ANALISIS PENGARUH DISTRIBUSI PENGUASAAN LAHAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS PENGARUH DISTRIBUSI PENGUASAAN LAHAN"

Transkripsi

1 digilib.uns.ac.id ANALISIS PENGARUH DISTRIBUSI PENGUASAAN LAHAN TERHADAP DISTRIBUSI PENDAPATAN PETANI JAGUNG DI KECAMATAN TOROH KABUPATEN GROBOGAN (Studi Kasus di Desa Bandungharjo) SKRIPSI Oleh : Ragil Budi Santoso H FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013

2 digilib.uns.ac.id ANALISIS PENGARUH DISTRIBUSI PENGUASAAN LAHAN TERHADAP DISTRIBUSI PENDAPATAN PETANI JAGUNG DI KECAMATAN TOROH KABUPATEN GROBOGAN (Studi Kasus di Desa Bandungharjo) SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat gelar Sarjana Pertanian pada Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Oleh : Ragil Budi Santoso H FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013 i

3 digilib.uns.ac.id ANALISIS PENGARUH DISTRIBUSI PENGUASAAN LAHAN TERHADAP DISTRIBUSI PENDAPATAN PETANI JAGUNG DI KECAMATAN TOROH KABUPATEN GROBOGAN (Studi Kasus di Desa Bandungharjo) Yang diajukan dan disusun oleh : RAGIL BUDI SANTOSO H Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal: dan dinyatakan telah memenuhi syarat Susunan Dewan Penguji Ketua Anggota I Anggota II Prof. Dr. Ir. Endang Siti Rahayu, MS NIP Dr. Ir. Minar Ferichani, MP NIP Dr. Ir. Joko Sutrisno, MP NIP Surakarta, Maret 2013 Mengetahui, Universitas Sebelas Maret Fakultas Pertanian Dekan Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, MS NIP commit to user ii

4 digilib.uns.ac.id KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Analisis Pengaruh Distribusi Penguasaan Lahan terhadap Distribusi Pendapatan Petani Jagung di Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan (Studi Kasus di Desa Bandungharjo). Usaha dan upaya untuk melakukan yang terbaik atas setiap kerja menjadikan akhir dari pelaksanaan penelitian terwujud dalam bentuk penulisan skripsi ini. Skripsi ini disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penyusunan skripsi ini tentunya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan baik moril maupun materiil kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini. Ucapan terima kasih ini penulis tujukan terutama kepada : 1. Allah SWT atas segalanya yang telah diberikan kepada penulis. 2. Bapak Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, MS. selaku Dekan Fakultas Pertanian UNS Surakarta. 3. Bapak Dr. Ir. Mohd. Harisudin, M.Si selaku Ketua Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 4. Ibu Nuning Setyowati, SP, M.Sc selaku Ketua Komisi Sarjana Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 5. Ibu Prof. Dr. Ir. Endang Siti Rahayu, MS. selaku Dosen Pembimbing Utama Skripsi yang selalu memberikan pengarahan, nasehat, petunjuk, serta motivasi kepada penulis. 6. Ibu Dr. Ir. Minar Ferichani, MP. selaku selaku Dosen Pembimbing Pendamping Skripsi sekaligus Dosen Pembimbing Akademik yang dengan kasih selalu memberikan pengarahan, nasehat, petunjuk, serta motivasi kepada penulis. iii

5 digilib.uns.ac.id 7. Bapak Dr. Ir. Joko Sutrisno, MP selaku Penguji Tamu yang telah memberikan masukan kepada penulis. 8. Bapak/Ibu Dosen serta seluruh staff/ karyawan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta atas ilmu yang telah diberikan dan bantuannya selama menempuh perkuliahan di Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta. 9. Bappeda Kabupaten Grobogan, Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, serta Badan Pusat Statistik Kabupaten Grobogan yang telah memberikan ijin penelitian serta menyediakan data-data yang diperlukan penulis. 10. Kantor Kecamatan Toroh dan Desa Bandungharjo serta petani responden atas bantuan kepada penulis selama penelitian. 11. Bapak, Ibu yang tak henti memberikan semangat dan doa, dan dukungannya di setiap langkah, demi kesuksesan penulis. 12. Teman-teman Agribisnis 2008, 2009, 2010, 2011, serta 2012 yang telah memberi semangat, masukan, dan tambahan pengetahuan. 13. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam mengembangkan diri dan membantu penulisan skripsi ini baik moril maupun materiil. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini baik dari segi penyajian maupun pembahasannya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan skripsi ini. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi yang jauh dari sempurna ini dapat memberikan manfaat sekaligus menambah pengetahuan bagi penulis sendiri khususnya dan pembaca pada umumnya. Amin. Surakarta, Maret 2013 Penulis iv

6 digilib.uns.ac.id DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... RINGKASAN... SUMMARY... I. PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian... 6 II. TINJAUAN PUSTAKA Penelitian Terdahulu Tinjauan Pustaka Lahan Pertanian Petani dan Pengasaan Lahan Tenaga Kerja, Saprodi, dan Produksi Pendapatan dan Distribusi Pendapatan Kerangka Teori Pendekatan Masalah Hipotesis III. METODE PENELITIAN Metode Dasar Penelitian Metode Penentuan Sampel Metode Penentuan Sampel Lokasi Penelitian Metode Pengambilan Sampel Responden Jenis dan Sumber Data Data Primer Data Sekunder Teknik Pengumpulan Data Observasi Wawancara Pencatatan Asumsi-asumsi Pembatasan Masalah Definisi Operasional dan Konsep Pengukuran Variabel Metode Analisis Data IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN Keadaan Geografis Keadaan Penduduk iii v vii ix x xi v

7 digilib.uns.ac.id 1. Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian Kondisi Pertanian Tata Guna Lahan Produksi Tanaman Pangan Kondisi Sarana Perekonomian V. HASIL PENELITIAN Identitas Responden Analisis Usahatani Jagung Distribusi Penguasaan Lahan Distribusi Pendapatan Analisis Regresi Linear VI. PEMBAHASAN Usahatani Jagung Distribusi Penguasaan Lahan dan Distribusi Pendapatan Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan VII. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN vi

8 digilib.uns.ac.id DAFTAR TABEL Nomor Judul Halaman Tabel 1.1. Luas Panen dan Produksi Tanaman Jagung Kabupaten Grobogan Tahun Tabel 1.2. Luas Lahan Kering Kecamatan Toroh Tahun Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu... 9 Tabel 4.1. Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh Tahun Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Desa Bandungharjo. 40 Tabel 4.3. Komposisi Penduduk Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh Menurut Tingkat Pendidikan Tahun Tabel 4.4. Banyaknya Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kecamatan Toroh dan Desa Bandungharjo Tahun Tabel 4.5. Tabel 4.6. Tabel 4.7. Tata Guna Lahan di Kecamatan Toroh dan Desa Bandungharjo Tahun Produksi Tanaman Pangan di Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh Tahun Sarana Perekonomian di Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh Tahun Tabel 5.1. Identitas Petani Sampel Usahatani Jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Gorobogan Tabel 5.2. Tabel 5.3. Tabel 5.4. Tabel 5.5. Tabel 5.6. Tabel 5.7. Rata-rata Penggunaan Sarana Produksi Pada Usahatani Jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja pada Usahatani Jagung di Desa bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Rata-rata Biaya Biaya Sarana Produksi pada Usahatani Jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Rata-rata Biaya Tenaga Kerja pada Usahatani Jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Rata-rata Biaya Lain-lain pada Usahatani Jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Rata-rata Biaya Total Usahatani Jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan vii

9 digilib.uns.ac.id Tabel 5.8. Tabel 5.9. Rata-rata Penerimaan Total Usahatani Jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Rata-rata Pendapatan Usahatani Jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Tabel Data Penguasaan Lahan Petani Jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Tabel Perhitungan Nilai Gini Rasio Penguasaan Lahan Tabel Data Sampel Pendapatan Petani Jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Tabel Perhitungan Nilai Gini Rasio Pendapatan Tabel Hasil Analisis Regresi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Tabel Analisis Varians Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Tabel Analisis Uji Keberartian Koefisien Regresi Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan viii

10 digilib.uns.ac.id DAFTAR GAMBAR Nomor Judul Halaman Gambar 2.1. Kurva Lorentz Gambar 2.2. Kerangka Berpikir Pendekatan Masalah Gambar 3.1. Bagan Pengambilan Sampel Gambar 5.1. Kurva Lorentz Penguasaan Lahan Gambar 5.2. Kurva Lorentz Pendapatan ix

11 digilib.uns.ac.id RINGKASAN Ragil Budi Santoso. H Analisis Pengaruh Ditribusi Lahan terhadap Distribusi PendapatanPetani Jagung di Kcamatan Toroh Kabupatn Grobogan (Studi Kasus di Desa Bandungharjo). Dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Endang Siti Rahayu, MS dan Dr. Ir. Minar Ferichani, MP. Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui biaya, penerimaan, dan pendapatan usahatani; tingkat distribusi penguasaan lahan; tingkat distribusi pendapatan; serta mengetahui beberapa variabel yang mempengaruhi pendapatan usahatani petani jagung di Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan (studi kasus di Desa Bandungharjo). Metode dasar yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi analisis serta pelaksanaannya dengan teknik survei. Penelitian dilakukan di Desa Bandungharjo. Pemilihan sampel lokasi diakukan secara studi kasus, responden merupakan petani jagung yang pemilihannya berdasarkan metode snowball sampling. Biaya, penerimaan dan pendapatan usaha tani dianalisis dengan menggunakan metode analisis pendapatan usahatani, distribusi penguasaan lahan dan distribusi pendapatan dianalisis dengan metode analisis Gini Rasio, sedangkan hubungan antara pendapatan dengan faktor-faktor yang diduga mempengaruhinya dianalisis dengan metode regresi linear berganda. Hasil analisis usahatani jagung diperoleh bahwa biaya usahatani sebesar Rp ,89/ha/MT, penerimaan usahatani sebesar Rp ,45/ha/MT, dan pendapatan usahatani sebesar Rp ,56/ha/MT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai distribusi penguasaan lahan yaitu 0,389 yang artinya terjadi ketimpangan penguasaan lahan yang masuk dalam kriteria sedang. Begitu juga dengan nilai disribusi pendapatan yaitu sebesar 0,398 yang artinya terjadi ketimpangan penguasaan lahan yang sedang. Hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan dengan besar pendapatan usahatani petani jagung di Desa Bandungharjo, sebagai berikut : Y = , ,186 x 10 6 X ,637 X X 3 Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa variabel luas lahan, tenaga kerja, dan biaya saprodi secara bersama-sama maupun individu berpengaruh nyata terhadap besar pendapatan usahatani petani jagung di Desa Bandungharjo. x

12 digilib.uns.ac.id SUMMARY Ragil Budi Santoso. H The analysis of land holding distribution influence to the income distribution on corn farmer in Toroh Subdistrict, Grobogan Regency (A Case Study on Bandungharjo Village). This research is supervised by Prof. Dr. Ir. Endang Siti Rahayu, MS. and Dr. Ir. Minar Ferichani, MP. Agriculture Faculty. Sebelas Maret University. Surakarta. This research aimed to find out the agribusiness cost, revenue, and income; land holding distribution level; income distribution level; and to find out the variables affecting the corn farmer s agribusiness income in Toroh Subdistrict of Grobogan Regency (A Case Study on Bandungharjo Village). The fundamental method used in this research was a descriptive analytical method with survey technique. The study was taken place in Bandungharjo Village. The location sample was taken using case study, the respondent was the farmers taken using snowball sampling. The agribusiness, cost, revenue, and income were analyzed using agribusiness income analysis, while the land mastery distribution and income distribution were analyzed using Gini Ratio analysis method, and the relationship between income and factors presumably affecting it was analyzed using a multiple-linear regression method. The result of corn agribusiness analysis obtained that the agribusiness cost was IDR 3,508,212.89/Ha/MT, revenue was IDR 9,546,301.45/Ha/MT, and income was IDR 6,038,088.56/Ha/MT. The result of research showed that the land holding distribution score was meaning that there was an imbalance of land holding belonging to medium criteria. Similarly, the income distribution score was meaning that there was an imbalance of medium land holding. The relationship between the factors affecting the income and the income of corn farmer agribusiness in Bandungharjo Village was as follows: Y = -953, x 106 X1 + 69, X X3 The result of regression analysis showed that land width, labor, and saprodi cost variables, either simultaneously or partially, affected significantly the agribusiness income of corn farmer in Bandungharjo Village. xi

13 digilib.uns.ac.id 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang berarti negara yang mengandalkan sektor pertanian baik sebagai mata pencaharian maupun sebagai penopang pembangunan. Sektor pertanian di Indonesia identik dengan pedesaan dan para petani dengan rata-rata tingkat penghasilan rendah. Masyarakat miskin sebagian besar terdapat di pedesaan yang memiliki basis agraris, hal ini dapat dilihat dari berbagai penelitian mengenai persoalan kemiskinan dan ketimpangan dalam pemerataan pembagian pendapatan (Rustiani, 1995). Kondisi kehidupan sosial ekonomi petani di pedesaan memperlihatkan bahwa, struktur agraris yang terjadi ditandai oleh adanya ketimpangan distribusi penguasaan lahan pertanian yang cukup besar. Besarnya tekanan terhadap tingkat ketersediaan lahan pertanian sebagai akibat dari bertambahnya jumlah penduduk yang relatif cepat dan tekanan dari sektor lain seperti sektor industri. Kenyataan tersebut menimbulkan akibat makin kecilnya rata-rata pemilikan lahan pertanian dan fragmentasi lahan akan terjadi terus menerus (Sayogyo, 1985). Tanah bagi masyarakat pedesaan bukan saja sebagai tempat tinggal, melainkan mempunyai peran yang sangat penting yaitu sebagai sumber mata pencaharian. Lahan pertanian merupakan faktor produksi yang penting dalam struktur agraris di pedesaan, maka kondisi ketimpangan distribusi penguasaan lahan akan sangat berpengaruh terhadap usaha-usaha ke arah pemerataan tingkat pendapatan. Penduduk pedesaan tidak semuanya mempunyai lahan pertanian, adapun penduduk yang mempunyai lahan pertanian kebanyakan tidak terlalu luas. Penduduk yang memiliki lahan sempit biasanya menyewakan lahannya, sedangkan dia sendiri bekerja sebagai buruh tani atau mungkin mereka menyewa lahan milik orang lain. Petani dengan luas lahan, baik yang dimiliki ataupun yang dikuasai relatif 1

14 digilib.uns.ac.id 2 sempit maka akan mempengaruhi produktivitas lahan pertanian tersebut dan pada akhirnya akan mempengaruhi jumlah pendapatan yang diterima oleh petani tersebut (Astuti, 1996). Salah satu bagian dari sektor pertanian yang paling vital dalam kehidupan masyarakat Indonesia ialah pertanian tanaman pangan, sektor ini sangat tergantung pada faktor lahan, baik secara jumlah maupun secara mutu kesuburannya. Lahan subur banyak terdapat di Pulau Jawa oleh karena itu sangat ironis apabila lahan pertanian yang subur di Pulau Jawa berubah menjadi lahan pemukiman/ perumahan dan industri (Budiharjo, 1992). Luas panen jagung sebagai tanaman pangan di Indonesia menduduki urutan kedua setelah padi. Luas panen padi pada tahun 2009 sebesar ha, sedangkan luas panen jagung sebesar ha (Dinas Pertanian, 2010). Indonesia memiliki potensi yang besar untuk pengembangan komoditas jagung, karena jagung mudah untuk dibudidayakan dan diusahakan. Peranan penganekaragaman kebutuhan pangan dari bahan jagung sangat dibutuhkan dalam usahatani, dewasa ini jagung mendapat perhatian yang lebih besar dari pemerintah (Aksi Agraris Kanisius, 1993). Kabupaten Grobogan merupakan kabupaten penghasil jagung terbesar di Jawa Tengah. Produksi jagung di Kabupaten Grobogan menempati urutan pertama yaitu sebesar ton setelah itu diikuti produksi padi sebesar ton (Dinas Pertanian Grobogan, 2010). Kecamatan Toroh merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Grobogan yang memiliki luas panen dan produksi jagung terbesar ketiga setelah Kecamatan Geyer dan Kecamatan Wirosari, sehingga merupakan salah satu kecamatan yang memberikan kontribusi besar terhadap produksi jagung di Kabupaten Grobogan. Luas panen dan produksi jagung di Kabupaten Grobogan dapat dilihat pada Tabel 1.1.

15 digilib.uns.ac.id 3 Tabel 1.1. Luas Panen dan Produksi Tanaman Jagung Kabupaten Grobogan Tahun 2010 Geyer Wirosari Toroh Pulokulon Kradenan Kecamatan Luas Panen (Ha) Produksi (Ton) Karangrayung Tanggungharjo Gabus Grobogan Kedungjati Tawangharjo Ngaringan Penawangan Purwodadi Brati Klambu Gubug Tegowanu Godong Sumber : Dinas Pertanian Kab. Grobogan 1.2. Perumusan Masalah Ketimpangan penguasaan dan kepemilikan lahan merupakan masalah yang sangat kritis di Indonesia. Petani pemilik lahan yang luas belum tentu memperoleh pendapatan yang tinggi. Hal ini dikarenakan petani pemilik lahan tidak perlu membayar uang sewa lahan kepada petani lain atau membagi hasil produksinya. Bagi petani yang menguasai lahan, belum tentu memiliki tanah dan petani commit tersebut to harus user membagi hasil atau menyewa

16 digilib.uns.ac.id 4 kepada petani pemilik. Dengan luas lahan yang dimiliki ataupun dikuasai yang relatif sempit maka akan mempengaruhi produktivitas lahan pertanian tersebut dan pada akhirnya akan mempengaruhi jumlah pendapatan yang diterima oleh petani (Wignjosoebroto, 1984). Grobogan merupakan kabupaten dengan mayoritas masyarakatnya bemata pencaharian sebagai petani, dengan demikian sebagian besar pendapatan penduduk Kabupaten Grobogan berasal dari usaha tani. Selain itu Kabupaten Grobogan merupakan penghasil jagung terbesar di Jawa Tengah. Produksi jagung di kabupaten tersebut mencapai ton pada tahun 2010, sehingga jagung menjadi komoditi unggulan di Kabupaten Grobogan. Salah satu kecamatan penghasil jagung di Kabupaten Grobogan adalah Kecamatan Toroh. Kecamatan Toroh pada tahun 2010 mampu memproduksi jagung sebesar ton, sehingga menempatkan Kecamatan Toroh sebagai kecamatan penghasil jagung terbesar ketiga di Kabupaten Grobogan. Desa Bandungharjo merupakan salah satu desa yang memiliki luas lahan kering terbesar di Kecamatan Toroh. Luas lahan kering di Desa Bandungharjo yaitu 1.242,07 ha. Akan tetapi dengan semakin bertambahnya penduduk dari tahun ke tahun, sedangkan lahan pertanian yang hampir tidak bertambah, maka fragmentasi lahan dan ketimpangan lahan pertanianpun terjadi. Akibatnya dapat mempengaruhi produktivitas lahan dan pendapatan petani khususnya jagung di Desa Bandungharjo. Berdasarkan alasan tersebut, maka peneliti ingin mengkaji lebih dalam bagaimana pemerataan penguasaan lahan dan pendapatan dari petani khususnya petani jagung di Desa Bandungharjo.

17 digilib.uns.ac.id 5 Luas lahan kering desa-desa di Kecamatan Toroh dapat dilihat pada Tabel 1.2. Tabel 1.2. Luas Lahan Kering Kecamatan Toroh Tahun 2010 Desa Lahan Kering (Ha) Bandungharjo 1.242,07 Kenteng 955,04 Genengsari 728,53 Dimoro 683,34 Sindurejo 566,43 Boloh 553,12 Depok 478,64 Tunggak 418,32 Ngrandah 411,61 Tambirejo 312,44 Plosoharjo 266,32 Genengadal 260,01 Sugihan 226,75 Pilangpayung 202,00 Katong 189,82 Krangganharjo 97,15 Sumber : BPS Kabupaten Grobogan, 2011 Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut: 1. Berapa besarnya biaya, penerimaan, dan pendapatan dari usahatani jagung di Desa Bandungharjo Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan? 2. Bagaimana tingkat distribusi penguasaan lahan petani jagung di Desa Bandungharjo Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan? 3. Bagaimana tingkat distribusi pendapatan petani jagung di Desa Bandungharjo Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan? 4. Bagaimana pengaruh distribusi penguasaan lahan terhadap distribusi pendapatan petani jagung di Desa Bandungharjo Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan?

18 digilib.uns.ac.id 6 5. Bagaimana pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan yang berupa luas lahan, tenaga kerja, biaya saprodi dan produksi terhadap pendapatan usahatani jagung di Desa Bandungharjo Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan? 1.3. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : 1. Mengetahui besarnya biaya, penerimaan, dan pendapatan dari usahatani jagung di Desa Bandungharjo Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan. 2. Mengetahui tingkat distribusi penguasaan lahan petani jagung di Desa Bandungharjo Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan. 3. Mengetahui tingkat distribusi pendapatan petani jagung di Desa Bandungharjo Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan. 4. Mengetahui pengaruh distribusi penguasaan lahan terhadap distribusi pendapatan petani jagung di Desa Bandungharjo Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan. 5. Mengetahui pengaruh faktor-faktor yang terdiri dari luas lahan, tenaga kerja, biaya saprodi dan produksi terhadap pendapatan usahatani jagung di Desa Bandungharjo Kecamatan Toroh Kabupaten Grobogan Kegunaan Penelitian Kegunaan penelitian ini adalah : 1. Bagi peneliti, menambah pengetahuan sesuai dengan tema penelitian yang diambil serta sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Pertanian di Fakultas Pertanian UNS. 2. Bagi pemerintah, merupakan sumber informasi dan bahan pertimbangan untuk menentukan kebijakan pada masa yang akan datang. 3. Bagi pihak lain yang membutuhkan, sebagai bahan wacana dan informasi mengenai permasalahan yang sama.

19 digilib.uns.ac.id 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu Banyak penelitian terdahulu yang dapat digunakan sebagai tambahan pustaka dalam penelitian ini. Antara lain yang digunakan oleh peneliti yaitu, hasil penelitian yang dilakukan oleh Astuti (1996), dalam penelitiaanya yang berjudul Penguasaan Lahan dan Distribusi Pendapatan Penduduk di Desa Ngombakan dan Desa Mranggen Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo. Menunjukkan bahwa penguasaan lahan yang timpang didua desa penelitian, bukan disebabkan karena jual beli lahan, tetapi disebabkan oleh adanya warisan. Peran sektor non pertanian semakin penting bagi kehidupan masyarakat pedesaan dalam peningkatan pendapatan dan pemerataan pendapatan penduduk. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sari (2002) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Pengaruh Status Penguasan Lahan Terhadap Kesejahteraan Ekonomi Rumah Tangga Petani Padi Ditinjau dari Distribusi Pendapatan menunjukkan bahwa pada usahatani padi di Desa Kanjoran, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, pendapatan petani dari kegiatan usahatani padi dan pendapatan rumah tangga petani berbeda berdasar status penguasaan lahan. Rata-rata pendapatan petani pemilik penggarap lebih tinggi daripada pendapatan petani penyewa, dan pendapatan petani penyewa lebih tinggi daripada petani penyakap. Angka Gini Rasio untuk petani pemilik penggarap sebesar 0,63, petani penyewa 0,685 dan untuk petani penyakap 0,677. Hal ini menunjukkan bahwa pada masingmasing status petani terdapat ketimpangan yang tinggi/ pemerataan yang rendah. Hasil penelitian dari Nurhayati (2004) dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Pengaruh Status Penguasaan Lahan Pertanian Terhadap Distribusi Pendapatan Petani Padi di Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali menunjukkan bahwa commit nilai to Gini user Rasio 0,69 yang menunjukkan 7

20 digilib.uns.ac.id 8 adanya ketimpangan distribusi pendapatan yang tinggi antara petani padi di Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali. Kemudian faktor status penguasaan lahan berhubungan erat terhadap distribusi pendapatan petani padi, sedangkan luas lahan dengan status petani tidak ada keeratan hubungan. Hasil penelitian yang dilakukan Yulianto (2005), dalam penelitiannya yang berjudul Pengaruh Biaya Saprodi dan Tenaga Kerja Terhadap Pendapatan Usahatani Semangka, menunjukkan bahwa biaya saprodi dan biaya tenaga kerja bersama-sama menunjukkan pengaruh yang sangat nyata terhadap pendapatan usahatani semangka. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya F hitung yang diperoleh dibandingkan dengan F tabel (F hitung = 315,888 > F tabel = 3,44). Biaya saprodi dan biaya tenaga kerja secara bersama pula berhubungan erat dan positif dengan pendapatan usahatani semangka, hal ini ditunjukkan dengan besarnya koefisien korelasi (Ry1.2) = 0,985. Secara parsial biaya saprodi berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani semangka (t hitung 7,048 > t tabel = 1,71), sedangkan biaya tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani semangka (t hitung = -1,148 > t tabel = 1,71) Hasil penelitian dari Octiasari (2011) dalam peneliannya yang berjudul Hubungan Penguasaan Lahan Sawah dengan Pendapatan Usahatani Padi (Studi Kasus Kelompok Tani Harum IV Kelurahan Situmekar, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi) menunjukkan bahwa Terdapat hubungan yang signifikan antara pendapatan petani dengan luas pengusahaan lahan sawah. Semakin besar pendapatan usahatani padi, maka luas pengusahaan lahan sawah akan semakin meningkat. Kelompok petani yang responsif dalam meningkatkan pengusahaan lahannya adalah kelompok petani pemilik dan penggarap. Hasil penelitian dari Mudakir (2011) dalam penelitiannya yang berjudul Produktivitas Lahan dan Distribusi Pendapatan berdasarkan Status Penguasaan Lahan pada Usahatani Padi (Kasus di Kabupaten Kendal Propinsi Jawa Tengah). commit Menunjukkan to user bahwa tingkat ketimpangan

21 digilib.uns.ac.id 9 pendapatan petani tanpa pendapatan di luar pertanian relatif lebih tinggi dibandingkan ketimpangan pendapatan petani yang telah memasukan pendapatan dari luar pertanian. Pendapatan petani di luar hasil pertanian dapat mengurangi kemungkinan terjadinya ketimpangan pendapatan. Produktivitas usahatani dapat dinaikan dengan menambah pemakaian beberapa sarana produksi, khususnya menambah pemakaian beberapa sarana produksi, terutama pemakaian pupuk urea, benih dan luas lahan, Kenaikan tingkat keuntungan usahatani padi dapat dinaikan dengan menurunkan beberapa harga sarana produksi seperti benih, urea, pestisida, serta luas lahan. Tabel 2.1. Penelitian Terdahulu Nama Penulis Wahyuni Apri Astuti Tahun Judul Inti 1996 Penguasaan Lahan dan Distribusi Pendapatan Penduduk di Desa Ngombakan dan Desa Mranggen Kecamatan Polokarto Kabupaten Sukoharjo Sari A. D Analisis Pengaruh Status Penguasan Lahan Terhadap Kesejahteraan Ekonomi Rumah Tangga Petani Padi Ditinjau dari Distribusi Pendapatan Endah Nurhayati 2004 Analisis Pengaruh Status Penguasaan Lahan Pertanian Terhadap Distribusi Pendapatan Petani Padi di Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali Ditemukan bahwa penguasaan lahan yang timpang bukan disebabkan karena jual beli lahan, tetapi disebabkan oleh adanya warisan. Peran sektor non pertanian semakin penting bagi kehidupan masyarakat pedesaan dalam peningkatan pendapatan dan pemerataan pendapatan penduduk. Ditemukan bahwa pada usahatani padi di Desa Kanjoran, Kecamatan Karanggayam, Kabupaten Kebumen, pendapatan petani dari kegiatan usahatani padi dan pendapatan rumah tangga petani berbeda berdasar status penguasaan lahan dan pada masingmasing status petani terdapat ketimpangan yang tinggi/ pemerataan yang rendah. Ditemukan bahwa nilai Gini Rasio 0,69 yang menunjukkan adanya ketimpangan distribusi pendapatan yang tinggi antara petani padi di Kecamatan Nogosari Kabupaten Boyolali dan faktor status penguasaan lahan berhubungan erat terhadap distribusi pendapatan petani padi, sedangkan luas lahan dengan status petani tidak ada keeratan hubungan.

22 digilib.uns.ac.id 10 Nama Penulis Eko Harri Yulianto Tahun Judul Inti 2005 Pengaruh Biaya Saprodi dan Tenaga Kerja Terhadap Pendapatan Usahatani Semangka Octiasari 2011 Hubungan Penguasaan Lahan Sawah dengan Pendapatan Usahatani Padi (Studi Kasus Kelompok Tani Harum IV Kelurahan Situmekar, Kecamatan Lembursitu, Kota Sukabumi) Bagio Mudakir 2011 Produktivitas Lahan dan Distribusi Pendapatan berdasarkan Status Penguasaan Lahan pada Usahatani Padi (Kasus di Kabupaten Kendal Propinsi Jawa Tengah) Ditemukan bahwa biaya saprodi dan biaya tenaga kerja bersama-sama menunjukkan pengaruh yang sangat nyata terhadap pendapatan usahatani semangka. Biaya saprodi dan biaya tenaga kerja secara bersama pula berhubungan erat dan positif dengan pendapatan usahatani semangka. Secara parsial biaya saprodi berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani semangka, sedangkan biaya tenaga kerja tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani semangka. Ditemukan bahwa Terdapat hubungan yang signifikan antara pendapatan petani dengan luas pengusahaan lahan sawah. Semakin besar pendapatan usahatani padi, maka luas pengusahaan lahan sawah akan semakin meningkat. Ditemukan bahwa tingkat ketimpangan pendapatan petani tanpa pendapatan di luar pertanian relatif lebih tinggi dibandingkan ketimpangan pendapatan petani yang telah memasukan pendapatan dari luar pertanian. Produktivitas usahatani dapat dinaikan dengan menambah pemakaian beberapa sarana produksi, khususnya menambah pemakaian beberapa sarana produksi, terutama pemakaian pupuk urea, benih dan luas lahan. Kenaikan tingkat keuntungan usahatani padi dapat dinaikan dengan menurunkan beberapa harga sarana produksi seperti benih, urea, pestisida, serta luas lahan. Dari hasil berbagai penelitian di atas, dapat diketahui bahwa besar penguasaan lahan, penggunaan tenaga kerja, dan penggunaan sarana produksi dapat mempengaruhi pendapatan petani, sehingga juga dapat mempengaruhi distribusi pendapatan petani. Dari keenam penelitian tersebut dapat memberikan gambaran commit tentang to user pengaruh penguasaan lahan, tenaga

23 digilib.uns.ac.id 11 kerja, dan sarana produksi terhadap pendapatan dan distribusi pendapatan petani Tinjauan Pustaka 1. Lahan Pertanian Lahan pada hakekatnya adalah permukaan bumi yang merupakan bagian dari alam, sehingga lahan tidak terlepas dari pengaruh alam sekitarnya, seperti: sinar matahari, curah hujan, angin, kelembaban udara dan lain sebagainya. Fungsi lahan dalam usahatani adalah tempat menyelenggarakan kegiatan produksi pertanian (usaha bercocok tanam dan pemeliharaan ternak) dan tempat pemukiman keluarga tani (Tjakrawiralaksana, 1985). Lahan merupakan tanah (sekumpulan tubuh alamiah, mempunyai kedalaman lebar yang ciri-cirinya mungkin secara langsung berkaitan dengan vegetasi dan pertanian sekarang) ditambah ciri-ciri fisik lain seperti penyediaan air dan tumbuhan penutup yang dijumpai. Lahan sebagai modal alami yang melandasi kegiatan kehidupan dengan dua fungsi dasar yaitu kegiatan budidaya dan fungsi lindung yaitu kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utamanya untuk melindungi kelestarian lingkungan hidup yang ada (Utomo, 1992). Menurut Mubyarto (1979) tanah sebagai salah satu variabel produksi adalah merupakan pabriknya hasil-hasil pertanian yaitu tempat dimana produksi berjalan dan darimana hasil produksi ke luar, variabel produksi tanah mempunyai kedudukan paling penting terbukti dari besarnya balas jasa yang diterima oleh tanah dibandingkan variabelvariabel produksi lainnya. Tanah merupakan suatu variabel produksi seperti halnya modal dan tenaga kerja dapat pula dibuktikan dari tinggi rendahnya balas jasa (sewa bagi hasil) yang sesuai dengan permintaan dan penawaran tanah dan daerah tertentu, dalam suatu daerah yang penduduknya sangat padat dimana jumlah petani penyakap yang memerlukan tanah garapan jauh lebih besar daripada persediaan tanah yang ada. Pemilik tanah commit dapat to meminta user syarat-syarat yang lebih berat

24 digilib.uns.ac.id 12 bila dibandingkan dengan daerah dimana persediaan tanah garapan masih lebih luas. Menurut Hernanto (1988) pada umumnya di Indonesia lahan merupakan faktor produksi yang relatif langka dibandingkan dengan faktor produksi lainnya dan distribusi penguasaannya tidak merata di masyarakat. Oleh karena itu lahan mempunyai beberapa sifat, antara lain: (a) bukan merupakan barang produksi; (b) luas relatif tetap atau dianggap tetap atau tidak dapat diperbanyak; (c) tidak dapat dipindah-pindahkan; (d) dapat dipindahtangankan dan atau diperjualbelikan; (e) tidak ada penyusutan (tahan lama); dan (f) bunga atas lahan dipengaruhi oleh produktivitas lahan. Karena sifatnya yang khusus tersebut, lahan kemudian dianggap sebagai salah satu faktor produksi usahatani. Lahan merupakan jenis modal yang sangat penting yang harus dibedakan dari jenis modal lainnya sehingga faktor lahan perlu digunakan atau dimanfaatkan secara efisien. Usaha-usaha untuk meningkatkan efisiensi pengusahaan lahan antara lain pemilihan komoditas cabang usahatani dan pengaturan pola tanam. Ukuran efisiensi penggunaan lahan adalah perbandingan antara output dan input. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam usahatani berkaitan dengan lahan yang digunakan adalah sumber dan status lahan, nilai lahan, fragmentasi lahan, lahan sebagai ukuran usahatani, serta perkembangan penguasaan lahan di Indonesia (Wignjosoebroto, 1998). Dengan semakin menyempitnya atau tidak mencukupinya lahan pertanian karena bertambahnya angkatan kerja, disamping kelalaian pemilik/ pengusaha hak atas tanah yang tidak mengusahakannya secara aktif, banyak tanah yang dikerjakan orang lain secara melawan hukum. Pesatnya pembangunan banyak memerlukan tanah, yang berakibat semakin menyempitnya lahan pertanian, baik untuk pemukiman maupun industri. Dengan demikian tanah pertanian berubah fungsinya. Bukan saja fungsi penggunaannya tetapi juga fungsi ekonomisnya (Wignjosoebroto, 1998).

25 digilib.uns.ac.id Petani dan Penguasaan Lahan Petani adalah setiap orang yang melakukan usaha untuk memenuhi sebagian atau seluruh kebutuhan kehidupannya dibidang pertanian, dalam arti luas yang meliputi usahatani pertanian, peternakan, perikanan (termasuk penangkapan ikan), dan pemungutan hasil laut (Hernanto, 1991). Pada dasarnya terdapat empat golongan petani berdasarkan tanahnya, yaitu : a. Golongan petani luas (>1 Ha) b. Golongan petani sedang (0,5 1 Ha) c. Golongan petani sempit (<0,5 Ha) d. Golongan buruh tani (Hernanto, 1991). Menurut Wiradi (2008) dalam tulisannya tentang Pola Penguasaan Tanah dan Reforma Agraria, istilah land tenure dan land tenancy sebenarnya merupakan dua sejoli, namun pengertian atau bidang yang diartikan oleh masing-masing istilah tersebut dalam penggunannya agak berbeda. Kata land memang sudah jelas yaitu tanah, sedangkan kata tenure berasal dari kata dalam bahasa latin tenere yang mencakup arti: memelihara, memegang, memiliki. Oleh karena itu, land tenure memperoleh arti: hak atas tanah atau penguasaan tanah. Istilah land tenure biasanya dipakai dalam uraian-uraian yang membahas masalah yang pokok-pokok umumnya adalah mengenai status hukum dari penguasaan tanah seperti hak milik, gadai, bagi hasil, sewa-menyewa, dan juga kedudukan buruh tani. Uraian itu menunjukkan kepada pendekatan juridis. Artinya penelaahannya biasanya bertolak dari sistem yang berlaku yang mengatur kemungkinan penggunaan, mengatur syaratsyarat untuk dapat menggarap tanah bagi penggarapnya, dan berapa lama penggarapan itu dapat berlangsung. Tanah Pertanian merupakan faktor produksi yang langka di pedesaan Jawa, disamping itu tanah juga dapat dipakai untuk

26 digilib.uns.ac.id 14 memperoleh segala sumber strategis seperti kesempatan ekonomi, kekayaan, kekuasaan dan pendapatan. Ketimpangan dalam pemilikan tanah akan menimbulkan ketimpangan kekuasaan di kalangan anggota masyarakat. Hal tersebut akan membawa pengaruh terhadap kehidupan masyarakat pedesaan terutama dalam kaitannya dengan pemerataan pendapatan, kesempatan kerja dan jangkauan pelayanan pemerintah dan lain sebagainya (Apriyanto, 2005). Petani berlahan luas dapat memperoleh pendapatan yang lebih tinggi daripada petani berlahan sempit, karena dengan skala usaha yang lebih luas, petani berlahan luas dapat menggunakan faktor-faktor produksi yang lebih besar jumlahnya daripada yang diperoleh petani sempit. Petani berlahan luas lebih mampu menahan hasil produksinya untuk menunggu harga yang lebih tinggi dari harga yang diterima petani berlahan sempit. Petani berlahan sempit dalam menjual hasil produksinya pada umumnya dilakukan pada musim panen dimana harga pada musim panen relatif rendah (Astuti, 1996). Di pedesaan distribusi penguasaan lahan dan distribusi pendapatan merupakan dua hal yang cenderung menjadi perhatian, karena distribusi penguasaan lahan cenderung mempengaruhi distribusi pendapatan. Lahan bagi masyarakat pedesaan merupakan faktor produksi yang menentukan tinggi rendahnya pendapatan. Dengan demikian jika lahan terdistribusi dengan merata, maka pendapatan juga akan terdistribusi pula secara merata (Susilowati dan Suryani, 1996). Menurut Syukur (1998), terdapat hubungan searah antara distribusi penguasaan lahan dengan distribusi pendapatan. Dalam hal ini luas lahan mempunyai peranan penting dalam menciptakan arus masuk pendapatan masyarakat pedesaan. Dengan demikian distribusi pendapatan akan terefleksi oleh distribusi penguasaan lahan. Pola pemilikan lahan pertanian menggambarkan keadaan pemilikan faktor produksi utama dalam produksi pertanian. Keadaan pemilikan lahan sering commit dijadikan to user suatu indikator bagi tingkat

27 digilib.uns.ac.id 15 kesejahteraan masyarakat perdesaan walaupun belum mencerminkan keadaan yang sebenarnya bagi tingkat kesejahteraan itu sendiri. Namun demikian, pola pemilikan lahan dapat dijadikan gambaran tentang pemerataan penguasaan faktor produksi utama di sektor pertanian yang dapat dijadikan sumber pendapatan bagi pemiliknya. Pada pola pengusahaan lebih ditekankan pada pemanfaatan secara langsung sumberdaya lahan untuk usahatani yang dilakukan oleh rumah tangga petani (Susilowati dan Suryani, 1996). Status penguasaan lahan pada pokoknya dapat dibagi menjadi tiga, yaitu pemilik penggarap (owner operator), penyewa (cash tenant) dan penyakap atau bagi hasil (share tenant). Status penguasaan lahan yang berbeda secara teoritis akan menentukan tingkat keragaman usaha tani yang berbeda pula. Secara teoritis kedudukan petani penyakap palinglah lemah sehingga akan berpengaruh terhadap keragaan usaha tani, tetapi secara faktual tidaklah tentu demikian yang disebabkan oleh berbagai faktor yang perlu diteliti lebih lanjut (Mudakir, 2011). Status penguasaan lahan yang berbeda akan menentukan tingkat keragaman usaha tani, yang dalam hal ini meliputi tingkat produktivitas lahan dan distribusi pendapatan yang berlainan pula. Teori dasar yang dapat dipakai untuk menerangkan tingkah laku ekonomi dari petani pemilik- penggarap, petani penyewa dan petani penggarap (Mudakir, 2011). 3. Tenaga Kerja, Saprodi, dan Produksi Tenaga kerja umumnya tersedia di pasar keja, dan biasanya siap untuk digunakan dalam suatu proses produksi barang dan jasa. Kemudian perusahaan atau penerima tenaga kerja meminta tenaga keja dari pasar kerja. Apabila tenaga kerja tersebut bekeja, maka mereka akan mendapat imbalan jasa berupa upah/gaji.tenaga keja yang terampil merupakan potensi sumber daya manusia yang sangat dibutuhkan dalam setiap perusahaan dalam mencapai tujuannya. Jumlah penduduk dan angkatan kerja yang besar, di satu commit sisi merupakan to user potensi sumber daya manusia

28 digilib.uns.ac.id 16 yang dapat diandalkan, tetapi di sisi lain juga merupakan masalah besar yang berdampak pada berbagai sektor (Maulana,2007). Dalam mengelola usahataninya, petani umumnya telah mengetahui bahwa penggunaan sarana produksi akan mempengaruhi hasil usahanya, tetapi kebanyakan petani dengan kesederhanaan berpikir dan daya intelektual yang terbatas dikarenakan pendidikan formal yang rendah maka penggunaan biaya sarana produksi terlihat bervariasi karena mereka tidak mengetahui tingkat penggunaan biaya yang tepat akan sarana tersebut (Mubyarto, 1994). Hill dalam Rohana (2004) berpendapat bahwa perubahan distribusi penyerapan tenaga keja sektoral biasanya tejadi lebih lambat dibandingkan dengan perubahan peranan output secara sektoral, mengingat proses perpindahan tenaga keja sangat lambat terutama bagi tenaga keja yang berasal dari sektor dengan produktivitas rendah seperti sektor pertanian. Suatu Perubahan utama dalam pertanian di jawa berupa kekurangan buruh tani yang lebih besar, bahkan di daerah berpenduduk sangat padat. Kekurangan ini terjadi karena tarikan orang ke pekerjaan lebih menarik di daerah urban dan perasaan orang-orang muda yang berpendidikan menengah yang tidak tertarik sebagai petani (Collier, 1996). Produksi adalah proses kombinasi dan koordinasi material-material dan kekuatan-kekuatan (masukan, faktor, sumberdaya, atau jasa-jasa produksi) dalam pembuatan suatu output atau produk. Produk tersebut dapat berupa barang ataupun jasa (Beattle dan Taylor, 1995). Menurut Kartasapoetra (1988), produksi merupakan suatu proses pendayagunaan sumber-sumber yang telah tersedia, dengan mana diharapkan terwujudnya hasil yang lebih dari segala pengorbanan yang telah diberikan. Ditinjau dari pengertian ekonomi merupakan suatu proses pendayagunaan segala sumber yang tersedia untuk mewujudkan

29 digilib.uns.ac.id 17 hasil yang terjamin kualitas dan kuantitasnya terkelola dengan baik, sehingga merupakan komoditi yang dapat diperdagangkan. Hasil akhir dari suatu proses produksi adalah produk atau output. Produk atau produksi dalam bidang pertanian atau lainnya dapat bervariasi yang antara lain disebabkan karena perbedaan kualitas. Kualitas produksi menjadi kurang baik bila usahatani tersebut dilaksanakan dengan kurang baik (Soekartawi, 2005). 4. Pendapatan dan Distribusi Pendapatan Pendapatan usahatani merupakan selisih antara penerimaan yang diperoleh dengan biaya yang dikeluarkan (Soekartawi, 1986). Besarnya pendapatan yang diterima merupakan imbalan untuk jasa petani dan keluarganya serta modal yang dimilikinya. Bentuk dan jumlah pendapatan memiliki fungsi yang sama, yaitu memenuhi keperluan sehari-hari dan memberikan kepuasan petani agar dapat melanjutkan kegiatannya. Pendapatan ini akan digunakan juga untuk mencapai keinginan-keinginan dan memenuhi kewajiban-kewajibannya. Dengan demikian, pendapatan yang diterima petani akan dialokasikan pada berbagai kebutuhan. Keadilan dalam pembagian rezeki dari mengelola sumber daya, baik alam maupun manusia, dari hasil suatu negara adalah dimana pendapatan yang diperoleh dapat dinikmati secara merata oleh rakyatnya (distribusi pembagian pendapatan yang relatif adil). Hal ini berarti bahwa sebagian besar pendapatan negara dinikmati oleh sebagian besar golongan masyarakat dalam negara tersebut. Dengan meratanya pembagian pendapatan, diharapkan tingkat konsumsi masyarakat juga relatif lebih baik (Putong, 2000). Distribusi pendapatan adalah konsep yang lebih luas dibandingkan kemiskinan karena cakupannya tidak hanya menganalisa populasi yang berada dibawah garis kemiskinan.kebanyakan dari ukuran dan indikator yang mengukur tingkat distribusi pendapatan tidak tergantung pada rata-

30 digilib.uns.ac.id 18 rata distribusi, dan karenanya membuat ukuran distribusi pendapatan dipertimbangkan lemah dalam menggambarkan tingkat kesejahteraan. Masalah utama dalam distribusi pendapatan sebuah daerah adalah ketidakmerataan pendapatan antar kelompok masyarakat dalam daerah tersebut, oleh karenanya sering juga disebut tingkat ketidakmerataan atau kesenjangan (inequality). Adelman dan Morris (1973) dalam Arsyad (2004) mengemukakan 8 faktor yang menyebabkan ketidakmerataan distribusi pendapatan di negara-negara sedang berkembang, yaitu: (a) Pertambahan penduduk yang tinggi yang mengakibatkan menurunnya pendapatan per kapita; (b) Inflasi di mana pendapatan uang bertambah tetapi tidak diikuti secara proporsional dengan pertambahan produksi barangbarang; (c) Ketidakmerataan pembangunan antar daerah; (d) Investasi yang sangat banyak dalam proyek-proyek yang padat modal (capital intensive), sehingga persentase pendapatan modal dari tambahan harta lebih besar dibandingkan dengan persentase pendapatan yang berasal dari kerja, sehingga pengangguran bertambah; (e) Rendahnya mobilitas sosial; (f) Pelaksanaan kebijaksanaan industri substitusi impor yang mengakibatkan kenaikan harga-harga barang hasil industri untuk melindungi usahausaha golongan kapitalis; (g) Memburuknya nilai tukar (term of trade) bagi negara-negara sedang berkembang dalam perdagangan dengan negara-negara maju, sebagai akibat ketidakelastisan permintaan negaranegara terhadap barang ekspor negara-negara sedang berkembang; dan (h) Hancurnya industri-industri kerjainan rakyat seperti pertukangan, industri rumah tangga, dan lain-lain. Distribusi pendapatan nasional mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya. Terdapat berbagai kriteria/ tolok ukur untuk menilai kemerataan (parah atau lunaknya ketimpangan) distribusi yang dimaksud. Tiga diantaranya yang lazim digunakan adalah Kurva Lorenz, Indeks Gini Rasio, dan Kriteria commit Bank to user Dunia (Dumairy, 1997).

31 digilib.uns.ac.id 19 Para ahli ekonomi pada umumnya membedakan dua ukuran pokok distribusi pendapatan, yang antara lain : (1) Distribusi pendapatan perorangan, menyangkut segi manusia sebagai perorangan atau rumah tangga dan total pendapatan yang mereka terima. Dalam konsep ini cara yang dilakukan oleh keluarga atau perorangan untuk mendapatkan pendapatan tersebut tidak dipermasalahkan. (2) Distribusi pendapatan fungsional atau distribusi pendapatan berdasarkan peranan masingmasing faktor yang bisa didistribusikan, dalam hal ini mencoba menerangkan bagian dari pendapatan nasional yang diterima oleh masing-masing faktor produksi (Todaro, 1994) Kerangka Teori Pendekatan Masalah Usahatani adalah kesatuan organiasasi antara alam, tenaga kerja, modal dan pengelolaan yang ditujukan untuk memperoleh produksi di lapangan pertanian. Setiap kegiatan usahatani akan membutuhkan biaya dan menghasilkan sejumlah penerimaan. Biaya merupakan seluruh korbanan ekonomik yang dikeluarkan untuk usahatani. Konsep biaya usahatani yang diperhitungkan dalam penelitian ini adalah biaya mengusahakan. Biaya mengusahakan terdiri dari biaya alat-alat luar ditambah biaya tenaga kerja keluarga sendiri yang diperhitungkan berdasarkan upah yang dibayarkan kepada tenaga kerja luar. Pendapatan petani erat kaitannya dengan penerimaan yang diterima dan biaya yang dikeluarkan oleh rumah tangga petani. Penerimaan menyatakan jumlah rupiah yang diterima dan merupakan hasil kali antara harga dengan jumlah barang yang dijual. Rumus penerimaan menurut Suparmoko (1992) sebagai berikut : TR = P x Q Keterangan : TR = Total Penerimaan P = Harga Barang Q = Jumlah Barang

32 digilib.uns.ac.id 20 Ada empat kategori biaya (Hernanto, 1991), yaitu : 1. Biaya tetap, yaitu biaya yang pnggunaannya tidak habis dalam satu masa produksi, meliputi : pajak tanah, penyusutan alat dan bangunan, mesin traktor, dan sebagainya. 2. Biaya variabel, yaitu biaya yang besar kecilnya tergantung kepada biaya skala produksi, meliputi : biaya pupuk, pestisida, bibit, tenaga kerja, pengolahan, sewa tanah, dan sebagainya. 3. Biaya tunai dari biaya tetap, dapat berupa biaya air dan pajak tak tanah. Sedangkan biaya tunai dari biaya variabel meliputi biaya bibit, pupuk, obat-obatan, dan tenaga kerja luar. 4. Biaya tidak tunai yang diperhitungkan, meliputi biaya tenaga kerja keluarga, biaya panen dan pengolahan serta jumlah pupuk kandang yang dipakai. Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dengan semua biaya atau total biaya yang dikeluarkan (Soekartawi, 2006). Secara umum dapat dirumuskan : Pd = TR TC Keterangan : Pd = Pendapatan (Rp) TR = Total penerimaan (Rp) TC = Total biaya (Rp) Lahan merupakan faktor utama dalam pertanian memang tidak dapat ditambah, sedangkan jumlah pertumbuhan manusia terus bertambah, akibatnya luas lahan pertanian terus menyempit. Fenomena yang terjadi adalah munculnya pembagian kepemilikan dan penguasaan lahan pertanian yang tidak merata. Kondisi yang demikian tentu saja akan mempengaruhi skala usaha yang dikelola oleh petani. Luas lahan pertanian yang relatif sempit mengakibatkan jumlah hasil produksi yang dihasilkan dari lahan tersebut juga sedikit, sehingga pendapatan yang diterima commit oleh petani to user pun juga sedikit atau rendah.

33 digilib.uns.ac.id 21 Fenomena semakin kecilnya kepemilikan lahan oleh petani diindikasikan hampir tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, seringkali kecilnya kepemilikan lahan petani diikuti oleh timpangnya distribusi penguasaan lahan. Hal ini disebabkan karena terdapat sebagian kecil individu yang mempunyai akses untuk memiliki lahan dalam jumlah yang relatif luas. Sementara itu, terdapat banyak masyarakat yang tidak memiliki akses untuk menguasai lahan. Ketimpangan yang terkait dengan lahan dapat dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu ketimpangan penguasaan lahan, dan ketimpangan pengusahaan lahan. Indikator untuk melihat besar kecilnya ketimpangan adalah dengan cara melihat atau menghitung indeks Gini berdasarkan lahan milik, lahan yang dikuasai, dan lahan yang diusahakan oleh rumah tangga petani, yaitu dengan rumus : Keterangan : Yi Yi-1 fi GR n GR = 1- f i (Y i + Y i-1 ) 1 = proporsi jumlah rumah tangga kumulatif ke i = Yi sebelumnya = frekuensi luas lahan yang dimiliki/digarap kumulatif ke i = Rasio Gini Kriteria menurut H. T. Oshima (Putong, 2000) : GR 0,3 = ketimpangan distribusi penguasaan lahan rendah 0,3 < GR < 0,4 = ketimpangan distribusi penguasaan lahan sedang GR 0,4 = ketimpangan distribusi penguasaan lahan tinggi Sama halnya dengan distribusi penguasaan lahan, untuk menghitung atau mengukur distribusi pendapatan masyarakat pada suatu daerah dapat digunakan koefisien gini/ gini rasio, dengan rumus : Keterangan : Yi n GR = 1- f i (Y i + Y i-1 ) 1 = proporsi jumlah rumah commit tangga to user kumulatif ke i

34 digilib.uns.ac.id 22 Yi-1 = Yi sebelumnya fi = frekuensi pendapatan kumulatif ke i GR = Rasio Gini Indeks atau rasio gini adalah suatu suatu koefisien yang berkisar dari angka 0 1, menjelaskan kadar pemerataan distribusi pendapatan. Semakin kecil koesfisiennya, maka pertanda semakin baik atau merata distribusinya. Tetapi apabila semakin besar, maka mengisyaratkan distribusi pendapatan yang kian timpang atau terjadi kesenjangan (Dumairy, 1997). Menurut kriteria H. T. Oshima dalam Putong (2000), klasifikasi nilai gini rasio adalah sebagai berikut : GR 0,3 = ketimpangan distribusi pendapatan rendah (distribusi pendapatan relatif merata) 0,3 < GR < 0,4 = ketimpangan distribusi pendapatan sedang GR 0,4 = ketimpangan distribusi pendapatan tinggi Cara lain untuk menganalisis distribusi penguasaan lahan dan distribusi pendapatan adalah dengan membuat kurva lorentz. Kurva lorentz menujukkan hubungan kuantitatif antara persentase penduduk dengan persentase penguasaan lahan atau pendapatan. Semakin jauh kurva lorentz dari garis kemerataan sempurna, maka semakin besar terjadinya ketimpangan distribusi (Arsyad, 2004). Gambar commit 2.1. to Kurva user Lorentz

35 digilib.uns.ac.id 23 Pendapatan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu yang pertama kelompok yang membagi kelas pendapatan menjadi lima kelas, antara lain dari 20% termiskin (pendapatannya paling rendah), 20% termiskin kedua, 20% termiskin ketiga, 20% termiskin keempat, dan 20% termiskin kelima. Sedangkan kelompok kedua adalah yang membagi kelas pendapatan dalam tiga kelas, yaitu 40% termiskin, 40% menengah, dan 20% kaya (Putong, 2000). Pendapatan usahatani jagung dipengaruhi oleh luas penguasaan lahan, biaya tenaga kerja, biaya saprodi dan produksi. Untuk menguji pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap pendapatan maka digunakan analisis regresi fungsi keuntungan yang telah disesuaikan dengan penelitian sebagai berikut : Y = b 0 + b 1 X 1 + b 2 X 2 + b 3 X 3 + e Keterangan : Y = Pendapatan (Rp) b 0 X 1 X 2 X 3 X 4 b 1, b 2, b 3 e = Konstanta = Luas penguasaan lahan (Ha) = Tenaga kerja (HKP) = Biaya saprodi (Rp) = Produksi (Kg) = Koefisisen masing-masing variabel = error (kesalahan pengganggu) Untuk mengetahui faktor-faktor tersebut secara bersama-sama berpengaruh terhadap pendapatan digunakan uji F, sedangkan untuk mengetahui pengaruh masing-masing faktor terhadap pendapatan secara individu digunakan uji t (Priyatno, 2008).

36 digilib.uns.ac.id 24 Usahatani Jagung Analisis Distribusi Penguasaan Lahan Penguasaan Lahan TK Biaya Saprodi Produksi Aktivitas Budidaya Petani Jagung Biaya Usahatani Jagung Penerimaan Usahatani Jagung Analisis Pendapatan Usahatani Jagung Analisis Pengaruh Faktor-Faktor Usahatani terhadap Pendapatan Usahatani Jagung Analisis Distribusi Pendapatan Gambar 2.2. Kerangka Berpikir Pendekatan Masalah 2.4. Hipotesis 1. Diduga bahwa ketimpangan distribusi penguasaan lahan petani jagung tinggi. 2. Diduga bahwa ketimpangan distribusi pendapatan petani jagung tinggi. 3. Diduga bahwa distribusi penguasaan lahan berpengaruh terhadap distribusi pendapatan. 4. Diduga bahwa penguasaan lahan, tenaga kerja, biaya saprodi, dan produksi pertanian berpengaruh commit to terhadap user pendapatan petani jagung.

37 digilib.uns.ac.id 25 III. METODE PENELITIAN 3.1. Metode Dasar Penelitian Metode dasar penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitis, yaitu metode penelitian yang menuturkan dan menafsirkan data sehingga kegiatannya tidak hanya mengumpulkan dan menyusun data namun juga menganalisis dan menginterpretasikan arti data tersebut. Metode deskriptif analitik mempunyai ciri bahwa metode ini memusatkan perhatian pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang, pada masalah-masalah yang aktual, dan data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan, dan kemudian dianalisis (Surakhmad, 1994). Teknik pelaksanaan penelitian ini menggunakan teknik survei, yaitu pengumpulan data dari sejumlah unit atau individu dalam waktu (atau jangka waktu) yang bersamaan dengan menggunakan beberapa daftar pertanyaan berbentuk kuesioner (Surakhmad, 1994) Metode Penentuan Sampel 1. Metode Penentuan Sampel Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan yang merupakan salah satu penghasil jagung. Pengambilan Desa Bandungharjo sebagai lokasi penelitian dilakukan secara studi kasus, yaitu penelitian yang dilakukan terhadap satu latar atau satu orang atau satu tempat, yang dilakukan secara seutuhnya, menyeluruh dan mendalam dengan berbagai macam sumber data (Ardhana, 2011). Desa Bandungharjo terpilih sebagai lokasi pengambilan sampel penelitian, karena Desa Bandungharjo memiliki luas lahan kering terbesar di Kecamatan toroh yaitu 1.242,07 ha, namun untuk jagung sendiri di Desa Bandungharjo luas panennya terkecil yaitu hanya 133 ha (BPS, 2011). Selain itu, Desa Bandungharjo merupakan salah satu desa di Kecamatan Toroh yang lokasinya dekat dengan hutan yang produktivitasnya dinilai sudah mulai menurun serta hasilnya hanya dapat dipanen secara commit tahunan, to user sehingga usahatani jagung dapat 25 24

38 digilib.uns.ac.id 26 digunakan sebagai sumber daya alternatif yang sesuai dengan keadaan geografis dan jenis lahan lokasi tersebut. Alasan yang lain yaitu sehubungan dengan akan dibangunnya bendungan untuk membendung Sungai Glugu di Desa Bandungharjo yang setiap musim penghujan air dari sungai tersebut meluap dan membanjiri beberapa daerah di Grobogan dan Purwodadi. Dengan demikian, maka penelitian ini dapat digunakan sebagai pertimbangan dampak ekonominya, dalam hal ini khususnya untuk usahatani jagung. 2. Metode Pengambilan Sampel Responden Pengambilan responden diperlukan untuk mempermudah penelitian. Pengambilan sampel petani jagung menggunakan metode snowball sampling, yaitu pengambilan sampel secara tidak acak bilamana peneliti mengumpulkan data yang berupa informasi dari informan (responden) dalam suatu lokasi (populasi), tetapi peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Untuk itu informasinya diperoleh dengan secara langsung datang ke lokasi penelitian dan bertanya mengenai informasi yang diperlukan kepada siapapun yang pertama dijumpai. Dari informan yang pertama tersebut bisa menemukan informan yang kedua yang bisa dijadikan sampel. Selanjutnya dari sampel atau informan kedua tersebut dapat diketahui sampel lainnya, begitu seterusnya (Sutopo, 2002). Dalam penelitian ini mengambil sampel rumah tangga petani jagung di Desa Bandungharjo sebagai unit analisis. Menurut Singarimbun dan Sofian (1995), data yang dianalisis harus menggunakan jumlah sampel yang cukup besar sehingga dapat mengikuti distribusi normal. Sampel yang mengikuti distribusi normal adalah sampel yang jumlahnya lebih besar atau sama dengan 30. Berdasarkan pertimbangan tersebut, jumlah sampel pada penelitian ini adalah 60 orang petani jagung.

39 27 Kecamatan Toroh Desa Sindurejo Desa Dimoro Desa Kenteng Desa Sugihan Desa Boloh Desa Tunggak Desa Ngrandah Desa Katong Desa Depok Desa Genengsari Desa Pilangpayung Desa Krangganharjo Desa Bandungharjo Desa Genengadal Desa Tambirejo Desa Plosoharjo 60 Petani Jagung Gambar 3.1. Bagan Pengambilan Sampel 27

40 digilib.uns.ac.id Jenis dan Sumber data 1. Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari petani yang mengusahakan jagung maupun pihak lain yang berhubungan dengan usahatani jagung. Misalnya data mengenai hasil produksi jagung, faktor produksi yang digunakan, biaya, penerimaan, serta proses produksi yang dilakukan. Data ini diperoleh melalui wawancara. 2. Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui pencatatan terhadap laporan maupun dokumen dari instansi-instansi yang berkaitan dengan penelitian, yaitu Kantor Kecamatan Toroh, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Grobogan, Bappeda Kabupaten Grobogan, dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Grobogan Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi Observasi merupakan teknik atau pendekatan untuk mendapatkan data primer dengan cara mengamati langsung obyek datanya. Pendekatan observasi baik digunakan untuk mengamati suatu proses, kondisi, kejadian-kejadian atau perilaku manusia (Hartono, 2007). 2. Wawancara Wawancara adalah suatu proses interaksi dan komunikasi untuk mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden (Singarimbun dan Sofian, 1995). Teknik ini dilakukan untuk pengumpulan data primer berdasarkan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu. 3. Pencatatan (Analisis Data Sekunder) Teknik ini dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder yang diperlukan dalam penelitian, yaitu dengan mencatat data yang telah ada pada instansi atau lembaga terkait dengan penelitian (Singarimbun dan Sofian, commit 1995). to user

41 digilib.uns.ac.id Asumsi-asumsi 1. Petani bersifat rasional untuk memperoleh pendapatan setinggitingginya. 2. Kondisi daerah penelitian yang meliputi jenis tanah, kesuburan tanah, iklim, curah hujan dan topografi dianggap berpengaruh normal terhadap proses usahatani serta tidak ada serangan hama dan penyakit. 3. Ketidakpastian dan perubahan teknologi ditiadakan dalam penelitian. 4. Harga sarana produksi maupun hasil produksi dihitung berdasarkan harga setempat yang berlaku pada saat penelitian dan dianggap konstan. 5. Seluruh hasil panen dianggap terjual Pembatasan Masalah 1. Lahan pertanian yang dimaksud adalah lahan yang mengusahakan jagung. 2. Penelitian ini dilaksanakan pada usahatani jagung yang diusahakan secara monokultur pada musim tanam periode Juni 2011 September Petani yang menjadi sampel adalah petani jagung. 4. Pendapatan petani yang dimaksud adalah pendapatan petani yang berasal dari usahatani jagung Definisi Operasional dan Konsep Pengukuran Variabel 1. Pendapatan petani adalah pendapatan yang diterima oleh petani dari usahatani jagung. Pendapatan tersebut diperoleh dari pengurangan penerimaan yang dihasilkan dari penjualan hasil produksi jagung dengan seluruh biaya selama proses produksi dan dinyatakan dalam Rupiah. 2. Penerimaan yang dimaksud adalah keseluruhan hasil penjualan produksi jagung yang diterima oleh petani dan dinyatakan dalam Rupiah. 3. Biaya yang dimaksud adalah biaya yang dikeluarkan petani, meliputi biaya benih, pupuk, pengolahan, pajak, tenaga kerja luar, dan biaya panen yang dinyatakan dalam Rupiah. 4. Biaya saprodi yaitu biaya yang dikeluarkan petani untuk biaya benih, biaya pupuk urea, biaya commit pupuk SP-36 to user dan biaya pupuk Phonska.

42 digilib.uns.ac.id Lahan pertanian adalah lahan yang digunakan untuk mengusahakan jagung, dinyatakan dalam Ha. 6. Status penguasaan lahan pertanian adalah lahan yang dikelola oleh petani jagung baik berdasar hak milik sendiri ataupun hak mengusahakan (sewa atau bagi hasil). 7. Petani jagung yang dimaksud terdiri dari : a. Petani pemilik penggarap, adalah petani yang memiliki lahan pertanian dan yang mengelolanya sendiri. b. Petani penyewa, adalah petani yang mengelola lahan pertanian dengan cara menguasai lahan pertanian milik orang lain dengan memberikan kompensasi berupa uang sewa kepada pemilik. c. Petani penyakap adalah petani yang menguasai lahan pertanian milik orang lain dengan cara menggarap lahan tersebut kemudian hasil dari lahan tersebut dibagi dengan pemilik sesuai kesepakatan. 8. Distribusi penguasaan lahan adalah proporsi penguasaan lahan pertanian pada kelompok petani dari total lahan yang dinyatakan dalam persentase. 9. Distribusi pendapatan adalah proporsi pendapatan yang diterima oleh kelompok petani dari hasil total pendapatan yang diterima dan dinyatakan dalam persentase Metode Analisis Data Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini digunakan untuk mengolah data primer yang diperoleh, menganalisis pendapatan usahatani berdasarkan penerimaaan dan biaya usahatani, menganalisis distribusi penguasaan lahan dan distribusi pendapatan usahatani, serta menganalisis hubungan antara pendapatan usahatani jagung dengan faktor-faktor yang diduga mempengaruhinya. 1. Analisis Pendapatan Usahatani Penerimaan total usahatani (total farm revenue) merupakan nilai produk dari usahatani yaitu harga produk dikalikan dengan total produksi periode tertentu. Total biaya atau pengeluaran adalah semua nilai faktor produksi yang dipergunakan commit untuk to user menghasilkan suatu produk dalam

43 digilib.uns.ac.id 31 periode tertentu. Pendapatan total usahatani merupakan selisih antara penerimaan total dengan pengeluaran total (Soekartawi 1995). Besarnya pendapatan dari petani sangat tergantung dengan besarnya penerimaan yang diperoleh. Untuk menghitung penerimaan dihitung dengan cara : TR = P x Q Keterangan : TR = Total penerimaan (Rp) P = Harga barang (Rp/Kg) Q = Jumlah produksi (Kg) Pendapatan petani dari usahatani jagung dihitung dengan rumus sebagai berikut : Pd = TR TC Keterangan : Pd = Pendapatan petani (Rp) TR = Total penerimaan (Rp) TC = Total biaya (Rp) Pendapatan petani dianalisis berdasarkan biaya tunai dan biaya tidak tunai atau biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai digunakan untuk melihat seberapa besar likuiditas tunai yang dibutuhkan petani untuk menjalankan kegiatan usahataninya. Biaya tidak tunai digunakan untuk menghitung berapa sebenarnya pendapatan kerja petani jika penyusutan, sewa lahan dan nilai kerja keluarga diperhitungkan. 2. Analisis Gini Rasio Untuk mengetahui kemerataan distribusi penguasaan lahan dan distribusi pendapatan menggunakan rumus Gini Rasio sebagai berikut : a. Distribusi Penguasaan lahan Indikator ketimpangan distribusi pemilikan dan penggarapan tanah yang lazim digunakan adalah koefisien Gini (GR) yang formulanya sebagai berikut : n GR commit = 1- to f i user (Y i + Y i-1 ) 1

44 digilib.uns.ac.id 32 Keterangan : Yi = proporsi jumlah rumah tangga kumulatif ke i Yi-1 = Yi sebelumnya fi = frekuensi luas lahan yang dimiliki/digarap kumulatif ke i GR = Rasio Gini Ketimpangan distribusi pemilikan dan penggarapan tanah perlu dikaji, karena mengandung implikasi terhadap distribusi pendapatan, terutama di wilayah dimana tingkat ketergantungan pendapatan masyarakat terhadap pertanian land base yang sangat tinggi. Dalam penelitian ini, dengan asumsi bahwa distribusi pemilikan dan penggarapan tanah sangat berkorelasi positif dengan distribusi pendapatan, patokan yang digunakan mengacu pada kriteria yang dikembangkan oleh H. T. Oshima (1976). Kriteria menurut H. T. Oshima : GR 0,3 = ketimpangan distribusi penguasaan lahan rendah 0,3 < GR < 0,4 = ketimpangan sedang GR 0,4 b. Distribusi Pendapatan = ketimpangan tinggi Untuk mengetahui kemerataan distribusi pendapatan digunakan rumus Gini Rasio sebagai berikut : Keterangan : Yi Yi-1 fi GR n GR = 1- f i (Y i + Y i-1 ) 1 = proporsi jumlah rumah tangga kumulatif ke i = Yi sebelumnya = frekuensi pendapatan kumulatif ke i = Rasio Gini Kriteria menurut H. T. Oshima : GR 0,3 = ketimpangan distribusi pendapatan rendah 0,3 < GR < 0,4 = ketimpangan sedang GR 0,4 = ketimpangan tinggi

45 digilib.uns.ac.id Analisis Regresi Linear Berganda Menurut Sumodiningrat (2004) analisis regresi linier berganda ialah suatu model regresi yang variabel terikatnya merupakan fungsi linier dari dua variabel bebas atau lebih. Untuk mengetahui pengaruh luas penguasaan lahan, biaya tenaga kerja, biaya saprodi, dan produksi terhadap pendapatan usahatani jagung digunakan model fungsi kepangkatan keuntungan, dengan rumus sebagai berikut : Y = b 0 + b 1 X 1 + b 2 X 2 + b 3 X 3 + b 4 X 4 + e Keterangan : Y = Pendapatan (Rp) b 0 X 1 X 2 X 3 X 4 b 1, b 2, b 3, b 4 e = Konstanta = Luas lahan (Ha) = Tenaga kerja (HKP) = Biaya saprodi (Rp) = Produksi (Kg) = Koefisisen masing-masing variabel = error (kesalahan pengganggu) a. Pengujian Model 1) Uji Asumsi Klasik Uji pelanggaran asumsi klasik meliputi uji deteksi multikolinearitas dan heteroskedastisitas. Hasil dari uji ini dapat diketahui sebagai berikut : a) Multikolinearitas Uji deteksi multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai Varians Inflation Factor (VIF), jika lebih dari 5 maka variabel tersebut mempunyai persoalan multikolinearitas dengan variabel bebas lainnya. Nilai VIF tidak ada yang bernilai lebih besar dari 5, berarti bahwa antara variabelvariabel bebas tidak terjadi multikolinearitas. Uji deteksi multikolinearitas dilakukan dengan melihat nilai Pearson Correlation (PC), commit jika to lebih user dari 0,8 maka variabel tersebut

46 digilib.uns.ac.id 34 mempunyai persoalan multikolinearitas dengan variabel lainnya. Nilai PC setelah di uji tidak ada yang melebihi 0,8 maka antar variabel-variabel bebas tersebut tidak terjadi multikolinearitas. b) Heteroskedastisitas Uji heteroskedastisitas dilakukan melalui metode grafik dengan melihat diagram pencar (scatterplot). Berdasarkan analisis data, diketahui bahwa titik-titik yang ada dalam diagram pencar (scatterplot) menyebar dan tidak membentuk suatu pola tertentu yang berarti tidak terjadi hetetoskedastisitas pada model regresi. 2) Uji adjusted R 2 U Uji ini dilakukan untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel-variabel bebas terhadap pendapatan. Nilai R 2 mempunyai range antara 0-1 atau (0 < R 2 1). Semakin besar R 2 (mendekati satu) semakin baik hasil regresi tersebut (semakin besar pengaruh variabel bebas terhadap variabel tak bebas), dan semakin mendekati 0 maka variabel bebas secara keseluruhan semakin kurang bisa menjelaskan variabel tidak bebas. Koefisien deteminasi (R 2 ) merupakan angka yang memberikan proporsi atau persentase variasi total dalam variabel tak bebas (Y) yang dijelaskan oleh variabel bebas (X). 3) Uji F Pengujian terhadap pengaruh semua variabel independen di dalam model dapat dilakukan dengan uji simultan (uji F). Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh semua variabel independen yang terdapat dalam model secara bersamasama terhadap variabel dependen, uji F dihitung dengan rumus sebagai berikut : ESS /( k 1) commit F to TSS user /( N k)

47 digilib.uns.ac.id 35 Keterangan : ESS = Explained Sum of Square = Jumlah kuadrat yang bisa dijelaskan atau variasi yang bisa dijelaskan TSS = Total Sum of Square = Jumlah kuadrat total k = Jumlah variabel N = Jumlah sampel Dengan hipotesis : Ho : bi = 0 Hi : bi 0 Dengan tingkat signifikasi = 5% maka kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut : a) Jika F hitung > F tabel : Ho ditolak dan Hi diterima, yang berarti variabel independen secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap variabel dependen. b) Jika F hitung < F tabel : Ho diterima dan Hi ditolak, yang berarti variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh nyata terhadap variabel dependen. 4) Uji t Uji statistik t dilakukan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. Uji t ini dilakukan dengan membandingkan t hitung dengan t tabel (Ghozali, 2011). Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan statistik t, dimana nilai t hitung dapat diperoleh dengan formula sebagai berikut: bi t hitung Se(bi) Dimana : bi = koefisien regresi ke-i Se (bi) = standard error koefisien regresi ke-i

48 digilib.uns.ac.id 36 Dengan hipotesis : Ho : b i = 0 Hi : bi 0 Pada tingkat signifikasi = 5%, kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut : a) Jika t hitung > t tabel : Ho ditolak dan Hi diterima, yang berarti variabel independen ke-i berpengaruh nyata secara individual terhadap variabel dependen. b) Jika t hitung < t tabel : Ho diterima dan Hi ditolak, yang berarti variabel independen ke-i tidak berpengaruh nyata secara individual terhadap variabel dependen.

49 digilib.uns.ac.id 37 IV. KONDISI UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Keadaan Geografis Kabupaten Grobogan merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang memiliki luas wilayah sebesar ,420 Ha dan merupakan kabepaten terluas nomor dua setelah Kabupaten Cilacap. Secara administrati Kabupaten Grobogan terdiri dari 19 (sembilan belas) kecamatan dan 280 desa/ kelurahan. Ditinjau secara letak geografis, wilayah Kabupaten Grobogan terletak diantara 110 o o 25 BT dan 7 o -7 o 30 LS. Kabupaten Grobogan memiliki relief daerah berupa pegunungan kapur, perbukitan, dan dataran di bagian tengahnya, secara topografi terbagi kedalam 3 kelompok yaitu : 1. Daerah dataran rendah berada pada ketinggian sampai 50 meter di atas permukaan air laut dengan kelerengan 0 o - 8 o meliputi 6 kecamatan yaitu Kecamatan Gubug, Tegowanu, Godong, Purwodadi, Grobogan sebelah selatan dan Wirosari sebelah selatan. 2. Daerah perbukitan berada pada ketinggian antara meter di atas permukaan air laut dengan kelerengan 8 o - 15 o meliputi 4 kecamatan yaitu Kecamatan Klambu, Brati, Grobogan sebelah utara dan Wirosari sebelah utara. 3. Daerah dataran tinggi berada pada ketinggian meter di atas permukaan air laut dengan kelerengan lebih dari 15 o, meliputi wilayah kecamatan yang berada di sebelah selatan dari wilayah Kabupaten Grobogan. Batas-batas wilayah Kabupaten Grobogan meliputi : Sebelah Utara : Kabupaten Kudus, Kabupaten Demak, Kabupaten Pati, dan Kabupaten Blora Sebelah Selatan : Kabupaten Ngawi (Jawa Timur), Kabupaten Sragen, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Semarang Sebelah Timur : Kabupaten Blora Sebelah Barat : Kabupaten commit Semarang to user dan Kabupaten Demak 37

50 digilib.uns.ac.id 38 Kecamatan Toroh merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Grobogan. Kecamatan Toroh terletak pada terdiri dari 16 desa dengan luas wilayah ,59 Ha. Kecamatan Toroh terletak pada ketinggian 45 meter di atas permukaan laut. Batas batas wilayah Kecamatan Toroh adalah sebagai berikut : Sebelah Utara : Kecamatan Purwodadi Sebelah Selatan : Kecamatan Geyer Sebelah Timur : Kecamatan Pulokulon Sebelah Barat : Kecamatan Penawangan Desa Bandungharjo memiliki luas daerah 1.405,97 Ha dengan batasbatas wilayah sebagai berikut : Sebelah Utara : Desa Depok Sebelah Selatan : Desa Jambangan Sebelah Timur : Desa Genengsari dan Desa Tambirejo Sebelah Barat : Desa Sindurejo 4.2. Keadaan Penduduk Keadaan penduduk di Kecamatan Toroh meliputi penduduk menurut jenis kelamin, penduduk menurut kelompok umur, keadaan penduduk menurut tingkat pendidikan, keadaan penduduk menurut mata pencaharian adalah sebagai berikut : 1. Keadaan Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Penggolongan penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin dapat memberikan gambaran tentang Angka Beban Tanggungan (ABT) dan sex ratio (SR). Angka Beban Tanggungan (ABT) dapat diketahui dengan membandingkan jumlah penduduk non produktif dengan penduduk produktif. Penduduk usia belum produktif adalah penduduk yang berusia 0-14 tahun, sedangkan penduduk usia produktif adalah penduduk dengan usia tahun, dan penduduk tidak produktif adalah penduduk yang memiliki usia lebih dari atau sama dengan 65 tahun. Sex ratio (SR) dapat diketahui dengan membandingkan jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan.

51 digilib.uns.ac.id 39 Menurut data BPS Grobogan tahun 2012, jumlah penduduk Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh menurut kelompok umur dan jenis kelamin adalah sebagai berikut : Tabel 4.1. Jumlah Penduduk Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin, 2011 No Kelompok Umur (Thn) Lakilaki (org) Jml (org) Kabupaten Grobogan Perempuan (org) Kecamatan Toroh Perempuan (org) Lakilaki (org) terdapat 100 orang penduduk commit perempuan to user maka terdapat 98 penduduk laki- Jml (org) Jumlah Sumber : BPS Kabupaten Grobogan, 2012 Berdasarkan data pada Tabel 4.1 jumlah penduduk usia produktif di Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh adalah orang dan orang. Angka ini menunjukkan adanya sumber daya manusia yang relatif besar untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor perekonomian wilayah tersebut, terutama sektor pertanian. Jumlah penduduk usia produktif yang cukup besar akan menunjang keberhasilan usahatani di daerah tersebut. Penduduk usia produktif masih dimungkinkan adanya keinginan untuk meningkatkan ketrampilan dan menambah pengetahuan dalam mengelola usahataninya serta penyerapan teknologi baru untuk memajukan usahataninya, khususnya dalam hal usahatani jagung. Dari perhitungan ABT Kabupaten Grobogan didapatkan nilai ABT sebesar 50,93 persen, artinya dalam setiap 100 orang penduduk usia produktif di wilayah tersebut harus menanggung 50 orang penduduk usia non produktif. Untuk Kecamatan Toroh besarnya nilai ABT adalah 33,45 persen sehingga 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung 33 orang usia non produktif. Berdasarkan perhitungan sex ratio dapat diperoleh nilai sex ratio (SR) di Kabupaten Grobogan sebesar 98, artinya jika di kabupaten tersebut

52 digilib.uns.ac.id 40 laki. Sex ratio (SR) untuk Kecamatan Toroh adalah 99 sehingga jika ada 100 orang penduduk perempuan, maka terdapat 99 orang penduduk lakilaki. Dalam hal ini jumlah penduduk perempuan lebih banyak daripada jumlah penduduk laki-laki. Perbedaan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan disuatu desa juga menyebabkan perbedaan besarnya sex ratio atau rasio jenis kelamin. Berikut ini menunjukkan jumlah penduduk menurut jenis kelamin di Desa Bandungharjo. Tabel 4.2. Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Tahun 2011 No. Jenis Kelamin Jumlah (orang) Laki-laki Perempuan Jumlah Sumber : BPS Kabupaten Grobogan, 2012 Berdasarkan data dari tabel di atas maka dapat dihitung bahwa besarnya rasio jenis kelamin dari Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan yaitu 101, yang artinya jika ada 100 orang penduduk perempuan, maka terdapat 101 orang penduduk laki-laki di desa tersebut. Dalam hal ini jumlah penduduk laki-laki lebih banyak daripada penduduk perempuan. Penduduk laki-laki dapat berperan aktif dalam dalam kegiatan usahatani. Sehingga akan dapat mengurangi penggunaan tenaga kerja luar keluarga. 2. Keadaan Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Menurut data BPS Kabupaten Grobogan tahun 2012, jumlah penduduk menurut tingkat pendidikan di Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh adalah sebagai berikut :

53 digilib.uns.ac.id 41 Tabel 4.3. Komposisi Penduduk Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh Menurut Tingkat Pendidikan Tahun 2011 No. Pendidikan Kabupaten Grobogan Jumlah (orang) % Kecamatan Toroh Jumlah (orang) 1 Tdk/Blm Pernah Sekolah , ,20 2 Tdk/Blm Tamat SD , ,70 3 Tamat SD/MI , ,27 4 Tamat SLTP , ,35 5 Tamat SLTA , ,96 6 Tamat Akademi/PT , ,52 JUMLAH , ,00 Sumber : BPS Kabupaten Grobogan, 2012 Berdasarkan pada Tabel 4.3, dapat diketahui bahwa persentase tingkat pendidikan terbesar di Kabupaten Grobogan % dan Kecamatan Toroh adalah tamat SD yaitu sebesar 35,79 persen untuk Kabupaten Grobogan, dan untuk Kecamatan Toroh sebesar 38,27 persen. Persentase tingkat pendidikan terkecil di Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh adalah tamat Akademi/PT yaitu hanya sebesar 1,96 persen untuk Kabupaten Grobogan, dan untuk Kecamatan Toroh sebesar 1,52 persen. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk di Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh masih memiliki tingkat pendidikan yang rendah, hal ini dapat dikarenakan berbagai alasan, salah satunya adalah masalah ekonomi yang menyebabkan mereka tidak dapat meneruskan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi. Namun, dalam kegiatan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat setempat sebagian besar dari mereka mendapatkan pengetahuan usahatani secara turun temurun dan dari pendidikan non formal seperti penyuluhan dan pelatihan.

54 digilib.uns.ac.id Keadaan Penduduk Menurut Mata Pencaharian Menurut data BPS Grobogan tahun 2011, jumlah penduduk di Kecamatan Toroh dan Desa Bandungharjo menurut mata pencaharian adalah sebagai berikut : Tabel 4.4. Banyaknya Penduduk Menurut Mata Pencaharian di Kecamatan Toroh dan Desa Bandungharjo, 2010 No. Mata Kecamatan Toroh Desa Bandungharjo Pencaharian Jumlah(org) % Jumlah(org) % 1. Petani ,59 2. Buruh Tani ,73 3. Pedagang ,56 4. Buruh Industri ,46 5. Buruh Bangunan ,83 6. Pemulung ,08 7. Pengangkutan ,21 8. PNS/TNI/POLRI ,30 9. Pensiunan , Lain-lain Belum Bekerja ,77 42,36 Jumlah ,00 Sumber : BPS Kabupaten Grobogan, 2011 Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk yang bermata pencaharian pemulung merupakan mata pencaharian penduduk paling kecil di Kecamatan Toroh yaitu sebesar 199 orang dan jumlah petani sendiri dan buruh tani cukup besar jika dibandingkan dengan penduduk dengan mata pencaharian yang lain yaitu sebesar dan orang. Di Desa Bandungharjo sendiri pekerjaan pemulung juga paling kecil jumlahnya, yaitu hanya 6 orang atau sekitar 0,08 persen dari total semua penduduk di Desa itu. Sama halnya dengan Kecamatan Toroh, jumlah terbesar yaitu buruh tani yakni sebanyak orang dan disusul petani sebanyak 1477 orang. Banyaknya penduduk yang bekerja di bidang pertanian, dapat dikarenakan banyaknya lahan pertanian di Kecamatan Toroh dan juga di Desa Bandungharjo sehingga sebagian besar penduduk melakukan kegiatan pertanian secara turun temurun.

55 digilib.uns.ac.id Kondisi Pertanian 1. Tata Guna Lahan Tata guna lahan di Kabupaten Grobogan dibedakan menjadi dua, yaitu lahan sawah dan lahan kering. Penggunaan lahan di Kecamatan Toroh dan Desa Bandungharjo dapat dilihat pada Tabel 4.5. Tabel 4.5. Tata Guna Lahan di Kecamatan Toroh dan Desa Bandungharjo Tahun 2011 No Tata Guna Lahan Lahan Sawah a. Irigasi Teknis b. Irigasi ½ Teknis c. Irigasi Sederhana d. Tadah Hujan Lahan Kering a. Pekarangan/Bangunan b. Tegalan,Kebun&Ladang c. Kolam/Tambak d. Hutan Negara e. Hutan Rakyat f. Lain-lain Kecamatan Toroh Desa Bandungharjo Luas (Ha) % Luas (Ha) % 4.518,00 37,86 163,90 11, ,00 16, ,00 0, ,00 2, ,00 19,06 163,90 11, ,89 62, ,07 88, ,00 15,10 173,60 12, ,00 17,96 256,57 18,25 6, , ,00 24,46 683,10 48,58 34,00 0, ,89 4,28 119,10 9,11 JUMLAH , , Sumber : BPS Kabupaten Grobogan, 2012 Tabel 4.5 menunjukkan bahwa penggunaan lahan terluas di Kecamatan Toroh berupa lahan kering yang besarnya mencapai 7.413,89 ha atau sebesar 62,13 persen, yang sebagian besar digunakan untuk hutan negara, yaitu seluas 2.919,00. Sedangkan penggunaan lahan sawah di Kecamatan Toroh seluas 4.518,00 ha atau sebesar 37,86 persen, yang sebagian besar berupa sawah tadah hujan, yaitu seluas 2.274,00 ha. Di Desa Bandungharjo, penggunaan lahan terluas juga berupa lahan kering seluas 1.242,07 ha atau sebesar 88,34 persen. Penggunaaan lahan sawah di Desa Bandungharjo seluas 163,90 ha atau sebesar 11,66 persen yang keseluruhannya berupa sawah tadah hujan. Luasnya lahan sawah tadah hujan ini memungkinkan petani menanam jagung pada musim penghujan atau pada awal musim penghujan.

56 digilib.uns.ac.id Produksi Tanaman Pangan Produksi tanaman hasil pertanian di Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh dapat dilihat pada Tabel 4.6. Tabel 4.6. Produksi Tanaman Pangan di Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh Tahun 2010 No Jenis Tanaman Pangan Padi Jagung Ubi Kayu Ubi Jalar Kacang Tanah Kedelai Kacang Hijau Kabupaten Grobogan Luas Produksi Panen(Ha) (ton) Kecamatan Toroh Luas Produksi Panen(Ha) (ton) Sumber : Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Grobogan, 2011 Dari Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa diantara tanaman pangan yang diusahakkan di Kabupatn Grobogan dan di Kecamatan Toroh, jagung merupakan komoditi yang paling banyak diusahakan. Luas panen jagung pada tahun 2010 di Kabupaten Grobogan sebesar ha, sedangkan di Kecamatan Toroh luas panen jagung sebesar ha. Produksi jagung di Kabupaten Grobogan juga menduduki peringkat pertama, begitu juga di Kecamatan Toroh produksi jagung menduduki peringkat pertama. Produksi jagung pada tahun 2010 di Kabupaten Grobogan sebanyak ton jagung pipil kering, sedangkan produksi jagung di Kecamatan Toroh sebanyak ton jagung pipil kering. Kondisi ini menunjukkan bahwa Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh merupakan daerah potensial penghasil jagung Kondisi Sarana Perekonomian Jumlah sarana perekonomian yang ada di Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh dapat dilihat pada Tabel 4.7.

57 digilib.uns.ac.id 45 Tabel 4.7. Sarana Perekonomian di Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh Tahun 2011 No Sarana KUD (Koperasi Unit Desa) Bank Umum BPR (Bank Perkreditan Rakyat) Pasar a. Umum b. Desa c. Hewan Sumber : BPS Kabupaten Grobogan, 2012 Kabupaten Grobogan(unit) Kecamatan Toroh(unit) Berdasarkan Tabel 4.7 dapat diketahui bahwa sarana perekonomian yang paling banyak terdapat di Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Toroh adalah pasar. Di Kabupaten Grobogan terdapat 28 pasar umum, 68 pasar desa dan 9 pasar hewan, sedangkan di Kecamatan Toroh terdapat 2 pasar umum dan 2 pasar desa. Pasar merupakan sarana perekonomian yang penting, karena pasar merupakan tempat terjadinya transaksi jual beli, khususnya untuk jual beli hasil pertanian. Koperasi Unit Desa (KUD) yang terdapat di Kabupaten Grobogan sebanyak 24 unit, sedangkan di Kecamatan Toroh terdapat 2 unit. KUD berperan penting dalam penyediaan saprodi dan tempat jual beli hasil pertanian. Sarana perekonomian yang tidak kalah pentingnya adalah Bank, baik Bank Umum maupun Bank Perkreditan Rakyat. Di Kabupaten Grobogan terdapat 33 Bank Umum dan 32 Bank Perkerditan Rakyat, sedangkan di Kecamatan Toroh terdapat 2 Bank Umum dan 2 Bank Perkreditan Rakyat. Peran bank sangat penting dalam penyaluran modal bagi petani. Bank yang memberikan bunga pinjaman yang ringan sangat memudahkan petani untuk mendapatkan modal, untuk menjalankan usahataninya

58 digilib.uns.ac.id 46 V. HASIL PENELITIAN 5.1. Identitas Responden Identitas petani sampel atau responden merupakan gambaran secara umum tentang keadaan responden yang meliputi umur, pendidikan formal, jumlah anggota keluarga, rata-rata luas lahan garapan. Adapun identitas responden pada usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan dapat dilihat pada Tabel 5.1. Tabel 5.1. Identitas Petani Sampel Usahatani Jagung MT Agustus- November 2011 di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan No. Identitas Petani Jumlah petani sampel (orang) Rata-rata umur (th) Pendidikan a. Tidak tamat SD b. SD (orang) c. SLTP (orang) d. SLTA (orang) e. Perguruan Tinggi (orang) f. Tidak Sekolah Rata-rata jumlah anggota keluarga (orang) Rata-rata jumlah anggota yang aktif dalam usahatani Rata-rata luas lahan garapan (Ha) Sumber : Analisis Data Primer Keterangan sebanyak sebanyak 2 orang. commit Tingkat to pendidikan user mempengaruhi sikap petani ,74 Tabel 5.1 di atas menunjukkan bahwa rata-rata umur petani responden adalah 47 tahun, sehingga dapat dikatakan bahwa petani responden termasuk dalam kelompok usia produktif. Hal ini menunjukkan bahwa para petani tersebut masih mempunyai produktivitas kerja yang tinggi karena tenaga yang dimiliki dan kemampuan untuk bekerja masih cukup besar. Tingkat pendidikan dari petani responden sebagian besar hanya tamat SD yaitu sebanyak 28 orang, tidak tamat SD sebanyak 21, tamat SLTP sebanyak 7 orang, tamat SLTA sebanyak 2 orang dan tidak sekolah 46

59 digilib.uns.ac.id 47 dalam mengambil keputusan terhadap berbagai teknologi dan inovasi baru yang telah dikembangkan terutama untuk peningkatan usahatani yang dijalankannya. Dengan tingkat pendidikan yang cenderung rendah, maka para petani dalam mengelola usahataninya kebanyakan mengandalkan pengalaman. Pengalaman merupakan faktor penting dalam berusahatani, karena pengalaman seseorang dapat berpengaruh terhadap pekerjaan yang sekarang dilakukan. Dengan belajar dari pengalaman yang dimiliki, petani mendapatkan pengetahuan baik teori maupun praktek untuk memperlancar usahataninya. Petani yang memiliki pengalaman lebih lama akan lebih memahami situasi dan kondisi usahataninya, sehingga akan lebih mudah dalam mengelola resiko kegagalan usahataninya. Umur, pendidikan dan pengalaman yang dimiliki petani akan berpengaruh terhadap pola pikir, cara kerja dan kemampuan petani dalam menerima informasi dan menyerap teknologi, serta berpengaruh pula dalam pengambilan keputusan dalam usahatani untuk meningkatkan pendapatan usahaninya. Rata-rata jumlah anggota keluarga petani responden yaitu 4 orang. Jumlah anggota yang tidak begitu besar menunjukkan bahwa petani responden termasuk keluarga kecil. Rata-rata jumlah anggota keluarga yang aktif dalam usahatani yaitu hanya 2 orang. Rata-rata anggota keluarga yang aktif dalam usahatani adalah ayah dan ibu, sedangkan sebagian besar anak petani bekerja sebagai buruh maupun wiraswasta di luar kota. Namun juga ada anak petani yang juga ikut membantu dalam kegiatan usahatani. Sedikitnya anggota keluarga yang aktif dalam usahatani menyebabkan petani sering menggunakan tenaga luar untuk membantu pekerjaan pertaniannya. Rata-rata luas lahan garapan dari petani responden yaitu sebesar 0,74 ha. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, petani responden merupakan golongan petani berlahan sedang. Menurut Hernanto (1991), golongan petani berlahan sedang adalah para petani yang mempunyai lahan pertanian 0,5 ha sampai 1 ha.

60 digilib.uns.ac.id Analisis Usahatani Jagung 1. Penggunaan Sarana Produksi dan Tenaga Kerja Usahatani Jagung a. Penggunaan Sarana Produksi pada Usahatani Jagung Macam dan jumlah sarana produksi yang digunakan dalam usahatani akan menentukan hasil yang diperoleh, oleh karena itu kombinasi dalam penggunaan sarana produksi harus tepat untuk memperoleh hasil yang maksimal. Sarana produksi yang digunakan dalam usahatani jagung meliputi benih, pupuk Urea, pupuk Phonska, dan pupuk SP36. Rata-rata penggunaan sarana produksi pada usahatani jagung dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 5.2. Rata-rata Penggunaan Sarana Produksi Pada Usahatani Jagung MT Agustus November 2011 di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan No. Sarana Produksi Per Usahatani Per Hektar Luas lahan garapan (Ha) Benih (kg) Pupuk Urea (kg) Pupuk Phonska (kg) Pupuk SP36 (kg) 0,74 8,13 124,17 33,5 141,25 1,00 10,94 166,95 40,04 189,92 Sumber : Analisis Data Primer Berdasarkan pada Tabel 5.2, dapat diketahui bahwa rata-rata penggunaan sarana produksi pada usahatani di Desa Bandungharjo Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan dengan luas lahan per usahatani seluas 0,74 ha menggunakan benih sebanyak 8,13 kg per usahatani atau 10,94 kg per ha. Benih yang digunakan dalam usahatani jagung ini yaitu jenis P21. Para petani memilih benih jenis P21 dikarenakan hasil produksi yang dianggap lumayan tinggi serta cocok dengan kondisi lahan yang rata-rata lahan tadah hujan. Pupuk Urea yang diperlukan per usahatani sebanyak 124,16 kg atau 166,95 kg per ha. Pupuk Phonska yang diperlukan per usahatani sebanyak 33,5 kg atau 40,04 kg per ha, penggunaan pupuk SP36 per usaha tani sebanyak 141,25 kg atau 189,92 kg per ha. Dosis penggunaan pupuk yang diberikan oleh petani ini berbeda-

61 digilib.uns.ac.id 49 beda karena selain pertimbangan harga pupuk, juga karena kebiasaan dari para petani dalam pemberian dosis pupuk. Dari ketiga pupuk yang digunakan pupuk SP36 merupakan pupuk yang paling banyak digunakan, hal ini dikarenakan sudah menjadi kebiasaan petani di Desa Bandungharjo dalam pemberian pupuk SP36 paling banyak daripada pupuk yang lain, mereka percaya bahwa dengan begitu hasil dari usahatani jagung dapat maksimal. Kebalikannya, pupuk phonska yang paling sedikit digunakan, hal ini dikarenakan selain memang kebutuhan dari pupuk Phonska sendiri yang relatif sedikit juga karena harga pupuk Phonska yang lebih mahal dibanding pupuk lain yang mereka gunakan dalam usahatani jagung. Menurut rekomendasi dosis pupuk yang dianjurkan oleh dinas pertanian Kabupaten Grobogan yaitu 300 kg Urea, 200 kg SP36 dan 100 kg Phonska untuk setiap hektar. Pemberian pupuk dilakukan secara berkala yaitu tiga kali pemberian pupuk dalam satu musim tanam. Pemberian pupuk pertama dilakukan pada saat mulai tanam, hal ini bertujuan sebagai starter atau pupuk awal, selanjutnya pemberian kedua pada saat tanaman berumur empat minggu dan pemberian pupuk yang terakhir diberikan petani pada saat tanaman berumur delapan minggu. b. Penggunaan Tenaga Kerja pada Usahatani Jagung Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang juga sangat penting dalam usahatani jagung. Tenaga kerja terdiri dari tenaga kerja keluarga dan tenaga kerja luar, tenaga kerja luar membantu petani dalam melaksanakan berbagai kegiatan dalam usahataninya. Rata-rata penggunaan tenaga kerja pada usahatani jagung dapat dilihat pada Tabel 5.3.

62 digilib.uns.ac.id 50 Tabel 5.3. Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja pada Usahatani Jagung MT Agustus November 2011 di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan No Keterangan Pengolahan tanah Penanaman Pemupukan Penyiraman Penyulaman Pemanenan TKD (HKP) TKL (HKP) Jumlah (HKP) Per UT Per Ha Per UT Per Ha Per UT Per Ha 3,43 4,62 1,40 1,88 4,83 6,50 2,52 3,38 3,90 5,24 6,42 8,62 3,00 4,03 0,90 1,21 3,90 5,24 3,93 5,24 1,00 1,34 4,93 6,58 2,38 3,20 0,68 0,92 3,06 4,12 2,71 3,64 3,99 5,36 6,70 9,00 JUMLAH 17,97 24,11 12,77 15,95 30,74 40,06 Sumber: Analisis Data Primer Keterangan: TKD : Tenaga Kerja Dalam/Keluarga TKL : Tenaga Kerja Luar HKP : Hari Kerja Pria UT : Usahatani Perhitungan penggunaan tenaga kerja dalam penelitian usahatani menggunakan satuan Hari Kerja Pria (HKP). Tenaga kerja yang ada di daerah penelitian dalam satu hari bekerja kurang lebih selama 8 jam, upah yang diterima adalah Rp ,00 untuk tenaga pria dan Rp ,00 untuk tenaga wanita. Berdasarkan Tabel 5.3 di atas dapat diketahui bahwa rata-rata penggunaan tenaga kerja pada usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan adalah sebesar 30,74 HKP per usahatani atau 40,06 HKP per ha. Penggunaan tenaga kerja dalam/keluarga lebih besar daripada penggunaan tenaga kerja luar, yaitu sebesar 17,97 HKP per usahatani atau 24,11 HKP per ha. Sedangkan rata-rata penggunaan tenaga kerja luar yaitu sebanyak 12,77 HKP per usahatani atau 15,95 HKP per ha. Kegiatan pemanenan membutuhkan tenaga kerja paling banyak, yaitu sebanyak 6,70 HKP per usahatani atau 9 HKP per ha. Hal ini dikarenakan proses pemanenan yang dilakukan petani terdiri dari pemetikan jagung, hingga pelangsiran atau pengangkutan jagung dari lahan menuju kendaraan yang digunakan untuk mengangkut jagung. Sebaliknya kegiatan penyulaman membutuhkan tenaga kerja paling sedikit, yaitu sebanyak 3,06 HKP per usahatani atau 4,12 HKP per ha. Sedikitnya

63 digilib.uns.ac.id 51 tenaga kerja yang digunakan dalam kegiatan penyulaman dikarenakan, jarang atau tidak banyak tanaman yang rusak atau mati pada saat penanaman, sehingga petani tidak memerlukan banyak tenaga kerja untuk kegiatan penyulaman. 2. Usahatani Jagung a. Biaya Usahatani Jagung Biaya adalah sejumlah nilai uang yang dikeluarkan oleh petani untuk membiayai kegiatan usahataninya yang meliputi biaya sarana produksi, biaya tenaga kerja, dan biaya lain-lain. Konsep biaya yang digunakan dalam analisis ini adalah biaya mengusahakan. Biaya mengusahakan terdiri dari biaya alat-alat luar yang ditambah dengan upah tenaga kerja keluarga sendiri, yang diperhitungkan berdasarkan upah yang dibayarkan kepada tenaga luar. 1). Biaya Sarana Produksi Macam sarana produksi serta besar biayanya dapat dilihat pada Tabel 5.4. Tabel 5.4. Rata-rata Biaya Sarana Produksi pada Usahatani Jagung MT Agustus November 2011 di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan No Macam Sarana Biaya Biaya Produksi Per Usahatani (Rp) Per Hektar (Rp) 1. Benih , ,64 2. Pupuk Urea , , Pupuk Phonska Pupuk SP , , , ,08 JUMLAH , Sumber : Analisis Data Primer Berdasarkan data pada Tabel 5.4, dapat diketahui bahwa rata-rata biaya sarana produksi pada usahatani jagung Rp ,83/ha/MT. Dari berbagai macam sarana produksi yang digunakan, biaya sarana produksi paling besar digunakan yaitu untuk membeli benih. Biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian benih sebesar Rp ,64/ha/MT. Benih yang digunakan dalam usahatani jagung ini jenis P21 dengan harga rata-

64 digilib.uns.ac.id 52 rata yang dibeli oleh petani sebesar Rp ,00/Kg. Biaya yang dikeluarkan untuk pembelian pupuk Urea sebesar Rp ,86/ha/MT dengan per kilogramnya sebesar Rp.1.800,00. Biaya untuk pembelian pupuk Phonska sebesar Rp ,25/ha/MT, dan untuk pembelian pupuk SP36 sebesar Rp ,08/ha/MT dengan masing-masing harga per kilogramnya sebesar Rp.2.300,00 untuk Phonska dan Rp.2.100,00 untuk SP36. Biaya pembelian pupuk Phonska merupakan biaya sarana produksi yang paling kecil yaitu hanya sebesar Rp ,25/ha/MT, Hal ini karena disamping harga pupuk yang mahal juga karena dosis yang digunakan untuk pupuk Phonska hanya sedikit. Pembelian sarana produksi diatas biasanya dibeli petani di kelompok tani ataupun agen-agen saprodi di Kecamatan Toroh. Harga pembelian sarana produksi merupakan harga subsidi dari pemerintah, sehingga petani masih bisa mendapatkan sarana produksi dengan harga terjangkau. 2). Biaya Tenaga Kerja Usahatani Jagung Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani jagung terdiri dari tenaga kerja dari dalam keluarga dan tenaga kerja dari luar. Rata-rata biaya penggunaan tenaga kerja pada usahatani jagung dapat dilihat pada Tabel 5.5. Tabel 5.5. Rata-rata Biaya Tenaga Kerja pada Usahatani Jagung MT Agustus November 2011 di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan No. Keterangan Per Usahatani (Rp) Per Hektar (Rp) 1. Pengolahan tanah , ,99 2. Penanaman , ,63 3. Pemupukan , ,90 4. Penyiraman , ,13 5. Penyulaman , ,08 6. Pemanenan , ,73 JUMLAH , ,46 Sumber : Analisis Data commit Primer to user

65 digilib.uns.ac.id 53 Upah tenaga kerja per hari kerja pada usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan ini sebesar Rp ,00 untuk tenaga kerja pria, dan Rp ,00 untuk tenaga kerja wanita. Oleh karena itu perbandingan tenaga kerja pria dibandingkan tenaga kerja wanita adalah 8:7. Berdasarkan tabel 5.5, Total biaya tenaga kerja yang digunakan adalah sebesar Rp ,46/ha/MT, kegiatan pemanenan merupakan komponen biaya yang paling besar, yaitu membutuhkan biaya sebesar Rp ,73/ha/MT. Biaya panen menjadi biaya tenaga kerja paling besar karena seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya karena kegiatan pemanenan membutuhkan paling banyak tenaga kerja, sehingga biaya yang dikeluarkanpun menjadi besar. Sebaliknya biaya tenaga kerja paling sedikit dikeluarkan untuk kegiatan penyulaman yaitu sebesar Rp ,08/ha/MT, karena tenaga kerja yang dibutuhkan juga sedikit. 3). Biaya Lain-lain pada Usahatani Jagung Komponen biaya lain-lain yang dikeluarkan petani pada usahatani jagung dapat dilihat pada Tabel 5.6, berikut ini. Tabel 5.6. Rata-rata Biaya Lain-lain pada Usahatani Jagung MT Agustus November 2011 di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Per usahatani Per hektar No. Macam biaya (Rp) (Rp) 1. Biaya pajak tanah , ,20 2. Biaya pengangkutan , ,48 3. Biaya pemipilan , ,92 JUMLAH , ,60 Sumber : Analisis Data Primer Berdasarkan Tabel 5.6 diatas, dapat diketahui bahwa biaya lain-lain yang dikeluarkan petani adalah sebesar Rp ,60/ha/MT. Biaya lain-lain ini terdiri dari pajak tanah Rp ,20/ha/MT, commit biaya to pengangkutan user hasil panen atau biaya

66 digilib.uns.ac.id 54 yang dikeluarkan petani untuk sewa mobil angkut yaitu sebesar Rp ,48/ha/MT dan biaya pemipilan sebesar Rp ,92/ha/MT. Biaya pajak tanah dibayar oleh petani berbeda-beda, berdasarkan luas lahan, lahan lokasi lahan, kondisi lahan, topografi, kesuburan dan ketersedian saluran irigasi yang dimiliki. Semakin luas dan semakin strategis lokasi lahan, maka pajak akan lebih tinggi. Biaya pengangkutan juga berbeda-beda untuk tiap petani, hal ini berdasarkan jarak lokasi dengan pasar ataupun gudang penyimpanan. Pemipilan jagung di Desa Bandungharjo rata-rata menggunakan mesin yang tarif yang dikenakan untuk setiap karung yaitu rata-rata berisi 40 kg dihargai Rp.3.000,00. 4). Biaya Total Usahatani Jagung Biaya total yang dikeluarkan dalam usahatani jagung dapat dilihat pada Tabel 5.7. Tabel 5.7. Rata-rata Biaya Total Usahatani Jagung MT Agustus November 2011 di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Per usahatani Per hektar No. Macam biaya (Rp) (Rp) 1. Biaya Saprodi , ,83 2. Biaya Tenaga Kerja , ,46 3. Biaya Lain-lain , ,60 JUMLAH , ,89 Sumber : Analisis Data Primer Berdasarkan Tabel 5.7 diatas, dapat diketahui bahwa biaya usahatani jagung terdiri dari biaya pengadaan sarana produksi yaitu sebesar Rp ,83/ha/MT, biaya untuk tenaga kerja sebesar Rp ,46/ha/MT, dan pengeluaran untuk biaya lain-lain sebesar Rp ,60/ha/MT. Jadi, biaya total yang dikeluarkan petani dalam mengusahakan jagung adalah sebesar Rp ,89/ha/MT. Pengeluaran biaya yang paling besar adalah untuk biaya commit tenaga to kerja. user Hal ini dikarenakan selama proses

67 digilib.uns.ac.id 55 produksi, yaitu mulai dari pengolahan tanah sampai pemanenan membutuhkan banyak tenaga kerja yaitu tenaga kerja dari dalam/keluarga dan juga tenaga kerja dari luar keluarga, sehingga biaya upah tenaga kerja yang dikeluarkan juga besar. b. Penerimaan Total Usahatani Jagung Penerimaan merupakan hasil perkalian dari produksi usahatani dengan harga per satuan. Rata-rata penerimaan usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan dapat dilihat pada Tabel 5.8 berikut ini. Tabel 5.8. Rata-rata Penerimaan Total Usahatani Jagung MT Agustus November 2011 di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan No. Keterangan Per usaha tani Per hektar 1. Produksi (kg) 2.857, ,57 2. Harga Produksi (Rp/kg) 2.485, ,00 3. Penerimaan (Rp) , ,45 Sumber : Analisis Data Primer Berdasarkan Tabel 5.8, dapat diketahui bahwa produksi jagung yang diperoleh petani adalah 3.841,57 kg/ha, dengan harga jagung per kilogramnya Rp.2.485,00, sehingga diperoleh penerimaan petani pada usahatani jagung sebesar Rp ,45/ha/MT. Penerimaan yang diperoleh petani merupakan hasil perkalian dari jumlah produksi jagung dengan harga jagung per satuan. Harga jagung tersebut merupakan harga jagung kering pipilan yang setiap musim harganya bisa berubah. c. Pendapatan Usahatani Jagung Rata-rata pendapatan petani dari hasil usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan dapat dilihat dari Tabel 5.9.

68 digilib.uns.ac.id 56 Tabel 5.9. Rata-rata Pendapatan Usahatani Jagung MT Agustus November 2011 di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan No. Keterangan Per usaha tani (Rp) Per hektar (Rp) 1. Penerimaan usahatani , ,45 2. Biaya usahatani , ,89 3. Pendapatan usahatani , ,56 Sumber : Analisis Data Primer Pendapatan petani merupakan ukuran penghasilan yang diterima oleh petani dari usahataninya yang dihitung dari selisih antara penerimaan dengan biaya untuk produksi yang digunakan dalam usahatani. Berdasarkan Tabel 5.9, dapat diketahui bahwa rata-rata penerimaan usahatani jagung sebesar Rp ,45/ha/MT dengan biaya usahatani sebesar Rp ,89/ha/MT, sehingga diperoleh rata-rata pendapatan usahatani jagung sebesar Rp ,56/ha/MT Distribusi Penguasaan Lahan Distribusi penguasaan lahan petani jagung dapat dilihat dari perhitungan Nilai Gini Rasio di bawah ini. Tabel Data Penguasaan Lahan Petani Jagung MT Agustus November 2011 di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan No. Rata-rata Luas Kelas Proporsi Y dalam Kelas Lahan (Y) (Ha) Pendapatan (%) ,225 3,700 6,650 12,550 19,500 0, , , , , Jmlh 44, Sumber :Analisis Data Primer

69 digilib.uns.ac.id 57 Tabel Perhitungan Nilai Gini Rasio Penguasaan Lahan No. fi Y Yi Yi-1 Yi+(Yi-1) Fi(Yi+(Yi-1)) ,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , Sumber : Analisis Data Primer n GR = 1- fi (Yi + Yi-1) 1 = 1-0, = 0, = 0,389 Gambar 5.1. Kurva Lorentz Penguasaan Lahan Dari hasil analisis distribusi penguasaan lahan pada Tabel 5.11, maka diketahui nilai Gini Rasio untuk penguasaan lahan petani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan sebesar 0,389. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi ketimpangan distribusi penguasaan lahan masuk dalam kriteria sedang, karena menurut H.T. Oshima apabila nilai dari perhitungan Gini Rasio diperoleh angka diantara 0,3-0,4 maka termasuk ketimpangan sedang. Sehingga dengan masih adanya ketimpangan penguasaan lahan dapat mempengaruhi kesejahteraan petani berlahan sempit. Selain itu ketimpangan commit penguasaan to user lahan oleh para petani juga dapat

70 digilib.uns.ac.id 58 dilihat dari Gambar 5.1, yaitu kurva lorentz dari penguasaan lahan yang derajatnya jauh dari garis diagonal (garis kemerataan sempurna) Distribusi Pendapatan Distribusi pendapatan petani jagung beserta pemerataannya dapat dilihat dari perhitungan Nilai Gini Rasio di bawah ini. Tabel Data Sampel Pendapatan Petani Jagung MT Agustus November 2011 di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan No. Jumlah Petani Rata-rata Pendapatan Proporsi Y Kelas Sampel Petani (Y) (Rp) dalam Kelas Pendapatan (%) , , , , ,67 0, , , , , Jmlh , Sumber : Analisis Data Primer Tabel Perhitungan Nilai Gini Rasio Pendapatan No. fi Y Yi Yi-1 Yi+(Yi-1) fi(yi+(yi-1)) ,2 0,2 0,2 0,2 0,2 0, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , Sumber : Analisis Data Primer n GR = 1- f i (Y i + Y i-1 ) 1 = 1-0, = 0, = 0,398

71 digilib.uns.ac.id 59 Gambar 5.2. Kurva Lorenz Pendapatan Perhitungan Gini Rasio menghasilkan angka sebesar 0,398, ini berarti terjadi ketimpangan distribusi pendapatan yang diterima oleh para petani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan. Besarnya angka Gini Rasio melebihi 0,398 menurut H.T. Oshima mengindikasikan bahwa terjadi ketimpangan distribusi pendapatan yang masuk dalam kategori sedang. Selain itu ketimpangan pendapatan para petani juga dapat dilihat dari gambar kurva lorentz dari pendapatan yang disitu terlihat derajat dari kurva lorentz jauh dari garis diagonal (garis kemerataan sempurna). Dengan demikian berarti belum ada pemerataan pendapatan antar petani Analisis Regresi Linear Hasil analisis data dilakukan terhadap variabel-variabel yang diduga mempengaruhi pendapatan petani jagung. Variabel yang dianalisis dalam model terdapat 4 variabel, variabel tersebut antara lain adalah luas lahan, tenaga kerja, biaya saprodi, dan produksi. Analisis variabel-variabel yang mempengaruhi pendapatan petani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan diestimasi menggunakan model persamaan berikut : Y= b 0 + b 1 X 1 + b 2 X 2 + b 3 X 3 + b 4 X 4 + e Data yang telah dianalisis menggunakan analisis regresi linier dengan program SPSS di dapat commit persamaan to user adalah sebagai berikut :

72 digilib.uns.ac.id 60 Y = -1,559 x ,074 X ,860 X2 + 0,712 X ,042 X 4 Tabel Hasil Analisis Regresi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Uji t Variabel Koefisien regresi t hitung Sig Luas Lahan (X 1 ) Tenaga Kerja (X 2 ) , ,860 1,142 2,311 0,258 ns 0,025** Biaya Saprodi (X 3 ) 0,712 2,230 0,030** Produksi (X 4 ) 1.116,042 4,295 0,000*** Sumber : Analisis Data Primer R = 0,892 adjusted R 2 = 0,795 F = 0,000*** Keterangan : ***) signifikan pada tingkat kepercayaan 99% **) signifikan pada tingkat kepercayaan 95% ns) tidak signifikan pada tingkat kepercayaan 95% Dari persamaan model diatas, menunjukkan bahwa variabel luas(x1) lahan dan produksi(x4) terjadi multikolonearitas. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengmengobati multikolinearitas yaitu dengan mengeluarkan satu atau lebih variabel independen yang mempunyai korelasi tinggi dari model regresi dan identifikasikan variabel independen lainnya untuk membantu prediksi (Ghozali, 2009). Variabel produksi dikeluarkan, sehingga diperoleh model persamaan yang baru adalah sebagai berikut: Y = , ,186 x 10 6 X ,637 X X 3 Untuk mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi pendapatan usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grogogan dilakukan pendekatan antara lain : 1) Uji Asumsi Klasik Uji pelanggaran asumsi klasik meliputi uji deteksi multikolinearitas dan heteroskedastisitas. Hasil dari uji ini dapat diketahui sebagai berikut :

73 digilib.uns.ac.id 61 a) Multikolinearitas Nilai VIF tidak ada yang bernilai lebih besar dari 5 Dengan demikian namun, nilai PC (Pearson Corelation) setelah di uji ada yang melebihi 0,8 maka antar variabel-variabel bebas tersebut terjadi multikolinearitas. Berdasarkan hasil perhitungan, diketahui bahwa nilai Pearson Corelation diketahui bahwa nilai terbesar dari keseluruhan korelasi antara variabel-variabel bebas adalah 0,843, dengan nilai ini dapat diartikan bahwa dalam model diindikasikan terdapat multikolinearitas karena besarnya korelasi antara veriabel luas lahan dan variabel produksi melebihi nilai 0,80. Dalam bidang ekonomi, hampir tidak mungkin terdapat variabel yang tidak berhubungan satu sama lain. Sama halnya dalam penelitian ini, apabila terjadi peningkatan luas lahan, maka akan terjadi pula peningkatan produksi. Karena dengan lahan yang semakin luas, maka semakin banyak pula kemungkinan jagung yang dapat ditanam sehingga produksi akan semakin tinggi. Multikolinearitas ini perlu dilakukan pengobatan untuk mengatasi multikolinearitas tersebut, salah satunya dengan mengeluarkan salah satu atau lebih variabel independen. Karena luas lahan merupakan variabel pokok atau dasar dari usahatani, maka dipilih variabel produksi untuk dikeluarkan dari model sehingga diperoleh model baru yaitu: Y = , ,186 x 10 6 X ,637 X X 3 Berdasarkan Matriks Pearson Corelation dalam hasil regresi model baru, maka diperoleh bahwa nilai Pearson Corelation antar variabel-variabel bebas terbesar adalah sebesar 0,663 ini berarti sudah tidak ada yang bernilai lebih dari 0,8, sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam model baru tidak terdapat multikolinearitas. b) Heteroskedastisitas Berdasarkan analisis data, diketahui bahwa titik-titik yang ada dalam diagram pencar commit (scatterplot) to user menyebar dan tidak membentuk

74 digilib.uns.ac.id 62 suatu pola tertentu yang berarti tidak terjadi hetetoskedastisitas pada model regresi. 2) Uji adjusted R 2 Nilai uji koefisien relasi guna melihat hubungan kekuatan antar variabel bebas dalam persamaan regresi. Nilai uji koefisien relasi dalam regresi ditunjukkan dengan nilai R. Nilai uji koefisien relasi pada uji regresi yakni sebesar 0,852, yang artinya bahwa hubungan antara variabel bebas yaitu luas lahan, tenaga kerja, dan variabel biaya saprodi memiliki hubungan yang sangat kuat. Nilai koefisien determinasi berguna untuk melihat ketepatan model. Nilai uji koefisien determinasi dilihat pada nilai adjusted R 2 (adjusted R 2 ). Nilai adjusted R 2 sebesar 0,711. Nilai adjusted R 2 berdasarkan analisis model adalah yang mendekati 1 menunjukan persamaan regresi tersebut tepat untuk digunakan (goodness of fit). Artinya, bahwa seluruh variabel bebas yang digunakan dalam penelitian yaitu luas lahan tenaga kerja, dan variabel biaya saprodi secara bersamasama mampu menjelaskan variasi perubahan yang terjadi pada variabel tidak bebasnya yakni pendapatan usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupeten Grobogan sebesar 71,1% sedangkan sisannya sebesar 28,9% di jelaskan variabel-variabel lain di luar penelitian. 3) Uji F Tabel Analisis Varians Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usahatani Jagung MT Agustus - November 2011 di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan Model Jumlah Kuadrat df Regression 5,518 x Residual 2,105 x Total 7,686 x Sumber : Analisis Data Primer Kuadrat Sig. F Tengah hitumg 1,860 x ,490 0,000 a 3,759 x Tabel diatas menunjukkan bahwa nilai F hitung 49,490 dengan signifikasi F sebesar 0,000. commit Sehingga, to user dapat disimpulkan bahwa variabel

75 digilib.uns.ac.id 63 luas lahan, tenaga kerja, dan variabel biaya saprodi secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap variabel tidak bebasnya yakni pendapatan usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan. 4) Uji t Tabel Analisis Uji Keberartian Koefisien Regresi Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan pada Usahatani jagung MT Agustus - November 2011 di Desa Bandungharjo Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan No Variabel Luas Lahan Tenaga Kerja Biaya Saprodi Sumber : Analisis Data Primer Keterangan : Koefisien Regresi 3,186 x ,637 1,036 ***) signifikan pada tingkat kepercayaan 99% t hitung 4,938 2,808 2,917 Sig 0,000*** 0,007*** 0,005*** Tabel di atas menunjukkan bahwa semua variabel bebas yaitu luas lahan, tenaga kerja, dan biaya saprodi secara individu berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan. Variabel luas lahan memiliki nilai signifikansi 0,000, maka luas lahan berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan pada tingkat kepercayaan 99 %. Variabel luas lahan memiliki koefisien arah bernilai positif, artinya semakin tinggi luas lahan dan diikuti dengan peningkatan produksi, maka akan semakin besar pula pendapatan usahatani petani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan. Variabel tenaga kerja juga memiliki nilai signifikansi 0,007, maka tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan pada tingkat kepercayaan 99 %. Variabel tenaga kerja memiliki koefisien arah

76 digilib.uns.ac.id 64 positif, yang artinya semakin banyak tenaga kerja yang digunakan, maka akan semakin besar pula pendapatan usahatani jagung. Variabel biaya saprodi memiliki nilai signifikansi 0,005, maka variabel biaya saprodi berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan pada tingkat kepercayaan 99 %. Variabel biaya saprodi memiliki koefisien arah positif yang artinya semakin besar biaya saprodi maka akan semakin besar pula pendapatan usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan.

77 digilib.uns.ac.id 65 VI. PEMBAHASAN 6.1. Usahatani Jagung Konsep biaya yang digunakan dalam analisis usahatani jagung ini adalah biaya mengusahakan. Komponen biaya yang dikeluarkan petani antara lain biaya sarana produksi, biaya tenaga kerja, biaya dan biaya lainlain yang didalamnya termasuk biaya pajak tanah, biaya angkutan hasil panen, dan biaya pemipilan. Tenaga kerja dari dalam keluarga petani juga ikut diperhitungkan dalam analisis dan diperhitungkan sama dengan tenaga kerja dari luar. Biaya sarana produksi terdiri dari biaya pengadaan benih, pupuk urea, pupuk Phonska, dan pupuk SP36. Berdasarkan data perhitungan diketahui bahwa rata-rata biaya sarana produksi pada usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan sebesar Rp ,83/ha/MT. Secara rinci biaya ini terdiri dari biaya benih P21 sebesar Rp ,64/ha/MT. Biaya yang dikeluarkan untuk pembelian pupuk Urea sebesar Rp ,86/ha/MT. Biaya untuk pembelian pupuk Phonska sebesar Rp ,25/ha/MT, dan untuk pembelian pupuk SP36 sebesar Rp ,08/ha/MT. Sarana produksi yang digunakan petani dalam menjalankan usahatani sebagian besar diperoleh melalui pembelian di Kelompok Tani, namun jika terjadi keterlambatan dalam pendistribusian pupuk ke kelompok tani maka, petani membeli sarana produksi di toko-toko saprodi yang berada di Kecamatan Toroh. Hal ini untuk dilakukan agar usahatani dapat terus berjalan. Harga pembelian saprodi merupakan harga subsidi dari pemerintah, sehingga petani masih bisa mendapatkan sarana produksi dengan harga terjangkau. Biaya tenaga kerja diperoleh dari penggunaan tenaga kerja dalam usahatani jagung. Tenaga kerja yang digunakan di daerah penelitian adalah tenaga kerja luar (buruh tani) dan tenaga kerja dalam (keluarga). Upah tenaga kerja dinyatakan dengan satuan Hari Kerja Pria (HKP). Pekerjaan petani dilakukan selama delapan commit jam to user yaitu dari pukul WIB sampai 65

78 digilib.uns.ac.id 66 pukul WIB, dengan waktu istirahat satu jam. Upah tenaga kerja untuk satu HKP adalah Rp ,00. Adapun tenaga kerja wanita juga sering terlibat dalam usahatani jagung dengan upah sebesar Rp ,00 atau 0,88 HKP. Kegiatan pemanenan membutuhkan tenaga kerja paling banyak, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan ini juga paling banyak. Hal ini dikarenakan selain memetik hasil panen, kegiatan pemanenan juga meliputi pengangkutan atau pelangsiran hasil panen dari lahan menuju kendaraan angkut yang berada di luar lahan, sehingga memerlukan tenaga yang cukup banyak. Kegiatan penyulaman membutuhkan tenaga kerja paling sedikit. Sedikitnya tenaga kerja yang digunakan dalam kegiatan penyulaman dikarenakan, jarang atau tidak banyak tanaman yang rusak atau mati pada saat penanaman pertama. Rata-rata jumlah anggota keluarga petani yang aktif dalam kegiatan usahatani hanya dua orang. Oleh karena itu untuk pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga, seperti pengolahan tanah, penanaman, dan pemanenan petani harus mempekerjakan tenaga dari luar keluarga petani. Selain biaya sarana produksi dan biaya tenaga kerja, komponen biaya lain yang harus dikeluarkan petani adalah biaya lain-lain yang dalam hal ini meliputi biaya pemipilan, biaya pajak tanah, dan biaya angkut panen. Biaya pemipilan jagung yang dikeluarkan petani sebesar Rp ,92/ha/MT. Kegiatan pemipilan dilakukan menggunakan mesin pipil yang sudah digerakkan menggunakan mesin, sehingga tidak dilakukan secara manual. Biaya yang dikeluarkan untuk pemipilan yaitu Rp.3.000,00 per 40 kg. Biaya angkut panen yang dikeluarkan petani sebesar Rp ,48/ha/MT. Biaya angkut panen ini dikeluarkan petani untuk mengangkut hasil panen ke rumah petani ataupun ke gudang penyimpanan dengan biaya sebesar Rp ,00 sampai Rp ,00 untuk satu kali angkut, atau untuk pembelian bensin yang digunakan sebagai bahan bakar sepeda motor yang digunakan sebagai alat angkut panen. Komponen biaya terkecil dari usahatani jagung adalah biaya pajak tanah yaitu sebesar Rp ,20/ha/MT. Besarnya biaya pajak tanah antara petani yang satu commit dengan to user petani yang lain tidak sama, yaitu

79 digilib.uns.ac.id 67 tergantung dari luas lahan, lokasi lahan, kondisi lahan, topografi, kesuburan dan ketersedian saluran irigasi. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa dengan lahan seluas satu hektar per musimnya dapat diperoleh penerimaan sebesar Rp ,45. Penerimaan ini diperoleh dari produksi jagung yang dihasilkan oleh petani sebesar 3.841,57 kg/ha/mt, dengan harga jagung kering pipilan per kilogramnya Rp.2.485,00. Dari penerimaan dan biaya tersebut, dapat diketahui besarnya pendapatan yang diperoleh petani. Berdasarkan analisis hasil penelitian diperoleh pendapatan usahatani jagung yaitu sebesar Rp ,56/ha/MT. Petani dalam menjual hasil panen biasanya telah bekerja sama dengan pedagang pengumpul. Pada saat musim panen jagung tiba, pedagang pengumpul mendatangi ke rumah petani jagung untuk membeli hasil panen, sehingga petani jagung tidak perlu lagi menjual hasil panennya ke lokasi sarana prasarana ekonomi seperti, menjual ke pasar, toko-toko hasil bumi, ataupun dijual ke gudang milik para pedagang besar didaerah Kecamatan Toroh. Beberapa petani melakukan penjualan hasil panen jagung dilakukan secara bertahap sehingga, tidak sekaligus dijual semua dalam sekali waktu. Hal ini disesuaikan dengan kebutuhan sehari-hari petani dari tersebut. Jika petani membutuhkan biaya yang mendesak maka hasil panen baru dijual untuk mencukupi biaya tersebut. Pendapatan yang diperoleh dari usahatani ini sebagian digunakan untuk kebutuhan sehari-hari dan sebagian digunakan untuk menjalankan usahatani pada musim yang selanjutnya Distribusi Penguasaan Lahan dan Distribusi Pendapatan Petani Jagung Perbedaan penguasaan lahan yang dimiliki petani sangat mempengaruhi distribusi penguasaan lahan. Terlihat dari hasil perhitungan distribusi penguasaan lahan yang menunjukkan nilai 0,389, yang artinya terjadi ketimpangan atau ketidakmerataan penguasaan lahan yang tergolong dalam kriteria sedang diantara para petani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan. Ketimpangan penguasaan lahan di Desa Bandungharjo, Kecamatan commit Toroh, to user Kabupaten Grobogan disebabkan

80 digilib.uns.ac.id 68 antara lain karena adanya penggabungan lahan yaitu karena adanya pernikahan, sehingga terdapat petani yang berlahan besar, selain itu terjadinya penyempitan lahan atau fragmentasi lahan yang dikarenakan sistem warisan, ini berakibat rata-rata petani memiliki lahan pertanian yang sempit. Ketimpangan lahan juga disebabkan karena ada juga diantara para petani yang menjual sebagian lahannya untuk digunakan anggota keluarganya sebagai modal usaha ataupun biaya sekolah, sehingga lahan yang dimilikinyapun menjadi relatif sempit. Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Syukur (1998), terdapat hubungan searah antara distribusi penguasaan lahan dengan distribusi pendapatan. Luas lahan mempunyai peranan penting dalam menciptakan arus masuk pendapatan masyarakat pedesaan. Dengan demikian distribusi pendapatan akan terefleksi oleh distribusi penguasaan lahan. Hal ini sesuai dengan hasil analisis yang dapat dilihat dari nilai Gini Rasio pendapatan yang hampir sama dengan nilai Gini Rasio penguasaan lahan, yakni 0,398, yang menunjukkan bahwa di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan juga terjadi ketimpangan atau ketidakmerataan pendapatan yang masuk dalam kriteria sedang antar para petani jagung. Ketimpangan pendapatan ini sedikit lebih tinggi dibandingkan ketimpangan penguasaan lahan, dikarenakan selain penguasaan lahan, faktor lain seperti produksi dan biaya produksi juga mempengaruhi besarnya pendapatan. Sehingga dengan kata lain semakin baik atau efisien petani dalam melakukan usahataninya, maka bisa dikatakan semakin tinggi produksi dan pendapatan yang mereka terima juga akan meningkat Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Hasil dari penelitian yang telah dilakukan bahwa luas lahan, tenaga kerja, dan variabel biaya saprodi secara bersama-sama memiliki pengaruh yang nyata atau signifikan terhadap pendapatan usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan. Lahan merupakan salah satu faktor produksi yang mempunyai kontribusi yang cukup besar commit terhadap to user usahatani. Luas lahan yang dimiliki

81 digilib.uns.ac.id 69 semakin luas, semakin besar pendapatan usahatani jagung. Berdasarkan hasil analisis luas lahan berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani jagung. Hal ini dikarenakan semakin besar lahan yang diusahakan petani maka semakin banyak pula jumlah tanaman jagung yang dapat ditanam dan kemungkinan produksi jagung yang diperoleh meningkat, sehingga dapat pula meningkatkan pendapatan usahatani jagung. Tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi yang penting digunakan dalam kegiatan usahatani. Tenaga kerja yang digunakan dalam mengelola usahatani jagung antara lain untuk kegiatan pengolahan tanah, penanaman, penyulaman, pemupukan, penyiraman, pemanenan, dan pengangkutan. Berdasarkan hasil analisis, tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani jagung. Penambahan tenaga kerja akan meningkatkan pendapatan usahatani jagung. Penambahan tenaga kerja memang secara langsung tidak meningkatkan pendapatan usahatani jagung. Penambahan tenaga kerja ini diharapkan dapat menjalankan kegiatan usahatani misalnya, pemeliharaan tanaman yang lebih teliti, karena dengan pemeliharaan yang teliti dapat menekan serangan gulma, hama dan penyakit, sehingga produksi jagung dapat meningkat. Kegiatan pemanenan dengan cara yang tepat diharapkan dapat menekan resiko kerusakan pada hasil produksi. Usahatani jagung bukan pada banyaknya jumlah tenaga kerja yang diperlukan tetapi kualitas ketrampilan sumber daya manusianya dalam budidaya, oleh karena itu diperlukan kualitas sumber daya manusia yang baik sehingga menghasilkan produksi yang meningkat, dan dari produksi yang meningkat, maka meningkat pula pendapatan usahatani jagung. Saprodi atau sarana produksi merupakan faktor yang penting dalam usahatani. Dalam penelitian ini yang dimaksud biaya saprodi yaitu biayabiaya yang dikeluarkan petani untuk kebutuhan sarana usahatani jagung, yaitu antara lain biaya benih, biaya pupuk urea, biaya pupuk phonska, dan biaya pupuk SP36. Berdasarkan hasil analisis bahwa biaya saprodi berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani jagung. Hal ini dikarenakan dengan penggunaan commit saprodi to user yang lebih banyak atau lebih

82 digilib.uns.ac.id 70 berkualitas dapat juga meningkatkan produksi jagung. Sebagai contoh yaitu penambahan benih, dengan benih yang ditanam lebih banyak maka lebih banyak pula produksi yang diperoleh. Peningkatan kualitas benih juga dapat meningkatkan produksi, hal ini dikarenakan selain adanya jenis benih yang memang mempunyai hasil produksi tinggi, juga dengan semakin baiknya benih maka semakin tahan pula tanaman terhadap penyakit ataupun hama. Dengan peningkatan penggunaan saprodi lainnya seperti pupuk juga dapat meningkatkan produksi, hal ini karena dengan semakin banyaknya pupuk yang diberikan maka semakin terpenuhi pula kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan tanakan jagung, sehingga tanaman jagung tumbuh dengan baik dan produksipun dapat meningkat. Dari tiga faktor usahatani yang dimasukkan dalam model yaitu faktor luas lahan, tenaga kerja, dan biaya saprodi, ternyata semua faktor tersebut berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani jagung. Dengan demikian, petani harus memperhatikan untuk menambah penggunaan luas lahan, tenaga kerja, dan sarana produksi usahatani jagung agar dapat meningkatkan pendapatan usahataninya.

83 digilib.uns.ac.id VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian pada usahatani jagung di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Besarnya biaya mengusahakan adalah Rp ,89/ha/MT, besarnya penerimaan usahatani adalah Rp ,45/ha/MT, sehingga pendapatan yang diperoleh petani dari usahatani jagung adalah sebesar Rp ,56/ha/MT. 2. Terjadi ketimpangan distribusi penguasaan lahan yang masuk dalam tingkatan sedang diantara para petani jagung, dibuktikan dengan Nilai Gini Rasio dari penguasaan lahan yaitu sebesar 0, Terjadi ketimpangan distribusi pendapatan yang masuk pada tingkatan sedang diantara para petani jagung, dibuktikan dengan Nilai Gini Rasio dari pendapatan yaitu sebesar 0, Distribusi penguasaan lahan berbanding lurus dengan distribusi pendapatan diantara petani jagung, atau dengan kata lain semakin timpang distribusi penguasaan lahan maka semakin timpang pula distribusi pendapatan. 5. Faktor usahatani jagung yang berupa luas lahan, tenaga kerja, dan biaya saprodi, secara bersama-sama berpengaruh terhadap pendapatan usahatani jagung. Pengaruh dari setiap faktor menunjukkan bahwa luas lahan, tenaga kerja, biaya dan saprodi berpengaruh nyata terhadap pendapatan usahatani jagung Saran 1. Dalam penggunaan faktor-faktor produksi jagung perlu diperhatikan, hal ini untuk memaksimalkan pendapatan usahatani jagung. Contohnya penggunaan dosis pupuk yang sesuai dengan rekomendasi dari dinas pertanian. 71

84 digilib.uns.ac.id Untuk mengurangi timpangnya distribusi penguasaan lahan, dapat dilakukan beberapa hal, yaitu : a. Mencegah tingginya frekuensi jual-beli lahan dengan pengawasan dan pengaturan yang ketat. b. Adanya pembatasan luas pemilikan atau garapan minimum untuk mencegah inefisiensi usahatani. 3. Pembangunan pedesaan perlu dilakukan dengan menambah dan memperbaiki infrastruktur di pedesaan agar petani berlahan sempit mempunyai pendapatan sampingan diluar pertanian, sehingga dapat menekan terjadinya ketimpangan distribusi pendapatan.

pendapatan sampingan diluar pertanian, sehingga dapat menekan terjadinya ketimpangan distribusi pendapatan.

pendapatan sampingan diluar pertanian, sehingga dapat menekan terjadinya ketimpangan distribusi pendapatan. 2 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut, (a) yang pertama besarnya biaya usahatani adalah Rp 3.508.22,89/ha/MT, penerimaan usahatani adalah

Lebih terperinci

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013 ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKTIVITAS LAHAN DAN PENDAPATAN USAHATANI PADI BERDASARKAN KELEMBAGAAN LAHAN DI DUKUH SRIBIT LOR DESA SRIBIT KECAMATAN DELANGGU KABUPATEN KLATEN Skripsi Untuk memenuhi

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN. usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C rasio).

III. KERANGKA PEMIKIRAN. usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C rasio). III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis penelitian ini meliputi konsep usahatani, biaya usahatani, pendapatan usahatani, dan rasio penerimaan dan biaya (R-C

Lebih terperinci

SISTEM BAGI HASIL USAHATANI JAGUNG PETANI PENGGARAP DI KECAMATAN PULUBALA KABUPATEN GORONTALO

SISTEM BAGI HASIL USAHATANI JAGUNG PETANI PENGGARAP DI KECAMATAN PULUBALA KABUPATEN GORONTALO \ AGRINESIA : Jurnal Ilmiah Agribisnis ISSN : 2541-6847 SISTEM BAGI HASIL USAHATANI JAGUNG PETANI PENGGARAP DI KECAMATAN PULUBALA KABUPATEN GORONTALO Laila Umpul 1), Mahludin Baruwadi 2), Amelia Murtisari

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Kerangka pemikiran teoritis merupakan merupakan suatu rancangan kerja penelitian yang digunakan untuk mengungkapkan konsep dan teori dalam menjawab

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Teori Usahatani Menurut Soeharjo dan Patong (1973), usahatani adalah proses pengorganisasian faktor-faktor produksi yaitu alam, tenaga kerja, modal dan pengelolaan yang diusahakan

Lebih terperinci

ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI

ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI BERAS MERAH ORGANIK (ORYZA NIVARA) DAN BERAS PUTIH ORGANIK (ORYZA SATIVA) ( Studi Kasus di Desa Sukorejo Kecamatan Sambirejo Kabupaten Sragen ) SKRIPSI Oleh Susi Naluri H0809104

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING BUAH STROBERI DI KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH (Studi Kasus di Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga)

ANALISIS DAYA SAING BUAH STROBERI DI KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH (Studi Kasus di Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga) ANALISIS DAYA SAING BUAH STROBERI DI KABUPATEN PURBALINGGA JAWA TENGAH (Studi Kasus di Desa Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga) SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna memperoleh

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN CABAI RAWIT DI DESA PAGERJURANG KECAMATAN MUSUK KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN CABAI RAWIT DI DESA PAGERJURANG KECAMATAN MUSUK KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN CABAI RAWIT DI DESA PAGERJURANG KECAMATAN MUSUK KABUPATEN BOYOLALI SKRIPSI Oleh Yunita Khusnul Khotimah H0813180 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2017

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Petani dan Usahatani Menurut Hernanto (1995), petani adalah setiap orang yang melakukan usaha untuk memenuhi sebagian atau seluruh kebutuhan kehidupannya di bidang pertanian

Lebih terperinci

ANALISIS USAHATANI UBI KAYU MONOKULTUR DAN TUMPANGSARI DI KECAMATAN KARANGLEWAS KABUPATEN BANYUMAS TESIS

ANALISIS USAHATANI UBI KAYU MONOKULTUR DAN TUMPANGSARI DI KECAMATAN KARANGLEWAS KABUPATEN BANYUMAS TESIS 1 ANALISIS USAHATANI UBI KAYU MONOKULTUR DAN TUMPANGSARI DI KECAMATAN KARANGLEWAS KABUPATEN BANYUMAS TESIS Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Magister Program Studi Magister Agribisnis

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS. secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS. secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS A. Tinjauan Pustaka 1. Konsep usahatani Soekartawi (1995) menyatakan bahwa ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan

Lebih terperinci

EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI PADI DI KECAMATAN WIROSARI KABUPATEN GROBOGAN SKRIPSI. Oleh : YULIANA

EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI PADI DI KECAMATAN WIROSARI KABUPATEN GROBOGAN SKRIPSI. Oleh : YULIANA EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI PADI DI KECAMATAN WIROSARI KABUPATEN GROBOGAN SKRIPSI Oleh : YULIANA PROGRAM STUDI S1 AGRIBISNIS FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Konsep Usahatani Usahatani adalah proses pengorganisasian faktor-faktor produksi yaitu alam, tenaga kerja, modal dan pengelolaan yang diusahakan

Lebih terperinci

ANALISIS USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH TESIS

ANALISIS USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH TESIS ANALISIS USAHATANI JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH TESIS Disusun untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Agribisnis Minat Ekonomi Pertanian Disusun oleh:

Lebih terperinci

ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI JAMUR TIRAM PADA DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH DI KABUPATEN KARANGANYAR. Oleh: Lucky Yoga Adhiyana H

ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI JAMUR TIRAM PADA DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH DI KABUPATEN KARANGANYAR. Oleh: Lucky Yoga Adhiyana H ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI JAMUR TIRAM PADA DATARAN TINGGI DAN DATARAN RENDAH DI KABUPATEN KARANGANYAR Oleh: Lucky Yoga Adhiyana H0812104 PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN UNIVERITAS SEBELAS

Lebih terperinci

EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI JAGUNG DI KECAMATAN GEYER KABUPATEN GROBOGAN

EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI JAGUNG DI KECAMATAN GEYER KABUPATEN GROBOGAN 1 EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN FAKTOR-FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI JAGUNG DI KECAMATAN GEYER KABUPATEN GROBOGAN Bagus Indra Dwi Saputra, Endang Siti Rahayu, Sugiharti Mulya Handayani Program Studi Agribisnis

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN digilib.uns.ac.id 66 BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1. Keadaan Geografis Kabupaten Grobogan terletak pada posisi 68 ºLU dan & 7 ºLS dengan ketinggian rata-rata 41 meter dpl dan terletak antara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penulisan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Rumusan Masalah 1.3 Tujuan Penulisan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah utama dalam distribusi pendapatan adalah terjadinya ketimpangan distribusi pendapatan. Hal ini bisa terjadi akibat perbedaan produktivitas yang dimiliki oleh

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN JAGUNG (Zea mays) DI KABUPATEN GROBOGAN (Studi Kasus di Kecamatan Geyer)

ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN JAGUNG (Zea mays) DI KABUPATEN GROBOGAN (Studi Kasus di Kecamatan Geyer) ANALISIS EFISIENSI PEMASARAN JAGUNG (Zea mays) DI KABUPATEN GROBOGAN (Studi Kasus di Kecamatan Geyer) Dimas Kharisma Ramadhani, Endang Siti Rahayu, Setyowati Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

ANALISIS KOMPARATIF MONOKULTUR UBIKAYU DENGAN TUMPANGSARI UBIKAYU-KACANG TANAH DI BANYUMAS

ANALISIS KOMPARATIF MONOKULTUR UBIKAYU DENGAN TUMPANGSARI UBIKAYU-KACANG TANAH DI BANYUMAS Agros Vol. 18 No.2, Juli 216: 149-157 ISSN 1411-172 ANALISIS KOMPARATIF MONOKULTUR UBIKAYU DENGAN TUMPANGSARI UBIKAYU-KACANG TANAH DI BANYUMAS COMPARATIVE ANALYSIS BETWEEN CASSAVA MONOCULTURE AND INTERCROPPING

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN INPUT PRODUKSI PADA USAHATANI KEDELAI VARIETAS GROBOGAN DI DESA TUKO KECAMATAN PULOKULON KABUPATEN GROBOGAN SKRIPSI

ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN INPUT PRODUKSI PADA USAHATANI KEDELAI VARIETAS GROBOGAN DI DESA TUKO KECAMATAN PULOKULON KABUPATEN GROBOGAN SKRIPSI ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN INPUT PRODUKSI PADA USAHATANI KEDELAI VARIETAS GROBOGAN DI DESA TUKO KECAMATAN PULOKULON KABUPATEN GROBOGAN SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna memperoleh derajat

Lebih terperinci

ANALISIS KOMPARATIF PEMANFAATAN KREDIT DARI KOPERASI KELOMPOK TANI (KKT) TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI PADI DI KECAMATAN SUKOHARJO KABUPATEN SUKOHARJO

ANALISIS KOMPARATIF PEMANFAATAN KREDIT DARI KOPERASI KELOMPOK TANI (KKT) TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI PADI DI KECAMATAN SUKOHARJO KABUPATEN SUKOHARJO ANALISIS KOMPARATIF PEMANFAATAN KREDIT DARI KOPERASI KELOMPOK TANI (KKT) TERHADAP PENDAPATAN USAHATANI PADI DI KECAMATAN SUKOHARJO KABUPATEN SUKOHARJO SKRIPSI Disusun Oleh : Fitri Kisworo Wardani H0808102

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional. mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

III. METODE PENELITIAN. A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional. mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis 30 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Konsep dasar dan batasan operasional merupakan pengertian dan petunjuk mengenai variabel yang akan diteliti untuk memperoleh dan menganalisis

Lebih terperinci

ANALISIS DAMPAK CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) TERHADAP KONDISI USAHA UMKM MITRA BINAAN PT PERKEBUNAN NUSANTARA IX (PERSERO) SKRIPSI

ANALISIS DAMPAK CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) TERHADAP KONDISI USAHA UMKM MITRA BINAAN PT PERKEBUNAN NUSANTARA IX (PERSERO) SKRIPSI ANALISIS DAMPAK CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) TERHADAP KONDISI USAHA UMKM MITRA BINAAN PT PERKEBUNAN NUSANTARA IX (PERSERO) SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Derajat Sarjana

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Konsep Ekonomi 3.1.1. Fungsi Produksi Dalam proses produksi terkandung hubungan antara tingkat penggunaan faktor-faktor produksi dengan produk atau hasil yang akan diperoleh.

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN JAWA TENGAH

ANALISIS DAYA SAING JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN JAWA TENGAH ANALISIS DAYA SAING JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN JAWA TENGAH SKRIPSI Oleh : Nikmatul Fitri Munawaroh H0809087 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013 ANALISIS DAYA SAING JAGUNG DI KABUPATEN

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR PANEL PETANI NASIONAL (PATANAS)

LAPORAN AKHIR PANEL PETANI NASIONAL (PATANAS) LAPORAN AKHIR PANEL PETANI NASIONAL (PATANAS) Oleh: A. Rozany Nurmanaf Adimesra Djulin Herman Supriadi Sugiarto Supadi Nur Khoiriyah Agustin Julia Forcina Sinuraya Gelar Satya Budhi PUSAT PENELITIAN DAN

Lebih terperinci

SURYA AGRITAMA Volume I Nomor 1 Maret 2012 KERAGAAN USAHATANI PADI SAWAH PETANI GUREM DI DESA MLARAN KECAMATAN GEBANG KABUPATEN PURWOREJO

SURYA AGRITAMA Volume I Nomor 1 Maret 2012 KERAGAAN USAHATANI PADI SAWAH PETANI GUREM DI DESA MLARAN KECAMATAN GEBANG KABUPATEN PURWOREJO KERAGAAN USAHATANI PADI SAWAH PETANI GUREM DI DESA MLARAN KECAMATAN GEBANG KABUPATEN PURWOREJO Purwanto 1) dan Dyah Panuntun Utami 2) 1)Alumnus Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian 2) Dosen Program

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN FAKTOR- FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI JAGUNG DI KECAMATAN GEYER KABUPATEN GROBOGAN

ANALISIS EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN FAKTOR- FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI JAGUNG DI KECAMATAN GEYER KABUPATEN GROBOGAN ANALISIS EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN FAKTOR- FAKTOR PRODUKSI PADA USAHATANI JAGUNG DI KECAMATAN GEYER KABUPATEN GROBOGAN SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana Pertanian

Lebih terperinci

ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI KETELA RAMBAT KUNING DAN KETELA RAMBAT PUTIH DI KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN KARANGANYAR. Skripsi

ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI KETELA RAMBAT KUNING DAN KETELA RAMBAT PUTIH DI KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN KARANGANYAR. Skripsi ANALISIS KOMPARATIF USAHATANI KETELA RAMBAT KUNING DAN KETELA RAMBAT PUTIH DI KECAMATAN TAWANGMANGU KABUPATEN KARANGANYAR Skripsi Oleh : Fika Ayu Widayanti H0809048 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Pertumbuhan Ekonomi Menurut Kuznet dalam todaro (2003:99) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara bersangkutan untuk menyediakan

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH KE NON SAWAH DI KABUPATEN KENDAL SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH KE NON SAWAH DI KABUPATEN KENDAL SKRIPSI ANALISIS FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN SAWAH KE NON SAWAH DI KABUPATEN KENDAL SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat gelar sarjana pertanian Pada Fakultas

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Usahatani Definisi usahatani ialah setiap organisasi dari alam, tenaga kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan

Lebih terperinci

ANALISIS USAHA KARAK (STUDI KASUS DESA GADINGAN KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO) SKRIPSI. Oleh: Nurul Khotimah H

ANALISIS USAHA KARAK (STUDI KASUS DESA GADINGAN KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO) SKRIPSI. Oleh: Nurul Khotimah H ANALISIS USAHA KARAK (STUDI KASUS DESA GADINGAN KECAMATAN MOJOLABAN KABUPATEN SUKOHARJO) SKRIPSI Oleh: Nurul Khotimah H 0813137 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2017 i ANALISIS USAHA

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Usahatani Ilmu usahatani pada dasarnya memperhatikan cara-cara petani memperoleh dan memadukan sumberdaya (lahan, kerja, modal, waktu,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penguasaan dan Pengusahaan Lahan Pola Penguasaan Tanah dan Reforma Agraria

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penguasaan dan Pengusahaan Lahan Pola Penguasaan Tanah dan Reforma Agraria II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penguasaan dan Pengusahaan Lahan Menurut Wiradi (2008) dalam tulisannya tentang Pola Penguasaan Tanah dan Reforma Agraria, istilah land tenure dan land tenancy sebenarnya merupakan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seorang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti pangan, sandang,

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. seorang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti pangan, sandang, BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kemiskinan Saat ini banyak terdapat cara pengukuran kemiskinan dengan standar yang berbedabeda. Ada dua kategori tingkat kemiskinan yaitu kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif.

Lebih terperinci

TESIS. Disusun oleh: MUHAMMAD NURWIBOWO NIM. S

TESIS. Disusun oleh: MUHAMMAD NURWIBOWO NIM. S STRUKTUR DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN RUMAH TANGGA SERTA STRATEGI KEBIJAKAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN PETANI JAGUNG DI LAHAN PERHUTANI DI KECAMATAN TANGGUNGHARJO KABUPATEN GROBOGAN PROVINSI JAWA TENGAH TESIS

Lebih terperinci

KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHATANI BUNGA KRISAN TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI DI KECAMATAN BANDUNGAN KABUPATEN SEMARANG.

KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHATANI BUNGA KRISAN TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI DI KECAMATAN BANDUNGAN KABUPATEN SEMARANG. KONTRIBUSI PENDAPATAN USAHATANI BUNGA KRISAN TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA PETANI DI KECAMATAN BANDUNGAN KABUPATEN SEMARANG Oleh ASTARI MAGHFIRA NIM : 2304013190012 Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

Lebih terperinci

ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT. Oleh NORA MERYANI A

ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT. Oleh NORA MERYANI A ANALISIS USAHATANI DAN TATANIAGA KEDELAI DI KECAMATAN CIRANJANG, KABUPATEN CIANJUR, JAWA BARAT Oleh NORA MERYANI A 14105693 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

ANALISIS USAHATANI JAGUNG (Zea Mays L) (Suatu kasus di Desa Pancawangi Kecamatan Pancatengah Kabupaten Tasikmalaya)

ANALISIS USAHATANI JAGUNG (Zea Mays L) (Suatu kasus di Desa Pancawangi Kecamatan Pancatengah Kabupaten Tasikmalaya) ANALISIS USAHATANI JAGUNG (Zea Mays L) (Suatu kasus di Desa Pancawangi Kecamatan Pancatengah Kabupaten Tasikmalaya) Oleh: Ade Epa Apriani 1, Soetoro 2, Muhamad Nurdin Yusuf 3 1) Mahasiswa Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH BIAYA INPUT DAN TENAGA KERJA TERHADAP KONVERSI LUAS LAHAN KARET MENJADI LAHAN KELAPA SAWIT

ANALISIS PENGARUH BIAYA INPUT DAN TENAGA KERJA TERHADAP KONVERSI LUAS LAHAN KARET MENJADI LAHAN KELAPA SAWIT ANALISIS PENGARUH BIAYA INPUT DAN TENAGA KERJA TERHADAP KONVERSI LUAS LAHAN KARET MENJADI LAHAN KELAPA SAWIT ( Studi Kasus : Desa Kampung Dalam, Kecamatan Bilah Hulu, Kabupaten Labuhan Batu ) Cindi Melani

Lebih terperinci

Kajian Biaya, Penerimaan & Keuntungan Usahatani

Kajian Biaya, Penerimaan & Keuntungan Usahatani Kajian Biaya, Penerimaan & Keuntungan Usahatani I. Pendahuluan Setiap kegiatan pada proses produksi dalam usahatani menimbulkan pengorbanan hasil yg diperoleh Korbanan yang dicurahkan dalam proses produksi

Lebih terperinci

SKRIPSI KETAHANAN BEBERAPA VARIETAS PADI TERHADAP HAWAR PELEPAH DI LEMPONG JENAWI KARANGANYAR. Oleh MAYANG SARI H

SKRIPSI KETAHANAN BEBERAPA VARIETAS PADI TERHADAP HAWAR PELEPAH DI LEMPONG JENAWI KARANGANYAR. Oleh MAYANG SARI H SKRIPSI KETAHANAN BEBERAPA VARIETAS PADI TERHADAP HAWAR PELEPAH DI LEMPONG JENAWI KARANGANYAR Oleh MAYANG SARI H0708127 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Pengertian Usahatani Rifai (1973) dalam Purba (1989) mendefinisikan usahatani sebagai pengorganisasian dari faktor-faktor produksi alam, tenaga kerja, modal dan manajemen,

Lebih terperinci

ANALISIS PERMINTAAN JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN

ANALISIS PERMINTAAN JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN ANALISIS PERMINTAAN JAGUNG DI KABUPATEN GROBOGAN TESIS Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Agribisnis Oleh : NUR IKHSAN NIM S641208007 PROGRAM STUDI MAGISTER

Lebih terperinci

PENGARUH KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI TERHADAP

PENGARUH KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI TERHADAP PENGARUH KARAKTERISTIK SOSIAL EKONOMI TERHADAP KEPUTUSAN PETANI PADI ORGANIK DALAM MENJALIN KEMITRAAN DENGAN PERUSAHAAN BERAS PADI MULYA DI KECAMATAN SAMBIREJO KABUPATEN SRAGEN SKRIPSI Oleh : Rita Tutik

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau pemasaran hasil pertanian. Padahal pengertian agribisnis tersebut masih jauh dari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau pemasaran hasil pertanian. Padahal pengertian agribisnis tersebut masih jauh dari BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Agribisnis Sering ditemukan bahwa agribisnis diartikan secara sempit, yaitu perdagangan atau pemasaran hasil pertanian. Padahal pengertian agribisnis tersebut masih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang artinya bahwa pertanian memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Geografi adalah mempelajari gejala-gejala di permukaan bumi secara keseluruhan dengan

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR. Geografi adalah mempelajari gejala-gejala di permukaan bumi secara keseluruhan dengan 1 II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Geografi Geografi adalah mempelajari gejala-gejala di permukaan bumi secara keseluruhan dengan memperhatikan tiap-tiap gejala

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. dan batasan operasional. Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup

III. METODE PENELITIAN. dan batasan operasional. Konsep dasar dan batasan operasional ini mencakup 39 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional Untuk menghindari kesalahpahaman dalam penelitian ini, maka dibuat definisi dan batasan operasional. Konsep dasar dan batasan operasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bermatapencaharian sebagai petani. Kondisi geografis negara Indonesia terletak di

BAB I PENDAHULUAN. bermatapencaharian sebagai petani. Kondisi geografis negara Indonesia terletak di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Kondisi geografis negara Indonesia terletak di wilayah tropis, dengan

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN BERAS DI KABUPATEN KUDUS PROVINSI JAWA TENGAH SKRIPSI. Oleh : ZAENUL LAILY

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN BERAS DI KABUPATEN KUDUS PROVINSI JAWA TENGAH SKRIPSI. Oleh : ZAENUL LAILY ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN BERAS DI KABUPATEN KUDUS PROVINSI JAWA TENGAH SKRIPSI Oleh : ZAENUL LAILY PROGRAM STUDI S-1 AGRIBISNIS FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA, LANDASAN TEORI, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1. Tinjauan Pustaka Pada dasarnya perilaku petani sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, kecakapan, dan sikap mental

Lebih terperinci

Nelfita Rizka*), Salmiah**), Aspan Sofian**)

Nelfita Rizka*), Salmiah**), Aspan Sofian**) ANALISIS DAMPAK PENGGUNAAN DANA BANTUAN PROGRAM OPTIMASI LAHAN DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI PADI SAWAH (Studi Kasus : Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai) Nelfita Rizka*), Salmiah**), Aspan Sofian**)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Indonesia adalah negara agraris dimana sebagian besar penduduknya mempunyai mata pencaharian sebagai petani. Mereka menggantungkan hidupnya dari hasil bercocok tanam atau

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. menyebabkan terjadinya perubahan struktur penguasaan lahan pertanian, pola

I. PENDAHULUAN. menyebabkan terjadinya perubahan struktur penguasaan lahan pertanian, pola 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses pelaksanaan pembangunan, dalam jangka menengah dan panjang menyebabkan terjadinya perubahan struktur penguasaan lahan pertanian, pola hubungan kerja dan stuktur

Lebih terperinci

PERSEPSI PETANI TERHADAP PROGRAM GERAKAN PENINGKATAN PRODUKSI PANGAN BERBASIS KORPORASI (GP3K) DI DESA JATI KECAMATAN JATEN KABUPATEN KARANGANYAR

PERSEPSI PETANI TERHADAP PROGRAM GERAKAN PENINGKATAN PRODUKSI PANGAN BERBASIS KORPORASI (GP3K) DI DESA JATI KECAMATAN JATEN KABUPATEN KARANGANYAR PERSEPSI PETANI TERHADAP PROGRAM GERAKAN PENINGKATAN PRODUKSI PANGAN BERBASIS KORPORASI (GP3K) DI DESA JATI KECAMATAN JATEN KABUPATEN KARANGANYAR SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data

IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2. Jenis dan Sumber Data IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian mengenai Analisis Pendapatan Usahatani Ubi Jalar ini dilakukan di Desa Gunung Malang yang berada di Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor,

Lebih terperinci

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG DI DESA LABUAN TOPOSO KECAMATAN LABUAN KABUPATEN DONGGALA

ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG DI DESA LABUAN TOPOSO KECAMATAN LABUAN KABUPATEN DONGGALA e-j. Agrotekbis 4 (4) : 456-460, Agustus 2016 ISSN : 2338-3011 ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI JAGUNG DI DESA LABUAN TOPOSO KECAMATAN LABUAN KABUPATEN DONGGALA Income Analysis of Corn Farming Systemin Labuan

Lebih terperinci

21111`211``1 PERKEMBANGAN DAN KONTRIBUSI TEMBAKAU BESUKI NA-OOGST TERHADAP PRODUKSI TEMBAKAU DI KABUPATEN JEMBER SKRIPSI

21111`211``1 PERKEMBANGAN DAN KONTRIBUSI TEMBAKAU BESUKI NA-OOGST TERHADAP PRODUKSI TEMBAKAU DI KABUPATEN JEMBER SKRIPSI 21111`211``1 PERKEMBANGAN DAN KONTRIBUSI TEMBAKAU BESUKI NA-OOGST TERHADAP PRODUKSI TEMBAKAU DI KABUPATEN JEMBER SKRIPSI Oleh: Putri Aditia Novaleta NIM. 061510201021 J U R U S A N S O S I A L E K O N

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Pembiayaan dalam dunia usaha sangat dibutuhkan dalam mendukung keberlangsungan suatu usaha yang dijalankan. Dari suatu usaha yang memerlukan pembiayaan

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Peranan Kredit dalam Kegiatan Usahatani Ada dua sumber permodalan usaha yaitu modal dari dalam (modal sendiri) dan modal dari luar (pinjaman/kredit).

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Kombinasi Produk Optimum Penentuan kombinasi produksi dilakukan untuk memperoleh lebih dari satu output dengan menggunakan satu input. Hal ini

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR A. Tinjauan Pustaka 1. Pengertian Geografi Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masalah besar yang dihadapi negara sedang berkembang adalah disparitas

BAB I PENDAHULUAN. Masalah besar yang dihadapi negara sedang berkembang adalah disparitas 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masalah besar yang dihadapi negara sedang berkembang adalah disparitas (ketimpangan) distribusi pendapatan dan tingkat kemiskinan. Tidak meratanya distribusi

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Teori Organisasi Produksi Usahatani Menurut Rivai dalam Hernanto (1989) mendefinisikan usahatani sebagai organisasi dari alam, kerja dan modal

Lebih terperinci

SEPA : Vol. 8 No.1 September 2011 : 9 13 ISSN : ANALISIS BIAYA DAN PENDAPATAN USAHATANI KEDELAI DI KABUPATEN SUKOHARJO

SEPA : Vol. 8 No.1 September 2011 : 9 13 ISSN : ANALISIS BIAYA DAN PENDAPATAN USAHATANI KEDELAI DI KABUPATEN SUKOHARJO SEPA : Vol. 8 No.1 September 2011 : 9 13 ISSN : 1829-9946 ANALISIS BIAYA DAN PENDAPATAN USAHATANI KEDELAI DI KABUPATEN SUKOHARJO UMI BAROKAH Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu

II. LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu II. LANDASAN TEORI A. Penelitian Terdahulu Penelitian Gaol (2011) yang berjudul Analisis Luas Lahan Minimum untuk Peningkatan Kesejahteraan Petani Padi Sawah di Desa Cinta Damai, Kecamatan Percut Sei Tuan,

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA INDUSTRI ABON DAN DENDENG SAPI DI KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA. Skripsi. Oleh : ARISTA HENY UNTARI H

ANALISIS NILAI TAMBAH PADA INDUSTRI ABON DAN DENDENG SAPI DI KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA. Skripsi. Oleh : ARISTA HENY UNTARI H ANALISIS NILAI TAMBAH PADA INDUSTRI ABON DAN DENDENG SAPI DI KECAMATAN JEBRES KOTA SURAKARTA Skripsi Oleh : ARISTA HENY UNTARI H 0809015 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013 i ANALISIS

Lebih terperinci

ADOPSI TEKNOLOGI SOSIAL MEDIA PADA PELAKU UMKM AGRIBISNIS DENGAN PENDEKATAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM) DI KABUPATEN SLEMAN

ADOPSI TEKNOLOGI SOSIAL MEDIA PADA PELAKU UMKM AGRIBISNIS DENGAN PENDEKATAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM) DI KABUPATEN SLEMAN ADOPSI TEKNOLOGI SOSIAL MEDIA PADA PELAKU UMKM AGRIBISNIS DENGAN PENDEKATAN TECHNOLOGY ACCEPTANCE MODEL (TAM) DI KABUPATEN SLEMAN SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penelitian terdahulu yang dapat menjelaskan secara teoritis kajian mengenai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. penelitian terdahulu yang dapat menjelaskan secara teoritis kajian mengenai BAB II TINJAUAN PUSTAKA Adapun uraian pada tinjauan pustaka yang diuraikan adalah uraian teoriteori penelitian terdahulu yang dapat menjelaskan secara teoritis kajian mengenai Ketimpangan dan Distribusi

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR PETANI SEBAGAI INDIKATOR KESEJAHTERAAN PETANI PADI DI KABUPATEN SRAGEN

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR PETANI SEBAGAI INDIKATOR KESEJAHTERAAN PETANI PADI DI KABUPATEN SRAGEN 0 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR PETANI SEBAGAI INDIKATOR KESEJAHTERAAN PETANI PADI DI KABUPATEN SRAGEN Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Derajat Gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usahatani Mubyarto (1989) usahatani adalah himpunan dari sumber sumber alam yang terdapat di tempat itu yang diperlukan untuk produksi pertanian seperti tubuh tanah dan air,

Lebih terperinci

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SEHAT

VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SEHAT VII ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI PADI SEHAT 7.1. Penerimaan Usahatani Padi Sehat Penerimaan usahatani padi sehat terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan diperhitungkan. Penerimaan tunai adalah penerimaan

Lebih terperinci

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA IDENTIFIKASI SUB SEKTOR PERTANIAN DAN PERANNYA DALAM MENGURANGI KETIMPANGAN PENDAPATAN DI EKS KARESIDENAN KEDU (PENDEKATAN MINIMUM REQUIREMENTS TECHNIQUE DAN INDEKS WILLIAMSON) SKRIPSI Oleh : Dinan Azifah

Lebih terperinci

Faidah, Umi., dkk. Faktor-faktor Yang...

Faidah, Umi., dkk. Faktor-faktor Yang... FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDAPATAN USAHATANI UBI JALAR (Ipomoea batatas L.) (Studi Kasus Pada Gapoktan Nusa Bhakti Desa Adinuso Kecamatan Reban Kabupaten Batang) Umi Faidah, Endah Subekti, Shofia

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, sumber daya alam hayati yang didominasi oleh pepohonan dalam

II. TINJAUAN PUSTAKA. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, sumber daya alam hayati yang didominasi oleh pepohonan dalam 7 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Hutan Marga dan Hutan Rakyat 1. Hutan Marga Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan, hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI NANAS DI DESA DODA KECAMATAN KINOVARO KABUPATEN SIGI

ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI NANAS DI DESA DODA KECAMATAN KINOVARO KABUPATEN SIGI ej. Agrotekbis 3 (2) : 240 246, April 2015 ISSN : 23383011 ANALISIS KELAYAKAN USAHATANI NANAS DI DESA DODA KECAMATAN KINOVARO KABUPATEN SIGI Feasibility study on Pineapple Farming at Doda Village, Sigi

Lebih terperinci

ANALISIS PRODUKSI DAN KELAYAKAN USAHATANI KAKAO DI KABUPATEN MADIUN

ANALISIS PRODUKSI DAN KELAYAKAN USAHATANI KAKAO DI KABUPATEN MADIUN digilib.uns.ac.id ANALISIS PRODUKSI DAN KELAYAKAN USAHATANI KAKAO DI KABUPATEN MADIUN TESIS Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Magister Program Studi Magister Ekonomi dan Studi Pembangunan

Lebih terperinci

ANALISIS PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH DI DESA BONEMARAWA KECAMATAN RIOPAKAVA KABUPATEN DONGGALA

ANALISIS PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH DI DESA BONEMARAWA KECAMATAN RIOPAKAVA KABUPATEN DONGGALA e-j. Agrotekbis 5 (1) : 111-118, Februari 2017 ISSN : 2338-3011 ANALISIS PRODUKSI DAN PENDAPATAN USAHATANI PADI SAWAH DI DESA BONEMARAWA KECAMATAN RIOPAKAVA KABUPATEN DONGGALA The Analysis of Production

Lebih terperinci

ANALISIS PEMASARAN BIJI JAMBU METE DI KABUPATEN ALOR TESIS

ANALISIS PEMASARAN BIJI JAMBU METE DI KABUPATEN ALOR TESIS ANALISIS PEMASARAN BIJI JAMBU METE DI KABUPATEN ALOR TESIS Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Magister Program Studi Agribisnis OLEH: NAEMA K. H. GORANG MAU S641408013 PROGRAM

Lebih terperinci

DAMPAK PEMBANGUNAN JARINGAN IRIGASI TERHADAP PRODUKSI, PENDAPATAN, DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN

DAMPAK PEMBANGUNAN JARINGAN IRIGASI TERHADAP PRODUKSI, PENDAPATAN, DAN DISTRIBUSI PENDAPATAN 2004 Dwi Haryono Makalah Falsafah Sains (PPs-702) Sekolah Pascasarjana / S3 Institut Pertanian Bogor Nopember 2004 Dosen: Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng (Penanggung Jawab) Prof. Dr. Ir. Zahrial Coto

Lebih terperinci

PENDAPATAN TENAGA KERJA KELUARGA PADA USAHA TERNAK SAPI POTONG DI KECAMATAN TOROH KABUPATEN GROBOGAN

PENDAPATAN TENAGA KERJA KELUARGA PADA USAHA TERNAK SAPI POTONG DI KECAMATAN TOROH KABUPATEN GROBOGAN M. Handayani, dkk Pendapatan Tenaga Kerja... PENDAPATAN TENAGA KERJA KELUARGA PADA USAHA TERNAK SAPI POTONG DI KECAMATAN TOROH KABUPATEN GROBOGAN FAMILY LABOUR INCOME ON CATTLE FARMING IN TOROH SUBDISTRICT

Lebih terperinci

SIKAP PENGRAJIN GULA KELAPA TERHADAP SUB TERMINAL AGRIBISNIS (STA) (KASUS DI DESA KRENDETAN KECAMATAN BAGELEN KABUPATEN PURWOREJO) SKRIPSI

SIKAP PENGRAJIN GULA KELAPA TERHADAP SUB TERMINAL AGRIBISNIS (STA) (KASUS DI DESA KRENDETAN KECAMATAN BAGELEN KABUPATEN PURWOREJO) SKRIPSI SIKAP PENGRAJIN GULA KELAPA TERHADAP SUB TERMINAL AGRIBISNIS (STA) (KASUS DI DESA KRENDETAN KECAMATAN BAGELEN KABUPATEN PURWOREJO) SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna memperoleh derajat gelar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mata pencaharian di bidang pertanian. Sektor pertanian pada setiap tahap

BAB I PENDAHULUAN. mata pencaharian di bidang pertanian. Sektor pertanian pada setiap tahap BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas penduduknya mempunyai mata pencaharian di bidang pertanian. Sektor pertanian pada setiap tahap pembangunan di Indonesia,

Lebih terperinci

LAHAN PERTANIAN, TENAGA KERJA DAN SUMBER PENDAPATAN DI BEBERAPA PEDESAAN JAWA BARAT

LAHAN PERTANIAN, TENAGA KERJA DAN SUMBER PENDAPATAN DI BEBERAPA PEDESAAN JAWA BARAT LAHAN PERTANIAN, TENAGA KERJA DAN SUMBER PENDAPATAN DI BEBERAPA PEDESAAN JAWA BARAT Oleh: Memed Gunawan dan Ikin Sadikin Abstrak Belakangan ini struktur perekonomian masyarakat pedesaan Jawa Barat telah

Lebih terperinci

V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010

V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010 65 V. HASIL ANALISIS SISTEM NERACA SOSIAL EKONOMI DI KABUPATEN MUSI RAWAS TAHUN 2010 5.1. Gambaran Umum dan Hasil dari Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Kabupaten Musi Rawas Tahun 2010 Pada bab ini dijelaskan

Lebih terperinci

STUDI KOMPARATIF USAHA SALE PISANG GORENG DAN KERIPIK PISANG DI KABUPATEN GROBOGAN. Skripsi

STUDI KOMPARATIF USAHA SALE PISANG GORENG DAN KERIPIK PISANG DI KABUPATEN GROBOGAN. Skripsi STUDI KOMPARATIF USAHA SALE PISANG GORENG DAN KERIPIK PISANG DI KABUPATEN GROBOGAN Skripsi Oleh : Denok Setia Pratiwi H 0809022 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013 i STUDI KOMPARATIF

Lebih terperinci

PENGARUH KARAKTERISTIK INOVASI TERHADAP PENERIMAAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH PADA PESERTA PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA

PENGARUH KARAKTERISTIK INOVASI TERHADAP PENERIMAAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH PADA PESERTA PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA PENGARUH KARAKTERISTIK INOVASI TERHADAP PENERIMAAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH PADA PESERTA PELATIHAN KEWIRAUSAHAAN MAHASISWA Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh derajat Sarjana

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Tinjauan Pustaka Sektor perkebunan merupakan sektor yang berperan sebagai penghasil devisa negara, salah satu komoditas perkebunan penghasil devisa adalah kopi. Indonesia

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI USAHATANI CENGKEH DI KECAMATAN JATIYOSO KABUPATEN KARANGANYAR

ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI USAHATANI CENGKEH DI KECAMATAN JATIYOSO KABUPATEN KARANGANYAR ANALISIS EFISIENSI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI USAHATANI CENGKEH DI KECAMATAN JATIYOSO KABUPATEN KARANGANYAR SKRIPSI Disusun Oleh: ISTIANA F0108156 JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis Tujuan dari penelitian yang akan dilakukan adalah untuk mengetahui tingkat pendapatan usahatani tomat dan faktor-faktor produksi yang mempengaruhi

Lebih terperinci

ANALISIS FUNGSI PRODUKSI PADI DI INDONESIA SKRIPSI. Oleh Fitria Ika Puspita Sari NIM

ANALISIS FUNGSI PRODUKSI PADI DI INDONESIA SKRIPSI. Oleh Fitria Ika Puspita Sari NIM ANALISIS FUNGSI PRODUKSI PADI DI INDONESIA SKRIPSI Oleh Fitria Ika Puspita Sari NIM. 051510201086 JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JEMBER 2010 ANALISIS FUNGSI PRODUKSI PADI

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Konsep Usahatani Menurut Hernanto (1989) mendefinisikan usahatani sebagai organisasi dari alam, kerja, dan modal yang ditujukan kepada produksi

Lebih terperinci