BAB V BATUAN SEDIMEN KARBONAT
|
|
|
- Hamdani Yuwono
- 9 tahun lalu
- Tontonan:
Transkripsi
1 BAB V BATUAN SEDIMEN KARBONAT V.1 PENGERTIAN BATUAN SEDIMEN KARBONAT Batuan karbonat didefinisikan sebagai batuan dengan kandungan material karbonat lebih dari 50 % yang tersusun atas partikel karbonat klastik yang tersemenkan atau karbonat kristalin hasil presipitasi langsung (Reijers & 1986). Bates & Jackson (1987) mendefinisikan batuan karbonat sebagai batuan yang komponen utamanya adalah mineral karbonat dengan berat keseluruhan lebih dari 50 %. Sedangkan batugamping, menurut definisi Reijers & Hsu (1986) adalah batuan yang mengandung kalsium karbonat hingga 95 %. Sehingga tidak semua batuan karbonat merupakan batugamping. V.2 KARAKTERISTIK KOMPONEN BATUAN KARBONAT MIKROFASIES Menurut Tucker (1991) komponen penyusun batugamping dibedakan atas non skeletal grain, skeletal grain, matrix, dan cement. 1). Non Skeletal Grain, terdiri dari : a. Ooid dan Pisolid Ooid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat atau elips yang mempunyai satu atau lebih struktur lamina yang konsentris dan mengelilingi inti. Inti penyusun biasanya partikel karbonat atau butiran kuarsa. Ooid memliki ukuran butir < 2 mm dan apabila memiliki ukuran > 2 mm disebut pisoid. Universitas Gadjah Mada 1
2 b. Peloid Peloid adalah butiran karbonat yang berbentuk bulat, elipsoid atau meruncing yang tersusun oleh micrite dan tanpa struktur internal Ukuran dari peloid antara 0,1-0,5 mm. c. Pellet Pellet merupakan partikel berukuran < 1mm berbentuk spheris atau elips dengan komposisi CaCO3. Secara genetic pellet merupakan kotoran dari organisme. d. Agregat dan Intraklas Agregat merupakan kumpulan dari beberapa macam butiran karbonat yang tersemen bersama-sama oleh semen mikrokristalin atau tergabung akibat material organik. Sedangkan intraklas ialah fragmen dari sedimen yang sudah terlitifikasi atau setengah terlitifikasi yang terjadi akibat pelepasan air lumpur pada daerah pasang surut/ tidal flat. 2). Skeletal Grain Merupakan butiran cangkang penyusun batuan karbonat yang terdiri dari seluruh mikrofosil, butiran fosil ataupun pecahan dari fosil-fosil makro. Cangkang ini merupakan allochem yang paling umum dijumpai dalam batugamping. 3). Lumpur Karbonat dan Micrite. Micrite adalah matriks yang biasanya berwarna gelap. Pada batugamping hadir sebagai butir yang sangat halus. Micrite memilliki ukuran butir kurang dari 4 um. Micrite dapat mengalamai alterasi dan dapat tergantikan oleh mosaik mikrospar yang kasar. Universitas Gadjah Mada 2
3 4). Semen Semen terdiri dari material halus yang menjadi pengikat antar butiran dan mengisi rongga pori yang terendapkan setelah fragmen dan matriks. Semen dapat berupa kalsit, silika, sulfat atau oksida besi. V.3. KLASIFIKASI BATUAN KARBONAT Dalam praktikum ini digunakan 4 macam klasifikasi yaitu klasifikasi untuk batugamping yaitu klasifikasi Dunham (1962) yang kemudian dikembangkan menjadi klasifikasi Embry & Kiovan (1971), klasifikasi Folk (1959) dan klasifikasi untuk batuan campuran silisiklastik-karbonat yaitu Klasifikasi Mount (1985). a. Klasifikasi Dunham (1962) dan Embry & Kiovan (1971) Klasifikasi Dunham (1962) dilasarkan pada tekstur deposisi dari batugamping. Karena menurut Dunham, dalam sayatan tipis, tekstur deposisional merupakan aspek yang tetap. Kriteria dasar dari tekstur deposisi yang diambil Dunham (1962) berbeda dengan Folk (1959). Dasar yang dipakai oleh Dunham untuk menentukan tingkat energi adalah fabrik batuan. Bila batuan bertekstur mud supported diinterpretasikan terbentuk pada energi rendah karena Dunham beranggapan lumpur karbonat hanya terbentuk pada lingkungan yang berarus tenang. Sebaliknya Dunham berpendapat bahwa batuan dengan fabrik grain supported terbentuk pada energi gelombang kuat sehingga hanya komponen butiran yang dapat mengendap. Batugamping dengan kandungan beberapa butir (< 10 %) di dalam matrikss Lumpur karbonat disebut mudstone, dan bila mudstone tersebut mengandung butiran tidak saling bersinggungan disebut wackestone. Lain halnya bila antar butirannya saling bersinggungan disebut packstone atau grainstone; packstone mempunyai tekstur grainsupported dan biasanya memiliki matriks mud. Dunham memakai istilah boundstone untuk batugamping dengan fabrik yang mengindikasikan asal-usul komponenkomponennya yang direkatkan bersama selama proses deposisi (misalnya : pengendapan lingkungan terumbu). Dalam hal ini boundstone ekuivalen dengan istilah biolithite dari Folk. Klasifikasi Dunham (1962) memiliki kemudahan dan kesulitan. Kemudahannya adalah tidak perjunya menentukan jenis butiran dengan detail karena tidak menentukan dasar nama batuan. Kesulitan adalah di dalam sayatan petrografi, fabrik yang menjadi dasar klasifikasi kadang tidak selalu terlihat jelas karena di dalam sayatan hanya memberi kenampakan dua dimensi, oleh karena itu harus dibayangkan bagaimana bentuk amensi batuannya agar tidak salalj dalam penafsirannya. Universitas Gadjah Mada 3
4 Embry dan Klovan (1971) mengembangkan klasifikasi Dunham (1962 dengan membagi batugamping menjadi dua kelompok besar yaitu autochtonous limestone dan allochtonous limestone berupa batugamping yang komponen-komponen penyusunnya tidak terikat secara organis selama proses deposisi. Pembagian allochtonous dan autochtonous limestone oleh Embry dan Klovan (1971) telah dilakukan oleh Dunham (1%2) hanya saja tidak terperinci. Dunham hanya memakainya sebagai dasar penglasifikasiannya saja antara batugamping yang tidak terikat (packstone, mudstone, wackestone, grainstone) dan terikat (boundstone) ditegaskan. Sedangkan Embry dan Klovan (1971) membagi lagi boundstone menjadi tiga kelompok yaitu framestone, bindstone,dan bafflestone, berdasarkan atas komponen utama terumbu yang berfungsi sebagai perangkap sedimen. Selain itu juga ditambahkan nama kelompok batuan yang mengandung komponen berukuran lebih besar dari 2 cm > 10 %. Nama yang mereka berikan adalah rudstone untuk component-supported dan floatstone untuk matrix supported. Klasifikasi Embry & Klovan (1971) dapat dilihat pada Gambar V.1. Tabel V. 1. Klasifikasi Embry & Klovan (Reijers & Hsu, 1986) Kelebihan yang lain dari klasifikasi Dunham (1%2) adalah dapat dipakai untuk menentukan tingkat diagenesis karena apabila sparit dideskripsi maka hal ini bertujuan untuk menentukan tingkat diagenesis. Universitas Gadjah Mada 4
5 b. Klasifikasi Folk (1959) Dasar klasifikasi Folk (1959) yang dipakai dalam membuat klasifikasi ini adalah bahwa proses pengendapan pada batuan karbonat sebanding dengan batupasir, begitu juga dengan komponen-komponen penyusun batuannya, yaitu : a. Allochem Analog dengan pasir atau gravel pada batupasir. Ada empat macam allochem yang umum dijumpai yaitu intraklas, oolit, fosil dan pellet b. Microcrystalline calcite ooze Analog dengan matrik pada batupasir. Disebut juga micrite (mikrit) yang tersusun oleh butiran berukuran 1-4 pm. c. Sparry calcite (sparit) Analog sebagai semen. Pada umumnya dibedakan dengan mikrit karena kenampakannya yang sangat jernih. Merupakan pengisi rongga antar pori. Universitas Gadjah Mada 5
6 Tabel V. 3. Klasifikasi Mount (1985) c. Klasifikasi Mount (1985) Klasifikasi Mount (1985) merupakan klasifikasi deskriptif. Menurutnya sedimen campuran memiliki empat komponen : (1) Silisiclastic sand (kuarsa, feldspar yang berukuran pasir), (2) Mud campuran silt dan clay), (3) Allochem butiran karbonat seperti pelloid, ooid, bioklas, dan intraldas yang berukuran >20 μm), dan lumpur karbonat atau mikrit (berukuran <20 μm). Komponen-komponen tersebut suatu tetrahedral yang memiliki pembagian delapan kelas umum dari sedimen campuran. Nama-nama tiap kelas menggambarkan baik tipe butir dominan maupun komponen antitetik yang melimpah sebagai contoh : batuan yang mengandung material silisiklastik >50 % berukuran pasir dengan sedikit allochem maka disebut allochemical sandstone. Diagram klasifikasi Mount (1985) dapat dilihat pada Gambar V. 3. Universitas Gadjah Mada 6
7 Tabel V. 4. Klasifikasi Mount untuk penamaan batuan campuran silisiklastik- karbonat (Mount,1985) V.4. TIPE-TIPE POROSITAS/PERMEABILITAS Ada beberapa ahli geologi yang mencoba memberikan klasifikasi mengenai tipe-tipe porositas tersebut. Salah satu di antaranya adalah Choquette & Pray (1970) dalam Reeckmann & Sanders (1981). Klasifikasi ini mencoba menghubungkan ukuran pori, bentuk dengan kemas dari batuan tersebut. Adapun klasifikasi dari Choquette & Pray (1970) adalah sebagai berikut : 1. Porositas pada batuan karbonat, sepenuhnya dikontrol oleh kemas batuan yang disebut sebagai fabric selective dan dibagi menjadi: a. Interparticle : Bisa termasuk dalam porositas primer yaitu merupakan pori - pori yang terdapat di antara partikel atau intergranular, dan biasanya tidak mengalami sementasi Porositas ini bervariasi tergantung pada sortasi, kemas, dan ukuran butiran. b. Intraparticle : Pori-pori yang terdapat di dalam butiran, bisa terbentuk sebagai porositas primer atau bisa terbentuk pada awal diagenesis, oleh proses yang dikenal sebagai maceration, dimana material organik yang ada, dibusukkan di antara skeletal. Jenis porositas ini juga bisa disebabkan oleh proses perpindahan dari interior butiran yang tidak terlalu mengalami kalsitifikasi. Melalui proses ini tertinggal bagian cortex-nya raja. c. Intercrystalline : Merupakan pori-pori yang terdapat diantara kristal-kristal yang relatif sama ukurannya, yang tumbuh karena adanya proses rekristalisasi atau dolomitisasi.. d. Mouldic : Suatu rongga yang terbentuk karena proses pelarutan fragmen dalam batuan. Porositas ini termasuk porositas sekunder dan termasuk dalam fabric selective. Untuk Universitas Gadjah Mada 7
8 membentuk tipe porositas ini, dibutuhkan perbedaan tingkat kelarutan antara butiran dan struktur yang ada. Terbentuk dalam batuan monomineralik berhubungan dengan perbedaan kristalinitas, ukuran kristal, inklusi organik, porositas primer dan lain-lain. e. Fenestral : Merupakan variasi dari interparticle porosity yang terbentuk pada lingkungan yang khusus, seperti supratidal levee. Terbentuk sebagai akibat hilangnya beberapa butir pembentuk batuan sehingga terbentuk rongga-rongga yang besar. f. Shelter : Merupakan variasi dari interparticle porosity, dimana adanya butiran yang berbentuk lempeng, menjadi semacam payung bagi area di bawahnya, untuk melindungi dari pengisian sedimen yang mengendap. g. Growth framework : Pertumbuhan kerangka seperti kerangka koral, yang mengakibatkan rongga yang diisi oleh koral, menjadi terbuka. 2. Porositas batuan karbonat tersebut tidak dipengaruhi atau dikontrol oleh kemas (fabric) batuan, disebut sebagai not fabric selective, yaitu porositas: a. Fracture : Rongga yang berbentuk rekahan, yang terbentuk akibat adanya tekanan luar, dan biasanya terjadi setelah pengendapan, serta berasosiasi dengan proses perlipatan, pensesaran ataupun salt doming. Terjadi pada batuan karbonat yang relatif brittle, biasanya homogen, seperti kapur dan dolomit. b. Channel : Saluran antar rongga yang terbentuk akibat pelarutan. c. Vug Lubang yang terbentuk sebagai akibat proses pelarutan, seperti gerowong. d. Cavern : Pelarutan lubang yang bisa membesar, sehingga dapat dimasuki manusia. Universitas Gadjah Mada 8
9 3. Porositas batuan karbonat yang dapat bersifat sebagai kedua-duanya, disebut sebagai fabric selective or not. Tipe porositas ini antara lain : Breccia : Terbentuk karena adanya proses retakan yang menyebabkan batuan hancur menjadi bongkah-bongkah kecil dan terbentuklah pori-pori yang berada di antaranya. Boring : Pori-pori yang terbentuk karena adanya aktivitas pemboran oleh organisme. Burrow : Porositas yang terbentuk karena penggalian organisme. Shrinkage : Penciutan, dimana sedimen yang telah diendapkan, menjadi kering dan menciut, sehingga terjadi rekahan-rekahan yang dapat menimbulkan pori. V.5. DIAGENESA BATUAN KARBONAT a. Lingkungan Diagenesis Diagenesis di bawah air laut : laut dangkal, bagian laut dalam Meteoric diagenesisfreskwater diagenesis : diatas muka air tanah, di bawah muka air tanah Universitas Gadjah Mada 9
10 b. Lingkup dan proses diagenesis Lingkup diagenesis : pengisian pori, lithifikasi, neomorphisme dan pelarutan Proses diagenesis 1. Pengisian pori dengan mikrit/lumpur karbonat 2. Mikritisasioleh gangpng 3. Pelarutan 4. Sementasi 5. Polimorfisme 6. Rekristaliasi 7. Pengubahan/penggantian 8. Dolomitisasi 9. Slisifikasi Sementasi : proses perekatan antar butir batuan akibat adanya proses pelarutan dan pembatuan V.6. TEKSTUR BATUAN SEDIMEN KARBONAT Pada umumnya batuan terdiri dari mineral - mineral authigenic. Batuan memperlihatkan gejala diagenesa pada tekanan (P) dan temperatur (T) tertentu, maka porositas batuan menjadi sangat rendah atau hilang. Batuan karbonat dicirikan oleh porositas yang rendah dan ditandai oleh tekstur mozaic. Contoh : batugamping Terdiri dari kristal - kristal kalsit dan tdak memperlihatkan porositas / porositas rendah. Butiran - butiran kalsit dapat berupa polygon - polygon atau bergerigi. Butitan kalsit yang bergerigi menunjukkan adanya rekristalisasi yang terjadi pada saat diagenesa. Sebelum rekristalisasi, ada pori sehingga menjadi ada porositas. Pada non klastik kadang - kadang ada butiran - butiran yang amorf : o Kalsedon Sebagai semen o Opal Ciri yang penting pada batuan karbonat, butiran - butiran yang mula - mula halus, pada diagenesa akan menjadi bertambah besar. Ada 3 unsur tekstur : Butiran (grain) Butiran klastik (yang tertransport), disebut sebagai fragmen Massa dasar (matrix) Lebih halus dari butiran/fragmen, diendapkan bersama-sama dengan fragmen Universitas Gadjah Mada 10
11 Semen (cement) Berukuran halus, merekat butiran/fragmen dan matriks : diendapkan kemudian (setelah fragmen dan massa dasar) Sorting/ pemilahan Sorting baik Besar butir merata (matriks hanya sedikit/tidak ada) Sorting buruk Besar butir tak merata dan matriks cukup banyak Rounding/Kebundaran Merupakan sifat permukaan dari pada butiran Disebabkan oleh pengaruh transport terhadap butiran yang akibatnya menjadi butiran membundar Terbagi atas : Angular (menyudut) Sub angular (menyudut tanggung) Sub rounded (membulat tanggung) Rounded (bulat) Well rounded (sangat bulat) V.7. FAMILI BATUGAMPING Ada tiga tipe famili batugamping, yaitu: 1. Sparry allochemical rocics/mud-free allochems Batugamping tipe ini merupakan batugamping yang tersaring dan identik dengan konglomerat dan batupasir yang well rounded dan pada umumnya terbentuk pada kondisi pengendapan yang dipengaruhi oleh arus yang mempunyai tenaga yang penuh. Daerah pengendapanseperti itu misalnya daerah pantai, bar ataupun daerah submarin yang dangkal. Tapi biarpun demikian dapat juga sparry allochemical rocks terbentuk pada lingkungan dengan arus yang lebih lemah. 2. Microcrystalline allochemical rocks Batugamping tipe ini identik dengan batupasir lempungan ataupun konglomerat dan terbentuk pada lingkungan pengendapan yang dipengaruhi oleh arus yang tidak begitu kuat dan begitu cepat. Universitas Gadjah Mada 11
12 3. Microcrystalline rocks Batugamping tipe ini identik dengan batulempung dan terbentuk pada lingkungan yang tidak dipengaruhi oleh arus yang kuat. Daerah pengendapannya pada laut amat dangkal, dengan laguna yang terlindunglereng yang landai dan terendam serta mempunyai tingkat kedalaman yang sedang. Disamping pada daerah-daerah tersebut diatas Microcrystalline rocks dapat juga terbentuk di dalam daerah lepas pantai yang lebih dalam dari daerah-daerah diatas. Dari semua partikel alkimia, intraklast adalah paling penting karena terbentuk di air dangkal, dibawah garis gelombang, atau mencirikan kemungkinan adanya pengangkatan tektonik. Akan tetapi tidaklah dapat dipungkiri bahwa satuhal dapat terjadi diantara banyak kemungkinan yang merupakan suatu kelainan. Kelainan-kelainan tersebut misalnya, mikrit dapat terbentuk di dalam zone energi yang tinggi jika lumpur karbonat tersebut terperangkap oleh algae yang kotor (penuh lumpur) dan diangkut dengan keras oleh gelombang. Sedangkan sparit mungkin saja terjadi pada suatu lingkungan air yang tenang apabila disitu terjadi suatu akumulasi fragmen-fragmen fossil, dan zat kimia yang terdapat pada lingkungan tersebut tidak bercampur dengan lumpur karbonat. Sparit tersebut dapat terbentuk oleh pretipitasi kimiawi ataupun oleh peristiwa abrasi dalam lingkungan yang tenang tersebut. Mikrit atau diamikrit adalah analog dengan lempung/serpih yang terbentuk di tengahtengah dari sebagian besar laguna ataupun terentuk di dalam air laut lepas pantai. Batuan yang tersaring dari lumpur karbonat ataupun tersaring dari alokimia merupakan transisi biomikrit ke biosparit dan identik dengan immature sandstone. Batuan tersebut dapat terbentuk apabila gelombang atau arus tidak begitu kuat. Bila kegiatan arus tersebut berlangsung dengan sporadic maka semua mikrit tidak akan dapat dikikis ataupun diangkut. Biosparite, intrasparite dan sebagainya adalah identik dengan super mature sandstone. Satu hal yang dipandang penting di dalam pembagian lingkungan pengendapan batugamping adalah adanya matriks lumpur gampingan dan semen sparry calsite yang diakibatkan oleh adanya pembagian antara kegiatan gelombang dan anus. Arus turbulen akan mempercepat proses pencucian lumpur gampingan dan lumpur gampingan tersebut kemudian bercampur satu sama lain hingga menjadi suatu suspensi lumpur karbonat. Suspensi lumpur karbonat tersebut kemudian diangkut ke dalam zone energi rendah. Proses tersebut merupakan garis pemisah antara tingkat mature dan sub mature dalam batupasir dan antara mikrit dan sparit dalam klasifikasi pertama Folk (1959). Universitas Gadjah Mada 12
13 Derajat sortasi/ pemilahan Derajat sortasi untuk pertama kalinya ditulis oleh Dunham, R.J. dan seperti halnya dalam batupasir derajat sortasi dalam batugamping merupakan fungsi dari mean grain size. Sebagai contolt, bila semua material alokirnia terdiri dari fossil, sehingga hanya mempuyai satu sifat saja, maka sortasinya akan bagus. Derajat sortasi tersebut tet4p bagus walaupun pengaruh anus kuat, karena ukuran dart binatang-binatang tersebut tidak dapat dipisahpisahkan satu sama lain dalam arti kata lain mempunyai ukuran yang mendekati seragam. Penyaringan, pemilahan dan pembundaran dalam karbonat Penyaringan dari matriks lumpur karbonat terjadi pada tingkat energi yang rendah karena lumpur karbonat mempunyai diameter yang begitu sangat halusnya dan mempunyai sifat mudah diangkut atau dipindahkan ke tempat lain. Batuan yang yang di dalam proses pembentukkannya tidak mengalami penyaringan (winnowing) akan tercirikan oleh melimpahnya kandungan lumpur karbonat (seperti biomikrit), pada umumnya mempunyai indikasi diendapkan pada lingkungan dengan energi yang rendah. Universitas Gadjah Mada 13
14 Gambar V. 1. Allochemical Limestones a. Foraminiferal biomicrite (Eocene), Italy. Diam. 3 mm. Abundant foraminifers in a matrix of microcrystalline calcite (stippled). Orbitoids predominate, but a variety of other forms is included. b. Gastropod biomicrite (Miocene), Ulm, Germany. Diam. 3 mm. Fresh-water limestone containing abundant whole and broken Planorbis shells. Matrixes turbid microcrystalline calcite (dark stippling) containing patches of clear coarser calcite. Larger shells were partly filled with carbonate mud at the time of deposition. Voids remaining within shells, and also cavities under shell fragments, were later filled with coarser spar as a result of authigenic precipitation. The filling within several shells is an example of geopetal structure; contact between microcrystalline calcite and sparry calcite within shells is the bedding surface and is shown right side up. c. Trilobite sparite (Silurian), Asker, Norway. Diam. 3 mm. Very abundant carapaces of the trilobite Olenus enclosed in sparry calcite cement in which crudely columnar crystals stand approximately normal to the shell surfaces. Universitas Gadjah Mada 14
15 Gambar V. 2. Allochemical Limestones A. Biomicrite, Twin Creek Limestone (Jurassic), near Jackson, Wyoming. Diam. 2.7 mm. Poorly sorted, ragged organic fragments enclosed in a matrix of calcite mud (stippled). Most larger fragments are fibrous calcite and may be bits of brachiopod or of certain molluscan shells; two coarse calcite fragments are bits of echinoids. Ragged, disoriented character of the organic fragments suggests bioturbation. B. Crinoidal limestone, Trenton Limestone (Ordovician). Trenton Falls, New York. Diam. 3 mm. Medium-grained limestone composed of tightly interlocking crinoid fragments. Pressure solution along grain boundaries has produced microstylolites between the grains. One phosphate shell fragment in lower part of diagram. C. Cephalopod biomicrite (Silurian), Chuohle, Bohemia. Diam. 4 mm. Casts of the nautiloid cephalopod Otthoceras (circular cross-sections) composed of medium-grained sparry calcite are embedded in a matrix of microcrystalline calcite and small shell fragments. Absence of any trace of shell in the large casts suggests that the original shells were removed by solution and the resulting molds later filled with calcite spar, Universitas Gadjah Mada 15
16 Garnbar V. 3. Oolitic Limestones A. Pleistocene ooids. Great Salt Lake, Utah. Diam. 3 mm. Ooids consist of sub-angular detrital quartz grains enclosed by aragonite having both concentric and radial fibrous structure. Incipient cement. B. Oomicrite, Volksen, Deister Mountains, Germany. Diam. 3 mrp. Loosely packed ooids consist of nudei encased by microcrystalline calcite (dark stippling); nuclei are shell fragments, some of which have been recrystallized to calcite mosaics. Ooids occur in a micrite matrix that has been partially recrystallized; note patches of neomorphic microspar and fine-grained spar. The allochems are called ooids, because nuclei are visible and also because vague relics of concentric structure are visible in some (not illustrated); they have probably been micritized. C. Composite ooids (Pleistocene), Pyramid Lake, Nevada. Diam. 6 mm. Large ooids consisting of microcrystalline (stippled) and radial fibrous (dear) concentric layers. Nuclei are fragments of broken colds, clusters of tiny ooids (right and center), and bits of granular carbonate (lower right). Incipient cementation as in A. Universitas Gadjah Mada 16
17 Gambar V. 4. Oolitic Limestones A. Oolitic biosparite (Jurassic), Bath, England. Diam. 2.5 mm. Radial fibrous calcite ooids (upper right), microgranular calcite pellets (heavily stippled, at bottom), and abraded shell fragments, all cemented with fine-grained calcite. Cement fabric consists of bladed calcite crystals rimming each carbonate fragment, with coarse calcite crystals (lightly stippled, near bottom) occupying the centers of original pores. Some shell fragments are original fibrous calcite; some are abraded single crystals, probably from echinoids (right and left); some are recrystallized granular calcite and were probably aragonite originally. Micrite envelopes on most allochems. B. Recent ooids, coast of southern Florida. Diam. 2.5 mm. Dark microcrystalline ooids having distinct concentric structure. Nuclei are microcrystalline pellets; concentric carbonate is aragonite. Partly cemented with fine-grained calcite, which probably formed in the vadose environment. Remaining pores are blank. C. Oosparite, St. Louis Limestone (Mississippian), Bowling Green, Kentucky. Diam. 2.5 mm. Ooids consisting of radial fibrous calcite, but with distinct concentric banding, tightly packed and firmly cemented by fine-grained clear calcite. Nuclei in ooids are mostly microcrystalline calcite pellets, but a few appear organic (right edge and lower right). Compare the looser packing in B. Universitas Gadjah Mada 17
18 Gambar V. 5..Dolomitized Limestones A. Dolomitized Devonian coral. Bear River Range, northern Utah. Diam. 8 mm. Limestone matrix and septa of coral replaced by very fine-grained dolomite; coarser dolomite has filled in between septa in coral; dolomite euhedra near the center are enclosed in a single large calcite crystal. B. Dolomitized crinoidal limestone (Silurian), Niagara River, \New York. Diam. 6 mm. Coarse calcite crystals (stippled) are remnants of crinoid plates and stem segments enclosed and marginally replaced by a fine-grained mosaic of subhedral dolomite crystals. C. Dolomitized Devonian coral {Cyathophyllum}, Eifel, Germany. Diam. 3 mm. Coral structure cut longitudinally. Septa consist of cross-oriented prismatic dolomite; dolomite mosaic between septa is composed of interlocking larger anhedral grains, generally elongated parallel to septa. Universitas Gadjah Mada 18
19 Gambar V. 6. Dolomites A. Lone Mountain Dolomite (Silurian), 3000 m below surface, near Eureka, Nevada. Diam. 2.5 mm. Mosaic of dolomite anhedra, not visibly different from some recrystallized calcite mosaics. B. Glauconitic Bonneterre Dolomite (Cambrian), near St. Louis, Missouri. Diam. 2.5 mm. Inequigranular dolomite mosaic, with patches of microcrystalline glauconite between dolomite grains. Local ferric oxide (black), Compare pellet form of glauconite (stippled) in C. Relict ovoid in large dolomite grain at right may be organic. The rock contains some detrital quartz grains (not shown in this field) and is perhaps a dolomitized glauconitic calcarenite. C. Sandy glauconitic dolomite (Cambrian, Sawatch Formation), Ute Pass, El l'aso County, Colorado. Subrounded quartz grains and glauconite pellets Healing in a dolomite mosaic; probably a dolomitized calcarenite. Compare the non-porous mosaic of anhedral dolomite grains at the bottom with porous aggregate of dolomite rhombs in upper part of figure. Local ferric oxide stain (black). Universitas Gadjah Mada 19
20 Gambar V. 7. Cherts A. Cherty portion of Madison Limestone (Mississippian), Bear River Range, northern Utah. Diam. 2.5 mm. Dolomite rhombohedra and detrital quartz sporadic grains (blank and irregular) set in a matrix of microcrystalline quartz. Chert bands like that in center parallel the bedding and alternate with others, like that at bottom, composed almost entirely of dolomite. Opaque lamina in dolomite is probably organic material. Secondary veinlet of chalcedony. B. Foraminiferal chert (Upper Miocene, McLure Formation), Reef Ridge, California. Diam. 2 mm. In lower half, well-preserved calcite tests, infilled partly with coarse calcite (two cleavages) and partly with chalcedony (blank), are set in a matrix of opal (stippled). In upper half, matrix is dear chalcedony (blank), and calcite tests (without distinct outlines) have been largely replaced by chalcedony. C. Chert in Helderberg Limestone (Devonian), Genesee County, New York. Diam. 2.5 mm. An irregular patch of uniformly oriented calcite (dark stippling plus cleavage) is enclosed and seemingly replaced by microcrystalline quartz (light stippling). Dolomite euhedra, some of which are zoned, are scattered through both chert and calcite. Universitas Gadjah Mada 20
21 Gambar V. 8. Ironstones A. Frodingham Ironstone (Lias), Scunthrope, Lincolnshire, England. Diam. 2 mm. Ovoid limonite ooids in a shelly limestone. Ooids are brown, concentrically banded, and translucent in thin section. The matrix is finely granular calcite, containing a variety of abraded shell fragments, some of which are granular and some fibrous. Cavities in three shell fragments (center and lower part) are filled with green chamosite (stippled). B. Northampton Sand Ironstone (Lias), Corby, Northamptonshire, England. Diam. 2 mm. Sideritic limestone containing numerous chamosite ooids (stippled lightly) and also shell fragments and grains of detrital quartz (blank). One odd has quartz nucleus. An abraded phosphate shell fragment (stippled) in lower center, two fibrous shell fragments marginally replaced by siderite. C. Northampton Sand Ironstone (Lias), Irthlingborough, Northamptonshire, England. Diam. 2 mm. Chamosite ooids in a matrix of chamosite mud. Both matrix and ooids partly replaced by patches of granular siderite. Universitas Gadjah Mada 21
PETROGRAFI BATUAN KARBONAT
PETROGRAFI BATUAN KARBONAT I. PENDAHULUAN Batuan karbonat merupakan batuan yang tersusun dari mineral-mineral garam karbonat yang terbentuk secara kimiawi dalam bentuk larutan, dimana organisme perairan
01.Pendahuluan Petrologi Batuan Karbonat
http://disbudparkbb.id/images/potensi/citatah2.jpg 01.Pendahuluan Petrologi Batuan Karbonat Kerangka Materi Pengertian Batuan Karbonat Manfaat dan Hubungan dengan ilmu geologi yang lain Klasifikasi batuan
BAB. I PENDAHULUAN. I.1. Latar belakang
BAB. I PENDAHULUAN I.1. Latar belakang Batuan karbonat adalah semua batuan yang terdiri dari garam karbonat, dalam hal ini CaCO 3 dan MgCO 3. Batuan karbonat memiliki keistimewaan dalam cara terbentuknya,
LABORATORIUM GEOLOGI OPTIK DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA
LABORATORIUM GEOLOGI OPTIK DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA PRAKTIKUM PETROGRAFI BORANG MATERI ACARA VII: PETROGRAFI BATUAN SEDIMEN KARBONAT Asisten Acara: 1 2 3 4 Nama
LABORATORIUM GEOLOGI OPTIK DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA
LABORATORIUM GEOLOGI OPTIK DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA PRAKTIKUM PETROGRAFI BORANG MATERI ACARA IV: PETROGRAFI BATUAN SEDIMEN SILISIKLASTIK Asisten Acara: 1. 2. 3.
Foto 32. Singkapan batugamping fasies foraminifera packestone yang berlapis.
besar Lepidocyclina spp., Amphistegina spp., Cycloclypeus spp., sedikit alga, porositas buruk berupa interpartikel, intrapartikel dan moldic, berlapis baik. Pada sayatan tipis (Lampiran A-5: analisis petrografi)
KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS HALU OLEO FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS HALU OLEO FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN JURUSAN TEKNIK GEOLOGI TUGAS BATUAN KARBONAT Makalah Batuan Karbonat Di Susun Oleh : WA ODE SUWARDI
Besar butir adalah ukuran (diameter dari fragmen batuan). Skala pembatasan yang dipakai adalah skala Wentworth
3. Batuan Sedimen 3.1 Kejadian Batuan Sedimen Batuan sedimen terbentuk dari bahan yang pernah lepas dan bahan terlarut hasil dari proses mekanis dan kimia dari batuan yang telah ada sebelumnya, dari cangkang
4.4.1 Proses dan Produk Diagenesa Proses Mikritisasi Mikrobial
terangkat ke permukaan. Iklim juga memegang peranan penting dalam proses diagenesa. Pada iklim kering, sementasi di lingkungan air tawar kemungkinan akan terbatas dari porositas primer akan terawetkan.
BAB V DIAGENESIS BATUGAMPING FORMASI CIMAPAG
BAB V DIAGENESIS BATUGAMPING FORMASI CIMAPAG 5.1 Metode Penelitian Analisis data dilakukan berdasarkan pengamatan lapangan dan pendekatan petrografi menggunakan mikroskop polarisasi terhadap 27 sampel
Gambar 1. Chert dalam Ukuran Hand Spicemen. Gambar 2. Chert yang terlipat. Gambar 3. Bedded Chert dan Sayatan Radiolarian Chert
Chert Dasar Penamaan (Klasifikasi) Chert Chert adalah penamaan umum yang digunakan untuk batuan siliceous sebagai sebuah kelompok (grup), namun ada yang mengaplikasikannya untuk tipe spesifik dari chert
BAB V FASIES BATUGAMPING DAERAH PENELITIAN
BAB V FASIES BATUGAMPING DAERAH PENELITIAN Fasies adalah suatu tubuh batuan yang dicirikan oleh kombinasi ciri litologi, ciri fisik dan biologi yang membedakannya dengan tubuh batuan yang berdekatan (Walker,
BAB IV DISTRIBUSI FASIES BATUGAMPING
BAB IV DISTRIBUSI FASIES BATUGAMPING IV.1 Pendahuluan Batuan Karbonat Klastik Terrigenous Sedimen yang global dan tak terbatas dengan iklim. Suplai sedimen berasal dari kontinen dan laut. Ukuran dari butiran
BAB IV TEORI DASAR DIAGENESIS KARBONAT
BAB IV TEORI DASAR DIAGENESIS KARBONAT 4.1 Tinjauan Umum Diagenesis meliputi perubahan fisik atau kimia suatu sedimen atau batuan sedimen yang terjadi setelah pengendapan (tidak termasuk proses-proses
BAB IV FASIES BATUGAMPING FORMASI TENDEH HANTU
BAB IV FASIES BATUGAMPING FORMASI TENDEH HANTU 4.1 Pendahuluan Batuan Karbonat adalah batuan sedimen yang terdiri dari garam karbonat. Dalam prakteknya adalah gamping (limestone) dan dolomit (Koesoemadinata,
BAB IV FASIES BATUGAMPING GUNUNG SEKERAT
BAB IV FASIES BATUGAMPING GUNUNG SEKERAT Satuan batugamping Gunung Sekerat tersingkap dengan baik, dengan penyebaran kurang lebih 10% dari luas daerah penelitian, dalam Peta Geologi (Lampiran G-3) satuan
BAB IV DIAGENESIS BATUGAMPING
BAB IV DIAGENESIS BATUGAMPING 4.1 Diagenesis Batugamping Diagenesis merupakan proses yang terjadi setelah proses sedimentasi pada suatu batuan meliputi proses kimiawi maupun fisika, namun perubahan ini
// - Nikol X - Nikol 1mm
Sampel lain yang mewakili mikrofasies ini adalah D 34 D, merupakan batugamping packstone, klastik, terpilah buruk, kemas terbuka, disusun oleh butiran (50%), terdiri dari fragmen fosil berupa alga, foraminifera
BAB IV DIAGENESIS BATUGAMPING FORMASI BULU
BAB IV DIAGENESIS BATUGAMPING FORMASI BULU 4.1 TINJAUAN UMUM Diagenesis merupakan perubahan fisik atau kimia suatu sedimen atau batuan sedimen yang terjadi setelah pengendapan, tidak termasuk proses-proses
Mikrofasies dan Diagenesa Batugamping Formasi Klapanunggal Daerah Cileungsi, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.
Mikrofasies dan Diagenesa Batugamping Formasi Klapanunggal Daerah Cileungsi, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Reghina Karyadi 1) Abdurrokhim 1) Lili Fauzielly 1) Program Studi
BAB IV ASOSIASI FASIES DAN PEMBAHASAN
BAB IV ASOSIASI FASIES DAN PEMBAHASAN 4.1 Litofasies Menurut Walker dan James pada 1992, litofasies adalah suatu rekaman stratigrafi pada batuan sedimen yang menunjukkan karakteristik fisika, kimia, dan
BAB III Perolehan dan Analisis Data
BAB III Perolehan dan Analisis Data BAB III PEROLEHAN DAN ANALISIS DATA Lokasi penelitian, pada Peta Geologi Lembar Cianjur skala 1 : 100.000, terletak di Formasi Rajamandala. Penelitian lapangan berupa
Geologi dan Studi Fasies Karbonat Gunung Sekerat, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Nodul siderite Laminasi sejajar A B Foto 11. (A) Nodul siderite dan (B) struktur sedimen laminasi sejajar pada Satuan Batulempung Bernodul. 3.3.1.3. Umur, Lingkungan dan Mekanisme Pengendapan Berdasarkan
Terbentuknya Batuan Sedimen
Partikel Sedimen Terbentuknya Batuan Sedimen Proses terbentuknya batuan sedimen dari batuan yang telah ada sebelumnya. Material yang berasal dari proses pelapukan kimiawi dan mekanis, ditransportasikan
BAB IV FASIES BATUGAMPING DAERAH PENELITIAN
BAB IV FASIES BATUGAMPING DAERAH PENELITIAN Menurut Fahrudi (2004), lingkungan pengendapan dari hasil analisis fasies batugamping meliputi Reef Slope, Reef Framework, dan Proximal Talus. Fahrudi (2004)
BAB I PENDAHULUAN. Menggambarkan diagenesa batuan sedimen. Memberikan nama batuan sedimen berdasarkan klasifikasi After Dott (1964).
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Maksud Mengetahui komposisi penyusun batuan sedimen secara mikroskopis. Menggambarkan diagenesa batuan sedimen. Memberikan nama batuan sedimen berdasarkan klasifikasi After Dott (1964).
: Batugamping Kalsilutit-Batulempung : Mudstone (Dunham, 1962)/Batugamping Kalsilutit
: 09AS117 : Batugamping Kalsilutit-Batulempung : Mudstone (Dunham, 1962)/Batugamping Kalsilutit Sayatan batugamping Mudstone, butiran 8%) terdiri dari komponen cangkang biota (85%) berupa foraminifera
HUBUNGAN ANTARA EVOLUSI POROSITAS DENGAN KARAKTERISTIK DIAGENESIS FORMASI WONOSARI DI KECAMATAN PONJONG, KABUPATEN GUNUNG KIDUL, PROVINSI DIY
Abstrak HUBUNGAN ANTARA EVOLUSI POROSITAS DENGAN KARAKTERISTIK DIAGENESIS FORMASI WONOSARI DI KECAMATAN PONJONG, KABUPATEN GUNUNG KIDUL, PROVINSI DIY Muhamad Rizki Asy ari 1*, Sarju Winardi 1 1 Jurusan
Tekstur dan Struktur Pada Batuan Sedimen
Tekstur dan Struktur Pada Batuan Sedimen Tekstur Batuan Sedimen a. Ukuran butir Dalam pemerian ukuran butir digunakan pedoman ukuran dari Skala Wentworth yaitu b. Sortasi atau Derajat Pemilahan Derajat
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN III.1 GEOMORFOLOGI III.1.1 Morfologi Daerah Penelitian Morfologi yang ada pada daerah penelitian dipengaruhi oleh proses endogen dan proses eksogen. Proses endogen merupakan
BAB IV STUDI BATUPASIR NGRAYONG
BAB IV STUDI BATUPASIR NGRAYONG 4. 1 Latar Belakang Studi Ngrayong merupakan Formasi pada Cekungan Jawa Timur yang masih mengundang perdebatan di kalangan ahli geologi. Perdebatan tersebut menyangkut lingkungan
Batuan Karbonat adalah batuan yang tersusun dari mineral karbonat, yang terutama batugamping dan dolomit yang berpotensi sebagai reservoar.
Ringkasan Batuan Karbonat Batuan Karbonat adalah batuan yang tersusun dari mineral karbonat, yang terutama batugamping dan dolomit yang berpotensi sebagai reservoar. Jenis-jenis mineral karbonat, yaitu:
Ciri Litologi
Kedudukan perlapisan umum satuan ini berarah barat laut-tenggara dengan kemiringan berkisar antara 60 o hingga 84 o (Lampiran F. Peta Lintasan). Satuan batuan ini diperkirakan mengalami proses deformasi
BAB V FASIES BATUGAMPING DAERAH GUNUNG KROMONG
BAB V FASIES BATUGAMPING DAERAH GUNUNG KROMONG 5.1 Dasar Teori Secara umum batu gamping merupakan batuan sedimen yang tersusun oleh satu mineral yaitu Kalsium Karbonat (CaCO 3 ), namun terdapat pula sedikit
Nama : Peridotit Boy Sule Torry NIM : Plug : 1
DIAGENESA BATUAN SEDIMEN Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil pemadatan endapan yang berupa bahan lepas. Batuan sedimen juga dapat terbentuk oleh penguapan larutan kalsium karbonat,
Studi Model Reservoir Karbonat Menggunakan Analisa Tipe Batuan
Studi Model Reservoir Karbonat Menggunakan Analisa Tipe Batuan Radyadiarsa Pusat Studi Energi Universitas Padjadjaran Abstrak Lapanqan "W" yang terletak di Cekungan Sumatra Selatan telah terbukti menghasilkan
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KARAKTERISTIK RESERVOAR KARBONAT. 1. Lingkungan Pengendapan 2. Proses Diagenesa
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KARAKTERISTIK RESERVOAR KARBONAT 1. Lingkungan Pengendapan 2. Proses Diagenesa 1. LINGKUNGAN PENGENDAPAN - Mempengaruhi : distribusi dan ukuran pori inisial serta geometri
ACARA IX MINERALOGI OPTIK ASOSIASI MINERAL DALAM BATUAN
ACARA IX MINERALOGI OPTIK I. Pendahuluan Ilmu geologi adalah studi tentang bumi dan terbuat dari apa itu bumi, termasuk sejarah pembentukannya. Sejarah ini dicatat dalam batuan dan menjelaskan bagaimana
BAB III GEOLOGI DAERAH LEPAS PANTAI UTARA MADURA
BAB III GEOLOGI DAERAH LEPAS PANTAI UTARA MADURA Lapangan ini berada beberapa kilometer ke arah pantai utara Madura dan merupakan bagian dari North Madura Platform yang membentuk paparan karbonat selama
batuan, butiran mineral yang tahan terhadap cuaca (terutama kuarsa) dan mineral yang berasal dari dekomposisi kimia yang sudah ada.
DESKRIPSI BATUAN Deskripsi batuan yang lengkap biasanya dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: 1. Deskripsi material batuan (atau batuan secara utuh); 2. Deskripsi diskontinuitas; dan 3. Deskripsi massa batuan.
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Perolehan Data dan Lokasi Penelitian Lokasi penelitian pada Peta Geologi Lembar Cianjur skala 1 : 100.000 terletak di Formasi Rajamandala (kotak kuning pada Gambar
LEMBAR DESKRIPSI PETROGRAFI
DEPARTEMEN TEKNIK GEOLOGI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO Lampiran Petrografi 1 KODE SAYATAN : Y1 LINTASAN : TERMINAL MS 3 FORMASI : Steenkool PERBESARAN : 10 X d = 2 mm DESKRIPSI : LEMBAR DESKRIPSI
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
19 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Beton Beton merupakan suatu bahan bangunan yang bahan penyusunnya terdiri dari bahan semen hidrolik (Portland Cement), air, agregar kasar, agregat halus, dan bahan tambah.
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi 3.1.1 Morfologi Daerah Penelitian Morfologi yang ada pada daerah penelitian dipengaruhi oleh proses endogen dan proses eksogen. Proses endogen merupakan
Definisi menurut Raymond (1995) =
Pengenalan Batuan Sedimen (Introduction of Sedimentary Rocks) Budhi Kuswan Susilo, ST., MT. Apa itu Batuan Sedimen? Definisi menurut Raymond (1995) = Batuan sedimen : Batuan yang terbentuk di permukaan
berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit.
berukuran antara 0,05-0,2 mm, tekstur granoblastik dan lepidoblastik, dengan struktur slaty oleh kuarsa dan biotit. (a) (c) (b) (d) Foto 3.10 Kenampakan makroskopis berbagai macam litologi pada Satuan
// - Nikol X - Nikol 1mm
S S A B B C Foto 3.14 Satuan breksi vulkanik dengan sisipan batupasir-batulempung. Breksi polimik ( B), Monomik (A) dan litologi batupasir-batulempung (bawah,c) Pengambilan sampel untuk sisipan batupasir
BAB III TINJAUAN PUSTAKA
BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3. 1. Definisi Batuan Karbonat Batuan karbonat adalah batuan yang mempunyai kandungan material karbonat lebih dari 50 % dan tersusun atas partikel karbonat klastik yang tersemenkan
BAB III DASAR TEORI. silika dan pasir besi serta gipsum. Karena porsi batu kapur adalah yang paling
BAB III DASAR TEORI 3.1. Sekilas Proses Pembuatan Semen Portland Bahan baku yang dibutuhkan sebuah pabrik semen antara lain adalah batuan yang mengandung kapur (seperti batu kapur dan chalk), tanah liat
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI UNTUK PENGAMATAN BATUAN
PEDOMAN PRAKTIKUM GEOLOGI UNTUK PENGAMATAN BATUAN Kegiatan : Praktikum Kuliah lapangan ( PLK) Jurusan Pendidikan Geografi UPI untuk sub kegiatan : Pengamatan singkapan batuan Tujuan : agar mahasiswa mengenali
BAB IV STUDI PASIR NGRAYONG
BAB IV STUDI PASIR NGRAYONG 4.2 Latar belakang Studi Ngrayong telah lama mengundang perdebatan bagi para geolog yang pernah bekerja di Cekungan Jawa Timur. Perbedaan tersebut adalah mengenai lingkungan
Proses Pembentukan dan Jenis Batuan
Proses Pembentukan dan Jenis Batuan Penulis Rizki Puji Diterbitkan 23:27 TAGS GEOGRAFI Kali ini kita membahas tentang batuan pembentuk litosfer yaitu batuan beku, batuan sedimen, batuan metamorf serta
KARAKTERISTIK LUMPUR SIDOARJO
KARAKTERISTIK LUMPUR SIDOARJO Sifat Umum Lumpur Sidoarjo merupakan lumpur yang keluar dari perut bumi, berasal dari bagian sedimentasi formasi Kujung, formasi Kalibeng dan formasi Pucangan. Sedimen formasi
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kawasan Karst Karst berasal dari bahasa Slovenia berarti lahan gersang berbatu. Istilah karst di gunakan untuk mendeskripsikan suatu kawasan atau bentang alam dicirikan dengan
BAB 4 ANALISIS FASIES SEDIMENTASI DAN DISTRIBUSI BATUPASIR C
BAB 4 ANALISIS FASIES SEDIMENTASI DAN DISTRIBUSI BATUPASIR C 4.1. Analisis Litofasies dan Fasies Sedimentasi 4.1.1. Analisis Litofasies berdasarkan Data Batuan inti Litofasies adalah suatu tubuh batuan
BAB IV ANALISIS DATA
BAB IV ANALISIS DATA Proses ini merupakan tahap pasca pengolahan contoh yang dibawa dari lapangan. Dari beberapa contoh yang dianggap mewakili, selanjutnya dilakukan analisis mikropaleontologi, analisis
Metamorfisme dan Lingkungan Pengendapan
3.2.3.3. Metamorfisme dan Lingkungan Pengendapan Secara umum, satuan ini telah mengalami metamorfisme derajat sangat rendah. Hal ini dapat ditunjukkan dengan kondisi batuan yang relatif jauh lebih keras
BAB II LANDASAN TEORI
5 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Batuan Sedimen Batuan Sedimen adalah salah satu kelompok utama dari batuan di muka bumi. Batuan ini sering membentuk reservoir berpori dan permeabel pada cekungan sedimen dengan
Dinamika Sedimentasi Formasi Prupuh dan Paciran daerah Solokuro dan Paciran, Lamongan, Jawa Timur
Dinamika Sedimentasi Formasi Prupuh dan Paciran daerah Solokuro dan Paciran, Lamongan, Jawa Timur Farida Alkatiri 1, Harmansyah 1 Mahasiswa, 1 Abstrak Daerah Solokuro dan Paciran, Lamongan merupakan lokasi
Subsatuan Punggungan Homoklin
Foto 3.6. Subsatuan Lembah Sinklin (foto ke arah utara dari daerah Pejaten). Foto 3.7. Subsatuan Lembah Sinklin (foto ke arah utara dari daerah Bulu). Subsatuan Punggungan Homoklin Subsatuan Punggungan
BAB IV FASIES BATUGAMPING
BAB IV FASIES BATUGAMPING 4.1. Pola Fasies Dasar Pola fasies yang digunakan dalam penelitian ini adalah berdasarkan Wilson (1975). Dasar pembagian fasies ini memperhatikan beberapa faktor antara lain:
BAB IV STUDI SEDIMENTASI PADA FORMASI TAPAK BAGIAN ATAS
BAB IV STUDI SEDIMENTASI PADA FORMASI TAPAK BAGIAN ATAS 4.1 Pendahuluan Untuk studi sedimentasi pada Formasi Tapak Bagian Atas dilakukan melalui observasi urutan vertikal terhadap singkapan batuan yang
Geologi dan Studi Fasies Karbonat Gunung Sekerat, Kecamatan Kaliorang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Foto 24. A memperlihatkan bongkah exotic blocks di lereng gunung Sekerat. Berdasarkan pengamatan profil singkapan batugamping ini, (Gambar 12) didapatkan litologi wackestone-packestone yang dicirikan oleh
Gambar 6. Daur Batuan Beku, Sedimen, dan Metamorf
Definisi Batuan Batuan adaiah kompleks/kumpulan dari mineral sejenis atau tak sejenis yang terikat secara gembur ataupun padat. Bedanya dengan mineral, batuan tidak memiliki susunan kimiawi yang tetap,
Kecamatan Nunukan, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur
Umur Analisis mikropaleontologi dilakukan pada contoh batuan pada lokasi NA805 dan NA 803. Hasil analisis mikroplaeontologi tersebut menunjukkan bahwa pada contoh batuan tersebut tidak ditemukan adanya
Geologi dan Potensi Sumberdaya Batubara, Daerah Dambung Raya, Kecamatan Bintang Ara, Kabupaten Tabalong, Propinsi Kalimantan Selatan
Gambar 3.8 Korelasi Stratigrafi Satuan Batupasir terhadap Lingkungan Delta 3.2.3 Satuan Batulempung-Batupasir Persebaran (dominasi sungai) Satuan ini menempati 20% dari luas daerah penelitian dan berada
Adanya cangkang-cangkang mikro moluska laut yang ditemukan pada sampel dari lokasi SD9 dan NG11, menunjukkan lingkungan dangkal dekat pantai.
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.2.2.3 Umur Berdasarkan data analisis mikrofosil pada sampel yang diambil dari lokasi BG4 (Lampiran B), spesies-spesies yang ditemukan antara lain adalah Globigerinoides
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kandungan sumber daya alam yang terdapat di bumi salah satunya adalah batuan. Menurut Pusat Bahasa Kemdiknas (2008), batuan merupakan mineral atau paduan mineral yang
Geologi Daerah Perbukitan Rumu, Buton Selatan 34 Tugas Akhir A - Yashinto Sindhu P /
Pada sayatan tipis (Lampiran C) memiliki ciri-ciri kristalin, terdiri dari dolomit 75% berukuran 0,2-1,4 mm, menyudut-menyudut tanggung. Matriks lumpur karbonat 10%, semen kalsit 14% Porositas 1% interkristalin.
III.1 Morfologi Daerah Penelitian
TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN III.1 Morfologi Daerah Penelitian Morfologi suatu daerah merupakan bentukan bentang alam daerah tersebut. Morfologi daerah penelitian berdasakan pengamatan awal tekstur
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1. Geomorfologi Menurut Lobeck (1939), faktor utama yang mempengaruhi bentuk bentangan alam adalah struktur, proses, dan tahapan. Struktur memberikan informasi mengenai
I.1 Latar Belakang I.2 Maksud dan Tujuan
BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Formasi Latih tersusun dari perselang-selingan antara batupasir kuarsa, batulempung, batulanau dan batubara dibagian atas, dan bersisipan dengan serpih pasiran dan
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Batuan karbonat menyusun 20-25% batuan sedimen dalam sejarah geologi. Batuan karbonat hadir pada Prakambrium sampai Kuarter. Suksesi batuan karbonat pada Prakambrium
Umur, Lingkungan dan Mekanisme Pengendapan Hubungan dan Kesebandingan Stratigrafi
3.2.3.3 Umur, Lingkungan dan Mekanisme Pengendapan Berdasarkan data analisis mikrofosil pada batupasir (lampiran B), maka diperoleh umur dari Satuan Breksi yaitu N8 (Akhir Miosen Awal) dengan ditemukannya
BAB IV ANALISIS FASIES PENGENDAPAN
BAB IV ANALISIS FASIES PENGENDAPAN IV.1 Litofasies Suatu rekaman stratigrafi pada batuan sedimen terlihat padanya karateristik fisik, kimia, biologi tertentu. Analisis rekaman tersebut digunakan untuk
STUDI PROVENANCE BATUPASIR FORMASI WALANAE DAERAH LALEBATA KECAMATAN LAMURU KABUPATEN BONE PROVINSI SULAWESI SELATAN
STUDI PROVENANCE BATUPASIR FORMASI WALANAE DAERAH LALEBATA KECAMATAN LAMURU KABUPATEN BONE PROVINSI SULAWESI SELATAN Muhammad Ardiansyah*, Meutia Farida *, Ulva Ria Irfan * *) Teknik Geologi Universitas
PENELITIAN PENDAHULUAN BATUAN KARBONAT DI DAERAH BOGOR
ABSTRAK PENELITIAN PENDAHULUAN BATUAN KARBONAT DI DAERAH BOGOR Praptisih 1 dan Kamtono 1 1 Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI, Jl. Sangkuriang, Bandung 40135 Email: [email protected] Formasi Bojongmanik
BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III TATANAN GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 Geomorfologi Daerah penelitian secara umum tersusun atas bentang alam yang cukup kompleks yaitu, perbukitan, lembah dan dataran rendah. Interval ketinggian
6.1 Analisa Porositas Fasies Distributary Channel
BAB VI KARAKTERISTIK RESERVOIR Bab VI. Karakteristik Reservoir 6.1 Analisa Porositas Fasies Distributary Channel Dari hasil analisa LEMIGAS (lihat Tabel 6.1 dan 6.2) diketahui bahwa porositas yang ada
Laboratorium Bahan Galian Sie Petrologi
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material hasil perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia maupun organisme, yang di endapkan lapis demi lapis pada
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN
BAB III GEOLOGI DAERAH PENELITIAN 3.1 GEOMORFOLOGI Pengamatan geomorfologi terutama ditujukan sebagai alat interpretasi awal, dengan menganalisis bentang alam dan bentukan-bentukan alam yang memberikan
Foto 3.6 Singkapan perselingan breksi dan batupasir. (Foto diambil di Csp-11, mengarah kehilir).
Apabila diperhatikan, hasil analisis petrografi dari sayatan batupasir kasar dan sayatan matriks breksi diperoleh penamaan yang sama. Hal ini diperkirakan terjadi karena yang menjadi matriks pada breksi
Arus Traksi dan Arus Turbidit
Arus Traksi dan Arus Turbidit Transportasi dan Deposisi Sedimen Media transportasi dari sedimen pada umumnya dapat dibagi menjadi berikut ini : Air - Gelombang - Pasang Surut - Arus Laut Udara Es Gravitasi
PENGGUNAAN TERAK NIKEL SEBAGAI AGREGAT PADA BETON MUTU TINGGI
PENGGUNAAN TERAK NIKEL SEBAGAI AGREGAT PADA BETON MUTU TINGGI T 624. 183 4 KHO ABSTRAK Beton merupakan material konstruksi bangunan yang sering digunakan karena mudah dibentuk dan biaya pemeliharaan yang
3.2.3 Satuan Batulempung. A. Penyebaran dan Ketebalan
3.2.3 Satuan Batulempung A. Penyebaran dan Ketebalan Satuan batulempung ditandai dengan warna hijau pada Peta Geologi (Lampiran C-3). Satuan ini tersingkap di bagian tengah dan selatan daerah penelitian,
Batuan Sedimen 2.1. Struktur Sedimen Struktur Sedimen Pengendapan (Depositional Sedimentary Strucures)
Batuan Sedimen 2.1. Struktur Sedimen Struktur sedimen termasuk ke dalam struktur primer yaitu struktur yang terbentuk pada saat pembentukan batuan (pada saat sedimentasi). Struktur sedimen dapat dibagi
Foto 3.5 Singkapan BR-8 pada Satuan Batupasir Kuarsa Foto diambil kearah N E. Eko Mujiono
Batulempung, hadir sebagai sisipan dalam batupasir, berwarna abu-abu, bersifat non karbonatan dan secara gradasi batulempung ini berubah menjadi batuserpih karbonan-coally shale. Batubara, berwarna hitam,
A B C D E A B C D E. A B C D E A B C D E // - Nikol X Nikol mm P mm
No conto : Napal hulu Zona ubahan: sub propilitik Lokasi : Alur S. Napal Nama batuan: lava andesit 0 0.5 mm P1 0 0.5 mm Sayatan andesit terubah dengan intensitas sedang, bertekstur hipokristalin, porfiritik,
KARAKTERISTIK BATUPASIR SEBAGAI BATUAN RESERVOIR PADA SUMUR ABC-1 DAN ABC-2, DI CEKUNGAN SUMATERA SELATAN
KARAKTERISTIK BATUPASIR SEBAGAI BATUAN RESERVOIR PADA SUMUR ABC-1 DAN ABC-2, DI CEKUNGAN SUMATERA SELATAN Tatya Putri S 1, Ildrem Syafri 2, Aton Patonah 2 Agus Priyantoro 3 1 Student at the Dept Of Geological
BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang
1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Batu gamping adalah batuan sedimen yang sebagian besar disusun oleh kalsium karbonat yang berasal dari sisa- sisa organisme laut seperti kerang, siput laut, dan koral
ANALISIS PETROGRAFI DALAM PENENTUAN JENIS BATUGAMPING FORMASI WAPULAKA, DAERAH PASARWAJO, DESA DONGKALA, KABUPATEN BUTON, PROPINSI SULAWESI TENGGARA
ANALISIS PETROGRAFI DALAM PENENTUAN JENIS BATUGAMPING FORMASI WAPULAKA, DAERAH PASARWAJO, DESA DONGKALA, KABUPATEN BUTON, PROPINSI SULAWESI TENGGARA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
BAB III ANALISIS FASIES PENGENDAPAN FORMASI TALANG AKAR
BAB III ANALISIS FASIES PENGENDAPAN FORMASI TALANG AKAR 3.1. Litofasies Menurut Walker (1992), fasies merupakan kenampakan suatu tubuh batuan yang dikarekteristikan oleh kombinasi dari litologi, struktur
Lampiran 1. Hasil analisis irisan tipis sampel tanah ultisol dari laboratorium HASIL ANALISIS PETROGRAFI 3 CONTOH TANAH NO. LAB.
1 Lampiran 1. Hasil analisis irisan tipis sampel tanah ultisol dari laboratorium HASIL ANALISIS PETROGRAFI 3 CONTOH TANAH NO. LAB.: 1153 1155/2013 No. : 01 No.Lab. : 1153/2013 Kode contoh : BA-II Jenis
Umur dan Lingkungan Pengendapan Hubungan dan Kesetaraan Stratigrafi
3.2.2.3 Umur dan Lingkungan Pengendapan Penentuan umur pada satuan ini mengacu pada referensi. Satuan ini diendapkan pada lingkungan kipas aluvial. Analisa lingkungan pengendapan ini diinterpretasikan
MEKANIKA TANAH ASAL USUL TERBENTUKNYA TANAH. UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224
MEKANIKA TANAH ASAL USUL TERBENTUKNYA TANAH UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA Jl. Boulevard Bintaro Sektor 7, Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15224 PENGERTIAN TANAH Apa itu tanah? Material yang terdiri dari
Lokasi : G.Walang Nama Batuan : Tuf Gelas
LAMPIRAN A ANALISIS PETROGRAFI No. Conto : WLG 03 Satuan Batuan : Tuf Lokasi : G.Walang Nama Batuan : Tuf Gelas Tekstur Butiran Matriks : Terpilah baik, kemas terbuka, menyudut tanggung menyudut, : 22%;
BAB 4 Fasies Batugamping Formasi Citarate
BAB 4 Fasies Batugamping Formasi Citarate 4.1 Teori Dasar Batuan karbonat adalah batuan sedimen yang terususun oleh mineral karbonat sebagai mineral primer. Terbentuknya batuan ini umumnya hasil dari proses
Lingkungan Pengendapan Laut
Lingkungan Pengendapan Laut Oleh : Nur Ryshalti Pratama Disa Bambelia Utami Ade Triyunita Gerson Yosef Tapang Dai Bianda Daniel Bahana Rinaldi Ikram Alif N Muklis Habib Bey Anural Irvan Rahmawan FACIES
STUDI SEBARAN SEDIMEN BERDASARKAN TEKSTUR SEDIMEN DI PERAIRAN SAYUNG, DEMAK
JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 4, Nomor 3, Tahun 2015, Halaman 608-613 Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jose STUDI SEBARAN SEDIMEN BERDASARKAN TEKSTUR SEDIMEN DI PERAIRAN SAYUNG, DEMAK
