BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG"

Transkripsi

1 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar yaitu sekitar 13,83 persen pada tahun 2007 atau merupakan urutan ketiga setelah sektor industri pengolahan dan perdagangan, hotel dan restoran. Era globalisasi ditandai dengan semakin meningkatnya arus perdagangan barang maupun jasa diantara negara-negara di dunia. Arus perdagangan tersebut berlangsung pesat dengan semakin terbukanya pasar masing-masing negara di dunia terhadap masuknya produk negara lain. Dalam mekanisme pasar yang murni, arus perdagangan akan mengalir dari negara yang mempunyai comparative advantage ke negara yang tidak mempunyai comparative advantage (trade creation). Tumbuhnya trade creation diantara bangsa-bangsa diyakini akan meningkatkan kesejahteraan semua bangsa-bangsa di dunia. Hal inilah yang menjadi spirit dari lahirnya issu globalisasi dan liberalisasi (Departemen Pertanian, 2004). Seiring dengan hal tersebut, perdagangan dalam negeri (domestik) dan perdagangan luar negeri (internasional) pada komoditas pertanian yang meliputi sub sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan masih cukup luas untuk terus dikembangkan, mengingat sektor pertanian masih mampu bertahan meskipun terjadi krisis ekonomi di Indonesia tahun 1997, dan krisis global beberapa tahun terakhir ini sehingga dapat diandalkan dalam pemulihan perekonomian nasional. Untuk itu, Pusat data dan Informasi Pertanian (Pusdatin) pada tahun 2009 menyusun analisis kinerja perdagangan komoditas pertanian yang dapat digunakan untuk mengetahui sejauh mana kinerja perdagangan beberapa komoditas unggulan pertanian serta posisi Indonesia di pasar internasional akan produk pertaniannya. Analisis kinerja perdagangan 1

2 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «komoditas pertanian tersebut diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi pengguna data dan informasi serta bagi pengambil kebijakan sektor pertanian METODOLOGI Sumber Data dan Informasi Analisis kinerja perdagangan komoditas pertanian tahun 2009 disusun berdasarkan data dan informasi yang diperoleh baik dari data primer maupun data sekunder yang bersumber dari daerah, instansi terkait baik di lingkup Departemen Pertanian maupun di luar Departemen Pertanian seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Departemen Perdagangan, Food and Agriculture Organization (FAO), dan Worldbank. Cakupan Komoditas Pertanian Cakupan komoditas pertanian yang dianalisis pada Volume 1 No. 1 tahun 2009 antara lain analisis kinerja perdagangan per sub sektor pertanian, dan lebih rinci per komoditas unggulan nasional yang meliputi komoditas kedele (sub sektor tanaman pangan), kentang (sub sektor hortikultura), kopi (sub sektor perkebunan), daging sapi (sub sektor peternakan). Metode Analisis Metode analisis yang digunakan dalam penyusunan analisis kinerja perdagangan komoditas pertanian adalah sebagai berikut : A. Analisis Deskriptif Analisis deskriptif yang digunakan diantaranya analisis keragaan atau rata-rata pertumbuhan per tahun, rata-rata dan persen kontribusi (share) yang mencakup indikator kinerja perdagangan komoditas pertanian yang meliputi produksi, harga produsen, harga konsumen, volume dan nilai ekspor, volume dan nilai impor berdasarkan bentuk olahan, segar dan kode 2

3 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 HS (Harmony Sistem), negara tujuan ekspor dan negara asal impor serta negara ekportir dunia dan importir dunia. B. Analisis Inferensia Analisis inferensia yang digunakan dalam analisis kinerja perdagangan komoditas pertanian antara lain : Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) ISP digunakan untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan suatu komoditas. ISP ini dapat menggambarkan apakah untuk suatu komoditas, Indonesia cenderung menjadi negara eksportir atau importir. Secara umum ISP dapat dirumuskan sebagai berikut : dimana : = volume atau nilai ekspor komoditas ke-i Indonesia = volume atau nilai impor komoditas ke-i Indonesia Nilai ISP adalah 0 s/d 1 : Berarti komoditas tersebut memiliki daya saing yang kuat atau negara bersangkutan sebagai pengeskpor suatu komoditas -1 s/d 0: Berarti komoditas tersebut memiliki daya saing rendah atau negara bersangkutan sebagai pengimpor suatu komoditas Indeks Keunggulan Komparatif atau RCA (Revealead Comparative Advantage) RCA merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif di suatu wilayah (kawasan, negara, provinsi). Secara umum RCA menurut Balassa (1965) dirumuskan sebagai berikut : 3

4 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «dimana: : Nilai ekspor komoditi i dari negara j (Indonesia) : Total nilai ekspor komoditas pertanian negara j (Indonesia) : Nilai ekspor komoditi i dari dunia : Total nilai ekspor komoditas pertanian dunia Import Dependency Ratio (IDR) IDR = Impor X 100 Produksi + impor ekspor Self Sufficiency Ratio (SSR) SSR = Produksi X 100 Produksi + impor ekspor 4

5 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 II. GAMBARAN UMUM KINERJA PERDAGANGAN KOMODITAS PERTANIAN Pengembangan globalisasi perdagangan antar negara telah berjalan dengan penerapan berbagai kebijakan dan kesepakatan dari sidang WTO, dan pembentukan kerjasama antar negara dalam suatu kawasan seperti APEC, NAFTA dan AFTA. Pada kawasan yang lebih kecil terjalin kerjasama ekonomi sub regional Indonesia dengan pembentukan kawasan segitiga pertumbuhan khususnya dengan Singapura-Johor dan Riau (SIJORI) dan kerjasama Indonesia-Malaysia dan Thailand (IMT-GT), termasuk forum kerjasama antar Negara Brunei, Indonesia, Malaysia dan Philippina (BIMP- EAGA). Kerjasama antar negara tersebut merupakan peluang pasar yang baik bagi produk pertanian dari Indonesia (Departemen Pertanian, 2007). Sementara pemasaran antar wilayah (perdagangan domestik) komoditas pertanian terjadi karena adanya perbedaan tingkat penawaran dan permintaan yang mempengaruhi keragaman harga komoditas di setiap wilayah, aliran komoditas akan terjadi dari sentra produsen yang harganya lebih rendah ke daerah konsumen yang harganya lebih tinggi. Gambaran umum kinerja perdagangan komoditas pertanian dilihat dari neraca perdagangan luar negeri (ekspor dikurangi impor) komoditas pertanian yang meliputi sub sektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan dan peternakan selama tahun 2004 sampai dengan 2008 terlihat mengalami surplus baik dari sisi volume neraca perdagangan maupun nilai neraca perdagangan, hal ini dapat dilihat secara rinci pada Tabel

6 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Tabel 2.1. Perkembangan neraca perdagangan komoditas pertanian Indonesia, tahun Sumber : BPS diolah Pusdatin Dari Tabel 2.1 terlihat neraca perdagangan dengan surplus terbesar terjadi pada tahun 2008 sebesar 14,45 juta ton dengan nilai sebesar US$ 17, 97 milyar. Sementara bila dilihat pertumbuhan rata-rata per tahun volume neraca perdagangan tahun terlihat mengalami peningkatan sebesar 20,71 % per tahun dengan pertumbuhan volume ekspor meningkat hanya sebesar 3,58 % per tahun sedangkan volume impor menurun sebesar 4,99 % per tahun. Sementara rata-rata pertumbuhan nilai neraca perdagangan terlihat mengalami peningkatan yang cukup besar yaitu 11,62 % per tahun yang diikuti oleh peningkatan pertumbuhan nilai ekspor sebesar 10,33 % per tahun dan nilai impor sebesar 8,53 % per tahun. Volume ekspor dan impor komoditas pertanian ini secara lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut ini, yang menunjukkan volume ekspor selalu lebih tinggi dibandingkan volume impornya atau surplus. 6

7 Juta US$ 000 Ton» Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, Volume Ekspor Volume impor Gambar 2.1. Perkembangan volume ekspor dan impor komoditas pertanian, tahun Sementara dari sisi nilai neraca perdagangan komoditas pertanian dapat dilihat pada Gambar 2.2, yang menunjukkan bahwa surplus nilai neraca perdagangan terbesar dicapai pada tahun 2008 yaitu sebesar US$ 17, 97 milyar, dengan nilai ekspor sebesar US$ 29,29 milyar dan nilai impor sebesar US$ 11, 32 milyar. 35,000 30,000 25,000 20,000 15,000 10,000 5, Nilai Ekspor Nilai Impor Neraca Perdagangan Gambar 2.2. Perkembangan nilai neraca perdagangan komoditas pertanian, tahun Dari keempat sub sektor pada sektor pertanian, perkebunan menjadi andalan sub sektor nasional karena setiap tahunnya neraca perdagangan sub sektor perkebunan selalu mengalami surplus, sehingga 7

8 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «dapat menutupi defisit yang dialami oleh sub sektor lainnya, hal ini dapat dilihat lebih jelas pada Lampiran 2.1. Terjadinya surplus tersebut karena lebih dari 90 % nilai ekspor komoditas pertanian berasal dari komoditas perkebunan dengan persentase impor yang lebih kecil, sementara untuk sub sektor lainnya persentase impor lebih tinggi dibandingkan ekspornya, dengan persentase nilai impor rata-rata yang terbesar terjadi pada sub sektor tanaman pangan sebesar 39,07 %. Hal ini dapat dilihat pada Gambar ,12% 20,19% 39,07% 1,61% 32,71% 1,92% 3,36% 8,03% - Nilail ekspor tanaman pangan - Nilai ekspor hortikultura - Nilai ekspor perkebunan - Nilai ekspor peternakan - Nilai impor tanaman pangan - Nilai impor hortikultura - Nilai impor perkebunan - Vol impor peternakan Gambar 2.3. Kontribusi sub sektor pertanian berdasarkan rata-rata nilai ekspor dan impor tahun Demikian pula halnya dari sisi volume ekspor, terlihat pada Gambar 2.4 menunjukkan sub sektor perkebunan merupakan sub sektor yang berkontribusi cukup besar terhadap total volume ekspor pertanian yaitu lebih dari 90 % volume ekspor komoditas pertanian berasal dari komoditas perkebunan dan bila dilihat volume impor sub sektor perkebunan sebesar 17,39 % yang berarti lebih rendah dibandingkan volume ekspornya, sementara untuk sub sektor lainnya persentase impor lebih tinggi dibandingkan ekspornya, dengan persentase volume impor yang terbesar terjadi pada sub sektor tanaman pangan sebesar 68,04 %. Secara rinci 8

9 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 volume ekspor dan impor per sub sektor pertanian tahun disajikan pada Lampiran ,53% 4,65% 1,84% 17,39% 6,86% 7,71% 91,99% 68,04% - Vol ekspor tanaman pangan - Vol ekspor hortikultura - Vol ekspor perkebunan - Vol ekspor peternakan - Vol impor tanaman pangan - Vol impor hortikultura - Vol impor perkebunan - Vol impor peternakan Gambar 2.4. Kontribusi sub sektor pertanian berdasarkan rata-rata volume ekspor dan impor tahun Bila dilihat pada Lampiran 2.1. nilai surplus sub sektor perkebunan tahun 2004 sebesar US$ 7,78 milyar mengalami kenaikan menjadi US$ 22,83 milyar tahun 2008 atau mengalami rata-rata pertumbuhan per tahun sebesar 10,28 %, dengan rata-rata pertumbuhan per tahun nilai ekspor naik sebesar 10,17 % dan nilai impor naik sebesar 9,79 %. Sementara nilai neraca perdagangan sub sektor tanaman pangan, hortikultura dan peternakan selalu mengalami defisit, dengan rata-rata pertumbuhan nilai neraca perdagangan tahun 2004 s/d 2008 sub sektor tanaman pangan dan peternakan mengalami kenaikan sebesar 7,73 % dan 7,24 % yang berarti defisit semakin meningkat, sedangkan rata-rata pertumbuhan nilai neraca perdagangan sub sektor hortikultura mengalami penurunan sebesar 1,19% yang berarti defisit makin berkurang Hal ini dapat dilihat pada Gambar 9

10 Juta US$ Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 « (5.000) Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan Peternakan Gambar 2.5. Perkembangan neraca perdagangan sub sektor pertanian, tahun

11 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 2.1. Perkembangan neraca perdagangan sub sektor pertanian, tahun No. Uraian Tahun (000 US$) Rata-rata Pertmbhn (%) Nilai Ekspor - Tanaman Pangan ,24 - Hortikultura ,87 - Perkebunan ,17 - Peternakan ,46 Pertanian ,33 2 Nilai Impor - Tanaman Pangan ,46 - Hortikultura ,59 - Perkebunan ,79 - Peternakan ,35 Pertanian ,53 3 Neraca Perdagangan - Tanaman Pangan ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) 7,73 - Hortikultura ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) -1,19 - Perkebunan ,28 - Peternakan ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) 7,24 Pertanian ,62 % terhadap Pertanian 4 Nilai Ekspor - Tanaman Pangan 2,78 2,48 1,78 1,36 1,19 1,92 - Hortikultura 1,79 1,97 1,60 1,20 1,48 1,61 - Perkebunan 92,11 92,13 94,00 93,92 93,41 93,12 - Peternakan 3,32 3,42 2,62 3,52 3,92 3,36 5 Nilai Impor - Tanaman Pangan 48,20 41,18 43,09 31,74 31,17 39,07 - Hortikultura 6,86 7,15 8,85 9,26 8,04 8,03 - Perkebunan 26,32 29,83 28,10 39,27 40,01 32,71 - Peternakan 18,62 21,84 19,97 19,73 20,79 20,19 Sumber : BPS diolah Pusdatin 11

12 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 2.2. Perkembangan volume ekspor dan impor sub sektor pertanian, tahun No. Uraian Tahun (Ton) Rata-rata Pertmbhn (%) Volume Ekspor - Tanaman Pangan ,79 - Hortikultura ,57 - Perkebunan ,74 - Peternakan ,84 Pertanian ,58 2 Volume Impor - Tanaman Pangan ,25 - Hortikultura ,03 - Perkebunan ,50 - Peternakan ,11 Pertanian ,99 % terhadap Pertanian 3 Volume Ekspor - Tanaman Pangan 6,79 5,52 3,76 4,17 3,00 4,65 - Hortikultura 1,72 1,89 2,00 1,65 1,94 1,84 - Perkebunan 90,21 91,37 93,38 92,26 92,71 91,99 - Peternakan 1,29 1,21 0,87 1,92 2,35 1,53 4 Volume Impor - Tanaman Pangan 76,17 69,84 76,19 59,07 58,93 68,04 - Hortikultura 6,29 6,69 6,14 8,13 11,30 7,71 - Perkebunan 10,66 16,35 11,81 26,83 21,31 17,39 - Peternakan 6,88 7,12 5,86 5,97 8,47 6,86 Sumber : BPS diolah Pusdatin 12

13 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 III. KINERJA PERDAGANGAN KEDELE Kedele merupakan komoditas utama tanamaan pangan yang memiliki peran dalam ketahanan pangan, dan sebagai bahan pokok dalam industri pakan dan pangan. Kebutuhan kedele terus meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kebutuhan bahan olahan pangan seperti tahu, tempe, kecap, susu kedelai, tauco dan sebagainya. Menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS tahun 2008, konsumsi per kapita per tahun kedele sebesar 0,052 kg, dan sebagian besar dalam bentuk olahan yaitu konsumsi tahu sebesar 7,124 kg, tempe sebesar 7,228 kg dan tauco sebesar 0,026 kg dan apabila jumlah penduduk Indonesia tahun 2008 diperkirakan sebesar 228,5 juta orang maka kebutuhan total kedele dalam negeri berkisar ribu ton, sementara produksi dalam negeri tahun 2008 baru mencapai ton atau sekitar 27,4 % berasal dari kedele dalam negeri dan selebihnya berasal dari kedele impor. Permasalah utama kedele dalam negeri antara lain adalah makin menurunnya produksi akibat meningkatnya kedele impor dan melemahnya daya saing, rendahnya kualitas dan daya saing produk domestik, serta rendahnya harga kedelai impor karena efisiensi usahatani yang sudah cukup baik dan adanya kebijakan perlindungan dari negara asalnya SENTRA PRODUKSI KEDELE Bila dilihat dari rata-rata produksi kedele per provinsi tahun , terdapat 7 (tujuh) provinsi sentra kedele dengan kontribusi 89,21 % terhadap produksi kedele Indonesia, seperti yang disajikan pada Gambar

14 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «4,13% 3,50% 4,79% 3,40% 10,79% 41,21% 12,89% 19,29% Jawa Timur Jawa Tengah NTB DI Yogyakarta NAD Jawa Barat Sulawesi Selatan Propinsi Lainnya Gambar 3.1. Provinsi sentra produksi kedele berdasarkan rata-rata produksi tahun Dari Gambar 3.1. terlihat provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah dan NTB merupakan provinsi sentra produksi terbesar yang berkontribusi masingmasing sebesar 41,21 %, 19,29 % dan 12,89 % terhadap produksi kedele Indonesia, disusul berturut-turut Provinsi DIY, NAD, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan masing-masing berkontribusi sebesar 4,79 %, 4,13 %, 3,50 %, dan 3,40 % dari produksi kedele Indonesia. Secara rinci provinsi sentra kedele di Indonesia Tahun disajikan pada Lampiran KINERJA PERDAGANGAN KEDELE DALAM NEGERI Untuk melihat kinerja perdagangan kedele dalam negeri diantaranya dengan melihat perkembangan rata-rata harga produsen dan konsumen, baik perkembangan harga nasional maupun harga di sentra produksi. Perkembangan harga produsen dan harga konsumen kedele di Indonesia selama tahun menunjukkan kecenderungan meningkat dengan rata-rata pertumbuhan per tahun masing-masing meningkat sebesar 11,03 % dan 12,24 % (Lampiran 3.3). Peningkatan harga yang cukup tajam terjadi pada saat setelah krisis ekonomi di Indonesia yaitu tahun 1998 dan 1999 masing-masing naik 14

15 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 sebesar 63,72 % dan 25,09 % dari tahun sebelummnya untuk harga produsen dan naik sebesar 132,67 % dan 19,65 % untuk harga konsumen seperti terlihat pada Gambar 3.2. Jika sebelum krisis moneter harga ratarata kedele di tingkat produsen sebesar Rp 828 per kg, maka sejak terjadinya krisis moneter rata-rata harga produsen kedele tahun menjadi Rp 3.258,46 per kg. Hal ini diakibatkan oleh dampak krisis ekonomi yaitu melonjaknya nilai tukar rupiah yang menyebabkan harga komoditas pertanian ikut meningkat. Rp/Kg 6.000, , , , , ,00 0,00 Hrg. Produsen Hrg. Konsumen Gambar 3.2. Perkembangan rata-rata harga produsen dan konsumen kedele di Indonesia tahun Bila dikaitkan sentra produksi kedele pada uraian di atas dengan ratarata harga produsen kedele tahun 2007, terlihat pada provinsi DIY yang merupakan sentra pada urutan ke-4 memiliki rata-rata harga produsen terendah yaitu Rp per kg sementara harga tertinggi di sentra Jawa Barat yaitu Rp per kg (Gambar 3.3), namun rata-rata harga konsumen tahun 2007 tertinggi terjadi juga di Jawa Barat mencapai Rp per kilogram, sehingga margin yang dihasilkan mencapai Rp kg, hal ini secara rinci dapat dilihat pada Lampiran

16 Rp/Kg Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 « Jatim (1) Jateng (2) DIY (4) Jabar (6) Harga Produsen Harga Konsumen Gambar 3.3. Harga produsen dan konsumen kedele di provinsi sentra tahun 2007 Krisis moneter tahun 1997 juga berdampak pada semakin lebarnya disparitas harga produsen dan harga konsumen, Jika sebelum krisis moneter margin harga kedele rata-rata sebesar Rp 210 per kg, maka sejak terjadinya krisis moneter margin harga kedele rata-rata mencapai Rp 792 per kg, dengan margin harga kedele terbesar dicapai pada tahun 1999 sebesar Rp per kg, disusul tahun 1998 sebesar Rp per kg dan tahun 2002 sebesar Rp per kg, selanjutnya hingga 2007 menurun hingga margin hanya Rp 259 per kg. Keragaan harga kedele secara rinci disajikan pada Lampiran 3.3. Perkembangan margin harga yang menurun ini menyebabkan petani kurang berminat untuk budidaya kedele meskipun permintaan dalam negeri cukup banyak, disamping teknik budidaya kedele yang perlu perawatan yang intensif serta adanya persaingan harga kedele impor yang cukup banyak beredar di pasaran KINERJA PERDAGANGAN KEDELE INTERNASIONAL Kinerja perdagangan kedele internasional dapat didekati diantaranya dengan melihat neraca perdagangan kedele, yaitu ekspor 16

17 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 dikurangi impor kedele. Perkembangan neraca perdagangan kedele tahun terlihat selalu mengalami defisit yang berarti volume dan nilai impor kedele lebih besar dibandingkan volume dan nilai ekspornya. Defisit kedele terbesar terjadi pada tahun 2007 yaitu sebesar 3,26 juta ton dengan nilai sebesar US$ 1,17 milyar, hal ini dapat dilihat pada Tabel 3.1. Tabel 3.1. Perkembangan neraca perdagangan kedele Indonesia, tahun No. Uraian Tahun Pertmbhn (%) Ekspor - Volume (Ton) ,70 - Nilai (000 US$) ,49 2 Impor - Volume (Ton) ,66 - Nilai (000 US$) ,43 3 Neraca Perdagangan - Volume (Ton) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) -15,66 - Nilai (000 US$) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) -9,21 Sumber : BPS diolah Pusdatin Dari Tabel 3.1. rata-rata pertumbuhan per tahun volume neraca perdagangan terlihat mengalami penurunan defisit sebesar 15,66 % per tahun dengan pertumbuhan volume ekspor turun sebesar 13,70 % per tahun dan volume impor turun sebesar 15,66 %. Demikian juga rata-rata pertumbuhan per tahun nilai neraca perdagangan kedele terlihat mengalami penurunan defisit sebesar 9,21 % per tahun yang diikuti oleh penurunan pertumbuhan nilai ekspor sebesar 15,49 % per tahun dan nilai impor turun sebesar 9,43 % per tahun. Perkembangan nilai neraca perdagangan kedele secara lebih jelas dapat dilihat pada Gambar

18 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «000 US$ ( ) ( ) ( ) Nilai Ekspor Nilai Impor Neraca Perdagangan Gambar 3.4. Perkembangan nilai neraca perdagangan kedele Indonesia tahun Dari Gambar 3.4 menunjukkan bahwa defisit nilai neraca perdagangan kedele terbesar dicapai pada tahun 2007 yaitu sebesar US$ 1,17 milyar, dengan nilai ekspor hanya sebesar US$ 32 juta dan nilai impor cukup besar mencapai US$ 1,2 milyar, dan defisit semakin menurun di tahun 2008 yaitu sebesar US$ 724 juta, dengan nilai ekspor hanya sebesar US$ 8 juta dan nilai impor cukup besar mencapai US$ 732 juta. Bila dilihat dari wujud kedele yang diekspor selama tahun adalah sebagian besar atau lebih dari 80 % dalam bentuk kedele olahan, dimana berdasarkan volume ekspor 2008 sebesar 88,63 % ( 7,99 ribu ton) ekspor Indonesia dalam bentuk olahan dengan kontribusi nilai ekspor sebesar 82,97 % ( US$ 6,85 juta)(gambar 3.5). 18

19 Persen» Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, ,00 90,00 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00-88,63 96,84 94,40 82,97 11,37 17,03 3,16 5,60 Vol Ekspor Nilai ekspor Vol Impor Nilai Impor Kedele Segar Kedele Olahan Gambar 3.5. Persentase ekspor dan impor kedele segar dan olahan Indonesia, tahun 2008 Sementara dari sisi volume impor kedele tahun 2008 sebagian besar dalam bentuk kedele segar sebesar 96,84 % (1,17 juta ton) dengan kontribusi nilai impor 94,40 % (US$ 694,71 juta). Secara rinci perkembangan ekspor dan impor kedele segar dan olahan Indonesia tahun dapat dilihat pada Lampiran 3.3. Bila dilihat lebih jauh berdasarkan kode HS (Harmony Sistem) ekspor kedele tahun 2008 sebagian besar dalam wujud kecap manis (HS ) sebesar 80,67 % dari total nilai ekspor kedele atau US$ 6,66 juta, 17,03 % kedele segar lainnya (HS ) atau US$ 1,41 juta dan 2,07 % tepung kedele lainnya (HS ) atau US$ 171 ribu (Gambar 3.6). 19

20 Persen Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «0,23 17,03 2,07 80,67 Kedele segar lainnya ( ) Tepung kedele lainnya ( ) Kecap ( ) Lainnya Gambar 3.6. Persentase wujud kedele ekspor berdasarkan kode HS tahun 2008 Bila ditelusuri lebih jauh negara tujuan ekspor utama kedele segar lainnya (HS ) tahun 2008 sebesar 86,17 % ke Jepang, 9,60 % ke Korea dan 2,01 % ke Singapore (Gambar 4.7), sementara negara tujuan ekspor kecap (HS ) terbesar adalah ke negara Australia sebesar 26,49 %, 13,87 % ekspor ke Saudi Arabia, 12,59 % ekspor ke Belanda, 9,80 % ke USA dan 6,36 % ke Malaysia (Gambar 3.8). Volume dan Nilai ekspor kedele Indonesia menurut kode HS beserta negara tujuan ekspor tahun 2008 secara rinci disajikan pada Lampiran ,00 90,00 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 0,00 86,17 9,60 2,01 2,21 Jepang Korea Singapore Negara lainnya Gambar 3.7. Persentase nilai ekspor kedele segar lainnya ke negara tujuan utama tahun

21 Persen Persen» Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, ,00 30,00 25,00 26,49 30,88 20,00 15,00 10,00 13,87 12,59 9,80 6,36 5,00 0,00 Australia Saudi Arabia Netherland USA Malaysia negara lainnya Gambar 3.8. Persentase nilai ekspor kecap ke negara tujuan utama tahun 2008 Sementara bila dilihat dari sisi impor kedele Indonesia tahun 2008, sebesar 87,20 % berasal dari USA, 4,50 % dari Malaysia dan 8,30 % berasal dari negara lainnya (Gambar 3.9). 100,00 90,00 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00-87,20 4,50 8,30 USA Malaysia Negara lainnya Gambar 3.9. Persentase negara asal impor kedele Indonesia tahun 2008 Berdasarkan wujud kedele yang diimpor dari USA sebagain besar dalam wujud kedele segar lainnya yaitu sebesar 99,37 % atau dengan nilai impor sebesar US$ 637,62 juta dan 0,47 % tepung kedele atau US$ 3,04 juta dan 0,16 % minyak kacang kedele atau US$ 1,04 juta (Gambar 3.10). 21

22 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «0,47 0,16 99,37 Kedele segar lainnya ( ) Tepung kedele( ) Minyak kacang kedele ( , dan ) Gambar Persentase wujud kedele impor Indonesia asal USA tahun 2008 Sementara wujud kedele yang diimpor dari Malaysia tahun 2008 sebesar 52,90 % dalam wujud kedele segar lainnya atau US$ 17,53 juta dan 46,67 % minyak kacang kedele atau US$ 15,47 juta dan sisanya dalam wujud tepung kedele dan kecap (Gambar 3.11). Volume dan nilai impor kedele Indonesia menurut kode HS beserta negara asal impor tahun 2008 secara rinci disajikan pada Lampiran ,28 46,67 52,90 0,16 Kedele segar lainnya ( ) Tepung kedele( ) Minyak kacang kedele ( , dan ) Kecap ( ) Gambar Persentase wujud kedele impor Indonesia asal Malaysia tahun

23 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Bila dilihat perdagangan kedele di dunia, berdasarkan data FAO, pada tahun terdapat 3 (tiga) negara eksportir kedele terbesar di dunia yang secara kumulatif memberikan kontribusi sekitar 88,81 % terhadap total nilai ekspor kedele di dunia. USA, Brazil dan Argentina merupakan negara eksportir kedele terbesar di dunia dengan memberikan kontribusi masing-masing sebesar 44,06 % terhadap total nilai ekspor kedele dunia atau senilai US$ 7,58 milyar, 37,86 % atau US$ 5,48 milyar dan 12,89 % atau US$ 2,22 milyar (Gambar 3.12). Indonesia merupakan negara eksportir kedele namun berada pada urutan ke-38 dengan rata-rata nilai ekspor tahun sebesar US$ 1,28 juta. Negara eksportir kedele dunia tahun secara lebih rinci disajikan pada Lampiran USA Brazil Argentina Negara lainnya Gambar Negara pengekspor kedele terbesar dunia (rata-rata Pada perdagangan kedele dunia, dilihat nilai impor kedele dunia ratarata tahun terdapat 5 (lima) negara importir kedele terbesar di dunia yang secara kumulatif memberikan kontribusi sekitar 67,78 % terhadap total nilai impor kedele di dunia, yaitu China, Jepang, Netherland, Jerman dan Meksiko. Netherland sebagai negara eksportir kedele ternyata juga menjadi negara importir kedele terbesar ke -3 dengan berkontribusi terhadap total nilai impor dunia sebesar 7,05 % atau senilai US$ 1,30 milyar 23

24 Persen Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «per tahun (Gambar 3.13). China berada di peringkat pertama dengan ratarata nilai impor kedele tahun sebesar US$ 7,59 milyar per tahun atau memberikan kontribusi sebesar 41,27 % terhadap total nilai impor kedele dunia. Nilai ini jauh lebih besar dibandingkan dengan rata-rata nilai ekspornya yang hanya US$ 149 juta. Jepang merupakan importir kedele terbesar kedua setelah China dengan nilai impor mencapai US$ 1,5 milyar per tahun atau memberikan kontribusi sebesar 8,15 % terhadap total nilai impor kedele dunia. Negara-negara importir kedele terbesar lainnya adalah Belanda, Jerman dan Meksiko masing-masing berkontribusi sebesar 7,05 %, 5,80 % dan 5,51 % terhadap total nilai impor kedele dunia. Sementara Indonesia berada pada urutan ke-9 dengan rata-rata nilai impor kedele Indonesia tahun sebesar US$ 339 juta. Negara importir kedele dunia tahun secara rinci disajikan pada Lampiran Gambar Negara pengimpor kedele terbesar dunia (rata-rata ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN KEDELE Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) digunakan untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan suatu komoditas. ISP kedele segar, olahan dan kedele total Indonesia dapat dilihat pada Tabel

25 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Tabel 3.2. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) kedele segar, olahan dan total kedele Indonesia Tahun Dari Tabel 3.2. di atas terlihat ISP kedele segar maupun olahan yang dihitung berdasarkan nilai ekspor dan impor terlihat bernilai negatif berkisar antara -0,715 s/d -0,998 yang berarti komoditas kedele Indonesia memiliki daya saing rendah atau dikatakan Indonesia sebagai negara pengimpor kedele (suplai domestik lebih rendah dari permintaan domestik), meskipun untuk kedele olahan terdapat kenaikan ISP pada tahun 2008 yang berarti ada kenaikan daya saing meskipun sangat kecil. Sejalan dengan nilai ISP diatas maka bila dilihat dari ratio ketergantungan terhadap impor kedele untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia termasuk dalam katagori yang tinggi ketergantungnnya terhadap impor, hal ini terlihat dari nilai IDR tahun berkisar antara 61,13 % sampai dengan 85,17 %, dengan IDR tertinggi tahun 2007 mencapai 85,17 %. Demikian pula bila dilihat dari sisi kemampuan produksi kedele dalam negeri terlihat masih rendah, hal ini dapat dilihat dari SSR sekitar 15,39 % sampai dengan 39,32 % (Tabel 3.3). 25

26 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Tabel 3.3. Import Dependency Ratio (IDR) dan Self Sufficiency Ratio (SSR) kedele Indonesia tahun Indeks Keunggulan Komparatif atau RCA (Revealead Comparative Advantage) merupakan salah satu metode yang digunakan untuk mengukur keunggulan komparatif di suatu wilayah, untuk mengukur keunggulan komparatif kedele Indonesia dalam perdagangan dunia. Hasil analisis RCA kedele Indonesia dapat dilihat pada Tabel 3.4 Tabel 3.4. Indeks keunggulan komparatif kedele Indonesia dalam perdagangan dunia, Dari Tabel 3.4. diatas terlihat komoditas kedele Indonesia memiliki keunggulan komperatif yang rendah di pasar dunia, hal ini ditunjukkan nilai RCA dari tahun menunjukan kurang dari 1 yaitu hanya 0,13 sampai 0,31. 26

27 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 3.1. Provinsi sentra produksi kedele di Indonesia, tahun Sumber : BPS dan Ditjen Tanaman Pangan diolah Pusdatin Keterangan : *) Angka Sementara 27

28 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 3.2.Perkembangan harga produsen dan konsumen kedele di Indonesia, tahun Sumber : BPS diolah Pusdatin 28

29 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 3.3. Perkembangan ekspor dan impor kedele segar dan olahan, tahun Sumber : BPS diolah Pusdatin 29

30 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 3.4. Negara tujuan ekspor kedele Indonesia per kode HS (Harmony Sistem), tahun 2008 Sumber : BPS diolah Pusdatin Keterangan : *) Kedele lainnya meliputi minyak kedele, bungkil kedele dan tauco 30

31 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 3.5. Negara asal impor kedele Indonesia per kode HS (Harmony Sistem), tahun 2008 Sumber : BPS diolah Pusdatin 31

32 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 3.6. Negara eksportir kedele dunia tahun Sumber : FAO diolah Pusdatin 32

33 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 3.7. Negara importir kedele dunia tahun Sumber : FAO diolah Pusdatin 33

34 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «34

35 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 IV. KINERJA PERDAGANGAN KENTANG Kentang mempunyai kandungan zat karbohidrat yang tinggi, lebih tinggi dari berbagai sumber karbohidrat yang lain seperti beras, jagung atau gandum. Hal tersebut menjadikan kentang sebagai prioritas alternatif yang mampu mensubstitusi kebutuhan pangan pokok masyarakat. Bahkan untuk kalangan tertentu (misalnya penderita diabetes), kentang merupakan makanan pokok untuk diet, karena kandungan kadar gulanya yang rendah sehingga kentang merupakan komoditas yang penting dan mampu berperan untuk memenuhi gizi masyarakat. Mengingat pola konsumsi masyarakat terhadap makanan terutama di perkotaan, menjadikan kentang sebagai menu makanan sehari-hari yang dikonsumsi bersama-sama dengan ayam goreng. Restoran fast food dan berbagai jenis panganan juga menggunakan kentang sebagai bahan menu utamanya. Berbagai kenyataan tersebut semakin menegaskan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap kentang. Pada tahun 2003, konsumsi kentang perkapita 1.61 kg/kapita, kemudian pada tahun 2008 menunjukan adanya peningkatan yaitu kg/kapita (Susenas BPS). Apabila jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2008 diperkirakan sebesar juta jiwa maka kebutuhan akan kentang dalam negeri sebesar 479 ribu ton. Kebutuhan masyarakat yang semakin banyak dan beragam ini terutama kentang french fries, Indonesia masih sangat tergantung pada produk impor. 4.1 SENTRA PRODUKSI KENTANG Berdasarkan data rata-rata produksi kentang Indonesia lima tahun terakhir ( ) daerah sentra produksi kentang terdapat 5 (lima) provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, dan Jawa Timur. Kelima propinsi ini memberikan kontribusi sebesar % terhadap total produksi kentang Indonesia, seperti terlihat pada Gambar

36 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «9,20% 12,83% 33,99% 11,18% 11,73% 21,07% Jawa Barat Sulawesi Utara Jawa Timur Jawa Tengah Sumatera Utara lainnya Gambar 4.1. Provinsi sentra produksi kentang berdasarkan rata-rata produksi tahun Seperti terlihat pada gambar 4.1. diatas, sentra produksi kentang terbesar di Indonesia adalah Jawa Barat dengan kontribusi rata-rata sebesar 33,99 % dari total produksi kentang Indonesia. Kemudian diikuti oleh Jawa Tengah dengan kontribusi 21,07 %, Sulawesi Utara 11,73 %, Sumatera Utara 11,18 % dan Jawa Timur 9.20 %. Sementara provinsi lainnya hanya berkontribusi 12,83 %. Rata-rata pertumbuhan produksi kentang pada tahun di Jawa Barat dan Sumatera Utara mengalami penurunan yaitu masing-masing turun sebesar 8,42 % dan 0,52 %. Rata-rata pertumbuhan produksi kentang selama lima tahun terakhir di provinsi Jawa Tengah, Sulawesi Utara dan Jawa Timur masing-masing mengalami peningkatan sebesar 13,78 %, 18,46 % dan 0,70 % per tahun. Secara lebih rinci dapat dilihat pada Lampiran KINERJA PERDAGANGAN KENTANG DALAM NEGERI Untuk mengkaji perdagangan dalam negeri yaitu dengan melihat perkembangan harga nasional kentang di tingkat produsen, tingkat konsumen dan di sentra produksi. Perkembangan rata-rata per tahun harga kentang di tingkat produsen dan konsumen di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir yaitu 36

37 Rp/Kg» Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 tahun menunjukkan kecenderungan meningkat dengan ratarata pertumbuhan per tahun masing-masing sebesar 19,77 % harga tingkat produsen dan 18,68 % harga tingkat konsumen (Gambar 4.2) Harga konsumen Harga Produsen Gambar 4.2. Perkembangan rata-rata harga produsen dan konsumen kentang tahun Apabila dilihat harga rata-rata di tingkat produsen selama sepuluh tahun dari tahun maka terjadi peningkatan harga yang cukup tajam pada tahun 1998 s/d 2000, dimana pada tahun 1997 harga produsen rata-rata kentang sebesar Rp 721/kg kemudian pada tahun 1998 menjadi Rp 1.100/kg atau meningkat sebesar 52,54 % dan terus meningkat hingga tahun 2000 harga kentang di tingkat produsen mencapai Rp 2.255/kg dan selanjutnya pertumbuhan relatif stabil. Harga produsen kentang tahun 2007 menjadi Rp 3.939/kg atau meningkat 11,26 % dibandingkan tahun Sementara perkembangan harga konsumen kentang memiliki pola yang fluktuatif dengan pertumbuhan yang cukup tajam terjadi pada tahun 1998 s/d 1999 masing-masing naik 94,68 % dan 36,49 % dan kemudian di tahun 2000 mengalami penurunan sebesar 12,96 % dan selanjutnya naik kembali hingga akhirnya tahun 2007 mengalami peningkatan yang cukup besar yaitu 20,31 % atau menjadi Rp 6.089/kg atau merupakan margin terbesar selama sepuluh tahun terakhir yaitu mencapai Rp 2.130/kg. Secara 37

38 Rp/Kg Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «rinci perkembangan harga produsen dan konsumen kentang tahun disajikan pada Lampiran 4.2. Apabila dilihat harga konsumen dan harga produsen kentang di provinsi sentra tahun 2007, maka harga tertinggi di tingkat konsumen terdapat di provinsi Sulawesi Utara yaitu Rp 4.979/kg, dan harga terendah terdapat di provinsi Jawa Tengah yaitu Rp 4.316/ kg. Demikian pula harga tertinggi di tingkat produsen juga terdapat di provinsi Sulawesi Utara dengan harga Rp 3.978/kg dan harga terendah terdapat di provinsi Sumatera Utara dengan harga Rp 3.089/kg (Gambar 4.3). Perkembangan harga rata-rata kentang baik di tingkat produsen maupun ditingkat konsumen di provinsi sentra selama kurun waktu tahun menunjukan kecenderungan meningkat kecuali di provinsi Sulawesi Utara untuk harga produsen mengalami penurunan sebesar 0,11 % (Lampiran 4.3) Jabar Jateng Sulut Sumut Jatim Harga Konsumen Harga Produsen Gambar 4.3. Harga produsen dan konsumen kentang di provinsi sentra tahun KINERJA PERDAGANGAN KENTANG INTERNASIONAL Untuk mengkaji kinerja perdagangan kentang luar negeri yaitu dengan melihat neraca perdagangan kentang yang merupakan pengurangan antara volume/nilai ekspor dengan volume/nilai impor kentang baik segar, beku maupun olahan. Pada periode tahun terlihat bahwa baik 38

39 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 volume maupun nilai perdagangan kentang mengalami defisit yang berarti bahwa volume impor kentang lebih besar bila dibandingkan dengan volume ekspornya kecuali pada tahun 2006 volume neraca perdagangan mengalami surplus yang sangat besar sementara nilai neraca perdagangannya justru defisit, hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.1 Tabel 4.1. Perkembangan neraca perdagangan kentang Indonesia, tahun Sumber : BPS diolah Pusdatin Surplus yang sangat tinggi terjadi pada volume neraca perdagangan tahun 2006 yaitu sebesar ton, dimana volume ekspor kentang jauh lebih besar bila dibandingkan dengan volume impornya. Volume ekspor kentang tahun 2006 mencapai ton dengan nilai sebesar US$ 6,29 juta sementara volume impornya ton dengan nilai US$ 23,22 juta. Rata-rata pertumbuhan volume neraca perdagangan dari tahun mengalami penurunan defisit % per tahun dengan ratarata pertumbuhan volume ekspor surplus 94,37 % per tahun dan rata-rata pertumbuhan volume impornya surplus 7,69 % per tahun. Sementara ratarata pertumbuhan nilai neraca perdagangannya mengalami surplus 11,68 % per tahun dengan rata-rata pertumbuhan nilai ekspor surplus 1,23 % per tahun dan rata-rata pertumbuhan nilai impornya surplus 15,44 % per tahun ( Gambar 4.4) 39

40 Persen Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «000US$ Nilai ekspor - Nilai impor - Neraca perdagangan Gambar 4.4. Perkembangan neraca perdagangan kentang Indonesia tahun Bila dilihat dari wujud kentang yang diekspor Indonesia sebagian besar adalah dalam bentuk kentang segar, dimana berdasarkan volume ekspor tahun 2008 sebesar 93,34 % kentang segar, 4,86 % kentang beku dan 1,4 % kentang olahan. Demikian juga dari sisi nilai ekspornya (Gambar 4.5). 100,00 90,00 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 0,00 93,34 82,56 72,79 65,16 22,02 13,43 11,13 12,82 13,79 4,86 6,32 1,80 Vol ekspor Nilai ekspor Vol impor Nilai impor Kentang segar Kentang beku Kentang olahan Gambar 4.5. Persentase ekspor dan impor kentang segar, beku dan olahan Indonesia tahun 2008 Sementara dari sisi volume impor kentang tahun 2008 sebesar 65,16 % dalam wujud kentang olahan dengan kontribusi nilai impor 72,79 %. 40

41 Persen» Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Secara rinci perkembangan ekspor dan impor kentang segar, beku dan olahan Indonesia tahun dapat dilihat pada Lampiran 4.4. Bila dilihat lebih jauh berdasarkan kode HS (Harmony Sistem) ekspor kentang segar tahun 2008 sebagian besar dalam wujud kentang segar dengan kode HS sebesar 98,00 % dari total nilai ekspor kentang atau US$ 2,34 juta dan 2,00 % kentang bibit (HS ) atau US$ 48 ribu. Sedangkan dari sisi nilai impor kentang segar Indonesia tahun 2008 sebesar 58,83 % dalam wujud kentang segar atau US$ 2,88 juta dan 41,17 % dalam wujud kentang bibit atau US$ 2,02 juta (Gambar 4.6). 100,00 99,31 98,00 80,00 60,00 40,00 35,51 64,49 41,17 58,83 20,00 0,00 0,69 2,00 Vol Ekspor Nilai Ekspor Vol Impor Nilai Impor Kentang Bibit ( ) Kentang Segar( ) Gambar 4.6. Persentase wujud ekspor dan impor kentang segar Indonesia, tahun 2008 Berdasarkan negara tujuan ekspor kentang segar Indonesia tahun 2008, Singapura merupakan negara tujuan ekspor kentang segar Indonesia yang terbesar yaitu mencapai 81,15 % atau senilai US$ 1,90 juta disusul Malaysia sebesar 18,38 % atau US$ 430 ribu (Gambar 4.7). Negara tujuan ekspor kentang Indonesia tahun 2008 secara rinci disajikan pada Lampiran

42 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «18,38% 0,47% 81,15% SINGAPORE MALAYSIA Lainnya Gambar 4.7. Negara tujuan ekspor kentang segar Indonesia, tahun 2008 Sementara berdasarkan negara asal impor kentang Indonesia tahun 2008, pada Gambar 4.8. terdapat 5 (lima) negara asal impor terbesar kentang Indonesia yaitu USA sebesar 35,91 % dari total nilai impor kentang Indonesia, kemudian diikuti oleh Canada sebesar 24,33 %, German 11,71 %, Netherland 6,48 %, Australia sebesar 5,47 % dan negara lainnya sebesar 16,10 %. Secara rinci negara asal impor kentang Indonesia tahun 2008 disajikan pada Lampiran ,47 16,10 35,91 6,48 11,71 24,33 USA Canada German Netherlands Australia Negara lainnya Gambar 4.8. Negara asal impor kentang Indonesia, tahun

43 Persen» Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Amerika Serikat merupakan negera terbesar asal kentang Indonesia, sebesar 43,78 % atau senilai US$ 5,55 juta dalam wujud kentang olahan, kemudian dalam wujud kentang beku sebesar 30,40 % atau senilai ton dengan US$ 3,86 juta, dalam wujud kentang irisan sebesar 23 % atau US$ 2,92 juta, wujud pati kentang sebesar 2,11 % atau nilai US$ 268 ribu dan kentang segar hanya 0,71 % atau US$ 91 ribu. Sementara dari Canada, Indonesia juga lebih banyak mengimpor dalam bentuk kentang olahan sebesar 68,53 % atau US$ 5,89 juta dan selebihnya dalam wujud kentang segar, bibit dan pati kentang. Secara rinci negara asal impor kentang Indonesia tahun 2008 berdasarkan wujud yang diimpor dan kode HS disajikan pada Lampiran 4.6. Bila dilihat pada perdagangan kentang dunia tahun berdasarkan data dari FAO, Pada Gambar 4.9 terdapat 7 (tujuh) negara eksportir kentang terbesar di dunia yang secara kumulatif memberikan kontribusi sebesar 64,02 % terhadap total nilai ekspor kentang dunia. 25,00 20,00 15,00 20,16 16,30 10,00 5,00 7,24 5,79 5,13 4,74 4,66 0,00 Gambar 4.9. Negara eksportir kentang terbesar di dunia (rata-rata ) Netherland merupakan negara eksportir kentang terbesar di dunia dengan kontribusi sebesar 20,16 % terhadap total nilai ekspor kentang dunia yang diikuti oleh negara Perancis dengan kontribusi 16,30 %, German 43

44 Persen Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «sebesar 7,24 %, Belgium sebesar 5,79 %, Canada sebesar 5,13 %, USA sebesar 4,74% dan Inggris sebesar 4,66 % dan untuk negara eksportir lainnya dapat dilihat lebih rinci pada Lampiran 4.7. Indonesia merupakan negara eksportir kentang dengan urutan ke ke-39 dengan kontribusi 0,17 % terhadap total nilai ekspor kentang dunia. Sementara itu impor kentang dilakukan oleh hampir semua negara di dunia, Terdapat 9 (sembilan) negara importir terbesar di dunia yang secara kumulatif memberikan kontribusi 54,54 % terhadap total nilai impor kentang di dunia. Spayol berada di peringkat pertama dengan rata-rata nilai impor kentang tahun sebesar US$ 223,25 juta per tahun atau memberikan kontribusi sebesar 8,58 % terhadap total nilai impor kentang dunia, kemudian diikuti oleh Belgium dengan rata-rata nilai impor US$ 219,72 juta atau memberikan kontribusi sebesar 8,44 %. Netherland merupakan importir terbesar ke 3 yang juga sebagai negara eksportir kentang terbesar di dunia, dimana rata-rata impornya US$ 208,67 juta atau memberikan kontribusi sebesar 8,02 %. Peringkat ke empat adalah German dengan rata-rata impor sebesar US$ 187,72 juta atau 7,22 %, kemudian disusul oleh Inggris, Italy, Perancis, USA dan Rusia masingmasing berkontribusi kurang dari 7 % (Gambar 4.10). 10,00 9,00 8,00 7,00 6,00 5,00 4,00 3,00 2,00 1,00 0,00 8,58 8,44 8,02 7,22 6,58 6,38 4,20 3,99 3,15 Gambar Negara importir kentang terbesar di dunia (rata-rata ) 44

45 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Indonesia merupakan negara importir urutan ke 89 dengan rata-rata impornya US$ ribu atau memberikan kontribusi sebesar 0,10 % terhadap total nilai impor kentang dunia. Negara importir kentang lainnya dapat dilihat lebih rinci pada Lampiran ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN KENTANG Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) digunakan untuk mengetahui posisi suatu komoditas dalam perdagangan, hasil analisis ISP kentang segar, kentang olahan, kentang beku dan total kentang Indonesia disajikan pada Tabel 4.2. Tabel 4.2. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) kentang segar, beku, olahan dan total kentang Indonesia Tahun Dari Tabel 4.2 diatas terlihat nilai ISP kentang Indonesia berada pada -0,57 s/d -0,85 berarti komoditas kentang Indonesia masih dalam tahap pengenalan, khususnya kentang beku dan kentang olahan. Namun demikian untuk kentang segar pada tahun memiliki ISP positif 45

46 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «berkisar 0,05 s/d 0,36 yang berarti merupakan komoditas perluasan ekspor, dan mengalami penurunan ISP menjadi -0,13 dan -0,34 yang berarti tergolong substitusi impor. Bila dilihat dari ratio ketergantungan terhadap impor kentang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia termasuk dalam katagori yang rendah ketergantungnnya terhadap impor kentang, hal ini terlihat dari nilai IDR tahun hanya berkisar antara 1,90 persen sampai dengan 3,39 persen. Demikian pula bila dilihat dari sisi kemampuan produksi kentang dalam negeri terlihat cukup baik, hal ini dapat dilihat dari SSR sekitar 98 persen, yang berarti Indonesia mempunyai kemampuan untuk mememenuhi kebutuhan kentang dalam negeri yang diandalkan dari produksi dalam negeri sebesar 98 persen, bahkan pada tahun 2006 terdapat kelebihan sebesar 5,71 persen dari kebutuhan kentang dalam negeri. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.3. Tabel 4.3. IDR (Import Dependency Ratio) dan SSR (Self Sufficiency Ratio) kentang indonesia tahun RCA (Indeks Keunggulan Komperative), merupakan metode yang digunakan untu mengukur keunggulan komperatif kentang Indonesia. RCA kentang Indonesia dapat dilihat pada Tabel

47 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Tabel 4.4. Indeks keunggulan komparatif kentang Indonesia dalam perdagangan dunia, Dari Tabel 4.4 di atas terlihat komoditas kentang Indonesia memiliki keunggulan komperatif yang rendah dari tahun dalam pasar perdagangan dunia, hal ini ditunjukkan nilai RCA berkisar 0,26 sampai dengan 0,78. 47

48 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 4.1. Provinsi sentra produksi kentang di Indonesia, tahun Sumber : Ditjen Hortikultura diolah Pusdatin 48

49 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 4.2. Perkembangan harga di tingkat produsen dan konsumen kentang di Indonesia, Tahun Sumber: BPS diolah Pusdatin 49

50 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 4.3. Perkembangan harga produsen dan konsumen kentang di provinsi sentra, tahun Sumber : BPS diolah Pusdatin 50

51 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 4.4. Perkembangan ekspor dan impor kentang segar, beku dan olahan Indonesia, tahun Sumber : BPS diolah Pusdatin Keterangan : *) terdiri dari pati kentang, kentang olahan, irisan dan potongan serta kentang lain-lain 51

52 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 4.5. Negara tujuan ekspor kentang Indonesia per kode HS (Harmony Sistem), tahun 2008 Sumber BPS diolah Pusdatin 52

53 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 4.6. Negara asal impor kentang Indonesia per kode HS (Harmony Sistem), tahun 2008 Sumber : BPS diolah Pusdatin 53

54 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 4.7. Negara eksportir kentang dunia tahun Sumber : FAO diolah Pusdatin 54

55 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 4.8. Negara importir kentang dunia tahun Sumber : FAO diolah Pusdatin 55

56 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «56

57 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 V. KINERJA PERDAGANGAN KOPI Produk kopi saat ini tak lagi identik dengan kalangan tertentu. Industrialisasi telah menjadikan produk berbahan baku kopi mulai diterima oleh seluruh lapisan masyarakat mulai anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua. Berbagai produk berbahan baku kopi disajikan dalam beraneka bentuk mulai dari permen, kue sampai beraneka minuman yang menyuguhkan kopi secara murni maupun kopi sebagai pelengkap rasa. Tidak hanya banyak jenis yang dihasilkan tetapi juga dengan mudah ditemukan di warung-warung, cafe sampai restoran mahal. Hal ini mengakibatkan permintaan kopi mentah di pasar lokal meningkat tajam. Salah satu contohnya di Jawa Timur, industri kopi mampu menyerap sekitar 30 ribu ton selama setahun yang dari sebelumnya yang hanya berkisar ribu ton (Astuti, Sri. 2007). Kopi Indonesia sebagian besar diekspor yaitu sekitar 61 persen dari jumlah produksi, sisanya dikonsumsi di dalam negeri dan disimpan sebagai carry over stocks oleh pedagang dan eksportir sebagai cadangan bila terjadi gagal panen (Kustiari, Reni ). Lebih jauh melihat kinerja komoditas kopi dari tahun ke tahun menunjukkan perbaikan. Bahkan dalam kurun waktu terjadi kenaikan sebesar tiga kali lipat yaitu dari US$ 294 juta pada tahun 2004 menjadi US$ 991 juta pada tahun Kenaikan nilai ekspor lebih dipengaruhi oleh pergerakan harga internasional yang cenderung naik, tren kenaikan ekspor kopi per tahun 30 persen lebih dikarenakan kenaikan harga sementara kenaikan volumenya hanya 3 persen. Untuk menjaga kinerja ekspor komoditi kopi tersebut perlu ditingkatkan produksi dan mutu kopi termasuk meningkatkan profesionalitas kelembagaan AEKI (Benyamin, Maria Y. 2009). 57

58 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «5.1. SENTRA PRODUKSI KOPI Kopi rakyat mendominasi produksi maupun arealnya di Indonesia. Daerah penghasil utama atau sentra produksi kopi rakyat berdasarkan ratarata produksi tahun adalah Provinsi Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Sumatera Utara, Jawa Timur dan NAD. Provinsiprovinsi tersebut memberi kontribusi produksi kopi sebesar 72,98 % terhadap produksi kopi nasional, seperti yang disajikan pada Gambar ,38% 21,89% 6,32% 7,00% 7,15% 9,03% 21,23% Sumsel Lampung Bengkulu Sumut Jatim Aceh Lainnya Gambar 5.1. Provinsi sentra produksi kopi berdasarkan rata-rata produksi tahun Kontribusi produksi kopi terbesar berasal dari Provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar 21,92 %, disusul kemudian Lampung sebesar 21,34 %, diikuti Bengkulu, Sumatera Utara, Jawa Timur dan Aceh yang memberikan kontribusi antara 6 hingga 9,24 %. Secara rinci provinsi sentra kopi di Indonesia Tahun disajikan pada Lampiran KINERJA PERDAGANGAN KOPI DALAM NEGERI Untuk melihat kinerja perdagangan kopi dalam negeri, salah satu diantaranya dengan melihat perkembangan harga produsen dan konsumen kopi. Dikarenakan keterbatasan ketersediaan data maka harga produsen kopi adalah harga rata-rata kopi Robusta dan harga rata-rata konsumen kopi adalah kopi bubuk tanpa melihat jenis kopinya. 58

59 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Perkembangan rata-rata harga produsen dan harga konsumen kopi di Indonesia selama tahun meski berfluktuasi menunjukkan kecenderungan meningkat (Gambar 5.2). Rata-rata pertumbuhan per tahun harga rata-rata produsen kopi sebesar 5,73 % dan harga rata-rata konsumen sebesar 7,12 % (Lampiran 5.2). (Rp/Kg) Produsen Konsumen Gambar 5.2. Perkembangan rata-rata harga produsen dan konsumen kopi di Indonesia tahun Harga rata-rata konsumen tertinggi terjadi tahun 2002 sebesar Rp ,- selanjutnya turun cukup signifikan sebesar Rp ,- atau turun sebesar 25,22 %. Tahun berikutnya secara perlahan tetapi pasti menunjukkan peningkatan harga. Sementara harga produsen tampak landai dengan harga tertinggi terjadi pada tahun 2007 sebesar Rp ,- atau meningkat sebesar 28,87 % dari tahun sebelumnya (Gambar 5.2). Margin harga terbesar terjadi pada tahun 2002 dimana harga kopi berasan Robusta menurun sebesar 19,27 % dan harga kopi bubuk meningkat sebesar 13,77 %. Namun tahun-tahun selanjutnya besarnya margin harga berkisar Rp ,- sampai dengan Rp ,-. Margin ini menunjukkan adanya biaya pengolahan dari kopi berasan menjadi kopi bubuk. Keragaan harga kopi secara rinci disajikan pada Lampiran

60 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Bila dikaitkan sentra produksi kopi pada uraian di atas dengan harga produsen kopi, tampak pada 4(empat) provinsi sentra kopi (Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu dan Sumatera Utara) memiliki harga rata-rata produsen tahun 2007 berkisar Rp ,- sampai dengan Rp ,- per kilogram (Gambar 5.3). Sementara harga tertinggi terjadi di provinsi Aceh yaitu sebesar Rp ,- per kilogram. Sedangkan pada harga konsumen, harga tertinggi terjadi di Lampung mencapai Rp ,- per kilogram, hal ini secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 5.3. (Rp/Kg) Sumsel Lampung Bengkulu Sumut Jatim Aceh Produsen Konsumen Gambar 5.3. Harga produsen dan konsumen kopi di provinsi sentra tahun 2007 Margin terendah terjadi di provinsi Aceh dan terbesar di provinsi Lampung. Hal ini dimungkinkan karena adanya perbedaan hasil olahan atau digunakan tidaknya teknologi dalam pengolahan hasil dari kopi biji ke kopi bubuk KINERJA PERDAGANGAN KOPI INTERNASIONAL Kinerja perdagangan kopi internasional dapat didekati diantaranya dengan melihat neraca perdagangan kopi, yaitu ekspor dikurangi impor kopi. Perkembangan neraca perdagangan kopi tahun terlihat selalu mengalami surplus yang berarti volume dan nilai ekspor kopi lebih besar dibandingkan volume dan nilai impornya. Surplus kopi terbesar 60

61 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 terjadi pada tahun 2008 yaitu sebesar 461,17 juta ton dengan nilai sebesar US$ 973,02 juta, keragaan ekspor-impor kopi Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.1. Tabel 5.1. Perkembangan neraca perdagangan kopi Indonesia, Sumber : BPS diolah Pusdatin Dari Tabel 5.1. rata-rata pertumbuhan per tahun volume neraca perdagangan terlihat mengalami peningkatan surplus sebesar 13,08 % per tahun. Secara absolut volume ekspor kopi Indonesia jauh lebih besar dari volume impornya. Namun bila melihat perkembangan rata-rata pertumbuhan per tahunnya, pertumbuhan impor kopi jauh lebih tinggi (132,18 %) dibandingkan pertumbuhan ekspor kopi (10,45 %). Hal sama terjadi pada rata-rata pertumbuhan per tahun nilai neraca perdagangan kopi yang mengalami peningkatan surplus sebesar 34,77 % per tahun yang diikuti oleh peningkatan pertumbuhan nilai ekspor sebesar 33,14 % per tahun dan nilai impor meningkat sebesar 116,24 % per tahun. Perkembangan nilai neraca perdagangan kopi lebih jelas dapat dilihat pada Gambar

62 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «(US$ 000) Nilai Ekspor Nilai Impor Neraca Perdagangan Gambar 5.4. Perkembangan nilai neraca perdagangan kopi Indonesia, Tahun Dari Gambar 5.4 menunjukkan bahwa surplus nilai neraca perdagangan terbesar dicapai pada tahun 2008 yaitu sebesar US$ 973,02 juta, dengan nilai ekspor sebesar US$ 991,46 juta dan nilai impor sebesar US$ 18,44 juta. Bila dilihat dari wujud kopi yang diekspor selama tahun , sebagian besar atau rata-rata lebih dari 85 % dalam bentuk kopi biji dengan pertumbuhan rata-rata meningkat sebesar 7157,19 % per tahun. Pertumbuhan besar ini terutama adanya peningkatan volume ekspor yang signifikan di tahun 2005 dari 1,23 ribu ton di tahun 2004 menjadi 443,37 ribu ton di tahun Sementara untuk kopi yang diimpor ada kecenderungan dari wujud kopi olahan ke kopi biji (not roasted). Hal ini terlihat dari persentase volume impor kopi biji sejak tahun 2005 mulai menunjukkan trend yang meningkat dengan persentase rata-rata tahun sekitar 61 %. Sebaliknya impor kopi olahan trennya menurun dari 99,98 % di tahun 2004 menjadi 21,55 % di tahun 2008 (Lampiran 5.4). Sementara bila dilihat lebih jauh berdasarkan kode HS (Harmony Sistem) pada tahun 2008, kopi Indonesia yang diekspor dibedakan : Kopi biji (kode HS , , dan ) 62

63 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, Kopi Arabika dan Robusta (berkafein maupun dihilangkan kafeinnya) - Kopi lainnya (berkafein maupun dihilangkan kafeinnya) Kopi olahan (kode HS , , , ) - Kopi sangrai (berkafein maupun dihilangkan kafeinnya) - Kopi bubuk (berkafein maupun dihilangkan kafeinnya) Lainnya - Sekam dan selaput kopi (kode HS ) - Pengganti kopi mengandung kopi (kode HS ) Berdasarkan kode HS, pada tahun 2008 ekspor kopi Indonesia sebagian besar merupakan bentuk kopi biji (99,84 %), demikian pula impornya sebagian besar dalam bentuk kopi biji (78,45 %) dan sisanya adalah impor kopi olahan (Gambar 5.5). (%) 120,00 100,00 80,00 60,00 40,00 20,00 0,00 99,84 99,79 78,45 69,07 30,93 21,55 0,16 0,21 Vol Ekspor Nilai Ekspor Vol Impor Nilai Impor Kopi Biji Kopi Olahan Gambar 5.5. Persentase Ekspor dan Impor Kopi Biji dan Kopi Olahan Indonesia, Tahun 2008 Wujud kopi Indonesia yang diekspor pada tahun 2008, ternyata sebesar 90,76 % adalah kopi biji Arabika dan Robusta berkafein dan kopi biji lainnya berkafein sebesar 3,28 %, seperti pada Gambar

64 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «0,01% 3,28% 0,03% 5,92% 90,76% kopi biji arabika+robusta berkafein kopi biji lainnya berkafein kopi olahan kopi biji arabika+robusta tanpa kafein kopi biji lainnya tanpa kafein Gambar 5.6. Persentase wujud kopi ekspor Indonesia berdasarkan kode HS tahun 2008 Cukup menyebar negara tujuan ekspor kopi biji Arabika dan Robusta berkafein ini. Dari negara-negara tujuan tersebut terbesar adalah ke Germany sebesar 19,31 % dari total volume ekspor kopi jenis ini, diikuti USA (14,24 %), Japan (11,45 %) dan ke negara lainnya sebesar 51,97 % yang tersebar disekitar 56 negara (Gambar 5.7). (%) 60,00 50,00 51,97 40,00 30,00 20,00 10,00 19,31 14,24 11,45 0,00 Germany USA Japan Negara lainnya Gambar 5.7. Negara tujuan ekspor kopi biji arabika dan robusta berkafein Indonesia tahun 2008 Sementara negara tujuan ekspor kopi biji lainnya berkafein adalah ke negara Germany (14,40 %), Inggris (13,09 %), Japan (7,64 %) dan 64,87 64

65 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 % tersebar ke 30 negara lainnya (Gambar 5.8). Secara rinci volume-nilai ekspor kopi menurut kode HS dan negara tujuan disajikan pada Lampiran 5.5 (%) 75,00 60,00 64,87 45,00 30,00 15,00 14,4 13,09 7,64 0,00 Germany Inggris Japan Negara lainnya Gambar 5.8. Negara tujuan ekspor kopi biji lainnya berkafein Indonesia tahun 2008 Tidak berbeda jauh dengan ekspornya, wujud kopi yang diimpor pada tahun 2008 didominasi oleh kopi biji arabika dan robusta berkafein. Besarnya volume impor jenis ini sebesar 74,90 % dari total volume impor kopi Indonesia. Wujud kopi impor berikutnya adalah kopi sangrai non kafein sebesar 13,67 %, kopi bubuk non kafein sebesar 3,42 % dan kopi biji lainnya berkafein sebesar 3,46 % (Gambar 5.9). 2,69% 3,46% 13,67% 3,42% 1,86% 74,90% kopi biji arabika+robusta berkafein kopi sangrai berkafein kopi bubuk berkafein kopi biji lainnya berkafein kopi sangrai tanpa kafein lainnya Gambar 5.9. Persentase wujud kopi impor Indonesia berdasarkan kode HS, tahun

66 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Impor kopi biji arabika dan robusta berkafein sebagian besar dari negara Vietnam sebesar 48,06 % terhadap total volume impor kopi jenis yang sama. Berikutnya adalah negara East Timor (27,76 %) dan Brazil (11,46 %). Sedangkan 12,72 % dari 19 negara lainnya (Gambar 5.10). (%) 60,00 50,00 48,06 40,00 30,00 27,76 20,00 10,00 0,00 11,46 12,72 Vietnam East Timor Brazil Negara lainnya Gambar Persentase negara asal impor kopi biji arabika dan robusta berkafein, Tahun 2008 Wujud kopi impor terbesar lainnya adalah kopi sangrai non kafein yang diimpor dari negara Brazil sebesar 90,81 % terhadap total volume impor kopi sejenis (Lampiran 5.6). Bentuk olahan lainnya yang cukup besar diimpor adalah kopi bubuk berkafein yang diperoleh dari negara Malaysia sebesar 77,212 %, Australia sebesar 7,27 % dan sebesar 15,15 % dari negara lain yang tersebar di 11 negara (Gambar 5.11). (%) 90,00 80,00 70,00 60,00 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 0,00 77,21 15,52 7,27 Malaysia Australia Negara lainnya Gambar Negara asal impor kopi bubuk berkafein, tahun

67 (000 Ton)» Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Dari sisi perdagangan kopi dunia, berdasarkan data FAO, pada tahun terdapat 5 (lima) negara eksportir kopi terbesar di dunia yang secara kumulatif memberikan kontribusi sekitar 85,31 % terhadap total volume ekspor kopi di dunia. Brazil, Vietnam, Colombia, Indonesia dan Germany negara eksportir kopi terbesar di dunia dengan memberikan kontribusi masing-masing sebesar 33,55 %, 22,82 %, 14,22 %, 8,68 % dan 6,04 % terhadap total volume ekspor kopi dunia (Gambar 5.12). Indonesia merupakan negara eksportir kopi yang berada pada urutan ke-4 dengan rata-rata volume ekspor tahun sebesar 367,35 juta ton. Volume ekspor dari negara-negara tersebut disajikan pada Lampiran Brazil Viet Nam Colombia Indonesia Germany Gambar Negara eksportir kopi terbesar dunia, rata-rata tahun Bila dilihat volume impor kopi dunia tahun terdapat 6 (enam) negara importir kopi terbesar di dunia yang secara kumulatif memberikan kontribusi sekitar 81,29 % terhadap total volume impor opi di dunia, yaitu USA, Germany, Italy, Japan, France dan Spain. USA berada di peringkat pertama dengan rata-rata volume impor kopi tahun sebesar 1252,31 juta ton per tahun atau memberikan kontribusi sebesar 29,10 % terhadap total volume impor kopi dunia. Urutan kedua adalah Germany dengan rata-rata volume impornya sebesar 951,14 juta ton dan memberikan kontribusi sebesar 22,10 % terhadap total volume impor. Germany ini sebagai negara importir sekaligus eksportir kopi dunia, negara 67

68 (000 Ton) Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «ini tampaknya melakukan re-ekspor. Italy dan Japan memberikan kontribusi yang hampir sama masing-masing sebesar 9,62 % dan 9,31 % terhadap total volume impor dunia (Gambar 5.13). Indonesia sebagai negara importir kopi pada urutan ke-45 dengan rata-rata volume impor kopi Indonesia tahun sebesar 12,96 ribu ton. Secara rinci volume impor dan besarnya kontribusi negara-negara importir kopi dunia tersebut disajikan pada Lampiran USA Germany Italy Japan France Spain Gambar Negara importir kopi terbesar dunia, rata-rata tahun ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN KOPI Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) digunakan untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan suatu komoditas. ISP kopi segar, olahan dan kopi total Indonesia dapat dilihat pada Tabel

69 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Tabel 5.2. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) kopi mentah dan olahan Indonesia tahun Dari Tabel 5.2. di atas terlihat ISP kopi bernilai positif berkisar antara 0,7 s/d 0,99 yang berarti komoditas kopi Indonesia memiliki daya saing tinggi atau dikatakan Indonesia sebagai negara pengekspor kopi (suplai domestik lebih tinggi dari permintaan domestik). Namun untuk kopi olahan menunjukkan trend berdaya saing menurun atau berkecenderungan sebagai negara pengimpor kopi olahan. Bila dilihat dari ratio ketergantungan terhadap imporkopi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Indonesia termasuk dalam katagori yang rendah ketergantungnnya terhadap impor kopi, hal ini terlihat dari nilai IDR tahun hanya berkisar antara 1,62 persen sampai dengan 3,42 persen, kecuali tahun 2007 terjadi kenaikan ketergantungan terhadap impor sebesar 12,27, namun kemudian turun kembali menjadi 3,42 di tahun 2008 (Tabel 5.3). Sejalan dengan hal tersebut bila dilihat dari sisi kemampuan produksi kopi dalam negeri terlihat cukup berlebih produksi dalam negeri, hal ini dapat dilihat dari SSR yang cukup besar 166,88 s/d 323,86, yang berarti Indonesia mempunyai kemampuan untuk mememenuhi kebutuhan kopi dalam negeri yang diandalkan dari produksi dalam negeri, bahkan terdapat kelebihan yang dapat digunakan untuk 69

70 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «melakukan ekspor yang lebih besar dan bersaing dengan Negara penghasil kopi dunia lainnya. Hal ini dapat dilihat secara rinci pada Tabel 5.3. Tabel 5.3. IDR (Import Dependency Ratio) dan SSR (Self Sufficiency Ratio) kopi Indonesia tahun Melihat produksi kopi Indonesia yang cukup berlimpah tersebut, maka bila dianalisis lebih lanjut dengan indeks keunggulan komparatif atau RCA (Revealead Comparative Advantage), untuk mengukur keunggulan komparatif kopi Indonesia dalam perdagangan dunia. RCA kopi Indonesia dapat dilihat pada Tabel 5.4. Tabel 5.4. Indeks keunggulan komparatif kopi Indonesia dalam perdagangan dunia, Dari Tabe 5.4. diatas terlihat komoditas kopi Indonesia memiliki keunggulan komperatif yang tinggi dalam pasar perdagangan dunia, hal ini ditunjukkan dari nilai RCA lebih besar dari 10 yaitu 10,363 hingga 16,

71 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 5.1. Provinsi sentra produksi kopi di Indonesia, tahun Sumber : Ditjen Perkebunan diolah Pusdatin 71

72 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 5.2. Perkembangan harga di tingkat produsen dan konsumen kopi di Indonesia, Tahun Sumber: BPS diolah Pusdatin 72

73 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 5.3. Perkembangan harga produsen dan konsumen kopi di provinsi sentra, tahun Sumber : BPS diolah Pusdatin 73

74 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 5.4. Perkembangan ekspor dan impor kopi biji dan kopi olahan Indonesia, tahun Sumber : BPS diolah Pusdatin 74

75 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 5.5. Negara tujuan ekspor kopi Indonesia per kode HS (Harmony Sistem), tahun 2008 Sumber BPS diolah Pusdatin 75

76 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 5.6. Negara asal impor kopi Indonesia per kode HS (Harmony Sistem), tahun 2008 Sumber : BPS diolah Pusdatin 76

77 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 5.7. Negara eksportir kopi dunia tahun Sumber : FAO diolah Pusdatin 77

78 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 5.8. Negara importir kopi dunia tahun Sumber : FAO diolah Pusdatin 78

79 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 VI. KINERJA PERDAGANGAN DAGING SAPI Daging sapi merupakan komoditas utama sub sektor peternakan yang memiliki peran dalam ketahanan pangan. Konsumsi daging sapi cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan per kapita, perubahan pola konsumsi dan selera masyarakat serta peningkatan kesadaran akan semakin perlunya mengkonsumsi pangan bergizi tinggi. Selain itu meningkatnya wisatawan manca negara, penghuni hotal berbintang dan pengunjung restoran bergengsi, menciptakan pasar daging sapi berkualitas tinggi. Fenomena ini tercermin dari semakin banyaknya toko swalayan yang menjual daging sapi berkualitas tinggi (Dirgantoro, 2004). Kebutuhan akan daging sapi tersebut sebagian besar dipenuhi dari produksi dalam negeri dan sisanya diperoleh dari impor. Impor daging sapi didorong oleh tuntutan konsumen terhadap daging berkualitas tinggi dan harga daging impor yang relatif lebih murah dibandingkan dengan harga daging sapi domestik. Hal ini berdampak pada menurunnya daya saing daging sapi dari peternak dalam negeri yang berakibat pada menurunnya pendapatan dan tingkat kesejahteraan peternak sapi potong. Untuk mengatasi hal tersebut, maka pemerintah melakukan upaya-upaya sistematis guna menahan tekanan produk daging sapi impor yang dituangkan dalam paket-paket kebijakan. Salah satu paket kebijakan adalah dengan diberlakukannya pengenaan tarif impor untuk daging sapi. Berdasarkan kesepakatan AFTA (ASEAN Free Trade Area), Indonesia saat ini menerapkan tarif bea masuk sebesar 5% untuk daging sapi, daging domba segar, daging babi dan dagi unggas. Tarif tersebut akan segera dipangkas pada tahun 2020 sesuai dengan kesepakatan AANZFTA (Agreement Establishing ASEAN-Australia-New Zealand Free Trade Area) yang ditandatangani pada 27 Februari 2009 (Departemen Perdagangan, 2009). Hal ini sejalan dengan kesepakatan akan adanya era perdagangan 79

80 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «bebas (free trade) yang akan menghilangkan rintangan-rintangan perdagangan, baik berupa tarif maupun non tarif. Era perdagangan bebas dan perubahan pola konsumsi masyarakat sebenarnya memberikan peluang pasar yang sangat besar bagi peternak domestik, sehingga perlu dilakukan pembinaan berkesinambungan agar peternak dalam negeri mampu bersaing dalam penyediaan daging sapi berkualitas untuk mendukung program ketahanan pangan nasional SENTRA PRODUKSI DAGING SAPI Berdasarkan data rata-rata produksi daging sapi tahun , terdapat 10 (sepuluh) provinsi sentra daging sapi dengan kontribusi kumulatif mencapai 76,08 % terhadap total produksi daging sapi Indonesia. 4,24% 4,02% 3,95% 3,63% 2,64% 2,47% 2,44% 14,00% 23,92% 17,56% 21,14% Jatim Jabar Jateng Gorontalo Banten Sumbar Sulsel NAD Sumsel Sumut Lainnya Gambar 6.1. Provinsi sentra produksi daging sapi berdasarkan rata-rata produksi tahun Provinsi Jawa Timur merupakan produsen daging sapi terbesar dengan persentase kontribusi mencapai 21,14% dari total produksi daging sapi Indonesia (Gambar 6.1). Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah berada di urutan kedua dan ketiga dengan kontribusi masing-masing sebesar 17,56 % dan 14,00 % dari total produksi daging sapi Indonesia. Provinsi-provinsi 80

81 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 sentra produksi lainnya memberikan kontribusi kurang dari 5 %, yaitu Gorontalo, Banten, Sumatera Barat, Sulawesi Selatan, NAD, Sumatera Selatan dan Sumatera Utara. Produksi dari provinsi sentra daging sapi di Indonesia disajikan pada Lampiran KINERJA PERDAGANGAN DAGING SAPI DALAM NEGERI Perdagangan daging sapi dalam negeri sangat ditentukan oleh harga di tingkat konsumen. Karena daging sapi bukan merupakan bahan pangan pokok masyarakat Indonesia serta adanya komoditas komplemen seperti daging ayam, daging kambing dan sebagainya, maka peningkatan harga daging sapi yang cukup tinggi tanpa diiringi peningkatan pendapatan akan menyebabkan penurunan konsumsi daging sapi. Menurut data dari Badan Pusat Statistik, harga daging sapi di tingkat konsumen pada periode tahun menunjukkan adanya peningkatan (Gambar 6.2). (Rp/kg) Gambar 6.2. Rata-rata harga daging sapi di tingkat konsumen di Indonesia, Hasil survei harga yang dilakukan Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) di beberapa kabupaten sentra 81

82 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «produksi daging sapi secara umum juga menunjukkan adanya peningkatan harga daging sapi pada bulan Januari 2008 sampai dengan bulan September Peningkatan harga daging sapi terjadi baik di tingkat peternak, RPH (Rumah Potong Hewan) maupun di tingkat konsumen dengan pola perkembangan harga yang hampir serupa (Gambar 6.3). Daging sapi di tingkat peternak pada tahun 2008 berada pada kisaran harga Rp. 20,982/kg sampai dengan Rp /kg berat hidup. Rata-rata laju pertumbuhan harga daging sapi selama tahun 2008 sebesar 0,61% dengan kenaikan harga tertinggi terjadi pada bulan September Harga daging sapi pada tahun 2009 relatif lebih stabil pada kisaran harga rata-rata Rp ,-/kg berat hidup (Lampiran 6.2). Rata-rata harga daging sapi di tingkat RPH pada tahun 2008 sebesar Rp ,-/kg dengan laju pertumbuhan sebesar 1,12%. Pada tahun 2009 rata-rata harga daging sapi di tingkat RPH naik dibandingkan tahun sebelumnya hingga mencapai Rp ,-/kg. Untuk tingkat konsumen, laju kenaikan harga daging sapi umumnya lebih tinggi dibandingkan di tingkat RPH, yaitu sebesar 1,41% pada tahun 2008 dan 0,98% pada tahun Namun demikian margin perdagangan daging sapi di tingkat RPH dan konsumen untuk tahun 2008 dan 2009 relatif sama sebesar Rp ,- /kg. (Rp/Kg) 65,000 60,000 55,000 50,000 45,000 40,000 35,000 30,000 25,000 20,000 Jan '08 Mei '08 Sep '08 Jan '09 Mei '09 Sep '09 Tk. Peternak (Berat Hidup) Tk. RPH Tk. Konsumen Gambar 6.3. Harga daging sapi di tingkat peternak, RPH dan konsumen di Indonesia, Januari 2008 September

83 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, KINERJA PERDAGANGAN DAGING SAPI INTERNASIONAL Kinerja perdagangan daging sapi pada skala internasional didekati dari neraca perdagangan daging sapi yang merupakan selisih antara ekspor dan impornya. Ekspor dan impor daging sapi dilakukan dalam bentuk segar/beku dan olahan. Perkembangan neraca perdagangan daging sapi tahun menunjukkan posisi defisit, artinya volume dan nilai impor daging sapi lebih besar dibandingkan volume dan nilai ekspornya (Tabel 6.1). Tabel 6.1. Perkembangan neraca perdagangan daging sapi Indonesia, tahun Sumber : BPS diolah Pusdatin Dari Tabel 6.1. tampak bahwa defisit neraca perdagangan daging sapi semakin naik dari tahun ke tahun. Defisit neraca perdagangan pada sisi volume naik sebesar 34,02 persen per tahun, dimana pertumbuhan volume ekspor naik sebesar 107,18 persen per tahun dan volume impor naik sebesar 33,87 persen per tahun. Sementara itu defisit neraca perdagangan pada sisi nilai juga semakin meningkat dengan rata-rata kenaikan mencapai 49,27 persen per tahun. Defisit nilai perdagangan terjadi karena adanya 83

84 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «penurunan nilai ekspor sebesar 26,94 persen per tahun dan sebaliknya nilai impor naik 48,59 persen per tahun. Perkembangan nilai neraca perdagangan daging sapi dapat dilihat pada Gambar 6.4. (000 US$) Ekspor Impor Neraca Perdagangan Gambar 6.4. Perkembangan nilai neraca perdagangan daging sapi Indonesia, tahun Defisit daging sapi terbesar terjadi pada tahun 2008, yaitu sebesar 46,28 ribu ton senilai US$ 128,71 juta. Defisit terjadi karena ekspor daging sapi tahun 2008 hanya sebesar 68,10 ton senilai US$ 26,60 ribu, sedangkan impornya mencapai 46,34 ribu ton dengan nilai impor US$ 128,73 juta. Bila dilihat dari wujud perdagangannya, daging sapi yang diekspor selama tahun sebagian besar adalah dalam bentuk segar. Share dari ekspor daging sapi dalam bentuk segar mencapai lebih dari 80 persen terhadap total volume ekspor daging sapi Indonesia, kecuali tahun 2006 dimana share ekspor daging sapi segar hanya 40,11 persen, sedangkan sisanya adalah ekspor dalam bentuk daging sapi olahan (Gambar 6.5). Untuk tahun 2008 ekspor daging sapi segar/dingin bentuk karkas dan setengah karkas (kode HS ) mencapai 60 ton, sedangkan daging sapi beku tanpa tulang (kode HS ) hanya sebesar 1,54 ton (Lampiran 6.3). Tujuan ekspor daging sapi segar/dingin terutama ke 84

85 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 negara Malaysia dan Korea. Pada tahun yang sama, ekspor daging sapi olahan (kode HS ) sebesar 6,56 ton dengan negara tujuan utama adalah Hongkong, Singapore, Maldives, American Samoa dan Samoa (Lampiran 6.4). (Ton) 100,00 80,00 60,00 40,00 20,00 0,00 10,41 6,56 9,15 0,48 8,37 19,16 87,55 5,60 43,28 61, Segar Olahan Gambar 6.5. Perkembangan volume ekspor daging sapi segar dan olahan, tahun Dibandingkan volume ekspornya, volume impor daging sapi dalam wujud daging sapi segar mencapai lebih dari 90 persen dan mengalami kenaikan setiap tahunnya (Gambar 6.6). Pada tahun 2008 impor daging sapi segar sebesar 45,71 ribu ton atau 98,63 persen dari total impor daging sapi dengan kode HS yang lebih bervariasi. Daging sapi impor dalam wujud segar umumnya berasal dari negara Australia, New Zealand, USA, Kanada dan Singapore. Harga impor daging sapi segar dari Australia umumnya lebih rendah dibandingkan negara lain, kecuali untuk daging sapi segar/dingin tanpa tulang (Lampiran 6.5). Sementara itu impor daging sapi dalam wujud olahan pada perio de tahun justru cenderung turun (Lampiran 6.3). Tahun 2008 volume impor daging sapi olahan sebesar 0,64 ribu ton yang berasal dari negara Australia, Singapore, Malaysia dan New Zealand. 85

86 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «(000 Ton) 50,00 40,00 30,00 20,00 10,00 0,00 0,64 1,69 1,53 1,87 1,20 11,77 19,96 24,08 39,35 45, Segar Olahan Gambar 6.6. Perkembangan volume impor daging sapi segar dan olahan, tahun Berdasarkan data FAO, pada tahun terdapat sebelas negara eksportir daging sapi terbesar di dunia yang secara kumulatif memberikan kontribusi sekitar 75,35 persen terhadap total volume ekspor daging sapi di dunia, namun dari kesebelas negara tersebut hanya Jerman dan Perancis yang memberikan kontribusi lebih dari 10 persen terhadap total volume ekspor daging sapi dunia (Gambar 6.7). Kontribusi volume ekspor daging sapi dari Jerman sebesar 15,05 persen dan dari Perancis sebesar 12,40 persen (Lampiran 6.6). Indonesia merupakan negara eksportir daging sapi namun berada pada urutan ke-72 dengan rata-rata volume ekspor tahun sebesar 59,08 ton. 6.77% 6.36% 5.22% 4.83% 3.98% 3.87% 3.80% 3.61% 9.34% 24.65% 12.46% 15.12% Jerman Perancis Belanda Spanyol Polandia Belgia Irlandia Belarus Ukraina Austria Australia Negara Lainnya Gambar 6.7. Beberapa negara eksportir daging sapi terbesar di dunia, ratarata tahun

87 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Jika ditinjau dari rata-rata volume impor daging sapi dunia tahun terdapat sembilan negara importir daging sapi terbesar di dunia dengan kontribusi kumulatif mencapai 76,29 persen terhadap total volume impor daging sapi di dunia (Lampiran 6.7). Negara-negara tersebut adalah Italia, Rusia, Perancis, Belanda, Republik Korea, Yunani, Inggris, Jerman dan Portugal. Italia merupakan negara eksportir daging sapi terbesar di dunia dengan kontribusi sebesar 19,37 persen, diikuti Rusia di peringkat kedua dengan kontribusi sebesar 16,33 persen. Kontribusi negara-negara importir daging sapi lainnya kurang dari 10 persen (Gambar 6.8). Indonesia merupakan negara importir daging sapi ke-12 dunia dengan rata-rata volume impor sebesar 22,61 ribu ton. 8,00% 6,36% 5,59% 4,52% 3,58% 9,64% 2,89% 16,33% 23,71% 19,37% Italia Rusia Perancis Belanda Republik Korea Yunani Inggris Jerman Portugal Negara Lainnya Gambar 6.8. Beberapa negara importir daging sapi terbesar di dunia, rata-rata tahun ANALISIS KINERJA PERDAGANGAN DAGING SAPI Berdasarkan data nilai ekspor dan impor daging sapi Indonesia diperoleh Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) sebagaimana disajikan pada Tabel

88 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Tabel 6.2. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) daging sapi Indonesia, tahun Daging sapi Indonesia dalam wujud segar ternyata memiliki daya saing rendah di pasar dunia, atau dengan kata lain Indonesia merupakan negara pengimpor daging sapi segar. Pada periode tahun terjadi penurunan daya saing daging sapi segar. Hal ini dinyatakan dari ISP yang bernilai negatif dengan kisaran nilai indeks antara -0,99 sampai dengan - 1,00. Selain itu Indonesia juga merupakan negara pengimpor daging sapi dalam wujud olahan. Meskipun nilai ISP masih rendah dengan kisaran nilai antara -0,81 sampai dengan -1,00, namun daya saingnya lebih baik dibandingkan daging sapi segar. Nilai ISP terbaik terjadi pada tahun 2005 dan kemudian melemah lagi hingga tahun 2008 menjadi -0,99. Dengan keragaan produksi dalam negeri dan perdagangan daging sapi Indonesia di tingkat internasional, secara umum pada tahun ketahanan pangan Indonesia untuk komoditas daging sapi masih sangat baik. Nilai index dependency ratio (IDR) tahun 2004 sebesar 2,82 % menunjukkan bahwa kebutuhan daging sapi sebagian besar dapat dipenuhi dari produksi domestik dan hanya 2,82 % dari impor (Tabel 6.4). Nilai self 88

89 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 sufficiency ratio (SSR) yang merupakan kebalikan dari nilai IDR juga menyatakan hal yang sama. Pada tahun-tahun berikutnya nilai IDR semakin meningkat yaitu pada tahun 2008 sebesar 11,62 % berasal dari impor sedangkan nilai SSR semakin menurun yaitu 88,39 % berasal dari produksi domestik, artinya ketergantungan pada impor semakin meningkat karena pemenuhan permintaan daging sapi dari produksi dalam negeri semakin menurun. Dengan demikian perlu dilakukan tindakan antisipasi agar ketahanan pangan pada komoditas daging sapi tetap dapat dipertahankan. Tabel 6.3. IDR (Import Dependency Ratio) dan SSR (Self Sufficiency Ratio) daging sapi Indonesia tahun Dari sisi nilai ekspor, kinerja ekspor daging sapi Indonesia pada tahun juga sangat rendah. Berdasarkan Tabel 6.4 indeks keunggulan komparatif atau RCA (Revealead Comparative Advantage) terletak pada kisaran 0,001 sampai dengan 0,01 yang menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tingkat keunggulan komparatif yang sangat rendah di pasar dunia untuk komoditas daging sapi. 89

90 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Tabel 6.4. Indeks Keunggulan Komparatif Daging Sapi Indonesia Dalam Perdagangan Dunia,

91 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 6.1. Provinsi sentra produksi daging sapi di Indonesia, tahun Sumber : Ditjen Peternakan diolah Pusdatin Keterangan : *) Angka Sementara: 91

92 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 6.2. Perkembangan harga daging sapi di tingkat peternak, RPH dan konsumen di Indonesia, Januari 2008 September 2009 Sumber: Ditjen P2HP diolah Pusdatin 92

93 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 6.3. Perkembangan ekspor dan impor daging sapi segar dan olahan Indonesia, tahun Sumber : BPS diolah Pusdatin 93

94 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 6.4. Negara tujuan ekspor daging sapi Indonesia per kode HS (Harmony Sistem), tahun 2008 Sumber BPS diolah Pusdatin 94

95 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 6.5. Negara asal impor daging sapi Indonesia per kode HS (Harmony Sistem), tahun 2008 Sumber : BPS diolah Pusdatin 95

96 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «Lampiran 6.6. Negara eksportir daging sapi dunia tahun Sumber : FAO diolah Pusdatin 96

97 » Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 Lampiran 6.7. Negara importir daging sapi dunia tahun Sumber : FAO diolah Pusdatin 97

98 Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Volume 1 No. 1, 2009 «DAFTAR PUSTAKA Astuti, Sri Industrialisasi Kopi Lokal Merebak, Permintaan Meningkat. Terhubung berkala [12 September 209]. Benyamin, Maria Y Eksportir Kopi Dibekukan. 1id html. Terhubung berkala [14 September 2009] BPS Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun Jakarta Dik Kinerja Ekspor Komoditi Kopi Sumut Terancam. Terhubung berkala [14 September 2009]. Departemen Pertanian Kebijakan kemitraan Gapoktan dengan lembaga pemasaran lainnya. Jakarta: Direktorat Pemasaran Domestik Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Departemen Pertanian Pedoman Umum Kebijakan Pemasaran Antar Daerah/Wilayah. Jakarta: Direktorat Pemasaran Domestik, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP). Departemen Perdagangan Kajian Pengembangan Pasar Eskpor Produk Makanan Olahan. Jakarta. Departemen Perdagangan KTT ASEAN ke-14 dan Hasil-hasil Perundingan: Komitmen Bersama untuk Menjawab Situasi Ekonomi Dunia (Siaran Pers). Departemen Perdagangan, Jakarta. Dirgantoro, M.A Strategi Pengenaan Tarif Impor Daging Sapi dan Dampaknya Terhadap Kesejahteraan Masyarakat. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor. Kustiari, Reni Perkembangan Pasar Kopi Dunia dan Implikasinya Bagi Indonesia. Forum Peneliti Agro Ekonomi, 25(1): Rachman, H.P.S., S.H. Suhartini dan G.S. Hardono Dampak Liberalisasi Perdagangan Terhadap Kinerja Ketahanan Pangan Nasional. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Bogor. 98

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 3 No BAB I. PENDAHULUAN

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 3 No BAB I. PENDAHULUAN Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 3 No. 1 2011 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. L ATAR BELAKANG Peranan sektor pertanian dalam kegiatan perekonomian di Indonesia dapat dilihat dari kontribusinya

Lebih terperinci

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 3 No. 2 Thn BAB I. PENDAHULUAN

Analisis Kinerja Perdagangan Komoditas Pertanian Vol. 3 No. 2 Thn BAB I. PENDAHULUAN BAB I. PENDAHULUAN 1.1. L ATAR BELAKANG Peranan sektor pertanian dalam kegiatan perekonomian di Indonesia dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar yaitu sekitar

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan

BAB 1 PENDAHULUAN. Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini dilihat dari kontribusi sektor

Lebih terperinci

PROSPEK TANAMAN PANGAN

PROSPEK TANAMAN PANGAN PROSPEK TANAMAN PANGAN Krisis Pangan Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di

I. PENDAHULUAN. pertanian berperan besar dalam menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional. Di I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tangguh dalam perekonomian dan memiliki peran sebagai penyangga pembangunan nasional. Hal ini terbukti pada saat Indonesia

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume V Nomor 2 Tahun 2013 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume VII Nomor 1 Tahun 2015 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL - KEMENTERIAN PERTANIAN 2015 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN IMPOR KEDELAI DI INDONESIA. Oleh : RIKA PURNAMASARI A

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN IMPOR KEDELAI DI INDONESIA. Oleh : RIKA PURNAMASARI A ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI DAN IMPOR KEDELAI DI INDONESIA Oleh : RIKA PURNAMASARI A14302053 PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Subsektor perkebunan merupakan bagian dari sektor pertanian yang memegang peranan penting bagi perekonomian nasional. Hal ini ditunjukkan dari nilai devisa yang dihasilkan.

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume VI Nomor 4 Tahun 2014 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL - KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume V Nomor 3 Tahun 2013 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL, KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

1 Universitas Indonesia

1 Universitas Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kedelai merupakan komoditas strategis di Indonesia karena kedelai merupakan salah satu tanaman pangan penting di Indonesia setelah beras dan jagung. Komoditas ini mendapatkan

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume V Nomor 4 Tahun 2013 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL KEMENTERIAN PERTANIAN 2013 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

II TINJAUAN PUSTAKA. Juni 2010] 6 Masalah Gizi, Pengetahuan Masyarakat Semakin Memprihatinkan. [10

II TINJAUAN PUSTAKA. Juni 2010] 6 Masalah Gizi, Pengetahuan Masyarakat Semakin Memprihatinkan.  [10 II TINJAUAN PUSTAKA Tinjauan pustaka dalam penelitian ini meliputi tinjauan komoditas kedelai, khususnya peranan kedelai sebagai sumber protein nabati bagi masyarakat. Tidak hanya itu, kedelai juga ditinjau

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume VI Nomor 1 Tahun 2014 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL - KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume VI Nomor 2 Tahun 2014 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL - KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN

EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN Volume VI Nomor 3 Tahun 2014 BULETIN TRIWULANAN EKSPOR IMPOR KOMODITAS PERTANIAN PUSAT DATA DAN SISTEM INFORMASI PERTANIAN SEKRETARIAT JENDERAL - KEMENTERIAN PERTANIAN 2014 Buletin Triwulanan EKSPOR IMPOR

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian memegang peran strategis dalam pembangunan

BAB I. PENDAHULUAN. Sektor pertanian memegang peran strategis dalam pembangunan BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memegang peran strategis dalam pembangunan perekonomian nasional dan menjadi sektor andalan serta mesin penggerak pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional. Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat rata-rata penyerapan tenaga

I. PENDAHULUAN. nasional. Badan Pusat Statistik Indonesia mencatat rata-rata penyerapan tenaga I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya berusaha di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang besar, diharapkan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia

IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Perkebunan Dunia Komoditi perkebunan Indonesia rata-rata masuk kedalam lima besar sebagai produsen dengan produksi tertinggi di dunia menurut Food and agriculture organization (FAO)

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU

OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2015 OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN SUBSEKTOR PETERNAKAN SUSU ISSN:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebijakan pangan nasional. Menurut Irwan (2005), kedelai mengandung protein. dan pakan ternak serta untuk diambil minyaknya.

BAB I PENDAHULUAN. kebijakan pangan nasional. Menurut Irwan (2005), kedelai mengandung protein. dan pakan ternak serta untuk diambil minyaknya. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kedelai merupakan komoditas strategis di Indonesia, karena kedelai merupakan salah satu tanaman pangan penting di Indonesia setelah beras dan jagung. Komoditas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Indonesia merupakan negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara agraris yang mengandalkan sektor pertanian dalam perekonomian. Selain itu sebagian besar penduduk Indonesia bekerja pada sektor

Lebih terperinci

V. EKONOMI GULA. dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan pangan pokok yang dimaksud yaitu gula.

V. EKONOMI GULA. dikonsumsi oleh masyarakat. Bahan pangan pokok yang dimaksud yaitu gula. V. EKONOMI GULA 5.1. Ekonomi Gula Dunia 5.1.1. Produksi dan Konsumsi Gula Dunia Peningkatan jumlah penduduk dunia berimplikasi pada peningkatan kebutuhan terhadap bahan pokok. Salah satunya kebutuhan pangan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan

I. PENDAHULUAN. penyediaan lapangan kerja, pemenuhan kebutuhan konsumsi dalam negeri, bahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, terutama pada sektor pertanian. Sektor pertanian sangat berpengaruh bagi perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara agraris karena memiliki kekayaan alam yang berlimpah, terutama di bidang sumber daya pertanian seperti lahan, varietas serta iklim yang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN , , , ,3 Pengangkutan dan Komunikasi

I. PENDAHULUAN , , , ,3 Pengangkutan dan Komunikasi I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian di Indonesia merupakan sektor yang memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia. Sektor pertanian secara potensial mampu memberikan kontribusi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sektor pertanian yang memiliki nilai strategis antara lain dalam memenuhi

I. PENDAHULUAN. sektor pertanian yang memiliki nilai strategis antara lain dalam memenuhi I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan subsektor peternakan merupakan bagian dari pembangunan sektor pertanian yang memiliki nilai strategis antara lain dalam memenuhi kebutuhan pangan yang terus

Lebih terperinci

PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG

PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG 67 VI. PERGERAKAN HARGA CPO DAN MINYAK GORENG Harga komoditas pertanian pada umumnya sangat mudah berubah karena perubahan penawaran dan permintaan dari waktu ke waktu. Demikian pula yang terjadi pada

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT

V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT V. GAMBARAN UMUM PRODUK KELAPA SAWIT DAN BAHAN BAKAR BIODIESEL DARI KELAPA SAWIT 5.1 Produk Kelapa Sawit 5.1.1 Minyak Kelapa Sawit Minyak kelapa sawit sekarang ini sudah menjadi komoditas pertanian unggulan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan di mata dunia internasional memiliki prospek bisnis hortikultura yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. dan di mata dunia internasional memiliki prospek bisnis hortikultura yang sangat 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai salah satu negara agraris yang beriklim tropis dan di mata dunia internasional memiliki prospek bisnis hortikultura yang sangat cerah. Hortikultura

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian, Semester I 2014 Ekspor Impor Neraca

I. PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Neraca Perdagangan Komoditas Pertanian, Semester I 2014 Ekspor Impor Neraca I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam yang melimpah dan beraneka ragam (mega biodiversity). Keanekaragaman tersebut tampak pada berbagai jenis komoditas tanaman

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki berbagai macam potensi sumber daya alam yang melimpah serta didukung dengan kondisi lingkungan, iklim, dan cuaca yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ukuran dari peningkatan kesejahteraan tersebut adalah adanya pertumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. ukuran dari peningkatan kesejahteraan tersebut adalah adanya pertumbuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, menganut sistem perekonomian terbuka dimana lalu lintas perekonomian internasional sangat penting dalam perekonomian

Lebih terperinci

ISSN OUTLOOK KAPAS 2015 OUTLOOK KAPAS

ISSN OUTLOOK KAPAS 2015 OUTLOOK KAPAS ISSN 1907-1507 OUTLOOK KAPAS 2015 OUTLOOK KAPAS Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian 2015 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2015 OUTLOOK KAPAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. samping komponen konsumsi (C), investasi (I) dan pengeluaran pemerintah (G).

BAB I PENDAHULUAN. samping komponen konsumsi (C), investasi (I) dan pengeluaran pemerintah (G). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam sistem perekonomian terbuka, perdagangan internasional merupakan komponen penting dalam determinasi pendapatan nasional suatu negara atau daerah, di

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG I. PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Teh merupakan salah satu komoditi yang mempunyai peran strategis dalam perekonomian Indonesia. Industri teh mampu memberikan kontribusi Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional bagi banyak negara di dunia. Semakin terbuka suatu

I. PENDAHULUAN. perekonomian nasional bagi banyak negara di dunia. Semakin terbuka suatu I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdagangan internasional memiliki peranan penting sebagai motor penggerak perekonomian nasional bagi banyak negara di dunia. Semakin terbuka suatu negara terhadap arus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perikanan. Luas wilayah laut Indonesia sangat luas yaitu sekitar 7,9 juta km 2 dan

BAB I PENDAHULUAN. perikanan. Luas wilayah laut Indonesia sangat luas yaitu sekitar 7,9 juta km 2 dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai Negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi yang besar di sektor perikanan. Luas wilayah laut Indonesia sangat luas yaitu sekitar 7,9 juta km 2 dan memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperbaharui, dalam kata lain cadangan migas Indonesia akan semakin menipis.

BAB I PENDAHULUAN. diperbaharui, dalam kata lain cadangan migas Indonesia akan semakin menipis. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian masih menjadi salah satu primadona Indonesia untuk jenis ekspor non-migas. Indonesia tidak bisa menggantungkan ekspornya kepada sektor migas saja sebab

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 41,91 (42,43) 42,01 (41,60) 1,07 (1,06) 12,49 (12,37) 0,21 (0,21) 5,07 (5,02) 20,93 (20,73) 6,10 (6,04) 0,15 (0,15) (5,84) 1,33 (1,35)

I. PENDAHULUAN 41,91 (42,43) 42,01 (41,60) 1,07 (1,06) 12,49 (12,37) 0,21 (0,21) 5,07 (5,02) 20,93 (20,73) 6,10 (6,04) 0,15 (0,15) (5,84) 1,33 (1,35) I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan salah satu bidang produksi dan lapangan usaha yang paling tua di dunia yang pernah dan sedang dilakukan oleh masyarakat. Sektor pertanian adalah sektor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu komoditas unggulan dari sub sektor perkebunan di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu komoditas unggulan dari sub sektor perkebunan di Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Salah satu komoditas unggulan dari sub sektor perkebunan di Indonesia adalah komoditas kopi. Disamping memiliki peluang pasar yang baik di dalam negeri maupun luar

Lebih terperinci

Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan

Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan Susu : Komoditi Potensial Yang Terabaikan Oleh : Feryanto W. K. Sub sektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian serta bagi perekonomian nasional pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam menunjang peningkatan ekspor nonmigas di Indonesia. Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. dalam menunjang peningkatan ekspor nonmigas di Indonesia. Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang memiliki peran penting dalam menunjang peningkatan ekspor nonmigas di Indonesia. Indonesia merupakan negara produsen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar, yaitu sekitar 14,43% pada tahun

BAB I PENDAHULUAN. Produk Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar, yaitu sekitar 14,43% pada tahun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pangan merupakan komoditas penting dan strategis bagi bangsa Indonesia karena pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dimana dalam pemenuhannya menjadi tanggung

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn)

Tabel 1.1. Konsumsi Beras di Tingkat Rumah Tangga Tahun Tahun Konsumsi Beras*) (Kg/kap/thn) I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Peran strategis sektor pertanian digambarkan dalam kontribusi sektor pertanian dalam

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang. Tabel 1 Poduksi perikanan Indonesia (ribu ton) tahun

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang. Tabel 1 Poduksi perikanan Indonesia (ribu ton) tahun 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara maritim, dua pertiga wilayahnya merupakan lautan dan luas perairan lautnya mencapai 5.8 juta km 2 termasuk Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. negara (Krugman dan Obstfeld, 2009). Hampir seluruh negara di dunia melakukan

BAB I PENDAHULUAN. negara (Krugman dan Obstfeld, 2009). Hampir seluruh negara di dunia melakukan BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perekonomian negara-negara di dunia saat ini terkait satu sama lain melalui perdagangan barang dan jasa, transfer keuangan dan investasi antar negara (Krugman dan Obstfeld,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang

I. PENDAHULUAN. di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang sebagian besar penduduknya berusaha di bidang pertanian. Dengan tersedianya lahan dan jumlah tenaga kerja yang besar, diharapkan

Lebih terperinci

ISS N OUTLOOK TEH Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 2015

ISS N OUTLOOK TEH Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 2015 OUTLOOK TEH ISSN 1907-1507 2015 OUTLOOK TEH Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 2015 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2015 OUTLOOK TEH ii Pusat

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN PERKEBUNAN

OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN PERKEBUNAN Outlook Komoditas Perkebunan 2007 «OUTLOOK KOMODITAS PERTANIAN PERKEBUNAN Pusat Data Dan Informasi Pertanian Departemen Pertanian 2007 Pusat Data dan Informasi Pertanian i » Outlook Komoditas Perkebunan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Sebaran Struktur PDB Indonesia Menurut Lapangan Usahanya Tahun

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Sebaran Struktur PDB Indonesia Menurut Lapangan Usahanya Tahun I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan penting dalam perekonomian Indonesia terutama dalam pembentukan PDB (Produk Domestik Bruto). Distribusi PDB menurut sektor ekonomi atau

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA i BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 02/01/12/Th.XIX, 04 Januari 2016 PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA 1. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR SUMATERA UTARA BULAN NOVEMBER 2015 SEBESAR US$607,63 JUTA.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pemenuhan protein hewani yang diwujudkan dalam program kedaulatan pangan.

I. PENDAHULUAN. pemenuhan protein hewani yang diwujudkan dalam program kedaulatan pangan. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebutuhan masyarakat terhadap sumber protein hewani semakin meningkat sejalan dengan perubahan selera, gaya hidup dan peningkatan pendapatan. Karena, selain rasanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Kedelai merupakan komoditas strategis yang unik tetapi kontradiktif dalam sistem usaha tani di Indonesia. Luas pertanaman kedelai kurang dari lima persen dari seluruh

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada

I. PENDAHULUAN. khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Subsektor peternakan merupakan salah satu sumber pertumbuhan baru khususnya bagi sektor pertanian dan perekonomian nasional pada umumnya. Pada tahun 2006 Badan Pusat

Lebih terperinci

V. KERAGAAN INDUSTRI GULA INDONESIA

V. KERAGAAN INDUSTRI GULA INDONESIA 83 V. KERAGAAN INDUSTRI GULA INDONESIA 5.1. Luas Areal Perkebunan Tebu dan Produktivitas Gula Hablur Indonesia Tebu merupakan tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula. Tujuan penanaman tebu adalah untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai perkebunan kelapa sawit terluas disusul Provinsi Sumatera. dan Sumatera Selatan dengan luas 1,11 juta Ha.

BAB I PENDAHULUAN. mempunyai perkebunan kelapa sawit terluas disusul Provinsi Sumatera. dan Sumatera Selatan dengan luas 1,11 juta Ha. BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perdagangan antar negara akan menciptakan pasar yang lebih kompetitif dan mendorong pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih tinggi. Kondisi sumber daya alam Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat dalam pertanian Indonesia. Jenis tanaman yang

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat dalam pertanian Indonesia. Jenis tanaman yang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor yang berkembang pesat dalam pertanian Indonesia. Jenis tanaman yang dibudidayakan dalam hortikultura meliputi buah-buahan, sayur-sayuran,

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3 IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3 4.1.1 Produk Domestik Bruto (PDB) Selama kurun waktu tahun 2001-2010, PDB negara-negara ASEAN+3 terus menunjukkan tren yang meningkat

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. [3 Desember 2009] 1 Konsumsi Tempe dan Tahu akan Membuat Massa Lebih Sehat dan Kuat.

I PENDAHULUAN. [3 Desember 2009] 1 Konsumsi Tempe dan Tahu akan Membuat Massa Lebih Sehat dan Kuat. I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kedelai merupakan salah satu komoditas pangan strategis di Indonesia. Arti strategis tersebut salah satunya terlihat dari banyaknya kedelai yang diolah menjadi berbagai

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Papua

BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Papua BAB IV GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA 4.1. Keadaan Geografis dan Kependudukan Provinsi Papua Provinsi Papua terletak antara 2 25-9 Lintang Selatan dan 130-141 Bujur Timur. Provinsi Papua yang memiliki luas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keberlangsungan suatu negara dan diyakini merupakan lokomotif penggerak dalam

BAB I PENDAHULUAN. keberlangsungan suatu negara dan diyakini merupakan lokomotif penggerak dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada era globalisasi seperti sekarang ini setiap negara melakukan perdagangan internasional. Salah satu kegiatan perdagangan internasional yang sangat penting bagi keberlangsungan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1 Sambutan Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Ahmad Dimyati pada acara ulang tahun

I. PENDAHULUAN. 1 Sambutan Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Ahmad Dimyati pada acara ulang tahun I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Buah merupakan salah satu komoditas pangan penting yang perlu dikonsumsi manusia dalam rangka memenuhi pola makan yang seimbang. Keteraturan mengonsumsi buah dapat menjaga

Lebih terperinci

Ekonomi Pertanian di Indonesia

Ekonomi Pertanian di Indonesia Ekonomi Pertanian di Indonesia 1. Ciri-Ciri Pertanian di Indonesia 2.Klasifikasi Pertanian Tujuan Instruksional Khusus : Mahasiswa dapat menjelaskan ciri-ciri pertanian di Indonesia serta klasifikasi atau

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Pertanian merupakan kegiatan pengelolaan sumber daya untuk menghasilakan bahan pangan, bahan baku untuk industri, obat ataupun menghasilkan sumber energi. Secara sempit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumber daya alam yang beraneka ragam dan memiliki wilayah yang cukup luas. Hal ini yang membuat Indonesia menjadi

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor perikanan Indonesia dalam era perdagangan bebas mempunyai peluang yang cukup besar. Indonesia merupakan negara bahari yang sangat kaya dengan potensi perikananan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Tahun (Milyar rupiah)

I. PENDAHULUAN. Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Berdasarkan Harga Berlaku Tahun (Milyar rupiah) 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian dari mayoritas penduduknya. Sektor pertanian adalah salah satu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu faktor penggerak perekonomian dunia saat ini adalah minyak mentah. Kinerja dari harga minyak mentah dunia menjadi tolok ukur bagi kinerja perekonomian dunia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam kegiatan perekonomian di Indonesia, hal ini dapat dilihat dari kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adanya keterbukaan ekonomi yang semakin luas dari setiap negara di dunia, baik. financial openness). Keuntungan dari keterbukaan

BAB I PENDAHULUAN. adanya keterbukaan ekonomi yang semakin luas dari setiap negara di dunia, baik. financial openness). Keuntungan dari keterbukaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Arus globalisasi yang terjadi beberapa dasawarsa terakhir, menuntut adanya keterbukaan ekonomi yang semakin luas dari setiap negara di dunia, baik keterbukaan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA

PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA i BPS PROVINSI SUMATERA UTARA No. 14/03/12/Thn. XIX, 01 Maret PERKEMBANGAN EKSPOR DAN IMPOR SUMATERA UTARA I. PERKEMBANGAN EKSPOR EKSPOR SUMATERA UTARA BULAN JANUARI SEBESAR US$574,08 JUTA Nilai ekspor

Lebih terperinci

OUTLOOK KOMODITI JAHE

OUTLOOK KOMODITI JAHE ISSN 1907-1507 OUTLOOK KOMODITI JAHE 2014 OUTLOOK KOMODITI JAHE Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal - Kementerian Pertanian 2014 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian i 2014

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia menurut lapangan usaha pada tahun 2010 menunjukkan bahwa sektor

I. PENDAHULUAN. Indonesia menurut lapangan usaha pada tahun 2010 menunjukkan bahwa sektor 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian merupakan sektor strategis dalam pembangunan perekonomian nasional seperti dalam hal penyerapan tenaga kerja dan sumber pendapatan bagi masyarakat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting

I. PENDAHULUAN. Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor potensial yang memegang peranan penting dalam pembangunan Indonesia. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Jakarta, Juni 2013 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ir. M. Tassim Billah, MSc.

KATA PENGANTAR. Jakarta, Juni 2013 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ir. M. Tassim Billah, MSc. JUNI 2013 KATA PENGANTAR Dalam rangka menyediakan data indikator makro sektor pertanian serta hasil analisisnya, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian pada tahun 2013 kembali menerbitkan. Indikator

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Jakarta, September 2013 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ir. M. Tassim Billah, MSc.

KATA PENGANTAR. Jakarta, September 2013 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ir. M. Tassim Billah, MSc. SEPTEMBER 2013 KATA PENGANTAR Dalam rangka menyediakan data indikator makro sektor pertanian serta hasil analisisnya, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian pada tahun 2013 kembali menerbitkan Buletin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. angka tersebut adalah empat kali dari luas daratannya. Dengan luas daerah

BAB I PENDAHULUAN. angka tersebut adalah empat kali dari luas daratannya. Dengan luas daerah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki luas daerah perairan seluas 5.800.000 km2, dimana angka tersebut adalah empat kali dari luas daratannya. Dengan luas daerah perairan tersebut wajar

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan PDB Hortikultura Atas Dasar Harga Berlaku di Indonesia Tahun Kelompok

PENDAHULUAN. Tabel 1. Perkembangan PDB Hortikultura Atas Dasar Harga Berlaku di Indonesia Tahun Kelompok I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Hortikultura merupakan salah satu sektor pertanian unggulan yang memiliki beberapa peranan penting yaitu dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, peningkatan pendapatan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Jakarta, Juli 2013 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ir. M. Tassim Billah, MSc.

KATA PENGANTAR. Jakarta, Juli 2013 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ir. M. Tassim Billah, MSc. JULI 2013 KATA PENGANTAR Dalam rangka menyediakan data indikator makro sektor pertanian serta hasil analisisnya, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian pada tahun 2013 kembali menerbitkan Buletin Bulanan.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. negara yang saling membutuhkan satu sama lain. Kegiatan ini diperlukan oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. negara yang saling membutuhkan satu sama lain. Kegiatan ini diperlukan oleh BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perdagangan internasional merupakan kegiatan transaksi jual beli antar negara yang saling membutuhkan satu sama lain. Kegiatan ini diperlukan oleh setiap negara untuk

Lebih terperinci

DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014

DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014 DATA STATISTIK KETAHANAN PANGAN TAHUN 2014 BADAN KETAHANAN PANGAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2015 1 Perkembangan Produksi Komoditas Pangan Penting Tahun 2010 2014 Komoditas Produksi Pertahun Pertumbuhan Pertahun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang sangat beragam dan mayoritas penduduknya mempunyai mata pencaharian

I. PENDAHULUAN. yang sangat beragam dan mayoritas penduduknya mempunyai mata pencaharian 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang mempunyai kekayaan hayati yang sangat beragam dan mayoritas penduduknya mempunyai mata pencaharian dibidang pertanian. Sektor

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata saat ini telah menjadi salah satu motor penggerak ekonomi dunia terutama dalam penerimaan devisa negara melalui konsumsi yang dilakukan turis asing terhadap

Lebih terperinci

V GAMBARAN UMUM PERKEMBANGAN DAN IMPOR KEDELAI INDONESIA

V GAMBARAN UMUM PERKEMBANGAN DAN IMPOR KEDELAI INDONESIA V GAMBARAN UMUM PERKEMBANGAN DAN IMPOR KEDELAI INDONESIA 5.1. Sejarah Perkembangan Kedelai Indonesia Sejarah masuknya kacang kedelai ke Indonesia tidak diketahui dengan pasti namun kemungkinan besar dibawa

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Perdagangan internasional merupakan salah satu pendorong peningkatan perekonomian suatu negara. Perdagangan internasional, melalui kegiatan ekspor impor memberikan keuntungan

Lebih terperinci

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Sektor pertanian sampai sekarang masih tetap memegang peran penting dan strategis dalam perekonomian nasional. Peran

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki areal perkebunan yang luas.

I. PENDAHULUAN. Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki areal perkebunan yang luas. I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki areal perkebunan yang luas. Komoditas yang ditanami diantaranya kelapa sawit, karet, kopi, teh, kakao, dan komoditas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daya saing merupakan salah satu kriteria yang menentukan keberhasilan suatu negara di dalam perdagangan internasional. Dalam era perdagangan bebas saat ini, daya

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Jakarta, Oktober 2013 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ir. M. Tassim Billah, MSc.

KATA PENGANTAR. Jakarta, Oktober 2013 Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Ir. M. Tassim Billah, MSc. OKTOBER 2013 KATA PENGANTAR Dalam rangka menyediakan data indikator makro sektor pertanian serta hasil analisisnya, Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian pada tahun 2013 kembali menerbitkan Buletin

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tabel 1. Hortikultura

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tabel 1. Hortikultura I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang luas dan kaya akan komoditas pertanian serta sebagian besar penduduknya adalah petani. Sektor pertanian sangat tepat untuk dijadikan sebagai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. komoditi pertanian, menumbuhkan usaha kecil menengah dan koperasi serta

I. PENDAHULUAN. komoditi pertanian, menumbuhkan usaha kecil menengah dan koperasi serta 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pertanian di bidang pangan khususnya hortikultura pada saat ini ditujukan untuk memantapkan swasembada pangan, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan memperbaiki

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. oleh kelompok menengah yang mulai tumbuh, daya beli masyarakat yang

I. PENDAHULUAN. oleh kelompok menengah yang mulai tumbuh, daya beli masyarakat yang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 241 juta dengan ditandai oleh kelompok menengah yang mulai tumbuh, daya beli masyarakat yang meningkat dan stabilitas ekonomi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem ekonomi dari perekonomian tertutup menjadi perekonomian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Fenomensa globalisasi dalam bidang ekonomi mendorong perkembangan ekonomi yang semakin dinamis antar negara. Dengan adanya globalisasi, terjadi perubahan sistem ekonomi

Lebih terperinci