang Klasifikasi Patofisiologi Terapi DEFINISI EPILEPSI Definisi Konseptual Kelainan otak yang ditandai

Lebih terperinci

Fellow Clinical Neurophysiology UMC Utrecht The Netherlands

Fellow Clinical Neurophysiology UMC Utrecht The Netherlands Curriculum Vitae Irawan Mangunatmadja, Tempat/tgl lahir: Martapura, 28 Februari Status: Menikah + 2 anak wanita Pendidikan: SMA 8 Jakarta - 1977 Dokter umum FKUI 1984 Dokter anak FKUI 1993 Spesialis Anak

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Menurut Fadila, Nadjmir dan Rahmantini (2014), dan Deliana (2002), kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38

Lebih terperinci

MANAJEMEN KEJANG PASCA TRAUMA

MANAJEMEN KEJANG PASCA TRAUMA Dipresentasikan pada: Pengembangan Profesi Bedah Berkelanjutan (P2B2) XIII-2016 Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia (PABI) Lampung MANAJEMEN KEJANG PASCA TRAUMA DR.Dr.M.Z. Arifin,Sp.BS Department

Lebih terperinci

Profil Epilepsi Anak dan Keberhasilan Pengobatannya di RSUD Dr. Soetomo Tahun 2013

Profil Epilepsi Anak dan Keberhasilan Pengobatannya di RSUD Dr. Soetomo Tahun 2013 Profil Epilepsi Anak dan Keberhasilan Pengobatannya di RSUD Dr. Soetomo Tahun 2013 Pravita Tri Andrianti, * Prastiya Indra Gunawan, * Faroek Hoesin ** *Departemen Ilmu Kesehatan Anak **Departemen Patologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Cedera kepala merupakan masalah kesehatan, sosial, ekonomi yang penting di seluruh dunia dan merupakan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Cedera kepala merupakan masalah kesehatan, sosial, ekonomi yang penting di seluruh dunia dan merupakan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cedera kepala merupakan masalah kesehatan, sosial, ekonomi yang penting di seluruh dunia dan merupakan penyebab utama kematian dan disabilitas permanen pada usia dewasa

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Rosenbaum dkk, palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Rosenbaum dkk, palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi palsi serebral Menurut Rosenbaum dkk, palsi serebral adalah gangguan permanen gerakan dan bentuk tubuh, yang menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik, gangguan tidak

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Epilepsi 2.1.1 Pengertian Epilepsi berasal dari bahasa Yunani, Epilambanmein yang berarti serangan. Dahulu masyarakat percaya bahwa epilepsi disebabkan oleh roh jahat dan dipercaya

Lebih terperinci

Epilepsi merupakan salah satu penyebab

Epilepsi merupakan salah satu penyebab Artikel Asli I Gusti Ngurah Made Suwarba Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RSUP Sanglah, Denpasar, Bali Latar belakang. Epilepsi merupakan salah satu penyebab terbanyak

Lebih terperinci

BAB 2 NYERI KEPALA. B. Pertanyaan dan persiapan dokter muda

BAB 2 NYERI KEPALA. B. Pertanyaan dan persiapan dokter muda BAB 2 NYERI KEPALA A. Tujuan pembelajaran Dokter muda mampu : 1. Melaksanakan anamnesis pada pasien nyeri kepala. 2. Mengidentifikasi tanda dan gejala nyeri kepala. 3. Mengklasifikasikan nyeri kepala.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan obat-obatan masih merupakan pilihan utama untuk terapi epilepsi pada

BAB I PENDAHULUAN. dengan obat-obatan masih merupakan pilihan utama untuk terapi epilepsi pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Epilepsi merupakan bangkitan kejang bersifat sementara yang disebabkan oleh aktifitas neuron yang abnormal atau berlebihan dan sinkronisasi. Penanganan dengan obat-obatan

Lebih terperinci

Cedera kepala merupakan salah satu

Cedera kepala merupakan salah satu Artikel Asli Karakteristik Klinis Trauma Kepala pada Anak di RS Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta Msy Rita Dewi MS,* Irawan Mangunatmadja,** Yeti Ramli*** * Bagian Neurologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal diatas 38 C) akibat suatu proses ekstrakranium tanpa adanya infeksi

Lebih terperinci

Kejang pada Neonatus, Permasalahan dalam Diagnosis dan Tata laksana

Kejang pada Neonatus, Permasalahan dalam Diagnosis dan Tata laksana Artikel Asli Kejang pada Neonatus, Permasalahan dalam Diagnosis dan Tata laksana Setyo Handryastuti Divisi Neurologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Flaviviridae dan ditularkan melalui vektor nyamuk. Penyakit ini termasuk nomor dua

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Flaviviridae dan ditularkan melalui vektor nyamuk. Penyakit ini termasuk nomor dua 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Infeksi dengue disebabkan oleh virus dengue yang tergolong dalam famili Flaviviridae dan ditularkan melalui vektor nyamuk. Penyakit ini termasuk nomor dua paling sering

Lebih terperinci

Di Indonesia penelitian epidemiologik tentang epilepsi belum pernah dilakukan, namun epilepsi tidak jarang dijumpai dalam masyarakat.

Di Indonesia penelitian epidemiologik tentang epilepsi belum pernah dilakukan, namun epilepsi tidak jarang dijumpai dalam masyarakat. BAB 1 PENDAHULUAN Epilepsi merupakan suatu gangguan fungsional kronik yang relatif sering terjadi dimana ditandai oleh aktivitas serangan yang berulang. Serangan kejang yang merupakan gejala atau manifestasi

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Epilepsi 2.1.1. Definisi Epilepsi merupakan salah satu kelainan neurologis yang paling umum terjadi dan mengenai sekitar 50 juta orang di dunia. Epilepsi berupa suatu kondisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Epilepsi yang merupakan penyakit kronik masih tetap merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Epilepsi yang merupakan penyakit kronik masih tetap merupakan BAB I PENDAHULUAN I.1. LATAR BELAKANG Epilepsi yang merupakan penyakit kronik masih tetap merupakan masalah medik dan sosial. Masalah medik yang disebabkan oleh gangguan komunikasi neuron bisa berdampak

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. terdapat 204 resep (50,62%) dan pasien berjenis kelamin laki-laki

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. terdapat 204 resep (50,62%) dan pasien berjenis kelamin laki-laki BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Data Pasien Hasil penelitian menunjukan dari 403 resep yang masuk kriteria inklusi meliputi pasien anak berjenis kelamin perempuan terdapat 204 resep (50,62%)

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/367/2017 TENTANG PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN TATA LAKSANA EPILEPSI PADA ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Struktur tiroid terdiri dari folikel yang berfungsi untuk mensekresikan hormon

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Struktur tiroid terdiri dari folikel yang berfungsi untuk mensekresikan hormon BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Regulasi hormon tiroid Struktur tiroid terdiri dari folikel yang berfungsi untuk mensekresikan hormon tiroid. Setiap folikel terdiri dari dua tipe sel yang mengelilingi inti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Epilepsi merupakan serangan berulang secara periodik dengan atau tanpa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Epilepsi merupakan serangan berulang secara periodik dengan atau tanpa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Epilepsi merupakan serangan berulang secara periodik dengan atau tanpa kejang. Serangan tersebut disebabkan oleh aktivasi listrik berlebihan pada neuron korteks dan

Lebih terperinci

1. Nama Penyakit/ Diagnosis : Sindrom Down

1. Nama Penyakit/ Diagnosis : Sindrom Down 1. Nama Penyakit/ Diagnosis : Sindrom Down 2. Definisi : Sindrom down atau yang dikenal dengan Trisomy 21 merupakan kelainan kromosom berupa penambahan sebagian atau seluruh kromosom 21. Kelainan kromosom

Lebih terperinci

93 Meningitis Tuberkulosa

93 Meningitis Tuberkulosa 93 Meningitis Tuberkulosa Waktu Pencapaian kompetensi: Sesi di dalam kelas : 2 X 50 menit (classroom session) Sesi dengan fasilitasi Pembimbing : 3 X 120 menit (coaching session) Sesi praktik dan pencapaian

Lebih terperinci

BAB 3 METODA PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Penyakit Syaraf. RSUP Dr. Kariadi Semarang pada periode Desember 2006 Juli 2007

BAB 3 METODA PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Penyakit Syaraf. RSUP Dr. Kariadi Semarang pada periode Desember 2006 Juli 2007 50 BAB 3 METODA PENELITIAN 3.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian adalah Ilmu Penyakit Syaraf 3.2. Tempat dan waktu penelitian Penelitian akan dilakukan di Bangsal Rawat Inap UPF Penyakit

Lebih terperinci

Fisiologi poros GnRH-LH/FSH- Estrogen

Fisiologi poros GnRH-LH/FSH- Estrogen Pubertas Prekoks, Diagnosis & Tatalaksana OLEH Dr. H. Hakimi SpAK Dr. Melda Deliana SpAK Dr. Siska Mayasari Lubis SpA Divisi Endokrinologi Anak Fakultas Kedokteran USU/RSUP H. Adam Malik Medan Fisiologi

Lebih terperinci

Sindrom Epilepsi Pada Anak

Sindrom Epilepsi Pada Anak Sindrom Epilepsi Pada Anak Risa Vera 1, Mas Ayu Rita Dewi 1, Nursiah 2 1. Departemen Ilmu Kesehatan Anak,Rumah sakit Moehammad Hoesin Palembang 2. Departemen Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas

Lebih terperinci

LAPORAN PENDAHULUAN RETARDASI MENTAL. Disusun Oleh : Hadi Ari Yanto

LAPORAN PENDAHULUAN RETARDASI MENTAL. Disusun Oleh : Hadi Ari Yanto LAPORAN PENDAHULUAN RETARDASI MENTAL Disusun Oleh : Hadi Ari Yanto 101018 D III KEPERAWATAN STIKES MUHAMMADIYAH KLATEN 2012 / 2013 RETARDASI MENTAL 1. PENGERTIAN Retardasi mental adalah kemampuan mental

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. penyakit yang sering dijumpai dalam praktek kedokteran. Data epidemiologis

BAB I PENDAHULUAN UKDW. penyakit yang sering dijumpai dalam praktek kedokteran. Data epidemiologis 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penyakit serebrovaskuler atau yang lebih dikenal dengan stroke merupakan penyakit yang sering dijumpai dalam praktek kedokteran. Data epidemiologis menunjukkan bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper &

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. karena penderitanya sebagian besar orang muda, sehat dan produktif (Ropper & BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Cedera kepala merupakan salah satu kasus penyebab kecacatan dan kematian yang cukup tinggi dalam bidang neurologi dan menjadi masalah kesehatan oleh karena penderitanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. proteinuria masif (lebih dari 3,5 gram/hari pada dewasa atau 40 mg/ m 2 / hari pada

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. proteinuria masif (lebih dari 3,5 gram/hari pada dewasa atau 40 mg/ m 2 / hari pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sindrom nefrotik (SN) merupakan suatu kumpulan gejala yang terdiri atas proteinuria masif (lebih dari 3,5 gram/hari pada dewasa atau 40 mg/ m 2 / hari pada anak), hipoalbuminemia

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL. Grafik 4.1. Frekuensi Pasien Berdasarkan Diagnosis. 20 Universitas Indonesia. Karakteristik pasien...,eylin, FK UI.

BAB 4 HASIL. Grafik 4.1. Frekuensi Pasien Berdasarkan Diagnosis. 20 Universitas Indonesia. Karakteristik pasien...,eylin, FK UI. BAB 4 HASIL Dalam penelitian ini digunakan 782 kasus yang diperiksa secara histopatologi dan didiagnosis sebagai apendisitis, baik akut, akut perforasi, dan kronis pada Departemen Patologi Anatomi FKUI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Insiden epilepsi di dunia berkisar antara tiap penduduk tiap

BAB I PENDAHULUAN. Insiden epilepsi di dunia berkisar antara tiap penduduk tiap 12 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Epilepsi merupakan suatu manifestasi gangguan fungsi otak dengan berbagai etiologi, dengan gejala tunggal yang khas, yaitu kejang berulang lebih dari 24 jam yang

Lebih terperinci

Peran keluarga / caregiver dalam perawatan pasien dengan epilepsi. Dr. Guntara Hari, SpKJ

Peran keluarga / caregiver dalam perawatan pasien dengan epilepsi. Dr. Guntara Hari, SpKJ Peran keluarga / caregiver dalam perawatan pasien dengan epilepsi Dr. Guntara Hari, SpKJ Epilepsi Epilepsi: gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala yang datang dalam bentuk serangan berulang

Lebih terperinci

BAHAN AJAR V ARTERITIS TEMPORALIS. kedokteran. : menerapkan ilmu kedokteran klinik pada sistem neuropsikiatri

BAHAN AJAR V ARTERITIS TEMPORALIS. kedokteran. : menerapkan ilmu kedokteran klinik pada sistem neuropsikiatri BAHAN AJAR V ARTERITIS TEMPORALIS Nama Mata Kuliah/Bobot SKS Standar Kompetensi Kompetensi Dasar : Sistem Neuropsikiatri / 8 SKS : area kompetensi 5: landasan ilmiah kedokteran : menerapkan ilmu kedokteran

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. poliuria neurohormonal. Karbamazepin merupakan lini pertama untuk. pengobatan trigeminal neuralgia (Aronson, 2006).

BAB 1 PENDAHULUAN. poliuria neurohormonal. Karbamazepin merupakan lini pertama untuk. pengobatan trigeminal neuralgia (Aronson, 2006). BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Karbamazepin tunggal atau dalam kombinasi dengan obat lain digunakan untuk mengendalikan beberapa jenis kejang. Obat ini juga digunakan untuk mengobati (suatu kondisi

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bells Palsy adalah kelumpuhan atau kerusakan pada nervus facialis

UKDW BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Bells Palsy adalah kelumpuhan atau kerusakan pada nervus facialis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bells Palsy adalah kelumpuhan atau kerusakan pada nervus facialis VII. Gejala tampak pada wajah, jika berbicara atau berekspresi maka salah satu sudut wajah tidak ada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hipertensi merupakan penyulit medis yang sering ditemukan pada kehamilan yang dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas baik ibu maupun perinatal. Hipertensi dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. 45% dari kematian anak dibawah 5 tahun di seluruh dunia (WHO, 2016). Dari

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang. 45% dari kematian anak dibawah 5 tahun di seluruh dunia (WHO, 2016). Dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Periode neonatus merupakan waktu yang paling rawan untuk kelangsungan hidup anak. Pada tahun 2015, 2,7 juta neonatus meninggal, merepresentasikan 45% dari kematian anak

Lebih terperinci

DIAGNOSIS EPILEPSI. Oleh : Utoyo Sunaryo Bagian Neurologi FK UWKS RSUD Dr Moh. Saleh Kota Probolinggo

DIAGNOSIS EPILEPSI. Oleh : Utoyo Sunaryo Bagian Neurologi FK UWKS RSUD Dr Moh. Saleh Kota Probolinggo DIAGNOSIS EPILEPSI Oleh : Utoyo Sunaryo Bagian Neurologi FK UWKS RSUD Dr Moh. Saleh Kota Probolinggo ABSTRACT. The diagnosis of epilepsy is problematic because the routine diagnosis of epilepsy is therefore

Lebih terperinci

Kejang Pada Neonatus

Kejang Pada Neonatus Kejang Pada Neonatus Guslihan Dasa Tjipta Emil Azlin Pertin Sianturi Bugis Mardina Lubis 1 DIVISI PERINATOLOGI Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK USU/RSUP H.Adam Malik Medan 2 Definisi : Kejang merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA Fakultas Kedokteran UGM 1

BAB I PENDAHULUAN. Laporan Akhir Kasus Longitudinal MS-PPDS I IKA Fakultas Kedokteran UGM 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Henoch-Schonlein Purpura (HSP) merupakan suatu mikrovaskular vaskulitis sistemik dengan karakteristik adanya deposisi kompleks imun dan keterlibatan immunoglobulin A

Lebih terperinci

Epilepsi Post Stroke. Post Stroke Epilepsy

Epilepsi Post Stroke. Post Stroke Epilepsy Epilepsi Post Stroke Vandy Ikra 1, Raden A. Neilan 2 1 Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung 2 Bagian Saraf, Rumah Sakit Abdul Moeloek Abstrak Kejang merupakan gejala neurologis yang paling umum terjadi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN 9 BAB IV HASIL PENELITIAN Dari 166 kasus kejang demam yang dirawat di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUPDr. M. Djamil Padang selama tahun 1995-1996, hanya 126 yang memenuhi syarat untuk dapat dijadikan data

Lebih terperinci

KEJANG DEMAM ILMU KESEHATAN ANAK FK USU/RS H ADAM MALIK MEDAN

KEJANG DEMAM ILMU KESEHATAN ANAK FK USU/RS H ADAM MALIK MEDAN 1 KEJANG DEMAM ILMU KESEHATAN ANAK FK USU/RS H ADAM MALIK MEDAN Kejang Demam 2 Gangguan kejang paling sering pada anak Problem neurologi tersediri yang paling banyak pada anak Prognosis baik Dapat menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Disabilitas intelektual (DI) yang dahulu disebut juga dengan retardasi mental, adalah suatu keadaan dimana adanya keterbatasan kemampuan seseorang untuk belajar pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. timbul yang disertai rasa gatal pada kulit. Kelainan ini terutama terjadi pada masa

BAB I PENDAHULUAN. timbul yang disertai rasa gatal pada kulit. Kelainan ini terutama terjadi pada masa BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dermatitis atopik (DA) merupakan suatu penyakit peradangan kronik, hilang timbul yang disertai rasa gatal pada kulit. Kelainan ini terutama terjadi pada masa bayi

Lebih terperinci

Perbedaan Kecepatan Kesembuhan Anak Gizi Buruk yang Diberi Modisco Susu Formula dan Modisco Susu Formula Elemental Di RSU dr.

Perbedaan Kecepatan Kesembuhan Anak Gizi Buruk yang Diberi Modisco Susu Formula dan Modisco Susu Formula Elemental Di RSU dr. Sari Pediatri, Sari Vol. Pediatri, 8, No. Vol. 3, Desember 8, No. 3, 2006: Desember 226-2006 230 Perbedaan Kecepatan Kesembuhan Anak Gizi Buruk yang Diberi Modisco Susu Formula dan Modisco Susu Formula

Lebih terperinci

Identifikasi Potensi Masalah Terkait Obat Pada Pasien Anak Dengan Epilepsi Di Rumah Sakit X Di Jakarta Periode Januari April 2016

Identifikasi Potensi Masalah Terkait Obat Pada Pasien Anak Dengan Epilepsi Di Rumah Sakit X Di Jakarta Periode Januari April 2016 Identifikasi Potensi Masalah Terkait Obat Pada Pasien Anak Dengan Epilepsi Di Rumah Sakit X Di Jakarta Periode Januari April 2016 P.R. Veryanti 1 dan A. Manaf 2 1,2 Fakultas Farmasi Institut Sains dan

Lebih terperinci

BIPOLAR. oleh: Ahmad rhean aminah dianti Erick Nuranysha Haviz. Preseptor : dr. Dian Budianti amina Sp.KJ

BIPOLAR. oleh: Ahmad rhean aminah dianti Erick Nuranysha Haviz. Preseptor : dr. Dian Budianti amina Sp.KJ BIPOLAR oleh: Ahmad rhean aminah dianti Erick Nuranysha Haviz Preseptor : dr. Dian Budianti amina Sp.KJ Definisi Bipolar Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai

Lebih terperinci

PERBEDAAN USIA DAN JENIS KELAMIN PADA JENIS EPILEPSI DI RSUP DR. KARIADI

PERBEDAAN USIA DAN JENIS KELAMIN PADA JENIS EPILEPSI DI RSUP DR. KARIADI PERBEDAAN USIA DAN JENIS KELAMIN PADA JENIS EPILEPSI DI RSUP DR. KARIADI ARTIKEL TULISAN KARYA ILMIAH Diajukan untuk memenuhi tugas dan kelengkapan persyaratan dalam menempuh Program Pendidikan Sarjana

Lebih terperinci

Sleep Disorder and Associated Factors in Children with Epilepsy

Sleep Disorder and Associated Factors in Children with Epilepsy Gangguan Tidur pada Anak dengan Epilepsi dan Faktor yang Memengaruhi Riona Sari, Agung Triono, Retno Sutomo Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RSUP Dr. Sardjito,

Lebih terperinci